Karakter Haddadiyyah

Dalam Diskusi Ilmiyyah

(Komentar terhadap isi Kitab “Aujuhusy Syibh Bainal Hadadiyyah wa

Bainar Rowafidh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

(Seri Tiga)

 

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

Pengantar Seri Tiga

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kami telah menyelesaikan seri tiga dari terjemah risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”.

Isinya berbicara tentang pembahasan bahwasanya hujjah dan dalil itu lebih tinggi daripada perkataan ulama, sesuai dengan perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri.

Juga berisi tentang bahayanya menolak kebenaran setelah datangnya penjelasan.

Juga berisi bantahan terhadap Haddadiyyah yang menghinakan ulama Al Jarh Wat Ta’dil dan kaidah-kaidah mereka. Juga membongkar kebodohan Haddadiyyah dalam masalah luasnya area Al Jarh Wat Ta’dil dari ulama hadits.

Juga bantahan terhadap kesesatan Haddadiyyah dalam prinsip maslahat dan mafsadah, dan penolakan mereka terhadap pengambilan rukhshoh yang syar’iyyah.

Juga berbicara tentang upaya haddadiyyah untuk menjatuhkan para ulama yang kokoh di atas kebenaran.

Juga menyebutkan ucapan para imam tentang wajibnya membantah kesalahan, dan menjelaskan sisi yang benar dalam masalah tersebut, dan bahwasanya yang demikian itu bukanlah tho’n (cercaan) atau penghinaan kepada ulama yang dibantah tadi.

Sekaligus menjelaskan bersihnya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan thullab yang bersamanya رعاهم الله dari seluruh kebatilan Haddadiyyah tadi.

Selamat menyimak dan mengambil faidah, semoga Alloh memberikan taufiq-Nya pada kita.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله juga berkata ketika menjawab sebagian pertanyaan dari para pemuda ‘Adn tentang fitnah Abul Hasan: “Apabila sang pengkritik telah mendatangkan hujjah -walaupun seratus ulama besar menentangnya-, maka tidaklah berharga sedikitpun penentangan mereka, karena mereka itu menyelisihi hujjah dan bukti dengan tanpa disertai hujjah dan bukti (yang membatalkannya). Alloh -ta’ala- berfirman:

ÈÊÊÊÇ ¹|»‰Ï%Ïüúš 2àZGçOó )Îb /çödy»Zu6àNö dy$?èq#( %è@ö

Katakanlah: ”Tunjukkanlah bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian benar-benar orang-orang yang jujur” (Al-Baqoroh: 111)

Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui. Maka hendaklah kalian membaca kembali kitab-kitab ilmu hadits, terutama kitab-kitab yang membahas secara panjang lebar, seperti: “Tadribur-Rowy” karya As-Suyuthiy, “Fathul Mughits” karya As-Sakhowiy dan “Syarh Alfiah”karya Al-‘Iroqiy. Perkara ini di sisi para ulama adalah suatu hal yang tidak bisa ditolak oleh akal. Perselisihan dan memperbincangkan perkara ini secara batil tidaklah diperbolehkan, karena dengan demikian akan merusak ilmu-ilmu agama Islam dan menghancurkan kaedah-kaedah dan demikian seterusnya dengan metode semisal ini. Maka tidaklah boleh bagi seorang muslim untuk memberikan kepada umat kecuali al-haq. Sekali lagi kecuali al-haq dan menjauhi dari pengkaburan dan tipu muslihat –semoga Alloh memberkahi kalian-.” (selesai penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal. 75, dan “Ad Dalailul Qoth’iyyah”/Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal/hal. 22).

Kukatakan وفقني الله: Duhai, andaikata Asy Syaikh Robi’ menerapkan ucapan beliau sendiri: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

Barangsiapa tidak mau menerima kebenaran setelah ditegakkannya hujjah maka sungguh dia dalam bahaya. Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan dikhawatirnya Alloh akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

Al ‘Allamah Al Biqo’iy رحمه الله berkata tentang orang yang melindungi Ibnu ‘Arobiy dan yang semisalnya: ”Dan barangsiapa melindunginya, maka yang demikian itu adalah qorinah yang menunjukkan bahwasanya dirinya berkeyakinan dengan apa yang nampak dari ucapannya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 266).

Dan ini adalah hukum bagi orang yang telah sampai padanya hujjah, lalu bersikeras untuk membela ahli batil. Kami tidak mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan yang bersamanya telah sampai pada apa yang disebutkan para imam رحمهم الله tadi, hanya saja kami menyesalkan ketergelinciran mereka di dalam fitnah ‘Adniyyah ini.

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

Dan akan datang pembicaraan tentang orang yang dijelaskan padanya kebatilan seseorang lalu dia bersikeras untuk memegang kebatilan tadi setelah ditegakkannya hujjah.

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله menukilkan perkataan haddadiyyah lagi: Yang kelima: “Karena itulah maka sesungguhnya kaidah-kaidah ilmu mushtholah itu terbatas, tidak melampaui garis tepinya yang telah ditetapkan. Kalaupun terjadi kemiripan dengan sebagian ulama para imam terhadap ahlul bida’ wal ahwa, maka tidaklah yang demikian itu menyebabkan diterapkannya kaidah-kaidah yang lain kepada hukum terhadap orang-orang yang ada di luar bidang riyawat. Inilah yang disebutkan berulang-ulang oleh Asy Syaikh Falih, dan beliau ingin para pemuda salafiy untuk waspada dari pengkaburan ahlul ahwa dalam sisi ini, karena mereka menginginkan dari para pemuda salafiy untuk menerapkan kaidah-kaidah mushtholah dalam berbicara tentang ahlul bida’ untuk menolak hukum-hukum ulama tentangnya.”

Komentar ana:

Sesungguhnya haddadiyyah bermudah-mudah membid’ahkan orang yang berbuat salah, bahkan terhadap orang-orang yang bersih dari kalangan Salafiyyin dan imam mereka. Manakala kaidah-kaidah para imam Al Jarh Wat Ta’dil tidak mencocoki prinsip-prinsip mereka, mereka berupaya untuk meminggirkan kaidah-kaidah yang mencocoki Al Qur’an, As Sunnah dan manhaj Salaf tadi dari ilmu-ilmu syar’iyyah, dan mereka berupaya membungkam ulama Al Jarh Wat Ta’dil dari berbicara tentang kebatilan ahlul ahwa dengan alasan bahwasanya mereka itu bukanlah ulama syari’ah, dan bahwasanya ilmu mereka tentang mushtholah itu terbatas, tidak boleh diterapkan terhadap ahlul bida’.

Haddadiyyun menyatakan bahwasanya para ulama Al Jarh Wat Ta’dil tidak berbicara tentang tokoh-tokoh yang tak punya riwayat, dan bahwasanya hukum-hukum para ulama tadi tidak cocok pada mereka. Pernyataan ini tertolak. Para imam hadits telah berbicara juga tentang jenis ini -tokoh yang tak punya riwayat- dengan perkataan yang benar, yang muncul dari ilmu. Para ulama Al Jarh Wat Ta’dil adalah orang yang paling banyak penjelasannya terhadap kebatilan ahlul ahwa dan menyingkapkan kejahatan mereka, sekalipun tak punya riwayat. Yang demikian itu adalah dikarenakan yang penting adalah penjagaan terhadap agama umat dan menolak bahaya para perusak.

Misalnya adalah:

Al Imam Al ‘uqoiliy رحمه الله menyebutkan sanadnya dalam tarjumah Dhiror bin Amr Al Qodhi: haddatsana Ahmad bin Ali: haddatsana Abu Hammam yang berkata: “Dulu Sa’id bin Abdirrohman adalah hakim di Baghdad, dan beliau sering singgah di ruam Saib. Lalu datanglah sekelompok orang bersaksi bahwasanya Dhiror itu zindiq. Maka beliau berkata: “Aku telah menghalalkan darahnya, maka barangsiapa ingin membunuhnya silakan membunuhnya.” (“Adh Dhu’afa”/Al ‘Uqoiliy/2/hal. 222).

Biografinya ada di Siyar A’lamin Nubala (10/hal. 544/Ar Risalah) karya Adz Dzahabiy. Beliau رحمه الله berkata dalam “Mizanul I’tidal” (no. 4323/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah): “Dhiror bin ‘Amr Al Qodhi, mu’taziy garis keras, punya perkataan-perkataan yang busuk, –sampai pada ucapan beliau:- orang yang mundur ini tak meriwayatkan sesuatu apapun.”

Ibnun Najar Al Baghdadiy رحمه الله berkata dalam biografi Ubaidulloh bin Muhammad bin Abdillah bin Hibatilloh ibnul Muzhoffar Abil Faroj yang terkenal sebagai “Ibnu Roisir Ruasa”: “Dalam dirinya ada kekerasan, ketegasan, kegarangan, kekakuan, kekejaman, dan garis hidup yang jelek. Tidak ada di rumahnya orang yang lebih jelek jalannya selain dirinya. Aku melihat manusia dan seluruh masyarakat bersepakat untuk menecalanya. Dia telah mendengar hadits dari sekelompok ulama ketika masih muda. Dia mati muda dan tidak meriwayatkan satu haditspun. Dia adalah ahli syair, dan bisa mengungkapkan syair yang bagus.” (“Dzail Tarikh Baghdad”/2/hal. 86).

Contoh lain: Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata tentang biografi Jahm bin Shofwan: “Dia adalah Abu Muhriz As Samarqondiy mubtadi’, sesat, pimpinan Jahmiyyah. Mati pada zaman shighorut Tabi’in. Aku tidak tahu dirinya meriwayatkan sesuatu apapun, tapi dia menanamkan kejelekan yang besar.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal. 159/Darul Kutubil Ilmiyyah).

Contoh lain: Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata tentang biografi Al Harits bin Sa’id: “Pendusta, mengaku nabi, disalib oleh Abdul Malik bin Marwan. Tidak meriwayatkan sesuatu apapun, sejarahnya ada di kitab tarikh besar punyaku.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal. 169/Darul Kutubil Ilmiyyah).

Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dalam “Lisanul Mizan” (1/hal. 266) menambahkan: Ibnul Jauziy telah menyebutkannya dalam “Al Muntazhom” pada kejadian tahun 69, dan menukilkan dari Abdul Wahhab bin Najdah dari Al Walid bin Muslim dari Abdurrohman bin Hassan yang berkata: “Dulu Al Harits termasuk dari penduduk Damaskus, ahli ibadah, berbicara tentang pujian dengan perkataan yang belum pernah didengarkan semisal itu. Lalu dia dihadang oleh iblis dan disesatkannya hingga menyangka bahwa dirinya adalah nabi.”.”

Lihatlah perhatian para ahlul hadits terhadap urusan ahlul batil sekalipun mereka tak punya riwayat. Lihatlah kepada fiqh mereka. Hanbal bin Ishaq berkata dalam biografi Dhiror bin Amr: “Aku masuk menemui Dhiror di Baghdad. Wajahnya jelek, juga punya penyakit Falij(1). Dia adalah seorang mu’taziliy. Dia mengingkari Jannah dan neraka. Dia berkata: “Perkara itu diperselisihkan: apakah kedua telah diciptakan ataukah belum.” Maka para ahlul hadits menerkamnya dan memukulinya.” Ahmad bin Hanbal berkata: “Pengingkaran terhadap keberadaan Jannah dan neraka adalah kekufuran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿النار يعرضون عليها غدوا وعشيا﴾. [ غافر: 46 ].

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”.

(“Siyar A’lamin Nubala”/10/hal. 545/tarjumah Dhiror bin Amr/Ar Risalah).

Penjelasan ini cukup untuk membantah prinsip yang dibuat oleh haddadiyyah. Sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berlepas diri dari prinsip-prinsip yang rusak itu.

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Aku telah membantah prinsip-prinsip yang rusak itu, yang menghinakan para ulama Al Jarh Wat Ta’dil dan menghinakan prinsip-prinsip mereka yang agung, dalam kitabku: “Aimmatul Jarh Wat Ta’dil Hum Hummatud Din”.

Komentar ana:

Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas jasanya kepada Islam. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله juga telah memperingatkan umat akan bahaya haddadiyyah, sebagaimana peringatan tadi dilakukan juga oleh sebagian ulama yang lain. Maka bagaimana mereka mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy sementara beliau termasuk orang yang pertama memperingatkan manusia dari kebatilan pimpinan haddadiyyah yang baru -seri dua- yaitu Falih Al Harbiy, sampai-sampai Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy pada waktu itu meminta Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy untuk diam darinya? Silakan rujuk risalah syaikh kami An Nashihul Amin: “Falih Al Harbiy هداه الله Muli’un Bil Jizaf Wa Qillatil Inshof”.

[Pasal Empat: Kasus Maslahat dan Mafsadah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi keempat: Mereka menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah.

Komentar:

Yang keempat dari sifat haddadiyyah adalah: mereka menolak untuk memperhatikan maslahat dan mafsadah. Adapun Ahlussunnah maka mereka itu berjalan bersama sunnah ke manapun sunnah itu berjalan. Ahlussunnah adalah pertengahan antara sifat ghuluw hasaniyyin dalam menerapkan maslahat dan mafsadah dan yang lainnya, dengan ghuluw haddadiyyin dalam menyia-nyiakan prinsip maslahat dan mafsadah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah memperingatkan umat dari kedua jalan yang batil ini. Beliau berkata: “Tidaklah Allohعز وجل melarang dari yang demikian itu –yaitu sikap berlebihan dan sikap kurang- kecuali karena Dia mengetahui bahwasanya sikap berlebihan dan sikap kurang yang menyelisihi kebenaran itu akan terjadi di kalangan para hamba-Nya. Ini merupakan dua penyakit yang berbahaya. Jarang sekali zaman dan tempat yang kosong darinya. Dan di antara perkara yang terjadi pada masa-masa ini adalah: perkara yang dilakukan oleh hizbiyyun, dan pada sisi lain ada kelompok lain yang dinamakan: haddadiyyun, yang berupa sikap ghuluw terhadap beberapa orang dan perkara, dan sikap kurang pada perkara lain.” (Kata pengantar untuk kitab “At Tahdzir Minal Ghuluw Wa Ahlihi”/karya Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy/hal. 5-6/Darul Kitab Was Sunnah).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله berkata tentang biografi Falih Al Harbiy: “Falih Al Harbiy, terdorong keras untuk berbuat ghuluw, ngawur dan kurang adil. Dia lancang mencerca, mencela dan menghina Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan sejumlah ulama yang Falih tidak sebanding dengan masing-masing dari murid mereka dalam mengambil faidah.” (“Syar’yyatun Nush Waz Zajr Wat Tahdzir”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/no. 55/Darul Kitab Was Sunnah).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله telah membacakan untuk kami kitab “Adabuth Tholab” karya Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله , ketika beliau melewati perkataan: “Dan hendaknya dia mengetahui bahwasanya syari’at yang suci, mudah dan lapang ini dibangun di atas sifat: mengambil maslahat dan menolak mafsadah…” dst. (“Adabuth Tholab”/hal. 129/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah)

Beliau حفظه الله membenarkannya, menolongnya dan mendukungnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله termasuk orang yang memperhatikan perkara ini.

Kami telah mempelajari kitab “I’lamul Muwaqqi’in” karya Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله di hadapan syaikh kami An Nashihul Amin, dan kami melewati perkataan sang penulis رحمه الله : “Dan termasuk dari prinsip-prinsip syari’ah adalah bahwasanya jika ada maslahat dan mafsadah yang saling bertentangan, maka yang paling beratlah yang didahulukan –sampai pada ucapan beliau:- bahkan kaidah syari’ah berlawanan dengan itu(2) , yaitu menolak bahaya yang lebih besar dengan cara memikul bahaya yang lebih ringan….” Dst. (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 25)

Maka beliau menolongnya dan mendukungnya.

Beliau حفظه الله berkata dalam dars umum beliau: “Perkara yang ditunjukkan oleh suatu dalil bahwasanya dia itu diperintahkan, maka sungguh dia itu adalah maslahat yang terbesar. Dan perkara yang ditunjukkan oleh suatu dalil bahwasanya dia itu dilarang, maka sungguh dia itu adalah mafsadah yang terbesar.”

Bahkan perbuatan Baromikah benar-benar merupakan suatu kerusakan terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman dan luar Yaman.

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama –orang-orang yang akan membeli tanah di calon markiz Fuyusy- tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]

Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka(3). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar(4).

Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia. (diringkas dari “Tadzkirotun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh yang utama Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al ‘Adniy حفظه الله /hal. 3-9).

Dengan penjelasan ini maka Baromikah kalaupun tidak meniatkan makar terhadap dakwah Salafiyyah maka sesungguhnya perbuatan mereka itu menyebabkan bahaya yang besar terhadap dakwah karena mereka tidak mempertimbangkan maslahat dan mafsadah. Maka mereka dalam bab ini mirip haddadiyyah. Akan tetapi mereka memang sengaja membikin makar terhadap dakwah, sebagaimana akan datang penjelasannya pada babnya nanti.

[Pasal Lima: Kasus Pengambilan Rukhshoh (keringanan) dalam Prinsip-prinsip dan Kewajiban-kewajiban]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi kelima: Mereka menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mengambil rukhshoh dalam prinsip dan kewajiban, dan menolak ucapan-ucapan ulama sunnah dalam menjelaskan keadaan-keadaan yang di dalamnya syariat yang penuh hikmah itu memberikan keringanan. Dan mereka pura-pura tidak tahu terhadap nash-nash Qur’an dan Sunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah dan pengambilan keringanan, dan mereka ingin membelenggu manhaj Salafiy dan pemeluknya dengan tali-tali dan belenggu-belenggu mereka yang membinasakan itu.

Komentar ana:

Yang kelima dari sifat haddadiyyah adalah: menolak untuk mengambil rukhshoh(5) (keringanan). Sementara seluruh orang yang belajar kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan jujur mereka tahu bahwasanya beliau itu menganjurkan manusia untuk mencocoki sunnah, dengan jalan memberikan keringanan dalam perkara yang di situ syariat memberikan keringanan, dan mengambil ‘azimah(6) di tempat yang dianjurkan syariah untuk yang demikian itu. Demikian pula beliau mengulang-ulang ayat ini:

﴿قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِين﴾ [ص/86]

Katakanlah (hai Rosululloh): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang memberat-beratkan diri.”

Dan ayat ini:

﴿لَا يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾ [البقرة/286]

Tidaklah Alloh membebani suatu jiwa kecuali dengan kesanggupannya.”

Dan hadits ini:

«صل قائما ، فإن لم تستطع فقاعدا ، فإن لم تستطع فعلى جنب ». (أخرجه البخاري (1117) عن عمران بن حصين رضي الله عنهما).

Sholatlah dengan berdiri, jika engkau tidak sanggup maka duduklah, jika engkau tidak sanggup, maka dengan berbaring ke samping.”

Dan hadits ‘Aisyah رضي الله عنها :

«سددوا وقاربوا ، واعلموا أن لن يدخل أحدكم عمله الجنة ، وأن أحب الأعمال أدومها إلى الله ، وإن قلّ ». (أخرجه البخاري (6464) واللفظ له، ومسلمٌ (783)).

Luruslah kalian, dan mendekatlah kepada kelurusan, dan ketahuilah bahwasanya amalan salah seorang dari kalian tak akan memasukkannya ke dalam Jannah, dan bahwasanya amalan yang paling dicintai Alloh adalah yang paling rutinnya (bisa dijalankan terus-menerus), sekalipun sedikit.”

Dan bersamaan dengan itu beliau juga mengulang-ulang semisal perkataan As Salafush Sholih: “Dan barangsiapa mengikuti setiap kekeliruan ulama akan hilanglah agamanya.” (“Siyar A’lamin Nubala”/13/hal. 465/tarjumah Al Mu’tadhid Billah)

Atau perkataan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله : “Dan barangsiapa mengikuti rukhshoh-rukhshoh dari madzhab-madzhab yang ada, dan ketergelinciran para mujtahidin, akan rapuhlah agamanya, sebagaimana perkataan Al Auza’iy atau yang lainnya: “Barangsiapa mengambil perkataan ahli Makkah dalam masalah nikah mut’ah, dan ahli Kufah dalam masalah nabidz, dan ahlul Madinah dalam masalah nyanyian, dan ahlusy Syam dalam masalah ma’shumnya kholifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan semua kejelekan. Demikian pula yang mengambil pendapat orang yang memakai tipu daya dalam masalah perdagangan riba, dan pendapat orang yang berlapang-lapang dalam masalah tholaq dan nikah tahlil, dan yang seperti itu, maka sungguh dia telah menyodorkan diri untuk lepas dari agama.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 90/tarjumah Al Imam Malik/Ar Risalah),

Atau yang semakna dengan itu. Ini semua menunjukkan kepada semangat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله untuk lurus dan mengambil jalan tengah dalam segala perkara. Maka bukanlah beliau itu seorang haddadiy, dan bukan pula mumayyi’ (yang membikin lembek agama), bahkan beliau itu adalah seorang sunniy salafiy dengan taufiq dari Alloh. Ahlussunnah itu lebih tahu –dikarenakan perhatian mereka pada Al Kitab, As Sunnah dan atsar Salaf-, lebih bijaksana –karena mereka meletakkan segala sesuatu pada tempatnya-, dan lebih selamat –karena mereka mengikuti ketiga prinsip tadi dan mereka meresa cukup dengan itu-. Dan Alloh memberikan petunjuk pada orang yang kembali dan memusatkan perhatian pada Alloh, kepada jalan yang paling lurus.

Beliau حفظه الله telah memperingatkan manusia dari sikap tamayyu’ (lembek) dan ghuluw (berlebihan) dalam agama ini. Beliau رعاه الله berkata: “Tamayyu’ adalah upaya melepaskan diri dari kebenaran, dan tidak tetap pendirian dalam kebenaran tadi. Adapun ghuluw adalah: melampaui batas kebenaran, mengangkat perkara mustahab sampai ke derajat wajib, meletakkan perkara bukan pada tempatnya, dan membawa dalil bukan pada apa yang dikandungnya. Tamyii’ dan ghuluw adalah dua ujung yang saling bertentangan. Dan sebaik-baik perkara adalah perkara yang berlalu di atas petunjuk. Dan ghuluw menyebabkan binasanya umat-umat, sementara tamyi’ juga menyebabkan binasanya umat-umat yang lain.”

kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil yang banyak tentang bahayanya ghuluw, kemudian berkata:

“Ghuluw itu tercela di setiap zaman dan tempat. Khowarij berlebihan dalam bab ancaman, sehingga mereka mengkafirkan Muslimin. Dan terkadang mereka saling mengkafirkan satu sama lain dalam satu majelis. Demikian pula mereka mengkafirkan hakim, pemerintah, dan masyarakat. Dan perlu diketahui bahwasanya engkau akan melihat bahwasanya orang yang paling telantar adalah ahlul ghuluw. Demikian pula orang yang paling besar fitnahnya, dan paling rusak adalah ahlul ghuluw. Dan tiada seorang mubtadi’pun kecuali dia itu punya bagian dari ghuluw.

Adapun tamyi’ telah merusak manusia dalam agama mereka, dan merusak akhlaq mereka. Manhaj tamyi’ yang hampir-hampir tak bisa memisahkan diri dari manhaj ahlul batil dan ahlul ahwa –sampai pada ucapan beliau:- maka ini adalah kebiasaan ahlul batil, yang senang melembekkan kasus, sampai pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم , mereka mendatangi beliau dan berkata: “Wahai Muhammad, engkau telah menjelek-jelekkan sesembahan kami, menganggap tolol akal kami, dan engkau datang pada kaummu dengan perkara yang tidak pernah didatangkan kepada kaumnya. Tidak ada di antara kita dan kaum kita kecuali seperti detik-detik kelahiran bayi, kita bangkit dan kita baku hantam dengan pedang. Maukah engkau menikah dengan sepuluh wanita, dan engkau akan diberi harta hingga engkau jadi orang terkaya …” al kisah.

Sanad-sanad jalan kisah ini disebutkan pada tafsir surat Fushshilat dan telah kami sebutkan secara global di “Ash Shubhusy Syariq”, dan sanad-sanadnya menunjukkan benarnya kisah tersebut.

Sisi pendalilan dari kisah ini adalah bahwasanya kaum musyrikin ingin melembekkan perkara, dan ingin menjadikan masalah tersebut bersifat remeh. Maka wajib bagi Ahlussunnah dan bahkan Muslimin untuk istiqomah, sebagaimana firman Robb kita:

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ﴾ [هود/112]

Maka istiqomahlah engkau dan orang yang bertobat bersamamu, sebagaimana dirimu diperintahkan.”

(“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 10-13/Darul Kitab Was Sunnah).

Maka peringatan untuk tidak bermudah-mudah dalam mengambil rukhshoh tidaklah menunjukkan bahwasanya orang yang berbicara itu adalah orang yang ghuluw dalam agama, ataupun sebagai haddadiyyah, dan yang seperti itu. Inilah agama kita. Asy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله berkata: “Memang benar perkataan Waliyyul ‘ahd(7) yang agung حفظه الله ketika beliau berkata: “Sesungguhnya ghuluw, sebagaimana dia itu terjadi dalam bentuk penambahan terhadap agama, dia juga terjadi dalam wujud sikap bermudah-mudah dalam agama. Maka yang namanya tasamuh (toleransi) dalam agama itu hanyalah dengan mengamalkan rukhshoh-rukhshoh yang sesuai syari’ah pada waktu yang dibutuhkan, dan dalam batasan kebutuhan. Dan bukanlah maknanya itu melepaskan diri dari hukum-hukum agama dan memberontak terhadap syari’ah, meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan dengan nama taisir (pemudahan) …” dst. (“Maqolatusy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al Maktabatusy Syamilah).

[Pasal Enam: Upaya Untuk Menjatuhkan Ulama Yang Kokoh Di Atas Kebenaran]

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi keenam: Usaha mereka untuk menjatuhkan ulama sunnah masa kini, dan penghinaan terhadap mereka, dan menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil dan bukti-bukti, dan pemberontakan mereka terhadap ulama tadi, cercaan terhadap mereka, manhaj mereka, dan prinsip-prinsip mereka yang tegak di atas Al Kitab, As Sunnah dan manhaj As Salafush Sholih.

Komentar ana:

Yang keenam dari sifat haddadiyyah: Upaya untuk menjatuhkan ulama. Adapun Syaikh kami Yahya Al Hajuriy An Nashihul Amin dan yang bersama beliau, mereka menghormati ulama sunnah yang terdahulu, yang belakangan, dan yang semasa dengan mereka, mencintai mereka, mengagungkan mereka, menyemangati manusia untuk mengambil faidah dari mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil. Berapa kali dinaikkan kepada beliau رعاه الله dalam dars-dars umum fatwa-fatwa ulama masa kini dan faidah-faidah dari mereka, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy mau mengambil faidah dari mereka tadi, dan memuji pemilik fatwa dan faidah tadi. Adapun jika diangkat ke beliau fatwa yang menyelisihi kebenaran, maka beliau membantahnya dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat dalam masalah tadi, bersamaan dengan tetap menghormati pemilik pendapat tadi jika dia berasal dari ahlussunnah, dan menghinakan pemilik fatwa yang berasal dari ahlul hawa.

Kami perhatikan dari sikap-sikap syaikh kami رعاه الله bahwasanya beliau itu selalu bersemangat untuk tidak mengucapkan sesuatu kecuali jika mencocoki lahiriyah dari nash-nash, dan didahului oleh seorang pendahulu dari para imam, sama saja, dari kalangan mutaqoddimin ataupun mutaakhkhirin. Ini semua adalah bantahan terhadap orang yang menyatakan bahwa beliau keluar dari jalan Salaf.

Adapun kritikan terhadap kesalahan-kesalahan tapi dengan hujjah, maka pintunya terbuka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

Ucapan yang bercahaya ini tidaklah tersembunyi dari para ulama, dan mereka sendiri jika melihat adanya suatu ucapan dari seorang imam Muslimin atau ulama Muslimin dalam masalah fiqh yang menyelisihi kebenaran, maka mereka membantahnya dan menjelaskan sisi yang benar dalam masalah tadi, dan mereka tidak menganggap yang demikian itu sebagai cercaan pada si imam atau alim tadi.

Maka mengapa mereka diam dari kebatilan-kebatilan Ubaid Al Jabiriy yang mana kebatilan tadi lebih besar daripada kesalahan tadi? Manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan ulama serta tholabatul ilmi yang bersama beliau membantah Ubaid Al Jabiriy dengan hujjah-hujjah dan burhan-burhan, dan membicarakannya dikarenakan dirinya menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan, dan bersikerasnya dia di atas penyelewengannya, dan kezholimannya terhadap Darul hadits di Dammaj, justru sebagian ulama هداهم الله bangkit untuk membela Ubaid tanpa kebenaran. Dan saya berharap perbuatan mereka tadi tidak bersumber dari fanatisme ataupun kedengkian.

Dan tidak tersembunyi atas mereka juga perkataan Al Imam ibnu Rojab رحمه الله : “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil ataukah orang besar, maka dia memiliki teladan dari ulama yang membantah perkataan Ibnu Abbas yang menyendiri dan diingkari ulama, seperti masalah nikah mut’ah, penukaran mata uang, dan dua umroh dan yang selain itu.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Sa’id ibnul Musayyab terhadap perkataannya yang membolehkan wanita yang telah ditholaq tiga untuk kembali ke suaminya yang pertama dengan semata-mata akad dengan suami kedua, dan yang selain itu yang menyelisihi sunnah yang jelas.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Al Hasan tentang perkataan tentang tidak ihdadnya wanita yang ditinggal mati suaminya. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah ‘Atho tentang pembolehannya pengembalian kemaluan. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Thowus tentang ucapannya dalam masalah yang bermacam-macam yang menyendiri dari ulama.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah tokoh-tokoh yang lain yang telah disepakati kaum Muslimin bahwasanya mereka itu di atas petunjuk, ilmu, dicintai dan dipuji.

Dan tiada seorangpun dari mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun penghinaan terhadap mereka. Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.

Adapun jika keinginan orang yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya, menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya. Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga masuk dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

« يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه لا تؤذوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته».

Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”(8)

Ini semua adalah yang terkait dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini. Adapun ahlul bida’ wadh dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama, maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka, sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka. Dan bukanlah pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).

Aku katakan وفقني الله: ini jelas sekali bagi orang yang mencari keadilan. Adapun orang yang tertimpa penyakit hasad maka dia akan menjauh dari keadilan, dan memandang bahwasanya bantahan-bantahan ilmiyyah yang ditegakkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan thullab yang bersamanya itu sebagai tho’n terhadap ulama.

Dan alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Mufti Kerajaan Arab Saudi wilayah selatan Asy Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله : “bahwasanya ada di antara Ahlussunnah pada zaman ini yang kebiasaan dan kesibukannya adalah untuk menelusuri kesalahan-kesalahan, sama saja apakah kesalahan tadi ada pada karya tulis ataukah di dalam kaset, kemudian dia memperingatkan manusia dari orang yang melakukan kesalahan tadi. Aku katakan: Ini adalah kedudukan tinggi baginya dan bukan celaan. Dulu perlindungan terhadap sunnah merupakan kedudukan tinggi di mata Salaf. Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ ditanya: “Apakah termasuk manhaj Salaf, mengumpulkan kesalahan-kesalahan seseorang dalam sebuah kitab agar orang lain bisa membacanya?!!” Beliau menjawab: “Subhanalloh, ini adalah perkataan orang-orang sesat demi menjaga kebidahan, kitab-kitab, manhaj mereka dan orang-orang yang mereka sanjung. Alloh dan Rosul-Nya banyak sekali menyebutkan tentang kesesatan mereka. Alloh –ta’ala telah mengumpulkan perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro serta membantah mereka dalam banyak ayat-ayat Al-Quran. Ahlus Sunnah dari dulu sampai sekarang berbicara tentang Jahm bin Shofwaan dan Bisyr Al Mariisy serta menyebutkan kebidahan dan kesesatan mereka, mengumpulkan perkataan kelompok-kelompok sempalan dan mengkritiknya, siapakah yang mengharomkan ini? Ini termasuk dari kewajiban. Jika manusia akan tersesat dengan kebid’ahan yang banyak, dan engkau mengumpulkan kebid’ahan tadi dalam satu tempat lalu engkau memperingatkan manusia dari kebid’ahan itu beserta nama pelakunya tadi, maka semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan.Engkau dengan perbuatan tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.” Al-Ajwibah ‘ala Asilah Abi Rowahah/ hal. 28-29/Majalisul huda).

Alangkah indahnya perkataan ini. Maka andaikata beliau sendiri mau menerapkannya dan berkata pada ahlu Dammaj: “Maka semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan. kalian dengan perbuatan tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin” dan tidak berkata: “Kalian adalah haddadiyyun, kalian tidak meninggalkan seorangpun kecuali kalian berbicara tentangnya! Al Hajuriy tolol, merobek-robek Dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam!” atau yang seperti itu.

Jika yang dimaksudkan adalah bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله itu mengkritik kesalahan-kesalahan dari orang yang berbuat salah, sekalipun orang itu dari kalangan masyayikh Ahlissunnah, maka ini adalah perkara yang baik dan telah dikenal di kalangan Salaful ummah. Telah lewat baru saja perkataan para imam pada permulaan bab ini tentang pentingnya memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang berbuat salah.

(Inilah akhir dari seri tiga dari rangkaian terjemahan “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”. Insya Alloh seri yang keempat masih akan melanjutkan pembahasan bahwasanya bantahan ilmiyyah bukanlah suatu bentuk tho’n. wallohu ta’ala a’lam).

1() Falij: sejenis penyakit yang membikin ringkih badan.

2() Yaitu: menolak bahaya yang lebih ringan dengan cara melakukan bahaya yang lebih besar. Ini menyelisihi prinsip syari’ah.

3() Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

4() Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagainya, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

5() Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله berkata: “Rukhshoh adalah perkara yang dibangun di atas suatu ‘udzur yang terjadi pada para hamba. Dia merupakan perkara yang dibolehkan karena suatu ‘udzur bersamaan dengan tetap tegaknya dalil yang mengharomkan.” (“Al Ushul Lis Sarkhosiy”/1/hal. 117).

6() Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله berkata: “Azimah dalam hukum-hukum syariah adalah perkara yang disyariatkan pada awalnya, tanpa bersambung dengan suatu penghalang. Dia dinamakan ‘azimah dikarenakan dia merupakan perkara yang disyariatkan pertama kali pada puncak penekanan dan kekuatan, sebagai hak Alloh ta’ala pada kita sebagai sesembahan kita, dan kita adalah hamba-Nya, dan hanya milik-Nyalah seluruh urusan, Dia berhak melakukan apa saja, menghukumi apa yang dikehendaki-Nya, dan kita wajib untuk tunduk dan taat.” (“Al Ushul Lis Sarkhosiy”/1/hal. 117).

7() Waliyyul ‘ahd pemegang perjanjian untuk menjadi kepala negara di masa yang akan datang. Beliau adalah calon raja dan sebagainya.

8() Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal (4/420) dari Abu Barzah رضي الله عنه , dalam sanadnya ada Sa’id bin Abdillah bin Juroij, majhulul hal. Dan diriwayatkan oleh At Tirmidziy (Al Birr Wash Shilah/Ma Jaa Fi Ta’zhimil Mu’min) dan yang lainnya dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهماdengan lafazh “Orang yang masuk Islam dengan lidahnya”, dan menghasankannya, dan disetujui Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((3601)/Darul Atsar). Hadits ini Jayyid.