Peringatan Terhadap Orang Kafir Dan Munafiqin

Yang Mengolok-olok Sayyidul Mursalin

-shollallohu ‘alaihi wa ‘ala Alihi Ajma’in-

(seri dua)

Dengan Pengantar:

Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali

Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

Penulis dan penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Ath Thuriy

عفا الله عنه

Di Darul Hadits Dammaj

حرسها الله

 

Judul Asli:

“Zajrul Kuffar Wal Munafiqin Alladzina Yastahziuna Bi Sayyidil Mursalin

-shollallohu ‘alaihi wa ‘ala Alihi Ajma’in-”

 

 

 

Terjemah Bebas:

“Peringatan Terhadap Orang Kafir Dan Munafiqin

Yang Mengolok-olok Sayyidul Mursalin -shollallohu ‘alaihi wa ‘ala Alihi Ajma’in-”

 

 

Dengan Pengantar:

Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

 

Penulis dan penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

عفااللهعنه

 

Pengantar Seri Dua

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد:

            Sesungguhnya hanya dengan karunia dan pertolongan Alloh sajalah sang penulis bisa menyelesaikan terjemahan seri dua (terakhir) ini. Semoga Alloh memberkahi kita semua.

والحمد لله رب العالمين

 

Bab Tiga:

Hukum Seorang Muslim Jika Mencela Rosululloh صلى الله عليه وسلم

 

            Jika kita telah mengetahui agungnya kedudukan Rosululloh صلى الله عليه وسلم di hati kaum mukminin, dan besarnya kewajiban mereka untuk menghormati beliau, maka barangsiapa mencela beliau atau berolok-olok terhadap beliau dari kalangan muslimin, maka sungguh dia itu telah kafir murtad. Bagaimana dia bisa bersaksi bahwasanya Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah kepercayaan Alloh dalam penyampaian risalah, kemudian dia mencaci beliau? Ini tidaklah muncul dari seorang muslim yang bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Alloh.

            Cacian (الشتم) adalah: ucapan yang buruk, dan tidak ada di dalamnya tuduhan berzina. Syatm sama dengan sabb. (lihat “Lisanul ‘Arob”/12/hal. 318).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله menyebutkan bahwasanya: “Cacian (sabb) adalah menampakkan kekurangan orang yang dicaci.” (“Fathul Bari”/1/hal. 49).

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِالله وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ﴾ [التوبة/65، 66].

“Dan pasti jika engkau bertanya pada mereka pastilah mereka akan menjawab: “Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian itu berolok-olok? Janganlah kalian mengemukakan alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian. Jika kami memaafkan sekelompok dari kalian, Kami akan menyiksa sekelompok yang lain karena mereka itu adalah kaum yang jahat.”

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan ini adalah nash bahwasanya berolok-olok dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya itu adalah kekufuran.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 37).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan ayat ini telah menunjukkan bahwasanya setiap orang yang merendahkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم secara serius atau bercanda, maka sungguh dia telah kafir.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 37).

            Barangsiapa mencaci Alloh atau ayat-ayat-Nya atau Rosul-Nya, atau berolok-olok dengan Alloh, ayat-ayat-Nya atau Rosul-Nya, maka sungguh dia telah mengganggu Alloh dan Rosul-Nya. Dan Syaikhul Islam رحمه الله telah menukilkan ijma’ tentang hal itu, dengan berkata: “Dan telah diketahui bahwasanya mencaci Alloh dan mencaci Rosul-Nya merupakan gangguan terhadap Alloh dan terhadap Rosul-Nya, -sampai pada ucapan beliau:- dan cacian merupakan bagian dari gangguan terhadap Alloh dan Rosul-Nya dengan kesepakatan muslimin, bahkan cacian itu merupakan jenis gangguan yang paling khusus.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 77).

            Dan barangsiapa mengganggu Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia itu terlaknat, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ الله وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ الله فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا﴾ [الأحزاب/57].

“Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Alloh dan Rosul-Nya itu Alloh melaknat mereka di dunia dan Akhirat, dan menyediakan untuk mereka siksaan yang menghinakan.”

            Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan tiada perselisihan tentang harus dibunuhnya orang yang mencaci Alloh, dan bahwasanya laknat itu hanyalah ditimpakan pada orang kafir, dan hukum orang kafir itu adalah dibunuh, maka Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ الله وَرَسُولَهُ﴾ الآية.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Alloh dan Rosul-Nya” hingga akhir ayat.

(“Asy Syifa Bi Ta’rif Huquqil Mushthofa”/2/hal. 219).

            Dan Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan laknat adalah penjauhan dari rohmat. Dan barangsiapa Alloh usir dari rohmat-Nya di dunia dan akhirat, tidaklah dia itu kecuali orang kafir.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 46).

            Berolok-olok dengan ayat-ayat-Nya dan Rosululloh, mendustakannya, mencacinya dan mencercanya merupakan penentangan terhadap Alloh dan Rosul-Nya, dan itu adalah kekufuran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِالله وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ الله لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ -إلى قوله:- أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ الله وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ﴾ [التوبة/61-63].

“Dan di antara mereka ada orang yang mengganggu Nabi dan berkata “Dia itu suka mendengar dari siapapun”. Katakanlah: mendengar yang baik adalah untuk kalian, beliau beriman pada Alloh dan percaya pada kaum mukminin dan sebagai rohmat untuk orang-orang yang beriman dari kalian. Dan orang-orang yang mengganggu Rosululloh, mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. –sampai pada ucapan-Nya:- Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia akan mendapatkan api Jahannam, dia kekal di dalamnya, dan yang demikian itu adalah kehinaan yang besar.”

            Syaikhul Islam  berkata tentang ayat ini: “Maka diketahui bahwasanya mengganggu Rosululloh merupakan penentangan terhadap Alloh dan Rosul-Nya, karena penyebutan gangguan (dalam ayat tadi) itulah yang menuntut penyebutan penentangan –sampai pada ucapan beliau:- yang demikian itu menunjukkan bahwasanya gangguan dan penentangan merupakan suatu kekufuran, karena Alloh mengabarkan bahwasanya orang ini akan mendapatkan api Jahannam, dia kekal di dalamnya –sampai pada ucapan beliau:- bahkan penentangan (المحاداة) itu merupakan permusuhan (المعاداة) dan penentangan (المشاقة). Dan yang demikian itu merupakan kekufuran dan peperangan. Dia itu lebih besar daripada sekedar kekufuran semata. Orang yang mengganggu Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu kafir dan musuh bagi Alloh dan Rosul-Nya, memerangi Alloh dan Rosul-Nya.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 32).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan muslimin telah bersepakat bahwasanya satu kata cercaan dengan syair terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم itu mengharuskan kekufuran.” (“Syarh Shohih Muslim”/7/hal. 443).

            Al Imam Ibnul Mundzir رحمه الله berkata: “Dan mereka telah bersepakat bahwasanya barangsiapa mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم maka dia itu harus dibunuh.” (“Al Ijma”/ Al Imam Ibnul Mundzir/hal. 44).

            Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Maka sahlah dengan apa yang kami sebutkan bahwasanya setiap orang yang mencaci Alloh ta’ala, atau berolok-olok dengan-Nya, atau mencaci seorang malaikat, atau berolok-olok dengannya, atau mencaci seorang Nabi, atau berolok-olok dengannya, atau mencaci salah satu ayat Alloh ta’ala, atau berolok-olok dengannya, dan seluruh syariat, dan Al Qur’an adalah termasuk dari ayat Alloh ta’ala, maka dia itu dengan itu telah kafir dan murtad, dia mendapatkan hukum murtad. Dan dengan ini kami berpendapat. Dan dengan pertolongan Alloh kami mendapatkan taufiq.” (“Al Muhalla”/11/hal. 854).

            Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Maka barangsiapa keluar dari Islam dalam keadaan dia itu mukallaf (masih terbebani syariat), bebas memilih, pria atau wanita, maka dia diseru selama tiga hari untuk masuk Islam lagi, dipersempit ruang geraknya. Jika dia tak mau masuk islam, dia dibunuh dengan pedang. Dan tobat orang yang mencaci Alloh atau Rosul-Nya tidak diterima. Demikian pula tidak diterima tobat orang yang kemurtadannya itu terulang, bahkan dia itu dibunuh dengan segera. Dan tobat orang yang murtad dan setiap orang kafir adalah dengan masuk Islam dengan bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh.” (“Zadul Mustaqni'”/hal. 108).

            Syihabuddin Al Qorrofiy رحمه الله berkata: “Adapun seorang muslim jika dirinya berdusta nama Rosululloh, maka dia itu harus dihukum pukulan. Atau dia mendustakan beliau, maka dia itu murtad. Dan jika dia mencaci Alloh ta’ala atau Rosul-Nya atau salah satu dari Nabi yang lain عليهم السلام maka dia itu harus dibunuh sebagai had. Dan hukuman tadi tidak gugur dengan tobat. Jika dia menampakkan perbuatan tadi, maka hal itu menunjukkan keburukan batinnya, sehingga jadilah dia seperti seorang zindiq yang tobatnya tidak diketahui.” (“Adz Dzakhiroh Fil Fiqhil Malikiy”/3/hal. 302).

            Al Imam Ibnu Abu Zaid Al Qoirowaniy رحمه الله berkata: “Dan barangsiapa mencaci Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu harus dibunuh, dan tobatnya tidak diterima.” (“Risalatul Qoirowaniy”/hal. 588).

            Al Mardawiy رحمه الله berkata: “Dan dikatakan: orang yang mencaci Nabiصلى الله عليه وسلم itu harus dibunuh. Aku berkata: dan inilah yang benar.” (“Al Inshof”/6/hal. 224).

            Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Barangsiapa mencaci Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu wajib dibunuh sekalipun dia itu bertobat, karena hal itu adalah hak kemanusiaan, maka kita harus membalaskan untuk beliau صلى الله عليه وسلم.” (“Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni'”/2/hal. 38).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Jika dikatakan: bukankah telah tetap bahwasanya di antara manusia ada orang yang mencaci Rosul صلى الله عليه وسلم , dan beliau menerima darinya (tobatnya) dan membebaskannya?”

            Jawabnya adalah: memang, ini benar, akan tetapi itu terjadi di masa hidup beliau صلى الله عليه وسلم , dan beliau menggugurkan hak beliau sendiri, adapun setelah wafatnya beliau, maka kita tidak tahu, maka kita menjalankan apa yang kita pandang untuk orang yang mencaci beliau صلى الله عليه وسلم.

            Jika dikatakan: apakah kemungkinan beliau itu memaafkan atau tidak memaafkan itu mengharuskan untuk tawaqquf (tidak memberikan keputusan)?

            Dijawab: Sungguh itu tidak mengharuskan tawaqquf, karena kerusakan telah terjadi dengan adanya cacian tadi, sementara hilangnya pengaruh cacian tadi tidak diketahui, maka pada asalnya adalah: tetap adanya kerusakan tadi.

            Jika dikatakan: bukankah secara garis besar bahwasanya Rosul صلى الله عليه وسلم itu memaafkan orang yang mencaci beliau?

            Dijawab: memang, dan bisa jadi hal itu pada masa hidup Rosul صلى الله عليه وسلم jika beliau memaafkannya terkadang terjadi kemaslahatan, dan di dalam yang demikian itu bisa melunakkan hati orang kafir, sebagaimana beliau صلى الله عليه وسلم mengetahui tokoh-tokoh munafiqin, tapi beliau tidak membunuh mereka, agar orang-orang tidak berbicara bahwasanya Muhammad membunuh teman-temannya sendiri. Akan tetapi sekarang jika kita mengetahui ada satu orang tertentu termasuk dari munafiqin pastilah kita akan membunuhnya. Dan Ibnul Qoyyim berkata: “Sesungguhnya tidak dibunuhnya orang munafiq yang telah diketahui, itu hanyalah di masa hidup Rosul صلى الله عليه وسلم .” (“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibni ‘Utsaimin”/66/hal. 49).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله : “Dan cacian terhadap agama, atau cacian pada Alloh, atau pada Rosul-Nya, ini termasuk kekufuran yang terbesar yang mengeluarkan pelakunya dari agama ini –kita berlindung pada Alloh-.” (“Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Sholih bin Fauzan”/1/hal. 14).

 

Bab Empat:

Risalah Al Imam Abdul Aziz bin Baz رحمه الله Tentang Kasus “Koran Sore Mesir”

 

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata:

باسم الله، والصلاة والسلام على رسول الله.

            Saya telah melihat apa yang disebarkan oleh Koran “Suara Islam” di Kairo menukilkan dari “Koran Sore Mesir” yang keluar tanggal 29 Januari yang lalu yang menampilkan kelancangan terhadap sisi yang tinggi dan kedudukan yang agung, kedudukan tuan kita dan imam kita: Muhammad bin Abdillah صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا dengan menggambarkan beliau sebagai seekor binatang yang paling rendah, yaitu ayam jantan. Seorang muslim tidak ragu bahwasanya penggambaran ini merupakan kekufuran yang jelas, penyimpangan yang terang, dan olok-olokan yang gamblang terhadap kedudukan tuan generasi pertama dan terakhir, utusan robbul alamin, dan pemimpin orang-orang yang berwajah putih dan anggota badan yang bercahaya.

            Itu tadi adalah kelancangan yang menyedihkan setiap muslim, melukai hati setiap mukmin, mengharuskan laknat, celaan dan kekekalan di neraka, kemurkaan Al ‘Aziz (Yang Maha Perkasa) Al Jabbar (Yang Maha memaksa), dan keluar dari area Islam dan iman ke wilayah kesyirikan, kemunafiqan dan kekufuran bagi orang yang mengucapkannya atau meridhoinya. Kitabulloh yang mulia telah berbicara tentang kafirnya orang yang mengolok-olok Rosul yang agung, atau sebagian dari Kitabulloh yang terang dan syariatnya yang penuh hikmah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ أَبِالله وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾ [التوبة/65، 66].

“Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian itu berolok-olok? Janganlah kalian mengemukakan alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” Hingga akhir ayat.

            Maka ayat yang mulia ini adalah nash yang jelas dan bukti yang pasti tentang kafirnya orang yang berolok-olok dengan Alloh Yang Mahaagung atau Rosul-Nya yang mulia atau kitab-Nya yang terang.

            Para ulama Islam di seluruh zaman dan negri telah bersepakat tentang kafirnya orang yang berolok-olok dengan Alloh atau Rosul-Nya atau kitab-Nya atau sedikit dari agama. Dan mereka juga bersepakat bahwasanya seorang muslim yang berolok-olok dengan sedikit saja dari perkara tadi maka dengan itu dia menjadi kafir murtad dari Islam, wajib untuk dibunuh, berdasarkan sabda Rosul:

«من بدل دينه فاقتلوه».

Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” ([1])

            Dan termasuk dari dalil-dalil pasti tentang kafirnya orang yang berolok-olok dengan Alloh atau Rosul-Nya atau kitab-Nya adalah: bahwasanya mengolok-olok itu merupakan penghinaan atau peremehan terhadap pihak yang diolok-olok, sementara Alloh Yang Mahasuci itu punya sifat kesempurnaan, dan Kitab-Nya adalah termasuk dari ucapan-Nya, dan ucapan-Nya termasuk dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya عز وجل . Dan Rosul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم beliau adalah makhluk yang paling sempurna, tuan mereka, penutup para utusan, kekasih Robbul Alamin. Maka barangsiapa berolok-olok dengan Alloh atau Rosul-Nya atau kitab-Nya atau sedikit dari agama-Nya maka sungguh dia telah menghina-Nya dan meremehkan-Nya. Penghinaan atau peremehan terhadap sedikit saja dari itu tadi  merupakan kekufuran yang jelas, kemunafiqan yang terang, dan permusuhan terhadap Robbul alamin, dan kekufuran terhadap utusan-Nya yang terpercaya.

            Lebih dari satu ulama telah menukilkan kesepakatan ulama tentang kafirnya orang yang mencaci Rosul yang mulia atau menghinanya, dan tentang wajibnya membunuhnya. Al Imam Abu Bakr Ibnul Mundzir رحمه الله berkata: “Awwam ulama telah bersepakat bahwasanya hukuman bagi orang yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم adalah dibunuh. An termasuk yang berpendapat demikian adalah: Malik, Al Laits, Ahmad, Ishaq, dan itu adalah madzhab Asy Syafi’iy.” Selesai.

            Perkataan beliau “Awwam” yaitu jama’ dari ‘ammah, dan makna ‘ammah di sini adalah jama’ah. Maka maksud beliau رحمه الله adalah bahwasanya jama’ah jama’ah para ulama telah bersepakat tentang wajibnya bagi orang yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم untuk dibunuh. Dan tiada keraguan bahwasanya cacian itu banyak dan bermacam-macam. Dan tiada keraguan bahwasanya berolok-olok dengan beliau عليه الصلاة والسلام , menghina beliau, menggambarkan beliau sebagai binatang yang hina merupakan termasuk cacian yang paling buruk dan penghinaan yang paling besar, sehingga jadilah pelakunya kafir dan halal darah dan hartanya.

            Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Ummat telah bersepakat untuk dibunuhnya orang dari muslimin yang merendahkan dan mencaci beliau –صلى الله عليه وسلم-.” Selesai.

            Muhammad bin Sahnun dari imam Malikiyyah berkata: “Para ulama bersepakat bahwasanya orang yang mencerca Nabi صلى الله عليه وسلم dan merendahkan beliau itu kafir. Dan ancaman datang kepadanya dengan adanya siksaan dari Alloh untuknya, dan hukumnya menurut umat ini adalah pembunuhan. Dan barangsiapa ragu akan kufurnya dia dan siksaan untuknya, maka dia kafir juga.” Selesai.

            Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah رحمه الله setelah menukilkan ucapan ulama tentang pencaci Rosul dan yang merendahkan beliau dalam kitabnya “Ash Shorimul Maslul ‘Ala Syatimir Rosul” yang nashnya sebagai berikut: “Ucapan yang telah diteliti dalam masalah ini adalah: bahwasanya orang yang mencaci itu tadi, jika dia itu muslim, maka dia itu kafir dan harus dibunuh, tanpa ada perselisihan. Dan ini adalah madzhab empat imam dan yang lainnya. Hanbal berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: barangsiapa mencerca Rosul atau merendahkannya, dia itu muslim ataupun kafir, maka dia harus dibunuh. Dan aku berpandangan untuk dia itu dibunuh dan tidak dimintai tobat.” Selesai.

            Dan ucapan para ulama dalam bab ini banyak. Dan dari apa yang kami nukilkan dari mereka itu cukup bagi para pencari kebenaran.

            Koran “Shoutul Islamil Qohiriyyah” telah bangkit untuk membantah surat kabar “Jaridatul Masa Al Mishriyyah” atas apa yang mereka lakukan dalam memerangi Islam dan kejahatan yang mengerikan, serta kemungkaran yang buruk terhadap hak Nabi yang terpilih dan syariat beliau. Bantahan tadi dilakukan dengan pena pimpinan penelitian Asy Syaikh Muhammad ‘Athiyah Khomis, dan sungguh beliau telah berbuat bagus dengan kebaikan yang agung yang mana beliau mengingkari apa yang dilakukan oleh Koran tadi yang berupa kekufuran yang jelas dan olok-olokan yang terang terhadap tuan para hamba Alloh dan utusan yang paling utama, dan beliau berargumentasi terhadap penguasa Mesir dan menuntut mereka untuk meletakkan hukum untuk fitnah ini.

            Silakan para pembaca menyimak sebagian ucapan beliau. Setelah beliau وفقه الله menyebutkan ucapan terdahulu dalam membantah ucapan-ucapan buruk yang ditulis oleh sebagian koran yang dibayar, beliau berkata sebagai berikut:

            “Maka tidaklah mengherankan setelah ini semua untuk salah seorang wartawan “Jaridatul Masa” lancang menyindir Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam gambar karikatur dalam edisinya 29 Januari yang telah lewat, lalu dia menggambar sosok yang punya badan ayam jago dan dia berkata di bawah gambar ini:

(أهوه ده يا سيدي محمد أفندي اللي متجوز تسع)

(bahasa Mesir, menyindir Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang beristri sembilan).

            Dengan seperti orang busuk ini Koran tadi menyebarkan gambar tadi yang menyindir Rosululloh dan syariat Islam.

            Siapakah yang punya istri Sembilan selain Rosululloh? Apakah perkaranya sampai pada tarap disebar dengan gambar seperti ini di harian yang dikelola oleh parta “Al Ittihadul Qoumiy”, dan sampai ejekan terhadap pribadi Rosululloh dan dikatakan: “Muhammad Afandi” dan melambangkan beliau dengan lambang seperti ini? Kenapa si penelitinya atau si penggambarnya memilih Muhammad Afandi dan tidak memilih Ali Afandi atau Sa’id Afandi atau nama yang lain? Kenapa dia membatasi bilangan dengan angka sembilan? Kenapa tidak membatasi dengan tujuh atau sepuluh atau dua belas? Sesungguhnya kebusukan si penggambar itu nyata dan jelas, tidak butuh pada ta’wil dan pencarian udzur untuknya.

            Sesungguhnya semisal gambar ini jika disebarkan oleh Koran Inggris manapaun, atau Koran Amerika atau Perancis atau bahkan Israil pastilah dunia akan geger, dan pastilah dunia akan mengambil senjata pemutus untuk mengumumkan dan membikin terkenal. Adapun penghinaan ini justru disebar oleh Koran umat ini lalu mata tertutup darinya, dan penghinaan tadi berlalu begitu saja?

            Dan termasuk yang disesalkan dan menyakitkan adalah hal itu terjadi di surat kabar kita pada waktu para musuh banyak memperhitungkan perasaan kita sebagai muslimin, maka Amerika dan Italia ingin memproduksi film tentang Rosululloh صلى الله عليه وسلم , maka tiba-tiba saja mereka bernaung pada para masyayikh Al Azhar dan universitas Arobiyah untuk kedua negara tadi mengambil pendapat para masyayikh tadi di setiap perkara yang terkait dengan film ini, yang berupa dialog, skenario dan penyelisihan, padahal bisa saja dua negara itu mengeluarkan film tadi sekehendaknya dan sesuai alur yang sejalan dengan ruh permusuhan kedua negara itu terhadap kita. Inilah yang terjadi dari musuh-musuh kita. Sementara yang tadi adalah apa yang terjadi dari anak-anak umat kita.

            Sampai kapan para pejabat mendiamkan koran tadi? Dan sampai kapankah kita mendiamkan anak-anak umat ini? Apakah kita menunggu sampai para pengkhianat dan perusak tadi memakai metode terang-terangan sebagai ganti bagi metode isyarat? Apakah kita menunggu sampai Islam kita diejek di jalanan? Demi Alloh sungguh ini merupakan fitnah yang hitam yang dinyalakan oleh orang-orang bayaran yang bodoh itu, yang mengandung peringatan akan bahaya yang berat jika tidak diletakkan untuknya had (hukuman).

            Maka sungguh kita tak sanggup untuk diam setelah ini terhadap terus berlangsungnya peperangan terhadap Islam dan akhlaq ini, dan terhadap sindiran kepada Rosululloh dan syariatnya. Umat ini terus-menerus merasa mulia dengan agamanya, dan merasa cemburu untuk Rosulnya. Maka jika surat kabar yang tak punya malu tadi ingin mengumumkan perang maka silakan dia mengumumkannya sesukanya, akan tetapi kami tidak akan berdiri dengan dengan menggenggam tangan semata. Sudah cukup!

            Maka Islam kami adalah tanah air kami, dan kami tidak punya tanah air selain Islam. Dan Islam kami adalah nyawa kami, dan tidak ada kehidupan bagi kami dengan selain itu. Dan Islam kami itulah rizqi kami, dan tidak ada harganya makanan dan minuman bagi kami tanpa dia. Dan Islam kami itulah segala sesuatu yang ada di alam ini bagi kami. Dan aku mengatakan ini atas nama lebih dari dua puluh juta muslim dari anak-anak negri yang mulia ini. Dan kami sedang menunggu penjelasan resmi dari partai “Al Ittihadul Qoumiy” dan apa yang dilakukannya bersama “Jaridatul Masa” dan juru gambarnya dan penanggungjawabnya, dan bersama warta berita kita secara umum sampai kami merasa tenang dengan masa depan agama kami. Alloh Mahabesar, dan kemuliaan adalah milik Alloh, milik Rosul-Nya dan milik Mukminin.”

            Selesai sudah ucapan Asy Syaikh Muhammad ‘Athiyyah Khomis. Dan sungguh beliau telah berbuat bagus, dan memberikan faidah serta terang-terangan menampilkan kebenaran. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas amalan beliau itu, dan semoga Alloh menambahi beliau dengan hidayah dan taufiq, dan memperbanyak orang di kalangan muslimin orang yang terang-terangan menampilkan kebenaran seperti beliau di antara orang-orang yang zholim dan tercela.

            Dan segala puji bagi Alloh yang mengadakan di Mesir orang yang berbicara dengan kebenaran dan terang-terangan membantah orang yang melenceng dari kebenaran. Jika yang demikian itu menunjukkan pada suatu perkara, maka hal itu hanyalah menunjukkan bahwasanya di pinggiran itu ada rahasia, dan bahwasanya di kalangan pemuda ada sisa-sisa tokoh, dan tiada keraguan bahwasanya yang demikian itu adalah bagian dari penjagaan Alloh untuk agama-Nya dan penjagaan-Nya untuk penutup para Nabi-Nya dan tuan orang-orang pilihan-Nya Muhammad.

            Dan sungguh Alloh Yang Mahasuci telah mengabarkan dalam kitab-Nya yang mulia tentang para musuh-Nya dari kalangan orang-orang kafir dan munafiqin bahwasanya mereka mengejek para Rosul dan mukminin, dan menertawakan mereka. Maka tidaklah aneh jika para pengurus “Shohifatul Masa” menempuh jalan para pemimpin mereka dari kalangan orang-orang kafir dan munafiqin dan berjalan di atas metode mereka yang berat dan jalur mereka yang tercela.

﴿أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ﴾

“Apakah mereka saling berwasiat dengan itu? Bahkan mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Alloh عز وجل berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾ الآيات

“Sesungguhnya orang-orang yang jahat itu dulunya menertawakan orang-orang yang beriman. Dan jika orang-orang yang beriman melewati mereka, merekapun saling mengisyaratkan dengan pandangan mata.”

            Dan Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

﴿إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ * فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ * إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ﴾

“Sesungguhnya dulu sekelompok dari para hamba-Ku berkata: “Wahai Robb kami kami telah beriman, maka ampunilah kami dan rohmatilah kami, dan Engkau adalah Yang Paling penyayang. Maka kalian menjadikan mereka (para hamba Alloh) sebagai bahan ejekan hingga mereka menjadikan kalian lupa dari mengingat-Ku, dan kalian sering menertawakan mereka. Sesungguhnya Aku pada hari ini akan membalasi mereka dengan kesabaran mereka bahwasanya mereka itulah orang-orang yang beruntung.

            Dan Alloh جل وعلا berfirman tentang Rosul-Nya Nuh dan kaumnya:

﴿وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ * فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ﴾

“Dan diapun membuat perahu. Dan setiap kali para tokoh dari kaumnya melewatinya, merekapun mengejeknya. Maka dia berkata: “Jika kalian mengejek kami, maka sungguh kami akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek. Maka kalian akan tahu siapakah orang yang akan didatangi oleh siksaan yang menghinakannya dan menimpanya siksaan yang terus-menerus.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ الله مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Orang-orang (munafiqin) yang menjelek-jelekkan kaum mukminin yang ingin menyumbang dalam shodaqoh, dan menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak mendapati kecuali kerja keras mereka, maka orang-orang (munafiqin) itu mengejek mereka, maka Alloh membalas ejekan mereka dan mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih.”

            Maka di dalam ayat-ayat yang terang dan bukti-bukti yang jelas ini adalah penunjukan yang jelas dan argumentasi yang menang bahwasanya berolok-olok para Rosul dan mukminin merupakan sifat orang-orang kafir dan munafiqin serta musyrikin, dan termasuk dari permusuhan mereka yang terang dan kekufuran mereka yang jelas.

            Sungguh sebagian pengelola surat kabar surat kabar di Kairo pada zaman ini telah berakhlaq dengan akhlaq mereka tadi dan menempuh jalan mereka serta berjalan dengan jalan mereka. Maka mereka mendapatkan hukum seperti hukum orang-orang tadi di dunia dan akhirat. Dan telah tetap dari Nabi yang terpilih صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«من تشبه بقوم فهو منهم».

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia adalah dari golongan mereka.” ([2])

            Maka tiada keraguan bagi orang yang punya bagian ilmu dan petunjuk yang terrendah bahwasanya barangsiapa menyerupakan Rosul صلى الله عليه وسلم dengan sedikit saja dari hewan yang rendahan maka sungguh dia telah menghinanya dan meremehkannya. Maka barangsiapa berbuat demikian atau meridhoinya, baik dia itu hakim atau wartawan atau yang lain, maka dia itu kafir mulhid, halal darah dan hartanya.

            Dan di sini ada perkara besar yang harus diperingatkan, yaitu kita katakan: apa rahasia “Shohifatul Masail Qohiriyyah” menyerupakan Rosul صلى الله عليه وسلم dengan ayam jantan, bukan binatang yang lain? Ini jelas bagi orang yang merenungkannya, hanya saja penentangan terhadap kenabian beliau dan pengingkaran terhadap risalah beliau, dan tuduhan bahwasanya beliau itu syahwatnya liar bergolak dan tak punya perhatian kecuali untuk mengenyangkan puncak gelora pada wanita. Dan tuduhan ini merupakan kekufuran yang berlebihan, dan olokan-olokan dan penghinaan yang mendalam terhadap sisi yang agung dan kedudukan yang tinggi. Semoga Alloh melaknat orang yang menghina beliau atau menuduh beliau dengan perkara yang beliau berlepas diri dari itu. Dan semoga Alloh memerangi “Shohifatul Masail Qohiriyyah” dan para pengelolanya yang ridho dengan olokan-olokan ini. Alangkah besarnya kelancangan mereka dalam kebatilan, dan alangkah buruknya penghinaan dan olok-olokan yang mereka perbuat.

            Dan sungguh Alloh telah menjaga Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم dan memelihara beliau dari apa yang diucapkan oleh para ahli batil dan apa yang dituduhkan oleh para pembuat kedustaan. Sungguh beliau adalah orang yang paling menjaga kehormatan, paling setia pada Alloh dan paling menasihati para hamba-Nya, paling tinggi nilainya, paling mulia jiwanya, paling penyabar, paling kuat dalam memenuhi hak Alloh dan menjalankan penyampaian risalah-Nya, paling takut pada Alloh dan paling bertaqwa pada-Nya, paling zuhud terhadap segala perkara yang bisa melumuri kedudukan beliau yang agung atau bisa merintanginya dari tugas beliau dalam berjihad, nasihat dan penyampaian risalah. Hanyalah beliau itu menikahi para wanita seperi sunnah para Rosul sebelum beliau, sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً [الرعد: 38].

“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rosul sebelummu, dan Kami jadikan untuk mereka para istri dan anak-anak.”

            Dan di dalam pernikahan beliau صلى الله عليه وسلم dengan sembilan wanita ada hikmah yang banyak dan rahasia yang bagus serta kemaslahatan yang agung, di antaranya adalah: menjaga kehormatan para wanita tadi dan berbuat baik pada mereka.

            Di antaranya juga adalah: agar mereka belajar dari beliau صلى الله عليه وسلم prinsip-prinsip syariat dan hukum-hukumnya, dan mereka nanti mengajarkannya pada manusia sepeninggal beliau sebagaimana telah berlangsung. Dulu masing-masing rumah para istri beliau merupakan tempat belajar bagi muslimin dan muslimat, mereka mendatanginya untuk belajar dan meminum dari mata airnya yang bersih, minum pada kali yang kedua setelah minum pada kali yang pertama. Dan mereka bertanya pada Ummahatul Mukminin tentang kehidupan beliau صلى الله عليه وسلم , keseluruhan karakter, akhlaq dan amalan beliau di dalam rumah dan di luarnya.

            Dan di antaranya juga adalah: beliau menikahi mereka sebanyak itu untuk maslahat melunakkan hati (qobilah-qobilah dari masing-masing wanita tadi) dan saling menolong di atas kebajikan dan taqwa, menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah dengan perantaraan para besan beliau dan orang-orang yang berhubungan dengan mereka, karena para istri beliau adalah berasal dari kabilah-kabilah yang beraneka ragam, dan yang demikian itu lebih tandas untuk posisi dakwah dan pelunakan hati, dan lebih bermanfaat untuk umat, serta sempurna dari sisi penyampaian risalah dan pengajaran.

            Dan di antaranya juga: dengan berbilangnya jumlah mereka, beliau صلى الله عليه وسلم mendapatkan ketenangan dan keakraban, karena sesungguhnya Alloh Yang Mahasuci menjadikan beliau senang pada wanita dan minyak wangi, dan menjadikan kesejukan hati beliau di dalam sholat. Dan telah shohih dari beliau صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«الدنيا متاع وخير متاعها الزوجة الصالحة».

“Dunia adalah perhiasaan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah istri yang sholihah.”([3])

            Dan Alloh telah menjadikan tabiat para lelaki itu cinta pada wanita dan condong kepada mereka, dan menjadikan para wanita sebagai ketenangan untuk para pria, sebagaimana firman Alloh عز وجل :

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Alloh menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang kepada mereka, dan Alloh menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya di dalam yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang memikirkan.”

            Dan Alloh telah memberikan pada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dalam perkara tersebut kesempurnaan kelaki-lakian dan kekuatan untuk mengurusi urusan para istri dan hak-hak mereka yang tidak diberikan pada kebanyakan orang-orang sebelum beliau. Dan ini bukanlah perkara yang perlu diingkari di kalangan para Nabi عليهم الصلاة والسلام karena sesungguhnya mereka adalah para pria yang paling sempurna sifat kelaki-lakiannya, dan paling terjaga kemaluannya, dan paling berhasil menegakkan hak Alloh dan hak para hamba-Nya.

            Dulu Nabiyulloh Dawud punya istri banyak, dan anak beliau Nabiyulloh Sulaiman bin Dawud juga demikian. Dan sungguh Alloh telah menguatkan keduanya untuk menggilir para istri mereka dan menegakkan hak para istri mereka. Maka bagaimana dianggap aneh terhadap Nabi yang lebih utama daripada keduanya dan lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh, yaitu Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk Alloh membolehkan beliau menikahi sembilan wanita, bersamaan dengan kemaslahatan-kemaslahatan yang banyak di dalamnya, yang telah terdahulu penyebutan sebagiannya? Dan semua itu kembali kepada umat ini dengan kebaikan dan manfaat yang menyeluruh.

            Dan sungguh Alloh telah mengkhususkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan kekhususan-kekhususan yang agung, dan memberikan pada beliau sifat-sifat yang mulia. Alloh mengutus beliau kepada seluruh manusia, dan menjadikan beliau sebagai rohmat bagi alam semesta, dan menjadikan beliau sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrohim sebagai kekasih, dan mengangkat kedudukan beliau ke Jannah yang tertinggi yaitu Wasilah, dan menjadikan beliau sebagai tuan bagi seluruh anak Adam, dan memberikan untuk beliau kedudukan yang terpuji dan syafa’at yang paling agung pada hari Kiamat, dan Alloh menolong beliau dengan menimpakan rasa takut di hati para musuh sejarak perjalanan sebulan, dan melapangkan untuk beliau dada beliau, mengampuni dosa beliau, dan meninggikan penyebutan beliau, maka tidaklah Alloh Yang Mahasuci disebut kecuali beliau disebut bersama-Nya, sebagaimana di dalam khuthbah, syahadat, iqomat dan adzan.

            Dan kekhususan beliau dan keseluruhan karakter beliau صلى الله عليه وسلم itu banyak sekali, maka bagaimanakah setelah ini semua “Shohifatu Masail Mishriyyah” dan para pengelolanya lancang untuk berolok-olok dengan beliau dan menjatuhkan nilai beliau serta menggambarkan dengan binatang yang termasuk paling rendah dan paling hina, sebagai bentuk penghinaan dan olok-olok yang berlebihan? Mahasuci Alloh alangkah agungnya sifat-Nya, dan Mahabesar Alloh alangkah luasnya kesabaran-Nya.

﴿كَذَلِكَ يَطْبَعُ الله عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Demikianlah Alloh mengunci hati-hati orang-orang yang tidak mengetahui.”

            Dan bukanlah kekufuran terang dan kemunafiqan yang jelas serta olok-olokan yang nyata terhadap hamba Alloh yang paling mulia dan orang yang dengan beliau Alloh mengeluarkan para hamba dari kegelapan kepada cahaya ini sesuatu yang asing dari koran-koran porno, tak punya malu, gendang kekufuran dan penyimpangan, dan mimbar-mimbar kezholiman dan permusuhan, serta peperangan terhadap keutamaan dan dakwah kepada kehinaan. Bukanlah yang demikian itu aneh bagi sebagian pengelola koran-koran Kairo yang mereka itu telah menjual diri mereka untuk setan, dan berpaling dari apa yang dibawa oleh para Rosul dan dengannya Al Qur’an turun. Dan mereka lebih memperhatikan fir’aun-fir’aun, ahli ilhad (penyimpangan) dan para penyembah salib. Dan mereka mempersiapkan sebagian koran mereka sebagai tentara untuk memerangi Islam dan menghapus syiar-syiarnya yang agung, dan untuk menyesatkan dan memberikan pengkaburan terhadap orang-orang yeng bermata rabun dan berakal tolol.

            Kemudian aku katakan: bukan ini saja kejahatan koran-koran Kairo. Alangkah banyaknya kejahatan mereka, dan alangkah banyaknya kehinaan mereka, dan alangkah banyaknya perkara-perkara pada mereka yang menjerumuskan mereka kepada kekafiran dan pembatal-pembatal keislaman. Bukankah mereka itu yang mengumumkan di kebanyakan koran-koran mereka dakwah kepada aliran sosialis yang kafir, dan komunisme merah yang mencakup kezholiman kepada para hamba? … dst.

(selesai penukilan dari “Majmu’ Fatawa Asy Syaikh Ibnu Baz”/6/hal. 258-260).

 

Bab Lima:

Buruknya Keadaan Para Munafiqun dan Kafirun

 

Pasal satu: Buruknya keadaan Munafiqun

            Alloh ta’ala berfirman tentang sifat munafiqun:

﴿وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * الله يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ -إلى قوله:- مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ الله بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ * صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [البقرة: 14- 18].

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata,”Kami telah beriman.” Tapi apabila mereka menyepi dengan setan-setan mereka, mereka berkata,”Sesungguhnya kami adalah bersama kalian, kami ini hanyalah berolok-olok belaka. Alloh akan membalas olok-olokan mereka dan mengulur mereka terombang-ambing di dalam sikap mereka yang melampaui batas. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka dan tidaklah mereka itu mengikuti petunjuk –sampai pada firman Alloh:- Permisalan mereka seperti orang yang menyalakan api, manakala api tadi telah menerangi apa yang di sekelilingnya, Allohpun menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka tak bisa melihat di dalam kegelapan. Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak kembali.” (QS Al Baqoroh 14).

          Maka Alloh ta’ala menjelaskan bahawasanya para munafiqin menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran, berpaling dari mengikuti kebenaran, bahkan mereka berolok-olok dengan agama, maka tidak tidak bermanfaat bagi mereka perbuatan mereka sedikitpun dan bahkan akan kembali kepada mereka keburukannya sebagai balasan bagi apa yang mereka lakukan.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Mereka telah berpaling dari Al Kitab dan As sunnah sambil mengolok-olok dan menghina para pembawanya, dan mereka enggan untuk mengikuti hukum dua wahyu itu karena mereka merasa bangga dengan ilmu yang ada pada mereka yang berbanyak-banyak dengannya itu tidak bermanfaat. Mereka berbuat itu dengan jahat dan menyombongkan diri. Maka engkau akan melihat mereka selamanya berolok-olok dengan orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu yang jelas.

﴿الله يستهزئ بهم ويمدهم في طغيانهم يعمهون [البقرة: 15] .

“Alloh akan membalas olok-olokan mereka dan mengulur mereka terombang-ambing di dalam sikap mereka yang melampaui batas.

            Mereka keluar dalam rangka mencari perdagangan yang binasa di lautan kegelapan, maka mereka menaiki kapal-kapal syubuhat (kesamaran) dan keraguan yang berlayar membawa mereka di gelombang khayalan, maka angin kencang mempermainkan perahu-perahu mereka sehingga melemparkannya di antara perahu-perahu orang-orang yang binasa.

﴿أولئك الذين اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهتدين [البقرة: 16] .

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka dan tidaklah mereka itu mengikuti petunjuk.”

(selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 357).

            Sesungguhnya orang-orang munafiqin bergaya di hadapan kaum mukminin bahwasanya mereka adalah bagian dari mukminin juga, termasuk dari pemilik cahaya, padahal mereka adalah para pemilik kegelapan, maka Alloh membalas perbuatan mereka tadi sesuai dengan jenis amalan mereka dalah kegelapan Kiamat. Alloh ta’ala berfirman:

﴿مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ الله بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ * صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ [البقرة: 17، 18].

Permisalan mereka seperti orang yang menyalakan api, manakala api tadi telah menerangi apa yang di sekelilingnya, Allohpun menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka tak bisa melihat di dalam kegelapan. Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak kembali.” (QS Al Baqoroh 14).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:  “Dan Alloh berfirman: “Allohpun menghilangkan cahaya mereka ” dan tidak berfirman: “menghilangkan api mereka” karena api itu di dalamnya ada pembakaran. Dan demikianlah keadaan munafiqin: cahaya keimanan mereka hilangkan dengan kemunafiqan, dan tinggallah di dalam hati-hati mereka panasnya kekufuran, keraguan dan kesamaran yang mendidih di dalam hati-hati mereka. Hati-hati mereka telah terbakar dengan panasnya, gangguannya dan angin panasnya serta cahaya panasnya di dunia, maka Alloh ta’ala pada hari Kiamat akan membakarnya dengan api yang dinyalakan yang menjulang sampai ke hati. Dan ini adalah permisalan bagi orang yang tidak disertai oleh cahaya keimanan di dunia, bahkan cahaya tadi keluar darinya dan berpisah dengannya setelah dirinya mencari penerangan dengannya.

            Dan ini adalah keadaan orang munafiq yang mengetahui kebenaran lalu mengingkarinya, semula mengakuinya kemudian menentangnya. Maka dia di dalam kegelapan dalam keadaan tuli, bisu dan buta sebagaimana firman Alloh ta’ala dalam hak saudara-saudara mereka dari kalangan orang kafir:

﴿والذين كذبوا بآياتنا صم وبكم في الظلمات

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami mereka itu tuli dan bisu di dalam kegelapan.”

Dan berfirman:

﴿ومثل الذين كفروا كمثل الذي ينعق بما لا يسمع إلا دعاء ونداء صم بكم عمي فهم لا يعقلون

“Dan permisalan orang-orang kafir itu seperti permisalan orang yang menyeru orang yang tidak mendengar kecuali sekedar panggilan dan seruan saja. Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak memahami.”

            Dan Alloh ta’ala menyerupakan keadaan orang-orang munafiq tentang keluarnya mereka dari cahaya setelah cahaya tadi menerangi mereka dengan keadaan orang yang menyalakan api dan hilangnya cahaya api tadi darinya setelah api tadi menerangi sekelilingnya, karena orang-orang munafiq itu telah menyaksikan cahaya dengan mata kepala mereka, dengan berkumpulnya mereka dengan kaum muslimin dan sholat dan puasa bersama mereka, dan mendengarkan Al Qur’an, serta menyaksikan alamat-alamat Islam dan menaranya. Oleh karena itulah Alloh ta’ala berfirman tentang hak mereka:

﴿فهم لا يرجعون

“Maka mereka tidak kembali.” (QS Al Baqoroh 14).

Tidak kembali kepadanya, karena mereka telah berpisah dengan Islam setelah bersatu dan mengambil cahaya dengannya. Maka mereka tidak kembali kepadanya.

            Dan Alloh ta’ala berfirman hak orang kafir:

﴿فهم لا يعقلون

“Maka mereka tidak memahami.”

 Karena mereka tidak memahami Islam dan tidak masuk ke dalamnya, tidak mengambil cahaya dengannya, dan terus-menerus berada di dalam kegelapan kekufuran, tuli, bisu dan buta. Mahasuci Dzat Yang menjadikan firman-Nya sebagai obat bagi penyakit-penyakit dada, dan menyeru kepada keimanan dan hakikatnya, dan memanggil kepada kehidupan yang abadi dan kenikmatan yang lestari, serta membimbing kepada jalan yang lurus.

            Sungguh penyeru keimanan telah memperdengarkan panggilan seandainya panggilannya tadi berjumpa dengan telinga yang terbuka. Dan sungguh nasihat Al Qur’an telah memperdengarkan nasihatnya andaikata nasihatnya tadi bertemu dengan hati yang kosong. Akan tetapi angin syubuhat dan syahawat telah menerpa hati-hati sehingga memadamkan pelita-pelitanya, dan tangan-tangan kelalaian dan kebodohan telah mencengkeram hati sehingga pintu-pintu kelurusannya telah tertutup dan menghilangkan kunci-kuncinya. Pekerjaannya telah tertutup noda sehingga ucapan tak lagi bermanfaat, dan telah mabuk dengan syahawat kesesatan dan tontonan kebatilan, sehingga setelah itu dia tak lagi mencurahkan perhatian pada celaan. Dia telah diberi petuah dengan yang lebih menusuk daripada tombak dan panah, akan tetapi hati-hati tadi telah mati di dalam lautan kebodohan dan kelalaian serta dalam tawanan hawa nafsu dan syahwat. Dan tidaklah orang yang sudah mati itu bisa merasakan pedihnya luka.” (“Al Wabilush Shoyyib”/53-54).

            Para munafiqin telah mengetahui bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم datang membawa petunjuk dan agama yang benar demi kemaslahatan para hamba, manfaat untuk mereka, dan kesempurnaan kehidupan mereka di dua negri. Akan tetapi kebencian mereka terhadap kebenaran dan kedengkian mereka terhadap pembawanya telah menghalangi masuknya cahaya petunjuk ke dalam hati-hati mereka, sehingga mereka tak bisa mengambil manfaat dengan ilmu mereka tadi, sehingga akhirnya ilmu tadi diambil lagi dari mereka sampai-sampai mereka tak bisa memahami kebenaran dan tak sanggup melihatnya. Mereka menduga bahwasanya Rosul itu datang membawa perkara yang membahayakan mereka dan menakutkan mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَالله مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ * يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ الله لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ الله عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [البقرة: 19، 20]

“Atau seperti hujan deras dari langit yang di dalamnya ada kegelapan, guntur dan kilat. Mereka menjadikan jari-jemari mereka ke telinga mereka dikarenakan petir karena mereka takut kematian. Dan Alloh itu Maha Meliputi orang-orang kafir. Hampir-hampir guntur itu menyambar pandangan mata mereka. Setiap kali guntur tadi menerangi untuk mereka, merekapun berjalan dalam penerangannya. Dan jika mereka telah terliputi kegelapan, merekapun berdiri terdiam. Jika Alloh menghendaki pastilah Alloh akan menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Alloh itu mampu terhadap segala sesuatu.” (QS Al Baqoroh 19-20).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Shoyyib adalah hujan yang turun dari langit dengan cepat, dan dia itu seperti Al Qur’an yang dengannya hati itu hidup, seperti hujan yang dengannya bumi dan tanaman serta hewan itu hidup. Maka kaum mukminin mengetahui yang demikian itu. Mereka mengetahui adanya kehidupan yang tak terbayangkan yang dihasilkan dengan Al Qur’an tadi, sehingga adanya kilat dan guntur itu tidaklah menghalangi mereka untuk mengambil manfaat tadinya. Kilat dan guntur itu adalah ancaman dan hukuman yang Alloh peringatkan dengannya bagi orang yang menyelisihi ajaran-Nya, dan Alloh kabarkan bahwasanya orang tadi seperti orang yang mendustakan Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Atau petir tadi ibarat perintah-perintah yang keras seperti jihad memerangi para musuh, dan sabar menjalankan perintah, atau perintah-perintah yang berat bagi jiwa karena menyelisihi keinginan diri. Dan perintah yang berat tadi seperti kegelapan, kilat dan guntur. Akan tetapi orang yang mengetahui tempat-tempat jatuhnya hujan deras dan kehidupan yang akan dihasilkannya tidaklah merasa ngeri dengan adanya kegelapan, kilat dan guntur yang menyertai hujan tadi, bahkan dirinya merasa akrab dengannya dan bergembira dengannya karena mengharapkan kehidupan dan kesuburan.

            Adapun orang munafiq maka sungguh dia itu telah buta hatinya sehingga pandangannya tidak melampaui kegelapan tadi dan tidak melihat selain kilat yang hampir-hampir menyambar pandangan, dan juga guntur besar dan kegelapan. Maka orang munafiq merasa ngeri dengan yang demikian itu dan merasa takut dengannya, sehingga dia meletakkan jari-jarinya di kedua telinganya agar tidak mendengar suara petir tadi. Guntur, kuatnya kilatannya dan besarnya cahayanya tadi juga membikinnya takut. Dia merasa takut petir tadi menyambar pandangannya, karena pandangan matanya terlalu lemah untuk bisa tetap adad pada saat ada sambaran petir tadi. Maka orang ini berada dalah kegelapan sambil mendengarkan suara-suara petir yang merusak, dan melihat kilat yang menyambar itu. Jika kilat tadi menerangi apa yang ada di depannya, diapun berjalandi dalam penerangannya. Dan jika dia kehilangan kehilangan cahaya, berdirilah dia dengan kebingungan tidak tahu ke mana hendak pergi. dan karena kebodohannya dia tidak tahu bahwa adanya petir dan sebagainya tadi adalah termasuk dari keharusan adanya hujan yang dengannya ada kehidupan bumi, kehidupan tanaman, dan kehidupan dirinya itu sendiri. Dia tidak mendapati selain petir, kilat dan kegelapan, dan dia tidak menyadari apa yang ada di balik itu semua. Maka kengerian terus menyertainya, rasa takut dan gentar tidak berpisah dari dirinya. Adapun orang yang merasa akrab dengan hujan tadi dan tahu bahwasanya memang di dalam hujan itu pasti ada petir, kilat dan kegelapan, disebabkan oleh mendung. Dia merasa akrab dengan itu dan tidak merasa ngeri dengannya. Dan yang demikian tadi tidak menghentikannya dari mengambil bagiannya dari air hujan tadi.

            Maka ini adalah permisalan yang sesuai dengan air hujan, yang Jibril صلى الله عليه وسلم turun dengannya dari sisi Robbul alamin تبارك وتعالى kepada hati Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk dengannya menghidupkan hati-hati dan seluruh yang ada. Hikmah Alloh menuntut wahyu tadi disertai dengan mendung, petir dan kilat sebagaimana yang menyertai hujan air, sebagai hikmah yang mendalam dan sebab yang tertata, diatur oleh Al Azizul Hakim.

            Maka bagian orang munafiq dari hujan tadi adalah awannya, petirnya dan kilatnya saja, dia tidak tahu apa yang ada di balik itu, sehingga dia merasa ngeri dengan perkara yang diakrabi oleh mukminin. Dia merasa ragu dengan perkara yang dengannya orang-orang yang berilmu merasa tenang. Dia merasa bimbang dengan perkara yang dihindari oleh orang yang berpandangan tajam yang memahami. Pandangannya dalam permisalan api seperti pandangan kelelawar di siang hari. Pendengarannya dalam permisalan air seperti pendengaran orang yang mau mati karena suara petir. Telah disebutkan dari sebagian binatang bahwasanya dia mati karena mendengar suara petir.”

(selesai dari “Al Wabilush Shoyyib”/hal. 55-56).

            Demikianlah keadaan para munafiqin. Maka dikarenakan kerasnya kebencian mereka pada Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mukminin maka merekapun mengolok-olok mereka dan menghalangi manusia dari jalan Alloh dengan cara menghalangi mereka dari hukum Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan pengajaran beliau, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ الله وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا [النساء: 61]

“Dan jika dikatakan pada mereka: “Kemarilah kalian kepada apa yang diturunkan oleh Alloh dan kepada Rosul” engkau akan melihat orang-orang munafiqin benar-benar menghalangi manusia darimu.”

            Maka orang-orang munafiq itu merusak di bumi dan berpenampilan seakan-akan mereka itu membikin perbaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ * أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة: 11، 12].

“Dan jika dikatakan pada mereka: “Janganlah kalian merusak di bumi” mereka berkata: “Sesungguhnya kami ini hanyalah berbuat perbaikan” Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah yang merusak akan tetapi mereka tidak menyadari.”

            Dan dikarenakan besarnya bahaya mereka terhadap muslimin, Alloh memperingatkan manusia dari para munafiqin di ayat-ayat yang banyak, di antaranya adalah:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ الله أَنَّى يُؤْفَكُونَ [المنافقون: 4].

“Dan jika engkau melihat mereka maka badan-badan mereka akan membikinmu kagum. Dan jika mereka berbicara engkau akan mendengarkan ucapan mereka. Seakan-akan mereka itu adalah kayu-kayu yang disandarkan. Mereka mengira seluruh teriakan adalah ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Alloh memerangi mereka, kemanakah mereka dipalingkan.”

            Dan Alloh menyingkapkan tipu daya mereka dan keburukan mereka agar keadaan mereka itu menjadi jelas di mata kaum mukminin. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ الله مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ * وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ[التوبة: 64 – 66].

“Para munafiqun khawatir akan diturunkan tentang mereka suatu surat yang menjelaskan pada mereka tentang apa yang ada di dalam hati mereka. Katakanlah: “Berolok-oloklah, sesungguhnya Alloh akan mengeluarkan apa yang dulu kalian khawatirkan. Dan pasti jika engkau bertanya pada mereka pastilah mereka akan menjawab: “Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian itu berolok-olok? Janganlah kalian mengemukakan alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian. Jika kami memaafkan sekelompok dari kalian, Kami akan menyiksa sekelompok yang lain karena mereka itu adalah kaum yang jahat.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan jika akal-akal, pendengaran-pendengaran dan penglihatan-penglihatan ini berjumpa dengan syubuhat setan, khayalan yang rusak dan dugaan dusta, dia akan berputar-putar di dalamnya dan menyerang, berdiri dan duduk, meluas di dalamnya ruang lingkupnya, dan banyak desas-desusnya di dalamnya, lalu dia memenuhi pendengaran dengan igauan, dan memenuhi bumi dengan catatannya. Dan alangkah banyaknya orang-orang yang memenuhi seruan orang-orang itu, menyambut mereka, menegakkan dakwah mereka, melindungi area mereka di bawah bendera-bendera mereka dan memperbanyak jumlah mereka.

            Dikarenakan meluasnya bencana yang disebabkan oleh mereka dan bahaya hati yang disebabkan oleh ucapan mereka, maka Alloh merobek tabir-tabir mereka dalam kitab-Nya dengan puncak perobekan, dan menyingkapkan rahasia mereka dengan puncak penyingkapan, serta menjelaskan tanda-tanda mereka, perbuatan mereka dan ucapan mereka. Dan terus-menerus Alloh عز وجل berfirman: “Dan di antara mereka …, dan di antara mereka …, dan di antara mereka ….” Hingga tersingkaplah urusan mereka dan jelaslah hakikat mereka serta nampaklah rahasia mereka.

            Alloh Yang Mahasuci telah menyebutkan di awal surat Al Baqoroh sifat-sifat mukminin, kafirin dan munafiqin. Maka Alloh menyebutkan tentang sifat mukinin tiga ayat, dan tentang sifat kafirin dua ayat, dan tentang sifat munafiqin itu belasan ayat, karena luasnya cakupan bencana yang mereka akibatkan, dan kerasnya musibah karena percampuran dengan mereka, karena mereka itu dari kulit yang sama, menampakkan kesesuaian dan saling menolong, berbeda dengan orang kafir yang telah melestarikan permusuhan dan menampilkan rahasianya dan menyeru untukmu dengan apa yang ditampakkannya untuk menjauh dan berpisah darinya.” (“Al Wabilush Shoyyib”/hal. 57).

Pasal dua: buruknya keadaan orang kafir

            Sesungguhnya orang-orang kafir itu telah tertutup hati mereka dikarenakan kekufuran mereka, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ * خَتَمَ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾ [البقرة: 6، 7]

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka apakah engkau memberikan peringatan pada mereka ataukah engkau tidak memberikan peringatan pada mereka, mereka itu tidak beriman. Alloh telah menstempel hati-hati mereka dan pendengaran mereka, dan di atas pandangan mata mereka ada penutup. Dan mereka akan mendapatkan siksaan yang besar.”

            Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ[البقرة: 171]

“Dan permisalan orang-orang kafir itu seperti permisalan orang yang menyeru orang yang tidak mendengar kecuali sekedar panggilan dan seruan saja. Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak memahami.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan permisalan orang-orang kafir” yaitu: di dalam kesesatan dan kebodohan mereka itu seperti binatang melata yang digembalakan yang tidak memahami apa yang dikatakan kepadanya. Bahkan jika penggembalanya menyerunya kepada perkara yang membimbingnya, dia tidak memahami apa yang diucapkannya, dia cuma mendengar suaranya saja.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 480).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿ومنهم من يستمع إليك وجعلنا على قلوبهم أكنة أن يفقهوه وفي آذانهم وقرا وإن يروا كل آية لا يؤمنوا بها حتى إذا جاءوك يجادلونك يقول الذين كفروا إن هذا إلا أساطير الأولين﴾ الآيات.

“Dan di antara mereka ada orang yang menyimak dirimu, dan kami jadikan di atas hati-hati mereka penutup yang menghalangi mereka untuk memahami, dan di telinga mereka penyumbat. Dan jika mereka melihat setiap ayat mereka tak mau beriman dengannya. Sampai jika mereka mendatangimu mereka mendebatmu, orang-orang kafir berkata: tidaklah ini kecuali dongengan orang-orang terdahulu.”

Hingga akhir ayat. Maka Alloh mengabarkan bahwasanya mereka itu tidak memahami dengan hati-hati mereka dan tidak mendengar dengan telinga mereka, dan tidak beriman dengan api yang mereka lihat, sebagaimana yang Alloh kabarkan dari mereka yang mana mereka berkata:

﴿قلوبنا في أكنة مما تدعونا إليه وفي آذاننا وقر ومن بيننا وبينك حجاب﴾.

Hati-hati kami di dalam penutup yang menghalangi dari apa yang engkau serukan kepadanya, dan di telinga kami ada penyumbat, dan di antara kami dengan engkau ada penghalang.”

            Mereka menyebutkan penghalang-penghalang terhadap hati, pendengaran dan penglihatan, dan badan-badan mereka hidup mendengar suara-suara dan melihat sosok-sosok, akan tetapi kehidupan badan tanpa kehidupan hati, termasuk dari jenis kehidupan para hewan, yang mana mereka punya pendengaran dan penglihatan, mereka makan minum dan menikah. Oleh karena itulah Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ[البقرة: 171]

“Dan permisalan orang-orang kafir itu seperti permisalan orang yang menyeru orang yang tidak mendengar kecuali sekedar panggilan dan seruan saja.”

            Maka Alloh menyerupakan mereka dengan ternak yang diseru oleh penggembala dalam keadaan ternak itu tidak mendengar selain panggilan semata. Sebagaimana Alloh berfirman dalam ayat yang lain:

﴿أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا﴾

“Apakah engkau mengira bahwasanya kebanyakan mereka itu mendengar atau memikirkan. Tidaklah mereka itu selain seperti ternak, bahkan mereka itu lebih sesat jalannya.”

            Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل﴾

“Dan sungguh Kami telah menciptakan untuk Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki hati tapi mereka tidak memahami dengannya, mereka punya mata tapi mereka tidak melihat dengannya, dan mereka punya telinga tapi mereka tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti ternak, bahkan mereka itu lebih sesat.”

(selesai penukilan dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 104).

            Dan dikarenakan besarnya kebodohan orang-orang kafir terhadap kebaikan dakwah para Rosul, mereka itu mengolok-olok para Rosul dan mengejek mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ [الأنعام: 10].

“Dan sungguh para Rosul sebelummu telah diolok-olok, maka akan menimpa orang-orang yang mengejek mereka apa yang dulu mereka mengolok-olok dengannya.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ * كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ * لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ [الحجر: 11 – 13].

“Dan tidaklah datang pada mereka seorang Rosulpun kecuali mereka mengolok-oloknya. Demikianlah Kami menjalankan di hati-hati orang-orang yang jahat, mereka tidak beriman dengannya padahal telah lewat jalan orang-orang terdahulu.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ * أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ [الذاريات: 52، 53] .

“Demikianlah, tidak datang pada orang-orang sebelum mereka seorang Rosulpun kecuali mereka berkata: “Dia adalah penyihir atau orang gila.” Apakah mereka saling mewasiatkan itu? Bahkan mereka itu adalah kaum yang melampaui batas.”

            Maka bukanlah kesalahan itu ada pada matahari dhuha, akan tetapi kesalahan itu hanyalah pada orang buta sehingga tidak melihat matahari tadi. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

ما ضر شمس الضحى والشمس طالعة … أن لا يرى ضوءها من ليس ذا بصر

“Tidaklah membahayakan matahari dhuha, dalam keadaan matahari sedang terbit, jika orang yang tak punya penglihatan tidak melihat cahayanya.”

(“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 368/cet. Darul Hadits).

            Al ‘Allamah Mahmud Syukriy Al Alusiy رحمه الله berkata: “Maka tidak ada yang mengingkari cahaya matahari atau ragu tentang bulan purnama pada malam kesempurnaannya kecuali orang yang Alloh ta’ala membutakan mata hatinya, bingung di dalam kegelapan kesesatannya.

والنجم تستصغر الأبصار رؤيته … والذنب للطرف لا للنجم في الصغر

“Dan bintang itu dianggap kecil oleh mata yang melihatnya. Dan dosanya adalah pada mata yang memandangnya kecil, bukan pada sang bintang.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashab”/hal. 377).

 

Bab Enam:

Jika Orang Kafir Mencela Nabi صلى الله عليه وسلم

 

            Sesungguhnya orang-orang kafir jika mereka mencela Nabi صلى الله عليه وسلم maka sungguh tidak ada lagi perjanjian damai untuk mereka, maka mereka itu wajib dibunuh. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ [التوبة: 12].

“Dan jika mereka melanggar perjanjian damai mereka setelah perjanjian itu dibuat dan mereka mencela agama kalian, maka perangilah para pemimpin kekufuran karena sungguh tiada perjanjian damai untuk mereka, agar mereka mau berhenti.”

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Sebagian ulama berdalilkan dengan ayat ini tentang wajibnya membunuh setiap orang yang mencela agama ini, karena dia itu kafir. Yang nama tho’n (celaan) adalah: menisbatkan kepadanya perkara yang tidak layak untuknya, atau membantah dengan meremehkan perkara yang menjadi bagian dari agama ini yang telah tetap dengan dalil yang pasti tentang kesohihan pokok-pokoknya dan kelurusan cabang-cabangnya.

            Ibnul Mundzir berkata: “Keumuman para ulama telah bersepakat tentang bahwasanya orang yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم itu harus dibunuh.”

            Dan termasuk orang yang mengucapkan itu adalah Malik, Al Laits, Ahmad, Ishaq, dan itu adalah madzhab Asy Syafi’iy –sampai pada ucapan beliau:- adapun kafir dzimmiy jika mencela agama ini, batallah perjanjian damai dengannya menurut pendapat yang masyhur dari madzhab Malik, berdasarkan firman Alloh: “Dan jika mereka melanggar perjanjian damai mereka

            Maka Alloh memerintahkan untuk membunuh mereka dan memerangi mereka. Dan ini adalah madzhab Asy Syafi’iy رحمه الله.

            Abu Hanifah berkata tentang ini: “Sesungguhnya dia dimintai tobat, dan sesungguhnya sekedar cercaan tidaklah menyebabkan batalnya perjanjian kecuali disertai dengan pelanggaran, karena Alloh عز وجل hanyalah memerintahkan untuk membunuh mereka dengan dua syarat: yang pertama: mereka membatalkan perjanjian, yang kedua: mereka mencerca agama ini.”

            Kita jawab: jika mereka melakukan suatu perkara yang menyelisihi perjanjian, maka perjanjian mereka batal. Dan penyebutan dua perkara tadi tidaklah mengharuskan tergantungnya peperangannya itu pada adanya dua perkara tadi (sekaligus), karena sesungguhnya pelanggaran itu sendiri menyebabkan bolehnya memerangi mereka secara akal dan syariat. Dan penetapan kalimat dalam ayat tadi menurut kami adalah: “Maka jika mereka melanggar perjanjian damai mereka maka halallah untuk memerangi mereka. Dan jika mereka tidak melanggar tapi mereka mencela agama ini bersamaan dengan penunaian perjanjian damai, maka halal juga untuk memerangi mereka.

            -sampai pada ucapan beliau:- kebanyakan ulama berpendapat bahwasanya cacian terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم , atau sindiran, atau meremehkan kedudukan beliau atau mensifati beliau bukan dari sisi yang menyebabkan kekufuran yang datang dari ahli dzimmah maka orang itu harus dibunuh, karena kita tidak memberinya jaminan keamanan atau perjanjian untuk dia berbuat ini. Kecuali Abu Hanifah, Ats Tsauriy dan para pengukut mereka dari penduduk Kufah karena sesungguhnya mereka berkata: “Dia tidak dibunuh, karena kesyirikan yang ada padanya itu lebih besar. Akan tetapi dia harus dikasih pelajaran dan pukulan.”

            Bantahan terhadap mereka adalah firman Alloh ta’ala: “Dan jika mereka melanggar perjanjian damai” sampai akhir ayat.

            Sebagian ulama membantah mereka dengan berdalilkan perintah Nabi صلى الله عليه وسلم untuk membunuh Ka’b ibnul Asyrof, dan dia dulunya adalah mu’ahad (kafir yang diberi perjanjian damai).

(selesai penukilan dari “Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 82-83).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: Alloh ta’ala berfirman: “Jika orang-orang musyrikin itu melanggar perjanjian yang mereka berikan pada kalian dalam jangka waktu tertentu, dan mencerca agama kalian, yaitu: menjelek-jelekkannya dan merendahkannya. Maka dari sinilah diambil dalil harus dibunuhnya orang yang mencaci Rosul صلوات الله وسلامه عليه , atau orang yang mencerca agama Islam atau menyebutkannya dengan perendahan. Karena itulah Alloh berfirman: “maka perangilah para pemimpin kekufuran karena sungguh tiada perjanjian damai untuk mereka, agar mereka mau berhenti.” Yaitu: kembali dari kekufuran, pembangkangan dan kesesatan yang mereka ada padanya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 116).

 

            Ada beberapa hadits yang menunjukkan disyariatkan untuk membunuh orang yang mencaci atau merendahkan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Hadits pertama:

            Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من لكعب بن الأشرف؟ فإنه قد آذى الله ورسوله» فقام محمد بن مسلمة فقال: يا رسول الله أتحب أن أقتله؟ قال: «نعم» قال: فأذن لي أن أقول شيئا. قال: «قل». فأتاه محمد بن مسلمة فقال: إن هذا الرجل قد سألنا صدقة، وإنه قد عنانا، وإني قد أتيتك أستسلفك. قال: وأيضا والله لتملنه. قال: إنا قد اتبعناه فلا نحب أن ندعه حتى ننظر إلى أي شيء يصير شأنه. وقد أردنا أن تسلفنا وسقا أو وسقين. فقال: نعم ارهنوني. قالوا: أي شيء تريد. قال: ارهنوني نساءكم. قالوا: كيف نرهنك نساءنا وأنت أجمل العرب؟ قال: فارهنوني أبناءكم. قالوا: كيف نرهنك أبناءنا، فيسب أحدهم فيقال: رهن بوسق أو وسقين. هذا عار علينا. ولكنا نرهنك اللأمة: -يعني: السلاح- فواعده أن يأتيه، فجاءه ليلا ومعه أبو نائلة وهو أخو كعب من الرضاعة، فدعاهم إلى الحصن، فنزل إليهم، فقالت له امرأته: أين تخرج هذه الساعة؟ فقال: إنما هو محمد بن مسلمة وأخي أبو نائلة. قالت: أسمع صوتا كأنه يقطر منه الدم. قال: إنما هو أخي محمد بن مسلمة ورضيعي أبو نائلة. إن الكريم لو دعي إلى طعنة بليل لأجاب. قال: ويدخل محمد بن مسلمة معه رجلين –قيل معه: أبو عبس بن جبر والحارث بن أوس وعباد بن بشر-  فقال: إذا ما جاء فإني قائل بشعره فأشمه فإذا رأيتموني استمكنت من رأسه فدونكم فاضربوه. فنزل إليهم متوشحا وهو ينفح منه ريح الطيب، فقال: ما رأيت كاليوم ريحا أي أطيب. قال: عندي أعطر نساء العرب، وأكمل العرب. فقال: أتأذن لي أن أشم رأسك؟ قال: نعم، فشمه ثم أشم أصحابه، ثم قال: أتأذن لي؟ قال: نعم. فلما استمكن منه قال: دونكم. فقتلوه، ثم أتوا النبي صلى الله عليه وسلم فأخبروه.

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم bertanya: “Siapakah yang mau mengurusi Ka’b ibnul Asyrof? Karena sesungguhnya dia telah mengganggu Alloh dan Rosul-Nya.” Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah seraya berkata: “Wahai Rosululloh, apakah Anda senang untuk saya membunuhnya?” Beliau menjawab: “Iya.” Maka dia berkata: “Maka idzinkanlah saya untuk mengucapkan sesuatu.” Beliau bersabda: “Berkatalah.” Maka Muhammad bin Maslamah mendatanginya (Ka’b) seraya berkata: “Sesungguhnya orang ini telah meminta pada kami shodaqoh, dan sungguh dia telah membebani kami. Dan aku datang kepadamu untuk meminta utang kepadamu.” Dia menjawab: “Dan juga demi Alloh dia telah membikin kalian bosan.” Muhammad menjawab: “Kami telah mengikutinya, maka kami tidak senang untuk meninggalkannya sampai kami melihat akan kemana urusannya itu. Dan kami ingin agar engkau menghutangi kami satu wasaq atau dua wasaq.” Ka’b menjawab: “Baiklah, maka berilah aku jaminan.” Mereka bertanya: “Apa yang engkau inginkan?” Dia menjawab: “Berilah aku jaminan dengan istri-istri kalian.” Mereka menjawab: “Bagaimana kami menjaminkan istri-istri kami sementara engkau adalah orang Arob yang paling tampan?” dia mejawab: “Maka berilah aku jaminan dengan anak-anak kalian.” Mereka menjawab: “Bagaimana kami menjaminkan anak-anak kami, sehingga nanti salah seorang dari mereka dicaci dan dikatakan: kamu dijaminkan dengan satu wasaq atau dua wasaq? Ini aib bagi kami. Akan tetapi kami akan memberikan jaminan senjata.” Maka dia menjanjikan padanya untuk datang lagi padanya. Maka pada suatu malam Muhammad mendatanginya dengan disertai Abu Nailah –dan dia adalah saudara sesusuan Ka’b-. Maka dia mengajak mereka masuk ke dalam benteng, lalu dia turun menemui mereka. Maka istrinya berkata padanya: “Kemanakah engkau akan keluar pada saat ini?” Maka dia menjawab: “Mereka itu hanyalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku Abu Nailah.” Istrinya berkata: “Aku mendengar suara seakan-akan menetes darinya darah.” Maka Ka’b menjawab: “Dia itu hanyalah saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudaraku sesusuan: Abu Nailah. Sesungguhnya orang yang mulia itu jika diseru kepada baku tusuk di malam hari dia akan menjawabnya.” Dan masuklah Muhammad bin Maslamah disertai dua orang –dikatakan yang bersamanya adalah Abu ‘Abs bin Jabr dan Al Harits bin Aus serta ‘Abbad bin Bisyr- dia berkata: “Jika dia telah datang, maka aku akan memegang rambutnya dan menciumnya. Maka jika kalian telah melihatku memegang rambutnya dengan mantap maka giliran kalian untuk menghantamnya.” Maka dia turun menemui mereka dengan memakai minyak wangi dan menyemburkan darinya aroma minyak wangi. Maka Muhammad bin Maslamah berkata: “Belum pernah aku melihat seperti hari ini, bau yang paling wangi.” Dia menjawab: “Di sisiku ada wanita Arob yang paling wangi, dan paling sempurna.” Maka dia berkata: “Apakah engkau mengizinkan aku untuk mencium kepalamu?” dia menjawab: “Iya.” Maka dia menciumnya, lalu menciumkannya pada para rekannya. Lalu dia berkata lagi: “Apakah engkau mengizinkan aku untuk mencium kepalamu?” dia menjawab: “Iya.” Ketika dia telah memegang kepalanya dengan mantap dia berkata: “Giliran kalian.” Maka mereka membunuhnya. Kemudian mereka mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengabarkannya pada beliau.” (HR. Al Bukhoriy (4037) dan Muslim (1801)).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Pendalilan dengan pembunuhan terhadap Ka’b ibnul Asyrof adalah dari dua sisi:

            Yang pertama: dia itu dulu adalah kafir yang telah diberi janji perdamaian. Dan ini tidak ada perselisihan di antara ulama peperangan dan sejarah. Dan dia itu menurut mereka adalah termasuk ilmu umum yang dengannya tidak butuh pada penukilan para ulama khusus. Dan termasuk dari perkara yang tiada keraguan di dalamnya menurut ulama apa yang kami jelaskan terdahulu bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم manakala beliau tiba di Madinah beliau membuat perjanjian damai dengan seluruh jenis Yahudi: Bani Qoinuqo’, An Nadhir dan Quroizhoh. Kemudian Bani Qoinuqo’ membatalkan perjanjian beliau maka beliau memerangi mereka. Kemudian Ka’b ibnul Asyrof dari Banin Nadhir membatalkan perjanjian beliau, dan perkara mereka itu jelas bahwasanya mereka itu dulu berdamai dengan Nabi صلى الله عليه وسلم. Dan hanyalah mereka itu membatalkan perjanjian beliau ketika beliau keluar ke tempat mereka untuk minta bantuan pada mereka untuk membayar diyat dua orang yang dibunuh oleh Amr bin Umayyah Adh Dhomriy, yang yang demikian itu terjadi setelah terbunuhnya Ka’b ibnul Asyrof. Dan sungguh kami telah menyebutkan riwayat khusus bahwasanya Ka’b ibnul Asyrof dulu ada perjanjian damai dengan Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian Nabi صلى الله عليه وسلمmenghukuminya telah membatalkan perjanjian dengan cercaan dengan syair yang dia lontarkan terhadap beliau dan gangguannya dengan lidahnya secara khusus.

            Dan dalil bahwasanya orang tadi hanyalah membatalkan perjanjian dengan itu tadi adalah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Siapakah yang mau mengurusi Ka’b ibnul Asyrof? Karena sesungguhnya dia telah mengganggu Alloh dan Rosul-Nya.” Maka beliau menghasung manusia untuk membunuhnya dengan alasan bahwasanya dia telah mengganggu beliau. Gangguan secara mutlak adalah dengan lisan sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿ولتسمعن من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ومن الذين أشركوا أذى كثيرا [ آل عمران : 186].

“Dan pastilah kalian akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang musyrikin gangguan yang banyak.”

Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿لن يضروكم إلا أذى [ آل عمران : 111 ]

“Dan mereka tidak akan membahayakan kalian kecuali sekedar gangguan saja.”

Dan Alloh berfirman:

﴿ومنهم الذين يؤذون النبي و يقولون هو أذن [ التوبة : 61 ]

“Dan di antara mereka ada orang yang mengganggu Nabi dan berkata “Dia itu suka mendengar siapapun”.

Dan berfirman:

﴿لا تكونوا كالذين آذوا موسى فبرأه الله مما قالوا الآية [ الأحزاب : 69 ]

“Dan janganlah kalian seperrti orang-orang yang mengganggu Musa maka Alloh membersihkannya dari apa yang mereka katakan…”

Dan berfirman:

﴿ولا مستأنسين لحديث إن ذلكم كان يؤذي النبي إلى قوله : ﴿وما كان لكم أن تؤذوا رسول الله و لا أن تنكحوا أزواجه من بعده أبدا الآية [ الأحزاب : 53 ]

“Dan tanpa memperpanjang pembicaraan karena sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi” –sampai pada firman Alloh:- “Dan tidak sepantasnya kalian mengganggu Rosululloh dan tidak juga sepantasnya kalian untuk menikahi para istri beliau sepeninggal beliau selamanya…”

            Kemudian Alloh menyebutkan sholawat dan salam untuk beliau sebagai berita dan perintah, dan yang demikian itu adalah termasuk amalan lidah. Kemudian Dia berfirman:

﴿إن الذين يؤذون الله و رسوله إلى قوله : ﴿والذين يؤذون المؤمنين و المؤمنات [ الأحزاب : 58 ]

“Sesungguhnya orang-orang yang mengganggu Alloh dan Rosul-Nya”  –sampai pada firman Alloh:- “Dan orang-orang yang mengganggu kaum mukminin dan mukminat”

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Robb beliau تبارك وتعالى :

«يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر».

“Anak Adam mencaci zaman dan Aku adalah zaman.” ([4])

Dan ini banyak.

            Dan telah lalu bahwasanya gangguan (أذى) itu adalah nama bagi sedikit kejelekan dan perkara yang dibenci yang ringan, beda dengan bahaya (ضرر), oleh karena itu dikatakan pada perkataan karena hal itu pada hakikatnya tidak membahayakan pihak yang diganggu.

            Dan juga: sesungguhnya beliau menjadikan kemutlakan gangguan terhadap Alloh dan Rosul-Nya itu sebagai alasan yang mengharuskan untuk membunuh orang yang ada perjanjian damai. Dan telah diketahui bahwasanya cacian terhadap Alloh dan cacian terhadap Rosul-Nya merupakan gangguan terhadap Alloh dan Rosul-Nya. Dan jika suatu sifat diikutkan kepada suatu hukum dengan huruf fa (ف) maka hal itu menunjukkan bahwasanya sifat tersebut merupakan ‘illah (alasan) untuk hukum tadi, terutama jika memang mencocoki. Dan yang demikian itu menunjukkan bahwasanya (gangguan terhadap) Alloh dan Rosul-Nya merupakan alasan untuk menyeru Muslimin untuk membunuh orang yang berbuat demikian dari kalangan mu’ahadin. Dan ini adalah dalil yang jelas terhadap batalnya perjanjian damainya dengan perbuatan dia mengganggu Alloh dan Rosul-Nya, dan cacian tadi merupakan bagian dari gangguan terhadap Alloh dan Rosul-Nya dengan kesepakatan muslimin, bahkan cacian tadi merupakan jenis gangguan yang paling khusus.

            Dan juga: sungguh kami telah menyebutkan terdahulu dalam hadits Jabir bahwasanya yang pertama kali dengannya perjanjian tadi menjadi batal adalah syair Ka’b ibnul Asyrof yang dikumandangkan setelah dia pulang ke Madinah yang lewat syair itu dia mencerca Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika dicerca dengan syair tadi beliau menyeru Muslimin untuk membunuhnya. Dan satu ini saja merupakan dalil bahwasanya orang ini hanyalah membatalkan perjanjian damai dengan cercaan lewat syair tadi bukan dengan perginya dia ke Mekkah, … dst.”

(selesai penukilan dari “Ash Shorimul Maslul”/hal. 77).

            Ini tadi adalah bantahan bagi orang yang menyatakan bahwasanya Ka’b ibnul Asyrof dibunuh bukan karena mencaci lewat syair saja, tapi juga karena menghasung Quroisy untuk memerangi beliau. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله juga menyebutkan syubuhat tadi dan kemudian membantahnya.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Sungguh telah terkumpul pada Ibnul Asyrof beberapa dosa, di antaranya adalah: bahwasanya dia membuat pernyataan bela sungkawa terhadap mayat-mayat Quroisy yang terbunuh, menghasung mereka untuk memerangi Nabi صلى الله عليه وسلم, bersepakat dengan mereka untuk itu, membantu mereka untuk memerangi beliau dengan mengabari mereka bahwasanya agama mereka itu lebih baik daripada agama Rosululloh صلى الله عليه وسلم, dan lewat syair itu dia mencerca Rosululloh صلى الله عليه وسلم .

            Kami (Ibnul Qoyyim) katakan: jawabannya ada beberapa sisi: pertama: bahwasanya Ka’b dulu punya perjanjian damai dengan Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم menghukuminya telah membatalkan perjanjian tadi dengan cercaan syairnya dan gangguan lidahnya terhadap beliau.

            Kedua: bahwasanya kami telah jelaskan terdahulu tentang hadits Jabir bahwasanya yang pertama kali dengannya perjanjian tadi menjadi batal adalah syair yang dikumandangkannya yang lewat syair itu dia mencerca Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika dicerca dengan syair tadi beliau menyeru Muslimin untuk membunuhnya, … dst.” (“Ahkam Ahlidz Dzimmah”/hal. 270).

 

Hadits kedua:

            Dari Al Baro bin ‘Azib رضي الله عنهما yang berkata:

بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أبي رافع اليهودي رجالا من الأنصار فأمر عليهم عبد الله بن عتيك، وكان أبو رافع يؤذي رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويعين عليه، وكان في حصن له بأرض الحجاز فلما دنوا منه، وقد غربت الشمس، وراح الناس بسرحهم فقال عبد الله لأصحابه: اجلسوا مكانكم فإني منطلق ومتلطف للبواب لعلي أن أدخل. فأقبل حتى دنا من الباب، ثم تقنع بثوبه كأنه يقضي حاجة وقد دخل الناس، فهتف به البواب: يا عبد الله، إن كنت تريد أن تدخل فادخل، فإني أريد أن أغلق الباب. فدخلت فكمنت. فلما دخل الناس أغلق الباب، ثم علق الأغاليق على وتد. قال: فقمت إلى الأقاليد، فأخذتها، ففتحت الباب. وكان أبو رافع يسمر عنده، وكان في علالي له. فلما ذهب عنه أهل سمره صعدت إليه، فجعلت كلما فتحت بابا أغلقت علي من داخل. قلت: إن القوم نذروا بي لم يخلصوا إلي حتى أقتله. فانتهيت إليه، فإذا هو في بيت مظلم وسط عياله، لا أدري أين هو من البيت؟ فقلت: يا أبا رافع. قال: من هذا؟ فأهويت نحو الصوت فأضربه ضربة بالسيف، وأنا دهش. فما أغنيت شيئا. وصاح، فخرجت من البيت، فأمكث غير بعيد، ثم دخلت إليه فقلت: ما هذا الصوت يا أبا رافع؟ فقال: لأمك الويل، إن رجلا في البيت ضربني قبل بالسيف. قال: فأضربه ضربة أثخنته، ولم أقتله ثم وضعت ظبة السيف في بطنه حتى أخذ في ظهره، فعرفت أني قتلته. فجعلت أفتح الأبواب بابا بابا حتى انتهيت إلى درجة له، فوضعت رجلي، وأنا أرى أني قد انتهيت إلى الأرض، فوقعت في ليلة مقمرة فانكسرت ساقي فعصبتها بعمامة، ثم انطلقت حتى جلست على الباب فقلت: لا أخرج الليلة حتى أعلم أقتلته. فلما صاح الديك قام الناعي على السور فقال: أنعى أبا رافع تاجر أهل الحجاز! فانطلقت إلى أصحابي فقلت: النجاء فقد قتل الله أبا رافع. فانتهيت إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فحدثته، فقال: ابسط رجلك، فبسطت رجلي، فمسحها، فكأنها لم أشتكها قط. (أخرجه البخاري (4039)).

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengutus beberapa orang dari Anshor kepada Abu Rofi’ Al Yahudiy, beliau menjadikan Abdulloh bin ‘Atik sebagai pemimpin rombongan. Dulu Abu Rofi’ sering mengganggu Rosululloh صلى الله عليه وسلم, dan membantu orang untuk memerangi beliau. Orang ini punya benteng di tanah Hijaz. Ketika mereka telah mendekati benteng tadi dan matahari telah terbenam, dan orang-orang telah pulang dengan ternak gembalaan mereka, berkatalah Abdulloh pada teman-temannya: “Duduklah kalian di tempat kalian, karena aku akan berangkat dan mendekati penjaga pintu gerbangnya dengan pelan-pelan, barangkali aku bisa masuk.” Lalu dia maju ke depan hingga mendekati pintu, lalu dia menyarungkan bajunya ke kepalanya seakan-akan dia sedang membuang hajat, dan orang-orang telah masuk. Maka penjaga pintu memanggilnya: “Wahai hamba Alloh, jika engkau ingin masuk, maka masuklah, karena aku mau menutup pintu.”

Abdulloh bercerita: Maka akupun masuk dan bersembunyi. Ketika orang-orang telah masuk diapun menutup pintu lalu menggantungkan kunci-kunci ke tali. Lalu aku bangkit ke gantungan kunci tadi dan mengambilnya lalu aku buka pintu tadi. Abu Rofi’ biasa orang-orang begadang di tempatnya, dan dia tinggal di kamarnya. Manakala orang-orang yang begadang telah meninggalkannya, akupun naik menuju ke arahnya. Mulailah aku setiap kali aku membuka satu pintu, aku kunci dia dari dalam. Aku berkata: “Jika mereka mengejarku, mereka tak akan bisa sampai ke tempatku sampai aku membunuh orang ini.” Lalu aku sampai ke tempat Abu Rofi’. Ternyata dia ada di dalam rumah yang gelap di tengah-tengah keluarganya. Aku tak tahu di mana dia di dalam rumah ini. Maka aku berkata: “Wahai Abu Rofi’.” Dia menjawab: “Siapakah ini?” maka aku mendekati arah suara tadi seraya memukulnya dengan pedang dalam keadaan aku tergoncang. Ternyata hantamanku belum berhasil. Diapun berteriak. Maka akupun keluar dari rumah dan diam tidak jauh dari rumah itu, lalu aku masuk kepadanya seraya berkata: “Suara apa ini wahai Abu Rofi’?” Dia menjawab: “Celaka ibumu, sungguh ada orang di dalam rumah ini yang memukulku dengan pedang baru saja.” Maka aku menghantamnya satu kali hingga di roboh tapi aku belum membunuhnya, lalu aku meletakkan ujung pedang ke perutnya hingga tembus ke punggungnya hingga aku tahu bahwasanya aku telah membunuhnya. Lalu aku membuka pintu-pintu satu persatu hingga tiba di tangga rumah, lalu aku meletakkan kakiku, dan aku mengira bahwasanya aku telah tiba di tanah, lalu aku terjatuh di malam yang diterangi bulan, hingga betisku patah. Maka aku membalutnya dengan sorban, kemudian aku berangkat hingga duduk di pintu seraya berkata: “Aku tak akan keluar pada malam ini hingga aku tahu bahwasanya aku telah membunuhnya.” Ketika ayam jago berkokok, bangkitlah penyampai berita duka berdiri di atas dinding seraya berkata: “Aku menyampaikan duka atas kematian Abu Rofi’ saudagar penduduk Hijaz!” Maka aku berangkat menemui teman-temanku seraya berkata: “Ayo kita cepat pergi, sungguh Alloh telah membunuh Abu Rofi’.” Maka aku tiba di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم lalu aku ceritakan kisah itu pada beliau. Lalu beliau bersabda: “Hamparkan kakimu.” Maka kuhamparkan kakiku, lalu beliau mengusapnya, maka seakan-akan aku tidak merasakan sakit sama sekali.” (HR. Al Bukhoriy (4039)).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan termasuk orang yang disebutkan bahwasanya dia itu dibunuh karena mengganggu Nabi صلى الله عليه وسلم adalah Abu Rofi’ bin Abil Hiqoiq Al Yahudiy. Dan kisahnya telah dikenal dan tersebar di kalangan ulama.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 157).

 

Hadits ketiga:

            Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما :

أن أعمى كانت له أم ولد تشتم النبي صلى الله عليه و سلم وتقع فيه، فينهاها فلا تنتهي، ويزجرها فلا تنزجر. قال: فلما كانت ذات ليلة جعلت تقع في النبي صلى الله عليه وسلم وتشتمه، فأخذ المغول -وهو السكين- فوضعه في بطنها، واتكأ عليها، فقتلها، فوقع بين رجليها طفل فلطخت ما هناك بالدم. فلما أصبح ذكر ذلك للنبي صلى الله عليه و سلم، فجمع الناس فقال: «أنشد الله رجلا فعل ما فعل لي عليه حق إلا قام» قال: فقام الأعمى يتخطى الناس، وهو يتزلزل حتى قعد بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله أنا صاحبها. كانت تشتمك، وتقع فيك، فأنهاها فلا تنتهي، وأزجرها فلا تنزجر. ولي منها ابنان مثل اللؤلؤتين، وكانت بي رفيقة. فلما كان البارحة جعلت تشتمك وتقع فيك، فأخذت المغول فوضعته في بطنها، واتكأت عليها حتى قتلتها. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «ألا اشهدوا أن دمها هدر». (أخرجه أبو داود (4361)، والبيهقي في “الكبرى” (7/ص60) وغيرهما، وصححه الإمام الوادعي رحمه الله في “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (2170)).

“Bahwasanya ada seorang buta yang punya ummul walad (budak yang melahirkan anak tuannya) yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم dan melanggar kehormatan beliau. Orang buta itu melarangnya tapi perempuan itu tak mau berhenti. Dia menghardiknya tapi dia tak mau menaati hardikan tadi. Manakala pada suatu malam mulailah perempuan itu melanggar kehormatan Nabi صلى الله عليه وسلم dan mencaci beliau, maka orang buta tadi mengambil pisau lalu meletakkannya di perut perempuan itu dan dia bertelekan di atasnya hingga membunuhnya. Maka jatuhlah di antara kedua kaki perempuan itu seorang bayi dengan berlumuran darah. Ketika masuk waktu pagi kejadian itu diceritakan pada Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau mengumpulkan orang-orang seraya bersabda: “Aku meminta dengan nama Alloh agar orang yang melakukan perbuatan tersebut, aku punya hak terhadapnya, untuk berdiri.” Maka orang buta itu bangkit dan berjalan melewati orang-orang sambil badannya bergoyang-goyang hingga duduk di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Wahai Rosululloh, saya adalah pemiliknya. Dia sering mencaci Anda dan melanggar kehormatan Anda. Saya larang dia tapi dia tak mau berhenti. Saya hardik dia tapi dia tak peduli. Saya punya dua anak darinya bagaikan dua butir mutiara. Dia selalu melayani saya. Tadi malam mulailah perempuan itu melanggar kehormatan Anda dan mencaci beliau, maka saya mengambil pisau lalu meletakkannya di perut perempuan itu dan dia bertelekan di atasnya hingga saya membunuhnya. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ketahuilah saksikanlah bahwasanya darah perempuan tadi batal.” (HR. Abu Dawud (4361), Al Baihaqiy dalam “Al Kubro” (7/hal. 60) dan yang lainnya, dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمهالله dalam “Al Jami’ush Shohih” (2170)).

            Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Bab bolehnya membunuh orang yang mencaci beliau atau mencerca beliau lewat syair, perempuan ataupun lelaki.” (“As Sunanul Kubro”/7/hal. 60).

            Al Imam Asy Syinqithiy رحمه الله berkata: “Dan ini menunjukkan bahwasanya orang yang mencaci Alloh dan mencaci agama dan mencaci Rosul صلى الله عليه وسلم maka sesungguhnya dia itu batal darahnya, dan tidak diqishosh dari pembunuhnya.” (“Syarh Zadil Mustaqni’/14/hal. 90).

            Al Imam Al Mawardiy رحمه الله berkata: “Adapun cacian terhadap Rosululloh صل الله عليه وسلم maka itu termasuk perkara yang menyebabkan batalnya janji damai dan jaminan keamanan. Demikian pula cacian terhadap Al Qur’an.” (“Al Hawi Fi Fiqhisy Syafi’iy”/14/hal. 383).

            Ibnu Syas رحمه الله dari Malikiyyah berkata: “Jika salah seorang dari mereka menyindir Rosululloh صلى الله عليه وسلم atau yang lainnya dari kalangan para Nabi عليهم السلام dengan cacian, maka wajib untuk orang itu dibunuh, kecuali jika dia masuk Islam.” (“At Taj Wal Iklil Li Mukhtashor Kholil”/5/hal. 266).

            Muhammad Al Khirosyiy Al Malikiy رحمه الله berkata: “Dan demikian pula orang yang melaknat Nabi kita, atau seorang dari malaikat dengan kata kerja, atau yang lainnya, atau berangan-angan tertimpanya bahaya untuk yang dilaknat tadi, atau merendahkannya, yaitu: menisbatkannya kepada suatu aib, dan hal itu menyelisihi perkara yang dianggap baik secara akal atau syariat atau kebiasaan di dalam akhlaq atau agama, atau menuduhnya dengan menisbatkannya kepada zina, atau meniadakan nasabnya dari ayahnya, atau meremehkan haknya dengan berkata pada orang yang mengatakan padanya bahwasanya Nabi melarang kezholiman: “Aku tidak peduli dengan larangannya” dan yang seperti itu, atau dengan yang bukan sifat beliau seperti warna kulit hitam, ukuran pendek, atau yang seperti itu, maka orang itu boleh dibunuh.

            Demikian pula orang yang memberikan sifat kekurangan pada Nabi atau malaikat dengan menyebutkan perkara yang menunjukkan pada kekurangan, yang bukan pada badannya, tapi pada agamanya. Bahkan demikian pula jika penggambaran aib tadi pada badannya atau karakternya, yaitu: ciri  khasnya, tabiatnya yang beliau diciptakan di atas tabiat tadi. Atau juga mengurangi dari mertabatnya atau banyaknya ilmunya, atau zuhuhnya, atau sifat-sifat yang tidak boleh ada padanya seperti: tidak menyampaikan risalah, atau menisbatkan beliau pada perkara yang tidak sesuai dengan kedudukan beliau dengan metode celaan, seperti meniadakan dari beliau zuhud, atau berkata: “dia bukan orang Makkah atau bukan orang Hijaz”, karena penyifatan beliau dengan sifat yang tidak dikenal merupakan peniadaan bagi beliau dan pendustaan terhadap beliau, maka orang itu harus dibunuh.

            Ini semua telah disepakati oleh para ulama, imam agama, ahli fatwa sejak zaman Shohabat sampai seterusnya.

            Demikian pula orang yang dikatakan padanya: “dengan hak Rosululloh” lalu dia melaknat beliau sambil berkata: “Yang aku maksud dengan Rosulloh adalah kalajengking, karena kalajengking itu diutus kepada objek yang disengatnya,” maka orang ini harus dibunuh, dan tidak diterima ta’wil darinya.”

(selesai penukilan dari “Syarh Mukhtashor Kholil”/23/hal. 138-139).

            Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwasanya orang yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم harus dibunuh dan dibatalkan darahnya. Maka jika dia itu muslim, maka perbuatannya mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم itu merupakan kemurtadan sehingga dia harus dibunuh. Ibnu Baththol dan yang lainnya berkata: “Dia dimintai tobat.” Dan Ibnul Mundzir menukilkan dari Al Auza’iy dan Al Laits bahwasanya orang itu dimintai tobat. Jika dia itu orang kafir yang punya perjanjian damai, maka dia itu dibunuh kecuali jika dia masuk Islam.

            Dan Ibnul Mundzir menukilkan dari Al Laits, Al Auza’iy, Asy Syafi’iy, Ahmad dan Ishaq bahwasanya orang itu dibunuh juga tanpa dimintai tobat. Dan dari Al Hanafiyyah bahwasanya kafir yang mendapatkan janji keamanan itu (jika berbuat tadi) dihukum pukulan, dan tidak dibunuh. Ath Thohawiy berdalilkan bahwasanya Nabi صلى عليه وسلم tidak membunuh Yahudi yang mengatakan “As samu ‘alaik” (kecelakaan terhadapmu), seandainya ucapan ini dilentarkan seorang muslim pada beliau tentulah ini merupakan kemurtadan. Dan juga karena kekufuran yang ada pada mereka (kafir asli) itu lebih besar daripada cacian.

            Aku (Ash Shon’aniy) katakan: dan yang mendukung ini adalah bahwasanya kekufuran mereka terhadap beliau صلى الله عليه وسلم itu maknanya adalah bahwasanya beliau itu pendusta. Dan cacian apakah yang lebih keji daripada ini? Dan mereka telah diakui untuk itu (yaitu diizinkan tinggal di negri muslimin dalam keadaan mereka tetap kafir terhadap beliau dan mendustakan beliau). Hanya saja bisa dijawab: sesungguhnya nash yang ada pada hadits budak perempuan tadi, maka ahludz dzimmah diqiyaskan kepadanya.

            Adapun perdapat bahwasanya darah mereka hanyalah terjaga dengan perjanjian damai, dan tidak ada dalam perjanjian tersebeut bahwasanya mereka boleh mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم maka barangsiapa mencaci beliau dari mereka maka batallah perjanjiannya sehingga dia menjadi kafir tanpa perjanjian sehingga darahnya dibatalkan, maka pendapat ini telah dijawab dengan: bahwasanya perjanjian mereka itu mengandung pengakuan untuk mereka mendustakan beliau صلى الله عليه وسلم , dan itu adalah cacian yang terbesar. Hanya saja ini bisa dijawab juga: pendustaan tadi dikhususkan dari jenis-jenis cacian yang lain. Wallohua’lam.”

(selesai penukilan dari “Subulus Salam”/5/hal. 480-481).

            Ini tadi adalah jawaban Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله terhadap kerumitan yang dilontarkan oleh pengikut Abu Hanifah رحمه الله . Dan ini akan dijawab juga oleh para imam yang lain sebagai berikut:

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka jika dikatakan: Ahlu dzimmah telah akui mereka untuk tetap di atas agama mereka, dan termasuk dari agama mereka adalah menghalalkan untuk mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم. Maka jika mereka mengucapkan yang demikian itu, tidaklah mereka mengucapkan selain perkara yang kita akui mereka ada di atasnya. Dan ini inti alasan para penyelisih.

            Kita jawab: dan termasuk dari agama mereka adalah menghalalkan peperangan terhadap muslimin, mengambil harta mereka dan memerangi mereka dengan seluruh jalan. Tapi bersamaan dengan itu mereka tidak berhak untuk mengerjakan itu setelah terbentuknya perjanjian. Dan kapan saja mereka melakukan itu berarti mereka telah membatalkan perjanjian. Dan yang demikian itu dikarenakan kita meskipun kita mengakui mereka untuk tetap di atas keyakinan mereka dan menyembunyikan apa yang mereka ingin sembunyikan, tapi kita tidak mengakui mereka untuk menampakkan hal itu dan berbicara dengan keyakinan itu di antara Muslimin. Dan kita tidak menyatakan batalnya perjanjian dari orang yang mencaci, sampai kita mendengar dia mengucapkan cacian tadi, atau kaum muslimin bersaksi tentang itu. Dan kapan saja hal itu terjadi, berarti dia telah menampakkannya dan mengumumkannya. Jawaban yang benar adalah: bahwasanya kedua kalimat pendahuluan orang tadi adalah batil.

            Adapun ucapan dia: “Kami tetapkan mereka di atas agama mereka”, maka dijawab sebagai berikut: jika kita menetapkan mereka di atas seluruh perkara yang mereka beragama dengannya tentulah mereka itu berada pada posisi pemeluk agama mereka yang memerangi Islam. Dan jika kami menetapkan mereka di atas apapun yang mereka beragama dengannya lalu mereka tidak dihukum dikarenakan mereka menampakkan agama mereka dan menampakkan cercaan pada agama kita, padahal tiada perselisihan bahwasanya mereka itu dihukum dengan sebab itu. Dan andaikata kita menetapkan mereka di atas agama mereka secara mutlak pastilah kita aku mereka untuk meruntuhkan masjid-masjid, membakar mushaf-mushaf dan membunuh para ulama dan sholihin, maka sesungguhnya perkara yang mereka beragama dengannya yang berupa gangguan terhadap muslimin itu banyak. Dan kesalahan itu jika tersembunyi, tidaklah dia itu membahayakan kecuali pelakunya.

            Kemudian, tiada perselisihan (di antara ulama) bahwasanya mereka itu tidak diakui untuk berbuat yang demikian tadi sedikitpun. Dan hanyalah kita mengakui mereka –sebagaimana ucapan Ghorfah ibnul Harits- untuk kita biarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan di antara mereka dengan perkara yang tidak mengganggu muslimin, tidak membahayakan mereka, dan kita tidak mengusik mereka dalam perkara yang tidak mereka tampakkan, karena sesungguhnya dosa itu jika tersembunyi, dia itu tidak membahayakan kecuali pelakunya sendiri. Tapi jika dosa tadi dikerjakan terang-terangan dan kita tidak mengingkarinya, maka dosa tadi akan membahayakan masyarakat keseluruhan.

            Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang mengganggu atau membahayakan kita, sama saja apakah mereka menganggapnya halal ataukah tidak menghalalkannya. Maka kapan saja mereka mengganggu Alloh dan Rosul-Nya, maka berarti mereka telah membatalkan perjanjian. Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk menaati hukum Islam sekalipun mereka berpandangan bahwasanya hal itu tidak diharuskan dalam agama mereka.

            Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk membayar jizyah, sekalipun mereka meyakini bahwasanya pengambilannya dari mereka itu harom. Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk menyembunyikan agama mereka, maka mereka tidak menampakkan suara-suara dengan kitab mereka ataupun jenazah-jenazah mereka, ataupun memukul naqus([5]) . Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk tidak meninggi melebihi muslimin, dan untuk menyelisihi gaya muslimin pada sisi yang dengannya mereka berbeda dengan muslimin, dan agar mereka itu menjadi hina dengan pembedaan tadi. Dan syarat-syarat yang lain yang mereka meyakini bahwasanya hal itu tidak wajib bagi mereka pada agama mereka. Maka telah diketahui bahwasanya kita mensyaratkan pada mereka untuk meninggalkan banyak perkara yang mereka yakini sebagai bagian dari agama mereka, baik itu boleh ataukah wajib. Dan kita mensyaratkan pada mereka untuk mengerjakan banyak perkara yang mereka yakini bukan sebagai bagian dari agama mereka. Maka bagaimana dikatakan bahwasanya kita mengakui mereka untuk tetap di atas agama mereka secara mutlak?” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 249).

            Dan Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “… darah mereka tidak terjaga kecuali dengan perjanjian damai. Dan tidak ada dalam perjanjian tersebut bahwasanya mereka boleh mencaci Nabi صلى الله عليه وآله وسلم . Maka barangsiapa mencaci beliau berarti dia telah melanggar perjanjian sehingga batallah perjanjiannya tadi sehingga jadilah dia itu orang kafir yang tanpa perjanjian sehingga darahnya juga batal, kecuali jika dia masuk Islam. Dan yang mendukung pendapat ini adalah: seandainya setiap perkara yang mereka yakini itu mereka tidak boleh dihukum dengannya, pastilah jika mereka membunuh seorang muslim, mereka tidak boleh dibunuh, karena dalam keyakinan mereka darah muslimin itu halal. Bersamaan dengan itu jika ada satu orang dari mereka membunuh seorang muslim, maka dia akan dibunuh.

            Jika dikatakan: hanyalah dia itu dibunuh karena membunuh seorang muslim adalah dalam bab qishosh (pembalasan yang setimbang), dengan dalil: dia itu dibunuh karena membunuh seorang muslim. Jika dia masuk Islam meskipun dia telah mencaci (Nabi) lalu masuk Islam, dia tidak dibunuh.

            Kita (Asy Syaukaniy) katakan: perbedaan di antara keduanya adalah: bahwasanya pembunuhan terhadap seorang muslim itu adalah terkait dengan hak anak Adam, sehingga darahnya tidak dibatalkan. Adapun cacian tadi, maka sesungguhnya kewajiban untuk membunuh pelakunya itu adalah kembali kepada hak agama sehingga ini bisa gugur dengan pelakunya masuk Islam. Yang nampak bagiku adalah bahwasanya orang Yahudi (yang bilang: as samu ‘alaik)  tadi tidak dibunuh hanyalah dalam rangka untuk kemaslahatan pelunakan hati, atau karena mereka tidak mengumumkan itu, atau dengan dua alasan tadi sekaligus, dan ini lebih utama, sebagaimana kata Al Hafizh (Ibnu Hajar).” (“Nailul Author”/7/hal. 209).

            Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Maka kami merenungkan makna yang dengannya wajib membunuh orang dzimmi jika dia mencaci Alloh ta’ala atau Rosul-Nya صلى الله عليه وآله وسلم atau meremehkan sesuatu dari agama Islam, maka kami mendapatinya sebagai pembatalan jaminan keamanan, karena orang tadi hanyalah dijamin dan dilindungi darahnya dengan jizyah (upeti) dalam keadaan hina, Alloh ta’ala berfirman:

﴿قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الآخر ولا يحرمون ما حرم الله الآية إلى قوله: ﴿وهم صاغرون

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman pada Alloh dan hari Akhir dan tidak mengharomkan apa yang diharomkan Alloh” –sampai pada firman-Nya:- “dalam keadaan mereka hina.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ [التوبة: 12].

“Dan jika mereka melanggar perjanjian damai mereka setelah perjanjian itu dibuat dan mereka mencela agama kalian, maka perangilah para pemimpin kekufuran.”

            Maka kedua ayat ini menjadi nash yang jelas yang tidak mengandung penakwilan untuk menjelaskan apa yang kami katakan bahwasanya Ahlul Kitab itu diperangi dan dibunuh sampai mereka memberikan jizyah, dan bahwasanya mereka itu jika diberi perjanjian perdamaian dan telah sempurna perjanjian mereka itu, dan mereka mencela agama kita, maka sungguh mereka telah membatalkan perjanjian mereka dan melanggar sumpah perdamaian, dan kembalilan hukum peperangan terhadap mereka sebagaimana dulunya.

            Dan dengan kepastian indra dan penglihatan kita ketahui bahwasanya mereka itu jika mengumumkan cacian terhadap Alloh ta’ala atau cacian terhadap Rosululloh صلى الله عليه وآله وسلم atau sedikit saja dari agama ini, atau mencaci seorang muslim dengan sesuatu yang melanggar kehormatan manusia, maka sungguh mereka telah berpisah dengan kehinaan, bahkan mereka telah menghinakan kita dan merendahkan kita, serta mencerca agama kita. Maka dengan itu mereka telah membatalkan perjanjian mereka, dan membatalkan jaminan mereka. Dan jika mereka telah membatalkan jaminan mereka maka halallah darah mereka dan untuk menawan mereka serta mengambil harta mereka tanpa keraguan.” (“Al Muhalla”/11/hal. 864-865).

            Al Imam ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tiada keraguan bahwasanya barangsiapa dari ahli dzimmah menampakkan cercaan pada Nabi صلى الله عليه وسلم maka sungguh dia telah membikin murka mukminin dan menyakiti mereka melebihi penumpahan darah sebagian dari mereka atau pengambilan harta mereka, karena hal ini sungguh menggerakkan kemarahan untuk Alloh dan fanatisme untuk-Nya dan untuk Rosul-Nya. Dan ukuran ini tidak ada kemurkaan yang menggerakkan hati mukmin lebih banyak dari itu. Bahkan mukmin yang lurus itu tidak marah dengan kemarahan seperti ini kecuali karena Alloh dan Rosul-Nya. Dan Alloh Yang Mahasuci menyukai pemuasan hati mukminin dan hilangnya kemurkaan hati mereka. Dan ini hanyalah bisa dihasilkan dengan membunuh orang yang mencaci itu, ditinjau dari beberapa sisi:

            Sisi pertama: bahwasanya pendidikannya dengan pemukulan itu bisa menghilangkan kemurkaan hati kaum mukminin jika orang tadi mencerca satu orang dari muslimin. Seandainya pelajaran dengan pemukulan itu bisa menghilangkan kemurkaan hati kaum mukminin jika orang tadi mencaci Rosul, niscaya kemurkaan mereka terhadap orang yang mencaci Nabi mereka sama seperti kemurkaan mereka terhadap orang yang mencaci satu orang dari mereka, dan ini adalah batil secara pasti.

            Sisi kedua: bahwasanya cercaan terhadap beliau menurut muslimin itu lebih besar daripada penumpahan darah sebagian dari mereka terhadap sebagian yang lain. Kemudian jika satu orang dari muslimin terbunuh, maka hati mereka tidak puas kecuali dengan membunuh pelakunya. Maka dari itu: tidak puasnya hati mereka kecuali dengan membunuh pencaci Rosul itu adalah lebih utama dan lebih pantas lagi.

            Ketiga: Alloh menjadikan pembunuhan terhadap mereka itu merupakan sebab dihasilkannya kepuasan hati. Dan pada asalnya adalah: tidak ada sebab yang lain yang menghasilkan kepuasan itu, maka wajib untuk pembunuhan dan peperangan itulah yang menjadi pemuas hati mukminin dari perbuatan semisal itu.

            Keempat: bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم ketika Makkah dan beliau ingin memuaskan hati bani Khuza’ah –dan mereka adalah kaum mukminin- terhadap bani Bakr yang memerangi mereka, beliau memberi mereka kesempatan untuk membalas memerangi mereka selama setengah hari atau lebih bersamaan dengan pengamanan beliau untuk seluruh manusia.

            Maka jika kesembuhan hati mereka dan hilangnya kemurkaan hati mereka itu dihasilkan dengan tanpa pembunuhan terhadap orang-orang yang membatalkan atau mencaci, tentulah beliau tidak melakukan itu tadi bersamaan dengan pengamanan beliau untuk seluruh manusia.” (“Ahkam Ahlidz Dzimmah”/hal. 262).

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan adapun orang dzimmiy, maka dia itu harus dibunuh jika dia mencaci Alloh atau mencaci Rosul, kecuali jika dia masuk Islam. Dan telah dikatakan: setiap orang yang mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم dia itu harus dibunuh, baik dia itu muslim atau dzimmiy. Yang penting, kedua pendapat ini diriwayatkan dari Malik, disebutkan oleh Ibnu Abdil Hakam dan yang lainnya. Dan seharusnya kita mensyaratkan pada setiap dzimmiy dalam perjanjiannya untuk tidak mencaci Nabi صلى الله عليه وسلم secara terang-terangan di hadapan seorang muslim. Jika dia berbuat itu maka dia itu dibunuh karena dia membatalkan perjanjian.” (“Al Kafi Fi Fiqhi Ahli Madinah”/karya Ibnu Abdil Barr).

 

Bab Tujuh:

Risalah Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله Tentang “Kasus Film Denmark”

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembelaan Untuk Rosul Pilihan

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم . أما بعد :

            Sungguh sarana media masa yang berupa koran-koran dan yang lainnya telah menyebarkan berita yang menyakitkan dan melukai itu yang muncul dari para musuh Islam yang memendam permusuhan dan membalas dendam kepada Islam dan pemeluknya. Perbuatan-perbuatan tersebut yang di dalamnya ada cercaan terhadap Rosululloh Muhammad صلى الله عليه وسلم dan menjelek-jelekkan risalah beliau dari arah individu dan yayasan-yayasan Kristen yang memendam permusuhan, dan dari arah sebagian penulis yang memendam permusuhan yang serampangan seperti penulis Koran Denmark “Jailand Boston” yang juru tulisnya menghina manusia yang paling utama dan Rosul yang paling sempurna Muhammad عليه الصلاة والسلام yang mana dunia tidak mengetahui ada orang yang lebih pintar dan lebih mulia daripada beliau secara akhlaq, keadilan dan kasih sayang. Dan dunia tidak mengetahui ada risalah yang paling sempurna, paling menyeluruh, paling adil dan paling menyayangi daripada risalah beliau. Risalah beliau ini mengandung keimanan kepada seluruh Nabi dan Rosul, menghormati mereka dan melindungi mereka dari cercaan dan penghinaan, dan hakikat sejarah mereka dijaga, dan di antara mereka adalah Isa dan Musa. Maka barangsiapa kafir terhadap Muhammad dan menghinakan beliau, maka sungguh dia itu telah kafir kepada mereka dan menghina mereka seluruhnya.

            Dan sungguh orang-orang tolol yang liar telah menghina beliau dengan menggambar beliau dengan bermacam-macam gambar. Ada dua belas (12) gambar yang mengerikan, salah satunya menampakkan bahwasanya Muhammad صلى الله عليه وسلم memakai sorban yang menyerupai granat di atas kepala beliau.

            Dan kami katakan kepada para penjahat itu dan orang-orang yang ada di belakang mereka dari kalangan para pendendam di Eropa dan Amerika: “Dia itu menuduhku dengan penyakit yang ada padanya dan dia meloloskan diri.” Maka Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para Khulafa beliau yang terbimbing dan para Shohabatnya yang paling mulia tidaklah mereka itu membangun pabrik-pabrik sampai bahkan untuk senjata-senjata tradisional seperti pedang dan tombak, lebih-lebih lagi semacam bom nuklir dan rudal antar benua serta seluruh senjata pemusnah masal. Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak membangun satu pabrikpun karena beliau itu diutus sebagai kasih sayang bagi alam semesta dan petunjuk bagi seluruh manusia kepada perkara yang membahagiakan mereka di dunia mereka dan akhirat mereka, dan agar mereka menegakkan hak Pencipta mereka yang menciptakan mereka untuk mereka itu beribadah pada-Nya. Maka barangsiapa enggan melaksanakan itu maka dia itu adalah orang jahat yang berhak untuk mendapatkan hukuman di dunia dan akhirat dari Robbul alamin Pemimpin alam semesta dan Penciptanya.

            Adapun kalian wahai orang-orang Barat yang mengaku punya peradaban yang maju, kami katakan: sesungguhnya di sisi kalian ada undang-undang dan peraturan yang menghancurkan akhlaq dan membolehkan beraneka ragam keharoman, di antaranya adalah zina, penyelewengan jenis kelamin, dan di antaranya juga riba yang menghancurkan ekonomi umat, dan di antaranya juga pembolehan makan bangkai dan daging babi yang mewariskan hilangnya kecemburuan, sehingga seorang pria tidak cemburu terhadap istrinya, saudarinya, dan anak perempuannya, sehingga boleh baginya untuk berzina dan berpacaran dengan siapapun yang diinginkannya. Dan ini semua merupakan sarana kehancuran yang diharomkan oleh seluruh risalah. Adapun bom dan seluruh senjata perusak dan sarana-sarananya yang berupa pesawat tempur, tank dan peluru kendali antar benua, maka kalian adalah insinyurnya dan pembikinnya dengan akal setan kalian yang tidak berpikir kecuali tentang kezholiman, permusuhan, keganasan, melampaui batas, mendominasi berbagai ras manusia, memperbudak mereka, menumpahkan darah mereka, merampas kekayaan mereka, dan tidak memikirkan selain menghabisi orang yang melawan kalian dan berdiri di hadapan ketamakan dan kezholiman serta jiwa permusuhan kalian. Dan itu semua diselubungi dengan nama peradaban, hak kemanusiaan, kebebasan dan keadilan.

            Dan seluruh manusia yang berakal mengetahui ini ada pada kalian. Dan sejarah hitam kalian terhiasi dengan amalan kalian yang buas dan teroris. Itulah sejarah yang para musuh dan sahabat mencatatnya untuk kalian. Dan barangsiapa tidak mengetahui yang demikian itu hendaknya dia membaca sejarah penjajahan kalian terhadap umat-umat, dan hendaknya dia mempelajari minimal sejarah dua perang dunia kalian dengan sebagian hasil-hasilnya, yang di antaranya adalah: jumlah orang yang terbunuh dalam perang dunia pertama di Eropa itu lebih dari sepuluh juta yang mana mereka adalah bunga pemuda bangsa milik mereka. Dan berlipat-lipat dari jumlah tadi jatuh sebagai korban luka-luka dan harus hidup lumpuh atau lemah hingga akhir hayatnya. Lihat “Sejarah Masa Kini Eropa Sejak Revolusi Perancis Hingga Perang Dunia Kedua” (hal. 505). Dan jumlah orang yang terbunuh dalam Perang Dunia Kedua mencapai tujuh belas juta jiwa tentara, dan delapan belas juta jiwa penduduk telah terbunuh sepanjang lima setengah tahun. Para ahli mengatakan bahwasanya beaya ketentaraan itu saja mencapai 1100 milyar dolar. Adapun kerugian yang disebabkan oleh perang tersebut mencapai 2100 milyar dolar, ditambah lagi kota-kota yang runtuh dan tanah yang terbakar serta kebun-kebun yang tergenang air, pabrik-pabrik dan pertanian yang berhenti beraktivitas serta ternak yang rusak dan binasa. (Selesai penukilan dari “Perang Dunia Kedua”/karya Romadhon Lanid/hal. 448-449).

            Bom Hiroshima.

            Penulis kitab “Perang Dunia Kedua” pada hal. 446-447 berkata: “Sesuai dengan bab ini, kita akan sedikit berbicara tentang bom atom pertama ini. Kita akan mengulang apa yang datang dari ucapan seorang penduduk Jepang saat berbicara bersama Marsekal Juno, perwakilan dari Palang Merah, tentang materi ledakan yang mengerikan tersebut. Dia berkata: “Dan sebuah kejutan muncul di langit: cahaya panas seperti bunga dengan warna yang amat sangat mencengangkan, yang disertai dengan goncangan aneh, kemudian langsung disusul dengan gelombang panas yang mencekik dan angin topan yang memusnahkan segala yang didapati di depannya. Sebentar kemudian ribuan orang yang berjalan di jalanan atau duduk-duduk di jalan umum di tengah kota terbakar. Banyak dari mereka yang terbunuh dengan panas tingkat tinggi yang tersebar di seluruh tempat. Dan yang lain tetap tinggal di muka bumi sambil berteriak kesakitan, pembakaran yang mematikan tersebar di badan mereka. Segala sesuatu yang ada di area ledakan –dinding, tempat tinggal, pabrik, dan bangunan yang lain- telah musnah dengan sempurna. Serpihan dari benda-benda tadi terus-menerus terlempar ke angkasa dengan menakutkan. Kendaraan-kendaraan listrik tercabut dari rel besinya dan terlempar seakan-akan kehilangan bobot dan keterpaduannya. Kereta api naik dengan relnya seakan-akan dia itu adalah kumpulan mainan anak-anak. Kuda, anjing, ternak mengalami apa yang dialami manusia. Seluruh benda hidup kehilangan kehidupannya dalam situasi yang menyakitkan yang susah digambarkan. Pepohonan hilang dalam kobaran api, kehilangan warna hijaunya, rerumpunan hijau terbakar sebagaimana terbakarnya jerami kering. Adapun yang di belakang zona maut rumah-rumahnya runtuh, dan jadilah seperti tumpukan dari kayu dan pondasi-pondasi batu. Segalanya runtuh seperti runtuhnya rumah karton di area berdiamater sepuluh kilometer.

            Adapun orang yang ditetapkan selamat dari kematian maka mereka mendapati diri mereka dikepung oleh tabir gejolak api. Adapun sedikit orang yang bisa berlindung di persembunyian, mereka mati setelah duapuluh hari atau tiga puluh hari karena kesakitan terkena pengaruh radiasi sinar Gamma yang mematikan. Dan di sore harinya mulailah api tersebut mengecil lalu padam karena tidak ada lagi di tempat itu yang bisa untuk dimakan oleh api-api tersebut. Kota Hiroshima telah musnah.” Selesai penukilan.

            Dan itu tadi sebagian dari alamat-alamat peradaban kalian yang kalian nyanyikan dan kalian banggakan serta kalian pamerkan kepada Islam dan kepada para pemeluknya. Dan kalian senantiasa bertambah dalam jenis-jenis kezholiman dan perusakan, dan kalian teru-menerus dalam pertambahan ide-ide dan sarana-sarana perusakan, kebinasaan dan pembinasaan serta kehancuran. Dan itu –demi Alloh- merupakan puncak kebuasan dan peri kehewanan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً (الفرقان:44)

“Apakah engkau mengira bahwasanya kebanyakan mereka itu mendengar atau berakal? Tidaklah mereka itu kecuali seperti ternak. Bahkan mereka itu lebih sesat jalannya.”

            Maka jadikanlah bom-bom kalian, dan di antaranya adalah bom Hiroshima dan saudara-saudaranya sebagai mahkota untuk kalian dan untuk para pemimpin kalian. Dan jadikanlah seluruh sarana kebinasaan massal sebagai taring-taring dan cakar bagi kalian yang dengannya kalian menerkam binatang liar dan manusia.

﴿وسيعلم الذين ظلموا أيّ منقلب ينقلبون.

“Dan orang-orang yang zholim itu akan mengetahui kemanakah mereka itu akan kembali.”

Ditulis oleh:

Robi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkholiy

28/12/1426 H

 

Bab Delapan:

Besarnya Rasa Cinta Kaum Mukminin Kepada Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم , dan Pengorbanan Mereka Demi Alloh dan Rosul-Nya

 

            Dan dikarenakan kebaikan Nabi صلى الله عليه وسلم dan banyaknya jasa beliau untuk umat ini, dan juga karena sebab-sebab yang lain, maka para Shohabat رضي الله عنهم  dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, mereka mencintai Rosululloh صلى الله عليه وسلم lebih besar daripada kecintaan mereka pada diri mereka sendiri, keluarga mereka dan harta mereka.

            Maka termasuk perkara yang menunjukkan besarnya kecintaan para Shohabat pada Rosululloh صلى الله وعليه وسلم adalah: pelayanan Abu Bakr Ash Shiddiq untuk beliau ketika hijroh. Dari Abu Bakr رضي الله عنه yang berkata:

أسرينا ليلتنا ، ومن الغد حتى قام قائم الظهيرة ، وخلا الطريق لا يمر فيه أحد ، فرفعت لنا صخرة طويلة ، لها ظل لم تأت عليه الشمس فنزلنا عنده ، وسويت للنبي – صلى الله عليه وسلم – مكانا بيدي ينام عليه ، وبسطت فيه فروة ، وقلت: نم يا رسول الله ، وأنا أنفض لك ما حولك . فنام وخرجت أنفض ما حوله ، فإذا أنا براع مقبل بغنمه إلى الصخرة يريد منها مثل الذي أردنا، فقلت: لمن أنت يا غلام؟ فقال: لرجل من أهل المدينة أو مكة . قلت: أفي غنمك لبن؟ قال: نعم . قلت: أفتحلب؟ قال: نعم . فأخذ شاة . فقلت: انفض الضرع من التراب والشعر والقذى. قال: فرأيت البراء يضرب إحدى يديه على الأخرى ينفض ، فحلب في قعب كثبة من لبن ، ومعي إداوة حملتها للنبي – صلى الله عليه وسلم – يرتوى منها، يشرب ويتوضأ، فأتيت النبي – صلى الله عليه وسلم – فكرهت أن أوقظه، فوافقته حين استيقظ، فصببت من الماء على اللبن حتى برد أسفله، فقلت: اشرب يا رسول الله – قال – فشرب، حتى رضيت . الحديث .

“Kami berjalan di malam hari hingga pada pagi harinya sampai tengah hari. Dan jalanan kosong, tiada seorangpun yang lewat. Lalu tampaklah di depan kami sebongkah batu karang yang panjang yang memiliki naungan, tidak terkena sinar matahari. Maka kami singgah di situ, dan saya meratakan tempat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم dengan kedua tanganku untuk beliau tidur di situ. Dan aku hamparkan untuk beliau mantel bulu, dan aku katakan pada beliau: “Tidurlah wahai Rosululloh, saya akan membersihkan sekelilingnya.” Tiba-tiba saja aku melihat seorang penggembala kambing datang dengan kambing-kambingnya menuju batu karang ini, dia ingin berteduh seperti yang kami inginkan. Aku tanya: “Engkau itu milik siapa wahai bocah?” dia menjawab: “Saya adalah milik seorang dari penduduk Madinah atau Makkah.” Aku bertanya: “Apakah ada susu di kambingmu?” Dia menjawab: “Iya.” Aku tanya: “Bolehkah aku memerahnya?” Dia menjawab: “Boleh.” Maka dia mengambil seekor kambing. Kukatakan: “Bersihkanlah puting susunya dari debu, rambut dan kotoran.” –aku melihat Al Baro –rowi dari Abu Bakr- memukulkan salah satu tangannya kepada tangan yang lain untuk membersihkannya-. Lalu dia memerah susu sepenuh mangkok. Dan aku punya gayung yang aku bawa untuk Nabi صلى الله عليه وسلم meminum dan berwudhu darinya. Lalu aku mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم tapi aku tidak senang untuk membangunkan beliau. Kebetulan aku tiba ketika beliau bangun, maka aku menuangkan air ke dalam susu tadi hingga bagian bawahnya menjadi dingin. Kukatakan: “Minumlah wahai Rosululloh.” Lalu beliau meminumnya hingga aku merasa puas.” Hingga akhir hadits. (HR. Al Bukhoriy (3615) dan Muslim (7706)).

            Demikian pula penyambutan para Shohabat untuk beliau pada hari kedatangan beliau di Madinah:

… وسمع المسلمون بالمدينة مخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من مكة فكانوا يغدون كل غداة إلى الحرة فينتظرونه حتى يردهم حر الظهيرة فانقلبوا يوما بعد ما أطالوا انتظارهم، فلما أووا إلى بيوتهم أوفى رجل من يهود على أطم من آطامهم لأمر، ينظر إليه فبصر برسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه مبيضين يزول بهم السراب، فلم يملك اليهودي أن قال بأعلى صوته: يا معاشر العرب هذا جدكم الذي تنتظرون. فثار المسلمون إلى السلاح فتلقوا رسول الله صلى الله عليه وسلم بظهر الحرة فعدل بهم ذات اليمين حتى نزل بهم في بني عمرو بن عوف، وذلك يوم الاثنين من شهر ربيع الأول. فقام أبو بكر للناس وجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم صامتا فطفق من جاء من الأنصار ممن لم ير رسول الله صلى الله عليه وسلم يحيي أبا بكر حتى أصابت الشمس رسول الله صلى الله عليه وسلم فأقبل أبو بكر حتى ظلل عليه بردائه، فعرف الناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عند ذلك، … الحديث. (أخرجه البخاري (3906)).

“… kaum muslimin di Madinah telah mendengar keluarnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم dari Makkah, sehingga mereka setiap pagi keluar ke Harroh untuk menanti beliau, hingga panas matahari memaksa mereka pulang. Pada suatu hari mereka kembali setelah lama menanti beliau. Manakala mereka telah berteduh di dalam rumah mereka, naiklah seorang Yahudi ke atas salah satu benteng mereka karena suatu urusan. Lalu dia memandang hingga melihat Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan sahabatnya berwarna keputih-putihan tampak dan hilang karena fatamorgana. Maka si Yahudi itu tak bisa menguasai diri sehingga berkata dengan suaranya yang paling keras: “Wahai orang-orang Arob, inilah kemuliaan kalian yang kalian tunggu!” maka berhamburanlah muslimin mengambil senjata-senjata mereka, lalu mereka menyambut Rosululloh صلى الله عليه وسلم di atas Harroh, lalu beliau bersama mereka membelok ke kanan hingga tiba bersama mereka di Bani ‘Amr bin ‘Auf, dan ketika itu adalah hari Senin dari bulan Robi’ul Awwal. Lalu Abu Bakr bangkit menyambut orang-orang, sementara Rosululloh صلى الله عليه وسلم duduk terdiam. Maka orang-orang Anshor yang datang dan belum pernah melihat Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengucapkan selamat pada Abu Bakr, sampai matahari mengenai Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Maka Abu Bakr menghadap ke arah Rosululloh صلى الله عليه وسلم hingga menaungi beliau dengan selendangnya, maka orang-orangpun menjadi tahu Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika itu, …. Hingga akhir hadits. (HR. Al Bukhoriy (3906)).

            Abu Bakr رضي الله عنه berkata:

… فقدمنا المدينة ليلا فتنازعوا أيهم ينزل عليه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال: «أنزل على بني النجار أخوال عبدالمطلب أكرمهم بذلك» فصعد الرجال والنساء فوق البيوت وتفرق الغلمان والخدم في الطرق ينادون: يا محمد، يا رسول الله، يا محمد، يا رسول الله. (أخرجه مسلم (2009)).

“… maka kami tiba di Madinah pada malam hari. Lalu mereka berselisih, siapakah dari mereka yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم akan tinggal di rumahnya? Maka beliau bersabda: “Aku akan tinggal di Banin Najjar, paman dari Abdul Muththolib, dengan itu aku memuliakan mereka.” Maka para pria dan wanita naik ke atas rumah-rumah mereka, dan anak-anak serta para pembantu bertebaran di jalanan seraya berseru: “Ya Muhammad, ya Rosululloh! Ya Muhammad, ya Rosululloh!” (HR. Muslim (2009)).

            Dan mereka siap demi menjaga Nabi صلى الله عليه وسلم dan menjaga agama ini dengan harta, jiwa dan raga mereka. Dari Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه yang berkata:

قال المقداد يوم بدر: يا رسول الله إنا لا نقول لك كما قالت بنو إسرائيل لموسى: ﴿فاذهب أنت وربك فقاتلا إنا ها هنا قاعدون ولكن امض ونحن معك فكأنه سري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. (أخرجه البخاري (4609)).

Al Miqdad pada hari Badr berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya kami tidak berkata pada Anda seperti ucapan Bani Isroil pada Musa: “Maka pergilah Engkau dan Robbmu, lalu berperanglah kalian berdua sesungguhnya kami duduk di sini.

Akan tetapi berangkatlah Anda, dan kami akan bersamamu.” Maka seakan-akan Rosululloh صلى الله عليه وسلم merasa gembira dengan itu.

            Dan dari Anas رضي الله عنه yang berkata:

لما كان يوم أحد انهزم الناس عن النبي صلى الله عليه وسلم وأبو طلحة بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم محجوب به عليه بحجفة له، وكان أبو طلحة رجلا راميا شديد القد يكسر يومئذ قوسين أو ثلاثا. وكان الرجل يمر معه الجعبة من النبل فيقول: «انشرها لأبي طلحة» فأشرف النبي صلى الله عليه وسلم ينظر إلى القوم، فيقول أبو طلحة: يا نبي الله بأبي أنت وأمي لا تشرف يصيبك سهم من سهام القوم نحري دون نحرك. (أخرجه البخاري (3811) ومسلم (1811)).

“Ketika terjadi perang Uhud orang-orang terpukul mundur meninggalkan Nabi صلى الله عليه وسلم sementara Abu Tholhah ada di depan Nabi صلى الله عليه وسلم melindungi beliau dengan perisainya. Abu Tholhah ada seorang ahli panah yang keras tarikan tangannya. Pada hari itu dia mematahkan dua atau tiga busur panah. Ada seseorang yang lewat dengan membawa tabung berisi anak panah. Maka Nabi bersabda padanya: “Berikanlah tabung itu pada Abu Tholhah.” Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengangkat kepala melihat ke arah musuh. Maka Abu Tholhah berkata: “Wahai Nabi Alloh, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Janganlah Anda menaikkan kepala, nanti panah dari mereka bisa mengenai Anda. Leher saya untuk melindungi leher Anda.” (HR. Al Bukhoriy (3811) dan Muslim (1811)).

            Dari Aisyah رضي الله عنها :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: «اهجو قريشا فإنه أشد عليهم من رشق بالنبل». –إلى قولها:- فسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لحسان: «إن روح القدس لا يزال يؤيدك ما نافحت عن الله ورسوله ». وقالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «هجاهم حسان فشفى واشتفى». قال حسان:

 هجوت محمدا فأجبت عنه … وعند الله في ذاك الجزاء

 هجوت محمدا برا تقيا … رسول الله شيمته الوفاء

 فإن أبي ووالده وعرضي … لعرض محمد منكم وقاء

الحديث. (أخرجه مسلم (2490). وأصل الحديث عند البخاري (4141)).

“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Seranglah Quroisy dengan syair, karena sesungguhnya syair itu lebih keras bagi mereka daripada tembakan panah.” –sampai pada ucapannya:- maka aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda pada Hassan: “Sesungguhnya Ruhul Quds terus-menerus mendukungmu selama engkau membela Alloh dan Rosul-Nya.” Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Mereka dihantam dengan syair oleh Hassan lalu dia memuaskan dan merasa puas.” Hassan berkata:

Engkau menyerang Muhammad maka aku menjawab untuknya

Dan di sisi Alloh ada pahala dalam jawaban itu.

Engkau menyerang Muhammad yang berbakti dan bertaqwa

Utusan Alloh, ciri khasnya adalah memenuhi janji.

Maka sesungguhnya ayahku, ayah ayahku dan kehormatanku

Sebagai perlindungan untuk kehormatan Muhammad dari kalian.

Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (2490). Asal hadits diriwayatkan Al Bukhoriy (4141)).

            Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه tentang kisah terbunuhnya Khubaib bin Adi رضي الله عنه :

… فلما خرجوا من الحرم ليقتلوه في الحل قال لهم خبيب: ذروني أركع ركعتين. فتركوه فركع ركعتين ثم قال: لولا أن تظنوا أن ما بي جزع لطولتها. اللهم أحصهم عددا.

ما أبالي حين أقتل مسلما على أي شق كان لله مصرعي

وذلك في ذات الإله وإن يشأ يبارك على أوصال شلو ممزع

فقتله ابن الحارث. فكان خبيب هو سن الركعتين لكل امرئ مسلم قتل صبرا

“… manakala mereka keluar dari tanah suci untuk membunuhnya di tanah halal, Khubaib berkata pada mereka: “Biarkanlah aku sholat dua rekaat. Maka mereka membiarkannya sholat dua rekaat, lalu beliau berkata: “Jika bukan karena kalian menyangka bahwasanya aku merasa takut pastilah aku akan memanjangkan sholat. Ya Alloh hitunglah jumlah mereka semuanya.

Dan tidaklah aku peduli manakala aku terbunuh sebagai seorang muslim,

di tempat manakah terkaparnya aku untuk Alloh.

Dan yang demikian itu adalah demi Dzat sesembahanku,

dan jika Dia menghendaki Dia akan memberkahi jasad yang terpotong-potong.”

Lalu beliau dibunuh oleh Ibnul Harits. Dan Khubaib itulah yang mensunnahkan sholat dua rekaat untuk setiap muslim yang dibunuh dalam penawanan.” (HR. Al Bukhoriy (3045)).

            Dan perpisahan dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu merupakan kesulitan yang terbesar bagi para Shohabat. Dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جلس على المنبر فقال: «إن عبدا خيره الله بين أن يؤتيه من زهرة الدنيا ما شاء وبين ما عنده فاختار ما عنده». فبكى أبو بكر وقال: فديناك بآبائنا وأمهاتنا. فعجبنا له وقال الناس: انظروا إلى هذا الشيخ يخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عبد خيره الله بين أن يؤتيه من زهرة الدنيا وبين ما عنده وهو يقول: فديناك بآبائنا وأمهاتنا. فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو المخير، وكان أبو بكر هو أعلمنا به. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن من أمن الناس علي في صحبته وماله أبا بكر، ولو كنت متخذا خليلا من أمتي لاتخذت أبا بكر إلا خلة الإسلام لا يبقين في المسجد خوخة إلا خوخة أبي بكر». (أخرجه البخاري (3904) ومسلم (2382)).

bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم duduk di mimbar seraya bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang Alloh kasih pilihan antara Dia memberinya perhiasan dunia sekehendaknya dan antara apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.” Maka Abu Bakr menangis dan berkata: “Kami menebus Anda dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami.” Maka kami merasa heran dengan Abu Bakr. Orang-orang berkata: “Lihatlah syaikh ini. Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengabarkan tentang seorang hamba yang Alloh kasih pilihan antara Dia memberinya perhiasan dunia sekehendaknya dan antara apa yang ada di sisi-Nya, sementara syaikh ini berkata: “Kami menebus Anda dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم itulah yang tengah dikasih pilihan. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling tahu tentang beliau. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakr. Seandainya aku mengambil seorang kekasih dari umatku, pastilah aku mengambil Abu Bakr sebagai kekasih. Akan tetapi kasih sayang dalam Islam. Tidak ada satupun pintu ke masjid yang tersisa kecuali pintu Abu Bakr.” (HR. Al Bukhoriy (3904) dan Muslim (2382)).

            Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، والله إنك لأحب إلي من نفسي، وإنك لأحب إلي من أهلي ومالي، وأحب إلي من ولدي. وإني لأكون في البيت فأذكرك فما أصبر حتى آتيك فأنظر إليك. وإذا ذكرت موتي وموتك عرفت أنك إذا دخلت الجنة رفعت مع النبيين، وإني إذا دخلت الجنة خشيت أن لا أراك. فلم يرد عليه النبي صلى الله عليه وسلم شيئا حتى نزل جبريل عليه السلام بهذه الآية: ﴿ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين الآية. (أخرجه الطبراني في “الصغير” رقم (52). والحديث حسن لغيره. انظر “الصحيح المسند في أسباب النزول” للإمام الوادعي رحمه الله /ص78-79).

“Ada seseorang yang datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Wahai Rosululloh, demi Alloh, sesungguhnya Anda benar-benar lebih saya cintai daripada diri saya sendiri. Dan sesungguhnya Anda benar-benar lebih saya cintai daripada istri dan harta saya, dan lebih saya cintai daripada anak saya. Dan sesungguhnya saya jika ada di dalam rumah, lalu saya mengingat Anda, maka saya tidak sabar sampai saya mendatangi Anda lalu saya melihat Anda. Dan jika saya mengingat kematian saya dan kematian Anda, saya tahu bahwasanya Anda jika telah masuk Jannah, Anda ada diangkat bersama para Nabi, sementara saya jika masuk Jannah saya takut untuk tidak melihat Anda.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم tidak menjawabnya sedikitpun hingga Jibril عليه السلام turun dengan membawa ayat ini:

]وَمَنْ يُطِعِ الله وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ الله عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا[ [النساء/69]

“Dan barangsiapa taat pada Alloh dan Rosul, maka mereka bersama dengan orang-orang yang Alloh beri nikmat pada mereka dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada dan Sholihin. Dan mereka itulah teman seiring yang baik.”

(HR. Ath Thobroniy di “Ash Shoghir” no. 52. Hadits ini hasan dengan pendukungnya. Lihat “Ash Shohihul Musnad Fi Asbabin Nuzul”/Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله/hal. 78-79).

            Dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه yang berkata:

لما بعثه رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى اليمن خرج معه رسول الله صلى الله عليه وسلم، يوصيه ومعاذ راكب، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يمشي تحت راحلته، فلما فرغ قال: «يا معاذ إنك عسى أن لا تلقاني بعد عامي هذا أو لعلك أن تمر بمسجدي هذا أو قبري» فبكى معاذ جشعا لفراق رسول الله صلى الله عليه وسلم. ثم التفت فأقبل بوجهه نحو المدينة فقال: «إن أولى الناس بي المتقون من كانوا وحيث كانوا».

“Ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengutus Mu’adz ke Yaman, Rosululloh صلى الله عليه وسلم keluar bersamanya. Beliau memberinya wasiat dalam keadaan dia naik kendaraan sementara Rosululloh صلى الله عليه وسلم berjalan kaki di bawah kendaraan Mu’adz. Setelah selesai berwasiat beliau bersabda: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya engkau mungkin tak akan lagi berjumpa denganku setelah tahun ini. Atau barangkali engkau akan melewati masjidku ini atau kuburanku.” Maka Mu’adz menangis sangat sedih berpisah dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Kemudian beliau berpaling dengan wajah beliau ke arah Madinah seraya bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku adalah orang-orang yang bertaqwa, siapapun dia dan di manapun dia berada.” (HR. Ahmad (22052), dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمهالله dalam “Ash Shohihul Musnad” (1108)).

            Dan tidaklah para Shohabat tertimpa suatu musibah yang lebih besar bagi hati mereka melebihi wafatnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم.

            Dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata:

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مات وأبو بكر بالسنح – قال أحد الرواة: يعني بالعالية – فقام عمر يقول: والله ما مات رسول الله صلى الله عليه وسلم. قالت: وقال عمر: والله ما كان يقع في نفسي إلا ذاك وليبعثنه الله فليقطعن أيدى رجال وأرجلهم . فجاء أبو بكر فكشف عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقبله قال: بأبي أنت وأمي طبت حيا وميتا، والذي نفسي بيده لا يذيقك الله الموتتين أبدا. ثم خرج فقال: أيها الحالف على رسلك . فلما تكلم أبو بكر جلس عمر . فحمد الله أبو بكر وأثنى عليه وقال: ألا من كان يعبد محمدا – صلى الله عليه وسلم – فإن محمدا قد مات ، ومن كان يعبد الله فإن الله حي لا يموت . وقال: ﴿إنك ميت وإنهم ميتون﴾ وقال: ﴿وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزى الله الشاكرين﴾ قال: فنشج الناس يبكون. (أخرجه البخاري (3667)).

Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم sementara Abu Bakr ada di Sanh  –salah satu rowi berkata: yaitu di dataran tinggi Madinah- maka Umar berdiri dan berkata: “Demi Alloh, Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak meninggal.” Umar berkata: “Demi Alloh, tidaklah terbetik di hatiku kecuali itu. Dan pastilah Alloh akan membangkitkan beliau lalu beliau pasti akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka.” Lalu datanglah Abu Bakr, lalu dia menyingkapkan kain dari wajah Rosululloh صلى الله عليه وسلم, lalu dia menciumnya seraya berkata: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Engkau harum saat hidup dan mati. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, Alloh tak akan menjadikan engkau merasakan kematian dua kali selamanya.” Lalu dia keluar seraya berkata: “Wahai orang yang bersumpah, tenanglah dulu.” Ketika Abu Bakr berbicara, Umarpun duduk. Lalu Abu Bakr memuji Alloh dan menyanjung-Nya dan berkata: “Ketahuilah, barangsiapa menyembah Muhammad صلى الله عليه وسلم maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Alloh maka sesungguhnya Alloh itu hidup dan tidak mati. Alloh berfirman:

﴿إنك ميت وإنهم ميتون﴾

“Sesungguhnya Engkau akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati.”

Juga berfirman:

﴿وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزى الله الشاكرين﴾

“Dan tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rosul, telah berlalu sebelumnya para Rosul. Maka jika dia mati atau terbunuh apakah kalian akan berbalik ke belakang punggung kalian? Dan barangsiapa berbalik ke belakang punggungnya maka dia tak akan membahayakan Alloh sedikitpun, dan Alloh akan membalas orang-orang yang bersyukur.”

Maka orang-orang menangis dengan suara sedih. (HR. Al Bukhoriy (3667)).

            Dalam riwayat lain dari kisah Abu Bakr رضي الله عنه :

… فتيمم النبيَّ صلى الله عليه وسلم وهو مسجى ببرد حبرة، فكشف عن وجهه، ثم أكبّ عليه، فقبله، ثم بكى فقال: بأبي أنت يا نبي الله، لا يجمع الله عليك موتتين. أما الموتة التي كتبت عليك فقد متها. (أخرجه البخاري (1241)).

Lalu Abu Bakr menuju ke arah Nabi صلى الله عليه وسلم dalam keadaan Nabi telah dikafani dengan kain hibaroh. Lalu dia menyingkapkan kain dari wajah beliau, lalu dia memeluk beliau dan menciumnya lalu menangis seraya berkata: “Ayahku menjadi tebusanmu wahai Nabi Alloh. Alloh tak akan mengumpulkan dua kematian padamu. Adapun kematian yang ditetapkan padamu, maka telah engkau alami.” (HR. Al Bukhoriy (1241)).

            Dan dalam riwayat yang lain dari kisah Umar رضي الله عنه , bahwasanya Umar berkata:

والله ما هو إلا أن سمعت أبا بكر تلاها، فعقرت حتى ما تقلني رجلاي، وحتى أهويت إلى الأرض حين سمعته تلاها أن النبي صلى الله عليه وسلم قد مات. (أخرجه البخاري (4454)).

“Demi Alloh, tidaklah itu kecuali aku mendengar Abu Bakr membaca ayat ini, lalu aku terjatuh, dan kakiku tak sanggup menopangku hingga aku jatuh ke tanah ketika aku mendengar dia membacanya bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم telah meninggal.” (HR. Al Bukhoriy (4454)).

            Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata:

شخص بصر النبي صلى الله عليه وسلم، ثم قال: «في الرفيق الأعلى» ثلاثا وقصّ الحديث، قالت: فما كانت من خطبتهما من خطبة إلا نفع الله بها. لقد خوّف عمرُ الناسَ وإن فيهم لنفاقا، فردّهم الله بذلك. ثم لقد بصّر أبو بكر الناس الهدى، وعرّفهم الحق الذي عليهم، وخرجوا به يتلون ﴿وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل﴾ إلى ﴿الشاكرين﴾. (أخرجه البخاري (3669-3670)).

“Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم terbelalak, lalu beliau berkata: “Di Rofiq (Teman pengiring) yang tertinggi.” Sebanyak tiga kali. Lalu ‘Aisyah menceritakan hadits tersebut, lalu berkata: “Tidak ada pada khuthbah keduanya –Abu Bakr dan Umar- satupun kecuali Alloh memberikan manfaat dengan itu. Sungguh Umar telah menakut-nakuti orang-orang dan sesungguhnya di antara mereka ada kemunafiqan, maka Alloh menolak mereka dengan khuthbah tadi. Kemudian sungguh Abu Bakr telah menjadikan manusia tahu petunjuk, dan memberitahu mereka tentang kebenaran yang harus mereka jalankan. Dan mereka keluar dengan petunjuk tadi: “Dan tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rosul, telah berlalu sebelumnya para Rosul. –sampai pada firman-Nya:- dan Alloh akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (HR. Al Bukhoriy (3669-3670)).

            Dan dari Anas رضي الله عنه yang berkata:

فشهدته يوم دخل المدينة فما رأيت يوما قط كان أحسن ولا أضوأ من يوم دخل علينا فيه، وشهدته يوم مات فما رأيت يوما كان أقبح ولا أظلم من يوم مات فيه صلى الله عليه و سلم.

“Maka aku menyaksikan beliau pada hari beliau memasuki Madinah, maka aku tidak melihat satu haripun yang lebih indah dan lebih bercahaya daripada hari di mana beliau masuk ke tempat kami. Dan aku menyaksikan beliau pada hari beliau meninggal, maka aku tidak melihat satu haripun yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari di mana beliau صلى الله عليه وسلم meninggal. (HR. Ahmad (14095) dengan sanad shohih).

          Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«وليأتين على أحدكم زمان لأن يراني أحب إليه من أن يكون له مثل أهله وماله».

“Dan pasti akan datang masa pada salah seorang dari kalian di mana jika dia bisa melihatku itu lebih dia sukai daripada dia punya semisal keluarganya dan hartanya.” (HR. Al Bukhoriy (3589) dan Muslim (2364)).

            Maka wahai muslimun, di manakah kecemburuan kalian kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم ? Kehormatan beliau telah dihinakan dan agama beliau diolok-olok, dalam keadaan kalian dalam ketentraman di antara makanan, minuman dan keluarga?!

            Dari Khorijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya yang berkata:

رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد لطلب سعد بن الربيع ، وقال لي : «إن رأيته فأقرئه مني السلام ، وقل له : يقول لك رسول الله صلى الله عليه وسلم : كيف تجدك ؟». قال : فجعلت أطوف بين القتلى، فأصبته وهو في آخر رمق، وبه سبعون ضربة ما بين طعنة برمح ، وضربة بسيف ، ورمية بسهم ، فقلت له : يا سعد ، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ عليك السلام ، ويقول لك : «أخبرني كيف تجدك ؟» قال : على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليك السلام ، قل له : يا رسول الله ، أجد ريح الجنة ، وقل لقومي الأنصار : لا عذر لكم عند الله إن خلص إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وفيكم شفر يطرف. قال : وفاضت نفسه رحمه الله. (أخرجه البيهقي في “دلائل النبوة” (1104)).

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengutuskan pada hari perang Uhud untuk mencari Sa’d ibnur Robi’, dan beliau bersabda kepadaku: “Jika engkau melihatnya, maka bacakanlah salam dariku untuknya. Dan katakan padanya: Rosululloh صلى الله عليه وسلم

Bertanya padamu: “Bagaimanakah engkau dapati dirimu?” Maka mulailah aku berkeliling di antara orang-orang yang mati. Maka aku mendapatinya di akhir-akhir hayatnya. Di badannya ada tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, pukulan pedang, tembakan panah. Maka kukatakan padanya: “Wahai Sa’d, sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم membacakan salam untukmu dan berkata padamu: “Kabarilah aku bagaimana engkau mendapati dirimu?” dia menjawab: “Salam sejahtera untuk Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan juga untukmu. Sampaikan pada beliau: saya mendapati aroma Jannah. Dan katakan pada kaumku Anshor: “Tiada udzur bagi kalian di sisi Alloh jika sampai ada musuh bisa mencapai Rosululloh صلى الله عليه وسلم sementara di antara kalian masih ada mata yang berkedip.” Lalu keluarlah nyawanya. Semoga Alloh merohmatinya.” (HR. Al Hakim dalam “Al Mustadrok” (4309) dan dari jalur beliau Al Baihaqiy dalam “Dalailun Nubuwwah” (1104) ([6])).

            Dan dari Abdulloh bin Abi Bakr bin Hazm:

أن أبا خيثمة ، أخا بني سالم رجع بعد مسير رسول الله صلى الله عليه وسلم أياما إلى أهله في يوم حار ، فوجد امرأتين له في عريشين لهما في حائط قد رشت كل واحدة منهما عريشها ، وبردت له فيه ماء ، وهيأت له فيه طعاما ، فلما دخل قام على باب العريشين ، فنظر إلى امرأتيه وما صنعتا له ، فقال : رسول الله صلى الله عليه وسلم في الضح ، والريح ، والحر ، وأبو خيثمة في ظل بارد وماء بارد وطعام مهيأ وامرأة حسناء في ماله مقيم ؟ ما هذا بالنصف ، ثم قال : لا والله لا أدخل عريش واحدة منكما حتى ألحق برسول الله صلى الله عليه وسلم ، فهيئا لي زادا ، ففعلتا ، ثم قدم ناضحه فارتحله ، ثم خرج في طلب رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى أدركه بتبوك حين نزلها. الحديث. (أخرجه البيهقي في “دلائل النبوة للبيهقي (1978)).

“Bahwasanya Abu Khoitsamah, saudara Bani Salim pulang ke keluarganya pada hari yang panas beberapa hari setelah perjalanan Rosululloh صلى الله عليه وسلم, lalu dia mendapati kedua istrinya di kedua kemahnya di dalam kebun, keduanya telah merapikan kemahnya, dan mendinginkan air untuknya serta mempersiapkan makanan untuknya. Ketika dia masuk, berdirilah dia di pintu kedua kemah itu, lalu memandang ke arah kedua istrinya itu dan apa yang mereka perbuat. Lalu dia berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم ada di sinar matahari, angin  dan panas, sementara Abu Khoitsamah di naungan yang dingin, air yang dingin, dan makanan yang telah dipersiapkan serta istri yang cantik, di dalam hartanya yang menetap? Ini tidak adil.” Lalu dia berkata: “Tidak, demi Alloh, aku tak akan masuk ke dalam kemah salah seorang dari kalian sampai aku menyusul Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Persiapkanlah untukku perbekalan.” Maka keduanya mengerjakannya. Lalu datanglah ontanya, kemudia dia menaikinya, kemudian dia keluar mengejar Rosululloh صلى الله عليه وسلم hingga menjumpai beliau di Tabuk ketika beliau turun di situ.” (HR. Al Baihaqiy dalam “Dalailun Nubuwwah” (1978) ([7])).

            Wahai muslimin, jika bukan kalian yang menegakkan pertolongan untuk Rosululloh صلى الله عليه وسلم , maka yang selain kalian lebih pantas untuk tidak menegakkannya. Jika kalian tidak menolong beliau, maka Alloh adalah pelindungnya, maka Dia itu adalah pelindung yang terbaik dan penolong yang terbaik.

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله berkata: “Bahwasanya yang wajib bagi kita semua umat Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah: kita menolong Rosul kita صلى الله عليه وسلم, membela beliau dan membantah para pendendam dengan seluruh kelompok mereka. Alloh جل وعلا mampu untuk menolong Rosul-Nya, dan Dia telah menolongnya, akan tetapi Dia memerintah kita untuk menolong beliau صلى الله عليه وسلم sebagai ujian dan cobaan buat kita. Jika kita menolong beliau, Alloh akan memberi kita pahala dan ganjaran dengan itu. Tapi jika kita menelantarkan beliau dan tidak menolong beliau, maka sungguh Alloh سبحانه وتعالى tak akan menolong kita, dan akan menghukum kita di dunia dan akhirat. Rosul صلى الله عليه وسلم tidak butuh pada pertolongan kita karena Alloh telah menolong beliau. Alloh berfirman:

﴿إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya kami akan menolongmu dari orang-orang yang mengolok-olok itu.”

﴿وَالله يَعْصِمُكَ مِنْ النَّاسِ

“Dan Alloh akan melindungimu dari manusia.”

            Akan tetapi Alloh memerintahkan kita untuk menolong beliau demi kemaslahatan kita sendiri, untuk memberikan pahala pada kita, dan untuk menguji dan mencoba kita: apakah kita taat ataukah tak mau taat? Apakah kita itu pemberani dan tidak peduli akan celaan orang yang mencela saat kita di jalan Alloh? Ataukah kita saling menelantar dan tidak mau menolong Nabi صلى الله عليه وسلم dan kita takut pada musyrikin? Kita takut pada para penyembah berhala? Kita takut pada Yahudi dan Nashoro? Dan kita terpengaruh oleh celaan orang yang mencela saat kita di jalan Alloh? Ini dia hikmah dari tuntutan Alloh dari kita untuk menolong Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم . jika tidak demikian, maka Alloh itu mampu untuk menolongnya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ الله مَعَنَا فَأَنزَلَ الله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَالله عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

“Jika kalian tidak menolongnya maka sungguh Alloh telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya berdua, ketika keduanya di dalam gua, ketika dia berkata pada sahabatnya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Alloh bersama kita.” Maka Alloh menurunkan ketenangan dari-Nya kepadanya dan mendukungnya dengan tentara-tentara yang tidak kalian lihat, dan Alloh menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, dan kalimat Alloh itulah yang tertinggi. Dan Alloh itu Maha Perkasa lagi Maha Penuh Hikmah.”

(selesai penukilan dari “Inna Kafainakal Mustahziin”/transkrip ceramah Asy Syaikh Sholih fauzan/hal. 6-7).

Bab Sembilan:

Jalan Yang Benar Untuk Menolong Agama

 

            Sesungguhnya kecemburuan untuk agama ini dan kemarahan di jalan Alloh itu terpuji dan wajib bagi setiap mukmin. Akan tetapi kita harus menempuh jalan-jalan syar’iyyah karena kita telah ridho Alloh sebagai Robb kita dan Islam sebagai agama kita, dan Muhammad sebagai Rosul kita.

            Agama ini telah sempurna di atas penampilan yang terbaik, sehingga tidak butuh tambahan ataupun pengurangan ataupun perubahan. Maka kita wajib mengikuti sunnah dan menjauhi bid’ah dalam menolong Rosululloh صلى الله عليه وسلم .

            Demonstrasi di jalanan dan sebagainya itu bukanlah bagian dari agama kita. Dia itu hanyalah membebek pada orang kafir yang kerusakannya lebih besar daripada kemaslahatannya.

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata dalam bantahan beliau kepada Ikhwanul Muslimin: “Kritikan keduapuluh tiga: pengerahan masa dan demonstrasi yang terorganisir. Islam tidak mengakui perbuatan ini dan juga tidak menetapkannya, bahkan perbuatan itu adalah muhdats (perbuatan baru dalam agama), termasuk adalah amalan orang-orang kafir yang perbuatan itu telah berpindah dari mereka kepada kita. Apakah setiap kali orang-orang kafir mengerjakan suatu amalan, kita turut berjalan dengan mereka dalam amalan tadi, dan kita ikuti perbuatan mereka itu? Sesungguhnya Islam tidak tertolong dengan pengerahan masa dan demonstrasi, …dst.” (“Al Mauridul ‘Adzb”/hal. 225).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله berkata: “Agama kita bukanlah agama kekacauan. Agama kita adalah agama keteraturan, agama yang tertata, agama ketenangan. Dan demonstrasi itu bukanlah bagian dari amalan muslimin. Dulu muslimin tidak mengetahuinya, -sampai pada ucapan beliau:- demonstrasi ini menghasilkan fitnah-fitnah yang banyak, menyebabkan pertumpahan darah, dan membikin perusakan harta, … dst.” (“Al Ajwibatul Mufidah”/Al Haritsiy/hal. 217-218).

            Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata dalam bantahan beliau kepada Abdurrohman Abdul Kholiq: “Maka sesungguhnya Abdurrohman mengumumkan berita duka dengan kebatilan terhadap salafiyyin bahwasanya mereka itu membebek pada ulama Islam, dalam keadaan dia sendiri membebek pada para musuh Islam dengan membabi buta dalam demonstrasi, Pemilu, dakwah kepada persekutuan di Parlemen, dan membebek dalam pembolehan berbilangnya partai.” (“Jama’atun Wahidah”/hal. 38).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله ditanya: “Syaikh yang mulia, semoga Alloh memberikan taufiq pada Anda, bagaimanakah kita menjadikan pembelaan pada Nabi صلى الله عليه وسلم itu teratur dengan peraturan syariat? Dan apakah demonstrasi itu merupakan sarana yang disyariatkan? Semoga Alloh memberikan barokah pada Anda.”

            Maka beliau menjawab: “Bantahan kepada musuh Rosul صلى الله عليه وسلم itu harus mengikuti apa yang ada di Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan kita tidak membikin aturan-aturan baru dari kita sendiri, atau istilah-istilah baru dari kita sendiri, dan kita tidak membikin perkara yang tidak ada sebelumnya seperti demonstrasi, teriakan-teriakan dan yang seperti itu. Iya.”

(selesai penukilan dari “Inna Kafainakal Mustahziin”/transkrip ceramah Asy Syaikh Sholih fauzan/hal. 14).

            Dan bagaimanakah jalan yang benar untuk menolong Rosul dalam keadaan seperti ini?

            Jawabnya adalah: dengan mengirimkan nasihat kepada pemerintah agar menegakkan kewajiban mereka dalam menjaga agama Alloh, menegakkan had terhadap orang yang mengolok-olok Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Demikian pula dengan memperbanyak bantahan-bantahan terhadap orang-orang kafir dan munafiqin yang mengolok-olok di berbagai media massa, disertai dengan ajakan pada orang-orang untuk kembali kepada agama Alloh, mengingatkan semua kalangan bahwasanya kita semua akan kembali kepada Robb mereka عز جل kemudian Dia akan menanyai kita semua tentang apa yang telah dikerjakan.

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله ditanya: “Apakah yang wajib kita lakukan terhadap Negara Denmark yang mengulang olok-olokan terhadap Rosululloh صلى الله عليه وسلم? Apakah Anda menasihati kami wahai Syaikh untuk mengembargo produk-produk mereka?”

            Maka Syaikh menjawab: “Yang menjadi kewajiban kita terhadap orang-orang kafir secara umum, dan terhadap orang yang lancang terhadap Nabi kita dan syariat kita secara khusus adalah: kita membantah mereka dan membatalkan kerancuan mereka, dan kita menyebutkan kejelekan-kejelekan mereka. Kita tidak menjelek-jelekkan agama mereka akan tetapi kita menjelek-jelekkan perbuatan bid’ah mereka, dan perubahan agama yang mereka bikin. Alloh سبحانه berfirman:

﴿قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ الله مَنْ لَعَنَهُ الله وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلَئِكَ شَرٌّ مَكَاناً وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ.

“Katakanlah: maukah kuberitahukan pada kalian perkara yang lebih jelek balasannya dari itu di sisi Alloh? Yaitu orang yang dilaknat oleh Alloh, dimurkai oleh-Nya, dan Dia menjadikan sebagian dari mereka sebagai monyet-monyet dan babi-babi serta penyembah thoghut. Mereka itulah yang lebih jelek kedudukannya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

            Maka kita membantah mereka tentang kebusukan-kebusukan yang mereka tidak mengingkarinya dan yang bisa membongkar kejelekan mereka. Kita tidak berdusta atas nama mereka. Kita hanya menyebutkan kebusukan-kebusukan yang ada pada mereka yang disebutkan oleh Alloh di dalam Al Qur’an tentang mereka, dan disebutkan oleh Rosul صلى الله عليه وسلم dan yang para Nabi mereka dan ulama mereka mengingkari mereka atas kejelekan mereka itu, hingga kejelekan mereka terbongkar.

            Adapun embargo perdagangan, maka ini adalah politik syar’iyyah yang dikembalikan kepada pemerintah. Jika pemerintah memerintahkan untuk mengembargo mereka, kita embargo mereka. Ini merupakan wewenang pemerintah, agar embargonya itu bersifat menyeluruh. Adapun jika embargonya bersifat individual maka hal itu tidak berpengaruh.”

(selesai penukilan dari “Inna Kafainakal Mustahziin”/transkrip ceramah Asy Syaikh Sholih fauzan/hal. 15).

            Beliau juga ditanya: “Bolehkah kita membunuh secara rahasia si penggambar yang kafir itu yang telah diketahui bahwasanya dialah yang menggambar buruk Nabi صلى الله عليه وسلم ?

            Maka beliau menjawab: “Ini bukanlah jalan yang selamat. Pembunuhan secara rahasia. Ini membikin mereka bertambah jahat dan murka pada muslimin. Akan tetapi yang membikin mereka terusir adalah dengan membantah syubuhat mereka dan menerangkan kebusukan mereka. Adapun menolong Nabi dengan tangan dan senjata, maka ini adalah wewenang pemerintah muslimin, dan dengan jihad di jalan Alloh عز وجل . Iya.

(selesai penukilan dari “Inna Kafainakal Mustahziin”/transkrip ceramah Asy Syaikh Sholih fauzan/hal. 19).

            Dan kita tidak boleh mengobarkan fitnah dan menebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah karena yang demikian itu adalah harom, dan tidak berfaidah buat bangsa kecuali bertambahnya kerusakan. Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«عليك السمع والطاعة في عسرك ويسرك ومنشطك ومكرهك وأثرة عليك»

“Engkau harus mendengar dan taat dalam masa susahmu, kemudahanmu, kerajinanmu, dan keterpaksaanmu, dan saat hakmu dizholimi.” (HR. Muslim (1836)).

Dan dari ‘Ubadah Ibnush Shomit رضي الله عنه berkata:

بايعنا رسول الله صلى الله عليه وسلم على السمع والطاعة في العسر واليسر والمنشط والمكره، وعلى أثرة علينا، وعلى أن لا ننازع الأمر أهله، وعلى أن نقول بالحق أينما كنا لا نخاف في الله لومة لائم.

“kami membai’at Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- untuk mendengar dan taat dalam keadaan kami merasa sulit dan mudah, dalam keadaan kami rajin dan terpaksa, dan dalam keadaan kami tertimpa kezholiman, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, dan agar kami berkata yang benar di manapun kami berada, dan kami tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela. (HR. Muslim (1709)).

            Al Imam Ibnul Qoththon Al Fasiy رحمه الله : “Dan mereka bersepakat bahwasanya lebih utama untuk bersabar terhadap pemerintah, dan yang benar adalam tidak memberontak pada pemerintah sampai orang yang berbakti bisa beristirahat, dan masyarakat istirakat dari orang yang jahat.” (“Al Iqna'”/Dzikrul Imamah/1/no. (27/16)/cet. Darul Kutubil ‘ilmiyyah).

Penutup Risalah

 

            Bukanlah risalah ini bertujuan untuk mengobarkan fitnah ataupun kekacauan di masyarakat. Bahkan dia itu sekedar nasihat untuk saudara kita kaum muslimin dan pemerintah –semoga Alloh meluruskan mereka, menjaga mereka dan memelihara mereka-.

            Ahlussunnah Wal Jama’ah menyukai keamanan dan ketentraman, dan tidak ingin mengganggu penduduk yang lain, juga tidak ingin agama mereka dihinakan, serta tidak suka Nabi mereka صلى الله عليه وسلم diremehkan. Maka kehormatan Nabi صلى الله عليه وسلم dan nilai agama ini lebih tinggi daripada darah kita, nyawa kita dan seluruh harta kita.

والله تعالى أعلم.

والحمد لله رب العالمين.

 

Dammaj, 2 Dzul Qo’dah 1433 H.

 

 

Daftar Isi Risalah

جدول المحتويات

Pengantar Seri Dua. 3

Bab Tiga: Hukum Seorang Muslim Jika Mencela Rosululloh صلى الله عليه وسلم 4

Bab Empat: Risalah Al Imam Abdul Aziz bin Baz رحمه الله Tentang Kasus “Koran Sore Mesir”  9

Bab Lima: Buruknya Keadaan Para Munafiqun dan Kafirun. 19

Pasal satu: Buruknya keadaan Munafiqun. 19

Pasal dua: buruknya keadaan orang kafir. 26

Bab Enam: Jika Orang Kafir Mencela Nabi صلى الله عليه وسلم 30

Bab Tujuh: Risalah Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله Tentang “Kasus Film Denmark”  47

Bab Delapan: Besarnya Rasa Cinta Kaum Mukminin Kepada Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم , dan Pengorbanan Mereka Demi Alloh dan Rosul-Nya. 51

Bab Sembilan: Jalan Yang Benar Untuk Menolong Agama. 65

Penutup Risalah. 69

Daftar Isi Risalah. 70

 

 

 


([1]) HR. Al Bukhoriy (6922) dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما.

([2]) HR. Ahmad (11/hal. 260) dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما. Hadits jayyid.

([3]) HR. Muslim (147) dari Abdulloh bin ‘Amr ibnul ‘Ash رضي الله عنهما.

([4]) HR. Al Bukhoriy (4826) dan Muslim (2246) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه.

([5]) Naqus adalah semacam alat pemukul dari kayu yang panjang, yang dipakai Nashoro untuk mengumumkan waktu sholat. (lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 240).

([6]) Dalam sanadnya ada Abu Sholih Abdurrohman bin Abdulloh Ath Thowil, majhul. Hadits ini datang dari sisi lain diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana dalam “Al Matholibul ‘Aliyah” (4379) dengan sanad yang shohih ke Amr bin Yahya Al Maziniy secara mursal. Hadits hasan dengan dua jalan ini.

([7]) Abdulloh bin Abi Bakr bin Hazm tidak mendengar dari Abu Khoitsamah.

Kisah ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Ma’rifatush Shohabah” (2769) dan di dalam sanadnya ada Ya’qub bin Muhammad Az Zuhriy, dho’if.

Kisah ini juga disebutkan oleh Ibnu Ishaq secara mursal (sebagaimana dalam “Siroh Ibnu Hisyam” (2/hal. 520), dan dalam “Ma’rifatush Shohabah” (8/hal. 493) karya Abu Nu’aim).

Dan asal kisah Abu Khoitsamah diriwayatkan oleh Muslim (2769).

Lihat juga di  http://ashhabulhadits.wordpress.com/