Penjelasan Ringkas Dan Berisi

Untuk Beberapa Soal Dari Sulawesi

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

Telah sampai pada saya soal dari tanah air yang isinya mengandung beberapa pertanyaan sebagai berikut:

 

1.    Apa makna hadits berikut:

“Barang siapa menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Alloh akan hilangkan darinya satu kesulitan hari kiamat.” (HR. Muslim No. 2699)

Kesulitan dunia yang seperti apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut? Apakah yang sesuai syari’at saja? Pernah teman saya ingin meminjam flashdisk saya untuk meng-copy film-film Korea, maka saya tidak meminjamkannya karena saya pikir jika saya meminjamkannya berarti saya menolong dia dalam bermaksiat kepada Alloh. Apakah tindakan saya sudah benar?

2.    Bagaimana kaidah untuk mengetahui bahwa suatu perbuatan/perkataan tersebut adalah suatu bentuk tasyabbuh kepada kaum kuffar?

3.    Apakah sudah ada majelis ilmu salafy di Sulawesi Barat (khususnya daerah Mamuju)? Karena yang ada adalah majelisnya ustadz-ustadz yang bersama Ust. Dzulqarnain…

4.    Di Makassar ada ORMAS Islam yang mengaku bermanhaj Ahlus Sunnah yaitu WAHDAH ISLAMIYYAH, akan tetapi metode dakwahnya cenderung mirip dengan metodenya Ikhwanul Muslimin, apakah sudah ada tahdzirnya dari para ulamaa’ dan apakah mereka masih di garis Ahlus Sunnah? Pengalaman di kampus jika kita telah keluar dari organisasi tersebut maka kita diboikot dan dijauhi…

5.    Saya harap salafiyyin di Indonesia bisa bersatu… sangat disayangkan jika terjadi perpecahan seperti yang terjadi saat ini….

 

            Maka dalam kesempatan yang amat terbatas ini, dengan memohon pertolongan pada Alloh saya sampaikan jawaban sebagai berikut:

Untuk soal pertama:

 

Apa makna hadits berikut:

“Barang siapa menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Alloh akan hilangkan darinya satu kesulitan hari kiamat.” (HR. Muslim No. 2699)

Kesulitan dunia yang seperti apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut? Apakah yang sesuai syari’at saja? Pernah teman saya ingin meminjam flashdisk saya untuk meng-copy film-film Korea, maka saya tidak meminjamkannya karena saya pikir jika saya meminjamkannya berarti saya menolong dia dalam bermaksiat kepada Alloh. Apakah tindakan saya sudah benar?

 

Jawaban:

Hadits tersebut:

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة» . الحديث.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Alloh akan hilangkan darinya satu kesulitan hari kiamat.” (HR. Muslim No. 2699).

            Para ulama berbeda pendapat tentang makna “Kurbah” ada yang berpendapat bahwasanya makna “Kurbah” adalah kesulitan besar. Ada yang berpendapat bahwasanya dia itu umum mencakup segala kesulitan atau kesedihan. Sedangkan makna “Karb” adalah kegundahan.  Dan hadits ini umum mencakup segala macam kesulitan dan kesedihan dan kegundahan di dunia.

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata:

والكربة : هي الشدة العظيمة التي توقع صاحبها في الكرب. (“جامع العلوم والحكم” /ص634/دار ابن الجوزي).

“Dan kurbah adalah kesukaran yang besar yang menjatuhkan orangnya ke dalam kegundahan.” (“Jami’ul Ulum Wal Hikam”/hal. 634/Dar Ibnil Jauziy).

            Syamsul Haq ‘Azhim Abadiy رحمه الله berkata:

وهي الخصلة التي يحزن بها –إلى قوله:- أي هما واحدا أي هم كان . (“عون المعبود”/13/ص162).

“Dan Kurbah adalah keadaan yang membikin sedih –sampai pada ucapan beliau:- yaitu satu kegundahan, kegundahan apapun.” (“Aunul Ma’bud”/13/hal. 162).

            Al ‘Allamah Muhammad Al Mubarokfuriy رحمه الله berkata:

أي هم كان صغيراً كان أو كبيراً . (“تحفة الأحوذي”/8/ص395).

“Kegundahan apapun, kecil ataupun besar.” (“Tuhfatul Ahwadzi”/8/hal. 395).

            Berarti dalam hadits ini ada anjuran untuk meringankan kesulitan saudaranya, apapun bentuk dari kesulitan tersebut, apakah berupa harta, ataukah kehormatan, ataukah tenaga, ataukah beban pikiran dan sebagainya. Cara meringankannya adalah disesuaikan dengan bentuk dan kadar kesulitan tadi.

            Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله berkata:

لحديث فيه مسائل ( الأولى ) فضيلة من فرج عن المسلم كربة من كرب الدنيا وتفريجها إما بإعطائه من ماله إن كانت كربته من حاجة أو بذل جاهه في طلبه له من غيره أو قرضه ، وإن كانت كربته من ظلم ظالم له فرجها بالسعي في رفعها عنه أو تخفيفها وإن كانت كربة مرض أصابه أعانه على الدواء إن كان لديه أو طبيب ينفعه ، وبالجملة تفريج الكرب باب واسع فإنه يشمل إزالة كل ما ينزل بالعبد أو تخفيفه . (“سبل السلام”/تحت رقم (1378)).

“Hadits ini punya beberapa masalah. Yang pertama: keutamaan menghilangkan dari seorang muslim suatu kesulitan dunia. Dan menghilangkan kesulitannya tadi bisa berupa memberinya sebagian dari hartanya jika kesulitannya berupa kebutuhan harta. Atau dengan mencurahkan kewibawaannya untuk mencari bantuan dari orang lain untuk saudaranya tadi, atau dengan mengutanginya. Dan jika kesulitannya tadi adalah karena kezholiman orang yang menzholimi muslim tadi, maka cara menghilangkan kesulitannya adalah dengan berupaya untuk menyirnakan kezholiman tadi darinya atau meringankannya. Dan jika kesulitannya tadi adalah berupa suatu penyakit yang menimpanya, hendaknya dia menolongnya dalam mendapatkan obat jika dia punya obat, atau mencarikan dokter yang bermanfaat. Secara global, penghilangan kesulitan adalah bab yang luas, karena dia itu mencakup upaya menghilangkan atau meringankan segala sesuatu yang menimpa sang hamba.” (“Subulus Salam”/di bawah no. 1378).

            Kemudian balasan kebaikan itu sesuai dengan jenis amalan, disertai dengan pelipatgandaan pahala.

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata:

وهذا يرجع إلى قاعدة الجزاء على العمل من جنسه ، كما أن من اعتق رقبة اعتق الله بكل عضو منه عضوا منها من النار ، ومن نفس عن مسلم كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب الآخرة ، ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة ، ومن ستر مسلما في الدنيا ستره الله في الآخرة ، والراحمون يرحمهم الرحمن . ومثل هذا كثير ، فمن بنى لله مسجدا يذكر فيه اسم الله في الدنيا بنى الله له في الجنة بيتا . (“فتح الباري”/ لابن رجب /3 /ص247).

“Dan ini kembali kepada kaidah: balasan dari amalan itu sesuai dengan jenisnya, sebagaimana barangsiapa memerdekakan seorang budak, Alloh akan memerdekakan anggota badan dia dari neraka, dengan setiap anggota budak tadi, dan barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Alloh akan hilangkan darinya satu kesulitan hari kiamat. Dan barangsiapa mempermudah orang yang sukar membayar utang, Alloh akan memudahkan untuknya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim di dunia, Alloh akan menutupi aibnya di akhirat. Dan orang-orang yang penyayang itu disayang oleh Ar Rohman. Dan semisal ini banyak. Maka barangsiapa membangun satu masjid karena Alloh, untuk disebut nama Alloh di dalamnya di dunia, Alloh akan membangun untuknya satu rumah di Jannah.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 247).

            Al ‘Allamah Muhammad Al Mubarokfuriy رحمه الله berkata:

وتنفيس الكرب إحسان لهم وقد قال تعالى: ﴿هل جزاء الإحسان إلا الإحسان﴾ وليس هذا منافياً لقوله تعالى: ﴿من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها﴾ لما ورد من أنها تجازي بمثلها وضعفها إلى عشرة إلى مائة إلى سبعمائة إلى غير حساب على أن كربة من كرب يوم القيامة تساوي عشراً أو أكثر من كرب الدنيا. ويدل عليه تنوين التعظيم وتخصيص يوم القيامة دون يوم آخر والحاصل أن المضاعفة إما في الكمية أو في الكيفية . (“تحفة الأحوذي”/8 /ص395).

“Dan meringankan kesulitan adalah merupakan perbuatan baik kepada mereka. dan Alloh ta’ala berfirman: “Dan tidaklah balasan kebaikan itu kecuali kebaikan pula.” Dan ini tidak meniadakan firman-Nya ta’ala: “Barangsiapa mendatangkan satu kebaikan, maka dia akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya.” Dikarenakan dalil yang datang bahwasanya dia akan dibalas semisalnya dan kelipatannya sampai sepuluh kalinya. Dan yang menunjukkan pada ini adalah tanwin yang berfungsi untuk pembesaran nilai perkara ini (كربةً), dan pengkhususan Hari Kiamat bukan hari yang lain. Kesimpulannya adalah bahwasanya pelipatannya itu bisa jadi pada jumlahnya atau pada bentuknya.” (“Tuhfatul Ahwadzi”/8/hal. 395).

            Dan di antara keutamaannya adalah bahwasanya amalan ini –baik dengan ucapan ataupun perbuatan- merupakan salah satu sebab datangnya ridho Alloh dan naiknya derajat.

            Al Imam Ibnu Baththol رحمه الله berkata:

والكلمة التي يكتب الله له بها رضوانه الكلمة يريد بها وجه الله بين أهل الباطل، أو الكلمة يدفع بها مظلمة عن أخيه المسلم، ويفرج عنه بها كربةً من كرب الدنيا، فإن الله تعالى يفرج عنه كربةً من كرب الآخرة، ويرفعه بها درجات يوم القيامة. (“شرح ابن بطال”/5 /ص284).

“Dan kalimat yang dengannya Alloh menulis untuknya keridhoan-Nya adalah kalimat yang orang itu menginginkan dengannya wajah Alloh dalam menjelaskan ahli batil, atau kalimat yang dengannya dia menolak kezholiman dari saudaranya yang muslim, dan menghilangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, karena sesungguhnya Alloh ta’ala akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Akhirat, dan mengangkat dengannya derajat-derajat di hari Kiamat.” (“Syarh Ibni Baththol”/5/hal. 284).

            Jika kita sudah tahu demikian itu, maka tentu saja yang dimaksudkan adalah dalam perkara yang ma’ruf, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ } [المائدة: 2]

“Dan hendaknya tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kalian kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Amat berat siksa-Nya.”

            Ma’ruf adalah segala macam kebaikan. Badruddin Al ‘Ainiy رحمه الله berkata:

والمعروف اسم جامع لكل ما عرف من طاعة الله عز وجل والتقرب إليه والإحسان إلى الناس، …إلخ. (“عمدة القاري”/13/ص369).

“Dan ma’ruf adalah suatu nama yang mencakup segala perkara yang dikenal yang berupa ketaatan pada Alloh عز وجل , dan pendekatan diri pada-Nya, berbuat baik kepada manusia, … “dan seterusnya. (“Umdatul Qori”/13/hal. 369).

            Maka jika teman kita meminta kita tolong-menolong dalam kesalahan atau kemaksiatan, tidak boleh ditaati, sama saja apakah dia itu penguasa ataukah rakyat jelata, karena kita semua adalah hamba Alloh wajib taat pada Alloh.

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «السمع والطاعة حق ما لم يؤمر بالمعصية فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة». (أخرجه البخاري (2955) ومسلم (1839)).

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Mendengar dan taat itu adalah kewajiban selama tidak diperintahkan pada kedurhakaan. Maka jika dia diperintahkan pada kedurhakaan, maka dia tak boleh mendengar ataupun taat.” (HR. Al Buhoriy (2955) dan Muslim (1839)).

            Dan dalam hadits Ali رضي الله عنه Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إنما الطاعة في المعروف. (أخرجه البخاري (7145) ومسلم (1840)).

“Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Al Buhoriy (7145) dan Muslim (1840)).

            Maka membantu dia dalam berbuat kesalahan bukanlah meringankan kesulitan dia, tapi justru membantu mempermudah dia bergelimang dalam dosa.

            Dari sisi lain, setiap kemaksiatan itu bisa menyebabkan timbulnya musibah dan bencana, sehingga orang semakin terlilit kesulitan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾ [الشورى: 30].

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

وقوله: ﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ﴾ أي: مهما أصابكم أيها الناس من المصائب فإنما هو عن سيئات تقدمت لكم ﴿وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾ أي: من السيئات، فلا يجازيكم عليها بل يعفو عنها، ﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ الله النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ﴾ [ فاطر : 45 ] . (“تفسير القرآن العظيم”/7/ص207).

“Dan firman-Nya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri,” yaitu: musibah-musibah apapun yang menimpa kalian wahai manusia, maka itu hanyalah berasal dari kejelekan yang kalian lakukan. “ dan Alloh memaafkan sebagian besar ” yaitu memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian, sehingga Dia tidak membalas kalian atas dasar dosa-dosa tadi, bahkan Alloh telah memaafkannya. “Andaikata Alloh menghukum manusia disebabkan oleh apa yang mereka perbuat, Dia tak akan menyisakan satu makhluk melatapun di permukaan bumi.” (“Tafsirul Qur’anil Azhim”/7/hal. 207).

                        Maka sikap sang penanya –semoga Alloh memberkahinya dan melimpahkan taufiq kepadanya- untuk tidak membantu teman yang pinjam flashdisk untuk men-copy film atau gambar-gambar makhluk bernyawa itu sudah benar.

                        Sekalian dalam kesempatan ini saya ingatkan saudara-saudara kita yang memanfaatkan film, TV dsb yang mengandung gambar makhluk bernyawa dengan alasan untuk dakwah, itu adalah bid’ah, dan menyebabkan datangnya musibah-musibah, baik yang bersifat rohani ataupun bisa jadi hukuman yang bersifat jasmani.

            Telah pernah saya nukilkan fatwa Asy Syaikh Yahya حفظه الله. Tiada salah diulang kembali.

            Soal: Apa hukum menggambar dengan video di masjid, dan menampilkan pita video yang berisi film Islamiyyah di masjid atau di ceramah-ceramah?

            Beliau menjawab: menggambar makhluk bernyawa adalah termasuk fitnah yang umat Islam diuji dengannya. Si penceramah diambil gambarnya, si pengajar diambil gambarnya. Terkadang mendatangkan alat  gambar dan orang-orang sholat tarwih lalu mereka mengambil gambar mereka dalam keadaan seperti itu dan menyebarkannya dalam video. Untuk tujuan apa? Mereka menjawab: “Untuk melihat orang-orang.” Alangkah mengherankannya! Ini adalah penghiasan dari setan untuk menghiasai kemaksiatan yang diancam dengan kutukan. Maka dalam hadits Abu Juhaifah:

ولعن المصور

 “Dan beliau melaknat tukang gambar.” (HR. Al Bukhoriy (2088)).

            Dan tukang gambar jika terlaknat maka engkau tidak boleh baku bantu dengannya dalam dosa besar ini. Alloh berfirman:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا الله إِنَّ الله شَدِيدُ الْعِقَابِ } [المائدة: 2]

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.”

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

“Mukmin yang satu terhadap mukmin yang lain itu bagaikan bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”

Beliau juga bersabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلم ولا يخذله

“Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzholiminya, tidak boleh menyerahkannya (pada musuh), tidak boleh menelantarkannya.” (HR. Al Bukhoriy (2442) dan Muslim (2564)).

            Dan termasuk dari menelantarkan saudaranya adalah: menyetujuinya atau menyemangatinya untuk berbuat kesalahan.

Nabi عليه الصلاة والسلام bersabda:

«لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه»

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhoriy (13) dan Muslim (45)).

            Dan terus-menerus menggambar dengan video atau dengan televisi itu atau yang sejenis itu ini semuanya adalah termasuk istihsan (menganggap sesuatu itu baik tanpa dukungan dalil syar’iy) zaman ini yang wajib untuk dijauhi. Cukuplah dakwah dengan kaset suara. Dengan kaset suara itu orang-orang mendengarkan ucapan yang ada di dalamnya dan mengambil manfaat darinya jika ucapannya itu berfaidah. Dan cukup pula kitab. Orang-orang membacanya dan mengambil faidah darinya. Cukuplah dengan sarana-sarana yang disyariatkan. Dan seseorang itu jangan menyodorkan diri kepada dosa di bawah tabir dakwah ke jalan Alloh.

            Maka Ikhwanul Muslimin dan semisal mereka yang tidak bersungguh-sungguh mengikuti kebenaran dalam agama mereka membikin manusia berani berbuat maksiat, dan bahwasanya ini adalah termasuk sarana dakwah, menurut dugaan mereka. padahal secara hakikat, maksiat-maksiat itu akan memukul dakwah, dan tidak menolong dakwah sama sekali, karena Alloh عز وجل itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dia جل في علاه itulah yang berfirman:

{وَلَيَنْصُرَنَّ الله مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ الله لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ } [الحج: 40]

“Dan pastilah Alloh benar-benar akan menolong orang yang menolongnya, sesungguhnya Alloh benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.”

Dialah yang Mahasuci Yang berfirman:

}وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ { [يونس/27]

“Dan orang-orang yang melakukan kejelekan-kejelekan, maka balasan dari kejelekan adalah dengan yang semisalnya, dan mereka akan terliputi kehinaan.” (QS Yunus 27).

Dialah yang berfirman:

{ وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ * وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا الله مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ * فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ * فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ } [الأعراف: 163 – 166].

“Dan tanyakanlah kepada Bani Isroil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kalian menasehati kaum yang Alloh akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” mereka menjawab: “Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zholim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina.”

            Alloh tidak menyelamatkan kecuali orang yang mengingkari kemungkaran dari mereka. dan Alloh سبحانه وتعالى berfirman:

{ وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ الله وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ } [آل عمران: 152]

“Dan sesungguhnya Alloh telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat.”

            Disebabkan oleh satu kemaksiatan terjadi pada mereka apa yang Alloh sebutkan dalam ayat yang agung ini. Di antara mereka ada yang tertawan, di antara mereka ada yang terbunuh sebagai syahid.

            Alloh ta’ala berfirman:

{وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ } [التوبة: 25]

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu banyaknya jumlah kalian membikin kalian kagum, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian berbalik lari ke belakang.”

            Dan Alloh Yang Mahasuci berfirman:

{وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا } [الكهف: 59]

“Dan kampung-kampung itu Kami binasakan mereka manakala mereka berbuat zholim, dan Kami jadikan waktu yang dijanjikan untuk kebinasaan mereka.”

            Dan berfirman:

فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذا وبيلا

“Maka Fir’aun mendurhakai Rosul tersebut, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang keras.”

            Maka hindarilah maksiat, maka hindarilah kedurhakaan. Hanya kepada Alloh sajalah kita mohon pertolongan.

(selesai penukilan dari “Al Kanzuts Tsamin”/4/hal. 431-432).

 

Pertanyaan kedua:

            Bagaimana kaidah untuk mengetahui bahwa suatu perbuatan/perkataan tersebut adalah suatu bentuk tasyabbuh kepada kaum kuffar?

 

Jawabnya adalah:

            Definisi dari tasyabbuh adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله:

والتشبه يعم من فعل الشيء لأجل أنهم فعلوه وهو نادر ومن تبع غيره في فعل لغرض له في ذلك إذا كان أصل الفعل مأخوذا عن ذلك الغير ، فأما من فعل الشيء واتفق أن الغير فعله أيضا ولم يأخذه أحدهما عن صاحبه ، ففي كون هذا تشبها نظر لكن قد ينهى عن هذا لئلا يكون ذريعة إلى التشبه ، ولما فيه من المخالفة ، كما أمر بصبغ اللحى، وإحفاء الشوارب ، مع أن قوله صلى الله عليه وسلم : « غيروا الشيب، ولا تشبهوا باليهود » دليل على أن التشبه بهم يحصل بغير قصد منا، ولا فعل بل بمجرد ترك تغيير ما خلق فينا وهذا أبلغ من الموافقة الفعلية الاتفاقية . (“اقتضاء الصراط المستقيم”/1 /ص215).

“Dan tasyabbuh (dengan suatu kaum) itu mencakup dilakukannya suatu perbuatan dengan sebab mereka melakukan itu, dan ini jarang, dan orang yang mengikuti orang lain dalam suatu perbuatan dengan suatu hasrat dalam perbuatan tadi jika asal dari perbuatan tadi adalah diambil dari orang lain tersebut. Adapun barangsiapa melakukan suatu perbuatan dan kebetulan orang lain juga mengerjakannya, sementara yang satu tidak mengambil perbuatan itu dari temannya tadi, maka jika dikatakan ini sebagai tasyabbuh perlu diteliti lagi. Akan tetapi terkadang perbuatan tadi dilarang agar tidak menjadi sarana kepada tasyabbuh, dan karena di dalam larangan tadi ada makna mukholafah (maksudnya: menyelisihi orang kafir), seperti perintah untuk menyemir jenggot, memotong kumis, bersamaan dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Rubahlah uban, dan janganlah kalian menyerupai Yahudi” itu menunjukkan bahwasanya tasyabbuh dengan mereka itu bisa terjadi tanpa ada maksud ataupun perbuatan dari kita, hanya saja terjadi dikarenakan kita tidak merubah warna uban yang diciptakan untuk kita (yaitu: itu saja masih tetap diharuskan untuk dirubah), dan ini lebih tandas daripada kesesuaian perbuatan yang bersifat kebetulan.” (“Iqtidhosuh Shirothil Mustaqim”/1/hal. 215).

            Kesimpulannya adalah: semata-mata kesamaan dalam warna uban saja, yang mana itu bukanlah hasil dari perbuatan kita, dilarang, dan kita disuruh untuk merubahnya agar tidak sama dengan para musuh Alloh itu, dan agar semakin nampak kekhususan dan kemuliaan umat Islam dan bahwasanya mereka itu umat istimewa, bukan pembebek terhadap seluruh musuh Alloh, apalagi yang bersifat perbuatan yang kebetulan sama dengan perbuatan orang-orang kafir itu, maka itu lebih keras lagi perintah untuk menyelisihi mereka. Apalagi sengaja meniru mereka dalam perkara yang menjadi kebanggaan mereka atau menjadi alamat dan syiar mereka, maka larangannya jauh lebih keras.

            Adapun jika amalan tadi adalah berasal dari syariat Alloh ta’ala, maka dia itu adalah amalan kita, dan bukan bentuk tasyabbuh dengan orang kafir sekalipun sepertinya ada kemiripan dengan amalan sebagian dari mereka, seperti memakai gamis dan sorban, memakai jilbab, puasa Asyuro, memelihara jenggot dan sebagainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata tentang sikap kita terhadap amalan Ahlul Kitab:

أنا منهيون عن التشبه بهم فيما لم يكن سلف الأمة عليه ، فأما ما كان سلف الأمة عليه ، فلا ريب فيه ؛ سواء فعلوه ، أو تركوه. (“اقتضاء الصراط المستقيم”/1 /ص372).

“Kita dilarang untuk menyerupakan diri dengan mereka dalam perkara yang tidak ada pada Salaful Ummah. Adapun perkara yang ada pada Salaful Ummah, maka itu tiada keraguan padanya (tentang bolehnya dikerjakan), sama saja mereka (Ahlul Kitab) mengerjakannya ataukah meninggalkannya).” (“Iqtidhoush Shirothol Mustaqim”/1/hal. 372).

            Jika kita tahu bahwasanya perbuatan tersebut bukan dari syariat Alloh, dan ternyata mirip dengan syiar atau alamat orang kafir, maka jadilah perbuatan tadi tasyabbuh dengan mereka, seperti pakaian khas mereka, lambang-lambang yang mereka agungkan seperti salib, demikian pula makan dengan tangan kiri.

            Bahkan disyariatkan meninggalkan perkara-perkara yang secara lahiriyyah menyerupai kebiasaan orang kafir. Hikmahnya adalah agar semakin jauh dari penyerupaan lahiriyyah mereka, karena keserupaan lahiriyyah mendorong pada penyerupaan secara batiniyyah, yang menyebabkan semakin jauhnya pelakunya dari kesempurnaan karakter, sementara kesempurnaan karakter itu hanya didapatkan dengan mencontoh makhluk terbaik yaitu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata:

وقد روى في هذا الحديث عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى عن التشبه بالأعاجم وقال : «من تشبه بقوم فهو منهم» ذكره القاضي أبو يعلى. وبهذا احتج غير واحد من العلماء على كراهة أشياء من زي غير المسلمين قال محمد بن أبي حرب: سئل أحمد عن نعل سندي  يخرج فيه . فكرهه للرجل والمرأة وقال : إن كان للكنيف  والوضوء وأكره الصرار . وقال : هو من زي العجم . وقد سئل سعيد بن عامر عنه فقال : سنة نبينا أحب إلينا من سنة باكهن. (“اقتضاء الصراط المستقيم”/1 /ص215).

“Dan telah diriwayatkan dalam hadits ini dari Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau melarang tasyabbuh dengan orang ‘ajam (non Arob) dan bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu.” Disebutkan oleh Al Qodhi Abu Ya’la. Dan dengan ini lebih dari satu ulama berdalilkan tentang dibencinya perkara-perkara yang menjadi gaya orang-orang yang bukan muslimin. Muhammad bin Abi Harb berkata: Ahmad ditanya tentang sandal Sindiy dipakai untuk keluar rumah, maka beliau membenci hal itu untuk lelaki ataupun perempuan. Dan beliau berkata: “Untuk ke WC dan wudhu (maka tak mengapa). Dan aku membenci Shiror (sejenis sandal ‘Ajam).” Dan Sa’id bin Amir telah ditanya tentang sandal tadi, maka beliau menjawab: “Sunnah Nabi kami lebih kami cintai daripada sunnah Bakihan (seorang raja Ajam).” (“Iqtidhosuh Shirothil Mustaqim”/1/hal. 215).

            Semakin jauh seorang muslim dari budaya kafir, semakin jauh dia dari bahaya dan kekurangan, sehingga semakin besar keselamatan dan kesempurnaannya.

                        Syaikhul Islam –rohimahulloh- berkata tentang orang-orang kafir:

وليس شيء من أمورهم إلا وهو إمّا مضرّ أو ناقص؛ لأن ما بأيديهم من الأعمال المبتدعة والمنسوخة ونحوها ، ولا يتصور أن يكون شيء من أمورهم كاملا قط ، فإذا المخالفة فيها منفعة وصلاح لنا في كل أمورهم حتى ما هم عليه من إتقان بعض أمور دنياهم قد يكون مضرًّا بأمر الآخرة أو بما هو أهمّ منه من أمر الدنيا لمخالفة فيه صلاح لنا. (“الاقتضاء”/1 / ص 198/ مكتبة الرشد).

 “Tidak ada sedikitpun dari urusan-urusan mereka itu melainkan sesuatu yang membahayakan atau mengandung kekurangan. Hal itu karena yang mereka miliki adalah berupa amalan-amalan kebid’ahan, amalan yang tidak berlaku lagi (mansukh) dan sebagainya. Sama sekali tidak mungkin tergambar bahwa sesuatu dari amalan mereka tersebut mengandung kesempurnaan. Jika demikian maka penyelisihan terhadap mereka pada seluruh perkara itu adalah manfaat dan kebaikan bagi kita sampai-sampai pada perkara-perkara dunia yang mereka tekuni, bisa jadi hal itu membahayakan sisi akherat atau sisi dunia yang lebih penting. Penyelisihan terhadap itu semua merupakan kebaikan bagi kita.” (Al-Iqtidho’: 1/198, cet. Maktabah Ar-Rusyd).

 

            Tentunya untuk menentukan dalam praktek sehari-hari apakah suatu amalan itu tasyabbuh dengan orang kafir ataukah tidak, jika kita tidak menemukan dalil yang jelas tentang perkara tadi, kita tanyakan kepada para ulama Ahlussunnah. Dan kita pegang teguh hadits: “Sebaik-baik jalan adalah jalan Muhammad صلى الله عليه وسلم.”

Wallohua’lam.

 

Pertanyaan ketiga:

 Apakah sudah ada majelis ilmu salafy di Sulawesi Barat (khususnya daerah Mamuju)? Karena yang ada adalah majelisnya ustadz-ustadz yang bersama Ust. Dzulqarnain…

Jawaban:

            Penduduk suatu negri lebih tahu dengan keadaan negrinya daripada yang lain. Silakan ditanyakan pada para salafiyyun tsabitun (yang kokoh ikut prinsip-prinsip salafiyyah) dan ghoyurun (punya kecemburuan terhadap agamanya) muhibbun lil ‘ilm was sadad (yang cinta ilmu dan kelurusan, tidak berlebihan dan tidak menyepelekan), tentang ta’lim di wilayah tersebut.

            Adapun Dzul Qornain dan yang bersamanya, maka telah jelas bahwasanya mereka banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan manhajiyyah, sebagaimana yang telah diketahui oleh para salafiyyun, yang bukan di sini penjelasannya karena sempitnya kesempatan.

            Dan Khaidir saudara dia terlihat mendukung orang yang menuduh pihak Syaikh Yahya itu ghuluw. Ini adalah tho’n terhadap ahlul haq. Dan telah kami jelaskan di beberapa risalah tentang batilnya tuduhan tadi.

            Khaidir juga mengejek para salafiyyun yang aktif menyebarkan hujjah-hujjah Asy Syaikh Yahya dalam menerangkan kebatilan Mar’iyyin.

            Ketika hujjah-hujjah rinci Asy Syaikh Yahya dalam menerangkan kebatilan Mar’iyyin telah tersebar, Khaidir justru membuangnya ke belakang punggungnya dengan mengandalkan pujian Asy Syaikh Robi’ terhadap Mar’iyyin. Ini jelas menyelisihi ushul Salaf.

            Ucapan-ucapan Khaidir juga menjurus pada peremehan terhadap kualitas ilmu Asy Syaikh Yahya sehingga hukum beliau yang dipenuhi dengan hujjah tidak diterimanya.

            Nampak sekali Khaidir dalam majelis menyerukan untuk bertaqlid (membebek) kepada Syaikh Robi’ tanpa mengemukakan hujjah akan kebenaran pendapat Syaikh Robi’. Ini jelas menyelisihi jalan salaf.

            Sikap ghuluw Khaidir terhadap karisma ulama kibar nampak sekali sampai-sampai meremehkan kerja keras sebagian ulama yang lain, dalam masalah Sayyid Quthb dan lainnya.

            Ini saya sebutkan secara sekilas saja untuk mengingatkan. Artikel-artikel tentang ini telah lama tersebar, bisa dirujuk kembali.

            Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah menyuruh para salafiyyun untuk menjauhi DzulQornain dan teman-temannya setelah nampak pembelaan dan dukungan mereka terhadap Mar’iyyun.

            Dia juga dikabarkan telah mengunjungi markiz Fuyush di tempat Abdurrohman Al ‘Adaniy di masa fitnah mereka itu. Cukup ini sebagai dalil tentang penyimpangan dirinya.

Ibnu Mas`ud  –radhiyallohu `anhu- berkata: “Seseorang itu hanyalah akan mengajak berjalan dan bersahabat dengan orang disukainya dan yang seperti dirinya” (“Al Ibanah” 2\476\ karya Imam Ibnu Baththoh -rahimahulloh-).

Dan dalam satu riwayat: “Nilailah seseorang itu dengan orang yang bersahabat dengannya, karena  dia itu hanya akan bersahabat dengan orang yang semisal dengannya.”

Syu’bah –rowi atsar ini- berkata: Aku dapati tertulis di kitabku: “Seseorang itu hanyalah akan bersahabat dengan orang disukainya.” (“Al Ibanah”/no. 505).

Atsar Ibnu Mas’ud ini juga diriwayatkan oleh Abdurrozzaq di “Al Mushonnaf” no. 7894, dan Al Baihaqiy di “Syu’abul Iman” no. 8994. Atsar ini jayyid dengan seluruh jalannya.

Kita tidak tahu isi hati manusia, akan tetapi As Salafush sholih membimbing kita untuk melihat kepada sahabat orang itu, karena seseorang itu tidaklah bersahabat kecuali dengan orang yang sesuai dengannya. Dan ini diambil dari Rosululloh صل الله عليه وسلم yang bersabda:

الأرواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكرمنها اختلف

“Ruh-ruh adalah tentara yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal akan saling condong, dan yang tidak saling mengenal akan saling berselisih.” (HR. Muslim di “Shohih” (2638), Al Bukhori di “Al Adabul Mufrod” (901) dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu).

Dan diriwayatkan Al Bukhoriy secara mu’allaq dalam “Shohih” , dan bersambung di “Al Adabul Mufrod” (900) dari Aisyah –radhiyallohu `anha-.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه Rosululloh صل الله عليه وسلم bersabda:

«الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل».

“Seseorang itu berdasarkan agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapakah yang dijadikan sebagai teman dekatnya.” (HSR. Imam Ahmad (8249), Abu Dawud (4835) dan At Tirmidziy (2552), hadits hasan. Dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Ash Shohihul Musnad” (1272)).

Dan di atas inilah Salaf berjalan, semoga Alloh meridhoi mereka semua. Dan Al Imam Al Auza’iy رحمه الله berkata: “Barangsiapa bersembunyi dari kami dengan bid’ahnya, tidaklah tersamarkan teman dekatnya.” (“Syarh Ushul I’tiqod” (Al Lalikaiy/no. 257), dan “Al Ibanah” (Ibnu Baththoh/2/479), atsar ini hasan).

Al Fudhoil bin ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Sesungguhnya Alloh memiliki para malaikat yang mencari majelis-majelis dzikir. Maka perhatikanlah: majelismu itu bersama siapa, jangan sampai bersama pelaku bid’ah, karena Alloh tidak melihat pada mereka. Dan alamat kemunafiqan adalah: seseorang itu berdiri dan duduk bersama pelaku bid’ah.”

Beliau juga berkata: “Barangsiapa duduk bersama pelaku bid’ah dia tak akan diberi hikmah.”

Beliau juga berkata: “barangsiapa mencintai pelaku bid’ah, Alloh akan menggugurkan amalannya, dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya.”

Beliau juga berkata: “Janganlah engkau duduk bersama pelaku bid’ah, karena aku takut akan turun kepadamu kutukan.”

Seluruh atsar beliau ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” no. 443 dengan sanad yang hasan insya Alloh.

Sayyar bin Ja’far رحمه الله berkata: Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Manusia itu berjenis-jenis seperti jenis-jenis burung. Burung dara bersama burung dara, burung gagak bersama burung gagak, bebek bersama bebek, sho’wu (sejenis burung kecil) bersama sho’wu. Dan setiap manusia itu bersama dengan orang yang sekarakter dengannya.

Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: “Barangsiapa melakukan pencampuran, maka diapun akan mengalami pencampuran. Dan barangsiapa bersikap bersih, maka diapun akan disikapi dengan bersih. Dan aku bersumpah pada Alloh, jika kalian bersikap bersih, maka kalianpun akan disikapi dengan bersih.”

Seluruh atsar beliau ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Bathhthoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” no. 517 dengan sanad yang hasan.

Yahya bin Sa’id Al qoththon رحمه الله berkata: “Ketika Sufyan Ats Tsauri tiba di Bashroh beliau mulai memperhatikan keadaan Ar Robi’ –yaitu Ibnu Shubaih- dan kedudukannya di mata masyarakat. Beliau bertanya, “Apa madzhabnya?” Mereka menjawab, “Tiada madzhabnya kecuali as Sunnah.” Beliau bertanya, “Siapa teman dekat di sekelilingnya?” Mereka berkata, “Qodariyyah (pengingkar taqdir)” Beliau berkata, “Berarti dia qodari.” (“Al Ibanah”/Ibnu Baththoh/2/453/no. 426/sanadnya hasan).

Mu’adz bin Mu’adz رحمه الله berkata: Aku berkata pada Yahya bin Sa’id: “Wahai Abu Sa’id, seseorang itu walaupun dia menyembunyikan pendapatnya, tak akan tersembunyi pada anaknya, teman dekatnya dan teman duduknya.” (“Al Ibanah”/Ibnu Baththoh/2/474/no. 514/dengan sanad yang shohih).

Muhammad bin Ubaid Al Ghulabi رحمه الله berkata: Dulu dikatakan: “Para pengekor hawa nafsu saling menyembunyikan segala sesuatu kecuali keakraban dan persahabatan.” (“Al Ibanah”/Ibnu Baththoh/2/479/no. 515/atsar ini minimal hasan).

Abu Hatim Ar Roziy رحمه الله berkata: Tibalah Musa bin ‘Uqbah Ash Shuriy di Baghdad. Maka hal itu diceritakan kepada Ahmad bin Hanbal, maka beliau berkata: “Perhatikanlah oleh kalian, dia singgah ke rumah siapa, dan ke rumah siapa dia bernaung.”

Ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله dalam “Al Ibanatul Kubro” (no. 46) dengan sanad yang shohih, lalu beliau berkata: “Maka perhatikanlah, semoga Alloh merohmatimu, siapakah yang kalian ajak bersahabat, dan kepada siapa kalian duduk. Maka kenalilah oleh kalian setiap orang itu dengan teman dekatnya, dan setiap orang dengan sahabatnya.”

Dan Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmi رحمه الله berkata: “Sebagian Salaf berkata: “Barangsiapa menyembunyikan aqidahnya dari kami, tidaklah tersembunyi dari kami teman akrabnya” yaitu jama’ah yang dia akrabi tidaklah tersembunyi dari kami jika dia pergi dan datang bersama hizbiyyin maka dia itu hizbiy semisal mereka.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/hal.86/Darul Atsar).

            Maka jika demikian, jangan belajar pada mereka. Belajar dengan sarana yang disyariatkan seperti kaset-kaset dan kitab-kitab serta surat-menyurat dengan para salafiyyin ghoyurin tsabitin dengan keselamatan manhaj, itu lebih utama daripada banyak wawasan dan hapalan tapi dengan bayaran kegoncangan manhaj karena belajar ke para pengikut hawa nafsu. Muhammad bin Sirin -rahimahulloh- berkata:

إن هذاالعلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim).

Al Hasan Al Bashri -rahimahulloh- berkata:

يا ابن آدم, دينك دينك,  فإنما هولحمك ودمك, فإن تسلم فيا لها من راحة ويا لها من نعمة, وإن تكن أخرى فنعوذ بالله فإنما هي نار لا تطفأ وحجر لا تبرد ونفس لا تموت

“Wahai anak Adam, jaga agamamu, jaga agamamu, karena hanya agama itulah daging dan darahmu. Kalau engkau selamat, maka alangkah tentramnya dan alangkah nikmatnya. Tapi jika yang terjadi adalah selain itu, maka -kita berlindung kepada Alloh- dia itu hanyalah api yang tidak padam, batu yang tidak dingin dan jiwa yang tidak mati” (riwayat Al Firyabi -rahimahulloh- di “Shifatun Nifaq”/no. 49/dishahihkan Syaikh Abdurraqib Al Ibbi -hafidhahulloh-)

 

Pertanyaan keempat:

            Di Makassar ada ORMAS Islam yang mengaku bermanhaj Ahlus Sunnah yaitu WAHDAH ISLAMIYYAH, akan tetapi metode dakwahnya cenderung mirip dengan metodenya Ikhwanul Muslimin, apakah sudah ada tahdzirnya dari para ulamaa’ dan apakah mereka masih di garis Ahlus Sunnah? Pengalaman di kampus jika kita telah keluar dari organisasi tersebut maka kita diboikot dan dijauhi…

 

Jawaban:

            Para salafiyyin di sana lebih tahu tentang keadaan organisasi ini. Silakan bertanya kepada mereka. saudara kita yang mulia Abu Hudzaifah Hasan Al Bughisiy حفظه الله menceritakan pada saya bahwasanya “Wahdah Islamiyyah” itu manhajnya adalah sururiyyah.

            Dan sururiyyah itu adalah pecahan dari Ikhwanul Muslimin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله.

            Telah banyak tahdzir ulama terhadap Sururiyyah. Yang penting bukannya nama-nama organisasi tersebut, karena nama itu bisa dirubah. Yang penting adalah apa manhaj dan sifat dari kumpulan tersebut. Jika sifat dan manhajnya telah diketahui maka kita tahu jatidirinya.

Telah nampak kebencian Sururiyyun yang terhadap Ahlussunnah dan serangan terhadap Salafiyyin sehingga akhirnya kebanyakan para  ulama mengkritik mereka seperti Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi`i -rahimahulloh-, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan -hafidhahulloh-, Syaikh Ahmad An Najmi -rahimahulloh- Syaikh Robi` bin Hadi Al Madkholi, Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, dan Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholi, dan lainnya -hafidhahumulloh-, dan menetapkan bahwa Muhammad bin Surur dan anak buahnya adalah ahlul bid`ah.

Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi`i -rahimahulloh- berkata: “Telah terang hakikat bahwasanya mereka itu adalah hizbiyyun, dan melarikan orang dari ulama.” (“Tuhfatul Mujib”/ hal. 144).

Dan Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmi -rahimahulloh- berkata: “Maka sesungguhnya aku menasihatkan kepadamu agar engkau menjauhkan diri dari mereka dan lari dari mereka.” (“Mauridul `Adzb waz Zulal” /hal. 247).

Dan Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri -hafidhahulloh- telah menjulukinya sebagai hizbi besar dan bahwasanya dia itu sesat. (“Syar`iyyatun Nush waz Zajr” hal. 46)

Dan ketahuilah bahwasanya Sururiyyah adalah salah satu dari keturunan “Al Ikhwanul Muslimin”, metodenya tidak jauh berbeda dengan metode sang induk. Bacalah ucapan Imam Al Wadi`i -rahimahulloh- di “Tuhfatul Mujib” hal. 145, dan Syaikh Ahmad An Najmi -rahimahulloh- di kitab “Mauridul `Adzb waz Zulal” hal. 224 dan 247.

            Tidak masalah kita dijauhi oleh mereka, bahkan kitalah yang harus tegar dan menjauh dari mereka karena Alloh memang menyuruh kita untuk menjauhi para pengekor hawa nafsu.

            Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾ [الأنعام: 68].

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zholim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”

            Dan dari Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم membaca ayat ini:

﴿هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولو الألباب﴾

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (samar-samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyelewengan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

            Aisyah berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka jika engkau melihat orang-orang yang mencari-cari ayat yang samar-samar dari Al Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang Alloh sebutkan itu, maka hindarilah mereka.” (HR. Al Bukhoriy (4547) dan Muslim (2665)).

            Dan dalam kisah Ka’b bin Malik رضي الله عنه :

ونهى رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلمين عن كلامنا أيها الثلاثة من بين من تخلف عنه فاجتنبنا الناس وتغيروا لنا حتى تنكرت في نفسي الأرض فما هي التي أعرف فلبثنا على ذلك خمسين ليلة فأما صاحباي فاستكانا وقعدا في بيوتهما يبكيان وأما أنا فكنت أشب القوم وأجلدهم فكنت أخرج فأشهد الصلاة مع المسلمين وأطوف في الأسواق ولا يكلمني أحد وآتي رسول الله صلى الله عليه وسلم فأسلم عليه وهو في مجلسه بعد الصلاة فأقول في نفسي هل حرك شفتيه برد السلام علي أم لا ثم أصلي قريبا منه فأسارقه النظر فإذا أقبلت على صلاتي أقبل إلي وإذا التفت نحوه أعرض عني حتى إذا طال علي ذلك من جفوة الناس مشيت حتى تسورت جدار حائط أبي قتادة وهو ابن عمي وأحب الناس إلي فسلمت عليه فوالله ما رد علي السلام فقلت: يا أبا قتادة أنشدك بالله هل تعلمني أحب الله ورسوله فسكت فعدت له فنشدته فسكت فعدت له فنشدته فقال: الله ورسوله أعلم ففاضت عيناي وتوليت حتى تسورت الجدار، … الحديث.

“… dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang Muslimin untuk berbicara dengan kami –tiga orang dari orang-orang yang tertinggal dari perang Tabuk-, maka orang-orang menjauhi kami dan berubah sikap terhadap kami, sampai-sampai bumi ini terasa asing dalam diriku. Bukanlah bumi ini bumi yang aku kenal selama ini. Maka tinggallah kami dalam keadaan demikian selama lima puluh malam. Adapun kedua temanku, mereka berdua diam saja duduk di rumah mereka dalam keadaan menangis. Adapun aku, aku adalah yang paling muda dan paling kuat. Aku terus keluar dan menghadiri sholat bersama muslimin dan mengelilingi pasar-pasar, dalam keadaan tiada seorangpun yang mengajakku berbicara. Dan aku datangi Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mengucapkan salam pada beliau dalam keadaan beliau di tempat duduk beliau seusai sholat. Aku berkata dalam diriku: “Apakah beliau menggerakkan kedua bibir beliau dengan menjawab salam kepadaku ataukah tidak?” kemudian aku sholat dekat dengan beliau, lalu aku curi pandang ke beliau. Jika aku berkonsentrasi kepada sholatku, beliau memandangku, tapi jika aku menoleh ke beliau, beliau berpaling dariku. Sampai ketika kekakuan orang-orang itu berlangsung lama terhadapku, aku berjalan sampai aku menaiki dinding kebun Abu Qotadah, dan dia adalah anak dari pamanku dan beliau adalah orang yang paling aku cintai. Maka aku ucapkan salam kepadanya. Maka demi Alloh dia tidak mau menjawab salamku. Maka kukatakan padanya: “Wahai Abu Qotadah, aku seru engkau dengan nama Alloh, apakah engkau tahu bahwasanya aku cinta pada Alloh dan Rosul-Nya?” maka dia diam saja. Aku ulang lagi dan aku seru dia lagi, tapi dia diam saja. Aku ulang lagi dan aku seru dia lagi, lalu dia berkata: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Maka berlinanglah air mataku, dan aku berpaling hingga naik dinding lagi, …” (HR. Al Bukhoriy (4418) dan Muslim (2769)).

            Dan dari Sa’id bin Jubair رحمه الله:

أن قريبا لعبدالله بن مغفل خذف قال: فنهاه وقال: إن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الخذف وقال: «إنها لا تصيد صيدا ولا تنكأ عدوا ولكنها تكسر السن وتفقأ العين» قال: فعاد فقال: أحدثك أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عنه ثم تخذف لا أكلمك أبدا.

“Bahwasanya seorang kerabat dari Abdulloh bin Mughoffal -rodhiyallohu ‘anhu- bermain ketapel. Maka beliau melarangnya dan berkata,”Sesungguhnya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarang bermain ketapel, dan bersabda: Sesungguhnya dia itu tidak bisa memburu buruan dan tak bisa untuk membunuh musuh.”.” Tapi ternyata dia mengulanginya lagi. Maka beliau berkata,”Kusampaikan hadits buatmu bahwasanya Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- melarangnya, ternyata engkau kemudian main ketapel lagi. Aku tak akan berbicara denganmu selamanya.” (HR. Al Bukhoriy (5479) dan Muslim (13/hal. 108)).

            Abu Qilabah رحمه الله berkata: “Janganlah kalian duduk-duduk dengan ahlul ahwa’, dan jangan berdebat dengan mereka itu, karena sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka itu akan membenamkan kalian ke dalam kesesatan, atau menimpakan pengkaburan pada kalian di dalam agama ini dengan sebagian perkara yang membikin mereka merasa kabur.” (“Asy Syari’ah”/no. 57/Al Ajurriy رحمه الله/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah/dishohihkan oleh Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله).

 

 

Penutup dari soal:

Saya harap salafiyyin di Indonesia bisa bersatu… sangat disayangkan jika terjadi perpecahan seperti yang terjadi saat ini….

 

Jawaban:

Ini harapan yang bagus. Kami juga ingin bersatu dengan hati tentram, tapi di atas kebenaran, bukan di atas kebatilan.

Penjelasan kasus ini adalah sebagai berikut:

Sudah jelas berdasarkan dalil-dalil dan hujjah serta bayyinat (bukan satu bayyinah) bahwasanya Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan markiz induk di Dammaj dizholimi oleh makar Abdurrohman-Abdulloh Al ‘Adniyyan dengan para pengikutnya -hadahumulloh-, bekerja sama dengan para pengikut Abul Hasan Al Mishry dan pengikut Sholih Al Bakry. Juga telah jelas Dakwah Salafiyyah yang murni dizholimi oleh mereka dengan muhdatsat dan perusakan prinsip. Juga kasus-kasus perampasan masjid-masjid yang berlangsung sejak fitnah Jam’iyyat sampai sekarang.

            Barangsiapa belum mengetahui kebenaran, wajib baginya untuk mencarinya sekuat tenaga sesuai dengan tahapannya, dan bukan bersikap masa bodoh.

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إنما العلم بالتعلم و الحلم بالتحلم و من يتحر الخير يعطه و من يتوق الشر يوقه ” .

Hanyalah ilmu itu dengan belajar, dan “al hilm” (kesabaran dari kemarahan) itu diperoleh dengan “tahallum” (berusaha untuk tidak cepat membalas kejelekan dengan kejelekan). Dan barangsiapa berusaha mencari kebaikan dia akan memperolehnya. Dan barangsiapa berusaha melindungi diri dari kejelekan, dia akan dilindungi darinya.” (HR. Al Khothib Al Baghdadiy -rahimahulloh- di “Tarikh Baghdad” 9/127 dan dihasankan Imam Al Albany -rahimahulloh- di “Ash Shohihah” 1/hal. 605, dan ada sanad-sanad pendukungnya).

            Jadi memang harus dengan usaha mencari, nanti Alloh ta’ala akan menolongnya untuk meraihnya.

Alloh ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل/43]

“Maka bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl 43)

Dan alhamdulillah kami telah mendapatkan penjelasan dari para ulama di markiz Dammaj seperti Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury, Syaikh  Jamil Ash Shilwy, Syaikh Muhammad bin Hizam, Syaikh Abu Amr Al Hajury, Syaikh  Abu Bilal Al Hadhromy, Syaikh Abdul Hamid Al Hajury, Syaikh Muhammad Al ‘Amudy dan lainnya -hafizhahumulloh-, dan juga Syaikhunal Walid Muhammad bin Mani’ di markiz Shon’a, Syaikh Ahmad bin ‘Utsman di markiz ‘Adn, Syaikh Hasan bin Qosim Ar Roimy (murid Imam Al Albany -rahimahulloh-) di markiz Ta’iz, dan Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Ad Duba’iy di markiz  Mukalla, dan yang lainnya. Semuanya -hafizhahumulloh- menjelaskan dengan hujjah-hujjah mereka tentang batilnya perbuatan Abdurrohman-Abdulloh Al ‘Adniyyan dengan para pengikutnya -hadahumulloh- .

            Mayoritas dari perkara tadi kami saksikan dengan mata kepala kami, dan kami rasakan[1] keganasannya di sini. Juga ini semua sudah dijelaskan dengan dalil dan hujjahnya di dalam malzamah-malzamah yang sekarang telah mencapai duaratus judul, yang sebagiannya disembunyikan oleh Luqman Ba Abduh dan anak buahnya. Dan yang belum sampai ke tanah air dicegah untuk masuk lewat sistem tahdziran.

            Adapun orng yang telah mengetahui duduk perkara fitnah ini tapi justru memusuhi Salafiyyin Dammaj, atau melemahkan perjuangan mereka, maka kita katakan sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ الله يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ﴾ [هود:34]

“Dan tidak bermanfaat buat kalian nasihatku jika aku ingin menasihati kalian jika Alloh menghendaki untuk menyesatkan kalian.” (QS Hud 34)

Ana khawatir dia akan terkena sebagian dari firman Alloh ta’ala:

وَمَنْ يُرِدِ الله فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ الله أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ  [المائدة/41]

“Dan barangsiapa dikehendaki Alloh akan tertimpa fitnah, maka engkau tak akan bisa menolong mereka dari Alloh sedikitpun. Mereka itulah orang-orang yang tidak dikehendaki Alloh untuk hati-hati mereka disucikan. Mereka di dunia akan mendapatkan kehinaan, dan mereka di akhirat akan mendapatkan siksaan yang besar.” (QS. Al Ma’idah: 41).

          Manusia pada saat datangnya al haq terbagi menjadi beberapa jenis. Ada tipe kelompok yang pada saat datangnya al haq mereka bersepakat untuk menerimanya. Dan inilah yang ideal, sebagaimana perintah Alloh ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]

“Dan berpegangteguhlah kalian dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imron 103).

Ada juga tipe kelompok yang pada saat datang al haq kepada mereka mereka terpecah menjadi dua: pengikut al haq dan penolak al haq. Maka yang menerima al haq itu terpuji karena mengikutinya meskipun tinggal sendirian. Dan dialah yang berhak menyandang gelar “Al Jama’ah”. Adapun orang yang menolak al haq maka dia tercela karena menolak al haq dan karena dialah yang menjadi biang perpecahan. Dan dia itu yang berhak dicerca dan berdosa. Alloh ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم

“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bayyinat (bukti-bukti kebenaran), dan mereka itulah yang berhak mendapatkan siksaan yang besar.” (QS Ali Imron 105).

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

« مَثَلِى وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِى الله كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَىَّ ، وَإِنِّى أَنَا النَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ . فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا ، وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ »

“Permisalanku dengan permisalan apa yang dengannya Alloh mengutus diriku adalah permisalan seseorang yang mendatangi suatu kaum seraya berkata,”Aku melihat pasukan dengan mata kepalaku. Dan sungguh aku ini adalah pemberi peringatan yang jujur, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan. Maka sekelompok dari mereka menaatinya seraya berangkat di awal malam tanpa penundaan sehingga mereka selamat. Tapi sekelompok lagi mendustakannya, sehingga mereka dihantam oleh pasukan tentara tadi di waktu pagi dan dimusnahkan”. (HR. Al Bukhoriy (6482) dari Abu Musa Al Asy’ary rodhiyallohu ‘anhu).

            Perhatikanlah –waffaniyalloh wa iyyakum-: saat al haq datang mereka terpecah jadi dua. Yang ikut al haq selamat dan yang menolaknya celaka.

            Apakah yang mengikuti al haq patut dicerca karena tidak mau terus bersatu bersampai kelompok kedua agar celaka bersama-sama? Ataukah beritanya tadi yang disalahkan karena membikin perpecahan? Ataukah mereka dibiarkan saja hidup tenang bersatu tanpa menyadari adanya bahaya besar yang mendekat?

Bukankah Abdurrohman-Abdulloh dan Ba Muhriz telah tiba di tanah air kita dan membikin syubuhat, minimal dengan penampilan akhlaq yang memukau? Bukankah anak buah mereka telah bertebaran di tanah air sambil menebar racun?

Sesungguhnya para Nabi عليهم السلام mengajak kepada persatuan di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian terjadilah perpecahan antara ahlilhaq dan ahlil bathil ketika datangnya seruan kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru: “Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua kelompok yang yang bersengketa.” (QS. An Naml: 45).

            Dalam hadits Jabir bin Abdillah  رضي الله عنهما :

ومحمد – صلى الله عليه وسلم – فرق بين الناس

 “Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (7281)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad  صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

            Maka barangsiapa taat pada para utusan Alloh maka dia itu bersama mereka di atas jalan yang lurus, dan mereka itu adalah ahlul Jama’ah. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka maka sungguh dia telah meninggalkan jalan yang lurus dan condong kepada jalan-jalan yang menyimpang tadi dan memisahkan diri dari Jama’ah, maka dia itulah yang tercela. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaf.

            Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata: “Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

            Dan memang tidak pantas ahlul haq bersatu dengan ahlul batil yang bandel.

Syu’bah dan Ibnu Ma’in -rahimahumalloh- tetap memperingatkan umat dari bahaya rowi-rowi yang lemah dan pembohong, meskipun terkadang beberapa imam yang lain tidak setuju. Hammad bin Zaid -rahimahulloh- berkata:

“kami berbicara kepada Syu’bah agar menahan diri dari mentahdzir Aban bin Abi ‘Ayyasy karena pertimbangan usia dan keluarganya. Maka beliau menjamin untuk melakukannya. Kemudian kami berkumpul di jenazah, maka beliau berseru dari jauh,”Wahai Abu Ismail, aku telah ruju’ dari jaminan tadi. Tidak halal untuk berdiam darinya karena urusan ini adalah masalah agama.” (“Mizanul I’tidal”/1/hal. 11)

Abu Bakr bin Kholad -rahimahulloh- berkata:

“Aku masuk menjenguk Yahya bin Ma’in di waktu sakitnya, lalu beliau berkata padaku,”Wahai Abu Bakr bagaimana kau tinggalkan penduduk Bashroh berbicara –tentang diriku-?” Kukatakan padanya,”Mereka menyebutkan kebaikan. Hanya saja mereka mengkhawatirkan keadaan Anda karena kritikan Anda kepada orang-orang.” Beliau berkata,”Hapalkan ucapan ini dariku: Sungguh jika ada yang menjadi lawan debatku adalah seseorang karena kehormatan manusia, lebih aku sukai daripada yang menjadi musuhku adalah Nabi r. Beliau akan berkata,”Sampai kepadamu suatu hadits yang menurut dugaanmu adalah tidak shahih tapi engkau tidak mengingkarinya.” (“Al Kamil” /Ibnu Adi dan “Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/Khothib Al Baghdadi. Atsar ini tsabit).

            Apakah dengan manhaj semantap ini mereka peduli dituduh sebagai perusak persatuan? Tentu saja jawabnya adalah: tidak.

            Yang berdosa dengan terjadinya perpecahan ini adalah dua kelompok: yang pertama adalah kelompok yang menyombongkan diri terhadap kebenaran dan tidak mau tunduk pada dalil setelah tegaknya dalil-dalil tadi.

            Yang kedua adalah: hizbiyyun mar’iyyun yang memang terkenal suka aktif mengadu domba para ulama.

            Dan tiada jalan untuk bersatu kecuali jika semuanya mau tunduk dan kembali kepada apa yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, bukannya bersatu di atas percampuradukan antara kebenaran dan kebatilan dan membiarkan ahli batil bebas mengumbar kebatilannya sementara ahli haq dipaksa diam menyembunyikan kebenaran.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Dammaj, 10 Jumadats Tsaniyyah 1434 H

 

Daftar Isi

جدول المحتويات

Untuk soal pertama: 3

Jawaban: 3

Pertanyaan kedua: 12

Jawabnya adalah: 12

Pertanyaan ketiga: 16

Jawaban: 16

Pertanyaan keempat: 20

Jawaban: 21

Penutup dari soal: 24

Jawaban: 24

Daftar Isi 31

 

 

 

 


[1] Maksud “merasakan” di sini adalah menyaksikan langsung dan membuktikan benarnya peringatan Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dan para masyayikh yang lain. Bukanlah makna “merasakan” di sini sekedar dzauq (perasaan) sebagaimana talbis dari kepala Yayasan “As Salaf” Balikpapan dalam menjawab nasihat Akhunal Fadhil Imam Hanafy -hafizhahulloh-. Tokoh yayasan tadi pula yang menuduh Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- “syadz” (nyeleneh). Entah dia itu mendapatkan jawaban dari qorin dia ataukah dari Asykari –hadahumalloh- .