Karakter Haddadiyah Dalam Diskusi Ilmiyyah 

ke 7

(Komentar terhadap isi Kitab “Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

 

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

 

kji

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri ketujuh dari terjemah kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”.

Dalam kesempatan ini kami akan membahas banyaknya pergantian wajah Haddadiyyah, sikap berbolak-balik mereka (tidak tetap dalam satu manhaj), dan melancarkan makar mereka dengan bertahap. Juga membahas pengincaran mereka terhadap beberapa imam Sunnah yang gigih memerangi hizbiyyah.

Dan saya jelaskan bahwasanya karakter ini tidak ada pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau, dan justru cocok dengan karakter Mar’iyyah.

Juga berisi bantahan terhadap orang yang berkata: “Kemarin Abul Hasan menjadi korban, berikutnya Abdurrohman Al ‘Adniy, besok siapa lagi?”

Juga membahas ucapan para imam Sunnah dan ulama bahwasanya jika ahlul haqq diam, maka ahlul batilpun menjadi giat.

Oya pada kesempatan ini saya sampaikan bahwasanya manakala Abdul Aziz Al Buro’iy telah terang-terang di dalam kasetnya bersaksi bahwasanya dia ada di majelis Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan mendengar dirinya berkata: “Al Hajuriy Haddadiy”, dan kaset itu telah tersebar, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله pada malam Jum’ah 11 Syawwal 1432 H saat ditanya di dars bainal maghrib wal ‘Isya tentang hal itu, maka beliaupun mulai menjawab dengan terang dan sangat bagus. Beliau sebelum itu juga telah mengizinkan beredarnya risalah Abu Hamzah Muhammad As Suwariy Al Yamaniy dan risalah Abu Abdillah Rosyid Al Jazairiy -semoga Alloh menjaga keduanya-.

Baiklah, tiba saatnya untuk melanjutkan isi risalah ini, بارك الله فيكم.

[Pasal Keenam Belas: berubah-rubah warna dan melancarkan makar mereka dengan bertahap]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi kesepuluh: Makar bertahap berdasarkan metode Bathiniyyah, walaupun kami tidak berpendapat bahwasanya mereka itu Bathiniyyah akan tetapi kami berpendapat bahwasanya mereka menyerupai mereka dalam memiliki banyak wajah dan melancarkan makar mereka dengan bertahap.

Komentar saya:

Yang keenam belas dari sifat Haddadiyyah: Talawwun(berubah-rubah warna). Telah saya jabarkan di dalam risalah “At Talawwun Fid Din Wa Ti’dadu Aujuhil Mundassin” banyaknya sifat talawwun para hizbiyyun. Dan saya sebutkan banyaknya sifat talawwun dari Mar’iyyin. Adapun syaikh kami dan orang yang bersama beliau maka keadaan mereka إن شاء الله adalah bagaikan apa yang diucapkan oleh Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata: “Maka dakwah itu di sisi kami lebih mulia daripada jiwa, keluarga dan harta kami. Kami siap untuk makan meskipun tanah dalam keadaan kami tidak mengkhianati agama dan negri kami, dan tidak bersikap “talawwun”. “Talawwun” bukanlah karakter Ahlussunnah.” dst (“Al Ba’its ‘ala Syarhil Hawadits” hal. 57/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Maka Mar’iyyun lebih berhak dengan gelar Haddadiyyah daripada para Salafiyyun Dammaj, والحمد لله.

Yang ketujuh belas dari sifat Haddadiyyah adalah: menjalankan makar secara bertahap. Dan ini adalah perbuatan Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang berpandangan tajam رعاه الله berkata dalam “Bayan” beliau: “Kekacauan yang dibikin oleh Abdurrohman Al ‘Adniy dan orang-orang yang fanatik padanya itu dekat dengan kekacauan yang diperbuat oleh Abul Hasan Al Mishriy dan orang-orang yang fanatik padanya, dan tidak mungkin pengacauan tadi ditafsirkan dengan yang selain hizbiyyah yang serupa dengan para pendahulunya, yang membikin pergolakan terhadap kami di Dammaj, kemudian tersingkap jati dirinya sedikit demi sedikit, hingga menjadi jelas bagi setiap slafiy yang jauh dari kekacauan tadi,…” dst. (“Ma Syahidna Illa Bima ‘Alimna”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy).

Maka bukanlah para penghuni markiz Dammaj dan yang bersama mereka itu adalah Haddadiyyun. Bahkan yang punya sifat Haddadiyyah itu ada di markiz Al Fuyusy dan yang mencocoki mereka, sekalipun mereka dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, dan demi mereka beliau mencerca Ahlussunnah di Dammaj.

فإنا لله وإنا إليه راجعون.

[Pasal Ketujuh Belas: Mengincar Sebagian Imam Sunnah dan Ulama Salafiyyah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Mereka dulu hingga di waktu-waktu dekat ini menampakkan pemuliaan kepada sekumpulan ulama, dan menganggap bahwasanya barangsiapa menyelisihi mereka berarti telah mendustakan Islam dan mendustakan Al Qur’an dan As Sunnah, serta memusnahkan Islam. dan mereka juga mengajak manusia untuk taqlid pada sekumpulan ulama tadi dengan kerasnya. Manakala mereka menyangka bahwasanya siku mereka telah menguat, dan tongkat mereka telah keras, merekapun mengumumkan peperangan kepada ulama tadi, menganggap perkataan mereka itu tolol, dan menjadikan orang-orang yang lemah akal menjadi lancang kepada ulama tadi. Dan demikianlah mereka secara bertahap dalam dakwah mereka yang rahasia, dan mereka memulai dengan menampakkan penghormatan pada Al Imam Ibnu Baz hingga Ibnu Taimiyyah, kemudian sedikit demi sedikit mereka mempengaruhi orang-orang yang tertipu hingga mereka meyakini bahwasanya mereka telah memantapkan cengkeraman mereka, dan mulai menjatuhkan para ulama dengan metode mereka yang penuh makar, satu persatu, hingga sampai kepada Ibnu Taimiyyah. Kemudian mereka itu seperti Rowafidh: jika mereka merasa takut, mereka menampakkan pemuliaan kepada Shohabat, mencintai mereka, mendoakan ridho buat mereka. Jika mereka merasa aman, merekapun mencaci Shohabat dan mencerca mereka. Dan para Haddadiyyah berbuat seperti mereka: jika merasa aman, merekapun mencaci ulama dengan cercaan yang sebagiannya telah kami sebutkan di permulaan ucapan ini.

Komentar saya:

Sifat ini telah lewat penyebutannya di sela-sela pembahasan. Dan tidak ada pada Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله kebusukan tersebut, tidak berbolak-balik, tidak membikin makar pada seorangpun, tidak juga pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Adapun jika sebagian orang yang terlalaikan itu berkata: “Dia telah menjatuhkan Abul Hasan kemarin, kemudian Al ‘Adniy. Maka siapakah lagi besok setelah mereka berdua?!”, “Dia mengincar para ulama: Al ‘Adniy, kemudian Al Wushobiy, kemudian Al Jabiriy, kemudian siapa?!” ini merupakan perkataan orang yang menyeleweng yang tahu bahwasanya dirinya itu menyeleweng kemudian merasa takut bahwasanya dirinya akan dijatuhkan sebagaimana yang diduganya. Maka wahai kaum, Robb kalian عز وجل berfirman:

﴿قُلِ اللهمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾ [آل عمران/26].

“Katakanlah: Wahai Alloh Pemilik kerajaan, Engkau memberikan kekuasaan pada orang yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, di tangan-Mu sajalah kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Mampu terhadap segala sesuatu.”

Dan Abu Huroiroh رضي الله عنهberkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلمbersabda:

«يد الله ملأى لا يغيضها نفقة ، سحاء الليل والنهار  وقال  أرأيتم ما أنفق منذ خلق السموات والأرض ، فإنه لم يغض ما في يده  وقال  عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع ». (أخرجه البخاري (7411)).

“Tangan Alloh penuh, pemberian nafkah tidak menguranginya. Dia banyak memberikan karunia di waktu malam dan siang. Bagaimana pendapat kalian terhadap apa yang Dia infakkan sejak diciptakan-Nya langit dan bumi, karena hal itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya. ‘Arsy-Nya ada di atas air. Dan di tangan-Nya yang lain ada timbangan, Dia merendahkan dan mengangkat.” (HR. Al Bukhoriy (7411)).

Maka urusan itu di tangan Alloh, Dia memuliakan orang yang dikehendaki-Nya, menghinakan orang yang diinginkan-Nya. Dengan karunia-Nya Dia mengangkat orang yang menaati-Nya, dan dengan keadilan-Nya Dia mrendahkan orang yang mendurhakai-Nya. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Dan Alloh berfirman kepada Nabi-Nya: ﴿ورفعنا لك ذكرك﴾

Dan Kami angkat untukmu penyebutanmu.”

Maka para pengikut beliau punya bagian dari penyebutan ini sesuai dengan kadar pewarisan mereka dari ketaatan mereka dan pengikutan mereka. Dan setiap orang yang menyelisihi mereka maka pengangkatan tadi luput dari mereka sesuai dengan kadar penyelisihan dan kedurhakaan mereka.” (“Al Jawabul Kafi”/hal. 113/Maktabah ‘Ibadurrohman).

Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّين﴾ [المجادلة/20].

Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya mereka itulah yang berada dalam golongan orang-orang yang hina.” (QS. Al Mujadilah: 20).

Orang-orang yang tersebut tadi jatuh disebabkan oleh kesesatan mereka dan pembangkangan mereka terhadap kebenaran. Demikian pula orang yang setelah mereka: jika mereka kokoh di atas ketaatan maka Alloh akan mengangkat mereka sekalipun tiada seorangpun yang mengenalnya, tapi jika mereka menyimpang maka Alloh akan menghinakan mereka sekalipun ditazkiyyah oleh seluruh orang yang ada di bumi.

Adapun Abul Hasan Al Ma’ribiy, maka sungguh dia itu jatuh disebabkan oleh kesesatannya, bukan karena dimakari oleh seorangpun dari Ahlu Dammaj. Adapun kedua anak Mar’i maka seperti itu pula. Adapun Muhammad Al Wushobiy maka sebagai berikut:

KASUS MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AL WUSHOBIY

Telah banyak bantahan Ahlussunnah kepada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله di antaranya adalah:

– “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/Syaikhuna An Nashihul Amin

– “Asmaul Maftunin Wa Roddun ‘Alasy Syaikh Al Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Minnatul Karimil Hamid Binaqdhi Tala’ubati Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

-“Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”/Abu ‘Ammar Yasir bin ‘Ali Al Hudaidy

– “Tahdzirul Bariyyah Mimma ‘Indal Wushobiy Minal Inhirofatil Quthbiyyah”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Nushhun Wa ‘Itabun Lil Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy

– “At Ta’mid Wat Tad’im”/Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “Asy Syaikh Al Wushobiy Bainal Ifroth Wat Tafrith Fit Tilfiziyun Wad Dusysy”/Fahmiy Bin Dawud Al ‘Amiriy

– “Al Idhohatun Nayyiroh Bi Mawaqifil Wushobiyl Mutaghoyyiroh”/Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ba Jammal

– “Al Kawi Li Ta’shilat Wa Syathohat Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Tahdzirus Salafiyyin Min mafasid Wa Adhrori Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin”/ Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Al Wushobiy Wa Tauhidul Hakimiyyah” /Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal

– “Nashihatu Abi Basyir Al Hajuriy Lisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Abu Basyir Al Hajuriy

– “Jinayatu Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy ‘Alal Ushulis Salafiyyah”/ Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “At Tanbihus Sadid ‘Ala Dzammit Taqlid, War Roddu ‘Ala Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy”/Abur Robi’ Muhammad bin ‘Iwadh Al Qolishiy

– “Tholi’atur Rududis Sadidah ‘Ala Risalati Nashoih ‘Ulamail Ummah” /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy

Barangsiapa ingin melihat kepada penampilan bayyinat, hujaj dan barohin atas kebatilan Muhammad Al Wushobiy, pembangkangannya kepada kebenaran, kesombongannya kepada nasihat-nasihat yang benar, hendaknya dia melihat kepada risalah-risalah ini tadi, kemudian hendaknya dia menerima berita-berita dan hukum-hukum yang dibangun di atas dalil-dalil yang kuat dan berat itu. Jika dia enggan menerimanya maka dia harus membantah hujjah dengan hujjah pula, karena pintu untuk itu terbuka.

Inilah jalan kami, jalan yang sesuai dengan Al Qur’an, As Sunnah dan As Salafiyyah, bukannya jalan orang yang memerintahkan seorang salafiy untuk diam terhadap kebatilan, apabila salafiy tadi tetap bersikeras untuk membantah kebatilan tadi dengan hujjah-hujjah maka dituduhnya salafiy tadi sebagai haddadiy.

Demikian pula Muhammad bin Hadi Al Madkholiy هداه الله yang melontarkan sekian caci-makian kepada Syaikhuna Yahya Al Hajuriyحفظه الله tanpa kebenaran apapun, kemudian dia memperingatkan manusia agar tidak pergi ke Darul Hadits di Dammaj dengan alasan bahwasanya mereka nanti di sana akan diajari caci-makian. Keadaan Ibnu Hadi ini bagaikan pepatah: “Dia menuduhku dengan penyakit yang ada padanya, lalu dia melepaskan diri.” (“Majma’ul Amtsal”/Al Maidaniy/1/hal. 125).

Asy Syaikh Abu Hatim Sa’id Da’as Al Yafi’iy حفظه الله dari Saudi mengabari Syaikh kami Al ‘Allamah Yahya Al Hajuriy حفظه اللهbahwasanya Muhammad bin Hadi Al Madkholiy هداه الله mencaci Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله bahwasanya beliau adalah pengikut firqoh Juhaiman. Demikianlah Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه اللهmembacakan berita tadi pada kami di dars ba’dal Maghrib.

Manakala dia menampakkan kezholiman terhadap Darul Hadits di Dammaj, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan sebagian pelajar membantahnya. Maka jika dia jatuh, maka faktor kejatuhannya itu bukanlah di tangan seorangpun dari manusia, dan bukan pula karena menjadi korban incaran Ahlu Dammaj, akan tetapi jawabannya adalah sebagaimana telah lewat.

Maka kejadian ini adalah kejadian amar ma’ruf dan nahi munkar, serta jarh terhadap mu’anidin (para pembangkang) terhadap kebenaran setelah jelasnya dalil-dalil, bukan kasus upaya penjatuhkan fulan dan fulan.

Seseorang itu sekalipun kedudukannya tinggi di masyarakat, jika dia berpegang dengan hizbiyyah setelah ditegakkannya hujjah kepadanya maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه اللهberkata tentang Ikhwanul Muslimin: “Di kalangan mereka ada yang menjadi koruptor dakwah. Kami tidak mengatakan bahwa mereka semua seperti itu. Di kalangan mereka ada orang-orang utama. Akan tetapi orang yang utama dari mereka adalah mubtadi’ karena dia berpegang dengan hizbiyyah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 491).

Maka bukanlah kasus ini kasus pengincaran terhadap ulama. Akan tetapi barangsiapa menghinakan diri dengan kemaksiatan maka sungguh dia telah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴾ [الشمس/9، 10]

Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh telah merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan maknanya adalah: Sungguh telah beruntung orang yang membesarkan jiwanya, meninggikannya dan memunculkannya dengan ketaatan pada Alloh. Dan sungguh telah rugi orang yang menyembunyikannya, menghinakannya, dan mengecilkannya dengan kedurhakaan pada Alloh. Asal dari تدسية adalah penyembunyian. Di antaranya adalah firman Alloh ta’ala: (يدسه في التراب) “Menyembunyikannya ke dalam tanah”. Maka pelaku maksiat itu menyembunyikan –atau menguburkan- dirinya ke dalam maksiat dan menyembunyikan tempatnya, dan bersembunyi dari para makhluk dikarenakan jeleknya apa yang dikerjakannya. Dia telah terhina di sisi dirinya sendiri, terhina di sisi Alloh, dan terhina di sisi para makhluk. Adapun ketaatan dan kebajikan itu membesarkan jiwa, memuliakannya dan meninggikannya hingga menjadi paling mulia, paling besar, paling suci dan paling tinggi,…” dst. (“Al Jawabul Kafi”/1/hal. 52).

[Pasal Kedelapan Belas: Berbolak-balik dan Menuduh Al Imam Al Albaniy Sebagai Murjiah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Dan lihatlah apa yang mereka perbuat terhadap Al Albaniy. Mereka menampak diri dengan mengormati beliau dan membela beliau, dan mereka menuduh orang-orang yang mensifati beliau sebagai Murjiah adalah khowarij. Kemudian mereka sendiri berpindah dengan mencerca Al Albaniy dan menuduh beliau sebagai Murjiah dan sebagai orang yang menyelisihi manhaj Salaf.

Komentar saya:

Ini bagian dari talawwunat (berubah-rubah warnanya) Haddadiyyah. Telah saya jelaskan penghormatan syaikh kami dan orang yang bersama beliau kepada Al Imam Al Albaniy رحمه الله , mengagungan mereka kepadanya, dan pembelaan mereka kepadanya. Dan termasuk dari nikmat Alloh kepada syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau adalah: bahwasanya mereka itu kokoh di atas kebenaran yang terang, dan tidak berbolak-balik. Sikap berbolak-balik adalah termasuk ciri khas hizbiyyin. Al Imam Al Wadi’iyرحمه الله berkata: “Akan tetapi hizbiyyah menjadikan pelakunya berubah-rubah warna dan berbolak-balik.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 237/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Taqollubat (berbolak-balik) adalah termasuk dari sifat Mar’iyyah. Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar’i telah mengumumkan dengan terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah dengan fitnah Abul Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi kedudukan.” Sementara itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari kalangan orang-orang yang terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur. Dia itu banyak berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul Ihsan dan menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al Ahdal yang terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada Ahlussunnah. Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigh dan fanatik pada Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung dengan Abdulloh bin Mar’i hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia bergabung dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub (fanatisme) untuknya.

Dan selain Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan kemudian menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, dan Ahmad Umar Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriy dan yang lainnya. Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang baru ini. Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk orang-orang khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar’i dalam keadaan mereka itu seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas untuk dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang lemah agamanya(1), banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman dalam keadaan yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke tengah-tengah barisan Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal mereka tidak boleh diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga tampak dari mereka taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja kenyataannya tidak demikian. Abdulloh bin Mar’i telah membatalkan perkataannya terdahulu untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka kedudukan untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu menjadi fitnah terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai tentara dalam hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan mencerca mereka dan menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan kebohongan.” (selesai penukilan dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).

Maka alangkah jauhnya Ahlu Dammaj –segala pujian hanya milik Alloh semata- dari Haddadiyyah, dan alangkah dekatnya Ahlul Fuyusy –yang dibela Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy- kepada Haddadiyyah maka tiada kesamaran bagi kami –dengan taufiq dari Alloh- perbedaan antara kedua kelompok ini.

﴿قَدْ فَصَّلْنَا الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ﴾ [الأنعام/98].

Sungguh Kami telah merincikan ayat-ayat bagi orang-orang yang memahami.”

[Pasal Kesembilan Belas: Setelah Mereka Menuduh Al Imam Al Albaniy Dengan Perkara-perkara yang Besar, Mereka menampakkan Pujian Kepada Beliau dan Menyebarkan Kitab-kitab beliau]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Dan pada hari-hari ini nampak pada situs internet mereka “Al Asyariy” judul-judul sebagai berikut:

1- “At Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam” karya Al ‘Allamah Al Albaniy

2- “Iqtironul ‘Ilmi Bis Saif Fi Da’watil Imam Muhammad bin Abdil Wahhab” karya Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Kabir Albaniy

3- “Asy Syaikh Al Albaniy Yaruddu ‘Alalladzina Ya’rifunal Haqq Wa Yaktumunah”. Aku katakan: Ini adalah agar mereka bisa mencerca -dengan kedustaan dan kebohongan- Ahlussunnah karena mereka tak mau menolong Haddadiyyin dan tak mau mendukung kedustaan mereka dan prinsip-prinsip mereka yang menentang dasar-dasar Salafiyyah dan manhaj Salaf.

4- “Az Zakah” karya Al ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin

5- “Az Zakah Wa Fawaidiha” karya Al ‘Allamah Al ‘Utsaimin

Komentar saya:

Ini juga bagian dari kemunafikan dan talawwunat Haddadiyyah untuk mencari ridho manusia, dan menyedot –menghilangkan- kemarahan Salafiyyin, serta untuk melanjutkan makar mereka –Haddadiyyah-. Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Hizbi siap untuk memiliki lima wajah. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ».

“Sesungguhnya orang yang paling jelek adalah yang bermuka ganda, yang mendatangi pihak sini dengan suatu wajah, dan menemui pihak sana dengan wajah lain.” (HSR Al Bukhori (6058) dan Muslim (6454) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه).

Adapun seorang sunni, maka sungguh dia itu memegang teguh agamanya, baik si fulan ridho ataupun tidak. Beda dengan hizbiyyin.” (“Tuhfatul Mujib” /290).

Dan syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau adalah Salafiyyun, mereka teguh di atas kebenaran dengan dalil-dalilnya. Mereka tidak peduli terhadap penyelisihan orang yang menyelisihi, ataupun kemarahan orang yang marah, ataupun keridhoan orang yang ridho. Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله : “Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

Ahmad bin Harb bin Fairuz An Naisaburiy رحمه الله berkata: “Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).

Maka bagaimanakah setelah ini semua dikatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliauحفظهم الله haddadiyyun, bersamaan dengan besarnya perbedaan di antara kedua golongan ini!? Maka tidaklah pantas Ahlu Dammaj yang kokoh di atas Salafiyyah itu ditanya tentang apa yang dikerjakan oleh Haddadiyyun. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/134]،

Mereka akan mendapatkan apa yang mereka kerjakan, dan kalian juga akan mendapatkan hasil dari apa yang kalian kerjakan. Dan kalian tidak ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqoroh: 134).

Dan Alloh سبحانه berfirman:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الأنعام/164].

Dan seorang yang berbuat dosa tak akan memikul dosa orang lain.”

Sebagian orang-orang yang punya kecemburuan dan kewaspadaan telah menetapkan di dalam risalah-risalah mereka bahwasanya Mar’iyyun itu hizbiyyun dan punya sifat-sifat yang buruk tadi. Maka mereka lebih berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah, sekalipun dibela oleh siapapun.

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Aku katakan: Mereka itu mencerca beliau –yaitu Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- dan saudara-saudara beliau dari kalangan kibarul ulama sejak gerakan Haddadiyyah mereka yang pertama bangkit dan pada langkah yang baru yang berhadapan dengan manhaj salafiy dan para pemikulnya dan membantah ucapan-ucapan mereka yang shohihah yang menyelisihi manhaj mereka yang rusak. Syaikh mereka sendiri telah mencerca kedua syaikh tersebut: Al Albaniy dan Ibnu ‘Utsaimin. Maka cukuplah hal itu sebagai bukti permainan mereka dan upaya untuk menaburkan abu ke dalam mata.

Komentar saya:

Tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliau kejahatan macam ini. Mereka juga tidak bermain-main, tidak mencerca kibarul ulama ataupun shighorul ulama –jika ungkapan macam ini pantas diucapkan-. Mereka juga tidak membantah perkataan yang benar, dan tidak pula memiliki ide untuk membikin manhaj yang tersendiri. Mereka itu kokoh –sesanggup mereka- di atas apa yang disebutkan oleh Al Imam Al ‘Auza’iy رحمه الله : “Wajib bagimu untuk meniti jejak Salaf sekalipun manusia menolakmu. Dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat para tokoh sekalipun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan yang indah.” (“Asy Syari’ah”/Al Ajurriy/hal. 67/Darul Kitabil ‘Arobiy).

KRITIKAN ILMIYYAH DI ANTARA AHLUSSUNNAH KETIKA TERJADI KESALAHAN ITU WAJIB, DAN BUKANLAH TERMASUK THO’N (CERCAAN)

Pembicaraan ini seperti terulang, akan tetapi kelalaian sebagian manusia menuntutku melakukannya agar mereka sadar.

Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka tidaklah mencerca ulama yang istiqomah di atas kebenaran. Adapun masalah kritikan ilmiyyah telah lewat penjelasan kami. Dan dari Abu Sa’id Al Khudriyرضي الله عنه bahwasanya Rasululloh r bersabda:

لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده، أو سمعه

“Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”

Dalam satu riwayat:

«لا يمنعن أحدكم مخافة الناس أن يقول بالحق إذا شهده أو علمه».

“Sungguh janganlah sampai rasa takut pada manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika menyaksikannya atau mengetahuinya.”

Lalu Abu Sa’id berkata:

فحملني على ذلك أني ركبت إلى معاوية فملأت أذنيه ثم رجعت.

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad ((11793)/cet. Ar Risalah) dengan sanad shohih, dan dishohihkan pula oleh Al Imam Al Albaniy dalam “Ash Shohihah” ((no. 168)/Maktabah Al Ma’arif), dan asal hadits dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((no. 414)/cet. Darul Atsar).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah wajib hukumnya menjelaskan keadaan orang yang keliru dalam hadits dan riwayat, dan orang yang keliru dalam berpendapat dan fatwa, dan orang yang keliru dalam zuhud dan ibadah, sekalipun orang yang salah dan berijtihad tadi kesalahannya diampuni, dan dirinya mendapatkan pahala karena ijtihadnya. Maka penjelasan ucapan dan amalan yang ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah itu wajib sekalipun ada pada yang demikian itu penyelisihan terhadap ucapan dan amalan orang tadi.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233-234).

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله dalam “Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir” (3/hal. 467/Majmu’ Rosail Ibni Rojab) berkata: “Maka ketika itulah maka bantahan terhadap ucapan yang lemah, dan penjelasan kebenaran yang menyelisihinya dengan dalil-dalil syar’iyyah itu bukanlah perkara yang dibenci oleh para ulama itu, bahkan hal itu merupakan perkara yang mereka cintai dan mereka memuji pelakunya dan menyanjungnya. Maka hal itu tidak masuk ke dalam bab ghibah secara keseluruhan. Seandainya ada orang yang membenci untuk ditampilkannya kesalahannya yang menyelisihi kebenaran, maka kebenciannya tadi tidaklah teranggap, karena kebencian dimunculkannya kebenaran jika menyelisihi ucapan orang tadi bukanlah sifat yang terpuji. Bahkan wajib bagi seorang muslim untuk mencintai munculnya kebenaran, dan mencintai agar para Muslimin mengetahui kebenaran tadi, sama saja apakah hal itu mencocoki dirinya ataukah menyelisihinya. Dan ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, Rosul-Nya, agama-Nya , dan pemimpin Muslimin dan orang awamnya. Dan yang demikian itulah agama ini sebagaimana diberitakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.

Saya katakan وفقني الله: jika orang yang berbuat salah tadi dari kalangan Ahlussunnah –bahkan dari ulama Ahlussunnah-, maka perbaikannya itu wajib sebagaimana telah lewat penjelasannya. Maka bagaimanakah jika kebatilan tadi muncul dari orang yang tampak jelas pembangkangannya, nyata pengikutannya terhadap hawa nafsu, dan terang penyimpangannya dari kebenaran, serta terlihat makarnya terhadap pembawa kebenaran? Maka yang seperti ini lebih pantas lagi untuk dihadapi dan keadaannya itu diterangkan kepada manusia.

JIKA AHLUL HAQ DIAM TERHADAP AHLUL AHWA NISCAYA AKAN MEMBESARLAH KEBATILAN

Jika Ahlul haq diam terhadap keburukan pengekor hawa nafsu pastilah agama umat ini akan rusak. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ الله ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾[البقرة/251].

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 140/Darul Imam Ahmad).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang tegak dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 104).

Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu bisa bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: “Alloh berfirman” dan “Rosululloh bersabda”. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashiroh.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama’).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan kebid’ahan itu muncul jika Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم –sampai pada ucapan beliau:- maka jika sunnah itu muncul, maka sungguh bid’ah itu akan pergi dari negri yang di situ ada sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 155-156/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Basyir Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seorang alim agama ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang melawannyaserta untuk menyerang kebid’ahan, kejelekan serta kerusakan sebelum menjadi kuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya. Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh para pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut.”(“Al-Atsar”/karya beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad).

Dikarenakan pentingnya hal ini maka para imam Salaf yang sangat cemburu terhadap agama mereka tegak melaksanakan tugas ini sekalipun sangatlah berat di dalam jiwa.

Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanyaAsad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan denganmenegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).

Al Imam Ibnu ‘Asakir رحمه الله berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far Al-Andalusi (tahun 378H): “Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunillah adalah seorang yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap keras terhadap ahlul bida’ dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau dan bersembunyi dari beliau. Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya dan mencercanya dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh hingga berjumpa dengan Alloh عز جل beliau punya kisah-kisah terkenal dan kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang”. (“Tarikh Dimasyq”/5/hal. 118/biografi Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far).

Maka barangsiapa menyatakan bahwasanya orang yang menegakkan kewajiban ini berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah bahwasanya dia itu Haddadiy yang tolol, busuk, memecah belah dakwah, kemudian mendoakan agar dirinya tidak mendapatkan berkah, maka sungguh orang yang yang menuduh tadi telah berbuat kejahatan dan kezholiman.

[Pasal Kedua Puluh: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: Sisi kesebelas: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa, Permusuhan, kezholiman, dan baku tolong dalam kedustaan, kejahatan, dan pembentukan dasar-dasar yang batil.

Komentar saya:

Yang kedelapan belas dari sifat haddadiyyah adalah: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan untuk menghadapi Ahlussunnah. Dan ini adalah harom. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].

“Dan janganlah kalian baku tolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha keras siksaan-Nya.”

Juga berfirman:

﴿ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾[البقرة/85].

Kemudian kalian (Bani Israil) membunuh diri kalian (saudara kalian sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kalian dari kampung halamannya, kalian bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan“

Ini juga cocok dengan Mar’iyyun. Bukankah baku tolongnya mereka bersama hizbiyyin yang terdahulu dan sebagian dari penulis gelap untuk memerangi prinsip-prinsip Salafiyyah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Bukankah baku tolongnya mereka bersama sebagian polisi pemerintah untuk menimpakan keburukan kepada Salafiyyun kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Bukankah baku tolongnya sebagian dari mereka dengan sebagian orang-orang kementrian Waqof untuk mengambil masjid-masjid Ahlussunnah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Contohnya adalah: Masjid Al Imam Al Albaniy di kawasan Baitu ‘Iyadh di propinsi Lahj. Telah sempurna pemabilannya pada tanggal 2/9/2007 M. mereka berbuat itu dengan minta bantuan dari tanda tangan orang-orang awam setelah mereka dihasung untuk memusuhi imam masjid tersebut. Dan pelaksaannya dari jalur kementrian waqof. Kemudian nampaklah bahwasanya sebagian nama dan tanda tangan itu adalah palsu. Manakala sebagian orang awam itu mengetahui hal tersebut maka bersegeralah mereka mengembalikan masjid tersebut kepada imamnya dari kalangan Ahlussunnah. Akhirnya masjid tadi dikembalikan.

Contoh yang lain: Masjid Al Bukhoriy di desa Mahallah di propinsi Lahj. Masjid ini diambil dari tangan imam dan khothib masjid masjid tersebut melalui aparat keamanan. Kemudian imam tadi dipenjara dan diberhentikan dari jabatan sebagai imam dan khothib masjid melalui jalur kementrian Waqof. Abdul ‘Aziz bin Abdil Karim sang imam masjid tadi berkata: “Mereka membakar jiwa masyarakat untuk membenciku dikarenakan saya dalam fitnah ini berdiri bersama kebenaran, dan saya mengharuskan diri saya untuk diam setelah mengetahui kebenaran tadi. Hanya saja para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy tidak ridho dengan yang demikian itu yang mana mereka mengirimkan sesseorang yang bernama Muhammad Al Khidasiy, dn dia dulunya termasuk dari pelajar di Dammaj, dan dia termasuk pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy. Mereka menyewa rumah untuknya di samping masjid, lalu dirinya membuat kekacauan di masjid dan mengadu domba mayarakat dengan diriku, dan membuat dars-dars tanpa seidzinku dan tak mau rujuk kepadaku padahal telah diketahui bahwasanya aku telah menghentikan seluruh kegiatan dimasjid demi menjauhkan terjadinya keruwetan apapun. Hanya saja mereka itu –pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy- bersikeras untuk melangsungkan dars-dars dan ceramah-ceramah. Demikian pula mereka menyelenggarakan pengumpulan tanda-tangan dari orang-orang awam untuk mengeluarkan diriku dari keimamahan masjid, padahal telah diketahui bahwasanya diriku adalah imam masjid ini dengan gaji tertentu dari Departemen Perwakafan dan Bimbingan di propinsi.

Dan demikianlah, setelah terkumpulnya tanda tangan-tanda-tangan, mereka memperingatkan orang-orang awwam, anak-anak kecil penduduk desa untuk menjauhi Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, dan tidak menziarahi istana ilmu ini.

Kemudian mereka semakin keras kepala untuk melakukan muhadhoroh di masjidku untuk dua orang dari pengikut Abdurrohman yaitu Abdul Ghofur As Syarohbiy dan Muhammad Al Khidasyiy tanpa sepengetahuanku, tatkala aku melarang muhadhoroh maka berdirilah sebagian orang yang ta’asshub dengan Abdurrohman mengeluarkanku dari masjid. Dan mereka memadamkan lentera dan lampu dan memanggil petugas keamanan dan membawaku kemudian aku dipenjarakan tanpa satu sebabpun, dan menyogok dengan memberi harta kepada penanggung jawab pemerintah untuk memecatku dari imam.

Mereka mendapatkan sambutan baik dari orang-orang yang membenci dakwah Salafiyyah dari orang-orang isytrikiyyah (sosialis)dan memenuhi keinginan mereka serta membantu mereka dalam urusan ini, sebagaimana mereka mengusirku dari tempat tinggalku di masjid dengan cara yang keji dan licik yang mana mereka memutus sambungan listrik untuk keluargaku, mematikan air di musim panas. Maka aku sampaikan hal tersebut kepada bagian penanggung jawab bagian, akan tetapi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku telah diusir secara resmi dari rumahku dengan bantuan hizbyyyin dari orang-orang yayasan dan yang lainnya. –

Tatlaka orang-orang yang ta’asshub mendatangkan petugas keamanan mereka memprovokasi mereka untuk menyeretku saat aku sedang menyampaikan muhadhoroh dan mereka memprovokasi orang-orang awwam…” dan seterusnya. (Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 25-26).

Dan apa sih makna ucapan dua orang yang mengunjungi Abdurrohman Al ‘Adniy: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda” selain baku tolong untuk membuat makar terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman? Maka Mar’iyyun Barmakiyyun itulah haddadiyyun dalam bab ini.

Adapun syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliauرعاه الله maka tidak ada pada beliau perkara-perkara ini. Tidaklah kami menyatakan bahwa mereka itu ma’shumun (terlindungi dari kesalahan) akan tetapi seorang hamba jika takut kepada Alloh dan mencurahkan kerja kerasnya untuk mengetahui kebenaran kemudian mengikutinya sesanggupnya, dan juga untuk mengetahui kebatilan kemudian menjauh darinya sejauh-jauhnya, dan mohon ampun pada Robbnya atas-dosa-dosanya dan mengakui kekurangan-kekurangannya, maka sesungguhnya Alloh tak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.

Maka Mar’iyyun yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Haddadiyyun. Dan Ahlu Dammaj yang dituduh oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sebagai Haddadiyyah mereka itulah Salafiyyun.

[Pasal Kedua Puluh Satu: sikap ‘inad mereka terhadap kebenaran Setelah Dijelaskannya Kebenaran Tadi, Terus-menerus Di Dalam Kebatilan, Dan Pemutarbalikan Fakta

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله : Sisi yang keduabelas: Mukabaroh (pengingkaran terhadap perkara yang sangat terang) dan ‘Inad (pembangkangan terhadap kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam kebatilan dan berlama-lama di situ, ditambah lagi kelancangan yang mengherankan dalam membalik perkara, menjadikan yang benar jadi batil, dan yang batil jadi benar, kejujuran jadi kebohongan, kebohongan jadi kejujuran, orang-orang hina jadi gunung, gunung jadi orang hina, mengagungkan apa yang dihinakan oleh Alloh, dan menghinakan apa yang diagungkan oleh Alloh, menuduh lawan mereka yang bersih dengan penyakit-penyakit mereka yang membinasakan.

Komentar saya:

Yang kesembilan belas dari sifat Haddadiyyah adalah: ‘Inad (pembangkangan terhadap kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam kebatilan. Dan ini adalah karakter hizbiyyin, termasuk dari mereka adalah Mar’iyyun. Dan saya telah sebutkan yang demikian itu dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).

Dan tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan juga orang yang bersama beliau karakter ini. Maka barangsiapa berkata yang selain itu maka hendaknya dia mendatangkan burhan kepada kami.

﴿أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ * فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين﴾ [الصافات/156، 157]

Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS. Ash Shooffat: 156-157).

Yang kedua puluh dari sifat Haddadiyyah adalah:Pemutarbalikan fakta. Dan saya telah menyebutkan bahwasanya hal itu termasuk dari sifat Mar’iyyah dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).

Termasuk dari pemutarbalikan fakta yang diupayakan oleh Abdurrohman Al ‘Adniy adalah: bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ingin menolong para ikhwah dari ‘Adn –atas permintaan mereka sendiri- dengan menyampaikan nasihat lewat telpon kepada masyarakat ‘Adn dalam perkara yang terkait dengan penyebaran kerusakan di sana.(2) tapi Abdurrohman Al ‘Adniy membalikkan hakikat dan berkata: “Sesungguhnya Asy Syaikh Yahya tidak peduli dengan orang-orang ‘Adn.” (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23).

Di antaranya juga adalah ucapan dia: bahwasanya Asy Syaikh Yahya -hafizhohulloh- tidak ingin berdirinya markiz buat Abdurrohman Al ‘Adniy. Ini adalah dusta dan pemutarbalikan fakta. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah berkata padanya di dalam ruangan di rumah beliau: “Wahai Abu Abdillah, janganlah engkau mengira bahwasanya kami tidak menginginkan markiz untukmu. Bahkan kami ingin lebih dari satu markiz di ‘Adn, dan kami jika singgah di ‘Adn kami akan singgah di tempatmu di markizmu.” Beliau juga berkata padanya: “Engkau adalah pendukungku, dan aku adalah pendukungmu.” (Lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 20). Berapa kali beliau menyemangatinya untuk mendirikan markiz di kota beliau sendiri –Adn-?

Dan saya bersaksi bahwasanya saya mendengar syaikh kami berkata demikian di depan kami semua.

Dan termasuk dalam bab ini adalah ucapan Abdurrohman Al ‘Adniy kepada saudara kita Kamal Al ‘Adniy حفظه الله : “Wahai Kamal, ketika para masyayikh datang, Asy Syaikh Yahya memasukkan mereka ke dalam kamarnya dan meninggalkan diriku dan Salim Ba Muhriz di luar. Kemudian dia datang lalu memasukkan Salim Ba Muhriz dan meninggalkan diriku di luar.” Dan sungguh Asy Syaikh Yahya حفظه الله mengabariku bahwasanya beliau berkata: “Demi Alloh, sungguh aku telah berulang-ulang meminta mereka berdua untuk masuk, tapi mereka berdua tak mau. Lagi pula, mereka berdua itu tidaklah ada di luar rumah. Hanya saja mereka berdua ada di dalam rumah, antara ruangan itu dan kamarku hanyalah satu dinding saja. Maka aku –Asy Syaikh Yahya- berkata: “Barangkali mereka berdua terganggu dengan ruang yang sempit. Semoga Alloh member Abdurrohman Al ‘Adniy petunjuk. Tidak sepantasnya hal macam ini ada di hatinya, kecuali dari setan. Aku sama sekali tidak berbuat jelek padanya sedikitpun. Tapi justru perbuatan jelek itu datang dari dirinya. Dia dan sejumlah orang pergi keluar dari markiz ini menuju Shon’a tanpa seidzinku ataupun musyawarahku, lalu mereka datang dengan membawa Asy Syaikh ‘Ubaid حفظه الله seakan-akan beliau singgah di tempat mereka dan seakan-akan tidak ada di markiz ini seorangpun selain mereka.” (Lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 24).

Dan termasuk dari bab ini juga bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy pada pertemuan pertama di markiz induk di Dammaj, para masyayikh حفظهم الله menasihati mereka untuk dirinya menasihati orang-orang yang fanatik pada dirinya. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله: “Ini adalah disebabkan oleh dirimu.” Atau ucapan seperti itu. Demikianlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabari kami. Dan ini terbalik. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy hanyalah membela diri dan markiz ini dari makar mereka.

Berita-berita tentang pemutarbalikan para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy ada di “Iqozhul Wisnan” (hal. 9-10), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 18 dan 35) dan “Syarorotul Lahab” (2/hal. 8).

Adapun pemutarbalikan fakta yang diusahakan oleh Abdulloh bin Mar’i adalah: bahwasanya dirinya puny aide-ide yang banyak sekali dalam membuka bisnis-bisnis dengan nama dakwah, dan setiap kali usahanya gagal dia menjadikan dakwah itulah yang memikul hutang besar tadi sampai-sampai dia menenggelamkan dakwah ke dalam hutang-hutang. Bacalah “Nubdzatun Mukhtashoroh ‘An Masyari’ Abdulloh bin Mar’i Al Musytaharoh” (karya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy Al hadhromiy Asy Syihriy). Dan bersamaan dengan itu Abdulloh bin Mar’i mencaci Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله dengan berkata: “Aku mengkhawatirkan dakwah ini dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy”. Lihat “Al Minzhorul Kasyif”/hal. 16).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله juga mensifati Abdulloh bin Mar’i bahwasanya dirinya memutarbalikkan hakikat.

Dan di antara pemutarbalikan hakikat yang diperbuat oleh para pengikutnya –yang menamai dirinya Abdulloh bin Robi’- yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy bahwasanya beliau telah merubah alur dakwah, sebagaimana dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 10). Bahkan mereka itulah yang merubah dan mengganti alur dakwah, lalu mereka pengecut, tak berani berkata: “Iya memang, kami telah bosan dengan jalan Salaf maka kamipun merubahnya dan menggantinya!”

Maka Mar’iyyun Barmakiyyun itulah Haddadiyyun dalam bab ini.

[Selesailah dengan seidzin Alloh seri ketujuh dari terjemahan “Shifatul haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”. Adapun pada seri kedelapan nanti إن شاء الله akan membahas pengkhususan Haddadiyyah untuk memerangi Salafiyyah].

1( ) Komentar Abu Fairuz: Anda benar, semoga Alloh menjaga Anda. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Ahlussunnah wal ‘adl wal hifzh mereka itulah para pemikul bendera sunnah secara fiqh dan aqidah, dan mereka memiliki kedudukan di tengah-tengah umat untuk maju ke depan dan menjadi imam. Sedangkan orang-orang yang menyimpang, bodoh, pendusta, dan sesat, mereka itu berada dalam kehinaan, tak bisa dipercaya dalam masalah agama maupun dunia.” (“Baroatu Ahlissunnah”/Majmu’atur Rudud/hal. 197).

Yang disayangkan adalah bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy pada waktu-waktu ini membela Mar’iyyun yang menyimpang, bodoh, pendusta, dan sesat, pengkhianat, yang berbolak-balik dalam fitnah, menyerupai Haddadiyyin. Dan beliau bersamaan dengan itu menyerang Ahlu dammaj, Ahlussunnah yang adil, para pemikul bendera sunnah secara fiqh dan aqidah, dan menuduh mereka sebagai haddadiyyah. Maka hanya Alloh sajalah yang kami mintai pertolongan.

2( ) Dan kami para thullab menghadiri ceramah tersebut pada malam itu.