Penjelasan Dan Bantahan

Terhadap Kandungan Tulisan

Muhammad Al Imam Yang Berisi Tuduhan

(bagian kedua/akhir)

 

Ditulis Oleh:

Asy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman

Yahya Bin Ali Al Hajuriy

حفظه الله

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Dan Abu Umar Ahmad Rifa’i Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkan keduanya


 

بسم الله الرحمن الرحيم

Judul asli:

“At Tabyin Wal Inkar ‘Ala Ma Tadhommanahu Kalam Muhammad Al Imam Al Musamma Bil Ikhtishor”

 

Terjemah bebas:

“Penjelasan Dan Bantahan Terhadap Kandungan Tulisan Muhammad Al Imam Yang Berisi Tuduhan”

 

Ditulis Oleh:

Asy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman

Yahya Bin Ali Al Hajuriy

حفظه الله

 

Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy

Dan Abu Umar Ahmad Rifa’i Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkan keduanya


 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penerjemah

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Ini adalah bagian kedua (terakhir) dari terjemah “At Tabyin Wal Inkar” karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy semoga Alloh menjaga beliau.

Semoga Alloh menunjuki kita semua ke jalan yang benar.

 

 

            Al Adaniy telah membikin fitnah yang telah diketahui di sini. Dan aku mengundang kalian agar kalian menasihatinya. Dan dulu kalian jengkel kepada pendaftaran tersebut.

            Dan demi Alloh, saat itu di kebanyakan waktu aku diam, dalam keadaan mereka itu yang “menamparinya” dengan perkataan. Muhammad Al Imam berkata padanya: “Bakriyyah gaya baru.” Asy Syaikh Abdulloh berkata padanya: “Fitnah menyembul dari bawah kedua telapak kakimu.” Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata padanya: “Kenapa engkau melakukan pendaftaran ini?” Adaniy menjawab: “Anda yang berkata pada saya wahai Syaikh Muhammad.” Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata padanya: “Aku tidak mengatakan itu padamu.” Adaniy menjawab: “Iya, Anda yang mengatakan itu pada saya.” Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata padanya: “Kenapa engkau mengambil perkataanku sendirian? Kenapa engkau tidak minta musyawarah dengan para masyayikh?” dan dia menggelincirkannya.

            Ini adalah hakikat-hakikat yang Muhammad Al Imam merubahnya dan menyebutkannya di sini (dalam risalah dia) dalam keadaan menyelisihi kisah yang benar. Maka aku berwasiat pada kalian untuk bertaqwa pada Alloh dan untuk setia pada kebenaran, dan bahwasanya penyelisihan terhadap kebenaran itu tidak akan ditolong oleh Alloh.

tcuŽÝÇZuŠs9ur ª!$# `tB ÿ¼çnçŽÝÇYtƒ 3 žcÎ) ©!$# :”Èqs)s9 ̓tã ÇÍÉÈ  

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qçRqä.ur yìtB šúüÏ%ω»¢Á9$# ÇÊÊÒÈ  

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Dan kalian pasti dengan seidzin Alloh عز وجل mendapati aku jujur. Allohumma (kecuali) jika ingatanku mengkhianatiku atau sebagian dari itu. Jika tidak begitu, demi Alloh sungguh aku berupaya untuk jujur dalam masalah ini dan dalam perkara yang lain.

            Dan juga wahai Muhammad, apakah termasuk dari bahaya yang ada padaku itu adalah bahwasanya aku memberikan kelapangan untuk para hizbiyyin tukang fitnah terhadap Darul Hadits di Dammaj?! Seperti yang engkau lakukan? Sejak zaman Asy Syaikh رحمه الله  dan para hizbiyyun berkata pada teman-teman mereka: “Jika kalian ingin belajar, maka pergilah ke Ma’bar, jangan kalian pergi  ke Dammaj, karena Asy Syaikh Muqbil membicarakan manusia, dan …” dan seterusnya.

            Dan sampai sekarang engkau berlapang-lapang untuk mereka sebagai murid di markiz Ma’bar dengan pemuliaan dan penghormatan, sementara para salafiyyun meneguk pahitnya kehinaan dan gangguan di sisimu. Dan sebagian hizbiyyun seperti Muhammad bin Musa Al Baidhoniy mengunjungimu dan memuji metodemu bersama mereka.

            Dan sekarang Muhammad Al Imam jika mengetahui sebagian orang-orang yang terfitnah yang belajar di sisi kami lalu menyeleweng dan jadi buruk adabnya terhadap pengajarnya dan terhadap markiz yang dia belajr di dalamnya, Muhammad mencurahkan uang untuknya, dan menyetujuinya untuk berbuat jelek, permusuhan, kezholiman, dan berkata tanpa kebenaran terhadap tempat yang dia belajar di situ, dia mengingkari yang ma’ruf, dan berbuat jelek terhadap orang yang mengajarinya, dan berbuat jelek terhadap saudara-saudaranya dan teman sejawatnya di sini. Ini adalah upaya menggejolakkan kejahatan, dan terhadap buah yang menghasilkan dakwah salafiyyah, sebagai buah untuk seluruh muslimin, sama saja di sini ataukah di sana atau di seluruh tempat. Akan tetapi kami melihat dari mereka suatu perkara yang menyelisihi kebenaran, yang kami keheranan dengannya, dan seluruh orang berakal keheranan dengannya.

            Dan juga, sesungguhnya di tempat kami, segala pujian hanya bagi Alloh, markiz ini punya arah yang sama, kepada ilmu dan sunnah. Datang malam ataupun siang dan masjid terus-menerus penuh dengan ahli ibadah, ahli sholat, ahli dzikir, para pembaca Qur’an, dars-dars terus berlangsung sampai sebelum tengah malam. Masjid makmur. Engkau masuk dalam keadaan masjid terus-menerus penuh di atas kebaikan di siang dan malam. Dan begitu pula di seluruh waktu.

            Kenapa wahai ikhwan, semoga Alloh memperbaiki kalian, ucapan-ucapan batil terhadap kebaikan (markiz) ini? Dan kenapa ada upaya untuk mengganti nikmat ini? Dan kalian berjalan bersama para pendengkinya sampai orang-orang mengingkari kalian karenanya.

            Dan juga aku tidak memecah-belah dakwah dalam rangka membela satu orang yang terkena kritikan. Datangkanlah satu orang yang kalian kritik, satu orang yang dikritik oleh Asy Syaikh رحمه الله atau dikritik oleh Asy Robi’, atau seorang alim dari ulama sunnah mengkritiknya, yang aku berdiri di sampingnya (membelanya), terutama dia itu sudah dikritik dengan hujjah-hujjah. Itu tidak terjadi dariku sama sekali. Dan aku tidak fanatik pada orang yang memecah-belah dakwah dan aku memikul dosa orang-orang yang berselisih di dalamnya dan yang membikin fitnah di dalamnya demi satu orang.

            Malzamah ini pada hakikatnya menetapkan makna tadi yang aku inginkan, bahwasanya: mereka tidak punya kaitan apa-apa dalam pergolakan ini selain fanatisme untuk si fulan. Dan ini adalah perkara yang mencengangkan demi Alloh! Ini adalah sikap ghuluw (berlebihan). Jika demi dia dan demi orang yang telah kalian ketahui fitnahnya sebelum ini, dan telah kalian akui kesalahannya sampai di hadapan Asy Syaikh Robi’ di majelis tersebut ketika Asy Syaikh Al Buro’iy berkata, yaitu: “Tidaklah beliau berkata padamu agar engkau memaafkannya kecuali karena dia itu memang keliru.” Dan manakala kalian mengunjungi kami pertama kali dan kalian mengingatkan dirinya tentang kesalahan-kesalahannya, dan agar pendaftaran dihentikan, dan masjid di bawah pengawasan masyayikh, dan yang selain itu, seluruh hakikat ini sekarang diupayakan oleh Muhammad Al Imam membaliknya.

            Dan manakala Al Adaniy pergi ke Aden, dan kami berkata: “Jika dia berbuat baik dan melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang telah terjadi darinya, maka itu bagus dan baik, tapi jika dia tidak berbuat baik, maka tidaklah setiap jiwa itu berbuat kecuali kembalinya akan menimpa dirinya sendiri. Mereka tidak mau kecuali untuk berdiri di sisi orang yang keliru, dan di sisi orang yang manusia menghukuminya sebagai hizbiy dengan berdasarkan ilmu. Dan mengagumkan aku kalimat yang tersebut di sebagian risalah bahwasanya Asy Syaikh Muhammad Ash Shoumaliy –semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan- berkata pada mereka: “Wahai masyayikh, pahamilah, orang ini –yaitu Adaniy- melakukan fitnah di dalam dakwah.” Maka aku katakan pada kalian: “Pahamilah bagaimana kalian membela kebatilan? Dan kalian mendurhakai Alloh عز وجل dengan berdebat demi membela orang yang kalian tahu kesalahannya, dan kalian fanatik, dan kalian menyia-nyiakan kebaikan yang kalian ada di dalamnya.

            Adapun kami, ada di atas kesejukan dan keselamatan. Dakwah berjalan di atas kebaikan, kami dizholimi dan Alloh menolong kami, dan kami menolak dengan cara yang lebih baik, dan orang-orang menghadap kepada kenikmatan dengan cepat, kepada keutamaan, mereka belajar dan merasa heran dengan perbuatan-perbuatan yang kalian ada di dalamnya. Saudara-saudara kita keluar dan mengajari masyarakat, dan mengajak mereka kepada Alloh عز وجل dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang menghujam negri-negri dari arah rofidhoh dan yang lainnya, dan kalian tersibukkan dari kebanyakan dari perkara-perkara penting tersebut dengan berbuat zholim terhadap saudara-saudara kalian Ahlussunnah, dan sibuk dengan perdebatan kosong.

            Di perang keenam, Rofidhoh menzholimi kami. Dan setelah itu kita tidak tahu kecuali dalam keadaan mereka (para masyayikh) memanfaatkan kondisi kita yang mengalami kesempitan dan kecapekan, dengan mereka mengumpulkan kitab “Al Ibanah” dalam rangka fanatik kepada Al Adaniy. Mereka mendatangkan di dalamnya prinsip-prinsip Abul Hasan dari sebagian tulisan-tulisannya yang membantah Ahlussunnah, dan mengambil prinsip-prinsip kebanyakan orang yang telah dibantah sebelumnya, dan mereka dengan itu ingin membela Al Adaniy.

            Oleh karena itu aku ingin memberi nasihat wahai Syaikh Muhammad: “Demi Alloh engkau tak punya bashiroh dalam membantah.” (Dulu) Muhammad memulai membela Abul Hasan di awal fitnah Abul Hasan dengan perkataan yang diambil oleh Musthofa Mabrom, ternyata Muhammad itu malang, mengalami kesempitan. Engkau tak punya mata. Semoga Alloh memperbaikimu. Hanyalah urusanmu dengan kami sekarang seperti permisalan: “(Paku ditanya oleh dinding): kenapa engkau melubangiku? Pakunya menjawab: bertanyalah pada yang memukulku.”

            Dan juga: apakah termasuk dari yang membahayakan dakwah adalah bahwasanya setiap kali datang fitnah aku berdiri di sisi fitnah sebagaimana yang engkau perbuat? Datang fitnah Abul Hasan, engkau membikin kami capek di dalamnya, dan orang-orang sebagai saksi. Tinggallah kami di sini capek dalam menjelaskannya sementara mereka (para masyayikh) di sana membelanya, sampai Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata: “Aduh andaikata kami menolongmu sejak awal hari.” Dan sebagian dari mereka berkata: “Al Hajuriy tidak bisa mengajarkan kitab-kitab Abul Hasan, bagaimana dia bisa membantahnya?” dan dengan sebab condongnya Muhammad Al Imam ketika itu keluarlah para anggota Baroatudz Dzimmah dan mereka hilang sampai sekarang, kecuali sedikit sekali dari mereka (yang selamat kembali ke salafiyyah). Sampai Alloh memudahkan dengan Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan- dan kami bersatu. Dan setelah adanya telpon Asy Syaikh Robi’ berkata: “Ada apa dengan kalian? kenapa kalian tidak bangkit (menghadapi Abul Hasan)” maka bangkitlah mereka (para masyayikh) dan berjalan, dan barokah dari Alloh. Benar, demi Alloh aku menyebutkan hakikat ini. Kenapa engkau membikin pengkaburan pada orang-orang dan engkau berbangga-bangga dengan perkataan yang menyelisihi apa yang telah diketahui bersama?

            Datang fitnah Jam’iyyatul Hikmah, engkau di dalamnya membikin capek Asy Syaikh (Muqbil) –semoga Alloh merohmati beliau). Sampai-sampai beliau menulis tentangnya (tentang Muhammad Al Imam) di “Tuhfatul Mujib” perkataan yang beliau merasa sakit dikarenakan ulah kalian. Beliau berkata pada halaman (326): “Saudara-saudara kita yang berkumpul bersama mereka (para pengikut jam’iyyat) di Ma’bar itu mughoffalun (orang-orang yang dibikin lalai). Apakah mereka lupa bahwasanya kami telah berkumpul dengan mereka di Dammaj, dan kami telah menulis bersama mereka di selembar kertas, dan keluar kaset dengan judul: “Tamamul Minnah Fi Ijtima’ Ahlissunnah”? dan apakah mereka lupa bahwasanya si Aqil telah datang kepadaku dalam keadaan aku di Ta’iz, dan dia berkata: “Wahai Abu Abdirrohman, saya tidak menyelisihi Anda.” Kemudian dia berjalan bersamaku di sisa perjalanan. Kemudian dia bangkit dan berkata: “Saya telah keluar dari Jam’iyyatul Hikmah.” Maka aku katakan: “Sesungguhnya mereka itu jika memandang diri mereka telah terbakar (dengan tahdziran dari Ahlussunnah), mereka berkata: “Kami ingin pertemuan.” Kami berlepas diri dari pertemuan yang gagal ini. Dan pertemuan itu akan menjadi kentut pasar dan tidak punya buah. Kami menuntut mereka untuk bertobat kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan agar mereka kembali kepada saudara-saudara mereka Ahlussunnah,…” selesai.

            Abdulloh Sa’tar dulu sering singgah ke tempat dia (Muhammad Al Imam), dan terkadang berceramah di sisinya. Dan Az Zindaniy juga demikian, sampai jadilah Ikhwanul Muslimin berkata: “Orang yang ingin belajar hendaknya pergi ke Ma’bar, jangan pergi ke Asy Syaikh Muqbil, Asy Syaikh Muqbil mutasyaddid (keras). Jangan pergi ke Dammaj” Dan mereka rela pergi ke Ma’bar dan tidak rela datang ke sini. Sampai syaikh kami رحمه الله memanggilnya (memanggil Muhammad Al Imam) dan aku hadir. Dan orang yang dulu ada juga hadir, dan Asy Syaikh menasihati dirinya. Beliau berkata pada Muhammad Al Imam: “Wahai Muhammad, tidak pantas minyak dioleskan ke kurap.” Dan pergilah dia dan setelah itu dia berjalan dan menulis kitab “Al Intikhobat”. Setelah itu dia berjalan baik.

            Maka yang aku yakini insya Alloh dan diketahui oleh orang-orang yang jujur dan adil, bahwasanya aku itu berjalan di atas cahaya Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم, di atas dakwah salafiyyah. Andaikata dakwah kami membahayakan masyarakat, tidak akan kalian lihat para salafiyyin berduyun-duyun datang ke sini, dan tiba kemari dengan derasnya dari berbagai penjuru dunia, akan tetapi mereka –demi Alloh- melihat manfaat, dan melihat ilmu, dan melihat apa yang bermanfaat bagi mereka. Dan kitab-kitab ini tersebar, dars-dars pagi dan sore, dan barokah yang agung. Dan segala pujian hanyalah milik Alloh.

            Maka manakah yang membahayakan dakwah? Demi Alloh kami itu bukan shufiyyah, bukan pula roridhoh, dan kami tidak membela rofidhoh, dan demi Alloh kami itu bukan hizbiyyun, dan kami tidak membela hizbiyyun, dan tiada hizbiyyun di tempat kami, dan kami tidak rela dengan keberadaan mereka di sisi kami sebagaimana ridhonya engkau –semoga Alloh memperbaikimu-.

            Dan kami tidak melakukan seperti perbuatan jam’iyyat-jam’iyyat sebelum ini bersama para murid Asy Syaikh رحمه الله , dan apa yang tidak diperbuat oleh Ihyaut Turots. Mereka itu dulu sering menyambar murid-murid Asy Syaikh (Muqbil) dan mengembalikan mereka dalam keadaan mereka menjadi penentang Asy Syaikh رحمه الله . Bahkan mereka itu dulu lebih tenang fitnahnya, lebih baik adabnya terhadap Asy Syaikh dan terhadap markiz ini daripada kebanyakan para pelaku gejolak ini.

            Dan juga: apakah jalanku ini sampai jadi membahayakan dakwah? Bawalah kemari satu kitab yang aku tulis di dalamnya aku membela kebatilan, dan aku membikin prinsip-prinsip yang menyelisihi Ahlussunnah, dan aku membikin dengannya fitnah terhadap dakwah salafiyyah. Sementara Asy Syaikh Muhammad membikin kitab “Al Ibanah” dan menumpuk di dalamnya prinsip-prinsip yang salah tersebut. Dan aku tidak tahu siapakah yang mengumpulkan untuknya prinsip-prinsip tadi yang dia dinasihati di dalamnya oleh para penasihat, dan mereka berkata padanya: “Anda menjadikan kitab ini dengan nama Ahlussunnah sementara di dalamnya ada perkara yang menyelisihi perkara yang Ahlussunnah ada di atasnya. Tapi Muhammad bersikeras di atasnya.

            Maka wahai Syaikh Muhammad, semoga Alloh memperbaiki dirimu, kenalilah apa yang engkau ucapkan dari perkataan ini, bahwasanya jalanku ini membahayakan dakwah. Dan aku sekarang menunjukkan padamu perkara-perkara ilmiyyah yang shohihah, bahwasanya jalanmu itulah yang membahayakan dakwah.

            Muhammad Al Imam menulis menentang kebenaran dan dia tidak melihat itu membahayakan dakwah. Dan jika kita membantah orang yang salah, dia menilai itu membahayakan dakwah. Dan ini mengherankan!!!

            Sebelum masuk kepada pembacaan risalah “Ikhtishor” ini dan komentar terhadapnya, aku akan meringkaskan beberapa faidah dari ringkasan ini:

            Faidah pertama dari faidah-faidah tersebut: adanya pengakuan di dalam “Ikhtishor” ini bahwasanya mereka itu melakukan pergolakan terhadap dakwah ini dalam rangka fanatisme untuk Al Adaniy. Mereka tak punya sebab selain itu. Dan inilah kenyataannya yang tidak teringkari. Yang mengingkari ini dia tak punya hujjah, mereka tak punya sebab selain dalam rangka fanatisme untuk orang itu.

            Faidah kedua: penyebaran mereka terhadap sebagian wasiat Asy Syaikh رحمه الله yang mereka batalkannya, karena Asy Syaikh رحمه الله meminta dari mereka pertemuan untuk menguraikan kasus-kasus, bukan untuk fanatik ataupun pergolakan terhadap markiz beliau. Apakah beliau akan ridho dengan kezholiman ini dari kalian?? Apakah andaikata datang satu orang mendaftari di masa hidup Asy Syaikh رحمه الله dari markiz beliau, beliau akan ridho dengan ini? Dan apakah kalian ridho dengan datangnya orang yang membuka pena miliknya dan mendaftari dari markizmu ke tempat yang lain, dan membikin bergolak sebagian pelajar sebagai musuh-musuh bagimu?

            Faidah ketiga: mereka mengingatkan orang-orang tentang kasus Abul Hasan yang telah diketahui oleh orang-orang yang jauh maupun yang dekat tentang jeleknya kondisi mereka (para masyayikh) di dalam kasus tadi. Mereka (para masyayikh) mengulang-ulangnya: “Abul Hasan dulu demikian, Abul Hasan dulu demikian,” padahal sikap mereka (masyayikh) waktu itu adalah sebagai penentang yang negatif (terhadap ahlussunnah), dan Muhammad al Imam menjadikannya sebagai manhaj untuk mengajak manusia kepada dirinya dan menyebarkannya di dalam “Al Ibanah”. Maka jadilah perkaranya sebagaimana dikatakan:

رمتني بدائها وانسلت

“Dia menuduhku dengan penyakit yang ada pada dirinya, dan dia berusaha meloloskan diri.”

            Dan sekarang dia mengenyangkan diri dengan itu (bergaya sebagai pahlawan dalam memerangi Abul Hasan). Dan ini menyerupai orang yang Alloh عز وجل berfirman tentang mereka:

Ÿw ¨ûtù|¡øtrB tûïÏ%©!$# tbqãmtøÿtƒ !$yJÎ/ (#qs?r& tbq™6Ït䆨r br& (#r߉yJøtä† $oÿÏ3 öNs9 (#qè=yèøÿtƒ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan.”

            Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (1/hal. 598) berkata: “Firman Alloh ta’ala: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan.” Al ayat. Alloh memaksudkan dengan itu orang-orang yang riya yang berbanyak-banyak dengan apa yang tidak diberikan pada mereka, sebagaimana datang dalam “Shohihain” dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

ومن ادعى دعوى كاذبة ليتكثر بها ما لم يزده الله إلا قلة

“Barangsiapa mendakwakan suatu dakwa yang dusta untuk berbanyak-banyak dengannya tidaklah Alloh menambahinya kecuali menjadi makin sedikit.” (HR. Muslim (110)).

            Dan di dalam “Shohihain” juga:

المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور

“Orang yang bergaya dengan apa yang tidak diberikan padanya adalah seperti orang yang memakai dua baju kedustaan.” (HR. Al Bukhoriy (5219) dan Muslim (2129)).

            Al Bukhoriy berkata: “Haddatsana Sa’id bin Abi Maryam, anbaana Muhammad bin Ja’far, haddatsani Zaid bin Aslam, ‘an ‘Atho bin Yasar, ‘an Abi Sa’id Al Khudriy:

أن رجالا من المنافقين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الغزو تخلفوا عنه وفرحوا بمقعدهم خلاف رسول الله صلى الله عليه وسلم فإذا قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم اعتذروا إليه وحلفوا وأحبوا أن يحمدوا بما لم يفعلوا فنزلت ﴿لا تحسبن الذين يفرحون بما أتوا ويحبون أن يحمدوا بما لم يفعلوا﴾ الآية

“Bahwasanya sekelompok orang dari munafiqin pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم dulu jika Rosululloh صلى الله عليه وسلم keluar ke peperangan, mereka tertinggal dari beliau, dan mereka gembira dengan duduknya mereka tertinggal di belakang Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka jika Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah tiba kembali, mereka mengemukakan udzur kepada beliau dan bersumpah serta senang untuk dipuji dengan perkara yang tidak mereka kerjakan. Maka turunlah ayat: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan.” Al ayat. (HR. Al Bukhoriy (4567)).

Demikian pula diriwayatkan Muslim (2777)).

            Dan untuk tambahan pengetahuan tentang hal itu apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Robi’  dalam “Majmu’u Kutub Wa Rosail” beliau (13/hal. 11), beliau berkata: “Kemudian sebagian orang menelpon dari Emirat –yang menelpon bernama Abdurrohman Aisyan- dengan Abdul Aziz Al Buro’iy dan dia bertanya pada Al Buro’iy tentang kami, maka Al Buro’iy menjawab: “Mereka itu adalah para pembikin fitnah.”

            Dan manakala Muhammad Al Imam kembali ke Ma’bar setelah acara majelis mereka, Muhammad berkata: “Tidaklah aku duduk di suatu majelis kecuali aku bertambah bashiroh tentang Abul Hasan, dan dia semakin tinggi di dalam pandanganku.” Dia mengucapkan ini pada para muridnya di Ma’bar. Dan dia berkata di bulan Romadhon tentang Abul Hasan bahwasanya dia itu adalah seorang imam.

            Faidah keempat: bahwasanya dia telah berkata di hari-hari yang telah lewat bahwasanya situs “Wahyain” itu di bawah pengawasan Asy Syaikh Robi’ dan dia menguatkan ini dalam “Ikhtishor”nya di sini: bahwasanya mereka pergi dan meminta dari beliau (Asy Syaikh Robi’) untuk menghentikan cercaan terhadap kami dari situs tersebut.

            Dan di dalam situs tersebut di dalamnya ada para penulis tak dikenal, dan fitnah terhadap kami di bawah pengawasan Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh memberi beliau taufiq-, menghentikan mereka kapan saja mau menghentikannya, padahal dulu sebelum itu mereka mengingkari para penulis tak dikenal yang menentang Ahlussunnah di situs-situs dengan pengingkaran yang paling keras, lalu terjadilah dari mereka gaya baru dalam memperlakukan kami di dalam fitnah ini pada perkara ini dan yang lainnya.

            Ini adalah pembukaan. Dan silakan dibaca risalah yang tersebar itu disertai dengan komentar terhadap sebagiannya:

Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد:

            Sungguh Alloh pada zaman ini telah menegakkan syaikh kami Al Muhaddits Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy يرحمه الله maka beliau menegakkan dakwah ke jalan Alloh, dan pengajaran di atas ilmu dan bashiroh, maka para pelajar mengarah kepada beliau dari segala penjuru, dari luar dan dalam negri, bahkan belum pernah ada perjalanan ke seorang alim di Yaman sepeninggal Al Imam Abdurrozzaq bin Hammam Ash Shon’aniy رحمه الله semisal perjalanan ke syaikh kami Al Wadi’iy.”

            Kata Asy Syaikh Yahya: “Dan segala pujian bagi Alloh, gelombang-gelombang masih terus datang di setiap waktu. Maka semoga Alloh merohmati beliau. Iya, jalan yang –demi Alloh- kita berharap untuk menempuh jalan itu, semoga Alloh memberi kalian taufiq, dalam masalah kecemburuan terhadap sunnah, dan tidak berdebat demi membela ahli batil, dalam masalah membantah ahli ahwa. Maka Muhammad Al Imam dengan kitab “Al Ibanah” membantah Ahlussunnah, dan membuat prinsip untuk mendukung yang bukan Ahlussunnah. Dan jika kami membantah orang yang keliru justru dianggap ini membahayakan dakwah. Dan ini adalah prinsip yang mengherankan!!

            Dan ini tidak benar, terutama bantahan-bantahan yang bersifat membangun dan ilmiyyah yang menjelaskan kesalahan pada manusia dan menunjukkan pada mereka perkara yang benar. Maka ini adalah dari agama kita dan aqidah kita. Al Imam Al Bukhoriy membantah dengan satu jilid “Kholqu Af’alil ‘Ibad”, Al Imam Ahmad punya bantahan-bantahan, Al Imam Ibnul Mubarok, bawa kemari satu orang dari para imam yang tidak punya bantahan. Syaikh kami رحمه الله berkata: “Seluruh kitab-kitabku adalah bantahan.” Sama saja apakah bantahan terhadap orang yang sesat yang menyeleweng, atau terhadap sunniy yang keliru dan menyelisihi kebenaran, lalu kesalahannya itu membahayakan dakwah. Dan semuanya dibantah sesuai dengan kadarnya.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka tinggallah syaikh kami di Yaman berkonsentrasi kepada ilmu, pengajaran dan dakwah ke jalan Alloh sepanjang seperempat abad, sampai ajal yang ditentukan menjumpai beliau.

            Komentar Asy Syaikh Yahya: “Iya, umat banyak sekali mengambil dari ilmu beliau, segala puji hanya bagi Alloh. Di antara mereka ada yang mencapai sepuluh tahun, di antara mereka ada yang lebih dari itu, dan saudara kita Muhammad tinggal di sisi beliau sekitar tiga tahun atau kurang, dan bismillah bermarkaz dalam keadaan dia masih butuh untuk menambah bekal. Sampai bahkan sebagian orang yang keluar dari Dammaj setelah wafatnya Asy Syaikh رحمه الله di antara mereka ada yang tinggal di Ma’bar mengajari dirinya Nahwu, dan di antara mereka ada yang mengajari dirinya beberapa masalah. Dan jika datang (permintaan) fatwa, dia mengalihkannya ke sebagian orang yang dulu di Dammaj. Oleh karena itulah datang darinya perkara-perkara ajaib ini. Ini adalah kalimat yang benar, aku mengucapkannya dalam keadaan aku menyesali.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka semoga Alloh merohmati beliau dengan rohmat yang luas, dan menempatkan beliau di Jannah-Nya yang luas. Dan beliau sebelum meninggal telah berwasiat dengan wasiat yang agung yang tersebar di seluruh penjuru, dan diketahui oleh orang yang tahu. Dan termasuk yang disebutkan dalam wasiat itu lafazh: “Dan aku berwasiat pada saudara-saudaraku di jalan Alloh, Ahlussunnah untuk berkonsentrasi kepada ilmu yang bermanfaat dan jujur bersama Alloh, dan ikhlas. Dan jika mereka mengalami suatu kejadian, hendaknya para ulul hill wal ‘aqdi berkumpul untuk membicarakannya: seperti Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Asy Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribiy, Asy Syaikh Muhammad Al Imam, Asy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’iy, Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman, Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy, Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adaniy. Dan saya menasihati mereka dalam kasus-kasus yang terjadi di kalangan mereka untuk bermusyawarah dengan Asy Syaikh yang mulia, pemberi petuah yang bijaksana, Asy Syaikh Muhammad Ash Shoumaliy, karena dulu aku bermusyawarah dengannya dan beliau mengisyaratkan padaku dengan kelurusan.”

            Jawaban Asy Syaikh Yahya: “Sekarang mereka tidak menegakkan keharusan dan kewajiban ini, yang mana mereka diharuskan melaksanakannya untuk mengupayakan menguraikan kasus-kasus dengan ketaatan pada Alloh عز وجل dan tidak fanatik. Tapi justru timbul darinya fanatik yang tercela yang menyebabkan dakwah ini mereka pecah.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan Abul Hasan Al Ma’ribiy Al Mishriy telah memisahkan diri dari saudara-saudaranya para masyayikh selang waktu setelah wafatnya syaikh kami رحمه الله , dan terjadilah perkara yang telah kalian ketahui. Dan para masyayikh tersebut menjadikan wasiat ini sebagai pedoman di depan mata mereka.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Abul Hasan mengobarkan pergolakan terhadap markiz ini, dan para pengikut jam’iyyat sebelumnya juga mengobarkan pergolakan terhadap markiz ini, dan Al Adaniy begitu pula. Dan segala puji bagi Alloh, Alloh menyelamatkan dakwah dari mereka, dan mereka membikin fitnah, dan kalian sekarang menyerupai mereka dalam pergolakan terhadap markiz ini. Dan kami mohon pada Alloh agar mengilhamkan pada kalian kelurusan kalian. Maka kami tidak menyukai untuk kalian perkara yang membikin mereka terfitnah dengan sebab kezholiman terhadap markiz ini.

            Adapun wasiat, maka mereka tidak menjadikannya sebagai pedoman di hadapan mata mereka. sekarang mereka, antara wasiat ini dengan fitnah terhadap dakwah bagaikan jauhnya jarak antara barat dan timur. Bahkan para muta’ashshibun bertentangan dengan wasiat ini dan bertentangan dengan dakwah beliau dan markiz beliau, dan seluruh murid beliau yang tidak menerima metode-metode kalian yang keliru. Maka apakah Asy Syaikh berwasiat pada kalian untuk membikin pergolakan pada markiz beliau dan fanatik menentang markiz beliau?!! Dan apakah orang berakal mengucapkan itu?!

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka setiap kali terjadi fitnah di antara Ahlussunnah di Yaman, mereka mencurahkan kerja keras mereka untuk menguraikannya. Dan sejak sekitar tujuh tahun”

            Jawab  Asy Syaikh Yahya: “Bagaimana kalian berkata bahwasanya mereka mencurahkan kerja keras mereka dalam menguraikannya? Di manakah kerja keras yang kalian curahkan pada awal kasus Abul Hasan sampai Alloh عز وجل memudahkan orang yang mengembalikan kalian dari berdiri berhadapan melawan dakwah. Dan setelah itu sebagian dari mereka berkata: “Kami tidak mengetahui apa prinsip-prinsip yang di dalamnya Abul Hasan membikin penyelisihan? Akan tetapi dia memecah belah dakwah.” Dan jadilah hujjah mereka itu adalah bahwasanya Abul Hasan memecah belah dakwah. Dan kenyataan menunjukkan bahwasanya mereka itu tidak meninggalkannya karena dirinya punya prinsip-prinsip yang menyelisihi (kebenaran), dan karena apa yang ada di dalam “Al Ibanah” itu mengandung prinsip Abul Hasan tadi. Akan tetapi mereka meninggalkannya berdasarkan anggaran dasar Muhammad Al Imam: “Kami tidak meninggalkan orang itu sampai dia meninggalkan kami.” Maka manakala Abul Hasan mengkritik mereka merekapun meninggalkannya. Maka mereka lebih mendahulukan hak diri mereka daripada kecemburuan terhadap jalan salafiy. Terhadap orang yang menyelisihi sebagian prinsip-prinsipnya.

            Ini, dan jika mereka memvonis dia (Abul Hasan) bahwasanya dia memecah belah dakwah, dan ini Al Adaniy (juga) telah memecah-belah dakwah lebih banyak, dia ini membikin fitnah di tengah-tengah markiz dakwah di Yaman. Dan bagaimanapun juga mereka berupaya dengan beraneka ragam tipu daya untuk mengeluarkan orang yang kedua ini (Adani setelah Abul Hasan) dari kasus pemecahbelahan dakwah, mereka (para masyayikh) tak memiliki dalil untuk itu. Andaikata kalian memiliki timbangan keadilan: yang satu itu memecahbelah dakwah, yang ini memecahbelah dakwah (juga).

            Mereka menentang salah seorang pemecahbelah dakwah, dan mereka justru bersama pemecahbelah dakwah yang satunya.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan sejak sekitar tujuh tahun nampak perselisihan di antara Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy,”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Bahkan yang wajib adalah kalian berkata: “Al Adaniy berbuat zholim”, ini dia keadilan jika Alloh memberi kalian taufiq. Dan dia mengkhianati dakwah dan membikin untuk mereka pendaftaran di dalam majelis. Kami mengizinkan mereka memakai mobil-mobil (milik dakwah) untuk mereka berdakwah ke jalan Alloh عز وجل , sering sebagian orang keluar bersama mereka, dan barangsiapa bersama mereka, kita tidak tahu kecuali dalam keadaan dia menjadi penentang dakwah.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka segeralah para masyayikh, dan mereka itu: Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Asy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’iy, Asy Syaikh Ash Shoumaliy, Asy Syaikh Adz Dzammariy, Asy Syaikh Muhammad Al Imam untuk mendamaikan. Maka terjadilah pertemuan di Darul hadits di Dammaj –semoga Alloh menjaganya- , dan kami menyatukan antara dua syaikh Al Hajuriy dan Al ‘Adaniy,”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ungkapan ini tidak benar, bahwasanya merekalah yang mengumpulkan kami. Bahkan akulah yang mengundang mereka dari sini agar mereka menasihati orang-orang itu, karena mereka (masyayikh) dulu jengkel terhadap pendaftaran tadi sebelum mereka (masyayikh) datang. Mereka berkata: “Seluruh markiz tidaklah berdiri dengan cara seperti itu.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan kami mendengar dari kedua belah pihak,”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Kenyataannya adalah bahwasanya mereka menghantami dia (Al Adaniy) dengan perkataan, bukannya kejadiannya adalah baku tuduh dan baku tangkis antara aku dan dia (Al Adaniy) sebagaimana yang digambarkan oleh Muhammad Al Imam. Lalu Al Adaniy keluar dari kejadian itu dalam keadaan dia tervonis.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan saat itu perdamaiannya adalah bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adaniy menghentikan pendaftaran di Fuyusy karena perkara-perkara”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: pendaftaran dihentikan. Mereka berkata: “Itu dikarenakan pendaftaran macam ini tidak terjadi di markiz-markiz semuanya. Tiada satu markizpun yang berdiri di atas pendaftaran macam ini, dan dikarenakan hal itu menyebabkan fitnah.” Demikianlah yang mereka (para masyayikh) katakan. Maka kenapa perkara-perkara ini tidak kalian jelaskan?!

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan mereka meminta Asy Syaikh Yahya untuk menarik ucapan yang dia turunkan terhadap Asy Syaikh Abdurrohman, kritikan padanya, dan penghizbiyyannya.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ini tidak benar, demi Robb Ka’bah. Ketika itu aku belum menyatakan dalam satu kasetpun bahwasanya dia itu hizbiy. Dan aku tidak menurunkan ucapan yang demikian itu dalam media apapun. Dan mereka juga tidak meminta itu dariku. Mahasuci Engkau wahai Robb, ada apa dengan orang ini (Muhammad Al Imam)?!”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka terjadilah bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adaniy menghentikan pendaftaran,”

            Komentar Asy Syaikh Yahya: “Dia menghentikannya sementara waktu, lalu dia kembali melakukan pendaftaran. Dan penghentian ini menunjukkan pada apa? Menunjukkan bahwasanya mereka menyalahkan metode Al Adaniy sejak dari waktu itu. Lalu beberapa bulan kemudian dia dan orang-orang yang bersamanya kembali pada amalan mereka sebelumnya yang dia telah menyepakati untuk menghentikannya. Dan ini telah diketahui oleh orang-orang.

            Dan dia melaksanakan pendirian masjid yang semula dihentikan sampai menjadi di bawah pengawasan para masyayikh. Dan dia meninggalkan mereka dan berpaling dari mereka dan pergi ke yang lain dalam keadaan mereka (para masyayikh itu) di belakang punggung dia, dia tidak peduli pada mereka sampai dia menekan mereka dengan orang lain dan jadilah mereka bersama orang-orang yang antre.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Tapi Asy Syaikh Yahya tidak menarik ucapan yang dia turunkan terhadap Asy Syaikh Abdurrohman, sebagaimana masyayikh minta dari Asy Syaikh Abdurrohman untuk minta maaf pada Asy Syaikh Yahya.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: ini adalah pemutarbalikan fakta, telah aku jelaskan pada baris sebelumnya.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Akan tetapi pada waktu itu tidak terjadi permintaan maaf. Selang waktu kemudian keluarlah Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy dari Darul Hadits di Dammaj. Maka dia pergi ke Aden. Maka Asy Syaikh Yahya berkata: “Abdurrohman jangan kembali ke Dammaj.” Maka kami menghubungi Asy Syaikh Yahya dan kami berkata padanya: “Cukuplah sampai di sini ucapan kalian terhadap Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adniy.” Akan tetapi Asy Syaikh Yahya masih terus berbicara tentang Asy Syaikh Abdurrohman menghukumi beliau sebagai hizbiy,”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Mahasuci Alloh!! Demi Alloh wahai ikhwan, ini tidak benar. Bahkan dia (Muhammad Al Imam) menelponku dan menyetujui pengusiran itu, dan bahwasanya ini adalah untuk menolak fitnah, semoga dengan itu fitnah berhenti. Kemudian selang beberapa waktu kemudian mereka (masyayikh) mengunjungi kami setelah keluarnya Al Adaniy dan mereka berkata: “Kita tidak perlu berselisih gara-gara dia.” Dan mereka semua waktu itu mengkritik dia dikarenakan ulahnya itu.

            Sekarang dia (Muhammad Al Imam) berkata –dengan pernyataan dia- bahwasanya dirinya menelponku dan berkata: “Cukuplah ucapanmu sampai di sini.” Ini tidak terjadi sama sekali. Aku tidak tahu dari mana Muhammad Al Imam mendatangkan ini? Ya Alloh kami mohon kelembutan-Mu terhadap hati kami.

            Aku mengucapkan ini dengan hujjah-hujjahku. Maka bawalah kemari hujjah kalian, sebagaimana ucapan Asy Syaikh Ash Shoumaliy: “Wahai Masyayikh, pikirkanlah,” dan tinggalkanlah percampuran kalimat, ini akan membahayakan kalian di sisi Alloh sebelum para makhluq-Nya.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan setelah selang beberapa waktu dari masyayikh mengikuti perkembangan kasus perselisihan tersebut, dan bersikerasnya Asy Syaikh Yahya untuk menghizbikan Asy Syaikh Abdurrohman, masyayikh berpandangan untuk memanggil Asy Syaikh Abdurrohman Al Adniy untuk duduk bersama dan melihat perkara hizbiyyah yang dinisbatkan kepadanya. Dan pertemuan itu berlangsung di Daru Hadits di Ma’bar”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ini bertolak belakang, karena dia berkata bahwasanya manakala mereka datang ke Dammaj mereka berkata padaku: “Tinggalkanlah apa yang engkau turunkan dengan penghizbiyahan dia.” Maka bagaimana mereka melihat perkara hizbiyyah yang dinisbatkan kepadanya setelah mereka mendakwakan bahwasanya mereka memerintahkan untuk aku meninggalkan vonis itu?

            Seluruh pergolakan ini, lihatlah oleh kalian (para pendengar dan pembaca) sekarang mereka menafsirkannya. Setiap orang menafsirkannya bahwasanya mereka (para masyayikh) tak punya hujjah untuk mendukung pergolakan itu terhadap kita, baik yang sebelum itu ataupun yang setelah itu, pihak yang itu ataupun pihak yang sana, kecuali sikap ghuluw terhadap seseorang yang membikin kejahatan terhadap dakwah.

÷bÎ)ur ”Í‘÷Šr& ¼ã&©#yès9 ×puZ÷GÏù ö/ä3©9 ìì»tFtBur 4’n<Î) &ûüÏm ÇÊÊÊÈ  

“Dan aku tidak mengetahui, boleh Jadi hal itu cobaan bagi kalian.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan pertemuan itu dengan persetujuan Asy Syaikh Yahya. Maka terjadilah pertemuan”

            Jawaban Asy Syaikh Yahya: “Aku tidak kuasa untuk berkata pada mereka: “Bikinlah pertemuan, atau jangan bikin pertemuan.” Dan aku tidak hadir bersama mereka.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka terjadilah pertemuan dengan Asy Syaikh Abdurrohman Al Adniy dan diskusi dengan beliau. Dan setelah itu para masyayikh berpandangan untuk menurunkan bayan (penjelasan) untuk menghentikan perselisihan. Maka mereka menyusun bayan tersebut dan mereka bacakan kepada Asy Syaikh.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Wahai saudaraku, menurut para fuqoha, perdamaian itu tidak pantas kecuali dengan keridhoan orang yang didamaikan, bukan dengan tekanan, ini harus berhenti dengannya bayan tersebut. Pada asalnya, orang yang zholim itu memikul dosa kezholiman itu, dan dia harusnya mengupayakan apa yang bisa menghilangkan kezholiman tadi dan menyebabkan bertemunya kalimat. Adapun mereka, mereka itu mendatangi rumah-rumah bukan dari pintu-pintunya, sementara orang-orang masih dalam keadaan terzholimi, dakwah mereka terzholimi, terjadi fanatisme dan penghizbiyyan di dalamnya. Akar masalah itu hilang bukan dengan sekedar bayan yang tidak kami pandang benar.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka mereka menyusun bayan tersebut dan mereka bacakan kepada Asy Syaikh Yahya lewat telpon, dan dia menyetujui diturunkannya bayan tadi.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Demi Alloh, kami tidak mengatakan “Turunkanlah bayan,” atau: “Jangan turunkan bayan”. Mereka menurunkan bayan itu dari diri mereka sendiri. Kalimat “Menyetujui” itu tidak benar. Andaikata aku menyetujuinya, aku tidak (sekedar) menjelaskan kesalahannya ketika aku melihatnya, bahkan aku mengingkarinya seketika itu juga. Dan ketika aku mengingkarinya, Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Aku adalah lawanmu, aku dan masyayikh.” Dan berlanjutlah pertentangan sejak dari saat itu, dan dia menyeret orang yang bisa diseretnya kepadanya untuk tujuan tadi. Dan Alloh tidak lalai dari fitnah dia ataupun yang lainnya.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata: “Dan setelah diturunkannya bayan tadi Asy Syaikh Yahya menelpon dan berkata bahwasanya dirinya tidak setuju dengan bayan tadi”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Bahkan mereka menurunkan bayan dari diri mereka sendiri, dan setelah itu kami katakan pada mereka: “Bayan ini yang aku tidak mengetahui kecuali dalam keadaan dia telah ada di situs, dia itu tidak benar. Dan aku jelaskan pada mereka kesalahan yang ada di dalamnya, dan barangkali penjelasanku masih ada dan orang-orang membaca ucapanku dan ucapan mereka.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan Asy Syaikh Yahya berkata bahwasanya dirinya tidak setuju dengan bayan tadi sampai Asy Syaikh Abdurrohman Al Adniy datang dan minta maaf di hadapannya di Dammaj.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Aku tidak mengatakan itu. Itu tidak benar sama sekali, bahwasanya dia harus datang minta maaf di hadapanku di Dammaj. Aku hanya menuntut dia minta maaf di lembarannya yang disebarkannya di dalam pertemuan mereka itu. Dan ini bukti bahwasanya aku ketika itu belum menghukumi dia sebagai hizbiy, sampai dia itu membangkang terhadap kebenaran dan dia menjadikan itu sebagai jalan setelah hal itu dijelaskan padanya. Dan dia melanjutkan pengelompokan dan pemecahbelahan dakwah. Ini berbeda dengan apa yang didakwakan oleh Asy Syaikh Muhammad Al Imam bahwasanya mereka dalam ziaroh mereka yang pertama untuk menasihati Al Adaniy, mereka meminta padaku untuk menarik apa yang aku turunkan tentang penghizbiyyahan Al Adaniy. Dan kaset itu tersebar dengan tanggal 14/Robi’uts Tsani/1428 H dengan judul: “Mutholabatu Abdirrohman Bil ‘Udzr ‘Amma Hashola Bisababihi Minat Ta’ashshub Wal Hajr” (Tuntutan Kepada Abdurrohman Untuk Minta Maaf Terhadap Apa Yang Terjadi Dengan Sebab Dia, yang berupa Fanatisme Dan Pemboikotan).”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka masyayikh berkata: Bayan telah turun, dan kedatangan Asy Syaikh Abdurrohman akan dilakukan di masa mendatang dengan seidzin Alloh.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Maka ini menetapkan bahwasanya jika mereka memang mengucapkan itu di sana dan bertekad untuk itu, mereka telah mengetahui secara yakin bahwasanya dia (Adaniy) telah berbuat zholim dan membikin fitnah. Dan sekarang lihatlah keadaan mereka (masyayikh) bersamanya. Wallohul musta’an. Dan demi Alloh kami tidak berkata agar dia datang dan meminta maaf di Dammaj. Ini keliru.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Tapi Asy Syaikh Yahya tidak mau kecuali membatalkan kesepakatan dan membantah bayan tadi, yang menyebabkan perselisihan semakin keras.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Mahasuci Alloh! Ini memberikan faidah bahwasanya mereka itu tidak ingin untuk dibantah meskipun dengan hujjah-hujjah untuk menjelaskan kekeliruan. Apakah ini manhaj salafiy?! Agar orang-orang itu bersama kalian dalam keadaan membebek pada kekeliruan kalian?! Dan barangsiapa membantah kekeliruan kalian maka dia akan diselisihi dengan keras?! Ini adalah hawa nafsu. Kebenaran itu wajb untuk kita tunduk kepadanya, dari orang yang membawanya. Dan dalil-dalil tentang itu tidak tersembunyi dari kalian.

            Dan termasuk dari karakterku adalah aku membantah apa yang aku pandang keliru, dan aku tentram, lapang dada, karena kebenaran bersamaku, aku membantah dengan kebenaran. Dan segala pujian hanya bagi Alloh.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Maka masyayikh memikul apa yang timbul dari Asy Syaikh Yahya.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Tidak terjadi dariku kepada kalian kecuali kebaikan. Bawalah kemari sesuatu yang aku menyelisihi dalil di dalamnya. Ini bantahan-bantahanku. Lagipula perkara yang aku pandang kalian keliru di dalamnya aku bantah dengan penghormatan, bahkan aku memikul pengelompokan kalian dalam menentangku, dan aku bersabar.

            Perkataan ini ada di dalam malzamah-malzamah. Demi Alloh aku tidak mencaci mereka, aku tidak mencerca mereka. Aku hanya berkata: “Kalian keliru.” Dan aku masih berkata bahwasanya kekeliruan menetap pada kalian seratus persen. Andaikata tiada kekeliruan kecuali upaya kalian dalam membesarkan perkara dan memperluas area fitnah, demi satu orang yang kalian ketahui kesalahannya, dan setiap orang yang adil mengetahui kesalahan orang itu, dari kalangan orang yang tahu fitnah dia.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Dan setelah selang waktu berangkatlah kami untuk berhaji: Asy Syaikh Yahya, Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Asy Syaikh Adz Dzammariy, Al Buro’iy, Ash Shoumaliy dan Al Imam. Dan Asy Syaikh Abdurrohman Al Adniy tidak berhaji pada tahun itu. Maka kami saling berjanji untuk berjumpa semuanya di hadapan bapak kita Asy Syaikh Robi’ حفظه الله , lalu kami berjumpa di hadapan beliau. Lalu Asy Syaikh Robi’ berkata pada Asy Syaikh Yahya.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Tidak ada perjanjian, akan tetapi aku tidak tahu kecuali sebagian orang berkata: “Asy Syaikh (Robi’) menginginkan Anda datang.” Kami katakan: “Aku akan mengunjungi beliau insya Alloh,” setelah perkataan beliau yang disebar bahwasanya beliau berkata: “Seretlah Al Hajuriy dari atas kursinya, dan hendaknya penggantinya telah ada.” Aku pergi dan mengunjungi beliau.

            Perkataan yang tersebut di sini di dalamnya ada pencampuran. Di antaranya adalah bahwasanya Muhammad bin Abdil Wahhab tidak haji pada tahun itu, dan dia tidak berkumpul dengan kami di hadapan Asy Syaikh Robi’. Oleh karena itulah ketika aku kembali dari haji, aku ditelpon oleh lebih dari satu orang dalam keadaan aku di jalan, mereka mengabariku bahwasanya Muhammad bin Abdil Wahhab mengeluarkan kaset sebelum aku sampai di Dammaj, dia di dalamnya mengkritik kami dengan perkataan yang jelek dan dusta.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Lalu kami berjumpa di hadapan beliau. Lalu Asy Syaikh Robi’ berkata pada Asy Syaikh Yahya: “Wahai Syaikh Yahya, Abdurrohman Al Adniy tidak punya hizbiyyah,”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Beliau masih terus mengatakan ini sampai sekarang, sementara aku katakan bahwasanya dia (Al Adaniy) hizbiy. Dan kalian mengatakan “Tidak,” dan aku mengatakan “Hizbiy,” dan kebenaran itu bersamaku. Dan kalian keliru, kalian tak punya bukti tentang pembersihan dirinya dari ini, sementara aku punya bukti tentang penetapan ini, aku dan saudara-saudaraku yang ada di dalam markiz ini. Dia membikin fitnah di tempat kami, membikin tahazzub (pengelompokan) di tempat kami, di dalam markiz ini, aku jelaskan keadaannya, kalian tidak berhak membikin pergolakan ini terhadap kami dan terhadap dakwah.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “Kami kenal orang itu, dan telah ditazkiyyah oleh Asy Syaikh Al Wadi’iy”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Tidak, Asy Syaikh Robi’ tidak mengucapkan ini sama sekali, beliau tidak menyebutkan kalimat “Dia telah ditazkiyyah oleh Al Wadi’iy”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “dan beliau memilihnya untuk menjadi termasuk dari masyayikh yang menjadi rujukan ketika terjadi fitnah”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Asy Syaikh Robi’ tidak mengucapkan ini sama sekali. Aku tidak tahu dari mana Muhammad Al Imam mendatangkan ini. Di dalam perkataan ini ada tambahan-tambahan yang syadzdzah (menyendiri).”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata: “Kemudian Asy Syaikh Robi’ mengarahkan ucapan kepada para masyayikh yang hadir: “Apakah kalian berpendapat bahwasanya Abdurrohman Al Adniy hizbiy?”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Inilah (alur kisah) yang benar. Iya.”

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata: “Maka para masyayikh berkata: “Kami tidak melihat adanya hizbiyyah padanya.” Maka Asy Syaikh Robi’ bangkit bersama dengan kesepakatan para masyayikh untuk beliau, dan beliau meminta pada Asy Syaikh Yahya untuk rujuk dari perkataannya tentang menghukumi dia dengan hizbiyyah. Dan beliau meminta kita agar kita jika telah pulang ke Yaman untuk kami memanggil Abdurrohman dan memintanya untuk menurunkan bayan bahwasanya dirinya berlepas diri pada Alloh dari orang yang mencerca Dammaj, dan bahwasanya dirinya tidak ridho dengan cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya, dan dengan ini selesailah perselisihan. Dan berjalanlah dakwah

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Baik. Kenapa ketika itu tidak ridho dengan cercaan terhadap Asy Syaikh Yahya, lalu dia menyeret kepada fanatisme, sama saja dari sini atau dari dari sana, sampai kalian mencerca Asy Syaikh Yahya dan saudara-saudaranya!? Atau terhadap markiz. Bukankah ini menunjukkan bahwasanya kalian butuh kepada tobat? Orang itu menurut kalian bersalah, orang itu berbuat begini dan begitu, tapi bersamaan dengan itu perkara-perkaranya menjalar sampai kalian menentang dakwah demi dia. Ini adalah perkara yang membikin heran orang-orang yang berakal. Demi Alloh.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata: “di atas perkara yang seharusnya dia berjalan di atasnya, yaitu ketenangan, baku tolong, menutup pintu fitnah. Maka Asy Syaikh Yahya pada saat itu menerima perkataan ini. Maka para masyayikh pulang ke Yaman dalam keadaan mereka bersemangat untuk merealisasi perkara yang telah sempurna disepakati di hadapan Asy Syaikh Robi’. Maka mereka mengundang Asy Syaikh Abdurrohman Al Adaniy. Dan berlangsunglah pertemuan di Hudaidah di hadapan sang bapak Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Kami berkumpul dengannya, dan kami sebutkan padanya apa yang berlangsung di hadapan Asy Syaikh Robi’ dan apa yang dikatakan oleh  Asy Syaikh Robi’ dan kami ridhoi. Maka Asy Syaikh Abdurrohman bersepakat untuk…”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Aku tidak ridho dengan itu sejak waktu itu, dan aku tidak menerimanya. Dakwaan bahwasanya aku menerima itu tidaklah benar. Andaikata aku menerimanya, tak akan Muhammad bin AbdilWahhab mencercaku dalam keadaan aku di jalan sebelum aku sampai ke rumahku. Akan tetapi aku diam.

            Dan Asy Syaikh Robi’ memintaku untuk kembali ke rumah beliau setelah menunaikan haji, tapi aku tidak kembali. Dan setelah itu aku tidak tahu kecuali dalam keadaan Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab mencerca kami.

            Yang kedua: kalian punya kitab-kitab fiqih bahwasanya perdamaian itu terjadi berdasarkan saling ridho jika memang berupa perdamaian. Adapun ini: mereka pergi dan berkumpul di Hudaidah dan mengeluarkan ucapan yang aku tidak mengetahui apa itu, dan kasus selesai. Aku katakan pada kalian: ini tidak benar. Tinggalkanlah pengacauan terhadap manusia, dan tinggalkanlah peremehan kerja keras orang lain, dan tinggalkanlah kesombongan. Ini adalah kesombongan.

Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata:  “menurunkan bayan sesuai dengan apa yang diminta oleh Asy Syaikh Robi’ dan masyayikh. Dan beliau menurunkan bayan itu. Ternyata Asy Syaikh Yahya membatalkannya dengan dua kaset.”

            Jawaban Asy Syaikh Yahya: “Bukan dengan dua kaset, dengan selebaran kecil dengan judul “At Tanbihatul Mufidah…” aku di sini masih terus mengingatkan tentang itu dan aku katakan: “Jika kalian menginginkan kebaikan untuk orang ini nasihatilah dia dari kesalahan-kesalahannya itu tanpa ucapan-ucapan yang kalian sebutkan di dalam lembaran ini yang mereka dikritik karenanya. Ada bantahan terhadap pertemuan Hudaidah. Bagi orang yang ingin membacanya. Sebagian dari mereka telah mencatatnya di dalam kitab. Bukan dua kaset ataupun yang lain. Ini semua adalah teror dan pencampuran kalimat.

            Pembaca risalah: Muhammad Al Imam berkata: “dan di dalamnya dia mengkritik para masyayikh yang menjalankan apa yang diminta oleh Asy Syaikh Robi’. Dia mencerca mereka. para masyayikh bersabar dan tidak membantah Asy Syaikh Yahya.”

            Syaikh Yahya menjawab: “Ucapanku tersebut ucapan ilmiyyah, dan aku membantah dengan adab. Dan berikut ini adalah nash ucapanku tersebut, agar kalian tahu bahwasanya perkataan Muhammad Al Imam bahwasanya aku celaan masyayikh dan aku mencerca mereka itu adalah dakwaan yang tidak benar. Dan karena memang dia itu menilai bahwasanya sekedar bantahan itu merupakan celaan dan cercaan. Ini memang manhaj dia.

            Aku berkata dalam bantahanku tersebut:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:

            Maka ini adalah untuk mengingatkan secara khusus terhadap bayan yang tersebar dari pertemuan masyayikh –semoga Alloh menjaga mereka- di Hudaidah.

            Pertama: ucapan Anda semua –semoga Alloh menjaga Anda semua- dalam Bayan tersebut: “Dan dikarenakan memandang perkara yang terbaharui setelah itu dalam kasus tersebut” ini mengisyaratkan bahwasanya kasus tersebut telah selesai di Bayan Ma’bar. Dan itu tidak benar! Kasus yang pertama itu sendiri adalah kasus yang Bayan ini (Bayan Hudaidah) muncul tentangnya itu sendiri sebagaimana yang Anda semua ketahui. Dan tidak ada perkara baru di dalamnya.

            Yang kedua: perkataan Anda semua: “Para masyayikh berupaya untuk menghentikan kejadian-kejadian baru di antara dua pihak,” menjadikan saya sebagai satu pihak dan Abdurrohman sebagai pihak yang lain itu merupakan suatu bentuk pembesaran kasus. Itu tidak dibutuhkan, sebagaimana telah saya isyaratkan dalam kaset “Tanbihul Ahbab ‘Ala Ahammiyyati Ityanil Buyut Minal Abwab,” karena mereka itu adalah sekelompok orang yang terjadi dari mereka perkara yang telah Anda semua ketahui. Di antara mereka ada yang pergi, dan di antara mereka ada yang bertobat, dan di antara mereka ada yang perlu bertobat dari kesalahan yang diperbuatnya, tidak butuh pembesaran kasus ataupun teror (penakut-nakutan) yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya hasrat jelek.

            Yang ketiga: ucapan Anda semua –semoga Alloh memberikan taufiq pada Anda semua-: “Bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman berlepas diri dari orang yang mencela saya dan mencela markiz ini,” ini tidak dibutuhkan. Yang dituntut adalah agar dia bertobat dari tanzhim (pembentukan organisasi) dia dan fitnah dia yang dia lakukan, karena sesungguhnya dia itu adalah kepala fitnah. Dan Alloh berfirman:

Ÿw Nä.•ŽÛØtƒ `¨B ¨@|Ê #sŒÎ) óOçF÷ƒy‰tF÷d$# 4  

“Tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk” (QS. Al Maidah: 105).

            Dan tidak pantas untuk dia melakukan fitnah kemudian dia melemparkannya pada orang yang lain yang tidak melakukan itu.

            Dan perkara yang disebutkan oleh Abdurrohman dalam Bayan dia itu bagaikan permainan. Bagaimana dia berlepas diri dari perbuatan mereka dalam keadaan mereka itu masih terus bersama dia dalam perjalanan dan di tempat tinggal dia? Apa yang dihasilkan dari tobat atau perdamaian pada dirinya atau pada diri mereka, selain bahwasanya Abdurrohman mengulang-ulang untuk kita nasihat yang disebutkannya di dalam Bayan sebelum ini?

            Dan kami telah mengetahui dan dinukilkan di sebagian malzamah kesepakatan sebagian dari mereka bersama dirinya agar dia diam sementara mereka itulah yang menjalankan giliran. Dia tidak diam, tapi bahkan bekerja keras dalam membentuk gerakan terorganisir, dan membikin pergolakan-pergolakan dan kegoncangan sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam malzamah-malzamah dan kaset-kaset terdahulu. Dan Alloh عز وجل telah membinasakan kaum Sholih, termasuk di dalamnya si penyembelih onta dan orang yang ridho dengan itu. Maka Abdurrohman itu perlu tobat dari kesepakatan dia dan keridhoan dia dengan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan yang buruk itu. Ini andaikata tidak muncul darinya sesuatu apapun. Maka bagaimana sementara telah muncul darinya apa yang telah kami sebutkan?!

            Maka hendaknya kita merenungkan firman Alloh ta’ala:

ç$ydrãs)yèsù tPy‰øBy‰sù óOÎgøŠn=tæ Oßgš/u‘ öNÎgÎ6/Rx‹Î/ $yg1§q|¡sù ÇÊÍÈ   Ÿwur ß$$sƒs† $yg»t6ø)ãã ÇÊÎÈ  

“maka mereka menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.”

            Bersamaan dengan ini yang orang yang menyembelih onta itu satu saja, orang yang bengis dan punya perlindungan di kalangan kaumnya, sebagaimana dalam “Ash Shohihain” dari hadits Abdulloh bin Zam’ah رضي الله عنه dan Alloh عز وجل berfirman: “Maka mereka menyembelihnya” dan tidak berfirman: “Maka dia menyembelihnya”

            Yang keempat: ucapan Anda semua –semoga Alloh menjaga Anda semua- “Dan berlepas diri dari kegoncangan-kegoncangan menentang Dammaj dan menentang Asy Syaikh Yahya” ini pemisahan yang keliru. Dulu tidak dikatakan “Dammaj dan Asy Syaikh Muqbil dst.” Tiada perbedaan antara syaikh dan markiz. Orang yang membedakannya, maka di antara mereka ada orang yang kalimat ini sekedar terucapkan saja pada lidahnya. Dan di antara mereka ada yang punya maksud-maksud yang rugi yang tidak akan membahayakan kami maksud dia itu tadi insya Alloh. Dan segala puji hanya bagi Alloh.

            Yang kelima: ucapan Anda semua –semoga Alloh memberikan taufiq pada Anda semua-: “Dan harus menghentikan pengeluaran malzamah-malzamah dan kaset-kaset,…dst.”

            Dalam hal ini ada beberapa yang perlu diingatkan:

            Yang pertama: bahwasanya Anda semua dalam kunjungan Anda semua yang terakhir telah sepakat untuk mengambil malzamah-malzamah itu untuk diberikan pada Abdurrohman agar dia membantahnya. Maka apa yang membikin kesepakatan itu batal? Hanya saja Abdurrohman tidak punya hujjah, dan dia itu tervonis dengan vonis yang telah kami jatuhkan, dan fitnah tumbuh dari bawah kedua telapak kakinya, … dan seterusnya dari hasil pertemuan pertama di tempat kami sebagaimana yang Anda semua ketahui.

            Yang kedua: di dalam perkataan tersebut ada teror, pada ucapan Anda semua: penghentian malzamah-malzamah dan kaset-kaset yang muncul dari para pembela Abdurrohman, karena Abdurrohman dan yang bersamanya tidak membantah dengan kaset ataupun risalah sebatas pengetahuanku.

            Bersamaan dengan aku menunggu tuntutan Anda semua dengan itu sebagaimana yang telah Anda semua sepakati di sini, dan agar Anda semua mengirimkan malzamah-malzamah kami kepadanya agar dia membantahnya, maka bagaimana Anda membolehkan teror macam ini yang mengesankan setimbangnya hujjah-hujjah.

            Lagi pula Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab –semoga Alloh memberinya taufiq- pada waktu yang lalu telah menggugat perkataan dari Al Bakriy bahwasanya dia memiliki orang-orang yang berjuang bersamanya untuk membikin fitnah di Perancis, Britonia dan demikian dan demikian,… dan Asy Syaikh menganggap itu sebagai bentuk pembesaran suatu kasus yang sederhana. Maka kenapa di sini pembesaran yang ini tidak digugat, yang mana ini adalah mirip dengan pembesaran yang itu dan bahkan lebih besar?

            Yang ketiga: bahwasanya yang demikian itu adalah suatu hajr (pengekangan) terhadap sebagian dari kerja keras kami yang mana kami memandang kerja keras tersebut bermanfaat bagi muslimin, menjelaskan yang benar dari yang batil kepada mereka dengan seidzin Alloh ta’ala. Dan pengekangan dalam kitab-kitab fiqih itu berlaku terhadap orang yang tolol yang jelek perbuatannya. Dan manakala Ibnuz Zubair melakukan pengekangan terhadap Aisyah رضي الله عنها dalam keadaan Ibnuz Zubair adalah amir, dan Aisyah adalah bibinya, maka Aisyah bernadzar untuk memboikotnya karena kerasnya pengekangan tersebut terhadap jiwa, dan karena Aisyah memandang bahwasanya pengekangan itu tidak dilakukan terhadap orang yang lurus seperti beliau.

            Ibnu Hajar dalam “Fath” dalam syarh hadits no. (6073) setelah menyebutkan ucapan-ucapan dalam pengarahan makna nadzar Aisyah dan pemutusan hubungan beliau terhadap Ibnuz Zubair. Pemutusan silaturrohim itu terlarang, dan nadzar yang terlarang itu tidak sah. Beliau berkata: “Dan yang benar adalah jawaban yang dibawakan oleh yang lain bahwasanya Aisyah melihat bahwasanya Ibnuz Zubair dengan ucapannya itu telah melakukan perkara yang sangat besar, yaitu ucapan beliau: “Aku benar-benar akan mengekang Aisyah,” karena di dalam ucapan ini ada perendahan terhadap kadar Aisyah dan menisbatkan beliau pada perkara yang tidak diperbolehkan, yang berupa pemborosan yang mengharuskan dilarangnya Aisyah dari pengaturan harta yang Alloh ta’ala rizqikan padanya, disertai dengan kedudukan beliau sebagai ummul mukminin dan bibi Ibnuz Zubair, saudari dari ibnunya, dan tiada seorangpun yang punya posisi Ibnuz Zubair di sisi Aisyah, sebagaimana telah lalu penjelasan di awal-awal kitab “Manaqibu Quroisy.” Maka seakan-akan di dalam perlakuan Ibnuz Zubair tersebut ada semacam kedurhakaan. Dan seseorang itu menganggap besar terhadap orang yang dekat dengan dirinya perkara yang tidak dianggap besar terhadap orang asing. Maka Aisyah melihat bahwasanya cara membalasnya adalah dengan tidak mengajaknya bicara, sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم melarang berbicara dengan Ka’b bin Malik dan kedua sahabatnya sebagai hukuman untuk mereka karena mereka tertinggal dari perang Tabuk tanpa udzur, dan beliau tidak melarang orang-orang munafiq yang ketinggalan, itu sebagai hukuman bagi tiga Shohabat tadi karena agungnya kedudukan mereka, dan dalam rangka menghinakan munafiqin karena rendahnya mereka. Maka pada makna inilah perbuatan Aisyah tadi dibawa.

            Dan manakala sebagian syi’ah menuntut presiden –semoga Alloh memberinya taufiq- untuk melarang Asy Syaikh (Muqbil) mencela mereka, presiden menjawab: “Kami tak akan mengekang beliau ataupun kalian. Kalian bantah saja beliau jika kalian mau. Demikianlah Asy Syaikh –semoga Alloh merohmati beliau- mengabari kami.

            Dan Asy Syaikh –semoga Alloh merohmati beliau- sendiri ketika sedang sakit di Kerajaan Saudi, beberapa orang yang kesakitan disebabkan oleh ucapanku terhadap Abul Hasan pergi menemui beliau dan menyampaikan pada beliau kejadian itu, maka beliau menjawab: “Biarkan dia berbicara dengan apa yang pandangnya, karena dia tidak berbicara atas dasar hawa nafsu. Orang yang hadir waktu itu mengabarkan jawaban beliau itu kepadaku. Beliau tidak mengekangku.

            Kemudian sesungguhnya pengekangan itu –saat diharuskan demikian- adalah bagian dari urusan pemerintah. Adapun ulama, maka urusan mereka adalah nasihat, memperingatkan dari kebatilan dan membantah setelah nasihat terhadap orang yang menyelisihi kebenaran.

            Yang keenam: ucapan Anda semua –semoga Alloh memberikan taufiq-Nya pada Anda semua-: “Dan para masyayikh Ahlussunnah , termasuk di dalamnya dalam Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Abdurrohman, harus berupaya untuk memberikan maaf, …” Di dalam perkataan ini ada makna bahwasanya kesalahan itu terjadi dari kedua belah pihak. Yang benar adalah bahwasanya kesalahan itu terjadi dari Abdurrohman sebagaimana Anda semua memvonis dia dalam pertemuan yang lalu di tempat kami.

            Andaikata Anda semua berkata: “Kami meminta darimu agar memaafkan Abdurrohman, sebagaimana yang dilakukan oleh Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh menjaga beliau- dalam majelis tersebut, niscaya yang demikian itu lebih mengena di dalam jiwa daripada hukum yang membabat seluruh kerja keras kami dalam fitnah Abdurrohman itu.

            Ini apabila tidak nampak bagi Anda semua hizbiyyah dia sebagaimana telah nampak bagi kami, dari sela-sela perbandingan antara perbuatan-perbuatan dia terhadap kami dengan perbuatan-perbuatan para hizbiyyin yang telah lewat sebelum dia, pembikinan fitnah, upaya sebagian dari mereka untuk memperburuk kami di hadapan sebagian masyayikh, atau untuk memperluas area perselisihan di kalangan Ahlussunnah. Dan ini adalah langkah hizbiy yang membikin makar, tidak beda antara dirinya dengan apa yang terjadi sebelumnya.

            Ditambah lagi dengan celaan-celaan dan tahdziran dari menuntut ilmu di tempat ini, berusaha untuk merebut beberapa masjid dan merekrut beberapa orang agar bergabung dengan mereka, mengadukan kepada pemerintah beberapa thullab yang tidak setuju terhadap fanatik mereka, kesenangan mereka yang sangat terhadap apa saja yang muncul sebagai reaksi untuk melawan saya serta menyebarkannya, menyembunyikan ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan saya dan perbuatan-perbuatan hizbiyah buruk lain yang  telah kami jelaskan dalam beberapa tulisan dan kaset.

            Yang ketujuh: Anda semua –semoga Alloh merohmati Anda semua– menyebutkan di akhir penjelasan ini apa yang mengisyaratkan –walaupun dari sudut pandang yang tersembunyi– bahwa kami tersibukkan dari tholabul ilmi dengan sebab permasalahan ini dan permasalahan-permasalahan yang lain. Hal ini walaupun bukan menjadi maksud dari Anda sekalian akan tetapi sebagaimana sudah maklum bagi Anda sekalian akan betapa konsentrasinya para tholabatul ilmi di sini untuk menuntut ilmu. Akan tetapi bisa jadi dipahami oleh orang yang tidak mengetahui sebagaimana yang kita dan Anda sekalian ketahui, bahwasanya setiap kali ada thullab kita yang terfitnah kita jadi tersibukkan karenanya dari menuntut ilmu, dan ini tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

            Alangkah bagusnya apabila disebutkan pada kesempatan ini perkataan As Safariniy dalam “Aqidah” nya, beliau berkata:

وَكُلُّ مَعْلُوْمٍ بِحِسٍّ وَحِجَى                   فَنَكْرُهُ جَهْلٌ قَبِيْحٌ فِيْ الْهِجَى

Dan semua perkara yang diketahui dengan panca indra dan dengan akal

Maka mengingkarinya adalah suatu kebodohan yang buruk di dalam syair yang berisi hinaan

            Yang sepantasnya, nasehat Anda ini ditujukan untuk mereka-mereka itu yang telah dijauhkan oleh syaithon dari kami dengan sebab pemikiran-pemikiran semacam ini, yang jumlah mereka tidak sedikit, sejak zaman Syaikh kami –semoga Alloh merohmati beliau– sampai waktu yang Alloh lebih mengetahuinya, dan hanya bagi Allohlah urusan hamba-hamba-Nya. Dan saya katakan bahwa sesungguhnya tidak adanya nasehat bagi mereka untuk bertaubat dan memperbaiki diri sebagaimana yang kami isyaratkan dalam kaset berjudul “At Tanbih”, bukanlah suatu usaha untuk membantu mereka supaya istiqomah, bahkan itu tidak lain membantu mereka untuk semakin jauh tersesat, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Alloh.

            Dan boleh bagi Anda untuk mengatakan: “Sesungguhnya ini adalah kerja keras dan usaha untuk mewujudkan perdamaian.” Alangkah baiknya usaha seperti ini yang telah dipuji oleh Alloh azza wa jalla dan RosulNya –shollallohu ‘alaihi wa sallam– dalam banyak dalil.

            Akan tetapi wahai saudara-saudaraku –semoga Alloh menjaga Anda sekalian dan menguatkan kedudukan kalian dan semua ahlus sunnah– ishlah (perdamaian) itu disyaratkan padanya kerelaan untuk menerima isi dari kesepakatan perdamaian itu, bukan dengan paksaan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَا﴾ [النساء: 35]  

“Dan apabila kalian takut akan terjadi perpecahan antara kedua suami istri itu, maka utuslah oleh kalian seorang juru hakim dari keluarga laki-laki dan seorang dari keluarga perempuan, apabila keduanya menginginkan untuk berdamai niscaya Alloh akan memberi kecocokan antara keduanya”

Renungkanlah kalimat “apabila keduanya mengiginkan untuk berdamai”.

            Kami dan Anda sekalian demikian juga orang lain telah menyaksikan perkara-perkara yang menyentuh dakwah yang suci ini, maka yang seperti itu wajib untuk bertaubat darinya.

            Demikianlah, dan saya sangat berterimakasih kepada Anda sekalian atas perjuangan baik Anda sekalian dalam berdakwah, semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi Anda sekalian.

Ditulis oleh: Saudara Anda di jalan Alloh, Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy.

Hari Rabu, 22 Muharrom.

 Selesai

Maka demi Alloh, wahai pembaca sekalian, apakah dalam bantahan ini –yang  demikianlah semua peringatan saya kepada mereka terhadap apa yang saya lihat sebagai suatu kesalahan– apakah di dalamnya saya membicarakan atau mencela mereka? Ataukah sebaliknya Muhammad Al Imam, dialah yang kemudian membalikkan fakta sesuai dengan kehendak orang yang mendorong dan mendukungnya?!, para masyayikh yang lain juga memberinya masukan dengan hal-hal yang telah dihiasi oleh syaithon berupa fanatik kepada Al ‘Adaniy dan memancangkan permusuhan kepada kita dan kepada dakwah!

 

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan pada waktu itu perselisihan telah terjadi antara Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Asy Syaikh Yahya”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Penyebab perselisihan tersebut sudah kita diskusikan dalam kaset dan tulisan yang telah berlalu, yaitu bahwa sebab utamanya adalah fanatiknya terhadap Al ‘Adaniy. Kemudian para masyayikh ikut campur dalam perselisihan ini, mereka datang ke tempat ini didorong oleh semangat untuk menyatukan kalimat, dan menyampaikan muhadhoroh (ceramah) pada waktu itu –sebagaimana akan datang penyebutannya dalam perkataan Al Imam– kemudian mereka berkata: “Semoga Alloh memaafkan atas apa yang telah terjadi antara Anda dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab” Maka kami mengatakan: “Semoga Alloh memaafkan atas apa yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab”. Kemudian saya tegaskan setelah sholat Subuh bahwa Muhammad Al Wushobi tidak boleh ikut campur dalam masalah Al ‘Adaniy. Akan tetapi hanya selang beberapa hari setelah itu Muhammad bin Abdil Wahhab mengeluarkan perkataan batil tentang saya, direkam dalam satu kaset, tanpa saya dahului, setelah saya memaafkannya.”

 

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Terjadi perselisihan antara Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Asy Syaikh Yahya, juga terjadi antara Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy”

            Asy Syaikh Yahya: “Telah lewat pada paragraf sebelumnya bahwa semua perselisihan tersebut sebabnya adalah Al ‘Adaniy, sebabnya fitnah Al ‘Adaniy. Muhammad bin Abdil Wahhab ingin menekan saya dan menyatakan bahwa dialah hakim dalam masalah ini, bahwasanya Al ‘Adaniy bukan hizbiy, sebagaimana sekarang dikatakan dengan terang oleh Asy Syaikh Robi’ dan orang-orang yang bersama beliau, bahwasanya wajib bagiku untuk dipaksa supaya mengakui itu.

            Demikianlah tekanan dan kezholiman mereka silih berganti terhadap saya dan terhadap ma’had ini, sedangkan saya tetap bersabar. Kemudian mereka sekarang berpindah kepada ghuluw dalam ucapan, kalimat-kalimat yang tidak beraturan, dan kita melawannya dengan yang lebih baik, sampai tiba saatnya Alloh dan hamba-hamba-Nya melihat bahwa orang-orang tersebut memang suka berbuat kedholiman, fitnah, fanatik, suka menyerang, berusaha dengan keras untuk memisahkan diri dari kita di saat negeri Yaman ini sedang bergejolak padanya fitnah yang banyak, justru kesibukan mereka adalah berbuat dholim terhadap para dai ke jalan Alloh. Maka kita berlindung kepada Alloh dari dihilangkannya pertolongan-Nya terhadap kita.

            (Al ‘Adaniy adalah) seorang yang membuat fitnah di tempat saya, sudah menjadi keharusan bagi Anda untuk menerima kebenaran dari orang yang membawanya. Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– ketika ada seorang Yahudi mengatakan:  “Sesungguhnya kalian berbuat kesyirikan, kalian menyekutukan Alloh, karena kalian mengatakan: Demi Ka’bah… Al hadits (beliau menerimanya). Sedangkan kami ini adalah orang Islam yang mengucapkan suatu kebenaran, mengapa Anda menghadapi kebenaran itu dengan penentangan?”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan antara Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy dengan Asy Syaikh Yahya. Sedangkan masyayikh Yaman yang lain berupaya untuk mendamaikan antara Asy Syaikh Yahya dan antara mereka juga.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Pada masa itu perselisihan masih dengan Asy Syaikh Muhammad, kemudian datang permasalahan Al Jabiriy setelah itu.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “(Masyayikh) berupaya untuk mendamaikan antara Asy Syaikh Yahya dengan mereka juga. Akan tetapi tidak mencapai penguraian perselisihan.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Adapun Al Jabiriy, mereka sendiri mengakui dengan lisan mereka  bahwa mereka mengkritiknya. Muhammad Al Imam berkata tentang Al Jabiriy : “Dai yang menyeru kepada fitnah”. Bagaimana Anda mengatakan bahwa dia adalah penyeru kepada fitnah kemudian pada tulisan ini Anda mengatakan bahwa Anda sekalian berusaha untuk mendamaikan antara saya dengannya?! Kecuali bila telah berlangsung pertemuan antara kalian dengannya, setelah Anda mengetahui bahwa dia adalah “penyeru kepada fitnah” kemudian kalian mengusahakan sesuatu yang tidak saya ketahui, maka saya tidak tahu itu.

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan mereka tidak mencapai penguraian perselisihan, karena pokok permasalahannya adalah: ucapan Asy Syaikh Yahya terhadap Asy Syaikh Abdurrohman Al ‘Adaniy.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Inilah dia kesimpulannya, ini adalah inti permasalahannya. Sampai-sampai telah datang kabar kepada saya bahwa ketika musim haji yang lalu, ada beberapa orang berkata kepada Asy Syaikh Muhammad Al Imam: “Seandainya Anda berdamai dengan Asy Syaikh Yahya” Maka dia menjawab: “Permasalahan tersebut terdiri dari cabang dan inti. Kalau Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Abdurrohman mau berdamai maka kamipun berdamai, dan bila mereka tidak mau berdamai maka kamipun tidak mau berdamai!”

Wahai saudaraku, dimanakah Anda dengan perkataan Alloh azza wa jalla:

﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا﴾[الأنعام: 164]

“Dan tidaklah semua jiwa berbuat kecuali untuk mereka sendiri” (QS. Al An’am: 164)

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الأنعام: 164]

“Dan tidaklah seorang yang berbuat dosa memikul dosa orang lain” (QS. Al An’am: 164)

            Mengapa kalian menempatkan diri sebagai pembela bagi fitnah Al ‘Adaniy?! Dan mengapa kalian menggantungkan diri kalian dengan seorang yang kalian menganggap derajat kalian lebih tinggi darinya, khodzilah (ketelantaran/tiadanya taufiq) macam apakah yang  kalian terjatuh di dalamnya?! Demi Alloh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan!!

            Mengapa kalian membuat fitnah terhadap dakwah? Menyibukkan manusia? Mengacaukan situasi atas kalian dan selain kalian? Apakah demi kamu wahai ‘Adaniy! Biarlah dia berdakwah sendiri! Jika memang dia mau berbuat kebaikan dan mengerti apa yang benar bagi dirinya, dan sungguh banyak orang yang bertaubat sebelum dia, dan mereka memberi manfaat dengan taubat itu bagi diri mereka sendiri. Dan apabila dia berbuat tidak baik maka dia sendiri yang akan menanggungnya. Musibah apakah ini yang menimpa kalian?!!”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Kemudian yang terjadi adalah Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy menurunkan fatwa bahwasanya tidak boleh belajar di Dammaj di hadapan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Fatwa tersebut –demi Alloh– tidak berpengaruh sama sekali, kamipun tidak peduli dengannya. Dia bangkit dengan kedholiman dan permusuhan, tidak ada yang mendasarinya kecuali fanatik dia terhadap Al ‘Adaniy, sebagaimana yang telah lewat dari perkataan Asy Syaikh Muhammad Al Imam. Saya telah membantahnya, sehingga tidak tersisa padanya kecuali mencaci-maki, mengadu domba dan tahdzir yang menjadi aib baginya. Kami telah memperlakukannya dengan lemah lembut, memanggilnya dengan sebutan Asy Syaikh dan Al Walid dan sebagainya, ketika dia telah berlaku keterlaluan dan melampaui batas, maka kamipun bersikap kasar terhadapnya. Kami jelaskan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Dan sebentar lagi insyaAlloh akan keluar satu jilid berisi penjelasan tentang kesalahannya.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Maka masyayikh yang terdiri dari Ash Shoumaliy, Adz Dzammariy, Al Buro’iy dan Al Imam berpandangan untuk menurunkan bayan (penjelasan) tentang hakikat perselisihan ini yang Asy Syaikh Yahya bersikeras di situ untuk melanjutkan apa yang dia ada di atasnya.”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Lihatlah, saya bersumpah kepada Anda sekalian demi Alloh. Sekarang permasalahan ‘Ubaid, dia (Al Imam) menganggapnya sayalah yang bersikeras untuk mempertahankan apa yang saya berada di atasnya. Ini merupakan pemutar balikan fakta!! Ada apa dengan kalian? Di manakah sikap adil kalian? Orang ini berbuat kedholiman dan kalianpun ikut menyalahkannya, juga menyalahkan perbuatan jahatnya terhadap Dammaj, bahkan kalian telah menegaskan hal ini kepada orang banyak. Kalian menganggapnya sebagai “penyeru kepada fitnah”, tapi kemudian Anda mengatakan bahwa sayalah yang bersikeras untuk terus berselisih!

Bahkan ketika dia berkunjung pertama kali melalui perantara kedua anak Mar’iy, tidak ada seorangpun dari kalian yang menyambutnya di tempat kalian, dia hanya berjalan dengan hati terbakar, dan sayalah yang menerimanya, menjamunya beserta para pendampingnya. Hal ini menunjukkan bahwa dahulu kita semua tidak suka dengan perbuatannya ini sebelum saya berselisih dengannya, dan kalian tahu akan hal itu. Kemudian ketika dia melakukan kunjungan yang kedua kali berputar-putar di Yaman sambil menjelek-jelekkan saya dan tempat ini, justru kalian menyambutnya!!”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Maka mereka menurunkan bayan yang menetapkan bahwasanya perselisihan ini: “Sunnah Tidak Tertolong, Dan Bid’ah Tidak Tertaklukkan, Hanya Saja Perselisihan Ini Adalah Untuk Saling Mengalahkan,”

            Asy Syaikh Yahya menjawab: “Wahai saudaraku, perselisihan ini adalah antara orang yang dholim dan orang yang didholimi, bukan sekedar saling mengalahkan. Dan lagi, kalau memang kalian menganggap ini hanya sekedar saling mengalahkan, mengapa sekarang kalian ikut-ikutan menempuh jalan yang sama untuk saling mengalahkan?!!”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: ” Dan setelah turunnya bayan ini Asy Syaikh Yahya dan orang yang bersamanya menyerukan untuk memisahkan diri”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Saya berlindung kepada Alloh, demi Alloh saya tidak pernah menyerukan untuk memisahkan diri, tidak dulu dan tidak pula sekarang. Saya masih bersikap lemah lembut, masih senantiasa berdoa kepada Alloh ‘azza wa jalla agar memberi mereka taufiq kepada kebaikan, dan terus-menerus bersabar. Sedangkan mereka yang hari-hari ini berlari ke sana ke mari, angkat bicara demi menolong Asy Syaikh fulan dan Asy Syaikh fulan. Kita tidak peduli dengan semua ini, karena kebenaran ada bersama kita. Dan ucapan kita karena dilandasi kebenaran, maka Alloh menjadikannya mudah diterima. Dan sebaliknya orang-orang menjadi heran dengan tingkah laku kalian, walillahil hamd.”

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ الله﴾ [النحل: 53]

“Dan tidak ada suatu nikmatpun yang kalian terima kecuali dari Alloh” (QS. An Nahl:53).

            Dia (Al Imam) berkata: “Kalian tetap pada pendirian kalian dan kami tetap pada pendirian kami.” Perkataan ini sebagaimana kabar yang datang kepada saya, juga dia katakan di majlis Asy Syaikh Robi’, siapa yang hadir pada waktu itu mendengarnya.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Maka mulailah terjadi pemisahan diri”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Seakan-akan orang-orang itu memang menunggu-nunggu kapan mereka bisa memisahkan diri. Maka hendaknya dikatakan sebagaimana disebutkan dalam sebuah Sya’ir:

إِنْ كُنْتِ أَزْمَعْتِ عَلَى هَجْرِنَا        مِنْ غَيْرِ مَا جُرْمٍ فَصَبْرٌ جَمِيْلُ

وَإِنْ تَبَدَّلْتِ بِهَا غَيْرَنَا                 فَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ

Bila telah teguh pendirianmu untuk menjauhi kami

Tanpa suatu kesalahanpun, maka kami bersabar dengan sebaik-baiknya

Dan bila kamu dengannya ingin menganti kami dengan yang lain

Maka cukuplah Alloh bagi kami dan Dia sebaik-baik dzat yang mencukupi

 

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan (pemisahan diri) itu mengeras di propinsi-propinsi wilayah selatan. Dan para masyayikh mewasiatkan untuk bersabar, menjaga dakwah dan persaudaraan”

            Jawab Asy Syaikh Yahya:

سَارَتْ مُشَرِّقَةً وَسِرْتُ مُغَرِّبًا … شَتَّانَ بَيْنَ مُشَرِّقٍ وَمُغَرِّبِ

Dia berjalan ke timur, aku berjalan ke barat

Alangkah jauhnya antara yang berjalan ke timur dan yang berjalan ke barat

Apakah ini muncul dari kalian karena didorong semangat dalam berdakwah?! Apakah ini muncul dari kalian karena mempertahankan persaudaraan?! Apakah ini muncul dari kalian karena semangat untuk menyatukan kalimat?!

Orang-orang disembelih dan dalam keadaan terkepung, salah seorang dari kalian menelpon Faris Manna’ (gubernur Sho’dah waktu itu, pent)  kemudian dia mempercayai perkataannya dan tidak mempercayai perkataan kita? Kalian bersikap keras terhadap saudara-saudara kalian baik dalam keadan perang ataupun damai, kalian memisahkan diri dari kami ketika dalam keadaan yang paling sempit, kemudian setelah itu kalian menuduh bahwa kamilah yang memisahkan diri dari kalian, sementara kalian ketika di majlis Asy Syaikh Robi’, beliau mendorong kalian supaya membantu kita, tapi kalian tetap saja bersikeras untuk memisahkan diri. Maka beliau berkata kepada Anda: “Ini adalah filsafat,” dan berkata kepada Al Buro’iy: “Ini adalah hizbiyyah, tinggalkanlah hizbiyyah”.

Sekarang siapakah sebenarnya yang berusaha untuk memisahkan diri dengan fanatik di bawah fitnah Al ‘Adaniy? Seakan-akan dengan fitnah tersebut dia telah membawakan kepada kalian jalan keluar dari Alloh, wallohul musta’an.

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: ” Dan para masyayikh mewasiatkan untuk bersabar, menjaga dakwah dan persaudaraan, tidak berpikiran untuk memisahkan diri sama sekali.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Baiklah jika memang benar kalian tidak menginginkan untuk memisahkan diri. Berikut ini secarik kertas, saya mempersilakan bagi setiap orang yang mempunyai akal pikiran untuk menghukumi apa yang tertulis di dalamnya.

            Telah datang Asy Syaikh Abdulloh Utsman, dan kami ucapkan terimakasih atas kunjungan tersebut yang tanggalnya tercantum pada kertas ini. Beliau berkata: “Tidak ada jalan untuk menyatukan kalimat, saya diutus oleh para masyayikh.” Maka kami menjawab: “Wahai Syaikh –dan semua yang hadir waktu itu mendengar– kertas ini, di dalamnya ada begini dan begitu…” kemudian saya membacakan kepada beliau beberapa poin yang padanya kita dizholimi oleh para masyayikh beserta gangguan yang menimpa kita dan beban mental, sehingga Asy Syaikh Muhammad menyerukan permusuhan dari pihak mereka, seraya berkata: “Saya menjadi lawanmu, saya dan para masyayikh,” dan saya tetap bersabar. Meskipun demikian, biarlah ini semua dikesampingkan, dan cukuplah dua poin berikut ini saja, kalau mereka menerimanya insyaalloh akan menjadi baik. Kedua poin tersebut demikian nashnya:

[Bismillahirohmanirrohim, segala puji hanya untuk Alloh, sholawat serta salam atas Rosululloh, amma ba’du:

Abdurrohman Al ‘Adaniy menurut kami adalah hizbiy, jika Anda sekalian berpandangan sama dengan pandangan kami tentang kehizbiannya maka hendaknya Anda sekalian memvonisnya demikian sampai dia bertaubat darinya. Ditambah dengan apa yang disebutkan dari akibat perbuatannya itu pada waktunya. Dan apabila tidak tampak bagi Anda sekalian hizbiyahnya, maka hendaknya Anda sekalian:]

Karena mereka mengatakan: “Jangan memaksa kami” demikian mereka mengulang-ulang perkataan itu di majlis tersebut, “Jangan memaksa kami” maka kami katakan: Wahai jama’ah, saya tidak memaksa kalian, akan tetapi demikianlah kenyataannya. Anda sekalian seharusnya mengatakan tentangnya kalimat yang benar yang dengan kalimat tersebut kalian menolong dakwah, dan dengannya Alloh menolak kejelekan.

 

[1. Menjelaskan apa yang telah Anda sekalian ketahui dari fitnahnya dan fitnah orang-orang yang terkait dengan fitnahnya dari kalangan para penulis dan orang-orang yang mengacaukan kami dan mengacaukan tempat ini.

2. Membatalkan  apa saja yang menimbulkan fitnah yang berupa kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam kitab “Al Ibanah”]

Adapun kitab “Al Ibanah”, kesalahan di dalamnya jelas sekali. Lihatlah wahai saudaraku sekalian, lihatlah sikap lemah lembut saya terhadapnya (Al Imam) ketika pertama kali keluar kitab itu, saya menulis selebaran berjudul “Mujmalut Taqwim wash Shiyanah” kemudian dia menelpon dan berpesan bila ada yang perlu dikoreksi dalam kitabnya segera dikirim  kepadanya. Jawab saya: “insyaalloh”. Maka saudara kita Yusuf Al Jazairiy menulis koreksian tersebut dan saya menulis selembar kertas pengantar yang dikirim bersama dengan tulisan Al Akh Yusuf kepada Asy Syaikh Muhammad Al Imam. Namun dia tidak memberi jawaban sama sekali. Kemudian Al Akh Yusuf mencetak kitabnya disertai penyebutan tentang risalah tadi di awal kitab. Kemudian dia (Al Imam) meminta untuk dikirimkan kepadanya rincian tentang kesalahan-kesalahannya dan setelah saya kirimkan ternyata dia tidak menganggapnya.

            Kemudian dia pergi kepada Asy Syaikh Robi’ dan mengaku bahwa Asy Syaikh Robi’ sudah membaca kitab itu meskipun demikian isinya. Setelah itu Asy Syaikh Robi’ menasehati untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kitabnya, namun demikian tetap saja dia menyebarkannya tanpa ada perubahan.  Wahai saudaraku ini artinya dia bersikeras untuk terus-menerus dalam kebatilan. Setelah itu dia mengeluarkan cetakan yang kedua dan menyebarkannya demikian dengan kesalahan-kesalahan yang tetap ada di dalamnya.

            Kita kembali mengulang bacaan secara urut: [Abdurrohman Al ‘Adaniy menurut kami Hizbiy, jika Anda sekalian berpandangan sama dengan pandangan kami dari kehizbiannya maka hendaknya Anda sekalian memvonisnya demikian sampai dia bertaubat darinya. Ditambah dengan apa yang disebutkan dari akibat perbuatannya itu pada waktunya. Dan apabila tidak tampak bagi Anda sekalian hizbiyahnya, maka hendaknya Anda sekalian:

1. Menjelaskan apa yang telah Anda sekalian ketahui dari fitnahnya dan fitnah orang-orang yang berhubungan dengan fitnahnya dari kalangan para penulis dan orang-orang yang mengacaukan kami dan mengacaukan tempat ini.

2. Membatalkan apa saja yang menimbulkan fitnah yaitu berupa kesalahan-kesalahan yang terdapat di kitab “Al Ibanah” dan perkara-perkara yang lain yang hendaknya disesuaikan dengan kitab dan sunnah serta ushul salaf, sehingga dengan demikian bisa menjadi penyebab dihindarkannya dakhwah ini oleh Alloh dari fitnah, wallohul Muwaffiq..]

 

Semua yang disebutkan ini tidak menjadikan mereka senang, bahkan mereka masih saja menumpukkan fitnah kepada kita dan kepada dakwah, menimbulkan kekacauan dari waktu ke waktu, seolah-olah mereka merasa aman dari makar Alloh;

﴿ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ الله فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ الله إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾ [الأعراف: 99]

“Apakah mereka merasa aman dari makar Alloh, maka sesungguhnya tidak ada yang merasa aman dari makar Alloh kecuali orang-orang yang rugi.” (QS. Al A’rof:99)

Mengapa kalian membuat kekacauan terhadap dakwah, terhadap suatu kebaikan dan menjadi penyebab timbulnya fitnah. Demikian juga Al Wushobiy, pergi berkeliling dunia, mencela, mencaci-maki, mengkafirkan, membid’ahkan dan justru kalian bersepakat dengannya pada perkara-perkara yang akan membahayakan kalian dan membahayakan dakwah, sedangkan Alloh azza wa jalla telah berfirman:

﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾ [الزلزلة: 7 8]

“Maka barang siapa beramal dengan kebaikan seukuran dzarroh, pasti dia akan melihatnya dan barang siapa beramal dengan kejelekan seukuran dzarroh, pasti dia akan melihatnya” (QS. Al Zalzalah:7-8)

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan pemisahan diri ini disertai dengan tahdzir Asy Syaikh Yahya agar orang-orang jangan menghadiri ceramah-ceramah masyayikh”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Orang-orang meninggalkan kalian menurut kemauan mereka sendiri dan saya tidak pernah mengatakan jangan kalian menghadiri mereka, akan tetapi orang-orang meninggalkan mereka menurut kemauan sendiri karena mereka merasa jengkel terhadap tingkah laku kalian ini tanpa perlu bagi saya untuk mentahdzir. Karena dosa-dosa itu membawa dampak yang jelek baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana kalian tahu.

Maka segeralah bertaubat –semoga Alloh memberi taufiq kepada Anda sekalian– dari memusuhi Dammaj, Anda akan melihat dengan izin Alloh manusia menghadap kepada Anda sekalian sebagaimana dahulu, bahkan lebih dari itu. Karena siapa saja yang menghadap kepada Alloh maka Alloh akan menghadap kepadanya, dan ubun-ubun semua hamba ada di tangan Alloh azza wa jalla.

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Tahdzir Asy Syaikh Yahya agar orang-orang jangan menghadiri ceramah-ceramah masyayikh tersebut tadi”.

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Saya katakan: tuduhan ini yang ditujukan kepada saya bahwa saya menyerukan untuk memisahkan diri, tidak benar, ini salah. Dan malzamah (tulisan) ini mengandung perkara yang tidak jujur, sebagaimana anda lihat sendiri.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan pemisahan diri itu terjadi pada tahun 1429 H.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “maksudnya dari tahun itu sampai sekarang, sementara saya belum pernah mengajak untuk memisahkan diri dan tidak akan pernah mengajak kepadanya insyaAlloh, sampai mereka kembali ke jalan mereka yang benar dan semoga Alloh memberikan penghormatan pada mereka, adapun bila mereka pergi menjauh, pergi dengan tanpa hujjah.

Bila Alloh menghadapkan hati-hati kalian kepada kebenaran, maka marilah,  tapi apabila kalian mau memisahkan diri, maka memang kalian sendiri yang menginginkannya. Dan Alloh azza wa jalla berfirman:

﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى الله عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ﴾  [التوبة:105]

“Dan katakanlah: beramallah kalian, maka niscaya Alloh akan melihat amal perbuatan kalian, juga rosulnya dan kaum mukminin” (QS. At Taubah:105)

Demi Alloh kalau kalian ditimpa fitnah dari Rofidhoh, niscaya kalian akan melihat saya termasuk orang yang pertama kali berteriak untuk membela kalian.

Saya tidak pernah memisahkan diri dari kalian, sementara kalian memisahkan diri dari kami sampaipun di hadapan musuh, di depan Rofidhoh, darah-darah kami tertumpahkan, nyawa kami melayang, sementara itu di antara kalian ada yang berkata: “Mereka telah meleleh”. Dan pada saat hari-hari terjadinya hishor (pengepungan Dammaj) sebagian dari kalian ada yang mengisi muhadhoroh di Shon’a tentang hijab bagi wanita, maka sebagian yang hadir berkata: “Ahlus sunnah akan mati karena kelaparan dan pembunuhan, sedangkan orang ini tidak menyinggungnya walaupun hanya sekedar penyebutan!! Mengisi muhadhoroh tentang hijab wanita, wanita telah berhijab, meskipun dia tidak memberi ceramah tentang hijab apakah kemudian menjadi tak berhijab.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Pada tahun 1430 H Asy Syaikh Al Buro’iy, Adz Dzammariy dan Al Imam pergi haji, kemudian mereka duduk bersama Asy Syaikh Robi’, mereka meminta beliau untuk menyuruh para pengurus situs “Wahyain” untuk menarik ucapan yang mencela Asy Syaikh Yahya dan menahan diri dari itu. Maka Asy Syaikh Robi’ mengajak mereka berbicara, lalu mereka menutupnya sementara waktu dengan jengkel, karena mereka berkata: “Kalian memerintahkan satu pihak untuk menutup situs, tapi pihak yang lain tidak kalian suruh demikian.” Dan kehendak para masyayikh dengan itu adalah untuk meringankan perselisihan. Akan tetapi tiada hasilnya! kemudian mereka kembali membuka situsnya beberapa bulan setelah itu”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Berkaitan dengan situs, situs ini (Wahyain) muncul dalam rangka melawan al haq. Ini adalah sebuah situs yang mengikuti kelompok yang memilikinya, oleh karena itu situs ini harus dihapuskan. Adapun situs yang dibuat dalam rangka menolong agama Alloh azza wa jalla dan menolong kebenaran, bagaimana bisa disuruh untuk membubarkan diri, ini tidak benar.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan setelah itu, Asy Syaikh Robi’ mengkritik Al Hajuriy, berkata tentangnya dan tentang orang-orang yang fanatik kepadanya: “Mereka berjalan di atas jalan Haddadiyyah.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ini adalah perkataan yang batil, dan telah saya bantah –segala puji hanya milik Alloh– dengan bantahan yang jelas dan gamblang bagi orang yang menginginkan kebenaran dan mengagungkannya.

keberadaan bantahan-bantahan terhadap orang yang berbuat salah tidak membahayakan dakwah sama sekali, baik bantahan terhadap orang besar ataupun  kecil, terhadap seorang alim atau seorang yang bodoh. Yang mengatakan selain itu maka dia telah menyelisihi jalan Asy Syaikh Robi’ dan selain beliau dalam membantah. Beliau dahulu membuat bantahan kepada beberapa orang, sementara waktu itu ada Asy Syaikh Ibnu Bazz, beliau menjelaskan kesalahan mereka, dan kesudahan yang baik adalah untuk yang bertaqwa.

Sekarang kita melihat kesalahan pada diri Asy Syaikh Robi’ dalam mencerca kami. Kita melihat adanya sikap ghuluw, barangkali itu merupakan salah satu dari pengaruh yang kalian berikan pada beliau atau beliau yang mempengaruhi kalian.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan pada kesempatan lain beliau berkata: “Mereka adalah Haddadiyyun.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Muhammad Al Imam mengulang-ulang perkataan ini, seolah-olah dia senang dengannya. Perkataan yang  diucapkan oleh Asy Syaikh Robi’ ini adalah batil, dan telah saya bantah.”

Asy Syaikh Robi’ pernah berkata kepada Anda: “Tinggalkan falsafah,” apakah kemudian kita menghukumi Anda sebagai seorang ahli filsafat, sedangkan ahli filsafat adalah sejelek-jelek ahlul ahwa.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab “Ar Roddu ‘alal Manthiqiyyin” sebagaimana dinukil dalam “Majmu’ Al Fatawa” (9/186): “Ya’qub Al Kindiy adalah seorang filosof (ahli filsafat) Islam di zamannya, maksudku filosof yang ada dalam agama Islam, bagaimana tidak demikian, sedangkan orang-orang ahli filsafat tidak termasuk dari kaum muslimin.”

Ya’qub bin Ishaq yang disebutkan dengan sifat demikian ini, berkata adz Dzahabi tentangnya di kitab “As Siyar” dan juga Al Hafidz di kitab “Lisanul Mizan” : “Dia adalah seorang yang tertuduh dalam agamanya”.

            Beliau juga mengatakan kepada Abdul ‘Aziz Al Buro’iy: “Tinggalkan hizbiyyah” atau “Ini adalah hizbiyyah,” apakah kemudian Anda mengatakan bahwa beliau ini Hizbiy?

Adanya perkataan kepada Anda “tinggalkan falsafah”  maksudnya adalah bahwa ini merupakan larangan bagi Anda dari apa yang Anda lakukan dan terjatuh padanya. Dan kenyataannya –demi Alloh– ini memang merupakan jarh yang keras bagi kalian berdua, Anda dan Abdul ‘Aziz Al Buro’iy, dan jarh yang mengenai Anda lebih keras.

Sedangkan kata Haddadiy bila dibandingkan dengan jarh yang mengenai Anda ini bagaikan langit, karena Anda sekarang dituduh dengan suatu pemikiran filsafat dan telah Anda lihat sendiri apa hukum ulama bagi ahli filsafat.

            Sementara perkataan beliau ini “haddadiyyah”, pernah beliau cabut pada hari-hari yang telah lewat , ketika beliau berkata: “Telah berakhir semua yang terjadi antara saya dengan Asy Syaikh Yahya sampai selama-lamanya.” Kalau memang saya memiliki pemikiran haddadiyyah, mengapa bisa berakhir?! Dan inipun sebenarnya tidak boleh bagi beliau (untuk mengatakan bahwa Asy Syaikh Yahya Haddadiy, pent) tidak pula bagi selain beliau,  akan tetapi itu merupakan hal yang muncul di dalam hati kemudian hilang, lalu setelah itu para pengadu domba kembali kepada beliau dan mengembalikan perasaan itu beserta yang semisalnya.

            Beliau sendiri telah membela kebaikan ini dalam permasalah Abul Hasan ketika dia menuduh kami dengan tuduhan haddadiyyah.

            Permasalahannya adalah pada kalian ada tujuan-tujuan yang menjadikan kalian menunggu-nunggu apa saja yang bisa dipakai untuk menikam kami walaupun dari Rofidhoh! Permasalahan sebenarnya adalah masalah Al ‘Adaniy, jangan kalian mengangkatnya melebihi kadar pembicaraan, sesuatu yang batil itu batil.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Maka Asy Syaikh Yahya membantah beliau dengan bantahan-bantahan yang menambah fitnah”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Bantahan-bantahan yang benar tidak akan menambah fitnah, bahkan meredamnya, menurut orang yang mempunyai akal pikiran dan menginginkan kebenaran. 

            Adapun menurut Anda, itu menambah fitnah. Keyakinan seperti ini menyelisihi jalan salaf. Bantahan ilmiyah itu bermanfaat. Betapa banyak –bila saya hitungkan untuk Anda– bantahan-bantahan ahlul ilmi sejak dulu sampai sekarang, apakah mereka yang membuat bantahan-bantahan tersebut menurut Anda menambah fitnah atau  justru menutup celah, dan menjadi nasehat untuk ummat?!!”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Menambahi fitnah, karena di dalamnya ada sikap berlebihan”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ini tidak benar, ini bantahan-bantahanku, tidak ada padanya sikap berlebihan, telah dibaca oleh orang-orang yang bersikap adil, dan masih terus tersebar. Maka buktikanlah bagi saya mana sikap berlebihan dalam bantahan saya ini, sampai orang-orang mengetahui bahwasanya engkau berbicara dengan ilmu.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Sementara para masyayikh di Yaman mengharapkan agar Asy Syaikh Yahya memperbaiki jalannya.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Tidak ada pada Anda kecuali sebatas taqlid terhadap apa yang dikatakan oleh Asy Syaikh Robi’, ketika beliau berkata bahwa saya wajib untuk dipaksa merubah alur jalan saya ini. Seperti yang disebutkan dalam hadits Al Baro –rodhiyallohu ‘anhu– “Saya mendengar orang mengatakan sesuatu maka sayapun ikut mengatakannya”

Dan orang yang yang mendorong kalian dengan keras dalam menyerang kami dengan ucapan-ucapan ini menginginkan agar kalian memisahkan diri, dan dia akan mendatangkan bahaya bagi kalian lebih besar daripada manfaat diberikannya pada kalian. Dan Anda telah menisbatkan ini kepada masyayikh. Dan aku telah menjelaskan pada Anda sekalian benarnya jalanku, dan saya jelaskan jeleknya jalanmu, dan bahwasanya jalanku lebih benar daripada jalanmu sebelum ini dan setelahnya. Dan aku telah menyebutkan perbandingan antara jalanku dan jalanmu, sama saja bersama rofidhoh, atau bersama hizbiyyin dan para pengikut jam’iyyat, dan yang selain itu.  

﴿فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾ [الأنعام: 81]

“Maka manakah dari dua kelompok itu yang paling berhak untuk mendapatkan keamanan, bila kalian mengetahui” (QS. Al An’am:81)

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan telah berbicara fulan, dan telah berbicara fulan …” sampai akhir pembicaraan.

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Hendaknya dikatakan juga: “Dan telah berbicara Abdulloh Al Bukhoriy bahwa Asy Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– adalah seorang khorijiy (pengikut Khowarij).” Dan salah satu siasat kalian “yang bermanfaat dan patut dihargai” adalah kalian justru menziarahinya setelah dia melontarkan ucapannya ini. Sehingga saya tidak mengerti apa sebenarnya anggaran dasar yang kalian tempuh ini, yaitu bahwa jadilah orang yang menghadang dakwah, pihak yang membantah dia berarti sebuah kesalahan, sementara mendekatkan diri kepadanya adalah suatu hikmah!

            Apakah bantahan-bantahan dan semua tingkah laku kalian yang batil tidak membahayakan dakwah? Cukuplah untuk menafsirkan itu pengakuan Anda terbebas dari kesalahan karena apa yang kalian lakukan demi memusuhi kebaikan ini dan lontaran lafadz-lafadz yang tidak memakai aturan dalam membid’ahkan disertai dengan isyarat kepada pengkafiran dari sebagian yang lain, dan tindakan-tindakan mengherankan yang lain!. 

Kemudian bersamaan dengan adanya kesalahan-kesalahan yang jelas ini, Muhammad Al Imam memberikan komentar dalam pernyataan dia sebelum ini: “Tidak mungkin kesepakatan orang sebanyak ini salah ataupun keliru.” Entah dia ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang kaidah syar’iyyah mengenai hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam:

لاَ تَجْتَمِعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَة

“Ummatku tidak bersepakat di atas kesesatan”

            Oleh karena itu dia dengan kebodohan dan hawa nafsu menempatkan dalil-dalil yang berkaitan dengan ijma’ ummat ini kepada kesalahan yang jelas yang dilakukan oleh sebagian mereka. Demi Alloh ini adalah kebodohan, ghuluw dan menyeret dalil tidak pada tempatnya, serta menipu orang-orang yang terperdaya dengan pengetahuan yang membinasakan ini.

Bukti yang paling kuat tentang salahnya kesepakatan kalian ini dan tidak terjaganya kalian dari kesalahan, apa yang dikandung oleh kitab “ Al Ibanah” berupa kesalahan-kesalahan dalam masalah ilmiyah yang penting.

Dan juga kesalahan kalian tentang tidak adanya jihad melawan Rofidhoh demi membela agama, jiwa dan harga diri. Kemudian apakah penyelisihan kalian terhadap ulama tentang adanya jihad melawan Rofidhoh di Kitaf, apakah dengan begitu masih dikatakan ijma’ dan apakah pengakuan akan terjaganya kalian dari kesalahan, masih bersama kalian ataukah sudah terbatalkan?!!

Dan apakah jatuh bangunnya Anda –semoga Alloh memberi hidayah– dan orang-orang yang bersama anda dalam ke dalam hizbiyyah yang telah lewat merupakan bukti terjaganya anda dari kesalahan?

Kemudian termasuk dari hal yang bertolak belakang adalah uraian Muhammad Al Imam tentang apa yang terjadi dari Al ‘Adaniy di Dammaj dan bahwasanya mereka ingin agar dia mengajukan udzur di Dammaj pada masa yang akan datang dan bahwasanya mereka menuntut dia di pertemuan Ma’bar dengan beberapa perkara, demikian juga di Hudaidah dengan beberapa perkara yang semuanya itu menghasilkan kesimpulan bahwa mereka mengetahui bahwa dia adalah pembuat fitnah, disertai dengan perkataan mereka yang tersebar berkenaan dengan fitnahnya, juga pada fitnah ‘Ubaid, dan permintaan maaf mereka atas ucapan Muhammad bin Abdil Wahhab dan sebagainya.

            Kemudian di akhir “Ikhtishor”nya  ini dia berkata: “Dan sungguh perselisihan yang dipimpin oleh Al Hajuriy ini telah menyertainya beberapa permasalahan.”

Dia menjadikan saya inilah yang memimpin perselisihan tersebut, ini menurut orang yang mempunyai ilmu merupakan suatu kebohongan yang jelas atau pembangkangan terhadap kebenaran dan kenyataan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Alloh ta’ala:

﴿ وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ * لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ﴾ [الحجر: 14-15]

“Dan seandainya kami bukakan atas mereka sebuah pintu di langit kemudian mereka naik ke arahnya, niscaya mereka mengatakan, “Hanyalah mata kita yang tertutup, atau bahkan kita adalah orang-orang yang disihir” (QS. Al Hijr:14-15) 

Mereka pura-pura lupa dengan firman Alloh ta’ala:

﴿لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾ [الأنعام: 67]

“dan bagi setiap berita ada tempatnya, dan pasti kalian akan mengetahuinya” (QS. Al An’am:6)

Ibnu Jarir –rohimahulloh– berkata: “Bagi setiap berita ada tempatnya, yaitu tempat yang dia berdiam di dalamnya, dan batas akhir yang dia berhenti padanya, sehingga menjadi jelas kebenaran dan kejujurannya dari kebohongan dan kebatilannya.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dia membuka peluang bagi para muridnya untuk mengkritik para masyayikh tersebut, dan terhadap yang lainnya dalam bentuk syair ataupun prosa.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “jawabannya: Kalau saudara-saudaraku telah membuat bantahan dengan dasar ilmu dan memakai nama yang jelas, membantah kebodohan dan kedholiman hizb (kelompok) itu dan orang-orang yang fanatik terhadapnya, sedangkan kalian telah menyebarkan dan ridho terhadap tersebarnya tulisan orang-orang yang tak dikenal, tidak diketahui siapa mereka dan bagaimana mereka, menulis dengan perkataan-perkataan dusta, dan membuat fitnah terhadap dakwah ini, maka mengapa diingkari apa yang ditulis oleh para tokoh sunnah yang dikenal, masyayikh di bidang ilmu, orang-orang yang mulia, yang pada sebagian mereka keutamaan yang tidak dimiliki oleh Anda?! Kemudian Anda mengiyakan apa yang ditulis oleh para perusak, yang melampaui batas dalam kedholiman lagi tak dikenal?! 

Dan siapa yang berhak untuk mencegah para da’i yang mengajak kepada Alloh, dikenal sejak zaman syaikh kami –rohimahulloh– sebelum dan sesudah beliau, untuk mengingkari kemungkaran yang dia lihat atau dia saksikan atau dia dengar?! Sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih dari Abi Sa’id Al Khudriy –rodhiyallohu ‘anhu– yang diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya, beliau berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– berkata:

«لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ فِي حَقٍّ إِذَا رَآهُ، أَوْ شَهِدَهُ أَوْ سَمِعَهُ»

“Jangan sekali-kali ketakutan kepada manusia mencegah salah seorang dari kalian untuk menyampaikan kebenaran apabila melihatnya atau menyaksikan atau mendengarnya.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Yang menunjukkan bahwasanya mereka itu bergelut dalam medan perang untuk menjatuhkan para ulama.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Sifat seperti ini yang lebih berhak menyandangnya adalah Al ‘Adaniy dan orang yang fanatik dengannya, karena merekalah yang memulai peperangan ini, dengan tujuan untuk meruntuhkan ilmu ini dan menjatuhkan para penyandangnya. Dan telah lewat penyebutan beberapa contohnya, yang mana semua itu mementahkan tuduhan dusta ini.

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Di sela-sela tenggang waktu perselisihan, tidak dihasilkan bahwasanya Asy Syaikh Yahya menerima nasihat dari para masyayikh dalam bab apapun dari pintu-pintu perdamaian.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “perkataan ini adalah pengulangan dari yang telah lewat penjelasan terhadap talbis (pengkaburan fakta) Muhammad Al Imam padanya.

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Al Hajuriy mengkritik dan membicarakan sejumlah besar dari penuntut ilmu mustafidin dikarenakan mereka tidak mencocokinya dalam langkah perjalanannya tersebut.”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Bahkan sebaliknya, para thullab itu, sebenarnya kalian mempunyai andil dalam fitnah mereka dan dalam membangkitkan mereka untuk memberontak kepada pengajar mereka, dan kepada ma’had yang mereka belajar di situ, baik dengan cara harta yang menggiurkan atau dengan masukan-masukan yang merusak. Maka hendaklah kalian memikul dosa kesesatan mereka. Adapun orang yang membicarakan mereka, tidaklah membicarakan kecuali dengan sebab timbulnya kejelekan dari mereka.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Orang-orang yang fanatik terhadap Al Hajuriy menanamkan perselisihan tersebut di antara Ahlussunnah di berbagai penjuru dunia, yang menyebabkan timbulnya bahaya terhadap Ahlussunnah dan perpecahan di tengah-tengah mereka”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Berdasarkan apa yang telah lewat, baik di sini ataupun selain di sini, diketahui bahwa Muhammad Al Imam telah berdusta dalam ucapannya ini, bahwa sayalah yang menanamkan fitnah, dengan kedustaan yang jelas. Bahkan salah satu penyebab semakin maraknya fitnah ini adalah fanatik mereka dan pembelaan mereka mati-matian terhadap kebatilan. Dan juga pembuatan kaidah manhaj dalam kitab “Al Ibanah” yang dia anggap setingkat dengan shohih Al Bukhoriy,  sehingga dijadikan sebagai manhaj yang penting untuk dipelajari dan demikian seterusnya, sebagaimana termaktub di muqoddimah kitab tersebut.”

            Pembaca risalah: Asy Syaikh Al Imam berkata: “Dan telah diketahui bahwasanya ketergelinciran itu jika menyebabkan tergelincirnya orang alim, dia harus diperingatkan darinya. Maka bagaimana dengan orang yang mengambil suatu manhaj yang menyelisihi apa yang para ulama dulu dan sekarang ada di atasnya, berwala dan bermusuhan dikarenakannya, bukankah tahdzir terhadapnya dan terhadap manhajnya itu lebih pantas dan lebih utama”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Ini merupakan bantahan bagi dirinya sendiri tanpa dia sadari. Maka dengan begitu dia telah meruntuhkan landasan-landasannya tersebut yang menyelisihi kebenaran telah dijadikan sebagai manhaj. Adapun saya, telah lewat penjelasan tentang bersihnya jalan yang saya tempuh, demikian juga tentang tuntutan terhadap beberapa kesalahan besarnya.”

            Jawab Asy Syaikh Al Imam: “Sebagai penutup, aku menasihati saudara-saudaraku Ahlussunnah secara umum …. dan taat secara sempurna kepada nash-nash syariat yang putih, dan kembali kepada orang yang Alloh perintahkan kita untuk rujuk kepada mereka, dan mereka itu adalah ahlul ilmi, terutama ketika terjadi fitnah-fitnah, dan mengambil nasihat-nasihat mereka dan pengarahan-pengarahan mereka”

            Jawab Asy Syaikh Yahya: “Di mana Anda menempatkan nasehat ini pada diri Anda sendiri di banyak kejadian? Di antaranya: nasehat ulama kepada kalian berkaitan dengan jihad melawan Rofidhoh di Kitaf? Juga penyimpangan Anda dari nasehat Asy Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– dalam permasalahan-permasalahan yang lampau, sehingga beliau berbicara tentang Anda dengan perkataan yang telah kami nukilkan di depan dari kitab “Tuhfatul Mujib” dan banyak lagi permasalahan yang lain.

Sampai di sini,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Yahya bin Ali Al Hajuriy

(29 Jumadil Ula 1434 H)