" ATH-THAIFAH AL-MANSHUURAH " Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al-Qudsy Al-Indunisy

Posts tagged ‘Indah kiat Perawang’

Galeri

Meluruskan Pemahaman Makna “Jama’ah” Dan “Khowarij” dan “Anjing Neraka”

abKlik gambar untuk download Pdf !

 

Meluruskan Pemahaman Makna “Jama’ah”

Dan “Khowarij” dan “Anjing Neraka”

 

 

Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Al Indonesiy –semoga Alloh memaafkannya-

Di Dammaj –semoga Alloh memeliharanya-


بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Telah disampaikan kepada saya naskah yang isinya menyebutkan adanya suatu yayasan dakwah yang menghimpun di dalamnya anggota ta’lim yang mereka namakan sebagai “Jama’ah”, yayasan tersebut punya pemimpin, dan jama’ah tadi juga punya pemimpin. Lalu disebutkan bahwasanya mereka pada Hari Ahad malam, Tanggal 13 Dzul hijjah 1433 H / 28 Oktober 2012 M, berkumpul yang di antara isinya adalah menyebutkan beberapa ketetapan, lalu berkata: “… Setiap pribadi perorangan ataupun kelompok yang tidak mengindahkan /melanggar keputusan yang telah ditetapkan di atas, akan memiliki 2 (dua) konsekuensi hukum, sebagai berikut: a. Secara Hukum Syar’i . Secara hukum syar’i, setiap pribadi ikhwan maupun kelompok ikhwah yang melanggar amanah yang telah ditetapkan oleh pemimpin jama’ah yang sah, dalam hal ini Al-ustadz kita, guru kita dan orang tua kita yang dituakan yang kita mendapatkan ilmu al-haq ini darinya, yakni ust. Dzul Akmal yang telah membimbing dan membina jama’ah mulai dari tidak ada jama’ah sampai berjumlah puluhan dan ratusan saat ini, terutama di Perawang yang dimulai dari tahun 1993 dahulu, maka barangsiapa yang menyelisihinya ataupun memberontak kepadanya, maka kita khawatirkan terjerumus kepada perbuatan khawarij yang dikatakan Nabi Shalallahu’alaihi wasallam sebagai anjing-anjing neraka, dan sesungguhnya setiap pribadi kita akan dimintai pertanggungjawaban dari setiap tindakan apa yang telah kita lakukan di yaumil mahsyar nanti insyaAllah…”

Selesai penukilan yang diinginkan.

Lalu ditanyakan kepada saya tentang makna jama’ah dan apakah orang yang menyelisihi jama’ah tadi terancam akan terjerumus kepada perbuatan khawarij yang dikatakan Nabi Shalallahu’alaihi wasallam sebagai anjing-anjing neraka?


Bab Dua: Tentang Abul Mundzir Dzul Akmal

 

            Saya dalam kesempatan ini tidak perlu membahas secara rinci tentang Abul Mundzir Dzul Akmal, karena kebatilannya telah terkuak, tentang seringnya dia mengemis atas nama dakwah, baik secara kasar ataupun halus, juga ucapan-ucapan kejinya terhadap beberapa tokoh Ahlussunnah, dan juga serangan-serangan buruknya terhadap Asy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله.

            Dia juga berkali-kali menuduh orang yang tidak sesuai dengan keinginannya bahwasanya mereka itu khowarij atau yang dekat dengan makna itu.

Dan para ikhwah telah membantah dan menyingkap kebatilannya. Semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan.

            Adapun surat keputusan yang dia tulis atau dia setujui atau dia tetapkan dalam lembaran di atas, maka itu semakin membongkar kadar pemahaman dirinya terhadap makna Jama’ah Syar’iyyah, dan upaya dia menakut-nakuti para pengikutnya dengan dalil-dalil yang tidak pada tempatnya.


Bab Tiga: Pengertian “Jama’ah”

 

            Al Jama’ah punya beberapa makna, ditinjau dari segi bahasa dan dari segi syari’ah.

            Dari segi bahasa, maka jama’ah adalah kumpulan, lawan dari perpecahan. Ar Roghib رحمه الله berkata:

الجمع: ضم الشيء بتقريب بعضه من بعض –إلى قوله:- ويقال للمجموع: جمعٌ وجميعٌ وجماعةٌ. (“المفردات في غريب القرآن”/ص104/ط. المكتبة التوفيقية).

“Jam’ adalah: menggabungkan sesuatu dengan mendekatkan sebagiannya kepada sebagian yang lain.” –sampai pada ucapan beliau:- dan dikatakan pada suatu kumpulan: jam’un dan jami’un dan jama’atun.” (“Al Mufrodat Fi Ghoribil Qur’an”/hal. 104/cet. Al Maktabatut Taufiqiyyah).

            Ibnu Manzhur رحمه الله berkata:

وجمَعْتُ الشيء إِذا جئت به من ههنا وههنا وتجمَّع القوم اجتمعوا أَيضاً من ههنا وههنا. (“لسان العرب”/8/ص53).

“Dan aku kumpulkan sesuatu, yaitu: jika engkau mendatangkannya dari sana sini. Dan suatu kaum dikatakan bersatu jika mereka berkumpul juga dari sana sini.” (“Lisanul ‘Arob”/8/hal. 53).

            Berdasarkan ini beranjaklah kita untuk bisa memahami makna syar’iy dari Jama’ah. Di antara maknanya adalah: mengikuti ijma’ para As Salafush Sholih, karena mereka tidak bersatu kecuali di atas kebenaran.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan mereka dinamakan sebagai Ahlul Jama’ah karena Al Jama’ah itu adalah persatuan, dan lawannya adalah furqoh (perpecahan). Sekalipun lafazh Al Jama’ah telah menjadi nama suatu kaum yang bersatu. Dan Ijma’ itulah dasar yang ketiga yang menjadi patokan dalam ilmu dan agama. Dan mereka (Ahlussunnah Wal jama’ah) dengan tiga dasar ini (Al Qur’an, As Sunnah dan Al Ijma’) menimbang seluruh perkara yang manusia ada di atasnya, baik berupa ucapan ataupun amalan, yang tersembunyi ataupun yang nampak, yang punya kaitan dengan agama. Dan ijma’ yang baku adalah yang dulu para Salafush Sholih ada di atasnya, karena setelah mereka banyak perselisihan dan umat tersebar.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 157/cet. Darul Wafa/ihalah).

Makna syar’iy yang kedua dari Al Jama’ah adalah: mengikuti jalan para Shohabat. Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله». (أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

            Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

            Dan makna syar’iy yang ketiga dari Al jama’ah adalah: jama’ah muslimin bersama seorang pemimpin, yaitu: Negara muslimin.

            Dari Hudzaifah ibnul Yaman رضي الله عنهما yang berkata:

كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت: يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال: «نعم» قلت: وهل بعد ذلك الشر من خير؟ قال: «نعم وفيه دخن» قلت: وما دخنه؟ قال: «قوم يهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر». قلت: فهل بعد ذلك الخير من شر؟ قال: «نعم دعاة إلى أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها». قلت: يا رسول الله صفهم لنا. فقال: «هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا». قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك؟ قال: «تلزم جماعة المسلمين وإمامهم». قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: «فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك». (أخرجه البخاري (3606) ومسلم (1847)).

“Dulu orang-orang bertanya pada Rosululloh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, dan aku sering menanyai beliau tentang kejelekan, karena aku takut kejelekan itu menimpa diriku. Aku berkata: “Wahai Rosululloh, sungguh dulu kami ada dalam jahiliyyah dan kejelekan, lalu Alloh mendatangkan pada kami kebaikan ini. Maka apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Beliau menjawab: “Iya.” Aku bertanya: “Dan apakah setelah kejelekan tadi ada kebaikan?” Beliau menjawab: “Iya, dan di dalamnya ada asap.” Aku bertanya: “Apa asapnya itu?” Beliau menjawab: “Suatu kaum yang berjalan bukan dengan jalanku. Engkau mengenal dari mereka dan mengingkarinya.” Aku bertanya: “Dan apakah setelah kebaikan tadi ada kejelekan?” Beliau menjawab: “Iya, para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa memenuhi seruan mereka ke situ, mereka akan melemparkannya ke dalamnya.” Aku berkata: “Wahai Rosululloh, gambarkanlah mereka pada kami.” Beliau menjawab: “Mereka dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah-lidah kita.” Aku berkata: ”Maka apakah yang Anda perintahkan pada saya jika saya mendapati yang demikian itu?” Beliau menjawab: “Engkau setia dengan jama’ah muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya: “Jika mereka tidak punya jama’ah ataupun pemimpin?” Beliau menjawab: “Engkau tinggal kelompok-kelompok itu semuanya sekalipun engkau menggigit akar pohon dengan gerahammu sampai engkau mati dalam keadaan demikian.” (HR. Al Bukhoriy (3606) dan Muslim (1847)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan kepada inilah isyarat tersebut dengan sabda beliau: “Engkau setia dengan jama’ah muslimin dan pemimpin mereka.” Yaitu: sekalipun pemimpinnya berbuat zholim. Dan yang lebih menjelaskan lagi adalah: riwayat Abul Aswad: “Sekalipun pemimpin itu memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” Dan semacam itu banyak terjadi pada masa pemerintahan Al Hajjaj dan semisalnya. Sabda beliau “Engkau setia dengan jama’ah muslimin dan imam mereka.”  Yaitu: amir mereka. Dan beliau menambahkan dalam riwayat Abul Aswad: “Engkau mendengar dan menaati sekalipun pemimpin itu memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” Demikian pula dalam riwayat Kholid bin Subai’ diriwayatkan Ath Thobroniy: “Maka jika engkau melihat seorang kholifah, maka setialah padanya sekalipun dia memukul punggungmu. Jika tidak ada seorang kholifah maka larilah” Dan sabda beliau: “sekalipun engkau menggigit dengan gerahammu” yaitu: sekalipun engkau menyingkir sampai bahkan engkau harus menggigit akar pohon dengan gerahammu, maka jangan tinggalkan perintahku tadi, -sampai pada ucapan beliau:- ini adalah ungkapan tentang kesetiaan pada jama’ah muslimin dan ketaatan pada sulthon-sulthon mereka sekalipun mereka tadi durhaka. Al Baidhowiy: “Maknanya adalah: jika di bumi tidak ada kholifah maka engkau harus menyendiri dan bersabar memikul kerasnya zaman. Dan menggigit akar pohon dengan geraham itu adalah ungkapan kegigihan dalam menghadapi kesulitan, seperti ucapan mereka: “Fulan menggigit bebatuan dengan gerahamnya karena kerasnya rasa sakit.” Atau yang dimaksudkan adalah: kesetiaan, seperti sabda beliau dalah hadits lain: “Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian.” Dan yang mendukung pendapat yang pertama adalah sabda beliau dalam hadits yang lain:

«فإن مت وأنت عاض على جذل خير لك من أن تتبع أحداً منهم».

“Maka jika engkau mati dalam keadaan engkau menggigit pokok pohon dengan gerahammu itu lebih baik daripada engkau mengikuti satu orangpun dai mereka.”

            Ibnu Baththol berkata: “Di dalam hadits tadi ada hujjah bagai jama’ah fuqoha tentang wajibnya setia pada jama’ah muslimin dan tidak memberontak pada para pemimpin yang zholim, karena Nabi menggambarkan kelompok yang terakhir bahwasanya mereka itu adalah para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam. Dan beliau tidak berkata tentang mereka: “Engkau mengenal dan mengingkari” seperti pada kedua kelompok yang pertama. Dan tidaklah mereka (kelompok terakhir) itu demikian kecuali dalam keadaan mereka itu bukan di atas kebenaran. Bersamaan dengan itu beliau memerintahkan untuk setia pada jama’ah.”

            Ath Thobariy berkata: “Perkara ini dan perkara Jama’ah diperselisihkan. Sekelompok orang berkata: “Itu adalah perintah yang wajib. Dan Jama’ah adalah As Sawadul A’zhom” Lalu Ath Thobariy meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin dari Ibnu Mas’ud bahwasanya beliau berwasiat pada orang yang bertanya pada beliau ketika Utsman terbunuh: “Engkau harus setia pada Al Jama’ah, karena sesungguhnya Alloh tidak akan menyatukan umat Muhammad di atas kesesatan.” Sekelompok kaum berkata: “Yang dimaukan dengan Al Jama’ah adalah: para Shohabat, bukan orang yang sepeninggal mereka.” Sekelompok kaum berkata: “Yang dimaukan dengan Al Jama’ah adalah: para ahli ilmu, karena Alloh menjadikan mereka sebagai hujjah terhadap para makhluk, dan manusia mengikuti mereka dalam urusan agama.”

            Ath Thobariy berkata: “Yang benar adalah bahwasanya yang dimaukan dari berita tadi adalah: setia pada Jama’ah yang mereka itu ada di dalam ketaatan pada orang yang mereka bersatu untuk menjadikannya sebagai pemimpin. Maka barangsiapa membatalkan bai’atnya, maka dia keluar dari jama’ah.

            Beliau berkata: “Dan di dalam hadits itu ada penjelasan bahwasanya kapan saja manusia tidak punya imam, lalu orang tepecah-belah dalam kelompok-kelompok maka janganlah dia mengikuti seorangpun dalam perpecahan, dan hendaknya dia menjauhi mereka semua jika sanggup, karena takut akan terjatuh dalam kejelekan. Dan berdasarkan itulah berita yang datang dalam seluruh hadits, dan dengannya tergabungkan berita-berita yang zhohirnya bertentangan.”

(selesai dari “Fathul Bari”/Ibnu Hajar/13/hal. 36-37).

            Jelas sekali dalam penjelasan di atas bahwasanya yang dimaksud dengan Al Jama’ah di sini adalah kumpulan mukminin dengan seorang pemimpin negara yang dibai’at secara sah.

            Yang dimaksud dengan meninggalkan mereka semua adalah seluruh kelompok yang batil. Dan kita tetap setia dengan kebenaran. Dan kebenaran itu berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Al Ijma’.

            Mulla Ali Al Qori رحمه الله berkata: “Beliau bersabda: “Tinggalkanlah kelompok-kelompok itu semuanya” yaitu: kelompok-kelompok yang sesat yang menyelisihi jalan lurus dari jalan Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Mashobih”/15/hal. 342).

            Apakah sekedar banyaknya orang itu menunjukkan pada kebenaran, sebagaimana ucapan sebagian ahli bida’? Tidak, karena timbangannya adalah kesesuaian dengan Al Qur’an, As Sunnah dan Al Ijma’, sama saja apakah orang yang mengucapkan tadi sedikit ataukah banyak. Inilah kebenaran yang dulu Jama’ah Shohabat ada di atasnya. Dari sini kita tahu bahwasanya makna Jama’ah adalah: mengikuti kebenaran, sama saja orangnya sedikit ataukah banyak atukah tinggal satu orang saja, karena sebenarnya dia itu setia pada jama’ah Shohabat.

Imam Abu Syamah رحمه الله berkata: “Di mana saja datang perintah untuk berpegang pada Al Jama’ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang pada al haq dan mengikutinya, sekalipun orang yang berpegang teguh dengannya itu sedikit, dan yang menyelisihinya itu banyak, karena al haq itu adalah sesuatu yang di atasnya itulah Al Jamaah yang pertama dari zaman Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabatnya. Dan tidak perlu melihat pada banyaknya ahlul bathil sepeninggal mereka. ‘Amr bin Maimun Al Audy رحمه الله berkata,”Aku telah menyertai Mu’adz bin Jabal di Yaman. Tidaklah aku meninggalkan beliau sampai aku mengebumikannya di Syam. Lalu sepeninggal beliau aku menyertai orang yang paling faqih yaitu Abdulloh bin Mas’ud. Maka aku mendengar beliau berkata:

علبكم بالجماعة فإن يد الله مع الجماعة

“Kalian harus setia dengan Al Jama’ah karena tangan Alloh itu menyertai Al Jama’ah.”

Lalu pada suat hari beliau berkata,”Akan datang pada masa kalian para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya. Maka tegakkanlah sholat pada waktu-waktunya karena itu adalah kewajiban. Dan sholatlah bersama mereka karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.”

Maka kukatakan pada beliau,”Wahai shohabat Muhammad, saya tidak tahu apa yang Anda katakan.” Beliau bertanya,”Apa itu?” Kukatakan,”Anda memerintahkan saya untuk setia dengan Al Jama’ah dan Anda mendorongku untuk bersama Al Jama’ah. Lalu Anda berkata padaku,”Sholatlah sendirian karena itu wajib, dan sholatlah bersama jama’ah karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.”

Maka beliau berkata,”Wahai ‘Amr bin Maimun, dulu aku mengira engkau itu adalah orang paling faqih dari negri ini. Tahukah engkau apa itu Al Jama’ah?”

Kujawab,”Tidak.”

Beliau berkata:

إن جمهور الناس فارقوا الجماعة وأن الجماعة ما وافق طاعة الله تعالى

“Sesungguhnya mayoritas manusia telah memisahkan diri dari Al Jama’ah. Sesungguhnya Al Jama’ah itu adalah apa yang mencocoki ketaatan pada Alloh ta’ala.”

Nu’aim bin Hammad رحمه الله berkata,”Beliau memaksudkan: Jika jama’ah tersebut telah rusak, wajib bagimu untuk berpegang dengan apa yang dulunya jama’ah tadi ada di atasnya sebelum rusaknya. Dan kalaupun engkau itu sendirian maka pada saat yang demikian itu engkaulah Al Jama’ah.”

Atsar ini ditampilkan oleh Al Hafizh Abu Bakr Al Baihaqy رحمه الله ta’ala dalam kitab “Al Madkhol”

(“Al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits” 1/hal. 22)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka jika engkau mendapatkan satu orang dari pemilik ilmu pencari dalil, menjadikan dalil sebagai hakim, mengikuti kebenaran di manapun dia berada, dan bersama siapapun kebenaran tadi, maka hilanglah kesepian, dan dihasilkanlah keakraban. Sekalipun si alim tadi menyelisihimu, maka dia menyelisihimu dan memberimu udzur, sementara orang yang bodoh dan zholim maka dia akan menyelisihimu tanpa hujjah dan mengkafirkanmu atau membid’ahkanmu tanpa hujjah, padahal dosamu adalah ketidaksukaanmu akan jalan dia yang berbahaya dan metode dia yang tercela. Maka janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang jenis ini karena sesungguhnya ribuan orang macam mereka itu tidak setara dengan satu orang dari ahli ilmu. Dan satu orang dari ahli ilmu itu setara dengan sepenuh bumi dari mereka. Dan ketahuilah bahwasanya ijma’, hujjah dan As Sawadul A’zhom itulah orang alim pembawa kebenaran sekalipun dia sendirian, sekalipun dia diselisihi penduduk bumi.

-sampai pada ucapan beliau:-

Sebagian imam hadits ketika disebutkan pada beliau tentang As Sawadul A’zhom berkata: “Tahukah engkau siapakah As Sawadul A’zhom itu? Dia adalah Muhammad bin Aslam Ath Thusiy dan para sahabatnya.” Orang-orang yang berselisih itu telah rusak manakala mereka menjadikan As Sawadul A’zhom dan Jama’ah adalah Jumhur (kebanyakan orang) dan mereka menjadikan jumhur sebagai patokan terhadap sunnah, dan mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah, dan yang ma’ruf sebagai munkar karena sedikitnya pemegangnya dan menyendirinya para pemegangnya di zaman-zaman dan kota-kota. Mereka berkata: “Barangsiapa menyendiri, maka Alloh akan menyendirikannya di neraka.” Orang-orang yang berselisih itu tidak tahu bahwasanya orang yang syadzdz (menyendiri) itu adalah orang yang menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyendiri. Seluruh manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyendiri kecuali sekelompok kecil. Mereka itulah Al Jama’ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang menyendiri. Dan Imam Ahmad sendirian sebagai Al Jama’ah. Manakala akal-akal manusia tidak sanggup memahami ini, merekapun berkata pada Kholifah: “Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda, para Qodhi Anda, para wali Anda, para fuqoha dan para mufti semuanya ada di atas kebatilan, sementara Ahmad sendirian ada di atas kebenaran?” maka ilmunya tidak cukup luas untuk itu, sehingga dia menghukum Al Imam Ahmad dengan cambukan dan hukuman setelah penjara yang lama. Maka tiada sesembahan yang benar selain Alloh. Alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin. Dan dia ini adalah jalan yang luas bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah sampai mereka berjumpa dengan Robb mereka. Para pendahulu mereka berlalu di atasnya, dan para generasi belakangan menunggu giliran.

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾.[الأحزاب/23]

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).

Maka tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

(“I’lamul Muwaqqi’in”/ 3/285-287/Darul Hadits).

            Itu tadi beberapa makna Jama’ah secara syar’iy. Dan bisa jadi ada beberapa makna yang lain, sesuai dengan datangnya lafazh tadi dalam sunnah.

            Kemudian apabila kita lihat dalil-dalil yang berbicara tentang anjing neraka dan khowarij, seperti:

Sa’id bin Jumhan berkata:

أتيت عبد الله بن أبي أوفى وهو محجوب البصر، فسلمت عليه، قال لي: من أنت؟ فقلت: أنا سعيد بن جمهان، قال: فما فعل والدك؟ قال: قلت: قتلته الأزارقة، قال: لعن الله الأزارقة، لعن الله الأزارقة، حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم «أنهم كلاب النار»، قال: قلت: الأزارقة وحدهم أم الخوارج كلها؟ قال: بل الخوارج كلها. قال: قلت: فإن السلطان يظلم الناس، ويفعل بهم. قال: فتناول يدي فغمزها بيده غمزة شديدة ، ثم قال: ويحك يا ابن جمهان عليك بالسواد الأعظم، عليك بالسواد الأعظم. إن كان السلطان يسمع منك، فأته في بيته، فأخبره بما تعلم، فإن قبل منك، وإلا فدعه، فإنك لست بأعلم منه.

Aku mendatangi Abdulloh bin Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta. Lalu kuucapkan salam pada beliau, maka beliau bertanya: “Siapakah engkau?” kujawab: “Saya Sa’id bin Jumhan.” Beliau berkata: “Apa yang dikerjakan oleh ayahmu?” kujawab: “Beliau dibunuh oleh Azariqoh.” Maka beliau menjawab: “Semoga Alloh melaknat Azariqoh, semoga Alloh melaknat Azariqoh.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم menceritakan pada kami: “Bahwasanya mereka adalah anjing-anjing neraka.” Aku bertanya: “Azariqoh saja ataukah seluruh khowarij?” beliau menjawab: “Bahkan seluruh khowarij.” Aku berkata: “Sesungguhnya sang penguasa telah menzholimi manusia dan bersikap keras pada mereka.” Maka beliau mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan keras, lalu berkata: “Kasihan kamu wahai Ibnu Jumhan, engkau harus setia dengan As Sawadul A’zhom([1]), engkau harus setia dengan As Sawadul A’zhom. Jika sang penguasa mendengar ucapanmu, maka datangilah di rumahnya, lalu kabarilah dia dengan apa yang engkau ketahui. Jika dia menerima darimu, maka itu yang diharapkan, jika tidak, maka biarkan dia, karena engkau tidaklah lebih tahu daripada dirinya.” (HR. Ahmad (19415) dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (545)/Darul Atsar).

            Dan dari Abu Gholib yang berkata:

لَمَّا أُتِىَ بِرُءُوسِ الأَزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ: «كِلاَبُ النَّارِ – ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – هَؤُلاَءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ». قَالَ: فَقُلْتُ: فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ؟ قَالَ: رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ. قَالَ: قُلْنَا: أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلاَءِ كِلاَبُ النَّارِ، أَوْ شَىْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِنِّى لَجَرِىءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَعَدَّ مِرَاراً.

“Ketika didatangkan kepala-kepala orang-orang Azariqoh lalu ditancapkan di tangga-tangga Dimasyq, datanglah Abu Umamah. Maka beliau melihat mereka, mengalirlah air mata mereka, seraya berkata: “Anjing-anjing neraka.” Sebanyak tiga kali. “Mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang yang mereka bunuh.” Maka aku bertanya: “Lalu kenapa air mata Anda berlinang?” beliau menjawab: “Rasa kasihan kepada mereka. Sesungguhnya mereka dulunya adalah muslimin.” Kami katakan: “Apakah Anda mengucapkan bahwasanya mereka adalah anjing-anjing neraka ini dengan pendapat Anda sendiri, ataukah sesuatu yang Anda dengar dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم?” beliau menjawab: “Aku sungguh lancang jika demikian. Bahkan aku mendengarnya dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم bukan cuma sekali, atau dua kali atau tiga kali.” Beliau menghitungnya berkali-kali.” (HR. Ahmad (22314) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (482)/Darul Atsar).

            Maka jelas sekali bahwasanya yang dimaksud dengan orang yang meninggalkan jama’ah di sini, yang dijuluki sebagai khowarij, yang terancam di akhirat menjadi anjing neraka adalah para pemberontak terhadap pemerintah muslimin yang sah, bukan orang yang tidak setia pada pemimpin suatu yayasan.

            Hadits-hadits yang mengecam khowarij dan memerintahkan agar mereka dibunuh, dan menghukumi mereka sebagai anjing neraka, adalah dikarenakan dahsyatnya bahaya mereka terhadap agama umat karena gampangnya mereka untuk mengkafirkan orang yang berbuat dosa besar, dan karena besarnya perusakan mereka terhadap Negara dan tatanan masyarakat muslimin.

            Dari Abu Umamah رضي الله عنه yang berkata bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الخوارج كلاب النار

“Khowarij adalah anjing-anjing neraka” (HR. Ath Thobroniy dalam “Al Ausath” (9085)/hadits shohih).

Al Munawiy رحمه الله berkata: “Al Khowarij” yaitu orang-orang yang menyangka bahwasanya setiap orang yang melakukan dosa besar maka dia itu kafir kekal di neraka selamanya. “Anjing” bagi penduduk “Neraka” mereka adalah suatu kaum yang:

ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا

“Sesat usaha mereka di dalam kehidupan dunia dalam keadaan mereka mengira bahwasanya mereka itu berbuat sangat bagus.”

Yang demikian itu dikarenakan mereka rajin bercapek-capek ibadah dalam keadaan di dalam hati mereka ada penyelewengan sehingga mereka keluar dari agama ini dengan sebab setan mereka menyesatkan mereka sampai mereka mengkafirkan ahli tauhid dengan satu dosa, dan mereka menta’wilkan ayat bukan pada tempatnya, sehingga mereka telantar setelah sebelumnya mereka terdukung sehingga mereka menjadi anjing-anjing neraka. Mukmin itu ditutupi dan disayangi serta diharapkan ampunan dan rohmat untuknya, sementara orang khowarij yang terfitnah itu membongkar dan memburuk-burukkan serta membikin orang putus asa. Dan ini adalah akhlaq anjing-anjing dan perbuatan mereka. Manakala mereka suka menyerang para hamba Alloh dan melihat para hamba Alloh dengan pandangan mata meremehkan dan memusuhi dan mereka masuk ke dalam neraka, jadilah mereka berbentuk seperti bentuk amalan mereka sebagai anjing, sebagaimana dulu mereka menjadi anjing yang suka menyerang Ahlussunnah di dunia dengan makna tersebut.”

(selesai dari “Faidhul Qodir”/3/hal. 509).

            Ini semua tidak pantas dihantamkan pada orang yang tidak setia pada suatu yayasan dan kepala yayasannya. Dan tiada satu dalilpun dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang menyatakan bahwasanya orang yang tidak setia pada kepala yayasan atau jama’ah pengikut suatu yayasan, maka orang tadi dihukumi sebagai khowarij dan anjing neraka.

            Saya bertanya kepada Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله : “Ada pertanyaan dari Indonesia, bahwasanya di sana ada yayasan dakwah, yang mana kepala yayasannya berkata: “Barangsiapa memberontak terhadap peraturan yayasan ini maka dia itu khorijiy dan terkena hadits-hadits tentang anjing neraka.” Apakah seperti ini benar?”

            Beliau menjawab: “Khowarij itu orang-orang yang memberontak pada pemerintah, bukan pada kepala yayasan.”

            Saya berkata: “Mereka menyatakan bahwasanya pemerintah telah mengizinkan yayasan tadi.”

            Beliau menjawab: “Sekalipun pemerintah mengizinkan adanya yayasan, orang yang melanggar peraturan yayasan tidaklah dikatakan sebagai khowarij, karena tidaklah dia itu memberontak pada pemerintah.”

            Insya Alloh ada penjelesan panjang lebar dan lebih lengkap tentang hal ini, akan tetapi saya cukupkan sampai di sini dulu, semoga bermanfaat. Jika ada bantahan atau kritikan, insya Alloh saya akan mendatangkan bayan yang lebih lengkap dan mendetail.

            Saya senang untuk jika membantah, saya menyembunyikan nama orang yang saya bantah. Tapi jika dirinya telah masuk dalam kategori menyerang Ahlussunnah dan membahayakan pemahaman umat, maka saya sebut nama dia sesuai dengan kadarnya insya Alloh. Dan tiada yang selamat dari kesalahan kecuali orang yang Alloh beri ‘ishmah. Wallohu ta’ala a’lam.

والحمد لله رب العالمين

Dammaj, 3 Syawwal 1434 H

 

 

 


([1]) Ibnul Atsir رحمه الله berkata: “Engkau harus setia dengan as sawadul a’zhom” yaitu: keseluruhan manusia dan mayoritas mereka yang bersatu untuk taat pada penguasa dan menempuh jalan yang lurus.” (“An Nihayah Fi Ghoribil Hadits Wal Atsar”/hal. 419).