Karakter Haddadiyyah mar’iyyah

Dalam Diskusi Ilmiyyah

(REVISI)

 

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظه الله ورعاه

 

Dengan Kata Pengantar Dari:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

 

Penulis dan Penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

 عفا الله عنه

 

Judul Asli:

“Shifatul Haddadiyyatil Mar’iyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”

 

Terjemah Bebas:

“Karakter Haddadiyyah Mar’iyyah Dalam Diskusi Ilmiyyah”

 

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali

Al Hajuriy

حفظه الله ورعاه

 

Dengan Kata Pengantar Dari:

Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy Al Yamaniy

Dan Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Umariy

Al Hajuriy Al Yamaniy

حفظهما الله ورعاهما

 

Penulis dan Penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

 

 

Pengantar Penerjemah

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد:

            Sesungguhnya tuduhan ahlul bathil terhadap Ahlussunnah yang kokoh memegang kebenaran tidaklah berhenti. Di antaranya adalah tuduhan sebagai pengikut aliran haddadiyyah. Ini merupakan tuduhan yang sangat keliru dan tidak boleh dibiarkan meracuni umat. Bukan karena Ahlussunnah takut dijauhi umat atau takut tidak laku. Ahlussunnah sudah terbiasa hidup sebagai ghuroba, yang dianggap asing dan aneh oleh manusia, bukan karena Ahlussunnah berbuat bathil, tapi karena umat banyak yang tidak tahu kebenaran. Hanya saja dakwah harus terus disampaikan, dan tuduhan palsu harus dibantah agar umat tidak semakin jauh dari sumber-sumber dakwah yang benar yang bisa menyebabkan mereka semakin jauh menyimpang dari jalan yang bisa menyampaikan ke Jannah.

            Dari sisi lain, sebagian ahlul bathil menuduh Ahlussunnah sebagai kelompok yang sombong. Ini juga pemahaman yang terbalik. Ahlussunnah yang sejati adalah orang yang paling mau tunduk dan merunduk kepada kebenaran, sekalipun bertentangan dengan keinginan dan selera pribadi. Justru ahlul bathil itulah yang menyombongkan diri di bumi Alloh, tidak mau merendahkan diri pada ketentuan syariat Alloh karena bertentangan dengan selera pribadi, atau adat, atau gaya hidup orang kafir, atau madzhab yang keliru.

            Risalah yang ada di hadapan para pembaca ini tampil kembali dengan judul yang telah disesuaikan oleh Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله :

“Karakter Haddadiyyah Mar’iyyah Dalam Diskusi Ilmiyyah”

dan isinya telah saya saring kembali, sesuai dengan bimbingan beliau dan para ulama yang lain. Tentu saja kesalahan yang bersifat manusiawi akan masih tersisa, maka semoga Alloh mengampuni sang penulis dan para pembaca semuanya. Dan semoga Alloh melimpahkan berkah-Nya pada usaha yang sederhana ini.

Risalah ini saya tampilkan kembali di antaranya adalah untuk memenuhi permintaan sebagian ikhwah di tanah air agar saya membantah tulisan si penakut yang menampilkan identitas diri sebagai Abdullah bin Abdurrohman yang berjudul “Kini Mereka Bukan Salafiy Lagi”. Gaya si penulis itu sangat mirip dengan model Abdul Ghofur Malang. Pantas saja jika si Abdullah ini diberi inisial AGM.

Kemudian juga saya meminta maaf kepada para pembaca بارك الله فيكم karena belum bisa memenuhi permintaan untuk menulis topik-topik seputar hukum Idul Fithri, karena kesibukan melaksanakan tugas menghadapi serangan ahli ahwa terhadap Salafiyyin terutama Darul Hadits Dammaj, semampunya. Dan tentu saja hal itu juga disebabkan oleh kekurangan ilmu dan tenaga saya.

Kemudian saya menyampaikan syukur kepada para ikhwah yang telah memenuhi permintaan saudara-saudara kita kaum Muslimin untuk menampilkan topik-topik tersebut sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga dan menutup kekurangan dalam bab ini. Hanya Alloh saja yang memberikan taufiq, dan kepada-Nya kita mohon pertolongan dan kemudahan.

            Selamat menyimak.

 

Dammaj, 2 Syawwal 1433 H.

 

ijk

Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Ba’daniy Al Yamaniy –semoga Alloh menjaganya-

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:

Aku telah melihat kitab saudara kita yang diberkahi, penyeru ke jalan Alloh –‘Azza Wajalla- di atas ilmu dan keyakinan: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekoyo Al Indonesiy yang dinamai dengan: “Munaqosyatun Ilmiyyah Haula Sifatil Haddadiyyah”([1]), maka aku dapati kitab ini merupakan kitab yang berfaidah, di dalamnya menerangkan siapakan kelompok yang paling berhak untuk untuk mendapatkan penamaan yang jahat itu yang mana saudara-saudara kita yang membela kebenaran dan membela para pembawa kebenaran, dan mencerca kebatilan serta mencerca golongan kebatilan justru dituduh dengan nama tadi (Haddadiyyah).

Yang demikian itu merupakan kebiasaan para ahli batil. Alloh ta’ala berfirman menukilkan ucapan Fir’aun:

وقال فرعون ذروني أقتل موسى وليدع ربه إني أخاف أن يبدل دينكم أو أن يظهر في الأرض الفساد

“Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.(QS. Ghofir: 26)

Alloh ta’ala berfirman:

سيعلمون غدا من الكذاب الأشر 

“Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (QS. Al Qomar: 26).

Alloh ta’ala berfirman:

فستبصر ويبصرون  بأييكم المفتون   إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين 

“Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat, siapa di antara kalian yang gila.  Sesungguhnya Robbmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. Al Qolam: 5-7).

Dan ayat-ayat di dalam bab ini banyak sekali.

Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abdurrohman dengan kebaikan atas kerja kerasnya dalam mengumpulkan faidah-faidah ini, dan semoga memberinya taufiq kepada segala kebaikan, dan semoga Alloh mengokohkan kami dan dia di atas sunnah sampai kita berjumpa dengan-Nya.

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.

 

Ditulis oleh:

Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy

Pada hari Sabtu bertepatan dengan tanggal 26 Jumadal Ula 1432 H

Di Darul Hadits di Dammaj

Semoga Alloh menjaganya.

 

Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy Al Yamaniy –semoga Alloh menjaganya-

 

الحمد لله رب العالمين وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم، أما بعد:

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا﴾ [الفرقان/31]

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang jahat, dan cukuplah Robbmu sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.”(QS. Al Furqon: 31).

Alloh ta’ala berfirm’an:

﴿وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن يوحي بعضهم إلى بعض زخرف القول غرورا ﴾

“Dan demikianlah kami jadikan untuk setiap nabi itu musuh dari para setan manusia dan jin, mereka mewahyukan satu sama lain dengan perkataan yang dihiasi untuk menipu.” (QS. Al An’am: 112).

Dan berfirman:

﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾ [الفرقان/20] .

“Dan kami jadikan sebagian dari kalian menjadi fitnah bagi sebagian yang lain, apakah kalian bersabar? Dan Robbmu itu senantiasa Maha melihat.”

Maka tiada seorangpun yang selamat dari ujian, dan setiap kali sang hamba itu bertambah iman dan manfaatnya kepada Muslimin bertambahlah ujiannya. Dan ini adalah sunnatulloh pada para makhluq-Nya. Oleh karena itulah makanya ahlul batil menjadi lawan bagi kebenaran dan pembawa kebenaran, mereka melarikan manusia darinya, menghalangi manusia darinya dengan perkataan dan perbuatan, dan sejarah menjadi saksi atas yang demikian itu sejak dulu hingga sekarang.

Dan ahlul batil di sepanjang zaman punya gelar-gelar yang mereka sifatkan buat Ahlus Sunnah Wal jama’ah untuk menghalangi manusia dari mereka. Dan akhir gelar yang dengannya Ahlussunnah wal Jama’ah di Yaman –secara umum- dan Dammaj –secara khusus- dituduh hingga sekarang adalah julukan “Haddadiyyah” yang mana itu adalah bid’ah yang memuakkan dan tercela.

Maka bangkitlah saudara kita yang mulia, penyeru manusia ke jalan Alloh, yang punya kecemburuan terhadap agama, Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy –semoga Alloh menjaganya- dengan membawakan diskusi ilmiyyah terhadap sifat-sifat Haddadiyyah, dan menjelaskan berlepas dirinya Ahlussunnah Wal Jama’ah dari julukan ini, dan menjelaskan siapakah yang lebih pantas menyandang julukan ini, dan lebih lekat. [ibarat pepatah:] “Maka Jahizah telah mematahkan perkataan seluruh orator” bagi orang yang punya hati, atau mencurahkan pendengaran, dalam keadaan dia menyaksikan. Maka dengan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.

Maka semoga Alloh membalas Abu Fairuz dengan kebaikan, dan menjadikan adanya manfaat dengannya. Dan segala pujian adalah milik Alloh Robb alam semesta.

 

Ditulis oleh:

Abu Amr Ahmad bin Abdil Karim Al Hajuriy

Di Darul Hadits Dammaj –semoga Alloh ta’ala menjaganya-

13 Dzul Qo’dah 1432 H

 

Pengantar Penulis

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

 Maka ini adalah kerja keras yang Alloh mudahkan untukku, yang mana saya berharap dengan karunia Alloh Dia memberiku taufiq untuk menerapkan prinsip-prinsip Haddadiyyah kepada orang yang memang pantas untuk mendapatkannya, tanpa diriku melakukan kecondongan ataupun berbuat kezholiman. Dan saya jelaskan hal itu berdasarkan apa yang disebutkan oleh Asy Syaikh Al Allamah Robi bin Hadi Al Madkholiy –semoga Alloh membalasnya dan yang lainnya dengan kebaikan-.

Dan dari sela-sela yang demikian itu menjadi jelaslah bagimu beraneka ragamnya fitnah yang dimiliki oleh hizb Mar’i , dan di antaranya adalah berjalannya mereka di atas metode Haddadiyyah yang berlebihan dan membawa kesialan, disertai dengan tahazzub mereka yang busuk, sehingga berkumpullah pada diri mereka musibah-musibah yang tidah berkumpul pada orang lain. Alloh عز وجل terkadang mengumpulkan pada makhluk-Nya berbagai kebaikan, dan mengumpulkan pada makhluk yang diinginkan-Nya beraneka kejelekan. Alloh memang punya wewenang di dalam urusan makhluk-Nya.

Dan Mar’iyyun bersamaan dengan keadaan mereka memiliki banyak sifat Haddadiyyah, mereka itu menuduh orang-orang yang ada di Darul Hadits di Dammaj sebagai Haddadiyyah. Dan mereka menjadikan tulisan Fadhilatusy Syaikh Robi bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyah itu tercurah pada Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله.

            Dan akan menjadi jelas bagi orang-orang yang adil kelompok manakah yang berada di atas petunjuk, dan siapakah yang berada di atas kesesatan yang nyata. ([2])

            Dan saya bersyukur kepada Syaikh kami Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy –semoga Alloh memelihara dan menjaganya- atas dorongan dan bimbingan beliau kepada apa yang lebih baik dalam risalah ini. Semoga hal itu masuk ke dalam timbangan kebaikan beliau pada Hari Kiamat.

Kemudian syukur yang banyak saya sampaikan kepada Syaikh kami yang utama dan mulia Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy –semoga Alloh menjaga dan memeliharanya – atas kelapangan dada beliau untuk memeriksa dan memperbagus risalah ini, bersamaan dengan banyaknya kesibukan beliau.

Saya juga bersyukur pada Syaikh kami yang utama, Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy –semoga Alloh memelihara dan menjaganya- curahan kerja keras dan nasihat beliau dalam memperbagus risalah ini.

Saya juga bersyukur kepada saudara kita yang mulia Abu Dzil Qornain Abdulloh Al Jawiy dan Abu Ja’far Al Harits Al Minangkabawiy Al Indonesiyyani –semoga Alloh menjaga keduanya- atas pertolongan keduanya.

Kami memohon pada Alloh untuk membalas mereka dengan pahala yang terbaik, sesungguhnya Alloh itu Al Barr (Maha Lembut) Ar Rohim (Maha Penyayang).

 

Bab Satu: Firqoh Haddadiyah Secara Global

 

            Sesungguhnya Haddadiyyah merupakan firqoh (sekte/pecahan) yang ghuluw (berlebihan dalam bersikap) yang dinisbatkan kepada Abu Abdillah Mahmud bin Muhammad Al Haddad. Orang ini lahir di Mesir tahun 1374 Hijriyyah. Kemudian dia pergi ke Madinah Nabawiyyah, belajar ke sebagian masyayikh -semoga Alloh menjaga mereka-.

Pada awal urusannya, orang ini menampakkan kecemburuan kepada agama dan benci pada kebid’ahan. Kemudian muncul darinya sikap berlebihan yang ekstrim, membid’ahkan sejumlah imam Islam yang kaki mereka tergelincir  di dalam permasalahan aqidah seperti ibnu Hajar, An Nawawiy, Asy Syaukaniy  -semoga Alloh merohmati mereka-. Dia melaknat mereka, dan membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat untuk mereka. Dia juga memfatwakan untuk membakar “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar, “Syarh Shohih Muslim” karya An Nawawiy, dan “Syarh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafiy terhadap Ath Thohawiyyah” dan yang seperti ini.

Dia juga mencerca Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan Ibnu Abil ‘izz  -semoga Alloh merohmati mereka-.

Dia juga mencerca para ulama Sunnah zaman ini seperti Al Imam Ibnu Baz, Al Imam Al Albaniy, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin, Al ‘Allamah Sholih Al Fauzan, Asy Syaikh Al Luhaidan, dan yang lainnya  -semoga Alloh merohmati mereka-.

Dia memiliki para pengikut yang mengibarkan bendera untuk sehingga mereka terkenal sebagai: “Al Haddadiyyah”.

Di antara karya tulisnya adalah:

1. “Aqidah Ibni Abi Hatim Wa Abi Zur’ah”. Di dalamnya dia mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Imam Albaniy dan yang lainnya.

2. “Al Khomis”, di dalamnya ada serangan jahat terhadap Al Imam Al Albaniy  -semoga Alloh merohmatinya-.

3. Takhrij “Ihya ‘Ulumuddin”. Dan ini termasuk dari bertolak belakangnya sikap orang ini. Dia memperingatkan manusia dari sebagian kitab-kitab As Sunnah karena sekedar adanya beberapa kesalahan di dalamnya, sementara dia sendiri menulis kitab Takhrij “Ihya ‘Ulumuddin” tanpa memperingatkan manusia sedikitpun darinya padahal di dalamnya ada banyak kerusakan besar.

4. “Al Muntaqol ‘Athir” ringkasan dari “Shoidul Khothir” milik Ibnul Jauziy yang Mahmud Al Haddad sendiri berkata tentangnya: “Dia itu Jahmiy keras.” Dia tahu bahwasanya kitab tersebut dari awalnya hingga akhirnya tiada di dalamnya firman Alloh, sabda Rosululloh  صلى الله عليه وسلم ataupun ucapan Shohabat  رضي الله عنهم .

5. Tahqiq “Al Jami’ Fil Hatsts ‘Ala Hifzhil ‘Ilm”. Di dalamnya ada kitab karya Al ‘Askariy, Al Khothib Al Baghdadiy, Ibnu ‘Asakir dan Ibnul Jauziy رحمهم الله dan ditahqiq oleh Mahmud Al Haddad, tapi disela-sela tahqiqnya ada cercaan busuk terhadap Haiah Kibarul Ulama.

6. “Madza Hadats” yang merupakan kaset ceramah yang dirubah ke dalam tulisan. Di dalamnya ada cercaan kepada beberapa ulama sunnah.

7. “Yauma La Zhilla Illa Zhilluhu” di dalamnya ada cercaan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan sindiran kepada Al Imam Ibnul Qoyyim رحمهما الله .

Bersamaan dengan serangan-serangannya kepada para imam Sunnah, tidak terlihat darinya tulisan dalam membantah Al Ikhwanul Muslimin padahal bencana yang mereka timbulkan di negrinya –Mesir- banyak sekali. Begitu pula tiada tulisan terhadap Firqoh Tabligh, begitu pula terhadap para pengagung kuburan, dan juga terhadap firqoh Takfir.

 

Daftar Pustaka:

–         “Majmu’ur Rudud ‘Alal Haddadiyyah” karya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

–         “Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan, yang ditulis oleh Jamal bin Furoihan Al Haritsiy

–         Takhrij “Ihya ‘Ulumiddin” milik Mahmud Al Haddad.

 

Bab Dua: Upaya Merusak Citra Para Pembawa Sunnah dengan Kata-kata Yang Buruk

 

Alloh jalla dzikruhu berfirman:

يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh).” (QS. Luqman: 17).

 Juga Alloh ta’ala berfirman:

 وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan bersabarlah untuk memenuhi hukum dari Robbmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami.” (QS. Ath Thur: 48).

Juga Alloh Yang Mahasuci berfirman:

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan untuk Robbmu maka bersabarlah engkau.” (QS. Al Muddatstsir: 7)

Al Imam Ibnu Katsir  -semoga Alloh merohmatinya- berkata dalam tafsir ayat yang terakhir ini: “Yaitu: Jadikanlah kesabaranmu terhadap gangguan mereka itu adalah demi mendapatkan wajah Robbmu ‘Azza Wajalla. Demikian ucapan Mujahid.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 398/Darul Atsar).

Ayat ini turun pada awal pengangkatan Muhammad Al Qurosiy sebagai Rosul, dan di dalamnya ada isyarat bahwasanya penyampaian risalah itu butuh kepada kesabaran, karena para musuh kebenaran itu banyak. Alloh ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang jahat, dan cukuplah Robbmu sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al Furqon: 31).

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آَثِمًا أَوْ كَفُورًا

“Maka bersabarlah untuk memenuhi hukum dari Robbmu, dan janganlah engkau taati orang pendosa dan orang yang sangat kafir dari mereka.” (QS. Al Insan: 24).

Al Imam Ath Thobariy  -semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا[الإنسان/23]

“Sesungguhnya Kami benar-benar menurunkan Al Qur’an kepadamu.”

Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman kepada nabi-Nya Muhammad saw

 صلى الله عليه وسلم: Sesungguhnya Kami benar-benar menurunkan Al Qur’an ini kepadamu wahai Muhammad sebagai ujian dan cobaan dari Kami.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ   

Dia berfirman: bersabarlah terhadap apa yang diujikan oleh Robbmu yang berupa kewajiban-kewajiban-Nya, penyampaian risalah-Nya, melaksanakan perkara yang harus dilaksanakan di dalam kitab yang diwahyukan kepadamu

وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Dia berfirman: Jangan engkau taati dalam kedurhakaan kepada Alloh dari kalangan musyrikin dari kaummu orang pendosa yang ingin melakukan kedurhakaan, atau orang yang sangat kafir, yaitu orang yang sangat mengingkari kenikmatan-kenikmatan Alloh yang ada padanya, sehingga dia mengingkari-Nya dan menyembah selain-Nya.” (“Jami’ul Bayan”/24/hal. 110/Darut Tarbiyyah Wat Turots).

Dan di antara bentuk permusuhan dari seteru para Nabi عليه السلام adalah berita bohong, kedustaan, tuduhan dusta, gelar-gelar yang buruk, dan yang selain itu, dalam rangka melarikan manusia mereka. Alloh ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

“Dan demikianlah, tidaklah datang kepada orang-orang sebelum mereka satu Rosulpun kecuali mereka berkata: “Dia adalah tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berwasiat dengannya? Bahkan mereka itu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Adz Dzariyat: 52-53).

            Dan sebagaimana para ulama mewarisi para Nabi dalam keilmuan dan tugas dakwah, maka demikian pula mereka mendapati dari pewaris para musuh Nabi kedustaan, dan gelar-gelar yang buruk. Syaikhul Islam Abu ‘utsman Isma’il bin Abdurrohman Ash Shobuniy  -semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Dan alamat-alamat kebid’ahan terhadap pelakunya itu tampak jelas. Dan tanda dan alamat mereka yang paling tampak adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap para pembawa hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan pelecehan mereka terhadap mereka, dan penghinaan mereka terhadap mereka, dan menamai mereka sebagai hasyawiyyah (orang-orang pinggiran), orang-orang bodoh, zhohiriyyah (hanya mengambil lahiriyah dari dalil saja), musyabbihah (yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).” –sampai pada ucapan beliau:- “Dan itu semua merupakan ‘ashobiyyah (fanatisme). Dan tidaklah cocok untuk Ahlussunnah kecuali satu nama saja, yaitu Ashhabul hadits. Aku katakan: Aku melihat bahwasanya ahlul bida’ di dalam masalah nama-nama yang mereka sematkan pada Ahlussunnah ini, dalam menyikapi Ahlul hadits, mereka telah menempuh jalan musyrikin saat menyikapi Rosululloh  صلى الله عليه وسلم , karena musyrikin membagi-bagi perkataan tentang beliau. Sebagian dari mereka menamai beliau sebagai penyihir, sebagian yang lain menamai beliau sebagai dukun, sebagian yang lain menamainya sebagai penyair, sebagian yang lain menamainya sebagai orang gila, sebagian yang lain menamai beliau sebagai orang yang mengada-ada, berganti-ganti, pendusta. Sementara itu Nabi  صلى الله عليه وسلم jauh dan berlepas diri dari aib-aib tadi. Tidaklah beliau kecuali seorang rosul yang terpilih lagi seorang nabi. Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat permisalan untukmu, lalu mereka tersesat sehingga tak bisa mendapatkan jalan.” (QS. Al Isro: 48).

Demikian pula mubtadi’ah, Alloh tidak menolong mereka, mereka membagi-bagikan ucapan kepada para pembawa kabar Nabi, penukil atsar beliau, dan periwayat hadits-hadits beliau, pengikut jejak beliau, dan pengikut petunjuk dari sunnah beliau, maka sebagian dari mereka menamai mereka sebagai hasyawiyyah, sebagiannya menamai mereka sebagai musyabbihah, sebagiannya menamai mereka sebagai nabitah (yang baru tumbuh), sebagiannya menamai mereka sebagai nashibah (yang menancapkan permusuhan terhadap keluarga Nabi), sebagiannya menamai mereka sebagai jabriyyah (kelompok yang berkeyakinan bahwa manusia itu dipaksa dalam berbuat), padahal Ashhabul hadits itu terlindungi dari kejelekan-kejelekan ini, terbebas, bersih dan suci darinya. Tidaklah mereka selain Ahlussunnah yang cemerlang, dan pemilik sejarah yang diridhoi, dan jalan yang lurus, serta hujjah yang tajam dan kuat. Alloh جل جلاله telah memberi mereka taufiq untuk mengikuti kitab-Nya, wahyu-Nya dan pembicaraan-Nya, dan untuk meneladani Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dalam berita-beritanya yang beliau di dalamnya memerintahkan umat-Nya kepada ucapan dan perbuatan yang baik, dan di dalamnya beliau melarang mereka dari ucapan dan perbuatan yang yang jelek. Alloh juga menolong mereka untuk memegang jalan hidup beliau, mengikuti petunjuk dengan menekuni sunnah beliau, dan melapangkan dada-dada mereka untuk mencintai beliau dan mencintai para pemimpin syariat beliau dan ulama dari umat beliau. Dan barangsiap mencintai suatu kaum maka dia akan bersama mereka pada hari kiamat berdasarkan hukum dari Rosululloh  صلى الله عليه وسلم:

«المرء مع من أحب»

“Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya.”([3])

    (“Aqidatus Salaf Ashabul Hadits” Ash Shobuny hal. 109-111/Darul Minhaj).

            Demikian pula pada zaman sekarang: para hizbiyyun harokiyyun (kelompok pergerakan dan pemberontakan) menamakan Ahlussunnah sebagai murjiah (kelompok yang mengakhirkan amalan dari keimanan) dikarenakan Ahlussunnah tidak mengkafirkan pemerintah Muslimin, atau dikarenakan ketergelinciran sebagian dari Ahlussunnah di dalam masalah keterkaitan antara amalan dan keimanan. Adapun hizbiyyun mumayyi’un (kelompok yang melembekkan permasalahan) dari kalangan Hasaniyyun, Mar’iyyun dan yang lainnya menamai Ahlussunnah sebagai Haddadiyyah –bahkan Ghulatul Haddadiyyah- dikarenakan kerasnya Ahlussunnah pada kebid’ahan dan pelakunya. Padahal mereka itu tidak tahu bahwasanya Ahlussunnah itu merupakan pertengahan di antara yang demikian itu, benar-benar mereka itu di atas petunjuk yang lurus.

Para hizbiyyun tadi di dalam menuduh Salafiyyun, mereka berdalilkan dengan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah.

Maka sekarang saya akan menyebutkan apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyah bersama dengan komentar kami. Dan bukanlah risalah ini sebagai cercaan terhadap Asy Syaikh Robi’ حفظه الله, ataupun bersikap sok menantang beliau, akan tetapi risalah ini hanyalah sekumpulan bayyinah yang menerangkan tentang berlepas dirinya Ahlussunnah di Dammaj dari yang demikian itu, dan menerangkan lebih berhaknya hizb baru –Mar’iyyun Barmakiyyun- dengan kebanyakan dari sifat-sifat tersebut.

 

Bab Tiga: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Aujuhusy Syibh Bainal haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”

 

Di antara karakter Haddadiyyun adalah apa yang disebutkan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله dalam risalahnya: “Aujuhusy Syibh Bainal haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”:

[Pasal Pertama: At Tuqiyyah (bertopeng)]

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Berikut ini apa yang mudah untuk disebutkan dari sisi-sisi keserupaan antara mereka dan rowafidh:

Sisi yang pertama: Tuqiyyah yang keras. Maka seorang Rofidhiy itu mengaku padamu bahwasanya dia itu Ja’fariy dan mengakui sebagian prinsip-prinsipnya dan aqidah-aqidahnya yang rusak. Sedangkan mereka –yaitu pengikut Falih Al Harbiy- tidak mau mengakui bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, dan tak mau mengakui sedikitpun dari prinsip-prinsip mereka dan apa yang mereka niatkan.

Komentar:

Sifat pertama dari Haddadiyyah adalah pemakaian topeng yang amat sangat. Dan tidak ada pada Syaikhuna An Nashihul amin Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau  رعاهم الله topeng apapun. Ini kitab-kitab mereka, risalah-risalah mereka, kaset-kaset mereka, dan selebaran-selebaran mereka, di situ mereka menuliskan nama-nama mereka, kuniyah mereka, dan nisbat mereka dengan sangat terang-terangan. Jika mereka mengunjungi para masyayikh mereka juga berbicara dengan sangat terang-terangan sambil menjaga adab, karena kebenaran itu lebih tinggi dan lebih agung daripada sesuatu apapun. Syaikhuna Yahya Al Hajuriy  رعاه الله berkata:

(نحن نمشي على الوضوح رافعي الرأس).

“Kami berjalan di atas sikap jelas dalam keadaan mengangkat kepala.”

Dan ini merupakan sikap mengikut beliau pada jalan para Nabi عليهم السلام . Alloh ta’ala berfirman:

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

“Berkata Musa: “Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kalian itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”.(QS. Thoha: 59).

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsirnya: “Dan demikianlah keadaan para Nabi, seluruh urusan mereka adalah terang, jelas, tiada kerahasiaan di dalamnya, dan tiada pula butuh iklan untuk melariskan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 612/Darul Atsar).

Adapun hizb baru –Mar’iyyun- maka alangkah banyaknya topeng mereka! Dan telah banyak kami lihat hal itu dari mereka. Dan tidaklah berita itu seperti melihat langsung. Keadaan mereka adalah seperti firman Alloh ta’ala tentang munafiqun:

وإذا لقوا الذين آمنوا قالوا آمنا وإذا خلوا إلى شياطينهم قالوا إنا معكم إنما نحن مستهزئون

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.”(QS. Al Baqoroh: 14).

Dan delegasi dari kota ‘Adn telah mengunjungi kami kemudian mereka menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Syaikhunan Nashihul amin. Dan di antara yang mereka sebutkan adalah: Bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy berfatwa tentang bolehnya tuqiyyah (memakai topeng) dalam kaitannya dengan fitnah ini. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله menjawab bahwasanya yang demikian itu adalah termasuk dari jalan Rofidhoh. Kaset soal-soal tersebut dan jawabannya terrekam pada perekaman “Darul Atsar” di Dammaj.

 

[Pasal Kedua: Sirriyyah (kerahasiaan)]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: sisi kedua adalah: kerahasiaan ketat di dalam kenyataan mereka dan situs mereka di internet yang terkenal dengan: “Al Atsariy” yang kerahasiaannya sampai pada derajat yang tak bisa disusul oleh firqoh manapun, yang mana mereka menulis dengan nama-nama curian yang tak dikenal. Jika salah seorang dari mereka mati tidak diketahui jasadnya ataupun jejaknya. Dengan perbuatan ini mereka mengungguli Rofidhoh karena Rofidhoh itu tetap dikenal, kitab-kitab tarikh dan al jarh wat ta’dil penuh dengan nama-nama mereka dan keadaan mereka sekalipun mereka memakai topeng dan kerahasiaan yang mana kebanyakan dari keadaan mereka tidak nampak.

Komentar:

            Sifat kedua dari Haddadiyyah adalah: sirriyyah (kerahasiaan). Dan tidak ada pada Syaikhunan Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau sirriyyah ini. Seluruh media massa yang mereka sebarkan menjadi saksi terhadap yang demikian itu. Sementara itu, para penulis hizb baru –Mar’iyyah- kebanyakan dari mereka adalah pelaku sirriyyah ini.

Termasuk dari data nama para penulis gelap mereka yang mana tulisan-tulisan mereka tersebar di situs “Asy Syihr” dan “Al Wahyain” milik kedua anak Mar’i  bisa dilihat di “Mukhtashorul Bayan” (karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy, Asy Syaikh Abu ‘Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy dkk, Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy, dan lainnya/hal. 68-69).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah mengumumkan nasihat-nasihat kepada para penulis gelap tadi, dan menjelaskan kebatilan jalannya mereka, dan menerangkan bahwasanya menerima berita dari para penulis gelap yang sengaja merahasiakan diri tadi merupakan bentuk penyelisihan terhadap prinsip-prinsip As Salafush sholih. Beliau رعاه الله juga telah menyebarkan risalah ringkas berjudul “Ma Yashna’ul A’da’ Fi Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi Nafsih.”

Beberapa para penasihat juga telah bangkit mencurahkan nasihat-nasihat untuk mereka. Termasuk yang melaksanakan tugas nasihat ini adalah: Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy رعاه الله dalam risalahnya “As Saifush Shoqil Wan Nushhul Jamil Fi Bayani Halil Majahil”, Abu Ishaq Ayyub bin Mahfuzh Ad Daqil Asy Syibamiy رعاه الله dalam risalahnya “Fathul ‘Alimil Jamil Fi Ta’rifil Majahil”, dan “Qobla An Tas’al Ajib”, dan Kholid bin Muhammad Al Ghorbaniy رعاه الله dalam risalahnya “Al Barmakiy Bainas Sa’il Wal Mujib”, dan Abu Abdirrohman Umar bin Ahmad Ash Shubaihiy رعاه الله  dengan qoshidahnya “Hadiyyatun Qoyyimatun Lil Majahil”, dan yang lainnya.

Ternyata mereka tak mau tobat dan tidak mau sadar.

Adapun orang yang menampakkan pertolongan kepada Ahlussunnah Dammaj dalam menghadapi Mar’iyyun tapi tidak mau terang-terangan menampakkan namanya telah dikenal dengannya, maka kami berlepas diri dari apa yang dilakukannya itu, karena perbuatannya itu adalah batil, menyelisihi kejujuran, dan menyerupai gaya hizbiyyin dan mubtadi’ah.

Dan Asy Syaikh Robi حفظه الله berkata tentang para penulis gelap: “Sesungguhnya berlindungnya mereka pada metode ini –yaitu menyamarkan diri di bawah nama-nama yang tak dikenal- benar-benar merupakan dalil tentang pengecut dan penakutnya mereka, dan mereka itu merasa bahwasanya mereka itu ada di atas kebatilan.” (“Mausu’ah Muallafatisy Syaikh Robi’’/9/hal. 299/cet. Darul Imam Ahmad).

            Nah, itu para Mar’iyyun, mereka memakai metode yang hina tersebut.

Adapun perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyin: “Dan dengan amalan ini mereka telah mengungguli Rowafidh”,

Kami katakan –semoga Alloh memberi kami taufiq-: Demikian pula Mar’iyyun. Syaikhunan Nashihul Amin رعاه الله telah berkata pada mereka: “Jadilah kalian itu menulis dengan nama-nama pinjaman seperti orang-orang sebelum kalian belum lama ini. Para pengelola surat kabar Rofidhoh “Al Balagh” lebih berani daripada kalian…” dan seterusnya. (“Ma Yashna’ul A’da’ Fi Jahil Ma Yashna’ul Jahil Fi Nafsih.”/Karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله).

          Kesimpulan: Sesungguhnya Salafiyyun Dammaj jauh dari sifat Haddadiyyah, sementara para Mar’iyyun mereka itulah Haddadiyyun.

 

[Pasal Tiga: Menolak sebagian Imam Salaf, Prinsip-prinsip Mereka, Dan Merendahkannya]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi yang ketiga: Penolakan. Rowafidh menolak Zaid bin Ali ketika beliau berloyalitas pada Abu Bakr dan Umar, sementara Al Haddadiyyah menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, dan mereka merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil dan merendahkan prinsip-prinsip mereka.

Komentar:

Sifat ketiga dari Haddadiyyah adalah menolak sebagian prinsip-prinsip Ahlussunnah. Dan tidak ada pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau رعاهم الله penolakan macam ini. Mereka tidak menolak seorangpun dari As Salafush Sholih, dan tidak menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam Al Jarh Wat Ta’dil, bahkan mereka kokoh di atas ilmu  Al Jarh Wat Ta’dil dan penerapannya sebagaimana mestinya, sebagaimana dulu syaikh mereka Al Imam Al Wadi’iy kokoh di atasnya dan berkata: “Adapun  Al Jarh Wat Ta’dil maka aku tidak akan meninggalkannya walaupun tiada seorangpun yang mendatangiku. Dan tidaklah kitab “Al Mushoro’ah” kecuali termasuk dalam bab ini.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 235/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Mereka juga tidak menolak satupun dari prinsip-prinsip Ahlussunnah, dan tidak merendahkan para imam Al Jarh Wat Ta’dil, dan tidak pula merendahkan prinsip-prinsip mereka yang benar. Seluruh tulisan yang mereka sebarkan merupakan saksi terhadap semua itu. Mereka mencintai As Salafush Sholih, mengagungkan mereka, mengikatkan diri dengan jalan dan prinsip-prinsip mereka, mengajak manusia kepadanya, dan memerangi orang-orang yang ingin menggoncangkan prinsip ini seperti Abdurrohman Al ‘Adaniy yang di antara ucapannya adalah: “Bahwasanya sebagian masalah zaman ini tidak disyaratkan padanya ada salafnya (pendahulunya).” (“Mukhtashorul Bayan”/ hal. 63).

Adapun Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya oleh saudara kita Mahir bin Ali Ash Shobahiy حفظه الله: “Apakah disyaratkan untuk setiap masalah ada salaf (pendahulunya)?”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Setiap masalah ada salafnya.” (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).

Ini juga aqidah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله karena beliau saat saudara kita tadi menyodorkan padanya soal terdahulu, beliau حفظه الله menjawab: “Iya, setiap masalah harus ada salafnya.” Lalu beliau menyebutkan perkataan yang kesimpulannya adalah: Kita harus kembali pada salaf pada masalah-masalah yang ada, karena mereka adalah para pembawa agama, dan merekalah yang mengambil agama ini dengan segarnya dari Nabi  صلى الله عليه وسلمdan menerapkan pengajaran-pengajaran agama ini dengan keberadaan Nabi   صلى الله عليه وسلمdan persetujuan beliau, dan bahwasanya pengikat ini, pemahaman salaf, harus ada, karena masalah ini adalah jalan masuk yang darinya para pengekor kebid’ahan dan hawa nafsu.”

Lalu beliau menyebutkan ucapan yang panjang khusus untuk bab ini. (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 63).

Ini adalah penjelasan ringan tentang kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di atas Sunnah dan Salafiyyah, berbeda dengan hizbiyyun baru itu yang tidak merasa cukup dengan sebagian manhaj Salaf.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Mereka berkata: Pertama: “Apakah  Al Jarh Wat Ta’dil yang ada di dalam ilmu mushtholah itu memang sama dengan ucapan para imam dan ulama terhadap pengekor bid’ah dan hawa nafsu? Atau dengan makna lain: Apakah kaidah-kaidah ilmu ini diterapkan dalam perkataan terhadap para penganut aliran-aliran?”

Komentar:

Pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan oleh haddadiyyun untuk membikin manusia ragu terhadap ilmu mustholah. Sasaran mereka adalah: Bahwasanya kaidah-kaidah mushtholah tidak diterapkan dalam perkataan terhadap pengekor nawa nafsu dan bid’ah. Dan ini tentu saja sesuatu yang batil, tidak diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan tidak pula beliau setujui.

Bahkan sungguh orang-orang yang punya perhatian mendalam pada bidang mushtholah tahu bahwasanya bidang ini juga berbicara tentang ahlul bida’ dan pengekor hawa nafsu, sebagaimana dia juga berbicara tentang orang yang kurang hapalannya. kitab-kitab  Al Jarh Wat Ta’dil penuh dengan kritikan terhadap para pemeluk aliran yang menyimpang. Misalnya adalah:

Al Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari yahya bin Said Al Qoththon bahwa beliau berkata: “Aku bertanya pada Malik bin Anas tentang Ibrohim bin Abi Yahya, apakah dia itu tsiqoh?” maka beliau menjawab: “Tidak. Dia juga tidak tsiqoh dalam agamanya.” (“ Al Jarh Wat Ta’dil”/2/hal. 126).

            Ibrohim ini mubtadi’ yang terkenal. Al Imam Ahmad berkata: “Dia itu qodariy, jahmiy, seluruh bencana ada padanya. Mereka meninggalkan haditsnya. Ayahnya tsiqoh.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/451/terjemah Ibrohim bin Abi Yahya/Ar Risalah).

Al Imam Ibnu hibban meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in bahwasanya beliau berkata: “Ibrohim bin Abi Yahya itu pendusta, rofidhiy, qodariy.” (“Al Majruhin”/1/hal. 107).

Setelah menyebutkan sanad hadits ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya- dari  jalur ‘Aun bin ‘Umaroh dari Abul ‘Ala –dan namanya adalah ‘Amr ibnul ‘Ala- dari Ibnu Sarh -namanya Sholih-, Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Aun itu dho’if (lemah), Sholih itu bukanlah orang yang sholih karena dia itu khorijiy.” (“Tadzkirotul Huffazh”/3/hal. 958-959 ).

Contoh-contoh dalam bab ini banyak, tidaklah menentangnya kecuali orang yang mata hatinya buta seperti para haddadiyyun itu, dan bukanlah Darul hadits di Dammaj termasuk dari orang-orang yang berkeyakinan seperti aqidah mereka, dan tidak pula berpendapat seperti pendapat mereka.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Yang kedua, mereka berkata: “Sesungguhnya ilmu Al Jarh Wat Ta’dil itu di luar ilmu-ilmu syariat, dia punya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah terbatas dan terkenal, dijelaskan oleh para ulama mushtholah dalam kitab-kitab mereka. Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, mempelajari ushul, menelusuri dalil-dalil agar setelah itu bisa keluar dengan hukum terhadap orang ini: apakah dia telah menyelisihi manhaj Ahlussunnah Wal jama’ah ataukah tidak?”

Komentar:

            Ini juga tidak diucapkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan tidak pula disetujui oleh beliau. Bahkan ilmu Al Jarh Wat Ta’dil termasuk dalam ilmu-ilmu syariat Islamiyyah yang mulia dan agung.

Al Imam Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “Dan sesungguhnya ilmu hadits itu merupakan ilmu yang paling mulia, dan cabang yang paling bermanfaat, yang dicintai oleh pejantan dari lelaki dan jagoan mereka, yaitu: para peneliti dari kalangan ulama dan orang-orang sempurna mereka. Dan tidaklah membencinya kecuali orang-orang yang hina dan rendahan. Ilmu hadits merupakan ilmu yang paling banyak masuk ke dalam cabang-cabang ilmu syariat, terutama cabang ilmu fiqh yang mata itu merupakan mata air syariat. Oleh karena itu orang-orang yang meninggalkannya banyak mengalami kekeliruan, seperti para penulis dari kalangan fuqoha, dan nampak cacat tersebut pada perkataan orang yang ilmu haditsnya kurang, dari kalangan ulama.” (“Muqoddimah Ibnush Sholah”/1/hal. 3).

Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata pada para pencari hadits: “Karena sesungguhnya ilmu kitab dan atsar merupakan asal dari syariat yang mana kepadanyalah syariat itu menisbatkan diri. Dan keduanya merupakan pondasi ilmu-ilmu syariat yang di atasnyalah meninggi cabang-cabang dan bangunannya. Ini merupakan ilmu yang segar diminum, tinggi tuntutannya, memancar mata airnya, bercabang-cabang fasalnya dan cabangnya.

Pasal pertama dari ilmu hadits adalah: mengetahui adab belajar, mengambil ilmu dan mendengarkan pelajaran. Kemudian: mengetahui ilmu hadits, sisi-sisinya dan dari siapakah mengambilnya. Kemudian: memantapkan hadits dan mengikatnya. Kemudian: menghapal hadits. Kemudian: memisahkan hadits-hadits dan memeriksanya dengan cara mengetahui mana yang shohih, yang lemah, yang hasan, yang bisa diterima, yang harus ditinggal, yang palsu, perselisihan riwayatnya, penyakitnya, memisahkan antara riwayat yang sanadnya bersambung ke Rosululloh, dengan yang sanadnya dari tabi’iy langsung ke Rosululloh, dengan riwayat yang sampai kepada Shohabiy, dengan riwayat bersambung. Kemudian: mengetahui thobaqot para periwayat hadits dari sisi tsiqoh (terpercaya), hapalannya, keadilannya, jarh (kritikan), kelemahan, jahalah (ketidakterkenalan), taqoddum (terdahulu zamannya), taakhkhur (zaman belakangan). Kemudian: memisahkan tambahan-tambahan dari para penghapal dan yang bukan dari penghapal.

Ada juga pasal mudroj (sisipan kata) di tengah-tengah riwayat dari perkataan para penukilnya. Kemudian: mengetahui kata-kata asing di dalam hadits dan tafsir lafazhnya. Kemudian: mengetahui nasikh dan mansukh dari hadits, penjelasan dari hadits yang masih global, juga hadits-hadits yang saling bertentangan, hadits yang rumit. Kemudian: mempelajari dan memahami isi hadits, dan mengeluarkan hikmah-hikmah dan hukum-hukum dari nash-nashnya dan makna-maknanya, serta menyingkapkan keruwetan lafazh-lafazhnya dengan penakwilan yang terbaik, juga memadukan hadits-hadits yang berbeda pada sisi-sisi yang terperinci, dan penempatannya yang terbaik.

Kemudian: menyebarkannya, adab-adabnya, dan tujuan yang benar dalam itu semua untuk agama ini dan mencari pahala dari Alloh.

Seluruh pasal dari pasal-pasal ini merupakan ilmu yang berdiri sendiri, dan merupakan cabang yang tinggi sempurna di atas dasar dan landasan ilmu atsar. Masing-masingnya memiliki karya tulis yang beraneka ragam, banyak dan bermanfaat. (“Al Ilmam Ila ma’rifati ushulir Riwayah Wa Taqyiidis Sama’”/Ibnush Sholah/1/hal. 3-5).

Ini semua merupakan bantahan terhadap prinsip yang dibuat oleh Haddadiyyah. Dan tidaklah Darul hadits di Dammaj memiliki prinsip macam tadi.

Ucapan Haddadiyyun: (Adapun pembicaraan tentang para tokoh yang bukan termasuk para pembawa riwayat, maka ini membutuhkan ilmu yang meliputi syariat ini, … ) mengabarkan tentang keluarnya ulama hadits dari area ulama syari’ah, dan memberikan kesan bahwa ulama hadits tak punya keahlian dalam mengkritik ahlul bid’ah. Ini tentu saja batil, bahkan para imam hadits itu memahami sunnah dan bid’ah, dan tahu kapankah seseorang itu keluar dari area sunnah menuju kepada bid’ah. Ini masuk ke dalam ilmu Al Jarh Wat Ta’dil. Para imam yang menulis kitab-kitab tentang kritikan terhadap para majruhin (orang-orang yang dikritik) sebagaimana mereka mengkritik orang yang lemah hapalannya, demikian pula mereka mengkritik orang yang rusak agamanya.

Al Imam Ibnu Hibban Al Bustiy رحمه الله berkata: “Adapun kritikan terhadap para dhu’afa (orang-orang yang lemah) maka hal itu terdiri dari dua puluh jenis. Setiap orang yang menekuni sunnah-sunnah, menuntutnya dan mencarinya, wajib baginya untuk mengetahuinya agar jangan sampai menghukumi setiap orang kecuali apa yang memang ada padanya, dan jangan sampai berkata tentangnya melebihi apa yang dia ketahui tentangnya.

[Jenis pertama:] adapun jenis pertama dari jenis-jenis kritikan terhadap orang-orang yang lemah: maka mereka itu adalah para zanadiqoh (munafiqun I’tiqodiy) yang punya keyakinan zandaqoh dan kekufuran, tidak beriman pada Alloh dan hari Akhir. Mereka dulu selalu masuk ke kota-kota dan menyerupakan diri dengan ulama, memalsukan hadits terhadap para ulama: meriwayatkan dari mereka untuk menimbulkan keraguan dan kebimbangan di hati-hati mereka. Mereka itu sesat dan menyesatkan. –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua:] di antara mereka ada orang yang dikuasai setan hingga memalsukan hadits terhadap para syaikh yang terpercaya dalam bab anjuran untuk berbuat kebaikan, dan menyebutkan keutamaan-keutamaan –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketiga:] Dan di antara mereka ada orang yang memalsukan hadits dalam keadaan menganggap hal itu halal, bersikap lancang kepada Rosululloh  صلى الله عليه وسلم   –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keempat:] Dan di antara mereka ada orang yang memalsukan hadits ketika terjadi suatu peristiwa, membacakannya pada para raja dan yang lainnya, di sebagian waktu.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kelima:] Dan di antara mereka ada orang yang  –sampai pada ucapan beliau:- jiwanya didominasi oleh kesholihan dan ibadah, tapi lalai (tidak waspada) dari pencampuran dan pemisahan hadits  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keenam:] di antara mereka ada sekelompok orang tsiqot (terpercaya) yang hapalannya tercampur pada akhir-akhir umur mereka hingga tidak lagi memahami hadits yang mereka sampaikan sendiri  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketujuh:] di antara mereka ada orang-orang yang menjawab apapun yang ditanyakan, sama saja apakah itu dari haditsnya atau hadits orang lain, dia tidak peduli untuk mengikuti apa yang didiktekan orang padanya.  –sampai pada ucapan beliau:- 

[Jenis kedelapan:] di antara mereka ada orang yang berdusta tapi tidak tahu bahwasanya dirinya telah berdusta, karena ilmu ini bukanlah dari keahliannya, dan kakinya tak pernah berdebu dalam mengurusi bidang ini.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesembilan:] di antara mereka ada orang yang meriwayatkan hadits dari para syaikh yang tak pernah dilihatnya, tapi dia meriwayatkan dari kitab-kitab yang shohih. Kitab-kitab tadi shohih, akan tetapi orang tadi tidak mendengar hadits dari para syaikh tadi dan tidak pernah melihat mereka.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesepuluh:] dan di antara mereka ada orang yang membalik riwayat dan mentaswiyah sanad (yaitu menghapus satu rowi di antara dua rowi yang saling mendengar, dan memberikan kesan bahwa rowi yang ini mendengar hadits tersebut darinya, padahal tidak).  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesebelas:] dan di antara mereka ada sekelompok orang yang melihat beberapa syaikh dan mendengar dari hadits dari mereka, lalu sepeninggal para syaikh tadi mereka meriwayatkan dari mereka hadits-hadits yang tidak mereka dengar dari mereka  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua belas:] di antara mereka ada orang yang menulis hadits dan melakukan rihlah (perjalanan) demi hadits tadi, hanya saja kitabnya hilang. Manakala kitab tadi dibutuhkan jadilah dia meriwayatkan hadits tadi dari kitab orang lain tanpa menghapal semuanya, atau tanpa dia mendengar hadits-hadits yang ada dalam kitab orang lain tadi.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis ketiga belas:] di antara mereka ada orang yang kesalahannya banyak dan buruk, dan hampir-hampir membalik sisi benarnya sehingga dia berhak untuk ditinggalkan karena faktor tadi, sekalipun dia itu sebenarnya terpercaya dan jujur dalam meriwayatkan.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keempat belas:] di antara mereka ada orang yang mengalami musibah dengan adanya anak yang jelek atau juru tulis yang jelek yang memalsukan hadits untuknya, sementara syaikh tadi mempercayai mereka. Mereka membacakan padanya hadits dan berkata: “Ini adalah hadits Anda,” lalu dia meriwayatkan hadits tadi. Syaikh tersebut sebenarnya tsiqoh akan tetapi tidak boleh berhujjah dengan riwayat-riwayatnya, dan orang lain tidak boleh meriwayatkan hadits darinya manakala syaikh tadi mencampuradukkan riwayatnya yang shohih dengan hadits yang palsu.  –sampai pada ucapan beliau:-

 [Jenis kelima belas:] di antara mereka ada orang yang seseorang memasukkan padanya suatu hadits tanpa diketahuinya. Ketika jelas baginya bahwasanya hadits tadi bukan milik dia dia tak mau rujuk, bahkan mulai meriwayatkannya karena sombong untuk mau rujuk dari apa yang telah telanjur keluar dari mulutnya. Hal ini tidaklah terjadi kecuali dari kecilnya adab keagamaannya, dan rendahnya kepeduliannya terhadap perkara yang tercela untuk dikerjakan.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis keenam belas:] di antara mereka ada orang yang keseleo lidahnya hingga meriwayatkan sesuatu yang salah tanpa diketahuinya, kemudian jelaslah baginya hal itu dan dia tahu, tapi tak mau rujuk darinya, bahkan terus-terusan meriwayatkan hadits yang salah tadi setelah tahu bahwasanya dia bersalah pada kali yang pertama. Orang yang seperti ini adalah pendusta.  –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kesembilan belas:] di antara mereka ada mubtadi’ yang jika dirinya itu adalah da’i, menyeru manusia kepada kebid’ahannya hingga menjadi imam yang diikuti dalam kebid’ahannya, dan menjadi rujukan dalam kesesatannya, –sampai pada ucapan beliau:-

[Jenis kedua puluh:] di antara mereka ada tukang cerita dan pengemis yang sering memalsukan hadits dalam cerita-cerita mereka dan meriwayatkannya dari para tsiqot,… selesai dari “Al Majruhin”/1/hal. 62-69).

Perhatikanlah kejelian pandangan imam hadits tentang jenis-jenis majruhin, bagaimana Al Imam Ibnu Hibban رحمه الله menjadikan pada setiap jenis tadi contoh-contoh kasus. Dan di antara para majruhin tadi adalah: para pengekor hawa nafsu dari kalangan zanadiqoh dan yang lainnya dari kalangan mubtadi’ah.

Kesimpulan: Sesungguhnya haddadiyyah adalah mubtadi’ah, yang mendatangkan prinsip bikinan sendiri untuk meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip imam Salaf. Dan hal ini tidak dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau -semoga Alloh menjaga mereka- . ini kitab-kitab dan risalah-risalah mereka dalam membantah dan memperingatkan manusia dari para ahlil batil, dibangun di atas kaidah-kaidah para imam hadits, seperti:

–         Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu,

–         Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal,

–         Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan, kecuali jika ada dalil yang mendukung orang yang meniadakan tadi, maka dia didahulukan,

–         Orang yang tinggal satu kampung itu lebih tahu daripada orang lain,

–         Berita dari tsiqoh (orang yang terpercaya) itu diterima,

–         Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat merusak, lalu diperingatkan dan tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena jarh.

–         Tidak boleh diam terhadap kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan kemampuan,

–         Wajib memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.

–         Jarh itu seperti perkara lainnya seperti ijtihadnya seorang mujtahid, bahwasanya dia itu dibangun di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar dugaan semata,

–         Jarh mufassar (terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan di atas ta’dil (pujian),

–         Dan kaidah-kaidah  Al Jarh Wat Ta’dil lain yang terkenal.

 

Maka Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersamanya رعاهم الله berjalan di atas kaidah-kaidah terkenal dari para imam hadits, dan mereka tidak mendatangkan kaidah baru. Maka barangsiapa menuduh mereka dengan haddadiyyah maka sungguh dia adalah pendusta, siapapun dia.

 

Di Antara Penyelisihan Al Mar’iyyun Terhadap Prinsip-prinsip Ulama Hadits

            Bahkan hizb baru itulah yang menyelisihi banyak sekali prinsip-prinsip ulama tadi, sebagaimana didapati oleh orang yang mau membaca sebagian dari malzamah-malzamah dan kaset-kaset mereka. Di antaranya adalah:

Yang pertama: Mereka tidak menerima jarh terperinci yang datang dari ulama yang mengetahui penyelewengan kedua anak Mar’i dengan alasan mereka belum mendapati penyelewengan mereka. Menyelisihi kaidah ulama hadits: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu.”

            Al Imam Muhammad bin Ibrohim Al Wazir رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang bodoh.” (“Ar Roudhul Basim”/1/hal. 142).

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang tahu adalah hujjah terhadap orang yang tidak tahu.” (“Fathul bari”/di bawah nomor: 3585).

Yang kedua: sebagian mereka berbicara dengan batil, manakala dikritik dia mengelak sambil berkata: “Aku nggak ingat itu,” dia ingin menampilkan kelupaannya untuk meruntuhkan seluruh kritikan yang dibangun di atas persaksian orang yang hapal. Ini adalah upaya yang buruk. Al Imam Ibnul Qoththon رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya tidaklah orang yang tidak hapal itu hujjah terhadap orang yang hapal.” (sebagaimana dalam “Aunul ma’bud”/1/hal. 160/Ath Thoharoh/Takhlilul Lihyah).

Maka perbuatan mereka tadi menyelisihi kaidah para imam hadits: “Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal.” Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata:  “Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal,” (“Fathul Bari”/6/hal. 47/ Al Hajj/ Ma Yuqtalul Muhrim Minad Dawabb).

Al Imam Muhammad Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Bahkan yang terkenal adalah bahwasanya Orang yang hapal adalah hujjah terhadap orang yang tidak hapal.” (rujuk “Taudhihul Afkar”/Bayanusy Syadz/1/hal. 386).

Yang ketiga: Ketika Ahlussunnah dan ulama mereka menampilkan bukti-bukti penyelewengan kedua anak Mar’i bangkitlah para pengikut dan penolong mereka dengan meniadakan penyelewengan tadi tanpa bukti-bukti ataupun hujjah, dan pura-pura buta terhadap bukti-bukti yang kuat tadi, kemudian mengharuskan orang-orang untuk tetap pada asalnya (yaitu: pada asalnya, kedua anak Mar’i adalah salafiy).

Ini menyelisihi apa yang telah menetap di kalangan Salaf: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan,” karena orang yang meniadakan itu dia tinggal pada kondisi asal, sementara orang yang menetapkan itu memindahkan dari asalnya dikarenakan dia punya tambahan ilmu. Al Hafizh Ibnush Sholah رحمه الله berkata: “…seandainya orang tadi meniadakan hal itu, maka orang yang menetapkannya lebih didahulukan daripada dia dikarenakan orang tadi mengetahui perkara yang tersembunyi darinya.” (Muqoddimah Ibnush Sholah/1/hal. 13/Ma’rifatut Tadlis).

Kecuali jika orang yang meniadakan tadi mendatangkan dalil yang terang yang menunjukkan tidak benarnya faktor pemindah tadi, dan menunjukkan keteguhan orang yang dibicarakan tadi di atas asalnya. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan, kecuali jika orang yang meniadakan tadi disertai oleh dalil yang mendukungnya, maka dia didahulukan.” (“Fathul Bari”/1/hal. 4/Bad’il Wahyi).

Sebagian Baromikah (Barmakiyyun pengikut anak mar’i) berkata: “Sesungguhnya Hajuriy itu syadzdz (menyendiri) karena dia menyelisihi ulama yang banyak dalam kasus Abdurrohman bin Mar’i!).

Jawab kami: barangkali mereka dengan perkataan ini ingin memperkuat upaya mereka bahwasanya orang yang menetapkan tidaklah didahulukan di atas orang yang meniadakan, dan berhujjah dengan ucapan Al Imam As Sakhowiy رحمه الله : “Dan termasuk perkara yang diperselisihkan adalah: jika seorang rowi menetapkan sesuatu dari syaikhnya, lalu ditiadakan oleh rowi yang lebih hapal daripada dia, atau lebih banyak jumlahnya, atau lebih sering menyertai syaikh tadi, maka sesungguhnya ahli fiqh dan ushul berkata: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan,” maka diterimalah penetapannya tadi. Sementara para ahli hadits menamai orang tadi sebagai syadzdz (orang yang menyendiri) karena mereka menafsirkan penyendirian yang disyaratkan peniadaannya di sini adalah: penyelisihan rowi terhadap rowi yang lebih kuat dalam riwayat tadi, ketika terjadi kesulitan untuk menggabungkan dua riwayat. Asy Syaifi’iy menyetujui mereka dalam tafsir yang tersebut tadi, bahkan beliau terang-terangan menyetakan bahwasanya rowi yang jumlahnya banyak lebih pantas menghapal daripada satu orang saja, dikarenakan kemungkinan lupa itu lebih dekat kepadanya daripada terjadinya lupa pada rowi yang banyak, dan ketika itu maka ditolaknya ucapan sekelompok orang dikarenakan ucapan satu orang adalah kemungkinan yang jauh.” (Fathul Mughits”/1/hal. 17-18).

Aku katakan وفقني الله : kami lebih beruntung dengan prinsip-prinsip para imam hadits daripada kalian. Sesungguhnya Al Imam As Sakhowiy رحمه الله juga berpegang dengan kaidah ini dan berkata pada tempat lain: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan.” (Fathul Mughits”/3/hal. 157/Ma’rifatut Tabi’in).

Hanya saja beliau merojihkan yang lainnya apabila peniadaan tadi lebih kuat daripada penetapan, dengan bentuk: orang yang meniadakan itu lebih hapal atau lebih banyak jumlahnya atau lebih lama menyertai syaikh tadi daripada orang yang menetapkan.

Adapun dari sisi hapalan, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله lebih hapal daripada mereka terhadap penyelisihan Abdurrohman bin Mar’i dan lebih banyak bersahabat dengannya daripada mereka, dan didukung oleh persaksian ribuan pelajar. Demikian pula upaya pengikut Ibnu Mar’i untuk mengambil sejumlah masjid Salafiyyin, sesungguhnya yang demikian itu tidaklah tersembunyi. Maka kaidah: “Orang yang menetapkan (adanya perubahan) itu lebih diutamakan daripada orang yang meniadakan” pada fitnah ini adalah kaidah yang kokoh tidak tergoyahkan.

Kemudian sesungguhnya hakikat syudzudz (penyendirian) adalah penyelisihan orang terhadap kebenaran sekalipun para penyelisih tadi itu banyak. Adapun Al Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran sekalipun dia sendirian di bumi. Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata,” orang yang syadzdz (menyendiri) itu adalah orang yang menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyendiri. Seluruh manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyendiri kecuali sekelompok kecil. Mereka itulah Al Jama’ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang menyendiri. Dan Imam Ahmad sendirian sebagai Al Jama’ah.” (“I’lamul Muwaqqi’in” 3/287/Darul Hadits).

Keempat: Di antara perkara yang hendak diruntuhkan oleh Baromikah adalah kaidah: “Orang yang tinggal satu kampung itu lebih tahu daripada orang lain,” dan mereka mencurahkan kerja keras untuk membatalkan persaksian para pelajar Darul Hadits di Dammaj terhadap keburukan-keburukan Abdurrohman bin Mar’i ketika masih tinggal di Dammaj, dengan beralasan sudah adanya jaringan telpon([4]). Mereka lalai bahwasanya orang yang hadir itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir sekalipun sudah banyak telepon dan HP.

Kaidah ini telah ditetapkan di kalangan ahlul hadits, mereka memakainya sebagai faktor penguat ketika terjadi perselisihan. Dan kaidah ini tidak tergoyahkan. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “… Ibnu Yunus telah mengetahui keberadaan orang ini, dan beliau adalah orang yang sekampung dengannya dan paling tahu tentang penduduk Mesir.” (“Lisanul Mizan”/1/hal. 368).

Yang demikian itu dikarenakan adanya tambahan ilmu bagi orang yang tinggal satu kampung. Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله  setelah menyebutkan ucapan ini : “Dulu beliau berkata: Orang yang tinggal satu kampung dengan seseorang itu lebih tahu tentang dirinya,” berkata: “Dikarenakan mereka punya tambahan ilmu tentang berita orang ini, melebihi pengetahuan orang asing terhadap lahiriyyah kelurusan agama orang tadi.” (Al Kifayah/Babul Qoul Fil Jarh Wat Ta’dil/1/hal. 333/Darul Huda).

Kelima: Upaya Baromikah dalam menolak berita satu orang yang tsiqoh –bahkan banyak orang tsiqot-, lalu mereka berusaha untuk membatalkan berita-berita orang-orang tsiqot tadi tentang Ibnu Mar’i. dan ini tentu saja batil  karena menentang firman Alloh ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Di dalam ayat ini ada dalil yang menunjukkan diterimanya berita satu orang jika dia itu ‘adil (lurus agamanya), karena Alloh hanyalah memerintahkan tatsabbut ketika ada penukilan dari kabar orang fasiq.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 582).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata tentang tafsir ayat ini: “Firman-Nya:Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” Alloh memerintahkan untuk tabayyun setiap kali datang orang fasiq dengan membawa suatu berita. Bahkan di antara berita-berita itu ada jenis berita yang di situ tidak dibolehkan untuk tabayyun([5]), ada berita yang dibolehkan di situ untuk tidak tabayyun([6]), dan ada juga berita yang mengandung hukuman pada sebagian orang, Karena Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan jika datang pada kita orang yang fasiq yang membawa berita, kita khawatir akan menimpakan sesuatu pada suatu kaum dengan suatu kebodohan. Andaikata setiap orang yang ditimpa sesuatu berdasarkan suatu berita itu demikian (harus ditabayyuni), niscaya tak akan terjadi perbedaan antara orang adil dengan orang fasiq. Bahkan dalil-dalil ini jelas menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan berita dari satu orang yang adil secara mutlak. Yang demikian itu menunjukkan diterimanya persaksian satu orang adil dalam jenis kasus yang mengandung hukuman-hukuman.” (“Majmu'”/15/307).

Al Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam menjelaskan kisah penerimaan Umar hadits Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallohu ‘anhuma tentang tho’un: “Dan di dalam hadits ini ada dalil penggunaan kabar satu orang, penerimaannya dan pengharusan amal dengannya. Dan ini adalah hadits yang paling jelas dan paling kuat yang kami lihat dari sisi atsar-atsar dalam menerima kabar satu orang. Hal itu dikarenakan pada saat itu kejadiannya di kalangan sekumpulan para shahabat dan di kehadiran mereka dalam suatu perkara yang membuahkan isykal bagi mereka. Maka Umar tidak berkata pada Abdurrohman bin ‘Auf “Engkau cuma satu orang. Dan satu orang itu kabarnya tidak wajib diterima. Yang wajib diterima hanyalah kabar keseluruhan orang”.

Alangkah besarnya kesesatan orang yang mengatakannya. Padahal Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا{

“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.”(QS Al Hujurot)

dibaca juga: (فتثبتوا) Maka jika ada seorang adil datang dengan suatu berita lalu ditatsabbuti dan tidak dilaksanakan, niscaya menjadi samalah antara orang fasiq dan orang adil. Dan ini menyelisihi Al Qur’an. Padahal Alloh ‘Azza wajalla berfirman:

﴿أم نجعل المتقين كالفجار

 “Apakah Kami jadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang yang jahat?”

(“At Tamhid” 14/347).

            Al Imam Ibnul Wazir رحمه الله : “… karena dia itu adalah berita orang tsiqoh yang terkenal kelurusan agamanya, maka wajib untuk diterima seperti seluruh berita orang-orang tsiqot.” (rujuk “Ar Roudhul Basim”/2/hal. 135).

            Keenam: Baromikah ingin meruntuhkan kaidah: Barangsiapa melakukan kesalahan yang bersifat merusak, lalu diperingatkan dan tak mau rujuk, maka jatuhlah dia dan terkena jarh.” Baromikah bersikeras bahwasanya barangsiapa menyelisihi kebenaran yang jelas lalu dinasihati berkali-kali lalu membangkang terhadap kebenaran dan menyombongkan diri dan terus-terusan di dalam kebatilannya maka tetap saja dia itu di atas Salafiyyah. Ini menyelisihi kaidah yang telah tetap di kalangan para imam, sama saja apakah terkait dengan hapalan hadits, atau terkait dengan hawa nafsu.

            Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Al Hafizh As Sakhowiy رحمه الله berkata: “Kemudian jika telah dijelaskan padanya –yaitu rowi yang lupa atau salah walaupun hanya satu kesalahan- lalu dia tak mau kembali dari kesalahannya tadi bahkan terus-terusan berbuat itu maka jatuhlah haditsnya di mata mereka –yaitu para muhadditsin-.” (“Fathul Mughits”/1/hal. 358).

Silakan rujuk  kitab “Al Jarh Wat Ta’dil” (4/hal. 231-323/Ibnu Abi Hatim) kisah Sufyan bin Waki’.

Demikian pula orang yang terus-menerus duduk-duduk dengan ahlul ahwa setelah ditegakkannya hujjah. Al Imam Abu Dawud As Sijistaniy رحمه الله berkata: “Aku katakan pada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal: Saya melihat seseorang dari Ahlussunnah sedang bersamaan dengan seseorang dari ahlul bid’ah, apakah saya boleh memboikotnya? Beliau menjawab: “Jangan. Kenapa engkau tidak memberitahunya bahwasanya orang yang engkau lihat dia bersamanya adalah ahlu bid’ah? Jika dia mau meninggalkan pembicaraan dengannya maka ajaklah dia bicara. Tapi jika dia membangkang maka gabungkanlah dirinya dengan orang tadi. Ibnu Mas’ud berkata: “Seseorang itu sesuai dengan teman dekatnya.”([7]) (“Thobaqotul Hanabilah” /1/170/Darul Ma’rifah) ([8]).

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله  berkata: “Jika engkau melihat orang duduk bersama ahlul ahwa maka peringatkanlah dirinya dan beritahulah dirinya. Jika dia duduk bersamanya lagi setelah dia tahu, maka hindarilah dirinya karena sesungguhnya dia itu adalah pengekor hawa nafsu.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 44/Darul Atsar).

            Kedelapan: di antara kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah: usaha keras mereka untuk membungkam para saksi agar tidak menegakkan persaksian terhadap kejahatan kedua anak Mar’i dan pengikut mereka, dan upaya mereka untuk membungkam Salafiyyun agar tidak berbicara tentang keburukan hizb baru tersebut di bawah tirai: “Menolak fitnah” atau “Merekatkan barisan yang robek” dan yang selain itu.

            Ini menyelisihi firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُه﴾ [البقرة/283]

“Dan janganlah kalian menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikannya maka dia itu berdosa hatinya.”

Dan firman-Nya subhanahu:

﴿وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ الله ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ﴾ [الطلاق/2]

“Dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Alloh. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat.”

 

Dan firman-Nya ta’ala:

﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل عمران/187].

“Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,”

Dan ini menyelisihi kaidah yang telah menetap di kalangan para imam hadits: “Tidak boleh diam terhadap kebatilan atau kesalahan padahal memiliki ilmu dan kemampuan,” dan “Wajib memperingatkan umat dari orang yang ditakutkan membahayakan agama mereka.”

                        Yahya bin Sa’id -rahimahulloh- berkata : “Aku bertanya kepada Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah ibnul Hajjaj, Malik bin Anas, dan Sufyan bin ‘Uyainah tentang seseorang yang lemah sekali haditsnya, lalu datang seseorang kepadaku dan menanyaiku tentangnya. Mereka semua bersepakat untuk aku berkata,”Dia itu bukan orang yang kokoh haditsnya” dan agar aku menjelaskan keadaannya.” ([9])

Abu Zur’ah berkata: Aku mendengar Abu Mushir ditanya tentang orang yang suka menyembunyikan hadits dan merubahnya. Maka beliau berkata: “Jelaskan pada manusia keadaannya”. Kukatakan pada Abu Mushir: “Apakah Anda berpendapat bahwasanya itu termasuk ghibah?” beliau menjawab: “Tidak.” ([10])

Diriwayatkan dari Abu Dawud bahwasanya beliau berkata: Abbad bin Habib datang kepada Syu’bah seraya berkata: “Saya punya kebutuhan padamu.” Beliau berkata: “Apa itu?” aku menjawab: “Hendaknya Anda jangan berbicara tentang Aban bin Abi ‘Ayyasy.” Maka beliau menjawab: “Berilah aku waktu selama tiga hari.” Lalu beliau datang setelah tiga hari seraya berkata: “Wahai ‘Abbad, aku telah merenungkan apa yang engkau katakan, lalu aku berpandangan bahwasanya tidak halal bagiku untuk diam darinya.” ([11])

Dan diriwayatkan dari Hammad bin Zaid bahwasanya beliau berkata: Aban bin Abi ‘Ayyasy datang kepadaku seraya berkata: “Saya ingin Anda berbicara dengan Syu’bah untuk tidak membicarakan diriku.” Maka akupun berbicara dengan Syu’bah tentang itu. Maka beliau tidak berbicara tentang Aban beberapa hari. Kemudian beliau mendatangiku disebagian malam seraya berkata: “Sesungguhnya engkau meminta padaku agar aku tidak membicarakan Aban, tapi tidak halal bagiku untuk diam darinya karena dia berdusta atas nama Rosululloh  صلى الله عليه وسلم . ([12])

Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berbicara tentang hadits ifk (kedustaan terhadap ‘Aisyah dan Shofwan bin Mu’aththol  رضي الله عنهما) : Nabi  صلى الله عليه وسلم mengajak Ali dan Usamah bermusyawarah, dan beliau juga bertanya pada Bariroh tentang apa yang mereka ketahui tentang keluarganya (‘Aisyah), Di dalamnya ada penjelasan yang terang bahwasanya tidaklah beliau menanyai mereka kecuali wajib bagi mereka untuk mengabari beliau tentang apa yang mereka tahu tentangnya. Maka demikian pula wajib atas seluruh orang yang memiliki ilmu tentang pembawa kabar atau atsar yang kedudukannya tidak mencapai kedudukan ‘A’isyah Ummul Mukminin dan tidak pula kedudukannya di sisi Nabi r seperti kedudukan ‘A’isyah di sisi beliau  –sampai pada ucapan beliau:- agar dia itu menampakkannya pada orang yang tidak punya pengetahuan tentangnya, agar dia itu menjadi penolong agama Alloh dengan peringatannya pada manusia tadi, menjadi pembela Rosululloh  صلى الله عليه وسلم dari kedustaan. Maka alangkah agungnya kedudukan ini, dan alangkah mulianya martabat ini, sekalipun tidak diketahui oleh orang yang bodoh dan diingkari oleh orang yang mengingkari.” (“Al Kifayah”/Al Khothib /1/166/Bab Wujubi Ta’rifil Muzakki/Darul Huda).

Kesembilan: di antara kaidah yang Baromikah berupaya untuk meruntuhkannya adalah: “Jarh mufassar (terperinci) yang datang dari seorang yang ahli itu didahulukan di atas ta’dil (pujian).” Alangkah seringnya mereka bersembunyi di balik pujian sebagian ulama kepada anak Mar’i dalam rangka meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyin yang didukung dengan keterangan-keterangan dan bukti-bukti serta argumentasi-argumentasi.

Hal ini menyelisihi kaidah yang telah menetap di kalangan para imam. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Jarh itu lebih diutamakan daripada ta’dil. Inilah ucapan sekelompok imam. Akan tetapi tempatnya adalah jika jarh tadi muncul dengan penjelasan dari orang yang tahu sebab-sebab jarh, dikarenakan jika jarh tadi tidak disertai penjelasan maka tidak merusak orang yang ‘adalahnya (kelurusan agamanya) telah tetap. Jika jarh tadi bersumber dari orang yang tidak tahu sebab-sebab jarh, maka tidak teranggap juga. Jika orang yang di jarh tadi kosong dari ta’dil, maka jarh yang mujmal (global) tanpa menjelaskan sebabnya terhadap dirinya diterima, jika bersumber dari orang yang tahu sebab-sebab jarh. Inilah madzhab yang terpilih. Yang demikian itu dikarenakan jika tidak ada ulama yang menta’dilnya, maka dia adalah orang yang majhul, dan mengamalkan ucapan ulama yang menjarhnya lebih utama daripada mengabaikannya.” (“Nuzhatun Nazhor”/1/hal. 46/Kunal Musammin).

Bersembunyi di balik pujian dalam rangka lari dari jarh yang terperinci adalah kebiasaan para ahli batil yang lemah hujjahnya. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang keadaan hizbiyyin: “Dan di antara uslub mereka juga adalah mengambil pujian/rekomendasi dari sebagian ulama untuk orang-orang yang karya tulis mereka, sikap dan kegiatan mereka telah dihukumi jauh dari manhaj salaf, bermusuhan dengan pengikut salaf dan berloyalitas dengan para musuh, dan perkara yang lain. Dan kebanyakan orang tidak tahu kaidah jarh wat ta’dil, dan bahwasanya kritikan yang terperinci itu didahulukan terhadap pujian, karena si pemuji itu membangun pujiannya di atas perkara yang nampak dan baik sangka. Dan si pengritik itu membangun kritikannya di atas ilmu dan kenyataan sebagaimana telah dimaklumi bersama di kalangan para imam jarh wat ta’dil.

Dan dengan dua uslub ini dan yang lainnya mereka hendak menggugurkan kerja keras para penasihat dan perjuangan para pembela sunnah dengan amat mudahnya, dan menjaring masyarakat yang banyak dan bahkan kebanyakan pengajar, dan menjadikan mereka sebagai tentara untuk memerangi manhaj salaf dan salafiyyun, dan membela para pemimpin kebid’ahan dan kesesatan.

Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.” (“Al Haddul Fashil Bainal Haqq wal Bathil”/Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-/hal. 144).

Nasihat ini penting sekali, seharusnya para tokoh yang mulia untuk menerimanya dan menerapkannya. Dan kita katakan pada mereka sebagaimana ucapan pemilik kitab “Al Haddul Fashil” sendiri: “Alangkah kerasnya perhatian para salafiyyun dalam menjaga dua celah ini, yang wajib bagi para ulama untuk menutupnya dengan kuat, dan memotong bahaya yang diakibatkan oleh dua lubang ini.”

Kesepuluh: Di antara kebatilan Baromikah Mar’iyyah adalah bahwasanya mereka berupaya untuk meruntuhkan seluruh kritikan Salafiyyun dengan alasan yang dingin: “Ucapan teman sejawat itu dilipat saja dan jangan diriwayatkan!”

Yang benar adalah: Bahwasanya jarh teman sejawat itu perlu dirinci: Jika kejujuran dan keahlian orang yang meng-jarh tadi telah diketahui, dan tidak nampak darinya kedengkian pada orang yang di jarh, juga tak nampak dari mereka persaingan, maka jarhnya tadi diterima, karena seseorang itu lebih tahu tentang teman sejawatnya daripada orang lain. Adapun jika nampak darinya kedengkian pada orang yang di jarh, atau nampak dari mereka persaingan, atau yang seperti itu jarhnya tadi tidak diterima. Inilah yang benar yang berlangsung pada penerapan para Shohabat, Tabi’in dan Atba’ut Tabi’in, bukan seperti pendapat Adz Dzahabiy رحمه الله.

Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Orang-orang telah menjadi anak bagi Adz Dzahabiy dan kitab-kitabnya, akan tetapi yang benar adalah bahwasanya apa yang disebutkan oleh Adz Dzahabiy bahwasanya mereka tidak menerima ucapan teman sejawat satu sama lain itu tidak bisa diterima. Kemudian, jika yang mereka inginkan adalah teman sejawat yang sezaman, pada masa yang sama, dan setara ilmunya, maka hal ini rumit karena tidaklah mengetahui keadaan seseorang kecuali orang yang sezaman dengannya. Dan tidaklah orang yang datang setelah zaman itu mengetahui keadaan orang tadi kecuali dengan berita-berita dari teman sejawat orang tadi. Jika yang diinginkan adalah yang pertama, maka jawabannya adalah itu tadi. Tapi jika yang diinginkan adalah yang kedua maka para ulama itulah yang mengetahui orang-orang yang semisal dengan mereka. Dan tidak ada yang mengetahui siapakah pemilik keutamaan itu kecuali orang yang memang punya keutamaan tadi juga. Maka yang lebih pantas adalah menggantungkan perkara tadi (yaitu ditolaknya jarh teman sejawat) pada orang yang diketahui bahwasanya di antara mereka berdua ada persaingan atau saling dengki atau perkara yang menjadi sebab tidak dipercayanya perkataan satu sama lain, bukan karena dia itu adalah teman sejawatnya, karena tidaklah mengetahui kelurusan agama seseorang ataupun kekurangannya kecuali teman sejawatnya.” (“Tsamrotun Nazhor”/hal. 130/Darul ‘Ashimah).

Maka yang perlu diperhitungkan adalah perkataan yang disertai oleh bayyinah dan burhan. Al Imam Ibnu Abdil Bar رحمه الله berkata: “Yang benar dalam bab ini adalah bahwasanya barangsiapa telah sah ‘adalahnya (kelurusan agamanya) dan telah tetap ilmu tentang keimamannya, serta telah jelas tsiqohnya, dan perhatiannya pada ilmu, maka ucapan seseorang tentang dirinya tidak perlu diperhatikan kecuali jika dalam jarhnya tadi dia mendatangkan bayyinah yang lurus, yang dengannya suatu jarh itu menjadi sah, dengan jalan adanya persaksian-persaksian, dan pengamalan terhadap penglihatan yang mengharuskan adanya pembenaran terhadap apa yang diucapkannya karena yang mengucapkannya bersih dari dendam, dengki, permusuhan dan persaingan, dan selamatnya dirinya dari itu semua. Maka hal itu semua mengharuskan diterimanya ucapannya dari sisi fiqh dan penelitian.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm”/2/hal. 152/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Al ‘Allamah Muhammad Al Laknawiy رحمه الله : “Mereka terang-terangan bahwasanya ucapan seseorang terhadap orang yang sezaman itu tidak diterima. Hal itu sebagaimana telah kami isyaratkan harus dikaitkan dengan apabila perkataan tadi tidak disertai dengan burhan dan hujjah, dan dibangun di atas fanatisme dan kebencian.  Jika tidak ada faktor ini ataupun itu maka perkataannya diterima tanpa ada kekaburan. Hapalkanlah ini karena penjelasan ini termasuk perkara yang bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.” (“Ar Rof’u Wat Takmil”/hal. 431/Fi bayani hukmil Jarh Ghoirol Bari/Maktabatul Mathbu’atil islamiyyah).

Bahkan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله telah berkata: “… para ulama tidak berpaling kepada yang seperti ini kecuali jika disertai penjelasan dan hujjah, dan ‘adalah mereka tidak jatuh kecuali dengan burhan yang kokoh dan hujjah,…” dst. (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 40/tarjumah Ibnu Ishaq/muassasatur Risalah).

Maka beliau menjadikan hujjah dan burhan sebagai sandaran dalam kasus perkataan antar teman sejawat.

Maka wajib bagi Baromikah dan yang lainnya untuk mengambil faidah dari manhaj Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang mana mereka sering menisbatkan diri kepada beliau, dan berulangkali bersembunyi di balik punggung beliau. Beliau رحمه الله berkata: “Wahai kamu, apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima? Aku bertanya kepada kalian wahai ikhwan: apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima?” (Kemudian Syaikh -rahimahulloh- bertanya kepada sebagian thalib:) ” apakah ucapan teman sejawat itu sebatas yang telah kalian baca, dan di dalam kitab tarjumah (biografi) dan tarikh (sejarah) diterima ataukah tak diterima?” dia menjawab,”Ucapan teman sejawat jika nampak didasari oleh permusuhan dan hasad itu tak bisa diterima.” Beliau berkata,”Shohih” Dia melanjutkan,”Adapun jika dia itu sebagai nasihat dan menjelaskan hakikat urusannya dia dan penyimpangannya, maka orang yang paling tahu tentang seseorang adalah teman sejawatnya.” Beliau berkata,”Shohih” Dia berkata lagi,”Kaidah ini –jarhul aqron- tidaklah dilipat dan tidak diriwayatkan secara mutlak.”

Syaikh Al Wadi`i berkata lagi,”Iya –wahai ikhwan-, teman sejawat adalah orang yang paling tahu tentang dirimu daripada yang lain, maka harus didahulukan. Apa arti ucapan mereka –ahlul hadits-:”Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk negerinya.”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Mesir”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Syam”? Iya. Jika diketahui bahwasanya di antara keduanya ada persaingan dan permusuhan keduniaan, maka tidak diterima. Adapun jika dia mencela sejawatnya dan berkata,”Pendusta” padahal tiada permusuhan di antara mereka, maka ucapan teman sejawat terhadap sejawatnya itu paling mantap dan besar, karena dia yang paling tahu tentang keadaannya.” (As’ilah Holandiyyah/ 23/robi’ul Awwal/1420 H).

Aku mendengar Syaikh kami al ‘allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam dars beliau di antara maghrib dan ‘isya: “Ucapan seseorang yang diperkuat dengan bukti terhadap teman sejawatnya itu harus diterima. Andaikata bab ini dibatalkan, niscaya kita tidak akan menerima mayoritas kitab-kitab jarh wat ta’dil. Apakah Imam Ahmad berbicara tentang Al-Karobisiy setelah dia mati ataukah pada zamannya?! Demikianlah seterusnya. Kita katakan, kebenaran itu wajib untuk diterima dan janganlah engkau melembekkan kasus dengan alasan: “Ucapan teman sejawat!” Abul Hasan itu teman sejawat kita. Demikian pula mayoritas hizbiyyun yang ada sekarang. Az-Zindaniy itu teman sejawat kita. Sho’tar itu teman sejawat kita. Terus bagaimana? Apa kita tinggalkan ini dan kebenaran ditolak dikarenakan orang ini ada di zamannya dan sebagai teman sejawatnya?! Jika demikian, dimanakah kebenaran itu?” Selesai.

Yang mengherankan adalah: bersamaan dengan sikap Baromikah membatalkan jarh Salafiyyin terhadap kedua anak Mar’i di bawah kaidah yang batil itu: “Ucapan teman sejawat dilipat saja dan jangan diriwayatkan” mereka sendiri bersemangat sekali untuk menuduh Ahlussunnah yang sezaman dengan mereka dengan berbagai kekejian. Mereka juga menerima perkataan batil dari orang-orang zaman sekarang terhadap ahlu Dammaj.

Kesimpulan: sesungguhnya Baromikah mereka itulah yang menyelisihi banyak sekali dari prinsip-prinsip para imam Salaf.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata menukil ucapan haddadiyyah: yang ketiga: “Para ulama  Al Jarh Wat Ta’dil terkadang berbicara tentang rowi disebabkan oleh perkara-perkara yang sebenarnya tidak mengharuskan adanya jarh. Adapun para ulama –yaitu ulama syariat menurut mereka- jika mereka berbicara tentang seseorang dan membid’ahkannya, maka hal itu adalah setelah mereka memeriksa manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menelusuri dalil-dalil, karena mereka mengetahui bahayanya pembid’ahan. Dan adalah beda antara yang ini dan yang itu.”

Komentar:

            Adapun sekedar terjadinya kesalahan dari sebagian imam  Al Jarh Wat Ta’dil ketika men-jarh sebagian rowi, maka hal itu pasti terjadi dan tak mungkin dihindari karena mereka itu bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Akan tetapi yang demikian itu jarang sekali jika dibandingkan dengan banyaknya rowi yang mereka kritik dengan benar. Sementara itu, hukum itu dibangun di atas perkara yang dominan. Adapun perkara yang jarang terjadi tidaklah dibangun di atasnya hukum. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Hukum-hukum itu hanyalah untuk perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 374).

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Kami tidak menyatakan bahwasanya para imam  Al Jarh Wat Ta’dil itu ma’shum (terjaga dari kesalahan), akan tetapi mereka itu adalah orang yang paling banyak benarnya, dan paling jarang kesalahannya, paling adil, dan paling jauh dari kecondongan.” (“Siyar A’lamin Nubala’/11/hal. 82/tarjumah Yahya bin Ma’in).

Al Imam Al Mu’allimiy رحمه الله berkata: “Maka kebenaran dalam  Al Jarh Wat Ta’dil itulah yang dominan.” (“At Tankil”/1/hal. 149).

Kesalahan dalam perkara seperti ini terjadi juga pada para ulama yang lain, tanpa diragukan. Maka yang seperti ini bukanlah sebab untuk mengeluarkan kaidah-kaidah  Al Jarh Wat Ta’dil dari area ilmu syari’ah, dan bukan pula sebab untuk mengeluarkan para imam  Al Jarh Wat Ta’dil dari area ulama syari’ah.

 Kesimpulannya adalah: Bahwasanya para tokoh Darul Hadits di Dammaj dan seluruh Salafiyyun yang paham, mereka mengingkari pembagian yang bersifat bid’ah ini –ulama  Al Jarh Wat Ta’dil dan ulama syariah-, dan mereka mengetahui bahwasanya hal itu adalah makar dari haddadiyyah untuk meruntuhkan sebagian prinsip-prinsip Salafiyyah dan untuk melindungi para mubtadi’ah.

Dan di dalam prinsip tadi juga ada penghinaan yang nyata terhadap para imam  Al Jarh Wat Ta’dil. Dan prinsip bikinan tadi tidaklah diucapkan ataupun disetujui oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله menukilkan ucapan haddadiyyah: keempat: “Ulama  Al Jarh Wat Ta’dil terkadang berselisih pendapat tentang hukum terhadap seorang rowi tertentu, maka tidaklah hal itu menjadi sebab untuk menghukumi ulama yang lainnya selama mereka tidak mengambil jarh ini. Adapun para ulama jika telah berbicara tentang seorang mubtadi’ maka wajib untuk diikuti, jika tidak, maka orang yang tak mau mengambil vonis tadi akan digabungkan dengan mubtadi’ tadi.”

Komentar:

Jika jarh tadi terkait dengan kekuatan hapalan rowi, maka perkaranya adalah seperti yang kalian ucapkan. Dan kewajiban kita dalam perselisihan tadi adalah mencari pendapat yang paling kuat. Adapun jika jarh tadi terkait dengan kesetiaan orang tadi terhadap sunnah, maka jika seorang ulama telah menetapkan bid’ahnya seseorang dengan bukti-buktinya, maka haruslah ucapannya itu diterima, sementara perkataan orang yang menyelisihinya tidaklah dianggap. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله sendiri berkata demikian.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله di salah satu kasetnya yang membantah Falih Al Harbiy ditanya: “Apakah disyaratkan dalam men-jarh ahlul ahwa itu kesepakatan ulama zaman itu ataukah cukup satu orang alim saja?”

            Maka beliau وفقه الله menjawab: “Ini adalah termasuk kaidah-kaidah pelembekan yang buruk –semoga Alloh memberkahi kalian-. Pada zaman apakah disyaratkan ijma’ ini? Dan apakah dalil tentang syarat ini? Seluruh syarat yang tidak ada pada Kitabulloh adalah batil. Jika di sana ada syarat, maka jika Ahmad bin Hanbal menjarh seorang mubtadi’, dan Yahya bin Ma’in menjarh mubtadi’ lalu aku berkata: “Seluruh ulama sunnah di alam ini harus bersepakat terhadap mubtadi’ tadi”? Apabila Ahmad bin Hanbal telah berkata: “Dia adalah mubtadi’”, maka telah cukup. Oleh karena itu, apabila Ahmad berkata: “Fulan mubtadi’”, maka seluruh manusia akan menerimanya dan tidak mengikuti pemikiran-pemikiran mereka. Apabila Yahya bin Ma’in berkata: “Dia adalah mubtadi’”, maka tidak ada seorang pun yang akan menyelisinya. Maka apakah dipersyaratkan adanya ijma’?! Ini suatu hal yang mustahil dalam setiap hukum syari’ah, mustahil! Apabila datang dua orang saksi bersaksi di depan hakim syar’i bahwasanya fulan telah membunuh seseorang, maka wajib atas hakim tersebut untuk untuk menghukum dengan syariat Alloh, baik diyat ataukah qishosh. Maka apakah dipersyaratkan ijma’ dalam perkara seperti ini, yang lebih berbahaya daripada perkara tabdi’ (pembid’ahan) seorang mubtadi’. Mereka ini para mumayyi’, ahlul bathil, da’i yang mengajak kepada kerusakan dan mengail di air yang keruh. Maka janganlah kalian mendengarkan perkataan batil seperti ini. Apabila seorang alim yang berpandangan tajam menjarh seseorang, maka wajib untuk diterima. Apabila jarh-nya tersebut ditentang oleh seorang alim yang adil dan mumpuni ilmunya, maka saat itu dipelajari kembali apa yang dikatakan oleh kedua alim tersebut, baik jarh maupun ta’dilnya. Apabila jarh tersebut jelas dan terperinci, maka didahulukan atas ta’dil walaupun yang menta’dil jumlahnya lebih banyak. Jika seorang alim menjarh seseorang dengan jarh yang terperinci dan dua puluh atau lima puluh alim ulama lainnya menta’dilnya dengan tidak menyertakan dalil, tetapi hanya saja dengan prasangka baik atau melihat secara lahiriyyah saja, sedangkan yang menjarh memiliki bukti-bukti akan jarhnya tersebut, maka jarh tersebut didahulukan, karena yang menjarh memiliki hujjah dan hal itu didahulukan. Hujjah itu didahulukan walau diselisihi oleh seluruh penduduk bumi. Semuanya menyelisihinya dalam keadaan hujjah ada padanya, maka berarti al-haq bersamanya. Al-Jama’ah itu adalah yang mencocoki al-haq walau seorang diri. Apabila seseorang berada di atas Sunnah, sedangkan penduduk dua atau tiga kota menyelisihinya mereka mubtadi’ah, maka al-haq bersama satu orang ini. Hujjah dan al-haq yang ada padanya didahulukan atas kebatilan yang ada pada yang lainnya. Wajib bagi kita memuliakan al-haq, hujjah dan bukti.

وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين

“Katakanlah: ”Tunjukkan bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian orang-orang jujur.”(Al-Baqoroh: 111)

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

“Apabila engkau menaati kebanyakan penduduk bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh.” (QS. Al-An’am: 116)

Jumlah yang banyak itu tidak ada nilainya apabila kosong dari hujjah. Walaupun semua penduduk bumi berkumpul di atas kebatilan -kecuali sebagian kecil- dan tidak memiliki hujjah, maka tidaklah ada harganya sama sekali kesepakatan mereka walau yang menyelisihi mereka hanya seorang atau sebagian kecil saja. Hendaklah kalian takut kepada Alloh dalam mengenal al-haq, berpegang teguh dengannya dan menerimanya jika disertai dengan hujjah. Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita semua.” (selesai penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal. 75).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله juga berkata ketika menjawab sebagian pertanyaan dari para pemuda ‘Adn tentang fitnah Abul Hasan: “Apabila sang pengkritik telah mendatangkan hujjah -walaupun seratus ulama besar menentangnya-, maka tidaklah berharga sedikitpun penentangan mereka, karena mereka itu menyelisihi hujjah dan bukti dengan tanpa disertai hujjah dan bukti (yang membatalkannya). Alloh -ta’ala- berfirman:

 

“Katakanlah: ”Tunjukkanlah bukti-bukti yang kalian miliki, apabila kalian benar-benar orang-orang yang jujur”(Al-Baqoroh: 111)

وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين 

Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui. Maka hendaklah kalian membaca kembali kitab-kitab ilmu hadits, terutama kitab-kitab yang membahas secara panjang lebar, seperti: “Tadribur-Rowy” karya As-Suyuthiy, “Fathul Mughits” karya As-Sakhowiy dan “Syarh Alfiah” karya Al-‘Iroqiy. Perkara ini di sisi para ulama adalah suatu hal yang tidak bisa ditolak oleh akal. Perselisihan dan memperbincangkan perkara ini secara batil tidaklah diperbolehkan, karena dengan demikian akan merusak ilmu-ilmu agama Islam dan menghancurkan kaedah-kaedah dan demikian seterusnya dengan metode semisal ini. Maka tidaklah boleh bagi seorang muslim untuk memberikan kepada umat kecuali al-haq. Sekali lagi kecuali al-haq dan menjauhi dari pengkaburan dan tipu muslihat –semoga Alloh memberkahi kalian-.” (selesai penukilan dari “Mukhtashorul Bayan”/hal. 75, dan “Ad Dalailul Qoth’iyyah”/Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal/hal. 22).

Kukatakan  وفقني الله: Duhai, andaikata para tokoh utama menerapkan ucapan itu: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

Barangsiapa tidak mau menerima kebenaran setelah ditegakkannya hujjah maka sungguh dia dalam bahaya. Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan dikhawatirnya Alloh akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

Al ‘Allamah Al Biqo’iy رحمه الله berkata tentang orang yang melindungi Ibnu ‘Arobiy dan yang semisalnya: ”Dan barangsiapa melindunginya, maka yang demikian itu adalah qorinah yang menunjukkan bahwasanya dirinya berkeyakinan dengan apa yang nampak dari ucapannya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 266).

Dan ini adalah hukum bagi orang yang telah sampai padanya hujjah, lalu bersikeras untuk membela ahli batil. Kami tidak mengatakan bahwasanya para tokoh utama telah sampai pada apa yang disebutkan para imam رحمهم الله tadi, hanya saja kami menyesalkan ketergelinciran mereka di dalam fitnah ‘Adniyyah ini.

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

Dan akan datang pembicaraan tentang orang yang dijelaskan padanya kebatilan seseorang lalu dia bersikeras untuk memegang kebatilan tadi setelah ditegakkannya hujjah.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله menukilkan perkataan haddadiyyah lagi: Yang kelima: “Karena itulah maka sesungguhnya kaidah-kaidah ilmu mushtholah itu terbatas, tidak melampaui garis tepinya yang telah ditetapkan. Kalaupun terjadi kemiripan dengan sebagian ulama para imam terhadap ahlul bida’ wal ahwa, maka tidaklah yang demikian itu menyebabkan diterapkannya kaidah-kaidah yang lain kepada hukum terhadap orang-orang yang ada di luar bidang riyawat. Inilah yang disebutkan berulang-ulang oleh Asy Syaikh Falih, dan beliau ingin para pemuda salafiy untuk waspada dari pengkaburan ahlul ahwa dalam sisi ini, karena mereka menginginkan dari para pemuda salafiy untuk menerapkan kaidah-kaidah mushtholah dalam berbicara tentang ahlul bida’ untuk menolak hukum-hukum ulama tentangnya.”

Komentar ana:

            Sesungguhnya haddadiyyah bermudah-mudah membid’ahkan orang yang berbuat salah, bahkan terhadap orang-orang yang bersih dari kalangan Salafiyyin dan imam mereka. Manakala kaidah-kaidah para imam  Al Jarh Wat Ta’dil tidak mencocoki prinsip-prinsip mereka, mereka berupaya untuk meminggirkan kaidah-kaidah yang mencocoki Al Qur’an, As Sunnah dan manhaj Salaf tadi dari ilmu-ilmu syar’iyyah, dan mereka berupaya membungkam ulama  Al Jarh Wat Ta’dil dari berbicara tentang kebatilan ahlul ahwa dengan alasan bahwasanya mereka itu bukanlah ulama syari’ah, dan bahwasanya ilmu mereka tentang mushtholah itu terbatas, tidak boleh diterapkan terhadap ahlul bida’.

            Haddadiyyun menyatakan bahwasanya para ulama  Al Jarh Wat Ta’dil tidak berbicara tentang tokoh-tokoh yang tak punya riwayat, dan bahwasanya hukum-hukum para ulama tadi tidak cocok pada mereka. Pernyataan ini tertolak. Para imam hadits telah berbicara juga tentang jenis ini -tokoh yang tak punya riwayat- dengan perkataan yang benar, yang muncul dari ilmu. Para ulama  Al Jarh Wat Ta’dil adalah orang yang paling banyak penjelasannya terhadap kebatilan ahlul ahwa dan menyingkapkan kejahatan mereka, sekalipun tak punya riwayat. Yang demikian itu adalah dikarenakan yang penting adalah penjagaan terhadap agama umat dan menolak bahaya para perusak.

Misalnya adalah:

            Al Imam Al ‘uqoiliy رحمه الله menyebutkan sanadnya dalam tarjumah Dhiror bin Amr Al Qodhi: haddatsana Ahmad bin Ali: haddatsana Abu Hammam yang berkata: “Dulu Sa’id bin Abdirrohman adalah hakim di Baghdad, dan beliau sering singgah di ruam Saib. Lalu datanglah sekelompok orang bersaksi bahwasanya Dhiror itu zindiq. Maka beliau berkata: “Aku telah menghalalkan darahnya, maka barangsiapa ingin membunuhnya silakan membunuhnya.” (“Adh Dhu’afa”/Al ‘Uqoiliy/2/hal. 222).

Biografinya ada di Siyar A’lamin Nubala (10/hal. 544/Ar Risalah) karya Adz Dzahabiy. Beliau رحمه الله berkata dalam “Mizanul I’tidal” (no. 4323/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah): “Dhiror bin ‘Amr Al Qodhi, mu’taziy garis keras, punya perkataan-perkataan yang busuk,  –sampai pada ucapan beliau:- orang yang mundur ini tak meriwayatkan sesuatu apapun.”

Ibnun Najar Al Baghdadiy رحمه الله berkata dalam biografi Ubaidulloh bin Muhammad bin Abdillah bin Hibatilloh ibnul Muzhoffar Abil Faroj yang terkenal sebagai “Ibnu Roisir Ruasa”: “Dalam dirinya ada kekerasan, ketegasan, kegarangan, kekakuan, kekejaman, dan garis hidup yang jelek. Tidak ada di rumahnya orang yang lebih jelek jalannya selain dirinya. Aku melihat manusia dan seluruh masyarakat bersepakat untuk mencelanya. Dia telah mendengar hadits dari sekelompok ulama ketika masih muda. Dia mati muda dan tidak meriwayatkan satu haditspun. Dia adalah ahli syair, dan bisa mengungkapkan syair yang bagus.” (“Dzail Tarikh Baghdad”/2/hal. 86).

Contoh lain: Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata tentang biografi Jahm bin Shofwan: “Dia adalah Abu Muhriz As Samarqondiy mubtadi’, sesat, pimpinan Jahmiyyah. Mati pada zaman shighorut Tabi’in. Aku tidak tahu dirinya meriwayatkan sesuatu apapun, tapi dia menanamkan kejelekan yang besar.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal. 159/Darul Kutubil Ilmiyyah).

Contoh lain: Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata tentang biografi Al Harits bin Sa’id: “Pendusta, mengaku nabi, disalib oleh Abdul Malik bin Marwan. Tidak meriwayatkan sesuatu apapun, sejarahnya ada di kitab tarikh besar punyaku.” (lihat “Mizanul I’tidal”/2/ hal. 169/Darul Kutubil Ilmiyyah).

Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dalam “Lisanul Mizan” (1/hal. 266) menambahkan: Ibnul Jauziy telah menyebutkannya dalam “Al Muntazhom” pada kejadian tahun 69, dan menukilkan dari Abdul Wahhab bin Najdah dari Al Walid bin Muslim dari Abdurrohman bin Hassan yang berkata: “Dulu Al Harits termasuk dari penduduk Damaskus, ahli ibadah, berbicara tentang pujian dengan perkataan yang belum pernah didengarkan semisal itu. Lalu dia dihadang oleh iblis dan disesatkannya hingga menyangka bahwa dirinya adalah nabi.”.”

Lihatlah perhatian para ahlul hadits terhadap urusan ahlul batil sekalipun mereka tak punya riwayat. Lihatlah kepada fiqh mereka. Hanbal bin Ishaq berkata dalam biografi Dhiror bin Amr: “Aku masuk menemui Dhiror di Baghdad. Wajahnya jelek, juga punya penyakit Falij([13]). Dia adalah seorang mu’taziliy. Dia mengingkari Jannah dan neraka. Dia berkata: “Perkara itu diperselisihkan: apakah kedua telah diciptakan ataukah belum.” Maka para ahlul hadits menerkamnya dan memukulinya.” Ahmad bin Hanbal berkata: “Pengingkaran terhadap keberadaan Jannah dan neraka adalah kekufuran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿النار يعرضون عليها غدوا وعشيا﴾. [ غافر: 46 ].

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”.

 (“Siyar A’lamin Nubala”/10/hal. 545/tarjumah Dhiror bin Amr/Ar Risalah).

Penjelasan ini cukup untuk membantah prinsip yang dibuat oleh haddadiyyah. Sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berlepas diri dari prinsip-prinsip yang rusak itu.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku telah membantah prinsip-prinsip yang rusak itu, yang menghinakan para ulama  Al Jarh Wat Ta’dil dan menghinakan prinsip-prinsip mereka yang agung, dalam kitabku: “Aimmatul Jarh Wat Ta’dil Hum Hummatud Din”.

Komentar ana:

            Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas jasanya kepada Islam. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله juga telah memperingatkan umat akan bahaya haddadiyyah, sebagaimana peringatan tadi dilakukan juga oleh sebagian ulama yang lain. Maka bagaimana mereka mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy sementara beliau termasuk orang yang pertama memperingatkan manusia dari kebatilan pimpinan haddadiyyah yang baru -seri dua- yaitu Falih Al Harbiy, sampai-sampai Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy pada waktu itu meminta Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy untuk diam darinya? Silakan rujuk risalah syaikh kami An Nashihul Amin: “Falih Al Harbiy هداه الله Muli’un Bil Jizaf Wa Qillatil Inshof”.

 

[Pasal Empat: Kasus Maslahat dan Mafsadah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi keempat: Mereka menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah.

Komentar:

            Yang keempat dari sifat haddadiyyah adalah: mereka menolak untuk memperhatikan maslahat dan mafsadah. Adapun Ahlussunnah maka mereka itu berjalan bersama sunnah ke manapun sunnah itu berjalan. Ahlussunnah adalah pertengahan antara sifat ghuluw hasaniyyin dalam menerapkan maslahat dan mafsadah dan yang lainnya, dengan ghuluw haddadiyyin dalam menyia-nyiakan prinsip maslahat dan mafsadah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah memperingatkan umat dari kedua jalan yang batil ini. Beliau berkata: “Tidaklah Alloh عز وجل melarang dari yang demikian itu –yaitu sikap berlebihan dan sikap kurang- kecuali karena Dia mengetahui bahwasanya sikap berlebihan dan sikap kurang yang menyelisihi kebenaran itu akan terjadi di kalangan para hamba-Nya. Ini merupakan dua penyakit yang berbahaya. Jarang sekali zaman dan tempat yang kosong darinya. Dan di antara perkara yang terjadi pada masa-masa ini adalah: perkara yang dilakukan oleh hizbiyyun, dan pada sisi lain ada kelompok lain yang dinamakan: haddadiyyun, yang berupa sikap ghuluw terhadap beberapa orang dan perkara, dan sikap kurang pada perkara lain.” (Kata pengantar untuk kitab “At Tahdzir Minal Ghuluw Wa Ahlihi”/karya Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy/hal. 5-6/Darul Kitab Was Sunnah).

            Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله berkata tentang biografi Falih Al Harbiy: “Falih Al Harbiy, terdorong keras untuk berbuat ghuluw, ngawur dan kurang adil. Dia lancang mencerca, mencela dan menghina Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan sejumlah ulama yang Falih tidak sebanding dengan masing-masing dari murid mereka dalam mengambil faidah.” (“Syar’yyatun Nush Waz Zajr Wat Tahdzir”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/no. 55/Darul Kitab Was Sunnah).

            Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله telah membacakan untuk kami kitab “Adabuth Tholab” karya Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله , ketika beliau melewati perkataan: “Dan hendaknya dia mengetahui bahwasanya syari’at yang suci, mudah dan lapang ini dibangun di atas sifat: mengambil maslahat dan menolak mafsadah…” dst. (“Adabuth Tholab”/hal. 129/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah)

Beliau حفظه الله membenarkannya, menolongnya dan mendukungnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله termasuk orang yang memperhatikan perkara ini.

            Kami telah mempelajari kitab “I’lamul Muwaqqi’in” karya Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله di hadapan syaikh kami An Nashihul Amin, dan kami melewati perkataan sang penulis رحمه الله : “Dan termasuk dari prinsip-prinsip syari’ah adalah bahwasanya jika ada maslahat dan mafsadah yang saling bertentangan, maka yang paling beratlah yang didahulukan  –sampai pada ucapan beliau:- bahkan kaidah syari’ah berlawanan dengan itu([14]) , yaitu menolak bahaya yang lebih besar dengan cara memikul bahaya yang lebih ringan….” Dst. (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 25)

Maka beliau menolongnya dan mendukungnya.

Beliau حفظه الله berkata dalam dars umum beliau: “Perkara yang ditunjukkan oleh suatu dalil bahwasanya dia itu diperintahkan, maka sungguh dia itu adalah maslahat yang terbesar. Dan perkara yang ditunjukkan oleh suatu dalil bahwasanya dia itu dilarang, maka sungguh dia itu adalah mafsadah yang terbesar.”

Bahkan perbuatan Baromikah benar-benar merupakan suatu kerusakan terhadap dakwah Salafiyyah di Yaman dan luar Yaman.

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama –orang-orang yang akan membeli tanah di calon markiz Fuyusy- tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]

“Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

            Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

            Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([15]). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

            Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar([16]).

            Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

            Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia.  (diringkas dari “Tadzkirotun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh yang utama Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al ‘Adniy حفظه الله /hal. 3-9).

            Dengan penjelasan ini maka Baromikah kalaupun tidak meniatkan makar terhadap dakwah Salafiyyah maka sesungguhnya perbuatan mereka itu menyebabkan bahaya yang besar terhadap dakwah karena mereka tidak mempertimbangkan maslahat dan mafsadah. Maka mereka dalam bab ini mirip haddadiyyah. Akan tetapi mereka memang sengaja membikin makar terhadap dakwah, sebagaimana akan datang penjelasannya pada babnya nanti.

 

[Pasal Lima: Kasus Pengambilan Rukhshoh (keringanan) dalam Prinsip-prinsip dan Kewajiban-kewajiban]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kelima: Mereka menolak prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam mengambil rukhshoh dalam prinsip dan kewajiban, dan menolak ucapan-ucapan ulama sunnah dalam menjelaskan keadaan-keadaan yang di dalamnya syariat yang penuh hikmah itu memberikan keringanan. Dan mereka pura-pura tidak tahu terhadap nash-nash Qur’an dan Sunnah dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah dan pengambilan keringanan, dan mereka ingin membelenggu manhaj Salafiy dan pemeluknya dengan tali-tali dan belenggu-belenggu mereka yang membinasakan itu.

Komentar ana:

Yang kelima dari sifat haddadiyyah adalah: menolak untuk mengambil rukhshoh([17]) (keringanan). Sementara seluruh orang yang belajar kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan jujur mereka tahu bahwasanya beliau itu menganjurkan manusia untuk mencocoki sunnah, dengan jalan memberikan keringanan dalam perkara yang di situ syariat memberikan keringanan, dan mengambil ‘azimah([18]) di tempat yang dianjurkan syariah untuk yang demikian itu. Demikian pula beliau mengulang-ulang ayat ini:

﴿قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِين﴾ [ص/86]

“Katakanlah (hai Rosululloh): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang memberat-beratkan diri.”

Dan ayat ini:

﴿لَا يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾ [البقرة/286]

“Tidaklah Alloh membebani suatu jiwa kecuali dengan kesanggupannya.”

Dan hadits ini:

«صل قائما ، فإن لم تستطع فقاعدا ، فإن لم تستطع فعلى جنب ». (أخرجه البخاري (1117) عن عمران بن حصين رضي الله عنهما).

“Sholatlah dengan berdiri, jika engkau tidak sanggup maka duduklah, jika engkau tidak sanggup, maka dengan berbaring ke samping.”

Dan hadits ‘Aisyah رضي الله عنها :

«سددوا وقاربوا ، واعلموا أن لن يدخل أحدكم عمله الجنة ، وأن أحب الأعمال أدومها إلى الله ، وإن قلّ ». (أخرجه البخاري (6464) واللفظ له، ومسلمٌ (783)).

“Luruslah kalian, dan mendekatlah kepada kelurusan, dan ketahuilah bahwasanya amalan salah seorang dari kalian tak akan memasukkannya ke dalam Jannah, dan bahwasanya amalan yang paling dicintai Alloh adalah yang paling rutinnya (bisa dijalankan terus-menerus), sekalipun sedikit.”

Dan bersamaan dengan itu beliau juga mengulang-ulang semisal perkataan As Salafush Sholih: “Dan barangsiapa mengikuti setiap kekeliruan ulama akan hilanglah agamanya.” (“Siyar A’lamin Nubala”/13/hal. 465/tarjumah Al Mu’tadhid Billah)

Atau perkataan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله : “Dan barangsiapa mengikuti rukhshoh-rukhshoh dari madzhab-madzhab yang ada, dan ketergelinciran para mujtahidin, akan rapuhlah agamanya, sebagaimana perkataan Al Auza’iy atau yang lainnya: “Barangsiapa mengambil perkataan ahli Makkah dalam masalah nikah mut’ah, dan ahli Kufah dalam masalah nabidz, dan ahlul Madinah dalam masalah nyanyian, dan ahlusy Syam dalam masalah ma’shumnya kholifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan semua kejelekan. Demikian pula yang mengambil pendapat orang yang memakai tipu daya dalam masalah perdagangan riba, dan pendapat orang yang berlapang-lapang dalam masalah tholaq dan nikah tahlil, dan yang seperti itu, maka sungguh dia telah menyodorkan diri untuk lepas dari agama.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 90/tarjumah Al Imam Malik/Ar Risalah),

Atau yang semakna dengan itu. Ini semua menunjukkan kepada semangat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله untuk lurus dan mengambil jalan tengah dalam segala perkara. Maka bukanlah beliau itu seorang haddadiy, dan bukan pula mumayyi’ (yang membikin lembek agama), bahkan beliau itu adalah seorang sunniy salafiy dengan taufiq dari Alloh. Ahlussunnah itu lebih tahu –dikarenakan perhatian mereka pada Al Kitab, As Sunnah dan atsar Salaf-, lebih bijaksana –karena mereka meletakkan segala sesuatu pada tempatnya-, dan lebih selamat –karena mereka mengikuti ketiga prinsip tadi dan mereka meresa cukup dengan itu-. Dan Alloh memberikan petunjuk pada orang yang kembali dan memusatkan perhatian pada Alloh, kepada jalan yang paling lurus.

Beliau حفظه الله telah memperingatkan manusia dari sikap tamayyu’ (lembek) dan ghuluw (berlebihan) dalam agama ini. Beliau رعاه الله berkata: “Tamayyu’ adalah upaya melepaskan diri dari kebenaran, dan tidak tetap pendirian dalam kebenaran tadi. Adapun ghuluw adalah: melampaui batas kebenaran, mengangkat perkara mustahab sampai ke derajat wajib, meletakkan perkara bukan pada tempatnya, dan membawa dalil bukan pada apa yang dikandungnya. Tamyii’ dan ghuluw adalah dua ujung yang saling bertentangan. Dan sebaik-baik perkara adalah perkara yang berlalu di atas petunjuk. Dan ghuluw menyebabkan binasanya umat-umat, sementara tamyi’ juga menyebabkan binasanya umat-umat yang lain.”

kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil yang banyak tentang bahayanya ghuluw, kemudian berkata:

“Ghuluw itu tercela di setiap zaman dan tempat. Khowarij berlebihan dalam bab ancaman, sehingga mereka mengkafirkan Muslimin. Dan terkadang mereka saling mengkafirkan satu sama lain dalam satu majelis. Demikian pula mereka mengkafirkan hakim, pemerintah, dan masyarakat. Dan perlu diketahui bahwasanya engkau akan melihat bahwasanya orang yang paling telantar adalah ahlul ghuluw. Demikian pula orang yang paling besar fitnahnya, dan paling rusak adalah ahlul ghuluw. Dan tiada seorang mubtadi’pun kecuali dia itu punya bagian dari ghuluw.

Adapun tamyi’ telah merusak manusia dalam agama mereka, dan merusak akhlaq mereka. Manhaj tamyi’ yang hampir-hampir tak bisa memisahkan diri dari manhaj ahlul batil dan ahlul ahwa  –sampai pada ucapan beliau:- maka ini adalah kebiasaan ahlul batil, yang senang melembekkan kasus, sampai pada zaman Rosululloh  صلى الله عليه وسلم , mereka mendatangi beliau dan berkata: “Wahai Muhammad, engkau telah menjelek-jelekkan sesembahan kami, menganggap tolol akal kami, dan engkau datang pada kaummu dengan perkara yang tidak pernah didatangkan kepada kaumnya. Tidak ada di antara kita dan kaum kita kecuali seperti detik-detik kelahiran bayi, kita bangkit dan kita baku hantam dengan pedang. Maukah engkau menikah dengan sepuluh wanita, dan engkau akan diberi harta hingga engkau jadi orang terkaya …” al kisah.

Sanad-sanad jalan kisah ini disebutkan pada tafsir surat Fushshilat dan telah kami sebutkan secara global di “Ash Shubhusy Syariq”, dan sanad-sanadnya menunjukkan benarnya kisah tersebut.

Sisi pendalilan dari kisah ini adalah bahwasanya kaum musyrikin ingin melembekkan perkara, dan ingin menjadikan masalah tersebut bersifat remeh. Maka wajib bagi Ahlussunnah dan bahkan Muslimin untuk istiqomah, sebagaimana firman Robb kita:

﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ﴾ [هود/112]

 “Maka istiqomahlah engkau dan orang yang bertobat bersamamu, sebagaimana dirimu diperintahkan.”

(“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 10-13/Darul Kitab Was Sunnah).

            Maka peringatan untuk tidak bermudah-mudah dalam mengambil rukhshoh tidaklah menunjukkan bahwasanya orang yang berbicara itu adalah orang yang ghuluw dalam agama, ataupun sebagai haddadiyyah, dan yang seperti itu. Inilah agama kita. Asy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله berkata: “Memang benar perkataan Waliyyul ‘ahd([19]) yang agung حفظه الله ketika beliau berkata: “Sesungguhnya ghuluw, sebagaimana dia itu terjadi dalam bentuk penambahan terhadap agama, dia juga terjadi dalam wujud sikap bermudah-mudah dalam agama. Maka yang namanya tasamuh (toleransi) dalam agama itu hanyalah dengan mengamalkan rukhshoh-rukhshoh yang sesuai syari’ah pada waktu yang dibutuhkan, dan dalam batasan kebutuhan. Dan bukanlah maknanya itu melepaskan diri dari hukum-hukum agama dan memberontak terhadap syari’ah, meninggalkan kewajiban dan melakukan larangan dengan nama taisir (pemudahan) …” dst. (“Maqolatusy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al Maktabatusy Syamilah).

 

[Pasal Enam: Upaya Untuk Menjatuhkan Ulama Yang Kokoh Di Atas Kebenaran]

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi keenam: Usaha mereka untuk menjatuhkan ulama sunnah masa kini, dan penghinaan terhadap mereka, dan menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil dan bukti-bukti, dan pemberontakan mereka terhadap ulama tadi, cercaan terhadap mereka, manhaj mereka, dan prinsip-prinsip mereka yang tegak di atas Al Kitab, As Sunnah dan manhaj As Salafush Sholih.

Komentar ana:

            Yang keenam dari sifat haddadiyyah: Upaya untuk menjatuhkan ulama. Adapun Syaikh kami Yahya Al Hajuriy An Nashihul Amin dan yang bersama beliau, mereka menghormati ulama sunnah yang terdahulu, yang belakangan, dan yang semasa dengan mereka, mencintai mereka, mengagungkan mereka, menyemangati manusia untuk mengambil faidah dari mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil. Berapa kali dinaikkan kepada beliau رعاه الله dalam dars-dars umum fatwa-fatwa ulama masa kini dan faidah-faidah dari mereka, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy mau mengambil faidah dari mereka tadi, dan memuji pemilik fatwa dan faidah tadi. Adapun jika diangkat ke beliau fatwa yang menyelisihi kebenaran, maka beliau membantahnya dan menjelaskan pendapat yang lebih kuat dalam masalah tadi, bersamaan dengan tetap menghormati pemilik pendapat tadi jika dia berasal dari ahlussunnah, dan menghinakan pemilik fatwa yang berasal dari ahlul hawa.

Kami perhatikan dari sikap-sikap syaikh kami رعاه الله  bahwasanya beliau itu selalu bersemangat untuk tidak mengucapkan sesuatu kecuali jika mencocoki lahiriyah dari nash-nash, dan didahului oleh seorang pendahulu dari para imam, sama saja, dari kalangan mutaqoddimin ataupun mutaakhkhirin. Ini semua adalah bantahan terhadap orang yang menyatakan bahwa beliau keluar dari jalan Salaf.

Adapun kritikan terhadap kesalahan-kesalahan tapi dengan hujjah, maka pintunya terbuka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

Ucapan yang bercahaya ini tidaklah tersembunyi dari para ulama, dan mereka sendiri jika melihat adanya suatu ucapan dari seorang imam Muslimin atau ulama Muslimin dalam masalah fiqh yang menyelisihi kebenaran, maka mereka membantahnya dan menjelaskan sisi yang benar dalam masalah tadi, dan mereka tidak menganggap yang demikian itu sebagai cercaan pada si imam atau alim tadi.

Maka mengapa mereka diam dari kebatilan-kebatilan Ubaid Al Jabiriy yang mana kebatilan tadi lebih besar daripada kesalahan tadi? Manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan ulama serta tholabatul ilmi yang bersama beliau membantah Ubaid Al Jabiriy dengan hujjah-hujjah dan burhan-burhan, dan membicarakannya dikarenakan dirinya menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan, dan bersikerasnya dia di atas penyelewengannya, dan kezholimannya terhadap Darul hadits di Dammaj, justru sebagian ulama هداهم الله  bangkit untuk membela Ubaid tanpa kebenaran. Dan saya berharap perbuatan mereka tadi tidak bersumber dari fanatisme ataupun kedengkian.

Dan tidak tersembunyi atas mereka juga perkataan Al Imam ibnu Rojab رحمه الله : “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil ataukah orang besar, maka dia memiliki teladan dari ulama yang membantah perkataan Ibnu Abbas yang menyendiri dan diingkari ulama, seperti masalah nikah mut’ah, penukaran mata uang, dan dua umroh dan yang selain itu.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Sa’id ibnul Musayyab terhadap perkataannya yang membolehkan wanita yang telah ditholaq tiga untuk kembali ke suaminya yang pertama dengan semata-mata akad dengan suami kedua, dan yang selain itu yang menyelisihi sunnah yang jelas.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Al Hasan tentang perkataan tentang tidak ihdadnya wanita yang ditinggal mati suaminya. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah ‘Atho tentang pembolehannya pengembalian kemaluan. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Thowus tentang ucapannya dalam masalah yang bermacam-macam yang menyendiri dari ulama.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah tokoh-tokoh yang lain yang telah disepakati kaum Muslimin bahwasanya mereka itu di atas petunjuk, ilmu, dicintai dan dipuji.

Dan tiada seorangpun dari mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun penghinaan terhadap mereka. Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.

Adapun jika keinginan orang yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya, menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya. Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga masuk dalam sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

« يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه لا تؤذوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته».

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”([20])

Ini semua adalah yang terkait dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini. Adapun ahlul bida’ wadh dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama, maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka, sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka. Dan bukanlah pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).

Aku katakan وفقني الله: ini jelas sekali bagi orang yang mencari keadilan. Adapun orang yang tertimpa penyakit hasad maka dia akan menjauh dari keadilan, dan memandang bahwasanya bantahan-bantahan ilmiyyah yang ditegakkan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama dan thullab yang bersamanya itu sebagai tho’n terhadap ulama.

            Dan alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Mufti Kerajaan Arab Saudi wilayah selatan Asy Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله : “bahwasanya ada di antara Ahlussunnah pada zaman ini yang kebiasaan dan kesibukannya adalah untuk menelusuri kesalahan-kesalahan, sama saja apakah kesalahan tadi ada pada karya tulis ataukah di dalam kaset, kemudian dia memperingatkan manusia dari orang yang melakukan kesalahan tadi. Aku katakan: Ini adalah kedudukan tinggi baginya dan bukan celaan. Dulu perlindungan terhadap sunnah merupakan kedudukan tinggi di mata Salaf. Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ ditanya: “Apakah termasuk manhaj Salaf, mengumpulkan kesalahan-kesalahan seseorang dalam sebuah kitab agar orang lain bisa membacanya?!!” Beliau menjawab: “Subhanalloh, ini adalah perkataan orang-orang sesat demi menjaga kebidahan, kitab-kitab, manhaj mereka dan orang-orang yang mereka sanjung. Alloh dan Rosul-Nya banyak sekali menyebutkan tentang kesesatan mereka. Alloh –ta’ala telah mengumpulkan perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro serta membantah mereka dalam banyak ayat-ayat Al-Quran. Ahlus Sunnah dari dulu sampai sekarang berbicara tentang Jahm bin Shofwaan dan Bisyr Al Mariisy serta menyebutkan kebidahan dan kesesatan mereka, mengumpulkan perkataan kelompok-kelompok sempalan dan mengkritiknya, siapakah yang mengharomkan ini? Ini termasuk dari kewajiban. Jika manusia akan tersesat dengan kebid’ahan yang banyak, dan engkau mengumpulkan kebid’ahan tadi dalam satu tempat lalu engkau memperingatkan manusia dari kebid’ahan itu beserta nama pelakunya tadi, maka semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan. Engkau  dengan perbuatan tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.” Al-Ajwibah ‘ala Asilah Abi Rowahah/ hal. 28-29/Majalisul huda).

Alangkah indahnya perkataan ini. Dan kita katakan pada orang yang Alloh gerakkan untuk menjalankan nasihat ini, dari kalangan orang-orang utama dari ahlu Dammaj dan yang bersama mereka: “Maka semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan. Kalian dengan perbuatan tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.”

Jika yang dimaksudkan adalah bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله itu mengkritik kesalahan-kesalahan dari orang yang berbuat salah, sekalipun dia dari kalangan masyayikh Ahlissunnah, maka ini adalah perkara yang baik dan telah dikenal di kalangan Salaful ummah. Telah lewat baru saja perkataan para imam pada permulaan bab ini tentang pentingnya memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang berbuat salah.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله telah berkata –dan bagus sekali perkataan beliau-: “Maka kritikan itu wahai ikhwan, tidak boleh pintunya ditutup, karena kita berarti akan mengatakan ditutupnya pintu ijtihad –semoga Alloh memberkahi kalian-. Dan kita tidak memberikan pensucian pada pemikiran seorangpun sama sekali. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun datangnya, sama saja apakah dia itu seorang salafiy ataukah bukan salafiy. Akan tetapi bermuamalah dengan Ahlul haq wassunnah yang telah kita ketahui keikhlasan mereka, ijtihad mereka dan kesetiaan mereka kepada Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, pimpinan Muslimin dan orang awamnya tidaklah sama dengan muamalah dengan ahlul bida’ wadh dholal. Kembalilah kalian kepada kitab Al hafizh Ibnu Rojab رحمه الله : “Al Farqu Bainan nashihah Wat ta’yir”.

Jika orang tadi berbicara dan memberikan penjelasan lalu berbicara, maka penjelasan terhadap petunjuk dan kebenaran itu memang wajib. Sa’id ibnul Musayyab telah pernah dikritik, dan juga Ibnu Abbas, Thowus, dan para murid Ibnu Abbas juga dikritik. Tidak ada seorangpun yang berkata: “Ini adalah tho’n” tidak ada yang berkata demikian kecuali ahlul hawa.

Kami jika mengkritik Al Albaniy, tidaklah kami menempuh jalan ahlul ahwa dengan berkata: “Jangan, jangan kalian kritik Al Albaniy.” Baiklah. Kesalahannya tersebar dengan nama agama. Begitu pula kesalahan Ibnu Baz, kesalahan Ibnu Taimiyyah, kesalahan siapapun. Kesalahan apapun wajib untuk dijelaskan kepada manusia bahwasanya ini adalah suatu kesalahan, setinggi apapun kedudukan orang yang muncul darinya kesalahan ini, dikarenakan kita sebagaimana telah kami katakan berulang kali bahwasanya kesalahannya itu dinisbatkan kepada agama Alloh.

Akan tetapi kita membedakan –sebagaimana telah aku katakan- antara Ahlussunnah dan ahlul bid’ah, sebagaimana kata Ibnu Hajar dan lain-lain. Mubtadi’ itu dihinakan dan tidak ada kehormatan sedikit pun baginya dikarenakan maksudnya yang jelek. Mubtadi’ adalah pengikut hawa nafsu,  –sampai pada ucapan beliau:- sisi pendalilan kita di sini adalah bahwasanya kritikan pada ulama, dan di antara ulama ada yang saling mengkritik dan menjelaskan pada manusia demi menjauhkan penisbatan kesalahan itu pada agama Alloh عز وجل ini wajib, dan tidaklah kami mengatakan: “Boleh.” Wajib untuk mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia, dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل عمران/187].

“Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,”

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة/78، 79].

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

            Kritikan adalah termasuk dalam bab ingkarul mungkar. Maka kritikan terhadap individu-individu besar Salafiyyin jika berbuat salah, dan penjelasan tentang kesalahan mereka ini termasuk bab amar ma’ruf nahi munkar, dan termasuk dalam bab penjelasan yang diwajibkan oleh Alloh, dan termasuk bab nasihat yang diwajibkan oleh Alloh dan diharuskan-Nya terhadap kita.” (AlAjwibah AsSalafiyah Ala As’ilah Abi Rowahah AlManhajiyah: 16-19/Majalisul Huda).

            Aku –Abu Fairuz- katakan وفقني الله : Ini perkataan yang bagus. Akan tetapi termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwasanya ketergelinciran Ubaid Al Jabiry هداه الله telah menjadi banyak dan terang dan tersebar di jaringan-jaringan internet. Termasuk di antaranya adalah:

– dia membolehkan pemilihan umum dengan disertai sedikit pengkaburan

– dia membolehkan televisi dan kamera

– Dia mencerca Amirul Mu’minin fi hadits Syu’bah ibnul Hajjaj

– Dia membolehkan pekerjaan yang di situ ada percampuran lelaki dan perempuan, disertai dengan sedikit talbisat (pengkaburan)

– Dia mengangkat lagi Sholih Al Bakriy sang hizbiy([21]) yang telah mati namanya

– Kejahatannya terhadap Darul hadits Dammaj, dan kedustaannya terhadap pengelolanya

– Dia mendatangkan beberapa prinsip lalu membatalkannya sendiri dalam prakteknya

– Dia fanatik terhadap Abdurrohman bin Mar’i dalam kasus Al Jami’atul Islamiyyah

– Dia tidak mau membid’ahkan Ali Hasan Al Halabiy bersamaan dengan pengakuannya tentang besarnya penyelewengan Al Halabiy. Dia juga tidak mau menyuruh Ahlusy Syam untuk menjauhi Al Halabiy. Bersamaan dengan perbuatan itu dia mencaci Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan berbagai cacian jahat, dan menyuruh manusia untuk menjauhi beliau, padahal Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tidak melakukan apa yang diperbuat oleh Al Halabiy meskipun sepersepuluhnya.

– Dan termasuk dari kebatilan Al Jabiriy juga adalah: dia menyemangati Muslimin Eropa untuk hijroh ke Birmingham

– Dia membolehkan untuk membatalkan pengaruh sihir dengan cara sihir pula

– Menyemangati Muslimin Libia untuk memilih Abdul Jalil Al Ikhwaniy sebagai presiden bagi negara mereka, dan berkata: “Dia itu adalah ahli agama”, padahal orang ini adalah Ikhwaniy, yang berkata bahwasanya dirinya akan membangun negara demokratis yang bebas, bukannya negara Islam.

Tapi kami tidak melihat dari sang pemilik ucapan yang bagus tadi pengingkaran terhadap Ubaid atas penyelewengan-penyelewengannya tadi. Manakala Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan para muridnya حفظهم الله membantah Ubaid dengan hujjah dan burhan ternyata sebagian orang justru meneriaki mereka dengan berkata: “Haddadiy! Tidak meninggalkan seorangpun kecuali berbicara tentangnya!” atau yang semakna dengan ini.

Allohul musta’an, Syaikh kami Yahya dan yang bersama beliau itu berbicara tentangnya dengan hujjah dan burhan ataukah semata-mata dengan dugaan belaka? Jika mereka berbicara dengan bayyinat, kenapa orang-orang tadi tidak menerimanya? Bukankah Asy Syaikh Robi’ –yang dimuliakan oleh mereka dan oleh kami juga- telah berkata –dan bagus sekali apa yang beliau katakan-: “Kebenaran itu wahai Abdurrohman, lebih besar daripada seluruh langit dan bumi, dan lebih besar daripada kelompok-kelompok yang engkau bela. Dan kebenaran itu lebih kami cintai daripada anak-anak dan keluarga.” (“Jama’ah Wahidah”/hal. 92/cet. Darul Minhaj).

Kemudian Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan ulama serta thullab yang bersama beliau حفظهم الله tidaklah berbicara tentang seorang alim yang menisbatkan diri kepada sunnah, sampai si alim itu yang berbuat zholim kepada mereka. Maka tidaklah setiap orang yang diam terhadap fitnah kedua anak Mar’i itu Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berbicara tentangnya. Bahkan mereka bersabar terhadapnya dengan tetap memberikan nasihat-nasihat. Ketika sebagian dari orang tadi mulai berbicara tentang Ahlu Dammaj dan berbuat zholim kepada mereka, maka merekapun membela diri.  Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الله إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ * إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zholim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.”(Asy Syuro: 40-42).

Alloh subhanahu juga berfirman:

﴿لَا يُحِبُّ الله الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ الله سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء/148].

“Alloh tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Alloh adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

 Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«المستبان ما قالا فعلى البادئ ما لم يعتد المظلوم». (أخرجه مسلم (2587)).

“Dua orang yang saling memaki itu, apa yang mereka ucapkan maka atas orang yang mulailah tanggungan dosanya, selama orang yang dizholimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim (2587)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Maknanya adalah bahwasanya seluruh dosa cacian yang terjadi di antara kedua orang itu dikhususkan bagi orang yang memulainya, kecuali jika orang yang kedua melampaui kadar pembelaan diri dan berkata pada orang yang memulai lebih banyak daripada apa yang diucapkannya padanya. Dalam hadits ini ada dalil tentang bolehnya membela diri, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya hal itu. Dan telah bermunculan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah tentang hal itu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل﴾

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.”

﴿والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون﴾

“Dan orang-orang yang jika tertimpa kezholiman mereka membela diri.”

Dan bersamaan dengan ini maka bersabar dan memaafkan itu lebih utama. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور﴾

“Dan barangsiapa yang bersabar dan mengampuni maka sungguh yang demikian itu merupakan perkara yang ditekankan.”

Dan berdasarkan hadits yang disebutkan setelah ini:

«ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا»

“Tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan.”

Dan ketahuilah bahwasanya mencaci seorang muslim tanpa hak adalah harom, sebagaimana sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

«سباب المسلم فسوق».

 “Mencaci seorang muslim merupakan kefasiqan.”

Dan tidak boleh bagi orang yang dicerca untuk membalas kecuali dengan yang semisal dengan cacian tadi, selama bukan merupakan suatu kedustaan atau tuduhan palsu, atau cercaan pada pendahulunya.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/8/hal. 398).

Iya, kesabaran dan pemaafan itu lebih utama jika kezholiman tadi terkait dengan perkara pribadi atau duniawi, misalnya. Adapun kezholiman terhadap agama ini maka tidak boleh didiamkan saja. Maka tidak masuk akal jika dikatakan bahwasanya orang yang membela dirinya dan agamanya dengan cara yang benar itu telah mencerca ulama. Tidaklah mengucapkan itu kecuali orang bodoh atau dengki atau pengekor hawa nafsu. Wallohu a’lam.

Rosululloh  صلى الله عليه وسلمtelah membela diri dalam kasus Dzul Khuwaishiroh dengan bersabda:

(ويلك من يعدل إذا لم أعدل؟)

“Celakalah kamu, siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?” (HR. Al Bukhoriy (3610) dari Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).

Juga bersabda  صلى الله عليه وسلمdalam kasus pembagian emas:

 (ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء)

“Tidakkah kalian mempercayai diriku sementara aku adalah orang kepercayaan dari Yang ada di langit?”(HR. Al Bukhoriy (4351) dan Muslim (1064) dari Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه).

Dan beliau bersabda dalam kejadian bantahan Sa’d bin Abu Waqqosh  رضي الله عنه:

« يا سعد ، إني لأعطى الرجل وغيره أحب إلى منه ، خشية أن يكبه الله في النار ».

Wahai Sa’d, sungguh aku itu memberi orang itu dalam keadaan orang yang lainnya lebih aku cintai daripada dirinya. Aku beri dia karena takut dirinya akan ditelungkupkan Alloh ke dalam neraka.” (HR. Al Bukhoriy (27) dan Muslim (150)).

            Kemudian sesungguhnya dakwah Salafiyyah ini, yang berdiri di Darul hadits di Dammaj adalah dakwah besar yang agung ke seluruh penjuru dunia, maka barangsiapa mencerca para pengelolanya tanpa hujjah, maka sungguh dia telah menghalangi manusia dari jalan Alloh dan berbuat zholim kepada Islam dan Sunnah. Maka bagaimana engkau mengharuskan kami untuk diam dan tidak usah membela dakwah tadi dan pengelolanya? Dengan dalil apa engkau mengharuskan kami dengan yang demikian itu? Maka marilah kita kembali kepada Alloh dan Rosul-Nya ketika terjadi perselisihan ini sebagaimana kita diperintahkan, dan tinggalkanlah kami dari ro’yu para tokoh. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya Ahlussunnah mengajak manusia ketika terjadi perselisihan untuk berhukum kepada As Sunnah, bukan pendapat-pendapat para tokoh dan hasil akal mereka.” (“Mukhtashorush Showa’iq”/hal. 603/Darul Hadits).

            Adapun membiarkan pelaku kebatilan berbicara tentang Darul Hadits di Dammaj tanpa haq, maka hal ini termasuk bentuk menolong ahlul batil untuk meruntuhkan Darul Hadits dan untuk menghalangi manusia dari Darul Hadits. Maka saya berharap orang yang berbuat demikian mau memeriksa kembali sikap yang dipilihnya tadi karena saya khawatir dia akan mendapatkan bagian dari perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan tidaklah menghalangi manusia dari ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).

[Pasal Ketujuh: Bersembunyi Di Balik Sebagian Ulama Sunnah Sambil Menyusun Makar Terhadap Sebagian Ulama yang Menampakkan Kebenaran]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi yang ketujuh: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi dan penyelisihan mereka pada prinsip-prinsip, manhaj dan sikap mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rowafidh yang bersembunyi di balik Ahlul Bait dalam keadaan mereka menyelisihi manhaj dan prinsip Ahlul Bait dan membenci mayoritas Ahlul Bait. Kenapa mereka melakukan ini?

Komentar ana:

Yang ketujuh dari sifat Haddadiyyah: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya bersamaan dengan kebencian mereka pada ulama tadi. Dan tidak ada pada Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله sikap bersembunyi. Perkataan beliau jelas, sumber penukilannya disebutkan dari kitab-kitab Salaf, kecintaan beliau pada ulama sunnah itu terang. Beliau cinta pada orang-orang yang istiqomah, membenci orang-orang yang menyimpang, sambil menegakkan hujjah dan burhan terhadap sikap yang beliau ambil.

Adapun hizb baru –Mar’iyyah-, berapa kali mereka bersembunyi di balik Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dalam keadaan mereka menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah yang beliau ada di atasnya? Berapa banyak pula mereka bergantung kepada nama Asy Syaikh Muqbil رحمه الله dalam kondisi mereka itu jauh dari jalan Salafiyyah yang ‘afifah (menjaga kehormatan) yang mutamayyizah (memisahkan diri dari ahlul batil) yang beliau tempuh?

Adapun perkara makar, maka Mar’iyyun mereka itulah tukang makar, dan tipu daya mereka telah tersingkap dengan seizin Alloh.

Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal حفظه الله : “Dan telah tetap juga perkara yang menunjukkan makar dan khianat orang ini –yaitu Salim Ba Muhriz-. Maka di antara perkara yang kami ketahui: Pertama: Berita yang dikabarkan kepada kami, oleh saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, yaitu: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”

Ini adalah makar dan tipu daya yang nyata serta rencana untuk menimpakan fitnah di barisan Ahlussunnah, di mata orang-orang yang inshof (adil/objektif). Akan tetapi yang mengherankan adalah orang yang telah sampai padanya ucapan semacam ini tapi dia diam saja tidak bergerak seakan-akan dia ridho dengan itu!”([22]) (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirofi Ibnai Mar’i”/hal. 13).

Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi Al Qobbash Asy Syabwiy: Kami pernah pulang dari muhadhoroh di So’dah bersama Abdurrohman Al ‘Adniy. Dan yang demikian itu setelah pulangnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله dari perjalanan beliau ke ‘Adn yang terakhir, maka berkatalah akh Shodiq Al ‘Abdiniy –dan dia termasuk teman dan orang dekat Abdurrohman Al ‘Adniy- kepada Abdurrohman: “Yang menghadiri ceramah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di ‘Adn itu jumlahnya besar. Kami menyangka kerajaan kita akan berdiri di sana –di ‘Adn-. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).

Abdul Hakim bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi atas perkataanku ini.”

Abul Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”

Abdulloh Al Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.

Dan semisal dengan ini Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati   orang lain dengan dihadiri Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.

Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.

(Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 4-5/ditulis oleh para pengajar darul hadits Dammaj, di antaranya adalah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy, Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Abdul hamid Al Hajuriy dan yang lainnya).

            Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

[Pasal Delapan: Mengadu Domba Di Antara Ahlul Manhajus Salafiy]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله : melanjutkan: jawabnya adalah: Agar memungkinkan bagi mereka untuk menjatuhkan orang-orang yang memerangi mereka dari kalangan Ahlussunnah, dan agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca  mereka, dan memperburuk citra mereka dan citra prinsip-prinsip mereka, dan agar bisa merealisasi sasaran mereka dalam memecahbelah Ahlul manhajis Salafiy dan membenturkan mereka satu sama lain.

Komentar ana:

            Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: mengadu domba di antara ulama. Dan ini juga kenyataan dari karakter Mar’iyyin, mereka menjilat ke para ulama seperti Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله , Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy, Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy untuk menjatuhkan orang yang membongkar hizbiyyah Mar’iyyah agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca mereka, memperburuk citra mereka. Para Salafiyyun yang adil dan objektif dan ulama mereka menjadi saksi atas kerasnya usaha Mar’iyyin dalam mengadu domba para pemeluk manhaj Salafiy.

Dan inilah yang dilakukan oleh Abdurrohman Al ‘Adniy dan saudaranya Abdulloh, Hani Buroik, dan ‘Arofat bin Hasan, yang digambarkan oleh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله bahwasanya mereka adalah orang-orang khususnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid وفقه الله : “Sisi ketiga: apakah termasuk dari duduk yang baik adalah mengadu domba di antara Ahlussunnah?!! Dan ini adalah perkara yang telah pasti dari orang-orang tadi. Pindah kesana kemari, menelpon kesana dan kesini dari satu tempat ke tempat lain di tempat-tempat para masyayikh, di Yaman dan selain Yaman, hingga hampir saja mereka membikin fitnah di antara kami di Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi dada.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 9).

Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid Al Jabiriy وفقه الله : “Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan padamu wahai Syaikh, bahwasanya kebanyakan orang yang membikin fitnah dan kegoncangan terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman itu jika mereka terbongkar di sisi kami, mereka akan lari ke ulama Saudi, sambil berpura-pura baik di hadapan mereka, sampai-sampai ada dari Ahlussunnah yang berkata: “Kenapa kalian tidak bersepakat saja bersama Az Zindaniy, dan bersama saudara kalian anggota Jam’iyyah ini dan itu?” mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana yang engkau sebutkan dalam jawabanmu ini. Hanya saja pujian mereka dan baik sangkanya mereka kepada orang-orang tadi tidaklah membersihkan mereka dari kasus yang mereka bikin, menurut orang yang telah mengetahui kejahatan mereka tadi. Bahkan yang demikian itu hanya akan menambah pengetahuan dan keyakinan bahwasanya mereka itu adalah para pelaris fitnah, bukan orang-orang yang tenang, bukan orang-orang yang cepat bertobat pada Alloh عز وجل dari kejahatan mereka itu.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 10-11).

Lihatlah perincian upaya adu domba yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy dalam “Nashbul Manjaniq” (hal. 134,136,139/Yusuf Al Jazairiy), “Iqodzul Wisnan” (hal. 5,29) dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 31-32/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy), “Al Qoulush Showab Fi Abil Khoththob” (karya Haidaroh Al ja’daniy), dan “Zajrul ‘Awi” (juz 3/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy).

Sebagai contoh saja dalam penyebutan para tokoh adu domba Mar’iyyun adalah sebagai berikut:

‘Arofat Al Bushoiriy. Berupaya mengadu domba para tokoh utama, sementara dia sendiri meremehkan ulama Yaman dan pimpinan mereka yaitu Al Imam  Muhadditsil Jaziroh Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله . (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Muhammad Gholib. Termasuk orang-orang yang mengadu domba antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Ubaid. Yang demikian itu dikarenakan kedekatannya pada Ubaid. Muhammad Gholib adalah teman duduk yang jelek. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hani bin Buroik Al ‘Adniy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata tentangnya: Hani bin Buroik, pada hakikatnya dia itu tak punya nilai besar di sisi kami  –sampai pada ucapan beliau:- dan dia mengadu domba antara kami dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq dan perlindungan. Dia berkata: “Tamparlah mereka, wahai Syaikh, sekaranglah saatnya bagi Anda untuk untuk menampar mereka wahai Syaikh.” Demikianlah saudara kita mengabari aku, dan dia mendengar, dan dia yang bertanggung jawab atas berita ini. Aku tidak menukilkan setiap perkara yang datang padaku. Aku hanya menukilkan hakikat yang ada sanadnya.” Dst. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 11/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hafizh Al Junaidiy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Semoga Alloh tidak membalasnya dengan kebaikan. Dia telah menulis risalah yang kesimpulannya adalah cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan mengadu domba di antara ulama. Dia telah dibantah oleh akh fillah ‘Arofat Al Qibbathiy dengan risalah yang berjudul “Ar Roddul Badi’ ‘Ala Hafizh Al Junaidiy Ash Shori’”. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Asy Syaikh Abu Abdissalam -Hasan bin Qosim Ar Roimiy- حفظه الله menggambarkan hizb baru itu sebagai berikut: “Yang penting adalah bahwasanya mereka itu sebagaimana telah aku sebutkan terdahulu berupaya keras untuk menghasilkan perpecahan di antara ulama sunnah di dalam dan luar Yaman. Kejadian perang kaset antar dua syaikh Al Wushobiy dan Al Hajuriy tidak lain adalah contoh yang terbaik untuk itu. Dan tidaklah perang malzamah yang dikeluarkan Asy Syaikh Al Jabiriy وفقه الله untuk menentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kecuali contoh hidup yang baik untuk membuktikan apa yang telah aku jelaskan terdahulu.” (“Ar Roddul Qosimiy”/hal. 3).

Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله menyebutkan bahwasanya di antara sisi kemiripan antara Abdulloh Mar’i dengan Abul Hasan adalah: mengadu domba di antara ulama sunnah. (“Zajrul ‘Awi”/juz 3/hal. 34).

Dan di antara perbuatan pengikut Abdulloh bin Mar’i itu adalah sebagaimana laporan dari para pelajar Dis Timur حفظهم الله  bahwasanya sebagian pengikut Nabil Al hamr, mereka itulah yang menelpon Ubaid dengan soal-soal yang bersifat adu domba itu. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy).

            Maka Baromikah Mar’iyyah itulah Haddadiyyun dalam bab ini. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله sungguh kalian telah benar-benar tahu bahwasanya beliau sejak zaman dulu sangat menjauh dari mengadukan seseorang ke para masyayikh. Jika beliau dituntut untuk mengemukakan hujjah tentang kritikannya terhadap seseorang, maka beliaupun menampilkan hujjah itu. Bahkan kalian telah sering mendengarkan ucapan beliau: “Hujjah tentang kasus ini ada padaku, maka kebenaran itu bersamaku. Robbku tak pernah menelantarkan diriku satu haripun, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan diriku. Jika engkau jujur pada Alloh maka Dia juga akan jujur padamu([23]).”

[Pasal Sembilan: Seruan Untuk Taqlid Kepada Sebagian Ulama Dalam menyelisihi kebenaran]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi ke delapan: Seruan untuk taqlid sebagaimana itu adalah keadaan Rofidhoh dan Ghulatush Shufiyyah, dan inilah yang dibikin-bikin oleh Abdul Lathif Basyumail manakala Mahmud Al Haddad dan gerombolannya gagal dalam pergulatan mereka yang tidak tahu malu dengan ulama dan cercaan mereka yang jelas terhadap mereka. Dan Alloh menjatuhkan Al Haddad. Maka abdul Lathif ingin maju ke depan dengan manhaj Haddadiyyah tapi dalam baju baru di belakang dinding dan di bawah kegelapan makar.

Komentar ana:

            Yang kesembilan dari sifat Haddadiyyah adalah: seruan kepada taqlid. Dan ini juga karakter hizb Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang hizbiyyah mereka: “Titik kedua belas adalah: taqlid.” (“An Nushhu Wat Tabyiin”/hal. 28).

Berikut ini adalah kabar dari para pelajar Salafiyyun dari wilayah Dis timur di Hadhromaut yang mengeluhkan sikap jeleknya Nabil Al Hamr dan teman-temannya: “Dan di antara perbuatan Nabil Al Hamr adalah bahwasanya dirinya membela dengan sangat keras kedua anak Mar’i dan Ba Muhriz sambil mengaku-aku bahwasanya dirinya itu berbicara dengan perkataan para ulama, dan dirinya itu menjelaskan Bayan Ma’bar dan Bayan Hudaidah kepada manusia. Nabil dan pengikutnya berkata: “Orang-orang yang menyebarkan kaset-kaset Al Hajuriy dan tulisan-tulisan para muridnya tentang fitnah ini berarti durhaka para para ulama.” Dan mereka menggambarkan para Salafiyyin yang meninggalkan Abdurrohman Al ‘Adniy dan kelompoknya adalah berarti menentang para ulama. Dan kerja kerasnya dalam mentahdzir umat dari Dammaj dan masyayikh dan pelajar yang singgah di Dammaj untuk dakwah ke jalan Alloh dan menyebarkan kebaikan. Juga upaya Nabil dan anak buahnya untuk menebarkan kedustaan dan kebohongan seputar Dammaj yang hal itu menyebabkan manusia lari dari Dammaj. Dalil yang dipakainya adalah sebagian dari perkataan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy وفقه الله. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy/no. 5-8).

Maka hizb Mar’iyyah itulah yang ahli taqlid pada sebagian ulama demi meruntuhkan kritikan orang alim yang lain terhadap mereka, dan demi menjatuhkan si alim tadi. Mereka berkata: “Kita tunggu pertemuan ulama!”, “Kita tunggu kesepakatan ulama!”, “Asy Syaikh Fulan belum berbicara!”

Apakah demikian itu prinsip-prinsip As Salafush Sholih? Apa boleh taqlid pada sebagian ulama demi meruntuhkan kebenaran yang dibawa oleh ulama lain yang telah ditegakkan di atas hujjah yang para ulama tadi tak sanggup untuk meruntuhkannya?

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله punya perkataan bagus saat membantah Abul Hasan Al Mishriy:

1- Ahlussunnah dalam hal ini tidak mengambil sikap demikian. Tidaklah diketahui ucapan macam ini kecuali dari Ikhwanul Muslimin yang melembekkan kebenaran dan menyia-nyiakannya dengan alasan bahwasanya yang demikian itu adalah masalah yang masih diperselisihkan, sekalipun hal itu termasuk dalam masalah-masalah yang prinsipil (mendasar). Dan perselisihan yang kita pada hari ini dengan Abul Hasan adalah termasuk maslah-masalah prinsipil yang besar, yang agama ini berdiri di atasnya, pada sisi-sisi yang besar, terutama sisi aqidah-aqidah yang bersifat ghoibiyyah.

2- Masalah-masalah yang diperselisihkan itu harus dikembalikan kepada Alloh dan Rosul-Nya, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله﴾

“Dan perkara apapun yang kalian perselisihkan, maka hukumnya adalah kepada Alloh.”

Dan sebagaimana firman-Nya ta’ala:

﴿فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول﴾

“Maka jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Alloh dan Rosul-Nya.”

Sama saja, apakah dia itu masalah dalam usul ataukah furu’.

3- Rosululloh  صلى الله عليه وسلم memberitakan:

«أنه من يعيش من الأمة فسيرى اختلافاً كثيراً»

“karena orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak.”

Kemudian beliau membimbing umat kepada perkara hendaknya mereka kembali padanya dengan bersabda:

«فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضواعليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلاله «.

“Maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan.”

4- Alloh ta’ala berfirman:

  ﴿فماذا بعد الحق إلا الضلال﴾

“Maka apa ada setelah kebenaran selain kesesatan.”

Dan dari sini Ahlussunnah berkata: “Sesungguhnya kebenaran itu tidak berbilang. Maka haruslah kebenaran itu bersama salah satu dari pihak yang bertikai dari setiap kejadian perselisihan –yaitu perselisihan yang saling berlawanan.”

5- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: bahwasanya setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa juga ditolak kecuali Rosululloh  صلى الله عليه وسلم.

6- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenali tokoh-tokohnya. Dan janganlah engkau kenali kebenaran itu dengan tokoh-tokoh.

7- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah: bahwasanya para tokoh butuh untuk didukung dengan hujjah, dan bukannya mereka itu yang menjadi hujjah.

8- Termasuk dari prinsip Ahlussunnah yang Ahlussunnah bersepakat di atasnya adalah: barangsiapa telah jelas baginya sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم tidak boleh baginya untuk meninggalkannya dikarenakan perkataan seseorang, sebagaimana Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله.

Selesailah penukilan dari “Baroatu Ahlissunnah”/Majmu’ur Rudud/hal. 119-200/Darul Imam Ahmad.

            Prinsip-prinsip ini atau dalil-dalil ini telah dibatalkan dan disia-siakan oleh kedua anak Mar’i dan para penolong mereka, dan menguaplah seluruh klaim yang sering mereka ulang-ulang dan mereka menyatakan bahwasanya mereka itulah Ahlussunnah. Maka perhatikanlah wahai manusia, bukankah mereka itu lebih berhak dengan sifat ini: “taqlid”, “menyelisihi prinsip-prinsip Salafiyyah”? Sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau رعاهم الله mereka itulah yang lebih berhak dengan Salafiyyah.

Dan di antara perkara yang menunjukkan jauhnya Ahlussunnah di Dammaj dan yang bersama mereka dari sikap taqlid adalah: kekokohan mereka dalam menghizbikan kedua anak Mar’i dan orang-orang yang bersama mereka, manakala nampak bagi mereka burhan dan hujjah akan hal itu, sekalipun banyak ulama وفقهم الله yang menyelisihi mereka.

Maka ingatlah bahwasanya tempat kembali pada saat terjadi perselisihan adalah Al kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan lebih bagus kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Hujjah ketika terjadi perselisihan itu adalah As Sunnah. Maka barangsiapa menyodorkan Sunnah sebagai hujjahnya, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa mengamalkannya maka sungguh dia selamat. Dan tiada taufiq buatku kecuali dengan pertolongan Alloh.” (“At Tamhid”/22/hal. 74/di bawah hadits:  إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka nash-nash ini dan yang lainnya menjelaskan bahwasanya Alloh telah mengutus para Rosul dan menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, dan menjelaskan perkara yang diperselisihkan oleh manusia, dan bahwasanya yang wajib bagi manusia adalah mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Robb mereka, dan mengembalikan perkara yang mereka perselisihkan kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan bahwasanya barangsiapa tidak mengikutinya maka dia itu adalah munafiq, dan bahwasanya barangsiapa mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para Rosul maka dia itu tak akan tersesat ataupun celaka, dan bahwasanya barangsiapa berpaling dari yang demikian itu maka dia akan digiring dalam keadaan buta, tersesat, celaka dan disiksa.” (“Majmu’ul Fatawa”/17/hal,303).

            Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

 ﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian).” (QS. Al Baqoroh: 137).

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله». (أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

            Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

Maka barangsiapa bersikeras untuk menyelisihi jalan Salaf setelah ditegakkannya hujjah padanya, maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Sesuai dengan kadar keluarnya seseorang dari Salaf dan dari jalan Salaf رضوان الله عليهم terjadilah kebid’ahan.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 17/Maktabah Shon’al Atsariyyah).

Dan telah nampak dengan jelas dari hizbi baru –Mar’iyyah- sikap taqlid pada ulama dalam menyelisihi dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Maka kukatakan pada mereka sebagaimana perkataan Al Imam Al Albaniy رحمه الله : “Akan tetapi apakah termasuk hak seorang alim untuk kita itu mengangkatnya sampai ke derajat kenabian dan utusan hingga kita memberinya ‘ishmah dengan praktek perbuatan kita?! Lisanul hal (praktek perbuatan) itu lebih bisa bercerita daripada sekedar ucapan lidah. sekalipun kita wajib untuk benar-benar menghormati si alim dan untuk mengikutinya jika dia menampilkan dalil pada kita, maka kita tidak berhak untuk mengangkatnya dan meninggalkan ucapan Nabi ‘alaihish sholatu wassalam.” (“At Tashfiyyah”/hal. 22-23).

Maka bukanlah hukum itu kepada Asy Syaikh Fulan dan ‘Allan, akan tetapi hukum itu kepada apa yang telah engkau dengar tadi. Maka kukatakan padamu sebagai perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Kita telah berselisih pendapat dalam masalah ini. Maka jika Al Qur’an dan As Sunnah itu bersaksi untuk mendukung ucapan seseorang, maka itulah yang harus kita ambil, dan kita tak akan meninggalkan kewajiban yang ditunjukkannya itu demi ucapan siapapun juga.” (“Al Furusiyyah”/hal. 212).

Sungguh Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya Al Hajuriy dan para tokoh yang bersama beliau telah mendatangkan bukti-bukti yang jelas, yang mana Anda ataupun orang yang lebih tinggi daripada Anda tidak sanggup untuk meruntuhkannya. Dan saya katakan kepadamu seperti perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Di manakah nilai banyak-banyakan jumlah orang jika dibandingkan dengan banyak-banyakan dalil? Sungguh kami telah menyebutkan sebagian dalil yang kalian tidak punya jawaban untuknya, padahal yang wajib adalah mengikuti dalil di manapun dia berada, bersama siapapun dalil tadi berada. Dan itulah yang diwajibkan oleh Alloh untuk kita mengikutinya, dan mengharomkan untuk menyelisihinya, serta menjadikannya sebagai timbangan yang benar di antara para ulama. Maka barangsiapa dalil tadi ada di sisinya, maka dia itulah orang yang paling beruntung dengan kebenaran, sama saja apakah orang yang mencocokinya itu sedikit ataukah banyak.” (“Al Furusiyyah”/hal. 298).

Jika engkau berkata: “Asy Syaikh Fulan adalah imam, maka ucapan yang benar adalah perkataannya, maka kami bersama beliau!”

Maka jawab kami adalah sebagaimana telah lewat: Bukanlah ucapan yang benar itu adalah perkataan Asy Syaikh Fulan ataupun orang yang lebih tinggi dari beliau. Akan tetapi ucapan yang benar adalah firman Alloh dan sabda Rosul-Nya dengan pemahaman As Salafush Sholih. Jika telah nampak bahwasanya perkataan Asy Syaikh Fulan itu tidak didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti, maka kami katakan padanya dengan apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله tentang berkata tentang Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowiy رحمه الله :

شيخ الإسلام حبيب إلينا والحق أحب إلينا منه وكل من عدا المعصوم فمأخوذ من قوله ومتروك

“Syaikhul Islam adalah orang yang kami cintai, namun al haqq lebih kami cintai daripada beliau. Dan semua orang yang selain al ma’shum, maka pendapatnya itu bisa diambil ataupun ditinggalkan” (“Madarijus Salikin”/2 hal. 32/cet. Darul Hadits).

Dulu Al Qodhi Abdul Jabbar رحمه الله sering menolong madzhab Asy Syafi’iy dalam masalah usul dan furu’. Manakala beliau mendapati kesalahan Asy Syafi’iy beliaupun berkata:

هذا الرجل كبير، ولكن الحق أكبر منه، اهـ.

“Pria ini adalah tokoh besar, akan tetapi kebenaran itu lebih besar daripada beliau.” (dinukilkan oleh Ilkiya Al Hirrosiy sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Asy Syaukaniy رحمهما الله dalam “Irsyadul Fuhul”/2/hal. 813/cet. Ar Royyan).

Maka sikap menjadikan ucapan seorang alim atau perbuatannya bagaikan dalil syar’iy merupakan suatu kebid’ahan. Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Ucapan orang alim telah menjadi hujjah menurut orang awwam, sebagaimana ucapan orang alim juga dijadikannya sebagai hujjah yang mutlak dan menyeluruh dalam fatwanya. Maka berkumpullah pada orang awwam ini amalan yang disertai keyakinan akan bolehnya perbuatan itu dengan adanya syubhah (kekaburan) dalil. Dan ini benar-benar merupakan kebid’ahan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 364).

Maka jika seorang alim telah mencurahkan kesanggupannya untuk mengetahui kebenaran tapi salah dalam ijtihadnya maka dia itu mendapatkan pahala atas ijtihadnya, tapi tidak boleh kesalahannya itu diikuti. Barangsiapa bersikeras untuk membebek kepada orang alim tadi setelah bayyinah itu nampak, maka si pembebek itu telah membikin bid’ah, berdasarkan ucapan Al Imam Asy Syathibiy. Dan bukan mustahil bahwasanya orang ini menjadi mubtadi, karena dirinya bersikeras dalam kesalahannya itu dan menganggapnya sebagai bagian dari agama, padahal telah sampai kepadanya hujjah akan kesalahannya itu.

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang kisah adzan Jum’at di Az Zauro: “Bahkan Utsman itu berijtihad. Dan orang setelah Utsman jika telah nampak baginya dalil-dalil tapi dia taqlid (membebek) pada Utsman atas perbuatan tadi, maka dia itu termasuk mubtadi’ karena taqlid itu sendiri adalah bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat perkataan salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, maka tidaklah terampuni bagi orang yang telah sampai hujjah kepadanya kesalahan yang terampuni bagi orang pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’. Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya, tidak dihukumi sebagai mubtadi’. Ini merupakan prinsip yang agung, maka pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Jenis kedua: orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menolaknya dalam rangka fanatisme terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidaklah mendapatkan udzur, dan mereka sebagaimana firman Alloh tentang mereka:

﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾ (الزخرف: 22)

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak.”

(“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin”/9/hal. 51).

            Dan sungguh para penasihat Salafiyyin telah mencurahkan kerja keras mereka dalam menegakkan hujjah-hujjah dan nasihat-nasihat kepada para Mar’iyyin tersebut, dan mereka bersabar untuk itu. Manakala jelas bagi para penasihat pembangkangan mereka terhadap kebenaran, dan sikap mereka untuk lebih menggutamakan taqlid di atas ittiba’ terhadap dalil, maka merekapun membid’ahkan Mar’iyyun. Maka Mar’iyyun dan para penolong mereka dari kalangan muqollidun setelah tegaknya hujjah, mereka berhak untuk dibid’ahkan.

Bahkan kita berkata sebagaimana perkataan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya Ahlul haq Wassunnah mereka itu tidak memiliki panutan selain Rosululloh  صلى الله عليه وسلم yang tidak berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah yang beliau ucapkan itu selain wahyu yang diwahyukan. Beliau itulah yang wajib untuk dibenarkan dalam setiap apa yang beliau beritakan, dan wajib ditaati dalam setiap apa yang beliau perintahkan. Dan tidaklah kedudukan ini dimiliki oleh orang lain dari kalangan para imam. Bahkan setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa juga ditolak kecuali Rosululloh  صلى الله عليه وسلم. Maka barangsiapa menjadikan seseorang selain Rosululloh itu dari kalangan orang yang mencintainya dan mencocokinya segai Ahlussunnah Wal Jama’ah, sementara orang yang menyelisihinya dijadikannya sebagi ahlul bid’ah wal furqoh –sebagaimana hal  ini didapatkan pada kelompok-kelompok yang mengikuti para imam dalam perkataan mereka dalam agama dan yang lainnya- maka dia itulah sebenarnya orang yang termasuk dari kalangan ahlul bida’ wadh dholal wat tafarruq.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346-347).

            Kesimpulannya adalah: Sesungguhnya Mar’iyyun itulah yang lebih berhak untuk dikatakan sebagai haddadiyyun, daripada Ahlu Dammaj.

 

[Pasal Kesepuluh: Pura-pura Menghormati Sebagian Ulama Sunnah, Untuk membenturkannya Kepada ulama yang lain]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang Haddadiyyah: Maka dia menampakkan –sebagai tipu daya belaka- penghormatan kepada ulama Nejed dengan mengklaim bahwasanya mereka itu adalah ahli taqlid dan para penyeru kepada taqlid –padahal para ulama tadi jauh dari yang demikian itu- lalu berdirilah dirinya dan sebagian dari gerombolannya dengan semangat kuat untuk membikin pengumuman-pengumuman dan tulisan-tulisan dan sasaran mereka adalah Ahlul Madinah, tapi Alloh menjatuhkan tipu daya mereka.

Komentar saya:

            Ini adalah sifat Haddadiyyah yang kesepuluh: berpura-pura menghormati sebagian ulama, untuk membenturkannya dengan ulama yang lain. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau حفظهم الله tidak ada pada mereka makar seperti ini -dan makar apapun-,  tidak pula mereka mengincar Ahlul Madinah. Bahkan mereka menyeru manusia kepada sunnah dan salafiyyah.

Manakala hizb Mar’iyyah bangkit dan merobek dakwah dan membangkang terhadap nasihat-nasihat yang benar, maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama beliaupun memperingatkan manusia dari kelompok tadi.

Manakala Ubaid Al Jabiriy, Abdulloh Al Bukhoriy, dan yang lainnya membela Mar’iyyin, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para ulama yang bersama beliau bersabar sambil terus menyebarkan penjelasan dan hujjah.

Manakala para penolong Mar’iyyin tadi menampakkan sindiran, cercaan dan serangan kepada Darul Hadits di Dammaj dan pengelolanya serta para Salafiyyin yang bersamanya, maka merekapun membela diri dan memberikan kepada para penyerang tadi hak mereka, sama saja, apakah mereka tadi dari Ahlul Madinah, Ahlu Makkah, Ahlu Mishr atau dari negri manapun. Tiada orang yang kebal dari hukum syar’iy, barangsiapa berbuat kejahatan haruslah menyiapkan diri untuk dihukum, sampai bahkan walaupun dia lahir dan tinggal di dalam perut Ka’bah misalkan. Bukanlah negri itu yang mensucikan penduduknya, akan tetapi amal sholihnyalah yang mensucikan dirinya dengan seizin Alloh.

Maka beda jauh antara makar Haddadiyyah dengan dakwah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Barangsiapa menyamakan keduanya setelah penjelasan ini maka sungguh dia telah membikin kedustaan yang besar. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾ [النساء/112].

“Dan barangsiapa membuat suatu kesalahan atau dosa kemudian dia menuduhkannya kepada orang yang bersih, maka sungguh dia telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata.”(QS. An Nisa: 112).

Akan tetapi siapakah yang akan memahamkan mereka itu?

نظروا بعين عداوة لو أنها    عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا

“Mereka memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan pastilah mereka akan menganggap bagus perkara yang mereka anggap buruk.” (“Miftah Daris Sa’adah”/hal. 176).

وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Dan mata keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian menampakkan berbagai kejelekan.” (“Al Aghoniy”/3/hal. 369).

 

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang Haddadiy: Dia menampakkan diri bersemangat membela Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab dan membelanya, maka dia kedustaan dan pengkhianatannya mereka-reka seorang musuh untuk Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab. Ketahuilah bahwasanya musuh rekaan buat beliau adalah Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits As Salafiy Muhammad Nashiruddin Al Albaniy yang berloyalitas kepada Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab dan berjalan di atas manhaj beliau manhaj As Salafush Sholih. Dia menjadikan Asy Syaikh Al Albaniy musuh yang sangat jahat yang tiada taranya buat Al Imam Muhammad bin Abdulwahhab, dakwah beliau dan keluarga Su’ud, dan mengikat Ahlul Madinah dengan Asy Syaikh Al Albaniy, dan mengklaim bahwasanya Asy Syaikh Al Albaniy punya manhaj yang salah yang di atasnyalah Ahlul Madinah berjalan.

Komentar ana:

            Sekedar pengakuan cinta, penghormatan dan pembelaan pada seseorang tidaklah cukup. Akan tetapi perbuatan dan bekasnya itulah saksi yang terbaik akan kejujuran atau kedustaan orang tadi. Ibrohim At Taimiy رحمه الله berkata:

ما عرضت قولي على عملي إلا خشيت أن أكون مكذَّبا

 “Tidaklah aku sodorkan perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan didustakan (dianggap sebagai pendusta).” (“Shohihul Bukhory”/kitab Bad’il Wahyi/Bab Khoufil Mu’min/1/hal. 93).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Andaikata di hatimu itu ada rasa cinta, pastilah bekasnya itu tampak pada jasadmu.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 731).

            Telah nampak kedustaan Haddadiyyin dan makar mereka dalam penampakan mereka rasa cinta dan penghormatan kepada Al Imam An Najdiy رحمه الله . Dan tidak ada rasa cinta yang jujur di dalam hati-hati para Haddadiyyin yang sakit itu. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله mendengar seorang badui berkata:

…، وهيهات أن يظهر الودّ المستقيم من القلب السقيم. (“جامع بيان العلم”/1 / ص 630/دار ابن الجوزي).

“… dan jauh sekali kemungkinannya untuk munculnya rasa cinta yang lurus dari hati yang sakit.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi”/1/hal. 630/Daru Ibnil Jauziy).

            Adapun kecintaan Ahlussunnah Wal jama’ah kepada dua imam Muhammad bin Abdulwahhab An Najdiy dan Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمها الله merupakan kecintaan yang jujur, nampak dari ucapan dan perbuatan mereka sehari-hari. Ini kitab-kitab Al Imam An Najdiy terus-menerus diajarkan di markiz ini, dihapalkan, banyak disyaroh, ditahqiq, dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy banyak memujinya dan mengatakan bahwasanya beliau itu adalah seorang imam dan mujaddid. Kami sebutkan ini agar diketahui kedustaan hizb baru Mar’iyyin bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله mencerca Al Imam An Najdiy رحمه الله . Sungguh kami telah mendengar syaikh kami حفظه الله berkata di hadapan majelis umum: “Kami meyakini bahwasanya wajib bagi kami untuk membela Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdiy, sebagaimana kami membela Al Imam Ahmad bin Hanbal, Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim, Asy Syaikh Ibn Baz dan para imam fatwa yang lain.”

            Demikian pula Al Imam Al Albaniy رحمه الله. Ini kitab-kitab beliau diambil faidahnya di sela-sela dars umum, dalam pembahasan, saat membantah ahlul ahwa, yang segi-segi pengambilan faidah ilmiyyah yang lain. Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله juga berkata di hadapan para thullab: “Seluruh orang yang datang setelah Asy Syaikh Al Albaniy adalah ibarat anak piara bagi beliau.”

Dan kami tak pernah mendengar dari beliau رعاه الله perkataan yang batil terhadap kedua imam tersebut ataupun kepada keluarga Su’ud حفظهم الله .

Ketika beliau ditanya tentang orang yang berkata bahwasanya Asy syaikh Al Albaniy رحمه الله punya pemikiran irja’ (mengakhirkan amal dari iman) –dan tuduhan ini merupakan bagian dari syi’ar Haddadiyyah dan kebanyakan hizbiyyin harokiyyin-, beliaupun membantahnya dan menjelaskan kebatilan perkataan tadi.

Hal ini terulang. Di antara contohnya adalah bahwasanya beliau حفظه الله pernah ditanya: “Apakah Asy Syaikh Al Albaniy termasuk Murjiah fuqoha?”

Maka beliau menjawab: “Orang-orang yang mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Albaniy termasuk Murji, maka alangkah besarnya kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka. Tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan. Maka Asy Syaikh Al Albaniy adalah seorang alim salafiy, dan beliau telah membantah Murjiah, jahmiyyah, Qodariyyah, Jabriyyah dan yang lainnya dengan bantahan-bantahan yang tidak dilakukan oleh orang-orang yang menuduh beliah dengan tuduhan tersebut. Akan tetapi keadaan ini adalah seperti pepatah: “Ini adalah tabiat yang aku kenal dari si Akhzam([24])” tidaklah engkau dapati seorang salafiypun yang tampil menghadang kebatilan dan ahlul batil kecuali mereka menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang besar. Ketahuilah ini.” (“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 80/Darul Kitab Was Sunnah).

 Dan belum pernah kami mendengar dari beliau رعاه الله perkataan bahwasanya ahlul Madinah berjalan di atas manhaj yang khusus dan salah. Dan kami belum pernah mendengar dari beliau رعاه الله bahwasanya beliau menjadikan Al Imam Al Albaniy sebagai lawan bagi Al Imam An Najdiy رحمهما الله .

Maka barangsiapa menyamakan antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Salafiyyun yang bersama beliau, dengan para haddadiyyin maka sungguh dia itu adalah pendusta. Dan pendusta  memang tidak kenyang dari kedustaan.

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Untuk apa dia mereka-reka manhaj ini? Agar dirinya berhasil untuk menjatuhkan Al Albaniy dan kerja kerasnya selama enam puluh tahun dalam melayani tauhid dan sunnah, dan menjatuhkan perjuangan beliau dalam menghadapi kebid’ahan dan pelakunya, seluruh kebid’ahan, termasuk di dalamnya adalah irja’, dan untuk menanamkan permusuhan dan kebencian di antara Ahlussunnah wat tauhid yang di Najd, dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlut tauhid wassunnah yang di Madinah, Syam, Yaman dan seluruh tempat yang di situ sunnah dan tauhid tersebar.

Komentar ana:

            Ini juga tidak dilakukan oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy, dan beliau tidak menyetujuinya. Apakah masuk akal tuduhan semacam ini diterima tanpa bayyinah.

            Keadaan syaikh kami adalah sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang paling tahu tentang beliau –Al Imam Al Mujaddid Al Wadi’iy رحمه الله – : “Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela.” [muqoddimah kitab “Ahkamul Jum’ah wa Bida’uha”/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-].

Berkata Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh-: “.. saudara kita fillah Asy Syaikh Al Fadhil At Taqy ( yang bertakwa ) az zaahid (orang yang zuhud) al Muhaddits , al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajury -hafidhahulloh-  beliau adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang merusak.” [muqoddimah “Dhiyaus Saalikiin.” karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-].

Beliau rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:

﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم والله ذو الفضل العظيم

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”

Maka Asy Syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)

[Pasal Kesebelas: Pembelaan Terhadap Hizbiyyin]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dulu Falih berjalan bersama Abdullathif pada medan ini dengan gambaran yang samar dan makar, nampak alamat-alamatnya dari waktu ke waktu sampai pada tahun-tahun dekat ini, kemudian dia menampakkan prinsip-prinsipnya yang rusak, dan manhajnya dalam bentuk yang baru yang lebih berbahaya dan lebih buruk daripada kenyataan Haddadiyyah yang terdahulu, dan muncul di situ prinsip-prinsip yang batil dan membinasakan dan meruntuhkan terhadap manhaj Salafiy dan pemeluknya. Dan terakhir Alloh membongkar manhaj ini dan pemeluknya –setelah lama bersembunyi- lebih banyak dan lebih banyak lagi dengan pembelaan Falih terhadp Abdullathif, kebatilannya, kedustaannya, dan kebohongannya terhadap Al Albaniy dan Ahlul Madinah, dan pujiannya serta pembelaannya terhadap Haddadiyyah dan ahlul batil yang lain yang dihadapi Asy Syaikh Robi’ dan dijelaskan oleh Asy Syaikh Robi’ kebatilan mereka saat dirinya menghadapi mereka, dan dirinya menerangkan manhaj Salafiy yang bertentangan dengan kebatilan-kebatilan dan prinsip-prinsip yang rusak itu.

Komentar ana:

            Yang kesepuluh dari sifat-sifat Haddadiyyah adalah: pembalaan terhadap hizbiyyin. Demikianlah Falih Al Harbiy membela Abdullathif dan gerombolan hizbiyyinnya yang membikin makar. Robb kita تعالى berfirman:

﴿وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا﴾ [النساء/105]

“Janganlah engkau menjadi pendebat untuk membela orang-orang yang berkhianat.” (QS. An Nisa: 105).

Juga berfirman سبحانه :

ولا تجادل عن الذين يختانون أنفسهم إن الله لا يحب من كان خوانا أثيما يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله وهو معهم إذ يبيتون ما لا يرضى من القول وكان الله بما يعملون محيطا هاأنتم هؤلاء جادلتم عنهم في الحياة الدنيا فمن يجادل الله عنهم يوم القيامة أم من يكون عليهم وكيلا    

“Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Alloh, padahal Alloh beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Alloh tidak ridhoi. Dan adalah Alloh Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kalian, kalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Alloh untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Alloh)?”(QS. An Nisa: 107-109).

            Adapun syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau حفظهم الله maka sesungguhnya mereka tidak melakukan itu dan tidak menyetujuinya. Mereka tidak membela hizbiyyin pada umumnya, tidak pula membela Abdullathif Basyumail, tidak pula membela seorangpun dari Haddadiyyin generasi pertama –pengikut Mahmud Al Haddad- ataupun yang baru –pengikut Falih Al Harbiy-. Dan sungguh syaikh kami حفظه الله telah mengulang-ulang ucapan: “Alloh tahu bahwasanya aku itu membenci sikap ghuluw, dan aku membenci Haddadiyyah. Andaikata aku tahu ada satu orang dari muridku adalah haddadiy pastilah aku akan mengusirnya.

Tidak ada pada beliau حفظه الله prinsip yang menyelisihi prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah إن شاء الله . Maka barangsiapa mengklaim (mengaku-aku) selain ini, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kami hujjah yang terang﴿

                                                                                                                                                            ما لكم كيف تحكمون          أفلا تذكرون         أم لكم سلطان مبين    فأتوا بكتابكم إن كنتم صادقين

“Apakah yang terjadi pada kalian? bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Maka Apakah kalian tidak memikirkan? Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.”(QS. Ash Shooffat: 154-157).

            Kita kembali kepada pembicaraan kita tentang orang yang membela mubtadi’ah.

Faidah: Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله ditanya: “Seorang sunniy jika membela ahlul bida’ wal ahwa seperti Al Qordhowiy, Az Zindaniy dan ahlul bida’ yang lainnya, apakah dia tetap sebagai seorang sunniy ataukah digabungkan dengan orang-orang yang dibelanya?

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka dalam masalah ini berbeda-beda. Di antara mereka ada yang membela mereka karena kebodohan, orang macam ini hendaknya disikapi dengan kesabaran dan dimaafkan atas kebodohannya. Di antara mereka ada yang membela mereka berdasarkan aqidah mereka dan dasar-dasar mereka, serta mengetahui keadaan mereka. Maka orang ini termasuk dari golongan mereka. Menunjukkan hal ini hadits ‘Itban bin Malik bahwasanya para shohabat رضوان الله عليهم mengambil dalil bahwasanya Malik bin Dukhsyum itu munafiq membela para munafiqin. Mereka berkata: “Sungguh kami melihat kecintaannya dan pembicaraannya adalah untuk para munafiqin,” hingga Rosululloh  صلى الله عليه وسلم mentazkiyyah dirinya. Malik  رضي الله عنهbukanlah munafiq. Qorinah (faktor penyerta) ini, para Shohabat  رضي الله عنهمmemakainya sebagai dalil, dan mereka adalah teladan. Sisi pendalilan kita adalah: bahwasanya orang-orang yang dulu ada di sisi Nabi  صلى الله عليه وسلم pada majelis tersebut memakai dalil dengan perbuatan itu bahwasanya Malik itu termasuk dari munafiqin, lalu Rosululloh  صلى الله عليه وسلم menjalaskan pada mereka bahwasanya Malik bin Dukhsyum itu mu’min, dan dia berkata: “La ilaha illalloh” yang dengannya dia mencari wajah Alloh, dan berita dari beliau ini datang melalui wahyu. Adapun perkara yang kita ada di atasnya sepeninggal Nabi  صلى الله عليه وسلم, dan sebagaimana perkataan Umar: “Barangsiapa menampakkan pada kami kebaikan, maka kami memberinya keamanan dan menerima dirinya. Dan barangsiapa menampakkan yang selain itu maka kami tidak memberinya keamanan dan tidak menerima dirinya walaupun dia berkata bahwasanya batinnya itu baik.” Maka kita hanya berhak menghukum lahiriyyahnya. Barangsiapa kita lihat dirinya bersama mereka dan membela mereka, maka dia itu termasuk dari golongan mereka. Kecuali jika dia berbuat itu karena kebodohan dan belum mendapatkan penjelasan, dan belum tahu keadaan mereka. Maka di sana ada dalil-dalil udzur bagi orang yang bodoh, yang sesuai dengan keadaan orang ini.” (“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 448-449/Darul kitab Was Sunnah).

[Pasal kedua Belas: Mereka Mengikuti Hawa Nafsu Hingga Keluar Dari Salafiyyah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dan dengan seluruh apa yang kusebutkan jadilah Falih dan gerombolannya telah keluar dari manhaj Salafiy dan menjadi termasuk lawan mahaj Salafiy yang paling jahat. Dan tampak bagi orang yang berakal bahwasanya merka itu lebih berbahaya bagi manhaj Salafiy dan pemeluknya, daripada setiap lawan dan kelompok-kelompok ahludh dholal.

Komentar ana:

Yang kedua belas dari sifat Haddadiyyah: Jelasnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله sebagaimana telah terdahulu beliau adalah orang yang pertama membantah Falih Al Harbiy, membongkar makarnya dalam menyerang para ulama sunnah,

﴿قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ الله يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَالله وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾ [آل عمران/73].

“katakanlah: sesungguhnya karunia itu adalah di tangan Alloh, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh itu Wasi’ (Mahaluas) Alim (Maha Mengetahui).” (QS. Ali ‘Imron: 73).

Falih Al Harbiy dan pengikutnya adalah ahlul hawa wal bid’ah.

Demikian pula kedua anak Mar’i dan gerombolannya. Tampak bagi orang yang berakal dan memperhatikan dalil-dalil dan mencari kebenaran, bahwasanya mereka telah keluar dari manhaj Salafiy dan menjadi termasuh lawan mahaj Salafiy yang paling jahat. Kami telah mendapatkan dari mereka permusuhan yang keras dan tidak kami dapati dari kebanyakan kelompok-kelompok ahludh dholal, akan tetapi kami tidak mengatakan bahwasanya mereka itu adalah ahludh dholal yang paling berbahaya pada segala sisinya.

Syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله berkata: “… agar diketahui bahwasanya para hizbiyyin yang baru itu telah menjadi lebih jahat dan dusta atas nama dakwah daripada kebanyakan Ikhwanul Muslimin dan pecahan-pecahannya. Munculnya perkara mereka dengan keadaan ini menjadikan orang yang mencintai Dakwah Salafiyyah membuat perbandingan tentang mereka dan menjadi tahu lebih banyak lagi.” (“Ma Yashna’ul A’da Fi Jahil…”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/hal. 1).

Maka mereka adalah ahlul ahwa wal bida’ dikarenakan mereka berpaling dari kebenaran dan petunjuk setelah datang kepada mereka. Alloh ta’ala berfirman:

  ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطا [الكهف/28].

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

          Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Maka Alloh menjadikan perkara ini terbatas di antara dua perkara saja, yaitu: mengikuti adz Dzikr dan mengikuti hawa nafsu. Dan Alloh berfirman:

 ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله إن الله لا يهدي القوم الظالمين  [القصص/50].

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun.”

Dan ayat ini seperti ayat yang tersebut sebelumnya. Dan renungkanlah ayat ini, karena sesungguhnya dia itu terang-terangan menjelaskan bahwasanya barangsiapa tidak mengikuti petunjuk Alloh demi hawa nafsunya, maka tiada seorangpun yang lebih sesat daripada dirinya. Dan inilah karakter mubtadi’.” (“Al I’tishom”/1/hal. 33).

[Pasal Ketiga Belas: Kedustaan, Kebohongan Terhadap Ahlussunnah, Pengkhianatan, dan pemotong-motongan kalimat]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesembilan: Bahwasanya mereka berdusta atas nama Asy Syaikh Robi’ dan orang yang menolong beliau dalam kebenaran dari kalangan ulama dan anggota jaringan “Sahab As Salafiyyah” bahwasanya mereka adalah Murjiah, dan bahwasanya mereka adalah jenis lain dari jenis-jenis Murjiah. Mereka berdusta –demi Robb langit dan bumi- secara global dan rinci. Asy Syaikh Robi’ dan para sahabatnya telah terkenal dalam memerangi kebid’ahan semuanya, termasuk bid’ah irja dengan segala jenisnya. Terakhir mereka mensifati Asy Syaikh Robi’ dan para sahabatnya sebagai Rofidhoh, Shufiyyah, dan … (kalimat yang aku tak sanggup menceritakannya) (!!!). Haddadiyyah itu punya kedustaan, kebohongan, khianat, dan aneka pemotongan kalimat orang yang mereka ingin menempelkan kepadanya satu tuduhan dari tuduhan-tuduhan yang besar. Mereka punya kedustaan dan penyelewengan kalimat dalam membela anggota mereka dan orang yang memimpin mereka. Dengan karakter yang buruk ini mereka menyerupai Rowafidh dan kelompok-kelompok serta partai-partai yang sesat.

Komentar saya:

            Yang ketiga belas dari sifat Haddadiyyah adalah: kedustaan, kebohongan. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau tidaklah berdusta atas nama Asy Syaikh Robi’ dan yang bersama beliau bahwasanya mereka itu Murjiah, ataupun menuduh mereka sebagai jenis lain dari jenis-jenis Murjiah, ataupun kebatilan-kebatilan yang lain. Barangsiapa mengklaim yang selain ini maka dia harus mendatangkan kepada kami hujjah yang terang. Jika dia tak sanggup mendatangkannya, maka ketahuilah bahwasanya Syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu memang bersih dari haddadiyyah, dengan taufiq dan karunia dari Alloh ta’ala.

Bahkan Syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu tidak membikin kedustaan terhadap kedua anak Mar’i ataupun Muhammad Al Wushobiy, ataupun Ubaid Al Jabiriy. Hanya saja, orang-orang yang zholim itu sendirilah yang memilih jalan yang jahat dan penuh tipu daya dan kezholiman tersebut, sehingga para Salafiyyun menghukumi mereka dengan vonis yang mereka berhak untuk mendapatkannya.

Para ulama yang cemburu terhadap Islam dan sunnah serta para para thullab yang berpandangan tajam telah menjelaskan banyaknya kedustaan Mar’iyyin, kebohongan dan pengkhianatan mereka, serta kesengajaan mereka dalam memotong-motong kalimat orang yang mereka ingin menempelkan kepadanya satu tuduhan dari tuduhan-tuduhan yang besar, kedustaan dan penyelewengan kalimat.

Dan manakala klaim (pengaku-akuan) itu –sama saja dari kami ataupun dari lawan kami- tidak diterima tanpa adanya bayyinah, maka saya akan menyebutkan sedikit perkara yang disebutkan oleh Ahlussunnah dari kedustaan-kedustaan yang dibuat oleh Mar’iyyun.

Di antara kedustaan-kedustaan Mar’iyyun dan kebohongan mereka terhadap Ahlussunnah di Dammaj adalah sebagai berikut:

Di antara tuduhan-tuduhan Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله adalah perkataannya kepada Al Akh Kamal Al ‘Adniy حفظه الله pada permulaan fitnah ini: “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh Yahya tidak mempedulikan orang-orang ‘Adn.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23/ Kamal Al ‘Adniy).

      Di antaranya adalah ucapan Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy kepada Ahmad bin Ali Syuwaith Al Hasyidiy حفظه الله di permulaan fitnah: “Orang ini –yaitu Syaikhuna Yahya حفظه الله – ingin menyeret kita di atas hidung-hidung kita. Sunnah siapakah ini? Sunnah siapakah ini?” dia mengulang-ulanginya. (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 25).

      Al Akh Hamud Al Wailiy حفظه الله berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah sebagian ucapan yang aku dengar dari Asy Syaikh Abdurrohman هداه الله . aku pada suatu hari ada di luar masjid Mazro’ah setelah sholat Zhuhr, aku berjalan bersamanya dari pintu masjid hingga kami sampai di depan rumah Shodiq Al ‘Abdiniy, Asy Syaikh Abdurrohman diberi tahu bahwasanya Asy Syaikh Yahya berbicara terhadap sebagian masyayikh pada awal fitnah. Maka Asy Syaikh Abdurrohman berkata: “Dia mengkafirkan mereka” Maksudnya adalah: Asy Syaikh Yahya mengkafirkan mereka. Maka aku menjawab: “Bukan wahai Syaikh, ucapan beliau hanyalah nasihat.” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 28).

            Abdurrohman Al ‘Adniy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau tidak ingin Abdurrohman Al ‘Adniy punya markiz. (persaksian akh Abu Mahmud Al Libiy/“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 29).

Dan tuduhan ini tidaklah benar. Justru di hadapan kami para thullab Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bilang ingin Abdurrohman Al ‘Adniy punya markiz, bahkan lebih dari satu markiz. Hanya saja semangat dia dan anak buahnya untuk mengajak para thullab Dammaj untuk keluar dari Dammaj dan bergabung dengan markiznya yang belum lagi jadi itulah yang menyebabkan beliau dan para ulama Dammaj melihat adanya makar di balik itu. Apalagi ditambah dengan pengakuan dirinya sendiri pada pertemuan masyayikh yang pertama bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh dan fitnahnya padam –beberapa tahun sebelum itu-, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

Abdurrohman Al ‘Adniy juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau itu dengki dan zholim. (“Al Muamarotul Kubro”/hal. 19).

Tuduhan ini juga tidak benar. Apa yang aku sebutkan barusan cukup untuk membantahnya. Aku juga mendengar berkali-kali Syaikh kami Yahya menyemangati para thullab Darul hadits Dammaj untuk mengambil faidah dari Abdurrohman Al ‘Adniy ketika masih tinggal di Dammaj, dan beliau juga meminta Abdurrohman Al ‘Adniy untuk menyelenggarakan dars-dars, khuthbah dan selain itu.

Ini tadi sebagian tuduhan dan kedustaan Abdurrohman Al ‘Adniy terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy.

Adapun yang dilakukan oleh Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya adalah: mereka menuduh dan membuat kedustaan terhadap sebagian saksi dengan perkara-perkara yang mereka itu bersih darinya. Di antaranya adalah:

Mereka menuduh bahwasanya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy mengirimkan mata-mata kepada Abdulloh bin Mar’i. (bacalah “Naqdhur Rodd”/4/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله).

            Dan mereka menuduh beliau menyimpan dendam dan permusuhan. (bacalah “Naqdhur Rodd”/5).

            Dan mereka menuduh beliau bahwasanya beliau berkata bahwasanya Abdulloh bin Mar’i  memasukkan ke dalam kantongnya sendiri suatu keuntungan dari ma’had komputer. Maka Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy حفظه الله menjawab: “Dari mana kalian mendapatkan ucapan macam ini? Dan siapakah dari kami yang mengucapkan itu? Akan tetapi memang kalian itu adalah kaum yang tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap lawannya dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Kalian ingin memperburuk citra orang itu dengan cara apapun.” (“Naqdhur Rodd”/14).

Mereka berdusta dan menuduh Asy Syaikh Abu Bilal Al hadhromiy حفظه الله bahwasanya beliau telah mempersiapkan untuk melakukan semisal apa yang beliau lakukan hari ini –yaitu: berbicara tentang Abdulloh bin Mar’i  di hadapan manusia-. (“Naqdhur Rodd”/19).

Mereka berdusta dan menuduh akhona Ba Roidiy Al ‘Amudiy bahwasanya beliau mengaku-aku bahwasanya tanah dakwah tersebut adalah miliknya. (“Naqdhur Rodd”/18).

Termasuk kedustaan yang dibikin hizb Mar’iyyah:

Seorang penulis gelap yang menamakan dirinya Abdulloh bin Robi’ menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mencerca para ulama dan da’i([25]) , sebagaimana dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 7-17). Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy”(hal. 7).

Bahkan dirinya juga berdusta atas nama Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله demi membuka peluang untuk memukul Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله . Lihat perinciannya dalam bantahan Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy”(hal. 19)).

Abdulloh bin Robi’ dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 26) ini juga menuduh para pengkritik bahwasanya mereka menempuh seluruh jalan dan sarana untuk melancarkan serangan gencar. Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).

Dia pada hal. 37 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berdusta. Tuduhan dia telah dibantah oleh Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).

Dia pada hal. 18 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya bantahan-bantahan beliau kepada para penyelisih adalah dalam rangka mencari pemuasan jiwa. Tuduhan dia telah dibantah oleh Yusuf bin ‘Id Al Jazairiy حفظه الله dalam risalah “Jinayatu Abdirrohman Al ‘Adniy” (hal. 49 dan setelahnya).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah berkata kurang lebih mirip dengan perkataan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Apakah kalian mengira bahwasanya kami ingin mencari pemuasan jiwa dan kami berbicara tentang Ikhwanul muflisin, atau kami ingin berbicara tentang para anggota jam’iyyatul Hikmah, tidak, demi Alloh, kami tidak ingin berbicara tentang mereka. Akan tetapi agama inilah yang mengharuskan kami amalan ini.” (“Qom’ul Mu’anid”/1/hal. 72).

Abdulloh bin Robi’ pada halaman 3 juga menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliaulah yang mengangkat bendera fitnah ini. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 2-3 dan 12).

Dia juga (pada juz 1/hal. 3) menyatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dalam jarhnya pada Abdurrohman Al ‘Adniy tidak memberikan penjelasan. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 3).

Dan termasuk dari tuduhan hizbiy tersembunyi yang pendusta ini (pada juz 1/hal. 11-12) adalah bahwasanya perkataan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Aku tidak takut kepada seorangpun” dan “Aku tidak berbasa-basi pada seorangpun” dan yang semisal itu merupakan bentuk tho’n kepada ulama. Ini menunjukkan kebodohan si penulis pengecut ini tentang definisi tho’n. Maka tuduhan ini telah dibantah oleh Abu Umamah Abdulloh Al Jahdariy حفظه الله dalam “Bayanud Dass Wat Talfiqot” hal. 7 dan setelahnya).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ورعاه bahwasanya sebagian pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy mengeluarkan tulisan dengan judul “Al Hajuriy Takallama Fid Daulatis Su’udiyyah.” (Al Hajuriy berbicara tentang pemerintah Saudi). Atau yang seperti itu. Barangkali mereka menginginkan agar Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy tertimpa suatu musibah seperti yang menimpa Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dari arah pemerintah Saudi حرسها الله وسدده yaitu sikap keras dan larangan masuk, dan yang selain itu, dan agar para ulama Saudi حفظهم الله bersikap keras kepada beliau. Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah menjelaskan kedustaan hizb baru itu dan bahwasanya seluruh serangan mereka pada tahun-tahun ini –yaitu sekitar tahun 1429 H dan yang sebelumnya- menunjukkan bahwasanya mereka itu lebih pendusta daripada para pengikut Abul Hasan.

Dan termasuk dari kedustaan mereka adalah apa yang dikabarkan oleh akh Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : “Abdul Ghofur berkata padaku –dan di antara diriku dan dirinya hanya Alloh saja-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah. Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah melarang kedatangan pada masyayikh dari Saudi.” Maka kukatakan padanya: “Siapakah yang mengabarimu?” dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku hal itu.”

Tuduhan dan kedustaan merupakan senjata hizbiyyin. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berbicara tentang ahlul bida’: “Dia tidak bisa menghadapi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan dan kebohongan. Ini dalam sejarah terdahulu. Ini juga ada sekarang, pada ahlul bida’ pada zaman ini. Mereka tidak memerangi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan, kebohongan dan tuduhan.” (“Syarh ‘Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/hal. 314).

Sungguh disesalkan bahwasanya kedustaan dan berita bohong Mar’iyyah itu sedemikian banyak dan telah ditampilkan selama bertahun-tahun, tapi terus saja sebagian orang-orang mulia ,embela mereka dalam keadaan mereka tidak sanggup membatalkan argumentasi Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau. Tapi justru sebagia orang mulia mencerca dengan tuduhan sebagai Haddadiyyun tanpa bisa menampilkan hujjah. Semoga Alloh –dan Dia adalah Dzat yang palling penyayang- menyelamatkan kita dan orang-orang mulia itu dari tipu daya ahli batil. Sesungguhnya Alloh lebih menyayangi kita daripada diri kita sendiri. Sesungguhnya harapan kita pada-Nya itu besar sekali.

Dan termasuk pengkhianatan-pengkhianatan para Mar’iyyin dan penipuan mereka sebagai berikut:

Bagian pertama: Penipuan Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap umat

            Dia mentho’n Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, maka hal itu termasuk upaya melarikan umat dari beliau dan dari markiz Salafiyyah ini, dan menghalangi orang dari menerima ucapan-ucapan beliau, dan dia menipu manusia dan menyebabkan mereka terhalang dari mengambil faidah dari beliau.

Demikian pula usaha dia untuk mengeluarkan para pelajar Dammaj dari markiz induk untuk pindah ke markiz khayalan pada hari itu, dan dorongan para pengikutnya terhadap para pelajar untuk menjual rumah-rumah mereka yang ada di Dammaj, maka ini merupakan usaha nyata untuk melarikan manusia. Dan kita berlindung kepada Alloh dari kebutaan atau pura-pura buta.

            Demikian pula pengarahan dia kepada Salafiyyin untuk mengambil ilmu dari Abul Khoththob Al Libiy Al Hasaniy yang Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri telah men-jarh dirinya.

Demikian pula pujiannya kepada Abdul Ghofur Al Lahjiy Al Jam’iy Al Hasaniy bahwasanya dirinya adalah da’i yang berada di atas ilmu dan bashiroh.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka jika dia diam terhadap orang yang berhak untuk di-jarh dan ditahdzir, maka sungguh dia itu menjadi seorang pengkhianat dan penipu terhadap agama Alloh dan muslimin.” (“Al Mahajjatul Baidho”/hal. 28-29).

Ini jika dia diam dari orang macam tadi. Maka bagaimana jika diamnya tadi digabungkan dengan pujian kepadanya?!

Maka memang sudah sepantasnya manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata: “Abdurrohman Al ‘Adniy itu ghosysyasy (penipu).”

Adapun berita-berita tentang penipuan anak buah Abdurrohman Al ‘Adniy maka ada di “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 80/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Az Za’kariy), “nashbul Manjaniq” (hal. 98/karya Yusuf Al Jazairiy), “Syarorotul Lahab” (1/hal. 18 dan 2/hal. 8 karya Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 33/karya Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy), dan yang lainnya.

Bagian kedua: Penipuan Abdulloh bin Mar’i terhadap umat

            Adapun Abdulloh bin Mar’i  maka sungguh dia telah menipu Muslimin dan mengkhianati mereka dari beberapa sisi: yang pertama: Dia berbangga-bangga dan bersumpah dengan nama Alloh ta’ala bahwasanya dia adalah termasuk orang yang paling tahu tentang Abul Hasan, dan bahwasanya dia pernah melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan pada tahun 1413 H. Dan mengklaim bahwasanya Abul Hasan punya lima puluh kesalahan. Akan tetapi ketika api fitnah Abul Hasan menyala sekitar tahun 1421 H, Abdulloh Mar’i diam dan tidak mau memberikan bayan dalam keadaan umat berada pada puncak kebutuhan kepada bimbingan –karena besarnya bahaya bid’ah Abil Hasan. Bahkan dia terus-menerus diam dalam keadaan satu persatu sahabatnya terjatuh ke dalam jaring-jaring orang tadi.  (Lihatlah berita-berita yang menyedihkan pada hari-hari itu di risalah “Zajrul ‘Awi” /3/hal. 280-34/karya Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy menghukumi perbuatan macam ini sebagai penipuan kepada umat. Beliau berkata: “Bahwasanya Alloh mewajibkan kepada kita nasihat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran. Dan tidak diragukan bahwasanya menyelisihi apa yang Alloh terangkan di dalam kitab-Nya yang berupa perkara aqidah, dan dijelaskan oleh Rosululloh  صلى الله عليه وسلم dalam sunnah beliau dan jalan beliau merupakan termasuk kemungkaran yang terbesar. Melalaikannya dan diam dari memberikan bayan setelah mengetahuinya merupakan ghosysy (penipuan) dan pengkhianatan yang terbesar terhadap Islam dan Muslimin, terutama jika penyembunyian dan sikap diam ini disertai dengan talbis  dan tamwih (pengkaburan)…” dst. (“Matho’in Sayyid Quthb”/hal. 34).

Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i : pujiannya kepada Abul Hasan Al Ma’ribiy dan sebagian pengikutnya. Ketika datang kepadanya akh Muhammad As Saumahiy dan sekelompok pemuda pada masa-masa fitnah Abul Hasan, mereka ingin menasihati orang-orang Syihr agar tetap kokoh. Ternyata Abdulloh bin Mar’i  berkata: “Fitnah ini, mereka ingin menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul Hasan itu jabal (gunung).” (risalah “Zajrul ‘Awi” /3/hal. 280-34/karya Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy).

Syaikhuna Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadromiy dalam sumber yang sama menyebutkan bahwasanya Abdulloh bin Mar’i sering memuji Nabil Al Qu’aithiy yang mencabut lembaran bayan para ulama yang berisi pemboikotan terhadap Abul Hasan. Si Nabil ini merupakan salah satu orang dekat Abdulloh Mar’i, satu sama lain saling menyanjung. Si Abdulloh memperkenalkan Si Nabil dan mempercayainya, dan berkata: “Kita mempercayainya untuk dakwah, dan mempersilakannya untuk berbicara di masjid-masjid kita.” Orang ini terpercaya di sisi Abdulloh Mar’i. Dulunya si Nabil ini adalah salah satu tokoh besar pembela Abdulloh Al Ahdal (fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan Al Mishriy). Selesai.

Jika seseorang berkata: Abdulloh bin Mar’i telah tobat dari fitnah Abul Hasan!” kami jawab وفقنا الله : Telah kami jelaskan kedustaannya dalam risalah kami: “At Taroju’atus Siyasiyah” maka orang yang ingin mengetahui hakikat orang ini hendaknya merujuk ke risalah ini.

Dan di antara penipuannya kepada umat adalah: syiar-syiarnya dan prinsip-prinsipnya yang rusak yang menyesatkan. Silakan rujuk “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (hal. 8/cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/karya sang penulis). Maka renungkanlah berapa banyak pelajar yang akan tersesat disebabkan oleh prinsip-prinsip dan syiar Abdulloh bin Mar’i  dan mereka mengira ada di atas jalan yang lurus?

Di antara penipuannya juga adalah: kasus madrasah anak-anak. Abdulloh bin Mar’i  dan pengikutnya mengumumkan dibukanya “Madrosatul Aulad” gratis. Manakala para orang tua mempercayai mereka dan meletakkan anak-anak mereka di sekolah itu, Abdulloh bin Mar’i merubah alur untuk meraup uang dari mereka. Dia dan anak buahnya memang ahli memanfaatkan rasa malu orang untuk tidak menginfakkan harta.

Abu Ibrohim Muhammad bin Farh Baroidiy Asy Syihriy حفظه الله berkata: “Mereka telah menyebarkan pengumuman di masyarakat pada awal pendirian sekolah ini bahwasanya pendidikan di sekolah ini gratis. Kemudian tiba-tiba saja Abdulloh bin Mar’i  berkumpul dengan para orang tua murid, memberikan nasihat dan pengarahan kepada mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka kondisi dakwah dan kebutuhan-kebutuhannya, dan hutang yang dipikul oleh dakwah, dan bahwasanya para pengajar butuh gaji, kemudian dia melontarkan ide pada mereka agar orang yang mampu hendaknya membayar limaratus real Yamaniy tiap bulan per murid. Apa yang terjadi setelah penentuan ini?

Abdur Qodir Asy Syihriy berkata: “Aku berjumpa dengan orang yang bertugas mengambil SPP murid dari orang tua mereka, dalam keadaan dia mengeluhkan sebagian orang tua yang mampu membayar SPP tapi tak mau membayar. Maka kutanyakan pada petugas itu: “Berapakah SPP mereka perbulan?” Dia menjawab: “Limaratus reyal.” Aku katakan: “Berarti dalam setahun tiap anak wajib bayar enam ribu reyal. Kenapa kalian tidak mengambil sekalian saja satu kali tiap awal tahun?  Itu lebih mudah bagi mereka.” Petugas tadi berkata: “Kami tak ingin memungut SPP mereka dengan sekali ambil, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk menyodorkan limaratus real per bulan, makanya mereka menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari mereka membayar empat ribu per bulan atas nama anaknya.” (lihat “At Tajawwul Fi Ba’dhi Ma ‘Inda Abdulloh bin Mar’i  Al ‘Adniy Minat Tasawwul”/ Abu Ibrohim Muhammad bin Farh Baroidiy Asy Syihriy /hal. 6).

Termasuk dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i  juga adalah: apa yang dikatakan oleh Asy Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata pada Abdulloh Mar’i dan pengikutnya: “Apa yang kalian sebutkan bahwasanya kalian berdiri bersama saudara-saudara kita orang orang asing ini, kami tidak melihat hasil yang semestinya, sementara sebagian dari saudara-saudara kita orang orang asing telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian lagi dimasukkan penjara di Shon’a dikarenakan kalian tidak memberikan pada mereka surat idzin tinggal sebagaimana yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari saudara-saudara kita orang-orang asing mengeluhkan beberapa perkara yang mereka lihat. Dia berkata: “Mereka (anak buah Abdulloh Mar’i) mengambil dari setiap orang dari kami uang sebanyak tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam bulan, tapi sebagian dari kami tidak belajar di ma’had (Ma’hadul Hasub Wal Lughot yang ada di bawah pengawasan Abdulloh Mar’i) kecuali sekitar dua bulan saja, sisanya (empat bulan) kami belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang dipimpin Abdulloh Mar’i) dan kami tidak pergi ke ma’had karena pemerintah melarang pelajaran bahasa Arab di situ karena tiada surat idzin. Walaupun demikian mereka (anak buah Abdulloh) tidak mengembalikan sisa uang kami.”

Dan sebagaimana diketahui bersama –dari penjabaran terdahulu- sebagaimana perkataan dewan Ma’had bahwasanya Ma’hadul Hasub Wal Lughot tidak punya kaitan dengan Darul Hadits di Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka mengambil uang saudara-saudara kita orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari ucapan mereka “berdiri bersama saudara-saudara kita orang-orang asing”? kami ingatkan dewan Ma’had dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim: “Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut? Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka.” (HR. Muslim). (selesai penukilan dari “Naqdhur Rodd”/hal. 15).

Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i adalah: Abdulloh bin Mar’i telah meminta kepala Jam’iyyah Shoyyadil Khour (jam’iyyah nelayan yang ada di Khour) di Syihr agar Jam’iyyah ini ikut ambil bagian menyumbang pembangunan atap yang tinggi dari masjid “At Taqwa”, maka sang kepala memberinya seratus ribu real. Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya dipakai untuk membangun atap bangunan tinggi  masjid, ternyata sampai saat ini (sekitar tahun 1428 H) mereka tidak juga melaksanakan pembangunannya sedikitpun padahal sudah lewat hampir tiga tahun. (lihat “At Tajawwul”/hal. 6-7).

            Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatannya juga adalah: dia menjerumuskan sebagian Salafiyyin ke dalam jam’iyyat bersamaan dengan adanya beberapa penyelisihan syariah di situ, hingga sebagian dari mereka menjadi kepala beberapa bagian dari jam’iyyah. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy/hal. 20-21).

Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatannya juga adalah: fatwa-fatwanya yang bersifat menggampangkan masuk ke dalam beberapa perkara yang harom dengan alasan “darurat”, seperti masalah gambar makhluk bernyawa. (lihat “Naqdhur Rodd”/karya Asy Syaikh Abu Bilal Al Hadhromiy/hal. 20-21).

Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i  dan pengikutnya juga adalah: adanya perbedaan antara pertanyaan yang mereka tanyakan kepada Ubaid Al Jabiriy dalam kasus tanah waqof dengan apa yang mereka katakan dalam risalah “Al Mi’yar” dan “Ar Roddul Mansyud”. (Bacalah “Nushrotusy Syuhud” (hal. 13-14) dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 5-6), keduanya karya Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy  حفظه الله).

Dan perbuatan ini seperti perbuatan salah seorang pengikut Abul Hasan Al Mishriy ketika bertanya pada Al Imam Al Albaniy رحمه الله tentang masalah hadits ahad, lalu dia menjadikan jawaban beliau sebagai pukulan terhadap Ahlussunnah, padahal aqidah beliau dalam masalah ini sama persis dengan aqidah Ahlussunnah. Asy Syaikh Robi’ وفقه الله telah menghukumi si penanya sebagai ghosysyasy (penipu). (bacalah dengan lengkap “Baroatu Ahlissunnah”/Asy Syaikh Robi’ /hal. 213).

Dan termasuk dari penipuan dan pengkhianatan Abdulloh bin Mar’i  dan pengikutnya juga adalah: mereka menukilkan jawaban Ubaid Al Jabiriy tentang tanah waqof yang mereka tanyakan tadi dalam malzamah mereka, sebagai argumentasi untuk memukul lawan mereka, tanpa mau menyebutkan teks pertanyaannya. Andaikata mereka mencantumkan soal tadi niscaya akan terbongkar kedustaan mereka إن شاء الله . (Bacalah dengan teliti pembahasan ini dalam “Nushrotusy Syuhud” (hal. 13-14) dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 5-6), kedua risalah ini telah tersebar).

Kesimpulannya adalah: ghosysy dan khianat sebagai bagian dari karakter Haddadiyyah. Dan kami dengan taufiq dari Alloh telah menunjukkan bayyinah yang beraneka ragam tentang penipuan dan pengkhianatan Mar’iyyin. Maka merekalah Haddadiyyun dalam bab ini bagi orang yang adil dalam menerima kebenaran.

Adapun masalah penyelewengan lafazh dan makna dan pemotong-motongan kalimat yang dilakukan oleh Mar’iyyin adalah sebagai berikut:

            Abdulloh bin Mar’i dan pengikutnya punya bagian dalam penyelewengan kalimat lawan, kemudian menjatuhkan vonis kepadanya berdasarkan kalimat yang telah diselewengkan tadi. Lihatlah risalah “Al Minzhorul Kasyif” (hal. 9-10) dan “Naqdhur Rodd” (hal. 20-21).

Dan termasuk perkara yang menunjukkan busuknya hizb pendusta tersebut adalah pemotongan beberapa kalimat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله pada kejadian Jami’ah Islamiyyah hingga terjadi adu domba yang keras antara syaikh kami حفظه الله dengan Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله.

Dan di antara kebusukan hizb pendusta ini adalah: mengotak-atik lafazh dari ucapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله sebagai berikut:

Saudara kita Abu Muslim Abdul Mun’im Al Libiy وفقه الله mengirimkan secarik kertas lalu dibaca oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله di hadapan para thullab, di dalamnya berisi: “Akh Zakariya Al Libiy menelpon kami, dan dia sekarang ada di Madinah, dan dia ingin datang ke Darul Hadits Dammaj حرسها الله untuk menuntut ilmu  –sampai pada ucapannya:- dia menyebutkan bahwasanya ada kaset yang beredar di tangan ikhwah untuk mereka perdengarkan kepada setiap orang yang ingin pergi ke Dammaj di sisi Asy Syaikh Yahya حفظه الله bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله memberdirikan para pelajar di majelis dan beliau memberikan pertanyaan padanya: “Apakah Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy hizbiy ataukah salafiy?” jika murid itu menjawab bahwasanya beliau itu hizbiy, maka dia diizinkan duduk. Jika bilang bahwasanya beliau itu salafiy maka Asy Syaikh Yahya mengusirnya dari majelis.” Selesai.

Dari murid anda Abu Muslim Abdul Mun’im Al Libiy.

Kukatakan وفقني الله: pembacaan surat ini terjadi dua tahun sebelum Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy terang-terangan menghizbikan Ubaid Al Jabiriy. Dan ribuan thullab Darul Hadits ini menjadi saksi Alloh di muka bumi bahwasanya kaset tadi adalah dusta, hasil dari perbuatan para pendusta pengotak-atik kalimat lagi pengkhianat, mereka tak punya sifat amanah dan kejujuran dalam menukilkan ucapan. Telah gagal dan rugi dagangan mereka sehingga mereka berpaling ke arah kedustaan dan kebohongan. Tak pernah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berbuat seperti itu sejak dulu hingga sekarang.

Dan di antara para penyeleweng kalimat dari kalangan pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy adalah: Samir bin Muhammad Ali Al ‘Udhoh. Dia adalah muta’ashshib dalam fitnah ini, dia menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya dan mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy أعز الله مقامه. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17).

Dan termasuk dalam bab ini adalah: Ada seseorang yang mengambil kaset ucapan Syaikhuna Yahya -حفظه الله-, memotong-motongnya, lalu menggandengkannya sehingga jadilah ucapan tadi berubah menjijikkan. Lalu kaset modifikasi tadi diambil oleh Al Idrisy di Shon’a dan dilariskannya, -sebagaimana kata Syaikhunal Fadhil Thoriq Al Ba’dany حفظه الله-, diambil oleh para pengikut Abul Hasan dan mereka sebarkan kemana-mana Dan termasuk orang yang mengambilnya untuk memukul Syaikhuna Yahya -حفظه الله-,adalah Nu’man bin Abdul Karim Al Watar. Kemudian isi berita itu juga disebarluaskan oleh sebagian Mar’iyyun untuk memukul Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam fitnah ini. Dan akan datang tambahan pembicaraan tentang hal ini pada pasal kelima belas إنشاء الله.

Maka mereka dengan karakter yang jelek ini menyerupai Haddadiyyah, dan hizbiyyin yang lain.

Setelah bayyinah ini semua –dan telah tersebar di sebagian risalah para ikhwah, dan ini hanyalah sebagian dari apa yang ada di sini kami- maka bagaimana orang-orang mulia itu tidak menggerakkan lisan dan pena mereka untuk menghukumi Mar’iyyin sebagai hizbiyyin? Aku yakin andaikata Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله beliau itulah yang terjatuh ke dalam keburukan-keburukan itu –semoga Alloh melindungi beliau darinya- pastilah mereka meneriaki beliau dan menghukumi beliau telah menyeleweng.

            Kita kembali pada inti perbincangan kita. Maka hizb baru itu telah menyelisihi dalil-dalil qoth’iy yang memerintahkan mereka untuk jujur dan amanah serta menjaga jama’ah, dan melarang mereka dari semisal perbuatan-perbuatan yang buruk itu. Dalam keadaan mereka berbuat demikian tadayyunan (sebagai bagian dari pengamalan agama mereka), dan mereka enggan untuk kembali setelah ditegakkannya hujjah terhadap mereka. Kebanyakan dari mereka meyakini yang demikian dalam rangka menolong agama mereka. Sebagian dari mereka saat dinasihati untuk meninggalkan hizbiyyah tersebut mereka berkata: “Ini adalah aqidah yang tidak mungkin kutinggalkan”, “Ini adalah aqidah di dalam hatiku, aku tak bisa rujuk darinya”, “Bagaimana aku bertobat dalam keadaan hal ini adalah aqidah di dalam hatiku?”, “Ini adalah perkara yang kuyakini dalam hatiku, aku tak bisa terbebas darinya.”

Maka seperti ini adalah kesesatan dan kebid’ahan. Al Imam Abul Muzhoffar As Sam’aniy رحمه الله berkata: “Seluruh perkara yang termasuk bagian dari ushulud din (prinsip-prinsip agama) maka dalil-dalilnya itu terang dan jelas, dan orang yang menyelisihi dalam perkara tadi adalah pembangkang yang menentang perkara yang dalilnya nyata. Dan wajib untuk menghukumi orang tadi sebagai orang yang sesat, dan disyariatkan untuk berlepas diri darinya.” (“Qowathi’il Adillah” (5/hal. 13)).

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang jenis kedua dari orang yang bid’ah itu dinisbatkan kepadanya: “Dia adalah orang yang tidak bisa mengambil istimbath dalil dengan sendirinya, tapi dia hanyalah mengikuti orang lain yang sanggup melakukan istimbath. Akan tetapi manakala orang jenis ini menyetujui syubhat tadi dan membenarkannya dan dia berdiri di posisi orang yang diikutinya tadi dikarenakan dirinya menyeru manusia kepada syubhat tadi, karena syubhat tadi telah merasuk ke dalam hatinya, maka dia itu semisal dengan orang tadi sekalipun tidak sampai kepada keadaan dirinya, akan tetapi kecintaannya pada madzhabnya tadi telah menetap di dalam hatinya hingga membangun permusuhan dan loyalitas berdasarkan hal itu. Orang jenis ini tidaklah kosong dari pencarian dalil meskipun berdasarkan dalil yang paling umum, maka dia digabungkan kepada orang yang telah bisa melihat kepada syubhat, sekalipun dia itu awam, karena dirinya telah mencoba masuk ke wilayah istidlal dalam keadaan dia tahu bahwasanya dirinya itu tidak tahu bagaimana cara melihat dan apa yang dilihatnya.” (“Al I’tishom”/1/hal. 113).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bid’ah itu adalah apa yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah serta ijma’ Salaful ummah, baik berupa keyakinan, dan ibadah-ibadah, seperti ucapan-ucapan Khowarij, Rowafidh, Jahmiyyah, dan seperti orang-orang yang beribadah dengan tarian, dan nyanyian di masjid-masjid, dan orang-orang yang beribadah dengan mencukur jenggot, memakan ganja, dan aneka jenis itu tadi termasuk dari bid’ah-bid’ah yang dengannya para kelompok penyelisih Al Kitab dan As Sunnah beribadah. Wallohu a’lam.” (“Majmu’ul Fatawa”/18/hal. 346).

Maka Mar’iyyun itulah yang lebih pantas dikatakan sebagai Haddadiyyun menurut orang-orang yang menilai hujjah dengan timbangan syariat, keadilan dan akal.

[Pasal Empat Belas: Banyaknya sifat nifaq di kalangan hizbiyyin]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهberkata setelah menyebutkan kekejian Rowafidh yang di antaranya adalah loyalitas mereka kepada orang-orang kafir untuk menentang Muslimin: “Maka mereka itu lebih besar bahayanya terhadap agama ini dan pemeluknya, dan lebih jauh dari syariat-syariat Islam daripada khowarij Haruriyyah. Oleh karena itulah mereka menjadi sempalan umat yang paling pendusta. Maka tiada pada kelompok-kelompok yang menisbatkan diri ke kiblat Ka’bah yang lebih banyak kedustaan, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap kejujuran daripada mereka. Lebih-lebih lagi kemunafikan pada mereka lebih jelas daripada kemunafikan di seluruh manusia. Dan dia itulah yang disabdakan Nabi  صلى الله عليه وسلم :

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »

“Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia berjanji maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan berkhianat.” (HSR Al Bukhori (33) dan Muslim (109))

Dalam suatu riwayat:

«‏أربع من كن فيه كان منافقًا خالصًا، ومن كان فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها‏:‏ إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر»] اهـ.

“Ada empat karakter, barangsiapa empat karakter tadi ada padanya, maka jadilah dia itu munafiq yang murni. Dan barangsiapa ada padanya salah satu dari karakter kemunafikan tadi, maka pada dirinya salah satu dari karakter kemunafikan sampai dia meninggalkannya: jika dia berbicara maka dia berdusta. Jika dia berjanji maka dia mengingkarinya, dan jika dia dipercaya maka dia akan berkhianat, dan jika bertengkar dia berbuat fujur.”Selesai penukilan.

Komentar saya:

Sifat Haddadiyyah yang keempat belas adalah: kemunafikan. Telah saya jelaskan banyaknya alamat kemunafikan pada hizb yang baru ini –Mar’iyyah-. Maka mereka itulah golongan yang lebih berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau, apa dosa mereka hingga dikatakan –tanpa iqomatul hujjah- bahwasanya mereka adalah haddadiyyun, orang-orang tolol, orang-orang busuk, merobek dakwah?

Tidaklah para penuduh itu menyerang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau kecuali karena mereka mengorbankan waktu, kehormatan, tenaga, dan badan mereka untuk menghadapi makar hizb baru yang fajir manakala muncul kebusukan mereka, dengan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan ini sebenarnya merupakan usaha yang patut disyukuri dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau, sekalipun orang-orang yang dengki dan fanatik itu menentangnya.

Setiap Kali Muncul Ahli Batil, Alloh Menegakkan Tentara-Nya untuk Membongkarnya dan Memeranginya

            Al Imam Ahmad bin Hanbal  رحمه الله تعالى: “Segala puji bagi Alloh yang menjadikan pada setiap zaman yang kosong dari para rosul sisa-sisa ulama yang mengajak orang yang tersesat untuk menuju kepada hidayah, dan bersabar menerima gangguan dari mereka, menghidupkan dengan kitabulloh orang-orang yang mati, dan memberi ilmu dengan cahaya Alloh orang-orang yang buta. Maka berapa banyaknya orang yang telah dibunuh oleh Iblis mereka hidupkan kembali, dan berapa banyaknya orang yang tersesat dan bingung mereka tunjuki lagi. Maka alangkah bagusnya pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah jeleknya bekas manusia kepada mereka. Mereka meniadakan dari Kitabulloh penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, dan melepaskan belenggu fitnah…” dst . (“Ar Rodd ‘Alaz Zanadiqoh Wal Jahmiyyah”/hal. 52/Darul Minhaj).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Sesungguhnya umat ini –segala pujian bagi Alloh- senantiasa ada di kalangan mereka orang yang tanggap terhadap kebatilan yang ada di dalam perkataan ahli batil, lalu membantahnya. Dan mereka itu manakala Alloh memberi mereka hidayah bersepakat untuk menerima kebenaran dan menolak kebatilan baik secara ro’yu ataupun berdasarkan riwayat, tanpa saling memberi tahu ataupun kesengajaan untuk bersepakat.” (Majmu’ul Fatawa”/9/hal. 233/Maktabatu Ibni Taimiyyah).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Setiap kali setan menampilkan suatu kebid’ahan dari bid’ah-bid’ah ini dan yang lainnya, Alloh membangkitkan untuk menghadapinya seseorang dari partai-Nya dan tentara-Nya yang akan membantahnya dan memperingatkan Muslimin darinya, sebagai nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya dan untuk ahlil Islam. dan Alloh menjadikan itu sebagai warisan yang dengannya partai Rosululloh  صلى الله عليه وسلم pemegang sunnah beliau dikenal, dan dengan itu pula partai bid’ah dan penolong bid’ah dikenal.” (“Tahdzib Sunan Abi Dawud”/As Sunnah/Fil Qodr/dalam cetakan ‘Aunul Ma’bud/11/hal. 298-299/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Ibnul Jauziy رحمه الله berkata: “Dan manakala tidak mungkin bagi seorangpun untuk memasukkan ke dalam Al Qur’an sesuatu yang bukan darinya, mulailah beberapa kaum menambahkan ke dalam hadits Rosululloh  صلى الله عليه وسلم , mengurangi, merubah, dan memalsukan hadits yang tidak beliau ucapkan. Maka Alloh عز وجل menumbuhkan para ulama yang membela penukilan, menjelaskan yang shohih dan membongkar yang busuk. Dan Alloh عز وجل tidak mengosongkan zaman dari ulama. Hanya saja keturunan jenis ini pada zaman ini sedikit, …” dst. (muqoddimah “Al Maudhu’at”/1/hal. 7/cet. Maktabah Adhwaus Salaf).

            Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Manakala termasuk dari hikmah Alloh yang mendalam adalah Dia menjadikan kebenaran itu punya penentang-penentang yang dengan penentangan mereka tadi menjadi jelaslah kebenaran dan menjadi menanglah terhadap kebatilan, karena kemurnian emas itu tidak nampak kecuali dengan disodorkan kepada api. Alloh جل وعلا dengan kemampuan-Nya yang sempurna dan kelembutan-Nya yang luas dan pemaksaan-Nya yang dominan menampilkan orang yang melenyapkan hujjah-hujjah para penentang itu dan menjelaskan kepalsuan syubhat-syubhat mereka.” (Muqoddimah “Taqribut Tadmuriyyah”/hal. 7/Maktabatul Irsyad).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari karunia Alloh adalah bahwasanya tidaklah seorang mubtadi’pun bangkit kecuali bangkit juga ulama untuk menghadapinya.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 277/Darul Atsar).

Dan setelah menyebutkan usaha Al Imam Al Albaniy dan Al Imam Al Wadi’iy رحمهما الله dan seluruh Ahlul hadits dalam memerangi ahlul batil berkatalah Asy Syaikh al muhaddits Al Mujahid Yahya Al Hajuriy حفظه الله : “Mereka itulah para pria sejati. Setiap kali seseorang muncul dengan suatu kebid’ahan mereka menghantamnya. Adapun sekarang, jika ahlul hadits berbicara tentang seseorang karena kebid’ahannya, orang-orang berkata: “Mereka membicarakan manusia!”.” (dicatat tanggal 6 Sya’ban 1430 H).

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “… aqidah ini dan para pemeluknya telah mengalami ujian dan akan terus diuji pada zaman yang beraneka ragam sebagaimana kenyataannya dan disaksikan sekarang ini dari para musuhnya. Akan tetapu Alloh telah menyiapkan para imam yang melakukan perbaikan, dan para pembaharu yang membela aqidah tadi dari penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh.” (“Maqolatsy Syaikh Al Fauzan”/1/hal. 50-51/Al Maktabatusy Syamilah).

Asy Syaikh Sholih As Suhaimiy وفقه الله berkata: “Maka setiap kali muncul aliran atau jamaah yang menyeleweng, Alloh menyiapkan untuknya para ulama robbaniyyun yang mengucapkan kebenaran dan dengannya berbuat keadilan, meniadakan dari sunnah itu penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh. Dan alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin.” (Muqoddimah “An Nashrul ‘Aziz”/Darul Minhaj).

[Pasal Kelima Belas: Membenarkan kedustaan]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Maka orang-orang Haddadiyyah itu menyerupai Rowafidh dalam berdusta, pembenaran terhadap kedustaan, dan pendustaan terhadap kejujuran. Ada perkataan-perkataan dan ucapan yang jujur dan tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah, mereka mendustakan kandungannya, menolaknya. Di antaranya adalah perkataan yang telah diteliti oleh para tokoh ulama dalam kasus-kasus keimanan dan masalah prinsipil, Haddadiyyun justru membantahnya dan menolaknya. Tapi ada ucapan-ucapan dan kebatilan serta penyelewengan yang justru mereka dukung dan mereka tolong. Berapa banyak mereka itu berbuat fujur dalam persengketaan mereka terhadap Ahlussunnah. Ini digabung lagi dengan sifatsifat mereka yang telah lewat.

Komentar saya:

Yang kelima belas dari sifat Haddadiyyah adalah: Membenarkan kedustaan. Demikian pula yang dilakukan oleh hizb yang baru ini hizb Mar’iyyah, mereka di bab ini sama dengan Haddadiyyah bagaikan bulu panah yang kiri dengan yang kanan. Mereka menerima kedustaan para penulis yang tak dikenal, kebohongan para pengikut Nu’man Al watar, Al Idrisiy, dan sebagian hizbiyyun yang terdahulu yang lainnya. Dan termasuk dari bab ini adalah apa yang diucapkan oleh syaikh kita Abdulloh Al Iryany -حفظه الله- berkata dalam “Al Qoulul Jali” hal. 8-9:

Kebatilan Tuduhan Nu’man Al Watar Bahwasanya Syaikh Yahya Melemparkan Tuduhan Bohong

            Adapun tuduhan Nu’man Al Watar bahwasanya Syaikh yang mulia Yahya -حفظه الله- melemparkan tuduhan bohong terhadap orang-orang yang bersih, maka ini merupakan kedustaan yang besar. Kami menantang Nu’man untuk memberikan bukti kepastian tentang ucapan Syaikhuna Yahya tersebut di dalam kaset, atau kitab, atau persaksian orang-orang yang adil jika dia memang termasuk orang-orang yang jujur.

Bersama si Pendusta Besar Yang Hina: Fahd Al Ba’dany

Beberapa pelajar dan penghapal Al Qur’an dari penduduk Ba’dan telah bersaksi bahwa Fahd Al Ba’dany berdusta, dan dia menukil berita-berita yang tidak benar tentang Darul Hadits di Dammaj. Dan “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang keadaan masyarakatnya.”

Dan sisi pendalilan kita adalah bahwasanya Fahd Al Ba’dany tersebut telah menukilkan di dalam kaset tanpa bukti tentang Syaikh yang mulia Yahya Al Hajury:

a-                 Bahwasanya beliau berkata tentang Ali Ba Ruwais yang berfatwa di televisi ‘Adn, bahwasanya dia itu luthy digauli sebagaimana wanita digauli. Dan Fahd juga berkata bahwasanya sebagian pelajar berkata pada beliau: “Ini adalah tuduhan yang membutuhkan empat saksi yang adil”. Maka Syaikh Yahya menjawab seraya berkata,”Cukuplah kemasyhuran sebagai bukti.”

Kukatakan –Syaikh Abdulloh Al Iryany حفظه الله-: Ini adalah dongeng palsu yang dikandung dan dilahirkan oleh Fahd Al Ba’dany, lalu dirawat oleh Nu’man Al Watar. Pendengaran kami terhadap dongeng ini saja sudah cukup bagi kami sebagai dalil atas kebatilannya, dan kedustaan orang yang menukilkannya.([26]) maka bagaimana bisa tergambarkan seorang alim yang bertaqwa dan waro’ berbuat ngawur seperti ini?

Kisah yang sebenarnya adalah: Para penghapal Al Qur’an, para pelajar, dan para penyeru ke jalan Alloh yang hadir dalam kisah itu, semuanya bersaksi bahwasanya ada seorang lelaki dari Abyan menjelek-jelekkan Ahlussunnah. Namanya adalah Ali Adh Dhombary. Ketika Syaikh Yahya Al Hajury bertekad untuk membantahnya, sebagian penduduk Abyan berkata,”Mereka berkata bahwa dia itu digauli sebagaimana wanita digauli.” Maka Syaikh berkata, ”Dengarkanlah wahai ikhwah, apa yang mereka ucapkan?” lalu Syaikh berkata,”Seperti ini membutuhkan bayyinah (bukti)!” Maka salah seorang yang hadir dari Abyan berkata,”Ini sudah terkenal.” Maka Syaikh berkata,”Sekedar keterkenalan tidak mengharuskan benarnya berita.” Selesai.

Kisah dan pembicaraan berkisar tentang seseorang, tapi pertama kali: omongan Al Ba’dany terbalik, lalu yang kedua: berbicara tentang orang lain. Maka berkumpullah antara kemungkaran dan kepalsuan dalam ucapan Al Ba’dany.

Kemudian Ahlussunnah mereka mempercayai diri mereka sendiri, mereka tidak terpengaruh oleh berita-berita palsu. Para Nabi Alloh telah dituduh dengan tuduhan yang lebih besar daripada ini, dan mereka bersabar. Kedustaan itu benang-benangnya pendek saja, dan Alloh ‘azza wajalla berfirman:

﴿سَيَعْلَمُونَغَدًامَنِالْكَذَّابُالْأَشِر [القمر/26]

“Besok mereka akan tahu siapakah pendusta besar yang jahat itu.” (QS Al Qomar 26).

b-                Orang yang telah tersebut di atas juga menukilkan bagian atas tanpa bayyinah terhadap Syaikh Yahya Al Hajury -حفظه الله- bahwasanya beliau berkomentar tentang jajaran pemerintahan bahwasanya mereka itu tukang homoseksual dan banci.

Kedustaan ini juga sejenis dengan dongengan tadi. Dan kami berkata,”Kami jadikan Alloh sebagai saksi bahwasanya si penukil ini pendusta besar([27]).” Dan kami berkata sebagaimana firman Robb kami:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ﴾ [الحجرات/6]

Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan, jangan sampai kalian menimpakan kecelakaan pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga jadilah kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan.” (QS Al Hujurot 6)

Dan kami berkata pada orang yang membikin kedustaan terhadap para pemilik ilmu dan keutamaan, sebagaimana firman Robb kami ‘azza wajalla:

﴿قُلْهَاتُوابُرْهَانَكُمْإِنْكُنْتُمْصَادِقِينَ [البقرة/111]

“Katakanlah : Datangkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang jujur.”(QS Al Baqoroh 111).

Dan di dalam “Ash Shohihain” dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata : Rosululloh saw bersabda :

«لويعطىالناسبدعواهملادعىناسدماءرجالوأموالهمولكناليمينعلىالمدعىعليه».

“Andaikata manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.”

Dan dalam riwayat Al Baihaqy :

«لَوْيُعْطَىالنَّاسُبِدَعْوَاهُمْلاَدَّعَىرِجَالٌأَمْوَالَقَوْمٍوَدِمَاءَهُمْوَلَكِنَّالْبَيِّنَةَعَلَىالْمُدَّعِىوَالْيَمِينَعَلَىمَنْأَنْكَرَ ».

“Andaikata manusia diberi sesuai dengan dakwaan mereka, pastilah orang-orang akan mendakwa harta suatu kaum dan darah mereka. Akan tetapi bayyinah (bukti) adalah kewajiban si penuduh, dan sumpah adalah kewajiban orang yang dituduh.”

Dan apakah seorang muslim akan lancang berkata seperti itu, lebih-lebih lagi orang yang tahu tentang Alloh, waro’, punya perhatian dan semangat untuk menjaga kehormatan muslimin, serta membelanya ?!!

Aku telah bertanya pada Syaikh Yahya حفظه الله ta’ala tentang itu, maka beliau bersumpah dengan nama Alloh tidak mengucapkannya.

Selesai ucapan Syaikhuna Abdulloh Al Iryani حفظه الله.

Dan telah berdatangan ucapan syukur, pujian dan selamat setelah keluarnya risalah yang mantap tersebut, dari kalangan Salafiyyun yang punya kecemburuan.

            Bahkan Nu’man Al Watar sendiri telah mengakui kedustaan tadi. Syaikh Abdulloh Al Iryany -حفظه الله- di dalam risalahnya yang kedua berkata,” “Kalaulah tidak ada pembongkaran aib mereka di dalam risalah mereka “Al Muhannadul Yamani..” kecuali bahwasanya mereka itu sikapnya bertolak belakang dan goncang, dan mereka mengakui atas kebohongan mereka dalam melemparkan tuduhan pada Asy Syaikh Al Fadhil Al Bari’ (yang bersih dari tuduhan tadi) Yahya Al Hajuri bahwasanya beliau menuduh ‘Ali Ba Ruwais, setelah mereka terbang dengan tuduhan tadi ke segala penjuru, niscaya yang demikian itu cukup untuk menetapkan kedustaan mereka dan menjelaskan keadaan mereka, dan pendustaan orang-orang terhadap mereka, waspada terhadap penukilan dan berita-berita mereka, jatuhnya mereka dari pandangan mata orang-orang, dan tidak percaya lagi pada mereka ..” (“Ta’zizul Qoulil Jali” hal. 5)

Maka sifat Mar’iyyun adalah menerima berita dari para pendusta yang mencocoki hawa nafsu mereka, lalu mereka menyebarkannya. Maka mereka itulah Haddadiyyun dalam bab ini.

Adapun syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, sungguh mereka telah mencurahkan kerja keras untuk tidak menerima perkataan kecuali jika diperkuat dengan dalil yang kuat, yang mencocoki Al Kitab dan As Sunnah dan Salafiyyah. Demikianlah saya melihat dari mereka, dan bukanlah berita itu seperti melihat langsung. Dan aku dengan sebagian ikhwah telah capek memerangi hizb baru -Mar’iyyah- dari bangsaku sendiri, dan kami telah merasakan pahitnya pukulan tangan, sindiran lidah dan jahatnya pena mereka. Manakala kasus-kasus mereka kami angkat ke Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله, kami dapati beliau pada puncak perhatian terhadap kejujuran dan kekuatan bayyinah dalam menerima berita-berita, maka beliau tidak menerima berita dari kami ataupun dari lawan kami kecuali jika diperkuat oleh bayyinah.

Dari sisi lain, kalian juga tak sanggup membuktikan bahwasanya beliau itu berdusta, atau membenarkan kedustaan, atau mendustakan kejujuran. Maka apakah setelah ini semua dikatakan bahwasanya beliau itu Haddadiy padahal beliau berbeda dengan mereka dalam karakter ini sebagaimana beliau juga berpisah dengan mereka dalam sifat-sifat yang lain? Sungguh ini adalah vonis yang jahat.

[Pasal Keenam Belas: berubah-rubah warna dan melancarkan makar mereka dengan bertahap]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesepuluh: Makar bertahap berdasarkan metode Bathiniyyah, walaupun kami tidak berpendapat bahwasanya mereka itu Bathiniyyah akan tetapi kami berpendapat bahwasanya mereka menyerupai mereka dalam memiliki banyak wajah dan melancarkan makar mereka dengan bertahap.

Komentar saya:

            Yang keenam belas dari sifat Haddadiyyah: Talawwun (berubah-rubah warna). Telah saya jabarkan di dalam risalah “At Talawwun Fid Din Wa Ti’dadu Aujuhil Mundassin” banyaknya sifat talawwun para hizbiyyun. Dan saya sebutkan banyaknya sifat talawwun dari Mar’iyyin. Adapun syaikh kami dan orang yang bersama beliau maka keadaan mereka إن شاء الله adalah bagaikan apa yang diucapkan oleh Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata: “Maka dakwah itu di sisi kami lebih mulia daripada jiwa, keluarga dan harta kami. Kami siap untuk makan meskipun tanah dalam keadaan kami tidak mengkhianati agama dan negri kami, dan tidak bersikap “talawwun”. “Talawwun” bukanlah karakter Ahlussunnah.” dst (“Al Ba’its ‘ala Syarhil Hawadits” hal. 57/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Maka Mar’iyyun lebih berhak dengan gelar Haddadiyyah daripada para Salafiyyun Dammaj, والحمد لله.

 

Yang ketujuh belas dari sifat Haddadiyyah adalah: menjalankan makar secara bertahap. Dan ini adalah perbuatan Mar’iyyah. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang berpandangan tajam رعاه الله berkata dalam “Bayan” beliau: “Kekacauan yang dibikin oleh Abdurrohman Al ‘Adniy dan orang-orang yang fanatik padanya itu dekat dengan kekacauan yang diperbuat oleh Abul Hasan Al Mishriy dan orang-orang yang fanatik padanya, dan tidak mungkin pengacauan tadi ditafsirkan dengan yang selain hizbiyyah yang serupa dengan para pendahulunya, yang membikin pergolakan terhadap kami di Dammaj, kemudian tersingkap jati dirinya sedikit demi sedikit, hingga menjadi jelas bagi setiap slafiy yang jauh dari kekacauan tadi,…” dst. (“Ma Syahidna Illa Bima ‘Alimna”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy).

Maka bukanlah para penghuni markiz Dammaj dan yang bersama mereka itu adalah Haddadiyyun. Bahkan yang punya sifat Haddadiyyah itu ada di markiz Al Fuyusy dan yang mencocoki mereka.

[Pasal Ketujuh Belas: Mengincar Sebagian Imam Sunnah dan Ulama Salafiyyah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Mereka dulu hingga di waktu-waktu dekat ini menampakkan pemuliaan kepada sekumpulan ulama, dan menganggap bahwasanya barangsiapa menyelisihi mereka berarti telah mendustakan Islam dan mendustakan Al Qur’an dan As Sunnah, serta memusnahkan Islam. dan mereka juga mengajak manusia untuk taqlid pada sekumpulan ulama tadi dengan kerasnya. Manakala mereka menyangka bahwasanya siku mereka telah menguat, dan tongkat mereka telah keras, merekapun mengumumkan peperangan kepada ulama tadi, menganggap perkataan mereka itu tolol, dan menjadikan orang-orang yang lemah akal menjadi lancang kepada ulama tadi. Dan demikianlah mereka secara bertahap dalam dakwah mereka yang rahasia, dan mereka memulai dengan menampakkan penghormatan pada Al Imam Ibnu Baz hingga Ibnu Taimiyyah, kemudian sedikit demi sedikit mereka mempengaruhi orang-orang yang tertipu hingga mereka meyakini bahwasanya mereka telah memantapkan cengkeraman mereka, dan mulai menjatuhkan para ulama dengan metode mereka yang penuh makar, satu persatu, hingga sampai kepada Ibnu Taimiyyah. Kemudian mereka itu seperti Rowafidh: jika mereka merasa takut, mereka menampakkan pemuliaan kepada Shohabat, mencintai mereka, mendoakan ridho buat mereka. Jika mereka merasa aman, merekapun mencaci Shohabat dan mencerca mereka. Dan para Haddadiyyah berbuat seperti mereka: jika merasa aman, merekapun mencaci ulama dengan cercaan yang sebagiannya telah kami sebutkan di permulaan ucapan ini.

Komentar saya:

            Sifat ini telah lewat penyebutannya di sela-sela pembahasan. Dan tidak ada pada Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله kebusukan tersebut, tidak berbolak-balik, tidak membikin makar pada seorangpun, tidak juga pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Adapun jika sebagian orang yang terlalaikan itu berkata: “Dia telah menjatuhkan Abul Hasan kemarin, kemudian Al ‘Adniy. Maka siapakah lagi besok setelah mereka berdua?!”, “Dia mengincar para ulama: Al ‘Adniy, kemudian Al Wushobiy, kemudian Al Jabiriy, kemudian siapa?!” ini merupakan perkataan orang yang menyeleweng yang tahu bahwasanya dirinya itu menyeleweng kemudian merasa takut bahwasanya dirinya akan dijatuhkan sebagaimana yang diduganya. Maka wahai kaum, Robb kalian عز وجل berfirman:

﴿قُلِ اللهمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾ [آل عمران/26].

“Katakanlah: Wahai Alloh Pemilik kerajaan, Engkau memberikan kekuasaan pada orang yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, di tangan-Mu sajalah kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Mampu terhadap segala sesuatu.”

Dan Abu Huroiroh  رضي الله عنهberkata: Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«يد الله ملأى لا يغيضها نفقة ، سحاء الليل والنهار – وقال – أرأيتم ما أنفق منذ خلق السموات والأرض ، فإنه لم يغض ما في يده – وقال – عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع ». (أخرجه البخاري (7411)).

“Tangan Alloh penuh, pemberian nafkah tidak menguranginya. Dia banyak memberikan karunia di waktu malam dan siang. Bagaimana pendapat kalian terhadap apa yang Dia infakkan sejak diciptakan-Nya langit dan bumi, karena hal itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya. ‘Arsy-Nya ada di atas air. Dan di tangan-Nya yang lain ada timbangan, Dia merendahkan dan mengangkat.” (HR. Al Bukhoriy (7411)).

            Maka urusan itu di tangan Alloh, Dia memuliakan orang yang dikehendaki-Nya, menghinakan orang yang diinginkan-Nya. Dengan karunia-Nya Dia mengangkat orang yang menaati-Nya, dan dengan keadilan-Nya Dia mrendahkan orang yang mendurhakai-Nya. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Dan Alloh berfirman kepada Nabi-Nya:  ﴿ورفعنا لك ذكرك﴾

“Dan Kami angkat untukmu penyebutanmu.”

Maka para pengikut beliau punya bagian dari penyebutan ini sesuai dengan kadar pewarisan mereka dari ketaatan mereka dan pengikutan mereka. Dan setiap orang yang menyelisihi mereka maka pengangkatan tadi luput dari mereka sesuai dengan kadar penyelisihan dan kedurhakaan mereka.” (“Al Jawabul Kafi”/hal. 113/Maktabah ‘Ibadurrohman).

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّين﴾ [المجادلة/20].

“Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya mereka itulah yang berada dalam golongan orang-orang yang hina.” (QS. Al Mujadilah: 20).

            Orang-orang yang tersebut tadi jatuh disebabkan oleh kesesatan mereka dan pembangkangan mereka terhadap kebenaran. Demikian pula orang yang setelah mereka: jika mereka kokoh di atas ketaatan maka Alloh akan mengangkat mereka sekalipun tiada seorangpun yang mengenalnya, tapi jika mereka menyimpang maka Alloh akan menghinakan mereka sekalipun ditazkiyyah oleh seluruh orang yang ada di bumi.

            Adapun Abul Hasan Al Ma’ribiy, maka sungguh dia itu jatuh disebabkan oleh kesesatannya, bukan karena dimakari oleh seorangpun dari Ahlu Dammaj. Adapun kedua anak Mar’i maka seperti itu pula. Adapun Muhammad Al Wushobiy maka sebagai berikut:

Kasus Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy

Telah banyak bantahan Ahlussunnah kepada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله di antaranya adalah:

– “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/Syaikhuna An Nashihul Amin

– “Asmaul Maftunin Wa Roddun ‘Alasy Syaikh Al Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Minnatul Karimil Hamid Binaqdhi Tala’ubati Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

-“Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”/Abu ‘Ammar Yasir bin ‘Ali Al Hudaidy

– “Tahdzirul Bariyyah Mimma ‘Indal Wushobiy Minal Inhirofatil Quthbiyyah”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Nushhun Wa ‘Itabun Lil Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy

– “At Ta’mid Wat Tad’im”/Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “Asy Syaikh Al Wushobiy Bainal Ifroth Wat Tafrith Fit Tilfiziyun Wad Dusysy”/Fahmiy Bin Dawud Al ‘Amiriy

– “Al Idhohatun Nayyiroh Bi Mawaqifil Wushobiyl Mutaghoyyiroh”/Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ba Jammal

– “Al Kawi Li Ta’shilat Wa Syathohat Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Tahdzirus Salafiyyin Min mafasid Wa Adhrori Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin”/ Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Al Wushobiy Wa Tauhidul Hakimiyyah” /Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal

– “Nashihatu Abi Basyir Al Hajuriy Lisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Abu Basyir Al Hajuriy

– “Jinayatu Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy ‘Alal Ushulis Salafiyyah”/ Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “At Tanbihus Sadid ‘Ala Dzammit Taqlid, War Roddu ‘Ala Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy”/Abur Robi’ Muhammad bin ‘Iwadh Al Qulaishiy

– “Tholi’atur Rududis Sadidah ‘Ala Risalati Nashoih ‘Ulamail Ummah” /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy

            Barangsiapa ingin melihat kepada penampilan bayyinat, hujaj dan barohin atas kebatilan Muhammad Al Wushobiy, pembangkangannya kepada kebenaran, kesombongannya kepada nasihat-nasihat yang benar, hendaknya dia melihat kepada risalah-risalah ini tadi, kemudian hendaknya dia menerima berita-berita dan hukum-hukum yang dibangun di atas dalil-dalil yang kuat dan berat itu. Jika dia enggan menerimanya maka dia harus membantah hujjah dengan hujjah pula, karena pintu untuk itu terbuka.

Keburukan Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy

            Adapun Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, maka di antara keburukannya adalah:

Yang pertama: dia memperbanyak cercaan terhadap Salafiyyin yang di Darul hadits di Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka. dia berkata tentang mereka: bahwasanya mereka itu pendusta, mereka adalah pelaku kedustaan dan kebohongan yang nyata, pelaku dugaan dusta, mereka adalah pelaku kejahatan, mereka adalah orang-orang yang terfitnah yang busuk, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy terpengaruh oleh pemikiran syaikhnya Al Imam Al Wadi’iy dengan pemikiran Khowarij, mereka merobek barisan dan memecah-belah salafiyyin, mereka itu aliran keras, haddadiyyah yang berlebihan.

Yang kedua: Abdulloh Al Bukhoriy fanatik terhadap kebatilan.

Yang ketiga: Abdulloh Al Bukhoriy menelantarkan al haq dan ahlul haq.

Yang keempat: Abdulloh Al Bukhoriy menghina salafiyyin yang di Dammaj dan yang bersama mereka bahwasanya mereka itu orang-orang tolol, orang-orang dungu, mereka itu orang-orang yang tak dikenal.

Yang kelima: kedustaan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap salafiyyin yang di Dammaj dan yang bersama mereka, bahwasanya mereka itu ingin memalingkan manusia dari kebenaran.

Yang keenam: Abdulloh Al Bukhoriy main ramalan dan berkata bahwasanya salafiyyin yang di Dammaj dan yang bersama mereka itu akan sirna di sampah sejarah, dan akan hilang di tempat bertiupnya angin, dan bahwasanya urusan mereka akan menjadi debu halus yang beterbangan, dan insya Alloh mereka akan melebur seperti meleburnya orang-orang selain mereka.

Silakan rujuk risalah saya: “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftaril Jani” ([28])

Demikian pula risalah “’Aunul bari Bi Bayani Hizbiyyah Ibnai Mar’i Waman Jaro Majrohum, War Rodd ‘Ala Takhorrushoti Abdillah Bin Abdirrohim Al Bukhoriy” (karya Syaikh kami Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy).

Demikian pula risalah “Isyharus Saifil Yamaniy Li Izhaqi Khoza’balat Wa Iftiroatil Mu’tadil Jani” (karya Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan Bin Qosim Ar Roimiy).

Mereka (Abul Hasan Al Ma’ribiy, kedua anak Mar’i, Muhammad Al Wushobiy, Abdulloh Al Bukhoriy, dan yang seperti mereka) itu manakala menampakkan kezholiman terhadap Darul Hadits di Dammaj, Syaikh kami dan sebagian pelajar membantah mereka. jika orang-orang jahat tadi jatuh, maka jatuhnya mereka tadi bukanlah di tangan seorangpun dari manusia, dan bukan pula karena sasaran Ahli Dammaj, akan tetapi jawabannya adalah sebagaimana telah lewat.

Inilah jalan kami, jalan yang sesuai dengan Al Qur’an, As Sunnah dan As Salafiyyah dengan seidzin dan taufiq dari Alloh, bukannya jalan orang yang memerintahkan seorang salafiy untuk diam terhadap kebatilan, apabila salafiy tadi tetap bersikeras untuk membantah kebatilan tadi dengan hujjah-hujjah maka dituduhnya salafiy tadi sebagai haddadiy.

Maka kejadian ini adalah kejadian amar ma’ruf dan nahi munkar, serta jarh terhadap mu’anidin (para pembangkang) terhadap kebenaran setelah jelasnya dalil-dalil, bukan kasus upaya penjatuhan fulan dan fulan.

Seseorang itu sekalipun kedudukannya tinggi di masyarakat, jika dia berpegang dengan hizbiyyah setelah ditegakkannya hujjah kepadanya maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang Ikhwanul Muslimin: “Di kalangan mereka ada yang menjadi koruptor dakwah. Kami tidak mengatakan bahwa mereka semua seperti itu. Di kalangan mereka ada orang-orang utama. Akan tetapi orang yang utama dari mereka adalah mubtadi’ karena dia berpegang dengan hizbiyyah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 491).

Maka bukanlah kasus ini kasus pengincaran terhadap ulama. Akan tetapi barangsiapa menghinakan diri dengan kemaksiatan maka sungguh dia telah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴾ [الشمس/9، 10]

“Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh telah merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9-10).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan maknanya adalah: Sungguh telah beruntung orang yang membesarkan jiwanya, meninggikannya dan memunculkannya dengan ketaatan pada Alloh. Dan sungguh telah rugi orang yang menyembunyikannya, menghinakannya, dan mengecilkannya dengan kedurhakaan pada Alloh. Asal dari تدسية adalah penyembunyian. Di antaranya adalah firman Alloh ta’ala:

يدسه في التراب

“Menyembunyikannya ke dalam tanah”.

Maka pelaku maksiat itu menyembunyikan –atau menguburkan- dirinya ke dalam maksiat dan menyembunyikan tempatnya, dan bersembunyi dari para makhluk dikarenakan jeleknya apa yang dikerjakannya. Dia telah terhina di sisi dirinya sendiri, terhina di sisi Alloh, dan terhina di sisi para makhluk. Adapun ketaatan dan kebajikan itu membesarkan jiwa, memuliakannya dan meninggikannya hingga menjadi paling mulia, paling besar, paling suci dan paling tinggi,…” dst. (“Al Jawabul Kafi”/1/hal. 52).

[Pasal Kedelapan Belas: Berbolak-balik dan Menuduh Al Imam Al Albaniy Sebagai Murjiah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Dan lihatlah apa yang mereka perbuat terhadap Al Albaniy. Mereka menampak diri dengan mengormati beliau dan membela beliau, dan mereka menuduh orang-orang yang mensifati beliau sebagai Murjiah adalah khowarij. Kemudian mereka sendiri berpindah dengan mencerca Al Albaniy dan menuduh beliau sebagai Murjiah dan sebagai orang yang menyelisihi manhaj Salaf.

Komentar saya:

            Ini bagian dari talawwunat (berubah-rubah warnanya) Haddadiyyah. Telah saya jelaskan penghormatan syaikh kami dan orang yang bersama beliau kepada Al Imam Al Albaniy رحمه الله , mengagungan mereka kepadanya, dan pembelaan mereka kepadanya. Dan termasuk dari nikmat Alloh kepada syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau adalah: bahwasanya mereka itu kokoh di atas kebenaran yang terang, dan tidak berbolak-balik. Sikap berbolak-balik adalah termasuk ciri khas hizbiyyin. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Akan tetapi hizbiyyah menjadikan pelakunya berubah-rubah warna dan berbolak-balik.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 237/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Taqollubat (berbolak-balik) adalah termasuk dari sifat Mar’iyyah. Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar’i telah mengumumkan dengan terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah dengan fitnah Abul Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi kedudukan.” Sementara itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari kalangan orang-orang yang terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur. Dia itu banyak berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul Ihsan dan menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al Ahdal yang terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada Ahlussunnah. Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigh dan fanatik pada Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung dengan Abdulloh bin Mar’i  hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia bergabung dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub (fanatisme) untuknya.

            Dan selain Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan kemudian menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, dan Ahmad Umar Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriy dan yang lainnya. Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang baru ini. Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk orang-orang khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar’i dalam keadaan mereka itu seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas untuk dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang lemah agamanya([29]), banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman dalam keadaan yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke tengah-tengah barisan Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal mereka tidak boleh diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga tampak dari mereka taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja kenyataannya tidak demikian. Abdulloh bin Mar’i  telah membatalkan perkataannya terdahulu untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka kedudukan untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu menjadi fitnah terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai tentara dalam hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan mencerca mereka dan menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan kebohongan.” (selesai penukilan dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).

            Maka alangkah jauhnya Ahlu Dammaj –segala pujian hanya milik Alloh semata- dari Haddadiyyah, dan alangkah dekatnya Ahlul Fuyusy kepada Haddadiyyah. Maka tiada kesamaran bagi kami –dengan taufiq dari Alloh- perbedaan antara kedua kelompok ini.

﴿قَدْ فَصَّلْنَا الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ﴾ [الأنعام/98].

“Sungguh Kami telah merincikan ayat-ayat bagi orang-orang yang memahami.”

[Pasal Kesembilan Belas: Setelah Mereka Menuduh Al Imam Al Albaniy Dengan Perkara-perkara yang Besar, Mereka menampakkan Pujian Kepada Beliau dan Menyebarkan Kitab-kitab beliau]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه اللهberkata: Dan pada hari-hari ini nampak pada situs internet mereka “Al Asyariy” judul-judul sebagai berikut:

1- “At Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam” karya Al ‘Allamah Al Albaniy

2- “Iqtironul ‘Ilmi Bis Saif Fi Da’watil Imam Muhammad bin Abdil Wahhab” karya Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Kabir Albaniy

3- “Asy Syaikh Al Albaniy Yaruddu ‘Alalladzina Ya’rifunal Haqq Wa Yaktumunah”. Aku katakan: Ini adalah agar mereka bisa mencerca -dengan kedustaan dan kebohongan- Ahlussunnah karena mereka tak mau menolong Haddadiyyin dan tak mau mendukung kedustaan mereka dan prinsip-prinsip mereka yang menentang dasar-dasar Salafiyyah dan manhaj Salaf.

4- “Az Zakah” karya Al ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin

5- “Az Zakah Wa Fawaidiha” karya Al ‘Allamah Al ‘Utsaimin

Komentar saya:

            Ini juga bagian dari kemunafikan dan talawwunat Haddadiyyah untuk mencari ridho manusia, dan menyedot –menghilangkan- kemarahan Salafiyyin, serta untuk melanjutkan makar mereka –Haddadiyyah-. Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Hizbi siap untuk memiliki lima wajah. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ».

“Sesungguhnya orang yang paling jelek adalah yang bermuka ganda, yang mendatangi pihak sini dengan suatu wajah, dan menemui pihak sana dengan wajah lain.” (HR. Al Bukhori (6058) dan Muslim (6454) dari Abu Huroiroh  رضي الله عنه).

Adapun seorang sunni, maka sungguh dia itu memegang teguh agamanya, baik si fulan ridho ataupun tidak. Beda dengan hizbiyyin.” (“Tuhfatul Mujib” /290).

Dan syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau adalah Salafiyyun, mereka teguh di atas kebenaran dengan dalil-dalilnya. Mereka tidak peduli terhadap penyelisihan orang yang menyelisihi, ataupun kemarahan orang yang marah, ataupun keridhoan orang yang ridho. Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله : “Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

Ahmad bin Harb bin Fairuz An Naisaburiy رحمه الله berkata: “Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).

Maka bagaimanakah setelah ini semua dikatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله haddadiyyun, bersamaan dengan besarnya perbedaan di antara kedua golongan ini!? Maka tidaklah pantas Ahlu Dammaj yang kokoh di atas Salafiyyah itu ditanya tentang apa yang dikerjakan oleh Haddadiyyun. Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/134]،

“Mereka akan mendapatkan apa yang mereka kerjakan, dan kalian juga akan mendapatkan hasil dari apa yang kalian kerjakan. Dan kalian tidak ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqoroh: 134).

Dan Alloh سبحانه berfirman:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الأنعام/164].

“Dan seorang yang berbuat dosa tak akan memikul dosa orang lain.”

Sebagian orang-orang yang punya kecemburuan dan kewaspadaan telah menetapkan di dalam risalah-risalah mereka bahwasanya Mar’iyyun itu hizbiyyun dan punya sifat-sifat yang buruk tadi. Maka mereka lebih berhak untuk dijuluki sebagai Haddadiyyah, sekalipun dibela oleh siapapun.

 

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Aku katakan: Mereka itu mencerca beliau –yaitu Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- dan saudara-saudara beliau dari kalangan kibarul ulama sejak gerakan Haddadiyyah mereka yang pertama bangkit dan pada langkah yang baru yang berhadapan dengan manhaj salafiy dan para pemikulnya dan membantah ucapan-ucapan mereka yang shohihah yang menyelisihi manhaj mereka yang rusak. Syaikh mereka sendiri telah mencerca kedua syaikh tersebut: Al Albaniy dan Ibnu ‘Utsaimin. Maka cukuplah hal itu sebagai bukti permainan mereka dan upaya untuk menaburkan abu ke dalam mata.

Komentar saya:

            Tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliau kejahatan macam ini. Mereka juga tidak bermain-main, tidak mencerca kibarul ulama ataupun shighorul ulama –jika ungkapan macam ini pantas diucapkan-. Mereka juga tidak membantah perkataan yang benar, dan tidak pula memiliki ide untuk membikin manhaj yang tersendiri. Mereka itu kokoh –sesanggup mereka- di atas apa yang disebutkan oleh Al Imam Al ‘Auza’iy رحمه الله : “Wajib bagimu untuk meniti jejak Salaf sekalipun manusia menolakmu. Dan hindarilah olehmu pendapat-pendapat para tokoh sekalipun mereka menghiasinya untukmu dengan perkataan yang indah.” (“Asy Syari’ah”/Al Ajurriy/hal. 67/Darul Kitabil ‘Arobiy).

Kritikan ilmiyyah di antara Ahlussunnah ketika terjadi kesalahan itu wajib, dan bukanlah termasuk tho’n (cercaan)

Pembicaraan ini seperti terulang, akan tetapi kelalaian sebagian manusia menuntutku melakukannya agar mereka sadar.

Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka tidaklah mencerca ulama yang istiqomah di atas kebenaran. Adapun masalah kritikan ilmiyyah telah lewat penjelasan kami. Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy  رضي الله عنه bahwasanya Rasululloh r bersabda:

لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده، أو سمعه

Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”

Dalam satu riwayat:

«لا يمنعن أحدكم مخافة الناس أن يقول بالحق إذا شهده أو علمه».

Sungguh janganlah sampai rasa takut pada manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika menyaksikannya atau mengetahuinya.”

Lalu Abu Sa’id berkata:

فحملني على ذلك أني ركبت إلى معاوية فملأت أذنيه ثم رجعت.

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad ((11793)/cet. Ar Risalah) dengan sanad shohih, dan dishohihkan pula oleh Al Imam Al Albaniy dalam “Ash Shohihah” ((no. 168)/Maktabah Al Ma’arif), dan asal hadits dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((no. 414)/cet. Darul Atsar).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah wajib hukumnya menjelaskan keadaan orang yang keliru dalam hadits dan riwayat, dan orang yang keliru dalam berpendapat dan fatwa, dan orang yang keliru dalam zuhud dan ibadah, sekalipun orang yang salah dan berijtihad tadi kesalahannya diampuni, dan dirinya mendapatkan pahala karena ijtihadnya. Maka penjelasan ucapan dan amalan yang ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah itu wajib sekalipun ada pada yang demikian itu penyelisihan terhadap ucapan dan amalan orang tadi.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233-234).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka ketika itulah maka bantahan terhadap ucapan yang lemah, dan penjelasan kebenaran yang menyelisihinya dengan dalil-dalil syar’iyyah itu bukanlah perkara yang dibenci oleh para ulama itu, bahkan hal itu merupakan perkara yang mereka cintai dan mereka memuji pelakunya dan menyanjungnya. Maka hal itu tidak masuk ke dalam bab ghibah secara keseluruhan. Seandainya ada orang yang membenci untuk ditampilkannya kesalahannya yang menyelisihi kebenaran, maka kebenciannya tadi tidaklah teranggap, karena kebencian dimunculkannya kebenaran jika menyelisihi ucapan orang tadi bukanlah sifat yang terpuji. Bahkan wajib bagi seorang muslim untuk mencintai munculnya kebenaran, dan mencintai agar para Muslimin mengetahui kebenaran tadi, sama saja apakah hal itu mencocoki dirinya ataukah menyelisihinya. Dan ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, Rosul-Nya, agama-Nya , dan pemimpin Muslimin dan orang awamnya. Dan yang demikian itulah agama ini sebagaimana diberitakan oleh Nabi  صلى الله عليه وسلم. (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir” /3/hal. 467/Majmu’ Rosail Ibni Rojab)

            Saya katakan وفقني الله: jika orang yang berbuat salah tadi dari kalangan Ahlussunnah –bahkan dari ulama Ahlussunnah-, maka perbaikannya itu wajib sebagaimana telah lewat penjelasannya. Maka bagaimanakah jika kebatilan tadi muncul dari orang yang tampak jelas pembangkangannya, nyata pengikutannya terhadap hawa nafsu, dan terang penyimpangannya dari kebenaran, serta terlihat makarnya terhadap pembawa kebenaran? Maka yang seperti ini lebih pantas lagi untuk dihadapi dan keadaannya itu diterangkan kepada manusia.

Jika Ahlul Haq Diam Terhadap Ahlul Ahwa Niscaya Akan Membesarlah Kebatilan

            Jika Ahlul haq diam terhadap keburukan pengekor hawa nafsu pastilah agama umat ini akan rusak. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ الله ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ [البقرة/251].

“Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

            Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 140/Darul Imam Ahmad).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang tegak dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 104).

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu bisa bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: “Alloh berfirman” dan “Rosululloh bersabda”. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashiroh.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama’).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan kebid’ahan itu muncul jika Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم  –sampai pada ucapan beliau:- maka jika sunnah itu muncul, maka sungguh bid’ah itu akan pergi dari negri yang di situ ada sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 155-156/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Basyir Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seorang alim agama ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang melawannyaserta untuk menyerang kebid’ahan, kejelekan serta kerusakan sebelum menjadikuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya. Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh para pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut.” (“Al-Atsar”/karya beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad).

            Dikarenakan pentingnya hal ini maka para imam Salaf yang sangat cemburu terhadap agama mereka tegak melaksanakan tugas ini sekalipun sangatlah berat di dalam jiwa.

Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).

Al Imam Ibnu ‘Asakir رحمه الله berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far Al-Andalusi (tahun 378H): “Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunillah adalah seorang yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap keras terhadap ahlul bida’ dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau dan bersembunyi dari beliau.  Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya dan mencercanya dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh hingga berjumpa dengan Alloh عز جل beliau punya kisah-kisah terkenal dan kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang”. (“Tarikh Dimasyq”/5/hal. 118/biografi Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far).

Maka barangsiapa menyatakan bahwasanya orang yang menegakkan kewajiban ini berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah bahwasanya dia itu Haddadiy yang tolol, memecah belah dakwah, maka sungguh orang yang yang menuduh tadi telah berbuat kejahatan dan kezholiman.

[Pasal Kedua Puluh: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi kesebelas: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa, Permusuhan, kezholiman, dan baku tolong dalam kedustaan, kejahatan, dan pembentukan dasar-dasar yang batil.

Komentar saya:

            Yang kedelapan belas dari sifat haddadiyyah adalah: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan untuk menghadapi Ahlussunnah. Dan ini adalah harom. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].

“Dan janganlah kalian baku tolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha keras siksaan-Nya.”

Juga berfirman:

﴿ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾ [البقرة/85].

“Kemudian kalian (Bani Israil) membunuh diri kalian (saudara kalian sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kalian dari kampung halamannya, kalian bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan“

            Ini juga cocok dengan Mar’iyyun. Bukankah baku tolongnya mereka bersama hizbiyyin yang terdahulu dan sebagian dari penulis gelap untuk memerangi prinsip-prinsip Salafiyyah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Bukankah baku tolongnya mereka bersama sebagian polisi pemerintah untuk menimpakan keburukan kepada Salafiyyun kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Bukankah baku tolongnya sebagian dari mereka dengan sebagian orang-orang kementrian Waqof untuk mengambil masjid-masjid Ahlussunnah kecuali sebagai saksi yang terbaik terhadap baku tolong mereka dalam dosa dan permusuhan?

Contohnya adalah: Masjid Al Imam Al Albaniy di kawasan Baitu ‘Iyadh di propinsi Lahj. Telah sempurna pemabilannya pada tanggal 2/9/2007 M. mereka berbuat itu dengan minta bantuan dari tanda tangan orang-orang awam setelah mereka dihasung untuk memusuhi imam masjid tersebut. Dan pelaksaannya dari jalur kementrian waqof. Kemudian nampaklah bahwasanya sebagian nama dan tanda tangan itu adalah palsu. Manakala sebagian orang awam itu mengetahui hal tersebut maka bersegeralah mereka mengembalikan masjid tersebut kepada imamnya dari kalangan Ahlussunnah. Akhirnya masjid tadi dikembalikan.

Contoh yang lain: Masjid Al Bukhoriy di desa MahAlloh di propinsi Lahj. Masjid ini diambil dari tangan imam dan khothib masjid masjid tersebut melalui aparat keamanan. Kemudian imam tadi dipenjara dan diberhentikan dari jabatan sebagai imam dan khothib masjid melalui jalur kementrian Waqof. Abdul ‘Aziz bin Abdil Karim sang imam masjid tadi berkata: “Mereka membakar jiwa masyarakat untuk membenciku dikarenakan saya dalam fitnah ini berdiri bersama kebenaran, dan saya mengharuskan diri saya untuk diam setelah mengetahui kebenaran tadi. Hanya saja para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy tidak ridho dengan yang demikian itu yang mana mereka mengirimkan sesseorang yang bernama Muhammad Al Khidasiy, dn dia dulunya termasuk dari pelajar di Dammaj, dan dia termasuk pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy. Mereka menyewa rumah untuknya di samping masjid, lalu dirinya membuat kekacauan di masjid dan mengadu domba mayarakat dengan diriku, dan membuat dars-dars tanpa seidzinku dan tak mau rujuk kepadaku padahal telah diketahui bahwasanya aku telah menghentikan seluruh kegiatan dimasjid demi menjauhkan terjadinya keruwetan apapun. Hanya saja mereka itu –pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy- bersikeras untuk melangsungkan dars-dars dan ceramah-ceramah. Demikian pula mereka menyelenggarakan pengumpulan tanda-tangan dari orang-orang awam untuk mengeluarkan diriku dari keimamahan masjid, padahal telah diketahui bahwasanya diriku adalah imam masjid ini dengan gaji tertentu dari Departemen Perwakafan dan Bimbingan di propinsi.

 Dan demikianlah, setelah terkumpulnya tanda tangan-tanda-tangan, mereka memperingatkan orang-orang awwam, anak-anak kecil penduduk desa untuk menjauhi Syaikh Yahya dan Darul Hadits Dammaj, dan tidak menziarahi istana ilmu ini.

Kemudian mereka semakin keras kepala untuk melakukan muhadhoroh di masjidku untuk dua orang dari pengikut Abdurrohman yaitu Abdul Ghofur As Syarohbiy dan Muhammad Al Khidasyiy tanpa sepengetahuanku, tatkala aku melarang muhadhoroh maka berdirilah sebagian orang yang ta’asshub dengan Abdurrohman mengeluarkanku dari masjid. Dan mereka memadamkan lentera dan lampu dan memanggil petugas keamanan dan membawaku kemudian aku dipenjarakan tanpa satu sebabpun, dan menyogok dengan memberi harta kepada penanggung jawab pemerintah untuk memecatku dari imam.

Mereka mendapatkan sambutan baik dari orang-orang yang membenci dakwah Salafiyyah dari orang-orang isytirokiyyah (sosialis)  dan memenuhi keinginan mereka serta membantu mereka dalam urusan ini, sebagaimana mereka mengusirku dari tempat tinggalku di masjid dengan cara yang keji dan licik yang mana mereka memutus sambungan listrik untuk keluargaku, mematikan air di musim panas. Maka aku sampaikan hal tersebut kepada bagian penanggung jawab bagian, akan tetapi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku telah diusir secara resmi dari rumahku dengan bantuan hizbyyyin dari orang-orang yayasan dan yang lainnya.

Tatlaka orang-orang yang ta’asshub mendatangkan petugas keamanan mereka memprovokasi mereka untuk menyeretku saat aku sedang menyampaikan muhadhoroh dan mereka memprovokasi orang-orang awwam…” dan seterusnya. (Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 25-26).

Dan apa sih makna ucapan dua orang yang mengunjungi Abdurrohman Al ‘Adniy: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda” selain baku tolong untuk membuat makar terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman? Maka Mar’iyyun Barmakiyyun itulah haddadiyyun dalam bab ini.

Adapun syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliau رعاه الله maka tidak ada pada beliau perkara-perkara ini. Tidaklah kami menyatakan bahwa mereka itu ma’shumun (terlindungi dari kesalahan) akan tetapi seorang hamba jika takut kepada Alloh dan mencurahkan kerja kerasnya untuk mengetahui kebenaran kemudian mengikutinya sesanggupnya, dan juga untuk mengetahui kebatilan kemudian menjauh darinya sejauh-jauhnya, dan mohon ampun pada Robbnya atas-dosa-dosanya dan mengakui kekurangan-kekurangannya, maka sesungguhnya Alloh tak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.

Maka Mar’iyyun itulah Haddadiyyun. Dan Ahlu Dammaj mereka itulah Salafiyyun.

[Pasal Kedua Puluh Satu: sikap ‘inad mereka terhadap kebenaran Setelah Dijelaskannya Kebenaran Tadi, Terus-menerus Di Dalam Kebatilan, Dan Pemutarbalikan Fakta

          Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله : Sisi yang keduabelas: Mukabaroh (pengingkaran terhadap perkara yang sangat terang) dan ‘Inad (pembangkangan terhadap kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam kebatilan dan berlama-lama di situ, ditambah lagi kelancangan yang mengherankan dalam membalik perkara, menjadikan yang benar jadi batil, dan yang batil jadi benar, kejujuran jadi kebohongan, kebohongan jadi kejujuran, orang-orang hina jadi gunung, gunung jadi orang hina, mengagungkan apa yang dihinakan oleh Alloh, dan menghinakan apa yang diagungkan oleh Alloh, menuduh lawan mereka yang bersih dengan penyakit-penyakit mereka yang membinasakan.

Komentar saya:

            Yang kesembilan belas dari sifat Haddadiyyah adalah: ‘Inad (pembangkangan terhadap kebenaran setelah diberi penjelasan) dan terus-menerus di dalam kebatilan. Dan ini adalah karakter hizbiyyin, termasuk dari mereka adalah Mar’iyyun. Dan saya telah sebutkan yang demikian itu dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).

Dan tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan juga orang yang bersama beliau karakter ini. Maka barangsiapa berkata yang selain itu maka hendaknya dia mendatangkan burhan kepada kami.

﴿أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ * فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين﴾ [الصافات/156، 157]

“Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitab kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS. Ash Shooffat: 156-157).

            Yang kedua puluh dari sifat Haddadiyyah adalah: Pemutarbalikan fakta. Dan saya telah menyebutkan bahwasanya hal itu termasuk dari sifat Mar’iyyah dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah” (cet. Al Mathbu’atus Salafiyyah/Shon’a).

            Termasuk dari pemutarbalikan fakta yang diupayakan oleh Abdurrohman Al ‘Adniy adalah: bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ingin menolong para ikhwah dari ‘Adn –atas permintaan mereka sendiri- dengan menyampaikan nasihat lewat telpon kepada masyarakat ‘Adn dalam perkara yang terkait dengan penyebaran kerusakan di sana.([30])  tapi Abdurrohman Al ‘Adniy membalikkan hakikat dan berkata: “Sesungguhnya Asy Syaikh Yahya tidak peduli dengan orang-orang ‘Adn.” (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23).

            Di antaranya juga adalah ucapan dia: bahwasanya Asy Syaikh Yahya -hafizhohulloh- tidak ingin berdirinya markiz buat Abdurrohman Al ‘Adniy. Ini adalah dusta dan pemutarbalikan fakta. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah berkata padanya di dalam ruangan di rumah beliau: “Wahai Abu Abdillah, janganlah engkau mengira bahwasanya kami tidak menginginkan markiz untukmu. Bahkan kami ingin lebih dari satu markiz di ‘Adn, dan kami jika singgah di ‘Adn kami akan singgah di tempatmu di markizmu.” Beliau juga berkata padanya: “Engkau adalah pendukungku, dan aku adalah pendukungmu.” (Lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 20). Berapa kali  beliau menyemangatinya untuk mendirikan markiz di kota beliau sendiri –Adn-?

Dan saya bersaksi bahwasanya saya mendengar syaikh kami berkata demikian di depan kami semua.

      Dan termasuk dalam bab ini adalah ucapan Abdurrohman Al ‘Adniy kepada saudara kita Kamal Al ‘Adniy حفظه الله : “Wahai Kamal, ketika para masyayikh datang, Asy Syaikh Yahya memasukkan mereka ke dalam kamarnya dan meninggalkan diriku dan Salim Ba Muhriz di luar. Kemudian dia datang lalu memasukkan Salim Ba Muhriz dan meninggalkan diriku di luar.” Dan sungguh Asy Syaikh Yahya حفظه الله  mengabariku bahwasanya beliau berkata: “Demi Alloh, sungguh aku telah berulang-ulang meminta mereka berdua untuk masuk, tapi mereka berdua tak mau. Lagi pula, mereka berdua itu tidaklah ada di luar rumah. Hanya saja mereka berdua ada di dalam rumah, antara ruangan itu dan kamarku hanyalah satu dinding saja. Maka aku –Asy Syaikh Yahya- berkata: “Barangkali mereka berdua terganggu dengan ruang yang sempit. Semoga Alloh memberi Abdurrohman Al ‘Adniy petunjuk. Tidak sepantasnya hal macam ini ada di hatinya, kecuali dari setan. Aku sama sekali tidak berbuat jelek padanya sedikitpun. Tapi justru perbuatan jelek itu datang dari dirinya. Dia dan sejumlah orang pergi keluar dari markiz ini menuju Shon’a tanpa seidzinku ataupun musyawarahku, lalu mereka datang dengan membawa Asy Syaikh ‘Ubaid حفظه الله seakan-akan beliau singgah di tempat mereka dan seakan-akan tidak ada di markiz ini seorangpun selain mereka.” (Lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 24).

Dan termasuk dari bab ini juga bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy pada pertemuan pertama di markiz induk di Dammaj, para masyayikh حفظهم الله menasihati mereka untuk dirinya menasihati orang-orang yang fanatik pada dirinya. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata pada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله: “Ini adalah disebabkan oleh dirimu.” Atau ucapan seperti itu. Demikianlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabari kami. Dan ini terbalik. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy hanyalah membela diri dan markiz ini dari makar mereka.

Berita-berita tentang pemutarbalikan para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy ada di “Iqozhul Wisnan” (hal. 9-10), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 18 dan 35) dan “Syarorotul Lahab” (2/hal. 8).

Adapun pemutarbalikan fakta yang diusahakan oleh Abdulloh bin Mar’i  adalah: bahwasanya dirinya puny ide-ide yang banyak sekali dalam membuka bisnis-bisnis dengan nama dakwah, dan setiap kali usahanya gagal dia menjadikan dakwah itulah yang memikul hutang besar tadi sampai-sampai dia menenggelamkan dakwah ke dalam hutang-hutang. Bacalah “Nubdzatun Mukhtashoroh ‘An Masyari’ Abdulloh bin Mar’i Al Musytaharoh” (karya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy Al hadhromiy Asy Syihriy). Dan bersamaan dengan itu Abdulloh bin Mar’i mencaci Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan berkata: “Aku mengkhawatirkan dakwah ini dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy”. Lihat “Al Minzhorul Kasyif”/hal. 16).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله juga mensifati Abdulloh bin Mar’i  bahwasanya dirinya memutarbalikkan hakikat.

Dan di antara pemutarbalikan hakikat yang diperbuat oleh para pengikutnya –yang menamai dirinya Abdulloh bin Robi’- yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy bahwasanya beliau telah merubah alur dakwah, sebagaimana dalam tulisannya “Madza Yanqumuna ‘Alasy Syaikh Al Hajuriy” (hal. 10). Bahkan mereka itulah yang merubah dan mengganti alur dakwah, lalu mereka pengecut, tak berani berkata: “Iya memang, kami telah bosan dengan jalan Salaf maka kamipun merubahnya dan menggantinya!”

Maka Mar’iyyun Barmakiyyun itulah Haddadiyyun dalam bab ini.

 

[Pasal Kedua Puluh Dua: Haddadiyyah Ditumbuhkan Adalah Untuk Memerangi Salafiyyah, Para Haddadiyyun Tak Punya Kesibukan Selain Itu]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan perkara-perkara ini sebagiannya –lebih-lebih seluruhnya- menunjukkan bahwasanya kelompok ini tidaklah ditumbuhkan kecuali untuk memerangi Sunnah dan Ahlussunnah. Termasuk dari perkara yang menunjukkan hal itu adalah bahwasanya engkau pada suasana yang susah dan ujian yang besar ini, yang mana orang-orang Yahudi dan Nashoro serta kelompok-kelompok sesat mengeroyok Sunnah dan Ahlussunnah, engkau dapati kelompok Haddadiyyah inilah yang menjadi mata-mata mereka dalam peperangan yang ramai ini. Dan kelompok inilah yang paling keras peperangannya, yang mana mereka -dan situs mereka yang dikhususkan untuk membikin fitnah itu- tak punya kesibukan selain untuk memerangi Ahlussunnah, manhaj mereka dan prinsip-prinsip mereka dan memerangi situs Ahlussunnah Salafiy satu-satunya “Sahab” yang mengangkat bendera Sunnah dan membelanya dan membela Ahlussunnah.”

Komentar saya:

            Sifat Haddadiyyah yang keduapuluh satu: Haddadiyyah ditumbuhkan adalah untuk memerangi Salafiyyah. Dan tidak ada pada syaikh kami yang mulia dan orang-orang yang bersama beliau perkara-perkara ini. Darul Hadits di Dammaj ini tidaklah ditumbuhkan untuk memerangi Salafiyyah dan Salafiyyun. Dan Darul Hadits ini didirikan berdasarkan ketaqwaan sejak awal harinya. Dan Darul Hadits ini pada hari ini masih seperti dulunya, bahkan lebih bagus lagi, dengan karunia Alloh. Dan di antara yang memperkuat hal ini adalah kenyataan bahwasanya para penghuninya sibuk dengan menghapal Kitabulloh, sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم, matan-matan ilmiyyah, juga sibuk belajar dan mengajar, sibuk mentahqiq warisan-warisan Salaf, menulis kitab-kitab ilmiyyah dalam bidang tauhid, aqidah, adab, mushtholah, fiqh, zuhd, waro’, dakwah kepada Islam, peringatan bahaya kristenisasi, dan yang selain itu.

Barangsiapa meragukan sedikit saja dari hal itu maka silakan mengunjungi kami sekarang juga. Demikian pula mereka menulis risalah-risalah pembelaan terhadap sunnah dan salafiyyah dan membongkar kejahatan-kejahan mubtadi’ah. Kesibukan mereka itu banyak dan diberkahi إن شاء الله.

Di Antara Pujian Ulama Kepada Darul Hadits di Dammaj

Maka disebabkan oleh besarnya taufiq Alloh untuk para penghuni Darul Hadits ini, para ulama memberikan tazkiyyah kepada mereka tanpa mereka mengharap-harapkannya.

Manakala dikatakan pada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمه الله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang diklam oleh sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan dan penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj. Mekkah sekarang dimasuki Khowwanul Muslimin. Mereka merusaknya, demi Alloh. Yang menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.” Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang ini.” (Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Al Akh Abdurrohman Abdulloh Al ‘Imad حفظه الله berkata: “Bahkan al akh Abul Fida As Sudaniy bahwasanya mereka berjumpa dengan Syaikh kami al muhaddits al ‘allamah Robi’ Al Madkholiy حفظه الله pada awal hari dari hari-hari Idul Fithr yang diberkahi pada tahun 1429 H, lalu mereka menanyai beliau tentang orang yang mentahdzir manusia dari Dammaj. Maka beliau menjawab: “Ini adalah pengekor hawa nafsu.” Dst. (“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku tidak menyetujui Asy Syaikh ‘Ubaid dalam tahdzirnya dari Dammaj sama sekali. Andaikata aku tahu bahwasanya ini ada di “Sahab” pastilah kukatakan pada ikhwah untuk menghapusnya. Dan tidaklah seluruh apa yang ada di “Sahab” telah aku lihat.”

Ini diucapkan pada malam Rabu 3 Jumadal Akhir 1430 H. (Selesai penukilan dari situs “Al ‘Ulumus Salafiyyah” dari sanad akh Mahdi bin Ibrohim Asy Syabwiy/“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Bahkan Mar’iyyah dan Darul Fuyusy itulah yang ditumbuhkan untuk memerangi dakwah Salafiyyah secara khusus. Saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, berkata: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”

Abdurrohman Al ‘Adniy berkata kepada Shodiq Al ‘Abdiniy: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu markiz Dammaj- terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).

Abdul Hakim bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi atas perkataanku ini.”

Abul Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”

Abdulloh Al Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.

Dan semisal dengan ini Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati   orang lain dengan dihadiri Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.

Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.

(Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 4-5).

Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

Maka orang yang adil, berpandangan tajam dan jujur mengetahui bahwasanya Mar’iyyun yang dibela Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Haddadiyyun, sementara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau حفظهم الله yang dituduh dengan kedustaan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah Salafiyyun.

[Pasal Kedua Puluh Tiga: Tuqiyyah Di Belakang Gelar Atsariyyah Untuk Menyusup Di Kalangan Salafiyyun]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Apa yang mereka sebutkan di dalam situs mereka yang dinamai secara dusta dengan “Al Atsariy” tentang sebagian ulama hal itu tidak lain kecuali untuk menutupi diri mereka, dan kecuali untuk memperkuat diri mereka dalam memerangi Ahlussunnah.”

Komentar saya:

            Semata-mata gelar tanpa penerapan secara syar’iy tidaklah bermanfaat. Maka gelarnya Haddadiyyun untuk mereka sendiri sebagai “Al Atsariy” tidaklah bermanfaat manakala mereka menyelisihi atsar-atsar Salaf. Sebagian manusia bersembunyi dengan gelar yang besar ini untuk membikin kerancuan kepada manusia. Padahal perkara yang paling penting di sisi seorang mukmin adalah: kecocokan dengan kebenaran, sama saja apakah dia menamai dirinya dengan “Al Atsariy” ataukah tidak. Maka yang teranggap adalah hakikat perkaranya, bukan sekedar sampulnya. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka orang yang berakal itu melihat kepada hakikat-hakikat, hukan pada lahiriyah-lahiriyah semata.” (“Al ‘Ubudiyyah”/1/hal. 23).

            Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Yang terpenting adalah kejujuran penamaan ini terhadap orang yang menamakan diri dengannya, karena pada zaman ini telah banyak klaim dan berbangga-bangga dengan sesuatu yang tiada wujudnya dalam kehidupan pelakunya. Berapa banyak orang yang mengaku sunniy sementara dirinya pada hakikatnya adalah asy’ariy, atau berkata bahwasanya dirinya itu atsariy padahal hakikatnya adalah haddadiy  –sampai pada ucapan beliau:- dan barangsiapa memang benar dia itu punya manhaj salafiy atsariy sunniy, tidak mengapa dirinya menamai diri dengan itu  –sampai pada ucapan beliau:- akan tetapi yang paling penting adalah kecocokan dengan orang yang dinamai dengan itu, tanpa sikap berlebihan dan tanpa pengurangan, dan tanpa penisbatan tadi membawanya kepada ketertipuan, kekaguman pada diri sendiri, pongah, dan meremehkan yang lain, dikarenakan orang yang demikian itu dikhawatirkan akan tertimpa kesudahan yang buruk. Keberkahan yang paling besar itu ada pada sikap istiqomah, tawadhu’ dan rasa butuhnya kepada Penciptanya yang Mahatinggi. (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 32/darul Kitab Was Sunnah).

            Mar’iyyun telah menempuh jalan Haddadiyyin dalam memperbanyak gelar tadi untuk diri mereka. Para penulis gelap mereka: Abdulloh bin Robi’ As Salafiy, Abu Abdillah As Salafiy, Abu Hajir As Salafiy, ‘Ammar As Salafiy dan yang semisal mereka termasuk dalil terbesar atas apa yang kami katakan.

            Kami telah sebutkan kerasnya pukulan-pukulan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy terhadap para penulis gelap di dalam kitabku “At Tajliyah Li Amarotil Hizbiyyah”. Maka manakala Mar’iyyun menempuh jalan yang hina ini, mereka sangat pantas mendapatkannya.

 

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan sesungguhnya sebagian dari amal mereka ini, pada masa-masa sulit ini, benar-benar menyingkap dengan sangat terang bahwasanya gerombolan ini hanyalah susupan yang telah disiapkan untuk merealisasikan sasaran dan tujuan mereka.”

Komentar saya:

            Telah lewat penjelasan tentang terangnya jalan kami. Dan bukanlah syaikh kami yang mulia itu susupan yang disiapkan untuk merealisasikan suatu sasaran dan tujuan. Maka ucapan Asy Syaikh Robi’ ini tidaklah sesuai dengan kenyataan beliau. Saya telah menyebutkan beberapa orang yang disusupkan ke dalam barisan kedua anak Mar’i dari kalangan hizbiyyin yang terdahulu, sementara kedua bersaudara ini mendiamkan kebatilan mereka, dan bahkan menyambut baik mereka. Bahkan sebagian masyayikh juga diam saja terhadap mereka. Apa rahasianya? Maka bukanlah Ahlu Dammaj itu Haddadiyyun, bahkan Haddadiyyun itu adalah Mar’iyyun yang mendekat di telapak kaki sebagian masyayikh sehingga mereka melindungi mereka dan membalaskan untuk mereka.

[Pasal Kedua puluh empat: Pura-pura Menangis, dan Pengakuan Dusta Untuk menipu Manusia]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka jangan sampai mempedaya kalian wahai salafiyyun, tangisan bohong mereka, dan pengakuan batil mereka, yang telah dibongkar sendiri oleh perkataan mereka, prinsip-prinsip mereka, sikap dan akhlaq mereka, serta kedustaan mereka yang nyata dan tersingkap bagi orang yang punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun.”

Komentar saya:

            Yang keduapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: pura-pura menangis untuk menipu orang-orang. Adapun Salafiyyun mereka itu berjalan di atas langkah yang jelas, jujur, bersih, mencari ridho Alloh. Maka mereka tidak butuh untuk menipu manusia, juga tidak butuh tangisan dusta. Mereka itu menaati Rosululloh  صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau:

«ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت».

“Dan barangsiapa beriman pada Alloh dan hari akhir maka hendaknya dia itu berkata yang baik atau hendaknya dia diam saja. (HR. Al Bukhoriy (6018) dan Muslim (47) dari Abu Huroiroh  رضي الله عنه).

            Maka Salafiyyun tidak memperbanyak pengaku-akuan, lebih-lebih lagi untuk berdusta dalam pengaku-akuan tadi. Adapun Abdurrohman Al ‘Adniy maka tanyailah dirinya –demi Robb langit dan bumi- berapa banyaknyakah dirinya menangis di hadapan sebagian orang demi menarik perasaan mereka. Dan demikianlah sebagian pengikutnya sering pura-pura menangis di hadapan sebagian orang untuk menarik perasaan mereka, tapi manakala mereka keluar dari sisi orang-orang tadi maka sebagian dari merekapun tertawa. Maka Mar’iyyun itulah yang lebih berhak dengan Haddadiyyah daripada Darul hadits di Dammaj. Dan ini jelas sekali bagi orang yang punya mata hati dan pengetahuan yang paling rendah sekalipun.

[Pasal Keduapuluh Lima: Loyalitas dan Pemutusan Hubungan Berdasarkan Tokoh-tokoh, Bukan Berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: Sisi ketigabelas: “Loyalitas dan pemutusan hubungan berdasarkan tokoh-tokoh, sebagaimana yang dilakukan oleh Rowafidh dalam Loyalitas mereka yang dusta untuk beberapa tokoh Ahlul Bait. Akan tetapi mereka –Haddadiyyun- membangun loyalitas dan pemutusan hubungan berdasarkan tokoh-tokoh yang mana dia itu termasuk orang yang paling bodoh, paling dusta, paling jahat, dan paling keras permusuhannya kepada manhaj Salafiy dan ulamanya. Dan pengkultusan orang-orang yang bodoh tadi, yang tenggelam di dalam kebodohan dan termasuk dalam jajaran orang-orang yang hina dengan segala ukuran agama, umur, manhaj, aqidah dari orang yang tidak dikenal secara keilmuan, akhlaq islamiy, adab islamiy atapun adab kemanusiaan.”

Komentar saya:

            Yang keduapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah adalah: membuat loyalitas ataupun memutuskan hubungan dengan barometer tokoh-tokoh yang tidak ma’shum. Dan ini adalah sifat ahlul bida’. Dan saya bersaksi dengan nama Alloh bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin memerangi hal ini. Beliau bersama orang yang bersama beliau adalah sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Maka jadilah orang yang diagungkan di sisi mereka adalah orang yang memang diagungkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan orang yang diutamakan di sisi mereka adalah orang yang memang diutamakan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan jadilah orang yang dicintai di sisi mereka adalah orang yang memang dicintai Alloh dan Rosul-Nya, dan jadilah orang yang terhinakan di sisi mereka adalah orang yang memang dihinakan oleh Alloh. Ini semua sesuai dengan kadar apa yang diridhoi Alloh dan Rosul-Nya, bukan sesuai dengan hawa nafsu.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 17).

            Syaikh kami حفظه الله telah melarang dari taqlid, dan menyebutkan ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله: “Tidaklah membebek kepadaku kecuali orang yang jatuh.”

            Demikian pula masalah pujian, syaikh kami حفظه الله tidaklah menyukainya. Manakala sebagian penyair banyak memuji beliau, beliaupun berkata pada  mereka: “Semoga Alloh membalas dirimu dengan kebaikan, dan memaafkan diriku dan dirimu. Kuingatkan kalian dengan Alloh, kuingatkan kalian dengan Alloh, kami itu lebih rendah dari yang demikian itu. Kami ini adalah penuntut ilmu. Kami mohon Alloh untuk memaafkan kami. Demi Alloh kami mengakui pada Alloh عز وجل akan kelemahan dan kekurangan kami. Dan kami mohon pada Alloh agar menerima taubat kami. Dan kami itu kurang dan banyak dosa, sementara saudara-saudara kami حفظهم الله banyak berbaik sangka kepada kami padahal kami tidaklah seperti itu sama sekali. Aku kasih tahu kalian, ambillah pengetahuan ini dariku dengan sanad yang pendek: bahwasanya kami itu –demi Alloh- tidaklah seperti itu sama sekali. Kami adalah penuntut ilmu yang lemah dan patut dikasihani. Kami mohon pada Alloh Robbul ‘alamin agar memaafkankan kami dan memaafkan saudara-saudara kami. Hanya pada Alloh sajalah kami mohon pertolongan. Dan semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan.”

Demikianlah saya dengar ucapan beliau itu di hadapan kami semua. Dan pernyataan ini juga disebutkan dalam program “Fitnatul ‘Adniy” (karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Adapun Baromikah Mar’iyyah mereka itulah haddadiyyun dalam bab ini. Para penulis telah menjelaskan bahwasanya Baromikah memancangkan wala dan baro berdasarkan para tokoh, bukan berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah. Silakan rujuk: “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy” (Syaikhuna An Nashihul Amin), “Al Ajwibatus Sadidah” (Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy حفظه الله /hal. 9-10), “Al Fathur Robbaniy” (karya penulis ini sendiri وفقه الله/hal. 5-6) dan yang lainnya.

[Pasal Keduapuluh Enam: Kasus ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Perhatikanlah bagaimana ributnya mereka manakala Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy mengkritik salah seorang komandan bayi mereka, lalu mereka mengangkat harkat si bayi ini secara umur, ilmu dan akhlaq tadi, dan mereka memperluas cercaan dan penghinaan kepada Asy Syaikh ‘Ubaid Al Jabiriy setelah dulunya mereka berlebihan dalam mengagungkannya sebagaimana kebiasaan mereka terhadap ulama yang lain, yang mana mereka dulunya pura-pura mengagungkan mereka, manakala mereka menyelisihi kebatilan tokoh mereka sekarang, dan menyelisihi mereka dalam kebatilan, kebodohan dan kedustaan mereka, maka merekapun memperluas cercaan, pendustaan dan penghinaan kepada para ulama tadi.”

Komentar saya:

            Haddadiyyun dulu memerangi ‘Ubaid Al Jabiriy pada hari-hari istiqomahnya. Mereka memeranginya dalam rangka fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka. Dan hati-hati kami dengan hati-hati para Salafiyyin ketika itu bersama ‘Ubaid Al Jabiriy. Kami mencintainya dikarenakan kebenaran yang ditegakkannya.

Akan tetapi manakala dirinya menyeleweng dari kebenaran, menampakkan serangan-serangan ke Darul hadits tanpa kebenaran, dan menyombongkan diri terhadap nasihat-nasihat yang lembut dan bayyinah-bayyinah yang jelas, maka kamipun membencinya.

Telah banyak bantahan-bantahan Ahlussunnah terhadap ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy, di antaranya adalah:

1- “At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot…”/Asy Syaikh Yahya

2- “I’lamusy Syaikh ‘Ubaid”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy

3- “Ar Roddu ‘ala ‘Ubaid Al Jabiriy Fi Fatwahu Fil Intikhobat”/Syaikh kami Yahya

4- “Al Qodho ‘Ala Fatwa ‘Ubaid Fit Tilfaz Wal Kamiro”/Abdul Fattah Ash Shumaliy Al Kindiy

5- “Ad Difa’ ‘An ‘Alamil A’lam Syu’bah ibnil Hajjaj”/Abu Abdirrohman Gholib bin Ali Al Mahwithiy

6- “Asy Syaikh ‘Ubaid Wal A’malil Ikhtilithiyyah”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy

7- “Al Bayanul Amin ‘Ala Anna Na’syi ‘Ubaid Al Jabiriy Li Sholihil Bakriy Ghosysyun Lil Islam Wal Muslimin”/Asy Syaikh Muhhamad ibnul Husain Al ‘Amudiy

8- “Bayanul ‘Ulama Fi Tahdziri ‘Ubaid”/Abu Ibrohim Ali bin Mutsanna

9- “Daf’u Buhtanil Mu’tadin ‘An Daril Hadits Bi Dammaj”/Abu Abdirrohman Muhammad Al Khofifiy Al Libiy([31])

10- “Al Bayanul Mufid Li Ba’dhi Ma Ashsholahu Wa Naqodhohu ‘Ilmiyyan Syaikhuna ‘Ubaid”/Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Ba Jammal

11- “Bayanul Inhirofat Fi Fatwasy Syaikh ‘Ubaid wa Da’wahu Ilal Intikhobat”/Abu Ishaq Ayyub bin Mahfuzh Asy Syibamiy

12- “Nashihatu Abi ‘Amr Al Hajuriy Lil Jabiriy”/Asy Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy

13- “Irsyadul ‘ibad Fi Bayani Mujanabati ‘Ubaid Lil Hikmah Was Sadad”/Asy Syaikh Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy

14- “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq Al Khoyyath Al Ba’daniy

            Dan di antara perkara yang memperkuat akan buruknya perjalanan ‘Ubaid Al Jabiriy هداه الله adalah: fanatisme dirinya kepada Abdurrohman Al ‘Adniy. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله dengan sangat tenang dan beradab telah menyebutkan padanya bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy sendiri telah mentahdzir ikhwah dari belajar di Jami’ah Islamiyyah di Madinah dikarenakan di sana banyak hizbiyyun. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Saya tidak lupa untuk menyebutkan ucapan saudara kita yang terfitnah akhir-akhir ini –dengan sangat menyesal- Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله yang telah tetap darinya dengan suaranya pada tanggal 23 Rojab 1426 H tentang Jami’ah Islamiyyah bahwasanya Jami’ah ini telah berubah dan jadilah yang berkuasa di situ adalah para hizbiyyun. Dia هداه الله berkata: “Secara hakiki, Jami’ah Islamiyyah dulunya adalah termasuk menara Ilmiyyah yang megah di dunia dan di alam, menghasilkan dan mengeluarkan para ulama. Akan tetapi pada masa-masa terakhir banyak hizbiyyin yang menguasainya, jadi pengelola, pengajar, doktor-doktor. Seorang manusia itu tidaklah merasa aman dirinya untuk menghadiri ceramah seorang hizbiy, atau menghadiri dauroh musim panas yang di situ sekelompok pengajar hizbiyyun ikut andil, maka bagaimana dengan sistem belajar yang berkesinambungan minimal empat tahun, doktor ini hizbiy, yang ini sururiy, yang ini quthbiy, yang ini punya kecondongan kepada tashowwuf. Maka secara hakikat, seorang insan tidaklah merasa aman dirinya. Engkau wahai saudaraku, andaikata diumumkan di kotamu akan diselenggarakannya dauroh musim panas, di dalamnya akan hadir ulama sunnah, dan hadir juga di situ ahlul bida’. Bisa jadi di antara mereka ada yang alim. Maka apa yang hendak engkau pilih? Sementara engkau tahu bahwasanya para ulama yang hadir itu punya dars-dars khusus di masjid-masjid mereka. Aku tidak mengira engkau perlu menimbang untuk meninggalkan kehadiran di dauroh itu tadi, demi menjaga agamamu dan melindungi manhajmu, dan engkau pergi ke para ulama tadi di masjid-masjid dan tempat mereka. Dan demikianlah Jami’ah Islamiyyah, di dalamnya ada orang yang selamat, dan ada pula orang yang jatuh, disebabkan oleh adanya para pengajar tadi. Wahai saudaraku, empat tahun, orang ini adalah pengajar, doktor, sementara engkau adalah murid, dia memberimu apa yang diberikannya kepadamu. Maka yang kami nasihatkan kepada para ikhwah adalah: mereka jangan pergi ke sana. Barangsiapa ingin ilmu maka dia harus pergi ke para ulama di kerajaan Saudi, di Yaman, dan tempat lain. Adapun dia berjalan ke Jami’ah demi mendapatkan ijazah, apa faidah yang hendak didapatkannya? Para ikhwah yang bergabung ke Jami’ah-jami’ah, khususnya pada tahun-tahun terakhir ini, tidaklah kami lihat di kalangan mereka ada orang yang mendapatkan taufiq, karena dirinya tinggal bertahun-tahun di Jami’ah dan mendapatkan ijazah, apakah kalian mengira setelah dirinya lulus dia mau pergi ke Dammaj –misalnya-, atau siap untuk menjadi imam di masjid salah satu blok perumahan, di salah satu kota, atau suatu desa, ataukah berusaha untuk mencari pekerjaan dengan ijazah yang dikeluarkannya? Jawabnya adalah: inilah yang kami dapati dan kami saksikan, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan…” dst.

            Maka Anda –’Ubaid Al Jabiriy- harus menakar untuk dirinya dan untuk orang lain yang mengatakan yang demikian itu dengan cercaan seperti cercaan yang Anda takarkan untuk saya. Dan kami mengharapkan dari Anda wahai fadhilatusy Syaikh وفقك الله agar Anda tidak berkelit dari yang demikian itu sebagaimana berkelitnya musuh kita Bisyr Al Marisiy. Ini jika tujuan yang diinginkan dalam pengobaran pembelaan terhadap Jami’ah sekarang ini bukanlah mencari sarana untuk melindungi Abdurrohman Al ‘Adniy dan pengikutnya, sebagaimana berita itu tersebar di tempat kami, yang mana Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله telah terang-terangan sebagaimana yang lainnya tentang telah berubahnya Jami’ah dari keadaannya yang dulu. Dan ini menyelisihi apa yang telah Anda tetapkan dalam risalah yang Anda namakan dengan “An Naqdush Shohih” bahwasanya Jami’ah Islamiyyah itu Salafiyyah sampai pada hari ini, dan dia menetapkan perubahannya, bahwasanya dirinya telah dikuasai hizbiyyun akhir-akhir ini.” (“At Taudhih”/hal. 4-5).

            Dan setelah penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله ini, dan tuntutan beliau terhadap ‘Ubaid Al Jabiriy agar menempuh jalan keadilan dan sportivitas, ternyata ‘Ubaid Al Jabiriy menakar dengan dua takaran, dan tidak rela untuk menyikapi Abdurrohman Al ‘Adniy seperti sikapnya kepada syaikh kami An Nashihul Amin yang sangat penyabar itu, padahal ‘illahnya (sifat yang mengumpulkan antara pihak ini dan pihak itu) adalah sama bagi orang yang punya dua mata. Bahkan ‘Ubaid Al Jabiriy menambahi berbagai cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia رفعه الله . Maka fanatisme Ubaid itu jelas.

            Dan pada masa munculnya fatwa jahat yang baru dari ‘Ubaid Al Jabiriy –tanpa bukti ataupun hujjah- yang memperingatkan para pelajar di Yaman yang luar Yaman untuk jangan belajar di Darul hadits di Dammaj –demi menolong para hizbiyyun- tiba-tiba saja dia mengeluarkan fatwa yang di dalamnya membolehkan masyarakat Syam untuk belajar ke Ali Hasan Al Halabiy, padahal dia tahu kerasnya penyelewengan orang itu. ‘Ubaid Al Jabiriy berkata tentang Ali Hasan: “Hingga saat ini pada hakikatnya kami tidak berkata bahwasanya akh Ali mubtadi’ sesat. Akan tetapi aku menasihati agar orang-orang tidak datang kepadanya dari luar negrinya. Adapun orang yang di dalam negrinya, lahiriyyah mereka butuh kepadanya, dan mereka butuh kepada orang yang lebih rendah dari dia bersamaan dengan keadaan dirinya itu, karena kami tidak tahu ada seorang alim di negrinya sepeninggal Al Albaniy yang orang-orang bisa kembali kepadanya, berjalan berdasarkan ucapan, fatwa dan hukumnya. Aku tak tahu seorangpun hingga saat ini. Maka kondisi dirinya untuk orang di negrinya merujuk kepadanya, mengambil hadits darinya, syaroh kitab-kitab aqidah-aqidah yang bersih, maka ini tidak terlarang إن شاء الله , adapun orang dari luar negrinya datang kepadanya, jangan, dikarenakan sekarang ini adalah waktu perang yang sengit dalam keadaan dia menghunuskan pedangnya yang tajam kepada Ahlussunnah tanpa henti. Semoga Alloh memaafkan kami dan dirinya. Dan kami mohon pada Alloh agar mengembalikannya kepada kebenaran dengan pengembalian yang baik.” (Saya telah menukilkan perkataan ini secara lengkap dari risalah “Al Jabiriy Ma’al Halabiy” karya saudara kita yang mulia Abu Ibrohim Ali Mutsanna حفظه الله dalam risalahku “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftariy Al Jani” maka silakan merujuk di situ).

            Memungkinkan bagi ‘Ubaid Al Jabiriy untuk menganjurkan Ahlusy Syam untuk melakukan perjalanan dalam mencari ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh As Salafush Sholih, atau mengambil faidah dari kitab-kitab As Sunnah yang tersebar dan kaset-kaset Salafiyyah, dan minta fatwa pada para ulama atas problematika yang mereka hadapi, atau mengambil faidah dari murid-murid Al Imam Al Albaniy رحمه الله yang masih istiqomah. Akan tetapi ‘Ubaid Al Jabiriy memberikan keringanan pada mereka untuk belajar kepada Ali Al Halabiy, dan ini adalah penipuan terhadap Muslimin Syam, dan menyodorkan mereka kepada kebinasaan, dan barangkali sekian hari kemudian mereka akan jadi tentara-tentara pendukung Al Halabiy untuk menghadapi Ahlussunnah disebabkan oleh barokah fatwa ‘Ubaid Al Jabiriy. Dan hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan.

            Ubaid Al Jabiriy lalai –atau memang bermudah-mudah- dalam kasus menyikapi halusnya makar ahlul bida’, sementara terlampau banyak orang yang terperangkap dengan makar tadi. Ubaid telah menjauh dari nasihat-nasihat salaf dalam hal ini.

Dari Asma bin khorijah رحمه الله yang bercerita: Ada dua orang dari kalangan ahli ahwa yang masuk menemui Muhammad bin Sirin seraya berkata: “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan hadits padamu?” beliau mejawab: “Tidak boleh.” Lalu keduanya berkata: “Maka kami akan membacakan padamu satu ayat dari Kitabulloh عز وجل ,” Maka beliau menjawab: “Tidak boleh. Kalian yang pergi dari sisiku, atau aku yang akan pergi.” (diriwayatkan Al Ajurriy رحمه الله dalam “Asy Syari’ah” no. (113)/ cet. Darul Kitabil ‘Arobiy dan dishohihkan Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله ).

Dari Mufadhdhol bin Muhalhil رحمه الله yang berkata : “Andaikata pelaku kebid’ahan jika engkau duduk di sisinya, dia menyampaikan kebid ‘ahannya, pastilah engkau akan menghindar darinya dan lari darinya. Akan tetapi dia akan menyampaikan hadits-hadits sunnah di permulaan majelisnya, lalu memasukkan kepadamu kebid’ahannya. Maka bisa jadi kebid’ahan itu akan bercokol di hatimu. Maka kapankah kebid’ahan itu akan keluar dari hatimu ?” (“Al Ibanatul Kubro”/karya Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله/no. (399)/cet. Al Faruqul Haditsiyyah/sanad hasan).

            Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka demi Alloh wahai kaum Muslimin, jangan sampai baik sangka salah seorang dari kalian terhadap dirinya sendiri dan terhadap keshohihan madzhabnya yang diketahuinya membawa dirinya untuk melakukan taruhan dengan agamanya, dengan duduk-duduk dengan para pengekor hawa nafsu, lalu berkata: “Aku akan masuk kepadanya untuk melakukan diskusi dengannya, atau akan kukeluarkan darinya madzhabnya.” Karena sesungguhnya ahli hawa itu lebih besar fitnahnya daripada dajjal. Ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar hati daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang dulunya melaknati ahli hawa, mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka untuk mengingkari mereka dan membantah mereka. Terus-menerus berlangsung ramah-tamah di antara mereka, makar tersembunyi, dan halusnya kekufuran tersamarkan hingga akhirnya orang-orang tadi masuk ke madzhab ahli hawa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/di bawah no. 480).

Dan di antara kebatilannya juga adalah dirinya menganjurkan Muslimin Eropa untuk hijroh ke Birmingham di Inggris.

Jika ‘Ubaid Al Jabiriy mengatakan: dulu para Shohabat  رضي الله عنهمhijroh ke Habasyah (Ethiopia) yang saat itu berupa kerajaan Kristen!

Maka kami jawab bahwasanya pada saat itu tiada negara Islam di muka bumi. Dan Habasyah merupakan negara yang bisa dicapai oleh para Shohabat  رضي الله عنهمyang rajanya melindungi kebebasan mereka untuk beribadah. Dan tidaklah hal itu mereka lakukan kecuali setelah dapat izin dari Rosululloh  صلى الله عليه وسلم yang mendapatkan wahyu dari Alloh ta’ala. Manakala sebagan ahlul Madinah masuk Islam dan kemudian Islam tersebar dengan pesat di sana, Rosululloh  صلى الله عليه وسلم diwahyukan oleh Alloh untuk hijroh ke sana, hingga akhirnya Madinah jadi Negara Islam, tiada lagi hijroh ke Habasyah. Adapun sekarang, sudah banyak Negara Islam, kenapa ‘Ubaid Al Jabiriy justru dia menyuruh Muslimin Eropa jika ingin hijroh hendaknya hijroh ke Birmingham Inggris?

Dan telah saya sebutkan dalam pasal keenam sebagian dari poin-poin kebatilan ‘Ubaid Al Jabiriy yang dengannya dia dikritik oleh ulama salafiyyin dan para penuntut ilmu.

Dan setelah penjelasan-penjelasan yang jelas ini, dan bantahan-bantahan yang banyak, serta bukti-bukti yang terang, maka mustahil para masyayikh dan yang lainnya tidak tahu akan benarnya kritikan-kritikan yang beraneka ragam dari ulama Darul hadits Salafiyyah di Dammaj dan para ulama sunnah dan pelajar yang bersama mereka terhadap ‘Ubaid Al Jabiriy. Maka termasuk kezholiman dan ‘ashobiyyah (fanatisme) untuk seorang manusia yang paham itu berpura-pura buta terhadap bukti-bukti ini, kemudian bersikeras untuk menyatakan bahwasanya ‘Ubaid Al Jabiriy itu adalah salafiy murni, dan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله  adalah haddadiy yang tolol, dan merobek-robek dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru alam.

Mahasuci Alloh, ini adalah kedustaan yang besar dan kezholiman yang berat!

Maka barangsiapa punya hujjah untuk meruntuhkan hujjah-hujjah yang bercahaya tadi yang menghasilkan keputusan bahwasanya ‘Ubaid Al Jabiriy telah tersesat dan menyeleweng, maka hendaknya dia menampilkannya. Adapun sekedar teriakan tanpa hujjah, maka hal itu hanyalah teriakan yang batil dan kosong walaupun datang dari siapapun.

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata –sebagaimana telah lewat-: “Maka bukti-bukti yang jelas membuat ribuan orang yang tidak memiliki hujjah itu terdiam walaupun mereka itu para ulama. Kaidah ini wajib untuk diketahui.”

Adapun ketidakmampuan untuk adu hujjah, lalu mulai mencaci dengan perkataan: “Yahya Al Hajuriy haddadiy, safih (tolol), merobek dakwah Salafiyyah” maka sikap yang seperti ini merupakan perbuatan yang mana seorang dai Salafiyyah merasa malu untuk melakukannya.

Dan setelah ini, maka siapakah yang mengharuskan kami untuk menghormati ‘Ubaid bersamaan dengan tegaknya bayyinat, dalil-dalil dan bukti-bukti akan penyimpangannya? Al Imam Sufyan Ats Tsauriy رحمه الله berkata: “Jika seseorang cinta pada saudaranya karena Alloh عز وجل kemudian orang yang dicintainya itu  membuat perkara baru dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena perbuatan tadi maka berarti dia tidak mencintainya karena Alloh عز وجل. (riwayat Ibnu Abi Hatim dalam  “Al Jarh Wat Ta’dil”/1/hal. 52/sanadnya shohih).

Di antara kami dan kalian adalah Kitabulloh. Maka barangsiapa menyamakan keadaan Salafiyyun di Darul Hadits di Dammaj dengan keadaan Haddadiyyun sekedar berdasarkan kesamaan kedua pihak tersebut dalam ‘illah (sifat pengumpul) yang lemah –sama-sama memerangi Al Jabiriy- maka sungguh dia telah berbuat zholim, dan mengqiyaskan perkara dengan qiyas yang rusak. Haddadiyyun ingin merusak prinsip-prinsip Salafiyyah dan memerangi orang yang kokoh di atas kebenaran. Mereka adalah fujjar (perobek tabir keagamaan) dan perusak di muka bumi. Sementara para penghuni Darul Hadits di Dammaj dan yang bersama mereka adalah orang-orang yang teguh di atas prinsip-prinsip Salafiyyah, membelanya dan membela para pemegangnya, memerangi orang-orang yang menyeleweng dari prinsip-prinsip Salafiyyah. Mereka orang-orang yang bertaqwa dan berbuat perbaikan di bumi dengan taufiq Alloh, sebagaimana mereka juga tawadhu’ kepada Alloh dengan taufiq-Nya. Maka bagaimana kalian menyamakan pihak ini dan itu? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi? Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾ [ص/28].

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Alloh Yang Mahasuci telah meniadakan dari hukum dan hikmah-Nya penyamaan antara dua perkara yang berbeda dalam hukum. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف تحكمون﴾

“Maka apakah Kami akan menjadikan Muslimin itu seperti Mujrimin (orang-orang yang jahat)? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi?”

Maka Alloh mengabarkan bahwasanya ini adalah hukum yang batil secara fitroh dan akal, tidak pantas dinisbatkan kepada-Nya سبحانه. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن نجعلهم كالذين آمنوا وعملوا الصالحات سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون﴾

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka hukumkan itu.”

Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات كالمفسدين في الأرض أم نجعل المتقين كالفجار﴾

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?”

            Apakah engkau tidak melihat bagaimana Alloh mengingatkan akal-akal dan memperingatkan fitroh-fitroh dengan kemampuan yang diletakkan-Nya ke dalamnya untuk memberikan hukum kepada suatu perkara sama dengan hukum perkara yang mirip dengannya, dan tidak menyamakan hukum di antara dua perkara yang berbeda. Dan ini semua merupakan bagian dari timbangan yang Alloh turunkan bersama kitab-Nya, dan menjadikan timbangan tadi sebagai sejawat kitab-Nya dan pembantunya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 110/Darul Hadits).

            Qiyas yang rusak merupakan tempat tumbuhnya kesesatan Iblis dan sumber segala kesesatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Kesalahan dalam qiyas itu terjadi disebabkan oleh penyerupaan sesuatu dengan perkara yang berbeda, dan mengambil kejadian yang menyeluruh dengan pertimbangan adanya suatu sisi kesamaan, tanpa membedakan di antara kedua jenis tadi. Maka ini adalah qiyas yang rusak –sampai pada ucapan beliau:- sebagian Salaf berkata: “Yang pertama kali melakukan qiyas adalah Iblis. Dan tidaklah matahari dan bulan itu disembah kecuali disebabkan oleh qiyas-qiyas, yaitu qiyas yang menentang nash. Dan barangsiapa melakukan qiyas yang rusak, dan setiap qiyas yang menentang nash tidaklah terjadi kecuali dia itu adalah qiyas yang rusak. Adapun qiyas yang shohih maka hal itu termasuk dari timbangan yang Alloh turunkan dan tidak akan menyelisihi nash sama sekali bahkan pasti mencocokinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 299-300).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “dan setiap bid’ah dan perkataan yang rusak yang masuk pada agama-agama para Rosul itu maka asalnya adalah qiyas yang rusak.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 319/Darul hadits).

[Pasal Duapuluh Tujuh: berlebihan dalam menyanjung orang yang bersama mereka, manakala dirinya meninggalkan mereka maka merekapun berlebihan dalam mencercanya]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka keadaan mereka seperti keadaan Yahudi bersama Abdulloh bin Salam salah seorang ulama Bani Isroil yang dimuliakan Alloh dengan Islam. Al Bukhoriy meriwayatkan dalam “Shohih”nya (3151) dengan sanad sampai ke Anas  رضي الله عنه berkata:

( بلغ عبد الله بن سلام مقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة فأتاه فقال: إني سائلك عن ثلاث لا يعلمهن إلا نبي: ما أول أشراط الساعة ؟ وما أول طعام يأكله أهل الجنة ؟ ومن أي شيء ينزع الولد إلى أبيه ومن أي شيء ينزع إلى أخواله ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «خَبَّرَنِي بهن آنفا جبريل». قال: فقال عبد الله: (ذاك عدو اليهود من الملائكة) ! فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أما أول أشراط الساعة فنار تحشر الناس من المشرق إلى المغرب وأما أول طعام يأكله أهل الجنة فزيادة كبد حوت وأما الشبه في الولد فإن الرجل إذا غشي المرأة فسبقها ماؤه كان الشبه له وإذا سبق ماؤها كان الشبه لها». قال: أشهد أنك رسول الله. ثم قال: يا رسول الله إن اليهود قوم بهت إن علموا بإسلامي قبل أن تسألهم بهتوني عندك. فجاءت اليهود ودخل عبد الله البيت فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أي رجل فيكم عبد الله بن سلام؟» قالوا: أعلمنا وابن أعلمنا، وأَخْيَرُنَا وابنُ أَخْيَرِنا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أفرأيتم إن أسلم عبد الله» قالوا: أعاذه الله من ذلك. فخرج عبد الله إليهم فقال: أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. فقالوا: شرُّنَا وابن شَرِّنا. ووقعوا فيه).

“Sampai kepada Abdulloh bin Salam berita tentang kedatangan Rosululloh  صلى الله عليه وسلم ke Madinah, maka diapun mendatangi beliau seraya berkata: “Sesungguhnya saya ingin menanyai Anda tentang tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi: Apa awal tanda kiamat? Apa awal makanan Ahlul Jannah? Dari manakah seorang anak itu menjadi mirip dengan ayahnya? Dan dari manakah dia mirip dengan paman-pamannya?” maka Rosululloh  صلى الله عليه وسلم menjawab: “Jibril telah mengabariku akan hal itu barusan.” Maka Abdulloh berkata: “Dia adalah musuh yahudi dari kalangan malaikat.” Lalu Rosululloh  صلى الله عليه وسلمbersabda: “Adapun awal tanda kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. adapun awal makanan Ahlul Jannah adalah tambahan hati ikan paus. Adapun kemiripan pada seorang anak, maka seseorang itu jika menggauli istrinya lalu air maninya mendahului air mani istrinya, maka anaknya menjadi mirip dengannya. Tapi jika air mani istrinya mendahului air maninya, maka anaknya menjadi mirip dengan istrinya.” Maka Abdulloh berkata: “Saya bersaksi bahwasanya Anda adalah Rosululloh.” Kemudian dia berkata: “Wahai Rosululloh sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendusta. Jika mereka mengetahui bahwasanya saya telah masuk Islam sebelum Anda menanyai mereka tentang saya mereka pasti akan berdusta tentang saya di hadapan Anda.” Maka datanglah Yahudi, sementara Abdulloh masuk ke dalam rumah. maka Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bagaimana kedudukan Abdulloh bin Salam di sisi kalian?” Mereka menjawab: “Dia adalah orang yang paling berilmu di antara kami, anak dari orang yang paling berilmu di antara kami. Dia juga orang yang paling baik di antara kami, anak dari orang yang paling baik di antara kami.” Maka Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika di masuk Islam?” mereka menjawab: “Semoga Alloh melindunginya dari yang demikian itu.” Maka Abdulloh bin Salam keluar kepada mereka seraya berkata: “Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan selain Alloh dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.” Maka mereka berkata: “Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami, anak dari orang yang paling jelek di antara kami.” Dan mereka mencacinya.”

            Al Hafizh dalam “Al Fath” (7/hal. 298) dalam syarh hadits (3911) berkata: “dalam riwayat Yahya bin Abdillah: maka kukatakan: “Wahai Rosululloh, bukankah saya telah memberitahu Anda bahwasanya mereka adalah kaum pendusta, orang-orang yang mengkhianati perjanjian, berbohong dan jahat?” dalam suatu riwayat: “Mereka menghinakannya”. Maka dia berkata: “Inilah yang saya takutkan wahai Rosululloh.”

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwasanya Yahudi manakala mereka mengira bahwasanya Abdulloh bin Salam akan tetap di atas kesesatan mereka dan kebatilan mereka, merekapun memujinya dan berkata: Dia adalah orang yang paling baik di antara kami, anak dari orang yang paling baik di antara kami.” Manakala beliau mengumumkan kebenaran, berbaliklah mereka dengan segera, mencaci beliau dan berkata: “Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami, anak dari orang yang paling jelek di antara kami.” Dan mereka mencacinya.

Dan demikianlah perbuatan Haddadiyyah bersama para tokoh utama Ahlussunnah wal haqq, berulang kali mereka menyanjungnya demi tujuan dan maksud yang telah mereka rencanakan dan diri mereka. Manakala para tokoh utama tadi menghadapi kebatilan mereka dan menyelisihi mereka, merekapun mencaci mereka satu persatu dan memerangi mereka. Setiap kali para ulama menambahkan penjelasan tentang kebatilan mereka, merekapun bertambah melampaui batas, bertambah dusta dan bohong kepadanya dan jahat dalam memeranginya sampai kepada perbuatan dan ucapan yang banyak yang setiap kelompok-kelompok yang sesat merasa malu untuk melakukannya.”

Selesai ucapan Asy Syaikh Robi’.

Komentar saya:

            Sifat Haddadiyyah yang keduapuluh empat adalah: mereka berlebihan dalam menyanjung (orang yang bersama mereka), lalu mereka berlebihan dalam mencerca  (orang yang meninggalkan mereka). Dulunya Yahudi menyukai Abdulloh bin Salam sebelum beliau masuk ke dalam agama terakhir yang dibawa oleh rosululloh  صلى الله عليه وسلم. Manakala mereka mengetahui masuknya beliau ke Islam merekapun mencacinya dan membencinya. Seperti inilah sifat hizbiyyun: mereka menyukai seseorang selama dirinya bersama mereka dalam kebatilan mereka –atau selama dirinya tidak menyerang mereka- manakala dirinya memilih kebenaran merekapun membencinya. Aku telah menyebutkan karakter ini beserta contoh-contoh kisahnya dalam risalah yang lain.

            Adapun  syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, mereka dulu mencintai ‘Ubaid Al Jabiriy, mengagungkannya, dan memuliakannya karena Alloh ta’ala. Bahkan manakala dirinya mengunjungi Yaman sesaat sebelum fitnah ini, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau menerimanya, mengagungkannya, dan memuliakannya, padahal banyak masyayikh Yaman pada hari itu yang menjauhinya (menjauhi ‘Ubaid).

Manakala muncul penyimpangannya dan peperangannya terhadap kebenaran dan pembawa kebenaran, dan enggan untuk kembali kepada kebenaran, syaikh kami dan para salafiyyunpun membantah kebatilannya itu. Ini termasuk dari pelaksanaan cinta dan benci karena Alloh.

Dari Abu Huroiroh  رضي الله عنه dari Nabi  صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله الإمام العادل ، وشاب نشأ في عبادة ربه ، ورجل قلبه معلق في المساجد ، ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال: إني أخاف الله . ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه». (أخرجه البخاري (كتاب الأذان/من جلس في المسجد/(660)) ومسلم (كتاب الزكاة/فصل إخفاء الصدقة/(1031)).

“Ada tujuh golongan yang dinaungi Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: “Pemimpin yang adil, anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Robbnya, seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid, dua orang yang saling cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya, seseorang yang diminta oleh seorang perempuan yang punya kedudukan dan kecantikan tapi dia berkata: “Sesungguhnya aku takut pada Alloh.” Dan seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta orang yang mengingat Alloh sendirian lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al Bukhory (kitabul Adzan/Man Jalasa Fil Masjid/(660)) dan Muslim (Kitabuz Zakah/Fadhlu Ikhfaish Shodaqoh/(1031))).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Yang keempat: dua orang yang saling cinta karena Alloh عز وجل, karena hawa nafsu itu menyeru untuk saling cinta bukan karena Alloh, karena di dalamnya ada ketaatan jiwa kepada hasrat-hasrat dunia. Maka dua orang yang saling cinta karena Alloh, mereka berdua memerangi jiwa mereka untuk menyelisihi hawa nafsu hingga jadilah rasa cinta keduanya itu adalah karena Alloh tanpa ada hasrat duniawiy yang mencampurinya. Ini berat sekali  –sampai pada ucapan beliau:- sabda beliau: berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya” ada kemungkinan beliau ingin bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar kecintaan karena Alloh hingga kematian memisahkan keduanya di dunia, atau hingga salah satunya tidak hadir di samping sahabatnya.

            Dan mungkin juga bahwasanya beliau  صلى الله عليه وسلم menghendaki bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar rasa cinta karena Alloh, maka jika salah satunya berubah dari perkara yang mengharuskan dia dicintai karena Alloh dulu dia ada di atasnya, maka diapun memisahkan diri darinya dengan sebab itu. Maka rasa cinta keduanya itu berkisar pada ada atau tiadanya ketaatan pada Alloh. Sebagian Salaf berkata: “Jika engkau punya saudara yang engkau cintai karena Alloh, lalu dia membuat perkara baru, kemudian engkau tidak membencinya karena Alloh, maka tidaklah rasa cintamu itu karena Alloh.” Atau dengan makna ini.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 370-371/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Maka perbedaan antara perbuatan Haddadiyyun dengan perbuatan syaikh kami yang orang yang bersama beliau adalah bagaikan perbedaan antara langit dan bumi. Akan tetapi sebab-sebab kebutaan itu banyak, sehingga sebagian orang tak sanggup membedakan hal ini.

Bahkan Mar’iyyun itu punya bagian dalam menyerupai Yahudi dan haddadiyyun dalam bab ini. Abdurrohman Al ‘Adniy dulu memuji Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan menyebutkan kemampuan beliau untuk memikul dakwah, serta menyemangati orang-orang untuk mengambil ilmu dari beliau حفظه الله. Tapi ternyata Abdurrohman Al ‘Adniy dalam risalahnya di tengah-tengah masa fitnahnya dalam risalah “At Ta’liqotur Rodhiyyah” bersaksi dengan nama Alloh bahwasanya dirinya belum pernah melihat seorangpun yang menisbatkan diri kepada ilmu –sejak dirinya belajar sampai sekarang- lebih dusta dan lebih besar makarnya daripada syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله .

Kenyataan menjadi saksi bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy itulah yang pendusta dan pembuat makar, dan bahwasanya hizbiyyun itulah yang pendusta dan pembuat makar.

 

[Pasal Keduapuluh Delapan: Penamaan Sesuatu Bukan Dengan Namanya]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: bersamaan dengan kejahatan, kehinaan dan kesesatan ini semua, mereka mengklaim dengan kebohongan dan kedustaan yang terbongkar bahwasanya mereka itu adalah Ahlussunnah, dan mereka pura-pura saling memuji dengan itu. Maka dikatakan pada mereka apa yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash  رضي الله عنهbahwasanya dia berkata pada Musailimah lama mengaku-aku sebagai Nabi dan mulai membacakan pada ‘Amr  رضي الله عنهkedustaannya yang dinamainya sebagai Al Qur’an, maka ‘Amr berkata padanya: “Demi Alloh sesungguhnya engkau tahu bahwasanya aku itu tahu bahwasanya engkau itu pendusta.”

Komentar saya:

            Sifat keduapuluh lima dari Haddadiyyah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Maka yang terpandang adalah kesesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah serta Salafiyyah, bukan sekedar pengakuan. Maka barangsiapa mencocoki tiga dasar ini, ucapannya diterima. Jika tidak demikian maka akan ditolak, siapapun dia.

Dan telah nampak dengan jelas kekokohan Ahlu Dammaj dan yang bersama mereka di atas Al Qur’an, As Sunnah dan Salafiyyah dengan bayyinat yang bercahaya. Dan para salafiyyun telah menjelaskan jauhnya Mar’iyyun dari prinsip-prinsip Salafiyyah dan upaya mereka untuk meruntuhkannya, sekalipun mereka mengaku termasuk pengikutnya. Maka Mar’iyyun-Barmakiyyun itu mirip dengan Haddadiyyun.

Maka termasuk dari metode Iblis untuk menyesatkan bani Adam adalah: Penamaan sesuatu bukan dengan namanya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى﴾ [طه/120].

“Maka setan membisikkan kepadanya, berkata: Wahai Adam maukah kutunjukkan padamu pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan rusak?”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka ini adalah makar dan tipu daya yang pertama. Dan darinyalah para pengikutnya mewarisi penamaan perkara yang terlarang dengan nama-nama yang disukai oleh jiwa. Maka mereka menamakan khomr dengan ummul afroh (induk kegembiraan), dan menamakan saudaranya sebagai suapan ketentraman, dan menamakan riba dengan mu’amalah, menamai pajak dengan hak-hak kekuasaan, menamai kezholiman yang paling buruk dan paling keji dengan syari’ah dewan, menamai kekufuran yang paling mendalam –yaitu menentang sifat-sifat Robb- dengan pensucian, dan menamai majelis-majelis kefasikan sebagai majelis-majelis kebaikan…” dst. (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 113).

 

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka seluruh Salafiyyin –bukan hanya satu orang Amr- tahu bahwasanya kalian adalah pendusta pada seluruh apa yang dengannya kalian berhadapan dengan Ahlussunnah. Mereka juga yakin bahwasanya kalian itu tahu bahwasanya diri kalian adalah pendusta. Dan kalian tak akan bisa membahayakan Islam sedikitpun. Dan kalian juga tak akan bisa membahayakan Salafiyyah dan Salafiyyun sedikitpun. Dan percayalah bahwasanya kalian tak membahayakan kecuali diri kalian sendiri di dunia dan akhirat jika kalian tidak bertobat kepada Alloh dengan tobat nashuha. Jika kalian membikin senang para musuh Alloh dan musuh manhaj Salafiy, maka yang demikian itu tak akan membahayakan manhaj yang agung ini sebagaimana sabda Rosululloh  صلى الله عليه وسلم:

«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك». صحيح مسلم (1920)

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga datangnya urusan Alloh dalam keadaan mereka seperti itu.” (HR. Muslim (1920)).

Al Imam Al Bukhoriy telah menulis bab dalam “Shohih” beliau: “Bab sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم:

«لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق»

Mereka adalah ulama.”

Komentar saya:

            Ini adalah perkataan yang benar. Dengan seluruh penjelasan yang telah lewat kita mengetahui bahwasanya Haddadiyyah adalah saudari dari Mar’iyyah, dan bahwasanya syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mereka adalah Salafiyyun yang tampil di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka banyaknya orang yang menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka, dengan seidzin Alloh. Kami mohon kepada Alloh agar mengokohkan mereka hingga datangnya kematian, dan agar menolong mereka karena keteguhan mereka di atas Al Kitab, as Sunnah dan As Salafiyyah, dan agar menelantarkan musuh-musuh mereka yang jahat itu, yang keluar dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah-Nabawiyyah-Salafiyyah, sekalipun musuh-musuh tadi banyak jumlahnya dan berbangga-bangga dengan jumlah yang banyak.

            Al ‘Allamah Burhanuddin Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Dan janganlah kalian pikirkan banyaknya ucapan para pengikut setan dan serangan cacian mereka dengan dosa dan permusuhan kepada kita, wahai saudaraku. Mereka itu hanyalah mengatakan yang demikian secara ghibah. Mereka dengan itu akan mendapatkan dosa dan kerugian, karena sesungguhnya Alloh telah menjamin datangnya pertolongan, sekalipun pelaku kebatilan itu disertai oleh jumlah yang banyak.” (“Mashro’atut Tashowwuf”/Al Biqo’iy/hal. 243/Darul Iman).

            Al Imam Abu Bathin رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui bahwasanya Ahlul haqq itu sedikit jumlahnya akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling agung nilainya di sisi Alloh.” (“Ar Roddu ‘Alal Burdah”/Abu Bathin/hal. 44/Darul Atsar).

            Inilah akhir dari komentar-komentar saya terhadap poin-poin isi kitab bagusnya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله “Khuthurotul Haddadiyyah”. Dan sekarang kita akan masuk kepada komentar terhadap poin-poin isi kitab beliau yang bagus juga “Manhajul Haddadiyyah”. Dan hanya dengan pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq.

 

Bab Empat: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Manhajul haddadiyyah”

 

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Manhajul Haddadiyyah”.

Komentar saya: Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله mulai masuk ke dalam penjelasan manhaj Haddadiyyin untuk menyingkapkan kebatilan-kebatilan mereka, dan menasihati umat. Semoga Alloh membalas beliau dengan balasan terbaik. Akan tetapi manakala para Hasaniyyun dan Mar’iyyun memanfaatkan risalah ini untuk memukul Salafiyyun, maka kamipun akan mulai masuk pada penjelasan akan batilnya upaya mereka tersebut secara terperinci. Dan hanya dengan pertolongan Alloh sajalah kami mendapatkan taufiq:

[Pasal Satu: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy]

Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang pertama: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy pada zaman ini, dan peremehan mereka terhadap para ulama tadi, menganggap mereka itu bodoh dan sesat, membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, terutama Ahlul Madinah, kemudian mereka melampaui batas hingga sampai kepada Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”. Mereka mengulang-ulang pembicaraan di sekitar para imam tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka dan menolak ucapan mereka.”

Komentar saya:

            Yang keduapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: kebencian mereka pada ulama sunnah yang kokoh di atas sunnah. Telah lewat penjelasan bahwasanya syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau mencintai ulama manhaj Salafiy, yang terdahulu ataupun yang datang setelah mereka, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil ‘Izz pensyaroh “Ath Thohawiyyah”, dan yang lainnya. Tidak ada pada mereka peremehan terhadap para ulama tadi, tidak pula menganggap mereka itu bodoh dan sesat, tidak pula membikin-bikin kedustaan atas nama mereka, baik Ahlul Madinah ataupun yang lainnya. Mereka tidak berbicara seputar para imam tadi untuk menjatuhkan kedudukan mereka atau untuk menolak ucapan mereka.

Kami telah menjelaskan kekokohan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah di atas manhaj Salaful ummah. Dan dengan sebab itulah para Mar’iyyun memusuhi mereka dan membuat makar terhadap mereka, membangkitkan dunia untuk memerangi mereka, dan menghasung masyayikh Yaman dan luar Yaman untuk memerangi mereka. Maka kebencian Mar’iyyun terhadap ulama sunnah yang kokoh itu tampak jelas sekali.

Sungguh mereka itu membenci Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy dan duapuluh ulama –dari ulama sunnah yang kokoh dalam memerangi Mar’iyyin- حفظهم الله. ([32])

Maka Mar’iyyun mereka itulah Haddadiyyun, bukannya Asy Syaikh Yahya dan yang beserta beliau حفظهم الله.

[Pasal Kedua: Mereka Membid’ahkan Setiap Orang yang Terjatuh Ke Dalam Bid’ah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kedua: Mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan Ibnu Hajar menurut mereka lebih keras dan lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb.”

Komentar saya:

            Yang keduapuluh tujuh dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan setiap orang yang terjatuh ke dalam bid’ah. Dan ini bukanlah madzhab Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan bukan pula madzhab orang-orang yang bersama beliau. Bahkan mereka itu menegakkan hujjah sebelum menjatuhkan vonis. Syaikh kami telah mengulang-ulang penjelasan bahwasanya kebodohan terhadap hukum merupakan salah satu udzur yang menghalangi pembid’ahan dan pengkafiran terhadap pelakunya. Beliau berdalilkan firman Alloh ta’ala:

﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا﴾ [الإسراء/15]

“Dan tidaklah Kami menyiksa hingga Kami mengutus seorang Rosul.”

Dan firman Alloh ta’ala:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾.

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa: 115).

Dan mereka tidak berkeyakinan bahwasanya Ibnu Hajar penulis kitab “Fathul Bari” itu lebih berbahaya daripada Sayyid Quthb. Bahkan mereka memuliakan Ibnu Hajar, dan banyak membaca kitab-kitabnya sambil memberikan peringatan terhadap kesalahan-kesalahannya. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata: “Ibnu Hajar terkena pengaruh Asy’ariyyah.”

Maka berdasarkan sisi ini –dan sisi-sisi yang lain- bukanlah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau itu Haddadiyyun.

[Pasal Ketiga: Mereka Membid’ahkan Orang yang Tidak Membid’ahkan Orang Yang Terjatuh Ke Dalam Kebid’ahan]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang ketiga: Mereka membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan memeranginya. Dan tidak cukup menurut mereka untuk dirinya berkata: “Pada diri fulan ada Asy’ariyyah” misalkan, atau: “Fulan Asy’ariy”, bahkan engkau harus berkata: “Fulan mubtadi’” jika tidak demikian maka dia harus diperangi, diboikot dan divonis sebagai mubtadi’.”

Komentar saya:

            Yang kedelapan dari sifat Haddadiyyah adalah: Mereka membid’ahkan orang yang tidak membid’ahkan orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan. Mereka juga memusuhi dan memeranginya. Ini semua bukanlah ciri Ahlu Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka. Syaikh kami حفظه الله berkata: “Tidaklah setiap orang yang terjadi padanya kebid’ahan itu menjadi mubtadi’. Para ulama punya perincian dalam hal itu.  –sampai pada ucapan beliau:- tinggAlloh orang yang tenggelam dalam mencocoki Ahlul bida’ maka dia adalah termasuk dari mereka. Dan barangsiapa tetap bersikeras pada suatu kebid’ahan setelah datangnya penjelasan maka dia adalah mubtadi’.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 89-90/Darul Kitab Was Sunnah).

            Iya, barangsiapa berhak untuk dihukumi sebagai mubtadi’ dengan dalil-dalilnya, maka barangsiapa telah sampai padanya hujjah-hujjah Ahlussunnah tentang kebid’ahan seseorang kemudian dirinya membelanya, maka dia digabungkan dengannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: ” ”Wajib untuk menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau mengagungkan kitab-kitab mereka, atau diketahui bahwasanya dirinya itu saling bantu dan saling tolong dengan mereka, atau tidak menyukai kritikan kepada mereka, atau mulai memberikan udzur untuk mereka, bahwasanya perkataan mereka itu tidak diketahui apa maksudnya, atau tidak diketahui siapakah yang menulis kitab ini, atau udzur-udzur yang seperti ini yang tidaklah mengucapkannya kecuali orang yang bodoh atau munafiq. bahkan wajib untuk menghukum orang yang tahu keadaan mereka dan tidak mau saling menolong untuk menghadapi mereka, karena perjuangan untuk menghadapi mereka merupakan termasuk kewajiban yang paling agung dst” (“Majmu’ul Fatawa” 2/132).

            Al Imam Al Biqo’iy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya orang yang membelanya –yakni membela Ibnul Faridh- dia itu bersegera kepada orang yang sekarakter dengan dirinya, menyerupai orang yang perbuatannya seperti perbuatan dirinya.” (“Tahdzirul ‘Ibad”/hal. 245).

            Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang alamat hizbiyyah Ibrohim bin Hasan Asy Sya’biy: “Dan di antara perkara yang menunjukkan terjerumusnya dirimu ke dalam hizbiyyah adalah: pengingkaranmu kepadaku dan pengingkaranmu terhadap apa yang aku sebutkan tentang hizbiyyin.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 13/ Asy Syaikh Ahmad An Najmiy/Darul Minhaj).

[Pasal Keempat: Mengharomkan Mendoakan Rohmat Bagi Ahlul Bida’ Secara Mutlak]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Keempat: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak, tidak ada perbedaan antara rofidhiy, qodariy, jahmiy, dan antara seorang alim yang terjatuh ke dalam bid’ah.”

Komentar saya:

            Yang keduapuluh Sembilan dari sifat Haddadiyyah: Mengharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ secara mutlak. Syaikh kami telah mendoakan rohmat bagi Ibnu Hajar, An Nawawiy –dan seluruh imam- di sela-sela jam pelajaran beliau dengan doa rohmat yang tak bisa menghitung banyaknya kecuali Alloh. Yang demikian itu adalah dikarenakan mereka berdua menurut Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy adalah termasuk dari imam Muslimin, yang bisa benar dan bisa salah, kaki keduanya telah tergelincir ke dalam sebagian ta’wilat, maka beliau mendoakan rohmat untuk keduanya. Hanya saja beliau tidak mendoakan rohmat bagi orang kafir atau orang yang berada pada hukum kafir.

Adapun tentang mendoakan rohmat bagi ahlul bida’, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah diharomkan mendoakan rohmat bagi ahlul bida’ pada saat membantah kesalahannya dan selain itu?”

Maka beliau حفظه الله menjawab: “Di antara ahlul bida’ ada orang yang diharomkan mendoakan rohmat bagi mereka sama sekali, dan mereka itu adalah pelaku kebid’ahan yang menyebabkan kekafiran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُون﴾ [التوبة/84]

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”

            Maka Alloh عز وجل melarang nabi-Nya dari menyolati mereka, dan sholat tersebut adalah doa. Nabi  صلى الله عليه وسلم meminta idzin pada Robbnya untuk memintakan ampun untuk ibunya, tapi Alloh سبحانه وتعالى tidak mengidzinkan beliau. Dan beliau meminta idzin untuk mengunjungi kuburannya maka Alloh عز وجل mengidzinkan untuk beliau, sebagaimana dalam “Ash Shohih”([33]).

Maka para pelaku bid’ah yang menyebabkan kefasikan setelah matinya mereka, tidak mengapa mendoakan rohmat untuk mereka karena keumuman firman Alloh ta’ala:

﴿وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ﴾ [محمد/19]

“Dan mohonkanlah ampunan untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat.”

(“Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 462/Darul Kitab Was Sunnah).

Maka barangsiapa menuduh Ahlu Dammaj dengan Haddadiyyah maka sungguh dia telah berbuat salah, dan zholim dan ngawur.

[Pasal Kelima: Membid’ahkan Orang Yang Mendoakan Rohmat Kepada Semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy dan yang Lainnya]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kelima: membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu Hajar dan An Nawawiy.”

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh dari sifat Haddadiyyah adalah:  membid’ahkan orang yang mendoakan rohmat kepada semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy, Ibnul jauziy, Ibnu Hajar dan An Nawawiy. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah melindungi Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau dari penyakit ghuluw ini, dan mereka memeranginya. Andaikata Haddadiyyun tahu bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau mendoakan rohmat buat seluruh orang-orang yang disebut tadi –dan memang inilah kenyataannya- pastilah mereka akan membid’ahkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Jika memang demikian, maka bagaimana kalian menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau itu Haddadiyyun?

            Sebagai faidah: Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Ada sekelompok orang jika kami katakan pada mereka: Kembalilah pada kitab-kitab Ahlussunnah seperti “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy”, mereka berkata: ”Kitab itu penuh dengan kebid’ahan, maka apakah nasihat Anda untuk semisal mereka? Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.”

            Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sesat dan bodoh. Kitab “Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhoriy” adalah termasuk dari ktab-kitab sunnah yang penting yang penuntut ilmu ataupun seorang alim itu butuh dengannya. Telah tersebar fatwa milik sebagian ghulah (orang-orang yang berlebihan) yang bernama Mahmud Al Haddad bahwasanya “Fathul Bari” itu harus dibakar. Ketika ucapan ini sampai kepada syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله beliaupun berkata: “Andaikata Rosululloh  صلى الله عليه وسلم tidak bersabda:

«لا يعذب بالنار إلا رب النار»

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robb api.”

Pastilah kami berkata: Sesungguhnya Mahmud Al Haddad itu lebih berhak untuk dibakar daripada “Fathul Bari”.

Adapun kesalahan-kesalahan Al Hafizh Ibnu Hajar dan yang semisalnya رحمهم الله yang terjadi pada ta’wil sebagian sifat atau terlalu melebar dalam masalah mencari barokah dengan atsar-atsar orang sholih, maka kesalahan ini harus dijauhi, dijelaskan dan manusia diperingatkan darinya sambil tetap mengambil faidah kitab-kitab yang bermanfaat yang penuh dengan ilmu dan sunnah itu.” (“Al Kanzuts Tsamin”/5/hal. 65-66/Darul Kitab Was Sunnah).

Sisi pendalilan kita di sini adalah: perhatian syaikh kami An Nashihul Amin untuk membantah Haddadiyyah dan menjelaskan sikap ghuluw (berlebihan), kesesatan dan penyelisihan manhajiyyah mereka, bersamaan dengan kokohnya beliau di atas manhaj Salafiy yang pertengahan antara ifroth (berlebihan) dan tafrith (kurang). Maka alangkah besarnya rohmat yang Alloh jadikan ada di hati-hati para ulama sunnah –termasuk dari mereka adalah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy-, beda dengan Haddadiyyun. Dan alangkah besarnya kejahatan orang yang menuduh beliau sebagai Haddadiy, tolol, dan merobek dakwah Salafiyyah.

[Pasal Keenam: Permusuhan Yang Keras Terhadap Salafiyyun Yang Membela Sunnah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang keenam: Permusuhan yang keras terhadap Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan Salafiyyah dan membelanya, dan sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk menghadapi bid’ah, hizbiyyah dan kesesatan. Mereka juga memusatkan konsentrasi kepada Ahlul Madinah, kemudian kepada Asy Syaikh Al Albaniy رحمه الله karena beliau termasuk dari  ulama besar manhaj Salafiy, yaitu: beliau termasuk ulama Sunnah yang paling keras menghantam hizbiyyin, ahlul bida’ dan ahlut ta’ashshub. Salah seorang dari Haddadiyyun telah mendustakan Ibnu ‘Utsaimin dalam majelisku sepuluh kali sehingga aku sangat marah, dan diapun aku usir dari majelisku. Kemudian mereka menulis kitab-kitab dalam masalah itu dan menyebarkan kaset-kaset, dan menyebarkan seruan-seruan untuk menentang ulama Sunnah. Mereka memenuhi kitab-kitab, kaset-kaset dan seruan-seruan mereka dengan kebohongan dan kedustaan. Dan termasuk dari kezholiman Al Haddad adalah bahwasanya dia menulis suatu kitab yang berisi cercaan pada Asy Syaikh Al Albaniy dan memburuk-burukkan beliau, sebanyak sekitar empat ratus halaman dengan tulisan tangannya, yang andaikata dicetak bisa jadi akan mencapai seribu halaman, diberi judul dengan: “Al Khomis” yaitu Pasukan besar, terbagi atas: pasukan garis depan, pasukan garis belakang, pasukan inti, sayap kanan dan sayap kiri.”

Komentar saya:

            Syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله tidak memusuhi Asy Syaikh Robi’, ataupun orang yang lebih tinggi dari beliau, ataupun orang yang lebih rendah daripada beliau. Seluruh orang yang kokoh di atas sunnah dan salafiyyah itu dimuliakan di sisi mereka. Setiap kali kerja keras seseorang dalam menolong kebenaran semakin besar, maka semakin besar pula pemuliaan Ahlussunnah kepadanya. Dan bersamaan dengan itu –sebagaimana ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri- kesalahan itu –jika terjadi- wajib untuk diingkari, dan hal itu tidaklah dinilai sebagai cercaan.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Perkataan mereka: “Tidak boleh untuk saling mengingkari dalam perkara-perkara yang diperselisihkan” bukanlah perkataan yang benar, karena pengingkaran itu bisa jadi diarahkan kepada ucapan dari hukum tersebut, dan bisa jadi diarahkan kepada pengamalan dari hukum tadi. Adapun yang pertama: jika ucapan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka ucapan tadi wajib diingkari, tanpa ada perselisihan. Jika tidak demikian([34]), maka ucapan tadi boleh diingkari dalam artian: sisi kelemahannya dijelaskan, menurut orang yang berpendapat bahwasanya pihak yang benar itu cuma satu, dan ini adalah pendapat hampir seluruh Salaf dan fuqoha. Adapun dari sisi amalan([35]), jika amalan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka dia juga wajib diingkari sesuai dengan derajat-derajat pengingkaran, sebagaimana telah kami sebutkan dari hadits peminum nabidz yang diperselisihkan, dan sebagaimana hukum seorang hakim itu dibatalkan jika menyelisihi suatu sunnah sekalipun dia telah mengikuti sebagian ulama. Adapun jika di dalam masalah itu tidak ada sunnah ataupun ijma’ maka ijtihad di situ boleh, orang yang mengamalkannya tidak diingkari baik secara ijtihad ataupun taqlid.” (“Bayanud Dalil ‘Ala Buthlanit Tahlil”/hal. 159/Daru Ibnul Jauziy).

            Bacalah juga perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (3/hal. 223/Khothou Man Yaqulu La Inkaro Fi Masailil Khilaf”/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Penjelasan ini dan yang telah lewat berulangkali merupakan hujjah yang jelas tentang batilnya hukum orang yang menuduh Ahlu Dammaj sebagai Haddadiyyin. Akan tetapi sebab-sebab kebutaan dan ketulian itu banyak.

[Pasal Ketujuh: Mengaku Telah Mentahdzir Dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dia mengaku-aku telah memperingatkan umat dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah, tapi kami tidak melihat bahwasanya dia telah menulis satu karya tulis atau sekedar memo kecil yang berisi kumpulan cacatan, lebih-lebih lagi buku semisal kitab dia “Al Khomis”.”

Komentar saya:

Yang ketigapuluh satu dari sifat Haddadiyyah: Menaburkan abu ke mata-mata manusia dengan pengakuan mereka bahwasanya mereka juga telah memperingatkan umat dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah.

Maka yang menyamakan syaikh kami dengan Haddadiyyun, maka jauh sekali. Inilah kitab-kitab syaikh kami dan orang-orang yang bersama beliau tentang peringatan kepada umat terhadap seluruh firqoh yang sesat. Barangsiapa ragu tentang hal ini sedikit saja, maka silakan mengunjungi kami di Darul Hadits Salafiyyah di Dammaj untuk kami perlihatkan padanya sejumlah besar dari karya tulis tadi. Dan silakan mengunjungi tasjilat (studio rekaman) “Darul Hadits” di Dammaj untuk mendengarkan perkataan-perkataan syaikh kami حفظه الله tentang orang-orang tersesat tadi.

يا ابنَ الكراِم ألا تدنْو فتبْصرَ ما … قد حدَّثوك فما راءٍ كمن سمِعاَ

 “Wahai anak orang yang mulia, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat apa yang mereka ceritakan padamu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar.” (“Nafhatur Roihanah”/1/hal. 197).

Dan sebagaimana yang dinukilkan oleh Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله dari sebagian komandan Yazid bin Mu’awiyah:

الشاهد يرى ما لا يرى الغائب. (“البداية والنهاية”/8 / ص 235).

“Orang yang menyaksikan itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir.” (“Al Bidayah”/8/hal. 235).

            Maka wahai orang yang menuduh kami dengan kebusukan, ketololan, dan haddadiyyah, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat perkara yang mereka kaburkan terhadapmu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar. Akan tetapi orang yang telah dibutakan matanya oleh kedengkian dan fanatisme, maka dia akan berkata:

عنز ولو طارت.

“Dia itu kambing walaupun bisa terbang.”

[Pasal Kedelapan: Ghuluw mereka terhadap Al Haddad]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang ketujuh: sikap berlebihan mereka dalam mengagungkan Al Haddad dan klaim mereka bahwasanya Al Haddad itu juara dalam masalah ilmu. Hal ini mereka lakukan demi menjatuhkan para ulama besar dan pemikul manhaj salafiy, dan demi menyampaikan syaikh mereka tadi ke martabat seorang imam mutlak, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang semisal mereka dari kalangan para pengikut yang tertimpa kegilaan yang besar. Mereka berkata kepada si fulan dan si fulan yang telah mencapai martabat yang tinggi dalam keilmuan: “Mereka harus bertekuk lutut di hadapan Abu Abdillah Al Haddad dan Ummu Abdillah.”

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh dua dari sifat Haddadiyyah: Mereka ghuluw terhadap Al Haddad dan para pemimpin mereka. Mahmud Al Haddad itu sesat dan menyimpang, kami tidak ghuluw tehadapnya, bahkan kami menghinakannya karena dia itu mubtadi’. Siapa saja orang dari Ahlussunnah, maka kami menghormatinya, memuliakannya dan tidak menelantarkannya إن شاء الله . Dan kami akan saling menolong dengannya di atas jalan yang lurus إن شاء الله . Dan kami juga tidak ghuluw kepada beliau. Tiada seorangpun yang lebih tinggi daripada kebenaran.

            Kami berkata sebagaimana perkataan Al Imam Al ‘Allamah Abdurrohman Al Mu’allimiy رحمه الله: “Termasuk dari lembah kebatilan yang terluas adalah sikap ghuluw kepada tokoh-tokoh utama.” (“At Tankil”/1/hal. 81).

            Telah lewat pengingkaran syaikh kami kepada orang yang ghuluw kepada beliau. Dan orang yang membikin syair yang di dalamnya ada sikap ghuluw pada seyaikh kami telah bertobat, dan menulis pengumuman atas tobatnya dirinya, dan telah menyebarluaskannya. Mayoritas murid syaikh kami, para sahabat beliau, dan teman dekat beliau berjalan seperti ini: menghormati beliau tanpa mengagungkannya secara berlebihan. Maka barangsiapa menisbatkan pada syaikh kami dan orang yang bersama beliau kepada sikap ghuluw pada para pemimpin, maka sungguh dia telah menzholimi mereka dan mencaci mereka.

            Kemudian sebagian dari orang yang dengki –semisal ‘Ubaid Al Jabiriy- berusaha menghalangi manusia untuk belajar di Dammaj dengan alasan bahwasanya mereka nanti akan belajar caci-makian.

            Saya jawab: justru orang-orang yang berbicara seperti tadi mereka itulah tukang caci-maki, dan mereka mengajari manusia untuk mencaci maki dan mencerca, karena mereka telah mencerca Ahlu dammaj dengan menisbatkan mereka kepada Mahmud Al Haddad. Al hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Bahwasanya barangsiapa menisbatkan seseorang kepada perkara yang tidak pantas baginya, maka dikatakan bahwasanya dirinya telah mencercanya.” (“Fathul Bari”/14/hal. 175).

            Telah aku jelaskan sikap ghuluw Mar’iyyun kepada para pemimpin mereka dengan penjelasan yang terang dalam kitab “At Tajliyyah Li Amarotil Hizbiyyah”. Barangsiapa ingin mengetahui hakikat nyata mereka dalam masalah ini maka silakan rujuk ke kitab tadi. Jika tidak, maka bukan kewajiban kami untuk mengulanginya di sini.

            Dan di antara bukti yang menunjukkan sikap ghuluw para Mar’iyyun adalah ucapan sebagian dari mereka: “Sesungguhnya Asy Syaikh Fulan bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja. Dan beliau hingga sekarang tidak berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy itu hizbiy!”

            Maka jawab kami adalah: Ini merupakan sikap ghuluw yang jelas, yang dengannya para Mar’iyyun berdalilkan untuk meruntuhkan seluruh bayyinat Salafiyyun atas hizbiyyah kedua anak Mar’iy. Di manakah dalil yang menyatakan bahwasanya penciuman itu bisa menggugurkan bayyinat?

            Dan juga: apakah Asy Syaikh Fulan itu ma’shum (terjaga) dari kesalahan dan kelalaian? Dan apakah beliau itu terjaga dari penyakit-penyakit hidung? Orang yang sakit influenza tidak bisa mencium sebagaimana penciuman orang yang sehat. Manusia itu bisa benar dan bisa salah, bisa waspada dan bisa lalai, bisa sehat dan bisa sakit. Maka Asy Syaikh Fulan kalaupun sebagaimana yang kalian katakan: “Sesungguhnya beliau bisa mengetahui bahwasanya seseorang itu hizbiy dengan sekedar mencium dari baunya saja” tidaklah beliau itu keluar dari sifat kemanusiaan. Barangkali beliau sekarang ini lagi sakit flu –sebagaimana keumuman manusia yang masih bisa sakit, semoga Alloh menyembuhkan beliau-, sehingga beliau tak bisa mencium aroma hizbiyyah Mar’iyyah yang busuk itu.

            Lagi pula: sesungguhnya Yahya bin Ma’in رحمه الله adalah Amirul Mu’minin dalam hadits, dan ucapan beliau tentang para rowi itu diperhitungkan. Akan tetapi beliau bersamaan dengan kedalaman ilmunya dalam bidang ini, terkadang men-tsiqohkan orang-orang yang di-jarh para ulama. Yang demikian itu dikarenakan sebagai rowi yang lemah saat berada di hadapan beliau mereka berhias-hias dengan hadits yang shohih sehingga beliau memberi mereka tazkiyyah.

Maka kesimpulannya: sesungguhnya Mar’iyyun itu telah bersikap ghuluw terhadap para masyayikh yang berada di barisan mereka. Maka merekalah Haddadiyyun sekalipun diberi tazkiyyah oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

[Pasal Kesembilan: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kedelapan: mereka menyerang ulama Salafiyyah di Madinah dan yang lainnya dan menuduh mereka telah berdusta: “Fulan pendusta”, “Fulan pendusta”. Mereka tampil dengan wujud cinta kejujuran dan mementingkan kejujuran. Tapi manakala dijelaskan pada mereka kedustaan Al Haddad dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan mereka dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah kecuali semakin berpegang dengan Al Haddad dan ghuluw kepadanya.

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh tiga dari sifat Haddadiyyah: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta. Adapun kami, tidak ada pada kami إن شاء الله bermudah-mudah untuk menuduh seorang Muslim berdusta, lebih-lebih lagi terhadap seorang alim dari ulama sunnah, sama saja, dari Ahlul Madinah ataupun yang lainnya, والحمد لله. Maka hujjah itulah yang memimpin dan menjadi pertimbangan.

            Adapun Baromikah, sesungguhnya mereka menuduh ulama Dammaj dan para pelajar mereka dengan kedustaan, dan Baromikah memperbanyak ucapan: “Fulan pendusta”, “Fulan pendusta”. Contohnya adalah: Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله menuduh tanpa bukti sebagian thullab yang mengusahakan ishlah di antara dua syaikh –sebelum menggeloranya fitnah-, menuduh mereka menjilat, sebagai pendusta, atau aktif dalam fitnah. (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 32).

            Abdulloh bin Robi’ Al Barmakiy menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله sebagai pendusta. Telah dibantah oleh Yusuf Al Jazairiy dalam “Jinayatu Abdurrohman Al ‘Adniy” (hal. 27).

Mereka juga menuduh para saksi telah berdusta, sebagai dinukilkan oleh Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal dalam “Nushrotusy Syuhud” (hal. 3).

Pengikut Abdulloh bin Mar’i  yang paling keras fanatismenya yaitu Nabil Al Hamr dan sebagian pengikutnya هداهم الله berkata: “Kita telah menguburkan Dammaj, dan mayat itu tak akan bangun.” Juga berkata: “Ucapan Asy Syaikh Yahya itu batil. Juga berkata: “Seorang mubtadi’ ucapannya bisa diterima, akan tetapi sang pendusta tidak bisa diterima” (menyindir Asy Syaikh Yahya). (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy/no. 7).

Maka Mar’iyyun adalah Haddadiyyun pada bab ini.

Manakala dijelaskan pada mereka kedustaan kedua anak Mar’i dan Muhammad bin Abdil Wahhab dengan dalil-dalil dan bukti-bukti, Alloh menyingkapkan hakikat keadaan mereka dan kejahatan yang mereka sembunyikan. Ternyata mereka tidaklah bertambah kecuali semakin berpegang dengan mereka dan fanatik kepada mereka.

Maka wahai orang yang menuduh kami sebagai haddadiyyun dan membela para hizbiyyin tadi, sadarlah kalian. Sesungguhnya orang-orang Darul hadits di Dammaj yang kalian tuduh sebagai Haddadiyyun mereka itu adalah pewaris manhaj Salaf yang dulu kalian ada padanya. Sedangkan orang-orang yang kalian bela itu mereka itulah para pewaris manhaj Al Haddad yang dulu kalian perangi.

[Pasal Kesepuluh: Melaknat Salafiyyin, Meneror Mereka, Dan mengancam Mereka Dengan Pemukulan]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Kesembilan: Mereka punya keistimewaan dengan melaknat, kasar, dan meneror sampai pada derajat mengancam salafiyyin dengan pukulan, bahkan tangan mereka telah menjulur dengan memukul sebagian salafiyyin.”

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh empat dari sifat Haddadiyyun: berbuat zholim terhadap badan-badan Salafiyyin dan meneror jiwa-jiwa mereka. Ini termasuk perbuatan Mar’iyyun: memukul sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini seperti saudara kita Abu Isa Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy dan lainnya. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

            Sebagian contohnya telah diberitakan kepadaku oleh saudara yang mulia Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله.

Bahkan sebagian pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy telah mengancam sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini untuk dibunuh. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

Salah seorang dari mereka telah mencekik saudara kita Irham Al Jawiy Al Indonesiy.

Salah seorang dari mereka telah memukul saudara kita Irham Al Maidaniy Al Indonesiy.

Yang lain telah memukul Abu Kholifah Abdul Ghofur Al Indonesiy di wajahnya.

Salah seorang dari mereka telah memukul dada saya. Yang lain memukul leher saya dan mengancam membunuh saya.

Abu Abdillah Adib Bin Ahmad Al-Jawiy ditusuk dengan jari di antara dagu dan ujung lehernya.

Abu Abdillah Muhammad Bin Thobary Al-Brebesy mengalami berbagai upaya teror fisik dan mental dialaminya di “malam undangan” tersebut. Kacamatanya hilang pada malam itu.

Abu Qilabah Abdul Wahid Al-Jakartiy mengalami sedikit tabrakan yang disengaja, lalu dikasih isyarat ancaman.

Abu Abdirrohman Utsman As-Semarangiy diteriaki sambil diancam-ancam.

Abu ‘Amr Ridwan Bin Zaky Al-Amboniy didorong kepalanya.

Abu Hudzaifah Hasan Al-Bugisiy direnggut krah bajunya dengan kasar, lalu ditarik ke dinding. Lalu datang lagi yang lain berbuat yang hampir sama dengan itu.

Abu Ahmad Sulaiman Al-Ambony didorong wajahnya.

Abul Husain Muhammad Nur Kholis Al Jawiy direnggut krah bajunya dengan kasar dan diteriaki.

Berita-berita tentang kekasaran dan teror mereka itu panjang penyebutannya. Sebagiannya telah saya sebutkan dalam risalah “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftariyl Janiy” maka silakan merujuk di situ. Dan kebanyakan dari kami bersabar dan tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Maka wahai para tokoh utama, semoga Alloh menjaga Anda semua, bandingkanlah antara perbuatan Haddadiyyun dengan perbuatan Mar’iyyun. Siapakah dari kedua kelompok ini yang lebih besar kejahatannya dalam bab ini?

Maka Mar’iyyun itu lebih berhak mendapat gelar Haddadiyyun daripada kami, maka bagaimanakah kalian bisa tersihir? Semoga Alloh melindungi kalian dari sihir kedengkian dan fanatisme.

Dan Mar’iyyun adalah mubtadi’ah sebagaimana telah lewat penjelasannya. Jika mereka melakukan kekasaran tadi terhadap Salafiyyin dengan niat menjalankan agama juga –meyakini bahwasanya dengan itu mereka hendak menolong agama mereka- maka mereka juga menjadi mubtadi’ah dari sisi ini, karena tiada dalil syar’iy yang membolehkan mereka berbuat itu. Rujuk kembali ucapan Syaikhul Islam رحمه الله dalam “Majmu’ul Fatawa” (18/hal. 346).

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Tiada seorangpun dari makhluq Alloh yang berhak untuk membikin suatu perkara di dalam syari’ah dari ro’yunya yang tidak didapatkan dalil untuk itu, karena yang demikian itu adalah benar-benar kebid’ahan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 283).

Syaikhuna An Nashihul Amin حفظه الله berkata: “Seorang mubtadi’ adalah orang yang membikin perkara dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama ini. Kami telah melihat sebagian ulama berkata: Orang yang banyak melakukan penyelisihan terhadap perkara cabang-cabang syari’ah maka dikatakan bahwasanya dia itu mubtadi’. Maka orang itu dibid’ahkan setelah dijelaskan padanya hujjah dan ditolak syubhatnya. Adapun orang yang melakukan penyelisihian dalam dasar-dasar agama, meskipun dalam satu masalah saja, secara sengaja dan punya niat untuk itu, seperti dalam masalah melihat Alloh di akhirat, atau masalah aqidah yang lain, atau masalah As Sunnah, seperti pendapat bolehnya pemilu, atau demonstrasi, atau hizbiyyah, maka dikatakan bahwasanya mereka itu mubtadi’ah. Demikian pula para anggota jam’iyyat, maka dikatakan bahwasanya mereka itu mubtadi’ah walaupun mereka benci dengan hukum ini…” dst. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/fatwa Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy yang dikumpulkan oleh Kamal Al ‘Adniy/hal. 32/Darul Kitab Was Sunnah).

Adapun para pelaku kekerasan tadi andaikan mereka tidak melakukannya dengan niat ibadah, akan tetapi mereka melakukannya karena marah demi kelompok mereka, maka inilah ‘ashobiyyah (fanatisme kelompok) yang menjadi ciri yang paling khusus bagi hizbiyyin. Al imam Al Wadi’iy رحمه الله ditanya: “Bagaimana cara memperingatkan para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, yang mana  tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?”

Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib” /hal. 112/Darul Atsar).

Asy Syaikh Sholih As Suhaimy -حفظه الله- berkata tentang kelompok-kelompok di medan dakwah,”Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya, mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun di atas loyalitas dan permusuhan” dan seterusnya (“An Nashrul ‘Aziz”)/Asy Syaikh Robi’/hal. 44/Maktabatul Furqon).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Fanatisme terhadap suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh ta’ala dan sunnah Rosul  صلى الله عليه وسلم, dan membangun loyalitas dan permusuhan karenanya, maka ini merupakah perbuatan hizbiyyah. ini merupakah perbuatan hizbiyyah sekalipun tidak terorganisir. Engkau membangun pemikiran yang menyimpang, dan mengumpulkan orang-orang di atasnya, ini merupakan hizb, sama saja dia mengorganisir ataukah tidak. Selama mereka itu berkumpul untuk satu orang yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka ini merupakah perbuatan hizbiyyah.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 461/Darul imam Ahmad).

Seorang Hizbiy Adalah Mubtadi’

            Seorang hizbiy adalah mubtadi’ karena dirinya menyelisihi satu dasar dari dasar-dasar Islam: yaitu kesetiaan kepada Al Jama’ah yang ada dalam penerangan Al Kitab As Sunnah dan As salafiyyah, tidak melakukan loyalitas dan permusuhan kecuali karena Alloh. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Hukum orang yang berloyalitas karena suatu jama’ah dan memusuhi yang lain, maka sungguh dia itu adalah mubtadi’ yang sesat.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Barangsiapa terjatuh ke dalam hizbiyyah tanpa ilmu, tidaklah dikatakan bahwasanya dirinya itu hizbiy karena dia itu bisa jadi belum sampai padanya penjelasan, bukti-bukti ataupun hujjah. Adapun orang yang telah sampai padanya bayyinat dan tegak atasnya hujjah lalu dia menentangnya maka dia itu adalah hizbiy mubtadi’. Dan hizbiyyah itu bid’ah.” (dicatat tanggal 2 Jumadal Ula 1431 H).

Ditanyakan kepada Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Apakah setiap orang yang ada padanya hizbiyyah maka dia itu mubtadi’ dan keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah?”

Maka beliau menjawab: “Iya, dikarenakan hizbiyyah itu dengan sendirinya adalah bid’ah: barangsiapa ridho kepadanya dan berjalan pada tunggangannya, dan baku tolong dengan pelakunya maka dia itu mubtadi’…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 214/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka pendapatku adalah bahwasanya setiap hizbiy adalah mubtadi’, mereka mau ataupun tidak mau.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa Fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 162/Darul Imam Ahmad).

Yang kami sesalkan: sebagian masyayikh tidak menghukum kedua anak Mar’i dan pengikut mereka sebagai hizbiy dan mubtadi’ bersamaan dengan banyaknya syarat tahzib dan tabdi’ yang ada pada mereka, yang mana dengan sebagian syarat tadi saja mereka menghukum sebagian orang sebagai hizbiy dan mubtadi’.

 

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kesepuluh: Melaknat kepada orang tertentu sampai bahkan sebagian dari mereka melaknat Abu Hanifah, dan sebagiannya mengkafirkan dirinya.”

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh lima dari sifat Haddadiyyah adalah: melaknat orang-orang tertentu yang tidak berhak untuk dilaknat. Adapun Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله jika menyebut Abu Hanifah beliau mendoakan rohmat untuknya, tidak melaknatnya dan tidak pula mengkafirkannya. Saya juga tak pernah mendengar beliau melaknat orang-orang tertentu yang tidak dilaknat oleh Alloh ataupun Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم. Adapun melaknat orang secara sifat, bukan dengan menyebutkan nama, maka hal itu dalil-dalilnya telah terkenal di kalangan Ahlussunnah.

Maka alangkah besarnya penyesalan kepada para pembikin-bikin tuduhan itu, bagaimana mereka menggabungkan Darul hadits di Dammaj dengan Haddadiyyah? Hal ini menunjukkan bahwasanya mereka itu tertimpa musibah dengan sebab jeleknya pemahaman sehingga tidak benar-benar memperhatikan karakter Haddadiyyah. Atau disebabkan oleh jeleknya maksud mereka sehingga mereka mengikuti hawa nafsunya dan menentang kenyataan yang sangat jelas. Maka semoga Alloh melindungi kalian dari dibutakan oleh kedengkian.

[Pasal kesebelas: Bermudah-mudahan Dalam Mengkafirkan Orang]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan datanglah Al Haddad kepada perkataan yang benar ataupun salah seraya berkata: “Ini adalah zandaqoh (kemunafikan secara I’tiqodiy)” yang memberikan kesan bahwasanya orang ini takfiriy yang memakai kedok.”

Komentar saya:

            Yang ketigapuluh enam dari sifat Haddadiyyah adalah: bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Dan seluruh pujian hanya untuk Alloh, tiada pada syaikh kami yang mulia itu رعاه الله pemikiran takfiriyyah. Beliau juga tidak bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Beliau حفظه الله telah mengulang-ulang perkataan bahwasanya Ahlussunnah itu tidak mengkafirkan seorangpun dari Ahlul Qiblah karena dosa yang dilakukannya, kecuali dosa yang memang mengharuskan pelakunya kafir secara hukum syari’ah, dan dalam pengkafiran itu harus ditunaikan syarat-syaratnya dan disertai dengan hilangnya penghalang-penghalang, dan yang demikian itu diserahkan kepada orang yang alim dalam bab itu. Ini menunjukkan bahwasanya beliau bersungguh-sungguh memperhatikan manhaj Ahlussunnah dalam bab ini –dan bab-bab yang lainnya, dan juga menunjukkan berhati-hatinya beliau dalam memvonis dan memperhatikan akibat-akibatnya.

            Adapun Mar’iyyun, maka mereka punya sifat ini: bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang. Hani Buroik berupaya menisbatkan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kepada kemurtadan sebagaimana telah diketahui dalam salah satu ceramahnya.

            Basyir Al Hazmiy berkata tentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy: “Dia itu pembohong, fajir, fasiq, lidah kotor, zindiq!” sebagaimana disaksikan oleh saudara kita Samih bin Ali حفظه الله (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 43).

            Ali ‘As’us berkata pada saudara kita Haidaroh ‘Azb رعاه الله : “Pada diri Asy Syaikh Yahya ada perkara-perkara kemurtadan” (lihat “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah”/Abu Bakr bin Abdah bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy/hal. 19).

            Maka hizb baru ini yang dibela oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy mereka itulah haddadiyyun. Adapun Ahlu Dammaj yang dituduh dengan dusta oleh beliau sebagai haddadiyyun, maka mereka berlepas diri dari yang demikian itu.

[Pasal Keduabelas: Kesombongan, Penentangan, Dan penolakan Terhadap kebenaran]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang kesebelas: Kesombongan dan penentangan yang menyebabkan mereka menolak kebenaran sebagaimana seluruh ahlul bida’. Maka seluruh apa yang disampaikan oleh Ahlul Madinah yang berupa penjelasan tentang penyimpangan Al Haddad dari manhaj Salaf, dan mereka tolak. Maka mereka dengan perbuatan seperti ini menjadi termasuk sempalan Islam yang paling jelek secara akhlaq dan pengelompokan”

Komentar saya:

            Sesungguhnya orang yang kenal Alloh dengan sebenar-benarnya dia akan merendahkan diri kepada Alloh. Ibrohim رحمه الله berkata: Aku bertanya kepada Al Fudhoil: Apakah tawadhu’ itu? Beliau menjawab: “Yaitu engkau merunduk kepada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau terima kebenaran tadi darinya. Dan sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau terima kebenaran tadi darinya.” (“Hilyatul Auliya”/biografi Al Fudhoil bin ‘Iyadh/3/hal. 392/Dar Ummil Quro/atsar hasan).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah maka dulunya para imam Salaf yang ilmu dan keutamaan mereka telah disepakati mereka menerima kebenaran  dari orang yang mendatangkannya kepada mereka sekalipun dia adalah anak kecil. Dan mereka juga berwasiat kepada para sahabat dan pengikut mereka untuk menerima kebenaran jika kebenaran tadi muncul dari selain ucapan mereka.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/Majmu’ur Rosail/2/hal. 404/cet. Al Faruq).

            Inilah yang kami lihat dari syaikh kami رعاه الله bahwasanya beliau menerima kebenaran sekalipun datang dari anak kecil, bahkan dari musuhnya, karena beliau melihat bahwasanya manusia itu –kecuali orang-orang yang ma’shum- seagung apapun martabatnya, dan setinggi apapun kedudukannya, serta sebanyak apapun ilmunya, dia itu terkadang tahu, dan terkadang tidak tahu, terkadang benar, dan terkadang salah. Oleh karena itulah makanya peringatan itu diterima, dan perbaikan itu disambut baik jika mencocoki dalil-dalil. Dan tak ada seorangpun yang lebih besar daripada kebenaran.

            Adapun ucapan yang lemah dan jelas kelemahannya dalam timbangan dalil-dalil maka ucapan tadi tertolak walaupun dinamakan oleh orang yang membawanya tadi sebagai “nashihat”.

Bahkan hizb baru hizb ibnai Mar’i mereka itulah orang-orang yang sombong yang menentang setelah ditegakkannya hujjah-hujjah dan bukti-bukti bersamaan dengan ketidakmampuan mereka untuk meruntuhkannya secara ilmiyyah. Al Imam Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata: “Hanyalah dikatakan ‘inad (penentangan) jika dia telah mengetahui kebenaran dan menyelisihinya.” (“At Taqyid Wal Idhoh”/1/hal. 157)

Maka mereka itulah pengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى﴾ [النجم/23].

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Robb mereka.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

            Manakala mereka tidak mau menerima hujjah-hujjah dan tidak mau kembali kepada kebenaran, maka merekapun divonis sebagai mubtadi’ah, sama saja antara pemimpin hizb ataupun para pengekornya. Pembid’ahan terhadap pemimpin hizb itu jelas. Adapun pembid’ahan terhadap pengekornya adalah sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Orang yang bodoh itu wajib untuk kembali dan tidak bersikeras di atas kebodohannya, dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya, karena orang tadi jika tetap demikian maka dia itu adalah mubtadi’ yang bodoh dan sesat.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 682).

            Ucapan beliau: “Dan tidak menyelisihi perkara yang para ulama Muslimin ada di atasnya” yaitu: tidak menyelisihi kebenaran yang para ulama Muslimin ada di atasnya. Dan kebenaran itu dikenal dengan kesesuaiannya dengan Al Kitab dan As Sunnah berdasarkankan pemahaman Salaful ummah, dan bukannya sekedar pendapat-pendapat para ulama.

            Maka orang yang bodoh tapi menentang kebenaran setelah tegaknya hujjah, maka dia digabungkan dengan pemimpinnya dalam hukum. Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله ditanya: “Apakah orang dari kalangan awam Muslimin yang membawa syubhat-syubhat hizbiyyin dikatakan bahwasanya dia itu hizbiy?”

            Maka setelah memuji Alloh dan bersholawat kepada Nabi beliau حفظه الله menjawab: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka. Akan tetapi hendaknya dia dinasihati dulu, dan dijelaskan kepadanya kebenaran, karena orang yang bodoh itu terkadang mengalami kesamaran. Maka hendaknya dijelaskan kepada kebenaran dan diarahkan ke situ. Ini adalah rohmat ulama. Tapi jika dia bersikeras dan tidak mau serta membela ahlul bida’ maka hukumnya sama dengan hukum mereka karena kesepakatan mereka semua untuk memilih kebid’ahan dan mendahulukannya di atas sunnah, dan ini adalah kesesatan yang nyata.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/2/hal. 95/Darul Itqon).

            Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله juga berkata: “Aku akan menunjukkan kepadamu sebagian alamat yang dengannya seorang hizbiy itu dikenal, sama saja apakah dia itu pemimpin hizb ataupun para pengekornya, adalah sebagai berikut: yang pertama adalah: bergabungnya dia ke dalam jama’ah tertentu yang punya manhaj khusus yang menyelisihi manhaj Salaf Ahlil Hadits wal Atsar, seperti jamaah Ikhwanul Muslimin dan pecahan-pecahannya, Jama’ah Tabligh dan orang-orang yang bergabung bersamanya. Dan pembalasannya demi hizbnya atau jama’ahnya dengan benar atau batil. Yang kedua: Dia duduk-duduk dan berjalan bersama salah satu jama’ah yang tersebut tadi dan yang lainnya dari kalangan orang yang menyimpang dalam aqidah dan amalan, sama saja: mereka itu jamaah ataukah individu, anak buah ataupun pemimpin.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/1/hal. 31-32).

            Ini juga sama dengan manhaj syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله . Beliau telah ditanya: “Orang awam yang terjatuh ke dalam kebid’ahan dan dia tidak memahami hujjah, maka kapankah dia itu jadi mubtadi’?”

            Maka beliau رعاه الله menjawab: “Orang yang tidak paham hujjah hendaknya disikapi dengan sabar. Orang-orang awam merupakan penolong bagi orang yang lebih dulu mengajari mereka. Maka engkau akan melihat mereka itu akan baku tolong dengan setiap penyeru. Dulu mereka baku tolong dengan Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, dan Ali bin Fadhl Al Qurmuthiy. Orang-orang awam terpedaya dengan banyaknya harta dan banyaknya kedermawanan. Sebaik-baik ucapan adalah kisah Qorun. Alloh عز وجل berfirman:

﴿فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ﴾

“Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS. Al Qoshshosh: 79).

Maka orang awam hendaknya disabari([36]), lebih-lebih dalam keadaan mereka itu tidak memahami hujjah dan tidak tahu maknanya. Apabila telah dijelaskan kepadanya hujjah, dan jelas baginya perkara tersebut dan dia memahaminya, kemudian dia menentang dan bersikeras untuk itu, maka orang ini digabungkan kepada orang yang dibelanya dengan kebatilan,…” dst. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 23/Darul Kitab Was Sunnah).

            Maka hizb baru hizb ibnai Mar’iy telah menentang kebenaran. Maka mereka itu adalah hizbiyyun mubtadi’ah. Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka jika engkau telah telah mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).

            Syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله ditanya: “Apakah ada perbedaan antara mubtadi’ dalam manhaj dan mubtadi’ dalam perkara ibadah?”

Maka beliau رعاه الله menjawab: “Mubtadi’ adalah mubtadi’. Dan tidaklah setiap orang yang terjatuh ke dalam suatu kebid’ahan berarti dia itu mubtadi’([37]). Bisa jadi dia tidak sengaja. Akan tetapi barangsiapa bermaksud dan sengaja untuk menentang kebenaran maka dia itu adalah mubtadi’”. (“Ats Tsawabitul Manhajiyyah”/hal. 27/Darul Kitab Was Sunnah).

Kesombongan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan Penentangannya Terhadap Kebenaran

            Adapun tangisan mereka terhadap Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy: “Mengapa kalian mengkritik beliau?!”

            Maka jawabnya adalah: Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy membela Mar’iyyin mati-matian setelah terangnya hujjah-hujjah, dan menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan. Dirinya sendiri telah nampak darinya sebagian penyelewengan, dan tampak kesombongannya kepada kebenaran dan kepada para pemberi nasihat yang benar. Barangsiapa ingin melihat kepada sikap ‘inadnya (penentangan kepada kebenaran setelah datangnya penjelasan) silakan membaca –misalnya- “Al Washoyan Nafi’ah Fil Fitnatil Waqi’ah” (hal.29-34) karya Abu Bakr bin Abdah bin Abdillah bin Hamid Al Hammadiy.

Dan lihatlah permainannya dan ‘inad dia dalam kasus tauhidul hakimiyyah.

Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy dalam risalahnya “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” berkata:

Asy Syaikh Al Wushobiy dalam kitabnya “Al Qoulul Mufid” hal. 72 berkata: Pengertian tauhid. Tauhid secara bahasa adalah mashdar dari وحد يوحد yaitu: menjadikan sesuatu menjadi satu. Dan secara syari’ah adalah: penunggalan Alloh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan nama dan sifat-Nya, dan hukum-Nya. Lihatlah: “Majmu’Fatawasy Syaikh Ibnu Baz” (1/hal. 34).

Selesai ucapan Asy Syaikh Al Wushobiy.

Dan ketika muncul kitab ini setelah penelitian ulang dari Asy Syaikh Al Wushobiy dengan beberapa tambahan pada tahun (1422 H) akupun melihat-lihat kitab itu karena Asy Syaikh Al Wushobiy memerintahkannya, di mana beliau berkata dalam salah satu darsnya: “Jika kalian melihat kesalahan apapun dalam kitab ini, maka peringatkanlah diriku, niscaya kalian akan mendapatkan doa dariku.” Dan beliau mengulang ucapan itu lebih dari sekali.

            Maka akupun memberanikan diri untuk itu dan mulai melihat-lihat isi kitab itu. Seakan-akan Asy Syaikh Al Wushobiy memberikan isyarat bahwasanya di dalam kitab itu ada perkara-perkara yang beliau berijtihad di situ dari dirinya sendiri.

Lalu mataku tertuju pada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita dalam menyusun kitab-kitab aqidah dan tauhid. Dan penyelisihan yang paling penting adalah: penisbatan ucapan tambahan ini: “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله hingga aku mengira bahwasanya ucapan ini memang diucapkan oleh Al Imam Ibnu Baz رحمه الله sampai-sampai aku disusupi keraguan dan kebimbangan bersamaan dengan keyakinanku akan aqidah Imam tersebut رحمه الله seperti dulunya keyakinanku. Maka aku saat itu juga aku menjulurkan tanganku kepada kitab-kitab Al Imam Ibnu Baz رحمه الله dan aku mengambil jilid yang diisyaratkan dalam kitabnya yaitu (1/34) dari “Majmu’ul Fatawa”, kemudian aku buka halaman yang diisyaratkan padanya dan mulailah aku membacanya. Tapi aku tidak mendapati penisbatan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله. Maka aku sangat heran melihat perbuatan ini dan kelancangan ini. Bagaimana dia punya hak untuk berbuat itu dari dirinya sendiri. Silakan membaca perkataan Al Imam Ibnu Baz رحمه الله secara lengkap. Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata (1/hal. 34):

“Tauhid: mashdar dariتوحيدا  وحد يوحد yaitu: وحِّد الله yaitu: yakinilah bahwasanya Alloh itu satu, tiada sekutu baginya dalam rububiyyah-Nya, ataupun dalam nama dan sifat-Nya, ataupun dalam uluhiyyah-Nya dan ibadah kepada-Nya, yang Mahasuci dan Mahatinggi… dan ketika dirinci jadilah jenis tauhid itu ada tiga: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma was sifat. Untuk tauhid rububiyyah kaum musyrikin mengakuinya dan mereka tidak mengingkarinya. Akan tetapi mereka tidak masuk ke dalam Islam dengan tauhid ini…”

            Manakala aku memastikan bahwasanya penisbatan ini adalah susupan dari Asy Syaikh Al Wushobiy, berkumpullah aku dengan beberapa ikhwah dari penuntut ilmu. Asy Syaikh Al Wushobiy mengenali mereka. Aku katakan pada mereka: “Marilah kita pergi menemui Syaikh, mencari kepastian tentang apa yang beliau inginkan dengan penisbatan ucapan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله.”

Kukatakan pada mereka: “Barangkali terjadi salah tulis dari beliau dalam kejadian tersebut, atau hal itu adalah hasil dari ijtihad beliau, sementara ijtihad dalam hal-hal seperti ini adalah tidak boleh secara syari’ah, terutama menisbatkan ucapan yang muhdats kepada para imam yang agung yang memiliki amalan ilmiyyah yang besar.”

Maka kamipun berkumpul dengan Asy Syaikh Al Wushobiy di dalam kamar yang ada di samping mihrob seusai sholat ‘Ashr pada bulan Ar Robi’uts Tsani tahun 1422H dan kami katakan pada beliau: “Wahai syaikh, Anda telah meminta para thullab Anda untuk memeriksa kitab ini, dan barangsiapa mendapati perkara apapun yang perlu diperingatkan hendaknya dia menyampaikannya kepada Anda.”

Maka beliau berkata: “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”

Aku jawab: “Iya syaikh, kami mendapatkan perkara-perkara yang banyak.”

Beliau berkata: “Perkara-perkara apa itu?”

Aku jawab: “Ada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita.”

Lalu aku jelaskan padanya beberapa penyelisihan tadi, hingga kami sampai pada definisi tauhid yang beliau tulis, dan penisbatan ucapan tambahan tadi kepada Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله . kukatakan pada beliau: “Sesungguhnya Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله  tidak mengucapkan perkataan yang diisyaratkan kepadanya ini tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Siapakah yang mengabarimu dengan itu?”

Aku jawab: “Saya lihat sendiri perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله  dan saya tidak mendapati tambahan tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Apakah engkau sudah memastikannya?”

Aku jawab: “Iya, ini dia kitab beliau ada di tangan saya, saya akan membacakan kepada Anda ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz”.

Kemudian akupun membacakan kepada beliau ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله hingga aku berhenti dari halaman yang diisyaratkan. Lalu aku berkata pada beliau: “Wahai syaikh, di manakah tempat kalimat tadi dari perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله ?”

Diapun terdiam.

Kemudian aku bertanya kepadanya untuk memastikan: “Wahai syaikh, apakah Anda berpendapat adanya tauhid hakimiyyah?”

Maka diapun menjawab: “Iya”

Lalu kutanyakan padanya: “Wahai syaikh, siapakah yang berpendapat seperti itu dari kalangan ulama?”

Dia terdiam lagi.

Dan aku tahu bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy memang berpendapat seperti itu sebelum keluarnya kitabnya tadi. Dulu dia mengulang-ulang seputar “hakimiyyah” pada salah satu darsnya selepas maghrib, kemudian naik di seputar “tauhid hakimiyyah”. Seakan-akan dia memang berkeyakinan seperti itu, sebatas apa yang kupahami dari perkataannya. Kemudian setelah dia selesai berbicara aku bertanya kepadanya: “Apakah tauhid hakimiyyah itu merupakan tauhid yang tersendiri?”

Dia menjawab: “Iya. Dia berhak untuk berdiri sendiri.”

Perkataan ini diucapkannya pada malam Rabu tanggal 6/11/1421H.

Kemudian di akhir pertemuan kami dengan Asy Syaikh Al Wushobiy kukatakan padanya: “wahai syaikh, saya telah bertanya kepada Syaikh kami Sholih As Suhaimiy حفظه الله pada salah satu dars beliau di tanah suci tentang tauhid hakimiyyah, maka beliau berkata padaku: “tauhid hakimiyyah adalah tauhid yang muhdats. Dan yang pertama kali membawanya adalah Al Ikhwanul Muslimin. Dan tidaklah mereka membawanya kecuali untuk mengkafirkan para penguasa dan memberontak pada mereka.”

            Dan aku nukilkan kepadanya perkataan “Al Lajnatud Daimah” حفظهم الله tentang tauhid hakimiyyah. Para ikhwah juga menukilkan padanya beberapa perkataan ulama tentang tauhid hakimiyyah.

Kemudian aku jelaskan juga padanya beberapa perkara yang perlu diperhatikan yang ada dalam kitabnya tadi. Kemudian selesailah pertemuan tadi menjelasng maghrib dengan kesimpulan bahwasanya aku akan menulis kritikan-kritikan tadi dalam selembar kertas aku berikan padanya.

Tapi yang sangat disayangkan: dirinya di dalam dars malam itu aku kira akan memuji para thullabnya yang membantunya di atas kebaikan, ternyata dirinya dalam darsnya mulai berbicara tentang khowarij, menjelaskan sifat-sifat mereka dan bagaimana mereka memberontak pada ulama. Dan dia mulai menyerupakan kami dengan mereka. Bahkan dirinya menjadikan dars malam itu semuanya adalah tentang khowarij. Inilah doa yang dijanjikannya kepada kami!!!

Maka tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

﴿ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين﴾.

“mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Sampai-sampai salah seorang sahabatku memandang wajahku dan tersenyum seraya memberikan isyarat dengan kepalanya bahwasanya dirinya menyesalkan perbuatan Asy Syaikh Al Wushobiy. Seusai dars mulailah aku menenangkan sahabatku dan aku redakan kemarahannya sedikit demi sedikit. Kukatakan padanya: “Barangkali syaikh berijtihad dalam memvonis kita tadi.” Lalu kami saling berwasiat untuk bersabar, dalam keadaan aku tahu bahwasanya syaikh ini adalah orang yang sombong dan tidak menyukai kebenaran.”([38])

Kemudian aku menulis koreksian yang dimintanya dariku tadi lalu aku berikan kepadanya setelah empat hari, dan di dalamnya tertulis kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kitab tadi.

            Setelah satu pekan datanglah kepada syaikh pertanyaan-pertanyaan dari Britonia, yang mana di antara soal-soal tadi ada pertanyaan yang terkait dengan tauhid hakimiyyah. Maka syaikh menjawab bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Yang lebih berat dari itu adalah bahwasanya dia menisbatkan perkataan tadi kepada Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy –semoga Alloh merohmatinya- dan bahwasanya beliau juga berkata demikian.

            Pada hari kedua aku dikabari tentang hal itu, dan bahwasanya syaikh Wushobiy berfatwa bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Maka aku terheran-heran dengan amat sangat dari orang ini. Bagaimana dia bisa berfatwa di hadapan manusia dalam keadaan kami telah menjelaskan kepadanya bahwasanya perkataan ini adalah ucapan ahlul bida’ dari kalangan Ikhwaniyyah, Sururiyyah dan Quthbiyyah?

Jawaban dia terhadap pertanyaan dari Britonia itu terjadi pada dars Zhuhur, yang mana mayoritas waktu untuk menjawab pertanyaan adalah pada waktu tadi. Lalu aku datang pada hari kedua pada dars Zhuhur, dan seakan-akan syaikh mengetahui sebab kehadiranku karena aku tidak biasa hadir pada dar zhuhur. Pada akhir dars dia menanyai seorang murid seraya berkata: “Apakah tauhid hakimiyyah termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri?” tidaklah dia menanyainya –demi Alloh- kecuali karena diriku, dan aku tahu itu.

Maka si murid menjawab: “Iya”

Syaikh bertanya padanya: “Siapakah dari ulama yang berkata demikian?”

Si murid menjawab: “Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy([39])”

Maka akupun menjadi sangat marah karena hal itu. Seakan-akan syaikh sengaja terang-terangan dengan bid’ah ini bahkan mengajak manusia kepadanya, bahkan mendiktekannya kepada para muridnya, serta berkata dusta atas nama ulama, terkadang terhadap Al imam Ibnu Baz dengan tulisan, dan terkadang terhadap Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy dengan dikte lisan. Dan aku tak sanggup menahan diriku lagi dari kemarahanku.

Maka akupun mengangkat tanganku dan berkata kepada syaikh: “Sesungguhnya tauhid hakimiyyah tidak termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri.”

Dia menjawab: “Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy berkata demikian.”

Kukatakan padanya: “Di manakah beliau berkata yang demikian?”

Dia menjawab: “Dalam kitab “Haqiqotusy Syuro Fil Islam” hal. 11”

Kukatakan: “Wahai syaikh, sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله dalam kitab itu membantah para Harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya hakimiyyah itu harus diterapkan di segenap ruang kehidupan dunia dan agama.”

Maka dia berkata padaku: “Bahkan beliau berkata yang demikian. Rujuklah kembali kitab itu.”

Ketika aku pulang ke rumah, dan kitab itu ada padaku –segala pujian dan karunia adalah milik Alloh- aku memperolehnya sebagai hadiah dari Ali bin Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله . Kemudian aku bolak-balik kitab itu dengan halaman yang diisyaratkan oleh lidahnya. Maka aku dapati bahwasanya perkataan beliau beda dengan apa yang diaku-aku oleh Asy Syaikh Al Wushobiy yang mana Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya hakimiyyah dalam Islam hanyalah milik Alloh semata. Dan inilah yang diimani oleh setiap muslim yang berakal yang belum berubah fitrohnya dengan pemikiran Barat dan Timur, Karena tauhid hakimiyyah adalah tauhid tasyri’ itu sendiri. Dan dia itu adalah jenis dari tauhidul ibadah, maka tiada ibadah kecuali kepada Alloh. Maka tiada hakimiyyah kecuali milik Alloh satu-satunya, bukan milik satu individu atau satu partai atau suatu bangsa.”

            Inilah beliau Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله membantah harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya tauhid hakimiyyah yang mereka bikin-bikin itu hanyalah masuk ke dalam tauhid uluhiyyah, dia adalah bagian darinya, dan bukan tauhid yang tersendiri. Inilah yang benar, dan inilah perkataan seluruh ulama kita secara ijma’.

            Maka di manakah pemahaman Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy terhadap perkataan Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله hingga dia menisbatkan kepada beliau perkataan yang muhdats ini, bahkan menyebarkannya di antara para pelajar. Bahkan sampai ke tingkatan dunia sebagaimana dalam kaset “Al Asilatul Brithoniyyah”. Maka tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

سارت مشرقة وسرت مغرباً                شتان بين مشرق ومغرب

“Dia berjalan ketimur, dan aku berjalan ke barat. Alangkah bedanya antara orang yang ke timur dengan orang yang ke barat.”

Kemudian aku tinggal selama satu setengah tahun dalam keadaan menutup mulut sambil menunggu bahwasanya syaikh akan mengumumkan rujuknya dan berpalingnya dari pemdapat yang tidak diucapkan oleh Ahlussunnah itu. Kemudian Alloh ta’ala menghendaki ketika aku ada di madinah nabawiyyah untuk aku pergi ke maktabah Ibnu Rojab, maka mataku tertuju pada suatu kitab yang mengurusi kasus ini. Dan Alloh tahu bahwasanya aku merasa gembira dengan amat sangat karena aku ingin menjelaskan pada syaikh ucapan-ucapan para ulama kita dalam masalah ini, dan bahwasanya ucapan tadi adalah perkataan ahlul bida’ orang-orang yang memiliki manhaj-manhaj politik takfiriyyah yang menyimpang.

            Tidak lama kemudian akupun tiba di Yaman pada bula Ar Robi’ul Awwal tahun 1424 H, maka aku datang dengan membawa kitab tadi kepada Asy Syaikh Al Wushobiy, lalu kukatakan padanya dengan segenap adab, rasa malu dan penghormatan, di antaranya kukatakan padanya: “Wahai syaikh, sudahkah Anda membaca kitab ini?”

Dia melihat kitab ini dan berkata padaku: “Belum”.

Maka kukatakan padanya: “Jika demikian maka bacalah kitab ini, niscaya Anda akan mendapatkan di dalamnya ucapan-ucapan para ulama tentang masalah tauhid hakimiyyah. Nama kitab ini adalah: “Al ‘Ulama Yatawallauna Tafnidad Da’awis Siyasiyatil Munharifah Li Abdirrohman Abdil Kholiq Khoshshotan Taqsimuhut Tauhid Ila Arba’ati Aqsam.” (artinya adalah: para ulama mengurusi penghancuran da’wa politis yang menyeleweng milik Abdirrohman Abdil Kholiq khususnya pembagiannya tauhid menjadi empat macam).

            Alangkah seringnya aku berharap bahwasanya syaikh mau mengumumkan taroju’nya ketika mendapati ucapan para ulama besar kita, akan tetapi sungguh disesalkan: kitab itu tinggal bersamanya selama hampir dua pekan, lalu dia memberikannya kepada teman dekatku untuk memberikannya kepadaku, dan dia tak mau berbicara satu kalimatpun seputar bab ini.

            Yang lebih berat dan lebih pahit lagi dari itu tadi: kitab “Al Qoulul Mufid” telah dicetak lagi setelah cetak yang terakhir itu, dan tetap saja syaikh bersikeras untuk menisbatkannya perkataan “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله padahal tidaklah tersembunyi kerusakan-kerusakan besar yang diakibatkan oleh perkataan bohong atas nama ulama dan penisbatan ucapan yang muhdats kepada mereka, karena perkataan bohong atas nama ulama adalah tunggangan kepada kebinasaan. Bisa jadi umat menyeleweng disebabkan oleh perkataan bohong atas nama ulama tadi. Dan bisa jadi terbukalah pintu bagi ahlul bida’ dengan melariskan kebatilan dan khurofat mereka. kalaupun itu semua tidak terjadi kecuali bahwasanya ahlul bida’ akan berdalilkan dengn itu tadi bahwasanya masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah, dan janganlah engkau bertanya tentang apa yang akan terjadi berupa pengkaburan terhadap orang-orang bodoh, bahkan terhadap sebagian ahlul ilmi dengan sebab tadi.

            Maka lihatlah orang ini yang ingin mencelaki aqidah Ahlussunnah dengan kebutaan ahlul bida’. Jika Asy Syaikh Al Wushobiy lancang seperti ini yang belum ada yang mendahuluinya untuk berbuat itu, maka di manakah dakwaannya untuk mengikuti manhaj Salaf? Jika dia adalah pengikut sunnah, maka kenapa sikap ittiba’nya tadi tidak menghalanginya dari perkataan bohong atas nama ulama-ulama besar tadi yang mereka itu berdiri tegak bagaikan gunung yang megah di depan fitnah-fitnah yang hampir saja menyapu umat?

            Maka berapa banyaknyakah ucapan-ucapan yang dusta yang menyeret ulama yang banyak kepada penyelewengan, terutama jika perkataan dusta dan dibikin-bikin tadi dinisbatkan kepada tokoh yang punya kedudukan tinggi di tengah-tengah umat seperti Al Imam Ibnu Baz رحمه الله . Ketahuilah: Maka hendaknya Asy Syaikh Al Wushobiy bertaqwa kepada Alloh dan hendaknya dia menjadikan firman Alloh ta’ala: ﴿ستكتب شهادتهم ويسألون﴾

“Persaksian mereka akan dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban”

Sebagai peringatan yang terpancang di depan mata mereka.

Dan hendaknya dia ingat juga dengan firman Alloh ta’ala: ﴿ألم يعلم بأن الله يرى ﴾.

“Tidakkah dia mengetahui bahwasanya Alloh itu melihat?”

Demikianlah kisah dari Abur Robi’ Muhammad Al Qulaishiy حفظه الله. Kemudian beliau berkata:

Dan yang amat sangat mengherankan lagi: bahwasanya diriku sebelum dua tahun, dan ketika itu adalah tahun 1428 H ketika terjadi perselisihan antara diriku dan dirinya, dan dia menuduh diriku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah (sebagaimana diaku-akunya) aku katakan pada sebagian muridnya: “Jika syaikh menuduhku bahwasanya aku itu munafiq, dan bahwasanya aku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah maka sesungguhnya apa yang ada pada syaikh itu lebih besar daripada apa yang ada pada diriku, karena syaikh menuduh para ulama sebagai mata-mata, dia juga bohong atas nama Asy Syaikh Ibnu Baz, dan dia juga mulai bepergian ke para hizbiyyun, berceramah di sana dan memerintahkan para murid untuk berbuat demikian,…”

Maka si murid tadi pergi dan mengabarkan hal itu pada syaikh, ternyata syaikh mengingkari dan berkata padanya: “Kapankah aku berpendapat tentang tauhid hakimiyyah?!”

Maka si murid berkata: “Dia berkata bahwasanya Anda mengatakan itu dalam kitab Anda dan Anda nisbatkan kepada Asy Syaikh Ibnu Baz.”

Maka diapun mengambil kitab itu dan melihat ke dalamnya, ternyata dia harus berhadapan dengan hakikat([40]). Apa yang dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya?! Dia melihat ke kitab tadi lalu berkata pada murid tadi: “Aku berkata: “lihatlah” dan aku tidak berkata: “Sebagaimana dalam jilid tersebut” (!!!).

Ketika murid tadi datang kepadaku dan menyebutkan padaku hal itu maka akupun tertawa banyak-banyak dan kukatakan padanya: katakan pada beliau: “Wahai syaikh Muhammad, Anda itu berbicara dengan orang dari Arob dan hidup di Madinah, Anda tidak sedang berbicara dengan orang ‘Ajam yang hidup di Pakistan atau di sebagian negri Afrika.”

Maka lihatlah wahai umat Muhammad kepada perbuatan yang mengherankan ini dengan sebenar-benarnya, apakah hal itu pantas untuk dilakukannya sebagai mufti?!

Kukatakan: ini adalah perbuatan dari Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dalam mensikapi nasihat para penasihat, sangat kita sesalkan.

Wahai syaikh Muhammad وفقك الله, Andalah yang berkata dalam “Nashihah Tasu’a”: Tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak memberikan nasihat pada kami. Dan tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima kebenaran, dan jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mau mencurahkan nasihat.”

Anda juga berkata dalam kaset Syabwah “Wujubut Tamassuk Bil Kitab Was Sunnah”: “Jika engkau mau memberikan hadiah nasihat yang tepat pada tempatnya kepada seorang alim Sunniy maka hal itu lebih utama baginya daripada satu gallon madu, satu gallon madu, dari jenis madu yang terbaik. Yang demikian itu dikarenakan satu gallon madu itu akan dimakannya, lalu pergi bersamanya masuk kamar kecil. Akan tetapi nasihat ini, bagi orang yang cintai ilmu, cintai kebaikan, dan cinta sunnah, dia akan berkata: Nasihat ini lebih bermanfaat bagiku daripada satu gallon madu, sekalipun nasihat tadi ada dalam selembar kertas kecil sebaris dua baris.”

Alangkah bagusnya ucapan ini wahai syaikh Muhammad وفقك الله akan tetapi mana penerapanmu terhadap apa yang engkau ucapkan?!! Berbagai nasihat telah datang kepadamu berturut-turut, wahai syaikh Muhammad, dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan dari sekelompok penuntut ilmu, akan tetapi yang disesalkan adalah engkau tidak mengambil manfaat darinya.

﴾selesailah penukilan dari risalah “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” karya Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy حفظه الله).

Lihatlah kepada penetapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy tauhid hakimiyyah sebagai tauhid yang tersendiri, pada itu adalah termasuk syi’ar khowarij yang terkenal. Dan para ulama telah menghukumi bahwasanya pembagian yang tersendiri itu adalah bid’ah, karena dia adalah penambahan pada agama ini. Dan mencocoki kondisi dirinya apa yang diucapkan oleh Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu- berkata: “Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas bid’ah itu kembali kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka perhatikanlah dia dengan adil, dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya. Kedua perkara yang batil ini adalah:

–         penambahan terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak disebutkan oleh Alloh dan para Rosul-Nya –‘alaihimus salam- yang berupa urusan agama yang besar yang wajib,

–         ataupun juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dengan suatu pena’wilan yang batil.”

(“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 85).

Dan salafiyyun tidak mengetahui ada seorangpun yang mengangkat syi’ar hakimiyyah tadi kecuali bahwasanya dirinya itu dari hizbiyyin harokiyyin.

Dan lihatlah kepada kesombongan dan ‘inad tadi. Dan telah lewat penjelasan bahwasanya barangsiapa menentang kebenaran dan menyombongkan diri terhadapnya maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’.

Maka kesimpulannya adalah: Tentu saja tidak ada orang yang ma’shum dari kesalahan sekarang ini, akan tetapi sungguh Ahlussunnah di Darul Hadits di Dammaj secara umum والحمد لله telah diberi taufiq oleh Alloh untuk tawadhu’ kepada Alloh, untuk menerima kebenaran dan menjauh dari sikap ‘inad. Dan sebagaimana mereka melaksanakan Kitabulloh dan Sunnah Nabi  صلى الله عليه وسلم, demikian pula mencocoki apa yang dilakukan oleh Ubaidulloh bin Hasan رحمه الله dalam menaati kebenaran jika telah datang.

Al Imam Ibnu Mahdi رحمه الله berkata: Dulu kami pernah menghadiri jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim. Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di sekeliling beliau. Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan. Ternyata dia menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian. Hanya saja aku tidak ingin membantahnya. Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu kecil. Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada aku menjadi kepala dalam kebatilan.” (“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308)([41]).

Hal ini berbeda dengan Mar’iyyun Barmakiyyun tersebut. Mereka itulah yang berhak untuk digabungkan dengan Haddadiyyah dalam bab ini karena penentangan mereka terhadap kebenaran. Setiap kali mereka kalah di hadapan kekuatan hujjah-hujjah Salafiyyun, bukannya mereka itu tunduk, bahkan mereka lari kepada salah seorang syaikh, kemudian mereka memenuhi hatinya dengan kemarahan kepada Salafiyyun hingga bangkitlah syaikh yang tertipu ini untuk melawan kebenaran yang telah terang. Ketika syaikh tadi tak sanggup menghadapi hujjah-hujjah Ahlul Haq pindahlah Mar’iyyun kepada syaikh yang lain dan berbuat sebagaimana mereka perbuat pada syaikh yang sebelumnya, dan demikianlah mereka lakukan berulang-ulang. Tidak ada pada mereka kesiapan untuk merunduk kepada kebenaran. Yang ada pada mereka hanyalah hawa nafsu yang memimpin mereka untuk menjadi sombong dan mengadu domba di antara para ulama sebagaimana yang dilakukan oleh Haddadiyyun. Ya Alloh, bukalah mata para masyayikh itu agar tahu siapa mereka, dan siramilah mereka dengan hujan ketaqwaan dan ketawadhu’an untuk menerima kebenaran dan agar mereka tidak menjadi orang-orang yang sombong dan dengki.

 [Pasal Ketigabelas: Pura-pura Menempel Pada Kebesaran Nama Al Imam Ahmad]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Yang keduabelas: mereka dulu sering menempel pada kebesaran nama Al Imam Ahmad. Manakala dijelaskan penyelisihan Al Haddad terhadap Al Imam Ahmad dalam mensikapi ahlul bida’ mereka mengingkari hal itu dan menuduh orang yang menisbatkan yang demikian itu kepada Al Imam Ahmad. Kemudian Al Haddad berkata: “Kalaupun hal itu shohih dari Al Imam Ahmad, maka kita tidaklah membebek kepada beliau.” Mereka itu tidaklah mencintai kebenaran dan tidak pula mencari kebenaran. Mereka itu hanyalah menginginkan fitnah dan merobek Salafiyyin.”

Komentar saya:

            Sekedar penisbatan suatu kelompok kepada seorang tokoh yang agung, atau mengklaim bahwasanya beliau itu termasuk dari mereka tanpa mau mengikuti jalan beliau yang mencocoki kebenaran tidaklah cukup. Dulu Ahlul Kitab menisbatkan diri mereka kepada Bapak para Nabi, yaitu Ibrohim sang kekasih عليه السلام. Maka penisbatan mereka itu tidak bisa menolong mereka dari adzab Alloh manakala mereka menyelisihi jalan beliau.

            Alloh ta’ala telah membantah penisbatan mereka yang bohong tersebut dengan berfirman:

﴿أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ الله وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ الله وَمَا الله بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ﴾ [البقرة/140].

“Ataukah kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Alloh, dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Alloh yang ada padanya?” dan Alloh sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan.”

Juga berfirman:

﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَالله وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [آل عمران/67، 68].

“Ibrohim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Alloh adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala mensucikan Ibrohim dari pengakuan-pengakuan dusta mereka, dan Dia menjelaskan bahwasanya beliau itu ada di atas Hanifiyyah (memusatkan perhatian pada Alloh dan berpaling dari selain-Nya) Islamiyyah, dan beliau itu bukanlah seorang musyrik.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/4/hal. 109).

Karakter Haddadiyyah yang busuk itu memang demikian, mereka menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih, padahal alangkah besarnya perbedaan antara orang yang ke timur dengan orang yang ke barat. Dan demikianlah sifat Mar’iyyin: mereka menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih, tapi manakala dijelaskan pada mereka prinsip-prinsip Salafiyyah yang mereka selisihi, mereka tak mau kembali. Mereka juga menempelkan diri kepada Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله, tapi manakala dijelaskan pada mereka penyelisihan mereka terhadap jalan agama beliau, mereka tak mau kembali. Mereka juga bersembunyi di balik Asy Syaikh Robi’ وفقه الله, tapi manakala para salafiyyun membantah mereka dengan ucapan-ucapan beliau yang jelas, dan salafiyyun menjelaskan pada mereka penyelisihan mereka terhadap jalan agama beliau dan manhaj beliau, mereka tak mau bertobat dan tak mau kembali.

Adapun syaikh kami dan ulama sunnah yang bersama beliau, mereka semua menisbatkan diri mereka kepada Salafush Sholih dengan jujur, mereka menimbang aqidah, ucapan, perbuatan dan keadaan dengan apa yang dulunya generasi yang utama itu ada di atasnya. Mereka juga kembali kepada kebenaran walaupun terasa pahit. Dan tiada seorangpun kecuali bisa diambil ucapannya ataupun ditolak, kecuali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Adapun ‘inad terhadap kebenaran maka sungguh hal itu adalah sebab kerusakan di tengah-tengah makhluq.

Setiap orang bisa saja menisbatkan dirinya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Tapi jika datang ujian, terpisahlah emas dari kuningan. Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 751).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله menyitir penggalan bait:

ومن تزيا بغير ما هو فيه فضحته شواهد الامتحان. (“غارة الأشرطة”/1/ص537).

“Dan barangsiapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan menyingkapkan jati dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 537).

[Pasal keempatbelas: Mereka Memiliki Hubungan Dengan Hizbiyyin]

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Bersamaan dengan berdalam-dalamnya Haddadiyyun untuk perkara tadi, para Salafiyyun melihat adanya hubungan-hubungan sebagian mereka dengan para hizbiyyin, dan sebagian mereka berhubungan dengan orang-orang fasiq pada waktu yang mana saat itu mereka memerangi Salafiyyin dan meluapkan dendam yang amat sangat pada mereka. Barangkali mereka menyembunyikan kejahatan yang banyak. Alloh sajalah yang paling tahu tentang apa yang mereka rencanakan.

Catatan saya:

            Demikianlah karakter Ahlul Kitab dan Ahlul Batil sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى﴾ [الحشر/14]

“Engkau mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka itu berselisih.”

Qotadah رحمه الله berkata tentang tafsir ayat ini: “Engkau akan mendapati ahlul batil itu persaksian mereka berbeda-beda, hawa nafsu mereka berbeda-beda, perbuatan mereka juga berbeda-beda, akan tetapi mereka bersatu untuk memusuhi ahlul haq.” (“Tafsir Ath Thobariy”/23/hal. 292/Darut Tarbiyyah Wat Turots)([42]).

            Para hizbiyyun juga memiliki akhlaq ini. Mereka sanggup untuk bersatu dengan makhluq yang paling jahat untuk memukul Ahlussunnah.

            Yang berlangsung pada Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله adalah kumpul-kumpulnya dia bersama sebagian hizbiyyin dan upayanya untuk mendekatkan sebagian hizbiyyin yang lain:

Pertama: Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله dalam ceramah-ceramahnya memanggil dan berkumpul bersama Ali Al Hudzaifiy, padahal orang ini adalah seorang hizbiy yang telah di-jarh oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Kedua: upayanya mendekati Sholah Ali Sa’id yang dulu bersama Abul Hasan dan tidak nampak darinya tobat, dan dulu dia ini mencerca sebagian ulama. (lihat satu dan dua ini di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13/ Kamal Al ‘Adniy).

Ketiga: Upayanya untuk berkumpul dengan Jalal bin Nashir, padahal Al Imam Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله telah mengkritiknya, dan dia itu masih ada pada thobaqot pengikut Abul Hasan. (Bacalah beritanya di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13).

Keempat: Dia menjadikan Abdul Ghofur bin ‘Ubaid Asy Syarjiy Al Lahjiy sebagai sahabat kepercayaannya. Saya harus menyingkap keadaannya dikarenakan tertipunya kebanyakan Salafiyyun dengannya.

Orang ini dulu terdidik di kalangan hizbiyyin di Jami’ud Da’wah Shon’a. dia dulu adalah murid setia dari Abdul majid Ar Roimiy hizbiy (sururiy). Dulu Abdul Ghofur Al Lahjiy termasuk pembawa bendera Jam’iyyatul Hikmah untuk menentang Ahlussunnah. Dia punya penipuan dan pengkhianatan serta penipuan dalam kasus pembelian tanah di wilayah “Wahth” di Lahj yang menunjukkan rakusnya dia terhadap dunia, pengkhianatan, lemahnya kejujuran sampai-sampai orang awampun bersaksi yang demikian. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Akh Husain bin Thoha Al Lahjiy juga bersaksi bahwasanya dirinya itu tak bisa dipercaya. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 8).

Dia juga suka menghinakan orang-orang. Salah seorang tetangganya yang Salafiy telah menulis beberapa pengaduan dan keluhan akan gangguannya. Dia juga terkenal suka menjilat kepada ulama. (“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Dia juga melakukan berbagai tipu daya untuk mengambil harta milik orang lain atas nama pembangunan masjid. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 9).

Dia juga melakukan kezholiman yang besar dalam kasus pembangunan masjid “Al Musawiy” (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2).

Dia juga melakukan kebatilan yang hina sekali untuk menjatuhkan imam masjid “Al Khothib” yaitu saudara kita Muhsin Labbah (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 4), dan (“Tanbihus Sajid”/hal.3).

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga imam di suatu masjid yang di situ seorang wanita hizbiyyah mengajar. Wanita ini adalah istri Ahmad bin Ubaid, saudara Abdul Ghofur Al Lahjiy. Ahmad bin Ubaid ini adalah anggota Jam’iyyatul Ihsan dan duduk-duduk dengan hizbiyyin. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.4).

Orang ini dulu juga termasuk anggota “Baroatudz Dzimmah” dan jam’iyyatul Hikmah.

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga telah membikin beberapa makar untuk menjatuhkan imam masjid “Sholahuddin”. Masjid ini dulu termasuk masjid Ahlussunnah yang paling terkenal di sana, imamnya terkenal berpegang teguh dengan sunnah dan keras terhadap hizbiyyin. Sekarang imamnya adalah seorang Hasaniy (pengikut Abul Hasan Al Mishriy yang telah ditabdi’ oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy), ipar masjid ini adalah kepala jam’iyyah. Masjid ini sekarang menjadi tempat ceramah Hasaniyyun, dan mereka menolak saudara kita Sami Dzaiban (da’i sunnah di ‘Adn) untuk berceramah di situ. Ketika Abdurrohman Al ‘Adniy datang memberikan ceramah di situ merekapun menyambutnya dengan hangat dan gembira seraya berkata: “Wahai syaikh, di manakah Anda selama ini?” (berita dari saudara kita Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله ).

Termasuk dari kebatilan Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga adalah apa yang akan disebutkan oleh saudara kita Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : Abdul Ghofur berkata kepadaku –dan hanya Alloh yang ada di antara kami berdua saat itu-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah? Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melarang kedatangan masyayikh dari Saudi.” Kukatakan padanya: Siapakah yang mengabarimu? Dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku hal itu.” Kemudian Abdul Ghofur juga berkata: “Bahkan dakwah Asy Syaikh Muqbil juga ada kritikan tentangnya.” (persaksian Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy di hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar saat dars antara maghrib dan ‘Isya).

            Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga sangat gigih dalam membela ahlul batil dan membela hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adniy.

Bacalah berita tentangnya di “Silsilatun Nushhu Wal Bayan” ((seri 1,2,3) karya Abul Hasan Ihsan bin Abdillah Al Lahjiy), dan juga “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 32/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy az Za’kariy), dan “Al Muamarotul Kubro” (hal. 26/karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy).

Kelima: bersatunya Abdurrohman Al ‘Adniy dengan saudaranya: Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy. Untuk pengkhianatan orang ini terhadap da’wah telah ada risalah-risalah bantahan yang banyak.

Ini tadi adalah penyerupaan Abdurrohman Al ‘Adniy terhadap Haddadiyyin dalam membangun hubungan-hubungan dengan hizbiyyin. Adapun penyerupaan Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap Haddadiyyin dalam bab ini adalah sebagai berikut:

Yang termasuk dari teman kepercayaan Abdulloh bin Mar’i  adalah: Salim Ba Muhriz هداهما الله. Dialah yang berkata di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentangnya saat terbongkarnya fitnah  orang ini sekitar tahun 1429H: “Orang ini punya fanatisme, dan tercium darinya aroma fanatisme yang keras, dan pengelompokan yang keras, serta wala wal baro yang sempit terhadap Abdulloh bin Mar’i dan saudaranya.

Di antara sahabat Abdulloh bin Mar’i  juga adalah sebagian pengikut Abul Hasan yang pura-pura rujuk. Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya Abdulloh bin Mar’i telah mengumumkan dengan terang-terangan: “Sesungguhnya orang-orang yang terfitnah dengan fitnah Abul Hasan jika mereka bertobat mereka tidak akan diberi kedudukan.” Sementara itu, yang termasuk pengikutnya yang terbesar dari kalangan orang-orang yang terfitnah adalah Abu Hisyam Jamal Khomis Surur. Dia itu banyak berbolak-balik dan fitnah-fitnah. Dulu termasuk dalam jam’iyyatul Ihsan dan menjadi termasuk orang terfitnah dengan Abdulloh Al Ahdal yang terbesar. Kemudian dia menampakkan penggabungan diri kepada Ahlussunnah. Kemudian datangkan fitnah Abul Hasan. Maka orang tadi gigih dan fanatik pada Abul Hasan. Kemudian dia menampakkan rujuk dan bergabung dengan Abdulloh bin Mar’i  hingga datanglah hizbiyyah yang baru ini, maka dia bergabung dengannya dan menjadi orang yang berada pada puncak ta’ashshub (fanatisme) untuknya.

Dan selain Abu Hasyim di antara orang yang fanatis dalam fitnah Abul Hasan kemudian menampakkan rujuk seperti Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, dan Ahmad Umar Ba Wafi, serta Abdul Hafizh Ibrohim Al ‘Amiriy dan yang lainnya. Mereka semua setelah fitnah Abul Hasan terfitnah oleh hizbiyyah yang baru ini. Yang mengherankan dari mereka adalah: mereka itu termasuk orang-orang khusus dan tokoh-tokoh kepercayaan Abdulloh bin Mar’i dalam keadaan mereka itu seperti yang engkau lihat. Maka semisal mereka itu tidaklah pantas untuk dipercaya walaupun untuk sebiji bawang. Mereka adalah orang-orang yang lemah agamanya, banyak berbolak-balik. Bahkan mereka itu tidak bisa dianggap aman dalam keadaan yang demikian bahwasanya mereka itu adalah disusupkan ke tengah-tengah barisan Ahlussunnah demi merusak dan mengadu domba. Maka semisal mereka tidak boleh diberi posisi dan tidak diangkat dari kadar mereka hingga tampak dari mereka taroju’ yang shohih dan tobat yang murni. Hanya saja kenyataannya tidak demikian. Abdulloh bin Mar’i  telah membatalkan perkataannya terdahulu untuk tidak memberikan kedudukan pada mereka itu. Dia memberi mereka kedudukan untuk berkhothbah, mengajar yang selain itu sehingga setelah itu menjadi fitnah terhadap manusia. Bahkan dirinya menjadikan mereka sebagai tentara dalam hizbiyyahnya yang baru ini untuk membantah Ahlussunnah dan mencerca mereka dan menuduh mereka dengan kezholiman, kedustaan dan kebohongan.” (selesai penukilan dari “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 34-35/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy).

Dan di antara perkara yang menunjukkan bersatunya orang-orang fajir tersebut satu sama lain setelah sebelumnya mereka berpisah adalah apa yang diceritakan oleh Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله: “… sungguh aku sebelum itu –yaitu pada permulaan kasus pencatatan thullab yang mau beli kapling di Fuyusy- aku mengabari saudara kita Ali bin Salim Al ‘Adniy: “Jika Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy jadi membuka markiz maka hendaknya beliau berhati-hati dengan orang-orang itu –yaitu orang-orang ‘Adn yang penjaga perpustakaan umum Dammaj-“ karena mereka itu pada hakikatnya tidaklah berdiri di sekeliling Abdurrohman Al ‘Adniy, dan Abdurrohman Al ‘Adniy sendiri juga tidak berdiri di sekeliling mereka. Mereka itu tidak ada pada satu hati. Akan tetapi Mahasuci Dzat yang menyatukan orang-orang yang bercerai-berai, dan memisahkan orang yang bersatu.” (“Syarorotul lahab”/2/hal. 9).

Barangkali yang termasuk dalam bab ini juga adalah masuknya Abu Malik Ar Riyasiy ke dalam hizb baru ini padahal dulu antara dirinya dengan Yasin Al ‘Adniy permusuhan. Mereka kemudian di Ma’bar berkumpul untuk sasaran yang sama. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 4).

Demikian pula antara Abdurrohman Al ‘Adniy dengan Yasin Al ‘Adniy, padahal perselisihan mereka berdua di markiz Dammaj ini sangatlah terkenal.

Ali Al Hudzaifiy (telah lewat penyebutannya), termasuk kepala dalam fitnah ini di ‘Adn, ternyata sekarang jadi orang dekatnya Abdurrohman Al ‘Adniy setelah keduanya saling bermusuhan. Ali sendiri dulunya menghina Abdurrohman Al ‘Adniy. (rujuk “Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9).

Adapun syaikh kami dan tokoh-tokoh yang bersama beliau, mereka itu memisahkan diri dari ahlul batil sekalipun dalam keadaan yang sempit. Mereka kokoh di atas apa yang diucapkan oleh As Salafush Sholih untuk menjauhi ahlul ahwa, dan mereka teguh di atas apa yang diucapkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Dan kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz (memisahkan diri dari Ahlul bida’) dan membangun masjid-masjid untuk diri mereka sendiri sekalipun dari batu lempung ataupun dari pelepah kurma, karena mereka tak akan sanggup menyebarkan sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- kecuali dengan cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida’ itu tak akan membiarkan mereka menebarkan As Sunnah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 208/Darul Atsar).

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Kami menasihatkan kalian untuk tamayyuz karena bercampur dengan ahlul batil itu merupakan penyia-nyiaan terhadap kebenaran. Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من سمع بالدجال فلينأ عنه».

“Barangsiapa mendengar kedatangan Dajjal maka hendaknya dia menjauh darinya.”([43])

Juga bersabda:

«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل». (15 شعبان 1430 هـ).

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya. Maka hendaknya seseorang dari kalian itu memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat.”([44])

(ucapan beliau ini dicatat tanggal 10 Sya’ban 1430 H).

Beliau حفظه الله juga berkata: “Ukuran tamayyuz menurut Ahlussunnah adalah: kekokohan di atas kebenaran sambil menjauhi ahlul batil.” (ucapan beliau ini dicatat tanggal 15 Dzul Qo’dah 1430 H).

Beliau حفظه الله juga berkata: “Tamayyuz dari ahlul batil merupakan prinsip yang paling mendasar. Tidaklah fitnah itu keluar kecuali dikarenakan tidak adanya tamayyuz dari ahlil batil. Dan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta ijma’ salaf menunjukkan yang demikian itu.” (ucapan beliau ini dicatat tanggal 20 Jumadats Tsaniyah 1431 H).

            Ini dia manhaj Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy sendiri telah tahu itu dan mengakui hal itu. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy dalam kritikannya kepada Abul Hasan berkata: “… Asy Syaikh Muqbil dan para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan senantiasa memandang harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan diri dari mereka. Bahkan Asy Syaikh Muqbil berkata: “Inilah dakwahku, dan inilah jalanku yang membedakan diriku dari orang-orang bodoh itu.” (“Intiqod ‘Aqody Manhajiy ‘ala Abil Hasan”/hal. 303).

            Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau itulah salafiyyun, dan bahwasanya Mar’iyyun itulah Haddadiyyun.

Di akhir tulisan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat Haddadiyyun ini beliau berkata: “Maka apabila Abul Hasan menjelaskan kepada kita dengan dalil-dalil yang terang bahwasanya orang-orang yang dituduhkan sebagai haddadiyyah itu punya sifat dengan sifat-sifat ini, nanti kami akan terus-menerus mencurahkan kerja keras untuk memvonis mereka sebagai Haddadiyyah, dan bahkan menghukum mereka dengan tulisan tentang mereka dan memperingatkan umat dari mereka, serta menggabungkan mereka dengan Haddadiyyah tanpa berhenti. Tapi jika dirinya tak sanggup membuktikannya, maka dirinya wajib untuk bertobat kepada Alloh عز وجلdan mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat. Jika tidak demikian maka dia tak mau berbuat itu maka kami tak akan berhenti bekerja keras untuk menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka berjalan di atasnya, membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.”

Komentar saya:

            Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy ini adalah jawaban beliau terhadap Abul Hasan Al Ma’ribiy yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau sebagai Haddadiyyun.

            Sekarang, Al Mar’iyyun dan yang bersama mereka menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau حفظهم الله sebagai Haddadiyyun tanpa dalil yang jelas yang menunjukkan bahwasanya para tokoh yang mulia tadi memang punya sifat-sifat Haddadiyyah tersebut.

            Dan saya telah menjelaskan batilnya tuduhan mereka terhadap Ahlu Dammaj bahwasanya mereka adalah Haddadiyyun, saya juga telah terangkan kegagalan Mar’iyyun dan semisal mereka dalam menempelkan gelar Haddadiyyah kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang yang bersama beliau رعاهم الله, lebih-lebih lagi untuk menjadi “Haddadiyyun ghulah” sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian pendusta.

            Maka kami menuntut kepada orang-orang yang melampaui batas sebagaimana tuntutan Samahatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله pada Abul Hasan agar mereka bersikap tawadhu kepada Alloh kemudian bertobat kepada Alloh عز وجل dari kejahatan yang besar ini, dan untuk mengumumkan tobatnya ini di hadapan umat.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “sebagaimana orang yang merendahkan diri untuk Alloh maka Alloh mengangkatnya, maka demikian pula orang yang menyombongkan diri dari menaati kebenaran Alloh akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, meremehkannya. Dan barangsiapa menyombongkan diri dari menaati kebenaran walaupun datang dari tangan anak kecil, atau dari tangan orang yang dibencinya atau dimusuhinya, maka dia itu sebenarnya hanyalah menyombongkan diri kepada Alloh, karena Alloh itulah Al Haqq, perkataan-Nya benar, agama-Nya benar. Kebenaran adalah sifat-Nya, datang dari-Nya, dan milik-Nya. Maka jika sang hamba menolaknya dan menyombongkan diri dari menerimanya, maka dia itu hanyalah membantah Alloh dan menyombongkan diri kepada Alloh.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 271/Darul hadits).

            Dan kami dengan seidzin Alloh akan terus-menerus berusaha menolong para Salafiyyun yang benar yang bersih dari tuduhan tadi, dan untuk menolong manhaj Salafiy yang mereka ada di atasnya, membela manhaj Salaf dan membela para pembawanya.

 

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan wajib bagi para Salafiyyin yang jujur untuk menolong mereka dan menolong manhaj Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan menangkap tangan orang yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.

            Dan hendaknya mereka benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah seorang dari mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke dalamnya, atau ke dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan ini adalah medan pengamalan yang memisahkan antara orang yang jujur dari orang yang dusta, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿ألم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين آمنوا وليعلمن الكاذبين﴾. انتهى النقل.

“Apakah manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan “Kami beriman” dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui para pendusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3).

Selesailah seluruh penukilan dari kitab Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy.

Komentar saya:

            Setelah jelasnya dalil dan burhan dan bayyinah tentang batilnya cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan para Salafiyyun yang bersama beliau حفظهم الله sebagai Haddadiyyah, dan telah nampak kebersihan mereka dari Haddadiyyah, dan nampak istiqomah mereka di atas sunnah, wajib bagi para Salafiyyin yang jujur dan adil untuk menolong mereka dan menolong manhaj Qur’aniy Nabawiy Salafiy yang mereka ada di atasnya, dan menangkap tangan orang yang menzholimi mereka dan menzholimi manhaj mereka.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ الله شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون﴾ [المائدة/8] .

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

            Kemudian, sesungguhnya kitab ini, sebagaimana dia itu adalah pembelaan yang jujur dan adil إن شاء الله –dengan taufiq Alloh semata, meskipun dalam kitab ini tetap ada kesalahan-kesalahan manusiawi- terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan orang-orang mulia yang bersama beliau رعاهم الله demikian pula kitab ini merupakan bantahan yang jelas terhadap Haddadiyyah, memperingatkan umat dari mereka, dan menjelaskan kebodohan dan kebusukan mereka.

            Maka hendaknya Muslimin semua benar-benar berhati-hati, jangan sampai salah seorang dari mereka terjatuh ke dalam perkara yang Haddadiyyun terjatuh ke dalamnya, atau ke dalam sebagian perkara yang mereka terjatuh ke dalamnya. Dan ini adalah medan pengamalan yang memisahkan antara orang Mukmin yang jujur dari orang munafiq yang dusta, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا الله عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا * لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ الله كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾.[الأحزاب/23، 24]

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan jangan sampai dia fanatik terhadap orang yang telah tetap kebid’ahannya dan penyelewengannya, sekalipun martabatnya besar seperti ‘Ubaid Al Jabiriy dan Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan yang selainnya. Dan hendaknya kebenaran itu lebih agung di hati mereka daripada apapun juga.

Dan telah nampak sangat jelas ketika diteliti bahwasanya Mar’iyyun itulah yang berhasil meraih tongkat kejuaraan untuk bergabung dengan Haddadiyyun, dan pendalilan mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang Haddadiyyah telah berbalik menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).

Saya katakan وفقني الله : Maka Mar’iyyah-Barmakiyyah tidak punya hujjah syar’iyyah atas kedustaan mereka terhadap salafiyyin tadi, ataupun juga hujjah aqliyyah. Bahkan pendalilan mereka dengan ucapan-ucapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله tentang sifat-sifat Haddadiyyah hampir semuanya telah berbalik menghantam mereka sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ الله تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ الله تَحْوِيلًا﴾ [فاطر/43].

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Alloh yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Alloh, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Alloh itu.”

Maka hendaknya mereka berkata:

هذه بضاعتنا ردت إلينا.

“Ini adalah barang dagangan kami dikembalikan kepada kami.”

“Anak panah telah kembali kepada orang yang memanahnya.”([45])

            Para salafiyyun telah mencurahkan nasihat yang banyak disertai dengan dalil-dalil yang menunjukkan kebatilan Mar’iyyun, ternyata mereka tak mau tunduk pada Robb mereka dan tak mau merunduk, bahkan mereka menyelisihi kebenaran dengan sengaja dengan niat beragama sebagaimana sifat Haddadiyyun. Maka mereka adalah mubtadi’ah. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Barangsiapa telah mengetahui dalil kemudian dia mengamalkan yang menyelisihi dalil tadi maka dia itu termasuk mubtadi’”. (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 164).

Bahkan Al Imam Al Barbahariy رحمه الله : berkata: “Dan barangsiapa menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka dia itu adalah shohibul bida’ sekalipun dia adalah orang yang banyak riwayat dan kitab.” (“Syarus Sunnah”/hal. 36/Darul Atsar).

            Perkataan kami “dengan niat beragama” untuk menghalangi masuknya orang yang menyelisihi syariah karena kedurhakaan semata, ke dalam definisi mubtadi’. Maka kami tidak berkata bahwasanya pelaku maksiat itu mubtadi’. Akan tetapi barangsiapa melakukan perkara yang tidak disyariatkan oleh Alloh ataupun Rosululloh dengan keyakinan bahwasanya hal itu disyariatkan, maka dia telah berbuat bid’ah dalam Islam. maka pembatasan tadi itu penting.

            Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Tiada makna untuk kebid’ahan kecuali jika perbuatan tadi dalam keyakinan si mubtadi’ tadi adalah disyariatkan padahal tidak disyariatkan.” (“Al I’tishom”/1/hal. 364).

 

Bab Lima: Kezholiman Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj Sebagai Haddadiyyun

 

Ibnu Manzhur رحمه الله berkata: “Al baghyu” adalah melampaui batas. Jika dikatakan: (بغى الرجل علينا بغيا) maknanya adalah menyeleweng dari kebenaran dan mencerca secara dusta. (“Lisanul ‘Arob”/14/hal. 75).

Al Imam Ibnul Qoyyum رحمه الله : “Bahwasanya istilah baghyu itu kebanyakan penggunaannya adalah pada hak-hak para hamba dan cercaan pada mereka.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 370).

“Al Baghyu” itu harom. Alloh ta’ala telah berfirman:

﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى الله مَا لَا تَعْلَمُون﴾ [الأعراف/33]،

“Katakanlah: “Robbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kalian ketahui.”

Firman Alloh ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ﴾ [يونس/23].

“Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezholiman kalian akan menimpa diri kalian sendiri.”

Dan dari Abu Bakroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh  صلى الله عليه وسلم berkata:

«ما من ذنب أجدر أن يعجل الله تعالى لصاحبه العقوبة في الدنيا – مع ما يدخر له في الآخرة – مثل البغي وقطيعة الرحم».

“Tiada satu dosapun yang lebih pantas untuk Alloh ta’ala menyegerakan hukuman di dunia bagi pelakunya bersamaan dengan hukuman yang disimpan-Nya di akhirat seperti al baghyu (kezholiman pada yang lain) dan pemutusan silaturrohim.”(HR. Al Imam Ahmad (5/hal. 36), Abu Dawud (14/hal. 200) dan yang lainnya, dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (4301)/Darul Atsar).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka orang yang baghi dan zholim itu Alloh akan menimpakan balasan baginya di dunia dan akhirat, dikarenakan baghyu itu adalah sebab terbantingnya dirinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 82).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim) kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi hancur.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 464).

            Dan sesungguhnya termasuk dari baghyu adalah penuduhan terhadap Ahlussunnah di Dammaj sebagai Haddadiyyun, padahal mereka itu bersih darinya. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

“… dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

            Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله ditanya: “Apa pendapat Anda tentang orang yang memperingatkan manusia dari ma’had Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, dan menuduh para murid beliau sebagai Haddadiyyun?”

            Maka beliau رحمه الله menjawab: “Para murid Asy Syaikh Muqbil secara umum kami mengetahui bahwasnya mereka itu di atas As Sunnah. Adapun orang yang menyatakan bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka pernyataannya itu batil, dan perkataannya itu merupakan kriminalitas dan baghyu (kezholiman) terhadap para murid Asy Syaikh Muqbil رحمه الله. Dan sesungguhnya ma’had Dammaj yang didirikan oleh Asy Syaikh Muqbil رحمه الله di sumur tasyayyu’ dan di tengah-tengah tasyayyu’. Maka kemudian sunnah tersebar di situ, di tempat yang dulunya tiada orang yang berani berbicara lebih-lebih untuk membantah syi’ah. Alloh telah memberikan manfaat dengan para murid Asy Syaikh Muqbil. Maka dengan mereka sunnah itu tersebar. Di seluruh penjuru Yaman kecuali sebagian kecil dari mereka yang menyelisihi aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah –yang Asy Syaikh Muqbil رحمه الله mendidik mereka dan menjadikan mereka tumbuh di atasnya- dan mengambil jalan mubtadi’ah, dan setan menghiasi jalan-jalan bid’ah untuk kelompok kecil tadi. Maka kelompok kecil tadi tidaklah teranggap. Yang terpandang hanyalah orang-orang yang tetap kokoh di atas sunnah dan beragama dengannya, menyerukan kepadanya, berloyalitas dan bermusuhan karenanya, dan membenci karenanya. Maka mereka itulah yang terpandang, dan mereka itulah yang menempuh jalan Ahlul Hadits wal Atsar dan mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh karena itulah aku berkata: barangsiapa berkata bahwasanya mereka itu Haddadiyyah, maka orang ini adalah baghi zholim, dan perjumpaan adalah di hadapan Alloh…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 71-72/Darul Minhaj).

 

Bab Enam: Apakah Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai Memecah-belah Barisan?

 

Sebagian hizbiyyun menuduh Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah memecah-belah barisan Salafiyyin.

            Maka saya menjawab وفقني الله: Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون﴾

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (QS. Al An’am: 153).

Juga berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى الله ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون﴾ [الأنعام/159]،

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾ (البقرة: 137)

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian).

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله». (أخرجه الإمام أحمد (16937/ الرسالة)، وهو حديث حسن).

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam nereka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

            Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al Jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

Dengan dalil-dalil ini dan yang semisalnya kita mengetahui bahwasanya yang namanya perpecahan itu adalah yang menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Shohabah, sebagaimana Al Jama’ah itu adalah yang mencocoki tiga dasar ini. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan syi’ar dari firqoh-firqoh ini adalah : pemisahan diri dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma’. Maka barangsiapa berbicara dengan Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ maka dia itu adalah termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346).

            Maka yang menjadi timbangan dalam hukum-hukum adalah aqidah hati dan ucapan lisan serta gerakan anggota badan adalah ini tadi, sebagaimana kata Syaikhul Islam رحمه الله : “Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).

            Syaikh kami An Nashihul Amin dan ulama  sunnah yang bersamanya telah menampilkan hujjah-hujjah tentang kekokohan mereka di atas Al Kitab, As Sunnah dan As Salafiyyah, bersamaan dengan bersihnya dakwah mereka dari kotoran penyimpangan dari ketiga prinsip tadi. Maka mereka adalah Ahlussunnah Wal jama’ah. Mereka juga telah menampilkan dalil-dalil yang terang akan bengkoknya jalan hizb baru itu dan terlumurinya mereka dengan hawa nafsu dan manhaj-manhaj orang belakangan. Maka mereka itu adalah firqoh dari firqoh-firqoh yang ada.

            Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala berfirman:

﴿واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا﴾

“Dan berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai. (QS Ali ‘Imron 103)

Setelah firman-Nya:

﴿اتقوا الله حق تقاته﴾

“Bertaqwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya.”

Maka ini memberikan pengetahuan bahwasanya berpegangteguh dengan tali Alloh adalah ketaqwaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya yang selain itu adalah perpecahan, dikarenakan firman-Nya:

﴿ولا تفرقوا ﴾

dan janganlah kalian bercerai-berai.

Dan perpecahan merupakan sifat yang paling khusus dari ahli bid’ah karena dia itu keluar dari hukum Alloh dan menyelisihi jama’ah Ahlul Islam.” (“Al I’tishom”/hal. 88).

Dan tepat untuk diterapkan kepada mereka perkataan syaikh kami حفظه الله : “Barangsiapa menjauh dari apa yang dulunya para Shohabat Rosululloh  صلى الله عليه وسلم maka sesungguhnya dia itu adalah termasuk dari tujuh puluh dua sempalan.” (dicatat tanggal 9 Sya’ban 1430 H).

Para Nabi عليه السلام dan para pewaris mereka mengajak kepada ijtima’ di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian terjadi perpecahan di antara ahlul haq dengan ahlul batil ketika da’watul haq datang. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru: “Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua kelompok yang yang bersengketa.” (QS. An Naml: 45).

Dalam hadits Jabir bin Abdillah  رضي الله عنهما :

ومحمد – صلى الله عليه وسلم – فرق بين الناس

 “Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (Al I’tishom/Al Iqtida Bisunanir Rosul/(7281)/Darus Salam)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad  صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

Dari Abu Musa Al Asy’ary  رضي الله عنه yang berkata:  Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

« مَثَلِى وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي الله كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ ، وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ . فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا ، وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ »

“Permisalanku dengan permisalan apa yang dengannya Alloh mengutus diriku adalah permisalan seseorang yang mendatangi suatu kaum seraya berkata,”Aku melihat pasukan dengan mata kepalaku. Dan sungguh aku ini adalah pemberi peringatan yang jujur, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Maka sekelompok dari mereka menaatinya seraya berangkat di awal malam tanpa penundaan sehingga mereka selamat. Tapi sekelompok lagi mendustakannya, sehingga mereka dihantam oleh pasukan tentara tadi di waktu pagi dan dimusnahkan.” (HR. Al Bukhoriy (6482)).

Perhatikanlah وفقني الله وإياكم: saat al haq datang mereka terpecah jadi dua. Yang ikut al haq selamat dan yang menolaknya celaka. Apakah yang mengikuti al haq patut dicerca karena tidak mau terus bersatu bersama kelompok kedua agar celaka bersama-sama? Ataukah sang pemberi peringatan itu yang tercela? Ataukah beritanya tadi yang dicela karena membikin perpecahan? Ataukah mereka dibiarkan saja hidup tenang bersatu tanpa menyadari adanya bahaya besar yang mendekat? Maka persatuan yang benar adalah persatuan di atas jalan Rosululloh  صلى الله عليه وسلم.

            Maka barangsiapa taat pada para utusan Alloh maka dia itu bersama mereka di atas jalan yang lurus, dan mereka itu adalah ahlul Jama’ah. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka maka sungguh dia telah meninggalkan jalan yang lurus dan condong kepada jalan-jalan yang menyimpang tadi dan memisahkan diri dari Jama’ah, maka dia itulah yang tercela. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaf.

            Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata: “Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

            Maka teranglah dengan penjelasan ini bagi orang-orang yang punya keadilan dan fithroh bahwasanya Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengajak umat kepada persatuan di atas jalan yang lurus, dan bahwasanya hizb baru itu adalah ahlul bid’ah wal furqoh yang mengajak umat untuk meninggalkan jalan yang lurus lalu berpaling ke arah jalan-jalan yang membinasakan.

            Maka ini adalah agama kami, kami tak akan diam terhadap penyelewengan orang yang menyimpang dari kebenaran إن شاء الله walaupun sebagian orang memerintahkan kami untuk diam sebagaimana terjadi berkali-kali, dan menuduh kami –dengan zholim- sebagai Haddadiyyah, tolol, dan merobek dakwah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kami tak akan meninggalkan agama Islam karena cercaan orang yang mencerca, ataupun karena pengkafiran orang yang mengkafirkan atau juga penyesatan orang yang menuduh kami sesat, karena kembalinya para makhluk adalah kepada Alloh, dan perhitungan mereka adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang men-tauhidkan Alloh Yang Mahasuci akan menampilkan kebenaran di manapun berada, secara khusus dan umum dan secara tertulis, sampai walaupun dia diminta untuk menyembunyikan kebenaran di waktu rasa takut yang amat sangat dia tidak menyembunyikannya.” (“Ar Roddu ‘Alal Bakriy”/2/hal. 765-766).

Kami mengagungkan para ulama, memuliakan mereka dan mengakui kebesaran mereka.

Orang yang berbuat baghyu (kezholiman, melanggar kehormatan) kepada kami dan membikin kedustaan terhadap kami, maka inilah jawaban kami. Kami mohon kepada Alloh عز وجل untuk mengembalikan orang tersebut kepada kebenaran dengan bagus, dan menjadikannya paham bahwasanya orang-orang yang dituduhnya dengan kata-kata yang jahat itu tadi mereka itu adalah Ahlussunnah yang lurus dengan seidzin Alloh, dan bahwasanya orang-orang yang dibelanya itu justru mereka itulah para serigala pengkhianat yang bersembunyi di balik jubah kebesaran beliau. Maka hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan.

 

Bab Tujuh: menolong Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid

 

            Sebagian pengikut hizb yang baru itu menuduh para pelajar yang membantu syaikh kami An Nashihul Amin telah melakukan ‘ashobiyyah (fanatisme) dan taqlid. Bukanlah kenyataannya demikian.

            Yang namanya ‘ashobiy adalah orang yang marah demi membela kelompoknya dan melindungi mereka. Ta’ashshub berasal dari ‘ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: seseorang menyeru orang lain untuk menolong keluarganya, dan bergabung dengan mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, dalam keadaan zholim ataupun dizholimi. (Lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 204).

            Ini menunjukkan bahwasanya muta’ashshib (orang yang fanatik) adalah orang yang menolong keluarganya atau kelompoknya dan melindunginya dalam keadaan benar ataupun salah. Dan kami tidaklah demikian. Bayyinat dan hujjah-hujjah yang saya sebutkan sejak dari permulaan risalah ini sampai akhirnya itu cukup bagi Salafiyyin yang berakal untuk memahami bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama yang bersama beliau dalam perselisihan ini mereka itulah ahlul haq.

            Kebenaran itu dikenali dengan hujjah. Dan hujjah itu adalah sikap mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

 “Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi kesudahannya”(QS. An Nisa: 59)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang masalah perselisihan: “Dan ketika itu maka jadilah masalah tersebut adalah perselisihan yang wajib untuk dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang demikian itu maka dia itu bisa jadi adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa jadi adalah muta’ashshib pengekor hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan ancaman Alloh untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu menyebutkan ayat tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada Kitabulloh ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/ hal. 323).

Dan kami, manakala kami mengetahui bahwasanya kebenaran, hujjah dan sunnah itu bersama syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang  bersama beliau dari kalangan para ulama Salafiyyin dan para penuntut ilmu, wajib bagi kami untuk menolong mereka berdasarkan firman Alloh عز وجل:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى الله قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ الله آَمَنَّا بِالله وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali ‘Imron: 52).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 16).

Dan para saksi yang terpercaya telah bangkit bersaksi terhadap Mar’iyyin Hizbiyyin, dan para ulama yang ahli telah menampilkan bukti-bukti makar dan penyelewengan mereka tadi, alamat, tanda-tanda dan penunjuk-penunjuk keadaan telah bermunculan tentang penyimpangan mereka. kitab-kitab, malzamah dan kaset-kaset yang diarahkan kepada mereka telah tegak di atas ilmu. Apakah semua ini terbuang begitu saja menurut kalian? Sekalipun demikian, itu semua tadi memberikan faidah ilmu bagi orang yang punya dua mata.

Perhatikanlah kisah yang menjijikkan ini:

Akhunal fadhil Abu Anas Yusuf Al Lahjiy –ro’ahulloh- menuliskan:

“Alhamdulillah washsholatu wassalam ‘ala man la nabiyya ba’dahu. Amma ba’du:

Al Akh Al ‘Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” yang ada di propinsi Lahj di desa MahAlloh. Yang demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut. berikut ini hakikat dari kejadian tersebut:

Kami berangkat dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal fadhil Abdul ‘Aziz yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh (ceramah) akan diberikan oleh  Akhuna Abdul ‘Aziz, imam dari masjid tersebut. Ketika kami sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut terkunci. Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya sebagian orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mar’iy beserta orang-orang awam dari penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid ini. Dan kami tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.

Maka kamipun masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar menuju masjid. Dan hal itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan demikian kami mendengar ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari sebagian muta’ashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mar’iy) beserta orang-orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman –hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras suara dirampas.

Dalam keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan adzan dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian beberapa muta’ashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna Abdul ‘Aziz dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan tentara untuk mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada para hizbiyyin yang fanatik. Para tentara berkata: “Bagaimana mungkin kita menahan beliau dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah?” Maka duduklah sang tentara dan mereka mendengarkan ceramah, dalam keadaan para muta’ashshibun terus membikin kegaduhan.

Kemudian lewatlah sebagian muta’ashshibun yang rencananya menghadiri ceramah di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid ini datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan sebagian ingin menantang adu pukul.

Seusai ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami dapati  muta’ashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad Al Khidasyi –ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara. Dan pada hari yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy –hadahulloh- (tangan kanan Abdurrohman bin Mar’iy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota jam’iyyatul Hikmah lalu jam’iyyatul Ihsan, lalu jam’iyyatul Birr). Kami diberitahu bahwasanya dia berkata para polisi: “Orang awamlah yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi imam, jadilah dia imam.” Pada kami sudah tahu bahwasanya para muta’ashshibun telah menghasung orang-orang awam untuk menurunkan Akhuna Abdul ‘Aziz –hafizhohullohu wa saddadahu- dari jabatan imam.

Ditulis oleh  Abu Anas Yusuf Al Lahjiy.

(“Zajrul ‘Awi”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).

Kisah nyata ini memberikan faidah ilmu yaqiniy tentang penyelewengan Mar’iyyun, bagi orang yang punya mata hati. Adapun bagi orang yang telah dibutakan oleh ta’ashshub dan kedengkian, maka ayat-ayat itu tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang tidak yakin, sekalipun telah datang pada mereka seluruh ayat.

Perhatikanlah kisah di Syam. Al Muntadayat “Al Aqsho As Salafiyyah” telah mengeluarkan topik berita dengan judul: “Kejadian Perjumpaan sejumlah Ikhwah Salafiyyin dari Palestina dengan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholy” pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 4 Romadhon 1429 H , dan di antara yang diucapkan beliau adalah yang berkenaan dengan masalah Palestina , di mana sebagian orang yang fanatik kepada Ali Hasan Al Halabiy – dan Halabiy ini adalah propokator sebab terjadinya fitnah tersebut-  merampas sebuah markiz ikhwah salafiyyin.

            Maka berkatalah Asy Syaikh Robi` kepada Usamah `Athoya : “Mereka wajib mengembalikan markiz , madrosah salafiyah itu kepada Asy Syaikh Hisyam,” maka seraya Usamah `Athoya berkata: “Mereka tidak menginginkan”. Maka Asy Syaikh Robi` mendesah keras sambil mengatakan:  “Bagaimana mereka tidak mau , ini pokok inti dalam perdamaian, perbuatan ini – merampas  markiz dan madrosah – kami tidak pernah mendengar semisalnya sama sekali”([46]).  kemudian Asy Syaikh Robi` berkata setelah berhenti sejenak : “Mereka itu apabila tidak meninggalkan fanatik kepada Ali Halaby dan tidak mengembalikan markiz dan madrosah kepada Hisyam maka mereka bukanlah salafiyyiin”. Selesai. (“Mukhtashorul Bayan”/hal. 25).

Bagaimana kejadian ini memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Halabiyyun (pengikut Ali Hasan Al Halabiy) dari salafiyyah, akan tetapi kejadian yang berlipat-lipat dari itu tidak bisa memberikan faidah ilmu tentang keluarnya Mar’iyyun dari salafiyyah?

Maka segala puji bagi Alloh yang telah memahamkan para Salafiyyun dan memberi mereka taufiq untuk bersikap adil dan tidak menakar dengan dua takaran, sehingga bisa tegak menolong kebenaran dan pembawa kebenaran dalam fitnah ini, di atas ilmu dan keyakinan, bukan sekedar dugaan ataupun taqlid.

Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Ilmu adalah: keyakinan terhadap suatu perkara sesuai dengan kenyataannya, bisa jadi berdasarkan burhan dhoruriy (bukti yang tak mungkin bisa ditolak) yang menyampaikan kepada keyakinannya itu tadi, dan bisa jadi yang pertama dengan indera, atau dengan pemahaman akal yang sangat jelas hingga tak butuh pada pendalilan,…” dst. (“Al Ahkam”/1/hal. 34).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu itu adalah apa yang tegak di atasnya suatu dalil. Dan ilmu yang bermanfaat adalah apa yang dibawa oleh Rosul. Maka yang penting dalam hal ini adalah hendaknya kita berbicara dengan ilmu, yang berasal dari penukilan yang terpercaya dan pembahasan yang telah diteliti. Adapun yang selain itu meskipun sebagian orang telah menghiasi dengan yang semisalnya maka dia itu hanyalah hiasan saja. Jika tidak demikian maka dia itu adalah kebatilan yang mutlak.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam “An Nuniyyah” (1/hal. 65):

إذ أجمع العلماء أن مقلدا*** للناس والأعمى هما أخوان

والعلم معرفة الهدى بدليله*** ما ذاك والتقليد مستويان

“…karena para ulama telah bersepakat bahwasanya orang yang membebek pada manusia dan orang yang buta itu keduanya adalah saudara. Dan ilmu adalah: mengetahui petunjuk dengan dalilnya. Tidaklah dia itu sama dengan taqlid.”

`           Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Maka ilmu adalah makna yang menuntut ketenangan jiwa dengan apa yang diketahuinya itu. Dan dia itulah yang diungkapkan oleh para ulama bahwasanya dia itu adalah: pembenaran yang pasti yang mencocoki kenyataan disertai dengan ketenangan jiwa.” (“Ijabatus Sail Syarhu Bughyatil Amil”/1/hal. 33).

            Al Imam Abdullathif bin Abdirrohman Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Dan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan dalilnya, dan mengetahui hukum sesuai dengan kenyataannya secara hakiki.” (“Uyunur Rosail”/karya beliau/2/hal. 525-526/Maktabatur Rusyd).

            Maka orang-orang yang berakal jika bayyinat dan persaksian orang-orang tsiqot telah tegak di sisinya, disertai dengan tanda-tanda dan alamat, dan dia telah mendapatkan ilmu. Bahkan ilmu itu bisa didapatkan dengan yang lebih sederhana dari itu.

            Bahkan hizb Mar’iyyah yang menuduh Ahlussunnah di Dammaj dengan Haddadiyyah, mereka itulah yang berdiri di atas dugaan dan persangkaan semata, tanpa bayyinah dan tanpa batasan yang jelas. Maka pantas untuk dikatakan pada mereka ucapan Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله : “Jika engkau menyatakan bahwasanya engkau mengucapkan itu berdasarkan ilmu, maka ilmu yang dihasilkan oleh seseorang itu tidaklah terwujud kecuali dengan dalil.” (“Ushulus Sarkhosiy”/2/hal. 217).

            Maka dengan penjelasan ini semua tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya Salafiyyun yang saling membantu dengan syaikh kami An Nashihul Amin dalam posisi ini mereka itu ada di atas bayyinah dari Robb mereka, bukan di atas taqlid, ataupun ‘ashobiyyah. Yang demikian itu adalah dari karunia Alloh kepada mereka dan kepada orang-orang yang berakal, akan tetapi kebanyakan hizbiyyun dan orang-orang yang dengki tidak tahu.

            Bahkan kami telah tegakkan hujjah-hujjah bahwasanya Mar’iyyun Barmakiyyun itulah para ahli taqlid yang batil, dan mereka menggabungkan kepada taqlid saudaranya yaitu: qiyas yang rusak. Yang mana  mereka itu telah gagal mengqiyaskan Ahlussunnah Dammaj dengan Haddadiyyah. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ini adalah qiyas yang batil yang telah disepakati bahwasanya dia itu tercela. Dan qiyas ini adalah saudara dari taqlid yang batil. Kedua-duanya sama dalam kebatilan.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Malam Senin, tanggal 9 Jumadal Ula 1432 H

Tanggal perbaikan: malam Kamis, 28 Romadhon 1433 H

Darul hadits Salafiyyah di Dammaj Yaman

Semoga Alloh menjaganya


Daftar Isi

Pengantar Penerjemah. 3

Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Ba’daniy Al Yamaniy –semoga Alloh menjaganya- 5

Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy Al Yamaniy –semoga Alloh menjaganya- 7

Pengantar Penulis. 9

Bab Satu: Firqoh Haddadiyah Secara Global 10

Bab Dua: Upaya Merusak Citra Para Pembawa Sunnah dengan Kata-kata Yang Buruk. 12

Bab Tiga: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Aujuhusy Syibh Bainal haddadiyyah Wa Bainar Rowafidh”. 16

[Pasal Pertama: At Tuqiyyah (bertopeng)] 16

[Pasal Kedua: Sirriyyah (kerahasiaan)] 17

[Pasal Tiga: Menolak sebagian Imam Salaf, Prinsip-prinsip Mereka, Dan Merendahkannya]  19

Di Antara Penyelisihan Al Mar’iyyun Terhadap Prinsip-prinsip Ulama Hadits. 27

[Pasal Empat: Kasus Maslahat dan Mafsadah] 48

[Pasal Lima: Kasus Pengambilan Rukhshoh (keringanan) dalam Prinsip-prinsip dan Kewajiban-kewajiban] 51

[Pasal Enam: Upaya Untuk Menjatuhkan Ulama Yang Kokoh Di Atas Kebenaran] 55

[Pasal Ketujuh: Bersembunyi Di Balik Sebagian Ulama Sunnah Sambil Menyusun Makar Terhadap Sebagian Ulama yang Menampakkan Kebenaran] 66

[Pasal Delapan: Mengadu Domba Di Antara Ahlul Manhajus Salafiy] 69

[Pasal Sembilan: Seruan Untuk Taqlid Kepada Sebagian Ulama Dalam menyelisihi kebenaran]  72

[Pasal Kesepuluh: Pura-pura Menghormati Sebagian Ulama Sunnah, Untuk membenturkannya Kepada ulama yang lain] 81

[Pasal Kesebelas: Pembelaan Terhadap Hizbiyyin] 86

[Pasal kedua Belas: Mereka Mengikuti Hawa Nafsu Hingga Keluar Dari Salafiyyah] 89

[Pasal Ketiga Belas: Kedustaan, Kebohongan Terhadap Ahlussunnah, Pengkhianatan, dan pemotong-motongan kalimat] 91

Di antara kedustaan-kedustaan Mar’iyyun dan kebohongan mereka terhadap Ahlussunnah di Dammaj adalah sebagai berikut: 92

Dan termasuk pengkhianatan-pengkhianatan para Mar’iyyin dan penipuan mereka sebagai berikut: 96

Adapun masalah penyelewengan lafazh dan makna dan pemotong-motongan kalimat yang dilakukan oleh Mar’iyyin adalah sebagai berikut: 102

[Pasal Empat Belas: Banyaknya sifat nifaq di kalangan hizbiyyin] 105

Setiap Kali Muncul Ahli Batil, Alloh Menegakkan Tentara-Nya untuk Membongkarnya dan Memeranginya. 106

[Pasal Kelima Belas: Membenarkan kedustaan] 108

[Pasal Keenam Belas: berubah-rubah warna dan melancarkan makar mereka dengan bertahap]  113

[Pasal Ketujuh Belas: Mengincar Sebagian Imam Sunnah dan Ulama Salafiyyah] 114

Kasus Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy. 116

Keburukan Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy. 118

[Pasal Kedelapan Belas: Berbolak-balik dan Menuduh Al Imam Al Albaniy Sebagai Murjiah]  121

[Pasal Kesembilan Belas: Setelah Mereka Menuduh Al Imam Al Albaniy Dengan Perkara-perkara yang Besar, Mereka menampakkan Pujian Kepada Beliau dan Menyebarkan Kitab-kitab beliau]  123

Kritikan ilmiyyah di antara Ahlussunnah ketika terjadi kesalahan itu wajib, dan bukanlah termasuk tho’n (cercaan) 125

Jika Ahlul Haq Diam Terhadap Ahlul Ahwa Niscaya Akan Membesarlah Kebatilan. 127

[Pasal Kedua Puluh: Sikap Saling Menolong di Kalangan Mereka Dalam Dosa dan Permusuhan]  130

[Pasal Kedua Puluh Satu: sikap ‘inad mereka terhadap kebenaran Setelah Dijelaskannya Kebenaran Tadi, Terus-menerus Di Dalam Kebatilan, Dan Pemutarbalikan Fakta. 133

[Pasal Kedua Puluh Dua: Haddadiyyah Ditumbuhkan Adalah Untuk Memerangi Salafiyyah, Para Haddadiyyun Tak Punya Kesibukan Selain Itu] 136

Di Antara Pujian Ulama Kepada Darul Hadits di Dammaj 137

[Pasal Kedua Puluh Tiga: Tuqiyyah Di Belakang Gelar Atsariyyah Untuk Menyusup Di Kalangan Salafiyyun] 139

[Pasal Kedua puluh empat: Pura-pura Menangis, dan Pengakuan Dusta Untuk menipu Manusia]  141

[Pasal Keduapuluh Lima: Loyalitas dan Pemutusan Hubungan Berdasarkan Tokoh-tokoh, Bukan Berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah] 142

[Pasal Keduapuluh Enam: Kasus ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy] 143

[Pasal Duapuluh Tujuh: berlebihan dalam menyanjung orang yang bersama mereka, manakala dirinya meninggalkan mereka maka merekapun berlebihan dalam mencercanya] 152

[Pasal Keduapuluh Delapan: Penamaan Sesuatu Bukan Dengan Namanya] 156

Bab Empat: Bersama Risalah Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy “Manhajul haddadiyyah”. 158

[Pasal Satu: Kebencian Mereka Terhadap Ulama Manhajus Salafiy] 159

[Pasal Kedua: Mereka Membid’ahkan Setiap Orang yang Terjatuh Ke Dalam Bid’ah] 160

[Pasal Ketiga: Mereka Membid’ahkan Orang yang Tidak Membid’ahkan Orang Yang Terjatuh Ke Dalam Kebid’ahan] 161

[Pasal Keempat: Mengharomkan Mendoakan Rohmat Bagi Ahlul Bida’ Secara Mutlak]  162

[Pasal Kelima: Membid’ahkan Orang Yang Mendoakan Rohmat Kepada Semisal Abu Hanifah, Asy Syaukaniy dan yang Lainnya] 164

[Pasal Keenam: Permusuhan Yang Keras Terhadap Salafiyyun Yang Membela Sunnah]  165

[Pasal Ketujuh: Mengaku Telah Mentahdzir Dari Ikhwanul Muslimin dan Sayyid Quthb dan Juhaimaniyyah] 167

[Pasal Kedelapan: Ghuluw mereka terhadap Al Haddad] 168

[Pasal Kesembilan: Menuduh Ulama Sunnah Bahwasanya Mereka Telah Berdusta] 170

[Pasal Kesepuluh: Melaknat Salafiyyin, Meneror Mereka, Dan mengancam Mereka Dengan Pemukulan] 171

Seorang Hizbiy Adalah Mubtadi’ 174

[Pasal kesebelas: Bermudah-mudahan Dalam Mengkafirkan Orang] 176

[Pasal Keduabelas: Kesombongan, Penentangan, Dan penolakan Terhadap kebenaran]  177

Kesombongan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dan Penentangannya Terhadap Kebenaran. 180

[Pasal Ketigabelas: Pura-pura Menempel Pada Kebesaran Nama Al Imam Ahmad] 192

[Pasal keempatbelas: Mereka Memiliki Hubungan Dengan Hizbiyyin] 194

Bab Lima: Kezholiman Orang yang menuduh Ahlussunnah Di Dammaj Sebagai Haddadiyyun   205

Bab Enam: Apakah Upaya Menampilkan Kebenaran Itu Dinilai Memecah-belah Barisan?  208

Bab Tujuh: menolong Ahlul Haq Dengan Dalil-dalilnya Bukanlah Suatu Fanatisme Ataupun Taqlid   214

Daftar Isi 221


([1]) Catatan penulis: Demikianlah awal mula judul kitab ini, kemudian saya merubah judulnya menjadi: “Shifatul Haddadiyyah fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”. Kemudian Syaikhunal ‘Allamah Yahya Al Hajuriy حفظه الله melengkapinya sehingga menjadi: “Shifatul Haddadiyyatil Mar’iyyah fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”.

([2]) Dan perlu diingat bahwasanya hubungan kedua ulama tersebut sekarang bagus sekali, dan sungguh telah rugi Mar’iyyun yang berupaya mengadu domba di antara keduanya, mereka pulang dengan kegagalan. Dan apa yang saya tulis ini secara umum bukanlah dalam rangka membantah Asy Syaikh Robi’ حفظه الله , akan tetapi hanya untuk menunjukkan batilnya istidlal hizbiyyin yang memakai tulisan beliau tersebut حفظه الله.

([3])  HR. Al Bukhoriy (6167) dan Muslim (2640) dari Abdulloh bin Mas’ud  رضي الله عنه.

([4])  Maksudnya adalah: bahwasanya mereka berpendapat bahwasanya Ahlu Dammaj tidaklah lebih tahu daripada mereka tentang keadaan Abdurrohman bin Mar’i saat tinggal di Dammaj, dikarenakan sudah lengkapnya jaringan telpon, sehingga merekapun bisa tahu apa yang diketahui oleh ahlu Dammaj. (catt. Pent).

([5])  Misalnya adalah berita dari Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Kita wajib untuk langsung mengimaninya. (catt. Pent).

([6])  Misalnya adalah keumuman berita dari orang tsiqoh. Sebagian ulama mewajibkan untuk langsung menerimanya, sebagian lagi membolehkan untuk tabayyun. Dan tiada seorangpun dari ulama sunnah yang mu’tabar mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh. Adapun para hizbiyyun pengikut Abdurrohman bin Mar’i dan lainnya, yang mewajibkan tabayyun terhadap berita orang tsiqoh, maka mereka memang ahlu bid’ah. (catt. Pent).

([7]) Diriwayatkan Ibnu baththoh dalam “Al Ibanatul kubro” (no. 505) dan Al Baihaqiy dalam “Syu’abul Iman” (8984) dan Abdurrozzaq (7894) dengan sanad jayyid dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dengan lafazh:

« اعتبرواالرجلبمنيصاحب،فإنمايصاحبمنهومثله ».

 “Nilailah seseorang dengan siapa dia bersahabat, karena dia itu hanyalah bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.”

([8]) Atsar Shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya’la رحمه الله lihat takhrijnya di risalah asli “Shifatul Haddadiyyah”.

([9]) Atsar shohih lighoirihi, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Al Khothib di “Al Kifayah”/ /1/177-178/wujubu ta’rifil muzakki/Darul Huda)

([10]) Atsar shohih, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban

([11]) Sanadnya dho’if, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Al Majruhin”/1/hal. 21. Di dalam sanadnya ada Mu’adz bin Syu’bah, dari Bashroh, majhul.

([12]) Sanadnya dho’if, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Al Majruhin”/1/hal. 21. Di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdirrohman Al Faqih, hapalannya jelek.

([13]) Falij: sejenis penyakit yang membikin ringkih badan.

([14]) Yaitu: menolak bahaya yang lebih ringan dengan cara melakukan bahaya yang lebih besar. Ini menyelisihi prinsip syari’ah.

([15]) Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

([16]) Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagainya, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian  pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

([17]) Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله berkata: “Rukhshoh adalah perkara yang dibangun di atas suatu ‘udzur yang terjadi pada para hamba. Dia merupakan perkara yang dibolehkan karena suatu ‘udzur bersamaan dengan tetap tegaknya dalil yang mengharomkan.” (“Al Ushul Lis Sarkhosiy”/1/hal. 117).

([18])  Al Imam As Sarkhosiy رحمه الله berkata: “Azimah dalam hukum-hukum syariah adalah perkara yang disyariatkan pada awalnya, tanpa bersambung dengan suatu penghalang. Dia dinamakan ‘azimah dikarenakan dia merupakan perkara yang disyariatkan pertama kali pada puncak penekanan dan kekuatan, sebagai hak Alloh ta’ala pada kita sebagai sesembahan kita, dan kita adalah hamba-Nya, dan hanya milik-Nyalah seluruh urusan, Dia berhak melakukan apa saja, menghukumi apa yang dikehendaki-Nya, dan kita wajib untuk tunduk dan taat.” (“Al Ushul Lis Sarkhosiy”/1/hal. 117).

([19]) Waliyyul ‘ahd pemegang perjanjian untuk menjadi kepala negara di masa yang akan datang. Beliau adalah calon raja dan sebagainya.

([20]) Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal (4/420) dari Abu Barzah رضي الله عنه , dalam sanadnya ada Sa’id bin Abdillah bin Juroij, majhulul hal. Dan diriwayatkan oleh At Tirmidziy (Al Birr Wash Shilah/Ma Jaa Fi Ta’zhimil Mu’min) dan yang lainnya dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما dengan lafazh “Orang yang masuk Islam dengan lidahnya”, dan menghasankannya, dan disetujui Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((3601)/Darul Atsar). Hadits ini Jayyid.

([21]) Pada masa-masa ini Sholih Al Bakriy telah menelpon Asy Syaikh Yahya حفظه الله dan meminta maaf atas perbuatan-perbuatannya di masa silam.

([22]) Asy Syaikh Jammal berkata: Jika Salim Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan-penukilan ini maka pendustaannya itu tak bisa diterima karena berita tadi tidaklah diterima dari jalanan atau dari orang rendahan atau orang majhul semisal perserikatan Ibnu Mar’i Al Barmakiyyah, karena berita tadi adalah penukilan dari orang-orang yang lurus agamanya yang terkenal dengan amanah dan kejujuran. TinggAlloh kewajiban Ibnu Muhriz untuk mengumumkan tobat secara terang.

([23]) Yaitu: jika engkau jujur kepada Alloh dengan membuktikan kebenaran ucapanmu dengan dicocoki oleh perbuatanmu sebagaimana mestinya, maka Alloh juga akan jujur kepadamu dengan memenuhi apa yang dijanjikan-Nya kepada orang yang menaatinya. Ucapan ini diambil dari hadits Syaddad ibnul had رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم berkata pada seorang badui yang mengikuti beliau demi mendapatkan syahadah dan Jannah:

«إنتصدقاللهيصدقك»

“Jika engkau jujur pada Alloh, maka Alloh juga akan jujur kepadamu.”

Di dalamnya ada kisah yang indah, diriwayatkan oleh An Nasa’iy (4/hal. 60) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam “Shohihut Targhib” (no. 1338) dan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (no. 474/Darul Atsar).

([24]) Maksudnya adalah: ini merupakan kebiasan yang diwariskan turun-temurun

([25])  Ini kurang lebih disebutkan pada tahun 1429 H

([26]) Kukatakan –Abu Fairuz-: termasuk Luqman Ba Abduh, kepala Mar’iyyin di Indonesia

([27])  Kukatakan –Abu Fairuz-: demikian juga Luqman Ba Abduh, kepala Mar’iyyin di Indonesia.

([28]) Judul ini dipilihkan untukku oleh Syaikh kami Yahya Al Hajury حفظه الله setelah beliau membaca sebagian dari isi risalah saya tersebut. Semoga Alloh Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

([29])  Komentar Abu Fairuz: Anda benar, semoga Alloh menjaga Anda. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله sendiri berkata: “Ahlussunnah wal ‘adl wal hifzh mereka itulah para pemikul bendera sunnah secara fiqh dan aqidah, dan mereka memiliki kedudukan di tengah-tengah umat untuk maju ke depan dan menjadi imam. Sedangkan orang-orang yang menyimpang, bodoh, pendusta, dan sesat, mereka itu berada dalam kehinaan, tak bisa dipercaya dalam masalah agama maupun dunia.” (“Baroatu Ahlissunnah”/Majmu’atur Rudud/hal. 197).

([30]) Dan kami para thullab menghadiri ceramah tersebut pada malam itu.

([31]) Muhammad Al Khofifiy هداه الله ini menulis risalah ini saat masih menampakkan sifat istiqomah di Dammaj, setelah keluar dan bergabung dengan hizb baru diapun mengumumkan rujuknya dari pembelaannya terhadap al haq selama ini. Pantas baginya untuk ana sebutkan kisah berikut ini:

قال خالد بن سعد قال: دخل أبو مسعود على حذيفة -رضي الله عنهما- فقال: اعهد إلي، قال : أولم يأتك اليقين؟ قال: بلى. قال: فإن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر، وتنكر ما كنت تعرف، وإياكوالتلونفيدينالله؛ فإنديناللهواحد

 Kholid bin Sa’d berkata: “Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah  رضي الله عنهماseraya berkata: “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Apakah belum datang kepadamu keyakinan?” Beliau menjawab: “Sudah.” Hudzaifah berkata: “Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah: engkau mengenali apa yang dulunya engkau ingkari, dan engkau mengingkari apa yang selama ini telah engkau kenal. Hindari olehmu berubah-rubah warna dalam agama ini, karena sesungguhnya agama Alloh itu satu saja.”.” (riwayat Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilmi” (1775), Al Lalikaiy dalam “Syarhul Ushul” (no. 120) dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 25). Atsar ini shohih).

([32]) Catatan penerjemah وفقه الله: Sungguh mereka itu membenci Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Yahya Al Hajuriy, Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibby, Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim Al Hajury, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury, Syaikh Abu Bilal Kholid Al Hadhromy, Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Ba’dany, Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy, Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, Asy Syaikh Abul Yaman ‘Adnan Al Mishqoriy, Asy Syaikh Abu Mu’adz Husain Al Hathibiy, Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudy, Asy Syaikh Abdul Wahhab Asy Syamiri, dan yang lainnya dari kalangan masyayikh markiz Darul Hadits di Dammaj –semoga Alloh menjaga mereka semua-.

Demikian pula mereka membenci Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy (Salah satu penegak dakwah Salafiyyah di Shon’a). Seperti itu pula Syaikh Ahmad bin ‘Utsman Al ‘Adniy (di propinsi ‘Adn). Dan juga Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Ad Duba’iy (di Mukalla) dan mereka berupaya keras untuk menyakiti beliau, Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy (dulu di Baidho, lalu mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid tempat beliau berdakwah), demikian pula Syaikh Abu Bakr Abdurrozzaq bin Sholih An Nahmiy (beliau menegakkan dakwah dan pendidikan umat di propinsi Dzammar) mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid beliau. Demikian pula Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy (di Hadhromaut), Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy (di propinsi Ta’iz), Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al Mishriy (di Mesir), Asy Syaikh Abu Bakr bin Mahir bin Athiyyah (di Mesir), serta Asy Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaliy (di Yordan), dan ulama yang kokoh yang lain حفظهم الله.

([33]) HR. Muslim nomor (976)

([34]) Catatan penerjemah: Yaitu: jika ucapan tadi tidak sampai menyelisihi suatu sunnah atau ijma’

([35]) Catatan penerjemah: Yaitu: sisi yang kedua

([36]) Ucapan Abu Fairuz: Lihatlah, -semoga Alloh memberikan taufiq kepada kalian- kepada kesabaran Asy Syaikh Yahya, bukannya seperti apa yang digambarkan oleh sebagian orang-orang yang zholim.

([37])  Ucapan Abu Fairuz: Ini menunjukkan bahwasanya syaikh kami ini tidaklah di atas jalan haddadiyyah, karena Haddadiyyah itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy: “Mereka berpandangan bahwasanya setiap orang yang terjatuh kedalam kebid’ahan adalah mubtadi’.”

([38]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Sesungguhnya orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya justru dijadikannya sebagai musuh. Dan dia mulai menjatuhkan sang penasihat tadi di mata manusia. Sama saja, dengan membongkarpasang berita tentang dirinya, ataukah dengan tuduhan-tuduhan dengan perkara-perkara yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk memerangi orang yang menasihatinya, sebagaimana hal itu telah dikenal darinya, tapi Asy Syaikh Al Wushobiy datang dengan bentuk sebagai pemberi nasihat yang penuh kasih sayang!

﴿أمحسبالذينفيقلوبهممرضأنلنيخرجاللهأضغانهمولونشاءلأريناكهمفلعرفتهمبسيماهمولتعرفنهمفيلحنالقولواللهيعلمأعمالكم﴾.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Alloh tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Alloh mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad: 28-29)

([39]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Lihatlah bagaimana si murid mengambil faidah dari fatwa syaikh al ‘allamah!!!

﴿وإذاقيللهماتبعواماأنزلاللهقالوابلنتبعماألفيناعليهآباءناأولوكانآبائهملايعلمونشيئاًولايهتدون﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan oleh Alloh, mereka berkata: “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami ada di atasnya”. Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun bapak-bapak mereka tidak mengetahiu sedikitpun dan tidak berakal?”

([40]) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: padahal dia sudah tahu itu, akan tetapi dia berbuat itu seakan-akan dia tidak tahu itu, untuk memberikan kesan pada orang yang ada di sekitarnya bahwasanya dirinya terkejut akan hal itu.

([41]) Sanadnya hasan, karena Ahmad bin Muhammad Al ‘Utaiqiy shoduq. Demikian juga Al Husain ibnul Hasan Al Marwaziy. Para rowi yang lain tsiqot. Silakan rujuk kembali catatan kaki dari kitab yang asli (“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”).

([42]) Atsar ini hasan. Lihat catatan kaki dari kitab “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatun ‘Ilmiyyah”

([43]) Shohih. HR. Abu Dawud (Al Malahim/Khurujud Dajjal/(4331)/Darul Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru).

([44]) Hasan. HR. Abu Dawud (Al Adab/man Yu’mar An Yujalis/(4835)/Aunul Ma’bud/Darul Hadits) dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1019)/Darul Atsar/cet. baru) dan At Tirmidzi (Zuhd/bab 45/2552/Tuhfatul Ahwadzi/Darul Hadits), dihasankan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam “As Silsilah Ash Shohihah” (2/no. 927/Maktabatul Ma’arif) dan Al imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” ((1272)/Darul Atsar/cet. baru).

([45]) Maksudnya adalah: akibat kezholiman itu kembali kepada orang yang zholim. Ini juga kiasan untuk menggambarkan kekalahan yang menimpa kaum itu. (lihat “Majma’ul Amtsal”/Al Maidaniy/1/hal. 204).

([46])  Komentar Abu Fairuz وفقه الله : Bahkan hal itu telah banyak dilakukan oleh Mar’iyyun, dan telah disebar di berbagai risalah, hanya saja ada sebagian orang berkata: “Aku tidak percaya sampai aku melihatnya sendiri!”