Mengingatkan Penduduk Muslim

Tentang Kebatilan Ahmad bin Hasan Al Mu’allim 

 

         

Diperiksa dan diidzinkan penyebarannya oleh:

Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman

Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله

 

 

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

‘afallohu ‘anhu

di Yaman

Judul Asli:

“Tahdzir Ahli Baladiy Min Abathil Ahmad bin Hasan Al Mu’allim Al Hadhromiy”

 

Terjemah bebas:

“Mengingatkan Penduduk Muslim Tentang Kebatilan Ahmad bin Hasan Al Mu’allim”

 

Diperiksa dan diidzinkan penyebarannya oleh:

Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman

Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله

  

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

‘afallohu ‘anhu

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

Telah datang surat dari salah seorang ikhwah di Indonesia yang menyebutkan di dalamnya pengumuman yang lafazhnya sebagai berikut:

“Hadirilah Dauroh bersama Syaikh Ahmad bin Hasan Al Mu’allim (Mufti Republik Yaman) murid Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Albaniy …”

            Sang penulis surat حفظه الله meminta saya untuk menjelaskan keadaan Ahmad bin Hasan Al Mu’allim ini.

            Maka dengan ini saya menjawab dengan memohon pertolongan pada Alloh:


Bab Satu:

Sekilas Dari Biografi Ahmad bin Hasan Al Mu’allim

 

            Dia adalah Ahmad bin Hasan bin Saudan Al Mu’allim, dilahirkan di Hadhromaut (Yaman) pada tahun 1373 H.

            Dia menimba ilmu di TPQ-TPQ desanya. Dia menyelesaikan sekolah dasar di Kerajaan Arab Saudi, dan belajar Tsanawiyyah di Darul hadits Al Khoiriyyah di Madinah Munawwaroh. Belajar Kulliyatul Hadits di Jami’ah Islamiyyah Madinah lalu menyempurnakannya di Yaman. Dia mendapatkan ijazah Majister di Jami’ah Wathoniyyah dalam risalhnya yang berjudul “Al Quburiyyah Fil Yaman: Nash’atuha, Atsaruha, Mauqiful ‘Ulama Minha.”

            Sekarang dia sedangmenghadirkan risalah doktoral di Jami’ah Sanat Kalmantis dengan judul: “Ilmul Kalam Wa Tsaruhu ‘Ala Tauhidil Uluhiyyah: Al Asya’iroh Wal Maturidiyyah Numudzajan”

            Termasuk dari masyayikhnya adalah: Asy Syaikh Hasan Ba Umar Al ‘Amudiy, dan beliau itu yang banyak menyemangatinya untuk menuntut ilmu. Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Muhaddits Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy. Dan dia banyak menyertai Asy Syaikh Abu Bakr Al Jazairiy. Semoga Alloh merohmati mereka semua.

            Dan anda semua insya Alloh akan melihat bahwasanya Ahmad Al Mu’allim menyelisihi masyayikhnya dalam masalah kekokohan di atas sunnah dan kebencian terhadap bida’ah-bid’ah.

            Dia sekarang menjabat sebagai kepala Jam’iyyatul Hikmah Al Yamaniyyah Al Khoiroyyah cabang Hadhromaut.

            Juga sebagai mantan kepala kantor Al Irsyad di propinsi Hadhromaut.

            Juga sebagai anggota Jam’iyyah Ulamail Yaman, dan kepala majelis Ulama Ahlissunnah Wal Jama’ah di Hadhromaut.

            Juga sebagai khothib masjid “Kholid ibnul Walid” di Mukalla Hadhromaut.

 

Sumber data: situs Ahlul Hadits (www.ahlalhdeeth.com).


Bab Dua:

Disyariatkannya Menjelaskan Kondisi Pelaku Kebatilan dan Tidak Menyembunyikan Nasihat

 

Alloh ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُهُ وَالله بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيم

“Dan janganlah kalian menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikannya maka dia itu berdosa hatinya. Dan Alloh Mahatahu apa yang kalian lakukan.”

            Alloh subhanah berfirman:

﴿وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لله ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ الله يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى الله فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ الله بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ الله لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾ [الطلاق: 2، 3].

“Dan hendaklah kalian menegakkan kesaksian itu karena Alloh. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يقول في حق إذا رآه، أو شهده، أو سمعه

Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya.”

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad (11793) dengan sanad shohih. Dan dishohihkan Al Imam Al Albaniy رحمه الله di “Ash Shohihah” di bawah no. (168). Dan asal hadits dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (414)).

                        Yahya bin Sa’id -rahimahulloh- berkata : “Aku bertanya kepada Syu’bah, Sufyan Ats Tsauri, Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah tentang seseorang yang tertuduh dalam masalah hadits atau tidak hapal. Mereka berkata,”Jelaskanlah keadaannya kepada orang-orang.” (“Al Kifayah”/Al Khothib/no. (81)/shohih)

Abdurrohman bin Mahdi -rahimahulloh- berkata: “Aku bersama Syu’bah melewati seseorang –yang sedang menyampaikan hadits- maka beliau berkata,”Orang ini pendusta. Demi Alloh, seandainya bukan karena tidak halal bagiku untuk diam pastilah aku akan diam.” (“Al Kifayah”/Al Khothib/no. (84)/shohih).

Al Hasan ibnur Robi’ -rahimahulloh- berkata: “Ibnul Mubarok berkata,”Al Mu’alla bin Hilal adalah orang pilihan hanya saja jika datang hadits dia itu berdusta.” Maka sebagian orang sufi berkata,”Wahai Abu Abdirrohman, anda berghibah?” beliau berkata,”Diam. Jika kita tidak memberikan penjelasan bagaimana bisa diketahui al haq dari al bathil?” atau kalimat yang mirip dengan itu. (“Al Kifayah”/Al Khothib /no. (93)/shohih).

Muhammad bin Bundar As Sabbak Al Jurjani -rahimahulloh- berkata: “Kukatakan kepada Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya sangat berat bagi saya untuk berkata:Fulan lemah, fulan pendusta”. Maka Ahmad berkata: “Kalau engkau diam dan aku pun diam, maka kapankah orang yang bodoh akan mengetahui yang sehat dari yang sakit?” (“Al Kifayah”/Al Khothib /no. (95)/shohih).

            Al Imam Al Barbahariy -rahimahulloh- berkata: “Dan tidak halal nasihat itu disembunyikan dari kaum Muslimin –yang baik ataupun yang jahat- di dalam urusan agama. Maka barangsiapa menyembunyikannya maka dia telah menipu kaum Muslimin. Dan barangsiapa menipu kaum Muslimin, maka sungguh dia telah menipu agama ini. Dan barangsiapa menipu agama ini, maka sungguh dia telah mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya dan kaum Mukminin.” (“Syarhus Sunnah” hal. 29-30).

            Jika orang tersebut adalah termasuk dari pengekor hawa nafsu atau kemunafiqan, maka Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم telah memperingatkan kita dari mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ الله أَنَّى يُؤْفَكُونَ﴾ [المنافقون: 4].

“Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

            Dan dari Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم membaca ayat ini:

﴿هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولو الألباب﴾

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (samar-samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyelewengan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

            Aisyah berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka jika engkau melihat orang-orang yang mencari-cari ayat yang samar-samar dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang Alloh sebutkan itu, maka hindarilah mereka.” (HR. Al Bukhoriy (4547) dan Muslim (2665)).

            Sampai bahkan jika orang tersebut bukanlah termasukd ari munafiqin akan tetapi dikhawatirkan bahayanya bagi umat, wajib juga untuk diperingatkan darinya. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka jika ada kaum-kaum munafiqun membikin kebid’ahan menyelisihi Al Kitab dan membikin kerancuan pada manusia, dan tidak jelas bagi orang-orang, maka rusaklah urusan Al Kitab dan dirubahkan agama ini sebagaimana rusaknya agama Ahlul Kitab sebelum kita karena terjadinya perubahan yang tidak diingkari terhadap pelakunya.

            Dan jika ada kaum-kaum yang bukab termasuk dari munafiqin akan tetapi mereka gemar mendengarkan ucapan munafiqin sehingga terjadilah kerancuan di hati mereka tentang urusan munafiqin sampai merek amengira bahwasanya ucapan munafiqin itu benar padahal dia itu menyelisihi Al Kitab, dan jadilah kaum tadi sebagai penyeru kepada bid’ah-bid’ah munafiqin, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿لو خرجوا فيكم ما زادوكم إلا خبالا ولأوضعوا خلالكم يبغونكم الفتنة وفيكم سماعون لهم﴾

“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka.”

            Maka wajib juga untuk menjelaskan kondisi mereka itu. Bahkan fitnah dengan sebab keadaan orang-orang tadi lebih besar Karena pada diri mereka ada keimanan yang mengharuskan kita untuk loyal kepada mereka padahal mereka telah masuk ke dalam bid’ah munafiqin yang merusak agama. Maka wajib untuk memperingatkan dari bid’ah-bid’ah tadi walaupun yang demikian itu menuntut untuk menyebutkan mereka dan nama-nama mereka. bahkan andaikata mereka tidak mendapatkan bid’ah tadi dari seorang munafiq akan tetapi mereka mengucapkannya dalam keadaan mereka mengira bahwasanya bid’ah tadi adalah petunjuk, dan bahwasanya bid’ah tadi adalah kebaikan dan bahwasanya dia itu adalah agama, padahal tidak demikian, maka wajib juga untuk menjelaskan keadaannya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 233/ihalah/Darul Wafa).


Bab Tiga:

Ringkasan Kebatilan Ahmad bin Hasan Al Mu’allim

 

            Ketahuilah wahai ikhwah bahwasanya Ahmad bin Hasan Al Mu’allim ini dikenal di kalangan Ahlussunnah Yamaniyyun bahwasanya dia itu termasuk pengekor hawa nafsu. Pada waktu yang sempit ini saya akan menyebutkan ringkasan kebatilan Ahmad bin Hasan Al Mu’allim. Barangsiapa menginginkan tambahan silakan bertanya pada Ahlussunnah dari Hadhromaut, karena mereka lebih tahu tentang penduduk negri mereka.

 

            Yang pertama: bahwasanya Ahmad bin Hasan Al Mu’allim memberikan ceramah di perayaan maulidun Nabi صلى الله عليه وسلم padahal diketahui bahwasanya acara itu adalah bid’ah. Maka tidaklah bermanfaat bagi dia kebanggaannya pernah belajar ke Asy Syaikh Ibnu Baz atau Asy Syaikh Al Albaniy رحمهما الله , dan keduanya melarang bid’ah-bid’ah semisal ini.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Maka di manakah syair Ahmad Al Mu’allim:

                   الله أكبر في الدفاع سأبتدي     وهو المعين على نجاح المقصد

“Alloh Mahabesar, dalam pembelaan aku akan memulai, dan Dialah Sang Penolong untuk kesuksesan maksud”

(syairnya) di suatu lembah, dan perjalanan hidupnya sekarang di lembah lain. Dia hadir dan berceramah di acara maulid Nabi tanpa menyampaikan pengingkaran di situ, dia mengajak kepada pemilu di partai Ishlah Ath Thoghutiy. Kemudian setelah itu mereka hilang dan mencair.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 7/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Syaikh kami al ‘allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Ahmad Al Mu’allim hizbiy, dan bersekongkol dengan Shufiyyah. Asy Syaikh (Muqbil) رحمه الله telah menjelaskan keadaan dia dalam kaset tersendiri. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«شر الناس ذو الوجهين».

“Sejelek-jelek manusia adalah orang yang berwajah dua.”([1])

Dan Ahmad Al Mu’allim itu punya lima wajah: wajah shufiy, wajah ikhwaniy, wajah bersama para pengikut jam’iyyah. Dan menyebutkan lima wajah.” (“Syar’iyyatun Nushh Waz Zajr Wat Tahdzir”/Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy/no. (19)/Darul Kitab Was Sunnah).

            Jika orang itu adalah sunniy salafiy, maka kenapa dia sengaja menghadiri maulid dan berserikat dalam bid’ah ini dengan berceramah di situ tanpa mengingkarinya?

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ الله جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا﴾ [النساء/140].

“Dan sungguh telah Alloh turunkan kepada kalian di dalam kitab ini bahwasanya jika kalian mendengar ayat-ayat Alloh dikufuri dan diejek, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memperbincangkan pembicaraan yang lain. Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka akan semisal dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan munafiqin dan kafirin ke dalam jahannam semuanya.”

Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Maka dengan ini menunjukkan akan wajibnya menjauhi pelaku maksiat jika nampak dari mereka kemungkaran, karena orang yang tidak menjauhi mereka berarti dia ridho dengan perbuatan mereka. Dan ridho dengan kekufuran adalah kekufuran juga. Alloh عز وجل berfirman: “Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka akan semisal dengan mereka.” Maka setiap orang yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkari mereka, berarti dia sama-sama mereka dalam dosa. Maka dia harus mengingkari mereka jika mereka berbicara dengan maksiat dan mengerjakannya. Jika dia tak sanggup mengingkari mereka, dia harus bangkit meninggalkan mereka hingga tidak termasuk orang yang terkena ayat ini.

Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Abdil ‘Aziz رضي الله عنه bahwasanya beliau pernah menangkap sekelompok orang yang sedang minum khomr. Maka dikatakan pada beliau tentang salah seorang yang hadir saat ditangkap: “Orang ini puasa”, maka beliau menimpakan padanya hukuman juga dan membaca ayat ini: “Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka akan semisal dengan mereka.”([2]) yaitu sesungguhnya ridho dengan kemaksiatan merupakan kemaksiatan juga. Karena itulah pelaku dan orang yang meridhoinya dihukum dengan hukuman kemaksiatan hingga mereka binasa semuanya.

Keserupaan ini bukanlah di seluruh sifat, tapi dalam bab pengharusan kemiripan untuk dihukumi secara zhohir dengan penggabungan, sebagaimana ucapan seseorang: “Maka setiap orang itu mencontoh orang yang disertainya.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/5/hal. 418).

            Al Imam Abdurrohman Alu Sa’diy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya kalian jika tetap duduk dengan mereka” Yaitu jika kalian duduk bersama mereka dalam kondisi tersebut “semisal dengan mereka.” karena kalian ridho dengan kekufuran mereka dan olok-olokan mereka. dan orang yang maksiat adalah seperti pelakunya. Dan kesimpulannya adalah: bahwasanya barangsiapa menghadiri suatu majelis yang dengannya Alloh didurhakai, maka dia wajib –fardhu ‘ain- untuk mengingkari mereka jika dia mampu, atau dia bangkit (meninggalkan majelis itu) jika dia tak punya kemampuan.” (“Taisirul Karimir Rohman”/hal. 216).

 

            Yang kedua: Ahmad bin Hasan Al Mu’allim Al Hadhromiy menuduh Ahlussunnah yang kokoh di atas sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم bahwasanya mereka itu akan memberontak terhadap pemerintah. Justru dia itulah yang punya kecondongan pada sebagian khowarij. Dan ini diketahui pada perjalanan hidup Ahmad bin Hasan Al Mu’allim ini.

          Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Aku dikabari tentang Ahmad Al Mu’allim di Hadromaut bahwasanya dirinya berkata: “Sesungguhnya saudara kita Salafiyyun tidak sholat di antara tiang-tiang.” Dia berkata: “Ini merupakan penampilan seperti penampilan Juhaiman, diawali dengan sholat memakai sandal, lalu tidak sholat di antara tiang-tiang, lalu mengkafirkan pemerintah.” Padahal si Mu’allim ini dulu adalah salah satu pembantu Juhaiman, sampai aku pergi dari Mekkah ke Madinah, lalu kudapati Ahmad Al Mu’allim, lalu dia berkata: “Marilah kita pergi mengunjungi Juhaiman, dia ada di rumah salah seorang ikhwah.” Maka kujawab: “Aku tidak akan pergi mengunjunginya.” Dia berkata: “Juhaiman telah membaik.” (“Nubdzatun Yasiroh”/karya Muhammad bin Ali Ash Shouma’iy/hal. 106/Darul Atsar).

            Dan aqidah Ahlissunnah dalam masalah mendengar dan taat pada pemerintah itu telah dikenal. ‘Ubadah Ibnush Shomit rodhiyallohu ‘anhu berkata:

دَعَانَا رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ: « إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ الله فِيهِ بُرْهَانٌ ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- menyeru kami maka kami membai’at beliau. Maka di antara perkara yang beliau ambil terhadap kami adalah: Kami membai’at beliau untuk mendengar dan taat dalam keadaan kami rajin dan malas, dalam keadaan kami merasa sulit dan mudah, dan dalam keadaan kami tertimpa kezholiman, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya. Lalu beliau bersabda,“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian punya bukti dari Alloh tentangnya.” (HR. Al Bukhoriy (7056) dan Muslim (4877)).

            Dan tidaklah Ahlussunnah mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم demi mendapatkan dunia atau kekuasaan, akan tetapi karena ikut sunnah itu merupakan ikut kepada kebenaran dan petunjuk. Dan dalil-dalil tentang itu telah dikenal. Dan Abu Bakr Ash Shiddiq رضي الله عنه berkata:

لست تاركا شيئا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل به إلا عملت به فإني أخشى إن تركت شيئا من أمره أن أزيغ. (أخرجه البخاري (3093) ومسلم (1759)).

“Tidaklah aku meninggalkan suatu perkarapun yang dulu Rosululloh صلى الله عليه وسلم dari mengerjakannya kecuali aku telah mengamalkannya juga, karena aku takut jika aku meninggalkan sedikit dari urusan beliau aku akan menyimpang.” (HR. Al Bukhoriy (3093) dan Muslim (1759)).

 

            Yang ketiga: condong kepada dunia lewat jalur jam’iyyat di bawah tabir dusta: “Menolong agama.” Ini telah dikenal pada jalan hidup Ahmad Al Mu’allim dan semisalnya.

            Dari Amr bin Auf Al Anshoriy رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«فوالله لا الفقر أخشى عليكم ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم فتنافسوها كما تنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم». (أخرجه البخاري (3158) ومسلم (2961)).

“Maka demi Alloh, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir terhadap kalian akan dibentangkannya dunia pada kalian sebagaimana dibentangkannya terhadap orang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba untuk mendapatkannya sebagaimana orang sebelum kalian saling berlomba untuk mendapatkannya, dan dunia membinasakan kalian sebagaimana dia membinasakan orang sebelum kalian.” (HR. Al Bukhoriy (3158) dan Muslim (2961)).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan aku menasihati saudara-saudaraku di jalan Alloh untuk tidak condong kepada dunia lalu hilanglah ilmu mereka dan terpupuslah mata hati mereka. Lalu seorang dari ikhwah mengunjungi kami beberapa hari kemudian, maka kukatakan padanya: “Wahai saudara kami, i’robkanlah :

﴿إنا ههنا قاعدون﴾

“Sesungguhnya kami duduk-duduk saja di sini.”

Maka dia berkata: “Demi Alloh wahai Syaikh, saya telah lupa. Dan kami pada suatu ketika di majelis di rumah Asy Syaikh Muhammad bin Sa’id Al ‘Ansiy, dan kami diundang. Maka saya berkata: “Hadits demikian dan demikian, siapakah Shohabatnya? Dan siapakah yang meriwayatkannya? Dan bagaimana kondisi hadits ini?” maka mulailah sebagian pengikut Jam’iyyatul Hikmah menoleh satu sama lain. Abdul Majid Ar Roimiy menoleh ke Ahmad Al Mu’allim, dan Ahmad Al Mu’allim menoleh ke yang lain. Dan tiada seorangpun yang menjawabnya. Yang menjawabnya adalah saudara-saudara kami yang bersama kami. Adapun mereka, maka perhatian mereka adalah menghadirkan suatu tema dan bangkit dan menyampaikannya. Maka saya menasihati mereka untuk mencurahkan perhatian pada menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Ada kaset-kaset yang terkait dengan tema ini, seperti kaset: “Nashihati Li Ahlissunnah” dan seperti “Al Ajwibah ‘Ala Asilah Syababil Bahroin” dan seperti “Al Baroah minal Hizbiyyah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 191-192/Darul Atsar).

            Syaikhuna Al Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang Ahmad Al Mu’allim: “Dia adalah seorang pengajar yang banyak menipu. Dia itu bersama jam’iyyah-jam’iyyah adalah seorang jam’iy. Dan bersama shufiyyah dia itu sangat gembira. Dan di Arab Saudiy mengumpulkan harta.” (Sebagaimana dalam kitab “Adzdzanal Muaddzdinun”/dikumpulkan oleh Abu Mu’adz Husain bin Mahmud Al Hathibiy/hal. 10/cet. Darul Hadits).

 

            Yang keempat: punya banyak wajah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang rusak. Dia tidak tetap di atas kebenaran.

            Sesungguhnya berbilangnya wajah itu menunjukkan adanya kedustaan dan tidak kokoh di atas kebenaran. Dan ini adalah langkah orang munafiqun yang ditempuh oleh banyak pengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ [البقرة: 14- 18].

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka berkata,”Kami telah beriman.” Tapi apabila mereka menyepi dengan setan-setan mereka, mereka berkata,”Sesungguhnya kami adalah bersama kalian, kami ini hanyalah berolok-olok belaka.” (QS. Al Baqoroh: 14).

            Dan telah lewat hadits celaan terhadap orang yang punya dua wajah.            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Dan makna: “Barangsiapa punya dua wajah” yaitu berbicara dengan orang-orang ini dengan suatu pembicaraan, dan dengan orang-orang yang itu dengan ucapan yang lain. Lafazh tadi semakna dengan “Pemilik dua wajah.” (“Al Kabair”/Adz Dzahabiy/dengan syarh Ibnu Utsaimin/hal. 252/dosa besar nomor 43/cet. Darul Ghodil Jadid).

            Dan dari ‘Ammar رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ فِى الدُّنْيَا كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَانَانِ مِنْ نَارٍ».

“Barangsiapa punya dua wajah di dunia, dia di hari Kiamat punya dua lidah dari api.” (HR. Abu Dawud (4864/di Aunul Ma’bud/Darul Hadits) dan Al Bukhoriy di “Al Adabul Mufrod” (1310/Darush Shiddiq). Dan hadits ini hasan dengan pendukungnya).

            Dan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan oleh karena itulah engkau melihat bahwasanya orang yang jujur adalah termasuk manusia yang paling kokoh dan hatinya paling pemberani. Dan pendusta adalah termasuk manusia yang paling hina dan paling busuk dan paling banyak beralih warna, dan paling sedikit kekokohannya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 237/Darul Hadits).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Dan demikian pula jam’iyyah-jam’iyyah yang tidak ditegakkan kecuali dalam rangka mencopet harta orang-orang dan menghalangi orang dari sunnah, dan mempersiapkan diri-diri mereka untuk membentuk suatu partai. Andaikata mereka mengetahui dari diri-diri mereka bahwasanya mereka akan bisa membentuk suatu partai, pastilah kalian akan melihat mereka masuk ke dalam pemilu. Dan segala sesuatu menjadi boleh bagi mereka. akan tetapi orang yang tetap tinggal di atas kebutaannya, maka kami mohon pada Alloh untuk membongkarnya, seperti Abdul Majid Az Zindaniy, karena jika engkau pergi menemuinya dan berkata padanya: “Teman-temanmu merampas masjid Fulaniy dari tangan kami. Dan teman-temanmu memukul teman-teman kami di masjid Fulaniy. Dan teman-temanmu mencela Ahlussunnah.” Maka dia berkata: “Aku berlepas diri kepada Alloh dari ini.” Maka jika engkau berlepas diri kepada Alloh maka keluarlah engkau dari mereka dan janganlah engkau tetap di atas keadaanmu. Dan dia itu siap untuk berbuat seperti Ahmad Al Mu’allim yang punya wajah shufiy di antara shufiyyah, maka dia itulah yang memuji Abulloh Al Haddad dan memuji sebagian shufiyyah. Dan dia punya wajah ishlahiy, dan itu adalah wajah sebagai pegawai, karena mereka itu tidak akan membiarkan dia tetap di kantor Pengarahan dan Bimbingan kecuali dalam keadaan dia punya wajah ishlahiy. Dan jika mereka mengundangnya ke perayaan maulid, mereka dan shufiyyah, maka dia akan hadir dan berkhuthbah, bukan untuk memperingatkan manusia dari maulid, tapi mendatangkan tema lain. Dan demikianlah, dia punya wajah salafiy. Jika dia masuk ke para salafiyyin, ke Saudiy demi mendapatkan dirham dan dinar. Dan kami telah menyeru dia kepada salafiyyah sebelum dia terjerumus kepada perkara yang dia terjerumus di dalamnya ketika pertama kali dia mendatangiku di Dammaj dan berkata: “Aku tak bisa bersabar seperti kesabaran kalian.” Maka hizbiy itu siap untuk punya lima wajah. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إنّ من شرّ النّاس ذا الوجهين الّذي يأتي هؤلاء بوجه وهؤلاء بوجه».

“Sesungguhnya termasuk orang yang paling jelek adalah orang yang bermuka ganda, yang mendatangi pihak sini dengan suatu wajah, dan menemui pihak sana dengan wajah lain.”

Adapun seorang sunni, maka sungguh dia itu memegang teguh agamanya, baik si fulan ridho ataupun tidak. Beda dengan hizbiyyin, karena mereka itu telah memiliki sesuatu yang mereka nyatakan sebagai politik. Maka engkau melihat dia berbicara denganmu dan bersumpah berkata: “Demi Alloh aku tidak di Jam’iyyatul Hikmah.” Ketika dikatakan padanya: “Wahai fulan, bertaqwalah engkau pada Alloh, engkau pergi bersama mereka dan engkau ada di Jam’iyyatul Hikmah.” Maka dia menjawab: “Iya, aku bersumpah bahwasanya aku di sini, di masjid, dan aku tidak di Jam’iyyatul Hikmah.”.” (“Tuhfatul Mujib” /hal. 290/Darul Atsar).

 

            Yang kelima: bersikeras di atas kebatilan dan kebid’ahan, dan tak mau tunduk pada nasihat-nasihat yang benar.

            Sesungguhnya pengekor hawa nafsu itu menempuh jalan para musuh Alloh, yang tidak mau tunduk pada kebenaran setelah tegaknya hujjah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ﴾ [الصافات: 13]،

“Dan jika mereka diingatkan, mereka tak mau ingat.”

Dan Alloh subhanah berfirman:

﴿قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ﴾ [الشعراء: 136].

“Mereka berkata: sama saja bagi kami, apakah engkau memberikan petuah pada kami ataukah engkau tidak termasuk dari para pemberi petuah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Jika engkau melihat perkataan salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, maka tidaklah terampuni bagi orang yang telah sampai hujjah kepadanya kesalahan yang terampuni bagi orang pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’. Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya, tidak dihukumi sebagai mubtadi’. Ini merupakan prinsip yang agung, maka pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).

            Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله : “Adapun orang bersikeras di dalam kesalahannya setelah ada penjelasan, maka datang riwayat dari Ibnul Mubarok dan Ahmad Bin Hanbal dan Al Humaidiy dan yang lainnya, maka riwayatnya jatuh dan tidak ditulis, dikarenakan sikap bandelnya di atas kesalahannya tadi membatalkan kepercayaan terhadap perkataannya.  –sampai pada ucapan beliau:- Ibnu Hibban berkata: “Sesungguhnya barangsiapa telah jelas bagi dirinya kesalahannya dan tahu kesalahannya itu tapi tak mau rujuk darinya, dan malah terus-terusan demikian maka dia adalah pendusta dengan ilmu yang shohih.” At Taj At Tibriziy berkata: “Dikarenakan orang yang membangkang itu bagaikan orang yang meremehkan hadits dengan cara melariskan perkataannya dengan kebatilan. Adapun jika pembangkangannya itu karena kebodohannya maka dia lebih pantas untuk jatuh karena dia menggabungkan kepada kebodohannya tadi pengingkarannya terhadap kebenaran.” (“Taudhihul Afkar”/2/hal. 258).

            Al Hafizh As Sakhowiy رحمه الله berkata: “Kemudian jika telah dijelaskan padanya –yaitu rowi yang lupa atau salah walaupun hanya satu kesalahan- lalu dia tak mau kembali dari kesalahannya tadi bahkan terus-terusan berbuat itu maka jatuhlah haditsnya di mata mereka –yaitu para muhadditsin-.” (“Fathul Mughits”/1/hal. 358).

            Al Imam Al Wadi’iy  berkata tentang Ahmad Al Mu’allim: “Sebagian ikhwan kami pergi untuk menasihatinya agar jangan menghadiri perayaan maulid. Maka dia berkata: “Aku telah puas dengan ini. Dan bagi kalian pendapat kalian, dan bagiku pendapatku.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 302/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Bukan demikian wahai Ahmad, bahkan seluruh perselisihan itu dikembalikan kepada hukum Alloh dan Rosul-Nya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا﴾.

“Maka jika kalian berselisih pendapat terhadap suatu perkara maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika memang kalian itu beriman kepada Alloh dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik, dan lebih bagus kesudahannya” (QS. An Nisa: 59)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang masalah perselisihan: “Dan ketika itu maka jadilah masalah tersebut adalah perselisihan yang wajib untuk dikembalikan kepada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Barangsiapa enggan untuk yang demikian itu maka dia itu bisa jadi adalah orang yang bodoh dan taqlid, atau bisa jadi adalah muta’ashshib pengekor hawa nafsu yang durhaka pada Alloh ta’ala dan Rosul-Nya  صلى الله عليه وسلم, dia menyodorkan dirinya untuk bergabung dengan ancaman Alloh untuk orang macam ini, karena Alloh ta’ala berfirman –lalu menyebutkan ayat tadi- maka apabila telah tetap bahwasanya masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan, maka wajib secara pasti untuk dikembalikan kepada Kitabulloh ta’ala dan Sunnah Rosul-Nya.” (“Ighotsatul Lahfan”/hal. 323).

            Dan barangsiapa tidak menerima kebenaran setelah ditegakkannya hujjah, mka dia itu di atas bahaya. Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan dikhawatirnya Alloh akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

Yang keenam: Ahmad Al Mu’allim mengajak kepada pemilu.

            Hizbiyyun memanfaatkan demokrasi dan perkara-perkara yang dilahirkan darinya untuk mencapai kekuasaan dan merebut kursi, padahal pemilu itu adalah termasuk peraturan orang-orang Barat yang batil. Fadhilatusy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله berkata: “Maka demokrasi itu misalkan, mereka menjadikan kehakiman itu milik masyarakat bangsa itu, dan mereka menyatakan bahwasanya masyarakat yang matang itulah sumber kekuasaan untuk membuat peraturan, kehakiman, dan pelaksanaan. Dari dia dan kepada dialah segala perkara pensyariatan itu kembali. Dan mereka berpandangan bahwasanya yang demikian itu adalah keadilan, karena masyarakat menghukumi diri mereka dengan diri mereka sendiri. Dan dia itu adalah keadilan yang dinyanyikan oleh orang-orang yang tergila-gila oleh Barat, atau yang beriman dengan orang-orang Barat.” (“Haqiqotusy Syuro Fil Islam”/karya beliau/hal. 11-12/Darul Minhaj).

            Perlu diingat: jika para ulama berkata bahwasanya demokrasi itu kekufuran, tidak mengharuskan bahwasanya kepala Negara itu kafir karenanya. Pengkafiran itu punya syarat-syarat dan penghalangan. Dan fatwa-fatwa tadi bukanlah merupakan pembolehan bagi para pemberontak untuk menggulingkan kekuasaan. Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Al Ma’mun, Al Mu’tashim dan Al Watsiq telah mengajak orang kepada bid’ah keyakinan bahwasanya Al Qur’an itu makhluk, dan mereka menghukum para ulama karena mereka tak mau mengatakan itu, dengan pembunuhan, pukulan, penjara dan berbagai penghinaan. Dan tak ada seorangpun yang mengatakan wajibnya memeberontak pada mereka dengan sebab itu. Dan perkara itu berlangsung selama belasan tahun, sampai Al Mutawakkil menguasai kekhilafahan lalu beliau membatalkan ujian itu dan memerintahkan untuk menampakkan sunnah.” (“Fathul Bari”/Kitabul Ahkam/Al Umaro Min Quroisy/13/hal. 144/cet. Darus Salam).

            Maka kita mengatakan bahwasanya kesalahan itu adalah kesalahan, tanpa mengajak orang-orang untuk memberontak ataupun menggulingkan pemerintah muslimin.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata pada Ahmad Al Mu’allim: “Apa sih yang membahayakanmu wahai Ahmad jika engkau berkata: “Aku bertobat pada Alloh سبحانه وتعالى dari mengajak orang untuk memilih orang-orang Ishlahiy Thoghutiy”? dan engkau telah mengirimkan kaset kepadaku yang berkata di dalamnya: “Bersamaan dengan ini aku tidak menjanjikan pada Anda bahwasanya tak akan melakukan ini pada kali yang lain.” Maka apa sih yang membahayakanmu jika engkau berkata: “Aku bertobat pada Alloh”? Apakah engkau menyombongkan diri? Engkau adalah seorang dai, dan Alloh telah memberikan manfaat denganmu, dan dengan pujian pada Alloh orang Hijaz, orang Najd, dan orang Kuwait mencintaimu. Maka jika mereka mendengar ini darimu, mereka akan lari karena engkau bersekutu dalam perayaan maulid dan engkau menyampaikan khuthbah. Dan jika mereka melihat fatwa-fatwamu bahwasanya engkau berfatwa bahwasanya engkau mendorong orang-orang untuk memilih partai Ishlah, bagaimana jika melihat ini saudara-saudaramu yang selama ini mengenalmu dengan kezuhudan, waro’, rasa takut, kesholihan, dan dulu engkau adalah pemimpin di kalangan mereka? Istiqomah itu wajib.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 225/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Lihatlah kebatilan-kebatilan Ahmad Al Mu’allim dan kesombongannya terhadap nasihat-nasihat yang benar. Dan ini adalah karakter ahli bid’ah. Asy Syaikh Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka jika engkau telah mengetahui adanya kebid’ahan darinya, lalu dia dinasihati untuk meninggalkannya, akan tetapi dia bersikeras untuk tetap melakukannya maka dia itu dinilai telah keluar dari sunnah dan memegang bid’ah,…” dst (“Al Fatawal Jaliyyah”/1/soal: 14).

            Maka Ahmad bin Hasan Al Mu’allim Al Hadhromiy itu termasuk dari ahli bida’.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata pada Abdulloh bin Faishol Al Ahdal: “Dan demikianlah, senantiasa para ulama itu memperingatkan dari mubtadi’ah dan dari ahli bida’. Dan alangkah pintarnya Al Imam Ahmad yang mana beliau berkata: “Bantahan terhadap ahli bida’ itu lebih utama daripada jihad fi sabilillah. Maka bantahan terhadap orang semisal dirimu itu kami pandang termasuk dari pendekatan diri yang paling utama kepada Alloh. Dan engkau akan “terbakar” sebagaimana “terbakarnya” Ahmad Al Mu’allim, Abdul Majid Ar Roimiy, Muhammad Al Mahdiy, Aqil Al Maqthoriy, … dst.” (“Nashoih Wa Fadhoih”/hal. 147/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Dan hizbiy adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Hukum orang yang berloyalitas karena suatu jama’ah dan memusuhi yang lain, maka sungguh dia itu adalah mubtadi’ yang sesat.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 28/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Syaikh kami An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Barangsiapa terjatuh ke dalam hizbiyyah tanpa ilmu, tidaklah dikatakan bahwasanya dirinya itu hizbiy karena dia itu bisa jadi belum sampai padanya penjelasan, bukti-bukti ataupun hujjah. Adapun orang yang telah sampai padanya bayyinat dan tegak atasnya hujjah lalu dia menentangnya maka dia itu adalah hizbiy mubtadi’. Dan hizbiyyah itu bid’ah.” (dicatat tanggal 2 Jumadal Ula 1431 H).

Ditanyakan kepada Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله : “Apakah setiap orang yang ada padanya hizbiyyah maka dia itu mubtadi’ dan keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah?”

Maka beliau menjawab: “Iya, dikarenakan hizbiyyah itu dengan sendirinya adalah bid’ah: barangsiapa ridho kepadanya dan berjalan pada tunggangannya, dan baku tolong dengan pelakunya maka dia itu mubtadi’…” dst. (“Al Fatawal Jaliyyah”/2/hal. 214/Darul Minhaj).

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Maka pendapatku adalah bahwasanya setiap hizbiy adalah mubtadi’, mereka mau ataupun tidak mau.” (“Majmu’ Kutub Wa Rosail Wa Fatawasy Syaikh Robi’ Al Madkholiy/14/hal. 162/Darul Imam Ahmad).


Bab Empat:

Jangan Terpedaya Dengan Penampilan Akhlaq Yang Baik dan Kehebatan Berbicara

 

            Kita tidak boleh terpedaya dengan penampilan akhlaqnya dan kehebatan bicaranya, karena jalan hidupnya itulah yang akan menunjukkan apakah dia itu di atas kebenaran dan kejujuran ataukah di atas kebatilan dan kedustaan.

            Ja’far bin Sulaiman Ad Duba’iy telah memasukkan tasyayyu’ kepada Abdurrozzaq Ash Shon’aniy dengan bagusnya gaya dia. Ibnu Ma’in berkata: Aku mendengar dari Abdurrozzaq pada suatu hari satu perkataan, maka aku berdalilkan dengan itu terhadap adanya madzhab tasyayyu’ yang disebutkan darinya. Maka kukatakan padanya: “Sesungguhnya para ustadz Anda, yang Anda mengambil hadits dari mereka, semuanya adalah para pengikut sunnah: Ma’mar, Ibnu Juroij, Al Auza’iy, Malik, dan Sufyan. Maka dari manakah Anda mengambil madzhab ini (tasyayyu’)?” Maka beliau menjawab: “Ja’far bin Sulaiman datang kepada kami, dan kulihat dia itu orang yang mulia, sikapnya baik, maka aku ambil madzhab tersebut darinya.” (“Mizanul I’tidal”/1/hal. 409).

            Maka ketenangan, kekhusyu’an dan adanya ilmu pada seseorang itu tidak menunjukkan bagusnya aqidahnya.

Ali bin Abi Kholid berkata: “Saya katakan kepada Ahmad: “Sesungguhnya orang tua ini -yang saat itu bersama kami- adalah tetanggaku. Aku telah manasehatinya agar menjauhi seseorang, tetapi dia ingin mendengar dari Anda tentang Harits Al-Qoshir -maksudnya Harits Al-Muhasibi-. Anda pernah melihatku bersamanya selama bertahun-tahun, kemudian Anda mengatakan kepadaku: “Janganlah kamu duduk-duduk dan berbicara dengannya!!” Maka sejak itu aku tidak berbicara dengannya sampai saat ini, tetapi orang tua ini duduk-duduk dengannya, maka apa pendapatmu tentang orang ini?” Maka aku lihat Ahmad merah padam mukanya, urat leher dan matanya membesar. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu sama sekali. Kemudian dia mengibaskan tangannya seraya berkata: “Orang itu (Harits Al-Muhasibi), semoga Alloh memperlakukannya dengan seperti ini dan itu. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang telah bergaul dan mengenalnya dengan baik. Uwaih, uwaih, uwaih. orang itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang pernah bergaul dengannya dan mengenalnya dengan baik. Orang itu berteman dengan Al-Mughozili, Ya’qub dan juga si fulan kemudian menjerumuskan mereka ke dalam pemikiran Jahm (bin Sofwan, pencetus paham Jahmiyyah). Mereka binasa karena ulahnya.” Kemudian orang tua itu berkata: “Wahai Abu Abdillah, dia (Harits Al-Muhasibi) meriwayatkan hadits, pembawaannya tenang, khusyu’ dan seperti ini dan seperti itu.” Maka Abu Abdillah marah kemudian berkata: “Janganlah kamu tertipu dengan kekhusyu’an dan kelembutannya!!” Juga berkata: “Janganlah tertipu karena dia menundukkan kepala. Dia itu adalah seorang yang jahat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang telah mengenalnya dengan baik. Janganlah kamu berbicara dengannya; tidak ada kemuliaan baginya. Apakah setiap orang yang membawakan hadits dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- tetapi dia adalah seorang ahlul bid’ah, lantas kamu duduk dengannya?!! Tidak, tidak ada kemuliaan baginya, dan tiada kesenangan baginya!” Kemudian dia terus mengatakan bahwa dia itu seperti ini dan itu.” (“Thobaqotul Hanabilah”/1/hal. 233-234/cet. Darul Ma’rifah).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Adapun saudara kita Ahmad Al Mu’allim حفظه الله تعالى aku telah hidup bersamanya di Madinah, dan aku tahu akhlaqnya yang mulia, dan aku memujinya di dalam kitabku “As Suyuful Batiroh” dan dalam kitabku “Riyadhul Jannah” cetakan kedua. Setelah itu dia sampai Yaman dan kondisinya berubah. Maka jika engkau membaca syair dia: “Alloh Mahabesar, dalam pembelaan aku akan memulai” dan engkau mengetahui kondisinya sekarang, engkau dapati kontradiksi. Dia berkata tentang bid’ah-bid’ah: “Kita akan menghabisinya di dekat pintu masjid.” Lalu dia menghadiri perayaan maulid Nabi dan menjadi salah satu khothib dan penceramahnya. Dan dia berkata: “Bukanlah jabatan itu yang kita pentingkan,” ternyata saudara kita itu lari di belakang profesi di kantor Pengarahan dan Bimbingan. Maka Ahmad bin Hasan Al Mu’allim حفظه الله تعالى telah berubah. Maka aku menginginkan dari dia kertas: “Bahwasanya aku bertobat pada Alloh dari dua perkara ini. Dan perkara yang ketiga: masalah nasihatnya pada baberapa orang untuk bergabung dengan partai Tajammu’ Thoghutiy” kita ingin dari saudara kita Ahmad untuk berkata: “Aku bertobat pada Alloh.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 302/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).


Bab Lima:

Adanya Rasa Cinta Tidak Menghalangi Upaya Menampilkan Kebenaran

 

            Jika dikatakan: sesungguhnya Ahmad Al Mu’allim mencintai Asy Syaikh Muqbil. Maka kenapa Asy Syaikh mengkritiknya?

            Jawabnya adalah:

            Sesungguhnya Ahlussunnah jika mengkritik seseorang, maka mereka itu mengkritik karena kesalahannya atau penyelewengannya, sama saja apa di antara mereka dengan dirinya itu ada hubungan cinta ataukah tidak. Mereka tidak menempuh jalan Muhammad Al Imam Ar Roimiy dan Abdul ‘Aziz Al Buro’iy: “Kita tidak meninggalkan seseorang sampai dia meninggalkan kita, dan kita tidak mengkritik seseorang sampai dia mengkritik kita.” Tidak demikian, bahkan Ahlussunnah mencintainya karena kekokohan dia di atas kebenaran dan membencinya karena peyelewengannya, sama saja apakah dia mencintai kita atau membenci kita.

            Maka kecintaan Ahlussunnah dan kebencian mereka pada seseorang itu adalah karena Alloh, bukan karena dengki atau dendam atau kebencian pribadi atau dunia atau hasrat-hasrat pribadi yang lain.

Dari Abu Huroiroh  رضي الله عنه dari Nabi  صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله الإمام العادل ، وشاب نشأ في عبادة ربه ، ورجل قلبه معلق في المساجد ، ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال: إني أخاف الله . ورجل تصدق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه». (أخرجه البخاري (كتاب الأذان/من جلس في المسجد/(660)) ومسلم (كتاب الزكاة/فصل إخفاء الصدقة/(1031)).

“Ada tujuh golongan yang dinaungi Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: “Pemimpin yang adil, anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Robbnya, seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid, dua orang yang saling cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya, seseorang yang diminta oleh seorang perempuan yang punya kedudukan dan kecantikan tapi dia berkata: “Sesungguhnya aku takut pada Alloh.” Dan seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta orang yang mengingat Alloh sendirian lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al Bukhory (kitabul Adzan/Man Jalasa Fil Masjid/(660)) dan Muslim (Kitabuz Zakah/Fadhlu Ikhfaish Shodaqoh/(1031))).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Yang keempat: dua orang yang saling cinta karena Alloh عز وجل, karena hawa nafsu itu menyeru untuk saling cinta bukan karena Alloh, karena di dalamnya ada ketaatan jiwa kepada hasrat-hasrat dunia. Maka dua orang yang saling cinta karena Alloh, mereka berdua memerangi jiwa mereka untuk menyelisihi hawa nafsu hingga jadilah rasa cinta keduanya itu adalah karena Alloh tanpa ada hasrat duniawiy yang mencampurinya. Ini berat sekali  –sampai pada ucapan beliau:- sabda beliau: berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya” ada kemungkinan beliau ingin bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar kecintaan karena Alloh hingga kematian memisahkan keduanya di dunia, atau hingga salah satunya tidak hadir di samping sahabatnya.

            Dan mungkin juga bahwasanya beliau  صلى الله عليه وسلم menghendaki bahwasanya keduanya itu berkumpul atas dasar rasa cinta karena Alloh, maka jika salah satunya berubah dari perkara yang mengharuskan dia dicintai karena Alloh dulu dia ada di atasnya, maka diapun memisahkan diri darinya dengan sebab itu. Maka rasa cinta keduanya itu berkisar pada ada atau tiadanya ketaatan pada Alloh. Sebagian Salaf berkata: “Jika engkau punya saudara yang engkau cintai karena Alloh, lalu dia membuat perkara baru, kemudian engkau tidak membencinya karena Alloh, maka tidaklah rasa cintamu itu karena Alloh.” Atau dengan makna ini.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 370-371/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Al Imam Sufyan Ats Tsauriy رحمه الله berkata: “Jika seseorang cinta pada saudaranya kerena Alloh عز وجل kemudian orang yang dicintainya itu  membuat perkara baru dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena perbuatan tadi maka berarti dia tidak mencintainya Karena Alloh عز وجل.” (riwayat Ibnu Abi Hatim dalam  “Al Jarh Wat Ta’dil”/1/hal. 52/sanadnya shohih).

            Maka orang yang masuk ke dalam bid’ah dan bersikeras di atasnya setelah mendapatkan nasihat-nasihat, maka sungguh dia itu telah menentang Alloh dan Rosul-Nya, maka kami tidak mencintainya, sekalipun dia mencintai kita. Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ الله أَلَا إِنَّ حِزْبَ الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [المجادلة: 22].

            Dan dari Adh Dhohhak bin Qois: Bahwasanya ada seseorang yang berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu karena Alloh.” Maka beliau berkata padanya: “Akan tetapi aku membencimu karena Alloh.” Dia berkata: “Kenapa?” beliau menjawab: “Karena engkau mencari upah dari adzanmu dan mengambil upah karena membaca Kitabulloh.” (“Mushonnaf Abdirrozzaq”/no. (1853)/shohih).

            Lihatlah praktek salafush sholih, mereka membenci seseorang karena Alloh, bukan karena orang tadi membenci mereka.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Maka Ahlussunnah tidak punya kecondongan. Seandainya aku condong pada seseorang, pastilah aku condong pada saudaraku di jalan Alloh Ahmad Al Mu’allim. Aku yakin dia itu cinta padaku. Dan aku kabarkan padamu bahwasanya aku cinta padanya sesuai dengan kadar sunnah yang masih tersisa padanya. Maka Ahlussunnah tidak punya kecondongan. Umar bin Harun Al Balkhiy dulu adalah pemimpin dalam sunnah, namun sekalipun demikian Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Pendusta yang busuk.” Nu’aim bin Hammad dulu adalah pemimpin dalam sunnah, namun sekalipun demikian beliau dihukumi lemah oleh banyak ahli hadits. Jika saudara kita Ahmad حفظه الله mengajarkan “Aqidah Washithiyyah” dan menegakkan dakwah dan kegiatan di kotanya, maka dia disyukuriy atas usahanya itu. Akan tetapi kita tetap harus menjelaskan kesalahan. Ahlussunnah itu tidak punya kecondongan. Dan Robbul ‘Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

ياأيّها الّذين آمنوا كونوا قوّامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيًّا أو فقيرًا فالله أولى بهما فلا تتّبعوا الهوى أن تعدلوا. [النساء: 135].

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. “

            Abu Dawud As Sijistaniy berkata: “Anakku Abdulloh itu pendusta.” Zaid bin Abi Unaisah berkata: “Saudaraku Yahya pendusta.” Ali Ibnul Madiniy berkata: “Ayahku lemah.”

            Maka jika Ahmad Al Mu’allim menyelisihi sunnah, maka aku tidak berjanji padamu untuk diam terhadap Ahmad Al Mu’allim ataupun terhadap Abdurrohman Adbul Kholiq sampai keduanya mengumumkan tobatnya dan berlepas dirinya dari perkara yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, atau keduanya siap untuk berdebat dan diskusi. Jika aku sanggup untuk sampai kepada keduanya niscaya aku lakukan itu. Jika aku tak sanggup aku akan mengutus sebagian dari saudara-saudara kita yang akan mendebat keduanya dan berdiskusi dengan keduanya dalam masalah ini.”

(selesai dari “Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 302-303/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Dan barangsiapa terjerumus ke dalam bid’ah disertai dengan bersikerasnya dia di atas bid’ah itu, maka janganlah engkau sekali-kali mengira tetap lestarinya rasa cinta dia kepada sunnah dan ahlussunnah di dalam hatinya seperti dulu. Bahkan kecintaannya itu berkurang sesuai dengan kadar jatuhnya dia ke dalam bid’ah.

Al Hakim An Naisabury -rohimahulloh- berkata, ”Setiap orang yang ternisbatkan kepada suatu jenis penyelewengan dan kebid’ahan, dia itu tidak memandang kepada Ath Tho’ifatul Manshuroh kecuali dengan pandangan mata kehinaan, dan menamai mereka sebagai hasyawiyyah (orang-orang pinggiran) … dst.” (“Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits” 1/hal. 6).

            Al Imam Ahmad bin Sinan -rahimahulloh- berkata: “Tiada di dunia seorang mubtadi’pun kecuali dia itu dalam keadaan membenci ahlul hadits. Dan jika seseorang berbuat bid’ah, dicabutlah darinya manisnya hadits dari hatinya” (“Aqidatus Salaf” /Ash Shobuni/hal. 109/Darul Minhaj/hasan dengan pendukungnya).


Bab Enam:

Tidak Boleh Menghadiri Majelis-majelis Ahli Bida’ Sekalipun Mereka Mengundang Seorang Dari Ulama

 

            Tidak boleh bagi muslimin untuk menghadiri majelis-majelis ahli bida’ sekalipun mereka mengundang satu orang dari ulama atau satu orang dari para tokoh, karena ahli bida’ itu hanyalah mendatangkan si alim atau si tokoh tadi demi menjaring orang-orang.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang karakter Ikhwanul Muslimin: “… maka mereka berjumpa denganku dan berkata kepadaku: Janganlah Anda menyangka bahwasanya si fulan itu termasuk dari kami, kami mengambilnya hanyalah demi agar kami bisa mengumpulkan orang-orang.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 542/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Dan tidak boleh bagi para ulama dan penuntut ilmu untuk menegakkan dakwah bersama ahli ahwa dalam keadaan mereka bisa memisahkan diri dari mereka, dan menegakkan sunnah dengan diri mereka sendiri sambil bertawakkal pada Alloh. Maka Ahlussunnah tidak butuh bersekutu dengan ahli ahwa.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله : “Adapun masalah ta’awun (baku tolong) dengan mereka, maka aku menasihati Ahlussunnah untuk memohon pertolongan pada Alloh dan menegakkan kewajiban mereka. kita mengajak orang kapada Alloh. Dan kenyataannya: kita itu tidak sanggup untuk saling bantu dengan sesama saudara kita Ahlussunnah di Yaman, di Sudan, di Haromain, di Najd, Mesir dan di Yordan. Maka kenapa kita pergi dan baku tolong dengan orang-orang yang menganggap Ahlussunnah itu musuh terbesar? Maka jika engkau pergi (dengan mereka) maka itu adalah dalam rangka mereka membidik para pemuda sepeninggalmu. Engkau menyampaikan ceramah, lalu mereka mengambil para pemuda sepeninggalmu.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 11/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Ini jika yang berceramah itu adalah seorang dari ulama sunnah. Maka bagaimana jika dia adalah seorang hizbiy mubtadi’?

Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: “Prinsip-prinsip sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh dengan apa yang dulu para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم ada di atasnya, mencontoh mereka, meninggalkan bid’ah-bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan, meninggalkan persengketaan, tidak mau duduk-duduk bersama ahli hawa, meninggalkan perdebatan dalam agama.” (“Ushulus Sunnah Imam Ahmad”/Syarh Syaikh Robi’ حفظه الله/hal. 7/cet. Darul Imam Ahmad).

Al Imam Abu Utsman Ash Shobuni رحمه الله berkata: “Kumpulan adab-adab ahlul hadits adalah: … dan mereka saling cinta karena agama ini, saling benci juga karena agama ini, menghindari perdebatan dan pertengkaran tentang Alloh, saling menjauh dengan ahli bid’ah dan pelaku kesesatan, memusuhi pengekor hawa nafsu dan kebodohan, …-sampai pada ucapan beliau- dan membenci ahlul bid’ah yang membikin dalam agama perkara yang tidak masuk di dalamnya, tidak mencintai mereka, tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka, tidak duduk-duduk dengan mereka, tidak mau berdebat mereka tentang agama, tidak berdiskusi dengan mereka. dan berpandangan untuk menjaga telinga-telinga mereka dari mendengarkan kebatilan ahli bid’ah tadi,… dst.” (“Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/ hal. 107-108/cet. Darul Minhaj).

Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata: “Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, memisahkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama, tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka. dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah.” (“Lum’atul I’tiqod”/karya Ibnu Qudamah/syarh Ibnu Utsaimin/hal. 97/cet. Darul Atsar).

            Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Dan kami berpendapat untuk memisahkan diri dari setiap penyeru kepada kebid’ahan, dan menjauhi pengekor hawa nafsu.” (“Al Ibanah”/hal. 53/cet. Maktabah Shon’a).

Al ‘Allamah Abuth Thoyyib Shiddiq bin Hasan Khon At Tanukhiy رحمه الله berkata: “Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, menjauhkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama dan sunnah. Dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah. Tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka dalam masalah inti agama ataupun cabangnya, …dst.” (“Qothfuts Tsimar”/karya Shiddiq Hasan Khon/hal. 178/dengan tahqiq Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله /cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).


Bab Tujuh:

Tidak Boleh Meremehkan Kebid’ahan

 

            Bisa jadi ada orang berkata: “Tidak ada pada Ahmad Al Mu’allim bid’ah yang besar!”

            Jawabnya adalah:

            Dari Anas رضي الله عنه yang berkata:

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِي أَدَقُّ في أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِي – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ.

“Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan amalan-amalan yang dia itu lebih kecil dalam pandangan mata kalian daripada rambut, padahal sungguh kami pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم menilainya termasuk dari penghancur.” (HR. Al Bukhoriy (6492)/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Yaitu: kalian melakukan amalan-amalan yang kalian kira dia itu remeh, padahal dia itu besar atau berakhir pada perkara yang besar.” (“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).

            Ibnu Baththol رحمه الله berkata: “Dosa-dosa yang diremehkan jika banyak akan menjadi besar jika terus-menerus dilakukan.” (“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).

            Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan hindarilah perkara baru yang kecil-kecil karena sesungguhnya bid’ah yang kecil-kecil itu akan menjadi besar. Dan seperti itulah setiap bid’ah yang dibikin di umat ini, dulu awalnya adalah kecil menyerupai kebenaran, sehingga tertipulah dengan itu orang yang masuk ke dalamnya, lalu dia tak sanggup keluar darinya, lalu menjadi besar dan menjadi agama yang dipeluk, lalu menyelisihi shirothol mustaqim, lalu dia keluar dari Islam.” (“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 18/Darul Atsar).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Dan jika orang itu bersikeras untuk meninggalkan sunnah yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang, maka terkadang dia akan dihukum dengan dicabutnya darinya ibadah wajib, sampai dia menjadi orang fasiq atau penyeru kepada bid’ah. Dan jika dia bersikeras di atas dosa-dosa besar, dikhawatirkan akan dicabutnya keimanan dari dirinya, karena sesungguhnya bid’ah it uterus-menerus mengeluarkan manusia dari yang kecil kepada yang besar sampai-sampai mengeluarkannya kepada ilhad (penyelwengan dari Islam) dan zandaqoh (nifaq aqidah)…” (“Majmu’ul Fatawa”/22/hal. 305-306/ihalah/Darul Wafa).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Barangsiapa tidak merasa cukup bagi dirinya dengan sunnah sehingga melampaui sampai kepada bid’ah, dia akan keluar dari agama ini. Dan barangsiapa melontarkan kepada manusia sesuatu yang tidak dilontarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersamaan dengan adanya perkara-perkara yang dituntut untuk dilontarkannya sesuatu tadi (pada zaman itu), maka sungguh orang tadi telah mendatangkan syariat kedua dan dia itu bukan pengikut Rosul. Maka hendaknya dia memperhatikan urusannya, ke manakah dia meletakkan kakinya.” (“Al Fatawal Kubro”/3/hal. 167).

 

Catatan penerjemah:

            Alhamdulillah atas pertolongan Alloh dalam menyusun risalah singkat ini. Masih tersisa dua bab belum saya terjemahkan karena keterbatasan waktu dan tenaga, akan tetapi yang telah selesai saya terjemahkan insya Alloh telah mencukupi sebagai nasihat.

سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

 

الباب الثامن: ثناء العلماء على صاحب الهوى لا ينفعه

 

          قد يقول قائل –كعادة بعض الحزبيين-: إن الشيخ أحمد المعلم قد أثنى عليه بعض العلماء بل أثنى عليه الشيخ مقبل!

          فالجواب:

          إذا ثبت انحراف الرجل بالبراهين فجرحه عالم من علماء السنة لا ينفعه ثناء الآخرين عليه لأن الجرح المفسر من عالم ثقة مقدم على التعديل المبهم.

قال الإمام ابن قدامة رحمه الله: ولنا أن الجارح معه زيادة علم خفيت على المعدل فوجب تقديمه لأن التعديل يتضمن ترك الريب والمحارم والجارح مثبت لوجود ذلك والإثبات مقدم على النفي ولأن الجارح يقول رأيته يفعل كذا والمعدل مستنده أنه لم يره يفعل ويمكن صدقهما والجمع بين قوليهما بأن يراه الجارح يفعل المعصية ولا يراه المعدل فيكون مجروحا. ( “المغني” /11 /ص 415).

وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله: الجرح مقدم على التعديل، وأطلق ذلك جماعة، ولكن محله إن صدر مبينا من عارف بأسبابه ؛ لأنه إن كان غير مفسر لم يقدح فيمن ثبتت عدالته . وإن صدر من غير عارف بالأسباب لم يعتبر به أيضا. فإن خلا المجروح عن التعديل ؛ قبل الجرح فيه مجملا غير مبين السبب إذا صدر من عارف على المختار ؛ لأنه إذا لم يكن فيه تعديل ؛ فهو في حيز المجهول ، وإعمال قول المجرح أولى من إهماله . (“نُزْهَةِ النَّظَر” /1 / ص 46/كنى المسمين).

والتستر وراء التزاكي فرارًا من جرح مفسرٍ دأب المبطلين ضعفاء الحجة. قال الشيخ ربيع المدخلي حفظه الله في شأن الحزبيين: … ومن أساليبهم انتزاع التزكيات من بعض العلماء لأناس تدينهم مؤلفاتـهم ومواقفهم ونشاطهم بالبعد عن المنهج السلفي ومنابذة أهله وموالات خصومه وأمور أخرى. ومعظم الناس لا يعرفون قواعد الجرح والتعديل، وأن الجرح المفصل مقدم على التعديل لأن المعدل يبني على الظاهر وعلى حسن الظن والجارح يبني على العلم والواقع كما هو معلوم عند أئمة الجرح والتعديل. وبـهذين الأسلوبين وغيرهما يحبطون جهود الناصحين ونضال المناضلين بكل سهولة ويحتوون دهماء الناس بل كثير من المثقفين، ويجعلون منهم جنوداً لمحاربة المنهج السلفي وأهله والذب عن أئمة البدع والضلال. وما أشد ما يعاني السلفيون من هاتين الثغرتين التي يجب على العلماء سدهما بقوة وحسم لما ترتب عليها من المضار والأخطار. (“الحد الفاصل” /ص144).

 


الباب التاسع: الجرح المفسر من العالم السني مقبول بدون انتظار إجماع العلماء

 

          من شبهات أهل الأهواء قولهم: (ننتظر بقية العلماء أو إجماع العلماء على ترك شخص!) (سكوت بقية العلماء يدل على أن الرجل غير مجروح!)

          فالجواب:

قد كان أهل الشرك يستدلون بسكوت بعض العلماء. فقال الإمام محمد الصنعاني  رحمه الله: ثم لو فرض أنهم علموا بالمنكر وما أنكروه، بل سكتوا عن إنكاره، لما دل سكوتهم على جوازه، إلخ. (“تطهير الاعتقاد” /1 / 43).

الشاهد هنا: أن مجرد سكوت العالم على شيء لا يدل على الإقرار.

وقال الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله: ويجب أن يعلم علماؤنا الأفاضل أن لأهل الأهواء والتحزب أساليب رهيبة لاحتواء الشباب والتسلط والسيطرة على عقولهم ولإحباط جهود المناضلين في الساحة عن المنهج السلفي وأهله. من تلكم الأساليب الماكرة استغلال سكوت بعض العلماء عن فلان و فلان، ولو كان من أضل الناس فلو قدم الناقدون أقوى الحجج على بدعه وضلاله فيكفي عند هؤلاء المغالطين لهدم جهود المناضلين الناصحين التساؤل أمام الجهلة فما بال فلان وفلان من العلماء سكتوا عن فلان وفلان؟! ولو كان فلان على ضلال لما سكتوا عن ضلاله؟! وهكذا يلبسون على الدهماء ؛ بل وكثير من المثقفين. وغالب الناس لا يعرفون قواعد الشريعة ولا أصولها التي منها: أن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من فروض الكفايات، فإذا قام به البعض سقط عن الباقين. (“الحدّ الفاصل” /ص144).

وقد اتصل متصل مجهول ببعض أقرباء اليشخ أحمد النجمي رحمه الله لينصحه أن يترك الكلام في الحزبيين. ومما قال ذلك المتصل: “هذا أسلوب لا يتبعها كبار علمائنا إلخ”

فأجاب الشيخ حفظه الله: أقول أولا: إن الله عز وجل أوجب على أهل العلم أن يبينوا للناس ولا يكتمونه. والبيان فرص الكفاية إذا قام به البعض سقط عن الآخرين – إذا كان البيان الذي حصل كافيا ومؤديا – وإلا لزم الباقين البيان حتى تحصل الكفاية. ثانيا: نحن وهؤلاء المشايخ الذين سميتهم وغيرهم، الكل مكلفون من الله أن نبين. فمن أدى سلم من الإثم، ومن قصر مع القدرة فإنه يناله من الإثم ما يناله بحسب تقصيره. إلا أن سكوت الساكت لا يكون حجة على المؤدي يوجب عليه السكوت. بل على ذلك الساكت أن ينظر هل يؤدى الواجب بإنكار من أنكر أم لا؟ فإن لم يحصل الأداء وجب عليه أن يؤدي. (“الرد الشرعي”/ ص230).

وقال حفظه الله في “رد الجواب” ص37: إذا كانوا لم يقولوا فيه شيئا فلأنهم لم يعرفوا فيه شيئا من القوادح، ولهم الحق إذا تورعوا والحالة هذه. رابعا: أما الآن فقد ظهرت في منهجه قوادح كثيرة، ومن حفظه حجة على من لم يحفظ، هذه قاعدة معروفة عند المحدثين، والعمل بها في مثل هذه القضية واجب. اهـ

فإذا أفتى ذو شأن من علماء السنة بأن فلانا حزبي مبتدع، وأبرز بينة على ذلك فلنأخذ قوله بدون توقف. قال شيخنا يحيى بن علي الحجوري حفظه الله: من البدعة أن يتوقف من كلام عالم المؤيد بالأدلة والبراهين في رجل انحرف حتى يتكلم فيه بقية العلماء. (سُجل في تاريخ 19 جمادى الآخرة 1430 هـ).

وقال أيضًا الشيخ ربيع-حفظه الله- جوابًا على بعض أسئلة شباب عدن في فتنة أبي الحسن: (..فإذا قدَّم الأدلة لو عارضه مئة عالم من كبار العلماء وأبرزهم لا قيمة لمعارضتهم لأنهم يعارضون الحجة والبرهان، وهم يعارضون بغير حجة ولا برهان والله يقول: ﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾ فالبرهان يسكت الألوف من الذين خلت أيديهم من الحجج ولو كانوا علماء فهذه قواعد يجب أن تعرف وعليكم بمراجعة كتب علوم الحديث، ولاسيما الموسعة منها مثل: “تدريب الراوي” ومثل: “فتح المغيث” للسخاوي شرح ألفية العراقي، وهذه أمور بدهية عند أهل العلم المنازعة فيها والكلام فيها بالباطل لا يجوز لأننا نفسد العلوم الإسلامية ونخرب القواعد و.. و.. إلى آخره بمثل هذه الأساليب، فلا يجوز لمسلم أن يطرح للناس إلا الحق إلا الحق ويبتعد عن التلبيس والحيل بارك الله فيكم).اهـ النقل من “مختصر البيان” (ص75)، و”الدلائل القطعية” (للشيخ محمد با جمال/ص22).

 


فهرس الرسالة

جدول المحتويات

مقدمة 2

الباب الأول: شيء من ترجمة أحمد بن حسن المعلِّم 3

الباب الثاني: شرعية بيان حال المبطل وعدم كتمان النصيحة 4

الباب الثالث: تلخيص أباطيل أحمد بن حسن المعلِّم 6

الباب الرابع: لا تغتر بظواهر حسن الخلق وبوارق الكلام 14

الباب الخامس: وجود المحبة لا يمنع الصدع بالحق. 16

الباب السادس: لا يجوز حضور مجالس أهل البدع وإن استدعوا عالما من العلماء. 19

الباب السابع: لا يجوز التهاون بالبدع. 21

الباب الثامن: ثناء العلماء على صاحب الهوى لا ينفعه 22

الباب التاسع: الجرح المفسر من العالم السني مقبول بدون انتظار إجماع العلماء. 24

فهرس الرسالة 26

 

 

 


([1]) Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ».

“Sesungguhnya termasuk orang yang paling jelek adalah orang yang bermuka ganda, yang mendatangi pihak sini dengan suatu wajah, dan menemui pihak sana dengan wajah lain.” (HR. Al Bukhori (6058/Darul Kutubil Ilmiyyah) dan Muslim (2526/Dar Ibnil Jauziy)).

([2]) Shohih, diriwayatkan oleh Ath Thobariy dalam tafsir beliau (9/hal. 321) dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsir beliau (6127) dari Abdulloh bin Idris, dari Al ‘Ala ibnul Minhal, dari Hisyam bin ‘Urwah tentang kisah Umar bin Abdil ‘Aziz.

Hisyam bin ‘Urwah lahir tahun 61 H, sama dengan kelahiran Umar bin Abdil ‘Aziz. Dan Hisyam tsiqoh wari’, tidak dicurigai melakukan tadlis kecuali terhadap ayahnya. Dan memungkinkan baginya untuk berjumpa dengan Umar bin Abdil Aziz, maka atsar ini shohih.