Mematahkan Taring Muhammad Al Wushobiy

Yang Menyembul Di Balik Cadar Hizbiy

(bagian kedua/akhir)

 

Dengan Kata Pengantar:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad

Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظه الله

 

 

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Al Indonesiy

عفا الله عنه

بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:

“Kasrul Anyabil Barizah Tahtan Niqob

(Niqosyun ‘Ilmiyyun Ma’a Ibni Abdil Wahhab Shohibi Wushob)”

 

Terjemah Bebas:

“Mematahkan Taring Muhammad Al Wushobiy

Yang Menyembul Di Balik Cadar Hizbiy”

 

 

Dengan Kata Pengantar:

Asy Syaikh Al Fadhil Abu Muhammad

Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy

حفظه الله

 

 

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Al Indonesiy

عفا الله عنه

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penerjemah

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأه محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين، وأما بعد:

            Sesungguhnya hanya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan terjemah dari bagian kedua dari risalah ini. Semoga Alloh memberikan manfaat untuk kita semua.

            Dan juga saya menyadari betapa banyaknya kesalahan yang saya perbuat sebagai manusia biasa, kepada Alloh dan juga kepada para ikhwah sekalian, maka dengan perantaraan pengantar terjemah risalah ini  saya mohon ampun pada Alloh Yang Mahaagung atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah berlalu.

            Dan dari Abu Musa Al Asy’ariy رضي الله عنه yang berkata: Dari Nabi صلى الله عليه وسلم dulu banyak berdoa dengan doa ini:

«اللهم اغفر لي خطيئتي وجهلي وإسرافي في أمري وما أنت أعلم به مني اللهم اغفر لي جدي وهزلي وخطئي وعمدي وكل ذلك عندي اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت وما أنت أعلم به مني أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير». (أخرجه مسلم (2719)).

“Wahai Alloh, ampunilah kesalahan saya, kebodohan saya, sikap saya yang berlebihan dalam urusan saya, dan apa saja yang Engkau ketahui dari saya. Wahai Alloh, ampunilah keseriusan saya, canda saya, kesalahan yang tidak saya sengaja, kesalahan yang saya sengaja, dan itu semua ada pada saya. Wahai Alloh, ampunilah kesalahan saya yang terdahulu, yang belakangan, yang saya rahasiakan, yang saya umumkan, dan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada saya. Engkaulah Yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan. Dan Engkau Mahamampu terhadap segala sesuatu.” (HR. Muslim (2719)).

            Dan saya mohon maaf kepada segenap ikhwah di sini dan di negri kita dan di manapun mereka berada atas seluruh kesalahan yang datang dari saya baik secara langsung ataupun tidak langsung, dan atas seluruh kekurangan saya dalam upaya dan tugas melayani umat Islam dan urusan yang-lain-lain.

 

Dari Abu Dzar رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang apa yang beliau riwayatkan dari Alloh تبارك وتعالى bahwasanya Dia berfirman:

«يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا، يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم، يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم، يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم. يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم». الحديث.

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman, dan Aku jadikan kezholiman itu harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mohonlah petunjuk pada-Ku, Aku akan beri kalian petunjuk. Wahai para hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan, maka mohonlah makanan pada-Ku, maka Aku akan beri kalian makanan. Wahai para hamba-Ku, kalian semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian pada-Ku, maka Aku akan beri kalian pakaian. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mohonlah ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian.” Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (2577)).

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَا يُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾ [البقرة: 286]

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum Kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rohmatilah kami. Engkaulah Penolong Kami, maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”

 

            Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾ [آل عمران: 147].

“Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Robb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

 

Rosululloh – عليه الصلاة السلام – juga bersabda:

)(منْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ()

“Barangsiapa yang punya kezholiman terhadap saudaranya, baik terhadap kehormatannya atau sesuatu apapun, maka mintalah dihalalkan darinya hari ini sebelum dinar dan dirham tidak ada lagi. Kalau dia punya amal sholih, diambillah darinya sesuai kadar kezholimannya. Tapi jika dia tak punya kebaikan, diambillah dari kejelekan temannya tadi dan dipikulkan kepadanya.” (HR. Al Bukhoriy (2449) dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu).

            Dan saya mengharapkan kelapangan dada seluruh Muslimin untuk saudara mereka ini dengan pemaafan dan membuka lembaran baru yang penuh dengan persaudaraan, karena sesungguhnya Alloh menyayangi para hamba-Nya yang penyayang. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [النور: 22].

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

            Alloh Yang Mahasuci juga berfirman:

﴿قَالُوا تَالله لَقَدْ آثَرَكَ الله عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ * قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ الله لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾ [يوسف: 91، 92]

“Mereka berkata: “Demi Alloh, sesungguhnya Alloh telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Alloh mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”.

            Dan Alloh Yang mulia penyebutan-Nya berfirman:

﴿قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ * قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾ [يوسف: 97، 98].

“Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, kesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

            Dan saya banyak bersyukur kepada Alloh ta’ala atas tarbiyyah dan seluruh kenikmatan-Nya selama ini, dan Dia tidak membiarkan saya terus-menerus dalam kesalahan, tapi bahkan memberikan taufiq kepada sebagian saudara yang menyayangi saya sehingga mau mencurahkan nasihatnya kepada saya.

            Saya sangat bersyukur kepada para ikhwah yang telah menasihati saya dan menyadarkan saya dari kesalahan-kesalahan yang ada. Semoga Alloh memberikan pahala yang sangat besar kepada para ikhwah tadi.

Al Imam Ibnu Mahdi رحمه الله berkata: Dulu kami pernah menghadiri jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim. Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di sekeliling beliau. Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan. Ternyata dia menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian. Hanya saja aku tidak ingin membantahnya. Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu kecil. Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada aku menjadi kepala dalam kebatilan.” (“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308/sanadnya hasan).

 

            Semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk dari kalangan para hamba yang menyadari kadar dirinya dan bersemangat untuk membersihkan dari dari kesombongan dan segala macam dosa dan kekurangan. Alloh ta’ala berfirman:

]إِنَّ الله يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ[ [البقرة/222]

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang banyak bertobat dan mencintai orang-orang yang bersuci.”

            Atas kurang dan lebihnya dari pernyataan ini, saya mohon dimaafkan.

            Ustadz ahli balaghoh Al Qodhi yang mulia Abdurrohim Al Baisaniy menulis surat kepada Al ‘Imad Al Ashfahaniy mengemukakan udzur tentang suatu ucapan yang beliau kritik terhadapnya: “Sesungguhnya telah terjadi pada saya sesuatu, dan saya tidak tahu apakah itu terjadi juga pada Anda ataukah tidak? Inilah saya sekarang akan mengabarkan pada Anda tentang itu. Dan yang demikian itu dikarenakan saya melihat bahwasanya tidaklah seseorang itu menulis kitab pada hari itu kecuali dia pasti akan berkata pada esok harinya: “Seandainya aku mengganti ini niscaya lebih baik. Dan jika ditambahi pastilah lebih bagus. Dan andaikata yang ini didahulukan pastilah lebih utama. Dan jika yang ini ditinggal pastilah tulisan ini lebih cantik.” Dan ini termasuk pelajaran yang paling besar, dan menjadi dalil tentang dominasi kekurangan pada mayoritas manusia.”

Selesai.

(“Kasyfuzh Zhunun”/Haji Kholifah/1/hal. 14).

Selamat menyimak.

جزاكم الله خيرا.

 


Bab Enam:

Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Upaya Mengingkari Kemungkaran dengan Kitab

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Dulu tidak terjadi wala wal baro semacam ini, pembikin terkenal orang yang diingkari, malzamah-malzamah disebar, cacian, makian, boikot, pemutusan hubungan, tidak didapatkan yang semisal dengannya di dalam sejarah sama sekali. Ini adalah bid’ah zaman ini, bid’ah Hajuriyyah yang syadzdzah (menyendiri), Islam berlepas diri dari bid’ah tadi, berlepas diri dari perlakuan yang kasar seperti ini, sunnah benar-benar berlepas diri.”

            Dia juga berkata (menyindir Syaikh Yahya): “Engkau wahai Ummu Fulan, tulislah malzamah, engkau –perempuan-, tampilkanlah malzamah milikmu!!”

            Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

Pasal satu:

disyariatkannya berdakwah dengan memakai kitab

            Sesungguhnya amar ma’ruf dan nahi munkar, saling menasihati, memperkokoh hati saudara dengan memakai kitab adalah disyariatkan, tanpa ada yang bisa membantah pensyariatan ini. Maka termasuk dari dalil-dalil yang menunjukkan pensyariatan ini adalah firman Alloh ta’ala dalam kisah Sulaiman عليه السلام:

﴿قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ * اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ * قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ * إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ﴾ [النمل: 27 – 31].

“Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) kitabku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

            Dan dari Abu Sufyan رضي الله عنه tentang kisah Hirqol (Heraklius):

ثم دعا بكتاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقرأه فإذا فيه: «بسم الله الرحمن الرحيم من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد فاني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين فإن توليت فان عليك إثم الأريسيين و ﴿يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم أن لا نعبد إلا الله – إلى قوله – اشهدوا بأنا مسلمون﴾ ». (أخرجه البخاري (7) ومسلم (1773)).

“Kemudian Hirqol meminta dibawakan kitab Rosululloh صلى الله عليه وسلم lalu dia membacanya, ternyata di dalamnya: “Dengan nama Alloh Ar Rohman (Yang Mahaluas rohmat-Nya) dan Ar Rohim (Yang Merohmati makhluk yang dikehendaki). Dari Muhammad Utusan Alloh, kepada Hirqol Pembasar Romawi. Salam sejahtera kepada orang yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu: sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah engkau, maka engkau akan selamat. Dan masuk Islamlah engkau maka Alloh akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau akan memikul dosa Arisiyyin (para petani, para penduduk Romawi). Dan: “Wahai Ahlal Kitab, kemarilah kalian kepada kalimat yang sama antara kami dan kalian: hendaknya kita tidak beribadah kecuali kepada Alloh –sampai pada firman Alloh:- dan saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang Islam.” (HR. Al Bukhoriy (7) dan Muslim (1773)).

            Ibnul Mubarok رحمه الله dalam kitab “Al Jihad” karya beliau berkata: “Dari Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya yang berkata: “Sampai kepada Umar berita bahwasanya Abu Ubaidah terkepung di Syam, dan musuh mendesak beliau. Maka Umar menulis surat kepada beliau: “Kemudian sesudah itu, sesungguhnya tidaklah suatu kesulitan menimpa seorang hamba yang mukmin kecuali Alloh akan menjadikan setelah itu jalan keluar, dan sesungguhnya satu kesulitan tak akan bisa mengalahkan dua kemudahan.

﴿يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ورابطوا﴾، الآية [ آل عمران: 200 ].

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)”.

            Maka Abu Ubaidah membalas surat beliau: “Kemudian sesudah itu: maka sesungguhnya Alloh berfirman:

﴿أنما الحياة الدنيا لعب ولهو﴾، إلى قوله: ﴿متاع الغرور﴾ [ الحديد: 20 ]،

“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau –sampai pada firman Alloh:- “Kesenangan yang menipu.”

            Maka Umar keluar dengan membawa kitab Abu Ubaidah seraya membacakannya di atas mimbar. Lalu beliau berkata: “Wahai penduduk Madinah! Abu Ubaidah menyampaikan kalimat kiasan pada kalian atau kepadamu! Bersemangatlah kalian untuk jihad!” (“Siyar A’lamin Nubala”/1/hal. 15-16).

            Dari Syu’bah رضي الله : dari Qois bin Muslim, dari Thoriq: Bahwasanya Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah tentang wabah Tho’un (yang tengah menghantam Amwas, wilayah kekuasaan Abu Ubaidah): “Sesungguhnya aku ada kebutuhan, dan aku merasa butuh kepadamu untuk mengurusi kebutuhan itu (yaitu: kembalilah Anda ke Madinah).” Manakala Abu Ubaidah membaca kitab itu, beliau berkata (pada orang di samping beliau): “Aku tahu kebutuhan Amirul Mukminin, sesungguhnya beliau ingin tetap hidupnya orang yang tidak bisa hidup kekal (yaitu: ingin Abu Ubaidah selamat dari wabah itu),” maka beliau menulis jawaban: “Sesungguhnya saya mengetahui kebutuhan Anda. Maka bebaskanlah saya dari perintah wajib Anda, karena sungguh saya ada di tengah tentara dari tentara-tentara muslimin, saya tidak senang mengutamakan diri saya sendiri daripada mereka (yaitu: saya akan tetap menemani pasukan saya di Amwas).” Ketika Umar membaca kitab itu, beliaupun menangis. Maka ditanyakan kepada beliau: “Apakah Abu Ubaidah meninggal?” beliau menjawab: “Belum, dan seakan-akan telah datang kematian itu padanya.”

            Lalu meninggallah Abu Ubaidah, dan kemudian Tho’un tadi menghilang.” (“Siyar A’lamin Nubala”/1/hal. 18-19).

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan termasuk yang menyerupai apa yang kami sebutkan adalah jawaban Al Imam Malik رحمه الله kepada Al ‘Amriy Al ‘Abid. Yang demikian itu dikarenakan Abdulloh bin Abdil ‘Aziz Al ‘Amriy Al ‘Abid menulis surat kepada beliau, mendorong beliau untuk menyendiri dan beramal dan menyukai itu daripada orang-orang berkumpul untuk menuntut ilmu kepada beliau. Maka beliau menjawab suratnya dengan berkata: “Sesungguhnya Alloh عز وجل membagi-bagi amalan sebagaimana membagi-bagi rizqi. Maka terkadang ada orang yang dibukakan untuknya amalan sholat tapi tidak dibukakan untuknya amalan puasa. Orang yang lain dibukakan untuknya amalan shodaqoh tapi tidak dibukakan untuknya amalan puasa. Orang yang lain dibukakan untuknya amalan jihad tapi tidak dibukakan untuknya amalan sholat. Dan penyebaran ilmu dan pengajarannya itu adalah termasuk berbakti yang terbaik. Dan aku telah ridho dengan apa yang dibukakan oleh Alloh untukku. Dan aku tidak mengira bahwasanya amalan yang aku ada di atasnya itu itu di bawah amalan yang engkau ada di atasnya. Dan aku berharap kita semua ada di atas kebaikan. Dan setiap kita wajib untuk meridhoi apa yang dibagikan untuknya. Salam sejahtera.” (“At Tamhid”/7/hal. 185).

            Muhammad bin Wadhdhoh رحمه الله berkata: “Dulu Abdulloh Al Amir termasuk orang sholih yang bertaqwa yang rajin beramal. Beliau meriwayatkan ilmu yang banyak, menpelajari pendapat, mengetahui hadits, menghapal Al Qur’an, belajar fiqh, banyak berpuasa. Dan beliau setia dengan sholat di masjid Jami’. Setiap kali beliau melewati shof, orang-orang berdiri untuknya. Maka Sa’id bin Himyar menulis surat kepada beliau: “Wahai Imam, Anda adalah termasuk orang-orang yang bertaqwa, dan manusia itu hanyalah berdiri untuk Robbul alamin. Maka janganlah Anda rela ketidakbenaran terjadi pada rakyat Anda, karena sesungguhnya kemuliaan itu semuanya hanyalah untuk Alloh.” Maka beliau memerintahkan masyarakat untuk meninggalkan perbuatan tadi. Ternyata mereka tak mau berhenti. Maka ketika itulah beliau membangun suatu jalan yang terkenal dari istananya ke Jami’ Maqshuroh. (“Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 264).

            Ahmad bin Jamil Al Marwaziy رحمه الله berkata: Dikatakan kepada Ibnul Mubarok: “Sesungguhnya Ismail bin Ulayyah telah memegang urusan pengadilan.” Maka beliau menulis surat kepadanya:

يا جاعل العلم له بازيا * يصطاد أموال المساكين

احتلت للدنيا ولذاتها * بحيلة تذهب بالدين

فصرت مجنونا بها بعدما * كنت دواء للمجانين

أين رواياتك في سردها * عن ابن عون وابن سيرين

أين رواياتك فيما مضى * في ترك أبواب السلاطين

إن قلت أكرهت فماذا كذا * زل حمار العلم في الطين

 

“Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangannya, yang dengannya engkau menjaring harta orang-orang miskin,

Engkau membikin upaya untuk mendapatkan dunia dan keledzatannya, dengan tipu daya yang menghilangkan agama,

Maka dengan itu jadilah engkau orang gila setelah dulunya engkau menjadi obat bagi orang-orang yang gila.

Di manakah riwayat-riwayatmu yang engkau paparkan dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin?

Di manakah riwayat-riwayatmu yang telah lewat tentang dalil untuk meninggalkan pintu-pintu para penguasa?

Jika engkau berkata: “Aku dipaksa” maka ada apa yang demikian itu? Keledai ilmu tergelincir di tanah liat.”

(selesai dari “Siyar A’lamin Nubala”/8/hal. 411-412).

            Salim bin Manshur bin ‘Ammar berkata di majelis Rouh bin Ubadah bahwasanya Bisyr Al Marisiy menulis surat pada ayahnya (Manshur bin ‘Ammar): “Kabarkan padaku: apakah Al Qur’an itu kholiq (pencipta) ataukah makhluk?” maka beliau menulis surat kepadanya: “Semoga Alloh menyelamatkan kami dan engkau dari setiap fitnah, dan menjadikan kami dan engkau termasuk dari Ahlussunnah Wal Jama’ah, karena sesungguhnya jika Alloh melakukan itu, maka alangkah besarnya nikmat tersebut. Tapi jika tidak demikian, maka dia ini adalah kebinasaan. Dan tidak ada seorangpun yang punya hujjah terhadap Alloh setelah diutusnya para Rosul. Kami berpandangan bahwasanya pembicaraan tentang Al Qur’an adalah bid’ah, bersekutu di dalam bid’ah tadi si penanya dan si penjawab. Dan si penanya melakukan perkara yang bukan menjadi hak dia, sementara si penjawab membebani diri dengan perkara yang tidak menjadi kewajiban dia. Dan aku tidak mengetahui adanya pencipta selain Alloh. Adapun yang selain Alloh adalah makhluq. Dan Al Qur’an adalah Kalamulloh. Maka berhentilah dengan dirimu sendiri dan orang-orang yang berselisih denganmu kepada nama-nama-Nya yang dengannya Alloh menamakan diri-Nya dengan nama-nama itu, agar jadilah engkau termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuk. Dan janganlah engkau menamakan Al Qur’an dengan suatu nama dari sisimu sehingga engkau menjadi termasuk orang-orang yang tersesat. Semoga Alloh menjadikan kami dengan engkau termasuk dari orang-orang yang takut kepada-Nya meskipun tidak melihat-Nya, dalam keadaan mereka itu merasa takut kepada hari Kiamat.” (“Tarikh Baghdad”/3/hal. 193).

            Dan Ahmad ibnul Mu’addil رحمه الله berkata: “Ibnu Abu Duad menulis surat kepada Rojab, salah seorang penduduk Madinah dan mengira bahwasanya dirinya itu adalah Abdulloh bin Musa bin Ja’far bin Muhammad: “Jika engkau membai’at Amirul Mukminin dalam ucapannya itu, maka engkau pasti akan mendapatkan ganjaran yang bagus dari beliau. Tapi jika engkau tidak mau, maka engkau tidak aman dari perkara buruk dari beliau.” Maka Rojab menjawab suratnya: “Semoga Alloh menjaga kami dan engkau dari setiap fitnah, dan seakan-akan jika Alloh melakukan itu, maka alangkah besarnya nikmat tersebut. Tapi jika tidak demikian, maka dia ini adalah kebinasaan. Kami berpandangan bahwasanya pembicaraan tentang Al Qur’an adalah bid’ah, bersekutu di dalam bid’ah tadi si penanya dan si penjawab. Dan si penanya melakukan perkara yang bukan menjadi hak dia, sementara si penjawab membebani diri dengan perkara yang tidak menjadi kewajiban dia. Dan aku tidak mengetahui adanya pencipta selain Alloh. Adapun yang selain Alloh adalah makhluq. Dan Al Qur’an adalah Kalamulloh. Maka berhentilah dengan dirimu sendiri dan rasa takutmu kepada nama Dia yang Dia menamai diri-Nya dengan itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyeleweng dalam nama-nama-Nya. Mereka akan dibalas dengan apa yang dulu mereka lakukan. Dan janganlah engkau menamakan Al Qur’an dengan suatu nama dari sisimu sehingga engkau menjadi termasuk orang-orang yang tersesat.” Ketika Ibnu Abi Duad membaca jawaban itu, dia berpaling darinya dan tidak menyebutnya.” (“Tarikh Baghdad”/2/hal. 243).

Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).

            Penjelasan ini cukup untuk meruntuhkan kedustaan Muhammad Al Wushobiy dalam perkataannya:Dulu tidak terjadi wala wal baro semacam ini, pembikin terkenal orang yang diingkari, malzamah-malzamah disebar, cacian, makian, boikot, pemutusan hubungan, tidak didapatkan yang semisal dengannya di dalam sejarah sama sekali. Ini adalah bid’ah zaman ini, bid’ah Hajuriyyah yang syadzdzah (menyendiri), Islam berlepas diri dari bid’ah tadi, berlepas diri dari perlakuan yang kasar seperti ini, sunnah benar-benar berlepas diri.”

            Bahkan upaya Muhammad Al Wushobiy untuk menghalangi penyebaran malzamah-malzamah Ahlul haq itu termasuk membebek pada pengekor hawa nafsu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkomentar tentang tentara setan: “Dan mereka berupaya agar tidak muncul dari pihak hizbulloh (golongan Alloh) dan Rosul-Nya perkataan, ataupun kitab. Dan mereka mengeluh dan resah dengan munculnya kitab “Al Akhna’iyyah”([1]). Maka Alloh ta’ala justru mempekerjakan mereka hingga mereka menampakkan perkara yang berlipat-lipat dan lebih besar dari yang demikian tadi,  dan mengharuskan mereka untuk memeriksa dan meneliti kitab tadi, dan tujuan mereka adalah untuk menampakkan kekurangan dari kitab tadi” dst (“Majmu’ul Fatawa” 28/hal. 58).

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata tentang sikap “Syababush Shofwah” terhadap orang yang dengan cara yang benar mengkritik kebatilan-kebatilan para pemimpin mereka: “Mereka memusuhi orang itu sekalipun kritikan orang itu ditujukan kepada kebid’ahan dan kesyirikan, dan mereka membikin orang-orang tidak butuh pada kitab si pengkritik, sekalipun dia telah menunjukkan pada mereka tempat yang dikritik itu di dalam kitab-kitab yang mengandungnya, lengkap dengan nomor halamannya. Mereka memusuhi si pengkritik sampai bahkan memusuhi orang yang membagi-bagikan dan menyebarkan kritikan tadi, sekalipun yang mereka musuhi itu termasuk dari orang yang punya jasa dan karunia pada mereka. Mereka menuduhnya sebagai orang yang tolol, bodoh, sekalipun si pengkritik itu cerdas dan pintar bagaikan Iyas (bin Mu’awiyah).” (muqoddimah “Al Mauidul ‘Adzb”/hal. 47-48).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Maka sururiyyun itu ada di Yaman. Ketika kitab Farid Al Malikiy yang berbicara tentang sururiyyah itu tiba, jadilah para sururiyyun itu lari ke orang yang ingin memfotokopinya dan hendak menjualnya, mereka berkata padanya: “Bertaqwalah engkau pada Alloh, janganlah engkau memecahbelah kalimat muslimin…” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 18).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Adapun orang-orang yang terfitnah dengan hizbiyyah atau filsafat masa kini atau membela ahli batil, maka sungguh mereka itu mengingkari kitab ini –yaitu: As Suyuful Batiroh- dan melarikan orang darinya, …dst” (“As Suyuful Batiroh”/pengantar cet. Kedua/hal. 5).

            Maka termasuk dari para hizbiyyun yang mengingkari kitab-kitab bantahan terhadap ahli batil adalah: Muhammad Al Wushobiy.

            Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata: “Dan termasuk perkara yang akan kusebutkan sekarang ini tentang Asy Syaikh Muhammad adalah bahwasanya dia memandang bahwasanya bantahan-bantahan kita terhadap Falih Al Harbiy, terhadap Abul Hasan Al Ma’ribiy, terhadap Adnan ‘Ar’ur, terhadap Al Maghrowiy itu semua adalah mainan saja. Dia telah terang-terangan mengucapkan ini untuk kita di majelis di Hudaidah. Aku sebutkan ini untuk kuterangkan bahwasanya orang ini bermain-main dengan tali-temali. Asy Syaikh Al Buro’iy ketika itu berkata padanya: “Abul Hasan punya kesalahan, dan mereka telah membantahnya.” Asy Syaikh Muhammad menjawab: “Iya, iya, tetapi !!” ucapannya terpeleset. Benar wahai ikhwan, orang ini (Muhammad Al Wushobiy), kami tidak tahu kemanakah dia akan pergi?! (risalah “Al Wala Wal Baroidh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 8).

Faidah:

            Barangkali ada orang yang berkata: “Sesungguhnya kitab itu harus terdiri dari lebih dari tiga puluh lembar!”

            Jawabnya adalah: para shohabat menamakan risalah Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang dikirimkan kepada Hirqol itu sebagai kitab, padahal pasti tidak mencapai tiga puluh lembar. Demikianlah risalah-risalah beliau kepada raja-raja yang lain. Dan demikian pula kebiasaan para Shohabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kemudian, sesungguhnya sebagian malzamah Ahlussunnah ada yang melebihi tiga puluh lembar. Itu semua dinamakan dengan kitab. Maka ucapan Al Wushobiy yang meniadakan adanya dakwah dan nasihat serta pengingkaran kemungkaran dengan memakai malzamah di sepanjang sejarah merupakan peniadaan yang batil. Bahkan al Imam Asy Syaukaniy  di dalam penggunaan istilah “kitab” berkata: “Istilah ini (kitab) boleh dipakai untuk satu lembar atau lebih.” (“Al Badruth Tholi'”/1/hal. 316/biografi Abdurrohman bin Abi Bakr As Suyuthiy رحمه الله).

 

Pasal dua:

disyariatkannya memboikot pengekor hawa nafsu

            Adapun ucapan Muhammad Al Wushobiy: “… boikot, pemutusan hubungan, tidak didapatkan yang semisal dengannya di dalam sejarah sama sekali.”

            Apakah Al Wushobiy ingin mengingkari pemboikotan terhadap pengekor hawa nafsu? Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴾ [النجم: 29]

“Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.”

            Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾ [الأنعام: 68].

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zholim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”

            Dan dari Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم membaca ayat ini:

﴿هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولو الألباب﴾

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (samar-samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyelewengan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

            Aisyah berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka jika engkau melihat orang-orang yang mencari-cari ayat yang samar-samar dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang Alloh sebutkan itu, maka hindarilah mereka.” (HR. Al Bukhoriy (4547) dan Muslim (2665)).

            Dan dalam kisah Ka’b bin Malik رضي الله عنه :

ونهى رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلمين عن كلامنا أيها الثلاثة من بين من تخلف عنه فاجتنبنا الناس وتغيروا لنا حتى تنكرت في نفسي الأرض فما هي التي أعرف فلبثنا على ذلك خمسين ليلة فأما صاحباي فاستكانا وقعدا في بيوتهما يبكيان وأما أنا فكنت أشب القوم وأجلدهم فكنت أخرج فأشهد الصلاة مع المسلمين وأطوف في الأسواق ولا يكلمني أحد وآتي رسول الله صلى الله عليه وسلم فأسلم عليه وهو في مجلسه بعد الصلاة فأقول في نفسي هل حرك شفتيه برد السلام علي أم لا ثم أصلي قريبا منه فأسارقه النظر فإذا أقبلت على صلاتي أقبل إلي وإذا التفت نحوه أعرض عني حتى إذا طال علي ذلك من جفوة الناس مشيت حتى تسورت جدار حائط أبي قتادة وهو ابن عمي وأحب الناس إلي فسلمت عليه فوالله ما رد علي السلام فقلت: يا أبا قتادة أنشدك بالله هل تعلمني أحب الله ورسوله فسكت فعدت له فنشدته فسكت فعدت له فنشدته فقال: الله ورسوله أعلم ففاضت عيناي وتوليت حتى تسورت الجدار، … الحديث.

“… dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang Muslimin untuk berbicara dengan kami –tiga orang dari orang-orang yang tertinggal dari perang Tabuk-, maka orang-orang menjauhi kami dan berubah sikap terhadap kami, sampai-sampai bumi ini terasa asing dalam diriku. Bukanlah bumi ini bumi yang aku kenal selama ini. Maka tinggallah kami dalam keadaan demikian selama lima puluh malam. Adapun kedua temanku, mereka berdua diam saja duduk di rumah mereka dalam keadaan menangis. Adapun aku, aku adalah yang paling muda dan paling kuat. Aku terus keluar dan menghadiri sholat bersama muslimin dan mengelilingi pasar-pasar, dalam keadaan tiada seorangpun yang mengajakku berbicara. Dan aku datangi Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mengucapkan salam pada beliau dalam keadaan beliau di tempat duduk beliau seusai sholat. Aku berkata dalam diriku: “Apakah beliau menggerakkan kedua bibir beliau dengan menjawab salam kepadaku ataukah tidak?” kemudian aku sholat dekat dengan beliau, lalu aku curi pandang ke beliau. Jika aku berkonsentrasi kepada sholatku, beliau memandangku, tapi jika aku menoleh ke beliau, beliau berpaling dariku. Sampai ketika kekakuan orang-orang itu berlangsung lama terhadapku, aku berjalan sampai aku menaiki dinding kebun Abu Qotadah, dan dia adalah anak dari pamanku dan beliau adalah orang yang paling aku cintai. Maka aku ucapkan salam kepadanya. Maka demi Alloh dia tidak mau menjawab salamku. Maka kukatakan padanya: “Wahai Abu Qotadah, aku seru engkau dengan nama Alloh, apakah engkau tahu bahwasanya aku cinta pada Alloh dan Rosul-Nya?” maka dia diam saja. Aku ulang lagi dan aku seru dia lagi, tapi dia diam saja. Aku ulang lagi dan aku seru dia lagi, lalu dia berkata: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Maka berlinanglah air mataku, dan aku berpaling hingga naik dinding lagi, …” (HR. Al Bukhoriy (4418) dan Muslim (2769)).

            Dan dari Sa’id bin Jubair رحمه الله:

أن قريبا لعبدالله بن مغفل خذف قال: فنهاه وقال: إن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الخذف وقال: «إنها لا تصيد صيدا ولا تنكأ عدوا ولكنها تكسر السن وتفقأ العين» قال: فعاد فقال: أحدثك أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عنه ثم تخذف لا أكلمك أبدا.

“Bahwasanya seorang kerabat dari Abdulloh bin Mughoffal -rodhiyallohu ‘anhu- bermain ketapel. Maka beliau melarangnya dan berkata,”Sesungguhnya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarang bermain ketapel, dan bersabda: Sesungguhnya dia itu tidak bisa memburu buruan dan tak bisa untuk membunuh musuh.”.” Tapi ternyata dia mengulanginya lagi. Maka beliau berkata,”Kusampaikan hadits buatmu bahwasanya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarangnya, ternyata engkau kemudian main ketapel lagi. Aku tak akan berbicara denganmu selamanya.” (HSR Al Bukhory (5479) dan Muslim (13/hal. 108)).

            Abu Qilabah رحمه الله berkata: “Janganlah kalian duduk-duduk dengan ahlul ahwa’, dan jangan berdebat dengan mereka itu, karena sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka itu akan membenamkan kalian ke dalam kesesatan, atau menimpakan pengkaburan pada kalian di dalam agama ini dengan sebagian perkara yang membikin mereka merasa kabur.” (“Asy Syari’ah”/no. 57/Al Ajurry رحمه الله/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah/dishohihkan oleh Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله).

            Al Bardza’iy رحمه الله berkata menukilkan dari Abu Zur’ah: “… Sungguh dia telah datang kepada kami dari Naisabur, maka Muhammad bin Rofi’, Muhammad bin Yahya, Amr bin Zuroroh, Husain bin Manshur dan para ulama Naisabur tentang apa yang dibikin orang ini di sana([2]). Maka aku menyembunyikan hal itu manakala aku takut akibatnya([3]). Dan aku tidak menampakkan hal itu sedikitpun padanya. Kemudian dia tiba di Baghdad, dan dulunya ada hubungan baik antara dirinya dengan Sholih bin Ahmad. Maka Dawud berbicara dengan Sholih agar bersikap lembut pada Al Imam Ahmad dalam memintakan idzin untuk dirinya bisa bertemu dengan ayahnya. Maka sholih mendatangi ayahnya seraya berkata padanya: “Ada orang meminta saya untuk dia bisa menemui ayah.” Beliau bertanya: “Siapa namanya?” dia menjawab: “Dawud” Beliau bertanya: “Dari mana?” dia menjawab: “Dari penduduk Ashbahan.” Beliau berkata: ”Apa pekerjaannya?”, Sholih berusaha mengelak untuk menyebutkan identitas Dawud kepada ayahnya, sementara Abu Abdillah -Rohimahulloh- terus saja menanyakan hal tersebut sehingga beliau memahami adanya sesuatu (yang disembunyikan), maka beliau berkata: ”Adapun orang ini, (sesungguhnya) Muhammad bin Yahya An-Naisaburiy telah menuliskan untukku (yang menjelaskan) perkaranya: bahwasannya orang ini mengatakan bahwa Al-Quran itu muhdats, maka janganlah ia mendekatiku([4]).” Dia (Sholih) berkata: ”Wahai ayahku, sesungguhnya orang ini meniadakan hal tersebut, dan ia mengingkari hal tersebut. Maka berkata Abu Abdillah Ahmad: ”Muhammad bin Yahya lebih jujur daripada dirinya, janganlah engkau memberinya jalan untuk berjumpa denganku”. (“Sualatul-Bardza’iy”/2/hal. 554-555)).

Al Imam Abu Utsman Ash Shobuni رحمه الله berkata: “Kumpulan adab-adab ahlul hadits adalah: … dan mereka saling cinta karena agama ini, saling benci juga karena agama ini, menghindari perdebatan dan pertengkaran tentang Alloh, saling menjauh dengan ahli bid’ah dan pelaku kesesatan, memusuhi pengekor hawa nafsu dan kebodohan, …-sampai pada ucapan beliau- dan membenci ahlul bid’ah yang membikin dalam agama perkara yang tidak masuk di dalamnya, tidak mencintai mereka, tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka, tidak duduk-duduk dengan mereka, tidak mau berdebat mereka tentang agama, tidak berdiskusi dengan mereka. dan berpandangan untuk menjaga telinga-telinga mereka dari mendengarkan kebatilan ahli bid’ah tadi,… dst.” (“Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/ hal. 107-108/cet. Darul Minhaj).

            Jika seseorang berkata: “Sesungguhnya Abdurrohman Al ‘Adniy dan para pengikutnya itu bukanlah termasuk pengekor hawa nafsu!”

            Maka jawabnya adalah: Telah tegak bayyinah-bayyinah yang jelas dan terang bagi orang yang punya mata hati dan akal sehat serta manhaj yang lurus yang menunjukkan bahwasanya kaum tadi itu mengikuti hawa nafsu dan keluarnya mereka dari sunnah dan salafiyyah. Dan termasuk yang menunjukkan bahwasanya Al Wushobiy tidak ridho dengan manhaj salaf dalam memboikot ahli bid’ah adalah: seringnya dia turun ke masjid-masjid ahli bid’ah, berceramah di tempat mereka disertai dengan basa-basi.

            Saudara kita yang mulia, penelusur yang pintar –Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy حفظه الله telah menyebutkan lebih dari tiga puluh masjid milik hizbiyyin yang dikunjungi Asy Syaikh Al Wushobiy هداه الله . Silakan rujuk kitab “Tahdzirus Salafiyyin Min Mafasid Wa Adhror Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin.”

            Maka Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan As Salafiyyah.

 

Pasal tiga:

olok-olok Al Wushobiy terhadap para wanita yang mengingkari kemungkaran

            Ucapan Al Wushobiy هداه الله (menyindir Syaikh Yahya): “Engkau wahai Ummu Fulan, tulislah malzamah, engkau –perempuan-, tampilkanlah malzamah milikmu!!”

            Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

            Dalam perkataan tadi ada ejekan terhadap para wanita yang memerintahkan yang ma’ruf dan mengingkari kemungkaran. Kami menuntut Al Wushobiy untuk mendatangkan dalil yang jelas tentang terlarangnya hal itu. Dan kami punya keumuman dalil, di antaranya adalah firman Alloh ta’ala :

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر﴾ [آل عمران: 110].

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”

Firman Alloh subhanah:

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [آل عمران: 104]،

“Dan hendaknya ada sekelompok umat dari kalian yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imron)

Dan yang lainnya.

            Dalil-dalil ini bersifat umum, mencakup laki-laki dan perempuan. Dan yang lebih jelas dari itu adalah firman Alloh ta’ala :

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ الله إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾ [التوبة: 71].

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dan termasuk dalil dari sunnah adalah keumuman hadits Abi Sa’id Al Khudriy rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, maka jika ia tidak mampu maka dengan lisannya , maka jika ia tidak mampu maka dengan hatinya , dan itulah selemah-lemah iman.”  (HR. Muslim (49)).

Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده، أو سمعه

Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.” (HR. Ahmad (11793) dengan sanad shohih. Dan dishohihkan Al Imam Al Albaniy رحمه الله di “Ash Shohihah” di bawah no. (168). Dan asal hadits dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (414)).

            Kemudian sesungguhnya Al Wushobiy tampil dengan gaya bahwasanya dia berjalan di atas jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله . Maka apakah Al Wushobiy lupa bahwasanya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله mendukung kitab Ummu Malik حفظها الله yang di dalamnya membongkar kebatilan-kebatilan Az Zindaniy?

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Ummu Malik menulis, maka sungguh aku memuji Alloh. Dia itu lebih terpercaya daripada seratus orang dari Ikhwanul Muflisin. Ummu Malik menulis bahwasanya Abdul Majid Az Zindaniy datang ke Ibb untuk menceramahi para wanita, lalu jadilah para wanita menjaga dirinya. Seseorang dari pejabat berkata (pada wanita penjaga itu): “Jika engkau melihat seorang wanita yang maju ke arah Asy Syaikh, tembaklah dia.” Maka wanita itu berkata: “Dan istrimu, kenapa engkau tidak mendatangkannya agar dia menembak wanita itu?” maka dia menjawab: “Enggak, istriku tidak datang.” Sungguh aku menyesalkan wahai Zindaniy! Apakah engkau itu Gadafinya Yaman yang dijaga oleh para wanita? Atakah berita ini tidak benar? Kami ingin engkau menyebarkan di Koran “Ash Shohwah” bahwasanya berita ini tidak benar. Jika tidak demikian, maka kami membenarkan Ummu Malik, karena dia itu jujur dan terpercaya di sisi kami, dan dia itu bukan termasuk wanita Ikhwanul Muflisin, mereka itu pada dai-dai yang mengajak kepada hizbiyyah, keluar ke pemilu untuk mengumpulkan orang-orang. Bukan. Di tempat kami –dengan memuji Alloh- ada para wanita yang telah menjadi penulis dan pentahqiq, dan tersebarlah dengan sebab mereka kebaikan yang banyak. Dan aku sekarang masih terus meminta pada Abdul Majid Az Zindaniy jika berita tadi dusta, agar dia menyebarkan dalam majalah “Ash Shohwah” bahwasanya dia tidak pergi menceramahi para wanita, dan bahwasanya para wanita tidak menjaga dia. Apakah engkau tidak melihat kecuali para wanita yang menjagamu wahai Abdul Majid? Aku menyesalkan, aku menyesalkan! Hanya Alloh yang dimintai pertolongan.” (selesai penukilan dari kitab “Al Burkan Li Nasfi Jami’atil Iman”/diambil dari Maktabah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy/4/hal. 51).

            Dan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله juga berkata: “Dan sekarang kita bersama risalah seorang da’iyah ilalloh: Yang Mulia Ummu Malik, semoga Alloh ta’ala menjaganya dan menolak darinya setiap kejelekan dan perkara yang dibenci. Dan menurutku Ummu Malik itu lebih jujur daripada seratus orang Ikhwanul Muflisin, karena hizbiyyah itu mendorong kepada kedustaan.

            tinggal masalah jarh: boleh wanita itu men-jarh lelaki ataukah tidak? Al Khothib dalam “Al Kifayah” menulis bab: “Diterimanya jarh dalam ilmu,” dan beliau berkata: “Dibedakan dengan persaksian, persaksian itu harus terdiri dari dua orang wanita dan satu orang pria. Dan setara dengan dua saksi lelaki adalah empat wanita.” Kemudian beliau menyebutkan hadits bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepada Bariroh:

هل رأيت شيئا يريبك من عائشة ؟

“Apakah engkau melihat sesuatu yang meragukanmu dari Aisyah?”

Maka dia menjawab: “Demi Dzat Yang mengutus Anda dengan kebenaran, tidak pernah saya melihat satu perkarapun darinya yang saya tidak sukai, lebih daripada bahwasanya Aisyah itu gadis yang muda belia, ketiduran dari menjaga adonan keluarganya lalu datanglah ayam seraya memakan adonan tadi.”

            Dan ini menunjukkan tentang bolehnya wanita itu men-jarh. Dan jika kalian mendengar ucapannya, kalian akan mendengar ucapan seorang wanita mukminah, ucapan wanita yang mulia, ucapan wanita yang faqih, ucapan wanita yang cemburu terhadap Islam. Kalian akan mendengar ini insya Alloh. Dan setelah itu silakan untukmu, insya Alloh kita akan menyempurnakan. Kami menasihati Ikhwanul Muflisin, dan kami menuntut mereka untuk bertobat pada Alloh عز وجل.

Hakikat dan Persaksian

Ditulis oleh Ummu Malik.

(lalu Al Imam Al Wadi’iy menyebutkan apa yang ditulis Ummu Malik itu).

(selesai penukilan dari kitab “Al Burkan Li Nasfi Jami’atil Iman”/diambil dari Maktabah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy/4/hal. 65-66).

            Dan Muhammad Al Wushobiy juga lupa bahwa Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله memberikan kata pengantar untuk Ummu Salamah حفظها الله bagi kitab dia: “Tahdzirul Fatatil ‘Afifah Min Talbisatiz Zindanil Khobitsah.” Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata dalam kata pengantar beliau:

“Dan setelah itu, kami melihat kitab itu (salah satu kitab Ikhwanul Muslimin), lalu kami sodorkan kitab itu pada Ummu Salamah As Salafiyyah. Manakala dia membacanya, dia berkata: “Ini khusus untuk wanita, sayalah yang akan mengurusi jawaban terhadapnya.” Maka bangkitlah Ummu Salamah untuk menjawab kitab itu, lalu dia menyodorkan tulisannya kepadaku. Dan Ummu Salamah ini adalah wanita yang mulia, yang bertaqwa, zahidah, termasuk dai wanita ilalloh yang paling terkemuka di Yaman. Dan pembahasan dia menunjukkan bahwasanya dia itu sudah bisa mengambil faidah, …dst.” (“Tahdzirul Fatatil ‘Afifah Min Talbisatiz Zindanil Khobitsah”/hal. 4/Darul Atsar).

            Dan yang mengurusi bantahan terhadap Muhammad Al Wushobiy pada masa kini dari kalangan wanita adalah: Ummu Yusuf bintu Muhammad Adz Dzammariyyah, semoga Alloh menjaganya, istri dari Asy Syaikh Abul Yaman Adnan Al Mishqoriy, semoga Alloh menjaganya, dengan judul: “Mukhtashorul Jawab ‘Ala Shohibi Wushob.”

            Dan bukanlah Asy Syaikh Yahya حفظه الله itu yang menyemangati Ummu Yusuf untuk membantah Wushobiy sebagaimana yang dikesankan oleh alur ucapan Wushobiy (menyindir Syaikh Yahya): “Engkau wahai Ummu Fulan, tulislah malzamah, engkau –perempuan-, tampilkanlah malzamah milikmu!!” Akan tetapi kecemburuan wanita tadi untuk agama Alloh inilah yang mendorongnya untuk membuat bantahan yang bagus itu. Maka semoga Alloh membalasnya -dan semua pencemburu- dengan kebaikan.

 

Pasal empat:

kontradiksi Al Wushobiy

            Bersamaan dengan pengingkaran Al Wushobiy terhadap penyebaran malzamah-malzamah dan menyatakan bahwasanya yang demikian itu: “tidak didapatkan yang semisal dengannya di dalam sejarah sama sekali. Ini adalah bid’ah zaman ini, bid’ah Hajuriyyah yang syadzdzah (menyendiri), Islam berlepas diri dari bid’ah tadi, berlepas diri dari perlakuan yang kasar seperti ini, sunnah benar-benar berlepas diri.”

            Dia sendiri dulu dalam masa fitnah Abul Hasan, dia sendiri mengeluarkan malzamah-malzamah: “Al Qoulul Hasan”, kemudian “Al Qoulul Ahsan”, kemudian “Al Qolus Sadid Fi Hajri Abil Hasanil ‘Anid”

            Dan Al Wushobiy dalam “Al Qoulus Sadid” hal. 6 berkata: “Barangkali kalian tidak membaca risalah yang ditampilkan oleh para ulama. Maka bacalah itu, itu adalah ucapan-ucapan yang banyak yang beraneka ragam, milik para ulama yang banyak –semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan-, dan ada juga kaset-kaset, malzamah-malzamah, ada juga karya tulis, …” sampai akhir dari dorongannya untuk membaca karya tulis-karya tulis, risalah-risalah dan malzamah-malzamah.

            Di manakah sekarang ucapan itu?

            Dan termasuk yang aneh adalah: bahwasanya pada masa fitnah Mar’iyyah itu si Wushobiy senang dengan penyebaran malzamah-malzamah yang mendukung hizb dia untuk menentang Ahlussunnah.

            Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Malzamah-malzamah orang-orang tak dikenal yang jahat itu, dari orang dinamakan dengan Barmakiy. Tahukah engkau apa itu Barmakiy!!? Dan semisal mereka, malzamahnya dibagi-bagikan di majelis Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan di masjidnya, dianjurkan untuk membacanya dan menyebarkannya, dan dia berkata: “Tambah lagi, tambah lagi wahai Syaikh Ubaid,” Yaitu yang semisal dengan itu, sama saja dari Baromikah ataukah dari yang lainnya.”

(selesai dari risalah “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 3).

            Ini semua adalah dalil tentang rusaknya ucapan Al Wushobiy: “tidak didapatkan yang semisal dengannya di dalam sejarah sama sekali. Ini adalah bid’ah zaman ini, bid’ah Hajuriyyah yang syadzdzah (menyendiri), Islam berlepas diri dari bid’ah tadi, berlepas diri dari perlakuan yang kasar seperti ini, sunnah benar-benar berlepas diri.”


Bab Tujuh:

Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Orang Yang Menyemangati Ahlul Haq Untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Dan bersamaan dengan itu Asy Syaikh Muqbil tidak menggolakkan para pelajar sebagaimana penggolakan yang engkau lakukan, terhadap saudaramu sunniy salafiy. Asy Syaikh Muqbil tidak menggolakkan para pelajar untuk melawan Rofidhoh pada kenyataannya, Rofidhoh, Syiah, juga tidak terhadap Shofiyyah ataupun terhadap Hizbiyyin. Dulu jika beliau berbicara, beliau itu berbicara dengan apa yang Alloh bukakan untuknya.” “Asy Syaikh Muqbil tidak menggolakkan para pelajar untuk melawan Rofidhoh pada kenyataannya, Rofidhoh, Syiah.”

            Jawabannya adalah sebagai berikut:

Pasal satu:

Menyemangati para pelajar yang sanggup melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar adalah disyariatkan

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾ [لقمان: 17].

“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh).”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ini adalah wasiat-wasiat yang bermanfaat yang Alloh ta’ala kisahkan dari Luqman Al hakim, agar orang-orang melaksanakannya dan meneladaninya” –sampai pada ucapan beliau:- “Kemudian ucapan beliau “Hai anakku, dirikanlah sholat” yaitu: dengan batasan-batasannya, kewajiban-kewajibannya dan waktu-waktunya, “suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” yaitu: sesuai dengan kadar kemampuanmu dan kerja kerasmu “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu” dia mengetahui bahwasanya orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar itu pasti akan terkena gangguan dari manusia. Maka beliau memerintahkan anaknya untuk bersabar. Ucapannya: “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh).” Yaitu: sesungguhnya kesabaran terhadap gangguan manusia itu benar-benar perkara yang diwajibkan.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/6/hal. 337-338).

            Al Imam As Sa’diy رحمه الله berkata: “Ucapan beliau: “Hai anakku, dirikanlah sholat“, beliau menyemangati anaknya untuk sholat, dan mengkhususkan itu karena sholat itu ibadah badan yang paling besar. “suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” yang demikian itu mengharuskan dimilikinya ilmu tentang perkara yang ma’ruf tadi agar dia bisa memerintahkan perkara tadi, dan ilmu tentang perkara yang munkar agar dia bisa melarangnya. Juga diperintahkan untuk memiliki perkara yang tidaklah amar ma’ruf dan nahi munkar itu bisa sempurna kecuali dengan dia, yang berupa: kelembutan dan kesabaran. Dan telah disebutkan dengan terang-terangan dalam ucapannya: “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu“. Dan juga dia sendiri harus melaksanakan apa yang diperintahkannya dan menahan diri dari apa yang dilarangnya. Maka hal ini mengandung penyempurnaan diri dengan melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan, dan menyempurnakan orang lain dengan perkara-perkara tadi, dengan perintahnya dan larangannya.

            Manakala beliau mengetahui bahwasanya jika dia memerintah dan melarang itu dia akan tertimpa ujian, dan bahwasanya perintah dan larangan itu berat bagi jiwa, beliau memerintahkan anaknya untuk sabar terhadap yang demikian itu dengan berkata: “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu” yang dinasihatkan oleh Luqman untuk anaknya itu “termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh)”: yaitu termasuk dari perkara-perkara yang diharuskan, diwajibkan. Dan tidaklah mendapatkan taufiq untuk itu kecuali para pemilik tekad yang kuat.”

(selesai dari “Taisirul Karimir Rohman”/hal. 648).

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم telah menyemangati kaum muslimin untuk amar ma’ruf dan nahi munkar, dan beliau tidak bersabda: “Para pelajar tidak boleh masuk dalam medan ini!”. Dari Abi Sa’id Al Khudriy rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia merobahnya dengan tangannya, maka jika ia tidak mampu maka dengan lisannya , maka jika ia tidak mampu maka dengan hatinya , dan itulah selemah-lemah iman.”  (HR. Muslim (49)).

Dan dari beliau juga رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده، أو سمعه

Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad (11793) dengan sanad shohih. Dan dishohihkan Al Imam Al Albaniy رحمه الله di “Ash Shohihah” di bawah no. (168). Dan asal hadits dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (414)).

 

Pasal dua:

disyariatkannya ikut sertanya para penuntut ilmu yang mampu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Kemudian penuntut ilmu setelah itu hendaknya sangat bersemangat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun dari apa yang dia ketahui, dia bersemangat untuk menjelaskan kebenaran, membantah para musuh agama Islam, tidak meremehkan, dan tidak menepi. Dia itu selalu tampil di medan sesuai dengan kemampuannya. Maka jika lawan dari Islam muncul membikin syubuhat dan mencerca, tampillah si pelajar ini untuk membantah mereka secara tulisan ataupun lisan dan cara yang lain. Dia tidak meremehkan dan tidak berkata: “Ini diurusi oleh orang lain.” Bahkan dia berkata: “Akulah yang akan mengurusinya, akulah yang akan mengurusinya.” Jika di sana ada para imam yang lain tapi dia khawatir masalah ini akan luput, maka dia tetap tampil selalu dan tidak menepi. Bahkan dia tampil di waktu yang sesuai untuk menolong kebenaran, membantah lawan-laawan Islam dengan tulisan yang yang lainnya –sampai pada ucapan beliau:- dia juga tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, bahkan dia menulis, berkhothbah, berbicara, membantah ahli bida’, dan membantah lawan Islam yang lain dengan kekuatan yang Alloh berikan untuknya, sesuai dengan ilmunya, dan dengan apa yang Alloh mudahkan untuknya dengan berbagai kemampuan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ الله وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ﴾.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

            Maka kita harus berdiri di kedua ayat ini dengan pendirian yang agung. Robb kita memperingatkan kita dari menyembunyikan ilmu dan mengancam perbuatan tadi, dan melaknat orang yang melakukan itu. Kemudian Alloh menjelaskan bahwasanya tiada keselamatan dari ancaman dan kutukan ini kecuali dengan tobat, perbaikan dan penjelasan. (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/7/hal. 194).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Maka setiap kita memiliki kewajiban. Setiap muslim di negri Alloh, di timur dan barat, di seluruh penjuru dunia. Setiap muslim, setiap penuntut ilmu, setiap ulama, dia punya kewajiban di dalam dakwah ke jalan Alloh yang dia telah dimuliakan Alloh dengannya, dan menolak syubhat-syubhat, dan membela Islam dari kebatilan, dan membantah lawan-lawannya, dengan cara-cara dan metode yang dipandangnya bermanfaat, yang menyampaikan kebenaran dan membikin manusia berminat untuk menerima kebenaran, dan dipandangnya bisa untuk menghentikan kebatilan. Dan termasuk dari musibah yang terbesar adalah: Seseorang berkata,” Bukanlah aku yang bertanggung jawab dengan itu.” Ini salah. Ini merupakan kemungkaran yang besar. Ini bukan perkataan orang yang berakal. Kecuali jika pada posisi yang telah dicukupi oleh orang yang lain, suatu kemungkaran yang telah dihilangkan oleh orang yang lain, suatu kebatilan yang telah diperingatkan oleh orang yang lain.” –sampai pada ucapan beliau:- Maka setiap orang harus menunaikan kewajibannya sampai kebenaran itu tertolong, dan sampai kebatilan itu tertumpas, dan sampai  tegaknya hujjah terhadap lawan-lawan Islam.” (selesai) (“Al Ghozwul Fikry” karya beliau -rahimahulloh- hal. 17).

            Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- ditanya: “Apakah berbicara tentang hizbiyyun atau tahdzir dari mereka termasuk harom? Dan apakah perkara ini khusus untuk ulama dan bukan hak para penuntut ilmu meskipun telah jelas kebenaran bagi para penuntut ilmu tentang orang tersebut?”

            Beliau -rahimahulloh- menjawab: “Sudah semestinya untuk dia bertanya kepada ahlul ilmi tentang perkara tersebut. Akan tetapi orang yang melarikan umat dari As Sunnah, dari Ahlussunnah dan majelis ulama, maka umat harus ditahdzir dari orang itu. Jarh dan ta’dil harus orang tersebut mengetahui sebab-sebabnya dan harus bertaqwa kepada Alloh subhana wa ta’ala tentang apa yang diucapkannya, karena sesungguhnya asal dari kehormatan seorang muslim adalah terhormat. Sebagaimana sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- :

((فإنّ دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا)).

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah harom, sebagaimana haromnya hari kalian ini di bulan kalian ini dan di negri kalian ini”.([5])

            Akan tetapi mubtadi’ah tidak mengapa seorang thalibul ilmi memperingatkan orang darinya, pada batas-batas yang diketahuinya, secara adil. Alloh ta’ala berfirman:

وإذا قلتم فاعدلوا

“Dan jika kalian berbicara maka berlaku adillah.”

ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألاّ تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتّقوى

“Dan jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum menjerumuskan kalian untuk berbuat tidak adil. Adillah kalian karena dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.”

إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان

“Sesungguhnya Alloh memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”

            Dan Nabi -shalallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memerintahkan Abu Dzarr untuk mengucapkan yang benar walaupun itu pahit. Bahkan Alloh -‘azza wajalla- berfirman di kitab-Nya yang mulia:

ياأيّها الّذين آمنوا كونوا قوّامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيًّا أو فقيرًا فالله أولى بهما فلا تتّبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإنّ الله كان بما تعملون خبيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

            Maka harus ada keadilan ketika berbicara tentang hizbiyyun. Dan bukanlah aku maksudkan bahwasanya engkau melihat seorang mubtadi’ dan engkau menyebutkan kebaikan dan kejelekan yang ada padanya. Sesungguhnya mubtadi’ itu tidak pantas untuk kau sebutkan kebaikan dan kejelekannya.”

(selesai penukilan dari “Tuhfatul Mujib” hal. 187-188).

            Syaikh kami yang mulia Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله memberiku faidah bahwasanya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dulu juga sering menyemangati para penyair untuk membantah ahli bida’. Beliau juga memberikan kata pengantar untuk sebagian pelajar dalam membantah ahli bida’. Kenapa kaum tersebut hampir-hampir tidak memahami pembicaraan?

            Juga Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidhahulloh- ditanya: “Kebanyakan orang menyangka bahwasanya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan proses belajar yang sedang ditempuh oleh penuntut ilmu dalam perjalanannya kepada Alloh. Apakah pemahaman ini benar?”

            Beliau -hafidhahulloh- menjawab: “Ini adalah pemahaman yang bathil. Dan ini termasuk metode ahlul bathil dan ahlul bida’ untuk memberangus lidah ahlus sunnah. Maka pengingkaran terhadap ahlul bida’ termasuk pintu amar ma’ruf nahi munkar yang terbesar. Dan tidaklah umat ini punya keistimewaan terhadap seluruh umat kecuali dengan keistimewaan ini.

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِالله ﴾ [آل عمران/110]

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan beriman kepada Alloh.”

            Pengingkaran terhadap kemungkaran merupakan penerapan dari ilmu yang telah dipelajari oleh pemuda muslim, yaitu pemahaman dari agama alloh -tabaroka wata’ala- dan penelaahannya terhadap kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya yang mulia -‘alaihish shalatu was salam-.

            Maka apabila perkara amar ma’ruf nahi munkar ini tidak diterapkan, khususnya terhadap ahlul bida’, maka dia bisa jadi masuk ke dalam firman Alloh -tabaroka wata’ala-:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾

“Orang-orang yang kafir dari bani Isroil telah dilaknat dengan lisan Dawud dan ‘Isa bin Maryam. Yang demikian itu adalah karena kedurhakaan mereka dan sikap mereka yang melampaui batas. Mereka dulunya tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka kerjakan. Sungguh jelek apa yang mereka kerjakan.”

            Dan jika seseorang melihat kebid’ahan tersebar, ada penyerunya, ada pembawanya, pembelanya, dan ada orang yang memerangi ahlussunnah demi kebid’ahan itu, bagaimana dia diam saja?

            Ucapan mereka,”Sesungguhnya membantah ahlul bida’ dan ahwa’ akan mematikan ilmu” ini bohong. Justru ini bagian dari ilmu dan penerapan ilmu.

            Apapun yang terjadi, maka seorang penuntut ilmu itu harus mengkhususkan waktu-waktu untuk memperoleh ilmu. Dan harus bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Tidak bisa dia menghadapi kemungkaran kecuali dengan ilmu. Bagaimanapun keadaannya dia harus memperoleh ilmu dan sekaligus pada waktu yang sama menerapkannya.

            Alloh -tabaroka wata’ala- memberkahi pelajar yang mengamalkan ilmunya ini. Dan terkadang bisa dicabut keberkahan itu manakala dia melihat kemungkaran di depan matanya tapi dia berkata,”nggak, nggak, aku belum belajar.” Dia melihat kesesatan dan ahlul bathil mengangkat syiar kebathilan dan mengajak orang kepadanya dan menyesatkan orang, dia justru berkata,”Tidak, tidak. Aku nggak mau sibuk dengan perkara-perkara ini, aku akan menyibukkan diri dengan ilmu.” Yaitu latihan untuk berbasa-basi.

Semoga Alloh memberkahi kalian.” (“Ajwibatu Fadhilatusy Syaikh Robi'” hal. 34-35)

            Fadhilatu Syaikhina Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah ucapan ini benar: (kita tidak boleh men-jarh, dan tak boleh men-ta’dil. Itu semua adalah hak ulama. Urusan pelajar adalah berkonsentrasi pada perkara yang bermanfaat bagi dirinya)?”

            Maka beliau حفظه الله menjawab: “Itu tidak secara mutlak. Ibnul Qoyyim sekarang dalam nasihatnya ini dan dalam pembukaan “Nuniyyah” menjelaskan bahwasanya barangsiapa tidak cemburu kepada agama Alloh, tidak menolongnya, maka ini adalah sifat orang-orang yang telantar (tidak dapat taufiq). Iya memang, terkadang tidak jelas bagimu perkara yang jelas bagi seorang alim, dan engkau terkadang tidak memahami apa yang dipahami oleh orang alim. Nukilkanlah ucapan yang benar, yang didukung oleh bukti, yang terpercaya dari seorang alim, sebagai bagian dari saling menolong dalam kebaikan dan taqwa.

﴿وافعلوا الخير لعلكم تفلحون﴾

“Dan kerjakanlah kebaikan agar kalian itu beruntung.”

﴿ولينصرن الله من ينصره﴾

“Dan pastilah Alloh akan menolong orang yang menolong agama-Nya.”

            Ucapan yang ditanyakan tadi adalah dasar dari kelompok yang telah kita kenal. Dulu kita mengkritik mereka, sebagian dari pelajar Jami’ah Islamiyyah yang sering hadir di majelisnya Asy Syinqithiy. Dan kalangan mereka ada orang-orang dari jenis ini, jika engkau berjumpa dengannya, dia berkata: “Kami tidak mau berbicara.” Dia juga membiasakan mereka bersikap seperti ini: “Kami tak mau berbicara tentang para tokoh. Ini adalah ghibah, ini adalah demikian dan demikian.”

            Maka kami lihat mereka, pada hakikatnya bahwasanya jenis macam ini adalah sasaran jaring hizbiyyin secara langsung. Yaitu: ucapan tadi adalah semacam tabir yang dia pasang di hadapan orang yang berkata padanya: “Bantahlah para ahli batil,” tapi jika dirinya ada di dekat syubuhat para pembikin syubuhat, engkau lihat dirinya itu benar-benar memasang telinga untuk mendengarnya dan memutar lehernya. Ini adalah awal penyakit. Orang yang engkau lihat ada di atas kebatilan, dengan bukti yang jelas tentang kebatilan itu, selama Alloh telah menjadikanmu mengetahui itu, bukankah demikian wahai hamba Alloh, ataukah tidak? Orang yang di atas kebatilan, jelaskan saja keadaan dia.”

            Jawaban Syaikh selesai ditulis oleh saudara kita yang mulia Abu Faris Kholid bin Fadhl pada tanggal 13 Muharrom 1434 H.

            Ucapan dan pengarahan-pengarahan yang bercahaya ini, yang muncul dari para imam tadi cukup untuk meruntuhkan kedustaan Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله. Si Wushobiy itu hanyalah ingin membungkam para Ahlussunnah dari kebatilan dan tipu daya dia yang telah terbongkar itu.

            Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Adapun orang-orang yang diam dari menerangkan kebenaran pada orang-orang, maka sungguh mereka itu tidak mendapatkan udzur dengan diamnya mereka itu. Sekalipun mereka berkata: “Kami bukanlah bersama mereka” maka sungguh mereka itu tidak mendapatkan udzur, sampai bahkan sekalipun mereka berkata: “Kami bukanlah bersama para pengikut manhaj yang sesat dari jalan yang benar itu” kecuali jika mereka mengingkari orang-orang yang sesat tadi dari kesesatan mereka.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/hal. 50/Darul Atsar/edisi kecil).

            Ini adalah jalan Ahlussunnah Wal Jama’ah, sekalipun Al Wushobiy membencinya. Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang para pemuda hizbiyyah: “… karena mereka itu tahu kalam Alloh tapi mereka menyelisihinya. Dan mereka tahu sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم tapi mereka menyelisihinya. Mereka tahu manhaj Salafush Sholih tapi mereka menyelisihinya.” (“Ar Roddul Muhabbir”/hal. 25).

            Maka Al Wushobiy wajib bertaqwa kepada Alloh dan berhenti dari penyelewengannya, karena bisa jadi terminalnya itu lebih parah.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Barangsiapa tidak merasa cukup bagi dirinya dengan sunnah sehingga melampaui sampai kepada bid’ah, dia akan keluar dari agama ini. Dan barangsiapa melontarkan kepada manusia sesuatu yang tidak dilontarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersamaan dengan adanya perkara-perkara yang dituntut untuk dilontarkannya sesuatu tadi (pada zaman itu), maka sungguh orang tadi telah mendatangkan syariat kedua dan dia itu bukan pengikut Rosul. Maka hendaknya dia memperhatikan urusannya, ke manakah dia meletakkan kakinya.” (“Al Fatawal Kubro”/3/hal. 167).

 

Pasal tiga:

kontradiksi Muhammad Al Wushobiy

            Maka ketahuilah bahwasanya Al Wushobiy sendiri dulu sering menggejolakkan orang-orang untuk memerangi Ahlussunnah. Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Pengadu dombaan yang dilakukan oleh Asy Syaikh Muhammad yang kami tidak mengetahui ada para pembesar hizbiyyin yang sampai berbuat seperti itu kepada kami. Muhammad menghasung penduduk desa ini untuk memusuhi aku dengan perbuatan yang tak mungkin bisa diingkari, dan kami tak butuh untuk memaparkan dalil-dalil tentang perbuatan dia itu. Kaset tentang usaha itu ada. Bangkitlah penduduk desa ini –semoga Alloh menjaga mereka- mengingkari ucapan si Wushobiy itu dan merasa sakit hati dan jengkel dengan perbuatan Wushobiy itu, dan mereka menganggapnya –demi Alloh- bahwasanya orang awam saja membersihkan diri dari perbuatan semisal itu.

            Tidak sukses pada usaha ini sebagaimana dia bangkit membikin adu domba antara aku dengan Asy Syaikh Robi’ حفظه الله , adu domba yang luas sekali areanya. Alloh menyelamatkan dari itu. Dia ingin menjadikan fitnah ini mencapai skala dunia. Dia menukilkan padaku –dan kita, aku dan masyayikh, di majelis di Hudaidah- bahwasanya Asy Syaikh Robi’ berkata: “Seretlah Yahya dari atas kursi, dan penggantinya telah siap.”

            Demi Alloh, dadaku menjadi sempit dengan sebab ini. Dan aku berhak untuk merasa sempit. Aku mengajak kepada Al Kitab dan As Sunnah, aku wajib untuk ditolong, bukannya ditelantarkan, lebih-lebih lagi untuk diseret, lebih-lebih lagi hal ini bisa menyebabkan pembunuhan, peperangan, kejahatan dan fitnah. Aku di atas wasiat. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة:181].

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

            Dan ini bukanlah metode Ahlussunnah, dan bukan pula dari dakwah Ahlussunnah sama sekali. Dan Asy Syaikh Muhammad bisa untuk berkata padanya: “Wahai Syaikh Robi’ ucapan ini tidak kami terima dari Anda dan tidak kami ridhoi. Jika memang seperti yang diucapkannya dan tidak perlu dinukilkan kepadaku. Dan aku dikabari bahwasanya dia menukilkan pada Asy Syaikh Robi’ di sana perkataan dariku dan membikin guncang dadanya terhadapku sebagaimana dia menggoncang dadaku terhadap Asy Syaikh Robi’.

            Kemudian setelah itu Asy Syaikh Muhammad mengunjungi kami ke sini dan berkata: “Aku duduk bersama Abu Malik Ar Riyasyiy, ternyata Asy Syaikh Robi’ juga berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepadaku: “Seretlah Yahya dari atas kursi.” Mahasuci Alloh!! Kukatakan padanya: “Aku akan menelpon Asy Syaikh Robi’ sekarang juga.” Wahai saudaraku, kami ini di atas dakwah salafiyyah ataukah kami ini di atas alur sosialis? Kami menganggap beliau sebagai bapak. Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah bagaikan satu bangunan, tapi dia menggali lubang untuk kami!! Asy Syaikh Muhammad berkata: “Jangan, jangan, jangan engkau telpon beliau, nanti beliau akan berkata: “Demi Alloh, demi Alloh, demi Alloh, aku tidak mengatakan itu.” Demikianlah Asy Syaikh Muhammad berkata. Dan semoga kutukan Alloh menimpa orang-orang yang dusta.

            Aku harus berkata terang-terangan. Kami ini ada di atas dakwah yang jelas, tidak sepantasnya digalikan lubang di belakangku semisal ini sejak sekian tahun. Dengan hak apa? Aku mengajak orang kepada Alloh عز وجل . Setelah itu aku menelpon Asy Syaikh Robi’ حفظه الله dan beliau berkata: “Wahai anakku sayang, apakah engkau membenarkan ucapan terhadapku? Demi Alloh, demi Alloh, aku tidak mengatakan ucapan itu. Aku ucapkan ini pada demikian dan demikian!! dan aku memuji dengan baik dalam majelis itu.” Dan beliau bersumpah dengan nama Alloh Yang agung bahwasanya beliau tidak mengatakan itu. Dan beliau berkata: “Apakah engkau membenarkan persaksian Abu Malik tentang aku sementara engkau telah mengusir dia karena dia tidak adil (lurus jalan hidupnya) menurutmu?” aku berkata: “Wahai Syaikh:

وإذا الحبيب أتى بذنب واحد ٍ        جاءت محاسنه بألف شفيع

“Dan jika si kekasih datang dengan satu dosa, datanglah kebaikan-kebaikannya dengan seribu pemberi syafaat.”

Sampai bahkan jika Anda mengucapkan itu maka Anda telah saya halalkan dari kesalahan itu. Yang paling penting adalah: jangan sampai mereka membikin adu domba di antara kita.”

            Baiklah, kerumitan ini telah hilang, dan segala pujian hanyalah untuk Alloh.

            Dan aku menyebutkan pada kalian galian ini dan rantai fitnah ini serta kegoncangan terhadap dakwah ini dari si fulan atau ‘allan, dengan hak apa? Dan dengan sebab apa dari Asy Syaikh Muhammad? Semoga Alloh menyikapinya dengan apa yang menjadi haknya.”

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 4-5).

            Syaikh Yahya حفظه الله juga berkata: “Dan termasuk dari taktik dan kezholiman terhadap dakwah yang terus berjalan tersebut adalah: Asy Syaikh Muhammad mengunjungi kita di sini dalam keadaan mereka dimuliakan dan dihormati. Dan di akhir ceramah sebagian masyayikh, bangkitlah dia dari sana dengan lari-lari kecil di waktu terakhir, dan dia mengadu domba para pelajar dengan ucapan yang menusuk seperti jarum, dan jadilah orang-orang yang aku pegangi mereka, dan aku terus-menerus menasihati mereka, dari kalangan murid-muridku di markiz ini, mereka “berhamburan menyerang” saudara-saudara mereka. yang ini berkata: “Asy Syaikh Muhammad pada malam ini menghantam mereka dan berbuat demikian dan demikian.” Dan hampir saja mereka baku pukul di jalan di jalan, dan hampir terjadi fitnah di sini di dalam ruang Dewan, berpengaruh pada permusuhan itu disebabkan oleh adu domba Asy Syaikh Muhammad. Maka dia juara dalam adu domba, dan dia berhak mendapatkan gelar “doktor dunia” dalam adu domba.

            Dan termasuk dalam adu domba dia adalah ucapannya: “Sekarang Asy Syaikh Al Bukhoriy akan berbicara, dan Asy Syaikh Robi’ حفظه الله akan berbicara, mereka semua insya Alloh akan mengingkari kemungkaran dan memberikan nasihat kepada anak mereka Yahya.” Yaitu nada-nada ucapan dan upaya mencari kecondongan dari para masyayikh. Dan hal itu demi Alloh tidak seharusnya laku di kalangan orang yang punya mata hati yang paling sederhana. Dia mencari kecondongan dari si fulan ini, duduk bersamanya, sampai terkadang dia sembarangan menuduh seseorang sebagai mata-mata, atau pegawai pemerintah, dan kami merasa jengkel kepada orang ini, hati kami penuh dengan kejengkelan padanya.”

            Maka kami katakan: Ini aneh, bagaimana orang tadi menjadi mata-mata di tengah-tengah kita?! Dia menuduh orang tadi tanpa bukti, tanpa rasa takut, tanpa kehati-hatian. Orang yang dituduhnya sebagai mata-mata tadi, tanpa kamu ketahui ternyata Asy Syaikh Muhammad menarik dirinya kepadanya dan bersikap lembut kepadanya dan dia ingin menjadikan dirinya agar menjadi lawanku. Sebagaimana keadaan dirinya sekarang pada hari-hari ini. Seandainya dia yakin bahwasanya orang tadi adalah mata-mata, mengapa dirinya pergi kepadanya lalu mengingkari ucapannya tentang dirinya tadi, kemudian dia mendekati dirinya bahwasanya dia menghormati dirinya!! Jika dia tidak menganggap orang tadi sebagai mata-mata, kenapa dia mezholimi orang tadi tanpa ada kehati-hatian dan tanpa apa kepedulian?! Dan kenapa dia juga menzholimi kita juga?! Bisa jadi kita membenarkan kedustaannya dan kita kira dia itu jujur sehingga kita merasa jengkel pada akh yang tertuduh tadi. Dan sebelum ini juga pernah terjadi, sebagai bayaran dari kezholiman tadi.

            Berapa kalikah dia berbicara pada kami tentang Asy Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimiy dan menuduhnya sebagai mata-mata, sebagaimana telah diketahui. Dan setelah ini semua Asy Syaikh Hasan pergi kepadanya dan berkata padanya: “Wahai Syaikh Muhammad, mereka berkata demikian dan demikian.” Maka dia menjawab: “Tidak, tidak,” atau berkata: “Aku tidak ingat.” Itulah isi kantongnya. Harom, harom membikin kedustaan terhadap dakwah Salafiyyah. Jika kalian punya sesuatu, jelaskan. Orang yang punya sesuatu, hendaknya dia menjelaskan.

            Ini adalah hizbiyyah yang keluar dari tempat kami, kami mengetahuinya, sebagaimana keluarnya hizbiyyah Al Baidhoniy, Ar Roimiy, Al Maqthoriy dan fulan serta fulan, dari sini. Syaikh kami menjelaskannya tanpa ada kegaduhan dan kegoncangan sebagaimana orang bilang. Mereka itu kami tahu, orang-orang yang membentuk hizbiyyah terhadap kami, membikin penentangan, membuat kegoncangan. Orang ini bangkit dan menyeret si fulan, dan sekarang ada nafas yang asing di dalam dakwah, dan nafas aneh keluar dari rongga-rongga yang menyelisihi jalan yang benar yang sejak sebelum ini kita ada di atasnya.

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 6-7).

            Ini semua menunjukkan bahwasanya Al Wushobiy membikin gejolak yang besar dan adu domba yang mengherankan dan amalan-amalan yang kasar. Maka dirinya lebih berhak mendapatkan ucapannya sendiri: Islam dan manhaj salafiy berlepas diri dari perlakuan yang kasar seperti ini…”

            Dan aku nasihatkan kepadamu wahai Wushobiy dan orang-orang yang bersamamu –dari kalangan orang yang fanatik dengan hawa nafsu dan kebatilan- untuk kalian kembali kepada hadits pertama dari kitab Al Iman dari Shohih Muslim, maka engkau akan mendapatkan contoh hidup dari sikap para Shohabat terhadap para ahli bida’ dan tidak mencarikan udzur-udzur untuk mereka sebagaimana keadaanmu sekarang ini. Dan kembalilah kepada kitab “Asy Syari’ah” jika engkau bisa meneliti dan menghukumi sanadnya, agar engkau melihat apa yang dilakukan oleh Umar terhadap Shobigh bin ‘isl, dan bagaimana beliau menghinakannya dan mendidiknya dengan ucapan dan perbuatan. Dan sebelum itu adalah hadits ‘Aisyah dalam “Shohih” :

ما ضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا قط بيده ولا امرأة ولا خادما، إلا أن يجاهد في سبيل الله. وما نيل منه شيء قط فينتقم من صاحبه إلا أن ينتهك شيء من محارم الله فينتقم لله عز و جل. (أخرجه مسلم (2328)).

“Tidaklah Rosululloh صلى الله عليه وسلم memukul dengan tangannya sesuatupun sama sekali, atau perempuan atau pembantu, kecuali saat beliau berjihad di jalan Alloh. Dan tak pernah beliau disakiti lalu beliau membalas pelakunya sama sekali, kecuali jika keharoman Alloh dilanggar, maka beliau membalasnya karena Alloh عز وجل.” (HR. Muslim (2328)).

 


Bab Delapan:

Siapakah Yang menempuh Jalan Rofidhoh?

 

            Al Wushobiy هداه الله berkata: “Ahlussunnah itu ahli perdamaian, Ahlussunnah itu ahli perdamaian, mereka tak punya kegaduhan apapun. Keberadaan mereka itu baik nikmat dan berkah untuk pemerintah, negri, dan para hamba. Orang-orang saling damai, mereka itu bukan tukang ribut, tukang fitnah, tukang bencana. Ini dikenal di kalangan hizbiyyin, di kalangan mubtadi’ah, dan dilakangan rofidhoh. Alloh sajalah yang dimintai pertolongan. Adapun Ahlussunnah, lihatlah, setiap kali datang fitnah mereka tidak memperbincangkannya. Dan jangan sampai ada orang yang berargumentasi dengan fitnah Hajawiroh seraya berkata: (Kami mendengar dari mereka cacian, makian dan boikot). Ini adalah termasuk penyendirian. Ini bukan dari manhaj Ahlussunnah.” “Dan kita berlindung kepada Alloh dari hati-hati yang keras yang bersifat batu, yang membatu, hati jika menjadi seperti batu.”

            Abu Fairuz عفا الله عنه menjawab:

            Di dalam ucapan ini ada sindiran bahwasanya Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau حفظهم الله itu menempuh jalan Rofidhoh.

            Bagaimana yang demikian itu sementara perbedaan antara kita dan Rofidhoh itu lebih besar daripada perbedaan antara timur dan barat. Dan sungguh Alloh telah memberi kami taufiq untuk mengeluarkan bantahan-bantahan yang besar terhadap prinsip-prinsip rofidhoh dan cabang-cabang mereka, bahkan mereka memerangi kami dengan senjata api sehingga berjatuhanlah korban meninggal: jenazah kami di Jannah insya Alloh, sementara bangkai mereka di Jahannam sebagai anjing neraka insya Alloh.

            Ahlussunnah tidak menzholimi Rofidhoh, tapi merekalah yang menzholimi Ahlussunnah sehingga kami terpaksa membela diri. Dan jihad yang dilaksanakan oleh Ahlussunnah adalah jihad syar’iy yang wajib dengan dalil-dalil syar’iyyah, bukan seperti yang diisyaratkan oleh Al Wushobiy: “ tukang ribut, tukang fitnah, tukang bencana.”

            Dan akan datang pembahasan tentang disyariatkannya jihad melawan Rofidhoh, insya Alloh.

 

Pasal satu:

di antara segi-segi keserupaan manhaj Al Wushobiy dengan manhaj Rofidhoh

            Bahkan perbuatan Al Wushobiy menunjukkan bahwasanya dia lebih berhak diserupakan ke Rofidhoh daripada kita.

            Pertama: Muhammad Al Wushobiy bersungguh-sungguh mengadu domba di antara Ahlussunnah dan menanamkan fitnah di tengah-tengah mereka, sebagaimana telah lewat penjelasannya. Dan ini adalah metode Syi’ah. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata pada salah seorang lawannya dari kalangan Syi’ah: “Dan aku mengetahui bahwasanya tidak penting bagimu apakah hadits itu shohih ataukah tidak shohih. Yang penting bagi dirimu hanyalah engkau bisa mengadu domba di antara kabilah-kabilah sehingga mereka berkelahi demi masalah bersedekapnya tangan dan menggucapkan “amin” dalam sholat. Tapi jauh sekali kemungkinan berhasilnya upayamu. Kalian celaka dan rugi.” (“Riyadhul Jannah”/hal. 140).

            Kedua: Muhammad Al Wushobiy memutarbalikkan fakta, sebagaimana telah lewat penyebutannya. Dan ini termasuk dari warisan Rofidhoh. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan tampak jelasnya keutamaan-keutamaan dua syaikh: Abu Bakr dan Umar itu jauh lebih jelas bagi setiap orang yang berakal daripada keutamaan orang yang lain. Orang orang Rofidhoh ingin memutarbalikkan hakikat. Maka mereka punya bagian dari firman Alloh ta’ala:

﴿فمن أظلم ممن كذب على الله وكذب بالصدق إذ جاءه فمن أظلم ممن افترى الله كذبا أو كذب بآياته إنه لا يفلح المجرمون﴾ (سورة يونس: 17)

“Maka siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.”

Dan ayat-ayat yang seperti ini. Karena mereka itu termasuk sempalan yang paling besar pendustaannya terhadap kebenaran, dan pembenaran terhadap kedustaan, dan tidak ada di umat ini yang menyerupai mereka dalam masalah itu.” (“Minhajus Sunnatin Nabawiyyah”/8/hal. 371).

            Ketiga: Muhammad Al Wushobiy berupaya melarang penyebaran malzamah-malzamah Ahlussunnah.          Ini menyerupai perbuatan Rofidhoh. Lihat kitab “Riyadhul Jannah” cet. 5/hal. 8/karya Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- (cet. Kedua di bawah judul: permusuhan generasi terakhir terhadap kitab-kitab sunnah).

            Rofidhoh telah menuntut Asy Syaikh Ihsan Ilahiy Zhohir رحمه الله untuk tidak menyebarkan kitab-kitab beliau yang membongkar kejelekan mereka. maka beliau رحمه الله menjawab: “Syaratku adalah agar mereka membakar kitab-kitab yang aku nukil darinya.” Maka mereka menjawab: “Ini perkara yang tidak mungkin disanggupi!” (disebutkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله sebagaimana dinukilkan oleh Abu Hammam Al Baidhoniy Ash Shouma’iy وفقه الله dalam “Nubdzatun Yasiroh”/hal. 71).

 

Pasal dua:

kontradiksi Al Wushobiy

            Muhammad Al Wushobiy seperti kebiasaannya melakukan kontradiksi, yang mana dia mengisyaratkan bahwasanya Ahlussunnah Dammaj dan orang-orang yang bersama mereka menempuh langkah Rofidhoh, sementara Al Wushobiy sendiri berkata: “Barangsiapa dia itu dalam area Ahlussunnah, maka dia mendapatkan posisinya. Dan barangsiapa keluar dari Ahlussunnah dan menjadi termasuk dari Shufiyyah atau termasuk dari Asya’iroh, atau termasuk dari Rofidhoh, mereka mendapatkan posisi yang khusus untuk mereka. kita tidak memposisikan manusia semuanya dalam satu posisi. Seorang sunniy menyelisihimu dalam suatu masalah, lalu engkau memposisikannya pada posisi Rofidhoh?

﴿إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون﴾ [النحل:90]،

“Sesungguhnya Alloh menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Alloh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.”

﴿وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ﴾ [النساء: 58]).

“Dan jika kalian menghukumi di antara manusia hendaknya kalian menghukumi dengan adil.”

            Jawaban saya:

            Perhatikanlah ucapan Wushobiy: “Seorang sunniy menyelisihimu dalam suatu masalah, lalu engkau memposisikannya pada posisi Rofidhoh?

            Wushobiy itu sendiri yang melakukan itu terhadap Ahlussunnah di Dammaj dan yang bersama dengan mereka. Dan dia itulah yang menyelisihi perintah Alloh untuk berlaku adil, ihsan, tidak melakukan kekejian, kemungkaran dan kezholiman. Barangkali kerasnya dendam dia pada Ahlussunnah menghalanginya untuk mengambil pelajaran sehingga dia tidak sadar. Dan barangkali kerasnya kebencian di hatinya menghalanginya untuk menghukumi di antara manusia dengan adil.

            Al Wushobiy telah berdalilkan dengan dua ayat ini untuk memukul Ahlussunnah, ternyata kedua ayat ini adalah argumentasi untuk membantah dirinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir mereka itu tidak berdalil dengan suatu dalil syar’iy ataupun dalil aqliy, kecuali dalam keadaan dalil-dalil tadi ketika direnungkan justru menjadi argumentasi untuk menghantam mereka sendiri, bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).

            Dan kita berkata padanya sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾ [البقرة: 44].

“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?”

            Sesungguhnya Al Wushobiy telah diberi Alloh hapalan ayat-ayat, tapi dia meninggalkan pengamalannya. Maka hendaknya kita memberinya pelajaran dengan firman Alloh ta’ala –semoga dia mau kembali kepada kelurusannya-:

﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [الأعراف: 175، 176].

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ الله وَالله لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾ [الجمعة: 5]

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zholim.”

            Bukan menjadi milik kita permisalan yang buruk, akan tetapi sebagai peringatan bagi kaum yang mendengar.

 

Pasal tiga:

kebaikan dan barokah itu ada pada amar ma’ruf dan nahi munkar serta tampil menerangkan kebenaran

            Al Wushobiy berkata: “Ahlussunnah itu ahli perdamaian, Ahlussunnah itu ahli perdamaian, mereka tak punya kegaduhan apapun. Keberadaan mereka itu baik nikmat dan berkah untuk pemerintah, negri, dan para hamba.

            Jawaban kami: ucapan dia “Ahlussunnah itu ahli perdamaian” butuh pada perincian: jika di antara mukminin salafiyyin, maka memang demikian. Ahlussunnah saling menyayangi, saling menolong, saling cinta. Adapun di hadapan orang-orang kafir dan munafiqin, maka Alloh ta’ala berfirman:

]يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير[ [التوبة: 73].

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiqin, dan bersikaplah keras pada mereka. Dan tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. At Taubah: 73).

            Demikian pula di hadapan para penyeleweng. Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه :

«ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن، وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل». (أخرجه مسلم (80)).

“Tidak ada satu Nabipun yang Alloh utus sebelumku kecuali dia itu punya penolong dan sahabat. Mereka mengambil sunnah Nabi tersebut, dan meneladani perintahnya. Kemudian datanglah setelah mereka generasi-generasi pengganti yang mengucapkan apa yang tidak mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan pada mereka. Maka barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu mukmin, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lidahnya, maka dia itu mukmin, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya, maka dia itu mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan meskipun sebiji sawi.” (HR. Muslim (80)).

            Dan dari Ali رضي الله عنه berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«يأتي في آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم فأينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن قتلهم أجر لمن قتلهم يوم القيامة».

“Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda, akalnya tolol, mereka berkata dengan perkataan yang terbaik dari ucapan makhluq. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari binatang buruannya. Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka. Maka di manapun kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena sesungguhnya pembunuhan terhadap mereka itu pada hari Kiamat berpahala bagi orang yang membunuh mereka.” (HR. Al Bukhoriy (3611) dan Muslim (1066)).

            Dan Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan Muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi khowarij dan rowafidh dan semisal mereka jika mereka memisahkan diri dari jama’ah muslimin.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 530).

            Sesungguhnya bangkitnya Ahlussunnah dalam melaksanakan kewajiban ini –sekalipun mereka ditelantarkan oleh para pengecut yang bergaya damai- itu adalah benar-benar kebenaran dan maslahat bagi para hamba dan negri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ الله ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ [البقرة: 251].

“Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

            Dan telah lewat hadits An Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما : dari Nabi صلى الله عليه وسلم berkata:

«مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا». (أخرجه البخاري (2493)).

“Permisalan orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan orang yang terjatuh ke dalam pelanggaran hukum Alloh adalah seperti suatu kaum yang berundi di kapal, maka sebagian dari mereka mendapatkan bagian atas, dan sebagian yang lain mendapatkan bagian bawah. Orang-orang yang di bagian bawah jika mau mengambil air, mereka melewati orang yang di atas mereka. maka mereka berkata: “Seandainya kita benar-benar melobangi bagian kita ini dan kita tidak mengganggu orang yang di atas kita saja.” Maka jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka (yang di bawah) melakukan apa yang mereka inginkan, pastilah mereka semua akan binasa. Dan jika orang-orang yang di atas mencegah tangan-tangan mereka, mereka akan selamat, dan semuanya akan selamat.” (HR. Al Bukhoriy (2493)).

            Bacalah sejarah para Shohabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, engkau akan mengetahui hakikat Ahlussunnah bersama orang-orang yang menyelisihi agama Robbul alamin.

            Maka kebaikan dan keberkahan itu ada pada amar ma’ruf dan nahi munkar, terang-terangan menampilkan kebenaran dan menghalangi permusuhan orang-orang yang melampaui batas. Inilah yang lebih bermanfaat bagi negri dan hamba Alloh, beda dengan hawa nafsu Al Wushobiy. Alloh ta’ala berfirman:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر﴾ [آل عمران: 110].

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka Alloh Yang Mahasuci menjelaskan bahwasanya umat ini adalah umat yang terbaik untuk manusia. Maka mereka itu paling bermanfaat untuk mereka, paling agung kebaikannya kepada mereka, karena mereka itu menyempurnakan urusan manusia dengan kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran dari sisi sifat dan kadarnya, yang mana mereka memerintahkan setiap kebaikan dan melarang dari setiap kemungkaran untuk setiap orang. Dan mereka menegakkan yang demikian itu dengan jihad di jalan Alloh dengan jiwa dan harta mereka. Dan ini adalah kesempurnaan manfaat untuk para makhluk.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 123).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya orang yang bermanfaat itulah orang yang diberkahi, dan perkara yang paling bermanfaat dan paling besar berkahnya adalah orang yang diberkahi di kalangan manusia di manapun dia berada. Dia itulah yang diambil manfaatnya di manapun dia turun.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 141).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan para makhluk itu semuanya adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang paling dicintai oleh Alloh adalah orang yang paling bermanfaat bagi para makhluk-Nya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 12).


Bab Sembilan:

Para ‘Adniyyun dan Wushobiyyun Itulah Sempalan Yang Sesat

 

            Al Wushobiy berkata: “Dan manhaj salafiy berlepas diri dari perlakuan yang kasar ini,…”, “Ini sebagaimana yang kalian dengar tidak dikenal kecuali dari sempalan yang menyendiri ini, sempalan Hajuriyyah yang syadzdzah (menyendiri), Sunnah berlepas diri dari amalan yang buruk ini, sunnah benar-benar berlepas diri!!”

            Jawabannya sebagai berikut:

            Telah banyak penjelasan-penjelasan bahwasanya Ahlussunnah di Dammaj itu kokoh di atas sunnah dan salafiyyah. Maka mereka itulah Al Jama’ah, dan bahwasanya mar’iyyun itulah mubtadi’ah, maka mereka itulah firqoh (sempalan). Dan syaikh kami Yahya حفظه الله memberiku faidah bahwasanya Abdurrohman Al Mar’i dan para pengikutnya adalah termasuk firqoh yang sesat. Dan aku akan memaparkan sedikit dari bayan tentang hal itu dengan seidzin Alloh.

 

Pasal satu:

Mar’iyyun itulah yang firqoh, dan manhaj salaf berlepas diri dari perbuatan mereka itu

            Dan termasuk yang menunjukkan tentang bid’ah Abdurrohman Al Mar’i dan para pengikutnya adalah: sempitnya wala dan baro’ mereka. Abdurrohman Al ‘Adniy memboikot orang yang tidak bersamanya dan orang yang dekat dengan syaikh kami Yahya حفظه الله seperti syaikh yang mulia Sa’id Da’as, dan saudara kita yang rendah hati dan beradab Ihab Al Farojiy Al Adniy حفظهم الله. Bahkan ini ketika si Adniy masih di Dammaj. (lihat “Haqoiq Wa Bayan” hal. 17 dan juga hal. 33).

            Termasuk dalam bab ini adalah Abdurrohman Al ‘Adny ketika masih di Dammaj menolak menjawab salam saudara kita yang mulia Hamud Al Wa’iliy –pemilik tasjilat Al Yaqzhoh-, bahkan menyikapinya dengan bengis. (lihat “Haqoiq Wa Bayan” hal. 17).

            Dia tak mau menjawab salam syaikh yang mulia Kamal Al Adniy حفظه الله pada hari-hari upaya beliau mendamaikan antara kedua pihak, saat Adniy masih di Dammaj. (lihat “Haqoiq Wa Bayan” hal. 21).

            Dan termasuk yang menunjukkan fanatisme Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy dengan jenis wilayahnya adalah ucapannya pada akh Kamal Al Adniy حفظه الله : “Wahai akhona Kamal, Asy Syaikh Yahya tidak peduli dengan orang-orang ‘Aden, dan tidak mempedulikan mereka. Asy Syaikh berbicara tentang perempuan Aden. Dia bilang: “Jangan kalian menjadikan kemaluan kalian untuk laki-laki.” Dai macam apa ini bicara seperti itu?”

            Wahai para pembaca: harus diketahui bahwasanya Asy Syaikh Yahya tidak mengucapkan itu. Beliau hanyalah berkata apa yang didengar oleh sekian banyak orang di masjid, yang berupa nasihat. Dan ketika sebagian ikhwah datang dari Aden, mereka berkata: “Ucapan ini, kami ingin menghapusnya dari kaset. Asy Syaikh berkata: “Aku cuma ingin menolong kalian dan menolong kebenaran, dan tiada bahaya apapun terhadap kalian. Dan ucapan tadi tidak dimaksudkan untuk kalian. Tapi hapuslah dia sesuai dengan keinginan kalian.” Lalu mereka menghapus kalian itu, dan Alhamdulillah. Lalu apa yang membikin terjadinya pergolakan dan api macam ini?! (lihat “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 23).

            Dan termasuk dari yang demikian itu adalah ucapannya pada sebagian pelajar Aden pada hari-hari kegoncangan yang dia bikin di sini: “Engkau harus bersama para saudaramu.” Saya mendengar kabar ini dari syaikh kami حفظه الله saat menjawab soal-soal dari penduduk Mukalla. Dan disebutkan juga di “Haqoiq Wa Bayan” (hal. 33). Lihat juga “Silsilatuth Tholi’ah” (Asy Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudiy/3/hal. 15).

            Dan berita-berita tentang rusaknya timbangan para pengikut Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy dalam masalah wala wal baro itu ada di “Iqozhul Wisnan” (hal. 9), “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26) dan “Syarorotul Lahab” (1/hal. 17) dan yang lainnya.

            Dan termasuk yang menunjukkan yang demikian itu adalah boikot mereka –tanpa dalil syar’iy- terhadap orang yang dekat dengan syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya حفظه الله . Dan kami telah mengalami itu banyak sekali sampai sekarang. Dan itu tersebut dalam “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 26), “Iqozhul Wisnan” (hal. 29), dan “Mulhaqul Minzhor” (16) dan yang lainnya.

            Dan syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya حفظه الله telah mensifati hizb baru itu berkali-kali bahwasanya jalan yang mereka tempuh di dalamnya ada wala dan baro yang sempit terhadap saudara-saudara mereka yang mana mereka itulah Ahlussunnah.

            Syaikh kami Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله memandang bahwasanya Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy adalah pimpinan fanatisme yang tercela dan dia itu kepala hizb baru. (“Khiyanah Da’awiyyah”/hal. 29).

            Dan telah lewat penjelasan tentang makar firqoh tersebut. Dan sesuai untuk mereka ucapan Asy Ahmad An Najmiy rohimahulloh: “Seluruh dakwah hizbiyyah dibangun di atas takattum (menyembunyikan suatu rahasia), pengkhianatan, makar, kecurangan, dan talbis.” (“Ar Roddul Muhabbir” hal. 124).

            Dan bayyinah-bayyinah tersebut dari awal hingga akhirnya menunjukkan pada kerasnya permusuhan firqoh ini. Maka mereka itu bukanlah dari Ahlussunnah. Sesungguhnya permusuhan terhadap Ahlussunnah adalah kebiasaan ahli bid’ah. Al Imam Muhammad Nashiruddin Al Albaniy رحمه الله berkata: “Tidak benar jika dikatakan bahwasanya Ikhwanul Muslimin itu adalah termasuk dari Ahlussunnah karena mereka itu memerangi sunnah.” (Dinukilkan oleh Muhammad Al Imam dari kaset/lihat “Al Bayan” milik dia/hal. 73).

            Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata tentang sebagian hizbiyyin: “… dan mereka mengkhususkan permusuhan terhadap salafiyyin dan ahli tauhid, akan tetapi bersamaan dengan itu mereka mempergunakan taqiyyah yang dibangun di atas kedustaan dan kemunafiqan, …” (“Dahru Hajamatil Hizbiyyin”/hal. 13/Asy syaikh An Najmiy).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Jelaslah dari ini bahwasanya para pemeluk manhaj ikhwaniy dan yang sejenis dengan mereka itu mengkhususkan permusuhan mereka pada ahli tauhid saja, … dst.” (“Ar Roddusy Syar’iy”/hal. 101).

            Dan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله menyebutkan sifat Haddadiyyin: “Yang keenam: permusuhan yang keras terhadap Salafiyyun sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk mendakwahkan Salafiyyah dan membelanya, dan sekalipun telah mencurahkan kerja keras untuk menghadapi bid’ah, hizbiyyah dan kesesatan.” (“Mumizatil Haddadiyyah”/hal. 50-51).

            Dan termasuk dari bab ini adalah penyelisihan Abdurrohman bin Mar’i Al Adniy terhadap manhaj salaf dalam masalah kerasnya Ahlussunnah terhadap mubtadi’ah. Demikian pula para pengikutnya. (rujuk risalah “Jinayatu Abdirrohman Wa Hizbihi ‘Alal Manhajis Salafiy Wa Ahlih”/hal. 49/Yusuf Al Jazairiy حفظه الله).

            Dan mereka punya upaya untuk merubah jalan dakwah Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله tentang sikap keras terhadap mubtadi’ah. (rujuk risalah “Jinayatu Abdirrohman Wa Hizbihi ‘Alal Manhajis Salafiy Wa Ahlih”/hal. 52, dan “Silsilatuth Tholi’ah”/4/hal. 25).

            Dan termasuk yang menunjukkan tentang penyelisihan mereka terhadap jalan salaf adalah upaya mereka untuk menyebarkan sebagian kitab-kitab hizbiyyin atau selebaran mereka atau kaset-kaset mereka.

            Demikian pula mereka mendatangkan beberapa syiar dan prinsip yang menyelisihi kebenaran.

 

Pasal dua:

Al Wushobiy itulah yang hizbiy, yang keluar dari Al Jama’ah. Dan manhaj salafiy berlepas diri dari perbuatannya itu

            Dan termasuk yang menunjukkan hizbiyyah Muhammad Al Wushobiy adalah: pembangkangan dia terhadap kebenaran.

Telah banyak bantahan Ahlussunnah kepada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy هداه الله di antaranya adalah:

1-    Nasihat bersifat persaudaraan yang penuh adab dari saudara kita yang mulia, penelusur yang pintar Abu Bilal Murtadho At Tawiy Al Adniy, yang mana beliau manakala melihat dari Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy perubahan yang sangat besar, beliau mengirimkan surat nasihat pada Wushobiy pada akhir Syawwal 1428 H. tapi Wushobiy tidak peduli. (sebagaimana dalam “Nushhun Wa ‘Itabun Lil Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy/hal. 6).

2-    Dan datanglah kemudian nasihat-nasihat ahlussunnah yang pencemburu, kepadanya, di antaranya adalah: – “Al Wala Wal Baro Adh Dhoyyiq ‘Indasy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/Syaikhuna An Nashihul Amin.

3-    “Asmaul Maftunin Wa Roddun ‘Alasy Syaikh Al Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

4-    “Minnatul Karimil Hamid Binaqdhi Tala’ubati Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

5-    “Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”/Abu ‘Ammar Yasir bin ‘Ali Al Hudaidy

6-    “Tahdzirul Bariyyah Mimma ‘Indal Wushobiy Minal Inhirofatil Quthbiyyah”/Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

7-    “Nushhun Wa ‘Itabun Lil Wushobiy”/Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy

8-    “At Ta’mid Wat Tad’im”/Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

9-    “Asy Syaikh Al Wushobiy Bainal Ifroth Wat Tafrith Fit Tilfiziyun Wad Dusysy”/Fahmiy Bin Dawud Al ‘Amiriy

10-                       “Al Idhohatun Nayyiroh Bi Mawaqifil Wushobiyl Mutaghoyyiroh”/Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ba Jammal

11-                       “Al Kawi Li Ta’shilat Wa Syathohat Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

12-                       “Tahdzirus Salafiyyin Min mafasid Wa Adhrori Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin”/ Abu Zaid Mu’afa bin Ali Al Mighlafiy

13-                       “Al Wushobiy Wa Tauhidul Hakimiyyah” /Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal

14-                       “Nashihatu Abi Basyir Al Hajuriy Lisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy”/ Abu Basyir Al Hajuriy

15-                       “Jinayatu Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy ‘Alal Ushulis Salafiyyah”/ Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy

16-                       “At Tanbihus Sadid ‘Ala Dzammit Taqlid, War Roddu ‘Ala Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy”/Abur Robi’ Muhammad bin ‘Iwadh Al Qulaishiy

17-                       “Tholi’atur Rududis Sadidah ‘Ala Risalati Nashoih ‘Ulamail Ummah” /Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy

18-                       “Ar Roddusy Syar’iy”/Asy Syaikh Abu Abdillah Thoriq bin Muhammad Al Khoyyath Al Ba’daniy

            Barangsiapa ingin melihat kepada penampilan bayyinat, hujaj dan barohin atas kebatilan Muhammad Al Wushobiy, pembangkangannya kepada kebenaran, kesombongannya kepada nasihat-nasihat yang benar, hendaknya dia melihat kepada risalah-risalah ini tadi, kemudian hendaknya dia menerima berita-berita dan hukum-hukum yang dibangun di atas dalil-dalil yang kuat dan berat itu. Jika dia enggan menerimanya maka dia harus membantah hujjah dengan hujjah pula, karena pintu untuk itu terbuka.

Dan dalil tentang hizbiyyah Wushobiy juga adalah: dia mendatangkan pemikiran harokiyyah yang terkenal: tauhid hakimiyyah.

            Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy dalam risalahnya “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” berkata:

Asy Syaikh Al Wushobiy dalam kitabnya “Al Qoulul Mufid” hal. 72 berkata: Pengertian tauhid. Tauhid secara bahasa adalah mashdar dari وحد يوحد yaitu: menjadikan sesuatu menjadi satu. Dan secara syari’ah adalah: penunggalan Alloh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan nama dan sifat-Nya, dan hukum-Nya. Lihatlah: “Majmu’Fatawasy Syaikh Ibnu Baz” (1/hal. 34).

Selesai ucapan Asy Syaikh Al Wushobiy.

Dan ketika muncul kitab ini setelah penelitian ulang dari Asy Syaikh Al Wushobiy dengan beberapa tambahan pada tahun (1422 H) akupun melihat-lihat kitab itu karena Asy Syaikh Al Wushobiy memerintahkannya, di mana beliau berkata dalam salah satu darsnya: “Jika kalian melihat kesalahan apapun dalam kitab ini, maka peringatkanlah diriku, niscaya kalian akan mendapatkan doa dariku.” Dan beliau mengulang ucapan itu lebih dari sekali.

            Maka akupun memberanikan diri untuk itu dan mulai melihat-lihat isi kitab itu. Seakan-akan Asy Syaikh Al Wushobiy memberikan isyarat bahwasanya di dalam kitab itu ada perkara-perkara yang beliau berijtihad di situ dari dirinya sendiri.

Lalu mataku tertuju pada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita dalam menyusun kitab-kitab aqidah dan tauhid. Dan penyelisihan yang paling penting adalah: penisbatan ucapan tambahan ini: “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله hingga aku mengira bahwasanya ucapan ini memang diucapkan oleh Al Imam Ibnu Baz رحمه الله sampai-sampai aku disusupi keraguan dan kebimbangan bersamaan dengan keyakinanku akan aqidah Imam tersebut رحمه الله seperti dulunya keyakinanku. Maka aku saat itu juga aku menjulurkan tanganku kepada kitab-kitab Al Imam Ibnu Baz رحمه الله dan aku mengambil jilid yang diisyaratkan dalam kitabnya yaitu (1/34) dari “Majmu’ul Fatawa”, kemudian aku buka halaman yang diisyaratkan padanya dan mulailah aku membacanya. Tapi aku tidak mendapati penisbatan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله. Maka aku sangat heran melihat perbuatan ini dan kelancangan ini. Bagaimana dia punya hak untuk berbuat itu dari dirinya sendiri. Silakan membaca perkataan Al Imam Ibnu Baz رحمه الله secara lengkap. Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata (1/hal. 34):

“Tauhid: mashdar dariتوحيدا  وحد يوحد yaitu: وحِّد الله yaitu: yakinilah bahwasanya Alloh itu satu, tiada sekutu baginya dalam rububiyyah-Nya, ataupun dalam nama dan sifat-Nya, ataupun dalam uluhiyyah-Nya dan ibadah kepada-Nya, yang Mahasuci dan Mahatinggi… dan ketika dirinci jadilah jenis tauhid itu ada tiga: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma was sifat. Untuk tauhid rububiyyah kaum musyrikin mengakuinya dan mereka tidak mengingkarinya. Akan tetapi mereka tidak masuk ke dalam Islam dengan tauhid ini…”

            Manakala aku memastikan bahwasanya penisbatan ini adalah susupan dari Asy Syaikh Al Wushobiy, berkumpullah aku dengan beberapa ikhwah dari penuntut ilmu. Asy Syaikh Al Wushobiy mengenali mereka. Aku katakan pada mereka: “Marilah kita pergi menemui Syaikh, mencari kepastian tentang apa yang beliau inginkan dengan penisbatan ucapan ini pada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله.”

Kukatakan pada mereka: “Barangkali terjadi salah tulis dari beliau dalam kejadian tersebut, atau hal itu adalah hasil dari ijtihad beliau, sementara ijtihad dalam hal-hal seperti ini adalah tidak boleh secara syari’ah, terutama menisbatkan ucapan yang muhdats kepada para imam yang agung yang memiliki amalan ilmiyyah yang besar.”

Maka kamipun berkumpul dengan Asy Syaikh Al Wushobiy di dalam kamar yang ada di samping mihrob seusai sholat ‘Ashr pada bulan Ar Robi’uts Tsani tahun 1422H dan kami katakan pada beliau: “Wahai syaikh, Anda telah meminta para thullab Anda untuk memeriksa kitab ini, dan barangsiapa mendapati perkara apapun yang perlu diperingatkan hendaknya dia menyampaikannya kepada Anda.”

Maka beliau berkata: “Apakah kalian mendapatkan sesuatu?”

Aku jawab: “Iya syaikh, kami mendapatkan perkara-perkara yang banyak.”

Beliau berkata: “Perkara-perkara apa itu?”

Aku jawab: “Ada beberapa perkara yang menyelisihi jalan ulama kita.”

Lalu aku jelaskan padanya beberapa penyelisihan tadi, hingga kami sampai pada definisi tauhid yang beliau tulis, dan penisbatan ucapan tambahan tadi kepada Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله . kukatakan pada beliau: “Sesungguhnya Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله  tidak mengucapkan perkataan yang diisyaratkan kepadanya ini tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Siapakah yang mengabarimu dengan itu?”

Aku jawab: “Saya lihat sendiri perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله  dan saya tidak mendapati tambahan tadi.”

Maka beliau berkata padaku: “Apakah engkau sudah memastikannya?”

Aku jawab: “Iya, ini dia kitab beliau ada di tangan saya, saya akan membacakan kepada Anda ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz”.

Kemudian akupun membacakan kepada beliau ucapan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله hingga aku berhenti dari halaman yang diisyaratkan. Lalu aku berkata pada beliau: “Wahai syaikh, di manakah tempat kalimat tadi dari perkataan Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله ?”

Diapun terdiam.

Kemudian aku bertanya kepadanya untuk memastikan: “Wahai syaikh, apakah Anda berpendapat adanya tauhid hakimiyyah?”

Maka diapun menjawab: “Iya”

Lalu kutanyakan padanya: “Wahai syaikh, siapakah yang berpendapat seperti itu dari kalangan ulama?”

Dia terdiam lagi.

Dan aku tahu bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy memang berpendapat seperti itu sebelum keluarnya kitabnya tadi. Dulu dia mengulang-ulang seputar “hakimiyyah” pada salah satu darsnya selepas maghrib, kemudian naik di seputar “tauhid hakimiyyah”. Seakan-akan dia memang berkeyakinan seperti itu, sebatas apa yang kupahami dari perkataannya. Kemudian setelah dia selesai berbicara aku bertanya kepadanya: “Apakah tauhid hakimiyyah itu merupakan tauhid yang tersendiri?”

Dia menjawab: “Iya. Dia berhak untuk berdiri sendiri.”

Perkataan ini diucapkannya pada malam Rabu tanggal 6/11/1421H.

Kemudian di akhir pertemuan kami dengan Asy Syaikh Al Wushobiy kukatakan padanya: “wahai syaikh, saya telah bertanya kepada Syaikh kami Sholih As Suhaimiy حفظه الله pada salah satu dars beliau di tanah suci tentang tauhid hakimiyyah, maka beliau berkata padaku: “tauhid hakimiyyah adalah tauhid yang muhdats. Dan yang pertama kali membawanya adalah Al Ikhwanul Muslimin. Dan tidaklah mereka membawanya kecuali untuk mengkafirkan para penguasa dan memberontak pada mereka.”

            Dan aku nukilkan kepadanya perkataan “Al Lajnatud Daimah” حفظهم الله tentang tauhid hakimiyyah. Para ikhwah juga menukilkan padanya beberapa perkataan ulama tentang tauhid hakimiyyah.

Kemudian aku jelaskan juga padanya beberapa perkara yang perlu diperhatikan yang ada dalam kitabnya tadi. Kemudian selesailah pertemuan tadi menjelasng maghrib dengan kesimpulan bahwasanya aku akan menulis kritikan-kritikan tadi dalam selembar kertas aku berikan padanya.

Tapi yang sangat disayangkan: dirinya di dalam dars malam itu aku kira akan memuji para thullabnya yang membantunya di atas kebaikan, ternyata dirinya dalam darsnya mulai berbicara tentang khowarij, menjelaskan sifat-sifat mereka dan bagaimana mereka memberontak pada ulama. Dan dia mulai menyerupakan kami dengan mereka. Bahkan dirinya menjadikan dars malam itu semuanya adalah tentang khowarij. Inilah doa yang dijanjikannya kepada kami!!!

Maka tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

﴿ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين﴾.

“mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Sampai-sampai salah seorang sahabatku memandang wajahku dan tersenyum seraya memberikan isyarat dengan kepalanya bahwasanya dirinya menyesalkan perbuatan Asy Syaikh Al Wushobiy. Seusai dars mulailah aku menenangkan sahabatku dan aku redakan kemarahannya sedikit demi sedikit. Kukatakan padanya: “Barangkali syaikh berijtihad dalam memvonis kita tadi.” Lalu kami saling berwasiat untuk bersabar, dalam keadaan aku tahu bahwasanya syaikh ini adalah orang yang sombong dan tidak menyukai kebenaran.”(([6]))

Kemudian aku menulis koreksian yang dimintanya dariku tadi lalu aku berikan kepadanya setelah empat hari, dan di dalamnya tertulis kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kitab tadi.

            Setelah satu pekan datanglah kepada syaikh pertanyaan-pertanyaan dari Britonia, yang mana di antara soal-soal tadi ada pertanyaan yang terkait dengan tauhid hakimiyyah. Maka syaikh menjawab bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Yang lebih berat dari itu adalah bahwasanya dia menisbatkan perkataan tadi kepada Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy –semoga Alloh merohmatinya- dan bahwasanya beliau juga berkata demikian.

            Pada hari kedua aku dikabari tentang hal itu, dan bahwasanya syaikh Wushobiy berfatwa bahwasanya tauhid hakimiyyah termasuk jenis yang berdiri sendiri. Maka aku terheran-heran dengan amat sangat dari orang ini. Bagaimana dia bisa berfatwa di hadapan manusia dalam keadaan kami telah menjelaskan kepadanya bahwasanya perkataan ini adalah ucapan ahlul bida’ dari kalangan Ikhwaniyyah, Sururiyyah dan Quthbiyyah?

Jawaban dia terhadap pertanyaan dari Britonia itu terjadi pada dars Zhuhur, yang mana mayoritas waktu untuk menjawab pertanyaan adalah pada waktu tadi. Lalu aku datang pada hari kedua pada dars Zhuhur, dan seakan-akan syaikh mengetahui sebab kehadiranku karena aku tidak biasa hadir pada dar zhuhur. Pada akhir dars dia menanyai seorang murid seraya berkata: “Apakah tauhid hakimiyyah termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri?” tidaklah dia menanyainya –demi Alloh- kecuali karena diriku, dan aku tahu itu.

Maka si murid menjawab: “Iya”

Syaikh bertanya padanya: “Siapakah dari ulama yang berkata demikian?”

Si murid menjawab: “Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy(([7]))”

Maka akupun menjadi sangat marah karena hal itu. Seakan-akan syaikh sengaja terang-terangan dengan bid’ah ini bahkan mengajak manusia kepadanya, bahkan mendiktekannya kepada para muridnya, serta berkata dusta atas nama ulama, terkadang terhadap Al imam Ibnu Baz dengan tulisan, dan terkadang terhadap Al ‘Allamah Muhammad bin Aman Al Jamiy dengan dikte lisan. Dan aku tak sanggup menahan diriku lagi dari kemarahanku.

Maka akupun mengangkat tanganku dan berkata kepada syaikh: “Sesungguhnya tauhid hakimiyyah tidak termasuk jenis tauhid yang berdiri sendiri.”

Dia menjawab: “Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy berkata demikian.”

Kukatakan padanya: “Di manakah beliau berkata yang demikian?”

Dia menjawab: “Dalam kitab “Haqiqotusy Syuro Fil Islam” hal. 11”

Kukatakan: “Wahai syaikh, sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله dalam kitab itu membantah para Harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya hakimiyyah itu harus diterapkan di segenap ruang kehidupan dunia dan agama.”

Maka dia berkata padaku: “Bahkan beliau berkata yang demikian. Rujuklah kembali kitab itu.”

Ketika aku pulang ke rumah, dan kitab itu ada padaku –segala pujian dan karunia adalah milik Alloh- aku memperolehnya sebagai hadiah dari Ali bin Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله . Kemudian aku bolak-balik kitab itu dengan halaman yang diisyaratkan oleh lidahnya. Maka aku dapati bahwasanya perkataan beliau beda dengan apa yang diaku-aku oleh Asy Syaikh Al Wushobiy yang mana Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya hakimiyyah dalam Islam hanyalah milik Alloh semata. Dan inilah yang diimani oleh setiap muslim yang berakal yang belum berubah fitrohnya dengan pemikiran Barat dan Timur, Karena tauhid hakimiyyah adalah tauhid tasyri’ itu sendiri. Dan dia itu adalah jenis dari tauhidul ibadah, maka tiada ibadah kecuali kepada Alloh. Maka tiada hakimiyyah kecuali milik Alloh satu-satunya, bukan milik satu individu atau satu partai atau suatu bangsa.”

            Inilah beliau Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله membantah harokiyyun yang mendengung-dengungkan seputar tauhid hakimiyyah, dan beliau menjelaskan pada mereka bahwasanya tauhid hakimiyyah yang mereka bikin-bikin itu hanyalah masuk ke dalam tauhid uluhiyyah, dia adalah bagian darinya, dan bukan tauhid yang tersendiri. Inilah yang benar, dan inilah perkataan seluruh ulama kita secara ijma’.

            Maka di manakah pemahaman Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy terhadap perkataan Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله hingga dia menisbatkan kepada beliau perkataan yang muhdats ini, bahkan menyebarkannya di antara para pelajar. Bahkan sampai ke tingkatan dunia sebagaimana dalam kaset “Al Asilatul Brithoniyyah”. Maka tiada upaya ataupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

سارت مشرقة وسرت مغرباً                شتان بين مشرق ومغرب

“Dia berjalan ketimur, dan aku berjalan ke barat. Alangkah bedanya antara orang yang ke timur dengan orang yang ke barat.”

Kemudian aku tinggal selama satu setengah tahun dalam keadaan menutup mulut sambil menunggu bahwasanya syaikh akan mengumumkan rujuknya dan berpalingnya dari pemdapat yang tidak diucapkan oleh Ahlussunnah itu. Kemudian Alloh ta’ala menghendaki ketika aku ada di madinah nabawiyyah untuk aku pergi ke maktabah Ibnu Rojab, maka mataku tertuju pada suatu kitab yang mengurusi kasus ini. Dan Alloh tahu bahwasanya aku merasa gembira dengan amat sangat karena aku ingin menjelaskan pada syaikh ucapan-ucapan para ulama kita dalam masalah ini, dan bahwasanya ucapan tadi adalah perkataan ahlul bida’ orang-orang yang memiliki manhaj-manhaj politik takfiriyyah yang menyimpang.

            Tidak lama kemudian akupun tiba di Yaman pada bula Ar Robi’ul Awwal tahun 1424 H, maka aku datang dengan membawa kitab tadi kepada Asy Syaikh Al Wushobiy, lalu kukatakan padanya dengan segenap adab, rasa malu dan penghormatan, di antaranya kukatakan padanya: “Wahai syaikh, sudahkah Anda membaca kitab ini?”

Dia melihat kitab ini dan berkata padaku: “Belum”.

Maka kukatakan padanya: “Jika demikian maka bacalah kitab ini, niscaya Anda akan mendapatkan di dalamnya ucapan-ucapan para ulama tentang masalah tauhid hakimiyyah. Nama kitab ini adalah: “Al ‘Ulama Yatawallauna Tafnidad Da’awis Siyasiyatil Munharifah Li Abdirrohman Abdil Kholiq Khoshshotan Taqsimuhut Tauhid Ila Arba’ati Aqsam.” (artinya adalah: para ulama mengurusi penghancuran da’wa politis yang menyeleweng milik Abdirrohman Abdil Kholiq khususnya pembagiannya tauhid menjadi empat macam).

            Alangkah seringnya aku berharap bahwasanya syaikh mau mengumumkan taroju’nya ketika mendapati ucapan para ulama besar kita, akan tetapi sungguh disesalkan: kitab itu tinggal bersamanya selama hampir dua pekan, lalu dia memberikannya kepada teman dekatku untuk memberikannya kepadaku, dan dia tak mau berbicara satu kalimatpun seputar bab ini.

            Yang lebih berat dan lebih pahit lagi dari itu tadi: kitab “Al Qoulul Mufid” telah dicetak lagi setelah cetak yang terakhir itu, dan tetap saja syaikh bersikeras untuk menisbatkannya perkataan “dan hukum-Nya” kepada Al Imam Ibnu Baz رحمه الله padahal tidaklah tersembunyi kerusakan-kerusakan besar yang diakibatkan oleh perkataan bohong atas nama ulama dan penisbatan ucapan yang muhdats kepada mereka, karena perkataan bohong atas nama ulama adalah tunggangan kepada kebinasaan. Bisa jadi umat menyeleweng disebabkan oleh perkataan bohong atas nama ulama tadi. Dan bisa jadi terbukalah pintu bagi ahlul bida’ dengan melariskan kebatilan dan khurofat mereka. kalaupun itu semua tidak terjadi kecuali bahwasanya ahlul bida’ akan berdalilkan dengn itu tadi bahwasanya masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah, dan janganlah engkau bertanya tentang apa yang akan terjadi berupa pengkaburan terhadap orang-orang bodoh, bahkan terhadap sebagian ahlul ilmi dengan sebab tadi.

            Maka lihatlah orang ini yang ingin mencelaki aqidah Ahlussunnah dengan kebutaan ahlul bida’. Jika Asy Syaikh Al Wushobiy lancang seperti ini yang belum ada yang mendahuluinya untuk berbuat itu, maka di manakah dakwaannya untuk mengikuti manhaj Salaf? Jika dia adalah pengikut sunnah, maka kenapa sikap ittiba’nya tadi tidak menghalanginya dari perkataan bohong atas nama ulama-ulama besar tadi yang mereka itu berdiri tegak bagaikan gunung yang megah di depan fitnah-fitnah yang hampir saja menyapu umat?

            Maka berapa banyaknyakah ucapan-ucapan yang dusta yang menyeret ulama yang banyak kepada penyelewengan, terutama jika perkataan dusta dan dibikin-bikin tadi dinisbatkan kepada tokoh yang punya kedudukan tinggi di tengah-tengah umat seperti Al Imam Ibnu Baz رحمه الله . Ketahuilah: Maka hendaknya Asy Syaikh Al Wushobiy bertaqwa kepada Alloh dan hendaknya dia menjadikan firman Alloh ta’ala:

 ﴿ستكتب شهادتهم ويسألون﴾

“Persaksian mereka akan dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban”

Sebagai peringatan yang terpancang di depan mata mereka.

Dan hendaknya dia ingat juga dengan firman Alloh ta’ala:

 ﴿ألم يعلم بأن الله يرى ﴾.

“Tidakkah dia mengetahui bahwasanya Alloh itu melihat?”

Demikianlah kisah dari Abur Robi’ Muhammad Al Qulaishiy حفظه الله. Kemudian beliau berkata:

Dan yang amat sangat mengherankan lagi: bahwasanya diriku sebelum dua tahun, dan ketika itu adalah tahun 1428 H ketika terjadi perselisihan antara diriku dan dirinya, dan dia menuduh diriku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah (sebagaimana diaku-akunya) aku katakan pada sebagian muridnya: “Jika syaikh menuduhku bahwasanya aku itu munafiq, dan bahwasanya aku melemahkan semangat orang-orang dari dauroh-dauroh ilmiyyah maka sesungguhnya apa yang ada pada syaikh itu lebih besar daripada apa yang ada pada diriku, karena syaikh menuduh para ulama sebagai mata-mata, dia juga bohong atas nama Asy Syaikh Ibnu Baz, dan dia juga mulai bepergian ke para hizbiyyun, berceramah di sana dan memerintahkan para murid untuk berbuat demikian,…”

Maka si murid tadi pergi dan mengabarkan hal itu pada syaikh, ternyata syaikh mengingkari dan berkata padanya: “Kapankah aku berpendapat tentang tauhid hakimiyyah?!”

Maka si murid berkata: “Dia berkata bahwasanya Anda mengatakan itu dalam kitab Anda dan Anda nisbatkan kepada Asy Syaikh Ibnu Baz.”

Maka diapun mengambil kitab itu dan melihat ke dalamnya, ternyata dia harus berhadapan dengan hakikat(([8])). Apa yang dia lakukan untuk menyelamatkan dirinya?! Dia melihat ke kitab tadi lalu berkata pada murid tadi: “Aku berkata: “lihatlah” dan aku tidak berkata: “Sebagaimana dalam jilid tersebut” (!!!).

Ketika murid tadi datang kepadaku dan menyebutkan padaku hal itu maka akupun tertawa banyak-banyak dan kukatakan padanya: katakan pada beliau: “Wahai syaikh Muhammad, Anda itu berbicara dengan orang dari Arob dan hidup di Madinah, Anda tidak sedang berbicara dengan orang ‘Ajam yang hidup di Pakistan atau di sebagian negri Afrika.”

Maka lihatlah wahai umat Muhammad kepada perbuatan yang mengherankan ini dengan sebenar-benarnya, apakah hal itu pantas untuk dilakukannya sebagai mufti?!

Kukatakan: ini adalah perbuatan dari Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy dalam mensikapi nasihat para penasihat, sangat kita sesalkan.

Wahai syaikh Muhammad وفقك الله, Andalah yang berkata dalam “Nashihah Tasu’a”: Tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak memberikan nasihat pada kami. Dan tiada kebaikan pada kita jika kita tidak mau menerima kebenaran, dan jika kita tidak mau menerima nasihat. Dan tiada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mau mencurahkan nasihat.”

Anda juga berkata dalam kaset Syabwah “Wujubut Tamassuk Bil Kitab Was Sunnah”: “Jika engkau mau memberikan hadiah nasihat yang tepat pada tempatnya kepada seorang alim Sunniy maka hal itu lebih utama baginya daripada satu gallon madu, satu gallon madu, dari jenis madu yang terbaik. Yang demikian itu dikarenakan satu gallon madu itu akan dimakannya, lalu pergi bersamanya masuk kamar kecil. Akan tetapi nasihat ini, bagi orang yang cintai ilmu, cintai kebaikan, dan cinta sunnah, dia akan berkata: Nasihat ini lebih bermanfaat bagiku daripada satu gallon madu, sekalipun nasihat tadi ada dalam selembar kertas kecil sebaris dua baris.”

Alangkah bagusnya ucapan ini wahai syaikh Muhammad وفقك الله akan tetapi mana penerapanmu terhadap apa yang engkau ucapkan?!! Berbagai nasihat telah datang kepadamu berturut-turut, wahai syaikh Muhammad, dari Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan dari sekelompok penuntut ilmu, akan tetapi yang disesalkan adalah engkau tidak mengambil manfaat darinya.

﴾selesailah penukilan dari risalah “Hiwar Hadi Ma’asy Syaikh Al Wushobiy” karya Saudara kita Abur Robi’ Muhsin bin ‘Iwadh Al Qulaishiy حفظه الله).

            Dan barangsiapa beragama dengan suatu kesalahan dan menentang kebenaran dan menyombongkan diri terhadap nasihat-nasihat yang jujur, maka orang ini bisa dibid’ahkan.

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang kisah adzan Jum’at di Az Zauro: “Bahkan Utsman itu berijtihad. Dan orang setelah Utsman jika telah nampak baginya dalil-dalil tapi dia taqlid (membebek) pada Utsman atas perbuatan tadi, maka dia itu termasuk mubtadi’ karena taqlid itu sendiri adalah bid’ah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat perkataan salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, maka tidaklah terampuni bagi orang yang telah sampai hujjah kepadanya kesalahan yang terampuni bagi orang pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’. Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya, tidak dihukumi sebagai mubtadi’. Ini merupakan prinsip yang agung, maka pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Jenis kedua: orang yang mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menolaknya dalam rangka fanatisme terhadap para pemimpin mereka. Mereka tidaklah mendapatkan udzur, dan mereka sebagaimana firman Alloh tentang mereka:

﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾ (الزخرف: 22)

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak.”

(“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin”/9/hal. 51).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

            Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka jika engkau telah telah mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).

Lihatlah kepada penetapan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy tauhid hakimiyyah sebagai tauhid yang tersendiri, pada itu adalah termasuk syi’ar khowarij yang terkenal. Dan para ulama telah menghukumi bahwasanya pembagian yang tersendiri itu adalah bid’ah, karena dia adalah penambahan pada agama ini. Dan mencocoki kondisi dirinya apa yang diucapkan oleh Al Imam Ibnul Wazir -rohimahullohu- berkata: “Maka ketahuilah bahwasanya tempat tumbuhnya mayoritas bid’ah itu kembali kepada dua perkara yang kebatilannya jelas. Maka perhatikanlah dia dengan adil, dan kuatkan kedua tanganmu untuk menghadapinya. Kedua perkara yang batil ini adalah:

–         penambahan terhadap agama dengan cara menetapkan apa yang tidak disebutkan oleh Alloh dan para Rosul-Nya –‘alaihimus salam- yang berupa urusan agama yang besar yang wajib,

–         ataupun juga pengurangan dari urusan agama, dalam bentuk meniadakan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dengan suatu pena’wilan yang batil.”

(“Itsarul Haqq ‘alal Kholq”/hal. 85).

Dan salafiyyun tidak mengetahui ada seorangpun yang mengangkat syi’ar hakimiyyah tadi kecuali bahwasanya dirinya itu dari hizbiyyin harokiyyin.

 

            Dan termasuk dalil tentang hizbiyyah Muhammad Al Wushobiy adalah: wala dan baro yang sempit.

            Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata: “Hizbiyyah itu adalah wala dan baro yang sempit. Dan ini banyak pada diri Abdurrohman Al Adniy dan hizb baru tersebut yang bangkit dari sini dan keluar sebagai firqoh dari sini. Maka hizbiyyah itu sesuai dengan perbuatan mereka dengan keadaan yang sempurna, di antaranya adalah: perlombaan menguasai masjid-masjid. Juga: mereka itu suka berbasa-basi dan diam terhadap ahli batil. Ubaid Al Jabiriy berfatwa tentang pemilu dan mengajak mereka kepad pemilu, dan berfatwa bolehnya televisi dari arah apabila dia masuk ke siaran televisi tidak perlu didebat. Ubaid juga berpendapat bahwasanya Abul Hasan itu bukan mubtadi’, dan berpendapat bahwasanya Sayyid Quthb itu bukan mubtadi’. Sayyid Quthb itu bukan mubtadi’?! Yaitu dia berkata: “Aku tidak menghukumi dia sebagai mubtadi’ tapi dia itu sesat.” Ini kontradiktif. Dan ucapan ini tersebar darinya. Ubaid juga berfatwa tentang ikhtilath, dan berfatwa bolehnya gambar makhluk bernyawa. Hitunglah perkara-perkara ini yang mana jika kalian sering mendengar dia berfatwa dengan perkara-perkara ini, tidak menggerakkan kecemburuan hizb baru tersebut, ataupun orang-orang yang membantunya semisal Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengingkari itu. Di manakah sikap wala wal baro dari kesalahan-kesalahan tadi untuk mereka berkata: “Ini adalah kesalahan!”

            Salah seorang hadirin berkata: “Dia berfatwa untuk orang-orang Amerika bahwasanya dia sengaja mencari-cari hari raya orang-orang kafir untuk menyelenggarakan ceramah. Dan termasuk dari perkara-perkara ini banyak yang mereka bikin kesamaran tentangnya secara sempurna, dan para pengikut hizb baru itu menutup mata dari perkara tersebut. Ini adalah wala yang sempit dan di atas dasar: “Sebagian dari kita memberikan udzur kepada sebagian yang lain di dalam perkara yang kita perselisihkan.”

            Seandainya perkara ini muncul dari Al Hajuriy atau dari para muridnya dari Darul Hadits di Dammaj pastilah mereka akan memenuhi dunia dengan teriakan. Mereka telah memenuhi dunia dengan teriakan kedustaan dan kebohongan terhadap kita sementara mereka itu berbasa-basi satu sama lain.

﴿ودوا لو تدهن فيدهنون﴾

“Mereka ingin sekali seandainya engkau memberikan keringanan pada mereka sehingga merekapun memberikan keringanan padamu.”

            Maka perhatikanlah, ini wala yang sempit atau apa?! Untuk diriku, mereka melemparkan tuduhan padaku dengan perkara yang tidak dituduhkan kepada tokoh-tokoh besar haddadiyyah, terkadang dengan zandaqoh (kufur I’tiqodiy), terkadang bahwasanya aku itu rofidhiy yang disusupkan, terkadang bahwasanya tidak diketahui orang yang lebih fajir, ataupun lebih dusta, ataupun, ataupun, semisal Al Hajuriy. Demi Alloh mereka tidak mengatakan ini pada Haddadiyyah, bahwasanya mereka tidak melakukan perkara yang lebih fajir dan lebih dusta daripada mereka.

            Abul Hasan ketika menuduhku dengan tuduhan tadi, khususnya kami ahli Dammaj, banyak orang yang mengingkari mereka, orang-orang yang jengkel pada mereka. dan setelah itu mereka memvonis Abul Hasan dengan vonis-vonis seperti ini. Tapi aku, manakala mereka tidak di atas maksud itu, mereka tidak memvonis ucapan (Ubaid) ini, bahkan banyak dari mereka yang memberikan keringanan terhadap ucapan ini dan tidak mengatakan: “Ini sesat.” Dan:

﴿ودوا لو تدهن فيدهنون﴾

“Mereka ingin sekali seandainya engkau memberikan keringanan pada mereka sehingga merekapun memberikan keringanan padamu.”

            Malzamah-malzamah para fajir yang tak dikenal dari orang dinamakan dengan Barmakiy. Tahukah engkau apa itu Barmakiy!!? Dan semisal mereka, malzamahnya dibagi-bagikan di majelis Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan di masjidnya, dianjurkan untuk membacanya dan menyebarkannya, dan dia berkata: “Tambah lagi, tambah lagi wahai Syaikh Ubaid,” Yaitu yang semisal dengan itu, sama saja dari Baromikah ataukah dari yang lainnya. Adapun malzamah-malzamah kami dengan segala pujian untuk Alloh, diperkuat kepercayaannya dengan bukti-bukti dengan nama-nama fulan dan fulan, di atasnya ada nama Yahya bin Ali Al Hajuriy bahwasanya dirinya menyetujuinya, mereka memutarbalikkan fakta dan menyatakan bahwasanya itu adalah malzamah fitnah. Ini wala wal baro yang sempit ataukah apa?!!

            Ucapan yang didukung dengan bukti-bukti yang bersumber dari sisi kami dikatakan fitnah.

﴿ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ﴾ [الأحقاف:11] .

“Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah kedustaan yang lama”.

            Sementara ucapan yang bersumber dari sisi orang-orang tak dikenal, yang tak diketahui apa pemikiran mereka dan apa manhaj mereka, dan juga di dalam malzamah-malzamah itu ada kedustaan, kefajiran dan pemotong-motongan kalimat serta penggabung-nggabungan kata-kata dan fitnah yang lain, hanya saja malzamah-malzamah itu di sisi mereka masih merupakan malzamah-malzamah yang bagus.

﴿سبحانك هذا بهتان عظيم﴾.

“Mahasuci Engkau, ini adalah kedustaan yang besar.”

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 2-4).

            Syaikh kami حفظه الله juga berkata pada hal.6: “Dan pada sisi lain: mereka mengiklankan para hizbiyyun, loyalitas untuk mereka, ceramah-ceramah di masjid-masjid mereka. dan termasuk yang mereka nukilkan dari si Wushobiy: “bahwasanya musuh kita hanyalah Abul Hasan.” Baiklah, di sana ada para pengikut Abul Hasan, para pengikut “Baroatudz Dzimmah”. Ke manapun mereka pergi di sisi para masyayikh itu, mereka berkata pada mereka: “Bertobatlah pada Alloh.” Maka mengapakah sekarang mengalir bersama mereka tanpa tobat yang diketahui, padahal mereka telah memerangi dakwah dengan fitnah semisal ini. Dan jadilah para masyayikh menuntut tobat mereka, dan aku jika dikunjungi oleh seseorang, aku akan menasihatinya, dan barangsiapa dari mereka bertobat kami terima tobatnya dan kami berkata: “Semoga Alloh memberikan manfaat dengan dirinya.”

            Dan jadilah setelah itu mereka mengakui kekeliruan mereka sampai –demi Alloh- sesungguhnya sebagian dari mereka datang sambil menangis, dan air mata mengalir dari pipinya dan berkata: “Kami telah disia-siakan oleh Abul Hasan.” Sementara Asy Syaikh Muhammad berkata: “Bahwasanya musuh kita hanyalah Abul Hasan.” Adapun para pengikut Abul Hasan maka seakan-akan tidak ada di antara kita dan mereka sesuatu apapun, sebagaimana disinyalir dari perbuatan Wushobiy yang turun di tempat-tempat mereka, dan juga menyambut mereka, serta mengumumkan penentangan terhadap dakwah. Ini wala wal baro atau apa?

            Dia berceramah di tempat hizbiyyin, dan sekarang mencerca kami dan menyatakan bahwasanya di sisi kami ada nafas yang asing. Maka di manakah nafas asing ini di dalam dakwah? Keluar dari rongga badan siapa?! Dari rongga Asy Syaikh Muhammad dan dari rongga Abdurrohman Al Adniy.

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 6).

            Dan syaikh kami حفظه الله berkata juga: “Jadilah kalian sebagai tukang bepergian dari masjid ke masjid. Asy Syaikh Muhammad sekarang berkonsentrasi dari tempat ke tempat. Dan dulu dia berkata tentang para muridnya: “Aku menata mereka kemudian aku kirim mereka ke Dammaj.” Adapun sekarang dia tidak menata mereka dan tidak menyelamatkan mereka dari kesia-siaan tapi bahkan dia menaruh tutup di atas mereka dan menaungi mereka dengan “terpal” serta memanas-manasi mereka sehingga jadilah sebagian dari mereka berburuk sangka padaku dan pada saudara-saudaraku, jika sebagian saudara kita dari sini terkadang sunggah, mereka melarangnya turun ke masjid-masjid. Mereka telah meminta dariku ceramah di Hudaidah lewat telpon di masjid Abi Dzarr, dan mereka menempelkan pengumuman-pengumuman, maka pergilah para pengikut Asy Syaikh Muhammad dan merobek pengumuman ceramahku, sementara tempelan-tempelan gambar-gambar tokoh-tokoh kampanye di samping mereka tidak mereka robek. Dan Asy Syaikh Muhammad ketika mengetahui bahwasanya aku punya ceramah, dia membikin ceramah lewat telpon ke sebagian pengikut hizb baru di Hadhromaut untuk melawan ceramahku dan memalingkan manusia dari ceramahku.

            Dan telah sampai berita padaku bahwasanya pada masa terakhir dia berfatwa untuk jangan hadir di ceramah-ceramah saudara-saudara kita yang keluar berdakwah: Asy Syaikh Jamil, Asy Syaikh Muhammad bin Hizam dan sejumlah masyayikh dan pelajar yang pergi dari sini untuk berdakwah. Dari sisi mana ini? Bukankah ini dari sisi wala wal baro yang sempit?!! Harom, harom, ini adalah dakwah sunniyyah, wajib dijaga dengan Al Kitab dan As Sunnah dan saling bersaudara. Demikian pula wajib dijaga dengan berdiri di hadapan kebatilan dan di hadapan penyelisihan-penyelisihan, serta membersihkan diri dari amalan-amalan kemunafiqan ini, yang sebagiannya telah aku isyaratkan. Itu tidak boleh. Dan pelakunya tidak akan beruntung siapapun dia.

            Asy Syaikh Muhammad telah berkunjung ke sini, kemudian aku katakan padanya: “Wahai Syaikh, Anda mengatakan: hari ini Al Hajuriy di sini dan besok (akan pindah) di Hajur?” Dia menjawab: “Iya.” Aku bertanya: “Apa yang menyebabkan Anda berbuat itu?” ternyata dia tak punya jawaban. Dan tiada hujjah. Bagaimana ucapan ini? Maknanya adalah dia sebelum ini telah menggali lubang (untukku).

            Aku katakan: “Wahai syaikh, apakah Anda memperingatkan orang dari kitab “Ash Shubhusy Syariq” dan Anda memuji sebagian kitab hizbiyyin, sementara kitabku ada pengantar dari Asy Syaikh رحمه الله dan pujiannya yang harum terhadap kitab itu, dan pengantar Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله dan pujian harum terhadap kitab itu.” -Padahal Asy Syaikh Muhammad sebelum ini memuji kitab itu- “Maka apa yang menyebabkan Anda berbuat ini?” Maka dia tak punya untuk soal ini dan yang lainnya.

            Aku katakan: “Wahai Syaikh Muhammad, apakah Anda mengatakan: bahwa sesungguhnya para pelajar dan masyayikh semuanya menentangku?” lalu kukatakan pada para masyayikh: “Apakah kalian menentangku?” Mereka menjawab: “Tidak.” Aku katakan: “apakah engkau berkata bahwasanya mereka menentangku?” dia menjawab: “Aku tidak ingat.” Inilah senjata dia, senjatanya “Aku tak ingat.”

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 9-10).

            Dan termasuk dalil tentang keluarnya Muhammad Al Wushobiy dari sunnah dan salafiyyah adalah: dia tidak ridho terhadap pemboikotan terhadap ahli bid’ah.

            Saudara kita yang mulia, penelusur yang pintar –Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy حفظه الله telah menyebutkan lebih dari tiga puluh masjid milik hizbiyyin yang dikunjungi Asy Syaikh Al Wushobiy هداه الله .

            Beliau رحمه الله berkata: “Dan di Hudaidah dia menasihati para muridnya dan khususnya para penduduk Robshoh untuk jangan memboikot para pengikut Abul Hasan Al Ma’ribiy. Dia berkata: “Cukup sampai di sini pemboikotan. Tapi nasihatilah mereka.” dan ucapan ini bukan khusus untuk para pengikut Abul Hasan saja, bahkan dia itu umum, sebagaimana ditunjukkan oleh perbuatannya dan turunnya dia ke masjid Ikhwanul Muslimin, Sururiyyin, Jam’iyyah, Shufiyyah, dan masjid-masjid campur-aduk tanpa ada pemisahan. Maka termasuk dari masjid-masjid yang dikunjungi oleh Al Wushobiy ini untuk ceramah atau menyampaikan beberapa dars adalah:

1-    masjid Usamah bin Zaid di jalan Al Mu’addal, khothibnya adalah seorang ikhwaniy termasuk dari dai Ikhwanul Muslimin dan pemimpin mereka di desa itu, dan dia itu adalah Hasan Shoghir Yaghnam, dan dia itu termasuk pimpinan Hizbil Ishlah di Hudaidah dan kepala Jam’iyyah Tahfizhil Qur’an di Hudaidah. Orang ini suka ganja. Dan setelah ceramah Al Wushobiy, bangkitlah imam masjid, dan dia itu adalah hizbiy yang lain, dan dia menyampaikan kalimat kepada para hadirin dari kalangan salafiyyin dan yang lainnya. Dan ceramah itu milik Asy Syaikh Muhammad di sana. Dan itu terjadi setahun yang lalu (sejak dari tahun penulisan risalah itu).

2-    Masjid As Salam di Dahmiyyah. Imamnya adalah Hasan Al Mahwithiy, hizbiy yang parah, mantan wakil kepala Al Ma’ahidil ‘Ilmiyyah, dan dia itu termasuk pembenci Ahlussunnah dengan kebencian yang parah sampai-sampai dia berkata tentang mereka: “Ahlussunnah adalah khowarij zaman ini.” Asy Syaikh Al Wushobiy telah turun ke masjidnya sebulan yang lalu.

3-    Masjid Ad Dauqiy di samping Syahariyyah, dan ini adalah masjid Shufiy, imamnya adalah seorang ikhwaniy shufiy, di masjid itu terjadi kisah antara sang imam dengan Muhammad Al ‘Izziy, dan dia adalah termasuk orang yang paling terfitnah dalam fitnah ini, dan salah satu khothib masjid As Sunnah, dan termasuk salah satu orang dekatnya Asy Syaikh Muhammad. Sang imam yang hizbiy berdiri di akhir-akhir Sya’ban seusai sholat maghrib dan berkata: “Sesungguhnya seorang wanita tetangga masjid ini meninggal, dan hari ini adalah hari ketiganya. Dan dalam rangka bertepatan dengan ini, Asy Syaikh Muhammad Al ‘Izziy akan menyampaikan wejangan dan dengan wejangan yang paling bermanfaat seputar puasa Romadhon dan kandungannya. Lalu masuklah anak-anak dengan membawa bunga roihanah dan air mawar, tanpa pengingkaran dari Muhammad Al ‘Izziy.

4-    Masjid Saroh di Salkhonah. Imamnya adalah Asy Syaikh Jamil –demikianlah panggilannya- dia dulunya bersama Ahlussunnah, lalu memisahkan diri dari mereka dan menjadi orang yang asal tabrak.

5-    Masjid Kholid ibnul Walid di Salkhonah. Imamnya adalah seorang hizbiy.

6-    Masjid Bilal bin Robah. Hizbiy jami’iy

7-    Masjid Hamzah. Hizbiy jami’iy

8-    Masjid As Sa’adah. Imamnya adalah Majid Kambasy, orang ini asal tabrak, berjalan bersama jihadiyyin dan hizbiyyin, membantu pencatatan dalam pemilu dan tidak beriman dengan haromnya pemilu, sampai terkadang Asy Syaikh Muhammad menyebutkan haromnya pemilu. Beberapa pekan yang lalu Asy Syaikh Muhammad menyampaikan pelajaran di masjid orang itu setelah fajar.

9-    Masjid Ba Haj di samping masjidis Sunnah. Imamnya adalah hizbiy jam’iy yang suka mencela dakwah sunnah.

10-             Masjid Al Aswadiy, masjid ikhwaniy, terkenal dengan itu.

11-             Masjid Ali bin Abi Tholib di Salkhonah. Imamnya adalah ikhwaniy yang mengajar di ahli bid’ah. Asy Syaikh Al Wushobiy telah ceramah di situ setahun yang lalu. Dan seusai ceramah, imam masjidnya mendebat Asy Syaikh Muhammad dan berkata padanya: “Al Asya’iroh adalah termasuk dari Ahlussunnah. Ini Al Hafizh Ibnu Hajar asy’ariy. Asy Syaikh Muhammad diam tidak menjawabnya. Dan sebagian murid mendengar ucapan itu kemudian meninggalkannya dan pergi.

12-             Ketika Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzammariy حفظه الله singgah beberapa pekan yang lalu ke Hudaidah sebagai tamu. Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy mengeluarkannya ke beberapa masjid hizbiyyin. Maka dia menjamunya dengan tiga macam jamuan: masjid Al Kuwait –jam’iy hizbiy jihadiy- imamnya mencela pemerintah di atas mimbar-mimbar. Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzammariy menyampaikan ceramah di situ. Dan masjid ini telah dikenal oleh Ahlussunnah yang jauh dan yang dekat di Hudaidah. Dia sendiri (Al Wushobiy) turun di situ pada tahun ini. Yang kedua: masjid An Nur di kota Al ‘Ummal di Hudaidah. Imamnya hizbiy dari pengikut Al Ma’ahid. Yang ketiga: Masjid Al Aswadiy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzammariy menyampaikan ceramah di situ padahal telah diketahui bahwasanya dia pada kunjungan sebelumnya juga diturunkan di masjid Ar Rohbiy beberapa tahun yang lalu, termasuk masjid hizbiyyin terbesar di Hudaidah. Imamnya adalah Isma’il Abdul Bari, orang yang menyeleweng, punya kaset tentang kejadian Iraq, dia menyindir di dalamnya tentang kafirnya mufti umum kerajaan Saudiy. Orang tadi juga pengikut jam’iyyat dan termasuk dai hizbiyyin yang terbesar di Hudaidah. Dan termasuk kisah ceramah ini: Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy mengirim utusan ke imam masjid itu untuk minta padanya kesempatan agar Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman Adz Dzammariy berceramah di masjidnya. Si imam masjid berkata: “Mintalah idzin pada Ibrohim Al Quroibiy,” dan si Quroibiy ini adalah termasuk masyayikh hizbiyyin dan pengajar mereka di Hudaidah. Dan mereka mensyaratkan agar Asy Syaikh Adz Dzammariy tidak berbicara tentang hizbiyyah. Dan Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy mengirimkan pesan ke Ibrohim Al Quroibiy agar dirinya yang mengisi tanya jawab. Dan memang seusai ceramah dia menjawab soal –soal dalam keadaan Asy Syaikh Adz Dzammariy duduk di situ. Dan ini adalah benar-benar dakwah pendekatan dan penempelan antara dakwah sunnah dan dakwah hizbiyyah. Maka termasuk yang paling keras mendakwahkan ini sekarang ini adalah di bawah tabir: “Kita nasihati mereka” Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy, dan Asy Syaikh Adz Dzammariy lebih berhak untuk menjawab soal-soal, akan tetapi Alloh sajalah yang dimintai pertolongan. Termasuk dari kandungan soal-soal itu adalah: bumi itu berputar ataukah tidak? Al Quroibiy menjawab: “Ini soal kosong. Apa yang memasukkan kita pada masalah bumi itu berputar ataukah tidak?” ini dikabarkan oleh Yasir Asy Syarif حفظه الله.

13-             Masjid Al Haq di dusun Zayid, masjid hizbiy parah, imamnya shufiy. Masjid ini dimasuki oleh Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy tahun ini dan menyampaikan dars di situ.

14-             Masjid Al Khoir di dusun Zayid, ikhwaniy shufiy.

15-             Masjid Zaubal di jalan Najdah, imamnya hasaniy yang namanya Mujib dan menulis malzamah-malzamah untuk mencaci Asy Syaikh Al Wushobiy.

16-             Masjid Asy Syarif di desa Al Mithroq. Imamnya Abdulloh Hasan Khoirot, shufiy hizbiy.

17-             Masjid Ar Ridhwan di jalan Zayid. Imamnya adalah Ahmad, saudara Isa Mu’afa, dan pengikut Jam’iyyatul Hikmah.

18-             Masjid Al Bayyinah di desa Ash Shibaliyyah. Imamnya seorang hasaniy.

19-             Masjid Al ‘Aqil di jalan Al Hukaimiy. Imamnya seorang ikhwaniy.

20-             Masjid Ja’far bin Abi Tholib di jalan Arwa. Imamnya shufiy ikhwaniy.

21-             Masjid Al Ikhwah, di samping Ma’ahid, ikhwaniy.

22-             Masjid Ba Halas di desa At Tijariy. Imamnya shufiy.

23-             Masjid Ash Shiddiq di jalan Syamsan, ikhwaniy dari pemimpin Ikhwan di Hudaidah.

24-             Masjid At Taubah di jalan Madinatul ‘Ummal, ikhwaniy shufiy.

25-             Masjid Al Khoir di jalan An Najdah, ikhwaniy dari pemimpin Ikhwan di Hudaidah.

26-             Masjid As Sakinah di samping bundaran jam, ikhwaniy dari pemimpin Ikhwan.

Masjid-masjid yang tersebut di atas semuanya di dalam Hudaidah saja. Adapun turunnya Wushobiy di masjid-masjid hizbiyyin padahal banyak masjid-masjid sunnah di tempat-tempat tersebut, maka di dalam safari dia yang pertama ke Aden:

27-             Diumumkanlah ceramah di masjid Muhammad bin ‘Iwadh Al Yafi’iy di wilayah Rosab di Yafi’. Pengumuman ini terjadi sebulan sebelum keluarnya Asy Syaikh Muhammad dari Hudaidah. Padahal telah diketahui kondisi Muhammad bin “iwadh dan orang-orang yang bersamanya bahwasanya mereka adalah Hasaniyyun yang gigih. Sekelompok orang dari penduduk Yafi’ telah pergi ke Hudaidah, dan sebagiannya menelpon Wushobiy dan berupaya menasihatinya untuk jangan turun di tempat Hizbiyyun tadi, dan mereka menjelaskan keadaan orang-orang yang akan dia kunjungi tadi, akan tetapi Asy Syaikh Wushobiy tidak peduli dengan nasihat mereka. Maka sebagian dari ikhwah tadi pergi ke sebagian masyayikh seperti Asy Syaikh Muhammad Al Imam dan mengabarinya tentang itu. Maka Asy Syaikh Muhammad Al Imam berkata: “Ini kekeliruan. Jangan beliau turun di tempat mereka, jangan beliau pergi ke tempat mereka. merekalah yang harusnya pergi ke tempat beliau.” Tapi Asy Syaikh Al Wushobiy tak peduli dengan itu, bahkan dia mengingkari orang-orang yang pergi ke Asy Syaikh Muhammad Al Imam dengan pengingkaran yang keras. Dan ternyata memang dia jadi turun ke tempat mereka. Yang memberikan kata pengantar untuk mereka adalah Muhammad bin Iwadh Al Hasaniy, dan dia termasuk anggota Baroatudz Dzimmah. Dan akan datang insya Alloh pembahasan kerusakan-kerusakan yang dihasilkan dengan sebab perbuatan itu.

28-             Dan demikian pula diumumkan untuknya ceramah di masjid Sholih Al Bakriy (ketika masih sesat dan memerangi Salafiyyin) dan ketika dia (Wushobiy) datang ke Yafi’, yang menyambutnya adalah Hasaniyyun dan Bakriyyun. Dia turun dan ceramah di tempat Al Bakriy dan yang memberikan pembukaan adalah Al Bakriy. Dan lebih pahit dari itu adalah bahwasanya sebelum ceramah yang berlangsung di masjid Muhammad Iwadh, dia turun di tempat mereka di rumah mereka, dan makan siang di sisi mereka. Dan setelah ceramah, dia makan malam serta tidur di malam itu di tempat mereka, dan setelah itu dia turun di tempat Al Bakriy dan makan siang di tempat mereka.

Demikian pula diumumkan untuknya di Sawadiyyah di tempat Hasaniyyun, akan tetapi para penduduk Baidho menasihatinya agar jangan turun di tempat mereka di Sawadiyyah, dan bahwasanya akan terjadi bahaya terhadap dakwah dengan turunnya dia di sana. Memang dia tidak pergi ke Sawadiyyah akan tetapi dia ceramah di Yafi’ padahal dia tahu bahwasanya Ahlussunnah di wilayah Yafi’ punya masjid-masjid yang besar dan luas di tempat-tempat yang dia turun di wilayah itu. Akan tetapi dia sengaja turun di tempat Muhammad bin Iwadh dalam rangka meruntuhkan pembatas antara Hasaniyyin dan Bakriyyin dengan Salafiyyin dan agar semuanya menjadi saudara yang saling mencintai “Saling menolong di atas perkara yang mereka sepakati dan saling memberikan udzur terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” Hanya Alloh sajalah yang dimintai pertolongan.

29-             Adapun kota Ta’iz maka wilayah Rohidah di sana ada masjid yang dia senang untuk turun di situ jika datang ke wilayah itu, yaitu masjid orang buta yang hizbiy yang menyambut Asy Syaikh Al Wushobiy dengan puncak penyambutan, yang mana jika salah seorang masyayikh sunnah turun ke situ, dia membikin syarat-syarat. Asy Syaikh Muhammad Al Imam حفظه الله telah turun di wilayah situ. Maka para pemuda salafiy pergi ke orang buta yang menjadi imam masjid itu dan mereka meminta untuk ceramah di masjidnya. Maka dia berkata: Dia tak boleh ceramah kecuali dengan empat syarat:

Pertama: tidak boleh berbicara tentang pemerintah([9])

Kedua: tidak boleh berbicara tentang para tokoh

Ketiga: tidak boleh menjawab soal-soal

Keempat: ceramah harus kurang dari satu jam.

Akan tetap para pemuda salafiy tidak mengabarkan itu pada Asy Syaikh Muhammad Al Imam kecuali seusai ceramah. Maka si imam masjid berkata: “Besok lagi ceramah dilakukan di masjid kalian saja, jangan di masjid ini.”

Sekalipun demikian, Asy Syaikh Al Wushobiy sering turun di masjid itu dan meninggalkan masjid-masjid salafiyyin di wilayah itu. Nabi صل الله عليه وسلم bersabda:

الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف

“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” [HR. Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901) dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu].

30-             Dan demikian pula dia turun di masjid Ar Rohmah di wilayah Rohidah, dan itu adalah masjid milik Jam’iyyatul Ihsan.

31-             Demikian pula dauroh terakhir yang ke wilayah Fuyush, dia singgah di Ta’iz di masjid ‘Isaiy, dan itu adalah masjid hizbiy dan ceramah di situ, padahal dia bisa ceramah di masjid akh Abi Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy حفظه الله di wilayah itu padahal masjid beliau taka pa-apa, besar dan luas. Asy Syaikh Muhammad Al Imam telah pernah ceramah di situ dan dihadiri banyak orang dan masjid mencukupi mereka.

            Dan demikian pula yang menunjukkan Asy Syaikh Muhammad ingin membatalkan prinsip Ahlussunnah tersebut dengan perbuatan dia, bahwasanya dia tidak merasa cukup dengan turunnya dia ke masjid-masjid hizbiyyin bahkan urusannya itu sampai kepada pengiriman para pelajar dan orang yang mengunjunginya agar menyampaikan ceramah-ceramah dan kalimat-kalimat di masjid-masjid hizbiyyin. Dan ini perkara yang tiada seorangpun sanggup untuk memungkirinya. Maka ketika Asy Syaikh Zayid Al Wushobiy dan sekelompok dai yang bersama beliau dalam rangka dakwah ke Hudaidah, si Wushobiy menurunkan mereka di masjid-masjid hizbiyyin dan shufiyyin.

             Dan masjid-masjid yang telah kami sebutkan ini bukanlah dalam rangka pembatasan.

            Selesai ucapan saudara kita yang mulia, penelusur yang pintar –Abu Zaid Mu’afa Al Hudaidiy حفظه الله dalam kitab beliau “Tahdzirus Salafiyyin Min Mafasid Wa Adhror Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin.”

            Dan beliau حفظه الله juga menyebutkan bahaya-bahaya akibat turunnya Wushobiy di masjid-majid mereka. di antaranya adalah:

Kerusakan pertama: menyelisihi prinsip pemboikotan terhadap mubtadi’

Kerusakan kedua: tidak adanya pemisahan diri

Kerusakan ketiga: penyamaan antara ahli haq dengan ahli batil

Kerusakan keempat: terpengaruhnya orang alim dengan mubtadi’

Kerusakan kelima: penipuan terhadap para pelajar dan orang-orang awwam bahwasanya ini adalah metode salafiyyah

Kerusakan keenam: dugaan bahwasanya si alim itu sepemikiran dengan ahli bid’ah

Kerusakan ketujuh: si mubtadi’ bergaya bahwasanya si alim itu bersama mereka

Kerusakan kedelapan: terbatalkannya kerja keras para ulama yang lain (dalam mentahdzir umat dari bahaya pengaruh si mubtadi’)

Kerusakan kesembilan: tiadanya pengingkaran terhadap si mubtadi’

Kerusakan kesepuluh: baik sangka terhadap si mubtadi’

Kerusakan kesebelas: terpedayanya si mubtadi’ dengan dirinya sendiri

Kerusakan kedua belas: tersebarnya bid’ah-bid’ah dan matinya sunnah-sunnah

Kerusakan ketiga belas: mencurahkan salam kepada si mubtadi’

Kerusakan keempat belas: sholat di belakang si mubtadi’ –sekalipun sholatnya sah saja- padahal sholat di belakang si mubtadi’ itu merupakan penghormatan, pemuliaan dan pengagungan terhadapnya.

Kerusakan kelima belas: memperbanyak jumlah ahli batil

Kerusakan keenam belas: membikin perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah salafiyyin.

Kerusakan ketujuh belas: baku tolong dalam dosa dan permusuhan

Kerusakan kedelapan belas: mencurahkan ilmu pada yang tidak pantas mendapatkannya

Silakan rujuk kitab “Tahdzirus Salafiyyin Min Mafasid Wa Adhror Nuzulisy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy Fi Amakin Wa Masajidil Hizbiyyin.”

             Jika seseorang berkata: nasihat itu harus ada!

            Jawabnya adalah: para mubtadi’ah tersebut telah sampai pada mereka nasihat-nasihat yang banyak tapi mereka menentang kebenaran dan memusuhi para pembawanya, seakan-akan mereka berkata seperti yang Alloh nukilkan dari sebagian musuh-Nya:

﴿قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ﴾ [الشعراء: 136]

“Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi Kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,”

             Maka para ulama berfatwa bahwasanya mereka itu adalah mubtadi’ah. Maka kemaslahatan yang lebih berat setelah itu adalah: memisahkan diri dari mereka dan memboikot mereka dalam rangka mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ salaf. Maka Muhammad Al Wushobiy menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan As Salafiyyah dengan sengaja dan terang-terangan dan menyombongkan diri terhadap nasihat yang benar yang terulang-ulang sehingga berhak untuk dihukumi sebagai mubtadi’. Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah menghukumi dia sebagai hizbiy mubtadi’. Segala pujian bagi Alloh Robb semesta alam.

Faidah penting:

             Al Imam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maksudku di sini adalah: bahwasanya Salaf itu dulu adalah orang yang paling sempurna dalam mengetahui kebenaran, dalil-dalilnya dan jawaban tentang perkara yang menentangnya. Dan sesungguhnya mereka dalam masalah ini bertingkat-tingkat. Dan tidak setiap dari mereka melaksanakan itu semua, bahkan yang ini melaksanakan sebagian, yang itu melaksanakan sebagian yang lain sebagaimana dalam penukilan hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم dan perkara-perkara agama yang lainnya.

             Dan ucapan yang mereka cela ada dua macam: yang pertama: ucapan itu sendiri memang batil dan dusta. Dan setiap yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah adalah batil dan dusta, karena sesungguhnya ucapan yang paling jujur adalah kalam Alloh. Yang kedua: di dalam ucapan tadi ada kerusakan, semisal apa yang didapatkan di ucapan kebanyakan dari salaf untuk melarang duduk-duduk dengan ahli bida’, mendebat mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. dan salaf memerintahkan untuk memboikot mereka. Dan ini dikarenakan yang demikian itu lebih bermanfaat untuk muslimin daripada berbicara dengan mereka, karena sesungguhnya kebenaran jika dia itu jelas, muslimin telah mengetahuinya, dan sebagian mubtadi’ah menginginkan untuk menyeru kepada kebid’ahannya, maka sungguh wajib untuk melarangnya dari yang demikian itu. Maka jika dia diboikot dan dipukul sebagaimana yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه terhadap Shobigh bin Isl At Tamimiy, dan sebagaimana dulu dilakukan muslimin, atau pembunuhan sebagaimana Muslimin membunuh Al Ja’d bin Dirham dan Ghoilan Al Qodariy dan yang lainnya. Yang demikian itulah maslahat, berbeda dengan apabila meninggalkan seorang dai dalam keadaan dia tidak menerima kebenaran: mungkin karena hawa nafsunya atau mungkin karena rusaknya pengetahuannya, maka tiada pada perbincangan dengannya kecuali kerusakan, dan bahayanya akan menimpa dirinya dan menimpa muslimin.

             Kaum muslimin telah menegakkan hujjah terhadap Ghoilan dan semisalnya, membantahnya dan menjelaskan kebenaran terhadapnya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Umar bin Abdil’Aziz dan menuntut tobatnya. Kemudian dia yang melanggar tobat setelah itu lalu mereka membunuhnya. Dan demikian pula Ali رضي الله عنه mengutus Ibnu Abbas kepada Khowarij lalu beliau mendebat mereka, kemudian separuhnya dari mereka bertobat, lalu memerangi yang sisanya.

             Dan maksudnya adalah: bahwasanya kebenaran itu jika telah nampak dan dikenal, dan maksud si dai memang kepada bid’ah untuk membahayakan manusia, dia harus dihadapi hukuman. Alloh ta’ala berfirman:

﴿والذين يحاجون في الله من بعد ما استجيب له حجتهم داحضة عند ربهم وعليهم غضب ولهم عذاب شديد﴾ [ الشورى : 16 ] .

“Dan orang-orang yang membantah (agama) Alloh sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. mereka mendapat kemurkaan (Alloh) dan bagi mereka azab yang sangat keras.”

            Terkadang mereka melarang perdebatan jika si pendebatnya itu lemah ilmunya tentang hujjah dan jawaban terhadap syubuhat dan jawaban syubuhat maka dikhawatirkan terhadapnya akan dirusak oleh sang perusak tersebut, sebagaimana orang yang lemah dilarang untuk adu tanding melawan prajurit asing yang kuat dari tentara asing yang kafir. Maka yang demikian itu akan membahayakan dirinya dan muslimin tanpa ada manfaatnya.

             Dan terkadang dilarang dari itu jika si pendebat itu suka menentang yang nampak untunya kebenaran. Dan dia ditampakkan padanya kebenaran tapi dia itu tidak menerimanya –dia itu adalah Shufsathoiy- karena seluruh umat bersepakat bahwasanya perdebatan itu jika berhenti pada pendahuluan-pendahuluan yang telah dikenal dan jelas dengan sendirinya secara pasti tapi si laannya itu menentangnya, maka lawannya itu adalah sufsathoiy dan dia tidak diperintahkan untuk berdebat dengannya setelah itu. Tapi jika akalnya rusak maka obatilah dia, dan jika dia tidak sanggup mengetahui kebenaran –dan tiada bahaya di situ- maka tinggalkanlah dia. Dan jika dia berhak dihukum maka hukumlah dia jika ada kemampuan: dengan pukulan atau dengan pembunuhan. Dan kebanyakan makhluk itu tidak mau tunduk kepada kebenaran kecuali dengan pemaksaan.

             Dan maksudku adalah: bahwasanya mereka dilarang dari perdebatan dengan orang yang tidak melaksanakan kewajiban yang ada di dalam perdebatan tadi, atau orang yang tidak ada kemaslahatan besar untuk berdebat dengannya, atau di dalamnya ada kerusakan yang lebih berat. Ini adalah perkara-perkara yang datang, yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan. Adapun jenis perdebatan dengan menggunakan kebenaran maka terkadang hukumnya wajib, terkadang mustahab. Dan secara global, jenis diskusi dan perdebatan itu ada yang terpuji dan ada yang tercela, ada kerusakan dan ada kemaslahatan, ada kebenaran dan ada kebatilan.

             Dan sumber munculnya kebatilan adalah kurangnya ilmu atau jeleknya maksud, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿إن يتبعون إلا الظن وما تهوى الأنفس﴾ [ النجم : 23 ]

“Tidaklah mereka mengikuti kecuali dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu.”

            Dan sumber munculnya kebenaran adalah pengetahuan tentang kebenaran itu dan kecintaan kepadanya, …dst.”

(selesai dari “Dar’ut Ta’arudh”/3/hal. 374).

            Dan termasuk yang menunjukkan keluarnya Muhammad Al Wushobiy dari salafiyyah adalah: banyaknya pembentukan prinsip yang menyeleweng

            Saudara kita yang mulia, penelusur yang pintar, Abu Ammar Yasir bin Ail Asy Syarif Al Hudaidiy حفظه الله berkata: “Dan yang aku tetapkan di sini adalah prinsi-prinsip rusak yang Asy Syaikh Muhammad terjatuh di dalamnya. Di antaranya adalah prinsip-prinsip yang diingkari oleh para ulama terhadap Abul Hasan, dan itu termasuk perkara yang menyebabkan divonisnya Abul Hasan sebagai mubtadi’. Dan itu adalah kaidah-kaidah ‘Ar’uriyyah Quthbiyyah. Dan di antaranya adalah prinsip yang dibikin oleh Muhammad Al Wushobiy sendiri disebabkan oleh penyelewengan yang dia terjatuh di dalamnya, dan itu bersamaan dengan itu masuk ke dalam prinsip-prinsip ahli bida’. Dan tidak disyaratkan dalam perkara itu penegakan hujjah, dikarenakan penjelasan yang telah lewat. Berikut ini wahai seluruh Ahlussunnah Wal Jama’ah sejumlah perkara tersebut, agar Alloh memisahkan yang buruk dari yang baik, dan agar para pengikut petunjuk terpisah dari para pengikut hawa nafsu:

            Prinsip pertama: Al Wushobiy menyindir sebagian Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya mereka adalah kendang, dan bahwasanya mereka memperbincangkan pembicaraan dan memindahkannya dari mulut ke mulut tanpa tatsabbut, oleh karena itulah kita butuh pendidikan dan pelajaran dan yang selain itu, sebagaimana akan datang penjelasannya insya Alloh.

             Prinsip kedua: cercaan terhadap ulama sunnah dan para tokoh dakwah salafiyyah dengan sifat yang paling buruk dan ungkapan yang paling busuk seperti: jawasis (mata-mata), madasis (orang-orang susupan), ‘umala (para pegawai pemerintah), jalladun (para tukang pukul), jazzarun (para penjagal), sabbabun (para pencaci), syattamun (para pencerca), haddamun (para penghancur), dammarun (para perusak), kadzdzabun (para pendusta), para pemilik cangkul, pisau dan belati, orang-orang pendendam dan sakit hati terhadap Muslimin dan Mukminin, …

            Prinsip ketiga: kita memperbaiki dan tidak meruntuhkan, atau kita menasihati tanpa membikin dia terkenal, tanpa membongkar aib, tanpa main goncang, …

            Prinsip keempat: berjalan di atas kaidah Al Banna: “Kita saling menolong di atas perkara yang kita sepakati dan kita saling memberikan udzur terhadap perkara yang kita perselisihkan,” atau kaidah Abul Hasan: “Manhaj yang luas.”

             Prinsip kelima: bercampur dengan pelaku maksiat dan mubtadi’ah, dan tidak memisahkan diri dengan mereka dengan alasan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم pada zaman beliau ada kemunafiqan besar dan para munafiqun I’tiqodiyyun dan tidak memisahkan diri dari mereka. Dan jika para ulama berjalan cepat dan tidak mau pergi ke jam’iyyat, muassasat dan markiz-markiz, maka siapakah yang mengurusi orang-orang?

            Prinsip keenam: meruntuhkan jarh wat ta’dil dari berbagai sisi.

            Prinsip ketujuh: Al Wushobiy bersikap buruk dalam mempergunakan kaidah maslahat dan mafsadah. Dia sering meneriakkannya lalu menerapkannya –sekalipun menyelisihi kaidah-kaidah Ahlussunnah Wal Jama’ah- tanpa memperhatikan syarat-syaratnya.

            Prinsip kedelapan: Al Wushobiy itu banyak talbis (membikin kerancuan) dan takwil-takwil yang rusak terhadap suatu ucapan yang jelas atau gamblang yang muncul dari dirinya sendiri atau dari orang yang dia loyal kepadanya dan membela mereka. orang yang menelusuri kaset-kasetnya akan mendapati manhaj ini secara jelas, dan akan mendapatkan contoh-contoh yang banyak di dalamnya. Dan perkara ini bahaya sekali terhadap manhaj salafiy.

            Prinsip kesembilan: Al Wushobiy berbangga-bangga dengan banyaknya orang sekalipun sekedar hayalan belaka, dan dia dengan jumlah yang banyak itu ingin baku tanduk dengan barohin (bukti-bukti).

            Prinsip kesepuluh: Al Wushobiy berjalan di atas manhaj Abul Hasan, Adnan Ar’ur dan ahli batil yang lainnya dalam menolak kebenaran dengan dakwaan bahwasanya dia mengambil dasar tatsabbut, maka dia berkata: “Alloh memerintahkanmu untuk tidak menerima ucapan apapun yang tidak engkau dengar sendiri dari si pengucapnya, sekedar dinukilkan saja. Dan Alloh tidak mengidzinkan padamu untuk menukilkan perbuatan apapun yang tidak engkau lihat sendiri dari pelakunya, sekedar dinukilkan saja.”

             Prinsip kesebelas: Al Wushobiy melebihi orang sebelumnya dalam dakwaan yang luas bahwasanya dia itu punya karya tulis lebih dari delapan puluh buah, padahal sebenarnya dia itu menuntut pada para murid untuk mengumpulkan ayat-ayat dan hadits-hadits serta ucapan-ucapan lalu dia menertibkannya atau ada orang yang menertibkannya untuknya dan menampilkannya dengan namanya.

            Prinsip kedua belas: banyaknya kontradiksi dan kegoncangan dalam perkataannya. Maka yang wajib adalah mengikuti kebenaran.

             Prinsip ketiga belas: dia menolak kaidah “Yang menetapkan itu lebih didahulukan daripada yang meniadakan,” dan “Orang yang mengetahui itu hujjah (argumentasi) terhadap orang yang tidak mengetahui,” dengan alasan bahwasanya telpon-telpon dan yang lainnya telah tersebar. Bahkan Wushobiy menjadikan kaidah tadi sebagai syubhat-syubhat ahli bida’.

            Prinsip keempat belas: tidak perlu mengadakan perubahan terhadap kemungkaran dan peringatan terhadap ahli bida’ wal ahwa jika mereka tidak ada di negrimu, karena hal ini tidak penting bagimu.

            Prinsip kelima belas: meruntuhkan kaidah ikhtibar (cobaan) dan imtihan (ujian) yang para Ahlussunnah Wal Jama’ah berjalan di atasnya sejak dulu dan sekarang.

            Prinsip keenam belas: seruannya yang luas kepada taqlid, dan bahwasanya jarh wat ta’dil serta amar ma’ruf dan perubahan terhadap kemungkaran itu khusus bagi ulama dan tokoh besar, bukan yang lain.

             Prinsip ketujuh belas: kebersihan hati dan keselamatan dada terhadap para pelaku maksiat dan mubtadi’ah, dan harus lembut dalam mentahdzir dari kebid’ahan, kemaksiatan dan hizbiyyah. Dan akan datang penjelasannya insya Alloh.

             Prinsip kedelapan belas: bahwasanya barangsiapa asalnya adalah dari ahlussunnah dan terjadi ke dalam masalah-masalah ahli bida’ dan tidak mau rujuk setelah nasihat dan peringatan, maka dia tetap di atas asalnya, yaitu ahlussunnah, dan dia termasuk dari wali Alloh sholihin, tidak keluar dari yang demikian itu kecuali jika asalnya adalah dari ahli bid’ah.

             Prinsip kesembilan belas: Al Wushobiy mengharuskan Ahlussunnah untuk berhukum kepada orang-orang Rofidhoh dan Shufiyyah di bawah syiar bahwasanya kita di negri Islam. Dan dia menyindir bahwasanya orang yang tidak berhukum kepada mereka dalam masalah-masalah ini maka dia itu adalah ahli ghuluw dan dari khowarij.

            Prinsip kedua puluh: dia menjadikan tauhid hakimiyyah sebagai jenis keempat dari jenis-jenis tauhidulloh عز وجل.

            Prinsip kedua puluh satu: penjelasan keadaan ahli ahwa wal bida’, dan bantahan terhadap mereka itu bukanlah bagian dari kebutuhan manusia. Jikalah mereka itu harus dibantah, maka janganlah disebut namanya kecuali untuk kemaslahatan.

            Prinsip kedua puluh dua: celaan terhadap ahli ahwa wal bida’ adalah sebab terpecahnya dan robeknya dakwah, dan menjadi sebab lemahnya muslimin dan tidak tersebarnya dakwah mereka, dan menjadi sebab tidak terbukanya negri-negri, dan bahwasanya itu adalah termasuk dalam kategori memperbincangkan ayat-ayat Alloh, dan bahwasanya itu adalah tipu daya para musuh Islam, dan bahwasanya orang-orang yang mencela tadi adalah ekor-ekor para musuh Islam.

            Prinsip kedua puluh tiga: adu domba dan kedustaan

            Prinsip kedua puluh empat: loyalitas dan pemisahan diri yang sempit

Dan silakan membaca perinciannya secara jelas insya Alloh sebagai berikut:

(kemudian beliau حفظه الله menyebutkan perincian itu. Rujuklah kitab beliau yang menyenangkan: “Ihyaul Wushobiy Li Qowa’idil Mishriy, Wa ‘Ar’ur Wal Maghrowiy”, sang penulis telah berbuat bagus dalam kitab itu dan memberikan faidah. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan menjaganya dan menjaga keturunan beliau).

             Dan cocok untuk Al Wushobiy ucapan Syaikhul Islam رحمه الله : “Dan ahli dholal, yang memecah belah agama mereka dan mereka itu berkelompok-kelompok, dan mereka itu sebagaimana ucapan Mujahid: “Ahli bida’ dan syubuhat.” Mereka berpegang dengan sesuatu yang dia itu adalah bid’ah dalam syariat dan kesamaran dalam akal. Sebagaimana Al Imam Ahmad berkata tentang mereka: “Mereka itu saling berselisih tentang Al Kitab, menyelisihi Al Kitab, dan bersepakat untuk menyelisihi Al Kitab, mereka berdalilkan dengan ucapan yang samar-samar, dan menyesatkan manusia dengan perkara yang tersamarkan terhadap mereka.” Dan orang-orang yang berpecah-belah dari kalangan ahli dholal menjadikan untuk diri mereka suatu agama dan prinsi-prinsip agama yang mereka bikin-bikin dengan pikiran mereka, kemudian mereka menyodorkan Al Qur’an dan Al Hadits kepada hasil pikiran mereka tadi. Jika Al Qur’an dan Al Hadits mencocokinya, mereka berdalil dengan Al Qur’an dan Al Hadits itu sekedar sebagai penguat, bukan sebagai pondasi agama. Tapi jika Al Qur’an dan Al Hadits menyelisihinya, terkadang mereka memalingkan ucapan dari posisinya dan menakwilkannya kepada yang bukan takwilnya. Dan ini adalah perbuatan para pemimpin mereka. Dan terkadang mereka berpaling dari Al Qur’an dan Al Hadits dan berkata: “Kita menyerahkan maknanya pada Alloh.” Dan ini adalah perbuatan orang-orang awam mereka.

             Dan patokan kedua kelompok itu secara batinnya bukanlah kepada apa yang dibawa oleh Rosul. Mereka menjadikan ucapan-ucapan mereka yang bersifat bid’ah itulah yang tetap yang jelas dan wajib diikuti dan meyakini tuntutannya, sementara orang yang menyelisihinya bisa jadi dihukumi kafir dan bisa jadi dihukumi sebagai orang bodoh dan tidak mengetahui bab ini, tak punya ilmu dengan ma’qul ataupun ushul, dan mereka menjadikan kalamulloh dan kalam Rosul-Nya yang menyelisihinya sebagai dalil yang samar-samar yang mana tidak mengetahui maknanya kecuali Alloh, atau tidak mengetahui maknanya kecuali orang-orang yang mendalam ilmunya, dan orang-orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang mencocoki mereka dalam ucapan itu, dan mereka itu lebih sesat daripada orang yang berpegang teguh dengan ayat-ayat Kitab yang samar-samar dan meninggalkan ayat yang jelas, seperti Nashoro, Khowarij dan yang lainnya, karena mereka mengambil yang samar-samar dari kalamulloh dan menjadikannya sebagai dalil yang jelas, dan mereka menjadikan yang jelas sebagai dalil yang samar-samar.

(selesai “Majmu’ul Fatawa”/13/hal. 142-143).

             Penjelasan ini semua cukup untuk para ulama memvonis Muhammad Al Wushobiy bahwasanya dia telah menyeleweng dari prinsip-prinsip Ahlussunnah dengan parah. Maka dia itu hizbiy pengikut hawa nafsu. Dan tidaklah serangannya terhadap syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله kecuali karena kerasnya dendam dan kedengkiannya manakala dia melihat bahwasanya Alloh mengangkat beliau dengan kejujuran beliau dalam memegang dakwah salafiyyah, menunaikan amanah wasiat disertai dengan ilmu taqwa dan kecemburuan untuk Alloh.

            Dan pujian ulama kepada syaikh kami Yahya حفظه الله yang terakhir sampai kepada saya adalah apa yang disebutkan saudara kita yang mulia Walid bin Fadhl Al Mauliy Al Kholidiy حفظه الله dalam risalah beliau “Shoddu ‘Udwani Nizar Hasyim” menukil dari Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله . Saudara kita yang mulia Walid bin Fadhl Al Mauliy Al Kholidiy حفظه الله berkata:

            “Dan masuk dalam bab menyebutkan nikmat Alloh ta’ala kepadaku, Robbku telah memberiku taufiq juga, maka aku setelah menunaikan umroh pada hari Kamis tanggal sebelas Dzul Qo’dah tahun seribu empat ratus tiga puluh tiga (1433 H) aku mengunjungi syaikh kami dan orang tua kami Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi حفظه الله . Maka pertama kali aku berjumpa dengan beliau di masjid, lalu aku menyalami beliau dan beliaupun menjawab salamku. Maka Alamuddin berkata pada beliau: “ini Walid.” Maka beliau berkata padaku: “Semoga Alloh menghormatimu.” Lallu beliau menyambutku, kemudian beliau حفظه الله mendahuluiku dengan undangan makan malam. Maka Alamuddin mengemukakan udzur. Maka Asy Syaikh berkata padanya: “Undangannya untuk Walid jika engkau sibuk.”

            Lalu aku mendatangi beliau حفظه الله sesuai dengan janji dan aku duduk bersama beliau dalam majelis yang menyenangkan. Beliau berbicara tentang Sudan, dan keadaan dakwah di Sudan dan Yaman, dan keadaan dakwah di Yaman. Dan datanglah penyebutan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله . Maka Asy Syaikh Robi’ حفظه الله تعالى berkata: “Asy Syaikh Yahya itu salafiy, dan termasuk dari para salafiyyin yang kuat.”

            Beliau juga berkata tentang Asy Syaikh Yahya: “Asy Syaikh Yahya adalah orang yang baik.”

            Dan Asy Syaikh mewasiatkan padaku dengan sekian wasiat. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

            Kemudian kami bangkit menuju makan malam. Dan setelah kami makan malam, Asy Syaikh masuk dan datang dengan membawa minyak wangi seraya memberiku wewangian. Semoga Alloh mewangikannya di dunia dan Akhirat. Kemudian beliau memberiku kumpulan kitab, risalah dan fatwa beliau yang berjumlah lima belas jilid, semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata padaku: “Kami akan melihatmu lagi insya Alloh.” Kemudian beliau mengucapkan kata perpisahan denganku lalu pergi.

            Dan aku sungguh merasa kagum akan ketawadhu’an imam tunggal itu dan keagungan akhlak beliau serta bagusnya kepribadian beliau. Dan sungguh demi Alloh nilaiku terlalu rendah di dalam diriku untuk beliau memperlakukan aku dengan perlakuan semacam tadi. Aku duduk berdampingan dengan beliau dan aku merasa bagaikan semut kecil di hadapan sebuah gunung. Maka beliau itu –demi Alloh- imam yang terbaik, orang alim yang terbaik, pendidik yang terbaik, orang tua yang terbaik. Bagaimanapun aku berbicara dan berkata-kata, tidaklah aku bisa memenuhi hak beliau. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

            Ketahuilah, semoga Alloh menjaga Robi’us Sunnah dari segala kejelekan dan perkara yang tidak disukai. Dan semoga Alloh melapangkan beliau dalam umur beliau, dan memanjangkan hari-hari beliau di atas ketaatan pada Alloh.

(selesai penukilan dari risalah “Shoddu ‘Udwani Nizar Hasyim Shohibil Kadzib Wat Talbis Wal Buhtan” dengan perantaraan situs “Al Ulumus Salafiyyah”).


Bab Sepuluh:

Memerangi Rofidhoh Adalah Jihad Syar’iy

 

             Al Wushobiy هداه الله berkata: “Ahlussunnah itu ahli perdamaian, Ahlussunnah itu ahli perdamaian, mereka tak punya kegaduhan apapun. Keberadaan mereka itu baik nikmat dan berkah untuk pemerintah, negri, dan para hamba. Orang-orang saling damai, mereka itu bukan tukang ribut, tukang fitnah, tukang bencana. Ini dikenal di kalangan hizbiyyin, di kalangan mubtadi’ah, dan dilakangan rofidhoh. Alloh sajalah yang dimintai pertolongan. Adapun Ahlussunnah, lihatlah, setiap kali datang fitnah mereka tidak memperbincangkannya. Dan jangan sampai ada orang yang berargumentasi dengan fitnah Hajawiroh… “

Maka jawabnya adalah:

            Kita berlindung pada Alloh dari kedustaan. Bagaimana Al Wushobiy sengaja menutupi apa yang telah diketahui oleh para ulama dan orang awwamnya yaitu kezholiman Rofidhoh Hutsiyyin terhadap Darul Hadits di Dammaj.

﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾ [الحج: 46]

“Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

            Telah tetap bahwasanya Rofidhoh itu orang-orang kafir harbiy, dan bersamaan dengan itu mereka itu bughoh (orang-orang yang menzholimi orang lain/pemberontak) maka peperangan terhadap mereka adalah peperangan yang sesuai syari’at, dan jihad melawan mereka merupakan jihad di jalan Alloh. Alloh ta’ala telah memerintahkan untuk memerangi pihak yang melampaui batas. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ الله فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ الله يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾ [الحجرات/9].

“Dan jika ada dua kelompok dari Mukminin saling bunuh, maka damaikanlah di antara keduanya. Lalu jika salah satu kelompok berbuat melampaui batas terhadap yang lain, maka perangilah kelompok yang melampaui batas itu sampai mereka mau kembali kepada ketentuan Alloh. Jika kelompok itu mau kembali, maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil. Dan berbuat adillah, sesungguhnya Alloh itu mencintai orang-orang yang berbuat adil.”

            Dan Alloh juga memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik sampai tidak lagi terjadi fitnah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ * وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لله فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ * وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ الله مَوْلَاكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِير﴾ [الأنفال/38-40]

“Katakanlah kepada orang-orang kafir bahwasanya jika mereka mau berhenti, maka perbuatan mereka yang telah lalu akan diampuni. Tapi jika mereka kembali melakukan kejahatan mereka, maka sungguh sunnah (Kami) terhadap orang-orang terdahulu telah berlalu (yaitu Kami menyegerakan untuk mereka siksaan dan hukuman). Dan perangilah mereka sampai tidak lagi terjadi fitnah dan agar agama itu semuanya untuk Alloh. Maka jika mereka mau berhenti, maka sesungguhnya Alloh itu Maha Melihat terhadap apa yang mereka perbuat. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Alloh itu pelindung kalian. Dialah Pelindung yang terbaik dan Penolong yang terbaik.”

            Dan Alloh memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang kafir dan munafiqin. Alloh ta’ala berfirman:

]يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير[ [التوبة: 73].

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiqin, dan bersikaplah keras pada mereka. Dan tempat mereka adalah jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. At Taubah: 73).

            Rofidhoh itu orang-orang yang murtad, kafir, munafiq dan melampaui batas. Maka peperangan terhadap mereka itu disyariatkan, dan jihad melawan mereka merupakan jihad di jalan Alloh, dengan dalil-dalil yang telah lewat.

            Dan jihad itu bisa berupa perang dengan tombak, bisa jadi dengan lidah dan ujung jari. Rofidhoh itu murtad kafir pemberontak dan munafiq. Perang melawan mereka itu disyariatkan, dan jihad melawan mereka itu adalah jihad fi sabilillah dengan dalil-dalil yang telah lewat.  sebagaimana dalam hadits Abi Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن من ضئضئ هذا، أو: في عقب هذا قوما يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية، يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان، لئن أنا أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد».

“Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini (Dzul Khuwaishiroh) –atau di keturunan orang ini- ada suatu kaum yang membaca Al Qur’an tapi bacaan itu tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari binatang buruannya. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Jika aku mendapati mereka, pastilah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.” (HR. Al Bukhoriy (3344) dan Muslim (1064)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: ” Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “ Jika aku mendapati mereka, pastilah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.” Yaitu: pembunuhan yang menyeluruh dan menghabisi mereka semua, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿فهل ترى لهم من باقية

“Maka apakah engkau melihat ada dari mereka (kaum ‘Ad) yang tersisa?”

            Dan di dalam hadits ini ada dorongan untuk memerangi mereka. Dan di dalamnya juga ada keutamaan Ali رضي الله عنه yang memerangi mereka.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Muslim”/7/hal. 162).

            Sesungguhnya kejahatan Rofidhoh itu lebih besar daripada kejahatan Khowarij. Maka memerangi mereka adalah wajib.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan orang-orang Rofidhoh itu jika tidak lebih jelek daripada Khowarij yang telah ditetapkan dalam nash tersebut, maka tidaklah kejelekan Rofidhoh itu lebih ringan daripada mereka, karena sesungguhnya mereka itu hanyalah mengkafirkan Utsman, Ali, para pengikut Utsman dan Ali saja, bukan orang yang duduk-duduk dari peperangan atau mati sebelum itu. Sedangkan Rofidhoh mengkafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman dan seluruh Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang Alloh meridhoi mereka dan mereka ridho kepada-Nya, dan mengkafirkan mayoritas umat Muhammad صلى الله عليه وسلم dari kalangan pendahulu dan yang belakangan. Mereka mengkafirkan setiap orang yang meyakini adilnya Abu Bakr dan Umar dan Muhajirin dan Anshor atau mendoakan ridho pada mereka sebagaimana Alloh ridho pada mereka, atau mendoakan ampunan untuk mereka sebagaimana Alloh memerintahkan untuk mendoakan ampunan untuk mereka. karena itulah mereka mengkafirkan para tokoh agama ini seperti: Sa’id ibnul Musayyab, Abu Muslim Al Khoulaniy, Uwais Al Qorniy, Atho bin Abi Robah, Ibrohim An Nakho’iy, dan seperti Malik, Al Auza’iy, Abu Hanifah, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ats Tsauriy, Asy Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal, Fudhoil bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Daroniy, Ma’ruf Al Karkhiy, Al Junaid bin Muhammad, Sahl bin Abdillah At Tustariy dan selain mereka.

             Dan mereka juga menghalalkan darah orang yang keluar dari mereka dan menamakan madzhab mereka (mayoritas muslimin yang keluar dari madzhab Rofidhoh) sebagai madzhab jumhur, sebagaimana para ahli filsafat menamakannya sebagai jumhur dan yang seperti itu. Dan sebagaimana mu’tazilah menamakannya sebagai madzhab hasyw (pinggiran) dan ‘ammah (orang umum) dan ahlul hadits.

-sampai pada ucapan beliau:-

            Dan dengan sebab ini mereka baku tolong dengan orang-orang kafir untuk memerangi mayoritas muslimin. Mereka baku tolong dengan Tartar untuk memerangi mayoritas muslimin. Mereka itu dulu termasuk sebab yang terbesar bagi keluarnya Jengkis Khon raja orang-orang kafir ke negri-negri Islam, dan sebab terbesar datangnya Hulaku ke negri-negri Irak, dan sebab terbesar dirampasnya Halab dan dirampoknya wilayah Sholihiyyah dan yang lainnya dengan sebab kebusukan dan maka mereka, karena mereka menjadi mentri-mentri bagi muslimin dan sebab yang lain.

            Dan dengan sebab ini mereka merampok tentara muslimin ketika melewati mereka ketika tentara Islam menyingkir ke Mesir pada kejadian yang pertama. Dan dengan sebab ini mereka membegal kaum muslimin di jalan-jalan. Dan dengan sebab ini nampak pada mereka sikap baku tolong dengan Tartar dan Perancis terhadap muslimin. Dan mereka menampakkan kesedihan yang mendalam ketika Islam menang. Dan demikian pula ketika muslimin menaklukkan pesisir –Ukkah dan yang lainnya- nampak pada mereka pembelaan untuk Nashoro dan mendahulukan mereka di atas muslimin yang telah didengar oleh orang-orang dari mereka. dan seluruh yang aku sebutkan itu baru sebagian dari urusan mereka. Jika tidak demikian, maka perkaranya itu lebih besar daripada itu.

            Dan para ahli sejarah telah bersepakat bahwasanya pedang terbesar yang terhunus terhadap ahli qiblah (muslimin) adalah berasal dari orang yang menisbatkan pada qiblat itu sendiri. Dan kerusakan terbesar yang terjadi pada muslimin adalah berasal dari orang yang menisbatkan pada qiblat itu sendiri. Yaitu: pedang tadi hanyalah bersumber dari kelompok-kelompok yang menisbatkan diri pada muslimin itu sendiri. Mereka paling besar bahayanya terhadap dan pemeluknya, dan paling jauh dari syariat Islam daripada Khowarij Haruriyyah. Oleh karena itulah maka mereka itu adalah sempalan umat yang paling pendusta. Maka tidak ada di kalangan kelompok-kelompok yang menisbatkan diri ke kiblat yang lebih pendusta dan lebih banyak membenarkan kedustaan serta lebih banyak mendustakan kejujuran daripada mereka. Dan lebih-lebih lagi kemunafiqan pada mereka itu lebih jelas daripada seluruh manusia.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 477-479).

            Penjelasan ini cukup bagi orang-orang berakal untuk meruntuhkan kedustaan Al Wushobiy.


Bab Sebelas:

Gabungan Antara Kelembekan dan Muka Dua Dalam Perkara Yang Dianggap Sebagai: “Masalah Yang Masih Diperselisihkan”

 

            Al Wushobiy berkata: “Perselisihan itu mencukupi kita semua, disertai oleh adanya penghormatan dan pemuliaan.”

Jawabnya adalah:

Jawaban pertama:

kaidah Wushobiy itu satu kantong dengan kaidah mubtadi’ah

            Bandingkanlah antara kaidah Wushobiyyah ini dengan kaidah Ikhwaniyyah: “Kita saling menolong di atas perkara yang kita sepakati dan kita saling memberikan udzur terhadap perkara yang kita perselisihkan,” atau kaidah Hasaniyyah: “Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah itu sangat luas,” engkau akan dapati bahwasanya kaidah-kaidah ini muncul dari kantong yang sama, kantong ahli ahwa. Barangkali ini adalah termasuk dari buah banyaknya duduk-duduk dengan mubtadi’ah.

            Sungguh benar ucapan Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang berkata: “Janganlah engkau duduk-duduk dengan ahli ahwa, karena sungguh duduk-duduk dengan mereka itu membikin hati jadi sakit.” (“Asy Syari’ah”/hal. 144/shohih).

 

Jawaban kedua:

membantah ucapan Al Wushobiy dengan ucapan para imam sunnah yang jelas hujjahnya

             Sesungguhnya ucapan para imam ahli tahqiq dari kalangan Ahlussunnah itu muncul dari ilmu, taqwa dan keadilan serta kecemburuan lebih kami cintai daripada ucapan Al Wushobiy yang muncul dari hawa nafsu dan sedikitnya kemarahan karena Alloh.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Perkataan mereka: “Tidak boleh untuk saling mengingkari dalam perkara-perkara yang diperselisihkan” bukanlah perkataan yang benar, karena pengingkaran itu bisa jadi diarahkan kepada ucapan dari hukum tersebut, dan bisa jadi diarahkan kepada pengamalan dari hukum tadi. Adapun yang pertama: jika ucapan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka ucapan tadi wajib diingkari, tanpa ada perselisihan. Jika tidak demikian([10]), maka ucapan tadi boleh diingkari dalam artian: sisi kelemahannya dijelaskan, menurut orang yang berpendapat bahwasanya pihak yang benar itu cuma satu, dan ini adalah pendapat hampir seluruh Salaf dan fuqoha. Adapun dari sisi amalan([11]), jika amalan tadi menyelisihi suatu sunnah atau suatu ijma’ yang telah lampau, maka dia juga wajib diingkari sesuai dengan derajat-derajat pengingkaran, sebagaimana telah kami sebutkan dari hadits peminum nabidz yang diperselisihkan, dan sebagaimana hukum seorang hakim itu dibatalkan jika menyelisihi suatu sunnah sekalipun dia telah mengikuti sebagia ulama. Adapun jika di dalam masalah itu tidak ada sunnah ataupun ijma’ maka ijtihad di situ boleh, orang yang mengamalkannya tidak diingkari baik secara ijtihad ataupun taqlid.” (“Bayanud Dalil ‘Ala Buthlanit Tahlil”/hal. 159/Daru Ibnul Jauziy).

            Bacalah juga perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله dalam “I’lamul Muwaqqi’in” (3/hal. 223/Khothou Man Yaqulu La Inkaro Fi Masailil Khilaf”/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Al Imam Ibnu Abil ‘Izz رحمه الله berkata: “Kemudian sesungguhnya jenis-jenis perpecahan dan perselisihan pada asalnya itu ada dua macam: ikhtilafu tanawwu’ (perselisihan macam) dan ikhtilafu tadhod (perselisihan yang saling bertentangan).

            Ikhtilafu tanawwu’ ada beberapa bentuk: di antaranya adalah perselisihan yang mana masing-masing ucapan atau perbuatan itu benar dan disyariatkan, sebagaimana dalam bacaan-bacaan Al Qur’an yang para Shohabat رضي الله عنهم berselisih tentangnya hingga Rosululloh صلى الله عليه وسلم menghardik mereka dan berkata:

«كلاكما محسن»

“Masing-masing dari kalian berdua itu telah berbuat baik.” [HR. Al Bukhoriy (3476) dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه].

             Dan semisalnya adalah perselisihan dalam jenis-jenis sifat adzan dan iqomah, doa iftitah, posisi sujud sahwi, bacaan tasyahhud, sholat khouf, jumlah takbir ‘Id, dan yang seperti itu yang semuanya telah disyariatkan sekalipun sebagian jenisnya itu lebih benar atau lebih utama. Kemudian engkau mendapatkan banyak orang dalam masalah tersebut berselisih sampai terjadi perkelahian antar kelompok dari mereka tentang masalah genap atau ganjilnya iqomah dan yang seperti itu. Ini benar-benar diharomkan! Dan demikian pula engkau dapatkan banyak dari mereka di hatinya ada hawa nafsu untuk suatu jenis dari perselisihan ini dan berpaling dari yang lainnya dan melarangnya. Ini masuk ke dalam perkara yang Nabi صلى الله عليه وسلم melarangnya.

            Termasuk di dalamnya adalah perselisihan yang mana masing-masing dari dua pendapat itu masuk dalam makna pendapat yang lain akan tetapi ungkapannya berbeda, sebagaimana banyak orang berselisih dalam lafazh-lafazh definisi dan ungkapan dari suatu objek yang hendak dinamai atau didefinisikan dan yang seperti itu. Kemudian kebodohan atau kezholiman membawa mereka untuk memuji salah satu pendapat dan mencela pendapat yang lain dan menzholimi orang yang mengucapkannya! Dan yang seperti itu.

            Adapun ikhtilaf tadhod adalah dua pendapat yang saling meniadakan, mungkin dalam dasar-dasarnya dan mungkin dalam cabang-cabangnya. Ini menurut jumhur yang berkata bahwasanya: “Yang benar itu satu.” Dan pembicaraan dalam masalah ini lebih keras karena kedua pendapat tadi saling meniadakan. Akan tetapi engkau dapati kebanyakan dari mereka bisa jadi ucapan yang batil yang ada pada lawannya itu di dalamnya ada suatu kebenaran, atau disertai oleh dalil yang menuntut suatu kebenaran sehingga orang tadi menolak kebenaran dengan kebatilan hingga tinggallah orang ini sebagai pelaku kebatilan pada sebagiannya sebagaimana orang yang pertama adalah pelaku kebatilan pada asalnya. Dan ini banyak berlangsung pada Ahlussunnah.

            Adapun ahli bid’ah maka urusan mereka adalah jelas, dan barangsiapa Alloh jadikan untuk dia petunjuk dan cahaya, dia akan melihat dari perkara ini yang menjadi jelaslah untuknya manfaat apa yang datang pada Al Kitab dan As Sunnah yang berupa larangan dari ini dan yang mirip dengan itu. Dan jika hati yang sehat mengingkari perbuatan tadi, maka itu adalah cahaya di atas cahaya.

            Dan perselisihan yang pertama itulah ikhtilafut tanawwu’ yang mana celaan dalam masalah ini berlaku pada orang yang zholim terhadap yang lain dalam masalah itu. Al Qur’an telah menunjukkan pada pujian terhadap masing-masing dari kedua kelompok pada masalah semisal itu jika tidak terjadi kezholiman seperti dalam firman Alloh ta’ala:

﴿ما قطعتم من لينة أو تركتموها قائمة على أصولها فبإذن الله﴾

“Apa saja yang kalian tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kalian biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Alloh.”

            Dan dulu mereka berselisih tentang pemotongan pohon-pohon itu. Sekelompok Shohabat memotongnya dan sekelompok yang lain membiarkannya sebagaimana dalam firman-Nya ta’ala:

﴿وداود وسليمان إذ يحكمان في الحرث إذ نفشت فيه غنم القوم وكنا لحكمهم شاهدين * ففهمناها سليمان وكلا آتينا حكما وعلما﴾

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hukum dan ilmu.”

            Maka Alloh mengkhususkan Sulaiman dengan pemahaman dan Alloh memuji keduanya dengan hukum dan ilmu.

            Dan sebagaimana dalam pengakuan Nabi صلى الله عليه وسلم pada hari perang Bani Quroizhoh bagi orang yang sholat Ashr pada waktunya dan bagi orang yang mengakhirkannya sampai sholat di Bani Quroizhoh.

            Dan sebagaimana dalam sabda beliau:

«إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران وإذا اجتهد فأخطأ فله أجر».

“Jika seorang hakim berijtihad lalu dia mencocoki kebenaran maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia berijtihad lalu dia keliru maka dia mendapatkan satu pahala.” [HR. Muslim (1716) dari Amr ibnul ‘Ash رضي الله عنه].

            Perselisihan yang kedua adalah yang mana salah satu kelompok terpuji, dan yang lainnya tercela, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

﴿ولو شاء الله ما اقتتل الذين من بعدهم من بعد ما جاءتهم البينات ولكن اختلفوا فمنهم من آمن ومنهم من كفر﴾

“Dan kalau Alloh menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rosul-rosul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.”

            Dan firman-Nya ta’ala:

﴿هذان خصمان اختصموا في ربهم فالذين كفروا قطعت لهم ثياب من نار﴾

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka.” Dst.

            Dan kebanyakan perselisihan yang kembali kepada hawa nafsu di antara umat –dari jenis yang pertama, dan demikian pula kepada penumpahan darah dan pembolehan harta, permusuhan, kebencian untuk salah satu kelompok yang tidak mengakui adanya kebenaran yang menyertai kelompok yang lain, dan tidak berbuat adil padanya, bahkan menambahi kebenaran yang bersama dirinya dengan tambahan-tambahan dari kebatilan. Dan kelompok yang lain seperti itu pula. Oleh karena itulah Alloh menjadikan sumbernya adalah kezholiman, dalam firman-Nya:

﴿وما اختلف فيه إلا الذين أوتوه من بعد ما جاءتهم البينات بغيا بينهم﴾

“Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.”

            Karena kezholiman itu adalah melampaui batas. Dan Alloh menyebutkan ini dalam lebih dari satu tempat di dalam Al Qur’an agar menjadi pejaran bagi umat ini.”

(selesai dari “Syarh Aqidatith Thohawiyyah”/hal. 512). ([12])

Al Imam ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil ataukah orang besar, maka dia memiliki teladan dari ulama yang membantah perkataan Ibnu Abbas yang menyendiri dan diingkari ulama, seperti masalah nikah mut’ah, penukaran mata uang, dan dua umroh dan yang selain itu.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Sa’id ibnul Musayyab terhadap perkataannya yang membolehkan wanita yang telah ditholaq tiga untuk kembali ke suaminya yang pertama dengan semata-mata akad dengan suami kedua, dan yang selain itu yang menyelisihi sunnah yang jelas.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Al Hasan tentang perkataan tentang tidak ihdadnya wanita yang ditinggal mati suaminya. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah ‘Atho tentang pembolehannya pengembalian kemaluan. Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah Thowus tentang ucapannya dalam masalah yang bermacam-macam yang menyendiri dari ulama.

Dia juga punya teladan dari ulama yang membantah tokoh-tokoh yang lain yang telah disepakati kaum Muslimin bahwasanya mereka itu di atas petunjuk, ilmu, dicintai dan dipuji.

Dan tiada seorangpun dari mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun penghinaan terhadap mereka. Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.

Adapun jika keinginan orang yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya, menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya. Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga masuk dalam sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

« يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه لا تؤذوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته».

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”([13])

Ini semua adalah yang terkait dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini. Adapun ahlul bida’ wadh dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama, maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka, sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka. Dan bukanlah pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.” (“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata tentang orang yang bersembunyi di balik slogan “Tidak boleh ada pengingkaran dalam ijtihad” setelah jelasnya dalil: “Maka orang itu berkata padanya “Tidak boleh ada pengingkaran dalam ijtihadmasalah-masalah”. Maka kita katakan padanya: “Kapankah Alloh memasrahkan orang yang mendakwakan ijtihad itu kepada syariah yang Alloh turunkan kepada Rosul-Nya dan menjadikannya sebagai hakim di dalamnya dengan apa yang dia sukai dan berdasarkan apa yang dia sukai? Sesungguhnya ini (jika demikian) adalah kenabian dan bukan ijtihad, dan (menjadi) syariah yang baru, bukan syariah yang pertama. Dan Alloh itu tidak mengutus kepada umat ini kecuali satu orang Rosul saja. Adapun ucapan sang penulis di muqoddimah yang menyebutkan bahwasanya setiap mujtahid itu benar, maka telah kami sebutkan terdahulu penjelasannya, dan kami sebutkan maksud dari orang yang mengucapkannya. Adapun ucapan sang penulis yang akan datang dalam bab “Siyar” bahwasanya “Tidak boleh ada pengingkaran dalam perkara yang masih diperselisihkan” terhadap orang yang memang itulah madzhab dia, maka itu adalah perkataan yang membawa konsekuensi dilipatnya lapangan mayoritas syariat.” (“As Sailul Jarror”/3/hal. 218).

            Dan contoh dari apa yang dilakukan oleh para hizbiyyun adalah apa yang dikabarkan kepada kami oleh Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله : “Maka ahli bida’ itu tidaklah kami mengatakan bahwasanya mereka itu mujtahidun, karena mereka itu adalah pengikut hawa nafsu, dengan persaksian Alloh dan persaksian Rosul-Nya عليه الصلاة والسلام. Maka mubtadi’ yang sesat itu sekarang memecahbelah dan keliru, lalu berkata padamu: “Ini adalah ijtihad.” Ketika Hikmatyar dan kelompok-kelompok sesat membunuh Jamilur Rohman, mereka berkata: “Ini adalah ijtihad.” Membolehkan darah salafiyyin adalah ijtihad tentang mereka? dan demikianlah tidaklah terjadi kesesatan dan bencana besar kecuali mereka berkata: “Ini adalah ijtihad.” Maka ini adalah pelembekan Islam dan pencampuran antara kebatilan dan kesesatan serta kebid’ahan dengan kebenaran, dan penyamaan antara kekeliruan mujtahid yang mendapatkan pahala atasnya, dengan kebid’ahan yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم dengan neraka dan bersabda: “Sesungguhnya bid’ah itu adalah kesesatan,” dan bersabda: “Sesungguhnya perkara baru itu adalah urusan yang paling buruk.” (“Al Ajwibatus Salafiyyah ‘An Asilah Abi Rowahatil Manhajiyyah”/hal. 20/cet. Majalisul Huda Bil jazair).

 

Pasal tiga:

kontradiksi Al Wushobiy

            Al Wushobiy telah bergaya menampilkan luasnya hati dan besarnya kasih sayang dan belas kasihan serta sikap penghormatan di kala terjadi fitnah di antara orang-orang yang berselisih. Tapi barangsiapa membaca penjelasan di risalah ini –misalkan- sejak awalnya sampai akhirnya maka dia akan mendapatkan bahwasanya Al Wushobiy adalah termasuk orang yang paling besar dendamnya terhadap orang yang menyelisihinya.

            Dengarlah cercaan dan caci-makian Al Wushobiy: “Fitnah Hajawiroh”, “Kelompok menyendiri, dan bukanlah itu dari manhaj Ahlussunnah,” “Bid’ah masa kini, bid’ah Hajuriyyah yang menyendiri, Islam berlepas diri darinya,” “Tukang bikin ribuk,” “Tukang fitnah,” “Tukang bencana,” “Hati batu,” dan yang selain itu.

            Ini di antara ucapan dia pada bulan Muharrom, sebelum munculnya bantahan ini pertama kali. Dan setelah itu pada bulan Shofar di antara ucapan dia adalah: “Apakah kalian takut pada Al Hajuriy?! Tukang berak dan tukang kencing,” “Al Hajuriy itu manusia yang berak dan kencing, dia tak punya wewenang dalam perkara ini sedikitpun. Dia anak muda yang liar,…” selesai.

            Apakah ini menunjukkan pada luasnya hati dan adanya penghormatan ketika terjadi perselisihan?

            Dan ketika Muhammad Ash Shoumaliy mengusir syaikh kami yang mulia Abdurroqib Al Kaukabaniy حفظه الله dengan sebab loyalitas beliau kepada syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله , di manakah pengingkaran Muhammad Al Wushobiy terhadap Muhammad Ash Shoumaliy padahal kisah ini telah terkenal? Di manakah penghormatan dan luasnya hati ketika terjadi perselisihan?

            Dan ketika Muhammad Al Imam mengusir saudara kita yang mulia Abdul ‘Alim Ash Shilwiy حفظه الله dengan sebab loyalitas beliau kepada syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله , di manakah pengingkaran Muhammad Al Wushobiy terhadap Muhammad Al Imam padahal kisah ini telah terkenal? Di manakah penghormatan dan luasnya hati ketika terjadi perselisihan?

            Sesungguhnya kebanyakan hizbiyyin itu membikin kaidah-kaidah untuk menolong hawa nafsu mereka, disertai dengan kezholiman saat diterapkan.


Bab Dua Belas:

Qiyas Yang Rusak

 

            Al Wushobiy berkata: “Dan sebagaimana kalian dengar bahwasanya perselisihan itu terjadi di antara para malaikat, antara malaikat rohmat dan malaikat adzab, mereka berselisih tentang pengambilan roh orang yang tidak beramal kebaikan sama sekali. Malaikat rohmat berkata: “Dia telah datang dalam keadaan bertobat pada Alloh, dan barangsiapa bertobat, maka Alloh menerima tobatnya, dan tobat itu meruntuhkan apa terjadi yang sebelumnya.” Mereka berselisih, akan tetapi tidak ada saling mencaci di antara mereka. Tidaklah yang itu mencaci yang ini, yang ini mencaci yang itu, tidak pula ada kutukan, boikot, pemutusan, saling membelakangi, saling memboikot, tiadak salam tiada saling bicara. Dan tidak pula malaikat adzab berkata pada malaikat rohmah: “Kalian mumayyi’un (membikin lembek perkara),” Mereka tidak berkata: “Kalian mumayyi’un (membikin lembek perkara), Bagaimana kalian menerima seperti ini? Orang yang membunuh seratus jiwa.” Mereka tidak berkata padanya: “Kamlian mumayyi’un, demi Alloh jika kalian naik ke Mars kami akan menyusul kalian di sana. Tidak ada di situ kecuali kami akan mencabut rohnya.” Adab ada di antara para malaikat, penghormatan dan pemuliaan, …”

            Jawabnya adalah:

            Yang pertama: bahwasanya malaikat itu terjaga dari kekeliruan, dan mereka itu hanyalah mengerjakan apa yang diperintahkan untuk mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾ [النحل: 50]،

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”

            Alloh subhanah berfirman:

﴿لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ﴾ [الأنبياء: 27].

“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”

            Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Muslimin bersepakat bahwasanya para malaikat itu mukminun yang mulia. Dan para imam bersepakat bahwasanya hukum para utusan dari kalangan mereka itu seperti hukum para nabi sama di dalam ‘ishmah (penjagaan) dari apa yang telah kami sebutkan terjaganya mereka dari itu, dan bahwasanya mereka itu dalam masalah hak-hak para nabi dan penyampaian risalah kepada mereka itu seperti para nabi bersama para umat.” (“Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqil Mushthofa”/2/hal. 174).

            Maka jika demikian kita tidak boleh menerapkan hukum Alloh ta’ala yang berlaku terhadap ahli ahwa terhadap para malaikat tersebut. Maka tidaklah sesuai terhadap mereka misalkan firman Alloh ta’ala:

﴿فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴾ [النجم: 29]،

“Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.”

            Dan firman-Nya Yang Mahasuci:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾ [الأنعام: 68].

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”

            Maka kita tidak mengetahui sama sekali bahwasanya malaikat itu berpaling dari peringatan Alloh, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Bahkan mereka itu terjaga dari yang demikian itu. Maka tidak mungkin kita menghukumi para malaikat dalam hadits tadi seperti hukum kita kepada orang-orang yang keliru, lebih-lebih seperti hukum kita kepada para penyeleweng dari Bani Adam. Ini adalah adab jelek Al Wushobiy terhadap para malaikat dengan memasukkan mereka ke dalam pembicaraan seperti ini. Semoga Alloh memerangi hawa nafsu.

 

            Jawaban kedua: kita tidak punya dalil bahwasanya seluruh syariat malaikat adalah menjadi syariat kita, dan demikian pula sebaliknya. Dan kita tak punya dalil bahwasanya seluruh perkara yang Alloh wajibkan kepada kita itu menjadi wajib untuk para malaikat juga.

            Sesungguhnya hadits pembunuh seratus jiwa itu punya faidah-faidah yang terkait dengan fatwa, keutamaan orang alim di atas ahli ibadah, adab taubat, menunjukkan pada luasnya rohmat Alloh. Dan dia juga punya faidah-faidah yang terkait dengan kehakiman juga.

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan didalilkan dengannya bahwasanya di kalangan anak Adam itu ada yang pantas untuk memutuskan hukum di antara para malaikat jika mereka berselisih pendapat. Dan di dalamnya ada hujjah bagi orang yang membolehkan berhukum (pada orang yang pantas dan terpercaya), dan bahwasanya orang yang diridhoi oleh kedua pihak untuk berhukum kepadanya maka hukumnya itu boleh. Dan akan datang penukilan perselisihan dalam masalah itu di dalam hadits yang akan datang setelahnya. Dan di dalamnya ada penjelasan bahwasanya seorang hakim itu jika kondisi-kondisi dan bayyinah-bayyinah itu saling bertentangan di sisinya, boleh baginya untuk berdalilkan dengan qorinah-qorinah untuk memberatkan salah satu keputusan.”

(selesai penukilan dari “Fathul Bari”/6/hal. 517-518).

            Dan tidak ada di dalamnya dalil bahwasanya seluruh syariat para malaikat itu menjadi syariat untuk kita. Bahkan Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Aku menukilkan untuk salah seorang dari para syaikh mereka bahwasanya: Muhammad itu diutus kepada dua makhluk yang terbebani yaitu manusia dan jin, dan tidak diutus kepada para malaikat. Maka setiap manusia atau jin yang keluar dari keimanan kepada beliau, maka dia itu adalah musuh Alloh, bukan wali Alloh, beda dengan para malaikat.” (“Majmu’ul Fatawa”/13/hal. 221).

            Dan kita punya dalil-dalil yang jelas dan pasti dari Al Kitab dan As Sunnah tentang mensikapi para ahli ahwa bersama dengan kesepakatan para ulama tentang hal itu –dan telah lewat penyebutan sebagiannya-, maka kami tidak meninggalkannya karena sekedar pendalilan Al Wushobiy dengan hadits ini yang bisa memungkinkan untuk digabungkan (disingkronkan) dan diarahkan dengan selamat dan sesuai dengan manhaj salaf, bukan takwilat wushobiyyah mubtada’ah.

 

            Jawaban ketiga: bahwasanya perselisihan yag terjadi di antara para malaikat dalam kasus ini tidaklah muncul dari hawa nafsu, beda dengan kasus pemberontakan Mar’iyyin dan makar mereka.

            Kita meyakini bahwasanya para malaikat yang tersebut itu menaati Alloh dalam perkara yang diperintahkan-Nya. Maka perselisihan yang terjadi adalah muncul dari ilmu mereka. dan alur kisahnya menunjukkan bahwasanya mereka itu tunduk kepada kebenaran yang lebih berat kapan saja kebenaran itu nampak bagi mereka tanpa disertai penundaan, pembangkangan, kesombongan dan semangat untuk mengungguli yang lain.

            Adapun pemberontakan Mar’iyyah maka itu penuh dengan makar, dendam, kedengkian, kesombongan, pembangkangan kepada kebenaran, mengadu domba antara orang-orang baik, menolong ahli ahwa, baku bantu dengan ahli batil untuk memerangi ahli haq, menelantarkan ahli haq dalam menegakkan hak-hak Alloh di bumi, dan tidak merasa cukup dengan manhaj salafiy, merampas masjid-masjid Ahlussunnah dengan cara-cara yang mengerikan, menghasung pemerintah untuk menyakiti orang baik, memakai kedustaan untuk membinasakan Ahlussunnah sampai-sampai seakan-akan rohmat dan taqwa itu telah dicabut dari hati-hati para Mar’iyyin itu, dan bencana-bencana yang lain.

            Maka bagaimana setelah itu pemberontakan Mar’iyyin diqiyaskan kepada perselisihan antar malaikat? Para malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan, sementara Mar’iyyun adalah hizbiyyun mubtadi’ah yang fasiq. Maka besar sekali perbedaan antara timur dan barat.

 

            Jawaban keempat: sesungguhnya hadits ini tidaklah di dalamnya itu ada pengharoman sikap keras kepada ahli hawa.

            Bukanlah hadits ini penghapus bagi seluruh dalil-dalil sikap keras kepada ahli ahwa, dan tidak ada di dalam hadits ini pengharoman sikap keras kepada mereka dalam rangka marah untuk Alloh dan cemburu untuk agama-Nya. Maka bagaimana Al Wushobiy mengharuskan kita untuk mengambil hadits ini dan meninggalkan dalil-dalil yang banyak itu?

 

            Jawaban kelima: siapakah yang memahami hadits ini dengan apa yang dipahami oleh Al Wushobiy?

            Sesungguhnya Al Wushobiy sering berkata: “Kalian harus mengikuti ulama,” “Jadilah kalian bersama ulama,” “Janganlah kalian mendahului ulama.” Maka kita katakan sekarang: “Siapakah yang mendahului Al Wushobiy kepada pemahaman tadi untuk hadits ini? Siapakah salaf dia dalam masalah ini?

            Al Maimuniy رحمه الله berkata: Ahmad berkata padaku: “Wahai Abal Hasan, janganlah engkau berbicara tentang suatu masalah yang engkau tak punya imam di situ.” (“Siyar A’lamin Nubala”/11/hal. 296).

            Sesungguhnya Al Wushobiy هداه الله menuduh kami membawa nafas asing, padahal dia sendirilah yang datang dengan nafas asing di dalam dakwah salafiyyah. Telah banyak prinsip-prinsip dia yang baru dan bid’ah, sebagaimana teleh lewat penyebutannya.

            Telah banyak kontradiksi Muhammad Al Wushobiy yang menunjukkan rusaknya dasar dia. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya sikap bertolak belakang itu adalah posisi kerusakan yang pertama.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 389).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ucapan-ucapan itu jika saling bertolak belakang dan tidak bisa dipilih, maka itu adalah dalil tentang rusak dan batilnya ucapan itu.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 147/Al Maktabatul Ashriyyah).

            Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata: “Yang penting: seseorang itu jika tidak mengikuti apa yang datang di dalam Al Kitab dan As Sunnah, maka dia akan bertolak belakang, dan itu pasti.

]وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ الله لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا[ [النساء/82]

Andaikata Al Qur’an itu datang dari sisi selain Alloh, pastilah mereka akan mendapati di situ perselisihan yang banyak.”

(“Syarh Ushul Min Ilmil Ushul”/hal. 337/Dar Ibnil Haitsam).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan para hizbiyyun itu saling bertolak belakang dengan kontradiksi yang parah.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 106).

 

            Jawaban keenam: di manakah sumber kalimat “Dan barangsiapa bertobat, maka Alloh menerima tobatnya, dan tobat itu meruntuhkan apa terjadi yang sebelumnya” yang disebutkan oleh Al Wushobiy dalam kisah perselisihan para malaikat tadi?

 

            Jawaban ketujuh: tentang ucapan dia: “Dan tidak pula malaikat adzab berkata pada malaikat rohmah: “Kalian mumayyi’un (membikin lembek perkara),” Mereka tidak berkata: “Kalian mumayyi’un (membikin lembek perkara), Bagaimana kalian menerima seperti ini? Orang yang membunuh seratus jiwa.”

            Tiada keraguan bahwasanya malaikat adzab itu tidak mungkin untuk berkata para malaikat rohmah: “Kalian itu mumayyi’un” Karena malaikat adzab tahu bahwasanya malaikat rohmat berpandangan bahwasanya orang tadi sudah bertobat. Maka malaikat rohmat tidak membela pelaku dosa yang terus-terusan di atas dosa-dosa besar, tapi mereka membela orang yang bertobat dan menghadapkan diri dengan hatinya kepada Alloh, sampai bahkan dikarenakan kejujuran semangatnya untuk bertobat dia meninggalkan desanya orang yang buruk kepada desa orang yang sholih untuk beribadah pada Alloh bersama mereka, bahkan ketika kematian mendatanginya dia merayap dengan dadanya. Maka orang semisal ini berhak untuk dibela dan dikasihani. Maka tak bisa masuk akal dan tidak terbayangkan di benak yang sehat bahwasanya dikatakan pada malaikat rohmat: “Kalian itu mumayyi’un.”  Dan kita telah mengetahui juga bahwasanya para malaikat itu terjaga dari kekeliruan. Malaikat adzab itu hanya mendebat mereka karena mereak tidak berpendapat bahwasanya orang tadi telah bertobat.

            Adapun kasus Mar’iyyun, semua orang telah mengetahui bahwasanya mereka itu tidak bertobat, bahkan mereka terus-terusan di atas dosa besar, dan membikin makar dengan makar yang sangat besar, kemudian Muhammad Al Wushobiy membela mereka, bahkan membikin makar terhadap Ahlussunnah bersama mereka. maka Al Wshobiy dan yang bersamanya berhak mendapatkan julukan: “Mumayyi’in, termasuk ahli tamyi’ yang terbesar.” Maka jauh sekali perbedaan antara perbuatan malaikat yang mulia dengan perbuatan Wushobiyyun yang tercela.

 

            Jawaban kedelapan: Al Wushobiy memakai qiyas yang rusak.

            Jika telah jelas untuk kita perbedaan antara kedua kasus di atas: kasus perselisihan antar malaikat dan kasus makar ahli hawa, tahulah kita bahwasanya Al Wushobiy telah menempuh jalan ahli batil dalam berdalil dengan qiyas yang rusak dan meninggalkan dalil-dalil yang jelas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Kesalahan dalam qiyas itu terjadi disebabkan oleh penyerupaan sesuatu dengan perkara yang berbeda, dan mengambil kejadian yang menyeluruh dengan pertimbangan adanya suatu sisi kesamaan, tanpa membedakan di antara kedua jenis tadi. Maka ini adalah qiyas yang rusak.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 299).

            Ini adalah karakter ahli bid’ah. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “dan setiap bid’ah dan perkataan yang rusak yang masuk pada agama-agama para Rosul itu maka asalnya adalah qiyas yang rusak.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 319/Darul hadits).

            Al Wushobiy telah mengumpulkan antara takwil yang rusak dengan qiyas yang rusak, sehingga bergabunglah padanya keburukan-keburukan bid’ah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan kebanyakan bid’ah-bid’ah dan hawa nafsu itu hanyalah tumbuh dari dua dasar ini. Adapun yang pertama adalah: seperti takwil yang rusak atau qiyas yang rusak, … dst.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 74).


Bab Ketiga Belas:

Al Wushobiy Harus Mengasihani dirinya Sendiri

 

            Inilah yang dimudahkan Alloh untuk saya, yaitu penjelasan tentang batilnya tuduhan-tuduhan Muhammad bin Abdil Wahhab Al ‘Abdaliy Al Wushobiy. Saya telah meninggalkan sebagian ucapan dia yang batil dan jelas kebatilannya, yang tak berhak untuk dibantah karena terangnya kelemahannya.

            Maka dia harus mengasihani dirinya sendiri dan bertobat dari hawa nafsu yang menghinakan, dan dari hizbiyyah. Saya menasihati dirinya dan kita semua untuk tidak bersikeras di atas kesombongan dan pembangkangan sekalipun para penasihat itu lebih muda usianya daripada mereka. al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari penyakit-penyakit yang menghalangi untuk kembali kepada kebenaran adalah: bahwasanya orang yang mengucapkan kebenaran itu lebih muda usianya –dibandingkan dengan orang yang mendebatnya- atau lebih sedikit ilmunya atau lebih rendah kemasyhurannya di tengah manusia, sementara yang lain adalah sebaliknya. Maka sungguh kemarahan jahiliyyah dan fanatisme syaithoniyyah terkadang akan membawanya untuk tetap menggenggam kebatilan karena dia merasa tinggi untuk kembali kepada ucapan orang yang lebih rendah umurnya atau ilmunya atau kemasyhurannya daripada dirinya, dalam keadaan dia mengira bahwasanya sikap rujuk tadi menyebabkan jatuhnya pamor dia dan kurangnya kedudukan dia yang dulu. Dugaan ini adalah rusak karena sesungguhnya kejatuhan dan kekurangan itu hanyalah terjadi jika dia bersikeras di atas kebatilan, sementara ketinggian dan kemuliaan itu ada pada sikap rujuk kepada kebenaran, di tangan siapapun dia, dan melalui sisi apapun terjadinya.” (“Adabuth Tholab”/hal. 57/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Dan saya menasihatkan untuk tidak bepergian ke para hizbiyyin yang akan memberikan pengkaburan terhadapnya dan menambahinya kebutaan. Maka barangsiapa bersikeras untuk pergi ke benteng-benteng para ahli batil, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya barangsiapa duduk atau berdiri di hadapan panah-panah ahli iman, maka dia itulah yang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehinaan.” (“Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 455).

Dan saya menasihati dia –dan kita semua- untuk memperbanyak memikirkan dan mengingat penghancur keledzatan -yaitu maut-. Alloh ta’ala berfirman:

]كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ[ [آل عمران/185]

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan hanyalah pahala kalian itu akan dicukupi pada hari Kiamat. Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka sungguh dia itu beruntung. Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الله إِنَّ الله يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ الله وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ الله هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ * بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آَيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى الله وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِين* وَيُنَجِّي الله الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾ [الزمر: 53 – 61].

“Katakanlah wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh, sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Robb kalian dan tunduklah kepada-Nya sebelum datang pada kalian siksaan kemudian kalian tidak tertolong. Dan ikutilah yang terbaik dari apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian sebelum datang pada kalian siksaan dengan tiba-tiba dalam keadaan kalian tidak menyadarinya. Jangn sampai ada jiwa yang berkata: alangkah besarnya penyesalanku terhadap hak Alloh yang aku sia-siakan, dan sungguh aku dulu termasuk orang-orang yang mengejek. Atau berkata: seandainya Alloh memberiku petunjuk pastilah aku termasuk orang-orang yang bertaqwa. Atau berkata ketika melihat adzab seandainya aku punya kesempatan lagi pasti aku akan menjadi termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan. Bahkan telah datang padaku ayat-ayat-Ku lalu engkau mendustakannya dan menyombongkan diri, dan engkau termasuk dari orang-orang kafir. Dan pada hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Alloh wajah-wajah mereka menghitam. Bukankah di dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Alloh menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dengan keberuntungan mereka, mereka tidak tertimpa kejelekan dan mereka tidak pula bersedih hati.”

            Dan hendaknya dia melihat jalan yang ditempuhnya sekarang, kemudian hendaknya dia menusuli dirinya sebelum hilangnya kesempatan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Orang yang paling tolol adalah orang yang tersesat di akhir perjalan panjangnya padahal telah dekat dengan tempat tinggalnya.” (“Al Fawaid”/hal. 107).

            Dan aku ingatkan engkau dengan Alloh, aku ingatkan engkau dengan Alloh, hendaknya engkau –dan kami semua- menghindarkan diri dari penghabisan yang buruk. Al Hafizh Abu Muhammad Abdulhaqq bin Abdirrohman Al Isybiliy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya kesudahan yang buruk itu –semoga Alloh melindungi kit darinya- apunya sebab-sebab, jalan-jalan dan pintu-pintu. Yang paling besarnya adalah konsentrasi pada dunia dan pencariannya, semangat kepadanya, berpaling dari akhirat, maju dan lancang kepada kemaksiatan pada Alloh عز وجل . Dan terkadang orang tersebut didominasi oleh suatu jenis kesalahan dan jenis kedurhakaan dan suatu sisi keberpalingan serta bagian dari sikap maju dan lancang, lalu hal itu menguasai dirinya dan menawan akalnya serta memadamkan cahayanya, dan diutuslah kepadanya penghalangnya sehingga tidak lagi bermanfaat baginya peringatan, dan tidak lagi manjur padanya petuah. Maka bisa jadi akan datang kepadanya kematian dalam kondisi demikian, lalu dia mendengar seruan dari tempat yang jauh, tapi tidak jelas baginya apa yang dimaukan, dan dia tidak tahu apa yang diinginkan, sekalipun si penyeru mengulang-ulang seruannya.” (sebagaimana dalam “Al Jawabul Kafi”/Ibnul Qoyyim/hal. 116).

            Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata: “Dan penghabisan yang buruk itu punya sebab-sebab sebelum datangnya kematian, seperti bid’ah, kemunafiqan, kesombongan dan sifat-sifat tercela yang lain. Oleh karena itulah ketakutan Salaf terhadap kemunafiqan itu sangat keras. (“Mukhtashor Minhajil Qoshidin”/karya Al Maqdasiy/4/hal. 69).

 

والله تعالى أعلم.

والحمد لله رب العالمين.

Dammaj, 2 Shofar 1434 H


Daftar Isi

جدول المحتويات

Pengantar Penerjemah. 3

Bab Enam: Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Upaya Mengingkari Kemungkaran dengan Kitab  8

Pasal satu: disyariatkannya berdakwah dengan memakai kitab. 8

Faidah: 15

Pasal dua: disyariatkannya memboikot pengekor hawa nafsu. 16

Pasal tiga: olok-olok Al Wushobiy terhadap para wanita yang mengingkari kemungkaran  20

Pasal empat: kontradiksi Al Wushobiy. 24

Bab Tujuh: Pengingkaran Al Wushobiy Terhadap Orang Yang Menyemangati Ahlul Haq Untuk Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar 26

Pasal satu: Menyemangati para pelajar yang sanggup melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar adalah disyariatkan. 26

Pasal dua: disyariatkannya ikut sertanya para penuntut ilmu yang mampu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar 28

Pasal tiga: kontradiksi Muhammad Al Wushobiy. 35

Bab Delapan: Siapakah Yang menempuh Jalan Rofidhoh?. 40

Pasal satu: di antara segi-segi keserupaan manhaj Al Wushobiy dengan manhaj Rofidhoh  41

Pasal dua: kontradiksi Al Wushobiy. 42

Pasal tiga: kebaikan dan barokah itu ada pada amar ma’ruf dan nahi munkar serta tampil menerangkan kebenaran. 44

Bab Sembilan: Para ‘Adniyyun dan Wushobiyyun Itulah Sempalan Yang Sesat 48

Pasal satu: Mar’iyyun itulah yang firqoh, dan manhaj salaf berlepas diri dari perbuatan mereka itu. 48

Pasal dua: Al Wushobiy itulah yang hizbiy, yang keluar dari Al Jama’ah. Dan manhaj salafiy berlepas diri dari perbuatannya itu. 51

Faidah penting: 76

Bab Sepuluh: Memerangi Rofidhoh Adalah Jihad Syar’iy. 85

Bab Sebelas: Gabungan Antara Kelembekan dan Muka Dua Dalam Perkara Yang Dianggap Sebagai: “Masalah Yang Masih Diperselisihkan”. 90

Jawaban pertama: kaidah Wushobiy itu satu kantong dengan kaidah mubtadi’ah. 90

Jawaban kedua: membantah ucapan Al Wushobiy dengan ucapan para imam sunnah yang jelas hujjahnya. 90

Pasal tiga: kontradiksi Al Wushobiy. 97

Bab Dua Belas: Qiyas Yang Rusak. 99

Bab Ketiga Belas: Al Wushobiy Harus Mengasihani dirinya Sendiri 106

Daftar Isi 110

 

 

 

 

 


([1]) Kitab Syaikhul Islam -rahimahulloh-

([2]) Abu Fairuz عفا الله عنه berkata: lihatlah bagaimana para imam tadi mengirimkan kitab-kitab yang mengabarkan tentang keadaan Dawud Azh Zhohiriy ketika mereka mengetahui penyimpangannya.

([3]) Abu Fairuz عفا الله عنه berkata: Abu Zur’ah tidak menyebarkan risalah-risalah tadi pada awal perkaranya. Bersamaan dengan itu beliau tidak menyalahkan perbuatan para imam tadi dan tidak mencela mereka dan tidak berkata sebagaimana perkataan Muhammad Al Wushobiy yang mengingkari penyebaran malzamah-malzamah dan menyatakan bahwasanya hal itu tiada contohnya dalam sejarah sama sekali.

([4]) Abu Fairuz عفا الله عنه berkata: Al Imam Ahmad membenarkan risalah-risalah tadi,dan menyetujui perbuatan tadi, dan membangun pemboikotan terhadap Dawud Azh Zhohiriy di atas risalah tadi.

([5]) HR. Al Bukhoriy (105) dan Muslim (1679) dari Abu Bakroh رضي الله عنه . Dan datang dari Shohabat yang lain, semoga Alloh meridhoi semuanya.

(([6])) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Sesungguhnya orang yang menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya justru dijadikannya sebagai musuh. Dan dia mulai menjatuhkan sang penasihat tadi di mata manusia. Sama saja, dengan membongkarpasang berita tentang dirinya, ataukah dengan tuduhan-tuduhan dengan perkara-perkara yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk memerangi orang yang menasihatinya, sebagaimana hal itu telah dikenal darinya, tapi Asy Syaikh Al Wushobiy datang dengan bentuk sebagai pemberi nasihat yang penuh kasih sayang!

﴿أم حسب الذين في قلوبهم مرض أن لن يخرج الله أضغانهم ولو نشاء لأريناكهم فلعرفتهم بسيماهم ولتعرفنهم في لحن القول والله يعلم أعمالكم﴾.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Alloh tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat Mengenal mereka dengan tanda-tandanya. dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Alloh mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (QS. Muhammad: 28-29)

(([7])) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: Lihatlah bagaimana si murid mengambil faidah dari fatwa syaikh al ‘allamah!!!

﴿وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما ألفينا عليه آباءنا أولو كان آبائهم لا يعلمون شيئاً ولا يهتدون﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan oleh Alloh, mereka berkata: “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami ada di atasnya”. Apakah mereka akan mengikuti juga sekalipun bapak-bapak mereka tidak mengetahiu sedikitpun dan tidak berakal?”

(([8])) Al Qulaishiy berkata dalam catatan kakinya: padahal dia sudah tahu itu, akan tetapi dia berbuat itu seakan-akan dia tidak tahu itu, untuk memberikan kesan pada orang yang ada di sekitarnya bahwasanya dirinya terkejut akan hal itu.

([9])  Catatan Abu Fairuz: jelas Ahlussunnah tidak membolehkan mengobarkan kebencian masyarakat terhadap pemerintah, dan bahkan Ahlussunnah mengharuskan untuk mendengar dan taat pada pemerintah muslimin yang berdaulat.

([10]) Catatan penerjemah: Yaitu: jika ucapan tadi tidak sampai menyelisihi suatu sunnah atau ijma’

 ([11]) Catatan penerjemah: Yaitu: sisi yang kedua

 ([12]) Syaikh kami Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله mengingatkan saya akan faidah ini. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

 ([13]) Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal (4/420) dari Abu Barzah رضي الله عنه , dalam sanadnya ada Sa’id bin Abdillah bin Juroij, majhulul hal. Dan diriwayatkan oleh At Tirmidziy (Al Birr Wash Shilah/Ma Jaa Fi Ta’zhimil Mu’min) dan yang lainnya dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما dengan lafazh “Orang yang masuk Islam dengan lidahnya”, dan menghasankannya, dan disetujui Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((3601)/Darul Atsar). Hadits ini Jayyid