Tabayyun Menurut Ahlus Sunnah 

Berbeda Dengan Hawa Nafsu Ahlul Bid’ah “

                                                                                                                                                    

Disusun Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsi Al Indunisiy

Di Darul Hadits Salafiyyah Dammaj Yaman

-semoga Alloh menjaganya- Malam Rabu, tanggal 11 Shofar 1433 H

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله الذي قال: }وما أمروا إلا ليعبدوا اللَّه مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة{ وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله الذي قال: ((إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى. فمَنْ كانت هجرته إِلَى اللَّه ورسوله فهجرته إِلَى اللَّه ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إِلَى ما هاجر إليه)) اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

Sesungguhnya Alloh ta’ala telah menurunkan Al Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi para hamba-Nya. Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al Isro: 9).

 

Dan Alloh telah memudahkan Al Qur’an bagi kaum Mukminin yang niatnya bersih, dan bersungguh-sungguh mencurahkan daya untuk mempelajari dan memahaminya. Alloh ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17).

Juga berfirman:

﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhoan Kami, pastilah Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan keridhoan Kami, dan sesungguhnya Alloh itu benar-benar bersama dengan orang yang berbuat ihsan.” (QS Al ‘Ankabut 67)

Akan tetapi para pengekor hawa nafsu terhalangi dari memahami Al Qur’an. Alloh ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَن يَهْتَدُوا إِذاً أَبَداً

“Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al Kahfi: 57).

Di antara contoh kasus nyata ketidakpahaman para pengekor hawa nafsu terhadap Al Qur’an adalah slogan mereka untuk 

MENGHARUSKAN MANUSIA UNTUK TABAYYUN (MENCARI KEJELASAN) KEPADA PIHAK MEREKA SECARA LANGSUNG, DALAM BERITA YANG DIRASA MERUGIKAN PIHAK MEREKA, SEKALIPUN TELAH ADA BUKTI DAN SAKSI. [1]

Perkara ini telah saya jelaskan dalam kandungan beberapa risalah, akan tetapi berhubung ada permintaan untuk menjelaskannya lagi dan terulang-ulangnya pengkaburan yang dilakukan oleh parahizbiyyun, maka saya dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan berusaha memenuhinya, semoga Alloh memberikan keberkahan di dalamnya. Wabillahittaufiq:

 

Bab Satu: Dalil Yang Dipakai Ahlul Ahwa Dalam Mengharuskan Adanya “Tabayyun” Terhadap Berita Orang Yang Terpercaya

 

Beberapa ikhwah Salafiyyun telah beberapa kali menantang Ahlul Ahwa untuk menampilkan dalil yang mereka pakai untuk mengharuskan Adanya “Tabayyun” terhadap berita tsiqoh (Orang Yang Terpercaya), ternyata mereka berdalilkan firman Alloh ta’ala:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [ [الحجرات/6]

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6).

Mereka berkata: dalam ayat ini Alloh memerintahkan untuk tabayyun terhadap berita!

Di antara ahlul ahwa ada yang berdalilkan dengan kisah Umar ibnul Khoththob dan Abu Musa Al Asy’ariy رضي الله عنهما :

: جاء أبو موسى إلى عمر بن الخطاب فقال السلام عليكم هذا عبدالله بن قيس فلم يأذن له فقال السلام عليكم هذا أبو موسى السلام عليكم هذا الأشعري ثم انصرف فقال ردوا علي ردوا علي فجاء فقال يا أبا موسى ما ردك ؟ كنا في شغل قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: (الاستئذان ثلاث فإن أذن لك وإلا فارجع ) قال لتأتيني على هذا ببينة وإلا فعلت وفعلت فذهب أبو موسى

قال عمر إن وجد بينة تجدوه عند المنبر عشية وإن لم يجد بينة فلم تجدوه فلما أن جاء بالعشي وجدوه قال يا أبا موسى ما تقول ؟ أقد وجدت ؟ قال نعم أبي بن كعب قال عدل قال يا أبا الطفيل ما يقول هذا ؟ قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك يا ابن الخطاب فلا تكونن عذابا على أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم قال سبحان الله إنما سمعت شيئا فأحببت أن أتثبت . (أخرجه مسلم [2154]).

“Datanglah Abu Musa kepada Umar ibnul khoththob seraya berkata: “Assalamu’alaikum, ini Abdulloh bin Qois.” Tapi beliau tidak diidzinkan masuk. Lalu beliau berkata lagi: “Assalamu’alaikum, ini Abu Musa.” “Assalamu’alaikum, ini Al Asy’ariy”. Kemudian beliaupun pulang. Maka Umar ibnul khoththob berkata: “Kembalikan dia kepadaku, kembalikan dia kepadaku,” maka datanglah Abu Musa. Maka Umar berkata: “Wahai Abu Musa, apa yang membuat Anda kembali? Kami tadinya sedang dalam kesibukan.” Maka Abu Musa menjawab: “Saya mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Meminta idzin itu tiga kali, jika engkau diidzinkan maka masuklah, jika tidak maka kembalilah.”

Umar berkata: “Engkau harus mendatangkan padaku bayyinah (bukti) atas kebenaran adanya hadits ini. Jika tidak maka aku akan menindakmu.” Maka pergilah Abu Musa. Umar berkata (pada orang-orang di sampingnya): “Jika dia mendapatkan bayyinah, kalian akan mendapatinya ada di samping mimbar sore ini. Tapi jika dia tidak mendapatkan bayyinah kalian tak akan mendapatinya.” Manakala Abu Musa datang pada sore hari, mereka mendapatinya di mimbar. Maka Umar berkata: “Wahai Abu Musa, apa yang akan engkau katakan? Apakah engkau telah mendapatinya?” beliau menjawab: “Iya, Ubai bin Ka’b.” Umar berkata: “Adil. Wahai Abuth Thufail, apa sih yang diucapkan olehnya?” Ubai bin Ka’b menjawab: “Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengucapkan itu. Wahai Ibnul Khoththob, janganlah engkau menjadi siksaan terhadap para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم.” Maka Umar menjawab: “Subhanalloh, aku hanyalah mendengar sesuatu lalu aku ingin mencari ketetapan.” (HR. Muslim (2154) dengan lafazh ini. Asal hadits juga diriwayatkan Al Bukhoriy (2062)).

Mereka berkata: di dalam kisah ini Umar ibnul Khoththob ingin tatsabbut terhadap kabar Abu Musa!

Mereka juga punya syubhat: Orang tsiqoh juga bisa keliru!

 

Bab Dua: Bantahan Terhadap Pendalilan Ahlul Ahwa dengan Ayat “Tabayyun”

 

Firman Alloh ta’ala:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [ [الحجرات/6]

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6)

Jawaban pertama: Ayat ini bukanlah memerintahkan kita untuk bertabayyun terhadap berita secara mutlak, hanya saja perintah ini ditujukan kepada kita jika ada ORANG FASIQ datang membawa berita.

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

يأمر تعالى بالتثبت في خبر الفاسق ليُحتَاطَ له، لئلا يحكم بقوله فيكون -في نفس الأمر-كاذبًا أو مخطئًا، فيكون الحاكم بقوله قد اقتفى وراءه، وقد نهى الله عن اتباع سبيل المفسدين. تفسير ابن كثير [7 /370]

“Alloh ta’ala memerintahkan untuk tatsabbut (mencari ketetapan) tentang kabar dari orang fasiq agar disikapi dengan hati-hati agar tidak ditegakkan hukuman berdasarkan ucapannya sehingga jadilah –kenyataannya- dia berdusta atau salah, sehingga jadilah orang yang menghukumi dengan perkataan si fasiq tadi telah berjalan di belakangnya, padahal Alloh telah melarang untuk mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 370).

Al Imam Asy Syinqithiy رحمه الله berkata:

وقد دلت هذه الآية من سورة الحجرات على أمرين :الأول منهما : أن الفاسق إن جاء بنبإ ممكن معرفة حقيقته ، وهل ما قاله فيه الفاسق حق أو كذب فإنه يجب فيه التثبت .(أضواء البيان في تفسير القرآن بالقرآن [7 /469]

“Ayat dari suroh Al Hujurot ini menunjukkan kepada dua perkara. Yang pertama adalah: bahwasanya orang fasiq jika datang dengan suatu berita yang memungkinkan untuk diketahui hakikatnya: dan apakah yang dikatakan si fasiq ini benar ataukah dusta, maka wajib untuk tatsabbut di situ.” (“Adhwaul Bayan”/7/hal. 469).

Sementara kasus kita sekarang ini adalah: seorang salafiy adil tsiqoh datang dengan persaksian bahwa si fulan berkata demikian dan demikian, atau datang dengan membawa rekaman muhadhoroh terbuka yang isinya si fulan berkata demikian dan demikian. Maka sangat tidak pantas menjadikan ayat yang berlaku untuk orang fasiq ditimpakan kepada orang tsiqoh.

Alloh ta’ala berfirman:

أًمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أّن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاء مَّحْيَاهُم وَمَمَاتُهُمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al Jatsiyah:21)

Lebih jelasnya lagi adalah:

Jawaban kedua: sesungguhnya ayat tabayyun ini mengaitkan perintah untuk tabayyun, pada suatu sifat, yaitu shifatul fisq (kefasikan), dengan huruf FA (ARTINYA: MAKA), sebagai gambaran sebab akibat, maka ini menunjukkan bahwasanya sifat tersebut adalah ‘illah (motif) dari perintah tadi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata ketika membicarakan perintah untuk menyelisihi orang kafir:

أنه رتب الحكم على الوصف بحرف الفاء فيدل هذا على أنه علة له من غير وجه. (اقتضاء الصراط المستقيم [1 /172]).

“Sang pembuat syariat menjadikan hukum tadi sebagai akibat dari sifat tersebut dengan huruf FA (artinya: maka), maka hal ini menunjukkan bahwasanya sifat tadi adalah ‘illah untuk hukum tadi, dari beberapa segi.” (“Iqtidhoush Shirothol Mustaqim”/1/hal. 172).

Jika telah jelas bahwasanya ‘illah dari perintah tabayyun tadi adalah: fasiqnya sang pembawa berita, maka masuklah kita pada kaidah yang terkenal:

فإن الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما. (أصول السرخسي [2 /182]

“Karena sesungguhnya hukum itu beredar bersama ‘illah yang berpengaruh, dalam keadaan ada ataupun tiada.” (“Ushul As Sarkhosi”/2/hal. 182).

Jika ada ‘illah, berlakulah hukum, tapi jika ‘illah tadi tidak ada, maka hukum tadipun tiada. Jika yang membawa berita adalah orang fasiq, maka kita diperintahkan untuk tabayyun. Tapi jika yang membawa berita adalah orang tsiqoh, maka tidaklah kita diperintahkan tabayyun.

Maka dari itu, sungguh keliru perintah Ahlul Ahwa untuk tabayyun langsung kepada mereka saat orang tsiqoh membawa berita yang memojokkan mereka.

Jawaban ketiga: justru firman Alloh ta’ala ini adalah dalil Ahlussunnah tentang bolehnya menerima berita tsiqoh tanpa harus tabayyun.

Ayat ini berbentuk SYARAT (jika terjadi demikian dan demikian, maka harus berbuat ini dan itu). Dan pola SYARAT itu punya mafhum mukholafah.

Al Imam Asy Syinqithiy رحمه الله berkata:

والثاني : هو ما استدل عليه بها أهل الأصول من قبول خبر العدل لأن قوله تعالى : { إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُ بِنَبَإٍ فتبينوا } يدل بدليل خطابه ، أعني مفهوم مخالفته أن الجائي بنبإ إن كان غير فاسق بل عدلاً لا يلزم التبين في نبئه .(أضواء البيان في تفسير القرآن بالقرآن [7 /469]

“Yang kedua: dia itu adalah perkara yang dipakai sebagai dalil oleh para ahli ushul tentang dibolehkannya menerima berita dari orang yang adil, karena firman Alloh ta’ala: “Jika datang pada kalian orang yang fasiq dengan suatu berita maka carilah kejelasan” menunjukkan dengan DALIL KHITHOB, yaitu mafhum mukholafah (yang dipahami dari kebalikannya) bahwasanya orang yang datang dengan membawa berita itu, jika dia bukan orang fasiq, bahkan dia adalah orang adil, TIDAKLAH HARUS TABAYYUN TENTANG BERITANYA.” (“Adhwaul Bayan”/7/hal. 469).

Dalam ayat ini Alloh ta’ala memerintahkan untuk melakukan tabayyun jika ada orang fasiq datang dengan suatu berita. Maka dipahami dari ayat ini bolehnya menerima berita orang tsiqoh dan menjadikannya sebagai dasar untuk bertindak dan sebagainya. Al Imam Al Bukhory rohimahulloh meletakkan “Kitab Akhbaril Ahad” dalam “Shohih”nya:

باب ما جاء في إجازة خبر الواحد الصدوق …

“Bab dalil-dalil yang datang dalam penerimaan kabar satu orang yang jujur ..”

lalu beliau rohimahulloh menyebutkan beberapa dalil di antaranya adalah:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا{

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata:

في هذه الآية دليل على قبول خبر الواحد إذا كان عدلا، لانه إنما أمر فيها بالتثبت عند نقل خبر الفاسق. (“تفسير القرطبي” /16 /312)

“Dalam ayat ini ada dalil tentang diterimanya berita satu orang jika dia itu adil, karena Alloh ta’ala di dalam ayat ini hanyalah memerintahkan tatsabbut pada penukilan berita orang fasiq.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/16/hal. 312).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata:

لأنه علل الأمر بأنه إذا جاءنا فاسق بنبأ خشية أن نصيب قوما بجهالة فلو كان كل من أصيب بنبأ كذلك لم يحصل الفرق بين العدل والفاسق بل هذه الأدلة واضحة على أن الإصابة بنبأ العدل الواحد لا ينهى عنها مطلقا ..

“..Karena Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan jika datang pada kita orang yang fasiq yang membawa berita, khawatir kita akan menimpakan sesuatu pada suatu kaum dengan kebodohan. Andaikata setiap orang yang ditimpai sesuatu berdasarkan suatu berita itu demikian (harus ditabayyuni), niscaya tak akan terjadi perbedaan antara orang adil dengan orang fasiq. Bahkan dalil-dalil ini jelas menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan berita dari satu orang yang adil secara mutlak.. (“Majmu’”/15/307)

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam rangka meruntuhkan syubuhat Mu’tazilah dalam masalah khobarul Ahad menyebutkan beberapa dalil di antaranya adalah dengan ayat tatsabbut. Beliau berkata:

وهذا يدل على الجزم بقبول خبر الواحد أنه لا يحتاج إلى التثبيت، ولو كان خبره لا يفيد العلم لأمر بالتثبت حتى يحصل العلم.

“Dan ini menunjukkan keharusan menerima kabar satu orang, karena dia itu tidak butuh tatsabbut. Andaikata kabar satu orang itu tidak memberikan faidah ilmu, pastilah Alloh memerintahkan untuk tatsabbut sampai akhirnya menghasilkan ilmu.” (“Mukhtashor” hal. 577)([2]).

Al Imam Abdurrohman As Sa’diy رحمه الله berkata:

بل الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به، ففيه دليل، على أن خبر الصادق مقبول، وخبر الكاذب، مردود، وخبر الفاسق متوقف فيه كما ذكرنا، ولهذا كان السلف يقبلون روايات كثير [من] الخوارج، المعروفين بالصدق، ولو كانوا فساقًا. (“تفسير السعدي” /ص 799).

“Bahkan yang wajib ketika datang kabar dari orang fasiq adalah tatsabbut dan tabayyun. Jika ada alamat-alamat dan faktor penyerta yang menunjukkan pada kejujurannya, beritanya tadi bisadiamalkan dan dibenarkan. Tapi jika alamat-alamat tadi menunjukkan kedustaannya, maka didustakanlah dia dan tidak diamalkan. Maka dalam ayat ini ada dalil bahwasanya berita orang yang jujur itu diterima, dan berita dari orang yang pendusta itu ditolak, sementara berita dari orang fasiq itu dihentikan dulu sebagaimana yang telah kami sebutkan. Oleh karena itu dulu Salaf menerima riwayat-riwayat dari kebanyakan Khowarij yang terkenal kejujurannya, sekalipun mereka itu fasiq.” (“Taisirul karimir Rohman”/hal. 799).

Jawaban keempat: Hikmah diperintahkan tabayyun terhadap kabar fasiq adalah agar jangan sampai kita menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum berdasarkan ketidaktahuan, sehingga akhirnya kita menyesal. Alloh ta’ala berfirman:

] أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ [ [الحجرات/6]

“ jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6).

Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini:

لأن الخطأ ممن لم يتبين الأمر ، ولم يتثبت فيه هو الغالب وهو جهالة؛ لأنه لم يصدر عن علم (“فتح القدير ” /7 /10).

“… dikarenakan kesalahan dari orang yang tidak mencari kejelasan perkara dan tidak mencari kepastian dalam masalah tersebut itulah yang sering terjadi, dan itu merupakan kebodohan, karena tidak bersumber dari ilmu.” (“Fathul Qodir”/7/hal. 10).

Adapun kasus kita sekarang ini adalah: Ahlussunnah membongkar kebatilan Ahlul Ahwa berdasarkan persaksian dan berita orang tsiqoh. Dan telah lewat ucapan para imam bahwasanya kabar satu orang tsiqoh itu memberikan faidah ilmu, bukan sekedar dugaan belaka, apalagi dikatakan sebagai kebodohan.

Kalaupun kita mengalah dan mengatakan bahwasanya berita tsiqoh tidak memberikan faidah ilmu, tapi hanya GHOLABATUZH ZHONN (tidak pasti, akan tetapi kemungkinan besar benar), maka yang dimikian itu tidaklah menghalangi kita untuk menerima dan mengamalkannya, karena hal itu bukanlah masuk dalam kategori JAHALAH (ketidaktahuan), maka kami Ahlussunnah tidaklah melanggar ayat.

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata:

فإن قضى بما يغلب على الظن لم يكن ذلك عملا بجهالة، كالقضاء بالشاهدين العدلين، وقبول قول العالم المجتهد. وإنما العمل بالجهالة قبول قول من لا يحصل غلبة الظن بقبوله. ذكر هذه المسألة القشيري، والذي قبلها المهدوي. (“تفسير القرطبي” /16 /313)

“Jika dia memutuskan dengan sesuatu memberikan faidah dugaan yang dominan (kemungkinan besar benar), bukanlah yang demikian itu merupakan pengamalan dengan ketidaktahuan, seperti memutuskan perkara dengan dua saksi yang adil, dan menerima ucapan seorang alim mujtahid. Hanyalah dikatakan beramal dengan ketidaktahuan: jika menerima perkataan orang yang tak bisa memberikan faidah dugaan yang dominan (kemungkinan besar benar) jika ucapannya diterima. Masalah ini disebutkan oleh Al Qusyairiy, dan yang sebelumnya adalah Al Mahdawiy.” (“Al Jami’”/16/hal. 313).

Maka bagaimana lagi jika orang tsiqoh yang membawa berita tadi juga memperkuat beritanya dengan rekaman suara yang didapatkan dari muhadhoroh umum? Maka yang demikian itu bukanlah kebodohan, bukan pula sekedar dugaan kuat, bahkan ini memberi faidah ilmu.

Maka lebih tidak pantas lagi bagi dai hizbiyyin seperti Muhammad Afifuddin (Pengasuh/Pengajar Pesantren al-Bayyinah Gresik)– yang terbongkar kebatilannya dengan rekaman di muhadhoroh umum tadi- untuk menamai para ikhwah tadi sebagai sufaha (orang-orang tolol).

Jawaban kelima: upaya meruntuhkan kabar orang tsiqoh terhadap hizbiyyin, dengan talbis TABAYYUN memang sudah menjadi kebiasaan para Ahlul Ahwa. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata:

ومن الأصول الفاسدة والمناهضة لمنهج السلف الأصل الفاسد المسمى ظلماً وزوراً “بالتثبت” وهو الذي سار عليه عدنان عرعور ثم المغراوي ثم أبو الحسن المأربي وهو أشدهم تلبيساً ومكراً وتطبيقاً لهذا الأصل في مواجهة علماء السنة وطلابها ولحماية أهل الباطل والضلال. (“التثبت في الشريعة” /للشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله /ص 322).

“Dan termasuk dari prinsip-prinsip yang rusak dan menentang manhaj Salaf adalah: prinsip rusak yang dinamai secara zholim dan bohong dengan “Tatsabbut”. Dan itulah yang berjalan di atasnya ‘Adnan ‘Ar’ur, lalu Al Maghrowi, lalu Abul Hasan Al Ma’ribi, dan dia adalah orang yang paling keras talbis, makar, dan penerapan pokok ini di antara mereka, di dalam menghadapi ulama Sunnah dan thullabnya, dan untuk melindungi ahlul bathil dan ahludh dholal.” (“At Tatsabbut fisy Syari’ah” hal. 322/Majmu’ur Rudud).

Asy Syaikh Abu Ibrohim bin Sulthon Al ‘Adnani -hafizhahulloh- berkata tentang metode Al Quthbiyyah yang ketiga:

وقال فضيلة الشيخ أبو إبراهيم بن سلطان العدناني في وسيلة القطبية الثالثة: لَمَّا كانوا يعلَمون أنّ خططهم وأهدافهم قد تنكشف، نادوا بوسيلتهم الثالثة – التي أطلقوها في حادثة كُنَر – لتحقيق مآربهم، وهي: الدعوة إلى التثبّت. فأصبحوا يكثرون من ذكرها، والاستدلال لها بالأدلّة الشرعية، حتى أوهموا السامعين والقرّاء بأنّهم أهل التثبُّت والتبيُّن، فما جاء منهم، فلا يحتاج فيه إلى تثبُّت وتبيُّن، بخلاف غيرهم. (“القطبية هي الفتنة” /له حفظه الله  /ص116).

“Manakala mereka mengetahui bahwasanya garis-garis dan tujuan mereka telah tersingkap, mereka berseru dengan sarana yang ketiga –yang mereka sebutkan di dalam kejadian Kunar- demi merealisasikan tujuan-tujuan mereka, yaitu dakwah kepada tatsabbut. Maka jadilah mereka memperbanyak penyebutannya, dan mencari dalil untuk mendukungnya dengan dalil-dalil syar’iyyah, sampai mereka memberikan gambaran pada para pendengar dan pembaca bahwasanya mereka adalah ahli tatsabbut dan tabayyun. Maka berita yang datang dari mereka, tidak butuh kepada tatsabbut dan tabayyun, berbeda dengan yang lain.” (“Al Quthbiyyah” hal. 116)

Metode muhdats ini juga diambil oleh hizbiy terkenal Muhammad Al Mahdiy dalam kitabnya “Ma’alim Fil Jarh Wat Ta’dil ‘Indal Muhadditsin” (hal. 343), dia mengkritik Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dengan berkata: “Beliau tidak tatsabbut dalam penukilan…” (“Jinayatu ‘Abdirrohman Wa Hizbihi”/7/Abu Hatim Yusuf Al Jazairiy).

Begitu pula Mar’iyyah mempopulerkan syiar hizbiyyin ini: MENGHARUSKAN TABAYYUN TERHADAP KABAR DARI TSIQOH. Lihat dalam “Al Minzhorul Kasyif” (hal. 9/ Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal حفظه الله), “Jinayatu ‘Abdirrohman Wa Hizbihi” (hal. 7/Abu Hatim Yusuf Al Jazairiy), “Zajrul ‘Awi” (1/hal. 6 dst.), dan “Bayanud Dass Wat Talfiqot” (hal. 4-5/Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله).

Termasuk ekor hizbiyyah mereka adalah Muhammad Afifuddin As Sidawiy yang mencerca orang membongkar kebatilannya -dengan rekaman muhadhoroh dirinya sendiri- tanpa mau tabayyun langsung kepadanya.

Al Imam Muqbil Al Wadi’i -rahimahulloh- pernah ditanya: “sebagian orang menolak ucapan kritikus dari kalangan ulama sunnah terhadap sebagian ahlul bida’ dengan alasan bahwasanya orang yang dikritik ini belum dikomentari oleh ulama yang  lain. Dia berkata,”Di manakah fulan dan fulan, kenapa mereka tidak berbicara? Seandainya kritikan tadi benar niscaya mereka akan mengikutinya.” Maka apakah disyaratkan dalam komentar dan kritikan terhadap seseorang itu haruslah mayoritas dari ulama –atau semuanya- telah mengkritiknya juga? Terutama jika sang kritikus ini telah mengetahui berdasarkan bukti tentang ucapan si mubtadi’ ini, dari sela-sela muhadhoroh-muhadhoroh dan tulisan-tulisannya.”

الجواب: نعم نعم، المسألة يا إخوان، ما قرأ القوم المصطلح، أو أنهم قرؤوه ويلبسون! نقول لكم بأعظم من هذا: هب أن أحمد بن حنبل قال: ثقة، ويحيى بن معين قال: كذاب، فهل يضره قول يحيى، وقد خالفه أحمد بن حنبل؟ نعم، قول يحيى جرح مفسر، اطلع على مالم يطلع عليه أحمد بن حنبل، فماذا؟ دع عنك لو جرَّحه يحيى بن معين وحده، فعلى هذا إذا قام عالم من علماء العصر، وأبرز البراهين على ضلال محمد الغزالي، أو يوسف القرضاوي، أو منهج الإخوان المفلسين، نقبل ويجب قبوله، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾، نعم؛ إذا جاءنا العدل نقبل كما هو مفهوم الآية، إذا جاءنا العدل نقبل، فأين أنتم من الآية؟ التي تدل على أنه إذا جاءنا العدل بنبأ نقبله، وإذا جاءنا الفاسق بنبأ نتبين، فماذا يا إخوان؟ فالمهم القوم ملبسون، مخالفون لعلمائنا المتقدمين ولعلمائنا المتأخرين، والحمد لله، وإنني أحمد الله سبحانه وتعالى، الناس لا يثقون بك يا أيها المهوس، ولا بكلامك اهـ

Beliau -rahimahulloh- menjawab,”Ya ya. Permasalahannya -wahai ikhwan- orang-orang itu tidak membaca mushtholah. Atau mereka itu membacanya dan membikin pengkaburan! Kami katakan pada kalian dengan sesuatu yang lebih besar daripada ini: Anggaplah bahwasanya Ahmad bin Hanbal berkata,”Tsiqoh” sementara Yahya bin Ma’in berkata,”Kadzdzab (pendusta)”. Maka apakah membahayakan dia ucapan Yahya padahal telah diselisihi oleh Ahmad bin Hanbal? Tentu. Ucapan Yahya adalah kritikan yang terperinci. Beliau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Ahmad bin Hanbal. Terus apa? Bayangkan jika Yahya bin Ma’in mengkritiknya sendirian. Maka berdasarkan ini jika seorang alim dari ulama zaman ini bangkit dan memaparkan bukti-bukti tentang kesesatan Muhammad Al Ghozali atau Yusuf Al Qordhowi atau manhajul Ikhwanil Muslimin, kita terima dan wajib untuk menerimanya. Alloh ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita maka carilah kejelasannya agar jangan sampai kalian menimpakan suatu kejelekan kepada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal atas apa yang kalian lakukan.” Ya. Jika datang kepada kita orang yang adil kita terima sebagaimana pemahaman dari ayat ini. Jika datang kepada kita orang yang adil kita terima. Di manakah kalian dari ayat ini? Yang ayat ini menunjukkan bahwasanya jika datang kepada kita orang yang adil dengan suatu berita kita terima? Dan jika datang kepada kita orang yang fasik kita cari dulu penjelasannya. Lalu apa wahai ikhwan? Yang penting, orang-orang itu adalah tukang bikin pengkaburan. Mereka menyelisihi ulama kita terdahulu dan yang belakangan. Alhamdulillah, aku memuji Alloh سبحانه وتعالى  bahwasanya masyarakat tidak mempercayaimu wahai orang linglung mereka tidak mempercayai ucapanmu.” (“Al Ajwibatun Nadiyyah”/Imam Al Wadi’i -rahimahulloh-)

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholi -hafidhahulloh- berkata:

ديننا يقوم على أخبار العدول، من قواعده أخبار العدول، فإذا نقل لك الإنسان العدل كلاماً فالأصل فيه الصحة، ويجب أن تبني عليه الأحكام، وحذر الله من خبر الفاسق، فإذا إنسان معروف بالفسق وجاءك بخبر لا تكذبه، تَثَّبَت؛ لأن هناك احتمالاً أن يكون هذا الفاسق في هذا الخبر صادق، تَثَّبَت لا بأس، أما الآن العدل تلو العدل، والعدل تلو العدل يكتب ويشهد ما يُقبل كلامه، ويَنقل كلام الضال بالحروف ما تقبل شهادته، يقولون حاقد، فهذه من الأساليب عند أهل البدع و الفتن في هذا الوقت- نسأل الله العافية- لا يعرفها الخوارج، ولا الروافض، ولا أهل البدع في الأزمان الماضية، وجاءوا للأمة بأساليب وقواعد ومناهج وفتن ومشاكل وأساليب؛ إذا جمعتها –والله – ما يبقى من الدين شيء، إذا جمعت أساليبهم وقواعدهم لا يُبقون من الإسلام شيئاً، ومنها أخبار العدول يريدون أن يسقطونها،

“Agama kita berdiri di atas berita orang-orang adil, di antara kaidah-kaidahnya adalah berita dari orang-orang adil. Maka jika seorang yang adil menukilkan kepadamu suatu perkataan, maka pada asalnya berita itu adalah shohih, dan wajib untuk engkau membangun hukum di atasnya. Dan Alloh telah memperingatkan dari berita orang fasik. Maka jika ada orang yang dikenal kefasikannya dan mendatangimu dengan suatu berita, jangan kau dustakan dia. Telitilah dulu karena ada kemungkinan bahwasanya si fasik ini jujur dalam berita tersebut. Tatsabbut nggak apa-apa. Adapun sekarang: adil disusul dengan adil, adil disusul dengan adil, menulis dan bersaksi ucapannya justru tidak diterima. Dia menukilkan ucapan orang yang sesat dengan hurufnya ternyata persaksiannya tidak diterima. Mereka justru berkata: haqid (dendam). Ini adalah termasuk uslub-uslub (metode) ahlul bida’ wal fitan pada zaman ini –kita mohon pada Alloh keselamatan-yang tidak dikenal oleh khowarij ataupun rofidhoh ataupun ahlul bida’ pada masa-masa silam. Orang-orang itu mendatangi umat dengan metode, kaidah, manhaj, fitnah dan musykilah yang jika kau kumpulkan itu semua –demi Alloh- tak ada yang tersisa dari agama ini sedikitpun. Jika kau kumpulkan metode dan kaidah-kaidah mereka itu, mereka tidak menyisakan Islam ini sedikitpun. Di antaranya adalah berita orang-orang yang adil. Mereka ingin menggugurkannya … dst”  (“Al Mauqifush Shahih”/ Syaikh Robi’ Al Madkkholi/hal. 22)

Asy Syaikh Muhammad Umar Bazimul -hafidhahulloh- dalam bantahannya terhadap syubuhat Abul Hasan Al Mishriy berkata: “Seyogyanya untuk dibedakan antara mengikuti ijtihad dalam suatu permasalahan ijtihadiyah, dengan mengikuti kabar dari seorang alim. Karena mengikutinya dalam permasalahan ini adalah termasuk dalam bab “Menerima berita orang tsiqoh” dan itu adalah wajib. Kecuali jika tampak kesalahannya. Maka tidak bisa di dalam kedudukan ini dikatakan,”Aku tidak diharuskan menerima ucapan orang alim ini.” Atau “aku tidak menerima ucapannya tentang si fulan sampai aku sendiri yang mendapati kesalahannya secara langsung.” Ini semua adalah penggunaan ungkapan yang bukan pada tempatnya. Maka jika ada orang yang telah engkau kenal, lalu datang kritikan yang terperinci terhadapnya dari seorang alim yang tsiqoh, pada asalnya ucapan si alim ini adalah diikuti ([3]). Dan jangan kau katakan,”Aku tidak mengenalnya, maka aku tidak mengambil kritikan yang terperinci ini sampai aku sendiri yang mendapati kesalahannya secara langsung.” Tidak bisa dikatakan seperti ini. Dan hal itu adalah keluar dari jalan salaf dalam permasalahan ini” (“Ibaroh Muuhimah”/Syaikh Muhammad Umar Bazimul -hafidhahulloh-/27)

Jawaban keenam: kebatilan para hizbiyyun yang menjadikan KEHARUSAN TABAYYUN sebagai senjata untuk meruntuhkan kabar tsiqoh, pada hakikatnya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kebatilan mu’tazilah yang menjadikan KHOBAR AHAD LA YUFIDUL ‘ILM sebagai senjata untuk membatalkan kabar tsiqoh. Kedua kelompok Ahlul Ahwa ini sama-sama bersatu untuk menjadikan berita satu orang tsiqoh itu tidak teranggap. Hanya saja mu’tazilah menyatakan: “Jika orang yang tsiqoh itu didukung oleh para tsiqot yang lain sampai mencapai derajat mutawatir, maka baru boleh memberikan faidah ilmu.” Sedangkan para hizbiyyun pada penerapannya mereka tidak menganggap banyaknya tsiqot yang membawa berita itu memberikan faidah ilmu, sampai adanya tabayyun langsung ke pelakunya. Dan cukuplah kenyataan ini memberikan gambaran akan bahayanya kejahatan syubuhat hizbiyyun.

Jawaban Ketujuh: orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Alloh, setelah menelaah dengan cermat tafsir ayat tabayyun di atas, pahamlah dirinya bahwasanya pendalilan para hizbiyyun dengan memakai ayat tabayyun tersebut di atas pada hakikatnya menjadi bumerang untuk menghantam diri mereka sendiri. Demikianlah kebiasaan ahlul batil, dalil yang mereka pakai justru membantah kebatilan mereka sendiri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).

Bab Tiga: Bantahan Terhadap Pendalilan Dengan Kisah Umar dan Abu Musa 

Adapun syubuhat mereka dengan tuntutan Umar terhadap Abu Musa رضي الله عنهما untuk mendatangkan bayyinah, maka jawaban kami adalah sebagai berikut:

Jawaban pertama: Telah lewat dalil dari Al Qur’an tentang bolehnya menerima berita orang tsiqoh tanpa tabayyun. Maka jika  ucapan Umar di atas memang berbeda dengan ketentuan Al Qur’an, maka siapakah yang hendak didahulukan?  Firman Alloh ataukah ucapan Umar?

Jawaban kedua: Rosululloh صلى الله عليه وسلم beberapa kali menerima berita tsiqoh tanpa tabayyun. Di antaranya adalah:

Hadits ‘Aisyah  رضي الله عنها:

عن عائشة قالت : دخلت هند بنت عتبة امرأة أبي سفيان على رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت يا رسول الله إن أبا سفيان رجل شحيح لا يعطيني من النفقة ما يكفيني ويكفي بني إلا ما أخذت من ماله بغير علمه فهل علي في ذلك من جناح ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( خذي من ماله بالمعروف ما يكفيك ويكفي بنيك (أخرجه البخاري (2211) ومسلم (1714)).

“Hind binti ‘Uqbah istri Abu Sufyan masuk menemui Rosululloh صلى الله عليه وسلم seraya berkata: Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah pria yang pelit sekali, tidak memberiku nafkah yang mencukupi saya dan anak-anak saya, kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah saya berdosa dengan perbuatan itu?” maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ambillah dari hartanya sebatas kadar yang baik yang mencukupimu dan mencukupi anak-anakmu.” (HR. Al Bukhoriy (2211) dan Muslim (1714)).

Hadits Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما:

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال كان الفضل رديف رسول الله صلى الله عليه وسلم فجاءت امرأة من خشعم فجعل الفضل ينظر إليها وتنظر إليه وجعل النبي صلى الله عليه وسلم يصرف وجه الفضل إلى الشق الآخر فقالت يا رسول الله إن فريضة الله على عباده في الحج أدركت أبي شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة أفأحج عنه قال نعم وذلك في حجة الوداع. (أخرجه البخاري (1513) ومسلم (1334)).

“Dulu Al Fadhl diboncengkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم , lalu datanglah wanita dari Khots’am. Maka mulailah Al Fadhl memandangnya, dan wanita itupun memandang Al Fadl. Dan mulailah Rosululloh صلى الله عليه وسلم memalingkan wajah Al Fadhl ke arah lain. Maka wanita itu berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya kewajiban Alloh terhadap para hamba-Nya untuk berhaji mendapati ayah saya dalam keadaan sudah tua renta, tak bisa kokoh di atas kendaraan. Apakah boleh saya berhaji untuknya?” Beliau menjawab: “Iya.” Dan yang demikian itu pada Hajjatul Wada’ (haji perpisahan).” (HR. Al Bukhoriy (1513) dan Muslim (1334)).

Hadits Aisyah رضي الله عنها :

أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت  : أرسل أزواج النبي صلى الله عليه و سلم فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فاستأذنت عليه وهو مضطجع معي في مرطي فأذن لها فقالت يا رسول الله إن أزواجك أرسلنني إليك يسألنك العدل في ابنة أبي قحافة وأنا ساكتة قالت فقال لها رسول الله صلى الله عليه و سلم أي بنية ألست تحبين ما أحب ؟ فقالت بلى قال فأحبي هذه . الحديث. (أخرجه مسلم (2442)).

“Para istri Nabi صلى الله عليه وسلم mengutus Fathimah binti Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk menemui Rosululloh صلى الله عليه وسلم, maka dia meminta idzin untuk masuk dalam keadaan beliau berbaring bersamaku di selimutku. Maka beliau mengidzinkannya masuk. Maka fathimah berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya para istri Anda mengutus saya kepada Anda, mereka meminta keadilan dalam hak putri Abu Quhafah (‘Aisyah).” Dan aku diam saja. Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم menjawab:“Wahai anakku sayang, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?” Dia menjawab: “Iya.” Beliau bersabda: “Maka cintailah wanita ini (‘Aisyah)” (HR. Muslim (2442)).

Hadits Abu Musa Al Asy’ariy رضي الله عنه:

عن أبي موسى رضي الله عنه قال بلغنا مخرج النبي صلى الله عليه وسلم ونحن باليمن فخرجنا مهاجرين إليه أنا وأخوان لي أنا أصغرهم أحدهما أبو بردة والآخر أبو رهم إما قال بضع وإما قال في ثلاثة وخمسين أو اثنين وخمسين رجلا من قومي فركبنا سفينة فألقتنا سفينتنا إلى النجاشي بالحبشة فوافقنا جعفر بن أبي طالب فأقمنا معه حتى قدمنا جميعا فوافقنا النبي صلى الله عليه وسلم حين افتتح خيبر وكان أناس من الناس يقولون لنا يعني لأهل السفينة سبقناكم بالهجرة ودخلت أسماء بنت عميس وهي ممن قدم معنا على حفصة زوج النبي صلى الله عليه وسلم زائرة وقد كانت هاجرت إلى النجاشي فيمن هاجر فدخل عمر على حفصة وأسماء عندها فقال عمر حين رأى أسماء من هذه قالت أسماء بنت عميس قال عمر الحبشية هذه البحرية هذه قالت أسماء نعم قال سبقناكم بالهجرة فنحن أحق برسول الله صلى الله عليه وسلم منكم فغضبت وقالت كلا والله كنتم مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يطعم جائعكم ويعظ جاهلكم وكنا في دار أو في أرض البعداء البغضاء بالحبشة وذلك في الله وفي رسوله صلى الله عليه وسلم وايم الله لا أطعم طعاما ولا أشرب شرابا حتى أذكر ما قلت لرسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن كنا نؤذى ونخاف وسأذكر ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم وأسأله والله لا أكذب ولا أزيغ ولا أزيد عليه فلما جاء النبي صلى الله عليه وسلم قالت يا نبي الله إن عمر قال كذا وكذا قال فما قلت له قالت قلت له كذا وكذا قال ليس بأحق بي منكم وله ولأصحابه هجرة واحدة ولكم أنتم أهل السفينة هجرتان قالت فلقد رأيت أبا موسى وأصحاب السفينة يأتوني أرسالا يسألوني عن هذا الحديث ما من الدنيا شيء هم به أفرح ولا أعظم في أنفسهم مما قال لهم النبي صلى الله عليه وسلم. (أخرجه البخاري (4231-4232)).

“Telah sampai berita pada kami tentang keluarnya Nabi صلى الله عليه وسلم, dan kami saat itu ada di Yaman. Maka kamipun keluar untuk berhijroh kepada beliau. Aku dan kedua saudaraku, aku yang paling kecil. Salah satunya adalah Abu Burdah, yang lain adalah Abu Ruhm. Kami dalam rombongan limapuluh dua atau limapuluh tiga atau limapuluh sekian orang dari kaumku. Kamipun menaiki kapal. Ternyata kapal kami melemparkan kami ke Najasyi di Habasyah. Maka kami berjumpa dengan Ja’far bin Abi Tholib. Kami tinggal bersamanya hingga kami semua tiba di Madinah, kami berjumpa dengan Nabi صلى الله عليه وسلم ketika Khoibar ditaklukkan. Ada sekelompok orang berkata pada kami –yaitu para pengendara kapal-: “Kami telah mendahului kalian dengan hijroh.” Asma binti ‘Umais masuk, -dan dirinya termasuk orang-orang yang hijroh ke Najasyi dan tiba bersama kami- mengunjungi Hafshoh istri Nabi صلى الله عليه وسلم -. Lalu masuklah Umar menemui Hafshoh dalam keadaan Asma ada di sisinya. Ketika Umar melihat Asma dirinya bertanya: “Siapakah wanita ini?” Hafshoh berkata: “Asma binti ‘Umais”. Umar bertanya: “Apakah dia itu habasyiyyah (yang ikut hijroh ke Habasyah)? Apakah dia itu pengendara kapal?” Asma menjawab: “Iya.” Umar berkata: “Kami telah mendahului kalian dengan hijroh, maka kami lebih berhak dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم daripada kalian.” Maka marahlah Asma dan berkata: “Sama sekali tidak. Demi Alloh, kalian bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم, beliau memberi makan orang yang kelaparan di antara kalian, menasihati orang yang bodoh di antara kalian, sementara kami di negri orang-orang yang jauh dan kami benci, di Habasyah. Yang demikian itu adalah di jalan Alloh dan jalan Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Demi Alloh aku tak akan makan makanan dan tak akan minum minuman sampai saya berbicara kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم . dulu kami diganggu dan ditakut-takuti. Aku akan menyebutkan itu pada Nabi صلى الله عليه وسلم dan menanyai beliau. Demi Alloh aku tak akan berdusta, ataupun menyeleweng, ataupun menambahi.”

Manakala Nabi صلى الله عليه وسلم datang, berkatalah Asma: “Wahai Nabiyalloh, sesungguhnya Umar berkata demikian dan demikian.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata: “Apa jawabanmu kepadanya?” Asma menjawab: “Saya menjawab demikian dan demikian.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dia tidaklah lebih berhak daripada kalian. Dia dan teman-temannya mendapatkan satu hijroh. Dan kalian pengendara kapal mendapatkan dua hijroh.” Asma berkata: “Sungguh aku melihat Abu Musa dan para pengendara kapal mendatangiku secara berkelompok-kelompok menanyaiku tentang hadits ini. Tiada sesuatupun di dunia yang lebih menggembirakan mereka dan lebih agung di dalam jiwa-jiwa mereka daripada sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada mereka.” Dst. (HR. Al Bukhoriy (4231-4232)).

Kesimpulannya adalah: Nabi صلى الله عليه وسلم saat mendengar berita tsiqoh beliau menerimanya dan menjawab dan menghukumi sesuai dengan kandungan berita tadi, dan tidak mengharuskan tabayyun langsung ke orang yang dibicarakan.

Jika ada orang berkata: “Rosululloh صلى الله عليه وسلم diperkuat dengan wahyu sehingga tak perlu tabayyun!”

Kita jawab: pada asalnya perbuatan Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang terkait dengan syariat adalah merupakan bagian dari syariat untuk umatnya juga. Al Imam Abu Bakr Ibnul ‘Arobiy رحمه الله berkata:

وما عمل به محمد تعمل به أمته يعني لأن الأصل عدم الخصوصية

“Dan apa yang dilakukan oleh Muhammad –صلى الله عليه وسلم-, dilakukan juga oleh umatnya. Yaitu: karena pada asalnya adalah: tidak ada kekhususan.” (dinukil oleh Ibnu Hajar رحمه الله dalam “Fathul Bari”/3/hal. 189/Bab Shufufushy Syibyan).

Adapun upaya menghalangi untuk mengikuti Nabi dengan alasan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم diperkuat oleh wahyu, maka hal ini menjurus pada pengurangan sekian banyak syariat yang berlaku pada umat ini dengan alasan: “Amalan tadi hanya khusus untuk Nabi saja!” pengkhususan itu butuh pada dalil, dan tidak mungkin para hizbiyyun sanggup mendatangkan dalil yang mendukung pernyataan tadi.

Al Imam Ibnul Mundzir dan Al Imam Al Khoththobiy رحمهما الله berkata:

الخصوصيه لا تثبت الا بدليل والأصل عدمه

“Khushushiyyah itu tidak tetap kecuali dengan dalil, sementara pada asalnya adalah: tiada pengkhususan.” (dinukil oleh Ibnu Hajar رحمه الله dalam “Fathul Bari”/1/hal. 272/Babul Ma’).

Jika telah jelas yang demikian itu, maka kita katakan: Termasuk dari sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم adalah BOLEHNYA MENERIMA KHOBAR TSIQOH TANPA TABAYYUN.

Jika para hizbiyyun menganggap bahwasanya Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه MENGHARUSKAN TABAYYUN TERHADAP KABAR TSIQOH, maka kita katakan pada mereka sebagaimana ucapan Ibnu Umar رضي الله عنهما:

فسنة الله وسنة رسوله صلى الله عليه و سلم أحق أن تتبع من سنة فلان إن كنت صادقا (أخرجه مسلم (1233)).

“Maka sunnah Alloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم lebih berhak untuk diikuti daripada sunnah si fulan, jika engkau itu jujur.” (HR. Muslim (1233)).

Jawaban ketiga: para shohabat yang lain رضي الله عنهم juga mau menerima berita tsiqoh tanpa mengharuskan tabayyun. Di antaranya adalah:

Sikap Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما :

سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبِكَالِىَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِى إِسْرَائِيلَ ، إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ . فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata,”Aku berkata kepada Ibnu Abbas t: “Sungguhnya Nauf Al Bikali menyangka bahwasanya Musa – yang bersama Khidhr- bukanlah Musa Bani Isroil, akan tetapi hanya dia itu Musa yang lain.” Maka beliau berkata,”Musuh Alloh itu bohong.” (HSR Al Bukhori/ 112 dan Muslim/ 6313)

Sikap Ibnu Umar رضي الله عنهما :

عن يحيى بن يعمر قال : كان أول من قال في القدر بالبصرة معبد الجهني فانطلقت أنا وحميد بن عبدالرحمن الحميري حاجين أو معتمرين فقلنا لو لقينا أحد من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فسألناه عما يقول هؤلاء في القدر فوفق لنا عبدالله بن عمر بن الخطاب داخلا المسجد فاكتنفته أنا وصاحبي أحدنا عن يمينه والأخر عن شماله فظننت أن صاحبي سيكل الكلام إلي فقلت أبا عبدالرحمن إنه قد ظهر قبلنا ناس يقرؤون القرآن ويتقفرون العلم وذكر من شأنهم وأنهم يزعمون أن لا قدر وأن الأمر أنف قال فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريء منهم وأنهم برآء مني والذي يحلف به عبدالله بن عمر لو أن لأحدهم مثل أحد ذهبا فأنفقه ما قبل الله منه حتى يؤمن بالقدر

Yahya bin Ya’mar berkata: “Dulu yang pertama kali berbicara tentang taqdir di Bashroh adalah Ma’bad Al Juhaniy. Maka berangkatlah aku dan Humaid bin Abdirrohman Al Himyariy untuk berhaji atau ber’umroh. Kami berkata: “Andaikata kita berjumpa dengan salah seorang dari shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk kita tanyai tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang itu tentang taqdir.” Maka kami dipertemukan dengan Abdulloh bin Umar ibnul Khoththob saat masuk masjid. Maka aku dan sahabatku mengiringinya, yang satu di sebelah kanan, yang lain di sebelah kiri. Aku mengira bahwasanya sahabatku mewakilkan pembicaraan kepadaku. Kukatakan: “Wahai Abu Abdirrohman, sesungguhnya telah muncul dari arah wilayah kami sekelompok orang yang membaca Al Qur’an, memperdalam ilmu, -dan menyebutkan beberapa keadaan mereka- dan mereka menyatakan bahwasanya taqdir itu tidak ada, dan bahwasanya perkara ini baru.” Maka beliau menjawab: “Jika engkau berjumpa dengan mereka maka kabari mereka bahwasanya aku berlepas diri dari mereka, dan merekapun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang dengan-Nya Abdulloh bin Umar bersumpah, andaikata salah seorang dari mereka punya semisal gunung Uhud emas lalu dia menginfaqkannya, Alloh tak akan menerima darinya sampai dia beriman kepada taqdir.” (HR. Muslim (8)).

Jika para hizbiyyun menganggap bahwasanya perbuatan Umar رضي الله عنه menyelisihi perbuatan para shohabat رضي الله عنهما ini, maka ketahuilah bahwasanya perbuatan Umar bukanlah hujjah. Yang jadi hujjah adalah Al Qur’an dan As Sunnah serta Ijma’.

Syaikhul Islam رحمه الله berkata:

ومن قال من العلماء إن قول الصحابى حجة فإنما قاله إذا لم يخالفه غيره من الصحابة ولا عرف نص يخالفه –إلى قوله:- وأما إذا عرف أنه خالفه فليس بحجة بالإتفاق. (مجموع الفتاوى /1 /ص283-284).

“Dan barangsiapa berkata dari kalangan ulama bahwasanya “perkataan shohabi adalah hujjah” maka dia mengucapkan itu hanyalah jika ucapan shohabi itu tidak diselisihi oleh Shohabat yang lain, dan tidak diketahui adanya nash yang menyelisihinya –sampai dengan ucapan beliau:- adapun jika diketahui bahwasanya ada shohabat yang menyelisihi ucapan shohabat tadi, maka perkataannya itu bukanlah hujjah, berdasarkan kesepakatan ulama.” (“Majmu’ul Fatawa”/1/hal. 283-284).

Jawaban keempat: Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه sendiri mau menerima berita tsiqoh tanpa tatsabbut. Misalnya adalah kisah pengambilan jizyah majusi.

قال عمرو بن دينار : كنت جالسا مع جابر بن زيد وعمرو بن أوس فحدثهما بجالة سنة سبعين عام حج مصعب بن الزبير بأهل البصرة عند درج زمزم قال كنت كاتبا لجزء بن معاوية عم الأحنف فأتانا كتاب عمر بن الخطاب قبل موته بسنة فرقوا بين كل ذي محرم من المجوس ولم يكن عمر أخذ الجزية من المجوس حتى شهد عبد الرحمن بن عوف أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذها من مجوس هجر

‘Amr bin Dinar رحمه الله berkata: “Aku pernah duduk di bersama Jabir bin Zaid dan ‘Amr bin Aus, lalu Bujalah menceritakan hadits pada keduanya pada tahun tujuh puluh, tahun hajinya Mush’ab ibnuz Zubair dengan memimpin ahlul Bashroh, di samping tangga Zamzam. Beliau berkata: “Dulu aku adalah juru tulis Juz’ bin Mu’awiyah, paman Al Ahnaf, lalu datanglah surat dari Umar ibnul Khoththob setahun sebelum wafatnya beliau. Isinya adalah: “Pisahkanlah di antara mahrom-mahrom dari majusi.” Sebelumnya Umar tidak mengambil jizyah dari Majusi sampai Abdurrohman bin Auf bersaksi bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengambil jizyah dari majusi Hajar.” (HR. Al Bukhoriy (3156)).

Contoh yang lain adalah: hadits Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما dalam kasus wabah di Syam:

… فجاء عبد الرحمن بن عوف وكان متغيبا في بعض حاجته فقال إن عندي في هذا علما سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه قال فحمد الله عمر ثم انصرف

“… lalu datanglah Abdurrohman bin ‘Auf, semula menghilang karena sedang mengurusi sebagian hajatnya, seraya berkata: “Sesungguhnya saya memiliki ilmu dalam masalah ini. Saya mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika kalian mendengar wabah di suatu negri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya. Dan jika wabah tadi ada di negri yang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya karena lari darinya.” Maka Umar memuji Alloh kemudian berangkat pulang.” (HR. Al Bukhoriy (5729) dan Muslim (2219)).

Al Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh dalam menjelaskan kisah penerimaan Umar hadits Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallohu ‘anhuma tentang tho’un berkata:

وفيه دليل على استعمال خبر الواحد وقبوله وإيجاب العمل به وهذا هو أوضح وأقوى ما نرى من جهة الآثار في قبول خبر الواحد لأن ذلك كان في جماعة الصحابة وبمحضرهم في أمر قد أشكل عليهم فلم يقل لعبدالرحمن بن عوف (أنت واحد والواحد لا يجب قبول خبره إنما يجب قبول خبر الكافةما أعظم ضلال من قال بهذا والله عز و جل يقول: ﴿إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا﴾ وقرئت ﴿فتثبتوا﴾ فلو كان العدل إذا جاء بنبأ يتثبت في خبره ولم ينفذ لاستوى الفاسق والعدل وهذا خلاف القرآن قال الله عز و جل: ﴿أم نجعل المتقين كالفجار﴾ (“التمهيد” ج 14 / ص 347)

“Dan di dalam hadits ini ada dalil penggunaan kabar satu orang, penerimaannya dan pengharusan amal dengannya. Dan ini adalah hadits yang paling jelas dan paling kuat yang kami lihat dari sisi atsar-atsar dalam menerima kabar satu orang. Hal itu dikarenakan pada saat itu kejadiannya di kalangan sekumpulan para shahabat dan di kehadiran mereka dalam suatu perkara yang membuahkan isykal bagi mereka. Maka Umar tidak berkata pada Abdurrohman bin ‘Auf “Engkau cuma satu orang. Dan satu orang itu kabarnya tidak wajib diterima. Yang wajib diterima hanyalah kabar keseluruhan orang”.

Alangkah besarnya kesesatan orang yang mengatakannya. Padahal Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا{

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot)

dibaca juga: (فتثبتوا)

Maka jika ada seorang adil datang dengan suatu berita lalu ditatsabbuti dan tidak dilaksanakan, niscaya menjadi samalah antara orang fasiq dan orang adil. Dan ini menyelisihi Al Qur’an. Padahal Alloh ‘Azza wajalla berfirman:

﴿أم نجعل المتقين كالفجار﴾

“Apakah Kami jadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang yang jahat?”

(“At Tamhid” 14/347).

Dan akan datang tambahan contoh-contoh penerimaan Umar berita tsiqoh tanpa harus tsabbut.

Jawaban keenam: bukanlah Umar menuntut Abu Musa mendatangkan bayyinah dikarenakan Umar meyakini HARUSNYA Tabayyun terhadap kabar tsiqoh. Hanya saja saat itu ada beberapa pegawai di dekat Umar, dan beliau ingin mendidik orang-orang di sampingnya itu untuk berhati-hati terhadap hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

واستدل به من ادعى أن خبر العدل بمفرده لا يقبل حتى ينضم إليه غيره كما في الشهادة قال بن بطال وهو خطأ من قائله وجهل بمذهب عمر فقد جاء في بعض طرقه أن عمر قال لأبي موسى أما إني لم أتهمك ولكني أردت أن لا يتجرأ الناس على الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قلت وهذه الزيادة في الموطأ عن ربيعة عن غير واحد من علمائهم أن أبا موسى فذكر القصة وفي آخره فقال عمر لأبي موسى أما إني لم أتهمك ولكني خشيت أن يتقول الناس على رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي رواية عبيد بن حنين التي أشرت إليها آنفا فقال عمر لأبي موسى والله ان كنت لأمينا على حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم ولكن أحببت أن أستثبت ونحوه في رواية أبي بردة حين قال أبي بن كعب لعمر لا تكن عذابا على أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال سبحان الله إنما سمعت شيئا فأحببت أن أتثبت. قال بن بطال فيؤخذ منه التثبت في خبر الواحد لما يجوز عليه من السهو وغيره وقد قبل عمر خبر العدل الواحد بمفرده في توريث المرأة من دية زوجها وأخذ الجزية من المجوس إلى غير ذلك لكنه كان يستثبت إذا وقع له ما يقتضي ذلك وقال بن عبد البر يحتمل أن يكون حضر عنده من قرب عهده بالإسلام فخشي أن أحدهم يختلق الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم عند الرغبة والرهبة طلبا للمخرج مما يدخل فيه فأراد أن يعلمهم أن من فعل شيئا من ذلك ينكر عليه حتى يأتي بالمخرج. (“فتح الباري”/11 /30).

“Dan berdalilkan dengan ini orang yang menyatakan bahwasanya berita orang yang adil tapi sendirian itu tidak diterima sampai bergabung dengannya orang lain, sebagaimana dalam persaksian. Ibnu Baththol berkata: “ini adalah perkataan yang salah dari orang yang mengucapkannya, dan tidak tahu madzhab Umar. Telah datang pada sebagian jalur bahwasanya Umar berkata pada Abu Musa: “Sesungguhnya aku tidak menuduhmu, tapi aku ingin manusia tidak bersikap lancang terhadap hadits dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم.”

Kukatakan: tambahan ini ada di Muwaththo dari Robi’ah dari beberapa ulama mereka bahwasanya Abu Musa –dan menyebutkan kisah- dan di akhirnya: maka Umar berkata kepada Abu Musa: “Sesungguhnya aku tidak menuduhmu, tapi aku takut manusia asal bicara atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم.”

Dan di dalam riwayat Ubaid bin Hunain yang barusan aku isyaratkan: pada Abu Musa: “Demi Alloh Sesungguhnya engkau benar-benar terpercaya terhadap hadits dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Tapi aku ingin untuk tatsabbut. Dan seperti itu riwayat dari Abu Burdah ketika Ubai bin Ka’b berkata pada Umar: “Janganlah engkau menjadi siksaan terhadap para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم.” Maka Umar menjawab: “Subhanalloh, aku hanyalah mendengar sesuatu lalu aku ingin mencari ketetapan.”

Ibnu Baththol berkata: ”Maka diambil dari kisah ini tatsabbut dalam berita satu orang yang bisa saja dia itu lupa dan sebagainya. Dan Umar telah menerima berita satu orang adil sendirian dalam masalah pewarisan wanita dari diyat suaminya, dan pengambilan jizyah dari majusi, dan kisah-kisah yang lain. Akan tetapi Umar itu biasa mencari ketetapan jika ada sesuatu yang mengharuskannya untuk bersikap demikian.”

Ibnu Abdil Barr berkata: “Bisa jadi hadir di sisi Umar orang yang belum lama masuk Islam sehingga beliau takut bahwasanya salah seorang dari mereka nantinya membikin-bikin hadits dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam masalah roghbah (minat dan harapan kuat) dan rohbah (rasa takut) dalam rangka mencari jalan keluar dari masalah yang dia masuki. Maka Umar ingin mengajari mereka bahwasanya barangsiapa berbuat sedikit saja dari yang demikian itu harus diingkari sampai mendatangkan jalan keluar.” (“Fathul Bari”/11/hal. 30/Babut Taslim Wal Isti`dzan).

Bab Empat: Bantahan Syubuhat “Orang Tsiqoh juga Bisa Salah”

Sebagian hizbiyyun saat ditanya: “Kenapa engkau mengharuskan tabayyun terhadap kabar tsiqoh?” dia menjawab: “Dia bisa keliru dalam menyampaikan berita.”

Maka jawaban kami adalah: memang benar bahwasanya manusia itu bisa keliru. Orang tsiqoh juga bisa salah dalam menyampaikan berita. Dan bukanlah definisi “orang tsiqoh” itu: orang yang tak pernah keliru, hanya saja dia itu adalah orang yang jujur, dan kebenaran beritanya itu jauh lebih dominan daripada kekeliruannya. Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata:

وليس من حَدِّ الثقةِ : أنَّهُ لا يَغلَطُ ولا يُخطِئ ، فمن الذي يَسلمُ من ذلك غيرُ المعصومِ الذي لا يُقَرُّ على خطأ. (“الموقظة في علم مصطلح الحديث” /ص 17)

“Bukanlah definisi orang tsiqoh itu adalah bahwasanya dirinya itu tak pernah keliru ataupun tak pernah salah.siapakah yang selamat dari yang demikian itu kecuali orang yang ma’shum yang tidak dibiarkan di atas kesalahan?” (“Al Muqizhoh”/hal. 17).

Maka jika orang itu lurus agamanya, dan kebenaran beritanya jauh lebih banyak daripada kekeliruannya, maka dia adalah tsiqoh. Adapun kekeliruannya yang jarang saat dibandingkan dengan kebenarannya, maka hukum itu dibangun di atas perkara yang dominan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Hukum-hukum itu hanyalah untuk perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 374).

Maka jika tiada dalil yang menunjukkan kesalahan seorang tsiqoh dalam beritanya, maka pada asalnya adalah diterimanya beritanya, dan tidak boleh ditolak atau disalahkan tanpa hujjah. Al Qurthubiy رحمه الله berkata:

الأَوْلَى أن لا يغلط الراوي العدل الجازم بالرواية ما أمكن. (“المفهم”/15/ص99).

“Yang lebih utama adalah: sang rowi yang adil dan bersikap pasti dalam riwayatnya, tidak boleh dirinya itu dianggap keliru selama masih memungkinkan.” (“Al Mufhim”/15/hal. 99).

Bab Lima: Bukan Berarti Kita Dianjurkan Untuk Bermudah-mudah Menerima Berita 

Seluruh penjelasan di atas bukanlah bermakna kita asal-asalan menerima berita, karena urusannya tidaklah ringan. Alloh ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro: 36).

Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

“… dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

Hanya saja jika yang datang membawa berita adalah orang tsiqoh, maka pada asalnya berita adalah jujur dan benar, dan kita ‘tidak diwajibkan untuk tabayyun terhadapnya. Dan tidak ada yang memindahkan dari asal kecuali dengan dalil yang kuat. Walid bin Rosyid Su’aidan berkata:

قرر العلماء – رحمهم الله تعالى – القاعدة التي تقول : ( الدليل يطلب من الناقل عن الأصل لا من الثابت عليه) (“تحقيق المأمول في ضبط قاعدة الأصول” /ص 3).

“Para ulama رحمهم الله تعالى menetapkan kaidah yang berkata: “Dalil itu dituntut dari pihak yang memindahkan sesuatu dari asalnya, dan bukan dituntut dari pihak yang kokoh di atas asalnya.” (“Tahqiqul Ma’mul Fi Dhobth Qo’idatil Ushul”/hal. 3).

Adapun jika dalam suatu kasus terbukti dengan dalil yang Hukum ini berdasarkan lahiriyyahnya. Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله berkata:

وإنما كلف العباد الحكم على الظاهر من القول والفعل. (“الأم” /1 /423)

“Dan hanyalah para hamba itu dibebani berhukum dengan lahiriyyah dari perkataan dan perbuatan.” (“Al Umm”/1/hal. 423).

Dan lahiriyyah dari berita orang tsiqoh adalah kebenaran (kesesuaian dengan kenyataan), maka kita terima berita tadi, sampai benar-benar ada hujjah yang menunjukkan bahwasanya dalam hal ini yang betul adalah demikian dan demikian.

Adapun barangsiapa setelah itu ingin memastikan kebenaran berita, maka hal itu bagus, tanpa mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh syariah, dan tanpa mencela orang yang mencukupkan diri dengan apa yang dianggap cukup oleh syariah. kata Syaikhul Islam رحمه الله : “Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).

kuat akan terjadinya kesalahan dari sang pembawa berita padahal dia itu tsiqoh –tapi tidak ma’shum- maka kewajiban kita adalah mengikuti apa yang lebih kuat dalilnya tersebut, tanpa menyalahkan kaidah yang tegak di atas Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dan jalan As Salafush Sholih.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين


([1]) Berikut ini petikan kalimat-kalimat dari “pelawak” Muhammad Afifuddin as-Sidawi (Asal Sidayu,Gresik,Jawa Timur):

Telah mengabarkan kepada kami dari Abu ad-Daruquthni (Tegal) berkata “ Ana dianggap berdusta, ditanya siapa yang menyebarkan dan buktinya mana ? dan kenapa tidak tabayyun dulu ? Afifuddin (Gresik) berkata “ Ana masih hidup dan bisa dihubungi “ –selesai- pada senin, 30 Muharram 1433H

Berkata Afifuddin al-Hizbi (Gresik) “Alhamdulillah semua yang disebarkan (yakni rekaman suaranya sendiri, ;edtidak sesuai kenyataan ini akibat tidak ada perna upaya tabayyun dalam beritayang ada hanya bara amarah dan kebencian kepada saudaranya sendiri….sampaikan kepada yang sebar berita suruh tabayyun, ana masih hidup dan bisa dihubungi..” –selesai- pada senin, 30 Muharram 1433H

berkata Abu ad-Daruquthni (Tegal) “..antum mengatakan dikaset (maksudnya rekaman itu adalah suara afifuddin sendiri ;ed) ”

Setelah dikabarkan bahwa rekaman itu adalah suaranya sendiri, lalu dia mulai mengeluarkan jurus lama:

Berkata Afifuddin al-Hizbi (Gresik) “ Pantas saja fitnah membara para penyebar berita sufaha, yang disampaikan akhi adalah fatwa syaikh imam beliau sendiri tidak ingkari orang yang qunut, tidak ada yang perlu dipermasalahkan masing-masing syaikh punya pandangan lainnya, ana juga tidak tolak fatwa ulama lain, hanya sekedar sampaikan berita dari ma’bar, boleh ikhwah dammaj amalkan fatwa ulama itu sangat bagus tidak perlu diingkari fatwa ulama lain apalagi anggap sebagai anti dammaj, yang jelas semua sepakat doa’kan dammaj semoga lepas dari kondisi sekarang “ –selesai-

Berikut petikan sebagian isi rekaman Afifuddin (bandingkan dengan jurus talbis nya diatas)

Berkata Afifuddin (Gresik) ” ..Barusan tadi menjelang ashar saya SMS adik saya yang di Ma’bar(Yaman) di tempatnya Syaikh Muhammad Al-Imam, saya menanyakan, “Bagaimana? Apakah sudah ada fatwa dari kalangan masyayikh terkait dengan Qunut Nazilah tentang kasus Dammaj?

“Dia balas; disampaikan bahwasanya penjelasan dari Syaikh Muhammad Al-Imam, Qunut nazilah itu ialah Qunut yang dilakukan oleh Nabi, diistilahkan dengan Qunut Nabawi. Itu doa yang dipanjatkan kaum muslimin untuk kehancuran orang-orang kafirSementara yang terjadi antar musliminSyiah (Zaidiyah) muslim, tidak kafir. Sehingga kasusnya ini sama seperti pengepungan pada masa Khalifah Utsman, ketika beliau dikepung oleh kaum khawarij. Maka beliau mengatakan, yang lebih tepat, tidak melaksanakan qunut nazilah, tapi tetap bersabar,berdoa kepada Allah secara pribadi, bukan dengan qunut nazilah, untuk keselamatan teman-teman kita, dan beliau tidak mengingkari ketika ada pihak-pihak yang sudah melaksanakan qunut nazilah. Tapi yang lebih tepat, sesuai petunjuk nabi, Qunut Nazilah hanya ditujukan untuk orang-orang kafir... Dammaj perang, Shon’a demonstrasi..diAden..Adem ayem…Ma’bar aman..aman..luar ma’had kacau….”