TERBONGKARNYA HIZBIYYAH LUQMAN BA ABDUH

(Edisi Revisi, dengan beberapa tambahan dan perbaikan)
(Seri Ketiga)

 

Telah Mengidzinkan Penyebarannya:
Syaikhunal „Allamah Yahya bin Ali Al Hajury -حفظه الله –

Telah diperiksa dan Diberi Tambahan Oleh:
Syaikhunal Fadhil Abu „Amr Abdul Karim Al Hajury,
Dan Syaikhunal Fadhil Abu Bilal Kholid Al Hadhromy,
Dan Syaikhunal Mufid Abu Hamzah Muhammad Al Amudy,
Serta Syaikhunal Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba‟dany
-حفظهم الله –

Ditulis dan diterjemahkan Oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Sukaya
Al Qudsi Al Indonesi „afallohu „anhu
Di Markiz Induk Darul Hadits Dammaj Yaman

PENDAHULUAN

Segala pujian yang sempurna bagi Alloh. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Alloh dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai Alloh limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, kemudian daripada itu: Inilah saatnya untuk masuk kepada terjemahan kitab “Terbongkarnya Hizbiyyah Luqman Ba Abduh” seri tiga (terakhir), berdasarkan naskah yang telah diperbaiki pada tanggal 23 Jumadil Awwal 1430 H. Manakala ada sebagian saksi yang mencabut sebagian berita, maka mau tidak mau penulis harus merubahnya. Dan segala pujian kesempurnaan bagi Alloh yang mengaruniakan pada penulis perjumpaan dengan Syaikhuna Abu Abdillah Thoriq Al Ba‟dany – حفظه الله -, dan beliau memberikan beberapa faidah dan pengarahan yang sangat penting, sebagai pengganti buat berita saksi -yang harus dicabut-, dan sebagai penyempurna buat risalah ini. Semoga Alloh ta‟ala senantiasa mengilhamkan pada kita semua kejujuran dan semangat untuk menjaga kejujuran, meskipun pahit. Alloh tahu orang yang berupaya membikin perbaikan, dan orang yang berusaha membikin makar dan perusakan.
Selamat menikmati –semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya pada kita semua:

Bab Ketujuh Belas:
Fanatisme, Loyalitas dan Kebencian Yang Sempit

Ibnul Manzhur رحوه الله berkata: ( تَعَصَّتَ ثبلشيءِ واعْتَصَتَ ) maknanya adalah: merasa cukup dan ridho dengannya. (“Lisanul Arob” 6/275) Dan pada hal. 276 beliau berkata,”lafazh At Ta’ashshub berasal dari Al ‘Ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: menyeru seseorang untuk menolong kerabatnya, dan berhimpun bersama mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, baik mereka itu yang zholim atau yang terzholimi.” (Selesai)

Syaikhul Islam رحوه الله berkata,”Dan barangsiapa berfanatik terhadap salah satu dari para imam, tanpa yang lainnya, maka dia itu berada pada kedudukan orang yang fanatik terhadap salah satu shohabat tertentu tanpa yang lainnya, seperti si Rofidhy yang fanatik terhadap Ali tanpa ketiga kholifah yang lain dan mayoritas shohabat. Dan juga dia seperti khorijy yang mencacat kepemimpinan Utsman dan Ali. dan ini merupakan jalan-jalan pengekor bid’ah dan hawa nafsu, yang telah tetap berita dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ bahwasanya mereka itu tercela dan keluar dari syariat dan manhaj yang dengannya Alloh mengutus Rosul-Nya -shalallohu ‘alaihi wa sallam-. Maka barangsiapa berfanatik terhadap salah satu dari para imam tertentu, maka di dalam dirinya ada kemiripan dengan kelompok tadi. Sama saja apakah dia fanatik terhadap Malik, Asy Syafi’y, Abu Hanifah, Ahmad ataupun yang lain. Kemudian puncak dari orang yang berfanatik terhadap salah satu dari mereka tadi itu adalah kebodohannya terhadap kadar imam tadi dalam ilmu dan agama dan kadar para imam yang lain. Maka jadilah dia itu bodoh dan zholim. Dan Alloh memerintahkan untuk memiliki ilmu dan keadilan, dan melarang dari kebodohan dan kezholiman.
Alloh ta’ala berfirman:
“Dan amanah tadi dipikul oleh manusia. Sesungguh dia itu memang sangat zholim dan sangat bodoh. Agar Alloh menyiksa para munafiqun dan munafiqot” hingga akhir ayat.” (“Majmu’ul Fatawa” 22/252)

Imam Al Wadi’y رحوه الله berkata,”Sesungguhnya seseorang (terkadang) menyembunyikan keadaan, dan tidak menampakkan hizbiyyahnya kecuali setelah merasa kuat sikunya dan menilai bahwa ucapan orang lain tidak berpengaruh padanya. Dan aku sungguh merasa heran bahwasanya sebagian dari mereka bersumpah dengan nama Alloh bahwasanya dia itu bukan hizby. Aku tak tahu apakah dia itu tahu makna hizbiyyah, karena hizbiyyah itu mengandung loyalitas dan permusuhan serta pengelompokan yang sempit. ” (“Ghorotul Asyrithoh” 2/14-15) Beliau رحوه الله ditanya juga: “Bagaimana cara memperingatkan para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, di mana tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?” Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib” 112)

Syaikh Robi’ – حفظه الله – berkata:”Sempalan-sempalan yang sesat yang menisbatkan diri pada Islam yang dulu dan yang sekarang, sama saja mereka tertimpa penyakit ini di dalam aqidahnya ataukah di dalam peribadatannya. Penyakit-penyakit kesukuan semuanya berasal dari tempat beranjak yang ini. Jadi ini merupakan penyakit yang mematikan
terhadap individu-individu dan kelompok-kelompok, menjurus kepada pendustaan terhadap para Rosul, kedustaan dan kesengajaan berbuat salah dalam menebarkan dasar-dasar yang merusak dan pemikiran-pemikiran yang sesat.” dan seterusnya. (“At Ta’ashshubudz Dzamim” 10)

Syaikh Sholih As Suhaimy – حفظه الله – berkata tentang kelompok-kelompok di medan dakwah,”Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya, mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun di atas loyalitas dan permusuhan” dan seterusnya (pendahuluan “An Nashrul ‘Aziz”)

Dan di antara perkara yang menunjukkan fanatisme Luqman Ba Abduh dan sempitnya loyalitas dirinya terhadap Salafiyyin adalah dia itu menghalangi pengambilan faidah dari malzamah dan kaset-kaset yang memerangi hizbiyyah Ibnai Mar’i, bahkan dia melarang penyebarannya bahkan mentahdzir umat dari orang yang menyebarkannya seperti Abu Hazim, Muhammad Irwan -hafizhahumalloh- dan menyerukan orang untuk memboikot buku-buku “Iqro” dan “Adzan” karya Abu Hazim – حفظه الله -, dan agar tidak menghadiri pelajaran-pelajarannya, dan dia menyeru para wali murid untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari markiz Abu Hazim – حفظه
الله – dengan dalih bahwasanya anak-anak telah menjadi jelek adab mereka terhadap ulama karena anak-anak tadi berkata bahwa Abdurrohman Al ‘Adny dan saudaranya itu hizby.

Dan demikian pula ancaman Luqman terhadap penduduk kota Semarang bahwasanya dia tak akan memberikan ceramah buat mereka jika mereka menerima Abu Hazim – حفظه الله – di tempat mereka. Dan ini semua menunjukkan fanatisme Luqman sempitnya loyalitasnya terhadap Salafiyyin yang tidak mencocoki dirinya. Bab Kedua Puluh Delapan: Berdalil dengan Diamnya Sebagian Ulama Luqman berkata,”Sekarang mana itu nama-nama Syaikh besar? Syaikh Al Imam, Syaikh As Shomaly, Syaikh Al Buro‟i, syaikh al Wushobi, syaikh Abdul Mushowir al Lajdi, dan yang lainnya, Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzammary, Syaikh Utsman bin Abdillah Abu Abdillah. Nama-nama yang disebutkan Abu Hazim tidak ada satupun yang telah disebutkan syaikh Muqbil dalam wasiatnya.”

Jawaban pertama:
Datangkanlah satu dalil bahwasanya kebenaran itu terbatas pada nama-nama yang tersebut tadi, sehingga yang tidak berasal dari mereka bukanlah kebenaran.

Jawaban kedua –mirip dengan yang pertama:
Datangkanlah satu dalil bahwasanya orang-orang yang selain yang tersebut tadi perkataannya itu selalu tertolak meskipun telah mendatangkan bukti-bukti yang jelas dan argumentasi yang kuat tentang hizbiyyah seorang hizby atau kebid’ahan seorang mubtadi’!

Jawaban ketiga:
Datangkanlah satu dalil wahai Luqman bahwasanya orang-orang yang tersebut tadi itu terjaga dari kesalahan di dalam menghukum, dan terjaga dari ketidaktahuan di dalam segenap keadaan, dan bahwasanya kebenaran dan ilmu itu tidak luput dari mereka sedikitpun, dan bahwasanya ulama yang lain itu hujjah mereka tidak diterima selama tidak diakui oleh para tokoh yang tertera dalam wasiat tersebut -hafizhahumulloh- .

Jawaban yang keempat:
Syaikhuna Yahya Al Hajury -حفظه الله – adalah pimpinan para tokoh yang tertera dalam wasiat tersebut. Bahkan Imam Al Wadi’y رحوه الله sebagai orang yang berwasiat telah bersaksi bahwasanya Syaikhuna Yahya Al Hajury – حفظه الله – merupakan orang yang paling alim di Yaman. Sehingga jadilah beliau – حفظه الله – itu merupakan orang yang paling alim di antara para tokoh yang tertera dalam wasiat tersebut. Semoga Alloh meluruskan langkah mereka. Jawaban kelima: Pernyataan ini semua menunjukkan bahwasa Luqman Ba Abduh, Muhammad Afifuddin, Abdul Jabbar, Abul ‘Abbas Ihsan dan orang-orang yang semisal dengan mereka yang berkata,”Kita menunggu ulama!” bodoh terhadap manhaj yang benar, dan bahwasanya mereka itu berpegangan dengan taqlid dan benang-benang laba-laba. Jawaban keenam: Berdalil dengan diamnya sebagian ulama di dalam memudarkan keritikan seorang alim ini merupakan bagian dari jalan-jalan hizbiyyin.

Syaikh Robi’ Al Madkholi – حفظه الله – berkata: “Para ulama yang mulia untuk wajib mengetahui bahwasanya para ahlul ahwa wat tahazzub itu memiliki metode-metode yang menakutkan untuk mengumpulkan para pemuda, menguasai akal-akal mereka dan untuk menggugurkan jihadnya para pembela manhaj Salaf dan ahlinya di lapangan.
Di antara uslub-uslub makar tersebut adalah memanfaatkan diamnya sebagian ulama terhadap si fulan dan fulan, walaupun dia itu termasuk orang yang paling sesat. Maka walaupun para kritikus memajukan hujjah yang paling kuat terhadap kebid’ahannya dan kesesatannya, cukuplah bagi orang-orang yang sengaja berbuat salah itu untuk menghancurkan kerja keras para penasihat dan pejuang itu dengan bertanya-tanya dihadapan orang-orang yang bodoh: “kenapa ulama fulan dan fulan diam dari si fulan dan fulan? Kalau memang si fulan itu di atas kesesatan tentulah mereka tak akan tinggal diam dari kesesatannya.” Demikianlah mereka membikin pengkaburan terhadap orang-orang yang bodoh. Bahkan kebanyakan para pendidik dan keumuman orang tidak tahu
kaidah-kaidah syar’iyyah dan pokok-pokoknya yang di antaranya adalah: bahwasanya amar ma’ruf nahi mungkar itu termasuk fardhu kifayah. Jika sebagian orang telah menegakkannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya. Dan di antara uslub mereka juga adalah mengambil pujian/rekomendasi dari sebagian ulama untuk orang-orang yang karya tulis mereka, sikap dan kegiatan mereka telah dihukumi jauh dari manhaj salaf, bermusuhan dengan pengikut salaf dan berloyalitas dengan para musuh, dan perkara yang lain. Dan kebanyakan orang tidak tahu kaidah jarh wat ta’dil, dan bahwasanya kritikan yang terperinci itu didahulukan terhadap pujian, karena si pemuji itu membangun pujiannya di atas perkara yang nampak dan baik sangka. Dan si pengritik itu membangun kritikannya di atas ilmu dan kenyataan sebagaimana telah dimaklumi bersama di kalangan para imam jarh wat ta’dil. Dan dengan dua uslub ini dan yang lainnya mereka hendak menggugurkan kerja keras para penasihat dan perjuangan para pembela sunnah dengan amat mudahnya, dan menjaring masyarakat yang banyak dan bahkan kebanyakan pengajar, dan menjadikan mereka tentara untuk memerangi manhaj salaf dan salafiyyun, dan membela para pemimpin kebid’ahan dan kesesatan. Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.” (“Al Haddul Fashil Bainal Haqq wal Bathil”/Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-/hal. 144)

Beliau – حفظه الله – juga berkata tentang Abul Hasan: Dia berkata,”Dan ini telah diperiksa oleh ulama.” Kukatakan,”Ini termasuk salah satu dari pondasi yang dianggapnya sebagai hujjah jika mencocoki hawa nafsunya. Dan ulama yang disebutkannya itu ada dua kelompok. Satu kelompok yang tidak menkritiknya sama sekali, dan satu kelompok lagi yang mengkritiknya. Dan terjadi perbedaan medan yang mereka kritik. Dan mereka itu Abul Hasan membantah sebagian mereka dengan sebagian yang lain, sebagaimana dia membantah kelompok yang mengkritik dengan memanfaatkan kelompok yang diam.

Dan telah melewati pembaca sedikit contoh dari kasus tersebut.” (“At Tankil Bima Fi Lujaji Abil Hasan Minal Abathil”/masalah keenam/ catatan kaki pertama) Seorang penelpon gelap telah menelpon seorang kerabat Syaikh Ahmad An Najmy رحوه الله agar menasihati beliau untuk meninggalkan pembicaraan tentang hizbiyyin. Dan di antara yang diucapkan penelpon tadi,”Cara seperti itu tidak diikuti oleh ulama besar kita,” dan seterusnya.

Maka beliau رحوه الله menjawab: Kukatakan:
Yang pertama: Sesungguhnya Alloh Azza Wajalla telah mewajibkan kepada ahli ilmu untuk menjelaskan kepada manusia dan tidak menyembunyikan. Dan bayan (penjelasan) itu merupakan fardhu kifayah, yang jika sebagiannya telah melaksanakannya maka jatuhlah beban kewajiban dari yang lain –jika memang bayan yang telah ada itu sudah cukup dan tertunaikan- kalau tidak demikian maka wajiblah bagi yang lain untuk melaksanakan bayan hingga tercapailah kecukupan.

Yang kedua: Kami dan para masyayikh kamu sebutkan serta yang lainnya, semuanya terbebani dari Alloh untuk memberikan penjelasan. Maka barangsiapa telah menunaikan tugasnya selamatlah dia dari dosa. Dan yang bersikap kurang dalam hal ini padahal dia mampu, maka sungguh dia akan terkena dosa sesuai dengan kadar sikap kurang yang dia lakukan. Akan tetapi diamnya orang yang diam tidaklah menjadi hujjah yang mengharuskan diamnya orang yang tengah menunaikan kewajiban ini. Bahkan orang yang diam itulah yang harus memperhatikan: apakah kewajiban tadi telah tertunaikan dengan pengingkaran yang dilakukan oleh orang yang mengingkari kemungkaran ataukah belum? Jika belum tertunaikan maka wajib baginya untuk menunaikan.” (“Ar Roddusy Syar’i” hal. 230)

Beliau رحوه الله juga berkata dalam “Roddul Jawab” hal. 37: “Jika para ulama tadi tidak berkata sedikitpun tentangnya (tentang seorang pembesar Ikhwani), itu karena mereka tidak mengetahui tentang kejelekannya sedikitpun. Maka mereka punya hak untuk bersikap hati-hati dan menahan diri, dalam keadaan yang seperti ini. Yang keempat: telah nampak di dalam manhajnya kejelekan-kejelekan yang banyak. Orang yang menghapalnya adalah hujjah terhadap orang yang tidak menghapalnya. Ini adalah kaidah yang telah terkenal di kalangan para ahlul hadits, dan beramal dengannya dalam kasus ini adalah wajib.” (selesai) Dan termasuk dalam bab ini adalah apa yang disebutkan oleh Saif Abdulloh Al Ghorib – حفظه الله – dalam kitabnya “Al Ikhwanul Muslimin fil Jazirotul Arobiyyah” bahwasanya di antara sifat mereka yang ketiga puluh tujuh: ” ..dan mereka memberikan gambaran salah bahwasanya para kibarul ulama itu tidak membantah ahlul ahwa’ ” dan seterusnya. (Dinukil oleh Syaikh Ahmad An Najmy رحوه الله dalam “Roddul Muhabbir” hal. 187) Bab Kesembilan Belas: Berlindung di Balik fatwa atau Perbuatan Sebagian Ulama demi Melestarikan kebatilan.

Luqman Ba Abduh –hadahulloh- berkata: “Kalau di Yaman ada perkataan kami bersama ulama. Jawaban seperti ini dan dia berada di Dammaj sangat berbahaya, bagi dia siap-siap divonis sebagai orang yang marid, orang yang berpenyakit qolbunya di cap sebagai orang hizby berpenyakit. Siap-siap kalau ada yang menyatakan mauqifi ma‟al ulama. Ini kira-kira, ucapan seperti ini terpuji atau tercela?? Sangat terpuji mauqif kita bersama ulama.” Jawaban pertama: Sesungguhnya hizbiyyun itu memang buta mata hatinya. Mana kaidah “Jarh yang terperinci lebih diutamakan daripada pujian yang global”? Mana kaidah “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu”? Dan mana kaidah “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang negerinya”? Syaikhuna – حفظه الله – telah menegakkan sekian banyak penjelasan tentang makar kedua anak Mar’i dan pengikutnya. Demikian pula para masyayikh Darul Hadits Dammaj dan para penolong mereka yang mulia yang mengorbankan umur mereka untuk memunculkan penjelasan-penjelasan tentang kekejian hizbi baru ini. Bahkan beberapa masyayikh telah membantu mereka dalam jihad ini, seperti Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimy (markiz Ta’iz) dengan beberapa malzamah dalam perdebatannya dengan „Ubaid Al Jabiry dan perdebatannya dengan sebagian penulis gelap. Maka dengan kaidah yang manakah para penolak tadi menolak argumentasi dan penjelasan-penjelasan tadi? Dan dengan dalil yang manakah para pembikin pengkaburan membatalkan tahdziran yang jujur tadi, lalu berkata,”kami bersama ulama”? Jawaban kedua: kalian berpaling dari dalil-dalil ahlul haq tanpa kalian sanggup untuk meruntuhkannya. Kemudian kalian dengan makar kalian berlindung di balik sikap taqlid (membebek) terhadap individu-individu –dan kami tetap menghormati ulama- yang sampai sekarang tidak membantah argumentasi-argumentasi yang bercahaya tadi yang memvonis kedua anak Mar’i dan komplotannya sebagai hizbyyin. Dengan hujjah yang manakah kalian melakukan ini?
Jawaban ketiga: Kamu wahai Luqman dan yang semisal denganmu sangat butuh untuk mempelajari fiqih yang shohih yang bersandarkan kepada Al Kitab dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf.

Imam Ibnul Qoyyim رحوه الله
berkata: “Maka orang berilmu yang jujur dia tidak merasa terasing dengan sedikitnya teman seiring, dan tidak merasa kesepian dikarenakan kehilangan teman seiring, manakala hatinya telah merasa adanya kebersamaan dengan rombongan yang pertama yang diberikan kenikmatan oleh Alloh dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan sholihin, dan mereka itu adalah sebaik-baik teman seiring. Maka kesendirian sang hamba di dalam jalan pencariannya itu merupakan dalil tentang kejujurannya dalam pencarian. Ishaq bin Rohawaih رحوه الله telah ditanya tentang suatu masalah lalu beliau menjawabnya. Maka dikatakan padanya,”Sesungguhnya saudara Anda Ahmad bin Hanbal juga berkata tentang hal ini sebagaimana yang Anda katakan.” Maka beliau berkata,”Aku tak menyangka ada orang yang mencocokiku dalam hal ini.” Karena sesungguhnya al haq itu jika telah berkibar dan jelas turunnya, maka dia itu tidak butuh saksi pendukung untuk dirinya. Dan hati itu bisa melihat al haq sebagaimana mata melihat matahari. Maka jika seseorang telah melihat matahari, dia untuk pengetahuannya tadi dan keyakinannya bahwasanya matahari telah terbit tidak butuh lagi pada orang yang bersaksi untuk mendukung dan mencocokinya.” (“Ighotsatul Lahfan” 1/hal. 69-70)

Imam Abu Syamah رحوه الله berkata: “Di mana saja datang perintah untuk berpegang pada Al Jama’ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang pada al haq dan mengikutinya, sekalipun orang yang berpegang teguh dengannya itu sedikit, dan yang menyelisihinya itu banyak, karena al haq itu adalah sesuatu yang di atasnya itulah Al Jamaah yang pertama dari zaman Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabatnya. Dan tidak perlu melihat pada banyaknya ahlul bathil sepeninggal mereka. ‘Amr bin Maimun Al Audy رحوه الله berkata,”Aku telah menyertai Mu’adz bin Jabal di Yaman. Tidaklah aku meninggalkan beliau sampai aku mengebumikannya di Syam. Lalu sepeninggal beliau aku menyertai orang yang paling faqih yaitu Abdulloh bin Mas’ud. Maka aku mendengar beliau berkata: علجكن ثبلجوبعة فإى يد الله هع الجوبعة
“Kalian harus setia dengan Al Jama’ah karena tangan Alloh itu menyertai Al Jama’ah.” Lalu pada suat hari beliau berkata,”Akan datang pada masa kalian para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya. Maka tegakkanlah sholat pada waktu-waktunya karena itu adalah kewajiban. Dan sholatlah bersama mereka karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.” Maka kukatakan pada beliau,”Wahai shohabat Muhammad, saya tidak tahu apa yang Anda katakan.” Beliau bertanya,”Apa itu?” Kukatakan,”Anda memerintahkan saya untuk setia dengan Al Jama’ah dan Anda mendorongku untuk bersama Al Jama’ah. Lalu Anda berkata padaku,”Sholatlah sendirian karena itu wajib, dan sholatlah bersama jama’ah karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.” Maka beliau berkata,”Wahai ‘Amr bin Maimun, dulu aku mengira engkau itu adalah orang paling faqih dari negri ini. Tahukah engkau apa itu Al Jama’ah?” Kujawab,”Tidak.” Beliau berkata: إى جوهىر النبس فبرقىا الجوبعة وأى الجوبعة هب وافق طبعة الله تعبل “Sesungguhnya mayoritas manusia telah memisahkan diri dari Al Jama’ah. Sesungguhnya Al Jama’ah itu adalah apa yang mencocoki ketaatan pada Alloh ta’ala.” Nu’aim bin Hammad رحوه الله berkata,”Beliau memaksudkan: Jika jama’ah tersebut telah rusak, wajib bagimu untuk berpegang dengan apa yang dulunya jama’ah tadi ada di atasnya sebelum rusaknya. Dan kalaupun engkau itu sendirian maka pada saat yang demikian itu engkaulah Al Jama’ah.” Atsar ini ditampilkan oleh Al Hafizh Abu Bakr Al Baihaqy رحوه الله ta’ala dalam kitab “Al Madkhol” (“Al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits” 1/hal. 22) Jawaban keempat:Wahai Luqman, apa makna “penyakit hati?” Imam An Nawawy rahimahulloh berkata,”telah diketahui bahwasanya para dokter berkata,”Sakit itu adalah keluarnya tubuh dari peredaran yang alami” dan seterusnya. (“Syarhun Nawawy „ala Shohih Muslim” 7/344) Imam Ibnul Qoyyim rahmimahulloh berkata,”Penyakit itu ada dua jenis: penyakit hati dan penyakit badan. Dan keduanya tersebut di dalam Al Qur‟an. Penyakit hati ada dua jenis: penyakit yang berupa pengkaburan dan keraguan, dan penyakit yang berupa syahwat dan kesesatan. Keduanya ada di dalam Al Qur‟an. Alloh ta‟ala berfirman tentang penyakit syubuhat: في قؾوبهم مرض فزادهم الله مرضا
“Di dalam hati mereka ada penyakit maka Alloh menambahi mereka dengan penyakit.” (QS Al Baqoroh 110) -Sampai dengan ucapan beliau-: Dan Alloh ta‟ala berfirman tentang orang yang diseru untuk berhukum kepada Al Qur‟an dan As Sunnah tapi enggan dan berpaling: وإذا دطوا إلى الله ورسوله لقحؽم بقفم إذا فريق مفم معرضون * وإن يؽن لهم
الحق يلتوا إلقه مذطين * أفي قؾوبهم مرض أم ارتابوا أم يخافون أن يحقف الله طؾقفم
ورسوله بل أولئك هم الظادون
“Dan jika mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar beliau menghukumi di antara mereka tiba-tiba saja sebagian dari mereka berpaling. Tapi jika ada hak untuk mereka, mereka datang kepada beliau dengan tunduk. Apakah di dalam hati mereka ada penyakit? Ataukah mereka itu ragu? Ataukah mereka takut Alloh dan Rosul-Nya akan menzholimi hak mereka? Bahkan mereka itulah orang-orang yang zholim.” (QS An Nur 48-49) Maka ini merupakan penyakit syubuhat dan keraguan.” Dan seterusnya. (“Zadul Ma‟ad” 4/hal. 5) Maka sakit hati itu adalah keluarnya hati dari keadaannya yang setimbang. Dan hati itu sehat selama dia itu setimbang dan istiqomah (lurus) di atas Al Kitab dan As Sunnah serta mengikuti Salaf. Maka kapan saja dia keluar dari yang demikian itu –baik karena syubuhat ataukah syahwat- keluarlah dia dari kondisi kesehatannya, sesuai dengan kadar terjerembabnya dia dari jalan yang lurus. Maka wahai Luqman, barangsiapa telah didatangi nasihat yang dibangun di atas dalil-dalil Al Qur‟an dan hadits-hadits Nabawiyyah serta kaidah-kaidah Salafiyyah kemudian dia berpaling darinya dan berlindung di balik sebagian alasan-alasan dan syubuhat, maka dengan kamus yang manakah engkau menghukuminya sebagai orang yang berhati sehat ? Jawaban kelima: Imam Ibnul Qoyyim رحوه الله berkata: “Hindarilah-hindarilah dua perkara yang memiliki akibat-akibat yang jelek. Yang pertama adalah: Menolak kebenaran karena menyelisihi hawa nafsumu, karena sungguh engkau akan dihukum dengan pembalikan hati dan kelancangan untuk menolak sama sekali kebenaran yang datang kepadamu dan engkau tidak menerima kebenaran itu kecuali jika muncul dari lubang hawa nafsumu. Alloh ta‟ala berfirman:  كؼؾب أفئدتهم وأبصارهم كما لو لم يمموا به أول مرة  “Dan Kami membalik hati-hati dan mata-mata mereka sebagaimana mereka tidak beriman dengannya pada kali yang pertama.” Maka Alloh menghukum mereka dikarenakan mereka menolak kebenaran pada kali yang pertama dengan Alloh membalik hati-hati dan mata-mata mereka setelah itu.
Yang kedua adalah: menggampang perintah ketika telah datang waktu pelaksanaannya. Karena jika engkau menggampang perintah ketika telah datang waktunya, Alloh akan melemahkan keinginanmu dan menjadikan kamu duduk. Alloh ta‟ala berfirman:  فنن رجعك الله إلى صائػة مفم فاستلذكوك لؾخروج فؼل لن تخرجوا معي أبدا ولن
تؼاتؾوا معي طدوا إكؽم رضقتم بالؼعود أول مرة فاقعدوا مع الخالػين  “Maka jika Alloh memulangkan dirimu kepada sekelompok dari mereka, lalu mereka meminta idzin padamu untuk keluar (berperang), maka katakanlah pada mereka,”Kalian tak akan keluar bersamaku selamanya, dan kalian tak akan memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kalian telah ridho untuk duduk pada kali yang pertama, maka ududuk sajalah bersama orang-orang yang duduk.” (QS At Taubah 83) Maka barangsiapa selamat dari kedua penyakit dan musibah ini maka sampaikanlah padanya ucapan selamat”. (“Badai‟ul Fawaid” 3/699). Pahamkah kamu sekarang wahai Luqman, kenapa kamu dan orang-orang tadi dikatakan maridh (sakit)? Dan Luqman berkata tentang fitnah,”Maka dengan kondisi seperti ini kita butuh nasehat para ulama.” Jawaban pertama: Kamu katakan bahwasanya kita butuh nasihat ulama. Apakah Syaikh Robi‟ حفظه الله
menasihatimu untuk mencerca Syaikhuna Yahya? Jawaban kedua: Apakah Syaikh Robi‟ حفظه الله
menasihatimu untuk merendahkan Syaikhuna Yahya dan para masyayikh Darul Hadits di Dammaj yang lain?
Jawaban ketiga: Apakah Syaikh Robi‟ حفظه الله
menasihatimu untuk membongkar lagi masalah mumasah

(perkataan tentang bersentuhannya Alloh ta‟ala dengan „Arsy) setelah Salafiyyun menguburnya(1), wahai sang penyusup?

Jawaban keempat: Apakah Syaikh Robi‟ حفظه الله
menasihatimu untuk menghalangi orang berangkat pergi ke Darul Hadits Dammaj?(2)

Jawaban kelima: dengan pertanyaan-pertanyaan ini tadi tahulah para Salafiyyun bahwasanya kamu itu hanyalah berlindung di belakang ulama untuk melindungi hawa nafsumu. Luqman berkata: “Ulama Yaman tak seorang pun yang menerima tahdzir terhadap Syaikh Abdurrahman tak seorang pun.”

Jawaban pertama: Wahai Luqman, Asy Syaikh Al Muhaddits Yahya حفظه الله itu seorang alim dari kalangan ulama ataukah tidak? Sayang sekali kamu telah berkata bahwasanya beliau barulah seorang da‟i yang tidak tahu manhaj. Padahal seluruh ulama Yaman dan Syaikh Robi‟ mengakui bahwasanya beliau itu seorang alim. Bahkan „Ubaid Al Jabiry sendiri mengakui bahwasanya Syaikh Yahya punya ilmu. Bahkan beliau menurut Imam Al Wadi‟y رحوه الله adalah orang yang
(1) Catatan penerjemah: urusan ini sudah selesai dengan keluarnya selebaran resmi dari Syaikhunal Muhaddits Yahya Al Hajury حفظه الله , yang berisi penegasan beliau untuk mencocoki fatwa Syaikh Robi‟ حفظه الله . Dan sudah diterjemahkan oleh Akhunal Fadhil Abu Abdillah Muhammad bin Umar Al Acehy حفظه الله dengan judul “Permasalahan Istiwa‟ Alloh” (2) Catatan penerjemah: Sengaja penulis menyebutkan nama Syaikh Robi‟ –
حفظه الله – karena Luqman banyak bersembunyi di balik nama dan fatwa beliau. Kalau dia mengatakan: “Memang Syaikh Robi‟ tidak menasihati kami berbuat itu semua, tapi ada ulama lain kok yang telah mentahdzir dari Al Hajury dan Dammaj.” Maka aku katakan: Kalian sering bersembunyi di balik istilah “Ijma‟ Ulama” dan “Ijtima‟ Ulama” untuk membatalkan tahdzir dan hukum Syaikhunal Muhaddits Yahya Al Hajury -حفظه الله -. Maka dengan ini pula aku membantah kalian: Mana “Ijma‟ Ulama” dan “Ijtima‟ Ulama” untuk mentahdzir dari Syaikhunal Muhaddits Yahya Al Hajury dan Dammaj? Kenapa tolok ukurnya berbeda wahai ahli talbisat? paling berilmu di Yaman. Dan beliau itu – حفظه الله – adalah seorang imam menurut Syaikh Muhammad Al Imam حفظه الله , walaupun Luqman Ba Abduh dan Muhammad Afifuddin jengkel.
Jawaban kedua: Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimy حفظه الله (pemegang markiz dakwah Ahlussunnah di propinsi Ta‟iz, dan beliau adalah salah seorang murid dari Imam Al Albany رحوه الله ) sungguh menerima tahdzir Syaikhuna Yahya – حفظه الله – terhadap Ibnai Mar‟i, dan bahkan beliau saling mambantu dan menolong dengan Syaikhuna Yahya – حفظه الله – dalam memerangi keduanya. Dan demikian pula Syaikh kami dan bapak kami Muhammad bin Muhammad bin Mani‟ Ash Shon‟any – حفظه الله – (Salah satu penegak dakwah Salafiyyah di Shon‟a). Seperti itu pula Syaikh Ahmad bin „Utsman Al „Adny – حفظه الله – (di propinsi „Adn(3)). Dan juga Syaikh Abu „Ammar Yasir Ad Duba‟y -حفظه الله – (di Mukalla), Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryany – حفظه الله – (di propinsi Yafi‟(4)), demikian pula Syaikh Abu Bakr Abdurrozzaq bin Sholih An Nahmi – حفظه الله – penulis kitab “Al Ikhwanul Muslimin Wal Masajid” dan kitab “Ma’alimu Da’wah Ahlissunnah”. Dan beliau menegakkan dakwah dan pendidikan umat di propinsi Dzammar Yaman –semoga Alloh menjaganya-.
Demikian pula Syaikh Jamil bin „Abdah Ash Shilwy –
حفظه الله – (wakil Syaikhuna Yahya pada saat berhalangan hadir), Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibby – حفظه الله – (ahli fiqih dan banyak memiliki nasihat), Syaikh Abu „Amr Abdul Karim Al Hajury – حفظه الله -, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury – حفظه الله -, Syaikh Abu Bilal Al Hadhromy – حفظه الله -, Syaikh Abu Hamzah Al „Amudy – حفظه الله -, Syaikh Thoriq Al
(3) Di masjid Buroiqoh, masjid terbesar Ahlussunnah di „Adn (catatan pent.) (4) Sekarang beliau telah pindah untuk memegang dakwah di propinsi Baidho‟
Ba‟dany – حفظه الله -, dan yang lainnya dari kalangan masyayikh markiz induk Darul Hadits di Dammaj –semoga Alloh menjaga mereka semua-. Mereka semua menerima vonis “hizbiyyah” dari Syaikhuna Yahya – حفظه الله – terhadap kedua anak Mar‟i itu, dan mereka bersama dengan beliau di dalam jihad ini. Ada apa denganmu mengatakan “Ulama Yaman tak seorang pun yang menerima tahdzir terhadap Syaikh Abdurrahman”? Adapun jika ketertipuan telah membutakan dirimu dan membutakan para pengikutmu sehingga kalian berkata,”Mereka yang disebut tadi bukanlah ulama”, maka ketidaktahuan kalian tentang martabat mereka tidaklah membahayakan mereka. Orang bodoh memang tidak tahu orang alim karena dirinya memang belum pernah menjadi orang alim. Ada tambahan dari Syaikhuna Abu Hamzah Al „Amudy – حفظه الله -: Cukuplah bagi mereka (para masyayikh yang mendukung Syaikh Yahya) tadi bahwasanya mereka itu berbicara dengan hujjah (argumentasi dan dalil) dan bukti yang dengannya mereka beribadah para Robb mereka Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Fitnah Abdurrohman itu berawal dari markiz ini dan disaksikan oleh ribuan manusia, di antara mereka adalah para masyayikh pilihan yang mulia tadi –semoga Alloh menjaga mereka semua-. (selesai tambahan beliau) Luqman juga berkata,”Ana ditelpon ikhwah dari Dammaj, alhamdulillah dia masih baik, dia mengatakan bahwa al Hajuri berkata di atas mimbar, “hatta walau ijtama’a kullum man fiddunya la ubali” walaupun kalau seluruh yang ada di dunia bersatu ana tidak peduli.”

Jawaban pertama: Imam Ibnul Qoyyim رحوه الله
berkata,”Sebagian imam hadits saat disebutkan kepadanya tentang “As Sawadul A’zhom” (kelompok terbesar) beliau
20
berkata,”Tahukah kamu siapa itu “As Sawadul A’zhom”? Dialah Muhammad bin Aslam Ath Thusy dan teman-teman”.
Sungguh orang-orang yang berselisih itu telah rusak pemikirannya. Yaitu orang-orang yang berselisih tentang makna “As Sawadul A’zhom”. Mereka menjadikan “As Sawadul A’zhom”, “Al Hujjah” dan “Al Jama‟ah” itu adalah sekedar kelompok mayoritas (kebanyakan orang), dan menjadikannya sebagai tolok ukur terhadap sunnah, menjadikan sunnah sebagai bid‟ah, dan menjadikan perkara yang ma‟ruf itu mungkar dikarenakan sedikitnya orang yang memegang sunnah dan ma‟ruf di berbagai zaman dan masa. Dan mereka berkata,”Barangsiapa yang menyeleneh (menyelisihi mayoritas), Alloh akan menjadikannya menyeleneh di neraka.” Orang-orang yang berselisih tadi tidak tahu bahwasanya orang yang menyeleneh itu adalah orang yang menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyeleneh.
Seluruh manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyeleneh kecuali sekelompok kecil. Mereka itulah Al Jama‟ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang nyeleneh. Dan Imam Ahmad sendirian sebagai Al Jama‟ah. Dan manakala akal para manusia tak mampu menampung yang demikian itu mereka berkata kepada kholifah: “Wahai Amirul Mukminin, apakah mungkin Anda, para qodhi Anda, para pejabat, para ahli fiqh, para mufti, mereka semuanya ada di atas kebatilan sementara Ahmad sendiri ada di atas kebenaran? Ilmu sang Kholifah tak cukup luas untuk menampung hal itu sehingga dia menyiksa Ahmad bin Hanbal dengan cambukan-cambukan dan hukuman setelah masa penjara yang panjang. Maka لا إله إلا الله (tiada sesembahan yang benar selain Alloh), alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin! Sebenarnya hal ini adalah jalan yang luas bagi Ahlussunnah
21
Wal Jama‟ah hingga mereka berjumpa dengan Robb mereka. Di atas jalan inilah para pendahulu mereka berlalu, dan para pengganti mereka tengah menanti. Ada di kalangan mukminin para pria yang bersikap jujur dengan apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Di kalangan mereka ada yang telah menunaikan janjinya, dan di antara mereka ada yang tengah menanti, dan mereka sama sekali tidak menggantinya. Dan tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Al „Aly (Yang Mahatinggi) lagi Al „Azhim (Mahaagung)”. (“I‟lamul Muwaqqi‟in” 3/398) Jawaban kedua: Ucapan Luqman di atas semakin menunjukkan bahwasanya dirinya memang sangat bodoh terhadap manhaj Salaf dan dasar-dasar Ahlussunnah. Syaikh Robi‟ Al Madkholy -hafizhohulloh- berkata di dalam bantahannya terhadap pengikut Abul Hasan Al Ma‟riby: (Kedua): Permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan di dalamnya harus dikembalikan kepada Alloh dan Rosul, sebagaimana firman Alloh ta‟ala:  وما اختؾػتم فقه فحؽؿه إلى الله  ،
“Dan perkara yang kalian perselisihkan di dalamnya, maka hukumnya dikembalikan kepada Alloh” Dan sebagaimana firman Alloh ta‟ala:  فنن تازطتم في شيء فردوه إلى الله  .
“Maka jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Alloh ..” Sama saja, apakah masalah-masalah itu dalam urusan pokok ataukah cabangnya. (Ketiga): Rosululloh shollallohu „alaihi wa alihi wasallam bersabda: ))أكه من يعقش من الأمة فسرى اختلافاً كثراً ((،
“Sesungguhnya barangsiapa dipanjangkan umurnya dari umat ini, dia akan melihat perselisihan yang banyak.”
22
Kemudian beliau membimbing umatnya kepada suatu perkara yang mereka harus kembali padanya, beliau bersabda: ))فعؾقؽم بستي وسة الخؾػاء الراشدين ادفديين طضوا طؾقفا بالواجذ وإياكم
ومحدثات الأمور فنن كل محدثة بدطة وكل بدطة ضلاله((.
“Maka wajib bagi kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Kholifah yang terbimbing dan mendapat petunjuk. gigitlah dengan geraham kalian, dan hindarilah oleh kami perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap perkara baru dalam agama adalah bid‟ah, dan setiap bid‟ah adalah kesesatan.” (Keempat): Alloh ta‟ala berfirman:  فما بعد الحق إ الضلال  ،
“Tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan.” Dan dari sini Ahlussunnah berkata,”Sesungguhnya kebenaran itu tidak berbilang. Mestilah kebenaran itu bersama salah satu dari pihak yang bertikai di setiap kasus perselisihan. (Kelima): Di antara pokok Ahlussunnah adalah: setiap orang bisa diambil ucapannya ataupun ditolak, kecuali Rosululloh shollallohu „alaihi wa alihi wasallam. (Keenam): Di antara pokok Ahlussunnah adalah: kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan mengenal para tokohnya. Dan janganlah kamu mengenali kebenaran berdasarkan tokoh-tokoh. (Ketujuh): Di antara pokok Ahlussunnah adalah: Para tokoh itu membutuhkan hujjah (dalil) untuk mengokohkan diri mereka, dan bukanlah para tokoh tadi sebagai hujjah (dalil). (Kedelapan): Di antara pokok Ahlussunnah yang mereka bersatu di atasnya adalah: من استباكت له سة رسول الله لم يؽن له أن يدطفا لؼول أحد
“Barangsiapa telah jelas baginya sunnah Rosululloh shollallohu „alaihi wa alihi wasallam, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seseorang.”
23

Sebagaimana diucapkan oleh Imam Asy Syafi‟y rohimahulloh(5). (Kesembilan): Pokok-pokok ini, atau dalil-dalil ini telah dibatalkan atau disia-siakan oleh Abul Hasan Al Ma‟riby dan para penolongnya, dan berasaplah seluruh dakwaan mereka yang dulunya diulang-ulang oleh Abul Hasan, dan mereka mengulang-ulangnya, dan mereka mendakwakan pada orang-orang bahwasanya mereka itulah Ahlussunnah.” (selesai penukilan dari kitab Syaikh Robi‟ -hafizhohulloh- “Baroatu Ahlissunnah”/Maju‟ur Rudud/hal. 199-200) Kukatakan: demikianlah yang coba-coba dilakukan oleh Luqman Ba Abduh dan kawan-kawannya, dan pembesar mereka dari hizbi baru. Jawaban ketiga: Bersembunyi di balik ucapan dan perbuatan sebagian ulama dalam rangka melawan nash, bukti-bukti dan hujjah merupakan sikap taqlid. Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh berkata: “Bab Rusaknya Taqlid, Peniadaannya, dan Perbedaan antara Taqlid dan Ittiba‟”: Alloh tabaroka wata‟ala telah mencela taqlid di lebih dari satu tempat di dalam kitab-Nya. Firman-Nya:  اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله  “Dan mereka menjadikan para ulama dan pendeta mereka sebagai robb-robb selain Alloh.” (“Jami‟ Bayanil „Ilmi wa Fadhlihi” 3/209) Dan taqlid merupakan penyakit kaum musyrikin. Alloh ta‟ala berfirman: ﴿وَإِذَا قِقلَ لهَُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَكْزَلَ اللههُ وَإِلَى ال ه رسُولِ قَالُوا حَسْبَُا مَا وَجَدْكَا طَؾَقْهِ آَبَاءَكَا
أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ يَعْؾَؿُونَ شَقْئًا وَ تَدُونَ ﴾ )ادائدة 104 )
(5) Sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam “I‟lamul Muwaqqi‟in” 1/hal. 6
“Dan jika dikatakan pada mereka: “Kemarilah kalian kepada apa yang diturunkan Alloh dan kepada Rosul” mereka berkata,”Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati para bapak kami ada di atasnya.” Apakah mereka tetap demikan walaupun para bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapatkan petunjuk?” (QS Al Maidah 104) Alloh ta‟ala telah memerintahkan untuk menyelisihi jalan tersebut dengan cara menunggalkan ittiba‟ (pengikutan). Dia berfirman: ﴿ا ه تبِعُوا مَا أُكْزِلَ إِلَقْؽُمْ مِنْ رَبِّؽُمْ وَ تَتهبِعُوا مِنْ دُوكِهِ أَوْلِقَاءَ قَؾِقلًا مَا تَذَ ه كرُونَ ﴾
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian, dan janganlah kalian mengikuti para pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengingat.” (QS Al A‟rof 4) Sa‟id bin Jubair رحوه الله berkata: dari Ibnu „Abbas yang berkata,”Nabi shollallohu „alaihi wa alihi wasallam bertamattu‟ dalam haji.” Maka „Urwah ibnuz Zubair berkata,”Tapi Abu Bakr dan Umar melarang tamattu‟” Maka Ibnu „Abbas rodhoyallohu ‘anhuma berkata: أراهم سقفؾؽون أقول: قال البي صذ الله طؾقه وسؾم، ويؼولون: نهى أبو بؽر،
وطؿر.
“Kukira mereka akan binasa. Kukatakan: “Nabi shollallohu „alaihi wa alihi wasallam bersabda”, mereka justru berkata: ”Tapi Abu Bakr dan Umar melarang”. (“Jami‟ Bayanil „Ilmi wa Fadhlihi” Imam Ibnu Abdir Barr رحوه الله 4/43, atsar Shohih).
Imam Al Wadi‟y رحوه الله berkata,”Ikhwanul Muslimin mengetahui bahwasanya mereka ada di atas kebodohan. Karena itulah jika kamu katakan pada mereka: “Ini halal, dan itu harom”, dan kamu tegakkan terhadap mereka dalil-dalil mereka berusaha untuk berkelit dengan berkata: “Yusuf Al Qordhowy berkata dalam kitab “Al Halal Wal Harom”, Sayid Sabiq berkata dalam kitab “Fiqhus Sunnah”, Hasan Al Banna berkata dalam “Ar Rosa‟il”, Sayid Quthb berkata dalam
“Zhilalil Qur‟an”. Apakah boleh dalil-dalil ditentang dengan perkataan mereka?” (“Al Makhroj minal Fitnah” hal. 154/cet. Kelima). Syaikh Robi’ – حفظه الله – berkata pada Abul Hasan: “Sebutkanlah pada kami para ulama tersebut, dan sebutkanlah dalil-dalil mereka dari Al Kitab dan As Sunnah. kalau tidak, maka kamu adalah bagian dari muqollidin yang buta, yang berpaling dari pokok ahlus sunnah dan dalil-dalil mereka yang banyak dari Al Kitab dan As Sunnah yang mana dalil-dalil tadi berada pada puncak kekuatan dan kejelasan. Dan bukanlah taqlid buta dan keberpalingan dari nash-nash itu barang asing bagimu. Perbuatan ini banyak datang darimu, yang mana kamu menentang nash-nash Al Kitab dan As Sunnah dengan pendapat para tokoh. Kamu mendahulukan pendapat para tokoh jika mencocoki hawa nafsumu dan kamu berpaling dari nash-nash”. –lalu beliau menyebutkan beberapa contoh-. “Dan yang benar adalah bahwasanya kamu pada kenyataannya mengikuti langkah ahlul batil dari kalangan pengekor orang Barat, terutama Ikhwanul Muslimin. Dan sebagaimana yang kamu lakukan di dalam kitabmu ini “Qoth’ul Lijaj” yang mana kamu berlindung kepada taqlid seraya berkata: “Fulan-dan fulan telah mendahului aku dalam hal ini,” di berbagai kejadian. Dan ini merupakan gabungan dari taqlid buta dan talbis.” (“Munaqosyatu Abil Hasan”/Majmu’/242)
Syaikh Robi’ – حفظه الله – berkata: “Maka Ahlussunnah menyerang mereka dengan Al Kitab, As Sunnah dan dengan manhaj Salafush sholih dan pokok-pokok mereka yang lurus dan terbimbing. Ahlussunnah membongkar kejelekan pokok-pokok mereka, menelanjangi mereka dari senjata-senjata yang dulunya mereka menyombongkan diri dengannya, yang berupa dasar, pembentuk pokok, bukti dan dalil. Maka ahlul bathil tadipun berlindung kepada taqlid buta dan bergantung dengan “Fulan berkata, „Allan berbicara.”.” (“Baroatu Ahlissunnah” hal.200/Majmu‟ur Rudud). Bab Kedua Puluh: Upaya Untuk Mengangkat Citra Diri Luqman Ba Abduh berupaya mengangkat derajat dirinya dengan berkata,” Luqman Ba‟abduh dikatakan jahil, syaikh Wushobi dikatakan jahil, dhoif dan yang lainnya Syaikh Ubaid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi pengarang kitab Tauhid dinyatakan dhoif fil hadits laisa lahu yadun thowilah fil hadits, Allohu akbar. Ulama Madinah itu pekerja, mereka statusnya sebagai pegawai, Subhanalloh!”

Jawaban pertama: Ini merupakan upaya Luqman untuk mengangkat derajat dirinya ke jajaran para ulama. Ketika dia menyebutkan bahwa Syaikhuna Yahya – حفظه الله – mencerca para ulama, bahkan kibarul Ulama, Luqman menyebutkan nama-nama mereka dan menyebutkan dirinya di dalam gabungan mereka. Dekat dengan kasus Safar Al Hawaly yang berkata: “Kamu mendapat mereka (yaitu umat) berdiri di hadapan mereka (para ulama) sambil menuduh mereka itu mengkafirkan muslimin, sebagaimana yang terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab, Asy Syahid Sayid Quthb, rohimahumulloh dan yang semisal dengan mereka.” Dan seterusnya. Dan Syaikh Robi‟ – حفظه الله – telah membabat ucapannya tadi dalam kitab “Ma‟akhidz „ala Syaikh Safar Al Hawaly” hal. 14)

Jawaban kedua: Memang kamu itu bodoh.(6) Terkesan di dalam kasetmu tersebut bahwasanya kamu itu tidak tahu
(6) Catatan penerjemah: bukan penulis menganggap dirinya besar. Hanya saja Syaikhunal Walid Yahya Al Hajury -حفظه الله -, Syaikhuna Abdul Hamid Az Za‟kary -حفظه الله -, serta Syaikhunal Walid Muhammad Ibnu Mani‟ – حفظه
الله – yang mengatakan Luqman itu jahil.
27
manhaj Salafy sebagaimana mestinya. Kamu juga tak tahu hak-hak ulama, tak tahu bagaimana bermuamalah dengan fatwa ulama yang keliru, tak tahu makna taqlid, tidak paham makna “sakit” yang terkait dengan fitnah ini, dan seterusnya. Jawaban ketiga: Jika salah seorang pengikutmu berkata,”Luqman itu punya ilmu!” Maka jawabnya adalah: Imam Sufyan bin „Uyainah رحوه الله berkata: أَجْفَلُ الهاسِ مَنْ تَرَكَ مَا يَعْؾَمُ، وَأَطْؾَمُ الهاسِ مَنْ طَؿِلَ بِمَا يَعْؾَمُ، وَأَفْضَلُ الهاسِ
أَخْشَعُفُمْ لله.
“Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang diketahuinya. Orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu‟ pada Alloh.” (Atsar riwayat Ad Darimi /449 dengan sanad yang shohih). Imam Asy Syafi‟y رحوه الله berkata: العؾم ما كػع، لقس العؾم ما حػظ.
“Ilmu itu adalah apa yang bermanfaat, dan bukanlah ilmu itu sekedar apa yang dihapal.” (“Siyaru A‟lamin Nubala” 10 hal. 89). Jawaban keempat: Adapun ‘Ubaid Al Jabiry, telah diketahui makarnya terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman. Dan dia telah mentahdzir orang dari Dammaj. Dan akan datang ucapan Syaikh Robi’ – حفظه الله – tentangnya. Balasan itu sesuai dengan jenis amalan, maka janganlah kamu menangisinya. Akhuna Mushthofa Al „Adny -حفظه الله – mengabari kami bahwasanya Akhuna Roshshosh Al Laudary – حفظه الله – telah mengunjungi Syaikh Robi‟ -حفظه الله – pada bulan Syawal 1429 H dan mengabari beliau bahwasanya Syaikh „Ubaid Al Jabiry telah mentahdzir orang dari Dammaj. Maka Syaikh Robi‟ – حفظه
الله – berkata:
إن صحّ هذا الخبر فإنه يعتبر زلة العالم ويجب على الشيخ عبيد أن يتوب.
“Jika berita ini benar, maka hal itu termasuk ketergelinciran orang alim. Dan wajib bagi Syaikh „Ubaid untuk bertobat.” Jawaban kelima: Berilah kami bukti kepastian bahwasanya Syaikhuna Yahya – حفظه الله – berkata bahwasanya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi lemah dalam hadits, tak punya kemampuan besar dalam bidang hadits. Kalau kamu –Luqman tak bisa membuktikannya, maka kau itu pendusta. Jawaban keenam: Kalaulah memang Syaikhuna Yahya – حفظه الله – berkata bahwasanya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi tak punya kemampuan besar dalam bidang hadits, maka cobalah kamu buktikan pada kami kepastian bahwasanya Imam Muhammad An Najdy رحوه الله itu punya kemampuan besar dalam bidang hadits. Maka jika kamu tidak sanggup membuktikan, maka orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu
tentang keahlian Imam Muhammad dalam bidang hadits. Ini yang dinamakan “Pemberian hukum sesuai dengan haknya” dengan tetap menghormati beliau رحوه الله . Maka bukanlah ini suatu penghinaan. Alangkah miripnya kamu dengan Ibrohim bin Hasan Asy Sya‟by Al Ikhwany yang marah demi bapaknya dikarenakan Syaikh Ahmad An Najmy رحوه الله berkata padanya,”Kamu mengikuti bapakmu dalam kebatilan.” Maka meledaklah kemarahannya, lalu menuduh Syaikh Ahmad An Najmy رحوه الله bahwasanya beliau mencaci ayahnya. Maka Syaikh Ahmad An Najmy رحوه الله berkata padanya,”Aku tidak mencaci ayahmu. Tapi aku hanyalah mengabarimu tentang hukum dari apa yang dikerjakan olehmu dan ayahmu.” (“Dahrul Hajmatil Hizbiyyah” hal. 8)
Apakah jika Ahlussunnah berkata,”Nu‟aim bin Hammad itu Imam dalam sunnah, tapi lemah dalam riwayat” hal itu merupakan penghinaan pada beliau? Ataukah merupakan pemberian hukum sesuai dengan haknya bersamaan dengan tetap menghormati beliau? Jawaban ketujuh: Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby waffaqohulloh, aku tak perlu untuk mengulangi pembicaraan tentangnya, karena aku telah menyebutnya di tempat lain. Dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan. Bahkan Syaikhuna Yahya – حفظه الله – telah banyak bersikap lembut padanya, banyak mengalah kepadanya, banyak menyayanginya, bersamaan dengan besarnya kebatilannya terhadap dakwah salafiyyah dan terhadap Imam Al Wadi‟y رحوه الله . Jawaban kedelapan: Dari tempat sampah manakah kamu mendapatkan berita bahwasanya Syaikhuna Yahya – حفظه
الله – berkata”Ulama Madinah itu pekerja”? Aku yakin bahwa kamu itu pembohong besar. Dan termasuk perkara yang menunjukkan upaya Luqman untuk mengangkat martabat dirinya adalah ucapannya:”Ini rata-rata yang disebutkan Muhsin rata-rata teman saya belajar di Dammaj kok tiba-tiba muncul syaikh-syaikh baru.” Juga penggambaran dia,”Mereka sangat keras dalam bersikap.” Dan cocoklah buat dirinya ucapan Syaikh Robi‟ –
حفظه الله – tentang Abul Hasan: “sesungguhnya ini merupakan sindiran yang keras terhadap para da‟i manhaj Salafy, dan dukungan buat tusukan lawan mereka. Dan tujuan Abul Hasan adalah untuk memunculkan dirinya bahwasanya dia itu tampil beda dari Ahlussunnah dengan akhlaq yang tinggi, hikmah, dan ilmu. Berbeda dengan para Salafiyyin pada diri mereka itu ada kekerasan, ketololan dan kebodohan serta urusan-urusan yang tidak diridhoi Abul Hasan.” (“Intiqod „Aqody Manhajy”/”Majmu‟ur Rudud”/hal. 310/catatan kaki).
30
Bab Kedua Puluh Satu: Di Antara Kedustaan Luqman Luqman Ba Abduh hadahulloh berkata,”Ulama Madinah itu pekerja”. Juga berkata,” Ana terima itu bulan Romadhon Masyayikh Kibar sudah dibicarakan, dilecehkan, dihina, ditahdzir. Syaikh Abdurrahman al-Adany min afadhil ulama di Yaman sudah dijelek-jelekkan”
Jawaban pertama: Abdurrohman Al „Adny dulunya termasuk masyayikh yang utama. Kapan itu? Ketika tidak nampak darinya selain kebaikan. Namun manakala dia melakukan kebatilan yang banyak –sebagaimana telah lewat penyebutannya(7)- jadilah dia itu hina dan runtuh nilainya. Alloh ta‟ala berfirman: وَا ه لذِينَ كَسَبُوا ال ه سقِّئَاتِ جَزَاءُ سَقِّئَةٍ بِؿِثْؾِفَا وَتَرْهَؼُفُمْ ذِ ه لةٌ  ]يوكس/ 27 ]
“Dan orang-orang yang melakukan kejelekan-kejelekan, maka balasan dari kejelekan adalah dengan yang semisalnya, dan mereka akan terliputi kehinaan.” (QS Yunus 27) Ibnu „Umar rodhoyallohu ‘anhuma berkata: Rosululloh shollallohu „alaihi wa alihi wasallam ىِ وَجُعِلَ «
بُعِثْتُ بِال ه سقْفِ حَتهى يُعْبَدَ اللههُ شَِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِى تَْتَ ضِلِّ رُمحْ
» الذِّ ه لةُ وَال ه صغَارُ طَذَ مَنْ خَالَفَ أَمْرِى وَمَنْ تَشَبههَ بِؼَوْمٍ فَفُوَ مِْفُمْ
“Aku diutus dengan pedang hingga Alloh diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dan dijadikanlah rizqiku ada di bawah naungan tombakku. Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan itu menimpa orang yang menyelisihi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu bukanlah dari golonganku.” (HR Imam Ahmad 5232. Hadits hasan).
(7) Pada seri pertama dari buku ini (catatan penerjemah)
Rujuklah kembali oleh kalian penjelasan dan keterangan Ahlussunnah terhadap hizbiyyah Abdurrohman bin Mar‟i dan pengikutnya. Demikian pula saudaranya. Telah nampak korupsinya terhadap harta muslimin, dan telah terang makarnya terhadap dakwah salafiyyah di Yaman. Dan di antara kebohongan Luqman adalah ucapannya: “Yang kita undang itu diantara masyayikh-masyayikh di Madinah dia (syaikh Yahya) nggak terima karena ada sebagian murid telpon ke Dammaj, dikatakan Syaikh Bukhori hadza tholabul ilmi ya ikhwan. Sekedar pengajar biasa”. Kami katakan: Kita tak perlu banyak bicara. Hendaknya Luqman menunjukkan bukti kepastian apa yang diucapkannya itu. Dan di antara kedustaan Luqman lagi adalah ucapannya: “Dia –yaitu Syaikh Yahya – حفظه الله –menuduh seorang mufti ditelevisi „Adn. Seorang mufti „Adn namanya „Ali Bawaih „Ali Bawaih, ini mufti televisi „Adn, dia hizbi. Tapi walaupun kafir sekaligus tetap berlaku adil: ليجرهنكن شنئبى قىم عل أى لا تعدلىا اعدلىا هى أقرة للتقىي.
Kita dituntut untuk adil lisan kita, taqwa. Dinyatakan oleh al Hajuri hadza ‘Ali Bawaih Luthiyun, yu’ta kama tu’ta al mar’ah. Di majelis ini. Ini seorang luthi digauli seperti digaulinya perempuan. Ini ada dua pelajaran yang penting. Pelajaran tentang adab sekaligus pelajaran tentang hukum, ini adalah tuduhan. Kalimat luthi ini mengandung kalimat yang luar biasa. Diperjelas lagi dengan kalimat yu’ta kama tu’ta al mar’ah. Kita nyatakan :” ya Hajuri, alaka bayyinah, alaka syuhud, ente punya bayyinah ente punya saksi.”
32
والذين يرمون ادحصات ثم لم يلتوا بلربعة شفداء فاجؾدوهم ثماكين جؾدة و تؼبل ) 8 ) له
شفادة أبدا وأولئك هم الػاسؼون.
Coba perhatikan ayat ini al Imam ibnu Katsir, subhanalloh ini pelajaran adab sekaligus hukum. Ketika ada seorang suami datang kepada Rosululloh shollalohu ‘alaihi wa sallam mengisahkan tentang istrinya. Apa kata Rosululloh? Alaika bi arba’ati syuhud wa illa haddun fi dzohrik. Ente harus mendatangkan 4 orang saksi kalau nggak ente di cambuk di punggung ente. Hat empat saksi masing-masing melihatnya seperti dimasukkannya timba kedalam sumur. Melihat ente ente ente ente. Ya kalau ndak berkata imam Ibnu Katsir : “seorang yang menuduh seorang muslim tanpa 4 orang saksi, hukuman yang pertama yujlad dicambuk punggungnya. Al Hajuri harus mendatangkan 4 orang saksi kalau ndak dicambuk punggungnya. Kedua la tuqbal(9) lahu syahadah abadan. Kata Alloh nggak diterima persaksiannya, kata Alloh bahwa dia Kadzab ‘indalloh wa ‘indannas, Ia kadzab di sisi Alloh dan di sisi manusia. Kita menyatakan hat ya Hajuri, hat, kalo ndak ente mendapatkan posisi ini.” (selesai untuk ucapan Luqman)
Jawaban pertama: Wahai Luqman, sebelum kamu menuntut bayyinah (bukti) dari Syaikhuna Yahya – حفظه الله – bahwasanya Mufti Ali Ba Waih itu luthy (homo), digauli sebagaimana perempuan digauli, kami lebih dulu menuntutmu untuk mendatangkan bayyinah bahwasanya Syaikhuna Yahya –
حفظه الله – itu mengatakan yang demikian. (Tambahan dari Syaikhuna Abu Bilal – حفظه الله -: Dan bagaimana mungkin Luqman bisa mendatangkan bukti tersebut). Kalau tidak bisa, maka kamu itu pendusta, dan kamu harus dicambuk delapan
(8) Catatan Abu Hazim -حفظه الله – tentang bacaan Luqman untuk ayat ini : “Ia baca wa la tuqbalu” (9) Catatan lagi dari Abu Hazim -حفظه الله – tentang bacaan Luqman untuk ayat ini : “Ia baca dengan bacaan yang salah lagi”
puluh kali sebagai hukuman membikin kedustaan terhadap orang lain.

Jawaban kedua: Rujuklah kembali sumber beritamu itu wahai Luqman. Benarkah orang yang disebut itu bernama “Ali Ba Waih” ataukah tidak? Dan benarkah dia itulah yang dituduh, ataukah orang lain yang bernama Ali Adh Dhombary? Dan benarkah yang menuduh dia itu Syaikhuna Yahya – حفظه الله -, ataukah salah seorang pelajar? Dan apakah sumber berityamu itu kaset ataukah sebagian dari mata-matamu? Kalau memang sumbermu adalah kaset, apakah kamu mendapatkannya dari Salafiyyin yang jujur ataukah dari hizbiyyin pembohong? Aku tidak mengira bahwasanya kamu sanggup memberikan jawaban yang benar bagi pertanyaan-pertanyaan tadi. Jawaban ketiga –dan ini adalah berita gembira buat Salafiyyin, dan petir buat hizbiyyin pembohong-: Sesungguhnya orang-orang yang tekun mengikuti durus (pelajaran-pelajaran) Syaikhuna Yahya – حفظه الله – dengan kesadaran dan kejujuran, mereka menyatakan bahwasanya Syaikhuna Yahya – حفظه الله – tidak pernah menuduh mufti tersebut. Inilah Abu Turob Al Indonesy –dan beliau adalah pelajar Indonesia yang paling dekat dengan Syaikhuna Yahya –
حفظه الله – secara mutlak- menyatakan bahwasanya Syaikhuna Yahya – حفظه الله – tidak pernah menuduh mufti tersebut. Demikian pula Akhuna Tsabit Al Hadhromy –dan beliau senantiasa duduk di belakang Syaikhuna Yahya – حفظه الله – pada saat pelajaran umum. Beliau adalah pemegang urusan perekaman durus. Demikian pula Akhuna Syauqi At Ta‟zy –
حفظه الله -. Bahkan Syauqi At Ta‟zy – حفظه الله – berkata,”Luqman wajib untuk menunjukkan bukti kepastian ucapan tadi: Kapan Syaikhuna mengucapkannya, dan pada pelajaran apa?”. Syaikhuna Abu Bilal – حفظه الله – berkata, ”Barangkali yang benar adalah “Ba Ruwais”.
Akhuna Tholib Al „Adny – حفظه الله – berkata, ”Tidak ada di „Adn seorang mufti yang bernama “Ali Ba Waih”. Yang ada hanyalah “Ali Ba Ruwais”.
Akhuna Tholib dan „Ali Al „Adniyyani -hafizhohumalloh- mengabariku bahwasanya Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryany – حفظه الله – punya risalah dengan judul “Al Qoulul Jali Fi Nasfi Abathilil Wataril Muftari” dan di dalamnya ada bantahan terhadap kedustaan ini(10). Tapi aku belum berhasil mendapatkan naskah “Al Qoulul Jali” pada saat itu setelah berusaha keras. Beberapa bulan kemudian Alloh memudahkanku untuk berjumpa dengan Syaikhuna Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba‟dany –
حفظه الله -, lalu beliau menunjukkan padaku naskah “Al Qoulul Jali” yang beliau miliki. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan. Ada seseorang yang mengambil kaset ucapan Syaikhuna Yahya – حفظه الله -, memotong-motongnya, lalu menggandengkannya sehingga jadilah ucapan tadi berubah menjijikkan. Lalu kaset modivikasi tadi diambil oleh Al Idrisy di Shon‟a dan dilariskannya, -sebagaimana kata Syaikhunal Fadhil Thoriq Al Ba‟dany حفظه الله -, diambil oleh para pengikut Abul Hasan dan mereka sebarkan kemana-mana Dan termasuk orang yang mengambilnya untuk memukul Syaikhuna Yahya –
حفظه الله -,adalah Nu‟man bin Abdul Karim Al Watar. Syaikhuna Abdulloh Al Iryany – حفظه الله – berkata dalam “Al Qoulul Jali” hal. 8-9:
(10) Aku di telah menyebutkan kasus ini dalam edisi arob yang terdahulu, bersandarkan kepada berita dari kedua saudara kita dari „Adn tadi –semoga Alloh menjaga mereka-, dan pada saat itu aku belum berhasil mendapatkan naskah “Al Qoulul Jali” . Adapun sekarang aku telah mendapatkannya, dan Akhuna „Ali menasihatkanku untuk bersandar pada naskah resmi itu saja. )Dan arti judul risalah tadi adalah: “Perkataan yang Jelas Dalam Memusnahkan Kebatilan Al Watar Sang Pembikin Kedustaan.” (Catatan penerjemah().
35
Kebatilan Tuduhan Nu‟man Al Watar Bahwasanya Syaikh Yahya Melemparkan Tuduhan Bohong Adapun tuduhan Nu‟man Al Watar bahwasanya Syaikh yang mulia Yahya – حفظه الله – melemparkan tuduhan bohong terhadap orang-orang yang bersih, maka ini merupakan kedustaan yang besar. Kami menantang Nu‟man untuk memberikan bukti kepastian tentang ucapan Syaikhuna Yahya tersebut di dalam kaset, atau kitab, atau persaksian orang-orang yang adil jika dia memang termasuk orang-orang yang jujur. Bersama si Pendusta Besar Yang Hina: Fahd Al Ba‟dany Beberapa pelajar dan penghapal Al Qur‟an dari penduduk Ba‟dan telah bersaksi bahwa Fahd Al Ba‟dany berdusta, dan dia menukil berita-berita yang tidak benar tentang Darul Hadits di Dammaj. Dan “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang keadaan masyarakatnya.” Dan sisi pendalilan kita adalah bahwasanya Fahd Al Ba‟dany tersebut telah menukilkan di dalam kaset tanpa bukti tentang Syaikh yang mulia Yahya Al Hajury:
a- Bahwasanya beliau berkata tentang Ali Ba Ruwais yang berfatwa di televisi „Adn, bahwasanya dia itu luthy digauli sebagaimana wanita digauli. Dan Fahd juga berkata bahwasanya sebagian pelajar berkata pada beliau: “Ini adalah tuduhan yang membutuhkan empat saksi yang adil”. Maka Syaikh Yahya menjawab seraya berkata,”Cukuplah kemasyhuran sebagai bukti.”
Kukatakan –Syaikh Abdulloh Al Iryany حفظه الله -: Ini adalah dongeng palsu yang dikandung dan dilahirkan oleh Fahd Al Ba‟dany, lalu dirawat oleh Nu‟man Al Watar. Pendengaran kami terhadap dongeng ini saja sudah cukup bagi kami sebagai dalil atas kebatilannya, dan kedustaan orang yang
36
menukilkannya.(11) maka bagaimana bisa tergambarkan seorang alim yang bertaqwa dan waro‟ berbuat ngawur seperti ini? Kisah yang sebenarnya adalah: Para penghapal Al Qur‟an, para pelajar, dan para penyeru ke jalan Alloh yang hadir dalam kisah itu, semuanya bersaksi bahwasanya ada seorang lelaki dari Abyan menjelek-jelekkan Ahlussunnah. Namanya adalah Ali Adh Dhombary. Ketika Syaikh Yahya Al Hajury bertekad untuk membantahnya, sebagian penduduk Abyan berkata,”Mereka berkata bahwa dia itu digauli sebagaimana wanita digauli.” Maka Syaikh berkata, ”Dengarkanlah wahai ikhwah, apa yang mereka ucapkan?” lalu Syaikh berkata,”Seperti ini membutuhkan bayyinah (bukti)!” Maka salah seorang yang hadir dari Abyan berkata,”Ini sudah terkenal.” Maka Syaikh berkata,”Sekedar keterkenalan tidak mengharuskan benarnya berita.” Selesai. Kisah dan pembicaraan berkisar tentang seseorang, tapi pertama kali: omongan Al Ba‟dany terbalik, lalu yang kedua: berbicara tentang orang lain. Maka berkumpullah antara kemungkaran dan kepalsuan dalam ucapan Al Ba‟dany. Kemudian Ahlussunnah mereka mempercayai diri mereka sendiri, mereka tidak terpengaruh oleh berita-berita palsu. Para Nabi Alloh telah dituduh dengan tuduhan yang lebih besar daripada ini, dan mereka bersabar. Kedustaan itu benang-benangnya pendek saja, dan Alloh „azza wajalla berfirman: سَقَعْؾَؿُونَ دًا مَنِ الْؽَ ه ذابُ الْأَشَِ  ]الؼؿر/ 26 ]
“Besok mereka akan tahu siapakah pendusta besar yang jahat itu.” (QS Al Qomar 26)
b- Orang yang telah tersebut di atas juga menukilkan bagian atas tanpa bayyinah terhadap Syaikh Yahya Al Hajury –
حفظه الله – bahwasanya beliau berkomentar tentang jajaran
(11) Kukatakan –Abu Fairuz-: termasuk Luqman Ba Abduh.
pemerintahan bahwasanya mereka itu tukang homoseksual dan banci.
Kedustaan ini juga sejenis dengan dongengan tadi. Dan kami berkata,”Kami jadikan Alloh sebagai saksi bahwasanya si penukil ini pendusta besar(12).” Dan kami berkata sebagaimana firman Robb kami: يَا أَ ه ا ا ه لذِينَ آَمَُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بَِبَنٍ فَتَبَ ه قُوا أَنْ تُصِقبُوا قَوْمًا بِجَفَالَةٍ فَتُصْبِحُوا طَذَ مَا
فَعَؾْتُمْ كَادِمِينَ  ]الحجرات/ 6 ]
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6) Dan kami berkata pada orang yang membikin kedustaan terhadap para pemilik ilmu dan keutamaan, sebagaimana firman Robb kami „azza wajalla: قُلْ هَاتُوا بُرْهَاكَؽُمْ إِنْ كُْتُمْ صَادِقِينَ  ]البؼرة/ 111 ]
“Katakanlah : Datangkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang jujur.” (QS Al Baqoroh 111) Dan di dalam Ash Shohihain dari Ibnu „Abbas rodhiyallohu „anhuma berkata : Rosululloh saw bersabda : لو يعطى الاس بدطواهم دٓطى كاس دماء رجال وأموالهم ولؽن القؿين طذ اددطى «
.» طؾقه
“Andaikata manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.” Dan dalam riwayat Al Baihaqy :
(12) Kukatakan –Abu Fairuz-: demikian juga Luqman Ba Abduh
لَوْ يُعْطَى الهاسُ بِدَطْوَاهُمْ هَٓ دطَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ وَلَؽِ ه ن الْبَقَِّةَ طَذَ ادُْ ه دطِى «
.» وَالْقَؿِينَ طَذَ مَنْ أَكْؽَرَ
“Andaikata manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi bayyinah (bukti) adalah kewajiban si penuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.” Dan apakah seorang muslim akan lancang berkata seperti itu, lebih-lebih lagi orang yang tahu tentang Alloh, waro‟, punya perhatian dan semangat untuk menjaga kehormatan muslimin, serta membelanya ?!! Aku telah bertanya pada Syaikh Yahya حفظه الله ta‟ala tentang itu, maka beliau bersumpah dengan nama Alloh tidak mengucapkannya. Selesai ucapan Syaikhuna Abdulloh Al Iryani حفظه الله . Dan telah berdatangan ucapan syukur, pujian dan selamat setelah keluarnya risalah yang mantap ini, dari kalangan Salafiyyun yang punya kecemburuan.
Bahkan Nu‟man Al Watar sendiri telah mengakui kedustaan tadi. Syaikh Abdulloh Al Iryany – حفظه الله – di dalam risalahnya yang kedua berkata,” “Kalaulah tidak ada pembongkaran aib mereka di dalam risalah mereka “Al Muhannadul Yamani..” kecuali bahwasanya mereka itu sikapnya bertolak belakang dan goncang, dan mereka mengakui atas kebohongan mereka dalam melemparkan tuduhan pada Asy Syaikh Al Fadhil Al Bari’ (yang bersih dari tuduhan tadi) Yahya Al Hajuri bahwasanya beliau menuduh ‘Ali Ba Ruwais, setelah mereka terbang dengan tuduhan tadi ke segala penjuru, niscaya yang demikian itu cukup untuk menetapkan kedustaan mereka dan menjelaskan keadaan mereka, dan pendustaan orang-orang terhadap mereka, waspada terhadap penukilan dan berita-berita mereka, jatuhnya mereka dari pandangan mata orang-orang, dan tidak percaya lagi pada mereka ..” (“Ta‟zizul Qoulil Jali” hal. 5)

Dan Syaikhuna Syaikh Abdulloh Al Iryany – حفظه الله – telah mengunjungi kami, lalu beliau menuliskan buat Akhuna Abu Saif -Al Indonesy- حفظه الله , bahwasanya Luqman telah menempuh jalan para hizbiyyin dalam mengambil bantuan dari senjata-senjata para hizbiyyin pendahulu, dalam upayanya untuk “memukul” Ahlussunnah. Atau kurang lebih demikian(13). Maka wahai Luqman, seakan-akan aku teringat sebuah kisah bahwasanya penduduk Dammaj telah selesai memakamkan jenazah di pekuburan mereka. Ketika mereka pulang datanglah seekor binatang menggalinya lagi lalu mengambil mayat tadi dan memakannya. Dan Syaikhuna yang utama Abu Abdillah Thoriq Al Ba‟dany –semoga Alloh menjaganya, dan membalasnya dengan kebaikan- mendatangkan peringatan yang penting sekali. Beliau berkata,”Al Idrisy adalah Ali bin Hamud bin Sinan, pemilik studio rekaman “Al Haromain” di Shon‟a yang dulunya bernama “Tasjilat wa Maktabatul Idrisy Al Islamiyyah As Salafiyyah”. Dia telah di-jarh (vonis cela) oleh Syaikhuna Yahya – حفظه الله – sebagai salah seorang koruptor dakwah. Beliau – حفظه الله – juga berkata bahwa Al Idrisy itu pengkhianat.” Selesai ucapan Syaikh Thoriq -حفظه الله -. Ada juga Al Idrisy yang lain, tinggal di propinsi Zabid. Dia telah divonis cela oleh Imam Al Wadi‟y رحوه الله : “Dia itu da‟i kepada kebodohan dan kesesatan.” (“Al Mushoro‟ah” hal. 387).

Jawaban keempat: Firman Alloh ta‟ala: ( ولا تَقجلىا ) yang artinya: “Jangan kalian terima”, kamu membacanya ( ولا تُقجل )
(13) Silakan merujuk kembali tulisan Syaikh Abdulloh Al Iryany – حفظه الله – yang edisi Indonesianya berjudul “Bantahan yang Ringkas Dan Pasti Terhadap Sebagian Syubuhat Luqman”, dan telah disebarkan di Indonesia. (catatan penerjemah).
40
yang artinya: “Jangan diterima”. Dan kesalahan dalam bacaan ini kamu mengulanginya dua kali. Dari mana kamu dapatkan bacaan Al Qur‟an yang itu? Jika kamu “menghukum” seseorang karena kesalahannya dalam perkara yang terkait dengan ucapan manusia, maka kami “menghukum” kamu karena kesalahanmu dalam perkara yang terkait dengan firman Robbul „Alamin. Dan kami juga akan “menghukummu” –dengan seidzin Alloh- karena kesembronoanmu dalam berbicara atas nama Alloh. Jawaban kelima: Ucapanmu:” (Hukuman) Kedua: la tuqbal lahu syahadah abadan. Kata Alloh nggak diterima persaksiannya, kata Alloh bahwa dia Kadzab ‘indalloh wa ‘indannas, Ia kadzab di sisi Alloh dan di sisi manusia. Kita menyatakan hat ya Hajuri, hat, kalo ndak ente mendapatkan posisi ini.” Wahai Luqman, Alloh hanyalah berfirman: وَ تَؼْبَؾُوا لهَُمْ شَفَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْػَاسِؼُونَ  ]الور/ 4 ]
“Dan janganlah kalian menerima persaksian buat mereka selamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS An Nur 4) Dan Imam Ibnu Katsir رحوه الله berkata: “Yang kedua: Persaksiannya ditolak selamanya. Ketiga: Dia itu adalah orang yang fasiq, bukan adil di sisi Alloh, dan juga di sisi manusia.” Selesai penukilan yang diinginkan.
Maka Alloh ta‟ala hanyalah menghukumi orang tadi sebagai fasiq, bukan kadzdzab (pembohong besar). Kadzdzab itu fasiq, tapi bukanlah setiap orang fasiq itu kadzdzab. Maka dengan dalil yang manakah kamu menghukumi bahwasanya setiap fasiq itu kadzdzab? Kamu berdalilkan dengan ayat di atas dalam keadaan tidak ada di dalamnya hukum bahwa orang tadi kadzdzab. Dan kamu berdalilkan dengan ucapan Imam Ibnu Katsir رحوه الله dalam keadaan tidak ada di situ hukum bahwasanya penuduh tadi itu kadzdzab. Maka apa bukti dan penjelasanmu dalam berbicara atas nama
41
Robbmu, lalu juga atas nama Imam Ibnu Katsir رحوه الله , ucapan yang tidak diucapkan oleh Ar Robb, dan juga tidak diucapkan oleh Imam رحوه الله tadi? Inilah jawabanku terhadap pendalilanmu dengan ayat yang umum: ﴿وَا ه لذِينَ يَرْمُونَ ادُْحْصََاتِ ثُ ه م لَمْ يَلْتُوا بِلَرْبَعَةِ شُفَدَاءَ فَاجْؾِدُوهُمْ ثَمَاكِينَ جَؾْدَةً وَ تَؼْبَؾُوا لهَُمْ شَفَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْػَاسِؼُونَ  ]الور/ 4 ]
“Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan zina terhadap para wanita yang terjaga, lalu mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah mereka sebanyak delapan kali deraan, dan janganlah kalian menerima persaksian kalian selamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS An Nur 4). Jawaban keenam: Andaikata kamu berdalilkan dengan ayat yang lebih khusus daripada ayat tadi: ﴿إِ ه ن ا ه لذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ طُصْبَةٌ مِْؽُمْ –إلى قوله:- لَوْ جَاءُوا طَؾَقْهِ بِلَرْبَعَةِ شُفَدَاءَ
فَلُولَئِكَ طِْدَ اللههِ
ِ
فَنِذْ لَمْ يَلْتُوا بِال ه شفَدَاء هُ ه هُ اللْ كَ ا ذِ ا هُ و كَ ن  ]الور/ 11 – 13 ]
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan berita dusta tadi (kasus „Aisyah rodhoyallohu ‘anha) mereka adalah dari golongan kalian sendiri” –sampai dengan:- “Andaikata mereka mendatangkan buat tuduhan tadi empat saksi. Tapi jika mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka mereka itu di sisi Alloh adalah orang-orang yang pendusta.” (QS An Nur 11-13). Barangkali ini lebih dekat kepada tujuanmu dalam menisbatkan Syaikhuna Yahya – حفظه الله – kepada kedustaan. Walaupun demikian kamu sendiri tahu bahwasanya tidak harus Kadzib (pendusta) itu Kadzdzab (pendusta besar). Robb kita Yang Mahatinggi menghukumi sang penuduh sebagai Kadzib, sementara kamu melampaui batas dengan menghukuminya: Kadzdzab.

Luqman Ba Abduh hadahulloh juga berkata: syaikh Robi‟ telah menulis tentang kesalahan al Hajuri 6 atau 5 halaman penyimpangan dari masalah asma‟ wa sifat ada di perpustakaan tentang sifat istiwaulloh azza wa jalla. Alloh beristiwa‟ dengan mumasah dengan bersentuhan? Jawaban pertama: Di manakah kertas-kertas yang kamu dakwakan tadi? Tunjukkanlah pada kami, wahai pendusta. Jawaban kedua: siapakah yang mendahuluimu menghukumi Syaikhuna Yahya Al Hajury -حفظه الله – dalam asma wash shifat melakukan kesalahan yang sangat fatal? Aku tak mengira kamu bisa menjawabnya. Jawaban ketiga: Ucapanmu: “Syaikh Robi‟ telah menulis tentang kesalahan Al Hajuri 6 atau 5 halaman penyimpangan dari masalah asma‟ wash shifat” memberi kesan berbilangnya kesalahan tersebut. Sebutkanlah pada kami kesalahan-kesalahan dalam asma wash shifat tadi yang mencapai lima atau enam halaman. Kalau kamu tak bisa maka kamu itu pendusta. Mungkin maksud kamu hanyalah satu kesalahan saja, yaitu kasus mumasah (bersentuhan dengan „Arsy) belaka. Maka perbaikilah ungkapanmu. Jawaban keempat: Adapun kasus mumasah, maka kasus itu telah selesai dengan keluarnya lembaran bayan (penjelasan) dari Syaikhuna Yahya -حفظه الله – sekitar enam tahun yang lalu. Dalam bayan tadi beliau menyebutkan adanya perselisihan di kalangan sebagian pengajar di markiz induk ini, disebabkan oleh adanya ucapan-ucapan sebagian ulama yang menetapkan ungkapan: “Bahwasanya Alloh itu tidak bersentuhan dengan „Arsy.” Padahal semuanya tahu bahwasanya ucapan ulama itu punya bobot di hati kita.
Dan sebagian pengajar yang lain mendatangkan ucapan-ucapan para ulama yang mewajibkan diam terhadap istilah mumasah itu dikarenakan tiadanya dalil yang menetapkannya ataupun yang menafikannya. Manakala argumentasi-argumentasi di antara kedua belah pihak tampak saling seimbang, merekapun menulis seluruh perkataan tadi di bawah bimbingan Syaikhuna Yahya –
حفظه الله -, lalu mengangkatnya ke Syaikh Robi‟ Al Madkholy –
حفظه الله -. Maka Syaikh Robi‟ Al Madkholy – حفظه الله – pun menjelaskan bahwasanya istilah mumasah itu merupakan hasil penyusupan dari Asya‟iroh ke dalam Ahlussunnah, lalu istilah tadi dipakai oleh Al Ghozaly رحوه الله . Dan beliau (Syaikh Robi‟) menjelaskan bahwasanya sebagian ulama yang menggunakan istilah tadi pada sebagian perdebatan mereka, mereka itu memakainya hanyalah dalam bab “Melazimkan lawan dengan perkataan mereka sendiri”, atau yang mirip dengan itu. Kemudian Syaikh Robi‟ – حفظه الله – membimbing semua pihak untuk meninggalkan istilah tadi. Maka Syaikhuna Yahya – حفظه الله – dengan kelapangan dada, dan menyebutkan bahwasanya dirinya dulu condong untuk meninggalkan istilah mumasah, hanya saja wujud istilah ini di dalam perkataan sebagian ulama menghalangi beliau untuk terang-terangan meninggalkannya. Wahai Luqman, sungguh Syaikhuna – حفظه الله – telah menyebarkan perkataan Syaikh Robi‟ -حفظه الله -, dan beliau juga menyebarkan bayan bahwasanya beliau menerima bimbingan Syaikh Robi‟ – حفظه الله -, dan berjalan mengikuti ucapan beliau tadi. Andaikata tidak khawatir kepanjangan tulisan, niscaya kunukilkan teks perkataannya. Maka hendaknya orang-orang menuntut Luqman untuk menampilkan malzamah tadi, agar mereka semua tahu kadar kejujuran Luqman.
Ahlussunnah telah bergembira dengan bayan tadi, perkara tadi telah selesai dan terkubur. Akan tetapi hizbiyyun pengikut Sholih Al Bakry memang tukang fitnah. Mereka senang tersebarnya kebatilan di kalangan orang-orang yang
44
beriman. Dan kamu wahai Luqman, adalah pewaris mereka, sebagai sejelek-jelek pewaris. Fadhilatus Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholy -حفظه الله – berkata: بد لؽلّ كحؾة من مورّث ووارث ، فبئس ادورّث وبئس الوارث وادوروث.
)”قطوف من كعوت السؾف” له ص 39 )
“Setiap aliran kepercayaan itu pasti ada yang mewariskan, dan ada yang mewarisi. Maka mereka tadi adalah sejelek-jelek yang mewariskan, sementara orang yang ini adalah sejelek-jelek yang mewarisi, dan perbuatan tadi adalah sejelek-jelek yang diwariskan.” (“Quthuf Min Nu‟utis Salaf” hal. 39 karya beliau). Dan kamu menyebutkan ayat Robbaniyyun. Maka apakah seperti itu perbuatan seorang Robbani, wahai Luqman? Dan di antara kedustaan Luqman adalah ucapannya: “Alhamdulillah masyayikh di Yaman bersatu.” Jawabnya: Kalian sendiri sudah tahu bahwasanya Masyayikh Yaman berselisih tentang hizbiyyah Ibnai Mar‟i, meskipun mereka sepakat tentang bersalahnya kedua bersaudara itu. Dan barangsiapa tidak kembali kepada dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah serta kaidah-kaidah Salaf, maka dia akan tertimpa kebingungan dan kegoncangan. Syaikhuna Muhammad bin Hizam Al Ba‟dany -حفظه الله – berkata: “Dan hendaknya diketahui bahwasanya para Masyayikh Ahlussunnah di Yaman -hafizhohumulloh- belum membebaskan Abdurrohman Al „Adny dari kesalahan dan fitnah tersebut, sebagaimana yang aku dengar sendiri ketika aku duduk dengan mereka.” (sebagaimana dalam nasihat beliau secara tertulis untuk para pelajar Indonesia, hari Senin, tanggal 3 Dzul Hijjah 1429 H). Syaikhuna Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryany – حفظه الله – berkata di dalam bantahannya yang ringkas terhadap Luqman:
“Perkataanmu: “Pendapat Masyasyikh di Yaman itu satu.” Memang benar. Mereka satu pendapat bahwasanya Abdurrohman itu terjatuh di dalam kesalahan-kesalahan. Tapi mereka berselisih pendapat di dalam penggolongan kesalahan-kesalahan tadi. Dan telah masyhur dari Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’i – حفظه الله – bahwasanya beliau berkata,”Kami tidak mengingkari orang yang berkata bahwa Abdurrohman Al ‘Adni itu hizbi, karena dia itu mengikuti orang alim”. Kemudian pendapat mereka itu satu, bahwasanya mereka tidak menyetujui sikap Syaikh Muhammad (bin Abdul Wahhab Al Wushobi -waffaqahulloh-) tentang perkataannya tentang Syaikh Yahya -حفظه الله -. Kemudian pendapat mereka itu satu di dalam “Bayan” mereka yang pertama, bahwasanya Syaikh Yahya -حفظه الله – itu berbicara berdasarkan nasihat dan kecemburuan.” (selesai penukilan dari tulisan tangan beliau yang tertanggal 18 Dzul Hijjah 1429 H). Sesuatu bisa disebutkan dengan adanya sesuatu yang lain. Termasuk dari kedustaan para pengikut Luqman adalah: sebagian dari mereka menyebarkan berita di beberapa kota di negri kami bahwasanya Syaikh Robi‟ – حفظه الله – berkata:”Silakan kalian berbicara tentang Syaikh Yahya semau kalian, karena dia bandel tidak menerima nasihat.” Atau yang seperti itu. Kami telah menuntut mereka untuk menampilkan bayyinah atau perkataan tadi, tapi mereka tidak menjawab hingga sekarang. Dan di antara orang yang menebarkan berita ini adalah Muhaimin dan pengikutnya.
Maka pada tanggal 2 Dzul Hijjah 1429 H Akhuna Abu Turob -حفظه الله – menelpon Syaikh Abu Abdillah Al Baidhony –
حفظه الله – (dan kami: Abu Fairuz, Abu Yusuf, Muhammad Shubhi, Amin, Adam, Mushlih, Irham Medan, Habibi Aceh, dan yang lainnya mendengarkannya). Syaikh Al Baidhony –
حفظه الله – adalah murid Syaikh Robi‟ Al Madkholy – حفظه الله – di Mekkah. Maka Abu Turob bertanya padanya,”Benarkah berita bahwasanya Syaikh Robi‟ berkata:”Silakan kalian berbicara tentang Syaikh Yahya semau kalian, karena dia bandel tidak menerima nasihat.” Atau yang seperti itu? Maka beliau – حفظه
الله – menjawab,” )ٓ (
“Tidak benar, tidak benar, tidak benar” Maka Abu Turob berkata,”Telah tersebar di negri kami Indonesia bahwasanya bahwasanya Syaikh Robi‟ berkata demikian.” Maka Syaikh Al Baidhony -حفظه الله – berkata: )كلام باصل(
“Ucapan batil.” Maka Abu Turob berkata,”Jadi, Syaikh Robi‟ masih terus memuji Syaikh Yahya?” Maka beliau menjawab: )كعم كعم كعم(. ثم اكتؼل الؽلام في شيء آخر.
“Iya, iya, iya.” Lalu pembicaraanpun beralih ke perkara lain.” Selesai. Bab Kedua Puluh Dua: Luqman Juga Membantah Ahlul Bida‟! Barangkali sebagian orang-orang yang terlalaikan akan berkata: “Sungguh Luqman itu juga punya kerja keras dan bantahan-bantahan terhadap ahlul bid‟ah!” Maka jawabannya adalah: Dari Abu Huroiroh rodhoyallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Rosululloh shollallohu „alaihi wa alihi wasallam yang bersabda: وَإِ ه ن اللههَ لَقُمَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِال ه رجُلِ الْػَاجِرِ .
“Sesungguhnya Alloh terkadang menolong agama ini dengan orang yang jahat.” (HSR Al Bukhory (3060) dan Muslim (111)).
Sampai bahkan andaikata ada mubtadi‟ yang membantah para pelaku kebid‟ahan, janganlah kamu terpedaya. Marwan bin Muhammad Ath Thotiry رحوه الله berkata : ثلاثة يمتمون في دين: الصوفي والؼصاص ومبتدع يرد طذ أهل الأهواء.
“Ada tiga kelompok orang yang tak bisa dipercaya dalam agama ini: Seorang Shufi, tukang cerita, dan ahli bid‟ah yang membantah ahlul ahwa‟ (pengekor hawa nafsu).” (“tartibul Madarik Wa Taqribul Masalik” 1/hal. 150 karya Al Qodhi „Iyadh رحوه الله ) Bab Kedua Puluh Tiga: Tahdzir Fadhilatusy Syaikh Al Walid Muhammad bin Mani‟ An „Ansy Ash Shon‟any -حفظه الله – Terhadap Luqman Ba Abduh Fadhilatu Syaikhunal Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani‟ An „Ansy Ash Shon‟any – حفظه الله – berkata: Telah mengirimkan kepadaku beberapa ikhwah Indonesia Ahlussunnah yang menuntut di Dammaj sebuah surat yang di dalamnya terdapat beberapa lembaran yang telah ditulis dari hasil rekaman milik seseorang yang bernama Luqman Ba Abduh. Dan aku telah membaca-bacanya dan kudapati di dalamnya cercaan, kedustaan dan kebohongan terhadap Syaikh Yahya Al Hajuri serta terhadap ma’had tersebut, yaitu Darul Hadits, yang orang-orang berakal merasa malu untuk melakukannya. Dan tidak asing lagi bagi kalian bahwasanya cercaan kepada ulama sunnah itu termasuk tanda-tanda ahlul bid’ah dan penyimpangan.

Imam Abu Hatim Ar razi -rahimahulloh- berkata:
“Ciri-ciri ahli bida’ adalah mencela ahlil atsar.” (Aqidatus Salaf Ashabil Hadits/Ash Shobuni/hal. 109)

Imam Ahmad bin Sinan -rahimahulloh- berkata:
“Tiada di dunia seorang mubtadi’pun kecuali dia itu dalam keadaan membenci ahlul hadits. Dan jika seseorang berbuat bid’ah, dicabutlah darinya manisnya hadits dari hatinya” (“Aqidatus Salaf”/Ash Shobuni/hal. 109)

Dan apabila telah nyata dari perkataan saudara-saudaraku para penuntut ilmu dari kalangan ahlussunnah Indonesia di Dammaj bahwasanya Luqman ini bukanlah orang yang jujur. Dan sesungguhnya dia itu adalah pendusta besar terhadap apa-apa yang dikatakan, sebagaimana yang dikuatkan oleh Abu Hazim dan selainnya. Maka termasuk perkara yang telah diketahui bersama bahwa persaksian ahlussunnah itu diterima. Bahkan kabar satu orang yang adil itu diterima di sisi ahlussunnah. Bagaimana jika mereka itu merupakan sekumpulan dari para penuntut ilmu yang mulia? Maka ini cukup dalam menetapkan kebohongan orang tadi. Dan orang pendusta itu tidak dipercaya dan tidak diterima khobarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata, “Perbedaan antara seorang mukmin dan munafiq adalah kejujuran. Karena sesungguhnya landasan dari kemunifakan itu adalah kedustaan.” (“Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam” 2 hal. 72)

Dan yang terakhir saya ingin mengingatkan kepada suatu perkara yang penting bahwasanya Luqman ini tidak bisa membedakan antara kritikan yang syar‟i dan bagaimana menjelaskan kesalahan dengan bagaimana celaan yang disertai dengan kebohongan dan kedustaan, yang ini semua menunjukkan bodohnya dia terhadap sunnah dan manhaj salaf.

Al Hafidh Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dzolim. Dan kedzoliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.” Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (Syarh Nuuniyyah Ibnul Qoyyim 2 hal. 340)

Dan yang terakhir aku mengulangi nasihat ini kepada saudara-saudara kami ahlussunnah di Indonesia agar menjauhi orang yang diketahui kedustaannya seperti orang ini. Dan tidak pantas orang ini diambil ilmu darinya. Wallohul musta’an.

Penulis: Saudara kalian fillah Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Al ‘Ansi Salah satu pendiri dakwah di Ibukota Son’a Pusat Kota Son’a.

Penutup Risalah Maka barangsiapa mendengar ucapan-ucapan Luqman Ba Abduh di dalam kaset tersebut, dan bersikap adil, dia akan tahu bahwasanya orang itu tengah berupaya keras untuk menjatuhkan Syaikhuna Yahya Al Hajury -حفظه الله –
“Wahai orang yang menanduk gunung yang tinggi untuk melukainya, kasihanilah kepalamu, dan jangan kamu kasihani gunung itu.”
“Seperti kambing gunung yang menanduk batu karang pada suatu hari untuk melemahkannya. Maka tandukannya tidak merugikan karang tadi, justru kambing tadi melemahkan tanduknya.” Sungguh telah benarlah firasat Syaikh Robi‟ -حفظه الله – terhadap Luqman ini.

Dan Syaikhuna Yahya – حفظه الله – berkata tentang Luqman: “Dia adalah termasuk pengikut hizby baru yang paling hina. Dia itu salah satu di antara orang-orang yang berjatuhan, tinggalkanlah dia.”

Adapun Muhammad yang dinamai dengan “Afifuddin” dia itu bagaikan setan bisu, dengan diamnya dia terhadap sekian banyak kebatilan yang diperbuat oleh Luqman Ba Abduh di hadapannya. Bahkan dia ridho dengan perbuatan itu. Maka hukumnya adalah sama dengan hukum Luqman. Dan tertawanya yang lebar saat mendengar ejekan Luqman terhadap Ahlul haq, bagaikan kendang yang membangkitkan keberanian Luqman dalam mengigau. Apakah Muhammad yang dinamai dengan “Afifuddin” tidak khawatir bahwasanya tertawa terbahak-bahaknya tadi berada pada posisi suara lonceng jin di kegelapan malam? Hendaknya dia mengganti namanya dengan: “Aziful Jinn” ( “طزيف الجنّ ” ) Yaitu “Lonceng Jin”. Ibnul Manzhur رحوه الله berkata: ““Aziful Jinn” adalah gemerincing suara-suara jin. Ada yang bilang: Dia adalah suara yang terdengar di malam hari bagaikan kendang. Ada yang bilang: Dia adalah suara angin di udara, yang disangka oleh para penduduk pedalaman sebagai suara jin.” (“Lisanul „Arob” 10/hal. 137).

Masih tersisa kebatilan-kebatilan Luqman Ba Abduh yang tak bisa disebutkan di dalam risalah yang sempit ini. Keadaan orang ini adalah seperti firman Alloh ta‟ala:
“Sungguh telah Nampak kebencian pada mulut-mulut mereka. Dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada mereka itu lebih besar.” (QS Ali „Imron 118)

Aku cukupkan sampai di sini, dan aku mohon ampun pada Alloh Al „Azhim (Yang Mahaagung) untuk seluruh ketergelinciran, sesungguhnya Dia itulah Al Ghofur (Yang Maha Pengampun) Ar Rohim (Yang Maha Penyayang).

Markiz Induk Darul Hadits Di Dammaj –semoga Alloh menjaganya-

Selesai pengetikan 11 Dzul Hijjah 1429 H Tanggal perbaikan pertama 22 Muharrom 1430 H

Tanggal perbaikan kedua 23 Jumadil Awwal 1430 H