Karakter Haddadiyah

Dalam Diskusi Ilmiyyah

 

(Komentar terhadap isi Kitab “Aujuhusy Syibh Bainal Hadadiyyah wa

Bainar Rowafidh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

(Seri Dua)

 

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

 

kji

Pengantar Seri Dua

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kami menyelesaikan seri dua dari terjemah risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”. Isinya adalah pembahasan sifat ketiga dari Haddadiyyah, dan penjelasan secara ilmiyyah tentang bersihnya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari sifat buruk tersebut, dan pembuktian kuat bahwa Mar’iyyah Barmakiyyah mereka itulah yang lebih pantas menjadi haddadiyyah dalam bab tersebut.

Perlu juga saya tegaskan bahwasanya perkataan yang batil haruslah dibantah, sama saja, dalam perkara aqidah, fiqh, akhlaq, ataupun yang lainnya, siapapun yang mengucapkannya. Tentu saja jika yang salah berbicara tadi adalah seorang ulama Ahlussunnah, maka dalam membantah kesalahannya tadi haruslah tetap disertai dengan adab-adabnya. Dan tidak pantas jika dikatakan bahwasanya orang yang membantah suatu kesalahan ulama itu berarti dia telah mencerca ulama tadi. Demikian pula bantahan ana terhadap Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ini. Silakan rujuk kembali kitab yang sangat berharga: “Al Farqu Bainan Nashihat Wat Ta’yir” karya Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله.

Dan silakan rujuk juga kitab “Ajwibatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ‘An As’ilati Abi Rowahatil Manhajiyyah”.

Wallohu a’lam.

[Pasal Tiga: Menolak sebagian Imam Salaf, Prinsip-prinsip Mereka, Dan Merendahkannya]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi yang ketiga: Penolakan. Rowafidh menolak Zaid bin Ali ketika beliau berloyalitas pada Abu Bakr dan Umar, sementara Al Haddadiyyah menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, dan mereka merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil dan merendahkan prinsip-prinsip mereka.

Komentar ana:

Sifat ketiga dari Haddadiyyah adalah menolak sebagian prinsip-prinsip Ahlussunnah. Dan tidak ada pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau رعاهم الله penolakan macam ini. Mereka tidak menolak seorangpun dari As Salafush Sholih, dan tidak menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, bahkan mereka kokoh di atas ilmu Al Jarh Wat Ta’dil dan penerapannya sebagaimana mestinya, sebagaimana dulu syaikh mereka Al Imam Al Wadi’iy kokoh di atasnya dan berkata: “Adapun Al Jarh Wat Ta’dil maka aku tidak akan meninggalkannya walaupun tiada seorangpun yang mendatangiku. Dan tidaklah kitab “Al Mushoro’ah” kecuali termasuk dalam bab ini.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 235/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Mereka juga tidak menolak satupun dari prinsip-prinsip Ahlussunnah, dan tidak merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil, dan tidak pula merendahkan prinsip-prinsip mereka yang benar. Seluruh media masa mereka sebagai saksi terhadap semua itu. Mereka mencintai As Salafush Sholih, mengagungkan mereka, mengikatkan diri dengan jalan dan prinsip-prinsip mereka, mengajak manusia kepadanya, dan memerangi orang-orang yang ingin menggoncangkan prinsip ini seperti Abdurrohman Al ‘Adaniy yang di antara ucapannya adalah: “Bahwasanya sebagian masalah zaman ini tidak disyaratkan padanya ada salafnya (pendahulunya).” (“Mukhtashorul Bayan”/ hal. 63).

Adapun Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya oleh saudara kita Mahir bin Ali Ash Shobahiy حفظه الله: “Apakah disyaratkan untuk setiap masalah ada salaf (pendahulunya)?”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Setiap masalah ada salafnya.” (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).

Ini juga aqidah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله karena beliau saat saudara kita tadi menyodorkan padanya soal terdahulu, beliau حفظه الله menjawab: “Iya, setiap masalah harus ada salafnya.” Lalu beliau menyebutkan perkataan yang kesimpulannya adalah: Kita harus kembali pada salaf pada masalah-masalah yang ada, karena mereka adalah para pembawa agama, dan merekalah yang mengambil agama ini dengan segarnya dari Nabi صلى الله عليه وسلمdan menerapkan pengajaran-pengajaran agama ini dengan keberadaan Nabi صلى الله عليه وسلمdan persetujuan beliau, dan bahwasanya pengikat ini, pemahaman salaf, harus ada, karena masalah ini adalah jalan masuk yang darinya para pengekor kebid’ahan dan hawa nafsu.”

Lalu beliau menyebutkan ucapan yang panjang khusus untuk bab ini. (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).

Ini adalah penjelasan ringan tentang kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di atas Sunnah dan Salafiyyah, berbeda dengan hizbiyyun baru itu yang tidak merasa cukup dengan sebagian manhaj Salaf.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Mereka berkata: Pertama: “Apakah Al Jarh Wat Ta’dil yang ada di dalam ilmu mushtholah itu memang sama dengan ucapan para imam dan ulama terhadap pengekor bid’ah dan hawa nafsu? Atau dengan makna lain: Apakah kaidah-kaidah ilmu ini diterapkan dalam perkataan terhadap para penganut aliran-aliran?”

Komentar ana:

Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan oleh haddadiyyun untuk membikin manusia ragu terhadap ilmu mustholah. Sasaran mereka adalah: Bahwasanya kaidah-kaidah mushtholah tidak diterapkan dalam perkataan terhadap pengekor nawa nafsu dan bid’ah. Dan ini tentu saja sesuatu yang batil, tidak diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan tidak pula beliau setujui.

Bahkan sungguh orang-orang yang punya perhatian mendalam pada bidang mushtholah tahu bahwasanya bidang ini juga berbicara tentang ahlul bida’ dan pengekor hawa nafsu, sebagaimana dia juga berbicara tentang orang yang kurang hapalannya. kitab-kitab Al Jarh Wat Ta’dil penuh dengan kritikan terhadap para pemeluk aliran yang menyimpang. Misalnya adalah:

Al Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari yahya bin Said Al Qoththon bahwa beliau berkata: “Aku bertanya pada Malik bin Anas tentang Ibrohim bin Abi Yahya, apakah dia itu tsiqoh?” maka beliau menjawab: “Tidak. Dia juga tidak tsiqoh dalam agamanya.” (“ Al Jarh Wat Ta’dil”/2/hal. 126).

Ibrohim ini mubtadi’ yang terkenal. Al Imam Ahmad berkata: “Dia itu qodariy, jahmiy, seluruh bencana ada padanya. Mereka meninggalkan haditsnya. Ayahnya tsiqoh.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/451/terjemah Ibrohim bin Abi Yahya/Ar Risalah).

Al Imam Ibnu hibban meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwasanya beliau berkata: “Ibrohim bin Abi Yahya itu pendusta, rofidhiy, qodariy.” (“Al Majruhin”/1/hal. 107).

Setelah menyebutkan sanad hadits ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya- dari jalur ‘Aun bin ‘Umaroh dari Abul ‘Ala –dan namanya adalah ‘Amr ibnul ‘Ala- dari Ibnu Sarh -namanya Sholih-, Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Aun itu dho’if (lemah), Sholih itu bukanlah orang yang sholih karena dia itu khorijiy.” (“Tadzkirotul Huffazh”/3/hal. 958-959 ).

Contoh-contoh dalam bab ini banyak, tidaklah menentangnya kecuali orang yang mata hatinya buta seperti para haddadiyyun itu, dan bukanlah Darul hadits di Dammaj termasuk dari orang-orang yang berkeyakinan seperti aqidah mereka, dan tidak pula berpendapat seperti pendapat mereka.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Yang kedua, mereka berkata: “Sesungguhnya ilmu Al Jarh Wat Ta’dil itu di luar ilmu-ilmu syariat, dia punya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah terbatas dan terkenal, dijelaskan oleh para ulama mushtholah dalam kitab-kitab mereka. Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, mempelajari ushul, menelusuri dalil-dalil agar setelah itu bisa keluar dengan hukum terhadap orang ini: apakah dia telah menyelisihi manhaj Ahlussunnah Wal jama’ah ataukah tidak?”

Komentar ana:

Ini juga tidak diucapkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan tidak pula disetujui oleh beliau. Bahkan ilmu Al Jarh Wat Ta’dil termasuk dalam ilmu-ilmu syariat Islamiyyah yang mulia dan agung.

Al Imam Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “Dan sesungguhnya ilmu hadits itu merupakan ilmu yang paling mulia, dan cabang yang paling bermanfaat, yang dicintai oleh pejantan dari lelaki dan jagoan mereka, yaitu: para peneliti dari kalangan ulama dan orang-orang sempurna mereka. Dan tidaklah membencinya kecuali orang-orang yang hina dan rendahan. Ilmu hadits merupakan ilmu yang paling banyak masuk ke dalam cabang-cabang ilmu syariat, terutama cabang ilmu fiqh yang mata itu merupakan mata air syariat. Oleh karena itu orang-orang yang meninggalkannya banyak mengalami kekeliruan, seperti para penulis dari kalangan fuqoha, dan nampak cacat tersebut pada perkataan orang yang ilmu haditsnya kurang, dari kalangan ulama.” (“Muqoddimah Ibnush Sholah”/1/hal. 3).

Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata pada para pencari hadits: “Karena sesungguhnya ilmu kitab dan atsar merupakan asal dari syariat yang mana kepadanyalah syariat itu menisbatkan diri. Dan keduanya merupakan pondasi ilmu-ilmu syariat yang di atasnyalah meninggi cabang-cabang dan bangunannya. Ini merupakan ilmu yang segar diminum, tinggi tuntutannya, memancar mata airnya, bercabang-cabang fasalnya dan cabangnya.

Pasal pertama dari ilmu hadits adalah: mengetahui adab belajar, mengambil ilmu dan mendengarkan pelajaran. Kemudian: mengetahui ilmu hadits, sisi-sisinya dan dari siapakah mengambilnya. Kemudian: memantapkan hadits dan mengikatnya. Kemudian: menghapal hadits. Kemudian: memisahkan hadits-hadits dan memeriksanya dengan cara mengetahui mana yang shohih, yang lemah, yang hasan, yang bisa diterima, yang harus ditinggal, yang palsu, perselisihan riwayatnya, penyakitnya, memisahkan antara riwayat yang sanadnya bersambung ke Rosululloh, dengan yang sanadnya dari tabi’iy langsung ke Rosululloh, dengan riwayat yang sampai kepada Shohabiy, dengan riwayat bersambung. Kemudian: mengetahui thobaqot para periwayat hadits dari sisi tsiqoh (terpercaya), hapalannya, keadilannya, jarh (kritikan), kelemahan, jahalah (ketidakterkenalan), taqoddum (terdahulu zamannya), taakhkhur (zaman belakangan). Kemudian: memisahkan tambahan-tambahan dari para penghapal dan yang bukan dari penghapal.

Ada juga pasal mudroj (sisipan kata) di tengah-tengah riwayat dari perkataan para penukilnya. Kemudian: mengetahui kata-kata asing di dalam hadits dan tafsir lafazhnya. Kemudian: mengetahui nasikh dan mansukh dari hadits, penjelasan dari hadits yang masih global, juga hadits-hadits yang saling bertentangan, hadits yang rumit.Kemudian: mempelajari dan memahami isi hadits, dan mengeluarkan hikmah-hikmah dan hukum-hukum dari nash-nashnya dan makna-maknanya, serta menyingkapkan keruwetan lafazh-lafazhnya dengan penakwilan yang terbaik, juga memadukan hadits-hadits yang berbeda pada sisi-sisi yang terperinci, dan penempatannya yang terbaik.

Kemudian: menyebarkannya, adab-adabnya, dan tujuan yang benar dalam itu semua untuk agama ini dan mencari pahala dari Alloh.

Seluruh pasal dari pasal-pasal ini merupakan ilmu yang berdiri sendiri, dan merupakan cabang yang tinggi sempurna di atas dasar dan landasan ilmu atsar. Masing-masingnya memiliki karya tulis yang beraneka ragam, banyak dan bermanfaat. (“Al Ilmam Ila ma’rifati ushulir Riwayah Wa Taqyiidis Sama’”/Ibnush Sholah/1/hal. 3-5).

Ini semua merupakan bantahan terhadap prinsip yang dibuat oleh Haddadiyyah. Dan tidaklah Darul hadits di Dammaj memiliki prinsip macam tadi.

Ucapan Haddadiyyun: (Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, … ) mengabarkan tentang keluarnya ulama hadits dari area ulama syari’ah, dan memberikan kesan bahwa ulama hadits tak punya keahlian dalam mengkritik ahlul bid’ah. Ini tentu saja batil, bahkan para imam hadits itu memahami sunnah dan bid’ah, dan tahu kapankah seseorang itu keluar dari area sunnah menuju kepada bid’ah. Ini masuk ke dalam ilmu Al Jarh Wat Ta’dil. Para imam yang menulis kitab-kitab tentang kritikan terhadap para majruhin (orang-orang yang dikritik) sebagaimana mereka mengkritik orang yang lemah hapalannya, demikian pula mereka mengkritik orang yang rusak agamanya.

Al Imam Ibnu Hibban Al Bustiy رحمه الله berkata: “Adapun kritikan terhadap para dhu’afa (orang-orang yang lemah) maka hal itu terdiri dari dua puluh jenis. Setiap orang yang menekuni sunnah-sunnah, menuntutnya dan mencarinya, wajib baginya untuk mengetahuinya agar jangan sampai menghukumi setiap orang kecuali apa yang memang ada padanya, dan jangan sampai berkata tentangnya melebihi apa yang dia ketahui tentangnya.

[Jenis pertama:] adapun jenis pertama dari jenis-jenis kritikan terhadap orang-orang yang lemah: maka mereka itu adalah para zanadiqoh (munafiqun I’tiqodiy) yang punya keyakinan zandaqoh dan kekufuran, tidak beriman pada Alloh dan hari Akhir. Mereka dulu selalu masuk ke kota-kota dan menyerupakan diri dengan ulama, memalsukan hadits terhadap para ulama: meriwayatkan dari mereka untuk menimbulkan keraguan dan kebimbangan di hati-hati mereka. Mereka itu sesat dan menyesatkan. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua:] di antara mereka ada orang yang dikuasai setan hingga memalsukan hadits terhadap para syaikh yang terpercaya dalam bab anjuran untuk berbuat kebaikan, dan menyebutkan keutamaan-keutamaan –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketiga:] Dan di antara mereka ada orang yang memalsukan hadits dalam keadaan menganggap hal itu halal, bersikap lancang kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keempat:] Dan di antara mereka ada orang yang memalsukan hadits ketika terjadi suatu peristiwa, membacakannya pada para raja dan yang lainnya, di sebagian waktu. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kelima:] Dan di antara mereka ada orang yang –sampai pada ucapan beliau:- jiwanya didominasi oleh kesholihan dan ibadah, tapi lalai (tidak waspada) dari pencampuran dan pemisahan hadits –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keenam:] di antara mereka ada sekelompok orang tsiqot (terpercaya) yang hapalannya tercampur pada akhir-akhir umur mereka hingga tidak lagi memahami hadits yang mereka sampaikan sendiri –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketujuh:] di antara mereka ada orang-orang yang menjawab apapun yang ditanyakan, sama saja apakah itu dari haditsnya atau hadits orang lain, dia tidak peduli untuk mengikuti apa yang didiktekan orang padanya. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedelapan:] di antara mereka ada orang yang berdusta tapi tidak tahu bahwasanya dirinya telah berdusta, karena ilmu ini bukanlah dari keahliannya, dan kakinya tak pernah berdebu dalam mengurusi bidang ini. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesembilan:] di antara mereka ada orang yang meriwayatkan hadits dari para syaikh yang tak pernah dilihatnya, tapi dia meriwayatkan dari kitab-kitab yang shohih. Kitab-kitab tadi shohih, akan tetapi orang tadi tidak mendengar hadits dari para syaikh tadi dan tidak pernah melihat mereka. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesepuluh:] dan di antara mereka ada orang yang membalik riwayat dan mentaswiyah sanad (yaitu menghapus satu rowi di antara dua rowi yang saling mendengar, dan memberikan kesan bahwa rowi yang ini mendengar hadits tersebut darinya, padahal tidak). –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesebelas:] dan di antara mereka ada sekelompok orang yang melihat beberapa syaikh dan mendengar dari hadits dari mereka, lalu sepeninggal para syaikh tadi mereka meriwayatkan dari mereka hadits-hadits yang tidak mereka dengar dari mereka –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua belas:] di antara mereka ada orang yang menulis hadits dan melakukan rihlah (perjalanan) demi hadits tadi, hanya saja kitabnya hilang. Manakala kitab tadi dibutuhkan jadilah dia meriwayatkan hadits tadi dari kitab orang lain tanpa menghapal semuanya, atau tanpa dia mendengar hadits-hadits yang ada dalam kitab orang lain tadi. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketiga belas:] di antara mereka ada orang yang kesalahannya banyak dan buruk, dan hampir-hampir membalik sisi benarnya sehingga dia berhak untuk ditinggalkan karena faktor tadi, sekalipun dia itu sebenarnya terpercaya dan jujur dalam meriwayatkan. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keempat belas:] di antara mereka ada orang yang mengalami musibah dengan adanya anak yang jelek atau juru tulis yang jelek yang memalsukan hadits untuknya, sementara syaikh tadi mempercayai mereka. Mereka membacakan padanya hadits dan berkata: “Ini adalah hadits Anda,” lalu dia meriwayatkan hadits tadi. Syaikh tersebut sebenarnya tsiqoh akan tetapi tidak boleh berhujjah dengan riwayat-riwayatnya, dan orang lain tidak boleh meriwayatkan hadits darinya manakala syaikh tadi mencampuradukkan riwayatnya yang shohih dengan hadits yang palsu. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kelima belas:] di antara mereka ada orang yang seseorang memasukkan padanya suatu hadits tanpa diketahuinya. Ketika jelas baginya bahwasanya hadits tadi bukan milik dia dia tak mau rujuk, bahkan mulai meriwayatkannya karena sombong untuk mau rujuk dari apa yang telah telanjur keluar dari mulutnya. Hal ini tidaklah terjadi kecuali dari kecilnya adab keagamaannya, dan rendahnya kepeduliannya terhadap perkara yang tercela untuk dikerjakan. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keenam belas:] di antara mereka ada orang yang keseleo lidahnya hingga meriwayatkan sesuatu yang salah tanpa diketahuinya, kemudian jelaslah baginya hal itu dan dia tahu, tapi tak mau rujuk darinya, bahkan terus-terusan meriwayatkan hadits yang salah tadi setelah tahu bahwasanya dia bersalah pada kali yang pertama. Orang yang seperti ini adalah pendusta. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesembilan belas:] di antara mereka ada mubtadi’ yang jika dirinya itu adalah da’i, menyeru manusia kepada kebid’ahannya hingga menjadi imam yang diikuti dalam kebid’ahannya, dan menjadi rujukan dalam kesesatannya, –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua puluh:] di antara mereka ada tukang cerita dan pengemis yang sering memalsukan hadits dalam cerita-cerita mereka dan meriwayatkannya dari para tsiqot,… selesai dari “Al Majruhin”/1/hal. 62-69).

Perhatikanlah kejelian pandangan imam hadits tentang jenis-jenis majruhin, bagaimana Al Imam Ibnu Hibban رحمه الله menjadikan pada setiap jenis tadi contoh-contoh kasus. Dan di antara para majruhin tadi adalah: para pengekor hawa nafsu dari kalangan zanadiqoh dan yang lainnya dari kalangan mubtadi’ah.

Kesimpulan: Sesungguhnya haddadiyyah adalah mubtadi’ah, yang mendatangkan prinsip bikinan sendiri untuk meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip imam Salaf. Dan hal ini tidak dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau -semoga Alloh menjaga mereka- . ini kitab-kitab dan risalah-risalah mereka dalam membantah dan memperingatkan manusia dari para ahlil batil, dibangun di atas kaidah-kaidah para imam hadits, seperti:

  • Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu,
  • Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal,
  • Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan, kecuali jika ada dalil yang mendukung orang yang meniadakan tadi, maka dia didahulukan,
  • Orang yang tinggal satu kampung itu lebih tahu daripada orang lain,
  • Berita dari tsiqoh (orang yang terpercaya) itu diterima,
  • Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat merusak, lalu diperingatkan dan tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena jarh.
  • Tidak boleh diam terhadap kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan kemampuan,
  • Wajib memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.
  • Jarh itu seperti perkara lainnya seperti ijtihadnya seorang mujtahid, bahwasanya dia itu dibangun di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar dugaan semata,
  • Jarh mufassar (terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan di atas ta’dil (pujian),
  • Dan kaidah-kaidah Al Jarh Wat Ta’dil lain yang terkenal.

 

Maka Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersamanya رعاهم الله berjalan di atas kaidah-kaidah terkenal dari para imam hadits, dan mereka tidak mendatangkan kaidah baru. Maka barangsiapa menuduh mereka dengan haddadiyyah maka sungguh dia adalah pendusta, siapapun dia.

 

Di Antara Penyelisihan Al Mar’iyyun Terhadap Prinsip-prinsip Ulama Hadits

Bahkan hizb baru itulah yang menyelisihi banyak sekali prinsip-prinsip ulama tadi, sebagaimana didapati oleh orang yang mau membaca sebagian dari malzamah-malzamah dan kaset-kaset mereka. Di antaranya adalah:

Yang pertama: Mereka tidak menerima jarh terperinci yang datang dari ulama yang mengetahui penyelewengan kedua anak Mar’i dengan alasan mereka belum mendapati penyelewengan mereka. Menyelisihi kaidah ulama hadits: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu.”

Al Imam Muhammad bin Ibrohim Al Wazir رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang bodoh.” (“Ar Roudhul Basim”/1/hal. 142).

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu.” (“Fathul bari”/di bawah nomor: 3585).

Yang kedua: sebagian mereka berbicara dengan batil, manakala dikritik dia mengelak sambil berkata: “Aku nggak ingat itu,” dia ingin menampilkan kelupaannya untuk meruntuhkan seluruh kritikan yang dibangun di atas persaksian orang yang hapal. Ini adalah upaya yang buruk. Al Imam Ibnul Qoththon رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya tidaklah orang yang tidak hapal itu hujjah terhadap orang yang hapal.” (sebagaimana dalam “Aunul ma’bud”/1/hal. 160/Ath Thoharoh/Takhlilul Lihyah).

Maka perbuatan mereka tadi menyelisihi kaidah para imam hadits: “Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal.” Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal,” (“Fathul Bari”/6/hal. 47/ Al Hajj/ Ma Yuqtalul Muhrim Minad Dawabb).

Al Imam Muhammad Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Bahkan yang terkenal adalah bahwasanya Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal.” (rujuk “Taudhihul Afkar”/Bayanusy Syadz/1/hal. 386).

Yang ketiga: Ketika Ahlussunnah dan ulama mereka menampilkan bukti-bukti penyelewengan kedua anak Mar’i bangkitlah para pengikut dan penolong mereka dengan meniadakan penyelewengan tadi tanpa bukti-bukti ataupun hujjah, dan pura-pura buta terhadap bukti-bukti yang kuat tadi, kemudian mengharuskan orang-orang untuk tetap pada asalnya (yaitu: pada asalnya, kedua anak Mar’i adalah salafiy).

Ini menyelisihi apa yang telah menetap di kalangan Salaf: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan,” karena orang yang meniadakan itu dia tinggal pada kondisi asal, sementara orang yang menetapkan itu memindahkan dari asalnya dikarenakan dia punya tambahan ilmu. Al Hafizh Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “…seandainya orang tadi meniadakan hal itu, maka orang yang menetapkannya lebih didahulukan daripada dia dikarenakan orang tadi mengetahui perkara yang tersembunyi darinya.” (Muqoddimah Ibnush Sholah/1/hal. 13/Ma’rifatut Tadlis).

Kecuali jika orang yang meniadakan tadi mendatangkan dalil yang terang yang menunjukkan tidak benarnya faktor pemindah tadi, dan menunjukkan keteguhan orang yang dibicarakan tadi di atas asalnya. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan, kecuali jika orang yang meniadakan tadi disertai oleh dalil yang mendukungnya, maka dia didahulukan.” (“Fathul Bari”/1/hal. 4/Bad’il Wahyi).

Sebagian Baromikah (Barmakiyyun pengikut anak mar’i) berkata: “Sesungguhnya Hajuriy itu syadzdz (menyendiri) karena dia menyelisihi ulama yang banyak dalam kasus Abdurrohman bin Mar’i!).

Jawab kami: barangkali mereka dengan perkataan ini ingin memperkuat upaya mereka bahwasanya orang yang menetapkan tidaklah didahulukan di atas orang yang meniadakan, dan berhujjah dengan ucapan Al Imam As Sakhowiy رحمه الله : “Dan termasuk perkara yang diperselisihkan adalah: jika seorang rowi menetapkan sesuatu dari syaikhnya, lalu ditiadakan oleh rowi yang lebih hapal daripada dia, atau lebih banyak jumlahnya, atau lebih sering menyertai syaikh tadi, maka sesungguhnya ahli fiqh dan ushul berkata: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan,” maka diterimalah penetapannya tadi. Sementara para ahli hadits menamai orang tadi sebagai syadz (orang yang menyendiri) karena mereka menafsirkan penyendirian yang disyaratkan peniadaannya di sini adalah: penyelisihan rowi terhadap rowi yang lebih kuat dalam riwayat tadi, ketika terjadi kesulitan untuk menggabungkan dua riwayat. Asy Syaifi’iy menyetujui mereka dalam tafsir yang tersebut tadi, bahkan beliau terang-terangan menyetakan bahwasanya rowi yang jumlahnya banyak lebih pantas menghapal daripada satu orang saja, dikarenakan kemungkinan lupa itu lebih dekat kepadanya daripada terjadinya lupa pada rowi yang banyak, dan ketika itu maka ditolaknya ucapan sekelompok orang dikarenakan ucapan satu orang adalah kemungkinan yang jauh.” (Fathul Mughits”/1/hal. 17-18).

Aku katakan وفقني الله : kami lebih beruntung dengan prinsip-prinsip para imam hadits daripada kalian. Sesungguhnya Al Imam As Sakhowiy رحمه الله juga berpegang dengan kaidah ini dan berkata pada tempat lain: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan.” (Fathul Mughits”/3/hal. 157/Ma’rifatut Tabi’in).

Hanya saja beliau merojihkan yang lainnya apabila peniadaan tadi lebih kuat daripada penetapan, dengan bentuk: orang yang meniadakan itu lebih hapal atau lebih banyak jumlahnya atau lebih lama menyertai syaikh tadi daripada orang yang menetapkan.

Adapun dari sisi hapalan, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله lebih hapal daripada mereka terhadap penyelisihan Abdurrohman bin Mar’i dan lebih banyak bersahabat dengannya daripada mereka, dan didukung oleh persaksian ribuan pelajar. Demikian pula upaya pengikut Ibnu Mar’i untuk mengambil sejumlah masjid Salafiyyin, sesungguhnya yang demikian itu tidaklah tersembunyi. Maka kaidah: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan” pada fitnah ini adalah kaidah yang kokoh tidak tergoyahkan.

Kemudian sesungguhnya hakikat syudzudz (penyendirian) adalah penyelisihan orang terhadap kebenaran sekalipun para penyelisih tadi itu banyak. Adapun Al Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran sekalipun dia sendirian di bumi. Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata,” orang yang syadzdz (menyendiri) itu adalah orang yang menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyendiri. Seluruh manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyendiri kecuali sekelompok kecil. Mereka itulah Al Jama’ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang menyendiri. Dan Imam Ahmad sendirian sebagai Al Jama’ah.” (“I’lamul Muwaqqi’in” 3/287/Darul Hadits).

Keempat: Di antara perkara yang hendak diruntuhkan oleh Baromikah adalah kaidah: “Orang yang tinggal satu kampung itu lebih tahu daripada orang lain,” dan mereka mencurahkan kerja keras untuk membatalkan persaksian para pelajar Darul Hadits di Dammaj terhadap keburukan-keburukan Abdurrohman bin Mar’i ketika masih tinggal di Dammaj, dengan beralasan sudah adanya jaringan telpon(1). Mereka lalai bahwasanya orang yang hadir itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir sekalipun sudah banyak telepon dan HP.

Kaidah ini telah ditetapkan di kalangan ahlul hadits, mereka memakainya sebagai faktor penguat ketika terjadi perselisihan. Dan kaidah ini tidak tergoyahkan. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “… Ibnu Yunus telah mengetahui keberadaan orang ini, dan beliau adalah orang yang sekampung dengannya dan paling tahu tentang penduduk Mesir.” (“Lisanul Mizan”/1/hal. 368).

Yang demikian itu dikarenakan adanya tambahan ilmu bagi orang yang tinggal satu kampung. Al Khothib Al Baghdadiy رحمه اللهsetelah menyebutkan ucapan ini : “Dulu beliau berkata: Orang yang tinggal satu kampung dengan seseorang itu lebih tahu tentang dirinya,” berkata: “Dikarenakan mereka punya tambahan ilmu tentang berita orang ini, melebihi pengetahuan orang asing terhadap lahiriyyah kelurusan agama orang tadi.” (Al Kifayah/Babul Qoul Fil Jarh Wat Ta’dil/1/hal. 333/Darul Huda).

Kelima: Upaya Baromikah dalam menolak berita satu orang yang tsiqoh –bahkan banyak orang tsiqot-, lalu mereka berusaha untuk membatalkan berita-berita orang-orang tsiqot tadi tentang Ibnu Mar’i. dan ini tentu saja batil karena menentang firman Alloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan diterimanya berita satu orang jika dia itu ‘adil (lurus agamanya), karena Alloh hanyalah memerintahkan tatsabbut ketika ada penukilan dari kabar orang fasiq.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 582).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata tentang tafsir ayat ini: “Firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” Alloh memerintahkan untuk tabayyun setiap kali datang orang fasiq dengan membawa suatu berita. Bahkan di antara berita-berita itu ada jenis berita yang di situ tidak dibolehkan untuk tabayyun(2), ada berita yang dibolehkan di situ untuk tidak tabayyun(3), dan ada juga berita yang mengandung hukuman pada sebagian orang, Karena Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan jika datang pada kita orang yang fasiq yang membawa berita, kita khawatir akan menimpakan sesuatu pada suatu kaum dengan suatu kebodohan. Andaikata setiap orang yang ditimpa sesuatu berdasarkan suatu berita itu demikian (harus ditabayyuni), niscaya tak akan terjadi perbedaan antara orang adil dengan orang fasiq. Bahkan dalil-dalil ini jelas menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan berita dari satu orang yang adil secara mutlak. Yang demikian itu menunjukkan diterimanya persaksian satu orang adil dalam jenis kasus yang mengandung hukuman-hukuman.” (“Majmu'”/15/307).

Al Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam menjelaskan kisah penerimaan Umar hadits Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallohu ‘anhuma tentang tho’un: “Dan di dalam hadits ini ada dalil penggunaan kabar satu orang, penerimaannya dan pengharusan amal dengannya. Dan ini adalah hadits yang paling jelas dan paling kuat yang kami lihat dari sisi atsar-atsar dalam menerima kabar satu orang. Hal itu dikarenakan pada saat itu kejadiannya di kalangan sekumpulan para shahabat dan di kehadiran mereka dalam suatu perkara yang membuahkan isykal bagi mereka. Maka Umar tidak berkata pada Abdurrohman bin ‘Auf “Engkau cuma satu orang. Dan satu orang itu kabarnya tidak wajib diterima. Yang wajib diterima hanyalah kabar keseluruhan orang”.

Alangkah besarnya kesesatan orang yang mengatakannya. Padahal Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا{

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot)

dibaca juga: (فتثبتوا) Maka jika ada seorang adil datang dengan suatu berita lalu ditatsabbuti dan tidak dilaksanakan, niscaya menjadi samalah antara orang fasiq dan orang adil. Dan ini menyelisihi Al Qur’an. Padahal Alloh ‘Azza wajalla berfirman:

﴿أم نجعل المتقين كالفجار﴾

“Apakah Kami jadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang yang jahat?”

(“At Tamhid” 14/347).

Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله : “… karena dia itu adalah berita orang tsiqoh yang terkenal kelurusan agamanya, maka wajib untuk diterima seperti seluruh berita orang-orang tsiqot.” (rujuk “Ar Roudhul Basim”/2/hal. 135).

Keenam: Baromikah ingin meruntuhkan kaidah: “Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat merusak, lalu diperingatkan dan tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena jarh.” Baromikah bersikeras bahwasanya barangsiapa menyelisihi kebenaran yang jelas lalu dinasihati berkali-kali lalu membangkang terhadap kebenaran dan menyombongkan diri dan terus-terusan di dalam kebatilannya maka tetap saja dia itu di atas Salafiyyah. Ini menyelisihi kaidah yang telah tetap di kalangan para imam, sama saja apakah terkait dengan hapalan hadits, atau terkait dengan hawa nafsu.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya. –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

Al Hafizh As Sakhowiy رحمه الله berkata: “Kemudian jika telah dijelaskan padanya –yaitu rowi yang lupa atau salah walaupun hanya satu kesalahan- lalu dia tak mau kembali dari kesalahannya tadi bahkan terus-terusan berbuat itu maka jatuhlah haditsnya di mata mereka –yaitu para muhadditsin-.” (“Fathul Mughits”/1/hal. 358).

Silakan rujuk kitab “Al Jarh Wat Ta’dil” (4/hal. 231-323/Ibnu Abi Hatim) kisah Sufyan bin Waki’.

Demikian pula orang yang terus-menerus duduk-duduk dengan ahlul ahwa setelah ditegakkannya hujjah. Al Imam Abu Dawud As Sijistaniy رحمه الله berkata: “Aku katakan pada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: Saya melihat seseorang dari Ahlussunnah sedang bersamaan dengan seseorang dari ahlul bid’ah, apakah saya boleh memboikotnya? Beliau menjawab: “Jangan. Kenapa engkau tidak memberitahunya bahwasanya orang yang engkau lihat dia bersamanya adalah ahlu bid’ah? Jika dia mau meninggalkan pembicaraan dengannya maka ajaklah dia bicara. Tapi jika dia membangkang maka gabungkanlah dirinya dengan orang tadi. Ibnu Mas’ud berkata: “Seseorang itu sesuai dengan teman dekatnya.”(4) (“Thobaqotul Hanabilah” /1/170/Darul Ma’rifah) (5).

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat orang duduk bersama ahlul ahwa maka peringatkanlah dirinya dan beritahulah dirinya. Jika dia duduk bersamanya lagi setelah dia tahu, maka hindarilah dirinya karena sesungguhnya dia itu adalah pengekor hawa nafsu.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 44/Darul Atsar).

Kedelapan: di antara kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah: usaha keras mereka untuk membungkam para saksi agar tidak menegakkan persaksian terhadap kejahatan kedua anak Mar’i dan pengikut mereka, dan upaya mereka untuk membungkam Salafiyyun agar tidak berbicara tentang keburukan hizb baru tersebut di bawah tirai: “Menolak fitnah” atau “Merekatkan barisan yang robek” dan yang selain itu.

Ini menyelisihi firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُه﴾ [البقرة/283]

“Dan janganlah kalian menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikannya maka dia itu berdosa hatinya.”

Dan firman-Nya subhanahu:

﴿وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ الله ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ﴾ [الطلاق/2]

Dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat.”

 

Dan firman-Nya ta’ala:

﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل عمران/187].

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,”

Dan ini menyelisihi kaidah yang telah menetap di kalangan para imam hadits: “Tidak boleh diam terhadap kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan kemampuan,” dan “Wajib memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.”

Yahya bin Sa’id -rahimahulloh- berkata : “Aku bertanya kepada Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah ibnul Hajjaj, Malik bin Anas, dan Sufyan bin ‘Uyainah tentang seseorang yang lemah sekali haditsnya, lalu datang seseorang kepadaku dan menanyaiku tentangnya. Mereka semua bersepakat untuk aku berkata,”Dia itu bukan orang yang kokoh haditsnya” dan agar aku menjelaskan keadaannya.” (6)

Abu Zur’ah berkata: Aku mendengar Abu Mushir ditanya tentang orang yang suka menyembunyikan hadits dan merubahnya. Maka beliau berkata: “Jelaskan pada manusia keadaannya”. Kukatakan pada Abu Mushir: “Apakah Anda berpendapat bahwasanya itu termasuk ghibah?” beliau menjawab: “Tidak.” (7)

Diriwayatkan dari Abu Dawud bahwasanya beliau berkata: Abbad bin Habib datang kepada Syu’bah seraya berkata: “Saya punya kebutuhan padamu.” Beliau berkata: “Apa itu?” aku menjawab: “Hendaknya Anda jangan berbicara tentang Aban bin Abi ‘Ayyasy.” Maka beliau menjawab: “Berilah aku waktu selama tiga hari.” Lalu beliau datang setelah tiga hari seraya berkata: “Wahai ‘Abbad, aku telah merenungkan apa yang engkau katakan, lalu aku berpandangan bahwasanya tidak halal bagiku untuk diam darinya.” (8)

Dan diriwayatkan dari Hammad bin Zaid bahwasanya beliau berkata: Aban bin Abi ‘Ayyasy datang kepadaku seraya berkata: “Saya ingin Anda berbicara dengan Syu’bah untuk tidak membicarakan diriku.” Maka akupun berbicara dengan Syu’bah tentang itu. Maka beliau tidak berbicara tentang Aban beberapa hari. Kemudian beliau mendatangiku disebagian malam seraya berkata: “Sesungguhnya engkau meminta padaku agar aku tidak membicarakan Aban, tapi tidak halal bagiku untuk diam darinya karena dia berdusta atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم . (9)

Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berbicara tentang hadits ifk (kedustaan terhadap ‘Aisyah dan Shofwan bin Mu’aththol رضي الله عنهما) : Nabi صلى الله عليه وسلم mengajak Ali dan Usamah bermusyawarah, dan beliau juga bertanya pada Bariroh tentang apa yang mereka ketahui tentang keluarganya (‘Aisyah), Di dalamnya ada penjelasan yang terang bahwasanya tidaklah beliau menanyai mereka kecuali wajib bagi mereka untuk mengabari beliau tentang apa yang mereka tahutentangnya. Maka demikian pula wajib atas seluruh orang yang memiliki ilmu tentang pembawa kabar atau atsar yang kedudukannya tidak mencapai kedudukan ‘A’isyah Ummul Mukminin dan tidak pula kedudukannya di sisi Nabi r seperti kedudukan ‘A’isyah di sisi beliau –sampai pada ucapan beliau:- agar dia itu menampakkannya pada orang yang tidak punya pengetahuan tentangnya, agar dia itu menjadi penolong agama Alloh dengan peringatannya pada manusia tadi, menjadi pembela Rosululloh صلى الله عليه وسلم dari kedustaan. Maka alangkah agungnya kedudukan ini, dan alangkah mulianya martabat ini, sekalipun tidak diketahui oleh orang yang bodoh dan diingkari oleh orang yang mengingkari.” (“Al Kifayah”/Al Khothib /1/166/Bab Wujubi Ta’rifil Muzakki/Darul Huda).

Kesembilan: di antara kaidah yang Baromikah berupaya untuk meruntuhkannya adalah: “Jarh mufassar (terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan di atas ta’dil (pujian).” Alangkah seringnya mereka bersembunyi di balik pujian sebagian ulama kepada anak Mar’i dalam rangka meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyin yang didukung dengan keterangan-keterangan dan bukti-bukti serta argumentasi-argumentasi.

Hal ini menyelisihi kaidah yang telah menetap di kalangan para imam. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Jarh itu lebih diutamakan daripada ta’dil. Inilah ucapan sekelompok imam. Akan tetapi tempatnya adalah jika jarh tadi muncul dengan penjelasan dari orang yang tahu sebab-sebab jarh, dikarenakan jika jarh tadi tidak disertai penjelasan maka tidak merusak orang yang ‘adalahnya (kelurusan agamanya) telah tetap. Jika jarh tadi bersumber dari orang yang tidak tahu sebab-sebab jarh, maka tidak teranggap juga. Jika orang yang di jarh tadi kosong dari ta’dil, maka jarh yang mujmal (global) tanpa menjelaskan sebabnya terhadap dirinya diterima, jika bersumber dari orang yang tahu sebab-sebab jarh. Inilah madzhab yang terpilih. Yang demikian itu dikarenakan jika tidak ada ulama yang menta’dilnya, maka dia adalah orang yang majhul, dan mengamalkan ucapan ulama yang menjarhnya lebih utama daripada mengabaikannya.” (“Nuzhatun Nazhor”/1/hal. 46/Kunal Musammin).

Bersembunyi di balik pujian dalam rangka lari dari jarh yang terperinci adalah kebiasaan para ahli batil yang lemah hujjahnya. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata tentang keadaan hizbiyyin: “Dan di antara uslub mereka juga adalah mengambil pujian/rekomendasi dari sebagian ulama untuk orang-orang yang karya tulis mereka, sikap dan kegiatan mereka telah dihukumi jauh dari manhaj salaf, bermusuhan dengan pengikut salaf dan berloyalitas dengan para musuh, dan perkara yang lain. Dan kebanyakan orang tidak tahu kaidah jarh wat ta’dil, dan bahwasanya kritikan yang terperinci itu didahulukan terhadap pujian, karena si pemuji itu membangun pujiannya di atas perkara yang nampak dan baik sangka. Dan si pengritik itu membangun kritikannya di atas ilmu dan kenyataan sebagaimana telah dimaklumi bersama di kalangan para imam jarh wat ta’dil.

Dan dengan dua uslub ini dan yang lainnya mereka hendak menggugurkan kerja keras para penasihat dan perjuangan para pembela sunnah dengan amat mudahnya, dan menjaring masyarakat yang banyak dan bahkan kebanyakan pengajar, dan menjadikan mereka sebagai tentara untuk memerangi manhaj salaf dan salafiyyun, dan membela para pemimpin kebid’ahan dan kesesatan.

Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.” (“Al Haddul Fashil Bainal Haqq wal Bathil”/Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-/hal. 144).

Nasihat ini penting sekali, seharusnya para tokoh yang mulia –di antara mereka adalah pemilik kitab “Al Haddul Fashil” sendiri- untuk menerimanya dan menerapkannya. Dan kita katakan pada mereka sebagaimana ucapan pemilik kitab “Al Haddul Fashil” sendiri: “Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.”

Kesepuluh: Di antara kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah bahwasanya mereka berupaya untuk meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyun dengan alasan yang dingin: “Ucapan teman sejawat itu dilipat saja dan jangan diriwayatkan!”

Yang benar adalah: Bahwasanya jarh teman sejawat itu perlu dirinci: Jika kejujuran dan keahlian orang yang meng-jarh tadi telah diketahui, dan tidak nampak darinya kedengkian pada orang yang di jarh, juga tak nampak dari mereka persaingan, maka jarhnya tadi diterima, karena seseorang itu lebih tahu tentang teman sejawatnya daripada orang lain. Adapun jika nampak darinya kedengkian pada orang yang di jarh, atau nampak dari mereka persaingan, atau yang seperti itu jarhnya tadi tidak diterima. Inilah yang benar yang berlangsung pada penerapan para Shohabat, Tabi’in dan Atba’ut Tabi’in, bukan seperti pendapat Adz Dzahabiyرحمه الله.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Orang-orang telah menjadi anak bagi Adz Dzahabiy dan kitab-kitabnya, akan tetapi yang benar adalah bahwasanya apa yang disebutkan oleh Adz Dzahabiy bahwasanya mereka tidak menerima ucapan teman sejawat satu sama lain itu tidak bisa diterima. Kemudian, jika yang mereka inginkan adalah teman sejawat yang sezaman, pada masa yang sama, dan setara ilmunya, maka hal ini rumit karena tidaklah mengetahui keadaan seseorang kecuali orang yang sezaman dengannya. Dan tidaklah orang yang datang setelah zaman itu mengetahui keadaan orang tadi kecuali dengan berita-berita dari teman sejawat orang tadi. Jika yang diinginkan adalah yang pertama, maka jawabannya adalah itu tadi. Tapi jika yang diinginkan adalah yang kedua maka para ulama itulah yang mengetahui orang-orang yang semisal dengan mereka. Dan tidak ada yang mengetahui siapakah pemilik keutamaan itu kecuali orang yang memang punya keutamaan tadi juga. Maka yang lebih pantas adalah menggantungkan perkara tadi (yaitu ditolaknya jarh teman sejawat) pada orang yang diketahui bahwasanya di antara mereka berdua ada persaingan atau saling dengki atau perkara yang menjadi sebab tidak dipercayanya perkataan satu sama lain, bukan karena dia itu adalah teman sejawatnya, karena tidaklah mengetahui kelurusan agama seseorang ataupun kekurangannya kecuali teman sejawatnya.” (“Tsamrotun Nazhor”/hal. 130/Darul ‘Ashimah).

Maka yang perlu diperhitungkan adalah perkataan yang disertai oleh bayyinah dan burhan. Al Imam Ibnu Abdil Bar رحمه الله berkata: “Yang benar dalam bab ini adalah bahwasanya barangsiapa telah sah ‘adalahnya (kelurusan agamanya) dan telah tetap ilmu tentang keimamannya, serta telah jelas tsiqohnya, dan perhatiannya pada ilmu, maka ucapan seseorang tentang dirinya tidak perlu diperhatikan kecuali jika dalam jarhnya tadi dia mendatangkan bayyinah yang lurus, yang dengannya suatu jarh itu menjadi sah, dengan jalan adanya persaksian-persaksian, dan pengamalan terhadap penglihatan yang mengharuskan adanya pembenaran terhadap apa yang diucapkannya karena yang mengucapkannya bersih dari dendam, dengki, permusuhan dan persaingan, dan selamatnya dirinya dari itu semua. Maka hal itu semua mengharuskan diterimanya ucapannya dari sisi fiqh dan penelitian.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm”/2/hal. 152/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Al ‘Allamah Muhammad Al Laknawiy رحمه الله : “Mereka terang-terangan bahwasanya ucapan seseorang terhadap orang yang sezaman itu tidak diterima. Hal itu sebagaimana telah kami isyaratkan harus dikaitkan dengan apabila perkataan tadi tidak disertai dengan burhan dan hujjah, dan dibangun di atas fanatisme dan kebencian. Jika tidak ada faktor ini ataupun itu maka perkataannya diterima tanpa ada kekaburan. Hapalkanlah ini karena penjelasan ini termasuk perkara yang bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.” (“Ar Rof’u Wat Takmil”/hal. 431/Fi bayani hukmil Jarh Ghoirol Bari/Maktabatul Mathbu’atil islamiyyah).

Bahkan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله telah berkata: “… para ulama tidak berpaling kepada yang seperti ini kecuali jika disertai penjelasan dan hujjah, dan ‘adalah mereka tidak jatuh kecuali dengan burhan yang kokoh dan hujjah,…” dst. (“Siyar A’lamn Nubala”/7/hal. 40/tarjumah Ibnu Ishaq/muassasatur Risalah).

Maka beliau menjadikan hujjah dan burhan sebagai sandaran dalam kasus perkataan antar teman sejawat.

Maka wajib bagi Baromikah dan yang lainnya untuk mengambil faidah dari manhaj Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang mana mereka sering menisbatkan diri kepada beliau, dan berulangkali bersembunyi di balik punggung beliau. Beliau رحمه الله berkata: “Wahai kamu, apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima? Aku bertanya kepada kalian wahai ikhwan: apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima?” (Kemudian Syaikh -rahimahulloh- bertanya kepada sebagian thalib:) ” apakah ucapan teman sejawat itu sebatas yang telah kalian baca, dan di dalam kitab tarjumah (biografi) dan tarikh (sejarah) diterima ataukah tak diterima?” dia menjawab,”Ucapan teman sejawat jika nampak didasari oleh permusuhan dan hasad itu tak bisa diterima.” Beliau berkata,”Shohih” Dia melanjutkan,”Adapun jika dia itu sebagai nasihat dan menjelaskan hakikat urusannya dia dan penyimpangannya, maka orang yang paling tahu tentang seseorang adalah teman sejawatnya.” Beliau berkata,”Shohih” Dia berkata lagi,”Kaidah ini –jarhul aqron- tidaklah dilipat dan tidak diriwayatkan secara mutlak.”

Al Imam Al Wadi`iy berkata lagi,”Iya –wahai ikhwan-, teman sejawat adalah orang yang paling tahu tentang dirimu daripada yang lain, maka harus didahulukan. Apa arti ucapan mereka –ahlul hadits-:”Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk negerinya.”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Mesir”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Syam”? Iya. Jika diketahui bahwasanya di antara keduanya ada persaingan dan permusuhan keduniaan, maka tidak diterima. Adapun jika dia mencela sejawatnya dan berkata,”Pendusta” padahal tiada permusuhan di antara mereka, maka ucapan teman sejawat terhadap sejawatnya itu paling mantap dan besar, karena dia yang paling tahu tentang keadaannya.” (As’ilah Holandiyyah/ 23/robi’ul Awwal/1420 H).

Aku mendengar Syaikh kami al ‘allamah Yahya bin Ali Al Hajuriyحفظه الله berkata dalam dars beliau di antara maghrib dan ‘isya:“Ucapan seseorang yang diperkuat dengan bukti terhadap teman sejawatnya itu harus diterima. Andaikata bab ini dibatalkan, niscaya kita tidak akan menerima mayoritas kitab-kitab jarh wat ta’dil. Apakah Imam Ahmad berbicara tentang Al-Karobisiy setelah dia mati ataukah pada zamannya?! Demikianlah seterusnya. Kita katakan, kebenaran itu wajib untuk diterima dan janganlah engkau melembekkan kasus dengan alasan: “Ucapan teman sejawat!” Abul Hasan itu teman sejawat kita. Demikian pula mayoritas hizbiyyun yang ada sekarang. Az-Zindaniy itu teman sejawat kita. Sho’tar itu teman sejawat kita. Terus bagaimana? Apa kita tinggalkan ini dan kebenaran ditolak dikarenakan orang ini ada di zamannya dan sebagai teman sejawatnya?! Jika demikian, dimanakah kebenaran itu?” Selesai.

Yang mengherankan adalah: bersamaan dengan sikap Baromikah membatalkan jarh Salafiyyin terhadap kedua anak Mar’i di bawah kaidah yang batil itu: “Ucapan teman sejawat dilipat saja dan jangan diriwayatkan” mereka sendiri bersemangat sekali untuk menuduh Ahlussunnah yang sezaman dengan mereka dengan berbagai kekejian. Mereka juga menerima perkataan batil dari orang-orang zaman sekarang terhadap ahlu Dammaj.

Kesimpulan: sesungguhnya Baromikah mereka itulah yang menyelisihi banyak sekali dari prinsip-prinsip para imam Salaf.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata menukil ucapan haddadiyyah: yang ketiga: “Para ulama Al Jarh Wat Ta’dil terkadang berbicara tentang rowi disebabkan oleh perkara-perkara yang sebenarnya tidak mengharuskan adanya jarh. Adapun para ulama –yaitu ulama syariat menurut mereka- jika mereka berbicara tentang seseorang dan membid’ahkannya, maka hal itu adalah setelah mereka memeriksa manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menelusuri dalil-dalil, karena mereka mengetahui bahayanya pembid’ahan. Dan adalah beda antara yang ini dan yang itu.”

Komentar ana:

Adapun sekedar terjadinya kesalahan dari sebagian imam Al Jarh Wat Ta’dil ketika men-jarh sebagian rowi, maka hal itu pasti terjadi dan tak mungkin dihindari karena mereka itu bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Akan tetapi yang demikian itu jarang sekali jika dibandingkan dengan banyaknya rowi yang mereka kritik dengan benar. Sementara itu, hukum itu dibangun di atas perkara yang dominan. Adapun perkara yang jarang terjadi tidaklah dibangun di atasnya hukum. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Hukum-hukum itu hanyalah untuk perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 374).

Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Kami tidak menyatakan bahwasanya para imam Al Jarh Wat Ta’dil itu ma’shum (terjaga dari kesalahan), akan tetapi mereka itu adalah orang yang paling banyak benarnya, dan paling jarang kesalahannya, paling adil, dan paling jauh dari kecondongan.” (“Siyar A’lamin Nubala’/11/hal. 82/tarjumah Yahya bin Ma’in).

Al Imam Al Mu’allimiy رحمه الله berkata: “Maka kebenaran dalam Al Jarh Wat Ta’dil itulah yang dominan.” (“At Tankil”/1/hal. 149).

Kesalahan dalam perkara seperti ini terjadi juga pada para ulama yang lain, tanpa diragukan. Maka yang seperti ini bukanlah sebab untuk mengeluarkan kaidah-kaidah Al Jarh Wat Ta’dil dari area ilmu syari’ah, dan bukan pula sebab untuk mengeluarkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil dari area ulama syari’ah.

Kesimpulannya adalah: Bahwasanya para tokoh Darul Hadits di Dammaj dan seluruh Salafiyyun yang paham, mereka mengingkari pembagian yang bersifat bid’ah ini –ulama Al Jarh Wat Ta’dil dan ulama syariah-, dan mereka mengetahui bahwasanya hal itu adalah makar dari haddadiyyah untuk meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip Salafiyyah dan untuk melindungi para mubtadi’ah.

Dan di dalam prinsip tadi juga ada penghinaan yang nyata terhadap para imam Al Jarh Wat Ta’dil. Dan prinsip bikinan tadi tidaklah diucapkan ataupun disetujui oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه اللهmenukilkan ucapan haddadiyyah: keempat: “Ulama Al Jarh Wat Ta’dil terkadang berselisih pendapat tentang hukum terhadap seorang rowi tertentu, maka tidaklah hal itu menjadi sebab untuk menghukumi ulama yang lainnya selama mereka tidak mengambil jarh ini. Adapun para ulama jika telah berbicara tentang seorang mubtadi’ maka wajib untuk diikuti, jika tidak, maka orang yang tak mau mengambil vonis tadi akan digabungkan dengan mubtadi’ tadi.”

Komentar ana:

Jika jarh tadi terkait dengan kekuatan hapalan rowi, maka perkaranya adalah seperti yang kalian ucapkan. Dan kewajiban kita dalam perselisihan tadi adalah mencari pendapat yang paling kuat. Adapun jika jarh tadi terkait dengan kesetiaan orang tadi terhadap sunnah, maka jika seorang ulama telah menetapkan bid’ahnya seseorang dengan bukti-buktinya, maka haruslah ucapannya itu diterima, sementara perkataan orang yang menyelisihinya tidaklah dianggap. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata demikian.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله di salah satu kasetnya yang membantah Falih Al Harbiy ditanya: “Apakah disyaratkan dalam men-jarh ahlul ahwa itu kesepakatan ulama zaman itu ataukah cukup satu orang alim saja?”

Maka beliau وفقه الله menjawab: “Ini adalah termasuk kaidah-kaidah pelembekan yang buruk –semoga Alloh memberkahi kalian-. Pada zaman apakah disyaratkan ijma’ ini? Dan apakah dalil tentang syarat ini? Seluruh syarat yang tidak ada pada Kitabulloh adalah batil. Jika di sana ada syarat, maka jika Ahmad bin Hanbal menjarh seorang mubtadi’, dan Yahya bin Ma’in menjarh mubtadi’ lalu aku berkata: “Seluruh ulama sunnah di alam ini harus bersepakat terhadap mubtadi’ tadi”? Apabila Ahmad bin Hanbal telah berkata: “Dia adalahmubtadi’”, maka telah cukup. Oleh karena itu, apabila Ahmad berkata: “Fulan mubtadi’”, maka seluruh manusia akan menerimanya dan tidak mengikuti pemikiran-pemikiran mereka. Apabila Yahya bin Ma’in berkata: “Dia adalah mubtadi’”, maka tidak ada seorang pun yang akan menyelisinya. Maka apakah dipersyaratkan adanya ijma’?! Ini suatu hal yang mustahil dalam setiap hukum syari’ah, mustahil! Apabila datang dua orang saksi bersaksi di depan hakim syar’ibahwasanya fulan telah membunuh seseorang, maka wajib atas hakim tersebut untuk untuk menghukum dengan syariat Alloh, baikdiyat ataukah qishosh. Maka apakah dipersyaratkan ijma’ dalam perkara seperti ini, yang lebih berbahaya daripada perkara tabdi’(pembid’ahan) seorang mubtadi’. Mereka ini para mumayyi’ahlul bathil, da’i yang mengajak kepada kerusakan dan mengail di air yang keruh. Maka janganlah kalian mendengarkan perkataan batil seperti ini. Apabila seorang alim yang berpandangan tajam menjarhseseorang, maka wajib untuk diterima. Apabila jarh-nya tersebut ditentang oleh seorang alim yang adil dan mumpuni ilmunya, maka saat itu dipelajari kembali apa yang dikatakan oleh kedua alim tersebut, baik jarh maupun ta’dilnya. Apabila jarh tersebut jelas dan terperinci, maka didahulukan atas ta’dil walaupun yang menta’diljumlahnya lebih banyak. Jika seorang alim menjarh seseorang dengan jarh yang terperinci dan dua puluh atau lima puluh alim ulama lainnya menta’dilnya dengan tidak menyertakan dalil, tetapi hanya saja dengan prasangka baik atau melihat secara lahiriyyah saja, sedangkan yang menjarh memiliki bukti-bukti akan jarhnya tersebut, maka jarh tersebut didahulukan, karena yang menjarhmemiliki hujjah dan hal itu didahulukan. Hujjah itu didahulukan walau diselisihi oleh seluruh penduduk bumi. Semuanya menyelisihinya dalam keadaan hujjah ada padanya, maka berarti al-haq bersamanya. Al-Jama’ah itu adalah yang mencocoki al-haq walau seorang diri. Apabila seseorang berada di atas Sunnah, sedangkan penduduk dua atau tiga kota menyelisihinya mereka mubtadi’ah, maka al-haq bersama satu orang ini. Hujjah dan al-haq yang ada padanya didahulukan atas kebatilan yang ada pada yang lainnya. Wajib bagi kita memuliakanal-haq, hujjah dan bukti.

dy»Zu6àNö dy$?èq#( %è@öÈÊÊÊÇ ¹|»‰Ï%Ïüúš 2àZGçOó )Îb /çö

Katakanlah: ”Tunjukkan bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian orang-orang jujur.” (Al-Baqoroh: 111)

#$!« ™y6΋@È ãt` ƒãÒÅ=q8x #${F‘öÚÇ ûΆ Bt` &r2òYsŽu ?èÜÏìô ru)Îb

Apabila engkau menta’ati kebanyakan penduduk bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.” (QS. Al-An’am: 116)

Jumlah yang banyak itu tidak ada nilainya apabila kosong darihujjah. Walaupun semua penduduk bumi berkumpul di atas kebatilan -kecuali sebagian kecil- dan tidak memiliki hujjah, maka tidaklah ada harganya sama sekali kesepakatan mereka walau yang menyelisihi mereka hanya seorang atau sebagian kecil saja. Hendaklah kalian takut kepada Alloh dalam mengenal al-haq, berpegang teguh dengannya dan menerimanya jika disertai dengan hujjah. Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita semua.” (selesai penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal. 75).

Kukatakan وفقني الله : Andaikata Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy menerapkan ucapan ini dan tidak menyelisihinya sendiri. Bagaimana beliau mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan ucapannya: “Yahya Al Hajuriy tolol, haddadiy, buruk, semoga Alloh tidak memberkahinya” yang kosong dari burhan dan bayyinah? Di manakah firman Alloh ta’ala yang dinukilkannya barusan:

Katakanlah: ”Tunjukkan bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian orang-orang jujur.” (Al-Baqoroh: 111)

Sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliauحفظهم الله telah menampilkan sejumlah besar burhan dan hujjah yang Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy tak mampu membantahnya. Maka di manakah penerapan perkataannya sendiri: “Wajib untuk kita memuliakan al-haq, hujjah dan bukti.”?

 

(inilah akhir dari terjemah seri dua dari risalah “Shifatul Haddadiyyah”. masih ada sisa komentar dalam bab ini yang insya Alloh akan kita sempurnakan pada seri tiga, lalu masuk ke pembahasan-pembahasan yang lain dari karakter haddadiyyah).

 

 

1( ) Maksudnya adalah: bahwasanya mereka berpendapat bahwasanya Ahlu Dammaj tidaklah lebih tahu daripada mereka tentang keadaan Abdurrohman bin Mar’i saat tinggal di Dammaj, dikarenakan sudah lengkapnya jaringan telpon, sehingga merekapun bisa tahu apa yang diketahui oleh ahlu Dammaj. (catt. Pent).

2( ) Misalnya adalah berita dari Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Kita wajib untuk langsung mengimaninya. (catt. Pent).

3( ) Misalnya adalah keumuman berita dari orang tsiqoh. Sebagian ulama mewajibkan untuk langsung menerimanya, sebagian lagi membolehkan untuk tabayyun. Dan tiada seorangpun dari ulama sunnah yang mu’tabar mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh. Adapun para hizbiyyun pengikut Abdurrohman bin Mar’i dan lainnya, yang mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh, maka mereka memang ahlu bid’ah. (catt. Pent).

4( ) Diriwayatkan Ibnu baththoh dalam “Al Ibanatul kubro” (no. 505) dan Al Baihaqiy dalam “Syu’abul Iman” (8984) dan Abdurrozzaq (7894) dengan sanad jayyid dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dengan lafazh:

« اعتبروا الرجل بمن يصاحب ، فإنما يصاحب من هو مثله ».

“Nilailah seseorang dengan siapa dia bersahabat, karena dia itu hanyalah bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.”

5( ) Atsar Shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’la رحمه الله lihat takhrijnya di risalah asli “Shifatul Haddadiyyah”.

6( ) Atsar shohih lighoirihi, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Al Khothib di “Al Kifayah”/ /1/177-178/wujubu ta’rifil muzakki/Darul Huda)

7( ) Atsar shohih, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban

8( ) Sanadnya dho’if, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Al Majruhin”/1/hal. 21. Di dalam sanadnya ada Mu’adz bin Syu’bah, dari Bashroh, majhul.

9( ) Sanadnya dho’if, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Al Majruhin”/1/hal. 21. Di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdirrohman Al Faqih, hapalannya jelek.