Karakter Haddadiyah Dalam Diskusi Ilmiyyah 

ke 10

(Komentar terhadap isi Kitab “Khuthurotul hadda.diyyatil Jadidah Wa Aujuhusy Syabah Bainaha Wa Bainar Rofidhoh” dan Kitab “Manhajul Haddadiyyah” dan Ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Pada Akhir Tahun 1432 H)

 

Diperiksa Oleh:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

عفا الله عنه

Pengantar Penerjemah

 

الحمد لله وأشهد لأ إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صلى وسلم على محمد آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Dengan pertolongan Alloh semata kita akan memasuki seri kesepuluh dari terjemah kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”. Pada kesempatan ini kita akan membahas kepura-puraan Haddadiyyun menempel pada kebesaran nama Al Imam Ahmad, dan kemiripan Mar’iyyun dengan mereka.

Kemudian membahas hubungan sebagian haddadiyyun dengan para hizbiyyin dan orang-orang fasiq.

Kemudian kita masuk akhir tulisan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat Haddadiyyun, tuntutan beliau kepada Abul Hasan yang menuduh Salafiyyun sebagai haddadiyyun, dan nasihat-nasihat beliau kepada para Salafiyyun. Dan para pembaca akan melihat –dengan taufiq dari Alloh- bagaimana tanpa susah payah kalimat-kalimat tadi berbalik kepada orang yang mengucapkannya.

Kemudian penjelasan bahwasanya tuduhan-tuduhan Mar’iyyun terhadap Salafiyyun Dammaj kebanyakannya berbalik kepada mereka sendiri. Dan memang benarlah ucapan ulama bahwasanya ahlul bida’ itu jika berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, dalil-dalil tadi justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.

Kemudian penjelasan para ulama bahwasanya barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian dia mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’.

Kemudian kita masuk pada Bab Lima: Kezholiman Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj Sebagai Haddadiyyun. Penjelasan tentang makna “baghyu”, hukumnya dan bahayanya. Dan berisi pembelaan Fadhilatusy Syaikh Al Mufti Ahmad An Najmiy رحمه الله untuk Ahlu Dammaj sepeninggal Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Kemudian kita masuk pada Bab Enam: Apakah Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai Merobek Dakwah?

Kemudian kita masuk pada Bab Tujuh: menolong Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid

Kemudian saya sebutkan peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” di Lahj, yang mana Kisah nyata ini memberikan faidah ilmu tentang penyelewengan Mar’iyyun, bagi orang yang punya mata hati. Adapun bagi orang yang telah dibutakan oleh ta’ashshub dan kedengkian, maka ayat-ayat itu tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang tidak yakin, sekalipun telah datang pada mereka seluruh ayat.

Juga berisi pembahasan tentang hakikat ilmu. Dan bahwasanya Ahlu Dammaj dalam fitnah ini benar-benar di atas ilmu dan hujjah.Bahkan hizb Mar’iyyah yang menuduh Ahlussunnah di Dammaj dengan Haddadiyyah, mereka itulah yang berdiri di atas dugaan dan persangkaan semata, tanpa bayyinah.

Saya cukupkan sampai di sini kata pengantar ini, dan seri kesepuluh ini adalah akhir dari rangkaian terjemahan kitab ini. tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh. Dan segala pujian hanyalah milik Alloh saja.

Perlu saya tambahkan bahwasanya terjemahan ini adalah terjemahan dari risalah yang selesai saya perbaiki pada tanggal 25 Syawwal 1432 H. adapun jika di kemudian hari saya memandang ada yang perlu saya rubah atau saya sesuaikan, maka itulah yang إن شاء اللهakan saya lakukan demi mengurangi kesalahan yang pasti ada.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ [إبراهيم/41]

Ya Robb Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

 

Selamat menyimak, semoga Alloh memberkahi kita semua.

 

 

 

[Pasal Kelimabelas: Pura-pura Menempel Pada Kebesaran Nama Al Imam Ahmad]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Yang keduabelas: mereka dulu sering menempel pada kebesaran nama Al Imam Ahmad. Manakala dijelaskan penyelisihan Al Haddad terhadap Al Imam Ahmad dalam mensikapi ahlul bida’ mereka mengingkari hal itu dan menuduh orang yang menisbatkan yang demikian itu kepada Al Imam Ahmad. Kemudian Al Haddad berkata: “Kalaupun hal itu shohih dari Al Imam Ahmad, maka kita tidaklah membebek kepada beliau.” Mereka itu tidaklah mencintai kebenaran dan tidak pula mencari kebenaran. Mereka itu hanyalah menginginkan fitnah dan merobek Salafiyyin.”

Komentar saya:

Sekedar penisbatan suatu kelompok kepada seorang tokoh yang agung, atau mengklaim bahwasanya beliau itu termasuk dari mereka tanpa mau mengikuti jalan beliau yang mencocoki kebenaran tidaklah cukup. Dulu Ahlul Kitab menisbatkan diri mereka kepada Bapak para Nabi, yaitu Ibrohim sang kekasih عليه السلام. Maka penisbatan mereka itu tidak bisa menolong mereka dari adzab Alloh manakala mereka menyelisihi jalan beliau.

Alloh ta’ala telah membantah penisbatan mereka yang bohong tersebut dengan berfirman:

﴿أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ الله وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ الله وَمَا الله بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/140].

Ataukah kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Alloh, dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Alloh yang ada padanya?” dan Alloh sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan.”

Juga berfirman:

﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَالله وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [آل عمران/67، 68].

Ibrohim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Alloh adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala mensucikan Ibrohim dari pengakuan-pengakuan dusta mereka, dan Dia menjelaskan bahwasanya beliau itu ada di atas Hanifiyyah (memusatkan perhatian pada Alloh dan berpaling dari selain-Nya) Islamiyyah, dan beliau itu bukanlah seorang musyrik.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/4/hal. 109).

Karakter Haddadiyyah yang busuk itu memang demikian, mereka menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih, padahal alangkah besarnya perbedaan antara orang yang ke timur dengan orang yang ke barat. Dan demikianlah sifat Mar’iyyin: mereka menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih, tapi manakala dijelaskan pada mereka prinsip-prinsip Salafiyyah yang mereka selisihi, mereka tak mau kembali. Mereka juga menempelkan diri kepada Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله, tapi manakala dijelaskan pada mereka penyelisihan mereka terhadap jalan agama beliau, mereka tak mau kembali. Mereka juga bersembunyi di balik Asy Syaikh Robi’ وفقه الله, tapi manakala para salafiyyun membantah mereka dengan ucapan-ucapan beliau yang jelas, dan salafiyyun menjelaskan pada mereka penyelisihan mereka terhadap jalan agama beliau dan manhaj beliau, mereka tak mau bertobat dan tak mau kembali.

Adapun syaikh kami dan ulama sunnah yang bersama beliau, mereka semua menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih dengan jujur, mereka menimbang aqidah, ucapan, perbuatan dan keadaan dengan apa yang dulunya generasi yang utama itu ada di atasnya. Mereka juga kembali kepada kebenaran walaupun terasa pahit. Dan tiada seorangpun kecuali bisa diambil ucapannya ataupun ditolak, kecuali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Adapun ‘inad terhadap kebenaran maka sungguh hal itu adalah sebab kerusakan di tengah-tengah makhluq.

Setiap orang bisa saja menisbatkan dirinya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Tapi jika datang ujian, terpisahlah emas dari kuningan. Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 751).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله menyitir penggalan bait:

ومن تزيا بغير ما هو فيه فضحته شواهد الامتحان. (“غارة الأشرطة”/1/ص537).

“Dan barangsiapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan menyingkapkan jati dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 537).

[Pasal keenam Belas: Mereka Memiliki Hubungan Dengan Hizbiyyin]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Bersamaan dengan berdalam-dalamnya Haddadiyyun untuk perkara tadi, para Salafiyyun melihat adanya hubungan-hubungan sebagian mereka dengan para hizbiyyin, dan sebagian mereka berhubungan dengan orang-orang fasiq pada waktu yang mana saat itu mereka memerangi Salafiyyin dan meluapkan dendam yang amat sangat pada mereka. Barangkali mereka menyembunyikan kejahatan yang banyak. Alloh sajalah yang paling tahu tentang apa yang mereka rencanakan.

Catatan saya:

Demikianlah karakter Ahlul Kitab dan Ahlul Batil sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى﴾ [الحشر/14]

Engkau mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka itu berselisih.”

Qotadah رحمه الله berkata tentang tafsir ayat ini: “Engkau akan mendapati ahlul batil itu persaksian mereka berbeda-beda, hawa nafsu mereka berbeda-beda, perbuatan mereka juga berbeda-beda, akan tetapi mereka bersatu untuk memusuhi ahlul haq.” (“Tafsir Ath Thobariy”/23/hal. 292/Darut Tarbiyyah Wat Turots)(1).

Para hizbiyyun juga memiliki akhlaq ini. Mereka sanggup untuk bersatu dengan makhluq yang paling jahat untuk memukul Ahlussunnah.

Yang berlangsung pada Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله adalah kumpul-kumpulnya dia bersama sebagian hizbiyyin dan upayanya untuk mendekatkan sebagian hizbiyyin yang lain:

Pertama: Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله dalam ceramah-ceramahnya memanggil dan berkumpul bersama Ali Al Hudzaifiy, padahal orang ini adalah seorang hizbiy yang telah di-jarh oleh Al Imam Al Wadi’iyرحمه الله.

Kedua: upayanya mendekati Sholah Ali Sa’id yang dulu bersama Abul Hasan dan tidak nampak darinya tobat, dan dulu dia ini mencerca sebagian ulama. (lihat satu dan dua ini di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13/ Kamal Al ‘Adniy).

Ketiga: Upayanya untuk berkumpul dengan Jalal bin Nashir, padahal Al Imam Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله telah mengkritiknya, dan dia itu masih ada pada thobaqot pengikut Abul Hasan. (Bacalah beritanya di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13).

Keempat: Dia menjadikan Abdul Ghofur bin ‘Ubaid Asy Syarjiy Al Lahjiy sebagai sahabat kepercayaannya. Saya harus menyingkap keadaannya dikarenakan tertipunya kebanyakan Salafiyyun dengannya.

Orang ini dulu terdidik di kalangan hizbiyyin di Jami’ud Da’wah Shon’a. dia dulu adalah murid setia dari Abdul majid Ar Roimiy hizbiy (sururiy). Dulu Abdul Ghofur Al Lahjiy termasuk pembawa bendera Jam’iyyatul Hikmah untuk menentang Ahlussunnah. Dia punya penipuan dan pengkhianatan serta penipuan dalam kasus pembelian tanah di wilayah “Wahth” di Lahj yang menunjukkan rakusnya dia terhadap dunia, pengkhianatan, lemahnya kejujuran sampai-sampai orang awampun bersaksi yang demikian. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Akh Husain bin Thoha Al Lahjiy juga bersaksi bahwasanya dirinya itu tak bisa dipercaya. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 8).

Dia juga suka menghinakan orang-orang. Salah seorang tetangganya yang Salafiy telah menulis beberapa pengaduan dan keluhan akan gangguannya. Dia juga terkenal suka menjilat kepada ulama. (“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Dia juga melakukan berbagai tipu daya untuk mengambil harta milik orang lain atas nama pembangunan masjid. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 9).

Dia juga melakukan kezholiman yang besar dalam kasus pembangunan masjid “Al Musawiy” (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2).

Dia juga melakukan kebatilan yang hina sekali untuk menjatuhkan imam masjid “Al Khothib” yaitu saudara kita Muhsin Labbah (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 4), dan (“Tanbihus Sajid”/hal.3).

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga imam di suatu masjid yang di situ seorang wanita hizbiyyah mengajar. Wanita ini adalah istri Ahmad bin Ubaid, saudara Abdul Ghofur Al Lahjiy. Ahmad bin Ubaid ini adalah anggota Jam’iyyatul Ihsan dan duduk-duduk dengan hizbiyyin. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.4).

Orang ini dulu juga termasuk anggota “Baroatudz Dzimmah” dan jam’iyyatul Hikmah.

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga telah membikin beberapa makar untuk menjatuhkan imam masjid “Sholahuddin”. Masjid ini dulu termasuk masjid Ahlussunnah yang paling terkenal di sana, imamnya terkenal berpegang teguh dengan sunnah dan keras terhadap hizbiyyin. Sekarang imamnya adalah seorang Hasaniy (pengikut Abul Hasan Al Mishriy yang telah ditabdi’ oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy), ipar masjid ini adalah kepala jam’iyyah. Masjid ini sekarang menjadi tempat ceramah Hasaniyyun, dan mereka menolak saudara kita Sami Dzaiban (da’i sunnah di ‘Adn) untuk berceramah di situ. Ketika Abdurrohman Al ‘Adniy datang memberikan ceramah di situ merekapun menyambutnya dengan hangat dan gembira seraya berkata: “Wahai syaikh, di manakah Anda selama ini?” (berita dari saudara kita Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله ).

Termasuk dari kebatilan Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga adalah apa yang akan disebutkan oleh saudara kita Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : Abdul Ghofur berkata kepadaku –dan hanya Alloh yang ada di antara kami berdua saat itu-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah? Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melarang kedatangan masyayikh dari Saudi.” Kukatakan padanya: Siapakah yang mengabarimu? Dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku hal itu.” Kemudian Abdul Ghofur juga berkata: “Bahkan dakwah Asy Syaikh Muqbil juga ada kritikan tentangnya.” (persaksian Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy di hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar saat dars antara maghrib dan ‘Isya).

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga sangat gigih dalam membela ahlul batil dan membela hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adniy.

Bacalah berita tentangnya di “Silsilatun Nushhu Wal Bayan” ((seri 1,2,3) karya Abul Hasan Ihsan bin Abdillah Al Lahjiy), dan juga “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 32/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy az Za’kariy), dan “Al Muamarotul Kubro” (hal. 26/karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy).

Kelima: bersatunya Abdurrohman Al ‘Adniy dengan saudaranya: Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy. Untuk pengkhianatan orang ini terhadap da’wah telah ada risalah-risalah bantahan yang banyak.

Ini tadi adalah penyerupaan Abdurrohman Al ‘Adniy terhadap Haddadiyyin dalam membangun hubungan-hubungan dengan hizbiyyin. Adapun penyerupaan Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap Haddadiyyin dalam bab ini adalah sebagai berikut:

Yang termasuk dari teman kepercayaan Abdulloh bin Mar’i adalah: Salim Ba Muhriz هداهما الله. Dialah yang berkata di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentangnya saat terbongkarnya fitnah orang ini sekitar tahun 1429H: “Orang ini punya fanatisme, dan tercium darinya aroma fanatisme yang keras, dan pengelompokan yang keras, serta wala wal baro yang sempit terhadap Abdulloh bin Mar’i dan saudaranya.

Di antara sahabat Abdulloh bin Mar’i juga adalah sebagian pengikut Abul Hasan yang pura-pura rujuk. Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar’i telah mengumumkan dengan terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah dengan fitnah Abul Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi kedudukan.” Sementara itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari kalangan orang-orang yang terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur. Dia itu banyak berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul Ihsan dan menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al Ahdal yang terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada Ahlussunnah. Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigih dan fanatik pada Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung dengan Abdulloh bin Mar’i hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia bergabung dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub (fanatisme) untuknya.

Dan selain Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan kemudian menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, dan Ahmad Umar Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriy dan yang lainnya. Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang baru ini. Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk orang-orang khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar’i dalam keadaan mereka itu seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas untuk dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang lemah agamanya, banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman dalam keadaan yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke tengah-tengah barisan Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal mereka tidak boleh diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga tampak dari mereka taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja kenyataannya tidak demikian. Abdulloh bin Mar’i telah membatalkan perkataannya terdahulu untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka kedudukan untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu menjadi fitnah terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai tentara dalam hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan mencerca mereka dan menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan kebohongan.” (selesai penukilan dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).

Dan di antara perkara yang menunjukkan bersatunya orang-orang fajir tersebut satu sama lain setelah sebelumnya mereka berpisah adalah apa yang diceritakan oleh Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله: “… sungguh aku sebelum itu –yaitu pada permulaan kasus pencatatan thullab yang mau beli kapling di Fuyusy- aku mengabari saudara kita Ali bin Salim Al ‘Adniy: “Jika Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy jadi membuka markiz maka hendaknya beliau berhati-hati dengan orang-orang itu –yaitu orang-orang ‘Adn yang penjaga perpustakaan umum Dammaj-“ karena mereka itu pada hakikatnya tidaklah berdiri di sekeliling Abdurrohman Al ‘Adniy, dan Abdurrohman Al ‘Adniy sendiri juga tidak berdiri di sekeliling mereka. Mereka itu tidak ada pada satu hati. Akan tetapi Mahasuci Dzat yang menyatukan orang-orang yang bercerai-berai, dan memisahkan orang yang bersatu.” (“Syarorotul lahab”/2/hal. 9).

Barangkali yang termasuk dalam bab ini juga adalah masuknya Abu Malik Ar Riyasiy ke dalam hizb baru ini padahal dulu antara dirinya dengan Yasin Al ‘Adniy permusuhan. Mereka kemudian di Ma’bar berkumpul untuk sasaran yang sama. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 4).

Demikian pula antara Abdurrohman Al ‘Adniy dengan Yasin Al ‘Adniy, padahal perselisihan mereka berdua di markiz Dammaj ini sangatlah terkenal.

Juga antara Ahmad Misybah dengan Fahd bin Salim bin Sulaiman Al ‘Adniy. Fahd ini termasuk dari musuh dari Ahmad Misybah, pembantu Yasin Al ‘Adniy. Demikian pula antara Ahmad Misybah dengan Ali bin Salim Al ‘Adniy, mereka tak bisa saling cocok, dari dekat ataupun dari jauh. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 7).

Ali Al Hudzaifiy (telah lewat penyebutannya), termasuk kepala dalam fitnah ini di ‘Adn, ternyata sekarang jadi orang dekatnya Abdurrohman Al ‘Adniy setelah keduanya saling bermusuhan. Ali sendiri dulunya menghina Abdurrohman Al ‘Adniy. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9).

Adapun syaikh kami dan tokoh-tokoh yang bersama beliau, mereka itu memisahkan diri dari ahlul batil sekalipun dalam keadaan yang sempit. Mereka kokoh di atas apa yang diucapkan oleh As Salafush Sholih untuk menjauhi ahlul ahwa, dan mereka teguh di atas apa yang diucapkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Dan kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz (memisahkan diri dari Ahlul bida’) dan membangun masjid-masjid untuk diri mereka sendiri sekalipun dari batu lempung ataupun dari pelepah kurma, karena mereka tak akan sanggup menyebarkan sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- kecuali dengan cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida’ itu tak akan membiarkan mereka menebarkan As Sunnah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 208/Darul Atsar).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Kami menasihatkan kalian untuk tamayyuz karena bercampur dengan ahlul batil itu merupakan penyia-nyiaan terhadap kebenaran. Rosulullohصلى الله عليه وسلم bersabda:

«من سمع بالدجال فلينأ عنه».

Barangsiapa mendengar kedatangan Dajjal maka hendaknya dia menjauh darinya.”(2)

Juga bersabda:

«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل». (15 شعبان 1430 هـ).

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya. Maka hendaknya seseorang dari kalian itu memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat.”(3)

(ucapan beliau ini dicatat tanggal 10 Sya’ban 1430 H).

Beliau حفظه الله juga berkata: “Ukuran tamayyuz menurut Ahlussunnah adalah: kekokohan di atas kebenaran sambil menjauhi ahlul batil.” (ucapan beliau ini dicatat tanggal 15 Dzul Qo’dah 1430 H).

Beliau حفظه الله juga berkata: “Tamayyuz dari ahlul batil merupakan prinsip yang paling mendasar. Tidaklah fitnah itu keluar kecuali dikarenakan tidak adanya tamayyuz dari ahlil batil. Dan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta ijma’ salaf menunjukkan yang demikian itu.” (ucapan beliau ini dicatat tanggal 20 Jumadats Tsaniyah 1431 H).

Ini dia manhaj Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri telah tahu itu dan mengakui hal itu. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dalam kritikannya kepada Abul Hasan berkata: “… Asy Syaikh Muqbil dan para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan senantiasa memandang harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan diri dari mereka. Bahkan Asy Syaikh Muqbil berkata: “Inilah dakwahku, dan inilah jalanku yang membedakan diriku dari orang-orang bodoh itu.” (“Intiqod ‘Aqody Manhajiy ‘ala Abil Hasan”/hal. 303).

Maka hendaknya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله mengakui bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau itulah salafiyyun, dan bahwasanya Mar’iyyun itulah Haddadiyyun.

 

s _ _ _ _ _ g

Di akhir tulisan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه اللهtentang sifat Haddadiyyun ini beliau berkata: “Maka apabila Abul Hasan menjelaskan kepada kita dengan dalil-dalil yang terang bahwasanya orang-orang yang dituduhkan sebagai haddadiyyah itu punya sifat dengan sifat-sifat ini, nanti kami akan terus-menerus mencurahkan kerja keras untuk memvonis mereka sebagai Haddadiyyah, dan bahkan menghukum mereka dengan tulisan tentang mereka dan memperingatkan umat dari mereka, serta menggabungkan mereka dengan Haddadiyyah tanpa berhenti. Tapi jika dirinya tak sanggup membuktikannya, maka dirinya wajib untuk bertobat kepada Alloh عز وجلdan mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat. Jika tidak demikian maka dia tak mau berbuat itu maka kami tak akan berhenti bekerja keras untuk menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka berjalan di atasnya, membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.”

Komentar saya:

Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ini adalah jawaban beliau terhadap Abul Hasan Al Ma’ribiy yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau sebagai Haddadiyyun.

Sekarang, Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله itu sendirilah yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau sebagai Haddadiyyun tanpa dalil yang jelas yang menunjukkan bahwasanya para tokoh yang mulia tadi memang punya sifat-sifat Haddadiyyah tersebut.

Dan saya telah menjelaskan batilnya tuduhan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy terhadap Ahlu Dammaj bahwasanya mereka adalah Haddadiyyun, saya juga telah terangkan kegagalan Mar’iyyun dan semisal mereka dalam menempelkan gelar Haddadiyyah kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau رعاهم الله, lebih-lebih lagi untuk menjadi “Haddadiyyun ghulah” sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian pendusta.

Maka kami meminta kepada Samahatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy -sebagaimana beliau menuntut pada Abul Hasan- agar beliau dan orang-orang yang mencocoki beliau dalam masalah ini untuk bersikap tawadhu kepada Alloh kemudian bertobat kepada Alloh عز وجل dari kejahatan yang besar ini, dan untuk mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat.

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “sebagaimana orang yang merendahkan diri untuk Alloh maka Alloh mengangkatnya, maka demikian pula orang yang menyombongkan diri dari menaati kebenaran Alloh akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, meremehkannya. Dan barangsiapa menyombongkan diri dari menaati kebenaran walaupun datang dari tangan anak kecil, atau dari tangan orang yang dibencinya atau dimusuhinya, maka dia itu sebenarnya hanyalah menyombongkan diri kepada Alloh, karena Alloh itulah Al Haqq, perkataan-Nya benar, agama-Nya benar. Kebenaran adalah sifat-Nya, datang dari-Nya, dan milik-Nya. Maka jika sang hamba menolaknya dan menyombongkan diri dari menerimanya, maka dia itu hanyalah membantah Alloh dan menyombongkan diri kepada Alloh.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 271/Darul hadits).

Dan kami dengan seidzin Alloh akan terus-menerus menolong para Salafiyyun yang benar yang bersih dari tuduhan tadi, dan untuk menolong manhaj Salafiy yang mereka ada di atasnya, membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan wajib bagi para Salafiyyin yang jujur untuk menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan menangkap tangan orang yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.

Dan hendaknya mereka benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah seorang dari mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke dalamnya, atau ke dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan ini adalah medan pengamalan yang memisahkan antara orang yang jujur dari orang yang dusta, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿ألم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين آمنوا وليعلمن الكاذبين﴾. انتهى النقل.

“Apakah manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan “Kami beriman” dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui para pendusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3).

Selesailah seluruh penukilan dari kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

Komentar saya:

Setelah jelasnya dalil dan burhan dan bayyinah tentang batilnya cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para Salafiyyun yang bersama beliau حفظهم الله sebagai Haddadiyyah, dan telah nampak kebersihan mereka dari Haddadiyyah, dan nampak istiqomah mereka di atas sunnah, wajib bagi para Salafiyyin yang jujur dan adil untuk menolong mereka dan menolong manhaj Qur’aniy Nabawiy Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan menangkap tangan orang yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون﴾ [المائدة/8] .

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Kemudian, sesungguhnya kitab ini, sebagaimana dia itu adalah pembelaan yang jujur dan adil إن شاء الله terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang mulia yang bersama beliau رعاهم الله demikian pula kitab ini merupakan bantahan yang jelas terhadap Haddadiyyah, memperingatkan umat dari mereka, dan menjelaskan kebodohan dan kebusukan mereka.

Maka hendaknya Muslimin semua benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah seorang dari mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke dalamnya, atau ke dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan ini adalah medan pengamalan yang memisahkan antara orang Mukmin yang jujur dari orang munafiq yang dusta, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا * لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾.[الأحزاب/23، 24]

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan jangan sampai dia fanatik terhadap orang yang telah tetap kebid’ahannya dan penyelewengannya, sekalipun martabatnya besar seperti ‘Ubaid Al Jabiriy dan Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan yang selainnya. Dan hendaknya kebenaran itu lebih agung di hati mereka daripada apapun juga.

Dan telah nampak sangat jelas ketika diteliti bahwasanya Mar’iyyun itulah yang berhasil meraih tongkat kejuaraan untuk bergabung dengan Haddadiyyun, dan pendalilan mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه اللهtentang Haddadiyyah telah berbalik menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).

Saya katakan وفقني الله : Maka Mar’iyyah-Barmakiyyah tidak punya hujjah syar’iyyah atas kedustaan mereka terhadap salafiyyin tadi, ataupun juga hujjah aqliyyah. Bahkan pendalilan mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah hampir semuanya telah berbalik menghantam mereka sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ الله تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ الله تَحْوِيلًا﴾ [فاطر/43].

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Alloh yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Alloh, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Alloh itu.”

Maka hendaknya mereka berkata:

هذه بضاعتنا ردت إلينا.

Ini adalah barang dagangan kami dikembalikan kepada kami.”

“Anak panah telah kembali kepada orang yang memanahnya.”(4)

Para salafiyyun telah mencurahkan nasihat yang banyak disertai dengan dalil-dalil yang menunjukkan kebatilan Mar’iyyun, ternyata mereka tak mau tunduk pada Robb mereka dan tak mau merunduk, bahkan mereka menyelisihi kebenaran dengan sengaja dengan niat beragama sebagaimana sifat Haddadiyyun. Maka mereka adalah mubtadi’ah. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian dia mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’”. (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 164).

Bahkan Al Imam Al Barbahariy رحمه الله : berkata: “Dan barangsiapa menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka dia itu adalah shohibul bida’ sekalipun dia adalah orang yang banyak riwayat dan kitab.” (“Syarus Sunnah”/hal. 36/Darul Atsar).

Perkataan kami “dengan niat beragama” untuk menghalangi masuknya orang yang menyelisihi syariah karena kedurhakaan semata. Maka kami tidak berkata bahwasanya pelaku maksiat itu mubtadi’. Akan tetapi barangsiapa melakukan perkara yang tidak disyariatkan oleh Alloh ataupun Rosululloh dengan keyakinan bahwasanya hal itu disyariatkan, maka dia telah berbuat bid’ah dalam Islam. maka pembatasan tadi itu penting.

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Tiada makna untuk kebid’ahan kecuali jika perbuatan tadi dalam keyakinan si mubtadi’ tadi adalah disyariatkan padahal tidak disyariatkan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 364).

 

 

Bab Lima: Kezholiman Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj Sebagai Haddadiyyun

 

Ibnu Manzhur رحمه الله berkata: “Al baghyu” adalah melampaui batas. Jika dikatakan: (بغى الرجل علينا بغيا) maknanya adalah menyeleweng dari kebenaran dan mencerca secara dusta. (“Lisanul ‘Arob”/14/hal. 75).

Al Imam Ibnul Qoyyum رحمه الله : “Bahwasanya istilah baghyu itu kebanyakan penggunaannya adalah pada hak-hak para hamba dan cercaan pada mereka.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 370).

“Al Baghyu” itu harom. Alloh ta’ala telah berfirman:

﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى الله مَا لَا تَعْلَمُون﴾ [الأعراف/33]،

Katakanlah: “Robbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kalian ketahui.”

Firman Alloh ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ﴾ [يونس/23].

Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezholiman kalian akan menimpa diri kalian sendiri.”

Dan dari Abu Bakroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata:

«ما من ذنب أجدر أن يعجل الله تعالى لصاحبه العقوبة في الدنيا  مع ما يدخر له في الآخرة -مثل البغي وقطيعة الرحم».

Tiada satu dosapun yang lebih pantas untuk Alloh ta’ala menyegerakan hukuman di dunia bagi pelakunya bersamaan dengan hukuman yang disimpan-Nya di akhirat seperti al baghyu (kezholiman pada yang lain) dan pemutusan silaturrohim.” (HR. Al Imam Ahmad (5/hal. 36), Abu Dawud (14/hal. 200) dan yang lainnya, dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (4301)/darul Atsar).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka orang yang baghi dan zholim itu Alloh akan menimpakan balasan baginya di dunia dan akhirat, dikarenakan baghyu itu adalah sebab terbantingnya dirinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 82).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim) kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi hancur.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 464).

Dan sesungguhnya termasuk dari baghyu adalah penuduhan terhadap Ahlussunnah di Dammaj sebagai Haddadiyyun, padahal mereka itu bersih darinya. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

“… dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله ditanya: “Apa pendapat Anda tentan orang yang memperingatkan manusia dari ma’had Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, dan menuduh para murid beliau sebagai Haddadiyyun?”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Para murid Asy Syaikh Muqbil secara umum kami mengetahui bahwasnya mereka itu di atas As Sunnah. Adapun orang yang menyatakan bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka pernyataannya itu batil, dan perkataannya itu merupakan kriminalitas dan baghyu (kezholiman) terhadap para murid Asy Syaikh Muqbil رحمه الله. Dan sesungguhnya ma’had Dammaj yang didirikan oleh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله di sumur tasyayyu’ dan di tengah-tengah tasyayyu’. Maka kemudian sunnah tersebar di situ, di tempat yang dulunya tiada orang yang berani berbicara lebih-lebih untuk membantah syi’ah. Alloh telah memberikan manfaat dengan para murid Asy Syaikh Muqbil. Maka dengan mereka sunnah itu tersebar. Di seluruh penjuru Yaman kecuali sebagian kecil dari mereka yang menyelisihi aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah –yang Asy Syaikh Muqbil رحمه الله mendidik mereka dan menjadikan mereka tumbuh di atasnya- dan mengambil jalan mubtadi’ah, dan setan menghiasi jalan-jalan bid’ah untuk kelompok kecil tadi. Maka kelompok kecil tadi tidaklah teranggap. Yang terpandang hanyalah orang-orang yang tetap kokoh di atas sunnah dan beragama dengannya, menyerukan kepadanya, berloyalitas dan bermusuhan karenanya, dan membenci karenanya. Maka mereka itulah yang terpandang, dan mereka itulah yang menempuh jalan Ahlul Hadits wal Atsar dan mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh karena itulah aku berkata: barangsiapa berkata bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka orang ini adalah baghi zholim,dan perjumpaan adalah di hadapan Alloh…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 71-72/Darul Minhaj).

 

Bab Enam: Apakah Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai Merobek Dakwah?

 

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Sesungguhnya Yahya Al Hajuriy telah merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.”

Saya menjawab وفقني الله: Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون﴾

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (QS. Al An’am: 153).

Juga berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى الله ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون﴾ [الأنعام/159]،

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾ (البقرة: 137)

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian).

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله».(أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam nereka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al Jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

Dengan dalil-dalil ini dan yang semisalnya kita mengetahui bahwasanya yang namanya perpecahan itu adalah yang menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Shohabah,sebagaimana Al Jama’ah itu adalah yang mencocoki tiga dasar ini. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan syi’ar dari firqoh-firqoh ini adalah : pemisahan diri dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma’. Maka barangsiapa berbicara dengan Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ maka dia itu adalah termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346).

Maka yang menjadi timbangan dalam hukum-hukum aqidah hati dan ucapan lisan serta gerakan anggota badan adalah ini tadi, sebagaimana kata Syaikhul Islam رحمه الله : “Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).

Syaikh kami An Nashihul Amin dan ulama sunnah yang bersamanya telah menampilkan hujjah-hujjah tentang kekokohan mereka di atas Al Kitab, As Sunnah dan As Salafiyyah, bersamaan dengan bersihnya dakwah mereka dari kotoran penyimpangan dari ketiga prinsip tadi. Maka mereka adalah Ahlussunnah Wal jama’ah. Mereka juga telah menampilkan dalil-dalil yang terang akan bengkoknya jalan hizb baru itu dan terlumurinya mereka dengan hawa nafsu dan manhaj-manhaj orang belakangan. Maka mereka itu adalah firqoh dari firqoh-firqoh yang ada.

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala berfirman:

}واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا{

“Dan berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali ‘Imron 103)

Setelah firman-Nya:

}اتقوا الله حق تقاته{

Bertaqwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya.”

Maka ini memberikan pengetahuan bahwasanya “berpegangteguh dengan tali Alloh” adalah ketaqwaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya yang selain itu adalah perpecahan, dikarenakan firman-Nya:

}ولا تفرقوا {

dan janganlah kalian bercerai-berai.

Dan perpecahan merupakan sifat yang paling khusus dari ahli bid’ah karena dia itu keluar dari hukum Alloh dan menyelisihi jama’ah Ahlul Islam.” (“Al I’tishom”/hal. 88).

Dan tepat untuk diterapkan kepada mereka perkataan syaikh kami حفظه الله : “Barangsiapa menjauh dari apa yang dulunya para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka sesungguhnya dia itu adalah termasuk dari tujuh puluh dua sempalan.” (dicatat tanggal 9 Sya’ban 1430 H).

Para Nabi عليه السلام dan para pewaris mereka mengejak kepada ijtima’ di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian terjadi perpecahan di antara ahlul haq dengan ahlul batil ketika da’watul haq datang. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].

Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru: “Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua kelompok yang yang bersengketa.” (QS. An Naml: 45).

Dalam hadits Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما :

ومحمد  صلى الله عليه وسلم  فرق بين الناس

Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (Al I’tishom/Al Iqtida Bisunanir Rosul/(7281)/Darus Salam)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

Dari Abu Musa Al Asy’ary رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

« مَثَلِى وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي الله كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ ، وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ . فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا ، وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ »

“Permisalanku dengan permisalan apa yang dengannya Alloh mengutus diriku adalah permisalan seseorang yang mendatangi suatu kaum seraya berkata,”Aku melihat pasukan dengan mata kepalaku. Dan sungguh aku ini adalah pemberi peringatan yang jujur, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Makasekelompok dari mereka menaatinya seraya berangkat di awal malam tanpa penundaan sehingga mereka selamat. Tapisekelompok lagi mendustakannya, sehingga mereka dihantam oleh pasukan tentara tadi di waktu pagi dan dimusnahkan.” (HSR Al Bukhoriy (6482)).

Perhatikanlah وفقني الله وإياكم: saat al haq datang mereka terpecah jadi dua. Yang ikut al haq selamat dan yang menolaknya celaka. Apakah yang mengikuti al haq patut dicerca karena tidak mau terus bersatu bersama kelompok kedua agar celaka bersama-sama? Ataukah sang pemberi peringatan itu yang tercela? Ataukah beritanya tadi yang dicela karena membikin perpecahan? Ataukah mereka dibiarkan saja hidup tenang bersatu tanpa menyadari adanya bahaya besar yang mendekat? Maka persatuan yang benar adalah persatuan di atas jalan Rosululloh صلى الله عليه وسلم.

Maka barangsiapa taat pada para utusan Alloh maka dia itu bersama mereka di atas jalan yang lurus, dan mereka itu adalah ahlul Jama’ah. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka maka sungguh dia telah meninggalkan jalan yang lurus dan condong kepada jalan-jalan yang menyimpang tadi dan memisahkan diri dari Jama’ah, maka dia itulah yang tercela. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaf.

Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata: “Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

Maka teranglah dengan penjelasan ini bagi orang-orang yang punya keadilan dan fithroh bahwasanya Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengajak umat kepada persatuan di atas jalan yang lurus, dan bahwasanya hizb baru yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy itu adalah ahlul bid’ah wal furqoh yang mengajak umat untuk meninggalkan jalan yang lurus lalu berpaling ke arah jalan-jalan yang membinasakan.

Maka ini adalah agama kami, kami tak akan diam terhadap penyelewengan orang yang menyimpang dari kebenaran إن شاء اللهwalaupun Asy Syaikh Robi’ memerintahkan kami untuk diam sebagaimana terjadi berkali-kali, dan menuduh kami –dengan zholim- sebagai Haddadiyyah, tolol, busuk, dan merobek dakwah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kami tak akan meninggalkan agama Islam karena cercaan orang yang mencerca, ataupun karena pengkafiran orang yang mengkafirkan atau juga penyesatan orang yang menuduh kami sesat, karena kembalinya para makhluk adalah kepada Alloh, dan perhitungan mereka adalah tanggungan Alloh.Maka orang yang men-tauhidkan Alloh Yang Mahasuci akan menampilkan kebenaran di manapun berada, secara khusus dan umum dan secara tertulis, sampai walaupun dia diminta untuk menyembunyikan kebenaran di waktu rasa takut yang amat sangat dia tidak menyembunyikannya.” (“Ar Roddu ‘Alal Bakriy”/2/hal. 765-766).

Kami mengagungkan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله, memuliakannya dan mengakui kebesarannya. Akan tetapi manakala beliau berbuat baghyu (kezholiman, melanggar kehormatan) kepada kami dan membikin kedustaan terhadap kami, maka inilah jawaban kami. Kami mohon kepada Alloh عز وجل untuk mengembalikan beliau kepada kebenaran dengan bagus, dan menjadikannya paham bahwasanya orang-orang yang beliau tuduh dengan kata-kata yang jahat itu tadi mereka itulah saudara-saudara beliau yang berbakti, singa-singa sunnah yang ikhlas dengan seidzin Alloh, dan bahwasanya orang-orang yang beliau bela itu justru mereka itulah para serigala pengkhianat yang bersembunyi di balik jubah kebesaran beliau. Maka hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan.

 

 

 

 

Bab Tujuh: menolong Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid

 

Sebagian pengikut hizb yang baru itu menuduh para pelajar yang membantu syaikh kami An Nashihul Amin telah melakukan ‘ashobiyyah (fanatisme) dan taqlid. Bukanlah kenyataannya demikian.

Yang namanya ‘ashobiy adalah orang yang marah demi membela kelompoknya dan melindungi mereka. Ta’ashshub berasal dari ‘ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: seseorang menyeru orang lain untuk menolong keluarganya, dan bergabung dengan mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, dalam keadaan zholim ataupun dizholimi. (Lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 204).

Ini menunjukkan bahwasanya muta’ashshib (orang yang fanatik) adalah orang yang menolong keluarganya atau kelompoknya dan melindunginya dalam keadaan benar ataupun salah. Dan kami tidaklah demikian. Bayyinat dan hujjah-hujjah yang saya sebutkan sejak dari permulaan risalah ini sampai akhirnya itu cukup bagi Salafiyyin yang berakal untuk memahami bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama yang bersama beliau dalam perselisihan ini mereka itulah ahlul haq. Demikianlah kami menilai mereka berdasarkan zhohir dari dalil-dalil, dan Alloh yang akan menghisab mereka. Dan tidaklah kami mensucikan seorangpun atas nama Alloh.

Kebenaran itu dikenali dengan hujjah. Dan hujjah itu adalah sikap mengikuti Al Kitab As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang masalah perselisihan: “Dan ketika itu maka jadilah masalah tersebut adalah perselisihan yang wajib untuk dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang demikian itu maka dia itu bisa jadi adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa jadi adalah muta’ashshib pengekor hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan ancaman Alloh untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu menyebutkan ayat tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada Kitabulloh ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 323).

Dan kami, manakala kami mengetahui bahwsanya kebenaran, hujjah dan sunnah itu bersama syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan para ulama Salafiyyin dan para penuntut ilmu, wajib bagi kami untuk menolong mereka berdasarkan firman Alloh عز وجل:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾[المائدة/2].

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى الله قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ الله آَمَنَّا بِالله وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali ‘Imron: 52).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 16).

Para saksi yang tsiqot (terpercaya) telah tegak bersaksi terhadap para Mar’iyyun. Para ulama yang ahli juga telah menampilkan bayyinat akan makar mereka dan penyimpangan mereka tadi. Tanda-tanda dan alamat-alamat akan penyelewengan mereka juga telah bermunculan. Maka kitab-kitab, malzamah-malzamah dan kaset-kaset yang berbicara tentang mereka telah tegak di atas ilmu.

Apakah ini semua tidak teranggap di sisi kalian? Akan tetapi itu semua memberikan faidah ilmu bagi orang yang punya dua mata.

Saya akan tambahi lagi: Akhunal fadhil Abu Anas Yunus Al Lahjiy –ro’ahulloh- menuliskan:

“Alhamdulillah washsholatu wassalam ‘ala man la nabiyya ba’dahu. Amma ba’du:

Al Akh Al ‘Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” yang ada di propinsi Lahj di desa MahAlloh. Yang demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut. berikut ini hakikat dari kejadian tersebut:

Kami berangkat dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal fadhil Abdul ‘Aziz yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh (ceramah) akan diberikan oleh Akhuna Abdul ‘Aziz, imam dari masjid tersebut. Ketika kami sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut terkunci. Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya sebagian orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mar’iy beserta orang-orang awam dari penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid ini. Dan kami tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.

Maka kamipun masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar menuju masjid. Dan hal itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan demikian kami mendengar ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari sebagian muta’ashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mar’iy) beserta orang-orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman –hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras suara dirampas.

Dalam keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan adzan dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian beberapa muta’ashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna Abdul ‘Aziz dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan tentara untuk mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada para hizbiyyin yang fanatik. Para tentara berkata: “Bagaimana mungkin kita menahan beliau dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah?” Maka duduklah sang tentara dan mereka mendengarkan ceramah, dalam keadaan para muta’ashshibun terus membikin kegaduhan.

Kemudian lewatlah sebagian muta’ashshibun yang rencananya menghadiri ceramah di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid ini datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan sebagian ingin menantang adu pukul.

Seusai ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami dapati muta’ashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad Al Khidasyi –ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara. Dan pada hari yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy –hadahulloh- (tangan kanan Abdurrohman bin Mar’iy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota jam’iyyatul Hikmah lalu jam’iyyatul Ihsan, lalu jam’iyyatul Birr). Kami diberitahu bahwasanya dia berkata para polisi: “Orang awamlah yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi imam, jadilah dia imam.” Pada kami sudah tahu bahwasanya para muta’ashshibun telah menghasung orang-orang awam untuk menurunkan Akhuna Abdul ‘Aziz –hafizhohullohu wa saddadahu- dari jabatan imam.

Ditulis oleh Abu Anas Yunus Al Lahjiy.

(“Zajrul ‘Awi”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).

Kisah nyata ini memberikan faidah ilmu yaqiniy tentang penyelewengan Mar’iyyun, bagi orang yang punya mata hati. Adapun bagi orang yang telah dibutakan oleh ta’ashshub dan kedengkian, maka ayat-ayat itu tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang tidak yakin, sekalipun telah datang pada mereka seluruh ayat.

Perhatikanlah kisah di Syam. Al Muntadayat “Al Aqsho As Salafiyyah” telah mengeluarkan topik berita dengan judul: “Kejadian Perjumpaan sejumlah Ikhwah Salafiyyin dari Palestina dengan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholy” pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 4 Romadhon 1429 H , dan di antara yang diucapkan beliau adalah yang berkenaan dengan masalah Palestina , di mana sebagian orang yang fanatik kepada Ali Hasan Al Halabiy – dan Halabiy ini adalah propokator sebab terjadinya fitnah tersebut- merampas sebuah markiz ikhwah salafiyyin.

Maka berkatalah Asy Syaikh Robi` kepada Usamah `Athoya : “Mereka wajib mengembalikan markiz , madrosah salafiyah itu kepada Asy Syaikh Hisyam,” maka seraya Usamah `Athoya berkata: “Mereka tidak menginginkan”. Maka Asy Syaikh Robi` mendesah keras sambil mengatakan: “Bagaimana mereka tidak mau , ini pokok inti dalam perdamaian, perbuatan ini – merampas markiz dan madrosah – kami tidak pernah mendengar semisalnya sama sekali”(5). kemudian Asy Syaikh Robi` berkata setelah berhenti sejenak : “Mereka itu apabila tidak meninggalkan fanatik kepada Ali Halaby dan tidak mengembalikan markiz dan madrosah kepada Hisyam maka mereka bukanlah salafiyyiin”. Selesai. (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 25).

Bagaimana kejadian ini memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Halabiyyun (pengikut Ali Hasan Al Halabiy) dari salafiyyah, akan tetapi kejadian yang berlipat-lipat dari itu tidak bisa memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Mar’iyyun dari salafiyyah?

Maka segala puji bagi Alloh yang telah memahamkan para Salafiyyun dan member mereka taufiq untuk bersikap adil dan tidak menakar dengan dua takaran, sehingga bisa tegak menolong kebenaran dan pembawa kebenaran dalam fitnah ini, di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar dugaan ataupun taqlid.

Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Ilmu adalah: keyakinan terhadap suatu perkara sesuai dengan kenyataannya, bisa jadi berdasarkan burhan dhoruriy (bukti yang tak mungkin bisa ditolak) yang menyampaikan kepada keyakinannya itu tadi, dan bisa jadi yang pertama dengan indera, atau dengan pemahaman akal yang sangat jelas hingga tak butuh pada pendalilan,…” dst. (“Al Ahkam”/1/hal. 34).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu itu adalah apa yang tegak di atasnya suatu dalil. Dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa oleh Rosul. Maka yang penting dalam hal ini adalah hendaknya kita berbicara dengan ilmu, yang berasal dari penukilan yang terpercaya dan pembahasan yang telah diteliti. Adapun yang selain itu meskipun sebagian orang telah menghiasi dengan yang semisalnya maka dia itu hanyalah hiasan saja. Jika tidak demikian maka dia itu adalah kebatilan yang mutlak.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam “An Nuniyyah” (1/hal. 65):

إذ أجمع العلماء أن مقلدا*** للناس والأعمى هما أخوان

والعلم معرفة الهدى بدليله*** ما ذاك والتقليد مستويان

“…karena para ulama telah bersepakat bahwasanya orang yang membebek pada manusia dan orang yang buta itu keduanya adalah saudara. Dan ilmu adalah: mengetahui petunjuk dengan dalilnya. Tidaklah dia itu sama dengan taqlid.”

` Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Maka ilmu adalah makna yang menuntut ketenangan jiwa dengan apa yang diketahuinya itu. Dan dia itulah yang diungkapkan oleh para ulama bahwasanya dia itu adalah: pembenaran yang pasti yang mencocoki kenyataan disertai dengan ketenangan jiwa.” (“Ijabatus Sail Syarhu Bughyatil Amil”/1/hal. 33).

Al Imam Abdullathif bin Abdirrohman Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Dan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan dalilnya, dan mengetahui hukum sesuai dengan kenyataannya secara hakiki.” (“Uyunur Rosail”/karya beliau/2/hal. 525-526/Maktabatur Rusyd).

Maka orang-orang yang berakal jika bayyinat dan persaksian orang-orang tsiqot telah tegak di sisinya, disertai dengan tanda-tanda dan alamat, dan dia telah mendapatkan ilmu. Bahkan ilmu itu bisa didapatkan dengan yang lebih sederhana dari itu.

Bahkan hizb Mar’iyyah yang menuduh Ahlussunnah di Dammaj dengan Haddadiyyah, mereka itulah yang berdiri di atas dugaan dan persangkaan semata, tanpa bayyinah dan tanpa batasan yang jelas. Maka pantas untuk dikatakan pada mereka ucapan Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله : “Jika engkau menyatakan bahwasanya engkau mengucapkan itu berdasarkan ilmu, maka ilmu yang dihasilkan oleh seseorang itu tidaklah terwujud kecuali dengan dalil.” (“Ushulus Sarkhosiy”/2/hal. 217).

Maka dengan penjelasan ini semua tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya Salafiyyun yang saling membantu dengan syaikh kami An Nashihul Amin dalam posisi ini mereka itu ada di atas bayyinah dari Robb mereka, bukan di atas taqlid, ataupun ‘ashobiyyah. Yang demikian itu adalah dari karunia Alloh kepada mereka dan kepada orang-orang yang berakal, akan tetapi kebanyakan hizbiyyun dan orang-orang yang dengki tidak tahu.

Bahkan kami telah tegakkan hujjah-hujjah bahwasanya Mar’iyyun Barmakiyyun itulah para ahli taqlid yang batil, dan mereka menggabungkan kepada taqlid saudaranya yaitu: qiyas yang rusak. Yang mana mereka itu telah gagal mengqiyaskan Ahlussunnah Dammaj dengan Haddadiyyah. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ini adalah qiyas yang batil yang telah disepakati bahwasanya dia itu tercela. Dan qiyas ini adalah saudara dari taqlid yang batil. Kedua-duanya sama dalam kebatilan.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Malam Senin, tanggal 9 Jumadal Ula 1432 H

Tanggal perbaikan: malam Ahad, 25 Syawwal 1432 H

Darul hadits Salafiyyah di Dammaj Yaman

Semoga Alloh menjaganya

g/s

 

 

 

1( ) Atsar ini hasan. Lihat catatan kaki dari kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”

2( ) Shohih. HR. Abu Dawud (Al Malahim/Khurujud Dajjal/(4331)/Darul Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru).

3( ) Hasan. HR. Abu Dawud (Al Adab/man Yu’mar An Yujalis/(4835)/Aunul Ma’bud/Darul Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru) dan At Tirmidzi (Zuhd/bab 45/2552/Tuhfatul Ahwadzi/Darul Hadits), dihasankan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam “As Silsilah Ash Shohihah” (2/no. 927/Maktabatul Ma’arif) dan Al imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1272)/Darul Atsar/cet. baru).

4( ) Maksudnya adalah: akibat kezholiman itu kembali kepada orang yang zholim. Ini juga kiasan untuk menggambarkan kekalahan yang menimpa kaum itu. (lihat “Majma’ul Amtsal”/Al Maidaniy/1/hal. 204).

5( ) Komentar Abu Fairuz وفقه الله : Bahkan hal itu telah banyak dilakukan oleh Mar’iyyun, dan telah disebar di berbagai risalah, hanya saja ada sebagian orang berkata: “Aku tidak percaya sampai aku melihatnya sendiri!”