Teguran Ulama Terhadap Ali Hasan Al Halabiy

(bagian 1)

 

جديد 

Tahdzir Lajnah Daimah Lil Buhutsil Ilmiyyah  Wal Ifta’

Terhadap Dua Kitab Ali Hasan Al Halabi Tentang Irja’

 

Penerjemah:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

Al Jawiy Al Indonesiy

-semoga Alloh memaafkannya-

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar

 

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:

            Telah banyak permintaan dari sebagian ikhwah di tanah air agar saya menjelaskan kepada mereka keadaan seorang tokoh yang bernama Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid Al Halabiy, maka saya bertekad untuk memenuhi permintaan mereka sebagai bentuk kesetiaan pada Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, dan nasihat bagi seluruh muslimin. Saya akan sebutkan kritikan beberapa ulama terhadap orang ini, yang telah nampak loyalitasnya kepada para pengekor hawa nafsu dan pertolongan untuk mereka, bersamaan dengan dia melancarkan serangan terhadap Ahlussunnah dan melembekkan manhaj Salafush Sholih.

            Saya tidak bermaksud mengumpulkan keseluruhan poin kebatilannya, akan tetapi maksud utama hanyalah menampilkan sebagian dari penyelewengannya disela-sela bantahan dan perkataan sebagian ulama terhadapnya.

            Saya telah menyebutkan di dalam risalah ini risalah-risalah dari beberapa ulama dan perkataan mereka terhadap Ali Hasan Al Halabiy. Para ulama tersebut adalah:

1-    Lajnah Daimah Lil Buhutsil Ilmiyyah Wal Ifta’. Di dalamnya adalah sebagai berikut:

– Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alisy Syaikh حفظه الله.

– Fadhilatusy Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid رحمه الله.

– Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله.

– Fadhilatusy Syaikh Abdulloh bin Ghudayyan حفظه الله.

2- Fadhilatusy Syaikh Muftil Mamlakah Su’udiyyah bagian selatan: Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله.

3- Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله.

4- Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله.

5- Fadhilatusy Syaikh Abu Bakr bin Mahir bin ‘Athiyyah Al Mishriy حفظه الله.

6- Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله.

7- Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy حفظه الله.

Beliau telah menulis kitab yang membantah Ali Hasan Al Halabiy. Dan kitab ini mendapatkan pengantar dari tiga ulama:

– Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله.

– Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy حفظه الله.

– Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid حفظه الله.

Maka kita mohon kepada Alloh agar mengaruniai kita kekokohan di atas kebenaran sampai mati, dan ilmu yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

 

Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya.

 

Bab Satu:

Peringatan Lajnah Daimah Agar Umat Jangan Membaca Dua Kitab Ali Hasan Al halabiy

 

Fatwa nomor (21517):

Soal:

       Sebagian penanya menanyakan tentang dua kitab “At Tahdzir Min Fitnatit Takfir” dan “Shoihatu Nadzir” milik Ali Hasan Al Halabiy, dan bahwasanya kedua kitab itu mengajak kepada madzhab irja’ (mengakhirkan amal dari iman), bahwasanya amalan itu bukan syarat sahnya iman. Dan dia menisbatkan itu kepada Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan kedua kitab ini dibangun di atas penukilan-penukilan yang diselewengkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Hafizh Ibnu Katsir dan yang lainnya –semoga Alloh merohmati semuanya-.

       Dan para penasihat ingin sekali mendapatkan penjelasan tentang apa yang ada di dalam kedua kitab tadi, agar para pembaca mengenal perkara yang benar dari yang batil… dan seterusnya.

 

Jawab:

       Setelah Lajnah mempelajari kedua kitab tersebut, menjadi jelaslah bagi Lajnah bahwasanya kitab “At Tahdzir Min Fitnatit Takfir” di dalamnya Ali Hasan Al Halabiy telah mengumpulkan perkara yang digabungkannya kepada perkataan para ulama dalam pendahuluannya dan catatan kakinya yang mencakup perkara berikut ini:

1-    Sang penulis telah membangunnya di atas madzhab murjiah yang bid’ah yang batil, yang mana mereka itu membatasi kekufuran hanya berupa kufur juhud dan pendustaan serta penghalalan di dalam hati, sebagaimana pada hal. 6 catatan kedua, dan hal. 22. Dan ini menyelisihi Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwasanya kekufuran itu bisa berupa aqidah, ucapan, perbuatan, dan keraguan.

2-    Penyelewengan dia dalam penukilan ucapan Ibnu Katsir رحمه الله تعالى dalam “Al Bidayah Wan Nihayah”/13/hal. 118, yang mana dia menyebutkan dalam catatan kaki hal. 15 menukilkan dari dari Ibnu Katsir : “Bahwasanya Jengkis Khon yang menyatakan dalam Al Yasuq bahwasanya kitab itu adalah datang dari sisi Alloh, dan bahwasanya ini adalah sebab kekafiran mereka.”

Tapi ketika dirujuk ke tempat yang disebutkan itu tidak didapatkan di dalamnya apa yang dinisbatkannya kepada Ibnu Katsir رحمه الله تعالى itu.

3-    Dia berkata dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله تعالى pada hal. 17-18 manakala orang yang mengumpulkan kitab tersebut (yaitu Ali Hasan) menisbatkan kepada beliau bahwasanya hukum yang dirubah itu bukanlah suatu kekufuran menurut Syaikhul Islam رحمه الله تعالى , kecuali jika perbuatan itu berdasarkan ilmu, keyakinan dan penghalalan. Dan ini merupakan kedustaan murni atas nama Syaikhul Islam رحمه الله padahal beliau itu adalah penyebar madzhab Salaf Ahlissunnah Wal Jama’ah, sementara madzhab mereka adalah sebagaimana yang telah lewat penyebutannya, sedangkan yang ini tadi hanyalah madzhab murjiah.

4-     Penyelewengannya terhadap apa yang dimaukan oleh Samahatul ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim رحمه الله dalam risalah beliau: “Tahkimul Qowaninil Wadh’iyyah”, manakala orang yang mengumpulkan kitab tersebut (yaitu Ali Hasan) menyatakan bahwasanya Asy Syaikh mensyaratkan keyakinan dalam hati tentang halalnya perbuatan tersebut, padahal ucapan Asy Syaikh itu jelas seterang matahari di dalam risalah beliau tersebut, di atas jalan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

5-    Komentar dia terhadap perkataan ulama yang disebutkannya, dengan membawa ucapan mereka itu kepada makna yang tidak dikandungnya, sebagaimana pada hal. 108/cat. kaki pertama, hal. 109/cat. kaki 21, dan hal. 110/cat. kaki 2.

6-    Sebagaimana dalam kitab itu juga ada peremehan kasus berhukum dengan selain apa yang Alloh turun, dan secara khususnya pada hal. 5/cat kaki 1, dengan menyatakan bahwasanya perhatian pada realisasi tauhid pada masalah ini di dalamnya ada penyerupaan terhadap syi’ah rofidhoh. Dan ini adalah kekeliruan parah.

7-    Dan dengan melihat risalah yang kedua “Shoihatu Nadzir” didapati bahwasanya risalah itu seperti musnad-musnad (sandaran) bagi apa yang ada di dalam kitab tersebut –dan keadaannya seperti apa yang telah disebutkan-.

 

           Oleh karena itulah maka Lajnah Daimah berpendapat bahwasanya kedua kitab itu tidak boleh dicetak, ataupun disebarluaskan karena di dalamnya ada kebatilan dan penyelewengan.

           Dan kami menasihatkan penulis kedua kitab itu untuk bertaqwa pada Alloh tentang dirinya sendiri dan tentang muslimin, terutama pemudanya, dan agar dirinya berusaha keras untuk menimba ilmu syar’iy di hadapan para ulama yang ilmunya terpercaya dan aqidahnya bagus, dan bahwasanya ilmu itu adalah amanah, tidak boleh disebarkan kecuali sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah, dan hendaknya dia berhenti dari pendapat-pendapat semacam ini dan metode yang mengerikan yang berupa penyelewengan terhadap ucapan para ulama.

           Dan telah diketahui bahwasanya kembali kepada kebenaran itu merupakan keutamaan dan kemuliaan bagi seorang muslim.

وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

Lajnah Daimah Lil Buhutsil Ilmiyyah Wal Ifta

 

Pimpinan: Abdul Aziz bin Abdillah Alisy Syaikh

Anggota: Bakr bin Abdillah Abu Zaid

Anggota: Sholih Al Fauzan

Anggota: Abdulloh bin Ghudayyan

 

Selesai penukilan.