Karakter Haddadiyah Dalam Diskusi Ilmiyyah 

ke 9

Komentar terhadap isi Kitab “Khuthurotul haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

Pengantar Penerjemah

الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri kesembilan dari terjemah kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”. Pada kesempatan ini kita akan membahas sisa dari kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Khuthurotul Haddadiyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” yaitu sifat Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Dan kami tutup dengan nasihat para imam untuk kokoh di atas kebenaran walaupun pengikutnya sedikit, dan janganlah kalian pikirkan banyaknya para pengikut setan.

Kemudian kita akan masuk pada pembahasan kitab beliau“Manhajul Haddadiyyah”. Dan mulai membahas kebencian Haddadiyyah pada ulama sunnah yang kokoh di atas sunnah.

Juga sikap mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah, membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan, mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak. Juga mereka membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy.

Kemudian permusuhan keras mereka terhadap Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan Salafiyyah.

Dalam keadaan seperti itu mereka hendak menaburkan abu ke mata-mata manusia dengan pengakuan mereka bahwasanya mereka juga telah memperingatkan umat dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah. Dan itu tak ada buktinya sama sekali.

Sifat yang paling nyata adalah sikap berlebihan mereka dalam mengagungkan Mahmud bin Muhammad Al Haddad Al Mishriy.

Dan telah saya bahas secara rinci bahwasanya masing-masing dari sifat tadi tidak ada pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan pelajar yang bersama beliau حفظهم الله. Dan saya buktikan bahwasanya beberapa karakter di atas cocok untuk Mar’iyyun, termasuk sikap ghuluw mereka kepada ulama.

Dan di antara sikap ghuluw mereka kepada ulama adalah perkataan sebagian dari mereka: “Sesungguhnya Asy Syaikh Robi’ bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja. Dan beliau hingga sekarang tidak berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy itu hizbiy!”

Maka ucapan tadi saya jawab dengan pertolongan Alloh ta’ala.

Kemudian masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta.

Lalu kezholiman mereka terhadap badan-badan Salafiyyin dan meneror jiwa-jiwa mereka. Dan saya buktikan bahwasanya karakter-karakter di atas cocok untuk Mar’iyyun.

Kemudian penjelasan para ulama bahwasanya hizbiy adalah mubtadi’. Dan saya jelaskan bahwasanya hal ini cocok dengan Mar’iyyah.

Kemudian masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: melaknat orang-orang tertentu yang tidak berhak untuk dilaknat, dan bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang.

Kemudian masuk pada sifat Haddadiyyah yang berikutnya: Kesombongan dan penentangan yang menyebabkan mereka menolak kebenaran.

Kemudian saya nukilkan ucapan para ulama bahwasanya penentangan terhadap kebenaran setelah datangnya hujjah adalah alamat seluruh ahlul bida’ wal ahwa.

Setelah saya sebutkan kesombongan Mar’iyyin secara umum, saya paparkan kesombongan pentolan mereka: Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan penentangannya terhadap kebenaran.

Oya, sampai sekarang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para pelajar Ahlussunnah masih menunggu-nunggu tanggung jawab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy untuk menampilkan bayyinahnya yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy sebagai Haddadiy, busuk, tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam. Juga menuduh Asy Syaikh Abdulloh Al Iryani, Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy dan Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy sebagai Haddadiyyun. Dan perkataannya bahwasanya di sekeliling Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy ada Haddadiyyun.

Tuduhan pada seorang Muslim tanpa bayyinah adalah amat berat hukumannya. Bagaimana dengan tuduhan tanpa bayyinah kepada ribuan Salafiyyun yang ada di Darul Hadits Dammaj beserta para ulama di markiz-markiz yang lain?

Kami menghormati Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, akan tetapi Antum semua wajib mengakui –tanpa takut kena kutukan- bahwasanya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy itu bukanlah nabi yang seluruh ucapannya wajib diterima tanpa dimintai bayyinah.

Sampai sekarang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para pelajar Ahlussunnah masih menunggu-nunggu jawaban Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy terhadap tanggapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang berjudul “An Nushhur Rofi’ Li Fadhilatisy Syaikh Robi’” atau yang seperti itu. Sampai sekarang masih sepi dari Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

Jika benar-benar Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy meyakini bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah Haddadiy, tidak boleh beliau cuma mentahdzir Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di balik layar di majelis-majelis khusus saja, sementara suara dan dakwah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy lantang berkumandang di seluruh penjuru dunia sampai-sampai Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy bilang bahwasanya Al Hajuriy merobek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.

Semoga masih ada keberanian yang dulu tampak ketika menghadapi segenap hizbiyyun dan ahlul ahwa, jika beliau yakin berada pada jalan yang benar.

Yang saya yakini Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri mengakui bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan segenap ulama Salafiyyin dan para pelajar Ahlussunnah yang bersama beliau itulah pihak yang benar dalam fitnah ini, dengan seluruh kekuatan hujjah yang tak sanggup mereka tandingi. Ini adalah pertolongan Alloh bagi ahlul haq yang terzholimi dan bangkit membela diri. Kami hanyalah makhluk yang lemah. Akan tetapi kezholiman para musuh terhadap kami, dan besarnya rohmat Alloh kepada kami menyebabkan kami punya pedang hujjah yang teramat tajam untuk meremukkan kepala para penjahat tadi, dan membungkam orang-orang yang mencoba-coba untuk membela para durjana tadi. Sungguh benarlah ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

Ini tadi adalah ucapan yang indah dan hebat, dan cocok untuk diterapkan pada para masyayikh yang membela Mar’iyyun. Juga cocok untuk diterapkan kepada sang pemilik ucapan yang indah dan hebat itu sendiri, karena beliau telah melontarkan tuduhan-tuduhan jahat pada Salafiyyun, di majelis khusus. Manakala sang tertuduh menampilkan bukti-bukti kebenaran dirinya, dan balik menantang beliau untuk menampilkan hujjah, ternyata beliau terdiam.

Seharusnya kenyataan seperti ini menjadi pelajaran bagi orang-orang yang di hatinya masih ada secercah cahaya kehidupan, untuk mengetahui siapakah pihak yang ada di atas kebenaran dan siapakah yang berdiri di jalur kebatilan dan kezholiman.

Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa beribadah kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh itu Mahahidup dan tidak mati. Tapi barangsiapa beribadah dengan taqlid kepada Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, maka beliau tak bisa membantu kalian dengan hujjah atas tuduhannya tadi di dunia ini. Dan beliau juga tak bisa membela kalian ataupun memikul dosa kalian saat kita semua berlutut di hadapan Alloh untuk mempertanggungjawabkan lontaran lisan dan goresan pena.

3ts?ur ¨@ä. 7p¨Bé& ZpuŠÏO%y` 4 @ä. 7p¨Bé& #Ótçôè? 4n<Î)$pkÈ:»tGÏ. tPöquø9$# tb÷rtøgéB $tB ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇËÑÈ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. pada hari itu kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al Jatsiyah: 28).

Justru kamilah yang lebih berhak mengikuti ucapan-ucapan emas Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, karena kami menjunjung tinggi agama Alloh yang tegak di atas hujjah, bukan karena pesona kebesaran pribadi beliau. Maka kamilah yang berhak untuk berkata sebagaimana perkataan beliau:

Kebenaran itu -wahai Abdurrohman- lebih besar daripada langit dan bumi dan lebih besar daripada kelompok-kelompok yang kau bela. Dan dia itu lebih kami cintai daripada anak-anak dan kerabat. Maka tak mungkin bagi kita untuk mendiamkan kelompok ataupun partai yang menyelewengkan agama Alloh. Bahkan kami akan menampakkan kebenaran –dengan seidzin Alloh-. Dan kami mohon pada Alloh agar mencatat hal itu di dalam lembaran-lembaran kebaikan kami. Dan tak akan membahayakan kami orang ini dan itu berkata,”Ini adalah cercaan dan makian”. Ini adalah termasuk teror psikologis dan propaganda batil yang dimurkai oleh Alloh, malaikat-Nya dan para mukminin.” (“Jama’ah Wahidah”/ Syaikh Robi’).

Selamat menikmati, بارك الله فيكم.

[Pasal Keduapuluh Delapan: Penamaan Sesuatu Bukan Dengan Namanya]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: bersamaan dengan kejahatan, kehinaan dan kesesatan ini semua, mereka mengklaim dengan kebohongan dan kedustaan yang terbongkar bahwasanya mereka itu adalah Ahlussunnah, dan mereka pura-pura saling memuji dengan itu. Maka dikatakan pada mereka apa yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash رضي الله عنهbahwasanya dia berkata pada Musailimah lama mengaku-aku sebagai Nabi dan mulai membacakan pada ‘Amr رضي الله عنهkedustaannya yang dinamainya sebagai Al Qur’an, maka ‘Amr berkata padanya: “Demi Alloh sesungguhnya engkau tahu bahwasanya aku itu tahu bahwasanya engkau itu pendusta.”

Komentar saya:

Sifat keduapuluh lima dari Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Maka yang terpandang adalah kesesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah serta Salafiyyah, bukan sekedar pengakuan. Maka barangsiapa mencocoki tiga dasar ini, ucapannya diterima. Jika tidak demikian maka akan ditolak, siapapun dia.

Dan telah nampak dengan jelas kekokohan Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka di atas Al Qur’an, As Sunnah dan Salafiyyah dengan bayyinat yang bercahaya. Dan para salafiyyun telah menjelaskan jauhnya Mar’iyyun dari prinsip-prinsip Salafiyyah dan upaya mereka untuk meruntuhkannya, sekalipun mereka mengaku termasuk pengikutnya. Maka Mar’iyyun-Barmakiyyun itu mirip dengan Haddadiyyun.

Maka termasuk dari metode Iblis untuk menyesatkan bani Adam adalah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى﴾ [طه/120].

“Maka setan membisikkan kepadanya, berkata: Wahai Adam maukah kutunjukkan padamu pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan rusak?”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka ini adalah makar dan tipu daya yang pertama. Dan darinyalah para pengikutnya mewarisi penamaan perkara yang terlarang dengan nama-nama yang disukai oleh jiwa. Maka mereka menamakan khomr dengan ummul afroh (induk kegembiraan), dan menamakan saudaranya sebagai suapan ketentraman, dan menamakan riba dengan mu’amalah, menamai pajak dengan hak-hak kekuasaan, menamai kezholiman yang paling buruk dan paling keji dengan syari’ah dewan, menamai kekufuran yang paling mendalam –yaitu menentang sifat-sifat Robb- dengan pensucian, dan menamai majelis-majelis kefasikan sebagai majelis-majelis kebaikan…” dst. (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 113).

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka seluruh Salafiyyin –bukan hanya satu orang Amr- tahu bahwasanya kalian adalah pendusta pada seluruh apa yang dengannya kalian berhadapan dengan Ahlussunnah. Mereka juga yakin bahwasanya kalian itu tahu bahwasanya diri kalian adalah pendusta. Dan kalian tak akan bisa membahayakan Islam sedikitpun. Dan kalian juga tak akan bisa membahayakan Salafiyyah dan Salafiyyun sedikitpun. Dan percayalah bahwasanya kalian tak membahayakan kecuali diri kalian sendiri di dunia dan akhirat jika kalian tidak bertobat kepada Alloh dengan tobat nashuha. Jika kalian membikin senang para musuh Alloh dan musuh manhaj Salafiy, maka yang demikian itu tak akan membahayakan manhaj yang agung ini sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم:

«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك». صحيح مسلم (1920)

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga datangnya urusan Alloh dalam keadaan mereka seperti itu.” (HR. Muslim (1920)).

Al Imam Al Bukhoriy telah menulis bab dalam “Shohih” beliau: “Bab sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق»

Mereka adalah ulama.”

Komentar saya:

Ini adalah perkataan yang benar. Dengan seluruh penjelasan yang telah lewat kita mengetahui bahwasanya Haddadiyyah adalah saudari dari Mar’iyyah, dan bahwasanya syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mereka adalah Salafiyyun yang tampil di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka banyaknya orang yang menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka, dengan seidzin Alloh. Kami mohon kepada Alloh agar mengokohkan mereka hingga datangnya kematian, dan agar menolong mereka karena keteguhan mereka di atas Al Kitab, as Sunnah dan As Salafiyyah, dan agar menelantarkan musuh-musuh mereka yang jahat itu, yang keluar dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah-Nabawiyyah-Salafiyyah, sekalipun musuh-musuh tadi banyak jumlahnya dan berbangga-bangga dengan jumlah yang banyak.

Al ‘Allamah Burhanuddin Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Dan janganlah kalian pikirkan banyaknya ucapan para pengikut setan dan serangan cacian mereka dengan dosa dan permusuhan kepada kita, wahai saudaraku. Mereka itu hanyalah mengatakan yang demikian secara ghibah. Mereka dengan itu akan mendapatkan dosa dan kerugian, karena sesungguhnya Alloh telah menjamin datangnya pertolongan, sekalipun pelaku kebatilan itu disertai oleh jumlah yang banyak.” (“Mashro’atut Tashowwuf”/Al Biqo’iy/hal. 243/Darul Iman).

Al Imam Abu Bathin رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui bahwasanyaAhlul haqq itu sedikit jumlahnya akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling agung nilainya di sisi Alloh.” (“Ar Roddu ‘Alal Burdah”/Abu Bathin/hal. 44/Darul Atsar).

Inilah akhir dari komentar-komentar saya terhadap kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله “Khuthurotul Haddadiyyah”. Dan sekarang kita akan masuk kepada komentar terhadap kitab beliau“Manhajul Haddadiyyah”. Dan hanya dengan pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq.

Bab Empat: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Manhajul haddadiyyah”

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Manhajul Haddadiyyah”.

Komentar saya: Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله mulai masuk ke dalam penjelasan manhaj Haddadiyyin untuk menyingkapkan kebatilan-kebatilan mereka, dan menasihati umat. Akan tetapi manakala para Hasaniyyun dan Mar’iyyun memanfaatkan risalah ini untuk memukul Salafiyyun, dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri juga menuduh kami sebagai Haddaiyyin tanpa sanggup menampilkan bukti-bukti, maka kamipun mulai masuk pada penjelasan akan batilnya upaya mereka tersebut secara terperinci. Dan hanya dengan pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq:

[Pasal Satu: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang pertama: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy pada zaman ini, dan peremehan mereka terhadap para ulama tadi, menganggap mereka itu bodoh dan sesat, membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, terutama Ahlul Madinah, kemudian mereka melampaui batas hingga sampai kepada Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”. Mereka mengulang-ulang pembicaraan di sekitar para imam tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka dan menolak ucapan mereka.”

Komentar saya:

Yang keduapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: kebencian mereka pada ulama sunnah yang kokoh di atas sunnah. Telah lewat penjelasan bahwasanya syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mencintai ulama manhaj Salafiy, yang terdahulu ataupun yang datang setelah mereka, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”, dan yang lainnya. Tidak ada pada mereka peremehan terhadap para ulama tadi, tidak pula menganggap mereka itu bodoh dan sesat, tidak pula membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, baik Ahlul Madinah ataupun yang lainnya. Mereka tidak berbicara seputar para imam tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka atau untuk menolak ucapan mereka.

Kami telah menjelaskan kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah di atas manhaj Salaful ummah. Dan dengan sebab itulah para Mar’iyyun memusuhi mereka dan membuat makar terhadap mereka, membangkitkan dunia untuk memerangi mereka, dan menghasung masyayikh Yaman dan luar Yaman untuk memerangi mereka. Maka kebencian Mar’iyyun terhadap ulama sunnah yang kokoh itu tampak jelas sekali.

Sungguh mereka itu membenci Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy dan duapuluh ulama –dari ulama sunnah yang kokoh dalam memerangi Mar’iyyin- حفظهم الله.([1])

Maka Mar’iyyun mereka itulah Haddadiyyun, bukannya Asy Syaikh Yahya dan yang beserta beliau حفظهم الله.

[Pasal Kedua: Mereka Membid’ahkan Setiap Orang yang Terjatuh Ke Dalam Bid’ah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kedua: Mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan Ibnu Hajar menurut mereka lebih keras dan lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb.”

Komentar saya:

Yang keduapuluh tujuh dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan ini bukanlah madzhab Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan bukan pula madzhab orang-orang yang bersama beliau. Bahkan mereka itu menegakkan hujjah sebelum menjatuhkan vonis. Syaikh kami telah mengulang-ulang penjelasan bahwasanya kebodohan terhadap hukum merupakan salah satu udzur yang menghalangi pembid’ahan dan pengkafiran terhadap pelakunya. Beliau berdalilkan firman Alloh ta’ala:

﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا﴾ [الإسراء/15]

“Dan tidaklah Kami menyiksa hingga Kami mengutus seorang Rosul.”

Dan firman Alloh ta’ala:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾.

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa: 115).

Dan mereka tidak berkeyakinan bahwasanya Ibnu Hajar penulis kitab “Fathul Bari” itu lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb. Bahkan mereka memuliakan Ibnu Hajar, dan banyak membaca kitab-kitabnya sambil memberikan peringatan terhadap kesalahan-kesalahannya. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata: “Ibnu Hajar terkena pengaruh Asy’ariyyah.”

Maka berdasarkan sisi ini –dan sisi-sisi yang lain- bukanlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau itu Haddadiyyun.

[Pasal Ketiga: Mereka Membid’ahkan Orang yang Tidak Membid’ahkan Orang Yang Terjatuh Ke Dalam Kebid’ahan]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang ketiga: Mereka membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan memeranginya. Dan tidak cukup menurut mereka untuk dirinya berkata: “Pada diri fulan ada Asy’ariyyah” misalkan, atau: “Fulan Asy’ariy”, bahkan engkau harus berkata: “Fulan mubtadi’” jika tidak demikian maka dia harus diperangi, diboikot dan divonis sebagai mubtadi’.”

Komentar saya:

Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan memeranginya. Ini semua bukanlah ciri Ahlu Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka. Syaikh kami حفظه الله berkata: “Tidaklah setiap orang yang terjadi padanya kebid’ahan itu menjadi mubtadi’. Para ulama punya perincian dalam hal itu. –sampai pada ucapan beliau:- tinggallah orang yang tenggelam dalam mencocoki Ahlul bida’ maka dia adalah termasuk dari mereka. Dan barangsiapa tetap bersikeras pada suatu kebid’ahan setelah datangnya penjelasan maka dia adalah mubtadi’.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 89-90/Darul Kitab Was Sunnah).

Iya, barangsiapa berhak untuk dihukumi sebagai mubtadi’ dengan dalil-dalilnya, maka barangsiapa telah sampai padanya hujjah-hujjah Ahlussunnah tentang kebid’ahan seseorang kemudian dirinya membelanya, maka dia digabungkan dengannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ” ”Wajib untuk menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau mengagungkan kitab-kitab mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya itu saling bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai kritikan kepada mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka, bahwasanya perkataan mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak diketahui siapakah yang menulis kitab ini, atau udzur-udzur yang seperti ini yang tidaklah mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munafiq. bahkan wajib untuk menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling menolong untuk menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka merupakan termasuk kewajiban yang paling agung dst” (“Majmu’ul Fatawa” 2/132).

Al Imam Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya orang yang membelanya –yakni membela Ibnul Faridh- dia itu bersegera kepada orang yang sekarakter dengan dirinya, menyerupai orang yang perbuatannya seperti perbuatan dirinya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 245).

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang alamat hizbiyyah Ibrohim bin Hasan Asy Sya’biy: “Dan di antara perkara yang menunjukkan terjerumusnya dirimu ke dalam hizbiyyah adalah: pengingkaranmu kepadaku dan pengingkaranmu terhadap apa yang aku sebutkan tentang hizbiyyin.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 13/ Asy Syaikh Ahmad An Najmiy/Darul Minhaj).

[Pasal Keempat: Mengharomkan Mendoakan Rohmat Bagi Ahlul Bida’ Secara Mutlak]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Keempat: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak, tidak ada perbedaan antara rofidhiy, qodariy, jahmiy, dan antara seorang alim yang terjatuh ke dalam bid’ah.”

Komentar saya:

Yang keduapuluh Sembilan dari sifat Haddadiyyah: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak. Syaikh kami telah mendoakan rohmat bagi Ibnu Hajar, An Nawawiy –dan seluruh imam- di sela-sela jam pelajaran beliau dengan doa rohmat yang tak bisa menghitung banyaknya kecuali Alloh. Yang demikian itu adalah dikarenakan mereka berdua menurut Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah termasuk dari imam Muslimin, yang bisa benar dan bisa salah, kaki keduanya telah tergelincir ke dalam sebagian ta’wilat, maka beliau mendoakan rohmat untuk keduanya. Hanya saja beliau tidak mendoakan rohmat bagi orang kafir atau orang yang berada pada hukum kafir.

Adapun tentang mendoakan rohmat bagi ahlul bida’, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah diharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ pada saat membantah kesalahannya dan selain itu?”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Di antara ahlul bida’ ada orang yang diharomkan mendoakan rohmat bagi mereka sama sekali, dan mereka itu adalah pelaku kebid’ahan yang menyebabkan kekafiran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُون﴾ [التوبة/84]

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”

Maka Alloh عز وجل melarang nabi-Nya dari menyolati mereka, dan sholat tersebut adalah doa. Nabi صلى الله عليه وسلم meminta idzin pada Robbnya untuk memintakan ampun untuk ibunya, tapi Alloh سبحانه وتعالىtidak mengidzinkan beliau. Dan beliau meminta idzin untuk mengunjungi kuburannya maka Alloh عز وجل mengidzinkan untuk beliau, sebagaimana dalam “Ash Shohih”([2]).

Maka para pelaku bid’ah yang menyebabkan kefasikan setelah matinya mereka, tidak mengapa mendoakan rohmat untuk mereka karena keumuman firman Alloh ta’ala:

﴿وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ﴾ [محمد/19]

“Dan mohonkanlah ampunan untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat.”

(“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 462/Darul Kitab Was Sunnah).

Maka barangsiapa menuduh Ahlu Dammaj dengan Haddadiyyah maka sungguh dia telah berbuat salah, dan zholim dan ngawur.

[Pasal Kelima: Membid’ahkan Orang Yang Mendoakan Rohmat Kepada Semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy dan yang Lainnya]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kelima: membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu Hajar dan An Nawawiy.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh dari sifat Haddadiyyah adalah: membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu Hajar dan An Nawawiy. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah melindungi Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari penyakit ghuluw ini, dan mereka memeranginya. Andaikata Haddadiyyun tahu bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau mendoakan rohmat buat seluruh orang-orang yang disebut tadi –dan memang inilah kenyataannya- pastilah mereka akan membid’ahkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Jika memang demikian, maka bagaimana kalian menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau itu Haddadiyyun?

Sebagai faidah: Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Ada sekelompok orang jika kami katakan pada mereka: Kembalilah pada kitab-kitab Ahlussunnah seperti “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy”, mereka berkata: ”Kitab itu penuh dengan kebid’ahan, maka apakah nasihat Anda untuk semisal mereka? Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sesat dan bodoh. Kitab “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy” adalah termasuk dari ktab-kitab sunnah yang penting yang penuntut ilmu ataupun seorang alim itu butuh dengannya. Telah tersebar fatwa milik sebagian ghulah (orang-orang yang berlebihan) yang bernama Mahmud Al Haddad bahwasanya “Fathul Bari” itu harus dibakar. Ketika ucapan ini sampai kepada syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iyرحمه الله beliaupun berkata: “Andaikata Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak bersabda:

«لا يعذب بالنار إلا رب النار»

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robb api.”

Pastilah kami berkata: Sesungguhnya Mahmud Al Haddad itu lebih berhak untuk dibakar daripada “Fathul Bari”.

Adapun kesalahan-kesalahan Al Hafizh Ibnu Hajar dan yang semisalnya رحمهم الله yang terjadi pada ta’wil sebagian sifat atau terlalu melebar dalam masalah mencari barokah dengan atsar-atsar orang sholih, maka kesalahan ini harus dijauhi, dijelaskan dan manusia diperingatkan darinya sambil tetap mengambil faidah kitab-kitab yang bermanfaat yang penuh dengan ilmu dan sunnah itu.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 65-66/Darul Kitab Was Sunnah).

Sisi pendalilan kita di sini adalah: perhatian syaikh kami An Nashihul Amin untuk membantah Haddadiyyah dan menjelaskan sikap ghuluw (berlebihan), kesesatan dan penyelisihan manhajiyyah mereka, bersamaan dengan kokohnya beliau di atas manhaj Salafiy yang pertengahan antara ifroth (berlebihan) dan tafrith (kurang). Maka alangkah besarnya rohmat yang Alloh jadikan ada di hati-hati para ulama sunnah –termasuk dari mereka adalah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy-, beda dengan Haddadiyyun. Dan alangkah besarnya kejahatan orang yang mendoakan beliau agar tidak diberkahi, dan menuduh beliau sebagai Haddadiy, busuk, tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.

[Pasal Keenam: Permusuhan Yang Keras Terhadap Salafiyyun Yang Membela Sunnah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang keenam: Permusuhan yang keras terhadap Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan Salafiyyah dan membelanya, dan sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk menghadapi bid’ah, hizbiyyah dan kesesatan. Mereka juga memusatkan konsentrasi kepada Ahlul Madinah, kemudian kepada Asy Syaikh Al Albaniy رحمه الله karena beliau termasuk dari ulama besar manhaj Salafiy, yaitu: beliau termasuk ulama Sunnah yang paling keras menghantam hizbiyyin, ahlul bida’ dan ahlut ta’ashshub. Salah seorang dari Haddadiyyun telah mendustakan Ibnu ‘Utsaimin dalam majelisku sepuluh kali sehingga aku sangat marah, dan diapun aku usir dari majelisku. Kemudian mereka menulis kitab-kitab dalam masalah itu dan menyebarkan kaset-kaset, dan menyebarkan seruan-seruan untuk menentang ulama Sunnah. Mereka memenuhi kitab-kitab, kaset-kaset dan seruan-seruan mereka dengan kebohongan dan kedustaan. Dan termasuk dari kezholiman Al Haddad adalah bahwasanya dia menulis suatu kitab yang berisi cercaan pada Asy Syaikh Al Albaniy dan memburuk-burukkan beliau, sebanyak sekitar empat ratus halaman dengan tulisan tangannya, yang andaikata dicetak bisa jadi akan mencapai seribu halaman, diberi judul dengan: “Al Khomis” yaitu Pasukan besar, terbagi atas: pasukan garis depan, pasukan garis belakang, pasukan inti, sayap kanan dan sayap kiri.”

Komentar saya:

Syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله tidak memusuhi Asy Syaikh Robi’, ataupun orang yang lebih tinggi dari beliau, ataupun orang yang lebih rendah daripada beliau. Seluruh orang yang kokoh di atas sunnah dan salafiyyah itu dimuliakan di sisi mereka. Setiap kali kerja keras seseorang dalam menolong kebenaran semaki besar, maka semakin besar pula pemuliaan Ahlussunnah kepadanya. Dan bersamaan dengan itu –sebagaimana ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri- kesalahan itu –jika terjadi- wajib untuk diingkari, dan hal itu tidaklah dinilai sebagai cercaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Perkataan mereka:“Tidak boleh untuk saling mengingkari dalam perkara-perkara yang diperselisihkan” bukanlah perkataan yang benar, karena pengingkaran itu bisa jadi diarahkan kepada ucapan dari hukum tersebut, dan bisa jadi diarahkan kepada pengamalan dari hukum tadi. Adapun yang pertama: jika ucapan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka ucapan tadi wajib diingkari, tanpa ada perselisihan. Jika tidak demikian([3]), maka ucapan tadi boleh diingkari dalam artian: sisi kelemahannya dijelaskan, menurut orang yang berpendapat bahwasanya pihak yang benar itu cuma satu, dan ini adalah pendapat hampir seluruh Salaf dan fuqoha. Adapun dari sisi amalan([4]), jika amalan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka dia juga wajib diingkari sesuai dengan derajat-derajat pengingkaran, sebagaimana telah kami sebutkan dari hadits peminum nabidz yang diperselisihkan, dan sebagaimana hukum seorang hakim itu dibatalkan jika menyelisihi suatu sunnah sekalipun dia telah mengikuti sebagia ulama. Adapun jika di dalam masalah itu tidak ada sunnah ataupun ijma’ maka ijtihad di situ boleh, orang yang mengamalkannya tidak diingkari baik secara ijtihad ataupun taqlid.” (“Bayanud Dalil ‘Ala Buthlanit Tahlil”/hal. 159/Daru Ibnul Jauziy).

Bacalah juga perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (3/hal. 223/Khothou Man Yaqulu La Inkaro Fi Masailil Khilaf”/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Penjelasan ini dan yang telah lewat berulangkali merupakan hujjah yang jelas tentang batilnya hukum orang yang menuduh Ahlu Dammaj sebagai Haddadiyyin. Akan tetapi sebab-sebab kebutaan dan ketulian itu banyak.

[Pasal Ketujuh: Mengaku Telah Mentahdzir Dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dia mengaku-aku telah memperingatkan umat dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah, tapi kami tidak melihat bahwasanya dia telah menulis satu karya tulis atau sekedar memo kecil yang berisi kumpulan cacatan, lebih-lebih lagi buku semisal kitab dia “Al Khomis”.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh Satu dari sifat Haddadiyyah: Menaburkan abu ke mata-mata manusia dengan pengakuan mereka bahwasanya mereka juga telah memperingatkan umat dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah.

Maka yang menyamakan syaikh kami dengan Haddadiyyun, maka jauh sekali. Inilah kitab-kitab syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau tentang peringatan kepada umat terhadap seluruh firqoh yang sesat. Barangsiapa ragu tentang hal ini sedikit saja, maka silakan mengunjungi kami di Darul Hadits Salafiyyah di Dammaj untuk kami perlihatkan padanya sejumlah besar dari karya tulis tadi. Dan silakan mengunjungi tasjilat (studio rekaman) “Darul Hadits” di Dammaj untuk mendengarkan perkataan-perkataan syaikh kami حفظه الله tentang orang-orang tersesat tadi.

يا ابنَ الكراِم ألا تدنْو فتبْصرَ ما … قد حدَّثوك فما راءٍ كمن سمِعاَ

“Wahai anak orang yang mulia, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat apa yang mereka ceritakan padamu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar.” (“Nafhatur Roihanah”/1/hal. 197).

Dan sebagaimana yang dinukilkan oleh Al Imam Ibnu Katsirرحمه الله dari sebagian komandan Yazid bin Mu’awiyah:

الشاهد يرى ما لا يرى الغائب. (“البداية والنهاية”/8 / ص 235).

“Orang yang menyaksikan itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir.” (“Al Bidayah”/8/hal. 235).

Maka wahai orang yang menuduh kami dengan kebusukan, ketololan, dan haddadiyyah, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat perkara yang mereka kaburkan terhadapmu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar. Akan tetapi orang yang telah dibutakan matanya oleh kedengkian dan fanatisme, maka dia akan berkata:

عنز ولو طارت.

“Dia itu kambing walaupun bisa terbang.”

[Pasal Kedelapan: Ghuluw mereka terhadap Al Haddad]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang ketujuh: sikap berlebihan mereka dalam mengagungkan Al Haddad dan klaim mereka bahwasanya Al Haddad itu juara dalam masalah ilmu. Hal ini mereka lakukan demi menjatuhkan para ulama besar dan pemikul manhaj salafiy, dan demi menyampaikan syaikh mereka tadi ke martabat seorang imam mutlak, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang semisal mereka dari kalangan para pengikut yang tertimpa kegilaan yang besar. Mereka berkata kepada si fulan dan si fulan yang telah mencapai martabat yang tinggi dalam keilmuan: “Mereka harus bertekuk lutut di hadapan Abu Abdillah Al Haddad dan Ummu Abdillah.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: Mereka ghuluw terhadap Al Haddad dan para pemimpin mereka. Mahmud Al Haddad itu sesat dan menyimpang, kami tidak ghuluw tehadapnya, bahkan kami menghinakannya karena dia itu mubtadi’. Siapa saja orang dari Ahlussunnah, maka kami menghormatinya, memuliakannya dan tidak menelantarkannya إن شاء الله . dan kami akan saling menolong dengannya di atas jalan yang lurus إن شاء الله . dan kami juga tidak ghuluw kepada beliau. Tiada seorangpun yang lebih tinggi daripada kebenaran.

Kami berkata sebagaimana perkataan Al Imam Al ‘Allamah Abdurrohman Al Mu’allimiy رحمه الله: “Termasuk dari lembah kebatilan yang terluas adalah sikap ghuluw kepada tokoh-tokoh utama.” (“At Tankil”/1/hal. 81).

Telah lewat pengingkaran syaikh kami kepada orang yang ghuluw kepada beliau. Dan orang yang membikin syair yang di dalamnya ada sikap ghuluw pada seyaikh kami telah bertobat, dan menulis pengumuman atas tobatnya dirinya, dan telah menyebarluaskannya. Mayoritas murid syaikh kami, para sahabat beliau, dan teman dekat beliau berjalan seperti ini: menghormati beliau tanpa mengagungkannya secara berlebihan. Maka barangsiapa menisbatkan pada syaikh kami dan orang yang bersama beliau kepada sikap ghuluw pada para pemimpin, maka sungguh dia telah menzholimi mereka dan mencaci mereka.

Kemudian sebagian dari orang yang dengki –semisal ‘Ubaid Al Jabiriy dan Muhammad bin Hadi Al Madkholiy- berusaha menghalangi manusia untuk belajar di Dammaj dengan alasan bahwasanya mereka nanti akan belajar caci-makian.

Saya jawab: justru orang-orang yang berbicara seperti tadi mereka itulah tukang caci-maki, dan mereka mengajari manusia untuk mencaci maki dan mencerca, karena mereka telah mencerca Ahlu dammaj dengan menisbatkan mereka kepada Mahmud Al Haddad. Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Bahwasanya barangsiapa menisbatkan seseorang kepada perkara yang tidak pantas baginya, maka dikatakan bahwasanya dirinya telah mencercanya.” (“Fathul Bari”/14/hal. 175).

Telah aku jelaskan sikap ghuluw Mar’iyyun kepada para pemimpin mereka dengan penjelasan yang terang dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah”. Barangsiapa ingin mengetahui hakikat nyata mereka dalam masalah ini maka silakan rujuk ke kitab tadi. Jika tidak, maka bukan kewajiban kami untuk mengulanginya di sini.

Dan di antara bukti yang menunjukkan sikap ghuluw para Mar’iyyun adalah ucapan sebagian dari mereka: “Sesungguhnya Asy Syaikh Robi’ bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja. Dan beliau hingga sekarang tidak berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy itu hizbiy!”

Maka jawab kami adalah: Ini merupakan sikap ghuluw yang jelas, yang dengannya para Mar’iyyun berdalilkan untuk meruntuhkan seluruh bayyinat Salafiyyun atas hizbiyyah kedua anak Mar’iy. Di manakah dalil yang menyatakan bahwasanya penciuman itu bisa menggugurkan bayyinat?

Dan juga: apakah Asy Syaikh Robi’ itu ma’shum (terjaga) dari kesalahan dan kelalaian? Dan apakah beliau itu terjaga dari penyakit-penyakit hidung? Orang yang sakit influenza tidak bisa mencium sebagaimana penciuman orang yang sehat. Manusia itu bisa benar dan bisa salah, bisa waspada dan bisa lalai, bisa sehat dan bisa sakit. Maka Asy Syaikh Robi’ kalaupun sebagaimana yang kalian katakan: “Sesungguhnya beliau bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja” tidaklah beliau itu keluar dari sifat kemanusiaan. Barangkali beliau sekarang ini lagi sakit flu –semoga Alloh menyembuhkan beliau-, sehingga beliau tak bisa mencium aroma hizbiyyah Mar’iyyah yang busuk itu.

Lagi pula: sesungguhnya Yahya bin Ma’in رحمه الله adalah Amirul Mu’minin dalam hadits, dan ucapan beliau tentang para rowi itu diperhitungkan. Akan tetapi beliau bersamaan dengan kedalaman ilmunya dalam bidang ini, terkadang men-tsiqohkan orang-orang yang di-jarh para ulama. Yang demikian itu dikarenakan sebagai rowi yang lemah saat berada di hadapan beliau mereka berhias-hias dengan hadits yang shohih sehingga beliau memberi mereka tazkiyyah.

Maka kesimpulannya: sesungguhnya Mar’iyyun itu telah bersikap ghuluw terhadap para masyayikh yang berada di barisan mereka. Maka merekalah Haddadiyyun sekalipun diberi tazkiyyah oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

[Pasal Kesepuluh: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kedelapan: mereka menyerang ulama Salafiyyah di Madinah dan yang lainnya dan menuduh mereka telah berdusta: “Fulan pendusta”, “Fulan pendusta”. Mereka tampil dengan wujud cinta kejujuran dan mementingkan kejujuran. Tapi manakala dijelaskan pada mereka kedustaan Al Haddad dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan mereka dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah kecuali semakin berpegang dengan Al Haddad dan ghuluw kepadanya.

Komentar saya:

Yang ketigapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta. Adapun kami, tidak ada pada kami إن شاء الله bermudah-mudah untuk menuduh seorang Muslim berdusta, lebih-lebih lagi terhadap seorang alim dari ulama sunnah, sama saja, dari Ahlul Madinah ataupun yang lainnya,والحمد لله. Maka hujjah itulah yang memimpin dan menjadi pertimbangan.

Adapun Baromikah, sesungguhnya mereka menuduh ulama Dammaj dan para pelajar mereka dengan kedustaan, dan Baromikah memperbanyak ucapan: “Fulan pendusta”, “Fulan pendusta”. Contohnya adalah: Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله menuduh tanpa bukti sebagian thullab yang mengusahakan ishlah di antara dua syaikh –sebelum menggeloranya fitnah-, menuduh mereka menjilat, sebagai pendusta, atau aktif dalam fitnah. (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 32).

Abdulloh bin Robi’ Al Barmakiy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriyحفظه الله sebagai pendusta. Telah dibantah oleh Yusuf Al Jazairiy dalam “Jinayatu Abdurrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).

Mereka juga menuduh para saksi telah berdusta, sebagai dinukilkan oleh Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal dalam “Nushrotusy Syuhud” (hal. 3).

Pengikut Abdulloh bin Mar’i yang paling keras fanatismenya yaitu Nabil Al Hamr dan sebagian pengikutnya هداهم الله berkata: “Kita telah menguburkan Dammaj, dan mayat itu tak akan bangun.” Juga berkata: “Ucapan Asy Syaikh Yahya itu batil. Juga berkata: “Seorang mubtadi’ ucapannya bisa diterima, akan tetapi sang pendusta tidak bisa diterima” (menyindir Asy Syaikh Yahya). (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy/no. 7).

Maka Mar’iyyun adalah Haddadiyyun pada bab ini.

Manakala dijelaskan pada mereka kedustaan kedua anak Mar’i dan Muhammad bin Abdil Wahhab dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan mereka dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah kecuali semakin berpegang dengan mereka dan fanatik kepada mereka.

Maka wahai orang yang menuduh kami sebagai haddadiyyun dan membela para hizbiyyin tadi, sadarlah kalian. Sesungguhnya orang-orang Darul hadits di Dammaj yang kalian tuduh sebagai Haddadiyyun mereka itu adalah pewaris manhaj Salaf yang dulu kalian ada padanya. Sedangkan orang-orang yang kalian bela itu mereka itulah para pewaris manhaj Al Haddad yang dulu kalian perangi.

[Pasal Kesebelas: Melaknat Salafiyyin, Meneror Mereka, Dan mengancam Mereka Dengan Pemukulan]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Kesembilan: Mereka punya keistimewaan dengan melaknat, kasar, dan meneror sampai pada derajat mengancam salafiyyin dengan pukulan, bahkan tangan mereka telah menjulur dengan memukul sebagian salafiyyin.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh empat dari sifat Haddadiyyun: berbuat zholim terhadap badan-badan Salafiyyin dan meneror jiwa-jiwa mereka. Ini termasuk perbuatan Mar’iyyun: memukul sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini seperti saudara kita Abu Isa Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy dan lainnya. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

Sebagian contohnya telah diberitakan kepadaku oleh saudara yang mulia Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله.

Bahkan sebagian pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy telah mengancam sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini untuk dibunuh. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

Salah seorang dari mereka telah mencekik saudara kita Irham Al Jawiy Al Indonesiy.

Salah seorang dari mereka telah memukul saudara kita Irham Al Maidaniy Al Indonesiy.

Yang lain telah memukul Abu Kholifah Abdul Ghofur Al Indonesiy di wajahnya.

Salah seorang dari mereka telah memukul dada saya. Yang lain memukul leher saya dan mengancam membunuh saya.

Abu Abdillah Adib Bin Ahmad Al-Jawiy ditusuk dengan jari di antara dagu dan ujung lehernya.

Abu Abdillah Muhammad Bin Thobary Al-Brebesy mengalami berbagai upaya teror fisik dan mental dialaminya di “malam undangan” tersebut. Kacamatanya hilang pada malam itu.

Abu Abdil Ghoni Abdul Wahid Al-Jakartiy mengalami sedikit tabrakan yang disengaja, lalu dikasih isyarat ancaman.

Abu Abdirrohman Utsman As-Semarangiy diteriaki sambil diancam-ancam.

Abu ‘Amr Ridwan Bin Zaky Al-Amboniy didorong kepalanya.

Abu Hudzaifah Hasan Al-Bugisiy direnggut krah bajunya dengan kasar, lalu ditarik ke dinding. Lalu datang lagi yang lain berbuat yang hampir sama dengan itu.

Abu Ahmad Sulaiman Al-Ambony didorong wajahnya.

Abul Husain Muhammad Nur Kholis Al Jawiy direnggut krah bajunya dengan kasar dan diteriaki.

Berita-berita tentang kekasaran dan teror mereka itu panjang penyebutannya. Sebagiannya telah saya sebutkan dalam risalah “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftariyl Janiy” maka silakan merujuk di situ. Dan kebanyakan dari kami bersabar dan tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Jika kami yang bersabar sampai demikian saja Abdulloh Al Bukhoriy dan yang lainnya bilang: “Mereka adalah Haddadiyyun, orang garis keras”, maka bagaimana jika kami membalas kejelekan tadi dengan kejelekan yang serupa? Barangkali mereka akan membikin ribut dunia dan berteriak: “Mereka adalah haddadiyyun yang melebihi haddadiyyun, mereka adalah kelompok garis keras nomor wahid!”

Maka wahai Syaikh Robi’, semoga Alloh menjaga Anda, bandingkanlah antara perbuatan Haddadiyyun dengan perbuatan Mar’iyyun. Siapakah dari kedua kelompok ini yang lebih besar kejahatannya dalam bab ini?

Maka Mar’iyyun itu lebih berhak mendapat gelar Haddadiyyun daripada kami, maka bagaimanakah kalian bisa tersihir? Semoga Alloh melindungi kalian dari sihir kedengkian dan fanatisme.

Dan Mar’iyyun adalah mubtadi’ah sebagaimana telah lewat penjelasannya. Jika mereka melakukan kekasaran tadi terhadap Salafiyyin dengan niat menjalankan agama juga –meyakini bahwasanya dengan itu mereka hendak menolong agama mereka- maka mereka juga menjadi mubtadi’ah dari sisi ini, karena tiada dalil syar’iy yang membolehkan mereka berbuat itu. Rujuk kembali ucapan Syaikhul Islam رحمه الله dalam “Majmu’ul Fatawa” (18/hal. 346).

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Tiada seorangpun dari makhluq Alloh yang berhak untuk membikin suatu perkara di dalam syari’ah dari ro’yunya yang tidak didapatkan dalil untuk itu, karenayang demikian itu adalah benar-benar kebid’ahan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 283).

Syaikhuna An Nashihul Amin حفظه الله berkata: “Seorang mubtadi’ adalah orang yang membikin perkara dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama ini. Kami telah melihat sebagian ulama berkata: Orang yang banyak melakukan penyelisihan terhadap perkara cabang-cabang syari’ah maka dikatakan bahwasanya dia itu mubtadi’. Maka orang itu dibid’ahkan setelah dijelaskan padanya hujjah dan ditolak syubhatnya. Adapun orang yang melakukan penyelisihian dalam dasar-dasar agama, meskipun dalam satu masalah saja, secara sengaja dan punya niat untuk itu, seperti dalam masalah melihat Alloh di akhirat, atau masalah aqidah yang lain, atau masalah As Sunnah, seperti pendapat bolehnya pemilu, atau demonstrasi, atau hizbiyyah, maka dikatakan bahwasanya mereka itu mubtadi’ah. Demikian pula para anggota jam’iyyat, maka dikatakan bahwasanya mereka itu mubtadi’ah walaupun mereka benci dengan hukum ini…” dst. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/fatwa Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang dikumpulkan oleh Kamal Al ‘Adniy/hal. 32/Darul Kitab Was Sunnah).

Adapun para pelaku kekerasan tadi andaikan mereka tidak melakukannya dengan niat ibadah, akan tetapi mereka melakukannya karena marah demi kelompok mereka, maka inilah ‘ashobiyyah (fanatisme kelompok) yang menjadi ciri yang paling khusus bagi hizbiyyin. Al imam Al Wadi’iy رحمه الله ditanya: “Bagaimana cara memperingatkan para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, yang mana tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?”

Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib” /hal. 112/Darul Atsar).

Asy Syaikh Sholih As Suhaimy -حفظه الله- berkata tentang kelompok-kelompok di medan dakwah,”Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya, mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun di atas loyalitas dan permusuhan” dan seterusnya (“An Nashrul ‘Aziz”)/Asy Syaikh Robi’/hal. 44/Maktabatul Furqon).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Fanatisme terhadap suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh ta’ala dan sunnah Rosul صلى الله عليه وسلم, dan membangun loyalitas dan permusuhan karenanya, maka ini merupakah perbuatan hizbiyyah. ini merupakah perbuatan hizbiyyah sekalipun tidak terorganisir. Engkau membangun pemikiran yang menyimpang, dan mengumpulkan orang-orang di atasnya, ini merupakan hizb, sama saja dia mengorganisir ataukah tidak. Selama mereka itu berkumpul untuk satu orang yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka ini merupakah perbuatan hizbiyyah.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 461/Darul imam Ahmad).

SEORANG HIZBIY ADALAH MUBTADI’

Seorang hizbiy adalah mubtadi’ karena dirinya menyelisihi satu dasar dari dasar-dasar Islam: yaitu kesetiaan kepada Al Jama’ah yang ada dalam penerangan Al Kitab As Sunnah dan As salafiyyah, tidak melakukan loyalitas dan permusuhan kecuali karena Alloh. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Hukum orang yang berloyalitas karena suatu jama’ah dan memusuhi yang lain, maka sungguh dia itu adalah mubtadi’ yang sesat.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Barangsiapa terjatuh ke dalam hizbiyyah tanpa ilmu, tidaklah dikatakan bahwasanya dirinya itu hizbiy karena dia itu bisa jadi belum sampai padanya penjelasan, bukti-bukti ataupun hujjah. Adapun orang yang telah sampai padanya bayyinat dan tegak atasnya hujjah lalu dia menentangnya maka dia itu adalah hizbiy mubtadi’. Dan hizbiyyah itu bid’ah.” (dicatat tanggal 2 Jumadal Ula 1431 H).

Ditanyakan kepada Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Apakah setiap orang yang ada padanya hizbiyyah maka dia itu mubtadi’ dan keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah?”

Maka beliau menjawab: “Iya, dikarenakan hizbiyyah itu dengan sendirinya adalah bid’ah: barangsiapa ridho kepadanya dan berjalan pada tunggangannya, dan baku tolong dengan pelakunya maka dia itu mubtadi’…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 214/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Maka pendapatku adalah bahwasanya setiap hizbiy adalah mubtadi’, mereka mau ataupun tidak mau.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 162/Darul Imam Ahmad).

Yang kami sesalkan, Asy Syaikh Robi’ tidak menghukum kedua anak Mar’i dan pengikut mereka sebagai hizbiy dan mubtad’ bersamaan dengan banyaknya syarat tahzib dan tabdi’ yang ada pada mereka, yang mana dengan sebagian syarat tadi saja beliau menghukum sebagian orang sebagai hizbiy dan mubtadi’.

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kesepuluh: Melaknat kepada orang tertentu sampai bahkan sebagian dari mereka melaknat Abu Hanifah, dan sebagiannya mengkafirkan dirinya.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh lima dari sifat Haddadiyyah adalah: melaknat orang-orang tertentu yang tidak berhak untuk dilaknat. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله jika menyebut Abu Hanifah beliau mendoakan rohmat untuknya, tidak melaknatnya dan tidak pula mengkafirkannya. Saya juga tak pernah mendengar beliau melaknat orang-orang tertentu yang tidak dilaknat oleh Alloh ataupun Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم. Adapun melaknat orang secara sifat, bukan dengan menyebutkan nama, maka hal itu dalil-dalilnya telah terkenal di kalangan Ahlussunnah.

Maka alangkah besarnya penyesalan kepada para pembikin-bikin tuduhan itu, bagaimana mereka menggabungkan Darul hadits di Dammaj dengan Haddadiyyah? Hal ini menunjukkan bahwasanya mereka itu tertimpa musibah dengan sebab jeleknya pemahamansehingga tidak benar-benar memperhatikan karakter Haddadiyyah. Atau disebabkan oleh jeleknya maksud mereka sehingga mereka mengikuti hawa nafsunya dan menentang kenyataan yang sangat jelas. Maka semoga Alloh melindungi kalian dari dibutakan oleh kedengkian.

[Pasal keduabelas: Bermudah-mudahan Dalam Mengkafirkan Orang]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan datanglah Al Haddad kepada perkataan yang benar ataupun salah seraya berkata: “Ini adalah zandaqoh (kemunafikan secara I’tiqodiy)” yang memberikan kesan bahwasanya orang ini takfiriy yang memakai kedok.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Dan seluruh pujian hanya untuk Alloh, tiada pada syaikh kami yang mulia itu رعاه اللهpemikiran takfiriyyah. Beliau juga tidak bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Beliau حفظه الله telah mengulang-ulang perkataan bahwasanya Ahlussunnah itu tidak mengkafirkan seorangpun dari Ahlul Qiblah karena dosa yang dilakukannya, kecuali dosa yang memang mengharuskan pelakunya kafir secara hukum syari’ah, dan dalam pengkafiran itu harus ditunaikan syarat-syaratnya dan disertai dengan hilangnya penghalang-penghalang, dan yang demikian itu diserahkan kepada orang yang alim dalam bab itu. Ini menunjukkan bahwasanya beliau bersungguh-sungguh memperhatikan manhaj Ahlussunnah dalam bab ini –dan bab-bab yang lainnya, dan juga menunjukkan berhati-hatinya beliau dalam memvonis dan memperhatikan akibat-akibatnya.

Adapun Mar’iyyun, maka mereka punya sifat ini: bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Hani Buroik berupaya menisbatkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kepada kemurtadan sebagaimana telah diketahui dalam salah satu ceramahnya.

Basyir Al Hazmiy berkata tentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Dia itu pembohong, fajir, fasiq, lidah kotor, zindiq!” sebagaimana disaksikan oleh saudara kita Samih bin Ali حفظه الله (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 43).

Ali ‘As’us berkata pada saudara kita Haidaroh ‘Azb رعاه الله : “Pada diri Asy Syaikh Yahya ada perkara-perkara kemurtadan” (lihat “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah”/Abu Bakr bin Abdah bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy/hal. 19).

Maka hizb baru ini yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah haddadiyyun. Adapun Ahlu Dammaj yang dituduh dengan dusta oleh beliau sebagai haddadiyyun, maka mereka berlepas diri dari yang demikian itu.

[Pasal Ketigabelas: Kesombongan, Penentangan, Dan penolakan Terhadap kebenaran]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang kesebelas: Kesombongan dan penentangan yang menyebabkan mereka menolak kebenaran sebagaimana seluruh ahlul bida’. Maka seluruh apa yang disampaikan oleh Ahlul Madinah yang berupa penjelasan tentang penyimpangan Al Haddad dari manhaj Salaf, dan mereka tolak. Maka mereka dengan perbuatan seperti ini menjadi termasuk sempalan Islam yang paling jelek secara akhlaq dan pengelompokan”

Komentar saya:

Sesungguhnya orang yang kenal Alloh dengan sebenar-benarnya dia akan merendahkan diri kepada Alloh. Ibrohim رحمه الله berkata: Aku bertanya kepada Al Fudhoil: Apakah tawadhu’ itu? Beliau menjawab: “Yaitu engkau merunduk kepada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau terima kebenaran tadi darinya. Dan sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau terima kebenaran tadi darinya.” (“Hilyatul Auliya”/biografi Al Fudhoil bin ‘Iyadh/3/hal. 392/Dar Ummil Quro/atsar hasan).

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah maka dulunya para imam Salaf yang ilmu dan keutamaan mereka telah disepakatimereka menerima kebenaran dari orang yang mendatangkannya kepada mereka sekalipun dia adalah anak kecil. Dan mereka juga berwasiat kepada para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima kebenaran jika kebenaran tadi muncul dari selain ucapan mereka.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/Majmu’ur Rosail/2/hal. 404/cet. Al Faruq).

Inilah yang kami lihat dari syaikh kami رعاه الله bahwasanya beliau menerima kebenaran sekalipun datang dari anak kecil, bahkan dari musuhnya, karena beliau melihat bahwasanya manusia itu –kecuali orang-orang yang ma’shum- seagung apapun martabatnya, dan setinggi apapun kedudukannya, serta sebanyak apapun ilmunya, dia itu terkadang tahu, dan terkadang tidak tahu, terkadang benar, dan terkadang salah. Oleh karena itulah makanya peringatan itu diterima, dan perbaikan itu disambut baik jika mencocoki dalil-dalil. Dan tak ada seorangpun yang lebih besar daripada kebenaran.

Adapun ucapan yang lemah dan jelas kelemahannya dalam timbangan dalil-dalil maka ucapan tadi tertolak walaupun dinamakan oleh orang yang membawanya tadi sebagai “nashihat”.

Bahkan hizb baru hizb ibnai Mar’i mereka itulah orang-orang yang sombong yang menentang setelah ditegakkannya hujjah-hujjah dan bukti-bukti bersamaan dengan ketidakmampuan mereka untuk meruntuhkannya secara ilmiyyah. Al Imam Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata: “Hanyalah dikatakan ‘inad (penentangan) jika dia telah mengetahui kebenaran dan menyelisihinya.” (“At Taqyid Wal Idhoh”/1/hal. 157)

Maka mereka itulah pengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى﴾ [النجم/23].

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Robb mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

Manakala mereka tidak mau menerima hujjah-hujjah dan tidak mau kembali kepada kebenaran, maka merekapun divonis sebagai mubtadi’ah, sama saja antara pemimpin hizb ataupun para pengekornya. Pembid’ahan terhadap pemimpin hizb itu jelas. Adapun pembid’ahan terhadap pengekornya adalah sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Orang yang bodoh itu wajib untuk kembali dan tidak bersikeras di atas kebodohannya, dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya, karena orang tadi jika tetap demikian maka dia itu adalah mubtadi’ yang bodoh dan sesat.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 682).

Ucapan beliau: “dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya” yaitu: tidak menyelisihi kebenaran yang para ulama Muslimin ada di atasnya. Dan kebenaran itu dikenal dengan kesesuaiannya dengan Al Kitab dan As Sunnah berdasarkankan pemahaman Salaful ummah, dan bukannya sekedar pendapat-pendapat para ulama.

Maka orang yang bodoh tapi menentang kebenaran setelah tegaknya hujjah, maka dia digabungkan dengan pemimpinnya dalam hukum. Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله ditanya: “Apakah orang dari kalangan awam Muslimin yang membawa syubhat-syubhat hizbiyyin dikatakan bahwasanya dia itu hizbiy?”

Maka setelah memuji Alloh dan bersholawat kepada Nabi beliau حفظه الله menjawab: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka. Akan tetapi hendaknya dia dinasihati dulu, dan dijelaskan kepadanya kebenaran, karena orang yang bodoh itu terkadang mengalami kesamaran. Maka hendaknya dijelaskan kepada kebenaran dan diarahkan ke situ. Ini adalah rohmat ulama. Tapi jika dia bersikeras dan tidak mau serta membela ahlul bida’ maka hukumnya sama dengan hukum mereka karena kesepakatan mereka semua untuk memilih kebid’ahan dan mendahulukannya di atas sunnah, dan ini adalah kesesatan yang nyata.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/2/hal. 95/Darul Itqon).

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله juga berkata: “Aku akan menunjukkan kepadamu sebagian alamat yang dengannya seorang hizbiy itu dikenal, sama saja apakah dia itu pemimpin hizb ataupun para pengekornya, adalah sebagai berikut: yang pertama adalah: bergabungnya dia ke dalam jama’ah tertentu yang punya manhaj khusus yang menyelisihi manhaj Salaf Ahlil Hadits wal Atsar, seperti jamaah Ikhwanul Muslimin dan pecahan-pecahannya, Jama’ah Tabligh dan orang-orang yang bergabung bersamanya. Dan pembalasannya demi hizbnya atau jama’ahnya dengan benar atau batil. Yang kedua: Dia duduk-duduk dan berjalan bersama salah satu jama’ah yang tersebut tadi dan yang lainnya dari kalangan orang yang menyimpang dalam aqidah dan amalan, sama saja: mereka itu jamaah ataukah individu, anak buah ataupun pemimpin.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/1/hal. 31-32).

Ini juga sama dengan manhaj syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله . beliau telah ditanya: “Orang awam yang terjatuh ke dalam kebid’ahan dan dia tidak memahami hujjah, maka kapankah dia itu jadi mubtadi’?”

Maka beliau رعاه الله menjawab: “Orang yang tidak paham hujjah hendaknya disikapi dengan sabar. Orang-orang awam merupakan penolong bagi orang yang lebih dulu mengajari mereka. Maka engkau akan melihat mereka itu akan baku tolong dengan setiap penyeru. Dulu mereka baku tolong dengan Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, dan Ali bin Fadhl Al Qurmuthiy. Orang-orang awam terpedaya dengan banyaknya harta dan banyaknya kedermawanan. Sebaik-baik ucapan adalah kisah Qorun. Alloh عز وجل berfirman:

﴿فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ﴾

“Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. Al Qoshshosh: 79).

Maka orang awam hendaknya disabari([5]), lebih-lebih dalam keadaan mereka itu tidak memahami hujjah dan tidak tahu maknanya.Apabila telah dijelaskan kepadanya hujjah, dan jelas baginya perkara tersebut dan dia memahaminya, kemudian dia menentang dan bersikeras untuk itu, maka orang ini digabungkan kepada orang yang dibelanya dengan kebatilan,…” dst. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 23/Darul Kitab Was Sunnah).

Maka hizb baru hizb ibnai Mar’iy telah menentang kebenaran. Maka mereka itu adalah hizbiyyun mubtadi’ah. Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka jika engkau telah telah mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).

Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله ditanya: “Apakah ada perbedaan antara mubtadi’ dalam manhaj dan mubtadi’ dalam perkara ibadah?”

Maka beliau رعاه الله menjawab: “Mubtadi’ adalah mubtadi’. Dantidaklah setiap orang yang terjatuh ke dalam suatu kebid’ahan berarti dia itu mubtadi’([6]). Bisa jadi dia tidak sengaja. Akan tetapi barangsiapa bermaksud dan sengaja untuk menentang kebenaran maka dia itu adalah mubtadi’”. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 27/Darul Kitab Was Sunnah).

KESOMBONGAN ASY SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AL WUSHOBIY DAN PENENTANGANNYA TERHADAP KEBENARAN

Adapun tangisan mereka terhadap Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy: “Mengapa kalian mengkritik beliau?!”

Maka jawabnya adalah: Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy membela Mar’iyyin mati-matian setelah terangnya hujjah-hujjah, dan menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan. Dirinya sendiri telah nampak darinya sebagian penyelewengan, dan tampak kesombongannya kepada kebenaran dan kepada para pemberi nasihat yang benar. Barangsiapa ingin melihat kepada sikap ‘inadnya (penentangan kepada kebenaran setelah datangnya penjelasan) silakan membaca –misalnya- “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah” (hal.29-34) karya Abu Bakr bin Abdah bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy.

Dan lihatlah permainannya dan ‘inad dia dalam kasus tauhidul hakimiyyah.

Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy dalam risalahnya “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” berkata:

Asy Syaikh Al Wushobiy dalam kitabnya “Al Qoulul Mufid” hal. 72 berkata: Pengertian tauhid. Tauhid secara bahasa adalah mashdar dari وحد يوحد yaitu: menjadikan sesuatu menjadi satu. Dan secara syari’ah adalah: penunggalan Alloh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan nama dan sifat-Nya, dan hukum-Nya. Lihatlah: “Majmu’Fatawasy Syaikh Ibnu Baz” (1/hal. 34).

Selesai ucapan Asy Syaikh Al Wushobiy.

Dan ketika muncul kitab ini setelah penelitian ulang dari Asy Syaikh Al Wushobiy dengan beberapa tambahan pada tahun (1422 H) akupun melihat-lihat kitab itu karena Asy Syaikh Al Wushobiy memerintahkannya, di mana beliau berkata dalam salah satu darsnya: “Jika kalian melihat kesalahan apapun dalam kitab ini, maka peringatkanlah diriku, niscaya kalian akan mendapatkan doa dariku.” Dan beliau mengulang ucapan itu lebih dari sekali.

Maka akupun memberanikan diri untuk itu dan mulai melihat-lihat isi kitab itu. Seakan-akan Asy Syaikh Al Wushobiy memberikan isyarat bahwasanya di dalam kitab itu ada perkara-perkara yang beliau berijtihad di situ dari dirinya sendiri.

Lalu mataku tertuju pada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita dalam menyusun kitab-kitab aqidah dan tauhid. Dan penyelisihan yang paling penting adalah: penisbatan ucapan tambahan ini: “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه اللهhingga aku mengira bahwasanya ucapan ini memang diucapkan oleh Al Imam Ibnu Baz رحمه الله sampai-sampai aku disusupi keraguan dan kebimbangan bersamaan dengan keyakinanku akan aqidah Imam tersebut رحمه الله seperti dulunya keyakinanku. Maka aku saat itu juga aku menjulurkan tanganku kepada kitab-kitab Al Imam Ibnu Baz رحمه الله dan aku mengambil jilid yang diisyaratkan dalam kitabnya yaitu (1/34) dari “Majmu’ul Fatawa”, kemudian aku buka halaman yang diisyaratkan padanya dan mulailah aku membacanya. Tapi aku tidak mendapati penisbatan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله. Maka aku sangat heran melihat perbuatan ini dan kelancangan ini. Bagaimana dia punya hak untuk berbuat itu dari dirinya sendiri. Silakan membaca perkataan Al Imam Ibnu Baz رحمه الله secara lengkap. Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata (1/hal. 34):

“Tauhid: mashdar dariتوحيدا وحد يوحد yaitu: وحِّد الله yaitu: yakinilah bahwasanya Alloh itu satu, tiada sekutu baginya dalam rububiyyah-Nya, ataupun dalam nama dan sifat-Nya, ataupun dalam uluhiyyah-Nya dan ibadah kepada-Nya, yang Mahasuci dan Mahatinggi… dan ketika dirinci jadilah jenis tauhid itu ada tiga: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma was sifat. Untuk tauhid rububiyyah kaum musyrikin mengakuinya dan mereka tidak mengingkarinya. Akan tetapi mereka tidak masuk ke dalam Islam dengan tauhid ini…”

Manakala aku memastikan bahwasanya penisbatan ini adalahsusupan dari Asy Syaikh Al Wushobiy, berkumpullah aku dengan beberapa ikhwah dari penuntut ilmu. Asy Syaikh Al Wushobiy mengenali mereka. Aku katakan pada mereka: “Marilah kita pergi menemui Syaikh, mencari kepastian tentang apa yang beliau inginkan dengan penisbatan ucapan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله.”

Kukatakan pada mereka: “Barangkali terjadi salah tulis dari beliau dalam kejadian tersebut, atau hal itu adalah hasil dari ijtihad beliau, sementara ijtihad dalam hal-hal seperti ini adalah tidak boleh secara syari’ah, terutama menisbatkan ucapan yang muhdats kepada para imam yang agung yang memiliki amalan ilmiyyah yang besar.”

Maka kamipun berkumpul dengan Asy Syaikh Al Wushobiy di dalam kamar yang ada di samping mihrob seusai sholat ‘Ashr pada bulan Ar Robi’uts Tsani tahun 1422H dan kami katakan pada beliau: “Wahai syaikh, Anda telah meminta para thullab Anda untuk memeriksa kitab ini, dan barangsiapa mendapati perkara apapun yang perlu diperingatkan hendaknya dia menyampaikannya kepada Anda.”

Maka beliau berkata: “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”

Aku jawab: “Iya syaikh, kami mendapatkan perkara-perkara yang banyak.”

Beliau berkata: “Perkara-perkara apa itu?”

Aku jawab: “Ada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita.”

Lalu aku jelaskan padanya beberapa penyelisihan tadi, hingga kami sampai pada definisi tauhid yang beliau tulis, dan penisbatan ucapan tambahan tadi kepada Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله . kukatakan pada beliau: “Sesungguhnya Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه اللهtidak mengucapkan perkataan yang diisyaratkan kepadanya ini tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Siapakah yang mengabarimu dengan itu?”

Aku jawab: “Saya lihat sendiri perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه اللهdan saya tidak mendapati tambahan tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Apakah engkau sudah memastikannya?”

Aku jawab: “Iya, ini dia kitab beliau ada di tangan saya, saya akan membacakan kepada Anda ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz”.

Kemudian akupun membacakan kepada beliau ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله hingga aku berhenti dari halaman yang diisyaratkan. Lalu aku berkata pada beliau: “Wahai syaikh, di manakah tempat kalimat tadi dari perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله ?”

Diapun terdiam.

Kemudian aku bertanya kepadanya untuk memastikan: “Wahai syaikh, apakah Anda berpendapat adanya tauhid hakimiyyah?”

Maka diapun menjawab: “Iya”

Lalu kutanyakan padanya: “Wahai syaikh, siapakah yang berpendapat seperti itu dari kalangan ulama?”

Dia terdiam lagi.

Dan aku tahu bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy memang berpendapat seperti itu sebelum keluarnya kitabnya tadi. Dulu dia mengulang-ulang seputar “hakimiyyah” pada salah satu darsnya selepas maghrib, kemudian naik di seputar “tauhid hakimiyyah”. Seakan-akan dia memang berkeyakinan seperti itu, sebatas apa yang kupahami dari perkataannya. Kemudian setelah dia selesai berbicara aku bertanya kepadanya: “Apakah tauhid hakimiyyah itu merupakan tauhid yang tersendiri?”

Dia menjawab: “Iya. Dia berhak untuk berdiri sendiri.”

Perkataan ini diucapkannya pada malam Rabu tanggal 6/11/1421H.

Kemudian di akhir pertemuan kami dengan Asy Syaikh Al Wushobiy kukatakan padanya: “wahai syaikh, saya telah bertanya kepada Syaikh kami Sholih As Suhaimiy حفظه الله pada salah satu dars beliau di tanah suci tentang tauhid hakimiyyah, maka beliau berkata padaku: “tauhid hakimiyyah adalah tauhid yang muhdats. Dan yang pertama kali membawanya adalah Al Ikhwanul Muslimin. Dan tidaklah mereka membawanya kecuali untuk mengkafirkan para penguasa dan memberontak pada mereka.”

Dan aku nukilkan kepadanya perkataan “Al Lajnatud Daimah” حفظهم اللهtentang tauhid hakimiyyah. Para ikhwah juga menukilkan padanya beberapa perkataan ulama tentang tauhid hakimiyyah.

Kemudian aku jelaskan juga padanya beberapa perkara yang perlu diperhatikan yang ada dalam kitabnya tadi. Kemudian selesailah pertemuan tadi menjelasng maghrib dengan kesimpulan bahwasanya aku akan menulis kritikan-kritikan tadi dalam selembar kertas aku berikan padanya.

Tapi yang sangat disayangkan: dirinya di dalam dars malam itu aku kira akan memuji para thullabnya yang membantunya di atas kebaikan, ternyata dirinya dalam darsnya mulai berbicara tentang khowarij, menjelaskan sifat-sifat mereka dan bagaimana mereka memberontak pada ulama. Dan dia mulai menyerupakan kami dengan mereka. Bahkan dirinya menjadikan dars malam itu semuanya adalah tentang khowarij. Inilah doa yang dijanjikannya kepada kami!!!

Maka tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

﴿ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين﴾.

“mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Sampai-sampai salah seorang sahabatku memandang wajahku dan tersenyum seraya memberikan isyarat dengan kepalanya bahwasanya dirinya menyesalkan perbuatan Asy Syaikh Al Wushobiy. Seusai dars mulailah aku menenangkan sahabatku dan aku redakan kemarahannya sedikit demi sedikit. Kukatakan padanya: “barangkali syaikh berijtihad dalam memvonis kita tadi.” Lalu kami saling berwasiat untuk bersabar, dalam keadaan aku tahu bahwasanya syaikh ini adalah orang yang sombong dan tidak menyukai kebenaran.”([7])

Kemudian aku menulis koreksian yang dimintanya dariku tadi lalu aku berikan kepadanya setelah empat hari, dan di dalamnya tertulis kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kitab tadi.

Setelah satu pekan datanglah kepada syaikh pertanyaan-pertanyaan dari Britonia, yang mana di antara soal-soal tadi ada pertanyaan yang terkait dengan tauhid hakimiyyah. Maka syaikh menjawab bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Yang lebih berat dari itu adalah bahwasanya dia menisbatkan perkataan tadi kepada Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy –semoga Alloh merohmatinya- dan bahwasanya beliau juga berkata demikian.

Pada hari kedua aku dikabari tentang hal itu, dan bahwasanya syaikh Wushobiy berfatwa bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Maka aku terheran-heran dengan amat sangat dari orang ini. Bagaimana dia bisa berfatwa di hadapan manusia dalam keadaan kami telah menjelaskan kepadanya bahwasanya perkataan ini adalah ucapan ahlul bida’ dari kalangan Ikhwaniyyah, Sururiyyah dan Quthbiyyah?

Jawaban dia terhadap pertanyaan dari Britonia itu terjadi pada dars Zhuhur, yang mana mayoritas waktu untuk menjawab pertanyaan adalah pada waktu tadi. Lalu aku datang pada hari kedua pada dars Zhuhur, dan seakan-akan syaikh mengetahui sebab kehadiranku karena aku tidak biasa hadir pada dar zhuhur. Pada akhir dars dia menanyai seorang murid seraya berkata: “Apakah tauhid hakimiyyah termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri?” tidaklah dia menanyainya –demi Alloh- kecuali karena diriku, dan aku tahu itu.

Maka si murid menjawab: “Iya”

Syaikh bertanya padanya: “Siapakah dari ulama yang berkata demikian?”

Si murid menjawab: “Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy([8])”

Maka akupun menjadi sangat marah karena hal itu. Seakan-akan syaikh sengaja terang-terangan dengan bid’ah ini bahkan mengajak manusia kepadanya, bahkan mendiktekannya kepada para muridnya, serta berkata dusta atas nama ulama, terkadang terhadap Al imam Ibnu Baz dengan tulisan, dan terkadang terhadap Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy dengan dikte lisan. Dan aku tak sanggup menahan diriku lagi dari kemarahanku.

Maka akupun mengangkat tanganku dan berkata kepada syaikh: “Sesungguhnya tauhid hakimiyyah tidak termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri.”

Dia menjawab: “Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy berkata demikian.”

Kukatakan padanya: “Di manakah beliau berkata yang demikian?”

Dia menjawab: “Dalam kitab “Haqiqotusy Syuro Fil Islam” hal. 11”

Kukatakan: “Wahai syaikh, sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله dalam kitab itu membantah para Harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya hakimiyyah itu harus diterapkan di segenap ruang kehidupan dunia dan agama.”

Maka dia berkata padaku: “Bahkan beliau berkata yang demikian. Rujuklah kembali kitab itu.”

Ketika aku pulang ke rumah, dan kitab itu ada padaku –segala pujian dan karunia adalah milik Alloh- aku memperolehnya sebagai hadiah dari Ali bin Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله . Kemudian aku bolak-balik kitab itu dengan halaman yang diisyaratkan oleh lidahnya. Maka aku dapati bahwasanya perkataan beliau beda dengan apa yang diaku-aku oleh Asy Syaikh Al Wushobiy yang mana Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya hakimiyyah dalam Islam hanyalah milik Alloh semata. Dan inilah yang diimani oleh setiap muslim yang berakal yang belum berubah fitrohnya dengan pemikiran Barat dan Timur, Karena tauhid hakimiyyah adalah tauhid tasyri’ itu sendiri. Dan dia itu adalah jenis dari tauhidul ibadah, maka tiada ibadah kecuali kepada Alloh. Maka tiada hakimiyyah kecuali milik Alloh satu-satunya, bukan milik satu individu atau satu partai atau suatu bangsa.”

Inilah beliau Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه اللهmembantah harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya tauhid hakimiyyah yang mereka bikin-bikin itu hanyalah masuk ke dalam tauhid uluhiyyah, dia adalah bagian darinya, dan bukan tauhid yang tersendiri. Inilah yang benar, dan inilah perkataan seluruh ulama kita secara ijma’.

Maka di manakah pemahaman Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy terhadap perkataan Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله hingga dia menisbatkan kepada beliau perkataan yang muhdats ini, bahkan menyebarkannya di antara para pelajar. Bahkan sampai ke tingkatan dunia sebagaimana dalam kaset “Al Asilatul Brithoniyyah”. Maka tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

سارت مشرقة وسرت مغرباً شتان بين مشرق ومغرب

“Dia berjalan ketimur, dan aku berjalan ke barat. Alangkah bedanya antara orang yang ke timur dengan orang yang ke barat.”

Kemudian aku tinggal selama satu setengah tahun dalam keadaan menutup mulut sambil menunggu bahwasanya syaikh akan mengumumkan rujuknya dan berpalingnya dari pemdapat yang tidak diucapkan oleh Ahlussunnah itu. Kemudian Alloh ta’ala menghendaki ketika aku ada di madinah nabawiyyah untuk aku pergi ke maktabah Ibnu Rojab, maka mataku tertuju pada suatu kitab yang mengurusi kasus ini. Dan Alloh tahu bahwasanya aku merasa gembira dengan amat sangat karena aku ingin menjelaskan pada syaikh ucapan-ucapan para ulama kita dalam masalah ini, dan bahwasanya ucapan tadi adalah perkataan ahlul bida’ orang-orang yang memiliki manhaj-manhaj politik takfiriyyah yang menyimpang.

Tidak lama kemudian akupun tiba di Yaman pada bula Ar Robi’ul Awwal tahun 1424 H, maka aku datang dengan membawa kitab tadi kepada Asy Syaikh Al Wushobiy, lalu kukatakan padanya dengan segenap adab, rasa malu dan penghormatan, di antaranya kukatakan padanya: “Wahai syaikh, sudahkah Anda membaca kitab ini?”

Dia melihat kitab ini dan berkata padaku: “Belum”.

Maka kukatakan padanya: “Jika demikian maka bacalah kitab ini, niscaya Anda akan mendapatkan di dalamnya ucapan-ucapan para ulama tentang masalah tauhid hakimiyyah. Nama kitab ini adalah: “Al ‘Ulama Yatawallauna Tafnidad Da’awis Siyasiyatil Munharifah Li Abdirrohman Abdil Kholiq Khoshshotan Taqsimuhut Tauhid Ila Arba’ati Aqsam.” (artinya adalah: para ulama mengurusi penghancuran da’wa politis yang menyeleweng milik Abdirrohman Abdil Kholiq khususnya pembagiannya tauhid menjadi empat macam).

Alangkah seringnya aku berharap bahwasanya syaikh mau mengumumkan taroju’nya ketika mendapati ucapan para ulama besar kita, akan tetapi sungguh disesalkan: kitab itu tinggal bersamanya selama hampir dua pekan, lalu dia memberikannya kepada teman dekatku untuk memberikannya kepadaku, dan dia tak mau berbicara satu kalimatpun seputar bab ini.

Yang lebih berat dan lebih pahit lagi dari itu tadi: kitab “Al Qoulul Mufid” telah dicetak lagi setelah cetak yang terakhir itu, dan tetap saja syaikh bersikeras untuk menisbatkannya perkataan “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله padahal tidaklah tersembunyi kerusakan-kerusakan besar yang diakibatkan oleh perkataan bohong atas nama ulama dan penisbatan ucapan yang muhdats kepada mereka, karena perkataan bohong atas nama ulama adalah tunggangan kepada kebinasaan. Bisa jadi umat menyeleweng disebabkan oleh perkataan bohong atas nama ulama tadi. Dan bisa jadi terbukalah pintu bagi ahlul bida’ dengan melariskan kebatilan dan khurofat mereka. kalaupun itu semua tidak terjadi kecuali bahwasanya ahlul bida’ akan berdalilkan dengn itu tadi bahwasanya masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah, dan janganlah engkau bertanya tentang apa yang akan terjadi berupa pengkaburan terhadap orang-orang bodoh, bahkan terhadap sebagian ahlul ilmi dengan sebab tadi.

Maka lihatlah orang ini yang ingin mencelaki aqidah Ahlussunnah dengan kebutaan ahlul bida’. Jika Asy Syaikh Al Wushobiy lancang seperti ini yang belum ada yang mendahuluinya untuk berbuat itu, maka di manakah dakwaannya untuk mengikuti manhaj Salaf? Jika dia adalah pengikut sunnah, maka kenapa sikap ittiba’nya tadi tidak menghalanginya dari perkataan bohong atas nama ulama-ulama besar tadi yang mereka itu berdiri tegak bagaikan gunung yang megah di depan fitnah-fitnah yang hampir saja menyapu umat?

Maka berapa banyaknyakah ucapan-ucapan yang dusta yang menyeret ulama yang banyak kepada penyelewengan, terutama jika perkataan dusta dan dibikin-bikin tadi dinisbatkan kepada tokoh yang punya kedudukan tinggi di tengah-tengah umat seperti Al Imam Ibnu Baz رحمه الله . Ketahuilah: Maka hendaknya Asy Syaikh Al Wushobiy bertaqwa kepada Alloh dan hendaknya dia menjadikan firman Alloh ta’ala: ﴿ستكتب شهادتهم ويسألون﴾

“Persaksian mereka akan dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban”

Sebagai peringatan yang terpancang di depan mata mereka.

Dan hendaknya dia ingat juga dengan firman Alloh ta’ala: ﴿ألم يعلم بأن الله يرى ﴾.

“Tidakkah dia mengetahui bahwasanya Alloh itu melihat?”

Demikianlah kisah dari Abur Robi’ Muhammad Al Qulaishiy حفظه الله. Kemudian beliau berkata:

Dan yang amat sangat mengherankan lagi: bahwasanya diriku sebelum dua tahun, dan ketika itu adalah tahun 1428 H ketika terjadi perselisihan antara diriku dan dirinya, dan dia menuduh diriku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah (sebagaimana diaku-akunya) aku katakan pada sebagian muridnya: “Jika syaikh menuduhku bahwasanya aku itu munafiq, dan bahwasanya aku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah maka sesungguhnya apa yang ada pada syaikh itu lebih besar daripada apa yang ada pada diriku, karena syaikh menuduh para ulama sebagai mata-mata, dia juga bohong atas nama Asy Syaikh Ibnu Baz, dan dia juga mulai bepergian ke para hizbiyyun, berceramah di sana dan memerintahkan para murid untuk berbuat demikian,…”

Maka si murid tadi pergi dan mengabarkan hal itu pada syaikh, ternyata syaikh mengingkari dan berkata padanya: “Kapankah aku berpendapat tentang tauhid hakimiyyah?!”

Maka si murid berkata: “Dia berkata bahwasanya Anda mengatakan itu dalam kitab Anda dan Anda nisbatkan kepada Asy Syaikh Ibnu Baz.”

Maka diapun mengambil kitab itu dan melihat ke dalamnya, ternyata dia harus berhadapan dengan hakikat([9]). Apa yang dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya?! Dia melihat ke kitab tadi lalu berkata pada murid tadi: “Aku berkata: “lihatlah” dan aku tidak berkata: “Sebagaimana dalam jilid tersebut” (!!!).

Ketika murid tadi datang kepadaku dan menyebutkan padaku hal itu maka akupun tertawa banyak-banyak dan kukatakan padanya: katakan pada beliau: “Wahai syaikh Muhammad, Anda itu berbicara dengan orang dari Arob dan hidup di Madinah, Anda tidak sedang berbicara dengan orang ‘Ajam yang hidup di Pakistan atau di sebagian negri Afrika.”

Maka lihatlah wahai umat Muhammad kepada perbuatan yang mengherankan ini dengan sebenar-benarnya, apakah hal itu pantas untuk dilakukannya sebagai mufti?!

Kukatakan: ini adalah perbuatan dari Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dalam mensikapi nasihat para penasihat, sangat kita sesalkan.

Wahai syaikh Muhammad وفقك الله, Andalah yang berkata dalam “Nashihah Tasu’a”: Tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak memberikan nasihat pada kami. Dan tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima kebenaran, dan jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mau mencurahkan nasihat.”

Anda juga berkata dalam kaset Syabwah “Wujubut Tamassuk Bil Kitab Was Sunnah”: “Jika engkau mau memberikan hadiah nasihat yang tepat pada tempatnya kepada seorang alim Sunniy maka hal itu lebih utama baginya daripada satu gallon madu, satu gallon madu, dari jenis madu yang terbaik. Yang demikian itu dikarenakan satu gallon madu itu akan dimakannya, lalu pergi bersamanya masuk kamar kecil. Akan tetapi nasihat ini, bagi orang yang cintai ilmu, cintai kebaikan, dan cinta sunnah, dia akan berkata: Nasihat ini lebih bermanfaat bagiku daripada satu gallon madu, sekalipun nasihat tadi ada dalam selembar kertas kecil sebaris dua baris.”

Alangkah bagusnya ucapan ini wahai syaikh Muhammad وفقك اللهakan tetapi mana penerapanmu terhadap apa yang engkau ucapkan?!! Berbagai nasihat telah datang kepadamu berturut-turut, wahai syaikh Muhammad, dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan dari sekelompok penuntut ilmu, akan tetapi yang disesalkan adalah engkau tidak mengambil manfaat darinya.

﴾selesailah penukilan dari risalah “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” karya Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy حفظه الله.

Lihatlah kepada penetapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy tauhid hakimiyyah sebagai tauhid yang tersendiri, pada itu adalah termasuk syi’ar khowarij yang terkenal. Dan para ulama telah menghukumi bahwasanya pembagian yang tersendiri itu adalah bid’ah, karena dia adalah penambahan pada agama ini. Dan mencocoki kondisi dirinya apa yang diucapkan oleh Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu- berkata: “Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas bid’ah itu kembali kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka perhatikanlah dia dengan adil, dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya. Kedua perkara yang batil ini adalah:

– penambahan terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak disebutkan oleh Alloh dan para Rosul-Nya –‘alaihimus salam- yang berupa urusan agama yang besar yang wajib,

– ataupun juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dengan suatu pena’wilan yang batil.”

(“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 85).

Dan salafiyyun tidak mengetahui ada seorangpun yang mengangkat syi’ar hakimiyyah tadi kecuali bahwasanya dirinya itu dari hizbiyyin harokiyyin.

Dan lihatlah kepada kesombongan dan ‘inad tadi. Dan telah lewat penjelasan bahwasanya barangsiapa menentang kebenaran dan menyombongkan diri terhadapnya maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’.

Maka kesimpulannya adalah: Tentu saja tidak ada orang yang ma’shum dari kesalahan sekarang ini, akan tetapi sungguh Ahlussunnah di Darul Hadits di Dammaj secara umum والحمد لله telah diberi taufiq oleh Alloh untuk tawadhu’ kepada Alloh, untuk menerima kebenaran dan menjauh dari sikap ‘inad. Dan sebagaimana mereka melaksanakan Kitabulloh dan Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم, demikian pula mencocoki apa yang dilakukan oleh Ubaidulloh bin Hasan رحمه اللهdalam menaati kebenaran jika telah datang.

Al Imam Ibnu Mahdi رحمه الله berkata: Dulu kami pernah menghadiri jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim. Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di sekeliling beliau. Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan. Ternyata dia menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian. Hanya saja aku tidak ingin membantahnya. Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu kecil. Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada aku menjadi kepala dalam kebatilan.” (“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308)([10]).

Hal ini berbeda dengan Mar’iyyun Barmakiyyun tersebut. Mereka itulah yang berhak untuk digabungkan dengan Haddadiyyah dalam bab ini karena penentangan mereka terhadap kebenaran. Setiap kali mereka kalah di hadapan kekuatan hujjah-hujjah Salafiyyun, bukannya mereka itu tunduk, bahkan mereka lari kepada salah seorang syaikh, kemudian mereka memenuhi hatinya dengan kemarahan kepada Salafiyyun hingga bangkitlah syaikh yang tertipu ini untuk melawan kebenaran yang telah terang. Ketika syaikh tadi tak sanggup menghadapi hujjah-hujjah Ahlul Haq pindahlah Mar’iyyun kepada syaikh yang lain dan berbuat sebagaimana mereka perbuat pada syaikh yang sebelumnya, dan demikianlah mereka lakukan berulang-ulang. Tidak ada pada mereka kesiapan untuk merunduk kepada kebenaran. Yang ada pada mereka hanyalah hawa nafsu yang memimpin mereka untuk menjadi sombong dan mengadu domba di antara para ulama sebagaimana yang dilakukan oleh Haddadiyyun. Ya Alloh, bukalah mata para masyayikh itu agar tahu siapa mereka, dan siramilah mereka dengan hujan ketaqwaan dan ketawadhu’an untuk menerima kebenaran dan agar mereka tidak menjadi orang-orang yang sombong dan dengki.

[selesailah seri kesembilan dari rangkaian terjemah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah” , pada seri kesepuluh إن شاء الله kita akan membahas kepura-puraan Haddadiyyun menempel pada kebesaran nama Al Imam Ahmad]


([1]) Catatan penerjemah وفقه الله: Sungguh mereka itu membenci Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy, Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibby, Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim Al Hajury, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury, Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromy, Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Ba’dany, Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy, Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, Asy Syaikh Abul Yaman ‘Adnan Al Mishqoriy, Asy Syaikh Abu Mu’adz Husain Al Hathibiy, Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudy, Asy Syaikh Abdul Wahhab Asy Syamiri, dan yang lainnya dari kalangan masyayikh markiz induk Darul Hadits di Dammaj –semoga Alloh menjaga mereka semua-.

Demikian pula mereka membenci Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’any (Salah satu penegak dakwah Salafiyyah di Shon’a). Seperti itu pula Syaikh Ahmad bin ‘Utsman Al ‘Adny (di propinsi ‘Adn). Dan juga Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Ad Duba’y (di Mukalla) dan mereka berupaya keras untuk menyakiti beliau, Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryany (dulu di Baidho, lalu mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid tempat beliau berdakwah), demikian pula Syaikh Abu Bakr Abdurrozzaq bin Sholih An Nahmi (beliau menegakkan dakwah dan pendidikan umat di propinsi Dzammar) mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid beliau. Demikian pula Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy (di Hadhromaut), Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy (di propinsi Ta’iz), dan Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al Mishriy (di Mesir), serta Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy (di Yordan), dan ulama yang kokoh yang lain حفظهم الله.

([2]) HR. Muslim nomor (976)

([3]) Catatan penerjemah: Yaitu: jika ucapan tadi tidak sampai menyelisihi suatu sunnah atau ijma’

([4]) Catatan penerjemah: Yaitu: sisi yang kedua

([5]) Ucapan Abu Fairuz: Lihatlah, -semoga Alloh memberikan taufiq kepada kalian- kepada kesabaran Asy Syaikh Yahya, bukannya seperti apa yang digambarkan oleh sebagian orang-orang yang zholim.

([6]) Ucapan Abu Fairuz: Ini menunjukkan bahwasanya syaikh kami ini tidaklah di atas jalan haddadiyyah, karena Haddadiyyah itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Mereka berpandangan bahwasanya setiap orang yang terjatuh kedalam kebid’ahan adalah mubtadi’.”

([7]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Sesungguhnya orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya justru dijadikannya sebagai musuh. Dan dia mulai menjatuhkan sang penasihat tadi di mata manusia. Sama saja, dengan membongkarpasang berita tentang dirinya, ataukah dengan tuduhan-tuduhan dengan perkara-perkara yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk memerangi orang yang menasihatinya, sebagaimana hal itu telah dikenal darinya, tapi Asy Syaikh Al Wushobiy datang dengan bentuk sebagai pemberi nasihat yang penuh kasih sayang!

﴿أم حسب الذين في قلوبهم مرض أن لن يخرج الله أضغانهم ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم ولتعرفنهم فيلحن القول والله يعلم أعمالكم﴾.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad: 28-29)

([8]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Lihatlah bagaimana si murid mengambil faidah dari fatwa syaikh al ‘allamah!!!

﴿وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما ألفينا عليه آباءنا أولو كان آبائهم لا يعلمون شيئاً ولا يهتدون﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan oleh Alloh, mereka berkata: “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami ada di atasnya”. Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun bapak-bapak mereka tidak mengetahiu sedikitpun dan tidak berakal?”

([9]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: padahal dia sudah tahu itu, akan tetapi dia berbuat itu seakan-akan dia tidak tahu itu, untuk memberikan kesan pada orang yang ada di sekitarnya bahwasanya dirinya terkejut akan hal itu.

([10]) Sanadnya hasan, karena Ahmad bin Muhammad Al ‘Utaiqiy shoduq. Demikian juga Al Husain ibnul Hasan Al Marwaziy. Para rowi yang lain tsiqot. Silakan rujuk kembali catatan kaki dari kitab yang asli (“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”).