Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji

Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori

(bab dua/tamat)

 

 

Diidzinkan Penyebarannya Oleh:

Fadhilatusy Syaikh ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظهاللهورعاه

 

 

Diperiksa dan Dinilai Oleh:

Asy Syaikhul Fadhil Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy

حفظه الله ورعاه

 

Penulis:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy

Al Qudsiy Aluth Thuriy

 عفااللهعنه

 

Penerjemah:

Sekelompok pelajar Indonesia Di Dammaj

 

Bab Sembilan:

Banyaknya Cercaan Abdulloh Al Bukhoriy Terhadap Ahlul Haq

 

            Telah nampak cercaan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan pengganti beliau sang muhaddits An Nashihul Amin Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy dan para murid beliau salafiyyun yang terang-terangan menampilkan kebenaran حفظهم الله ورعاهم. Di antaranya adalah ucapan orang ini: “Setiap orang menduga manusia seperti itu, pemikirannya terpengaruh oleh syaikhnya bahwasanya dia itu khowarij dalam pemikiran ini. Pada masa itu kami tidaklah berbaik sangka pada setiap orang yang datang, dan tidaklah kami berburuk sangka pada setiap orang yang datang. Kami tawaqquf (berhenti, tidak membuat ketetapan) tentang urusan orang itu sampai kami tahu apa yang akan terjadi.”

            Jawaban kami yang pertama untuk Abdulloh: bahwasanya aqidah Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله adalah aqidah salafiyyah, beliau meyakini haromnya memberontak terhadap pemerintah muslimin. Beliau berkata dalam kitab beliau “Al Ba’its ‘Ala Syarhil Hawadits”: “Kita berada di bangsa muslimin, dan di negri muslimin. Maka tidak boleh bagi kita untuk menumpahkan darah kaum muslimin.” (hal. 38/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Beliau رحمه الله juga berkata di hal. 53-54: “Kita berlindung pada Alloh dari fitnah-fitnah. Kita bukanlah dai fitnah, ataupun pemberontakan, ataupun revolusi. Ahlussunnah telah mengetahui, dan saudara-saudara kita para pejabat telah mengetahui bahwasanya dakwah Ahlussunnah bukanlah dakwah pemberontakan ataupun revolusi. Sesungguhnya ini adalah aqidah Ahlissunnah, bukan aqidah para ahli bid’ah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من أتاكم وأمركم جامع يريد أن يفرق بينكم فاضربوا عنقه كائنا من كان»

Barangsiapa datang pada kalian dalam keadaan urusan kalian itu satu, dia ingin memecah-belah di antara kalian, maka penggAlloh lehernya siapapun dia.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

«إذا بويع لخليفتين فاضربوا عنق الآخر منهما».

“Jika ada dua kholifah dibai’at, maka penggallah leher orang yang terakhir dari keduanya.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Maka kita memuji Alloh bisa bersenang-senang di Yaman dengan dakwah. Dan siapakah yang bisa berkata: “sesungguhnya di negri manapun engkau bisa bersenang-senang dengan dakwah sebagaimana engkau bersenang-senang dengan dakwah di negri Yaman”? Maka semoga Alloh membalas saudara kita para pejabat dengan balasan yang baik. Kita berkata: “Sungguh mereka itu bukanlah orang-orang ma’shum.” Mereka bisa benar dan bisa salah. Dan kita mengingkari kesalahan mereka, seperti bank-bank riba, campur baur laki-perempuan di sekolah dan kampus, dan kepartaian, dan seperti parlemen. Kita mengingkari segala sesuatu yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, akan tetapi kita melihat bahwasanya wajib bagi kita untuk saling membantu dengan mereka untuk memelihara negri ini.” Selesai.

Beliau رحمه الله juga berkata dalam “Fathul Mujib”: “Dan dakwah Ahlussunnah dengan karunia Alloh, Alloh memberikan berkah padanya. Dakwah mereka ada di kitab-kitab mereka dan kaset-kaset mereka. Pemerintah mau bersabar terhadap mereka karena pemerintah tahu bahwasanya mereka itu tidak menyaingi mereka untuk merebut kursi mereka. Kursi-kursi itu di sisi Ahlussunnah tidak menyamai kotoran onta. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿يَرْفَعِ الله الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾ [المجادلة/11].

“Alloh akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11).

(hal. 95-96/Darul Atsar).

Jawaban yang kedua: ini jelas, bahwasanya kesalahan-kesalahan para pemimpin itu jika tersembunyi dan tidak membahayakan manusia, tidak boleh menampilkannya kepada manusia. Cukuplah bagi kita menasihati mereka secara rahasia. Adapun kesalahan yang dikhawatirkan manusia mengikutinya, haruslah diterangkan pada mereka bahwasanya perkara ini adalah termasuk dari kemungkaran dan tidak boleh diikuti, tanpa menggolakkan hati masyarakat ataupun menghasung mereka untuk menyerang pemimpin mereka, ataupun menaburkan benih dendam terhadap mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

Faidah:

            Al Imam Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Adapun orang yang membicarakan penguasa di tempat yang tidak semestinya, maka yang wajib adalah membela kehormatan penguasa, karena sebagaimana wajib bagi kita untuk membela kehormatan saudara-saudara kita masyarakat umum, demikian pula lebih utama lagi untuk wajib bagi kita untuk membela kehormatan penguasa, karena jatuhnya manusia ke dalam pencemaran kehormatan penguasa mengakibatkan timbulnya kebencian padanya, tidak mau taat pada perintahnya, menentangnya, dan ini adalah bahaya besar. Akan tetapi jika ada orang yang bertanya dan dia menginginkan kebenaran, maka di sini engkau wajib untuk menjelaskan keadaan penguasa: kebaikannya dan kejelekannya. Atau engkau ingin berbicara dengan seseorang tentang perkara-perkara yang tidak pantas untuk dilakukan oleh sang penguasa, yang engkau menduga kuat bahwasanya orang ini akan bisa memberikan faidah kepada penguasa, maka ini juga tidak mengapa untuk membicarakan dengannya penyelisihan si penguasa, dan engkau tidak menyebutkan semuanya.” (“Syarh Shohihil Bukhoriy”/karya Al Imam Ibnu ‘Utsaimin/di bawah no. 7178-7179/cet. Al Maktabatul Islamiyyah).

            Bantahan yang ketiga: sejak masa lalu para imam dakwah salafiyyah tidak menahan diri dari memuji Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan terhadap dakwah beliau.

Ini Adalah Sebagian DariPujian Para Ulama Terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan Kedudukan Beliau Di Sisi Mereka

            Al Imam Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمه الله ketika ditanya tentang orang-orang yang mencerca Asy Syaikh Robi’ حفظه الله dan Asy Syaikh Muqbil رحمه الله beliau berkata: “Kita tanpa keraguan memuji Alloh عز وجل Yang menundukkan untuk dakwah yang baik dan tegak di atas Al Kitab dan As Sunnah di atas manhaj As Salafush Sholih ini para dai yang banyak di berbagai negri Islam. Mereka menjalankan fardhu kifaiy yang pada hari ini sedikit sekali orang yang menegakkannya di dunia Islam. Maka upaya untuk menjatuhkan dua syaikh ini: Asy Syaikh Robi’ dan Asy Syaikh Muqbil, dua penyeru ke jalan Al Kitab dan As Sunnah dan perkara yang dulu As Salafush Sholih ada di atasnya dan memerangi orang-orang yang menyelisihi manhaj yang shohih ini, hal ini sebagaimana tidak tersamarkan bagi kita semua hanyalah berasal dari salah satu dari dua jenis orang: bisa jadi dia itu adalah orang bodoh, atau pengekor hawa nafsu.

Orang bodoh mungkin untuk mendapatkan bimbingan, karena dia mengira berada di atas sedikit ilmu, maka jika menjadi jelaslah ilmu yang benar baginya, dia akan mengikuti petunjuk. Adapun pengekor hawa nafsu, maka kita tak punya jalan kepadanya, kecuali jika Alloh تبارك وتعالى memberinya petunjuk. Maka orang-orang yang mengkritik kedua syaikh tadi –sebagaimana telah kami sebutkan- mungkin saja dia itu orang bodoh sehingga perlu diajari, dan bisa jadi dia adalah pengekor hawa nafsu, maka kita mohon pada Alloh dari kejelekannya. Dan kita mohon pada Alloh عز وجل untuk memberinya petunjuk, atau mematahkan punggungnya.” (diambil dari pembukaan “An Nashrul ‘Aziz ‘Alar Roddil Wajiz” karya Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy hal 6-7 yang menukil dari kaset “Silsilatul Huda Wan Nur” no. 1/851).

Al Imam Al Albaniy رحمه الله juga berkata: “Adapun orang-orang yang mengetahui bidang ini mereka tidak ragu akan lemahnya semisal hadits ini. Ini dia Asy Syaikh yang mulia Muqbil bin Hadi Al Yamaniy berkata dalam takhrijnya terhadap “Tafsir Ibnu Katsir“ (1/hal. 513) setelah berbicara tentang para rowi sanadnya satu persatu dengan ringkas dan berfaidah: “Dan hadits ini lemah karena adanya inqitho’ (putusnya sanad), dan lemahnya Ubaidulloh ibnul Walid Al Wushofiy.” (“As Silsilatudh Dho’ifah”/5/hal. 75).

Beliau رحمه الله juga berkata: “Adapun tentang Asy Syaikh Muqbil, maka “penduduk Mekkah lebih tahu tentang anggota masyarakatnya” ([1]) dan berdasarkan berita-berita yang datang kepada kami dari kalian, merupakan persaksian yang terbesar bahwasanya Alloh عز وجل telah memberikan taufiq pada beliau dengan taufiq yang bisa jadi kami tak mendapatkan yang semisal dengan itu jika dibandingkan dengan sebagian dai yang nampak di muka bumi pada hari ini.” (“Silsilatul Huda Wan Nur” (no. 851), dinukil oleh Ma’mar Al Qodasiy هداه الله dalam kitabnya “Asy Syaikh Muqbil” (hal. 80/cet. Darul Atsar)).

Disebutkan kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله tentang tersebarnya dakwah Asy Syaikh Muqbil di Yaman dan lainnya, maka beliau berkata: “Ini adalah buah dari keikhlasan, ini adalah buah dari keikhlasan.” (disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy هداه الله, sebagaimana dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).

Dan di antara data yang menunjukkan ketinggian posisi Al Imam Al Wadi’iy di sisi Al Imam Ibnu Baz, apa yang diceritakan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمهما الله sendiri: “Pada suatu ketika ada di Shon’a ada orang yang lari menyusup ke Riyadh dan berkata pada beliau –yaitu Al Imam Ibnu Baz رحمه الله -: “Wahai Syaikh, saya itu dari ahlussunnah, tapi saya tak punya surat apapun.” Maka beliau berkata padanya: “Berikanlah ketetapan padaku bahwasanya engkau adalah dari ahlussunnah.” Maka dia mengeluarkan selembar kertas dariku yang berisi pengenalanku tentang orang ini. Maka Asy Syaikh Ibnu Baz menuliskan untuknya selembar kertas tentang bolehnya berjalan ke manapun yang diinginkannya.” (“Rotsausy Syaikh Muqbil Lil Imam Ibni Baz” hal. 16, sebagaimana dalam kitab “I’lamul Ajyal” karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 26-27, cet. Darul Atsar).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Asy Syaikh Muqbil Imam,” maka beberapa orang membantah beliau dengan perkataan yang berisi cercaan pada Asy Syaikh Muqbil, maka Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Asy Syaikh Muqbil Imam, Asy Syaikh Muqbil Imam.” (diceritakan oleh Asy Syaikh Abdulloh bin ‘Utsman Adz Dzammariy وفقه الله sebagaimana dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).

Abul Hasan Al Mishriy al hizbiy pernah bertanya pada Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله tentang Asy Syaikh Muqbil, maka beliau menjawab: “Beliaulah yang perlu ditanya tentang diriku.” (kitab “I’lamul Ajyal” karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 27, cet. Darul Atsar).

Abul Hasan Al Mishriy al hizbiy pernah bertanya pada Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله saat di Mina tentang Asy Syaikh Muqbil: “Di sana ada orang yang mengabari Asy Syaikh bahwasanya Anda berbicara tentang beliau. Apakah ini benar?” maka beliau menjawab: “Ini tidak benar. Demi Alloh! Sungguh aku berkeyakinan bahwasanya Asy Syaikh Muqbil itu adalah imam dari kalangan para imam Muslimin.” (“Al Qoulul Amin Fi Rotsai Ibni ‘Utsaimin”/ “I’lamul Ajyal” hal. 27, cet. Darul Atsar).

Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Hammad Al Anshoriy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya Muqbil Al Wadi’iy adalah muridku, dan akulah yang memilihkan untuknya judul pembahasan untuk gelar Majister, dan dulu dia selalu membacakan untukku pada hari-hari hurroh syarqiyyah. Dan dulu kukatakan padanya: “Aku berharap engkau di Yaman di masa ini seperti Asy Syaukaniy di masa beliau.” Dan Muqbil itu, belum pernah aku melihat ada seorang murid yang sepertinya dalam kerajinannya dalam menuntut ilmu.” (“Al Majmu’ Fi Tarjumatil ‘Allamatil Muhadditsisy Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshoriy”/2/hal. 606-607/karya anak beliau Abdul Awwal bin Hammad).

Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله تعالى berkata: “Segala puji bagi Alloh. Kemudian setelah itu: saya telah melihat ceramah yang disampaikan oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, yang beliau sampai di akhir hayat beliau رحمه الله di dalamnya ada penjelasan terhadap kebenaran, dan bantahan terhadap kebatilan, serta pengakuan atas kebaikan pemerintah Saudi atas pelayanan mereka untuk Islam dan Muslimin. Dan ini adalah persaksian yang benar dari seorang alim yang agung. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan balasan terbaik atas dakwah ke jalan Alloh yang beliau tegakkan di Yaman dan lainnya, penyebaran ilmu yang bermanfaat, perbaikan aqidah, dan anjuran untuk berpegang teguh dengan sunnah. Semoga Alloh memberikan manfaat dengan kerja keras beliau dan kitab-kitab beliau dengan pahala dan ganjaran yang agung…” (selebaran Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله تعالى ).

Kholid bin Dhohwi وفقه الله berkata: “Dan di antara bentuk pemuliaan Asy Syaikh Robi’ kepada Asy Syaikh Muqbil adalah: bahwasanya saya dulu pernah menyertai Asy Syaikh Robi’ untuk mengunjungi Asy Syaikh Muqbil di rumah sakit khusus yang ada di Jedah setelah Asy Syaikh Muqbil tiba dari Jerman, dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika kami tiba di kamar beliau, beliau ada di atas tempat tidurnya, majulah Asy Syaikh Robi’ dan mencium kepalanya kemudian menangis dengan keras. Semoga Alloh merohmatinya dengan rohmat yang luas, dan mengumpulkan kita dengan beliau dan para masyayikh kita di Jannah-jannah yang penuh kenikmatan.” (“Ats Tsanaul Badi’ ‘Alasy Syaikh Robi’”/hal. 38-39/karya kholid bin Dhohwi Azh Dhufairiy/cet. Darul Minhaj).

Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata: “… Ini adalah ucapan bela sungkawa kami untuk kalian atas meninggalnya pembawa bendera sunnah dan tauhid, sang penyeru ke jalan Alloh, sang pembaharu dengan benar di negri Yaman, yang pengaruh dakwah beliau memanjang di berbagai penjuru dunia. Dan kukatakan pada kalian dari yang kuyakini: sesungguhnya negri kalian setelah tiga kurun yang utama itu telah mengenal sunnah dan manhaj As Salafush Sholih, walau dengan perbedaan kenampakan dan kekuatan. Sekalipun demikian saya tidak mengetahui adanya tandingan untuk ma’had ini, yang Alloh karuniakan kepada kalian dan kepada masyarakat Yaman, melalui tangan orang sholih ini: muhaddits, zahid, wari’, yang menginjak dunia dan perhiasannya di bawah kedua kakinya.” (tanggal 1 Jumadal Ula 1422 H, sebagaimana dalam “I’lamul Ajyal” karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 27, cet. Darul Atsar. Sebagiannya disebutkan oleh Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab “Al Bayanul Hasan” hal. 33 cet. Darul Imam Ahmad).

Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله juga berkata: “Pria yang zuhud dan waro’ ini, yang kuanggap –dengan sekehendak Alloh- termasuk dari para pembaharu untuk Islam di masa ini, maka semoga Alloh merohmati beliau, …” (“I’lamul Ajyal” karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 28).

Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله dalam kunjungan beliau ke Darul Hadits di Dammaj tanggal 3 Jumadal Akhiroh 1423 H setelah wafatnya Al Imam Al Wadi’iy berkata: “Segala puji bagi Alloh atas ketetapan dan keputusannya, dan harus ada kesabaran. Manusia itu semuanya menuju kepada kematian, akan tetapi orang yang meninggalkan seperti markiz ini tidaklah teranggap sebagai orang yang wafat, karena beliau telah membuat pondasi, memperbaikinya, juga telah berdakwah dan mencurahkan kerja keras yang membikin kami iri dengan itu, dan kami menganggap beliau itu di sisi Alloh termasuk dalam tokoh utama dari orang-orang yang bertaqwa, dan termasuk dari para wali yang tinggi. Kami menyangka beliau demikian dan Allohlah yang menghisab kita semua. Akan tetapi kita melihat dengan mata kepala kami, dan menyentuh dengan indra kami, dan kami tahu –segala pujian bagi Alloh- bahwasanya beliau telah beramal kebaikan yang banyak, yang jarang ada orang yang bisa mencapai ke situ, -sampai pada ucapan beliau:- dan tidaklah kumpulan besar yang kami lihat ini kecuali bagian dari kebaikan syaikh yang agung itu, yang telah berdakwah ke Alloh, bersabar dan mushobaroh([2]), dan mencurahkan segala benda yang mahal dan berharga untuk mengumpulkan jama’ah besar ini, mendorongnya untuk menuntut ilmu, dan meletakkannya di atas jalur yang benar,…” (“I’lamul Ajyal” karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 28-28).

Kami tidak mendapati dari para imam tersebut yang menuduh Asy Syaikh Muqbil punya pemikiran khowarij. Adapun jalur yang ditempuh doktor Abdulloh adalah jalur lain.

Jawaban keempat: demikian pula sejak zaman dulu pada imam dakwah Salafiyyah tidak menahan diri dari menganjurkan manusia untuk mengambil faidah dari pada pelajar Darul Hadits di Dammaj. Akh Musthofa Al Mishriy berkata: “Dulu saya dan beberapa ikhwah fillah bekerja di Yordan di yayasan Al Muwaniy. Dan dulu kami terjatuh di antara Jama’ah Tabligh dan jamaah-jamaah yang lain. Kemudian Alloh memberikan karunia pada kami dengan seorang saudara dari Yordan –semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan-, dia menasihati kami untuk pergi ke rumah Asy Syaikh Al Albaniy –semoga Alloh ta’ala merohmatinya-. Maka kami berangkat dengan mobilnya. Setelah kami mengucapkan salam kepada syaikh di rumah beliau, kami undang beliau ke kota Uqbah yang kami bekerja di situ. Maka beliau –semoga Alloh ta’ala merohmatinya- memenuhi undangan kami, beliau datang dan tinggal selama tiga hari. Kami mengajukan pada beliau soal-soal. Kemudian beliau berkata: “Aku nasihati kalian semua untuk menuntut ilmu syar’iy.” Maka kami bertanya pada beliau: “Di mana wahai Syaikh?” beliau menjawab: “Di sana, di Yaman, saudara kita Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy punya ma’had yang di situ mengajar langsung. Maka maka aku nasihati kalian untuk pergi ke tempat beliau, dan janganlah kalian menunda-nunda karena menunda-nunda itu adalah dari setan.” Maka aku meninggalkan pekerjaanku dan aku pergi menemui beliau –Asy Syaikh Al Albaniy-, dan kukatakan pada beliau: “Sekarang wahai Syaikh? Siap untuk berangkat.” Maka beliau berkata: “Ambillah bersamamu kitab-kitab ini untuk Asy Syaikh Muqbil.” Maka aku langsung datang ke Darul Hadits.” (kitab “Asy Syaikh Muqbil”/karya Ma’mar Al Qodasiy هداه الله /hal. 80/cet. Darul Atsar).

            Di dalam kaset Al Imam Ibnu Baz رحمه الله yang berjudul “Fadhlu Tholabil ‘Ilm”, seseorang dari Yaman bertanya pada beliau: “Kemanakah untuk berangkat menuntut ilmu?” maka beliau رحمه الله menjawab: “Pergilah ke Asy Syaikh Muqbil.” (kitab “I’lamul Ajyal”/karya Salim Al Khoukhiy وفقه الله hal. 26, cet. Darul Atsar).

            Telah datang sepucuk surat kepada Mufti Kerajaan Saudi wilayah selatan Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله yang berisi: “Kami tinggal di pedalaman Dzammar yang didatangi oleh para dai ilalloh, di antara mereka ada sekelompok orang dari pihak Asy Syaikh Az Zindaniy, dan di antara mereka ada yang datang dari pihak Asy Syaikh MUqbil Al Wadi’iy. Mereka berdalilkan dengan ayat-ayat dari Al Kitab dan As Sunnah yang mereka (kedua belah pihak itu) tidak berselisih di dalamnya. Akan tetapi masing-masing pihak mencela pihak lain. Dan kebanyakan dari kami adalah orang-orang ummiy (tidak bisa baca tulis), kami tidak mengetahui kebenaran itu bersama pihak yang mana? Sedangkan Anda memiliki nama yang harum dan bagus di sisi kami. Maka jika Anda memiliki pengetahuan tentang mereka, nasihatilah kami tentang siapakah kelompok yang ikhlas untuk kami mendengarkan nasihatnya dan bimbingannya. Berilah kami faidah hingga kami bisa menyampaikan kepada orang-orang di belakang kami. Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.”

Si penanya: saudara Anda Fayid Muhammad Sa’id.

3/9/1418 H.

            Maka Asy Syaikh An Najmiy رحمه الله menjawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، وبعد:

            Jika kalian bertanya tentang mereka, maka yang kami ketahui bahwasanya para pengikut Muqbil Al Wadi’iy adalah ashabul hadits, dan yang berpegang dengan hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم mereka itu di atas kebenaran jika mereka mengikhlaskan amalan. Adapun siapakah mereka yang ikhlas, maka hati itu tidak bisa diketahui kecuali oleh penciptanya. Wassalam.

Ditulis oleh Ahmad bin Yahya An Najmiy

3/9/1418 H.

Demikianlah dinukilkan oleh Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله dalam kitab beliau “Ar Roddul Muhabbir” (hal. 64-65/cet. Darul Minhaj).

Kemudian beliau رحمه الله setelah itu berkata: “Penjelasan: Az Zindaniy adalah kepala Ikhwaniyyin di Yaman. Dan aku telah menulis tentang Ikhwaniyyin, dan aku tahu penyelisihan-penyelisihan mereka (terhadap kebenaran) banyak sekali: di antaranya bisa menyebabkan kekafiran, di antaranya bisa menyebabkan kefasiqan. Hanya saja perkara yang menyebabkan kekafiran itu tidaklah kami mengkafirkan dengan sebab itu kecuali orang yang memang melakukannya. Dan az Zindaniy sendiri termasuk orang yang bersekutu dalam muktamar pendekatan agama di Sudan.

Adapun Asy Syaikh Muqbil, maka sungguh walaupun kami mencela beliau berdasarkan apa yang kami dengar bahwasanya beliau berbicara tentang sebagian pejabat di pemerintahan kami, hanya saja barangkali hal itu terjadi pada beliau karena pemerintah melarang beliau masuk ke negri mereka. Dan pemerintah punya udzur dalam masalah itu. Adapaun pendidikan beliau kepada para murid beliau, dan arah dakwah beliau maka arahnya adalah arahan salafiy, selain masalah yang beliau رحمه الله berlebihan di situ. Oleh karena itu maka sungguh pemerintah Yaman sampai sekarang tahu bahwasanya para murid Asy Syaikh Muqbil tidak punya sedikitpun dari arahan yang jelek seperti pengkafiran Muslimin, upaya memberontak terhadap negara, perusakan, … dst.” (lihat selanjutnya di “Ar Roddul Muhabbir”/hal. 65-66/cet. Darul Minhaj).

Dan ini beda dengan sikap tawaqquf yang ada pada doktor Abdulloh Al Bukhoriy: Kami tawaqquf (berhenti, tidak membuat ketetapan) tentang urusan orang itu sampai kami tahu apa yang akan terjadi.”

Jawaban kelima: sesungguhnya si doktor sendiri dalam kitabnya “Al Fathur Robbaniy” dalam bantahannya terhadap Abul Hasan Al Mishriy berkata: “Apa yang disisakan oleh Al Ma’ribiy untuk pembawa bendera dakwah di negri Yaman Al Muhaddits Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله?” (“Al Fathur Robbaniy”/hal. 150/cet. Dar Majid ‘Usairiy).

Maka di manakah pujian yang harum itu sekarang ini? Kenapa si Abdulloh menyembunyikannya? Demikianlah hawa nafsunya menyuruhnya untuk terkadang memuji sang Imam yang telah meninggal itu karena ada kebutuhan, dan terkadang mencela beliau sebagai tangga untuk memukul pengganti beliau An Nashihul Amin dan para murid beliau yang berbakti, para salafiyyin yang kuat.

Jawaban keenam: Dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Nabi عليه الصلاة والسلام bersabda:

« لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا». (أخرجه البخاري (1394)).

“Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah mati, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang mereka amalkan.” (HR. Al Bukhoriy (1394)).

            Al Imam Abdul Wahid رحمه الله berkata: “Jika orang tersebut mayoritas keadaannya adalah baik, bisa saja dia mengalami kekeliruan, maka berbuat ghibah terhadap dirinya adalah harom. Tapi jika orang itu adalah fasiq yang mengumumkan kefasiqannya, maka tiada larangan ghibah terhadapnya. Demikian pula jika orang yang mati itu mayoritas keadaannya adalah baik, tidak boleh kejelekannya disebutkan dan tidak boleh pula dicaci. Tapi jika mayoritas keadaannya adalah kejelekan, maka boleh menyebutkan hal itu dari dirinya, dan hal itu bukan termasuk yang dilarang yang berupa cacian pada orang mati.” (“Syarh Shohihil Bukhoriy”/Ibnu Baththol/3/hal. 354).

            Lebih-lebih bahwasanya si mayit itu adalah seorang imam salafiy, penghidup sunnah, penghantam kebid’ahan, telah rujuk dari kesalahannya sebelum kematiannya, dan berwasiat untuk dihapuskannya seluruh ucapannya tentang pemerintah Saudi. Maka tidak tersisa udzur untuk doktor Abdulloh membongkar kuburan beliau lalu mengeluarkan jasad beliau untuk memakannya, lebih-lebih lagi dalam rangka menolong hizbiyyin.

            Alangkah bagusnya ucapan Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Al ‘allamah Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله telah rujuk dari apa yang diucapkannya tentang pemerintah Saudi, dan memerintahkan untuk menghapus seluruh apa yang ditulisnya yang berisi celaan terhadapnya. Dan orang yang bertobat dari dosa itu seperti orang yang tidak punya dosa.” (Ar Roddul Muhabbir”/hal. 66/catatan kaki/cet. Darul Minhaj).

            Jawaban ketujuh: berdasarkan apa yang disebutkan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله  maka doktor Abdulloh itu di antara dua kemungkinan: bisa jadi dia itu bodoh, dan bisa jadi dia itu pengekor hawa nafsu. Adapun yang pertama, maka tidak tepat, karena si doktor itu telah tahu sunnah, mengajarkannya pada manusia, dan menyeru manusia kepadanya, telah tahu Asy Syaikh Muqbil dan dakwah beliau, dakwah murid-muridnya, dan memujinya. Maka tidak ada yang tersisa kecuali kemungkinan yang kedua jika dia tak bertobat.

            Anehnya, si doktor ini sendiri telah menukil ucapan Al Imam Al Albaniy tersebut dalam kitabnya “Al Fathur Robbaniy” (hal. 55-56/cet. Dar Majid ‘Usairiy). Demikianlah keadaan orang yang tertimpa bencana hawa nafsu, terkadang ikut kebenaran jika mencocoki hawa nafsunya, terkadang meninggalkannya jika tidak mencocokinya.

            Jawaban kedelapan: doktor Abdulloh Al Bukhoriy setelah perekaman dialog tersebut menampakkan rujuk dari ucapannya terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله. termasuk yang diucapkannya adalah: “Dan tidaklah dipahami dari kalimat yang aku sebutkan ini sama sekali bahwasanya meyakininya atau membenarkannya. Jika di dalam ucapan tersebut ada suatu kesan maka kami berlepas diri pada Alloh جل وعز dari itu. Jika kalimat tadi mewariskan makna yang rusak, maka kami berlindung pada Alloh dari makna yang rusak ini.”

            Dia juga berkata: “Dan kita keluar dari ini bahwasanya kami berlepas diri dari kalimat yang bisa jadi ungkapan tadi mengesankan makna yang rusak. Maka jauh sekali Asy Syaikh Muqbil untuk terkena semacam ungkapan tadi. dan kita mohon ampun pada Alloh جل وعلا jika ungkapan tadi mengesankan maka yang rusak. Maka makna inilah yang diinginkan.”

            Dan orang yang memperhatikan dengan seksama rujuk orang ini tadi, tahulah dia bahwasanya orang ini hanyalah ingin mengelak dari panah-panah Ahlussunnah. Dia tidak mengakui bahwasanya lahiriyyah ucapannya di dalam dialog tersebut mengandung cercaan terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Perhatikanlah ucapannya: “Setiap orang menduga manusia seperti itu, pemikirannya terpengaruh oleh syaikhnya bahwasanya dia itu khowarij dalam pemikiran ini. Pada masa itu kami tidaklah berbaik sangka pada setiap orang yang datang, dan tidaklah kami berburuk sangka pada setiap orang yang datang. Kami tawaqquf (berhenti, tidak membuat ketetapan) tentang urusan orang itu sampai kami tahu apa yang akan terjadi.”

            Lahiriyyah ucapannya itu jelas bahwasanya dirinya mencerca beliau رحمه الله bahwa beliau punya pemikiran khowarij, dan bahwasanya para muridnya terpengaruh oleh beliau, sehingga kita tidak membuat keputusan tentang urusan mereka karena tidak diketahui apa yang akan terjadi. Inilah lahiriyyah ucapannya, bukan sekedar kesan, bukan sekedar warisan dari lafazh.

            Adapun jika engkau berkata: “Aku hanyalah menginginkan demikian,…” “Maka jika dipahami dari perkataanku demikian dan demikian,” dan penyodoran udzur semacam itu yang tidak bisa memadamkan kemarahan dan tidak pula menyembuhkan luka, maka kukatakan padamu seperti perkataanmu sendiri pada Abul Hasan Al Ma’ribiy: “Dan telah diketahui oleh para ulama bahwasanya penjelasan maksud itu tidak bisa menolak kritikan!” (“Al Fathur Robbaniy”/hal. 165).

            Faidah: Sesungguhnya sebagian pimpinan hizb baru di negri kami bersemangat untuk membuat ceramah-ceramah yang berisi pengagungan terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan bahwasanya dakwah beliau itu begini dan begitu, untuk mengesankan pada manusia bahwasanya ereka itulah yang ada di atas jalan dakwah sang imam tersebut, dan bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy telah merubah jalur dakwah –dan mereka itu dusta dalam dakwaan tersebut-. Akan tetapi manakala syaikh mereka Abdulloh Al Bukhoriy mengoceh dan mencela sang imam, ternyata para hizb baru itu diam saja, dan kami tidak melihat mereka punya bantahan buat si doktor itu, dan pembelaan terhadap sang imam yang mereka menisbatkan diri kepada beliau!

            Yang berikutnya dari bukti cercaan doktor Abdulloh Al Bukhoriy terhadap Ahlussunnah adalah: cercaannya terhadap Asy Syaikh Yahya dan orang yang bersama beliau dengan ucapannya: “Ini hanyalah ketololan, kedunguan, kedustaan, kebohongan dan cercaan.”

            Telah kami jelaskan kuatnya hujjah Asy Syaikh Yahya dan orang yang bersama beliau dalam fitnah, bersamaan dengan lemahnya orang-orang yang menyelisihi mereka untuk meruntuhkan hujjah tadi satu persatu dengan hujjah yang kuat. Maka Asy Syaikh Yahya dan orang yang bersama beliau –semoga Alloh memelihara mereka- itu disertai oleh Al Kitab, As Sunnah, manhajus Salaf, akal dan fitroh. Adapun Abdulloh Al Bukhoriy bersamaan dengan kelemahannya untuk baku hantam dengan hujjah dia bersikeras untuk menentang kebenaran yang sangat jelas, dan enggan untuk tunduk pada kekuasaan kebenaran. Maka dia tidak disertai kecuali apa yang diucapkannya sendiri: “ketololan, kedunguan, kedustaan, kebohongan dan cercaan.” Semoga Alloh melindungi si doktor dari menjadi seperti orang-orang Arob:

أنف في السماء واست في الماء.

“Hidungnya di langit tapi pantatnya di air.” ([3]) (“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 7).

            Dan kami telah menyebutkan tingginya kedudukan Asy Syaikh Al Muhaddits Yahya bin Ali Al Hajuri -hafidhahulloh-. Maka kami katakan sekarang: ucapan para imam terhadap orang yang mencerca ahli hadits itu cocok dengan kondisi si doktor Abdulloh. Al Imam Abu Hatim Ar Rozy rohimahulloh berkata: “Alamat ahlul bida’ adalah cercaan mereka terhadap ahlul atsar.” (“Aqidatussalaf”/hal. 110/karya Al Imam Ash Shobuniy/cet. Darul Minhaj/hasan lighoirih).

Ahmad bin Sinan ibnul Qoththon rohimahulloh berkata: “Tiada di dunia seorang mubtadi’pun kecuali dia itu membenci ahlul hadits. Jika seseorang telah berbuat bid’ah, dicabutlah dari hatinya manisnya hadits.” (“Aqidatussalaf”/hal. 109/karya Al Imam Ash Shobuniy/cet. Darul Minhaj/hasan lighoirih).

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan -hafidhahulloh- berkata: “Dan aku katakan bahwasanya tidaklah mencemarkan kehormatan ulama yang istiqomah di atas al haqq kecuali salah satu dari tiga tipe orang: Bisa jadi dia itu munafiq yang telah diketahui kemunafikannya, atau orang fasiq yang membenci ulama karena mereka menghalanginya dari kefasikan, atau seorang hizbi yang sesat yang membenci ulama, karena mereka tidak menyetujuinya di atas kehizbiyahannya dan pemikirannya yang menyeleweng.” (“Al Ajwibatul Mufidah”/hal. 79-80/cet. Al Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

Fadhilatusy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholi -hafidhahulloh- ditanya: Kapankah seseorang itu menjadi hizbi? Beliau menjawab di antaranya adalah: “Pencemarannya terhadap kehormatan para da’i kepada tamassuk (berpegang teguh) dengan manhaj ahlul atsar.” (“Al ‘Aqdul Munadhdhod”/ Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholi/”Nashbul Manjaniq Li Quththo’ith Thoriq”/Yusuf Al Jazairi/hal. 77).

            Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله ketika menyebutkan sisi-sisi kemiripan Haddadiyyah dengan rofidhoh beliau berkata: Sisi keenam: Usaha mereka untuk menjatuhkan ulama sunnah masa kini, dan penghinaan terhadap mereka, dan menolak hukum-hukum mereka yang tegak di atas dalil-dalil dan bukti-bukti, dan pemberontakan mereka terhadap ulama tadi, cercaan terhadap mereka, manhaj mereka, dan prinsip-prinsip mereka yang tegak di atas Al Kitab, As Sunnah dan manhaj As Salafush Sholih.” (“Khuthurotul Haddadiyyatil Jadidah”/hal. 11/cet. Darul Imam Ahmad).

            Dan di antara cercaan si doktor Abdulloh terhadap syaikh kami حفظه الله adalah perkataannya: “Yahya Al Fujuriy.” Demikianlah aku mendengar dari kaset tersebut, dan telah aku ulang-ulang untuk mendengarnya. Kemudian aku meminta orang lain untuk mendengarnya karena barangkali ada kesalahan di telingaku. Maka dia mendengarkannya lalu memperkuat apa yang telah aku dengar. Si Abdulloh Al Bukhoriy boleh jadi berkata: “Barangkali kaset yang sampai kepada kalian itu tidak jelas karena direkam berulang-ulang,” maka aku jawab: “Maka bawa kemarilah kaset yang suaranya jelas tanpa pengurangan, penambahan ataupun perubahan. Jika tidak demikian, maka kami menghukumi berdasarkan lahiriyyahnya, dan janganlah sekali-kali engkau mencela kecuali dirimu sendiri.”

            Dan kita tidak butuh banyak komentar terhadap cercaannya tadi.

Lebih dari sekali Abdulloh Al Bukhoriy terhadap Asy Syaikh Yahya dan orang yang bersama beliau, sebagaimana yang diucapkan si doktor ini di akhir-akhir dialognya: “Dan inilah yang diwasiatkan pada kalian juga. Datang pada kami sekelompok orang: Dzul Akmal dan siapa lagi aku tidak tahu. Sebagian pelajar. Dan kami menasihati mereka dengan perkataan ini.”

Jika begitu, maka si doktor telah berbuat makar bawah tanah terhadap para Salafiyyin Dammaj lebih dari sekali, akan tetapi dia menampilkan gaya tawaqquf dan tidak ikut campur dalam fitnah ini. Maka segala puji bagi Alloh yang membongkar kebusukannya sehingga tersebar di alam salafiy. Zuhair berkata (sebagaimana dalam “Khizanatul Adab”/2/hal. 492):

ومهما تكن عند امرىء من خليقة … وإن خالها تخفى على الناس تعلم.

“Dan akhlaq apapun yang ada pada seseorang, sekalipun dia menjadikannya tersembunyi dari manusia pastilah akan ketahuan.”

 

Bab Kesepuluh:

kontradiksi dari Abdulloh Al Bukhoriy dan Pengikutnya

 

            Setiap yang menyelisihi kebenaran mesti dia akan mengalami perkara-perkara yang bertentangan, dan ini seperti apa yang terjadi pada Abdulloh Al Bukhoriy sebagaimana berikut ini:

Kontradiksi pertama: perkara yang berkisar tentang Syaikh kami Al Waliid Abu Ibrohim Muhammad bin Muhammad bin Maani’ Ash Shon’any dan Syaikh kami Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Roimy, semoga Alloh melindungi mereka berdua.

            Usamah di dalam kaset tersebut berkata: “Dan yang dipermasalahkan bahwasanya saudara Luqman sebelumnya dia menelpon ke Syaikh Robi’, dan Syaikh Robi’ berlemah lembut dan berkata: “Jangan kalian bertentangan dengan mereka, muliakanlah mereka dan berlemah lembutlah kepada mereka dan begitulah””. Abdulloh berkata: “Tidak mengharuskan kalian untuk menghormati mereka –sampai perkataannya- adapun menghormati kepada mereka maka tidak mengharuskan kalian untuk menghormati mereka dan juga untuk datang”.

Aku katakan waffaqoniyalloh : Nampak sekali dari perkataan ini bahwasanya Asy Syaikh Robi’ menganjurkan para Salafi di negeri kami memuliakan kedua Syaikh ini dan berlemah lembut kepada keduanya. Dan telah tersebar juga situs Al Aloloom As Salafiyah kabar dari Abu Hammam Al Baidhony waffaqohulloh dan yang lainnya yang hasilnya: Bahwasanya Asy Syaikh Robi’ memuji dua syaikh ini Muhammad bin Muhammad Mani’ Ash Shon’any dan Hasan Qosim Ar Roimy ro’ahumalloh bahwasanya keduanya itu dua orang Salafi dan menganjurkan untuk hadir di pelajaran mereka yang diadakan di negeri kami bahkan menganjurkan untuk mengikuti pelajaran siapa saja yang keluar dakwah dari Dammaj.

Dan ini lafadznya: “Berkata saudara Al Faadhil Kholid bin Muhammad Al Ghorbaniy hafidzohulloh :” dan pada risalah tersebut melalui telepon dari Asy Syaikh Abu Hammam Al Baidhoniy ke Asy Syaikh Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Roimiy beliau berkata: Aku telah paparkan perkataan Ubaid terhadap kalian ke Asy Syaikh Robi’. Dan orang Indonesia telah menelpon melalui HP maka aku memujimu (Ar Roimiy) dan Ibnu Maani’ maka aku telah menasihati, menganjurkan untuk menghadiri pelajaran kalian. Dan pada penelponan itu terjadilah pada waktu itu di antara Asy Syaikh Robi’ dan dua Syaikh Muhammad Mani’ dan Hasan bin Qosim setelah sholat isya dan hasil daripada itu kebaikan yang banyak dan nasihat yang baik, dan Asy Syaikh Robi’ berkata kepadanya (Hasan bin Qosim) tentang tahdziran Al Jabiriy kepada kedua Syaikh ini Ibnu Mani’ dan Ibnu Qosim, beliau berkata: “Al Jabiry berbicara dengan pembicaraan yang tidak sepantasnya untuk dia mengatakannya.”

Dan Asy Syaikh Al Baidhoniy  menukilkan dari Asy Syaikh Robi’ ucapan beliau terhadap kedua syaikh tersebut: “Mereka adalah Salafiyyun”

Dan di antara yang diucapkan Asy Syaikh Robi’ adalah: “Hadirilah orang yang keluar berdakwah dari Darul Hadits di Dammaj.”

Maka semoga Alloh membalas kebaikan Asy Ayaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy terhadap pembelaannya kepada saudara-saudaranya dan anak-anaknya.”

Selesai penukilan.

Kukatakan -waffaqoniyalloh- : Aku dan selainku telah menterjemahkan kepada bahasa kami dan menyebarkannya melalui internet sekalipun Abdulloh Al Bukhoriy dan teman-temannya membenci itu. Maka rekomendasi Asy Syaikh Robi’ –ro’ahulloh– kepada kedua Syaikh tersebut khususnya dan Ahlus Sunnah Dammaj secara umum itu ada walaupun Abdulloh Al Bukhoriy berusaha untuk mentakwilnya sebagaimana yang ada di kaset tersebut. Dan Alhamdulillah kami mementingkan perbaikan jalur dakwah, bukan rekomendasi orang yang beri rekomendasi. Maka orang yang memuji kepada hamba dari hamba Alloh dengan jujur maka yang demikian itu merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin.

Kemudian lihatlah usaha Doktor Abdulloh Al Bukhoriy untuk memalingkan manusia dari perkataannya Asy Syaikh Robi’. Dan berusaha untuk tidak menghadiri (dauroh), maka berkata (Abdulloh): “Intinya mereka datang dengan fitnah ini, maka sepantasnya untuk seorang lari daripadanya. Sungguh  -demi Alloh- kedatangan mereka… dan bukanlah untuk mengajar, wallohu a’lam. Ini adalah perkara yang lain, dan Alloh lebih tahu tentang mereka, tidaklah aku mengetahui orang-orang itu (Ibnu Mani’ dan Ibnu Qosim), dan aku tidak mewasiatkan untuk pergi ke tempat yang orangnya tidak diketahui. Yang aku maksud: Ini perkara yang penting sekali sebagaimana yang telah ditetapkan di kalangan Ahlus Sunnah bahwasanya tidaklah dia belajar kecuali kepada Ahlus Sunnah As Salafy sebagaimana kami melarang belajar dan mengambil (ilmu) kepada Ahlul Bid’ah maka demikian juga kami melarang untuk belajar kepada orang yang tidak diketahui. Dan keadaan kedatangan mereka yang dari Dammaj tidaklah berarti dalam keadaan istiqomah dan selamat.”

Ini menunjukkan bahwasanya Doktor Abdulloh Al Bukhoriy tidaklah ridho dan tidak merespon terhadap perkataan Asy Syaikh Robi’ hafidzohulloh dan dalam keadaan dia sendiri berkata: “Orang yang tidak mempedulikan perkataan Asy Syaikh (Robi’) maka jangan kalian mempedulikannya. Orang yang tidak mempedulikan terhadap perkataan Asy Syaikh maka jangan kalian peduli padanya. Tidak ada kemuliaan baginya. Ambillah perkataan ini dariku: orang yang tidak mengambil nasihat Asy Syaikh (Robi’) dan tidak perduli nasihatnya maka jangan kalian peduli padanya. Tidak ada kemuliaan baginya.”

Maka wahai para Salafy jangan kalian ambil perkataan Doktor ini (Al Bukhoriy) dan jangan kalian peduli dengan perkataannya dikarenakan dia tidak peduli dengan perkataan Asy Syaikh Robi’. Ini yang terkandung dalam ucapan Doktor ini sendiri.

 

Dan berkatalah Abdulloh Al Bukhoriy di dalam kasetnya: “Sebagaimana yang telah kami katakan pada kalian: Bahwasanya barangsiapa yang tidak peduli terhadap perkataan Asy Syaikh Robi’ maka jangan kalian menganggap mereka. Tidak ada kemuliaan baginya … kaset Asy Syaikh Robi’ telah kalian sebarkan? Rekaman pembicaraan Luqman dengan Asy Syaikh Robi’ telah kalian sebarkan?”

Berkata Usamah: “Belum sekarang, belum ya Syaikh kami, rekamannya masih sama kami.”

Berkata Abdulloh: “Biarkan kaset itu bersama kalian sekarang.”

Berkata Usamah: “Akan tetapi telah kami kirim kepada Asy Syaikh Kholid melalui email dan ke Anda.”

Berkata Abdulloh: “Iya, akan aku lihat Insya Alloh. Biarkan kaset itu bersama kalian sekarang.”

 

Aku katakan -waffaqoniyalloh- : Dan bagian dari penipuan Al Bukhoriy adalah bahwasanya Doktor ini menganjurkan untuk tidak menyebarkan perkataan asy Syaikh Robi’ terhadap dauroh orang Dammaj. Alloh ta’aala berfirman:

﴿وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَة﴾ [آل عمران/161].

“Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.”

           

            Dan ini menunjukkan tidak pedulinya (Abdulloh) terhadap perkataan Asy Syaikh Robi’, dan hukum terhadapnya sebagaimana apa yang dia katakan sendiri: “Sebagaimana yang telah kami katakan pada kalian: Bahwasanya barangsiapa yang tidak peduli terhadap perkataan Asy Syaikh Robi’ maka jangan kalian menganggap mereka. Tidak ada kemuliaan baginya.”

            Maka Abdulloh Al Bukhoriy dengan perkataannya menganjurkan orang untuk membebek kepada Asy Syaikh Robi’, tapi kalau di sana ada pendapat yang lain yang hawa nafsunya lebih cenderung padanya maka dia akan mengambilnya dan dia berusaha untuk berkelit dari pendapat Asy Syaikh Robi’. Dan sikap ini mengingatkan kami dengan perkataan Al Imam Adz Dzahabi -rohimahulloh- : “Sebagaimana orang yang bermadzhab pada seorang imam, apabila nampak baginya apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, ia akan beramal dengannya, dari madzhab manapun”. (“Siyar A’laamin Nubalaa”/8/halaman 90).

 

            Kontradiksi kedua: Permasalahan perkataan orang yang tidak dikenal.

            Berkata Abdulloh: “Ringkasannya: perkataan yang datang dari orang yang tidak diketahui itu tidaklah diterima.”

            Demikianlah bantahan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap hukum Asy Syaikh Muhammad bin Mani’ terhadap Luqman Ba ‘Abduh bukan karena lemah hujjahnya, dan bukan juga permasalahan menyelisihi kebenaran, akan tetapi dikarenakan Asy Syaikh Muhammad bin Mani’ hafidzohulloh tidaklah dikenal olehnya.

            Dan begitulah –sebagaimana apa yang telah lewat- Al Bukhoriy melarang pengikutnya untuk menghadiri dauroh kedua Syaikh Hasan bin Qosim dan Muhammad bin Mani’ dikarenakan keduanya itu tidaklah dikenal olehnya. Dan memang benar, para murid-murid Doktor Abdulloh yang berbakti itu menerapkan ucapannya. Maka tidaklah seorang pun dari mereka datang pada waktu dauroh (orang Indonesia) bahkan sebagian mereka telah terang-terangan menyatakan bahwasanya dia tidak akan hadir, -dan Qoddarulloh wa ma syaa fa’al-. Di mana pemerintah Indonesia, semoga Alloh memperbaikinya- telah melarang kedatangan utusan Dammaj (1)

                Dan ma’ruf bagi kami bahwasanya Usamah Mahri dan Luqman Ba ‘Abduh dan semua para Mar’i, orang-orang yang Abdulloh Al Bukhoriy membela mereka dan menancapkan permusuhan terhadap para salafy yang tsabit demi mereka, dan mereka (Mar’iyyun) sangat menerima tulisan-tulisan orang-orang yang tidak dikenal, dan berhujjah dengan kabar mereka untuk menghantam orang-orang yang kokoh dalam fitnah ini.

 

                Dan ini nama-nama para majhul (orang-orang yang tidak dikenal) yang tulisan-tulisan mereka tersebar yang terletak di situs Asy Syihr dan situs Wahyain milik para pengikut kedua anak Mar’y:

  1. Abdurrohman bin Ahmad Al Barmakiy
  2. Abdulloh bin Robi’ As Salafiy
  3. Abdulloh bin Qosim Ad Daakhiliy
  4. Abu Abdillah Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al Qohthoniy
  5. Abdulloh bin Ahmad Al Khaulaaniy
  6. Ibnu Shibban Al Manshuuriy
  7. Abu Abdil Wahhab
  8. Abu Haajir As Salafiy
  9. Abu Abdillah As Salafiy
  10. Ammar As Salafiy
  11. Said bin Aly Al Haamid
  12. Ath Thoyyib Abul Madiiniy
  13. Abdulloh bin Ahmad
  14. Ubaidulloh As Salafiy

 (Saya ambil faidah data nama-nama ini dari “Mukhtashorul Bayan”).

            Ini adalah perkara yang buruk –bahwasanya hizb yang baru menyerang Salafiyyun dengan nama-nama pinjaman dan yang seperti itu-, dan para Salafiyyun telah banyak menyebarkan data ini sebagai peringatan kepada semua bahwasanya hizb baru tersebut telah menempuh jalan para hizbiyyin terdahulu. Akan tetapi keadaan kebanyakan manusia –di antara mereka adalah Abdulloh Al Bukhoriy- tidak peduli dan tak sudi mengambil pelajaran, sebagaimana apa yang diucapkan oleh penyair:

لقد أسمعتَ لو ناديتَ حياً … ولكن لا حياةَ لمن تنادي

ولو ناراً نفختَ بها أضاءتْ … ولكن أنتَ تنفخُ في رمادِ

 “Sungguh engkau telah memperdengarkan, andaikata engkau menyeru orang yang masih hidup. Akan tetapi orang yang engkau seru itu tak punya kehidupan. Seandainya api yang engkau tiup pastilah dia akan menyinari, akan tetapi engkau meniup ke dalam abu.” (“Majma’ul Hikam Wal Amtsal”/11/hal. 55/karya Ahmad Qubsy bin Muhammad Najib).

            Kami tidak melihat ataupun mendengar Abdulloh mengingkari para pengikutnya atas perbuatan mereka itu, dan dia juga tidak pula menngumumkan berlepas diri dari mereka ataupun dari perbuatan mereka. cocoklah untuknya apa yang diucapkan oleh Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله : “Adapun orang yang diam dari menerangkan kebenaran kepada manusia, maka sesungguhnya mereka itu tidak mendapatkan udzur dengan diamnya mereka. Andaikata mereka berkata,”Kami tidak bersama mereka,” Maka mereka tidak mendapatkan udzur. Sampai bahkan andaikata mereka berkata,”Kami tidak bersama pemilik manhaj yang tersesat dari jalan yang benar itu,” kecuali jika mereka mengingkari kesesatan mereka.” (“Al Fatawal Jaliyyah” hal.50/cet. Darul Atsar, edisi kecil).

            Dan barangkali si doktor itu justru termasuk orang yang mengambil faidah juga dari berita-berita orang tak dikenal tersebut terhadap syaikh kami An Nashihul Amin.

            Adapun berita-berita dari Salafiyyin Dammaj yang terpercaya, dan hukum-hukum ulama mereka yang diperkuat dengan bukti-bukti yang kuat, serta pengajaran-pengajaran mereka yang ilmiyyah justru tertolak dan ditahdzir oleh si doktor dengan alasan: “Tidak dikenal”. Demikianlah Abdulloh menimbang dengan dua timbangan, dan menakar dengan dua takaran.

            Perlu diingat: sampai sekarang Abdulloh Al Bukhoriy ataupun satu orang saja dari masyayikh hizb baru tidak sanggup untuk meruntuhkan bayyinah-bayyinah ulama salafiyyin Dammaj dan para ulama yang bersama mereka dengan hujjah-hujjah yang kuat. Akan tetapi mereka hanya berkeliling di seputar nada: “Jangan berbicara tentang fitnah”, atau “Mereka Haddadiyyah!” atau yang seperti itu.

            Kontradiksi ketiga: kasus Barmakiy yang tak dikenal. Telah sampai pada kami –dan disebutkan oleh syaikh kami An Nashihul Amin di hadapan dars umum- bahwasanya Abdulloh Al Bukhoriy mengingkari bahwasanya dirinya itu adalah Al Barmakiy Al Majhul yang menulis beberapa kritikan terhadap syaikh kami. Abdulloh berkata: “Jika aku ingin menulis kritikan-kritikan terhadapnya pastilah sudah aku tulis tanpa bersembunyi dengan nama yang tak dikenal.” Atau yang seperti itu.

            Ucapan darinya ini, jika memang benar adanya, menyiratkan adanya keberanian. Akan tetapi kenapa di dalam kaset dialog ini setelah dirinya memperbanyak caci-makian dan penghinaan serta tuduhan terhadap syaikh kami yang orang-orang yang bersama beliau dia justru di akhir dialog berkata: “Ini kalian rekam? Dialog ini kalian rekam?” Usamah menjawab: “Iya wahai Syaikh kami, kami merekamnya.” Abdulloh berkata: “Hendaknya kaset ini hanya ada di antara kalian saja, jangan sampai jatuh kepada orang lain. Semoga Alloh memberkahi kalian, janganlah kaset ini disebarluaskan, dan jangan sampai keluar.”

            Aku dulu memang telah menduga bahwasanya si Abdulloh Al Bukhoriy ini tidak bersih dalam fitnah ini karena banyaknya hubungan dia dengan para tokoh hizb baru di Indonesia, dan kunjungannya ke negri kami juga terulang melalui jalur mereka. akan tetapi aku tidak menyangka bahwasanya kebenciannya dan kedongkolannya itu mencapai tingkat separah ini terhadap syaikh kami yang mulia dan orang yang bersama beliau –semoga Alloh memelihara mereka-. Maka keadaan dirinya seperti pepatah:

سكت دهرا ونطق بجرا.

“Sekian lama dia diam, tapi begitu berbicara langsung bicaranya kasar.”

Kemudian setelah ucapannya yang sedemikian kasar itu, aku mendengar apa yang juga didengar oleh orang lain: sikap pengecut dan penakut. Yaitu: si Abdulloh Al Bukhoriy setelah menghantam dengan gencar dalam kaset ini terhadap syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau, dia meminta agar pada si penanya agar ucapan ini tidak keluar kepada orang lain, kemudian dia menguatkan lagi permintaan itu karena takut sampai kepada orang-orang Dammaj. Perbuatan ini seperti ucapan sebagian penyair:

أسد علي وفي الحروب نعامة * فَتْخاء تنفر من صفير الصافر

هلا برزت إلى غزالة في الوغا * بل كان قلبك في جناحي طائر.

“Engkau bersikap bagaikan singa terhadapku, tapi di peperangan seperti burung onta, lembek dan lari dari kicauan burung kecil. Kenapa engkau tidak tampil menghadapi si Ghozalah di deru peperangan. Akan tetapi hatimu ada di antara dua sayap burung.” (“Al Bidayah Wan Nihayah”/9/hal. 26).

            Demikianlah, si doktor yang mengeluarkan uap dengan ta’ashshubat (fanatisme) dan kengawuran itu ingin menyembunyikan dialog itu, akan tetapi Alloh tidak mau kecuali membongkar urusan orang itu dan menjadikan para wali-Nya mengetahui hakikat orang-orang itu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالله مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُون﴾ [البقرة/72]

“Dan Alloh mengeluarkan apa yang kalian sembunyikan.”(Al Baqoroh 72)

﴿أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ الله أَضْغَانَهُم﴾ [محمد/29]

“Apakah orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit menyangka bahwasanya Alloh tak akan mengeluarkan kedengkian mereka.” (Muhammad 29)

﴿وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَالله يَعْلَمُ أَعْمَالَكُم﴾ [محمد/30]

“Dan pastilah engkau akan benar-benar mengenali mereka pada gaya bicara mereka. dan Alloh mengetahui amalan kalian.”

﴿قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ الله مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ﴾ [التوبة/64].

“Katakanlah: berolok-oloklah kalian, sesungguhnya Alloh akan mengeluarkan apa yang kalian khawatirkan.

            Kontradiksi keempat: antara ucapan Ibnul Qoyyim dan penerapan sang doktor. Abdulloh Al Bukhoriy di akhir-akhir dialog mendorong untuk menampilkan kebenaran tanpa rasa takut celaan orang yang mencela. Di antara yang diucapkannya adalah: “Tiada tempat bagi orang-orang yang ragu-ragu dalam dakwah salafiyyah, dakwah salafiyyah butuh kepada sikap terang-terangan dan tekad kuat, serta tidak melihat kepada celaan orang yang mencela dari kalangan orang-orang yang menelantarkan kita itu. Orang yang memandang pada celaan orang yang mencela akan dihempaskan dalam keadaan terpelanting.”

            Dia juga berkata: “Kita jika seperti ini, menoleh pada celaan orang yang mencela dan kita takut dan mundur, kita tidak akan maju, tak akan tahu dan tak akan belajar.”

            Dan dia menyebutkan ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam bab ini.

            Ternyata sang doktor sangat ketakutan akan dirinya sendiri jika para pencela dan para penelantar dari Dammaj –menurut dakwaannya- itu mengetahui ucapannya itu. Dia berkata: “Ini kalian rekam? Dialog ini kalian rekam?” Usamah menjawab: “Iya wahai Syaikh kami, kami merekamnya.” Abdulloh berkata: “Hendaknya kaset ini hanya ada di antara kalian saja, jangan sampai jatuh kepada orang lain. Semoga Alloh memberkahi kalian, janganlah kaset ini disebarluaskan, dan jangan sampai keluar.”

            Lihatlah kuatnya rasa takutnya sehingga mengulang-ulang permintaannya untuk disembunyikan agar tidak diketahui oleh para Salafiyyin Dammaj: “Hendaknya kaset ini hanya ada di antara kalian saja,” “jangan sampai jatuh kepada orang lain,” “Semoga Alloh memberkahi kalian, janganlah kaset ini disebarluaskan,” “dan jangan sampai keluar.”

Perlu diingat:

            Tidak boleh kita menuduh Abdulloh Al Bukhoriy  sebagai si penulis gelap Al Barmakiy karena tidak ada bayyinah, dan dirinya juga menyatakan bukan sebagai Al Barmakiy. Syaikhuna An Nashihul Amin حفظه الله berkata:

بسم لله الرحمن الرحيم، الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، أما بعد.

Telah tersebar pada hari-hari ini bahwasanya saudara kita Abdulloh Al Bukhoriy yang tinggal di Madinah Rosulillah صلى الله عليه وسلم itu adalah orang yang menulis di situs “Al Wahyain Al Hizbiyyah” dengan nama gelap: “Al Barmakiy.” Saudara kita yang mulia Adil bin Manshur –semoga Alloh menjaga kita semua- telah memberikan faidah pada kita bahwasanya saudara kita Abdulloh Al Bukhoriy menolak dengan keras tuduhan bahwasanya dirinya itulah yang menulis tulisan-tulisan tersebut, dan dia tidak mengenal orang fajir tak dikenal yang dipanggil sebagai Al Barmakiy itu. Dan saudara kita Abdulloh Al Bukhoriy إن شاء الله jujur dalam penolakannya terhadap tuduhan tadi, maka kami tidak suka untuk dia dituduh dengan itu, ataupun dia disangka buuk dengan sebab tadi. semoga Alloh memberikan taufiq pada kita semua kepada perkara yang disukai-Nya dan diridhoi-Nya.

Ditulis oleh: saudara kalian Yahya bin Ali Al Hajuriy

Pada tanggal 27 Jumadil Ula 1430 H.

(Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

            Kita kembali pada pembicaraan tentang kontradiksi Abdulloh Al Bukhoriy. Ini tadi adalah beberapa contoh tentang kontradiksi doktor Abdulloh Al Bukhoriy, dan itu cukup sebagai petunjuk tentang batilnya madzhab dia dalam fitnah ini, bagi orang yang punya mata hati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya sikap bertolak belakang itu merupakan awal posisi kerusakan.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 389).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Ucapan-ucapan itu jika saling bertabrakan dan tidak bisa dicari mana yang terkuat, hal itu merupakan petunjuk akan rusaknya dia dan kebatilannya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 147/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

            Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Yang penting adalah: bahwasanya setiap orang yang tidak mengikuti apa yang datang dalam Al Kitab dan As Sunnah maka dia akan mengalami kontradiksi, dan itu pasti. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ الله لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾ [النساء/82].

“Seandainya Al Qur’an itu datang dari sisi selain Alloh pastilah mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.”

(“Syarhul Ushul Min ‘Ilmil Ushul”/hal. 337/cet. Dar Ibnil Haitsam).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan para hizbiyyun itu saling bertolak-belakang dengan sangat parah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 106).

Bab Sebelas:

Ucapan Abdulloh Itu Cocok Untuk Para Pengikutnya

 

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Manusia itu korban Mukatil(1), korban fitnah, dan korban proyek mencari makan dengan nama agama.”

            Saya jawab –semoga Alloh memberiku taufiq-: Tidakkah engkau tahu wahai doktor, bahwasanya banyak dari orang yang menempel dan mendekatkan diri padamu dari kalangan hizbiyyin Indonesiyyin itu, cocok untuk mereka perkataanmu: “proyek mencari makan dengan nama agama”?

            Sebagian dari mereka telah memanfaatkan kedudukan “ustadz” untuk mengambil harta Muslimin, mungkin dengan alasan membangun masjid atau markiz, mungkin untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka yang berupa makanan dan lainnya. Dan sebagian dari mereka tidak ridho dengan sebagian hidangan, maka dia minta jenis makanan atau minuman yang lain yang lebih lezat. Ini menunjukkan sedikitnya rasa syukur dan penjagaan kehormatan pada diri orang tersebut. Telah shohih dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

« من لا يشكر الناس لا يشكر الله». (أخرجه أبو داود (4813) والترمذي (1954)).

“Barangsiapa tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak mensyukuri Alloh.” (HR. Abu Dawud (4813) dan At Tirmidziy (1954)).

            Dan dari Abu Dzarr رضي الله عنه yang berkata:

ركب رسول الله صلى الله عليه و سلم حمارا واردفني خلفه وقال: «يا أبا ذر أرأيت إن أصاب الناس جوع شديد لا تستطيع أن تقوم من فراشك إلى مسجدك كيف تصنع؟» قال: الله ورسوله أعلم. قال: «تعفف». قال: «يا أبا ذر أرأيت إن أصاب الناس موت شديد يكون البيت فيه بالعبد يعني القبر كيف تصنع؟» قلت: الله ورسوله أعلم. قال: «اصبر».

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah menunggang seekor keledai dan memboncengkan diriku di belakang beliau, dan bersabda: “Wahai Abu Dzarr, bagaimana pendapatmu jika manusia tertimpa kelaparan yang amat sangat sehingga engkau tak bisa bangkit dari tempat tidurmu ke masjidmu, bagaimana engkau berbuat?” aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Jagalah kehormatanmu dari mengemis.” Beliau bersabda lagi,”Wahai Abu Dzarr, bagaimana pendapatmu jika manusia tertimpa kematian yang amat sangat sehingga rumah itu jadi kuburan, bagaimana engkau berbuat?” aku menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Bersabarlah.” (HR. Ahmad (5/hal. 149) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (3723)).

            Adapun Luqman Ba Abduh, sungguh dia telah berkata dalam kasetnya yang ditulis dan disebar di sisi kami: “Ana bilang kepada yang baru pulang dari Yaman itu satu di antara dua kemungkinan, imma komitmen dan akan mengalami kesulitan dalam berdakwah, atau mereka akhirnya hizbiy kayak kita([4]), tasawwul pondoknya kurang dana akhirnya kirm ke muhsinin, telpon kepada muhsinin, inikan sudah hizbiy, ini tasawwul. Imma jadi hizbiy kayak kita, wa imma sulit berdakwah. Pilih salah satu.”

            Adapun proyek mengemis untuk membangun masjid atau tempat mengajar, maka ini sudah dikenal di kalangan mereka.

            Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Demikian pula dalam membangun masjid. Tidak boleh menghinakan diri, menghinakan ilmu dan dakwah demi membangun masjid. Rosul –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika ingin membangun masjid bersabda:

«يا بني النّجّار ثامنوني بحائطكم»

“Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini.”

Yaitu: beliau mau membangun masjid di situ. Tapi mereka berkata,”Tidak, justru kebun ini untuk Alloh dan Rosul-Nya.” Seseorang itu mungkin saja untuk membangun masjid dari tanah liat dan bata dengan dana sekitar seratus ribu real Yamaniy. Dan waktu yang dipakainya untuk meminta-minta bisa digunakannya untuk memakmurkan masjid, beramal di situ, dan mengajak orang untuk bekerja dengan tangan-tangan mereka. Harta yang di situ ada penghinaan terhadap ilmu dan dakwah ilalloh, atau dakwah kepada hizbiyyah, atau menggunakan masjid-masjid untuk mengemis, maka kami tidak membutuhkannya.” (“Dzammul Mas’alah”/hal. 217-218/Majmu’atu Rosail/cet. Darul Atsar).

            Ada juga dari mereka yang di awal fitnah Mar’iyyah bergabung dengan para pembela Ibnu Mar’i. Saat dinasihati untuk kembali mengajar di markiz Salafiyyin tsabitin dia menjawab: “Aku jika kembali ke situ ya badanku kurus.”

            Dan sebagian pengikut hizb baru dari penduduk negri kami berkata: “Jika kita bubarkan yayasan, dari mana kita akan makan?”

            Sebagian dari temanmu wahai Abdulloh Al Bukhoriy, saat ada khothib dari Ahlussunnah berceramah atau berkhothbah tentang dalil-dalil tercelanya meminta-minta, dia kelihatan tidak senang dan mengatakan: “Apa tidak ada tema lain?!”

            Contoh-contoh dalam bab ini banyak sekali. Dan demikian pula proyek-proyek mengemis yang dilakukan oleh Abdulloh bin Mar’i Al Yamaniy.

            Adapun Ahlussunnah dari Dammaj dan yang bersama mereka, maka sungguh dengan taufiq dari Alloh, mereka menyeru manusia untuk zuhud di dunia, ikhlas dalam dakwah ilalloh, dan mengangkat syiar para Nabi:

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الله [هود : 29]

“Dan wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini harta. Tidaklah upahku kecuali tanggungan Alloh.” (QS. Hud: 29).

            Dan Ahlussunnah melarang mengemis tanpa adanya keadaan darurat, karena Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang yang demikian, dan beliau adalah penyampai dari Alloh. Dari Sahl Ibnul Handholiyyah rodhiyallohu ‘anhu yang berkata:

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ ». –وفي رواية- « مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ ». فقالوا: يَا رَسُولَ الله وَمَا يُغْنِيهِ –وفي رواية- وَمَا الْغِنَى الَّذِي لاَ تَنْبَغِي مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ؟ قَالَ: « قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ ». –وفي رواية- « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa meminta-minta, dan di sisinya ada sesuatu yang telah mencukupinya, maka dia itu hanyalah sedang memperbanyak api.” –dalam riwayat lain: “Dari api Jahannam” Maka mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu sesuatu yang telah mencukupinya?” dalam riwayat lain: “Apa itu kekayaan yang dengan tidak diperbolehkan meminta-minta?” Beliau menjawab,“Sekadar makan siang, atau makan malam.” dalam riwayat lain: “Yang bisa mengenyangkannya sehari semalam.” (HR. Abu Dawud (1631) dan dishohihkan Imam Al Wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Ash Shohihul Musnad” (461)).

            Saya telah menyebutkan dalil-dalil tentang ini di dalam kitab “At Tajliyah Li Amarotil Hizbiyyah”, agar engkau tahu bahwasanya para hizbiyyun menyelisihi Al Kitab, As Sunnah, ijma’ dan adab.

            Syaikhul Islam رحمه الله setelah menyebutkan dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang banyak beliau berkata: “Dan ini semua menunjukkan bahwasanya minta pada makhluk dan istighotsah pada mereka itu harom pada asalnya, tidak dibolehkan kecuali karena darurat. Dan meminta mereka itu dalam pandangan yang paling jelas adalah lebih besar keharomannya daripada (makan) bangkai.” (“Al Istighotsah Fir Rodd ‘Alal Bakriy”/hal. 193/ cet. Maktabah Daril Minhaj).

            Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy رحمه الله berkata: “Dan mereka bersepakat bahwasanya meminta-minta itu harom.” (“Al Iqna’ Fi Masailil Ijma'”/7/hal. 3/hal. 397).

            Dan saya telah menjabarkan pembicaraan ini dalam kitab yang lain. Sisi pendalilan kita di sini adalah: bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan orang yang bersama beliau ketika menyru manusia untuk kembali kepada Al Kitab dan As sunnah dan jalan Salaf secara global dan terperinci, dalam keadaan mereka itu ikhlas dan menjaga kehormatan, bangkitlah menyerang mereka hizb baru tersebut untuk menyempurnakan peperangan para pendukung jam’iyyat terhadap para salafiyyin Dammaj dan yang bersama mereka.

 

            Kesimpulan: sesungguhnya orang-orang yang mencari makan dengan nama dakwah, mereka itu adalah orang-orang yang menempelkan diri kepada doktor Abdulloh Al Bukhoriy, bukan Ahlussunnah Dammaj dan yang bersama mereka. Saya katakan ini agar si doktor memisahkan yang busuk dari yang baik, memisahkan musuh dari sahabat sejati, jika dia memang jujur dalam memampakkan kecemburuan terhadap agama. Saya menyebutkan ini agar Abdulloh Al Bukhoriy tahu bahwasanya yang selain kami lebih berhak untuk diarahkan kepadanya ucapannya tadi: “Mencari makan dengan nama agama”!

Bab Dua Belas:

Abdulloh Al Bukhoriy Meramal

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Pokoknya demikianlah keadaan mereka di setiap tempat. Tidak ada yang benar kecuali perkara yang memang benar. Dan tidak ada yang tersisa kecuali apa yang bermanfaat bagi manusia.

﴿فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ﴾ [الرعد/17].

“Adapun buih, maka dia itu akan hilang tersia-sia. Adapun apa yang bermanfaat bagi manusia maka dia akan tinggal di bumi.”

            Inilah yang aku nasihatkan kepada manusia. Inilah perkara yang manusia disemangati untuk mengikutinya. Adapun mereka (sindiran pada Salafiyyin Dammaj dan yang bersama mereka) … secara sempurna mereka akan hilang ke dalam tempat sampah sejarah, dan akan ditebarkan di tempat bertiupnya angin.”

            Akan datang jawaban untuk ucapan ini sebentar lagi insya Alloh. Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah menjawabnya dengan berkata: “Bahkan dia itu yang akan hilang di tong sampah sejarah insya Alloh, karena orang yang menentang kebenaran –dia ataupun yang lainnya- maka sungguh orang itu akan hilang di tong sampah sejarah.” (ucapan ini dicatat pada tanggal 8 Dzul Hijjah 1431 H).

            Abdulloh Al Bukhoriy juga berkata dalam kaset tersebut: “Urusan mereka akan menjadi debu halus yang beterbangan ke udara, dan insya Alloh mereka akan melebur sebagaimana yang lain melebur. Dan Alloh sajalah yang kita mintai tolong.”

            Demikianlah Abdulloh Al Bukhoriy memastikan bahwasanya urusan salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka akan hilang menjadi debu halus yang beterbangan ke udara. Kemudian dia mengucapkan insya Alloh tentang akan meleburnya orang-orang tadi sebagaimana meleburnya yang lain. Dan dia juga sebelum ini telah memastikan bahwasanya salafiyyun Dammaj dan yang menyetujui mereka hilang tersia-sia.

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا﴾ [مريم/78]،

“Apakah dia mengetahui perkara gaib ataukah dia telah mengambil perjanjian di sisi Ar Rohman?”

Alloh ta’ala juga berfirman:

﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا الله وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُون﴾ [النمل/65].

“Katakanlah: tidak ada yang di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Alloh. Dan mereka tidak mengetahui kapankah mereka itu dibangkitkan.”

            Abdulloh Al Buhoriy juga berkata: “Akan tetapi percayalah bahwasanya Alloh tak akan mengokohkan orang-orang semisal mereka.”

            Maka wahai doktor, apakah diwahyukan kepadamu kepastian ini sehingga engkau tidak mengucapkan insya Alloh untuk ucapan tadi? Ataukah setan yang menyertaimu menjadikan engkau lupa dikarenakan kerasnya kebencianmu dan dendammu terhadap para salafiyyun yang kokoh?

﴿وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَه﴾ [الكهف/63]

“Dan tidaklah ada yang menjadikan saya lupa mengingatnya kecuali setan.”

﴿فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّه﴾ [يوسف/42]

“Maka setan menjadikannya lupa untuk mengingat tuannya.”

﴿وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِين﴾ [الأنعام/68].

“Dan jika setan itu menjadikan engkau lupa, maka janganlah engkau duduk bersama kaum yang zholim setelah engkau ingat.”

            Ketahuilah wahai doktor, bahwasanya keselamatan dan kebinasaan, demikian pula keberuntungan dan kecelakaan, begitu pula kelestarian dan kesirnaan itu ada di tangan Alloh, bukan yang lain. Dan Robb kita عز وجل telah menjamin bagi orang yang berpegang teguh dengan kitab-Nya dan menaiki perahu sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم bahwasanya dia itu akan selamat dari tenggelam di dalam lautan kebinasaan dan kecelakaan, dan bahwasanya dia akan beruntung dengan kelestarian di pulau salafiyyah bersama ketinggian penebutan di sisi penduduk bumi dan langit. Dan dalil-dalil tentang bab ini jelas sekali bagi kita semua.

            Dan Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan kebanyakan dari kesesatan ini hanyalah menimpa orang yang tidak berpegang tegung dengan Al Kitab dan As Sunnah sebagaimana dulu Az Zuhriy berkata:

كان علماؤنا يقولون الاعتصام بالسنة هو النجاة.

“Dulu para ulama kami berkata: “Berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan.”.”

Dan Malik berkata:

السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق.

“As Sunnah adalah perahu Nuh. Barangsiapa mengendarainya maka dia akan selamat. Dan barangsiapa tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”

            Dan yang demikian itu adalah dikarenakan sunnah, syariat, dan minhaj itu adalah jalan yang lurus yang menyampaikan para hamba kepada Alloh. Dan Rosul adalah penunjuk dan pembimbing serta pemandu di dalam jalan ini, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿إنا أرسلناك شاهدا ومبشرا ونذيرا وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا﴾

“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan serta penyeru ke jalan Alloh dengan seizin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم صراط الله الذي له ما في السموات وما في الأرض ألا إلى الله تصير الأمور﴾

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Alloh Yang mana apa saja yang di langit dan di bumi hanyalah milik Dia. Ketahuilah hanya kepada Alloh sajalah urusan itu kembali.”

Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله﴾

“Dan bahwasanya ini adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang menyebabkan kalian akan tercerai berai dari jalan-Nya.”

            Dan Abdulloh bin Mas’ud berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم menggariskan sebuah garis yang lurus, dan beliau membikin beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian beliau bersabda:

«هذا سبيل الله وهذه سبل على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه»

“Ini adalah jalan Alloh, dan itu adalah jalan-jalan yang mana di atas setiap jalan itu ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membaca:

﴿وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله﴾.

“Dan bahwasanya ini adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang menyebabkan kalian akan tercerai berai dari jalan-Nya.”

(“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 56-57).

            Demikian pula masalah pengokohan:

﴿وَعَدَ الله الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [النور/55].

“Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dari kalian dan beramal sholih bahwasanya Dia pasti akan menjadikan mereka sebagai pengganti di bumi sebagaimana Alloh menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai pengganti, dan Alloh pasti akan mengokohkan untuk mereka agama mereka yang diridhoi-Nya untuk mereka, dan Alloh pasti akan menggantikan untuk mereka keamanan setelah ketakutan mereka. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan dengan Aku sesuatu apapun. Dan barangsiapa kafir setelah yang demikian itu maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله telah berbicara tentang ayat ini dengan ucapan yang luas dan bagus.

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan ini adalah janji dari Alloh Yang Mahasuci bagi orang yang beriman pada Alloh dan beramal sholih, bahwasanya Dia akan menjadikan mereka sebagai pengganti di bumi sebagaimana Alloh menjadikan orang-orang sebelum mereka dari umat-umat itu sebagai pengganti. Dan ini adalah janji yang mencakup seluruh umat. Ada yang mengatakan: itu khusus untuk para shohabat. Dan pendapat ini tidak benar, karena iman dan amal sholih tidak khusus untuk mereka. Bahkan terjadinya hal itu mungkin untuk setiap orang dari umat ini. Dan barangsiapa mengamalkan Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya maka sungguh dia telah menaati Alloh dan Rosul-Nya.” (“Fathul Qodir”/5/hal. 241).

            Dan termasuk dikatakan oleh A Imam Ibnu Katsir adalah: “Maka para Shohabat –semoga Alloh meridhoi mereka- manakala mereka adalah orang yang paling menegakkan perintah Alloh sepeninggal Nabi صلى الله عليه وسلم dan paling taat pada Alloh- maka jadilah pertolongan untuk mereka itu sesuai dengan kadar mereka. Dan mereka menampilkan kalimat Alloh di wilayah timur dan barat, dan Alloh mendukung mereka dengan dukungan yang agung, dan mereka menguasai seluruh hamba dan negri. Tapi manakala orang-orang sepeninggal mereka bersikap kurang pada sebagian perintah, berkurang pula kemenangan mereka sesuai dengan kadar mereka.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/6/hal. 80).

            Maka syarat pengokohan adalah: iman dan amal sholih. Dan yang demikian itu adalah dengan ketaatan pada Alloh dan mengikuti Rosul-Nya عليه السلام, serta menempuh jalan para Shohabat beliau رضي الله عنهم . maka wahai doktor:

﴿لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَاب﴾ [النساء/123].

“Itu bukanlah dengan angan-angan kalian, dan bukan pula dengan angan-angan ahli kitab.”

            Secara keseluruhan: bahwasanya dakwah syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu berdiri di atas Kitab dan Sunnah dengan pemahaman dari salaful ummah semampu mereka. Dan kepada inilah mereka menyeru manusia sebagai pensucian dan pendidikan. Dan syaikh kami dan orang yang bersama beliau dari kalangan ulama sunnah dan pelajar telah menegakkan bukti-bukti tentang batilnya jalan hizb baru yang engkau masih saja membela mereka. Para salafiyyun tadi mengulang-ulang peringatan terhadap hizb baru dan menempuh jalan yang beraneka ragam untuk membuka mata-mata kalian akan tetapi keadaan kalian:

﴿فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا﴾ [الإسراء/60].

“Maka tidak menambahi mereka kecuali sikap melampaui batas yang besar.”

            Dan sungguh kami telah menampilkan dalil-dalil tentang bengkoknya doktor Abdulloh Al Bukhoriy dalam serangannya terhadap salafiyyun. Maka yang terpandang adalah tampilnya hujjah, bukan uap bualan. Dan setelah itu:

﴿قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِين﴾ [الطور/31]

“Katakanlah: tunggulah oleh kalian, maka sungguh aku juga termasuk dari orang-orang yang menanti-nanti bersama kalian.”

﴿وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُون﴾ [الشعراء/227]

“Dan orang-orang yang zholim itu akan mengetahui kemanakah mereka itu akan kembali.”

Dan Alloh جل ذكره berfirman:

﴿فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله إِنَّ الله بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ﴾ [غافر/44]

“Dan kalian akan mengingat apa yang kuucapkan pada kalian, dan aku menyerahkan urusanku kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh itu Mengetahui para hamba-Nya.

Dan Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ﴾ [ص/88].

“Dan pastilah kalian akan mengetahui berita itu setelah suatu saat.”


 

Bab Tiga Belas: Abdulloh Al Bukhoriy Membantah Gelar “An Nashihul Amin”

 

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Pokoknya orang ini bukan penasihat dan bukan pula orang yang terpercaya. Orang yang mengucapkan perkataan macam ini bukan penasihat dan bukan pula orang yang terpercaya. Dan dia tidak terpercaya dalam nasihatnya. Kita berlindung pada Alloh dari ketelantaran, siapapun orang yang mengucapkannya.”

            Jawaban kami untuk Abdulloh Al Bukhoriy dan para pembantah yang semisalnya adalah:

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan dikatakan: istilah “nasihat” itu diambil dari kalimat (نصح الرجل ثوبه) jika dia menjahitnya. Lalu mereka menyerupakan perbuatan si penasihat yang bersungguh-sungguh melakukan perbaikan untuk orang yang dinasihatinya dengan menambal bagian baju yang robek tadi. Dikatakan juga bahwasanya istilah itu diambil dari kalimat (نصحت العسل) jika engkau membersihkan madu tadi dari lilinnya. Mereka menyerupakan pemurnian ucapan dari penipuan dengan pemurnian madu dari campuran.” (“Syarh Shohih Muslim”/1/hal. 144).

            Demikianlah kami dapati Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau telah menasihati umat berulang-ulang, menyingkap makar hizbiyyin berkali-kali sebelum yang lainnya, dan mengorbankan semua yang beliau miliki untuk menjaga agama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم . Para ulama Yaman melihat yang demikian itu pada diri beliau betulan, sebagaimana yang kami pahami dari pujian mereka kepada beliau. Dan sungguh kami dapati beliau jujur dalam ucapan beliau:

قد وهبنا أنفسنا للدعوة السلفية ولا نبغي بها بدلا ﴿فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُون﴾

“Kami telah menghibahkan jiwa kami untuk dakwah salafiyyah dan kami tidak mencari dengannya pengganti “Maka tidak ada setelah kebenaran selain kesesatan. Maka ke manakah kalian dipalingkan?”” (kitab “Adhrorul Hizbiyyah”/Syaikh Yahya -hafidhahulloh-/hal. 37-38)

            Sedangkan amanah adalah lawan dari khianat, sebagaimana dalam “Lisanul ‘Arob” (13/hal. 21). Demikianlah kami lihat pada diri Syaikh حفظه الله , kami tidak mendapati beliau mengkhianati apa yang diamanahkan pada beliau. Bahkan beliau menunaikannya dengan kuat, rasa takut dan taqwa. Jika Abdulloh Al Bukhoriy mendapati selain itu maka hendaknya dia menampilkan bukti tanpa sekedar membual: “Orang ini bukan penasihat dan bukan pula orang yang terpercaya… bukan penasihat dan bukan pula orang yang terpercaya. Dan dia tidak terpercaya dalam nasihatnya.”

            Amanah dan nasihat merupakan bagian dari sifat para Nabi عليهم السلام. Alloh ta’ala berfirman menukilkan ucapan Hud عليه السلام:

﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِين﴾ [الأعراف/68].

“Aku menyampaikan risalah-risalah dari Robbku, dan aku adalah penasihat yang terpercaya bagi kalian.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan sifat-sifat ini yang dimiliki oleh para Rosul: penyampaian, nasihat dan amanah.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 434).

            Dan para ulama adalah pewaris para Nabi, mewarisi dari mereka sifat nasihat dan amanah dan sifat-sifat indah yang lain, sebagaimana mereka mewarisi dari mereka sifat ilmu dan hikmah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Penutup para Rosul adalah Muhammad, Alloh menurunkan kitab-Nya yang membenarkan kitab yang sebelumnya dan menjadi batu ujian terhadapnya. Maka beliau adalah orang yang terpercaya terhadap seluruh kitab, dan beliau telah menyampaikan dengan penyampaian yang paling jelas, melengkapkannya, dan menyempurnakannya. Beliau adalah makhluq yang paling memberikan nasihat untuk para hamba Alloh. Beliau itu penuh belas kasihan pada mukminin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan berjihad di jalan Alloh dengan sebenar-benar jihad, dan beribadah pada Alloh hingga didatangi kematian. Maka makhluq yang paling berbahagia, yang paling besar kenikmatannya, dan paling tinggi derajatnya adalah makhluq yang paling besar ittiba’nya (pengikutannya) dan kecocokannya dengan beliau secara ilmu dan amalan.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 26).

            Telah tegak persaksian tentang ilmu Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dan bahkan dikatakan bahwasanya beliau adalah orang yang paling berilmu di Yaman. Juga persaksian tentang amanah dan nasihat beliau. Maka apa yang menghalangi untuk Al Imam Al Muhaddits Al Mujaddid pembawa bendera jarh wat ta’dil di Yaman Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله untuk berkata tentang beliau: “Sesungguhnya dia itu adalah penasihat yang terpercaya.”?

            Tambah lagi bahwasanya orang yang satu negara dengan orang itu adalah lebih tahu tentang dirinya. Dan tidak ada satu orang ulama Yamanpun yang membantah pernyataan itu.

            Syaikh kami An Nashihul Amin telah mencurahkan pena beliau untuk membela benteng sunnah dan menjaga lapangan salafiyyah serta menyerang musuh umat, menghilangkan darinya penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, pengaku-akuan ahli batil dan ta’wil orang-orang bodoh. Dan insya Alloh sesuai untuk beliau apa yang diucapkan oleh Al Imam Ibnu Qoyyim رحمه الله berkata: “Pena yang kedua belas adalah: pena yang menyeluruh. Yaitu pena bantahan terhadap ahli batil dan mengangkat sunnah para pembawa kebenaran, menyingkapkan kebatilan para pelaku kebatilan walaupun berbeda-beda jenis dan macamnya, dan menjelaskan kontradiksi mereka, keruntuhan mereka, dan keluarnya mereka dari kebenaran dan masuknya mereka ke dalam kebatilan. Pena jenis ini di alam ini adalah seperti para raja di kalangan manusia. Para pemilik pena ini adalah ahli hujjah, para penolong syariat yang dibawa oleh para Rosul, yang memerangi musuh-musuh Rosul, mereka menyeru ke jalan Alloh dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan membantah orang yang keluar dari jalan Alloh dengan bermacam-macam metode perdebatan. Para pemilik pena ini memerangi seluruh ahli batil, menjadi musuh setiap orang yang menyelisihi para Rosul. Mereka ada di suatu keadaan, sementara para pemilik pena yang lain ada dalam keadaan yang lain.” (“At Tibyan Fi Aqsamil Qur’an”/hal. 198/cet. Maktabatu Auladisy Syaikh).

            Ini dia kitab-kitab beliau lebih dari seratus judul sebagai saksi yang adil tentang hal itu. Kami tidak menyatakan bahwasanya syaikh kami itu terjaga dari kesalahan, akan tetapi jika engkau punya kritikan ilmiyah terhadap apa yang beliau tulis maka tampilkanlah hujjahmu. Di antara kita ada Kitabulloh.

﴿وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى الله﴾ [الشورى/10].  

“Dan apapun yang kalian perselisihkan maka hukumnya adalah dikembalikan kepada Alloh.

            Dan syaikh kami حفظه الله telah menegakkan argumentasi, bukti dan dalil tentang jarh beliau kepada Ubaid Al Jabiriy, sementara engkau dan yang lainnya tidak mampu untuk membantah hujjah dengan hujjah. Adapun sekedar membantah dan mendustakan tanpa bukti, maka perbuatan macam itu bisa dilakukan oleh nenek-nenek tanpa gelar doktor.

Bab Empat Belas:

Timbangan Kebenaran Menurut Abdulloh Adalah: Suatu Ucapan Itu Harus Ada Yang Menyetujuinya

 

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Siapakah yang menyetujui Yahya Al Hajuriy mencaci Asy Syaikh Ubaid bahwasanya beliau itu sesat dan menyeleweng?”

            Demikianlah Abdulloh Al Bukhoriy. Setelah dirinya membikin capek diri sendiri dengan belajar hingga mencapai gelar doktor, dia tidak tahu timbangan kebenaran, sehingga dia menduga bahwasanya suatu ucapan itu tak bisa disetujui kecuali jika disetujui oleh ulama yang lain.

            Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله».

“Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang jaya di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka sampai datangnya urusan Alloh (angin yang mencabut ruh mukmin).” Muttafaqun ‘alaih Mu’awiyah dan Al Mughiroh rodhiyallohu ‘anhuma).

Dan ini mengharuskan adanya kemungkinan untuk kebenaran itu bersama satu orang sekalipun tidak disetujui oleh seluruh penduduk bumi. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata,”Dan ketahuilah bahwasanya ijma’, hujjah, sawadul a’zhom adalah orang alim, pembawa kebenaran, sekalipun dia sendirian, dan sekalipun dia diselisihi oleh penduduk bumi. ‘Amr bin Maimun Al Audy رحمه الله berkata,”Aku telah menyertai Mu’adz bin Jabal di Yaman. Tidaklah aku meninggalkan beliau sampai aku mengebumikannya di Syam. Lalu sepeninggal beliau aku menyertai orang yang paling faqih yaitu Abdulloh bin Mas’ud. Maka aku mendengar beliau berkata:

علبكم بالجماعة فإن يد الله مع الجماعة

“Kalian harus setia dengan Al Jama’ah karena tangan Alloh itu menyertai Al Jama’ah.”

Lalu pada suat hari beliau berkata,”Akan datang pada masa kalian para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya. Maka tegakkanlah sholat pada waktu-waktunya karena itu adalah kewajiban. Dan sholatlah bersama mereka karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.”

Maka kukatakan pada beliau,”Wahai shohabat Muhammad, saya tidak tahu apa yang Anda katakan.” Beliau bertanya,”Apa itu?” Kukatakan,”Anda memerintahkan saya untuk setia dengan Al Jama’ah dan Anda mendorongku untuk bersama Al Jama’ah. Lalu Anda berkata padaku,”Sholatlah sendirian karena itu wajib, dan sholatlah bersama jama’ah karena hal itu akan menjadi tambahan amal sholih bagi kalian.”

Maka beliau berkata,”Wahai ‘Amr bin Maimun, dulu aku mengira engkau itu adalah orang paling faqih dari negri ini. Tahukah engkau apa itu Al Jama’ah?”

Kujawab,”Tidak.”

Beliau berkata:

إن جمهور الناس فارقوا الجماعة وأن الجماعة ما وافق الحق وإن كنتت وحدك.

“Sesungguhnya mayoritas manusia telah memisahkan diri dari Al Jama’ah. Sesungguhnya Al Jama’ah itu adalah apa yang mencocoki kebenaran sekalipun engkau sendirian.”

Dalam lafazh yang lain: lalu beliau memukul kedua pahaku dan berkata:

ويحك إن جمهور الناس فارقوا الجماعة وأن الجماعة ما وافق طاعة الله تعالى

“Semoga Alloh mengasihanimu. Sesungguhnya mayoritas manusia telah memisahkan diri dari Al Jama’ah. Sesungguhnya Al Jama’ah itu adalah apa yang mencocoki ketaatan pada Alloh ta’ala.”

            Nu’aim bin Hammad رحمه الله berkata,”Beliau memaksudkan: Jika jama’ah tersebut telah rusak, wajib bagimu untuk berpegang dengan apa yang dulunya jama’ah tadi ada di atasnya sebelum rusaknya. Dan kalaupun engkau itu sendirian maka pada saat yang demikian itu engkaulah Al Jama’ah.”

            Kedua atsar ini ditampilkan oleh Al Hafizh Abu Bakr Al Baihaqy dan yang lainnya.

            Sebagian imam hadits saat disebutkan kepadanya tentang “As Sawadul A’zhom” (kelompok terbesar) beliau berkata,”Tahukah kamu siapa itu “As Sawadul A’zhom”? Dialah Muhammad bin Aslam Ath Thusy dan teman-teman.” Sungguh orang-orang yang berselisih itu telah rusak pemikirannya. Yaitu orang-orang yang berselisih tentang makna “As Sawadul A’zhom”. Mereka menjadikan “As Sawadul A’zhom”, “Al Hujjah” dan “Al Jama’ah” itu adalah sekedar kelompok mayoritas (kebanyakan orang), dan menjadikannya sebagai tolok ukur terhadap sunnah, menjadikan sunnah sebagai bid’ah, dan menjadikan perkara yang ma’ruf itu mungkar dikarenakan sedikitnya orang yang memegang sunnah dan ma’ruf di berbagai zaman  dan masa. Dan mereka berkata,”Barangsiapa yang menyeleneh (menyelisihi mayoritas), Alloh akan menjadikannya menyeleneh di neraka.” Orang-orang yang berselisih tadi tidak tahu bahwasanya orang yang menyeleneh itu adalah orang yang menyelisihi kebenaran meskipun seluruh manusia ada di atasnya, kecuali satu orang dari mereka. Maka mereka itulah orang yang menyeleneh.

            Seluruh manusia pada zaman Ahmad bin Hanbal telah menyeleneh kecuali sekelompok kecil. Mereka itulah Al Jama’ah. Pada qodhi saat itu, para mufti, kholifah dan para pengikutnya mereka semua itulah orang-orang yang nyeleneh. Dan Imam Ahmad sendirian sebagai Al Jama’ah. Dan manakala akal para manusia tak mampu menampung yang demikian itu mereka berkata kepada kholifah: “Wahai Amirul Mukminin, apakah mungkin Anda, para qodhi Anda, para pejabat, para ahli fiqh, para mufti, mereka semuanya ada di atas kebatilan sementara Ahmad sendiri ada di atas kebenaran? Ilmu sang Kholifah tak cukup luas untuk menampung hal itu sehingga dia menyiksa Ahmad bin Hanbal dengan cambukan-cambukan dan hukuman setelah masa penjara yang panjang. Maka لا إله إلا الله (tiada sesembahan yang benar selain Alloh), alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin! Sebenarnya hal ini adalah jalan yang luas bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah hingga mereka berjumpa dengan Robb mereka. Di atas jalan inilah para pendahulu mereka berlalu, dan para pengganti mereka tengah menanti. Ada di kalangan mukminin para pria yang bersikap jujur dengan apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Di kalangan mereka ada yang telah menunaikan janjinya, dan di antara mereka ada yang tengah menanti, dan mereka sama sekali tidak menggantinya. Dan tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Al ‘Aly (Yang Mahatinggi) lagi Al ‘Azhim (Mahaagung)”.

(selesai penukilan dari “I’lamul Muwaqqi’in” 3/hal. 397-398).

            Syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau dari kalangan ulama telah menegakkan bayyinah-bayyinah terhadap kebatilan Ubaid Al Jabiriy, agar binasalah orang yang binasa berdasarkan bayyinah, dan hiduplah orang yang hidup berdasarkan bayyinah. Maka tidak tersisa bagi Al Jabiriy kecuali bertobat kepada Alloh. Dan doktor Bukhoriy punya pilihan: mengikuti kebenaran ataukah mengikuti hawa nafsu ke dalam jurang fanatisme jahiliyyah.

Bab Lima Belas:

Tuduhan Abdulloh Al Bukhoriy Bahwasanya Salafiyyin Dammaj Merobek Barisan dan Menginginkan Membentuk Kelompok Sendiri

            Abdulloh Al Bukhoriy dalam cercaannya terhadap Salafiyyun Dammaj berkata: “Setiap kali datang orang ingin membentuk jama’ah atau aliran atau sempalan atau kelompok untuk dirinya sendiri, berbicara dengan nama agama, dan berbicara dengan nama sunnah, lalu merobek barisan.”

            Dan perkataan Usamah tentang langkah salafiyyun yang kokoh dalam fitnah: “Maka fitnah ini memecah-belah dan mencerai-beraikan ikhwah di seluruh penjuru negri Indonesia.” Dan Abdulloh Al Bukhoriy menyetujui ucapan itu.

 

            Jawaban kami adalah sebagai berikut:

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون﴾

“Dan bahwasanya ini adalah jalan-Ku dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang menyebabkan kalian akan tercerai berai dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am: 153).

            Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إنما إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى الله ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون [الأنعام/159]

“Sesungguhnya  orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, engkau itu tidak termasuk dari mereka sedikitpun. Hanyalah urusan mereka itu kembali kepada Alloh kemudian Alloh akan mengabari mereka dengan apa yang dulu mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 159)

            Alloh ta’ala berfirman:

فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ  [البقرة/137]

“Maka jika mereka mau beriman sebagaimana imannya kalian (para shohabat) pastilah mereka mendapat petunjuk. Tapi jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka itu hanyalah di dalam perpecahan.” (QS Al Baqoroh 137)

Dan dalam hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما yang berkata: Sesungguhnya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة، وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة -يعني الأهواء-، كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة. وأنه سيخرج في أمتي أقوام تجارى بهم تلك الأهواء كما يتجارى الكلب بصاحبه لا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله».

“Sesungguhnya Ahlul Kitabain –Tauroh dan Injil- telah tercerai-berai dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua agama. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama –yaitu hawa nafsu-. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Dan bahwasanya akan keluarlah di dalam umatku kaum-kaum yang dijalari oleh hawa-hawa nafsu tadi, sebagaimana penyakit anjing gila menjalari korbannya. Tidaklah tersisa darinya satu uratpun dan satu persendianpun kecuali dia akan memasukinya.” (HR. Ahmad ((16937)/Ar Risalah) hadits hasan).

            Al Imam Ath Thibiy رحمه الله berkata: “Yang dikehendaki dengan Al jama’ah di sini adalah para Shohabat dan orang yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in dan tabi’it tabi’in dan para Salafush Sholihin. Yaitu: Aku perintahkan kalian untuk berpegang dengan jalan dan alur mereka, dan masuk ke dalam rombongan mereka.” (sebagaimana dalam “Tuhfatul Ahwadzi”/Al Amtsal/Bab Ma Jaa Fi Matsalish Sholah Wash Shiyam/7/hal. 281/cet. Darul Hadits).

            Dengan dalil-dalil ini dan semisalnya kita mengetahui bahwasanya perpecahan itu adalah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah serta manhaj Shohabat, sebagaimana bahwasanya Al Jama’ah adalah yang sesuai dengan tiga dasar ini. Syaikhul islam رحمه الله berkata: “Dan syi’ar kelompok-kelompok itu adalah pemisahan diri dari Al Kitab, As Sunnah dan ijma’. Maka barangsiapa berkata dengan Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ maka dia itu adalah termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 346).

            Maka timbangan dalam menghukumi keyakinan hati, ucapan lidah dan gerakan anggota badan adalah tiga dasar ini tadi, sebagaimana Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Hanyalah yang diikuti dalam penetapan hukum-hukum Alloh adalah: Kitabulloh, sunnah Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم dan jalan As Sabiqunal Awwalun. Tidak boleh menetapkan hukum syar’iy tanpa ketiga prinsip ini, baik secara nash ataupun istimbath sama sekali.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 171).

            Dan sungguh syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama sunnah yang bersama beliau telah menampilkan hujjah-hujjah tentang kokohnya mereka di atas Al Kitab As Sunnah dan salafiyyah, bersamaan dengan bersihnya dakwah mereka dari kotoran penyimpangan dari tiga dasar tadi. Maka mereka adalah ahlussunnah wal jama’ah. Dan mereka juga telah menampilkan dalil-dalil yang jelas tentang bengkoknya jalan hizb baru (Mar’iyyun) itu dan berlepotannya mereka dengan hawa nafsu dan mahaj-manhaj orang belakangan. Maka Mar’iyyun itulah sempalan dari sempalan-sempalan yang ada.

Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala berfirman:

}واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا{

“Dan berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali ‘Imron 103)

Setelah firman-Nya:

}اتقوا الله حق تقاته{

“Bertaqwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya.”

Maka ini memberikan pengetahuan bahwasanya berpegang teguh dengan tali Alloh adalah ketaqwaan kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya yang selain itu adalah perpecahan, dikarenakan firman-Nya:

}ولا تفرقوا {

dan janganlah kalian bercerai-berai.

Dan perpecahan merupakan sifat yang paling khusus dari ahli bid’ah karena dia itu keluar dari hukum Alloh dan menyelisihi jama’ah Ahlul Islam.” (“Al I’tishom”/hal. 88).

Dan tepat untuk diterapkan kepada mereka perkataan syaikh kami حفظه الله : “Barangsiapa menjauh dari apa yang dulunya para Shohabat Rosululloh  صلى الله عليه وسلم maka sesungguhnya dia itu adalah termasuk dari tujuh puluh dua sempalan.” (dicatat tanggal 9 Sya’ban 1430 H).

            Engkau sendiri –wahai Abdulloh- telah menukilkan di dalam kitabmu “Al Fathur Robbaniy” (hal. 203/Dar Majid ‘Usairiy) bahwasanya Asy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله ditanya: “Apakah jama’ah-jama’ah yang ada sekarang ini masuk ke dalam tujuh puluh dua sempalan?

            Beliau menjawab: “Iya, setiap orang yang menyelisihi Ahlussunnah Wal Jama’ah dari kalangan orang yang menisbatkan diri kepada Islam di dalam dakwah atau dalam suatu aqidah, atau dalam prinsip keimanan, maka sungguh dia masuk ke dalam tujuh puluh dua sempalan, dan terkena ancaman, dan akan mendapatkan bagian celaan dan hukuman sesuai dengan kadar penyelisihannya.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/soal: 12/hal. 16).

            Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata: “Menyelisihi pendapat jumhur dikarenakan suatu dalil adalah perkara yang diperbolehkan. Adapun tanpa dalil, maka tiada keraguan bahwasanya jiwa itu lebih merasa tenang kepada jumlah mayoritas daripada minoritas. Akan tetapi jika di sana ada dalil, maka wajib bagi kita untuk mengikutinya, sama saja apakah sesuai dengan pendapat jumhur ataukah menyelisihi.” –sampai pada ucapan beliau:- “Yang demikian dikarenakan tidak didapatkan di dalam syariat dorongan untuk berpegang dengan pendapat mayoritas, bahkan jika kita ingin menyebutkan sebagian nash yang mencela mayoritas. Termasuk di antaranya adalah firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون﴾ [الأعراف/187].

“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dan dari sunnah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

«افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، و ستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها فى النار إلا واحدة»…إلخ. (“المسائل العلمية والفتاوى الشرعية” /ص47/دار الضياء).

“Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu pecahan. Dan Nashoro terpecah menjadi tujuh puluh dua pecahan. Dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga pecahan, semuanya di dalam neraka kecuali satu.”

Dan seterusnya.

(“Al Masailul ‘Ilmiyyah Wal Fatawasy Syar’iyyah”/hal. 47/cet. Darudh Dhiya).

 

            Maka ucapan Al Imam Al Albaniy رحمه الله memberikan faidah pada kita bahwasanya yang terpandang adalah kesesuaian dengan tiga dasar tadi, bukan sekedar banyak atau sedikitnya penolong, dan bahwasanya orang yang menyelisihi tiga dasar tadi itulah yang berada di dalam firqoh dari pecahan-pecahan tersebut.

            Adapun tuduhan kalian bahwasanya dakwah Asy Syaikh An Nashihul Amin dan para ulama yang bersama beliau itu memecah-belah umat, maka tuduhan ini merupakan dendangan para mubtadi’ah, kalian berbicara dengan ucapan mereka.

﴿كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾ [البقرة/118].

“Seperti itulah ucapan orang-orang yang sebelum mereka seperti ucapan mereka. Hati-hati mereka saling serupa. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yang meyakini.”

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata tentang beberapa orang: “… akan tetapi mereka mengeluh dan ketakutan serta memenuhi dunia dengan kegaduhan karena merasa takut bahwasanya persatuan umat Islam akan pecah dan barisan mereka akan tercerai-berai jika ada sebagian orang yang membantah kezholiman dan sikap melampaui batas itu, …” dst. (lihat “Taqsimul Hadits”/hal. 5/karya Asy Syaikh Robi’).

            Ibrohim bin Hasan Asy Sya’biy –seorang kepala Ikhwaniyyin- juga telah mencerca Asy Syaikh Ahmad An Najmi, Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy, Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy bahwasanya mereka itu menanamkan benih perpecahan. (lihat “Ar Roddul Muhabbir”/hal. 151).

            Hasan Al Malikiy juga menuduh kitab-kitab aqidah –terutama kitab-kitab Hanabilah- menanamkan benih perpecahan, kebencian dan perselisihan di antara muslimin dan mencerai-beraikan mereka. (lihat “Al Intishor Li Ahlissunnah”/karya Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad/hal. 28/cet. Darul Fadhilah).

            Muhammad Alwiy Al Malikiy juga menuduh para penyeru tauhid memecah-belah jama’ah-jama’ah. (sebagaimana dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushohhah”/hal. 31. Lihat bantahannya di “Hadzihi Mafahimuna”/hal. 240/karya Asy Syaikh Sholih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alisy Syaikh وفقه الله).

            Ikhwanul Muslimin juga telah menuduh Asy Syaikh Jamilur Rohman dan para sahabat beliau bahwasanya mereka memecah tongkat persatuan muslimin karena mereka tidak mau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. (“Maqtalusy Syaikh Jamilir Rohman”/karya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله /hal. 46).

            Dan memang termasuk dari alamat Ikhwanul Muslimin adalah: pendapat mereka: jika jama’ah mereka melakukan kesalahan di suatu tempat, mereka berkata: “Kita harus diam dan janganlah kita memecah-belah barisan, … dst.” (dinukilkan oleh Asy Syaikh Ahmad An Najmiy dalam “Ar Roddul Muhabbir”/hal. 192/cet. Darul Minhaj).

            Perhatikanlah kenyataan ini: di antara syiar ahli ahwa adalah “Ahlussunnah memecah-belah persatuan umat Islam!” dan sekarang Abdulloh Al Bukhoriy dan Mar’iyyun meniti jejak mereka.

            Sesungguhnya para Nabi عليهم السلام mengajak kepada persatuan di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian terjadilah perpecahan antara ahlilhaq dan ahlil bathil ketika datangnya seruan kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru: “Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua kelompok yang yang bersengketa.”(QS. An Naml: 45).

Dalam hadits Jabir bin Abdillah  رضي الله عنهما :

ومحمد – صلى الله عليه وسلم – فرق بين الناس

 “Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (7281)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad  صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

            Maka barangsiapa taat pada para utusan Alloh maka dia itu bersama mereka di atas jalan yang lurus, dan mereka itu adalah ahlul Jama’ah. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka maka sungguh dia telah meninggalkan jalan yang lurus dan condong kepada jalan-jalan yang menyimpang tadi dan memisahkan diri dari Jama’ah, maka dia itulah yang tercela. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaf.

            Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata: “Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

            Maka teranglah dengan penjelasan ini bagi orang-orang yang punya keadilan dan fithroh bahwasanya Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengajak umat kepada persatuan di atas jalan yang lurus, dan bahwasanya hizb baru itu adalah ahlul bid’ah wal furqoh yang mengajak umat untuk meninggalkan jalan yang lurus lalu berpaling ke arah jalan-jalan yang membinasakan.

            Adapun ucapan Abdulloh Al Bukhoriy juga: “Sampaikan kepada mereka dan katakan pada mereka agar mereka tidak berkata kecuali kalimat salafiyyah yang tidak memecah-belah dan tidak merobek barisan, dan agar semuanya disatukan hatinya, dan tidak berbicara tentang fitnah.”

            Jawaban untuknya itu jelas sebagaimana telah lewat. Dan ketahuilah bahwasanya termasuk dari “kalimat salafiyyah” adalah:

–         menjelaskan perkara hizbiyyin dan mubtadi’ah,

–         memperingatkan manusia dari mereka,

–         dan mendorong manusia untuk mengambil ilmu dari ahlussunnah,

–         dan tidak mencurahkan pendengaran kepada ahlil bida’ wasy syubuhat,

–         perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah tanpa ragu-ragu dan tanpa bersikap lembek juga tanpa bersikap berlebihan.

–         Demikian pula menerima jarh yang terperinci

–         Menyampaikan peringatan yang didukung dengan bukti-bukti

–         Tidak menoleh kepada tazkiyah-tazkiyah dari tokoh yang tidak tahu kebatilan orang dikarenakan hebatnya orang tadi yang bersandiwara di depan tokoh tadi.

Bukankah demikian wahai doktor?

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kami tak akan meninggalkan agama Islam karena cercaan orang yang mencerca, ataupun karena pengkafiran orang yang mengkafirkan atau juga penyesatan orang yang menuduh kami sesat, karena kembalinya para makhluk adalah kepada Alloh, dan perhitungan mereka adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang men-tauhidkan Alloh Yang Mahasuci akan menampilkan kebenaran di manapun berada, secara khusus dan umum dan secara tertulis, sampai walaupun dia diminta untuk menyembunyikan kebenaran di waktu rasa takut yang amat sangat dia tidak menyembunyikannya.” (“Ar Roddu ‘Alal Bakriy”/2/hal. 765-766).

            Ucapan yang bercahaya ini dinukilkan oleh Abdulloh Al Bukhoriy dalam rangka membantah cercaan Abul Hasan Al Ma’ribiy terhadap Ahlussunnah manakala Ahlussunnah menampilkan kebenaran dan menghantam kebatilan. Maka aku nukilkan ucapan Syaikhul Islam itu sekarang dalam rangka membantah cercaan Abdulloh Al Bukhoriy terhadap Ahlussunnah manakala Ahlussunnah menampilkan kebenaran dan menghantam kebatilan.

Bab Enam Belas:

Qiyas Rusak Abdulloh Al Bukhoriy

 

            Abdulloh Al Bukhoriy dalam kaset tersebut mendatangkan –minimal- tiga qiyas yang rusak.

            Yang pertama: upaya dia untuk menyamakan larangan Ubaid untuk belajar di Dammaj, dengan larangan Asy Syaikh Yahya حفظه الله untuk belajar di Jami’ah Islamiyyah Madinah.

            Yang kedua: ucapan dia: “Sebagaimana datang Abul Hasan, Al Maghrowiy, ‘Ar’ur, Ali Hasan, dan mereka semua seperti itu. Semoga Alloh memberkahi kalian.” Yaitu: bahwasanya salafiyyun Dammaj memecah-belah barisan dan ingin membentuk suatu sempalan.

            Yang ketiga: ketika Usamah Al Mahriy berkata: “Para ikhwah lulusan Dammaj itu banyak memperburuk citra dakwah, mereka banyak memperburuk citra dakwah, dan melarikan manusia.” Abdulloh menjawab: “Ini seperti jama’ah Ja’far.”

 

            Maka jawaban kami adalah sebagai berikut:

            Jawaban pertama: Qiyas secara bahasa adalah: mengukur sesuatu dengan contoh sesuatu yang lain dan menyamakannya dengan sesuatu tadi. Dan karena itulah alat penakar itu dinamakan sebagai miqyas. Alat yang dipakai untuk mengukur sandal juga dinamakan sebagai miqyas. Si fulan tak bisa diqiyaskan dengan si fulan, maksudnya adalah tidak setara dengannya. Dan dikatakan: qiyas adalah mashdar dari qistusy syai’: jika aku mempertimbangkannya.” (lihat “Al Bahrul Muhith”/6/hal. 204).

            Al Imamul Haromain رحمه الله berkata: “Adapun qiyas maka dia itu adalah mengembalikan perkara cabang kepada perkara asal dengan suatu motif yang mengumpulkan kedua perkara tadi dalam satu hukum.” (“Al Waroqot”/hal. 26).

            Abu Ishaq Asy Syairoziy رحمه الله berkata: “Dan secara global: qiyas itu mencakup empat perkara: mencakup perkara asal, perkara cabang, motif dan hukum.” (“Al Luma’ Fi Ushul Fiqh”/hal. 292).

            Di sana ada pembicaraan panjang tentang definisi-definisi yang terkait dengan qiyas, akan tetapi kita mencukupkan dengan apa yang telah saya sebutkan di sini. Maka orang yang cerdas dengan memperhatikan definisi qiyas dan rukun-rukunnya dia akan bisa mengetahui rusaknya qiyas Abdulloh Al Bukhoriy dikarenakan adanya perbedaan besar antara asal dan cabangnya. Dan penjelasannya adalah sebagai berikut (pada jawaban kedua):

            Jawaban kedua: dan ini adalah jawaban kami terhadap qiyas dia yang pertama. Sesungguhnya darul Hadits di Dammaj telah disaksikan oleh orang jauh dan dekat sebagai markiz yang bersih, jernih dan dalam ilmunya serta kokoh di atas Al Kitab dan As Sunnah serta salafiyyah.

﴿ذَلِكَ فَضْلُ الله يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَالله ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيم﴾ [الجمعة/4].

“Yang demikian itu adalah karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada siapa yang dia kehendaki. Dan Alloh itu memiliki karunia yang besar.”

            Maka memperingatkan orang dari Darul Hadits Dammaj merupakan penghalangan manusia dari kebaikan yang besar yang dominan, dan perbuatan itu termasuk pertolongan terhadap mubtadi’ah, sebagaimana diakui oleh para masyayikh Yaman وفقهم الله . Para masyayikh Yaman وفقهم الله dalam bayan mereka yang terakhir yang keluar pada tanggal 10 Jumadal Akhiroh 1430 H berkata:

“… dan termasuk dari itu adalah apa yang disebarkan lewat internet dari Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiriy –semoga Alloh menjaganya dan semoga Alloh memberikan taufiq-Nya kepada kami dan dirinya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya- yang berupa seruannya untuk orang-orang tidak lagi belajar di Darul Hadits Dammaj di hadapan Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله pengganti Asy Syaikh Muqbil رحمه الله . Dan seruan tersebut merupakan perkara yang menyenangkan bagi para musuh sunnah, dan para seteru merasa gembira dengan musibah Ahlussunnah tersebut, dan bahaya itu akan mengena orang-orang yang baik dari kalangan para pelajar dan yang lainnya, dan menipu orang yang tidak mengetahui efek fitnah dalam jangka panjang.”

(Selesai penukilan dari apa yang ditulis oleh saudara kita yang mulia Abu Ibrohim Ali Mutsanna حفظه الله di situs Al ‘Ulumus Salafiyyah).

            Adapun Jami’ah Islamiyyah di Madinah dulunya memang di atas ilmu dan sunnah dan dicintai para salafiyyun, dan tidaklah membencinya kecuali orang bodoh atau mubtadi’ah. Akan tetapi para ahli ahwa berkonsentrasi untuk memasukinya sehingga terjadilah penyusupan besar-besaran. Maka perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Robi’ حفظه الله : ” … bahwasanya ahli bida’ dengan segala jenisnya dulunya menjauh dan memisahkan diri dari Ahlussunnah, sehingga kejelekan dan bahaya mereka mengecil dari satu sisi. Adapun pada masa ini ahlul bida’ telah mampu dengan tipu daya, makar dan kecerdasan mereka untuk menyusup di sela-sela barisan Ahlussunnah, bahkan bercampur di tengah-tengah mereka yang menyebabkan mereka punya pengaruh buruk yang besar, terutama di kalangan pemuda umat ini dan para pengajarnya, terutama di kampus-kampus, di masjid-masjid jami’ dan bahkan di rumah-rumah dan bahkan di pasar-pasar.” (kata pengantar Asy Syaikh Robi’ حفظه الله untuk kitab “Ijma’ Ulama ‘Alal Hajr Wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa”/hal. 5/cet. Maktabatul Asholah Al Atsariyyah).

            Demikianlah upaya para musuh untuk menyusup. Dan janganlah engkau lupa akan keberadaan Abul Hasan An Nadwiy Al Jisytiy sebagai anggota di Jami’ah Islamiyyah di Madinah juga termasuk penyusupan! Asy Syaikh Hamud At Tuwaijiriy رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari syaikh besar Tablighiyyin adalah Abul Hasan An Nadwiy. Muhammad Aslam telah menulis biografinya pda hal. 22-26 dalam kitabnya yang berjudul “Jama’ah Tabligh ‘Aqidatuha Wa Afkaru Masyayikhuha” dan dia menyebutkan bahwasanya Abul Hasan ini merupakan termasuk pengganti dan pengiring serta murid dari Asy Syaikh Muhammad Ilyas pendiri Jama’ah Tabligh. Kemudian dia menyebutkan: “Al Ustadz Abul Hasan Ali An Nadwiy Al Jisytiy Ash Shufiy, dan beliau adalah termasuk pembesar ulama Jama’ah Tabligh, dan pimpinan Darul Ulum Li Nadwatil Ulama di Kahnawiy India, dan anggota Robithotul ‘Alamil Islamiy, juga anggota majelis Jami’ah Islamiyyah di Madinah Munawwaroh.” Selesai penukilan. (“Al Qoulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama’atit Tabligh”/hal. 137/ cet. Darush Shumai’iy).

            Dan akhir dari jami’ah tersebut setelah itu adalah menyedihkan hati. Syaikh kami Al Muhaddits Al Mujahid Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Dan ini ada surat dari saudara kita syaikh yang mulia Muhammad bin Hadi Al Madkholiy, salah seorang pengajar di Jami’ah Islamiyyah yang ditujukan kepada saudara kita syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy حفظهما الله , kepada saikh kami Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله . Saudara kita Hasan dalam risalahnya yang di situ beliau mendebat sejumlah ucapan Asy Syaikh Ubaid tentang Jami’ah Islamiyyah, dan menetapkan dengan sifatnya salah seorang lulusan Jami’ah Islamiyyah bahwasanya mayoritas dan kekuasaan di Jami’ah Islamiyyah adalah milik hizbiyyin.

            Dan ini adalah apa yang dinukilkannya dari Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Hadi bahwasanya beliau berkata padanya:

أخْبر الشيخ مقبلا بأن الجامعة الإسلامية ليست بأيدي السلفيين.

“Kabarilah Asy Syaikh Muqbil bahwasanya Jami’ah Islamiyyah bukan di tangan Salafiyyin.”

(selesai penukilan dari “At Taudhih”/hal. 7/karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy).

            Dan syaikh kami An Nashihul Amin حفظه الله berkata: “Bahkan ini diketahui oleh banyak Ahlussunnah, jika bukan mayoritasnya, sama saja apakah mereka sedang belajar di Jami’ah Islamiyyah ataukah orang yang pernah belajar di situ di zaman terakhir, ataukah diuji lalu ditolak dikarenakan jawabannya tidak cocok tentang keadaan sebagian hizbiyyin yang para pelajar dites dengan ditanya tentang mereka. Jika dia memujinya, mereka akan menerimanya. Tapi jika dia mengingkari tokoh tadi, maka mereka menolaknya. Atau di sela-sela banyaknya tazkiyah Az Zindaniy dan yang lainnya dari kalangan Ikhwanul Muslimin dan yang lainnya dari kalangan pengikut Jam’iyyatul Hikmah, Al Ihsan, At Turots, dan Anshorus Sunnah di Sudan, serta Abul Hasan Al Mishriy dan yang lainnya.

Berikut ini adalah contoh kejadian di Jami’ah Islamiyyah tersebut.

            Saudara kita salah seorang pelajar yang hapal Al Qur’an, dai yang yang mulia berkata sebagai berikut:

“Saya adalah Muhammad bin Mahdi Zhofir, ditetapkan oleh Alloh bahwasanya saya bertekad untuk bergabung belajar di Jami’ah Islamiyyah untuk memenuhi permintaan kedua orang tuaku yang mulia. Maka saya berangkat pada tahun 1422 H pada bulan Romadhon ke Jami’ah, dan saat itu saya telah memenuhi syarat-syarat penerimaan yang sangat bagus, yang mana barangsiapa memeriksanya dia akan memastikan setelah taufiq dari Alloh bahwasanya saya akan diterima dengan segera tanpa kebimbangan, berupa hapalan Al Qur’an, pengambilan faidah yang bagus dari markiz-markiz salafiyyah di Yaman, ijazah ilmiyyah Tsanawiyyah sebagaimana yang dituntut, nilai di atas delapan puluh, dan syarat-syarat penerimanaan yang lainnya yang disebutkan secara lahiriyyah. Kemudian dilangsungkanlah ujian penerimaan. Ternyata hasilnya mengejutkan!!

            Sang doktor mengajukan sembilan pertanyaan. Enam soal bersifat ilmiyyah: soal tentang Al Qur’an, soal tentang aqidah, soal tentang tauhid, soal tentang fiqh, soal tentang pelajaran-pelajaran yang saya pelajari di markiz-markiz salafiyyah di Yaman, serta soal umum seperti yang mereka katakan. Dan soal-soal inilah yang seorang pelajar harus dinilai dari sela-sela itu. Dan dari sela-sela pertanyaan itu sang pelajar diterima ataukan ditolak. Seandainya Jami’ah ini salafiyyah murni dan bersih dari hizbiyyin dan lain-lain. Akan tetapi manakala Jami’ah tadi tidak seperti yang diberitakan, dan saudara kita sang doktor yang mengujiku termasuk dari kalangan hizbiyyin yang ada di dalam Jami’ah, dia tidak menganggap jawaban-jawabanku itu lurus semua. Dia melemparkannya ke dinding dan mengarahkan padaku soal-soal yang terpandang di sisinya, sehingga soal-soal pertama tadi hanyalah sebagai bentuk persiapan, sementara dari sela-sela soal yang terpandang menurutnya itulah si murid dinilai.

            Setelah jawabanku terhadap enam soal pertama, sang doktor menampakkan rasa senang dan penyambutan yang aku menyangka dengan itu aku berhasil meraih peringkat pertama dalam ujian penerimaan tahun itu. Akan tetapi dia mengajukan tiga soal kepadaku yang dari sela-sela itu dia akan mengetahui apakah aku sehati dengan mereka ataukah tidak. Maka dia bertanya: “Apa majalah terakhir yang engkau baca?” Dan termasuk bagianku yang bagus –segala pujian hanya bagi Alloh- adalah bahwasanya aku membaca majalah As Salafiyyah edisi ketujuh tahun 1422 H. maka aku menjawab: “Majalah As Salafiyyah.” Dia bertanya: “Apa kandungannya?” aku menjawab: “Di dalamnya ada penjelasan tentang keadaan sebagian ahli batil seperti Sayyid Quthb dan Hasan Al Banna, dari fatwa-fatwa Al Albaniy dan Ibnu Baz رحمهما الله dan pengingkaran terhadap pemikiran-pemikiran yang menyeleweng seperti pemikiran hizbiy dengan tulisan sang muhaddits Asy Syaikh Ahmad An Najmiy حفظه الله dan yang lainnya.”

            Maka mulailah si doktor itu berubah terhadapku. Lalu dia bertanya: “Apa pandanganmu terhadap Jama’ah-jama’ah Islamiyyah?”

            Aku bertanya: “Apa yang Anda maksudkan? Jama’ah-jama’ah yang saya hidup bersama mereka di negri saya?”

Dia menjawab: “Iya.”

Saya menjawab: “Demi Alloh, di tempat kami ada jama’ah Ikhwanul Muslimin, Syi’ah, Jama’ah Tabligh, Shufiyyah. Kami mohon perlindungan pada Alloh. Dan juga di tempat kami ada dakwah salafiyyah –segala pujian hanya bagi Alloh-.”

Dia bertanya: “Maka jama’ah yang manakah yang engkau pandang ada di atas kebenaran?”

Aku berkata: “Sebelum saya jawab, kita jadikan Al Kitab dan As Sunnah sebagai timbangan.”

Dia menjawab: “Baik.”

Saya menjawab: “Demi Alloh, tidak ada jama’ah yang saya lihat berangkat berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah, juga kembalinya kepada Al Kitab dan As Sunnah selain dakwah salafiyyah.”

Kemudian dia mengarahkan padaku soal ketiga yang menjadi pemutus: “Lalu apa pandanganmu terhadap Asy Syaikh Az Zindaniy?”

Maka aku tersenyum di hadapannya sambil menampilkan keheranan atas soal itu. Aku menjawab: “Demi Alloh, orang ini punya kekeliruan dan ketergelinciran.”

Maka si doktor membentakku dan adabnya memburuk terhadapku, seakan-akan jawabanku tentang Az Zindaniy adalah ruqyah syar’iyyah yang aku bacakan pada orang yang kesurupan. Lalu si doktor bangkit dan melompat dari kursinya sambil menudingkan tangannya kepadaku dan berkata: “Ha! Ha! Apakah engkah mencaci ulama!? Apakah engkau men-jarh ulama umat!?”

Maka aku tersenyum di hadapannya dengan mata kesabaran –segala pujian dan karunia hanya milik Alloh-, karena kebenaran punya ketenangan bagi hati dan kekokohan di lidah. Dan aku katakan: “Wahai doktor yang mulia, jika orang yang Anda kabarkan tadi adalah termasuk dari ulama umat ini, tidak ada halangan untuk dia punya kekeliruan dan ketergelinciran, karena sesungguhnya ‘ishmah (keterjagaan dari kesalahan) hanyalah untuk para Nabi. Kedua: ini tadi bukan ucapan saya, saya hanyalah pelajar. Tapi ini tadi adalah ucapan syaikh kami Muqbil, Asy Syaikh Fulan dan Fulan,” aku sebutkan pada sejumlah ulama sunnah.”

            Kemudian aku hendak menjelaskan sebagian kekeliruan teman kita ini: Az Zindani, yang terkait dengan sisi tauhid dan aqidah, hanya saja si doktor menghardikku dengan kasar dan berkata: “Cukup! cukup!! Dan dia mengisyaratkan pengusiran dengan tangannya ke pintu dan berkata: “Silakan, silakan.”

            Maka aku berdiri dengan senang –segala pujian hanya bagi Alloh- dengan merasa mulia dengan aqidah dan manhajku yang memutihkan wajah-wajah dan mengangkat kepala-kepala.

﴿أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبّاً عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيّاً عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾ [الملك:22].

“Maka apakah orang yang berjalan terbalik di atas wajahnya itu lebih terbimbing daripada orang yang berjalan dengan lurus di atas shiroth mustaqim?”

            Kemudian si doktor mengejarkan ke pintu dan berkata: “Hah, hah, Az Zindaniy termasuk dari ulama Al Ikhwan.” Maka aku jawab: “Iya.” Lalu aku diam dan berjalan, setelah aku melihat dia mencoret nilai jawabanku yang benar.

            Kemudian aku berusaha mengeluarkan kisah ujian penerimaan ini untuk aku perlihatkan pada para saudaraku salafiyyin, tentang Jami’ah yang telah dirubah dan diganti sepeninggal pendirinya, sang ayah yang penyayang, Al Imam Abdul Aziz Ibnu Baz –semoga Alloh merohmatinya dan orang yang berjalan sepeninggal beliau di atas jalan itu- .

            Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Dan Alloh ada di belakang maksud, dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

Selesai.

            Aku –Asy Syaikh Yahya- katakan: berapa banyaknyakah salafiyyun selain orang ini mengalami kejadian yang semisal dengan itu, seandainya ucapan (kisah) mereka dikumpulkan dalam acara itu (proses penerimaan mahasiswa baru) pastilah terbentuk satu juz tersendiri.

            Akh Abdul Basith As Sufiy Al Jazairiy berkata:

“Segala pujian bagi Alloh Robb semesta alam. Kemudian setelah itu:

Aku bersaksi bahwasanya aku ketika maju untuk masuk ke Jami’ah Islamiyyah pada tahun 1423 H, aku ingin minta syafaat pada doktor Abdulloh Al Muthrofiy –pengajar bidang hadits di Jami’ah- karena beliau dulu adalah kepala Lajnah Ifriqiyyah yang khusus menangani perlombaan di Jami’ah kemudian beliau dilepas. Maka beliau berkata padaku: “Lajnah sekarang semuanya adalah hizbiyyah, kecuali satu orang, bukan muta’ashshib (fanatik), tapi dia termasuk dari mereka.”

            Demikian pula aku mendengar Asy Syaikh Robi’ حفظه الله di rumah beliau di Madinah ketika beliau –demikian aslinya- mengunjungi beliau pada bulan Sya’ban 1423 H, beliau berkata: “Sesungguhnya Jami’ah Islamiyyah berisi para pengajar hizbiyyin, akan tetapi metode pendidikannya salafiyyah.” Lalu beliau menasihati untuk belajar di situ dan berkata: “Ambillah metodenya dan hindarilah hizbiyyin.”

Selesai.

            Dan akh Adil As Siyaghiy berkata:

“Segala pujian bagi Alloh Robb semesta alam. Kemudian setelah itu:

Sebagian saudara kita dari mahasiswa telah menerima kami sebagai tamu di Jami’ah Islamiyyah, dan ke tempat tempat tinggalnya secara khusus. Di tengah-tengah kunjunganku ke tempat tinggal Jami’ah aku ingin mengetahui syarat belajar di tempat mereka, dan aku saat itu tidak ragu bahwasanya mereka memerangi para pelajar, terutama yang datang dari Darul Hadits di Dammaj. Akan tetapi aku berkata dalam hati: “Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” Maka mulailah aku bertanya tentang tempat panitia pencatatan.

            Ketika aku masuk ke tempat penantian tiba-tiba saja ada anak muda Yaman yang menjumpaiku sambil membawa kertas-kertas dan tazkiyah. Maka aku Tanya dia tentang syarat-syarat mereka. Maka dia menjawab: “Yang paling penting adalah tazkiyah dari dua orang alim yang terkenal.”

Aku bertanya: “Seperti siapa?”

Dia menjawab: “Seperti Abdul Majid Az Zindaniy –yang mana dia itu adalah pemimpin Ikhwanul Muslimin di Yaman- dan Abul Hasan Al Mishriy.”

Maka kukatakan padanya: “Jika engkau punya tazkiyah dari Asy Syaikh Muqbil –رحمه الله- atau asy Syaikh Muhammad Al Imam?”

Dia menjawab: “Mereka akan mengambil kertas-kertasmu dan berkata: “Kami akan menelponmu.” Tapi kapan? Alloh tahu. Bisa jadi mereka akan menolakmu seketika itu juga. Jika engkau ingin diterima dengan cepat, datanglah dengan tazkiyah salah seorang Ikhwanul Muslimin yang terkenal di sisi mereka, …”

 

            Maka ini semua adalah termasuk perkara yang saya tidak mengira Fadhilatusy Syaikh Ubaid mengingkarinya. Apa yang diucapkannya itu ditetapkan oleh banyak salafiyyun, bahwasanya Jami’ah Islamiyyah –semoga Alloh memberinya taufiq- mayoritas yang ada di dalamnya menjadi milik jenis-jenis ini dan yang loyal pada mereka –hizbiyyin-. Tiada keraguan bahwasanya terhadap istana yang besar semacam ini para hizbiyyun tak akan tenang pikirannya sampai bisa menguasainya, dan telah mereka lakukan, dan tidak seperti yang diisyaratkan oleh Asy Syaikh Ubaid وفقه الله di akhir-akhir “At Taqrirotul Ilmiyyah” bahwasanya keberadaan mereka itu sangat jarang.”

(selesai penukilan dari “At Taudhih”/Asy Syaikh Yahya/hal. 3-4).

            Sudah dikenal oleh para salafiyyin di negri kami bahwasanya panitia penerimaan mahasiswa Jami’ah Islamiyyah itu mayoritasnya –jika saya tidak berkata: semuanya- dari hizbiyyin, dan mereka singgahnya di markiz-markiz hizbiyyin, dan tidak ada yang diterima kecuali oleh orang yang ditazkiyah oleh hizbiyyun negri kami, kecuali jarang sekali yang bukati hizbiyyin. Dan perkara yang jarang itu tidaklah dibangun di atasnya hukum. Ini semua menunjukkan kekuasaan Jami’ah memang dipegang oleh hizbiyyun, bukan di tangan salafiyyun seperti di permulaannya.

            Dan aku yakin bahwasanya Abdulloh Al Bukhoriy tahu benar hal ini, akan tetapi ‘ashobiyyah itu membikin buta dan tuli.

            Maka nasihat syaikh kami yang mulia حفظه الله untuk para pemuda muslimin agar jangan belajar di tempat yang keadaannya adalah seperti merupakan merupakan bentuk nasihat, rasa iba dan kasih sayang serta penjagaan. Dan keselamatan itu tidak bisa disamai oleh suatu apapun, sebagaimana yang diucapkan oleh Al Imam An Nawawiy رحمه الله dalam “Riyadhush Sholihin” (2/hal. 175).

            Ayyub As Sikhtiyaniy رحمه الله telah berkata: “Sesungguhnya termasuk dari keberuntungan anak muda dan orang ajam (non Arob) adalah bahwasanya Alloh member taufiq untuk mereka dengan seorang alim dari Ahlussunnah.” (“Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah Wal Jama’ah”/karya Al Lalikaiy/1/hal. 47).

            Maka nasihat syaikh kami رعاه الله merupakan nasihat salafiyyah.

            Maka dengan penjelasan ini jelaslah rusaknya qiyas Abdulloh Al Bukhoriy وفقه الله yang menyamakan peringatan Ubaid agar jangan belajar ke Darul Hadits Dammaj dengan peringatan syaikh kami An Nashihul Amin agar jangan belajar ke Jami’ah itu pada waktu ini. Dan ini menunjukkan sedikitnya kecerdasan Abdulloh sehingga dia menyangka bahwasanya semata-mata peringatan itu cukup untuk menjadi ‘illah (motif) yang menyatukan kedua perkara tadi, lalu diberikanlah suatu hukum dengan ‘illah tadi.

            Jawaban ketiga: dan ini adalah jawaban kami terhadap qiyas dia yang kedua: ucapan dia: “Sebagaimana datang Abul Hasan, Al Maghrowiy, ‘Ar’ur, Ali Hasan, dan mereka semua seperti itu. Semoga Alloh memberkahi kalian.” Yaitu: bahwasanya salafiyyun Dammaj memecah-belah barisan dan ingin membentuk suatu sempalan seperti mereka tadi.

            Dan telah kami jelaskan batilnya kedustaan Abdulloh bahwasanya salafiyyin Dammaj merobek barisan dan mencerai-beraikan umat serta ingin membikin sempalan, dengan penjelasan yang memuaskan bagi orang yang punya mata hati.

            Adapun Abul Hasan Al Ma’ribiy Al Mishriy di Yaman, maka telah tetap perpisahannya dengan Jama’ah dan bahwasanya dia memecah barisan, dan tidak mau untuk kembali kepada kebenaran setelah nasihat yang banyak, dan kemudian dia menjadi pelayan terbesar untuk Ikhwanul Muslimin.

            Dan seperti itu pula Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabiy di Syam: menolong hizbiyyin, melembekkan manhaj salafiy, memakai pena dia untuk menyerang ulama sunnah dengan kebatilan, dan tidak mau rujuk kepada kebenaran setelah nasihat yang banyak.

            Demikian pula Abdurrohman Al Maghrowiy di Maghrib, telah tetap pemikirannya yang takfiriy, dan tak mau kembali kepada kebenaran setelah nasihat yang banyak.

            Demikian pula ‘Adnan ‘Ar’ur, menolong pemikiran Sayyid Quthb dan menyerang ulama sunnah dengan kebatilan, dan tak mau kembali kepada kebenaran setelah nasihat yang banyak.

            Maka mereka semua telah keluar dari Jama’ah dan bergabung dengan dengan sempalan-sempalan yang sesat.

            Maka penyamaan antara salafiyyin Dammaj yang bersih, kokoh, tamayyuz, dengan orang-orang busuk tadi yang telah keluar dari kebenaran tadi, merupakan penyamaan yang zholim, jahat dan dusta. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾ [ص: 28].

“Apakah Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal sholih itu seperti orang-orang yang merusak di bumi? Apakah Kami menjadikan orang-orang yang bertaqwa itu seperti orang-orang yang jahat?”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan sungguh Alloh subhanah telah meniadakan dari hukum-Nya dan hikmah-Nya penyamaan antara dua perkara yang berbeda dalam hukum, Alloh berfirman:

﴿أفنجعل المسلمين كالمجرمين مالكم كيف تحكمون﴾

“Maka apakah Kami menjadikan orang-orang muslim itu seperti orang-orang yang jahat? Ada apa dengan kalian? Bagaimana kalian menghukumi?”

Maka Alloh mengabarkan bahwasanya ini adalah hukum yang batil dalam pandangan fithroh dan akal, tidak sesuai penisbatannya kepada Alloh Yang Mahasuci. Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿أم حسب الذين اجترحوا السيئات أن نجعلهم كالذين آمنوا وعملوا الصالحات سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون﴾

“Apakah orang-orang yang berbuat kejelekan itu mengira bahwasanya Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal sholih, sama saja kehidupan mereka dan kematian mereka? Jelek sekali hukum yang mereka berikan.”

Dan juga berfirman:

﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾ [ص: 28].

“Apakah Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal sholih itu seperti orang-orang yang merusak di bumi? Apakah Kami menjadikan orang-orang yang bertaqwa itu seperti orang-orang yang jahat?”

            Maka apakah engkau tidak melihat bagaimana Alloh mengingatkan akal dan fithroh dengan apa yang Dia letakkan di dalamnya yang berupa pemberian sesuatu dengan hukum perkara yang semisal dengannya, dan tidak menyamakan suatu perkara dengan perkara yang menyelisihinya dalam hukum? Dan ini semua termasuk dari timbangan yang Alloh turunkan bersama kitab-Nya dan Dia jadikan sebagai pengiring dan mentrinya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 132-133).

 

            Jawaban yang keempat: dan ini merupakan jawaban kami terhadap qiyas dia yang ketiga bahwasanya: “Orang-orang lulusan dari Dammaj itu seperti jama’ah Ja’far.”

            Sesungguhnya Ja’far bin Umar bin Tholib Al Indonesiy dulu sering mendekati sebagian dari para pimpinan partai-partai politik, dan duduk-duduk dengan sebagian pimpinan hizbiyyin harokiyyin, dan bermudah-mudah dalam darah muslimin di bawah slogan “Maslahat yang lebih besar.” Dia enggan untuk kembali kepada kebenaran, bahkan mengejek Asy Syaikh Robi’ حفظه الله. Manakala para ulama berfatwa agar dia ditinggalkan, para salafiyyunpun meninggalkannya, sementara dia bersikeras di atas kesesatannya, dan mencerca salafiyyin, dan berpisah dari mereka, serta duduk-duduk dengan ahli ahwa. Beberapa tahun kemudian dia menampakkan sikap rujuk dan mengajak bersatu. Akan tetapi para salafiyyun tidak mau karena dia baku tolong dengan pimpinan sururiyyin di negri kami dalam kasus yang telah dikenal di kalangan kami.

            [tambahan: Kemudian dia dikabarkan pergi ke Asy Syaikh Robi’ حفظه الله untuk minta maaf. Akan tetapi setelah itu dia tidak menampilkan tobat yang jelas dari keseringannya tampil di TV, dan juga tidak mau terang-terangan menghizbikan Mar’iyyun padahal hizb sesat ini telah sampai di Indonesia dan membikin kerusakan. Maka Asy Syaikh Yahya حفظه الله tetap mentahdzir dia sampai jelas kebersihannya].

            Maka bagaimana setelah ini engkau menyamakan antara orang yang belepotan dan teman-temannya, dengan Ahlussunnah Dammaj dan yang bersama mereka, orang-orang yang bersih dan menyendiri dari ahli ahwa.

            Jika engkau berkata: “illah yang menyatukan antara kedua golongan ini adalah: membikin buruk dakwah salafiyyah.”

            Maka jawabannya adalah: barangsiapa menyatakan bahwasanya dirinya adalah salafiy tapi perbuatannya menyelisihi salafiyyah, maka dialah yang memperburuk citra dakwah salafiyyah, seperti orang yang mengaku di atas sunnah tapi dia membikin perkara muhdats dalam agama, atapi menyelisihi jalan salaf, atau melakukan maksiat dengan terang-terangan, atau yang selain itu.

            Adapun orang yang mengajak kepada Al Kitab, As Sunnah dan salafiyyah, dan dia jujur dalam dakwahnya, sehingga dia berpegang teguh dengan kebenaran dalam perkara yang besar ataupun yang kecil, dan menggigit kebenaran tadi dengan gerahamnya bersamaan dengan kerasnya keterasingan Islam dan sunnah di kalangan kebanyakan muslimin dan salafiyyin, maka sungguh dia itu adalah orang yang berwajah putih di dunia dan di hari bangkitnya para saksi. Dia itulah orang yang memutihkan wajah dakwah salafiyyah dan tidak memperburuk citranya. Ini adalah perkara yang sangat jelas, akan tetapi kebanyakan orang-orang muta’ashshibun tidak mengetahuinya.

            Jawaban kelima: sungguh Abdulloh Al Bukhoriy telah mengikuti perbuatan ahli jahiliyyah dalam memakai qiyas yang rusak dalam kesesatan mereka. Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdiy رحمه الله berkata tentang keadaan ahli jahiliyyah, di antaranya adalah: berdalilkan dengan qiyas yang rusak, seperti ucapan mereka:

﴿إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا﴾ [إبراهيم/10].

 “Tidaklah kalian kecuali manusia seperti kami.”

(“Masailul Jahiliyyah”/syarh Asy Syaikh Sholih Fauzan/hal. 80/cet. Darul ‘Ashimah).

            Dan ini merupakan tempat tumbuhnya bid’ah. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan setiap bid’ah dan perkataan yang rusak yang masuk pada agama-agama para Rosul itu maka asalnya adalah qiyas yang rusak.” –kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh, sampai pada ucapan beliau:- “Dan tidaklah rusak dari urusan alam ini, dan tidaklah roboh dari urusan alam ini kecuali dengan sebab qiyas yang rusak. Dan dosa yang pertama kali dengannya Alloh didurhakai adalah: qiyas rusak. Dan dia inilah yang menyeret Adam dan keturunannya dari kalangan pemilik qiyas ini kepada bencana. Maka asal kejelekan dunia dan akhirat semua adalah dari qiyas yang rusak ini. Dan ini adalah hikmah yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang  (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 319/Darul hadits).

Bab Tujuh Belas:

Menurut Abdulloh Al Bukhoriy Dan Pengikutnya Bantahan Yang Didukung Dengan Bukti Merupakan Penghinaan Dan Cacian Terhadap Kehormatan Para Dai

            Usamah Al Mahriy menggambarkan bantahan para salafiyyin penasihat terhadap kesalahan orang-orang yang bersalah: “Pelanggaran kehormatan para dai … dan cercaan, di dalamnya ada pemburukan wajah dakwah.”

Dan disetujui oleh doktor Abdulloh Al Bukhoriy.

            Jawaban kami adalah:

            Dari Abu Humaid As Sa’idiy رضي الله عنه yang berkata:

استعمل النبي – صلى الله عليه وسلم – رجلا من بني أسد يقال له: ابن الأتبية على صدقة فلما قدم قال: هذا لكم وهذا أهدى لي . فقام النبي – صلى الله عليه وسلم – على المنبر – فحمد الله وأثنى عليه ثم قال: «ما بال العامل نبعثه، فيأتى يقول هذا لك وهذا لي . فهلا جلس في بيت أبيه وأمه فينظر أيهدى له أم لا ، والذى نفسي بيده لا يأتي بشيء إلا جاء به يوم القيامة يحمله على رقبته ، إن كان بعيرا له رغاء ، أو بقرة لها خوار ، أو شاة تيعر». ثم رفع يديه حتى رأينا عفرتي إبطيه: «ألا هل بلغت» ثلاثا.

“Nabi صلى الله عليه وسلم mempekerjakan seseorang dari Banu Asad yang dipanggil dengan: Ibnul Utabiyyah untuk mengurusi shodaqoh. Ketika dia tiba, dia berkata: “Ini untuk Anda, yang ini dihadiahkan untuk saya.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bangkit dan berdiri di atas mimbar, lalu memuji Alloh dan menyanjung-Nya serya berkata: “Ada apa dengan pegawai yang kami utus lalu dia datang seraya berkata: “Ini untuk Anda, dan ini untuk saya.” Kenapa dia tidak duduk saja di rumah ayahnya dan ibunya lalu dia melihat apakah dia diberi hadiah ataukah tidak. Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya tidaklah dia datang dengan suatu apapun kecuali dia akan datang pada hari kiamat dengan memikulnya di atas lehernya. Jika itu adalah onta, dia akan melenguh, atau dia itu sapi, dia akan menguak, atau dia itu kambing maka dia itu mengembik.” Lalu beliau mengangkat kedua tangannya hingga kami melihat putihnya ketiak beliau lalu beliau bersabda: “Ketahuilah, bukankah aku telah menyampaikan?” tiga kali. (HR. Al Bukhoriy (7174) dan Muslim (1832)).

            Al Hafizh رحمه الله berkata dalam “Fathul Bari” (13/hal. 208/cet. Darus Salam): “Dan dalam hadits ini ada penjelasan bahwasanya barangsiapa melihat orang melakukan takwil dengan keliru dalam penakwilannya dan bisa membahayakan orang yang mengambil takwil dia tadi, boleh untuk orang itu dikritik secara terbuka di hadapan manusia dan dijelaskan kesalahannya agar orang terhindar dari ketertipuan olehnya. Dan dalam hadits ini ada faidah bolehnya mencerca orang yang keliru, … dst.”

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika ada kaum munafiqun membikin suatu bid’ah menyelisihi Al Kitab dan menyamarkannya kepada manusia, dan bid’ah tadi tidak jelas bagi orang-orang, menjadi rusaklah perkara Al Kitab dan dirubahlah agama ini, sebagaimana rusaknya agama ahli kitab sebelum kita dikarenakan terjadinya penggantian yang tidak diingkari terhadap pelakunya. Dan jika ada kaum yang mereka itu bukanlah dari munafiqin akan tetapi mereka senang mendengarkan ucapan para munafiqin sehingga menjadi tersamarlah hakikat kaum itu terhadap mereka, sehingga mereka menduga bahwasanya ucapan para munafiqin itu adalah benar dalam keadaan menyelisihi Al Kitab, dan kemudian orang-orang tadi menjadi penyeru kepada bid’ah munafiqin sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿لو خرجوا فيكم ما زادوكم إلا خبالا ولأوضعوا خلالكم يبغونكم الفتنة وفيكم سماعون لهم﴾

“Seandainya mereka keluar di dalam barisan kalian tidaklah mereka itu menambahi kalian kecuali kerusakan, dan pastilah mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian untuk mengadakan kekacauan di antara kalian. Dan di antara kalian ada orang yang senang mendengarkan ucapan mereka.”

            Maka wajib juga untuk menjelaskan keadaan mereka. Bahkan fitnah dengan keadaan mereka itu lebih besar karena pada diri mereka ada keimanan yang mengharuskan loyalitas terhadap mereka, sementara mereka telah masuk ke dalam kebid’ahan dari bid’ah-bid’ah munafiqin yang merusak agama. Maka wajib untuk memperingatkan umat dari kebid’ahan tersebut, sekalipun hal itu mengharuskan untuk menyebutkan para pelakunya dengan nama-namanya.

            Bahkan seandainya mereka tidak mendapatkan bid’ah tadi dari seorang munafiq akan tetapi mereka memang mengucapkannya karena menduga itu sebagai petunjuk, kebaikan dan agama, padahal sebenarnya tidak demikian, maka wajib untuk menjelaskan keadaannya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233).

Al Imam ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil ataukah orang besar, maka dia memiliki teladan dari ulama yang membantah perkataan Ibnu Abbas yang menyendiri dan diingkari ulama, seperti masalah nikah mut’ah, penukaran mata uang, dan dua umroh dan yang selain itu.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Sa’id ibnul Musayyab terhadap perkataannya yang membolehkan wanita yang telah ditholaq tiga untuk kembali ke suaminya yang pertama dengan semata-mata akad dengan suami kedua, dan yang selain itu yang menyelisihi sunnah yang jelas.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Al Hasan tentang perkataan tentang tidak ihdadnya wanita yang ditinggal mati suaminya. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah ‘Atho tentang pembolehannya pengembalian kemaluan. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Thowus tentang ucapannya dalam masalah yang bermacam-macam yang menyendiri dari ulama.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah tokoh-tokoh yang lain yang telah disepakati kaum Muslimin bahwasanya mereka itu di atas petunjuk, ilmu, dicintai dan dipuji.

Dan tiada seorangpun dari mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun penghinaan terhadap mereka. Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.

Adapun jika keinginan orang yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya, menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya. Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga masuk dalam sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

« يامعشرمنآمنبلسانهولميؤمنبقلبهلاتؤذواالمسلمينولاتتبعواعوراتهمفإنهمنيتبععوراتهميتبعاللهعورتهومنيتبعاللهعورتهيفضحهولوفيجوفبيته».

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”([5])

            Ini semua adalah yang terkait dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini. Adapun ahlul bida’ wadh dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama, maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka, sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka. Dan bukanlah pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya di kalangan Ahlussunnah pada masa kini ada orang yang kebiasaannya dan kesibukannya adalah menelusuri kesalahan-kesalahan dan mencarinya, sama saja hal itu ada di karya tulis ataukah di kaset-kaset, kemudian dia memperingatkan umat dari orang melakukan kesalahan itu. Dan aku katakan: sungguh ini adalah kedudukan tinggi dan bukanlah suatu hal yang pantas dicela. Sungguh dulu penjagaan sunnah merupakan kedudukan yang tinggi di sisi Salaf. Iya, para pemuda Salafiy punya kecemburuan. Jika mereka mendapati penyelisihan terhadap sunnah pada suatu buku, atau kaset, atau mereka melihat ada orang dari Ahlussunnah berjalan bersama mubtadi’ah setelah adanya nasihat, mereka mengingkari hal itu dan menasihatinya, atau meminta dari sebagian masyayikh untuk menasihatinya. Jika orang itu dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, mereka memboikotnya. Ini adalah kedudukan tinggi bagi mereka dan bukan celaan.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/hal. 232-234/Darul Minhaj).

Fadhilatusy Syaikh Robi’ ditanya: “Apakah termasuk manhaj Salaf, mengumpulkan kesalahan-kesalahan seseorang dalam sebuah kitab agar orang lain bisa membacanya?!!”

Beliau menjawab: “Subhanalloh, ini adalah perkataan orang-orang sesat demi menjaga kebidahan, kitab-kitab, manhaj mereka dan orang-orang yang mereka sanjung. Alloh dan Rosul-Nya banyak sekali menyebutkan tentang kesesatan mereka. Alloh –ta’ala telah mengumpulkan perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro serta membantah mereka dalam banyak ayat-ayat Al-Quran. Ahlus Sunnah dari dulu sampai sekarang berbicara tentang Jahm bin Shofwaan dan Bisyr Al Mariisy serta menyebutkan kebidahan dan kesesatan mereka, mengumpulkan perkataan kelompok-kelompok sempalan dan mengkritiknya, siapakah yang mengharomkan ini? Ini termasuk dari kewajiban. Jika manusia akan tersesat dengan kebid’ahan yang banyak, dan engkau mengumpulkan kebid’ahan tadi dalam satu tempat lalu engkau memperingatkan manusia dari kebid’ahan itu beserta nama pelakunya tadi, maka semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan. Engkau  dengan perbuatan tadi telah memberikan kebaikan yang besar buat Islam dan Muslimin.” (Al-Ajwibah ‘ala Asilah Abi Rowahah“/ hal. 28-29/Majalisul huda).

            Adapun ucapan Abdulloh: “Baiklah wahai saudaraku. Apa perbedaan antara (sabbihi) cacian dia dan (syatmihi) cercaan dia kepada para masyayikh Ahlussunnah?”

            Maka jawaban kami adalah sebagai berikut:

Ibnu Manzhur رحمه الله berkata –secara ringkasnya-: As Subbah adalah: aib. Yaitu : aib yang dengannya mereka dicela. (“Lisanul Arob”/1/hal. 455).

            Dan berkata tentang makna syatm: “Syatm adalah ucapan buruk tapi tidak ada di dalamnya tuduhan zina. Dan syatm adalah sabb.” (“Lisanul Arob”/12/hal. 318).

            Ibnu Hajar رحمه الله dalam penjelasan hadits Abu Dzarr dan ucapannya:

إني ساببت رجلاً فعيرته بأمه..الحديث،

“Sesungguhnya aku beradu cacian dengan seseorang, maka aku mencerca dia dengan ibunya, … dst.

Ibnu Hajar berkata –secara ringkas-: dan makna “saababtuh” yaitu terjadi antara diriku dan dirinya saling mencaci. Asalnya adalah: pemotongan. Dan dikatakan bahwasanya “sabb” itu diambil dari sabbah, yaitu lingkaran dubur. Ucapan yang keji itu dinamai dengan kekejian pada badan. Berdasarkan pendapat yang pertama, maka yang dimaksudkan adalah: memotong orang yang dicaci. Adapun berdasarkan pendapat yang kedua, maka yang dimaksudkan adalah: menyingkap kekurangannya, karena orang yang mencaci itu biasanya adalah menampakkan kekurangan orang yang dicaci.” (“Fathul Bari”/1/hal. 49).

            Dengan definisi ini kita mengetahui bahwasanya Abdulloh Al Bukhoriy menuduh syaikh kami An Nashihul Amin –semoga Alloh memeliharanya- telah mencerca masyayikh ahlussunnah dan menampakkan kekurangan mereka dan berbicara jelek tentang mereka.

            Jika yang dimaksudkannya adalah bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin –semoga Alloh memeliharanya- mengkritik kesalahan-kesalahan orang yang berbuat keliru sekalipun mereka itu berasal dari kalangan masyayikh ahlussunnah, maka perkara ini telah dikenal di kalangan salaful ummah. Dan telah lewat ucapan para imam di awal bab ini tentang pentingnya memperingatkan umat dari kesalahan orang yang berbuat keliru.

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Maka kritikan itu wahai ikhwan, tidak boleh pintunya ditutup, karena kita berarti akan mengatakan ditutupnya pintu ijtihad –semoga Alloh memberkahi kalian-. Dan kita tidak memberikah pensucian pada pemikiran seorangpun sama sekali. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun datangnya, sama saja apakah dia itu seorang salafiy ataukah bukan salafiy. Akan tetapi bermuamalah dengan Ahlul haq wassunnah yang telah kita ketahui keikhlasan mereka, ijtihad mereka dan kesetiaan mereka kepada Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, pimpinan Muslimin dan orang awamnya tidaklah sama dengan muamalah dengan ahlul bida’ wadh dholal. Kembalilah kalian kepada kitab Al hafizh Ibnu Rojab رحمه الله : “Al Farqu Bainan nashihah Wat ta’yir”.

Jika orang tadi berbicara dan memberikan penjelasan lalu berbicara, maka penjelasan terhadap petunjuk dan kebenaran itu memang wajib. Sa’id ibnul Musayyab telah pernah dikritik, dan juga Ibnu Abbas, Thowus, dan para murid Ibnu Abbas juga dikritik. Tidak ada seorangpun yang berkata: “Ini adalah tho’n” tidak ada yang berkata demikian kecuali ahlul hawa.

Kami jika mengkritik Al Albaniy, tidaklah kami menempuh jalan ahlul ahwa dengan berkata: “Jangan, jangan kalian kritik Al Albaniy.” Baiklah. Kesalahannya tersebar dengan nama agama. Begitu pula kesalahan Ibnu Baz, kesalahan Ibnu Taimiyyah, kesalahan siapapun. Kesalahan apapun wajib untuk dijelaskan kepada manusia bahwasanya ini adalah suatu kesalahan, setinggi apapun kedudukan orang yang muncul darinya kesalahan ini, dikarenakan kita sebagaimana telah kami katakan berulang kali bahwasanya kesalahannya itu dinisbatkan kepada agama Alloh.

Akan tetapi kita membedakan –sebagaimana telah aku katakan- antara Ahlussunnah dan ahlul bid’ah, sebagaimana kata Ibnu Hajar dan lain-lain. Mubtadi’ itu dihinakan dan tidak ada kehormatan sedikit pun baginya dikarenakan maksudnya yang jelek. Mubtadi’ adalah pengikut hawa nafsu,  –sampai pada ucapan beliau:- sisi pendalilan kita di sini adalah bahwasanya kritikan pada ulama, dan di antara ulama ada yang saling mengkritik dan menjelaskan pada manusia demi menjauhkan penisbatan kesalahan itu pada agama Alloh عز وجل ini wajib, dan tidaklah kami mengatakan: “Boleh.” Wajib untuk mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia, dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

﴿وَإِذْ أَخَذَ الله مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَه﴾ [آل عمران/187].

“Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya,”

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة/78، 79].

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

            Kritikan adalah termasuk dalam bab ingkarul mungkar. Maka kritikan terhadap individu-individu besar Salafiyyin jika berbuat salah, dan penjelasan tentang kesalahan mereka ini termasuk bab amar ma’ruf nahi munkar, dan termasuk dalam bab penjelasan yang diwajibkan oleh Alloh, dan termasuk bab nasihat yang diwajibkan oleh Alloh dan diharuskan-Nya terhadap kita.” (AlAjwibah AsSalafiyah Ala As’ilah Abi Rowahah AlManhajiyah: 16-19/Majalisul Huda).

            Adapun jika yang dimaksudkan oleh Abdulloh Al Bukhoriy adalah bahwasanya syaikh kami yang mulia –semoga Alloh memelihara beliau- mebceca Ubaid Al Jabiriy dan yang semisalnya, maka memang demikian. Syaikh kami yang mulia –semoga Alloh memelihara beliau- telah menempuh jalan yang paling lembut dan paling halus di awal-awal jawaban beliau terhadap kritikan-kritikan Ubaid yang ditujukan kepada beliau, dan beliau menjelaskan dengan sangat tenang dan beradab disertai dengan penampilan bukti-bukti dan argumentasi bahwasanya kritikan Ubaid itu bukanlah pada tempatnya. Akan tetapi Ubaid tidak mau kecuali terus menyerang dan menuduh dengan syubhat-syubhat yang sangat lemah, maka syaikh kami menghentikannya pada garis batasnya, dan menjelaskan kesesatannya, terutama setelah nampak kebatilan-kebatilan Ubaid di sebagian fatwanya, sehingga sekelompok ulama sunnah bangkit mengkritiknya.

            Maka hendaknya Abdulloh Al Bukhoriy mengambil faidah dari apa yang diucapkan oleh Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله manakala ditanya:

“Ada seorang dai yang keliru dalam suatu masalah manhaj atau aqidah, dan kesalahan itu telah tersebar di tulisan dia atau di dalam kaset dan diterima dari tangan ke tangan. Maka bagaimanakah cara yang terbaik untuk menasihati orang yang terjatuh ke dalam kesalahan tadi? Dan jika orang yang keliru tadi bersikeras dengan kesalahannya dan tidak mau menerima nasihat orang-orang yang menasihati, maka apakah boleh bagi orang yang mengetahui kesalahan dari kebenaran, dan kebenaran dari kesesatan untuk menjelaskan keadaan orang ini dan kesalahan-kesalahannya kepada manusia agar mereka berhati-hati darinya? Ataukah ini menyelisihi manhaj salaf –semoga Alloh merohmati mereka- , maka berilah kami fatwa, semoga Alloh memberi Anda pahala.

            Maka beliau رحمه الله menjawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه. وبعد:

Yang pertama: hendaknya yang menasihatinya itu membikinnya takut kepada Alloh عز وجل . Dan menasihatinya secara rahasia, kemudian mengulang-ulang nasihatnya dua kali dan tiga kali. Jika dia enggan untuk mengikuti nasihat tadi dan bersikeras terhadap kesalahannya tadi, maka setelah itu dia diperlakukan dengan perlakuan terhadap para mubtadi’ah, jika dia mengakui telah melakukan kesalahan manhaji tadi.

            Adapun jika dia mengingkari hal itu dan bersumpah bahwasanya dia tidak tahu hal itu dan tidak meyakininya maka orang yang menasihatinya dalam keadaan ini hendaknya berpaling darinya dan meninggalkannya saja, dan perhitungan orang itu jadi tanggungan Alloh.

            Iya, jika dia enggan untuk menerima nasihat, dan perkara yang orang itu tertuduh dengannya itu jelas dan terang, maka orang itu dalam keadaan ini urusannya harus dijelaskan pada para pelajar sehingga mereka mengetahui keadaannya. Bahkan bisa jadi penjelasan keadaan orang semacam fardhu ‘ain terhadap orang yang mengetahuinya, dan sesungguhnya atsar-atsar yang diriwayatkan dari salaf yang nampak dari itu adalah wajib bersikap tegas terhadap orang yang demikian itu, semoga Alloh memberikan taufiq.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 51-52/cet. Darul Minhaj).

 

Bantahan Ahlussunnah terhadap Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan dia mencaci Asy Syaikh ‘Ubaid dan seluruh masyayikh Yaman: Asy Syaikh Al Wushobiy, dan aku tak tahu siapa? Omong kosong macam apa ini?”

            Maka jawaban kami adalah sebagai berikut:

Telah banyak bantahan Ahlussunnah kepada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله di antaranya adalah:

– “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/Syaikhuna An Nashihul Amin

– “Asmaul Maftunin Wa Roddun ‘Alasy Syaikh Al Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Minnatul Karimil Hamid Binaqdhi Tala’ubati Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

-“Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”/Abu ‘Ammar Yasir bin ‘Ali Al Hudaidy

– “Tahdzirul Bariyyah Mimma ‘Indal Wushobiy Minal Inhirofatil Quthbiyyah”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Nushhun Wa ‘Itabun Lil Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy

– “At Ta’mid Wat Tad’im”/Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “Asy Syaikh Al Wushobiy Bainal Ifroth Wat Tafrith Fit Tilfiziyun Wad Dusysy”/Fahmiy Bin Dawud Al ‘Amiriy

– “Al Idhohatun Nayyiroh Bi Mawaqifil Wushobiyl Mutaghoyyiroh”/Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ba Jammal

– “Al Kawi Li Ta’shilat Wa Syathohat Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Tahdzirus Salafiyyin Min mafasid Wa Adhrori Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin”/ Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

– “Al Wushobiy Wa Tauhidul Hakimiyyah” /Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal

– “Nashihatu Abi Basyir Al Hajuriy Lisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Abu Basyir Al Hajuriy

– “Jinayatu Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy ‘Alal Ushulis Salafiyyah”/ Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

– “At Tanbihus Sadid ‘Ala Dzammit Taqlid, War Roddu ‘Ala Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy”/Abur Robi’ Muhammad bin ‘Iwadh Al Qulaishiy

– “Tholi’atur Rududis Sadidah ‘Ala Risalati Nashoih ‘Ulamail Ummah” /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

– “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy

            Barangsiapa ingin melihat kepada penampilan bayyinat, hujaj dan barohin atas kebatilan Muhammad Al Wushobiy, pembangkangannya kepada kebenaran, kesombongannya kepada nasihat-nasihat yang benar, hendaknya dia melihat kepada risalah-risalah ini tadi, kemudian hendaknya dia menerima berita-berita dan hukum-hukum yang dibangun di atas dalil-dalil yang kuat dan berat itu. Jika dia enggan menerimanya maka dia harus membantah hujjah dengan hujjah pula, karena pintu untuk itu terbuka.

            Adapun sekedar pura-pura buta dan berkata: “Mereka tak punya hujjah ataupun bukti!” maka seperti ini dimampui oleh nenek tanpa gelar “doktor.”

            Kemudian sesungguhnya Abdulloh Al Bukhoriy itu sendiri sekarang menyerang syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama sunnah yang bersama beliau dengan serangan-serangan yang banyak tanpa memperhatikan adab-adab dan tidak berhias dengan hujjah-hujjah. Bukankah sesuai dengannya ucapan dirinya sendiri: “Baiklah wahai saudaraku. Apa perbedaan antara (sabbihi) cacian dia dan (syatmihi) cercaan dia kepada para masyayikh Ahlussunnah?”?

            Iya, sesuai dengannya ucapan itu. Maka Abdulloh Al Bukhoriy itu sendirilah yang mencaci dan mencerca ulama ahlussunnah. Akan tetapi ada perbedaan besar antara kedua cacian tersebut: maka syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu mencaci ahli ahwa dengan dalil dan bukti, adapun Abdulloh Al Bukhoriy dan syaikhnya Al Jabiriy sama-sama mencaci Ahlussunnah secara ngawur dan dusta.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam “Al Qoshidatun Nuniyyah” (1/hal. 91):

وإذا سببتم بالمحال فسبنا*** بأدلة وحجج ذي برهان

تبدي فضائحكم وتهتك ستركم*** وتبين جهلكم مع العدوان

ما بُعد ما بين السباب بذاكم*** وسبابكم بالكذب والطغيان

من سب بالبرهان ليس بظالم*** والظلم سب العبد بالبهتان

“Dan jika kalian mencaci dengan kemustahilan, maka cacian kami adalah dengan dalil dan argumentasi orang yang punya bukti

Yang menampakkan kebatilan kalian dan membongkar tabir kalian dan menjelaskan kebodohan kalian yang disertai dengan permusuhan

Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dzolim. Dan kedzoliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.”

Selesai penukilan.

            Maka kelompok pertama ada di atas keadilan dan kebenaran, sementara kelompok kedua ada di atas kezholiman dan kebatilan.

 

Bab Delapan Belas:

Pendustaan Berita Tanpa Hujjah, Dan Membantah Hukum Tanpa Bayyinah

            Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Kedustaan dan kejahatan yang mereka datangkan atau mereka katakan, dan mereka sebarkan atas para ikhwan, satu kalimat atau dua kalimat dari sebagian ikhwah yang dituduh, ini merupakan kedustaan belaka dan kebohongan murni. Tidak orang ini kecuali orang yang pembohong yang busuk, tidak punya dalil, dusta belaka. Orang yang dituduh telah mendustakannya. Mereka menuduh dengan kedustaan dan mereka tak punya bayyinah ataupun bukti.”

            Ketika dikatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya menghukumi bahwa Ubaid telah menyeleweng, Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Ini adalah kejahatan, wahai syaikh, ini adalah kejahatan, kedustaan, kebohongan dan bikin-bikinan yang nyata. Semoga Alloh memberkahimu.”

            Dan ucapannya: “Akan tetapi ucapan Yahya terhadap Asy Syaikh Ubaid dan terhadap masyayikh Ahlussunnah, demi Alloh, adalah batil, bahkan itu merupakan kejahatan yang paling jahat, dan tidak ada yang menyetujuinya dalam perkara ini kecuali orang yang menyimpang.”

            Dan ucapan dia: “Ini adalah bantahan ringkas, mencukupi dia dari perusakan citra tersebut.”

 

            Jawabannya adalah sebagai berikut:

            Sebagaimana telah kami katakan berulang-ulang bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله telah menegakkan bayyinah-bayyinah, hujjah-hujjah dan bukti-bukti terhadap apa yang beliau ucapkan tentang Ubaid Al Jabiriy, Muhammad Al Wushobiy, kedua anak Mar’i, dan yang semisal dengan mereka. Maka keadaan mereka di mata kami dan di mata para salafiyyin yang adil dan bermata tajam adalah seperti matahari di siang bolong.

            Adapun orang-orang yang berpura-pura buta, maka balasan untuk memang sesuai dengan amalan mereka:  buta mata hati mereka. Dan memang demikianlah orang yang mata hatinya itu ada di dalam tabung hizbiyyah, kedengkian, kezholiman, seakan-akan dia berkata: “Hari ini tidak ada matahari!”

            Jika engkau memang punya hujjah –wahai Abdulloh-, maka bangkitlah dan datangkanlah hujjah itu pada kami, dan tampilkanlah pada manusia agar mereka mengetahui siapakah yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah tentaranya.

            Adapun sekedar alunan: “Ini adalah kejahatan, kedustaan, kebohongan dan bikin-bikinan yang nyata. Semoga Alloh memberkahimu,” kemudian berkata: “Ini adalah bantahan ringkas, mencukupi dia dari perusakan citra tersebut.” Maka semacam ini bisa dilakukan oleh nenek-nenek tanpa butuh gelar doktor.

            Demikian pula cara pendalilanmu dengan ungkapan bahwasanya orang yang dituduh telah mendustakan apa yang dituduhkan, apakah demikian itu memang cukup meruntuhkan bayyinah-bayyinah?

            Bahkan orang munafiqin dulunya mendustakan saksi yang jujur. Dari Zaid bin Arqom رضي الله عنه yang berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِى سَفَرٍ أَصَابَ النَّاسَ فِيهِ شِدَّةٌ فَقَالَ عَبْدُ الله بْنُ أُبَىٍّ لأَصْحَابِهِ: لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى يَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِهِ. وَقَالَ: لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأَعَزُّ مِنْهَا الأَذَلَّ. قَالَ: فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ بِذَلِكَ، فَأَرْسَلَ إِلَى عَبْدِ الله بْنِ أُبَىٍّ فَسَأَلَهُ فَاجْتَهَدَ يَمِينَهُ مَا فَعَلَ فَقَالَ: كَذَبَ زَيْدٌ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ: فَوَقَعَ فِى نَفْسِى مِمَّا قَالُوهُ شِدَّةٌ حَتَّى أَنْزَلَ الله تَصْدِيقِي: ﴿إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ﴾ قَالَ: ثُمَّ دَعَاهُمُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم لِيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ، قَالَ: فَلَوَّوْا رُءُوسَهُمْ. وَقَوْلُهُ: ﴿كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ﴾ وَقَالَ كَانُوا رِجَالاً أَجْمَلَ شَىْءٍ.

“Kami pernah keluar bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم di suatu safar, lalu orang-orang mengalami kesulitan. Maka Abdulloh bin Ubaiy berkata pada para sahabatnya: “Janganlah kalian memberikan infaq pada orang-orang yang di samping Rosululloh صلى الله عليه وسلم sampai mereka bubar dari sekelilingnya.” Dan berkata: “Dan pasti jika kita kembali ke Madinah pastilah orang-orang yang mulia akan mengeluarkan darinya orang-orang yang hina.” Maka aku mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu aku mengabari beliau tentang itu. Maka beliau mengutus orang ke Abdulloh bin Ubai lalu bertanya padanya. Maka dia bersungguh-sungguh bersumpah bahwasanya dia tidak melakukan itu. Maka dia berkata: “Zaid membohongi Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Maka aku merasa susah dengan apa yang mereka katakan sampai Alloh menurunkan pembenaran untukku: “Jika datang kepadamu orang-orang munafiq” lalu Nabi صلى الله عليه وسلم memanggil mereka agar memintakan ampunan untuk mereka, maka mereka menggelengkan kepala mereka. firman Alloh: “Seakan-akan mereka adalah kayu-kayu yang disandarkan.” Beliau berkata: “Dan mereka adalah orang-orang yang paling tampan.” (HR. Al Bukhoriy (4903) dan Muslim (2772)).

            Bahkan engkau sendiri –wahai Abdulloh- dulu engkau berhujjah dengan kisah Al Imam Ahmad bersama Dawud Al Ashbahaniy. Engkau berkata: “Oleh karena itulah kami dapati para imam bermuamalah dengan apa yang dinukilkan dengan pendengaran kepada mereka oleh para tsiqot yang kokoh, dan mereka mengambil berita mereka. Di antaranya adalah: Apa yang diucapkan oleh Al Bardza’iy: kami pernah ada di samping Abu Zur’ah, lalu dua orang dari teman kami berselisih tentang Dawud al Ashbahaniy dan Muzaniy. Mereka adalah Fadhl Ar Roziy dan Abdurrohman bin Khirosy Al Baghdadiy. Ibnu Khirosy berkata: “Dawud kafir.” Fadhl berkata: “Al Muzaniy bodoh.” Dan semisal perkataan ini. Maka Abu Zur’ah menghadap ke mereka berdua seraya menghardik keduanya dan berkata pada keduanya: “Satu orangpun dari keduanya bukanlah teman kalian berdua. Barangsiapa punya ilmu tapi tidak menjaganya, dan tidak memegangnya, dan bersandarkan pada ilmu kalam dalam menyebarkan ilmunya. Tidak ada di tangan kalian berdua sedikitpun dari perkara itu. Kemudian Asy Syafi’iy رحمه الله berkata: “Aku tidak mengetahui bahwasanya dia berbicara di dalam kitab-kitabnya sedikitpun tentang kesia-siaanya yang mereka bikin-bikin itu. Dan aku tidak berpandangan bahwasanya dia menahan diri dari itu kecuali faktor agamanya, dan Alloh menjaganya, karena Alloh ingin menjalankan hikmah-Nya.” Kemudian beliau berkata: “Mereka itu adalah ahli kalam. Jangan sampai kalian termasuk dari mereka dari jalan manapun, karena sesungguhnya akhir dari urusan mereka adalah kembali kepada sesuatu yang tersingkap, urusan mereka terbongkar. Urusan mereka itu hanyalah membikin kerancuan selama setahun atau dua tahun, kemudian akan terbongkar([6]). Maka aku tidak ingin melihat seorangpun membela satu orang dari mereka, karena tabir mereka akan tersingkap pada suatu hari, lalu dikatakan pada si pembelanya tadi: “Engkau termasuk dari pengikutnya.” Jika pada suatu hari dia menuntutnya, dia akan menuntutnya dengan ini. Tidak sepantasnya bagi orang yang berakal untuk memuji mereka([7]). Kemudian beliau berkata padaku: “Apakah engkau melihat si Dawud ini? Seandainya dia mau mencukupkan diri dengan apa yang dicukupkan oleh para ulama, pastilah aku menduga dia akan bisa menimpakan tipu daya terhadap para ahli bid’ah dengan bayan dan alat yang dimilikinya. Akan tetapi dia melampaui batas([8]). Sungguh dia telah datang kepada kami dari Naisabur, maka Muhammad bin Rofi’, Muhammad bin Yahya, Amr bin Zuroroh, Husain bin Manshur dan para ulama Naisabur tentang apa yang dibikin orang ini di sana. ([9]) Maka aku menyembunyikan hal itu manakala aku takut akibatnya([10]). Dan aku tidak menampakkan hal itu sedikitpun padanya. Kemudian dia tiba di Baghdad, dan dulunya ada hubungan baik antara dirinya dengan Sholih bin Ahmad. Maka Dawud berbicara dengan Sholih agar bersikap lembut pada Al Imam Ahmad dalam memintakan idzin untuk dirinya bisa bertemu dengan ayahnya. Maka sholih mendatangi ayahnya seraya berkata padanya: “Ada orang meminta saya untuk dia bisa menemui ayah.” Beliau bertanya: “Siapa namanya?” dia menjawab: “Dawud” Beliau bertanya: “Dari mana?” dia menjawab: “Dari penduduk Ashbahan.” Beliau berkata: ”Apa pekerjaannya?”, Sholih berusaha mengelak untuk menyebutkan identitas Dawud kepada ayahnya, sementara Abu Abdillah -Rohimahulloh- terus saja menanyakan hal tersebut sehingga beliau memahami adanya sesuatu (yang disembunyikan), maka beliau berkata: ”Adapun orang ini, (sesungguhnya) Muhammad bin Yahya An-Naisaburiy telah menuliskan untukku (yang menjelaskan) perkaranya: bahwasannya orang ini mengatakan bahwa Al-Quran itu muhdats, maka janganlah ia mendekatiku.” Dia (Sholih) berkata: ”Wahai ayahku, sesungguhnya orang ini meniadakan hal tersebut, dan ia mengingkari hal tersebut. Maka berkata Abu Abdillah Ahmad: ”Muhammad bin Yahya lebih jujur daripada dirinya, janganlah engkau memberinya jalan untuk berjumpa denganku”. (“Adh-Dhu’afaa”/milik Abi Zur’ah Ar-Roziy, dan jawaban beliau akan pertanyaan Al-Bardza’iy 2/551-555, dan Al-Khothib Al-Baghdaadiy mengeluarkannya dari jalan Al-Bardza’iy di dalam kitab “Taarikh Al-Baghdaad” 8/373-374)).

Selesai penukilan ini dari kitabnya Abdulloh Al-Bukhoriy “Al-Fathur Rabbaniy” hal 215-217 cetakan Dar Majid ‘Usairiy.

            Kemudian  engkau –wahai Abdulloh Al-Bukhoriy berkata: ”Maka Al-Imam Abu Zur’ah menyebutkan perkataan ini dari Al-Imam Ahmad dalam keadaan menyetujuinya dan bukan mengkritiknya. Hal itu ditunjukkan oleh perkataannya pada permasalahan ini, dan demikian juga ia tidak mengomentarinya sedikitpun.” (selesai penukilan ini dari –(kitab tersebut) hal 217).

            Maka di mana (engkau letakkan) atsar ini -wahai Abdulloh Al-Bukhoriy-sekarang? Mengapa engkau meninggalkannya setelah engkau (sebelumnya) berhujjah dengannya? Maka apa-apa yang telah engkau cantumkan di dalam kitabmu “Al-Fathur Robbaniy” akan membatalkan madzhabmu yang mana hasil dari percakapan tersebut bahwasannya bahwasannya pengingkaran orang yang tertuduh, dan pendustaannya terhadap orang yang menuduh itu telah cukup untuk menghapus tuduhan tersebut.

 

Bab Kesembilan belas:

Gagalnya Abdulloh Dalam Mempergunakan Dalil

           

            Dan sesungguhnya Abdulloh Al-Bukhoriy telah berdalil dengan firman Alloh ta’ala:

 

﴿فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ﴾ [الرعد/17]

“Adapun buih itu, maka dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yangmemberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”.

 

            Maka dia menjadikan kegiatan Hizb (partai) yang baru itulah yang bermanfaat bagi manusia dan akan tetap ada di bumi, sementara dia jadikan dakwah para Salafiyyin yang kokoh itu sebagai buih-buih yang hilang tanpa meninggalkan faidah. Pengambilan dalil seperti ini bukanlah pada tempatnya.

 

Perkataan para Ulama tentang ayat ini:

            Syaikhul Islam -Rohimahulloh- berkata: ”Alloh menyerupakan apa-apa yang turun dari langit ke dalam hati-hati (manusia) yang berupa iman dan Al-Quran, lalu bercampur dengan syubuhat (kerancuan) dan Hawa nafsu yang menggoda sebagaimana hujan yang mana aliran airnya yang deras membawa buih-buih. Dan juga sebagaimana emas, perak, dan besi dan yang semisal dengannya yang apabila diluluhkan dengan api maka ia mengeluarkan kotoran, maka ia melemparnya jauh dari hati, dan Alloh menjadikan buih dan kotoran tersebut sebagaimana kebatilan yang mana tidak ada manfaat di dalamnya, dan adapun yang memberikan manfaat bagi manusia dari air dan besi-besi bagaikan suatu kebenaran yang memberikan manfaat maka ia akan menetap dan tinggal di dalam hati”. (“Majmu’ Al-Fatawa”/ 2/hal. 419).

            Dan Al-Imam Ibnul Qoyyim -Rohimahulloh- berkata: ”Maka demikian pula Syahwat dan Syubhat akan dibuang oleh hati seorang Mukmin, dicampakkannya, dan dia tidak mempedulikannya sebagaimana aliran air yang deras itu menyingkirkan buih-buihnya, dan api itu membuang kotoran-kotorannya, sehingga yang tersisa di tengah lembah hanyalah air yang bersih yang mana manusia mengambil darinya untuk diminum, mengairi (sawah dan kebun), memberinya kepada ternak-ternak mereka, dan demikian pula akan berada di dalam hati, dan tanamannya berupa iman yang bersih dan murni yang mana memberikan manfaat bagi pemilik (hati) tersebut, dan mengambil manfaat darinya yang selainnya.” (“I’laamul Muwaqq’iin”/ 1/hal. 153).

            Dan Al-Imam Ibnu Katsir -Rohimahulloh- berkata: ”Perumpamaan ini diberikan oleh Alloh, yang mana hati-hati memiliki kemiripan darinya sesuai dengan kadar keyakinan dan keraguan. Adapun suatu amal yang bercampur dengannya keraguan tidaklah akan memberinya faidah, adapun (dengan disertai) keyakinan maka Alloh akan memberi manfaat kepada pemiliknya dengan sebab keyakinan tersebut. Yaitu firman-Nya:

﴿فَأَمَّاالزَّبَدُفَيَذْهَبُجُفَاءً﴾

“Adapun buih itu, maka dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya”

yaitu keraguan,

﴿وَأَمَّامَايَنْفَعُالنَّاسَفَيَمْكُثُفِيالأرْضِ﴾

“Adapun yangmemberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”.

yaitu keyakinan, sebagaimana perhiasan itu diletakkan ke dalam api, maka akan diambil (darinya) yang murni dan ditinggalkan (darinya) kotoran di dalam api, maka demikianlah Alloh menerima keyakinan (iman) dan meninggalkan keraguan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/ 4/hal. 448).

 

            Maka kebenaran itu -wahai Abdulloh Al-Bukhoriy- diketahui dengan kecocokannya dengan Al-Kitab dan As Sunnah dan manhaj As-Salaf, dan adapun kebatilan maka dikenal dengan ia menyelisihi tersebut. Dan telah aku terangkan kebenaran Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuuriy dan para ulama yang bersamanya dan seluruh salafiyyin yang sepakat dengan mereka di dalam ujian yang berat ini, dan telah aku jelaskan penyelewengan-penyelewengan kedua anak Mar’i dan orang-orang yang bersama dengan mereka berdua.

            Maka apakah Abdulloh Al-Bukhoriy tetap bertahan dengan kegagalannya dalam membedakan antara buih dan kotoran dengan sesuatu yang akan memberikan manfaat bagi manusia di dalam fitnah ini?

 

﴿فَإِنَّهَالَاتَعْمَىالْأَبْصَارُوَلَكِنْتَعْمَىالْقُلُوبُالَّتِيفِيالصُّدُورِ﴾ [الحج/46].

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

 

Bab Keduapuluh:

Tuduhan Al-Bukhoriy Terhadap Ahlus Sunnah di Dammaj bahwasannya mereka memiliki Pemahaman Al-Haddadiyyah, Melampui batas, dan keras

 

            Usamah berkata kepada Abdulloh Al-Bukhoriy yang berkenaan dengan perkataan Ahlus Sunnah di Dammaj: “perkataan (mereka) sangat keras -wahai Syaikh kami-, di dalamnya terdapat pelanggaran terhadap kehormatan para da’i -yang ia maksudkan para ikhwah- dengan (membawa) kedustaan dan kefajiran”, dan hal itu diakui oleh Abdulloh dan bahkan ia berkata di akhir-akhir celaannya terhadap Syaikhuna An-Nashihul Amiin dan orang-orang yang bersamanya: “Kesimpulannya -wahai ihkwan, semoga Alloh memberkahi kalian- peperangan terhadap al-manhaj as-salafiy (sangat) kuat dan akan bertambah keras, dan di antara yang sangat keras peperangannya terhadap al-manhaj as-salafiy dua hal: Al-Haddadiyyah yang melampaui batas (seperti) mereka ini…”

 

            Aku katakan –wafaqaniyAlloh-: ”Maka ketahuilah sesungguhnya di antara celaan Al-Hizbiyyin Al-Mumayyi’in yang paling terkenal dari terhadap Syaikhuna An-Nashihul Amiin dan orang-orang yang bersamanya adalah: “mereka ini melampaui batas, mutasyaddid (keras), Haddadiyyun”.

 

Maka jawaban kami dari beberapa sisi:

Jawaban Pertama:

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rohimahulloh- berkata: ”Sungguh Abu Ishaq bin ‘Utsman bin Dirbaas Asy-Syafi’iy telah menulis suatu juz dan ia beri judul: “Pembersihan imam-imam syariat dari laqob-laqob (julukan) yang kotor”, dan beliau menyebutkan di dalamnya perkataan Salaf dan selain mereka yang menerangkan makna dari bab ini, dan beliau (juga) menyebutkan bahwasannya ahlul bida’ setiap jenis mereka memberi laqob kepada ahlussunnah dengan suatu laqob yang mereka ada-adakan dengan persangkaan itu adalah benar menurut akalnya yang rusak, sebagaimana orang-orang yang musyrik memberi laqob ke atas Nabi r dengan sekian laqob yang mereka ada-adakan. Rawaafidh menamakan mereka (ahlussunah) nawaashib, dan Al-Qadariyyah menamakan mereka Mujabbirah, dan Al-Murji’ah menamakan mereka Syukkaakun (orang yang penuh dengan kebingungan), dan Al-Jahmiyyah menamakan mereka Musyabbihah, dan Ahli kalam menamakan mereka Hasyawiyyah, nawaabit, ghutsaa’ (buih), ghatsra, dan yang lain sebagainya, sebagaimana dahulunya orang-orang Quraisy terkadang menamakan Nabi r orang gila, dan terkadang penyair, dan terkadang tukang tenung (penyihir), terkadang yang membuat kebohongan besar. Para ulama berkata: ”Maka ini alamat pewarisan yang benar dan kesempurnaan ittiba’ (mengikuti), maka sesungguhnya As Sunnah adalah apa-apa yang Rosulullah dan para Shahabatnya berada di atasnya secara ‘aqidah dan (merasa) sudah cukup (dengan sunnah tersebut) baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Maka sebagaimana orang-orang yang membuat menyeleweng darinya mereka namakan mereka dengan nama-nama yang tercela yang dusta dan mereka meyakini kebenaran tersebut dibangun oleh ‘aqidah mereka yang rusak, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka (Nabi r dan shahabatnya) adalah orang-orang yang paling utama untuk itu di waktu hidup dan mati secara dhahir dan bathin.” (“Majmuu’ Fataawaa”/ 5/hal. 111).

 

            Dan demikian pula sekarang al-hizbiyyun al-harakiyyun menamakan Ahlussunnah sebagai Murji’ah dikarenakan mereka tidak mengkafirkan para penguasa yang muslimin. Dan adapun al-hizbiyyun al-mumayyi’un menamakan ahlussunnah Haddadiyyah disebabkan mereka keras dalam mensikapi kebid’ahan dan ahlinya. Dan tidaklah mereka ini mengetahui bahwasannya ahlussunnah (berada) di tengah-tengah dari hal tersebut dan (berjalan) di atas petunjuk yang lurus.

 

Jawaban kedua:

            Bagaimana mereka mencela Syaikhuna An-Nashihul Amiin padahal beliau adalah di antara orang-orang yang paling pertama memperingatkan manusia dari kebatilan pemimpin Al-haddadiyyah yang baru -yaitu Faalih al-Harbiy-, sehingga Adsy-Syaikh Robi’ meminta beliau untuk diam? Silakan merujuk kembali kitab Syaikhuna An-Nashihul Amiin: ”Faalih Al-Harbiy -hadahulloh- muwalla’ bil jizaaf wa qillatil insaaf”.

 

Jawaban ketiga:

            Telah ditanyakan kepada Asy-Syaikh Ahmad An-Najmiy -Rohimahulloh-: ”bagaimana  pendapat Anda –yang kami muliakan- terhadap orang-orang mentahdzir (umat) dari ma’had Asy-Syaikh Muqbil bin Hadiy Al-Waadi’iy, dan menuduh bahwasanya murid-muridnya Haddadiyyah?”

            Maka beliau menjawab: ”Murid-murid Asy-Syaikh Muqbil secara umum yang kami ketahui berada di atas As Sunnah. Dan adapun yang mengatakan bahwasanya mereka adalah Haddadiyyah, maka perkataan tersebut merupakan suatu kebatilan, jinayah (kejahatan), melampaui batas atas murid Asy-Syaikh Muqbil -Rohimahulloh-, dan sesungguhnya Ma’had Dammaj yang didirikan oleh Asy-Syaikh Muqbil -Rohimahulloh- di pusat dan sarangnya Syi’ah, maka telah tersebar di dalamnya As Sunnah yang mana dahulunya tidak ada seorangpun yang berani untuk berbicara lebih-lebih lagi untuk membantah mereka, dan sungguh Alloh telah memberikan manfaat dengan sebab murid-murid Asy-Syaikh Muqbil -Rohimahulloh-, maka tersebarlah –dengan sebab mereka- di seluruh tempat di Yaman kecuali sebagian kecil dari mereka yang telah menyelisihi ‘aqidah ahlussunnah dan jama’ah yang mana Asy-Syaikh Muqbil -Rohimahulloh- telah mendidik dan menumbuhkan mereka di atasnya dan mereka mengambil jalan mubtadi’ah dan setan menghiasi bagi mereka jalan-jalan kebid’ahan tersebut. Maka mereka (kelompok tadi) tidaklah perlu dipedulikan, dan sesungguhnya yang pantas diperhatikan hanyalah mereka yang kokoh di atas As Sunnah, yang mendekat kepadanya, menyeru kepadanya, berwala’, dan memusuhi dengan sebab (untuk membela)nya, mencintainya, dan membenci karenanya. Mereka inilah yang teranggap, merekalah yang telah menempuh jalan Ahlul Hadits dan atsar dan mengikuti jalannya Ahlussunnah, oleh karena itu maka sesungguhnya aku katakan: ”Barangsiapa yang mengatakan mereka ini adalah Haddadiyyah maka mereka ini melampaui batas dan zholim dan (sesungguhnya) di sisi Alloh tempat berjumpa, wabillahittaufiq wa ShAllohu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi.” (Al-Fataawal-Jaliyyah”/ 2/hal. 71-72/ cetakan Darul Minhaj).

            Wahai Abdulloh, gelar “Doktor” tidaklah akan memberimu manfaat  apabila engkau tidak faham hujjah-hujjah ini, dan tidak juga engkau mempraktekkannya, dan tidak pula engkau tunduk padanya.

            Jawaban kami keempat: Adapun tuduhanmu bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan yang bersama beliau –semoga Alloh menjaga mereka- itu ghuluw (berlebihan) karena kena kerasnya mereka terhadap orang yang telah tegak padanya bayyinah tentang kehizbiyan dan kebid’ahan dia, maka ketahuilah bahwasanya ghuluw dalam agama itu adalah sikap melampaui batas syar’iy, sebagaimana dalam “Lisanul Arob” (15/hal. 131). Jika demikian, maka penyodoran bayyinah adalah kewajiban bagi orang yang menuduh, sementara sumpah adalah kewajiban bagi orang yang mengingkari. Jika tidak demikian, maka kalian adalah penuduh yang bohong. Dan dari sela-sela diskusi kita tentang sifat-sifat haddadiyyah dan apa yang telah kami jelaskan sebelum itu, tahulah orang yang punya ilmu dan keyakinan serta keadilan bahwasanya syaikh kami dan orang yang bersama beliau itu mencocoki kebenaran dan tidak melampaui syariat.

            Jawaban kelima: manakala engkau mengikuti Abul Hasan Al Ma’ribiy dalam menuduh Ahlul Haq bahwasanya mereka melampaui batas, maka jawaban kami adalah seperti jawaban dirimu sendiri dalam kitabmu “Al Fathur Robbaniy”:

“Perhatikanlah wahai kaum, bagaimana dia bergaya menangisi ahli bida’ dan hizbiyyin dan berpandangan bahwasanya mereka tidak berhak untuk disikapi dengan keras!! Maka apakah sikap keras terhadap pengekor hawa nafsu dan bid’ah pada suatu hari merupakan sikap melampaui batasan-batasan Alloh عز وجل ?” (“Al Fathur Robbaniy”/hal. 97/cet. Dar Majid Usairiy).

            Jawaban kami keenam: aku katakan padamu sebagaimana ucapanmu pada Abul Hasan: “Dan apakah salaf termasuk orang yang dikenal sikap kerasnya terhadap pengekor hawa nafsu itu disifati bahwasanya dia melampaui batasan-batasan Alloh?” Jika engkau mengatakan: “Iya.” Maka jawabnya adalah: “Sungguh engkau telah menyeru dirimu sendiri dengan kebodohan dan penyimpangan dari sunnah dan ahlussunnah. “Jika engkau berkata: “Tidak,” maka kami katakan padamu: “Maka mengapakah engkau menurunkan hukuman ini kepada orang yang mengikuti salaf dalam hubunganmu dengan ahli bid’ah, sama saja mereka itu ulama ataukah penuntut ilmu? Dan semuanya sepakat bahwasanya jalan salaf itu: lebih bijaksana, lebih berilmu dan lebih waro’. Dan dilihat pada bab ini apa yang ditulis oleh saudara kita Asy Syaikh Al Fadhil Ad Doktor Ibrohim bin Amir Ar Ruhailiy –semoga Alloh menjaganya- dalam kitabnya “Mauqifu Ahlissunnah Wal Jama’ah Min Ahlil Ahwa Wal Bida'” dan khususnya: pasal kelima: sikap Ahlussunnah berupa penghinaan dan perendahan terhadap Ahlil Bida’, dan tidak mengagungkan dan memuliakan mereka. beliau menetapkan di situ –setelah menyebutkan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta ucapan para imam- bahwasanya termasuk dari prinsip Ahlussunnah adalah haromnya mengagungkan dan memuliakan ahlul bida’, dan wajibnya merendahkan dan menghinakan mereka. (2/hal. 565-585).

            Maka lihatlah itu karena dia itu penting. Dan aku akan menyebutkan untukmu wahai para pembaca yang kucintai beberapa contoh –sekedar contoh, bukan pembatasan- di antara para imam yang yang mereka sifati dengan sikap keras terhadap ahli bid’ah, dan tidak ada seorangpun dari ulama yang berkata bahwasanya mereka itu melampaui batas, bersamaan dengan bahwasanya sebagian dari mereka punya sikap yang termasuk paling keras seperti pengusiran, penghardikan dan sebagainya. Dan pensifatan tadi keluar dalam bentuk pujian dan kedudukan tinggi, bukan sebaliknya, sebagaimana hal itu terjadi di sebagian orang pada hari ini. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh. Maka misalnya adalah:

Para Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم semisal Abdulloh bin Umar bersama Qodariyyah. Dan demikian pula Ibnu Abbas dan para Shohabat mulia yang lainnya, semoga Alloh meridhoi mereka semua.

Dan di kalangan Tabi’in sekelompok orang semisal Muhammad bin Sirin dan lainnya.

Dan termasuk dari yang setelah mereka adalah Al Imam Ahmad bin Hanbal (رحمه الله). Dan sikap beliau itu terkenal dan telah diketahui. Dan demikian pula Al Imam Asy Syafi’iy.

Dan juga:

1-    Abdulloh bin Aun bin Arthoban Al Bashriy. Ibnu Hibban berkata: “Dulu Abdulloh bin Aun adalah termasuk pemimpin orang di zaman beliau dalam masalah ibadah, keutamaan, waro’, nusuk (ibadah juga), ketegasan dalam sunnah, keras terhadap ahli bid’ah.” (“Ats Tsiqot”/7/hal. 3).

2-    Syarik bin Abdillah An Nakho’iy. Ibnu Hajar berkata: “… dulu Syarik itu adil, mulia, ahli ibadah, keras terhadap ahli bida’.” (“At Taqrib”/no. 2787/266).

3-    Ahmad bin Sayyar Al Marwaziy. Ibnu Hibban berkata: “Dulu beliau termasuk dari orang-orang yang mengumpulkan hadits dan berkelana untuk mencarinya, diserta dengan kesadaran, kemantapan, dan pembelaan terhadap madzhab dan penyempitan terhadap ahli bida’.” (“Ats Tsiqot”/8/hal. 54).

4-    Hakam bin Muhammad bin Hakam bin Ifronik Al Judzamiy. Abu Ali Al Ghossaniy berkata: “Dulu beliau adalah orang yang sholih, tsiqoh terhadap apa yang beliau nukilkan dengan sanadnya, …, tegas dalam sunnah, keras terhadap ahli bida’, afif (menjaga kehormatan dari perkara yang rendah), waro’, sangat sabar terhadap kurangnya harta, makanannya baik, agamanya kokoh, menolak dunia, menghinakan ahli dunia, …” (“Ash Shilah”/karya Ibnu Basykwal/1/hal. 147).

5-    Bakr bin Ja’far bin Rohib Abu Amr Al Muadzdzin. Ibnu Nuqthoh berkata: Ja’far bin Muhammad ibnul Mu’taz Al Mustaghfiriy dalam “Tarikh Nasaf” berkata: Menceritakan pada kami dengan kitab Al Jami’ dari Hammad bin Syakir, dan meriwayatkan dari Mahmud bin ‘Anbar, … dan dulu beliau (رحمه الله) adalah pembaca Al Qur’an di ujung malam dan siang, keras terhadap ahli bida’.” (“At Taqyid”/karya Ibnu Nuqthoh/1/hal. 264).

6-    Abdul Wahid bin Muhammad bin Ali Asy Syairoziy Ad Dimasyqiy. Ibnu Muflih berkata: “Beliau itu imam, tahu madzhab dan ushul, keras dalam sunnah, zuhud, ahli ibadah, berupaya mendekat kepada Alloh,…” (“Al Maqshodul Arsyad”/2/hal. 180).

7-    Abdurrohim bin Muhammad bin Faris Al Baghdadiy. Ibnu Muflih berkata: “Beliau itu ahli hadits, alim, waro’, ahli ibadah, ikut atsar, tegas dalam sunnah, keras terhadap ahli bida’, beliau memiliki pengikut yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.” (“Al Maqshodul Arsyad”/2/hal. 187).

8-    Mubarok ibnul Hasan bin Thorrod Al Farodhiy. Ibnu Muflih berkata: “… dan disebutkan oleh Al Quthoi’iy, dan beliau berkata: “Aku menulis dari beliau, dan beliau itu tsiqoh, dan beliau adalah orang yang paling tahu tentang ilmu waris dan matematika di zamannya, … sangat memerintahkan yang ma’ruf dan keras keras terhadap ahli bida’.” (“Al Maqshodul Arsyad”/3/hal. 14).

9-    Abdulloh bin Sahl Al Ustadz, Abu Muhammad Al Anshoriy. Abu Ali bin Sakroh berkata: “Beliau adalah imam di zamannya, membacakan ilmu, dan beliau terkenal. Beliau keras terhadap ahli bid’ah. Beliau diuji, diasingkan dan disindir oleh banyak orang, …” (“Lisanul Mizan”/3/hal. 298).

10-                       Ishaq bin Yusuf Az Zaroqiy, Abu Ya’qub. As Sam’aniy berkata: “Beliau itu keras terhadap ahli bida’, dan beliau itu termasuk pemilik ilmu dan keutamaan.” (“Al Ansab”/6/hal. 267).

Dan banyak sekali tokoh-tokoh selain mereka.”

(Selesai penukilan dari “Al Fathur Robbaniy”/97-99/cet. Dar Majid Usairiy).

            Maka perhatikanlah wahai Bukhoriy bagaimana penukilan-penukilanmu ini jadi bantahan yang kuat terhadap dirimu sendiri dalam fitnah ini. Dan engkau berkata di catatan kaki hal. 99: “Lihat juga: bagian pelengkap dari Tabi’i Ahli Madinah, dari kitab “Thobaqot Ibnu Sa’d” (hal. 357) dan “Ats Tsiqot” (6/hal. 217), (8/197 dan 254), dan “Thobaqotul Muhadditsin Bi Ashbahan” (3/hal. 447), :Tarikh Baghdad” (1/hal. 351), (4/hal. 44 dan 237), “Siyar” (12/hal. 69), (18/352), (7/hal. 452), (19/hal. 200), “Tadzkirotul Huffazh” (2/hal. 550 dan 551), “Al Ansab” (6/hal. 268), dan “Al Maqshodul Arsyad” (2/hal. 145) dan (3/hal. 55).” selesai.

Seakan-akan isyarat yang banyak sekali ini tidak bermanfaat bagimu –wahai Bukhoriy-. Dan ilmu yang tidak bermanfaat itu akan menjadi kerusakan bagi pemiliknya. Kita mohon perlindungan kepada Alloh.

Aku katakan padamu –wahai Abdulloh Al Bukhoriy- sebagaimana yang engkau katakan pada Abul Hasan: “Apakah terbayangkan pada orang berakal bahwasanya para imam tersebut dan yang lainya telah melampaui batas dalam muamalah mereka terhadap ahli bida’ dan menyeleweng dari jalan umum, dan menempuh bukan jalan orang-orang yang Alloh beri nikmat pada mereka? karena sesungguhnya jawabnya adalah: “Tidak.” Bahkan jalan mereka adalah jalan yang benar. Maka jika demikian, kami itu berjalan di atas jalan tadi dan tidak melampauinya, karena memang tidak boleh bagi kita kecuali apa yang boleh mereka.

Tapi jika jawabannya adalah: “Iya, dan bahwasanya mereka telah melampaui batas.” Maka dikatakan padanya: Apa itu kebenaran yang Alloh menjadikan engkau mengetahuinya dan para imam salaf lalai darinya? Jika engkau berkata: “Mereka mengetahuinya tapi mereka tidak mengamalkannya.” Maka ini adalah bencana besar, dalam keadaan engkau telah menisbatkan mereka kepada kebodohan, pengkhianatan dan penipuan dalam agama Alloh. Dan ini tidak boleh diyakini tentang mereka dalam keadaan apapun. Jika engkau berkata: “Mereka tidak mengetahuinya.” Maka dikatakan padanya: “perkara yang tidak diketahui oleh salaf, maka kamipun tidak ingin untuk mengetahuinya. Dan dalam pernyataan tadi juga ada peremehan terhadap salaf, dan penisbatan mereka kepada kebodohan. Maka menjadi sahlah setelah ini batilnya ucapan tadi (sikap keras pada ahli bida’ adalah sikap ghuluw), dan hanya milik Alloh sajalah segala pujian.”

(Selesai penukilan dari “Al Fathur Robbaniy”/97-99/cet. Dar Majid Usairiy).

Maka perhatikanlah wahai Bukhoriy, bagaimana ucapanmu menjadi bantahan terhadap dirimu sendiri sekarang ini.

            Jawaban ketujuh: Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Bahwasanya seorang hamba yang muslim itu merasa cemburu terhadap agamanya terkadang sehingga bereaksi, dan bersikap keras dalam membantah penyelisih. Dan ini adalah kedudukan tinggi, bukan celaan. Alloh ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

]يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير[ [التحريم: 9].

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiqin, dan bersikaplah keras pada mereka. Dan tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. At Tahrim: 9).

            Apakah engkau menginginkan –wahai orang zholim- untuk kami bersikap lembut kepada mubtadi’ah? Sementara salaf menilai sikap kaku kepada mubtadi’ah itu adalah kedudukan tinggi, bukan celaan. Maka pahamilah ini wahai orang yang tidak paham.” (“Ar Roddul Muhabbir”/hal. 75/cet. Darul Minhaj).

            Jawaban kedelapan: Barangkali engkau akan berkata: “Dalil-dalil dan atsar-atsar ini adalah sesuai untuk diterapkan terhadap pengekor hawa nafsu, bukan terhadap kedua anak Mar’i ataupun Asy Syaikh Ubaid ataupun Asy Syaikh Al Wushobiy!”

            Maka aku jawab –semoga Alloh memberiku taufiq- : Syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama sunnah serta para pelajar senior yang bersama mereka –semoga Alloh memelihara mereka- telah menegakkan bayyinah-bayyinah dan argumentasi-argumentasi tentang kehizbiyan mereka tadi. Dan hizbiyyun adalah ahli bida’.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Orang yang menegakkan loyalitas kepada suatu jama’ah dan permusuhan terhadap yang lain, hukum orang itu adalah mubtadi’ yang sesat.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Dan syaikh kami An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Orang yang terjatuh ke dalam hizbiyyah tanpa ilmu, tidaklah dikatakan bahwasanya dia itu hizbiy, karena bisa jadi belum sampai padanya penjelasan ataupun bukti-bukti ataupun argumentasi. Adapun orang yang telah sampai padanya hujjah lalu dia menentang, maka dia itu adalah hizbiy mubtadi’. Dan hizbiyyah itu bid’ah.” (Dicatat tanggal 2 Jumadal Ula 1431 H).

Ditanyakan kepada Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Apakah setiap orang yang ada padanya hizbiyyah maka dia itu mubtadi’ dan keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah?”

Maka beliau menjawab: “Iya, dikarenakan hizbiyyah itu dengan sendirinya adalah bid’ah: barangsiapa ridho kepadanya dan berjalan pada tunggangannya, dan baku tolong dengan pelakunya maka dia itu mubtadi’…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 214/Darul Minhaj).

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله sendiri berkata: “Maka pendapatku adalah bahwasanya setiap hizbiy adalah mubtadi’, mereka mau ataupun tidak mau.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 162/Darul Imam Ahmad).

            Jika Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Akan tetapi sebagian ulama tidak menyetujui  penghizbiyan mereka!”

            Aku katakan –semoga Alloh memberiku taufiq-: Bukanlah termasuk dari syarat kebenaran adalah disetujuinya dia oleh seluruh orang yang ada di bumi. Akan tetapi syaratnya hanyalah kesesuaiannya dengan dalil. Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله menghukumi Ibrohim bin Abi Yahya sebagai mubtadi’ manakala telah tetap kebid’ahannya itu ada padanya, dan beliau (Al Imam Ahmad) tidak menunggu Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله.

            Ya’qub bin Syaibah itu mubtadi’ menurut Al Imam Ahmad رحمه الله sekalipun diselisihi oleh orang yang menyelisihi.

            Dan sebagian ulama telah menghukumi bahwasanya Muhammad Rosyid Ridho itu jauh dari salafiyyah manakala telah tetap penyimpangannya ada padanya, sekalipun Al Imam Al Albaniy رحمه الله memujinya.

            Dan engkau sendiri telah membid’ahkan Ikhwanul Muslimin dan Tablighiyyin sekalipun engkau diselisihi oleh Abul Hasan Al Mishriy. Kemudian engkau membid’ahkan Abul Hasan dan engkau tidak menunggu Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله.

            Maka Syaikh kami An Nashihul Amin dan para ulama sunnah serta para pelajar senior yang bersama mereka –semoga Alloh memelihara mereka- setelah tegaknya bayyinah dan hujjah atas hizbiyyah mereka (anak Mar’i dan pengikutnya) bersamaan dengan lemahnya kalian dari menghantam hujjah dengan hujjah, maka mereka (Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau) tidak perlu persetujuan kalian.

Bab Keduapuluh Satu:

Kegagalan Abdulloh Dalam Mengetahui Nasihat Yang Pantas Diterima

           Usamah berkata: “Syaikh kami, saudara-saudara kami itu, wahai saudara kami, dari orang-orang yang lulus dari Dammaj dari kalangan pengikut Al Hajuriy, kami lihat banyak dari mereka tidak mau mendengarkan ucapan para masyayikh. Asy Syaikh Robi’ menasihati mereka sebagai nasihat untuk kami semua agar setiap orang menahan lidahnya, tidak berbicara dalam fitnah. Tapi mereka tidak mempedulikan ucapan syaikh. Mereka masih terus-terusan.” Maka Abdulloh berkata: “Cukup ini. Orang yang tidak mempedulikan perkataan Asy Syaikh (Robi’) maka jangan kalian mempedulikannya. Orang yang tidak mempedulikan terhadap perkataan Asy Syaikh maka jangan kalian peduli padanya. Tidak ada kemuliaan baginya. Ambillah perkataan ini dariku: orang yang tidak mengambil nasihat Asy Syaikh (Robi’) dan tidak perduli nasihatnya maka jangan kalian peduli padanya. Tidak ada kemuliaan baginya.”

 

            Jawaban kami adalah:

            Telah lewat penyebutan dalil-dalil bahwasanya tempat kembali ketika terjadi perselisihan adalah Al Kitab dan As Sunnah berdasarkan pemahaman Salaful ummah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka nash-nash ini dan yang lainnya menjelaskan bahwasanya Alloh mengutus para Rosul dan menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, dan menjelaskan perkara yang diperselisihkan oleh manusia, dan bahwasanya yang wajib atas manusia adalah mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Robb mereka, dan mengembalikan perkara yang mereka perselisihkan kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan bahwasanya barangsiapa tidak mengikuti yang demikian itu maka dia itu adalah munafiq, dan bahwasanya orang yang mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para Rosul maka dia itu tidak tersesat dan tidak celaka, dan barangsiapa berpaling dari itu maka dia akan digiring dalam keadaan buta, tersesat, celaka dan tersiksa.” (“Majmu’ul Fatawa”/17/hal. 303).

            Apakah engkau –wahai Abdulloh- berkata seperti ucapan orang: “Sesungguhnya imam itu wajib untuk ditaqlidi, seperti Nabi bersama umatnya, dan tidak halal menyelisihinya”? Maka perbuatanmu menunjukkan pada yang seperti itu sekalipun engkau tidak terang-terangan mengucapkan itu.

            Maka aku katakan padamu seperti ucapan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله : “Perkataan dia: (tidak halal menyelisihinya) itu hanyalah sekedar dakwaan dan ijtihad tanpa ilmu. Bahkan dia boleh untuk menyelisihi imamnya kepada imam yang lain yang hujjah dia dalam masalah itu lebih kuat. Tidak, bahkan dia wajib untuk mengikuti dalil yang jelas baginya.” (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 90).

Dan aku katakan padamu seperti yang dikatakan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله : “Akan tetapi apakah termasuk hak seorang alim untuk kita itu mengangkatnya sampai ke derajat kenabian dan utusan hingga kita memberinya ‘ishmah dengan praktek perbuatan kita?! Lisanul hal (praktek perbuatan) itu lebih bisa bercerita daripada sekedar ucapan lidah. sekalipun kita wajib untuk benar-benar menghormati si alim dan untuk mengikutinya jika dia menampilkan dalil pada kita, maka kita tidak berhak untuk mengangkatnya dan meninggalkan ucapan Nabi ‘alaihish sholatu wassalam.” (“At Tashfiyyah”/hal. 22-23).

Maka bukanlah hukum itu diserahkan kepada syaikh Fulan atau Allan, bahkan hukum itu dikembalikan kepada apa yang telah engkau dengar. Maka aku katakan padamu sebagaimana perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Kita telah berselisih pendapat dalam masalah ini. Maka jika Al Qur’an dan As Sunnah itu bersaksi untuk mendukung ucapan seseorang, maka itulah yang harus kita ambil, dan kita tak akan meninggalkan kewajiban yang ditunjukkannya itu demi ucapan siapapun juga.” (“Al Furusiyyah”/hal. 212).

Sungguh Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya Al Hajuriy dan para tokoh yang bersama beliau telah mendatangkan bukti-bukti yang jelas, yang mana Anda ataupun orang yang lebih tinggi daripada Anda tidak sanggup untuk meruntuhkannya. Dan saya katakan kepadamu seperti perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Di manakah nilai banyak-banyakan jumlah orang jika dibandingkan dengan banyak-banyakan dalil? Sungguh kami telah menyebutkan sebagian dalil yang kalian tidak punya jawaban untuknya, padahal yang wajib adalah mengikuti dalil di manapun dia berada, bersama siapapun dalil tadi berada. Dan itulah yang diwajibkan oleh Alloh untuk kita mengikutinya, dan mengharomkan untuk menyelisihinya, serta menjadikannya sebagai timbangan yang benar di antara para ulama. Maka barangsiapa dalil tadi ada di sisinya, maka dia itulah orang yang paling beruntung dengan kebenaran, sama saja apakah orang yang mencocokinya itu sedikit ataukah banyak.” (“Al Furusiyyah”/hal. 298).

            Wahai Abdulloh, tidaklah bermanfaat bagimu gelar “Doktor” jika engkau tidak memahami hujjah-hujjah ini dan tidak menerapkannya dan tidak pula tunduk padanya.

 

Penutup

            Dan sesungguhnya telah kami terangkan di dalam risalah ini parahnya kesalahan Dokter Abdulloh bin Abdurrohim Al-Bukhoriy –hadahulloh- dalam permasalan ini dan jauhnya dia dari pengenalan (yang benar) akan manhaj Salaf, maka (dengan sebabnya) ia banyak terjungkil balik, ia benarkan Al-hizbbiyyin dan dia bodohkan As-salafiyyin, dan dia membela ahli ahwa’. Telah berkata Al-Imam ‘Abdul Latif bin ‘Abdirrohman Alu Asy-Syaikh -Rohimahulloh-: ”Dan ilmu itu adalah mengenal petunjuk itu dengan dalil-dalilnya, dan memahami suatu hukum sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dan adapun bergaya dengan pakaian-pakaian dan berhias secara dhahir, dan menjadi (pengajar) di madrasah-madrasah tanpa ada rasa cemburu untuk agama Alloh, dan tidak menolong wali-wali Alloh, dan tidak mau diajak untuk memerangi musuh-musuhnya, dan tidak pula menyeru kepadanya, maka itu tidaklah kecuali pekerjaan orang-orang pengangguran yang membuai diri dengan angan-angan, dan merasa cukup dengan bagian yang hina lagi fana, ini tidaklah memberikan faidah bagi iman seseorang, terlebih-lebih untuk menjadi seorang ‘alim.” (“Uyuunur Rosaail”/karya beliau/2/hal. 525-526/ cetakan Maktabah Ar-Rusyd).

 

Dan telah aku tegakkan bukti-bukti yang kuat akan kekuatan Syaikhuna An-Nashihul Amiin dan orang-orang yang bersamanya di dalam fitnah ini dan yang lainnya: dari sisi ilmu, amal, kecemburuan, dan kesesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah, pemahaman salaf, akal, fitrah, maka tidaklah cacian “tolol” yang dilontarkan si Doktor kecuali dalil tentang kelemahan dirinya.

            Dan sebabnya adalah jelas: sedikitnya meneliti kitab-kitab salaf sehingga dapat mengenal bagaimana mereka memahami kitab Alloh dan sunnah Rasulnya r dan mempraktekkan dalam kehidupan mereka.

            Dan sesungguhnya dokter ini –hadahulloh- dahulunya berkata: ”Dan di sini terdapat peringatan penting: bahwasannya kitab-kitab ini –yaitu kitab-kitab As Sunnah- seperti “As Sunnah” yang ditulis Al-Khollal dan “As Sunnah” yang ditulis abdillah bin Ahmad dan “As Sunnah” yang ditulis oleh Abu ‘Ashim dan yang lainnya sangat sedikit dilirik oleh sekelompok penuntut ilmu bahkan yang mensyarahnya ini menyebabkan kekosongan dalam memahami pemahaman salaf yang datang dari perkataan ahlussunnah (kita mengikuti al-Quran dan As Sunnah di atas pemaham,an as-salaf)!, oleh karena itu akan engkau dapati ketimpangsiuran dan ketergelinciran dalam banyak permasalahan manhaj-manhaj yang baru, dan ini di antara keasingan agama ini dan pengikutnya, maka sesungguhnya diri kita milik Alloh dan kepada-Nyalah kita kembali”. (“Fathur Robbaniy”/hal. 176-177/cet. Daru Majidi ‘Usairiy).

 

            Betapa indahnya perkataan ini, dan betapa baiknya orang yang mengatakannya seandainya ia mempraktekkan hal itu pada dirinya sendiri, sehingga tidak menjadi seperti orang yahudi. Alloh berfirman:

﴿أَتَأْمُرُونَالنَّاسَبِالْبِرِّوَتَنْسَوْنَأَنْفُسَكُمْوَأَنْتُمْتَتْلُونَالْكِتَابَأَفَلَاتَعْقِلُونَ﴾ [البقرة/44]

“Mengapa kalian memerintahkan orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” (Al-Baqaroh:44).

 

Dan sesungguhnya Alloh telah menyeru orang-orang yang beriman:

﴿يَاأَيُّهَاالَّذِينَآَمَنُوالِمَتَقُولُونَمَالَاتَفْعَلُونَ * كَبُرَمَقْتًاعِنْدَاللَّهِأَنْتَقُولُوامَالَاتَفْعَلُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. (Ash-shaff:2-3).

 

Wallohu ta’ala ‘alam

 

 

سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.

والحمد لله رب العالمين.

 

Malam Jum’at, 13 Dzul Hijjah 1431 H

Darul Hadits Dammaj

 


([1]) catatan penerjemah: Ini pepatah yang bermakna: penduduk suatu wilayah itu lebih tahu tentang keadaan masyarakat situ daripada orang luar. Maka penduduk Yaman itulah yang lebih tahu tentang keadaan Asy Syaikh Muqbil daripada orang Syam. Al Imam Al Albaniy adalah orang Yordan (Syam).

([2]) Beliau رحمه الله membedakan antara shobr dan mushobaroh, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

﴿يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااصْبِرُواوَصَابِرُواوَرَابِطُواوَاتَّقُوااللهلَعَلَّكُمْتُفْلِحُون﴾ [آل عمران: 200].

“Wahai orang-orang yang beriman, lakukanlah shobr dan mushobaroh, dan berjagalah ditapal batas, dan bertaqwalah kalian pada Alloh agar kalian beruntung.”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka Alloh memerintahkan mereka itu shobr, yaitu keadaan orang yang bersabar bersama dirinya sendiri, dan mushobaroh, yaitu keadaan dia bersama lawannya.” (“’Idatush Shobirin”/hal. 21).

([3]) Al Maidaniy -rohimahullohu- berkata: “Permisalan ini diberikan buat si hina yang sombong.” (“Majma’ul Amtsal”/1/hal. 7)..

(1) keduanya adalah Asy Syaikh Al Faadhil Abu Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al Ibbiy dan Asy Syaikh al Fadhil Abu Abdis Salam Hasan bin Qosim Ar Roimiy hafidzohumalloh. Adapun Asy Syaikh Al Waalid Abu Ibrohim Muhammad bin Mani’ Ash Shon’any hafidzohulloh  mempunyai udzur dikarenakan kesibukannya.

(1) Kalimat ini tidak jelas.

([4]) Ini adalah ejekan dari Luqman. Akan tetapi keadaannya seperti kata Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy -hafizhohulloh-: “Dalam ini ada pengakuan dari Luqman bahwasanya dirinya itu hizbiy.”

([5]) Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal (4/420) dari Abu Barzah رضي الله عنه , dalam sanadnya ada Sa’id bin Abdillah bin Juroij, majhulul hal. Dan diriwayatkan oleh At Tirmidziy (Al Birr Wash Shilah/Ma Jaa Fi Ta’zhimil Mu’min) dan yang lainnya dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما dengan lafazh “Orang yang masuk Islam dengan lidahnya”, dan menghasankannya, dan disetujui Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((3601)/Darul Atsar). Hadits ini Jayyid.

([6]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Dan ini adalah keadaan seluruh orang yang bertopeng dengan sunnah untuk merusak pemeluk sunnah, tidak lama kemudian Alloh membongkar urusannya sehingga terbongkarlah keadaan di mata manusia, sebagaimana keadaan si Ma’ribiy dan anak buahnya. Seandainya mereka mengambil pelajaran!

([7]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Bandingkanlah wahai saudaraku yang mulia: antara pengarahan yang datang dari imam ini, dengan apa yang dilakukan oleh si Ma’ribiy bersama sekelompok orang dari hizbiyyin dan pembelaannya terhadap mereka, serta pujiannya terhadap mereka. maka apakah orang yang berakal akan melakukan ini setelah dijelaskannya kebenaran padanya?!

([8]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Inilah keadaan orang yang melampaui batas, berbuat zholim, dan mengangkat dirinya sendiri melampaui posisinya seperti si Ma’ribiy. Seandainya dia menempuh jalan ahli ilmu dan melanjutkan mengenal sunnah dan belajar kepada ulama sunnah niscaya itu lebih baik baginya. Akan tetapi manakala dia menyerupai pendahulunya seperti Dawud Al Ashbahaniy, maka Allohpun membongkar rahasianya!! Dan Robbku itu tidak menzholimi hamba-Nya!

Aku –Abu Fairuz- berkomentar: maka engkau juga hendaknya mengambil pelajaran wahai Abdulloh, tentang kasus kedua anak Mar’iy.

([9]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Perhatikanlah sejumlah imam yang menulis tentang urusan si Dawud itu. Apakah mereka bersepakat untuk menempelkan berita dusta tentang Dawud? Tidak! Telah diketahui bahwasanya posisi ilmu mereka itu tidak tersamarkan bagi tokoh semisal Abu Zur’ah. Maka beliau tidak membantah perkataan mereka dan tidak mencerca mereka dan mencela berita mereka, dan tidak pula menyatakan bahwasanya bahan berita mereka itu dari lorong dan jalanan, atau bahwasanya para penukil beritanya itu punya maksud-maksud dan hasrat tertentu, atau bahwasanya orang yang jujur dari mereka itu mungkin menukilkan apa yang dipahaminya, bukan apa yang didengarnya, atau mungkin memahaminya tapi tidak bagus dalam mengungkapkannya. Demikianlah dalam rantai cercaan terhadap para penukil berita, dipraktekkan oleh Al Ma’ribiy dalam rangka membikin ragu terhadap para penukilnya! Dan di manakah perbuatan Abu Zur’ah dari perbuatan Abul Hasan, alangkah jauhnya perbedaan di antara keduanya!!

Aku –Abu Fairuz- berkomentar: Dan engkau wahai Abdulloh. Apakah engkau mengira bahwasanya syaikh kami An Nashihul Amin dan seluruh masyayikh sunnah di Dammaj, dan Asy Syaikh Muhammad bin Mani’ di Shon’a, Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy di Ta’z, Asy Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy di Baidho’, Asy Syaikh Ahmad bin Utsman Al ‘Adniy di Aden, Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal di Hadhromaut, Asy Syaikh Yasir Ad Duba’iy di Syihr, Asy Syaikh Abdurrozzaq An Nahmiy di Dzammar حفظهم الله mereka semua bersepakat untuk berdusta atas nama kedua anak Mar’iy dan anak buah mereka?

Dan dulu engkau berhujjah terhadap Abul Hasan Al Ma’ribiy dengan sikap Al Imam Abu Zur’ah Ar Roziy. Sekarang engkau menyelisihinya maka engkau memilih sikap Al Ma’ribiy dalam fitnah ini, sehingga engkau menolak ucapan dan berita dari mereka, dan engkau mencerca mereka dengan keras. Serta engkau mendatangkan peragu-raguan. Maka aku katakan padamu sebagaimana ucapanmu pada Al Ma’ribiy: Dan di manakah perbuatan Abu Zur’ah dari perbuatan Abdulloh Al Bukhori? Alangkah jauhnya perbedaan di antara keduanya!!

([10]) Abdulloh Al Bukhoriy berkata: “Inilah sebab yang dalam rangka itu Ar Roziy menyembunyikan surat yang ditulis untuk beliau tentang kondisi Dawud, bukan karena beliau mendustakan mereka atau mencerca kabar kabar mereka!!”

Aku –Abu Fairuz- berkomentar: Dan Abdulloh Al Bukhoriy tidak sekedar menyembunyikan apa yang ditulis oleh para ulama sunnah dan penuntut ilmu, bahkan dia mendustakan mereka dan menisbatkan mereka kepada ketololan, kedunguan, kebodohan, kejahatan, ghuluw, haddadiyyah dan keburukan yang lain tanpa hujjah apapun yang membuktikan bahwasanya mereka telah keluar dari ‘adalah (kelurusan agama).