MENDOBRAK KESEPAKATAN

YANG BERTUJUAN MEMBUNGKAM KEBENARAN

 

disusun oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Sukaya Al Qudsi Al Indonesi ‘afallohu ‘anhu
Di Markiz  Dakwah Salafiyyah
Darul Hadits Dammaj Yaman  -harosahalloh-

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqoddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
[يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون]
 [يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا]
 [يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما . ]
أما بعد: فإن خير الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار .

Telah sampai kepada kami berita dari seorang ikhwah Salafiyyin bahwasanya di tempat dia pada tanggal 22 Shofar 1430 H (kurang lebih) sudah ada pertemuan beberapa ustadz untuk membahas fitnah yang tengah bergejolak. Dan hasil kesepakatan tersebut secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

1- Meredam atau diam terhadap fitnah ulama yang ada di Yaman, sesuai dengan nasihat Kibarul Ulama.
2- Tidak diperkenankan bagi ikhwan Salafiyyin menyebarkan berita-berita yang memicu perpecahan
3- Semua ustadz menahan pembicaraan terhadap para ulama tanpa ada kesepakatan
4- Ikhwan Salafiyyin tidak boleh melecehkan para ustadz.
5- Semua informasi yang terkait dengan fitnah Yaman dikembalikan kepada para ustadz.
6- Dilarang bagi seluruh ikhwan untuk bersikap sendiri-sendiri dalam masalah fitnah mendahului kesepakatan para ustadz.

Dan jika benar bahwasanya isi kesepakatan tersebut adalah demikian, maka ana ingin menyampaikan tulisan yang disegerakan sebagai bentuk koreksian atau pelurusan terhadap perkara-perkara yang membutuhkan hal tersebut. Dan mengingat bahwasanya catatan ini bersifat segera, maka ana tidak menuliskan banyak dalil-dalil di dalam permasalahan yang hendak ana utarakan. Lagipula bagi orang-orang yang telah memahami manhaj Salaf, maka perkara yang hendak ana sampaikan itu sangatlah jelas, dan dalil-dalilnya telah dimaklumi bersama dengan seidzin Alloh.

Bab Satu: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Pertama

Terhadap isi kesepakatan pertama: “Meredam atau diam terhadap fitnah ulama yang ada di Yaman, sesuai dengan nasihat Kibarul Ulama.” Ana katakan:

Pertama: Kebenaran itu diketahui berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan thoriqotus Salaf. Barangsiapa ucapannya dan perbuatannya mencocoki ketiga pondasi Ahlussunnah tersebut, maka harus dibenarkan, diterima, dihormati dan didukung. Sama saja apakah hal itu berasal dari Kibarul Ulama, ataukah shighorul Ulama (kalau benar istilah ini), ataukah dari anak kecil kaum Muslimin.

Alloh ta’ala berfirman:

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ [الأنعام/80]

“Maka kaumnya membantahnya. Ibrohim berkata: Apakah kalian membantah diriku tentang Alloh padahal Alloh telah memberiku petunjuk?” (Al An’am 80)

Ayat ini berisi tentang pengingkaran Ibrohim ‘alaihis salam terhadap sikap kaumnya yang membantah dirinya padahal beliau telah sesuai dengan al haq.

Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [النور/51]

“Hanyalah perkataan kaum mukminin jika diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar dia menghukumi di antara mereka adalah perkataan mereka,”Kami dengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An Nur 51)

Alloh ta’ala berfirman:

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ [البقرة/137]

“Maka jika mereka mau beriman sebagaimana imannya kalian (para shohabat) pastilah mereka mendapat petunjuk. Tapi jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka itu hanyalah di dalam perpecahan.” (QS Al Baqoroh 137)

Kedua: Dengan penuh hormat ana katakan bahwasanya Ucapan Kibarul Ulama bukanlah wahyu dari langit yang suci dari kesalahan.

 Semuanya harus siap ditimbang dengan tiga landasan Ahlussunnah di atas.

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidaklah seorangpun melainkan diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-.” (HSR Ath Thabrani di “Mu’jamil Kabir” (11773) dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma/dishohihkan Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury -hafizhahulloh-)

Dan shohih juga dari perkataan Mujahid -rahimahulloh- (Lihat “Hilyatul Auliya” (2/31 )).

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata:

عن ابن عباس ، قال : « تمتع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال عروة : نهى أبو بكر ، وعمر عن المتعة ، فقال ابن عباس : ما يقول عرية ؟ قال : يقول : نهى أبو بكر ، وعمر عن المتعة ، فقال : أراهم سيهلكون ، أقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ويقولون : قال أبو بكر ، وعمر »

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma yang berkata: “Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bertamattu’ (dalam haji)”. Maka ‘Urwah berkata,”Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata,”Apa yang dikatakan si ‘Urwah kecil?” Dijawab,”Dia berkata: “Abu Bakr dan Umar melarang dari tamattu’.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata,”Aku menyangka mereka akan binasa, kukatakan “Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda” dan mereka berkata,”Abu Bakr dan Umar berkata”.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi” 4/hal. 42/ atsar itu dishohihkan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-)

Ketiga: Barangsiapa telah datang padanya al haq –yang diketahui dengan hujjah-hujjahnya, bukan dengan taqlid- wajib baginya untuk menerimanya, sebagai bentuk ketawadhu’an kepada Alloh ta’ala. Dan harom baginya untuk menyombongkan diri meskipun sekecil dzarroh. 

Abu Salamah -rahimahulloh- berkata:

الْتَقَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِى عَلَى الْمَرْوَةِ فَتَحَدَّثَا ثُمَّ مَضَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو وَبَقِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَبْكِى فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مَا يُبْكِيكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ هَذَا يَعْنِى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو زَعَمَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلميَقُولُ « مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِى النَّارِ ».

“Abdulloh bin Umar berjumpa dengan Abdulloh bin Amr ibnul ‘Ash -rodhiyallohu ‘anhum- di atas bukit Marwah. Lalu mereka saling menyampaikan hadits. Kemudian Abdulloh bin Amr berlalu, dan tinggallah Abdulloh bin Umar di situ menangis. Maka seseorang bertanya kepadanya,”Apa yang membikin Anda menangis, wahai Abu Abdirrohman?” Beliau menjawab,”Orang ini tadi – Abdulloh bin Amr- menyatakan bahwa Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa di hatinya ada kesombongan seberat timbangan biji sawi, Alloh akan menelungkupkan dirinya di dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad/7211/ dishohihkan Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- di “Al Jami’ush Shohih”)

Keempat: Barangsiapa telah mengetahui kebenaran, wajib baginya untuk berusaha menolongnya sekuat tenaganya, sesuai dengan hajat dien saat itu.

Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [البقرة/283]

“Dan janganlah kalian menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikan persaksian maka sesungguhnya orang itu hatinya telah berdosa. Dan Alloh itu Alim (Mahatahu) terhadap apa yang kalian lakukan.” (QS Al Baqoroh 283)

Alloh ta’ala berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ [لقمان/17]

“(Luqman berkata pada anaknya): “Wahai anakku sayang tegakkanlah sholat, perintahkanlah kepada yang ma’ruf, dan laranglah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS Luqman 17)

Kalau kalian memang sayang pada anak-anak kalian dan pada umat ini, inilah yang mestinya kalian perintahkan, dan bukan perintah untuk menyembunyikan kebenaran karena takut resiko.

Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم – « انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ « تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ » .

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tolonglah saudaramu baik dia itu zholim atau dizholimi.” Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, orang ini akan kami tolong jika dia terzholimi. Maka bagaimana kami menolongnya jika dia yang zholim?” Beliau bersabda: “Engkau pegang tangannya (cegah dia dari berbuat zholim).” (HSR Al Bukhory (2444))

Sudah jelas berdasarkan dalil-dalil dan hujjah serta bayyinat (bukan satu bayyinah) bahwasanya Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan markiz induk di Dammaj dizholimi oleh makar Abdurrohman-Abdulloh Al ‘Adniyyan dengan para pengikutnya -hadahumulloh-, bekerja sama dengan para pengikut Abul Hasan Al Mishry dan pengikut Sholih Al Bakry. Juga telah jelas Dakwah Salafiyyah yang murni dizholimi oleh mereka dengan muhdatsat dan perusakan prinsip. Juga kasus-kasus perampasan masjid-masjid yang berlangsung sejak fitnah Jam’iyyat sampai sekarang. Di manakah kalian letakkan perintah Alloh ta’ala dan Rosul-Nya -shalallohu ‘alaihi wa sallam- di atas?

Kelima: Barangsiapa belum mengetahui kebenaran, wajib baginya untuk mencarinya sekuat tenaga sesuai dengan tahapannya, dan bukan bersikap masa bodoh.
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
إنما العلم بالتعلم و الحلم بالتحلم و من يتحر الخير يعطه و من يتوق الشر
يوقه ” .
“Hanyalah ilmu itu dengan belajar, dan “al hilm” (kesabaran dari kemarahan) itu diperoleh dengan “tahallum” (berusaha untuk tidak cepat membalas kejelekan dengan kejelekan). Dan barangsiapa berusaha mencari kebaikan dia akan memperolehnya. Dan barangsiapa berusaha melindungi diri dari kejelekan, dia akan dilindungi darinya.” (HR Al Khothib Al Baghdady -rahimahulloh- di “Tarikh Baghdad” 9/127 dan dihasankan Imam Al Albany -rahimahulloh- di “Ash Shohihah” 1/hal. 605, dan ada sanad-sanad pendukungnya)
Jadi memang harus dengan usaha mencari, nanti Alloh ta’ala akan menolongnya untuk meraihnya.
Alloh ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل/43]
“Maka bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui.” (QS An Nahl 43)
Dan alhamdulillah kami telah mendapatkan penjelasan dari para ulama di markiz Dammaj seperti Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury, Syaikh Jamil Ash Shilwy, Syaikh Muhammad bin Hizam, Syaikh Abu Amr Al Hajury, Syaikh Abu Bilal Al Hadhromy, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury, Syaikh Muhammad Al ‘Amudy dan lainnya -hafizhahumulloh-, dan juga Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani’ di markiz Shon’a, Syaikh Ahmad bin ‘Utsman di markiz ‘Adn, Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimy (murid Imam Al Albany -rahimahulloh-) di markiz Ta’iz, dan Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Ad Duba’iy di markiz Mukalla. Semuanya -hafizhahumulloh- menjelaskan dengan hujjah-hujjah mereka bahwasanya

 kesalahan Abdurrohman-Abdulloh Al ‘Adniyyan dengan para pengikutnya -hadahumulloh- adalah sebagai berikut (secara ringkas):

Pertama: Memuji ahlul bida’ dan hizbiyyin, atau mengangkat citra mereka (no. 1)
Kedua: menolong ahlul bida’, merasa sakit dengan serangan ahlussunnah terhadap mereka, dan membela mereka (no. 2)
Ketiga: Banyak diam terhadap kebatilan hizbiyyin, dan lemah dalam mengingkari kemungkaran mereka (no. 3)
Keempat: Cercaan yang batil terhadap ulama sunnah yang istiqomah (no. 4)
Bercabang darinya perkara berikut ini:
1- Merusak citra ahlul haq bahwasanya mereka itu memiliki pemikiran khowarij dan pengkafiran. (no. 5)
2- Merusak citra ahlussunnah bahwasanya mereka itu penyebab perpecahan. (no. 6)
3- Berusaha untuk melekatkan citra “fitnah” kepada ahlussunnah yang memberikan nasihat. (no. 7)
4- Menuduh ahlussunnah yang cemburu untuk agama Alloh, dan yang menampakkan kebenaran, menuduh mereka sebagai orang yang tergesa-gesa dan terburu-buru. (no. 8)
Kelima: Mendustakan sebagian saksi, mencela mereka, dan mencela orang-orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya. (no. 9)
Keenam: Meremehkan dan mengejek Ahlul haq. (no. 10)
Ketujuh: Membikin-bikin berita bohong, dan berdusta atas nama orang yang jujur yang mengkritiknya dan menasihatinya. (no. 11)
Kedelapan: Mengangkat slogan-slogan, di antaranya adalah:
1- Slogan: “Kalian harus lemah lembut, kalian punya sifat berlebihan dan keras!” (no. 12)
2- Slogan: “Kalian suka mempopulerkan kesalahan!” (no. 13)
3- Berlindung di balik slogan: “mengambil manfaat dan menolak bahaya.” Untuk membungkam orang yang hendak menasihati. (no. 14)
4- Mengangkat slogan “Harus baik sangka” untuk meruntuhkan kritikan. (no. 15)
5- Mengangkat slogan “Harus tatsabbut (cari kepastian) dan tabayyun (cari penjelasan)” dalam rangka menangkis kritikan. (no. 16)
6- Mengangkat slogan “Kami dizholimi, kami butuh keadilan!” untuk memperburuk citra pemberi nasihat, dan menarik perasaan orang. (no. 17)
Kesembilan: memalingkan perhatian orang-orang dari inti perselisihan. (no. 18)
Kesepuluh: Memanfaat kejadian-kejadian yang ada untuk melancarkan hasrat dan tujuan mereka yang busuk. (no. 19)
Kesebelas: Upaya menghindar dari Ahlul haq, menghalangi orang dari mereka, dan melarikan orang dari kebenaran dan Ahlul haq. (no. 20)
Kedua belas: Tidak mau membantu para pembela manhajus Salaf dalam memerangi para hizbiyyin. (no. 21)
Ketiga belas: Berdalilkan dengan diamnya sebagian ulama (no. 22)
Keempat belas: Bertamengkan dengan fatwa atau perbuatan sebagian ulama dalam menyelisihi kebenaran. (no. 23)
Kelima belas: mereka berlebihan dalam meninggikan ulama atau pimpinan mereka hingga mengangkat mereka ke tingkatan “tak bisa dikritik” (no. 24)
Keenam belas: Membentuk landasan dan pokok-pokok yang menyelisihi manhaj Salaf untuk menolong kebatilan. (no. 25)
Ketujuh belas: Sedikitnya kesediaan untuk menerima nasihat yang benar. (no. 26)
Kedelapan belas: Teman dekat yang jelek, duduk-duduk dengan hizbiyyun, dan berloyalitas dengan mereka. (no. 27)
Kesembilan belas: Sikapnya sering bertolak belakang, dan banyak berdusta. (no. 28)
Dan bercabang dari itu, atau mirip dengannya:
1- Membikin makar dan tipu daya (no. 29)
2- Penipuan dan pengkhianatan (no. 30)
3- Meniru Ikhwanul Muslimin dan cabang-cabang mereka dalam menempuh metode lambat (no. 31)
4- Upaya berlepas diri secara politis dari kesalahan anak buahnya untuk menghindari tanggung jawab. (no. 32)
5- Politik topeng, alih warna, bersembunyi, dan muka ganda. (no. 33)
6- Berpura-pura lemah lembut dan akhlak mulia (no. 34)
7- Pemutarbalikan fakta (no. 35)
8- Khianat dalam menukil berita sehingga merubah makna (no. 36)
Kedua puluh: Pengkaburan, dan penyamaran antara kebenaran dan kebatilan. (no. 37)
Kedua puluh satu: Sibuk memperbanyak barisan (no. 38)
Kedua puluh dua: Menjaring massa, membuat mereka terlena dengan angan-angan, pemberian dan sebagainya (no. 39)
Kedua puluh tiga: Tidak rela dengan penyebaran kebenaran yang menyelisihi hawa nafsunya (no. 40)
Kedua puluh empat: kerakusan untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah (no. 41)
Dan bercabang darinya:
1- Meniru Ikhwanul Muslimin dengan cara meminta- minta harta setelah menyampaikan ceramah (no. 42)
2- Membuka jalan untuk mendirikan jam’iyyah dan semisalnya atas nama dakwah (no. 43)
3- Memakai kotak dan semisalnya dalam mengumpulkan harta (no. 44)
Kedua puluh lima: Banyak melakukan pesiar dan jalan-jalan untuk memperkuat pondasi hizbnya. (no. 45)
Kedua puluh enam: Lemahnya perhatian kepada menuntut ilmu (no. 46)
Kedua puluh tujuh: Mendekatkan diri dan menjilat, serta menyusup ke tengah-tengah ulama dan para Salafiyyin (no. 47)
Kedua puluh delapan: Pura-pura tobat, bergaya rujuk dari kesalahan, atau yang semisal dengannya (no. 48)
Kedua puluh Sembilan: Menebarkan api fitnah dan merobek persatuan Salafiyyin (no. 49)
Bercabang dari itu:
1- Mengadu domba, dan memperluas area perselisihan (no. 50)
2- Berupaya menimpakan kejelekan terhadap Ahlussunnah melalui tangan penguasa (no. 51)
3- Penebaran api fitnah di masjid (no. 52)
Ketiga puluh: Bersatu dan berkumpul sesuai dengan hasrat dan tujuan pribadi dan keduniaan. Dan terkadang meninggalkan teman-temannya jika kebutuhan telah tercapai atau khawatir menjadi sasaran teriakan. (no. 53)
Ketiga puluh satu: Fanatisme golongan, dan sempitnya al wala (loyalitas) dan al baro’ (pemisaham diri) (no. 54)
Ketiga puluh dua: Menempuh prinsip “Tujuan itu bisa menghalalkan segala cara.” (no. 55)
Ketiga puluh tiga: Memancangkan permusuhan terhadap para kritikus yang bermaksud menasihati dan dan orang yang kokoh di atas kebenaran (no. 56)
Bercabang dari itu:
1- Penyempitan dan upaya mengganggu salafiyyin (no. 57)
2- Menginginkan kecelakaan terhadap Ahlussunnah (no. 58)
3- Merampas masjid-masjid, atau posisi imam, atau posisi khothib dari tangan ahlussunnah (no. 59)
4- Penakut-nakutan dan teror psikologis (no. 60)
Ketigapuluh empat: Penggunaan lafadh-lafadh yang umum dan ungkapan yang global (no. 61)
Ketigapuluh lima: pertemuan-pertemuan rahasia untuk melangsungkan rencana yang mencurigakan (no. 62)
Ketigapuluh enam: penyia-nyiaan para pemuda yang tertipu oleh mereka, dalam bentuk memalingkan mereka dari kebaikan. (no. 63)
Ketigapuluh tujuh: kelembekan manhaj dan upaya untuk melunturkan kekokohan sikap (no. 64)
Ketigapuluh delapan: sedikitnya sikap waro’ (menjauhi perkara yang membahayakan akhiratnya) (no. 65)
Ketiga puluh sembilan: ridho dengan keikutsertaan para penulis yang tak dikenal dalam upaya menghantam dakwah Ahlussunnah (no. 66)
Keempat puluh: menyelisihi metode Salaf, baik secara ucapan ataupun secara keadaan (no. 67)
Keempat puluh satu: Bersembunyi di balik iklan pendirian markiz untuk melangsungkan kehizbiyyahan mereka (no. 68)
Keempat puluh dua: Kedengkian yang jelas yang mana mereka berupaya untuk meruntuhkan pusat dakwah Salafiyyah di Yaman, dan agar orang-orang berpindah dari situ untuk menuju ke markiz mereka yang belum jadi itu (no. 69)
Keempat puluh tiga: Tidak adil dalam menerapkan kaidah mereka sendiri, dan berbuat jahat dalam perselisihan. (no. 70)

Mayoritas dari perkara tadi kami saksikan dengan mata kepala kami, dan kami rasakan keganasannya di sini. Juga ini semua sudah dijelaskan dengan dalil dan hujjahnya di dalam malzamah-malzamah yang sekarang telah mencapai seratus judul, yang sebagiannya disembunyikan oleh Luqman Ba Abduh dan anak buahnya. Dan yang belum sampai ke tanah air dicegah untuk masuk lewat sistem tahdziran.

Keenam: Adapun orng yang telah mengetahui duduk perkara fitnah ini tapi justru memusuhi Salafiyyin Dammaj, atau melemahkan perjuangan mereka,maka kita katakan sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ﴾ [هود:34]
“Dan tidak bermanfaat buat kalian nasihatku jika aku ingin menasihati kalian jika Alloh menghendaki untuk menyesatkan kalian.” (QS Hud 34)
Ana khawatir dia akan terkena sebagian dari firman Alloh ta’ala:
وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [المائدة/41]
“Dan barangsiapa dikehendaki Alloh akan tertimpa fitnah, maka engkau tak akan bisa menolong mereka dari Alloh sedikitpun. Mereka itulah orang-orang yang tidak dikehendaki Alloh untuk hati-hati mereka disucikan. Mereka di dunia akan mendapatkan kehinaan, dan mereka di akhirat akan mendapatkan siksaan yang besar.” (QS Al Ma’idah 41)

Ketujuh: Manusia pada saat datangnya al haq terbagi menjadi beberapa jenis. Ada tipe kelompok yang pada saat datangnya al haq mereka bersepakat untuk menerimanya.

 Dan inilah yang ideal, sebagaimana perintah Alloh ta’ala:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]
. “Dan berpegangteguhlah kalian dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali ‘Imron 103)
Ada juga tipe kelompok yang pada saat datang al haq kepada mereka mereka terpecah menjadi dua: pengikut al haq dan penolak al haq. Maka yang menerima al haq itu terpuji karena mengikutinya meskipun tinggal sendirian. Dan dialah yang berhak menyandang gelar “Al Jama’ah”. Adapun orang yang menolak al haq maka dia tercela karena menolak al haq dan karena dialah yang menjadi biang perpecahan. Dan dia itu yang berhak dicerca dan berdosa. Alloh ta’ala berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم 
“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bayyinat (bukti-bukti kebenaran), dan mereka itulah yang berhak mendapatkan siksaan yang besar.” (QS Ali Imron 105).
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
« مَثَلِى وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ ، وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ . فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا ، وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ »
“Permisalanku dengan permisalan apa yang dengannya Alloh mengutus diriku adalah permisalan seseorang yang mendatangi suatu kaum seraya berkata,”Aku melihat pasukan dengan mata kepalaku. Dan sungguh aku ini adalah pemberi peringatan yang jujur, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Maka sekelompok dari mereka menaatinya seraya berangkat di awal malam tanpa penundaan sehingga mereka selamat. Tapi sekelompok lagi mendustakannya, sehingga mereka dihantam oleh pasukan tentara tadi di waktu pagi dan dimusnahkan” (HSR Al Bukhary (6482) dari Abu Musa Al Asy’ary rodhiyallohu ‘anhu)
Perhatikanlah –waffaniyalloh wa iyyakum-: saat al haq datang mereka terpecah jadi dua. Yang ikut al haq selamat dan yang menolaknya celaka.
Apakah yang mengikuti al haq patut dicerca karena tidak mau terus bersatu bersampai kelompok kedua agar celaka bersama-sama?
Ataukah beritanya tadi yang disalahkan karena membikin perpecahan?
Ataukah mereka dibiarkan saja hidup tenang bersatu tanpa menyadari adanya bahaya besar yang mendekat?
Bukankah Abdurrohman-Abdulloh dan Ba Muhriz telah tiba di tanah air kita dan membikin syubuhat, minimal dengan penampilan akhlaq yang memukau? Bukankah anak buah mereka telah bertebaran di tanah air sambil menebar racun? 

Kedelapan: Barangsiapa justru mengajak sepakat untuk menolak al haq, maka kesepakatan itu batil dan harus dibatalkan, karena hal itu merupakan dosa dan merupakan bentuk permusuhan terhadap al haq. 

Alloh ta’ala berfirman:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [المائدة/2]
“Dan janganlah kalian saling menolong di atas dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kalian pada Alloh, sesungguhnya Alloh itu sangat keras siksaan-Nya.” (QS Al Ma’idah 2)
Dan kesepakatan semacam itu merupakan makar yang batil untuk memudarkan cahaya al haq, menzholimi ahlul haq, dan merusak jerih payah mereka dalam membongkar kebatilan. Alloh ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [الأنعام/123]
“Dan demikianlah Kami jadikan pada setiap kampung para pembesarnya yang jahat agar mereka membikin makar di situ. Padahal tidaklah mereka membikin makar kecuali terhadap diri mereka sendiri tapi mereka tidak menyadarinya.” (QS Al An’am 123)

Kesembilan: Fitnah hizbiyyah ini sangat jelas bagi orang yang dipahamkan oleh Alloh ta’ala. 

Adapun orang-orang yang masih tidak paham setelah datangnya penjelasan dan hujjah-hujjahnya, dia itulah yang tercela, atau mendapatkan udzur atas kekurangannya. Tapi sama sekali tidak pantas baginya untuk membujuk orang lain agar bersikap tidak paham seperti dirinya. Yang mengetahui masalah adalah hujjah terhadap orang yang tidak mengetahui, bukan sebaliknya.
Jangan mengikuti gaya orang-orang kafir:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ [العنكبوت/12]
“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: Ikutilah jalan kami dan nanti biarlah kami yang akan memikul kesalahan kalian.” (QS Al ‘Ankabut 12)
Alloh ta’ala berfirman:
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (88) قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا [الأعراف/88، 89]
“Dan orang-orang yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata,”Pasti kami akan mengeluarkan dirimu wahai Syu’aib dan orang orang yang beriman bersamamu dari kampung kami, atau kalian kembali ke dalam jalan agama kami.” Syu’aib berkata,”Apakah kami akan mengikuti kalian walaupun kami membencinya? Berarti kami telah membikin kedustaan atas nama Alloh jika kami sampai kembali ke jalan agama kalian setelah Alloh menyelamatkan kami darinya.” (Al A’rof 88-89)
Justru orang yang tidak tahu itu harus mengikuti orang yang telah tahu, dengan dalil-dalilnya –bukan dengan taqlid-. Alloh ta’ala berfirman:
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ [يس/21]
“(Pria itu berkata kepada mereka): Ikutilah orang-orang yang tidak meminta pada kalian upah, dan mereka itu telah mendapatkan petunjuk.” (QS Yasin 21)
Alloh ta’ala berfirman:
يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا [مريم/43]
“(Ibrohim berkata:) Wahai ayahku sayang, sesungguhnya telah datang kepada saya ilmu yang belum mendatangimu, maka ikutilah saya niscaya saya akan membimbingmu kepada jalan yang lurus.” (QS Maryam 43)

Kesepuluh: Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, kami katakan: Kibarul Ulama –apalagi para ustadz- bukanlah orang-orang yang menguasai seluruh ilmu. Dan bukanlah mustahil Alloh ta’ala pada saat-saat tertentu menetapkan suatu kasus yang tidak segera dipahami oleh kibarul Ulama –dan para ustadz-, tapi dipahami oleh beberapa ulama yang lain dan para tholabatul ilmi. Ini merupakan salah satu hikmah Alloh ta’ala agar tiada makhluq yang menyombongkan diri di kolong jagat. Karena hanya Alloh sajalah yang sempurna ilmunya. Alloh ta’ala:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [الإسراء/85]
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja.” (QS Al Isro’ 85)
Dan banyak contoh ketidaktahuan beberapa kibarush Shohabah rodhiyallohu ‘anhum terhadap sebagian ilmu yang diketahui oleh Shahabat yang lain. Di antaranya adalah ketudaktahuan Umar rodhiyallohu ‘anhu hadits (الاستئذان ثلاث) “Meminta idzin masuk rumah itu tiga kali.” Maka Umar menuntut Abu Musa rodhiyallohu ‘anhuma untuk mendatangkan saksi penguat. Di dalam hadits itu:
فَقَالَ أُبَىُّ بْنُ كَعْبٍ فَوَاللَّهِ لاَ يَقُومُ مَعَكَ إِلاَّ أَحْدَثُنَا سِنًّا قُمْ يَا أَبَا سَعِيدٍ. فَقُمْتُ حَتَّى أَتَيْتُ عُمَرَ فَقُلْتُ قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلميَقُولُ هَذَا.
“Maka Ubay bin Ka’b berkata (pada Abu Musa rodhiyallohu ‘anhuma): “Maka demi Alloh tiada yang berdiri bersamamu kecuali yang paling muda umurnya di antara kami (kaum Anshor yang di situ). Maka bangkitlah engkau wahai Abu Sa’id. Maka akupun bangkit lalu mendatangi Umar, lalu kukatakan padanya,”Aku telah mendengar Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda demikian.” (HSR Al Bukhory (6245) dan Muslim (14/hal. 287) dan ini lafazh Muslim).
Imam Ibnu Rojab -rahimahulloh- berkata:
أن علماء الدين كلُّهم مجمعون على قصد إظهار الحق الذي بعث الله به رسوله صلى الله عليه وسلم ولأنْ يكون الدين كله لله وأن تكون كلمته هي العليا ، وكلُّهم معترفون بأن الإحاطة بالعلم كله من غير شذوذ شيء منه ليس هو مرتبة أحد منهم ولا ادعاه أحد من المتقدمين ولا من المتأخرين
“Bahwasanya ulama agama ini semuanya bersepakat untuk menginginkan pemunculan kebenaran yang dengannyalah Alloh mengutus Rosul-Nya -shalallohu ‘alaihi wa sallam-, dan agar agama itu seluruhnya untuk Alloh, dan agar kalimat Alloh itulah yang tertinggi. Dan mereka semua mengakui bahwasanya penguasaan ilmu secara total tanpa ada yang lepas dari sedikitpun bukanlah martabat bagi seorangpun dari mereka, dan tiada seorangpun dari mutaqoddimin maupun muta’akhkhirin yang mengaku-aku mencapai derajat itu.” (“Al Farqu Bainan Nashihah wat Ta’yir” 1/hal. 3)
Syaikh Robi’ Al Madkholy – hafidzahulloh – berkata:
“Janganlah seorang alim ataupun tholibul ilmi kecuali dengan sesuatu yang diketahuinya. Seorang alim bukanlah orang yang mengetahui segala sesuatu. Terkadang dia tidak mengetahui sebagian perkara. Dan dahulu para imam melatih murid-murid mereka untuk berkata,”Aku tidak tahu”. Dan Al Qo’naby atau Ibnu Wahb pernah berkata,”Jika aku ingin memenuhi catatan-catatanku dengan perkataan Malik: “Aku tidak tahu” pastilah bisa aku lakukan.” (“As’ilah Abi Rowahah Al Manhajiyyah” hal. 32)

Kesebelas: Upaya untuk menolak al haq yang dibawa oleh sebagian ulama –yang dilengkapi dengan dalil-dalil- dengan alasan,“Kita menunggu kibarul ulama” atau “Kibarul Ulama belum berbicara” merupakan syi’ar Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyin dan Sururiyyin untuk menolak al haq. Dan ini merupakan bukti bahwa pelakunya ahlut taqlid, bukan ahlul ‘ilmi wal hujjah.
Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Abu Umar (Imam Ibnu Abdil Barr -rahimahulloh-) dan para ulama yang lain berkata: “Manusia telah bersepakat bahwasanya muqollid itu tidak teranggap sebagai ulama, dan bahwasanya ilmu itu adalah mengetahui al haq dengan dalilnya.” Dan ini sebagaimana perkataan Abu Umar –rahimahullohu ta’ala-: “Karena sesungguhnya manusia tidak berselisih bahwasanya ilmu itu adalah pengetahuan yang diperoleh dari dalil. Adapun tanpa dalil, maka hal itu hanyalah taqlid.” Dua ijma’ ini mengandung pengeluaran seorang yang fanatik dengan hawa nafsu dan orang yang bertaqlid buta dari rombongan ulama, dan mengandung jatuhnya dua tipe ini -karena orang-orang di atas mereka telah menyempurnakan bagian warisan- dari kalangan pewaris para nabi,” dst (“I’lamul Muwaqqi’in” 1/hal. 6)

Keduabelas: Lafazh “Fitnah Ulama” merupakan istilah yang global dan mengandung pengkaburan hakikat.

 Dan tidak pantas ahlussunnah memakai istilah-istilah yang global pada saat umat membutuhkan penjelasan yang terang.
Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
فعليك بالتفصيل والتمييز فالإ طلاق والاجمال دون بيان
قد أفسدا هذا الوجود وخبطا الـ ـأذهان والآراء كل زمان
“Wajib bagimu untuk berbicara dengan perincian dan pembedaan, karena lafazh yang mutlaq dan global tanpa penjelasan telah merusak para makhluq yang ada, dan menjadikan benak dan pendapat itu gagal di setiap tempat.” (“An Nuniyyah” 1/hal. 38)
Syaikh Robi’ Al Madkholy -rahimahulloh- berkata:
والإجمال والإطلاق هو سلاح أهل الأهواء ومنهجهم والبيان والتفصيل والتصريح هو سبيل أهل السنة والحق.
“Penggunaan lafazh global dan mutlak merupakan senjata dan manhaj ahlul ahwa’. Adapun lafazh yang jelas, rinci dan terang merupakan jalan Ahlussunnah wal haq.” (“Majmu’ur Rudud”/hal. 136-137)

Ketigabelas: Istilah yang benar dan terang dalam kasus ini adalah: “Hizbiyyah Abdurrohman-Abdulloh bin Mar’i” sebagaimana yang telah lewat penggambarannya. 

Keempatbelas: Kenapa sebagian orang mengekor pada hizbiyyin dengan teriakan “Kita menunggu kibarul ulama!”? Apakah Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan para ulama yang bersamanya shigorul ulama? 

Tolonglah sampaikan pada kami siapakah ulama yang mentanshish bahwasanya Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan para ulama yang bersamanya shigorul ulama? Dan apakah fatwa shighorul ulama –jika istilah ini benar- yang diperkuat dengan hujjah dan dalil tidak teranggap? Siapakah ulama yang bilang demikian? Alangkah banyaknya orang yang mengagung-agungkan Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- dengan tujuan untuk dibenturkan dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-. Marilah kita dengarkan seruan Imam Al Wadi’i -rahimahulloh-:
اسمعوا اسمعوا فتوى أكبر واحد عندي تخالف الدليل لا قيمة لها وفتوى أصغر منكم و معه دليل على العين والرأس حتى لا تخوفني بفتوى فلان ولا فلان بل أنا خصم فلان ما كان الذي يخرج فتاوى زائغة فأنا خصمه
“Dengarkanlah, dengarkanlah! Fatwa orang yang paling besar di sisiku tapi menyelisihi dalil tak ada harganya. Dan fatwa orang yang paling kecil dari kalian dan ada dalil bersamanya maka dia itu terhormat dan ditaati, sampai kalian tidak menakuti-takuti aku dengan fatwa fulan ataupun fulan. Bahkan aku adalah lawan debat si fulan. Selama yang keluar adalah fatwa-fatwa yang menyimpang, maka aku adalah lawan debatnya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/Imam Al Wadi’i /hal. 46)

Bab Dua:

Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Kedua

Terhadap isi kesepakatan kedua: “Tidak diperkenankan bagi ikhwan Salafiyyin menyebarkan berita-berita yang memicu perpecahan” Ana katakan:

Pertama: Istilah “Berita-berita yang memicu perpecahan” merupakan lafazh global yang menyelisihi jalan Ahlussunnah sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Kedua: Wajib dalam kasus-kasus seperti ini untuk merinci: Jika berita tadi merupakan al haq yang andaikata tidak disampaikan bisa menyebabkan umat tertipu dari para du’at yang menyimpang –bahkan du’at yang baik tapi ketergelincirannya bisa membahayakan umat-, maka berita tadi wajib untuk disampaikan. Inilah manhaj Salaf yang kalian mengaku ada di atasnya. Sama saja apakah seluruh orang nantinya bersatu dai atas al haq tadi ataukah bersatu untuk menentangnya, ataukah terjadi pemisahan antara ahlul haq dengan ahlul batil. Dan memang tidak pantas ahlul haq bersatu dengan ahlul batil yang bandel.
Sa’id bin Jubar rodhiyallohu ‘anhu berkata: 
أَنَّ قَرِيبًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ خَذَفَ قَالَ فَنَهَاهُ وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمنَهَى عَنِ الْخَذْفِ وَقَالَ « إِنَّهَا لاَ تَصِيدُ صَيْدًا وَلاَ تَنْكَأُ عَدُوًّا وَلَكِنَّهَا تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ ». قَالَ فَعَادَ. فَقَالَ أُحَدِّثُكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمنَهَى عَنْهُ ثُمَّ تَخْذِفُ لاَ أُكَلِّمُكَ أَبَدًا.
“Bahwasanya seorang kerabat dari Abdulloh bin Mughoffal -rodhiyallohu ‘anhu- bermain ketapel. Maka beliau melarangnya dan berkata,”Sesungguhnya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarang bermain ketapel, dan bersabda: Sesungguhnya dia itu tidak bisa memburu buruan dan tak bisa untuk membunuh musuh.”.” Tapi ternyata dia mengulanginya lagi. Maka beliau berkata,”Kusampaikan hadits buatmu bahwasanya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarangnya, ternyata engkau kemudian main ketapel lagi. Aku tak akan berbicara denganmu selamanya.” (HSR Al Bukhory (5479) dan Muslim (13/hal. 108))
Syu’bah dan Ibnu Ma’in -rahimahumalloh- tetap memperingatkan umat dari bahaya rowi-rowi yang lemah dan pembohong, meskipun terkadang beberapa imam yang lain tidak setuju. Hammad bin Zaid -rahimahulloh- berkata:
“kami berbicara kepada Syu’bah agar menahan diri dari mentahdzir Aban bin Abi ‘Ayyasy karena pertimbangan usia dan keluarganya. Maka beliau menjamin untuk melakukannya. Kemudian kami berkumpul di jenazah, maka beliau berseru dari jauh,”Wahai Abu Ismail, aku telah ruju’ dari jaminan tadi. Tidak halal untuk berdiam darinya karena urusan ini adalah masalah agama.” (“Mizanul I’tidal”/1/hal. 11)
Abu Bakr bin Kholad -rahimahulloh- berkata:
. Beliau akan berkata,”Sampai kepadamu suatu hadits yang menurut dugaanmu adalah tidak shahih tapi engkau tidak mengingkarinya.” (“Al Kamil” /Ibnu Adi dan “Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/Khothib Al Baghdadi. Atsar ini tsabit)r“Aku masuk menjenguk Yahya bin Ma’in di waktu sakitnya, lalu beliau berkata padaku,”Wahai Abu Bakr bagaimana kau tinggalkan penduduk Bashroh berbicara –tentang diriku-?” Kukatakan padanya,”Mereka menyebutkan kebaikan. Hanya saja mereka mengkhawatirkan keadaan Anda karena kritikan Anda kepada orang-orang.” Beliau berkata,”Hapalkan ucapan ini dariku: Sungguh jika ada yang menjadi lawan debatku adalah seseorang karena kehormatan manusia, lebih aku sukai daripada yang menjadi musuhku adalah Nabi
Apakah dengan manhaj semantap ini mereka peduli dituduh sebagai perusak persatuan?

Ketiga: Adapun jika berita itu memang al haq tapi jika ditampakkan bisa menyebabkan kerusakan yang rojih, dan jika disembunyikan tidak merugikan umat, maka tidak mengapa –atau lebih baik- disembunyikan. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata:
حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ .
“Aku menghapal dari Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dua kantong. Adapun salah satunya telah kusabarkan, adapun yang lain andaikata kusebarkan pastilah akau dipotong kerongkongan ini.” (HSR Al Bukhory (120))
Ibnu Hajar -rahimahulloh- berkata: “Para ulama menerangkan bahwasanya satu kantong yang tidak disebarkan adalah hadits-hadits yang berisi nama-nama pemerintah yang jahat, keadaan mereka dan zaman mereka.” dst (“Fathul Bary” 1/191)
Dan tidak pantas seorangpun untuk menghukumi bayanat Fadhilatusy Syaikh Yahya dan para masyayikh Dammaj serta para penolong sunnah di situ -hafizhahumulloh-, juga bayanat Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimy (di Ta’z) – hafidzahulloh -, dan bayan Syaikh Muhammad bin Mani’ (di Shon’a) – hafidzahulloh – sebagai tipe yang kedua tersebut. Telah nyata bahwa hizbiyyah Ibnai Mar’i dan komplotan mereka merambah bumi Nusantara, dan juga kebatilan Yayasan dan Luqman Ba Abduh menyebar di Bumi Pertiwi, dan umat sangat membutuhkan penjelasan akan masalah ini agar tidak tertipu.

Keempat: Jika berita itu batil, harus dibantah dan diperangi. 

Contohnya adalah berita-berita bohong dan jahat dari pihak Mar’iyyiin dan penulis-penulis gelap yang pengecut seperti Baromikah, Abdulloh bin Robi’ dan lain-lain. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النور/19]
“Sesungguhnya orang-orang yang senang dengan tersebarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, mereka itu akan mendapatkan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Alloh mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (QS An Nur 19)
Kami beriman bahwasanya Alloh tahu siapa orang-orang yang pengecut dan jahat tadi, dan kami beriman bahwasanya mereka terancam dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat.

Kelima: Sungguh kami mendapati ketidakadilan di lapangan. Banyak orang teriak-teriak “Jangan sebarkan berita-berita yang bisa membawa fitnah dan perpecahan!”

 dengan tujuan untuk menghalangi teriakan Ahlussunnah dari Dammaj dan lainnya dalam memperingatkan umat dari hizbiyyin yang baru itu. Tapi di saat yang sama orang-orang tadi secara diam-diam atau terang-terangan menyebarkan berita batil dari pihak Mar’iyyiin dan penulis-penulis gelap yang pengecut di atas.
Maka hendaknya mereka segera bertobat dari perbuatan tersebut, atau akan memikul dosa ketidakadilan, dan dosa menyebarkan kebatilan, serta dosa orang-orang yang disesatkan sampai hari kiamat.
Dan hendaknya mereka bersiap-siap untuk menempati posisi yang ideal untuk tipe tersebut. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
ومن قال في مؤمن ما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال حتى يخرج مما قال
“Dan barangsiapa menyebutkan pada seorang mukmin perkara yang tidak ada padanya maka Alloh akan menempatkannya di dalam keringat penduduk neraka sampai dia keluar dari apa yang dikatakannya.” (HSR Abu Dawud dari Ibnu Umar /dishohihkan oleh Imam Al Wadi’i -rahimahulloh-)

Keenam: Harom hukumnya melarang dan menghalangi penyebaran berita-berita dari Ahlussunnah Dammaj dan lainnya yang, karena isinya adalah kebenaran yang dibutuhkan oleh umat, dan telah diperiksa –atau bahkan dikerjakan langsung- oleh para ulama -hafizhahumulloh-. 

Dan usaha untuk melarang dan menghalangi penyebaran berita-berita tadi merupakan salah satu bentuk penyembunyian ilmu dan kebenaran, dan salah satu bentuk usaha pemadaman cahaya Alloh di bumi. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ [البقرة/159]
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang Kami turunkan, setelah hal itu tadi Kami terangkan kepada manusia di dalam Al Kitab, maka mereka itulah orang-orang yang dilaknat Alloh dan dilaknat orang-orang yang melaknat.” (QS Al Baqoroh 159)
Dan itu merupakan bentuk penyerupaan dengan orang-orang kafir yang tidak ingin kebenaran tersebar. Alloh ta’ala berfirman:
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا [الحج/72]
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menerangkan hampir-hampir mereka menggerakkan tangan dan lidah mereka untuk menyerang orang-orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Kami.” al ayat (QS Al Hajj 72)
Juga merupakan bentuk penghalangan dari jalan Alloh ‘azza wajalla, sedikit ataupun banyak. Alloh ta’ala berfirman:
وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ [النحل/94]
“Dan kalian akan merasakan kejelekan dikarenakan kalian menghalangi dari jalan Alloh, dan bagi kalianlah siksaan yang besar.” (QS An Nahl 94)
Gaya menghalangi risalah Ahlussunnah yang membongkar kebatilan ahlul ahwa itu sudah lama terjadi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkomentar tentang tentara setan:
وكانوا قد سعوا فى أن لا يظهر من جهة حزب الله ورسوله خطاب ولا كتاب وجزعوا من ظهور الاخنائيةفاستعملهم الله تعالى حتى أظهروا أضعاف ذلك وأعظم والزمهم بتفتيشة ومطالعته ومقصودهم اظهار عيوبه إلخ 
“Dan mereka berupaya agar tidak muncul dari pihak hizbulloh (golongan Alloh) dan Rosul-Nya perkataan, ataupun kitab. Dan mereka mengeluh dan resah dengan munculnya kitab “Al Akhna’iyyah” . Maka Alloh ta’ala justru mempekerjakan mereka hingga mereka menampakkan perkara yang berlipat-lipat dan lebih besar dari yang demikian tadi, dan mengharuskan mereka untuk memeriksa dan meneliti kitab tadi, dan tujuan mereka adalah untuk menampakkan kekurang dari kitab tadi” dst (“Majmu’ul Fatawa” 28/hal. 58)
Lihat juga kitab “Riyadhul Jannah” cet. 5/hal. 8/karya Imam Al Wadi’i -rahimahulloh-, juga “Al Qoulul Baligh”/hal. 10 dan 27/karya Syaikh Hamud At Tuwaijiri -rahimahulloh-, dan “Roddul Jawab”/hal. 62-63/karya Syaikh Ahmad An Najmy -rahimahulloh-, dan “Ar Roddusy Syar’I”/hal. 254/karya beliau juga -rahimahulloh-. 

Ketujuh: Penjelasan-penjelasan yang dikirimkan dari Dammaj kepada kalian adalah haq berdasarkan dalil-dalil dan hujjahnya. 

Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- telah menantang siapapun yang tidak setuju untuk menulis bantahan secara terperinci dan membatalkan satu-persatu hujjah-hujjah Salafiyyin dammaj. Juga menantang mubahalah bagi yang tidak setuju. Ternyata sampai sekarang dua tantangan itu tiada yang sanggup menjawab. Al Ustadz Abu Hazim -hafizhahulloh- juga menantang mubahalah kepada para antek Ibnu Mar’i dan yang lainnya. ternyata tiada yang berani. Tapi mengapa setelah itu orang-orang itu masih tidak malu berbicara ini dan itu?

Kedelapan: Penyebutan kabar-kabar dan penjelasan yang haq tadi dengan istilah “Berita yang membikin perpecahan” merupakan thoriqoh hizbiyyin yang terkenal. Tujuannya jelas sekali: Untuk membungkam Ahlul Haq.
Maka hendaknya kita menghindarinya karena batilnya jalan itu, dan karena celaan Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah termasuk dari mereka.” (HSR Ahmad/ dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu)

Kesembilan: Wajib bagi seluruh manusia –terutama muslimin yang mengibarkan panji-panji “Salafiyyah”- untuk kokoh di atas jalan As Salafush Sholih, membelanya dan memerangi musuh-musuhnya meskipun seluruh penduduk bumi bersepakat untuk menyelisihi jalan tersebut dan melarangnya. Ini jika yang bersepakat adalah seluruh penduduk bumi selain ahlul haq. Apalagi jika yang bersepakat cuma enam atau tujuh orang pengajar. 

Alloh ta’ala berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ [الأنعام/116]
“Dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi pastilah mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Tidaklah mereka itu mengikuti kecuali dugaan semata. Dan tidaklah mereka itu kecuali berbohong belaka.” (QS Al An’am 116)
Alloh ta’ala berfirman:
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ [المائدة/48]
“Maka tegakkanlah hukum di antara mereka dengan apa yang telah Alloh turunkan, dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu mereka tentang kebenaran yang telah datang padamu.” QS Al Ma’idah 48)
Alloh ‘azza wajalla berfirman:
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُم [الشورى/15]
“Maka dari itu tetaplah berdakwah dan teguhlah sebagaimana engkau diperintahkan, dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu mereka.” (QS Asy Syuro 15)
Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Karena sesungguhnya al haq itu jika telah berkibar dan jelas turun maka dia itu tidak butuh saksi pendukung untuk dirinya. Dan hati itu bisa melihat al haq sebagaimana mata melihat matahari. Maka jika seseorang telah melihat matahari, dia untuk pengetahuannya tadi dan keyakinannya bahwasanya matahari telah terbit tidak butuh lagi pada orang yang bersaksi untuk mendukung dan mencocokinya. Dan alangkah bagusnya apa yang diucapkan oleh Abu Muhammad Abdurrohman bin Isma’il yang terkenal sebagai “Abu Syamah” di dalam kitab “Al Hawadits wal Bida’”: “Di mana saja datang perintah untuk berpegang pada Al Jama’ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang pada al haq dan mengikutinya, sekalipun orang yang berpegang teguh dengannya itu sedikit, dan yang menyelisihinya itu banyak, karena al haq itu adalah sesuatu yang di atasnya itulah Al Jamaah yang pertama dari zaman Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabatnya. Dan tidak perlu melihat pada banyaknya ahlul bida’ sepeninggal mereka.” (“Ighotsatul Lahfan” 1/hal. 69-70)

Bab Tiga:

Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Ketiga

Terhadap isi kesepakatan ketiga: “Semua ustadz menahan pembicaraan terhadap para ulama tanpa ada kesepakatan” ana katakan:

Pertama: Abdurohman dan Abdulloh Al ‘Adniyyan dan Salim Ba Muhriz kebatilannya telah jelas, dan ciri hizbiyyah mereka telah sedemikian banyak. Tidak pantas hal itu didiamkan dengan alasan “Menahan pembicaraan terhadap para ulama “.

Kedua: Kesalahan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby -hadahulloh- juga telah terkuak jelas berdasarkan penjelasan beberapa ulama dan mustafidin. 

Telah ana sebutkan di risalah “Inbi’atsut Tanabbuh” hal tersebut yang intinya adalah:
– upayanya untuk melunturkan manhaj al-walâ’ (loyalitas) wal barô’ (pemutusan hubungan), sehingga dia bersikap lumer dan lunak terhadap beberapa tokoh Hasaniyyûn.
– Dan telah tersingkapkan kesombongan dirinya terhadap nasihat para Salafiyyûn yang lebih muda. Bukannya menanggapi hujjah dengan hujjah tapi justru dengan semacam ucapan “Diam kamu” atau “Ini bukan urusanmu” atau “Permasalahan ini bukan di pundakmu” atau “kamu cuma pelajar” atau “Kamu anak-anak” sebagaimana yang dialami oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya, Syaikhuna Muhammad Al ‘Amudy, Syaikhuna Al Faqih Muhammad bin Hizam, Al Mustafid An Nabil Kamal Al ‘Adny, dan Al Mustafid Asy Syuja’ Abdul Hakim Ar Roimy -hafizhahumulloh-.
– Dia itu mencerca Imâm Al- Wâdi’î -rohimahullôh- sebagaimana persaksian dari ‘Abdul Hâdî Al-Mathorî secara tertulis: “Dulu kami pernah mengunjungi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb Al-Wushôbî sekitar tahun 1414 H. setelah kami makan siang bersama Syaikh Muhammad Al-Wushôbî, aku, Husain Al-Mathorî, Hasan Al-Wushôbî dan ‘Alî Adz- Dzârî … Syaikh Muhammad berkata tentang Syaikh kami Muqbil -dan beliau saat itu masih hidup-,”Kitâb-kitâb Syaikh Muqbil itu bersifat harokiyah (pergerakan) maka sengaja aku katakan: “Bagaimana? “Ash-Shohihul Musnad” “Asy-Syafa’ah” “Ijabatus Sa’il” ? Syaikh Al-Wushobi berkata: “maksudku “Al-Makhroj”, “As-Suyuful Baatiroh” dan “Fadho’ih Mudzabdzabin” dan menyebutkan lainnya, kitab-kitab tersebut tidak mengmbil manfa’at darinya penuntut ‘ilmu dan pecinta kebaikan, dan kalau Syaikh Muqbil berjalan sebagaimana Syaikh Ibnu Baz akan menghasilkan kebaikan dan mencakup manfa’at maka akan kamu dapati semua akan mengambil manfa’at darinya, yang akan mengambil manfa’at darinya Ikwani, Awwam, Sururi, hingga Sunni dan selainnya.”
– Dia mencerca dua Imâm Ahlussunnah pada zaman ini: Asy-Syaikh Shôlih Fauzân dan Syaikh Robî’ Al-Madkholî -hafidhohumallôh-. Dia berkata, ”Sesungguhnya Asy-Syaikh Shôlih Fauzân dan Asy-Syaikh Robî’ itu jawâsis (intel/mata-mata).” sebagaimana dipersaksikan oleh akhûnâ Muhammad Al- Kutsairî dan yang lainnya. 
– Dan juga menuduh Asy-Syaikh Abu ‘Abdissalâm Hasan bin Qôshim Ar-Rôimî -pemilik markiz da’wah di Ta’iz, dan murid Imâm Al-Albanî rohimahullôh- bahwasanya beliau itu jasus (intel). 
– Dan menyelenggarakan muhâdhoroh bersama Jalâl bin Nâshir yang telah dihukumi sebagai mubtadi’ oleh Imâm Al-Wâdi’î rohimahullôh- dan memberinya kesempatan untuk menyampaikan ceramah di depan para Salafiyyûn. 
– Bahkan Syaikh Muhammad Al- Wushôbî telah memperluas daerah pergaulan sampai pada para ahli jam’iyyât seperti ‘Abdullôh Al-Marfadî yang telah dihukumi sebagai hizbî oleh Imâm Al-Wâdi’î rohimahullôh-.
– Dan Jamîl Asy-Syujâ’ -tokoh Hasanî- juga berceramah di markiz Syaikh Muhammad Al- Wushôbî.
– Juga dia berkata, ”Sesungguhnya perselisihan di antara kita dengan Ahmad bin Manshûr Al-‘Udainî itu tidaklah besar.
– Juga dia sering memberikan ceramah di masjid besar Ikhwanul Muslimin di Hudaidah, sebagaimana persaksian beberapa thullab dari Hudaidah. Padahal perbuatan tadi menyelisihi manhaj Salaf yang mengharuskan “hajr“ (boikot) terhadap ahlul bida’, tidak berbicara dengan mereka, tidak berjumpa dengan mereka, dan tidak pergi ke tempat mereka, setelah jelas pembangkangan mereka terhadap nasihat, dan telah nyata makar mereka terhadap al haq dan ahlul haq. Nasihat Al Wadi’i -rohimahulloh- buat Ikhwanul Muslimin di Yaman telah berlangsung selama sekitar dua puluh tujuh tahun. Kejahatan sudah sangat terkenal. Upaya penjatuhan dan pemboikotan terhadap Imam Al Wadi’i -rohimahulloh- dan para muridnya sudah masyhur. Pembunuhan terhadap salah seorang murid Imam Al Wadi’i -rohimahulloh- di tangan mereka juga masih tercatat dalam beberapa kitab. Bagaimana masjid besar mereka didatangi secara rutin dengan alasan dakwah barangkali bisa tobat? Imam Al Wadi’i -rohimahulloh- sendiri berkata tentang datang untuk mengisi ceramah di tempat IM, Tablighy dll:
“Maka untuk apa pergi dan saling menolong dengan orang-orang yang memandang Ahlussunnah sebagai musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (ke tempat mereka) maka hal itu adalah agar mereka bisa menjaring para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu sepeninggalmu mereka mengambili para pemuda. Kitab-kitab telah ditulis dan menerangkan kerusakan manhaj kelompok ini dan kelompok itu.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2/hal. 11)
– Menyindir Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmy -rahimahulloh- dan Asy Syaikh Al ‘Allamah Zaid Al Madkholy -hafizhahulloh- sebagai ‘ummalah (pegawai/pekerja) (Baca risalah: “Al Hizbiyyatul Jadidah Walidatus Sururiyyah ..” hal. 12-13/Syaikhunal Mujahid Muhammad Al ‘Amudy -hafizhahulloh-)
– Menuduh dengan Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajury -hafizhahulloh- dusta bahwasanya beliau adalah pendusta dan kedustaannya mencapai ufuk.
– Juga telah nyata sekarang fatwa Syaikh Muhammad Al- Wushôbî -hadahulloh- tentang bolehnya berdakwah dengan televisi jika bersih dari kemaksiatan. Bagaimana bersih dari kemaksiatan sementara di televisi ada sekian banyak gambar makhluq bernyawa, padahal kita diperintahkan untuk tidak meninggalkan satu gambarpun kecuali harus dihapus? Dan gambar tadi menyebabkan tidak masuknya malaikat rohmat ke dalam rumah. Dan membiarkan adanya gambar-gambar tadi di rumah tanpa ada upaya menghapusnya merupakan pertanda ridho terhadap dosa besar. Dan hukumnya sama dengan pelakunya langsung.
– Upaya yang nyata untuk tahrisy (adu domba) antara para penjaga Dammaj dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-. Dan tahrisy tadi telah dibantah oleh para penduduk Dammaj melalui wakil mereka dua pengawal markiz Akhunal Fadhil Anwar dan Faris Ad Dammajy -hafizhahumulloh- melalui risalah yang menarik dan tajam, yang dibacakan di depan umum dan disebarkan lewat kaset dan tulisan yang berjudul “Tanbihul Ghofilin”. 
– Ta’shilat (pembentukan pondasi) yang menyelisihi Salaf, seperti Perkataannya di sebuah kaset:”Ilmu Jarh wat Ta’dil adalah pintu masuk setan.” 
– Perkataannya di ijtima’ Masyayikh di Dammaj:”Kalau kalian lihat Ad Duwaisy mengadakan muhadhoroh di tempatku maka jangan heran.” atau yang semakna. Ini yang dinukilkan kepada kami oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan dengan persaksian tertulis dari Syaikhunal Fadhil Faqih Az Zahid Jamil Ash Shilwy -hafizhahulloh-.
– Perkataannya:”Merubah kemungkaran tidak boleh dilakukan oleh setiap orang, tapi yang memiliki jenggot putih.”
– Mengalihkan umat untuk meminta fatwa-fatwa kepada Yahya Al ‘Amrony yang bermanhaj tamyi’, tawaqquf dalam masalah Al Qur’an itu Kalamulloh bukan makhluq, dan goncang dalam masalah bisa dilihatnya Alloh pada hari kiamat. Dan dia adalah dari syi’ah zaidiyyah.

Beberapa perkara di atas belum ana sebutkan di risalah “Inbi’atsut Tanabbuh”.Apakah seperti ini pantas didiamkan dengan alasan “Menahan diri dari membicarakan ulama”? Di manakah kecemburuan peserta kesepakatan tadi setelah datangnya bayan, dan bahwasanya al haq itu lebih tinggi daripada makhluq apapun ?

Ketiga : Adapun Syaikh ‘Ubaid Al Jabiry -hadahulloh-, juga telah terang kasusnya. sesungguhnya baku tolong antara Ubaid Al Jabiry dengan komplotan hizb baru itu sudah terkenal.

 Dan usaha dia untuk mengobarkan api fitnah itu nyata. Juga makar dia terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman –pada umumnya- dan terhadap Syaikhuna Yahya hafizhohulloh –pada khususnya- itu telah terdeteksi. Juga kedholimannya dalam berdebat itu telah terungkap. Dia juga berusaha untuk mengangkat kembali citra Sholih Al Bakry –sang hizby yang ghuluw-, padahal para Salafiyyun telah selesai dengan fitnah dia, setelah fitnah Abul Hasan. Juga fatwanya tentang tidak tercemarnya agama orang yang bekerja di tempat ikhtilath. Juga seruan dia terhadap Salafiyyin untuk mengikuti pemilu. Juga tahdzir dia terhadap Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- setelah dikalahkan oleh Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dalam perdebatan dalam perkara Jami’ah Islamiyyah madinah yang berupa tukar-menukar risalah sebanyak tiga kali, dan di situ Syaikh Yahya mendapatkan pujian dari Syaikh Muhammad Romzan dan Syaikh Hasan bin Qosim -hafizhahumalloh- atas taufiq Alloh buat beliau secara ilmiah dan adab. Dan juga tahdzirnya terhadap markiz Dammaj yang menyebabkan Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata: “Jika benar bahwasanya Syaikh Ubaid berbuat itu maka itu merupakan ketergelinciran seorang alim yang harus beliau tobati.” Dan juga beberapa perkara yang lain.

Keempat: Para tokoh tadi (Abdurohman dan Abdulloh Al ‘Adniyyan dan Salim Ba Muhriz, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, serta Syaikh Ubaid Al Jabiry) –hadaniyalloh wa iyyahum- telah mendapatkan nasihat berulang kali secara halus beradab dan ilmiah, tapi mereka tidak menerima nasihat.
Dan juga telah ditegakkan perdebatan ilmiah terhadap mereka. Telah dikeluarkan sekitar seratus risalah ilmiah dari beberapa masyayikh dan lebih dari sepuluh mustafidin tentang Al ‘Adniyyan dan anak buah mereka. Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby telah dibantah oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya, Syaikhunal Mujahid Muhammad Al ‘Amudy, Al Mustafid An Nabil Kamal Al ‘Adny, Al Mustafid Abus Samh Al Hasyidy dan yang lainnya -hafizhahumulloh-. Adapun Syaikh ‘Ubaid Al Jabiry –hadahulloh- telah dibantah oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya, Fadhilatusy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimy, Syaikhunal Mujahid Muhammad Al ‘Amudy, Al Mustafid Abus Samh Al Hasyidy, Al Mustafid An Nabil Abu Hatim Al Jaza’iry dan yang lainnya -hafizhahumulloh-.

Kelima: Siapapun orang yang berbuat kebatilan wajib untuk dibantah. Jika kebatilannya rahasia, dibantah dengan rahasia. Jika terang-terangan, dibantah dengan terang-terangan. Jika dikhawatirkan penyimpangannya membahayakan umat maka umat wajib diperingatkan tentang bahaya orang tersebut. Sama saja dia itu orang besar ataukah masih kecil.
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».
“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, maka jika ia tidak mampu maka dengan lisannya , maka jika ia tidak mampu maka dengan hatinya , dan itulah selemah-lemah iman.” [HSR. Muslim/186 dari Abi Sa’id Al Khudry rodhiyallohu ‘anhu].
Hadits ini terang sekali menyebutkan keumuman kemungkaran yang harus dirubah, baik pada orang besar ataupun anak kecil dst.
Dari Tamim Ad Dary rodhiyallohu ‘anhu yang berkata:
أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلمقَالَ « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».
“Bahwasanya Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Agama ini adalah nasihat.” Maka kami bertanya,”Buat siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, untuk pemimpin muslimin dan orang awamnya.” (HSR Muslim (1/hal. 241))
Hadits ini lebih jelas lagi menjelaskan bahwa yang harus dinasihati itu dari orang besar sampai orang kecilnya. Maka dari manakah ketentuan tidak bolehnya membicarakan kesalahan ulama (dengan hujjah dan bimbingan ulama yang lain) sampai ada kesepakatan para ustadz? 
Asy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata:
“Maka kritikan itu terus ada dan wajib untuk terus berlanjut bagi orang kecil dan besar, dalam masalah yang besar ataupun yang remeh. Penjelasan terhadap kesalahan, penjelasan terhadap bid’ah-bid’ah. Kritikan terhadap kesalahan, dan kritikan terhadap bid’ah-bid’ah, sambil menampakkan penghormatan pada Ahlussunnah dan penetapan bahwasanya mujtahid itu jika benar akan mendapatkan dua pahala, dan jika salah dia akan mendapatkan satu pahala. Inilah perkara dengannya yang kita beribadah pada Alloh. Dan tidak demikian buat ahlul bida’. Kita tidak mengatakan bahwasanya ahlul bida’ itu mujtahidun, karena mereka itu mengikuti hawa nafsu, berdasarkan persaksian dari Alloh dan persaksian dari Rosul-Nya ‘alaihish sholatu was salam.” (“As’ilah Abi Rowahah Al Manhajiyyah” hal. 20)

Keenam: Penyembunyian al haq yang harus disebarkan merupakan “ghosy” (penipuan) terhadap umat.
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
من غشنا فليس منا
“Dan barangsiapa menipu kami maka bukanlah dia termasuk dari golongan kami.” (HSR Muslim 102)
Imam Al Barbahary -rahimahulloh- berkata:
ولا يحل أن تكتم النصيحة للمسلمين برهم وفاجرهم في أمر الدين، فمن كتم فقد غش المسلمين ومن غش المسلمين فقد غش الدين، ومن غش الدين فقد خان الله ورسوله والمؤمنين.
“Dan tidak halal nasihat itu disembunyikan dari kaum Muslimin –yang baik ataupun yang jahat- di dalam urusan agama. Maka barangsiapa menyembunyikannya maka dia telah menipu kaum Muslimin. Dan barangsiapa menipu kaum Muslimin, maka sungguh dia telah menipu agama ini. Dan barangsiapa menipu agama ini, maka sungguh dia telah mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya dan kaum Mukminin.” (“Syarhus Sunnah” hal. 29-30)

Ketujuh: Para tholabatul ilmi yang membicarakan penyimpangan para ulama tadi, mereka berbicara berdasarkan fatwa dan bimbingan para ulama juga, dengan dalil dan hujjah. Dan tidak pantas dikatakan telah bersikap lancang, sembarangan dan ngawur ataupun zholim.
Al Hafidh Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
من سبَ بالبُرهان ليس بظالمٍ والظلمُ سبُ العبدِ بالبهتان
“Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dzolim. Dan kedzoliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.” (“An Nuniyyah”)
Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (“Syarh Nuuniyyah Ibnul Qoyyim” 2/ hal. 340)

Kedelapan: Mengkritik kesalahan dengan niat yang baik dan cara yang benar merupakan suatu bentuk nasihat dan amar makruf nahi mungkar, yang hal itu merupakan pilar-pilar agama yang hanif ini. Dan itu bukanlah merupakan bentuk tho’n (cercaan). Waspadailah pengkaburan.
Imam Ibnu Rojab -rahimahulloh- berkata:
“Dan karena itulah kita dapati kitab-kitab mereka yang disusun dalam berbagai jenis ilmu syari’ah baik itu tafsir, syuruh (penjelasan) hadits, fiqh dan perselisihan ulama serta yang lainnya penuh dengan perdebatan dan bantahan terhadap pendapat orang-orang yang ucapannya dilemahkan baik dari kalangan imam-imam salaf maupun kholaf, dari shohabat, tabi’in dan yang setelah mereka. Dan yang demikian itu tidak ditinggalkan oleh seorangpun dari ulama, dan tiada seorangpun dari mereka menuduh hal itu sebagai tho’n (cercaan), ataupun celaan, ataupun penghinaan terhadap orang yang ucapannya dibantah. (“Al Farqu Bainan Nashihah wat Ta’yir” 1/hal.2-3)
Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata:
“Pintu kritikan terhadap Al Albany dan yang lain itu terbuka. –Demi Alloh- Dan beliau ataupun yang lainnya dari kalangan pembawa sunnah tidak marah. Kritikan yang beradab yang menghormati ulama, yang tiada tujuannya selain menerangkan al haq. Dan ini telah dimulai pada masa Shahabat dan tidak berakhir. Asy Syafi’i telah mengkritik Malik, dan mengkritik para pengikut Abu Hanifah, dan mengkritik Ahmad. -semoga Alloh memberkahi kalian-. Maka naqd (kritikan) itu wahai ikhwan, tidak boleh menutup pintu ini karena sama saja sama saja dengan kita berpendapat untuk menutup pintu ijtihad, -semoga Alloh memberkahi kalian- dan kita tidak memberikan pensucian pada pendapat seorangpun sama sekali, siapapun dia. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun juga, salafy ataupun yang bukan salafy. Namun bersikap kepada ahlul haq wassunnah yang kita ketahui keikhlasan mereka, kesungguhan mereka dan nasihat (kesetiaan) mereka untuk Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan keumuman mereka, sikap pada mereka itu tidaklah sama dengan sikap kepada ahlul bida’ wadh dholal. –sampai dengan ucapan beliau (menukil ucapan Ibnu Rojab -rohimahulloh-):- Sa’id ibnul Musayyib telah dikritik, Ibnu ‘Abbas juga telah dikritik, Thowus juga telah dikritik, para pengikut Ibnu ‘Abbas telah dikritik, mereka dan mereka telah dikritik dan seterusnya. Dan tiada seorang pun yang bilang,”Ini adalah tho’n (cercaan)” Tiada yang bilang seperti itu kecuali ahlul hawa. Kita jika mengkritik Al Albany, tidaklah kita menyusuri jalan Ahlul Ahwa dan berkata,”Jangan, jangan kalian mengkritik Al Albany!”.
Baiklah, kesalahan Al Albany itu telah tersebar dengan nama agama. Demikian pula kesalahan Ibnu Baaz, kesalahan Ibnu Taimiyyah, dan kesalahan siapapun.
Kesalahan apapun, wajib untuk diterangkan kepada manusia bahwasanya ini adalah kesalahan. Setinggi apapun orang yang darinya terjadi kesalahan tersebut, karena kita, sebagaimana telah kita katakan berulang kali bahwasanya kesalahannya itu dinisbatkan kepada agama Alloh. Tapi sebagaimana telah kita katakan harus dibedakan antara Ahlussunnah dan ahlul bida’. Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar dan yang lainnya,”Mubtadi’ itu harus dihinakan, tak ada kemuliaan.” (hal. 16-17)

Kesembilan: manakah dalil yang mengharuskan menunggu kesepakatan umat sedunia tentang bolehnya membicarakan kesalahan sebagian ulama yang telah dikritik dengan hujjah oleh ulama lain? Apalagi jika sekedar kesepakatan para ustadz, atau lima atau enam ustadz saja.
Imam Muqbil Al Wadi’i -rahimahulloh- pernah ditanya:
“sebagian orang menolak ucapan kritikus dari kalangan ulama sunnah terhadap sebagian ahlul bida’ dengan alasan bahwasanya orang yang dikritik ini belum dikomentari oleh ulama yang yang lain. Dia berkata,”Di manakah fulan dan fulan, kenapa mereka tidak berbicara? Seandainya kritikan tadi benar niscaya mereka akan mengikutinya.” Maka apakah disyaratkan dalam komentar dan kritikan terhadap seseorang itu haruslah mayoritas dari ulama –atau semuanya- telah mengkritiknya juga? Terutama jika sang kritikus ini telah mengetahui berdasarkan bukti tentang ucapan si mubtadi’ ini, dari sela-sela muhadhoroh-muhadhoroh dan tulisan-tulisannya.”
Beliau -rahimahulloh- menjawab,”Ya ya. Permasalahannya -wahai ikhwan- orang-orang itu tidak membaca mushtholah. Atau mereka itu membacanya dan membikin pengkaburan! Kami katakan pada kalian dengan sesuatu yang lebih besar daripada ini: Anggaplah bahwasanya Ahmad bin Hanbal berkata,”Tsiqoh” sementara Yahya bin Ma’in berkata,”Kadzdzab (pendusta)”. Maka apakah membahayakan dia ucapan Yahya padahal telah diselisihi oleh Ahmad bin Hanbal? Tentu. Ucapan Yahya adalah kritikan yang terperinci. Beliau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Ahmad bin Hanbal. Terus apa? Bayangkan jika Yahya bin Ma’in mengkritiknya sendirian. Maka berdasarkan ini jika seorang alim dari ulama zaman ini bangkit dan memaparkan bukti-bukti tentang kesesatan Muhammad Al Ghozali atau Yusuf Al Qordhowi atau manhajul Ikhwanil Muslimin, kita terima dan wajib untuk menerimanya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita maka carilah kejelasannya agar jangan sampai kalian menimpakan suatu kejelekan kepada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal atas apa yang kalian lakukan.” Ya. Jika datang kepada kita orang yang adil kita terima sebagaimana pemahaman dari ayat ini. Jika datang kepada kita orang yang adil kita terima. Di manakah kalian dari ayat ini? Yang ayat ini menunjukkan bahwasanya jika datang kepada kita orang yang adil dengan suatu berita kita terima? Dan jika datang kepada kita orang yang fasik kita cari dulu penjelasannya. Lalu apa wahai ikhwan? Yang penting, orang-orang itu adalah tukang bikin pengkaburan. Mereka menyelisihi ulama kita terdahulu dan yang belakangan. Alhamdulillah, aku memuji Alloh سبحانه وتعالى bahwasanya masyarakat tidak mempercayaimu wahai orang linglung mereka tidak mempercayai ucapanmu.” (“Al Ajwibatun Nadiyyah”/Imam Al Wadi’i -rahimahulloh-)
Imamul Jarh wat Ta’dil Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhahulloh-: 
“Para ulama yang mulia untuk wajib mengetahui bahwasanya para ahlul ahwa wat tahazzub itu memiliki metode-metode yang menakutkan untuk mengumpulkan para pemuda, menguasai akal-akal mereka dan untuk menggugurkan jihadnya para pembela manhaj Salaf dan ahlinya di lapangan. Di antara uslub-uslub makar tersebut adalah memanfaatkan diamnya sebagian ulama terhadap si fulan dan fulan, walaupun dia itu termasuk orang yang paling sesat. Maka walaupun para kritikus memajukan hujjah yang paling kuat terhadap kebid’ahannya dan kesesatannya, cukuplah bagi orang-orang yang sengaja berbuat salah itu untuk menghancurkan kerja keras para penasihat dan pejuang itu dengan bertanya-tanya dihadapan orang-orang yang bodoh: “kenapa ulama fulan dan fulan diam dari si fulan dan fulan? Kalau memang si fulan itu di atas kesesatan tentulah mereka tak akan tinggal diam dari kesesatannya.” Demikianlah mereka membikin pengkaburan terhadap orang-orang yang bodoh. Bahkan kebanyakan para pendidik dan keumuman orang tidak tahu kaidah-kaidah syar’iyyah dan pokok-pokoknya yang di antaranya adalah: bahwasanya amar ma’ruf nahi mungkar itu termasuk fardhu kifayah. Jika sebagian orang telah menegakkannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya.”
(“Al Haddul Fashil Bainal Haqq wal Bathil”/Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-/hal. 144)
Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- saat ditanya oleh para tamu dari ‘Adn tentang syubhat yang beredar bahwasanya jarh seorang ulama terhadap ulama lain tak bisa diterima sampai tercapainya kesepakatan para ulama, maka beliau menjawab:
“Ini merupakan perkara baru yang dibikin-bikin oleh orang-orang masa kini. Kebenaran itu wajib diterima manakala telah nampak. Alloh ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [الحديد/16]
“Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk hati-hati mereka itu tunduk kepada peringatan Alloh dan kepada kebenaran yang telah turun?” (QS Al Hadid 16) (selesai dengan peringkasan)

Kesepuluh: Perlu ditegaskan lagi agar meresap ke dalam darah daging para pembawa bendera Salafiyyah: “Argumentasi yang terang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan thoriqotus Salaf itu wajib diterima tanpa menunggu kesepakatan orang sedunia, karena dia itu merupakan taufiq dari Alloh, bagian dari al haq yang datang dari Alloh ta’ala untuk menolong agama-Nya dan para hamba-Nya yang setia, dan dengannya tegak langit dan bumi”
Alloh ta’ala berfirman:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا [الكهف/29]
“Dan katakanlah: kebenaran itu dari Robb kalian. Maka barangsiapa menginginkan silakan dia beriman, dan barangsiapa menghendaki silakan dia kufur. Sesungguhnya kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zholim itu api yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum, mereka akan diminumi dengan air seperti timah cair yang menghanguskan wajah. Itulah sejelek-jelek minuman, dan itulah seburuk-buruk tempat peristirahatan.” (QS Al Kahfi 29)
Alloh ta’ala menukil dari Nabiyyulloh Syu’aib ‘alaihis salam:
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيب [هود/88]
“Dan tidaklah taufiqku itu kecuali dengan pertolongan Alloh. Kepada-Nya sajalah aku bertawakkal, dan kepada-Nya sajalah aku kembali.” (QS Hud 88)
Dan Alloh ta’ala berfirman tentang perdebatan Kholil-Nya Ibrohim -shalallohu ‘alaihi wa sallam-:
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آَتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ [الأنعام/83]
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan pada Ibrohim terhadap kaumnya.” (QS Al An’am 83)
Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berfatwa tentang wanita yang ditinggal mati suaminya sebelum berkumpul, dan belum dipastikan maharnya:
فَإِنِّى أَقُولُ فِيهَا إِنَّ لَهَا صَدَاقًا كَصَدَاقِ نِسَائِهَا لاَ وَكْسَ وَلاَ شَطَطَ وَإِنَّ لَهَا الْمِيرَاثَ وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ فَإِنْ يَكُ صَوَابًا فَمِنَ اللَّهِ وَإِنْ يَكُنْ خَطَأً فَمِنِّى وَمِنَ الشَّيْطَانِ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ بَرِيئَانِ.
“Maka sesungguhnya aku berfatwa tentang wanita tadi bahwasanya dia berhak mendapatkan mahar sebagaimana mahar keumuman para wanita, tidak kurang dan tidak zholim. Dan bahwasanya dia berhak mendapatkan warisan, dan dia wajib ber’iddah. Kalau fatwa ini benar, maka hal itu adalah dari Alloh, tapi kalau salah maka hal itu adalah dariku dan dari setan. Dan Alloh dan Rosul-Nya berlepas diri dari itu.” (HSR Abu Dawud (2118) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -rahimahulloh)

Kesebelas: Bukanlah ana hendak menghina ulama. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa para ulama yang dikritik tadi tiada satupun dari mereka yang berhasil membantah dan meruntuhkan hujjah-hujjah ahlul ilmi yang mengkritik mereka, karena sedemikian terangnya kesalahan mereka tadi dan sedemikian kuatnya hujjah para pengkritik. Barangsiapa mengikuti perdebatan kedua belah pihak di kaset-kaset dan risalah akan mengetahui kebenaran yang ana ucapkan ini insya Alloh. Telah sangat jelas kesalahan besar dan prinsipil yang mereka lakukan. Maka untuk apa Luqman dan para du’at yang mengikutinya sibuk-sibuk untuk meniupkan asap pengkaburan demi membela orang-orang yang menyimpang dan kalah hujjah tadi?
Jangan sampai kita mengikuti jejak umat-umat sesat yang telah musnah dikarenakan makar mereka dalam membatalkan kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَاب [غافر/5]
“Sebelum mereka kaum Nuh telah mendustakan, demikian pula kelompok-kelompok setelah mereka. Dan setiap umat berhasrat untuk membikin makar demi menawan atau membunuh Rosul mereka, dan mereka membantah dengan batil agar dengannya mereka bisa melenyapkan kebenaran. Maka Aku siksa mereka, maka bagaimanakah hukuman-Ku itu?” (QS Ghofir 5)
Dan di antara hukuman yang terbesar adalah terpalingkannya hati dari al haq sehingga pandanganpun terbalik.

Keduabelas: Bahkan para ulama yang belum sependapat dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury dan yang bersama beliau -hafizhahumulloh- sampai sekarang tiada satupun yang membantah dan meruntuhkan hujjah-hujjah beliau, padahal beliau telah menantang seluruh pihak untuk mengalahkan hujjah beliau. 

Manakala sudah demikian ternyata mereka tadi tidak mendukung beliau, maka beliau menantang siapa saja yang tidak sependapat untuk bermubahalah. Ternyata tiada satu pihakpun yang memberanikan diri melayani tantangan beliau. Dan yang beliau lakukan ini merupakan thoriqoh Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabat dan tabi’in dan seterusnya.

Ketigabelas: Secara qoidah perkataan ulama yang global saja –seperti “Dia masih salafy”, atau “Jangan ikut fitnah”, atau “Sampai sekarang belum jelas bagiku hizbiyyah orang itu”- tidak bisa mengalahkan hujjah ulama pengkritik yang terperinci dan jelas. Apalagi sekedar diamnya ulama yang diam, lebih tidak bisa lagi untuk diangkat sebagai hujjah untuk membatalkan hujjah mufassar para ulama yang mengkritik.
Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmy -rahimahulloh- berkata:
أن سكوت الساكت لا يكون حجة على المؤدي يوجب عليه السكوت. بل على ذلك الساكت أن ينظر هل تؤدى الواجب بإنكار من أنكر أم لا؟ فإن لم يحصل الأداء وجب عليه أن يؤدي. (“الرد الشرعي” 230)
“Bahwasanya diamnya orang yang diam bukanlah hujjah untuk membantah orang yang menunaikan kewajiban nahi mungkar tadi sehingga harus ikut untuk diam. Bahkan wajib bagi orang yang diam tadi untuk memperhatikan: “Apakah kewajiban mengingkari kemungkaran tadi telah tertunaikan dengan pengingkaran yang telah diupayakan oleh orang yang mengingkari tadi ataukah belum? Kalau ternyata penunaian kewajiban tadi belum tercapai, maka wajib bagi orang yang diam tadi untuk turut menunaikannya.” (“Ar Roddusy Syar’i” hal. 230)
Jika ada yang bilang,”Ucapan di atas berlaku bagi orang yang diam dan telah tahu kemungkaran tadi.” Jawabannya adalah: Inti yang ana inginkan adalah fatwa beliau,”Diamnya orang yang diam bukanlah hujjah untuk membantah orang yang berbicara ..”
Adapun orang yang diam karena tidak tahu, lebih pantas lagi untuk diamnya itu bukan sebagai hujjah. Justru orang tahu adalah hujjah bagi orang yang tidak tahu. Dan tidak pantas orang yang belum sanggup melihat kebatilan tadi memaksa orang yang telah melihat untuk sama-sama tidak melihat. Ucapan kasarnya adalah: Orang yang masih buta harus menerima perkataan orang yang tsiqoh dan bisa melihat, bukan menyuruhnya untuk sama-sama buta, atau mengikuti langkah orang yang buta.

Bab Empat:

Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Keempat

Terhadap isi kesepakatan keempat: “Ikhwan Salafiyyin tidak boleh melecehkan para ustadz.” Ana katakan:

Pertama: Memang benar bahwasanya Ikhwan Salafiyyin tidak boleh melecehkan para ustadz. Harus menghormati hak dan kedudukannya. Tapi demikian pula sebaliknya: Para ustadzpun tidak boleh melecehkan para Salafiyyin meskipun anak-anak. Seorang mukmin tidak boleh melecehkan mukmin yang lain. Ini baru ucapan yang adil dan inshof. Dalilnya jelas.

Kedua: Orang yang berbuat kebatilan dan telah dinasihati dengan benar tapi membangkang, maka orang ini runtuh martabatnya, sama saja dia itu orang awam, ustadz atau bahkan ulama. Alloh ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ [يونس/27]
“Dan orang-orang yang berbuat kejahatan, balasan dari kejahatan adalah yang semisalnya, dan mereka akan terliputi kehinaan.” (QS Yunus 27)
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِى
“Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan terhadap orang yang menyelisihi perintahku. “(HR Ahmad (5232) dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu dan dihasankan oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-)
Salim bin Abdillah -rahimahulloh- berkata:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلميَقُولُ « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا ». قَالَ فَقَالَ بِلاَلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ. قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلموَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ.
“Bahwasanya Abdulloh bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma berkata: Aku mendengar Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Janganlah kalian melarang para wanita kalian mendatangi masjid-masjid jika mereka minta idzin pada kalian untuk itu.” Maka Bilal bin Abdillah berkata,”Demi Alloh sungguh kami akan melarang mereka.” Maka Abdulloh menghadap ke arahnya lalu mencaci-makinya dengan cercaan yang jelek, belum pernah aku mendengar beliau mencercanya seperti itu sama sekali. Dan beliau berkata,”Kukabarkan pada dari Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- dan kamu berkata Demi Alloh sungguh kami akan melarang mereka.”!” (HSR Muslim (989))
Imam Asy Syafi’y -rahimahulloh- berkata:
ما كابرني أحد على الحق ودافع، إلا سقط من عيني، ولا قبله إلا هبته، واعتقدت مودته.
“Tidaklah seseorang itu menyombongkan diri terhadap al haq di hadapanku dan menolaknya, kecuali martabatnya akan jatuh dari mataku, Dan tidaklah dia menerima kebenaran itu kecuali aku akan merasa segan padanya dan menjadi cinta padanya.” (“Siyar A’lamin Nubala” 10/hal. 33)
Kita merasa khawatir terhadap orang-orang yang sengaja menyimpang dari kebenaran setelah jelas baginya kebenaran itu akan menyebabkan dirinya menjadi pengikut hawa nafsu. Baik dia itu menyimpang berdasarkan taqlid pada seseorang ataupun murni dari dirinya sendiri.
Alloh ta’ala berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ [القصص/50]
“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu maka ketahuilah bahwasanya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS Al Qoshshoh 50)
Alloh ta’ala berfirman:
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى [النجم/23]
“Tidaklah mereka itu mengikuti kecuali dugaan belaka dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu, padahal telah datang pada mereka petunjuk dari Robb mereka.” (QS An Najm 23)
Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata tentang kejadian adzan pertama di hari Jum’at:
بل عثمان اجتهد، ومن بعد عثمان إذا ظهرت له الأدلة وقلد عثمان على هذا فهو يعد مبتدعا، لأن التقليد نفسه بدعة
“Akan tetapi Utsman itu berijtihad. Dan barangsiapa yang datang setelah Utsman, apabila telah jelas baginya dalil-dalil tapi dia memilih untuk bertaqlid pada Utsman tentang hal ini, maka dia termasuk mubtadi’ , karena taqlid itu itu sendiri bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2/99)
Dan ahlul hawa berhak untuk dihinakan, sama saja dia itu aslinya ahli ilmu, ustadz ataupun yang lainnya.
Imam Ash Shobuny -rahimahulloh- berkata:
“Bersamaan dengan itu mereka bersepakat untuk menghinakan, merendahkan, dan menjauhkan dan menjauh dari ahlul bida’ dst (“Aqidatus Salaf” hal. 123)
Dalil-dalil dan atsar tentang penghinaan terhadap pengekor hawa cukup banyak dan terkenal. Dan telah ana cantumkan beberapa contohnya di risalah “Turun Sejenak”.
Inilah manhaj Salaf wahai Salafiyyun.

Bab Lima:

Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Kelima

Terhadap isi kesepakatan kelima: “Semua informasi yang terkait dengan fitnah Yaman dikembalikan kepada para ustadz.” Ana katakan:

Pertama: Semua berita itu harus ditimbang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan thoriqotus Salaf.

Kedua: Jika datang berita yang telah memenuhi syarat di atas maka berita itu berhak untuk disebar. Dan jika telah memenuhi syarat di atas, apa dalil untuk menunggu para ustadz.

Ketiga: Berita-berita yang datang dari pihak Fadhilatusy Syaikh Yahya dan para masyayikh dan para mujahidin yang bersamanya -hafizhahumulloh- disebarkan ke dunia berdasarkan bimbingan dari Fadhilatusy Syaikh Yahya dan para masyayikh tersebut. Maka hal ini cukup tanpa harus menunggu para ustadz.

Keempat: Telah sampai pada kami beberapa rekaman dialog Luqman dengan beberapa du’at. Juga muhadhoroh dari beberapa du’at. Tampak nyata sekali kebencian mereka pada Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, dan cercaan mereka terhadap beliau serta makar mereka terhadap beliau, markiz induk Dammaj, para tholabatul ilmi yang menyertai beliau -hafizhahumulloh-, serta terhadap dakwah Salafiyyah yang murni. Lagipula, isi dan konsekuensi dari kesepakatan para ustadz –yang karenanyalah risalah ini ditulis- merupakan usaha yang nyata untuk membungkam mulut-mulut ahlul haq. Maka tidak pantas untuk mengembalikan berita-berita dari pihak Dammaj kepada du’at macam tadi.

Kelima: Fitnah ini bukan sekedar fitnah Yaman. Bahkan fitnah ini adalah hizbiyyah Ibnai Mar’i dan komplotannya dari Yaman yang didukung oleh Luqman dan anak buahnya. Dan telah nyata hubungan erat antar mereka sampai-sampai pucuk pimpinan hizby baru tadi datang langsung ke Bumi Pertiwi.

Bab Enam:

Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Keenam

Terhadap isi kesepakatan keenam: “Dilarang bagi seluruh ikhwan untuk bersikap sendiri-sendiri dalam masalah fitnah mendahului kesepakatan para ustadz.” Ana katakan:

Pertama: Para Salafiyyin yang telah memahami duduk perkara fitnah hizbiyyah ini dan berusaha menolong ahlul haq untuk memerangi ahlul batil, mereka itu tidak bersikap sendiri-sendiri. Mereka bersama para ulama di markiz Dammaj seperti Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury, Syaikh Jamil Ash Shilwy, Syaikh Muhammad bin Hizam, Syaikh Abu Amr Al Hajury, Syaikh Abu Bilal Al Hadhromy, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury, Syaikh Muhammad Al ‘Amudy dan lainnya -hafizhahumulloh-, dan juga Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani’ di markiz Shon’a, Syaikh Ahmad bin ‘Utsman di markiz ‘Adn, Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimy (murid Imam Al Albany -rahimahulloh-) di markiz Ta’iz, dan Syaikh Abu ‘Ammar Ad Duba’iy di markiz Mukalla. Juga bersama belasan mustafidun mujahidun salafiyyun Dammaj yang insya Alloh mereka lebih pintar, lebih kokoh dan lebih kuat hapalannya daripada para ustadz di Indonesia yang bersama Luqman. Bukannya ana hendak merendahkan para ustadz tadi, hanya saja ana sudah sering mendapati kesombongan orang-orang yang telah pulang ke tanah air dan memegang dakwah.

Kedua: Para Salafiyyin yang telah memahami duduk perkara fitnah hizbiyyah ini dan berusaha menolong ahlul haq untuk memerangi ahlul batil, mereka itu tidak bersikap sendiri-sendiri. Mereka itu berjalan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan thoriqotus Salaf -rahimahumulloh-, bukan taqlid pada Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- sebagaimana tuduhan seorang peserta kesepakatan.

Ketiga: Semua orang yang telah memahami duduk perkara fitnah hizbiyyah dengan bimbingan ulama, mereka berhak dan wajib untuk menolong ahlul haq untuk memerangi ahlul batil, sekuat kemampuan mereka. Sama saja, hal itu mendahului para ustadz ataukah tidak. Biarkan para Salafiyyin yang telah mendapat taufiq tadi untuk bergegas menuju derajat yang tinggi. Alloh ta’ala berkata:
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Alloh.” (QS Ali Imron 110)

Keempat: Orang yang berusaha mencari kebenaran dengan jujur dan serius sambil memohon pertolongan Alloh ta’ala, lalu berusaha memahami dalil-dalil dan hujjah, Alloh akan menolongnya dan tidak menyia-nyiakan usahanya. Adapun orang yang bersikap masa bodoh dia akan tetap bodoh, sebagaimana orang bersikap buta dan tuli, maka hukumannyapun juga sesuai dengan perbuatannya. Inilah sunnatulloh yang berlaku di alam ini, dan dalil-dalilnya bertebaran di dalam Al Qur’an. Maka hendaknya orang tipe kedua ini jangan marah jika dirinya jadi merosot dan mengalami kemunduran, pada saat orang lain maju melesat dengan taufiq dari Alloh ta’ala. Jangan sampai orang-orang tipe kedua tadi berteriak: “Jangan dahului kami, kami adalah ustadz kalian!”

Kelima: Jangan sampai kita meremehkan al haq yang dibawa oleh orang yang derajatnya di bawah kita –secara lahiriyyah-, karena Alloh tidak membatasi kedatangan al haq dengan umur ataupun martabat. Siapapun mengetahui al haq –meskipun kecil orangnya-, syariat mendorongnya untuk jangan merasa rendah diri dan diam. Sebagaimana syariat juga melarang orang menyombongkan diri dari kebenaran yang dibawa oleh orang yang lebih rendah.
Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده, أو سمعه 
“Jangan sekali-kali kewibawaan manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan kebenaran jika melihatnya, atau menyaksikannya, atau mendengarnya.” (HSR Ahmad dari Abu Sa’id rodhiyallohu ‘anhu, dishohihkan Imam Al Albany -rahimahulloh- (“Ash Shohihah/168) dan Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- (Al Jami’ush Shohih/5/hal. 131))
Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata:
كُنْتُ أُقْرِئُ رِجَالاً مِنَ الْمُهَاجِرِينَ مِنْهُمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ ،
“Dulu aku membacakan Al Qur’an kepada para tokoh dari Muhajirin, di antara mereka adalah Abdurrohman bin ‘Auf” (HSR Al Bukhory (6830))
Ibnul Jauzy -rahimahulloh- berkata:
ففيه تنبيه على أخذ العلم من أهله وإن صغرت أسنانهم أو قلت أقدارهم وقد كان حكيم ابن حزام يقرأ على معاذ بن جبل فقيل له تقرأ على هذا الغلام الخزرجي فقال إنما أهلكنا التكبر
“Maka di dalam atsar tadi ada peringatan untuk mau mengambil ilmu dari ahlinya meskipun umur mereka masih muda, atau derajat mereka rebih rendah. Dulu Hakim bin Hizam -rodhiyallohu ‘anhu- belajar Al Qur’an pada Mu’adz bin Jabal -rodhiyallohu ‘anhu-. Maka dikatakan pada beliau,”Anda belajar Al Qur’an pada bocah Khozrojy itu?” Maka beliau berkata,”Hanyalah yang membinasakan kita itu kesombongan.” (“Kasyful Musykil” 1/hal. 41)
Ibnul Madiny -rahimahulloh- berkata:
إنَّ الْعِلْمَ لَيْسَ بِالسِّنِّ .
“Sesungguhnya ilmu itu bukan berdasarkan umur.” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/Imam Ibnu Muflih -rahimahulloh-/2/192)
Ibnu ‘Uyainah -rahimahulloh- berkata:
الْغُلَامُ أُسْتَاذٌ إذَا كَانَ ثِقَةً .
“Anak kecil adalah ustadz jika dia tsiqoh” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/Imam Ibnu Muflih -rahimahulloh-/2/192)
Waki’ ibnul Jarroh -rahimahulloh- berkata:
لَا يَكُونُ الرَّجُلُ عَالِمًا حَتَّى يَسْمَعَ مِمَّنْ هُوَ أَسَنُّ مِنْهُ وَمَنْ هُوَ مِثْلُهُ وَمَنْ هُوَ دُونَهُ فِي السِّنِّ .
“Tidaklah seseorang itu menjadi seorang alim sampai dia mau mendengar hadits dari orang yang lebih tua darinya, dan yang seumur dengannya, dan yang lebih muda darinya.” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/Imam Ibnu Muflih -rahimahulloh-/2/192)
Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahulloh- berkata:
احمد بن حنبل لم يكن في زمن ابن المبارك اطلب للعلم منه رحل إلى اليمن والى مصر والى الشام والبصرة والكوفة وكان من رواة العلم وأهل ذلك كتب عن الصغار والكبار
“Tiada seorangpun pada zaman Ibnul Mubarok yang lebih bersemangat menuntut ilmu daripada beliau. Beliau pergi ke Yaman, ke Mesir, ke Syam, ke Bashroh dan Kufah. Dan beliau termasuk perawi ilmu dan ahli ilmu, menulis ilmu dari orang kecil maupun orang besar ..” (“Tarikh Dimasyq” 32/hal. 407)
Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: 
الكبر بطر الحق وغمص الناس
“kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Dan Alloh ta’ala berfirman:
إن الله لا يغفر أن يشرك به (النساء : 8)
“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni kesyirikan terhadap diri-Nya” (QS An Nisa 8) 
sebagai peringatan bahwasanya Dia tidak mengampuni kesombongan yang hal itu lebih besar daripada kesyirikan. Dan sebagaimana bahwasanya orang yang bertawadhu’ kepada Alloh, Alloh akan mengangkatnya, demikian pula barangsiapa menyombongkan diri dari ketundukan kepada al haq, Alloh akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, meremehkannya. Dan barangsiapa menyombongkan diri dari ketundukan kepada al haq walaupun mendatanginya melalui anak kecil atau orang yang dibencinya atau memusuhinya, maka sebenarnya kesombongannya itu hanyalah kepada Alloh, karena sesungguhnya Alloh itulah Al Haq, firman-Nya adalah haq, agama-Nya adalah haq, dan Al Haq adalah sifat-Nya, dari-Nya dan milik-Nya. Maka jika sang hamba menolak al haq dan menyombongkan diri dari menerimanya, maka dia itu hanyalah membantah Alloh dan menyombongkan diri kepada Alloh. Wallohu a’lam.” (“Madarijus Salikin” 2/333)
Imam Ibnu Rojab -rahimahulloh- berkata:
فلهذا كان أئمة السلف المجمع على علمهم وفضلهم يقبلون الحق ممن أورده عليهم وإن كان صغيراً ويوصون أصحابهم وأتباعهم بقبول الحق إذا ظهر في غير قولهم .
“Maka karena inilah dulunya para imam Salaf yang telah disepakati keilmuan dan keutamaan mereka, mereka mau menerima al haq dari orang yang mendatangkannya kepada mereka sekalipun anak kecil, dan mereka berwasiat kepada para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima al haq jika telah nampak (meskipun) dari selain perkataan mereka.” (“Al Farqu Bainan Nashihah wat Ta’yir” 1/hal. 3)
Imam Ibnu Baaz -rahimahulloh- berkata:
“Kemudian seorang penuntut ilmu setelah itu hendaknya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun dari perkara yang dia ketahui. Hendaknya memiliki keinginan yang kuat untuk menerangkan al haq dan membantah musuh agama Islam, tidak bermudah-mudahan ataupun menyingkir ke pinggir-pinggir. Maka hendaknya dia itu senantiasa menyeruak muncul di medan sesuai dengan kemampuannya. Jika ada musuh Islam yang membikin syubuhat dan cercaan, hendaknya dia tampil untuk membantah mereka secara tertulis, atau lisan dan lain-lain. Jangan bermudah-mudahan dan berkata,”Urusan ini untuk orang lain”, bahkan hendaknya dia berkata,”ini memang urusku, Akulah bagiannya” Walaupun di sana ada para pemimpin yang lain, dan pelajar ini khawatir masalah tersebut akan lepas dari penanganan, maka hendaknya dia terus nampil dan tidak menepi ke pinggir. Tapi justru hendaknya dia tampil pada saat yang tepat untuk menolong al haq dan membantah musuh agama Islam.” dst (“Syaroful Ulama wa Adabu Ahlih min badi’i Muhadhorotisy Syaikhil ‘Allamah Abdil ‘Aziz Bin Baaz”/Abdussalam Umar Ali/hal. 125)
Imam Ibnu Baaz -rahimahulloh- juga berkata:
“Maka setiap kita memiliki kewajiban. Setiap muslim di negeri Alloh, di timur dan barat, di seluruh penjuru dunia. Setiap muslim, setiap penuntut ilmu, setiap ulama, dia punya kewajiban di dalam dakwah ke jalan Alloh yang dia telah dimuliakan Alloh dengannya, dan menolak (membantah) syubhat-syubhat, dan membela Islam dari kebatilan, dan membantah lawan-lawannya, dengan cara-cara dan metode yang dipandangnya bermanfaat, yang menyampaikan kebenaran dan membikin manusia berminat untuk menerima kebenaran, dan dipandangnya bisa untuk menghentikan kebatilan.
Dan termasuk dari musibah yang terbesar adalah: Seseorang berkata,” Bukanlah aku yang bertanggung jawab dengan itu.” Ini salah. Ini merupakan kemungkaran yang besar. Ini bukan perkataan orang yang berakal. Kecuali jika pada posisi yang telah dicukupi oleh orang yang lain, suatu kemungkaran yang telah dihilangkan oleh orang yang lain, suatu kebatilan yang telah diperingatkan oleh orang yang lain.” –sampai pada ucapan beliau:- Maka setiap orang harus menunaikan kewajibannya sampai kebenaran itu tertolong, dan sampai kebatilan itu tertumpas, dan sampai tegaknya hujjah terhadap lawan-lawan Islam.” (selesai) (“Al Ghozwul Fikry” karya beliau -rahimahulloh- hal. 17)
Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- ditanya: “Apakah berbicara tentang hizbiyyun atau tahdzir dari mereka termasuk harom? Dan apakah perkara ini khusus untuk ulama dan bukan hak para penuntut ilmu meskipun telah jelas kebenaran bagi para penuntut ilmu tentang orang tersebut?”
Beliau -rahimahulloh- menjawab:
“Sudah semestinya untuk dia bertanya kepada ahlul ilmi tentang perkara tersebut. Akan tetapi orang yang membikin umat lari dari As Sunnah, dari Ahlussunnah dan majelis ulama, maka umat harus ditahdzir dari orang yang seperti itu. (adapun permasalahan) Jarh dan ta’dil harus orang tersebut mengetahui sebab-sebabnya dan harus bertaqwa kepada Alloh subhana wa ta’ala tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya (hukum) asal kehormatan seorang muslim adalah terhormat. Sebagaimana sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- :
((فإنّ دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا)).
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah harom, sebagaimana haromnya hari kalian ini, bulan kalian ini dan negri kalian ini”. 
Akan tetapi mubtadi’ah (ahlul bid’ah) tidak mengapa seorang thalibul ilmi memperingatkan orang darinya, sebatas pengetahuannya, secara adil. 
Alloh ta’ala berfirman:
}وإذا قلتم فاعدلوا{
“Dan jika kalian berbicara maka berlaku adillah.”
Juga berfirman:
{ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألاّ تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتّقوى}
“Dan jangan sampai kebencian (kalian) terhadap suatu kaum menjerumuskan kalian untuk berbuat tidak adil. Adillah kalian karena dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.”
Juga berfirman:
{إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان}
“Sesungguhnya Alloh memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”
Dan Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memerintahkan Abu Dzarr untuk mengucapkan yang benar walaupun itu pahit.” Bahkan Alloh -’azza wajalla- berkata di dalam kitab-Nya yang mulia:
{ياأيّها الّذين آمنوا كونوا قوّامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيًّا أو فقيرًا فالله أولى بهما فلا تتّبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإنّ الله كان بما تعملون خبيرًا}
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Maka harus ada keadilan ketika berbicara tentang hizbiyyin. Dan bukanlah aku maksudkan bahwasanya engkau melihat seorang mubtadi’ lalu kemudian engkau menyebutkan kebaikan dan kejelekan yang ada padanya (manhaj muwazanah) . Sesungguhnya mubtadi’ itu tidak pantas untuk kau sebutkan kebaikan dan kejelekannya.” [“Tuhfatul Mujib” hal. 187-188]
Juga Fadhilatus Syaikh Imam Robi’ bin Hadi Al madkholi – hafidzahulloh – ditanya: “Kebanyakan orang menyangka bahwasanya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan proses belajar yang sedang ditempuh oleh penuntut ilmu dalam perjalanannya kepada Alloh. Apakah pemahaman ini benar?”
Beliau -hafidzahulloh- menjawab: “Ini adalah pemahaman yang bathil. Dan ini termasuk metode ahlul bathil dan ahlul bida’ untuk membikin diam (membisukan) ahlus sunnah. Maka pengingkaran terhadap ahlul bida’ termasuk pintu amar ma’ruf nahi munkar yang terbesar. Dan tidaklah umat ini punya keistimewaan terhadap seluruh umat kecuali dengan keistimewaan ini. (Alloh ta’ala berfirman):
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ 
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Alloh.” (QS Ali Imron 110)
Pengingkaran terhadap kemungkaran merupakan penerapan dari ilmu yang telah dipelajari oleh pemuda muslim, yaitu pemahaman dari agama Alloh -tabaroka wata’ala- dan penelaahannya terhadap kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya yang mulia -’alaihish shalatu was salam-.
Maka apabila perkara amar ma’ruf nahi munkar ini tidak diterapkan, khususnya terhadap ahlul bida’, maka dia bisa jadi masuk ke dalam firman Alloh -tabaroka wata’ala-:
{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ}
“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putera Maryam . Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka (bermaksiat) dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. ” [ Al Maidah 78-79]
Dan jika seseorang melihat kebid’ahan tersebar, ada penyerunya, ada pembawanya, pembelanya, dan ada orang yang memerangi ahlussunnah demi kebid’ahan itu, bagaimana dia diam saja? 
Ucapan mereka,”Sesungguhnya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan ilmu” ini adalah dusta!!. Justru ini bagian dari ilmu dan penerapan ilmu.
Apapun yang terjadi, maka seorang penuntut ilmu itu harus mengkhususkan waktu-waktu untuk memperoleh ilmu. Dan harus bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Karena dia tidak akan bisa menghadapi kemungkaran kecuali dengan ilmu. Bagaimanapun keadaannya dia harus memperoleh ilmu dan sekaligus pada waktu yang sama dia juga harus menerapkannya. Alloh -tabaroka wata’ala- memberkahi pelajar yang mengamalkan ilmunya ini.
Dan terkadang bisa dicabut keberkahan itu manakala dia melihat kemungkaran di depan matanya tapi dia berkata,”tidak, tidak, aku belum belajar.” Dia melihat kesesatan dan ahlul bathil mengangkat syiar kebathilan dan mengajak orang kepadanya dan menyesatkan orang, dia justru berkata,”Tidak, tidak. Aku tidak mau sibuk dengan perkara-perkara seperti ini, aku akan menyibukkan diri dengan ilmu.” (maksudnya : dia sekarang sedang latihan untuk berbasa-basi). Semoga Alloh memberkahi kalian.” [“Ajwibatu Fadhilatusy Syaikh Robi'”/Abu Rowahah/ hal. 34-35]

Keenam: Yang mu’tabar (teranggap) di sini bukanlah “Mendahului ustadz ataukah tidak”. Tapi yang teranggap adalah “Mendahului Alloh dan Rosul-Nya ataukah tidak”.
Imam Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata:
“Larangan untuk mendahului Alloh dan Rosul-Nya. Dan Alloh ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Alloh dan Rosul-Nya, dan bertaqwalah kalian pada Alloh sesungguhnya itu Sami’ (Maha Mendengar) dan Bashir (Maha Melihat)”.
Yaitu: Janganlah kalian berkata sebelum Dia berkata, janganlah kalian memerintah sebelum Dia memerintah, dan janganlah kalian berfatwa sampai Dia berfatwa, dan janganlah kalian memutuskan suatu perkara sampai Dia itulah yang menghukumi dan menjalankan.” –sampai dengan- “Dan perkataan yang mengumpulkan makna dari ayat tadi adalah: Janganlah kalian tergesa-gesa berbicara atau berbuat sebelum Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- berbicara atau berbuat.
Alloh ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض أن تحبط أعمالكم وأنتم لا تشعرون
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi. Dan janganlah kalian mengeraskan suara kepadanya sebagaimana sebagian dari kalian mengeraskan suara kepada sebagian yang lain, karena amal kalian akan terhapuskan dalam keadaan kalian tidak menyadari.”
Jika mengangkat suara melebihi suara beliau saja bisa menyebabkan amalan terhapus, maka bagaimana jika mendahulukan pendapat, akal, perasaan, dan siasat serta pengetahuan mereka melebihi apa yang dibawa Rosululloh, dan mengangkatnya di atas apa yang dibawa beliau? Bukankah hal itu lebih pantas untuk menghapus amal-amal mereka?” (“I’lamul Muwaqqi’in” 1/hal. 51)
Marilah kita mengoreksi langkah: Apakah pembentukan yayasan dalam dakwah itu mendahului Alloh dan Rosul-Nya ataukah tidak? Kalau balap karung akhwat diterapkan berdasarkan fatwa Luqman Ba Abduh, itu mendahului Alloh dan Rosul-Nya ataukah tidak? Kalau tarik tambang akhwat diterapkan berdasarkan fatwa Luqman Ba Abduh, itu mendahului Alloh dan Rosul-Nya ataukah tidak? Menjadikan hasil kesepakatan beberapa ustadz sebagai alasan untuk membungkam dikumandangkannya al haq dari ulama Dammaj itu mendahului Alloh dan Rosul-Nya ataukah tidak?

Ketujuh: Kesepakatan para ustadz bukanlah syarat ditegakkannya kebenaran. Dan Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
« مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ ، مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَهْوَ بَاطِلٌ ، وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ ، شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ »
“Mengapa ada sekelompok orang yang membikin syarat-syarat yang tidak ada di dalam kitabulloh? Barangsiapa membikin suatu syarat yang tidak ada di dalam Kitabulloh maka syarat itu batil sekalipun dia membikin seratus syarat. Syarat Alloh itu lebih benar dan kuat.” (HSR Al Bukhory (2155) dan Muslim (10/hal. 34) dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

Bab Ketujuh: Para Salafiyyin yang Mentahdzir Luqman juga Berjalan Berdasarkan Fatwa Para Ulama

Para Salafiyyin yang mentahdzir Luqman Ba Abduh juga berjalan berdasarkan fatwa para Ulama Ahlussunnah. Telah sampai pada Antum semua insya Alloh fatwa dari:
 Yang dari Markiz Induk Dammaj -harosahalloh-:_
– Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury -hafizhahulloh-
– Syaikh Jamil Ash Shilwy -hafizhahulloh-
– Syaikh Muhammad bin Hizam -hafizhahulloh-
– Syaikh Abu Amr Al Hajury -hafizhahulloh-
– Syaikh Abu Bilal Al Hadhromy -hafizhahulloh-
– Syaikh Abdul Hamid Al Hajury -hafizhahulloh-
– Syaikh Muhammad Al ‘Amudy -hafizhahulloh-
 Yang dari Markiz Shon’a -harosahalloh-:_
– Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani’ -hafizhahulloh-
 Yang di markiz Yafi’ -harosahalloh-:_
– Syaikhunal Hafizh Abu Abdirrohman Abdulloh Al Iryani -hafizhahulloh-
 Yang dari Kerajaan Su’udiyyah:_
– Fadhilatusy Syaikh Al Imam Robi’ bin Hadi Al Madkholy -hafizhahulloh- 
– Syaikh Usamah ‘Athoya -hafizhahulloh-. 

Wahai para asatidzah, apakah dengan jarh dan tahdzir dari para ulama ini semua para Salafiyyin masih harus menunggu kesepakatan para ustadz?
Kesimpulan ringkas dari ciri-ciri hizbiyyah yang ada pada Luqman, sebagaimana ucapan para ulama dan terlihat dari sepak terjangnya adalah sebagai berikut:
1- Tho’n (cercaan) terhadap sebagian ahlul hadits yang kokoh dan rajin memerangi ahlul bida’
2- Mentahdzir umat dari markiz Dakwah Salafiyyah Shofiyyah terbesar sedunia. 
3- Wala’ dan baro’ yang sempit, yang mana dia mentahdzir para tholabatul ilmi yang datang dari Dammaj, kecuali yang cocok dengan pemikirannya. 
4- Menghasung (mengompori) orang-orang untuk memerangi ahlul hadits yang kokoh dan rajin memerangi ahlul bida’.
5- Mewarisi senjata-senjata batil dan usang dari hizbiyyin yang terdahulu.
6- Merusak citra ahlul haq bahwasanya mereka itu memiliki pemikiran khowarij dan pengkafiran.
7- Merusak citra ahlussunnah bahwasanya mereka itu penyebab perpecahan.
8- Berusaha untuk melekatkan citra “fitnah” kepada ahlussunnah yang memberikan nasihat. 
9- Mendustakan sebagian saksi, mencela mereka, dan mencela orang-orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya. 
10- Meremehkan dan mengejek Ahlul haq.
11- Membikin-bikin berita bohong, 
12- Slogan: “Kalian harus lemah lembut, kalian punya sifat berlebihan dan keras!” 
13- Berdalilkan dengan diamnya sebagian ulama.
14- Bertamengkan dengan fatwa atau perbuatan sebagian ulama dalam menyelisihi kebenaran. 
15- Sedikitnya kesediaan untuk menerima nasihat yang benar.
16- banyak berdusta.
17- Membikin makar dan tipu daya
18- Berpura-pura lemah lembut dan akhlak mulia 
19- Pemutarbalikan fakta
20- Pengkaburan, dan penyamaran antara kebenaran dan kebatilan.
21- Tidak rela dengan penyebaran kebenaran yang menyelisihi hawa nafsunya
22- Menggunakan yayasan atas nama dakwah, yang di dalamnya muhdatsat, tasyabbuhat, dan berbagai ma’siat.
23- Tasawwulat (mengemis) atas nama dakwah
24- bergaya rujuk dari kesalahan
25- Penggunaan lafadh-lafadh dan ungkapan yang global
26- Ridho dengan keikutsertaan para penulis yang tak dikenal dalam upaya menghantam dakwah Ahlussunnah (atau mungkin dia turut serta dalam gerakan para penulis yang tak dikenal itu)
27- Menyelisihi sebagian metode Salaf, baik secara ucapan ataupun secara keadaan
28- Memberikan pertolongan yang besar kepada beberapa hizbiyyin, membela mereka dan memuji mereka.
29- Takhdzil (Tidak mau memberikan bantuan) buat Ahlul haq yang tengah bekerja keras meng-counter serangan hizbiyyin baru.
30- Teror mental terhadap orang-orang yang bersemangat untuk menegakkan Islam secara murni.

Bab Kedelapan: Benarkah Para Masyayikh yang Belum Sependapat dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- Sama Sekali Tidak Merasakan Adanya Makar dan Kesalahan Abdurrohman Al ‘Adni dan Pengikutnya?

Bahkan beberapa masyayikh yang belum sependapat dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- tentang hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adni dan Pengikutnya pun telah berfirasat akan datangnya gelombang makar terhadap Markiz induk Dammaj.
Asy Syaikh Muhammad Al Imam -hafizhohulloh- berkata:
فتنة عبد الرحمن وراءها أيادي عاملة من الخارج
“Fitnah Abdurrohman itu di belakangnya ada tangan-tangan yang bekerja dari luar.”
Beliau juga berkata:
هناك من يريد إسقاط دماج والشيخ يحيى
“Ada orang yang ingin menjatuhkan Dammaj dan Asy Syaikh Yahya.”
Beliau juga berkata:
عبد الرحمن مدفوع به ويعمل من وراءه
“Abdurrohman itu didorong. Dan yang bekerja adalah orang di belakangnya.”
Asy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’i -hafizhohulloh- berkata:
هناك من يريد إسقاط الشيخ يحيى ودماج، وما بعدها أسهل
“Ada orang yang ingin menjatuhkan Asy Syaikh Yahya dan Dammaj. Dan yang setelahnya itu lebih mudah.”
Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi -waffaqohulloh- berkata di perpustakaan umum Ma’bar:
نحن نشعر أن هناك أناس في الخارج يريدون أن يفتكوا بدعوتنا 
“Kami merasa bahwasanya ada sekelompok orang dari luar yang ingin merobek dakwah kita.”
(Bacalah berita ini tadi semua di risalah “Fitnah Abdurrohman Al ‘Adani wal Ayadil ‘Amilah minal Khorij.”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafi -hafizhohulloh-/5-6)
Asy Syaikh Muhammad Al Imam -hafizhohulloh- di dalam ijtima’ masyayikh di Dammaj di awal fitnah berkata tentang gaya Abdurrohman Al ‘Adni -hadahulloh- memulai pembentukan markiz:
هذه بكرية جديدة
“Ini merupakan gaya Sholih Al Bakry yang baru.” (dinukilkan oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, dan juga disebutkan di “Bayan wa Haqo’iq”/Al Mustafidul Fadhil Kamal Al ‘Adny -hafizhahulloh-)
Asy Syaikh Muhammad Al Imam -hafizhohulloh- berkata:
الأخطاء حاصلة لا ينكر هذا
“Kesalahan-kesalahan itu memang terjadi, hal ini tak bisa diingkari.”
Beliau juga berkata:
نحن ما نقول أن كلام الشيخ يحيى باطل
“Kami tidak mengatakan bahwasanya ucapan Asy Syaikh Yahya itu batil.”
Beliau juga berkata:
لا نخطئ الشيخ يحيى جملة ولا تفصيلا
“Kami tidak menyalahkan Asy Syaikh Yahya secara global ataupun terperinci.”
Ketiga ucapan terakhir ini dinukilkan oleh Al Mustafidul Fadhilul Mubarriz Abu Abdillah Muhammad Ba Jamal Al Hadhromy -hafizhahulloh- pemegang dakwah di masjid Ibrohim (wilayah Sai’un/Hadhromaut) di dalam risalah beliau “Ad Dala’ilul Qoth’iyyah ‘ala Inhirofi Ibnai Mar’i ..” hal. 9. lalu beliau -hafizhahulloh- berkomentar tentang pengakuan beberapa ulama tentang kebenaran ucapan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan kesalahan Al ‘Adny, tapi kemudian mereka lambat dalam meng-counter gerakan Al ‘Adny:
إذا فماذا؟! أمع هذا الكلام الصريح كله لا نرى إنكارا ولا زجرا ولا ردعا معلنا! فإلى الله المشتكى. وإني لأعجب أننا في كل فتنة يكرر تقرير الأصول السلفية مثل: الجرح المفسر مقدم على التعديل المبهم. ومثل: الحق ما يعرف بالرجال، وإنما يعرفون بالحق. ومثل: من علم حجة على من لم يعلم. ومثل: لا يشترط في الجرح الإجماع. وهكذا. وهذا يدل على تمكن الغفلة وسرعة النسيان الذي بسببه كان حصول التخبط والاضطراب عند الكثير.
“Setelah tahu demikian lalu apa? Mengapa bersamaan dengan ucapan yang jelas ini semua (pengakuan tentang kebenaran ucapan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan kesalahan Al ‘Adny) kami tidak melihat adanya pengingkaran, ataupun penghardikan, ataupun pencegahan yang diumumkan? Kepada Alloh sajalah kami mengeluh. Dan sungguh aku ini merasa heran bahwasanya kami di setiap terjadinya fitnah, pokok-pokok Salafiyyah itu diulang-ulang, seperti: “Jarh yang terperinci itu harus didahulukan daripada ta’dil yang mubham”, juga seperti “Kebenaran itu tidak dilihat berdasarkan tokoh-tokohnya, tapi para tokoh itulah yang harus dinilai berdasarkan kebenaran”, juga seperti “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu”, juga seperti “Tidak dipersyaratkan di dalam jarh itu adanya kesepakatan.” Dan seterusnya. (Tapi tidak diamalkan) Ini menunjukkan kuatnya cengkeraman kelalaian dan cepatnya lupa yang menyebabkan berlangsungnya kegagalan dan kegoncangan dari kebanyakan pihak.” (selesai)

Bab Kesembilan: Tambahan Catatan dan Nasihat

APA YANG ANA TULIS DI ATAS BUKANLAH UNTUK BERSIKAP LANCANG KEPADA PARA ULAMA. KAMI MEMAHAMI TINGGINYA KEDUDUKAN MEREKA -HAFIZHAHUMULLOH-. AKAN TETAPI SEKARANG INI BANYAK PIHAK YANG BERUPAYA UNTUK MENGANGKAT ULAMA KE POSISI “TAK BISA DIKRITIK MESKIPUN NYATA KESALAHAN ATAU PENYIMPANGANNYA”, JUGA KE POSISI “DIAMNYA ADALAH HUJJAH UNTUK MENOLAK JARH MUFASSAR DARI ULAMA LAIN”, JUGA KE POSISI “TA’DIL MUBHAM MEREKA ADALAH HUJJAH UNTUK MERUNTUHKAN JARH MUFASSAR DARI ULAMA LAIN”, JUGA KE POSISI “KETIDAKSANGGUPAN MEREKA MEMBANTAH HUJJAH YANG MUFASSAR JUSTRU DIJADIKAN SEBAGAI HUJJAH UNTUK MENGHUKUMI BAHWA HUJJAH ULAMA PENGKRITIK ITU LEMAH” JUGA KE POSISI “KETERGELINCIRAN SEBAGIAN DARI MEREKA JUSTRU DIPOSISIKAN SEBAGAI DALIL YANG HARUS DITAQLIDI”.
JUGA ANA MELIHAT BAHWASANYA FATWA-FATWA YANG TIDAK TEPAT JUSTRU DISEBAR DENGAN ALASAN “INI FATWA KIBARUL ULAMA!” TAPI FATWA-FATWA YANG MEMBONGKAR KEJAHATAN PARA PENYELEWENG JUSTRU DILARANG UNTUK DISEBARKAN DENGAN ALASAN “INI MEMBIKIN PERPECAHAN!” “INI PENYEBAB FITNAH!” “KITA MENUNGGU KIBARUL ULAMA” SUNGGUH INI SANGAT TIDAK ADIL DILIHAT DARI SISI SYARIAT. JUGA BARANGKALI ORANG-ORANG IKHWANIYYIN, QUTHBIYYIN, DAN SURURIYYIN AKAN TERIAK: “DULU KALIAN MENGKRITIK KAMI KARENA KAMI MENOLAK HUJJAH DENGAN ALASAN KAMI “KITA MENUNGGU KIBARUL ULAMA”. TAPI KALIAN SENDIRI BERBUAT YANG SAMA DAN MEMAKAI SENJATA AMPUH KAMI ITU!”
MAKA WAJIB BAGI DIRI KITA SEMUA UNTUK MENGOREKSI DIRI: “APAKAH SEPERTI INI AJARAN AL QUR’AN, AS SUNNAH DAN THORIQOTUS SALAF?”
PARA USTADZ DAN KITA SEMUA HARUS SIAP DIKOREKSI OLEH UMAT –YANG BESAR ATAUPUN YANG KECIL- YANG MEMAHAMI HUJJAH DAN AL HAQ. DAN TIDAK PANTAS KITA MEMBUNGKAM MULUT PARA PENASIHAT DAN PENGKRITIK SAMBIL BERLINDUNG DI BALIK JUBAH “AKU ADALAH USTADZ.”. KITA SEMUA HARUS MENANGGALKAN JUBAH KESOMBONGAN DAN KECONGKAKAN.
ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
واخفظ جناحك لمن اتبعك من المؤمين
“DAN RUNDUKKANLAH JUBAH KESOMBONGANMU BUAT ORANG YANG MENGIKUTIMU DARI KALANGAN KAUM MUKMININ.”
INI PERINTAH ALLOH BAGI SAYYIDUL MURSALIN. BAGAIMANA DENGAN KITA? JIKA KESOMBONGAN SEKECIL DZARROH SAJA BISA AMAT BERBAHAYA. ROSULULLOH  BERSABDA:
لا يدخل الجنة من في قلبه مثقال ذرة من كبر
“TAK AKAN MASUK JANNAH ORANG YANG DI HATINYA ADA SEMISAL DZARROH DARI KESOMBONGAN.” (HSR MUSLIM/147 DARI IBNU MAS’UD )
APALAGI JIKA TELAH MENJADI SEBESAR JUBAH ATAU YANG LEBIH DARI ITU?
DENGAN SEBAB SYIAR “AL QUR’AN, AS SUNNAH DAN THORIQOTUS SALAF” LAH ULAMA SALAFIYYIN DIANGKAT KE DERAJAT ITU, DAN PARA USTADZ SALAFIYYIN DINAIKKAN KE POSISI TERSEBUT. MAKA DENGAN SYIAR INI PULA MEREKA HARUS SIAP UNTUK DIKOREKSI.
SYIAR INI BISA MENJADI HUJJAH UNTUK MENGANGKAT KITA SEMUA, DAN SYIAR INI PULA BISA MENJADI SEBAB UNTUK MEREMUKKAN KITA SEMUA, MAKA ALLOH! ALLOH!.
ANA TAHU BAHWASANYA BEBERAPA IKHWAH SALAFIYYIN –BAIK YANG DARI YAMAN ATAUPUN YANG LAINNYA- TELAH MENJADI KORBAN PEMUKULAN DAN INTIMIDASI PARA PENGIKUT ABDURROHMAN-ABDULLOH AL ‘ADNIYYAN -HADAHUMULLOH-. DAN BANYAK SEKALI MAKAR KOMPLOTAN TADI YANG BERTUJUAN UNTUK MEMANCING EMOSI KITA. SEKALIPUN DEMIKIAN ANA NASIHATKAN KEPADA PARA SALAFIYYIN UNTUK TIDAK BERMUDAH-MUDAHAN DALAM MASALAH DARAH DAN KEHORMATAN SEORANG MUSLIM. JANGAN MEMULAI MEMUKUL TERHADAP ORANG YANG MENYIMPANG, KECUALI PEMERINTAH YANG HENDAK MENGHUKUM RAKYAT YANG MENYIMPANG, ATAU ORANG TUA YANG HENDAK MENDIDIK DAN MENGHUKUM ANAKNYA, ATAU TUAN PADA BUDAKNYA, DST. KALAUPUN HARUS MEMBELA DIRI ATAU MEMBALAS, JANGAN SAMPAI MELAMPAUI BATAS SYARI’AT. PERTANGGUNGJAWABAN DI AKHIRAT SANGATLAH BERAT.
ABU HUROIROH RODHIYALLOHU ‘ANHU BERKATA:
« أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».
“TAHUKAH KALIAN SIAPA ITU ORANG YANG BANGKRUT?” MEREKA BERKATA,”ORANG YANG BANGKRUT DI KALANGAN KAMI ADALAH ORANG YANG TAK PUNYA DIRHAM ATAUPUN HARTA BENDA.” MAKA BELIAU BERSABDA: “SESUNGGUHNYA ORANG YANG BANGKRUT DARI UMATKU ADALAH ORANG YANG DATANG PADA HARI KIAMAT DENGAN MEMBAWA AMALAN SHOLAT, PUASA, ZAKAT. DIA DATANG TAPI DALAM KEADAAN TELAH MENCACI INI, MENUDUH ORANG ITU, MEMAKAN HARTA ORANG INI, MENUMPAHKAN DARAH ORANG ITU, MEMUKUL ORANG INI. MAKA ORANG INI DIBERI KEBAIKANNYA, ORANG ITU DIBERI KEBAIKANNYA. JIKA KEBAIKANNYA TELAH HABIS SEBELUM TANGGUNG JAWABNYA SELESAI, DIAMBILLAH DARI KESALAHAN-KESALAHAN MEREKA LALU DILETAKKAN KEPADANYA, LALU DIA DILEMPARKAN KE DALAM NERAKA.” (HSR MUSLIM (16/HAL. 462))
DAN MUSUH DAKWAH SANGATLAH BERSEMANGAT UNTUK MERUSAK NAMA BAIK DAKWAH SALAFIYYAH, MAKA BERHATI-HATILAH. DAN BERSABARLAH. ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ [الزمر/10]
“HANYA ORANG-ORANG YANG SABAR ITULAH YANG PAHALA MEREKA AKAN DICUKUPI TANPA DIHITUNG/TANPA BATAS.” (QS AZ ZUMAR 10)
SEMOGA ALLOH MENGARUNIAI KITA KESABARAN UNTUK TUNDUK PADA AL HAQ, KESABARAN DALAM MEMIKUL AL HAQ, DAN KESABARAN DALAM MENANGGUNG RESIKO MENGIBARKAN AL HAQ.
KAMI TAHU BAHWASANYA PAK AHMAD BIN MUKIYI SEKELUARGA -HAFIZHAHUMULLOH- MENDAPATKAN TEROR DARI IBN SOLO AGAR BERHENTI MENOLONG KEBENARAN. DEMIKIAN PULA PAK ARIF BIN MUKIYI SEKELUARGA DAN YANG LAINNYA -HAFIZHAHUMULLOH- PARA HIZBIYYIN MENTEROR MEREKA. ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ
“DAN BERSABARLAH, DAN TIDAKLAH KESABARANMU ITU KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLOH, DAN JANGANLAH ENGKAU SEDIH TERHADAP MEREKA, DAN JANGANLAH ENGKAU MENJADI SEMPIT DIKARENAKAN MAKAR YANG MEREKA BIKIN.” (QS AN NAHL 127)
AL HAQ AKAN TERUS BERJALAN, DAN RODANYA AKAN TERUS MENGGELINDING KE DEPAN DAN MENGGILAS SIAPAPUN YANG MENGHALANGINYA. ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ [الأنبياء/18]
“BAHKAN KAMI AKAN MELEMPARKAN AL HAQ TERHADAP KEBATILAN SEHINGGA DIA MENYIRNAKAN KEBATILAN TADI, MAKA TIBA-TIBA KEBATILAN TADIPUN LENYAP.” (QS AL ANBIYA 18)
ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا [الإسراء/81]
“DAN KATAKANLAH: AL HAQ TELAH DATANG, DAN TELAH SIRNALAH KEBATILAN. SESUNGGUHNYA KEBATILAN ITU AKAN SIRNA.”
MAKA DENGAN PENJELASAN INI SEMUA JELASLAH BAHAYA DAN BATILNYA KESEPAKATAN TADI JIKA DITERAPKAN UNTUK MENGHALANGI PENYEBARAN AL HAQ DAN DATANG DARI SALAFIYYIN DAMMAJ ATAUPUN YANG LAINNYA. MAKA TIDAK PANTAS KESEPAKATAN MACAM TADI UNTUK DITAATI. DAN KEPADA PARA SALAFIYYIN DAN USTADZ MEREKA YANG BERUSAHA UNTUK MEMBATALKANNYA DEMI TEGAKNYA KALIMAT ALLOH DI MUKA BUMI, ANA UCAPKAN JAZAKUMULLOH KHOIRON. SEMOGA ALLOH MENOLONG ANTUM SEMUA.
WAHAI SALAFIYYUN, ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّة [التوبة/111]
“SESUNGGUHNYA ALLOH TELAH MEMBELI DARI MUKMININ JIWA-JIWA DAN HARTA-HARTA MEREKA, DENGAN JANNAH YANG AKAN DIBERIKAN PADA MEREKA.” (QS AT TAUBAH 111)
WAHAI SALAFIYYUN, ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا [الأحزاب/39]
“YAITU ORANG-ORANG YANG MENYAMPAIKAN RISALAH-RISALAH ALLOH DAN TAKUT KEPADA-NYA, DAN TIDAK TAKUT KEPADA SEORANGPUN SELAIN ALLOH. DAN CUKUPLAH ALLOH SEBAGAI PENOLONG.”
WAHAI SALAFIYYUN, ROSULULLOH -SHALALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM- BERSABDA:
« لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ».
“SENANTIASA ADA SEKELOMPOK ORANG DARI UMATKU YANG JAYA DI ATAS KEBENARAN, TIDAK MEMBAHAYAKAN MEREKA ORANG YANG TIDAK MAU MENOLONG MEREKA SAMPAI DATANGNYA URUSAN ALLOH (ANGIN YANG MENCABUT RUH MUKMIN) DALAM KEADAAN MEREKA SEPERTI ITU.” (HSR MUSLIM (4950) DARI TSAUBAN RODHIYALLOHU ‘ANHU)
ANA YAKIN BAHWASANYA RISALAH INI AKAN DIANGGAP SEBAGAI BIANG FITNAH DAN PERPECAHAN, SEBAGAIMANA SYIAR DARI HIZBIYYIN. CUKUPLAH HUJJAH YANG ANA PAPARKAN DI ATAS BUKTI APAKAH TUDUHAN TADI BENAR. DAN CUKUPLAH ALLOH SEBAGAI SAKSI SIAPA YANG MEMBAWA PERBAIKAN DAN SIAPA YANG MEMBAWA KERUSAKAN. ALLOH TA’ALA BERFIRMAN:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ [البقرة/220]
“DAN ALLOH ITU TAHU SIAPAKAH ORANG YANG MERUSAK, DAN SIAPAKAH ORANG YANG BERBUAT PERBAIKAN.” (QS AL BAQOROH 220)

Demikianlah apa yang bisa ana sampaikan di dalam kesempatan yang sangat terbatas ini, semoga Alloh ta’ala menjadikan di dalamnya faidah dan barokah, yang dengannya orang yang dikehendaki untuk mendapatkan kebaikan bisa mengambil manfaat. Dan semoga Alloh ta’ala mengampuniku atas sikap kurang ataupun yang melampaui batas yang pasti ada di dalam risalah ini.
Ana sampaikan “jazakumullohu khoiron” buat Akhuna Abu Abdurrohman Irham Al Maidany, Abu Sholih Dzakwan Al Maidany, dan Abu Yusuf Al Ambony, serta Abu Dujanah Amin Al Ambony – hafidzahumulloh – atas seluruh fasilitas dan bantuan yang diberikan.
والحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Selesai ditulis:
pada tanggal 4 Robi’ul Awwal 1430 H
oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Sukaya
Al Qudsi Al Indonesi ‘afallohu ‘anhu
Di Markiz Induk Pusat Dakwah Salafiyyah
yang Murni Sedunia 
Darul Hadits Dammaj Yaman
-harosahalloh-

Daftar Isi

Muqoddimah 2
Bab Satu: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Pertama 3
Bab Dua: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Kedua 20
Bab Tiga: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Ketiga 27
Bab Empat: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Keempat 43
Bab Lima: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Kelima 45
Bab Enam: Tanggapan terhadap Isi Kesepakatan Keenam 47
Bab Ketujuh: Para Salafiyyin yang Mentahdzir Luqman juga Berjalan Berdasarkan Fatwa Para Ulama 58
Bab Kedelapan: Benarkah Para Masyayikh yang Belum Sependapat dengan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- Sama Sekali Tidak Merasakan Adanya Makar dan Kesalahan Abdurrohman Al ‘Adni dan Pengikutnya? 60
Bab Kesembilan: Tambahan Catatan dan Nasihat 63
Daftar Isi 68