HIZBIYYAH LUQMAN BA ABDUH

(Edisi Revisi, dengan beberapa tambahan dan perbaikan)
(Seri Pertama)

Telah Mengidzinkan Penyebarannya:
Syaikhunal ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh

Telah diperiksa Oleh:
Syaikhunal Fadhil Abu ‘Amr Abdul Karim Al Hajury,
Dan Syaikhunal Fadhil Abu Bilal Kholid Al Hadhromy,
Dan Syaikhunal Mufid Abu Hamzah Muhammad Al Amudy
-hafizhohumulloh

Ditulis Oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Sukaya
Al Qudsi Al Indonesi ‘afallohu ‘anhu
Di Markiz Induk Darul Hadits Dammaj Yaman

PENDAHULUAN

Segala pujian yang sempurna bagi Alloh. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Alloh dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai Alloh limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, kemudian daripada itu:
Sesungguhnya ular itu walaupun bersembunyi sekian lama di liangnya dan menyabarkan diri untuk itu, mau tidak mau dia akan keluar juga pada suatu hari. Demikian pula seorang hizbi meskipun bersembunyi di balik sutra As Salafiyyah, mau tidak mau suatu saat dia akan mengeluarkan juga kebusukannya yang tersembunyi.
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُون﴾ [البقرة/72]
“Dan Alloh mengeluarkan apa yang kalian sembunyikan.” (Al Baqoroh 72)
﴿أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُم﴾ [محمد/29]
“Apakah orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit menyangka bahwasanya Alloh tak akan mengeluarkan kedengkian mereka.” (Muhammad 29)
Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata: ”Sesungguhnya seseorang itu bersembunyi dan tidak menampakkan kehizbiyyahannya kecuali setelah menguat otot-ototnya dan menyangka bahwanya ucapan manusia sudah tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2 hal. 14)
Dan di antara orang yang menyembunyikan penyimpangan-penyimpangan, dan bertopengkan dengan Sunnah, serta berhiaskan dengan perhiasan Salafiyyah di negri muslimin yang terbesar adalah seorang pria yang bernama “Luqman Ba Abduh” –hadahulloh-, pemegang markaz dan yayasan “As Salafy”. Dulunya Imamul Jarh wat Ta’dil Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholy –hafizhohulloh- telah berfirasat tentangnya seraya berkata,”Aku khawatir Luqman ini adalah seorang Ikhwani yang disusupkan.” Atau yang seperti itu. Dan Imam Al Wadi’y -rahimahulloh- berkata,”Barangsiapa telah dikatakan oleh saudara kita Robi’ sebagai hizby, niscaya akan tersingkap untukmu bahwasanya dia itu hizby suatu saat nanti.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2 hal. 9)
Maka orang itu dan para pengikutnya berupaya keras untuk melemahkan kebenaran firasat tadi, dan mereka berusaha untuk mengangkat Luqman setinggi-tingginya sampai berhasil meyakinkan mayoritas Salafiyyin di negri kami bahwa Luqman itu adalah seorang salafy yang tinggi nilainya.
Dan tidaklah aku mengatakan ini untuk memuaskan hasratku dalam menyerang seseorang, ataupun untuk membalas dendam. Alloh Mahatahu bahwasanya diriku ini dulunya adalah termasuk orang-orang yang tertipu olehnya, dan dia adalah termasuk orang yang paling aku cintai karena Alloh, sampai kemudian jelaslah olehku kebenaran. Maka tidak halal untukku diam darinya, dan tidak pantas bagi para Salafiyyin untuk mempedulikan goyangan para peneror.
“Dan tidaklah aku peduli manakala aku terbunuh sebagai seorang muslim, di tempat manakah terkaparnya aku untuk Alloh. Dan yang demikian itu adalah demi Dzat sesembahanku, dan jika Dia menghendaki Dia akan memberkahi jasad yang terpotong-potong.” (HSR Al Bukhory (7402), dari ucapan Khubaib bin ‘Adi radhiyallohu ‘anhu)
Maka Luqman memimpin dan memegang mayoritas dakwah Salafiyyah di negri kami dengan menyembunyikan beberapa dendam kepada Syaikhuna yang mulia Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- yang dipendamnya semenjak dia keluar dari Dammaj. Demikianlah terus berjalan urusan Luqman sampai datangnya urusan Alloh dalam keadaan dia tidak menyukainya, yaitu terbongkarnya kehizbiyahan dirinya bersamaan dengan munculnya makar Ibnai Mar’i (Abdurrohman dan Abdulloh) terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman. Maka Luqman bangkit dan menempatkan dirinya sebagai penolong terbesar bagi Ibnai Mar’i di negri kami, dan menampakkan peperangan terhadap Syaikhuna Al Mujahid Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh-.
Telah sampai kepada kami berita-berita yang terpercaya tentang perubahan buruk Luqman terhadap Syaikhuna -hafizhohulloh- dan terhadap Darul Hadits di Dammaj. Dan yang terakhir datang adalah kaset ceramah Luqman di hadapan sekelompok pengikutnya (yang dipimpin oleh pesuruh Luqman yang bernama Muhammad Afifuddin), yang di situ dia menampakkan kebusukan yang selama ini dipendamnya, sebagaimana akan kalian dapati sebagiannya di dalam risalah ini, insya Alloh. Dan tidaklah semua ucapannya aku bantah dalam risalah ini karena sempitnya waktu. Akan tetapi orang yang cerdas cukuplah baginya isyarat.
Tibalah saatnya untuk masuk kepada pokok pembahasan, semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita.

Bab Pertama:

Kedudukan Syaikhuna Yahya
Di Sisi Para Ulama

Syaikhuna yang mulia Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- memiliki kedudukan yang tinggi di sisi para ulama.
Al Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab “Al Jum’ah”:
“Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela.” [muqoddimah kitab “Al Jum’ah wa Bida’uha”/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-].
Berkata Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh-: “.. saudara kita fillah Asy Syaikh Al Faadhil At Taqy ( yang bertakwa ) az zaahid ( yang zuhud ) al Muhaddits , al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajury -hafidhahulloh- beliau adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang merusak.” [muqoddimah “Dhiyaus Saalikiin.” karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-].
Beliau rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:
﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”
Maka syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muwoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)
Akhuna Abdulloh Mathir -waffaqohulloh- berkata: “Aku telah bertanya kepada Syaikh –yaitu Imam Al Wadi’i- dan demi Alloh, saat itu tiada antara aku dan beliau kecuali Alloh –azza wajalla-. Ketika aku berada di kamarnya di atas ranjang beliau (ketika beliau sakit). Kukatakan,”Wahai Syaikh, kepada siapa para Ikhwah akan merujuk (kembali) di Yaman ini ?, dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?” beliau diam sejenak, lalu berkata,”Asy Syaikh Yahya.” Inilah yang kudengar dari Syaikh Muqbil, dan ini tidaklah maknanya kita merendahkan ulama Yaman yang lain. Sungguh kita benar-benar memuliakan dan mencintai mereka karena Alloh.. dst.” [“Muammarotul Kubro”/hal. 24]
Al Akh Samir Al Hudaidy -hafidhahulloh- berkata pada Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-,”Sesungguhnya para pengikut Abul Hasan berkata,”Tiada ulama di Yaman.” Maka Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata,”Syaikh Muhammad itu apa? Dan Syaikh Yahya itu apa? Juga saudara-saudara mereka yang lain.” (“Inba’ul Fudhala” hal. 22 karya Akhuna Sa’id Da’ash -hafidhahulloh-)
Dan Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata: “Dan keyakinan yang dengannya aku menghambakan diri kepada Alloh bahwasanya Syaikh Al Hajuri itu adalah orang yang bertaqwa, waro’, zuhud, – kemudian beliau mulai memuji Syaikh Yahya- dan beliau telah memegang dakwah Salafiyyah dengan tangan dari besi. Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya” [“Tsana’ Imamil Jarh Wat Ta’dil ala Syaikh Yahya Al Hajuri”/Abu Hammam Al Baidhoni/1426 H]
Syaikh Muhammad Al Imam hafizhohulloh berkata,”Tidak pantas untuk jarh wat ta’dil pada zaman ini selain Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya.” [“Al Barohinul Jaliyyah”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi/hal. 14]
Beliau juga berkata,”Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu.” [“Madza Yanqimuna Min Yahya?”/Adnan Adz Dzammari/hal. 6]
Abdulloh Al Duba’i -hafidhahulloh- pernah mendengar Syaikh Muhammad Al Imam berbicara tentang keluar untuk dakwah. Maka salah seorang hadirin berkata,”Wahai Syaikh, Syaikh Yahya nggak keluar dakwah?”. Maka Syaikh Muhammad Al Imam berkata: “Tunggu dulu, Al Hajuri imam.” [“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qo’syami/hal. 24]
Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’i -hafidhahulloh- berkata: “Kami mengetahui bahwa Syaikh Yahya itu ada di atas ketaqwaan dan muroqobah (senantiasa merasa diawasi Alloh ta’ala), dan beliau adalah saudara kami di dalam agama Alloh, dan kami mencintainya karena Alloh. Dan beliau adalah seorang alim dari kalangan ulama sunnah. Alloh memberikan manfaat dengannya. Beliau adalah seorang singa dari singa-singa sunnah, serta mahkota di atas kepala-kepala Ahlussunnah. kami mencintainya karena Alloh.”
(dari kaset “Asilah Ashabi Qushoi’ar” tanggal 28/7/1428)
Beliau juga berkata,”Maka Syaikh Yahya adalah ciri khas di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka.” [“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qosy’ami/hal. 24]
Syaikh Jamil Ash Shilwi -hafidhahulloh- berkata: “Orang yang mencerca Syaikh Yahya dia itulah yang pantas untuk dicerca. Hal itu dikarenakan Syaikh Yahya itu berbicara karena Alloh dan Agama Alloh. Sementara salah seorang dari kita terkadang tidak berani untuk berbicara tentang sebagian perkara. Dan beliau itu telah Alloh persiapkan untuk mengurusi perkara ini, mengajar, menulis dan menyelesaikan problem-problem ummat yang sangat banyak.” [“Muammarotul Kubro”/hal. 24]
Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Raimi -hafidhahulloh- (salah seorang murid Imam Al Albani -rahimahulloh-) ketika berbicara tentang makar Ibnai Mar’i dan pengikutnya terhadap Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, beliau berkata: “.. maka mereka menggunakan seluruh yang mereka miliki yang berupa perlengkapan, kekuatan, pengkaburan, penipuan dan, pemutarbalikan fakta. Mereka dengan itu semua menginginkan untuk menjatuhkan “Al Jabalul Asyam” (gunung yang menjadi simbol) tersebut, dan baju besi yang aman –dengan seidzin Alloh- bagi dakwah ini yang ada di Dammaj Al Khoir, beliau dan para masyayikh utama yang bersamanya.” (“Al Haqo’iq Waqi’iyyah” hal. 20)
Fadhilatu Syaikhina Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Al ‘Ansi -hafidhahulloh- (Salah satu pendiri dakwah di Ibukota Son’a) berkata,”Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ulama sunnah dan ke Darul Hadits di Dammaj harosahalloh, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz (“pemisahan diri dari ahlul bathil”) dan penetapan aqidah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid’ah, orang yang sesat dan menyimpang. Tempat tersebut yang membangunnya adalah syaikh kami Al Mujaddid (pembaharu), penolong sunnah, dan penumpas bid’ah Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i –semoga Alloh merohmatinya dan memuliakan tempat tinggalnya-.
Dan tidak asing lagi bahwa tempat tersebut Alloh telah memberikan manfaat hidayah dengannya kebanyakan manusia, dan mengeluarkan darinya para masyayikh dan penuntut ilmu yang bertebaran di penjuru seluruh dunia sebagai da’i yang menyeru kepada tauhid dan sunnah dan manhaj salaf. Dan terus-menerus –dengan segala pujian untuk Alloh- tempat tersebut hidup dengan ilmu dan sunnah.
Dan setelah Syaikh Muqbil digantikan dengan wasiatnya oleh Syaikh Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuri –semoga Alloh menjaganya- beliau mengurusi dakwah ini dengan sebaik-baik pengurusan. Sangat lantang dalam mengemukakan kebenaran, menolong sunnah, memberantas kebid’ahan dan ahlul bid’ah. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.” (“Nashihatun Mukhtashoroh Lil Indonesiyyiin” /hal.1)

Bab Dua:

Bukan Sekedar Permasalahan
Membangun Markiz

Luqman berkata: “Seandainya ada seseorang ingin membangun markiz, akan dikatakan padanya bahwa dia akan membangun markiz hizbi. Apakah semisal ini akan dikatakan bahwa dia itu hizbi? Faidah seperti ini belum pernah ada di timbangan manhaj”.
Jawab kami yang pertama: Ini menunjukkan kebodohan –atau pura-pura bodohnya- Luqman dengan perkara ini. Dan memang manusia itu adalah musuh bagi perkara yang tidak diketahuinya. Al Munawy -rohimahulloh- berkata,”Sesungguhnya barangsiapa tidak mengetahui sesuatu perkara dia akan memusuhinya. Dan orang yang kurang itu, dikarenakan dia tidak memiliki keutamaan, karena lemahnya dia untuk mencapai keutamaan mereka, dia ingin mengembalikan mereka kepada derajat kekurangan dirinya, dikarenakan kesombongan dirinya. Hal ini dikatakan oleh Al Mawardy.” (“Faidhul Qodir” 3/hal. 11)
Al Mutanabbi -rohimahulloh- berkata: “Ban banyak sekali orang yang mencela perkataan yang yang benar, padahal asal penyakitnya adalah dari pemahaman yang sakit. Akan tetapi telinga itu hanyalah mengambil pemahaman sesuai dengan kadar tabiat dan ilmunya.” (“Syarh Diwanil Mutanabbi” hal. 392)
Jawaban yang kedua: Sesungguhnya hizbiyyah Ibnai Mar’i dan para pengikutnya bukanlah sekedar masalah pembangunan markiz. Akan tetapi karena permasalahan berikut ini:
Pertama: Memuji ahlul bida’ dan hizbiyyin, atau mengangkat citra mereka (no. 1)
Kedua: menolong ahlul bida’, merasa sakit dengan serangan ahlussunnah terhadap mereka, dan membela mereka (no. 2)
Ketiga: Banyak diam terhadap kebatilan hizbiyyin, dan lemah dalam mengingkari kemungkaran mereka (no. 3)
Keempat: Cercaan yang batil terhadap ulama sunnah yang istiqomah (no. 4)
Bercabang darinya perkara berikut ini:
1- Merusak citra ahlul haq bahwasanya mereka itu memiliki pemikiran khowarij dan pengkafiran. (no. 5)
2- Merusak citra ahlussunnah bahwasanya mereka itu penyebab perpecahan. (no. 6)
3- Berusaha untuk melekatkan citra “fitnah” kepada ahlussunnah yang memberikan nasihat. (no. 7)
4- Menuduh ahlussunnah yang cemburu untuk agama Alloh, dan yang menampakkan kebenaran, menuduh mereka sebagai orang yang tergesa-gesa dan terburu-buru. (no. 8)
Kelima: Mendustakan sebagian saksi, mencela mereka, dan mencela orang-orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya. (no. 9)
Keenam: Meremehkan dan mengejek Ahlul haq. (no. 10)
Ketujuh: Membikin-bikin berita bohong, dan berdusta atas nama orang yang jujur yang mengkritiknya dan menasihatinya. (no. 11)
Kedelapan: Mengangkat slogan-slogan, di antaranya adalah:
1- Slogan: “Kalian harus lemah lembut, kalian punya sifat berlebihan dan keras!” (no. 12)
2- Slogan: “Kalian suka mempopulerkan kesalahan!” (no. 13)
3- Berlindung di balik slogan: “mengambil manfaat dan menolak bahaya.” Untuk membungkam orang yang hendak menasihati. (no. 14)
4- Mengangkat slogan “Harus baik sangka” untuk meruntuhkan kritikan. (no. 15)
5- Mengangkat slogan “Harus tatsabbut (cari kepastian) dan tabayyun (cari penjelasan)” dalam rangka menangkis kritikan. (no. 16)
6- Mengangkat slogan “Kami dizholimi, kami butuh keadilan!” untuk memperburuk citra pemberi nasihat, dan menarik perasaan orang. (no. 17)
Kesembilan: memalingkan perhatian orang-orang dari inti perselisihan. (no. 18)
Kesepuluh: Memanfaat kejadian-kejadian yang ada untuk melancarkan hasrat dan tujuan mereka yang busuk. (no. 19)
Kesebelas: Upaya menghindar dari Ahlul haq, menghalangi orang dari mereka, dan melarikan orang dari kebenaran dan Ahlul haq. (no. 20)
Kedua belas: Tidak mau membantu para pembela manhajus Salaf dalam memerangi para hizbiyyin. (no. 21)
Ketiga belas: Berdalilkan dengan diamnya sebagian ulama (no. 22)
Keempat belas: Bertamengkan dengan fatwa atau perbuatan sebagian ulama dalam menyelisihi kebenaran. (no. 23)
Kelima belas: mereka berlebihan dalam meninggikan ulama atau pimpinan mereka hingga mengangkat mereka ke tingkatan “tak bisa dikritik” (no. 24)
Keenam belas: Membentuk landasan dan pokok-pokok yang menyelisihi manhaj Salaf untuk menolong kebatilan. (no. 25)
Ketujuh belas: Sedikitnya kesediaan untuk menerima nasihat yang benar. (no. 26)
Kedelapan belas: Teman dekat yang jelek, duduk-duduk dengan hizbiyyun, dan berloyalitas dengan mereka. (no. 27)
Kesembilan belas: Sikapnya sering bertolak belakang, dan banyak berdusta. (no. 28)
Dan bercabang dari itu, atau mirip dengannya:
1- Membikin makar dan tipu daya (no. 29)
2- Penipuan dan pengkhianatan (no. 30)
3- Meniru Ikhwanul Muslimin dan cabang-cabang mereka dalam menempuh metode lambat (no. 31)
4- Upaya berlepas diri secara politis dari kesalahan anak buahnya untuk menghindari tanggung jawab. (no. 32)
5- Politik topeng, alih warna, bersembunyi, dan muka ganda. (no. 33)
6- Berpura-pura lemah lembut dan akhlak mulia (no. 34)
7- Pemutarbalikan fakta (no. 35)
8- Khianat dalam menukil berita sehingga merubah makna (no. 36)
Kedua puluh: Pengkaburan, dan penyamaran antara kebenaran dan kebatilan. (no. 37)
Kedua puluh satu: Sibuk memperbanyak barisan (no. 38)
Kedua puluh dua: Menjaring massa, membuat mereka terlena dengan angan-angan, pemberian dan sebagainya (no. 39)
Kedua puluh tiga: Tidak rela dengan penyebaran kebenaran yang menyelisihi hawa nafsunya (no. 40)
Kedua puluh empat: kerakusan untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah (no. 41)
Dan bercabang darinya:
1- Meniru Ikhwanul Muslimin dengan cara meminta- minta harta setelah menyampaikan ceramah (no. 42)
2- Membuka jalan untuk mendirikan jam’iyyah dan semisalnya atas nama dakwah (no. 43)
3- Memakai kotak dan semisalnya dalam mengumpulkan harta (no. 44)
Kedua puluh lima: Banyak melakukan pesiar dan jalan-jalan untuk memperkuat pondasi hizbnya. (no. 45)
Kedua puluh enam: Lemahnya perhatian kepada menuntut ilmu (no. 46)
Kedua puluh tujuh: Mendekatkan diri dan menjilat, serta menyusup ke tengah-tengah ulama dan para Salafiyyin (no. 47)
Kedua puluh delapan: Pura-pura tobat, bergaya rujuk dari kesalahan, atau yang semisal dengannya (no. 48)
Kedua puluh Sembilan: Menebarkan api fitnah dan merobek persatuan Salafiyyin (no. 49)
Bercabang dari itu:
1- Mengadu domba, dan memperluas area perselisihan (no. 50)
2- Berupaya menimpakan kejelekan terhadap Ahlussunnah melalui tangan penguasa (no. 51)
3- Penebaran api fitnah di masjid (no. 52)
Ketiga puluh: Bersatu dan berkumpul sesuai dengan hasrat dan tujuan pribadi dan keduniaan. Dan terkadang meninggalkan teman-temannya jika kebutuhan telah tercapai atau khawatir menjadi sasaran teriakan. (no. 53)
Ketiga puluh satu: Fanatisme golongan, dan sempitnya al wala (loyalitas) dan al baro’ (pemisaham diri) (no. 54)
Ketiga puluh dua: Menempuh prinsip “Tujuan itu bisa menghalalkan segala cara.” (no. 55)
Ketiga puluh tiga: Memancangkan permusuhan terhadap para kritikus yang bermaksud menasihati dan dan orang yang kokoh di atas kebenaran (no. 56)
Bercabang dari itu:
1- Penyempitan dan upaya mengganggu salafiyyin (no. 57)
2- Menginginkan kecelakaan terhadap Ahlussunnah (no. 58)
3- Merampas masjid-masjid, atau posisi imam, atau posisi khothib dari tangan ahlussunnah (no. 59)
4- Penakut-nakutan dan teror psikologis (no. 60)
Ketigapuluh empat: Penggunaan lafadh-lafadh yang umum dan ungkapan yang global (no. 61)
Ketigapuluh lima: pertemuan-pertemuan rahasia untuk melangsungkan rencana yang mencurigakan (no. 62)
Ketigapuluh enam: penyia-nyiaan para pemuda yang tertipu oleh mereka, dalam bentuk memalingkan mereka dari kebaikan. (no. 63)
Ketigapuluh tujuh: kelembekan manhaj dan upaya untuk melunturkan kekokohan sikap (no. 64)
Ketigapuluh delapan: sedikitnya sikap waro’ (menjauhi perkara yang membahayakan akhiratnya) (no. 65)
Ketiga puluh sembilan: ridho dengan keikutsertaan para penulis yang tak dikenal dalam upaya menghantam dakwah Ahlussunnah (no. 66)
Keempat puluh: menyelisihi metode Salaf, baik secara ucapan ataupun secara keadaan (no. 67)
Keempat puluh satu: Bersembunyi di balik iklan pendirian markiz untuk melangsungkan kehizbiyyahan mereka (no. 68)
Keempat puluh dua: Kedengkian yang jelas yang mana mereka berupaya untuk meruntuhkan pusat dakwah Salafiyyah di Yaman, dan agar orang-orang berpindah dari situ untuk menuju ke markiz mereka yang belum jadi itu (no. 69)
Keempat puluh tiga: Tidak adil dalam menerapkan kaidah mereka sendiri, dan berbuat jahat dalam perselisihan. (no. 70)
Perhatian:
1- Kebanyakan dari perbuatan-perbuatan di atas dilaksanakan langsung oleh Abdurrohman Al ‘Adni dan saudaranya, atau juga banyak dilakukan oleh para pengikut mereka tanpa ada pengingkaran dari mereka padahal mereka tahu akan kebatilan itu.
2- Jumlah seluruh karakter hizbiyyah mereka –tanpa memperhatikan bahwa sebagiannya merupakan percabangan dari yang lainnya- adalah tujuh puluh karakter. Dan model penghitungan seperti ini sebagaimana yang diterapkan oleh Syaikh Ahmad An Najmi -rohimahulloh- dalam kitab beliau “Dahrul Hajmah”, hal itu diperbolehkan dalam syariat, karena masuk dalam bab: “Penggabungan perkara yang khusus kepada perkara yang umum”, atau sebaliknya, atau dalam bab “Penggabungan perkara yang parsial kepada perkara yang menyeluruh”, atau sebaliknya, sebagai bentuk peringatan bahwa perkara tersebut juga masuk di dalam perkara yang tersebut sebelumnya.
Dan yang seperti itu terpandang dalam syariat, sebagimana dalam hadits Abi Huroiroh radhiyallohu ‘anhu, dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang bersabda:
«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »
“Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia berjanji maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan berkhianat.” (HSR Al Bukhori (33) dan Muslim (109))
Imam Ibnu Muflih -rohimahulloh- berkata, ”Dan boleh bagi seseorang untuk berkata,” .. dan bentuk ini adalah termasuk pola “Penggabungan perkara yang khusus kepada perkara yang umum”, dan hanyalah disebutkan dengan lafadz yang khusus dan terang agar jangan sampai ada orang yang salah paham sehingga mengira bahwasanya perkara yang tersebut setelahnya bukanlah suatu bentuk kebohongan, dan bahwasanya perkara itu tidak termasuk dalam lafadz tadi. Kemudian puncak dari itu adalah bahwasanya perkara itu masuk melalui jalur kenyataan, karena memang telah pasti bahwasanya perkara tadi itu adalah merupakan kebohongan juga, sesuai dengan penggunaan Al Qur’an dan As Sunnah dst. (“Al Adabusy Syar’iyyah” 1/35)
Dan juga seperti di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhuma, yang di dalamnya Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
«فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ . قَالَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلاَءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامَهُمْ، لاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلاَ عَذَابَ. قُلْتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ »
“Maka aku melihat ke sana, maka tiba-tiba ada suatu kelompok yang banyak. Dikatakan padaku: ”Mereka adalah umatmu. Dan di barisan yang terdepan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang tidak dihisab dan tidak disiksa.” Aku bertanya ”Kenapa demikian?” Dia menjawab,”Mereka dulunya tidak meng-kay (mengobati dengan besi panas), tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib sial, dan mereka bertawakkal pada Robb mereka.” (HSR Al Bukhory (6541) dan Muslim (220))
Al Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- berkata,”Sabda beliau (dan mereka bertawakkal pada Robb mereka) memungkinkan jumlah ini sebagai penafsir bagi perkara yang sebelumnya yang berupa: peninggalan minta ruqyah, kay, dan meramal nasib sial. Dan mungkin juga sebagai bentuk umum setelah khusus, karena satu sifat dari perkara di atas merupakan sifat khusus dari tawakkal, dan tawakkal itu lebih umum dari itu.” (selesai penukilan yang diinginkan dari “Fathul Bari” 11/hal. 571)
Jawaban ketiga: Barangsiapa menelusuri –dengan adil dan jujur dalam mencari kebenaran- penjelasan ahlussunnah dari Markiz Induk Darul Hadits di Dammaj -harosahalloh- dia akan mengetahui kebenaran dari apa yang kami katakan tentang karakter hizbiyyah Ibnai Mari dan komplotannya, dengan seizin Alloh. Maka barangsiapa memohon hidayah kepada Alloh dengan jujur, maka sungguh Alloh itu benar-benar merupakan Pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Dari Abu Dzarr radhiyallohu ‘anhu dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, di dalam riwayat beliau dari Alloh tabaroka wata’ala yang berfirman:
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
“Wahai para hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharomkan kezholiman terhadap diri-Ku, dan kujadikan hal itu harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua itu tersesat kecuali orang yang Kuberi petunjuk, maka mohonlah petunjuk pada-Ku niscaya akan Kuberi kalian petunjuk.” (HSR Muslim (2577))
Dan Alloh itu tidak menyia-siakan pahala orang yang berusaha untuk mencari hidayah.
﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhoan Kami, pastilah Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan keridhoan Kami, dan sesungguhnya Alloh itu benar-benar bersama dengan orang yang berbuat ihsan.” (QS Al ‘Ankabut 67)
Adapun orang yang lebih mengutamakan kebutaan, maka sungguh dia telah mengikuti jejak kaum Tsamud. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون﴾
“Adapun kaum Tsamud, maka Kami tunjuki mereka tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, maka mereka ditimpa oleh petir siksaan kehinaan dikarenakan apa yang dulunya mereka perbuat.” (QS Fushshilat 17)
Dan balasan dari bersikap buta adalah sesuai dengan amalannya itu.
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى . قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى﴾
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginyalah penghidupan yang sempit, dan Kami akan menggiringnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata,”Wahai Robbku, mengapa Engkau menggiringku dalam keadaan buta, padahal dulunya aku bisa melihat.” Alloh menjawab, “Demikianlah, telah datang padamu ayat-ayat Kami lalu engkau meninggalkannya, dan demikianlah pada hari ini engkaupun ditinggalkan.” (QS Thoha 124-126)

Bab Ketiga:

Cercaan Luqman Ba Abduh Kepada Syaikhuna hafizhohulloh

Sesungguhnya cercaan Luqman -hadahulloh- pada Syaikhuna -hafizhohulloh- itu banyak, di antaranya adalah perkataan dia: “persis ucapan Usamah bin Laden, na’am” juga: “kemudian yang ketiga kata Ibnu Katsir hukuman yang berlaku bagi orang seperti itu: (وأولئك هم الفاسقون.)”
“Al Hajuri harus mendatangkan 4 orang saksi kalau ndak dicambuk punggungnya. Kedua la tuqbal (1) lahu syahadah abadan. Kata Alloh nggak diterima persaksiannya, kata Alloh bahwa dia Kadzab ‘indalloh wa ‘indannas, Ia kadzab di sisi Alloh dan di sisi manusia. Kita menyatakan hat ya Hajuri, hat, kalo ndak ente mendapatkan posisi ini.” dan perkataannya: “Tentang asma wa sifat al Hajuri salah fatal” dan perkataannya: “hadza Mahmud al haddadi. Yang tidak menerima juga dikatakan hadza mubtadi’ tapi lisannya tidak sejelek ini (al Hajuri)” dan berkata: “Syeikh Abdulloh mengatakan bahwa Syeikh Yahya sangat berbahaya sekali terhadap dakwah di Yaman”
Jawaban yang pertama dari kami: Penukilan yang terakhir ini engkau lakukan tanpa pengingkaran darimu. Bahkan penukilan ini dalam posisi pendalilan, maka berarti dia adalah ucapanmu juga.
Jawaban kedua : ini merupakan cercaan darimu dan dari syaikhmu terhadap Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-, cercaan tanpa bukti. Dan pujian-pujian yang harum dari para ulama kepada Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- telah membantah kalian. Maka barangsiapa merenungkan pujian yang datang dari tokoh-tokoh yang jujur itu tadi dia akan tahu bahwa Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- adalah mujahid, penjaga sunnah, termasuk dari kalangan orang yang bertaqwa, waro’ dan zuhud. Dan beliau telah mengorbankan jiwanya untuk menjaga Islam dan sunnah, dan seakan-akan beliau berkata :
فَإِنَّ أَبِي وَوَالِدَهُ وَعِرْضِى لِعِرْضِ مُحَمَّدٍ مِنْكُمْ وِقَاء
« Karena sesungguhnya ayahku, kakeknya, dan kehormatanku adalah pelindung bagi kehormatan Muhammad. » (dari ucapan Hassan bin Tsabit radhiyallohu ‘anhu. HSR Al Bukhory (4141) dan Muslim (2490))
Tapi bersamaan dengan itu, sebagian orang yang tidak mengetahui kedudukan beliau -hafizhohulloh- membalasnya dengan syukur yang minim. Imam Ahmad bin Hanbal -rohimahulloh- berkata,”Alangkah bagusnya bekas para ulama untuk manusia, dan alangkah buruknya bekas manusia kepada ulama.” (Muqoddimah “Ar Raddu ‘alaz Zanadiqoh wal Jahmiyyah” hal. 52/dengan tahqiqnya)
Jawaban yang ketiga: Memang benar, Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- sebagaimana perkataan Abu Turob dan beberapa tokoh yang mulia -hafizhohulloh-, beliau memang berbahaya bagi dakwah seluruh ahli batil, sebagaimana dulunya Syaikh beliau Al Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh- dengan seidzin Alloh membahayakan dakwah mereka. Sampai-sampai beberapai utusan dari jam’iyyah Ihya’ut Turots ketika gagal merayu Al Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- mereka berkata,”Sesungguhnya dakwah kita tak akan beranjak kecuali setelah para ulama itu ditinggalkan.” (“Tuhfatul Mujib” / As’ilah Brithoniya)
Dan sampai-sampai Abul Hasan Al Mishry menyembunyikan jam’iyyahnya selama empat tahun pada masa Al Imam Al Wadi’i -rohimahulloh-. Ketika beliau meninggal dunia maka bergembiralah si Mishry itu seraya berkata,”Masa takut telah lewat!” dan mulai menampakkan kebatilannya. Dan dia tidak menyadari bahwa sang pengganti singa adalah singa juga. Maka singa ini mulai menghantam si Mishry. Dan singa ini dibantu oleh sang singa Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholy -hafizhohulloh- dalam menghantam si Mishry. Maka terkaparlah si Mishry pada saat dia menyangka bahwa tampuk kepemimpinan dakwah ada di tangannya. Juga manakala Falih Al Harby menampakkan taring dan cakarnya terhadap dakwah Salafiyyah, datanglah padanya tamparan-tamparan dari singa Hajury tadi. Kemudian sang singa Al Madkholy -hafizhohulloh- membantu beliau sehingga habislah Falih. Kemudian teruslah singa Hajury itu membagai-bagikan tamparan di antara seluruh musuh Alloh sehingga mereka merasa khawatir terhadap keselamatan diri mereka sendiri. Dan sampai-sampai Abdulloh bin Mar’y berusaha agar jangan sampai para pelajar Dammaj mengetahui kebatilan dirinya. Para saksi telah menyebutkan –sebagaimana yang diceritakan oleh Akhuna Muhammad Ba Jamal Al Hadhromy hafizhohulloh- bahwasanya Abdulloh bin Mar’y melarang para pelajar untuk menceritakan kepada orang yang datang dari Dammaj tentang kenajnggalan-kejanggalan yang ada di Syihr agar jangan sampai orang tadi berangkat dengan membawa gambaran yang jelek.
Dan demikianlah, seluruh ahli batil merasa terancam bahaya dengan singa tersebut sehingga beberapa pengikut Luqman Ba Abduh berkata,”Jangan sampai kalian mengabarkan pada Syaikh apa-apa yang dilakukan oleh para asatidzah di negri kita.”
Jawaban keempat: bahkan syaikhmu wahai Luqman -hadakumalloh-, dialah yang membahayakan dakwah Salafiyyah yang bersih dengan banyaknya utang yang dibuatnya katika dia banyak membuka proyek-proyek, dan ketika menutupnya dengan sebab kebangkrutan. Idenya dari dia, pelaksanaannya ada di bawah kepemimpinannya. Tapi jika proyek itu gagal, dan menanggung hutang, dipikulkannya ke pundak dakwah.
Dan dia juga yang membahayakan dakwah dengan menyusupnya dia ke tengah-tengah salafiyyin dengan membikin makar. Dan dia dulunya adalah pengikut Abul Hasan yang menyusup.
Dan dia jugalah yang membahayakan dakwah salafiyyah di Indonesia dengan syubhat-syubhatnya.
Jawaban yang kelima: di antara alamat ahlul bida’ adalah cercaan mereka kepada para pembawa sunnah yang memerangi ahlul batil. Imam Abu Hatim Ar Rozy rohimahulloh:
عَلامةُ أَهلِ البدَعِ الوَقيعةُ في أَهلِ الأَثَر. (“عقيدة السلف” ص109)
“Alamat dari Ahlul bida’ adalah celaan terhadap Ahlul Atsar.” (“Aqidatus Salaf” hal. 109)
Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan –hafizhohulloh- berkata:
وأقول لا يقع في أعراض العلماء المستقيمين على الحق إلا أحد ثلاثة: إما منافق معلوم النفاق، وإما فاسق يبغض العلماء؛ لأنهم يمنعونه من الفسق، وإما حزبي ضال يبغض العلماء؛ لأنهم لا يوافقونه على حزبيته وأفكاره المنحرفة. اهـ
“Dan kukatakan: Tidak ada yang melanggar kehormatan ulama yang istiqomah di atas Al Haq kecuali salah satu dari tiga golongan: Bisa jadi dia itu munafiq yang telah diketahui kemunafikannya. Bisa jadi dia itu orang fasiq yang benci terhadap ulama karena mereka (ulama) melarangnya dari kefasikannya. Dan bisa jadi dia itu hizbi yang sesat yang membenci ulama karena mereka (ulama) tidak mencocoki mereka di dalam kehizbiyahan mereka dan pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang.” (“Al Ajwibah Al Mufidah” hal. 51)
Fadhilatusy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholy -hafizhohulloh- berkata tentang sebagian dari alamat seorang hizby:
وقوعه في أعراض الدعاة إلى التمسك بما عليه أهل الأثر
“Dia mencemarkan kehormatan para da’i yang mengajak untuk berpegang teguh dengan apa yang dulunya ahlul atsar ada di atasnya.” (“Al ‘Aqdul Mindhodh” /sebagaimana di “Nashbul Manjaniq” karya Yusuf Al Jazairy -hafizhohulloh- hal. 77)

Bab Empat:

Pelecehan Luqman terhadap
Para Masyayikh Darul Hadits Dammaj
hafizhohumulloh

Luqman -hadahulloh- berkata: “Sekedar da’i (Syaikh Yahya) nggak tahu manhaj sudah naik pangkat”. (Afiffudin tertawa terbahak-bahak) .
Jawaban yang pertama: telah kita lewati bersama pujian yang agung dari para ulama untuk Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-, dan yang demikian itu cukup untuk membantah Luqman Ba Abduh.
Jawaban yang kedua: cocok untuk Luqman ucapan Abdulloh Ibnul Mu’taz:
العالم يعرف الجاهل، لأنه قد كان جاهلا، والجاهل لا يعرف العالم، لأنه لم يكن عالما
”Orang yang alim itu mengetahui orang bodoh karena dia dulunya jahil. Orang yang bodoh tidak mengetahui orang alim karena dia belum pernah jadi orang alim. ” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih” karya Al khothib Al Baghdady -rohimahulloh- /2 /hal. 365)
Jawaban ketiga: Cukuplah bagi Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- keutamaan bahwasanya beliau menjadi da’i di jalan Alloh sebagaimana firman Alloh ta’ala:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِين
« Dan siapakah yang lebih bagus ucapannya dari orang yang menyeru kepada Alloh, dan beramal sholih, dan berkata : sesungguhnya aku termasuk dari kalangan muslimin. » (Fushshilat 33)
Dan firman-Nya :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
«Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Alloh di atas bashiroh –ilmu dan keyakinan-, aku dan orang yang yang mengikutiku. » (Yusuf 108)
Jawaban keempat : Tolong jabarkan kepada kami wahai Ustadz Luqman, manhaj apa yang engkau anggap bahwa Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- tidak mengetahuinya, agar kami mengetahui apakah engkau termasuk dari kalangan orang-orang yang jujur di dalam beranggapan, ataukah engkau termasuk dari kalangan pembohong yang sok tahu.
Jawaban kelima: -dan ini khusus buat temanmu Muhammad Afifuddin –hadahulloh wa iyyaka- yang tertawa terbahak-bahak- : Kamu wahai Afif, butuh untuk dibacakan padamu firman Robb ta’ala :
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang mereka perbuat.” (At Taubah 82)
Dan Luqman berkata,”Ini rata-rata yang disebutkan Muhsin rata-rata teman saya belajar di Dammaj kok tiba-tiba muncul syaikh-syaikh baru. ”
Jawaban pertama: Alloh ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا * انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآَخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Dan tidaklah pemberian Robbmu itu terhalangi. Lihatlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Dan sungguh akhirat itu lebih besar derajatnya dan lebih besar pengitamaannya.” (Al Isro’ 20-21)
Anggaplah bahwasanya sebagian tokoh mulia tadi –bukan semuanya- dulunya memang teman belajarmu pada tahun-tahun yang telah lampau, apa yang menghalangi Alloh untuk mengaruniakan kepada mereka tambahan ilmu, kemudian mengangkat mereka ke derajat ulama karena kejujuraan mereka dalam menuntut ilmu, dan kesabaran mereka dalam bersungguh-sungguh, dan bagusnya tujuan mereka, tawadhu’nya mereka dalam duduk bersama ulama, serta tidak berubah menjadi bersikap buruk terhadap para ulama tadi? Dan yang demikian itu adaah dengan karunia Alloh dan Rohmat-Nya. Adapun Luqman dan semisalnya, maka sungguh mereka itu merosot kepada kehinaan sepulangnya mereka dari Dammaj.
Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- berkata beberapa bulan yang lalu,”Aku khawatir bahwasanya Luqman akan menjadi lebih hina daripada Ja’far jika dia tidak bertobat.” Atau yang seperti itu. Kemudian beliau -hafizhohulloh- setelah sampainya kaset tersebut berkata,”Luqman adalah Ja’far kedua. Hanya saja Ja’far lebih pemberani daripada dia.” “Luqman membikin para ikhwah tersia-sia di sana.” Demikian kurang lebihnya.
Maka tiada alasan untuk merasa aneh dengan kenaikan para “teman sejawat” tadi ke derajat yang tak terbayangkan di benak Luqman, karena seluruh urusan adalah milik Alloh, sebelumnya dan sesudahnya. Alloh ta’ala berfirman:
الله أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
“Dan Alloh itu lebih tadi di manakah menempatkan risalah-Nya.”
Dan juga befirman:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka itu yang membagikan rahmat? Kamilah yang membagi di antara mereka penghidupan mereka di dalam kehidupan dunia. Dan Kami angkat derajat-derajat sebagian dari mereka di atas sebagian yang lain, agar sebagian dari mereka menjadikan sebagian yang lainnya sebagai ejekan. Dan rohmat Robbmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Asy Syuro 32)
Jawaban yang kedua: Anggaplah bahwa orang-orang yang mulia tadi bukanlah ulama. Akan tetapi mereka mengetahui fitnah Ibnai Mar’i lalu mereka membongkarnya dan menampilkan bukti-bukti yang kuat dan argumentasi yang bercahaya. Dan mereka itu berjalan dengan bimbingan Syaikhuna Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- yang beliau itu alim, faqih, dan berpandangan tajam. Maka apakah engkau menerima berita dari mereka wahai Luqman? Ataukah engkau akan berkata,”Tak boleh berbucara tentang ahlul bida’ selain ulama”?
Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- ditanya: “Apakah berbicara tentang hizbiyyun atau tahdzir dari mereka termasuk perkara yang harom? Dan apakah perkara ini khusus untuk ulama dan bukan hak para penuntut ilmu meskipun telah jelas kebenaran bagi para penuntut ilmu tentang orang tersebut?”
Beliau -rahimahulloh- menjawab:
“Sudah semestinya untuk dia bertanya kepada ahlul ilmi tentang perkara tersebut. Akan tetapi orang yang melarikan umat dari As Sunnah, dari Ahlussunnah dan majelis ulama, maka umat harus ditahdzir dari orang itu. Jarh dan ta’dil harus orang tersebut mengetahui sebab-sebabnya dan harus bertaqwa kepada Alloh subhana wa ta’ala tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya asal dari kehormatan seorang muslim adalah terhormat.
Sebagaimana sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- :
فإنّ دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah harom, sebagaimana haromnya hari kalian ini di bulan kalian ini dan di negri kalian ini”.
Akan tetapi mubtadi’ah tidak mengapa seorang thalibul ilmi memperingatkan orang darinya, pada batas-batas yang diketahuinya, secara adil. Alloh ta’ala berfirman:
وإذا قلتم فاعدلوا
“Dan jika kalian berbicara maka berlaku adillah.”
ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألاّ تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتّقوى
“Dan jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum menjerumuskan kalian untuk berbuat tidak adil. Adillah kalian karena dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.”
إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان
“Sesungguhnya Alloh memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”
Dan Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memerintahkan Abu Dzarr untuk mengucapkan yang benar walaupun itu pahit.
Bahkan Alloh -‘azza wajalla- berfirman di kitab-Nya yang mulia:
ياأيّها الّذين آمنوا كونوا قوّامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيًّا أو فقيرًا فالله أولى بهما فلا تتّبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإنّ الله كان بما تعملون خبيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Maka harus ada keadilan ketika berbicara tentang hizbiyyun. Dan bukanlah aku maksudkan bahwasanya engkau melihat seorang mubtadi’ dan engkau menyebutkan kebaikan dan kejelekan yang ada padanya. Sesungguhnya mubtadi’ itu tidak pantas untuk kau sebutkan kebaikan dan kejelekannya.” (“Tuhfatul Mujib” hal. 187-188)
Juga Imam Robi’ bin Hadi Al madkholi -hafidhahulloh- ditanya: “Kebanyakan orang menyangka bahwasanya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan proses belajar yang sedang ditempuh oleh penuntut ilmu dalam perjalanannya kepada Alloh. Apakah pemahaman ini benar?”
Beliau -hafidhahulloh- menjawab: “Ini adalah pemahaman yang bathil. Dan ini termasuk metode ahlul bathil dan ahlul bida’ untuk memberangus lidah ahlus sunnah. Maka pengingkaran terhadap ahlul bida’ termasuk pintu amar ma’ruf nahi munkar yang terbesar. Dan tidaklah umat ini punya keistimewaan terhadap seluruh umat kecuali dengan keistimewaan ini.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan beriman kepada Alloh.”
Pengingkaran terhadap kemungkaran merupakan penerapan dari ilmu yang telah dipelajari oleh pemuda muslim, yaitu pemahaman dari agama alloh -tabaroka wata’ala- dan penelaahannya terhadap kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya yang mulia -‘alaihish shalatu was salam-.
Maka apabila perkara amar ma’ruf nahi munkar ini tidak diterapkan, khususnya terhadap ahlul bida’, maka dia bisa jadi masuk ke dalam firman Alloh -tabaroka wata’ala-:
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Orang-orang yang kafir dari bani Isroil telah dilaknat dengan lisan Dawud dan ‘Isa bin Maryam. Yang demikian itu adalah karena kedurhakaan mereka dan sikap mereka yang melampaui batas. Mereka dulunya tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka kerjakan. Sungguh jelek apa yang mereka kerjakan.”
Dan jika seseorang melihat kebid’ahan tersebar, ada penyerunya, ada pembawanya, pembelanya, dan ada orang yang memerangi ahlussunnah demi kebid’ahan itu, bagaimana dia diam saja?
Ucapan mereka,”Sesungguhnya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan ilmu” ini bohong. Justru ini bagian dari ilmu dan penerapan ilmu.
Apapun yang terjadi, maka seorang penuntut ilmu itu harus mengkhususkan waktu-waktu untuk memperoleh ilmu. Dan harus bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Tidak bisa dia menghadapi kemungkaran kecuali dengan ilmu. Bagaimanapun keadaannya dia harus memperoleh ilmu dan sekaligus pada waktu yang sama menerapkannya.
Alloh -tabaroka wata’ala- memberkahi pelajar yang mengamalkan ilmunya ini.
Dan terkadang bisa dicabut keberkahan itu manakala dia melihat kemungkaran di depan matanya tapi dia berkata,”nggak, nggak, aku belum belajar.” Dia melihat kesesatan dan ahlul bathil mengangkat syiar kebathilan dan mengajak orang kepadanya dan menyesatkan orang, dia justru berkata,”Tidak, tidak. Aku nggak mau sibuk dengan perkara-perkara ini, aku akan menyibukkan diri dengan ilmu.” Yaitu latihan untuk berbasa-basi. Semoga Alloh memberkahi kalian.” (“Ajwibatu Fadhilatusy Syaikh Robi'” hal. 34-35)
Dan dari sisi yang lebih umum, Imam Ibnu Baaz -rahimahulloh- berkata: “Maka setiap kita memiliki kewajiban. Setiap muslim di negri Alloh, di timur dan barat, di seluruh penjuru dunia. Setiap muslim, setiap penuntut ilmu, setiap ulama, dia punya kewajiban di dalam dakwah ke jalan Alloh yang dia telah dimuliakan Alloh dengannya, dan menolak syubhat-syubhat, dan membela Islam dari kebatilan, dan membantah lawan-lawannya, dengan cara-cara dan metode yang dipandangnya bermanfaat, yang menyampaikan kebenaran dan membikin manusia berminat untuk menerima kebenaran, dan dipandangnya bisa untuk menghentikan kebatilan.
Dan termasuk dari musibah yang terbesar adalah: Seseorang berkata,”Bukanlah aku yang bertanggung jawab dengan itu.” Ini salah. Ini merupakan kemungkaran yang besar. Ini bukan perkataan orang yang berakal. Kecuali jika pada posisi yang telah dicukupi oleh orang yang lain, suatu kemungkaran yang telah dihilangkan oleh orang yang lain, suatu kebatilan yang telah diperingatkan oleh orang yang lain.” –sampai pada ucapan beliau:- “Maka setiap orang harus menunaikan kewajibannya sampai kebenaran itu tertolong, dan sampai kebatilan itu tertumpas, dan sampai tegaknya hujjah terhadap lawan-lawan Islam.” (selesai) (“Al Ghozwul Fikry” karya beliau -rahimahulloh- hal. 17)

Luqman berkata,”Ana lihat ini pembodohan, ketika ana di telpon ustadz Abdul Jabbar dia berkata itu ada syaikh-syaikh baru yang menggelikan sekali. Ustadz-ustadz yang lama yang ada di sana itu faham siapa orang-orang ini. Tapi kita khan nggak tahu, sehingga mereka mengatakan ustadz-ustadz itu nggak benar. Itu syaikh Yahya tidak didukung, itu buktinya didukung.”
Jawaban pertama: Bahkan Abu Hazim dan yang semisal dengannya -hafizhohumulloh- di dalam fitnah ini ada di atas kebenaran, cahaya dan ilmu serta keyakinan dari Robb mereka, dengan karunia dan rohmat-Nya. Dan mereka itu ada di atas bukti yang nyata dari Robb mereka. Adapun kamu dan para pengikutmu di dalam fitnah ini ada di atas kebatilan, kebutaan, hawa nafsu, kesombongan dan pengolok-olokan. Syaikhul Islam -rohimahulloh- berkata,”Dan hawa nafsu itu seringnya menjadikan orangnya itu tidak mengenal kebenaran sedikitpun. (”Majmu’ul Fatawa” 27 hal. 91)
Jawaban kedua: pelecehan kalian terhadap para masyayikh itu nyata dan tidak bisa dita’wili lagi. Apakah kalian tidak malu pada Alloh yang berfirman:
َيا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum itu mengejek kaum yang lain, karena bisa jadi yang diejek itu lebih baik daripada mereka.” (QS Al Hujurot 11)
Jawaban ketiga: Kembalilah kalian –wahai para asatidzah lama- ke markiz induk Dammaj, dan lihatlah para masyayikh baru itu –menurut dugaan kalian-, kemudian ukurlah diri kalian dengan mereka dalam masalah ilmu, fiqh, Al Qur’an dan hadits. Abu Bakr –seorang penyair- mengumandangkan syair:
“Kapan saja kukatakan bahwa tuanku itu lebih utama daripada orang-orang itu, berarti aku telah merendahkan orang yang lebih kuutamakan itu. Tidak tahukah engkau bahwasanya pedang ini akan dihinakan oleh anak muda jika dia berkata bahwa pedang ini lebih tajam daripada tongkat?” (“Yatimatud Dahr” karya Ats Tsa’laby -rohimahulloh- /2/ hal. 224)
Jawaban ketiga: semoga Alloh merahmati seseorang yang mengenal kadar dirinya sendiri dan bersikap rendah hati. Abu Huroiroh radhiyallohu ‘anhu berkata: Dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ الله
“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun. Dan tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan kemaafan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Alloh kecuali Dia akan mengangkatnya.” (HSR Muslim (2588))
Luqman berkata,”Kemudian terjadi juga majelis di depan Yahya al Hajuri –yang hasilnya- ada empat perkara: Yang pertama kata al Hajuri tentang Abdurrahman al Mar’i : “hadza ma’ruf bahwa ini hizbi, ma yunkiru ahad yukholif hadza, tidak ada seorangpun yang mengingkari hal ini. Sampai akhirnya dikatakan : “amma Luqman Ba’abduh hadza jahil, nggak sepantasnya dijadikan sebab perselisihan antara kalian, hadza kaslan, hadza….” (Luqman tertawa).
Jawaban pertama: Lihatlah kepada ejekan Luqman buat Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Al Imam, “Tunggu dulu, Al Hajury imam.” dan berkata,”Tidak pantas untuk jarh wat ta’dil pada zaman ini selain Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya.” Dan Syaikh Robi’ -hafizhohulloh- berkata,”Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya”
Jawaban kedua: Apakah kau kira –wahai Luqman- bahwasanya Syaikhuna -hafizhohulloh- menghukumi Ibnai Mar’y sebagai hizbi, dan juga menghukumi engkau sebagai pemalas, beliau itu menghukumi dengan hawa nafsu dan kengawuran? Para masyayikh sunnah di Yaman di dalam “Bayan Ma’bar” mereka telah mengakui bahwasanya: “Syaikh Yahya itu tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya, dan kami mensyukuri beliau atas besarnya kerja keras dan kecemburuan beliau untuk agama ini.” Dan mereka tidak menertawakan beliau ataupun mengejek beliau –semoga Alloh menjaga beliau dan mereka semua-.
Luqman berkata,”Yahya al Hajuri waktu itu masih muter-muter besi cor di kolong-kolong, dia –yaitu Yasin Al Hizby- sudah ngajar.”
Jawaban pertama: Ini adalah penghinaan yang nyata, yang tidak terselubungi oleh kelamnya malam, apalagi tertutupi oleh potongan ekor. Dan penghinaan tadi merupakan makar untuk melarikan manusia dari seorang syaikh yang sunny dan penjaga sunnah.
Alloh ta’ala berfirman:
ولا يحيق المكر السيء إلا بأهله
“Dan tidaklah makar yang buruk itu menimpa kecuali pelakunya sendiri”.
Jawaban kedua: Apakah pekerjaan yang halal itu menghalangi seseorang untuk mengajar, menerima ilmu, ataupun ibadah-ibadah yang lain? Syaikh kami itu telah menggabungkan itu semua. Dan bahkan menjadi orang yang paling berilmu di Yaman –sesuai dengan persaksian Imam jarh wat ta’dil Muqbil bin Hadi Al Wadi’y -rahimahulloh- dan jadilah beliau Imam untuk ahlussunnah –dengan persaksian Syaikh Muhammad Al Imam hafidhahulloh-.
Adapun Yasin Al ‘Adny maka sungguh dia itu terus-terusan di dalam kenistaan. Bahkan syaikhmu -wahai Luqman- Abdurrohman Al ‘Adny telah berkata bahwa Yasin itu “Tidak beradab”, “Fasiq” dan punya firasat bahwa dia itu “Aku tidak mengira dia itu akan mendapatkan taufiq”.
Pembantu Yasin yang bernama Ahmad Misybah Al ‘Adny –juga teman seperjuangannya dalam hizbiyyah ini- hadahulloh telah berkata,”Kalaulah kemaslahatan itu ada di kepala anjing pastilah Yasin akan menjilatnya.” (“Syarorotul Lahab” 2/25 karya Syaikh Muhammad Al ‘Amudy -hafidhahulloh-)
Jawaban ketiga: (Syaikhuna Abu Bilal Al Hadhromy -hafizhohulloh- memberikan catatan kaki terhadap ucapan Luqman,” Yahya al Hajuri waktu itu masih … , dia –yaitu Yasin Al Hizby- sudah ngajar.” Ini merupakan bagian dari kedustaan Luqman. Syaikhuna Yahya dulu sudah dikenal di kalangan para penuntut ilmu. Dan dulunya beliau merupakan imam bagi masjid As Sunnah di Dammaj. Dan mungkin saja hal ini sebelum Yasin mengenal Dammaj. Kemudian, pengagungan apa ini yang kamu berikan terhadap orang-orang hizbiyyin yang telantar, sekaligus upaya untuk menjatuhkan seorang imam sunnah seperti Syaikhuna Yahya? Ini tidak lain kecuali hizbiyyah yang merusak, wahai Luqman. Barangsiapa yang bersama dengan mereka, diangkatnya dia melebihi kadarnya. Tapi barangsiapa tidak bersama mereka dijatuhkannya meskipun dia merupakan seorang ulama. Kita berlindung pada Alloh dari hawa nafsu.)
Jawaban keempat: Jika pekerjaan di bidang besi atau semen merupakan kehinaan di sisimu, maka ketahuilah bahwasanya engkau lebih hina. Sebagian tokoh yang mulia seperti Akhuna An Nabil Yusuf Al Jaza’iry -hafizhohulloh- telah mengabarkan kepada kami bahwasanya engkau dulunya sibuk dengan bidang sampah. Dan Akhuna Yasir Al Hadhromy -hafizhohulloh- juga mengabarkan kepada kami bahwasanya engkau dulunya sering bepergian. Kau tinggalkan jam-jam pelajaran Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- karena sering bepergian ke Shon’a dan Mukalla untuk bisnis madu. Juga Syaikhuna yang pemberani Abdul Hamid Al Hajury -hafizhohulloh- mengabarkan pada kami bahwa engkau itu bodoh, banyak bepergian dan sering meninggalkan jam-jam pelajaran Imam Al Wadi’y -rohimahulloh-, dan engkau sibuk dalam bidang sapu-menyapu. Bahkan akhuna Abdul Karim Al Hadhromy -hafizhohulloh- menceritakan bahwa engkau dulunya pernah memukul seorang pelajar, sampai-sampai Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- meneriakimu di waktu pelajaran beliau,”Wahai Abu Abdillah, kenapa engkau memukul saudaramu!?” dan dengan hebatnya tipu muslihatmu engkau bisa memberikan berbagai alasan untuk itu semua.
Jawaban kelima: pekerjaan yang dijalani dalam rangka menjaga ‘iffah (harga diri) dan untuk mencukupi nafkah keluarga itu lebih tinggi, lebih terhormat, dan lebih mulia daripada kehinaan mengemis yang kau lakukan, wahai Luqman. Bahkan engkau telah menghinakan dakwah Salafiyyah -setelah kau hinakan dirimu sendiri- dengan praktek mengemis itu.
Jawaban keenam: Upaya untuk merendahkan para pembela kebenaran merupakan penyakit lama. Alloh ta’ala berfirman:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
“Maka para pembesar yang kafir dari kaumnya itu berkata,”Tidaklah kami melihatmu kecuali sebagai orang biasa seperti kami, dan tidaklah kami melihatmu kecuali bahwasanya yang mengikutimu itu hanyalah orang-orang rendahan di kalangan kami, dan tidaklah kami melihat bahwasanya kalian itu memiliki keutamaan di atas kami. Bahkan kami mengira bahwa kalian itu pembohong.” (QS Hud 27)
Imam Ibnul Mubarok -rohimahulloh- berkata, ”Barangsiapa meremehkan ulama hilanglah akhiratnya. Barangsiapa meremehkan umaro’ sirnalah dunianya. Dan barangsiapa meremehkan saudaranya maka lenyaplah muru’ahnya (kewibawaannya)” (“Siyar A’lamin Nubala” 4/hal. 408)
Al Hakim An Naisabury -rohimahulloh- berkata, ”Setiap orang yang ternisbatkan kepada suatu jenis penyelewengan dan kebid’ahan, dia itu tidak memandang kepada Ath Tho’ifatul Manshuroh kecuali dengan pandangan mata kehinaan dst.” (“Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits” 1/hal. 6)
Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- berkata,”Dan di antara alamat para hizbiyyin adalah bahwasanya mereka mengejek ulama, dan mentazhid (menjadikan orang merasa tidak butuh) dari duduk-duduk dengan ulama, dan ini merupakan perbuatan yang membikin senang musuh-musuh Islam, dan bahkan merupakan perbuatan yang menyenangkan setan-setan, Wallohul musta’an.” (“Ghorotul Asyrithoh” 1/hal. 579)

Bab lima:

Pembelaan Luqman terhadap
Beberapa Penolong Kebathilan
dan Pelakunya

Luqman berkata,”Syeikh Ubaid dinyatakan sebagai hizbi. Akhirnya siapa yang tersisa?, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab –gurunya- dilecehkan.”
Jawaban pertama: Barangkali engkau bersandarkan pada kaset palsu yang dipasok oleh mata-mata hizb baru itu. Dan kaset tersebut telah tersebar di sebagian negri Hijaz. Atau barangkali engkau bersandarkan pada berita-berita dari mata-matamu yang terus bercokol di markiz induk ini. Jika tidak demikian, maka beberkan pada kami sumber perkataan itu. Kami sendiri belum pernah mendengar Syaikh kami -hafizhohulloh- terang-terangan mengatakan bahwa Ubaid Al Jabiry itu hizby.
Jawaban kedua: sesungguhnya baku tolong antara Ubaid Al Jabiry dengan komplotan hizb baru itu sudah terkenal. Dan usaha dia untuk mengobarkan api fitnah itu nyata. Juga makar dia terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman –pada umumnya- dan terhadap Syaikhuna Yahya hafizhohulloh –pada khususnya- itu telah terdeteksi. Juga kedholimannya dalam berdebat itu telah terungkap. Dia juga berusaha untuk mengengkaty kembali citra Sholih Al Bakry –sang hizby yang ghuluw-, padahal para Salafiyyun telah selesai dengan fitnah dia, setelah fitnah Abul Hasan.
Maka tak akan bermanfaat baginya tangisanmu buatnya sedikitpun, karena Alloh telah membongkar aibnya. Semoga Alloh menyusulinya dengan rohmat-Nya yang luas. Kalau tidak begitu, maka dia itu bukanlah orang pertama yang terjatuh di dalam kebatilan di masa tua. Sesungguhnya amalan itu berdasarkan masa penghabisannya.
Jawaban ketiga: Ucapanmu (akhirnya siapa yang tersisa?) sungguh aneh sekali. Apakah ilmu itu hanya terbatas pada Ubaid Al Jabiry, dan tidak ada di alam ini satu alimpun selain dia? Dan apakah jika Syaikhuna -hafizhohulloh- mengkritiknya dengan apa yang pantas untuk dirinya, berarti beliau telah mengkritik seluruh ulama di seantero jagad?
Jawaban keempat: Ucapanmu (Syeikh Muhammad bin abdul wahhab –gurunya- dilecehkan) sungguh aneh. Telah Nampak cercaan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby -waffaqohulloh- terhadap Imam Al Wadi’y -rohimahulloh-. Dan telah jelas upayanya untuk melunturkan manhaj al wala’ (loyalitas) wal baro’ (pemutusan hubungan), sehingga dia bersikap lumer dan lunak terhadap beberapa tokoh Hasaniyyun. Dan telah tersingkapkan kesombongan dirinya terhadap nasihat para Salafiyyun. Maka balasan itu sesuai dengan jenis amalannya.
Dan di antara kebatilan Syaikh Muhammad Al Wushoby -hadahulloh- : dia itu mencerca Imam Al Wadi’y -rohimahulloh-. Berikut ini adalah persaksian dari Abdul Hadi Al Mathory yang akan dinukilkan dari tulisan tangannya sendiri: “Dulu kami pernah mengunjungi Syaikh Muhammad bin abdul wahab Al Wushoby sekitar tahun 1414 H. setelah kami makan siang bersama Syeikh Muhammad Al Wushoby, aku, Husain Al Mathory, Hasan Al Wushoby dan Ali Adz Dzary … Syaikh Muhammad berkata tentang Syaikh kami Muqbil –dan beliau saat itu masih hidup-,””Buku-buku Syaikh Muqbil kebanyakannya adalah harokiyyah (pergerakan).” Lalu aku dengan sengaja berkata,”Mengapa? Ash Shohihul Musnad? Al Musnad? Asy Syafaat? Ijabatus Sa’il?” Dia menjawab,”Yang aku maksud adalah Al Makhroj, As Suyuful Batiroh, Fadhoihul Mudzabdzabin” dan yang lainnya. Buku ini tidak memberikan faidah kepada para penuntut ilmu dan tidak pula bagi para pencari kebaikan. Seandainya dia menempuh jalan sebagaimana Syaikh Ibnu Baz akan terjadi kebaikan dan tersebar manfaat. Maka kau dapati semua orang akan mengambil faidah, Ikhwani, orang awam, surury, apalagi sunny, Datang pertanyaan dari sana sini, fatwa, dakwah, kebaikan yang banyak. Syaikh Muqbil sulit diterima oleh masyarakat dan banyak yang tidak menyukai. Syaikh adalah orang yang berilmu, tidak layak baginya untuk membuang waktunya untuk buku-buku dan kaset-kaset yang seperti ini.!”
Inilah yang saya ingat wallohu a’lam.
Ditulis oleh Abdul Hadi Al Mathory.
(risalah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 17 karya Syaikhuna Kamal bin Tsabit Al ‘Adny -hafizhohulloh-)
Dan di antara kebatilannya juga adalah bahwasanya dia mencerca dua Imam Ahlussunnah pada zaman ini: Syaikh Sholih Fauzan dan Syaikh Robi’ Al Madkholy -hafizhohumalloh-. Dia berkata, ”Sesungguhnya Syaikh Sholih Fauzan dan Syaikh Robi’ itu jawasis (intel/mata-mata).” Ucapan ini banyak tersebar di kalangan orang-orang yang bermajelis dengan Syeikh Muhammad Al Wushoby -hadahulloh- di Hudaidah dan daerah lain. Dan orang yang paling banyak menyebarkan ketergelinciran ini adalah Hani’ Buroik, sebagaimana dipersaksikan oleh orang yang mengetahui ini darinya di Saudi dan tempat yang lain, dan juga Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adny, sebagaimana dipersaksikan oleh akhuna Muhammad Al Kutsairy.
Dan juga Syaikh Muhammad Al Wushoby menuduh Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Raimy –pemilik markiz dakwah di Ta’z, dan murid Imam Al Albany rohimahulloh- bahwasanya beliau itu jasus (intel). (risalah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 17)
Dan termasuk dari kebatilannya juga adalah menyelenggarakan muhadhoroh bersama Jalal bin Nashir -yang telah dihukumi sebagai mubtadi’ oleh Imam Al Wadiy rohimahulloh- dan memberinya kesempatan untuk menyampaikan ceramah di depan para Salafiyyun. Bahkan Syaikh Muhammad Al Wushoby telah memperluas daerah pergaulan sampai pada para ahli jam’iyyat seperti Abdulloh Al Marfady yang telah dihukumi sebagai hizby oleh Imam Al Wadiy rohimahulloh-. Dan Jamil Asy Syuja’ –tokoh hasany- juga berceramah di markiz Syaikh Muhammad Al Wushoby. Juga dia berkata,”Sesungguhnya perselisihan di antara kita dengan Ahmad bin Manshur Al ‘Udainy itu tidaklah besar. (risalah “At Ta’mid wat Tad’im” hal. 9-10 dan sumber yang lain)
Maka hendaknya engkau dan si Afifuddin merujuk kembali kaset-kaset dan malzamah-malzamah tersebut –yang kalian menghalangi orang-orang untuk menyebarkannya- niscaya kalian akan mendapatkan dalil-dalil yang nyata tentang sebagian kebatilan Syaikh Muhammad Al Wushoby -waffaqohulloh- sejak masih hidupnya Imam Al Wadi’y -rohimahulloh-. Dan aku tidak butuh untuk membeberkannya di sini.
Beberapa ulama telah menggunakan perkataan Syaikhul Islam -rohimahulloh- tentang kelompok wihdatul wujud, untuk menghantam para hizbiyyun secara umum. Beliau berkata,”Wajib untuk menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau mengagungkan kitab-kitab mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya itu saling bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai kritikan kepada mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka, bahwasanya perkataan mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak diketahui siapakah yang menulis kitab ini, atau udzur-udzur yang seperti ini yang tidaklah mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munafiq. bahkan wajib untuk menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling menolong untuk menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka merupakan termasuk kewajiban yang paling agung dst” (“Majmu’ul Fatawa” 2/132)
Syaikh Ahmad An Najmy -rahimahulloh- berkata tentang ciri-ciri hizbiyyah Qodhi Ibrohim bin Hasan Asy Sya’by,”Dan di antara yang menunjukkan terperosoknya dirimu ke dalam hizbiyyah adalah pengingkaranmu terhadap diriku, dan pengingkaranmu terhadap perkara-perkara yang kusebutkan tentang para hizbiyyun.” (“Dahrul Hajmah” hal. 13, dan seperti itu hal. 19)
Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata,”Maka penulis kitab “Al Mi’yar” dan hizbnya berusaha untuk membunuh manhaj salafy dengan cara melumerkannya, dan meremehkan nilainya, dan mencoreng para pembawanya, dan dengan pembelaan mereka terhadap ahlil bida’, dan membalas dendam untuk mereka.” (“Bayan Fasadil Mi’yar” hal. 82)



(Inilah akhir dari terjemahan seri pertama
dari kitab
“BANGKITNYA KESADARAN PENUH
DENGAN TERBONGKARNYA
HIZBIYYAH LUQMAN BA ABDUH”)