Mengingat Kembali

Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi (4)

 

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 4)

 

 

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Alim Salafiy,

Adapun Abdulloh Alu Mar’i Itu Hizbiy

  

Dikoreksi Oleh:

Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawiy Al Indonesiy

-semoga Alloh memaafkannya-

  

Ditulis oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy

Al Indonesy

-semoga Alloh memaafkannya 

 

Darul Hadits Dammaj

Yaman

-Semoga Alloh menjaganya-

 

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar Seri Empat

 

الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:

Pada tulisan “Hampir-hampir Mereka … Jantan” Cak Dul memasukkan Abdulloh bin Umar Al Mar’i Al ‘Adniy ke dalam daftar para masyayikh dakwah yang dicaci oleh pengikut Asy Syaikh yahya Al Hajuriy. Cak Dul berkata tentang Salafiyyin Dammaj: “Tetap pada keputusan bahwa Asy Syaikh ‘Abdurrahman dan orang yang bersamanya adalah hizbi. Sehingga “halal” mencela Asy Syaikh ‘Abdurrahman, “halal” mencela Asy Syaikh ‘Abdullah Mar’i” (hal. 5)

Tujuan Cak Dul amat jelas: untuk menampilkan di hadapan umat bahwasanya Salafiyyun Dammaj benar-benar kelompok pencaci ulama Ahlussunnah.

Maka jawaban ana adalah sebagai berikut:

Jawaban pertama: Sesungguhnya tulisan-tulisan tentang kebatilan  Abdulloh bin Umar Al Mar’i telah banyak kami sebarkan di Indonesia, baik dengan bahasa Indonesia maupun dengan bahasa Arab. Maka silakan dirujuk kembali.

Jawaban kedua: Abdul Ghofur Al Malangiy memang hizbiy tulen, yang salah satu ciri-cirinya adalah: mengetahui al haq lalu tapi membenci penyebarannya, dan berusaha agar umat jangan sampai mengetahui al haq tadi, ditambah lagi dengan fanatismenya yang sangat kental, makanya dia berusaha menjadikan tulisan-tulisan tadi sekedar cercaan yang tidak tegak di atas kebenaran, sehingga tulisan tadi dan segenap penulis dan penyebarnya pantas dimusuhi dan mendapatkan gelar: PENCACI ULAMA.

Jawaban ketiga: ada kemungkinan kecil, yaitu bahwasanya  Abdul Ghofur Al Malangiy benar-benar jauh dari sifat JANTAN (pinjam kamusnya di hal. 1,4,7,10 dst.) sehingga tidak berani membaca tulisan-tulisan tadi karena takut melihat kenyataan pahit akan kebusukan Syaikh yang sangat dicintainya dan dibelanya dengan fanatik. Manakala dia sedemikian ketakutan untuk membaca tulisan-tulisan tadi, akhirnya dia benar-benar tidak tahu kejahatan Syaikhnya tadi, dan jadilah dia itu: katak dalam tempurung (pinjam kamusnya di hal. 3 dan 36).

Jawaban keempat: ana akan mengalah dan melayani Cak Dul ini dengan menjelaskan kembali kejahatan Syaikhnya tadi. Barangkali juga ada sebagian pembaca yang memang belum berkesempatan untuk membaca tulisan-tulisan yang telah kami sebar sejak pertama meletusnya fitnah Mar’iyyah. Dan ( الحمد لله) ana punya banyak literatur dan sumber-sumber berita selain “Mukhtashor Bayan”. Jelas “Mukhtashor Bayan” sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan hizbiyyah Abdulloh Mar’i dan saudaranya beserta pengikut mereka. Akan tetapi berhubung rendahnya IQ dan EQ Cak Dul dan kru DH (Dhofadi’ Habibah)-nya, tetap saja mereka protes. Tulisan-tulisan mereka terus-menerus menyuarakan lemahnya akal mereka dalam memahami hizbiyyah. Ats Tsa’labiy -rohimahullohu- berkata:

كتاب المرء عنوان عقله، بل عيار قدره ولسان فضله

Kitab seseorang merupakan alamat dari akalnya. Bahkan dia merupakan timbangan kadar dirinya dan lisan keutamaannya.” (“Yatimatud Dahr”/1/hal. 400).

Dan ( إن شاء الله) ana dalam kesempatan ini akan menukilkan sebagian berita-berita dan tulisan-tulisan yang ana dapatkan sebelum lahirnya “Mukhtashor Bayan”.

 

Bab Satu: Dukungan Abdulloh Al Mar’i terhadap Abul Hasan Al Mishriy

 

Berikut ini aka ana nukilkan pembahasan yang bagus, yang di sela-selanya ada pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang cerdas. Putra Hadhromaut Syaikhunal fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkata:

  إن المتأمل في موقف عبد الله مرعي في فتنة أبي الحسن يرى ما يتعجب منه ويستغرب حيث إن الرجل يزعم متبجحا وقال حالفا بالله تعالى أنه من أعرف الناس بأبي الحسن، وله مع أبي الحسن مواقف من سنة 1413 هـ بل زعم أنه يتواصل مع الشيخ ربيع بن هادي رعاه الله في أمره حتى كانت أول الجلسات الساخنة في بيت ولد الشيخ ربيع محمد الصغير بمكة في شهر ذي الحجة 1416 هـ وحضر الجلسة مجموعة من المشايخ وطلبة العلم، وكانت مناقشة في عدد من القضايا ومن أهمها إدخاله الإخوان المسلمين من أهل السنة.

وهكذا مما يزعمه هذا الرجل أن عنده خمسين خطأ على أبي الحسن كما أخبرني بذلك الأخ محمد باريدي العمودي حفظه الله. فأنت ترى أن هذه الفترة  وهي عام 1413 هـ كانت له مع أبي الحسن عدد مواقف فيها أخذ وعطاء إلا أنها كما يبدو من سياق الكلام كانت هادئة وإنما اشتدت وحميت وسخنت عام 1416 هـ  وذلك في بيت ولد الشيخ ربيع حفظه الله ورعاه وقد طرحت في ذلك المجلس عدة قضايا مهمة أخذت على أبي الحسن وكان من أهمها  إدخاله الإخوان المسلمين في أهل السنة. فكانت المعركة في ذلك المجلس حامية الوطيس. وبناء على ما تقدم أن عبد الله مرعي كان على علم بما عليه أبو الحسن من انحرافات ومخالفات وكان على العلم من ذلك من زمن قديم.

”Sesungguhnya orang-orang yang merenungkan sikap Abdulloh bin Mar’i pada masa fitnah Abul Hasan akan melihat perkara yang aneh dan mengherankan, yang mana orang ini berbangga-bangga dan bersumpah dengan nama Alloh ta’ala bahwasanya dia adalah termasuk orang yang paling tahu tentang Abul Hasan, dan bahwasanya dia pernah melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan pada tahun 1413 H. bahkan dia mengaku pernah menelpon Syaikh Robi’ bin Hadi –ro’ahulloh- dalam urusan tersebut, sampai bahkan pertemuan pertama yang panas terjadi di rumah putra Syaikh Robi’ –Muhammad Ash Shoghir- di Makkah pada bulan Dzul Hijjah 1416 H. hadir pada pertemuan itu sekelompok dari masyayikh dan penuntut ilmu. Perdebatan pada waktu itu berisi sekian banyak kasus, dan yang termasuk paling penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam Ahlussunnah.

            Demikianlah pengaku-akuan orang ini –Abdulloh Mar’i- bahwasanya dia punya catatan lima puluh kesalahan Abul Hasan, sebagaimana yang diceritakan Akhuna Muhammad Ba Roidy -hafizhohulloh- padaku –pada Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudy-. Maka kamu akan lihat bahwasanya selang waktu ini -tahun 1413 H- dia melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan. Akan tetapi sebagaimana yang tampak dari alur pembicaraannya, perdebatan itu cukup tenang, lalu menjadi keras dan panas pada tahun 1416 H. dan itu berlangsung di rumah putra Syaikh Robi’ –hafizhohulloh wa ro’ahu-, di dalam majelis itu dilontarkanlah berbagai kasus yang penting sebagai kritikan terhadap Abul Hasan, dan yang termasuk paling penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam Ahlussunnah. Dan pertempuran di majelis saat itu cukup panas.

Berdasarkan penjelasan di atas, tampaklah bahwasanya Abdulloh Mar’i itu tahu tentang penyimpangan-penyimpangan dan penyelisihan Abul Hasan. Dia tahu hal itu sejak dulu.

إذن فحال أبي الحسن بالنسبة لعبد الله مرعي ليس بخاف عليه ولا غريب إلا أن الغرابة والنكارة أن أبا الحسن المصري عند أن ظهرت فتنته وصارت لها جولة وصولة وفتن بسببها من فتن لم يكن لعبد الله مرعي دور يشكر عليه في هذه الفتنة. تكلم العلماء وبينوا حال أبي الحسن وحذروا من أخطائه وأصوله وقواعده الفاسده، وكان أول من صرخ بذلك شيخنا رعاه الله في اليمن وفي خارج اليمن الشيخ أحمد النجمي والشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظهما الله تعالى. ثم تكلم علماء اليمن في أبي الحسن، والرجل لم يحرك ساكنا ولم تكن له مناصرة ولا معاضدة لأهل السنة وخاصة في اليمن، إنما كان يتمخض ببعض ما عنده وكان ذلك وخاصة بعد ما تكلم  علماء المدينة وعلى رأسهم الشيخ عبيد هداه الله.

Jika demikian, maka keadaan Abul Hasan itu tidaklah tersembunyi dan tidak asing bagi Abdulloh Mar’i. Namun yang aneh dan mengherankan adalah: Abul Hasan pada saat fitnahnya itu muncul dan punya kekuatan dan hantaman, dan dengan sebab itu banyak orang yang terfitnah, ternyata Abdulloh Mar’i tidak punya saham yang pantas disyukuri dalam fitnah ini.

Para ulama telah berbicara yang menjelaskan keadaan Abul Hasan, dan memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahannya, pokok-pokoknya dan kaidah-kaidahnya yang rusak. Dan yang pertama kali berseru terhadap kebatilan tadi adalah Syaikh kita (Yahya Al Hajuriy) –ro’ahulloh- di Yaman, dan yang di luar Yaman adalah Asy Syaikh Ahmad An Najmiy dan Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy –hafizhohumallohu ta’ala-([1]) kemudian berbicaralah para ulama Yaman tentang Abul Hasan, sementara orang ini (Abdulloh Mar’iy) tidak mau “menggerakkan air yang tenang” (diam saja), dan tidak sikap saling membantu dan menolong buat Ahlussunnah khususnya di Yaman. Tapi orang ini hanyalah bergumul dengan beberapa urusan pribadinya saja. Dan itulah yang terjadi, khususnya setelah para ulama Madinah -yang dipimpin oleh Asy Syaikh ‘Ubaid hadahulloh- telah berbicara. 

فأين ذلك التبجح وأين تلك المعرفة ؟!! وما بال السخونة بردت وأين تلك القضايا العديدة والأخطاء الكثيرة ما بالها حجبت وفي أمسّ الحاجة خفيت؟!! والأعجب من هذا بل والأدهى والأمرّ أن الرجل كان ملازما للسكوت فيما يظهر وكان سكوته هذا مدعاة للريبة والشك وبيان ذلك من وجوه:

Maka di manakah perkara yang dia banggakan tadi? Dan di manakah pengetahuannya tadi?!! Kenapa gaya panasnya tadi berubah jadi dingin? Dan di manakah berbagai kasus dan kesalahan (Abul Hasan) yang banyak tersebut? Kenapa sekarang ditutupi? Dan kenapa disembunyikan pada kondisi paling dibutuhkan untuk dibeberkan?!! Yang lebih mengherankan lagi, dan bahkan lebih berat dan pahit adalah bahwasanya orang ini secara lahiriyah senantiasa bersikap diam. Dan jadilah sikap diamnya itu mengundang keraguan dan kebimbangan. Penjelasannya ada beberapa sisi:

الأول: أن سكوته هذا المريب أثّر في الدعوة وخاصة في الشحر تأثيرا بليغًا فخواص عبد الله بن مرعي ما يسمى بالبطانة الذين يقومون بالخطابة والتدريس والأذان  وغير ذلك كانوا من أول المتساقطين في هذه الفتنة وصاحب المعرفة بأبي الحسن لم ينصح لهم ولم يوجههم وهو يراهم يتساقطون في فتنة أبي الحسن وهو ساكت لا يحرك ساكنا. أليس كان الواجب عليه أن ينصح لهم وأن يوجههم ويرشدهم ويحذرهم من أخطاء أبي الحسن حتى يكونوا على بينة من أمرهم حيث وأنهم من خواصه وأقرب الناس إليه وهم العمدة عنده ويركن عليهم في مسجده بل إن أشرطة  وملازم أبي الحسن كان لها روجان بين أصحاب هؤلاء وهو وإن كان يقول بعدم نشر ما يخرجه الطرفان إلا أن هذا القول لا يرفع الشك والريب منه وإنما أراد أن يرفع الملامة عن نفسه ويدفعها وكأن لسان حاله يقول: (إياك أعني واسمعي يا جارة). يؤيد ذلك ما يلي:

Yang pertama: Sikap diamnya yang meragukan ini menimbulkan pengaruh yang sangat mendalam terhadap dakwah, terutama di wilayah Syihr. Orang-orang khusus Abdulloh bin Mar’i yang dinamakan sebagai “orang kepercayaan” yang mengurusi masalah khotbah, pengajaran, adzan dan lain-lain justru menjadi orang-orang yang pertama terjatuh di dalam fitnah tersebut. Sementara si pemilik pengetahuan tentang Abul Hasan tidak memberikan nasihat pada mereka, dan tidak mengarahkan mereka dalam keadaan dia melihat mereka berjatuhan ke dalam fitnah Abul Hasan, dan dia diam saja “tidak menggerak air yang tenang”([2]). Bukankah wajib baginya untuk menasihati mereka, mengarahkan mereka dan membimbing mereka serta memperingatkan mereka dari kesalahan-kesalahan Abul Hasan agar mereka itu berada di atas kejelasan dari perkara mereka. Mereka itu adalah orang-orang khusus Abdulloh dan orang yang paling dekat dengannya. Mereka adalah tonggak bagi dirinya, dia bertopang kepada mereka di masjidnya. Bahkan kaset-kaset dan tulisan-tulisan Abul Hasan laris di kalangan sahabat mereka. Si Abdulloh ini meskipun mengatakan melarang penyebaran apa-apa yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak([3]) akan tetapi ucapannya itu tidak bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan darinya. Dia cuma ingin menghilangkan dan menolak celaan terhadap dirinya. Seakan-akan kondisi dirinya berkata: “Engkaulah yang aku maksudkan, dan dengarlah wahai tetanggaku.” Yang lebih memperkuat kenyataan tadi adalah sebagai berikut:

أنه لا يعلم منه إنكار لما يفعله أصحابه الذين فتنوا بأبي الحسن بل إنه كان ينكر على الإخوة الذين عصمهم الله من فتنة أبي الحسن ويرميهم بالتهور والتسرع وينكر عليهم ويمنعهم من نشر الملازم التي تبين حال أبي الحسن ويتعلل بذلك بعلل عليلة.

قال الأخ الفاضل أبو محمد سعد الغرابي حفظه الله ورعاه: نزلت من دماج بعد حكم الشيخ محمد بن عبد الوهاب الوصابي على تخطئة أبي الحسن في النقاط التي أخذت عليه وكانت تلك الوريقات معي وعندما التقيت مع عبد الله مرعي  عرضت عليه ذلك الحكم فأجابه بأنه لا يريده وأنه منتظر لذلك الحكم أن يصله من عدن في تلك الأيام وقال: أنا ليس بحاجة إلى هذا ولا أحب أن ينتشر عندي  وفي مسجدي لأن الأوضاع عندي ستتفاقم علي بعد ذك وأبى أن يأخذه ومنع من نشره في مسجده.

Tidak diketahui darinya pengingkaran terhadap apa yang diperbuat oleh teman-temannya yang terfitnah oleh Abul Hasan. Bahkan dia itu mengingkari para ikhwah yang dilindungi oleh Alloh dari fitnah Abul Hasan, dia menuduh mereka telah berbuat serampangan dan tergesa-gesa. Abdulloh mengingkari mereka dan melarang mereka menyebarkan malzamah-malzamah yang menjelaskan keadaan Abul Hasan, sambil mengemukakan alasan yang lemah. Saudara kita yang mulia Abu Muhammad Sa’d Al Ghurobiy –hafizhohullohu wa ro’ah- berkata: “Kami turun dari Dammaj setelah Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memvonis salahnya Abul Hasan di dalam beberapa poin kritikan terhadap dirinya. Lembaran-lembaran vonis tadi ada bersamaku, dan ketika aku bertemu dengan Abdulloh Mar’i kusodorkanlah padanya lembaran vonis tadi. Maka dia menjawab bahwasanya dirinya tidak menginginkannya. Dia bilang menanti vonis tadi setelah tiba di ‘Adn pada hari-hari itu.

(Asy Syaikh Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkomentar: “Apa beda antara dirinya mengambil vonis tadi dari tangan Akh Sa’d dengan datangnya vonis tadi kepadanya jika dia telah sampai di ‘Adn? Bukankah sama saja? Ini menunjukkan bahwasanya dirinya sebenarnya tidak ridho dengan kritikan terhadap Abul Hasan, yang mana dirinya tidak mau terbongkar isi hatinya, sehingga terpaksa untuk memberikan alasan yang lemah seperti ini.”)

Dia juga bilang: “Aku tidak butuh pada vonis ini, dan tidak senang vonis ini dikasihkan padaku ataupun disebar di masjidku, karena situasi di tempat akan makin ruwet setelah itu.” Dan dia tak mau mengambil vonis tadi dan melarang menyebarnya di masjidnya.

قلت: قاتلك الله من رجل سوء تخاف من تفاقم الأمور يا أصولي وأنت على علم ومعرفة بأبي الحسن وما عليه من مخالفات وانحرافات ومع ذلك ترى أقرب الناس حولك يتساقطون في هذه الفتنة فأي حكمة استفدتها من هذا السكوت وأي فقه تدعيه يا صاحب المعرفة بالمصالح والمفاسد؟ فأين إنكار المنكر؟ هل  هو متوقف على أناس دون آخرين؟ وأين النصيحة؟ وهل هي خاصة بأناس دون آخرين؟ والله إن فعلك هذا لمريب، وإن سكوتك هذا لغريب.

Kukatakan (Asy Syaikh Al ‘Amudiy): semoga Alloh memerangi kamu wahai orang yang jahat. Kamu takut perkaranya jadi ruwet wahai ushuli([4]), sementara kamu tahu tentang keadaan Abul Hasan dan penyelisihannya serta penyimpangannya. Bersamaan dengan itu kamu melihat orang-orang yang paling dekat di sekitarmu berjatuhan di dalam fitnah ini. Hikmah apa yang kamu ambil manfaatnya dari sikap diammu. Fiqih apa yang kamu aku-akui (elu-elukan) wahai pemilik ilmu maslahat dan mafsadah? Manakah pengingkaran terhadap kemungkaran? Apakah hal itu cuma berlaku untuk sebagian orang saja? Manakah nasihat? Apakah nasihat itu hanya khusus  untuk sebagian orang saja? Demi Alloh, sungguh perbuatanmu ini sangat meragukan. Sikap diammu ini sungguh aneh.

وأضف إلى ذلك أن سكوته هذا كان سببا لانحراف كثير من الإخوان من أصحاب الشحر فمسجده سقط عن بكرة أبيه ولم يسلم منه إلا النزر اليسير جدا، لا يتجاوزون  الخمسة وإن كنتُ قد بالغت في هذا. وهكذا سقط مسجد ابن باز عن بكرة أبيه، وهكذا سقطت الغالبية الساحقة في المسجد عبد الرحيم. وبقي المسجد مدة في مشاكل وخصومات ولعل مآل أمره يعود إلى الحسنيين. وكم ضاع من أناس وانحرفوا بسبب سكوت عبد الله مرعي هذا المريب حتى إن أحد العوام من محب السنة جاءه وصرخ في وجهه وأغلظ عليه القول وقال له: أنت السبب في هذا لماذ لم تتكلم وتبين!

Tambah lagi sikap diamnya itu merupakan sebab menyelewengnya banyak sekali ikhwan dari wilayah Syihr. Masjidnya jatuh terkapar, dan tiada yang selamat darinya kecuali sangat sedikit sekali. Tidak lebih dari lima masjid yang tersisa. Ini jika aku telah berlebihan dalam bilangan tadi. Demikian pula masjid “Ibnu Baz” jatuh terkapar. Demikian pula mayoritas wilayah masjid “Abdurrohim” jatuh ke tangan mereka. Tinggallah masjid tadi berada dalam keruwetan dan sengketa sekian lama, dan bisa jadi kesudahannya akan kembali ke Hasaniyyun (pengikut Abul Hasan). Berapa banyak orang-orang yang lenyap dan menyeleweng disebabkan oleh sikap diam Abdulloh Mar’i yang meragukan ini, sampai-sampai satu orang awam yang cinta sunnah mendatanginya seraya berteriak di mukanya dan berkata kasar: “Kamulah penyebab ini semua! Kenapa kamu tidak berbicara dan memberikan penjelasan?!”([5])

ومن غرائبه في فتنة أبي الحسن أن الشيخ أحمد بن سفيل سدده الله ألقى  محاضرة في مسجد عبد الله مرعي ولم يكن عبد الله موجودا آنذاك كعادته. وذكر الشيخ أحمد رعاه الله أن مع أبي الحسن ما يقارب ثمانين شخصا وهم أصحاب براءة الذمة. وبعدها كانت لعبد الله مرعي محاضرة في قصيعر وشنع فيها غاية الشناعة على الشيخ أحمد رعاه الله وكان كلامه في الشيخ أحمد سدده الله مجملا إلا أنه عرف مقصوده من كان حاضرا. هكذا أخبرني الأخ أبو محمد الغرابي رعاه الله.

Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: pada saat Asy Syaikh Ahmad Ba Sufail –saddadahulloh- menyampaikan ceramah di masjid Abdulloh Mar’i, dan saat itu  Abdulloh Mar’i tidak hadir sebagaimana adat kebiasaannya. Asy Syaikh Ahmad Ba Sufail –ro’ahulloh- menyebutkan bahwasanya Abul Hasan itu ditemani oleh sekitar delapan puluh orang, dan semuanya adalah anggota “Baroatudz Dzimmah”. Dan setelah itu, Abdulloh Mar’i menyampaikan ceramah di Qushoi’ar. Pada kesempatan itu dia mencaci  Asy Syaikh Ahmad –ro’ahulloh- dengan sangat keras. Memang dia hanya menyebut Asy Syaikh Ahmad –saddadahulloh- dengan global, akan tetapi orang-orang yang hadir tahu maksudnya. Demikianlah Akh Abu Muhammad Al Ghurobiy –ro’ahulloh- menceritakannya padaku.

ومن عجائبه في فتنة أبي الحسن عند أن خرج إلى سيئون -وأهل العلم في اليمن منعوا أبا الحسن من التنقلات إلا أن الرجل مارد عنيد – جاءه أصحابه وخواصه المفتونون وطلبوا منه أن يخرج فاعتذر واستأذنوه بأخذ باص الدعوة فأذن لهم (؟!!!) كما أخبرني بذلك الأخ محمد باريدي العمودي حفظه الله.

Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: ketika  Abul Hasan keluar ke Seiun (padahal para ulama Yaman telah melarang Abul Hasan untuk pergi kesana-kemari, tapi memang orang itu keras kepala) datanglah kepada Abdulloh Mar’i teman-temannya dan orang-orang khususnya yang terfitnah oleh Abul Hasan. Mereka meminta padanya untuk ikut keluar juga. Maka dia mengemukakan udzur. Lalu mereka minta idzin untuk mengambil bis dakwah, maka diidzinkannya mereka untuk mengambilnya, sebagaimana Akh Muhammad Ba Roidiy Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- mengabariku.

ومن غرائبه ما أخبرني الأخ الفاضل أبو مصعب أنيس الحضرمي صاحب الحامي رعاه الله، قال: أتيته ومعي مجموعة من الإخوان نحو من أربعة عشر شخصا وطلب منه أن يجمع من حوله من أصحابه وخواصه ويبين لهم حال أبي الحسن وكان ذلك بعد كلام شيخنا، والشيخ النجمي رعاهما الله. وقال له: أنا والإخوان كلنا على قلب رجل واحد وعلى بينة من أمرنا من هذا الرجل –أعني أبا الحسن-. فلم يبال فيه عبد الله ولم يسمع من نصحه ولم يستجب له فيما أخبره به من نصح إخوانه الذين حوله،

Dan di antara keanehannya juga Akh fadhil Abu Mush’ab Al Hadhromiy –ro’ahulloh- yang tinggal di Hami berkata: aku mendatangi Abdulloh Mar’i bersama sekitar empat belas ikhwan. Abdulloh Mar’i dituntut untuk mengumpulkan teman-teman dan orang-orang khususnya lalu menjelaskan kepada mereka keadaan Abul Hasan. Dan kejadian itu berlangsung setelah Syaikhuna Yahya dan Asy Syaikh An Najmiy –ro’ahumalloh- berbicara. Abu Mush’ab berkata padanya: “Saya dan para ikhwan semuanya telah satu hati dan di atas bayyinah tentang orang ini –yaitu: Abul Hasan-“. Tapi Abdulloh Mar’i tidak mempedulikannya dan tidak mau mendengarkan orang yang menasihatinya, ataupun menerima kabar darinya untuk menasihati orang-orang yang ada di sekelilingnya.

وبعد انجلاء الفتنة كان عبد الله وسالم بامحرز يشنعان على أصحاب الحامي ويرمونهم بالتسرع ومسابقة العلماء وغير ذلك من الظلم والزور والبهتان. قلت –أي: شيخنا العمودي حفظه الله- : لماذا هذا الظلم يا عُبيد ويا سُليم، والإخوان عرفوا حال أبي الحسن ببيان أهل العلم. حسبهم أن الله نجاهم وعصمهم من هذا الفتنة وأركستم فيها أنتما ومن معكما.

Dan setelah fitnah itu sirna, justru Abdulloh dan Salim Ba Muhriz mencaci orang-orang Hami tadi –Abu Mush’ab dan teman-temannya, dan juga Sa’d dan ‘Aqil-, menuduh mereka telah tergesa-gesa dan mendahului ulama, dan berbagai tuduhan kezholiman, kepalsuan dan kedustaan yang lain. Aku (Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy) katakan: kenapa kalian berbuat zholim seperti ini wahai Abdulloh kecil, wahai Salim kecil, padahal para ikhwan tadi tahu keadaan Abul Hasan berdasarkan penjelasan ulama. Cukuplah bagi mereka bahwasanya Alloh menyelamatkan mereka dan menjaga mereka dari fitnah ini, dan kalian –kalian berdua dan orang-orang yang bersama kalian berdua- justru terbalik.

ومن عجائبه في هذه الفتنة وهو: أن أحد أصحابه ممن لقح بفتنة أبي الحسن وهو نبيل القعيطي نزع بيده بيان العلماء في هجر أبي الحسن. ونبيل هذا أحد المقربين لعبد الله مرعي وكل واحد يثني على الآخر وكان عبد الله  يشيد به ويثق به ويقول: نحن نأمنه على الدعوة ونمكنه من الكلام في مساجدنا. فهو محل ثقة عند عبد الله مرعي. وقد كان نبيل هذا من كبار المتعصبين لعبد الله الأهدل.

وهكذا نزع أحد الحسنيين فتوى للشيخ ربيع رعاه الله بهجر أبي الحسن، ومع ذلك عند أن أخبروا عبد الله مرعي بما فعله صاحبه ومن يثق به لم يتمعر وجهه، بل أنكر على الإخوان –الذين علقوا هذه الأوراق- بشدة.

Dan di antara keanehannya juga dalam fitnah ini adalah: salah seorang sahabat Abdulloh mar’i yang wajahnya terbakar api fitnah Abul Hasan yang bernama Nabil Al Qu’aithiy, mencabut lembaran bayan para ulama yang berisi pemboikotan terhadap Abul Hasan. Si Nabil ini merupakan salah satu orang dekat Abdulloh Mar’i, satu sama lain saling menyanjung. Si Abdulloh memperkenalkan Si Nabil dan mempercayainya, dan berkata: “Kita mempercayainya untuk dakwah, dan mempersilakannya untuk berbicara di masjid-masjid kita.” Orang ini terpercaya di sisi Abdulloh Mar’i. Dulunya si Nabil ini adalah salah satu tokoh besar pembela Abdulloh Al Ahdal (fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan Al Mishriy). Demikian pula salah seorang pengikut Abul Hasan mencabut lembaran Asy Syaikh Robi’ –ro’ahulloh- yang berisi fatwa pemboikotan terhadap Abul Hasan Al Mishriy. Tapi ketika orang-orang mengabari Abdulloh Mar’i tentang perbuatan orang kepercayaannya dan yang lainnya dia tidak memerah wajahnya, tapi dia justru dengan keras mengingkari ikhwan yang menempelkan lembaran-lembaran tadi.

الوجه الثاني: أن عبد الله مرعي عند أن بدأ يتكلم في أبي الحسن -وكان كلامه مؤخرا جدا كما سبق ولم يكن بذاك البيان والوضوح – أنكر عليه المتعصبون الذين سقطوا في فتنة أبي الحسن حتى إنهم كما يقال مسحوا به البلاط وكانوا يتصلون به هاتفيا فمن قائل له: (كذاب)، ومن قائل له: (كلب) ومن قائل له: (سارق). فكان لا يستطيع أن يمر في بعض الشوارع من كثرة استنكار الناس له كما أخبرني بذلك الأخ الفاضل أبو محمد  باريدي العمودي رعاه الله. إذن القوم كانوا على ثقة من أن عبد الله في صفهم بدليل إتاحة الفرصة لهم وعدم الإنكار عليهم. ويؤكد ذلك شدة هذا الإنكار إذ إنه لا يكون إلا لأمر عظيم وعلاقة وطيدة كانت بينهم وإلا ما الفائدة من هذا الإنكار ومن هذا الذم الشديد؟

Sisi kedua: bahwasanya Abdulloh Mar’i terlambat sekali dalam memulai untuk  berbicara tentang Abul Hasan Al Mishriy. Ketika dia mulai berbicara tentang orang itu –dengan penjelasan yang tidak begitu terang-, mulailah para fanatis yang berjatuhan di fitnah Abul Hasan Al Mishriy mengingkarinya sampai-sampai mereka berkata: “Seret dia di lantai.” Mereka menelponnya, ada yang bilang: “pendusta”, ada yang bilang: “Anjing”, ada yang bilang: “Pencuri”. Dulu dia tak bisa melewati sebagian jalan-jalan dikarenakan banyaknya pengingkaran orang-orang, sebagaimana berita dari Akhunal fadhil Abu Muhammad Ba Roidiy Al ‘Amudiy –ro’ahulloh-. Berarti para pengikut Abul Hasan itu dulunya percaya bahwasanya Abdulloh Mar’i  itu ada di barisan mereka, dengan dalil dia itu memberi mereka kesempatan dan tidak mengingkari mereka. Dan yang lebih menguatkan lagi adalah kerasnya pengingkaran mereka terhadapnya, dan hal itu tidaklah terjadi kecuali karena ada perkara yang besar sekali, dan hubungan yang erat di antara mereka. Jika tidak demikian, maka apa faidah dari pengingkaran mereka tadi dan cercaan mereka yang keras tadi padanya?

الوجه الثالث: وهو أدهى من ذلك والأمرّ. كتب إليّ الأخ الفاضل أبو عبيدة محمد السومحي حفظه الله ورعاه ما نصه:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده محمد صلى الله عليه وآله وسلم  أما بعد: فإنه لما كانت فتنة أبي الحسن وكانت بيني وبين الشيخ ربيع حفظه الله مراسلات حول الموضوع جاءنا فاكس من الشيخ ربيع بالتحذير من أبي الحسن وعدم حضور دروسه ومحاضراته فقمنا بتوزيع ذلك الفاكس فتكالب علينا أصحاب أبي الحسن ومن كان مغرورا به  في تلك الفتنة وحذروا منا ومن مجالساتنا، فقمنا بزيارة إلى الشحر إلى عبد الله مرعي من أجل نصح الإخوة على الثبات على ما هم عليه فوصلنا عنده الساعة السابعة والنصف صباحا وأنا ومن معي وهم: فهد بن شطاب، وعادل بلقيه، وحسن باصالح وماجد بارشيد وغيرهم من الشباب ممن كان معنا. فأخبره أصحابه أن الأخ  محمد السومحي ومجموعة من الشباب يريدون زيارتك ففتحوا لنا المجلس فخرج إلينا عبد الله مرعي فتكلمنا حول الفتنة وأخبرته بفاكس الشيخ ربيع فقال: (هذه الفتنة يريدون إسقاط أبي الحسن وأبو الحسن جبل). فقلت له: إذا أراد الله له السقوط قدر ذلك فيسقط هو أو غيره. ثم تكلمنا حول ما عند أبي الحسن من الأخطاء، وأخبرنا عبد الله بن مرعي أنه في الليلة الماضية كان عنده ميثاق العدني صاحب أبي الحسن. ثم خرجنا من عنده وكلمتُ الإخوة أن كلامه نحتمل له المخارج. هذا ما جرى في المجلس.

Sisi ketiga: dan ini lebih berat dan pahit. Akh yang utama Abu ‘Ubaidah Muhammad As Sumahiy –hafizhohullohu wa ro’ah- menuliskan surat padaku sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده محمد صلى الله عليه وآله وسلم  أما بعد:

Ketika terjadi fitnah Abul Hasan Al Mishriy aku punya hubungan surat-menyurat dengan Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- di seputar kasus tersebut. Lalu datanglah faks dari  Asy Syaikh Robi’ yang berisi tahdzir terhadap Abul Hasan dan agar jangan menghadiri durus dan ceramahnya. Maka kamipun menyebarkan faks tersebut. Ternyata para pengikut Abul Hasan dan orang yang tertipu dengannya dalam fitnah tadi kemudian menyerang kami, mentahdzir orang dari kami dan melarang orang duduk-duduk dengan kami. Lalu kami pergi ke Syihr mengunjungi Abdulloh Mar’i agar dia mau menasihati para ikhwah untuk tegar di atas kebenaran yang telah mereka ketahui. Kami sampai ke tempatnya jam setengah delapan pagi. Aku disertai Fahd bin Syithob, ‘Adil Ba Laqih([6]), Hasan Ba Sholih, Majid Ba Rosyid dan para pemuda yang lain. Teman-teman Abdulloh Mar’i  mengabari bahwasanya Akh Muhammad As Sumahiy dan sekelompok pemuda ingin mengunjungi Anda. Lalu mereka membuka majelis. Kemudia Abdulloh Mar’i keluar menemui kami. Mulailah kami berbicara seputar fitnah ini, dan kukabari dirinya tentang faks dari Asy Syaikh Robi’. Maka Abdulloh Mar’i  berkata: “Dalam fitnah ini mereka ingin menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul Hasan itu gunung.”([7]) Maka aku menjawab: Jika Alloh menghendakinya jatuh, Alloh akan menakdirkannya, maka dia ataupun yang lain akan jatuh. Lalu kami berbicara seputar kesalahan-kesalahan Abul Hasan. Abdulloh Mar’i  mengabari kami bahwasanya pada malam sebelumnya Mitsaq Al ‘Adniy ada si sampingnya.

Kemudian kamipun keluar, dan kukatakan pada para teman bahwasanya ucapan Abdulloh Mar’i ini kita carikan kemungkinan-kemungkinan baiknya. Inilah yang berlangsung di majelis tadi.

قلت: فهذه أمور لا تحتاج إلى تدليل إذ أنها واضحة الدلالة أن الرجل حسني الطريقة كامن بين صفوف أهل السنة وقد قام بخدمة عظيمة لأبي الحسن المصري، وجعل أكثر الشحر لقمة مستساغة له، إنما كان يتعلل بالسكوت لينظر الغلبة لمن تكون. فإذا كانت لأهل السنة تستر بالسكوت وإذا كانت لابي الحسن كشر أنيابه وأبرز مخالبه.

Aku (Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-) berkomentar: perkara ini tidak membutuhkan penjabaran karena penunjukannya telah jelas, bahwasanya orang itu (Abdulloh Mar’i ) thoriqohnya adalah Hasaniy, tapi dia tersembunyi di tengah-tengah barisan Ahlussunnah. Dia telah memberikan pelayanan yang besar buat Abul Hasan Al Mishriy, menjadikan Syihr sebagai hidangan siap santap buatnya. Hanya saja dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan menang dalam fitnah ini. Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah berlindung dengan sikap diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al Mishriy maka diapun akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-cakarnya.

وإن تعجب فعجب إنكاره على الإخوة أصحاب الحامي والتشنيع عليهم والتشهير بهم ورميهم بالأباطيل والمناكير. ما هو الدافع لهذا الإنكار وهذا التشنيع؟ ما كان حسبه أن يشكر لهم ويمدحهم ويثني عليهم إذ أن الله تعالى سلّمهم من هذه الفتنة؟ أما كان هذا واجبا عليه تجاههم لكن السرّ في هذا والله أعلم انه أغاظه ثباتهم وعدم انخراطهم في الفتنة كما انخرط أكثر أصحاب الشحر وعلى رأسهم أصحابه وخواصه. وإلا فماذا تفسر أخي الكريم هذا الإنكار الشديد؟

Jika engkau keheranan, maka yang lebih mengherankan lagi adalah pengingkaran si Abdulloh terhadap para ikhwah dari Hami, cercaannya pada mereka, dan pembeberannya nama-nama mereka di depan umum, dan tuduhannya terhadap mereka dengan kebatilan dan kemungkaran. Apa pendorongnya untuk membikin pengingkaran dan cercaan pada mereka? Bukankah cukup baginya untuk bersyukur pada mereka, memuji dan menyanjung mereka karena diselamatkan Alloh dari fitnah ini? Bukankah ini yang wajib bagi dirinya kepada mereka? Akan tetapi rahasianya adalah –wallohu a’lam- si Abdulloh ini marah dengan kekokohan mereka dan tidak terperosoknya mereka ke dalam fitnah ini sebagaimana terperosoknya mayoritas orang-orang Syihr, terutama para sahabat dan kepercayaan si Abdulloh. Jika tidak demikian, apa penafsiranmu –wahai saudaraku yang mulia- terhadap pengingkaran keras si Abdulloh ini? (selesai dari kitab “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 28-34/ Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-).

            Kukatakan –waffaqoniyallohu-: dengan penjelasan ini jelaslah bahwasanya Abdulloh Mar’i  itu dulunya adalah Hasaniy yang menyamar, kemudian dirinya di akhir-akhir perseteruan fitnah ketika Abul Hasan Al Mishriy hampir tumbang mulailah dirinya menampakkan kritikan pada Abul Hasan. Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- berkata:

كان أخونا عبد الله بن مرعي مع أبي الحسن ثم تراجع

“Dulu saudara kita Abdulloh Mar’i itu bersama Abul Hasan, lalu dia rujuk kembali.” (kurang lebih demikian ucapan beliau).

Ternyata seiring dengan pergantian siang dan malam Alloh ta’ala menampakkan kekeruhan yang tersembunyi di dalam hatinya. Tampaklah pemikiran Hasaniyyah-hizbiyyah yang tetap ada di dalam hatinya. Maka tepat sekali ucapan  Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-: “Hanya saja dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan menang dalam fitnah ini. Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah berlindung dengan sikap diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al Mishriy maka diapun akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-cakarnya.”

Dari penuturan di atas kita bisa mengambil beberapa poin kebatilan Abdulloh Mar’i  dalam kasus Abul Hasan Al Mishriy sebagai berikut:

1- Abdulloh Mar’i  tidak menerangkan pada umat kebatilan Abul Hasan pada saat umat sangat membutuhkan penjelasannya. Tapi sekian tahun setelah fitnah selesai dan terdengar kabar bahwasanya dirinya itu dulunya adalah Hasaniy buru-buru dia mengaku-aku telah tahu kebatilan Abul Hasan Al Mishriy dan telah berbicara sebelum yang lain-lain bicara. Abdulloh Mar’i telah berkhianat dan menipu umat. Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata:

فإن سكت عمن يستحق الجرح والتحذير منه فإنه يكون خائناً، غاشاً لدين الله وللمسلمين .(“المحجة البيضاء”/ ص28-29).

“Karena jika seseorang itu diam dari orang yang berhak untuk di-jarh dan ditahdzir, maka sungguh dia itu adalah pengkhianat dan penipu terhadap agama Alloh dan Muslimin.” (“Al Mahajjatul baidho’”/hal. 28-29)

Penipuan dan pengkhianatan merupakan salah satu ciri hizbiyyah, di antaranya: Ikhwanul Muslimin. Asy Syaikh Abu Ibrohim bin Sulthon Al ‘Adnaniy –hafizhohulloh- berkata pada Al Ikhwanul Muslimin yang menyembunyikan kebatilan jama’ah-jama’ah:

وإن كنتم تعلمون ذلك فتلك خيانة عظيمة وغش كبير، لا يجوز لكم كتمه عن شباب الأمة خاصة، وعن الناس عامة.

“Jika kalian mengetahui hal itu merupakan pengkhianatan besar dan penipuan besar. Tidak boleh bagi kalian menyembunyikannya dari para pemuda umat ini pada khususnya, dan dari manusia pada umumnya.” (“Al Quthbiyyah Hiyal Fitnah”/hal. 56).

Asy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata tentang Quthbiyyiin dan Ikhwaniyyin:

دعوتهم قائمة على الغش والتلبيس على أحداث الأسنان سفهاء الأحلام …إلخ

 “Dakwah mereka berdiri di atas penipuan dan talbis terhadap anak baru yang masih bodoh.” (“Syarh Ushulis Sunnah Imam Ahmad” /hal. )

Asy Syaikh Ahmad An Najmi rohimahulloh berkata:

إن الدعوة الحزبية كلها مبنية على التكتم، والخيانة، والغدر، والمكر، والتلبيس

“Seluruh dakwah hizbiyyah dibangun di atas takattum (menyembunyikan suatu rahasia), pengkhianatan, makar, kecurangan, dan talbis.” (“Ar Roddul Muhabbir” hal. 124).

2- Abdulloh Mar’i melarang penyebaran fatwa ulama yang berisi tahdzir terhadap Abul Hasan Al Mishriy. Demikian pula para hizbiyyun berusaha agar al haq yang menyelisihi hawa nafsunya tidak tersebar. Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh- berkata tentang Ikhwanul Muslimin:

محاولة إسكات كل من تكلم في حزبيتهم ويبين ما فيها من مثالب وسلبيات واتخاذه عدوا لهم. (“الرد الشرعي” /ص254).

”Upaya mereka untuk membungkam setiap orang yang berbicara tentang hizbiyyah mereka dan menerangkan kejelekan dan kekurangan mereka, dan menjadikannya sebagai musuh bagi mereka.” (“Ar Roddusy Syar’i”/hal. 254).

Beliau rohimahulloh juga berkata pada Syaikh Ibnu Jibrin rohimahulloh yang melarang beliau mencetak kitab bantahan terhadap hizbiyyin:

سمعت أن بعض الحزبيين يشترون الكتب التي تقدح في حزبهم بكميات كبيرة ثم يحرقونها. فما الفرق بين من يحرق الكتاب بعد أن يطبع وبين من يقول: لا تطبع.

“Aku mendengar bahwasanya sebagian hizbiyyin membeli sejumlah besar dari kitab-kitab yang menyebutkan kejelekan mereka, lalu mereka membakarnya. Maka apa beda antara orang yang membakar kitab setelah dicetak dengan orang yang berkata,”Jangan dicetak!”” (“Roddul Jawab” hal. 62-63)

3- Abdulloh Mar’i  melakukan beberapa penyamaran (tasattur). Demikianlah hizbiyyun.

Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata:

إن الشخص يتستر ولا يظهر حزبيته إلا بعد أن تقوى عضلاته ويرى أن الكلام لا يؤثر فيه،

 ”Sesungguhnya seseorang itu bersembunyi dan tidak menampakkan kehizbiyyahannya kecuali setelah menguat otot-ototnya dan menyangka bahwanya ucapan manusia sudah tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2 hal. 14).

4- Abdulloh Mar’i merasa sakit dan sedih jika para hizbiyyin tadi diserang Ahlussunnah, maka diapun bangkit membela mereka.

Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkomentar terhadap seorang hizbiy:

فصاحب “المعيار” وحزبه يقتلون المنهج السلفي بتمييعه والتهوين من شأنه والتشويه لحملته والدفاع عن أهل البدع والثأر لهم

“Maka penulis kitab “Al Mi’yar” dan hizbnya berusaha untuk membunuh manhaj salafy dengan cara melumerkannya, dan meremehkan nilainya, dan mencoreng para pembawanya, dan dengan pembelaan mereka terhadap ahlil bida’, dan membalas dendam untuk mereka.” (“Bayan Fasadil Mi’yar” hal. 82).

Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata tentang majalah “Al Furqon” milik Sururiyyun:

وقال الإمام الوادعي رحمه الله: وعندنا مجلة (الفرقة) التي تسمى (الفرقان)، تتباكى لأنني تكلمت في عبدالرحيم الطحان، ولماذا أتكلم في راشد الغنوشي، وفي عبدالرحمن عبدالخالق، وفي حسن الترابي. وإنني أحمد الله إذ وفّق أهل السنة بالبعد عن الحزبيات والحزبيين، (“تحفة المجيب” /ص 155).

“Dia menangis karena aku berbicara tentang Abdurrohim Ath Thohhan, dan kenapa aku berbicara tentang Rosyid Al Ghonusiy, tentang Abdurrohman Abdul Kholiq, tantang Hasan At Turobiy. Dan sungguh aku memuji Alloh karena Dia memberikan taufiq pada Ahlussunnah untuk menjauhi hizbiyyah dan para hizbiyyin.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 155).

5- Abdulloh Mar’i mencaci dan mencerca Ahlussunnah yang mengkritik hizbiyyin dengan benar. Demikianlah seorang hizbiy. Asy Syaikh Sholih As Suhaimi -hafizhahulloh- berkata:

وشنوا حملة شعواء على مَن بيَّن أخطاء تلك الجماعات أو ينتقدها أو يرد عليها أو يدعوها لتطهير مناهجها من المخالفات التي لا تتفق مع منهج أهل السنة والجماعة

“Dan mereka melancarkan serangan gencar kepada orang yang menerangkan kesalahan-kesalahan jama’ah-jama’ah itu, atau yang mengkritiknya, atau yang membantahnya, atau yang menyerunya untuk membersihkan manhajnya dari penyelisihan-penyelisihan yang tidak cocok dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (lihat “An Nashrul ‘Aziz” /Syaikh Robi’ -hafizhahulloh-/hal. 48)

6- Abdulloh Mar’i tak menerima nasihat yang sesuai dengan dalil syariat.

Demikianlah hizbiyyun. Al Imam Ibnu Baththoh rohimahulloh berkata:

إعجاب صاحب الرأي برأيه للانفصال والتفريق مع عدم قبول الحق هذا سبب تولد الأحزاب

“Kekaguman pengagung ro’yu dengan ro’yunya untuk memisahkan diri dan memecah-belah tanpa mau menerima kebenaran, inilah sebab lahirnya kelompok-kelompok (hizb-hizb).” (“Al Ibanatul Kubro”/ 1/hal. 26-27)

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata:

والآن المبتدع يا إخوان سواء ثوري أو أي شكل ما يرجع إلى الحق، تقيم عشرات الأدلة في القضية ويأتي بأقوال العلماء وما يرجعوا إلى الحق. هذا شأن أهل الأهواء (“شرح الأصول للإمام أحمد” /ص87-88).

“Dan sekarang para mubtadi’ itu wahai saudara, sama saja dia itu pemberontak ataupun dari jenis manapun, dia tak mau kembali kepada kebenaran. Engkau tegakkan padanya belasan dalil tentang suatu kasus, dia membawakan ucapan ulama dan tidak mau kembali pada kebenaran. Ini adalah sifat pengekor hawa nafsu.” (“Syarhu Ushulis Sunnah”/hal. 87-88).

7- Abdulloh Mar’i  diam terhadap kemungkaran hizbiyyin.

Ibnu ‘Aqil -rahimahulloh- berkata:

فَأَيْنَ رَائِحَةُ الْإِيمَانِ مِنْكَ وَأَنْتَ لَا يَتَغَيَّرُ وَجْهُكَ فَضْلًا عَنْ أَنْ تَتَكَلَّمَ، وَمُخَالَفَةُ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاقِعَةٌ مِنْ كُلِّ مُعَاشِرٍ وَمُجَاوِرٍ فَلَا تَزَالُ مَعَاصِي الله عَزَّ وَجَلَّ وَالْكُفْرُ يَزِيدُ، وَحَرِيمُ الشَّرْعِ يُنْتَهَكُ، فَلَا إنْكَارَ وَلَا مُنْكِرَ، وَلَا مُفَارَقَةَ لِمُرْتَكِبِ ذَلِكَ وَلَا هِجْرَانَ لَهُ. وَهَذَا غَايَةُ بَرَدِ الْقَلْبِ وَسُكُونِ النَّفْسِ وَمَا كَانَ ذَلِكَ فِي قَلْبٍ قَطُّ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ إيمَانٍ؛ لِأَنَّ الْغِيرَةَ أَقَلُّ شَوَاهِدِ الْمَحَبَّةِ وَالِاعْتِقَادِ.

“Maka manakah aroma iman darimu sementara engkau tidak berubah wajahmu –lebih-lebih lagi untuk mau berbicara- dalam keadaan penyelisihan terhadap Alloh subhanahu wa ta’ala dilakukan oleh keluarga dan tetangga. Terus-menerus kedurhakaan pada Alloh azza wa jalla dan kekufuran bertambah, garis batas syariat dilanggar, tapi tiada pengingkaran dan tidak ada orang yang mengingkari, dan tiada pula perpisahan diri dari orang yang melanggar syariat. Dan ini adalah puncak dari kebekuan hati dan diamnya jiwa. Dan tiada lagi tersisa iman dari dalam hati, karena kecemburuan adalah alamat cinta dan keyakinan yang paling kecil.” (“Al Adabusy Syar’iyyah” 1/hal. 178)

Demikianlah hizbiyyun. Asy Syaikh Sholih As Suhaimiy –hafizhohulloh- berkata:

هذه الجماعات الحزبية ترى أن الأمر بالمعروف والنهـي عن المنكـر يفرق صفوف  الأمة ويمزق كيانها.

“Jama’ah-jama’ah hizbiyyah ini memandang bahwasanya amar ma’ruf dan nahi mungkar akan memecah belah barisan umat, dan merobek tatanannya.” (“Manhajus Salaf fil ‘Aqidah”/hal. 54-55).

8- Abdulloh Mar’i melakukan takhdzil (tak mau membantu pada saat dibutuhkan) terhadap Ahlussunnah. Demikianlah gaya munafiq dan hizbiy.

Al Imam Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- berkata:

وكفى بالعبد عمى وخذلانا أن يرى عساكر الإيمان وجنود السنة والقرآن وقد لبسوا للحرب لأمته، وأعدوا له عدته، وأخذوا مصافهم ووقفوا مواقفهم، وقد حمي الوطيس ودارت رحى الحرب واشتد القتال وتنادت الأقران النزال النزال، وهو في الملجأ والمغارات، والمدخل مع الخوالف كمين وإذا ساعد القدر وعزم على الخروج قعد فوق التل مع الناظرين، ينظر لمن الدائرة ليكون إليهم من المتحيزين، ثم يأتيهم وهو يقسم بالله جهد أيمانه أني معكم وكنت أتمنى أن تكونوا أنتم الغالبين، اهـ المراد.

“Cukuplah bagi seorang hamba kebutaan dan ketertinggalan manakala dia melihat para tentara iman dan pasukan sunnah dan Qur’an telah memakai pakaian perang mereka, mempersiapkan perbekalan mereka, menempati barisan mereka, dan berdiri di posisi-posisi mereka, tungku pertempuran telah memanas, roda penggilingan telah berputar, peperangan semakin dahsyat, para sejawat saling berteriak: “Ayo turun, ayo turun!” tapi orang ini masih saja ada di tempat persembunyian, di lobang-lobang, dan bersembunyi di tempat masuk bersama para perempuan yang tertinggal. Jika takdir membantunya dan dia bertekad untuk keluar, duduklah dia di atas ketinggian bersama para penonton, sambil melihat siapakah yang menang, agar dia bisa bergabung dengan mereka. Lalu diapun mendatangi mereka sambil bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang paling berat dan berkata: Sungguh aku ini bersama kalian, dan aku berangan-angan bahwasanya kalian itulah yang menang.” (“Al Qoshidatun Nuniyyah”/Ibnul Qoyyim/1/hal. 8/syaroh Asy Syaikh Muhammad Kholil Harros).

Asy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- membantah Abdurrohman Abdul Kholiq dan berkata:

لم يتخذوا منهجاً؛ وإنما وجدوا منهجاً واضحاً لسادة الأمة في قمع البدع وأهلها فساروا عليه وشذ عنه عبدالرحمن ثم حارب من يسير عليه أشد أنواع الحرب التخذيلية

“Ahlussunnah tidak mengambil suatu manhaj tersendiri, hanya saja mereka mendapati suatu manhaj yang terang dari para pemimpin umat ini di dalam menghantam kebid’ahan dan ahlul bida’, maka mereka berjalan di atas manhaj tadi. Dan ternyata Abdurrohman menyendiri dari mereka, lalu memerangi orang-orang yang menempuh manhaj tadi dengan jenis perang takhdziliyyah (tak mau menolong) yang paling keras.” (“Jama’ah Wahidah” hal. 10)

9- Abdulloh Mar’i  memuji hizbiyyin. Demikianlah salah satu ciri hizbiyyin.

Samahatusy Syaikh Ibnu Baaz rohimahulloh telah ditanya di dalam syaroh beliau terhadap kitab “Fadhlul Islam” yang teksnya sebagai berikut: “Orang yang memuji ahlul bida’ dan menyanjung mereka, apakah orang itu mengambil hukum mereka juga? Maka beliau rohimahulloh menjawab:

نعم ما فيه شكٌّ، من أثنى عليهم ومـدحهم هو داعٍ لهم، يدعو لهم، هذا من دعاتهم، نسأل الله العافيـة

“Iya. Tidak ada di dalamnya keraguan. Orang yang memuji ahlul bida’ dan menyanjung mereka, dia itu adalah penyeru manusia kepada mereka. Dia itu menyeru manusia kepada mereka. Orang ini termasuk dari du’at mereka. Kita mohon pada Alloh keselamatan.” (“Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa” karya Kholid Azh Zhofairi hal. 137)

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi –rohimahulloh- berkata pada Ibrohim bin Hasan yang banyak membela hizbiyyin tapi marah saat digelari “hizbiy”:

إن ثناءك عليهم وإعذارك لهم، وإنكارك على من يبين ما عندهم من المخالفات للشرعية الإسلامية عامة، والمنهج السلفي خاصة وذمك له من أعظم الدلائل على أنك حزبي كبير.

“Sesungguhnya pujianmu pada mereka, udzur yang kamu berikan pada mereka, pengingkaranmu pada orang yang menerangkan penyelisihan mereka terhadap syariat Islamiyah pada umumnya, dan manhaj salafiy pada khususnya, dan cercaanmu terhadapnya termasuk dalil terbesar bahwasanya kamu adalah hizbiy besar.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 19).

 

 

 

Bab Dua: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah

 

Semangat Abdulloh Mar’i  untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah sudah terkenal, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- di berbagai durus beliau. Demikian pula Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di risalah beliau “Naqdhur Rodd” hal. 11-12.

Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata pada Abdulloh Mar’i  :

وما ذكرتم من الوقوف مع إخواننا الأعاجم هذا لم نره حصل على ما ينبغي فقد أخرج بعض إخواننا الأعاجم من الشحر، وسجن بعضهم في صنعاء شهرًا بسبب أنكم لم توفروا لهم ما وعدتموهم من الإقامات بل بعض إخواننا الأعاجم يئنُّ من بعض ما رأى من الأمور قال: أخذوا على كل واحد منا ثلاثمائة دولار مقدمًا حق ستة أشهر ولم يدرس بعضنا في المعهد إلا نحو شهرين، وبقية الأشهر كنا ندرس في دار الحديث ولا نذهب إلى المعهد؛ بسبب أن الحكومة منعت دراسة اللغة العربية فيه، لعدم الترخيص بذلك ومع ذلك لم يرجعوا لنا بقية أموالنا.

Apa yang kalian sebutkan bahwasanya kalian berdiri bersama saudara-saudara kita orang orang asing ini, kami tidak melihat hasil yang semestinya, sementara sebagian dari saudara-saudara kita orang orang asing telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian lagi dimasukkan penjara di Shon’a dikarenakan kalian tidak memberikan pada mereka surat idzin tinggal sebagaimana yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari saudara-saudara kita orang-orang asing mengeluhkan beberapa perkara yang mereka lihat. Dia berkata: “Mereka (anak buah Abdulloh Mar’i) mengambil dari setiap orang dari kami uang sebanyak tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam bulan, tapi sebagian dari kami tidak belajar di ma’had (Ma’hadul Hasub Wal Lughot yang ada di bawah pengawasan Abdulloh Mar’i) kecuali sekitar dua bulan saja, sisanya (empat bulan) kami belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang dipimpin Abdulloh Mar’i) dan kami tidak pergi ke ma’had karena pemerintah melarang pelajaran bahasa Arab di situ karena tiada surat idzin. Walaupun demikian mereka (anak buah Abdulloh) tidak mengembalikan sisa uang kami.”

ومعلوم مما تقدم كما تزعم الإدارة أن معهد الحاسوب واللغات ليس له علاقة بدار الحديث بالشحر، فما هو المسوغ إذن لأخذ أموال إخواننا الأعاجم، فأين الوقوف المزعوم مع إخواننا الأعاجم؟! ونذكر الإدارة بحديث أبي هريرة رضي الله عنه عند مسلم أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « أتدرون ما المفلس ». قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال: « إن المفلس من أمتى يأتى يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتى قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح فى النار ».

Dan sebagaimana diketahui bersama –dari penjabaran terdahulu- sebagaimana perkataan dewan Ma’had bahwasanya Ma’hadul Hasub Wal Lughot tidak punya kaitan dengan Darul Hadits di Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka mengambil uang saudara-saudara kita orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari ucapan mereka “berdiri bersama saudara-saudara kita orang-orang asing”? kami ingatkan dewan Ma’had dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim: “Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka.” (HR. Muslim). (selesai penukilan dari “Naqdhur Rodd”/hal. 15).

Di antara kegiatan Abdulloh Mar’i dan anak buahnya adalah mengemis atas nama dakwah, sebagimana penjabaran dari putra Syihr: Akhuna Abu Ibrohim Muhammad bin Faroj Ba Roidiy Al ‘Amudiy Asy Syihriy Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di buku beliau “At Tajawwul Fi Ba’dhi Ma ‘Inda Abdillah bin Mar’i Minat Tasawwul”, sebagai berikut:

وكان عبدالله بن مرعي متَفَنُّنًا في التسول. وقد سلك طُرقًا في التسول لم يسلكها أصحاب الجمعيات في الشحر فيما نعلم.

Abdulloh Mar’i memang ahli dalam mengemis, dan setahuku dia menempuh beberapa metode yang tidak ditempuh oleh orang-orang Jam’iyyat di Syihr (hal. 2).

منها حث الصيادين على ركوب البحر يوم الجمعة وما تحصلوا عليه من مال في هذا اليوم يكون لوفاء الدين الذي أخذه عبدالله لتلك الدورة (خمسمائة ألف ريال يماني). هذه الفكرة لم تعرف في ساحل حضرموت إلا بعد مجيئ عبدالله بن مرعي إلى الشحر. وهي استمرت سنوات طويلة حتى ملّ الناس ذلك، ونفروا من عبدالله بن مرعي ودعوته، إلا بعض أصحاب تلك الدعايات، أو من هو مغرور به. وقد تحصلوا على أموال كثيرة فأعجبهم ذلك واسْتَحْلَوهُ، ثم ازدادوا في ذكر (أن الدعوة عليها خمسمائة ألف)، وكأن المال الذي تحصلوا عليه من ركوب البحر لم يؤثر في ذلك الدين شيئًا!

Di antaranya adalah: dia menyemangati para nelayan untuk berlayar pada hari Jum’at, dan uang yang nanti diperoleh dari hasil tadi digunakan untuk membayar utang yang diambil Abdulloh Mar’i untuk membiayai dauroh tersebut (sebanyak limaratus ribu real Yamaniy). Ini merupakan pemikiran yang belum dikenal di pesisir Hadhromaut kecuali setelah datangnya Abdulloh Mar’i ke Syihr. Dan kegiatan ini telah berlangsung dalam tahun-tahun yang panjang sampai-sampai orang-orangpun merasa bosan dan lari dari Abdulloh Mar’i  dan dakwahnya, kecuali orang-orang yang menyerukan slogan tadi atau orang yang tertipu dengannya. Mereka telah memperoleh uang yang banyak dengan slogan tadi sehingga membikin mereka terkagum-kagum dan menilainya manis. Lalu merekapun mengulang-ulang penyebutan: “Dakwah punya tanggungan Limaratus ribu”. Seakan-akan uang yang mereka hasilkan dari berlayar tadi tidak berpengaruh sama sekali terhadap utang tadi!

Catatan dari Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Mu’awiyah -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Aku mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ فَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ طِيبِ نَفْسٍ فَيُبَارَكُ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ وَشَرَهٍ كَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ».

“Aku ini hanyalah penjaga harta. Barangsiapa aku beri harta tadi dengan senang hati, maka dia akan diberkahi dalam harta tadi. Tapi barangsiapa aku beri karena dirinya meminta dan rakus, maka dia itu bagaikan orang yang makan tapi tidak kenyang.” (HR. Muslim (1047)).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan:

واستمر ذلك الركوب، وكل ما تحصلوا عليه من مال يكون للدعوة حتى جاءت الدورة الثانية، ولا تزال الخمسمائة ألف التي أخذت دينًا من أجل الدورة الأولى موجودة لم يؤثر فيها ركوب الصيادين البحر لمدة سنة كاملة!

Dan berlanjutlah pelayaran tadi, yang mana seluruh uang yang dihasilkannya menjadi milik dakwah, sampai datang dauroh yang kedua. Dan selalu saja “Limaratus ribu yang diambil dengan utang untuk dauroh pertama” itu ada, sementara pelayaran para nelayan selama setahun penuh tidak berpengaruh pada utang tadi! (hal. 4).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ ».

“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah uang pastilah dia mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi rongga anak Adam selain tanah. Dan Alloh menerima tobat dari orang yang bertobat.” (HR. Muslim (1048)).

Hakim bin Hizam rodhiyallohu ‘anhu berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ الله  صلى الله عليه وسلم فَأَعْطَانِى، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِى ثُمَّ قَالَ لِى: « يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى». قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا.

“Aku meminta pada Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- maka beliau memberiku, lalu aku minta lagi padanya, maka beliau memberiku, lalu beliau bersabda padaku: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kedermawanan jiwa, dia akan diberi keberkahan padanya. Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya. Seperti orang yang makan tapi tidak kenyang. Dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.” Maka aku berkata,”Wahai Rosululloh, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tak akan lagi mengurangi harta orang setelah Anda dengan permintaan sedikitpun, sampai saya meninggalkan dunia. (HSR Al Bukhory (2750))

Imam Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahulloh- berkata tentang sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-: (Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya.) “Maka bagaimana dengan orang yang mengambilnya dengan cara meminta? Tentunya lebih jauh dan lebih jauh lagi dari keberkahan.” (“Syarh Riyadhush Sholihin” di bawah no. 524).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan:

فلما أنكر عليهم الصيادون بقولهم: إلى متى وهذا الدين لم يسدد؟!! وأصحاب عبدالله غير مبالين بهذا الإنكار، إلا بعد فترة من الزمن سكتوا عن تحديد وتقييد الدين بخمسمائة ألف، وأطلقوا أمر (دين الدعوة) من غير تقييد بعدد معين إلى وقتنا هذا

Ketika para nelayan mengingkari mereka dengan perkataan: “Sampai kapan pelayaran ini sementara utang tidak terlunasi?!!” anak buah Abdulloh Mar’i  tidak mempedulikannya. Hanya saja setelah sekian lama merekapun tidak lagi menyebutkan pembatasan utang sebanyak limaratus ribu. Mereka cuma berkata: “Utang dakwah” tanpa ada pembatasan dengan jumlah tertentu sampai sekarang ini. (hal. 4-5).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ ».

“Barangsiapa meminta harta orang lain dalam rangka memperbanyak harta, maka dia itu sebenarnya hanyalah meminta bara api. Maka silakan menyedikitkan atau memperbanyak.” (HR. Al Bukhoriy (2047) dan Muslim (1041)).

Qobishoh bin Mukhoriq Al Hilaliy -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلاَلِىِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ « أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا ». قَالَ ثُمَّ قَالَ « يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُول ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا ».

“Aku pernah memikul suatu tanggungan, maka kudatangi Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk meminta beliau membantu melunasinya. Maka beliau bersabda: “Tinggallah di sini sampai datang shodaqoh, maka kami akan memerintahkan mereka untuk memberikannya padamu.” Lalu beliau bersabda: “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang saja: Orang yang memikul suatu tanggungan, halal baginya meminta sampai bisa membayarnya, lalu dia berhenti dari minta-minta. Dan (yang kedua) orang yang tertimpa malapetaka yang menghabiskan hartanya, halal baginya minta-minta sampai bisa tegak hidupnya. Dan (yang ketiga) orang yang tertimpa kemiskinan sampai ada tiga orang berakal dari kaumnya berkata: “kemiskinan telah menimpa si Fulan.” Maka halal baginya minta-minta  sampai bisa tegak hidupnya. Adapun minta-minta yang selain tiga jenis itu –wahai Qobishoh- dia itu adalah keharoman, pelakunya memakannya dengan harom.” (HR. Muslim (1044)).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan:

وأعلن عبدالله بن مرعي محاضرة في قرية معيان المساجدة -قرية من ضواحي الشحر-، وسجلت ثم أخفوا الشريط من أول يوم، ولما سأل بعض الناس عنه قالوا: قد ملأه الشيخ عبدالله بالتسول، وبعد فترة من هذه المحاضرة ذهب الأخ عبدالله إلى هذه القرية من أجل أن يشتري أرضًا تكون مركزًا له، وطلب من أصحاب الأراضي أن يساعدوا الدعوة فيبيعوها برخص.

Dan Abdulloh Mar’i  mengumumkan akan adanya ceramah di desa Mi’yanul Masajidah- desa di Syihr wilayah atas-, ceramah tersebut direkam dalam kaset, tapi kemudian mereka menyembunyikannya sejak hari pertama. Ketika sebagian orang menanyakannya mereka menjawab: “Asy Syaikh Abdulloh memenuhi kaset tadi dengan tasawwul (meminta-minta)([8])”. Setelah selang waktu dari ceramah tadi pergilah Akh Abdulloh ke desa ini untuk membeli tanah yang akan menjadi markiz miliknya. Dia meminta para pemilik tanah untuk untuk membantu dakwah sehingga merekapun menjual tanah tadi dengan harga murah.

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ».

“Anak Adam menjadi renta tapi ada dua kondisi dirinya yang menjadi muda: semangat mencari harta, dan semangat mendapatkan umur panjang.” (HR. Muslim (1047)).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata:

فأعظم ما يكون العبد قدرا وحرمة عند الخلق إذا لم يحتج اليهم بوجه من الوجوه فإن أحسنت اليهم مع الإستغناء عنهم كنت أعظم ما يكون عندهم ومتى إحتجت اليهم ولو فى شربة ماء نقص قدرك عندهم بقدر حاجتك اليهم وهذا من حكمة الله ورحمته ليكون الدين كله لله ولا يشرك به شىء إلخ (“مجموع الفتاوى” – (ج 1 / ص 39))

“Maka nilai seorang hamba yang paling agung dan paling terhormat di sisi para makhluk adalah jika dia tidak butuh sama sekali pada mereka. Jika engkau berbuat baik pada mereka bersamaan dengan ketidakbutuhan kepada mereka, engkau menjadi makhluk paling agung di sisi mereka. Dan kapan saja engkau butuh kepada mereka –meskipun seteguk air- berkuranglah nilaimu di sisi mereka sesuai dengan kadar kebutuhanmu pada mereka. Dan ini adalah bagian dari hikmah Alloh dan Rohmat-Nya agar ketundukan itu hanya diberikan untuk Alloh, dan tiada sesuatupun yang disekutukan dengan-Nya dst (“Majmu’ul Fatawa” 1/39).

Sungguh Abdulloh Mar’i telah menghinakan dirinya, lalu sekaligus menghinakan dakwah Salafiyyah dengan kegemarannya untuk mengemis. Dakwah ini milik Alloh ta’ala. Alloh telah memerintahkan kita untuk hanya meminta pada-Nya saja, memerintahkan kita menjaga kehormatan diri dan agama-Nya, melarang kita untuk mengemis. Tapi Abdulloh Mar’i dan para tokoh Jam’iyyat selalu saja di hadapan masyarakat menggambarkan dakwah Salafiyyah Islamiyyah berada dalam posisi lemah, hina, dan sangat butuh uluran tangan.

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan:

فلما حثهم وكيل المرعي على ركوب معهم البحر في ذلك اليوم فوافقه اثنان ورفض البقية. فقال الوكيل أمام الناس: أين محبتهم للدعوة؟! هل هؤلاء يحبون الدعوة؟! سلام الله على الصوفية، سلام الله على الحزبية. (“التجول” ص 5)

Ketika wakil si Mar’i menyemangati mereka –para nelayan- untuk berlayar bersama pada hari itu, hanya dua orang saja yang menyetujui, sementara sisanya menolak. Maka berkatalah sang wakil tadi di hadapan orang-orang: “Di manakah kecintaan mereka pada dakwah?! Apakah mereka mencintai dakwah?! Salam sejahtera buat Shufiyyah, salam sejahtera buat hizbiyyah.” (hal. 5).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Sahl Ibnul Handholiyyah rodhiyallohu ‘anhu berkata:

َقَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ ». –وفي رواية- « مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا يُغْنِيهِ –وفي رواية- وَمَا الْغِنَى الَّذِى لاَ تَنْبَغِى مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ « قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ ». –وفي رواية- « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa meminta-minta, dan di sisinya ada sesuatu yang telah mencukupinya, maka dia itu hanyalah sedang memperbanyak api.” –dalam riwayat lain: “Dari api Jahannam” Maka mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu sesuatu yang telah mencukupinya?” dalam riwayat lain: “Apa itu kekayaan yang dengan tidak diperbolehkan meminta-minta?” Beliau menjawab,“Sekadar makan siang, atau makan malam.” dalam riwayat lain: “Yang bisa mengenyangkannya sehari semalam.” (HR Abu Dawud (5/hal. 177) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh-).

عن رجل من بني أسد أنه سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ سَأَلَ مِنْكُمْ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ أَوْ عَدْلُهَا فَقَدْ سَأَلَ إِلْحَافًا ». قَالَ الأَسَدِىُّ فَقُلْتُ لَلَقِحَةٌ لَنَا خَيْرٌ مِنْ أُوقِيَّةٍ وَالأُوقِيَّةُ أَرْبَعُونَ دِرْهَمًا.

Salah seorang dari Bani Asad berkata bahwasanya dirinya mendengar  Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa dari kalian meminta-minta, padahal dirinya memiliki satu uqiyyah atau yang semisal dengannya, maka sungguh dia telah meminta dengan merengek-rengek.” Maka berkatalah orang Bani Asad ini: “Aku sungguh memiliki onta betina yang tentu saja lebih baik daripada satu uqiyyah”. Dan satu uqiyyah adalah empat puluh dirham.” (HR. Abu dawud (5/hal. 175) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh-).

Terus-menerus Abdulloh Mar’i dan anak buahnya mengemis dengan memakai dakwah. Apakah mereka pura-pura lupa dengan dalil-dalil di atas, yang menunjukkan bahwasanya dakwah seperti itu menyelisihi jalan Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam-? Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- menyebutkan kisah pembangunan masjid Nabawy:

وأنه أمر ببناء المسجد فأرسل إلى ملأ من بني النجار فقال: «يا بني النجار ثامنوني بحائطكم هذا». قالوا: لا والله لا نطلب ثمنه إلا إلى الله.

“… dan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk membangun masjid. Maka beliau mengirimkan utusan kepada Bani Najjar seraya berkata: “Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini.” Tapi mereka berkata,”Tidak, demi Alloh kami tidak meminta harganya kecuali kepada Alloh.” (HR. Al Bukhory dan Muslim).

Bahkan Abdulloh Mar’i dan pengikutnya telah menyelisihi jalan dakwah para Nabi –shollallohu ‘alaihim wasallam-. Alloh ta’ala berfirman menukil dari nabi Nuh –‘alaihis salam-:

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الله [هود : 29]

“Dan wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini harta. Tidaklah upahku kecuali tanggungan Alloh.” (QS. Hud: 29).

Dan secara khusus mereka tidak minta upah atas dakwah mereka. Alloh ta’ala berfirman menukil dari nabi Hud –‘alaihis salam-:

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلَا تَعْقِلُونَ [هود : 51]

“Wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah. Tidaklah upahku kecuali tanggungan Dzat yang menciptakan aku. Maka apakah kalian tidak berpikir?” (QS. Hud: 51).

Dan Alloh ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِين [الأنعام : 90]

“Katakanlah: Aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah. Tidaklah dakwah ini kecuali peringatan untuk seluruh alam.” (QS. Al An’am: 90).

Seakan-akan ciri khas ini –tidak minta upah- telah melekat di dalam dakwah para Nabi dan Rosul, dan menjadi alasan yang mendorong orang-orang berakal untuk menerimanya. Alloh ta’ala berfirman:

َجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ * اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ [يس : 20 ، 21]

“Dan datanglah seorang pria dari ujung kota itu dengan bergegas seraya berkata: Wahai kaum, ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah, dan mereka itu mendapatkan petunjuk.” (QS. Yasin: 20-21).

Anak buah Abdulloh Mar’i juga memanfaatkan rasa malu para nelayan untuk menyumbangkan harta dengan jumlah yang sedikit. Demikian juga yang terjadi di sekolah anak-anak yang mereka selenggarakan. Lihat secara lengkap dan terperinci pada hal. 6 risalah “At Tajawwul”.

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

فقد نشروا بين الناس في بدء أمرها أن الدراسة في هذه المدرسة ستكون مجانية،  ثم إذا بعبدالله بن مرعي يجتمع بآباء الأولاد وينصحهم ويرشدهم ثم يبين لهم حال الدعوة وحاجتها والديون التي عليها، وأن المدرسين يحتاجون إلى مرتبات ثم يقترح عليهم أن تكون على المستطيع خمسمائة ريال يمني كل شهر على كل طالب. واستغلوا بحياء بعض الآباء، لأن بعضهم يستحيي أن يدفع خمسمائة ريال كل شهر فيدفع خمسة آلاف كل شهر! وبعضهم أربعة آلاف كل شهر عن ولده. (“التجول” ص 6)

Mereka telah menyiarkan di masyarakat pada awal penyelenggaraan sekolah tersebut (sekolah anak-anak) bahwasanya pendidikan yang dilaksanakan di sekolah tersebut akan BERSIFAT GRATIS. Ternyata di kemudian hari Abdulloh Mar’i  mengumpulkan orang tua anak-anak tadi, menasihati mereka, mengarahkan mereka, dan kemudian menjelaskan pada mereka tentang kondisi dakwah, kebutuhannya, dan hutang-hutang yang dipikulnya. Juga menjelaskan bahwasanya para pengajar butuh gaji. Lalu dia menyodorkan ide pada mereka agar orang yang mampu hendaknya membayar limaratus real Yamaniy tiap bulan per murid. Mereka (Abdulloh Mar’i dan pengikutnya) memanfaatkan rasa malu sebagian orang tua, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk menyodorkan limaratus real per bulan, makanya mereka menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari mereka membayar empat ribu per bulan atas nama anaknya. (hal. 6).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

وقد طلب عبدالله بن مرعي رئيس جمعية صيادي الخور بالشحر، أن تساهم هذه الجمعية في بناء سقف صرح مسجد التقوى، فأعطاهم هذا الرئيس مائة ألف،

Abdulloh bin Mar’i telah meminta kepala Jam’iyyah Shoyyadil Khour (jam’iyyah nelayan yang ada di Khour) di Syihr agar Jam’iyyah ini ikut ambil bagian menyumbang pembangunan atap yang tinggi dari masjid “At Taqwa”, maka sang kepala memberinya seratus ribu real.

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: telah lewat penyebutan dalil yang menunjukkan bahwasanya perbuatan ini –meskipun banyak yang melakukannya- termasuk penyelisihan terhadap jalan dakwah Rosululloh saw. Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata:

وهكذا بناء المسجد لا يجوز أن يهين نفسه، ويهين العلم والدعوة، من أجل بناء مسجد، فالرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم لما أراد أن يبني مسجدًا قال: «يا بني النّجّار ثامنوني بحائطكم»، أي: من أجل أن يبني فيه مسجدًا، فقالوا: بل هو لله ولرسوله.

على أنه يمكن أن يبني مسجدًا من الطين واللبن بنحو مائة ألف ريال يمني، والوقت الذي تصرفه في المسألة، يمكن أن تصرفه في عمارة المسجد والعمل فيه ودعوة الناس إلى العمل بأيديهم. فالأموال التي تكون فيها إهانة للعلم وللدعاة إلى الله، أو دعوة إلى حزبية، أو جعل المساجد للشحاذة، فلسنا بحاجتها. (“ذم المسألة” ص217)

“Demikian pula dalam membangun masjid. Tidak boleh menghinakan diri, menghinakan ilmu dan dakwah demi membangun masjid. Rosul –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika ingin membangun masjid bersabda: “Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini.” Yaitu: beliau mau membangun masjid di situ. Tapi mereka berkata,”Tidak, justru kebun ini untuk Alloh dan Rosul-Nya.” Seseorang itu mungkin saja untuk membangun masjid dari tanah liat dan bata dengan dana sekitar seratus ribu real Yamaniy. Dan waktu yang dipakainya untuk meminta-minta bisa digunakannya untuk memakmurkan masjid, beramal di situ, dan mengajak orang untuk bekerja dengan tangan-tangan mereka. Harta yang di situ ada penghinaan terhadap ilmu dan dakwah ilalloh, atau dakwah kepada hizbiyyah, atau menggunakan masjid-masjid untuk mengemis, maka kami tidak membutuhkannya.” (“Dzammul Mas’alah”/hal. 217).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

وبعد استلامهم لهذا المال الذي أخذوه من أجل بناء سقف صرح المسجد لم ينفذوا من البناء شيئًا حتى الآن وله قرابة ثلاثة سنوات. (“التجول” ص 6-7)

Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya dipakai untuk membangun atap bangunan tinggi  masjid, ternyata sampai saat ini (sekitar tahun 1428 H) mereka tidak juga melaksanakan pembangunannya sedikitpun padahal sudah lewat hampir tiga tahun. (hal. 6-7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semoga mereka tidak sampai terkena hadits Khoulah Al Anshoriyyah -rodhiyallohu ‘anha-: Aku mendengar Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

«إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ الله بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya ada orang-orang yang mempergunakan harta Alloh tanpa alasan yang haq, maka mereka berhak mendapatkan neraka pada hari kiamat.” (HR. Al Bukhoriy (3118)).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

واشتغلوا بحياء بعض جمعية صيادي الخور بالشحر في قضية تسجيل بعض أسماء المساهمين وخوفهم أن يتهموا بالبخل.

Mereka memanfaatkan rasa malu sebagian anggota jam’iyyah Shoyyadil Khour di Syihr dalam kasus pencatatan nama orang-orang yang mau menyumbang Darul Hadits di Syihr dan memanfaatkan rasa takut mereka untuk dituduh sebagai orang pelit. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Mestinya dia dan semisalnya merasa malu memakai nama besar Al Imam Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- tapi menyelisihi ajarannya yang syar’iy-salafiy. Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata:

بل وصلتني قبل أيام خمسة عشر ألفا ريال سعودي، فقلت: من أين هذا؟ قالوا: من مجموعة من العمال يشتغلون ويفرضون على كل واحد منهم في الشهر مائة ريال، فقلت: أقرئوهم السلام وقولوا لهم: إن هذا الفعل ليس بمشروع وهذا المال قد وصل ولكن لا يفعلون هذا مرة أخرى، فمن تيسر له شيء وأراد أن يساعد الدعوة فعل، أما هذا فما كان النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم يفعله، فنحمد الله سبحانه وتعالى على ما هيأ وعلى ما يسر. (“غارة الأشؤطة” 1 ص 483)

“Bahkan telah sampai padaku beberapa hari yang lalu uang sebanyak lima belas real Su’udiy. Kutanyakan: “Ini dari mana?” mereka menjawab,”Dari sekelompok buruh yang bekerja, lalu mengharuskan setiap orang Dari mereka untuk mengumpulkan sumbangan seratus real per bulan.” Kukatakan:”Sampaikanlah salamku buat mereka, dan katakan pada mereka: perbuatan seperti ini tidak disyariatkan. Uang ini telah sampai kemari, tapi lain kali jangan lagi mereka melakukannya. Barangsiapa dimudahkan punya uang dan berhasrat untuk membantu dakwah silakan membantu. Adapun yang seperti ini tidaklah dulunya Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- melakukannya. Kami memuji Alloh subhanahu wata’ala atas apa yang dipersiapkannya dan dimudahkan-Nya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 483).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan perbuatan Abdulloh Mar’i:

تتبع أسماء التجار لأخذ أموالهم باسم الدعوة، بل إلى تجار الخليج (“التجول” ص 7)

Mendaftar nama para pedagang untuk mengambil dana dari mereka atas nama dakwah, bahkan para pedagang dari kawasan Teluk. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Abdulloh bin ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

«مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ».

“Senantiasa seseorang itu meminta pada orang lain sampai dia datang pada hari kiamat dalam keadaan di wajahnya tiada potongan daging.” (HR. Muslim (2445)).

Imam An Nawawy -rahimahulloh- berkata:

مَقْصُود الْبَاب وَأَحَادِيثه : النَّهْي عَنْ السُّؤَال، وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ ، وَاخْتَلَفَ أَصْحَابنَا فِي مَسْأَلَة الْقَادِر عَلَى الْكَسْب عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا : أَنَّهَا حَرَام ؛ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيث . وَالثَّانِي : حَلَال مَعَ الْكَرَاهَة بِثَلَاثِ شُرُوط : أَلَّا يُذِلَّ نَفْسه ، وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَال ، وَلَا يُؤْذِيَ الْمَسْئُول ، فَإِنْ فُقِدَ أَحَد هَذِهِ الشُّرُوط فَهِيَ حَرَام بِالِاتِّفَاقِ . وَالله أَعْلَم .

“Maksud dari bab ini dan hadits-haditsnya adalah larangan dari meminta-minta. Dan para ulama telah bersepakat dalam larangan ini, jika bukan dalam keadaan darurat. Adapun masalah orang yang mampu untuk bekerja tapi dia meminta-minta, para sahabat kami –Asy Syafi’iyyah- berselisih menjadi dua pendapat. Yang paling shohih adalah dia itu harom, berdasarkan lahiriyah dari hadits-hadits tersebut. Dan pendapat yang kedua: halal tapi dibenci, dengan tiga syarat: tidak sampai dia merendahkan dirinya, tidak berbuat “ilhah” (merengek-rengek) dalam meminta, dan tidak menyakiti atau mengganggu orang yang dimintai. Apabila salah satu dari syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka dia itu harom secara kesepakatan. Wallohu a’lam. (“Syarh Shohih Muslim” 3/488).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

وفي بعض الأحيان يذهب هو وعبدالله باسعد إلى بعض من يرسل إليه بعض المال، من قِبَلِ تجار الخليج، فيقفان له خارج البيت بعد الظهر ولو كلفهم ذلك الوقوف في الشمس. (“التجول” ص 7)

Pada sebagian kesempatan pergilah Abdulloh Mar’i dan Abdulloh Ba Sa’d ke sebagian orang yang mengirimkan uang padanya dari para saudagar Teluk. Lalu keduanya setelah zhuhur berdiri di luar rumah pemilik uang tadi menunggunya, meskipun harus berdiri di terik matahari. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Wahb bin Munabbih –rohimahulloh- berkata pada ‘Atho Al Khurosaniy:

«كان العلماء قبلنا استغنوا بعلمهم عن دنيا غيرهم ، فكانوا لا يلتفتون إلى دنياهم ، فكان أهل الدنيا يبذلون لهم دنياهم ، رغبة في علمهم ، فأصبح أهل العلم منا اليوم يبذلون لأهل الدنيا علمهم ، رغبة في دنياهم ، فأصبح أهل الدنيا قد زهدوا في علمهم ، لما رأوا من سوء موضعه عندهم ، فإياك وأبواب السلاطين ، فإن عند أبوابهم فتنا كمبارك الإبل، لا تصيب من دنياهم شيئا إلا أصابوا من دينك مثله »

“Dulu para ulama sebelum kita merasa cukup dengan ilmu mereka dari dunia orang lain. Dulu mereka tidak menoleh kepada dunia mereka. Makanya ahli dunia mencurahkan dunianya untuk ulama tadi karena berhasrat mendapatkan ilmu mereka. Sekarang jadilah ulama dari kalangan kita mencurahkan ilmu mereka kepada ahlu dunia karena berhasrat kepada dunia mereka. Maka jadilah ahlu dunia telah merasa tidak butuh kepada ilmu mereka karena melihat jeleknya posisinya di sisi mereka. Maka hindarilah olehmu pintu-pintu para penguasa, karena sungguh ada fitnah di pintu-pintu mereka, bagaikan tempat mendekamnya onta. Tidaklah kamu mengambil dunia mereka sedikitpun kecuali mereka akan mengambil semisalnya dari agamamu.” (“Asy Syari’ah”/oleh Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh-/no. 70).

Lalu Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh- berkata:

فإذا كان يخاف على العلماء في ذلك الزمان ، أن تفتنهم الدنيا ، فما ظنك في زمننا هذا ؟ الله المستعان ما أعظم ما قد حل بالعلماء من الفتن ، وهم عنه في غفلة

“Jika dulunya ditakutkan pada para ulama pada zaman itu untuk terfitnah dengan dunia, maka bagaimana dugaanmu pada zaman kita ini? Wallohul musta’an, alangkah besarnya fitnah yang menimpa ulama dalam keadaan mereka melalaikannya.”

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: sesungguhnya fitnah dan kebatilan itu datang perlahan-lahan. Jika Abdulloh Mar’i sudah siap untuk berdiri di bawah terik matahari demi uang para saudagar –padahal dia masuk dalam jajaran ulama-, maka bukan mustahil suatu saat keadaannya bisa seperti yang diucapkan Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- tentang keadaan sebagian hizbiyyin:

..وخصوصًا إذا كنت تاجرًا، فهو مستعد أن يأخذ عمامته ويمسح الغبار عن نعليك، أو كان لك من السلطة شيء، أو كنت متبوعًا، فهم مستعدون أن يتابعوك حتى يظفروا بك ويصطادوك. (“تحفة المجيب” ص 151)

“… dan khususnya jika engkau adalah seorang pedagang, maka dia siap untuk mengambil sorbannya dan menghapus debu yang ada di kedua sandalmu. Atau jika kamu punya sedikit kekuasaan, atau kamu adalah seorang pemimpin yang diikuti, maka mereka siap untuk membuntutimu sampai bisa merekrutmu dan menjaringmu.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 151).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

وأحيانا يستدين من بعض التجار إلى أجل محدود، فلما جاء الأجل قال لهم: اجعلوه من الزكاة. (“التجول” ص 7)

Terkadang Abdulloh Mar’i berutang kepada sebagian pedagang sampai ke batas tertentu. Manakala tiba saat pembayaran dia berkata pada mereka: “Jadikanlah utangku tadi bagian dari zakatmu.” (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: bacalah di risalah “At Tajawwul” hal. 8 tentang keunikan Abdulloh Mar’i dalam mengemis kaset dan tape recorder yang baru dan lama di masjid “At taqwa”, dan juga masjid “Abdurrohim” di Syihr.

Al Imam Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata:

ويالله كم من داعية كبير تراه يحفظ الآيات التي فيها ترغيب في الصدقة، وينتقل من هذا المسجد إلى هذا المسجد: ﴿وما تقدّموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرًا وأعظم أجرًا. وانقلب المسكين من داعية إلى شحاذ، وصدق الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم إذ يقول: ((لكلّ أمّة فتنةً، وفتنة أمّتي المال)).

“Ya Alloh, alangkah banyaknya da’i besar yang menghapal ayat-ayat yang mengandung penyemangatan untuk bershodaqoh, dia pindah dari masjid ini ke masjid itu, membacakan: “Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh dengan yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.” Dan berbaliklah si miskin ini dari posisi da’i kepada posisi pengemis. Sungguh benar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika bersabda: “Setiap umat itu punya fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (“Dzammul Mas’alah”/hal. 218).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

تأجير باص الدعوة للمحاضرات، فإذا بقي للراكب شيء من المال المدفوع، كخمسين أو ثلاثين ريالًا أو نحو ذلك، قال: محصل الباص للراكب للدعوة. أي اتركه للدعوة، فيستحيي الراكب، ويتركه ولا يطالب به  (“التجول” ص 9)

Penyewaan bis dakwah untuk menghadiri ceramah-ceramah. Jika ada sisa uang kembalian milik si penumpang seperti lima puluh, atau tiga puluh real dan sebagainya. Maka berkatalah si penarik uang: “Sisa uang bis dari penumpang adalah untuk dakwah.” Yaitu: tinggalkanlah uang kembalian tadi buat dakwah. Maka si penumpangpun malu, meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak mengambilnya. (hal. 9).

Juga menyebutkan:

واستغلال الباقي من مال مشتري البقالة فقال: اتركه للدعوة، فيستحيي المشتري ويتركه ولا يطالب به، وهكذا لمدة طويلة، وفي الآونة الأخيرة وبعد تحويلها إلى مشاركة بالأسهم تركوا ذلك. (“التجول” ص 9)

 Mereka memanfaatkan sisa dari uang pembeli sayur dan sebagainya seraya berkata: “Tinggalkanlah uang kembaliannya untuk dakwah.” Maka sang pembelipun malu, meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak mengambilnya. Demikianlah hal itu berlangsung sekian lama. Dan pada masa-masa terakhir dan setelah toko tadi dirubah jadi perserikatan saham merekapun meninggalkan cara tadi. (hal. 9).

Inilah contoh ringkas dari proyek mengemis si Abdulloh Mar’i yang dilakukannya dan anak buahnya di Syihr. Semuanya secara rinci berjumlah dua puluh poin. Sebagiannya dilakukan di Syihr bagian atas. Belum lagi proyek minta-minta yang dilakukannya di Saudi dan sebagian Negara Teluk sampai sekarang.

Para ulama Salaf -rohimahumulloh- sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ‘iffah (kehormatan diri) sebagaimana yang diajarkan oleh Alloh ta’ala, dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan tidak mau menghinakan diri dengan mengemis kecuali jika terpaksa.

Abul ‘Aliyah -rahimahulloh- berkata:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ وَكَانَ ثَوْبَانُ مَوْلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَكَفَّلَ لِى أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلَ لَهُ بِالْجَنَّةِ ». فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا. فَكَانَ لاَ يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا. (أخرجه أبو داود ج 5 / ص 195)

“Dari Tsauban –dan beliau adalah maula dari Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam—yang berkata: Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Siapakah menjamin kepadaku untuk tidak meminta pada manusia sedikitpun, dan aku menjamin untuknya dengan Jannah?” Maka Tsauban berkata,”Saya”. Dan Tsauban tak pernah meminta kepada seorangpun sesuatu apapun.” (HSR Abu Dawud/5/hal. 195 dan dishohihkan oleh Imam Al Wadi’y -rahimahulloh-)

‘Auf bin Malik Al Asyja’iy rodhiyallohu ‘anhu berkata:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ: « أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله » وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله فَعَلاَمَ نُبَايِعُكَ قَالَ « عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا الله وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا ». فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ .

“Kami pernah ada di sisi Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam-, sembilan, atau delapan atau tujuh orang. Maka beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”, padahal kami baru saja membai’at beliau. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami mengulurkan tangan kami seraya berkata,” Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh. Maka kami membai’at Anda untuk berbuat apa?” Beliau bersabda:“Agar kalian beribadah pada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan untuk sholat lima waktu, dan agar kalian taat.” Dann beliau berbicara dengan lirih: “Dan agar kalian tidak meminta pada manusia sedikitpun.” Maka sungguh aku melihat sebagian dari rombongan tadi, cambuk dari salah seorang dari mereka terjatuh. Maka dia tidak meminta pada seorangpun untuk mengambilkannya untuknya.” (HSR Muslim /1043)

Dari Ummud Darda’ -rahimahalloh-, beliau berkata:

قال لي أبو الدرداء : لا تسألي الناس شيئا ، قالت : فقلت : فإن احتجت ؟ قال : فإن احتجت فتتبعي الحصادين فانظري ما سقط منهم فاخبطيه ثم اطحنيه ثم كليه، ولا تسألي الناس شيئا 

“Abud Darda’ –rodhiyallohu ‘anhu – berkata padaku,”Janganlah engkau meminta pada manusia sedikitpun.” Maka aku bertanya,”Kalau aku berhajat?” Beliau menjawab,”Jika engkau berhajat, maka ikutlah di belakang para tukang panen, lalu lihatlah apa yang berjatuhan dari bawaan mereka, lalu pungutlah ia, masaklah dan makanlah, dan jangan kau meminta pada manusia sedikitpun.” (“Az Zuhd”/2/291/ Imam Ahmad -rahimahulloh-, dan dishohihkan Syaikhuna Yahya Al Hajury – hafidzahulloh – di tahqiq “As Sunanul Kubro” Imam Al Bauhaqy -rahimahulloh-)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata:

وقد تواترت الأحاديث عن النبي صل بتحريم مسألة الناس إلا عند الضرورة

“Hadits-hadits telah mutawatir bahwasanya Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- mengharomkan minta-minta pada manusia kecuali di saat darurat.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 316).

Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy –rohimahulloh- berkata:

واتفقوا أن المسألة حرام. (“الإقناع في مسائل الإجماع”/7/3/ص397).

“Para ulama telah sepakat bahwasanya meminta-minta itu harom.” (“Al Iqna’ Fi Masailil Ijma’”/7/3/hal. 397).

Dan mengemis atas nama dakwah sudah menjadi sifat kebanyakan hizbiyyun, bukan sifat Ahlussunnah Wal Jama’ah. Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata:

فالحق أنّهم شوهوا الدعوة، – إلى قوله: – وقد ساءت النيات بسبب الدنيا، فقد كان يأتيني أصحاب إبّ ويقولون لي: يا أبا عبدالرحمن قل للأستاذ محمد المهدي يجلس لنا في المسجد، يعلمنا العلم. وقد كنت أحسن به الظن، وهم كذلك يحسنون به الظن، فقلت له فأبى، وما عرفنا أنه جوال لجمع الدنانير والأموال، فلا تسمع به إلا في دولة قطر، وأخرى في السعودية، ومرة في أمريكا، -إلى قوله: – ثم يأتي عقيل ويقول: قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: ((أنا وكافل اليتيم كهاتين)). ويأتي محمد المهدي ويقول:﴿وما تقدّموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله﴾. وانظروا إلى المجلة الشحّاذة (مجلة الفرقان) هل تجدون عددًا ليس فيه شحاذة.

“Sebenarnya mereka itu sungguh telah memperburuk citra dakwah –sampai ucapan beliau:- niat-niat telah menjadi jelek karena dunia. Dulu orang-orang propinsi Ibb mendatangiku dan berkata: “Wahai Abu Abdirrohman, katakanlah pada Al Ustadz Muhammad Al Mahdi agar mau duduk untuk kami di masjid dan mengajari kami ilmu.” Dulu aku berbaik sangka padanya. Demikian pula mereka berbaik sangka padanya. Kukatakan padanya yang demikian itu tapi dia menolak. Kami tidak tahu bahwasany dirinya itu gemar bepergian demi mengumpulkan dinar-dinar dan harta. Tidaklah kamu dengar berita tentang dirinya kecuali dia itu sudah ada di Negara Qothor, terkadang di Saudi, dan suatu kali di Amerika. –sampai ucapan beliau:- lalu datanglah ‘Aqil (Al Maqthoriy) dan berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan kedua jari ini.” Dan datang Muhammad Al Mahdi dan berkata: “Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh.” Dan lihatlah majalah pengemis: Majalah “Al Furqon”. Apakah kalian mendapatkan edisi yang di situ tidak ada sikap mengemis?” (lihat lengkap di “Tuhfatul Mujib”/hal. 75-79).

 

Bab Tiga: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis

 

Di antara metode dakwah yang batil adalah meminta-minta setelah ceramah. Ini merupakan gaya hizbiyyin dan beberapa kelompok ahlul bida’. Sudah banyak fatwa Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- tentang hal itu. Beliau pernah ditanya:

يأتي إلى أمريكا من ينسب نفسه إلى أهل السنة، ومنهم عقيل المقطري، ويخطب في المساجد، وبعدها يقوم بجمع التبرعات للجمعية فما حكم ذلك؟

“Ada seseorang yang datang ke Amerika dan menisbatkan dirinya kepada Ahlussunnah. Di antara mereka adalah ‘Aqil Al Maqthory. Dia berkhothbah di beberapa masjid, dan setelah itu dia berdiri untuk mengumpulkan sumbangan buat jam’iyyah. Maka apa hukum perbuatan itu?

Maka beliau menjawab:

دعوة الإخوان المسلمين دعوة مادية دنيوية، ولجمع الأموال، ففي ذات مرة خرجنا دعوة، وخرج معنا عبدالله النهمي رحمه الله فقد قتل في أفغانستان ، وعبدالوهاب صهر حزام البهلولي، وقالوا: نحن نطلب تبرعات، فقلنا: هذه ليست من سمات أهل السنة

“Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah materiil keduniaan, untuk mengumpulkan harta. Pernah pada suatu hari kami keluar untuk berdakwah, dan keluarlah bersama kami Abdulloh An Nahmy -rahimahulloh- -beliau telah terbunuh di Afganistan- dan juga Abdul Wahhab besan Hizam Al Bahluly. Dan mereka berkata,”Kami akan meminta sumbangan. Maka kami berkata,”Ini bukanlah alamat Ahlussunnah.” dst (“Tuhfatul Mujib” hal. 75 dst)

Al Imam Al Wadi’i rohimahulloh berkata dalam masalah minta-minta: “Dan bukanlah kami mendakwahi manusia untuk mengambil harta mereka. Kalaupun engkau pergi ke negri manapun dari negri-negri Islam engkau tak akan melihat seorang sunni yang berdiri dan memberikan nasihat kepada manusia hingga membikin mereka menangis, lalu setelah itu dia menggelar sorbannya di pintu (“Tuhfatul Mujib” hal. 75-76).

Beliau rohimahulloh juga berkata:

وقد أخبرني أخ جاء من أمريكا أنّهم كانوا يتجولون في أمريكا، ويلقون المحاضرات ويقولون: أنا وكافل اليتيم كهاتين، فقام شخص عليهم وقد كان يريد مساعدة البوسنة والهرسك فقال لهم: كافل اليتيم الذي يكفله، وليس الذي يشحذ فجرى بينهم الخصام من أجل الدنيا. والدعوة عند أن دخلتها المطامع الدنيوية قلّت بركتها: ﴿ألا لله الدّين الخالص﴾، ويقول: ﴿وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدّين﴾. (“تحفة المجيب” ص 147)

“Telah mengabariku seorang saudara  yang datang dari Amerika bahwasanya mereka itu (tokoh-tokoh hizbiyyun yang tersebut sebelumnya) berkeliling di Amerika, menyampaikan ceramah-ceramah dan berkata (Menyebut sabda Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam-): “Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan kedua jari ini.” Maka seseorang berdiri menghadap mereka -dan dia menginginkan pengumpulan bantuan buat Bosnia dan Herzegovina- seraya berkata pada mereka, “Pengasuh yatim adalah orang yang benar-benar mengasuhnya, bukan orang yang mengemis.” Maka terjadilah pertengkaran di antara mereka karena dunia. Dakwah jika dimasuki hasrat-hasrat duniawi itu kecil barokahnya. (Alloh ta’ala berfirman yang artinya:) “Ketahuilah: Hanya milik Alloh sajalah agama yang murni.” Dan berfirman: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Alloh dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 147).

Masjid adalah rumah Alloh ta’ala yang di situ wajib para hamba mengagungkan Alloh ta’ala, dan memuliakan agama-Nya. Adapun mempergunakan masjid untuk sarana mengemis dan agar dakwah itu dikasihani, maka ini merupakan pelanggaran dari tujuan di atas. Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- di antara fatwanya adalah:

خذوا لكم مكبر صوت واخرجوا في الشوارع. أما بيوت الله فلم تبن إلا لذكر الله ولم تبن للشحاذة. وأقول إنه ينبغي  أن يخرج من المسجد هذا الذي  يقوم في بيت الله للشحاذة إلخ

“Ambil saja oleh kalian pengeras suara dan keluarlah ke jalan-jalan. Adapun rumah-rumah Alloh, maka dia itu dibangun untuk dzikrulloh, dan bukan dibangun untuk mengemis. Dan aku katakan: Orang ini, yang berdiri di masjid untuk mengemis dia harus dikeluarkan dari masjid” dst (“Ghorotul Asyrithoh” 1/536-537)

 

Bab Empat: Abdulloh Mar’i Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah

 

Semula ana hendak merincikan sekian banyak proyek yang yang dikelola oleh Abdulloh Mar’i , baik secara langsung ataupun secara perwakilan, sebagaimana ditulis oleh Akhuna Muhammad Ba Roidiy Al Hadhromiy –hafizhohulloh- dalam kitab beliau “Nubdzatun Mukhtashoroh”. Akan tetapi manakala ana lihat bahwasanya hampir semuanya telah tersebut di “Mukhtashorul Bayan” maka ana tak perlu lagi mengulangnya. Apa yang disebutkan di situ telah sangat cukup sebagai bukti bahwasanya orang ini adalah pecinta dunia, tapi berlindung di balik jubah “Demi Dakwah”. Dan ini merupakan metode para hizbiyyin.

Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- telah menasihatinya:

وانظر إلى واقع الحزبيين من أين دخل عليهم الشر ومن أين أوتوا، وإلى أي بلاء صاروا، فالشيخ عبد الله توسع في المشاريع، وأكثر بحجة أن الدعوة محتاجة، وليس معنا من يساعدنا وغيرها من الأعذار الباردة، والشخص إذا هوى أمراً ركب الصعب والذلول في التماس المعاذير ليبرر صنيعه. (“نقض الرد” ص11)

“Lihatlah kenyataan para hizbiyyin, darimana masuknya kejelekan kepada mereka? Dari mana mereka tertimpa musibah? Kepada musibah yang mana mereka beranjak? Asy Syaikh Abdulloh Mar’i telah memperluas proyek-proyek, dan memperbanyak alasan bahwasanya dakwah ini sedang butuh, tiada orang yang membantu kita, dan udzur-udzur dingin yang lain. seseorang itu jika telah berhasrat pada sesuatu dia akan menempuh jalan yang susah ataupun mudah. Untuk mencari udzur yang membolehkan perbuatannya. (“Naqdhur Rodd” hal. 11).

Dikarenakan banyaknya kesibukan duniawi melemahlah perhatian Abdulloh Mar’i terhadap majelis ilmu para muridnya dari kadar yang semestinya dia berikan sebagai pemilik markiz dakwah, apalagi dia telah dimasukkan ke dalam jajaran ulama dakwah Salafiyyah. Kecilnya perhatian dirinya untuk mengajari muridnya secara rutin telah berkali-kali disebut oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh-, dan juga dibahas oleh Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di risalah beliau “Al Manzhorul Kasyif” hal. 4. Demikian pula dikatakan oleh Akhuna Abu Sholih Dzakwan Al Maidaniy Al Indonesiy dan yang lainnya –hafizhohumulloh- yang sempat belajar di markiz Syihr.

            Di dalam risalah “Mulhaqun Manzhor” hal. 8 Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy –hafizhohulloh- mengisyaratkan juga bahwasanya Abdulloh Mar’i tersibukkan dari memperdalam ilmu, mencurahkan perhatian ke ilmu dan penyebarannya karena proyek-proyek bisnis tadi.

Di antara buktinya adalah ketika dia datang ke pedalaman Hadhromaut setelah ‘Idul Adha pada tahun 1427 H, setelah menyampaikan ceramah pada hari Kamis dan Hari Jum’at diumumkanlah dua ceramah yang lain untuk hari Sabtu dan Ahad, tapi ternyata dia tidak menghadirinya, dalam keadaam dia masih berada di situ juga -pedalaman Hadhromaut-, ternyata penyebabnya adalah kesibukannya untuk membeli sebuah mobil yang bersih. (“Mulhaqun Manzhor” hal. 4).

Kita tidak mengharomkan para hamba Alloh untuk berdagang. Hanya saja banyaknya proyek bisnis Abdulloh Mar’i dan beraneka ragamnya metode mengemis yang ditempuhnya, dan juga semangatnya jalan-jalan untuk merauh uang dari para saudagar menunjukkan kerakusan jiwanya terhadap harta. Padahal dia dimasukkan ke dalam jajaran ulama. Dia juga gemar membawa bendera Salafiyyah yang tidak mungkin akan tegak kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Sampai-sampai hampir gelar “Syahbandar Abdulloh” mengalahkan julukan “Asy Syaikh Abdulloh” dikarenakan banyaknya perdagangannya.

Makanya yang lebih pantas untuk dituduh merusak jalan dakwah Al Imam Al Mujaddid Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- adalah Abdulloh dan saudaranya. Adapun Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- justru tokoh yang paling setia dan tegar dengan Dakwah Salafiyyah yang dipancangkan oleh Imam –rohimahulloh- tersebut.

 

Bab Lima: Mengapa Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- Tidak Dijuluki Bagian Dari “Mar’iyyin”?

 

Di antara kengawuran Abdul Ghofur Al Malangiy adalah tuntutannya pada kami untuk menggelari Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- sebagai “Mar’iy” atau “Kibarul Mar’iyyin”, karena beliau masih mengatakan Abdurrohman Mar’iy itu Salafiy dsb. Dia bilang: “Sikap tegas dan jelas dari Asy Syaikh Rabi’ (yang jelas-jelas berlawanan dengan mereka) bahwa Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri, Asy Syaikh Abdullah dan Abdurrahman Mar’i adalah SALAFY (dan bukan hizby!) belum lagi mampu menumbuhkan kejantanan mereka sehingga berani menvonis Asy Syaikh Rabi’ sebagai KIBAR MAR’IYYAIN!” (hal. 20).

Jawaban pertama: Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- tidak memiliki pemikiran Mar’iyyah sehingga boleh dinisbatkan kepadanya. Sekian banyak pemikiran batil Mar’iyyin tidak ada pada Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh-, maka bagaimana beliau bisa dikatakan sebagai Mar’iy atau Kibarul Mar’iyyin?

Jawaban kedua: jelas beliau salah dalam membela si Mar’iy, tapi yang demikian itu bukanlah dikarenakan beliau menyetujui kejahatan si Mar’iy dan antek-anteknya. Hanya saja kami memahami keadaan beliau yang terus-menerus ditempel oleh Hani’ Buroik, Arofat dan lain-lain, mereka selama ini terus-menerus tampil manis di hadapan beliau sehingga amat menyulitkan beliau untuk mengetahui jati diri orang ini. Abu Malik Ali Al Baitiy Al Lahjiy –hafizhohulloh- (kepala Al Maktabatul ‘Ammah Darul Hadits di Dammaj) bercerita pada ana bahwasanya sebagian dari orang-orang tadi telah menempeli Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- sejak berlangsungnya perang komunis di Yaman (lebih dari sepuluh tahun yang lalu). Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy –hafizhohulloh- juga bercerita pada kami bahwasanya Hani’ Buroik itu sangat dihormati oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh-, dan dirinya dipercaya untuk membacakan soal-soal yang ditujukan kepada beliau. Dan orang ini termasuk yang selalu menghiasai berita-berita tentang Abdurrohman Al ‘Adniy, dan sekaligus menghasung Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- untuk men-jarh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh-. Makanya hingga kini kami terus-menerus memberikan udzur pada Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh-.

Jawaban ketiga: Jasa yang luar biasa dari Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- di dalam menjaga dakwah Salafiyyah dari gempuran musuh, dan sekaligus beliau puluhan tahun yang panjang menggempur para ahlul bida’, sangat tidak bisa disepelekan. Al Imam Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- berkata:

من قواعدالشرع والحكمة ايضا ان من كثرت حسناته وعظمت وكان له في الاسلام تأثير ظاهر فإنه يحتمل له ما لا يحتمل لغيره ويعفى عنه مالا يعفي عن غيره فإن المعصية خبث والماء إذا بلغ قلتين لم يحمل الخبث بخلاف الماء القليل فإنه لا يحمل ادنى خبث ومن هذا قول النبي صلى الله عليه و سلم لعمر وما يدريك لعل الله اطلع على اهل بدر فقال اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم وهذا هو المانع له صلى الله عليه و سلم من قتل من حس عليه وعلى المسلمين وارتكب مثل ذلك الذنب العظيم فأخبر صلى الله عليه و سلم انه شهد بدرا فدل على ان مقتضى عقوبته قائم لكن منع من ترتب اثره عليه ماله من المشهد العظيم فوقعت تلك السقطة العظيمة مغتفرة في جنب ماله من الحسنات ولما حض النبي صلى الله عليه و سلم على الصدقة فأخرج عثمان رضى الله عنه تلك الصدقة العظيمة قال ماضر عثمان ما عمل بعدها وقال لطلحة لما تطاطأ للنبي صلى الله عليه و سلم حتى صعد على ظهره الى الصخرة اوجب طلحة وهذا موسى كلم الرحمن عز و جل القى الالواح التي فيها كلام الله الذي كتبه له القاها على الارض حتى تكسرت ولطم عين ملك الموت ففقأها وعاتب ربه ليلة الاسراء في النبي صلى الله عليه و سلم وقال شاب بعث بعدي يدخل الجنة من امته اكثر مما يدخلها من امتي واخذ بلحية هارون وجره اليه وهو نبي الله وكل هذا لم ينقص من قدرة شيئا عند ربه وربه تعالى يكرمه ويحبه فإن الامر الذي قام به موسى والعدو الذي برز له والصبر الذي صبره والاذى الذي اوذيه في الله امر لا تؤثر فيه امثال هذه الامور ولا تغير في وجهه ولا تخفض منزلته وهذا امر معلوم عند الناس مستقر في فطرهم ان من له الوف من الحسنات فإنه يسامح بالسيئة والسيئتين ونحوها حتى انه ليختلج داعي عقوبته على إساءته وداعي شكره على إحسانه فيغلب داعي الشكر لداعي العقوبة كما قيل: وإذا الحيب أتى بذنب واحد … جاءت محاسنه بألف شفيع

“Termasuk dari kaidah-kaidah Syari’at dan hikmah juga adalah bahwasanya jika seseorang itu banyak dan besar kebaikannya, dan dia punya pengaruh baik yang nyata terhadap Islam, maka dia itu mendapatkan udzur yang tidak didapatkan oleh yang lain. Dimaafkan kesalahan darinya yang tidak bisa dimaafkan untuk orang yang lain. Yang demikian itu adalah karena kemaksiatan adalah kotoran. Dan air itu jika mencapai dua qullah tidaklah memikul kotoran. Beda dengan air yang sedikit, yang dia itu tak bisa memikul sedikit saja kotoran. Termasuk dari bab ini adalah sabda Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- kepada ‘Umar: “Tahukah engkau wahai ‘Umar, bisa jadi Alloh melihat kepada pasukan Badar dan berkata: “Beramallah kalian semau kalian, karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.” inilah yang menghalangi Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- membunuh orang yang memata-matai beliau dan kaum Muslimin dan mengerjakan dosa besar macam ini. Maka Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- memberitakan bahwasanya orang ini ikut dalam perang Badar. Ini menunjukkan bahwasanya kesalahan yang menuntut dia dihukum itu ada, akan tetapi ikutnya dia dalam peperangan yang agung itu menghalangi dilaksanakannya hukuman tadi. Maka ketergelinciran yang besar tadi ditutup dengan kebaikan-kebaikannya. Ketika Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- menyemangati orang untuk bershodaqoh, Utsmanpun mengeluarkan shodaqoh yang sangat besar. Maka bersabdalah Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Apa yang dikerjakan ‘Utsman setelah ini tidaklah membahayakannya.” Beliau juga bersabda pada Tholhah ketika dirinya merundukkan dirinya agar Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- menaiki punggungnya saat mendaki suatu batu besar (saat beliau –shollallohu ‘alaihi wasallam- terluka di perang Uhud) maka beliau bersabda: “Ini mengharuskan Tholhah masuk Jannah.” Ini juga Musa Kalimur Rohman ‘azza wajalla. Dirinya melemparkan lembaran-lembaran papan Taurot yang di situ ada kalamulloh yang dituliskan untuknya. Dilemparkannya papan tadi ke tanah sampai pecah (saat beliau marah karena melihat kaumnya menyembah patung anak sapi). Dan beliau juga menempeleng mata malakul maut sehingga tercungkillah matanya. Beliau juga sedikit mengkritik Robbnya di malam Isro tentang Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- dan berkata: “Anak muda ini datang setelahku, tapi yang masuk Jannah dari umatnya lebih banyak daripada orang yang masuk Jannah dari umatku.” Beliau juga mengambil jenggot Harun dan menariknya ke arahnya padahal Harun adalah Nabi Alloh. Ini semua tidak mengurangi kadar beliau sedikitpun di sisi Robbnya. Robbnya ta’ala memuliakannya, mencintainya, karena perkara yang ditegakkan Musa, dan musuh yang menantangnya, juga kesabaran yang dipikulnya, serta gangguan yang beliau alami di jalan Alloh merupakan perkara yang tidak terpengaruh oleh semisal perbuatan-perbuatan tadi, tidak merubah nilai beliau, tidak menurunkan kedudukan beliau. Ini merupakan perkara yang telah diketahui oleh manusia dan menetap di fitroh mereka, bahwasanya orang yang punya ribuan kebaikan, dia itu dimaafkan karena satu atau dua kesalahan dan semisalnya, sampai terjadi tarik-menarik antara penyeru hukuman karena kesalahan, dan penyeru syukur karena kebaikan, hingga penyeru syukur mengalahkan penyeru hukuman, sebagaimana dikatakan: “Apabila sang kekasih melakukan satu dosa, datanglah kebaikan-kebaikannya dengan seribu pemberi syafaat.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 176-177).

Demikianlah penilaian kami terhadap Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh-, wallohu a’lam. Dan bukanlah beliau itu pengekor hawa nafsu, ataupun tukang bid’ah dan penyelewengan. Dan keadaan serta sikap beliau sangatlah beda dibandingkan dengan ‘Ubaid Al Jabiriy ataupun Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy.

            Jawaban keempat: Adapun Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- maka beliau adalah mujtahid, dan kita tahu bersama kejujuran beliau. Maka sama sekali tidak pantas kamu dan para majikan kamu mengharuskan kami mengatakan bahwasanya beliau itu adalah termasuk Mar’iyyin. Kita katakan bahwasanya beliau itu tidak ma’shum. Kita tidak tahu isi hati beliau. Tapi jika beliau telah berijtihad semampunya ternyata salah, maka ( إن شاء الله) beliau akan mendapatkan satu pahala dan beliau diampuni. Al Imam Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- berkata kepada para ahli taqlid:

أجل هو مأجور لاجتهاده ، وأنت غير مأجور لأنك لم تأت بموجب الأجر ، بل قد فرطت في الاتباع الواجب فأنت إذا مأزور . فإن قال : كيف يأجره الله على ما أفتى به ويمدحه عليه ويذم المستفتي على قبوله منه ؟ وهل يعقل هذا ؟ قيل له : المستفتي إن هو قصر وفرط في معرفته الحق مع قدرته عليه لحقه الذم والوعيد ، وإن بذل جهده ولم يقصر فيما أمر به واتقى الله ما استطاع فهو مأجور أيضا. وأما المتعصب الذي جعل قول متبوعه عيارا على الكتاب والسنة وأقوال الصحابة يزنها به فما وافق قول متبوعه منها قبله وما خالفه رده ، فهذا إلى الذم والعقاب أقرب منه إلى الأجر والصواب. (“إعلام الموقعين عن رب العالمين” /2 / ص 470).

“Memang beliau mendapatkan pahala karena ijtihadnya, sementara kamu tidak mendapatkan pahala karena kamu tidak mendatangkan perkara yang mengharuskan adanya pahala. Bahkan kamu telah bersikap kurang dalam menjalankan ittiba’ (ikut dalil) yang wajib dilakukan, makanya kamu justru berdosa. Jika dia berkata: “Bagaimana Alloh memberi beliau pahala terhadap apa yang difatwakannya, dan memujinya, tapi Alloh mencela orang yang memintanya fatwa karena menerima fatwanya tadi? Apakah ini masuk akal?” jawabannya adalah: Si penanya jika dirinya kurang bersungguh-sungguh dalam mencari al haq padahal dirinya mampu untuk mencarinya, maka dia itu pantas terkena cercaan dan ancaman. Tapi jika dia telah mencurahkan kesungguhannya dan tidak bersikap kurang dalam melaksanakan apa yang Alloh perintahkan untuk mencarinya, dan dirinya telah bertaqwa pada Alloh semampunya, maka diapun mendapatkan pahala juga. Adapun orang yang muta’ashshub (fanatis) dan menjadikan ucapan orang yang diikutinya itu sebagai timbangan Al Kitab, As Sunnah dan ucapan para shohabat, dan dia itu menimbang semua itu dengan ucapan orang yang diikutinya, yang cocok dengan ucapan orang yang diikutinya diterimanya, tapi yang tidak cocok dengan ucapan orang yang diikutinya itu ditolaknya, maka orang macam ini lebih dekat kepada celaan dan hukuman daripada pahala dan kebenaran.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 470).

Jawaban kelima: hizbiyyun itu memang tidak adil. Pada awal-awal fitnah ini ketika ana mendapati sebagian dari mereka berjalan di atas kaidah yang batil, maka ana mengkritik mereka dan berkata: “Berarti kesimpulannya kalian itu begini, begini, dan begini.” Bingunglah mereka dalam menjawab dan berlindung di balik kedustaan. Ternyata berteriaklah si Ihsan (salah ustadz kebanggaan mereka): “Kok sukanya pakai lazimul qoul, padahal lazimul qoul kan bukan qoul!” dan didukung oleh Mundzir (ustadz kebanggaan mereka juga) dengan memakai ucapan Al Imam Asy Syaukaniy –rohimahulloh- di “As Sailul Jarror”. Maka cukuplah ana surati si Mundzir, ana tampilkan kaidah-kaidah yang benar di situ, dan bagaimana praktek salaf dan zaman dulu sampai sekarang, dan ana jelaskan bahwasanya  Al Imam Asy Syaukaniy –rohimahulloh- di “As Sailul Jarror” sedang bicara tentang pengkafiran orang yang zhohirnya masih Muslim. Ana jelaskan pembahasan ini panjang lebar, silakan dirinya dan si Ihsan bekerja sama untuk membantahnya secara ilmiyyah sebagai seorang pengikut Al Qur’an, As Sunnah dengan manhaj salaf.

Semoga tulisan ini sampai kepada Mundzir dkk, dan silakan mereka menampilkan surat ana tiga tahunan yang lalu itu di tempat-tempat yang bisa dilihat oleh umat sehingga umat yang berakal bisa menilai siapakah yang berada di atas dalil dan kebenaran, dan siapakah yang cuma pakai sepenggal-dua penggal dalil atau atsar ternyata salah dalam penerapan. Wallohul muwaffiq. Dan sampai sekarang mereka masih menyembunyikan surat jawaban Abul ‘Abbas Luthfi As Sulawesiy buat ana dengan alasan takut terjadi fitnah. Demikianlah alasan para hizbiyyun sejak dulu. Ana yakin mereka takut akan tersingkapnya kelemahan argumentasi si Luthfi tersebut jika sampai ke tangan ana. Di antara contoh kelemahan si Luthfi (tapi bukan manhajiy dan bukan dari sisi argumentasi) adalah bahwasanya Si Alimuddin Al Maidaniy Al Hizbiy (Abu Mahfut?) menyebutkan bahwasanya Luthfi dalam surat tersebut berkata bahwasanya dirinya menjawab surat Abu Fairuz (yang berbahasa Arab) dengan bahasa Indonesia karena tidak lancar menulis dengan bahasa Arab. Kurang lebih demikian ucapannya.

Kita kembali ke inti pembahasan. Para hizbiyyun menuduh para Salafiyyun dalam membeberkan dan meruntuhkan kebatilan mereka memakai lazimul qoul. Padahal sekarang justru si Dul Malang justru pakai lazimul qoul dalam menghantam kami. Seakan-akan dirinya bilang: “Al Hajuriy menganggap malzamah-malzamah dari Dammaj telah dijamin kebenaran. Berarti dia meyakini telah lepas dari kesalahan. Berarti sejajar dengan sabda Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam-. Berarti sama dengan Al Qur’an. Berarti … berarti …”

Ini semua telah terbantah di Apel (seri 1).

Sekarang si Dul juga main-main dengan lazimul qoul. Seakan-akan dirinya bilang: “Kalian menuduh para ustadz itu Mar’iyyun. Berarti para masyayikh juga Mar’iyyun. Berarti Asy Syaikh Robi’ menurut kalian juga Mar’iyyun! Berarti…”

Bukan demikian wahai aborigin yang bodoh (sering lempar bumerang (pinjam kamus si Dul sendiri di hal. 41) tapi balik kena sendiri). Orang yang tidak mengatakan kedua anak Mar’i itu hizbiy, bukan berarti dia juga anggota Mar’iyyin. Tapi manakala para ustadz kamu itu membelanya habis-habisan, mencaci Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- dan yang bersama beliau, memancangkan panji-panji permusuhan dengan Salafiyyin Dammaj, dan punya beberapa pemikiran yang selaras dengan si Mar’i, maka memang mereka itu Mar’iyyun. Adapun Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- tidak sampai demikian. Jauh sekali perbedaannya.(1)

Banyaklah belajar dan mohon taufiq biar kamu paham dan tidak jadi katak dalam tempurung (pinjam kamus si Dul sendiri hal. 3).

Sungguh memalukan, bahwasanya kamu punya banyak kitab-kitab salaf ternyata kamu cuma bagaikan keledai yang memanggul kitab-kitab (pinjam kamus si Dul sendiri hal. 34).

Banyaklah belajar dan jangan sibuk menjadi kolektor sepatu perempuan (lihat cover buku si Dul).

Ternyata hizbiyyun memang tidak adil dalam menerapkan kaidah sendiri. Caci-maki orang karena dianggap pakai lazimul qoul, ternyata mereka sendiri melakukannya.

Ana cukupkan sampai di sini, dan semua ini cukup sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan mendapatkan taufiq. Dan ana ucapankan (جزاكم الله خيرا) kepada Akhuna Abu Yusuf Al Ambony dan yang lainnya atas seluruh bantuan yang diberikan.

 

والله تعالى أعلم. سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.

والحمد لله رب العالمين.

 

Dammaj, tanggal revisi 6 Romadhon 1431 H

Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh ta’ala

Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy

Al Indonesiy

 

 

 


([1]) Tulisan ini dikeluarkan sebelum wafatnya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh-.

([2]) Abu Fairuz berkata waffaqohulloh: dia itu (sebagaimana pengakuannya sendiri) telah tahu kebatilan Abul Hasan. Jika memang dia itu membencinya (dan wajib baginya untuk membencinya) kenapa membiarkan teman-teman dekatnya mengikuti Abul Hasan?

([3]) Kata Abu Fairuz waffaqohulloh: harom baginya untuk melarang penyebaran tahdzir ulama terhadap kebatilan Abul Hasan. Adapun penampilan dirinya untuk melarang tulisan-tulisan pihak Abul Hasan, maka yang demikian itu hanyalah kamuflase belaka. Silakan ikuti terus pemaparan Syaikh Al ‘Amudiy agar makin jelas bagi kita bahwasanya Abdulloh itu termasuk Hasaniyyun.

([4]) Makna ushuliy: Ahli ushul fiqh. Ini diucapkan oleh Asy Syaikh Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- karena Abdulloh Mar’i dalam malzamahnya “Mi’yar” membangga-banggakan hikmah dan ilmu ushul fiqhnya.

([5])  Abu Fairuz  waffaqohulloh menjawab: karena Abdulloh demi syiar “maslahat dan mafsadah” lebih memilih mengurusi bisnis dan mengemis atas nama dakwah, sebagaimana akan datang penjabarannya dalam bab berikutnya.

([6])  Demikianlah lafazhnya di “Zajrul ‘Awi/3/hal. 33. Adapun Abu Umar Ahmad Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata: yang benar adalah Adil Ba Faqih. Wallohu a’lam.

([7]) Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkomentar: saudara dia Abdurrohman Mar’i si ular belang juga berkata semacam ini.

([8]) Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: anak buah Abdulloh Mar’i telah mahir mengemis dan terbiasa dengan ajaran dari syaikhnya tersebut. Tapi entah seperti apa isi ceramah tadi sehingga mereka malu untuk menyebarkan kasetnya.

(1) – Bukti yang paling kongkrit dari masalah ini adalah bahwa Syaikh Robi’ hafidhohulloh- masih menghormati Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, tidak pernah kita dapatkan beliau menyebut Syaikh Yahya dengan sebutan-sebutan miring model Mar’iyyin seperti si Dul ini, bahkan untuk menyebut nama langsung beliau (Yahya tanpa julukan Syaikh) jarang kita dapatkan apalagi kalau sampai mencacinya, demikian pula beliau masih menganjurkan para pelajar untuk rihlah ke Dammaj, ini semua menunjukkan bahwa beliau sangat sayang terhadap keutuhan Darul Hadits dan benar-benar usahanya adalah untuk membela manhaj dan dakwah dan ahlus sunnah bukan sekedar bantai-membantai atau tahdzir-tahdziran atau banyak banyakan pengikut, atau berlaku nifaq dan kedustaan, jelas sangat jauh perbedaan kondisi dan mauqif beliau dengan para Mar’iyyin, baik yang di Yaman atau cabangnya di Indonesia yang terkordinir di dalam tempurung Dammaj Habibah, yang penuh dengan sikap dan sifat kemunafikan dan kefasikan serta tidak adanya rasa taqwa yang membawa kepada kejujuran dan inshof serta mengikuti fakta dan realita.[Abu Turob]