بسم الله الرحمن الرحيم

Jawaban Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy

-Semoga Alloh menjaganya-

Terhadap soal-soal dari Indonesia dan Malaisia

 

 

            Berikut ini adalah soal dari sebagian ikhwah dari Indonesia dan Malaisia yang dititipkan untuk ditanyakan. Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan jawaban dari Asy Syaikh Abu Amr Abdul Harim bin Ahmad Al Umariy Al Hajuriy –semoga Alloh menjaga beliau- setelah beberapa hari meminta waktu pada beliau di sela-sela kesibukan beliau.

 

Soal pertama:

            Seorang wanita terkadang karena suatu keperluan dia ada di luar rumah dan sholat di suatu masjid yang tentunya ada para pria di dalamnya. Apakah si wanita ini wajib menutup wajahnya ketika sholat? Ataukah dia wajib membuka wajahnya terutama saat sujud?

 

Jawab beliau:

            Seharusnya tempat sholat wanita pada masa sekarang ini dipisah dari tempat pria. Tempat wanita ditaruh di lantai dua atau dibelakang seperti masjid kita ini. Si wanita tadi jika sholat di tempat yang ada pria berlalu-lalang di situ hendaknya dia tetap menutup wajahnya, bahkan ketika sujud. Ini tidak mengurangi pahalanya, bahkan menambah pahala untuknya. Tidaklah terlarang adanya penghalang antara hidung dengan tanah ketika sujud. Bukankah lutut kita juga terhalang dari bersentuhan langsung dengan tanah di saat sujud?

 

Soal kedua:

            Seorang wanita ingin menjaga hapalan Al Qur’an, tapi dia tidak mendapatkan teman salafiyyah yang bisa diajak setoran Al Qur’an. Bolehkah baginya untuk setoran dengan wanita dari kalangan Ikhwanul Muslimin atau Mar’iyyin atau yang lainnya?

 

Jawab beliau:

            Itu tidak boleh dilakukan, cukup bagi dia untuk setoran dengan salah seorang kerabatnya.

 

Soal ketiga:

            Di kampung si wanita tadi belum ada majelis ta’lim salafiyyin, maka bolehkah si wanita menganjurkan kerabatnya untuk belajar ke para hizbiyyin?

 

Jawab beliau:

            Itu tidak boleh.

 

Soal susulan: bagaimana jika dia beralasan itu tadi dilakukan agar si kerabat tadi mendapatkan dasar ilmu saja, nanti jika kerabatnya telah paham agama, nanti si wanita itu akan menjelaskan kebatilan para ahli bid’ah tadi?

 

Jawab beliau: itu tidak benar. Ilmu yang berasal dari ahli bid’ah tadi akan telanjur masuk ke jiwa si kerabat tadi dan akan timbul rasa cinta kepadanya sebelum si kerabat tadi kenal kebenaran.

 

Soal keempat:

            Apa hukum asuransi mobil?

 

Jawab beliau:

            Jika benar bentuknya adalah bahwasanya si pemilik mobil harus membayar uang tiap bulan, nanti pada suatu saat jika terjadi kecelakaan maka dia akan mendapatkan sejumlah uang, dan seterusnya. Ini tidak boleh dilakukan. Akan tetapi jika pihak perusahaan mewajibkan itu, maka dosanya ditanggung pihak perusahaan tadi.

 

Soal kelima:

Apa hukum transaksi berikut ini: misalkan ada sepuluh orang berkumpul, lalu masing-masing dari mereka menyerahkan uang seribu real. Setelah terkumpul sepuluh ribu real, mereka mengadakan undian. Barangsiapa nama keluar dari tabung undian tadi, maka dia akan mendapatkan uang sepuluh ribu itu.

Lalu pada bulan berikutnya mereka berkumpul lagi dan melakukan acara yang sama. Orang yang pada bulan kemarin telah mendapatkan undian, dia wajib untuk ikut setoran, tapi tak berhak mendapatkan undian lagi.

Demikianlah putaran ini berlangsung selama sepuluh bulan sehingga masing-masing dari anggota mendapatkan kesempatan untuk menikmati hasil pengumpulan uang tadi dengan nilai yang sama.

Bagaimanakah hukum transaksi tersebut?

 

Jawab beliau:

            Itu tidak boleh dilakukan, karena masuk dalam kaidah:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap utang yang menarik suatu manfaat maka dia itu adalah riba”

 

Soal susulan: Akan tetapi dalam transaksi tadi tidak ada yang dirugikan, hanya saja sebagian orang keberuntungannya tertunda. Orang yang mendapatkan undian tadi sebenarnya hanyalah diutangi saja, yang nantinya tiap bukan dia akan membayarnya sampai putaran tadi selesai.

 

Beliau menjawab: itu benar, akan tetapi orang yang mendapatkan undian tadi dia itu mengeluarkan sejumlah uang, lalu mendapatkan uang yang berlipat ganda. Maka hal itu masuk dalam kaidah riba tadi.

Lebih baik dia mengumpulkan uang sendiri, setelah terkumpul banyak lalu dia pergunakan sendiri uang tadi, bebas dari bentuk riba. Dan juga selamat dari kemungkinan larinya orang yang menang undian tadi meninggalkan transaksi yang belum selesai satu putaran tersebut.

 

Soal keenam:

            Di sana ada markiz yang dikelola oleh orang yang bernama Bukhori. Katanya dia adalah murid Asy Syaikh Muqbil –semoga Alloh merohmati beliau-. Wallohu a’lam. Markiz ini sejak dulu sampai sekarang mengikuti Luqman (Ba Abduh). Ketika Asy Syaikh Yahya mengusir Abu Taubah, si Bukhori ini menampung Abu Taubah sampai sekarang, dan mereka bergabungnya dengan Luqmaniyyin. Apakah boleh kita menamakan markiz tadi sebagai markiz Luqmaniyyin?

 

Asy Syaikh bertanya: Apakah mereka berloyalitas kepada Luqman?

 

Jawab: Iya.

 

Beliau menjawab: kalau begitu mereka adalah termasuk dari mereka.

الأرواح جنود مجندة

“Arwah-arwah itu adalah tentara yang berkelompok-kelompok.”

الرجل على دين خليله

“Seseorang itu sesuai dengan agama sahabatnya.”

 

Soal ketujuh:

Ada sebagian ikhwah kita yang dulu di Dammaj dan kami melihat dia itu termasuk dari orang-orang yang hatinya berpenyakit, akan tetapi dia di hadapan Asy Syaikh Yahya bilang bahwasanya dia bersama Asy Syaikh Yahya, dan bilang bahwasanya Abdurrohman Al Adniy itu hizbiy. Tapi ketika dia pulang ke Indonesia, dia bergabung dan mengajar di markiz yang Abu Taubah ada di situ.

 

Beliau menjawab:

para salaf berkata:

انظروا أين ينزل وإلى أين يأوي

 “Lihatlah di mana orang itu turun dan ke mana dia bernaung.”

 

 

Demikianlah amanah pertanyaan dan jawabannya ditunaikan, semoga Alloh mengampuni kesalahan dan kekurangan kita semua.

Selesai.

والحمد لله رب العالمين

 

Tanggal 25 Dzul Hijjah 1433 H.

Ditulis oleh Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy

-semoga Alloh memaafkannya-