Mematahkan Taring Muhammad Al Wushobiy

Yang Menyembul Di Balik Cadar Hizbiy

(bagian pertama)

 

Dengan Kata Pengantar:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad

Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظه الله

 

 

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Al Indonesiy

عفا الله عنه

بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:

“Kasrul Anyabil Barizah Tahtan Niqob

(Niqosyun ‘Ilmiyyun Ma’a Ibni Abdil Wahhab Shohibi Wushob)”

 

Terjemah Bebas:

“Mematahkan Taring Muhammad Al Wushobiy

Yang Menyembul Di Balik Cadar Hizbiy”

 

 

Dengan Kata Pengantar:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad

Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظه الله

 

 

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Al Indonesiy

عفا الله عنه

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penerjemah

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأه محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين، وأما بعد:

            Sesungguhnya kami mengira bahwasanya seusai serangan keji Rofidhoh dan bermunculannya ayat-ayat Alloh yang ajaib yang menyebabkan gagalnya makar mereka, banyak masyayikh dan ikhwah yang akan sadar akan kebenaran yang dibela oleh Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka, dengan dalil naqliy dan dalil waqi’iy.

            Apalagi Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy di hadapan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله di musim haji tahun 1433 H telah menjanjikan akan menampilkan ucapan-ucapan yang bagus.

            Tapi ternyata begitu Muhammad Al Wushobiy pulang ke Hudaidah, dia merubah kebiasaannya yang telah berlangsung bertahun-tahun (biasanya dia istirahat sekian lama untuk memulihkan stamina baru kemudian kembali mengisi dakwah), dan justru segera keliling beberapa wilayah Yaman sambil melancarkan serangan keji yang banyak sekali terhadap salafiyyin Dammaj yang masih belum sembuh betul dari luka-luka kejahatan pemberontak Rofidhoh. Belum lagi yang cacat seumur hidup, atau jadi yatim, atau kehilangan suami, atau kehilangan saudara atau saudari, atau rumahnya hancur, dan sebagainya.

            Maka caci-makiannya yang bertubi-tubi dan keji itu (yang disebar di beberapa negara) membikin Ahlussunnah yang di Yaman, Mesir, Aljazair dan tempat lainnya marah dan mengeluarkan hantaman balik.

            Pada risalah sederhana saya yang berjudul: “Goresan Kenangan Saat Lewat Makam” saya menuliskan sebuah catatan kaki: “Abu Ibrohim Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Abdaliy Al Wushobiy, si hizbiy tua yang munafiq. Demikianlah kesimpulan penilaian dari Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله.”

            Maka saya ralat sebagai berikut: “Abu Ibrohim Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Abdaliy Al Wushobiy, si hizbiy mubtadi’. Demikianlah kata Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله kepada saya.”

            Adapun masalah apakah Si Wushobiy itu munafiq, Asy Syaikh Yahya حفظه الله bilang pada saya: “Amalan-amalannya adalah bersifat kemunafiqan, orang ini perbuatannya jelek sekali… dst” insya Alloh akan lewat dalam risalah ini penukilan ucapan beliau secara lebih lengkap.

Alhamdulillah risalah kedua dari Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy telah diterjemahkan akhunal fadhil Abu Mas’ud Syamsul Arifin حفظه الله (dengan judul terjemahan: “Sisi perbandingan Dakwah Asy Syaikh Muqbil dengan dakwah Wushobiy”), yang isinya membongkar perbedaan besar antara dakwah Muhammad Al Wushobiy dengan dakwah Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله .

            Adapun rincian bantahan terhadap tuduhan dan syubuhat Muhammad Al Wushobiy tersebut, insya Alloh akan ditemukan sebagian besarnya di risalah saya ini, yang terjemahannya terbagi menjadi dua bagian, sebatas apa yang dibukakan Alloh untuk penulisnya.

Wallohu ta’ala a’lam.

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله

 

          الحمد لله رب العالمين، ولا عدوان إلا على الظالمين، والصلاة والسلام على نبيه الكريم، وعلى آله وصحبه والتابعين.

            Dan aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Alloh satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya, yang berfirman:

﴿وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ﴾ [الأنعام: 55].

“Dan demikianlah Kami rincikan ayat-ayat (agar jelas jalan orang-orang yang sholih) dan agar menjadi jelaslah jalan orang-orang yang jahat.”

            Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya, utusan-Nya dan pilihan-Nya di antara para makhluq-Nya, serta kekasihnya, yang beliau bersabda:

«ما أظن فلانا وفلانا يعرفان من ديننا شيئا». (أخرجه البخاري (6067) عن عائشة رضي الله عنها).

“Aku tidak mengira bahwasanya si fulan dan si fulan itu mengetahui agama kita sedikitpun.” (HR. Al Bukhoriy (6067) dari ‘Aisyah رضي الله عنها).

Kemudian daripada itu:

            Sesungguhnya hikmah Alloh yang mendalam telah menuntut lestarinya pertempuran antara kebaikan dan kejelekan. Alloh عز وجل berfirman:

﴿وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ * إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ﴾ [هود: 118، 119].

“Dan terus-menerus mereka berselisih kecuali orang yang Robbmu merohmati mereka. Dan untuk inilah Alloh menciptakan mereka.”

            Dan bersamaan dengan itu, perkara-perkara yang menyertai fitnah-fitnah ini, yang berupa penyempitan dada dan pembuangan waktu, hanya saja kemaslahatan-kemaslahatan yang menyusulinya itu berlipat ganda daripada kerusakan-kerusakan yang terjadi. Maka orang-orang sholih bangkit melaksanakan kewajiban mereka untuk memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar, yang mana ini adalah termasuk keistimewaan umat ini. Alloh ta’ala berfirman:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر﴾ [آل عمران: 110].

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”

            Dan dikarenakan penyia-nyiaan perkara ini (memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar) maka Bani Isroil dikutuk. Alloh ta’ala berfirman:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة: 78، 79].

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

            Dan termasuk dari konsekuensi loyalitas kepada kaum mukminin adalah: saling menolong dengan mereka dalam menegakkan syiar ini dan yang lainnya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ الله إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾ [التوبة: 71].

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

            Dan orang-orang sholih juga menegakkan nasihat yang mana itu adalah agama para Rosul. Alloh ta’ala berfirman menukil ucapan Nuh:

﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ الله مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾[الأعراف: 62].

“Aku sampaikan kepada kalian amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepada kalian, dan aku mengetahui dari Alloh apa yang tidak kalian ketahui”

            Dan menukilkan ucapan Hud:

﴿أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ﴾ [الأعراف: 68].

“Dan aku sampaikan pada kalian risalah-risalah dari Robbku, dan aku adalah pemberi nasihat yang terpercaya bagi kalian.”

Dan demikianlah para Nabi yang lain.

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لله وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».

“Bahwasanya Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Agama ini adalah nasihat.” Maka kami bertanya,”Buat siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, untuk pemimpin muslimin dan orang awamnya.”

Diriwayatkan Muslim (55) dari Tamim Ad Dariy رضي الله عنه .

            Dan para ahli telah menegakkan kewajiban jarh wat ta’dil yang telah disia-siakan oleh orang-orang kecuali orang yang dirohmati oleh Robbku, dari kalangan orang-orang yang diberi ilmu, petunjuk, bimbingan, dan kelurusan, beserta dengan apa yang dikandung oleh manhaj ini, yang berupa petunjuk kepada kebaikan dan peringatan terhadap kejelekan dan bahaya. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من دل على خير فله مثل أجر فاعله».

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan semisal pahala orang yang mengerjakannya.”

Diriwayatkan oleh Muslim (1893) dari Abu Mas’ud Al Anshoriy رضي الله عنه.

Dan di dalamnya juga ada bantahan terhadap isu-isu, terutama dalam keadaan kita di zaman yang mana kedustaan itu mencapai ufuk-ufuk dalam waktu yang paling singkat dan paling dekat. Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«على رسلكما إنما هي صفية بنت حيي». (أخرجه البخاري (2035) ومسلم (2175)).

“Berjalanlah kalian berdua dengan pelan-pelan, wanita ini adalah Shofiyyah binti Huyayy.” (HR. Al Bukhoriy (2035) dan Muslim (2175)).

            Dan Nuh عليه السلام ketika dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya kami melihat engkau berada di dalam kesesatan yang nyata,” beliau menjawab:

﴿يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الأعراف: 61].

“Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.

            Dan Hud عليه السلام ketika dikatakan kepada beliau: “Sesungguhnya kami melihat engkau berada di dalam ketololan, dan sungguh kami mengira engkau itu termasuk dari orang-orang yang dusta.” Beliau menjawab:

﴿ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الأعراف: 67]

“Hai kaumku, tak ada padaku ketololan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.

            Maka membantah berita batil yang tersebar merupakan bagian dari tugas penting, dan tidak boleh bersikap tidak butuh padanya, karena di dalam sikap tersebut ada pengkaburan kebenaran dengan kebatilan serta pemutar-balikan hakikat. Dan di dalam atsar dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم , bahwasanya ‘Aisyah berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ذبوا بأموالكم عن أعراضكم».

“Belalah kehormatan kalian dengan harta-harta kalian.” (“Tarikh Ashbahan” (hal. 292) dan dishohihkan oleh Al Albaniy رحمه الله dalam “Ash Shohihah” (1461))

            Bersamaan dengan bahwasanya di dalam karya tulis itu bagi orang benar-benar niatnya baik dan jalannya bagus itu ada pahala dan ganjaran, serta mengandung dakwah ke jalan petujuk dan bimbingan.

            Dan dalam “Ash Shohih” dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا». (أخرجه مسلم (2674)).

“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tanpa hal itu mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa hal itu mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim (2674)).

            Dan sungguh kami benar-benar merasa heran –dan tak perlu ada keheranan karena seluruh perkara itu di tangan Alloh عز وجل- terhadap sekelompok orang yang telah mengetahui sunnah dan menyeru kepadanya, kemudian mereka membenci sunnah tadi dan memeranginya, bukan karena suatu kerancuan yang datang dan menetap di hati, tapi hanyalah karena kedengkian dan dendam yang dihasilkan dari hawa nafsu dan kesombongan. Dan keadaan mereka itu tidak jauh dari penyerupaan dengan orang-orang kafir. Alloh عز وجل berfirman:

﴿مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَالله يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَالله ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ﴾ [البقرة: 105].

“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Tuhan kalian. dan Alloh menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Alloh mempunyai karunia yang besar.”

            Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً﴾ [النساء: 89].

“Mereka menginginkan seandainya kalian kafir sebagaimana kafirnya mereka sehingga jadilah kalian itu sama dengan mereka.”

            Maka diambillah faidah dari fitnah semisal ini pensucian dada dari kotoran-kotorannya. Maka dalam hadits shohih:

«تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودا عودا فأي قلب أشربها نكت فيه نكتة سوداء وأي قلب أنكرها نكت فيه نكتة بيضاء حتى تصير على قلبين على أبيض مثل الصفا فلا تضره فتنة ما دامت السماوات والأرض والآخر أسود مربادا كالكوز مجخيا لا يعرف معروفا ولا ينكر منكرا إلا ما أشرب من هواه». (أخرجه مسلم (144) عن حذيفة رضي الله عنه).

“Dipaparkanlah fitnah-fitnah kepada hati seperti tikar sehelai demi sehelai. Maka hati yang menyerapnya, akan diberikanlah padanya titik hitam. Dan hati yang mengingkarinya, akan diberikanlah padanya titik putih, sehingga terjadilah dua macam hati: hati yang putih seperti shofa (batu keras yang halus yang tidak ditempeli apapun), maka fitnah itu tak akan membahayakannya selama masih ada langit dan bumi. Dan hati yang lain: hitam keruh bagaikan bejana yang tertelungkup, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar kecuali apa yang diserap dari hawa nafsunya.” (HR. Muslim (144) dari Hudzaifah رضي الله عنه).

            Dan telah shohih dari Abu Huroiroh رضي الله : dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه وهو الران الذي ذكر الله ﴿كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون﴾». (أخرجه الترمذي (3334)).

“sesungguhnya hamba itu jika berbuat suatu kesalahan, akan diberikan padanya titik hitam. Jika dia berhenti darinya, mohon ampunan dan bertobat, hatinyapun akan bersih. Dan jika dia kembali berbuat itu, akan ditambahkan pada hatinya sampai hatinya diselimuti oleh titik-titik hitam tadi. Dan itulah ron (noda) yang Alloh sebutkan: “Sekali-kali tidak demikian, bahkan apa yang mereka kerjakan itu menjadi noda yang meliputi hati-hati mereka.” (HR. At Tirmidziy (3334)).

            Maka masuk ke dalam kemaksiatan merupakan sebab penyelewengan dari jalan kelurusan, menuju kepada jalan orang yang hina dan pengkhianat. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ﴾ [يونس: 27].

“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan.”

            Dan dulu kami sebelum ini disibukkan dengan fitnah yang besar, yang kejelekannya dan kadar besarnya serta bahayanya itu terus bertambah, yang mana Rofidhoh Hutsiyyun dan yang loyal kepada mereka berupaya membasmi Darul Hadits di Dammaj, lalu Alloh عز وجل menggagalkan usaha mereka dan menghancurkan makar mereka dan membalikkan mereka ke belakang mereka dalam keadaan rugi.

            Inilah yang diduga dari kaum yang telah rusak aqidah mereka dan jelek akhlaq mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ﴾ [آل عمران: 151].

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan Itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zholim.”

            Ketika kami dalam keadaan yang demikian itu, kami mengobati saudara-saudara kami yang terluka, merapikan kondisi kami, mengurus kembali pembahasan-pembahasan ilmiyyah kami, dars-dars kami, dan melaksanakan kewajiban untuk mengajari umat Islam, sama saja mereka di markiz kami ataukah di tempat yang jauh dari negri kami, dan keadaan kami merasa butuh pada pertolongan Alloh عز وجل, pelurusan-Nya, ilham-Nya, taufiq-Nya,

﴿فَمَنْ يُرِدِ الله أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ الله الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ﴾ [الأنعام: 125] .

“Maka barangsiapa Alloh menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Alloh kesesatannya, niscaya Alloh menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Alloh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

            Dulu kami menduga bahwasanya orang yang tertimpa penyakit takhdzil (menelantarkan saudaranya saat saudaranya butuh pertolongan) dan kedengkian yang membinasakannya, kami kira mereka itu akan introspeksi (mengoreksi diri) dan kembali kepada kelurusan mereka, terutama setelah nampak dengan amat jelasnya kekeliruan mereka, dan para ulama dan orang-orang awam dari kalangan muslimin yang berpandangan tajam mengingkari mereka, karena memang wajib menolong orang yang terzholimi, dan wajib merasa cemburu pada agama Robbul alamin, terlebih lagi dalam keadaan si zholim Rofidhoh yang keluarnya mereka dari agama Islam ini telah jelas, dan pedang mereka terhunus terhadap sunnah, -akan tetapi Robb kita عز وجل mengalahkan kebatilan mereka dan menolong para wali-Nya, maka hanya bagi-Nya sajalah pujian dan karunia-.

            Tiba-tiba saja para pemilik hati bersih dan fithroh yang lurus dikejutkan oleh keluarnya ucapan yang tak terkendali dan tanpa hujjah ataupun bukti dari:

MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AL WUSHOBIY

-semoga Alloh merugikan usahanya dan menghancurkan makarnya-

            Penampilan luar dari ucapannya adalah kedustaan, sementara bagian dalamnya adalah kezholiman dan kejahatan. Maka orang yang keadaannya seperti ini, maka sekedar ceritanya saja cukup untuk menjadi bantahan terhadapnya. Dan ucapan semisal omongannya itu tidaklah laku kecuali pada dua kelompok manusia:

            Yang pertama: kelompok yang tidak mengetahui kebenaran, dan tidak melihat dengan mata mereka. Maka kita berduka atas kondisi mereka, sebagaimana ucapan Ubaiyy bin Ka’b رضي الله عنه :

والله ما آسى عليهم ولكن إنما آسى على من يهلكون من المسلمين.

“Demi Alloh aku tidak berduka cita terhadap mereka, akan tetapi aku bersedih hati terhadap orang yang mereka binasakan dari kalangan muslimin.” (“Hilyatul Auliya”/3/hal. 111).

            Kelompok yang kedua: orang yang kenal kebenaran dengan hatinya tapi dia menolaknya dengan perkataannya dan perbuatannya.

﴿وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ﴾ [النمل: 14].

“Dan mereka mengingkarinya karena kezholiman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”

            Maka kita tidak perlu bersedih hati atas mereka, dan tak perlu peduli dengan mereka, jika obat tidak lagi manjur terhadap mereka, kecuali apa yang mencocoki jiwa mereka.

﴿أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ الله أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ﴾ [المائدة: 41]،

“Mereka itulah yang Alloh tidak ingin mensucikan hati-hati mereka,”

Dan tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

            Dan maksud dari ucapan orang tadi (si Wushobiy) adalah untuk menolong hizb baru yang rugi itu (Mar’iyyun), maka dia membongkar dirinya sendiri bahwasanya dia memang berjalan di atas jalan mereka.

            Maka bangkitlah saudara-saudara kita dengan mencari pahala Alloh untuk membantah ucapan si maftun (orang yang terfitnah) ini. Dan aku khawatir dia itu telah tertimpa oleh bencana yang menimpa Abu Sa’dah, yang mana dia tertimpa doa Sa’d bin Abi Waqqosh رضي الله عنه , karena sesungguhnya doa orang yang terzholimi itu tiada tabir antara dia dengan Alloh.

            Atau terjadi perkara yang kedua, dan ini lebih parah:

«من سمع سمع الله به ومن يرائي يرائي الله به».

“Barangsiapa memperdengarkan amalannya, Alloh akan memperdengarkan niat buruknya itu, dan barangsiapa memperlihatkan amalannya, Alloh akan memperlihatkan niat buruknya itu.” (HR. Al Bukhoriy (6499) dan Muslim (7152) dari Jundub رضي الله عنه).

            Dan termasuk yang membantah ucapan si Wushobiy yang batil itu adalah saudara kita Abu Fairuz Al Indonesiy, Alloh sajalah walinya, maka aku melihat risalahnya itu adalah bantahan yang bagus, dengannya Alloh menghilangkan kesamaran dan kebatilan yang ada di dalam ucapan tadi, serta menolak ucapan yang keji dan kosong tersebut. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan.

            Dan di akhir kalimat ini, aku mohon pada Alloh Yang Mahaagung untuk melindungi kita dari kejahatan para pendengki dari kalangan hizb Adeniy yang hina itu dan orang yang terpedaya dengan mereka dari kalangan orang-orang yang menyeleweng dan menyimpang.

والحمد لله رب العالمين.

Ditulis oleh:

Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy

4 Shofar 1434 H.

 بسم الله الرحمن الرحيم

Pembukaan Penulis عفا الله عنه

 

          الحمد لله رب العالمين وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya serangan para penyeleweng terhadap para pembawa kebenaran dan sunnah itu tidak berhenti, sebagaimana pertempuran antara kebenaran dan kebatilan itu terus berlangsung sepanjang kehidupan dunia sampai pada masa yang Alloh kehendaki.

﴿إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ﴾ [الأنعام: 83].

“Sesungguhnya Robbmu itu Maha Penuh Hikmah lagi Maha Mengetahui.”

            Maka di tengah-tengah kesibukan para pelajar untuk menuntut ilmu, mengajarkannya, mendakwahkannya, dan urusan-urusan ibadah yang lainnya, kami dikejutkan dengan berdatangannya panah-panah makar merah dari orang Wushob: Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Al ‘Abdaliy (pada tanggal 18 Muharrom 1434 H dan yang setelahnya) terhadap Fadhilah Syaikh kami yang penyabar dan penyayang: Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy dan para salafiyyin yang bersama beliau حفظهم الله.

            Dan panah-panah kebatilan ini –meskipun sangat hina- tidak pantas untuk didiamkan. Andaikata bukan karena kesibukan Ahlussunnah dengan perkara yang jauh lebih penting daripada kasus ini, niscaya manusia akan melihat bantahan-bantahan para salafiyyin yang amat dahsyat terhadap si Abdaliy ini, jauh lebih banyak daripada bantahan-bantahan yang telah keluar.

            Dan saya bersyukur pada seluruh ikhwah yang mulia, para dai kepada Alloh, atas dukungan mereka kepada saya dalam melaksanakan kewajiban ini, yaitu pembelaan terhadap kebenaran dan para pembawa kebenaran, dan penyingkapan cadar si penyeleweng yang dengki dari Wushob itu, serta pematahan taring-taringnya disertai dengan pengembalian panah-panah dia ke tempat asalnya.

            Dan saya bersyukur pada para ikhwah, singa-singa sunnah, atas bangkitnya mereka membantah Muhammad Al Wushobiy dan para pengekor hawa nafsu yang lain dan menyingkap kebatilan mereka.

            Sekarang kita masuk kepada inti pembahasan, semoga Alloh memberikan taufiq-Nya.


Bab Satu:

Tahapan Fitnah Dengan Membikin Kesan Perbandingan Antara Si Wushobiy dengan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله

 

            Saya telah mendengar ucapan-ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Al ‘Abdaliy هداه الله yang diumbarnya pada bulan Muharrom 1434 H ini, maka saya dapati ucapannya itu penuh dengan kebatilan, seakan-akan kalimatnya itu adalah taring-taring dan cakar-cakar yang dengannya dia merobek kehormatan para pembawa kebenaran dan sunnah, para pembela agama ini. Akan tetapi taring-taring dan cakar-cakar ini ditutupi di bawah “cadar kasih sayang dan belas kasihan” dalam rangka menipu sebagian orang dan menarik perasaan mereka. maka para penasihat dari kalangan Ahlussunnah yang cemburu pada agamanya tidak rela untuk mendiamkan hal ini.

            Saya akan menyebutkan sebagian dari ucapannya –bukan semuanya, dan tidak secara urut-, kemudian saya akan menjawabnya dengan taufiq dari Alloh. Maka termasuk dari ucapannya yang pincang dan mengisyaratkan adanya kedengkian yang besar, dendam dan makar adalah:

            Ucapan Al Wushobiy هداه الله tentang Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Kami kenal beliau sejak dari Madinah Nabawiyyah pada hari-hari belajar, beliau murid, saya juga murid, dan kami di desa yang sama, dan kami sholat di masjid yang sama.”

            Abu Fairuz عفا الله عنه menjawab:

            Ini adalah upaya kuat dari si Wushobiy untuk mengesankan bahwasanya Al Imam Al Wadi’iy itu adalah teman sejawat dia. Maka tidak jauh kemungkinannya dia mau menanamkan di hati para pendengar yang terpedaya bahwasanya si Wushobiy itu setara dengan Al Imam Al Wadi’iy, atau mendekati taraf beliau. Akan tetapi jauh sekali orang yang setingkat debu yang pendendam dan pendengki serta penyeleweng itu untuk mencapai posisi bintang Kejora yang jujur dan ikhlas serta sunniy itu –demikianlah kami menilai Al Imam Al Wadi’iy, dan Alloh sajalah yang bisa menilai beliau. Dan kami tidak mentazkiyyah seorangpun atas nama Alloh-.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله -sebagaimana yang telah saya nukilkan di kitab “Tadzkirul ‘Ibad” (dengan judul terjemah: “Dua Mujtahid Yaman)- jika berbicara dalam ilmu rowi seakan-akan beliau adalah pakarnya, sering mendatangkan faidah yang mengagumkan, dan terkadang ada di sebagian rantai sanad tercantum nama fulan bin fulan, maka beliau berkata: “Aku khawatir terjadi salah penulisan,” lalu dilakukan penelitian dan memang terjadi salah penulisan sebagaimana yang beliau katakan. Jika beliau diskusi dengan para murid tentang nahwu seakan-akan tidak ada orang lain yang ahli dalam bidang ini selain beliau dikarenakan banyaknya faidah yang beliau lontarkan dalam darsnya. Jika beliau berbicara tentang ‘ilal (penyakit yang tersembunyi) dalam hadits, orang-orang yang di sekelilingnya tergoncang dengan kedalaman ilmunya. Jika datang pertanyaan, beliau menjawabnya, dan beliau itu cepat dalam mendatangkan dalil-dalil hingga orang-orang tergoncang akan kekuatan hapalan beliau. Beliau mendatangkan dalil-dalil dari Kitabulloh, dan dari Sunnah Rosul-Nya, menyusunnya dengan rapi, dan mengambil darinya faidah dan pelajaran yang mengagumkan.

            Sementara si Wushobiy tak bisa mendekati taraf beliau sedikitpun dalam perkara-perkara tadi.

            Kami tidak ingin menghina seorang muslim, akan tetapi si Wushobiy inilah yang menghinakan dirinya sendiri dengan kadar kejahatan yang sangat besar terhadap manhaj Salaf dan para pemikulnya, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله punya kitab-kitab agung yang bernilai tinggi, yang tidak bisa disamai oleh tulisan-tulisan Al Wushobiy. Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata padaku bahwasanya tulisan-tulisan Al Wushobiy itu lemah.

            Dulu Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله disebabkan oleh besarnya kecemburuan beliau terhadap agama ini, dan belas kasihan beliau untuk umat ini, beliau banyak menulis nasihat-nasihat pada mereka, dan memperingatkan mereka dari bahaya-bahaya para pengekor hawa nafsu dan kebid’ahan serta penyelewengan. Adapun si Wushobiy, dia itu kecemburuannya kecil dalam bab ini, dan sedikit sekali tulisan dia tentang hal itu. Bahkan manakala kedengkian dia terhadap Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله telah membakar dirinya, diapun mulai mengkritik beliau dan mengkritik kitab-kitab beliau رحمه الله dengan penghinaan dan perendahan.

            Berikut ini adalah persaksian saudara kita yang mulia Abdul Hadi Al Mathoriy حفظه الله :

            “Dulu kami pernah mengunjungi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushoby sekitar tahun 1414 H. setelah kami makan siang bersama Syaikh Muhammad Al Wushoby, aku, Husain Al Mathory, Hasan Al Wushoby dan Ali Adz Dzary … Syaikh Muhammad berkata tentang Syaikh kami Muqbil –dan beliau saat itu masih hidup-,”Buku-buku Syaikh Muqbil kebanyakannya adalah harokiyyah (pergerakan).” Lalu aku dengan sengaja berkata,”Bagaimana? “Ash Shohihul Musnad”? “Al Musnad”? “Asy Syafa’ah”? “Ijabatus Sa’il”?” Dia menjawab,”Yang aku maksud adalah “Al Makhroj”, “As Suyuful Batiroh”, “Fadhoihul Mudzabdzabin” dan yang lainnya. Buku ini tidak memberikan faidah kepada para penuntut ilmu dan tidak pula bagi para pencari kebaikan. Seandainya dia menempuh jalan sebagaimana Syaikh Ibnu Baz akan terjadi kebaikan dan tersebar manfaat. Maka kau dapati semua orang akan mengambil faidah, Ikhwani, orang awam, surury, apalagi sunny, Datang pertanyaan dari sana sini, fatwa, dakwah, kebaikan yang banyak. Syaikh Muqbil sulit diterima oleh masyarakat dan banyak yang tidak menyukai. Syaikh adalah orang yang berilmu, tidak layak baginya untuk membuang waktunya untuk buku-buku dan kaset-kaset yang seperti ini.!”

Inilah yang saya ingat wallohu a’lam.”

Ditulis oleh:

Abdul Hadi Al Mathory.

 

Abu Fairuz عفا الله عنه berkata:

            Lihatlah betapa terbakarnya hati si Wushobiy ketika melihat jalan Salafiyyah yang ditempuh oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله , dan perhatikanlah besarnya perbedaan ilmiyyah dan manhajiyyah di antara kedua tokoh ini.

            Maka upaya menimbulkan kesan adanya kesamaan di antara keduanya adalah termasuk keanehan yang terbesar. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang sifat Robb kita عز وجل : “Adapun hukum-hukum-Nya yang bersifat perintah syar’iyyah, maka semuanya adalah demikian, engkau dapati dia itu mencakup penyamaan antara dua perkara yang saling serupa, dan menggabungkan sesuatu dengan yang setara dengannya, serta menilai sesuatu dengan yang semisal dengannya. Dan juga membedakan antara dua perkara yang berbeda, dan tidak menyamakan yang satu dengan yang lainnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 265).

            Seandainya ditetapkan bahwasanya perkaranya adalah seperti yang diucapkan oleh Si Wushobiy yang pendendam itu: “beliau murid, saya juga murid, dan kami di desa yang sama, dan kami sholat di masjid yang sama,” maka bukanlah berarti dia akan menjadi seperti Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Saya tahu bahwasanya si Wushobiy tidak terang-terangan mengucapkan itu, hanya saja lekukan lidahnya mengesankan bahwasanya dia berharap para pendengar akan menjadikannya di posisi sang Imam رحمه الله tersebut. Maka orang harus diingatkan agar tidak tertipu dengannya.

            Berapa banyaknyakah pejara yang menuntut ilmu di hadapan seorang imam yang ahli, tapi tidak mendapatkan taufiq kecuali sedikit dari mereka. Yahya bin Abi Tholib berkata: aku mendengar Abu Dawud berkata: pada suatu hari aku ada di pintu Syu’bah. Saat itu masjid penuh. Maka Syu’bah keluar, lalu bertelekan kepadaku dan berkata: “Wahai Sulaiman, apakah engkau berpandangan bahwasanya mereka semuanya akan keluar menjadi ahli hadits?” Aku menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Engkau benar. Limapun tidak. Salah seorang dari mereka menulis di masa kecilnya, lalu setelah dia besar, dia tinggalkan hadits itu, atau dia sibuk dengan kerusakan,” Abu Dawud berkata: “Kemudian aku melihat setelah itu, maka tidak keluar (lulus menjadi muhaddits) dari mereka walau lima orang saja.” (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 225).

            Airnya sama, disiramkan kepada tanah yang sama, tapi tumbuhannya berbeda-beda. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ﴾ [الرعد: 4].

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Yaitu: perbedaan ini pada jenis-jenis buah-buahan, tanaman pertanian, pada bentuknya, warnanya, rasanya, aromanya, daunnya, dan bunganya. Maka yang ini di puncak rasa manis, yang itu di puncak rasa masam, yang ini di puncak rasa pahit, yang itu sepat, yang ini segar, yang itu gabungan antara rasa ini dan itu, kemudian berubah kepada rasa yang lain dengan seidzin Alloh. Yang ini kuning, yang itu merah, yang ini putih, yang itu hitam, yang ini biru. Dan demikian pula bunga-bunga, padahal semuanya itu mengambil suplai dari tabiat yang sama, yaitu air. Bersamaan dengan perbedaan yang besar ini, yang tidak terbatas dan tidak bisa ditentukan, maka dalam perkara yang demikian itu benar-benar ada ayat-ayat bagi orang yang bisa memahami. Dan ini adalah termasuk petunjuk yang terbesar tentang adanya Pelaku Yang punya keinginan dan pilihan, Yang dengan kekuasaan-Nya Dia menjadikan adanya perbedaan dengan antara berbagai benda, dan menciptakannya berdasarkan apa yang diinginkan-Nya. Dan oleh karena itulah Alloh ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 432).

            Maka para pemilik kejujuran dan keikhlasan itu diberi taufiq oleh Alloh kepada kelurusan, sehingga mereka bisa membuahkan manfaat-manfaat untuk para hamba. Adapun orang yang rusak batinnya, Allohpun menelantarkannya sehingga dia menyeleweng, lalu dia membuahkan bahaya-bahaya terhadap umat ini. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ﴾ [الأعراف: 58]

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

            Alloh subhanah berfirman:

﴿فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ الله الْأَمْثَالَ﴾ [الرعد: 17].

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan.”

            Maka barangsiapa diberi taufiq oleh Alloh kepada kelurusan dan pertumbuhan, maka hendaknya dia memuji Alloh. Dan barangsiapa ditelantarkan oleh-Nya, maka hendaknya dia mengoreksi diri sendiri kemudian tidak mencela kecuali dirinya sendiri. Al Imam Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan taufiq itu adalah: keinginan Alloh dari diri-Nya untuk berbuat bagi sang hamba perkara yang dengannya hamba tadi jadi baik, dengan cara menjadikannya mampu melakukan apa yang membikin Alloh ridho, dia menginginkannya, mencintainya, dan lebih mengutamakannya daripada yang lain, dan menjadikannya benci terhadap perkara yang Alloh benci. Dan ini adalah perbuatan Alloh semata, dan sang hamba adalah tempat perbuatan (pemberian taufiq) tadi. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَكِنَّ الله حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ، فَضْلاً مِنَ الله وَنِعْمَةً وَالله عَلِيمٌ حَكِيمٌ﴾

“Tetapi Alloh menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Alloh, dan Alloh itu Maha Mengetahui lagi Maha Penuh Hikmah.” (QS. Al Hujurat: 7-8).

            Maka Dia Yang Mahasuci mengetahui orang yang pantas untuk mendapatkan kerunia ini, dan siapakah yang tidak pantas untuk itu. Dia Penuh Hikmah, meletakkannya pada tempatnya. Pada orang yang pantas untuk menerimanya, Alloh tidak menghalangi orang tadi untuk mendapatkan karunia tadi. Dia tidak meletakkannya pada orang yang tidak pantas untuk mendapatkannya.” (“Madarijus Salikin”/2/hal. 46).

            Maka Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله manakala Alloh mengetahui kejujuran beliau dan semangat beliau untuk mengikuti kebenaran, Alloh memberi beliau taufiq kepada apa yang Alloh ridhoi, sekalipun Al Wushobiy tidak ridho sehingga menghina beliau dengan perkataannya: “Buku-buku Syaikh Muqbil kebanyakannya adalah harokiyyah (pergerakan).” “Buku ini tidak memberikan faidah kepada para penuntut ilmu dan tidak pula bagi para pencari kebaikan.” “Syaikh Muqbil sulit diterima oleh masyarakat dan banyak yang tidak menyukai. Syaikh adalah orang yang berilmu, tidak layak baginya untuk membuang waktunya untuk buku-buku dan kaset-kaset yang seperti ini!”

            Dan Al Wushobiy itu telantar (tidak diberi taufiq) pada masa hidup Al Imam Al wadi’iy رحمه الله dan setelah wafat beliau, sehingga dia terlambat pada banyak sekali kasus-kasus manhajiyyah yang penting. Maka keadaannya adalah seperti ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Cukuplah bagi seorang hamba kebutaan dan ketertinggalan manakala dia melihat para tentara iman dan pasukan sunnah dan Qur’an telah memakai pakaian perang mereka, mempersiapkan perbekalan mereka, menempati barisan mereka, dan berdiri di posisi-posisi mereka, tungku pertempuran telah memanas, roda penggilingan telah berputar, peperangan semakin dahsyat, para sejawat saling berteriak: “Ayo turun, ayo turun!” tapi orang ini masih saja ada di tempat persembunyian, di lobang-lobang, dan bersembunyi di tempat masuk bersama para perempuan yang tertinggal. Jika takdir membantunya dan dia bertekad untuk keluar, duduklah dia di atas ketinggian bersama para penonton, sambil melihat siapakah yang menang, agar dia bisa bergabung dengan mereka. Lalu diapun mendatangi mereka sambil bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang paling berat dan berkata: Sungguh aku ini bersama kalian, dan aku berangan-angan bahwasanya kalian itulah yang menang.” (“Al Qoshidatun Nuniyyah”/Ibnul Qoyyim/1/hal. 8/syaroh Asy Syaikh Muhammad Kholil Harros/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Penjelasan yang sedikit ini insya Alloh cukup untuk meruntuhkan kesan kesetaraan antara Al Wushobiy هداه الله dengan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله. Dan segala puji bagi Alloh Robbil alamin.

 

Bab Dua:

Upaya Mengguncang Hati Pelajar Asing Untuk Membenci Syaikh Kami Yang Penyabar Yahya Al Hajuriy حفظه الله

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata tentang Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Dulu beliau itu banyak berbelas kasihan pada para pelajar asing, mengasihani kondisi mereka, dan bahwasanya mereka datang dari negri-negri yang jauh, dan terkadang mereka di negri-negri mereka berada dalam kemewahan, lalu mereka datang ke kehidupan yang biasa di Dammaj tersebut. Hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan. Setelah wafatnya beliau, mereka mendapatkan perlakuan yang menyakiti mereka dari si Hajuriy. Tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Alloh. Berapa banyaknyakah si Hajuriy membikin orang asing menangis? Berapa banyaknyakah si Hajuriy membikin orang asing menangis? Dan berapa banyaknyakah si Hajuriy mengusir orang asing? Dengan alasan bahwa mereka itu orang-orang sakit, tidak menghizbikan Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy. Hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan.”

            Jawabnya adalah sebagai berikut:

Pasal satu:

Jelasnya Upaya Abdurrohman Al ‘Adniy dan Anak-buahnya dan Membikin Fitnah Terhadap Darul Hadits di Dammaj

Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal حفظه الله : “Dan telah tetap juga perkara yang menunjukkan makar dan khianat orang ini –yaitu Salim Ba Muhriz-. Maka di antara perkara yang kami ketahui: Pertama: Berita yang dikabarkan kepada kami, oleh saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, yaitu: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”

Ini adalah makar dan tipu daya yang nyata serta rencana untuk menimpakan fitnah di barisan Ahlussunnah, di mata orang-orang yang inshof (adil/objektif). Akan tetapi yang mengherankan adalah orang yang telah sampai padanya ucapan semacam ini tapi dia diam saja tidak bergerak seakan-akan dia ridho dengan itu!”([1]) (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirofi Ibnai Mar’i”/hal. 13).

Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi Al Qobbash Asy Syabwiy: Kami pernah pulang dari muhadhoroh di So’dah bersama Abdurrohman Al ‘Adniy. Dan yang demikian itu setelah pulangnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله dari perjalanan beliau ke ‘Adn yang terakhir, maka berkatalah akh Shodiq Al ‘Abdiniy –dan dia termasuk teman dan orang dekat Abdurrohman Al ‘Adniy- kepada Abdurrohman: “Yang menghadiri ceramah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di ‘Adn itu jumlahnya besar. Kami menyangka kerajaan kita akan berdiri di sana –di ‘Adn-. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).

Abdul Hakim bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi atas perkataanku ini.”

Abul Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”

Abdulloh Al Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.

Dan semisal dengan ini Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati   orang lain dengan dihadiri Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.

Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.

(Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 4-5/ditulis oleh para pengajar darul hadits Dammaj, di antaranya adalah Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy, Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy, Asy Syaikh Abdul hamid Al Hajuriy dan yang lainnya).

            Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

            Perhatikanlah tipu daya yang besar ini. Maka apakah setelah ini engkau –wahai Wushobiy- akan menghukumi bahwasanya mereka itu tetap di atas sunnah dan salafiyyah?

            Dan perhatikanlah pelaksanaan strategi mereka:

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama –orang-orang yang akan membeli tanah di calon markiz Fuyusy- tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾ [الأنفال/30]

“Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

            Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

            Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([2]). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

            Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar([3]).

            Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

            Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia.  (diringkas dari “Tadzkirotun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh yang utama Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al ‘Adniy حفظه الله /hal. 3-9).

            Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy dan pengikutnya berupaya untuk merobek-robek barisan salafiyyin. Datang fitnah mereka –di tengah markiz induk- untuk memukul dakwah sunniyyah salafiyyah, untuk memecahbelah keutuhan mereka dan merubah jalan mereka yang bersifat Qur’aniyyah Nabawiyyah Salafiyyah kepada jalan baru yang tidak dikenal pada zaman Salafush Sholih. Mereka mengangkat syi’ar: “Kami ingin satu markiz di Fuyusy!” tapi mereka tidak memulai di sana, bahkan membikin kegoncangan di markiz induk dan membikin kacau para pelajar markiz induk. Syaikh markiz induk –Syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله tidak menghalangi mereka membangun markiz salafiy di bumi Alloh manapun, bahkan beliau mendukung mereka dan mendorong mereka untuk itu.

            Akan tetapi kegaduhan besar apa ini yang terjadi di tengah-tengah Darul Hadits di Dammaj? Kenapa mereka tidak keluar dengan tenang ke tempat yang mereka inginkan, dan nanti akan datang orang-orang insya Alloh tanpa membikin kacau markiz Dammaj? Bukan, mereka memang ingin melarikan pelajar yang di Dammaj dan memecah barisan pelajar di Darul Hadits Dammaj.

            Bacalah barita tentang fitnah besar ini fi “Zajrul ‘Awi” (1/hal. 10), “Silsilatuth Tholi’ah” (4/hal. 12 dan 25), “Al Muamarotul Kubro” (karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله/hal. 18), “Haqoiq Wa Bayan” (hal. 31), “Nashbul Manjaniq” (79).

Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal -hafizhohulloh- (pengajar di salah satu masjid di Hadhromaut) berkata: “Di antara berita yang tersebar dan diketahui bersama adalah bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman –Ashlahahulloh- punya para wakil yang menjalankan proyek pencatatan nama-nama orang yang ingin membangun di tanah markiz Lahj (Fuyusy). Dia sebelum itu punya iklan dan pengumuman besar yang tiada tandingannya, bahkan menelpon si fulan dan si fulan di sana dan di sini, yang mana kejadian tersebut membuat tersentaknya orang-orang yang berakal. Yang demikian itu dikarenakan markiz-markiz Ahlussunnah tidak didirikan dengan karakter dan gaya seperti itu, seperti yang diinginkan Asy Syaikh Abdurrohman –Ashlahahulloh- dalam mendirikan  markiz Lahj.

Semua orang tahu secara pasti bahwasanya tiada seorangpun pada zaman Syaikhunal Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- bisa tinggal di Dammaj sambil mencatat para pelajar yang ingin pindah ke markiz barunya –yang sampai sekarang masih berupa tanah kosong!([4]) Padahal dulu markiz-markiz itu didirikan setelah itu barulah orang yang diwakilkan untuk mengajar di situ pindah ke markiz tersebut. Terkadang pada permulaannya Syaikhuna -rohimahullohu- diminta untuk menentukan orang yang akan mengajar di situ.

Maka mengapa perkara yang seperti ini terjadi di Darul Hadits di Dammaj dalam keadaan pengganti bapak kita ada tapi tidak dimintai musyawarahnya !!? apakah kalian pandang seperti ini bentuk bakti, bantuan dan pertolongan buat markiz Syaikhuna -rohimahullohu-, ataukah hal itu merupakan suatu bentuk kedurhakaan dan permusuhan !!?

Aku merasa kagum dengan kecerdasan sebagian saudara kita dari pelajar asing manakala dia bertanya kepada seorang teman: “Andaikata Asy Syaikh Muqbil masih hidup, mungkinkah Asy Syaikh Abdurrohman melakukan perkara seperti ini, yaitu mencatat nama pelajar Dammaj yang mau pindah ke Fuyusy?” Maka teman tadi menjawab: “Nggak bisa.” Maka dia berkata,”Berarti ini nggak benar”.” (“Mulhaqun Nadhor”/hal. 13).

            Dan termasuk dari makar pengikut Abdurrohman Al ‘Adniy adalah: mereka merancang kegaduhan di saat dars Syaikh kami حفظه الله berlangsung, akan tetapi Alloh menelantarkan mereka sehingga mereka merasa gentar untuk melaksanakannya pada waktunya, sehingga tidak terjadi apa-apa. (Rujuk “Nashbul Manjaniq”/hal. 96).

Sungguh perbuatan mereka itu menyebabkan bahaya besar terhadap markiz ini dan terhadap dakwah. Maka bagaimana setelah ini mereka tidak boleh diusir dalam rangka melindungi markiz, pelajar dan dakwah? Maka bangkitlah Syaikh kami Yahya حفظه الله dengan memotong bahan yang rusak dengan menjaga kebaikan yang besar ini. Dan ini adalah benar-benar pelaksanaan wasiat sebagaimana seharusnya, dan penunaian amanah sebagaimana diperintahkan, berbeda dengan pandangan si Wushobiy. Sebagaimana dikatakan:

نظروا بعين عداوة لو أنها    عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا

“Mereka memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan pastilah mereka akan menganggapnya bagus dan tidak menganggap buruk.” (“Miftah Daris Sa’adah”/hal. 176).

Tambah lagi:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Dan mata keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian menampakkan berbagai kejelekan.” (“Al Aghoniy”/3/hal. 369).

            Bahkan si Wushobiy sendiri punya uluran tangan dalam membantu makar besar ini. Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Beberapa waktu sebelum ini, akh Ali Ja’dan mengunjungi Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab وفقه الله maka Asy Syaikh Muhammad berkata padanya: “Akan berdiri sekarang ini markiz yang menyerupai markiz Dammaj. Jangan kabarkan ini pada seorangpun!!”

            Baiklah, markiz-markiz jika berdiri tanpa ada kerahasiaan, maka kami ucapkan selamat atas berdirinya markiz apapun, dan kami akan membantunya. Dan aku jika dikumpulkan tazkiyyah-tazkiyyah yang aku tulis untuk mendirikan markiz-markiz untuk Ahlussunnah pastilah datang dalam bentuk malzamah. Akan tetapi kerahasiaan macam apa yang mereka perbuat itu?

            Di belakang penyembunyian tersebut ada “amalan-amalan” Alloh lebih tahu apa yang ada di belakang maksud ini. Saksinya ada dan dia mendengar. Tambahkan lagi dengan perbuatan Asy Syaikh Muhammad membikin adu domba dan pemberontakan terhadap dakwah, penentangan terhadap dakwah, membikin kerumitan terhadap dakwah, membikin kerumitan terhadapku dan terhadap saudara-saudaraku di Darul Hadits di dammaj tanpa alasan yang benar. Demi Alloh itu adalah kezholiman, dan permusuhan. Tiada sebab yang demikian itu kecuali wala (loyalitas) dan baro (perlepasdirian) yang sempit.

(selesai dari risalah “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 6).

 

Pasal Dua:

Buruknya Perbuatan Sebagian Pelajar Asing

            Al Wushobiy bergaya menangisi nasib para perusak yang terusir, dan dia pura-pura buta –sehingga benar-benar dihukum dengan kebutaan- terhadap buruknya tipu daya mereka. Akan saya paparkan pada kalian sedikit dari tipu daya para pelajar yang durhaka dari kalangan orang asing, kemudian aku serahkan hukum untuk kalian:

            Abul Khoththob Al Libiy. Dia adalah hasaniy yang menyusup, menampakkan rujuk. Manakala muncul fitnah Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy, nampaklah hizbiyyah si pengadu domba ini. Dia sekarang tinggal di suatu desa dari desa-desa Mudiyah. Abul Khoththob telah dikomentari oleh Syaikh kami أعز الله قدره : “Abul Khoththob adalah nasionalis yang liar, tidak ada keraguan untuk memastikan itu bagi orang yang mengetahui apa yang kami ketahui dari hizbiyyah orang ini dan hizbiyyah orang yang bersamanya semisal Abdulloh bin Syahir, dan semisal mereka itu adalah hizbiyyun.” (rujuk kaset “At Ta’kid”/no. 3).

            Syaikh kami Yahya –semoga Alloh menjaga beliau dari setiap kejelekan dan perkara yang dibenci- : “Semoga Alloh memberinya petunjuk. Dia menempuh jalan hizbiyyin yang pertama para pengikut Abul Hasan, yang berupa menelpon para masyayikh, mengadu domba, menghasung terjadinya fitnah. Sebagian masyayikh menelponku, dan sebagiannya menasihatinya. Maka berdasarkan ini Abul Khoththob terusir, semoga Alloh tidak membalasnya dengan kebaikan. Dia adalah perusak, maksudnya adalah fitnah, ini adalah hizbiyyah berdasarkan metode para pengikut Abul Hasan persis seperti bulu panah yang kanan dengan yang kiri. Demi Alloh, orang yang mengetahui kebenaran tiada yang ragu tentang itu.”

            Yang pertama: dia merusak sebagian saudara kita orang-orang Libia di sini. Dan mereka bersaksi, lima orang atau lebih, mereka semua bersaksi atas dia tentang hal itu.

            Kedua: dia menelpon masyayikh dan dia ingin fitnah padahal dia itu di sisi kami menuntut ilmu tanpa adab. Semoga Alloh tidak mempertemukannya dengan kebaikan.”

Selesai ucapan Asy Syaikh حفظه الله.

(rujuk “Al Qoulush Showab Li Bayani Hali Abil Khoththob”/karya Akh Haidaroh Al Ja’daniy حفظه الله).

            Orang ini jelek adabnya terhadap Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya Al Hajuriy yang mana Abul Khoththob berkata: “Aku tidak puas dengan ucapanmu tentang Abul Hasan.” Dia juga jelek adab yang mana dia tidak mau mendengarkan nasihat Asy Syaikh Muhammad Al Imam وفقه الله yang mana Muhammad Al Imam berkata padanya saat duduk-duduk dengannya di Mudiyah: “Perbaikilah hubungan antara dirimu dengan Asy Syaikh Yahya, dan janganlah engkau keluar ke kota-kota.” Tapi dia tetap keluar, … dst.

(lihat “Tanbihus Salafiyyin An Nushoha”/karya akh Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy حفظه الله /hal. 14-15).

            Fadhilatus Syaikh Robi bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله juga telah mengkritiknya dan mendorong syaikh kami Al ‘Allamah Yahya حفظه الله untuk mengusirnya.

            Abu Qois Al Libiy. Hasaniy, penyusup, datang berpura-pura tobat, kemudian membikin kekacauan pikiran sebagian orang-orang Libia.

            Dan termasuk dalam bab ini orang yang bernama Utsman Al Jazairiy هداه الله . dulu dia termasuk fanatik untuk Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy, dia punya tipu daya dan kedustaan. Ketika para saksi yang memberatkan dia telah hadir, dan setelah menyerang dan lari, diapun mengaku cercaannya terhadap Asy Syaikh dan berpura-pura tobat beberapa hari. Dia menyatakan tobat yang murni dari cercaan yang muncul darinya terhadap fadhilatusy Syaikh, akan tetapi dia mencela saudara-saudaranya para pemberi nasihat, dan dia berlepas diri dari fitnah Abdurrohman, … kemudian dia mengumpulkan seluruh orang-orang Aljazair dan berpura-pura tobat di hadapan Asy Syaikh. Dan pada hari-hari penampilan rujuknya dia mengabarkan metode kaum fanatic tersebut seraya berkata: “Mereka menjadikan untuk mereka orang-orang khusus yang mendekatkan kepada mereka. dan aku termasuk dari orang khusus mereka, hingga mereka menjadikan diriku sebagai perantara antara mereka dengan orang-orang Aljazair. Mereka menanyaiku tentang mereka. maka barangsiapa aku kasih tazkiyyah di hadapan mereka, merekapun merasa tenang kepadanya. Dan barangsiapa aku cela di hadapan mereka, merekapun berhati-hati darinya. Dan dulu aku jika pergi menemui mereka bersama sebagian orang Aljazair, mereka memberikan isyarat padaku menanyai tentang keadaan orang itu.” Dia berkata lagi: “Oleh karena itulah ketika Asy Syaikh Yahya memanggil Yasin Al ‘Adniy, Nashir Al ‘Adniy dan Abul Khoththob Al Libiy, mereka berkata pada beliau: “Anda tidak punya dalil terhadap kami,” karena mereka tidak akan mengajak bicara selain orang-orang khusus.”

            Kemudianlah tampaklah perkara yang tersembunyi: si Utsman masih terus berhubungan telpon dengan para komandan fitnah, sebagaimana yang diakuinya sendiri, dan dia sering minta musyawarah dengan mereka tentang urusan dia. Al Akh Mahmud Al Jazairiy حفظه الله berkata: “Dulu Utsman sering mendatangiku ke kamarku, dia sering memakai metode-metode tipu daya untuk memasukkan aku ke dalam jaringannya, termasuk dari itu adalah: dia sering memberiku bantahan-bantahan sebagian fanatis yang membantah Ahlussunnah, dan dia memperdengarkan padaku beberapa kaset, dan dia berkata padaku tentang sebagian risalah tersebut: “Sungguh ini adalah risalah pembentukan dasar-dasar yang harus dihapalkan.” Demikianlah dia ingin menghiasi kebatilan di hadapku dalam baju nasihat.”

            Mahmud juga berkata: “Utsman sering memakai metode penakut-nakutan dan teror terhadapku dengan berkata: “Para ulama menyelisihi asy Syaikh Yahya! Mereka akan berbicara tentangnya!! Ada perkara-perkara yang tidak engkau ketahui! Seandainya engkau mengetahui ini pastilah akan runtuh atap dari atas kita.. !! dan pastilah engkau akan membawa tasmu dan engkau akan pergi!!…” lalu tersingkaplah perkaranya dan makarnya secara sempurna, lalu Syaikh kami حفظه الله mengusirnya.

(Rujuklah “Nashbul Manjaniq”/12, 116, 119, 120 dan 121/karya Akh Yusuf Aljazairiy حفظه الله).

            Abu Kholid Al Indonesiy, namanya Ahmad هداه الله, punya kedustaan, syubuhat dan cercaan terhadap Syaikh Yahya. Dulu dia sering membanggakan syi’ar tabayyun dan tatsabbut, dan bahwasanya dirinya itu mendapatkan taufiq di setiap sholat istikhoroh, dan berkata bahwasanya dirinya telah istikhoroh pada Alloh tentang fitnah ini dan dia telah diberi petunjuk untuk berdiri bersama Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy (atau ucapan yang semisal itu). Manakala dia memperbanyak celaan terhadap syaikh kami([5]) dan terhadap sebagian pelajar yang ada di sekeliling beliau حفظهم الله , dan para ikhwah telah bertekad untuk melaporkannya kepada syaikh kami حفظه الله ternyata dia mendahului mereka untuk masuk menemui syaikh kami حفظه الله dan menampilkan kesan rujuk dan tobat. Inilah sebagian dari apa yang saya dapati dari Abu Kholid, dengan beberapa tambahan dari saudara kita Abu Abdirrohman Utsman حفظه الله dan yang lainnya. Orang tadi telah keluar dari markiz sebelum diusir, karena dia menyatakan bahwasanya para ulama akan melarang orang dari Dammaj.

            Manakala dia mempersiapkan pulang ke tanah air, dia membikin waswas kepada sebagian pelajar dan berkata: “Ana harus keluar dari markiz ini agar barokah ilmuku tidak rusak. Sesungguhnya Asy Syaikh Yahya bukan termasuk kibarul ulama, dan sesungguhnya para masyayikh akan mentahdzir dari dia, dan markiz ini akan kosong. Barangkali aku akan pindah ke Syihr.”

            Ketika sebagian ikhwah bertanya padanya: “Bukankah antum telah tobat dari ini?” dia menjawab: “Ana tobat dari apa? Ana di atas kebenaran, tiada alasan untuk tobat.” Akh tadi حفظه الله berkata: “Lalu untuk apa antum masuk ke syaikh?” dia menjawab: “Ana hanya masuk ke syaikh karena sebagian orang mau melaporkan ana ke syaikh, maka ana menemui syaikh seraya kukatakan pada beliau: “Saya bersama kibarul ulama, apakah saya masih boleh tinggal di sini ataukah saya harus pergi?” atau ucapan yang seperti itu, sebagaimana dikabarkan oleh para saksi dengan ucapan yang banyak.([6])

            Demikian pula sebagian pelajar Indonesia membikin bisikan-bisikan syubuhat kepada sebagian pelajar di Dammaj. Semoga Alloh menjaga Dammaj.

            Abu Taubah Al Indonesiy, kumpul-kumpul dengan pelajar yang menentang Asy Syaikh Yahya. Dan dia menuduh beliau dengan beberapa kebatilan, maka syaikh حفظه الله mengusirnya.

            Kemudian kami mendapati kebanyakan dari mereka tertinggal dari dars-dars umum, padahal markiz ini dibangun dari asasnya untuk menuntut ilmu. Bacalah kabar-kabar tentang mereka di “Al Barohinul jaliyyah” (hal. 22) dan “Nashbul Manjaniq” (hal. 83) dan yang lainnya.

            Maka jenis yang membikin sakit yang merusak macam ini berhak untuk diusir secara syar’iy dan akal. Kemudian sesungguhnya Asy Syaikh Muqbil رحمه الله , orang-orang yang menyelisihi dakwah beliau itu dulu terbongkar dan kelihatan jelas, adapun sekarang mereka itu ada di dalam barisan ini sendiri sehingga bencana yang mereka timbulkan lebih keras.

 

Pasal tiga:

sekedar tangisan bukanlah dalil tentang kesesuaian dengan kebenaran

            Demikian pula sekedar bagusnya gaya dan banyaknya tangisan (bukan dalil bahwa orang tadi di atas kebenaran). Al Imam Malik رحمه الله telah terpedaya dengan gaya Abdul Karim bin Abil Mukhoriq([7]). Abu Umar ibnu Abdil Barr berkata: “Orang ini dari Bashroh, tiada perselisihan tentang kelemahannya, hanya saja di antara mereka ada yang menerimanya khusus pada hadits yang bukan tentang hukum-hukum, tapi tidak berhujjah dengannya. Dia pendidik dan penulis, bagus gayanya, mempedaya Malik dengan gayanya itu. Orang ini bukan dari Madinah sehingga Malik memang tidak kenal baik dengannya, sebagaimana Asy Syafi’iy terpedaya oleh Ibrohim bin Abi Yahya.” (Baca “Mizanul I’tidal”/2/hal. 646).

            Abul Fath Al Ya’muriy berkata: “Akan tetapi Malik tidak menampilkan hadits dari Abdul Karim kecuali hadits yang memang tsabit (tetap) selain dari jalur orang tadi, hadits: “Jika engkau tidak malu, maka kerjakanlah apa yang engkau inginkan.” Dan hadits meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat. Ketika jelas bagi Malik keadaan orang itu, beliau mengemukakan udzur beliau dan berkata: “Aku terpedaya oleh banyaknya tangisan dia di masjid,” atau yang seperti itu. (Baca “Mizanul I’tidal”/2/hal. 647).

            Ini apabila tangisan tadi adalah jujur, maka tetap saja bukan dalil tentang tsiqohnya orang tadi, ataupun tentang benarnya jalan hidup dia. Maka bagaimana jika tangisannya adalah tangisan hizbiy yang pendusta? Adapun Abdurrohman Al ‘Adniy, tanyailah dia –demi Robb langit dan bumi-: berapa banyak dia menangis di hadapan sebagian orang untuk menarik perasaan mereka? demikian pula sebagian pengikutnya, mereka sering pura-pura menangis di hadapan sebagian orang untuk menarik perasaan mereka. ketika mereka keluar dari hadapan orang-orang tadi, sebagian dari mereka tertawa.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ﴾ [يوسف/16].

“Dan mereka datang menemui ayah mereka di waktu Isya sambil menangis.”

            Al Imam Abu Bakr Ibnul ‘Arobiy رحمه الله berkata: “Para ulama kami berkata: ini menunjukkan bahwasanya tangisan seseorang itu tidak menunjukkan jujurnya ucapan dia, karena ada kemungkinan hal itu cuma dibikin-bikin. Di antara orang-orang itu ada yang sanggup berbuat itu, dan di antara mereka adapula yang tak sanggup demikian.” (“Ahkamul Qur’an”/3/hal. 32/surat Yusuf/Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

 

Pasal empat:

pengusiran para perusak itu disyariatkan dalam agama Alloh

            Sesungguhnya menjauhkan para perusak atau pembawa bahaya dari para muslimin adalah perkara yang disyariatkan. Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إذا زنت الأمة فتبين زناها فليجلدها ولا يثرب، ثم إن زنت فليجلدها ولا يثرب، ثم إن زنت الثالثة فليبعها ولو بحبل من شعر».

“Jika budak perempuan berzina, dan jelaslah zina dia, maka pukullah dia dan jangan dicaci. Kemudian jika dia berzina lagi, maka pukullah dia dan jangan dicaci. Kemudian jika dia berzina lagi pada kali yang ketiga maka juallah dia sekalipun dengan tali dari rambut.” (HR. Al Bukhoriy (2152) dan Muslim (1703)).

            Al Muhallab رحمه الله berkata: “Pemahaman dari hadits ini adalah: disyariatkannya menjual budak yang pezina, dan seruan untuk menjauhi pezina. Sabda beliau: “Sekalipun dengan tali dari rambut” maknanya adalah kerasnya dorongan untuk merasa tidak butuh pada budak pezina itu, dan ini bukanlah dari sisi penyia-nyiaan harta, karena kita memang diperintahkan untuk memutuskan hubungan dengan para pelaku maksiat.” (sebagaimana dalam “Syarh Ibnu Baththol ‘Ala Shohihil Bukhoriy”/11/hal. 294).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Persahabatan, perbesanan dan persaudaraan itu tidak boleh kecuali bersama orang-orang yang taat kepada Alloh berdasarkan kehendak Alloh. Ini ditunjukkan oleh hadits yang ada di Sunan:

«لا تصاحب إلا مؤمنا، ولا يأكل طعامك إلا تقي»

“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.“([8])

Dan di dalam Sunan juga:

«المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل»

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya. Maka hendaknya seseorang dari kalian itu memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat.” ([9])

            Dan dalam Ash “Shohihain” dari hadits Abu Huroiroh dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«إذا زنت أمة أحدكم فليجلدها الحد، ثم إن زنت فليجلدها الحد، ثم إن زنت فليبعها ولو بضفير»

“Jika budak perempuan salah seorang dari kalian berzina, maka hendaknya dia memukulnya dengan had, kemudian jika dia berzina lagi, maka hendaknya dia memukulnya dengan had, kemudian jika dia berzina lagi maka hendaknya dia menjualnya sekalipun dengan tali.”

“Dhofir” adalah tali, … dst.” (“Majmu’ul Fatawa”/15/hal. 327).

            Dari ‘Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لعن الله من ذبح لغير الله ولعن الله من سرق منار الأرض ولعن الله من لعن والده ولعن الله من آوى محدثا

“Semoga Alloh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh, semoga Alloh melaknat orang yang mencuri (riwayat yang lain: merubah) tanda-tanda di bumi, semoga Alloh melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan  semoga Alloh melaknat orang yang menaungi pelaku ihdats.” (HR. Muslim (1978)).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Wajib untuk mengeluarkan budak perempuan yang pezina dari area kekuasaannya. Maka bagaimana dengan istri yang pezina? Budak lelaki setara dengan budak perempuan. Dan yang menunjukkan pada itu semua adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam “Shohih” beliau dari ‘Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- bahwasanya Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

«أنه لعن من أحدث حدثا أو آوى محدثا»

“Bahwasanya beliau melaknat orang yang membuat ihdats atau menaungi pelaku ihdats.” [HR. Al Bukhoriy (3179) dan Muslim (1370)].

            Maka ini mewajibkan datangnya laknat terhadap setiap orang yang menaungi pelaku ihdats (perkara baru), sama saja ihdatsnya itu dengan zina ataukah pencurian atau yang lainnya, dan sama saja apakah penaungannya itu dengan kekuasaan (tuan terhadap budak) atau dengan pernikahan ataukah yang lainnya, karena minimal perkara yang ada di dalamnya adalah orang ini tidak mengingkari kemungkaran.” (“Majmu’ul Fatawa”/15/hal. 328).

            Dan dari Abu Huroiroh رضي الله yang memberikan hadits bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لا عدوى»

“Tiada penularan dengan sendirinya.”

«لا يورد الممرض على المصح».

“Tidak boleh yang sakit didatangkan kepada yang sehat.”

(HR. Muslim (2221)).

            Syaikhul islam رحمه الله ditanya tentang orang yang sedang terkena bencana (sakit) tinggal di suatu rumah di antara kaum yang sehat, maka sebagian dari mereka berkata: “Tidak memungkinkan bagi kami berdampingan denganmu, dan tidak sepantasnya engkau berdampingan dengan orang sehat.” Maka apakah boleh dia dikeluarkan?

            Maka beliau menjawab: “Iya, mereka boleh melarangnya untuk tinggal di antara orang-orang sehat, karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لا يورد ممرض على مصح»

“Tidak boleh yang sakit didatangkan kepada yang sehat.”

Maka beliau melarang pemilik onta-onta yang sakit untuk mendatangkannya kepada pemilik onta-onta yang sehat, bersamaan dengan sabda beliau:

«لا عدوى ولا طيرة»

“Tiada penularan dengan sendirinya, tidak boleh ada ramalan nasib sial.”

Demikian pula diriwayatkan bahwasanya beliau ketika orang yang terkena penyakit lepra tiba untuk membai’at beliau, beliau mengirimkan utusan kepadanya dengan bai’at, dan tidak mengidzinkannya masuk ke Madinah([10]).” (“Majmu’ul Fatawa”/24/hal. 284-285).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Pasal tentang jalan Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menjaga diri dari penyakit-penyakit yang menular secara tabiat, dan dalam bimbingan beliau kepada orang-orang sehat untuk menjauhi orang-orang sakit menular. Telah tetap dalam “Shohih Muslim” dari hadits Jabir bin Abdillah bahwasanya dulu di antara delegasi Tsaqif ada seseorang yang terkena sakit lepra, maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengirimkan utusan padanya untuk menyampaikan sabdanya: “Kembalilah, kami telah membai’at engkau.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 134).

            Dan dari Ummu Salamah صلى الله عليه وسلم yang berkata:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم وعندي مخنث فسمعته يقول لعبد الله بن أبي أمية: يا عبد الله أرأيت إن فتح الله عليكم الطائف غدا فعليك بابنة غيلان فإنها تقبل بأربع وتدبر بثمان. وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «لا يدخلن هؤلاء عليكن».

“Nabi صلى الله عليه وسلم masuk menemuiku dan di sisiku ada seorang banci. Lalu aku mendengar si banci itu berkata pada Abdulloh bin Abi Umayyah (saudara Ummu Salamah): “Wahai Abdulloh, bagaimana pendapatmu jika Alloh membukakan kota Thoif untuk kalian besok? Engkau harus mengambil Bintu Ghoilan, karena anak perempuan itu menghadap dengan empat sisi dan membelakangi dengan delapan sisi (menggambarkan kecantikan badannya).” Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jangan sekali-kali si banci ini masuk menemui kalian (wahai para wanita).” (HR. Al Bukhoriy (4324) dan Muslim (2180)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan di dalam hadits-hadits ini ada dalil tentang disyariatkannya mengeluarkan setiap orang yang bisa menimbulkan gangguan pada manusia dari tempatnya sampai dia rujuk dari perbuatan itu atau bertobat.” (“Fathul Bari”/10/hal. 334).

            Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«لقد رأيت رجلا يتقلب في الجنة في شجرة قطعها من ظهر الطريق كانت تؤذي الناس».

“Sungguh aku telah melihat ada seseorang yang bersenang-senang di Jannah disebabkan oleh sebatang pohon yang dipotongnya dari permukaan jalan karena dulunya mengganggu manusia.” (HR. Muslim (1914)).

            Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Dan hadits ini dalil bahwasanya barangsiapa menghilangkan gangguan dari muslimin, maka dia akan mendapatkan pahala yang agung ini dalam perkara indrawi. Maka bagaimana dengan perkara maknawi? Di sana ada sebagian orang –kita berlindung pada Alloh- yang suka membikin kejelekan dan bencana, dan pemilik pikiran-pikiran yang busuk serta akhlaq yang buruk. Jika mereka adalah pemilik pikiran-pikiran yang busuk dan buruk, menghalangi orang dari agama Alloh, maka upaya menghilangkan mereka dari jalan muslimin itu jauh lebih utama dan lebih agung pahalanya di sisi Alloh. Maka jika gangguan mereka dihilangkan, jika mereka adalah pemilik pikiran-pikiran yang busuk dan buruk, penyelewengan, harus dibantah dan dibatalkan pemikiran mereka –sampai pada ucapan beliau:- maka wajib bagi para pemegang urusan untuk menghilangkan gangguan dari jalan muslimin, yaitu: mereka menghilangkan para penyeru kepada kejahatan, atau kepada penyelewengan, atau kepada mujun (rendahnya kehormatan karena canda yang melampaui batas), atau kepada kefasiqan, dengan cara dilarang dari menyebarkan apa yang diinginkannya itu, dari kejahatan dan kerusakan. Dan inilah kewajiban mereka. akan tetapi tidak diragukan bahwasanya para pemegang urusan yang Alloh menguasakan mereka terhadap muslimin, ada sikap kurang pada sebagian dari mereka, dan sebagiannya ada yang meremehkan masalah ini. Mereka meremehkan perkara ini pada awal kejadiannya hingga perkaranya berkembang dan bertambah, dan ketika itulah mereka tidak lagi sanggup untuk mencegahnya. Maka yang wajib adalah menghadapi kejelekan sejak dari awal munculnya dengan memotong akarnya hingga tidak tersebar dan tidak menyebabkan manusia tersesat dengannya.

            Yang penting: bahwasanya menghilangkan gangguan dari jalan, dan jalan indrawi, jalan yang dipijak oleh kaki, dan jalan maknawi, jalan di dalam hati, dan menjalankan upaya penghilangan gangguan dari jalan ini semua adalah termasuk perkara yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh. Dan penghilangan gangguan dari jalan hati dan amal sholih lebih agung pahalanya, dan lebih keras kebutuhannya daripada menghilangkan gangguan dari jalan yang dipijak oleh kaki. Dan Alloh sajalah yang memberikan taufiq.

(selesai dari “Syarhu Riyadhish Sholihin”/Ibnu ‘Utsaimin/1/hal. 368/Darus Salam).

            Ini semua adalah dalil-dalil tentang disyariatkannya menjauhkan para pelaku kerusakan dan pemilik penyakit menular lahiriyyah dan batiniyyah dan yang seperti itu agar menjadi selamatlah orang-orang sehat dan orang-orang sholih.

Faidah:

            Dulu saya mengira bahwasanya di dalam kisah Nabi صلى الله عليه وسلم mengusir Al Hakam bin Abil ‘Ash ada dalil tentang disyariatkannya mengusir orang jahat –sebagai tambahan kepada dalil-dalil shohih yang terdahulu-, karena sebagian imam menyebutkannya tanpa saya tahu adanya pengingkaran.

            Termasuk di antaranya adalah apa yang disebutkan dalam “Al Jarh Wat Ta’dil” (3/hal. 120/Ibnu Abi Hatim yang menukilkan dari ayahnya): Al Hakam bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams, masuk Islam di Fathu Makkah, datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم , lalu beliau mengusirnya dari Madinah, maka dia tinggal di Thoif sampai Nabi صلى الله عليه وسلم wafat, lalu dia tinggal di Madinah sampai mati di situ pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.

            Dan di dalam “Al ‘Ibar Fi Khobari Man Ghobar” (1/hal. 5/Adz Dzahabiy): Al Hakam bin Abil ‘Ash bin Umayyah Al Umawiyy, ayah Marwan, anak paman Abu Sufyan, paman Utsman bin Affan. masuk Islam di Fathu Makkah, dia menyebarkan rahasia Nabi صلى الله عليه وسلم , dikatakan bahwasanya dia menggambarkan cara berjalan beliau, lalu beliau mengusirnya ke Thoif dan mencacinya. Dia terus-menerus terusir sampai Utsman menjadi kholifah, lalu beliau memasukkannya ke Madinah, dan memberinya uang seratus ribu.

            Selesai penukilan. Lalu seorang ikhwah yang mulia –semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan- memberiku faidah bahwasanya Rofidhoh menjadikan kisah ini untuk mencaci Utsman bin Affan رضي الله عنه , maka Syaikhul Islam رحمه الله membantah mereka sebagaimana dalam kitab “Minhajus Sunnah.” Lalu saya rujuk kitab tadi dan saya dapati faidah yang agung yang terkait dengan bab ini, bagus untuk disebutkan.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan ucapan orang Rofidhiy ini: (Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengusir Al Hakam bin Abil ‘Ash paman Utsman bin Affan dan disertai anaknya yaitu Marwan. Maka dua orang ini senantiasa terusir pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakr dan Umar. Manakala Utsman berkuasa, Utsman menaungi Al Hakam dan mengembalikannya ke Madinah, dan menjadikan Marwan sebagai sekretarisnya dan kepala pengaturannya, padahal Alloh berfirman:

﴿لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله﴾ الآية سورة المجادلة 22).

“Tidak engkau dapati kaum yang beriman pada Alloh dan Hari Akhir saling cinta dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya.”

            Maka jawabnya adalah: bahwasanya Al Hakam bin Abil ‘Ash termasuk orang yang masuk Islam di Fathu Makkah, mereka waktu itu berjumlah dua ribu orang. Dan Marwan anak dia saat itu masih kecil, dia teman sejawat Ibnuz Zubair dan Miswar bin Makhromah. Umurnya saat Fathu Makkah baru umur pembedaan, sekitar tujuh tahun, atau lebih sedikit atau kurang sedikit. Marwan tidak punya dosa untuk diusir pada masa Nabi صلى الله عليه وسلم . Dan orang-orang Makkah yang dibebaskan tidaklah tinggal di Madinah masa masa hidup Nabi صلى الله عليه وسلم . maka jika dia diusir, hanyalah dia itu diusir dari Makkah bukan dari Madinah. Dan seandainya beliau mengusirnya dari Madinah, niscaya mengirimnya ke Makkah.

            Banyak ulama telah mencela berita pengusiran tersebut, dan mereka berkata: “Dia pergi dengan pilihannya sendiri.” Dan kisah pengusiran Al hakam ini tidak ada dalah kitab-kitab “Shohih” dan juga tak punya sanad yang dengannya kondisinya bisa dikenal.

            Di antara orang-orang ada yang meriwayatkan bahwasanya Al hakam menggambarkan cara berjalan Nabi صلى الله عليه وسلم . dan di antara mereka ada yang berkata selain itu, dan mereka berkata: “Sungguh Nabi mengusirnya ke Thoif.” Dan orang-orang Makkah yang dibebaskan tidak ada satupun dari mereka yang berhijroh bahkan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد ونية».

“Tiada hijroh setelah Fathu Makkah, akan tetapi jihad dan niat.”

Ketika Shofwan bin Umayyah tiba untuk berhijroh, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk kembali ke Makkah. Ketika Al Abbas mendatangi beliau bersama satu orang agar beliau membai’at orang itu untuk hijroh, dan Abbas bersumpah agar beliau memennuhi permintaannya, beliaupun mengambil tangan orang itu dan bersabda:

«إني أبررت قسم عمي ولا هجرة بعد الفتح».

“Sungguh aku penuhi sumpah pamanku, dan tiada hijroh setelah Fathu Makkah.” [HR. Ahmad (15590) dalam sanadnya ada Yazid bin Abi Ziyad, dho’if].

            Dulu Abbas telah keluar dari Makkah ke Madinah sebelum sampainya Nabi صلى الله عليه وسلم ke Makkah pda tahun penaklukan, lalu beliau berjumpa dengannya di jalan. Orang-orang Makkah yang dibebaskan tidaklah tinggal di Madinah, maka jika dia diusir, hanyalah dia itu diusir dari Makkah bukan dari Madinah. Dan seandainya beliau mengusirnya dari Madinah, niscaya mengirimnya ke Makkah.            Sebagaimana yang telah lewat, banyak ulama telah mencela berita pengusiran tersebut, dan mereka berkata: “Dia pergi dengan pilihannya sendiri.” Pengusiran itu adalah pembuangan. Dan pembuangan itu telah datang sunnah yang menjelaskan disyariatkannya hal itu terhadap orang yang berzina, terhadap para banci, dan mereka dulu dihukum dengan pembuangan. Dan jika Nabi صلى الله عليه وسلم telah menghukum dengan pembuangan, tidak harus untuk orang itu terbuang sepanjang zaman, Karena hal ini tidak dikenal sedikitpun dari dosa-dosa, dan tidaklah datang syariat dengan suatu dosa yang pelakunya itu diasingkan selamanya([11]). Bahkan puncak pengasingannya ditentukan setahun, yaitu pengasingan pezina. Dan banci sampai dia bertobat dari kebanciannya. Jika hukuman dari hakim untuk suatu dosa itu berlangsung sampai orang tadi bertobat darinya, jika dia bertobat darinya maka gugurlah hukuman itu darinya. Dan jika hukuman tadi berdasarkan dosa yang telah lalu, maka itu adalah perkara ijtihad, tidak ditentukan kadarnya dan tidak ditetapkan waktunya.

            Maka jika demikian, maka pembuangan tersebut (dalam kasus Al Hakam) terjadi di akhir hijroh, sehingga tidak panjang jangka waktunya pada masa Abu Bakr dan Umar. Ketika pada masa Utsman, panjanglah masanya dan dulu Utsman telah memberikan syafaat untuk Abdulloh bin Abi Sarh kepada Nabi صلى الله عليه وسلم . Dulu orang itu adalah penulis wahyu, lalu murtad dari Islam. Dan dulu Nabi صلى الله عليه وسلم telah membatalkan nilai darahnya, sehingga orang tadi termasuk dari kalangan orang yang dibatalkan nilai darahnya, kemudian datanglah Utsman dengan membawanya, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم menerima syafaatnya terhadap orang itu dan menerima bai’atnya. Maka bagaimana syafaatnya untuk Al Hakam tidak diterima? Mereka telah meriwayatkan bahwasanya Utsman meminta Nabi صلى الله عليه وسلم untuk mengembalikannya maka beliau mengembalikannya untuknya dalam masalah itu. Dan kami mengetahui bahwasanya dosa Al Hakam itu lebih ringan daripada dosa Abdulloh bin Sa’id bin Abi Sarh. Dan kisah Abdulloh itu telah tetap dan dikenal dengan sanad yang tetap.

            Adapun kisah Al Hakam maka kebanyakan orang yang menyebutnya hanyalah menyebutnya secara mursal (berita dari tabi’iy, atau ada sanad yang putus). Para ahli sejarah yang banyak berbohong dalam riwayatnya telah menyebutnya, dan jarang yang penukilan mereka itu selamat dari tambahan dan pengurangan, maka tiada penukilan yang tetap yang mengharuskan celaan terhadap orang yang derajatnya lebih rendah daripada ustman. Dan telah diketahui keutamaan-keutamaan Ustman dan kecintaan Nabi صلى الله عليه وسلم padanya, pujian beliau padanya, pengkhususannya dengan dua putri beliau, persaksian beliau bahwasanya dia akan masuk Jannah, pengutusan dia ke Makkah dan bai’at beliau untuknya ketika beliau mengutusnya ke Makkah, dan para Shohabat mendahulukannya dalam pemilihan kholifah, dan persaksian Umar dan yang lainnya bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم meninggal dalam keadaan beliau ridho padanya, serta keutamaan-keutamaan yang semisal itu yang mengharuskan dihasilkannya ilmu pasti bahwasanya dia adalah termasuk wali Alloh yang bertaqwa yang besar yang Alloh ridhoi dan mereka ridho pada-Nya. Maka keutamaan ini tidak bisa ditolak dengan penukilan yang sanadnya tidak tetap dan tidak diketahui bagaimana terjadinya dan menjadikan Utsman punya dosa dengan suatu perkara yang tidak diketahui hakikatnya. Bahkan seperti ini adalah seperti orang-orang yang mempertentangkan dalil yang jelas dengan berita yang samar-samar. Dan ini adalah termasuk perbuatan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyelewengan yang mencari-cari fitnah.

            Tiada keraguan bahwasanya rofidhoh termasuk kelompok penyeleweng yang paling jelek yang mencari-cari fitnah yang Alloh dan Rosul-Nya mencela mereka. secara global: kita mengetahui secara pasti bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم tidak pernah memerintahkan untuk membuang seseorang secara terus-menerus kemudian dikembalikan oleh Utsman dalam rangka mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan tidak diingkari oleh muslimin. Utsman رضي الله عنه terlalu tinggi ketaqwaannya pada Alloh untuk lancang berbuat seperti ini. Bahkan perkara tadi termasuk perkara yang dimasuki oleh ijtihad. Bisa jadi Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهما tidak mengembalikan Al Hakam karena dirinya tidak meminta darinya dan meminta dari Utsman sehingga Utsman mengabulkannya. Atau barangkali belum jelas bagi keduanya tobat Al Hakam, dan jelas bagi Utsman. Dan puncak dari apa yang bisa ditetapkan adalah bahwasanya ini merupakan kekeliruan dari ijtihad atau suatu dosa, dan telah lewat pembicaraan tentang itu.”

(selesai penukilan dari “Minhajus Sunnah”/6/hal. 133-135).

            Kita kembali kepada inti pembahasan kita.

            Maka Salafush Sholih dulu mereka mengusir pelaku kejahatan dalam rangka melindungi agama dan muslimin.

            Ini dia Washil bin ‘Atho diusir oleh Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله . Abu Sa’d As Sam’aniy رحمه الله berkata: “Dan asal mu’tazilah adalah bahwasanya Washil bin ‘Atho dulu banyak berjalan ke majelis Al Hasan Al Bashriy di Bashroh. Ketika terjadi perselisihan di antara jama’ah dan antara pelaku dosa besar dari kalangan muslimin. Maka khowarij berpendapat tentang kafirnya mereka. Dan Jama’ah berpendapat bahwasanya pelaku dosa besar tadi adalah mukminin sekalipun mereka itu fasiqun dengan doa besar mereka. Washil keluar dari ucapan kedua kelompok dan menyatakan bahwasanya orang fasiq dari umat ini bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, kefasiqannya itu di suatu posisi di antara dua posisi: iman dan kufur. Maka Al Hasan mengusirnya dari majelis beliau, lalu dia menyendiri di satu tiang dalam masjid Bashroh, dan bergabung dengannya Amr bin Ubaid, sehingga dikatakan untuk keduanya dan pengikut mereka: mu’taziliy, ketika mereka menyendiri dari ucapan umat ini tentang suatu posisi di antara dua posisi tadi.” (“Al Ansab”/karya As Sam’aniy/5/hal. 338-339).

            Qodariyyah juga terusir dari majelis Ikrimah bin Ammar رحمه الله. Mu’adz bin Mu’adz berkata: aku mendengar Ikrimah bin Ammar berkata pada orang-orang: “Aku menyatakan keberatan terhadap orang yang bermadzhab qodariyyah, hendaknya dia bangkit dan keluar dari majelisku, karena sungguh aku tak akan memberinya hadits.” (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 138).

            Imam muslimin di zamannya: Abu Abdillah Malik bin Anas رحمه الله  ketika ditanya tentang bagaimana istiwa Alloh, beliau menjawab: “Istiwa itu telah diketahui. Gambarannya itu tidak diketahui. Beriman dengan itu adalah wajib. Bertanya tentang itu adalah bid’ah. Dan aku mengira bahwasanya engkau adalah seorang zindiq. Keluarkanlah dia dari masjid.” (“Thobaqotusy Syafi’iyyatil Kubro”/4/hal. 163).

            Dan terhadap kisah ini: ucapan Al Imam Malik: “Dan aku tidak mengira dirimu kecuali seorang mubtadi'” lalu beliau memerintahkan agar orang ini dikeluarkan, Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkomentar: “Dan demikianlah seharusnya para ulama jika melihat di dalam barisan mereka ada seorang mubtadi’ hendaknya mereka mengusirnya dari barisan mereka, karena mubtadi’ itu keberadaannya di tengah Ahlussunnah merupakan kejelekan, karena bid’ah itu penyakit seperti kanker, tidak diharapkan kesembuhannya kecuali jika Alloh menghendaki. Ucapan beliau “Kecuali seorang mubtadi'” bisa jadi beliau memaksudkan ucapan ini “Kecuali seorang mubtadi'” dengan sebab pertanyaan tadi atau “Kecuali seorang mubtadi'” yaitu: kecuali karena engkau itu termasuk dari ahli bida’, karena ahli bida’ itulah yang agama mereka itu bersumber dari perkara yang samar-samar demi membikin percampuran terhadap orang-orang. Dan makna manapun yang dimaukan, maka hal itu menunjukkan bahwasanya jalan Salaf adalah mengusir para mubtadi’un dari barisan para pelajar. Dan demikianlah seharusnya: mereka itu diusir dari seluruh masyarakat, dan area mereka dipersempit sehingga kebid’ahan mereka tidak tersebar. Dan tak boleh dikatakan: “Sesungguhnya manusia itu merdeka.” Iya dia merdeka akan tetapi dalam batasan syariat. Adapun jika dia menyelisihi syariat maka sungguh dia wajib untuk dipersempit dan dijelaskan untuknya kebenaran, jika dia mau rujuk pada kebenaran maka itulah yang dikehendaki, tapi jika tidak, maka dia diperlakukan sesuai dengan apa yang dituntut oleh kebid’ahannya, berupa pengkafiran atau pemfasiqan.” (“Syarhul ‘Aqidatis Safariniyyah”/1/hal. 171-172).

            Maka pembersihan barisan dan penjauhan ahli batil itu sudah dikenal di kalangan Salafush Sholih. An Nadhr bin Syumail rohimahulloh berkata: “Dulu Sulaiman At Taimiy jika ada orang dari penduduk Bashroh yang mendatanginya tapi beliau tidak mengenalnya, maka beliau berkata,”Apakah engkau bersaksi bahwasanya orang yang celaka itu celaka di perut ibunya, dan bahwasanya orang yang beruntung itu adalah yang bisa mengambil pelajaran dengan orang lain?” Jika dia mengakuinya akan diberinya hadits. Tapi jika tidak bersaksi demikian beliaupun tidak memberinya hadits.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Roqi”/Al Khothib/2/hal. 348).

            Mahdi bin Hilal رحمه الله berkata: Aku mendatangi Sulaiman, maka aku dapati di sisi beliau ada Hammad bin Zaid, Yazid bin Zuroi’, Bisyr ibnul Mufadhdhol dan teman-teman kami dari orang Bashroh. Beliau itu tidak memberi hadits seorangpun sampai beliau mengujinya dan berkata padanya: “Zina itu dengan taqdir?” jika dia menjawab: “Iya,” beliau menuntutnya bersumpah bahwasanya: “Ini adalah agamamu yang dengannya engkau menyembah Alloh?” jika dia bersumpah, maka beliau memberinya lima hadits.” (“Siyar A’lamin Nubala”/6/hal. 200).

            Al Hakim رحمه الله berkata: Aku mendengar Abu Sa’id bin Abi Bakr bin Abu Utsman berkata: “Manakala berlangsung fitnah Kullabiyyah di Naisabur, As Sarroj menguji anak-anak orang. Beliau tidak memberikan hadits kepada anak-anak Kullabiyyah. Maka beliau pernah satu kali memberdirikan aku dari majelis seraya berkata: “Katakanlah: aku berlepas diri kepada Alloh dari Kullabiyyah.” Maka aku berkata: “Jika saya mengatakan ini, ayah saya tak akan memberi saya roti.” Maka beliau tertawa dan berkata: “Biarkan saja yang ini.” (“Tarikhul Islam”/Adz Dzahabiy/5/hal. 387).

            Ini Isma’il bin Thoghtakain bin Ayyub, sultan Yaman, keluar dari madzhab Ahlussunnah di masa hidup ayahnya di Yaman, lalu dia mengikuti madzhab Isma’iliyyah, maka ayahnya mengusirnya.” (“Al I’lam”/Az Zirokliy/1/hal. 316).

            Dan ini Muhammad bin Yusuf bin Mas’ud Asy Syaibaniy, Syihabud Din, Abu Abdillah At Tal’afriy. Dia termasuk para penyair yang menyertai raja Al Asyrof Musa Al Ayyubiy. Dia terkena bencana gemar main judi, sehingga dia diusir Al Asyrof ke Halab, maka dia dimuliakan oleh penguasanya: raja An Nashir Yusuf bin Muhammad Al Ayyubiy, dan menetapkan untuknya jabatan, tapi dia mulai menyia-nyiakannye dalam perjudian. Maka diserukan di Halab: “Barangsiapa berjudi bersama Asy Syihab At Tal’afriy maka tangannya akan dipotong.” (“Al I’lam”/Az Zirokliy/7/hal. 151).

            Al Khollal meriwayatkan dari Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله bahwasanya beliau sholat di suatu masjid. Lalu bangkitlah seorang pengemis seraya meminta-minta. Maka Abu Abdillah berkata: “Keluarkanlah dia dari masjid, orang ini berdusta atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم .” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/2/hal. 159).

            Dalil-dalil dan atsar-atsar ini cukup memuaskan untuk menunjukkan shohihnya manhaj syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله , dan menunjukkan akan jauhnya Muhammad Al Wushobiy dari manhaj Nabi صلى الله عليه وسلم dan Salafush Sholih رحمهم الله.

 

Pasal lima:

bagusnya kehidupan pelajar asing yang kokoh di atas kebenaran di darul Hadits di Dammaj

            Adapun orang asing –dan yang selainnya, dari kalangan pelajar salafiyyin yang kokoh- maka mereka itu ada di dalam kehidupan yang bagus secara ilmu dan amalan, menerapkan sunnah Nabi dan thoriqoh salafiyyah dengan sangat bebas dan bertaqwa pada Alloh, disertai dengan penghormatan pada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, merasa cukup dengan apa yang Alloh rizqikan pada mereka.

            Dan syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله sangat menyayangi kami, amat memuliakan kami, besar sekali perhatian beliau terhadap kemaslahatan kami, dan tidaklah berita itu seperti menyaksikan langsung.

يا ابنَ الكراِم ألا تدنْو فتبْصرَ ما … قد حدَّثوك فما راءٍ كمن سمِعاَ. (“نفحة الريحانة “/1/ص 197).

“Wahai anak orang yang mulia, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat apa yang mereka ceritakan padamu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar.” (“Nafhatur Roihanah”/1/hal. 197).

            Maka tidaklah laku dan tidak pula laris makar Muhammad Al Wushobiy kecuali di kalangan orang-orang bodoh yang lemah dan orang yang terfitnah dan menyeleweng semisal dia.


Bab Tiga:

Al Wushobiy Memutarbalikkan Fakta Tentang Kasus Penjagaan Markiz Sunnah

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Apakah demikian wasiat sang bapak Asy Syaikh Muqbil, bapak kita, ayah kita –semoga Alloh merohmatinya-, demikiankah jadinya wasiat sang bapak, kita jadikan di belakang punggung kita?”

            Jawab kami:

            Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ketika melihat makar Abdurrohman Al Adniy dan gerombolannya, beliau bangkit dan mengutus para penasihat berulang-ulang. Para ikhwah yang mulia telah menasihati orang tadi. Mereka adalah Abu Muhammad Al Urduniy, Abu Hamzah As Siwariy, dan Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq Al Ba’daniy حفظهم الله agar menghentikan pencatatan yang bersifat makar itu. Asy Syaikh Yahya mengutus mereka menemui Abdurrohman untuk menasihati dia dan agar dia meninggalkan gaya pencatatan yang tidak dikenal di dalam dakwah sunnah sejak zaman Asy Syaikh Muqbil dan sepeninggal beliau dari kalangan masyayikh dakwah salafiyyah.  Berapa banyak markiz dibuka dan fitnah-fitnah ini tidak didapatkan di situ kecuali pada masa fitnah Sholih Al Bakriy هداه الله . Para ulama telah menasihatinya tapi dia tak menerimanya –sampai pada:- ketika nasihat itu sampai kepadanya, memerahlah wajahnya dan dia marah dan berkata: “Ketololan macam apa ini!? Barangkali dia telah membikin yakin kalian. Mungkin dia telah mempengaruhi kalian!!!” (“Haqoiq Wa Bayan”/Asy Syaikh Kamal Al Adniy/ h. 27-28).

            Saudara kita yang mulia Anwar Al Ibbiy حفظه الله mengabari kami bahwasanya dia telah menasihati Abdurrohman bin Mar’i([12]) tapi dirinya dan para pengikutnya bersikeras untuk membikin kegoncangan di markiz induk dengan merayu para pelajar untuk pindah ke markiz dia yang saat itu belum dibangun, dan untuk mencatat nama-nama mereka.

            Saudara kita yang mulia Abu Mahmud Al Libiy حفظه الله telah menasihatinya untuk menghentikan pencatatan yang bersifat makar itu, tapi dia tak mau menerima nasihatnya. (“Haqoiq Wa Bayan”/Asy Syaikh Kamal Al Adniy/ hal. 29).

            Saudara kita yang mulia Zakariyya Al Yafi’iy حفظه الله telah menasihatinya tentang kasus Koran “Al Balagh” Ar Rofidhiy, tapi dia tak mau menerima, bahkan dia menampilkan dendamnya terhadap syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله . (“Haqoiq Wa Bayan”/Asy Syaikh Kamal Al Adniy/ hal. 28).

            Para masyayikh yang hadir dalam pertemuan pertama di Dammaj –semoga Alloh menjaganya- bersepakat tentang kerusakan praktek pencatatan tersebut, dan mereka bersepakat untuk menghentikan pencatatan tadi([13]) , sebagaimana syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dan yang lainnya mengabari kami. Tapi Abdurrohman Al Adniy dan pengikutnya setelah itu bersikeras untuk melanjutkan pencatatan yang bersifat makar itu, sebagaimana yang dikabarkan pada kami oleh para tamu dari Aden حفظهم الله dalam soal-soal mereka.

            Para masyayikh yang hadir dalam pertemuan pertama di Dammaj –semoga Alloh menjaganya- telah menasihatinya agar dia menasihati orang-orang yang fanatik kepadanya untuk meninggalkan fanatisme kepadanya, tapi dia tidak menerima nasihat itu. (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 34).

            Asy Syaikh Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله –pemilik berbagai risalah yang bermanfaat- dan juga Asy Syaikh Al Faqih Zayid Al Wushobiy حفظه الله telah menasihatinya untuk duduk bersama syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله untuk menguraikan kerumitan tersebut, tapi di mana penerimaannya? (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 22).

            Manakala syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله melihat pembangkangan kaum tadi terhadap nasihat yang benar, dan bersikerasnya mereka untuk merusak markiz, bangkitlah beliau dengan memotong subjek perusak dengan mengusir orang yang berhak diusir. Dan ini semua adalah disyariatkan sebagaimana telah lewat penyebutan dalil-dalilnya dan atsar tentang itu. Dan ini adalah penunaian amanah dan pelaksanaan wasiat. Maka perbuatan syaikh kami YahyaAl Hajuriy حفظه الله itulah yang benar, dan kedustaan Al Wushobiy itulah kebatilan dan pemutarbalikan fatwa.

            Justru hasungan besar Wushobiy agar para pelajar dan masyarakat mencopot syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله itu adalah perusakan keteraturan markiz. Maka si Wushobiy inilah yang menginjak-injak wasiat Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

            Demikian pula penelantaran Wushobiy terhadap salafiyyin Dammaj saat mereka diserang dan dibunuhi oleh Rofidhoh, dan sikap Wushobiy yang menyatakan bahwasanya itu adalah hukuman akibat mereka tidak menaati nasihat dirinya. Maka itu adalah penentangan yang nyata dari Wushobiy terhadap kandungan wasiat Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله untuk melindungi markiz sunnah ini. Maka berapa banyaknyakah nash Al Kitab dan As Sunnah yang diselisihi oleh Al Wushobiy dengan perbuatan kemunafiqannya itu?

            Kemudian sesungguhnya pemutarbalikan fatwa adalah termasuk warisan dari Fir’aun. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَاد﴾ [غافر/26]

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia berdoa kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.

            Dia menamakan perbaikan sebagai kerusakan.

            Dan Al Wushobiy mewarisi sifat pemutarbalikan fakta dari para munafiqin. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ الله وَهُمْ كَارِهُونَ﴾ [التوبة/48].

“Dan mereka memutarbalikkan perkara untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Alloh) dan menanglah agama Alloh, padahal mereka tidak menyukainya.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وهم الذين وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴾ [البقرة/11]

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

            Al Imam Al Wadi’iy  dalam penyebutan sifat munafiqun berkata: “Dan termasuk dari sifat-sifat mereka adalah bahwasanya mereka melakukan kerusakan dan mereka menyatakan bahwasanya mereka adalah pelaku perbaikan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ * أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة: 11، 12].

“Dan jika dikatakan pada mereka: “Janganlah kalian merusak di bumi” mereka berkata: “Sesungguhnya kami ini hanyalah berbuat perbaikan” Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah yang merusak akan tetapi mereka tidak menyadari.”

            Dan sesungguhnya sifat ini benar-benar sesuai dengan banyak sekali para pengikut hizb-hizb ilhad seperti partai komunis, partai sosialis, partai ba’tsi. Maka mereka itu mempedaya masyarakat dengan janji kemajuan, ketinggian dan perbaikan, tapi mereka dusta. Mereka tidak menambahi masyarakat kecuali kerusakan, keruntuhan, kemunduran dan kebutaan.” (pembukaan tahqiq “Shifatun Nifaq Wa Dzammil Munafiqin Lil Firyabiy”/ditulis Asy Syaikh Abdurroqib Al Ibbiy/ hal. 5/Darul Atsar).

            Demikianlah pula hizbiyyun. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Maka hizbiyyah ini dibangun di atas kedustaan, tipu daya, talbis dan pemutarbalikan fakta. Maka wajib atas ahlul ilmi untuk menyingkap kebusukan mereka dan memperingatkan muslimin darinya. Sungguh hizbiyyah telah merusak para pemuda muslimin.” (“Ghorotul Isyrithoh” 1/hal. 17/Maktabatu Shon’a Al Atsariyyah).

            Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Dan termasuk perkara yang mungkin dihitung sebagai prinsip-prinsip Abdurrohman (bin Abdil Kholiq) adalah: “kesengajaan berbuat keliru yang mengerikan, memutarbalik fakta dengan menjadikan kebenaran sebagai kebatilan, dan kebatilan sebagai kebenaran, yang buruk jadi baik, yang baik jadi buruk, yang mubtadi’ jadi sunniy, yang sunniy jadi khowarij, dan dia (Ibnu Abdil Kholiq) mengkafirkan khowarij.” (“An Nashrul ‘Aziz”/hal. 62/Darul Minhaj).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله ditanya: “Sesungguhnya banyak pemuda yang berkata: sesungguhnya Asy Syaikh Robi’ mencerca masyayikh dan ulama. Maka apa pendapat Anda tentang ini?”

            Maka beliau رحمه الله menjawab: “Ini adalah pemutarbalikan fakta –sampai ucapan beliau:- hanyalah yang mengucapkan ini para hizbiyyun yang menginginkan pemutarbalikan fakta, kemudian datang sekelompok orang yang bodoh, tokoh besar mereka melemparkan ucapan-ucapan pada mereka yang mereka kira benar padahal itu batil … dst.” (“Al Fatawal Jaliyyah/Asy Syaikh Ahmad An Najmiy/hal. 40).

            Dan ini termasuk perkara yang memperkuat bahwasanya Al Wushobiy ini adalah hizbiy. Lebih-lebih lagi dia menampakkan loyalitas pada hizbiyyin. Maka hukum dia adalah seperti hukum mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ الله لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾ [المائدة: 51].

“Dan barangsiapa berloyalitas pada mereka dari kalian maka sesungguhnya dia adalah termasuk dari mereka. sesungguhnya Alloh tidak memberikan petunjuk pada kaum yang zholim.”

            Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله –kurang lebih dua tahun yang lalu- ditanya tentang Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Al Abdaliy, maka beliau menjawab: “Dia adalah hizbiy.” (beliau ucapkan ini pada malam Rabu (5/3/1432 H), sebagaimana dalam kitab “Fa Adzdzana Muadzdzin”/Asy Syaikh Husain Al Hathibiy/hal. 88/Darul Hadits).

            Dan aku bertanya pada Asy Syaikh Yahya حفظه الله setelah tersebarnya ucapan Wushobiy yang terakhir (bulan Muharrom 1434 H), maka beliau menjawab: “Muhammad Al Wushobiy hizbiy”.

            Dan beliau memberiku faidah bahwasanya Al Wushobiy itu mubtadi’.

            Sebelum ini saya mengira bahwasanya syaikh kami حفظه الله ketika menyindir Muhammad Al Wushobiy (dan tanpa menyebut nama dia) dengan ayat-ayat munafiqin yang di surat Al Ahzab saya kira beliau menghukumi Wushobiy sebagai munafiq. Maka saya tanya beliau beberapa hari kemudian: “Apakah banyaknya kedustaan Muhammad Al Wushobiy dan gaya senangnya dia dengan serangan rofidhoh terhadap Ahlussunnah, dan kecocokan dia dengan beberapa sifat munafiqin yang tersebut dalam surat Al Ahzab itu, bolehkah dengan ini semua kita mengatakan bahwasanya Al Wushobiy itu hizbiy munafiq?”

            Maka beliau حفظه الله menjawab: “Mereka ingin kita berbicara lalu mereka membikin keributan dengan ucapan kita tadi. Amalan-amalannya adalah bersifat kemunafiqan, orang ini perbuatannya jelek sekali. Dia bersamaan dengan itu menghukumi sebagian Ahlussunnah sebagai mubtadi’, dan menyindirnya (dan dengan menyebut namanya) sebagai orang kafir, dan hukum-hukum yang lain yang tidak sesuai untuk orang yang paling fasiq sekalipun. Akan tetapi bukan kewajiban kita untuk memastikan dia sebagai munafiq. Biarkanlah amalannya menjelaskan siapa dirinya.” Selesai.

            Dengan jawaban dari Asy Syaikh حفظه الله ini saya rujuk dari menyimpulkan bahwasanya Asy Syaikh حفظه الله menghukumi Al Wushobiy sebagai munafiq. Hanyalah yang dimaukan Asy Syaikh حفظه الله adalah sebagaimana dalam jawaban beliau yang tersebut tadi. Alhamdulillah.


Bab Empat:

Kebodohan Al Wushobiy Terhadap Tuntutan Rohmat

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Di manakah wasiat itu? Di manakah rohmat? Di manakah belas kasihan wahai kamu?” “Kita berlindung kepada Alloh dari hati yang keras yang bersifat batu, yang membatu, hati jika menjadi seperti batu.”

            Jawaban kami adalah sebagai berikut –dengan taufiq dari Alloh-:

            Sesungguhnya termasuk dari rohmat Ahlussunnah terhadap kaum mukminin adalah: tidak membiarkan saudara mereka berada dalam kedurhakaan, bahkan menasihatinya dan membimbingnya. Yang demikian itu dikarenakan mereka itu mencintai untuk saudara mereka apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri. Dari Anas رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه»

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhoriy (13) dan Muslim (45)).

            Dan termasuk perkara yang dicintai kaum mukminin untuk saudara-saudara mereka apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri adalah: kekokohan mereka di atas kebenaran, dan jauhnya mereka dari kebatilan. Maka dalam rangka inilah sebagian dari mereka saling menasihat dengan yang lain. Alloh ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ الله إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]

“Dan orang-orang mukminin dan mukminat itu sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, menegakkan sholat dan menunaikan zakat serta menaati Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah yang akan dirohmati Alloh, sesungguhnya Alloh itu ‘Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Penuh Hikmah)” (QS At Taubah 71).

            Maka rohmat itu tidak mengharuskan diam terhadap kemungkaran. Justru diam terhadap kemungkaran adalah sebab kebinasaan, dan sikap diam itu bukan menjadi dalil tentang adanya rohmat. Dari An Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما : dari Nabi صلى الله عليه وسلم berkata:

«مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا». (أخرجه البخاري (2493)).

“Permisalan orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan orang yang terjatuh ke dalam pelanggaran hukum Alloh adalah seperti suatu kaum yang berundi di kapal, maka sebagian dari mereka mendapatkan bagian atas, dan sebagian yang lain mendapatkan bagian bawah. Orang-orang yang di bagian bawah jika mau mengambil air, mereka melewati orang yang di atas mereka. maka mereka berkata: “Seandainya kita benar-benar melobangi bagian kita ini dan kita tidak mengganggu orang yang di atas kita saja.” Maka jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka (yang di bawah) melakukan apa yang mereka inginkan, pastilah mereka semua akan binasa. Dan jika orang-orang yang di atas mencegah tangan-tangan mereka, mereka akan selamat, dan semuanya akan selamat.” (HR. Al Bukhoriy (2493)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan demikianlah penegakan hukum, dihasilkanlah dengannya keselamatan bagi orang yang menegakkannya dan orang yang dikenai hukum tadi. Jika tidak demikian, maka si pelaku maksiat akan binasa dengan kemaksiatannya, dan orang yang diam juga binasa karena ridho dengan maksiat tadi.” (“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/5/hal. 296).

            Dan dakwah dan nasihat itu berlangsung di atas thoriqoh syar’iyyah yang indah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾ [النحل: 125]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahasuci menjadikan tingkatan-tingkatan dakwah sesuai dengan tingkatan makhluk. Maka orang yang menerima dan menyambut kebenaran, yang cerdas, yang tidak membangkang terhadap kebenaran, mempedulikannya, dia itu diseru dengan cara hikmah (menyebutkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah). Orang yang menerima tapi pada dirinya ada semacam kelalaian dan keterlambatan, dia diseru dengan pelajaran yang baik, yaitu perintah dan larangan yang diiringi dengan roghbah (janji pahala dan keutamaan) dan rohbah (ancaman hukuman dan kerugian). Orang yang membangkang dan menentang, diajak berdebat dengan cara yang lebih baik. Inilah yang benar tentang makna ayat ini.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 153).

            Dan terkadang sebagian orang tidak tersadar kecuali dengan semacam sikap keras, maka metode ini tidak boleh diingkari karena jelasnya dalil-dalil tentang itu, dan langkah tadi tidak menunjukkan kecilnya rohmat pelaksananya sebagaimana yang diduga oleh Al Wushobiy. Dari Anas رضي الله عنه :

أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يسوق بدنة فقال: «اركبها» قال: إنها بدنة. قال: «اركبها» قال: إنها بدنة. قال: «اركبها ويلك». (أخرجه البخاري (6159) ومسلم (1322)).

“Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melihat seseorang menggiring badanah (binatang untuk disembelih dalam haji). Maka beliau bersabda: “Naikilah dia.” Maka dia berkata: “Dia itu badanah.” beliau bersabda: “Naikilah dia.” Maka dia berkata: “Dia itu badanah.” beliau bersabda: “Naikilah dia, celaka kamu.” (HR. Al Bukhoriy (6159) dan Muslim (1322)).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dan hanyalah perkara ini termasuk dalam kemaslahatan-kemaslahatan kaum mukminin yang dengannya Alloh memperbaiki sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain, karena sesungguhnya mukmin yang satu bagi mukmin yang lain adalah bagaikan dua tangan, yang satu mencuci yang lain. Dan terkadang kotoran tidak lepas kecuali dengan semacam kekasaran, akan tetapi yang demikian itu akan menghasilkan kebersihan dan kelembutan yang dengannya kekasaran tadi dipuji.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 53-54).

            Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata tentang kisah tidak dimaafkannya orang mengejek Nabi صلى الله عليه وسلم: “Perbedaan antara pemaafan yang dicintai oleh Alloh dengan kekasaran terhadap para musuh Alloh. Pemaafan yang Alloh cintai adalah: yang di dalamnya ada perbaikan, karena Alloh mensyaratkan yang demikian itu dalam pemaafan. Alloh berfirman:

﴿فمن عفا وأصلح فأجره على الله﴾ [ الشوري : 40]

“Maka barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya itu ditanggung oleh Alloh.”

Yaitu: pemaafannya itu mencakup perbaikan. Sebagian dari mereka berkata: “Yaitu: memperbaiki rasa cinta di antara dirinya dengan orang yang berbuat jelek kepadanya.” Dan ini adalah penafsiran yang kurang. Dan yang benar adalah bahwasanya yang dikehendaki dengan itu adalah: memperbaiki dalam pemaafannya. Yaitu: di dalam pemaafannya itu ada perbaikan.

            Maka barangsiapa pemaafannya itu ternyata berupa perusakan, bukan perbaikan, maka orang ini berdosa dengan pemberian maafnya. Dan sisi yang demikian itu dari ayat ini adalah jelas, karena Alloh berfirman: “memaafkan dan memperbaiki” karena pemberian maaf adalah perbuatan baik, sementara kerusakan adalah kejelekan. Dan menolak kejelekan itu lebih utama, bahkan pemberian maaf ketika itu jadi harom hukumnya. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersikap keras terhadap orang ini karena beliau صلى الله عليه وسلم tidak menoleh kepadanya dan beliau tidak menambahi melebihi ucapan yang diperintahkan Alloh ini, padahal bebatuan telah menghantami kaki orang tersebut. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم tidak mengasihaninya dan tidak merasa iba dengannya. Dan di setiap posisi ada ucapan yang sesuai.

            Maka setiap orang harus bersikap keras di posisi yang keras, dan lunak di posisi yang lunak. Akan tetapi para musuh Alloh عز وجل , hubungan dengan mereka pada asal adalah berupa kekerasan. Alloh ta’ala berfirman tentang sifat Rosul صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat beliau:

﴿أشداء على الكفار رحماء بينهم﴾ [ الفتح : 29]

“Dan orang-orang yang bersama beliau itu keras kepada orang-orang kafir dan menyayangi di antara mereka.

            Alloh ta’ala berfirman:

]يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير[ [التوبة: 73].

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiqin, dan bersikaplah keras pada mereka. Dan tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. At Tahrim: 9 dan At Taubah: 73).

            Alloh menyebutkannya dalam dua surat dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwasanya hal itu termasuk perkara yang paling penting, akan tetapi penggunaan kelembutan untuk dakwah dan pelunakan hati terkadang bagus.”

(selesai dari “Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid”/2/hal. 187).

            Dan termasuk dari sikap sayang kaum mukminin pada saudara mereka adalah: menolong orang yang zholim dan yang terzholimi, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – « انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا » . قَالُوا: يَا رَسُولَ الله هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: « تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tolonglah saudaramu baik dia itu zholim atau dizholimi.” Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, orang ini akan kami tolong jika dia terzholimi. Maka bagaimana kami menolongnya jika dia yang zholim?” Beliau bersabda: “Engkau pegang tangannya dari atas (cegah dia dari berbuat zholim).” (HR. Al Bukhory (2444))

            Dan diriwayatkan Muslim (2584) senada dengan itu dari hadits Jabir رضي الله عنه dengan lafazh:

«ولينصر الرجل أخاه ظالما أو مظلوما. إن كان ظالما فلينهه فإنه له نصر. وإن كان مظلوما فلينصره».

“Dan hendaknya seseorang itu benar-benar menolong saudaranya yang zholim atau terzholimi. Jika saudaranya itu zholim, maka dia harus mencegahnya. Maka itulah pertolongan untuknya. Dan jika saudaranya itu terzholimi, maka hendaknya dia menolongnya.”

            Dan dua hadits ini jelas dalam mengisyaratkan bahwasanya kasih sayang itu tidak mengharuskan diam terhadap kemungkaran dalam rangka menjaga perasaan orang-orang, bahkan kasih sayang itu mengandung perintah untuk melakukan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dalam rangka melindungi semua masyarakat.

            Maka perbuatan syaikh kami Yahya حفظه الله dengan menebarkan nasihat-nasihat dan menghardik pelaku kerusakan dari kerusakan mereka merupakan rohmat bagi semua pihak.

            Dan bagaimana jika para perusak yang di dalam markiz ini tidak menerima nasihat, bahkan mereka bersikeras merusak akal para pelajar? Apakah pengelola urusan markiz boleh untuk berkata: “Aku telah menunaikan kewajibanku, maka silakan mereka berbuat terhadap para murid kami sesuka mereka”? Ini tidak benar. Bahkan dia harus menghardik para perusakan dengan metode yang dipandangnya bermanfaat bagi sisa-sisa para pelajar yang sehat selama kemampuan masih ada. Maka mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada mukmin yang lemah, bersamaan dengan bersekutunya mereka dalam asal kebaikan karena bersekutunya mereka dalam asal keimanan. Dan jika si sakit tidak mengambil manfaat dengan suatu resep obet, maka hendaknya si dokter memakai resep yang lebih kuat dari itu, dan dokternya jangan melemah.

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: sabda Nabi: “Engkau pegang tangannya dari atas” kiasan tentang menahan tangan orang itu dari kezholiman dengan metode perbuatan jika orang tadi tak mau berhenti dari kezholimannya dengan metode ucapan.” Dan diungkapkan dengan “dari atas” sebagai isyarat untuk menangkap tangannya tadi dengan kekuasaan dan kekuatan.” (“Fathul Bari”/5/hal. 98).

            Maka kekuatan dan kekerasan di tempat yang sesuai itu adalah dalil tentang besarnya kasih sayang dan dalamnya keilmuan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka lihatlah orang yang memanami suatu kebun dari kebun-kebun yang ada, yang dia itu ahli bercocok tanam, menanami kebun, merawatnya dengan pengairan dan perbaikan, hingga pepohonannya itu berbuah, lalu petani ini memisahkan urat-uratnya, memotongi dahan-dahannya, karena dia tahu bahwasanya jika dibiarkan sesuai keadaannya itu maka buahnya tidak bagus. Dia memberinya makan (sistem menyambung atau menempel) dari pohon yang buahnya bagus, sampai jika pohon yang ini telah menempel dengan pohon yang itu, dan menyatu, serta memberikan buahnya, si petani mendatanginya dengan alat potongnya, dia memotongi dahan-dahannya yang lemah yang bisa menghilangkan kekuatan pohon itu, dan menimpakan padanya sakitnya dipotong dan sakitnya kena besi demi kemaslahatan dan kesempurnaan pohon itu, agar menjadi baiklah buahnya untuk dihadirkan kepada para raja.

            Kemudian si petani tidak membiarkan pohon tadi mengikuti tabiatnya untuk makan dan minum sepanjang waktu, bahkan di suatu waktu dia membikinnya haus, dan di waktu yang lain dia memberinya minum, dan tidak membiarkan air senantiasa menggenanginya sekalipun yang demikian itu membikin daunnya lebih hijau dan lebih mempercepat tumbuhnya. Kemudian dia menuju ke pada hiasan tersebut yang dengannya pohon tadi berhias, yaitu dedaunannya, dia membuang banyak sekali dari hiasannya tadi karena hiasannya itu menghalangi kesempurnaan kematangan buah dan kesetimbangannya sebagaimana di pohon anggur dan semisalnya. Dia memotong bagian-bagiannya dengan besi dan membuang banyak hiasannya. Dan yang demikian itu adalah benar-benar kemaslahatan untuk pohon itu. Seandainya pohon itu punya indra pembeda dan alat pengetahuan seperti hewan, pastilah dia akan menduga bahwasanya perlakuan tadi merusak dirinya dan membahayakan dirinya, padahal itu benar-benar kemaslahatan untuk dirinya.

            Demikian pula seorang bapak yang berbelas kasihan pada anaknya, yang tahu akan kemaslahatan anaknya, jika dia melihat kemaslahatannya itu ada pada pengeluaran darah yang rusak dari badannya, sang bapak akan melukai kulitnya dan memotong uratnya serta menimpakan padanya rasa yang sangat sakit. Dan jika dia melihat kesembuhan sang anak ada pada pemotongan salah satu anggota badannya, dia akan memisahkan anggota badan tersebut darinya. Yang demikian itu adalah kasih sayang untuknya dan belas kasihan untuknya. Dan jika dia melihat bahwasanya kemaslahatan anaknya itu ada pada penahanan pemberian, dia tidak member anaknya dan tidak memperluas pemberian untuknya karena dia mengetahui bahwasanya hal itu adalah sebab terbesar bagi kerusakannya dan kebinasaannya.”

(selesai penukilan dari “Al Fawaid”/hal. 92).

            Maka perbuatan syaikh kami حفظه الله merupakan dalil tentang kuatnya ilmu beliau dan besarnya rohmat beliau. Maka semoga Alloh membalas Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dengan kebaikan atas jasa beliau kepada Islam dan muslimin, sungguh Alloh telah member beliau taufiq dalam memilih pemegang wasiat yang mana tokoh tadi kuat dalam menegakkan agama dalam rangka mengikuti para Nabi yang mengambil syari’at dengan kuat:

﴿يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ﴾ [مريم: 12].

“Wahai Yahya, ambillah kitab ini dengan kekuatan.”

            Maka kedalaman ilmu akan membuahkan luasnya kasih sayang. Dan besarnya kasih sayang merupakan teman pengiring kuatnya ilmu.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan demikianlah seseorang, setiap kali ilmunya meluas, kasih sayangnya juga meluas. Dan Robb kita itu rohmat dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Maka kasih sayangnya meliputi segala sesuatu, dan ilmunya melingkupi segala sesuatu.” (“Ighotsatul Lahfan”/2/hal. 173).

            Maka pengingkaran terhadap kemungkaran, dan kekerasan terhadap orang-orang yang bersikeras berbuat batil, serta upaya menjauhkan para perusak, ini semua adalah benar-benar bukti kedalaman ilmu dan keluasan rohmat. Inilah dia manhaj para salaf, dan mereka itulah para ulama yang penyayang yang sejati.

Adapun perbuatan Muhammad Al Wushobiy, maka itu adalah dalil tentang dangkalnya ilmu dia dan lemahnya rohmat dia, serta lembeknya pemegangan dia terhadap manhaj salaf. Dari Abu Sholih Al Faro yang berkata: “Aku ceritakan pada Yusuf bin Asbath tentang Waki’ tentang suatu perkara fitnah. Maka Yusuf berkata: “Orang itu seperti ustadznya –yaitu: Hasan bin Hayy- maka kukatakan pada Yusuf: “Apakah Anda tidak takut bahwasanya ini adalah ghibah?” maka beliau menjawab: “Memangnya kenapa wahai orang tolol? Aku lebih baik untuk mereka daripada ayah ibu mereka. aku melarang manusia dari melakukan apa yang mereka bikin yang bisa menyebabkan dosa-dosa mereka mengikuti mereka. dan orang yang berlebihan memuji mereka itu lebih berbahaya terhadap mereka.” (“Adh Dho’afa”/karya Al ‘Uqoiliy رحمه الله/1/hal. 232/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh Al Wushobiy yang mana dia menjadikan pelaksanaan wasiat sebagai penyia-nyiaan wasiat, dan menjadikan rohmat dan belas kasihan itu tidak ada, itu semua adalah tambahan dalil tentang hizbiyyahnya Wushobiy itu sendiri, dan bahwasanya dia itu adalah pengekor hawa nafsu.

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka hizbiyyah itu menjadikan yang pahit jadi manis, dan yang batil jadi benar. Dan ini adalah dalil terbesar bahwasanya hizbiyyah itu kejahatan yang sangat besar.” (“Al Mauridul ‘Adzb Waz Zulal”/hal. 123-124).


Bab Lima:

Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Sikap Keras Bagi Orang Yang Berhak Mendapatkannya

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Dan jangan sampai ada orang yang berargumentasi dengan fitnah Hajawiroh seraya berkata: (Kami mendengar dari mereka cacian, makian dan boikot). Ini adalah termasuk penyendirian. Ini bukan dari manhaj Ahlussunnah.” “Dan kita berlindung kepada Alloh dari hati-hati yang keras yang bersifat batu, yang membatu, hati jika menjadi seperti batu.”

            Jawabannya adalah sebagai berikut:

Pasal satu:

termasuk dari kebiasan pengekor hawa nafsu adalah menempelkan gelar “Fitnah” kepada orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang sifat munafiqin: “Dan termasuk dari sifat mereka adalah: menyembunyikan kebenaran, membikin kerancuan terhadap pembawa kebenaran, menuduh mereka dengan penyakit yang justru ada pada munafiqin itu sendiri. Maka jika pembawa kebenaran memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta mengajak kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka para munafiqun menuduh mereka sebagai pembawa fitnah-fitnah dan perusak di bumi, padahal Alloh, Rosul-Nya dan para mukminin tahu bahwasanya para munafiqun itulah ahli fitnah dan perusak di bumi.” (lihat secara lengkap sifat-sifat munafiqun di “Thoriqul Hijrotain”/hal. 499-504/Dar Ibni Rojab).

            Sungguh kami telah menjelaskan kuatnya hujjah Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau حفظهم الله dalam kasus ini, dan bahwasanya kebenaran itu bersama mereka –dan kebenaran itu diketahui dengan kekuatan hujjah-. Akan tetapi Al Wushobiy ketika tidak mampu menghantam hujjah dengan hujah pula, berlindunglah dia kepada metode cacian dan tuduhan yang kosong dari bayyinah.

            Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Dan tiada keraguan bahwasanya orang-orang yang mengingatkan manusia tentang kejelekan sebelum terjadinya, maka orang ini adalah penasihat, bukan penyeru kepada fitnah. Dan bahwasanya orang yang mengucapkan ucapan (tuduhan) tadi, maka dia telah memutarbalikkan fakta –sampai pada ucapan beliau:- jika demikian, maka mengingatkan akan adanya kejelekan sebelum terjadinya itu dalam rangka menghindar darinya, maka ini bukanlah termasuk suatu fitnah.” (“Al Fatawal jaliyyah”/ukuran kecil/hal. 39/Darul Atsar).

 

Pasal dua:

Tidak boleh ditiadakan dari manhaj Salaf sikap keras terhadap pengekor hawa nafsu

            Maka ketahuilah bahwasanya caci-makian telah terjadi dari kedua belah pihak. Pihak Ahlussunnah dan pihak ahli bid’ah. Akan tetapi Ahlussunnah jika mencaci, maka mereka itu mencaci dengan jujur, adil dan dengan adanya bukti, berbeda dengan ahli bid’ah. Al Imam Ibnul Qoyyim  berkata dalam “Qoshidah Nuniyyah” (1/hal. 91):

وإذا سببتم بالمحال فسبنا*** بأدلة وحجج ذي برهان

تبدي فضائحكم وتهتك ستركم*** وتبين جهلكم مع العدوان

ما بُعد ما بين السباب بذاكم*** وسبابكم بالكذب والطغيان

من سب بالبرهان ليس بظالم*** والظلم سب العبد بالبهتان

“Dan jika kalian mencaci dengan kemustahilan, maka cacian kami adalah dengan dalil-dalil dan argumentasi yang punya bukti, yang bisa menyingkap aib-aib kalian dan membongkar tabir kalian serta menjelaskan kebodohan kalian yang disertai dengan permusuhan. Alangkah jauhnya perbedaan antara cacian-cacian yang itu, sementara cacian kalian adalah dengan kedustaan dan sikap melampaui batas. Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.”

            Asy Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (“Syarh Nuuniyyah Ibnul Qoyyim” 2/ hal. 340).

            Telah lewat isyarat bahwasanya kekerasan jika diletakkan pada tempatnya maka itu boleh. Dan langkah ini punya dalil dari Al Qur’an. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا﴾ [الإسراء: 102].

 “Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, Hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (QS. Al Isro: 102)

Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾ [التحريم: 9]

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS. At Tahrim: 9)

Termasuk dari contoh sikap keras Rosululloh r terhadap orang yang berhak mendapatkannya, sekalipun bukan orang munafiq, adalah dalam hadits Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَضَى فِى امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا ، فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ ، فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهْىَ حَامِلٌ ، فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِى فِى بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِى بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ ، فَقَالَ وَلِىُّ الْمَرْأَةِ الَّتِى غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ الله مَنْ لاَ شَرِبَ ، وَلاَ أَكَلَ ، وَلاَ نَطَقَ ، وَلاَ اسْتَهَلَّ ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلّ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ »

“Bahwasanya Rosululloh r pernah memutuskan kasus dua orang wanita dari Hudzail yang baku bunuh, salah satunya melempar lawannya dengan batu dan mengenai perutnya –dalam keadaan dia hamil-. Maka dia membunuh janin yang ada di dalam perut wanita yang satunya itu. Merekapun berselisih di hadapan Nabi r. Beliau memutuskan kewajiban untuk membayar diyat janin tersebut berupa pembayaran dengan budak laki-laki atau perempuan. Maka berkatalah wali perempuan yang terkena denda,”Wahai Rosululloh, bagaimana janin yang belum bisa minum itu mendatangkan denda? Dia itu belum bisa makan, belum bisa bicara ataupun melengking. Dan yang seperti itu adalah batal.” Maka Nabi r bersabda tentang orang itu: “Orang ini hanyalah saudaranya dukun.” (HR. Al Bukhori (5758) dan Muslim (4485)).

            Ya’la bin Umayyah رضي الله عنه berkata:

غزوت مع النبي صلى الله عليه وسلم العسرة قال كان يعلى يقول تلك الغزوة أوثق أعمالي عندي. وقال: فكان لي أجير فقاتل إنسانا فعض أحدهما يد الآخر قال: فانتزع المعضوض يده من في العاض فانتزع إحدى ثنيتيه فأتيا النبي صلى الله عليه وسلم فأهدر ثنيته. قال النبي صلى الله عليه وسلم: «أفيدع يده في فيك تقضمها كأنها في في فحل يقضمها».

“Aku pernah berperang bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم perang ‘Usroh (perang Tabuk). Dan perang itu adalah amalan yang paling aku percaya di sisiku. Aku punya pekerja, lalu pekerjaku itu berkelahi dengan seseorang, lalu salah satunya menggigit tangan lawannya. Lalu orang yang tangannya digigit itu mencabut tangannya dari mulut orang yang menggigit sehingga tanggallah salah satu gigi serinya. Maka keduanya mendatangi Rosululloh صلى الله عليه وسلم , lalu beliau membatalkan nilai gigi tadi. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apakah dia akan membiarkan tangannya ada di mulutmu untuk kamu kunyah seakan-akan tangannya ada di mulut onta jantan agar dikunyahnya?” (HR. Al Bukhoriy (4417) dan Muslim (1674)).

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang bercerita:

لما رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم غيرة عائشة رضي الله عنها قال لها: «ما لك يا عائشة أغرت ؟» فقلت: وما لي لا يغار مثلي على مثلك ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «أقد جاءك شيطانك ؟» قالت: يا رسول الله أو معي شيطان ؟ قال: «نعم». قلت: ومع كل إنسان ؟ قال: «نعم». قلت: ومعك يا رسول الله؟ قال: «نعم ولكن ربي أعانني عليه حتى أسلم». (أخرجه مسلم (2815)).

Ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم melihat api kecemburuan A’isyah t, beliau bersabda: “Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah engkau cemburu?” maka aku berkata bagaimana orang semisal saya tidak cemburu pada orang semisal Anda?” maka Rosululloh  bersabda: “Apakah setanmu telah mendatangimu?”. Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah bersama saya ada setan?” Beliau menjawab: “Iya.” Saya bertanya: “Dan bersama setiap orang juga?” Beliau menjawab: “Iya.” Saya bertanya: “Dan bersama Anda wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Iya. Akan tetapi Robbku menolongku menghadapinya hingga dia masuk Islam.” (HR. Muslim (2815)).

            Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما yang berkata:

كان معاذ بن جبل يصلي مع النبي صلى الله عليه و سلم ثم يرجع فيؤم قومه فصلى العشاء فقرأ بالبقرة فانصرف الرجل فكان معاذا تناول منه فبلغ النبي صلى الله عليه و سلم فقال: «فتان فتان فتان». ثلاث مرار أو قال: «فاتنا فاتنا فاتنا» وأمره بسورتين من أوسط المفصل. (أخرجه البخاري (701)).

“Dulu Mu’adz bin Jabal sholat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian di kembali lalu mengimami kaumnya sholat Isya. Maka dia membaca Al Baqoroh. Maka ada orang yang berpaling pergi. Maka Mu’adz mencelanya. lalu berita itu sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم maka beliau berkata: “Tukang membikin fitnah, Tukang membikin fitnah, Tukang membikin fitnah,” sebanyak tiga kali. Atau beliau berkata: “Pembikin fitnah, pembikin fitnah, pembikin fitnah,” lalu beliau memerintahkannya untuk membaca dua surat saja dari pertengahan Mufashshol.” (HR. Al Bukhoriy (701)).

Dan para shahabatpun terkenal punya kecemburuan yang tinggi untuk agama Alloh dan Rasul-Nya, dan bersikap keras terhadap orang yang melakukan  pelanggaran, untuk mencegahnya berbuat itu. Misalnya adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لاَ يَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِى جِدَارِهِ » . ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ مَا لِى أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَالله لأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ.

Abu Huroiroh t berkata bahwasanya Rosululloh r bersabda: “Janganlah seorang tetangga menghalangi tetangganya untuk memasang kayunya di dindingnya.” Lalu Abu Huroiroh berkata,”Kenapa kulihat kalian berpaling darinya? Demi Alloh sungguh aku akan melemparkan kayu tadi di antara kedua pundak kalian.” (HR. Al Bukhori (996) dan Muslim (4215)).

 

سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبِكَالِىَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِى إِسْرَائِيلَ ، إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ . فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ الله

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata,”Aku berkata kepada Ibnu Abbas t: “Sungguhnya Nauf Al Bikali menyangka bahwasanya Musa – yang bersama Khidhr- bukanlah Musa Bani Isroil, akan tetapi hanya dia itu Musa yang lain.” Maka beliau berkata,”Musuh Alloh itu bohong.” (HR. Al Bukhori (112) dan Muslim (6313)).

 

عَنْ أَبِى مَعْمَرٍ قَالَ قَامَ رَجُلٌ يُثْنِى عَلَى أَمِيرٍ مِنَ الأُمَرَاءِ فَجَعَلَ الْمِقْدَادُ يَحْثِى عَلَيْهِ التُّرَابَ وَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ الله –صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَحْثِىَ فِى وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ. (صحيح مسلم – (7697))

Abu Ma’mar -rahimahulloh- berkata,”Seseorang berdiri memuji seorang amir (pemimpin/pejabat) dari umaro, lalu Al Miqdad –bin Aswad- (t) menyiramnya dengan pasir dan berkata,” Rosululloh r memerintahkan kami untuk menyiramkan pasir ke wajah-wajah para tukang puji.” (HR. Muslim (7697))

 

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَمْدَحُ ابْنَ عُمَرَ – قَالَ- فَجَعَلَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ هَكَذَا يَحْثُو فِى وَجْهِهِ التُّرَابَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِى وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ ».

‘Atho bin Abi Robah -rahimahulloh- berkata,”Dulu ada seseorang yang memuji Ibnu Umar (t), maka Ibnu Umar berbuat demikian: menyiram wajahnya dengan pasir dan berkata,”Aku mendengar Rosululloh r bersabda: “Jika kalian melihat para tukang puji maka siramkanlah pasir ke wajah mereka.” (HR. Ahmad (5817)/shohih).

Para Tabi’in dan yang setelah mereka juga terkenal punya kecemburuan yang tinggi untuk agama Alloh dan Rosul-Nya r, dan bersikap keras terhadap orang berilmu yang melakukan  pelanggaran.

Imam Hammad bin Salamah -rahimahulloh- berkata:

حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِىُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى قَوْلِهِ تَعَالَى (فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ) قَالَ قَالَ هَكَذَا يَعْنِى أَنَّهُ أَخْرَجَ طَرَفَ الْخِنْصَرِ. قَالَ أَبِى أَرَانَا مُعَاذٌ قَالَ فَقَالَ لَهُ حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ مَا تُرِيدُ إِلَى هَذَا يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ فَضَرَبَ صَدْرَهُ ضَرْبَةً شَدِيدَةً وَقَالَ مَنْ أَنْتَ يَا حُمَيْدُ وَمَا أَنْتَ يَا حُمَيْدُ يُحَدِّثُنِى بِهِ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَتَقُولُ أَنْتَ مَا تُرِيدُ إِلَيْهِ. (مسند أحمد –  12592)

Tsabit Al Bunani menceritakan kepada kami hadits dari Anas bin Malik dari Nabi r tentang firman Alloh ta’ala: “Manakala Robbnya menampakkan diri-Nya ke gunung itu..” beliau bersabda: “Berbuat demikian” : Mengeluarkan ujung kelingkingnya.

-Ayahku Ahmad berkata: Mu’adz menunjukkan gambarannya kepada kami-

Humaid Ath Thowil berkata kepada Tsabit,”Apa yang anda maukan dengan ini, wahai Abu Muhammad?” Maka dipukulnya dadanya dengan pukulan yang keras dan berkata,”Siapa kamu wahai Humaid? Dan apa kamu ini? Anas bin Malik menceritakan hadits ini dari Nabi r lalu engkau berkata: “Apa yang anda mau?”” (HR. Ahmad (12592))/shohih).

Muhammad bin Wasi’ رحمه الله berkata:

رأيت صفوان بن محرز وأشار بيده إلى ناحية من المسجد ، وشببة قريب منه ، يتجادلون ، فرأيته ينفض ثوبه وقام وقال : إنما أنتم جرب إنما أنتم جرب

“Aku melihat Shofyan bin Muhriz –dan mengisyaratkan ke salah satu sisi masjid- sementara itu beberapa pemuda berdebat di dekatnya. Maka kulihat beliau mengibaskan bajunya dan berdiri seraya berkata,” Kalian itu hanyalah penyakit kudis.” (“Asy Syari’ah”/ Imam Al Ajurri /114).

            Abu Ishaq Ibrohim bin Isa Ath Tholiqoni رحمه الله berkata:

سَمِعْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ لَوْ خُيِّرْتُ بَيْنَ أَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَبَيْنَ أَنْ أَلْقَى عَبْدَ الله بْنَ مُحَرَّرٍ لاَخْتَرْتُ أَنْ أَلْقَاهُ ثُمَّ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلَمَّا رَأَيْتُهُ كَانَتْ بَعْرَةٌ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْهُ.

Aku mendengar Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.” (Muqaddimah “Shohih Muslim”/1/hal. 104).

Imam Asy Syafi’iy رحمه الله berkata:

أخبرني أبو حنيفة بن سماك بن الفضل ، قال : حدثني ابن أبي ذئب ، عن المقبري ، عن أبي شريح الكعبي ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال عام الفتح : « من قتل له قتيل فهو بخير النظرين : إن أحب أخذ العقل ، وإن أحب فله القود » فقال أبو حنيفة : فقلت لابن أبي ذئب ، أتأخذ بهذا يا أبا الحارث ؟ فضرب صدري وصاح علي صياحا منكرا ، ونال مني ، وقال : أحدثك عن رسول الله وتقول : تأخذ به ؟ وذلك الفرض علي وعلى من سمعه ، إن الله تعالى اختار محمدا صلى الله عليه وسلم من الناس فهداهم به وعلى يديه ، واختار لهم ما اختار له على لسانه ، فعلى الخلق أن يتبعوه طائعين أو داخرين ، لا مخرج لمسلم من ذلك قال : وما سكت عني حتى تمنيت أن يسكت.

“Abu Hanifah bin Simak ibnul Fadhl berkata padaku: Ibnu Abi Dzi’b memberiku hadits dari Al Maqburi dari Abu Syuroih Al Ka’biy bahwasanya Rosululloh r bersabda pada tahun fathu Makkah: “Barangsiapa yang salah satu keluarganya terbunuh, maka dia bisa memilih yang terbaik dari dua pilihan: Kalau senang, dia bisa mengambil denda. Dan kalau suka dia bisa memilih qishshosh”. Abu hanifah berkata,”Kukatakan pada Ibnu Abi Dzi’b:”Apakah anda mengambil pendapat ini, wahai Abul Harits?” Maka beliau memukul dadaku dan meneriaki aku dengan teriakan yang belum kukenal, dan mencaci maki aku, serta berkata,”Aku memberimu hadits dari Rosululloh dan engkau berkata: “Apakah anda mengambil pendapat ini?” Yang demikian itu adalah wajib bagiku, dan bagi orang yang mendengarnya. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah memilih Muhammad r dari kalangan manusia dan memberikan hidayah pada mereka melalui beliau dan dengan perantaraan tangan beliau. Dan Dia telah memilihkan untuk mereka apa yang dipilihkan-Nya untuk beliau melalui lisan beliau. Maka wajib atas seluruh makhluk untuk mengikuti beliau dalam keadaan taat atau terhinakan. Tiada jalan keluar bagi seorang muslim dari yang demikian itu.”

Abu Hanifah berkata,”beliau tidak mau diam dariku sampai-sampai aku berangan-angan agar beliau diam.” (“Al Faqih wal Mutafaqqih” 1/hal. 313)

Imam Ar Robi’ bin Sulaiman -rahimahulloh- berkata:

سمعت الشافعي يقول وذكر القرآن وما يقول حفص الفرد ، وكان الشافعي يقول : حفص القرد ، وناظره بحضرة وال كان بمصر فقال له الشافعي رضي الله عنه في المناظرة : كفرت والله الذي لا إله إلا هو ، ثم قاموا ، فانصرفوا ، فسمعت حفصا يقول : أشاط والله الذي لا إله إلا هو الشافعي بدمي قال الربيع : وسمعت الشافعي رحمه الله تعالى يقول : القرآن كلام الله غير مخلوق ، ومن قال : مخلوق فهو كافر

“Aku mendengar Asy Syafi’i berkata, dan menyebutkan tentang Al Qur’an dan apa yang diucapkan Hafsh Al Fard. Dulu Asy Syafi’i menyebutnya:”Hafsh Al Qird (Monyet)([14])”. Beliau berdebat dengan Hafsh dihadiri dengan seorang wali yang ada di Mesir. Beliau berkata pada Hafsh,”Engkau telah kafir, demi Alloh Yang tiada sesembahan yang benar selain Dia.” Kemudian mereka berdiri dan bubar. Lalu aku mendengar Hafsh berkata,”Asy Syafi’i ingin menumpahkan darahku, demi Alloh Yang tiada sesembahan yang benar selain Dia.”

Ar Robi’ berkata,”Aku mendengar Asy Syafii berkata,”Al Qur’an adalah kalamulloh dan bukan makhluk. Dan barangsiapa mengatakan  bahwasanya Al Qur’an itu makhluk, maka dia itu kafir.” (“Asy Syari’ah” no. 127)

Penjelasan ini cukup untuk meruntuhkan kedustaan Muhammad Al Wushobiy. Maka syaikh kami Yahya dan yang bersama beliau حفظهم الله mereka itu ada di atas jalan Al Qur’an dan Sunnah dan Salafush Sholih. Adapun Al Wushobiy dan partainya mereka itu ada di dalam kesesatan yang nyata.

Kemudian Al Wushobiy bersembunyi di balik tabir Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله seraya berkata: “Dulu beliau itu –semoga Alloh merohmatinya- adalah bapak yang sangat penyayang, pengasih kepada seluruh murid, dari penduduk Yaman dan yang selain penduduk Yaman, dan Alloh mewafatkan beliau dalam keadaan para pelajar mendoakan beliau, mendoakan rohmat untuk beliau, mereka tidak mendapati dari beliau kecuali kebaikan dan kasih sayang.”

Al Wushobiy ingin berdalilkan dengan ini semua untuk menunjukkan penyelisihan syaikh kami Yahya حفظه الله terhadap thoriqoh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله . jauh sekali kemungkinannya wahai Wushobiy. Bahkan jalan keduanya itu satu, mengikuti Al Kitab dan As Sunnah serta Salafiyyah dalam masalah sikap keras kepada para penyeleweng.

Imam Al Wadi’i -rahimahulloh- berkata: “Aku pernah bersama Az- Zindani di sisi bapak presiden, lalu kukatakan kepada keduanya,”Aku tantang kalian berdua untuk memberikan bukti bahwasanya kami adalah mutasyaddidun.” Karena mereka berkata bahwa Ahlus Sunnah itu mutasyaddidun. Maka terdiamlah bapak presiden, dan sikap beliau itu patut untuk disyukuri. Abdul Majid Az Zindani berkata:”Adapun aku, maka dalilku adalah kritikanmu terhadap para tokoh.” Maka kukatakan padanya,”Sesungguhnya Nabi r bersabda pada Mu’adz: “Apakah engkau itu tukang fitnah wahai Mu’adz?” Dan bersabda pada Abu Dzarr: “Sesungguhnya engkau adalah orang yang di dalam dirimu ada sifat jahiliyyah.”

            Maka bapak presiden berpaling kepada Abdul Majid Az Zindani yang maknanya adalah,”Apa jawabanmu?” Maka Abdul Majid Az Zindani tak punya pilihan selain berkata,”Sesungguhnya dalil-dalil ini mansukh (telah dihapus).”

            Aku ingin ucapan itu direkam agar para ulama muslimin yang membela para hizbiyyun itu tahu bagaimana mereka menghukumi dail-dalil. Siapakah yang mendahuluimu wahai Abdul Majid dan berkata,”Sesungguhnya dalil-dalil ini mansukh?” Tanyalah pada para ulama kalau memang engkau itu muwaffaq (mendapatkan taufiq).”

(selesai dari “Tuhfatul Mujib” hal. 367)

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله juga berkata: “Maka barangsiapa merasa kasihan pada Ikhwanul Muflisin maka aku telah berkata pada kalian,”Pergilah kamu kepada mereka dan katakan pada mereka,”Bertaqwalah kalian pada Alloh dan saling menolonglah dengan saudara-saudara mereka Ahlussunnah, dan kencingilah hizbiyyah. Dan demikian pula yang lain. Dan menyerulah ke Al Kitab dan As Sunnah.” (“Qom’ul Mu’anid” 1/hal. 73).

Dan bacalah judul kitab Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله tentang bantahan beliau terhadap Yusuf Al Qordhowiy: “Iskatul Kalbil ‘Awi” (membungkam anjing yang menggonggong).

Syaikh kami yang mulia yang pencemburu kepada agama Alloh: Abu Muhammad Abdil Hamid Al Hajuriy حفظه الله menulis kepadaku: “Bahkan manakala Abu Abdillah As Sudaniy menyeleweng, beliau -Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله – mengusirnya, dan beliau berkata keras kepada orang yang memberikan syafaat untuknya.” Selesai.

Adapun ucapan Al Wushobiy: “Ini adalah termasuk penyendirian. Ini bukan dari manhaj Ahlussunnah,” ini cocok untuk dirinya sendiri, karena dia itulah yang menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan Salafiyyah, bahkan dia sendiri yang menyelisihi Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

“Dia menuduhku dengan penyakitnya sendiri dan dia berusaha melepaskan diri dari penyakitnya itu.”

Sesungguhnya dakwah Al Wushobiy adalah dakwah hizbiyyah masa kini([15]), cucuk untuknya ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله: “Setiap orang ingin menyeretmu kepada pemikirannya, dan jika engkau tak bisa diseretnya kepada pemikirannya, maka dia akan mencercamu dan berkata: “Mereka itu adalah orang-orang keras, mereka tidak mengenal kecuali “haddatsana wa akhbarona”, …” (rujuk “Tuhfatul Mujib”/hal. 115/Darul Atsar).

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata: “Apa sih yang dilakukan para salafiyyun selain bahwasanya mereka itu mengingkari kebatilan, mengingkari kesyirikan dan kebid’ahan dalam ceramah-ceramah mereka, karya tulis mereka dan pertemuan-pertemuan mereka.” (rujuk “Ar Roddul Muhabbar”/hal. 110).

Maka Muhammad Al Wushobiy berhak untuk ditinggalkan. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Mereka itulah orang-orang yang berkata,”Ini boleh, dan si Fulan itu mutasyaddid” maka wajib bagimu untuk memperingatkan manusia dari mereka, dan engkau menjauh dari mereka, dan kau tuntut mereka untuk menunjukkan dalilnya.

﴿ويوم يعضّ الظّالم على يديه يقول ياليتني اتّخذت مع الرّسول سبيلاً  يا ويلتى ليتني لم أتّخذ فلانًا خليلا ً لقد أضلّني عن الذّكر بعد إذ جاءني وكان الشّيطان للإنسان خذولاً﴾.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rosul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku.” Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”

(Selesai dari “Tuhfatul Mujib” hal. 115)

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Maka kita jika menaati orang-orang yang hilang dan luntur itu kita tak akan bisa merealisasikan Islam sedikitpun. Maka engkau tak akan terkena kejelekan jika disifati sebagai orang keras. Keras menurut siapa? Menurut orang-orang yang hilang dan luntur. Adapun pada kenyataannya, sesungguhnya sikap keras adalah orang yang mengharomkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, atau naik dengan perkara yang mustahab atau mubah kepada keharoman, dan demikian pula dengan perkara yang mustahab kepada perkara yang wajib. Maka inilah sikap keras, …dst. (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 99).

 

Pasal Tiga:

kontradiksi Muhammad Al Wushobiy

            Muhammad Al Wushobiy berpura-pura menampilkan gaya ucapan yang baik, lalu mencela Ahlussunnah bahwasanya mereka itu lidahnya kotor. Dia berkata: “Dan jangan sampai ada orang yang berargumentasi dengan fitnah Hajawiroh seraya berkata: (Kami mendengar dari mereka cacian, makian dan boikot). Ini adalah termasuk penyendirian. Ini bukan dari manhaj Ahlussunnah.”

            Dan dia sendiri berkata dalam risalah dia “Nashoihu ‘Ulamail Ummah” hal. 50: “Maka engkau wajib untuk tenang. Dan jika dikatakan padamu: “Wahai sapi” maka memang benar bahwasanya engkau itu sapi. Dan bisa jadi sapi itu lebih baik daripada dirimu dalam masalah ketenangan. Engkau hendak adu tanduk dengan siapa? Adu tanduk dengan ulama? Apakah engkau tidak malu? Engkau tidak malu akan dirimu sendiri? Benarlah Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika bersabda:

«إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

“Sesungguhnya di antara perkara yang didapati oleh manusia dari ucapan kenabian: jika engkau tidak malu maka kerjakanlah apa yang engkau maukan.”

Diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dari Abu Mas’ud رضي الله عنه. Sapi tidak beradu tanduk dengan ulama, sedangkan engkau beradu tanduk dengan ulama. Sapi tidak beradu debat dan tidak ikut memperbincangkan seperti apa yang engkau perbincangkan. Maka engkau jika dikatakan padamu: “Sapi” dan maafkanlah aku. Sebagian orang tidak sesuai untuk dia kecuali tongkat Umar رضي الله عنه. Tongkat Umar dengan pukulan, sedangkan aku dengan ucapan. Jika dikatakan pada orang yang terlalaikan ini: “Wahai sapi (بقرة)” atau: “Wahai sapi (ثور)” maka sapi itu lebih baik daripada dia. Dan sapi tidak ikut memperbincangkan perkara-perkara ini. Sapi itu tahu kadar dirinya sendiri, sementara orang ini tidak tahu kadar dirinya sendiri.” Selesai.

            Maka lihatlah kesombongan Muhammad Al Wushobiy terhadap nasihat-nasihat yang benar, dan penghinaannya terhadap orang-orang yang menampilkan kebenaran dari kalangan para pelajar, dan Wushobiy menamakan mereka dengan: “Baqor (sapi)” atau “Tsaur (sapi)”, bahkan sapi itu menurut dia lebih baik daripada mereka. Asy Syaikh Al Fadhil Al Ghoyur Abu Hamzah Muhammad ibnul Husain bin Umar Al ‘Amudiy telah membantahnya dalam risalah beliau: “Tholi’atur Rududis Sadidah ‘Ala Risalah Nashoihi Ulamail ‘Ummah Li Jami’iha Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله Wa Ta’shilatihil Jadidah.” Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

            Dan setelah disaya selesai menulis risalah ini, saya mendengar rekaman kekejian ucapan Al Wushobiy di sela-sela ceramah dia di hari-hari hasungan dia untuk para masyayikh agar menimpakan serangan terhadap syaikh kami Yahya dan orang-orang yang bersama beliau حفظهم الله , dan pada hari-hari dia mengesankan bagusnya ucapan dia, kelembutannya dan kasih sayangnya. Al Wushobiy هداه الله berkata: “Sampai kapan kalian dia?!!” “Apakah kalian takut pada Al Hajuriy?! Tukang berak dan tukang kencing,” “Al Hajuriy itu manusia yang berak dan kencing, dia tak punya wewenang dalam perkara ini sedikitpun. Dia anak muda yang liar, … dia benar-benar menginjak-injak dunia sementara kalian diam saja.” “Janganlah kalian takut dijatuhkan oleh dia, sampai bahkan jika dia menurunkan untuk kalian seribu malzamah atau sejuta malzamah.” “Di manakah Al Imam?” “Di manakah Al Buro’iy?” “Di manakah Ash Shoumali?” “Di manakah Adz Dzammariy?” “Wahai masyayikh, obatilah situasi ini, … aku telah berupaya dan terus berupaya, … tapi mereka tak mau mengambil ucapanku!!! Ya Alloh saksikanlah, ya Alloh saksikanlah.” “Agama ini tiada di dalamnya campuran,” “Campuran”, “Asy Syaikh Robi’ keliru, tidak mendapatkan taufiq dalam sikap diamnya.” “Para masyayikh keliru, bayan-bayan mereka tidak cukup.”

Selesai penukilan dari ucapan-ucapannya (diucapkannya pada hari Jum’at 15 Shofar 1434 H di desa Qo’abilah di Tihamah, sebagaimana yang disebutkan oleh akh yang mulia Kholid Al Ghirbaniy).

 

Daftar Isi

جدول المحتويات

Pengantar Penerjemah. 3

Kata Pengantar Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله.. 5

Pembukaan Penulis عفا الله عنه. 13

Bab Satu: Tahapan Fitnah Dengan Membikin Kesan Perbandingan Antara Si Wushobiy dengan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله   14

Bab Dua: Upaya Mengguncang Hati Pelajar Asing Untuk Membenci Syaikh Kami Yang Penyabar Yahya Al Hajuriy حفظه الله   20

Pasal satu: Jelasnya Upaya Abdurrohman Al ‘Adniy dan Anak-buahnya dan Membikin Fitnah Terhadap Darul Hadits di Dammaj 20

Pasal Dua: Buruknya Perbuatan Sebagian Pelajar Asing. 26

Pasal tiga: sekedar tangisan bukanlah dalil tentang kesesuaian dengan kebenaran. 30

Pasal empat: pengusiran para perusak itu disyariatkan dalam agama Alloh. 31

Pasal lima: bagusnya kehidupan pelajar asing yang kokoh di atas kebenaran di darul Hadits di Dammaj 42

Bab Tiga: Al Wushobiy Memutarbalikkan Fakta Tentang Kasus Penjagaan Markiz Sunnah. 44

Bab Empat: Kebodohan Al Wushobiy Terhadap Tuntutan Rohmat 50

Bab Lima: Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Sikap Keras Bagi Orang Yang Berhak Mendapatkannya. 58

Pasal satu: termasuk dari kebiasan pengekor hawa nafsu adalah menempelkan gelar “Fitnah” kepada orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar 58

Pasal dua: Tidak boleh ditiadakan dari manhaj Salaf sikap keras terhadap pengekor hawa nafsu. 59

Pasal Tiga: kontradiksi Muhammad Al Wushobiy. 68

Daftar Isi 71

 

 

 

 


(([1])) Asy Syaikh Jammal berkata: Jika Salim Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan-penukilan ini maka pendustaannya itu tak bisa diterima karena berita tadi tidaklah diterima dari jalanan atau dari orang rendahan atau orang majhul semisal perserikatan Ibnu Mar’i Al Barmakiyyah, karena berita tadi adalah penukilan dari orang-orang yang lurus agamanya yang terkenal dengan amanah dan kejujuran. Tinggallah kewajiban Ibnu Muhriz untuk mengumumkan tobat secara terang.

(([2])) Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

(([3])) Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagainya, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian  pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

(([4]))  Risalah ini beliau sebarkan pada awal fitnah, sekitar tiga tahun yang lalu. Adapun sekarang markiz Fuyusy telah berdiri.

([5]) Termasuk dari itu adalah: “Asy Syaikh Yahya itu bisa jadi adalah pendusta, dan bisa jadi adalah orang yang jelek,” ringkasan dari lembaran dia.

([6]) Saya dapati dari sela-sela perbuatan Abu Kholid هداه الله bahwasanya dia menempuh langkah para hizbiyyin dalam upaya menjatuhkan para saksi dan menolak persaksian mereka jika tidak sesuai dengan huruf-hurufnya dan lafazhnya, atau dekat sekali dengan ucapan aslinya. Dan itu semua telah terjadi.

([7]) Abdul Karim bin Abil Mukhoriq ini adalah Abu Umayyah. Nama ayahnya kabarnya adalah Qois Al Bashriy Al Mu’allim. Abdul Karim ini matrukul hadits menurut Ayyub, Yahya, Ibnu Mahdi, Ahmad bin Hanbal, An Nasa’iy dan Ad Daroquthniy.

([8])  HR. Abu Dawud (4832) dan At Tirmidzi (2395), dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه di dalam sanadnya ada Al Walid bin Qois At Tujibiy, ditsiqohkan oleh Al ‘Ijliy dan disebutkan dalam Ats Tsiqot Ibnu Hibban. Tiada ulama mu’tabar yang mentsiqohkannya, tapi haditsnya digabung dengan seluruh pendukung dalam bab ini bisa dihasankan.

([9])  HR. Abu Dawud (4835) dan At Tirmidzi (2552), dari Abu Huroiroh رضي الله عنه. Shohih.

([10])  HR. Muslim (2231), dari Asy Syarid رضي الله عنه.

([11])  Kecuali pengekor hawa nafsu, dia diboikot sampai dia bertobat, sebagaimana telah diketahui bersama. Sebagaimana yang diucapkan oleh Abdulloh bin Mughoffal رضي الله عنه berkata pada kerabatnya: “Aku menyampaikan padamu hadits bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang dari ini, kemudian engkau tetap saja mengetapel. Aku tak akan mengajakmu bicara selamanya.” (HR. Al Bukhoriy (5479) dan Muslim (1954)).

            Al Imam Al Baghowiy رحمه الله berkata: “Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengabarkan tentang perpecahan umat ini, dan munculnya hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah pada mereka, dan menghukumi bahwasanya orang yang mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Shohabatnyaرضي الله عنهم itulah yang selamat. Maka seorang muslim jika melihat ada orang yang melakukan sesuatu dari hawa nafsu dan kebid’ahan dengan meyakininya, atau meremehkan sesuatu dari sunnah, dia wajib untuk memboikotnya dan berlepas diri darinya serta meninggalkannya hidup dan mati, dia tidak disalami jika bertemu, tidak dijawab jika dia memulai salam, sampai dia meninggalkan kebid’ahannya dan kembali kepada kebenaran.” (“Syarhus Sunnah”/Al Baghowiy/1/hal. 224).

([12]) Sebelum syaikh kami Yahya حفظه الله berbicara  tentang Abdurrohman Al ‘Adniy.

([13]) Lihat “Haqoiq Wa Bayan” (hal. 28) dan “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 9)

([14]) Dalam naskah lain:”Al Munfarid (yang menyendiri)”

([15])  Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya dakwah masa kini kebanyakannya telah menjadi dakwah hizbiyyah, … dst.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 122).

lihat juga di   http://ashhaabulhadiits.blogspot.com/2013/01/mematahkan-taring-muhammad-al-wushobiy.html