Pedang Tajam Membabat

Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bushiriy Arofat)

(bagian pertama)

 

Diizinkan Penyebarannya

Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Judul Asli:

“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh

(Arofat Al Bushiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

 

Terjemah Bebas:

“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bushiriy Arofat)”

 

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

  

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penulis

          الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya fitnah-fitnah itu terus-menerus menimpa umat terakhir ini agar dengannya Alloh membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir, dan agar Alloh memisahkan antara yang buruk dari yang baik. Abdulloh bin Amr ibnul Ash رضي الله عنهما menceritakan bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«… وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضها وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه». الحديث. (أخرجه مسلم (1844)).

“… dan sesungguhnya umat kalian ini, dijadikan keselamatannya pada generasi awalnya. Dan generasi akhirnya akan tertimpa bencana dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Dan fitnah datang, sebagiannya menjadikan sebagian yang lain menjadi tampak lemah, dan datang fitnah lagi, sehingga seorang mukmin berkata: “Inilah kebinasaanku.” Kemudian hilanglah fitnah itu. Kemudian datang lagi fitnah, sehingga seorang mukmin berkata: “Inilah, inilah.” Dst. (HR. Muslim (1844)).

            Maka bagi orang yang menginginkan keselamatan, dia wajib untuk mengetahui kebenaran di dalam fitnah yang gelap seperti ini, dengan cara mengikhlaskan niat untuk Alloh ta’ala, dan membulatkan tekad untuk mengikuti perkara yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta mencurahkan kemampuan untuk meneliti dan merenungkan, tanpa taqlid (membebek) ataupun ta’ashshub (fanatisme), dan juga dengan terus-menerus merasa amat membutuhkan Robbnya عز وجل dan berdoa kepada-Nya, karena sesungguhnya Alloh itu tidak akan menyia-nyiakan kerja keras orang yang berbuat ihsan. Alloh ta’ala berfirman:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين. [العنكبوت: 69].

“Dan orang-orang yang berusaha keras untuk mencari jalan-jalan Kami, pastilah Kami akan menunjuki mereka jalan-jalan keridhoan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar bersama orang-orang yang muhsinin.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka apabila dibandingkan antara pendapat-pendapat yang beraneka ragam dan ucapan-ucapan yang berbeda-beda, dan itu semua dipaparkan kepada hakim yang tidak zholim, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya, dan si peneliti memurnikan dirinya dari fanatisme dan kesukuan, dan dia mencurahkan kemampuannya, dan menghendaki untuk taat pada Alloh dan Rosul-Nya, maka sangat jarang sekali untuk tersembunyi dari dirinya kebenaran dari ucapan-ucapan tadi dan apa yang lebih dekat kepada kebenaran, dan perkara yang keliru dan apa yang lebih dekat kepada kekeliruan, karena sesungguhnya ucapan-ucapan yang beragam itu tidak keluar dari kebenaran dan apa yang lebih dekat kepada kebenaran, dan perkara yang keliru dan apa yang lebih dekat kepada kekeliruan. Dan derajat dekat dan jauh itu bertingkat-tingkat.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/1/hal. 172).

            Ini, dan telah sampai kepada kami cercaan-cercaan baru –dan pada hakikatnya itu bukanlah cercaan yang baru- dari Luqman Ba Abduh terhadap syaikh kami As Salafiy Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam ceramah dirinya di awal bulan Jumadats Tsaniyyah 1434 H dengan judul: “Kupas Tuntas Fitnah Sururiyyah Hajuriyyah.” Dalam ceramah itu Luqman merendahkan Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله . Dan para hizbiyyun itu menyebarkan kebatilan-kebatilan ini secara audio dan tulisan dalam rangka memperburuk citra para pembawa kebenaran dan melarikan manusia dari para pembawa kebenaran.

            Saya juga telah mendengar ceramah doktor Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy yang sampai kepada kami dengan judul: “Bayan Hal Yahya Al Hajuriy Wal Mudafi’ina ‘Anhu” (Penjelasan Tentang Keadaan Yahya Al Hajuriy dan Para Pembelanya), dia mencerca Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظهما الله.

            Luqman dan Abdulloh Al Bukhoriy membebek kedustaan-kedustaan Arofat Al Bushoriy terhadap Syaikh kami yang jujur Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam risalah dia yang berjudul “Al Bayanul Fauriy.” Dan banyak dari syubuhat dia itu hanyalah mengambil dari tulisan-tulisan para pengikut haddadiyyah baru dari situs “Al Atsariy”. Dan bukan tidak mungkin bahwasanya sumber bahan serangan dari Luqman dan syaikhnya adalah tulisan-tulisan para haddadiyyun tersebut.  Jika tidak demikian, maka hendaknya mereka menampilkan pada kami rantai sandaran mereka dan nama-nama orang-orang yang baku tolong dengan mereka untuk menghasilkan syubuhat-syubuhat tersebut.

            Dan syubuhat-syubuhat mereka itu berdekatan dan mirip, seakan-akan mereka datang dari lubang yang sama –dan memang demikian-. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾ [الأنعام: 112].

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Andai Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

            Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

﴿وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾ [الأنعام: 121].

“Dan sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada para wali mereka agar mereka membantah kamu; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

            Dan saya melihat bahwasanya sebagian dari mereka datang dengan tambahan syubuhat yang lain terhadap sebagian yang lain.

            Dan saya telah menjelaskan kemiripan-kemiripan yang mengerikan antara mar’iyyin dengan haddadiyyin, di dalam risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah.” Dan sekarang ini mereka mewarisi senjata-senjata haddadiyyun.

            Maka sebagaimana para Nabi memiliki pewaris yang membawa kebenaran dan baku tolong di atas kebajikan dan taqwa, maka demikian pula para setan memiliki pewaris yang membawa kebatilan dan baku tolong di atas dosa dan permusuhan.

            Maka manakala saya mendapati rantai tipu daya ini mengandung banyak kedustaan dan cercaan yang jahat, saya terpaksa untuk membantahnya dalam rangka menolong orang yang zholim dan yang terzholimi, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – « انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا » . قَالُوا: يَا رَسُولَ الله هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا ، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: « تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tolonglah saudaramu baik dia itu zholim atau dizholimi.” Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, orang ini akan kami tolong jika dia terzholimi. Maka bagaimana kami menolongnya jika dia yang zholim?” Beliau bersabda: “Engkau pegang tangannya dari atas (cegah dia dari berbuat zholim).” (HR. Al Bukhory (2444)).

            Dan saya menyebutkan dalam lipatan-lipatan risalah ini kriteria alim, faqih dan mujtahid, dalam rangka membantah orang-orang tersebut di atas dan juga membantah Muhammad Asy Syarbiniy yang di dalam risalahnya “Aina Tadzhabuna Bi Hadzihil Fitnah” meremehkan dua syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibbiy dan Abdul Hamid Al Hajuriy حفظهما الله.

            Maka saya berkata dengan memohon pertolongan kepada Alloh:

 

Bab Satu: Tuduhan “Ghuluw” dan Berlebihan Dalam Membid’ahkan

 

            Luqman berkata: “Yang kedua sebaliknya: Ekstrim dan berlebihan dalam memvonis orang lain sebagai Ahlul bid’ah. Fitnah kedua ini sebenarnya sudah ada beberapa contoh fitnah lainnya yang sebelumnya dan mendahuluinya. Yaitu fitnah yang dimunculkan oleh Mahmud Al Haddad Abu Abdillah yang kemudian dikenal dengan kelompok al haddadiyyah. Ternyata kelompok al haddadiyyah ini muncul semisal dengannya dan lebih dahsyat lagi, dimunculkan oleh seorang yang bernama Yahya bin Ali Al Hajuriy yang kemudian sebagian ulama di Yaman menyebutkan fitnah al Hajuriyyah, memberikan nama untuknya sebagai fitnah al Hajuriyyah.”

            Maka jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Termasuk dari kebiasaan pengekor hawa nafsu yang lembek manhajnya dan bermudah-mudah dalam agamanya adalah: mereka menuduh para penasihat yang cemburu terhadap agamanya dan kokoh dalam manhajnya, bahwasanya mereka itu adalah orang yang ekstrim, keras dan melampaui batas.

            Abdul Majid Az Zindaniy menuduh para salafiyyin sebagai kelompok yang keras, dikarenakan mereka mengkritik para tokoh. (rujuk “Tuhfatul Mujib”/karya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله /hal. 367/cet. Darul Atsar).

            Para Ikhwaniyyun juga menuduh kita sebagai kelompok keras karena kita memakai nama Ahlussunnah, dan yang demikian itu menurut mereka membikin larinnya orang-orang. (rujuk “Maqtalusy Syaikh Jamilirrohman”/karya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله /hal. 38/cet. Darul Atsar).

            Abdulloh bin Gholib As Sururiy menuduh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله bahwasanya beliau itu keras dalam mengkritik, dan berlebihan dalam mengkritik para hizbiyyin. (rujuk apa yang dinukilkan oleh Abu Hammam Al Baidhoniy وفقه الله dalam “Nubdzatun Yasiroh Min A’lamil Jaziroh, Tarjumatusy Syaikh Muqbil Rohimahulloh/hal. 115).

            Abul Hasan Al Mishriy menuduh bahwa orang yang membid’ahkan Ikhwanul Muslimin itu telah berlebihan. (“Majmu’ur Rudud ‘Ala Abil Hasan”/karya Asy Syaikh Robi’ حفظه الله/hal. 387).

            Ibrohim bin Hasan Asy Sya’biy mencerca para masyayikh: Ahmad An Najmiy, Robi’ Al Madkholiy, dan Zaid bin Muhammad Al Madkholiy bahwasanya beliau-beliau tersebut adalah orang-orang keras.” (rujuk “Ar Roddul Muhabbar”/karya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله/hal. 151).

            Ukuran berlebihan dan pertengahan dan bermudah-mudah itu dikembalikan kepada dalil-dalil dan argumentasi-argumentasi. Dan alhamdulillah, Asy Syaikh Yahya حفظه الله sangat berhati-hati saat melihat kebatilan seseorang, menasihatinya berkali-kali dan bersabar menanti hidayah untuknya. Jika dilihat penentangannya terhadap kebenaran setelah ditegakkan dan ditunggu, maka barulah diberikan hukum sesuai dengan haknya.

 

            Luqman berkata –secara ringkas-: “Di antara yang diucapkan oleh Al Hajuriy sebagaimana yang terekam di dalam kaset yang berjudul “Nashihatul Ahbab” judulnya indah sekali –”nasihat untuk kawan-kawan yang tersayang”- apa kata dia?: “Lajnah yang kalian bentuk terhadap kami, tidak ada salafnya. Kalian sekarang telah memunculkan perkara yang muhdats, yakni amalan bid’ah.” Kemudian Luqman menuduh Asy Syaikh Yahya nyeleneh dan mudah memvonis bid’ah.

            Jawabannya –dengan taufiq Alloh- adalah sebagai berikut-:

            Sesungguhnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله tidak menilai bahwa asal ijtima’ itu adalah bid’ah. Hanya saja beliau menyebutkan bahwasanya kasus ini adalah kasus pembelotan sebagian murid terhadap syaikh mereka, dan pembangkangan mereka terhadap kebenaran, dan bersikerasnya mereka untuk berbuat zholim pada yang lain, lalu syaikh mengusir mereka dalam rangka menjaga keteraturan markiz. Maka bagaimana para masyayikh yang tadi ikut campur dan membikin seperti panitia untuk mengurusi kasus tadi? Ini tidak dilakukan oleh As Salafush Sholih, maka Asy Syaikh Yahya menghukumi bahwa yang demikian itu adalah muhdats (perkara baru).

            Dulu para As Salafush Sholih mengusir orang-orang jelek dalam rangka menjaga agama dan muslimin, sementara para imam yang lain tidak membikin pertemuan untuk ikut campur urusan tadi.

            Ini dia Washil bin ‘Atho diusir oleh Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله dari majelis beliau. (“Al Ansab”/karya As Sam’aniy/5/hal. 338-339). Dan para imam yang lain tidak membikin ijtima’ terhadap perbuatan Al Hasan Al Bashriy terhadap para murid beliau.

            Qodariyyah juga terusir dari majelis Ikrimah bin Ammar رحمه الله. Mu’adz bin Mu’adz berkata: aku mendengar Ikrimah bin Ammar berkata pada orang-orang: “Aku menyatakan keberatan terhadap orang yang bermadzhab qodariyyah, hendaknya dia bangkit dan keluar dari majelisku, karena sungguh aku tak akan memberinya hadits.” (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 138). Dan para ulama tidak berkata: “Anda harus bermusyawarah dengan kami sebelum mengusir satu orangpun dari majelis Anda.”

            Imam muslimin di zamannya: Abu Abdillah Malik bin Anas رحمه الله  ketika ditanya tentang bagaimana istiwa Alloh, beliau menjawab: “Istiwa itu telah diketahui. Gambarannya itu tidak diketahui. Beriman dengan itu adalah wajib. Bertanya tentang itu adalah bid’ah. Dan aku mengira bahwasanya engkau adalah seorang zindiq. Keluarkanlah dia dari masjid.” (“Thobaqotusy Syafi’iyyatil Kubro”/4/hal. 163).

            Dan tiada ulama yang lain yang menyatakan bahwasanya harus dibentuk lajnah untuk memeriksa perbuatan Al Imam Malik terhadap orang yang di majelis beliau.

            Dan contoh dalam masalah ini banyak.

 

 

Bab Dua: Upaya Menempelkan Nama “Fitnah” Terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله

 

            Luqman Ba Abduh berkata: “fitnah yang dimunculkan oleh Mahmud Al Haddad Abu Abdillah yang kemudian dikenal dengan kelompok al haddadiyyah. Ternyata kelompok al haddadiyyah ini muncul semisal dengannya dan lebih dahsyat lagi, dimunculkan oleh seorang yang bernama Yahya bin Ali Al Hajuriy.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Seharusnya engkau menamai fitnah ini sesuai dengan penyebabnya, yaitu Abdurrohman Al Adaniy Al Mar’iy. Seperti fitnah Timurlank. Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Watsilah menyaksikan perang Tabuk, kemudian menghadiri penaklukan Damaskus dan tinggal di situ, dan masjid beliau ada di situ, di samping Babush Shoghir dari arah kiblat. Aku katakan: masjid beliau terbakar pada masa fitnah Timurlank, dan tidak tersisa darinya kecuali bekasnya saja. Dan di atas pintunya dari arah timur ada semacam saluran air.” (“Al Bidayah Wan Nihayah”/9/hal. 60).

            Fitnah yang terjadi di Dammaj itu disebabkan oleh Abdurrohman Al Adaniy, sebagaimana kenyataan yang kami lihat, dan diakui oleh para masyayikh itu sendiri, bukan seperti yang dituduhkan oleh Luqman dan para hizbiyyun yang pura-pura buta yang lain. Dan para masyayikh –semoga Alloh menjaga mereka- telah menetapkan dalam ijtima’ yang pertama bahwasanya Abdurrohman bin Mar’i keliru dalam langkahnya. (rujuk “Al Barohinul Jaliyyah”/hal. 9), bahkan Asy Syaikh Abdulloh bin Utsman حفظه الله berkata padanya: “Fitnah-fitnah ini menyembur dari bawah telapak kakimu.” (rujuk “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 36). Dan sebagaimana ucapan Asy Syaikh Muhammad Al Imam kepada Abdurrohman dalam majelis masyayikh: “Ini adalah Bakriyyah gaya baru.” (rujuk “Haqoiq Wa Bayan”/hal. 22).

            Maka Abdurrohman Al ‘Adaniy itulah sebab fitnah ini, maka dikatakan: “Fitnah Al Adaniy.”

            Kecuali jika perkaranya jelas dan tidak terjadi kesamaran bagi orang-orang, maka boleh untuk fitnah itu dinisbatkan kepada yang bukan penyebabnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian ahli sejarah. Hanya saja Luqman Ba Abduh hanyalah menginginkan bentuk yang pertama, yaitu dia menisbatkan fitnah ini kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله , sebagai bentuk penisbatan fitnah kepada penyebabnya –menurut anggapan dia-.

            Yang lebih menguatkan bahwasanya fitnah ini telah direncanakan oleh para Mar’iyyun adalah data-data sebagai berikut:

Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal حفظه الله : “Dan telah tetap juga perkara yang menunjukkan makar dan khianat orang ini –yaitu Salim Ba Muhriz-. Maka di antara perkara yang kami ketahui: Pertama: Berita yang dikabarkan kepada kami, oleh saudara kami yang mulia Muhammad bin Sa’id bin Muflih dan saudaranya Ahmad, dan keduanya adalah penduduk Dis Timur di pesisir Hadhromaut, yaitu: Bahwasanya Salim Ba Muhriz berkata pada mereka di pertengahan tahun 1423 H: “Kita telah selesai dari Abul Hasan. Dan giliran berikutnya akan datang menimpa Al Hajuriy!!!”

Ini adalah makar dan tipu daya yang nyata serta rencana untuk menimpakan fitnah di barisan Ahlussunnah, di mata orang-orang yang inshof (adil/objektif). Akan tetapi yang mengherankan adalah orang yang telah sampai padanya ucapan semacam ini tapi dia diam saja tidak bergerak seakan-akan dia ridho dengan itu!”([1]) (“Ad Dalailul Qoth’iyyah ‘Ala Inhirofi Ibnai Mar’i”/hal. 13).

Abu Abdillah Muhammad bin Mahdi Al Qobbash Asy Syabwiy: Kami pernah pulang dari muhadhoroh di So’dah bersama Abdurrohman Al ‘Adniy. Dan yang demikian itu setelah pulangnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله dari perjalanan beliau ke ‘Adn yang terakhir, maka berkatalah akh Shodiq Al ‘Abdiniy –dan dia termasuk teman dan orang dekat Abdurrohman Al ‘Adniy- kepada Abdurrohman: “Yang menghadiri ceramah Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy di ‘Adn itu jumlahnya besar. Kami menyangka kerajaan kita akan berdiri di sana –di ‘Adn-. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Tidak tahukah engkau wahai akh Shodiq bahwasanya markiz –atau berkata: dakwah- akan pindah ke sana, karena markiz ini –yaitu markiz Dammaj- itu terancam dari arah Rofidhoh.” Selesai kisah. Dan yang demikian itu sebelum fitnah Abdurrohman Al ‘Adniy dan sebelum fitnah Hutsiyyin (Rofidhoh).

Abdul Hakim bin Muhammad Al `Uqoiliy Ar Roimiy berkata: “Seorang saudara dari Indonesia datang bermusyawarah dengan Abdurrohman Al ‘Adniy dalam masalah membeli tanah di Dammaj seharga empat juta real Yamaniy. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “kunasihati engkau untuk tidak membelinya.” Lalu orang itu pergi. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy berkata padaku: “Nasihatilah orang itu. Ini adalah harta yang besar. Wallohu a’lam apakah Dammaj ini akan tetap ada setelah ini atau tidak. Bisa jadi hartanya tadi akan hilang.” Atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan ucapan tadi terjadi sebelum fitnah ini, dan Alloh menjadi saksi atas perkataanku ini.”

Abul Khoththob Thoriq Al Libiy –salah satu kepala gerombolan fitnah ini- berkata pada Akh Aiman Al Libiy sebelum fitnah ini: “Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adniy akan membuka markiz besar di ‘Adn, fasilitas lengkap, dukungan juga kuat, dan akan dinamakan “Kota ilmu.” Dan Insya Alloh akan ada jalan keluar bagi problem para pelajar asing.” Lalu Abul khoththob berkata lagi: “Tak akan tersisa seorang pelajarpun di Dammaj.”

Abdulloh Al Jahdariy –pengelola penertiban jadwal pelajaran di Dammaj, dan dulunya termasuk orang dekat dan teman duduk Abdurrohman Al ‘Adniy- berkata bahwa dirinya dulu ingin membeli rumah di Dammaj, maka Abdurrohman Al ‘Adniy menasihatinya untuk tidak membeli rumah. Abdurrohman Al ‘Adniy berkata: “Kita tidak tapi bagaimana urusan ini nantinya, dan apa yang akan terjadi besok.” Ucapan ini dilontarkannya pada akhir fitnah Abul Hasan.

Dan semisal dengan ini Abdurrohman Al ‘Adniy menasihati   orang lain dengan dihadiri Abdulloh Al Jahdariy kurang lebih dua tahun setelah itu.

Abdurrohman bin Ahmad An Nakho’iy berkata: “Saya berkendara bersama Abdurrohman Al ‘Adniy di mobilnya dari Mudiyah ke Laudar, saya disertai Abdul Bari Al Laudariy. Lalu Abdul Bari Al Laudariy menanyainya: “Wahai Syaikh Abdurrohman, bagaimana kabar tentang markiz?” Abdurrohman berkata: “Kami masih berupaya untuk itu.” Maka Abdul Bari Al Laudariy berkata: “Ini adalah upaya yang bagus agar mereka mengakhiri makelar di Dammaj.” Lalu dia tertawa. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy diam.

(Rujuk “Mukhtashorul Bayan”/hal. 4-5/ditulis oleh sekelompok masyayikh Darul Hadits Dammaj).

            Ini jelas sekali bagi orang-orang yang berakal bahwasanya kasus ini bukanlah sekedar pembukaan markiz baru seperti anggapan Luqman, bahkan ini adalah tipu muslihat untuk mengacau markiz induk dan upaya menghilangkan kebaikan-kebaikan di dalamnya.

            Manakala makar mereka terbongkar, dan para masyayikh berkumpul di Darul Hadits Dammaj –pertemuan yang pertama- Abdurrohman Al ‘Adniy mengakui di hadapan mereka bahwasanya ketika Sholih Al Bakriy telah jatuh, beberapa orang mendatanginya seraya berkata: “Sesungguhnya Al Bakri telah jatuh, maka bangkitlah Anda.” Demikianlah Asy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله mengabarkan kepada kami. Dan berita ini juga tersebut di risalah “Al Muamarotul Kubro” karya Abu Basysyar Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله hal. 16.

            Lihatlah tipu muslihat yang besar sekali ini. Maka apakah setelah data-data besar semacam ini engkau –wahai Luqman- masih menghukumi bahwasanya orang-orang Mar’iyyun itu di atas sunnah dan salafiyyah?

            Dan lihatlah pelaksanaan strategi mereka itu:

Ketika Abdurrohman Al Mar’iy mengumumkan permulaan pencatatan nama –orang-orang yang akan membeli tanah di calon markiz Fuyusy- tersebut, dia menebarkan berita di tengah-tengah penuntut ilmu bahwasanya tenggang waktu pencatatan tidak lebih dari empat hari saja, dan bahwasanya pembangunan tanah tersebut akan selesai dalam tempo satu tahun. Tentu saja tempo yang amat sempit dan pembatasan yang telah dirancang tadi menunjukkan padamu besarnya bahaya impian dan makar tadi. Orang ini tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi pelajar untuk memikirkan tadi bahaya, efek dan akibat dari urusan ini. Dan dia tidak tahu tipu daya tadi. Tapi Alloh ta’ala berfirman:

}وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْمَاكِرِينَ{ [الأنفال/30]

“Mereka membikin tipu daya, dan Alloh membalas tipu daya mereka. Dan Alloh itu sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal: 30).

            Maka yang terjadi sebagai akibat dari tenggang waktu yang cukup mencekik tersebut adalah: banyak pelajar yang tertimpa kesusahan. Sebagian dari mereka akhirnya harus membuang rasa malu untuk mengemis dalam mencari uang. Ada sebagiannya yang sibuk berpikir dan goncang hatinya dikarenakan waktu tidak mengizinkan untuk terlambat.

            Keadaan ekonomi para pelajar sudah diketahui bersama, dan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk membeli tanah itu tidak dimiliki oleh mayoritas mereka([2]). Tentu saja kondisi seperti ini telah benar-benar diketahui oleh Abdurrohman Al Mar’iy. Tapi dia memanfaatkan kelemahan ekonomi para pelajar tersebut. Oleh karena itulah dia menawarkan kepada mereka harga yang menurut orang lain cukup murah tersebut. Akibatnya sebagian dari pelajar bagaikan orang gila yang goncang dalam upayanya mendapatkan dana senilai harga tersebut.

            Mestinya yang wajib dilakukan oleh Abdurrohman Al Mar’iy dalam kondisi seperti ini adalah untuk tidak membuat sempit para pelajar, dan tidak membikin pembatas waktu yang menjerumuskan mereka ke dalam kesusahan. Ini jika kita menerima bahwasanya perbuatannya tadi benar([3]).

            Engkau bisa melihat sebagian pelajar menjual emas istrinya, ada juga yang berutang, ada juga bisa engkau lihat dia itu sedih karena tidak mendapatkan uang untuk membeli tanah tadi, terutama dengan sempitnya waktu. Ada juga dari mereka yang menghasung sebagian pelajar untuk menjual rumahnya yang di Dammaj sehingga bisa memiliki dana untuk membeli tanah yang di kota perdagangan Fuyusy. Akibatnya sebagian pelajar ada yang terjerumus ke dalam jebakan tadi, ada yang tertimpa kesempitan, ada juga yang kesusahan.

            Adapun orang yang telah membeli tanah tadi, mulailah dia setelah itu memikirkan pembangunannya, dan darimana mendapatkan dana agar bisa mendirikan bangunan di atas tanah tadi. Maka terjatuhlah orang tadi ke dalam kesusahan, yang meyebabkan sebagiannya berkurang semangat belajarnya dan mulai condong kepada dunia.  (diringkas dari “Tadzkirotun Nubaha Wal Fudhola”/Asy Syaikh yang utama Abu Hamzah Muhammad Al ‘Amudiy Al ‘Adniy حفظه الله /hal. 3-9).

            Abdurrohman bin Mar’i Al ‘Adaniy dan para pengikutnya telah berupaya untuk merobek barisan salafiyyun. Datang fitnah mereka –di tengah-tengah markiz induk- untuk memukul dakwah Sunniyyah Salafiyyah, untuk mencerai-beraikan kesatuan mereka dan memindahkan perjalanan mereka yang sesuai Al Qur’an dan As Sunnah dan Salafiyyah menuju kepada perjalanan baru yang tidak dikenal di zaman As Salafush Sholih. Mereka menaikkan syiar “Kami ingin markiz di Fuyush!” tapi mereka tidak memulai dari sana, bahkan mereka justru membikin kegoncangan di markiz induk dan mengacau pikiran para pelajar markiz induk. Dan syaikh markiz induk, Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله tidak melarang mereka membangun markiz salafiy di bumi Alloh di manapun, bahkan beliau mendukung mereka dan mendorong mereka untuk itu.

            Akan tetapi kegaduhan macam apa ini yang terjadi di tengah-tengah Darul Hadits di Dammaj? Kenapa mereka tidak keluar dengan tenang ke tempat yang mereka inginkan, dan orang orang akan berdatangan insya Alloh tanpa membikin kekacauan di markiz ini? Tidak, mereka itu memang ingin melarikan para murid markiz ini dan merobek barisan penuntut ilmu di Darul Hadits ini.

            Masih banyak orang yang belum mengaji di suatu markiz di luar sana, kenapa yang sudah jadi murid Dammaj justru dibujuk dan diiming-imingi untuk keluar dari Dammaj?

Silakan rujuk kembali kabar fitnah dan kegoncangan tersebut di “Zajrul ‘Awi” (1/hal. 10), “Silsilatuh Tholi’ah” (4/hal. 12 dan 25), “Al Muamarotul Kubro” (Abdul Ghoni Al Qo’syamiy/hal. 18), “Haqoiq Wa Bayan” (Kamal Al ‘Adaniy/ha. 31), dan “Nashbul Manjaniq” (Yusuf Al Jazairiy/hal. 79).

Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal -hafizhohulloh- (pengajar di salah satu masjid di Hadhromaut) berkata: “Di antara berita yang tersebar dan diketahui bersama adalah bahwasanya Asy Syaikh Abdurrohman –Ashlahahulloh- punya para wakil yang menjalankan proyek pencatatan nama-nama orang yang ingin membangun di tanah markiz Lahj (Fuyusy). Dia sebelum itu punya iklan dan pengumuman besar yang tiada tandingannya, bahkan menelpon si fulan dan si fulan di sana dan di sini, yang mana kejadian tersebut membuat tersentaknya orang-orang yang berakal. Yang demikian itu dikarenakan markiz-markiz Ahlussunnah tidak didirikan dengan karakter dan gaya seperti itu, seperti yang diinginkan Asy Syaikh Abdurrohman –Ashlahahulloh- dalam mendirikan  markiz Lahj.

Semua orang tahu secara pasti bahwasanya tiada seorangpun pada zaman Syaikhunal Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- bisa tinggal di Dammaj sambil mencatat para pelajar yang ingin pindah ke markiz barunya –yang sampai sekarang masih berupa tanah kosong!([4]) Padahal dulu markiz-markiz itu didirikan setelah itu barulah orang yang diwakilkan untuk mengajar di situ pindah ke markiz tersebut. Terkadang pada permulaannya Syaikhuna -rohimahullohu- diminta untuk menentukan orang yang akan mengajar di situ.

Maka mengapa perkara yang seperti ini terjadi di Darul Hadits di Dammaj dalam keadaan pengganti bapak kita ada tapi tidak dimintai musyawarahnya !!? apakah kalian pandang seperti ini bentuk bakti, bantuan dan pertolongan buat markiz Syaikhuna -rohimahullohu-, ataukah hal itu merupakan suatu bentuk kedurhakaan dan permusuhan !!?

Aku merasa kagum dengan kecerdasan sebagian saudara kita dari pelajar asing manakala dia bertanya kepada seorang teman: “Andaikata Asy Syaikh Muqbil masih hidup, mungkinkah Asy Syaikh Abdurrohman melakukan perkara seperti ini, yaitu mencatat nama pelajar Dammaj yang mau pindah ke Fuyusy?” Maka teman tadi menjawab: “Nggak bisa.” Maka dia berkata,”Berarti ini nggak benar”.” (“Mulhaqun Nadhor”/hal. 13).

            Luqman Ba Abduh dalam ceramahnya yang berusaha menghantam Asy Syaikh Yahya berkata: “Salafiyyun itu tidak bodoh.” Maka kami jawab: “Iya benar, salafiyyun tidak bodoh, mereka dengan taufiq dari Alloh bisa melihat racun yang mengerikan di balik roti “Pendirian Pondok” yang disodorkan si Adaniy. Apalagi setelah mendengar bisikan-bisikan para kokinya, tahulah salafiyyun apa maksud sebenarnya dari proyek spektakuler tersebut. Alhamdulillah salafiyyun tidak bodoh meskipun Luqman berupaya untuk membodohi mereka dengan gaya bahasa yang lembut dan mengundang keharuan.

            Maka Abdurrohman Al ‘Adaniy dan para pengikutnya itulah penyebab fitnah secara sengaja, maka fitnah ini dinisbatkan kepada mereka, bukan kepada Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله.

 

            Luqman Ba Abduh berkata: “Sebagian ulama di Yaman menyebutkan fitnah al hajuriyyah, memberikan nama untuknya sebagai fitnah al hajuriyyah. Member namanya dengan fitnah Al Hajuriyyah. Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab Al Wushobiy, ulama Ahlussunnah yang tertua di Yaman dalam dakwah dan ilmu, guru kebanyakan masyayikh di yaman yang ada sekarang ini, termasuk Yahya Al Hajuriy sendiri sebagai salah satu muridnya menamakan fitnah ini dengan Al Hajawiroh. Diambil dari kata Al Hajuriy.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- sebagai berikut:

            Ulama Yaman itu banyak. Bagus juga jika Luqman menjaga kalimat dan tidak meniru sebagian Mar’iyyun yang kalimat mereka sering menjurus pada  pembatasan ulama di Yaman hanya pada sebatas Muhammad Al Wushobiy, Muhammad Ar Roimiy, Muhammad Ash Shoumaliy, Abdul Aziz Al Buro’iy, dan kedua anak Mar’i saja, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah kezholiman, pengurangan hak dan penghinaan. Dan akan datang insya Alloh pembicaraan tentang masalah itu dalam bantahan kami terhadap orang yang menganggap bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله ingin menjatuhkan para ulama dan tidak menyisakan satu orang alimpun.

            Banyak dari ulama Yaman dan yang selain Yaman yang tidak menilai Asy Syaikh Yahya sebagai penyebab fitnah, dan akan datang insya Alloh penyebutan nama-nama para ulama tersebut. Bahkan mereka menyetujui Asy Syaikh Yahya -berdasarkan ilmu dan pandangan yang tajam- bahwasanya Abdurrohman Al Adaniy dan kelompoknya itulah penyebab fitnah ini dan pengobarnya.

            Adapun ucapanmu -wahai Luqman- bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab Al Wushobiy itu paling tinggi ilmunya di Yaman, sebagaimana ucapanmu ini, dan dalam ucapmu yang lain: “Asy Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab di samping secara umur yang tertua juga secara ilmu yang paling senior, sebagaimana yang dinyatakan oleh Asy Syaikh Muhammad Al Imam… ” mana ini butuh bayyinah.

            Jika engkau berdalilkan dengan ucapan Muhammad Al Imam, maka kami mengambil ucapan syaikh kalian semua –Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله – karena beliau lebih tahu tentang murid-murid beliau, dan beliau menyelisihi ucapanmu.

Akhuna Abdulloh Mathir -waffaqohulloh- berkata: “Aku telah bertanya kepada Syaikh –yaitu Imam Al Wadi’i- dan demi Alloh, saat itu tiada antara aku dan beliau kecuali Alloh –azza wajalla-. Ketika aku berada di kamarnya di atas ranjang beliau (ketika beliau sakit). Kukatakan,”Wahai Syaikh, kepada siapa para Ikhwah akan merujuk (kembali) di Yaman ini ?, dan siapakah orang yang paling berilmu di Yaman?” beliau diam sejenak, lalu berkata,“Asy Syaikh Yahya.” Inilah yang kudengar dari Syaikh Muqbil, dan ini tidaklah maknanya kita merendahkan ulama Yaman yang lain. Sungguh kita benar-benar memuliakan dan mencintai mereka karena Alloh.. dst.” [“Muamarotul Kubro”/hal. 24]

            Kami tidak mementingkan apakah seseorang itu paling berilmu ataukah tidak, karena yang terpandang adalah kesesuaian dengan kebenaran, dengan dalil-dalilnya. Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata dalam bantahan beliau terhadap para ahli taqlid: “Jika dia berkata: “Aku membebek padanya karena dia adalah orang yang paling berilmu.” Maka dijawab untuknya: “Berarti dia itu lebih berilmu daripada para Shohabat? Dan cukuplah ucapan macam ini sebagai suatu keburukan.” Jika dia berkata: “Aku hanyalah membebek pada sebagian Shohabat.” Maka dijawab untuknya: “Apa hujjahmu dalam meninggalkan sebagian Shohabat yang tidak engkau taqlidi? Dan bisa jadi Shohabat yang engkau tinggalkan ucapannya itu lebih berilmu dan lebih utama daripada Shohabat yang engkau ambil ucapannya. Walaupun perkataan itu tidaklah benar dikarenakan keutamaan si pengucapnya, akan tetapi ucapan itu hanyalah benar dengan penunjukan dalil terhadapnya.” (“Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlih”/3/hal. 234).

            Hanyalah saya mendebat Luqman dalam perkataan tadi karena dia dan tentaranya sering membanggakan para ulama mereka sambil meremehkan ulama lain yang menjadi lawan mereka, lebih-lebih untuk mau memurnikan diri mencari kebenaran dengan melihat kepada dalil-dalilnya.

 

            Luqman Al Hizbiy berkata: “Fitnah Yahya Al Hajuriy ini muncul kurang lebih tujuh tahun yang lalu dan kemudian fitnah ini muncul dalam bentuk kekuatan yang mampu memecah belah salafiyyin, walaupun sebenarnya fitnah aqidah dan penyimpangannya sudah muncul sejak awal-awal dia duduk di kursi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله lebih dari sepuluh tahun yang lalu, atau kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Banyak dari ahli ahwa menyebarkan racun-racunnya di tengah-tengah muslimin, dan mereka tidak suka ada seorangpun yang menggugat mereka, maka jika ada seorang penasihat, alim lagi jujur membantah mereka dan membongkar makar mereka, mereka menuduhnya sebagai pemecah-belah jamaah muslimin, merobek keutuhan muslimin dan sebagainya.

            Hasan Al Malikiy dulu menuduh kitab-kitab aqidah –terutama karya Hanabilah- menanamkan benih perpecahan, kebencian, dan perselisihan di antara muslimin, dan robeknya barisan mereka. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 28/Darul Fadhilah).

            Muhammad Al Alwiy Al Malikiy juga telah menuduh para dai tauhid bahwasanya mereka memecah-belah jama’ah-jama’ah. (sebagaimana dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Yushohhah”/hal. 31/rujuk kitab “Hadzihi Mafahimuna”/hal. 240/karya Sholih bin Abdil Aziz Alisy Syaikh).

            Dan orang-orang pergerakan masa kini menuduh salafiyyun bahwasanya mereka mematahkan tongkat muslimin, karena salafiyyun tidak mau mengikuti pemikiran orang-orang tadi. Ini diceritakan oleh Al Imam Muqbil رحمه الله. (“Tuhfatul Mujib”/hal. 115).

            Para Ikhwaniyyun juga menuduh Asy Syaikh Jamilurrohman dan para sahabatnya mematahkan tongkat muslimin, karena tidak mau bergabung dengan ikhwaniyyin.” (rujuk “Maqtalusy Syaikh Jamilirrohman”/karya Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله /hal. 46/cet. Darul Atsar).

            Termasuk dari alamat Ikhwanul Muslimin adalah: “Jika jamaah keliru di suatu tempat, mereka berkata: “Kita harus selalu diam, jangan memecah-belah barisan. Tatsabbut, tatsabbut, sibuklah dengan ilmu dan amal, dan serahkan urusan ini pada ahlinya, dan janganlah kalian menyibukkan pikiran orang awwam. Kita menunggu dan menghindar dari fitnah, … dst. (rujuk “Ar Roddul Muhabbir”/hal. 192/karya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله/cet. Darul Minhaj).

Ini juga dengungan hizb Mar’iyyah bahwasanya mereka menuduh Salafiyyun yang menasihati itu menyebabkan perpecahan.

Ini tidak benar. Para Nabi عليه السلام dan para pewaris mereka mengajak kepada ijtima’ di atas Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian tentu saja terjadi perpecahan di antara ahlul haq dengan ahlul batil ketika da’watul haq datang. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا الله فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ﴾ [النمل/45].

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Sholih yang menyeru: “Beribadahlah kalian kepada Alloh” maka tiba-tiba saja mereka menjadi dua kelompok yang yang bersengketa.” (QS. An Naml: 45).

Dalam hadits Jabir bin Abdillah  رضي الله عنهما :

ومحمد – صلى الله عليه وسلم – فرق بين الناس

 “Dan Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu memisahkan di antara manusia.” (HR. Al Bukhoriy (Al I’tishom/Al Iqtida Bisunanir Rosul/(7281)/Darus Salam)).

Mulla ‘Ali Al Qoriy رحمه الله menukilkan maknanya: “Maknanya adalah: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu pemisah antara orang yang beriman dan orang yang kafir, orang yang sholih dan orang yang fasiq.” (“Mirqotul Mafatih”/1/hal. 496).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh telah mengutus Muhammad  صلى الله عليه وسلم dengan petunjuk dan agama yang benar. Dengan beliau Alloh memisahkan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, antara pengamalan ilmu dan pembangkangan terhadap ilmu, dan antara ma’ruf dan munkar.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 442/Maktabah Ibnu Taimiyyah).

            Maka barangsiapa menaati para Rosululloh, maka dia adalah termasuk ahli jamaah dan ketaatan. Tapi barangsiapa mendurhakai mereka, maka dia itulah pelaku perpecahan dan pemisahan diri serta kezholiman, maka dia itulah yang tertimpa celaan dan cercaan. Maka sebab dari perpecahan adalah keluarnya seseorang dari mengikuti Al Kitab Was Sunnah serta manhaj Salaf. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون﴾

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (QS. Al An’am: 153).

            Dan Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ﴾ [الشورى/14]

“Dan tidaklah mereka tercerai-berai kecuali setelah datang kepada mereka ilmu, disebabkan oleh kezholiman di antara mereka.”

            Asy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله dalam bantahannya terhadap Hasan Al Malikiy berkata: “Adapun penyimpangan ahlul bida’ wal ahwa dari Al Kitab dan As Sunnah, itulah sebab yang hakiki dari perpecahan mereka dan robeknya barisan mereka…” dst. (rujuk “Al Intishor Li Ahlissunnah”/hal. 33/Darul Fadhilah).

            Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Peringatan untuk umat dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu merupakan penyatuan kalimat Muslimin, bukan pemecah-belahan terhadap barisan mereka, karena sesungguhnya yang memecahbelah barisan Muslimin adalah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf itu.” (“Al Ajwibatul Mufidah” milik Asy Syaikh Sholih Al Fauzan/ditulis oleh Jamal Al Haritsiy/hal. 157/Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

            Dan siapakah yang menanggung dosa perpecahan ini? Dosanya ditanggung oleh orang yang keluar dari kebenaran dan mengadu domba di antara salafiyyun. Maka Abdurrohman Al ‘Adniy dan para pengikutnya telah membikin makar yang besar di markiz sunnah terbesar di Yaman, menghasung para murid untuk pindah, dan berusaha membikin mereka tidak merasa perlu kepada markiz ini dan syaikhnya, bahkan sebagian dari mereka terang-terangan menampakkan angan-angannya akan kosongnya markiz Dammaj dari pelajar, dan berupaya untuk menjalankan strategi mereka. maka bagaimana setelah perbuatan ini semua tidak terjadi perpecahan dan saling benci?

Dan ini adalah termasuk dosa besar. Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwa Rosululloh r bersabda:

ليس منا من خبب امرأة على زوجها أو عبدا على سيده

“Bukanlah dari golongan kami orang yang merusak kecintaan dan ketaatan seorang istri kepada suaminya atau ketaatan budaknya kepadanya.” (HSR. Abu Dawud (2175) dengan sanad shohih).

            Al ‘Allamah Syamsul Haq رحمه الله berkata: (خبب) yaitu mengelabui dan merusak. merusak kecintaan dan ketaatan seorang istri kepada suaminya dengan cara menyebutkan kejelekan sang suami di hadapan sang istri, atau kebaikan pria lain di hadapan wanita tadi. Atau ketaatan sang budak, yaitu merusakan ketaatannya terhadap tuannya dengan suatu cara perusakan. Dan masuk dalam makna ini adalah merusak kecintaan suami kepada istrinya, dan merusak ketaatan seorang budak perempuan kepada tuannya.” (“Aunul Ma’bud”/6/hal. 159).

            Syaikhul Islam رحمه الله تعالى ditanya tentang seorang imam muslimin merusak kecintaan seorang wanita kepada suaminya sampai wanita tadi berpisah dengan suaminya. Dan jadilah si imam tadi menyendiri. Maka apakah boleh untuk sholat di belakangnya? Dan apa hukumnya?

            Maka beliau menjawab: “Dan di dalam “Al Musnad” dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«ليس منا من خبب امرأة على زوجها، أو عبدا على مواليه».

“Bukanlah dari golongan kami orang yang merusak kecintaan dan ketaatan seorang istri kepada suaminya atau ketaatan budaknya kepadanya.”

            Maka upaya orang itu dalam mencerai-beraikan antara perempuan dengan suaminya adalah termasuk dosa yang besar, dan itu adalah termasuk perbuatan tukang sihir, dan itu adalah termasuk perbuatan para setan yang paling besar. Terutama jika si imam tadi membikin rusaknya kecintaan istri orang dalam rangka untuk dia menikahinya, disertai dengan terus-terusannya dia menyepi dengan wanita tadi, lebih-lebih lagi jika qorinah menunjukkan pada perkara yang lain lagi. Orang semisal itu tidak pantas untuk memegang kepemimpinan muslimin, kecuali jika dia bertobat. Jika dia bertobat, Alloh akan menerima tobatnya. Jika memungkinkan untuk sholat di belakang orang yang lurus agamanya dan lurus jalan hidupnya, hendaknya kita sholat di belakangnya, tidak sholat di belakang orang yang nampak kejahatannya, tanpa keperluan. Wallohu a’lam.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/23/hal. 363).

            Ini perusakan rasa cinta antara seseorang dengan istrinya, maka bagaimana dengan orang yang merusak kecintaan ribuan murid terhadap syaikh mereka yang sunniy salafiy?

            Dan pengharoman perbuatan merusak rasa cinta tadi itu adalah umum. Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwa Rosululloh r bersabda:

«المؤمن غر كريم والفاجر خب لئيم». (أخرجه البخاري في “الأدب المفرد” /(419)/صحيح).

“Mukmin itu mudah tertipu dan berhati mulia. Dan orang fajir itu tukang merusak dan tercela.” (HR. Al Bukhoriy dalam “Al Adabul Mufrod” no. 419/shohih).

            Ibnul Atsir رحمه الله berkata: “Dan tentang itu hadits: “Mukmin itu mudah tertipu dan berhati mulia.” Yaitu: bukan pembikin makar, maka dia mudah ditipu karena senang taat dan dan lunak. Dan ini adalah kebalikan dari Khobb. –sampai ucapan beliau:- Nabi menginginkan: bahwasanya termasuk dari karakter mukmin yang terpuji itu adalah dia mudah terpedaya dan kurang waspada terhadap kejelekan dan tidak mau memeriksanya, dan yang demikian itu bukan karena kebodohannya, akan tetapi karena kedermawanannya dan bagusnya akhlaqnya.” (“An Nihayah Fi Ghoribil Atsar”/3/hal. 661).

            An Munawiy رحمه الله berkata: “Dan khobb itu adalah orang yang suka membikin tipu daya dan senang mengusahakan kerusakan dan kejelekan di antara manusia.” (“Faidhul Qodir”/6/hal. 254).

            Hadits tentang celaan terhadap khobb ini dan yang semisalnya, cocok untuk para mar’iyyun. Mereka itu sebagaimana telah lewat penyebutannya menampakkan keinginan membangun markiz dan menyembunyikan maksud untuk merusak markiz Dammaj, dan ini adalah karakter ahli takhbib, sebagaimana dalam “Al Mu’tashor Minal Mukhtashor Min Musykilatil Atsar” (2/hal. 182): “Al Khobb adalah orang yang menampakkan perkara dipuji oleh kaum muslimin, dan menyembunyikan perkara dicela oleh kaum muslimin.” Selesai.

 

            Kemudian Luqman berkata tentang syaikhuna Yahya حفظه الله: “Walaupun sebenarnya fitnah aqidah dan penyimpangannya itu sudah muncul sejak awal-awal dia duduk di kursi Asy Syaikh Muqbil رحمه الله lebih dari sepuluh tahun yang lalu, atau kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Ini adalah cercaan yang keras dari Luqman terhadap seorang Syaikh yang para ulama yang jujur telah bersaksi tentang kelurusan jalan hidup dan aqidah beliau. Dan akan datang insya Alloh pembicaraan tentang batilnya tuduhan ini ketika kami membantah perincian yang disebutkan oleh Luqman. Orang ini dengki dan dendam. Dan manakala dia tidak mendapatkan sesuatu untuk memukul pihak yang didengki, diapun mengumpulkan sampah-sampah yang diharapkannya bisa membantunya menaburkan abu ke mata-mata manusia (membikin pengkaburan hakikat).

 

 

Bab Tiga: Perencanaan Serangan Terhadap Ahlussunnah

 

            Luqman berkata: “Sekarang ini kita di Ma’had Jember mencari waktu-waktu luang di tengah-tengah kesibukan ikhwan dan asatidzah dalam kegiatan belajar mengajar, berbicara tentang Al Hajuriy sudah kurang lebih empat kali pertemuan, yang terekam, insya Alloh dalam waktu tidak lama lagi bisa antum dapatkan programnya, dan harapannya ke depan Alloh bantu saya atau asatidzah yang lainnya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan…”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Ini adalah pengakuan dari Luqman bahwasanya mereka telah melancarkan serangan-serangan terhadap dakwah Salafiyyah yang jernih ini sejak beberapa tahun yang lalu, padahal mereka pada awal-awal kasus berupaya keras untuk menyembunyikan serangan tadi, dan mereka melarang para murid mereka untuk mengabari para pelajar Dammaj tentang apa yang dikerjakan oleh para ustadz hizbiyyun tersebut.

            Demikian pula syaikh dia: Abdulloh Al Bukhoriy, dulu dia melancarkan serangan-serangan terhadap Asy Syaikh Yahya dan salafiyyun yang bersama beliau حفظهم الله < kemudian di akhir-akhir pembicaraan (kurang lebih sebelum bulan Romadhon 1430 H), nampaklah ketakutannya seraya berkata: “Ini kalian rekam? Dialog ini kalian rekam?” Usamah menjawab: “Iya wahai Syaikh kami, kami merekamnya.” Abdulloh berkata: “Hendaknya kaset ini hanya ada di antara kalian saja, jangan sampai jatuh kepada orang lain. Semoga Alloh memberkahi kalian, janganlah kaset ini disebarluaskan, dan jangan sampai keluar.” Lihatlah kuatnya rasa takutnya sehingga mengulang-ulang permintaannya untuk disembunyikan agar tidak diketahui oleh para Salafiyyin Dammaj: “Hendaknya kaset ini hanya ada di antara kalian saja,” “jangan sampai jatuh kepada orang lain,” “Semoga Alloh memberkahi kalian, janganlah kaset ini disebarluaskan,” “dan jangan sampai keluar.”

            Dan saya telah membantah tuduhan-tuduhan zholimnya di dalam risalah saya: “Al Fathur Robbaniy Fir Roddi ‘Ala Abdillah Al Bukhoriy Al Muftari Al Jani”

(Dengan terjemah Bebas: “Bantahan Telak Atas Tuduhan Keji Yang Dilontarkan Oleh Abdulloh Al Bukhori”).

            Manakala mereka sukses mengadu domba Asy Syaikh Robi’, sehingga beliau berbicara dengan batil terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله , menjadi beranilah mereka, dan bertambahlah mental mereka. sikap Luqman dan Abdulloh Al Bukhoriy itu mengingatkan kami pada karakter orang yang bangkit dalam rangka memenuhi hawa nafsu dan maslahat dirinya. Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata: ”Sesungguhnya seseorang itu bersembunyi dan tidak menampakkan kehizbiyyahannya kecuali setelah menguat otot-ototnya dan menyangka bahwanya ucapan manusia sudah tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya. Dan aku sangat heran, sebagian dari mereka bersumpah dengan nama Alloh bahwasanya dirinya bukan hizbiy.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/ hal. 14-15/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Adapun Ahlussunnah yang jujur, maka sungguh mereka itu bangkit karena Alloh dan dengan pertolongan Alloh, bukan dalam rangka hawa nafsu, dan bukan pula dengan kekuatan selain Alloh. Maka mereka tidak takut di jalan Alloh celaan orang yang mencela. Maka mereka bergembira dengan pertolongan dari Alloh.

Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy  رضي الله عنه bahwasanya Rasululloh r bersabda:

«لا يمنعن أحدكم مخافة الناس أن يقول بالحق إذا شهده أو علمه».

Sungguh janganlah sampai rasa takut pada manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika menyaksikannya atau mengetahuinya.”

Lalu Abu Sa’id berkata:

فحملني على ذلك أني ركبت إلى معاوية فملأت أذنيه ثم رجعت.

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad ((11793)/cet. Ar Risalah) dengan sanad shohih, dan dishohihkan pula oleh Al Imam Al Albaniy dalam “Ash Shohihah” ((no. 168)/Maktabah Al Ma’arif), dan asal hadits dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((no. 414)/cet. Darul Atsar).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kami tak akan meninggalkan agama Islam karena cercaan orang yang mencerca, ataupun karena pengkafiran orang yang mengkafirkan atau juga penyesatan orang yang menuduh kami sesat, karena kembalinya para makhluk adalah kepada Alloh, dan perhitungan mereka adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang men-tauhidkan Alloh Yang Mahasuci akan menampilkan kebenaran di manapun berada, secara khusus dan umum dan secara tertulis, sampai walaupun dia diminta untuk menyembunyikan kebenaran di waktu rasa takut yang amat sangat dia tidak menyembunyikannya.” (“Ar Roddu ‘Alal Bakriy”/2/hal. 765-766).

 

            Kemudian Luqman Al Hizbiy berkata: “Dengan tujuan agar salafiyyin di Indonesia mengambil pelajaran, karena ini adalah pelajaran yang mahal sekali, telah banyak berjatuhan korban-korban.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sesungguh i’tibar (mengambil pelajaran) dari orang yang telah berlalu adalah perkara yang penting agar pelakunya menempuh jalan orang-orang yang sukses sehingga bisa sukses sebagaimana kesuksesan mereka, dan menghindari jalan-jalan orang-orang yang binasa agar tidak binasa sebagaimana mereka binasa. Alloh ta’ala berfirman tentang kisah pengusiran Banin Nazhir:

﴿فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ﴾ [الحشر: 2].

“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya mata.”

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Ibroh (pelajaran) pada asalnya adalah memisalkan sesuatu dengan sesuatu agar hakikatnya diketahui dari jalur keserupaan. Di antaranya adalah: “Maka ambillah pelajaran.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/10/hal. 123/surat Al An’am).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan i’tibar adalah: menggandengkan suatu perkara dengan yang semisalnya sehingga diketahui bahwa hukumnya adalah semisal dengan perkara tadi, sebagaimana ucapan Ibnu Abbas: “Kenapa kalian tidak menilai jari-jemari dengan gigi-gigi?” maka jika Alloh berfirman: “Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya mata.” Dan berfirman:

﴿لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب﴾

“Sungguh di dalam kisah-kisah mereka itu benar-benar ada pelajaran bagi orang-orang yang punya mata hati.”

            Ini memberikan faidah bahwasanya barangsiapa beramal semisal amalan mereka, dia akan dibalas semisal dengan balasan untuk mereka, agar dia menghindari amalan semisal amalan orang-orang kafir, dan agar dia berminat untuk beramal seperti amalan orang-orang mukmin para pengikut Nabi-nabi.” (“Majmu’ul Fatawa”/13/hal. 20).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsir kisah Banin Nazhir berkata: “Yaitu: berfikirkan kalian tentang akibat orang yang menyelisihi perintah Alloh dan menyelisihi Rosul-Nya, serta mendustakan Kitab-Nya, bagaimana dia tertimpa bencana dari Alloh yang menghinakannya di dunia, bersamaan dengan hukuman yang disimpankan untuknya di Akhirat, yang berupa siksaan yang pedih.” (“Tafsirul Qur’anil Azhim”/8/hal. 57).

            Inilah hakikat pengambil pelajaran dari suatu perkara. Orang-orang yang beruntung akan mengambil pelajaran dari apa yang dialami oleh orang lain dengan cara penilaian yang benar. Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه yang berkata:

الشقي من شقي في بطن أمه والسعيد من وعظ بغيره. (أخرجه مسلم (2645)).

“Orang yang celaka adalah orang yang ditaqdirkan celaka di perut ibunya. Dan orang yang beruntung adalah orang yang mendapatkan petuah dengan kejadian orang lain.” (HR. Muslim (2645)).

            Al Munawiy رحمه الله berkata: “Yaitu: orang yang beruntung adalah orang yang memeriksa perbuatan-perbuatan orang lain, lalu dia meneladani amalannya yang terbaik, dan dia berhenti dari yang jeleknya.” Beliau berkata: “Sesungguhnya orang yang beruntung adalah orang yang punya petuah dari kejadian orang lain, dan di dalam percobaan itu ada pemantapan yang ada nilainya.” (“Faidhul Qodir”/2/hal. 175).

            Maka Luqman wajib mengambil pelajaran dari orang yang mendahuluinya dari kalangan orang yang menyeleweng dari dari jalan yang lurus dengan sebab tidak puasnya dia dengan jalan Salaf. Hanya saja Luqman memutarbalikkan hakikat sehingga dia menjadikan para tsabitin (salafiyyun yang kokoh) sebagai orang-orang yang berjatuhan. Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “Maka hizbiyyah itu menjadikan yang pahit jadi manis, dan yang batil jadi benar. Dan ini adalah dalil terbesar bahwasanya hizbiyyah itu kejahatan yang sangat besar.” (“Al Mauridul ‘Adzb Waz Zulal”/hal. 123-124).

 

Bab Empat: Luqman Menyandarkan Berita Pada Bayan Muhammad Ar Roimiy Yang Penuh Dengan Kebatilan

 

            Luqman Al Hizbiy berkata: “Yang lebih berhak untuk berbicara dan menjelaskannya tentunya adalah para ulama Yaman. Maka dari itu saya akan menukil penjelasan para ulama Yaman khususnya, kemudian para ulama di Madinah, kemudian Mekkah tentang fitnah Al Hajuriyyah ini. Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam pengasuh pondok pesantren Darul Hadits di kota Ma’bar Yaman kurang lebih pada tanggal 26 Jumadal Ula, yakni kurang lebih sepekan yang lalu mengeluarkan sebuah fatwa dan nasihat terkait dengan fitnah Al Hajuriyyah ini, yang ujung-ujungnya di akhir fatwa beliau mentahdzir salafiyyin dari Al Hajuriy dan pengikutnya.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sesungguhnya termasuk dari terlantarnya Luqman dan tiadanya taufiq untuknya adalah manakala dirinya bertopang pada Muhammad bin Abdillah Ar Roimiy yang dulu sering terjatuh berkali-kali di banyak fitnah. Dan Muhammad Ar Roimiy ini punya peran besar sekali untuk memasukkan pemikiran dan perbuatan Abul Hasan Al Mishriy di tengah-tengah salafiyyin. Bersamaan dengan itu Muhammad Ar Roimiy menuduh Asy Syaikh Yahya dan yang bersama dengan beliau bahwasanya fitnah mereka –menurut anggapannya- itu semisal dengan fitnah Abul Hasan dengan sempurna. Maka silakan disimak ringkasan mahkamah antara jalan Abul Hasan Al Mishriy dan jalan Asy Syaikh Yahya serta Muhammad Ar Roimiy:

Pertama: Abul Hasan berurusan dengan jam’iyyat

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya jam’iyyat, bahkan mereka mengangkat bendera pengingkaran terhadap jam’iyyat. Adapun Muhammad Al Imam berapa kali dia terfitnah oleh para pengikut jam’iyyat?

Kedua: berlindung di balik taqlid kepada sebagian ulama manakala kebatilan-kebatilannya tersingkap

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak taqlid pada ulama, bahkan mereka mengangkat bendera pengingkaran terhadap para ahli taqlid, dan mengulang-ulang ucapan para imam seperti Ibnul Qoyyim, Asy Syaukaniy, Al Wadi’iy tentang bid’ahnya taqlid, sementara Muhammad Al Imam mengulang-ulang perkataan: “Bersamalah dengan ulama, Kalian harus bersama ulama”

Ketiga: membikin prinsip-prinsip yang rusak yang meruntuhkan dasar-dasar sunnah dan menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah serta manhaj Salaf.

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya prinsip-prinsip baru, bahkan mereka mengajak manusia untuk merasa cukup dengan apa yang dulu para Salaf Sholih ada di atasnya. Adapun Muhammad Al Imam dia telah memenuhi kitabnya “Al Ibanah” dengan dasar-dasar yang baru yang diambil dari prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, Adnan Ar’ur, Ali Hasan Al Halabiy, dan Sururiyyin, sampai-sampai dia membikin lelah Asy Syaikh Robi’ حفظه الله dalam menjawab serangan Ali Hasan Al Halabiy yang berkata kurang lebih: “Wahai Syaikh, Anda menghukumi saya sebagai mubtadi’ dengan sebab apa yang saya sebutkan dalam kitab-kitab saya, padahal perkara itu adalah seperti apa yang disebutkan oleh Muhammad Al Imam dalam kitabnya yang Anda periksa.”

Keempat: pelembekan masalah-masalah prinsipil yang besar yang tegak di atasnya agama ini pada sisi-sisi yang agung, lalu dia (Abul Hasan) menjadikannya sebagai perkara yang masih diperselisihkan dan bersifat ijtihadiyyah, agar para Salafiyyun diam dari mengkritik dirinya dalam masalah-masalah tadi, dan sehingga mereka semua berada di atas kaidah Hasan Al Banna: “Saling menolong di atas perkara yang kita sepakati dan saling memberikan udzur terhadap perkara yang kita perselisihkan.”

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya tamyi’ (pelembekan) macam ini, bahkan Muhammad Al Imam itu yang menempuh jalan Abul Hasan di kasus-kasus prinsipil yang banyak lalu dia melembekkannya, seperti kasus: menjauhi ahli bid’ah, kafirnya rofidhoh, menjaga barisan jangan sampai robek dari dalam markiz, dan kasus-kasus prinsipil yang lain, dia melembekkannya dan menjadikannya sebagai perkara-perkara yang masih diperselisihkan dan bersifat ijtihadiyyah.

Yang kelima: pendaftaran para pelajar untuk memasukkan mereka ke dalam kelompok Baroatudz Dzimmah, dan kelompok ini pada hakikatnya adalah kumpulan yang siap pakai untuk memerangi Ahlussunnah

            Inilah adalah jalan Sholeh Bakriy dulunya, yang kemudian dicontoh oleh hizb baru, hizb Mar’iyyin yang dibela oleh Muhammad Al Imam, padahal dulu di ijtima’ pertama Muhammad Al Imam mengomentari langkah Abdurrohman Al Mar’i dengan berkata: “Ini adalah Bakriyyah model baru,” tapi sekarang dia membela mereka.   Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya gerakan pendaftaran macam ini.

Yang keenam: pengingkaran Hasaniyyun terhadap Salafiyyin karena bersikap keras terhadap mubtadi’ah.

            Ini juga bagian dari prinsip-prinsip Muhammad Al Imam,             sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang ketujuh: menyombongkan diri terhadap nasihat-nasihat yang benar, membangkang setelah ditegakkannya hujjah.

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak menyombongkan diri, hanya saja beliau semua menuntut seluruh pihak untuk menjelaskan kekeliruan dengan dalil-dalilnya, jika telah nampak kebenaran, beliau menerimanya sebagaimana terjadi berkali-kali, dalam rangka tawadhu’ pada Alloh dan bersyukur pada para hamba Alloh yang menasihati. Adapun Muhammad Al Imam, berkali-kali telah dikirimkan surat rahasia kepadanya dan dijelaskan padanya besarnya kesalahannya di dalam kitabnya “Al Ibanah” dengan sangat hormat dan tenang, akan tetapi dia menyombongkan diri terhadap kebenaran, bersamaan dengan itu dia tak sanggup membatalkan hujjah dengan hujjah.

Yang kedelapan: mengikuti hawa nafsu dalam menerapkan kaidah

            Misalkan adalah: bahwasanya Abul Hasan dan orang yang bersamanya manakala mereka dikritik karena sekian banyak perkara, dengan dalil-dalil dan bayyinah-bayyinah, mereka tidak mau merunduk pada kebenaran, tapi mereka berteriak: “Kita menunggu kibarul ulama!”. Ketika kibarul ulama berbicara dengan perkara yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, mereka berkata: “Kita bukan ahli taqlid.”

            Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini. Sementara Muhammad Al Imam dia banyak mengucapkan: “Kalian harus ikut ulama,” “Sumber rujukan adalah para ulama!” “Jangan kalian menyelisihi para ulama,” dan semisal itu. Manakala datang fitnah Rofidhoh terhadap Ahlussunnah, Muhammad Al Imam berkata: “Kita tidak boleh menghalalkan darah Rofidhoh.” Manakala kibarul ulama menghukumi tentang kafirnya rofidhoh, Muhammad Al Imam tidak kembali kepada ucapan ulama, bahkan dia berkata: “Sesungguhnya ulama itu berijtihad, …, jika kita berkata bahwa kita mengambil ucapan satu orang alim, ambillah ucapan ulama yang lebih banyak, dari kalangan orang yang tidak berpendapat dengan pendapat ini. Ini adalah masalah-masalah ijtihad ulama, …, para pelajar tidak boleh tergesa-gesa mengambil ucapan seorang alim dalam suatu masalah. Mungkin saja engkau membahas masalah ini, … dst.”

Yang kesembilan: mengais-ngais bantahan yang dipaksakan dan batil, yang bahkan tegak di atas kedustaan, pengkaburan, dan bongkar pasang tuduhan.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ikhtishor Lima Fi Da’watil Hajuriy Minal Adhror”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang kesepuluh: mengangkat syiar maslahat dan mafsadah demi menolong ahli bid’ah.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalahnya “Al Ibanah”, sekalipun menyebabkan runtuh beberapa prinsip Salaf. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini. Bahkan maslahat yang hakiki menurut beliau yang bersamanya adalah: berpegang teguh dengan prinsip-prinsip salaf sekalipun terasa pahit, dan meskipun dijauhi manusia. Dan mafsadah yang hakiki menurut beliau adalah ditinggalkannya prinsip-prinsip salaf, sekalipun dihasilkan dengan itu harta yang banyak dan keridhoan ahli bid’ah untuk mereka.

Yang kesebelas: Hasaniyyun menuduh orang yang bangkit membantah ahli bathil dan melarang kemungkaran itu adalah mencari-cari kesalahan-kesalahan muslimin.

            Ini bukanlah syiar Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau. Bahkan beliau memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, menyebarkan nasihat-nasihat, membantah perkara batil, dalam rangka setia pada Alloh dan nasihat bagi mukminin. Mereka ingin memperbaiki jalan orang yang mereka bantah. Adapun Muhammad Al Imam, maka dia itu menuduh orang yang membantah kebatilan dan melarang kemungkaran sebagai: orang yang mencari-cari kesalahan-kesalahan muslimin dan ingin meruntuhkan mereka.

Yang kedua belas: prinsip muwazanat (menimbang) antara kebaikan dan kejelekan demi melindungi para penyeleweng.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang ketiga belas: prinsip membawa yang mujmal (global) kepada mufashshol (terperinci) demi melindungi para penyeleweng.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang keempat belas: mengangkat syiar “baik sangka” untuk para penyeleweng, dalam rangka meruntuhkan kritikan salafiyyin terhadap mereka

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang kelima belas: menempuh manhaj “tabayyun” yang batil dalam rangka menolak berita orang tsiqoh terhadap para penyeleweng.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang keenam belas: membolak-balikkan perkara dan menggambarkannya dengan kebalikannya

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ikhtishor”. Al Mar’iyyun telah membikin kegoncangan di Darul hadits di Dammaj sampai-sampai fitnah mereka mencapai seluruh penjuru bumi dengan memperburuk citra ahli haq, mengadu-domba para ulama, tapi Muhammad Al Imam membela mereka dan mengesankan kecilnya kebatilan mereka serta menuduh Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau membikin fitnah dan perpecahan dalam dakwah. Mar’iyyun telah menzholimi ahli haq akan tetapi Muhammad Al Imam membalik fakta dan menjadikan orang-orang yang zholim sebagai orang-orang yang terzholimi, dan sebaliknya. Muhammad Al Imam membikin fitnah terhadap banyak sekali dari dasar-dasar salafiyyah, akan tetapi dia justru menuduh ahli haq sebagai penyebab fitnah terhadap dakwah salafiyyah. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak berbuat macam ini, membalik fakta, bagi kaum yang bisa melihat.

Ketujuh belas: Abul Hasan Al Mishriy berupaya untuk menakut-nakuti ahli haq bahwasanya mereka akan jatuh dikarenakan mereka menghukumi dirinya sebagai mubtadi’. Dia menakut-nakuti mereka dengan menggambarkan bahwasanya di hadapan mereka ada seorang syaikh yang besar dan para pelajar besar.

            Teror psikologi ini juga ditempuh oleh Muhammad Al Imam yang mana dia menakut-nakuti para salafiyyin tsabitin yang menghizbikan atau membid’ahkan Abdurrohman Al Adaniy bahwasanya di hadapan mereka itu ada ulama dan masyayikh yang menentang Asy Yahya, dan bahwasanya para masyayikh tersebut jika men-jarh seseorang, maka jadilah orang itu majruh dan akibatnya tidak terpuji. Adapun Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak menempuh penakut-nakutan dan teror psikologi, bahkan mereka menempuh diskusi ilmiyyah dan adu hujjah, bukannya membuang hujjah dengan mengedepankan karisma tokoh.

Yang kedelapan belas: Abul Hasan mengingkari manhaj imtihan (ujian) untuk mengetahui hakikat aqidah seseorang.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang kesembilan belas: mencerca Ahlussunnah bahwasanya mereka itu tergesa-gesa dan terlalu cepat.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh: mengesankan rujuk ketika merasa lemah berhadapan dengan hali haq, tapi masih melanjutkan kebatilannya.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini. Berapa kali dia terpeleset dalam fitnah bersama para hizbiyyun. Manakala dia dikritik oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dia menampakkan rujuk dan berkata: “Nasihatilah saya, arahkanlah saya,” atau ucapan yang seperti itu, sementara dia masih saja dalam manhajnya yang menyeleweng bersama para hizbiyyin ashabul jam’iyyat. Ketika muncul fitnah Abul Hasan Al Mishriy, bangkitlah Muhammad Al Imam untuk membelanya. Manakala dia merasa lemah di hadapan ahlul haq, diapun menampakkan rujuk. Ternyata dia masih saja mengusung sejumlah besar pemikiran Abul hasan dan manhajnya, dan menyebarkan di tengah-tengah salafiyyun, dengan cara halus dan makar. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh satu: cercaan terhadap salafiyyun yang menasihati, bahwasanya mereka itu adalah haddadiyyun

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menyetujui tuduhan ini terhadap Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau, dalam risalah dia “Al Ikhtishor”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak menuduh salafiyyin sebagai haddadiyyun.

Yang keduapuluh dua: penggunaan para penulis tak dikenal (yang memakai identitas samaran) untuk memukul Ahlussunnah

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan ditempuh oleh Mar’iyyun yang dibela oleh Muhammad Al Imam. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh tiga: menuduh orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan membantah ahli ahwa bahwasanya mereka itu ahli tasyhir (suka mempopulerkan aib orang) wat tasywih (suka mencemarkan kehormatan orang).

            Inilah yang dituduhkan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam juga menuduh macam ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak menuduh demikian.

Yang keduapuluh empat: bergaya adil dan menyerukan kepada keadilan dalam rangka membela orang yang menyeleweng, tapi terhadap ahlul haq bersikap zholim.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh lima: bergaya mengikuti dalil, dalam keadaan dirinya saat mengikuti hawa nafsu berlindung di balik taqlid pada ulama.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh enam: mencari udzur-udzur untuk ahli hawa dalam rangka meruntuhkan kritikan-kritikan Ahlussunnah terhadap mereka.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh tujuh: memerangi orang-orang yang memegang teguh kebenaran dengan nama “ghuluw” atau “melampaui batas”.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh delapan: memelintir leher dalil agar sesuai dengan prinsip mereka yang rusak.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang keduapuluh Sembilan: membatalkan jarh yang terperinci dari seorang kritikus sunniy yang alim, dengan alasan dia lebih muda daripada orang yang di-jarh.

            Inilah yang dilakukan oleh para Hasaniyyun, dan Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Yang ketiga puluh: banyak mencerca pelajar yang menerima jarh dari seorang alim terhadap ahli ahwa padahal mereka menerimanya berdasarkan hujjah-hujjah, bukti-bukti dan dalil-dalil.

            Jika seseorang menyeleweng dari kebenaran, lalu dia dinasihati tapi tak mau menerima nasihat, lalu seorang dari ulama –yang masih muda ataupun yang sudah tua- men-jarh dia dengan jarh yang diperkuat dengan bukti-bukti, Alloh menjadikan jarh beliau tadi diterima dan diberkahi di kalangan para pencari ilmu dan kebenaran yang bersikap adil, lalu mereka menyebarkan jarh tadi dan membantunya, dan memperingatkan manusia dari orang yang di-jarh tadi. Ternyata Abul Hasan Al Mishriy demi membela orang yang di-jarh tadi marah terhadap para pelajar tadi, dan dia memperbanyak cercaan terhadap mereka. Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

            Asy Syaikh Robi’ وفقه الله telah membantah Abul Hasan tentang perbuatannya tadi, dan hal itu pada hakikatnya adalah bantahan terhadap Muhammad Al Imam yang membawa pemikiran Hasaniyyin. Asy Syaikh Robi’ berkata: “Jika para pemuda tadi berbicara secara batil terhadap orang tadi (yang engkau bela), maka jelaskanlah pada mereka dan nasihatilah mereka. jika mereka berbicara tentangnya dengan kebenaran, maka kenapa engkau mengkhawatirkan mereka dan menakut-nakuti mereka? justru yang sangat dikhawatirkan adalah para pemuda yang memerangi mereka secara batil, dan di antaranya adalah para pembela Al Maghrowiy. Para penolong mereka itulah yang paling butuh untuk ditakut-takuti dan dinasihati.” (“Majmu’u Rududisy Syaikh Robi’ ‘Ala Abil Hasan”/hal. 41/cet. Darul Imam Ahmad).

Yang ketigapuluh satu: ajakan kepada manhaj yang luas yang bisa menampung mayoritas para mubtadi’ah.

            Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya perbuatan macam ini.

Dan bercabang dari ini poin:

Yang ketigapuluh dua: membikin lemah kebutuhan orang kepada bantahan-bantahan ilmiyyah, kritikan terhadap kebatilan dan jarh terhadap para penyeleweng.

            Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang ketigapuluh tiga: seruan untuk mendekatkan antara Ahlussunnah dan ahlul ahwa.

            Muhammad Al Imam menempuh jalan ini dalam risalah dia “Al Ibanah”. Sementara Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak punya punya perbuatan macam ini.

Yang ketigapuluh empat: banyak mengaku sebagai salafiy dalam keadaan dia memerangi banyak prinsip-prinsip salaf.

            Begitulah Abul Hasan dan anak buahnya. Sementara Muhammad Ar Roimiy bergaya sebagai salafiy dan mengajak pada jalan salaf, dalam keadaan dia berupaya meruntuhkan banyak prinsip-prinsip salaf dengan metode yang penuh tipu daya, yang tidak diwaspadai kecuali oleh orang yang diberi taufiq oleh Alloh dari kalangan ulama yang berpandangan tajam, dan orang-orang yang lainnya yang dikehendaki oleh Alloh.

            Ini adalah ringkasan dari sebagian karakter fitnah Abul hasan Al Mishriy, dan kebanyakannya telah saya sebutkan di dalam risalah “At Tajliyah Li Amarotil Hizbiyyah”, dan disebutkan oleh saudara kita Abu Hatim Yusuf bin ‘Id Al jazairiy حفظه الله dalam risalahnya “Mishbahuzh Zholam”, Asy Syaikh Al Alim Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy رحمه الله dalam risalah beliau “Tanzihus Salafiyyah”, dan Asy Syaikh Abu Bakr Al Hammadiy حفظه الله dalam risalah beliau “Al I’anah”.

            Lihatlah –semoga Alloh menjaga kalian- kepada perbedaan yang sangat besar antara fitnah Abul Hasan Al Mishriy dengan thoriqoh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau. Maka thoriqoh itu thoriqoh Qur’aniyyah Sunniyyah Salafiyyah dengan taufiq dari Alloh ta’ala.

            Sementara thoriqoh Abul Hasan Al Ma’ribiy dan pengikutnya adalah thoriqoh mubtadi’ah besar yang berlindung di balik jubah salafiyyah dalam rangka membikin makar terhadap Salafiyyun. Maka penyamaan yang dilakukan oleh Muhammad Ar Roimiy terhadap kedua thoriqoh ini merupakan kezholiman yang sangat besar.

            Bahkan Muhammad bin Abdillah Ar Roimiy itulah pembawa banyak –saya tidak menyatakan: semua- kebatilan Abul Hasan Al Mishriy. Ibaratnya: “Dia menuduhku dengan penyakitnya lalu dia berusaha meloloskan diri.”

            Jika tokoh macam ini yang menjadi rujukan Luqman, maka alangkah ruginya. Adapun banyaknya kedustaan dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh Muhammad Ar Roimiy dalam “Al Ikhtishor” yang kemudian diadopsi oleh Luqman, telah dibantah secara terperinci oleh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam risalah beliau “At Tabyin Wal Inkar ‘Ala Ma Tadhommanahu Kalam Muhammad Al Imam Al Musamma Bil Ikhtishor” (Terjemah bebas: “Penjelasan Dan Bantahan Terhadap Kandungan Tulisan Muhammad Al Imam Yang Berisi Tuduhan”).

 

          Kemudian Luqman membacakan wasiat Asy Syaikh Muqbil, lalu memberikan komentar: “Beliau –Asy Syaikh Muqbil- sebutkan –menyebutkan Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy- pada urutan pertama ya karena memang Asy Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab di samping secara umur yang tertua juga secara ilmu yang paling senior, sebagaimana yang dinyatakan oleh Asy Syaikh Muhammad Al Imam dalam salah satu ceramahnya yang kemudian ditranskrip ke dalam tulisan beliau mengatakan: “Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau telah menjadi alim menjadi ulama sebelum saya sendiri memulai tholabul ilmi.” Barokallohu fikum. Maka Asy Syaikh Muhammad Al Imam memanggil beliau dan menyebut Asy Syaikh Al Wushobiy ini dengan sebutan “Al Walid”, ayahanda, ayah kita. Beliau itu lebih senior dari saya dari segi umur dan dari segi ilmu.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Bukanlah awal penyebutan itu mengharuskan adanya pengakuan tentang senioritas ilmu. Telah lewat ucapan yang jelas sekali dari Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله bahwasanya Asy Syaikh Yahya itu adalah orang yang paling berilmu di Yaman. Maka lafazh “dan” (Huruf wawu) itu tidak mengharuskan adanya urutan, kecuali dengan qorinah (faktor penyerta).

            Ibnu Malik رحمه الله dalam “Syarhul Kafiyyah” berkata: “Sebagian orang Kufah beranggapan bahwasanya huruf wawu itu untuk menunjukkan urutan. Dan para ulama Kufah berlepas diri dari yang demikian itu. Dan dinukilkan oleh Ibnu Burhan An Nahwiy dari Quthrub dan Ar Rib’iy, dan beliau mendatangkan dalil untuk keduanya dengan firman Alloh ta’ala:

﴿شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولو العلم﴾

“Alloh bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Dia, dan para malaikat-Nya dan para ulama.”

Dan firman-Nya:

﴿إذا زلزلت الأرض زلزالها وأخرجت الأرض أثقالها﴾

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,”

Lalu beliau membantahnya. Dan beliau berdalilkan bahwasanya wawu itu bukan untuk urutan, dengan firman Alloh ta’ala:

﴿فكيف كان عذابي ونذر﴾

“Maka bagaimana siksaan-Ku dan peringatan-Ku.”

Beliau berkata: “Dan peringatan itu sebelum datangnya siksaan, dengan dalil:

﴿وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا﴾ .

“Dan tidaklah Kami menyiksa sampai Kami mengirimkan utusan.”

(selesai penukilan dari “Al Bahrul Muhith”/Az Zarkasyiy/3/hal. 6-7).

            Dan inilah yang telah dikenal, bahwasanya wawu athof itu menuntut persekutuan dalam hukum, bukannya mengharuskan urutan, kecuali dengan qorinah.

 

Bab Lima: Pura-pura Tidak Tahunya Luqman Akan Hujjah-hujjah Ahlussunnah Tentang Hizbiyyah Al ‘Adaniy, dan Dia Menuduh Ahlussunnah Itu Berdusta Dan Tidak Mengetahui Dalil

 

            Luqman menceritakan kasus pendaftaran yang dilakukan oleh Abdurrohman Al Adniy, dan menyebutkan bahwasanya para salafiyyin berebut untuk mendaftar untuk memesan kaplingan. Maka didaftar siapa yang ingin memesan. Dan nampaknya kondisi ini menyebabkan Asy Syaikh Yahya marah, lalu berjalanlah proses sampai akhirnya muncul vonis bahwa Abdurrohman Al Adniy adalah hizbiy. Lalu Luqman berkata: “Kita nggak tahu kenapa ini kok muncul vonis hizbiy. Vonis ini vonis yang memiliki posisi dalam syariat yang harus didirikan di atas dalil. Nggak boleh kita kenapa hizbiy? Kita nggak tahu, pokoknya hizbiy. Kenapa hizbiy? Ya dia bikin kekacauan di ma’had kita. Lho bikin kekacauan di ma’had itu apakah dalil bahwa seseorang itu boleh dikatakan sebagai hizbiy?”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut-:

            Setelah keluarnya lebih dari dua ratus risalah dan puluhan kaset tentang penjelasan akan hizbiyyah Mar’iyyin, Luqman Ba Abduh bersikeras untuk pura-pura buta, sehingga dia dihukum dengan kebutaan dan menuntut adanya dalil. Orang yang mata hatinya buta itu memang membikin capek para penasihat.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata:

ما ضر شمس الضحى والشمس طالعة … أن لا يرى ضوءها من ليس ذا بصر

“Tidaklah membahayakan matahari dhuha, dalam keadaan matahari terbit, bahwasanya orang yang tak punya mata tidak melihat cahayanya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 368/cet. Darul hadits).

            Al ‘Allamah Mahmud Syukriy Al Alusiy رحمه الله berkata: “Maka siapakah orang yang mengingkari cahaya matahari, atau meragukan purnama di malam kesempurnaannya selain orang yang Alloh ta’ala butakan mata hatinya, bingung dalam kegelapan kesesatannya?

والنجم تستصغر الأبصار رؤيته … والذنب للطرف لا للنجم في الصغر

“Dan bintang itu pandangan mata membikinnya tampak kecil, padahal kesalahan itu ada pada mata yang melihat, bukan pada bintang itu, sehingga tampak kecil.”

(“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 377).

            Maka sekedar pendaftaran itu bukanlah sebab jatuhnya vonis hizbiyyah, akan tetapi perencanaan makar terhadap Ahlussunnah, fanatisme terhadap tokoh-tokoh atau tanah air atau pemikiran, penentangan terhadap nasihat-nasihat yang bertujuan memelihara markiz sunnah, merebut masjid-masjid sunnah, merusak kecintaan para pelajar terhadap syaikh mereka dengan kedustaan dan pengkaburan fakta, dan yang selain itu, itulah yang menyebabkan jatuhnya vonis hizbiyyah. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “… karena hizbiyyah itu tegak di atas kedustaan, tipu daya dan pengkaburan fakta.” (“Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah”/Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله /hal. 3/Darul Atsar).

 

            Luqman berkata: “Maka ternyata muridnya juga ikut-ikutan, maka akhirnya bongkar-bongkaran aib, yang mayoritasnya dusta.”

            Jawabannya –dengan taufiq Alloh- sebagai berikut:

            Sesungguhnya kebanyakan orang yang bersalah itu tidak suka untuk kesalahannya itu kelihatan, maka mereka berupaya untuk mendustakan para saksi. Dan ini tidak menghalangi seorang penasihat yang jujur untuk berbicara tentang mereka kalaupun mereka tak mau menerima nasihat.             Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka ketika itulah maka bantahan terhadap ucapan yang lemah, dan penjelasan kebenaran yang menyelisihinya dengan dalil-dalil syar’iyyah itu bukanlah perkara yang dibenci oleh para ulama itu, bahkan hal itu merupakan perkara yang mereka cintai dan mereka memuji pelakunya dan menyanjungnya. Maka hal itu tidak masuk ke dalam bab ghibah secara keseluruhan. Seandainya ada orang yang membenci untuk ditampilkannya kesalahannya yang menyelisihi kebenaran, maka kebenciannya tadi tidaklah teranggap, karena kebencian dimunculkannya kebenaran jika menyelisihi ucapan orang tadi bukanlah sifat yang terpuji. Bahkan wajib bagi seorang muslim untuk mencintai munculnya kebenaran, dan mencintai agar para Muslimin mengetahui kebenaran tadi, sama saja apakah hal itu mencocoki dirinya ataukah menyelisihinya. Dan ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, Rosul-Nya, agama-Nya , dan pemimpin Muslimin dan orang awamnya. Dan yang demikian itulah agama ini sebagaimana diberitakan oleh Nabi  صلى الله عليه وسلم. (dalam “Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir” /3/hal. 467/Majmu’ Rosail Ibni Rojab).

            Maka orang yang mendapatkan taufiq adalah orang yang diberi Alloh taufiq untuk mau menerima kritikan yang benar, sementara orang yang telantar adalah orang yang marah terhadap yang demikian itu dan berupaya untuk membatalkannya dengan cara mendustakan para saksi dan penasihat, dan mencerca mereka. Dan yang demikian itu adalah termasuk dari warisan musuh para Nabi. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآَيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ  إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ﴾ [غافر/23، 24]

“Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.

            Dan ini adalah warisan para mubtadi’ah. Dari Abuz Zubair bahwasanya beliau pernah bersama Thowus berthowaf di Baitulloh. Lalu lewatlah Ma’bad Al Juhaniy, maka seseorang berkata pada Thowus: “Ini ada Ma’bad Al Juhaniy.” Maka beliau menuju ke arahnya seraya berkata padanya: “Apakah engkau itu orang yang berdusta atas nama Alloh?Orang yang berbicara tentang perkara yang tidak diketahuinya?” Dia menjawab: “Sungguh, itu dusta atas nama saya.” (diriwayatkan oleh Al Ajurriy رحمه الله  dalam “Asy Syari’ah” no. 458/shohih).

            Al Imam Az Zuhriy رحمه الله berkata: “Umar bin Abdil Aziz رحمه الله memanggil Ghoilan seraya berkata: “Wahai Ghoilan, sampai kepadaku berita bahwasanya engkau berbicara tentang taqdir.” Maka dia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sungguh mereka itu bohong atas nama saya.” (diriwayatkan oleh Al Ajurriy رحمه الله  dalam “Asy Syari’ah” no. 522/hasan).

 

Bab Enam: Abdurrohman Al ‘Adaniy Bergaya Dengan Akhlaq yang bagus

 

            Luqman berkata: “Asy Syaikh Abdurrohman yang memang dikenal sabar, tawadhu’. Ustadz-ustadz kita yang dari Yaman tahu menyaksikan itu secara langsung. Beliau menerima nasihat masyayikh, maka dihentikanlah pendaftaran itu menurut keterangan Asy Syaikh Al Imam dalam fatwanya yang terakhir. Asy Syaikh Abdurrohman mendengarkan nasihat dan menjalankan permintaan masyayikh. Di sisi lain para masyayikh meminta Yahya Al Hajuriy untuk mencabut kembali vonis-vonisnya dan celaan-celaannya kepada Asy Syaikh Abdurrohman. –sampai pada ucapan dia:- kata Asy Syaikh Al Imam: sementara Yahya Al Hajuriy tidak mau mencabut ucapan-ucapannya itu dengan berbagai alasan yang dipaksakan dan dibuat-buat, …dst.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Abdurrohman Al Adaniy punya akhlaq palsu, nampak jati dirinya ketika ada bencana. Dan demikianlah orang yang bergaya bukan dengan hakikatnya, maka cepat sekali terbongkarnya ketika terjadi ujian-ujian. Kita mohon pada Alloh keselamatan.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Bencana-bencana itu menampakkan jati diri orang-orang, dan langkap cepatnya si pengaku-aku itu terbongkar.” (“Badai’ul Fawaid”/3/hal. 751).

            Adapun Abdurrohman bin Mar’i Al Adaniy maka dia itu sebagaimana kata saudara kita Abdul Ghoni Al Qo’syamiy حفظه الله: “Sesungguhnya dia itu akan menampilkan gaya tawadhu’ dan kebaikan pada orang yang datang kepadanya, dan bahwasanya dirinya tidak mencerca seorangpun.” Kemudian beliau menyebutkan kisah saudara kita Muhsin Ziyad حفظه الله bahwasanya dirinya pergi ke Abdurrohman Al Adaniy, dan Abdurrohman berkata padanya: “Hati-hati, janganlah engkau mengkritik Asy Syaikh Yahya dan Dammaj.” Maka dia –yaitu Muhsin- menjawab: “Kalaupun Asy Syaikh Yahya memukulku dengan kursi, aku tak akan mengkritik beliau.” Demikianlah ahli ahwa, mendatangkan kalimat yang diperindah macam tadi untuk mengumpulkan orang-orang di sekitar mereka sampai mereka menjadi pelindung dan penolong mereka.” dst. (“Al Muamarotul Kubro”/hal. 34).

            Silakan buka risalah “Haqoiq Wa Bayan” karya Asy Syaikh Kamal Al Adaniy, beliau menyebutkan persaksian-persaksian tentang kasarnya Abdurrohman Al Adaniy pada orang yang menyelisihinya, pada awal-awal kasus ini, sebelum Asy Syaikh Yahya mengkritik Adaniy di depan umum.

            Sebagian pengikut Abdurrohman Al Adaniy telah menempuh jalan bersandiwara dengan akhlaq yang mulia dan perhatian yang lebih terhadap orang yang hendak mereka gaet. Bacalah persaksian sebagian orang-orang yang bertobat, di dalam risalah: “Al Barohinul Jaliyyah” (hal. 29/Mu’afa Al Hudaidiy) dan juga “Nashbul Manjaniq” (hal. 98/Yusuf Al Jazairiy).

            Demikian pula sebagian pengikut Abdulloh bin Mar’i digambarkan oleh syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya ucapannya itu lebih manis daripada madu bersamaan dengan buruknya tipu daya dia.

            Dan telah saya sebutkan di dalam risalah “At Tajliyah Li Amarotil Hizbiyyah” sandiwara banyak sekali dari para mubtadi’ah dengan akhlaq yang bagus dalam rangka mempedaya manusia.

            Adapun tidak maunya syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berhenti dari memperingatkan umat tentang bahaya kelompok tadi sementara keadaan mereka masih seperti tadi, maka itu adalah hak beliau, karena (shulh) perdamaian itu tidak berlangsung kecuali dengan keridhoan kedua belah pihak, dan orang yang terzholimi berhak untuk menuntut haknya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَا يُحِبُّ الله الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ الله سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء: 148].

“Alloh tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Dan Alloh adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

            Alloh subhanah berfirman:

﴿وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ الله فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ الله يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾ [الحجرات: 9].

“Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang yang beriman itu berperang hendaklah kalian damaikan antara keduanya. Tapi kalau yang satu menzholimi terhadap yang lain, hendaklah yang menzholimi itu kalian perangi sampai kembali pada perintah Alloh. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kalian berlaku adil; Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Alloh subhanah telah memerintahkan untuk mendamaikan kedua kelompok yang saling berperang, pertama kali. Maka jika yang satu menzholimi terhadap yang lain, maka ketika itu Alloh memerintahkan untuk memerangi pihak yang zholim, bukan berdamai, karena pihak tadi telah berbuat zholim, karena di dalam perdamaian yang disertai dengan kezholiman pihak tadi ada unsur merugikan hak pihak yang dizholimi . Dan kebanyakan orang-orang yang zholim mendamaikan antara pihak yang kuat yang zholim dan lawan yang lemah yang terzholimi, dengan bentuk perdamaian yang diridhoi oleh orang yang kuat yang memiliki kebesaran, dan dirinya mendapatkan keuntungan di dalam bentuk perdamaian tadi, dan jadilah kecurangan itu diderita oleh pihak yang lemah, dalam keadaan diduga bahwasanya dirinya telah membuat perdamaian, dan dia tidak memberikan kesempatan pada orang yang terzholimi untuk mengambil haknya. Dan ini adalah kezholiman. Bahkan seharusnya dia memberikan kesempatan pada orang yang terzholimi untuk mengambil haknya secara penuh, kemudian si pendamai tadi meminta pada orang yang terzholimi untuk meninggalkan sebagian haknya, dengan kerelaannya, tanpa bersikap condong kepada pemilik kebesaran, dan tidak tersamarkan dengan pemaksaan kepada pihak lain dengan kecondongan dan sebagainya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 109).

 

Bab Tujuh: Luqman Menuduh Asy Syaikh Yahya حفظه الله Tak Punya Kasih Sayang dan Tidak Tahu Persaudaraan

 

            Luqman berkata tentang Asy Syaikh Yahya حفظه الله: “Tidak mengerti mahalnya ukhuwwah, mahalnya para murid belajar ke sana, jauh-jauh datang sibuk dengan: hizbiy, hizbiy, hizbiy, hizbiy. Satu pondok.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Dan termasuk dari sikap sayang kaum mukminin pada saudara mereka adalah: tidak membiarkan saudara mereka di dalam kedurhakaan, bahkan mereka menasihatinya dan membimbingnya. Yang demikian itu karena mereka menyukai untuk saudara mereka perkara yang mereka sukai untuk diri mereka sendiri. Dari Anas رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه»

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhoriy (13) dan Muslim (45)).

            Dan termasuk perkara yang dicintai kaum mukminin untuk saudara-saudara mereka apa yang mereka cintai untuk diri mereka sendiri adalah: kekokohan mereka di atas kebenaran, dan jauhnya mereka dari kebatilan. Maka dalam rangka inilah sebagian dari mereka saling menasihat dengan yang lain. Alloh ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ الله إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]

“Dan orang-orang mukminin dan mukminat itu sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, menegakkan sholat dan menunaikan zakat serta menaati Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah yang akan dirohmati Alloh, sesungguhnya Alloh itu ‘Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Penuh Hikmah)” (QS At Taubah 71).

            Maka rohmat itu tidak mengharuskan diam terhadap kemungkaran. Justru diam terhadap kemungkaran adalah sebab kebinasaan, dan sikap diam itu bukan menjadi dalil tentang adanya rohmat. Dari An Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما : dari Nabi صلى الله عليه وسلم berkata:

«مثل القائم على حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فأصاب بعضهم أعلاها وبعضهم أسفلها فكان الذين في أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن يتركوهم وما أرادوا هلكوا جميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا جميعا». (أخرجه البخاري (2493)).

“Permisalan orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan orang yang terjatuh ke dalam pelanggaran hukum Alloh adalah seperti suatu kaum yang berundi di kapal, maka sebagian dari mereka mendapatkan bagian atas, dan sebagian yang lain mendapatkan bagian bawah. Orang-orang yang di bagian bawah jika mau mengambil air, mereka melewati orang yang di atas mereka. maka mereka berkata: “Seandainya kita benar-benar melobangi bagian kita ini dan kita tidak mengganggu orang yang di atas kita saja.” Maka jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka (yang di bawah) melakukan apa yang mereka inginkan, pastilah mereka semua akan binasa. Dan jika orang-orang yang di atas mencegah tangan-tangan mereka, mereka akan selamat, dan semuanya akan selamat.” (HR. Al Bukhoriy (2493)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan demikianlah penegakan hukum, dihasilkanlah dengannya keselamatan bagi orang yang menegakkannya dan orang yang dikenai hukum tadi. Jika tidak demikian, maka si pelaku maksiat akan binasa dengan kemaksiatannya, dan orang yang diam juga binasa karena ridho dengan maksiat tadi.” (“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/5/hal. 296).

            Dan terkadang sebagian orang tidak tersadar kecuali dengan semacam sikap keras, maka metode ini tidak boleh diingkari karena jelasnya dalil-dalil tentang itu, dan langkah tadi tidak menunjukkan kecilnya rohmat pelaksananya sebagaimana yang diduga oleh Al Wushobiy. Dari Anas رضي الله عنه :

أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يسوق بدنة فقال: «اركبها» قال: إنها بدنة. قال: «اركبها» قال: إنها بدنة. قال: «اركبها ويلك». (أخرجه البخاري (6159) ومسلم (1322)).

“Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melihat seseorang menggiring badanah (binatang untuk disembelih dalam haji). Maka beliau bersabda: “Naikilah dia.” Maka dia berkata: “Dia itu badanah.” beliau bersabda: “Naikilah dia.” Maka dia berkata: “Dia itu badanah.” beliau bersabda: “Naikilah dia, celaka kamu.” (HR. Al Bukhoriy (6159) dan Muslim (1322)).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dan hanyalah perkara ini termasuk dalam kemaslahatan-kemaslahatan kaum mukminin yang dengannya Alloh memperbaiki sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain, karena sesungguhnya mukmin yang satu bagi mukmin yang lain adalah bagaikan dua tangan, yang satu mencuci yang lain. Dan terkadang kotoran tidak lepas kecuali dengan semacam kekasaran, akan tetapi yang demikian itu akan menghasilkan kebersihan dan kelembutan yang dengannya kekasaran tadi dipuji.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 53-54).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan termasuk perkara yang harus diketahui: bahwasanya rohmat itu adalah suatu sifat yang menuntut disampaikannya manfaat-manfaat  dan kemaslahatan-kemaslahatan kepada sang hamba. Sekalipun dirinya tidak menyukainya dan kebaikan tadi terasa berat baginya. Maka inilah rohmat yang hakiki. Maka orang yang paling menyayangimu adalah orang yang berat bagi dirimu dalam menyampaikan kemaslahatan-kemaslahatanmu dan membela dirimu dari mara bahaya. Maka termasuk dari rohmat bapak kepada anaknya adalah: dia memaksanya untuk beradab dengan ilmu dan amal, dan memberati dirinya untuk itu dengan pukulan dan sebagainya, dan menghalanginya dari syahwat-syahwatnya yang bisa membahayakan dirinya. Dan kapan saja dia menyepelekan itu dari anaknya, maka yang demikian itu adalah karena kecilnya rohmat dirinya terhadap anaknya, sekalipun dia menyangka dirinya sayang padanya, memberinya kemewahan dan memberinya ketenangan. Maka ini adalah rohmat yang disertai dengan kebodohan, …dst.” (lihat selengkapnya di “Ighotsatul Lahfan”/hal. 523-524/Dar Ibni Zaidun).

            Maka rohmat Ahlussunnah adalah rohmat sejati, tidak seperti rohmat khayalan para hizbiyyin seperti Luqman Ba Abduh. Dari Abu Sholih Al Faro yang berkata: “Aku ceritakan pada Yusuf bin Asbath tentang Waki’ tentang suatu perkara fitnah. Maka Yusuf berkata: “Orang itu seperti ustadznya –yaitu: Hasan bin Hayy- maka kukatakan pada Yusuf: “Apakah Anda tidak takut bahwasanya ini adalah ghibah?” maka beliau menjawab: “Memangnya kenapa wahai orang tolol? Aku lebih baik untuk mereka daripada ayah ibu mereka. aku melarang manusia dari melakukan apa yang mereka bikin yang bisa menyebabkan dosa-dosa mereka mengikuti mereka. dan orang yang berlebihan memuji mereka itu lebih berbahaya terhadap mereka.” (“Adh Dho’afa”/karya Al ‘Uqoiliy رحمه الله/1/hal. 232/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Penjelasan ini cukup dalam membantah tuduhan Luqman terhadap syaikh kami bahwasanya beliau tak punya rohmat, dan juga ucapan dia tentang Asy Syaikh Yahya حفظه الله: “Tidak mengerti mahalnya ukhuwwah.”

            Luqman telah membikin kedustaan besar atas nama syaikh kami, karena termasuk dari hak-hak persaudaraan adalah sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم :

«وإذا استنصحك فانصح له». (أخرجه مسلم (2162)).

“Dan jika dia meminta nasihat maka berilah dia nasihat.” (HR. Muslim (2162)).

            Dan telah lewat penyebutan makar Abdurrohman Al Adaniy terhadap markiz induk ini, dan dia itu menyebabkan rusaknya hubungan antar ikhwah, saling membenci, dan saling membelakangi, sebelum Asy Syaikh Yahya حفظه الله membicarakan Abdurrohman Al Adaniy. Manakala Asy Syaikh melihat keadaan seperti ini, beliau mengirimkan para penasihat kepada Al Adaniy berulang kali, tapi hal itu tidak menambahi dirinya kecuali pembangkangan.

            Maka perbuatan syaikh kami Yahya حفظه الله yang berupa penebaran nasihat-nasihat dan hardikan terhadap pelaku kerusakan dari perusakan yang mereka lakukan adalah dalam rangka melindungi ukhuwwah (persaudaraan).

            Dan bagaimana jika para perusak yang di dalam markiz ini tidak menerima nasihat, bahkan mereka bersikeras merusak akal para pelajar? Apakah pengelola urusan markiz boleh untuk berkata: “Aku telah menunaikan kewajibanku, maka silakan mereka berbuat terhadap para murid kami sesuka mereka”? Ini tidak benar. Bahkan dia harus menghardik para perusakan dengan metode yang dipandangnya bermanfaat bagi sisa-sisa para pelajar yang sehat selama kemampuan masih ada. Maka mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada mukmin yang lemah, bersamaan dengan bersekutunya mereka dalam asal kebaikan karena bersekutunya mereka dalam asal keimanan. Dan jika si sakit tidak mengambil manfaat dengan suatu resep obet, maka hendaknya si dokter memakai resep yang lebih kuat dari itu, dan dokternya jangan melemah.

            Dan perbuatan ini tidak keluar dari penjagaan ukhuwwah dan keselamatan agama.

 

Bab Delapan: Luqman Menuduh Para Pelajar Tersibukkan Dengan Pembicaraan Tentang Hizbiyyah

 

Luqman berkata: “Mahalnya para murid belajar ke sana, jauh-jauh datang sibuk dengan: hizbiy, hizbiy, hizbiy, hizbiy. Satu pondok.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Segala puji bagi Alloh, kami para pelajar sibuk dengan ilmu-ilmu syar’iyyah, belajar, mengajar, muroja’ah, dan di waktu menolong kebenaran untk menghadapi kebatilan, bangkitlah para pencemburu menegakkan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan menyebarkan fatwa-fatwa tahdzir terhadap kebatilan sesuai dengan kemampuan.

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Kemudian penuntut ilmu setelah itu hendaknya sangat bersemangat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun dari apa yang dia ketahui, dia bersemangat untuk menjelaskan kebenaran, membantah para musuh agama Islam, tidak meremehkan, dan tidak menepi. Dia itu selalu tampil di medan sesuai dengan kemampuannya. Maka jika lawan dari Islam muncul membikin syubuhat dan mencerca, tampillah si pelajar ini untuk membantah mereka secara tulisan ataupun lisan dan cara yang lain. Dia tidak meremehkan dan tidak berkata: “Ini diurusi oleh orang lain.” Bahkan dia berkata: “Akulah yang akan mengurusinya, akulah yang akan mengurusinya.” Jika di sana ada para imam yang lain tapi dia khawatir masalah ini akan luput, maka dia tetap tampil selalu dan tidak menepi. Bahkan dia tampil di waktu yang sesuai untuk menolong kebenaran, membantah lawan-laawan Islam dengan tulisan yang yang lainnya –sampai pada ucapan beliau:- dia juga tidak menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, bahkan dia menulis, berkhothbah, berbicara, membantah ahli bida’, dan membantah lawan Islam yang lain dengan kekuatan yang Alloh berikan untuknya, sesuai dengan ilmunya, dan dengan apa yang Alloh mudahkan untuknya dengan berbagai kemampuan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ الله وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ﴾.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

            Maka kita harus berdiri di kedua ayat ini dengan pendirian yang agung. Robb kita memperingatkan kita dari menyembunyikan ilmu dan mengancam perbuatan tadi, dan melaknat orang yang melakukan itu. Kemudian Alloh menjelaskan bahwasanya tiada keselamatan dari ancaman dan kutukan ini kecuali dengan tobat, perbaikan dan penjelasan. (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/7/hal. 194).

 

Bab Sembilan: Membongkar Makar Sebagian Orang Yang Menisbatkan Diri Pada Ilmu

 

            Luqman berkata: “Akhirnya para masyayikhpun tidak putus asa sejak munculnya peristiwa itu sejak tujuh tahun yang lalu, para masyayikh tidak putus asa mencoba dan mencoba lagi.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Bahkan sebagian dari mereka punya andil dalam membikin maker dalam kasus ini. Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Beberapa waktu sebelum ini, akh Ali Ja’dan mengunjungi Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab وفقه الله maka Asy Syaikh Muhammad berkata padanya: “Akan berdiri sekarang ini markiz yang menyerupai markiz Dammaj. Jangan kabarkan ini pada seorangpun!!”

            Baiklah, markiz-markiz jika berdiri tanpa ada kerahasiaan, maka kami ucapkan selamat atas berdirinya markiz apapun, dan kami akan membantunya. Dan aku, jika dikumpulkan tazkiyyah-tazkiyyah yang aku tulis untuk mendirikan markiz-markiz untuk Ahlussunnah pastilah datang dalam bentuk malzamah. Akan tetapi kerahasiaan macam apa yang mereka perbuat itu?

            Di belakang penyembunyian tersebut ada “amalan-amalan” Alloh lebih tahu apa yang ada di belakang maksud ini. Saksinya ada dan dia mendengar. Tambahkan lagi dengan perbuatan Asy Syaikh Muhammad membikin adu domba dan pemberontakan terhadap dakwah, penentangan terhadap dakwah, membikin kerumitan terhadap dakwah, membikin kerumitan terhadapku dan terhadap saudara-saudaraku di Darul Hadits di dammaj tanpa alasan yang benar. Demi Alloh itu adalah kezholiman, dan permusuhan. Tiada sebab yang demikian itu kecuali wala (loyalitas) dan baro (perlepasdirian) yang sempit.

(selesai penukilan dari risalah “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 6).

Asy Syaikh Yahya حفظه الله juga berkata: “Dia menukilkan padaku –dan kita, aku dan masyayikh, di majelis di Hudaidah- bahwasanya Asy Syaikh Robi’ berkata: “Seretlah Yahya dari atas kursi, dan penggantinya telah siap.”

 

            Demi Alloh, dadaku menjadi sempit dengan sebab ini. Dan aku berhak untuk merasa sempit. Aku mengajak kepada Al Kitab dan As Sunnah, aku wajib untuk ditolong, bukannya ditelantarkan, lebih-lebih lagi untuk diseret, lebih-lebih lagi hal ini bisa menyebabkan pembunuhan, peperangan, kejahatan dan fitnah. Aku di atas wasiat. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾ [البقرة:181].

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

            Dan ini bukanlah metode Ahlussunnah, dan bukan pula dari dakwah Ahlussunnah sama sekali. Dan Asy Syaikh Muhammad bisa untuk berkata padanya: “Wahai Syaikh Robi’ ucapan ini tidak kami terima dari Anda dan tidak kami ridhoi. Jika memang seperti yang diucapkannya dan tidak perlu dinukilkan kepadaku. Dan aku dikabari bahwasanya dia menukilkan pada Asy Syaikh Robi’ di sana perkataan dariku dan membikin guncang dadanya terhadapku sebagaimana dia menggoncang dadaku terhadap Asy Syaikh Robi’.

            Kemudian setelah itu Asy Syaikh Muhammad mengunjungi kami ke sini dan berkata: “Aku duduk bersama Abu Malik Ar Riyasyiy, ternyata Asy Syaikh Robi’ juga berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepadaku: “Seretlah Yahya dari atas kursi.” Mahasuci Alloh!! Kukatakan padanya: “Aku akan menelpon Asy Syaikh Robi’ sekarang juga.” Wahai saudaraku, kami ini di atas dakwah salafiyyah ataukah kami ini di atas alur sosialis? Kami menganggap beliau sebagai bapak. Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah bagaikan satu bangunan, tapi dia menggali lubang untuk kami!! Asy Syaikh Muhammad berkata: “Jangan, jangan, jangan engkau telpon beliau, nanti beliau akan berkata: “Demi Alloh, demi Alloh, demi Alloh, aku tidak mengatakan itu.” Demikianlah Asy Syaikh Muhammad berkata. Dan semoga kutukan Alloh menimpa orang-orang yang dusta.

Aku harus berkata terang-terangan. Kami ini ada di atas dakwah yang jelas, tidak sepantasnya digalikan lubang di belakangku semisal ini sejak sekian tahun. Dengan hak apa? Aku mengajak orang kepada Alloh عز وجل .

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 4-5).

            Syaikh Yahya حفظه الله juga berkata: “Dan termasuk dari taktik dan kezholiman terhadap dakwah yang terus berjalan tersebut adalah: Asy Syaikh Muhammad mengunjungi kita di sini dalam keadaan mereka dimuliakan dan dihormati. Dan di akhir ceramah sebagian masyayikh, bangkitlah dia dari sana dengan lari-lari kecil di waktu terakhir, dan dia mengadu domba para pelajar dengan ucapan yang menusuk seperti jarum, dan jadilah orang-orang yang aku pegangi mereka, dan aku terus-menerus menasihati mereka, dari kalangan murid-muridku di markiz ini, mereka “berhamburan menyerang” saudara-saudara mereka. yang ini berkata: “Asy Syaikh Muhammad pada malam ini menghantam mereka dan berbuat demikian dan demikian.” Dan hampir saja mereka baku pukul di jalan di jalan, dan hampir terjadi fitnah di sini di dalam ruang Dewan, berpengaruh pada permusuhan itu disebabkan oleh adu domba Asy Syaikh Muhammad. Maka dia juara dalam adu domba, dan dia berhak mendapatkan gelar “doktor dunia” dalam adu domba.

(selesai penukilan dari “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 6-7).

 

 


([1]) Asy Syaikh Jammal berkata: Jika Salim Ba Muhriz atau yang lainnya mendustakan penukilan-penukilan ini maka pendustaannya itu tak bisa diterima karena berita tadi tidaklah diterima dari jalanan atau dari orang rendahan atau orang majhul semisal perserikatan Ibnu Mar’i Al Barmakiyyah, karena berita tadi adalah penukilan dari orang-orang yang lurus agamanya yang terkenal dengan amanah dan kejujuran. Tinggallah kewajiban Ibnu Muhriz untuk mengumumkan tobat secara terang.

([2]) Walaupun relatif murah menurut kalangan menengah.

([3]) Jika dia memang ikhlas hendak memajukan kualitas Yaman wilayah selatan dalam bidang ilmu dan akhlaq dan sebagainya, mengapa dengan jalan mengobrak-abrik ketenangan belajar para pelajar di Dammaj (markiz Salafiyyah terbesar di Yaman wilayah utara, dan bahkan se-Yaman secara mutlak) dan merayu mereka agar menjual kamar dan rumah mereka yang di Dammaj. Bahkan ada sebagian pelajar asli Abyan didatangi mereka sambil berkata,”Wahai Akhuna Fulan, bergabunglah, barangkali engkau termasuk calon pasukan Aden-Abyan yang dijanjikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Kalaupun perbuatannya tadi bisa dibenarkan, mengapa setelah berhasil merayu sebagian  pelajar dari Dammaj lalu dia membuat kesempitan terhadap mereka?

([4])  Risalah ini beliau sebarkan pada awal fitnah, sekitar tiga tahun yang lalu. Adapun sekarang markiz Fuyusy telah berdiri.

Baca juga ditempat yang lainnya (disini !)