Karakter Haddadiyah

Dalam Diskusi Ilmiyyah

(Komentar terhadap isi Kitab “Aujuhusy Syabah Bainal Hadadiyyah wa

Bainar Rowafidh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

Pengantar Seri Empat

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kami telah menyelesaikan seri empat dari terjemah risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”.

Isi dari seri empat ini adalah melanjutkan pembahasan bahwasanya mengkritik kesalahan dan menjelaskan sisi yang benar merupakan kewajiban, dan tidak boleh dihalangi, sekalipun yang berbuat salah itu adalah orang besar. Tentu saja perbaikan tadi harus disertai dengan adab-adab syar’iyyah.

Orang yang bersalah tadi harusnya bersyukur kepada orang yang menunjukkan kesalahannya agar dirinya tidak berlama-lama dalam kesalahan tadi, dan agar umat tidak tersesat dikarenakan mengikuti kesalahan dirinya. Dan sangat tidak pantas bagi dirinya untuk mengedepankan kebesaran dirinya di mata masyarakat demi menghalangi orang yang menyampaikan nasihat.

Oya, cahaya kebenaran memang terlalu silau di mata orang-orang yang sesat, sebagaimana pedang hujjah memang terlalu tajam untuk bisa ditangkis. Akibatnya, banyak ahlul batil yang ketakutan untuk berhadapan langsung, dan memilih untuk menyebar berita bohong tanpa berani bertanggung jawab, atau pura-pura berani berhadapan tapi dengan nama samaran dan topeng penutup wajah. Contohnya sudah amat banyak dan jelas bagi orang-orang yang mengikuti pergulatan antara Salafiyyin dan hizbiyyin. Di antara contohnya yang terbaru adalah berikut ini:

Sebulan lalu telah beredar berita bahwasanya sebagian Luqmaniyyun Hizbiyyun memberitakan bahwasanya Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy Al Indonesiy وفقه الله stress karena melihat banyaknya pengikut Luqman Ba Abduh. Bahkan sebagian mereka memberitakan bahwasanya mereka melihat Abu Fairuz telah ada di kota kelahirannya dalam keadaan sinting atau hampir gila.

Alhamdulillah Abu Fairuz ini masih sehat, diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk terus istiqomah belajar di Darul Hadits Dammaj Yaman. Untuk apa stress karena melihat banyaknya pengikut kebatilan? Sejak awal kami sudah tahu bahwa pengikut jalan kebatilan itu lebih banyak.

Alloh ta’ala berfirman:

`s9ur zÓÍ_øóè? ö/ä3Ztã öNä3çGt¤Ïù $\«øx© öqs9ur ôNuŽèYx. ¨br&ur ©!$# yìtBtûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÊÒÈ

“Dan angkatan perang kalian sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kalian sesuatu bahayapun, biarpun banyak jumlahnya. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anfal: 19)

NŸ2 `ÏiB 7pt¤Ïù As#ŠÎ=s% ôMt7n=xî Zpt¤Ïù OouŽÏWŸ2 ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 ª!$#ur yìtBtûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇËÍÒÈ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh: 249).

Bahkan mungkin Luqman Ba Abduh dan para pengikutnyalah yang stress melihat kelompok yang sedikit ini diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk tegak di medan perang dengan hujjah yang penuh cahaya, dan sanggup menggoncang kaki dan jiwa musuh, sampai-sampai banyak dari hizbiyyun yang tak sanggup berhadapan kecuali dengan identitas samaran. Sampai-sampai Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri hingga sekarang tak sanggup mengeluarkan ucapan resmi yang terrekam atau tertulis bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah haddadiy. Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau di Dammaj dan luar Dammaj.

Beberapa hari yang lalu ana menerima SMS dari HP Abu Yahya Ahmad Al Jawiy حفظه الله bahwasanya Wintazon Semarang turut menyebarkan bahwasanya Abu Fairuz stress dan punya potensi stress sejak kuliah.

Maka ana jawab bahwasanya kitab-kitab dan tulisan-tulisan ana dari dulu hingga kini cukup untuk membuktikan apakah ana stress ataukah tidak. Juga ana katakan bahwasanya kita semua punya potensi untuk stress karena kita ini bukanlah orang yang ma’shum dari itu semua. Tapi jika ana memang tidak stress masak sih harus dipaksa untuk mengaku stress? Sebenarnya apa salah ana kepada Wintazon sehingga dia nyerang-nyerang ana terus?

Dan ana minta untuk dicarikan sumber berita yang menyatakan ana stress.

Maka beliau menjawab dalam SMS hari itu juga (24 Romadhon 1432 H): “Itu yang sedang kami cari. Sayangnya ikhwah-Ikhwah yang tahu berita itu pada nggak mau ngaku dia dengar dari siapa. Antum dikabarkan sudah di Kudus 3 bulan yang lalu. Bahkan ada ikhwan dan istrinya bersumpah melihatmu di rumah Kudus sedang ndremimil. Masih ana cari siapa suami istri ini. Abu Hazim dapat info Nurwahid umumkan hal itu di majelisnya. Tapi ana belum tahu benar apa tidak.. mereka jahat sekali ya? Masak dikatakan juga hampir gila.”

Lalu ana jawab: Alhamdulillah. Ana masih di sini di Darul Hadits Dammaj Yaman. Barangkali orang yang lihat tadi kurang berdzikir kepada Alloh sehingga mata dan hatinya ditipu oleh setan. Ingatlah juga kisah Ibnu Batuthoh.

Lalu beliau menjawab lagi pada hari yang sama: “Abdurrohim pati dan istrinya (pengajar di pondok Nurwahid), sekarang di Kudus, jadi ustadz di sana, atas perintah Qomar.. mungkin dia. Wintazon cinta ja’far dan Dzul Akmal, kami adalah penghalangnya, maka ia benci kami dan antum. Atau dia iri padamu.”

Maka ana menjawab: Jazakumullohukhoiro. Jawaban cukup jelas. Semoga Alloh melindungi kita dari penyakit-penyakit hati yang menyebabkan nilai kita jatuh di sisi Alloh.

Para pembaca بارك الله فيكم sungguh memprihatinkan ya keadaan jiwa para hizbiyyun. Mereka sudah didukung oleh ulama papan atas, akan tetapi manakala hati kecil mereka sendiri menyadari kebatilan jalan mereka dan lemahnya hujjah mereka maka mereka senantiasa dihantui oleh ketakutan sehingga kualitas tempur mereka jauh dari hujjah-hujjah yang bercahaya, dan memakai cara-cara murahan untuk menjatuhkan lawan-lawan mereka.

Sekarang tibalah saatnya untuk masuk ke pembahasan seri empat. Semoga Alloh memberikan hidayah-Nya.

? ? ? ? ?

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Maka kritikan itu wahai ikhwan, tidak boleh pintunya ditutup, karena kita berarti akan mengatakan ditutupnya pintu ijtihad –semoga Alloh memberkahi kalian-. Dan kita tidak memberikah pensucian pada pemikiran seorangpun sama sekali. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun datangnya, sama saja apakah dia itu seorang salafiy ataukah bukan salafiy. Akan tetapi bermuamalah dengan Ahlul haq wassunnah yang telah kita ketahui keikhlasan mereka, ijtihad mereka dan kesetiaan mereka kepada Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, pimpinan Muslimin dan orang awamnya tidaklah sama dengan muamalah dengan ahlul bida’ wadh dholal. Kembalilah kalian kepada kitab Al hafizh Ibnu Rojab رحمه الله : “Al Farqu Bainan nashihah Wat ta’yir”.

Jika orang tadi berbicara dan memberikan penjelasan lalu berbicara, maka penjelasan terhadap petunjuk dan kebenaran itu memang wajib. Sa’id ibnul Musayyab telah pernah dikritik, dan juga Ibnu Abbas, Thowus, dan para murid Ibnu Abbas juga dikritik. Tidak ada seorangpun yang berkata: “Ini adalah tho’n” tidak ada yang berkata demikian kecuali ahlul hawa.

Kami jika mengkritik Al Albaniy, tidaklah kami menempuh jalan ahlul ahwa dengan berkata: “Jangan, jangan kalian kritik Al Albaniy.” Baiklah. Kesalahannya tersebar dengan nama agama. Begitu pula kesalahan Ibnu Baz, kesalahan Ibnu Taimiyyah, kesalahan siapapun. Kesalahan apapun wajib untuk dijelaskan kepada manusia bahwasanya ini adalah suatu kesalahan, setinggi apapun kedudukan orang yang muncul darinya kesalahan ini, dikarenakan kita sebagaimana telah kami katakan berulang kali bahwasanya kesalahannya itu dinisbatkan kepada agama Alloh.

Akan tetapi kita membedakan –sebagaimana telah aku katakan- antara Ahlussunnah dan ahlul bid’ah, sebagaimana kata Ibnu Hajar dan lain-lain. Mubtadi’ itu dihinakan dan tidak ada kehormatan sedikit pun baginyadikarenakan maksudnya yang jelek. Mubtadi’ adalah pengikut hawa nafsu, –sampai pada ucapan beliau:- sisi pendalilan kita di sini adalah bahwasanya kritikan pada ulama, dan di antara ulama ada yang saling mengkritik dan menjelaskan pada manusia demi menjauhkan penisbatan kesalahan itu pada agama Alloh عز وجل ini wajib, dan tidaklah kami mengatakan: “Boleh.” Wajib untuk mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia, dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل عمران/187].

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,”

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة/78، 79].

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

Kritikan adalah termasuk dalam bab ingkarul mungkar. Maka kritikan terhadap individu-individu besar Salafiyyin jika berbuat salah, dan penjelasan tentang kesalahan mereka ini termasuk bab amar ma’ruf nahi munkar, dan termasuk dalam bab penjelasan yang diwajibkan oleh Alloh, dan termasuk bab nasihat yang diwajibkan oleh Alloh dan diharuskan-Nya terhadap kita.” (AlAjwibah AsSalafiyah Ala As’ilah Abi Rowahah AlManhajiyah: 16-19/Majalisul Huda).

Aku –Abu Fairuz- katakan وفقني الله : Ini perkataan yang bagus. Akan tetapi termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwasanya ketergelinciran Ubaid Al Jabiry هداه الله telah menjadi banyak dan terang dan tersebar di jaringan-jaringan internet. Termasuk di antaranya adalah:

– dia membolehkan pemilihan umum dengan disertai sedikit pengkaburan

– dia membolehkan televisi dan kamera

– Dia mencerca Amirul Mu’minin fi hadits Syu’bah ibnul Hajjaj

– Dia membolehkan pekerjaan yang di situ ada percampuran lelaki dan perempuan, disertai dengan sedikit talbisat (pengkaburan)

– Dia mengangkat lagi Sholih Al Bakriy sang hizbiy yang telah mati namanya

– Kejahatannya terhadap Darul hadits Dammaj, dan kedustaannya terhadap pengelolanya

– Dia mendatangkan beberapa prinsip lalu membatalkannya sendiri dalam prakteknya

– Dia fanatik terhadap Abdurrohman bin Mar’i dalam kasus Al Jami’atul Islamiyyah

– Dia tidak mau membid’ahkan Ali Hasan Al Halabiy bersamaan dengan pengakuannya tentang besarnya penyelewengan Al Halabiy. Dia juga tidak mau menyuruh Ahlusy Syam untuk menjauhi Al Halabiy. Bersamaan dengan perbuatan itu dia mencaci Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan berbagai cacian jahat, dan menyuruh manusia untuk menjauhi beliau, padahal Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tidak melakukan apa yang diperbuat oleh Al Halabiy meskipun sepersepuluhnya.

– Dan termasuk dari kebatilan Al Jabiriy juga adalah: dia menyemangati Muslimin Eropa untuk hijroh ke Birmingham

– Dia membolehkan untuk membatalkan pengaruh sihir dengan cara sihir pula

Tapi kami tidak melihat dari sang pemilik ucapan yang bagus tadi pengingkaran terhadap Ubaid atas penyelewengan-penyelewengannya tadi. Manakala Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan para muridnya حفظهم الله membantah Ubaid dengan hujjah dan burhan dia – pemilik ucapan yang bagus tadi- justru meneriaki mereka dengan berkata: “Haddadiy! Tidak meninggalkan seorangpun kecuali berbicara tentangnya!” atau yang semakna dengan ini.

Allohul musta’an, Syaikh kami Yahya dan yang bersama beliau itu berbicara tentangnya dengan hujjah dan burhan ataukah semata-mata dengan dugaan belaka? Jika mereka berbicara dengan bayyinat, kenapa dia tidak menerimanya? Bukankah Asy Syaikh Robi’ sendiri yang berkata: “Kebenaran itu wahai Abdurrohman, lebih besar daripada seluruh langit dan bumi, dan lebih besar daripada kelompok-kelompok yang engkau bela. Dan kebenaran itu lebih kami cintai daripada anak-anak dan keluarga.” (“Jama’ah Wahidah”).

Kemudian Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan ulama serta thullab yang bersama beliau حفظهم الله tidaklah berbicara tentang seorang alim yang menisbatkan diri kepada sunnah, sampai si alim itu yang berbuat zholim kepada mereka. Maka tidaklah setiap orang yang diam terhadap fitnah kedua anak Mar’i itu Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berbicara tentangnya. Bahkan mereka bersabar terhadapnya dengan tetap memberikan nasihat-nasihat. Ketika orang tadi mulai berbicara tentang Ahlu Dammaj dan berbuat zholim kepada mereka, maka merekapun membela diri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الله إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ * إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zholim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy Syuro: 40-42).

Alloh subhanahu juga berfirman:

﴿لَا يُحِبُّ الله الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ الله سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء/148].

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«المستبان ما قالا فعلى البادئ ما لم يعتد المظلوم». (أخرجه مسلم (2587)).

“Dua orang yang saling memaki itu, apa yang mereka ucapkan maka atas orang yang mulailah tanggungan dosanya, selama orang yang dizholimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim (2587)).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Maknanya adalah bahwasanya seluruh dosa cacian yang terjadi di antara kedua orang itu dikhususkan bagi orang yang memulainya, kecuali jika orang yang kedua melampaui kadar pembelaan diri dan berkata pada orang yang memulai lebih banyak daripada apa yang diucapkannya padanya.Dalam hadits ini ada dalil tentang bolehnya membela diri, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya hal itu. Dan telah bermunculan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah tentang hal itu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل﴾

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.”

﴿والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون﴾

“Dan orang-orang yang jika tertimpa kezholiman mereka membela diri.”

Dan bersamaan dengan ini maka bersabar dan memaafkan itu lebih utama. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور﴾

“Dan barangsiapa yang bersabar dan mengampuni maka sungguh yang demikian itu merupakan perkara yang ditekankan.”

Dan berdasarkan hadits yang disebutkan setelah ini:

«ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا»

“Tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan.”

Dan ketahuilah bahwasanya mencaci seorang muslim tanpa hak adalah harom, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

«سباب المسلم فسوق».

“Mencaci seorang muslim merupakan kefasiqan.”

Dan tidak boleh bagi orang yang dicerca untuk membalas kecuali dengan yang semisal dengan cacian tadi, selama bukan merupakan suatu kedustaan atau tuduhan palsu, atau cercaan pada pendahulunya.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/8/hal. 398).

Iya, kesabaran dan pemaafan itu lebih utama jika kezholiman tadi terkait dengan perkara pribadi atau duniawi, misalnya. Adapun kezholiman terhadap agama ini maka tidak boleh didiamkan saja.Maka tidak masuk akal jika dikatakan bahwasanya orang yang membela dirinya dan agamanya dengan cara yang benar itu telah mencerca ulama. Tidaklah mengucapkan itu kecuali orang bodoh atau dengki atau pengekor hawa nafsu. Wallohu a’lam.

Jika seseorang berkata وفقه الله: “Sesungguhnya Asy Syaikh Fulan telah mengkafirkan Asy Syaikh Robi’, tapi beliau tidak membela dirinya!”

Maka jawabnya adalah: Terserah beliau untuk tidak membela dirinya. Dan tidak sepantasnya bagimu untuk mengharuskan orang lain menempuh jalan beliau ini, sementara Rosululloh صلى الله عليهوسلمtelah membela diri dalam kasus Dzul Khuwaishiroh dengan bersabda:

(ويلك من يعدل إذا لم أعدل؟)

“Celakalah kamu, siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?” (HR. Al Bukhoriy (3610) dari Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).

Juga bersabda صلى الله عليه وسلمdalam kasus pembagian emas:

(ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء)

“Tidakkah kalian mempercayai diriku sementara aku adalah orang kepercayaan dari Yang ada di langit?” (HR. Al Bukhoriy (4351) dan Muslim (1064) dari Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).

Dan beliau bersabda dalam kejadian bantahan Sa’d bin Abu Waqqosh رضي الله عنه:

« يا سعد ، إني لأعطى الرجل وغيره أحب إلى منه ، خشية أن يكبه الله في النار ».

Wahai Sa’d, sungguh aku itu memberi orang itu dalam keadaan orang yang lainnya lebih aku cintai daripada dirinya. Aku beri dia karena takut dirinya akan ditelungkupkan Alloh ke dalam neraka.” (HR. Al Bukhoriy (27) dan Muslim (150)).

Kemudian sesungguhnya dakwah Salafiyyah ini, yang berdiri di Darul hadits di Dammaj adalah dakwah besar yang agung ke seluruh penjuru dunia, maka barangsiapa mencerca para pengelolanya tanpa hujjah, maka sungguh dia telah menghalangi manusia dari jalan Alloh dan berbuat zholim kepada Islam dan Sunnah. Maka bagaimana engkau mengharuskan kami untuk diam dan tidak usah membela dakwah tadi dan pengelolanya? Dengan dalil apa engkau mengharuskan kami dengan yang demikian itu? Maka marilah kita kembali kepada Alloh dan Rosul-Nya ketika terjadi perselisihan ini sebagaimana kita diperintahkan, dan tinggalkanlah kami dari ro’yu para tokoh. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya Ahlussunnah mengajak manusia ketika terjadi perselisihan untuk berhukum kepada As Sunnah, bukan pendapat-pendapat para tokoh dan hasil akal mereka.” (“Mukhtashorush Showa’iq”/hal. 603/Darul Hadits).

Adapun membiarkan pelaku kebatilan berbicara tentang Darul Hadits di Dammaj tanpa haq, maka hal ini termasuk bentuk menolong ahlul batil untuk meruntuhkan Darul Hadits dan untuk menghalangi manusia dari Darul Hadits. Maka saya berharap orang yang berbuat demikian mau memeriksa kembali sikap yang dipilihnya tadi karena saya khawatir dia akan mendapatkan bagian dari perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan tidaklah menghalangi manusia dari ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).

[Pasal Ketujuh: Bersembunyi Di Balik Sebagian Ulama Sunnah Sambil Menyusun Makar Terhadap Sebagian Ulama yang Menampakkan Kebenaran]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi yang ketujuh: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi dan penyelisihan mereka pada prinsip-prinsip, manhaj dan sikap mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rowafidh yang bersembunyi di balik Ahlul Bait dalam keadaan mereka menyelisihi manhaj dan prinsip Ahlul Bait dan membenci mayoritas Ahlul Bait. Kenapa mereka melakukan ini?

Komentar ana:

Yang ketujuh dari sifat Haddadiyyah: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi. Dan tidak ada pada Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله sikap bersembunyi. Perkataan beliau jelas, sumber penukilannya disebutkan dari kitab-kitab Salaf, kecintaan beliau pada ulama sunnah itu terang. Beliau cinta pada orang-orang yang istiqomah, membenci orang-orang yang menyimpang, sambil menegakkan hujjah dan burhan terhadap sikap yang beliau ambil.

Adapun hizb baru –Mar’iyyah-, berapa kali mereka bersembunyi di balik Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dalam keadaan mereka menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah yang beliau ada di atasnya? Berapa banyak pula mereka bergantung kepada nama Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam kondisi mereka itu jauh dari jalan Salafiyyah yang ‘afifah (menjaga kehormatan) yang mutamayyizah (memisahkan diri dari ahlul batil) yang beliau tempuh?

Adapun perkara makar, maka Mar’iyyun mereka itulah tukang makar, dan tipu daya mereka telah tersingkap dengan seizin Alloh.

Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal حفظه الله : “Dan telah tetap juga perkara yang menunjukkan makar dan khianat orang ini –yaitu Salim Ba Muhriz-. Maka di antara perkara yang kami ketahui: Pertama: Berita yang dikabarkan kepada kami, oleh saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, yaitu: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”

Ini adalah makar dan tipu daya yang nyata serta rencana untuk menimpakan fitnah di barisan Ahlussunnah, di mata orang-orang yang inshof (adil/objektif). Akan tetapi yang mengherankan adalah orang yang telah sampai padanya ucapan semacam ini tapi dia diam saja tidak bergerak seakan-akan dia ridho dengan itu!”([1]) (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirofi Ibnai Mar’i”/hal. 13).

Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi Al Qobbash Asy Syabwiy: Kami pernah pulang dari muhadhoroh di So’dah bersama Abdurrohman Al ‘Adniy. Dan yang demikian itu setelah pulangnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله dari perjalanan beliau ke ‘Adn yang terakhir, maka berkatalah akh Shodiq Al ‘Abdiniy –dan dia termasuk teman dan orang dekat Abdurrohman Al ‘Adniy- kepada Abdurrohman: “Yang menghadiri ceramah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di ‘Adn itu jumlahnya besar. Kami menyangka kerajaan kita akan berdiri di sana –di ‘Adn-. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).

Abdul Hakim bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi atas perkataanku ini.”

Abul Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini:“Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”

Abdulloh Al Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.

Dan semisal dengan ini Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatiorang lain dengan dihadiri Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.

Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.

(Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 4-5/ditulis oleh para pengajar darul hadits Dammaj, di antaranya adalah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy, Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Abdul hamid Al Hajuriy dan yang lainnya).

Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه اللهmengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qosy’amiyحفظه الله hal. 16.

[Pasal Delapan: Mengadu Domba Di Antara Ahlul Manhajus Salafiy]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله : melanjutkan: jawabnya adalah: Agar memungkinkan bagi mereka untuk menjatuhkan orang-orang yang memerangi mereka dari kalangan Ahlussunnah, dan agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca mereka, dan memperburuk citra mereka dan citra prinsip-prinsip mereka, dan agar bisa merealisasi sasaran mereka dalam memecahbelah Ahlul manhajis Salafiy dan membenturkan mereka satu sama lain.

Komentar ana:

Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: mengadu domba di antara ulama. Dan ini juga kenyataan dari karakter Mar’iyyin, mereka menjilat ke para ulama seperti Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله , Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy, Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy untuk menjatuhkan orang yang membongkar hizbiyyah Mar’iyyah agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca mereka, memperburuk citra mereka. Para Salafiyyun yang adil dan objektif dan ulama mereka menjadi saksi atas kerasnya usaha Mar’iyyin dalam mengadu domba para pemeluk manhaj Salafiy.

Dan inilah yang dilakukan oleh Abdurrohman Al ‘Adniy dan saudaranya Abdulloh, Hani Buroik, dan ‘Arofat bin Hasan, yang digambarkan oleh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله bahwasanya mereka adalah orang-orang khususnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه اللهberkata pada ‘Ubaid وفقه الله : “Sisi ketiga: apakah termasuk dari duduk yang baik adalah mengadu domba di antara Ahlussunnah?!! Dan ini adalah perkara yang telah pasti dari orang-orang tadi. Pindah kesana kemari, menelpon kesana dan kesini dari satu tempat ke tempat lain di tempat-tempat para masyayikh, di Yaman dan selain Yaman, hingga hampir saja mereka membikin fitnah di antara kami di Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi dada.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 9).

Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid Al Jabiriy وفقه الله : “Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan padamu wahai Syaikh, bahwasanya kebanyakan orang yang membikin fitnah dan kegoncangan terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman itu jika mereka terbongkar di sisi kami, mereka akan lari ke ulama Saudi, sambil berpura-pura baik di hadapan mereka, sampai-sampai ada dari Ahlussunnah yang berkata: “Kenapa kalian tidak bersepakat saja bersama Az Zindaniy, dan bersama saudara kalian anggota Jam’iyyah ini dan itu?” mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana yang engkau sebutkan dalam jawabanmu ini. Hanya saja pujian mereka dan baik sangkanya mereka kepada orang-orang tadi tidaklah membersihkan mereka dari kasus yang mereka bikin, menurut orang yang telah mengetahui kejahatan mereka tadi. Bahkan yang demikian itu hanya akan menambah pengetahuan dan keyakinan bahwasanya mereka itu adalah para pelaris fitnah, bukan orang-orang yang tenang, bukan orang-orang yang cepat bertobat pada Alloh عز وجل dari kejahatan mereka itu.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 10-11).

Lihatlah perincian upaya adu domba yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy dalam “Nashbul Manjaniq” (hal. 134,136,139/Yusuf Al Jazairiy), “Iqodzul Wisnan” (hal. 5,29) dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 31-32/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy), “Al Qoulush Showab Fi Abil Khoththob” (karya Haidaroh Al ja’daniy), dan “Zajrul ‘Awi” (juz 3/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy).

Sebagai contoh saja dalam penyebutan para tokoh adu domba Mar’iyyun adalah sebagai berikut:

‘Arofat Al Bushoiriy. Berupaya mengadu domba para tokoh utama, sementara dia sendiri meremehkan ulama Yaman dan pimpinan mereka yaitu Al Imam Muhadditsil Jaziroh Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله . (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Muhammad Gholib. Termasuk orang-orang yang mengadu domba antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Ubaid. Yang demikian itu dikarenakan kedekatannya pada Ubaid. Muhammad Gholib adalah teman duduk yang jelek. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hani bin Buroik Al ‘Adniy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata tentangnya: Hani bin Buroik, pada hakikatnya dia itu tak punya nilai besar di sisi kami –sampai pada ucapan beliau:- dan dia mengadu domba antara kami dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq dan perlindungan. Dia berkata: “Tamparlah mereka, wahai Syaikh, sekaranglah saatnya bagi Anda untuk untuk menampar mereka wahai Syaikh.” Demikianlah saudara kita mengabari aku, dan dia mendengar, dan dia yang bertanggung jawab atas berita ini. Aku tidak menukilkan setiap perkara yang datang padaku. Aku hanya menukilkan hakikat yang ada sanadnya.” Dst. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 11/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hafizh Al Junaidiy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Semoga Alloh tidak membalasnya dengan kebaikan. Dia telah menulis risalah yang kesimpulannya adalah cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan mengadu domba di antara ulama. Dia telah dibantah oleh akh fillah ‘Arofat Al Qibbathiy dengan risalah yang berjudul “Ar Roddul Badi’ ‘Ala Hafizh Al Junaidiy Ash Shori’”. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iyحفظه الله).

Asy Syaikh Abu Abdissalam -Hasan bin Qosim Ar Roimiy- حفظه الله menggambarkan hizb baru itu sebagai berikut: “Yang penting adalah bahwasanya mereka itu sebagaimana telah aku sebutkan terdahulu berupaya keras untuk menghasilkan perpecahan di antara ulama sunnah di dalam dan luar Yaman. Kejadian perang kaset antar dua syaikh Al Wushobiy dan Al Hajuriy tidak lain adalah contoh yang terbaik untuk itu. Dan tidaklah perang malzamah yang dikeluarkan Asy Syaikh Al Jabiriy وفقه الله untuk menentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kecuali contoh hidup yang baik untuk membuktikan apa yang telah aku jelaskan terdahulu.” (“Ar Roddul Qosimiy”/hal. 3).

Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله menyebutkan bahwasanya di antara sisi kemiripan antara Abdulloh Mar’i dengan Abul Hasan adalah: mengadu domba di antara ulama sunnah. (“Zajrul ‘Awi”/juz 3/hal. 34).

Dan di antara perbuatan pengikut Abdulloh bin Mar’i itu adalah sebagaimana laporan dari para pelajar Dis Timur حفظهم الله bahwasanya sebagian pengikut Nabil Al hamr, mereka itulah yang menelpon Ubaid dengan soal-soal yang bersifat adu domba itu. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy).

Dan saya khawatir bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiyسلمه الله termasuk dari korban perbuatan adu domba mereka.

Maka Baromikah Mar’iyyah yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Haddadiyyun dalam bab ini. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله sungguh kalian telah benar-benar tahu bahwasanya beliau sejak zaman dulu sangat menjauh dari mengadukan seseorang ke para masyayikh. Jika beliau dituntut untuk mengemukakan hujjah tentang kritikannya terhadap seseorang, maka beliaupun menampilkan hujjah itu. Bahkan kalian telah sering mendengarkan ucapan beliau: “Hujjah tentang kasus ini ada padaku, maka kebenaran itu bersamaku. Robbku tak pernah menelantarkan diriku satu haripun, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan diriku. Jika engkau jujur pada Alloh maka Dia juga akan jujur padamu([2]).”

[Pasal Sembilan: Seruan Untuk Taqlid Kepada Sebagian Ulama Dalam menyelisihi kebenaran]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi ke delapan: Seruan untuk taqlid sebagaimana itu adalah keadaan Rofidhoh dan Ghulatush Shufiyyah, dan inilah yang dibikin-bikin oleh Abdul Lathif Basyumail manakala Mahmud Al Haddad dan gerombolannya gagal dalam pergulatan mereka yang tidak tahu malu dengan ulama dan cercaan mereka yang jelas terhadap mereka. Dan Alloh menjatuhkan Al Haddad. Maka abdul Lathif ingin maju ke depan dengan manhaj Haddadiyyah tapi dalam baju baru di belakang dinding dan di bawah kegelapan makar.

Komentar ana:

Yang kesembilan dari sifat Haddadiyyah adalah: seruan kepada taqlid. Dan ini juga karakter hizb Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang hizbiyyah mereka: “Titik kedua belas adalah: taqlid.” (“An Nushhu Wat Tabyiin”/hal. 28).

Berikut ini adalah kabar dari para pelajar Salafiyyun dari wilayah Dis timur di Hadhromaut yang mengeluhkan sikap jeleknya Nabil Al Hamr dan teman-temannya: “Dan di antara perbuatan Nabil Al Hamr adalah bahwasanya dirinya membela dengan sangat keras kedua anak Mar’i dan Ba Muhriz sambil mengaku-aku bahwasanya dirinya itu berbicara dengan perkataan para ulama, dan dirinya itu menjelaskan Bayan Ma’bar dan Bayan Hudaidah kepada manusia. Nabil dan pengikutnya berkata: “Orang-orang yang menyebarkan kaset-kaset Al Hajuriy dan tulisan-tulisan para muridnya tentang fitnah ini berarti durhaka para para ulama.” Dan mereka menggambarkan para Salafiyyin yang meninggalkan Abdurrohman Al ‘Adniy dan kelompoknya adalah berarti menentang para ulama. Dan kerja kerasnya dalam mentahdzir umat dari Dammaj dan masyayikh dan pelajar yang singgah di Dammaj untuk dakwah ke jalan Alloh dan menyebarkan kebaikan. Juga upaya Nabil dan anak buahnya untuk menebarkan kedustaan dan kebohongan seputar Dammaj yang hal itu menyebabkan manusia lari dari Dammaj. Dalil yang dipakainya adalah sebagian dari perkataan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy وفقه الله. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy/no. 5-8).

Maka hizb Mar’iyyah itulah yang ahli taqlid pada sebagian ulama demi meruntuhkan kritikan orang alim yang lain terhadap mereka, dan demi menjatuhkan si alim tadi. Mereka berkata: “Kita tunggu pertemuan ulama!”, “Kita tunggu kesepakatan ulama!”, “Asy Syaikh Fulan belum berbicara!”

Apakah demikian itu prinsip-prinsip As Salafush Sholih? Apa boleh taqlid pada sebagian ulama demi meruntuhkan kebenaran yang dibawa oleh ulama lain yang telah ditegakkan di atas hujjah yang para ulama tadi tak sanggup untuk meruntuhkannya?

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata saat membantah Abul Hasan:

1- Ahlussunnah dalam hal ini tidak mengambil sikap demikian. Tidaklah diketahui ucapan macam ini kecuali dari Ikhwanul Muslimin yang melembekkan kebenaran dan menyia-nyiakannya dengan alasan bahwasanya yang demikian itu adalah masalah yang masih diperselisihkan, sekalipun hal itu termasuk dalam masalah-masalah yang prinsipil (mendasar). Dan perselisihan yang kita pada hari ini dengan Abul Hasan adalah termasuk maslah-masalah prinsipil yang besar, yang agama ini berdiri di atasnya, pada sisi-sisi yang besar, terutama sisi aqidah-aqidah yang bersifat ghoibiyyah.

2- Masalah-masalah yang diperselisihkan itu harus dikembalikan kepada Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله﴾

“Dan perkara apapun yang kalian perselisihkan, maka hukumnya adalah kepada Alloh.”

Dan sebagaimana firman-Nya ta’ala:

﴿فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول﴾

“Maka jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya.”

Sama saja, apakah dia itu masalah dalam usul ataukah furu’.

3- Rosululloh صلى الله عليه وسلم memberitakan:

«أنه من يعيش من الأمة فسيرى اختلافاً كثيراً»

“karena orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak.”

Kemudian beliau membimbing umat kepada perkara hendaknya mereka kembali padanya dengan bersabda:

«فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلاله «.

“Maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan.”

4- Alloh ta’ala berfirman: ﴿فماذا بعد الحق إلا الضلال﴾

“Maka apa ada setelah kebenaran selain kesesatan.”

Dan dari sini Ahlussunnah berkata: “Sesungguhnya kebenaran itu tidak berbilang. Maka haruslah kebenaran itu bersama salah satu dari pihak yang bertikai dari setiap kejadian perselisihan –yaitu perselisihan yang saling berlawanan.”

5- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: bahwasanya setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa juga ditolak kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم.

6- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenali tokoh-tokohnya. Dan janganlah engkau kenali kebenaran itu dengan tokoh-tokoh.

7- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: bahwasanya para tokoh butuh untuk didukung dengan hujjah, dan bukannya mereka itu yang menjadi hujjah.

8- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah yang Ahlussunnah bersepakat di atasnya adalah: barangsiapa telah jelas baginya sunnah Rosulullohصلى الله عليه وسلم tidak boleh baginya untuk meninggalkannya dikarenakan perkataan seseorang, sebagaimana Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله.

Selesailah penukilan dari “Baroatu Ahlissunnah”/Majmu’ur Rudud/hal. 119-200/Darul Imam Ahmad.

Prinsip-prinsip ini atau dalil-dalil ini telah dibatalkan dan disia-siakan oleh kedua anak Mar’i dan para penolong mereka, dan menguaplah seluruh klaim yang sering mereka ulang-ulang dan mereka menyatakan bahwasanya mereka itulah Ahlussunnah. Maka perhatikanlah wahai manusia, bukankah mereka itu lebih berhak dengan sifat ini: “taqlid”, “menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah”? Sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliauرعاهم الله mereka itulah yang lebih berhak dengan Salafiyyah.

Dan di antara perkara yang menunjukkan jauhnya Ahlussunnah di Dammaj dan yang bersama mereka dari sikap taqlid adalah: kekokohan mereka dalam menghizbikan kedua anak Mar’i dan orang-orang yang bersama mereka, manakala nampak bagi mereka burhan dan hujjah akan hal itu, sekalipun banyak ulama وفقهم الله yang menyelisihi mereka.

Dan kami sayangkan bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sampai kini masih membela hizbiyyin baru itu bersamaan dengan jelasnya penyelisihan mereka terhadap prinsip-prinsip Ahlussunnah yang ditulis oleh beliau sendiri.

Dan kami berada pada puncak keyakinan bahwasanya penyelisihan-penyelisihan tadi, andaikata dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله –semoga Alloh melindungi beliau dari itu- pastilah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy akan meneriaki beliau.

Dan demikian pula andaikata Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengerjakan apa yang dilakukan oleh Ubaid Al Jabiriy pastilah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy akan meneriakinya. Tapi mengapa manakala keburukan itu muncul dari kedua anak Mar’i, Ubadi, dan Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy justru Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy diam terhadap mereka dan bahkan membela mereka dan men-jarh orang yang membantah mereka dengan dalil-dalilnya dan bayyinat, dan menamainya sebagai haddadiy, khobits (buruk), safih (tolol), la barokallohu fihi (semoga Alloh tidak memberkahinya), dan bahwasanya beliau merobek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam? Ini merupakan kezholiman yang besar, dan kejahatan yang dahsyat.

Kita kembali pada permasalahan taqlid. Maka ingatlah bahwasanya tempat kembali pada saat terjadi perselisihan adalah Al kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan lebih bagus kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Hujjah ketika terjadi perselisihan itu adalah As Sunnah. Maka barangsiapa menyodorkan Sunnah sebagai hujjahnya, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa mengamalkannya maka sungguh dia selamat. Dan tiada taufiq buatku kecuali dengan pertolongan Alloh.” (“At Tamhid”/22/hal. 74/di bawah hadits: إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka nash-nash ini dan yang lainnya menjelaskan bahwasanya Alloh telah mengutus para Rosul dan menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, dan menjelaskan perkara yang diperselisihkan oleh manusia, dan bahwasanya yang wajib bagi manusia adalah mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Robb mereka, dan mengembalikan perkara yang mereka perselisihkan kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan bahwasanya barangsiapa tidak mengikutinya maka dia itu adalah munafiq, dan bahwasanya barangsiapa mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para Rosul maka dia itu tak akan tersesat ataupun celaka, dan bahwasanya barangsiapa berpaling dari yang demikian itu maka dia akan digiring dalam keadaan buta, tersesat, celaka dan disiksa.” (“Majmu’ul Fatawa”/17/hal,303).

Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian).” (QS. Al Baqoroh: 137).

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله».(أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam nereka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

Maka barangsiapa bersikeras untuk menyelisihi jalan Salaf setelah ditegakkannya hujjah padanya, maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Sesuai dengan kadar keluarnya seseorang dari Salaf dan dari jalan Salaf رضوان الله عليهم terjadilah kebid’ahan.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 17/Maktabah Shon’al Atsariyyah).

Dan telah nampak dengan jelas dari hizbi baru –Mar’iyyah- sikap taqlid pada ulama dalam menyelisihi dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Maka kukatakan pada mereka sebagaimana perkataan Al Imam Al Albaniy رحمه الله : “Akan tetapi apakah termasuk hak seorang alim untuk kita itu mengangkatnya sampai ke derajat kenabian dan utusan hingga kita memberinya ‘ishmah dengan praktek perbuatan kita?! Lisanul hal (praktek perbuatan) itu lebih bisa bercerita daripada sekedar ucapan lidah. sekalipun kita wajib untuk benar-benar menghormati si alim dan untuk mengikutinya jika dia menampilkan dalil pada kita, maka kita tidak berhak untuk mengangkatnya dan meninggalkan ucapan Nabi ‘alaihish sholatu wassalam.” (“At Tashfiyyah”/hal. 22-23).

Maka bukanlah hukum itu kepada Asy Syaikh Fulan dan ‘Allan, akan tetapi hukum itu kepada apa yang telah engkau dengar tadi. Maka kukatakan padamu sebagai perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Kita telah berselisih pendapat dalam masalah ini. Maka jika Al Qur’an dan As Sunnah itu bersaksi untuk mendukung ucapan seseorang, maka itulah yang harus kita ambil, dan kita tak akan meninggalkan kewajiban yang ditunjukkannya itu demi ucapan siapapun juga.” (“Al Furusiyyah”/hal. 212).

Sungguh Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya Al Hajuriy dan para tokoh yang bersama beliau telah mendatangkan bukti-bukti yang jelas, yang mana Anda ataupun orang yang lebih tinggi daripada Anda tidak sanggup untuk meruntuhkannya. Dan saya katakan kepadamu seperti perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Di manakah nilai banyak-banyakan jumlah orang jika dibandingkan dengan banyak-banyakan dalil? Sungguh kami telah menyebutkan sebagian dalil yang kalian tidak punya jawaban untuknya, padahal yang wajib adalah mengikuti dalil di manapun dia berada, bersama siapapun dalil tadi berada. Dan itulah yang diwajibkan oleh Alloh untuk kita mengikutinya, dan mengharomkan untuk menyelisihinya, serta menjadikannya sebagai timbangan yang benar di antara para ulama. Maka barangsiapa dalil tadi ada di sisinya, maka dia itulah orang yang paling beruntung dengan kebenaran, sama saja apakah orang yang mencocokinya itu sedikit ataukah banyak.” (“Al Furusiyyah”/hal. 298).

Jika engkau berkata: “Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy adalah imam, maka ucapan yang benar adalah perkataannya, maka kami bersama beliau!”

Maka jawab kami adalah sebagaimana telah lewat: Bukanlah ucapan yang benar itu adalah perkataan Asy Syaikh Robi’ ataupun orang yang lebih tinggi dari beliau. Akan tetapi ucapan yang benar adalah firman Alloh dan sabda Rosul-Nya dengan pemahaman As Salafush Sholih. Jika telah nampak bahwasanya perkataan Asy Syaikh Robi’ itu tidak didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti, maka kami katakan padanya dengan apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله tentang berkata tentang Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowiy رحمه الله :

شيخ الإسلام حبيب إلينا والحق أحب إلينا منه وكل من عدا المعصوم فمأخوذ من قوله ومتروك

“Syaikhul Islam adalah orang yang kami cintai, namun al haqq lebih kami cintai daripada beliau. Dan semua orang yang selain al ma’shum, maka pendapatnya itu bisa diambil ataupun ditinggalkan” (“Madarijus Salikin”/2 hal. 32/cet. Darul Hadits).

Dulu Al Qodhi Abdul Jabbar رحمه الله sering menolong madzhab Asy Syafi’iy dalam masalah usul dan furu’. Manakala beliau mendapati kesalahan Asy Syafi’iy beliaupun berkata:

هذا الرجل كبير، ولكن الحق أكبر منه، اهـ.

“Pria ini adalah tokoh besar, akan tetapi kebenaran itu lebih besar daripada beliau.” (dinukilkan oleh Ilkiya Al Hirrosiy sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Asy Syaukaniy رحمهما الله dalam “Irsyadul Fuhul”/2/hal. 813/cet. Ar Royyan).

Maka sikap menjadikan ucapan seorang alim atau perbuatannya bagaikan dalil syar’iy merupakan suatu kebid’ahan. Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Ucapan orang alim telah menjadi hujjah menurut orang awwam, sebagaimana ucapan orang alim juga dijadikannya sebagai hujjah yang mutlak dan menyeluruh dalam fatwanya. Maka berkumpullah pada orang awwam ini amalan yang disertai keyakinan akan bolehnya perbuatan itu dengan adanya syubhah (kekaburan) dalil. Dan ini benar-benar merupakan kebid’ahan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 364).

Maka jika seorang alim telah mencurahkan kesanggupannya untuk mengetahui kebenaran tapi salah dalam ijtihadnya maka dia itu mendapatkan pahala atas ijtihadnya, tapi tidak boleh kesalahannya itu diikuti. Barangsiapa bersikeras untuk membebek kepada orang alim tadi setelah bayyinah itu nampak, maka si pembebek itu telah membikin bid’ah, berdasarkan ucapan Al Imam Asy Syathibiy. Dan bukan mustahil bahwasanya orang ini menjadi mubtadi, karena dirinya bersikeras dalam kesalahannya itu dan menganggapnya sebagai bagian dari agama, padahal telah sampai kepadanya hujjah akan kesalahannya itu.

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang kisah adzan Jum’at di Az Zauro: “Bahkan Utsman itu berijtihad. Dan orang setelah Utsman jika telah nampak baginya dalil-dalil tapi dia taqlid (membebek) pada Utsman atas perbuatan tadi, maka dia itu termasuk mubtadi’ karena taqlid itu sendiri adalah bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat perkataan salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, maka tidaklah terampuni bagi orang yang telah sampai hujjah kepadanya kesalahan yang terampuni bagi orang pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’. Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya, tidak dihukumi sebagai mubtadi’. Ini merupakan prinsip yang agung, maka pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Jenis kedua: orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menolaknya dalam rangka fanatisme terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidaklah mendapatkan udzur, dan mereka sebagaimana firman Alloh tentang mereka:

﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾ (الزخرف: 22)

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak.”

(“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin”/9/hal. 51).

Dan sungguh para penasihat Salafiyyin telah mencurahkan kerja keras mereka dalam menegakkan hujjah-hujjah dan nasihat-nasihat kepada para Mar’iyyin tersebut, dan mereka bersabar untuk itu. Manakala jelas bagi para penasihat pembangkangan mereka terhadap kebenaran, dan sikap mereka untuk lebih menggutamakan taqlid di atas ittiba’ terhadap dalil, maka merekapun membid’ahkan Mar’iyyun. Maka Mar’iyyun dan para penolong mereka dari kalangan muqollidun setelah tegaknya hujjah, mereka berhak untuk dibid’ahkan sekalipun mereka dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

Bahkan kita berkata sebagaimana perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya Ahlul haq Wassunnah mereka itu tidak memiliki panutan selain Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang tidak berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah yang beliau ucapkan itu selain wahyu yang diwahyukan. Beliau itulah yang wajib untuk dibenarkan dalam setiap apa yang beliau beritakan, dan wajib ditaati dalam setiap apa yang beliau perintahkan. Dan tidaklah kedudukan ini dimiliki oleh orang lain dari kalangan para imam. Bahkan setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa juga ditolak kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Maka barangsiapa menjadikan seseorang selain Rosululloh itu dari kalangan orang yang mencintainya dan mencocokinya segai Ahlussunnah Wal Jama’ah, sementara orang yang menyelisihinya dijadikannya sebagi ahlul bid’ah wal furqoh –sebagaimana hal ini didapatkan pada kelompok-kelompok yang mengikuti para imam dalam perkataan mereka dalam agama dan yang lainnya- maka dia itulah sebenarnya orang yang termasuk dari kalangan ahlul bida’ wadh dholal wat tafarruq.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346-347).

Kesimpulannya adalah: Sesungguhnya Mar’iyyun yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله yang lebih berhak untuk dikatakan sebagai haddadiyyun, daripada Ahlu Dammaj.

[Alhamdulillah, selesailah terjemah seri lima dari risalah ini. Semoga Alloh ta’ala membukakan pintu hidayah-Nya dan mencurahkan cahaya taufiq-Nya kepada kita semua. إن شاء الله pada seri kelima kita akan memasuki pembahasan kepura-puraan Haddadiyyah dalam mencintai sebagian ulama, untuk membenturkannya dengan ulama yang lain].

 


([1]) Asy Syaikh Jammal berkata: Jika Salim Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan-penukilan ini maka pendustaannya itu tak bisa diterima karena berita tadi tidaklah diterima dari jalanan atau dari orang rendahan atau orang majhul semisal perserikatan Ibnu Mar’i Al Barmakiyyah, karena berita tadi adalah penukilan dari orang-orang yang lurus agamanya yang terkenal dengan amanah dan kejujuran. Tinggallah kewajiban Ibnu Muhriz untuk mengumumkan tobat secara terang.

([2]) Yaitu: jika engkau jujur kepada Alloh dengan membuktikan kebenaran ucapanmu dengan dicocoki oleh perbuatanmu sebagaimana mestinya, maka Alloh juga akan jujur kepadamu dengan memenuhi apa yang dijanjikan-Nya kepada orang yang menaatinya. Ucapan ini diambil dari hadits Syaddad ibnul had رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh صلىالله عليه وسلم berkata pada seorang badui yang mengikuti beliau demi mendapatkan syahadah dan Jannah:

«إن تصدق الله يصدقك»

“Jika engkau jujur pada Alloh, maka Alloh juga akan jujur kepadamu.”

Di dalamnya ada kisah yang indah, diriwayatkan oleh An Nasa’iy (4/hal. 60) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam “Shohihut Targhib” (no. 1338) dan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (no. 474/Darul Atsar).