Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji

Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori

 

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

 

 

Diperiksa dan Dinilai Oleh:

Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy

حفظه الله ورعاه

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

 عفااللهعنه

 

Penerjemah:

Sekelompok pelajar Indonesia Di Dammaj

 

Judul Asli:

“Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftari Al Jani”

Terjemah Bebas:

“Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji

Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori”

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

Dengan Pemeriksaan dan Penilaian dari:

Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy

حفظه الله ورعاه

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman

Abu Abdirrohman Shiddiq Al Bughisiy

Abu Abdirrohman Utsman As Semarangiy

Abu Junaid Anwar Al Amboniy

Abul Jauhar Adam Al Amboniy (semoga Alloh merohmatinya)

Dan beberapa ikhwah lain yang tidak tercatat


 

 

Pengantar Penerjemah

Sebagian ikhwah meminta saya untuk membantah tulisan Abdulloh bin Abdurrohman yang berjudul “Kini Mereka Bukan Salafiy Lagi”. Di dalam tulisan tersebut si penakut tadi menampilkan sebagian ucapan Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy yang melemparkan hantaman batil terhadap Ahlussunnah.

Oleh karena itu perlu saya tampilkan dialog jahat yang berlangsung antara doktor Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, dengan Usamah bin Faishol Al Mahriy Al Indonesiy, untuk kita bongkar secara rinci kebatilan, kedustaan dan kelucuan yang terjadi di situ. Dan perlu diketahui bahwasanya si doktor di akhir-akhir dialog tersebut tampak ketakutan dan ingin agar rekaman tadi tidak bocor sampai ke tangan singa-singa sunnah. Tapi dia berencana, Alloh Yang menentukan. Rekaman itu bocor ke para ulama sunnah di Dammaj dan yang bersama dengan mereka. Tapi tak perlu para singa sunnah yang menampari dia, cukup orang kecil macam kita-kita saja yang menghadapinya.

Dan sampai tahun ini kami belum mendapati dirinya mengumumkan tobat dan rujuk dari caci-makian, cercaan, kedustaan dan kebatilannya yang telah dia obral dalam kaset itu, dan belum meminta maaf pada Asy Syaikh Yahya dan para murid yang bersama beliau yang telah dia zholimi.

Adapun Abdulloh bin Abdurrohman si penulis local yang pengecut ini, yang beraninya mencaci-maki dengan kedustaan dan kengawuran tapi di balik dinding, gayanya itu sangat mirip dengan model Abdul Ghofur Malang. Pantas saja jika si Abdulloh ini diberi inisial AGM.

Kemudian perlu saya menyampaikan udzur bahwasanya terjemah risalah ini telah dimulai sekitar dua tahun yang lalu oleh beberapa ikhwah –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- tapi belum selesai karena banyak kendala yang terkait dengan situasi dan kondisi. Kemudian setelah itu sebagian data terjemahan hilang, sehingga saya tidak tahu secara lengkap daftar ikhwah yang telah menerjemahkan risalah ini.

Kemudian pada hari-hari ini Alloh ta’ala memberikan kesempatan untuk saya melanjutkan dan menyelesaikan terjemahan ini, maka segala puji bagi-Nya, dan semoga Dia memberkahi kita dan memaafkan kesalahan kita.

            Selamat menyimak.

Dammaj, 27 Romadhon 1433 H.

بسم الله الرحمن الرحيم

Penilaian Dari Syaikh Yang Mulia Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy حفظه الله

Kepada saudara yang mulia Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وبعد:

            Kata pengantarku untuk risalah ini tidaklah berpengaruh sebagaimana andaikata yang memberikan pengantar untukmu adalah Asy Syaikh Yahya حفظه الله atau yang lainnya yang dikenal oleh Ahlussunnah([1]).

            Dan sungguh bantahanmu ini adalah bagus dan mendapatkan taufiq. Semoga Alloh menambahimu karunia-Nya. Dan semoga Alloh memberikan manfaat pada kami dan padamu dengan Al Kitab dan As Sunnah.

Dan hanya Alloh sajalah yang memberikan taufiq.

Hari Selasa 3 Syawwal 1433 H

Darul Hadits Dammaj

Semoga Alloh menjaganya dan menjaga para pengelolanya dari semua kejelekan dan perkara yang tidak disukai.

Ditulis oleh:

Abu Abdillah Thoriq Al Khoyyath Al Ba’daniy

Semoga Alloh memaafkannya

 

Pengantar Penulis

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد:

         Sungguh Alloh ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾ [الأنعام/112].

“Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka untuk mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu benar-benar orang yang musyrik.” (QS Al An’am 121).

            Maka sebagaimana seluruh Nabi عليه الصلاة والسلام diuji dengan permusuhan para makhluk, untuk mencapai kedudukan yang agung, banyaknya pahala, dan agar Alloh menampilkan kekuatan hujjah para wali-Nya, demikian pula seluruh pewaris Nabi diuji dengan permusuhan dari pewaris musuh Nabi agar mereka mencapai ketinggian derajat, dan pahala yang banyak, dan agar Alloh menampilkan kekokohan kekuasaan tentara-Nya.

            Saya telah mendengar kaset rekaman yang di dalamnya Alloh membongkar dialog berdosa antara doktor Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, dengan seorang kepala –sebenarnya adalah ekor- hizbi Mar’i dari Indonesia yang bernama: Usamah bin Faishol Al Mahriy Al Indonesiy (kurang lebih sebelum bulan Romadhon 1430 H). Dan dialog ini direkam di dalam kaset yang sampai salinannya ke studio “Darul Hadits As Salafiyyah” di Dammaj حرسها الله, dan disebarkan oleh pengurus “Al Ulumus Salafiyyah” حفظهم الله . Kemudian akh Ayyub Aljazairiy menyampaikannya kepada saya dan menyemangati saya untuk membantah kebatilan yang ada di dalamnya. Dan memang saya mendengar di dalam kaset itu ada kebatilan yang banyak, dan kemungkaran yang parah yang mana orang-orang yang cemburu terhadap kebenaran dan para pembela kebenaran tidak bisa mendiamkannya.

            Si doktor ini -setelah mengumbar kejahatan- berupaya untuk menyembunyikan perbuatannya dari para Salafiyyin Dammaj dan orang yang bersama mereka. dia lupa firman Alloh ta’ala:

﴿يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ الله وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴾ [النساء/108]

“Mereka bersembunyi dari manusia dan tidak bersembunyi dari Alloh dan Dia bersama mereka ketika mereka  merencanakan ucapan yang tidak diridhoi. dan Alloh itu maha meliputi apa yang mereka lakukan.”

            Alloh جل ذكره berfirman:

}أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ * أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُون { [الزخرف/79، 80].

“Apakah mereka menetapkan suatu perkara? Maka sesungguhnya Kami juga menetapkan perkara. Apakah mereka mengira bahwasanya Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Bahkan Kami mendengar, dan para utusan Kami (dari kalangan malaikat) mencatat di sisi mereka.”

            Dan sesungguhnya manakala saya melihat perkara ini adalah sesuatu yang mungkar, sayapun menyalakan api tekad untuk “membakar” bukhur (uap) kedustaan si Abdulloh Al Bukhoriy itu.

            Saya tidak suka kata-kata kasar, akan tetapi ucapan-ucapan busuk si Abdulloh Al Bukhoriy terhadap para salafiyyun yang telah mengorbankan segalanya demi menjaga agama ini menyebabkan saya memakai ungkapan keras yang insya Alloh tidak berlebihan untuk hak dia.

Dan saya bersyukur kepada Fadhilatusy Syaikhina Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله ورعاه atas pemeriksaan beliau terhadap risalah ini dan pelurusan ungkapan-ungkapannya.

Dan saya juga bersyukur kepada Syaikh kami yang mulia Abu Abdillah Thoriq Al Ba’daniy حفظه الله ورعاه atas curahan waktu dan perhatian beliau dalam memeriksa risalah ini.

            Dan semoga Alloh membalas dua saudara kita Abu Ja’far Harits dan Abu Dzil Qornain Al Indonesiyyain dengan kebaikan atas kerjasama keduanya.

            Selamat menyimak.

Bab Satu:

Kelemahan Abdulloh Al Bukhoriy Untuk Mengetahui Hizbiyyah Anak Mar’i Dan Gerombolannya

            Si penanya –Usamah Al Mahriy Al Hizbiy- berkata: “Memang telah sampai pada kami di sana ucapan Yahya Al Hajuriy yang memperingatkan umat dari menghadiri dauroh kita wahai Syaikh kami,”

            Maka Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Pokoknya jika dia mentahdzir dari dauroh kita, maka dia itulah yang pantas ditahdzir. Dia itulah yang telantar dengan sebab perkataan itu. Kenapa dia mentahdzir? Dakwah apa yang kita sebarkan?”

Usamah berkata: “Dia berkata: ini adalah dauroh hizbiyyah, dan diselenggarakan oleh hizbiyyun.”

Abdulloh berkata: “Demi Alloh itu adalah kedustaan dan kejahatan. Jika dia berkata demikian dan memang telah pasti ucapan itu darinya, maka itu adalah kedustaan dan kejahatan yang murni. Semoga mereka mengalami hukuman dari Alloh sesuai dengan hak mereka. mereka semua berdusta.”

Saya –Abu Fairuz, semoga Alloh memberiku taufiq- menjawab:

            Sesungguhnya yang menyelenggarakan dauroh itu dan mengundang sebagian hadirin adalah para pembela dua anak Mar’i dan orang-orang yang fanatik padanya, seperti: Luqman Ba Abduh, Usamah Al Mahriy, Muhammad Askari, Muhammad Afifuddin dan yang lainnya yang gigih memerangi dakwah salafiyyah yang bersih yang ditegakkan oleh syaikh kami Al Muhaddits An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah dan para pelajar حفظهم الله ورعاهم.

            Hizbiyyah kedua anak Mar’i itu jelas, seterang matahari di siang bolong. Telah banyak risalah orang-orang yang cemburu –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- tentang penjelasan mengenai hizbiyyah kelompok sempalan tersebut, dan peringatan umat terhadap kebusukannya. Akan tetapi manakala doktor Abdulloh Al Bukhoriy berpura-pura buta terhadap itu, diapun dihukum dengan kebutaan terhadap kasus tersebut, sebagai balasan setimpal. Kemudian di doktor tadi membangun hukumnya yang jahat berdasarkan kebutaannya tadi, terhadap syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau رعاهم الله . Dan saya akan bermurah hati kepadanya إن شاء الله untuk memberikan sedikit penjelasan tentang hizbiyyah kedua anak Mar’i dan pengikutnya, semoga Alloh ta’ala mengaruniainya kelurusan.

            Dan sebelum masuk ke penjelasan tersebut, saya akan menyebutkan bahwasanya para hizbiyyun di negri Yaman dan di negri kami Indonesia –semoga Alloh memperbaikinya- mengejek para Salafiyyun dan berkata: “Mereka tidak punya hujjah (argumentasi) terhadap hizbiyyah Abdurrohman bin Umar bin Mar’i dan saudaranya kecuali apa yang tertulis di dalam “Mukhtashorul Bayan”!”

            Saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-: Sesungguhnya penjelasan yang tersebut di dalam risalah tersebut tentang ta’ashshubat (fanatisme) kedua anak Mar’i dan gerombolannya itu cukup untuk memvonis mereka sebagai hizbiyyin. Para penulisnya حفظهم الله telah menampilkan bukti-bukti yang banyak dengan sisi-sisi yang beraneka ragam untuk menetapkan hizbiyyah orang-orang jahat itu. Hanya saja kondisi riil kalian mengingatkan kami pada firman Alloh ta’ala:

﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آَنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُم﴾ [محمد/16].

“Dan di antara mereka ada orang yang memperhatikan bacaanmu, hingga di saat mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka kepada orang-orang yang diberi ilmu: “Apa sih yang dia ucapkan barusan?” Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh berikan cetakan di atas hati-hati mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Muhammad: 16).

            Sementara banyak Salafiyyin yang setelah membaca risalah tersebut mereka memahami kebenaran. Maka mereka mendapatkan bagian dari firman Alloh ta’ala setelah ayat tadi:

﴿وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُم﴾ [محمد/17].

“Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk, Alloh akan menambahi lagi untuk mereka petunjuk dan memberikan pada mereka (balasan) ketaqwaan mereka.”

            Kemudian sesungguhnya penjelasan-penjelasan Ahlussunnah dalam menetapkan hizbiyyah kelompok tang jahat itu tadi tidaklah terbatas pada “Mukhtashorul Bayan” saja, dan ini telah diketahui bersama bagi para pemerhati kenyataan. Dan sekarang kita akan masuk –dengan taufiq dari Alloh- kepada penjelasan tentang hizbiyyah, kemudian penyebutan sebagian alamat hizbiyyah gerombolan makar itu:

Pasal satu: definisi hizb dan hizbiyyah

            Hizb punya beberapa makna. Hizb di fulan adalah: teman-temannya yang sependapat dengannya. Ahzab adalah: kelompok-kelompok manusia, dan ini merupakan ungkapan sekumpulan orang yang memerangi Nabi صلى الله عليه وسلم . Hizb seseorang adalah teman-temannya dan tentaranya yang berada di atas pendapatnya. Dan setiap kaum yang hati-hati dan amalan mereka saling serupa maka mereka itu adalah ahzab sekalipun satu sama lain tidak saling berjumpa, seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun, mereka itu adalah Ahzab. Dan setiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. setiap kelompok itu hawa nafsunya satu. (“Lisanul ‘Arob”/1/hal. 308).

            Lihat juga “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar” (1/hal. 945), “Al Mukhoshshosh” (karya Ibnu Sayyidah/1/hal. 331), “Al Mufrodat Fi Ghoribil Qur’an” (1/hal. 115), “Al Muhith Fil Lughoh” (1/hal. 206), “Ash Shihhah Fil Lughoh” (1/hal. 126) dan “Al Muhkam” (3/hal. 231).

            Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Setiap orang yang menyelisihi manhaj Nabi صلى الله عليه وسلم dan sunnah beliau, maka dia itu adalah termasuk dari hizb-hizb kesesatan. Hizbiyyah itu tidak punya syarat-syarat. Alloh menamakan umat-umat terdahulu sebagai hizb-hizb, dan menamakan Quroisy ketika berkumpul dan bergabung kepada mereka sebagian firqoh-firqoh sebagai hizb-hizb. Mereka tak punya tanzhim, tak punya apa-apa, … dst.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Asy Syaikh Robi”/14/hal. 461/cet. Darul Imam Ahmad).

            Maka hizbiyyah yang dimaksudkan dalam pembicaraan kita di sini adalah: fanatiknya seseorang pada kelompoknya, dan firqohnya, maka dia mencocoki mereka dalam amalan atau hawa nafsu, atau pemikiran yang berlawanan dengan kebenaran. Dan akan datang ucapan Al Imam Al Wadi’iy  tentang perkara yang terkait dengan wala wal baro (loyalitas dan permusuhan).

Pasal dua: sebagian alamat hizbiyyah dua anak Mar’i dan kelompoknya

Alamat pertama: ashobiyyah (fanatisme) dan wala wal baro yang sempit

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka barangsiapa fanatik terhadap penduduk negrinya atau madzhabnya atau metodenya atau kerabatnya atau sahabatnya semata, maka di dalam dirinya ada cabang jahiliyyah.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 422-423).

Al Imam Al Wadi’y رحمه الله ditanya: “Bagaimana cara memperingatkan para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, di mana  tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?”

Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 112/cet. Darul Atsar).

Syaikh Sholih As Suhaimy -حفظه الله- berkata tentang kelompok-kelompok di medan dakwah,”Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya, mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun di atas loyalitas dan permusuhan di jalan pensucian orang-orang tertentu, … dan seterusnya” (pendahuluan “An Nashrul ‘Aziz”/karya Asy Syaikh Robi’/hal. 44/cat. Al Furqon).

Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy -حفظه الله- berkata: “Fanatisme terhadap suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh ta’ala dan sunnah Rosul صلى الله عليه وسلم , loyalitas dan permusuhan berdasarkan itu, maka ini adalah tahazzub (pembentukan hizbiyyah). Inilah tahazzub (pembentukan hizbiyyah) sekalipun tidak ditanzhim (tidak teroganisir), membangun suatu pemikiran yang menyeleweng, mengumpulkan sekelompok orang di atas pemikiran itu, ini adalah hizb, sama saja diorganisir ataupun tidak. Selama mereka berkumpul untuk suatu perkara yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka ini adalah tahazzub.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa Fatawasy Syaikh Robi”/14/hal. 461/cet. Darul Imam Ahmad).

Dan di antara perkara yang menunjukkan sempitnya wala wal baro di sisi Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy هداه الله adalah bahwasanya dia memboikot orang yang tidak bersamanya, dan orang yang mendekat kepada syaikh kami Yahya حفظه الله seperti Asy Syaikh Al fadhil Sa’id Da’as dan saudara kita yang rendah hati yang beradab Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy حفظهم الله. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 17 dan 33).

Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy tidak menjawab salam saudara kita yang mulia Hamud Al Wailiy حفظه الله –pemilik studio “Al Yaqzhoh”- bahkan mensikapinya dengan bengis. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 17).

Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy tidak menjawab salam Asy Syaikh Al Fadhil Kamal Al ‘Adniy حفظه الله di hari-hari upaya beliau mendamaikan kedua belah pihak. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 21).

Dan di antara yang menunjukkan fanatisme Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap golongannya adalah perkataannya kepada Asy Syaikh Kamal Al ‘Adniy حفظه الله: “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh Yahya tidak mempedulikan orang-orang ‘Adn, tidak punya perhatian dengan mereka. Asy Syaikh Yahya membicarakan para wanita ‘Aden, dia berkata: “Janganlah kalian menjadikan kemaluan kalian untuk lelaki.” Dai macam apa ini mengucapkan perkataan macam itu?!” Wahai pembaca, harus diketahui bahwasanya Asy Syaikh Yahya tidak mengucapkan perkataan tadi. Beliau hanya mengucapkan nasihat yang didengar oleh orang banyak di masjid ini. Dan ketika sebagian ikhwah dari Aden datang seraya berkata: “Kami senang jika ucapan ini kami hapus dari kaset.” Maka Asy Syaikh menjawab: “Aku hanyalah ingin menolong kalian dan menolong kebenaran dengan perkataanku itu, dan tidak ada di dalamnya bahaya apapun terhadap kalian. Dan perkataan ini tidak mengarah ke kalian. Akan tetapi hapus sajalah sesuai dengan keinginan kalian.” Maka mereka menghapus kalimat tadi. Segala puji bagi Alloh. Maka apa yang membikin timbulnya kericuhan dan kebangkitan fitnah ini?!” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23/ Kamal Al ‘Adniy).

Dan di antara bentuk fanatisme orang itu adalah ucapannya kepada sebagian pelajar dari Yaman selatan pada hari-hari pengacauan orang ini: “Jadilah engkau bersama saudara-saudaramu.” Berita ini saya dengar dari syaikh kami حفظه الله saat menjawab soal-soal penduduk Mukalla. Ini juga disebutkan dalam “Haqoiq Wa Bayan” (hal. 33). Lihat juga “Silsilatuth Tholi’ah” karya Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al Amudiy (3/hal. 15).

Dan berita-berita tentang rusaknya timbangan para pengikutnya dalam wala wal baro ada di risalah “Iqozhul Wisnan” (hal. 9), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26) dan “Syarorotul Lahab” (1/hal. 17) dan yang lainnya.

Dan termasuk perkara yang menunjukkan hal itu juga pemboikotan mereka –tanpa dalil syar’iy- terhadap orang yang dekat dengan Syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dan hal ini telah kami temui banyak sekali sampai sekarang. Hal itu juga tersebut “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26), “Iqozhul Wisnan” (hal. 29), dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 16) dan yang lainnya.

Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang mereka: “Dan demikianlah, jika salah seorang dari mereka berdiri di ceramah dan berkata: “Asy Syaikh Fulan, beliau itu begini dan begitu, Al Janubiy (orang wilayah selatan). Kalian harus mengambil faidah dari Asy Syaikh Al Fulaniy Al Faqih Al Al Al, Al Janubiy (orang wilayah selatan). Demikianlah pada muhadhoroh Lahj, mereka menambahi padanya kalimat Al Janubiy setelah kalimat Al Faqih dan kalimat begini, dalam rangka mengelabui orang-orang dengan kesan bahwasanya “ini adalah syaikh kita, kita adalah orang selatan. Dan kalimat-kalimat yang lain. Fanatisme, fanatisme. Dan perkara fanatisme telah kita bantah di risalah kita “At Tahdzir Minal Hizbiyyah”.” (“An Nushhu Wat Tabyiin.”/hal. 23).

Alamat kedua: duduk-duduk dengan hizbiyyin

Yang berlangsung pada Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله adalah kumpul-kumpulnya dia bersama sebagian hizbiyyin dan upayanya untuk mendekatkan sebagian hizbiyyin yang lain:

Pertama: Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله dalam ceramah-ceramahnya memanggil dan berkumpul bersama Ali Al Hudzaifiy, padahal orang ini adalah seorang hizbiy yang telah di-jarh oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Kedua: upayanya mendekati Sholah Ali Sa’id yang dulu bersama Abul Hasan dan tidak nampak darinya tobat, dan dulu dia ini mencerca sebagian ulama. (lihat satu dan dua ini di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13/ Kamal Al ‘Adniy).

Ketiga: Upayanya untuk berkumpul dengan Jalal bin Nashir, padahal Al Imam Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله telah mengkritiknya, dan dia itu masih ada pada thobaqot pengikut Abul Hasan. (Bacalah beritanya di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13).

Keempat: Dia menjadikan Abdul Ghofur bin ‘Ubaid Asy Syarjiy Al Lahjiy sebagai sahabat kepercayaannya. Saya harus menyingkap keadaannya dikarenakan tertipunya kebanyakan Salafiyyun dengannya.

Orang ini dulu terdidik di kalangan hizbiyyin di Jami’ud Da’wah Shon’a. dia dulu adalah murid setia dari Abdul Majid Ar Roimiy hizbiy (sururiy). Dulu Abdul Ghofur Al Lahjiy termasuk pembawa bendera Jam’iyyatul Hikmah untuk menentang Ahlussunnah. Dia punya penipuan dan pengkhianatan serta penipuan dalam kasus pembelian tanah di wilayah “Wahth” di Lahj yang menunjukkan rakusnya dia terhadap dunia, pengkhianatan, lemahnya kejujuran sampai-sampai orang awampun bersaksi yang demikian. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Akh Husain bin Thoha Al Lahjiy juga bersaksi bahwasanya dirinya itu tak bisa dipercaya. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 8).

Dia juga suka menghinakan orang-orang. Salah seorang tetangganya yang Salafiy telah menulis beberapa pengaduan dan keluhan akan gangguannya. Dia juga terkenal suka menjilat kepada ulama. (“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Dia juga melakukan berbagai tipu daya untuk mengambil harta milik orang lain atas nama pembangunan masjid. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 9).

Dia juga melakukan kezholiman yang besar dalam kasus pembangunan masjid “Al Musawiy” (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2).

Dia juga melakukan kebatilan yang hina sekali untuk menjatuhkan imam masjid “Al Khothib” yaitu saudara kita Muhsin Labbah (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 4), dan (“Tanbihus Sajid”/hal.3).

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga imam di suatu masjid yang di situ seorang wanita hizbiyyah mengajar. Wanita ini adalah istri Ahmad bin Ubaid, saudara Abdul Ghofur Al Lahjiy. Ahmad bin Ubaid ini adalah anggota Jam’iyyatul Ihsan dan duduk-duduk dengan hizbiyyin. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.4).

Orang ini dulu juga termasuk anggota “Baroatudz Dzimmah” dan Jam’iyyatul Hikmah.

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga telah membikin beberapa makar untuk menjatuhkan imam masjid “Sholahuddin”. Masjid ini dulu termasuk masjid Ahlussunnah yang paling terkenal di sana, imamnya terkenal berpegang teguh dengan sunnah dan keras terhadap hizbiyyin. Sekarang imamnya adalah seorang Hasaniy (pengikut Abul Hasan Al Mishriy yang telah ditabdi’ oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy), ipar masjid ini adalah kepala jam’iyyah. Masjid ini sekarang menjadi tempat ceramah Hasaniyyun, dan mereka menolak saudara kita Sami Dzaiban (da’i sunnah di ‘Adn) untuk berceramah di situ. Ketika Abdurrohman Al ‘Adniy datang memberikan ceramah di situ merekapun menyambutnya dengan hangat dan gembira seraya berkata: “Wahai syaikh, di manakah Anda selama ini?” (berita dari saudara kita Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله ).

Termasuk dari kebatilan Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga adalah apa yang akan disebutkan oleh saudara kita Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : Abdul Ghofur berkata kepadaku –dan hanya Alloh yang ada di antara kami berdua saat itu-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah? Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melarang kedatangan masyayikh dari Saudi.” Kukatakan padanya: Siapakah yang mengabarimu? Dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku hal itu.” Kemudian Abdul Ghofur juga berkata: “Bahkan dakwah Asy Syaikh Muqbil juga ada kritikan tentangnya.” (persaksian Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy di hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar saat dars antara maghrib dan ‘Isya).

            Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga sangat gigih dalam membela ahlul batil dan membela hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adniy.

Bacalah berita tentangnya di “Silsilatun Nushhu Wal Bayan” ((seri 1,2,3) karya Abul Hasan Ihsan bin Abdillah Al Lahjiy), dan juga “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 32/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy az Za’kariy), dan “Al Muamarotul Kubro” (hal. 26/karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy).

Kelima: bersatunya Abdurrohman Al ‘Adniy dengan saudaranya: Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy. Untuk pengkhianatan orang ini terhadap da’wah telah ada risalah-risalah bantahan yang banyak.

Dan di antara teman dekat Abdulloh bin Mar’i adalah: Salim Ba Muhriz yang berkata pada pertengahan tahun 1423 H:

نحن قد انتهينا من أبي الحسن، والدور جاي على الحجوري

“Kita telah selesai dari Abul Hasan, sekarang giliran keruntuhan akan menimpa Hajuriy.” Ketika fitnah orang itu terbongkar sekitar tahun 1429 H, syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Orang ini punya fanatisme dan tercium darinya aroma fanatisme yang keras, pengelompokan yang keras, dan demikian pula wala baro yang sempit terhadap Abdulloh bin Mar’i dan saudaranya.

Dan di antara teman dekat Abdulloh bin Mar’i adalah: Abu Hasyim Jamal Surur, Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, Ahmad Umar Ba Wafi, Abdul Hafizh Ibrohim Al Amiriy dan yang lainnya dari kalangan hizbiyyin qudama. (lihat “Zajrul ‘Awi” 3/hal. 34-35/karya Asy Syaikh Abu Hamzah Al Amudiy Al Hadhromiy).

Kedua bersaudara tadi telah mendurhakai Alloh ta’ala dalam firman-Nya:

﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ﴾ الآية. [المجادلة/22].

“Tidaklah engkau akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir itu saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, meskipun mereka itu ayah mereka, atau anak mereka, atau saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh tetapkan keimanan ke dalam hati mereka, dan Alloh perkuat mereka dengan pertolongan dari-Nya. “ al ayah. (QS. Al Mujadilah: 22).

            Manakala teman-teman duduk keduanya adalah hizbiyyin, maka keduanyapun digabungkan kepada mereka. Rosululloh صل الله عليه وسلم yang bersabda:

الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف

“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” (HR. Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901) dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu).

Dan diriwayatkan Al Bukhoriy secara mu’allaq dalam “Shohih” , dan bersambung di “Al Adabul Mufrod” (900) dari Aisyah –radhiyallohu `anha-.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda:

«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل».

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapakah yang dijadikan sebagai teman dekatnya.” (HSR. Imam Ahmad (8249), Abu Dawud (4835) dan At Tirmidziy (2552), hadits hasan. Dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (1272)).

Ibnu Mas`ud  –radhiyallohu `anhu- berkata: “Nilailah seseorang itu dengan orang yang bersahabat dengannya, karena  dia itu hanya akan bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.” (diriwayatkan oleh Abdurrozzaq di “Al Mushonnaf” no. (7894), dan Al Baihaqiy di “Syu’abul Iman” no.( 8994), dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanah” no.( 505), Atsar ini jayyid dengan seluruh jalannya).

Sayyar bin Ja’far رحمه الله berkata: Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Manusia itu berjenis-jenis seperti jenis-jenis burung. Burung dara bersama burung dara, burung gagak bersama burung gagak, bebek bersama bebek, sho’wu (sejenis burung kecil) bersama sho’wu. Dan setiap manusia itu bersama dengan orang yang sekarakter dengannya.”

Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Barangsiapa melakukan pencampuran, maka diapun akan mengalami pencampuran. Dan barangsiapa bersikap bersih, maka diapun akan disikapi dengan bersih. Dan aku bersumpah pada Alloh, jika kalian bersikap bersih, maka kalianpun akan disikapi dengan bersih.”

Seluruh atsar beliau ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Bathhthoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” no. 517 dengan sanad yang hasan.

Yahya bin Sa’id Al qoththon رحمه الله berkata: “Ketika Sufyan Ats Tsauri tiba di Bashroh beliau mulai memperhatikan keadaan Ar Robi’ –yaitu Ibnu Shubaih- dan kedudukannya di mata masyarakat. Beliau bertanya, “Apa madzhabnya?” Mereka menjawab, “Tiada madzhabnya kecuali as Sunnah.” Beliau bertanya, “Siapa teman dekat di sekelilingnya?” Mereka berkata, “Qodariyyah (pengingkar taqdir)” Beliau berkata, “Berarti dia qodari.” (“Al Ibanah”/Ibnu Baththoh/2/453/no. 426/sanadnya hasan).

Abu Hatim Ar Roziy رحمه الله berkata: Tibalah Musa bin ‘Uqbah Ash Shuriy di Baghdad. Maka hal itu diceritakan kepada Ahmad bin Hanbal, maka beliau berkata: “Perhatikanlah oleh kalian, dia singgah ke rumah siapa, dan ke rumah siapa dia bernaung.” (diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 46) dengan sanad yang shohih).

Wahai doktor, engkau berkata pada orang-orang Indonesia: “Doronglah para ikhwah untuk menekuni ilmu, dan menekuni sunnah dan ilmu, selesai.”

Saya telah memaparkan kepadamu, wahai doktor, ilmu dan sunnah dalam bab ini, maka tekunilah keduanya, dan terapkanlah keduanya dengan penerapan salafiy.

Alamat ketiga: mengadu domba antar ulama

            Mengadu domba merupakan kebiasaan hizbiyyin. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan hizb-hizb itu ingin kaum muslimin sibuk dengan perseteruan di antara mereka. hizb-hizb tadi ingin mengadu domba di antara merea dengan memukul orang alim dengan orang alim, jama’ah dengan jama’ah, kabilah dengan kabilah, kepala kabilah dengan kepala kabilah, sementara hizb-hizb tadi bisa melancarkan rencana mereka. mereka punya misi dan punya faidah yang hendak dipetik. Bisa jadi faidah terbanyak akan kembali pada mereka, karena Muslimin tersibukkan dengan kasus antar mereka, sementar hizb-hizb tadi melancarkan rencana mereka yang busuk dan menyebarkannya di negri-negri Muslimin.” (“Al Mushoro’ah”/hal. 420).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang makar Haddadiyyah yang baru yang dipimpin oleh Falih Al Harbiy: Sisi yang ketujuh: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya –sampai pada ucapan beliau:- Kenapa mereka melakukan ini? Jawabnya adalah: Agar memungkinkan bagi mereka untuk menjatuhkan orang-orang yang memerangi mereka dari kalangan Ahlussunnah, dan agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca  mereka, dan memperburuk citra mereka dan citra prinsip-prinsip mereka, dan agar bisa merealisasi sasaran mereka dalam memecah-belah Ahlul manhajis Salafiy dan membenturkan mereka satu sama lain.” (“Khuthurotul Haddadiyyatil Jadidah”/hal. 11).

            Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuri -hafidhahulloh- berkata: “Dan termasuk dari sarana-sarana yang tersembunyi itu untuk memukul dakwah salafiyyah adalah: politik mengadu domba yang dijalankan oleh para lawan dakwah salafiyyah, mengadu domba antara para pembawa dakwah salafiyyah, ulama dan para da’i, mereka menyebarkan di tengah-tengah mereka tadi politik adu domba. Dan ini bukanlah perkara baru.” (kitab “Adhrorul Hizbiyyah”/Syaikh Yahya -hafidhahulloh-/hal. 18).

Dan inilah yang dilakukan oleh Abdurrohman bin Mar’i, Abdulloh bin Mar’i, Hani Buroik, Arofat bin Hasan, yang digambarkan oleh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله bahwasanya mereka adalah orang-orang khususnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid وفقه الله : “Sisi ketiga: apakah termasuk dari duduk yang baik adalah mengadu domba di antara Ahlussunnah?!! Dan ini adalah perkara yang telah pasti dari orang-orang tadi. Pindah kesana kemari, menelpon kesana dan kesini dari satu tempat ke tempat lain di tempat-tempat para masyayikh, di Yaman dan selain Yaman, hingga hampir saja mereka membikin fitnah di antara kami di Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi dada.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 9).

 Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid Al Jabiriy وفقه الله : “Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan padamu wahai Syaikh, bahwasanya kebanyakan orang yang membikin fitnah dan kegoncangan terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman itu jika mereka terbongkar di sisi kami, mereka akan lari ke ulama Saudi, sambil berpura-pura baik di hadapan mereka, sampai-sampai ada dari Ahlussunnah yang berkata: “Kenapa kalian tidak bersepakat saja bersama Az Zindaniy, dan bersama saudara kalian anggota Jam’iyyah ini dan itu?” mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana yang engkau sebutkan dalam jawabanmu ini. Hanya saja pujian mereka dan baik sangkanya mereka kepada orang-orang tadi tidaklah membersihkan mereka dari kasus yang mereka bikin, menurut orang yang telah mengetahui kejahatan mereka tadi. Bahkan yang demikian itu hanya akan menambah pengetahuan dan keyakinan bahwasanya mereka itu adalah para pelaris fitnah, bukan orang-orang yang tenang, bukan orang-orang yang cepat bertobat pada Alloh عز وجل dari kejahatan mereka itu.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 10-11).

Lihatlah perincian upaya adu domba yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy dalam “Nashbul Manjaniq” (hal. 134,136,139/Yusuf Al Jazairiy), “Iqodzul Wisnan” (hal. 5,29) dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 31-32/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy), “Al Qoulush Showab Fi Abil Khoththob” (karya Haidaroh Al ja’daniy), dan “Zajrul ‘Awi” (juz 3/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy).

Sebagai contoh saja dalam penyebutan para tokoh adu domba Mar’iyyun adalah sebagai berikut:

‘Arofat Al Bushoiriy. Berupaya mengadu domba para tokoh utama, sementara dia sendiri meremehkan ulama Yaman dan pimpinan mereka yaitu Al Imam  Muhadditsil Jaziroh Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله . (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Muhammad Gholib. Termasuk orang-orang yang mengadu domba antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Ubaid. Yang demikian itu dikarenakan kedekatannya pada Ubaid. Muhammad Gholib adalah teman duduk yang jelek. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hani bin Buroik Al ‘Adniy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata tentangnya: Hani bin Buroik, pada hakikatnya dia itu tak punya nilai besar di sisi kami  –sampai pada ucapan beliau:- dan dia mengadu domba antara kami dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq dan perlindungan. Dia berkata: “Tamparlah mereka, wahai Syaikh, sekaranglah saatnya bagi Anda untuk untuk menampar mereka wahai Syaikh.” Demikianlah saudara kita mengabari aku, dan dia mendengar, dan dia yang bertanggung jawab atas berita ini. Aku tidak menukilkan setiap perkara yang datang padaku. Aku hanya menukilkan hakikat yang ada sanadnya.” Dst. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 11/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hafizh Al Junaidiy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Semoga Alloh tidak membalasnya dengan kebaikan. Dia telah menulis risalah yang kesimpulannya adalah cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan mengadu domba di antara ulama. Dia telah dibantah oleh akh fillah ‘Arofat Al Qibbathiy dengan risalah yang berjudul “Ar Roddul Badi’ ‘Ala Hafizh Al Junaidiy Ash Shori’”. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Asy Syaikh Abu Abdissalam -Hasan bin Qosim Ar Roimiy- حفظه الله menggambarkan hizb baru itu sebagai berikut: “Yang penting adalah bahwasanya mereka itu sebagaimana telah aku sebutkan terdahulu berupaya keras untuk menghasilkan perpecahan di antara ulama sunnah di dalam dan luar Yaman. Kejadian perang kaset antar dua syaikh Al Wushobiy dan Al Hajuriy tidak lain adalah contoh yang terbaik untuk itu. Dan tidaklah perang malzamah yang dikeluarkan Asy Syaikh Al Jabiriy وفقه الله untuk menentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kecuali contoh hidup yang baik untuk membuktikan apa yang telah aku jelaskan terdahulu.” (“Ar Roddul Qosimiy”/hal. 3).

Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله menyebutkan bahwasanya di antara sisi kemiripan antara Abdulloh Mar’i dengan Abul Hasan adalah: mengadu domba di antara ulama sunnah. (“Zajrul ‘Awi”/juz 3/hal. 34).

Dan di antara perbuatan pengikut Abdulloh bin Mar’i itu adalah sebagaimana laporan dari para pelajar Dis Timur حفظهم الله  bahwasanya sebagian pengikut Nabil Al hamr, mereka itulah yang menelpon Ubaid dengan soal-soal yang bersifat adu domba itu. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy).

Alamat keempat: penyempitan gerak salafiyyin dan pemancangan permusuhan terhadap mereka

            Ini adalah sifat hizbiyyin. Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله setelah menyebutkan gangguan para hizbiyyin, beliau berkata: “… karena mereka itu, termasuk dari adat mereka adalah membela manhaj mereka dengan keras, lalu menyakiti orang yang mengkritiknya. Ini adalah kebiasaan ahli batil di setiap zaman dan tempat, sejak zaman Nuh sampai hari kita ini.” (“Ar Roddusy Syar’iy”/hal. 69).

Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan aku ingat ada seseorang dari salafiyyun yang menelponku, dia menyebutkan bahwasanya dirinya pernah punya suatu kebutuhan yang disampaikannya (pada pemerintah) tapi tidak dijawab dan tidak ditanggapi. Aku bertanya pada si penelpon: “Apa sebabnya?” dia menjawab: “Para pembegal. Mereka tidak membiarkan sedikitpun bagi kami para salafiyyin agar bisa berhubungan ke pejabat.” Maka aku merasa heran. Dan setelah itu ada seorang salafiy yang punya urusan membangun masjid, sampai ke seorang pejabat dari kalangan hizbiyyin. Surat pengurusan tadi tertahan di situ selama enam bulan. Ketika si pemilik surat merasa lambat, diapun menanyakannya. Maka dikabari bahwasanya surat tadi telah pergi dengan nomor sekian, dan tidak kembali. Setelah diselidiki jelaslah bahwasanya surat tadi ada di tempat si hizbiy tadi.” (“Ar Roddul Muhabbir”/hal. 132-133).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang sifat-sifat Haddadiyyah: “Kesembilan: Mereka punya keistimewaan dengan melaknat, kasar, dan meneror sampai pada derajat mengancam salafiyyin dengan pukulan, bahkan tangan mereka telah menjulur dengan memukul sebagian salafiyyin.” (“Shifatul Haddadiyyah”/hal. 51-52).

            Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Di dalam hizbiyyah itu ada pembuangan wala wal baro yang benar, merobek barisan muslimin. (Alloh ta’ala berfirman):

َلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [الروم : 31 ، 32]

“Dan janganlah kalian termasuk golongan Musyikin, termasuk orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar Rum: 31-32).

            Kenapa wahai para hamba Alloh, kalian membebek Yahudi dan Nashoro, dan kalian meninggalkan apa yang diperntahkan oleh Alloh سبحانه وتعالى , kalian memancangkan permusuhan pada orang yang berkata: “Ini adalah harom,” dan orang yang memberikan nasihat pada kalian dengan kasih sayang dan kelembutan? Kenapa kalian menggenggamkan masjid-masjid untuk orang-orang yang di hizb kalian, sementara kalian menjauh dan melarang dari orang yang berkata: “Alloh berfirman, Rosul-Nya berfirman”!? kenapa ada penyempitan terhadap salafiyyin seperti ini?

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِالله الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  [البروج/8]

 “Dan tidaklah mereka menghukum orang-orang tadi kecuali karena orang-orang tadi beriman pada Alloh Al ‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan Al Hamid (Yang Maha Terpuji).”

            Untuk apa melakukan penyempitan terhadap Salafiyyin seperti ini sementara mereka berkata: “Alloh berfirman, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda.”.” (“Adhrorul Hizbiyyah”/hal. 11).

            Yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al Adniy adalah: mereka memukul sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini seperti saudara kita Abu Isa Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy dan lainnya. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

            Sebagian contohnya telah diberitakan kepadaku oleh saudara yang mulia Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله.

Bahkan sebagian pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy telah mengancam sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini untuk dibunuh. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

            Salah seorang dari mereka telah mencekik saudara kita Irham Al Jawiy Al Indonesiy.

            Salah seorang dari mereka telah memukul dada saya. Yang lain memukul leher saya dan mengancam membunuh saya.

Berita-berita tentang kekasaran dan teror mereka itu panjang penyebutannya. Dan kebanyakan dari kami bersabar dan tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Jika kami yang bersabar sampai demikian saja Abdulloh Al Bukhoriy dan yang lainnya bilang: “Mereka adalah Haddadiyyun, orang garis keras”, maka bagaimana jika kami membalas kejelekan tadi dengan kejelekan yang serupa? Barangkali mereka akan membikin ribut dunia dan berteriak: “Mereka adalah haddadiyyun yang melebihi haddadiyyun, mereka adalah kelompok garis keras nomor wahid!”

            Adapun yang dilakukan oleh para pengikut Abdulloh bin Mar’i: dikatakan oleh Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy حفظه الله : “Ini dia saudara kita yang mulia Muhammad bin Ali Al Katsiriy حفظه الله ورعاه akan mengisahkan pada kita ringkasan kejadian yang menimpa saudara kita yang mulia Abu Ammar (Yasir) رعاه الله. Beliau telah menelpon Salim Ba Muhriz, orang tua yang kakinya sudah hampir mendekati kuburan itu tapi jadi orang yang terfitnah. Kita berlindung pada Alloh ta’ala. Muhammad Al Katsiriy حفظه الله berkata: “Adapun kejadian yang menimpa saudara kita Yasir Ad Duba’iy Abu Ammar dari perbuatan Salim Ba Muhriz adalah sebagai berikut: Salim Ba Muhriz mewaqofkan nafkah dan menyewa tempat tinggal untuk akh Abu Ammar([2]) dan perlu diketahui bahwasanya nafkah itu datang dari sebagian ikhwah dari Emirat. Dan Salim Ba Muhriz itu hanyalah perantara saja untuk menyampaikan nafkah tadi kepada akh Abu Ammar. Ba Muhriz melakukan ini –mengusir Asy Syaikh Abu Ammar dari rumah beliau dan memutus nafkah beliau- tanpa minta izin pada ikhwah pemberi nafkah di Emirat. Perkara lainnya adalah: bahwasanya mereka –anak buah Ba Muhriz- itu melakukan penyempitan antaranya adalah dengan mengunci maktabah dan mengunci kunci-kunci pintunya. Ini yang aku tahu.”

Ditulis oleh Muhammad bin Ali Al Katsiriy. ([3])

(“Zajrul ‘Awi”/seri tiga/hal. 35-36/karya Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy).

            Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhomiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya saudara yang mulia Abu Ammar حفظه الله ورعاه telah mendapatkan kecapekan yang amat sangat dari kelompok Abdulloh Mar’i di Mukalla. Beliau dan para muridnya disakiti di masjidnya dan dipersempit. Kejadian penyempitan dan yang lainnya yang mereka alami di bulan Romadhon pada tahun ini merupakan perkara yang patut disesalkan, menyakitkan dan menyedihkan sampai-sampai mereka tidak bisa menikmati lezatnya I’tikaf adalah perkara yang telah diketahui yang tidak bisa diingkari kecuali oleh orang yang pura-pura tidak tahu.” ([4]) (“Zajrul ‘Awi”/seri tiga/hal. 35).

            Dan termasuk dari itu adalah berita-berita dari kabupaten Dis Timur tentang Nabil Al Hamr dan anak buahnya:

1- Nabil Al Hamr dan anak buahnya telah melakukan praktek pengkhianatan dalam bentuk merusak Perpustakaan umum milik Salafiyyun di wilayah tersebut. Mereka mengambil seluruh kitab dan memasukkan di atas truk pasir, sambil menghinakan kehormatan masjid dan kekuasaan masjid di situ tanpa memperhatikan adab-adab syar’iyyah ataupun akhlaq yang mulia, dan berbuat jahat terhadap dunia ilmu. Yang demikian itu mereka lakukan demi menguasai perangkat dakwah yang menjadi waqof buat Salafiyyin. Dan orang ini (Nabil Al Hamr) terkenal punya penyakit gila kepemimpinan dan popularitas.

2- Orang ini (Nabil Al Hamr) juga melakukan perbuatan di luar adab-adab syar’iyyah dan adab kemasyarakatan. Ketika salah seorang ikhwah –akhuna Abu Muhammad Sholih Al Hadhromiy- yang sudah Antum kenal menyampaikan ceramah dan nasihat kepada masyarakat di dalam masjid. Beliau menyebutkan sekelumit pujian ulama kepada Asy Syaikh Yahya dan menjelaskan bahwasanya maksiat itu merupakan sebab tidak adanya taufiq kepada kebenaran. Maka datanglah si Hamr  dari luar masjid dan menyerang Akhuna Sholih dengan caci-makian seraya berteriak-teriak untuk memutuskan ceramahnya tanpa menghormati kahormatan masjid. Maka keluarlah orang-orang dari masjid dengan tercengang akan perbuatan si Hamr, yang mana hal itu belum pernah dilakukan oleh Shufiyyah ataupun Ikhwanul Muslimin di tempat kami.

3- Nabil Al Hamr yang terfitnah ini dan juga para pengikutnya melakukan praktek-praktek makar untuk menyempitkan pelajaran-pelajaran yang diadakan oleh Akhunal fadhil Abu Hamzah Hasan Ba Syu’aib, padahal pelajaran yang dia berikan itu ilmiyyah dan bermanfaat. Si Hamr yang terfitnah bersama anak buahnya berusaha melarikan masyarakat dari Akhuna Hasan dan para Salafiyyun dengan syubhat bahwasanya mereka itu melawan ulama.

Dan di nomor (8): kerja kerasnya yang berlipat ganda dalam mentahdzir orang dari Dammaj dan masyayikh serta para pelajar yang datang dari Dammaj dalam rangka dakwah ke jalan Alloh dan menyebarkan kebaikan. Orang tadi menyebarkan isu-isu dan kedustaan tentang orang-orang Dammaj yang isu tadi menyebabkan orang-orang lari. Si Nabil melakukan itu berdalilkan dengan sebagian ucapan Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab وفقه الله.

9- Di sini ada Jam’iyyah yang namanya Jam’iyyatul Bandar untuk para nelayan. jam’iyyah inlah yang terus menyokong fitnah ini dan berdiri bersama Nabil Al Hamr yang terfitnah dalam rangka membantu kedua anak Mar’iy. Abdulloh bin Mar’iy adalah mufti (juru fatwa) jam’iyyah tersebut. Jam’iyyah ini telah banyak memecah belah dakwah salafiyyah dengan wala wal baro’ yang sempit dan fanatisme. Mereka siap untuk menyakiti setiap yang berbicara tentang mereka dengan meminta bantuan sebagian pejabat. Dst.

(“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin bi Manthiqotid Disy Syarqiyyah”/talkhish Abi Sa’id Muhammad Ad Disiy Al Hadhromiy).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Sesungguhnya setiap kali seorang hamba itu bersungguh-sungguh dalam istiqomah, dakwah ke jalan Alloh, dan menegakkan perintah-Nya untuk-Nya, musuhpun bersungguh-sungguh menghasung orang-orang tolol untuk menyakitinya. Tapi hamba ini dalam kejadian ini telah memakai baju perangnya dan mulai memerangi musuhnya untuk Alloh dan dengan pertolongan Alloh.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 226).

Al Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata: “Dan yang mempergunakan kebengisan mereka itu adalah orang-orang yang bodoh seperti hizbiyyun dan yang lainnya. Adapun Ahlussunnah, maka mereka itu tidak mempergunakan kebengisan, .. tapi hizbiyyun, mereka itulah yang mempergunakan kebengisan.” (“Tuhfatul Mujib” hal. 225-226).

Alamat keenam: menggerakkan pemerintah untuk menyakiti salafiyyin

            Ini adalah perkara lama. Al ‘Allamah Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang sebagian ahli bathil: “Setiap orang yang punya kekuasaan dari kalangan mereka dengan kedekatannya dengan raja-raja, maka sungguh mereka itu menyakiti Ahlussunnah dengan seluruh hukuman, siksaan dan pembunuhan.” (“Al I’tishom”/bab dua/hal. 91/cet. Darul ‘Aqidah).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Sesungguhnya Ahlul bida’, yang menjadi kebiasaan mereka adalah aktif mengingkari Ahlussunnah. Jika mereka punya kelompok atau menempel kepada penguasa yang hukumnya berlaku di masyarakat, dan perintahnya berlaku di berbagai penjuru. Orang yang meneliti sejarah orang-orang terdahulu dia akan mendapati gambaran tersebut secara tidak tersamarkan.” (“Al I’tishom”/bab enam/hal. 308/cet. Darul ‘Aqidah).

            Al Imam Muhammad bin AbdilWahhab An Najdiy رحمه الله dalam perkara-perkara jahiliyyah yang di situ Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyelisihi ahli jahiliyyah berkata: keenam puluh dua: kebiasaan mereka jika mereka terkalahkan dengan hujjah, mereka kembali kepada metode kekerasan dan mengadu ke raja-raja, dan mendakwakan bahwasanya ahlul haq itu menghina penguasa dan hendak memindahkan rakyat dari agamanya. Alloh ta’ala berfirman dalam surat Al A’rof (127):

﴿أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾.

“Apakah Anda akan membiarkan Musa dan kaumnya merusak di bumi?”

(“Masailul Jahiliyyah”/hal. 193/cet. Darul ‘Ashimah).

            Fadhilatusy Syaikh Ali Al Faqihiy حفظه الله berkata tentang sifat sempalan-sempalan: “… setiap sempalan membikin bid’ah dalam agama Alloh yang tidak diizinkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, … dan orang yang menyelisihi mereka, mereka menghukuminya sebagai mubtadi’ dan fasiq, dan berlepas diri darinya. Dan jika mereka memiliki kekuasaan, dan pemerintah menaati mereka, merekapun menghasung pemerintah untuk menyakitinya, lalu mereka memenjarakannya, memukulnya dan bisa jadi membunuhnya.” (“Al Bid’ah”/hal. 28).

            Hizb Mar’iyyin telah melakukan itu terhadap salafiyyin berulang kali hingga hal itu menjadi alamat yang jelas bagi mereka. Syaikh kami Abu Bilal Kholid bin ‘Abud Al Hadhromiy حفظه الله berkata dalam “Bayan Hizbiyyah Ibnai Mar’i” berkata: “Bukankah kelompok itu meminta bantuan pada penguasa untuk menyakiti para penyeru sunnah dan pembela kebenaran? Dan ini adalah termasuk dari alamat ahli bida’. Dan tidaklah tersembunyi dari kalian apa yang diperbuat oleh Ibnu Abi Duad terhadap Al Imam Ahmad, dan apa yang mereka perbuat terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan apa yang mereka perbuat terhadap Abu Isma’il Al Harowiy, dan para pemimpin agama yang lain.

            Bukankah ada pada mereka (Mar’iyyun) apa yang ada pada kelompok-kelompok yang seperti mereka, yaitu upaya merampasi masjid-masjid yang ada di tangan Ahlussunnah? Bahkan mereka telah melakukan itu di beberapa kota. Dan mereka dalam berbuat zholim itu minta bantuan sebagian pejabat, semoga Alloh member mereka hidayah.” Selesai penukilan.

Akhunal fadhil Abu Anas Yusuf Al Lahjiy –ro’ahulloh- menuliskan:

“Alhamdulillah washsholatu wassalam ‘ala man la nabiyya ba’dahu. Amma ba’du:

Al Akh Al ‘Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” yang ada di propinsi Lahj di desa MahAlloh. Yang demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut. berikut ini hakikat dari kejadian tersebut:

Kami berangkat dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal fadhil Abdul ‘Aziz yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh (ceramah) akan diberikan oleh  Akhuna Abdul ‘Aziz, imam dari masjid tersebut. Ketika kami sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut terkunci. Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya sebagian orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mar’iy beserta orang-orang awam dari penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid ini. Dan kami tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.

Maka kamipun masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar menuju masjid. Dan hal itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan demikian kami mendengar ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari sebagian muta’ashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mar’iy) beserta orang-orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman –hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras suara dirampas.

Dalam keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan adzan dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian beberapa muta’ashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna Abdul ‘Aziz dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan tentara untuk mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada para hizbiyyin yang fanatik. Para tentara berkata: “Bagaimana mungkin kita menahan beliau dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah?” Maka duduklah sang tentara dan mereka mendengarkan ceramah, dalam keadaan para muta’ashshibun terus membikin kegaduhan.

Kemudian lewatlah sebagian muta’ashshibun yang rencananya menghadiri ceramah di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid ini datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan sebagian ingin menantang adu pukul.

Seusai ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami dapati  muta’ashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad Al Khidasyi –ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara. Dan pada hari yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy –hadahulloh- (tangan kanan Abdurrohman bin Mar’iy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota jam’iyyatul Hikmah lalu jam’iyyatul Ihsan, lalu jam’iyyatul Birr). Kami diberitahu bahwasanya dia berkata para polisi: “Orang awamlah yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi imam, jadilah dia imam.” Pada kami sudah tahu bahwasanya para muta’ashshibun telah menghasung orang-orang awam untuk menurunkan Akhuna Abdul ‘Aziz –hafizhohullohu wa saddadahu- dari jabatan imam.

Ditulis oleh  Abu Anas Yusuf Al Lahjiy.

(“Zajrul ‘Awi”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).

            Ini sedikit dari kebatilan-kebatilan hizb baru, dan masih tersisa perkara-perkara yang besar yang terperinci dalam risalah-risalah yang lain. Dan saya tidak yakin bahwasanya perkara-perkara ini diabaikan oleh doktor Abdulloh Al Bukhoriy, jika di dalam hatinya masih tersisa sedikit kasih sayang, mata hati dan salafiyyah. Akan tetapi kenapa setelah bayyinah-bayyinah ini semua ternyata si doktor tidak menerima penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin, ulama sunnah dan para pelajar yang bersama beliau? Bukankah “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut.”

            Yang mengherankan adalah bahwasanya doktor Abdulloh Al Bukhoriy dalam bantahannya terhadap Abul Hasan Al Mishriy berkata: “Kaidah: “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut.” Dan kaidah ini, para imam ahli hadits mempergunakannya. Dan yang demikian itu diterapkan terhadap orang yang tidak mereka kenal, atau dalam menentukan pendapat yang lebih kuat terhadap seseorang yang diperselisihkan, maka orang tersebut disikapi dengan kaidah tadi, seperti qorinah (faktor penyerta) yang dipakai untuk menentukan pendapat yang lebih kuat.

            Sebagian ulama berpandangan bahwasanya kaidah ini tadi disendirikan dari kaidah yang terdahulu, dan ini merupakan pendapat yang sangat kuat. Dan mengingatkan manusia akan pentingnya kaidah ini tadi akan memalingkan pandangan mereka kepada kaidah tadi pada saat sekelompok orang lalai dengannya, dan dengan sebab kebodohan mereka tadi, atau pura-pura bodohnya mereka tadi, mereka menolak kebenaran yang terdapat pada kasus menilai seseorang.

            Al Hafizh Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berkata di bawah judul: Bab Pendapat Dalam Jarh Wat Ta’dil Jika Bertemu, Yang Manakah Yang Lebih Utama (Untuk Diambil)? Beliau berkata: “Para ulama bersepakat bahwasanya orang yang di-jarh (dikritik) oleh satu atau dua orang, tapi dirinya dipuji oleh orang yang jumlahnya sebanding dengan pihak pen-jarh, maka jarh itu lebih pantas diambil. Alasannya adalah: bahwasanya sang pen-jarh itu mengabarkan perkara yang tersembunyi yang telah diketahuinya, dan tahu akan kejujuran si pemuji, … Dan pengabaran si pemuji (pemberi tazkiyah) tentang kelurusan agama seseorang secara lahiriyyah itu tidaklah meniadakan kejujuran si pen-jarh terhadap apa yang dikabarkannya, maka yang demikian itu mengharuskan lebih diutamakannya jarh (celaan) daripada ta’dil (pujian). –kemudian Al Khothib menyebutkan sanad- dari Kholid bin Khidasy yang berkata: aku mendengar Hammad bin Zaid berkata:

( كانَ الرَّجلُ يقدمُ علينا مِنَ البلادِ، ويذكرُ الرَّجلَ، ويُحدِّثُ عنه، ويحسنُ الثناءَ عليه، فإذا سألنا أهلَ بلادهِ وجدناه على غير ما يقولُ، قال: وكان يقول: بلدي الرَّجلِ أعرف بالرَّجلِ).

“Dulu ada seseorang yang mendatangi kami dari negri-negri yang lain, dia menyebutkan nama seseorang dan menyampaikan hadits darinya, dan memujinya. Tapi jika kami menanyai orang yang senegara dengannya kami dapati orang itu tidak seperti yang dikatakan si pemuji.”

Kholid berkata: Hammad berkata: “Orang yang senegara dengan seseorang itu lebih kenal (daripada yang lainnya).”

Aku (Al Khothib) berkata: yang demikian itu adalah dikarenakan mereka (penduduk negri tersebut) punya tambahan ilmu tentang keadaan orang tadi, melebihi dari apa yang diketahui oleh orang asing yang berupa lahiriyyah kelurusan jalan hidupnya([5]). Hammad menjadikan hukum itu untuk perkara yang mereka ketahui, yang berupa celaan terhadap orang tadi, bukan berita yang dikabarkan oleh orang asing, yang berupa kelurusan jalan hidupnya.” (“Al Kifayah”/hal. 175-176).

Dan datang dalam “Al Ma’rifah Wat Tarikh” ([6]) karya Al Fasawiy: Ibnu Utsman menceritakan pada kami:

قال عبدالله: أهلُ البصرةِ ينكرونَ حديث الجلد بن أيوب،و يقولونَ: شيخٌ ليس بصاحبِ حديثٍ. قال ابن المبارك: وأهلُ مصْرهِ أعلمُ به مِنْ غيرهم.

Abdulloh berkata: “Penduduk Bashroh mengingkari hadits Al Jald bin Ayyub, dan mereka itu berkata: “Orang ini syaikh, tapi bukan ahli hadits.” Ibnul Mubarok berkata: “Dan penduduk kota itu lebih tahu tentang dirinya daripada orang lain.”

            Maka engkau lihat wahai pembaca yang mulia, bagaimana para imam (Ibnul Mubarok dan Ibnu Zaid) mengamalkan ini. Dan berdasarkan inilah para imam hadits yang lainnya beramal, mereka mengamalkan kaidah ini, dan mereka berpendapat dengan itu, dan itulah yang benar tanpa keraguan dan kesamaran, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya! Dan setelah penjelasan ringkas ini, tentang prinsip ini menurut Ahlussunnah, aku katakan: Sesungguhnya si Ma’ribiy (Abul Hasan) dan fitnahnya ini telah berusaha dengan keras untuk menggoncangkan prinsip ini, …dst.”

(selesai sampai di sini ucapan Abdulloh Al Bukhoriy dalam kitabnya “Al Fathur Robbaniy”/ hal. 221-222/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

            Ucapan dari Abdulloh Al Bukhoriy ini bagus sekali dalam membantah Abul Hasan Al Ma’ribiy, karena Abul Hasan Al Ma’ribiy menyelisihi kebenaran dalam bab ini. Tapi kami dapatkan pada masa-masa ini Abdulloh Al Bukhoriy sendiri menyelisihi perkataannya sendiri, dan menyelisihi kebenaran disebutkannya sendiri dalam bab ini.

Maka saya katakan Abdulloh Al Bukhoriy senada dengan ucapannya pada Abul Hasan Al Ma’ribiy: “Mana pengambilannya terhadap kaidah “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut”? orang ini telah mengkritik Asy Syaikh Robi’ dengan kaidah ini, sebagaimana dalam bantahannya terhadap risalah “Jinayatu Abil Hasan ‘Alal Ushulis Salafiyyah” (hal. 3). Kenapa kaidah ini tertinggal di sini? Atau apakah kebutuhan mengharuskan untuk mengadakan pembelaan agar si Zaid dan Amr merasa ridho dengannya? Orang ini memakai kaidah-kaidah ilmiyyah kapan saja dikehendakinya, dan meninggalkannya kapan saja diinginkannya, tanpa ada yang mengawasi dan memeriksa. Dan ini merupakan permainan terhadap syariah yang telah tetap dan kaidah ilmiyyah. Dulu dikatakan:

قامة تَنمي وعقل يحْري

“Kakinya bertambah kokoh, tapi akalnya justru berkurang!!” ([7])

(“Al Fathur Robbaniy”/ hal. 227/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

            Maka wahai Abdulloh Al Bukhoriy,

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾ [البقرة/44]

“Apakah kalian memerintahkan manusia dengan kebajikan, tapi kalian melupakan diri kalian sendiri dalam keadaan kalian membaca Al Kitab. Maka apakah kalian tidak memikirkan?”

            Orang-orang Mar’iyyun bagi kami adalah hizbiyyun –wahai doktor-, dan muhadhorot-muhadhorot (ceramah) mereka sekalipun di situ mereka mengundang para ulama Ahlissunnah, maka ceramah itu sesungguhnya adalah untuk mengumpulkan orang-orang di sekeliling mereka, dan mereka itu berbanyak-banyak dengan orang yang berceramah, dan mereka menggambarkan bahwasanya “Asy Syaikh Fulan itu bersama kami, dan kami itu banyak.” Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ * سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُر﴾ [القمر/44، 45].

“Apakah mereka berkata: “Kami adalah kumpulan yang tertolong.” Kumpulan itu akan terkalahkan dan berbalik ke belakang.”

            Silakan ambil ucapan Al Imam Al Wadi’iy As Salafiy: “Hendaknya engkau amat berhati-hati dari orang yang menjadikan dirimu sebagai ujung tombak yang mereka menjaring manusia dengan dirimu. Mereka berkata padamu: “Kami ingin agar Anda menyampaikan ceramah di markiz Fulani.” dan mereka ingin berkata pada orang-orang: “Fulan bersama kami.” Mereka ingin menjaring para pemuda denganmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 102/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Ini cukup sebagai alasan kenapa ulama Salafiyyun melarang manusia menghadiri acara ceramah yang diselenggarakan oleh Ahlul ahwa sekalipun yang berceramah adalah ulama.

Bab Dua:

Kelalaian Abdulloh Terhadap Karakteristik Akal Dalam Kasus Ini

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan orang-orang yang berakal –kami tidak berkata: para pelajar-, orang-orang yang berakal bisa mengetahui ketololan ini.”

            Abdulloh هداه الله berkata: “Apakah manusia tidak punya kemampuan untuk memisahkan dan membedakan? Apakah engkau tidak mengetahui siapakah yang mengajarinya, dan mengarahkannya, dan siapakah yang mendatangkan fitnah dan kerumitan? Yang pasti, mereka itu datang untuk membikin fitnah ini.”

            Saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-: Abdulloh Al Bukhoriy menggambarkan bahwasanya orang-orang yang berakal dan punya kemampuan pembeda itu bertentangan dengan dakwah syaikh kami An Nashihul Amin yang yang bersama beliau –semoga Alloh memelihara mereka- karena orang-orang tadi dengan akal-akal mereka mereka bisa mengetahui apa yang dianggap oleh Abdulloh sebagai “Ketololan Al Hajuriy dan pengikutnya”. Bantahan untuknya adalah sebagai berikut:

Pasal satu: definisi akal

            Akal adalah: pikiran, kepandaian, lawan dari ketololan. Jama’nya adalah uqul. Dikatakan: “pria berakal” adalah orang yang masih lengkap urusannya dan pendapatnya. Lafazh ini diambil dari ungkapan: (عقلت البعير) jika engkau mengumpulkan kaki-kaki onta itu. Dan dikatakan: orang berakal adalah orang yang menahan dirinya dan menolaknya dari hawa nafsunya. Akal dikatakan sebagai akal karena dia mengikat pemiliknya dari terperosok ke dalam kebinasaan. Yaitu: menahannya dari itu. Dikatakan: akal adalah pembedaan yang dengannya manusia membedakan diri dari seluruh binatang.” (lihat “Lisanul ‘Arob”/11/hal. 458).

            Dan sifat akal secara umum adalah: membedakan antara dua perkara yang berbeda, sebagaimana dia menyamakan antara dua perkara yang serupa. Dan sifat akal adalah: jika dia disinari oleh Al Ikitab dan As Sunnah adalah apa yang disebutkan oleh Ar Roghib رحمه الله: “Akal membimbingnya kepada petunjuk, atau menolaknya dari kenistaan.” (“Mufrodat Ghoribil Qur’an”/1/hal. 342).

Pasal dua: orang-orang berakal dari kalangan salafiyyun dan ulama mereka mengetahui hizbiyyah kedua anak Mar’i

            Syaikh kami An Nashihul Amin, para ulama yang bersama beliau, dan para pelajar besar –semoga Alloh memelihara mereka- telah menerangkan penyelisihan kedua anak Mar’i dan gerombolannya terhadap Al Kitab dan As Sunnah serta manhaj Salaf. Mereka juga telah menjelaskan sisi-sisi keserupaan antara gerombolan tadi dan para pendahulu mereka dari kalangan hizbiyyin. Maka orang-orang berakal yang sejati mengetahui dengan itu hizbiyyah gerombolan tersebut.

            Melihat kepada kuatnya keserupaan antara dua perkara merupakan metode yang sesuai dengan Al Qur’an, As Sunnah, Salafiyyah, fithroh dan akal.

            Telah tetap dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam:

«وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

“Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu bukanlah dari golonganku.”(HR Imam Ahmad/ no. (5232)/Hadits jayyid).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan hakikat pendalilan dengan sunnatulloh dan kebiasaan Alloh adalah: menilai sesuatu dengan yang mirip dengannya, dan itu adalah penyamaan di antara dua perkara yang serupa, dan pembedaan antara dua perkara yang berbeda. Dan inilah penilaian yang diperintahkan di dalam Al Qur’an.” (“An Nubuwwat”/1/hal. 264-265).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun hukum-hukum Alloh yang bersifat perintah syar’iyyah, maka semuanya adalah seperti itu: engkau mendapatinya mencakup penyamaan antara dua perkara yang serupa, penggabungan sesuatu dengan yang serupa dengannya, menilai sesuatu dengan yang mirip dengannya, dan membedakan dua perkara yang berbeda, dan tidak menyamakan yang satu dengan yang lain.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 195).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Para shohabat رضي الله عنهم itu memisalkan kejadian-kejadian dengan yang serupa dengannya, dan menyerupakannya dengan yang semisal dengannya, serta mengembalikan sebagiannya kepada sebagian yang lain dalam hukum-hukumnya” –kemudian beliau menyebutkan contoh-contoh yang membuktikan bahwa akal itu menilai sesuatu dengan yang serupa dengannya, sampai pada ucapan beliau:- “Dan ini adalah termasuk perkara yang Alloh fithrohkan (ciptakan) para hamba-Nya ada di atasnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 173-174/cet. Darul Hadits).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan Alloh telah mengkonsentrasikan di dalam fithroh manusia dan akal mereka untuk menyamakan dua perkara yang saling serupa, dan mengingkari pemisahan di antara keduanya, serta memisahkan dua perkara yang saling berbeda, dan mengingkari pengumpulan di antara keduanya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 109).

            Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya penggabungan sesuatu dengan yang serupa dengannya merupakan kebiasaan orang-orang yang berakal.” (“Al Burhan”/1/hal. 47).

            Demikian pula As Suyuthiy رحمه الله mengambil faidah dari beliau dalam kitab “Al Itqon” (1/hal. 358).

Dan setelah penjelasan ini semua, jelaslah bagi orang-orang yang ikut sunnah dan salafiyyah, pemilik akal dan pembedaan: bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau رعاهم الله itu lebih berbahagia daripada Abdulloh Al Bukhoriy dalam masalah akal, bahkan dalam masalah Al Kitab, As Sunnah, Salafiyyah, fithroh dan akal.

Bab tiga:

Upaya Abdulloh Al Bukhoriy dan Pengikutnya Untuk Menyematkan Gelar “Fitnah” Pada Salafiyyin Dammaj

            Usamah Al Mahriy Al Indonesiy berkata: “Fitnah ini yang datang dari Dammaj sebagaimana telah Anda ketahui, semakin mengeras hari demi hari. Malzamah-malzamah disebarkan dan datang kepada kami, dan demikianlah tidak berhenti.”

            Dia juga berkata: “… salah seorang yang terfitnah oleh Al Hajuriy”

            Sementara Abdulloh Al Bukhoriy هداه الله menyetujui itu. Dan di sela-sela cercaan Abdulloh Al Bukhoriy ke Salafiyyin Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka, Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan tidaklah menumbuhkan fitnah ini, dan tidak pula melariskannya dan menyebarkannya ke orang-orang awwam kecuali orang yang terfitnah.”

            Abdulloh Al Bukhoriy juga berkata: “Ucapan ini tak perlu diulang, dan tidak mengucapkannya kecuali orang yang terfitnah yang busuk.”

            Jawab saya:

            Iya, sesungguhnya fitnah itu terjadi pada awalnya di Dammaj karena sang pembuat makar –yaitu Abdurrohman Al ‘Adniy- tinggal di Dammaj, dan di situ pula dia dan gerombolannya merancang makar terhadap markiz yang diberkahi ini. Adapun para pendorongnya adalah datang dari luar. Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui pada ijtima’ yang pertama bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

            Bersamaan dengan itu orang ini –semoga Alloh memberinya petunjuk- tidak mau mengabarkan pada syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy dan masyayikh حفظهم الله nama-nama para penghasung dan tukang makar tersebut. Dan memang tidak mungkin si Adniy mau membongkar temannya sendiri, karena sasarannya sama.

وافق شن طبقه

“Bejana itu cocok dengan tutupnya.” ([8])

            Abdurrohman bin Mar’i dan gerombolannya telah melaksanakan makar mereka sehingga berlangsunglah kumpulan-kumpulan rahasia di sebagian rumah dan di kegelapan malam. Di antaranya adalah kumpulan rahasia di antara dirinya dan Yasin Al ‘Adniy. Saksinya adalah akh Abdul ‘Aziz Al ‘Aqrobiy حفظه الله (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/Asy Syaikh Kamal Al ‘Adniy/12, dan “Syarorotul Lahab”/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy/3/hal. 21).

            Upaya hizb baru tersebut dalam pengelompokan dan pembentukan tandzhim itu telah diketahui. Bacalah “Iqozhul Wisnan” (hal. 9), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 21), “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 29). “Nashbul Manjaniq” (hal. 81), dan juga “Syarorotul Lahab” (2/hal. 8).

            Demikian pula pertemuan rahasia mereka banyak sekali, lihat “Syarorotul Lahab” (1/hal. 17), (2/hal. 18-20), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 3 dan 22), dan “Nashbul Manjaniq” (hal. 6) dan yang lainnya.

            Al Imam Al ‘Auza’iy رحمه الله berkata: Umar bin ‘Abdul ‘Aziz رحمه الله berkata:

إذا رأيت القوم يتناجون في دينهم دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة. (“الزهد” لأحمد بن حنبل / (1694)،

“Jika engkau melihat orang-orang berbisik-bisik dalam agama mereka tanpa memberitahukan pada orang umum, maka ketahuilah bahwasanya mereka ada di atas pembentukan prinsip kesesatan.” (“Az Zuhd” (Al Imam Ahmad (1694), “Sunan Ad Darimiy” (no. 313). Rowinya tsiqot, dan Al Auza’iy itu sezaman dengan Umar bin Abdil ‘Aziz, dan keduanya ada di Syam. Maka kemungkinan keduanya berjumpa itu besar).

            Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang sifat khusus ulama sunnah: yang keempat: jelasnya titik tolak dan alur dakwah ke jalan Alloh, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, maka tidak ada kerahasiaan ataupun perkumpulan tersembunyi, tidak ada pertemuan khusus di kedalaman lubang yang gelap di tempat sepi, atau di bawah gua di gunung-gunung sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyun harokiyyun di setiap negri Muslimin, … dst. (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 9).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Akan tetapi hizbiyyah itu merusak. Engkau akan mendapati sebagian orang yang dulunya lurus, berdakwah pada tauhid, maka jika dirinya terpengaruh oleh hizbiyyah matilah dia, sehingga tidak tersisa padanya karya tulis. Tidak tersisa kecuali perkumpulan-perkumpulan rahasia, …” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 441).

Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh  Abdurrohman Al Mar’iy di Darul Hadits di Dammaj:

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatkan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]

“Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

            Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

            Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([9]). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

            Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar([10]).

            Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

            Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia.

            Ribuan pelajar Darul Hadits di Dammaj rumah mereka terbangun dari bata dan tanah liat, serta ranting dan dahan dari pohon Atsl dan sebagainya. sekalipun demikian mereka berada di dalam ketenangan dan ketentraman dalam proses jihad menuntut ilmu. Kamu dapati kehidupan mereka dekat dengan kehidupan para Salafush Sholih -rohimahumullohu- dalam masalah zuhud di dunia, dan cinta akhirat.

Tapi bagaimana pendapat kalian jika mereka pindah ke kota perdagangan Fuyusy dan mendapati masyarakatnya saling membanggakan bangunan dan perumahan? Apakah para pelajar tadi akan berpikir untuk membangun rumah dengan harga murah sebagaimana keadaan mereka di Darul Hadits Dammaj? Apakah hati mereka akan rela dan senang dengan yang demikian itu dalam kondisi mereka melihat rumah-rumah megah dan pondasi-pondasi yang gagah?

            Tidak diragukan bahwasanya jiwa itu senang dengan ketinggian dan tidak menyukai kerendahan. Maka kamu dapati sebagian dari mereka mulai melongok dan menginginkan untuk melakukan apa yang diperbuat oleh orang lain([11]). Pastilah mereka berusaha untuk mencari pekerjaan agar bisa mengumpulkan dana senilai bangunan di dusun Fuyusy.([12]) Dan hal ini membutuhkan umur dan waktu yang panjang, dan kamu tahu kondisi reyal Yaman. Bahkan barangkali sebagian dari mereka akan pergi sampai bisa mengumpulkan dana sesuai dengan apa yang dimudahkan oleh Alloh. Dan ini sukar untuknya, dan menjadi beban baginya. Barangkali dia akan menjual rumahnya di Dammaj karena sempitnya waktu. Dan memang inilah yang diinginkan oleh Abdurrohman Al Mar’iy yang untuk itu dia mengumumkan impian ini, yaitu memalingkan pelajar dari kebaikan dan besar ini (Markiz Dammaj yang telah berdiri lebih dari tiga puluh tahun), dan menghalangi mereka darinya. Hal ini telah banyak terjadi. Berapa banyak pelajar yang menjual rumahnya dengan harga murah, padahal sebelumnya dia berhasrat untuk bisa mendapatkan harga tinggi saat menjualnya. Sampai-sampai engkau mendapati sebagian iklan penjualan yang digantungkan di dinding di situ tertulis rangsangan untuk cepat membelinya:

من أراد أن يشتري بيتا رخيصا جدا جدا في المزرعة عند البُمبَة فعليه أن يتصل برقم كذا وكذا، اغتنم الفرصة!

“Barangsiapa ingin membeli rumah sangat murah sekali di mazro’ah (nama salah satu kompleks perumahan di Dammaj), di sampai pompa air, maka silakan menelpon nomor ini (… ). Manfaatkan kesempatan!”

            Dan kebanyakan pelajar yang terjatuh ke dalam efek buruk dari urusan ini dan menjadi objek terkaman dan  sajian siap santap Abdurrohman Al Mar’iy adalah para pelajar dari ‘Adn. Banyak dari mereka yang menjadi korban fitnah ini, dan  Abdurrohman Al Mar’iy berhasil mengumpulkan ke dalam barisannya angka maksimal yang mungkin dicapai. Dan itu telah dia lakukan. Rahasianya adalah: kebanyakan dari saudara kita yang berasal dari ‘Adn kehidupan dan kondisi rumah mereka sudah terkenal. Sebagian dari mereka berangan-angan bahwasanya di ‘Adn itu untuk bisa memiliki sekedar rumah sederhana yang bisa menaungi dirinya dan keluarganya. Yang demikian itu adalah dikarenakan telah sempitnya perumahan di ‘Adn, ditambah lagi dengan adanya beberapa kemungkaran dan penyelisihan syari’at di sebagian tempat([13]).

Maka manakala ada pelajar ‘Adaniy yang ditawari tanah seluas (12 x 12) dengan harga cukup murah([14]), kamu dapati air liurnya menetes dan akalnyapun goyang. Maka Abdurrohman Al Mar’iy dengan perbuatannya tadi telah menyihir mereka sehingga mereka menjadi lalai dan goyang. Andaikata engkau melihat langsung keadaan sebagian dari mereka tentulah engkau mengira dia itu gila dikarenakan hebatnya penawaran. Sampai bahkan engkau bisa melihat sebagian dari mereka membolak-balikkan HP-nya melihat nama-nama yang ada di dalam HP, barangkali dia lupa mengingatkan sebagian dari mereka untuk turut membeli tanah di dusun perdagangan Fuyusy. (risalah “Tadzkirun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al ‘Adniy/hal. 3-9).

Dan telah terbongkar juga perencanaan fitnah dan pengaturan makar yang datang dari Syihr. Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jamal حفظه الله berkata: “Dan telah pasti juga perkara yang menunjukkan kepada makar orang ini –yaitu: Salim Ba Muhriz- yang pengkhianatannya. Di antara perkara yang kami tahu: Yang pertama: apa yang diceritakan oleh saudara kita yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya –Ahmad- (keduanya adalah Salafiy dari wilayah Dis Timur – pesisir Hadromaut) berkata bahwasanya Salim Ba Muhriz pada mereka pada pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan, sekarang giliran keruntuhan akan menimpa Hajuriy.” ([15]) Ini adalah jelas menunjukkan makar dan tipu daya serta perencanaan untuk membikin fitnah di barisan Ahlussunnah, di sisi orang yang adil. Akan tetapi keanehan datang dari orang yang telah sampai pada berita seperti ini tapi dia tenang-tenang saja seperti orang yang ridho terjadinya hal itu!” (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirof Ibnai Mar’i”/karya Asy Syaikh Muhammad Ba Jamal/hal. 13).

Maka syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah dan para pelajar bangkit memperingatkan manusia dari kejahatan kelompok tadi. dan manakala kami melihat menjalarnya fitnah mereka sampai ke negri kami –dengan kunjungan-kunjungan kepala-kepala gerombolan tersebut- bangkitlah kami dengan mengirimkan nasihat-nasihat kepada saudara-saudara kami di sana.

Maka jika yang namanya fitnah itu adalah amalan yang kami kerjakan ini, berarti tolok ukur si doktor وفقه الله telah terbalik. Dan kami katakan padanya:

﴿قُلْهَاتُوابُرْهَانَكُمْإِنْكُنْتُمْصَادِقِينَ [البقرة/111]

“Katakanlah : Datangkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang jujur.” (QS Al Baqoroh 111).

Adapun sekedar mengulang-ulang nada : “Mereka adalah pelaku fitnah! Mereka melakukan fitnah!” atau yang seperti ini, maka demikian itu pula teriakan seorang hizbiy, sebagaimana saya terangkan di kitab saya yang lain.

Bahkan demikianlah teriakan para munafiqun. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang karakter munafiqun: “Dan di antara sifat mereka adalam menyembunyikan kebenaran, membuat kerancuan terhadap pembela kebenaran, menuduh pembela kebenaran dengan penyakit yang justru ada pada mereka (munafiqun) sendiri. Jika para pembela kebenaran memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan menyeru ke jalan Alloh dan Rosul-Nya, maka para munafiqun menuduh mereka sebagai “pembuat fitnah,” “perusak di bumi,” sementara Alloh, Rosul-Nya dan mukminun telah mengetahui bahwasanya mereka (munafiqun) itulah perusak di bumi.” (baca lengkap sifat-sifat munafiqin di “Thoriqul Hijrotain”/hal. 499-504/cet. Dar Ibni Rojab).

Yag benar adalah apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Mufti Saudi Selatan Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله: “Dan tiada keraguan bahwa orang yang mengingatkan manusia dari kejahatan sebelum hal itu terjadi, maka orang ini adalah pemberi nasihat, bukan penyeru pada fitnah. Dan tiada keraguan bahwa orang yang mengucapkan perkataan (tuduhan) tadi itu telah memutar balik kenyataan –sampai pada ucapan beliau :- jika demikian, maka peringatan terhadap kejahatan sebelum hal itu terjadi dalam rangka manusia berhati-hati dengannya, maka ini bukanlah dinilai sebagai fitnah.” (“Al Fatawal Jaliyyah” (ukuran kecil)/hal. 39/cet. Darul Atsar).

Dengan penjelasan ini runtuhlah makar doktor Abdulloh Al Bukhoriy untuk menempelkan julukan “fitnah” kepada syaikh kami dan orang yang bersama beliau, dan kembalilah gelar tadi kepada orang-orang yang berusaha mendekat dan menempel kepada si dokter.

﴿فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ * بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ * إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين﴾ [القلم/5-7].

“Maka nanti engkau akan melihat dan mereka juga akan melihat siapakah di antara kalian yang terfitnah. Sesungguhnya Robbmu Dia itulah yang paling tahu tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia itulah yang paling tahu tentang orang yang mengikuti petunjuk.”

Bab Empat:

Lemahnya Abdulloh Dan Pengikutnya Untuk Mengetahui Definisi Ta’ashshub dan ‘Ashobiyyah

            Usamah berkata tentang para Salafiyyun yang kokoh: “Mereka adalah muta’ashshibah (orang-orang yang fanatik) terhadap Hajuriy dari Dammaj”.

            Dan dia berkata: “Mereka adalah muta’ashshibah (orang-orang yang fanatik) terhadap Hajuriy yang menyendiri dari barisan kami”

            Dan doktor Abdulloh Al Bukhoriy هداه الله menyetujui itu.

            Jawab kami adalah sebagai berikut: Yang namanya ‘ashobiy adalah orang yang marah demi membela kelompoknya dan melindungi mereka. Ta’ashshub berasal dari ‘ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: seseorang menyeru orang lain untuk menolong keluarganya, dan bergabung dengan mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, dalam keadaan zholim ataupun dizholimi. (Lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 275 dan 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 204).

            Dan berdasarkan pembahasan yang telah lewat, jelaslah bagi para Salafiyyin yang berakal bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah di dalam perselisihan ini, mereka itulah yang di atas kebenaran. Dan kebenaran itu dikenal dengan hujjahnya. Dan hujjah itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

 “Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Hujjah ketika terjadi perselisihan itu adalah As Sunnah. Maka barangsiapa menyodorkan As Sunnah, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa mempergunakannya maka sungguh dia telah selamat. Dan tiada taufiq bagiku kecuali dengan pertolongan Alloh.” (“At Tamhid”/22/hal. 74).

Dan kami, manakala kami mengetahui bahwasanya kebenaran, hujjah dan sunnah itu bersama syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang  bersama beliau dari kalangan para ulama Salafiyyin dan para penuntut ilmu, wajib bagi kami untuk menolong mereka berdasarkan firman Alloh عز وجل:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى الله قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ الله آَمَنَّا بِالله وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali ‘Imron: 52).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 16).

            Dengan penjelasan ini tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya kami ada di atas bayyinah dari Robb kami, bukan di atas taqlid, ataupun fanatisme. Yang demikian itu adalah karunia Alloh untuk kami dan untuk orang-orang yang berakal akan tetapi kebanyakan hizbiyyun tidak mengetahuinya.

Bab Lima:

Fanatisme Abdulloh Al Bukhoriy Kepada Kebatilan

Setelah kami jelaskan bahwa para penuntut ilmu yang bersama Syaikh kami An-Nashihul Amin berada di atas al-haq dan hidayah, bukan di atas ta’ashshub, mari kita mulai membahas bahwa keadaan Doktor Abdulloh Bukhori itu sama seperti keadaaan seorang perempuan yang dimadu:

رمتني بدائها وانسلت

“Dia menuduhku dengan penyakitnya sendiri, dan dia berusaha melepaskan diri.”

(“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 125).

Maksudku: sebenarnya Doktor itu sendirilah yang tertimpa penyakit ‘ashobiyyah, penjelasannya berikut ini:

            Ahlus sunnah telah mengerahkan kemampuannya untuk menjelaskan kebatilan-kebatilan ‘Ubaid Al-Jabiriy tentang tahdzirannya kepada manusia agar tidak belajar di Dammaj, bersamaan dengan doktor Abdulloh tetap bersikeras mati-matian membela Syaikhnya ‘Ubaid Jabiri, dan marah karenanya dengan kemarahan jahiliyyah.

            Lihatlah pembelaannya terhadap Al-Jabiri manakala ia mentahdzir dari Darul Hadits Dammaj, yang karenanya ahlus sunnah mencela dan menjarhnya. Doktor berkata dalam kasetnya itu: “Fatwa beliau mengharamkan belajar ke Dammaj di sisi Yahya Al-Fujuri, ini ro’yu (pendapatnya) hafidzahullah, dan beliau tidak mentahdzir dari Dammaj secara umum, beliau hanya mentahdzir dari Syaikhnya, dari orang ini.”

Dan ucapan Abdulloh ini tertolak dari beberapa sisi, di antaranya:

            Pertama: ‘Ubaid mentahdzir dari Syaikh kami Yahya berlandaskan syubhat-syubhat yang lemah, sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan oleh kebanyakan para masyayikh dan penuntut ilmu senior, mereka mendatangkan bukti-bukti yang banyak, dipahami oleh orang yang menginginkan bagi dirinya keselamatan, lalu membacanya dengan benar-benar mencari al-haq dan inshaf, memurnikan dirinya dari hawa dan ‘ashobiyyah. Maka diapun hidup di atas bayyinah. sebaliknya barangsiapa yang pura-pura buta dari bukti-bukti tadi, diapun menjauh dan melarang dari membacanya akhirnya dia celaka. Seluruh orang-orang yang berlaku inshaf tahu akan kebatilan tahdziran ‘Ubaid dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah, sampai-sampai Syaikh Robi’ hafidzahullah tidak menolong ‘Ubaid terhadap tahdzirannya itu. Maka pembelaan ‘Abdulloh Bukhori terhadap fatwa ‘Ubaid terbantah dan tertolak.

            Kedua: Abdulloh sendiri mengakui bahwa tahdziran ‘Ubaid dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah dan pengharamannya belajar di Dammaj hanya sekedar ro’yu (pendapat), sementara pendapat-pendapat tidaklah diterima kecuali apabila mencocoki al-Kitab dan Sunnah berdasarkan manhaj salaf. Dan Abdulloh telah gagal menunjukkan hujjah-hujjah, dan tidak sanggup menampakkan dalil-dalil dari kitab dan sunnah berdasarkan pemahaman salaf untuk membela fatwa Syaikhnya yang menyimpang.

            Ketiga: Upaya ‘Abdulloh Bukhori untuk mentakwil fatwa ‘Ubaid gagal, karena ‘Ubaid tidak hanya mentahdzir dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah saja –sebagaimana yang disangkakan ‘Abdulloh- akan tetapi mentahdzir dari seluruh orang yang bersamanya hafidzahullah dalam menolong al-haq dan menumpas kebatilan, bahkan ‘Ubaid sendiri terang-terangan mengeluarkan tahdzir dari kedua syaikh Muhammad Mani’ dan Hasan bin Qosim hafidzahumAlloh.

            Keempat: Pengharaman ‘Ubaid untuk belajar di Dammaj tidak sebatas terhadap Syaikh kami saja -sebagaimana yang di sangkakan ‘Abdulloh-, karena barangsiapa yang terhalang belajar pada markaz yang tinggi nan mulia ini sungguh telah terhalang menimba ilmu di hadapan seluruh ulama salafiyyin tsabitin yang berada padanya, ini jelas sekali, meskipun Doktor ‘Abdulloh Bukhori tak mampu memahaminya.

            Dapat diketahui dengan ini semua bahwa pembelaan ‘Abdulloh Bukhori terhadap Syaikhnya setelah jelas baginya kebatilan fatwa Syaikhnya itulah ta’ashshub yang sebenarnya, dan cocok untuknya ucapan Syaikh Al-Islam rahimahullah: “Dan barangsiapa yang condong menolong temannya tanpa melihat al-haq bersamanya ataukah sebaliknya maka sungguh ia telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar dari hukum Alloh dan Rosul-Nya. Dan wajib atas semuanya bersatu bersama al-haq menentang yang batil, sehingga yang dimuliakan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh dan RosulNya muliakan, dan yang dikedepankan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh dan Rosul-Nya kedepankan, dan yang disukai di sisi mereka adalah siapa yang disukai Alloh dan Rosul-Nya, dan yang terhinakan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh hinakan berdasarkan apa yang Alloh dan Rosul-Nya ridhai bukan berdasarkan hawa nafsu, karena sesungguhnya barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosulnya maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka ia hanyalah memudharatkan dirinya sendiri. Inilah prinsip yang wajib mereka pegang teguh.” -selesai- (“Majmu’ Al-Fatawa”/28/hal.17).

            Manakala disebutkan bahwasanya Syaikh kami memvonis ‘Ubaid Al-Jabiri bahwa dia itu sesat dan menyimpang, ‘Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Ini fujur ya Syaikh, ini fujur, dusta, buhtan, dan kedustaan yang nyata barakAllohu fiikum, siapapun yang mengatakannya, walaupun yang mengatakan ini adalah orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang ini, meskipun orang yang paling tinggi derajatnya.”

            Kukatakan –semoga Alloh memberiku taufiq-: Semestinya Doktor menanyakan apa hujjah penjarh, kalau hujjahnya mencocoki Kitab dan Sunnah serta manhaj salaf hendaknya ia terima darinya tanpa ragu-ragu dan congkak, karena al-haq itu milik Alloh walaupun datang dengan perantara siapa yang Alloh kehendaki dari hamba-hambanya.

            Al Imam ibnu Al-Qoyyim rahimahullah berkata: Barangsiapa yang congkak untuk tunduk terhadap al-haq meskipun datang kepadanya melalui perantara orang kecil atau yang ia benci ataupun orang yang ia musuhi maka sebenarnya kecongkakannya itu terhadap Alloh, karena Alloh adalah Al-Haq, kalam-Nya haq, agama-Nya haq, dan Al-haq adalah sifat-Nya, dari-Nya al-haq, dan al-haq milik-Nya. Apabila seorang hamba menolak al-haq dan sombong untuk menerimanya maka sesungguhnya dia itu menolaknya terhadap Alloh dan sombong terhadaNya, wAllohu a’lam” -selesai-. (“Madarijus-Salikin”/2/hal. 271/cet Darul Hadits).

            Sudah banyak bantahan-bantahan Ahlus Sunnah terhadap ‘Ubaid bin Sulaiman Al-Jabiri, di antaranya:

–         “At-Taudhih lima Jaa fi At-Taqriraat”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan Jami’ah Islamiyyah).

–         “I’lamusy Syaikh ‘Ubaid ala anna Na’syahu lil Hizbiyyin ala Da’wah As-Salafiyyah fi Al-Yaman wa difa’uhu ‘anhum laysa ‘alaina bimudhorr”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan pembelaannya terhadap hizbi baru).

–         “Ar-Rodd ‘ala ‘Ubaid Al-Jabiri fi Fatwahu fi Al-Intikhobat”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan PEMILU)

–         “Ad-Dhifa’ ‘an ‘Alam Al-A’lam Syu’bah bin Hajjaj”, karya Abu ‘Abdirrahman Ghalib bin ‘Ali Al-Mahwiti (Bantahan terhadap ‘Ubaid tentang celaannya terhadap Syu’bah bin Hajjah)

–         “Asy-Syaikh ‘Ubaid wal ‘A’mal Al-Ikhtilathiyyah”, karya Syaikh Abu ‘Abdu As-Salam Hasan bin Qosim Ar-Roimiy (Bantahan atas ‘Ubaid tentang pembolehannya campur baur laki perempuan dalam lapangan kerja)

–         “Al-Bayan Al-Amin ‘ala anna Na’sya ‘Ubaid Al-Jabiri li Shalih Al-Bakri Ghosysyun lil Islam wal Muslimin”, karya Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Al-Husain Al-’Amudi, (Bantahan atas ‘Ubaid tentang pujiannya terhadap hizbi Shalih Al-Bakri)

–         “Bayan Al-’Ulama fi Tahdzir ‘Ubaid”, karya Abu Ibrahim ‘Ali Mutsanna (Penjelasan tentang sebab-sebab ‘Ubaid di Tahdzir)

–         “Daf’u Buhtan Al-Mu’tadin ‘an Dar Al-Hadits bi Dammaj,” karya Abu ‘Abdirrohman Muhammad Al-Khafifi Al-Libiy([16]), (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan tahdzirannya terhadap Dammaj)

–         “Al-Bayan Al-Mufid li ba’dhi  ma Asshalahu wa Naqodhohu ‘amaliyyan Syaikhuna ‘Ubaid,” karya Asy Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah ba Jammal, (penjelasan tentang penyelisihian ‘Ubaid terhadap usul yang telah ia tetapkan)

–         “Bayan Al-Inhirafaat fi fatwa As-Syaikh ‘Ubaid wa da’waahu ila Al-Intikhobat,” karya Abu Ishaq Ayyub bin Mahfudz Asy-Syibami, (penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan ‘Ubaid pada fatwa dan seruannya kepada PEMILU)

–         “Nashihah Abi ‘Amr Al-Hajury lil Jabiriy,” karya Syaikh Abu ‘Amr ‘Abdul Karim Al-’Umari Al-Hajury, (nasihat untuk ‘Ubaid)

–         “Irsyad Al-’Ibad fi bayan mujanabah ‘Ubaid lil Hikmah wa As-Sadad,” karya Syaikh Abu ‘Abdirrahman ‘Abdulloh bin Ahmad Al-Iryani, (Penjelasan tentang jauhnya ‘Ubaid dari sikap hikmah dan kelurusan)

–         “Ar-Rodd Asy-Syar’iy”, karya Syaikh Abu ‘Abdillah Thoriq Al-Khoyyath Al-Ba’dani.

Di antara yang menguatkan bukti kebatilan jalan yang ditempuh ‘Ubaid Al-Jabiri hadahullah adalah: Ta’ashshubnya (fanatik) terhadap ‘Abdurrohman bin Mar’i. Syaikh kami An-Nashihul Amin ro’ahullah –dengan sopan- bahwa ‘Abdurrahman sendiri (juga) mentahdzir agar tidak belajar Jami’ah Islamiyyah karena di dalamnya telah banyak hizbiyyin. Syaikh kami hafidzahullah berkata: “Dan tidak lupa aku ingatkan ucapan saudara kami yang telah terfitnah pada masa terakhir ini dengan rasa prihatin Abdurrohman Al Adeni –hadahulloh- yang terekam dengan suaranya pada tanggal (23/Rojab/1426) tentang Jâmi’ah Islâmiyyah bahwasanya dia telah berubah, dan yang memegang kendalinya adalah Hizbiyyun, ia berkata –hadahulloh-: (Pada hakikatnya Jâmi’ah Islamiyyah dulunya termasuk dari istana ilmiyyah yang mulia di dunia, ia menghasilkan dan melahirkan para Ulama, namun pada masa terakhir ini kebanyakan hizbiyyin telah berhasil menguasainya lewat para pengurus, pengajar, dan doktor-doktor, dan seseorang (hendaknya-pent) tidak merasa aman untuk menghadiri muhadhoroh seorang hizbi, atau menghadiri dauroh musim panas yang ikut dipartisipasikan oleh sekelompok dari para pengajar hizbi, maka bagaimana dengan duduk belajar terus menerus yang paling minimnya berlangsung selama empat tahun, ini doktor hizbi, dan ini sururi, dan ini Qutbi, dan ini memiliki loyalitas (condong) kepada orang-orang shufi maka pada hakikatnya seseorang tidak merasa aman dengan dirinya, anda wahai saudaraku kalau seandainya diumumkan di kotamu dauroh musim panas yang diisi oleh ulama dari ulama sunnah, dan diisi oleh ahlul bida’, terkadang di antara mereka ada yang lebih alim (berilmu) maka apa yang akan engkau pilih? Padahal kamu mengetahui bahwa mereka para ulama yang menghadiri durus mereka di mesjid-mesjid mereka, aku tidak mengira engkau tidak meninggalkan untuk hadir dauroh musim panas ini sebagai bentuk penjagaan terhadap agamamu, dan pemeliharaan terhadap manhajmu, kemudian engkau pergi kepada mereka para ulama ke mesjid-mesjid dan tempat-tempat mereka (ahlul bida’-pent).

      Dan demikian juga Jâmi’ah Islamiyyah selamat padanya yang selamat, dan jatuh yang jatuh, dikarenakan adanya para pengajar (hizbi-pent), yaa akhi empat tahun sementara pengajar doktor sedang kamu (cuma) pelajar ia memasukkan kepadamu apa (saja) yang ia (mau) masukkan, maka yang kami nasehatkan dengannya kepada ikhwah adalah tidak pergi ke sana (Jâmi’ah Islamiyyah -pent), barangsiapa yang menginginkan ilmu maka hendaknya ia pergi ke Mamlakah di Yaman, atau selainnya, adapun pergi ke Jâmi’ah (Islamiyyah -pent) demi menperoleh ijazah apa yang akan engkau dapatkan, ikhwah yang belajar di Jâmi’ah terutama pada tahun-tahun terakhir ini kami tidak melihat di antara mereka yang diberi taufiq. Karena dia tinggal beberapa tahun di Jaami’ah lalu lulus dengan ijazah, apakah kalian mengira setelah lulus ia akan datang misalnya ke Dammaj, atau siap untuk menjadi Imam mesjid di salah satu pemukiman/kampung, di salah satu kota di salah satu desa atau dia akan berusaha mencari pekerjaan dengan ijazah ini yang ia telah peroleh? Jawabannya: dan inilah yang kami perhatikan dan saksikan bahwasanya ia akan berupaya keras untuk mendapatkan pekerjaan…” sampai akhir kalamnya([17]).

Maka mengharuskan Anda (wahai Syaikh Ubaid) untuk memperlakukannya dan selainnya dari orang-orang yang mengatakan hal itu dari celaan-celaan yang engkau sebutkan sebagaimana yang engkau lakukan kepadaku. Dan kami mengharap padamu wahai Fadhilatusy Syaikh –Waffaqokalloh- supaya kamu tidak menyimpang dari itu sebagaimana telah menyimpang musuh kita Bisr Al-Marisiy, ini kalau bukan yang menjadi target dari menggejolakkan pembelaan terhadap Jâmi’ah Islamiyyah sekarang adalah sebagai batu loncatan untuk melindungi Abdurrohman dan pengikutnya, sebagaimana yang tersebar di sini, di mana Abdurrohman –hadahulloh- (sendiri) telah mengatakan dengan terang-terangan sebagaimana selainnya, akan perubahan Jâmi’ah dari apa yang dulu ia padanya, dan ini berbeda dengan apa yang engkau tetapkan pada apa yang engkau namai dengan “An Naqdish Shohih”, bahwasanya Jâmi’ah Islamiyyah adalah Jâmi’ah salafiyyah sampai hari ini, sedang dia (Abdurrohman) menetapkan (memastikan) perubahannya bahwasanya dia telah dipenuhi oleh hizbiyyin pada masa terakhir.” -selesai- (“At-Taudhih”/hal.4-5)

Setelah penjelasan ini dari Syaikh kami An-Nashihul Amin dan tuntutan beliau kepada Al-Jabiri agar berlaku adil dan inshaf, dia malah menakar dengan dua takaran (pilih kasih), dan tidak mau memperlakukan ibnu Mar’i sebagaimana ia memperlakukan Syaikh kami yang penyabar An-Nashih Al-Amin, sementara sebabnya adalah sama di sisi orang yang bermata dua, bahkan ‘Ubaid bertambah mencerca dan mencela Syaikh kami yang karim –semoga Alloh mengangkat derajatnya-. Jadi ta’ashshub Al-Jabiri sangat jelas.

            Setelah penjelasan terang ini, dan bantahan-bantahan yang banyak, serta bukti-bukti yang gamblang, mustahil kalau Doktor ‘Abdulloh Bukhori tidak tahu sisi-sisi kritikan yang menumpuk dari para ulama sunnah dan penuntut ilmu terhadap ‘Ubaid Al-Jabiri. Kalau dia punya hujjah yang kuat untuk membatalkan hujjah-hujjah yang terang tersebut yang memvonis ‘Ubaid sebagai orang sesat dan menyimpang, maka hendaknya ia tampakkan. Adapun cuma sekedar berkata: “ini fujur ya Syaikh, ini fujur, dusta, buhtan, dan kedustaan yang nyata barakAllohu fiikum, siapapun yang mengatakannya, walaupun yang mengatakan ini adalah orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang ini, meskipun orang yang paling tinggi derajatnya” ini hanyalah menunjukkan ashobiyyah, hawa, dan kejahilan (‘Abdulloh Bukhori -Hadahullah-).

            Semestinya ‘Abdulloh Bukhori dan semacamnya merenungkan ucapan Imam Al-’Allamah ‘Abdul Lathif bin ‘Abdirrahman Alu Asy-Syaikh rahimahullah: “Bermudah-mudah dalam menolak al-haq, dan menindas penyeru kepadanya, akan mengakibatkan tercabutnya pondasi-pondasi agama, dan menjadi sebab berkuasanya musuh-musuh Alloh terhadap ummat dan agama.” (“Uyunur Rosail”/1/hal. 441/maktabah Ar-Rusyd).

            Jadi yang teranggap adalah kuatnya hujjah, bukan hanya sekedar tingginya martabat pengucapnya. Berkata Al Imam ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah: “Bahwasanya suatu ucapan tidaklah dianggap benar karena keutamaan pengucapnya, hanya saja dianggap benar dengan dalil yang menunjukkan makna ucapan tersebut.” -selesai- (“Jami’ bayan Al-’Ilm”/2/hal. 174/Dar Ibnu Al-Jauzi).

            Namun manakala telah tumbuh di diri ‘Abdulloh Bukhori taqdis (pensucian) Syaikhnya membuatnya tidak peduli kritikan orang lain terhadap syaikhnya apapun hujjah yang didatangkan. Ditakutkan dia dapat bagian dari ucapan Syaikh Shalih As-Suhaimi hafidzahullah tentang sekte-sekte yang ada di lapangan dakwah: “Sekte-sekte yang ada ini walaupun satu sama lain berselisih dan berpecah dan berbeda-beda pemikirannya serta bermacam-macam misi dan ambisinya namun satu wajah dalam memusuhi manhaj salaf yang berdiri di atas kitabullah dan sunnah RosulNya shallAllohu ‘alahi wa sallam di bawah pengaruh manhaj sempit yang dibangun di atas sikap wala dan memusuhi demi menyucikan individu-individu, pendapat-pendapat dan ucapan-ucapan mereka meskipun dengan mengorbankan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Ucapan yang teranggap di sisi mereka adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh kelompok atau pemimpin jama’ah bagaimanapun penyelisihannya terhadap haq dan hidayah, dan agama Islam membenci seluruh ikatan yang berdiri di atas akhlak hizbiyyah atau kelompok sebaik apapun akhlak yang mereka serukan berupa niat yang bagus dan maksud yang mulia.” (“An-Nashrul ‘Aziz”/milik Syaikh Rabi’/hal. 44/Maktabah Al-Furqon).

            Atau barangkali ‘Abdulloh Bukhori ditimpa penyakit sombong dan angkuh hingga ia tidak mau menerima Al-Haq kalau datang dari orang yang ia benci atau bukan dari barisannya, dan ini adalah ta’ashshub jahiliyyah.

Faidah untuk orang yang punya kecemburuan terhadap agamanya:

            Di waktu ‘Ubaid Al-Jabiri mengeluarkan beberapa fatwa kedengkian tanpa bukti dan hujjah mentahdzir para penuntut ilmu di Yaman dan luar Yaman agar tidak belajar di Darul Hadits Dammaj –sebagai bentuk pertolongan darinya untuk para hizbiyyin, tahu-tahu dia mengeluarkan fatwa memboleh penduduk syam untuk belajar dengan ‘Ali Hasan Al-Halabiy sedang dia sendiri sudah tahu parahnya penyimpangan-penyimpangan orang ini.

            ‘Ubaid Al-Jabiri di tanya: Apakah penyelisihan-penyelisihan Syaikh ‘Ali Al-Halabi –hadahullah- mengeluarkannya dari lingkup sunnah? Dan apakah engkau menasihatkan membaca kitab-kitabnya terutama yang berkaitan dengan manhaj?

            Al-Jabiri menjawab: “Syaikh ‘Ali -semoga Alloh memaafkan kami dan dia dan memperbaiki keadaan kami dan keadaannya- melewati dua periode:

Periode pertama: Ia berpenampilan sunnah di depan kami, dulu sampai kepada kami dan kepada saudara-saudara kami para masyayikh kitab-kitab bagus pada permasalahan ini, karenanya kami mendekat kepadanya bahkan sangat dekat, kamipun mencintainya karena Alloh, dan Alloh tahu saya sangat berhasrat untuk mengunjunginya di negrinya, namun saya tidak mampu, dan dia juga pernah mengunjungi kami dan datang ke Syaikh Robi’ dan kami berkumpul dan bermajlis bersamanya, periode ini disertai dengan rekomendasinya terhadap orang-orang yang dicurigai di antaranya ‘Adnan ‘Ar’ur Al-Quthbiy yang terbakar dalam daftar orang-orang yang ia beri rekomendasi, maka kamipun membelanya dan mencarikan udzur untuknya, bahwasanya dia tidak tahu apa yang kami ketahui tentang orang tadi (‘Adnan), seandainya ia tahu sebagaimana yang kami tahu tentu ia tidak akan merekomendasinya. Dan kami katakan: dia saudara kami. Dan dia mengangkat citra ‘Ar’ur, Ibnu ‘Ar’ur, ‘Adnan bin Ahmad ‘Ar’ur.

Periode kedua: Rekomendasinya yang berlebihan terhadap orang-orang yang diragukan di antaranya Muhammad Hassan Al-Quthbiy yang terbakar, di antara mereka Ahmad As-Sudaniy As-Surkatiy pendiri Yayasan Al-Irsyad di Indonesia, dan Ahmad As-Surkatiy kalau di lihat latar belakangnya dia di zaman Hasan Al-Banna, dia punya ucapan-ucapan yang menunjukkan bahwa dia berada di atas manhaj yang sama dengan Al-Banna, di antara ucapannya: bahwa dia memuji syi’ah dan berkata: “Syi’ah adalah golongan kami, sekalipun demikian dan demikian. Dan al-wahhabiy juga golongan kami, dan pengikut khurofat juga golongan kami” dan seterusnya dari ungkapan-ungkapan yang merupakan penerapan terhadap kaidah saling memaafkan dan kerja sama (kita ta’awun pada apa yang kita sepakat padanya dan kita saling memaafkan pada apa yang kita berselisih padanya). Dan ini adalah kaidah Al-Manar pada awalnya, kemudian menjadi kaidah Ikhwanul Muslimin, kaidah fajir tadi yang membuka lebar pintu bagi seluruh golongan bersama ahlus sunnah baik itu golongan sesat yang menisbahkan dirinya kepada Islam seperti Rafidhah atau yang tidak menisbahkan dirinya kepada Islam seperti Yahudi dan Nashroni, dan aku telah membicarakan kaidah ini di beberapa tempat. Dan orang yang duduk-duduk denganku mengetahui yang demikian itu dariku. Dan kalian akan mendapati ini di studio Ibnu Rojab, di dars-dars dan pertemuan-pertemuan aku membicarakannya dengan apa yang aku pandang bahwasanya waktunya sekarang ini tidak cukup luas untuk membicarakannya di sini.

            Asy Syaikh Ali –semoga Alloh memperbaiki keadaan kami dan dirinya- memuji orang ini –yaitu As Surkatiy- dengan tazkiyah yang besar. Ketika dia ditanya apakah orang ini salafiy? Dia menjawab: “Bukan salafiy, bahkan beliau adalah syaikh salafiyyin!!” aneh, seandainya dia berkata: “Orang ini adalah salafiy,” maka masalahnya ringan. Akan tetapi “Syaikh salafiyyin”! ini adalah bencana besar. Orang ini mengucapkan seperti ini, jadi syaikh salafiyyin? Di sini sebenarnya ada pertanyaan: apakah Asy Syaikh Ali tahu perkataan orang ini ataukah tidak mengetahuinya? Apabila dia tidak tahu, mengapa dia menjadikannya sebagai Syaikh? Apabila dia mengetahui maka sungguh dia telah terjatuh kepada yang lebih mungkar, seseorang yang mengucapkan suatu ucapan seperti ini kemudian kamu katakan sebagai Syaikh Salafiyyin. Maka cocoklah di sini perkataan seorang penyair :

فإن كنت لا تدري فتلك مصيبة **** وإن كنت تدري فالمصيبة أعظم

“Apabila Engkau tidak mengetahui maka itu adalah suatu musibah. Dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

Kemudian sampai kepada kami dari dia pujian-pujian dan perkataan-perkataan yang keras, pembelaan, penjelasan dan di antaranya terhadap jam’iyah ihyat turots di Kuwait yang telah menyimpang, yang dia itu hampir serupa di lapangan dakwah terkumpul padanya suatu yang bagus dan buruk, yang dia memuji padanya dan menyeru untuk bergabung dengannya, maka ketika pujian-pujian ini secara hakikat adalah beban baginya, yang aku mengira demikian ini telah sampai kepada kalian, yang sesungguhnya orang ini tidak dapat dipegang pujian-pujiannya dan sesungguhnya dia adalah orang yang tidak mempunyai kedudukan pada masalah ini.

            Masih tersisa perkataannya yang ada di dalam kitab-kitabnya : kitab-kitabnya yang terakhir aku tidak menasehatkan orang untuk membacanya karena di dalamnya ada hal-hal yang tidak cocok dengan ahlussunnah, dan di lain pihak dia memuji orang-orang yang terpengaruh dengan pemahaman bid’ah dan hal-hal yang baru seperti Muhammad  Hassan dan ‘Adnan ‘Ur’ur dan selain mereka. Adapun apa-apa yang bertahun-bertahun sebelum ini maka tidak apa-apa untuk dibaca. Dia mempunyai kitab yang dipuji oleh mereka, saya belum membacanya yang judulnya “Fiqhul Waqi’ Bainan Nazhoriyyah wat Tathbiq”, dan dia mempunyai kitab-kitab yang berhubungan dengan hadits, sepertinya di dalam masalah sholat di antara tiang dan selainnya yang bermanfaat, adapun kitab-kitabnya yang baru yang berkaitan dengan dakwah di lapangan maka aku tidak menasehatkan untuk membacanya. Benar, adapun orang yang kuat keilmuannya dan punya pemikiran yang luas di dalam sunnah maka dia bisa untuk membacanya dan bisa mengetahui apa yang ada di dalam jiwa orang ini apabila ingin membantahnya dengan bantahan yang ilmiyyah dan mendasar, atau menasehatinya apabila memungkinkan. Terkadang wajib untuk membantahnya apabila kitab-kitab ini telah tersebar di daerahnya dan terfitnah dengannya manusia untuk dijelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya, agar manusia tidak tertipu dengannya.

Sampai saat ini kami tidak mengatakan  Al-akh ‘Ali sebagai seorang mubtadi’ yang sesat tetapi aku menasehatkan agar orang-orang tidak menuju kepadanya –yakni orang-orang yang ada di luar daerahnya-, adapun orang-orang yang ada di daerahnya, maka secara zhohir mereka butuh kepadanya dan mereka juga butuh kepada orang yang lebih rendah darinya, karena kami tidak mengetahui di daerahnya ada seorang alim setelah Al-albani yang kembali kepadanya perkataan-perkataan dan fatwa-fatwa serta hukum-hukum –aku tidak mengetahui seorang pun sampai saat ini, maka keadaan kembalinya fatwa kepadanya di daerahnya dan mereka mengambil darinya hadits-hadits dan penjelasan kitab-kitab aqidah yang murni, maka tidak ada larangan padanya insyaAlloh. Adapun orang-orang yang di luar daerahnya untuk mengambil ilmu darinya maka tidak boleh, karena sekarang adalah waktu pertempuran yang sengit dan dia telah mengeluarkan pedangnya yang tajam terhadap ahlussunnah tanpa belas kasih, semoga Alloh mengampuni kita dan dia, dan semoga Alloh mengembalikan dia kepada kebenaran dengan bagus.”

Selesai penukilan dari situs “As Sahab”. (Saya dapatkan faedah ini dari “Aljabiri ma’al Halabi” karya Al-akh Abu Ibrohim Ali Mutsanna hafizhohulloh ).

            Maka di mana kecemburuanmu wahai doktor Abdulloh Al Bukhori ? Pantaslah untuk syaikh-mu perkataan Syaikh Robi’ Al Madkholiy hafizhohulloh kepada Falih Al Harbiy ketika dia menganjurkan para pemuda untuk mengambil faedah dari kitab “Zhilalul Qur’an”: “Bagaimana engkau menganjurkan para pemuda kepadanya dan engkau katakan “Ambillah faedah darinya”? Ini adalah pemikiran Quthbiyyah darimu wahai Falih. Apakah engkau punya hubungan yang tersembunyi dengan mereka, engkau tampakkan seakan-akan engkau mencela mereka dan batinmu menyembunyikan hal yang lain?!! Apa jawabanmu?! Ini adalah tipuan wahai Falih! Apakah kamu mengira ini adalah nasehat! Apakah engkau berbuat kepada ahlussunnah dengan kelembutan  seperti ini! Apakah engkau tidak tahu bahwa engkau menjadi bos mumayyi’iin?!” (“Kalimah fit Tauhid”/hal. 95).

            Sesungguhnya ‘Ali Hasan Al Halabiy ketika dia menyembunyikan bid’ahnya itu seperti kalajengking yang menyembunyikan kepalanya sambil mengintai, sebagaimana perkataan Al Imam Al Barbahariy rohimahulloh: “Permisalan pemilik bid’ah itu seperti kalajengking-kalajengking yang mengubur kepala dan badannya di dalam tanah, dan mengeluarkan ekor-ekornya. Ketika dia merasa mampu maka saat itu dia menyengat. Maka demikianlah ahlul bid’ah: mereka bersembunyi di antara manusia kemudian di saat punya kemampuan, mereka mengeluarkan apa-apa yang mereka inginkan.” (“Tobaqot Hanabilah”/2/hal. 44/tentang terjemah Al Imam Hasan bin ‘Ali Al Barbahariy/ cetakan Darul Ma’rifah).

            Barangsiapa yang mengetahuinya maka tidak boleh untuk menganjurkan manusia kepada dia dikarenakan besarnya bahaya yang ada di belakangnya, terlebih lagi jika kalajengking ini berhias. Engkau sendiri wahai Doktor, di dalam kitabmu “Al Fathur Robbani” (hal. 176/terbitan Darul Majid Al ‘Usairiy” menukilkan perkataan yang bagus dari Mufadhdhol bin Muhalhal rohimahulloh: “Apabila pemilik bid’ah kemudian engkau duduk di sampingnya dan dia berbicara denganmu tentang bid’ahnya, kamu akan berhati-hati dan lari darinya. Akan tetapi jika dia berbicara denganmu tentang hadits-hadits sunnah di awal pembicaraannya, kemudian masuk bid’ahnya ke dalam dirimu yang mengakibatkan hatimu menjadi terikat dengannya, maka kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?” (“Al-Ibanah Al Kubro”/2/hal. 444).

            Maka atsar-atsar ini menunjukkan atas kuatnya perhatian salafus sholih dan jauhnya pandangan mereka di dalam hal-hal yang berbahaya, tidak seperti yang dilakukan Syaikhmu Al Jabiriy. Maka bagaimana jika kalajengking ini telah mengumumkan peperangan, dan telah berkecamuk, dan telah mengeluarkan seluruh persenjataannya guna menyerang salafiyyin sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhmu? Bagaimana dia menganjurkan orang-orang Syam untuk belajar kepadanya dengan alasan mengambil faedah dari ilmu-ilmunya karena dia paling pandai di sana sepeninggal Al Imam Al-Albani rohimahulloh? Maka ini bukanlah suatu nasehat. Al Halabiy bukan hanya memberikan faedah dari ilmunya saja, bahkan dia menjadikan mereka sebagai pasukannya sehingga menjadi pasukan kalajengking-kalajengking seperti dia, sebagaimana terjadi di dalam kebanyakan penuntut ilmu kepada ahlul bid’ah. Maka menganjurkan orang-orang kepada dia adalah tipuan terhadap ummat dan bukanlah suatu nasehat.

            Al Imam Al Barbahariy rohimahulloh berkata: “Dan tidak boleh menyembunyikan nasehat kepada muslimin –baik itu orang bagus ataupun orang jahat- di dalam masalah agama. Barangsiapa menyembunyikannya, maka telah menipu muslimin, dan orang yang menipu muslimin maka sungguh telah menipu agama, barangsiapa menipu agama maka telah mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya serta kaum muslimin.” (“Syarhus Sunnah”/hal 29-30/Darul Atsar).

            Wahai Abdulloh Al Bukhoriy, apabila engkau tidak mampu untuk berbicara karena kecintaanmu pada Syaikhmu, maka jangan engkau lemah di dalam menampakkan bekas-bekas kecintaan pada ummat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Kalaulah di dalam hatimu ada kecintaan maka akan tampak bekas-bekasnya pada jasadmu.” (“Bada-i’ul Fawaid”/3/hal. 731).

            Adapun orang-orang yang telah diserang oleh ‘ashobiyyah terhadap Syaikhnya maka dia akan mendahulukan Syaikhnya atas sunnah dan salafiyyah dan ummat Muhammadiyah yang akan menjerumuskannya ke dalam penipuan yang besar, maka ini adalah kerugian yang besar.

Ketika dikatakan kepada Abdulloh Al Bukhoriyy: “Sesungguhnya salah seorang yang ta’ashshub kepada Al Hajuriy –menurut persangkaannya- berkata “sesungguhnya Syaikh ‘Ubaid memusuhi Sunnah” maka diapun berkata: “Tidak ada seorangpun yang berkata demikian kepada Syaikh ‘Ubaid bahwa dia memusuhi sunnah kecuali dialah yang memusuhi sunnah, barangsiapa yang berkata demikian kepada Syaikh ‘Ubaid maka dia berhak dengan sifat ini semoga Alloh menghancurkan orang yang mengatakan ini, dan baginya dari Alloh apa-apa yang pantas. Ini adalah dusta dan kejahatan murni –barokallohu fiik-. Tidaklah yang mengulang-ngulang perkataan ini atau mengucapkan kecuali seseorang yang terfitnah besar, bukanlah Syaikh ‘Ubaid memusuhi sunnah dan bukan pula musuh sunnah, bahkan merekalah pemicu masalah-masalah di dalam sunnah.”

Saya berkata -waffaqoniyalloh-:

Maka tampak dari perkataannya bahwa Doktor Abdulloh Al Bukhoriy menginginkan untuk menjadikan Syaikhnya ‘Ubaid Aljabiri sebagai batu ujian, yakni barangsiapa yang mencelanya maka dia itu yang tercela.

Jawaban saya yang pertama: telah diketahui oleh semuanya bahwasanya para imam salaf telah menjadikan sebagian tokoh sebagai batu ujian bagi manusia. Contohnya adalah ucapan Abdurrohman bin Mahdi: “Jika engkau melihat ada orang Syam yang mencintai Al Auza’iy dan Abu Ishaq, maka tenanglah engkau kepadanya.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 542).

Beliau juga berkata: “Ujilah penduduk Maushil dengan Al Mu’afa –yaitu Ibnu ‘Imron-” (“Siyar A’lamin Nubala”/9/hal. 82).

Contoh semacam ini banyak. Dan Al Imam Ash Shobuniy رحمه الله telah menyebutkan sejumlah besar dalam kitab beliau “Aqidatus Salaf”. Akan tetapi penetapan emas ini tidaklah keluar kecuali dari ahli jarh wat ta’dil, bagi orang yang telah diuji Alloh dan berhasil sehingga menjadi imam dalam ilmu dan sunnah serta kekokohan. Adapun doktor Abdulloh Al Bukhoriy, maka orang yang memperhatikan ucapan-ucapannya dalam dialog tersebut secara adil dan bersih dari hawa nafsu akan mengetahui bahwasanya si doktor ini kedua kakinya tidak menancap dalam ilmu, ataupun sunnah ataupun salafiyyah, dan tidak pula bersih dari fanatisme, dan tidak pula ahli dalam jarh wat ta’dil.

Demikian pula syaikhnya tidak pantas berada pada kedudukan yang tinggi tadi bersamaan dengan telah nampaknya penyimpangannya sebagaimana telah lewat penjelasannya.

Kedua: seharusnya si doktor menuntut hujjah dari orang-orang yang men-jarh, dan melihat jenis kesalahan syaikhnya jika dirinya memang tidak mengetahuinya. Adapun sekedar bersikap keras dan reaktif tanpa memandang bukti-bukti yang dibawakan oleh pihak pen-jarh, dan langsung mencerca orang yang mencerca syaikhnya, maka seperti ini bukanlah jalan orang yang berilmu, adil dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran.

Ketiga: barangsiapa memperdalam pandangannya terhadap kebatilan Ubaid Al Jabiriy –sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para ulama dan penasihat tersebut- dia akan tahu jauhnya Ubaid dari sunnah, terutama peringatan dirinya terhadap orang-orang agar menjauh dari benteng ilmu dan sunnah yang terbesar di Yaman: Darul Hadits Dammaj.

Manakala dikatakan pada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمه الله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang diklaim oleh sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan dan penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj. Mekkah sekarang dimasuki Khowwanul Muslimin. Mereka merusaknya, demi Alloh. Yang menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.” Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang ini.” (Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Maka orang yang menghalangi manusia dari belajar di Darul Hadits Dammaj, maka sungguh ini merupakan sikap melampaui batas terhadap sunnah, bahkan cocok untuknya perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan tidaklah menghalangi manusia dari ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).

Dan perkataan beliau رحمه الله: “Dan jenis yang keempat: para wakil Iblis di bumi, dan mereka itu adalah orang-orang yang melemahkan manusia dari mencari ilmu dan memperdalam pemahaman terhadap agama. Maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia daripada setan-setan jin, karena mereka itu menghalangi hati dari petunjuk Alloh dan jalan-Nya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 160).

Al Akh Abdurrohman Abdulloh Al ‘Imad حفظه الله berkata: “Bahkan al akh Abul Fida As Sudaniy bahwasanya mereka berjumpa dengan Syaikh kami al muhaddits al ‘allamah Robi’ Al Madkholiy حفظه الله pada awal hari dari hari-hari Idul Fithr yang diberkahi pada tahun 1429 H, lalu mereka menanyai beliau tentang orang yang mentahdzir manusia dari Dammaj. Maka beliau menjawab: “Ini adalah pengekor hawa nafsu.” Dst. (“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku tidak menyetujui Asy Syaikh ‘Ubaid dalam tahdzirnya dari Dammaj sama sekali. Andaikata aku tahu bahwasanya ini ada di “Sahab” pastilah kukatakan pada ikhwah untuk menghapusnya. Dan tidaklah seluruh apa yang ada di “Sahab” telah aku lihat.”

Ini diucapkan pada malam Rabu 3 Jumadal Akhir 1430 H.

Dan saudara yang mulia Abu Hammam Ash Shouma’iy Al Baidhoniy mengabariku dengan yang demikian itu, dia berkata: “Aku masuk menemui Asy Syaikh Robi’ dan kukabari beliau dengan masalah Asy Syaikh Ubaid dan tahdzirnya terhadap belajar di Darul Hadits di Dammaj, dan bahwasanya itu tersebar di “Sahab”, maka Asy Syaikh Robi’  menjawab dengan jawab yang telah lewat tadi.”

 (Selesai penukilan dari situs “Al ‘Ulumus Salafiyyah” dari sanad akh Mahdi bin Ibrohim Asy Syabwiy/“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Keempat: tambahilah jawaban tadi dengan penjelasan bahwasanya di markiz ini sunnah sangat makmur sampai-sampai para pelajar bisa menghidupkan banyak dari sunnah-sunnah -seperti sholat dengan memakai sandal, mempergunakan tenda di masjid ketika i’tikaf, dan yang selain itu- yang mana hal itu tidak mudah dijalankan di banyak tempat di dunia, bahkan di masjidil Harom dan masjid Nabawiy –semoga Alloh menambahi kemuliaan keduanya-. Maka barangsiapa mentahdzir manusia dari markiz yang seperti ini, dan berupaya mengeluarkan para penghuninya darinya, maka sungguh dia itu telah memusuhi sunnah.

Kelima: si doktor telah menjadikan syaikhnya sebagai ujian bagi manusia, dan dirinya lupa bahwasanya Al Imam Al Mujaddid Al Muhaddits Al Albaniy رحمه الله telah menjadikan Al Imam Muqbil Al Wadi’i رحمه الله sebagai salah satu ujian bagi manusia seraya berkata: “Maka orang-orang yang mengkritik kedua syaikh tadi –sebagaimana akan datang penyebutannya- mungkin saja dia itu orang bodoh sehingga perlu diajari, dan bisa jadi dia adalah pengekor hawa nafsu, maka kita mohon pada Alloh dari kejelekannya. Dan kita mohon pada Alloh عز وجل untuk memberinya petunjuk, atau mematahkan punggungnya.”

Dan doktor Abdulloh telah mencerca Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله maka silakan si doktor memilih untuk dirinya sendiri apa yang diinginkannya dari dua kemungkinan: sebagai orang bodoh ataukah sebagai pengekor hawa nafsu.

Keenam: Abdulloh Al Bukhoriy telah mengakui bahwasanya syaikhnya itu, Ubaid, bukanlah orang ma’shum (terjaga dari kesalahan), seraya berkata: “Kami tidak mensucikan Asy Syaikh Ubaid bahwasanya beliau itu aman dari fitnah. Maka orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah.” Jika dirinya telah mengakui ini, maka tidak pantas baginya untuk fanatik pada syaikhnya tadi. pembelaan yang mutlak hanyalah untuk Alloh dan Rosul-Nya yang ma’shum tersebut صلى الله عليه وسلم , dan tidak boleh baginya untuk menjadi reaktif dan ngawur dikarenakan diarahkannya kritikan-kritikan terhadap syaikhnya tadi, seakan-akan syaikhnya itu adalah timbangan kebenaran. Bahkan dirinya –dan seluruh manusia- itu harus menjadikan Alloh dan Rosul-Nya sebagai hakim. Dan dalil dalam masalah ini telah diketahui. Maka hendaknya si doktor melihat kepada hujjah orang yang mengkritik sebagaimana telah lewat, lalu menerima kebenaran dan tunduk padanya, meruntuhkan kebatilan dan menolaknya, hingga agama itu seluruhnya menjadi milik Alloh.

            Ketujuh: saya ingatkan engkau –wahai doktor- atas apa yang pernah engkau ucapkan pada fitnah Abul Hasan: “Mengingatkan diriku dengan perkara yang terjadi antara Hasan bin Umaroh Al Bajaliy dengan Amirul Mukminin fil hadits Syu’bah bin Hajjaj رحمه الله , sebagaimana disebutkan di biografi Al Hasan di kitab “Al Majruhin” karya Alhafizh Ibnu Hibban Al Busti rohimahulloh manakala dihikayatkan oleh Ibnu Hibban perkataan-perkataan ulama tentang Alhasan! Diantaranya adalah Syu’bah yang mencelanya dengan celaan yang keras, maka Al Hasan Al Bajali ketika mendengar yang demikian ini dia berkata: “Semua manusia aku maafkan kesalahannya kecuali Syu’bah, maka aku tidak memaafkannya sampai aku berdiri bersamanya di hadapan Alloh untuk Alloh menghukumi di antara kami berdua.” Kemudian Ibnu Hibban memberikan tambahan: “Bencana Al Hasan bin Umaroh, di antaranya adalah: dia mentadlis orang-orang tsiqoh dengan orang-orang yang dho’if, yakni dia mendengar dari musa bin Mutir, dan Abul ‘Athuuf, dan Abaan bin Abi ‘Ayyaasy dan yang semisalnya, kemudian dia menggugurkan nama-nama mereka dan menggantikan dengan Syaikh-Syaikh mereka yang tsiqoh. Maka ketika Syu’bah melihat hadis-hadis maudhu’ yang diriwayatkan oleh Al Hasan dari orang-orang yang tsiqoh, maka dia mengingkari Al Hasan dan melontarkan jarh terhadapnya, sedangkan Syu’bah tidak mengetahui bahwa di antara Al Hasan dan orang-orang tsiqoh tadi ada orang-orang yang pembohong itu. Maka seakan-akan Al Hasan sendirilah yang telah berbuat kejelekan terhadap dirinya sendiri dengan cara mentadlis orang-orang yang pendusta ini, dan menjatuhkan mereka dari sanad dari hadits-hadits tersebut sehingga hadits-hadits yang maudhu’ tadi ditempelkan pada dirinya. Dan aku berharap Alloh mengangkat derajat Syu’bah di jannah dengan derajat-derajat yang tidak bisa dicapai oleh orang lain kecuali orang yang beramal seperti amalannya, dengan beliau menolak kedustaan yang hendak disandarkan kepada orang yang Alloh عز وجل kabarkan tidak berbicara dari hawa nafsu, yang ada hanyalah wahyu yang diwahyukan صلى الله عليه وسلم .”

(selesailah penukilan Abdulloh Al Bukhoriy dari “Al Majruhin” (1/hal. 229). “Al Fathur Robbaniy” (hal. 251/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

Aku katakan -semoga Alloh Subhanahu wata’ala memberikan taufiq- : Maka Syaikhmu Ubaid al Jabiriy dia adalah yang bersalah kepada dirinya sendiri dengan sebab dia membawa bencana itu, dengan bersombong terhadap nasehat persaudaraan yang benar dari sebagian ulama, bahkan terus-menerus dia memusuhi ahlul haq hingga akhirnya singa sunnah mengarahkan kepadanya panah-panah merah.

Yang kedelapan: Abdulloh Al Bukhoriy telah mengakui tidak tahunya dia terhadap permusuhan Ubaid terhadap sunnah, dia berkata: “Kami tidak mengetahui ini ada pada Syaikh Ubaid bahwa dia memusuhi As Sunnah. Kami tidak mengetahui dari syaikh bahwa dia memusuhi As Sunnah”. Dan tidak adanya keilmuan dia terhadap sesuatu itu tidaklah mengharuskan tidak adanya sesuatu itu secara kenyataan. Al Imam Ibnu Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tidaklah tidak adanya pengetahuan tentang suatu perkara itu menunjukkan tidak adanya perkara itu.” (“I’lamu l Muwaqqi’in”/1/hal. 260/cet. Darul Hadits).

Dan tidak pantas bagi Abdulloh Al Bukhoriy untuk menjadikan tidak adanya pengetahuan dia terhadap hal itu sebagai hujjah bagi dia di dalam mematahkan bantahan salafiyyin terhadap syaikhnya. Bahkan yang tepat adalah bahwa orang yang tahu itu menjadi hujjah terhadap orang yang tidak tahu. Syaikhul Islam rahimahulloh berkata: “Dan orang yang menetapkan sesuatu dengan menyebutkan bukti merupakan hujjah bagi orang yang tidak menetapkan.” (Ash Shorimul Maslul”/1/hal. 142).

Yang kesembilan: apabila engkau katakan sebagai misal: “Sesungguhnya Syaikh Ubaid aku lihat dia menegakkan sunah ini dan itu.” Kami katakan: “Sesungguhnya kalimat “Musuh sunnah” tidak melazimkan seseorang itu memusuhi sunnah di seluruh sisi, sebagaimana kalimat “Musuh Alloh” yang digunakan oleh salafus sholeh itu tidak dimaksudkan bahwasanya orang yang dijuluki dengan ungkapan ini menjadi musuh Alloh di seluruh keadaan. Lihatlah Ibnu Abbas ketika dikatakan kepada dia, bahwa Nauf Al Bikaliy menyangka bahwa Musa yang menjadi sahabat Al Khodhir itu adalah bukan Musa bani Israil, hanya saja Musa yang lain. Maka beliau menjawab: “Telah berdusta musuh Alloh…” dan hadits tersebut ada di “Shohihain” ([18]), dan perkaranya sebagaimana aku katakan kepada engkau, dan tidak ada dari salaf yang mengatakan  tentang Ibnu Abbas rodhiyalloh ‘anhuma: “ini adalah ghuluw, hadadiyah, barangsiapa yang berkata ini maka dia adalah musuh Alloh” atau yang selainnya dari perkataan yang tidak benar.

Bab Enam:

Abdulloh Al Bukhoriy menelantarkan Ahlul Haq, Bahkan Menyerang Mereka Setelah Itu

Doktor Abdulloh Al Bukhoriy memuji daurahnya yang ada di Indonesia dengan berkata: “Baiklah, apa-apa yang di dalamnya ada manfaat yang besar alhamdulillah, dan tidak akan kita ikut-ikut dalam omong kosong, dan kita tidak mentololkan seorangpun. Dan manfaatnya untuk manusia.”

Aku katakan semoga Alloh Subhanahu wata’ala memberikan taufiq:

Abdulloh Al Bukhoriy telah mengetahui hujjah Ahlussunnah atas hizbiyah para Mar’iyyun dan makar serta pemberontakan mereka, Tapi bersamaan itu dia memenuhi panggilan mereka bahkan memberikan ceramah di daurah mereka berulangkali, tanpa dia jelaskan kejelekan mereka di hadapan manusia, tidak memperingatkan umat dari mereka, maka ini adalah bentuk penelantarannya terhadap Ahlussunnah.

Di manakah hadits Abu Huroiroh rodhiyalloh ‘anhu berkata Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam:

«لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا. المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله، ولا يحقره».

“Jangan kalian saling dengki, jangan kalian menambah harga barang jualan tanpa maksud membelinya, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan kalian membatalkan jual beli saudara kalian, jadilah kalian saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzoliminya, tidak menelantarkannya, tidak merendahkannya”. (HR. Muslim (2564)/ Dar Ibnil Jauziy).

Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata:Tidak menelantarkannya yakni ketika saudaranya itu sedang amar ma’ruf dan nahi munkar, atau ketika dia sedang menuntut haknya, bahkan menolongnya dan membantunya dan membela dia dari gangguan semampunya” .(“Syarah Arba’inin Nawawiyyah”/ hal.249-251 / cet. Maktabatul Anshor).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh berkata: Tidak menelantarkannya yakni (tidak menelantarkannya) di posisi ketika dia suka apabila ditolong.”

Beliau rohimahulloh juga berkata saat menyebutkan faidah hadits tersebut: “… Yang keenam: penjelasan keadaan seorang muslim bersama saudaranya, yakni tidak menzoliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya, tidak merendahkannya, karena semua ini menafikan ukhuwah imaniyah.” (“Syarah arba’inin Nawawiyyah”/ hal.249-251/dar salafiyah/ maktabah anshor).

Di manakah perkataan Rosululloh صبى الله عليه وسلم:

«المؤمن للمؤمن كالبنيان المرصوص ؛ يشد بعضه بعضا» وشبك بين أصابعه

Seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu sebagaimana bangunan yang kokoh, menguatkan satu dengan yang lain,”

Sambil beliau menjalin di antara jari-jemari kedua tangan beliau. (HR. Al Bukhoriy (2446) dan Muslim (2585)).

Dan perkataan Rosululloh صلى الله عليه وسلم:

«مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد؛ إذا اشتكى منه عضو؛ تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر»

“Permisalan seorang mukmin di dalam saling cinta mereka, dan saling kasih sayang mereka, dan saling menolong mereka itu seperti jasad manusia, apabila salah satu bagian tubuhnya sakit maka seluruh tubuh saling memanggil dengan menjadi panas dan tidak bisa tidur.” (HR. Al Bukhoriy (6011) dan Muslim (2586)).

Wahai Abdulloh Al Bukhoriy, sungguh Syaikh kami An Nashihul Amin dan ulama Sunnah dan para penuntut ilmu yang bersama beliau –semoga Alloh Subhanahu wata’ala memelihara mereka- telah menjelaskan dengan penjelasan yang banyak terhadap:

– kedustaan yang banyak dari dua anak Mar’i dan pengikut keduanya,

– tipu daya mereka,

– perancuan mereka,

– pertemuan-pertemuan mereka bersama sebagian hizbiyin yang terdahulu,

– usaha-usaha pendekatan mereka dengan para hizbiyyin,

– banyaknya sikap mendiamkan kesalahan-kesalahan yang timbul di antara mereka

– lemahnya pengingkaran terhadap kemungkaran hizbiyyin yang lain,

– Demikian juga penelantaran mereka (tak mau menolong) terhadap orang-orang yang memberikan nasehat dan suka membela agama dari perusakan yang dilakukan oleh orang-orang salah

– menipu para pemuda dengan angan-angan

– kedustaan dan kebohongan terhadap orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– celaan  terhadap orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– tidak memenuhi nasehat orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– memutar balik kenyataan,

– perancuan,

– pengkaburan,

– menjauhkan thullab dari orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– penipuan,

– dusta,

– adu domba di antara ulama,

– memiliki banyak wajah, sesuai dengan siapa yang sedang dihadapi,

– penggunaan taqiyah dan bersembunyi,

– sikap dan ucapan yang saling bertolakbelakang, sesuai hasrat dan tujuan,

– penggunaan lafaz-lafaz umum yang mutlak,

– sistem keorganisasian dan pengumpulan massa secara diam-diam,

– mencurahkan perhatian untuk memperbanyak anggota, tapi lemah dalam memperbaiki langkah,

– menimbulkan fitnah serta memecah belah salafiyin,

– makar serta tipudaya

– bersatu menurut maslahat pribadi dan keduniaan,

– memuji sebagian orang yang menyeleweng,

– menolak kabar orang-orang tsiqoh,

– menghalangi orang-orang dari buku-buku dan kaset-kaset yang menjelaskan kesalahan,

– mengintai dan mendoakan kecelakaan dan kehancuran orang mengkritik dan memberikan nasihat,

– mengangkat syiar “membela orang yang terdholimi” dan “keadilan” dalam rangka menjelekkan kehormatan pengkritik dan pemberi nasehat, dan menarik belas kasihan orang,

– tidak adanya ittiba’ terhadap salaf di dalam mendirikan markaz,

– membuka jalan untuk mendirikan jam’iyah,

– bermuka manis dan mendekat pada orang-orang yang diharapkan manfaatnya,

– membuat sempit ahlussunnah yang kokoh,

– merebut masjid-masjid ahlussunnah dengan berbagai tipu daya,

– menjerumuskan ahlussunnah di dalam kesulitan dengan memakai tangan-tangan pemerintah,

– membuat kaidah-kaidah dan ushul-ushul baru dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingan mereka,

– menghancurkan ushul-ushul ahlus sunnah,

– mengangkat syiar “at tasabut/meneliti kabar” dalam rangka menolak nasehat,

– berdalil dengan diamnya para ulama,

– bertameng dengan sebagian ulama dalam menyelisihi kebenaran,

– berkhianat di dalam menukil berita dengan jalan merubah makna,

– berbagai macam usaha untuk bisa mendapatkan harta dengan dalih untuk dakwah,

– memanfaatkan kotak-kotak infaq dan selainnya guna menumpuk harta, dan lain sebagainya.

Keburukan ini semua benar-benar terwujud di kalangan mar’iyyin, dan sungguh kami telah merasakan pahitnya ini semua. Maka di manakah kecemburuan engkau terhadap agama apabila engkau mencintai Alloh Subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam dalam keadaan engkau menisbatkan dirimu pada assalafiyah?

Wahai pembaca yang budiman, berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh: “Orang-orang yang mempunyai pengetahuan terhadap apa-apa yang Alloh Subhanahu wata’ala utus dengannya Rosul Shollallohu ‘alaihi wasallam dan dengan apa-apa yang ada padanya Rosul Shollallohu ‘alaihi wasallam dan shahabatnya, mereka melihat bahwa kebanyakan orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan dalam agama, ternyata menjadi orang yang paling rendah nilai keagamaannya, wallohul musta’an. Maka agama yang mana, dan kebaikan yang mana, bagi orang yang melihat larangan-larangan Alloh Subhanahu wata’ala dilanggar, hukum-hukum-Nya diremehkan, agama-Nya ditinggalkan, dan Assunnah Shollallohu ‘alaihi wasallam dibenci, sementara orang ini hatinya dingin, lidahnya beku, syaithon yang bisu, sebagaimana orang yang bicara dalam kebatilan adalah syaithon yang berbicara. Dan tidaklah rusaknya agama itu kecuali dari orang-orang yang apabila selamat bagi mereka  perut-perut mereka dan kedudukan mereka, mereka tidak peduli dengan apa-apa yang terjadi terhadap agama ini. Paling bagusnya dari mereka ini adalah orang-orang yang cukup merasa sedih saja sambil lidahnya berkecap-kecap. Seandainya mereka ini diambil bagian mereka walaupun sedikit dari kedudukan atau harta mereka niscaya mereka akan menumpahkan segenap kemampuan dan kesungguhan mereka, dan menggunakan semua tingkatan-tingkatan ingkarul mungkar yang tiga sesuai kemampuan mereka. Mereka ini bersamaan dengan jatuhnya mereka di hadapan Alloh Subhanahu wata’ala dan kemarahan-Nya, telah tertimpa musibah yang terbesar di dunia –yang mereka tidak sadar- berupa matinya hati, karena hati selama kehidupannya sempurna maka kemarahan dia karena Alloh Subhanahu wata’ala akan lebih kuat, dan pembelaan dia terhadap agama lebih sempurna.” (“I’lamul muwaqi’in”/2/hal. 230).

Demikian juga keadaan doktor yang tertimpa ashobiyah ini. Mulutnya bersih dari berbicara tentang hizbul jadid, tapi dia memenuhinya dengan cercaan dan umpatan terhadap ahlus Assunnah yang cemburu terhadap agama dan kokoh.

Bab Tujuh:

Penghinaan Abdulloh Al Bukhoriy

Abdulloh Al Bukhoriy berkata kepada pengikutnya: “Kalian tidak sibuk dengan orang-orang dungu itu”, “Jangan kalian masuk di dalam perdebatan dengan orang-orang yang dungu itu.” Dan dia berkata pada kali yang lain: “Kalian jangan sibuk dengan orang-orang dungu itu,” “Tinggalkan orang-orang dungu itu,” “Dan mereka melihat kekacauan dan ketololan ini”, “Dari markiz itu, yang di dalamnya ada ketololan seperti ini, dan di dalamnya ada kedunguan ini,” “Wahai saudaraku, aku ulangi: kalian jangan sibuk dengan orang-orang dungu di tempat kalian.”

Yang dia maksud dengan orang-orang dungu adalah para penuntut ilmu yang tegak bersama Syaikh kami An Nashihul Amin hafizhohumulloh.

            Demikianlah, banyak sekali doktor berkata: “dungu” terhadap ahlul haq, yang dia telah mewarisi kebiasaan orang-orang kafir, berkata Alloh Subhanahu wata’ala:

﴿قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ﴾ [الأعراف/66].

“Berkata pembesar-pembesar dari orang-orang kafir dari kaumnya: “Sesungguhnya kami melihat engkau dalam kedunguan dan kami menyangka engkau sebagai orang yang dusta.” (Al a’raf: 66).

            Alloh Subhanahu wata’ala  berfirman tentang Nabi-Nya ‘alaihi assalam:

﴿قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِين * أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِين﴾

“Wahai kaumku tidak ada padaku kedunguan, akan tetapi aku adalah Rosul dari robbul ‘alamin. Aku sampaikan kepada kalian risalah Robbku dan aku adalah pemberi nasehat yang terpercaya.” (Al a’raf: 67-68).

            Dan lidah keadaan para pewaris para Nabi -Syaikh kami dan ulama yang bersama dengan beliau hafizohumulloh, berkata: “Wahai doktor, tidak ada di sisi kami kedunguan, akan tetapi kami adalah penyampai risalah Robb kami, dan kami adalah orang-orang yang terpercaya dan memberikan nasehat untuk kalian.”

            Maka ahlul haq merasa gembira dengan bagian mereka berupa warisan dari para Nabi, sementara bagian doktor Abdulloh Al Bukhoriy di dalam bab ini adalah sebagaimana yang telah terdahulu.

            Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam qosidahnya “An Nuniyyah” (2:195-196/syarh Al Harros/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah) berkata:

والناس قد ورثوه بعد فمنهم*** ذو السهم والسهمين والسهمان

بئس المورث والمورث والترا***ث ثلاثة أهل لكل هوان

يا وراثين نبيهم بشراكم*** ما إرثكم مع إرثهم سيان

“Dan manusia telah mewarisi darinya setelah itu, di antara mereka ada yang mendapatkan satu bagian, atau bagian yang banyak, atau dua bagian. Sungguh jelek sekali orang yang mewariskan, orang yang diwarisi, dan barang warisan tersebut. Ketiganya berhak mendapatkan seluruh kerendahan. Wahai para pewaris dari Nabinya bergembiralah, tidaklah warisan kalian sama dengan warisan mereka.” (selesai).

            Dan berkata juga Abdulloh Al Bukhoriy tentang Syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya-: “Aku tidak tahu orang-orang itu“- sampai perkataannya- “Kami melarang dari belajar ke orang-orang yang tidak dikenal,” “Dan aku katakan: orang-orang yang tidak dikenal, jangan belajar pada mereka, apabila tidak dikenal dalam hal kesalafiyahannya, dan sunnahnya serta istiqomahnya, tidak boleh belajar padanya, walaupun datang dari manapun” – sampai perkataannya:- “Apa itu yang datang dari Dammaj, apa itu Dammaj? Apa di dalamnya? Yakni setiap yang datang atau lewat padanya kamu sangka sebagai sunniy? Salafiy? Sejak zaman Muqbil tidaklah demikian, kamu katakan di zaman sekarang demikian?”

            Demikianlah si doktor merendahkan ulama Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka, serta mengejeknya.

            Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Dan di antara alamat hizbiyyin adalah mengejek para ulama dan tidak butuh dengan majelis mereka. Dan ini adalah sebagian dari perkara yang menggembirakan musuh-musuh Islam, bahkan perkara yang menggembirakan syaithon, wallohulmusta’an.” (“Ghoratul Asyrithoh”/1/hal. 579/cet. Maktabah shon’a Al Atsariyyah).

            Berkata Syaikh kami Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajuriy hafizohulloh: “Hizbiyyah itu tidak menganggap keutamaan orang-orang yang mulia di sisinya, padahal Robb kita Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ﴾

“wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kalian bersuku-suku dan berqobilah-qobilah untuk saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah..”

-kelompok siapa?”

﴿عِنْدَ الله أَتْقَاكُم( [الحجرات/13]

“Di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling taqwa di antara kalian.”(QS. Al Hujurot: 13).

(“Adhrorul Hizbiyyah”/ milik beliau hafizohulloh/hal. 15).

Asy Syaikh Sholih Al Fauzan hafizohulloh berkata: “Wajib untuk memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para Nabi, barangsiapa yang meremehkan ulama berarti dia telah meremehkan kedudukan mereka dan ilmu yang mereka miliki yang diwarisi dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, dan siapapun yang meremehkan ulama maka akan lebih berani untuk meremehkan muslimin, maka ulama wajib untuk dimuliakan disebabkan ilmu dan kedudukan mereka di hadapan umat, serta tanggungjawab yang mereka pikul untuk kebaikan Islam dan muslimin, apabila tidak percaya kepada ulama kepada siapa mau percaya?….dan tidaklah seorangpun yang meremehkan ulama kecuali dia telah menjerumuskan dirinya kedalam hukuman, dan zaman telah membuktikan hal ini pada masa yang terdahulu dan sekarang ini.” (“Al Ajwibah Al Mufidah”/hal. 197).

Ini adalah penyakit yang kuno, berkata Imam Al Hakim aN Naisaburiy rohimahulloh: “Dan atas yang demikian ini kami dapati di kitab-kitab kami dan negeri-negeri kami, setiap yang menisbahkan dirinya kepada jenis ilhad dan bid’ah, tidaklah mereka melihat kepada thoifah al manshurah kecuali dengan pandangan yang meremehkan, dan menjuluki mereka sebagai Hasyawiyyah (kelompok pinggiran).” (“Ma’rifah ‘Ulumil Hadits”/1/hal. 7).

Al Imam Abu Utsman ash Shobuniy rohimahulloh berkata: “Dan ciri-ciri kebid’ahan yang ada pada pemiliknya sangat tampak dan jelas, dan alamat dan tanda mereka yang paling jelas adalah sangat kerasnya permusuhan mereka terhadap para pemikul hadits Shollallohu ‘alaihi wasallam dan peremehan serta ejekan terhadap mereka”(“Aqidatus salaf”/hal. 101).

            Dan tidaklah membahayakan ulama ahlus sunnah ketidaktahuan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap mereka, dan tidaklah mengurangi derajat mereka peremehannya terhadap mereka, sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (1/hal. 368/cet. Darul Hadits):

ما ضر شمس الضحى والشمس طالعة … أن لا يرى ضوءها من ليس ذا بصر

“Tidaklah membahayakan matahari di waktu dhuha dalam keadaan matahari itu terbit bahwasanya orang yang buta itu tidak melihat cahayanya.”

Dan perkataan Abdulloh Al Bukhoriy dalam bantahannya terhadap Syaikh Yahya: “Kalaulah yang berkata orang yang lebih tinggi dari orang ini, orang yang paling tinggi, pada dasarnya orang yang lain tidak perlu dibandingkan dengan dirinya” alur perkataannya menunjukkan sangat kuatnya peremehan dia terhadap Syaikh Yahya ro’ahulloh.

Tidakkah engkau tidak tahu ya doktor, bahwa lebih dari 4000 penuntut ilmu mengikat diri-diri mereka di dalam menuntut ilmu di hadapan majelis beliau -bukan hanya sekedar muhadhoroh-. Dan siapakah orang alim dari ulama sunah di zaman ini yang Alloh Subhanahu wata’ala jadikan hati-hati manusia mau untuk menghadapkan diri padanya, seperti imam ini? Dan berapakah orang yang hadir di majelismu? Maka ini adalah hasad, semoga Alloh Subhanahu wata’ala menghancurkan pelaku hasad tadi.

Penyair berkata sebagaimana yang disebutkan di “Tsimaril Qulub Fil Mudhof Wal Manshub” (1/hal. 94):

حسدوا الفتى إذ لم ينالوا سعيه … فالقوم أعداء له وخصوم

كضرائر الحسناء قلن لوجهها … حسداً وبغضاً إنه لدميم

“Mereka merasa dengki pada si pemuda karena mereka belum mencapai apa yang diusahakannya. Maka kaum itu menjadi musuhnya dan lawannya, sebagaimana para wanita madu yang menjadi saingan si wanita yang cantik jelita, mereka berkata tentang wajahnya dengan hasad dan kebencian: “Sesungguhnya wajahnya sangat jelek.”

Wahai doktor, tidaklah aku ingin ikut tata cara orang-orang hizbiyyin yang punya perhatian untuk memperbanyak pengikut tapi disertai dengan kelemahan dalam memperbaiki jalan dakwah mereka, akan tetapi ketika engkau menyebutkan tentang perbandingan, aku akan menyebutkan sebagian darinya, semoga engkau bisa kembali kepada kelurusanmu.

Ketahuilah bahwa peremehan Abdulloh Al Bukhoriy hadahulloh terhadap Syaikh kami An Nashihul Amin itu telah berlangsung lama. Apabila kalian baca kitab dia Al Fathur Robbaniy Fir Rodd ‘Ala Abil Hasan As Sulaimaniy”, kalian tidak akan dapati dia menyebut Syaikh kami An Nashihul Amin kecuali dua kali: di halaman 117 dan 143 (Dar Majid ‘Usairiy), tanpa menyebut namanya atau kunyahnya atau menyebut “Syaikh”, akan tetapi mengatakan: Al Hajuriy, Al Hajuriy, padahal ahlul inshof dan bashiroh telah mengetahui bahwa Syaikh kami An Nashihul Amin adalah orang pertama yang membongkar kebatilan Abul Hasan di hadapan umat, dan memperingatkan mereka darinya.

Dan yang aneh adalah bahwasanya Abdulloh Al Bukhoriy menyebut Asy Syaikh Al Buro’iy berulangkali, berkata: “Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy, Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy, Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy,” bersamaan bahwa Al Buro’iy -wafaqohulloh- termasuk orang yang terlambat dalam fitnah itu, dan dulu dia mati-matian dalam membela Abul Hasan Al Mishriy, sambil meremehkan Asy Syaikh Yahya, padahal dari sisi ilmu Syaikh Yahya Al Hajuriy lebih alim darinya. Dan akan datang persaksian dari Syaikhnya para ulama Yaman –Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh-.

Mungkin saja Abdulloh Al Bukhoriy bisa berkelit ke kanan dan ke kiri, akan tetapi telah tampak bukhur (uap) kedengkian dan peremehan dari kepalanya.

Ketahuilah wahai Abdulloh Al Bukhoriy, bahwa Syaikh Darul hadits di Dammaj itu lebih tinggi dan lebih tinggi keadaannya dari apa yang engkau sangka:

MENGENAL AL ‘ALLAMAH ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI  حفظه الله تعالى

Syaikhuna Yahya setelah dibujuk-bujuk dan dituntut oleh orang banyak untuk menyebutkan sedikit dari perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, dan menceritakan kenikmatan yang Alloh berikan pada beliau, sementara menceritakan nikmat adalah bagian dari syukur, maka beliau berkata:

الحمد لله حمداّ كثيراً طيباً مباركاً فيه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد:

            Saya telah diminta untuk menulis sekelumit dari kelahiranku, namaku, negriku, pertumbuhanku, dan sebagian perkara yang terkait dengannya. Dan setelah permintaan yang berulang-ulang dari orang-orang yang saya cintai –semoga Alloh memuliakan mereka-, saya berpandangan untuk memenuhi tuntutan mereka dengan menulis baris-baris berikut ini. Maka saya katakan dengan taufiq dari Alloh:

Adapun nama saya: saya adalah Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy, dan kabilah bani Wahan, dari desa Hanjaroh di kaki gunung Ku’aidanah –saya mohon pada Alloh agar memuliakan mereka dengan mencari limu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya-.

Kemudian kakekku Ahmad bin Ali bin Ya’qub pindah ke suatu desa yang agak jauh yang dinamakan sebagai desa Jabar kabilah Zaghobiyyah. Beliau menikah dengan wanita mereka. Maka mereka adalah paman-paman ayahku. Ayahku tumbuh di antara mereka di sebagian kerabatnya, dan menikah dengan wanita mereka juga, dengan ibuku, dari keluarga ‘Iqol, desa Zaghobiyyah –semoga Alloh merohmati orang yang meninggal dari mereka, dan memperbaiki orang-orang yang masih hidup dari mereka-. Di sanalah kelahiranku sebelum sekitar empat puluh tahun yang lalu, di hari-hari yang dinamakan dengan “Pemberontakan Republik Yaman.”

            Ayahku –semoga Alloh menjaganya dan memanjangkan umurnya dalam ketaatan pada-Nya- sangat senang bercocok tanam. Beliau biasa menanam di area pertanian yang luas yang darinya beliau mendapatkan harta yang banyak berupa dzurroh (sejenis jagung), simsim (sejenis wijen) dan yang lainnya, hingga sebagian orang sering mengutang pada beliau dzurroh dan qoshob (bambu) ketika terjadi kemarau. Beliau juga dikaruniai Alloh binatang-binatang ternak seperti kambing dan sapi. Maka sebagai puji hanya milik Alloh, dari sisi penghidupan beliau pada keadaan terbaik.

            Beliau juga mendidikku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang baik, jauh dari qot (sejenis ganja), rokok, syammah (semacam narkotika yang lebih keras daripada kot) yang berbagai penyebab bencana yang lain. Dan termasuk perkara yang paling berat bagi beliau adalah jika beliau melihat salah seorang dari kami kurang dalam menunaikan ibadah sholat jama’ah atau rowatib. Dan perkara yang paling beliau sukai adalah jika sebagian dari kami menjadi seorang alim, sementara di sana tidak ada kecuali ta’lim di para penulis. Maka beliau menaruhku di suatu tempat yang namanya: Mi’lamatusy Syaikh, orang kepercayaan desa itu, orang faqih dan khothib mereka yang bernama Yahya Al ‘Utabiy رحمه الله . Dan pengajaran di Mi’lamah tersebut adalah sebagaimana system pendidikan zaman dulu, pengajaran bacaan Al Qur’an dengan melihat ke mushhaf, pengajaran khothth (menulis bentuk huruf dan susunan kata). Dan orang yang lulus darinya biasanya menjadi orang faqih bagi desa tersebut sebagai imam dan khothib dengan membaca buku-buku khothbah, juga menjadi pencatat transaksi dan yang lainnya. Dulu Al Faqih Al ‘Utabiy رحمه الله lebih menyukaiku daripada mayoritas murid-muridnya.

Ketika saya telah lulus dari Mi’lamah tersebut dengan membaca Al Qur’an sambil melihat ke mushhaf, pengetahuan tentang khothth, ayahku bertekad untuk membawaku pergi ke kota Zaidiyyah karena tersebar di kalangan masyarakat di sana bahwasanya Zaidiyyah tersebut adalah kota ilmu, dan bahwasanya mereka itulah ahli fatwa tentang tholaq, warisan dan sebagainya.

            Ayahku حفظه الله itu senang pada ilmu dan agama, banyak berpuasa dan sholat. Dan saya tidak mengetahui bahwasanya beliau pernah memakan makanan yang harom senilai satu dirhampun. Akan tetapi beliau ketika itu tidak mengetahui tentang Shufiyyah, Syi’ah ataupun sekte-sekte sesat yang lain sedikitpun. Beliau memuliakan mereka, dan mereka sering mengunjungi beliau. Barangsiapa dari mereka mengunjungi beliau, beliaupun memuliakannya dengan pemuliaan yang besar. Maka Alloh عز وجل menyelamatkan diriku dari belajar di kalangan para Shufiyyah itu dengan ibuku -semoga Alloh menjaganya dan memperbagus penutup hayatnya- yang mana ibuku mulai menangisiku agar saya tidak pergi dan tinggal di selain negriku sendirian tanpa pengiring dari negriku padahal saya masih kecil. Maka ayahku membiarkan saya menggembala kambing. Beliau حفظه الله adalah orang yang pertama membangun masjid dari kayu dan jerami di desa kami yang mana mereka ada di sana sekarang ini. Itu adalah masjid kecil yang bisa menampung sekitar empat puluh orang yang sholat saat itu, menjadi masjid jami’ untuk sejumlah desa di sekitarnya. Ketika masjid itu runtuh, beliau membangunnya dari batu dan memperluasnya, dan saya sebagai imamnya. Pada hari Jum’at ayah mencarikan orang untuk menggantikanku menggembala kambing, sementara saya berkhothbah untuk mereka dengan buku khothbah. Yang sering kali saya pakai sebagai pegangan saat itu adalah “Al Futuhatur Robbaniyyah” karya Al Baihaniy رحمه الله hingga saya hampir-hampir menghapalnya karena seringnya saya mengulangnya.

            Kemudian setelah itu saya berangkat ke Saudi. Saya hadir di majelis pembacaan Al Qur’an usai sholat Fajr di hadapan Fadhilatusy Syaikh Al Muqri yang terkenal Ubaidulloh Al Afghoniy حفظه الله di kota Abha, dan kami mendengarkan dari beliau sedikit pelajaran Shohih Muslim yang beliau mulai sebelum membacakan Al Qur’an untuk kami. Kemudian beliau safar, saya pindah ke Asy Syaikh Al Muqri Muhammad A’zhom yang mengajarkan Al Qur’an di masjid Alu Yahya. Saya membaca Al Qur’an kepada keduanya sampai ke surat Al A’rof. Lalu syaikh tersebut berangkat safar juga. Dan saya menyempurnakan bacaan dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim di hadapan Al Muqri Muhammad Basyir. Segala pujian hanya bagi Alloh.

            Dan bersamaan dengan kecintaanku yang besar terhadap ilmu di sana, saya tidak mendapatkan orang yang membimbingku untuk bergabung dengan majelis Asy Syaikh Al Imam ibnu Baz dan yang lainnya dari kalangan ulama kerajaan Saudi, yang menyelenggarakan ta’lim رحمهم الله. kemudian saya mendengar tentang Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan bahwasanya beliau itu adalah seorang alim salafiy, yang mengajarkan ilmu-ilmu Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم di Dammaj –semoga Alloh menjaganya dan memberikan taufiq pada penduduknya untuk segala kebaikan- salah satu desa di wilayah So’dah. Maka saya bergabung dengan beliau di markiz beliau yang diberkahi pada tahun 1405 Hijriyyah Nabawiyyah, semoga sholawat dan salam tercurah pada Nabi yang hijroh tersebut.

            Ayahku datang bersamaku dan mewasiatkan diriku pada syaikh رحمه الله dengan kebaikan. Lalu beliau pulang. Syaikh terus-menerus membantuku untuk menuntut ilmu dengan bantuan harta dari waktu ke waktu. Saya terus-menerus tinggal di markiz sejak tanggal tersebut untuk belajar, saya tidak senang memperbanyak bepergian, dan tidak senang hilangnya sedikit saja dari waktu yang ada, sampai Alloh عز وجل dengan karunia-Nya melalui tangan syaikh kami Al Allamah Al Muhaddits As Salafiy yang diberkahi Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله memudahkan diriku dengan kebaikan yang banyak, yang berupa pengambilan faidah pada beraneka ragam ilmu.

            Dan sebagaimana yang terjadi di markiz yang diberkahi ini, saya menggabungkan kepada ilmu yang kami terima dari syaikh kami –syaikh bagi masyayikh dakwah salafiyyah di Yaman, Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله- sebagian dars tentang nahwu, aqidah dan fiqh,…yang kami terima dari sebagian masyayikh yang mulia yang termasuk dari murid syaikh kami Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang senior di markiz ini. Semoga Alloh mensyukuri mereka semua.

Dan setelah itu, syaikh kami Muqbil –semoga Alloh menempatkan beliau di Firdaus yang tertinggi- memerintahkan diriku untuk menggantikan beliau dalam mengajar jika beliau sakit atau bepergian. Dan manakala ajal beliau رحمه الله telah dekat beliau mewasiatkan untuk menggantikan beliau sepeninggal beliau nanti.

Saat itu para musuh markiz ini mengira dengan dugaan yang buruk bahwasanya dakwah ini akan hilang dengan wafatnya syaikh رحمه الله , dan bangunan markiz ini akan menjadi kandang dan majelis menghisap kot, sebagaimana kami dengar dan didengar oleh yang lain, pada masa sakitnya syaikh dan sebelum itu.

Manakala Alloh menghadapkan hati para hamba kepada kebaikan ini setelah wafatnya syaikh رحمه الله  , dan dakwah meluas lebih banyak lagi, dan jadilah jumlah para penuntut ilmu berlipat-lipat lebih banyak daripada yang di masa hidup pendiri markiz ini syaikhunal Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Hal itu menyebabkan jengkelnya sebagian orang yang tertimpa penyakit dengki dari kalangan orang yang dulunya adalah murid syaikh رحمه الله dan yang lainnya dari kalangan pemilik hasrat-hasrat keduniaan dan fitnah hizbiyyah. Maka Alloh menolak kejelekan mereka dan menghancurkan makar mereka.

Dakwah ini senantiasa maju ke depan di seluruh kebaikan, dan karunia itu adalah milik Alloh sebelumnya dan sesudahnya. Dialah yang berfirman:

﴿ومابكممننعمةفمنالله﴾

“Nikmat apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

Maka kita mohon pada Alloh عز وجل untuk menjaga agama kita dan dakwah kita, dan menolak dari kita dan dari negri kita serta seluruh negri muslimin fitnah yang nampak ataupun yang tersembunyi. Dan segala puji bagi Alloh Robbul ‘Alamin.

Ditulis oleh: Abu Abdirrohman Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy

Pada tanggal 19 bulan Jumadil Awwal 1428 H.

(selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy” yang disusun oleh Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Pendidikan Yang Diselenggarakan Syaikh Yahya حفظه الله di Darul Hadits

            Saudara kita yang mulia Abu Basyir Muhammad Al Hajuriy([19]) رحمه الله berkata: Maka sesungguhnya Alloh telah memberikan kita kenikmatan dengan nikmat yang banyak yang tak bisa dihitung. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْتَعُدُّوانِعْمَةَاللَّهِلَاتُحْصُوهَاإِنَّالْإِنْسَانَلَظَلُومٌكَفَّارٌ﴾[إبراهيم:34].

“Dan jika kalian menghitung nikmat Alloh niscaya kalian tak bisa menghinggakannya Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Maka bagi-Nya sajalah pujian atas setiap kenikmatan yang dikaruniakannya, setiap karunia yang diberikannya pada kita. Dan di antara kenikmatan yang paling agung adalah nikmat Islam, nikmat Sunnah. Nikmat menuntut ilmu syar’y, ilmu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam dengan pemahaman salafush sholih, pada zaman di mana kebodohan, kebid’ahan dan aqidah yang menyimpang telah merajalela.

Maka milik Alloh sajalah pujian dan karunia atas petunjuk-Nya untuk menuntut ilmu syar’y di markiz yang penuh berkah ini, di hadapan Syaikh kami Al Imam Al Mujaddid Muqbil bin Hadi Al Wadi’y –semoga Alloh merahmati beliau dan menempatkan beliau di Jannah-jannah-Nya yang luas rohimahulloh.

Kemudian, segala pujian bagi Alloh yang mengokohkan kami untuk melanjutkan menuntut ilmu di hadapan pengganti beliau dalam dakwah Al Allamah An Nashihul Amin Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- yang menjadi sebab kokohnya kebaikan ini di markiz yang mubarok ini (Darul Hadits di Dammaj) sepeninggal pendirinya Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh. Para penuntut ilmu masih terus-menerus mengambil manfaat dari salah satu sumber kebaikan ini, dan mengambil faidah dari syaikh ini –semoga Alloh memberi beliau taufiq-, dan mereka berdatangan dari berbagai negri ke tempat beliau ini.

Pelajaran-pelajaran beliau terus berlangsung. Beliau pada saat awal shubuh mengimami kami sholat shubuh di Darul Hadits Dammaj. Alloh telah mengaruniai beliau suara yang baik saat membaca Al Qur’an. Lalu seusai sholat dan berdzikir, pelajar atau para tamu dan pengunjung yang ingin berangkat safar berdiri meminta idzin kepada beliau.

Ada juga sebagian pelajar atau pengunjung yang punya pertanyaan yang mesti disegerakan mengajukannya kepada beliau. Setelah itu beliau membacakan Al Qur’an -ke salah seorang pengawal- sesuai dengan yang dimudahkan oleh Alloh, beberapa juz, atau lebih atau kurang. Beliau telah hapal Al Qur’an dan punya perhatian yang baik dalam muroja’ah Al Qur’an dan mengambil pendalilan darinya dan hukum-hukumnya. Karena itulah beliau tidak keluar dari masjid untuk pulang ke rumah pada jam ini, kecuali jika sakit, atau karena urusan yang tak bisa tidak, lalu beliau sholat dhuha setelah terbitnya matahari.

Setelah itu beliau berangkat untuk mengisi beberapa pelajaran. Pada tahun ini 1430 H beliau mengajarkan “Subulus Salam” karya Imam Ash Shon’any rohimahulloh, dan “I’lamul Muwaqqi’in” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh. Sebelumnya pada jam seperti ini beberapa kitab telah selesai dibaca, diberi catatan kaki dengan penjelasan yang baik, dihadiri oleh sejumlah besar para pelajar. Kitab bermanfaat yang terpenting yang telah dibaca pada jam ini adalah “Zadul Ma’ad” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, “Al Iman Al Ausath” karya Syaikhul Islam rohimahulloh, “Muqoddimah Ushulut Tafsir” karya Syaikhul Islam rohimahulloh juga, dan telah dicetak dengan syaroh beliau. Juga “Ar Risalah” karya Imam Asy Syafi’y rohimahulloh, “Syarhu ‘Ilalit Tirmidzy” karya Imam Ibnu Rojab rohimahumalloh, sekarang sedang dirapikan untuk dicetak dengan catatan kaki beliau, “Al Adzkar” karya Imam An Nawawy rohimahulloh, “Hadil Arwah” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, “Tathhirul ‘I’tiqod” karya Imam Ash Shon’any rohimahulloh, dan “Al Mauqizhoh” karya Imam Adz Dzahaby rohimahulloh.

Setelah pelajaran tadi, beliau masuk rumah untuk melanjutkan pembahasan yang sampai sekarang telah mendekati seratus pembahasan. Sebagiannya telah dicetak, sebagiannya dalam proses, sebagian masih berupa makhthuthoh (tulisan tangan). Beliau melakukan pembahasan semampunya, lalu istirahat siang. Terkadang datanglah para tamu yang butuh dilayani segera, sehingga  para pengawal mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkannya, lalu beliau duduk-duduk dengan tamu tadi. Di antara yang datang pada jam-jam tadi adalah para masyayikh kabilah, atau para pejabat yang datang berkunjung, atau sebagian mereka punya kesulitan dan kasus-kasus yang harus segera dipecahkan.

Lalu beliau keluar untuk sholat zhuhur. Setelah sholat dan dzikirnya, beliau mendirikan sholat ba’diyyah zhuhur, lalu mengajar “Tafsir Ibnu Katsir” atau “Al Jami’ush Shohih” karya syaikh kami Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’y rohimahulloh, secara berselang seling tiap harinya, kecuali hari Jum’at, tiada pelajaran sebelum sholat Jum’at (juga setelah sholat Jum’at).

Dalam setahun jarang sekali hari-hari berlalu tanpa adanya tamu-tamu. Dan yang demikian itu karena banyaknya pelajar dan pengunjung. Terkadang tempat tinggal beliau tidak cukup menampung tamu, sehingga mereka ditempatkan di ruang “Dewan Tamu” yang menempel berdampingan dengan rumah beliau.

Terus-menerus beliau menyemangati para ikhwan untuk memuliakan para tamu, atau beliau sendiri memuliakan para tamu dan mendekatkan makanan kepada mereka dengan tangan beliau sendiri. Setelah itu beliau kembali melanjutkan pembahasan beliau dan menjawab soal-soal dengan tulisan tangan dan lain-lain hingga waktu ‘Ashr. Lalu beliau keluar untuk sholat ‘Ashr, dan selanjutnya mengajarkan “Shohih Imam Al Bukhoriy”.

Setelah para pelajar membacakan hadits hari kemarin secara berkelompok-kelompok –karena mereka banyak-, beliau mengeluarkan faidah-faidah dari hadits-hadits dengan istimbath yang bagus dan mengagumkan, serta mendapat taufiq. Mereka menghapalkan “Shohih Al Bukhoriy” bersamaan dengan kebanyakan dari mereka itu menghapal Al Qur’an, kecuali sebagian orang yang bersikap kurang. Padahal Syaikh telah menyemangati mereka untuk menghapal Kitabulloh dan menghapal sebagian dari sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Sebagiannya menghapal “Bulughul Marom”, yang lain menghapal “Shohih Muslim”, yang lain menghapal “Riyadhush Sholihin”, “Alfiyah Ibnu Malik”, “Kitabut Tauhid” karya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdy rohimahulloh, “Lum’atul I’tiqod”, “Al Washithiyyah”, “Ath Thohawiyyah”, “Al Waroqot”, “Mulhatul I’rob”, “Al Baiquniyyah”, “Qoshobus Sukkar”, “As Saffariniyyah”, “Al Muqizhoh”, dan hapalan yang lainnya banyak sekali, sama saja dalam bidang tauhid, aqidah, nahwu, mushtholah dan yang lain.

Dan setelah itu beliau pergi menemui para tamu beliau di “Majelis tamu”, menyampaikan nasihat, menjawab soal-soal mereka, jika ada kesulitan yang perlu diuraikan di antara pelajar, beliau menghukumi dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahan Salaf.

Sebagian pelajar –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengan mereka- tidak pernah berselisih dengan yang lainnya sama sekali, selama bertahun-tahun di markiz ini. Ada sebagian mereka yang punya faidah ilmu yang dengannya bisa mendirikan markiz di negri manapun. Jika ada seseorang yang ingin mendirikan dakwah di negrinya, Syaikh memberinya pengarahan untuk itu. Jika beliau melihat mereka itu di atas As Sunnah, dan masyarakatnya menerima As Sunnah, sama saja di Yaman ataupun di luar Yaman.

Lalu beliau memberikan nasihat singkat pada para tamu, terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. terkadang menjadikan jawaban itu terbuka dalam pelajaran umum antara maghrib dan ‘Isya. Seringkali para tamu tadi berasal dari berbagai wilayah Yaman dan luar Yaman.

Lalu beliau masuk rumah, makan ifthor jika hari itu berpuasa Senin Kamis, atau Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15), lalu keluar sholat Maghrib. Seusai sholat Maghrib dan dzikirnya serta sholat ba’diyyah beliau mengajar “Shohih Muslim”, lalu “Sunan Shughro lil Baihaqy”, setelah itu “Iqtidho’ush Shirothil Mustaqim”, karya Syaikhul Islam.

Pada awal jam pelajaran –antara maghrib dan Isya- ada banyak pelajaran singkat disampaikan, dibacakan secara hapalan oleh sebagian pelajar yang mayoritasnya anak-anak yang disemangati untuk berani menghapal, lalu Syaikh menjelaskannya secara bagus. Telah terbit syaroh dari pelajaran ringkas sebelum jam “Shohih Muslim” tadi: “Syarhu Lamiyah Ibnul Wardy”, “Syarhul Wasithiyyah”, “Syarhus Saffariniyyah”, “Syarhul Baiquniyyah”, “Syarhu Qoshidah Ghoromi Shohih”, “Syarhu Manzhumatu Ibni Taimiyyah fi Rodd ‘alal Qodariyyah” yang berbentuk argumentasi Yahudi dan jawaban Syaikhul Islam terhadapnya, “Syarhu Lamiyyatu Syaikhil Islam” sedang dicek dan dirapikan, dan yang lainnya.

Setelah beliau memberikan catatan terhadap pelajaran singkat tadi, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengunjung. Jika tiada pengunjung, beliau menjawab problematika para pelajar, memberikan nasihat, dan pengarahan. Dengan jawaban dari soal-soal tadi telah keluar lima jilid kitab yang berjudul: “Al Kanzuts Tsamin fil Ijabah ‘an Asilati Tholabatil ‘Ilmi waz Zairin”. Dan satu jilid lain yang berjudul “Ithafil Kirom Bil Ijabati ‘an Asilatiz Zakah wal Hajj Wash Shiyam”, serta satu jilid lain yang berjudul “Al Ifta ‘alal Asilatil Waridah Min Duwalin Syatta” dan yang lain masih banyak yang belum tercetak. Dan karunia hanyalah milik Alloh semata.

Di sebagian malam beliau mengadakan ceramah lewat telpon yang disalurkan ke berbagai masjid di dalam Yaman dan luar Yaman. Jika para pelajar tahu bahwasanya beliau akan mengadakan ceramah lewat telpon pada malam itu banyak dari mereka meletakkan telpon-telpon genggam, semuanya menyalurkan ceramah telpon tadi ke kampung masing-masing, dan dihasilkan dengannya manfaat yang besar.

Telah dicetak dua jilid dari khuthbah dan ceramah tadi, dan masih ada yang tersisa dan dipersiapkan untuk dicetak dalam jilid berseri dengan judul “Ishlahul Ummah Bil Khuthob Wal Mawa’izh Minal Qur’an Was Sunnah.”

Seusai sholat ‘Isya terkadang beberapa pelajar masuk bersama beliau untuk menguraikan sebagian problematika, dan musyawaroh yang memang harus diselesaikan.

Kemudian setelah itu beliau terkadang menjawab soal-soal lewat telpon dari berbagai negara atau dari dalam Yaman. Terkadang mereka meminta nasihat pada beliau, lalu beliau memberikannya pada mereka dan menjawab soal-soal mereka sekitar satu jam. Lalu beliau kembali mengurusi pembahasan sebagian ikhwan para pelajar, memberikan muqoddimah, lalu tidur.

Beliau memiliki bagian untuk sholat malam. Bersamaan dengan semua kesibukan itu beliau juga memiliki keluarga yang besar, beliau mengurusinya sesuai dengan yang diwajibkan oleh Alloh sesuai dengan kadar kemampuan. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan, dan semoga Alloh memberikan dengannya manfaat buat Islam dan muslimin.

Karena perkara ini semua, dan juga kecemburuannya terhadap sunnah, pembelaannya terhadap sunnah dan ahlussunnah, dan kekokohan beliau di depan kebatilan dengan menggenggam kebenaran dan menyampaikan nasihat, dan keteguhan beliau di atas Al Kitab dan As Sunnah, para pelajar dan saudara yang sholih dan para penasihat mencintai beliau, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh, dalam muqoddimah “Dhiya’us Salikin”, dan banyaklah musuh-musuh beliau yang hasad dan dendam. Tapi mereka tak bisa memperoleh kemenangan apapun selain sekedar gangguan. Hal ini dikarenakan beliau itu –sebagaimana diketahui dari sifat beliau- sangat membenci fitnah, membenci kezholiman dan permusuhan. Jika ada orang yang berbuat jahat padanya atau pada dakwah yang mubarokah ini, berdirilah beliau dengan kesungguhan untuk menolak kejahatan tadi, dengan saling bantu bersama ikhwan yang baik dari kalangan pelajar, masyarakat, yang banyak yang lain. Lalu Alloh menolak kejahatan tadi terhadap beliau dan terhadap dakwah ini, dan Alloh ‘Azza Wajalla menolongnya.

Inilah petikan singkat tentang Darul hadits di Dammaj dan jadwal acara Syaikhnya sepeninggal Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh, dan inilah kegiatan harian beliau yang telah diketahui bersama oleh para pelajar Darul Hadits ini. Kutulis perkara ini sebagai penjelasan atas kezholiman orang yang menghinakan kerja keras yang bermanfaat untuk Islam dan muslimin tadi, baik kezholiman itu berasal dari orang yang hidup di markiz ini dan dibimbing di hadapan Syaikh Yahya hafizhohulloh, lalu menguraikan kembali benang yang telah dipintal dan bergabung dalam rombongan hizbiyyin yang dendam kepada beliau dan berbalik arah bersikap buruk terhadap kerja keras yang bermanfaat ini.

فقطعدابرالقومالذينظلمواوالحمدللهربالعالمين.

“Maka dimusnahkanlah kaum yang zholim tadi hingga ke akar-akarnya, dan segala pujian kesempurnaan hanyalah bagi Alloh Robb semesta alam.”

Ditulis Oleh:

Abu Basyir Muhammad bin Ali Az Za’kary Al Hajuriy

Pujian para ulama terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله

          Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله punya kedudukan yang tinggi di sisi ulama sunnah.

Al Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab ” Ahkamul Jum’ah”: “Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela.” (muqoddimah kitab “Al Jum’ah wa Bida’uha”/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).

Al Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh- berkata: “.. Saudara kita fillah Asy Syaikh Al Faadhil At Taqy (yang bertakwa) az zaahid (yang zuhud) al Muhaddits, al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajury -hafidhahulloh-  beliau adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang merusak.” (muqoddimah “Dhiyaus Saalikiin.” karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).

Beliau rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:

﴿يأيهاالذينآمنواإنتتّقوااللهيجعللكمفرقاناويكفرعنكمسيئاتكمويغفرلكمواللهذوالفضلالعظيم﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”

Maka syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)

Akhuna Abdulloh Mathir -waffaqohulloh- berkata: “Aku telah bertanya kepada Syaikh –yaitu Imam Al Wadi’i- dan demi Alloh, saat itu tiada antara aku dan beliau kecuali Alloh –azza wajalla-. Ketika aku berada di kamarnya di atas ranjang beliau (ketika beliau sakit). Kukatakan,”Wahai Syaikh, kepada siapa para Ikhwah akan merujuk (kembali) di Yaman ini ?, dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?” beliau diam sejenak, lalu berkata,”Asy Syaikh Yahya.” Inilah yang kudengar dari Syaikh Muqbil, dan ini tidaklah maknanya kita merendahkan ulama Yaman yang lain. Sungguh kita benar-benar memuliakan dan mencintai mereka karena Alloh.. dst.” (“Muammarotul Kubro”/hal. 24)

Al Akh Samir Al Hudaidy -hafidhahulloh- berkata pada Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-,”Sesungguhnya para pengikut Abul Hasan berkata,”Tiada ulama di Yaman.” Maka Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata,”Syaikh Muhammad itu apa? Dan Syaikh Yahya itu apa? Juga saudara-saudara mereka yang lain.” (“Inba’ul Fudhala” hal. 22 karya Akhuna Sa’id Da’ash -hafidhahulloh-)

Dan Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata: “Dan keyakinan yang dengannya aku menghambakan diri kepada Alloh bahwasanya Syaikh Al Hajuri itu adalah orang yang bertaqwa, waro’, zuhud, –  kemudian beliau mulai memuji Syaikh Yahya- dan beliau telah memegang dakwah Salafiyyah dengan tangan dari besi. Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya” (“Tsana’ Imamil Jarh Wat Ta’dil ala Syaikh Yahya Al Hajuri”/Abu Hammam Al Baidhoni/1426 H).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Asy Syaikh yang agung, saudara kita di jalan Alloh Yahya bin Ali Al Hajuriy telah mengirimkan kepadaku kitabnya yang bersemangat tinggi untuk membantah Abdul Majid Az Zindaniy, yang dengannya beliau bermaksud untuk membantah igauan-igauannya yang ditulisnya –sampai pada ucapan beliau:- Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan telah membantahnya di baris-baris ini dan yang lainnya dengan bantahan yang membungkam, dengan dalil-dalil yang bercahaya dari Al Kitab dan sunnah yang shohih. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan memberkahinya, dan semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisalnya para pembela kebenaran, para penolong tauhid, para penjaga wilayahnya,… dan Allohlah yang memberikan taufiq.”  (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-/hal. 7-10/Darul Atsar).

            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,”Tidak pantas untuk jarh wat ta’dil pada zaman ini selain Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya.” (“Al Barohinul Jaliyyah”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi/hal. 6).

            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,”Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu.” (“Al Muamarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al Qo’syamiy/hal. 23).

            Abdulloh Al Duba’i -hafidhahulloh- pernah mendengar Syaikh Muhammad Al Imam berbicara tentang keluar untuk dakwah. Maka salah seorang hadirin berkata,”Wahai Syaikh, Syaikh Yahya nggak keluar dakwah?”. Maka Syaikh Muhammad Al Imam berkata: “Tunggu dulu, Al Hajuri imam.” (“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qo’syami/hal. 24).

Asy Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’i هداه الله berkata: “Kami mengetahui bahwa Syaikh Yahya itu ada di atas ketaqwaan dan muroqobah (senantiasa merasa diawasi Alloh ta’ala), dan beliau adalah saudara kami di dalam  agama Alloh, dan kami mencintainya karena Alloh. Dan beliau adalah seorang alim dari kalangan ulama sunnah. Alloh memberikan manfaat dengannya. Beliau adalah seorang singa dari singa-singa sunnah, serta mahkota di atas kepala-kepala Ahlussunnah.  kami mencintainya karena Alloh.” (dari kaset “Asilah Ashabi Qushoi’ar” tanggal 28/7/1428)

Beliau juga berkata,”Maka Syaikh Yahya adalah  ciri khas  di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka.” (“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qosy’ami/hal. 24).

Asy Syaikh Jamil Ash Shilwi -hafidhahulloh- berkata: “Orang yang mencerca Syaikh Yahya dia itulah yang pantas untuk dicerca. Hal itu dikarenakan Syaikh Yahya itu berbicara karena Alloh dan  Agama Alloh. Sementara salah seorang dari kita terkadang tidak berani untuk berbicara tentang sebagian perkara. Dan beliau itu telah Alloh persiapkan untuk mengurusi perkara ini, mengajar, menulis dan menyelesaikan problem-problem ummat yang sangat banyak.” (“Muammarotul Kubro”/hal. 24).

Asy Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Raimi -hafidhahulloh- ketika berbicara tentang makar Ibnai Mar’i dan pengikutnya terhadap Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, beliau berkata: “.. maka mereka menggunakan seluruh yang mereka miliki yang berupa perlengkapan, kekuatan, pengkaburan, penipuan  dan, pemutarbalikan fakta. Mereka dengan  itu semua menginginkan untuk menjatuhkan “Al Jabalul Asyam” (gunung yang menjadi simbol) tersebut, dan baju besi yang aman –dengan seidzin Alloh- bagi dakwah ini yang ada di Dammaj Al Khoir, beliau dan para masyayikh utama yang bersamanya.” (“Al Haqo’iq Waqi’iyyah” hal. 20)

            Fadhilatu Syaikhina Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Al ‘Ansi -hafidhahulloh- (Salah satu pendiri dakwah di Ibukota Son’a) berkata,”Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ulama sunnah dan ke Darul Hadits di Dammaj harosahalloh, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz (“pemisahan diri dari ahlul bathil”) dan penetapan aqidah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid’ah, orang yang sesat dan menyimpang. Tempat tersebut yang membangunnya adalah syaikh kami Al Mujaddid (pembaharu), penolong sunnah, dan penumpas bid’ah Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i –semoga Alloh merohmatinya dan memuliakan tempat tinggalnya-.

Dan tidak asing lagi bahwa tempat tersebut Alloh telah memberikan manfaat hidayah dengannya kebanyakan manusia, dan mengeluarkan darinya para masyayikh dan penuntut ilmu yang bertebaran di penjuru seluruh dunia sebagai da’i yang menyeru kepada tauhid dan sunnah dan manhaj salaf. Dan terus-menerus –dengan segala pujian untuk Alloh- tempat tersebut hidup dengan ilmu dan sunnah.

Dan setelah Asy Syaikh Muqbil digantikan dengan wasiatnya oleh Asy Syaikh Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuri –semoga Alloh menjaganya- beliau mengurusi dakwah ini dengan sebaik-baik pengurusan. Sangat lantang dalam mengemukakan kebenaran, menolong sunnah, memberantas kebid’ahan dan ahlul bid’ah. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.” (“Nashihatun Mukhtashoroh Lil Indonesiyyiin” /hal. 1).

            Maka perkaranya itu wahai Abdulloh, adalah sebagaimana ucapan Syaikhul Islam رحمه الله: “Dan rasa cinta itu mengikuti pengetahuan.” (“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 56).

            Setiap kali pengetahuan para salafiyyin terhadap syaikh kami An Nashihul Amin bertambah, bertambah pula kecintaan mereka pada beliau dengan seidzin Alloh. Adapun orang-orang yang dengki dan para pengekor hawa nafsu, bertambahlah cekikan di leher-leher mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ الله عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ * إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُـرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ﴾ [آل عمران/119، 120].

“Katakanlah: matilah kalian dengan kemarahan kalian, sesungguhnya Alloh itu Mahatahu terhadap isi dada. Jika ada kebaikan yang mengenai kalian, hal itu membikin sakit hati mereka, dan jika kalian tertimpa kejelekan, merekapun bergembira dengan itu. Tapi jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka itu tidak akan membahayakan kalian sedikitpun. Sesungguhnya Alloh itu Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”

            Adapun ucapan si doktor Abdulloh: “Dan bahwasanya mereka datang dari Dammaj tidaklah dimaksudkan bahwasanya mereka pasti di atas istiqomah ataupun keselamatan. Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu agamanya lurus. Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu diridhoi.”

            Maka saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-:

            Orang yang datang dari Darul Hadits di Dammaj dalam keadaan dia itu telah ditazkiyah oleh syaikh kami An Nashihul Amin, maka insya Alloh dia itu di atas ilmu dan kebaikan, serta kekokohan dalam agamanya. Demikianlah orang itu menghukumi secara lahiriyyahnya. Adapun yang selain itu, maka hendaknya dicari kepastian keadaannya dulu sampai diketahui apakah dia itu ada di atas kebaikan juga ataukah dia itu pengkhianat yang lari dari markiz ini, ataukah dia itu orang yang terusir dari markiz ini.

            Alur perkataan Abdulloh Al Bukhoriy dari awal dialog hingga akhirnya itu menunjukkan adanya sindiran terhadap keumuman pelajar Darul Hadits di Dammaj. Maka bagaimana dalam keadaan dia telah terang-terangan melontarkan cercaan-cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia.

            Adapun ucapan dia: “Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu diridhoi,” maka kami jawab sebagaimana ucapan Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله : “Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

            Maka bagaimana kami mengurusi keridhoan orang-orang yang dengki dan dendam sementara keadaan mereka itu seperti dikatakan:

كلُّ الناس أَقْدِر أُرْضِيهم إلا حاسدَ نِعْمة، فإنه لا يرضيه إلا زوالها. (“العقد الفريد”/1 / ص 193).

 “Setiap orang aku bisa menjadikannya ridho padaku kecuali orang yang dengki terhadap kenikmatan, karena sungguh tidak bisa membikinnya ridho kecuali hilangnya kenikmatan tadi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 193).

Bab Delapan: Kedustaan Abdulloh Terhadap Ahlul Haq

            Ucapan si doktor Abdulloh Al Bukhoriy tentang Salafiyyin yang bersama syaikh kami An Nashihul Amin: “Dan mereka itu ingin memalingkan manusia dari kebenaran, sehingga mereka mendatangi kalian dengan musibah ini sekarang ini.”

            Maksudnya adalah: bahwasanya para salafiyyin yang mendatangkan syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya- ke negri Indonesia itu adalah dalam rangka memalingkan manusia dari kebenaran. Dan ucapan ini tertolak dari beberapa sisi:

            Pertama: Ahlussunah lebih mementingkan kebenaran, perbaikan jalan dakwah, dan mengajari manusia tentang agama Rosul, bukan terkumpulnya orang-orang sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyun.

            Kedua: telah lewat penegakan hujjah bahwasanya kebenaran dalam fitnah Mar’iyyah ini adalah bersama syaikh kami An Nashihul Amin.

            Ketiga: ucapan Abdulloh tadi adalah termasuk kedustaan yang paling besar, maka hendaknya dia mempersiapkan jawaban untuk hisab (perhitungan) atas tuduhannya tadi pada hari kiamat. hadits Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

” … dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

            Demikian pula perkataan doktor Abdulloh: “Yang pasti, mereka itu datang untuk membikin fitnah ini” ini merupakan kedustaan. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan makna fitnah pada asalnya adalah ujian dan cobaan, kemudian istilah ini dipakai di setiap perkara yang kejelekannya disingkapkan oleh ujian. Istilah fitnah ini juga dipakai untuk istilah kekufuran, berlebihan dalam ta’wil yang jauh, terbongkarnya aib, bencana, siksaan, perang, perpindahan dari baik menjadi buruk, kecondongan pada sesuatu dan terkagum-kagum dengannya. Dan fitnah ini bisa terjadi pada kebaikan dan kejelekan, seperti firman Alloh ta’ala:

﴿ونبلوكم بالشر والخير فتنة﴾.

“Dan kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah.”

(“Fathul Bari”/2/hal. 291).

Adapun fitnah yang bermakna ujian, maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم juga merupakan ujian bagi umat ini agar dengan beliau Alloh memisahkan yang busuk dari yang baik, sebagaimana dalam hadits ‘Iyadh bin Himar Al Mujasyi’iy رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh  bersabda pada suatu hari dalam khuthbah beliau:

«ألا إن ربي أمرني أن أعلمكم ما جهلتم مما علمني يومي هذا كل مال نحلته عبدا حلال وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاحتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يـشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا وإن الله نظر إلى أهل الأرض فمقتهم عربهم وعجمهم إلا بقايا من أهل الكتاب. وقال: إنما بعثتك لأبتليك وأبتلي بك». (أخرجه مسلم (2865)).

“Ketahuilah sesungguhnya Robbku memerintahkan diriku untuk mengajari kalian perkara yang kalian tidak tahu dari perkara yang diajarkan-Nya padaku pada hari ini: seluruh harta yang Aku berikan pada seorang hamba, maka itu adalah halal. Dan sungguh Aku menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan hanif (condong pada tauhid) semuanya. Dan sungguh mereka didatangi setan-setan, lalu setan tadi menyesatkan mereka dari agama mereka, dan mengharomkan perkara yang Kuhalalkan untuk mereka. dan setan memerintahkan mereka untuk berbuat syirik dengan-Ku perkara yang tidaklah Aku turunkan padanya hujjah. Dan sesungguhnya Alloh melihat kepada penduduk bumi, maka dia memurkai mereka, yang arobnya ataupun yang ajamnya, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab. Dan Dia berfirman: “Aku hanyalah mengutusmu agar Aku menguji dirimu dan menguji denganmu.”.” (HR. Muslim (2865)).

            Akan tetapi Abdulloh Al Bukhoriy ingin menempelkan istilah “fitnah” yang bermakna “kejelekan” kepada Ahlussunnah di Dammaj. Akan tetapi Abdulloh Al Bukhoriy hanyalah beredar seputar dua dosa: ghibah dan kedustaan.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «أتدرون ما الغيبة؟» قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: «ذكرك أخاك بما يكره» قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: «إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Ghibah itu adalah engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Mereka berkata,”Kabarkanlah pada kami bagaimana jika pada saudaraku itu ada yang saya sebutkan? Beliau menjawab,“Jika memang yang kau katakan itu ada padanya, maka engkau telah menggibahinya. Tapi jika yang kau katakan itu tidak ada padanya, maka engkau telah berdusta atas nama dia.” (HR. Muslim (2589)).

            Kita telah menjelaskan batilnya penempelan nama “Fitnah” kepada dakwah syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau seperti Syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya-. Maka tiada yang tersisa bagi doktor kecuali bahwasanya dia telah datang dengan kedustaan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾ [النساء/112]،

“Dan barangsiapa membikin kesalahan atau dosa kemudian dia menuduhkannya kepada orang yang bersih dari itu maka sungguh dia telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata.”

Alloh subhanah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti para mukminin dan mukminat tanpa dosa yang diperbuat, sungguh mereka itu akan memikul kedustaan dan dosa yang nyata.” (QS Al Ahzab 58-59).

            Asy Syaikh Robi’ bin Hadi حفظه الله berkata tentang karakter ahli bida’: “Dan dia tak sanggup menghadapi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan dan kebohongan. Ini di sejarah masa lalu. Dan dia ini ada sekarang pada ahli bida’ pada masa kini, mereka tidak memerangi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan kebohongan dan tuduhan-tuduhan.” (“Syarh ‘Aqidatis Salaf Ashhabil Hadits”/hal. 314).

            Dan pantaslah ucapan si doktor yang ada dalam kaset itu dinukil di sini: “Dan di sisi Alloh orang-orang yang bertikai akan berkumpul.”

            Aku katakan –semoga Alloh memberiku taufiq-: Iya, semuanya berkumpul dan digiring kepada Alloh, Wali mereka yang sebenarnya, agar Dia memutuskan di antara mereka dengan adil, sampai bahkan di antara para binatang. Adapun orang yang mengendalikan diri dan lidahnya dengan ilmu, hujjah dan bukti sehingga setia pada kebenaran dan kelurusan, maka mereka itu tidak tertimpa ketakutan dan tidak bersedih hati إن شاء الله .

            Adapun orang yang jelas kedustaannya dan kebohongannya, maka alangkah besarnya kerugian bagi orang-orang yang zholim.

﴿وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ * وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ [الجاثية/27، 28].

“Dan pada hari Kiamat, pada hari itu orang-orang yang berbuat kebatilan akan merugi. Dan engkau akan melihat setiap umat itu berlutut. Setiap umat  diseru kepada kitab mereka. pada hari ini kalian akan dibalasi dengan apa yang dulu kalian kerjakan.”

Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka berkata,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya dirham ataupun harta benda.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat. Dia datang tapi dalam keadaan telah mencaci ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, memukul orang ini. Maka orang ini diberi kebaikannya, orang itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum tanggung jawabnya selesai, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu diletakkan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim (2581)).

Daftar Isi

المحتويات

Pengantar Penerjemah. 3

Penilaian Dari Syaikh Yang Mulia Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy حفظه الله.. 4

Pengantar Penulis. 5

Bab Satu: Kelemahan Abdulloh Al Bukhoriy Untuk Mengetahui Hizbiyyah Anak Mar’i Dan Gerombolannya. 7

Pasal satu: definisi hizb dan hizbiyyah. 8

Pasal dua: sebagian alamat hizbiyyah dua anak Mar’i dan kelompoknya. 9

Alamat pertama: ashobiyyah (fanatisme) dan wala wal baro yang sempit 9

Alamat kedua: duduk-duduk dengan hizbiyyin. 11

Alamat ketiga: mengadu domba antar ulama. 15

Alamat keempat: penyempitan gerak salafiyyin dan pemancangan permusuhan terhadap mereka. 17

Alamat keenam: menggerakkan pemerintah untuk menyakiti salafiyyin. 21

Bab Dua: Kelalaian Abdulloh Terhadap Karakteristik Akal Dalam Kasus Ini 26

Pasal satu: definisi akal 26

Pasal dua: orang-orang berakal dari kalangan salafiyyun dan ulama mereka mengetahui hizbiyyah kedua anak Mar’i 27

Bab tiga: Upaya Abdulloh Al Bukhoriy dan Pengikutnya Untuk Menyematkan Gelar “Fitnah” Pada Salafiyyin Dammaj 28

Bab Empat: Lemahnya Abdulloh Dan Pengikutnya Untuk Mengetahui Definisi Ta’ashshub dan ‘Ashobiyyah. 34

Bab Lima: Fanatisme Abdulloh Al Bukhoriy Kepada Kebatilan. 36

Bab Enam: Abdulloh Al Bukhoriy menelantarkan Ahlul Haq, Bahkan Menyerang Mereka Setelah Itu. 51

Bab Tujuh: Penghinaan Abdulloh Al Bukhoriy. 54

MENGENAL AL ‘ALLAMAH ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI  حفظه الله تعالى. 58

Pendidikan Yang Diselenggarakan Syaikh Yahya حفظه الله di Darul Hadits. 62

Pujian para ulama terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله.. 66

Bab Delapan: Kedustaan Abdulloh Terhadap Ahlul Haq. 71

Daftar Isi 75


([1]) Saya عفا الله عني berkata: ini merupakan bagian dari sikap rendah hati Asy Syaikh Thoriq حفظه الله, dan beliau itu telah dikenal di sisi kami dengan keilmuan, nasihat dan kekokohan.

            Dan syaikh kami Thoriq ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Menghapal Al Qur’an, mustafid dalam bidang aqidah.” (“Tarjumah Abi Abdirrohman Muqbil”/no. 144/cet. Darul Atsar).

            Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang beliau: “Menghapal Al Qur’an, khothib, pengajar, kokoh, mulia, telah mengumpulkan syarh kami terhadap Thohawiyyah.” (“Ath Thobaqot”/hal. 48/cet. Darul Atsar).

            Dan setelah syaikh kami Al ‘Allamah Yahya Al Hajuriy حفظه الله menyampaikan pujian yang agung terhadap kitab “Tathhirul I’tiqod” karya Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله , beliau berkata: “… sebagaimana para pengajar di markiz-markiz ilmiyyah dan dakwah sunniyyah mendapatkan taufiq untuk mengurusi kitab tersebut dengan baik. Dan di antaranya adalah apa yang dilakukan oleh saudara kita yang mulia dai ke jalan Alloh عز وجل Asy Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy حفظه الله yang menyusun catatan kaki yang bagus dan berfaidah yang diambil dari kitab-kitab penting, sehingga jadilah catatan tadi sebagai syarh ringkas yang paling bagus yang pernah aku lihat terhadap kitab “Tathhirul I’tiqod”. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Thoriq dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengannya.” (pengantar syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله terhadap “At Ta’liqotul Jiyad ‘Ala Kitab Tathhiril I’tiqod”/hal. 2).

([2]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: perhatikanlah wahai ikhwan, akan keburukan hizbiyyah, bagaimana dia berbuat pada orang yang terkena penyakit ini. Ya Alloh selamatkanlah kami dan amankanlah kami wahai Dzat Yang Mulia.

([3]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: telah dikirim surat ini dari Emirat kepada akh Hamud Al Wailiy رعاهما الله terkena penyakit ini.

Ini adalah nomor telpon akh Muhammad Al Katsiriy: (00971506232304).

([4]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: bahkan dikarenakan kerasnya penyempitan yang mereka lakukan terhadap Ahlussunnah, sebagian ikhwah terpaksa meninggalkan masjid Abu Ammar dan pindah ke masjid lain untuk beri’tikaf di situ.

([5]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “di asal kitab (Al Kifayah) lafazhnya (ظاهرة) dengan (ة) ta’ marbuthoh. Tapi yang benar adalah ta’ tadi harus dihapus, karena alur pembicaraannya mengharuskan demikian.”

([6]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “(3/47), dan Abdulloh yang tersebut dalam sanad tadi adalah Ibnul Mubarok.”

([7]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “perkataannya (تنمي) yaitu bertambah, sementara (يحري) yaitu: berkurang. Permisalan ini diberikan untuk orang yang punya pandangan tanpa pengetahuan!”

([8]) Ini adalah permisalan yang dibikin untuk orang-orang yang saling cocok. (“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 353).

([9]) Tambahan penerjemah: Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

([10]) Tambahan penerjemah: Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagaimana, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian  pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

([11]) Tambahan penerjemah:  Jangankan di dusun perdagangan Fuyusy, ana –Abu Fairuz- telah melihat langsung ada sebagian pelajar di Dammaj yang berlomba-lomba mempermegah kamarnya, dalam keadaan lingkungan yang masih cukup sederhana. Bagaimana jika mereka pindah ke lingkungan perkotaan seperti yang beliau ceritakan?

([12]) Tambahan penerjemah: Kecuali jika penyandang dananya telah menyediakan kompleks asrama buat mereka dan sebagainya. Apalagi akhir-akhir ini telah terkuak bahwasanya banyak kucuran dana dari Qothor untuk mendukung mereka. Lihat buku : “Asy Syihabul Qodih” hal. 5 karya Nashir bin Muhammad Al Abyaniy Al ‘Adaniy -hafizhohulloh-.

([13]) Tambahan penerjemah: Namanya saja kota besar. Makanya pengumuman akan dibukanya kompleks Salafiyyin dan Darul Hadits di kota Fuyusy amatlah menggiurkan.

([14]) Tambahan penerjemah: Cukup murah untuk keumuman orang, apalagi orang ‘Adn. Adapun untuk keumuman pelajar Salafiyyin ya sebagaimana penjelasan di atas.

([15]) Catatan Asy Syaikh Al ‘Amudiy حفظه الله : Jika Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan ini, maka tidak bisa diterima darinya, karena berita ini bukan diterima dari jalanan, bukan dari orang hina ataupun orang tak dikenal seperti persekutuan Ibnai Mar’i Barmakiyyah. Berita ini tadi adalah penukilan dari orang yang lurus jalan hidupnya dan dikenal dengan amanah dan kejujuran. Tinggal si Ba Muhriz saja yang harus mengumumkan tobat dengan terang-terangan.

([16]) Muhammad Al Khofifiy هداه الله ini menulis risalah ini saat masih menampakkan sifat istiqomah di Dammaj, setelah keluar dan bergabung dengan hizb baru diapun mengumumkan rujuknya dari pembelaannya terhadap al haq selama ini. Pantas baginya untuk ana sebutkan kisah berikut ini:

قال خالد بن سعد قال: دخل أبو مسعود على حذيفة -رضي الله عنهما- فقال: اعهد إلي، قال : أولم يأتك اليقين؟ قال: بلى. قال: فإن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر، وتنكر ما كنت تعرف، وإياكوالتلونفيدينالله؛ فإنديناللهواحد

 Kholid bin Sa’d berkata: “Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah  رضي الله عنهماseraya berkata: “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Apakah belum datang kepadamu keyakinan?” Beliau menjawab: “Sudah.” Hudzaifah berkata: “Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah: engkau mengenali apa yang dulunya engkau ingkari, dan engkau mengingkari apa yang selama ini telah engkau kenal. Hindari olehmu berubah-rubah warna dalam agama ini, karena sesungguhnya agama Alloh itu satu saja.”.” (riwayat Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilmi” (1775), Al Lalikaiy dalam “Syarhul Ushul” (no. 120) dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 25). Atsar ini shohih).

([17]) Untuk mendengar potongan suara pada alamat web ini: http://www.sh-yahia.net/nwe_sounds/adny.rm

([18]) HR. Al Bukhoriy (122) dan Muslim (1613).

([19]) Beliau dibunuh oleh Rofidhoh –semoga Alloh melaknat mereka- dalam pemberontakan keenam.

Like this:

Be the first to like this.

Dikaitkatakan dengan:

Tinggalkan Balasan

“Tidaklah aku menginginkan kecuali perbaikan selama aku sanggup. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali” Huud 88

Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori

03 11 12

Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji

Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori

 

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

 

 

Diperiksa dan Dinilai Oleh:

Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy

حفظه الله ورعاه

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

 عفااللهعنه

 

Penerjemah:

Sekelompok pelajar Indonesia Di Dammaj

 

Judul Asli:

“Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftari Al Jani”

Terjemah Bebas:

“Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji

Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori”

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

Dengan Pemeriksaan dan Penilaian dari:

Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy

حفظه الله ورعاه

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman

Abu Abdirrohman Shiddiq Al Bughisiy

Abu Abdirrohman Utsman As Semarangiy

Abu Junaid Anwar Al Amboniy

Abul Jauhar Adam Al Amboniy (semoga Alloh merohmatinya)

Dan beberapa ikhwah lain yang tidak tercatat


 

 

Pengantar Penerjemah

Sebagian ikhwah meminta saya untuk membantah tulisan Abdulloh bin Abdurrohman yang berjudul “Kini Mereka Bukan Salafiy Lagi”. Di dalam tulisan tersebut si penakut tadi menampilkan sebagian ucapan Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy yang melemparkan hantaman batil terhadap Ahlussunnah.

Oleh karena itu perlu saya tampilkan dialog jahat yang berlangsung antara doktor Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, dengan Usamah bin Faishol Al Mahriy Al Indonesiy, untuk kita bongkar secara rinci kebatilan, kedustaan dan kelucuan yang terjadi di situ. Dan perlu diketahui bahwasanya si doktor di akhir-akhir dialog tersebut tampak ketakutan dan ingin agar rekaman tadi tidak bocor sampai ke tangan singa-singa sunnah. Tapi dia berencana, Alloh Yang menentukan. Rekaman itu bocor ke para ulama sunnah di Dammaj dan yang bersama dengan mereka. Tapi tak perlu para singa sunnah yang menampari dia, cukup orang kecil macam kita-kita saja yang menghadapinya.

Dan sampai tahun ini kami belum mendapati dirinya mengumumkan tobat dan rujuk dari caci-makian, cercaan, kedustaan dan kebatilannya yang telah dia obral dalam kaset itu, dan belum meminta maaf pada Asy Syaikh Yahya dan para murid yang bersama beliau yang telah dia zholimi.

Adapun Abdulloh bin Abdurrohman si penulis local yang pengecut ini, yang beraninya mencaci-maki dengan kedustaan dan kengawuran tapi di balik dinding, gayanya itu sangat mirip dengan model Abdul Ghofur Malang. Pantas saja jika si Abdulloh ini diberi inisial AGM.

Kemudian perlu saya menyampaikan udzur bahwasanya terjemah risalah ini telah dimulai sekitar dua tahun yang lalu oleh beberapa ikhwah –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- tapi belum selesai karena banyak kendala yang terkait dengan situasi dan kondisi. Kemudian setelah itu sebagian data terjemahan hilang, sehingga saya tidak tahu secara lengkap daftar ikhwah yang telah menerjemahkan risalah ini.

Kemudian pada hari-hari ini Alloh ta’ala memberikan kesempatan untuk saya melanjutkan dan menyelesaikan terjemahan ini, maka segala puji bagi-Nya, dan semoga Dia memberkahi kita dan memaafkan kesalahan kita.

            Selamat menyimak.

Dammaj, 27 Romadhon 1433 H.

بسم الله الرحمن الرحيم

Penilaian Dari Syaikh Yang Mulia Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy حفظه الله

Kepada saudara yang mulia Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وبعد:

            Kata pengantarku untuk risalah ini tidaklah berpengaruh sebagaimana andaikata yang memberikan pengantar untukmu adalah Asy Syaikh Yahya حفظه الله atau yang lainnya yang dikenal oleh Ahlussunnah([1]).

            Dan sungguh bantahanmu ini adalah bagus dan mendapatkan taufiq. Semoga Alloh menambahimu karunia-Nya. Dan semoga Alloh memberikan manfaat pada kami dan padamu dengan Al Kitab dan As Sunnah.

Dan hanya Alloh sajalah yang memberikan taufiq.

Hari Selasa 3 Syawwal 1433 H

Darul Hadits Dammaj

Semoga Alloh menjaganya dan menjaga para pengelolanya dari semua kejelekan dan perkara yang tidak disukai.

Ditulis oleh:

Abu Abdillah Thoriq Al Khoyyath Al Ba’daniy

Semoga Alloh memaafkannya

ijk

Pengantar Penulis

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين، أما بعد:

         Sungguh Alloh ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾ [الأنعام/112].

“Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka untuk mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu benar-benar orang yang musyrik.” (QS Al An’am 121).

            Maka sebagaimana seluruh Nabi عليه الصلاة والسلام diuji dengan permusuhan para makhluk, untuk mencapai kedudukan yang agung, banyaknya pahala, dan agar Alloh menampilkan kekuatan hujjah para wali-Nya, demikian pula seluruh pewaris Nabi diuji dengan permusuhan dari pewaris musuh Nabi agar mereka mencapai ketinggian derajat, dan pahala yang banyak, dan agar Alloh menampilkan kekokohan kekuasaan tentara-Nya.

            Saya telah mendengar kaset rekaman yang di dalamnya Alloh membongkar dialog berdosa antara doktor Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy, dengan seorang kepala –sebenarnya adalah ekor- hizbi Mar’i dari Indonesia yang bernama: Usamah bin Faishol Al Mahriy Al Indonesiy (kurang lebih sebelum bulan Romadhon 1430 H). Dan dialog ini direkam di dalam kaset yang sampai salinannya ke studio “Darul Hadits As Salafiyyah” di Dammaj حرسها الله, dan disebarkan oleh pengurus “Al Ulumus Salafiyyah” حفظهم الله . Kemudian akh Ayyub Aljazairiy menyampaikannya kepada saya dan menyemangati saya untuk membantah kebatilan yang ada di dalamnya. Dan memang saya mendengar di dalam kaset itu ada kebatilan yang banyak, dan kemungkaran yang parah yang mana orang-orang yang cemburu terhadap kebenaran dan para pembela kebenaran tidak bisa mendiamkannya.

            Si doktor ini -setelah mengumbar kejahatan- berupaya untuk menyembunyikan perbuatannya dari para Salafiyyin Dammaj dan orang yang bersama mereka. dia lupa firman Alloh ta’ala:

﴿يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ الله وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴾ [النساء/108]

“Mereka bersembunyi dari manusia dan tidak bersembunyi dari Alloh dan Dia bersama mereka ketika mereka  merencanakan ucapan yang tidak diridhoi. dan Alloh itu maha meliputi apa yang mereka lakukan.”

            Alloh جل ذكره berfirman:

}أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ * أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُون { [الزخرف/79، 80].

“Apakah mereka menetapkan suatu perkara? Maka sesungguhnya Kami juga menetapkan perkara. Apakah mereka mengira bahwasanya Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Bahkan Kami mendengar, dan para utusan Kami (dari kalangan malaikat) mencatat di sisi mereka.”

            Dan sesungguhnya manakala saya melihat perkara ini adalah sesuatu yang mungkar, sayapun menyalakan api tekad untuk “membakar” bukhur (uap) kedustaan si Abdulloh Al Bukhoriy itu.

            Saya tidak suka kata-kata kasar, akan tetapi ucapan-ucapan busuk si Abdulloh Al Bukhoriy terhadap para salafiyyun yang telah mengorbankan segalanya demi menjaga agama ini menyebabkan saya memakai ungkapan keras yang insya Alloh tidak berlebihan untuk hak dia.

Dan saya bersyukur kepada Fadhilatusy Syaikhina Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله ورعاه atas pemeriksaan beliau terhadap risalah ini dan pelurusan ungkapan-ungkapannya.

Dan saya juga bersyukur kepada Syaikh kami yang mulia Abu Abdillah Thoriq Al Ba’daniy حفظه الله ورعاه atas curahan waktu dan perhatian beliau dalam memeriksa risalah ini.

            Dan semoga Alloh membalas dua saudara kita Abu Ja’far Harits dan Abu Dzil Qornain Al Indonesiyyain dengan kebaikan atas kerjasama keduanya.

            Selamat menyimak.

Bab Satu:

Kelemahan Abdulloh Al Bukhoriy Untuk Mengetahui Hizbiyyah Anak Mar’i Dan Gerombolannya

            Si penanya –Usamah Al Mahriy Al Hizbiy- berkata: “Memang telah sampai pada kami di sana ucapan Yahya Al Hajuriy yang memperingatkan umat dari menghadiri dauroh kita wahai Syaikh kami,”

            Maka Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Pokoknya jika dia mentahdzir dari dauroh kita, maka dia itulah yang pantas ditahdzir. Dia itulah yang telantar dengan sebab perkataan itu. Kenapa dia mentahdzir? Dakwah apa yang kita sebarkan?”

Usamah berkata: “Dia berkata: ini adalah dauroh hizbiyyah, dan diselenggarakan oleh hizbiyyun.”

Abdulloh berkata: “Demi Alloh itu adalah kedustaan dan kejahatan. Jika dia berkata demikian dan memang telah pasti ucapan itu darinya, maka itu adalah kedustaan dan kejahatan yang murni. Semoga mereka mengalami hukuman dari Alloh sesuai dengan hak mereka. mereka semua berdusta.”

Saya –Abu Fairuz, semoga Alloh memberiku taufiq- menjawab:

            Sesungguhnya yang menyelenggarakan dauroh itu dan mengundang sebagian hadirin adalah para pembela dua anak Mar’i dan orang-orang yang fanatik padanya, seperti: Luqman Ba Abduh, Usamah Al Mahriy, Muhammad Askari, Muhammad Afifuddin dan yang lainnya yang gigih memerangi dakwah salafiyyah yang bersih yang ditegakkan oleh syaikh kami Al Muhaddits An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah dan para pelajar حفظهم الله ورعاهم.

            Hizbiyyah kedua anak Mar’i itu jelas, seterang matahari di siang bolong. Telah banyak risalah orang-orang yang cemburu –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- tentang penjelasan mengenai hizbiyyah kelompok sempalan tersebut, dan peringatan umat terhadap kebusukannya. Akan tetapi manakala doktor Abdulloh Al Bukhoriy berpura-pura buta terhadap itu, diapun dihukum dengan kebutaan terhadap kasus tersebut, sebagai balasan setimpal. Kemudian di doktor tadi membangun hukumnya yang jahat berdasarkan kebutaannya tadi, terhadap syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau رعاهم الله . Dan saya akan bermurah hati kepadanya إن شاء الله untuk memberikan sedikit penjelasan tentang hizbiyyah kedua anak Mar’i dan pengikutnya, semoga Alloh ta’ala mengaruniainya kelurusan.

            Dan sebelum masuk ke penjelasan tersebut, saya akan menyebutkan bahwasanya para hizbiyyun di negri Yaman dan di negri kami Indonesia –semoga Alloh memperbaikinya- mengejek para Salafiyyun dan berkata: “Mereka tidak punya hujjah (argumentasi) terhadap hizbiyyah Abdurrohman bin Umar bin Mar’i dan saudaranya kecuali apa yang tertulis di dalam “Mukhtashorul Bayan”!”

            Saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-: Sesungguhnya penjelasan yang tersebut di dalam risalah tersebut tentang ta’ashshubat (fanatisme) kedua anak Mar’i dan gerombolannya itu cukup untuk memvonis mereka sebagai hizbiyyin. Para penulisnya حفظهم الله telah menampilkan bukti-bukti yang banyak dengan sisi-sisi yang beraneka ragam untuk menetapkan hizbiyyah orang-orang jahat itu. Hanya saja kondisi riil kalian mengingatkan kami pada firman Alloh ta’ala:

﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آَنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُم﴾ [محمد/16].

“Dan di antara mereka ada orang yang memperhatikan bacaanmu, hingga di saat mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka kepada orang-orang yang diberi ilmu: “Apa sih yang dia ucapkan barusan?” Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh berikan cetakan di atas hati-hati mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Muhammad: 16).

            Sementara banyak Salafiyyin yang setelah membaca risalah tersebut mereka memahami kebenaran. Maka mereka mendapatkan bagian dari firman Alloh ta’ala setelah ayat tadi:

﴿وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُم﴾ [محمد/17].

“Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk, Alloh akan menambahi lagi untuk mereka petunjuk dan memberikan pada mereka (balasan) ketaqwaan mereka.”

            Kemudian sesungguhnya penjelasan-penjelasan Ahlussunnah dalam menetapkan hizbiyyah kelompok tang jahat itu tadi tidaklah terbatas pada “Mukhtashorul Bayan” saja, dan ini telah diketahui bersama bagi para pemerhati kenyataan. Dan sekarang kita akan masuk –dengan taufiq dari Alloh- kepada penjelasan tentang hizbiyyah, kemudian penyebutan sebagian alamat hizbiyyah gerombolan makar itu:

Pasal satu: definisi hizb dan hizbiyyah

            Hizb punya beberapa makna. Hizb di fulan adalah: teman-temannya yang sependapat dengannya. Ahzab adalah: kelompok-kelompok manusia, dan ini merupakan ungkapan sekumpulan orang yang memerangi Nabi صلى الله عليه وسلم . Hizb seseorang adalah teman-temannya dan tentaranya yang berada di atas pendapatnya. Dan setiap kaum yang hati-hati dan amalan mereka saling serupa maka mereka itu adalah ahzab sekalipun satu sama lain tidak saling berjumpa, seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun, mereka itu adalah Ahzab. Dan setiap hizb merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. setiap kelompok itu hawa nafsunya satu. (“Lisanul ‘Arob”/1/hal. 308).

            Lihat juga “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar” (1/hal. 945), “Al Mukhoshshosh” (karya Ibnu Sayyidah/1/hal. 331), “Al Mufrodat Fi Ghoribil Qur’an” (1/hal. 115), “Al Muhith Fil Lughoh” (1/hal. 206), “Ash Shihhah Fil Lughoh” (1/hal. 126) dan “Al Muhkam” (3/hal. 231).

            Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Setiap orang yang menyelisihi manhaj Nabi صلى الله عليه وسلم dan sunnah beliau, maka dia itu adalah termasuk dari hizb-hizb kesesatan. Hizbiyyah itu tidak punya syarat-syarat. Alloh menamakan umat-umat terdahulu sebagai hizb-hizb, dan menamakan Quroisy ketika berkumpul dan bergabung kepada mereka sebagian firqoh-firqoh sebagai hizb-hizb. Mereka tak punya tanzhim, tak punya apa-apa, … dst.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Asy Syaikh Robi”/14/hal. 461/cet. Darul Imam Ahmad).

            Maka hizbiyyah yang dimaksudkan dalam pembicaraan kita di sini adalah: fanatiknya seseorang pada kelompoknya, dan firqohnya, maka dia mencocoki mereka dalam amalan atau hawa nafsu, atau pemikiran yang berlawanan dengan kebenaran. Dan akan datang ucapan Al Imam Al Wadi’iy  tentang perkara yang terkait dengan wala wal baro (loyalitas dan permusuhan).

Pasal dua: sebagian alamat hizbiyyah dua anak Mar’i dan kelompoknya

Alamat pertama: ashobiyyah (fanatisme) dan wala wal baro yang sempit

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka barangsiapa fanatik terhadap penduduk negrinya atau madzhabnya atau metodenya atau kerabatnya atau sahabatnya semata, maka di dalam dirinya ada cabang jahiliyyah.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 422-423).

Al Imam Al Wadi’y رحمه الله ditanya: “Bagaimana cara memperingatkan para pemuda dari hizbyyah yang tidak jelas, di mana  tidaklah melarang dari perkara tersebut kecuali segelintir orang?? Dan bagaimana diketahui bahwa seseorang itu telah menyelisihi manhaj salaf dalam perkara tersebut?”

Maka beliau menjawab, “Diketahui dengan loyalitas yang sempit. Barangsiapa bersamanya maka mereka menghormatinya dan menyeru orang-orang untuk menghadiri ceramahnya dan berkumpul di sekitarnya. Dan barangsiapa tidak bersama dengan mereka maka dia dianggap sebagai musuh oleh mereka..” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 112/cet. Darul Atsar).

Syaikh Sholih As Suhaimy -حفظه الله- berkata tentang kelompok-kelompok di medan dakwah,”Kelompok-kelompok ini bersamaan dengan perselisihan dan perpecahan mereka serta perbedaan pemikirannya dan beranekanya sumber pengambilannya, mereka itu bergabung menjadi satu front untuk memusuhi manhaj Salafy yang tegak di atas Al Kitab dan Sunnah Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi sallam- di bawah pengaruh manhaj hizby yang sempit yang dibangun di atas loyalitas dan permusuhan di jalan pensucian orang-orang tertentu, … dan seterusnya” (pendahuluan “An Nashrul ‘Aziz”/karya Asy Syaikh Robi’/hal. 44/cat. Al Furqon).

Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy -حفظه الله- berkata: “Fanatisme terhadap suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh ta’ala dan sunnah Rosul صلى الله عليه وسلم , loyalitas dan permusuhan berdasarkan itu, maka ini adalah tahazzub (pembentukan hizbiyyah). Inilah tahazzub (pembentukan hizbiyyah) sekalipun tidak ditanzhim (tidak teroganisir), membangun suatu pemikiran yang menyeleweng, mengumpulkan sekelompok orang di atas pemikiran itu, ini adalah hizb, sama saja diorganisir ataupun tidak. Selama mereka berkumpul untuk suatu perkara yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka ini adalah tahazzub.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa Fatawasy Syaikh Robi”/14/hal. 461/cet. Darul Imam Ahmad).

Dan di antara perkara yang menunjukkan sempitnya wala wal baro di sisi Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy هداه الله adalah bahwasanya dia memboikot orang yang tidak bersamanya, dan orang yang mendekat kepada syaikh kami Yahya حفظه الله seperti Asy Syaikh Al fadhil Sa’id Da’as dan saudara kita yang rendah hati yang beradab Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy حفظهم الله. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 17 dan 33).

Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy tidak menjawab salam saudara kita yang mulia Hamud Al Wailiy حفظه الله –pemilik studio “Al Yaqzhoh”- bahkan mensikapinya dengan bengis. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 17).

Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy tidak menjawab salam Asy Syaikh Al Fadhil Kamal Al ‘Adniy حفظه الله di hari-hari upaya beliau mendamaikan kedua belah pihak. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 21).

Dan di antara yang menunjukkan fanatisme Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy terhadap golongannya adalah perkataannya kepada Asy Syaikh Kamal Al ‘Adniy حفظه الله: “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh Yahya tidak mempedulikan orang-orang ‘Adn, tidak punya perhatian dengan mereka. Asy Syaikh Yahya membicarakan para wanita ‘Aden, dia berkata: “Janganlah kalian menjadikan kemaluan kalian untuk lelaki.” Dai macam apa ini mengucapkan perkataan macam itu?!” Wahai pembaca, harus diketahui bahwasanya Asy Syaikh Yahya tidak mengucapkan perkataan tadi. Beliau hanya mengucapkan nasihat yang didengar oleh orang banyak di masjid ini. Dan ketika sebagian ikhwah dari Aden datang seraya berkata: “Kami senang jika ucapan ini kami hapus dari kaset.” Maka Asy Syaikh menjawab: “Aku hanyalah ingin menolong kalian dan menolong kebenaran dengan perkataanku itu, dan tidak ada di dalamnya bahaya apapun terhadap kalian. Dan perkataan ini tidak mengarah ke kalian. Akan tetapi hapus sajalah sesuai dengan keinginan kalian.” Maka mereka menghapus kalimat tadi. Segala puji bagi Alloh. Maka apa yang membikin timbulnya kericuhan dan kebangkitan fitnah ini?!” (“Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23/ Kamal Al ‘Adniy).

Dan di antara bentuk fanatisme orang itu adalah ucapannya kepada sebagian pelajar dari Yaman selatan pada hari-hari pengacauan orang ini: “Jadilah engkau bersama saudara-saudaramu.” Berita ini saya dengar dari syaikh kami حفظه الله saat menjawab soal-soal penduduk Mukalla. Ini juga disebutkan dalam “Haqoiq Wa Bayan” (hal. 33). Lihat juga “Silsilatuth Tholi’ah” karya Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad Al Amudiy (3/hal. 15).

Dan berita-berita tentang rusaknya timbangan para pengikutnya dalam wala wal baro ada di risalah “Iqozhul Wisnan” (hal. 9), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26) dan “Syarorotul Lahab” (1/hal. 17) dan yang lainnya.

Dan termasuk perkara yang menunjukkan hal itu juga pemboikotan mereka –tanpa dalil syar’iy- terhadap orang yang dekat dengan Syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dan hal ini telah kami temui banyak sekali sampai sekarang. Hal itu juga tersebut “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26), “Iqozhul Wisnan” (hal. 29), dan “Mulhaqul Minzhor” (hal. 16) dan yang lainnya.

Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang mereka: “Dan demikianlah, jika salah seorang dari mereka berdiri di ceramah dan berkata: “Asy Syaikh Fulan, beliau itu begini dan begitu, Al Janubiy (orang wilayah selatan). Kalian harus mengambil faidah dari Asy Syaikh Al Fulaniy Al Faqih Al Al Al, Al Janubiy (orang wilayah selatan). Demikianlah pada muhadhoroh Lahj, mereka menambahi padanya kalimat Al Janubiy setelah kalimat Al Faqih dan kalimat begini, dalam rangka mengelabui orang-orang dengan kesan bahwasanya “ini adalah syaikh kita, kita adalah orang selatan. Dan kalimat-kalimat yang lain. Fanatisme, fanatisme. Dan perkara fanatisme telah kita bantah di risalah kita “At Tahdzir Minal Hizbiyyah”.” (“An Nushhu Wat Tabyiin.”/hal. 23).

Alamat kedua: duduk-duduk dengan hizbiyyin

Yang berlangsung pada Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله adalah kumpul-kumpulnya dia bersama sebagian hizbiyyin dan upayanya untuk mendekatkan sebagian hizbiyyin yang lain:

Pertama: Abdurrohman Al ‘Adniy وفقه الله dalam ceramah-ceramahnya memanggil dan berkumpul bersama Ali Al Hudzaifiy, padahal orang ini adalah seorang hizbiy yang telah di-jarh oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Kedua: upayanya mendekati Sholah Ali Sa’id yang dulu bersama Abul Hasan dan tidak nampak darinya tobat, dan dulu dia ini mencerca sebagian ulama. (lihat satu dan dua ini di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13/ Kamal Al ‘Adniy).

Ketiga: Upayanya untuk berkumpul dengan Jalal bin Nashir, padahal Al Imam Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله telah mengkritiknya, dan dia itu masih ada pada thobaqot pengikut Abul Hasan. (Bacalah beritanya di “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 13).

Keempat: Dia menjadikan Abdul Ghofur bin ‘Ubaid Asy Syarjiy Al Lahjiy sebagai sahabat kepercayaannya. Saya harus menyingkap keadaannya dikarenakan tertipunya kebanyakan Salafiyyun dengannya.

Orang ini dulu terdidik di kalangan hizbiyyin di Jami’ud Da’wah Shon’a. dia dulu adalah murid setia dari Abdul Majid Ar Roimiy hizbiy (sururiy). Dulu Abdul Ghofur Al Lahjiy termasuk pembawa bendera Jam’iyyatul Hikmah untuk menentang Ahlussunnah. Dia punya penipuan dan pengkhianatan serta penipuan dalam kasus pembelian tanah di wilayah “Wahth” di Lahj yang menunjukkan rakusnya dia terhadap dunia, pengkhianatan, lemahnya kejujuran sampai-sampai orang awampun bersaksi yang demikian. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Akh Husain bin Thoha Al Lahjiy juga bersaksi bahwasanya dirinya itu tak bisa dipercaya. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 8).

Dia juga suka menghinakan orang-orang. Salah seorang tetangganya yang Salafiy telah menulis beberapa pengaduan dan keluhan akan gangguannya. Dia juga terkenal suka menjilat kepada ulama. (“Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 10).

Dia juga melakukan berbagai tipu daya untuk mengambil harta milik orang lain atas nama pembangunan masjid. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 9).

Dia juga melakukan kezholiman yang besar dalam kasus pembangunan masjid “Al Musawiy” (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2).

Dia juga melakukan kebatilan yang hina sekali untuk menjatuhkan imam masjid “Al Khothib” yaitu saudara kita Muhsin Labbah (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal. 4), dan (“Tanbihus Sajid”/hal.3).

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga imam di suatu masjid yang di situ seorang wanita hizbiyyah mengajar. Wanita ini adalah istri Ahmad bin Ubaid, saudara Abdul Ghofur Al Lahjiy. Ahmad bin Ubaid ini adalah anggota Jam’iyyatul Ihsan dan duduk-duduk dengan hizbiyyin. (lihat “Silsilatun Nushhu Wal Bayan”/2/hal.4).

Orang ini dulu juga termasuk anggota “Baroatudz Dzimmah” dan Jam’iyyatul Hikmah.

Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga telah membikin beberapa makar untuk menjatuhkan imam masjid “Sholahuddin”. Masjid ini dulu termasuk masjid Ahlussunnah yang paling terkenal di sana, imamnya terkenal berpegang teguh dengan sunnah dan keras terhadap hizbiyyin. Sekarang imamnya adalah seorang Hasaniy (pengikut Abul Hasan Al Mishriy yang telah ditabdi’ oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy), ipar masjid ini adalah kepala jam’iyyah. Masjid ini sekarang menjadi tempat ceramah Hasaniyyun, dan mereka menolak saudara kita Sami Dzaiban (da’i sunnah di ‘Adn) untuk berceramah di situ. Ketika Abdurrohman Al ‘Adniy datang memberikan ceramah di situ merekapun menyambutnya dengan hangat dan gembira seraya berkata: “Wahai syaikh, di manakah Anda selama ini?” (berita dari saudara kita Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله ).

Termasuk dari kebatilan Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga adalah apa yang akan disebutkan oleh saudara kita Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy حفظه الله : Abdul Ghofur berkata kepadaku –dan hanya Alloh yang ada di antara kami berdua saat itu-: “Wahai saudara kami Muhammad, tidakkah engkau melihat bahwasanya dakwah telah berubah? Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melarang kedatangan masyayikh dari Saudi.” Kukatakan padanya: Siapakah yang mengabarimu? Dia menjawab: “Hani Buroik yang mengabariku hal itu.” Kemudian Abdul Ghofur juga berkata: “Bahkan dakwah Asy Syaikh Muqbil juga ada kritikan tentangnya.” (persaksian Muhammad bin Ahmad Al Lahjiy di hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan seluruh pelajar saat dars antara maghrib dan ‘Isya).

            Abdul Ghofur Al Lahjiy ini juga sangat gigih dalam membela ahlul batil dan membela hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adniy.

Bacalah berita tentangnya di “Silsilatun Nushhu Wal Bayan” ((seri 1,2,3) karya Abul Hasan Ihsan bin Abdillah Al Lahjiy), dan juga “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 32/karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy az Za’kariy), dan “Al Muamarotul Kubro” (hal. 26/karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy).

Kelima: bersatunya Abdurrohman Al ‘Adniy dengan saudaranya: Abdulloh bin Mar’i Al ‘Adniy. Untuk pengkhianatan orang ini terhadap da’wah telah ada risalah-risalah bantahan yang banyak.

Dan di antara teman dekat Abdulloh bin Mar’i adalah: Salim Ba Muhriz yang berkata pada pertengahan tahun 1423 H:

نحن قد انتهينا من أبي الحسن، والدور جاي على الحجوري

“Kita telah selesai dari Abul Hasan, sekarang giliran keruntuhan akan menimpa Hajuriy.” Ketika fitnah orang itu terbongkar sekitar tahun 1429 H, syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Orang ini punya fanatisme dan tercium darinya aroma fanatisme yang keras, pengelompokan yang keras, dan demikian pula wala baro yang sempit terhadap Abdulloh bin Mar’i dan saudaranya.

Dan di antara teman dekat Abdulloh bin Mar’i adalah: Abu Hasyim Jamal Surur, Abdulloh bin Ali Ba Sa’id, Ahmad Umar Ba Wafi, Abdul Hafizh Ibrohim Al Amiriy dan yang lainnya dari kalangan hizbiyyin qudama. (lihat “Zajrul ‘Awi” 3/hal. 34-35/karya Asy Syaikh Abu Hamzah Al Amudiy Al Hadhromiy).

Kedua bersaudara tadi telah mendurhakai Alloh ta’ala dalam firman-Nya:

﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ﴾ الآية. [المجادلة/22].

“Tidaklah engkau akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir itu saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, meskipun mereka itu ayah mereka, atau anak mereka, atau saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh tetapkan keimanan ke dalam hati mereka, dan Alloh perkuat mereka dengan pertolongan dari-Nya. “ al ayah. (QS. Al Mujadilah: 22).

            Manakala teman-teman duduk keduanya adalah hizbiyyin, maka keduanyapun digabungkan kepada mereka. Rosululloh صل الله عليه وسلم yang bersabda:

الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف

“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” (HR. Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901) dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu).

Dan diriwayatkan Al Bukhoriy secara mu’allaq dalam “Shohih” , dan bersambung di “Al Adabul Mufrod” (900) dari Aisyah –radhiyallohu `anha-.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda:

«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل».

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapakah yang dijadikan sebagai teman dekatnya.” (HSR. Imam Ahmad (8249), Abu Dawud (4835) dan At Tirmidziy (2552), hadits hasan. Dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (1272)).

Ibnu Mas`ud  –radhiyallohu `anhu- berkata: “Nilailah seseorang itu dengan orang yang bersahabat dengannya, karena  dia itu hanya akan bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.” (diriwayatkan oleh Abdurrozzaq di “Al Mushonnaf” no. (7894), dan Al Baihaqiy di “Syu’abul Iman” no.( 8994), dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanah” no.( 505), Atsar ini jayyid dengan seluruh jalannya).

Sayyar bin Ja’far رحمه الله berkata: Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Manusia itu berjenis-jenis seperti jenis-jenis burung. Burung dara bersama burung dara, burung gagak bersama burung gagak, bebek bersama bebek, sho’wu (sejenis burung kecil) bersama sho’wu. Dan setiap manusia itu bersama dengan orang yang sekarakter dengannya.”

Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Barangsiapa melakukan pencampuran, maka diapun akan mengalami pencampuran. Dan barangsiapa bersikap bersih, maka diapun akan disikapi dengan bersih. Dan aku bersumpah pada Alloh, jika kalian bersikap bersih, maka kalianpun akan disikapi dengan bersih.”

Seluruh atsar beliau ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Bathhthoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” no. 517 dengan sanad yang hasan.

Yahya bin Sa’id Al qoththon رحمه الله berkata: “Ketika Sufyan Ats Tsauri tiba di Bashroh beliau mulai memperhatikan keadaan Ar Robi’ –yaitu Ibnu Shubaih- dan kedudukannya di mata masyarakat. Beliau bertanya, “Apa madzhabnya?” Mereka menjawab, “Tiada madzhabnya kecuali as Sunnah.” Beliau bertanya, “Siapa teman dekat di sekelilingnya?” Mereka berkata, “Qodariyyah (pengingkar taqdir)” Beliau berkata, “Berarti dia qodari.” (“Al Ibanah”/Ibnu Baththoh/2/453/no. 426/sanadnya hasan).

Abu Hatim Ar Roziy رحمه الله berkata: Tibalah Musa bin ‘Uqbah Ash Shuriy di Baghdad. Maka hal itu diceritakan kepada Ahmad bin Hanbal, maka beliau berkata: “Perhatikanlah oleh kalian, dia singgah ke rumah siapa, dan ke rumah siapa dia bernaung.” (diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 46) dengan sanad yang shohih).

Wahai doktor, engkau berkata pada orang-orang Indonesia: “Doronglah para ikhwah untuk menekuni ilmu, dan menekuni sunnah dan ilmu, selesai.”

Saya telah memaparkan kepadamu, wahai doktor, ilmu dan sunnah dalam bab ini, maka tekunilah keduanya, dan terapkanlah keduanya dengan penerapan salafiy.

Alamat ketiga: mengadu domba antar ulama

            Mengadu domba merupakan kebiasaan hizbiyyin. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan hizb-hizb itu ingin kaum muslimin sibuk dengan perseteruan di antara mereka. hizb-hizb tadi ingin mengadu domba di antara merea dengan memukul orang alim dengan orang alim, jama’ah dengan jama’ah, kabilah dengan kabilah, kepala kabilah dengan kepala kabilah, sementara hizb-hizb tadi bisa melancarkan rencana mereka. mereka punya misi dan punya faidah yang hendak dipetik. Bisa jadi faidah terbanyak akan kembali pada mereka, karena Muslimin tersibukkan dengan kasus antar mereka, sementar hizb-hizb tadi melancarkan rencana mereka yang busuk dan menyebarkannya di negri-negri Muslimin.” (“Al Mushoro’ah”/hal. 420).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang makar Haddadiyyah yang baru yang dipimpin oleh Falih Al Harbiy: Sisi yang ketujuh: Mereka bersembunyi di balik sebagian ulama sunnah sebagai makar dan tipu daya –sampai pada ucapan beliau:- Kenapa mereka melakukan ini? Jawabnya adalah: Agar memungkinkan bagi mereka untuk menjatuhkan orang-orang yang memerangi mereka dari kalangan Ahlussunnah, dan agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca  mereka, dan memperburuk citra mereka dan citra prinsip-prinsip mereka, dan agar bisa merealisasi sasaran mereka dalam memecah-belah Ahlul manhajis Salafiy dan membenturkan mereka satu sama lain.” (“Khuthurotul Haddadiyyatil Jadidah”/hal. 11).

            Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuri -hafidhahulloh- berkata: “Dan termasuk dari sarana-sarana yang tersembunyi itu untuk memukul dakwah salafiyyah adalah: politik mengadu domba yang dijalankan oleh para lawan dakwah salafiyyah, mengadu domba antara para pembawa dakwah salafiyyah, ulama dan para da’i, mereka menyebarkan di tengah-tengah mereka tadi politik adu domba. Dan ini bukanlah perkara baru.” (kitab “Adhrorul Hizbiyyah”/Syaikh Yahya -hafidhahulloh-/hal. 18).

Dan inilah yang dilakukan oleh Abdurrohman bin Mar’i, Abdulloh bin Mar’i, Hani Buroik, Arofat bin Hasan, yang digambarkan oleh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله bahwasanya mereka adalah orang-orang khususnya. Maka Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid وفقه الله : “Sisi ketiga: apakah termasuk dari duduk yang baik adalah mengadu domba di antara Ahlussunnah?!! Dan ini adalah perkara yang telah pasti dari orang-orang tadi. Pindah kesana kemari, menelpon kesana dan kesini dari satu tempat ke tempat lain di tempat-tempat para masyayikh, di Yaman dan selain Yaman, hingga hampir saja mereka membikin fitnah di antara kami di Yaman, akan tetapi Alloh menyelamatkan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi dada.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 9).

 Dan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata pada ‘Ubaid Al Jabiriy وفقه الله : “Dan aku tidak lupa untuk mengingatkan padamu wahai Syaikh, bahwasanya kebanyakan orang yang membikin fitnah dan kegoncangan terhadap Dakwah Salafiyyah di Yaman itu jika mereka terbongkar di sisi kami, mereka akan lari ke ulama Saudi, sambil berpura-pura baik di hadapan mereka, sampai-sampai ada dari Ahlussunnah yang berkata: “Kenapa kalian tidak bersepakat saja bersama Az Zindaniy, dan bersama saudara kalian anggota Jam’iyyah ini dan itu?” mereka punya udzur atas ucapan tadi, sebagaimana yang engkau sebutkan dalam jawabanmu ini. Hanya saja pujian mereka dan baik sangkanya mereka kepada orang-orang tadi tidaklah membersihkan mereka dari kasus yang mereka bikin, menurut orang yang telah mengetahui kejahatan mereka tadi. Bahkan yang demikian itu hanya akan menambah pengetahuan dan keyakinan bahwasanya mereka itu adalah para pelaris fitnah, bukan orang-orang yang tenang, bukan orang-orang yang cepat bertobat pada Alloh عز وجل dari kejahatan mereka itu.” (“At Taudhih Lima Jaa Fit Taqrirot”/Asy Syaikh Yahya /hal. 10-11).

Lihatlah perincian upaya adu domba yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy dalam “Nashbul Manjaniq” (hal. 134,136,139/Yusuf Al Jazairiy), “Iqodzul Wisnan” (hal. 5,29) dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 31-32/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy), “Al Qoulush Showab Fi Abil Khoththob” (karya Haidaroh Al ja’daniy), dan “Zajrul ‘Awi” (juz 3/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy).

Sebagai contoh saja dalam penyebutan para tokoh adu domba Mar’iyyun adalah sebagai berikut:

‘Arofat Al Bushoiriy. Berupaya mengadu domba para tokoh utama, sementara dia sendiri meremehkan ulama Yaman dan pimpinan mereka yaitu Al Imam  Muhadditsil Jaziroh Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله . (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Muhammad Gholib. Termasuk orang-orang yang mengadu domba antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Ubaid. Yang demikian itu dikarenakan kedekatannya pada Ubaid. Muhammad Gholib adalah teman duduk yang jelek. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 9/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hani bin Buroik Al ‘Adniy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy berkata tentangnya: Hani bin Buroik, pada hakikatnya dia itu tak punya nilai besar di sisi kami  –sampai pada ucapan beliau:- dan dia mengadu domba antara kami dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –semoga Alloh memberinya taufiq dan perlindungan. Dia berkata: “Tamparlah mereka, wahai Syaikh, sekaranglah saatnya bagi Anda untuk untuk menampar mereka wahai Syaikh.” Demikianlah saudara kita mengabari aku, dan dia mendengar, dan dia yang bertanggung jawab atas berita ini. Aku tidak menukilkan setiap perkara yang datang padaku. Aku hanya menukilkan hakikat yang ada sanadnya.” Dst. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 11/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Hafizh Al Junaidiy. Dia termasuk pengadu domba para tokoh utama. Semoga Alloh tidak membalasnya dengan kebaikan. Dia telah menulis risalah yang kesimpulannya adalah cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan mengadu domba di antara ulama. Dia telah dibantah oleh akh fillah ‘Arofat Al Qibbathiy dengan risalah yang berjudul “Ar Roddul Badi’ ‘Ala Hafizh Al Junaidiy Ash Shori’”. (“Tanbihus Salafiyyin”/hal. 17/Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله).

Asy Syaikh Abu Abdissalam -Hasan bin Qosim Ar Roimiy- حفظه الله menggambarkan hizb baru itu sebagai berikut: “Yang penting adalah bahwasanya mereka itu sebagaimana telah aku sebutkan terdahulu berupaya keras untuk menghasilkan perpecahan di antara ulama sunnah di dalam dan luar Yaman. Kejadian perang kaset antar dua syaikh Al Wushobiy dan Al Hajuriy tidak lain adalah contoh yang terbaik untuk itu. Dan tidaklah perang malzamah yang dikeluarkan Asy Syaikh Al Jabiriy وفقه الله untuk menentang Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy kecuali contoh hidup yang baik untuk membuktikan apa yang telah aku jelaskan terdahulu.” (“Ar Roddul Qosimiy”/hal. 3).

Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy حفظه الله menyebutkan bahwasanya di antara sisi kemiripan antara Abdulloh Mar’i dengan Abul Hasan adalah: mengadu domba di antara ulama sunnah. (“Zajrul ‘Awi”/juz 3/hal. 34).

Dan di antara perbuatan pengikut Abdulloh bin Mar’i itu adalah sebagaimana laporan dari para pelajar Dis Timur حفظهم الله  bahwasanya sebagian pengikut Nabil Al hamr, mereka itulah yang menelpon Ubaid dengan soal-soal yang bersifat adu domba itu. (“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin Bi Manthiqotid Disisy Syarqiyyah”/ringkasan Abu Sa’id Al Hadhromiy).

Alamat keempat: penyempitan gerak salafiyyin dan pemancangan permusuhan terhadap mereka

            Ini adalah sifat hizbiyyin. Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله setelah menyebutkan gangguan para hizbiyyin, beliau berkata: “… karena mereka itu, termasuk dari adat mereka adalah membela manhaj mereka dengan keras, lalu menyakiti orang yang mengkritiknya. Ini adalah kebiasaan ahli batil di setiap zaman dan tempat, sejak zaman Nuh sampai hari kita ini.” (“Ar Roddusy Syar’iy”/hal. 69).

Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan aku ingat ada seseorang dari salafiyyun yang menelponku, dia menyebutkan bahwasanya dirinya pernah punya suatu kebutuhan yang disampaikannya (pada pemerintah) tapi tidak dijawab dan tidak ditanggapi. Aku bertanya pada si penelpon: “Apa sebabnya?” dia menjawab: “Para pembegal. Mereka tidak membiarkan sedikitpun bagi kami para salafiyyin agar bisa berhubungan ke pejabat.” Maka aku merasa heran. Dan setelah itu ada seorang salafiy yang punya urusan membangun masjid, sampai ke seorang pejabat dari kalangan hizbiyyin. Surat pengurusan tadi tertahan di situ selama enam bulan. Ketika si pemilik surat merasa lambat, diapun menanyakannya. Maka dikabari bahwasanya surat tadi telah pergi dengan nomor sekian, dan tidak kembali. Setelah diselidiki jelaslah bahwasanya surat tadi ada di tempat si hizbiy tadi.” (“Ar Roddul Muhabbir”/hal. 132-133).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang sifat-sifat Haddadiyyah: “Kesembilan: Mereka punya keistimewaan dengan melaknat, kasar, dan meneror sampai pada derajat mengancam salafiyyin dengan pukulan, bahkan tangan mereka telah menjulur dengan memukul sebagian salafiyyin.” (“Shifatul Haddadiyyah”/hal. 51-52).

            Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Di dalam hizbiyyah itu ada pembuangan wala wal baro yang benar, merobek barisan muslimin. (Alloh ta’ala berfirman):

َلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ [الروم : 31 ، 32]

“Dan janganlah kalian termasuk golongan Musyikin, termasuk orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar Rum: 31-32).

            Kenapa wahai para hamba Alloh, kalian membebek Yahudi dan Nashoro, dan kalian meninggalkan apa yang diperntahkan oleh Alloh سبحانه وتعالى , kalian memancangkan permusuhan pada orang yang berkata: “Ini adalah harom,” dan orang yang memberikan nasihat pada kalian dengan kasih sayang dan kelembutan? Kenapa kalian menggenggamkan masjid-masjid untuk orang-orang yang di hizb kalian, sementara kalian menjauh dan melarang dari orang yang berkata: “Alloh berfirman, Rosul-Nya berfirman”!? kenapa ada penyempitan terhadap salafiyyin seperti ini?

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِالله الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  [البروج/8]

 “Dan tidaklah mereka menghukum orang-orang tadi kecuali karena orang-orang tadi beriman pada Alloh Al ‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan Al Hamid (Yang Maha Terpuji).”

            Untuk apa melakukan penyempitan terhadap Salafiyyin seperti ini sementara mereka berkata: “Alloh berfirman, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda.”.” (“Adhrorul Hizbiyyah”/hal. 11).

            Yang dilakukan oleh para pengikut Abdurrohman Al Adniy adalah: mereka memukul sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini seperti saudara kita Abu Isa Ihab Al Farojiy Al ‘Adniy dan lainnya. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

            Sebagian contohnya telah diberitakan kepadaku oleh saudara yang mulia Mushthofa Al ‘Adniy حفظه الله.

Bahkan sebagian pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy telah mengancam sebagian orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini untuk dibunuh. (lihat “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 14).

            Salah seorang dari mereka telah mencekik saudara kita Irham Al Jawiy Al Indonesiy.

            Salah seorang dari mereka telah memukul dada saya. Yang lain memukul leher saya dan mengancam membunuh saya.

Berita-berita tentang kekasaran dan teror mereka itu panjang penyebutannya. Dan kebanyakan dari kami bersabar dan tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.

Jika kami yang bersabar sampai demikian saja Abdulloh Al Bukhoriy dan yang lainnya bilang: “Mereka adalah Haddadiyyun, orang garis keras”, maka bagaimana jika kami membalas kejelekan tadi dengan kejelekan yang serupa? Barangkali mereka akan membikin ribut dunia dan berteriak: “Mereka adalah haddadiyyun yang melebihi haddadiyyun, mereka adalah kelompok garis keras nomor wahid!”

            Adapun yang dilakukan oleh para pengikut Abdulloh bin Mar’i: dikatakan oleh Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhromiy حفظه الله : “Ini dia saudara kita yang mulia Muhammad bin Ali Al Katsiriy حفظه الله ورعاه akan mengisahkan pada kita ringkasan kejadian yang menimpa saudara kita yang mulia Abu Ammar (Yasir) رعاه الله. Beliau telah menelpon Salim Ba Muhriz, orang tua yang kakinya sudah hampir mendekati kuburan itu tapi jadi orang yang terfitnah. Kita berlindung pada Alloh ta’ala. Muhammad Al Katsiriy حفظه الله berkata: “Adapun kejadian yang menimpa saudara kita Yasir Ad Duba’iy Abu Ammar dari perbuatan Salim Ba Muhriz adalah sebagai berikut: Salim Ba Muhriz mewaqofkan nafkah dan menyewa tempat tinggal untuk akh Abu Ammar([2]) dan perlu diketahui bahwasanya nafkah itu datang dari sebagian ikhwah dari Emirat. Dan Salim Ba Muhriz itu hanyalah perantara saja untuk menyampaikan nafkah tadi kepada akh Abu Ammar. Ba Muhriz melakukan ini –mengusir Asy Syaikh Abu Ammar dari rumah beliau dan memutus nafkah beliau- tanpa minta izin pada ikhwah pemberi nafkah di Emirat. Perkara lainnya adalah: bahwasanya mereka –anak buah Ba Muhriz- itu melakukan penyempitan antaranya adalah dengan mengunci maktabah dan mengunci kunci-kunci pintunya. Ini yang aku tahu.”

Ditulis oleh Muhammad bin Ali Al Katsiriy. ([3])

(“Zajrul ‘Awi”/seri tiga/hal. 35-36/karya Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy).

            Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy Al Hadhomiy حفظه الله berkata: “Sesungguhnya saudara yang mulia Abu Ammar حفظه الله ورعاه telah mendapatkan kecapekan yang amat sangat dari kelompok Abdulloh Mar’i di Mukalla. Beliau dan para muridnya disakiti di masjidnya dan dipersempit. Kejadian penyempitan dan yang lainnya yang mereka alami di bulan Romadhon pada tahun ini merupakan perkara yang patut disesalkan, menyakitkan dan menyedihkan sampai-sampai mereka tidak bisa menikmati lezatnya I’tikaf adalah perkara yang telah diketahui yang tidak bisa diingkari kecuali oleh orang yang pura-pura tidak tahu.” ([4]) (“Zajrul ‘Awi”/seri tiga/hal. 35).

            Dan termasuk dari itu adalah berita-berita dari kabupaten Dis Timur tentang Nabil Al Hamr dan anak buahnya:

1- Nabil Al Hamr dan anak buahnya telah melakukan praktek pengkhianatan dalam bentuk merusak Perpustakaan umum milik Salafiyyun di wilayah tersebut. Mereka mengambil seluruh kitab dan memasukkan di atas truk pasir, sambil menghinakan kehormatan masjid dan kekuasaan masjid di situ tanpa memperhatikan adab-adab syar’iyyah ataupun akhlaq yang mulia, dan berbuat jahat terhadap dunia ilmu. Yang demikian itu mereka lakukan demi menguasai perangkat dakwah yang menjadi waqof buat Salafiyyin. Dan orang ini (Nabil Al Hamr) terkenal punya penyakit gila kepemimpinan dan popularitas.

2- Orang ini (Nabil Al Hamr) juga melakukan perbuatan di luar adab-adab syar’iyyah dan adab kemasyarakatan. Ketika salah seorang ikhwah –akhuna Abu Muhammad Sholih Al Hadhromiy- yang sudah Antum kenal menyampaikan ceramah dan nasihat kepada masyarakat di dalam masjid. Beliau menyebutkan sekelumit pujian ulama kepada Asy Syaikh Yahya dan menjelaskan bahwasanya maksiat itu merupakan sebab tidak adanya taufiq kepada kebenaran. Maka datanglah si Hamr  dari luar masjid dan menyerang Akhuna Sholih dengan caci-makian seraya berteriak-teriak untuk memutuskan ceramahnya tanpa menghormati kahormatan masjid. Maka keluarlah orang-orang dari masjid dengan tercengang akan perbuatan si Hamr, yang mana hal itu belum pernah dilakukan oleh Shufiyyah ataupun Ikhwanul Muslimin di tempat kami.

3- Nabil Al Hamr yang terfitnah ini dan juga para pengikutnya melakukan praktek-praktek makar untuk menyempitkan pelajaran-pelajaran yang diadakan oleh Akhunal fadhil Abu Hamzah Hasan Ba Syu’aib, padahal pelajaran yang dia berikan itu ilmiyyah dan bermanfaat. Si Hamr yang terfitnah bersama anak buahnya berusaha melarikan masyarakat dari Akhuna Hasan dan para Salafiyyun dengan syubhat bahwasanya mereka itu melawan ulama.

Dan di nomor (8): kerja kerasnya yang berlipat ganda dalam mentahdzir orang dari Dammaj dan masyayikh serta para pelajar yang datang dari Dammaj dalam rangka dakwah ke jalan Alloh dan menyebarkan kebaikan. Orang tadi menyebarkan isu-isu dan kedustaan tentang orang-orang Dammaj yang isu tadi menyebabkan orang-orang lari. Si Nabil melakukan itu berdalilkan dengan sebagian ucapan Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab وفقه الله.

9- Di sini ada Jam’iyyah yang namanya Jam’iyyatul Bandar untuk para nelayan. jam’iyyah inlah yang terus menyokong fitnah ini dan berdiri bersama Nabil Al Hamr yang terfitnah dalam rangka membantu kedua anak Mar’iy. Abdulloh bin Mar’iy adalah mufti (juru fatwa) jam’iyyah tersebut. Jam’iyyah ini telah banyak memecah belah dakwah salafiyyah dengan wala wal baro’ yang sempit dan fanatisme. Mereka siap untuk menyakiti setiap yang berbicara tentang mereka dengan meminta bantuan sebagian pejabat. Dst.

(“Akhbar Min Tholabatil ‘Ilmis Salafiyyin bi Manthiqotid Disy Syarqiyyah”/talkhish Abi Sa’id Muhammad Ad Disiy Al Hadhromiy).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Sesungguhnya setiap kali seorang hamba itu bersungguh-sungguh dalam istiqomah, dakwah ke jalan Alloh, dan menegakkan perintah-Nya untuk-Nya, musuhpun bersungguh-sungguh menghasung orang-orang tolol untuk menyakitinya. Tapi hamba ini dalam kejadian ini telah memakai baju perangnya dan mulai memerangi musuhnya untuk Alloh dan dengan pertolongan Alloh.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 226).

Al Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata: “Dan yang mempergunakan kebengisan mereka itu adalah orang-orang yang bodoh seperti hizbiyyun dan yang lainnya. Adapun Ahlussunnah, maka mereka itu tidak mempergunakan kebengisan, .. tapi hizbiyyun, mereka itulah yang mempergunakan kebengisan.” (“Tuhfatul Mujib” hal. 225-226).

Alamat keenam: menggerakkan pemerintah untuk menyakiti salafiyyin

            Ini adalah perkara lama. Al ‘Allamah Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang sebagian ahli bathil: “Setiap orang yang punya kekuasaan dari kalangan mereka dengan kedekatannya dengan raja-raja, maka sungguh mereka itu menyakiti Ahlussunnah dengan seluruh hukuman, siksaan dan pembunuhan.” (“Al I’tishom”/bab dua/hal. 91/cet. Darul ‘Aqidah).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Sesungguhnya Ahlul bida’, yang menjadi kebiasaan mereka adalah aktif mengingkari Ahlussunnah. Jika mereka punya kelompok atau menempel kepada penguasa yang hukumnya berlaku di masyarakat, dan perintahnya berlaku di berbagai penjuru. Orang yang meneliti sejarah orang-orang terdahulu dia akan mendapati gambaran tersebut secara tidak tersamarkan.” (“Al I’tishom”/bab enam/hal. 308/cet. Darul ‘Aqidah).

            Al Imam Muhammad bin AbdilWahhab An Najdiy رحمه الله dalam perkara-perkara jahiliyyah yang di situ Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyelisihi ahli jahiliyyah berkata: keenam puluh dua: kebiasaan mereka jika mereka terkalahkan dengan hujjah, mereka kembali kepada metode kekerasan dan mengadu ke raja-raja, dan mendakwakan bahwasanya ahlul haq itu menghina penguasa dan hendak memindahkan rakyat dari agamanya. Alloh ta’ala berfirman dalam surat Al A’rof (127):

﴿أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾.

“Apakah Anda akan membiarkan Musa dan kaumnya merusak di bumi?”

(“Masailul Jahiliyyah”/hal. 193/cet. Darul ‘Ashimah).

            Fadhilatusy Syaikh Ali Al Faqihiy حفظه الله berkata tentang sifat sempalan-sempalan: “… setiap sempalan membikin bid’ah dalam agama Alloh yang tidak diizinkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, … dan orang yang menyelisihi mereka, mereka menghukuminya sebagai mubtadi’ dan fasiq, dan berlepas diri darinya. Dan jika mereka memiliki kekuasaan, dan pemerintah menaati mereka, merekapun menghasung pemerintah untuk menyakitinya, lalu mereka memenjarakannya, memukulnya dan bisa jadi membunuhnya.” (“Al Bid’ah”/hal. 28).

            Hizb Mar’iyyin telah melakukan itu terhadap salafiyyin berulang kali hingga hal itu menjadi alamat yang jelas bagi mereka. Syaikh kami Abu Bilal Kholid bin ‘Abud Al Hadhromiy حفظه الله berkata dalam “Bayan Hizbiyyah Ibnai Mar’i” berkata: “Bukankah kelompok itu meminta bantuan pada penguasa untuk menyakiti para penyeru sunnah dan pembela kebenaran? Dan ini adalah termasuk dari alamat ahli bida’. Dan tidaklah tersembunyi dari kalian apa yang diperbuat oleh Ibnu Abi Duad terhadap Al Imam Ahmad, dan apa yang mereka perbuat terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan apa yang mereka perbuat terhadap Abu Isma’il Al Harowiy, dan para pemimpin agama yang lain.

            Bukankah ada pada mereka (Mar’iyyun) apa yang ada pada kelompok-kelompok yang seperti mereka, yaitu upaya merampasi masjid-masjid yang ada di tangan Ahlussunnah? Bahkan mereka telah melakukan itu di beberapa kota. Dan mereka dalam berbuat zholim itu minta bantuan sebagian pejabat, semoga Alloh member mereka hidayah.” Selesai penukilan.

Akhunal fadhil Abu Anas Yusuf Al Lahjiy –ro’ahulloh- menuliskan:

“Alhamdulillah washsholatu wassalam ‘ala man la nabiyya ba’dahu. Amma ba’du:

Al Akh Al ‘Amudiy telah meminta padaku untuk menceritakan hakikat peristiwa yang terjadi di masjid “Al Bukhoriy” yang ada di propinsi Lahj di desa MahAlloh. Yang demikian dikarenakan ana ada ketika berlangsungnya peristiwa tersebut. berikut ini hakikat dari kejadian tersebut:

Kami berangkat dari masjid Akhunal fadhil Abu Harun menuju masjid Akhunal fadhil Abdul ‘Aziz yang di situlah terjadi peristiwa tersebut. Dan muhadhoroh (ceramah) akan diberikan oleh  Akhuna Abdul ‘Aziz, imam dari masjid tersebut. Ketika kami sampai di masjid sebelum maghrib, kami mendapati masjid tersebut terkunci. Kemudian dibukalah masjid tersebut, dan kami tidak tahu bahwasanya sebagian orang-orang bodoh yang fanatik pada Ibnu Mar’iy beserta orang-orang awam dari penduduk desa tersebut akan melakukan kegaduhan terhadap masjid ini. Dan kami tidak tahu bahwasanya pemerintah akan mengunci masjid ini.

Maka kamipun masuk ke area masjid dan berwudhu, kemudian kami keluar menuju masjid. Dan hal itu sebelum adzan maghrib. Ketika kami dalam keadaan demikian kami mendengar ada suara-suara keras dan kegaduhan besar dari sebagian muta’ashshibun (orang-orang yang fanatik pada Ibnu Mar’iy) beserta orang-orang awam yang didorong-dorong oleh sebagian hizbiy Abdurrohman –hadahumulloh-. Mereka masuk, mengunci pintu dan mematikan lampu. Pengeras suara dirampas.

Dalam keadaan seperti itu berdirilah sang imam masjid seraya mengumandangkan adzan dalam keadaan yang sedemikian gaduhnya. Kemudian beberapa muta’ashshibun datang dengan polisi untuk mengambil Akhuna Abdul ‘Aziz dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah. Mereka juga mendatangkan tentara untuk mengambil beliau. Hanya saja sang tentara lebih berakal daripada para hizbiyyin yang fanatik. Para tentara berkata: “Bagaimana mungkin kita menahan beliau dalam keadaan beliau menyampaikan ceramah?” Maka duduklah sang tentara dan mereka mendengarkan ceramah, dalam keadaan para muta’ashshibun terus membikin kegaduhan.

Kemudian lewatlah sebagian muta’ashshibun yang rencananya menghadiri ceramah di masjid lain di desa yang sama. Manakala mereka melihat kegaduhan di masjid ini datanglah mereka dan singgah di sini seraya menyempurnakan gangguan. Bahkan sebagian ingin menantang adu pukul.

Seusai ceramah berangkatlah kami menuju kantor polisi. Ternyata kami dapati  muta’ashshibun sudah ada di sana dan dikepalai oleh Muhammad Al Khidasyi –ashlahahulloh-. Sebagian saudara kita dimasukkan ke dalam penjara. Dan pada hari yang lain berangkatlah Abdul Ghofur Al Lahjiy –hadahulloh- (tangan kanan Abdurrohman bin Mar’iy di propinsi tersebut. Dulunya adalah anggota jam’iyyatul Hikmah lalu jam’iyyatul Ihsan, lalu jam’iyyatul Birr). Kami diberitahu bahwasanya dia berkata para polisi: “Orang awamlah yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi imam masjid. Siapa yang mereka pilih jadi imam, jadilah dia imam.” Pada kami sudah tahu bahwasanya para muta’ashshibun telah menghasung orang-orang awam untuk menurunkan Akhuna Abdul ‘Aziz –hafizhohullohu wa saddadahu- dari jabatan imam.

Ditulis oleh  Abu Anas Yusuf Al Lahjiy.

(“Zajrul ‘Awi”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy -hafizhohulloh-/3/hal. 24-25).

            Ini sedikit dari kebatilan-kebatilan hizb baru, dan masih tersisa perkara-perkara yang besar yang terperinci dalam risalah-risalah yang lain. Dan saya tidak yakin bahwasanya perkara-perkara ini diabaikan oleh doktor Abdulloh Al Bukhoriy, jika di dalam hatinya masih tersisa sedikit kasih sayang, mata hati dan salafiyyah. Akan tetapi kenapa setelah bayyinah-bayyinah ini semua ternyata si doktor tidak menerima penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin, ulama sunnah dan para pelajar yang bersama beliau? Bukankah “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut.”

            Yang mengherankan adalah bahwasanya doktor Abdulloh Al Bukhoriy dalam bantahannya terhadap Abul Hasan Al Mishriy berkata: “Kaidah: “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut.” Dan kaidah ini, para imam ahli hadits mempergunakannya. Dan yang demikian itu diterapkan terhadap orang yang tidak mereka kenal, atau dalam menentukan pendapat yang lebih kuat terhadap seseorang yang diperselisihkan, maka orang tersebut disikapi dengan kaidah tadi, seperti qorinah (faktor penyerta) yang dipakai untuk menentukan pendapat yang lebih kuat.

            Sebagian ulama berpandangan bahwasanya kaidah ini tadi disendirikan dari kaidah yang terdahulu, dan ini merupakan pendapat yang sangat kuat. Dan mengingatkan manusia akan pentingnya kaidah ini tadi akan memalingkan pandangan mereka kepada kaidah tadi pada saat sekelompok orang lalai dengannya, dan dengan sebab kebodohan mereka tadi, atau pura-pura bodohnya mereka tadi, mereka menolak kebenaran yang terdapat pada kasus menilai seseorang.

            Al Hafizh Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berkata di bawah judul: Bab Pendapat Dalam Jarh Wat Ta’dil Jika Bertemu, Yang Manakah Yang Lebih Utama (Untuk Diambil)? Beliau berkata: “Para ulama bersepakat bahwasanya orang yang di-jarh (dikritik) oleh satu atau dua orang, tapi dirinya dipuji oleh orang yang jumlahnya sebanding dengan pihak pen-jarh, maka jarh itu lebih pantas diambil. Alasannya adalah: bahwasanya sang pen-jarh itu mengabarkan perkara yang tersembunyi yang telah diketahuinya, dan tahu akan kejujuran si pemuji, … Dan pengabaran si pemuji (pemberi tazkiyah) tentang kelurusan agama seseorang secara lahiriyyah itu tidaklah meniadakan kejujuran si pen-jarh terhadap apa yang dikabarkannya, maka yang demikian itu mengharuskan lebih diutamakannya jarh (celaan) daripada ta’dil (pujian). –kemudian Al Khothib menyebutkan sanad- dari Kholid bin Khidasy yang berkata: aku mendengar Hammad bin Zaid berkata:

( كانَ الرَّجلُ يقدمُ علينا مِنَ البلادِ، ويذكرُ الرَّجلَ، ويُحدِّثُ عنه، ويحسنُ الثناءَ عليه، فإذا سألنا أهلَ بلادهِ وجدناه على غير ما يقولُ، قال: وكان يقول: بلدي الرَّجلِ أعرف بالرَّجلِ).

“Dulu ada seseorang yang mendatangi kami dari negri-negri yang lain, dia menyebutkan nama seseorang dan menyampaikan hadits darinya, dan memujinya. Tapi jika kami menanyai orang yang senegara dengannya kami dapati orang itu tidak seperti yang dikatakan si pemuji.”

Kholid berkata: Hammad berkata: “Orang yang senegara dengan seseorang itu lebih kenal (daripada yang lainnya).”

Aku (Al Khothib) berkata: yang demikian itu adalah dikarenakan mereka (penduduk negri tersebut) punya tambahan ilmu tentang keadaan orang tadi, melebihi dari apa yang diketahui oleh orang asing yang berupa lahiriyyah kelurusan jalan hidupnya([5]). Hammad menjadikan hukum itu untuk perkara yang mereka ketahui, yang berupa celaan terhadap orang tadi, bukan berita yang dikabarkan oleh orang asing, yang berupa kelurusan jalan hidupnya.” (“Al Kifayah”/hal. 175-176).

Dan datang dalam “Al Ma’rifah Wat Tarikh” ([6]) karya Al Fasawiy: Ibnu Utsman menceritakan pada kami:

قال عبدالله: أهلُ البصرةِ ينكرونَ حديث الجلد بن أيوب،و يقولونَ: شيخٌ ليس بصاحبِ حديثٍ. قال ابن المبارك: وأهلُ مصْرهِ أعلمُ به مِنْ غيرهم.

Abdulloh berkata: “Penduduk Bashroh mengingkari hadits Al Jald bin Ayyub, dan mereka itu berkata: “Orang ini syaikh, tapi bukan ahli hadits.” Ibnul Mubarok berkata: “Dan penduduk kota itu lebih tahu tentang dirinya daripada orang lain.”

            Maka engkau lihat wahai pembaca yang mulia, bagaimana para imam (Ibnul Mubarok dan Ibnu Zaid) mengamalkan ini. Dan berdasarkan inilah para imam hadits yang lainnya beramal, mereka mengamalkan kaidah ini, dan mereka berpendapat dengan itu, dan itulah yang benar tanpa keraguan dan kesamaran, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya! Dan setelah penjelasan ringkas ini, tentang prinsip ini menurut Ahlussunnah, aku katakan: Sesungguhnya si Ma’ribiy (Abul Hasan) dan fitnahnya ini telah berusaha dengan keras untuk menggoncangkan prinsip ini, …dst.”

(selesai sampai di sini ucapan Abdulloh Al Bukhoriy dalam kitabnya “Al Fathur Robbaniy”/ hal. 221-222/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

            Ucapan dari Abdulloh Al Bukhoriy ini bagus sekali dalam membantah Abul Hasan Al Ma’ribiy, karena Abul Hasan Al Ma’ribiy menyelisihi kebenaran dalam bab ini. Tapi kami dapatkan pada masa-masa ini Abdulloh Al Bukhoriy sendiri menyelisihi perkataannya sendiri, dan menyelisihi kebenaran disebutkannya sendiri dalam bab ini.

Maka saya katakan Abdulloh Al Bukhoriy senada dengan ucapannya pada Abul Hasan Al Ma’ribiy: “Mana pengambilannya terhadap kaidah “Orang yang sedaerah dengan seseorang itu lebih mengenal orang tersebut”? orang ini telah mengkritik Asy Syaikh Robi’ dengan kaidah ini, sebagaimana dalam bantahannya terhadap risalah “Jinayatu Abil Hasan ‘Alal Ushulis Salafiyyah” (hal. 3). Kenapa kaidah ini tertinggal di sini? Atau apakah kebutuhan mengharuskan untuk mengadakan pembelaan agar si Zaid dan Amr merasa ridho dengannya? Orang ini memakai kaidah-kaidah ilmiyyah kapan saja dikehendakinya, dan meninggalkannya kapan saja diinginkannya, tanpa ada yang mengawasi dan memeriksa. Dan ini merupakan permainan terhadap syariah yang telah tetap dan kaidah ilmiyyah. Dulu dikatakan:

قامة تَنمي وعقل يحْري

“Kakinya bertambah kokoh, tapi akalnya justru berkurang!!” ([7])

(“Al Fathur Robbaniy”/ hal. 227/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

            Maka wahai Abdulloh Al Bukhoriy,

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾ [البقرة/44]

“Apakah kalian memerintahkan manusia dengan kebajikan, tapi kalian melupakan diri kalian sendiri dalam keadaan kalian membaca Al Kitab. Maka apakah kalian tidak memikirkan?”

            Orang-orang Mar’iyyun bagi kami adalah hizbiyyun –wahai doktor-, dan muhadhorot-muhadhorot (ceramah) mereka sekalipun di situ mereka mengundang para ulama Ahlissunnah, maka ceramah itu sesungguhnya adalah untuk mengumpulkan orang-orang di sekeliling mereka, dan mereka itu berbanyak-banyak dengan orang yang berceramah, dan mereka menggambarkan bahwasanya “Asy Syaikh Fulan itu bersama kami, dan kami itu banyak.” Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ * سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُر﴾ [القمر/44، 45].

“Apakah mereka berkata: “Kami adalah kumpulan yang tertolong.” Kumpulan itu akan terkalahkan dan berbalik ke belakang.”

            Silakan ambil ucapan Al Imam Al Wadi’iy As Salafiy: “Hendaknya engkau amat berhati-hati dari orang yang menjadikan dirimu sebagai ujung tombak yang mereka menjaring manusia dengan dirimu. Mereka berkata padamu: “Kami ingin agar Anda menyampaikan ceramah di markiz Fulani.” dan mereka ingin berkata pada orang-orang: “Fulan bersama kami.” Mereka ingin menjaring para pemuda denganmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 102/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Ini cukup sebagai alasan kenapa ulama Salafiyyun melarang manusia menghadiri acara ceramah yang diselenggarakan oleh Ahlul ahwa sekalipun yang berceramah adalah ulama.

Bab Dua:

Kelalaian Abdulloh Terhadap Karakteristik Akal Dalam Kasus Ini

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan orang-orang yang berakal –kami tidak berkata: para pelajar-, orang-orang yang berakal bisa mengetahui ketololan ini.”

            Abdulloh هداه الله berkata: “Apakah manusia tidak punya kemampuan untuk memisahkan dan membedakan? Apakah engkau tidak mengetahui siapakah yang mengajarinya, dan mengarahkannya, dan siapakah yang mendatangkan fitnah dan kerumitan? Yang pasti, mereka itu datang untuk membikin fitnah ini.”

            Saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-: Abdulloh Al Bukhoriy menggambarkan bahwasanya orang-orang yang berakal dan punya kemampuan pembeda itu bertentangan dengan dakwah syaikh kami An Nashihul Amin yang yang bersama beliau –semoga Alloh memelihara mereka- karena orang-orang tadi dengan akal-akal mereka mereka bisa mengetahui apa yang dianggap oleh Abdulloh sebagai “Ketololan Al Hajuriy dan pengikutnya”. Bantahan untuknya adalah sebagai berikut:

Pasal satu: definisi akal

            Akal adalah: pikiran, kepandaian, lawan dari ketololan. Jama’nya adalah uqul. Dikatakan: “pria berakal” adalah orang yang masih lengkap urusannya dan pendapatnya. Lafazh ini diambil dari ungkapan: (عقلت البعير) jika engkau mengumpulkan kaki-kaki onta itu. Dan dikatakan: orang berakal adalah orang yang menahan dirinya dan menolaknya dari hawa nafsunya. Akal dikatakan sebagai akal karena dia mengikat pemiliknya dari terperosok ke dalam kebinasaan. Yaitu: menahannya dari itu. Dikatakan: akal adalah pembedaan yang dengannya manusia membedakan diri dari seluruh binatang.” (lihat “Lisanul ‘Arob”/11/hal. 458).

            Dan sifat akal secara umum adalah: membedakan antara dua perkara yang berbeda, sebagaimana dia menyamakan antara dua perkara yang serupa. Dan sifat akal adalah: jika dia disinari oleh Al Ikitab dan As Sunnah adalah apa yang disebutkan oleh Ar Roghib رحمه الله: “Akal membimbingnya kepada petunjuk, atau menolaknya dari kenistaan.” (“Mufrodat Ghoribil Qur’an”/1/hal. 342).

Pasal dua: orang-orang berakal dari kalangan salafiyyun dan ulama mereka mengetahui hizbiyyah kedua anak Mar’i

            Syaikh kami An Nashihul Amin, para ulama yang bersama beliau, dan para pelajar besar –semoga Alloh memelihara mereka- telah menerangkan penyelisihan kedua anak Mar’i dan gerombolannya terhadap Al Kitab dan As Sunnah serta manhaj Salaf. Mereka juga telah menjelaskan sisi-sisi keserupaan antara gerombolan tadi dan para pendahulu mereka dari kalangan hizbiyyin. Maka orang-orang berakal yang sejati mengetahui dengan itu hizbiyyah gerombolan tersebut.

            Melihat kepada kuatnya keserupaan antara dua perkara merupakan metode yang sesuai dengan Al Qur’an, As Sunnah, Salafiyyah, fithroh dan akal.

            Telah tetap dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam:

«وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

“Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu bukanlah dari golonganku.”(HR Imam Ahmad/ no. (5232)/Hadits jayyid).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan hakikat pendalilan dengan sunnatulloh dan kebiasaan Alloh adalah: menilai sesuatu dengan yang mirip dengannya, dan itu adalah penyamaan di antara dua perkara yang serupa, dan pembedaan antara dua perkara yang berbeda. Dan inilah penilaian yang diperintahkan di dalam Al Qur’an.” (“An Nubuwwat”/1/hal. 264-265).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun hukum-hukum Alloh yang bersifat perintah syar’iyyah, maka semuanya adalah seperti itu: engkau mendapatinya mencakup penyamaan antara dua perkara yang serupa, penggabungan sesuatu dengan yang serupa dengannya, menilai sesuatu dengan yang mirip dengannya, dan membedakan dua perkara yang berbeda, dan tidak menyamakan yang satu dengan yang lain.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 195).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Para shohabat رضي الله عنهم itu memisalkan kejadian-kejadian dengan yang serupa dengannya, dan menyerupakannya dengan yang semisal dengannya, serta mengembalikan sebagiannya kepada sebagian yang lain dalam hukum-hukumnya” –kemudian beliau menyebutkan contoh-contoh yang membuktikan bahwa akal itu menilai sesuatu dengan yang serupa dengannya, sampai pada ucapan beliau:- “Dan ini adalah termasuk perkara yang Alloh fithrohkan (ciptakan) para hamba-Nya ada di atasnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 173-174/cet. Darul Hadits).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan Alloh telah mengkonsentrasikan di dalam fithroh manusia dan akal mereka untuk menyamakan dua perkara yang saling serupa, dan mengingkari pemisahan di antara keduanya, serta memisahkan dua perkara yang saling berbeda, dan mengingkari pengumpulan di antara keduanya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 109).

            Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya penggabungan sesuatu dengan yang serupa dengannya merupakan kebiasaan orang-orang yang berakal.” (“Al Burhan”/1/hal. 47).

            Demikian pula As Suyuthiy رحمه الله mengambil faidah dari beliau dalam kitab “Al Itqon” (1/hal. 358).

Dan setelah penjelasan ini semua, jelaslah bagi orang-orang yang ikut sunnah dan salafiyyah, pemilik akal dan pembedaan: bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang bersama beliau رعاهم الله itu lebih berbahagia daripada Abdulloh Al Bukhoriy dalam masalah akal, bahkan dalam masalah Al Kitab, As Sunnah, Salafiyyah, fithroh dan akal.

Bab tiga:

Upaya Abdulloh Al Bukhoriy dan Pengikutnya Untuk Menyematkan Gelar “Fitnah” Pada Salafiyyin Dammaj

            Usamah Al Mahriy Al Indonesiy berkata: “Fitnah ini yang datang dari Dammaj sebagaimana telah Anda ketahui, semakin mengeras hari demi hari. Malzamah-malzamah disebarkan dan datang kepada kami, dan demikianlah tidak berhenti.”

            Dia juga berkata: “… salah seorang yang terfitnah oleh Al Hajuriy”

            Sementara Abdulloh Al Bukhoriy هداه الله menyetujui itu. Dan di sela-sela cercaan Abdulloh Al Bukhoriy ke Salafiyyin Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka, Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan tidaklah menumbuhkan fitnah ini, dan tidak pula melariskannya dan menyebarkannya ke orang-orang awwam kecuali orang yang terfitnah.”

            Abdulloh Al Bukhoriy juga berkata: “Ucapan ini tak perlu diulang, dan tidak mengucapkannya kecuali orang yang terfitnah yang busuk.”

            Jawab saya:

            Iya, sesungguhnya fitnah itu terjadi pada awalnya di Dammaj karena sang pembuat makar –yaitu Abdurrohman Al ‘Adniy- tinggal di Dammaj, dan di situ pula dia dan gerombolannya merancang makar terhadap markiz yang diberkahi ini. Adapun para pendorongnya adalah datang dari luar. Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui pada ijtima’ yang pertama bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

            Bersamaan dengan itu orang ini –semoga Alloh memberinya petunjuk- tidak mau mengabarkan pada syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy dan masyayikh حفظهم الله nama-nama para penghasung dan tukang makar tersebut. Dan memang tidak mungkin si Adniy mau membongkar temannya sendiri, karena sasarannya sama.

وافق شن طبقه

“Bejana itu cocok dengan tutupnya.” ([8])

            Abdurrohman bin Mar’i dan gerombolannya telah melaksanakan makar mereka sehingga berlangsunglah kumpulan-kumpulan rahasia di sebagian rumah dan di kegelapan malam. Di antaranya adalah kumpulan rahasia di antara dirinya dan Yasin Al ‘Adniy. Saksinya adalah akh Abdul ‘Aziz Al ‘Aqrobiy حفظه الله (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/Asy Syaikh Kamal Al ‘Adniy/12, dan “Syarorotul Lahab”/Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy/3/hal. 21).

            Upaya hizb baru tersebut dalam pengelompokan dan pembentukan tandzhim itu telah diketahui. Bacalah “Iqozhul Wisnan” (hal. 9), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 21), “Al Khiyanatud Da’awiyyah” (hal. 29). “Nashbul Manjaniq” (hal. 81), dan juga “Syarorotul Lahab” (2/hal. 8).

            Demikian pula pertemuan rahasia mereka banyak sekali, lihat “Syarorotul Lahab” (1/hal. 17), (2/hal. 18-20), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 3 dan 22), dan “Nashbul Manjaniq” (hal. 6) dan yang lainnya.

            Al Imam Al ‘Auza’iy رحمه الله berkata: Umar bin ‘Abdul ‘Aziz رحمه الله berkata:

إذا رأيت القوم يتناجون في دينهم دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة. (“الزهد” لأحمد بن حنبل / (1694)،

“Jika engkau melihat orang-orang berbisik-bisik dalam agama mereka tanpa memberitahukan pada orang umum, maka ketahuilah bahwasanya mereka ada di atas pembentukan prinsip kesesatan.” (“Az Zuhd” (Al Imam Ahmad (1694), “Sunan Ad Darimiy” (no. 313). Rowinya tsiqot, dan Al Auza’iy itu sezaman dengan Umar bin Abdil ‘Aziz, dan keduanya ada di Syam. Maka kemungkinan keduanya berjumpa itu besar).

            Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang sifat khusus ulama sunnah: yang keempat: jelasnya titik tolak dan alur dakwah ke jalan Alloh, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, maka tidak ada kerahasiaan ataupun perkumpulan tersembunyi, tidak ada pertemuan khusus di kedalaman lubang yang gelap di tempat sepi, atau di bawah gua di gunung-gunung sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyun harokiyyun di setiap negri Muslimin, … dst. (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 9).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Akan tetapi hizbiyyah itu merusak. Engkau akan mendapati sebagian orang yang dulunya lurus, berdakwah pada tauhid, maka jika dirinya terpengaruh oleh hizbiyyah matilah dia, sehingga tidak tersisa padanya karya tulis. Tidak tersisa kecuali perkumpulan-perkumpulan rahasia, …” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 441).

Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh  Abdurrohman Al Mar’iy di Darul Hadits di Dammaj:

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatkan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]

“Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

            Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

            Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([9]). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

            Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar([10]).

            Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

            Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia.

            Ribuan pelajar Darul Hadits di Dammaj rumah mereka terbangun dari bata dan tanah liat, serta ranting dan dahan dari pohon Atsl dan sebagainya. sekalipun demikian mereka berada di dalam ketenangan dan ketentraman dalam proses jihad menuntut ilmu. Kamu dapati kehidupan mereka dekat dengan kehidupan para Salafush Sholih -rohimahumullohu- dalam masalah zuhud di dunia, dan cinta akhirat.

Tapi bagaimana pendapat kalian jika mereka pindah ke kota perdagangan Fuyusy dan mendapati masyarakatnya saling membanggakan bangunan dan perumahan? Apakah para pelajar tadi akan berpikir untuk membangun rumah dengan harga murah sebagaimana keadaan mereka di Darul Hadits Dammaj? Apakah hati mereka akan rela dan senang dengan yang demikian itu dalam kondisi mereka melihat rumah-rumah megah dan pondasi-pondasi yang gagah?

            Tidak diragukan bahwasanya jiwa itu senang dengan ketinggian dan tidak menyukai kerendahan. Maka kamu dapati sebagian dari mereka mulai melongok dan menginginkan untuk melakukan apa yang diperbuat oleh orang lain([11]). Pastilah mereka berusaha untuk mencari pekerjaan agar bisa mengumpulkan dana senilai bangunan di dusun Fuyusy.([12]) Dan hal ini membutuhkan umur dan waktu yang panjang, dan kamu tahu kondisi reyal Yaman. Bahkan barangkali sebagian dari mereka akan pergi sampai bisa mengumpulkan dana sesuai dengan apa yang dimudahkan oleh Alloh. Dan ini sukar untuknya, dan menjadi beban baginya. Barangkali dia akan menjual rumahnya di Dammaj karena sempitnya waktu. Dan memang inilah yang diinginkan oleh Abdurrohman Al Mar’iy yang untuk itu dia mengumumkan impian ini, yaitu memalingkan pelajar dari kebaikan dan besar ini (Markiz Dammaj yang telah berdiri lebih dari tiga puluh tahun), dan menghalangi mereka darinya. Hal ini telah banyak terjadi. Berapa banyak pelajar yang menjual rumahnya dengan harga murah, padahal sebelumnya dia berhasrat untuk bisa mendapatkan harga tinggi saat menjualnya. Sampai-sampai engkau mendapati sebagian iklan penjualan yang digantungkan di dinding di situ tertulis rangsangan untuk cepat membelinya:

من أراد أن يشتري بيتا رخيصا جدا جدا في المزرعة عند البُمبَة فعليه أن يتصل برقم كذا وكذا، اغتنم الفرصة!

“Barangsiapa ingin membeli rumah sangat murah sekali di mazro’ah (nama salah satu kompleks perumahan di Dammaj), di sampai pompa air, maka silakan menelpon nomor ini (… ). Manfaatkan kesempatan!”

            Dan kebanyakan pelajar yang terjatuh ke dalam efek buruk dari urusan ini dan menjadi objek terkaman dan  sajian siap santap Abdurrohman Al Mar’iy adalah para pelajar dari ‘Adn. Banyak dari mereka yang menjadi korban fitnah ini, dan  Abdurrohman Al Mar’iy berhasil mengumpulkan ke dalam barisannya angka maksimal yang mungkin dicapai. Dan itu telah dia lakukan. Rahasianya adalah: kebanyakan dari saudara kita yang berasal dari ‘Adn kehidupan dan kondisi rumah mereka sudah terkenal. Sebagian dari mereka berangan-angan bahwasanya di ‘Adn itu untuk bisa memiliki sekedar rumah sederhana yang bisa menaungi dirinya dan keluarganya. Yang demikian itu adalah dikarenakan telah sempitnya perumahan di ‘Adn, ditambah lagi dengan adanya beberapa kemungkaran dan penyelisihan syari’at di sebagian tempat([13]).

Maka manakala ada pelajar ‘Adaniy yang ditawari tanah seluas (12 x 12) dengan harga cukup murah([14]), kamu dapati air liurnya menetes dan akalnyapun goyang. Maka Abdurrohman Al Mar’iy dengan perbuatannya tadi telah menyihir mereka sehingga mereka menjadi lalai dan goyang. Andaikata engkau melihat langsung keadaan sebagian dari mereka tentulah engkau mengira dia itu gila dikarenakan hebatnya penawaran. Sampai bahkan engkau bisa melihat sebagian dari mereka membolak-balikkan HP-nya melihat nama-nama yang ada di dalam HP, barangkali dia lupa mengingatkan sebagian dari mereka untuk turut membeli tanah di dusun perdagangan Fuyusy. (risalah “Tadzkirun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy Al Hadhromiy Al ‘Adniy/hal. 3-9).

Dan telah terbongkar juga perencanaan fitnah dan pengaturan makar yang datang dari Syihr. Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jamal حفظه الله berkata: “Dan telah pasti juga perkara yang menunjukkan kepada makar orang ini –yaitu: Salim Ba Muhriz- yang pengkhianatannya. Di antara perkara yang kami tahu: Yang pertama: apa yang diceritakan oleh saudara kita yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya –Ahmad- (keduanya adalah Salafiy dari wilayah Dis Timur – pesisir Hadromaut) berkata bahwasanya Salim Ba Muhriz pada mereka pada pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan, sekarang giliran keruntuhan akan menimpa Hajuriy.” ([15]) Ini adalah jelas menunjukkan makar dan tipu daya serta perencanaan untuk membikin fitnah di barisan Ahlussunnah, di sisi orang yang adil. Akan tetapi keanehan datang dari orang yang telah sampai pada berita seperti ini tapi dia tenang-tenang saja seperti orang yang ridho terjadinya hal itu!” (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirof Ibnai Mar’i”/karya Asy Syaikh Muhammad Ba Jamal/hal. 13).

Maka syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah dan para pelajar bangkit memperingatkan manusia dari kejahatan kelompok tadi. dan manakala kami melihat menjalarnya fitnah mereka sampai ke negri kami –dengan kunjungan-kunjungan kepala-kepala gerombolan tersebut- bangkitlah kami dengan mengirimkan nasihat-nasihat kepada saudara-saudara kami di sana.

Maka jika yang namanya fitnah itu adalah amalan yang kami kerjakan ini, berarti tolok ukur si doktor وفقه الله telah terbalik. Dan kami katakan padanya:

﴿قُلْهَاتُوابُرْهَانَكُمْإِنْكُنْتُمْصَادِقِينَ [البقرة/111]

“Katakanlah : Datangkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian memang orang-orang yang jujur.” (QS Al Baqoroh 111).

Adapun sekedar mengulang-ulang nada : “Mereka adalah pelaku fitnah! Mereka melakukan fitnah!” atau yang seperti ini, maka demikian itu pula teriakan seorang hizbiy, sebagaimana saya terangkan di kitab saya yang lain.

Bahkan demikianlah teriakan para munafiqun. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang karakter munafiqun: “Dan di antara sifat mereka adalam menyembunyikan kebenaran, membuat kerancuan terhadap pembela kebenaran, menuduh pembela kebenaran dengan penyakit yang justru ada pada mereka (munafiqun) sendiri. Jika para pembela kebenaran memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan menyeru ke jalan Alloh dan Rosul-Nya, maka para munafiqun menuduh mereka sebagai “pembuat fitnah,” “perusak di bumi,” sementara Alloh, Rosul-Nya dan mukminun telah mengetahui bahwasanya mereka (munafiqun) itulah perusak di bumi.” (baca lengkap sifat-sifat munafiqin di “Thoriqul Hijrotain”/hal. 499-504/cet. Dar Ibni Rojab).

Yag benar adalah apa yang dikatakan oleh Al ‘Allamah Mufti Saudi Selatan Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله: “Dan tiada keraguan bahwa orang yang mengingatkan manusia dari kejahatan sebelum hal itu terjadi, maka orang ini adalah pemberi nasihat, bukan penyeru pada fitnah. Dan tiada keraguan bahwa orang yang mengucapkan perkataan (tuduhan) tadi itu telah memutar balik kenyataan –sampai pada ucapan beliau :- jika demikian, maka peringatan terhadap kejahatan sebelum hal itu terjadi dalam rangka manusia berhati-hati dengannya, maka ini bukanlah dinilai sebagai fitnah.” (“Al Fatawal Jaliyyah” (ukuran kecil)/hal. 39/cet. Darul Atsar).

Dengan penjelasan ini runtuhlah makar doktor Abdulloh Al Bukhoriy untuk menempelkan julukan “fitnah” kepada syaikh kami dan orang yang bersama beliau, dan kembalilah gelar tadi kepada orang-orang yang berusaha mendekat dan menempel kepada si dokter.

﴿فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ * بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ * إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين﴾ [القلم/5-7].

“Maka nanti engkau akan melihat dan mereka juga akan melihat siapakah di antara kalian yang terfitnah. Sesungguhnya Robbmu Dia itulah yang paling tahu tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia itulah yang paling tahu tentang orang yang mengikuti petunjuk.”

Bab Empat:

Lemahnya Abdulloh Dan Pengikutnya Untuk Mengetahui Definisi Ta’ashshub dan ‘Ashobiyyah

            Usamah berkata tentang para Salafiyyun yang kokoh: “Mereka adalah muta’ashshibah (orang-orang yang fanatik) terhadap Hajuriy dari Dammaj”.

            Dan dia berkata: “Mereka adalah muta’ashshibah (orang-orang yang fanatik) terhadap Hajuriy yang menyendiri dari barisan kami”

            Dan doktor Abdulloh Al Bukhoriy هداه الله menyetujui itu.

            Jawab kami adalah sebagai berikut: Yang namanya ‘ashobiy adalah orang yang marah demi membela kelompoknya dan melindungi mereka. Ta’ashshub berasal dari ‘ashobiyyah. Dan ‘Ashobiyyah adalah: seseorang menyeru orang lain untuk menolong keluarganya, dan bergabung dengan mereka untuk menghadapi orang yang menyerang mereka, dalam keadaan zholim ataupun dizholimi. (Lihat “Lisanul ‘Arob”/6/hal. 275 dan 276, dan “An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 204).

            Dan berdasarkan pembahasan yang telah lewat, jelaslah bagi para Salafiyyin yang berakal bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah di dalam perselisihan ini, mereka itulah yang di atas kebenaran. Dan kebenaran itu dikenal dengan hujjahnya. Dan hujjah itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾

 “Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan akan lebih baik lagi kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Hujjah ketika terjadi perselisihan itu adalah As Sunnah. Maka barangsiapa menyodorkan As Sunnah, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa mempergunakannya maka sungguh dia telah selamat. Dan tiada taufiq bagiku kecuali dengan pertolongan Alloh.” (“At Tamhid”/22/hal. 74).

Dan kami, manakala kami mengetahui bahwasanya kebenaran, hujjah dan sunnah itu bersama syaikh kami An Nashihul Amin dan orang-orang yang  bersama beliau dari kalangan para ulama Salafiyyin dan para penuntut ilmu, wajib bagi kami untuk menolong mereka berdasarkan firman Alloh عز وجل:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة/2].

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”

Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى الله قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ الله آَمَنَّا بِالله وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ﴾

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, Kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali ‘Imron: 52).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 16).

            Dengan penjelasan ini tahulah orang-orang yang berakal bahwasanya kami ada di atas bayyinah dari Robb kami, bukan di atas taqlid, ataupun fanatisme. Yang demikian itu adalah karunia Alloh untuk kami dan untuk orang-orang yang berakal akan tetapi kebanyakan hizbiyyun tidak mengetahuinya.

Bab Lima:

Fanatisme Abdulloh Al Bukhoriy Kepada Kebatilan

Setelah kami jelaskan bahwa para penuntut ilmu yang bersama Syaikh kami An-Nashihul Amin berada di atas al-haq dan hidayah, bukan di atas ta’ashshub, mari kita mulai membahas bahwa keadaan Doktor Abdulloh Bukhori itu sama seperti keadaaan seorang perempuan yang dimadu:

رمتني بدائها وانسلت

“Dia menuduhku dengan penyakitnya sendiri, dan dia berusaha melepaskan diri.”

(“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 125).

Maksudku: sebenarnya Doktor itu sendirilah yang tertimpa penyakit ‘ashobiyyah, penjelasannya berikut ini:

            Ahlus sunnah telah mengerahkan kemampuannya untuk menjelaskan kebatilan-kebatilan ‘Ubaid Al-Jabiriy tentang tahdzirannya kepada manusia agar tidak belajar di Dammaj, bersamaan dengan doktor Abdulloh tetap bersikeras mati-matian membela Syaikhnya ‘Ubaid Jabiri, dan marah karenanya dengan kemarahan jahiliyyah.

            Lihatlah pembelaannya terhadap Al-Jabiri manakala ia mentahdzir dari Darul Hadits Dammaj, yang karenanya ahlus sunnah mencela dan menjarhnya. Doktor berkata dalam kasetnya itu: “Fatwa beliau mengharamkan belajar ke Dammaj di sisi Yahya Al-Fujuri, ini ro’yu (pendapatnya) hafidzahullah, dan beliau tidak mentahdzir dari Dammaj secara umum, beliau hanya mentahdzir dari Syaikhnya, dari orang ini.”

Dan ucapan Abdulloh ini tertolak dari beberapa sisi, di antaranya:

            Pertama: ‘Ubaid mentahdzir dari Syaikh kami Yahya berlandaskan syubhat-syubhat yang lemah, sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan oleh kebanyakan para masyayikh dan penuntut ilmu senior, mereka mendatangkan bukti-bukti yang banyak, dipahami oleh orang yang menginginkan bagi dirinya keselamatan, lalu membacanya dengan benar-benar mencari al-haq dan inshaf, memurnikan dirinya dari hawa dan ‘ashobiyyah. Maka diapun hidup di atas bayyinah. sebaliknya barangsiapa yang pura-pura buta dari bukti-bukti tadi, diapun menjauh dan melarang dari membacanya akhirnya dia celaka. Seluruh orang-orang yang berlaku inshaf tahu akan kebatilan tahdziran ‘Ubaid dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah, sampai-sampai Syaikh Robi’ hafidzahullah tidak menolong ‘Ubaid terhadap tahdzirannya itu. Maka pembelaan ‘Abdulloh Bukhori terhadap fatwa ‘Ubaid terbantah dan tertolak.

            Kedua: Abdulloh sendiri mengakui bahwa tahdziran ‘Ubaid dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah dan pengharamannya belajar di Dammaj hanya sekedar ro’yu (pendapat), sementara pendapat-pendapat tidaklah diterima kecuali apabila mencocoki al-Kitab dan Sunnah berdasarkan manhaj salaf. Dan Abdulloh telah gagal menunjukkan hujjah-hujjah, dan tidak sanggup menampakkan dalil-dalil dari kitab dan sunnah berdasarkan pemahaman salaf untuk membela fatwa Syaikhnya yang menyimpang.

            Ketiga: Upaya ‘Abdulloh Bukhori untuk mentakwil fatwa ‘Ubaid gagal, karena ‘Ubaid tidak hanya mentahdzir dari Syaikh kami Yahya hafidzahullah saja –sebagaimana yang disangkakan ‘Abdulloh- akan tetapi mentahdzir dari seluruh orang yang bersamanya hafidzahullah dalam menolong al-haq dan menumpas kebatilan, bahkan ‘Ubaid sendiri terang-terangan mengeluarkan tahdzir dari kedua syaikh Muhammad Mani’ dan Hasan bin Qosim hafidzahumAlloh.

            Keempat: Pengharaman ‘Ubaid untuk belajar di Dammaj tidak sebatas terhadap Syaikh kami saja -sebagaimana yang di sangkakan ‘Abdulloh-, karena barangsiapa yang terhalang belajar pada markaz yang tinggi nan mulia ini sungguh telah terhalang menimba ilmu di hadapan seluruh ulama salafiyyin tsabitin yang berada padanya, ini jelas sekali, meskipun Doktor ‘Abdulloh Bukhori tak mampu memahaminya.

            Dapat diketahui dengan ini semua bahwa pembelaan ‘Abdulloh Bukhori terhadap Syaikhnya setelah jelas baginya kebatilan fatwa Syaikhnya itulah ta’ashshub yang sebenarnya, dan cocok untuknya ucapan Syaikh Al-Islam rahimahullah: “Dan barangsiapa yang condong menolong temannya tanpa melihat al-haq bersamanya ataukah sebaliknya maka sungguh ia telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar dari hukum Alloh dan Rosul-Nya. Dan wajib atas semuanya bersatu bersama al-haq menentang yang batil, sehingga yang dimuliakan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh dan RosulNya muliakan, dan yang dikedepankan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh dan Rosul-Nya kedepankan, dan yang disukai di sisi mereka adalah siapa yang disukai Alloh dan Rosul-Nya, dan yang terhinakan di sisi mereka adalah siapa yang Alloh hinakan berdasarkan apa yang Alloh dan Rosul-Nya ridhai bukan berdasarkan hawa nafsu, karena sesungguhnya barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosulnya maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka ia hanyalah memudharatkan dirinya sendiri. Inilah prinsip yang wajib mereka pegang teguh.” -selesai- (“Majmu’ Al-Fatawa”/28/hal.17).

            Manakala disebutkan bahwasanya Syaikh kami memvonis ‘Ubaid Al-Jabiri bahwa dia itu sesat dan menyimpang, ‘Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Ini fujur ya Syaikh, ini fujur, dusta, buhtan, dan kedustaan yang nyata barakAllohu fiikum, siapapun yang mengatakannya, walaupun yang mengatakan ini adalah orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang ini, meskipun orang yang paling tinggi derajatnya.”

            Kukatakan –semoga Alloh memberiku taufiq-: Semestinya Doktor menanyakan apa hujjah penjarh, kalau hujjahnya mencocoki Kitab dan Sunnah serta manhaj salaf hendaknya ia terima darinya tanpa ragu-ragu dan congkak, karena al-haq itu milik Alloh walaupun datang dengan perantara siapa yang Alloh kehendaki dari hamba-hambanya.

            Al Imam ibnu Al-Qoyyim rahimahullah berkata: Barangsiapa yang congkak untuk tunduk terhadap al-haq meskipun datang kepadanya melalui perantara orang kecil atau yang ia benci ataupun orang yang ia musuhi maka sebenarnya kecongkakannya itu terhadap Alloh, karena Alloh adalah Al-Haq, kalam-Nya haq, agama-Nya haq, dan Al-haq adalah sifat-Nya, dari-Nya al-haq, dan al-haq milik-Nya. Apabila seorang hamba menolak al-haq dan sombong untuk menerimanya maka sesungguhnya dia itu menolaknya terhadap Alloh dan sombong terhadaNya, wAllohu a’lam” -selesai-. (“Madarijus-Salikin”/2/hal. 271/cet Darul Hadits).

            Sudah banyak bantahan-bantahan Ahlus Sunnah terhadap ‘Ubaid bin Sulaiman Al-Jabiri, di antaranya:

–         “At-Taudhih lima Jaa fi At-Taqriraat”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan Jami’ah Islamiyyah).

–         “I’lamusy Syaikh ‘Ubaid ala anna Na’syahu lil Hizbiyyin ala Da’wah As-Salafiyyah fi Al-Yaman wa difa’uhu ‘anhum laysa ‘alaina bimudhorr”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan pembelaannya terhadap hizbi baru).

–         “Ar-Rodd ‘ala ‘Ubaid Al-Jabiri fi Fatwahu fi Al-Intikhobat”, karya Syaikh An-Nashih Al-Amin (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan PEMILU)

–         “Ad-Dhifa’ ‘an ‘Alam Al-A’lam Syu’bah bin Hajjaj”, karya Abu ‘Abdirrahman Ghalib bin ‘Ali Al-Mahwiti (Bantahan terhadap ‘Ubaid tentang celaannya terhadap Syu’bah bin Hajjah)

–         “Asy-Syaikh ‘Ubaid wal ‘A’mal Al-Ikhtilathiyyah”, karya Syaikh Abu ‘Abdu As-Salam Hasan bin Qosim Ar-Roimiy (Bantahan atas ‘Ubaid tentang pembolehannya campur baur laki perempuan dalam lapangan kerja)

–         “Al-Bayan Al-Amin ‘ala anna Na’sya ‘Ubaid Al-Jabiri li Shalih Al-Bakri Ghosysyun lil Islam wal Muslimin”, karya Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Al-Husain Al-’Amudi, (Bantahan atas ‘Ubaid tentang pujiannya terhadap hizbi Shalih Al-Bakri)

–         “Bayan Al-’Ulama fi Tahdzir ‘Ubaid”, karya Abu Ibrahim ‘Ali Mutsanna (Penjelasan tentang sebab-sebab ‘Ubaid di Tahdzir)

–         “Daf’u Buhtan Al-Mu’tadin ‘an Dar Al-Hadits bi Dammaj,” karya Abu ‘Abdirrohman Muhammad Al-Khafifi Al-Libiy([16]), (Bantahan atas ‘Ubaid pada permasalahan tahdzirannya terhadap Dammaj)

–         “Al-Bayan Al-Mufid li ba’dhi  ma Asshalahu wa Naqodhohu ‘amaliyyan Syaikhuna ‘Ubaid,” karya Asy Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah ba Jammal, (penjelasan tentang penyelisihian ‘Ubaid terhadap usul yang telah ia tetapkan)

–         “Bayan Al-Inhirafaat fi fatwa As-Syaikh ‘Ubaid wa da’waahu ila Al-Intikhobat,” karya Abu Ishaq Ayyub bin Mahfudz Asy-Syibami, (penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan ‘Ubaid pada fatwa dan seruannya kepada PEMILU)

–         “Nashihah Abi ‘Amr Al-Hajury lil Jabiriy,” karya Syaikh Abu ‘Amr ‘Abdul Karim Al-’Umari Al-Hajury, (nasihat untuk ‘Ubaid)

–         “Irsyad Al-’Ibad fi bayan mujanabah ‘Ubaid lil Hikmah wa As-Sadad,” karya Syaikh Abu ‘Abdirrahman ‘Abdulloh bin Ahmad Al-Iryani, (Penjelasan tentang jauhnya ‘Ubaid dari sikap hikmah dan kelurusan)

–         “Ar-Rodd Asy-Syar’iy”, karya Syaikh Abu ‘Abdillah Thoriq Al-Khoyyath Al-Ba’dani.

Di antara yang menguatkan bukti kebatilan jalan yang ditempuh ‘Ubaid Al-Jabiri hadahullah adalah: Ta’ashshubnya (fanatik) terhadap ‘Abdurrohman bin Mar’i. Syaikh kami An-Nashihul Amin ro’ahullah –dengan sopan- bahwa ‘Abdurrahman sendiri (juga) mentahdzir agar tidak belajar Jami’ah Islamiyyah karena di dalamnya telah banyak hizbiyyin. Syaikh kami hafidzahullah berkata: “Dan tidak lupa aku ingatkan ucapan saudara kami yang telah terfitnah pada masa terakhir ini dengan rasa prihatin Abdurrohman Al Adeni –hadahulloh- yang terekam dengan suaranya pada tanggal (23/Rojab/1426) tentang Jâmi’ah Islâmiyyah bahwasanya dia telah berubah, dan yang memegang kendalinya adalah Hizbiyyun, ia berkata –hadahulloh-: (Pada hakikatnya Jâmi’ah Islamiyyah dulunya termasuk dari istana ilmiyyah yang mulia di dunia, ia menghasilkan dan melahirkan para Ulama, namun pada masa terakhir ini kebanyakan hizbiyyin telah berhasil menguasainya lewat para pengurus, pengajar, dan doktor-doktor, dan seseorang (hendaknya-pent) tidak merasa aman untuk menghadiri muhadhoroh seorang hizbi, atau menghadiri dauroh musim panas yang ikut dipartisipasikan oleh sekelompok dari para pengajar hizbi, maka bagaimana dengan duduk belajar terus menerus yang paling minimnya berlangsung selama empat tahun, ini doktor hizbi, dan ini sururi, dan ini Qutbi, dan ini memiliki loyalitas (condong) kepada orang-orang shufi maka pada hakikatnya seseorang tidak merasa aman dengan dirinya, anda wahai saudaraku kalau seandainya diumumkan di kotamu dauroh musim panas yang diisi oleh ulama dari ulama sunnah, dan diisi oleh ahlul bida’, terkadang di antara mereka ada yang lebih alim (berilmu) maka apa yang akan engkau pilih? Padahal kamu mengetahui bahwa mereka para ulama yang menghadiri durus mereka di mesjid-mesjid mereka, aku tidak mengira engkau tidak meninggalkan untuk hadir dauroh musim panas ini sebagai bentuk penjagaan terhadap agamamu, dan pemeliharaan terhadap manhajmu, kemudian engkau pergi kepada mereka para ulama ke mesjid-mesjid dan tempat-tempat mereka (ahlul bida’-pent).

      Dan demikian juga Jâmi’ah Islamiyyah selamat padanya yang selamat, dan jatuh yang jatuh, dikarenakan adanya para pengajar (hizbi-pent), yaa akhi empat tahun sementara pengajar doktor sedang kamu (cuma) pelajar ia memasukkan kepadamu apa (saja) yang ia (mau) masukkan, maka yang kami nasehatkan dengannya kepada ikhwah adalah tidak pergi ke sana (Jâmi’ah Islamiyyah -pent), barangsiapa yang menginginkan ilmu maka hendaknya ia pergi ke Mamlakah di Yaman, atau selainnya, adapun pergi ke Jâmi’ah (Islamiyyah -pent) demi menperoleh ijazah apa yang akan engkau dapatkan, ikhwah yang belajar di Jâmi’ah terutama pada tahun-tahun terakhir ini kami tidak melihat di antara mereka yang diberi taufiq. Karena dia tinggal beberapa tahun di Jaami’ah lalu lulus dengan ijazah, apakah kalian mengira setelah lulus ia akan datang misalnya ke Dammaj, atau siap untuk menjadi Imam mesjid di salah satu pemukiman/kampung, di salah satu kota di salah satu desa atau dia akan berusaha mencari pekerjaan dengan ijazah ini yang ia telah peroleh? Jawabannya: dan inilah yang kami perhatikan dan saksikan bahwasanya ia akan berupaya keras untuk mendapatkan pekerjaan…” sampai akhir kalamnya([17]).

Maka mengharuskan Anda (wahai Syaikh Ubaid) untuk memperlakukannya dan selainnya dari orang-orang yang mengatakan hal itu dari celaan-celaan yang engkau sebutkan sebagaimana yang engkau lakukan kepadaku. Dan kami mengharap padamu wahai Fadhilatusy Syaikh –Waffaqokalloh- supaya kamu tidak menyimpang dari itu sebagaimana telah menyimpang musuh kita Bisr Al-Marisiy, ini kalau bukan yang menjadi target dari menggejolakkan pembelaan terhadap Jâmi’ah Islamiyyah sekarang adalah sebagai batu loncatan untuk melindungi Abdurrohman dan pengikutnya, sebagaimana yang tersebar di sini, di mana Abdurrohman –hadahulloh- (sendiri) telah mengatakan dengan terang-terangan sebagaimana selainnya, akan perubahan Jâmi’ah dari apa yang dulu ia padanya, dan ini berbeda dengan apa yang engkau tetapkan pada apa yang engkau namai dengan “An Naqdish Shohih”, bahwasanya Jâmi’ah Islamiyyah adalah Jâmi’ah salafiyyah sampai hari ini, sedang dia (Abdurrohman) menetapkan (memastikan) perubahannya bahwasanya dia telah dipenuhi oleh hizbiyyin pada masa terakhir.” -selesai- (“At-Taudhih”/hal.4-5)

Setelah penjelasan ini dari Syaikh kami An-Nashihul Amin dan tuntutan beliau kepada Al-Jabiri agar berlaku adil dan inshaf, dia malah menakar dengan dua takaran (pilih kasih), dan tidak mau memperlakukan ibnu Mar’i sebagaimana ia memperlakukan Syaikh kami yang penyabar An-Nashih Al-Amin, sementara sebabnya adalah sama di sisi orang yang bermata dua, bahkan ‘Ubaid bertambah mencerca dan mencela Syaikh kami yang karim –semoga Alloh mengangkat derajatnya-. Jadi ta’ashshub Al-Jabiri sangat jelas.

            Setelah penjelasan terang ini, dan bantahan-bantahan yang banyak, serta bukti-bukti yang gamblang, mustahil kalau Doktor ‘Abdulloh Bukhori tidak tahu sisi-sisi kritikan yang menumpuk dari para ulama sunnah dan penuntut ilmu terhadap ‘Ubaid Al-Jabiri. Kalau dia punya hujjah yang kuat untuk membatalkan hujjah-hujjah yang terang tersebut yang memvonis ‘Ubaid sebagai orang sesat dan menyimpang, maka hendaknya ia tampakkan. Adapun cuma sekedar berkata: “ini fujur ya Syaikh, ini fujur, dusta, buhtan, dan kedustaan yang nyata barakAllohu fiikum, siapapun yang mengatakannya, walaupun yang mengatakan ini adalah orang yang lebih tinggi derajatnya dari orang ini, meskipun orang yang paling tinggi derajatnya” ini hanyalah menunjukkan ashobiyyah, hawa, dan kejahilan (‘Abdulloh Bukhori -Hadahullah-).

            Semestinya ‘Abdulloh Bukhori dan semacamnya merenungkan ucapan Imam Al-’Allamah ‘Abdul Lathif bin ‘Abdirrahman Alu Asy-Syaikh rahimahullah: “Bermudah-mudah dalam menolak al-haq, dan menindas penyeru kepadanya, akan mengakibatkan tercabutnya pondasi-pondasi agama, dan menjadi sebab berkuasanya musuh-musuh Alloh terhadap ummat dan agama.” (“Uyunur Rosail”/1/hal. 441/maktabah Ar-Rusyd).

            Jadi yang teranggap adalah kuatnya hujjah, bukan hanya sekedar tingginya martabat pengucapnya. Berkata Al Imam ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah: “Bahwasanya suatu ucapan tidaklah dianggap benar karena keutamaan pengucapnya, hanya saja dianggap benar dengan dalil yang menunjukkan makna ucapan tersebut.” -selesai- (“Jami’ bayan Al-’Ilm”/2/hal. 174/Dar Ibnu Al-Jauzi).

            Namun manakala telah tumbuh di diri ‘Abdulloh Bukhori taqdis (pensucian) Syaikhnya membuatnya tidak peduli kritikan orang lain terhadap syaikhnya apapun hujjah yang didatangkan. Ditakutkan dia dapat bagian dari ucapan Syaikh Shalih As-Suhaimi hafidzahullah tentang sekte-sekte yang ada di lapangan dakwah: “Sekte-sekte yang ada ini walaupun satu sama lain berselisih dan berpecah dan berbeda-beda pemikirannya serta bermacam-macam misi dan ambisinya namun satu wajah dalam memusuhi manhaj salaf yang berdiri di atas kitabullah dan sunnah RosulNya shallAllohu ‘alahi wa sallam di bawah pengaruh manhaj sempit yang dibangun di atas sikap wala dan memusuhi demi menyucikan individu-individu, pendapat-pendapat dan ucapan-ucapan mereka meskipun dengan mengorbankan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Ucapan yang teranggap di sisi mereka adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh kelompok atau pemimpin jama’ah bagaimanapun penyelisihannya terhadap haq dan hidayah, dan agama Islam membenci seluruh ikatan yang berdiri di atas akhlak hizbiyyah atau kelompok sebaik apapun akhlak yang mereka serukan berupa niat yang bagus dan maksud yang mulia.” (“An-Nashrul ‘Aziz”/milik Syaikh Rabi’/hal. 44/Maktabah Al-Furqon).

            Atau barangkali ‘Abdulloh Bukhori ditimpa penyakit sombong dan angkuh hingga ia tidak mau menerima Al-Haq kalau datang dari orang yang ia benci atau bukan dari barisannya, dan ini adalah ta’ashshub jahiliyyah.

Faidah untuk orang yang punya kecemburuan terhadap agamanya:

            Di waktu ‘Ubaid Al-Jabiri mengeluarkan beberapa fatwa kedengkian tanpa bukti dan hujjah mentahdzir para penuntut ilmu di Yaman dan luar Yaman agar tidak belajar di Darul Hadits Dammaj –sebagai bentuk pertolongan darinya untuk para hizbiyyin, tahu-tahu dia mengeluarkan fatwa memboleh penduduk syam untuk belajar dengan ‘Ali Hasan Al-Halabiy sedang dia sendiri sudah tahu parahnya penyimpangan-penyimpangan orang ini.

            ‘Ubaid Al-Jabiri di tanya: Apakah penyelisihan-penyelisihan Syaikh ‘Ali Al-Halabi –hadahullah- mengeluarkannya dari lingkup sunnah? Dan apakah engkau menasihatkan membaca kitab-kitabnya terutama yang berkaitan dengan manhaj?

            Al-Jabiri menjawab: “Syaikh ‘Ali -semoga Alloh memaafkan kami dan dia dan memperbaiki keadaan kami dan keadaannya- melewati dua periode:

Periode pertama: Ia berpenampilan sunnah di depan kami, dulu sampai kepada kami dan kepada saudara-saudara kami para masyayikh kitab-kitab bagus pada permasalahan ini, karenanya kami mendekat kepadanya bahkan sangat dekat, kamipun mencintainya karena Alloh, dan Alloh tahu saya sangat berhasrat untuk mengunjunginya di negrinya, namun saya tidak mampu, dan dia juga pernah mengunjungi kami dan datang ke Syaikh Robi’ dan kami berkumpul dan bermajlis bersamanya, periode ini disertai dengan rekomendasinya terhadap orang-orang yang dicurigai di antaranya ‘Adnan ‘Ar’ur Al-Quthbiy yang terbakar dalam daftar orang-orang yang ia beri rekomendasi, maka kamipun membelanya dan mencarikan udzur untuknya, bahwasanya dia tidak tahu apa yang kami ketahui tentang orang tadi (‘Adnan), seandainya ia tahu sebagaimana yang kami tahu tentu ia tidak akan merekomendasinya. Dan kami katakan: dia saudara kami. Dan dia mengangkat citra ‘Ar’ur, Ibnu ‘Ar’ur, ‘Adnan bin Ahmad ‘Ar’ur.

Periode kedua: Rekomendasinya yang berlebihan terhadap orang-orang yang diragukan di antaranya Muhammad Hassan Al-Quthbiy yang terbakar, di antara mereka Ahmad As-Sudaniy As-Surkatiy pendiri Yayasan Al-Irsyad di Indonesia, dan Ahmad As-Surkatiy kalau di lihat latar belakangnya dia di zaman Hasan Al-Banna, dia punya ucapan-ucapan yang menunjukkan bahwa dia berada di atas manhaj yang sama dengan Al-Banna, di antara ucapannya: bahwa dia memuji syi’ah dan berkata: “Syi’ah adalah golongan kami, sekalipun demikian dan demikian. Dan al-wahhabiy juga golongan kami, dan pengikut khurofat juga golongan kami” dan seterusnya dari ungkapan-ungkapan yang merupakan penerapan terhadap kaidah saling memaafkan dan kerja sama (kita ta’awun pada apa yang kita sepakat padanya dan kita saling memaafkan pada apa yang kita berselisih padanya). Dan ini adalah kaidah Al-Manar pada awalnya, kemudian menjadi kaidah Ikhwanul Muslimin, kaidah fajir tadi yang membuka lebar pintu bagi seluruh golongan bersama ahlus sunnah baik itu golongan sesat yang menisbahkan dirinya kepada Islam seperti Rafidhah atau yang tidak menisbahkan dirinya kepada Islam seperti Yahudi dan Nashroni, dan aku telah membicarakan kaidah ini di beberapa tempat. Dan orang yang duduk-duduk denganku mengetahui yang demikian itu dariku. Dan kalian akan mendapati ini di studio Ibnu Rojab, di dars-dars dan pertemuan-pertemuan aku membicarakannya dengan apa yang aku pandang bahwasanya waktunya sekarang ini tidak cukup luas untuk membicarakannya di sini.

            Asy Syaikh Ali –semoga Alloh memperbaiki keadaan kami dan dirinya- memuji orang ini –yaitu As Surkatiy- dengan tazkiyah yang besar. Ketika dia ditanya apakah orang ini salafiy? Dia menjawab: “Bukan salafiy, bahkan beliau adalah syaikh salafiyyin!!” aneh, seandainya dia berkata: “Orang ini adalah salafiy,” maka masalahnya ringan. Akan tetapi “Syaikh salafiyyin”! ini adalah bencana besar. Orang ini mengucapkan seperti ini, jadi syaikh salafiyyin? Di sini sebenarnya ada pertanyaan: apakah Asy Syaikh Ali tahu perkataan orang ini ataukah tidak mengetahuinya? Apabila dia tidak tahu, mengapa dia menjadikannya sebagai Syaikh? Apabila dia mengetahui maka sungguh dia telah terjatuh kepada yang lebih mungkar, seseorang yang mengucapkan suatu ucapan seperti ini kemudian kamu katakan sebagai Syaikh Salafiyyin. Maka cocoklah di sini perkataan seorang penyair :

فإن كنت لا تدري فتلك مصيبة **** وإن كنت تدري فالمصيبة أعظم

“Apabila Engkau tidak mengetahui maka itu adalah suatu musibah. Dan jika engkau mengetahui maka musibahnya lebih besar.”

Kemudian sampai kepada kami dari dia pujian-pujian dan perkataan-perkataan yang keras, pembelaan, penjelasan dan di antaranya terhadap jam’iyah ihyat turots di Kuwait yang telah menyimpang, yang dia itu hampir serupa di lapangan dakwah terkumpul padanya suatu yang bagus dan buruk, yang dia memuji padanya dan menyeru untuk bergabung dengannya, maka ketika pujian-pujian ini secara hakikat adalah beban baginya, yang aku mengira demikian ini telah sampai kepada kalian, yang sesungguhnya orang ini tidak dapat dipegang pujian-pujiannya dan sesungguhnya dia adalah orang yang tidak mempunyai kedudukan pada masalah ini.

            Masih tersisa perkataannya yang ada di dalam kitab-kitabnya : kitab-kitabnya yang terakhir aku tidak menasehatkan orang untuk membacanya karena di dalamnya ada hal-hal yang tidak cocok dengan ahlussunnah, dan di lain pihak dia memuji orang-orang yang terpengaruh dengan pemahaman bid’ah dan hal-hal yang baru seperti Muhammad  Hassan dan ‘Adnan ‘Ur’ur dan selain mereka. Adapun apa-apa yang bertahun-bertahun sebelum ini maka tidak apa-apa untuk dibaca. Dia mempunyai kitab yang dipuji oleh mereka, saya belum membacanya yang judulnya “Fiqhul Waqi’ Bainan Nazhoriyyah wat Tathbiq”, dan dia mempunyai kitab-kitab yang berhubungan dengan hadits, sepertinya di dalam masalah sholat di antara tiang dan selainnya yang bermanfaat, adapun kitab-kitabnya yang baru yang berkaitan dengan dakwah di lapangan maka aku tidak menasehatkan untuk membacanya. Benar, adapun orang yang kuat keilmuannya dan punya pemikiran yang luas di dalam sunnah maka dia bisa untuk membacanya dan bisa mengetahui apa yang ada di dalam jiwa orang ini apabila ingin membantahnya dengan bantahan yang ilmiyyah dan mendasar, atau menasehatinya apabila memungkinkan. Terkadang wajib untuk membantahnya apabila kitab-kitab ini telah tersebar di daerahnya dan terfitnah dengannya manusia untuk dijelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya, agar manusia tidak tertipu dengannya.

Sampai saat ini kami tidak mengatakan  Al-akh ‘Ali sebagai seorang mubtadi’ yang sesat tetapi aku menasehatkan agar orang-orang tidak menuju kepadanya –yakni orang-orang yang ada di luar daerahnya-, adapun orang-orang yang ada di daerahnya, maka secara zhohir mereka butuh kepadanya dan mereka juga butuh kepada orang yang lebih rendah darinya, karena kami tidak mengetahui di daerahnya ada seorang alim setelah Al-albani yang kembali kepadanya perkataan-perkataan dan fatwa-fatwa serta hukum-hukum –aku tidak mengetahui seorang pun sampai saat ini, maka keadaan kembalinya fatwa kepadanya di daerahnya dan mereka mengambil darinya hadits-hadits dan penjelasan kitab-kitab aqidah yang murni, maka tidak ada larangan padanya insyaAlloh. Adapun orang-orang yang di luar daerahnya untuk mengambil ilmu darinya maka tidak boleh, karena sekarang adalah waktu pertempuran yang sengit dan dia telah mengeluarkan pedangnya yang tajam terhadap ahlussunnah tanpa belas kasih, semoga Alloh mengampuni kita dan dia, dan semoga Alloh mengembalikan dia kepada kebenaran dengan bagus.”

Selesai penukilan dari situs “As Sahab”. (Saya dapatkan faedah ini dari “Aljabiri ma’al Halabi” karya Al-akh Abu Ibrohim Ali Mutsanna hafizhohulloh ).

            Maka di mana kecemburuanmu wahai doktor Abdulloh Al Bukhori ? Pantaslah untuk syaikh-mu perkataan Syaikh Robi’ Al Madkholiy hafizhohulloh kepada Falih Al Harbiy ketika dia menganjurkan para pemuda untuk mengambil faedah dari kitab “Zhilalul Qur’an”: “Bagaimana engkau menganjurkan para pemuda kepadanya dan engkau katakan “Ambillah faedah darinya”? Ini adalah pemikiran Quthbiyyah darimu wahai Falih. Apakah engkau punya hubungan yang tersembunyi dengan mereka, engkau tampakkan seakan-akan engkau mencela mereka dan batinmu menyembunyikan hal yang lain?!! Apa jawabanmu?! Ini adalah tipuan wahai Falih! Apakah kamu mengira ini adalah nasehat! Apakah engkau berbuat kepada ahlussunnah dengan kelembutan  seperti ini! Apakah engkau tidak tahu bahwa engkau menjadi bos mumayyi’iin?!” (“Kalimah fit Tauhid”/hal. 95).

            Sesungguhnya ‘Ali Hasan Al Halabiy ketika dia menyembunyikan bid’ahnya itu seperti kalajengking yang menyembunyikan kepalanya sambil mengintai, sebagaimana perkataan Al Imam Al Barbahariy rohimahulloh: “Permisalan pemilik bid’ah itu seperti kalajengking-kalajengking yang mengubur kepala dan badannya di dalam tanah, dan mengeluarkan ekor-ekornya. Ketika dia merasa mampu maka saat itu dia menyengat. Maka demikianlah ahlul bid’ah: mereka bersembunyi di antara manusia kemudian di saat punya kemampuan, mereka mengeluarkan apa-apa yang mereka inginkan.” (“Tobaqot Hanabilah”/2/hal. 44/tentang terjemah Al Imam Hasan bin ‘Ali Al Barbahariy/ cetakan Darul Ma’rifah).

            Barangsiapa yang mengetahuinya maka tidak boleh untuk menganjurkan manusia kepada dia dikarenakan besarnya bahaya yang ada di belakangnya, terlebih lagi jika kalajengking ini berhias. Engkau sendiri wahai Doktor, di dalam kitabmu “Al Fathur Robbani” (hal. 176/terbitan Darul Majid Al ‘Usairiy” menukilkan perkataan yang bagus dari Mufadhdhol bin Muhalhal rohimahulloh: “Apabila pemilik bid’ah kemudian engkau duduk di sampingnya dan dia berbicara denganmu tentang bid’ahnya, kamu akan berhati-hati dan lari darinya. Akan tetapi jika dia berbicara denganmu tentang hadits-hadits sunnah di awal pembicaraannya, kemudian masuk bid’ahnya ke dalam dirimu yang mengakibatkan hatimu menjadi terikat dengannya, maka kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu?” (“Al-Ibanah Al Kubro”/2/hal. 444).

            Maka atsar-atsar ini menunjukkan atas kuatnya perhatian salafus sholih dan jauhnya pandangan mereka di dalam hal-hal yang berbahaya, tidak seperti yang dilakukan Syaikhmu Al Jabiriy. Maka bagaimana jika kalajengking ini telah mengumumkan peperangan, dan telah berkecamuk, dan telah mengeluarkan seluruh persenjataannya guna menyerang salafiyyin sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhmu? Bagaimana dia menganjurkan orang-orang Syam untuk belajar kepadanya dengan alasan mengambil faedah dari ilmu-ilmunya karena dia paling pandai di sana sepeninggal Al Imam Al-Albani rohimahulloh? Maka ini bukanlah suatu nasehat. Al Halabiy bukan hanya memberikan faedah dari ilmunya saja, bahkan dia menjadikan mereka sebagai pasukannya sehingga menjadi pasukan kalajengking-kalajengking seperti dia, sebagaimana terjadi di dalam kebanyakan penuntut ilmu kepada ahlul bid’ah. Maka menganjurkan orang-orang kepada dia adalah tipuan terhadap ummat dan bukanlah suatu nasehat.

            Al Imam Al Barbahariy rohimahulloh berkata: “Dan tidak boleh menyembunyikan nasehat kepada muslimin –baik itu orang bagus ataupun orang jahat- di dalam masalah agama. Barangsiapa menyembunyikannya, maka telah menipu muslimin, dan orang yang menipu muslimin maka sungguh telah menipu agama, barangsiapa menipu agama maka telah mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya serta kaum muslimin.” (“Syarhus Sunnah”/hal 29-30/Darul Atsar).

            Wahai Abdulloh Al Bukhoriy, apabila engkau tidak mampu untuk berbicara karena kecintaanmu pada Syaikhmu, maka jangan engkau lemah di dalam menampakkan bekas-bekas kecintaan pada ummat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Kalaulah di dalam hatimu ada kecintaan maka akan tampak bekas-bekasnya pada jasadmu.” (“Bada-i’ul Fawaid”/3/hal. 731).

            Adapun orang-orang yang telah diserang oleh ‘ashobiyyah terhadap Syaikhnya maka dia akan mendahulukan Syaikhnya atas sunnah dan salafiyyah dan ummat Muhammadiyah yang akan menjerumuskannya ke dalam penipuan yang besar, maka ini adalah kerugian yang besar.

Ketika dikatakan kepada Abdulloh Al Bukhoriyy: “Sesungguhnya salah seorang yang ta’ashshub kepada Al Hajuriy –menurut persangkaannya- berkata “sesungguhnya Syaikh ‘Ubaid memusuhi Sunnah” maka diapun berkata: “Tidak ada seorangpun yang berkata demikian kepada Syaikh ‘Ubaid bahwa dia memusuhi sunnah kecuali dialah yang memusuhi sunnah, barangsiapa yang berkata demikian kepada Syaikh ‘Ubaid maka dia berhak dengan sifat ini semoga Alloh menghancurkan orang yang mengatakan ini, dan baginya dari Alloh apa-apa yang pantas. Ini adalah dusta dan kejahatan murni –barokallohu fiik-. Tidaklah yang mengulang-ngulang perkataan ini atau mengucapkan kecuali seseorang yang terfitnah besar, bukanlah Syaikh ‘Ubaid memusuhi sunnah dan bukan pula musuh sunnah, bahkan merekalah pemicu masalah-masalah di dalam sunnah.”

Saya berkata -waffaqoniyalloh-:

Maka tampak dari perkataannya bahwa Doktor Abdulloh Al Bukhoriy menginginkan untuk menjadikan Syaikhnya ‘Ubaid Aljabiri sebagai batu ujian, yakni barangsiapa yang mencelanya maka dia itu yang tercela.

Jawaban saya yang pertama: telah diketahui oleh semuanya bahwasanya para imam salaf telah menjadikan sebagian tokoh sebagai batu ujian bagi manusia. Contohnya adalah ucapan Abdurrohman bin Mahdi: “Jika engkau melihat ada orang Syam yang mencintai Al Auza’iy dan Abu Ishaq, maka tenanglah engkau kepadanya.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 542).

Beliau juga berkata: “Ujilah penduduk Maushil dengan Al Mu’afa –yaitu Ibnu ‘Imron-” (“Siyar A’lamin Nubala”/9/hal. 82).

Contoh semacam ini banyak. Dan Al Imam Ash Shobuniy رحمه الله telah menyebutkan sejumlah besar dalam kitab beliau “Aqidatus Salaf”. Akan tetapi penetapan emas ini tidaklah keluar kecuali dari ahli jarh wat ta’dil, bagi orang yang telah diuji Alloh dan berhasil sehingga menjadi imam dalam ilmu dan sunnah serta kekokohan. Adapun doktor Abdulloh Al Bukhoriy, maka orang yang memperhatikan ucapan-ucapannya dalam dialog tersebut secara adil dan bersih dari hawa nafsu akan mengetahui bahwasanya si doktor ini kedua kakinya tidak menancap dalam ilmu, ataupun sunnah ataupun salafiyyah, dan tidak pula bersih dari fanatisme, dan tidak pula ahli dalam jarh wat ta’dil.

Demikian pula syaikhnya tidak pantas berada pada kedudukan yang tinggi tadi bersamaan dengan telah nampaknya penyimpangannya sebagaimana telah lewat penjelasannya.

Kedua: seharusnya si doktor menuntut hujjah dari orang-orang yang men-jarh, dan melihat jenis kesalahan syaikhnya jika dirinya memang tidak mengetahuinya. Adapun sekedar bersikap keras dan reaktif tanpa memandang bukti-bukti yang dibawakan oleh pihak pen-jarh, dan langsung mencerca orang yang mencerca syaikhnya, maka seperti ini bukanlah jalan orang yang berilmu, adil dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran.

Ketiga: barangsiapa memperdalam pandangannya terhadap kebatilan Ubaid Al Jabiriy –sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para ulama dan penasihat tersebut- dia akan tahu jauhnya Ubaid dari sunnah, terutama peringatan dirinya terhadap orang-orang agar menjauh dari benteng ilmu dan sunnah yang terbesar di Yaman: Darul Hadits Dammaj.

Manakala dikatakan pada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمه الله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang diklaim oleh sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan dan penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”

Maka beliau رحمه الله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj. Mekkah sekarang dimasuki Khowwanul Muslimin. Mereka merusaknya, demi Alloh. Yang menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.” Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang ini.” (Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Maka orang yang menghalangi manusia dari belajar di Darul Hadits Dammaj, maka sungguh ini merupakan sikap melampaui batas terhadap sunnah, bahkan cocok untuknya perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan tidaklah menghalangi manusia dari ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan polisi-polisinya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).

Dan perkataan beliau رحمه الله: “Dan jenis yang keempat: para wakil Iblis di bumi, dan mereka itu adalah orang-orang yang melemahkan manusia dari mencari ilmu dan memperdalam pemahaman terhadap agama. Maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia daripada setan-setan jin, karena mereka itu menghalangi hati dari petunjuk Alloh dan jalan-Nya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 160).

Al Akh Abdurrohman Abdulloh Al ‘Imad حفظه الله berkata: “Bahkan al akh Abul Fida As Sudaniy bahwasanya mereka berjumpa dengan Syaikh kami al muhaddits al ‘allamah Robi’ Al Madkholiy حفظه الله pada awal hari dari hari-hari Idul Fithr yang diberkahi pada tahun 1429 H, lalu mereka menanyai beliau tentang orang yang mentahdzir manusia dari Dammaj. Maka beliau menjawab: “Ini adalah pengekor hawa nafsu.” Dst. (“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku tidak menyetujui Asy Syaikh ‘Ubaid dalam tahdzirnya dari Dammaj sama sekali. Andaikata aku tahu bahwasanya ini ada di “Sahab” pastilah kukatakan pada ikhwah untuk menghapusnya. Dan tidaklah seluruh apa yang ada di “Sahab” telah aku lihat.”

Ini diucapkan pada malam Rabu 3 Jumadal Akhir 1430 H.

Dan saudara yang mulia Abu Hammam Ash Shouma’iy Al Baidhoniy mengabariku dengan yang demikian itu, dia berkata: “Aku masuk menemui Asy Syaikh Robi’ dan kukabari beliau dengan masalah Asy Syaikh Ubaid dan tahdzirnya terhadap belajar di Darul Hadits di Dammaj, dan bahwasanya itu tersebar di “Sahab”, maka Asy Syaikh Robi’  menjawab dengan jawab yang telah lewat tadi.”

 (Selesai penukilan dari situs “Al ‘Ulumus Salafiyyah” dari sanad akh Mahdi bin Ibrohim Asy Syabwiy/“Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Keempat: tambahilah jawaban tadi dengan penjelasan bahwasanya di markiz ini sunnah sangat makmur sampai-sampai para pelajar bisa menghidupkan banyak dari sunnah-sunnah -seperti sholat dengan memakai sandal, mempergunakan tenda di masjid ketika i’tikaf, dan yang selain itu- yang mana hal itu tidak mudah dijalankan di banyak tempat di dunia, bahkan di masjidil Harom dan masjid Nabawiy –semoga Alloh menambahi kemuliaan keduanya-. Maka barangsiapa mentahdzir manusia dari markiz yang seperti ini, dan berupaya mengeluarkan para penghuninya darinya, maka sungguh dia itu telah memusuhi sunnah.

Kelima: si doktor telah menjadikan syaikhnya sebagai ujian bagi manusia, dan dirinya lupa bahwasanya Al Imam Al Mujaddid Al Muhaddits Al Albaniy رحمه الله telah menjadikan Al Imam Muqbil Al Wadi’i رحمه الله sebagai salah satu ujian bagi manusia seraya berkata: “Maka orang-orang yang mengkritik kedua syaikh tadi –sebagaimana akan datang penyebutannya- mungkin saja dia itu orang bodoh sehingga perlu diajari, dan bisa jadi dia adalah pengekor hawa nafsu, maka kita mohon pada Alloh dari kejelekannya. Dan kita mohon pada Alloh عز وجل untuk memberinya petunjuk, atau mematahkan punggungnya.”

Dan doktor Abdulloh telah mencerca Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله maka silakan si doktor memilih untuk dirinya sendiri apa yang diinginkannya dari dua kemungkinan: sebagai orang bodoh ataukah sebagai pengekor hawa nafsu.

Keenam: Abdulloh Al Bukhoriy telah mengakui bahwasanya syaikhnya itu, Ubaid, bukanlah orang ma’shum (terjaga dari kesalahan), seraya berkata: “Kami tidak mensucikan Asy Syaikh Ubaid bahwasanya beliau itu aman dari fitnah. Maka orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah.” Jika dirinya telah mengakui ini, maka tidak pantas baginya untuk fanatik pada syaikhnya tadi. pembelaan yang mutlak hanyalah untuk Alloh dan Rosul-Nya yang ma’shum tersebut صلى الله عليه وسلم , dan tidak boleh baginya untuk menjadi reaktif dan ngawur dikarenakan diarahkannya kritikan-kritikan terhadap syaikhnya tadi, seakan-akan syaikhnya itu adalah timbangan kebenaran. Bahkan dirinya –dan seluruh manusia- itu harus menjadikan Alloh dan Rosul-Nya sebagai hakim. Dan dalil dalam masalah ini telah diketahui. Maka hendaknya si doktor melihat kepada hujjah orang yang mengkritik sebagaimana telah lewat, lalu menerima kebenaran dan tunduk padanya, meruntuhkan kebatilan dan menolaknya, hingga agama itu seluruhnya menjadi milik Alloh.

            Ketujuh: saya ingatkan engkau –wahai doktor- atas apa yang pernah engkau ucapkan pada fitnah Abul Hasan: “Mengingatkan diriku dengan perkara yang terjadi antara Hasan bin Umaroh Al Bajaliy dengan Amirul Mukminin fil hadits Syu’bah bin Hajjaj رحمه الله , sebagaimana disebutkan di biografi Al Hasan di kitab “Al Majruhin” karya Alhafizh Ibnu Hibban Al Busti rohimahulloh manakala dihikayatkan oleh Ibnu Hibban perkataan-perkataan ulama tentang Alhasan! Diantaranya adalah Syu’bah yang mencelanya dengan celaan yang keras, maka Al Hasan Al Bajali ketika mendengar yang demikian ini dia berkata: “Semua manusia aku maafkan kesalahannya kecuali Syu’bah, maka aku tidak memaafkannya sampai aku berdiri bersamanya di hadapan Alloh untuk Alloh menghukumi di antara kami berdua.” Kemudian Ibnu Hibban memberikan tambahan: “Bencana Al Hasan bin Umaroh, di antaranya adalah: dia mentadlis orang-orang tsiqoh dengan orang-orang yang dho’if, yakni dia mendengar dari musa bin Mutir, dan Abul ‘Athuuf, dan Abaan bin Abi ‘Ayyaasy dan yang semisalnya, kemudian dia menggugurkan nama-nama mereka dan menggantikan dengan Syaikh-Syaikh mereka yang tsiqoh. Maka ketika Syu’bah melihat hadis-hadis maudhu’ yang diriwayatkan oleh Al Hasan dari orang-orang yang tsiqoh, maka dia mengingkari Al Hasan dan melontarkan jarh terhadapnya, sedangkan Syu’bah tidak mengetahui bahwa di antara Al Hasan dan orang-orang tsiqoh tadi ada orang-orang yang pembohong itu. Maka seakan-akan Al Hasan sendirilah yang telah berbuat kejelekan terhadap dirinya sendiri dengan cara mentadlis orang-orang yang pendusta ini, dan menjatuhkan mereka dari sanad dari hadits-hadits tersebut sehingga hadits-hadits yang maudhu’ tadi ditempelkan pada dirinya. Dan aku berharap Alloh mengangkat derajat Syu’bah di jannah dengan derajat-derajat yang tidak bisa dicapai oleh orang lain kecuali orang yang beramal seperti amalannya, dengan beliau menolak kedustaan yang hendak disandarkan kepada orang yang Alloh عز وجل kabarkan tidak berbicara dari hawa nafsu, yang ada hanyalah wahyu yang diwahyukan صلى الله عليه وسلم .”

(selesailah penukilan Abdulloh Al Bukhoriy dari “Al Majruhin” (1/hal. 229). “Al Fathur Robbaniy” (hal. 251/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

Aku katakan -semoga Alloh Subhanahu wata’ala memberikan taufiq- : Maka Syaikhmu Ubaid al Jabiriy dia adalah yang bersalah kepada dirinya sendiri dengan sebab dia membawa bencana itu, dengan bersombong terhadap nasehat persaudaraan yang benar dari sebagian ulama, bahkan terus-menerus dia memusuhi ahlul haq hingga akhirnya singa sunnah mengarahkan kepadanya panah-panah merah.

Yang kedelapan: Abdulloh Al Bukhoriy telah mengakui tidak tahunya dia terhadap permusuhan Ubaid terhadap sunnah, dia berkata: “Kami tidak mengetahui ini ada pada Syaikh Ubaid bahwa dia memusuhi As Sunnah. Kami tidak mengetahui dari syaikh bahwa dia memusuhi As Sunnah”. Dan tidak adanya keilmuan dia terhadap sesuatu itu tidaklah mengharuskan tidak adanya sesuatu itu secara kenyataan. Al Imam Ibnu Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tidaklah tidak adanya pengetahuan tentang suatu perkara itu menunjukkan tidak adanya perkara itu.” (“I’lamu l Muwaqqi’in”/1/hal. 260/cet. Darul Hadits).

Dan tidak pantas bagi Abdulloh Al Bukhoriy untuk menjadikan tidak adanya pengetahuan dia terhadap hal itu sebagai hujjah bagi dia di dalam mematahkan bantahan salafiyyin terhadap syaikhnya. Bahkan yang tepat adalah bahwa orang yang tahu itu menjadi hujjah terhadap orang yang tidak tahu. Syaikhul Islam rahimahulloh berkata: “Dan orang yang menetapkan sesuatu dengan menyebutkan bukti merupakan hujjah bagi orang yang tidak menetapkan.” (Ash Shorimul Maslul”/1/hal. 142).

Yang kesembilan: apabila engkau katakan sebagai misal: “Sesungguhnya Syaikh Ubaid aku lihat dia menegakkan sunah ini dan itu.” Kami katakan: “Sesungguhnya kalimat “Musuh sunnah” tidak melazimkan seseorang itu memusuhi sunnah di seluruh sisi, sebagaimana kalimat “Musuh Alloh” yang digunakan oleh salafus sholeh itu tidak dimaksudkan bahwasanya orang yang dijuluki dengan ungkapan ini menjadi musuh Alloh di seluruh keadaan. Lihatlah Ibnu Abbas ketika dikatakan kepada dia, bahwa Nauf Al Bikaliy menyangka bahwa Musa yang menjadi sahabat Al Khodhir itu adalah bukan Musa bani Israil, hanya saja Musa yang lain. Maka beliau menjawab: “Telah berdusta musuh Alloh…” dan hadits tersebut ada di “Shohihain” ([18]), dan perkaranya sebagaimana aku katakan kepada engkau, dan tidak ada dari salaf yang mengatakan  tentang Ibnu Abbas rodhiyalloh ‘anhuma: “ini adalah ghuluw, hadadiyah, barangsiapa yang berkata ini maka dia adalah musuh Alloh” atau yang selainnya dari perkataan yang tidak benar.

Bab Enam:

Abdulloh Al Bukhoriy menelantarkan Ahlul Haq, Bahkan Menyerang Mereka Setelah Itu

Doktor Abdulloh Al Bukhoriy memuji daurahnya yang ada di Indonesia dengan berkata: “Baiklah, apa-apa yang di dalamnya ada manfaat yang besar alhamdulillah, dan tidak akan kita ikut-ikut dalam omong kosong, dan kita tidak mentololkan seorangpun. Dan manfaatnya untuk manusia.”

Aku katakan semoga Alloh Subhanahu wata’ala memberikan taufiq:

Abdulloh Al Bukhoriy telah mengetahui hujjah Ahlussunnah atas hizbiyah para Mar’iyyun dan makar serta pemberontakan mereka, Tapi bersamaan itu dia memenuhi panggilan mereka bahkan memberikan ceramah di daurah mereka berulangkali, tanpa dia jelaskan kejelekan mereka di hadapan manusia, tidak memperingatkan umat dari mereka, maka ini adalah bentuk penelantarannya terhadap Ahlussunnah.

Di manakah hadits Abu Huroiroh rodhiyalloh ‘anhu berkata Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam:

«لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا. المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله، ولا يحقره».

“Jangan kalian saling dengki, jangan kalian menambah harga barang jualan tanpa maksud membelinya, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan kalian membatalkan jual beli saudara kalian, jadilah kalian saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzoliminya, tidak menelantarkannya, tidak merendahkannya”. (HR. Muslim (2564)/ Dar Ibnil Jauziy).

Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata:Tidak menelantarkannya yakni ketika saudaranya itu sedang amar ma’ruf dan nahi munkar, atau ketika dia sedang menuntut haknya, bahkan menolongnya dan membantunya dan membela dia dari gangguan semampunya” .(“Syarah Arba’inin Nawawiyyah”/ hal.249-251 / cet. Maktabatul Anshor).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh berkata: Tidak menelantarkannya yakni (tidak menelantarkannya) di posisi ketika dia suka apabila ditolong.”

Beliau rohimahulloh juga berkata saat menyebutkan faidah hadits tersebut: “… Yang keenam: penjelasan keadaan seorang muslim bersama saudaranya, yakni tidak menzoliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya, tidak merendahkannya, karena semua ini menafikan ukhuwah imaniyah.” (“Syarah arba’inin Nawawiyyah”/ hal.249-251/dar salafiyah/ maktabah anshor).

Di manakah perkataan Rosululloh صبى الله عليه وسلم:

«المؤمن للمؤمن كالبنيان المرصوص ؛ يشد بعضه بعضا» وشبك بين أصابعه

Seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu sebagaimana bangunan yang kokoh, menguatkan satu dengan yang lain,”

Sambil beliau menjalin di antara jari-jemari kedua tangan beliau. (HR. Al Bukhoriy (2446) dan Muslim (2585)).

Dan perkataan Rosululloh صلى الله عليه وسلم:

«مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد؛ إذا اشتكى منه عضو؛ تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر»

“Permisalan seorang mukmin di dalam saling cinta mereka, dan saling kasih sayang mereka, dan saling menolong mereka itu seperti jasad manusia, apabila salah satu bagian tubuhnya sakit maka seluruh tubuh saling memanggil dengan menjadi panas dan tidak bisa tidur.” (HR. Al Bukhoriy (6011) dan Muslim (2586)).

Wahai Abdulloh Al Bukhoriy, sungguh Syaikh kami An Nashihul Amin dan ulama Sunnah dan para penuntut ilmu yang bersama beliau –semoga Alloh Subhanahu wata’ala memelihara mereka- telah menjelaskan dengan penjelasan yang banyak terhadap:

– kedustaan yang banyak dari dua anak Mar’i dan pengikut keduanya,

– tipu daya mereka,

– perancuan mereka,

– pertemuan-pertemuan mereka bersama sebagian hizbiyin yang terdahulu,

– usaha-usaha pendekatan mereka dengan para hizbiyyin,

– banyaknya sikap mendiamkan kesalahan-kesalahan yang timbul di antara mereka

– lemahnya pengingkaran terhadap kemungkaran hizbiyyin yang lain,

– Demikian juga penelantaran mereka (tak mau menolong) terhadap orang-orang yang memberikan nasehat dan suka membela agama dari perusakan yang dilakukan oleh orang-orang salah

– menipu para pemuda dengan angan-angan

– kedustaan dan kebohongan terhadap orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– celaan  terhadap orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– tidak memenuhi nasehat orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– memutar balik kenyataan,

– perancuan,

– pengkaburan,

– menjauhkan thullab dari orang-orang yang memperbaiki dan menasehati di dalam agama,

– penipuan,

– dusta,

– adu domba di antara ulama,

– memiliki banyak wajah, sesuai dengan siapa yang sedang dihadapi,

– penggunaan taqiyah dan bersembunyi,

– sikap dan ucapan yang saling bertolakbelakang, sesuai hasrat dan tujuan,

– penggunaan lafaz-lafaz umum yang mutlak,

– sistem keorganisasian dan pengumpulan massa secara diam-diam,

– mencurahkan perhatian untuk memperbanyak anggota, tapi lemah dalam memperbaiki langkah,

– menimbulkan fitnah serta memecah belah salafiyin,

– makar serta tipudaya

– bersatu menurut maslahat pribadi dan keduniaan,

– memuji sebagian orang yang menyeleweng,

– menolak kabar orang-orang tsiqoh,

– menghalangi orang-orang dari buku-buku dan kaset-kaset yang menjelaskan kesalahan,

– mengintai dan mendoakan kecelakaan dan kehancuran orang mengkritik dan memberikan nasihat,

– mengangkat syiar “membela orang yang terdholimi” dan “keadilan” dalam rangka menjelekkan kehormatan pengkritik dan pemberi nasehat, dan menarik belas kasihan orang,

– tidak adanya ittiba’ terhadap salaf di dalam mendirikan markaz,

– membuka jalan untuk mendirikan jam’iyah,

– bermuka manis dan mendekat pada orang-orang yang diharapkan manfaatnya,

– membuat sempit ahlussunnah yang kokoh,

– merebut masjid-masjid ahlussunnah dengan berbagai tipu daya,

– menjerumuskan ahlussunnah di dalam kesulitan dengan memakai tangan-tangan pemerintah,

– membuat kaidah-kaidah dan ushul-ushul baru dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingan mereka,

– menghancurkan ushul-ushul ahlus sunnah,

– mengangkat syiar “at tasabut/meneliti kabar” dalam rangka menolak nasehat,

– berdalil dengan diamnya para ulama,

– bertameng dengan sebagian ulama dalam menyelisihi kebenaran,

– berkhianat di dalam menukil berita dengan jalan merubah makna,

– berbagai macam usaha untuk bisa mendapatkan harta dengan dalih untuk dakwah,

– memanfaatkan kotak-kotak infaq dan selainnya guna menumpuk harta, dan lain sebagainya.

Keburukan ini semua benar-benar terwujud di kalangan mar’iyyin, dan sungguh kami telah merasakan pahitnya ini semua. Maka di manakah kecemburuan engkau terhadap agama apabila engkau mencintai Alloh Subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam dalam keadaan engkau menisbatkan dirimu pada assalafiyah?

Wahai pembaca yang budiman, berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh: “Orang-orang yang mempunyai pengetahuan terhadap apa-apa yang Alloh Subhanahu wata’ala utus dengannya Rosul Shollallohu ‘alaihi wasallam dan dengan apa-apa yang ada padanya Rosul Shollallohu ‘alaihi wasallam dan shahabatnya, mereka melihat bahwa kebanyakan orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan dalam agama, ternyata menjadi orang yang paling rendah nilai keagamaannya, wallohul musta’an. Maka agama yang mana, dan kebaikan yang mana, bagi orang yang melihat larangan-larangan Alloh Subhanahu wata’ala dilanggar, hukum-hukum-Nya diremehkan, agama-Nya ditinggalkan, dan Assunnah Shollallohu ‘alaihi wasallam dibenci, sementara orang ini hatinya dingin, lidahnya beku, syaithon yang bisu, sebagaimana orang yang bicara dalam kebatilan adalah syaithon yang berbicara. Dan tidaklah rusaknya agama itu kecuali dari orang-orang yang apabila selamat bagi mereka  perut-perut mereka dan kedudukan mereka, mereka tidak peduli dengan apa-apa yang terjadi terhadap agama ini. Paling bagusnya dari mereka ini adalah orang-orang yang cukup merasa sedih saja sambil lidahnya berkecap-kecap. Seandainya mereka ini diambil bagian mereka walaupun sedikit dari kedudukan atau harta mereka niscaya mereka akan menumpahkan segenap kemampuan dan kesungguhan mereka, dan menggunakan semua tingkatan-tingkatan ingkarul mungkar yang tiga sesuai kemampuan mereka. Mereka ini bersamaan dengan jatuhnya mereka di hadapan Alloh Subhanahu wata’ala dan kemarahan-Nya, telah tertimpa musibah yang terbesar di dunia –yang mereka tidak sadar- berupa matinya hati, karena hati selama kehidupannya sempurna maka kemarahan dia karena Alloh Subhanahu wata’ala akan lebih kuat, dan pembelaan dia terhadap agama lebih sempurna.” (“I’lamul muwaqi’in”/2/hal. 230).

Demikian juga keadaan doktor yang tertimpa ashobiyah ini. Mulutnya bersih dari berbicara tentang hizbul jadid, tapi dia memenuhinya dengan cercaan dan umpatan terhadap ahlus Assunnah yang cemburu terhadap agama dan kokoh.

Bab Tujuh:

Penghinaan Abdulloh Al Bukhoriy

Abdulloh Al Bukhoriy berkata kepada pengikutnya: “Kalian tidak sibuk dengan orang-orang dungu itu”, “Jangan kalian masuk di dalam perdebatan dengan orang-orang yang dungu itu.” Dan dia berkata pada kali yang lain: “Kalian jangan sibuk dengan orang-orang dungu itu,” “Tinggalkan orang-orang dungu itu,” “Dan mereka melihat kekacauan dan ketololan ini”, “Dari markiz itu, yang di dalamnya ada ketololan seperti ini, dan di dalamnya ada kedunguan ini,” “Wahai saudaraku, aku ulangi: kalian jangan sibuk dengan orang-orang dungu di tempat kalian.”

Yang dia maksud dengan orang-orang dungu adalah para penuntut ilmu yang tegak bersama Syaikh kami An Nashihul Amin hafizhohumulloh.

            Demikianlah, banyak sekali doktor berkata: “dungu” terhadap ahlul haq, yang dia telah mewarisi kebiasaan orang-orang kafir, berkata Alloh Subhanahu wata’ala:

﴿قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ﴾ [الأعراف/66].

“Berkata pembesar-pembesar dari orang-orang kafir dari kaumnya: “Sesungguhnya kami melihat engkau dalam kedunguan dan kami menyangka engkau sebagai orang yang dusta.” (Al a’raf: 66).

            Alloh Subhanahu wata’ala  berfirman tentang Nabi-Nya ‘alaihi assalam:

﴿قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِين * أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِين﴾

“Wahai kaumku tidak ada padaku kedunguan, akan tetapi aku adalah Rosul dari robbul ‘alamin. Aku sampaikan kepada kalian risalah Robbku dan aku adalah pemberi nasehat yang terpercaya.” (Al a’raf: 67-68).

            Dan lidah keadaan para pewaris para Nabi -Syaikh kami dan ulama yang bersama dengan beliau hafizohumulloh, berkata: “Wahai doktor, tidak ada di sisi kami kedunguan, akan tetapi kami adalah penyampai risalah Robb kami, dan kami adalah orang-orang yang terpercaya dan memberikan nasehat untuk kalian.”

            Maka ahlul haq merasa gembira dengan bagian mereka berupa warisan dari para Nabi, sementara bagian doktor Abdulloh Al Bukhoriy di dalam bab ini adalah sebagaimana yang telah terdahulu.

            Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam qosidahnya “An Nuniyyah” (2:195-196/syarh Al Harros/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah) berkata:

والناس قد ورثوه بعد فمنهم*** ذو السهم والسهمين والسهمان

بئس المورث والمورث والترا***ث ثلاثة أهل لكل هوان

يا وراثين نبيهم بشراكم*** ما إرثكم مع إرثهم سيان

“Dan manusia telah mewarisi darinya setelah itu, di antara mereka ada yang mendapatkan satu bagian, atau bagian yang banyak, atau dua bagian. Sungguh jelek sekali orang yang mewariskan, orang yang diwarisi, dan barang warisan tersebut. Ketiganya berhak mendapatkan seluruh kerendahan. Wahai para pewaris dari Nabinya bergembiralah, tidaklah warisan kalian sama dengan warisan mereka.” (selesai).

            Dan berkata juga Abdulloh Al Bukhoriy tentang Syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya-: “Aku tidak tahu orang-orang itu“- sampai perkataannya- “Kami melarang dari belajar ke orang-orang yang tidak dikenal,” “Dan aku katakan: orang-orang yang tidak dikenal, jangan belajar pada mereka, apabila tidak dikenal dalam hal kesalafiyahannya, dan sunnahnya serta istiqomahnya, tidak boleh belajar padanya, walaupun datang dari manapun” – sampai perkataannya:- “Apa itu yang datang dari Dammaj, apa itu Dammaj? Apa di dalamnya? Yakni setiap yang datang atau lewat padanya kamu sangka sebagai sunniy? Salafiy? Sejak zaman Muqbil tidaklah demikian, kamu katakan di zaman sekarang demikian?”

            Demikianlah si doktor merendahkan ulama Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka, serta mengejeknya.

            Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Dan di antara alamat hizbiyyin adalah mengejek para ulama dan tidak butuh dengan majelis mereka. Dan ini adalah sebagian dari perkara yang menggembirakan musuh-musuh Islam, bahkan perkara yang menggembirakan syaithon, wallohulmusta’an.” (“Ghoratul Asyrithoh”/1/hal. 579/cet. Maktabah shon’a Al Atsariyyah).

            Berkata Syaikh kami Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajuriy hafizohulloh: “Hizbiyyah itu tidak menganggap keutamaan orang-orang yang mulia di sisinya, padahal Robb kita Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ﴾

“wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kalian bersuku-suku dan berqobilah-qobilah untuk saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah..”

-kelompok siapa?”

﴿عِنْدَ الله أَتْقَاكُم( [الحجرات/13]

“Di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling taqwa di antara kalian.”(QS. Al Hujurot: 13).

(“Adhrorul Hizbiyyah”/ milik beliau hafizohulloh/hal. 15).

Asy Syaikh Sholih Al Fauzan hafizohulloh berkata: “Wajib untuk memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para Nabi, barangsiapa yang meremehkan ulama berarti dia telah meremehkan kedudukan mereka dan ilmu yang mereka miliki yang diwarisi dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, dan siapapun yang meremehkan ulama maka akan lebih berani untuk meremehkan muslimin, maka ulama wajib untuk dimuliakan disebabkan ilmu dan kedudukan mereka di hadapan umat, serta tanggungjawab yang mereka pikul untuk kebaikan Islam dan muslimin, apabila tidak percaya kepada ulama kepada siapa mau percaya?….dan tidaklah seorangpun yang meremehkan ulama kecuali dia telah menjerumuskan dirinya kedalam hukuman, dan zaman telah membuktikan hal ini pada masa yang terdahulu dan sekarang ini.” (“Al Ajwibah Al Mufidah”/hal. 197).

Ini adalah penyakit yang kuno, berkata Imam Al Hakim aN Naisaburiy rohimahulloh: “Dan atas yang demikian ini kami dapati di kitab-kitab kami dan negeri-negeri kami, setiap yang menisbahkan dirinya kepada jenis ilhad dan bid’ah, tidaklah mereka melihat kepada thoifah al manshurah kecuali dengan pandangan yang meremehkan, dan menjuluki mereka sebagai Hasyawiyyah (kelompok pinggiran).” (“Ma’rifah ‘Ulumil Hadits”/1/hal. 7).

Al Imam Abu Utsman ash Shobuniy rohimahulloh berkata: “Dan ciri-ciri kebid’ahan yang ada pada pemiliknya sangat tampak dan jelas, dan alamat dan tanda mereka yang paling jelas adalah sangat kerasnya permusuhan mereka terhadap para pemikul hadits Shollallohu ‘alaihi wasallam dan peremehan serta ejekan terhadap mereka”(“Aqidatus salaf”/hal. 101).

            Dan tidaklah membahayakan ulama ahlus sunnah ketidaktahuan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap mereka, dan tidaklah mengurangi derajat mereka peremehannya terhadap mereka, sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (1/hal. 368/cet. Darul Hadits):

ما ضر شمس الضحى والشمس طالعة … أن لا يرى ضوءها من ليس ذا بصر

“Tidaklah membahayakan matahari di waktu dhuha dalam keadaan matahari itu terbit bahwasanya orang yang buta itu tidak melihat cahayanya.”

Dan perkataan Abdulloh Al Bukhoriy dalam bantahannya terhadap Syaikh Yahya: “Kalaulah yang berkata orang yang lebih tinggi dari orang ini, orang yang paling tinggi, pada dasarnya orang yang lain tidak perlu dibandingkan dengan dirinya” alur perkataannya menunjukkan sangat kuatnya peremehan dia terhadap Syaikh Yahya ro’ahulloh.

Tidakkah engkau tidak tahu ya doktor, bahwa lebih dari 4000 penuntut ilmu mengikat diri-diri mereka di dalam menuntut ilmu di hadapan majelis beliau -bukan hanya sekedar muhadhoroh-. Dan siapakah orang alim dari ulama sunah di zaman ini yang Alloh Subhanahu wata’ala jadikan hati-hati manusia mau untuk menghadapkan diri padanya, seperti imam ini? Dan berapakah orang yang hadir di majelismu? Maka ini adalah hasad, semoga Alloh Subhanahu wata’ala menghancurkan pelaku hasad tadi.

Penyair berkata sebagaimana yang disebutkan di “Tsimaril Qulub Fil Mudhof Wal Manshub” (1/hal. 94):

حسدوا الفتى إذ لم ينالوا سعيه … فالقوم أعداء له وخصوم

كضرائر الحسناء قلن لوجهها … حسداً وبغضاً إنه لدميم

“Mereka merasa dengki pada si pemuda karena mereka belum mencapai apa yang diusahakannya. Maka kaum itu menjadi musuhnya dan lawannya, sebagaimana para wanita madu yang menjadi saingan si wanita yang cantik jelita, mereka berkata tentang wajahnya dengan hasad dan kebencian: “Sesungguhnya wajahnya sangat jelek.”

Wahai doktor, tidaklah aku ingin ikut tata cara orang-orang hizbiyyin yang punya perhatian untuk memperbanyak pengikut tapi disertai dengan kelemahan dalam memperbaiki jalan dakwah mereka, akan tetapi ketika engkau menyebutkan tentang perbandingan, aku akan menyebutkan sebagian darinya, semoga engkau bisa kembali kepada kelurusanmu.

Ketahuilah bahwa peremehan Abdulloh Al Bukhoriy hadahulloh terhadap Syaikh kami An Nashihul Amin itu telah berlangsung lama. Apabila kalian baca kitab dia Al Fathur Robbaniy Fir Rodd ‘Ala Abil Hasan As Sulaimaniy”, kalian tidak akan dapati dia menyebut Syaikh kami An Nashihul Amin kecuali dua kali: di halaman 117 dan 143 (Dar Majid ‘Usairiy), tanpa menyebut namanya atau kunyahnya atau menyebut “Syaikh”, akan tetapi mengatakan: Al Hajuriy, Al Hajuriy, padahal ahlul inshof dan bashiroh telah mengetahui bahwa Syaikh kami An Nashihul Amin adalah orang pertama yang membongkar kebatilan Abul Hasan di hadapan umat, dan memperingatkan mereka darinya.

Dan yang aneh adalah bahwasanya Abdulloh Al Bukhoriy menyebut Asy Syaikh Al Buro’iy berulangkali, berkata: “Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy, Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy, Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’iy,” bersamaan bahwa Al Buro’iy -wafaqohulloh- termasuk orang yang terlambat dalam fitnah itu, dan dulu dia mati-matian dalam membela Abul Hasan Al Mishriy, sambil meremehkan Asy Syaikh Yahya, padahal dari sisi ilmu Syaikh Yahya Al Hajuriy lebih alim darinya. Dan akan datang persaksian dari Syaikhnya para ulama Yaman –Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh-.

Mungkin saja Abdulloh Al Bukhoriy bisa berkelit ke kanan dan ke kiri, akan tetapi telah tampak bukhur (uap) kedengkian dan peremehan dari kepalanya.

Ketahuilah wahai Abdulloh Al Bukhoriy, bahwa Syaikh Darul hadits di Dammaj itu lebih tinggi dan lebih tinggi keadaannya dari apa yang engkau sangka:

MENGENAL AL ‘ALLAMAH ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI  حفظه الله تعالى

Syaikhuna Yahya setelah dibujuk-bujuk dan dituntut oleh orang banyak untuk menyebutkan sedikit dari perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, dan menceritakan kenikmatan yang Alloh berikan pada beliau, sementara menceritakan nikmat adalah bagian dari syukur, maka beliau berkata:

الحمد لله حمداّ كثيراً طيباً مباركاً فيه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد:

            Saya telah diminta untuk menulis sekelumit dari kelahiranku, namaku, negriku, pertumbuhanku, dan sebagian perkara yang terkait dengannya. Dan setelah permintaan yang berulang-ulang dari orang-orang yang saya cintai –semoga Alloh memuliakan mereka-, saya berpandangan untuk memenuhi tuntutan mereka dengan menulis baris-baris berikut ini. Maka saya katakan dengan taufiq dari Alloh:

Adapun nama saya: saya adalah Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy, dan kabilah bani Wahan, dari desa Hanjaroh di kaki gunung Ku’aidanah –saya mohon pada Alloh agar memuliakan mereka dengan mencari limu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya-.

Kemudian kakekku Ahmad bin Ali bin Ya’qub pindah ke suatu desa yang agak jauh yang dinamakan sebagai desa Jabar kabilah Zaghobiyyah. Beliau menikah dengan wanita mereka. Maka mereka adalah paman-paman ayahku. Ayahku tumbuh di antara mereka di sebagian kerabatnya, dan menikah dengan wanita mereka juga, dengan ibuku, dari keluarga ‘Iqol, desa Zaghobiyyah –semoga Alloh merohmati orang yang meninggal dari mereka, dan memperbaiki orang-orang yang masih hidup dari mereka-. Di sanalah kelahiranku sebelum sekitar empat puluh tahun yang lalu, di hari-hari yang dinamakan dengan “Pemberontakan Republik Yaman.”

            Ayahku –semoga Alloh menjaganya dan memanjangkan umurnya dalam ketaatan pada-Nya- sangat senang bercocok tanam. Beliau biasa menanam di area pertanian yang luas yang darinya beliau mendapatkan harta yang banyak berupa dzurroh (sejenis jagung), simsim (sejenis wijen) dan yang lainnya, hingga sebagian orang sering mengutang pada beliau dzurroh dan qoshob (bambu) ketika terjadi kemarau. Beliau juga dikaruniai Alloh binatang-binatang ternak seperti kambing dan sapi. Maka sebagai puji hanya milik Alloh, dari sisi penghidupan beliau pada keadaan terbaik.

            Beliau juga mendidikku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang baik, jauh dari qot (sejenis ganja), rokok, syammah (semacam narkotika yang lebih keras daripada kot) yang berbagai penyebab bencana yang lain. Dan termasuk perkara yang paling berat bagi beliau adalah jika beliau melihat salah seorang dari kami kurang dalam menunaikan ibadah sholat jama’ah atau rowatib. Dan perkara yang paling beliau sukai adalah jika sebagian dari kami menjadi seorang alim, sementara di sana tidak ada kecuali ta’lim di para penulis. Maka beliau menaruhku di suatu tempat yang namanya: Mi’lamatusy Syaikh, orang kepercayaan desa itu, orang faqih dan khothib mereka yang bernama Yahya Al ‘Utabiy رحمه الله . Dan pengajaran di Mi’lamah tersebut adalah sebagaimana system pendidikan zaman dulu, pengajaran bacaan Al Qur’an dengan melihat ke mushhaf, pengajaran khothth (menulis bentuk huruf dan susunan kata). Dan orang yang lulus darinya biasanya menjadi orang faqih bagi desa tersebut sebagai imam dan khothib dengan membaca buku-buku khothbah, juga menjadi pencatat transaksi dan yang lainnya. Dulu Al Faqih Al ‘Utabiy رحمه الله lebih menyukaiku daripada mayoritas murid-muridnya.

Ketika saya telah lulus dari Mi’lamah tersebut dengan membaca Al Qur’an sambil melihat ke mushhaf, pengetahuan tentang khothth, ayahku bertekad untuk membawaku pergi ke kota Zaidiyyah karena tersebar di kalangan masyarakat di sana bahwasanya Zaidiyyah tersebut adalah kota ilmu, dan bahwasanya mereka itulah ahli fatwa tentang tholaq, warisan dan sebagainya.

            Ayahku حفظه الله itu senang pada ilmu dan agama, banyak berpuasa dan sholat. Dan saya tidak mengetahui bahwasanya beliau pernah memakan makanan yang harom senilai satu dirhampun. Akan tetapi beliau ketika itu tidak mengetahui tentang Shufiyyah, Syi’ah ataupun sekte-sekte sesat yang lain sedikitpun. Beliau memuliakan mereka, dan mereka sering mengunjungi beliau. Barangsiapa dari mereka mengunjungi beliau, beliaupun memuliakannya dengan pemuliaan yang besar. Maka Alloh عز وجل menyelamatkan diriku dari belajar di kalangan para Shufiyyah itu dengan ibuku -semoga Alloh menjaganya dan memperbagus penutup hayatnya- yang mana ibuku mulai menangisiku agar saya tidak pergi dan tinggal di selain negriku sendirian tanpa pengiring dari negriku padahal saya masih kecil. Maka ayahku membiarkan saya menggembala kambing. Beliau حفظه الله adalah orang yang pertama membangun masjid dari kayu dan jerami di desa kami yang mana mereka ada di sana sekarang ini. Itu adalah masjid kecil yang bisa menampung sekitar empat puluh orang yang sholat saat itu, menjadi masjid jami’ untuk sejumlah desa di sekitarnya. Ketika masjid itu runtuh, beliau membangunnya dari batu dan memperluasnya, dan saya sebagai imamnya. Pada hari Jum’at ayah mencarikan orang untuk menggantikanku menggembala kambing, sementara saya berkhothbah untuk mereka dengan buku khothbah. Yang sering kali saya pakai sebagai pegangan saat itu adalah “Al Futuhatur Robbaniyyah” karya Al Baihaniy رحمه الله hingga saya hampir-hampir menghapalnya karena seringnya saya mengulangnya.

            Kemudian setelah itu saya berangkat ke Saudi. Saya hadir di majelis pembacaan Al Qur’an usai sholat Fajr di hadapan Fadhilatusy Syaikh Al Muqri yang terkenal Ubaidulloh Al Afghoniy حفظه الله di kota Abha, dan kami mendengarkan dari beliau sedikit pelajaran Shohih Muslim yang beliau mulai sebelum membacakan Al Qur’an untuk kami. Kemudian beliau safar, saya pindah ke Asy Syaikh Al Muqri Muhammad A’zhom yang mengajarkan Al Qur’an di masjid Alu Yahya. Saya membaca Al Qur’an kepada keduanya sampai ke surat Al A’rof. Lalu syaikh tersebut berangkat safar juga. Dan saya menyempurnakan bacaan dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim di hadapan Al Muqri Muhammad Basyir. Segala pujian hanya bagi Alloh.

            Dan bersamaan dengan kecintaanku yang besar terhadap ilmu di sana, saya tidak mendapatkan orang yang membimbingku untuk bergabung dengan majelis Asy Syaikh Al Imam ibnu Baz dan yang lainnya dari kalangan ulama kerajaan Saudi, yang menyelenggarakan ta’lim رحمهم الله. kemudian saya mendengar tentang Asy Syaikh Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله dan bahwasanya beliau itu adalah seorang alim salafiy, yang mengajarkan ilmu-ilmu Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم di Dammaj –semoga Alloh menjaganya dan memberikan taufiq pada penduduknya untuk segala kebaikan- salah satu desa di wilayah So’dah. Maka saya bergabung dengan beliau di markiz beliau yang diberkahi pada tahun 1405 Hijriyyah Nabawiyyah, semoga sholawat dan salam tercurah pada Nabi yang hijroh tersebut.

            Ayahku datang bersamaku dan mewasiatkan diriku pada syaikh رحمه الله dengan kebaikan. Lalu beliau pulang. Syaikh terus-menerus membantuku untuk menuntut ilmu dengan bantuan harta dari waktu ke waktu. Saya terus-menerus tinggal di markiz sejak tanggal tersebut untuk belajar, saya tidak senang memperbanyak bepergian, dan tidak senang hilangnya sedikit saja dari waktu yang ada, sampai Alloh عز وجل dengan karunia-Nya melalui tangan syaikh kami Al Allamah Al Muhaddits As Salafiy yang diberkahi Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله memudahkan diriku dengan kebaikan yang banyak, yang berupa pengambilan faidah pada beraneka ragam ilmu.

            Dan sebagaimana yang terjadi di markiz yang diberkahi ini, saya menggabungkan kepada ilmu yang kami terima dari syaikh kami –syaikh bagi masyayikh dakwah salafiyyah di Yaman, Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله- sebagian dars tentang nahwu, aqidah dan fiqh,…yang kami terima dari sebagian masyayikh yang mulia yang termasuk dari murid syaikh kami Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang senior di markiz ini. Semoga Alloh mensyukuri mereka semua.

Dan setelah itu, syaikh kami Muqbil –semoga Alloh menempatkan beliau di Firdaus yang tertinggi- memerintahkan diriku untuk menggantikan beliau dalam mengajar jika beliau sakit atau bepergian. Dan manakala ajal beliau رحمه الله telah dekat beliau mewasiatkan untuk menggantikan beliau sepeninggal beliau nanti.

Saat itu para musuh markiz ini mengira dengan dugaan yang buruk bahwasanya dakwah ini akan hilang dengan wafatnya syaikh رحمه الله , dan bangunan markiz ini akan menjadi kandang dan majelis menghisap kot, sebagaimana kami dengar dan didengar oleh yang lain, pada masa sakitnya syaikh dan sebelum itu.

Manakala Alloh menghadapkan hati para hamba kepada kebaikan ini setelah wafatnya syaikh رحمه الله  , dan dakwah meluas lebih banyak lagi, dan jadilah jumlah para penuntut ilmu berlipat-lipat lebih banyak daripada yang di masa hidup pendiri markiz ini syaikhunal Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Hal itu menyebabkan jengkelnya sebagian orang yang tertimpa penyakit dengki dari kalangan orang yang dulunya adalah murid syaikh رحمه الله dan yang lainnya dari kalangan pemilik hasrat-hasrat keduniaan dan fitnah hizbiyyah. Maka Alloh menolak kejelekan mereka dan menghancurkan makar mereka.

Dakwah ini senantiasa maju ke depan di seluruh kebaikan, dan karunia itu adalah milik Alloh sebelumnya dan sesudahnya. Dialah yang berfirman:

﴿ومابكممننعمةفمنالله﴾

“Nikmat apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

Maka kita mohon pada Alloh عز وجل untuk menjaga agama kita dan dakwah kita, dan menolak dari kita dan dari negri kita serta seluruh negri muslimin fitnah yang nampak ataupun yang tersembunyi. Dan segala puji bagi Alloh Robbul ‘Alamin.

Ditulis oleh: Abu Abdirrohman Yahya bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ya’qub Al Hajuriy

Pada tanggal 19 bulan Jumadil Awwal 1428 H.

(selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy” yang disusun oleh Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

Pendidikan Yang Diselenggarakan Syaikh Yahya حفظه الله di Darul Hadits

            Saudara kita yang mulia Abu Basyir Muhammad Al Hajuriy([19]) رحمه الله berkata: Maka sesungguhnya Alloh telah memberikan kita kenikmatan dengan nikmat yang banyak yang tak bisa dihitung. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْتَعُدُّوانِعْمَةَاللَّهِلَاتُحْصُوهَاإِنَّالْإِنْسَانَلَظَلُومٌكَفَّارٌ﴾[إبراهيم:34].

“Dan jika kalian menghitung nikmat Alloh niscaya kalian tak bisa menghinggakannya Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

Maka bagi-Nya sajalah pujian atas setiap kenikmatan yang dikaruniakannya, setiap karunia yang diberikannya pada kita. Dan di antara kenikmatan yang paling agung adalah nikmat Islam, nikmat Sunnah. Nikmat menuntut ilmu syar’y, ilmu kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam dengan pemahaman salafush sholih, pada zaman di mana kebodohan, kebid’ahan dan aqidah yang menyimpang telah merajalela.

Maka milik Alloh sajalah pujian dan karunia atas petunjuk-Nya untuk menuntut ilmu syar’y di markiz yang penuh berkah ini, di hadapan Syaikh kami Al Imam Al Mujaddid Muqbil bin Hadi Al Wadi’y –semoga Alloh merahmati beliau dan menempatkan beliau di Jannah-jannah-Nya yang luas rohimahulloh.

Kemudian, segala pujian bagi Alloh yang mengokohkan kami untuk melanjutkan menuntut ilmu di hadapan pengganti beliau dalam dakwah Al Allamah An Nashihul Amin Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajury -hafizhohulloh- yang menjadi sebab kokohnya kebaikan ini di markiz yang mubarok ini (Darul Hadits di Dammaj) sepeninggal pendirinya Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh. Para penuntut ilmu masih terus-menerus mengambil manfaat dari salah satu sumber kebaikan ini, dan mengambil faidah dari syaikh ini –semoga Alloh memberi beliau taufiq-, dan mereka berdatangan dari berbagai negri ke tempat beliau ini.

Pelajaran-pelajaran beliau terus berlangsung. Beliau pada saat awal shubuh mengimami kami sholat shubuh di Darul Hadits Dammaj. Alloh telah mengaruniai beliau suara yang baik saat membaca Al Qur’an. Lalu seusai sholat dan berdzikir, pelajar atau para tamu dan pengunjung yang ingin berangkat safar berdiri meminta idzin kepada beliau.

Ada juga sebagian pelajar atau pengunjung yang punya pertanyaan yang mesti disegerakan mengajukannya kepada beliau. Setelah itu beliau membacakan Al Qur’an -ke salah seorang pengawal- sesuai dengan yang dimudahkan oleh Alloh, beberapa juz, atau lebih atau kurang. Beliau telah hapal Al Qur’an dan punya perhatian yang baik dalam muroja’ah Al Qur’an dan mengambil pendalilan darinya dan hukum-hukumnya. Karena itulah beliau tidak keluar dari masjid untuk pulang ke rumah pada jam ini, kecuali jika sakit, atau karena urusan yang tak bisa tidak, lalu beliau sholat dhuha setelah terbitnya matahari.

Setelah itu beliau berangkat untuk mengisi beberapa pelajaran. Pada tahun ini 1430 H beliau mengajarkan “Subulus Salam” karya Imam Ash Shon’any rohimahulloh, dan “I’lamul Muwaqqi’in” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh. Sebelumnya pada jam seperti ini beberapa kitab telah selesai dibaca, diberi catatan kaki dengan penjelasan yang baik, dihadiri oleh sejumlah besar para pelajar. Kitab bermanfaat yang terpenting yang telah dibaca pada jam ini adalah “Zadul Ma’ad” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, “Al Iman Al Ausath” karya Syaikhul Islam rohimahulloh, “Muqoddimah Ushulut Tafsir” karya Syaikhul Islam rohimahulloh juga, dan telah dicetak dengan syaroh beliau. Juga “Ar Risalah” karya Imam Asy Syafi’y rohimahulloh, “Syarhu ‘Ilalit Tirmidzy” karya Imam Ibnu Rojab rohimahumalloh, sekarang sedang dirapikan untuk dicetak dengan catatan kaki beliau, “Al Adzkar” karya Imam An Nawawy rohimahulloh, “Hadil Arwah” karya Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh, “Tathhirul ‘I’tiqod” karya Imam Ash Shon’any rohimahulloh, dan “Al Mauqizhoh” karya Imam Adz Dzahaby rohimahulloh.

Setelah pelajaran tadi, beliau masuk rumah untuk melanjutkan pembahasan yang sampai sekarang telah mendekati seratus pembahasan. Sebagiannya telah dicetak, sebagiannya dalam proses, sebagian masih berupa makhthuthoh (tulisan tangan). Beliau melakukan pembahasan semampunya, lalu istirahat siang. Terkadang datanglah para tamu yang butuh dilayani segera, sehingga  para pengawal mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkannya, lalu beliau duduk-duduk dengan tamu tadi. Di antara yang datang pada jam-jam tadi adalah para masyayikh kabilah, atau para pejabat yang datang berkunjung, atau sebagian mereka punya kesulitan dan kasus-kasus yang harus segera dipecahkan.

Lalu beliau keluar untuk sholat zhuhur. Setelah sholat dan dzikirnya, beliau mendirikan sholat ba’diyyah zhuhur, lalu mengajar “Tafsir Ibnu Katsir” atau “Al Jami’ush Shohih” karya syaikh kami Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’y rohimahulloh, secara berselang seling tiap harinya, kecuali hari Jum’at, tiada pelajaran sebelum sholat Jum’at (juga setelah sholat Jum’at).

Dalam setahun jarang sekali hari-hari berlalu tanpa adanya tamu-tamu. Dan yang demikian itu karena banyaknya pelajar dan pengunjung. Terkadang tempat tinggal beliau tidak cukup menampung tamu, sehingga mereka ditempatkan di ruang “Dewan Tamu” yang menempel berdampingan dengan rumah beliau.

Terus-menerus beliau menyemangati para ikhwan untuk memuliakan para tamu, atau beliau sendiri memuliakan para tamu dan mendekatkan makanan kepada mereka dengan tangan beliau sendiri. Setelah itu beliau kembali melanjutkan pembahasan beliau dan menjawab soal-soal dengan tulisan tangan dan lain-lain hingga waktu ‘Ashr. Lalu beliau keluar untuk sholat ‘Ashr, dan selanjutnya mengajarkan “Shohih Imam Al Bukhoriy”.

Setelah para pelajar membacakan hadits hari kemarin secara berkelompok-kelompok –karena mereka banyak-, beliau mengeluarkan faidah-faidah dari hadits-hadits dengan istimbath yang bagus dan mengagumkan, serta mendapat taufiq. Mereka menghapalkan “Shohih Al Bukhoriy” bersamaan dengan kebanyakan dari mereka itu menghapal Al Qur’an, kecuali sebagian orang yang bersikap kurang. Padahal Syaikh telah menyemangati mereka untuk menghapal Kitabulloh dan menghapal sebagian dari sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam. Sebagiannya menghapal “Bulughul Marom”, yang lain menghapal “Shohih Muslim”, yang lain menghapal “Riyadhush Sholihin”, “Alfiyah Ibnu Malik”, “Kitabut Tauhid” karya Asy Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdy rohimahulloh, “Lum’atul I’tiqod”, “Al Washithiyyah”, “Ath Thohawiyyah”, “Al Waroqot”, “Mulhatul I’rob”, “Al Baiquniyyah”, “Qoshobus Sukkar”, “As Saffariniyyah”, “Al Muqizhoh”, dan hapalan yang lainnya banyak sekali, sama saja dalam bidang tauhid, aqidah, nahwu, mushtholah dan yang lain.

Dan setelah itu beliau pergi menemui para tamu beliau di “Majelis tamu”, menyampaikan nasihat, menjawab soal-soal mereka, jika ada kesulitan yang perlu diuraikan di antara pelajar, beliau menghukumi dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahan Salaf.

Sebagian pelajar –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengan mereka- tidak pernah berselisih dengan yang lainnya sama sekali, selama bertahun-tahun di markiz ini. Ada sebagian mereka yang punya faidah ilmu yang dengannya bisa mendirikan markiz di negri manapun. Jika ada seseorang yang ingin mendirikan dakwah di negrinya, Syaikh memberinya pengarahan untuk itu. Jika beliau melihat mereka itu di atas As Sunnah, dan masyarakatnya menerima As Sunnah, sama saja di Yaman ataupun di luar Yaman.

Lalu beliau memberikan nasihat singkat pada para tamu, terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. terkadang menjadikan jawaban itu terbuka dalam pelajaran umum antara maghrib dan ‘Isya. Seringkali para tamu tadi berasal dari berbagai wilayah Yaman dan luar Yaman.

Lalu beliau masuk rumah, makan ifthor jika hari itu berpuasa Senin Kamis, atau Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15), lalu keluar sholat Maghrib. Seusai sholat Maghrib dan dzikirnya serta sholat ba’diyyah beliau mengajar “Shohih Muslim”, lalu “Sunan Shughro lil Baihaqy”, setelah itu “Iqtidho’ush Shirothil Mustaqim”, karya Syaikhul Islam.

Pada awal jam pelajaran –antara maghrib dan Isya- ada banyak pelajaran singkat disampaikan, dibacakan secara hapalan oleh sebagian pelajar yang mayoritasnya anak-anak yang disemangati untuk berani menghapal, lalu Syaikh menjelaskannya secara bagus. Telah terbit syaroh dari pelajaran ringkas sebelum jam “Shohih Muslim” tadi: “Syarhu Lamiyah Ibnul Wardy”, “Syarhul Wasithiyyah”, “Syarhus Saffariniyyah”, “Syarhul Baiquniyyah”, “Syarhu Qoshidah Ghoromi Shohih”, “Syarhu Manzhumatu Ibni Taimiyyah fi Rodd ‘alal Qodariyyah” yang berbentuk argumentasi Yahudi dan jawaban Syaikhul Islam terhadapnya, “Syarhu Lamiyyatu Syaikhil Islam” sedang dicek dan dirapikan, dan yang lainnya.

Setelah beliau memberikan catatan terhadap pelajaran singkat tadi, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengunjung. Jika tiada pengunjung, beliau menjawab problematika para pelajar, memberikan nasihat, dan pengarahan. Dengan jawaban dari soal-soal tadi telah keluar lima jilid kitab yang berjudul: “Al Kanzuts Tsamin fil Ijabah ‘an Asilati Tholabatil ‘Ilmi waz Zairin”. Dan satu jilid lain yang berjudul “Ithafil Kirom Bil Ijabati ‘an Asilatiz Zakah wal Hajj Wash Shiyam”, serta satu jilid lain yang berjudul “Al Ifta ‘alal Asilatil Waridah Min Duwalin Syatta” dan yang lain masih banyak yang belum tercetak. Dan karunia hanyalah milik Alloh semata.

Di sebagian malam beliau mengadakan ceramah lewat telpon yang disalurkan ke berbagai masjid di dalam Yaman dan luar Yaman. Jika para pelajar tahu bahwasanya beliau akan mengadakan ceramah lewat telpon pada malam itu banyak dari mereka meletakkan telpon-telpon genggam, semuanya menyalurkan ceramah telpon tadi ke kampung masing-masing, dan dihasilkan dengannya manfaat yang besar.

Telah dicetak dua jilid dari khuthbah dan ceramah tadi, dan masih ada yang tersisa dan dipersiapkan untuk dicetak dalam jilid berseri dengan judul “Ishlahul Ummah Bil Khuthob Wal Mawa’izh Minal Qur’an Was Sunnah.”

Seusai sholat ‘Isya terkadang beberapa pelajar masuk bersama beliau untuk menguraikan sebagian problematika, dan musyawaroh yang memang harus diselesaikan.

Kemudian setelah itu beliau terkadang menjawab soal-soal lewat telpon dari berbagai negara atau dari dalam Yaman. Terkadang mereka meminta nasihat pada beliau, lalu beliau memberikannya pada mereka dan menjawab soal-soal mereka sekitar satu jam. Lalu beliau kembali mengurusi pembahasan sebagian ikhwan para pelajar, memberikan muqoddimah, lalu tidur.

Beliau memiliki bagian untuk sholat malam. Bersamaan dengan semua kesibukan itu beliau juga memiliki keluarga yang besar, beliau mengurusinya sesuai dengan yang diwajibkan oleh Alloh sesuai dengan kadar kemampuan. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan, dan semoga Alloh memberikan dengannya manfaat buat Islam dan muslimin.

Karena perkara ini semua, dan juga kecemburuannya terhadap sunnah, pembelaannya terhadap sunnah dan ahlussunnah, dan kekokohan beliau di depan kebatilan dengan menggenggam kebenaran dan menyampaikan nasihat, dan keteguhan beliau di atas Al Kitab dan As Sunnah, para pelajar dan saudara yang sholih dan para penasihat mencintai beliau, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh, dalam muqoddimah “Dhiya’us Salikin”, dan banyaklah musuh-musuh beliau yang hasad dan dendam. Tapi mereka tak bisa memperoleh kemenangan apapun selain sekedar gangguan. Hal ini dikarenakan beliau itu –sebagaimana diketahui dari sifat beliau- sangat membenci fitnah, membenci kezholiman dan permusuhan. Jika ada orang yang berbuat jahat padanya atau pada dakwah yang mubarokah ini, berdirilah beliau dengan kesungguhan untuk menolak kejahatan tadi, dengan saling bantu bersama ikhwan yang baik dari kalangan pelajar, masyarakat, yang banyak yang lain. Lalu Alloh menolak kejahatan tadi terhadap beliau dan terhadap dakwah ini, dan Alloh ‘Azza Wajalla menolongnya.

Inilah petikan singkat tentang Darul hadits di Dammaj dan jadwal acara Syaikhnya sepeninggal Syaikh kami Imam Al Wadi’y rohimahulloh, dan inilah kegiatan harian beliau yang telah diketahui bersama oleh para pelajar Darul Hadits ini. Kutulis perkara ini sebagai penjelasan atas kezholiman orang yang menghinakan kerja keras yang bermanfaat untuk Islam dan muslimin tadi, baik kezholiman itu berasal dari orang yang hidup di markiz ini dan dibimbing di hadapan Syaikh Yahya hafizhohulloh, lalu menguraikan kembali benang yang telah dipintal dan bergabung dalam rombongan hizbiyyin yang dendam kepada beliau dan berbalik arah bersikap buruk terhadap kerja keras yang bermanfaat ini.

فقطعدابرالقومالذينظلمواوالحمدللهربالعالمين.

“Maka dimusnahkanlah kaum yang zholim tadi hingga ke akar-akarnya, dan segala pujian kesempurnaan hanyalah bagi Alloh Robb semesta alam.”

Ditulis Oleh:

Abu Basyir Muhammad bin Ali Az Za’kary Al Hajuriy

Pujian para ulama terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله

          Syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله punya kedudukan yang tinggi di sisi ulama sunnah.

Al Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab ” Ahkamul Jum’ah”: “Dan Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela.” (muqoddimah kitab “Al Jum’ah wa Bida’uha”/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).

Al Imam Muqbil Al Wadi’y -rohimahulloh- berkata: “.. Saudara kita fillah Asy Syaikh Al Faadhil At Taqy (yang bertakwa) az zaahid (yang zuhud) al Muhaddits, al faqih Abu Abdurrohman Yahya bin ‘Ali Al Hajury -hafidhahulloh-  beliau adalah pria yang dicintai di kalangan saudara-saudaranya karena mereka melihat padanya bagusnya aqidahnya, kecintaan pada sunnah dan kebencian pada hizbiyyah yang merusak.” (muqoddimah “Dhiyaus Saalikiin.” karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).

Beliau rahimahulloh juga berkata,”Benarlah Robb kita manakala berfirman:

﴿يأيهاالذينآمنواإنتتّقوااللهيجعللكمفرقاناويكفرعنكمسيئاتكمويغفرلكمواللهذوالفضلالعظيم﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda, dan menghapus dosa-dosa kalian serta mengampuni kalian, dan Alloh itu maha memiliki karunia yang agung.”

Maka syaikh Yahya dengan sebab berpegang teguhnya dia dengan Al Kitab dan As Sunnah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- Alloh membukakan untuknya ilmu.” (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-)

Akhuna Abdulloh Mathir -waffaqohulloh- berkata: “Aku telah bertanya kepada Syaikh –yaitu Imam Al Wadi’i- dan demi Alloh, saat itu tiada antara aku dan beliau kecuali Alloh –azza wajalla-. Ketika aku berada di kamarnya di atas ranjang beliau (ketika beliau sakit). Kukatakan,”Wahai Syaikh, kepada siapa para Ikhwah akan merujuk (kembali) di Yaman ini ?, dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?” beliau diam sejenak, lalu berkata,”Asy Syaikh Yahya.” Inilah yang kudengar dari Syaikh Muqbil, dan ini tidaklah maknanya kita merendahkan ulama Yaman yang lain. Sungguh kita benar-benar memuliakan dan mencintai mereka karena Alloh.. dst.” (“Muammarotul Kubro”/hal. 24)

Al Akh Samir Al Hudaidy -hafidhahulloh- berkata pada Syaikh Robi’ -hafidhahulloh-,”Sesungguhnya para pengikut Abul Hasan berkata,”Tiada ulama di Yaman.” Maka Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata,”Syaikh Muhammad itu apa? Dan Syaikh Yahya itu apa? Juga saudara-saudara mereka yang lain.” (“Inba’ul Fudhala” hal. 22 karya Akhuna Sa’id Da’ash -hafidhahulloh-)

Dan Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkata: “Dan keyakinan yang dengannya aku menghambakan diri kepada Alloh bahwasanya Syaikh Al Hajuri itu adalah orang yang bertaqwa, waro’, zuhud, –  kemudian beliau mulai memuji Syaikh Yahya- dan beliau telah memegang dakwah Salafiyyah dengan tangan dari besi. Dan tidaklah pantas untuk memegang dakwah tersebut kecuali beliau dan yang semisalnya” (“Tsana’ Imamil Jarh Wat Ta’dil ala Syaikh Yahya Al Hajuri”/Abu Hammam Al Baidhoni/1426 H).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Asy Syaikh yang agung, saudara kita di jalan Alloh Yahya bin Ali Al Hajuriy telah mengirimkan kepadaku kitabnya yang bersemangat tinggi untuk membantah Abdul Majid Az Zindaniy, yang dengannya beliau bermaksud untuk membantah igauan-igauannya yang ditulisnya –sampai pada ucapan beliau:- Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan telah membantahnya di baris-baris ini dan yang lainnya dengan bantahan yang membungkam, dengan dalil-dalil yang bercahaya dari Al Kitab dan sunnah yang shohih. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan memberkahinya, dan semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisalnya para pembela kebenaran, para penolong tauhid, para penjaga wilayahnya,… dan Allohlah yang memberikan taufiq.”  (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-/hal. 7-10/Darul Atsar).

            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,”Tidak pantas untuk jarh wat ta’dil pada zaman ini selain Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya.” (“Al Barohinul Jaliyyah”/Mu’afa bin Ali Al Mighlafi/hal. 6).

            Asy Syaikh Muhammad Al Imam هداه الله berkata,”Tidaklah mencela Asy Syaikh Al Allamah Yahya Al Hajuri kecuali orang bodoh atau pengekor hawa nafsu.” (“Al Muamarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al Qo’syamiy/hal. 23).

            Abdulloh Al Duba’i -hafidhahulloh- pernah mendengar Syaikh Muhammad Al Imam berbicara tentang keluar untuk dakwah. Maka salah seorang hadirin berkata,”Wahai Syaikh, Syaikh Yahya nggak keluar dakwah?”. Maka Syaikh Muhammad Al Imam berkata: “Tunggu dulu, Al Hajuri imam.” (“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qo’syami/hal. 24).

Asy Syaikh Abdul ‘Aziz Al Buro’i هداه الله berkata: “Kami mengetahui bahwa Syaikh Yahya itu ada di atas ketaqwaan dan muroqobah (senantiasa merasa diawasi Alloh ta’ala), dan beliau adalah saudara kami di dalam  agama Alloh, dan kami mencintainya karena Alloh. Dan beliau adalah seorang alim dari kalangan ulama sunnah. Alloh memberikan manfaat dengannya. Beliau adalah seorang singa dari singa-singa sunnah, serta mahkota di atas kepala-kepala Ahlussunnah.  kami mencintainya karena Alloh.” (dari kaset “Asilah Ashabi Qushoi’ar” tanggal 28/7/1428)

Beliau juga berkata,”Maka Syaikh Yahya adalah  ciri khas  di wajah ahlussunnah dan mahkota di atas kepala mereka.” (“Muammarotul Kubro”/Abdul Ghoni Al qosy’ami/hal. 24).

Asy Syaikh Jamil Ash Shilwi -hafidhahulloh- berkata: “Orang yang mencerca Syaikh Yahya dia itulah yang pantas untuk dicerca. Hal itu dikarenakan Syaikh Yahya itu berbicara karena Alloh dan  Agama Alloh. Sementara salah seorang dari kita terkadang tidak berani untuk berbicara tentang sebagian perkara. Dan beliau itu telah Alloh persiapkan untuk mengurusi perkara ini, mengajar, menulis dan menyelesaikan problem-problem ummat yang sangat banyak.” (“Muammarotul Kubro”/hal. 24).

Asy Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Raimi -hafidhahulloh- ketika berbicara tentang makar Ibnai Mar’i dan pengikutnya terhadap Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, beliau berkata: “.. maka mereka menggunakan seluruh yang mereka miliki yang berupa perlengkapan, kekuatan, pengkaburan, penipuan  dan, pemutarbalikan fakta. Mereka dengan  itu semua menginginkan untuk menjatuhkan “Al Jabalul Asyam” (gunung yang menjadi simbol) tersebut, dan baju besi yang aman –dengan seidzin Alloh- bagi dakwah ini yang ada di Dammaj Al Khoir, beliau dan para masyayikh utama yang bersamanya.” (“Al Haqo’iq Waqi’iyyah” hal. 20)

            Fadhilatu Syaikhina Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Al ‘Ansi -hafidhahulloh- (Salah satu pendiri dakwah di Ibukota Son’a) berkata,”Dan saya menasihatkan kepada saudara-saudara kami untuk menempuh perjalanan menuju ke ulama sunnah dan ke Darul Hadits di Dammaj harosahalloh, yang tempat ini dibangun sejak awalnya di atas sunnah, dan tidak ada yang semisalnya di zaman ini, dari segi tamayyuz (“pemisahan diri dari ahlul bathil”) dan penetapan aqidah salafiyyah, dan bantahan terhadap ahlul bid’ah, orang yang sesat dan menyimpang. Tempat tersebut yang membangunnya adalah syaikh kami Al Mujaddid (pembaharu), penolong sunnah, dan penumpas bid’ah Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i –semoga Alloh merohmatinya dan memuliakan tempat tinggalnya-.

Dan tidak asing lagi bahwa tempat tersebut Alloh telah memberikan manfaat hidayah dengannya kebanyakan manusia, dan mengeluarkan darinya para masyayikh dan penuntut ilmu yang bertebaran di penjuru seluruh dunia sebagai da’i yang menyeru kepada tauhid dan sunnah dan manhaj salaf. Dan terus-menerus –dengan segala pujian untuk Alloh- tempat tersebut hidup dengan ilmu dan sunnah.

Dan setelah Asy Syaikh Muqbil digantikan dengan wasiatnya oleh Asy Syaikh Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuri –semoga Alloh menjaganya- beliau mengurusi dakwah ini dengan sebaik-baik pengurusan. Sangat lantang dalam mengemukakan kebenaran, menolong sunnah, memberantas kebid’ahan dan ahlul bid’ah. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.” (“Nashihatun Mukhtashoroh Lil Indonesiyyiin” /hal. 1).

            Maka perkaranya itu wahai Abdulloh, adalah sebagaimana ucapan Syaikhul Islam رحمه الله: “Dan rasa cinta itu mengikuti pengetahuan.” (“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 56).

            Setiap kali pengetahuan para salafiyyin terhadap syaikh kami An Nashihul Amin bertambah, bertambah pula kecintaan mereka pada beliau dengan seidzin Alloh. Adapun orang-orang yang dengki dan para pengekor hawa nafsu, bertambahlah cekikan di leher-leher mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ الله عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ * إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُـرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ﴾ [آل عمران/119، 120].

“Katakanlah: matilah kalian dengan kemarahan kalian, sesungguhnya Alloh itu Mahatahu terhadap isi dada. Jika ada kebaikan yang mengenai kalian, hal itu membikin sakit hati mereka, dan jika kalian tertimpa kejelekan, merekapun bergembira dengan itu. Tapi jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka itu tidak akan membahayakan kalian sedikitpun. Sesungguhnya Alloh itu Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”

            Adapun ucapan si doktor Abdulloh: “Dan bahwasanya mereka datang dari Dammaj tidaklah dimaksudkan bahwasanya mereka pasti di atas istiqomah ataupun keselamatan. Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu agamanya lurus. Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu diridhoi.”

            Maka saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-:

            Orang yang datang dari Darul Hadits di Dammaj dalam keadaan dia itu telah ditazkiyah oleh syaikh kami An Nashihul Amin, maka insya Alloh dia itu di atas ilmu dan kebaikan, serta kekokohan dalam agamanya. Demikianlah orang itu menghukumi secara lahiriyyahnya. Adapun yang selain itu, maka hendaknya dicari kepastian keadaannya dulu sampai diketahui apakah dia itu ada di atas kebaikan juga ataukah dia itu pengkhianat yang lari dari markiz ini, ataukah dia itu orang yang terusir dari markiz ini.

            Alur perkataan Abdulloh Al Bukhoriy dari awal dialog hingga akhirnya itu menunjukkan adanya sindiran terhadap keumuman pelajar Darul Hadits di Dammaj. Maka bagaimana dalam keadaan dia telah terang-terangan melontarkan cercaan-cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia.

            Adapun ucapan dia: “Tidaklah setiap orang yang ada di dalamnya itu diridhoi,” maka kami jawab sebagaimana ucapan Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله : “Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

            Maka bagaimana kami mengurusi keridhoan orang-orang yang dengki dan dendam sementara keadaan mereka itu seperti dikatakan:

كلُّ الناس أَقْدِر أُرْضِيهم إلا حاسدَ نِعْمة، فإنه لا يرضيه إلا زوالها. (“العقد الفريد”/1 / ص 193).

 “Setiap orang aku bisa menjadikannya ridho padaku kecuali orang yang dengki terhadap kenikmatan, karena sungguh tidak bisa membikinnya ridho kecuali hilangnya kenikmatan tadi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 193).

Bab Delapan: Kedustaan Abdulloh Terhadap Ahlul Haq

            Ucapan si doktor Abdulloh Al Bukhoriy tentang Salafiyyin yang bersama syaikh kami An Nashihul Amin: “Dan mereka itu ingin memalingkan manusia dari kebenaran, sehingga mereka mendatangi kalian dengan musibah ini sekarang ini.”

            Maksudnya adalah: bahwasanya para salafiyyin yang mendatangkan syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya- ke negri Indonesia itu adalah dalam rangka memalingkan manusia dari kebenaran. Dan ucapan ini tertolak dari beberapa sisi:

            Pertama: Ahlussunah lebih mementingkan kebenaran, perbaikan jalan dakwah, dan mengajari manusia tentang agama Rosul, bukan terkumpulnya orang-orang sebagaimana yang dilakukan oleh hizbiyyun.

            Kedua: telah lewat penegakan hujjah bahwasanya kebenaran dalam fitnah Mar’iyyah ini adalah bersama syaikh kami An Nashihul Amin.

            Ketiga: ucapan Abdulloh tadi adalah termasuk kedustaan yang paling besar, maka hendaknya dia mempersiapkan jawaban untuk hisab (perhitungan) atas tuduhannya tadi pada hari kiamat. hadits Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

” … dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

            Demikian pula perkataan doktor Abdulloh: “Yang pasti, mereka itu datang untuk membikin fitnah ini” ini merupakan kedustaan. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan makna fitnah pada asalnya adalah ujian dan cobaan, kemudian istilah ini dipakai di setiap perkara yang kejelekannya disingkapkan oleh ujian. Istilah fitnah ini juga dipakai untuk istilah kekufuran, berlebihan dalam ta’wil yang jauh, terbongkarnya aib, bencana, siksaan, perang, perpindahan dari baik menjadi buruk, kecondongan pada sesuatu dan terkagum-kagum dengannya. Dan fitnah ini bisa terjadi pada kebaikan dan kejelekan, seperti firman Alloh ta’ala:

﴿ونبلوكم بالشر والخير فتنة﴾.

“Dan kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah.”

(“Fathul Bari”/2/hal. 291).

Adapun fitnah yang bermakna ujian, maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم juga merupakan ujian bagi umat ini agar dengan beliau Alloh memisahkan yang busuk dari yang baik, sebagaimana dalam hadits ‘Iyadh bin Himar Al Mujasyi’iy رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh  bersabda pada suatu hari dalam khuthbah beliau:

«ألا إن ربي أمرني أن أعلمكم ما جهلتم مما علمني يومي هذا كل مال نحلته عبدا حلال وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاحتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يـشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا وإن الله نظر إلى أهل الأرض فمقتهم عربهم وعجمهم إلا بقايا من أهل الكتاب. وقال: إنما بعثتك لأبتليك وأبتلي بك». (أخرجه مسلم (2865)).

“Ketahuilah sesungguhnya Robbku memerintahkan diriku untuk mengajari kalian perkara yang kalian tidak tahu dari perkara yang diajarkan-Nya padaku pada hari ini: seluruh harta yang Aku berikan pada seorang hamba, maka itu adalah halal. Dan sungguh Aku menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan hanif (condong pada tauhid) semuanya. Dan sungguh mereka didatangi setan-setan, lalu setan tadi menyesatkan mereka dari agama mereka, dan mengharomkan perkara yang Kuhalalkan untuk mereka. dan setan memerintahkan mereka untuk berbuat syirik dengan-Ku perkara yang tidaklah Aku turunkan padanya hujjah. Dan sesungguhnya Alloh melihat kepada penduduk bumi, maka dia memurkai mereka, yang arobnya ataupun yang ajamnya, kecuali sisa-sisa Ahli Kitab. Dan Dia berfirman: “Aku hanyalah mengutusmu agar Aku menguji dirimu dan menguji denganmu.”.” (HR. Muslim (2865)).

            Akan tetapi Abdulloh Al Bukhoriy ingin menempelkan istilah “fitnah” yang bermakna “kejelekan” kepada Ahlussunnah di Dammaj. Akan tetapi Abdulloh Al Bukhoriy hanyalah beredar seputar dua dosa: ghibah dan kedustaan.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «أتدرون ما الغيبة؟» قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: «ذكرك أخاك بما يكره» قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: «إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Ghibah itu adalah engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Mereka berkata,”Kabarkanlah pada kami bagaimana jika pada saudaraku itu ada yang saya sebutkan? Beliau menjawab,“Jika memang yang kau katakan itu ada padanya, maka engkau telah menggibahinya. Tapi jika yang kau katakan itu tidak ada padanya, maka engkau telah berdusta atas nama dia.” (HR. Muslim (2589)).

            Kita telah menjelaskan batilnya penempelan nama “Fitnah” kepada dakwah syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau seperti Syaikh kami Al Walid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Mani’ Ash Shon’aniy dan Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy –semoga Alloh memelihara keduanya-. Maka tiada yang tersisa bagi doktor kecuali bahwasanya dia telah datang dengan kedustaan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾ [النساء/112]،

“Dan barangsiapa membikin kesalahan atau dosa kemudian dia menuduhkannya kepada orang yang bersih dari itu maka sungguh dia telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata.”

Alloh subhanah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti para mukminin dan mukminat tanpa dosa yang diperbuat, sungguh mereka itu akan memikul kedustaan dan dosa yang nyata.” (QS Al Ahzab 58-59).

            Asy Syaikh Robi’ bin Hadi حفظه الله berkata tentang karakter ahli bida’: “Dan dia tak sanggup menghadapi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan dan kebohongan. Ini di sejarah masa lalu. Dan dia ini ada sekarang pada ahli bida’ pada masa kini, mereka tidak memerangi Ahlussunnah kecuali dengan kedustaan kebohongan dan tuduhan-tuduhan.” (“Syarh ‘Aqidatis Salaf Ashhabil Hadits”/hal. 314).

            Dan pantaslah ucapan si doktor yang ada dalam kaset itu dinukil di sini: “Dan di sisi Alloh orang-orang yang bertikai akan berkumpul.”

            Aku katakan –semoga Alloh memberiku taufiq-: Iya, semuanya berkumpul dan digiring kepada Alloh, Wali mereka yang sebenarnya, agar Dia memutuskan di antara mereka dengan adil, sampai bahkan di antara para binatang. Adapun orang yang mengendalikan diri dan lidahnya dengan ilmu, hujjah dan bukti sehingga setia pada kebenaran dan kelurusan, maka mereka itu tidak tertimpa ketakutan dan tidak bersedih hati إن شاء الله .

            Adapun orang yang jelas kedustaannya dan kebohongannya, maka alangkah besarnya kerugian bagi orang-orang yang zholim.

﴿وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ * وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ [الجاثية/27، 28].

“Dan pada hari Kiamat, pada hari itu orang-orang yang berbuat kebatilan akan merugi. Dan engkau akan melihat setiap umat itu berlutut. Setiap umat  diseru kepada kitab mereka. pada hari ini kalian akan dibalasi dengan apa yang dulu kalian kerjakan.”

Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka berkata,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya dirham ataupun harta benda.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat. Dia datang tapi dalam keadaan telah mencaci ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, memukul orang ini. Maka orang ini diberi kebaikannya, orang itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum tanggung jawabnya selesai, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu diletakkan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim (2581)).

Daftar Isi

المحتويات

Pengantar Penerjemah. 3

Penilaian Dari Syaikh Yang Mulia Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy حفظه الله.. 4

Pengantar Penulis. 5

Bab Satu: Kelemahan Abdulloh Al Bukhoriy Untuk Mengetahui Hizbiyyah Anak Mar’i Dan Gerombolannya. 7

Pasal satu: definisi hizb dan hizbiyyah. 8

Pasal dua: sebagian alamat hizbiyyah dua anak Mar’i dan kelompoknya. 9

Alamat pertama: ashobiyyah (fanatisme) dan wala wal baro yang sempit 9

Alamat kedua: duduk-duduk dengan hizbiyyin. 11

Alamat ketiga: mengadu domba antar ulama. 15

Alamat keempat: penyempitan gerak salafiyyin dan pemancangan permusuhan terhadap mereka. 17

Alamat keenam: menggerakkan pemerintah untuk menyakiti salafiyyin. 21

Bab Dua: Kelalaian Abdulloh Terhadap Karakteristik Akal Dalam Kasus Ini 26

Pasal satu: definisi akal 26

Pasal dua: orang-orang berakal dari kalangan salafiyyun dan ulama mereka mengetahui hizbiyyah kedua anak Mar’i 27

Bab tiga: Upaya Abdulloh Al Bukhoriy dan Pengikutnya Untuk Menyematkan Gelar “Fitnah” Pada Salafiyyin Dammaj 28

Bab Empat: Lemahnya Abdulloh Dan Pengikutnya Untuk Mengetahui Definisi Ta’ashshub dan ‘Ashobiyyah. 34

Bab Lima: Fanatisme Abdulloh Al Bukhoriy Kepada Kebatilan. 36

Bab Enam: Abdulloh Al Bukhoriy menelantarkan Ahlul Haq, Bahkan Menyerang Mereka Setelah Itu. 51

Bab Tujuh: Penghinaan Abdulloh Al Bukhoriy. 54

MENGENAL AL ‘ALLAMAH ASY-SYAIKH YAHYÂ BIN ‘ALÎ AL-HAJÛRI  حفظه الله تعالى. 58

Pendidikan Yang Diselenggarakan Syaikh Yahya حفظه الله di Darul Hadits. 62

Pujian para ulama terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله.. 66

Bab Delapan: Kedustaan Abdulloh Terhadap Ahlul Haq. 71

Daftar Isi 75


([1]) Saya عفا الله عني berkata: ini merupakan bagian dari sikap rendah hati Asy Syaikh Thoriq حفظه الله, dan beliau itu telah dikenal di sisi kami dengan keilmuan, nasihat dan kekokohan.

            Dan syaikh kami Thoriq ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Menghapal Al Qur’an, mustafid dalam bidang aqidah.” (“Tarjumah Abi Abdirrohman Muqbil”/no. 144/cet. Darul Atsar).

            Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang beliau: “Menghapal Al Qur’an, khothib, pengajar, kokoh, mulia, telah mengumpulkan syarh kami terhadap Thohawiyyah.” (“Ath Thobaqot”/hal. 48/cet. Darul Atsar).

            Dan setelah syaikh kami Al ‘Allamah Yahya Al Hajuriy حفظه الله menyampaikan pujian yang agung terhadap kitab “Tathhirul I’tiqod” karya Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله , beliau berkata: “… sebagaimana para pengajar di markiz-markiz ilmiyyah dan dakwah sunniyyah mendapatkan taufiq untuk mengurusi kitab tersebut dengan baik. Dan di antaranya adalah apa yang dilakukan oleh saudara kita yang mulia dai ke jalan Alloh عز وجل Asy Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy حفظه الله yang menyusun catatan kaki yang bagus dan berfaidah yang diambil dari kitab-kitab penting, sehingga jadilah catatan tadi sebagai syarh ringkas yang paling bagus yang pernah aku lihat terhadap kitab “Tathhirul I’tiqod”. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Thoriq dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengannya.” (pengantar syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله terhadap “At Ta’liqotul Jiyad ‘Ala Kitab Tathhiril I’tiqod”/hal. 2).

([2]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: perhatikanlah wahai ikhwan, akan keburukan hizbiyyah, bagaimana dia berbuat pada orang yang terkena penyakit ini. Ya Alloh selamatkanlah kami dan amankanlah kami wahai Dzat Yang Mulia.

([3]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: telah dikirim surat ini dari Emirat kepada akh Hamud Al Wailiy رعاهما الله terkena penyakit ini.

Ini adalah nomor telpon akh Muhammad Al Katsiriy: (00971506232304).

([4]) Asy Syaikh Abu Hamzah حفظه الله berkata: bahkan dikarenakan kerasnya penyempitan yang mereka lakukan terhadap Ahlussunnah, sebagian ikhwah terpaksa meninggalkan masjid Abu Ammar dan pindah ke masjid lain untuk beri’tikaf di situ.

([5]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “di asal kitab (Al Kifayah) lafazhnya (ظاهرة) dengan (ة) ta’ marbuthoh. Tapi yang benar adalah ta’ tadi harus dihapus, karena alur pembicaraannya mengharuskan demikian.”

([6]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “(3/47), dan Abdulloh yang tersebut dalam sanad tadi adalah Ibnul Mubarok.”

([7]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “perkataannya (تنمي) yaitu bertambah, sementara (يحري) yaitu: berkurang. Permisalan ini diberikan untuk orang yang punya pandangan tanpa pengetahuan!”

([8]) Ini adalah permisalan yang dibikin untuk orang-orang yang saling cocok. (“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 353).

([9]) Tambahan penerjemah: Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

([10]) Tambahan penerjemah: Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagaimana, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian  pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

([11]) Tambahan penerjemah:  Jangankan di dusun perdagangan Fuyusy, ana –Abu Fairuz- telah melihat langsung ada sebagian pelajar di Dammaj yang berlomba-lomba mempermegah kamarnya, dalam keadaan lingkungan yang masih cukup sederhana. Bagaimana jika mereka pindah ke lingkungan perkotaan seperti yang beliau ceritakan?

([12]) Tambahan penerjemah: Kecuali jika penyandang dananya telah menyediakan kompleks asrama buat mereka dan sebagainya. Apalagi akhir-akhir ini telah terkuak bahwasanya banyak kucuran dana dari Qothor untuk mendukung mereka. Lihat buku : “Asy Syihabul Qodih” hal. 5 karya Nashir bin Muhammad Al Abyaniy Al ‘Adaniy -hafizhohulloh-.

([13]) Tambahan penerjemah: Namanya saja kota besar. Makanya pengumuman akan dibukanya kompleks Salafiyyin dan Darul Hadits di kota Fuyusy amatlah menggiurkan.

([14]) Tambahan penerjemah: Cukup murah untuk keumuman orang, apalagi orang ‘Adn. Adapun untuk keumuman pelajar Salafiyyin ya sebagaimana penjelasan di atas.

([15]) Catatan Asy Syaikh Al ‘Amudiy حفظه الله : Jika Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan ini, maka tidak bisa diterima darinya, karena berita ini bukan diterima dari jalanan, bukan dari orang hina ataupun orang tak dikenal seperti persekutuan Ibnai Mar’i Barmakiyyah. Berita ini tadi adalah penukilan dari orang yang lurus jalan hidupnya dan dikenal dengan amanah dan kejujuran. Tinggal si Ba Muhriz saja yang harus mengumumkan tobat dengan terang-terangan.

([16]) Muhammad Al Khofifiy هداه الله ini menulis risalah ini saat masih menampakkan sifat istiqomah di Dammaj, setelah keluar dan bergabung dengan hizb baru diapun mengumumkan rujuknya dari pembelaannya terhadap al haq selama ini. Pantas baginya untuk ana sebutkan kisah berikut ini:

قال خالد بن سعد قال: دخل أبو مسعود على حذيفة -رضي الله عنهما- فقال: اعهد إلي، قال : أولم يأتك اليقين؟ قال: بلى. قال: فإن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر، وتنكر ما كنت تعرف، وإياكوالتلونفيدينالله؛ فإنديناللهواحد

 Kholid bin Sa’d berkata: “Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah  رضي الله عنهماseraya berkata: “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau menjawab: “Apakah belum datang kepadamu keyakinan?” Beliau menjawab: “Sudah.” Hudzaifah berkata: “Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah: engkau mengenali apa yang dulunya engkau ingkari, dan engkau mengingkari apa yang selama ini telah engkau kenal. Hindari olehmu berubah-rubah warna dalam agama ini, karena sesungguhnya agama Alloh itu satu saja.”.” (riwayat Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilmi” (1775), Al Lalikaiy dalam “Syarhul Ushul” (no. 120) dan Ibnu Baththoh dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 25). Atsar ini shohih).

([17]) Untuk mendengar potongan suara pada alamat web ini: http://www.sh-yahia.net/nwe_sounds/adny.rm

([18]) HR. Al Bukhoriy (122) dan Muslim (1613).

([19]) Beliau dibunuh oleh Rofidhoh –semoga Alloh melaknat mereka- dalam pemberontakan keenam.