Mengingat Kembali

Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi (5)

Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 5)

Kebatilan Ubaid Al Jabiriy Tidak Dipungkiri,

Yang Membongkarnya Justru Dimusuhi

 

Ditulis oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy

Al Indonesy

-semoga Alloh memaafkannya- 

 

Darul Hadits Dammaj

Yaman

-Semoga Alloh menjaganya-

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar Seri Lima

 

الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:

 

            Abdul Ghofur Al Malangiy membuka tulisan “Hampir-hampir Mereka … Jantan” dengan pengumuman tahdzir Ubaid Al Jabiriy terhadap Salafiyyin Dammaj. Dari sisi lain dia memasukkan Ubaid Al Jabiriy ke dalam daftar para masyayikh dakwah yang dicaci oleh pengikut Asy Syaikh yahya Al Hajuriy.

            Tujuan si Dul amat jelas: untuk menampilkan di hadapan umat bahwasanya Salafiyyun Dammaj benar-benar kelompok pencaci ulama Ahlussunnah, Maka mereka pantas untuk ditahdzir berdasarkan fatwa Ubaid tadi.

Maka jawaban ana adalah sebagai berikut:

 

Bab Satu: Abdul Ghofur Tidak Adil Dalam Memaparkan Kasus

 

            Jawaban pertama: Jika Si Dul sudah tahu hujjah Salafiyyin Dammaj dalam men-jarh ‘Ubaid Al Jabiriy, tapi Si Dul sengaja tidak memaparkannya kepada umat, maka ini adalah bagian dari ketidakadilan hizbiyyin, padahal mereka (terutama hizbiy Mar’iyyin) getol meneriakkan syi’ar keadilan demi menggambarkan kezholiman Salafiyyin Dammaj.

Sangat disayangkan Si Dul tidak memaparkan hujjah-hujjah Salafiyyin Dammaj yang menyebabkan mereka merasa perlu untuk membeberkan kebatilan ‘Ubaid Al Jabiriy hadahulloh di muka umat. Seharusnya Si Dul memberikan umat kesempatan untuk mengetahui hujjah tersebut, sehingga mereka bisa menilai apakah Salafiyyin Dammaj berada di jalan yang benar dalam kasus ini ataukah tidak. Adapun langkah Si Dul menyembunyikan hujjah-hujjah tersebut maka ini memang bagian dari makar aboriginnya untuk menyempurnakan gambaran bahwasanya Salafiyyin Dammaj itu memang tukang caci ulama.

Alloh ta’ala berfirman:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ [المطففين/1-3]

“Celakalah orang-orang yang berbuat curang, yang jika minta ditakarkan kepada manusia mereka minta disempurnakan. Tapi jika mereka sendiri menakar atau menimbang mereka membikin orang rugi.”

Al Imam As Sa’diy rohimahulloh berkata:

ودلت الآية الكريمة، على أن الإنسان كما يأخذ من الناس الذي له، يجب عليه أن يعطيهم كل ما لهم من الأموال والمعاملات، بل يدخل في [عموم هذا] (6) الحجج والمقالات، فإنه كما أن المتناظرين قد جرت العادة أن كل واحد [منهما] يحرص على ما له من الحجج، فيجب عليه أيضًا أن يبين ما لخصمه من الحجج التي لا يعلمها، وأن ينظر في أدلة خصمه كما ينظر في أدلته هو، وفي هذا الموضع يعرف إنصاف الإنسان من تعصبه واعتسافه، وتواضعه من كبره، وعقله من سفهه، إلخ.

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya seseorang itu sebagaimana dia mengambil apa yang menjadi haknya dari manusia yang lain, demikian pula dia wajib memberikan kepada mereka semua perkara yangmenjadi hak mereka, baik yang berupa harta, ataupun berbagai hubungan. Bahkan masuk juga di dalam keumuman dalil ini: argumentasi dan perkataan. Yang demikian itu dikarenakan adat kebiasaan yang berlaku di kalangan orang-orang yang sedang berdebat itu masing-masing pihak berhasrat untuk menampilkan hujjah yang mendukung dirinya. Maka wajib bagi dirinya untuk juga menjelaskan hujjah yang mendukung lawannya yang tidak dia tahu, lalu wajib bagi dirinya untuk memperhatikan dalil-dalil lawannya tadi sebagaimana dirinya memperhatikan dalil-dalil yang dimilikinya. Dalam posisi inilah diketahui apakah orang tersebut adil ataukah ta’ashshub (fanatik) dan ngawur. Juga dengan ini diketahui apakah orang itu tawadhu’ ataukah sombong, berakal ataukah tolol,” dst. (“Taisirul Karimir Rohman”/1/hal. 915).

Adapun tugas umat Islam yang disodorkan kepada mereka kasus ini mereka wajib untuk memelihara sikap adil. Sebelum memutuskan siapakah yang benar ataupun yang salah, hendaknya mereka melihat pihak manakah yang lebih kuat hujjahnya, sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

 

Bab Dua: Si Dul Tergesa-gesa Menilai Sebelum Tahu Duduk Permasalahan

 

Jawaban kedua: Adapun jika Si Dul sudah mencak-mencak dalam keadaan dirinya memang tidak tahu kasus tersebut (padahal sudah disebarkan ke umat), maka Si Dul itulah yang pantas memakai kaos bikinannya sendiri: “Katak Dalam Tempurung”.

Kemudian semestinya para hizbiyyun itu jangan cuma teriak-teriak “Kalian tergesa-gesa menilai!” sebagaimana teriakan hizbiy Mar’iyyin. Pada kenyataannya mereka sendiri ternyata tergesa-gesa menilai Salafiyyin Dammaj dalam kasus ‘Ubaid Al Jabiriy hadahulloh ini, tanpa memperhatikan ketepatan hujjah kami.

            Maka dalam kessempatan ini ana nasihatkan buat Si Dul dan kru Dhofadi’ Habibahnya (jika memang nasihat yang benar masih ada tempat di hati): jangan buru-buru menentang perkara yang kamu belum tahu ilmunya, karena yang demikian itu adalah kebiasaan Musyrikin. Alloh ta’ala berfirman:

وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ [الأحقاف/11]

“Dan manakala mereka tidak mendapatkan petunjuk dengannya mereka akan berkata: Ini adalah kedustaan yang kuno.” (QS. Al Ahqof: 11).

Alloh ta’ala berfirman:

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ [يونس/39]

“Bahkan mereka mendustakan perkara yang mereka belum punya ilmu tentangnya, dan belum datang kepada mereka hasil akhirnya. Demikianlah orang-orang sebelum mereka mendustakan, maka perhatikanlah bagaimana akibat dari orang-orang yang zholim itu.” (QS. Yunus: 39).

Al Munawy -rohimahulloh- berkata:

فإن مَن جهل شيئًا عاداه. والناقص لعدم الفضل لعجزه عن بلوغ فضلهم يريد ردَّهم إلى درجة نقصه لعزته بنفسه، ذكره الماوردي. (“فيض القدير” 3/ص11)

”Sesungguhnya barangsiapa tidak mengetahui sesuatu perkara dia akan memusuhinya. Dan orang yang kurang itu, dikarenakan dia tidak memiliki keutamaan, karena lemahnya dia untuk mencapai keutamaan mereka, dia ingin mengembalikan mereka kepada derajat kekurangan dirinya, dikarenakan kesombongan dirinya. Hal ini dikatakan oleh Al Mawardy.” (“Faidhul Qodir” 3/hal. 11).

Al Mutanabbi -rohimahulloh- berkata:

وكم من عائبٍ قولاً صحيحاً

 

وآفـته مـن الفهـم السـقيم

ولكـن تـأخــذ الآذان مـنه

 

على قدر القرائح والعلوم

 “Dan banyak sekali orang yang mencela perkataan yang yang benar, padahal asal penyakitnya adalah dari pemahaman yang sakit. Akan tetapi telinga itu hanyalah mengambil pemahaman sesuai dengan kadar tabiat dan ilmunya.” (“Syarh Diwanil Mutanabbi”/ hal. 392).

 

Bab Tiga: Ahmad Asy Syihhiy, Korban fatwa Ubaid Al Jabiriy

 

            Jawaban ketiga: Sekarang tiba saatnya untuk memulai pemaparan kebatilan ‘Ubaid Al Jabiriy hadahulloh, lengkap dengan hujjah kami terhadap kasus tersebut. Dan hendaknya seluruh pihak siap melaksanakan firman Alloh ta’ala:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ [النساء : 59]

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir.” (QS. An Nisa: 59)

Sengaja ana mengulang ayat ini (padahal sudah disebutkan pada seri dua) agar kita terus ingat kewajiban yang terkandung di dalamnya. Kebenaran itu diketahui berdasarkan hujjah-hujjah al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf, bukan sekedar fatwa orang yang tidak ma’shum: “Ini bukan hizbiyyah!”, “Aku tidak mendapati adanya hizbiyyah!”, dan semisalnya.

Di dalam pemaparan ini ana akan mengawalinya dengan kasus Ahmad Asy Syihhiy, salah seorang masyayikh dari UEA <Uni Emirat Arab> yang ana sukai, yang terkenal dengan kitabnya: “Hiwar Hadi’ ma’a Ikhwaniy”. Kitab ini mendapatkan pujian dan kata pengantar dari Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh dan penulisnya beliau gelari: SYAIKH.

Di dalam risalah “Al Bayanus Salafiy Li Hali Ahmad Asy Syikhkhiy” berkatalah Muhammad Al Katsiriy Al Imarotiy, Abu Bakr Abdulloh bin Kholid bin Hasan Adh Dhohiriy dll hafizhohumulloh:

Sesungguhnya sang da’i yang aku menulis seputar dirinya ini adalah Ahmad bin Muhammad Asy Syikhkhiy Al Imarotiy yang tinggal di wilayah Ro’sul Khoimah. Saudara kita ini dulunya memulai dengan dakwah salafiyyah yang bagus, dan kerajinan yang baik. Dia mengajari para ikhwah, mengadakan ceramah-ceramah dan halqoh ilmiyyah yang beraneka ragam di berbagai daerah di Emirat. Dan berkumpullah di sekelilingnya sejumlah penuntut ilmu yang cinta dan haus akan ilmu syar’iy.

Akan tetapi pada tiga atau empat tahun belakangan ini berubahlah garis perjalanan orang ini. Dia mulai mundur ke belakang sedikit demi sedikit hingga akhirnya membikin lembek manhaj salafiy, menyia-nyiakan dan merusak dakwahnya. Penyelewengan tersebut mulai terlihat ketika dirinya mulai mendekati calon pemegang tampuk kehakiman di wilayah Ro’sul Khoimah, lalu menjadi teman bermusyawarahnya. Lalu dia masuk ke kementrian waqof dan urusan Islam, sebagai kepala kantor di wilayah Ro’sul Khoimah.

Padahal telah diketahui bersama bahwasanya kementrian waqof itu ada di tangan orang-orang sufi dan hizbiyyin. Merekalah yang menguasai dan mendominasinya. Sekarang, selang waktu kemudian, setelah Ahmad Asy Syikhkhiy berubah dan dakwahnya mati, orang-orang sufi dan hizbiyyin melemparkannya dan mengeluarkannya dari kementrian.

<Kembali ke awal-awal kisah> sejak Ahmad Asy Syikhkhiy mendapatkan dua jabatan tadi, berubahlah jalan hidupnya, dan bergantilah dengan tamyii’ <pelembekan manhaj>. Manhaj salafiy yang bersih berubah dan kemasukan asap.

Agar kita tidak dikatakan menuduh tanpa perincian dan penjelasan, maka silakan sang pembaca untuk menelaah sebagian dari penyelewengannya berikut ini:

Yang pertama: masuknya Ahmad Asy Syikhkhiy ke jabatan pemerintahan yang tersebut di atas dengan alasan untuk melakukan perubahan, dan bahwasanya masuknya dirinya itu karena memperhatikan maslahat yang besar. Padahal pandangan ini sama dengan sudut pandang Ikhwanul Muslimin yang masuk ke jabatan-jabatan di parlemen dan majelis-majelis setan dengan hujjah ini <maslahat yang besar>. Dan tidak tersembunyi bagi kita bahwasanya asal perubahan kemungkaran dengan cara masuk ke pintu pemerintahan dan jabatan merupakan manhaj Ikhwaniy yang paling mendasar. Dan bukanlah cara tadi bagian dari manhaj salaf yang berdasarkan ilmu dan dakwah dalam merubah keadaan orang dan masyarakat. Telah datang larangan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam untuk berusaha mendapatkan ataupun meminta jabatan.

Andaikata Asy Syikhkhiy berkata: “Aku tidak berusaha menggapai jabatan tadi, tapi pemerintahlah yang menawari aku, dan aku memilih untuk menerimanya.” Maka jawabku adalah: yang paling manisnya itu pahit. Usaha untuk menggapai jabatan merupakan manhaj ikhwaniy. Adapun yang kedua: andaikata kedua jabatan tadi ditawarkan kepada Asy Syikhkhiy, tidak boleh baginya untuk menerimanya, karena masuknya dirinya ke jabatan tadi akan melembekkan manhaj salafiy dan menyia-nyiakan dakwahnya, karena pemerintah itu -sebagaimana telah diketahui oleh orang yang punya keadilan- adalah ahli dunia, dan mereka tidak menerima orang yang mereka letakkan di posisi itu untuk merusak dunia mereka. Maka dia harus: menolak jabatan tadi –dan itu wajib baginya-, atau dia menerimanya dan kemudian bersikap mengalah dan melembekkan jalan dakwahnya agar tampil di hadapan mereka dengan penampilan orang yang konsisten dan pertengahan. Wallohul musta’an.

Perubahan yang dimaksudkan oleh Ahmad Asy Syikhkhiy tadi adalah perubahan dominasi sufiyah dan hizbiyyin di Negara ini agar kekuasaan berpindah ke tangan salafiyyin. Telah diketahui bersama bahwasanya Emirat itu ada dikuasai oleh orang-orang sufi, sementara dakwah salafiyyah itu lemah dan tidak diterima oleh pemerintah.

Yang kedua: durus <jadwal-jadwal pelajaran> dirinya terhenti, kecuali satu pelajaran tiap pekan. Itupun terkadang dia tidak hadir. Demikian pula ceramah-ceramah dan halqoh ilmiyyahnya juga terhenti. Bahkan jika ada majelis ilmiyah yang dihadiri para penuntut ilmu dirinya tidak membuka jam pertanyaan untuk dijawab. Jika ada yang melontarkan pertanyaan sebelum diumumkannya larangan bertanya marah dan jengkellah dirinya. Bahkan terkadang dia menghardik sang penanya, sebagaimana terjadi di beberapa majelis.

Ketiga: masuknya Ahmad Asy Syikhkhiy ke dalam kementrian menyebabkannya mercampur baur dengan orang-orang sufiy dan hizbiyyin yang ada di situ sebagai teman sejawat dan kawan akrab. Dan dirinya tak bias mengingkari kebatilan mereka, ataupun menghadapi mereka, dan ini termasuk tamyii’ yang terbesar.

Ahmad Asy Syikhkhiy berkata di dalam kitabnya Al Washoyas saniyyah Lit Taibin Ilas salafiyyah” hal. 19: “Engkau akan mendapati bahwasanya orang yang tobat itu pada awalnya bersemangat untuk menjauh dari ahli bid’ah wal furqoh sementara waktu. Tapi jika dia menfdengar suatu syubhat dari orang yang berpakaian salafiyyah yang kesimpulan syubhatnya adalah: “Bahwasanya menjauh dari ahli bid’ah dan tidak bercampur dengannya adalah tidak benar, dan yang demikian itu menghilangankan kemaslahatan yang banyak, dan tidak ada orang yang ma’sum sepeninggal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan bahwasanya para shohabat itu salah” engkau akan lihat dirinya itu tertimpa penyakit hati dan telah meminum syubuhat tadi lebih cepat daripada minum air, lalu jadilah dirinya tadi bercampur dan ahli bid’ah dan melembekkan prinsip-prinsip salafiyyah dengan nama salafiyyah.” Selesai penukilan. Mahasuci Robbku. Seakan-akan dirinya tengah berkata tentang kondisi dirinya sendiri. Ahmad Asy Syikhkhiy ini dulunya jauh dari ahli bid’ah wal ahwa sementara waktu, dan berpisah dari mereka. Namun dengan musyawarah tokoh yang berbaju salafiy yang bernama: Ubaid Al Jabiriy diapun bercampur baur dengan ahli bid’ah wal ahwa dengan hujjah maslahat yang banyak. Maka diapun merosot dan menjadi orang yang melembekkan prinsip-prinsip salafiyyah dengan nama salafiyyah.

Keempat: jadilah termasuk dari maslahat dakwah menurutnya adalah: “Janganlah engkau berkata bahwa dirimu itu salafiy”

Yang aneh dan menggelikan adalah bahwasanya Ahmad Asy Syikhkhiy memperbanyak dan mengulang-ulang dakwaan maslahat dan maslahat, dan yang dimaksudkannya dengan kemaslahatan adalah: agar kekuasaan dan dominasi itu kembali kepada dakwah salafiyyah di Emirat. Kekuasaan dan keunggulan apa sih yang dimiliki suatu dakwah yang pemegangnya malu dan tidak berani untuk menisbatkan diri padanya dan juga malu untuk berbangga dengannya? Sungguh ini adalah perkara yang menggelikan.

Kelima: ketertipuan dengan dirinya sendiri, dan dia menganggap dirinya sebagai orang yang paling tahu hakikat kejadian dan rahasia suatu perkara, dan bahwasanya dirinya itu adalah orang yang tahu hikmah dan punya pandangan yang tajam dan jauh. Dan dia mulai mencela dan membodoh-bodohkan para pemuda salafiy yang tidak menyetujuinya dengan perjalanan tamyi’nya. Dia juga menuduh mereka tidak memperhatikan maslahat dan mafsadah, dan bahwasanya mereka itu angn-anginan dan tergesa-gesa, tak punya hikmah dan pandangan yang jauh. Dan masih banyak tuduhan ngawurnya terhadap pemuda salafiy.

Di antara contoh pembodohan yang dilakukan Ahmad Asy Syikhkhiy terhadap sebagian perbuatan orang yang tidak mencocoki jalannya adalah: ada seseorang yang yang tidak dikenal menelpon Asy Syaikh Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh ketika terjadi fitnah pengguntingan jenggot para tentara di Emirat karena pemerintah mewajibkan itu. Maka si penelpon bertanya pada Asy Syaikh Abdul ‘Aziz tentang hal itu, dan dijawab oleh beliau bahwasanya yang demikian itu tidak boleh, dan wajib untuk tidak menaati perintah dari pemerintah tersebut,… dst. Sang penanya merekam dialog tadi, lalu tersebarlah dari telpon gerak ke telpon gerak yang lain.

Maka Ahmad Asy Syikhkhiy mengkritik perbuatan ini dan mencerca pelakunya karena dianggap sebagai kengawuran dan sikap yang jelek, dan bahwasanya perbuatan tadi akan menghasung pemerintah di Emirat untuk menentang dakwah salafiyyah. Kalaulah kita terima cercaan Ahmad Asy Syikhkhiy tadi, masih tersisa keheranan: si penelpon tadi tidak dikenal siapa dirinya. Bias jadi dia adalah seorang hizbiy. Tapi Ahmad Asy Syikhkhiy tidak mau kecuali melemparkannya ke punggung pemuda salafiy dan menjadikan perbuatan tadi sebagian dari ketololan salafiyyin.

Keenam: dia ingin sekali untuk memisahkan diri dari para ulama Yaman dan Saudi, dan dia tidak senang menempel dengan mereka dengan alasan bahwasanya pemerintah Emirat menganggap yang demikian itu sebagai bentuk pemberontakan dan tidak loyal pada mereka. Bahkan dirinya menasihati para pemuda Emirat untuk tidak bepergian ke ulama yaman ataupun Saudi dengan alasan yang rusak yang dia katakan tadi. Jika dirinya ditanya tentang beberapa kejadian yang terkait dengan dakwah salafiyyah di Negara lain dia menasihat sang penanya untuk lebih mementingkan urusan dalam negerinya –yaitu Emirat- dan meninggalkan urusan dakwah di Negara lain karena yang demikian itu tidak penting dan tidak layak diperhatikan.

Ketujuh: larinya dia dari manhaj jarh wat ta’dil, dan diamnya dirinya dari ahlil ahwa dan takutnya dirinya untuk berseteru dan berdebat dengan mereka. Dia telah mengajukan kepada sebagian ikhwan yang bertanya kepadanya lewat telpon, agar mereka meninggalkan pertanyaan yang bersifat manhajiyah, terutama pertanyaan tentang keadaan si fulan dan si fulan.

Andaikata engkau membaca ucapan Ahmad Asy Syikhkhiy di muqoddimah kitabnya “Hiwar Hadi’ Ma’a Ikhwaniy”: “Aku tidak akan ridho dan tak akan diam terhadap orang-orang yang membikin pengkaburan terhadap pemuda muslim yang hendak kembali kepada Alloh sehingga menjadikan pemuda itu kebingungan dan tidak tahu manakah jalan yang benar, atau menjadi rusak disebabkan hizbiyyah mereka yang pahit, sampai-sampai dia berloyalitas ataupun memusuhi berdasarkan kelompok mereka.” Dan engkau membandingkan ucapannya tadi dengan keadaan dirinya pada hari ini. Aku kira andaikata bukan karena rasa malu yang masih tersisa pada dirinya pastilah dia akan rujuk dari kitabnya “Hiwar Hadi” karena bertabrakan dengan manhajnya yang baru.

Kedelapan: Ahmad Asy Syikhkhiy sekarang termasuk orang yang membolehkan ikhtilath (campur baur pria dan wanita tanpa hijab) bahkan di kementrian dirinya bekerja bersama para wanita di tempat yang sama, dan dia adalah kepala kantor mereka, hadir dalam perkumpulan-perkumpulan bersama mereka. Ketika diingkari perbuatannya tadi, dia menjawab: “Ini bukanlah percampuran jadi satu!!”

Kesembilan: Ahmad Asy Syikhkhiy menjadi termasuk orang yang membolehkan potret makhluk bernyawa. Dirinya berpotret di koran-koran dan majalah-majalah dan bahkan berpotret di masjid-masjid. Bahkan berpotret duduk berdampingan bersama para wanita, dan muncul di salah satu jaringan TV parabola yang rusak akhlaknya untuk berbicara tentang sihir. Semua itu di bawah bab maslahat yang besar!!

Kesepuluh: di salah satu jadwal pelajarannya yang harinya bersamaan dengan acara peringatan bid’ah –yaitu maulid nabi- Ahmad Asy Syikhkhiy membatalkan pelajarannya, lalu berdiri dan menyampaikan ceramah total berkenaan dengan acara maulid nabi tadi. Seusai ceramah, salah seorang ikhwah mengingkarinya karena hal tersebut pada hakikatnya termasuk berjalan bersama peringatan maulid tadi. Maka Ahmad Asy Syikhkhiy membantahnya dan berkata: “Ini bukanlah peringatan.”

Inilah ringkasan dari penjelasan penyelewengan Ahmad Asy Syikhkhiy dari rel salafiyyah dan perubahan jalannya. Aku nasihatkan kepada Ahmad Asy Syikhkhiy untuk memperhatikan kondisi orang yang mendahuluinya menempuh jalan tadi, yaitu: Hamdan Mazru’iy, kepala urusan waqof saat ini. Dulunya dia adalah salafiy yang lurus, manakala dirinya menempuh jalan seperti yang engkau tempuh sekarang ini, keadaan akhirnya seperti itu dan berubah menjadi orang yang paling keras memerangi dakwah salafiyyah dan menjadi musuh dakwah. Orang yang beruntung adalah orang yang mengambil pelajaran dari yang lain.

Ahmad Asy Syikhkhiy berkata dalam muqoddimah kitab “Hiwar Hadi Ma’a Ikhwaniy”: “Dan termasuk faktor terpenting dalam menyukseskan dakwah menurut Ikhwanul Muslimin di Yaman adalah mereka memasukkan drama dan fragmen yang mengandung sasaran tertentu, dan juga shooting video di masjid-masjid !!” Sesesai penukilan. Lihatlah bagaimana dirinya menjadikan  shooting video di masjid-masjid termasuk faktor terpenting dalam menyukseskan dakwah menurut Ikhwanul Muslimin. Dan dirinya meletakkan dua tanda seru di situ. Dan itu betul. Akan tetapi masihkah dirinya sampai hari ini berpendapat seperti itu?? Karena shooting video di masjid-masjid menjadi faktor penyukses Ahmad Asy Syikhkhiy sendiri!!

Di sini ada perkara penting yang menunjuki kita akan sebab penyelewengan Ahmad Asy Syikhkhiy dan terjerumusnya dirinya ke dalam manhaj tamyi’iy. Tahukah anda wahai pembaca, siapakah yang menyampaikan Ahmad Asy Syikhkhiy ke pada kemunduran ini? Dialah Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy hadahulloh. Ketika Ahmad Asy Syikhkhiy ditanya: siapakah yang menasihatinya dan mengisyaratkannya untuk masuk ke kedua jabatan tadi? Dia menjawab: Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy.

Selesai penukilan dari  risalah “Al Bayanus Salafiy Li Hali Ahmad Asy Syikhkhiy” hal 1-3.

Mayoritas Salaf menasihati untuk jangan mendekati penguasa karena besarnya fitnah di jiwa. Di antaranya adalah nasihat Al Imam Ibnul Mubarok rohimahulloh kepada Ibnu Ulayyah rohimahulloh:

يا جاعل العلم له بازيا * يصطاد أموال المساكين احتلت للدنيا ولذاتها * بحيلة تذهب بالدين فصرت مجنونا بها بعدما * كنت دواء للمجانين أين رواياتك فيما مضى * عن ابن عون وابن سيرين ودرسك العلم بآثاره * في ترك (1) أبواب السلاطين تقول: أكرهت، فماذا كذا * زل حمار العلم في الطين (2) لا تبع الدين بالدنيا كما * يفعل ضلال الرهابين

“Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan untuk menjaring harta orang-orang miskin, diambil demi dunia dan kesenangannya. Dengan tipu daya engkau menghilangkan agama, lalu engkau menjadi orang yang gila setelah dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila. Di manakah riwayat-riwayatmu yang lampau dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin. Dan manakah ilmu yang kamu pelajari dengan atsar-atsarnya yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu penguasa? Kamu berkata: “Aku terpaksa.” Lalu apa? Demikianlah keledai ilmu tergelincir di tanah liat yang basah. Janganlah kamu jual agama dengan dunia sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat.” (“Siyar A’lamin Nubala”/9/110).

Dan ternyata fatwa Ubaid Al Jabiriy cocok dengan hasrat hati  Ahmad Asy Syikhkhiy meskipun harus melanggar thoriqotus Salaf tapi dengan baju salaf. Akhirnya benar-benar  Ahmad Asy Syikhkhiy celaka sebagaimana pendahulunya binasa.

 

Wallohu ta’ala a’lam.

Walhamdu lillahi robbil ‘alamin.

 

Kesimpulan Penting

 

            Setelah menyimak ucapan-ucapan batil dan metode debat yang dipakai oleh hizbiy hina Abdul Ghofur Al Malangiy, dapatlah kita ambil gambaran sebagai berikut:

 

Catatan Perbedaan antara Abdul Ghofur Al Hizbiy dengan Ahlussunah

 

No.

Ahlussunnah

Abdul Ghofur Al Hizbiy

1

Tawadhu’ mengakui kesalahan setelah datangnya penjelasan

Sombong dan angkuh tak mau mengakui kesalahan setelah datang penjelasan

2

Teliti dalam menempatkan kritikan

Sangat ceroboh dan ngawur dalam menentukan objek yang dicerca

3

Tidak berlama-lama dalam kebatilan

Suka membangkang dan berlama-lama dalam kebatilan

4

Ikut dalil dan prinsip-prinsip salafiyyah, dan tidak taqlid pada orang yang tidak ma’shum

Taqlid kepada orang yang tidak ma’shum, sekalipun bertentangan dengan dalil dan prinsip salaf

5

Ucapan para ulama yang bertentangan dengan sabda Nabi صلى الله وسلم maka ucapan mereka tertolak

Memposisikan sikap dan ucapan ulama bagaikan wahyu dari langit, sehingga mengalahkan seluruh hujjah

6

Berhujjah dengan dalil, dan sekaligus taat dan melaksanakan dalil tersebut

Berhujjah dengan dalil, tapi dia sendiri melanggar dalil itu

7

Berhujjah dengan suatu kaidah salaf, dan sekaligus taat dan melaksanakan kaidah tersebut

Berhujjah dengan suatu kaidah, tapi dia sendiri melanggar kaidah itu

8

Sangat hormat pada ulama yang kokoh di atas hujjah dan haq

Sangat kotor lidahnya terhadap ulama yang kokoh di atas hujjah dan haq

9

Kecintaan yang mendalam pada ulama yang kokoh di atas hujjah dan haq, tanpa taqlid dan ghuluw

Kebencian yang mendalam pada ulama yang kokoh di atas hujjah dan haq

10

Diberi taufiq oleh Alloh dalam mengikuti dalil sehingga kuat hujjahnya dan kokoh kakinya

Serampangan dalam berdalil, dan tergesa-gesa mengikuti setan, sehingga dalil-dalil yang dipakainya berkali-kali menghantam dirinya sendiri

11

Mengikuti jejak Salaf dengan dalil-dalilnya

Meniru kebiasaan hizbiyyun masa lalu, sekalipun dulunya dirinya sendiri memerangi hizbiyyin tersebut

12

Mengikuti akhlaq Nabi dan para Shohabat yang hormat pada hujjah, dan haus mengambil faidah-faidah ilmiyyah

Ikut tabiat babi yang melewati rizqi yang baik-baik tapi tak mau mendekatinya. Justru jika ada orang bangkit dari kotorannya (selesai buang hajat), didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis. (rujuk “Madarijus Salikin” 1/hal. 403).

13

tidak diam terhadap kesalahan, meskipun yang berbuat adalah –misalnya- teman sendiri.

Berusaha tutup mata terhadap kesalahan orang yang satu barisan dengannya

14

Jantan dan kesatria dalam berkata dan berbuat

Menuduh Ahlussunnah tidak jantan, ternyata dirinya sendiri yang pengecut tulen dan betina murni

15

Taat pada kebenaran yang telah diketahui, sehingga Alloh memberkahi ilmunya dan selalu memberikan tambahan ilmu dan wawasan

Menuduh Ahlussunnah bagaikan katak dalam tempurung, ternyata dirinya sendiri yang sangat lemah pemahaman terhadap manhaj aimmatus salaf, maka dialah katak hijau di bawah tempurung “Dhofadi’ Habibah” di rumpun kebun apel Malang

16

Diberi taufiq dalam memilih kata-kata sehingga jarang tergelincir pada sikap tanaqudh (kata-katanya saling bertentangan)

Ceroboh dalam mengikuti setan sehingga sering mengalami tanaqudh (kata-katanya saling bertentangan)

17

Berhati-hati dalam menuduh, dan berusaha ikut bayyinah, dan suatu saat tuduhan itu terbukti benar, walaupun tertunda sementara

Mudah sekali tanpa ketaqwaan mengumbar tuduhan-tuduhan keji dan ngawur pada Ahlul Haq

18

Berbicara dengan definisi dan batasan-batasan yang benar

Tidak sanggup membedakan antara orang yang ngibul, dengan orang yang berbicara sebatas ilmunya

19

Paham kriteria yang benar antara ulama sunnah dengan kepala mubtadi’ah

Tidak sanggup membedakan antara ulama sunnah dengan kepala mubtadi’ah

20

Waktunya tercurah untuk memperdalam ilmu

Waktunya dibuang untuk memperbanyak chatting di internet

21

Berusaha menjaga kehormatan seorang sunniy

Bergampang-gampang merobek-robek kehormatan seorang sunniy, maka Alloh pun membalas dengan membongkar aib-aibnya

22

Ahlussunnah adalah pencerminan sosok insan yang berusaha meniru Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan karakter gagah dan indah dari para salafush sholih

Abdul Ghofur termakan caciannya sendiri: keledai dengan dua kuntum mawar di telinga dengan sepatu merah jambu, dengan loncatan gaya katak dalam tempurung.

 

 

 

Si Abdul Ghofur malang tidak lebih dari hizbiy pendusta yang banyak bergelimang dengan kefasiqan, dan sesuai dengan firman Alloh ta’ala:

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (الجاثية/7)

“Dan kecelakaanlah untuk setiap pendusta lagi pendosa.” (QS. Al Jatsiyah: 7).

Maka orang hina dan busuk akhlaqnya macam ini tidak pantas diterima lagi kata-katanya. Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  [النور/4]

“Dan janganlah kalian menerima persaksian mereka selamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasiq.”

 

Wallohu ta’ala a’lam.

Dammaj, 21 Romadhon 1433 H