Hiburan Buat Yang Bersedih Hati Atas Gugurnya 

Asy Syaikh Al Mujahid As Salafy Sa’id bin Da’as Al Yafi’i

  

Diperiksa oleh dua Syaikh yang mulia:

Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy Al Umariy

Dan Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظهما الله ورعاهما

 

 

Penulis dan penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Ath Thuriy

عفا الله عنه

 

Di Darul Hadits Dammaj

حرسها الله

 

 

Judul Asli:

“’Aza’un Fi Syaikhinal Mujahidis Salafiy Said bin Da’as Al Yafi’iy”

 

Terjemah Bebas:

“Hiburan Buat Yang Bersedih hati Atas Gugurnya Asy Syaikh Al Mujahid As Salafi

Sa’id bin Da’as Al Yafi’i”

 

Diperiksa oleh dua Syaikh yang mulia:

Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy Al Umariy

Dan Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظهمااللهورعاهما

 

Penulis dan penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

عفا الله عنه

 

Pengantar Penulis

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

          Maka sesungguhnya Alloh menciptakan dunia dan menjadikan di dalamnya para hamba-Nya dari kalangan manusia dan jin, dan menjadikannya indah di mata mereka sambil memperingatkan mereka dari dunia, untuk menguji mereka siapakah dari mereka yang terbaik amalannya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ الله وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾ [الحديد/20].

“Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kesia-siaan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan saling berlomba dalam banyaknya harta dan anak-anak, seperti hujan yang tanamannya membikin kagum orang-orang kafir, kemudia dia berubah sehingga engkau melihatnya menguning, kemudian jadilah dia mengering. Dan di akhirat itu ada siksaan yang keras, ampunan dari Alloh, dan keridhoan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ﴾ [الملك: 2].

Yaitu Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya. Dan Dia itulah Al ‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan Al Ghofur (Yang Maha Pengampun).

            Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء». (أخرجه مسلم (7124) عن أبي سعيد الخدرى رضي الله عنه ).

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Alloh itu menjadikan kalian saling menggantikan di dunia itu kemudian Alloh melihat bagaimana kalian beramal. Maka jaga diri kalian dari dunia, dan jaga diri kalian dari perempuan, karena sesungguhnya fitnah yang pertama menimpa Bani Isroil itu terjadi dengan sebab perempuan.” (HR. Muslim (7124) dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه).

            Maka barangsiapa diberi Alloh taufiq untuk mengetahui hakikat kehidupan dunia, tahulah dia bahwasanya dunia itu bukanlah tempat menetap, maka diapun berjalan di dunia seperti perjalanan orang asing, sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم kepada Ibnu Umar رضي الله عنهما :

«كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل».

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau orang yang tengah melintas jalan.”

Ibnu Umar berkata: “Jika engkau masuk waktu sore maka janganlah engkau menunggu waktu pagi. Jika engkau masuk waktu pagi maka janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah dari masa kesehatanmu untuk masa sakitmu, dan dan dari kehidupanmu untuk kematianmu.”

(HR. Al Bukhoriy (6416)).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله mengumandangkan syair:

إن لـله عبـادا فـطـنا              طلقوا الدنيا وخافوا الفتنا

نظروا فيها فلما علموا           أنها ليسـت لحـي وطـنا

جعلوها لجة واتخذوا             صالح الأعمال فيها سفنا

“Sesungguhnya Alloh punya para hamba yang cerdas. Mereka menceraikan dunia dan takut pada fitnah. Mereka memperhatikan dunia, manakala mereka mengetahui bahwasanya dunia itu bukan tempat tinggal bagi orang yang hidup, mereka menjadikan dunia sebagai samudra, dan mereka menjadikan amal sholih di dalamnya sebagai kapal-kapal.” (“Riyadhush Sholihin”/hal. 9).

            Adapun orang yang terpedaya dengan kehidupan dunia dan perhiasannya, dan pandangan matanya terbatas padanya, dia lebih mencintai dunia itu dan leibh mengutamakannya daripada kehidupan akhirat, maka diapun merugi di dua negri (dunia dan akhirat). Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ﴾ [محمد/12].

“Dan orang-orang kafir bersenang-senang dan makan seperti gaya makannya ternak, dan neraka itu adalah tempat tinggal bagi mereka.”

            Dan Alloh Yang Agung penyebutan-Nya berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ{ [هود: 15، 16]

“Dan barangsiapa menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan mencukupi balasan amalan mereka di dunia dan mereka di dunia tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan di akhirat kecuali neraka, dan gugurlah apa yang telah mereka perbuat di dalamnya, dan batallah apa yang dulu mereka kerjakan.”

            Dan Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ الله وَغَرَّكُمْ بِالله الْغَرُورُ * فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾ [الحديد/14، 15].

“Dan mereka menyeru orang-orang yang yang beriman: “Bukankah kami dulu bersama kalian?” Mereka menjawab: “Memang, akan tetapi kalian memfitnah diri kalian sendiri([1]) dan kalian menunggu-nunggu kecelakaan kami, kalian merasa ragu, dan angan-angan telah mempedaya kalian hingga datangnya urusan Alloh. Dan setan telah menipu kalian. Maka pada hari ini tidaklah diambil tebusan dari kalian dan juga tidak diambil dari orang-orang kafir. Tempat kalian adalah neraka, dialah tempat tinggal kalian, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”

            Dan termasuk orang yang diberi Alloh taufiq untuk mengenal kebenaran dan mengmalkannya sampai mati –kami menilai demikian, dan Alloh sebagai penghitungnya. Dan kami tidak mensucikan seorangpun atas nama Alloh- adalah syaikh kami Sa’id bin Da’as Al Masyusyiy Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya-.

            Telah sampai berita pada kami tentang terbunuhnya beliau pada malam Kamis tanggal 5 Syawwal 1433 H di tangan para Hutsiyyin Rofidhoh yang kafir dan zindiq itu, di tanah Hasyid, pada hari-hari peperangan antara Muslimin dan Rofidhoh yang kafir dan jahat itu. Kejadian ini merupakan bencana besar bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah terutama bagi ulama dan para pelajar yang bergaul dengan beliau di Darul hadits di Dammaj.

            Maka saya ingin menyampaikan ta’ziyyah (hiburan) kepada Muslimin dan Salafiyyin tentang orang alim, salafiy, peneliti dan pemberani tersebut, dan menyebutkan beberapa kebaikan dan jasa beliau terhadap Islam dan Muslimin dan pujian para ulama terhadap beliau, sebatas apa yang saya tahu.

            Dan saya sampaikan rasa syukur kepada Syaikh kami yang mulia Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy Al Umariy حفظه الله atas koreksian yang beliau berikan terhadap risalah ini.

            Kemudian saya juga menyampaikan rasa syukur kepada Syaikh kami yang mulia Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله atas penelitian yang beliau berikan terhadap risalah ini. Semoga Alloh memberikan balasan yang terbaik buat kedua syaikh tersebut.

Kemudian saya juga menyampaikan terima kasih pada saudara kita yang mulia Abu Yusuf Ridwan Al Amboniy حفظه الله atas bantuannya. Semoga Alloh memberikan balasan yang terbaik buatnya.

Sekarang kita masuk kepada inti pembahasan –dengan taufiq dari Alloh-:

 

Bab Satu: Jihad Dengan Ilmu Dan Dakwah Serta Membantah Ahli batil

            Sesungguhnya Alloh ta’ala menegakkan agama ini dengan dua jihad: jihad dengan pena dan lisan, dan itu adalah jihad ilmu, dakwah dan membantah ahli batil. Dan yang kedua adalah jihad dengan pedang dan tombak, yaitu jihad melawan orang kafir dan zanadiqoh.

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “… karena sesungguhnya agama Alloh عز وجل hanyalah tegak dengan dua perkara: yang pertama: ilmu dan burhan. Yang kedua: peperangan dan tombak. Kedua perkara ini harus ada. Dan tidak mungkin agama Alloh tegak dan menang kecuali dengan keduanya secara bersamaan. Yang pertama lebih didahulukan daripada yang kedua. Oleh karena itulah dulu Nabi صلى الله عليه وسلم tidak menyerang mendadak terhadap suatu kaum hingga dakwah ilalloh عز وجل itu sampai pada mereka, sehingga jadilah ilmu itu mendahului peperangan.” (“Kitabul ‘Ilm”/pasal kedua/hal. 13/cet. Daruts Tsuroyya).

Jenis jihad yang paling utama adalah jihad dengan ilmu dan bukti, untuk menyelamatkan manusia dari kelalaian dan kebodohan serta kerugian di dua negri, dan untuk menjaga agama ini dari menimiran yang batil dan membinasakan.

Al Imam Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy رحمه الله berkata: “… karena sesungguhnya menuntut ilmu syar’iy merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Bahkan dia itu salah satu dari dua jenis jihad, yang tidak bisa ditegakkan kecuali oleh makhluk-makhluk yang khusus, yaitu jihad dengan ucapan dan lisan, terhadap orang-orang kafir dan munafiqin, dan jihad untuk mengajarkan urusan agama, dan untuk menolak penyelisihan orang-orang yang menyelisihi kebenaran, sekaliipun mereka adalah dari kalangan muslimin.” (“Taisirul Karimir Rohman”/hal. 763/cet. Dar Ihyait Turotsil ‘Arobiy).

Dan termasuk di antara orang-orang yang mendapatkan taufiq untuk menempuh jihad yang terbesar ini adalah syaikh kita Al Alim As Salafiy Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al Masyusyiy Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya-, yang mana beliau bersabar dalam menuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj sampai membuahkan hasil, kemudian mencurahkan kerja keras untuk mengajar para pelajar, dan menyeru manusia kepada Alloh di atas ilmu dan keyakinan, dan menulis kitab-kitab dalam membela agama ini dan membantah para musuh sunnah.

Di antara karya tulis Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya-

            Di antara karya tulis Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya- adalah sebagai berikut:

1-      Inbaul Fudhola Bi Zaifi Da’wa Khuluwwil Yaman Minal ‘Ulama Ba’da Mautil Imam Al Wadi’iy Rohimahulloh

2-      At Tahdzir Minal Ghuluwwi Wa Ahlih

3-      Tanzihus Salafiyyah Mimma Fi Kitabil Ibanah Lisy Syaikh Muhammad Al Imam Min Syubuhat Wa Qowa’id Kholafiyyah

4-      Darul Hadits Bi Dammaj Wa Harbur Rofidhoh Fi Tsaurotihimus Sadisah

(ditulis oleh beliau bersama Abu Thoriq Ziyad bin Ali Al Laitsiy Ar Ridfaniy حفظه الله)

5-      Shoihati Indzar Bil Qoth’ Lil Kafiril Mu’ayyan Idza Mata ‘Ala Kufrihil Mutayaqqon Bin Nar

6-      Muwashshiluth Thullab Ila Marotibil Akabir Wath Thoriqul Mutsla Fi ‘Ulumis Sunnah Wal Kitab

7-      Wujubul Amri Bil Ma’ruf Wan Nahyi ‘Anil Munkar ‘Ala Kulli Qodir Bil Yad Wal Lisan Wal Qolb

8-      Taudhihul Khilafil Manhajiy Fi Fitnatil Hizbil Jadid

9-      Rof’ul Malamah ‘Amman Nasabat Tafwidh Fi Ma’anish Shifat Ilal Imam Ibni Qudamah

10-  Al Burhanul Manqul ‘Ala Ma Kholafahu Abdurrohman Al ‘Adniy Wa Hizbihi Minal Ushul

11-  Kasyfu Syubuhati Furkus Fil Ikhtilath

12-  Tamadi Furkus Fi Mukholafatil Haqq Wal Burhail Manqul Wal Mahsus

13-  ‘Abtsu Furkus Bi Qowa’idil Istidlal Wa Tsawabitil Manhajil Mahrus

14-  Tahdzirul Muslimin Min Iqomati Daulati Madaniyyah Wa ‘Awaqibi Tauliyatil Kafirin

15-  Mukhtashorul Bayanil Muwadhdhih Li Hizbiyyatil ‘Adniy Abdirrohman Waman Tabi’ahu ‘Alal Fitnah Wal ‘Udwan

(beliau tulis bersama sejumlah masyayikh dan pelajar senior)

16-  Laftu Nazhoril Ajillah Ilal Ma’nash Shohih Lijtinabil Fitanil Mudhillah

17-  Kasyfu Asroril Hutsiyyin Wa Nuhudhu Hamiyyatil Muslimin

18-  Tajridul Ittiba’ Wa Khothoru Tarkil Haqq Li Aroil Kholq Wama Yusamma Bil Isyrok Fir Risalah

19-  Kasyfu Irja’ Muhammad Al Imam Fi Tabriati Zanadiqotir Rofidhoh Minal Kufr

20-  Ar Roddu ‘Alath Thob’atits Tsaniyah Min Kitabil Ibanah Lil Imam Wa Ishrorihi ‘Ala Akhthoih

21-  Tsubutu Qo’idati: Ma ‘Alima Hujjatun “ala Manusia Lam Ya’lam” Fi Kulli Zaman Wa Makan

22-  Bayanu Tamwihisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Hadahulloh

Di antara judul syair beliau:

1-      Ba’sul Harb Wa ‘Izzu Daril Hadits Bi Dammaj

2-      Risalatun Ila Ad’iyais SalafiyyahA

 

      Masih ada karya tulis beliau –lebih dari duapuluh risalah-, di antaranya adalah bantahan pada sebagian ahli ahwa- yang belum tersebut di sini karena sempitnya waktu dan terbatasnya pengetahuan saya.

Surat Terakhir Dari Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya-

            Saudara kita yang mulia, Abul Khoththob Fuad As Sinhaniy حفظه الله berkata: “Ini adalah surat terakhir  dari Asy Syaikh Sa’id bin Da’as –semoga Alloh merohmatinya-, yang beliau kirimkan sehari sebelum kematian beliau kepada saudara kita yang mulia Sholih Al Badawiy, saya telah berjumpa dengan akh Sholih di masjid As Sunnah di Sa’wan di tengah acara sholat untuk jenazah Asy Syaikh Sa’id رحمه الله . Isi surat tersebut:

“Andaikata sebagian orang yang menganggap dirinya sebagai penuntut ilmu, tapi menghina orang lain padahal orang itu lebih baik daripada dirinya, mau mengambil faidah dari mutiara ucapanmu, dan hikmah-hikmah perkataanmu, dan bagusnya akhlaqmu. Seandainya dia berbuat adil dari dirinya sendiri niscaya dia duduk bersila di hadapanmu, mengambil dari segarnya sumber airmu. Akan tetapi sebagian orang menjadikan menuntut ilmu untuk berhias, kebanggaan dan pengaku-akuan, sementara dirinya pada kenyataannya bukanlah penuntut ilmu. Aku mohon pada Alloh agar mengangkat nilaimu, karena orang yang jujur, memenuhi janji, dan sabar seperti dirimu itu sedikit.”

Al Masyusyiy.

(saya nukilkan dari situs “Al ‘Ulumus Salafiyyah”).

 

Saya katakan –semoga Alloh memberiku taufiq-:

Maka semoga Alloh سبحانه وتعالى mengangkat derajat beliau dan membesarkan pahala beliau. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Bahwasanya derajat shiddiqiyyah, robbaniyyah, pewarisan kenabian dan pelanjut risalah itulah derajat umat yang paling utama. Seandainya bukanlah keutamaannya dan kemuliaannya selain bahwasanya setiap orang yang menjadi berilmu dengan sebab pengajaran mereka, bimbingan mereka, atau orang lain mengetahui sedikit saja dari itu, lalu dirinya mendapatkan pahala seperti pahala orang tadi selama ilmu tadi berjalan di umat ini sepanjang masa (niscaya itu cukup).” (“Thoriqul Hijrotain”/hal. 519).

            Dan kita mohon pada Alloh untuk menjadikan pena Asy Syaikh Sa’id bin Da’as –semoga Alloh merohmatinya- yang lancar itu termasuk dari jenis pena-pena yang paling agung. Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: ” Pena yang kedua belas adalah: pena yang mengumpulkan. Yaitu pena bantahan terhadap ahli batil dan mengangkat sunnah para pembawa kebenaran, menyingkapkan kebatilan para pelaku kebatilan walaupun berbeda-beda jenis dan macamnya, dan menjelaskan kontradiksi mereka, keruntuhan mereka, dan keluarnya mereka dari kebenaran dan masuknya mereka ke dalam kebatilan. Pena jenis ini di ala mini adalah seperti para raja di kalangan manusia. Para pemilik pena ini adalah ahli hujjah, para penolong syariat yang dibawa oleh para Rosul, yang memerangi musuh-musuh Rosul, mereka menyeru ke jalan Alloh dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan membantah orang yang keluar dari jalan Alloh dengan bermacam-macam metode perdebatan. Para pemilik pena ini memerangi seluruh ahli batil, menjadi musuh setiap orang yang menyelisihi para Rosul. Mereka ada di suatu keadaan, sementara para pemilik pena yang lain ada dalam keadaan yang lain.” (“At Tibyan Fi Aqsamil Qur’an”/hal. 198/cet. Maktabatu Auladisy Syaikh).

Dan kita mohon pada Alloh agar mengangkat derajat beliau di dua negri sebagaimana beliau telah menempuh jihad yang paling agung dan paling bermanfaat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan seperti para pemimpin kebid’ahan dari kalangan pemilik ucapan-ucapan yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, atau ibadah-ibadah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka penjelasan keadaan mereka, dan memperingatkan umat terhadap mereka adalah wajib, dengan kesepakatan muslimin. Sampai dikatakan pada imam Ahmad bin Hanbal: “Seseorang yang berpuasa, sholat dan I’tikaf lebih Anda sukai ataukah orang yang berbicara tentang ahlul bida’?” Maka beliau menjawab,”Jika dia berpuasa, sholat dan I’tikaf, maka hanyalah hal itu untuk dirinya sendiri. Tapi jika dia berbicara tentang ahlul bida’ maka itu hanyalah untuk muslimin, dan itu lebih utama.” Maka beliau menerangkan bahwasanya manfaat amalan yang ini mencakup seluruh muslimin di dalam agama mereka, dari jenis jihad fisabilillah.”  (“Majmu’ul Fatawa” 28/hal. 231-232).

Beliau رحمه الله juga berkata,”Maka orang yang membantah ahlul bida’ adalah mujahid. Sampai-sampai Yahya bin Yahya berkata,”Pembelaan terhadap sunnah itu lebih utama daripada jihad.”” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 12).

Muhammad bin Yahya Adz dzuhli رحمه الله berkata,”Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata,”Pembelaan terhadap sunnah itu lebih utama daripada jihad fi sabilillah.” Maka kukatakan pada Yahya,”Orang itu (mujahid) menginfaqkan hartanya, membikin capek dirinya, dan berjihad. lalu orang ini (yang membela sunnah) lebih utama daripada dia!?” Beliau menjawab,”Iya, lebih utama banyak sekali.” (“Siyar A’lam”/10/hal. 518).

Catatan: Al Imam Adz Dzahabiy  memasukkan atsar ini ke dalam biografi Yahya bin Yahya, wallohu a’lam.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata tentang ahlul bid’ah: “Maka menyingkap kebatilan mereka dan menjelaskan pembongkaran aib-aib mereka serta kerusakan kaidah-kaidah mereka termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama. Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda kepada Hassan bin Tsabit رضي الله عنه:

«إن روح القدس معك ما دمت تنافح عن رسوله»

“Sesungguhnya Ruhul Quds bersamamu selama engkau membela Rosul-Nya.”

Juga bersabda:

«أهجهم أو هاجهم وجبريل معك»

“Serang mereka dengan syair, atau balas serangan syair mereka, dan Jibril bersamamu.”

Juga bersabda:

«اللهم أيده بروح القدس ما دام ينافح عن رسولك»

“Ya Alloh, dukunglah dia dengan Ruhul Quds selama dia membela Rosul-Mu.”

Beliau juga bersabda tentang serangan syair beliau:

«والذي نفسي بيده لهو أشد فيهم من النبل»

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, benar-benar itu lebih keras bagi mereka daripada panah.”

Dan bagaimana penjelasan itu tadi tidak termasuk dari jihad fi sabilillah?” (“Showa’iqul Mursalah” /1/hal. 114/cet. Maktabatur Rusyd).

Al Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata:  “Karena termasuk dari bagian Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, dan bagian dari dakwah ke jalan Alloh, dan bahkan termasuk jihad fi sabilillah adalah menjelaskan ‘Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, pembelaan untuknya, dan menyingkap kebatilan ahlul bida’, ahlul ilhad dan peringatan dari mereka, sebagaimana Alloh ‘Azza Wajalla berfirman:

]بل نقذف بالحقّ على الباطل فيدمغه فإذا هو زاهق[.

“Bahkan Kami akan melemparkan al haq terhadap kebatilan sehingga dia menyirnakan kebatilan tadi, maka tiba-tiba kebatilan tadipun lenyap.” (QS Al Anbiya 18)

Maka semoga Alloh membalas Ahlussunnah dengan kebaikan, karena mereka sejak zaman lampau maju menentang ahlil bida’ sampai-sampai sebagian dari mereka lebih mengutamakan bantahan terhadap ahlul bida’ di atas jihad fi sabilillah.” (kitab beliau “Rudud Ahlil ‘Ilmi”/hal. 5-6/cet. Darul Atsar).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Dan Syaikhul Islam telah menukilkan ijma’ terhadap hal itu: bahwasanya orang yang membantah ahli bid’ah dengan maksud untuk membela agama, dan pembersihan agama dari apa yang bukan dari agama, bahwasanya yang demikian terhitung sebagai jihad fi sabillah dan penjagaan syariatnya, …dst.” (“Ar Roddul Muhabbir”/hal. 138/karya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله/cet. Darul Minhaj).

Fadhilatusy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata tentang ulama Salaf: “Mereka memahami dari dalil-dalil tadi sikap-sikap yang selamat dan sehat terhadap ahlul bida’ wadh dholal, dan mereka mencatatnya di dalam kitab-kitab mereka. Dan mereka berkata,”Sesungguhnya mubtadi’ah itu tiada ghibah buatnya, dan wajib memperingatkan umat darinya, dan bahwasanya memerangi ahlil bida’ adalah jihad, dan dia itu lebih utama daripada memukul dengan pedang.” (“Al Mauqifush Shohih”/hal. 23/cet. Darul Imam Ahmad).

Beliau حفظه الله juga berkata: “… dan bahwasanya membantah ahli bid’ah dan memperingatkan umat dari mereka merupakan jihad fi sabilillah.” (“Naqdur Rijal”/hal. 137/cet. Darul Minhaj).

Fadhilatu Syaikhinal Muhaddits Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang nilai memerangi orang kafir dan munafiqin dan yang lain: “Alangkah miripnya seorang mujahid dengan lidahnya dengan mujahid dengan tombaknya. Bahkan mujahid dengan lidahnya lebih keras.” (dicatat tanggal 27 Jumadal Ula 1430 H).

 

Bab Dua: Jihad Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Terhadap Kuffar Rofidhoh

            Telah tetap bahwasanya Rofidhoh itu orang-orang kafir murtad yang senang memerangi Muslimin, dan bersamaan dengan itu mereka adalah pemberontak, maka peperangan terhadap mereka adalah peperangan yang sesuai syari’at, dan jihad melawan merekamerupakan jihad di jalan Alloh. Alloh ta’ala telah memerintahkan untuk memerangi pihak yang melampaui batas. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ الله فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ الله يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾ [الحجرات/9].

“Dan jika ada dua kelompok dari Mukminin saling bunuh, maka damaikanlah di antara keduanya. Lalu jika salah satu kelompok berbuat melampaui batas terhadap yang lain, maka perangilah kelompok yang melampaui batas itu sampai mereka mau kembali kepada ketentuan Alloh. Jika kelompok itu mau kembali, maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil. Dan berbuat adillah, sesungguhnya Alloh itu mencintai orang-orang yang berbuat adil.”

            Dan Alloh juga memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik sampai tidak lagi terjadi fitnah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ * وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لله فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ * وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ الله مَوْلَاكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِير﴾ [الأنفال/38-40]

“Katakanlah kepada orang-orang kafir bahwasanya jika mereka mau berhenti, maka perbuatan mereka yang telah lalu akan diampuni. Tapi jika mereka kembali melakukan kejahatan mereka, maka sungguh sunnah (Kami) terhadap orang-orang terdahulu telah berlalu (yaitu Kami menyegerakan untuk mereka siksaan dan hukuman). Dan perangilah mereka sampai tidak lagi terjadi fitnah dan agar agama itu semuanya untuk Alloh. Maka jika mereka mau berhenti, maka sesungguhnya Alloh itu Maha Melihat terhadap apa yang mereka perbuat. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Alloh itu pelindung kalian. Dialah Pelindung yang terbaik dan Penolong yang terbaik.”

            Dan Alloh memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang kafir dan munafiqin. Alloh ta’ala berfirman:

]يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير[ [التوبة: 73].

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiqin, dan bersikaplah keras pada mereka. Dan tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. At Taubah: 73).

            Rofidhoh itu orang-orang yang murtad, kafir, munafiq dan melampaui batas. Maka peperangan terhadap mereka itu disyariatkan, dan jihad melawan merekamerupakan jihad di jalan Alloh, dengan dalil-dalil yang telah lewat.

            Perang melawan orang-orang yang keluar dari Islam juga disyariatkan sebagaimana dalam hadits Abi Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن من ضئضئ هذا، أو: في عقب هذا قوما يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية، يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان، لئن أنا أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد». (أخرجه البخاري (3344) ومسلم (1064)).

“Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini (Dzul Khuwaishiroh) –atau di keturunan orang ini- ada suatu kaum yang membaca Al Qur’an tapi bacaan itu tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari binatang buruannya. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Jika aku mendapati mereka, pastilah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.” (HR. Al Bukhoriy (3344) dan Muslim (1064)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: ” Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “ Jika aku mendapati mereka, pastilah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.” Yaitu: pembunuhan yang menyeluruh dan menghabisi mereka semua, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿فهل ترى لهم من باقية

“Maka apakah engkau melihat ada dari mereka (kaum ‘Ad) yang tersisa?”

            Dan di dalam hadits ini ada dorongan untuk memerangi mereka. Dan di dalamnya juga ada keutamaan Ali رضي الله عنه yang memerangi mereka.” (“Syarun Nawawiy ‘Ala Muslim”/7/hal. 162).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang orang-orang yang tidak mau menaati syariat Islam: “Jika mereka adalah kelompok yang tidak mau menaati syariat Islam, mereka wajib diperangi sebagaimana orang-orang murtad diperangi, sebagaimana Ash Shiddiq dan para Shohabat memerangi pengikut Musailamah al kadzdzab. Jika mereka ada di desa-desa muslimin, mereka harus dipisah-pisah, dan disuruh tinggal di antara muslimin setelah mereka bertobat, dan diwajibkan untuk menaati syariat Islam yang wajib dijalankan oleh muslimin. Tidaklah hal ini khusus bagi Rofidhoh yang melampaui batas, bahkan ini juga berlaku bagi orang yang melampaui batas dalam mengagungkan seorang syaikh dan berkata bahwa syaikh inilah yang memberinya rizqi, atau menghapus kewajiban sholat darinya, atau bahwa syaikhnya itu lebih utama daripada Nabi, atau bahwasanya dirinya itu tidak butuh pada syariat Nabi صلى الله عليه وسلم , dan bahwasanya dia punya jalan menuju Alloh selain syariat Nabi صلى الله عليه وسلم , atau bahwasanya seorang syaikh itu bersama Nabi صلى الله عليه وسلم  sebagaimana Khodhir bersama Musa. Mereka semua itu adalah orang-orang kafir yang wajib diperangi dengan kesepakatan muslimin. Demikian pula wajib membunuh satu orang dari mereka yang tertangkap. Adapun satu orang dari Khowarij dan Rowafidh yang tertangkap, telah diriwayatkan dari keduanya –yaitu Umar dan Ali- bahwasanya hukumannya adalah dibunuh juga. Para ahli fiqh meskipun berselisih tentang hukum membunuh satu orang dari mereka yang tertangkap, mereka tidak berselisih tentang wajibnya membunuh orang-orang tadi jika mereka tidak mau menaati syariat Islam, karena peperangan itu lebih luas daripada pembunuhan. Sebagaimana para perampok, pemberontak, orang yang menzholimi orang lain itu boleh diperangi, meskipun satu orang dari mereka jika tertangkap itu tidak dihukum kecuali dengan apa yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

            Ini ada nash-nash yang mutawatir dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang Khowarij, para ulama telah memasukkan di dalamnya, secara lafazh ataupun makna, orang yang bersifat seperti Khowarij dari kalangan ahli hawa yang keluar dari syariat Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan jamaah Muslimin. Bahkan sebagian dari mereka itu lebih buruk daripada Khowarij Haruriyyah (yang berkumpul di desa Haruro, di zaman Ali رضي الله عنه), seperti Khuromiyyah, Qoromithoh, dan Nushoiriyyah, dan setiap orang yang meyakini ada manusia yang menjadi sesembahan, atau meyakini ada selain nabi bahwasanya dia itu nabi, dan dia memerangi muslimin atas dasar itu. Maka orang semacam ini lebih buruk daripada Khowarij. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم hanyalah menyebutkan Khowarij Haruriyyah karena mereka adalah golongan pertama dari ahli bida’ yang keluar sepeninggal beliau. Bahkan orang pertama mereka telah keluar pada masa hidup beliau.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 475-476).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan Rofidhoh itu jahmiyyah qodariyyah. Dan dalam diri mereka ada kedustaan dan kebohongan atas nama Alloh dan Rosul-Nya yang lebih besar daripada kedustaan pada Khowarij yang murtad, yang diperangi oleh Amirul Mukminin Ali dan seluruh para Shohabat dengan perintah Rosululloh صلى الله عليه وسلم , bahkan pada diri mereka (Rofidhoh) ada kemurtadan dari syariat agama yang lebih besar daripada kemurtadan orang-orang yang menolak membayar zakat yang diperangi oleh Abu Bakr Ash Shiddiq dan para Shohabat –sampai pada ucapan beliau:- mereka itu jauh lebih besar murtadnya dari agama daripada orang-orang Khowarij yang murtad itu. Dan kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi Khowarij dan Rowafidh dan yang seperti mereka jika mereka memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 528-529).

 

            Syaikh kita Abu Hatim Sa’id bin Da’as رحمه الله telah gigih menyertai syaikh kita Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله beserta seluruh penghuni Darul Hadits Dammaj dalam menolak kejahatan Rofidhoh terhadap Muslimin.

Telah datang fitnah Rofidhoh Hutsiyyun zanadiqoh, orang-orang kafir. Mereka berusaha untuk memusnahkan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar Darul Hadits di Dammaj حفظهم الله dalam pemberontakan mereka yang keenam pada tanggal 3 Romadhon 1430 H sampai dengan tanggal 28 Shofar 1431 H. Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله beserta seluruh penghuni Darul Hadits Dammaj dan masyarakat bersabar menghadapi kejahatan orang-orang najis tadi, dengan segenap keberanian.

            Kemudian mereka melakukan upaya pada kali berikutnya dengan melakukan pengepungan dan blokade terhadap Dammaj, sebelum bulan Romadhon 1432 H setahap demi setahap hingga mereka mulai melontarkan peluru pada tanggal 7 Dzul Hijjah 1432 H, lalu terus bertambah sengit sampai berakhir pada tanggal 1 Shofar 1433 H. perang yang ketujuh ini lebih dahsyat dan lebih banyak korban daripada perang keenam. Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله ikut memerangi mereka bersama pasukan Wailah dalam jihad yang di Kitaf.

            Maka kita berharap Alloh ta’ala membesarkan pahala Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله dengan jihad ini, karena jihad memerangi orang-orang murtad itu tadi memiliki pahala yang agung. Dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه yang berkata:

حدثتكم فيما بيني وبينكم فإن الحرب خدعة. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «يأتي في آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم فأينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن قتلهم أجر لمن قتلهم يوم القيامة». (أخرجه البخاري (3611) ومسلم (1066)).

“Jika Aku mengabarkan pada kalian dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم , maka aku jatuh tersungkur dari langit itu lebih aku sukai daripada aku berdusta atas nama beliau. Dan jika aku mengabari kalian dalam perkara yang terjadi antara diriku dan kalian, maka sesungguhnya perang itu tipu daya. Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda, akalnya tolol, mereka berkata dengan perkataan yang terbaik dari ucapan makhluq. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari binatang buruannya. Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. Maka di manapun kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena sesungguhnya pembunuhan terhadap mereka itu pada hari Kiamat berpahala bagi orang yang membunuh mereka.” (HR. Al Bukhoriy (3611) dan Muslim (1066)).

            Dalam suatu riwayat:

«لو يعلم الجيش الذي يصيبونهم ما قضي لهم على لسان نبيهم صلى الله عليه و سلم لاتكلوا عن العمل».

Seandainya pasukan yang memerangi mereka itu mengetahui apa pahala yang ditetapkan oleh lisan Nabi mereka صلى الله عليه وسلم untuk mereka, pastilah mereka menyandarkan diri dari beramal.” (HR. Muslim (1066)).

            Datang juga dari hadits Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه yang seperti itu. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam “Musnad” beliau no. 175, hadits hasan)).

            Kemudian setelah kejadian pengepungan Dammaj dan jihad di Kitaf, Alloh عز وجل memberikan karunia pada Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله dengan bertambah menyebarkan ilmu, dakwah, khothbah, serta membantahi ahli batil, sampai Rofidhoh menyalakan api fitnah di bumi Hasyid, sehingga terjadilah pembunuhan dan peperangan, sampai terbunuhnya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy dan saudara beliau Abdul Hamid رحمهما الله melalui tangan mereka, pada tanggal 4 Syawwal 1433 H. Maka kita mohon pada Alloh agar menjadikan keduanya dan yang semisal keduanya sebagai syuhada di jalan-Nya, dan menjadikan mereka termasuk jenazah yang terbaik dari kalangan orang-orang dibunuh di bawah kolong langit.

            Dari Abu Gholib yang berkata:

لَمَّا أُتِىَ بِرُءُوسِ الأَزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ: «كِلاَبُ النَّارِ – ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – هَؤُلاَءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ». قَالَ: فَقُلْتُ: فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ؟ قَالَ: رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ. قَالَ: قُلْنَا: أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلاَءِ كِلاَبُ النَّارِ، أَوْ شَىْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِنِّى لَجَرِىءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَعَدَّ مِرَاراً.

“Ketika didatangkan kepala-kepala orang-orang Azariqoh lalu ditancapkan di tangga-tangga Dimasyq, datanglah Abu Umamah. Maka beliau melihat mereka, mengalirlah air mata mereka, seraya berkata: “Anjing-anjing neraka.” Sebanyak tiga kali. “Mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang yang mereka bunuh.” Maka aku bertanya: “Lalu kenapa air mata Anda berlinang?” beliau menjawab: “Rasa kasihan kepada mereka. Sesungguhnya mereka dulunya adalah muslimin.” Kami katakan: “Apakah Anda mengucapkan bahwasanya mereka adalah anjing-anjing neraka ini dengan pendapat Anda sendiri, ataukah sesuatu yang Anda dengar dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم?” beliau menjawab: “Aku sungguh lancang jika demikian. Bahkan aku mendengarnya dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم bukan cuma sekali, atau dua kali atau tiga kali.” Beliau menghitungnya berkali-kali.” (HR. Ahmad (22314) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (482)/Darul Atsar).

            Maka keberuntunganlah bagi para syuhada di jalan Alloh. Dari Masruq yang berkata:

سألنا عبد الله عن هذه الآية: ﴿ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون﴾ [آل عمران: 169] قال: أما إنا قد سألنا عن ذلك، فقال: «أرواحهم في جوف طير خضر، لها قناديل معلقة بالعرش، تسرح من الجنة حيث شاءت، ثم تأوي إلى تلك القناديل، فاطلع إليهم ربهم اطلاعة، فقال: هل تشتهون شيئا؟ قالوا: أي شيء نشتهي ونحن نسرح من الجنة حيث شئنا، ففعل ذلك بهم ثلاث مرات، فلما رأوا أنهم لن يتركوا من أن يسألوا، قالوا: يا رب، نريد أن ترد أرواحنا في أجسادنا حتى نقتل في سبيلك مرة أخرى، فلما رأى أن ليس لهم حاجة تركوا». (أخرجه مسلم (1887)).

“Kami bertanya pada Abdulloh –Ibnu Mas’ud- tentang ayat ini: “Maka janganlah sekali-kali engkau mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Robb mereka dalam keadaan diberi rizqi.” Maka beliau menjawab: “Sungguh kami telah bertanya tentang itu, maka Nabi menjawab: “Ruh-ruh mereka ada di dalam rongga burung-burung hijau, dia punya tempat-tempat lentera yang tergantung di ‘Arsy. Mereka pergi ke Jannah kapanpun mereka inginkan, kemudian bernaung di tempat-tempat lentera tadi. Lalu Robb mereka melongok kepada mereka seraya berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Apa lagi yang kami inginkan sementara kami bisa pergi ke Jannah kapanpun kami inginkan?” Robb mereka melakukan itu terhadap mereka tiga kali. Manakala mereka berpandangan bahwasanya mereka tidak akan ditinggalkan sampai mereka menyampaikan suatu permintaan, merekapun berkata: “Wahai Robb kami, kami ingin Engkau mengembalikan ruh-ruh kami ke jasad-jasad kami hingga kami bisa terbunuh di jalan-Mu pada kali yang lain.” Manakala Alloh melihat bahwasanya mereka tidak punya kebutuhan, merekapun ditinggalkan.” (HR. Muslim (1887)).

            Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ما من مكلوم يكلم في سبيل الله إلا جاء يوم القيامة وكلمه يدمى، اللون لون دم، والريح ريح مسك». (أخرجه البخاري (5533)).

“Tiada suatu lukapun yang terluka di jalan Alloh kecuali akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan lukanya itu berdarah, warnanya warna darah, dan aromanya aroma misik.” (HR. Al Bukhoriy (5533)).

            Dan dari Samuroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«رأيت الليلة رجلين أتياني، فصعدا بي الشجرة فأدخلاني دارا هي أحسن وأفضل، لم أر قط أحسن منها، قالا: أما هذه الدار فدار الشهداء». (أخرجه البخاري (2791)).

“Aku melihat (dalam mimpi) pada malam tadi ada dua orang mendatangiku, lalu keduanya membawaku naik pohon, lalu keduanya memasukkan diriku ke dalam sebuah rumah yang paling bagus dan paling utama. Belum pernah aku melihat rumah lebih bagus daripada rumah itu. Keduanya berkata: rumah ini adalah rumah para syuhada.” (HR. Al Bukhoriy (2791)).

 

Bab Tiga: Pujian Dan Bela Sungkawa Para Ulama Terhadap Asy Syaikh Al Mujahid Sa’id bin Da’as –semoga Alloh merohmatinya-

Pasal satu: Pujian Dan Bela Sungkawa Asy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy Terhadap Asy Syaikh Sa’id bin Da’as –semoga Alloh merohmatinya-

            Asy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله telah memuji kitab-kitab Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله karena kekuatan ilmunya dan besarnya taufiq Alloh kepadanya. Di antaranya adalah –saya pilihkan sebagiannya-:

            Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata: “Aku telah membaca risalah ini yang berjudul “Kasyfu Asroril Hutsiyyin Wa Nuhudhu Hamiyyatil Muslimin” milik Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh menjaganya-, maka aku melihat ini adalah risalah yang penting di bidangnya, Asy Syaikh Sa’id mengumpulkan di dalamnya ahikat-hakikat terpercaya yang terpencar-pencar di tempat lain tentang penjelasan zindiqnya Hutsiyyin dan makar mereka terhadap agama Robbul alamin dan para hamba-Nya yang mukminin, disertai dengan penjelasan kesalahan orang yang menyatakan bahwasanya dirinya berijtihad tentang tidak kafirnya orang yang telah tetap kekafirannya dari kalangan Rofidhoh, sementara orang ini tidak punya ilmu tentang ijtihad, dan kelurusan yang sejati tidak menyertai orang tadi dalam penukilan dan pemahaman terhadap ucapan sebagian ulama. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Asy Syaikh Sa’id bin Da’as dengan kebaikan, dan semoga Alloh memberikan manfaat dengannya dan dengan pembahasan-pembahasannya bagi para hamba yang dikehendaki-Nya.” (kata pengantar bagi kitab “Kasyfu Asroril Hutsiyyin Wa Nuhudhu Hamiyyatil Muslimin”).

            Beliau حفظه الله juga berkata: “Sungguh aku telah membaca risalah “Tanzihus Salafiyyah Mimma Fi Kitabil Ibanah Lisy Syaikh Muhammad Al Imam Min Syubuhat Wa Qowa’id Kholafiyyah” milik saudara kita Al Yafi’iy Asy Syaikh Sa’id bin Da’as, maka aku melihatnya telah meruntuhkan kaidah-kaidah tersebut dari dasarnya dan menjelaskan kesalahan kaidah tersebut dengan penjelasan yang kami berharap bisa menghilangkan syubuhat dan kerancuan, dan bermanfaat dengannya bagi penulisnya dan orang yang dinasihatinya dan yang lainnya dan kalangan orang-orang yang dikehendaki Alloh diberi manfaat dengannya. Semoga Alloh memberikan taufiq.” (kata pengantar bagi kitab “Tanzihus Salafiyyah Mimma Fi Kitabil Ibanah Lisy Syaikh Muhammad Al Imam Min Syubuhat Wa Qowa’id Kholafiyyah”).

            Beliau حفظه الله juga berkata: “Sungguh aku telah membaca risalah “Daf’ul Bala Bikasyfi Ma Tadhommanathu Fatawasy Syaikh Furkus Minasy Syubah Fi Ibahati Ikhtilatir Rijal Bin Nisa” yang di dalamnya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy mengajak diskusi fatwa Asy Syaikh Muhammad Ali Furkus –semoga Alloh memberikan taufiq pada kita semua kepada perkara yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya-, maka aku melihatnya telah mengajaknya berdiskusi dengan diskusi yang ilmiyyah dan mantap yang menjelaskan di dalamnya ketergelinciran Asy Syaikh Furkus di dalam fatwa tersebut yang telah disebar dan membawa perincian tentang sekolah yang mengalami percampuran antara pria dan wanita yang tidak benar itu. Maka apa yang dijelaskan oleh saudara kita Asy Syaikh Sa’id tentang fatwa tersebut merupakan upaya untuk mengembalikan hukum dalam masalah yang penting ini kepada jalur aslinya, dan asalnya kepada maknanya. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.” (kata pengantar bagi kitab “Daf’ul Bala”).

            Beliau حفظه الله juga berkata: “Sungguh aku telah membaca risalah ini yang bernama “Al Muharror Fil Amr Bil Ma’ruf Wan Nahyi ‘Anil Munkar” milik saudara kita yang mulia, penyeru ke jalan Alloh, yang punya kecemburuan, Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, semoga Alloh memberinya taufiq, maka aku melihatnya telah memberikan penelitian terhadap apa yang dikandung oleh risalah ini dengan penelitian yang lurus, yang bertopang pada shohihnya dalil dan ucapan para ulama agama ini dengan perkara yang membuatmu wahai pembaca insya Alloh merasa cukup dengannya dari kebanyakan ucapan dan karya tulis dalam masa ini. Sungguh risalah ini adalah risalah yang terbaik yang pernah aku lihat dalam masalah merubah kemungkaran dan memerintahkan yang ma’ruf dalam batasan yang disanggupi seorang hamba yang muslim. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abu Hatim Sa’id bin Da’as dengan kebaikan, dan memberikan manfaat dengannya.” (kata pengantar bagi kitab “Al Muharror Fil Amr Bil Ma’ruf Wan Nahyi ‘Anil Munkar”).

            Kemudian sang penulis رحمه الله telah mengganti judulnya dengan: “Wujubul Amr Bil Ma’ruf Wan Nahyi ‘Anil Munkar ‘Ala Kulli Qodir Bil Yad Wal Lisan Wal Qolb ” sebagaimana beliau sebutkan ini dalam catatan kaki buku tersebut.

            Syaikh kami Yahya حفظه الله juga berkata: “Sungguh aku telah melihat apa yang dikumpulkan oleh saudara kita Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy حفظه الله dalam risalah ini yang bernama “Muwashshiluth Thullab Ila Marotibil Akabir Wath Thoriqul Mutsla Fi ‘Ulumis Sunnah Wal Kitab” maka aku melihatnya mendapatkan taufiq. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dalam pengarahannya untuk saudara-saudaranya para penuntut ilmu dalam tahapan menuntut ilmu dengan apa yang diharapkan bagi orang yang menempuh jalan itu setelah kejujuran dan keikhlasan sang pelajar yang diketahui oleh Alloh عز وجل pada dirinya bersama dengan komitmennya dalam ketaqwaan dan kesungguhnya untuk kembali pada Alloh عز وجل serta cinta pada kebenaran, kecemburuan padanya, menjauhi hawa nafsu dan kerakusan pada dunia, diharapkan bagi orang yang menempuh jalan tersebut untuk Alloh عز وجل tidak mengharomkannya untuk mencapai martabat mujaddidin (pembaharu) untuk agama ini dari kalangan para imam salaf yang sholih, …” (kata pengantar bagi kitab “Muwashshiluth Thullab Ila Marotibil Akabir Wath Thoriqul Mutsla Fi ‘Ulumis Sunnah Wal Kitab”).

            Syaikh kami Yahya حفظه الله juga berkata: “Sungguh aku telah melihat risalah yang bernama: “Shoihatu Indzar Bil Qoth’ Lil Kafiril Mu’ayyan Idza Mata ‘Ala Kufrihil Mutayaqqon Bin Nar” karya saudara kita yang utama dan kokoh, penasihat, penyair yang pintar, yang membela dakwah salafiyyah dan para pemikulnya: Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy حفظه الله , maka aku melihatnya memberikan faidah, dia mendukung risalahnya dengan dalil-dalil dari Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya serta ucapan para ulama dengan tetap menjaga ringkasnya risalah, …dst.” (kata pengantar bagi kitab “Shoihatu Indzar Bil Qoth’ Lil Kafiril Mu’ayyan Idza Mata ‘Ala Kufrihil Mutayaqqon Bin Nar”).

            Syaikh kami Al Muhaddits Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله juga memujinya dengan berkata dalam pengantar beliau terhadap kitab “At Tahdzir Minal Ghuluw Wa Ahlihi”: “Tidaklah Alloh عز وجل melarang dari yang demikian itu –yaitu sikap berlebihan dan sikap kurang- kecuali karena Dia mengetahui bahwasanya sikap berlebihan dan sikap kurang yang menyelisihi kebenaran itu akan terjadi di kalangan para hamba-Nya. Ini merupakan dua penyakit yang berbahaya. Jarang sekali zaman dan tempat yang kosong darinya. Dan di antara perkara yang terjadi pada masa-masa ini adalah: perkara yang dilakukan oleh hizbiyyun, dan pada sisi lain ada kelompok lain yang dinamakan: haddadiyyun, yang berupa sikap ghuluw terhadap beberapa orang dan perkara, dan sikap kurang pada perkara lain. Sampai pada ucapan beliau:- dan termasuk puncak orang yang Alloh beri taufiq untuk membenci pemikiran yang menyimpang ini dan memperingatkan umat dari pelakunya dengan syair-syairnya dan risalah prosanya, dengan lidahnya dan penanya adalah saudara kita yang mulia, penyeru ke jalan Alloh Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy semoga Alloh menjaganya dan memberikan manfaat dengannya, maka dia menulis risalah ini dan risalah yang lain sebelumnya yang kandungannya adalah bantahan terhadap pemikiran yang berlebihan ini dan yang semisalnya.” (Kata pengantar untuk kitab “At Tahdzir Minal Ghuluw Wa Ahlihi”/karya Asy Syaikh Sa’id Da’as Al Yafi’iy/hal. 5-6/Darul Kitab Was Sunnah).

            Ketika sampai berita terbunuhnya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy رحمه الله kepada Asy Syaikh Yahya حفظه الله , beliau berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم

            Saudara kita Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy terbunuh tadi malam di tangan Hutsiyyin yang jahat itu. Maka doakanlah untuk beliau agar mendapatkan rohmah dan ampunan. Kita mohon pada Alloh agar mengangkat derajatnya di mahdiyyin([2])dan menggantikannya di keluarganya yang kebaikan, dan agar Alloh memperbaiki anak-anaknya.

            Beliau termsuk orang yang diberi karunia dalam menolong sunnah dengan karunia yang baik. Kitab-kitabnya hendaknya diperhatikan insya Alloh, dan pencetakannya, sama saja yang telah tercetak ataupun yang belum tercetak, karena kitab-kitabnya itu adalah kitab-kitab ilmu. Alangkah kuatnya hujjah-hujjah yang ada di dalamnya. Tulisan-tulisannya adalah tulisan seorang alim. Dia tidak merasa puas dengan kelemahan dalam tulisan-tulisannya, bahkan dia merasa harus membahas kitab itu sampai menjadi meyakinkan. Maka semoga Alloh membesarkan pahala salafiyyah dan salafiyyin karena kehilangan dirinya. Beliau insya Alloh termasuk dari syuhada berdasarkan dugaan kami.

(5 Syawwal 1433 H).

 

Pasal dua: bela sungkawa Syaikh kami yang mulia Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Az Za’kariy حفظه الله

            Syaikh kami yang mulia Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Az Za’kariy حفظه الله berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم

            Segala puji bagi Alloh yang berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾ [العنكبوت: 57]

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, kemudian kalian semua akan dikembalikan kepada Kami.”

Dan semoga sholawat dan salam tercurah pada Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang Alloh berfirman pada beliau:

﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ﴾ [الزمر : 30]

“Sesungguhnya engkau akan mati dan merekapun akan mati.”

Kemudian sesudah itu:

            Telah sampai pada kami sore hari ini Rabu tanggal empat pada bulan Syawwal 1433 H, berita tentang kematian saudara kita dai ke  jalan Alloh Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Masyusyiy Al Yafi’iy dan saudara beliau Abdul Hamid di tangan Rofidhoh Hutsiyyin di “Qoflah ‘Udzar” di negri Hasyid propinsi “Amron. Saya mohon pada Alloh agar merohmati keduanya dan menerima keduanya di dalam rombongan syuhada, sebagaimana saya mohon pada-Nya جل وعلا agar menjadikan keduanya di ‘Illiyyin bersama para Nabi dan Shiddiqin dan Syuhada dan Sholihin, dan mereka adalah teman seiring yang baik.

            Dan saya dengan musibah yang besar ini menyampaikan belasungkawa pada keluarga saudara saya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy رحمه الله, juga bela sungkawa pada Syaikh saya Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله, dan juga menyampaikan bela sungkawa pada seluruh salafiyyin di dalam Yaman ataupun di luar Yaman. Dan saya katakan pada semuanya: “Sesungguhnya hanya milik Alloh sajalah apa yang diambil-Nya, dan milik dia sajalah apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya itu dengan ajal yang telah ditetapkan. Maka hendaknya kalian semua bersabar dan mengharapkan pahala dari Alloh.”

            Kemudian sesungguhnya semisal dai ke jalan Alloh ini, yang telah menulis dan mengarang serta membela manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dan jalan Salaf –semoga Alloh meridhoi mereka- kami berharap kebaikan untuknya di dunia dan akhirat, dan agar diketahui bahwasanya perbuatan Rofidhoh Hutsiyyin tersebut –membunuh dai ilalloh- bukanlah perkara yang aneh. Mereka adalah tukang melanggar kesepakatan dan berkhianat serta merampok. Dan setiap sifat yang buruk dan kehinaan sejak dari kesyirikan dan dan lebih kecil dari itu ada pada mereka. Akan tetapi beruntunglah orang yang membunuh mereka dan mereka membunuhnya. Bersamaan dengan itu Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلا تَحْسَبَنَّ الله غَافِلا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ﴾ [إبراهيم : 42]

“Dan janganlah engkau mengira bahwasanya Alloh lalai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zholim.”

والحمدلله رب العالمين.

(5 Syawwal 1433 H).

 

Pasal tiga: bela sungkawa Asy Syaikh Al Fadhil Abu Bakr bin Mahir bin ‘Athiyyah Al Mishriy حفظه الله

            Asy Syaikh yang mulia Abu Bakr bin Mahir bin ‘Athiyyah Al Mishriy حفظه الله berkata:

            Sesungguhnya hanya milik Alloh sajalah apa yang diambil-Nya, dan milik dia sajalah apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya itu dengan ajal yang telah ditetapkan. Maka hendaknya Ahlussunnah bersabar dan mengharapkan pahala dari Alloh. Ya Alloh berilah kami pahala dalam musibah kami dan berilah kami ganti yang lebih baik daripadanya. Dan sesungguhnya mata menangis, dan sungguh hati bersedih. Dan kami tidak berbicara kecuali dengan apa yang membikin ridho Robb kami. Dan sungguh kami dikarenakan perpisahan dengan syaikh tersebut sungguh kami dibikin sedih. Dan sesungguhnya kami adalah milik Alloh, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya.

            Dan kami tidak mengetahui syaikh رحمه الله kecuali beliau itu mengangkat bendera sunnah dan madzhab salafush sholih, menolak kebatilan dan membalik bendera ahli batil. Kami mohon pada Alloh agar merohmatinya, memaafkannya, dan menempatkannya di Firdaus yang tertinggi dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya.

            Dan kami memberikan kabar pada Rofidhoh dengan siksaan yang pedih insya Alloh, sebagai pembenaran dari firman Alloh ta’ala:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ الله وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الِّذِينَ يَأْمـُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Alloh dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang memerintahkan kepada keadilan dari manusia, maka berilah mereka kabar gembira dengan siksaan yang pedih.”

 

Pasal empat: pujian dan bela sungkawa syaikh kami yang mulia Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله

            Syaikh kami yang mulia Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang kitab “Muwashshiluth Thullab Ila Marotibil Akabir Wath Thoriqul Mutsla Fi ‘Ulumis Sunnah Wal Kitab” karya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله: “Barangkali karya tulis ini adalah tulisan yang terbaik dalam bab ini, semoga Alloh membalas penulisnya dengan kebaikan. Maka diwasiatkan agar buku ini diambil faidahnya. Ini adalah bab yang banyak ditanyakan.”

Ditulis oleh Abu Amr Al Hajuriy.

            Syaikh kami yang mulia Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy حفظه الله telah menuliskan untuk saya ucapan bela sungkawa beliau atas meninggalnya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وسلم، أما بعد:

            Maka sesungguhnya terbunuhnya Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله merupakan alamat buruk di wajah Rofidhoh Hutsiyyin, sebagai bagian dari kebusukan mereka yang disaksikan oleh sejarah terhadap mereka dengan yang seperti itu, yaitu: pembunuhan terhadap orang-orang yang baik, para sholihin dan dai ilalloh dan kerusakan-kerusakan dan keburukan mereka yang lainnya.

            Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله termasuk orang yang dikenal dengan kemantapan ilmu di berbagai bidang dari ilmu-ilmu syariat, nasihat, dan inkarul munkar. Kami pernah berjalan seiring di perjalanan dakwah kami berkali-kali, di antaranya adalah perjalanan yang dimulai dari Shon’a, kemudian Dzammar, Ta’iz, Dholi’ dan sekitarnya dan berakhir ke Aden, dan perjalanan ke wilayah-wilayah Hajur.

            Beliau adalah seorang dai salafiy yang kokoh dan hali memahami syubuhat ahli batil, dan beliau adalah pemberi petuah yang pintar. Saya mohon pada Alloh ta’ala agar merohmatinya, mengampuninya dan mencatat untuknya syahadah. Maka kami katakan pada diri kami sendiri dan syaikh kami dan seluruh Ahlussunnah: Ya Alloh berilah kami pahala dalam musibah kami dan berilah kami ganti yang lebih baik daripadanya.

والحمد لله رب العالمين.

Ditulis oleh Abu Amr Al Hajuriy.

 

* * * ****

 

            Inilah akhir dari apa yang bisa saya tuliskan dalam bela sungkawa terhadap Asy Syaikh Sa’id bin Da’as رحمه الله. Wallohu ta’ala a’lam bish showab.

والحمد لله رب العالمين.

 

Dammaj, 10 Syawwal 1433 H.

 

Daftar Isi

جدول المحتويات

Pengantar Penulis. 3

Bab Satu: Jihad Dengan Ilmu Dan Dakwah Serta Membantah Ahli batil 5

Di antara karya tulis Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya- 6

Di antara judul syair beliau: 6

Surat Terakhir Dari Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy –semoga Alloh merohmatinya- 7

Bab Dua: Jihad Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Terhadap Kuffar Rofidhoh. 9

Bab Tiga: Pujian Dan Bela Sungkawa Para Ulama Terhadap Asy Syaikh Al Mujahid Sa’id bin Da’as –semoga Alloh merohmatinya- 15

Daftar Isi 20

 


([1]) Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Sebagian salaf berkata: makna yaitu: kalian memfitnah diri kalian sendiri dengan keledzatan-keledzatan dan kemaksiatan dan syahwat-syahwat.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/8/hal. 18).

([2]) Catatan penerjemah: maknanya adalah: orang-orang yang diberi Alloh petunjuk untuk masuk Islam terdahulu dan hijroh kepada makhluq yang terbaik. (“Mirqotul Mafatih”/3/hal. 1168).