Alloh Melarang Kita

Menyembelih Untuk Selainnya

 

Disusun Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

‘afallohu ‘anhu

di Yaman

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Sesungguhnya di antara penyimpangan dalam praktek peribadatan yang masih banyak terjadi di masyarakat kita adalah menyembelih untuk mengagungkan selain Alloh. Dikarenakan pentingnya pembahasan ini, maka saya akan menyampaikan sedikit nasihat yang terkait dengan pemurnian ibadah kepada Alloh, terutama dalam masalah menyembelih binatang.

Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya.

  

Bab Satu:

Penyembelihan dan Hukumnya

 

            Penyembelihan dalam bahasa Arobnya adalah dzabh (الذبح).

            Secara bahasa dzabh adalah: pemotongan tenggorokan hewan. (lihat “Al Mufrodat”/hal. 355/karya Ar Roghib Al Ashfahaniy رحمه الله).

            Dalil yang menunjukkan bahwasanya penyembelihan merupakan bagian dari ibadah adalah firman Alloh ta’ala:

﴿قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِيناً قِيَماً مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي الله رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَه وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Katakanlah: sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Robb (Tuhan)ku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, yaitu agama Ibrohim yang hanif, dan bukanlah Ibrohim itu termasuk dari orang-orang yang musyrik. Katakanlah: sesungguhnya sholatku, nusukku (penyembelihan yang aku lakukan), kehidupanku dan kematianku adalah milik Robbul alamin, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah Aku diperintahkan, dan aku adalah orang pertama dari muslimin (dari umat ini).” (QS. Al An’am: 161-163).

 

            Al Imam Al Qurthubiy –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Manakala Alloh ta’ala menjelaskan bahwasanya orang-orang kafir itu bercerai-berai, Alloh ta’ala menjelaskan bahwasanya Dia telah member petunjuk kepada Nabi-Nya kepada agama yang lurus, yaitu agama Ibrohim.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/7/hal. 152).

            Al Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Agama yang lurus adalah agama yang tegak dan kokoh.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 380).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Maka agama yang hanif adalah menghadapkan diri kepada Alloh semata, dan berpaling dari selain-Nya. Dan inilah keikhlasan yang diterjemahkan oleh kalimat kebenaran dan kalimat yang bagus: LA ILAHA ILLALLOH (tiada sesembahan yang benar kecuali Alloh).” (“Majmu’ul Fatawa”/9/hal. 319).

            Perlu diingat: bahwasanya perintah untuk mengikuti agama Ibrohim عليه السلام bukanlah berarti bahwasanya syariat beliau lebih sempurna daripada syariat Muhammad صلى الله عليه وسلم .

            Al Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Bahwasanya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم diperintahkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrohim, yaitu hanifiyyah- tidaklah mengharuskan bahwasanya agama beliau lebih sempurna daripada agama Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam masalah hanifiyyah, karena beliau telah melaksanakan agama yang lurus tadi dengan penegakan yang agung, dan agama yang lurus ini telah disempurnakan untuk beliau dengan penyempurnaan yang lengkap yang belum pernah ada orang yang mendahului beliau kepada kesempurnaan ini. Oleh karena itulah beliau menjadi penutup para Nabi, dan menjadi pemimpin anak Adam secara mutlak, dan beliau adalah pemilik maqom Mahmud (posisi yang terpuji) yang para makhluk takut padanya, sampai bahkan Ibrohim عليه السلام . (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 381).

            Kemudian, sisi pendalilan dari ayat di atas dalam bab ini adalah:

﴿وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لله رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شريك له﴾ [الأنعام/162]

“Dan nusukku (penyembelihan yang aku lakukan), kehidupanku dan kematianku adalah milik Robbul alamin, tiada sekutu bagi-Nya

            Bahwasanya “nusuk” adalah bagian dari ibadah, sehingga tidak boleh diberikan kecuali untuk Alloh semata.

            Dan termasuk dari makna “nusuk” adalah:

-penyembelihan

– haji

– keumuman ibadah

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Firman Alloh ta’ala: “ Dan nusukku ” para ahli tafsir telah menyebutkan dalam tafsirnya: penyembelihan untuk Alloh, dan haji ke Baitulloh. Mereka juga menyebutkan bahwasanya lafazh “nusuk” juga mencakup ibadah secara mutlak. Dan Alloh Yang Mahasuci telah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwasanya penyembelihan dan haji, keduanya merupakan “mansak (منسك)”. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ﴾ [الحج/34].

“Dan setiap umat itu telah Kami jadikan mansak (penyembelihan dan haji) untuk mereka menyebut nama Alloh terhadap apa yang Alloh berikan pada mereka, yang berupa bahimah (binatang ternak onta, sapi dan kambing).” (QS. Al Hajj: 34)

(selesai penukilan dari “Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 368).

            Dan ayat yang di dalam surat Al An’am (162) tadi mengandung pengumuman bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم menghadapkan diri pada pemurnian ibadah pada Alloh dan menyelisihi agama musyrikin, dan inilah dia agama Ibrohim yang lurus.

            Al Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Alloh ta’ala memerintahkan beliau untuk mengabari kaum musyrikin yang menyembah selain Alloh itu dan menyembelih untuk selain nama-Nya, bahwasanya beliau menyelisihi mereka dalam masalah ini, dan bahwasanya sholat beliau adalah untuk Alloh, penyembelihan yang beliau lakukan adalah dengan nama Alloh semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dan ini adalah seperti firman Alloh ta’ala:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾ [الكوثر:2]

“Maka sholatlah untuk Robbmu, dan sembelihlah untuk Robbmu.”

Yaitu: ikhlaskanlah untuk-Nya sholatmu dan sembelihanmu, karena sesungguhnya kaum musyrikin itu menyembah patung-patung, dan menyembelih untuk patung itu. Maka Alloh ta’ala memerintahkan beliau untuk menyelisihi mereka dan menyimpang dari ajaran agama mereka, serta menghadapkan diri pada Alloh dengan tujuan, niat dan tekad agar ikhlas untuk Alloh ta’ala.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 381).

            Maka dari penjelasan ini kita mengetahui bahwasanya penyembelihan itu tidak boleh kecuali diserahkan kepada Alloh saja. Barangsiapa menyembelih untuk selain Alloh maka dia itu telah terjatuh ke dalam syirik besar, menyerupai agama kaum musyrikin.

            Syaikhul Islam –semoga Alloh merohmati beliau- : “Dulu para penyembah setan dan patung itu menyembelih binatang sembelihan untuknya juga. Maka penyembelihan untuk dzat yang diibadahi itu merupakan puncak kehinaan dan ketundukan untuk dzat tersebut. Maka dari itu sembelihan itu tidak boleh untuk selain Alloh, dan tidak boleh pula nama selain Alloh disebut pada sembelihan. Dan Alloh Yang Mahasuci mengharomkan binatang yang disembelih untuk berhala, dan itu adalam sesuatu yang disembelih untuk selain Alloh, dan sesuatu yang disebutkan untuknya nama selain Alloh, sekalipun orang tadi hanyalah memaksudkan untuk mendapatkan daging saja, bukan untuk korban.

            Dan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh, beliau juga melarang sembelihan untuk jin. Orang-orang dulunya menyembelih untuk jin. Bahkan Alloh mengharomkan apa yang tidak disebutkan nama Alloh padanya secara mutlak, sebagaimana Al Qur’an dan As Sunnah menyebutkan yang demikian itu di beberapa tempat.” (“Majmu’ul Fatawa”/17/hal. 484-485).

            Adapun firman Alloh tadi:

﴿وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾

“Dan untuk yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang pertama dari muslimin (dari umat ini).”

            Rosululloh صلى الله عليه وسلم adalah muslim yang pertama dari umat ini secara mutlak, kemudian sahabat beliau, kemudian generasi yang berikutnya, kemudian generasi yang berikutnya lagi. Dan para Nabi عليهم السلام semuanya juga beragama Islam.

            Al Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Ucapan beliau: “Dan aku adalah orang pertama dari muslimin (dari umat ini).” Qotadah berkata: yaitu: dari umat ini. Dan itu memang seperti yang beliau katakan, karena seluruh Nabi sebelum beliau dakwah mereka semuanya adalah kepada Islam. Dan asalnya adalah peribadatan pada Alloh saja tiada sekutu bagi-Nya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 382).

            Al Imam Ash Shon’aniy –semoga Alloh merahmati beliau- berkata: “Setiap darah yang ditumpahkan untuk selain Alloh adalah harom. Itu adalah ibadah, dan setiap ibadah untuk selain Alloh adalah diharomkan. Dan dengan ini engkau mengetahui bahwasanya yang benar adalah pendapat Asy Syafi’iy tentang haromnya setiap hewan yang disembelih untuk selain Alloh.” (“Majmu’ Rosailish Shon’aniy”/hal. 544/cet. Maktabah Auladisy Syaikh).

            Penyembelihan punya beberapa hukum:

            Barangsiapa menyembelih kambing atau yang lainnya dengan nama Alloh dengan tujuan untuk menjual dagingnya, atau memakan dagingnya semata, maka ini tidak apa-apa. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُون﴾ [النحل/5].

“Dan binatang ternak itu Alloh ciptakan untuk kalian, di antaranya untuk menghangatkan, dan manfaat-manfaat, dan di antaranya untuk kalian makan.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Karena sesungguhnya binatang itu menjadi halal jika disembelih untuk dimakan, dan menjadi harom jika disembelih untuk selain Alloh.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/3/hal. 109).

            Adapun orang yang menyembelih sapi dan semisalnya dengan nama Alloh dalam rangka memuliakan tamu, maka sungguh dia telah berbuat baik, berdasarkan keumuman dalil tentang wajibnya memuliakan tamu, dan berdasarkan firman Alloh ta’ala:

﴿هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ * إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ * فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ * فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ﴾ [الذاريات/24-27].

“Apakah telah datang padamu berita tentang para tamu Ibrohim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk mengunjungi dia seraya berkata: “Salam sejahtera”, beliau menjawab: “Salam sejahtera juga, kalian adalah kaum yang tidak dikenal.” Lalu dia masuk menemui keluarganya, lalu datang lagi dengan membawa daging anak sapi yang gemuk. Lalu dia mendekatkannya kepada mereka dan berkata: “Makanlah.”.”

 

            Adapun  barangsiapa menyembelih dengan nama Alloh, tapi bukan berdasarkan syariat Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka sungguh dia telah membuat bid’ah. Dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barangsiapa membikin dalam urusan agama kami perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka dia itu tertolak.” (HR. Al Bukhoriy (2697) dan Muslim (1718)).

            Adapun orang yang menyembelih untuk selain Alloh, maka dia itu adalah musyrik yang terlaknat, sebagaimana dalam hadits Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ الله».

“Semoga Alloh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh.” (HR. Muslim (1978)).

            Al Imam An Nawawiy –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Adapun penyembelihan untuk selain Alloh maka yang dimaksudkan adalah orang itu menyembelih dengan nama selain Alloh ta’ala, seperti orang yang menyembelih untuk patung atau salib atau untuk Musa atau untuk Isa عليهما السلام , atau untuk Ka’bah dan yang semisalnya. Maka itu semua adalah harom, dan sembelihan ini tidak halal, asma saja apakah orang yang menyembelih itu Muslim ataukah Kristen, atau Yahudi. Inilah yang ditetapkan oleh Asy Syafi’iy, dan disepakati oleh para sahabat kami. Maka jika dia memaksudkan bersamaan dengan itu pengagungan pada dzat yang untuknyalah sembelihan tadi, selain Alloh ta’ala, dan ibadah untuknya, maka yang demikian itu adalah kekafiran. Jika orang yang menyembelih itu adalah seorang muslim sebelum perbuatannya tadi, maka jadilah penyembelihannya itu sebagai suatu kemurtadan.” (“Al Minhaj”/13/hal. 141).

            Al Imam Al Qurthubiy –semoga Alloh merohmatinya- berkata: “Adapun kutukan terhadap orang yang menyembelih untuk selain Alloh, jika orang tadi memang orang kafir yang menyembelih untuk patung, maka perkara ini tidak ada kesamaran padanya. Dan inilah sembelihan untuk selain Alloh, dan yang Alloh ta’ala berfirman tentangnya:

﴿وَلا تأكُلُوا مما لم يذكر اسم الله عليه﴾

“Dan janganlah kalian memakan dari apa yang tidak disebutkan nama Alloh terhadapnya.”

            Berdasarkan penjelasan yang telah lalu. Adapun jika dia adalah seorang muslim, maka keumuman kutukan tadi akan menimpanya juga, kemudian sembelihannya itu tidak halal, karena dia tidak memaksudkan dengan sembelihannya itu perkara yang dibolehkan secara syariat, dan telah lewat bahwasanya itu merupakan syarat dalam penyembelihan. Dan mungkin saja tergambarkan adanya penymbelihan yang dilakukan oleh seorang muslim untuk selain Alloh, jika dia itu menyembelih untuk suatu kesia-siaan, atau sekedar mencoba alat sembelih, atau main-main, dan tidak memaksudkan perkara yang dibolehkan, dan yang semisal itu.” (“Al Mufhim”/16/hal. 142).

 

Selesailah nasihat yang singkat ini semoga diberkahi.

Dammaj, 27 Dzul Hijjah 1433 H