Mengingat Kembali

Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi (3)

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 3)

Kesembronoan Abdul Ghofur Al Malangiy

Dalam Kasus Syaikh Salim Al Hilaliy

 

Ditulis oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy

Al Indonesy

-semoga Alloh memaafkannya-

 

Darul Hadits Dammaj

Yaman

-Semoga Alloh menjaganya-

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar Seri Tiga

 

الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:

Ini adalah risalah ketiga dari rangkaian  jawaban ana buat tulisan “Hampir-hampir Mereka … Jantan” karya Abdul Ghofur Al Malangiy yang isinya kritikan, tapi juga caci-makian, tuduhan palsu, kedustaan, dan kengawuran terhadap Asy Syaikh Al Ghoyur Yahya bin ‘Ali Al Hajuriy dan seluruh Salafiyyin Dammaj juga yang bersama mereka -hafizhohumulloh-.

Sebagaimana telah ana sebutkan pada seri sebelumnya bahwasanya perkara-perkara yang terbukti bahwasanya kesalahan itu memang ada pada kami, kami dengan jujur mengakuinya dan mengumumkannya. Kami tahu bahwasanya ini merupakan kewajiban kami (dan kewajiban setiap orang yang paham kesalahannya). Maka untuk apa menyombongkan diri di muka bumi sementara ubun-ubun kami ada di tangan Alloh?

Adapun Cak Dul perbuatannya benar-benar membuktikan bahwasanya dia ingin menjadikan para pembaca menjadi saksi akan kesombongannya untuk mengakui kesalahannya yang telah nyata terbongkar pada jawaban ana pada seri satu dan dua. Langkah lembut yang ana tempuh pada seri pertama ternyata tidak bisa melunakkan hatinya. Demikian pula tahap berikutnya pada seri dua yang tetap saja lebih lembut daripada tulisan Cak Dul, tetap saja tidak bisa menggerakkan hatinya yang tampak membatu. Ana beriman pada firman Alloh ta’ala:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ الله يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ  [القصص/56]

 “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Alloh itulah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia itu lebih tahu tentang orang-orang yang mengikuti petunjuk.” (QS. Al Qoshshosh: 56).

            Di dalam tulisan Cak Dul “Hampir-hampir…” secara bertubi-tubi dia menyerang Salafiyyin Dammaj melalui kasus Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy -hafizhohulloh-. Inti kasus yang dituduhkannya adalah:

1- Masa lalu  Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- yang sering dakwah bersama Sururiyyin dan Turotsiyyin.

2- Pencurian karya Yusuf Al Qordhowiy kitab “Ash Shobr”

3- Penyalahgunaan dana dari Ihya’ut Turots

Maka risalah ana ini akan membahasnya satu-persatu, -semoga Alloh memberikan taufiq-Nya-. Cak Dul silakan bersiap-siap.

 

Bab Satu: Masalah Kebersamaan Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan  Sururiyyin dan Turotsiyyin

 

Cak Dul berkata: Telah sama kita ketahui betapa besar peran Salim Al Hilaly dalam mencabik-cabik dakwah Salafiyyah di Indonesia bersama Irsyadiyyun dan Sururiyyun (dan bukan hanya Indonesia!) bahkan bertahun-tahun malang melintang di berbagai penjuru dunia dengan peran besarnya sebagai gembong besar beking Hizbiyyun Ihya’ut Turats yang mendunia bersama Ali Hasan Al Halaby dkk. atau yang lebih dikenal sebagai Masyayikh Urdun.

Masih tersimpan rekam jejak kejahatannya ketika dia memuji gembong Irsyadiyyun Demokrathiyyun Chalid Bawazir sebagai si “Tangan Putih”.  (hal. 46).

 

Abu Fairuz -waffaqohullohu- berkomentar:

Komentar pertama: Pada asalnya ana sangat menghormati dan mencintai Al Imam Al Albaniy -rohimahullohu- (sejak mulai mengenal beliau sampai sekarang) dan seluruh murid beliau. Dari berbagai kitab yang dikarang oleh para murid beliau dan juga semangat para ustadz untuk menerjemahkan dan mengajarkan kitab-kitab mereka tampaklah bagi ana bahwasanya para murid Al Imam Al Albaniy adalah ulama Salafiyyun.

Komentar kedua: pada saat sengitnya pertempuran kita dengan Sururiyyun-Quthbiyyin-Turotsiyyin di Indonesia ana amat ingin para ulama Ahlussunnah itu bahu-membahu memerangi mereka, membantu sebagian kecil ulama yang menegakkan kewajiban ini (melawan Sururiyyin). Tapi pada saat itu ana dapati kenyataan yang menyedihkan: hanya sebagian kecil ulama yang menegakkan jihad ini, sebagiannya diam, dan justru sebagiannya malah berbaik sangka terhadap para hizbiyyun itu, dan membela mereka serta memenuhi undangan mereka. Akibatnya para hizbiyyun benar-benar memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang Ahlussunnah. Di antara syubuhat mereka adalah:

“Kami ini adalah Salafiyyun. Buktinya para masyayikh bersama kami!”

“Kita tunggu ulama kibar!” (berhubung yang menyerang mereka cuma Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dan beberapa masyayikh saja, sementara para masyayikh Sunnah yang saat itu bersama hizbiyyin –karena tertipu oleh mereka- tidaklah sedikit).

“Kalau memang kami itu salah, niscaya para masyayikh tadi tidak diam terhadap kami”

(Catatan: pola syubuhat semacam ternyata dipakai juga oleh Mar’iyyin yang terus-menerus dibela oleh Nyak Dul Ghofur).

Ini semua adalah syubuhat Sururiyyin-Quthbiyyin-Turotsiyyin yang juga diwarisi oleh Mar’iyyun. Kamu paham wahai Katak dalam tempurung!?

Jangan kamu jadikan kasus Sururiyyun-Quthbiyyin-Turotsiyyin cuma sebagai senjata untuk menyerang orang-orang yang kamu benci. Kamu juga hendaknya mengambil pelajaran agar tidak terjatuh ke dalam jurang tersebut. Tapi kenyataannya si katak Malang ini memang tidak puas sembunyi dalam tempurung di kebun apel Malang, ternyata malah jalan-jalan dengan sepatu merah jambunya sehingga terpeleset dan nyemplung di jurang sehingga wajahnya harus di Face-off. Akhirnya menjadi kodok berkepala keledai yang telinganya ditusuk bunga mawar.

            Komentar ketiga: Termasuk para masyayikh tipe tadi pada waktu itu adalah Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy, Mashur Hasan Alu Salman, dan Ali Hasan Abdil Hamid Al Halabiy. Pada waktu itu ana –meskipun sedih- berusaha untuk tetap menempuh jalan yang disyari’atkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan Salafush Sholih: BAIK SANGKA PADA ULAMA YANG PADA ASALNYA BERADA DI ATAS AS SUNNAH. Mengapa? Karena para hizbiyyun memang pandai –dan sengaja- bersandiwara di hadapan ulama Ahlussunnah untuk mengambil hati mereka.

Syaikhuna Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- berkata:

والحزبيون الآن عندهم زحف على مشايخ السنة، يعني من حيث المجالسة والحضور والاحتفاء والالتفاف.

 “Para hizbiyyun sekarang gemar mengunjungi masyayikhus Sunnah, dalam bentuk duduk-duduk dengan mereka, hadir di sisi mereka, mengerumuni dan mengerubungi mereka.” (“Zajrul ‘Awi”/hal. 12/Asy Syaikh Al ‘Amudiy).

Asy Syaikh Shofiyur Rohman bin Ahmad -rohimahullohu- menyebutkan kesamaan firqotut Tabligh dengan Qodiyaniyyah:

وكلتا الاثتنين تفرغان جهودهما على الاختلاس والاختناس والاصتياد والتزلف إلى الحكام وأصحاب الاعتبار وذوي النفوذ، واجتذابهم إلى أنفسهم إلخ.

“Kedua firqoh ini mencurahkan kesungguhan mereka untuk menarik dan menjaring serta mendekat ke para penguasa, orang-orang terpandang dan para pejabat agar bisa menarik mereka ke dalam kelompok mereka …” (“Al Qoulul Baligh”/Asy Syaikh Hamud At Tuwaijiriy/hal. 21).

Ini pula yang dilakukan oleh Mar’iyyun terhadap para masyayikh di Yaman maupun di Saudi.

Ana berbaik sangka bahwasanya para masyayikh Yordan tadi pada waktu itu hanyalah tertipu oleh kamuflase para hizbiyyun tadi.

Cak Dul “Si Katak Dalam Tempurung” coba-coba bergaya menyebut-nyebut nama Al Imam Muqbil Al Wadi’iy -rohimahullohu- untuk menghantam Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh-. Seberapa kitab Al Imam Al Wadi’iy yang telah ditelaah si katak dalam tempurung itu? Tahukah si Dul Apa hukum beliau terhadap para ulama yang tertipu?

Al Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- ditanya:

هل من ينسب إلى هذه الجماعات من الذين لا يعرفون عنهم أي شيء يعدّ منهم أم لا؟

“Apakah orang orang yang menisbatkan diri kepada jama’ah-jama’ah ini dari kalangan orang-orang yang tidak tahu keadaan mereka sedikitpun berarti dia itu termasuk dari kelompok mereka ataukah tidak?”

Maka beliau menjawab:

الذي ينتسب إليهم وهمه نصرة الدين ولا يعرف عنهم شيئاً فهو على نيته، لكن بعد أن يبلغ بأن هذه الجماعات مبتدعة ولا يجوز أن ينتسب إليها فقامت عليه الحجة وجب عليه أن يبتعد عن هذا. (“غارة الأشرطة”/2/ص34/دار الآثار).

“Orang yang menisbatkan diri kepada mereka padahal tujuannya adalah untuk menolong agama, dan dia itu tidak tahu keadaan mereka sedikitpun, maka dia itu berdasarkan niatnya. Tapi setelah sampai kepadanya bahwasanya jama’ah-jama’ah tadi adalah mubtadi’ah dan tidak boleh baginya untuk  menisbatkan diri kepada mereka maka telah tegak hujjah terhadapnya dan wajib baginya untuk menjauh dari yang demikian ini.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 34).

 

Komentar keempat: Ketika kitab-kitab yang membahas kebatilan  Sururiyyin-Quthbiyyin-Turotsiyyin makin banyak ditulis dan disebarkan, dan umat makin banyak yang sadar –kecuali yang telat mikir dsb- ternyata kita dapati  Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy, Mashur Hasan Alu Salman, dan Ali Hasan Abdil Hamid Al Halabiy masih ikut acara-acara mereka dan menghadiri undangan-undangan mereka. Maka kamipun mulai berubah pandangan terhadap ketiga orang tadi, dan penghormatan kamipun terhadap mereka tidaklah seperti semula. Ana malas untuk mempelajari buku-buku mereka ataupun menukil kitab-kitab mereka.

Begitu pula gaya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy saat ini. Sudah jelas bahwasanya Ikhwanul Muslimin itu hizbiyyun, demikian pula Hasaniyyun, dan juga hizbul Ishlah. Tapi tetap saja dia rajin menghadiri undangan mereka –dengan alasan mendakwahi mereka agar tidak makin jauh-, makan-makan bersama mereka meskipun mereka mensyaratkan pada dirinya untuk tidak berbicara tentang kelompok-kelompok tadi saat ceramah. Bayangkan: bukan saja di masjid-masjid Mar’iyyin yang Cak Dul buta (atau membutakan diri sampai ada komando dari atasan untuk berobat) terhadap hizbiyyah mereka, bahkan kelompok-kelompok yang para Salafiyyun telah sepakat atas kehizbiyyahan mereka pun rajin juga dikunjungi oleh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy.

Gimana Cak Dul? Tulisan-tulisan tentang Al Wushobiy sudah kami sebar banyak sekali. Juga ada di Aloloom As Salafiyyah yang kamu cari-cari kekurangannya. Kenapa kamu teriaki mereka, tapi kamu bungkam terhadap yang ini? Mana keadilan yang kalian gembar-gemborkan? Mana kejantanan yang kamu suarakan? Pakai saja kaos kebanggaanmu: SAIF-SAIF DZULWAJHAIN (hal. 45).

Jika benar-benar kamu tidak tahu kejadian tersebut (padahal kasus itu terulang lebih dari tigapuluh kali) maka dengan jantan pakailah kaos Dagadu kamu: “Katak Dalam Tempurung”. Silakan rujuk kembali data-data yang amat menjengkelkan dalam kasus itu di dalam malzamah: “Adhror Nuzulisy Syaikh Muhammad Al Wushobiy fi Masajidil Hizbiyyin” karya mustafid Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy. Sekarang telah dicetak oleh Maktabah Al Falah menjadi kitab dengan judul yang sama.

Kalau Abdul Ghofur Al Malangiy tidak cukup jantan untuk mengakui “Gap-For”nya (gagap informasinya) atau takut mengakui ketidakadilannya, maka untuk apa menggambar PDL dan sepatu perempuan? Pakai sendiri saja sepatu female-mu tadi, gantung saja PDL di lehermu, kibarkan bendera: Biarlah hamba menjadi seorang yang penakut” (pinjam pengakuan si Dul di hal. 45).

Komentar kelima: Ketika terbongkarnya hizbiyyah Abul Hasan Al Mishriy, berbagai tahdzir dan bayan disebarkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- beserta masyayikh Darul Hadits Dammaj, dan akhirnya didukung oleh para ulama yang lain sampai terbuka mata umat bahwasanya Abul Hasan bersama Jam’iyyatul Birr itu hizbiyyun, ternyata Ali Hasan Al Halabiy gigih membela Abul Hasan –sampai sekarang-. Sementara Asy Syaikh Salim Al Hilaliy tidak ketahuan suaranya. Kadar kebatilan memang bertingkat-tingkat, tapi tetap saja para masyayikh Yordan tadi luntur pamornya di mata kami selama mereka tidak mengumumkan baro’ terhadap para hizbiyyun di atas.

Komentar keenam: Pada awal-awal tahun 1430 H Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy -hafizhohulloh- ditanya tentang para masyayikh Yordan tadi, maka beliaupun mengkritik mereka. Ternyata suara beliau langsung menyebar ke mana-mana. Pada tanggal 13 atau 14 Robi’ul Awwal 1430 H sampailah ke Dammaj surat dari Asy Syaikh Salim Al Hilaliy  (yang telah diterjemahkan) sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وحده، والصلاة على نبيه وعبده، وآله وصحبه ووفده.

Dari Salim bin ‘Ied Al Hilaaly.

Untuk saudaranya fillah Syaikh Yahya Al Hajury semoga Allah memberikan kepadanya taufiq dalam segala kebaikan dan menjaganya dari setiap kejelekan dan kejahatan dan juga untuk saudara-saudaranya para masyayikh da’wah salafiyyah di negri Yaman yang bahagia semoga Allah membahagiakan mereka dengan kebaikan dan menjaga mereka dari kemungkaran.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kemudian daripada itu:

Setelah bertanya tentang keadaan dan kabar Anda, aku berharap kepada Allah subhanahu wata’ala agar Anda dalam keadaan kebaikan dan keselamatan baik agama maupun dunia serta keluarga dan juga saudara-saudara Anda para masyayikh dan semua murid-murid Anda.

            Saudaraku yang mulia, sesungguhnya menjaga hubungan di antara kita termasuk sebab terbesar dalam menjelaskan kebanyakan permasalahan yang terkadang tercampur di dalamnya penukilan, tergoncang di dalamnya ucapan, serta dikacaukan oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang dalam hati mereka ada hasrat-hasrat.

Hal ini dengan karunia Allah kepada kita termasuk perkara yang paling jelas sebagai dalil dan penguat, yang mana barangkali Anda ingat saat aku kirim surat kepada Syaikh Muqbil: meminta musyawarah pada beliau tentang pembangunan markiz Al Imam Al Albani : dan Andalah -semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan- yang menyampaikan jawaban beliau dan sikap beliau saat kita bertemu di Inggris dalam pertemuan yang bersifat persaudaraan itu.

Saudaraku yang tercinta, -semoga Allah memuliakannya dengan ketaatan dan menolongnya dengan sunnah-, sesungguhnya aku dengan karunia Allah dan taufiq-Nya masih terus -dan juga sebelum itu- dengan idzin Allah mencintai da’wah salafiyyah, menyeru kepadanya, kokoh di atasnya sebagaimana yang telah kami pelajari dari para Masyayikh kami Syaikh Albani Syaikh ibnu Baaz, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh Muqbil rohimahumulloh jami’an saling menolong dengan salafiyyin di setiap tempat dan waktu, kami berlepas diri kepada Allah dari ahlil bid’ah, hizbiyyun dan orang-orang yang menempuh jalan mereka.

Maka untuk itu sikapku terhadap pergerakan hizbiyyah dan yang bercabang atasnya atau darinya telah diketahui sebagaimana dalam kitabku “Al Jama’at Al Islamiyyah Al Mu’ashiroh fi Dho’il Kitab was Sunnah bi Fahmi As Salafish Sholih” yang aku tulis sejak tiga puluh tahun yang lalu.

Adapun mereka para da’i-da’i yang awal mulanya -yang nampak bagi kita- di atas rel keumuman bersama salafiyyin kemudian berbalik haluan dari salafiyyah dan para masyayikh kami dengan kasar seperti Ar’ur[1], Al Magrowi[2], dan Al Ma’ribi[3], maka aku bukanlah dari mereka sedikitpun, tidak di waktu sekarang dan tidak pula di waktu mendatang sampai mereka kembali ke da’wah yang berkah ini dan meninggalkan ahlal bid’ah, yang mana mereka memujinya dan kembali dari ucapan-ucapan yang menyelisihi dasar-dasar da’wah salafiyyah dan yang mengokohkannya.

Dan juga yang mengikuti mereka, dari kalangan berbagai Jam’iyyat (Yayasan) di Kuwait, di Emirat, di Yaman… yang zhohirnya salafiyyah tapi batinnya hizbiyyah yang patut dibenci. Adapun Muhammad Hassan[4] dan Al Huwaini[5] serta anak buahnya dari orang-orang Mesir sungguh telah aku jelaskan keadaan mereka di sebagian kitab-kitabku dan di berbagai macam pelajaran-pelajaranku maka mereka bukanlah salafiyyin sejak awal bahkan mereka Quthbiyyun hingga akarnya.

Dan adapun siapa yang memuji mereka di negri kami, merekomendasinya, memberikan berbagai udzur untuk mereka, maka mereka tidak ada hubungan denganku sejak dua tahun yang lalu baik dekat maupun jauh.

Adapun  permasalahan pemilu, itu menurutku rancangan iblis yang dipergunakan oleh pedagang-pedagang da’wah sebagai batu loncatan, dan aku tidak mendukungnya baik pangkal atau kulit arinya, dan telah aku jelaskan hal itu dengan rinci dan asal muasalnya dan dalam kitabku “Manahij Al Harokat Al Islamiyyah Al Mu’ashiroh Fi Taghyir ‘Ardh wa Naqd”.

Dan meskipun sedikitnya hubungan di antara kita, akan tetapi kami senantiasa menyebutmu dengan baik dan kami menganjurkan Thullab –setiap kami diminta pendapat- untuk berhubungan dengan Darul Hadits di Dammaj. Markiz ini telah dianggap sejak zaman Syaikh Muqbil : termasuk dari tempat-tempat Salafiyyah yang benar di alam ini, dan aku berharap untuk tetap seperti itu.

Barangkali risalah ini bisa sebagai pembuka kebaikan untuk saling menolong sesama kita dalam kebaikan dan taqwa dan untuk saling nasehat menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran, saling menyayangi, bertukar pendapat dalam perkara yang membantu kita semuanya untuk istiqomah di atas manhaj salafy yang benar, dan aku  mengharap Anda dan juga para masyayikh di Negri Yaman yang bahagia untuk mendapatkan setiap kebaikan dan Taufiq.

Aku memohon kepada Allah  subhanahu wata’ala untuk menyatukan kalimat kita di atas kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dan di atas pemahaman Shohabat yang mulia menyatukan lagi keretakan kita, mengkokohkan persatuan kita, menolong da’wah kita, memberkahi perjuangan kita dan menjaga kita dan kalian dari kejahatan orang-orang kafir, ahlul ahwa dan bid’ah serta tidak menjadikan untuk mereka jalan untuk menyerang kita.

إنه وليّ ذلك والقادرعليه

Saudaramu yang mencintai

Abu Usamah Al Hilaly

12/Robi’ul Awwal/1430

 

            Komentar ketujuh: surat di atas cukup untuk menunjukkan pernyataan rujuk beliau dari kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Adapun jika perkataan si Dul: “Asal dia datang ke Darul Hadits Dammaj, menyatakan sikap idemnya, mengeluarkan pujiannya, tak perlu lagi bagi dirinya untuk mengikuti syarat-syarat taubat yang sedemikian ketat sebagaimana syarat yang diajukan kepada da’i lokal Ja’far Umar Thalib …” (hal. 48).

Terkesan bahwasanya Syaikh Salim -hafizhahulloh- cukup datang ke Darul Hadits Dammaj, menyatakan sikap idemnya, mengeluarkan pujiannya, tak perlu lagi bagi dirinya untuk mengikuti syarat-syarat taubat.

Jika benar inilah yang dimaksudkan oleh si Dul, maka tentunya si Dul salah besar. Pernyataan rujuknya dari kesalahan di masa silam itu dikeluarkan kepada kami sekian bulan sebelum beliau datang ke sini. Rentang waktu di antara dua kejadian ini cukup untuk menilai apakah tokoh tadi konsekuen dengan pernyataan rujuknya ataukah tidak. Kan tidak harus setahun, Dul untuk membuktikan kejujuran rujuk itu.

            Ibnu Hajar -semoga Alloh merohmatinya- berkata,”Adapun hukum yang kedua –yaitu kapankah jelasnya tobat pelaku maksiat?- maka para ulama itu berselisih pendapat juga. Ada yang berkata,”dilihat kebersihannya selama setahun”. Ada yang berkata,”Enam bulan.” Ada yang bilang,”Limapuluh hari sebagaimana dalam kisah Ka’ab -bin Malik-.” Ada yang bilang,“Tiada batasan yang tertentu. Akan tetapi dia itu berdasarkan dengan ada faktor penyerta yang menunjukkan kejujuran pengakuan tobatnya. Akan tetapi yang demikian itu tidak cukup satu jam atau satu hari saja. Dan juga yang demikian itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kriminalitas dan pelakunya.” Ad Dawudy membantah orang yang membatasinya dengan lima puluh hari karena mengambil kisah Ka’b. Beliau berkata,”Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak membatasinya dengan lima puluh hari. Namun beliau menunda berbicara dengan mereka sampai Alloh mengidzinkannya.” Yaitu: Kisah itu merupakan kejadian khusus, maka tidak bisa dipakai untuk dalil umum.

An Nawawy berkata,”Adapun mubtadi’ dan orang yang membikin suatu dosa besar dan dia belum bertobat darinya, maka dia itu jangan disalami, dan jangan dijawab salamnya, sebagaimana pendapat sekelompok ulama. Al Bukhory mendukung pendapat tadi dengan dalil kisah Ka’b bin Malik.”

Pembatasan pendapat tadi dengan ucapan beliau “bagi orang yang belum bertobat” itu bagus. Akan tetapi pendalilannya dengan kisah Ka’b perlu diteliti lagi, karena Ka’b telah menyesali perbuatannya dan bertobat. Namun Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- menunda berbicara dengannya sampai Alloh menerima[6] tobatnya. Maka kasusnya adalah bahwasanya dia itu tidak diajak bicara sampai tobatnya itu diterima[7].

Bisa kita menjawab: bahwasanya mungkin saja kita mengetahui penerimaan tobat di dalam kisah Ka’b. Adapun bagi orang-orang setelah Ka’b, maka cukuplah dengan penampakan alamat penyesalan, berhenti dari kejahatannya, dan adanya tanda kejujuran tobatnya.”

(selesai penukilan dari “Fathul Bari”/17/hal. 485).

Apalagi, Dul, ternyata surat Asy Syaikh Salim Al Hilaliy tadi juga berisi berita bahwasanya beliau telah lama baro’ dari para penjahat yang dulu bersamanya, dan bahwasanya beliau telah menebarkan tulisan-tulisan yang berisi penjelasan kebatilan mereka dan kemudian mentahdzir umat terhadap mereka. Jika Cak Dul tak percaya silakan banyak-banyak chatting menelaah  tulisan-tulisan tadi, jangan jadi katak dalam tempurung.

Sekian bulan kemudian (tanggal 23-25 Jumadits Tsany 1430), datanglah  Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- ke Dammaj, dan ucapannya tidak melemah, tapi bahkan bertambah mantap. Bukan sekedar tahdzir terhadap Jam’iyyah Ihyaut Turots saja, tapi mentahdzir seluruh jam’iyyat, dan bahwasanya semuanya adalah hizbiyyah. Saat ditanya:

ما حال الجمعيات مطلقا ؟

“Bagaimana keadaan jam’iyyah-jam’iyyah secara mutlak?”

Maka beliau menjawab:

أما الجمعيات فمن معرفتي بواقعها وإن أسست على مبدأ التعاون فإن مسيرها إلى التحزب ، ما رأيت جمعية إلا وهي متحزبة ، وإن بدت في بدايتها بعيدة عن الحزبية ، أو أنها تحول أن تتملص عن الحزبية إلا أنيابها تنالها وتدخلها بين فكيها ، فالجمعيات كلها متحزبة ، إلا من رحم الله وقليل ما هي، حسب معرفتي، وحسب علمي، وحسب خبرتي في هذه الجمعيات

“Adapun Jam’iyyah maka yang aku tahu berdasarkan kenyataannya, walaupun didirikan pada mulanya atas dasar tolong-menolong, namun dalam perjalannya menuju hizbiyyah. Aku tidak melihat sebuah jam’iyyah pun kecuali dia itu hizbiyyah. Walaupun tampak pada awalnya jauh dari hizbiyyah atau dia telah berusaha untuk menyelamatkan diri dari hizbiyyah, namun taring-taring hizbiyyah telah mencengkramnya. Maka semua jam’iyyah adalah hizbiyyah, kecuali yang Alloh rahmati dan itu sangat sedikit. Ini sebatas pengetahuanku dan ilmuku serta pendalamanku tentang jam’iyyah-jam’iyyah tersebut.”

Lalu beliau ditanya:

الشيخ الكريم سليم الهلالي – سددكم الله – قلتم : لا تعرفون جمعية إلا وهي حزبية إلا من رحم الله وقليل ما هم ، ما مقصودكم ، ولمن هذا الاستثناء جزاكم الله خيرا .؟؟

“Syaikh yang mulia, Salim Al Hilaly –Semoga Alloh meluruskan Anda-, Anda mengatakan bahwa anda tidak mengetahui  jam’iyyah melainkan ada hizbiyyahnya, kecuali yang Alloh rahmati. Dan yang demikian itu yang jumlahnya sedikit. Apa maksud dari perkataan ini?? Dan untuk siapakah pengecualian ini?? Jazakumullohu Khoiron.”

Maka beliau menjawab:

يعني قصدي من هذا الاستثناء إن علم أحد أن هناك جمعية ليست حزبية فليخبرني حتى أغير موقفي من الجمعيات.

“Maksudku dengan pengecualian ini adalah: Jika ada seseorang mengetahui bahwa di sana ada sebuah jam’iyyah yang bukan hizbiyyah, maka beri tahukan kepadaku, supaya aku mengubah sikap terhadap jam’iyyah-jam’iyyah (tersebut).”

 

Komentar kedelapan: ( الحمد لله) Salafiyyun Dammaj telah matang –dengan seidzin Alloh dan karunia-Nya- dengan pertempuran menghadapi para mubtadi’ah dan berbagai tipe hizbiyyun, dan juga memperhatikan beraneka tipe watak manusia. Al Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- berkata:

كلما ازداد الداعي إلى الله ممارسة لأمر ازداد بصيرة به (“المخرج من الفتنة” /ط. الخامسة /ص 270).

“Setiap kali bertambah latihan seorang da’i ilalloh terhadap suatu perkara, bertambahlah bashiroh (ilmu yang dalam) dirinya terhadap perkara tersebut.” (“Al Makhroj Minal Fitnah”/hal. 170/cet. 5).

( الحمد لله) kami bisa melihat kejujuran beliau, juga keberanian beliau untuk menyelisihi kebanyakan ulama dalam masalah Jam’iyyat, juga keberanian beliau untuk mentahdzir tokoh-tokoh besar yang bisa saja anak buah mereka marah dan menyakiti beliau. Berdasarkan ini semua dan qorinah-qorinah yang lain maka kami merasa cukup untuk menerima rujuknya beliau. Lagi pula di tengah perjalanan nanti ada yang perlu diperbaiki tinggal saling tegur dan nasihat.

Adapun si Dul –pemegang panji “Katak dalam Tempurung Yang Jauh dari Kejantanan” maka tentu saja semua ini tidak cukup. Dengan apa si Dul merasa cukup sementara ilmunya terlalu dangkal, dan firasatnya terlalu lemah untuk memahami perkara seperti ini. Dia sendiri bilang:

“kami yang penuh kelemahan ini” (hal. 2)

“hamba yang penuh kelemahan ini” (hal. 45)

Tentu saja seluruh manusia itu punya banyak kelemahan, hanya saja kami sangat bersyukur atas bimbingan Alloh ta’ala sehingga bisa melihat seringai taring-taring serigala Mar’iyyah di balik tirai sutra. Beda dengan si Dul yang sok nulis tapi bebal dengan bayyinah dan hujjah karena sembunyi di tempurung yang terlalu tebal, ditambah lagi dengan tumpukan pupuk kandang yang dipakai para pekebun untuk menyuburkan kebun apel –semoga Alloh memberkahi dan membimbing mereka- tapi juga menimbun tempurung si Kodok Malang itu. Bagaimana kemilau surya hidayah masuk ke tempurung itu?

Di antara bukti kelemahan akal si Dul adalah dia menyamakan kasus Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan kasus Ja’far Umar Tholib sang politikus. Kamu sendiri sudah tahu -wahai pencaci yang zholim- bagaimana Ja’far merusak sendiri pernyataan tobatnya untuk kembali ke Salafiyyah dengan bekerja sama dengan Yusuf Utsman Ba’itsa dan kelompoknya. Seperti ini tak ada dalam kasus Asy Syaikh Salim.

Kamu sendiri telah paham paham kelihaian JUT dalam berpolitik dan kelicinan lidahnya dalam berdebat. Bagaimana kamu samakan kasusnya dengan  kasus Asy Syaikh Salim? Di tempurung yang mana kamu taruh akalmu?

Sungguh tepat ucapan Abu ‘Ali -rohimahullohu- :

رسائل المرءٍ في كتُبه أدَلُّ على مِقدار عقله، وأصْدَقُ شاهداً على غيبه لك

“Risalah-risalah seseorang itu di dalam kitab-kitabnya itu paling bisa menunjukkan kadar akal dirinya, dan menjadi saksi yang paling jujur terhadap keadaan dirinya yang tersembunyi darimu.” (“Al Bayan Wat Tabyin”/1/hal. 67).

Sudah cukup puaskah engkau dengan bab ini, wahai Abdul Ghofur Malang? Jika sudah, maka ( الحمد لله) dan maafkan ana atas ucapan yang kasar. Sekedar sedikit pembalasan dari ana, dengan banyak mengembalikan istilah-istilah kotormu. Tapi jika engkau belum juga merasa ngeh (pinjam istilahmu) dengan penjelasan ini semua, cari dulu akalmu yang barangkali ada di bawah pijakan sepatu merah jambumu, baru kita lihat bersama: kamu sepadan atau tidak untuk adu hujjah dengan para Salafiyyun yang jarang chatting.

 

Bab Dua: Tuduhan Pencurian kitab “Ash Shobr”

 

Adapun tuduhan Cak Dul yang kedua adalah bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- mencuri kitab Ash Shobr karya si fajir Yusuf Al Qordhowiy Al Ikhwaniy.

Cak Dul berkata: “…tidak sedang melakukan PENCURIAN hasil karya orang lain (yang kemudian di atasnamakan sebagai tulisannya sendiri) sebagaimana perbuatan orang licik dan tercela yang telah paduka sekalian beri jubah kemuliaan dan kehormatan (Salim bin ‘Ied Al Hilaly yang “MENCURI” (plagiat kitab Sabar,red) ilmu SABARnya Gembong Besar Ikhwanul Muslimin Yusuf Al Qaradhawi) hanya karena dia sejalan dengan paduka dan memuji dakwah paduka!! (hal. 25)

Cak Dul juga menyuruh bagi yang belum ngeh (istilah dia) untuk merujuk kepada Oleh-oleh Abu Karimah Askari dari ‘Umroh. Di antara isinya adalah penukilan ucapan Abdulloh Al Bukhoriy:

Salim Hilali diantaranya salah satunya yang mirip dengan ‘Ali Hasan, beberapa tahun sebelumnya beliau (‘Abdulloh Al-Bukhori-red) membaca satu kitab kecil yang berjudul “Ash-Shobru Bil Kitab wa Sunnah aw Fil Qur’an was Sunnah” sabar dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Buku ini dikarang oleh Yusuf Al-Qordhowi, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, yang saya kira bukan terlalu asing mendengarkan namanya, ini tulisan buku Yusuf Al-Qordhowi , kemudian beberapa tahun berikutnya ada keluar tulisan berjudul “Ash-Shobr fi Dhou’I Al-Kitab was Sunnah” bersabar dalam cahaya Al-Kitab was Sunnah, maka saya membaca buku ini. Ketika dibaca, kata beliau seakan-akan aku pernah membaca buku ini tapi bingung dimana ini, setelah dingat lama, bukunya Yusuf Al-Qordhowi yang beliau dapatkandi perpusyakaan beliau sendiri, setelah dicocokkan ternyata foto copy, apa yan disebutkan didalam kitab Ash-Shobr fi Dhou’ul Kitab was Sunnah disitu tertulis karya Salim Al-Hilali, ternyata itu adalah foto copy dari buku Yusuf Al-Qordhowi, maka kata beliau bukunya Salim Al-Hilali saya masukkan ditengah-tengah buku Yusuf Al-Qordhowi, karena itu adalah induknya dan itu berjalan sekian lamabertahun-tahun lamanya kita biarkan seperti itu maka setelah sekian lama maka karena bukunya Salim Hilali sudah balik, maka dipisahkan dari Ibunya “. [menit +34]

Selesai penukilan.

 

            Tanggapan pertama: Kondisimu cukup mengkhawatirkan wahai katak dalam tempurung yang panjang lidah. Buku kamu setebal 51 halaman sama sekali tidak berisi bayyinah tentang kebenaran tuduhan tadi. padahal Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لو يعطى الناس بدعواهم لادعى رجال أموال قوم ودماءهم ، ولكن البينة على المدعي ، واليمين على من أنكر

“Seandainya manusia diberikan sesuai dengan dakwaan mereka pastilah sekelompok orang akan mengaku-aku berhak atas darah orang dan harta mereka. Akan tetapi orang yang menuduh wajib untuk memberikan bayyinah. Orang yang mengingkari wajib bersumpah.” (HSR. Al Baihaqiy (3/hal. 312) dalam “As Sunan As Sughro”. Sebagiannya ada di “Ash Shohihain”).

Al Imam An Nawawiy -rohimahullohu- berkata:

وهذا الحديث قاعدة كبيرة من قواعد أحكام الشرع ، ففيه أنه لا يقبل قول الإنسان فيما يدعيه بمجرد دعواه ، بل يحتاج إلى بينة أو تصديق المدعى عليه ، فإن طلب يمين المدعى عليه فله ذلك . وقد بين صلى الله عليه وسلم الحكمة في كونه لا يعطى بمجرد دعواه ، لأنه لو كان أعطي بمجردها لادعى قوم دماء قوم وأموالهم واستبيح ، ولا يمكن المدعى عليه أن يصون ماله ودمه ، وأما المدعي فيمكنه صيانتهما بالبينة .

“Dan hadits ini adalah suatu kaidah yang besar dari kaidah-kaidah hukum-hukum syari’at. Di dalamnya ada penjelasan bahwasanya ucapan seseorang itu tidak diterima tuduhannya dengan semata-mata dakwaan. Bahkan wajib untuk mendatangkan bayyinah atau pembenaran dari si tertuduh. Boleh juga bagi sang penuduh untuk menuntut sumpah dari si tertuduh.” (“Syarh Shohih Muslim”/6/hal. 136).

Maka amatlah disayangkan: Cak Dul Ghofur dengan bangganya menampilkan tulisan setebal 51 halaman dan disebarnya di berbagai penjuru menuduh Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- tapi tanpa membawakan bayyinah. Orang yang berakal mestinya paham bahwasanya perbuatan macam ini bisa jadi akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Bumerang pertama: ketahuan rendahnya kadar IQ Cak Dul sampai-sampai tidak mempertimbangkan adab-adab syari’at dalam bertindak. Yahya bin Kholid -rohimahullohu- berkata:

ثلاثةُ أشياء تدلُّ على عُقول أرْبابها: الكتاب يدُل على عقل كاتبه، والرسولُ يَدُل على عقل مُرْسِله، والهديَّةُ تدل على عقل مُهديها.

“Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah  menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170).

Bumerang kedua: Al Imam Ibnu ‘Asakir -rahimahulloh- berkata:

واعلم يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة؛ لأن الوقيعة فيهم بما هم منه براء أمره عظيم والتناول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم والاختلاف على من اختاره الله منهم لنعش العلم خلق ذميم… اهـ

“Dan ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh memberi kami dan engkau taufiq kepada perkara yang diridhai-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang yang takut kepada-Nya dan bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benar taqwa- bahwasanya daging ulama itu beracun. Dan sudah diketahui bersama kebiasaan Alloh untuk merobek tabir penutup orang-orang yang merendahkan mereka. Hal itu dikarenakan celaan terhadap para ulama dengan suatu hal yang mereka itu berlepas diri darinya itu perkaranya besar sekali. Dan mengusik kehormatan mereka dengan kedustaan dan berita bohong itu adalah padang yang membahayakan. Dan menyelisihi orang yang telah dipilih oleh Alloh untuk mengangkat ilmu adalah merupakan akhlaq yang tercela…dst (“Tabyiin Kadzibil Muftari”/ Ibnu ‘Asakir / 29).

Bumerang ketiga: dosa riba terbesar: panjang lisan (menuduh atau mencaci) terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran.

Bumerang keempat: masuk ke rodghotul khobal (perasan penduduk neraka)

Bumerang kelima:   orang yang bangkrut: datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka.

Waduh Cak, bumerang-bumerang sebanyak ini berseliweran mengancam kepalamu. Seandainya kamu mau bertaqwa dan tidak menyombongkan diri terhadap nasihatku, dan mau merundukkan kepala kepada Alloh, ana amat berharap kamu selamat. Tapi ternyata ana dapati kamu memang bersikeras untuk mendongakkan kepala dengan sombong. Ungkapan Arob:

أنف في السماء واست في الماء

 “Hidungnya ada di langit, sementara pantatnya ada di air.”

Al Maidaniy -rohimahullohu- berkata:

يضرب للمتكبر الصغير الشأن.

“Permisalan ini diberikan buat si hina yang sombong.” (“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 7).

Waduh Cak, Cak. Ini cocok sekali buat katak macam kamu. Cepat Cak, masuk dalam tempurung, keburu dihantam bumerang sendiri.

O ya mana si Abu Mahfut? Suruh bikin lawak: “Bumerang Itu Kini Telah Membikin Benjol Si Aborigin.”

            Tanggapan kedua: kamu mengambil berita dari Askariy, dan Askariy ambil berita dari Abdulloh Al Bukhoriy yang mengatakan bahwasanya buku Asy Syaikh Salim Al Hilaliy adalah fotokopi dari buku “Ash Shobr” punya si Qordhowiy. Maka ana tuntut kalian untuk menunjukkan bayyinah bahwasanya buku Asy Syaikh Salim Al Hilaliy adalah fotokopi dari buku “Ash Shobr” punya si Qordhowiy. Halaman berapa saja? Coba tunjukkan gambarnya jika kalian masih punya sisa kejujuran dan kejantanan. Jangan hanya bisa omong dan main tuduh. Berilah kami bayyinah.

Tanggapan ketiga: sekalipun Cak  “kodok” Dul sudah masuk tempurung, ana akan tetap memburunya dan menyumpal mulutnya dengan sepatu merah jambunya. Buka mulutmu, Cak:

            Setelah kalian menyerahkan bukti pada kami tentang kesamaan kedua buku tersebut, maka tunjukkanlah bayyinah lengkap dengan tanggal penulisan kedua buku tersebut yang menunjukkan bahwasanya buku Asy Syaikh Salim Al Hilaliy memang dikarang setelah buku si Qordhowiy.

            Tanggapan keempat: carilah tempurung yang lebih dalam, Cak karena sepatu merah jambumu masih terus mengincar kepalamu.

            Jika memang kalian bisa membuktikan bahwasanya buku Asy Syaikh Salim Al Hilaliy memang dikarang setelah buku si Qordhowiy, mana bukti bahwasanya beliau memang mencurinya dari buku si Qordhowiy?

Adapun sekedar adanya kemiripan tulisan dan terakhirnya tanggal pembuatan Asy Syaikh Salim, maka pertanyaan dariku adalah sebagai berikut: manakah dalil dari Al Qur’an yang menerangkan bahwasanya data semacam itu merupakan bayyinah yang cukup untuk menuduh? Kalian tak bisa jawab?

Sekarang tunjukkan dalil dari As Sunnah yang menjelaskan bahwasanya data macam tadi cukup sebagai bayyinah dalam menuduh. Kalian tak bisa tunjukkan dalil?

Kini berikanlah pada kami penjelasan dari para Shahabat atau tabi’in atau atba’ut tabi’in yang menyatakan bahwasanya data macam tadi cukup untuk menggelari si fulan sebagai pencuri atau telah mencuri. Tak mampu menunjukkan?

Jika maka kalian tak sanggup, hendaknya Cak Dul membacakan tulisannya sendiri pada dia dan teman-temannya: “Sesungguhnya hamba yang penuh kelemahan ini –Allahummaghfirli- hanya ingin mengetuk rasa malu paduka dan orang-orang yang sebarisan dengan paduka” (hal. 45)

Ucapkanlah juga omonganmu sendiri: “Kalaulah tidak memiliki rasa malu di depan ummat, tidakkah paduka sekalian masih memiliki sisa-sisa rasa malu terhadap diri sendiri” (hal. 45).

Bagus juga kalian muroja’ah lagi ucapan si Dul: “Masih pula memiliki muka menampakkan diri dan bermegah-megah kepada ummat dengan berhiaskan nama Asy Syaikh Rabi’ hafizhahullah untuk melariskan dagangan fitnah kalian?” (hal. 45)

Catatan: bukannya ana hendak memotong-motong ucapanmu. Hanya saja tulisan kamu itu kamu jadikan hidangan yang kamu sajikan pada kami. Dan ana senang untuk mengembalikan sebagiannya padamu agar kamu juga turut menikmatinya.

Tanggapan kelima: dengan jawaban-jawaban ana di atas, mestinya si Dul masih punya malu untuk menjuluki omongan Abdullah Al Bukhari sebagai “faidah ilmiyah” (hal. 49).

Dan tidak pantas baginya untuk mengelu-elukan tuduhan lembek kayak tadi. Maka silakan sekarang si Dul  mengeluh-eluhkannya (pinjam istilahmu hal. 49).

Coba perhatikan baik-baik: sekian banyak omonganmu jadi bumerang terhadap kalian sendiri. Bahkan lafazh “Bumerang” (istilahmu di hal. 41) benar-benar jadi bumerang buat dakwah kalian. Aborigin yang malang.

            Tanggapan keenam: Misalkan kita menerima bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy memang membaca buku Qordhowiy tadi. Lalu dia meringkasnya, dan merapikannya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Maka barangkali beliau punya imam yang berpendapat bahwasanya yang seperti itu tidak mengapa untuk dikatakan bahwasanya buku baru ini adalah jerih payah Salim Al Hilaliy.

Kamu tidak percaya bahwasanya beliau punya imam dalam hal ini? Jangan kalian jadi katak dalam tempurung, Cak. Coba baca “Al Badruth Tholi’” karya Al Imam Asy Syaukaniy -rohimahullohu- pada bagian tarjumah As Suyuthiy -rohimahullohu-. Setelah menyebutkan tuduhan yang bertubi-tubi dari Al Imam As Sakhowiy -rohimahullohu- terhadap As Suyuthiy -rohimahullohu- bahwasanya dirinya banyak mencuri karya para imam sebelumnya, Al Imam Asy Syaukaniy -rohimahullohu- membelanya:

فان هذا مازال دأب المصنفين يأتى الاخر فيأخذ من كتب من قبله فيختصر أو يوضح او يعترض أو نحو ذلك من الأغراض التى هى الباعثة على التصنيف ومن ذاك الذى يعمد الى فن قد صنف فيه من قبله فلا يأخذ من كلامه

“Ini memang menjadi kebiasaan para penulis, yaitu: penulis yang lain datang dan mengambil faidah dari kitab-kitab penulis yang sebelumnya lalu diringkas atau diperjelas atau ditentang dan sebagainya sesuai dengan tujuan-tujuan yang mendorongnya untuk menulis tersebut. Dan siapakah orang yang mengambil suatu bidang ilmu yang di situ orang-orang sebelumnya telah menulis ilmu di bidang tadi lalu orang yang berikutnya tidak mengambil ucapannya?” (“Al Badruth Tholi’”/1/hal. 316).

            Coba Cak, kurangilah jam chattingmu. Buka “Nailul Author”, dan bandingkanlah dengan “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar. Apa kesimpulanmu?

Bukalah buku-buku fiqh Shiddiq Hasan Khon, dan bandingkanlah dengan buku-buku fiqh Asy Syaukaniy. Apa kesimpulanmu?

Jika benar bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy memang membaca buku Qordhowiy tadi, lalu dia meringkasnya, merapikannya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada, lalu menisbatkan buku yang baru ini kepada dirinya, maka barangkali Asy Syaikh Salim mengikuti madzhab Al Imam Asy Syaukaniy -rohimahullohu- atau yang sejalan dengan beliau.

Tentu saja ana pribadi ingin setiap orang yang mengambil manfaat dari tulisan orang lain dia menisbatkan faidah tadi pada pemiliknya, dan pandai bersyukur dan menghargai jerih payah pemiliknya. Yakni: sebaiknya dia menyebutkan darimanakah dia mengambil faidah tadi?

Tapi berhubung madzhab Asy Syaikh Salim memang ada imamnya mestinya kalian menghormatinya dan tidak menyalahkannya, sebagaimana kaidah orang-orang Mar’iyyun sendiri: “Kita jangan saling mengkritik, karena masing-masing pihak punya ulama juga.” Sementara Asy Syaikh Salim bukan cuma punya ulama, bahkan imam!

Wahai para pengekor Mar’iyyun, jangan cuma pandai bikin kaidah untuk melindungi kebatilan kelompok sendiri. Hendaknya kalian juga adil dalam menerapkannya.

            Tanggapan ketujuh: kalo kalian belum ngeh juga dengan penjelasan di atas, maka sekarang tiba waktunya untuk memperhatikan jawaban langsung dari Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh-, ana nukilkan dari “Ar Roddul Matsaliy Haulas Sariqotil ‘Ilmiyyah Wa Hukmusy Syar’i fiha”:

سئل فضيلة الشيخ سليم بن عيد الهلالي –حفظه الله- في لقاءٍ مفتوح يوم عقد معه في 1/ذو الحجة/1426هـ – الموافق 1/1/2006:

“Fadhilatusy  Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- ditanya dalam pertemuan terbuka pada suatu hari yang telah disepakati dengan beliau pada tanggal 1 Dzul Hijjah 1426 H (bertepatan dengan tanggal 1/1/2006 M):

قال السائل: سؤالي فضيلة الشيخ؛ لا يخفى على فضيلتكم أنّ الواحد حين يكون في أثناء المطالعة والقراءة ربما يرسخ في ذهنه بعض الأفكار، وهو أثناء التأليف قد ينسى عزو هذه الأفكار لأصحابها، فيُنْسَب بذلك إلى السرقة العلميّة الموصوفة أو غير الموصوفة، فهل لكم -حفظكم الله تعالى- بما لكم من باعٍ في هذا الباب، وبما فتح الله -تعالى- عليكم فيه -أقصد باب التأليف- فتزيلوا هذه الشُّبهة، خاصَّةً أنه صرنا نسمع عن فضلاء علمائنا أنهم سُرَّاق، ولصوص، ونحو هذه الأمور، مسائل لا نظنها فيهم، ولا نزكي على الله أحداً، فأفيدونا نفع الله –تعالى- بكم، وحياكم الله جميعاً ؟

Ucapan si penanya: pertanyaan saya wahai  Fadhilatusy  Syaikh: tidaklah tersembunyi dari pengetahuan Anda bahwasanya seseorang itu di tengah-tengah penelaahan dan pembacaan kitab-kitab terkadang akan mengakar di benaknya sebagian pemikiran. Dan dia tadi di tengah-tengah proses menyusun suatu kitab terkadang lupa untuk menisbatkan pemikiran tadi kepada pemilik asal dari pemikiran tadi. Maka akibatnya adalah bahwasanya orang ini akhirnya dinisbatkan kepada pencurian ilmu yang telah disebutkan ataupun tidak disebutkan. Barangkali Anda –hafizhokumullohu ta’ala- dengan luasnya pengetahuan Anda dalam bab ini dan dengan ilmu yang Alloh karuniakan pada Anda dalam bab ini –yang saya maksudkan adalah bab tulis-menulis- berkenan untuk menghilangkan syubuhat ini, terutama dikarenakan kami telah mendengar tuduhan terhadap para ulama kita bahwasanya mereka itu adalah pencuri, maling dan semisalnya, yang mana yang demikian itu merupakan masalah-masalah yang tidak kami duga ada pada mereka. Dan kami tidak bermaksud mensucikan seseorang atas nama Alloh. Berilah kami faidah, semoga Alloh ta’ala memberikan umat manfaat dengan keberadaan Anda. Semoga Alloh memberikan penghormatan pada Anda semuanya.

فأجاب فضيلة الشيخ سليم بن عيد الهلالي – حفظه الله – قائلاً :

Maka  Fadhilatusy  Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy -hafizhohulloh- menjawab:

الحمد لله، والصَّلاة والسَّلام على رسول الله، وآله وصحبه ومن والاه، واتَّبع هُداه، وبعد: فجزى الله أخانا أبا المنذر خيراً على التنبيه على هذه المسألة، وهذه المسألة – أعني: الاتهام بالسَّرقات العلميّة -، من الدعاوى العريضة التي اتَّخذها الحزبيُّون لمحاربة المنهج السلفي، ومحاربة دعاة المنهج السلفي، وهم يخرجون بين الفينة والفينة بهذه الدعاوى، فنقول:

(setelah menyebutkan dzikir pembuka beliau berkata) semoga Alloh memberikan balasan kebaikan buat saudara kita Abul Mundzir atas peringatannya terhadap masalah ini. Dan permasalahan ini -yaitu: tuduhan pencurian ilmiyah- merupakan salah satu tuduhan yang sangatlah luas yang dipergunakan oleh para hizbiyyun untuk memerangi manhaj Salafy, dan memerangi para da’i manhaj Salafiy. Mereka dari waktu ke waktu keluar dengan membawa tuduhan-tuduhan ini. Maka kami katakan:

أولاً: من باب الإلزام وليس من باب التوصيف له لأنّ أفضل ما ترد به على خصمك هو أن تُلزمه بِحجَّتِهِ، وهذا ليس من باب الضعف في إقامة الحجّة على ما نقول أو ما سنسرد، وإنّما هو من باب إلزام الخصم بحجَّته إنْ كان يحتج بها معتقداً صحتها فلازمها لازمه،

Pertama: [jawaban kami yang pertama ini adalah] dalam bab ilzam (mengharuskan lawan untuk menaati hujjahnya sendiri) dan bukan dalam bab taushif (penyifatan) karena senjata yang paling utama dalam membantah lawanmu adalah: engkau  mengharuskan lawan untuk menaati hujjahnya sendiri. Dan ini bukanlah menunjukkan lemahnya kami dalam menegakkan hujjah terhadap apa yang kami katakan atau kami sebutkan. Akan tetapi ini hanyalah dalam bab  mengharuskan lawan untuk menaati hujjahnya sendiri jika dia memang meyakini kebenarannya. Maka konsekuensi dari hujjah tadi merupakan konsekuensi dari keyakinannya tadi.

فنقول:  إن كنتم تعتقدون أنّ ما ذكرتم، وأنّ ما أشرتم إليه من باب السّرقات العلميّة فهذا سينطبق علينا ابتداءً؛ لأننا المشار إلينا، وسينطبق على العلماء من قبلنا، وسينطبق على مشايخكم ورؤوس دعوَتِكُم، فإن أقررتم بحثنا المسألة، وإن فرَّقتم أين دليل التفريق،

Maka kami katakan: jika memang kalian meyakini apa yang kalian sebutkan itu, dan bahwasanya perkara yang kalian isyaratkan itu masuk dalam bab pencurian ilmiyah, maka yang demikian itu akan cocok untuk diterapkan pertama kali kepada kami, karena kami memang yang ditunjuk dengan tuduhan tadi. Dan tuduhan tadi juga akan cocok untuk diterapkan kepada para ulama sebelum kami. Dan juga akan cocok untuk diterapkan kepada masyayikh kalian dan pimpinan dakwah kalian. Jika kalian mengakui itu, maka kita akan membahas masalah ini. Tapi jika kalian membedakan permasalahannya, maka manakah dalil adanya perbedaan?

فإن قالوا: أقررنا، نأتي لهم بعشرات الأمثلة، بل بمئات الأمثلة ابتداءً من عصر الصحابة إلى واقعنا المعاصر، سواءً في توارد الأفكار، أو في تشابه العبارات، أو في عناوين الكُتب، أو فيما شابه ذلك، فأنا أذكر مثالاً لإخوتنا طلبة العلم، أقول – مثلاً – : خطبة الإمام أحمد لكتابه «الرد على الجهميّة» هي خطبة لأمير المؤمنين علي بن أبي طالب كما أخرجها الوضّاح في «البدع والنهي عنها»، فأخذها الإمام أحمد وجعلها ديباجة كتابه ولم يرجعها، حرفٌ بحرف، وجملةً بجملة، وكلمة بكلمة، وأخذها من المعاصرين الشيخ بكر أبو زيد في كتابه «حلية طالب العلم» أو «التعالم» لا أذكر الآن أيُّهما،

Jika mereka bilang: (Kami mengakui), maka kita akan mendatangkan buat mereka belasan dan bahkan ratusan contoh yang dimulai dari zaman Shohabat sampai ke masa kita sekarang ini, sama saja: dalam bentuk kecocokan pemikiran ataukah kemiripan gaya bahasa, ataupun dalam judul kitab, atau yang seperti itu. Aku akan menyebutkan satu contoh buat saudara-saudara kita para penuntut ilmu. Aku katakan misalkan: khothbah Al Imam Ahmad dalam kitab beliau “Ar Roddu ‘alal Jahmiyyah” dia itu adalah khothbah dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Tholib sebagaimana ditakhrij oleh Al Wadhdhoh –yakni: Ibnu Wadhdhoh- dalam “Al Bida’ wan Nahyu ‘anha”. Maka Al Imam Ahmad mengambilnya dan menjadikannya sebagai permulaan kitab beliau, tanpa menisbatkannya kepada ‘Ali. Benar-benar sama persis hurufnya, katanya, dan kalimatnya. Lalu dari kalangan orang sekarang yang mengambilnya adalah Asy Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya “Hilyah Tholibil ‘Ilm” atau “At Ta’alum”, aku tidak ingat.

فماذا تقولون؟! ولو علوتم طبقة وطبقات فانظر إلى الأمثلة الكثيرة بين كتب التفسير، وكتب التراجم، وكتب الطب، وكتب شروح الحديث، بس تدبروا «شروح صحيح مسلم» تجدوا أنّ النووي ينقل عن القاضي عياض، وأنّ الأُبّي ينقل عن القاضي عياض، وأنّ. . .، وأنّ . . .، وأنّ . . .، إلى غير ذلك، فهل هؤلاء كلُّهم سُرَّاق في نظركم، فإن كان هؤلاء عشرات مئات العلماء، كذلك فنحن في زمرتهم.

Maka apa yang akan kalian katakan!? Jika kalian naik lagi  satu tingkat dan berbagai tingkatan, maka perhatikanlah contoh-contoh yang banyak di antara kitab-kitab tafsir, kitab-kitab biografi, kitab-kitab pengobatan, kitab-kitab syaroh hadits. Cukuplah kalian merenungkan “Syaroh Shohih Muslim”, kalian akan mendapati An Nawawiy menukil dari Al Qodhi ‘Iyadh, dan bahwasanya Al Ubbiy juga menukil dari Al Qodhi ‘Iyadh, dan …, dan …, dan …, dan seterusnya. Apakah mereka semuanya itu pencuri menurut pandangan kalian? Jika mereka itu belasan dan ratusan ulama seperti itu, maka kami juga masuk ke dalam barisan kalian.

ثمّ ننتقل إلى شيوخهم، وإلى علمائهم، الذين يتبجَّحون بهم، فنقول: هذا  (سيِّدُكم)، الذي احمرَّت أنوفكم غضباً له، وبديتم تهذون بما يؤذي انتصاراً له، قارنوا بين كتابه «الظلال»، وتفسير ابن كثير «تفسير القرآن العظيم» تجدوه نقل مئات الأسطر، ومئات العبارات، بل أحياناً يتصرّف في التخريج فيقع على أمِّ رأسه؛ لأنه لا يُحسن تخريج الحديث كلُّها من كتاب «تفسير ابن كثير»، وقد أشار إلى هذا شيخهم ومُنظِّرهُم يوسف القرضاوي في موقعه، وقال: إنّ سيّد قطب تبطَّن كتاب تفسير ابن كثير، ونقول قد تبطّن –أيضاً- كتب المودودي، وتبطَّنَ –أيضاً- كتب ابن حزم وغيرها من هذه الكتب، فهل هذا –أيضاً- سرقة أم لا؟! فإن لووا رؤوسهم فقالوا: لا، قلنا: إذاً دعوتكم ردّت عليكم بمنطقكم وبدليلكم، وهذا الدليل يُسمّى في (علم الجدل) يا إخواني (القلب)؛ أن تقلب حجّة خصمك عليه،

Sekarang kita pindah ke syaikh mereka dan ulama mereka yang mereka banggakan. Kita katakan: “Ini Sayyid kalian, yang hidung-hidung kalian memerah karena marah demi membela dirinya. Kemudian kalian tampak mengigau dengan perkara yang menyakitkan dalam rangka menolong dirinya. Bandingkanlah antara kitab Sayyid Quthb “Azh Zhilal” dan tafsir Ibnu Katsir “Tafsirul Qur’anil ‘Azhim,” kalian akan dapati dia itu menukil ratusan baris dan ratusan ungkapan. Bahkan terkadang dia melakukan perubahan dalam takhrij hadits yang menyebabkannya tersungkur sendiri, karena memang dia itu tidak pandai takhrij hadits. Semuanya dari  tafsir Ibnu Katsir. Syaikh mereka dan komandan mereka sendiri: Yusuf Al Qordhowiy di situsnya telah mengisyaratkan yang demikian ini seraya berkata: “Sesungguhnya Sayyid Quthb menjelajahi kitab tafsir Ibnu Katsir.” Dan kami katakan: Dia juga menjelajahi kitab-kitabnya Al Maududiy, dan juga menjelajahi kitab-kitab Ibnu Hazm, dan kitab-kitab yang lainnya. Ini namanya mencuri juga ataukah tidak !? jika mereka menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak” berarti tuduhan kalian terbantahkan dengan ucapan dan dalil kalian sendiri. Dalil seperti ini dalam ilmu perdebatan dinamakan “Pembalikan hujjah”, engkau membalikkan hujjah lawan debatmu kepada diri mereka sendiri.

كما قال الله –تبارك وتعالى-: {فتمنَّوا الموتَ إن كنتم صَادِقين}، فدعاهم إلى أن يتمنّوا الموت إن كانوا صادقين، وهم غير صادقين فلم يتمنّوه، ونحن نقول: إن كنتم صادقين فأقرُّوا، فإنّا (كلّنا في الهمّ شرقُ) وأنتم كذلك لم تنجوا من هذا، وأن أقول: هذا الأمر لا ينجوا منه عالم، قلّت نسبة ذلك أم كثرت، لذلك لا يجوز أن ننسب هذا إلى السرقات العلميّة، ولا يجوز أن نتكلّم في أعراض العلماء،

Sebagaimana Alloh tabaroka wata’ala berfirman (yang artinya:) “Maka angankanlah kematian jika kalian itu jujur dalam ucapan kalian.” Alloh ta’ala menyeru mereka untuk mengangankan kematian jika mereka memang jujur ucapannya (bahwasanya Jannah itu hanya khusus untuk mereka saja). Dan mereka itu tidak jujur, makanya mereka tidak mau mengangankan kematian tadi. Dan kami berkata: jika kalian memang jujur maka akuilah. Aku katakan: kita semua terjemur di dalam kegundahan. Kalian sendiri juga tidak selamat dari ini. Dan kukatakan: tiada seorang alimpun yang selamat dari perkara ini, baik penisbatan tadi sedikit ataupun banyak. Makanya kita tidak boleh menisbatan perbuatan tadi kepada Pencurian Ilmiyah. Dan kita tidak boleh membicarakan kehormatan ulama.

وأحدهم وهو (هدّام السنّة) –كما يسمّيه شيخنا الإمام الألباني- زَعَمَ ونَسَبَ السّرقة العلميّة إلى الإمام مسلم، وإلى ابن القيّم، ولذلك لا يستحي أو يتقي الله في أعراض العلماء، وأنت إذا رأيت كتبه رأيتها كلّها سرقات، إمّا من شيخه شعيب الأرناؤوط، أو من شيخنا الإمام الألباني، أو ما شابه ذلك، والحقيقة أنا أشرت إلى هذا الأمر في كتابٍ لي اسمه «الكوكب الدر المتلالي في الرد على الشانئ القالي»، وهو مطبوع قديماً، وبيّنت مناهج العلماء في التصنيف والتأليف، بعضهم عاب علينا أن نجمّع كلاماً للعلماء ونقول: تأليف فلان، فردّدت عليهم بقول البخاري في «صحيحه» (باب: تأليف أبي بكر للقرآن) يعني: الجمع،

Salah seorang dari mereka, Haddamus Sunnah” (peruntuh sunnah) -demikianlah Syaikh kita Al Imam Al Albaniy menamai orang tadi- menuduh dan menisbatkan pencurian ilmiyah kepada Al Imam Muslim, juga pada Ibnul Qoyyim. Karena itulah dia tidak malu dan tidak bertaqwa kepada Alloh dalam perkara kehormatan ulama. Dan engkau jika melihat kitab-kitabnya engkau akan melihat semuanya itu hasil curian. Mungkin dari syaikhnya sendiri Syu’aib Al Arnauth, atau dari  Syaikh kita Al Imam Al Albaniy, atau yang seperti itu. Dan sebenarnya aku mengisyaratkan perkara ini di dalam kitabku yang bernama: “Al Kaukabud Durril Mutala’li fir Roddi ‘alasy Syanil Qoli”. Kitab itu telah dicetak sejak lama. (Di situ) aku menjelaskan manhaj para ulama dalam menyusun karangan. Sebagian dari mereka mencela kita karena kita mengumpulkan ucapan ulama lalu kita berkata: (Buku ini) ta’lif si fulan (yaitu: diri kita sendiri). Maka aku bantah si pencela dengan memakai ucapan Al Bukhoriy di dalam “Shohih” beliau: “Bab ta’lif Abu Bakr terhadap Al Qur’an.” Yaitu: pengumpulan Al Qur’an.

فهم والله يا أخي لا يفقهون أساليب العلماء، ولا يعرفون طرائق الحكماء، ولم يشتغلوا بالتصنيف، ولم يشتغلوا بالتأليف، إنّما اشتغلوا بتفريق الأمّة، وتشتيت شملها انتصاراً لحزبيَّتهم، وانتصاراً لمشايخهم عندما رأوهم ينحرفون عن الجادّة، ورأوا أنّ المطارق السلفيّة تنال منهم، وتبيّن عوارهم، وتشرّدهم، وتطير بهم كلّ مطار، فلم يبقَ لهم في سوق الدعوة إلى الله -تبارك وتعالى- مقام، فنسأل الله -سبحانه وتعالى- أن يهدينا، وأن يعرِّفنا، وأن يعلِّمنا، وأن يَرْزُقنا كلمة التقوى والإنصاف، والله ولي ذلك والقادر عليه .

Demi Alloh, mereka itu wahai saudaraku, tidak paham metode para ulama, dan tidak tahu jalan orang-orang yang bijaksana. Mereka itu tidak sibuk menyusun buku, ataupun mengarang kitab. Mereka tadi hanyalah sibuk memecah-belah umat dan mencerai-beraikan barisan umat dalam rangka menolong masyayikh mereka ketika mereka melihat masyayikh mereka menyimpang dari jalur yang lurus, dan mereka melihat bahwasanya palu-palu Salafiyyah menyentuh mereka, dan menjelaskan aib-aib mereka, mengusir mereka, menyebarluaskan hakikat mereka ke segala penjuru. Maka tidaklah tersisa pasaran dakwah ilalloh –tabaroka wata’ala- tempat untuk mereka. Maka kita mohon pada Alloh subhanahu wata’ala agar membimbing kita, mengajari kita, mengenalkan kita, dan memberi kita kalimat taqwa, dan keadilan. Alloh sajalah yang mengurusinya dan yang mampu melakukannya.”

Selesai penukilan.

Tanggapan kedelapan: kalo kamu dan Askari belum juga ngeh dengan penjelasan di atas, maka bacalah secara total kitab “Al Kaukabud Durril Mutala’li fir Roddi ‘alasy Syanil Qoli.”

Bacalah kitab tadi dengan penuh seksama dan dalam tempo yang setenang-tenangnya (pinjam istilah si Dul di hal. 49), sampai kalian merasa ngeh hingga terengah-engah.

Para ikhwan yang tidak ikut-ikutan menuduh Asy Syaikh Salim Al Hilaliy, tidak mengapa bagi mereka jika belum pernah membaca kitab ini. Tapi bagi Cak Dul dan para majikannya (pinjam istilah si Dul di hal. 32) ana katakan pada mereka: kitab tadi dicetak sebelum lima tahun yang lalu. Tapi kalian itu ketinggalan zaman, kayak katak dalam tempurung (istilah dari si Dul). mestinya sebelum teriak-teriak kalian itu cari info secukupnya dulu, biar tidak bikin malu sendiri. Bacalah buku tadi, (إنشاء الله) akan jelas bagi kalian dengan tuntas duduk perkara kasus ini dan yang semisalnya.

Tanggapan kesembilan: sebenarnya sekarang ini jam untuk memperkuat ilmu. Tapi si “katak” Dul bikin ana sibuk. Ya sudah, sembunyi yang baik, Cak. Ana masih semangat berburu kodok.

Tuduhan bahwasanya sebagian ulama Ahlussunnah mencuri karya tulis, merupakan senjata lama sekali dari Ikhwanul Muslimin. Dan sudah sempat terkubur dari telinga Salafiyyun. Tapi ternyata si Dul dan para majikannya masih suka mengais-ngais sampah basi karena kehabisan konsumsi segar bergizi. Kasihan.

Kalian telah menempuh metode para hizbiyyin dalam mengambil bantuan dari senjata-senjata para hizbiyyin pendahulu, untuk “memukul” Ahlussunnah. Seakan-akan aku teringat sebuah kisah bahwasanya penduduk Dammaj telah selesai memakamkan jenazah di pekuburan mereka. Ketika mereka pulang datanglah seekor binatang menggalinya lagi lalu mengambil mayat tadi dan memakannya.

Tanggapan kesepuluh: faktor begini saja sudah langsung kamu jadikan bahan untuk mencaci-maki habis-habisan. Sementara kesalahan manhajiyyah yang sedemikian banyak dari Mar’iyyun kamu bela habis-habisan. Dasar hizbiy fanatik, menilainya dengan hawa nafsu dan kelompok. Habis itu masih main pantun lagi. Yang cocok untuk kamu adalah ungkapan orang Arab:

نظروا بعين عداوة لو أنها    عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا

“Mereka memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan pastilah mereka akan menganggapnya bagus dan tidak menganggap buruk.” (“Miftah Daris Sa’adah”/hal. 176).

Tambah lagi:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Dan mata keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian menampakkan berbagai kejelekan.” (“Al Aghoniy”/3/hal. 369).

            Tanggapan kesebelas: seluruh uraian di atas menunjukkan kedangkalan ilmu si katak dalam tempurung. Bagaimana tidak, sementara bekalnya hanyalah sekedar kecemburuan hati. Dia mengaku: “Tidaklah tuts di keyboard ini diketikkan untuk menyusun untaian kata demi kata kecuali dilandasi kecemburuan yang bergejolak dan membuncah dari dalam dada” (hal. 2).

 

Nasib Katak Sombong

Yang Keras Kepala

 

Si Abdul Ghofur da-

ri Malang bergaya

Bodoh, modalnya ke-

cemburuan saja.

Nasihat yang lembut

tidak dianggapnya.

Musuh diremehkan

dan dipandang hina.

Lupa mengukur ke-

kuatan yang ada.

Mulut ngoceh mantra:

“Hamba dan Paduka”

Berubah jadi ka-

tak cantik jelita

keluar tempurung

dengan bersenjata

bumerang Abori-

gin Australia.

Dilemparkan dengan

gejolak di dada

ingin balik dapat

dua kuntum bunga,

babak belur kena

sepatu wanita,

juga Pe-De-El bi-

kin benjol kepala.

Teringatlah dia

Ambon yang membara.

Buku “Jantan” yang di-

elukan ternyata

bikin penulisnya

mengeluh merana.

Ingin orang mera-

sa ngeh bersamanya,

justru dirinya ter-

engah menderita.

 

 

Bab Tiga: Tuduhan Penyalahgunaan dana dari Ihya’ut Turots

 

Cak Dul si “katak Yang Tidak jantan” berkata: Telah sama kita maklumi bahwa setelah bertahun-tahun bahu membahu bersama Ihya’ut Turats dan jaringannya, Salim Al Hilaly pada akhirnya memiliki mauqif yang berbeda dengan Ali Hasan terkait sikap mereka terhadap Ihya’ut Turats. Atau mungkin yang lebih tepat adalah Ihya’ut Turats telah mengubah mauqifnya kepada Salim Al Hilaly karena permasalahan yang timbul terkait kucuran dana untuk pembangunan Markaz Al Albani. Tidak ada pilihan lain bagi Ihya’ut Turats kecuali “menceraikan” Salim Al Hilaly. Dan tidak ada pilihan lain bagi Salim Al Hilaly kecuali harus menempuh satu-satunya pilihan, “berlepas diri” dari Ihya’ut Turats. (hal. 48)

            Tanggapan Abu Fairuz yang pertama: Abdul Ghofur Malang membangun perkataan di atas dan menuduh bahwasanya Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- berlepas diri dari Ihyaut Turots tidak ikhlas lillahi ta’ala, akan tetapi beliau melakukan itu karena “diceraikan” lebih dulu oleh mereka. Apakah si Dul ini menuduh yang demikian berdasarkan bukti yang dimilikinya? Tunjukkanlah dan tebarkanlah kepada umat bukti tadi sebagaimana kamu menebarkan tuduhan tadi. Al Asy’ats bin Qois -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:

كانت لى بئر فى أرض ابن عم لى فأتيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال « بينتك أو يمينه »

“Dulu aku punya sumur di tanah saudara sepupuku, lalu aku datangi Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- maka beliau bersabda: “Wajib atasmu untuk mendatangkan bukti kamu, atau dia akan bersumpah untuk mengingkari.” Al hadits. (HR. Al Bukhoriy).

Tapi bagimana mungkin si katak dalam tempurung bisa mendatangkan bukti?

            Tanggapan kedua: jika memang si Dul itu gagal mendatangkan bukti atas tuduhan tadi, maka semoga pihak yang berwenang menegakkan hukum Alloh untuk mendera punggungnya secukupnya. Jika memang pemerintah tidak menegakkan hukum itu, maka semoga Alloh yang menghukum si Dul Ghofur ini sesuai keadilan-Nya.

 


[1]  Adnan Ar’ur, pembela Sayyid Quthb

[2]  Muhammad bin Abdurrohman Al Maghrowi, punya pemikiran takfiri

[3]  Abul Hasan Sulaiman Al Mishri, pelayan terbesar Ikhwanul Muslimin masa ini.

[4] Akan dijelaskan oleh Syaikh Salim -hafizhahulloh- sendiri siapa dia dan orang yang setelahnya

[5] Abu Ishaq Al Huwaini

[6] Dalam tulisan ana “Tobat Mubtadi’ah” ana menerjemahkan: (sampai Alloh menunda tobatnya). Yang betul adalah: (sampai Alloh menerima tobatnya) dengan demikian kesalahan telah diperbaiki.

[7]  Sampai Alloh menerima tobatnya, bukannya sampai mengaku tobat.