Pedang Tajam Membabat

Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)

(bagian kedua)

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

  

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Judul Asli:

“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh

(Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

 

Terjemah Bebas:

“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)”

 

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

  

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Shohibul Fadhilah Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Bin Ali Bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy semoga Alloh Menjaga Beliau 

          الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد:

            Sungguh aku telah melihat kitab saudara kita al fadhil (yang mulia), ad dai (penyeru) ke jalan Alloh عز وجل, al mufid (yang memberikan faidah): Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy yang diberinya nama dengan: “As Suyuful Batiroh ‘Ala Silsilatit Tahajjumatil Fajiroh,”([1]) maka aku melihat dirinya di dalam kitab tersebut telah mencurahkan kerja keras yang diberkahi dalam membela sunnah dan Ahlussunnah.

            Maka semoga Alloh membalas dirinya dengan kebaikan, memberikan manfaat dengannya dan dengan tulisan-tulisannya.

 

Ditulis oleh:

Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli Al Ba’daniy

Pada hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 24 Jumadal Akhiroh 1434 H

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Bagian Kedua

 

          الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan penerjemahan bagian kedua dari risalah ini , dan segala puji bagi Alloh yang memberikan taufiq pada Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Ba’daniy حفظه الله untuk menyelesaikan pemeriksaan risalah ini dan memberikan kata pengantar untuknya. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan yang banyak.

Sesungguhnya saya tidak berpikir untuk menulis risalah ini, karena banyak pembahasan yang harus dikerjakan, akan tetapi para hizbiyyun seakan-akan tidak menghendaki Ahlussunnah untuk konsentrasi pada kesibukan asli mereka, dan hizbiyyun sering membikin sibuk mereka. Dan dari sisi lain banyak surat berdatangan untuk saya turut memberikan andil membantah tuduhan-tuduhan jahat hizbiyyun, maka dengan mohon pertolongan pada Alloh dan sambil mengakui keterbatasan diri, sayapun memulai menulis bantahan ini, dalam bahasa Arob agar diperiksa lebih dulu oleh sebagian ulama, dan kemudian saya terjemahkan ke bahasa Indonesia agar faidahnya lebih luas, dengan idzin dan kemudahan dari Alloh semata.

            Dalam kesempatan ini saya masih melanjutkan penjelasan sebagian pengkaburan fakta yang dilakukan oleh Luqman Ba Abduh dan para pendahulunya.

            Saya juga membahas kasus ghuluw sebagian penyair terhadap Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله yang mana mereka telah secara jujur dan ksatria mengumumkan tobat mereka, tapi para penjahat hizbiyyin tetap saja bertahun-tahun menjadikan hal itu sebagai bahan ejekan dan celaan, tidak malu membuang syariat ke belakang punggung mereka.

            Juga saya bahas sikap ghuluw yang sangat berlebihan dan mengagetkan, yang ada pada murid Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله.

Semoga Alloh memberikan berkah dan taufiq-Nya pada para pembaca risalah ini dan Ahlissunnah yang lainnya.

Bab Sepuluh: Luqman Tidak Paham Kasus Maaf Dan Tobat

            Luqman berkata: “Yahya Al Hajuriy menuntut (dan menyatakan): saya tidak setuju hasil pertemuan itu sampai Abdurrohman datang ke Dammaj dan minta maaf. Kalau minta maaf, selesai hizbiyyahnya. Jadi vonis hizbiyyah itu tadi selesai dengan minta maafnya Syaikh Abdurrohman. Sampai keluarlah kaset muhadhoroh Al Hajuriy yang berjudul “Mutholabatu Abdurrohman Bil I’tidzar” , Tuntutan Abdurrohman Al Adaniy Untuk Minta Maaf.” Ya akhi Ini salah satu bentuk dakwah dan manhaj baru.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

Ini kisah yang gambarannya keliru yang diambil oleh Luqman dari Muhammad Ar Roimiy. Silakan rujuk pelurusannya dalam bantahan Asy Syaikh Yahya terhadap Muhammad Ar Roimiy.

Adapun kebingungan Luqman tentang masalah tuntutan agar si Adaniy minta maaf, dan masalah status hizbiyyah dia, kita katakan:

Yahya bin Kholid Al Barmakiy رحمه الله berkata: “Barangsiapa tidak tahu suatu perkara, dia akan memusuhi perkara itu.” (“Al Adzkiya”/Ibnul Jauziy/hal. 22).

            Manakala Luqman tidak memahami hakikat kasus ini, maka dia merasa aneh dengan perkataan Asy Syaikh Yahya رحمه الله dan memusuhi beliau dengan ucapan tadi.

            Maka ketahuilah bahwasanya kezholiman-kezholiman Abdurrohman Al Adaniy itu bermacam-macam, di antaranya adalah: yang terkait dengan hak Syaikh kami Yahya حفظه الله , maka Al Adaniy wajib minta maaf dan minta dihalalkan. Dan kezholiman yang kedua: terkait dengan perkara-perkara manhajiyyah, maka dia wajib bertobat darinya dan kembali kepada jalan Salafiyyah. Inilah yang diinginkan oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله sebagaimana yang beliau sebutkan di dalam ucapan-ucapan beliau, akan tetapi kebanyakan hizbiyyin menginginkan pengkaburan hakikat terhadap orang-orang.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Hak-hak itu ada dua macam: hak Alloh dan hak manusia. Maka hak Alloh itu tidak dimasuki oleh perdamaian, seperti hudud (hukum-hukum potong tangan dsb), zakat-zakat, kaffarot dan semisalnya. Perdamaian antara hamba dengan Robbnya hanya bisa dilakukan dalam bentuk dia menunaikan hak-hak Alloh, bukan dalam bentuk menyia-nyiakannya. Oleh karena itulah maka perdamaian itu tidak diterima dalam kasus hudud. Dan jika kasus hudud itu telah sampai kepada penguasa, Alloh melaknat sang pemberi syafaat dan yang diterima syafaatnya.

            Adapun hak-hak kemanusiaan, dan dia itulah yang bisa menerima perdamaian, pengguguran hak dan penggantiannya. Dan perdamaian yang adil itulah yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم sebagaimana firman Alloh:

فأصلحوا بينهما بالعدل

“Maka damaikanlah kedua kelompok itu dengan adil.”

Dan perdamaian yang berat sebelah itu adalah kezholiman itu sendiri. Dan kebanyakan manusia tidak bertopang pada keadilan dalam perdamaian, bahkan membuat perdamaian dengan perdamaian yang mengandung kezholiman dan berat sebelah. Maka hendaknya dia mendamaikan kedua belah pihak yang saling menuntut tanpa bersikap curang terhadap hak salah satu pihak.”

(selesai dari “I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 108-109).

Bab Sebelas: Tuduhan Bahwasanya Asy Syaikh Yahya Berlidah Kotor

            Luqman menyebutkan bahwasanya Asy Syaikh Yahya punya ucapan-ucapan kotor yang tidak diucapkan oleh orang-orang pasar. Seperti ini pula ucapan Abdulloh Al Bukhoriy tentang Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Cacian, cercaan, cercaan, cercaan, kita berlindung pada Alloh.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Ucapan ini adalah persis dengan dengungan Arofat Al Bashiriy. Kenapa mereka tidak  mengkritik syaikh mereka Ubaid Al Jabiriy yang keburukan lidahnya tidak terbatas pada ahli ahwa saja, bahkan mencapai penduduk suatu negri secara luas? Aku telah mendengar dialog dia, lalu dia mencaci dengan cacian yang sangat buruk terhadap penduduk Aljazair, dan mencerca penduduk Libia dengan cercaan yang memalukan untuk disebutkan. Itu juga dinukilkan di dalam risalah “Al Bayanul Mufid Li Ba’dhi Ma Ashsholahu Wa Naqodhohu Syaikhuna ‘Ubaid” (hal. 26/karya Syaikh kami Muhammad Ba Jammal حفظه الله): seorang penanya dari Aljazair bertanya pada Ubaid tentang sebagian perkara yang terkait dengan Lajnah Daimah dan Ali bin Hasan Al Halabiy, lalu terjadi sedikit pemotongan pembicaraan sehingga Syaikh kami Ubaid berkata pada si penanya: “Kamu adalah sapi! Jika bukan sapi, maka kamu adalah keledai!”

Dan pada telpon yang kedua dia berkata pada si penanya: “Apakah kamu sudah gila? Kamu gila? Kamu sapi, sapi, sapi.”

Dan pada telpon yang ketiga dia berkata pada si penanya –dan sebenarnya si penanyanya memang beradab jelek dan sok tahu: “Orang-orang Aljazair dan Libia itu adalah keledai-keledai, kecuali orang yang dirohmati Alloh.”

Aku –asy Syaikh Muhammad Ba Jammal-: akan tetapi apa dosa Orang-orang Aljazair dan Libia yang lain (yang bukan penanya)?

Jika ada yang berkata: beliau berkata: kecuali orang yang dirohmati Alloh.

Beliau menjawab: akan tetapi ini dinamakan apa jika diteliti? “Keledai-keledai!” “sapi!” “orang gila!” Apakah ini termasuk ungkapan yang lembut dan adab yang tinggi, ucapan yang bagus, perkataan yang indah?! (yang Ubaid menganggap bahwasanya Asy Syaikh Yahya tak punya itu, ternyata Ubaid sendiri demikian).

Selesai penukilan.

            Adapun syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله jika beliau mencaci, maka beliau itu hanyalah mencaci –sebagaimana yang kalian dengar- para pembangkang terhadap hujjah, karena marah untuk Alloh.

            Maka ketahuilah bahwasanya caci-makian telah terjadi dari kedua belah pihak. Pihak Ahlussunnah dan pihak ahli bid’ah. Akan tetapi Ahlussunnah jika mencaci, maka mereka itu mencaci dengan jujur, adil dan dengan adanya bukti, berbeda dengan ahli bid’ah. Al Imam Ibnul Qoyyim  berkata dalam “Qoshidah Nuniyyah” (1/hal. 91):

وإذا سببتم بالمحال فسبنا*** بأدلة وحجج ذي برهان

تبدي فضائحكم وتهتك ستركم*** وتبين جهلكم مع العدوان

ما بُعد ما بين السباب بذاكم*** وسبابكم بالكذب والطغيان

من سب بالبرهان ليس بظالم*** والظلم سب العبد بالبهتان

“Dan jika kalian mencaci dengan kemustahilan, maka cacian kami adalah dengan dalil-dalil dan argumentasi yang punya bukti, yang bisa menyingkap aib-aib kalian dan membongkar tabir kalian serta menjelaskan kebodohan kalian yang disertai dengan permusuhan. Alangkah jauhnya perbedaan antara cacian-cacian yang itu, sementara cacian kalian adalah dengan kedustaan dan sikap melampaui batas. Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.”

            Asy Syaikh Al Harrosh -rahimahulloh- berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zholim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezholiman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (“Syarh Nuuniyyah Ibnul Qoyyim” 2/ hal. 340).

            Telah lewat isyarat bahwasanya kekerasan jika diletakkan pada tempatnya maka itu boleh. Dan langkah ini punya dalil dari Al Qur’an. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا﴾ [الإسراء: 102].

 “Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, Hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (QS. Al Isro: 102)

Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾ [التحريم: 9]

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS. At Tahrim: 9)

Termasuk dari contoh sikap keras Rosululloh r terhadap orang yang berhak mendapatkannya, sekalipun bukan orang munafiq, adalah dalam hadits Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَضَى فِى امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا ، فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ ، فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهْىَ حَامِلٌ ، فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِى فِى بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِى بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ ، فَقَالَ وَلِىُّ الْمَرْأَةِ الَّتِى غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ الله مَنْ لاَ شَرِبَ ، وَلاَ أَكَلَ ، وَلاَ نَطَقَ ، وَلاَ اسْتَهَلَّ ، فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلّ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ »

“Bahwasanya Rosululloh r pernah memutuskan kasus dua orang wanita dari Hudzail yang baku bunuh, salah satunya melempar lawannya dengan batu dan mengenai perutnya –dalam keadaan dia hamil-. Maka dia membunuh janin yang ada di dalam perut wanita yang satunya itu. Merekapun berselisih di hadapan Nabi r. Beliau memutuskan kewajiban untuk membayar diyat janin tersebut berupa pembayaran dengan budak laki-laki atau perempuan. Maka berkatalah wali perempuan yang terkena denda,”Wahai Rosululloh, bagaimana janin yang belum bisa minum itu mendatangkan denda? Dia itu belum bisa makan, belum bisa bicara ataupun melengking. Dan yang seperti itu adalah batal.” Maka Nabi r bersabda tentang orang itu: “Orang ini hanyalah saudaranya dukun.” (HR. Al Bukhori (5758) dan Muslim (4485)).

            Ya’la bin Umayyah رضي الله عنه berkata:

غزوت مع النبي صلى الله عليه وسلم العسرة قال كان يعلى يقول تلك الغزوة أوثق أعمالي عندي. وقال: فكان لي أجير فقاتل إنسانا فعض أحدهما يد الآخر قال: فانتزع المعضوض يده من في العاض فانتزع إحدى ثنيتيه فأتيا النبي صلى الله عليه وسلم فأهدر ثنيته. قال النبي صلى الله عليه وسلم: «أفيدع يده في فيك تقضمها كأنها في في فحل يقضمها».

“Aku pernah berperang bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم perang ‘Usroh (perang Tabuk). Dan perang itu adalah amalan yang paling aku percaya di sisiku. Aku punya pekerja, lalu pekerjaku itu berkelahi dengan seseorang, lalu salah satunya menggigit tangan lawannya. Lalu orang yang tangannya digigit itu mencabut tangannya dari mulut orang yang menggigit sehingga tanggallah salah satu gigi serinya. Maka keduanya mendatangi Rosululloh صلى الله عليه وسلم , lalu beliau membatalkan nilai gigi tadi. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apakah dia akan membiarkan tangannya ada di mulutmu untuk kamu kunyah seakan-akan tangannya ada di mulut onta jantan agar dikunyahnya?” (HR. Al Bukhoriy (4417) dan Muslim (1674)).

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang bercerita:

لما رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم غيرة عائشة رضي الله عنها قال لها: «ما لك يا عائشة أغرت ؟» فقلت: وما لي لا يغار مثلي على مثلك ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «أقد جاءك شيطانك ؟» قالت: يا رسول الله أو معي شيطان ؟ قال: «نعم». قلت: ومع كل إنسان ؟ قال: «نعم». قلت: ومعك يا رسول الله؟ قال: «نعم ولكن ربي أعانني عليه حتى أسلم». (أخرجه مسلم (2815)).

Ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم melihat api kecemburuan A’isyah t, beliau bersabda: “Ada apa denganmu wahai Aisyah? Apakah engkau cemburu?” maka aku berkata bagaimana orang semisal saya tidak cemburu pada orang semisal Anda?” maka Rosululloh  bersabda: “Apakah setanmu telah mendatangimu?”. Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah bersama saya ada setan?” Beliau menjawab: “Iya.” Saya bertanya: “Dan bersama setiap orang juga?” Beliau menjawab: “Iya.” Saya bertanya: “Dan bersama Anda wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Iya. Akan tetapi Robbku menolongku menghadapinya hingga dia masuk Islam.” (HR. Muslim (2815)).

            Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما yang berkata:

كان معاذ بن جبل يصلي مع النبي صلى الله عليه و سلم ثم يرجع فيؤم قومه فصلى العشاء فقرأ بالبقرة فانصرف الرجل فكان معاذا تناول منه فبلغ النبي صلى الله عليه و سلم فقال: «فتان فتان فتان». ثلاث مرار أو قال: «فاتنا فاتنا فاتنا» وأمره بسورتين من أوسط المفصل. (أخرجه البخاري (701)).

“Dulu Mu’adz bin Jabal sholat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian di kembali lalu mengimami kaumnya sholat Isya. Maka dia membaca Al Baqoroh. Maka ada orang yang berpaling pergi. Maka Mu’adz mencelanya. lalu berita itu sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم maka beliau berkata: “Tukang membikin fitnah, Tukang membikin fitnah, Tukang membikin fitnah,” sebanyak tiga kali. Atau beliau berkata: “Pembikin fitnah, pembikin fitnah, pembikin fitnah,” lalu beliau memerintahkannya untuk membaca dua surat saja dari pertengahan Mufashshol.” (HR. Al Bukhoriy (701)).

Dan para shahabatpun terkenal punya kecemburuan yang tinggi untuk agama Alloh dan Rasul-Nya, dan bersikap keras terhadap orang yang melakukan  pelanggaran, untuk mencegahnya berbuat itu. Misalnya adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «لاَ يَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِى جِدَارِهِ». ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ مَا لِى أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَالله لأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ.

Abu Huroiroh t berkata bahwasanya Rosululloh r bersabda: “Janganlah seorang tetangga menghalangi tetangganya untuk memasang kayunya di dindingnya.” Lalu Abu Huroiroh berkata,”Kenapa kulihat kalian berpaling darinya? Demi Alloh sungguh aku akan melemparkan kayu tadi di antara kedua pundak kalian.” (HR. Al Bukhori (996) dan Muslim (4215)).

سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبِكَالِىَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِى إِسْرَائِيلَ ، إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ . فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ الله

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata,”Aku berkata kepada Ibnu Abbas t: “Sungguhnya Nauf Al Bikali menyangka bahwasanya Musa – yang bersama Khidhr- bukanlah Musa Bani Isroil, akan tetapi hanya dia itu Musa yang lain.” Maka beliau berkata,”Musuh Alloh itu bohong.” (HR. Al Bukhori (112) dan Muslim (6313)).

Muhammad bin Wasi’ رحمه الله berkata:

رأيت صفوان بن محرز وأشار بيده إلى ناحية من المسجد ، وشببة قريب منه ، يتجادلون ، فرأيته ينفض ثوبه وقام وقال : إنما أنتم جرب إنما أنتم جرب

“Aku melihat Shofyan bin Muhriz –dan mengisyaratkan ke salah satu sisi masjid- sementara itu beberapa pemuda berdebat di dekatnya. Maka kulihat beliau mengibaskan bajunya dan berdiri seraya berkata,” Kalian itu hanyalah penyakit kudis.” (“Asy Syari’ah”/ Imam Al Ajurri /114).

            Abu Ishaq Ibrohim bin Isa Ath Tholiqoni رحمه الله berkata:

سَمِعْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ لَوْ خُيِّرْتُ بَيْنَ أَنْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَبَيْنَ أَنْ أَلْقَى عَبْدَ الله بْنَ مُحَرَّرٍ لاَخْتَرْتُ أَنْ أَلْقَاهُ ثُمَّ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلَمَّا رَأَيْتُهُ كَانَتْ بَعْرَةٌ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْهُ.

Aku mendengar Ibnul Mubarok berkata,”Andaikata aku diberi pilihan antara masuk ke dalam jannah ataukah berjumpa dengan Abdulloh bin Muharror, niscaya aku akan memilih untuk berjumpa dengannya baru kemudian aku masuk Jannah. Ketika aku melihatnya ternyata kotoran hewan lebih aku sukai daripadanya.” (Muqaddimah “Shohih Muslim”/1/hal. 104).

Imam Asy Syafi’iy رحمه الله berkata:

أخبرني أبو حنيفة بن سماك بن الفضل الشهابي قال: حدثني ابن أبي ذئب عن المقبري عن بن شريح الكعبي: أن النبي قال عام الفتح: «من قتل له قتيل فهو بخير النظرين إن أحب أخذ العقل وإن أحب فله القود». قال أبو حنيفة: فقلت لابن أبي ذئب: أتأخذ بهذا يا أبا الحارث؟ فضرب صدري، وصاح علي صياحا كثيرا، ونال مني، وقال: أحدثك عن رسول الله، وتقول: تأخذ به؟ نعم آخذ به، وذلك الفرض علي وعلى من سمعه. إن الله اختار محمدا من الناس، فهداهم به، وعلى يديه، واختار لهم ما اختار له وعلى لسانه، فعلى الخلق أن يتبعوه طائعين أو داخرين. لا مخرج لمسلم من ذلك. قال: وما سكت حتى تمنيت أن يسكت. (“الرسالة” /رقم (1234)/دار النفائس).

“Abu Hanifah bin Simak ibnul Fadhl Asy Syihabiy mengabariku: Ibnu Abi Dzi’b memberiku hadits dari Al Maqburi dari Abu Syuroih Al Ka’biy bahwasanya Rosululloh r bersabda pada tahun fathu Makkah: “Barangsiapa yang salah satu keluarganya terbunuh, maka dia bisa memilih yang terbaik dari dua pilihan: Kalau senang, dia bisa mengambil denda. Dan kalau suka dia bisa memilih qishshosh”. Abu hanifah berkata,”Kukatakan pada Ibnu Abi Dzi’b:”Apakah anda mengambil pendapat ini, wahai Abul Harits?” Maka beliau memukul dadaku dan meneriaki aku banyak sekali, dan mencaci maki aku, serta berkata,”Aku memberimu hadits dari Rosululloh dan engkau berkata: “Apakah anda mengambil pendapat ini?” Yang demikian itu adalah wajib bagiku, dan bagi orang yang mendengarnya. Sesungguhnya Alloh ta’ala telah memilih Muhammad r dari kalangan manusia dan memberikan hidayah pada mereka melalui beliau dan dengan perantaraan tangan beliau. Dan Dia telah memilihkan untuk mereka apa yang dipilihkan-Nya untuk beliau melalui lisan beliau. Maka wajib atas seluruh makhluk untuk mengikuti beliau dalam keadaan taat atau terhinakan. Tiada jalan keluar bagi seorang muslim dari yang demikian itu.”

Abu Hanifah berkata,”beliau tidak mau diam sampai-sampai aku berangan-angan agar beliau diam.” (“Ar Risalah” /no. (1234)/cet. Darun Nafais).

Imam Ar Robi’ bin Sulaiman -rahimahulloh- berkata:

سمعت الشافعي يقول وذكر القرآن وما يقول حفص الفرد ، وكان الشافعي يقول : حفص القرد ، وناظره بحضرة وال كان بمصر فقال له الشافعي رضي الله عنه في المناظرة : كفرت والله الذي لا إله إلا هو ، ثم قاموا ، فانصرفوا ، فسمعت حفصا يقول : أشاط والله الذي لا إله إلا هو الشافعي بدمي قال الربيع : وسمعت الشافعي رحمه الله تعالى يقول : القرآن كلام الله غير مخلوق ، ومن قال : مخلوق فهو كافر

“Aku mendengar Asy Syafi’i berkata, dan menyebutkan tentang Al Qur’an dan apa yang diucapkan Hafsh Al Fard. Dulu Asy Syafi’i menyebutnya:”Hafsh Al Qird (Monyet)([2])”. Beliau berdebat dengan Hafsh dihadiri dengan seorang wali yang ada di Mesir. Beliau berkata pada Hafsh,”Engkau telah kafir, demi Alloh Yang tiada sesembahan yang benar selain Dia.” Kemudian mereka berdiri dan bubar. Lalu aku mendengar Hafsh berkata,”Asy Syafi’iy ingin menumpahkan darahku, demi Alloh Yang tiada sesembahan yang benar selain Dia.”

Ar Robi’ berkata,”Aku mendengar Asy Syafii berkata,”Al Qur’an adalah kalamulloh dan bukan makhluk. Dan barangsiapa mengatakan  bahwasanya Al Qur’an itu makhluk, maka dia itu kafir.” (“Asy Syari’ah” no. 127).

          وقال الإمام البيهقي رحمه الله: وكان الشافعي رضي الله عنه شديدا على أهل الإلحاد وأهل البدع مجاهرا ببغضهم وهجرهم. (“مناقب الشافعي”/1/ص469/للبيهقي/كما في “إجماع العلماء على الهجر والتحذير من أهل الأهواء”/ص45/ط. مكتبة الأصالة الأثرية).

“Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Asy Syafi’iy رضي الله عنه itu keras terhadap para penyeleweng dan ahli bida’, beliau terang-terangan menampilkan kebencian pada mereka dan memboikot mereka.” (“Manaqibusy Syafi’iy”/1/hal. 469/ karya Al Baihaqiy/sebagaimana dalam “Ijma’ul Ulama ‘Alal Hajri Wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa”/hal. 45/cet. Maktabatul Asholatil Atsariyyah).

            Luqman Ba Abduh dan yang semisalnya bergaya dengan akhlaq yang mulia, dan menjadikan Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله sebagai tangga untuk “memukul” Asy Syaikh Yahya حفظه الله, maka sekarang silakan para pembaca melihat, kelompok yang manakah yang lebih berhak dengan Asy Syafi’iy dan para pendahulu beliau yang sholih: para salafiyyun dan pemimpin mereka Asy Syaikh Yahya حفظهم الله, ataukah para hizbiyyun dan ekor mereka Luqman Ba Abduh.

            Dan dari Ibrohim bin Muhammad Al Kufiy yang berkata: Aku melihat Asy Syaifi’iy di Mekkah memberikan fatwa pada orang-orang. Dan aku melihat Ahmad dan Ishaq hadir. Asy Syafi’iy berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«وهل ترك لنا عقيل من دار»

“Dan apakah Aqil meninggalkan satu rumahpun untuk kita?”

Ishaq berkata: “Yazid memberiku hadits, dari Hasan. Dan Abu Nu’aim dan Abdah mengabariku dari Sufyan, dari Manshur, dari Ibrohim, bahwasanya keduanya tidak berpendapat demikian. Atho dan Thowus juga tidak berpandangan demikian.” Maka Asy Syafi’iy berkata: “Siapa dia ini?” dijawab: “ Ishaq bin Ibrohim Al Hanzholiy Ibnu Rohawaih.” Maka Asy Syafi’iy berkata: “Engkaulah yang penduduk Khurosan menganggap bahwasanya engkau adalah ahli fiqih mereka? Alangkah butuhnya aku agar orang yang lain itu menduduki posisimu, lalu aku akan memerintahkan agar kedua telingamu digaruk. Aku katakan: ”Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda,” tapi engkau berkata: “Atho, Thowus, Manshur meriwayatkan dari Ibrohim dan Al Hasan.” Dan apakah ada orang yang punya hujjah untuk bertentangan dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم?” (“Manaqibusy Syafi’iy”/1/hal. 214-215/ karya Al Baihaqiy/sebagaimana dalam “Siyar A’lamin Nubala”/10/hal. 68-69).

            Al Imam Asy Sya’biy رحمه الله berkata:

ما حدثوك عن أصحاب رسول الله فخذ به ، وما قالوا فيه برأيهم فبل عليه.

“Apa yang mereka ceritakan dari para Shohabat Rosululloh, maka ambillah dia. Dan apa yang mereka ucapkan dalam masalah itu dengan pendapat mereka, maka kencingilah pendapat mereka itu.” (“Jami’ Bayanil Ilmi”/Ibnu Abdil Barr/no. (912)/shohih).

Al Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata:

فمن كان يشفق على الإخوان المفلسين فقد قلت لكم: فليذهب إليهم وليقل لهم: ليتقواالله وليتعاونوا مع إخوانهمم اهل السنة وليبولوا على الحزبية، وهكذا غيرهم، ودعوة إلى الكتاب والسنة إلخ

“Maka barangsiapa merasa kasihan pada Ikhwanul Muflisin maka aku telah berkata pada kalian,”Pergilah kamu kepada mereka dan katakan pada mereka,”Bertaqwalah kalian pada Alloh dan saling menolonglah dengan saudara-saudara mereka Ahlussunnah, dan kencingilah hizbiyyah. Dan demikian pula yang lain. Dan menyerulah ke Al Kitab dan As Sunnah.” (“Qom’ul Mu’anid” 1/hal. 73)

            Ini adalah bantahan terhadap Luqman yang mencerca Asy Syaikh Yahya dengan anggapan beliau keras dan kasar. Luqman berkata: “Harus dengan kelembutan,… ketenangan, … dst.”

Bab Dua Belas: Luqman Menggali Lagi Kasus Istiwa Alloh Di Atas Arsy Tanpa Bersentuhan 

Luqman menyatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya belum bertobat dari perkataan bahwasanya Alloh istiwa di atas Arsy tanpa bersentuhan. Kemudian Luqman mulai menyebutkan kasus tersebut sambil menghinakan Asy Syaikh Yahya حفظه الله.

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Ini adalah termasuk dari kebiasaan Luqman dan kebanyakan hizbiyyin, bahwasanya mereka menggali ulang kasus-kasus masa lalu yang telah dikubur oleh Ahlussunnah, hizbiyyin berbuat itu dalam rangka menjatuhkan para ulama yang berdiri berhadapan dengan hizbiyyin, sementara para hizbiyyun sendiri –termasuk Luqman- menuduh para ulama tersebut bahwasanya mereka ingin menjatuhkan mereka.

            Sesungguhnya pendapat bahwasanya Alloh istiwa di atas Arsy sambil bersentuhan ataukah tidak bersentuhan, ucapan ini dimasukkan oleh sebagian Asya’iroh di tengah-tengah Ahlussunnah, dan sebagian ulama terpedaya dengan itu, maka mereka terkena sedikit debu Asya’iroh tadi. Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله dulu sudah menjelaskan bahwasanya madzhab beliau dalam masalah ini adalah seperti madzhab Asy Syaikh Robi’ dan Ahlussunnah yang lainnya, bahwasanya lafazh “bersentuhan” itu tidak datang dalam Al Qur’an ataupun As Sunnah untuk haknya Alloh, dalam bentuk peniadaan ataupun penetapan, hanya saja Asy Syaikh Yahya حفظه الله manakala sebagian pembahas menyebutkan di hadapan beliau bahwasanya pendapat “Tanpa bersentuhan” itu telah diucapkan oleh sebagian imam sunnah, maka Asy Syaikh Yahya bersikap hati-hati dan tidak sembarangan mengingkarinya. Manakala Asy Syaikh Robi’ حفظه الله menjelaskan bahwasanya itu adalah lafazh muhdats dalam kasus nama dan sifat Alloh, dan beliau menyingkap hakikat urusan para imam tadi, Asy Syaikh Yahya bersyukur pada beliau dan menerima nasihat beliau, dan membacakan penjelasan Asy Syaikh Robi’ tadi di majelis beliau, lalu membacakan penjelasan Asy Syaikh Yahya حفظه الله kepada hadirin semua.

            Kami telah menyebarkan ini di negri kami kurang lebih enam tahun yang lalu, manakala Luqman menggali ulang kasus ini untuk memperburuk citra Asy Syaikh Yahya.

            Dan sekarang, setelah berlalu enam tahun, lagi-lagi Luqman mengulang penyebutan kasus ini. Demikianlah ahli ahwa seperti Luqman dan para pendahulunya, mereka itu tidak ridho dengan rujuknya seorang alim kepada kebenaran yang jelas, agar mereka bisa melanjutkan memukul beliau dan menjatuhkan beliau. Maka mereka itu memang orang-orang fasiq dan jahat.

Bab Tiga Belas: Kasus Ketergelinciran Sebagian Penyair

            Luqman Ba Abduh dan Abdulloh Al Bukhoriy mencerca Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau dalam risalah beliau “Al Khiyanatud Da’awiyyah” menyebutkan ucapan penyair: “Imamuts tsaqolain.” Dan mereka berkata: “Termasuk dari sikap ghuluw mereka adalah ucapan mereka: “Seandainya mereka mencairkan dagingnya niscaya menjadi sunnah.” Kedua orang tadi dan Arofat Al Bashiriy memanfaatkan kasus ini untuk menetapkan bahwasanya pada Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau itu ada sikap ghuluw yang tiada taranya.”

            Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Telah kami sebarkan sebagian taroju’ penyair pada tanggal 2 Robi’uts Tsani 1430 H. Dan saya jelaskan masalah itu dalam syair “Buku Kak Sarbini Nikam Dengan Ganas” (tertanggal 6 Robi’uts Tsani 1430 H), dan saya jawab lagi sebagian syubuhat tersebut dalam risalah “Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah” (dengan judul terjemah: “Sifat Haddadiyyah dalam Diskusi Ilmiyyah,” tertanggal 9 Jumadal Ula 1432 H), dan “Kasru Alwiyati Ulil Idhror,” (tertanggal 26 Jumadal Ula 1434 H),dan yang lainnya. Akan tetapi ahli ahwa memang fasiq, menyukai pengulangan serangan dengan memakai kasus tadi, maka terkadang Ahlussunnah terpaksa untuk mengulang untuk mematahkan dan memukul mereka, karena banyaknya korban-korban dari syubuhat ini. Dan risalah ini “Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasilil Hamlatil Jairoh” (dengan judul terjemah: “Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat,” tertanggal 17 Jumadats Tsaniyah 1434 H) termasuk akhir dari pengulangan tadi.

Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh sangat memanfaatkan kasus ketergelinciran sebagian penyair dalam memuji tadi, padahal mereka tahu bahwasanya para penyair tadi telah bertobat dan rujuk. Hanya saja para hizbiyyun memang orang-orang yang sesat, maka mereka senang orang lain juga tersesat, dan mereka tidak senang orang lain mendapatkan petunjuk, agar dengan ketersesatan orang lain tadi mereka bisa meraih hasrat-hasrat mereka yang rusak untuk menjatuhkan seorang sunniy yang pencemburu dan senang menasihati, menjatuhkannya dengan alasan: “Dia senang orang memujinya dengan melampaui batas.”

            Dan syaikh kami Yahya حفظه الله mengulang-ulang di hadapan para murid: “Sungguh aku dari dalam hatiku benci sikap ghuluw.”

            Demikian pula masalah pujian, syaikh kami حفظه الله tidaklah menyukainya. Manakala sebagian penyair banyak memuji beliau, beliaupun berkata pada  mereka: “Semoga Alloh membalas dirimu dengan kebaikan, dan memaafkan diriku dan dirimu. Kuingatkan kalian dengan Alloh, kuingatkan kalian dengan Alloh, kami itu lebih rendah dari yang demikian itu. Kami ini adalah penuntut ilmu. Kami mohon Alloh untuk memaafkan kami. Demi Alloh kami mengakui pada Alloh عز وجل akan kelemahan dan kekurangan kami. Dan kami mohon pada Alloh agar menerima taubat kami. Dan kami itu kurang dan banyak dosa, sementara saudara-saudara kami حفظهم الله banyak berbaik sangka kepada kami padahal kami tidaklah seperti itu sama sekali. Aku kasih tahu kalian, ambillah pengetahuan ini dariku dengan sanad yang pendek: bahwasanya kami itu –demi Alloh- tidaklah seperti itu sama sekali. Kami adalah penuntut ilmu yang lemah dan patut dikasihani. Kami mohon pada Alloh Robbul ‘alamin agar memaafkankan kami dan memaafkan saudara-saudara kami. Hanya pada Alloh sajalah kami mohon pertolongan. Dan semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan.”

Demikianlah saya dengar ucapan beliau itu di hadapan kami semua. Dan pernyataan ini juga disebutkan dalam program “Fitnatul ‘Adniy” (karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهما الله).

            Orang yang membikin syair yang mengandung keghuluwan tadi telah tobat, menulis pengumuman tobatnya dan menyebarkannya, dalam keadaan dia tidak memaksudkan makna yang hizbiyyun ucapkan.

            Adapun tentang ucapan “Seandainya mereka meluluhkan dagingnya pastilah menjadi sunnah,” sang penyair Abu Muslim Al Hajuriy حفظه الله berkata:

“Sebenarnya aku hanyalah memaksudkan dengan bait syair tadi untuk menggambarkan kerasnya Syaikh Yahya -hafizhahulloh- dalam memegang teguh Al Kitab dan As Sunnah, dan kebencian beliau terhadap orang yang menyelisihi  Al Kitab dan As Sunnah. Dan yang demikian itu di dalam bab sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- tentang Salman:

ملئ إيمانا إلى مشاشه

 “Dia itu penuh dengan keimanan hingga ke ujung tulang rawannya.”

Dan tidaklah aku menginginkan hal itu untuk ghuluw (berlebih-lebihan) kepda Syaikh. Dan tidaklah aku memaksudkan bahwasanya beliau menjadi Qur’an. Na’udzu billahi min dzalik.

            Dan dengan mempertimbangkan bahwasanya bait syair tadi telah menyebabkan makna yang salah dan telah dimanfaatkan oleh sebagian orang-orang yang terfitnah untuk mencerca Dammaj dan mencerca Syaikh Yahya -hafizhahulloh-, maka aku taroju’ darinya, aku mohon ampunan pada Alloh dan bertobat kepada-Nya.

Walhamdu lillahi robbil ‘alamin.

Ditulis oleh:

Abu Muslim Ahmad bin Muhammad ibnul Husain

Az Za’kari Al Hajuri

Darul Hadits Di Dammaj

2 Robi’uts Tsani 1430 H([3])

 

            Demikian pula ucapan: “Imamuts tsaqolain”, sang penyair juga telah rujuk darinya, sebagaimana ucapan dia dalam syairnya –semoga Alloh memberinya taufiq-:

أنا تائبٌ متراجعُ مستغفرُ **** من ذلك القول الذي يستنكروا

ولقد نشرتُ تراجعي من فترةٍ **** وأنا عليه وتائب مُذ أنكروا

“Saya tobat dan rujuk dan mohon ampun

Dari ucapan yang mereka ingkari tersebut

Dan sungguh saya telah menyebarkan rujuk saya sejak selang waktu

Dan saya bertobat sejak mereka mengingkari.”

            Secara keumuman para pelajar dan sahabat Asy Syaikh Yahya berjalan bersama beliau dengan penghormatan pada beliau tanpa ghuluw. Maka barangsiapa menisbatkan syaikh Yahya dan yang bersama beliau kepada sifat ghuluw kepada pemimpin, maka sungguh dia telah menzholimi mereka dan mencaci mereka.

            Syaikh kami Yahya حفظه الله membaca sebuah soal: “Mereka menyatakan bahwasanya Anda gembira dengan pujian, dan gembira dengan orang yang berkata bahwasanya Anda adalah imam jin dan manusia.”

            Maka beliau حفظه الله menjawab: “Demi Alloh wahai saudaraku, saya tidak gembira dengan pujian, sejak dulu sampai sekarang. Alloh sebagai saksi, dan Alloh mengetahui isi hati. Akan tetapi ada sebagian penyair datang dengan membawa qoshidahnya, saya periksa isinya, saya hapus, saya tambahi, yang pantas untuk dihapus. Tapi ada sebagian penyair yang saya malu untuk mengatakan: “Kemarilah, aku mau memeriksa qoshidahmu,” karena terkadang dia itu adalah penyair senior, dia punya pembelaan terhadap sunnah, dan seterusnya. Dan terkadang dia memang mengalami ketergelinciran dan kesalahan. Dan setiap jiwa itu tidak berbuat kecuali balasannya itu akan kembali pada dirinya sendiri. Kita wajib menasihati, dan kita wajib menjauh dari pujian yang melampaui batas.

            Dan kami beriman pada sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم :

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله.

“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana Nashoro berlebihan dalam memuji Ibnu Maryam. Aku itu hanyalah hamba, maka ucapkanlah: Hamba Alloh dan Utusan-Nya.”

            Jika itu tentang Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

أنا سيد الناس يوم القيامة ولا فخر

“Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat, dan aku ucapkan ini tanpa membanggakan diri,”

Dan beliau adalah pemilik bendera “Al Hamd” (pujian) dan telaga yang dikunjungi. Dan telah tetap dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya ada orang yang berkata: “Wahai pemimpin kami dan anak pemimpin kami, wahai orang terbaik kami dan anak dari orang terbaik kami.” Maka beliau bersabda:

يا أيها الناس قولوا بقولكم الأول ولا يستجرينكم الشيطان. إنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله.

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan perkataan kalian yang pertama (yang biasa diucapkan), dan jangan sampai setan mengalahkan kalian dan menjadikan kalian sebagai utusannya. Aku itu hanyalah hamba, maka ucapkanlah: Hamba Alloh dan Utusan-Nya.”

            Dan contoh dalam masalah ini banyak,

فمثل هذا فارموه، وإياكم والغلو.

“Maka dengan seukuran seperti inilah kalian melempar (lempar jumroh), dan hindarilah ghuluw (berlebihan).”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ﴾ [النساء: 171]

“Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian.”

Dan demikian pula ghuluw kepada orang-orang sholih: “Termasuk lembah kebatilan yang paling luas adalah ghuluw kepada orang-orang mulia.” Sebagaimana ucapan ini terkenal dari perkataan Al Mu’allimiy رحمه الله. Inilah agama kami dan aqidah kami: kebencian pada ghuluw, kebencian pada pujian yang berlebihan, kebencian pada penyelisihan terhadap syariat, kebencian kepada kaliamat-kalimat yang keluar dari kebenaran. Dan sungguh kami menasihati diri kami sendiri untuk setia pada kebenaran dengan ucapan dan perbuatan. Dan kami mencela orang yang berkata: “Syair itu yang paling enaknya adalah yang paling bohong.” Ini tidak benar. Bahkan yang paling enaknya adalah yang paling benarnya. Dan wajib untuk bersungguh-sungguh menetapi kebenaran dan keadilan dalam syair. Hendaknya bersungguh-sungguh menetapi kebenaran dalam syair dan prosa. Syair itu yang bagusnya adalah bagus, dan yang jeleknya adalah jelek. Dan Alloh عز وجل berfirman:

﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا﴾ [الإسراء: 53].

“Dan katakanlah kepada para hamba-Ku agar mereka berkata-kata dengan yang lebih baik, sesungguhnya setan itu menghasung permusuhan di antara mereka, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

            Maka aku membenci sikap ghuluw terhadapku, dan aku tidak pantas untuk diperlakukan ghuluw terhadapku. Demi Alloh aku tidak ridho dengan itu, dan aku membenci ghuluw terhadap orang-orang sholih, dan aku membenci ghuluw di manapun dia berada. Dan ini termasuk dari aqidah Ahlussunnah dan dakwah di kalangan mereka. Dan berapa banyaknyakah kaset kami –dan segala pujian hanya bagi Alloh- yang memperingatkan dari ghuluw dan ahli ghuluw, dan kebatilan dan dari ahli kebatilan? Dan itu semua adalah agama kami dan keyakinan kami, dalam rangka beragama untuk Alloh, demi Alloh. Maka aku tidak menyetujui sikap berlebihan.

            Aku bukanlah imam jin dan manusia, aku mengajar saudara-saudaraku, aku menjalankan kerja keras, aku mohon pada Alloh agar mencatat pahala dan ganjaran untukku, dan agar mengampuni ketergelinciran dan kesalahanku.

            Dan perkataan tersebut telah kami ingkari, dan akan kami ingkari juga terhadap orang lain dari orang yang tergelincir. Dan saudara-saudara kami yang melihat bagaimana aku memeriksa sebagian syair mereka akan melihat betapa seringnya aku menghapus sebagian kalimat, sampai –demi Alloh- sebagian perkara aku bilang pada penyairnya: “Kalimat ini ditinggalkan saja (tidak ditulis dalam syair), tidak ada di dalamnya ucapan yang berlebihan. Sekalipun demikian hapus saja kalimat itu dalam rangka menjauh dari perkara yang meragukan.

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك.

“Tinggalkanlah perkara yang meragukan dirimu kepada perkara yang tidak membikinmu ragu.”

Ucapan tadi tidak diperlukan.” Dan seterusnya. Dan para penyair itu, syair itu punya keledzatan sebagaimana yang mereka katakan di sebagian kalimat.

            Kemudian orang-orang yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi, mereka telah rujuk darinya, dan mereka adalah Ahlussunnah, dan telah rujuk darinya dan meninggalkannya. Dan aku bukan imam jin dan manusia. Aku pengajar murid-muridku, dan Asy Syaikh رحمه الله memilihku sebagai pengganti beliau untuk mengurus markiz ini. Kami mohon pada Alloh barokah.

            Dan setiap orang itu amalannya akan menjelaskan siapa dirinya di dunia dan akhirat. Dan setiap orang akan menemui apa yang telah dia amalkan.

﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾ [الزلزلة: 7، 8]

 “Maka barang siapa beramal dengan kebaikan seukuran dzarroh, pasti dia akan melihatnya dan barangsiapa beramal dengan kejelekan seukuran dzarroh, pasti dia akan melihatnya.” (QS. Al Zalzalah:7-8)

            Dan segala puji bagi Alloh, barokah dihasilkan, dan aku tidak butuh pada suatu pujian berlebihan. Dan segala puji bagi Alloh saja. Keberkahan dihasilkan dalam pengajaran, keberkahan dihasilkan dalam dakwah. Keberkahan dihasilkan dalam sunnah, keberkahan dihasilkan dalam pembelaan terhadap kebaikan dan menolak dari kami kejelekan, keberkahan dihasilkan dalam banyak sisi. Akan tetapi aku tidak tahu apa maksud mereka dengan perkara ini bahwasanya kami menyetujui pujian berlebihan ini pada diri kami. Kami berlindung pada Alloh.

            Sebagian kalimat terkadang dibaca dalam keadaan aku sibuk dengan kertas-kertas, sibuk dengan orang-orang yang minta idzin, sibuk dengan beberapa perkara. Demi Alloh, sebagian orang yang membaca tidak aku perhatikan, lalu dia menyelesaikan bacaan qoshidahnya dan pergi. Dan aku mengingatkannya tentang kesalahan tadi, atau aku diingatkan tentang kesalahan tadi maka akupun mengingatkan dirinya tentang itu.”

Selesai penukilan.

            Maka lafazh “imam tsaqolain” itu adalah kekeliruan dari si penyair dalam kalimatnya. Manakala dia diingatkan diapun tersadarkan, dan mengumumkan tobat dan tidak bersikeras terhadap kesalahannya. Alloh ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا الله فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا الله وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ  [آل عمران/135]

“Dan mereka adalah orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzholimi dirinya sendiri mereka segera mengingat Alloh lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang mengampuni dosa selain Alloh? Dan mereka tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan dalam keadaan mereka mengetahui. Mereka itu pahala mereka adalah ampunan dari Robb mereka dan Jannah-jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, dan itu adalah sebagus-bagus pahala bagi orang-orang yang beramal.” (QS Ali Imron 135).

            Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ﴾ [الأعراف: 201].

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu jika tertimpa gangguan dan godaan dosa dari setan mereka segera ingat dan sadar lalu bertobat. Maka tiba-tiba saja mereka jadi sehat dan lurus kembali.” (QS. Al A’rof: 201).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang hadits perdebatan antara Adam dan Musa عليهما السلام : “Karena Adam عليه السلام telah bertobat dari dosa tersebut. Dan orang yang telah bertobat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak berdosa. Dan tidak boleh mencela orang yang telah bertobat, dengan kesepakatan manusia.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 178-179).

            Dan saya mengingatkan kalian dengan nama Alloh agar jangan bermudah-mudah menyelisihi nash ataupun ijma’. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Bahwasanya ijma’ yang telah diketahui, maka orang yang menyelisihinya itu kafir, sebagaimana orang yang menyelisihi nash dengan meninggalkannya –sampai pada ucapan beliau:- adapun ijma’ yang belum diketahui, maka tidak boleh orang yang menyelisihinya itu dikafirkan.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 270).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Bahwasanya Musa itu lebih kenal Alloh Yang Mahasuci dan lebih kenal perintah-Nya dan agama-Nya untuk sampai mencela suatu dosa yang Alloh Yang Mahasuci telah mengabarinya bahwasanya Dia telah menerima tobat pelakunya dan memilihnya setelah itu dan membimbingnya, karena sesungguhnya pencelaan tadi itu tidak boleh bagi seorang mukmin untuk melakukannya, lebih-lebih lagi bagi Kalimurrohman.” (“Syifaul ‘Alil”/hal. 14).

            Maka bagaimana mereka (para hizbiyyun dan pembela mereka) mencerca orang yang telah bertobat dengan dosa yang dia telah bertobat darinya? Ini merupakan sikap gembira dengan musibah seorang muslim, dan itu adalah harom, sebagaimana telah diketahui bersama. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka di dalam cercaan tadi ada sikap gembira yang tersembunyi terhadap musibah seorang muslim yang dicerca tadi.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 177).

            Bukankah yang lebih baik bagi kalian adalah untuk kalian bersyukur pada Alloh bahwasanya Dia tidak menimpakan bala pada kalian dengan dosa tadi, lalu jika saudara kalian tadi bertobat maka mestinya kalian bergembira dengan tobat dia? Maka siapakah yang menjamin bahwasanya kalian jika diuji dengan bala tadi kalian mendapatkan taufiq untuk bertobat sebagaimana saudara kalian untuk menerima nasihat lalu dia merunduk pada Alloh dan bertaubat kepada-Nya?

            Adapun cercaan kalian pada saudara kalian yang telah bertobat dengan dosanya yang dia diuji dengannya, padahal dia telah bertobat darinya, maka bisa jadi itu adalah dalil tentang perasaan ‘ujub (kekaguman pada diri sendiri) pada diri kalian, maka waspadalah.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya saudaramu telah kembali dengan dosa tadi, dan bisa jadi engkau mematahkan hatinya dengan dosanya dan perkara yang timbul pada dirinya yang berupa kehinaan, kerundukan dan perendahan pada dirinya, dan bebas dari penyakit suka mengaku-aku, kesombongan dan kekaguman pada diri sendiri, dan dia berdiri di hadapan Alloh dengan menundukkan kepala, merundukkan mata, patah hati, itu semua lebih baik untuknya dan lebih bagus daripada berkuasanya ketaatanmu dan seringnya engkau menyebut-nyebut ketaatanmu, dan banyaknya dirimu menghitung-hitung ketaatanmu, dan bergaya telah berjasa kepada Alloh dan berakhlaq dengannya.

            Maka alangkah dekatnya pelaku maksiat (yang telah bertobat) tadi kepada rohmat Alloh, dan alangkah dekatnya penyebut-nyebut ketaatan tadi kepada kemurkaan Alloh. Maka dosa yang menghinakan pelakunya itu lebih dicintai Alloh daripada ketaatan yang pelakunya menyebut-nyebutnya di hadapan-Nya. Dan bahwasanya engkau bermalam dalam keadaan tidur lalu masuk waktu pagi dalam keadaan menyesal itu lebih baik daripada engkau bermalam dalam keadaan sholat malam lalu masuk waktu pagi dalam keadaan terkagum-kagum, karena sesungguhnya orang yang mengagumi dirinya sendiri itu amalannya tidak akan naik ke langit.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 177).

Kemudian banyak sekali pelajar yang waktu itu tidak menyadari adanya ucapan tadi “imamuts tsaqolain” ketika sang penyair mengumandangkannya, karena tidaklah setiap kata yang keluar darinya itu –di sela-sela panjangnya bait syair tadi- kami dengarkan benar-benar dengan seksama, karena terkadang –di sela-sela pembacaan syair itu- kami memusatkan perhatian pada kitab yang hendak diajarkan oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله , dan terkadang kami sibuk mengingatkan sebagian anak-anak yang main-main di majelis, lalu kami kembali mendengarkan syair itu.

Beberapa waktu kemudian manakala kami mengetahui adanya kesalahan tadi, tidaklah kami itu diam, bahkan kami berupaya untuk memperbaikinya dengan tetap menekuni adab-adab syar’iyyah. Saya dan saudara yang mulia berjalan ke rumah Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy dan kami menyampaikan pada beliau masalah ini, maka kemudian Alloh memudahkan perbaikan kesalahan tadi tanpa penundaan.

Inilah yang kami lakukan dan dilakukan oleh pelajar yang lain. Asy Syaikh Yahya dan Asy Syaikh Abdul Hamid حفظهما الله adalah seperti yang lainnya dalam kasus tersebut: tidak menelusuri masing-masing kata dari syair yang dikumandangkan para penyair, dan alangkah banyaknya syair-syair tersebut. Dan hanyalah belia-beliau itu memandangnya bagus secara global, lalu menyetujuinya tanpa menyadari adanya ketergelinciran tadi. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5].

“Kalian tidak berdosa di dalam perkara yang kalian tidak sengaja melakukannya, akan tetapi dosa itu adalah apa yang disengaja oleh hati-hati kalian, dan Alloh itu senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka perkaranya itu bukanlah seperti yang kalian dakwakan –wahai ahli hasad- bahwasanya kami diam terhadap kemungkaran dan membebek dan condong pada orang yang keliru. Maka termasuk dari alamat kecintaan yang jujur adalah: menolong orang yang benar dengan haknya, dan memperbaikinya dari kekeliruannya, untuk Alloh ta’ala.

Dan janganlah kalian mengira bahwasanya Asy Syaikh Yahya diam terhadap kemungkaran yang beliau ketahui, atau berhias dengan pujian, atau memperkuat diri dengan ghuluw orang pada beliau. Tidak demikian. Tidak seperti ucapan bohong si dajjal Arofat Al Bashiriy yang menggambarkan bahwasanya Asy Syaikh Yahya sengaja mendukung syair ghuluw tadi dengan alasan untuk menaikkan pamor beliau.

Tidak diragukan bahwasanya kami mengakui kepada Alloh akan kelemahan dan sikap kurang kami, akan tetapi kami meyakini hadits Abu Sa’id Al Khudriy  رضي الله عنه bahwasanya Rasululloh r bersabda:

«لا يمنعن أحدكم مخافة الناس أن يقول بالحق إذا شهده أو علمه».

Sungguh janganlah sampai rasa takut pada manusia itu menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengucapkan yang benar jika menyaksikannya atau mengetahuinya.”

Lalu Abu Sa’id berkata:

فحملني على ذلك أني ركبت إلى معاوية فملأت أذنيه ثم رجعت.

“Maka aku menaiki kendaraanku berangkat kepada Mu`awiyah, kemudian aku penuhi kedua telinganya, kemudian akupun pulang.”

(HR. Ahmad ((11793)/cet. Ar Risalah) dengan sanad shohih).

Sekalipun demikian insya Alloh kami tidaklah lebih lemah daripada kalian ketika terjadi kemungkaran yang kami tahu, untuk kami ingkari dan kami perbaiki, dengan tetap menekuni adab-adab syar’iyyah, tanpa kami mengabari kalian tentang apa yang telah kami lakukan dalam memperbaiki kekeliruan.

Kesimpulan: orang yang telah bertobat dari dosanya, tidak boleh untuk dicerca dan dijaroh dengan sebab dosa tadi. Dan kalian telah mengetahui bahwasanya jika si pen-jarh menyebutkan sebab kritikan tadi, lalu si pen-ta’dil meniadakan itu melalui jalan yang terpandang, maka ta’dil didahulukan daripada jarh. Demikian pula jika si pen-jarh menyebutkan sebab kritikan tadi, lalu si pen-ta’dil berkata: “Dia telah tobat dari itu, dan bagus tobatnya,” maka ta’dil didahulukan daripada jarh karena si penta’dil punya tambahan ilmu.

Al Imam Ibnu Amir Haj رحمه الله berkata: “Iya, dalam dua sisi tadi, maka ta’dil itu lebih menang daripada jarh, sebagaimana hal itu tidak tersamarkan insya Allohu ta’ala. Wallohu subhanahu a’lam.” (“At Taqrir Wat Tahbir”/4/hal. 156).

Akan tetapi keadaan Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, Arofat dan para pendahulu mereka memang seperti keadaan apa pengekor hawa nafsu yang tidak menghargai tobatnya seorang sunniy yang keliru, bahkan mereka melanjutkan serangan dan cercaan kepadanya dengan kekeliruan tadi.

Mencermati sikap ghuluw pengikut Asy Syaikh Robi’ حفظه الله

            Berdasarkan madzhab kami yang sesuai dengan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’: bahwasanya orang yang bertobat dari dosa itu –dan di antaranya adalah sikap ghuluw- maka tobatnya itu diterima, dan dirinya lepas dari dosa tadi, dan tidak boleh dicerca dan tidak boleh dosa tadi dinisbatkan pada dirinya lagi.

            Adapun berdasarkan madzhab kalian yang bid’ah dan jahat itu: bahwasanya orang yang telah tobat dari ghuluw –dan dosa yang lainnya- tobatnya itu tidak diterima, dan dirinya belum bebas dari dosa tadi, dan boleh dicerca dan boleh dosa tadi dinisbatkan pada dirinya lagi.

            Maka sekarang aku bertanya pada kalian: kenapa kalian bersikap ghuluw pada Asy Syaikh Robi’? atau kenapa kalian diam saja terhadap sikap ghuluw sebagian dari teman kalian terhadap beliau? Aku akan menyebutkan beberapa contoh untuk kalian, yang aku ambil dari apa yang disebutkan oleh saudara kita yang mulia Kholid Al Ghirbaniy dan saudara-saudara beliau para anggota situs Al Ulumus Salafiyyah حفظهم الله dan semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan, dalam risalah: “Namadzij Min Ghuluw Thullabisy Syaikh Robi’ Fisy Syaikh Robi” (contoh-contoh dari sikap ghuluw Asy Syaikh Robi’ terhadap Asy Syaikh Robi”. Disertai dengan sumber pengambilan datanya.

            Contoh yang pertama: apa yang diucapkan oleh Ahmad Ba Zemul dalam artikelnya yang berjudul:”Hal Yus’al ‘an Mitslisy Syaikh Robi’” (Apakah semisal Asy Syaikh Robi’ itu masih dipertanyakan?): “Kita para salafiyyin wajib untuk berkata tentang syaikh kami Robi’us sunnah, pembawa bendera jarh wat ta’dil pada zaman ini: “Bahwasanya Anda telah jawaztal qonthoroh (melampaui jembatan), maka yang semisal Anda tak perlu lagi dipertanyakan. Kami mengatakannya dengan benar, dengan jujur dan dengan adil.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: apa yang dimaukan dengan ungkapan ini: (telah melampaui jembatan)? Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dulu Asy Syaikh Abul Hasan Al Maqdasiy berkata tentang rowi yang haditsnya diriwayatkan dalam “Ash Shohih”: “Dia ini telah melampaui jembatan” dimaksudkan dengan itu: bahwasanya kita tak perlu memperhatikan kritikan yang ditujukan kepadanya.” (“Fathul Bari”/1/hal. 384).

            Akan tetapi siapakah dari para imam yang memberikan tazkiyyah yang agung ini pada Asy Syaikh Robi’ حفظه الله? Dan apakah maknanya bahwasanya beliau tidak bisa keliru dan kita tidak boleh mengkritik kekeliruannya? Ini tidak benar! Semua orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditinggalkan kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan kami katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Robi’ sendiri: “Maka kritikan itu wahai ikhwan, tidak boleh pintunya ditutup, karena kita berarti akan mengatakan ditutupnya pintu ijtihad –semoga Alloh memberkahi kalian-. Dan kita tidak memberikan pensucian pada pemikiran seorangpun sama sekali. Maka kesalahan itu harus dibantah, dari siapapun datangnya, sama saja apakah dia itu seorang salafiy ataukah bukan salafiy. –sampai pada ucapan beliau:- Kritikan adalah termasuk dalam bab ingkarul mungkar. Maka kritikan terhadap individu-individu besar Salafiyyin jika berbuat salah, dan penjelasan tentang kesalahan mereka ini termasuk bab amar ma’ruf nahi munkar, dan termasuk dalam bab penjelasan yang diwajibkan oleh Alloh, dan termasuk bab nasihat yang diwajibkan oleh Alloh dan diharuskan-Nya terhadap kita.” (AlAjwibah AsSalafiyah Ala As’ilah Abi Rowahah AlManhajiyah: 16-19/Majalisul Huda).

            Saya telah menukilkan ini secara lebih lengkap di kitab “Shifatul Haddadiyyah.”

            Maka seseorang itu seagung apapun kedudukannya, dan telah melampaui jembatan ujian, jika keliru dan kita punya bayyinah tentang itu, kita tidak boleh mendiamkan kesalahannya, terutama jika dirinya bersikeras di atas kebatilannya itu dan tidak mau rujuk. Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Asy Syaikh Abul Fath Al Qusyairiy berkata dalam “Mukhtashor” beliau: “Dan demikianlah kami meyakini, dan dengan itu kami berpendapat, kecuali jika kritikan tadi disertai dengan hujjah yang jelas dan penjelasan yang memuaskan dan menambahi dugaan kuat melebihi makna yang kami sebutkan bahwasanya orang-orang telah bersepakat setelah dua syaikh (Al Bukhoriy dan Muslim) untuk menamai kedua kitab itu sebagai “Shohihain”, dan konsekuensi dari itu adalah ta’dil untuk para perowi yang ada di dalamnya.” Aku (Ibnu Hajar) katakan: maka cercaan terhadap seorangpun dari mereka tidak diterima kecuali dengan faktor pencacat yang jelas, karena sebab-sebab jarh itu berbeda-beda.” (“Fathul Bari”/1/hal. 384).

            Adapun ucapan mutlak bahwasanya kritikan kepadanya itu tidak perlu diperhatikan, maka ini tidak benar. Al Imam Ibnu Abdil Hadi رحمه الله berkata: “Yang benar adalah: bahwasanya ucapan tadi itu tidak bisa diterima secara mutlak. Bahkan kritikan kepada para rowi “Shohih” itu terkadang tidak berpengaruh, seperti kritikan An Nasaiy terhadap Ahmad bin Sholih Al Mishriy, dan terkadang berpengaruh seperti Yahya bin Ayyub Al Mishriy, dan Nu’aim bin Hammad, Suwaid bin Sa’id, dan yang lainnya. Maka jika salah seorang dari mereka menyendiri, dan kritikan terhadapnya itu terkenal, atau dihukumi lemah oleh kebanyakan para imam dalam periwayatan hadits tentang halal dan harom, maka dia tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Dan para penulis kitab “Shohih” jika meriwayatkan dari rowi yang terkena kritikan dan dilemahkan, maka mereka itu menetapkan dari haditsnya tadi yang rowi tadi tidak menyendiri dengannya, tapi yang riwayatnya itu mencocoki para tsiqot, dan telah tegak pendukung-pendukung yang menunjukkan kebenaran riwayatnya tadi.” (sebagaimana dalam “An Nukat ‘Ala Muqoddimah Ibnish Sholah”/Az Zarkasyiy/3/hal. 349-351).

            Al Imam Muhammad Ibnul Amir Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Maka ucapan Asy Syaikh Abul Hasan Al Maqdasiy berkata tentang rowi yang haditsnya diriwayatkan dalam “Ash Shohih”: “Dia ini telah melampaui jembatan” sehingga kita tak perlu memperhatikan kritikan yang ditujukan kepadanya, sepertinya beliau menginginkan bahwasanya kebanyakan dari mereka itu telah melampaui jembatan ujian tadi. Jika tidak demikian, maka bagaimana para Nawashib, Ghulatusy Syi’ah, dan Murjiah dan para mubtadi’ah bisa melampauinya, sementara mereka ada di “Ash Shohih” ?” (“Tsamrotun Nazhor”/Muhammad Ash Shon’aniy/hal. 117).

            Asy Syaikh Robi’ telah terjatuh ke dalam ketergelinciran yang besar –dan kami amat menyesalkan itu- dengan perbuatan beliau mengadu domba para pelajar Dammaj terhadap syaikh mereka Yahya Al Hajuriy حفظه الله sejak lebih dari tujuh tahun, dan saling bantunya Asy Syaikh Robi’ dengan hizb Al Adaniy dalam kebatilan tanpa sanggup membatalkan hujjah dengan hujjah pula. Maka kritikan terhadap kesalahan-kesalahan Asy Syaikh Robi’ dengan bukti-bukti, dan pembelaan kami terhadap diri kami sendiri dari serangan-serangan Asy Syaikh Robi’ dengan bayyinah-bayyinah kami itu harus dipandang dan tidak boleh dibatalkan dengan percuma.

            Maka pemutlakan ungkapan tadi “telah melampaui jembatan” untuk Asy Syaikh Robi’ حفظه الله merupakan sikap ghuluw terhadap beliau.

            Contoh kedua: apa yang dinukilkan oleh saudara yang mulia Abu Abdillah Ahmad bin Ali Al ‘Iwadhiy حفظه الله: sebagian bait syair telah diucapkan tentang Asy Syaikh Robi’ وفقه الله , dan di antaranya adalah ucapan:

(جعلتم فداءً أجمعين لنعله …… فإنكم منها أذل وأحقر).

“Kalian semua dijadikan sebagai tebusan bagi sandal beliau (Asy Syaikh Robi’), karena sungguh kalian itu lebih hina dan lebih rendah daripada sandal beliau.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: apakah boleh dikatakan seperti ini? Di dalamnya ada sikap ghuluw yang besar sekali tentang pribadi Asy Syaikh Robi’. Dan apakah seluruh manusia memang menjadi tebusan buat sandal Asy Syaikh Robi’ karena mereka semua memang lebih rendah dan lebih hina daripada sandal beliau? Padahal muslim yang pendurhaka itu masih lebih mulia di sisi Alloh daripada Masjidil Harom. Nafi’ -rohimahullohu- berkata:

ونظر ابن عمر يوما إلى البيت أو إلى الكعبة فقال ما أعظمك وأعظم حرمتك والمؤمن أعظم حرمة عند الله منك

 “Pada suatu hari Ibnu ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- memandang ke Al Baitul Harom, atau ke Ka’bah, lalu berkata: “Alangkah agungnya engkau, dan alangkah agungnya kehormatanmu. Tapi Mukmin itu lebih agung kehormatannya daripada engkau.” (HR. At Tirmidzy (2032), dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- dalam “Al Jami’ush Shohih” (3601)).

            Contoh ketiga: : saudara yang mulia Abu Abdillah Ahmad bin Ali Al ‘Iwadhiy حفظه الله menukilkan ucapan yang lain:

(ربيع ليس يشبهه ربيع …… وتعجز إن أردت له مثيلا).

“Robi’ tidak ada Robi’ yang menyerupainya, dan engkau tak akan sanggup mencari jika engkau ingin ada yang semisal dengan beliau.”

Bait ini disebutkan oleh Al Jabiriy, Asy Suhaimiy dan Ash Sho’idiy dalam nasihat mereka yang mereka tujukan pada Asy Syaikh Robi’, mereka menyeru beliau untuk berlepas diri dari pujian yang berlebihan dari para pemilik bait-bait syair ini. Ada yang mengatakan bahwasanya si pengucapnya telah rujuk.

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: Di dalamnya ada sikap ghuluw yang besar sekali tentang Asy Syaikh Robi’. Maka apakah Asy Syaikh Robi’ menerima rujuk orang tadi lalu beliau diam darinya tanpa menghardiknya? Tapi beliau tidak menerima ucapan syair yang telah rujuk dari ucapannya “Imamuts Tsaqolain”, bahkan beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya حفظه الله untuk menghardik penyair tadi, lalu terus-menerus memperbincangkan kasus tadi sepanjang tahun demi tahun. Ada apa kalian ini? Bagaimana kalian menghukumi?!

            Contoh yang keempat: saudara kita yang mulia Kholid bin Muhammad Al Ghirbaniy Al Hasyimiy حفظه الله menukilkan menukilkan ucapan Sami Uwaid Ahmad, pengajar bidang ilmu Al Qur’an –kuliah tarbiyah- di Universitas Tikrit yang di situ campur baur lelaki dan perempuan, dalam perkataan dia yang termuat di situs “Sahab” dengan judul: “Al Matholibul ‘Aliyyah Fi Tazkiyatil Imam Robi’ Lisy Syaikh Abdullathif Al Kurdiy Wa Shoddi ‘Udwanil Bughoh” (bagian pertama):

كل ذلك حدى بأئمة، وعلماء الدعوة السلفية إلى أن يشهدوا للشيخ ربيع بالإمامة، والتقدم على غيره في باب الجرح والتعديل، والتمييز بين الأصيل والدخيل، فهو الركن المنيع الذي لا يصدع، والحصن المتين الذي لا يردع.

“Dan itu semua menggiring para imam dan ulama dakwah salafiyyah untuk bersaksi bahwasanya Asy Syaikh Robi’ adalah imam dan maju dalam bab jarh wat ta’dil, dan membedakan antara yang asli dengan yang tercemar. Maka beliau adalah rukun (penopang terkuat) yang sangat bisa melindungi, yang tidak retak, dan benteng kokoh yang tidak teruntuhkan.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: lihatlah sikap ghuluw yang besar sekali tentang Asy Syaikh Robi’ ini: “Maka beliau adalah rukun (penopang terkuat) yang sangat bisa melindungi, yang tidak retak, dan benteng kokoh yang tidak teruntuhkan.

            Rukun pada suatu benda adalah sisinya yang terkuat. (“Lisanul Arob”/13/hal. 185).

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آَوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ﴾ [هود: 80[

“Luth berkata: seandainya aku punya kekuatan menghadapi kalian atau aku bernaung pada ruknun syadid (sisi penopang yang kuat).”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala berfirman mengabarkan tentang Nabi-Nya Luth عليه السلام bahwasanya Luth mengancam mereka dengan perktaannya: “Luth berkata: seandainya aku punya kekuatan menghadapi kalian atau aku bernaung pada ruknun syadid (sisi penopang yang kuat).” Yaitu: niscaya aku akan menghukum kalian dan berbuat sesuatu terhadap kalian berupa siksaan, hukuman dan menimpakan kekerasan dengan diriku dan keluargaku terhadap kalian.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 338).

            Dan Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Firman Alloh: ruknun syadid (sisi penopang yang kuat) yaitu keluarga. Dan begitu pula firman-Nya: (وتولى بركنه) “Dia berpaling dengan rukunnya.” Yaitu: dengan orang-orang yang bersamanya. Dan asal dari “rukun” adalah sisi dari gunung, dan diletakkan pada posisi kekuatan.” (“Fathul Bari”/1/hal. 125).

            Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«يَغْفِرُ الله لِلُوطٍ إِنْ كَانَ لَيَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ». (أخرجه البخاري (3372) ومسلم (151)).

“Semoga Alloh mengampuni Luth, sesungguhnya beliau itu bernaung pada ruknun syadid.” (HR. Al Bukhoriy (3372) dan Muslim (151)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Adapun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

«ويرحم الله لوطا لقد كان يأوى إلى ركن شديد»

“Semoga Alloh merohmati Luth, sesungguhnya beliau itu bernaung pada ruknun syadid.”

Maka yang dimaksudkan dengan ruknun syadid itu adalah Alloh سبحانه وتعالى , karena sungguh Alloh itu adalah rukun yang paling keras, paling kuat dan paling bisa melindungi. Dan makna hadits tadi walloh a’lam: bahwasanya Luth صلى الله عليه وسلم manakala mengkhawatirkan keselamatan para tamu beliau, dan beliau tak punya keluarga yang bisa melindungi mereka dari orang-orang yang zholim, menjadi sempitlah hati beliau, dan semakin keraslah kesedihan beliau tentang nasib tamu-tamu tadi. Maka beliau terdominasi keadaan tadi sehingga dalam suasana seperti itu beliau berkata: “Andaikata aku punya kekuatan untuk menghadapi kalian dengan diriku atau aku bernaung pada keluarga yang melindungi diriku niscaya aku akan bisa mencegah kalian.” Luth صلى الله عليه وسلم bermaksud menampakkan udzur pada para tamu beliau dan bahwasanya andaikata beliau bisa menolak keburukan agar tidak menimpa para tamu tadi dengan suatu cara pastilah beliau telah melakukannya, dan bahwasanya beliau telah mencurahkan kemampuan untuk memuliakan mereka dan membela mereka, dan bukanlah yang demikian itu dalam rangka beliau صلى الله عليه وسلم berpaling dari bertopang pada Alloh ta’ala. Dan hanyalah itu terjadi dalam rangka apa yang telah kami sebutkan, yaitu menghibur hati para tamu beliau. Dan bisa jadi beliau صلى الله عليه وسلم lupa berlindung pada Alloh ta’ala dalam menjaga mereka. Dan bisa jadi pula beliau telah berlindung pada Alloh ta’ala, tapi beliau menampakkan pada para tamu tadi rasa sakit hati dan sempit dada (terhadap musibah mereka). Wallohu a’lam.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/2/hal. 184-185).

            Maka Alloh bagi kami itulah rukun kami yang kuat. Adapun menurut Sami Uwaid: Asy Syaikh Robi’ itulah rukun (penopang terkuat) yang sangat bisa melindungi, yang tidak retak, dan benteng kokoh yang tidak teruntuhkan. Kami berlindung pada Alloh dari ghuluw.

            Kami tidak mengatakan bahwasanya termasuk dari nama Alloh adalah: Ar Ruknusy Syadid, akan tetapi kami tidak bertawakkal ataupun bertopang kecuali pada Alloh. Dan kami tidak berlindung kecuali kepada-Nya. Dan bab pengabaran itu lebih luas daripada bab nama dan sifat. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Sesungguhnya yang masuk ke dalam bab pengabaran tentang Alloh ta’ala itu lebih luas daripada apa yang masuk kepada bab nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, seperti: Asy Syai, Al Maujud, Al Qoim bi nafsih, karena boleh kita mengabarkan tentang Alloh dengan lafazh-lafazh tadi tapi tidak masuk ke dalam nama-nama-Nya yang husna (terbagus) dan sifat-sifat-Nya yang ‘ulya (tertinggi).” (“Badai’ul Fawaid”/1/hal. 284/cet. Dar Alamil Kutub).

            Contoh yang kelima: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka yang memuji Asy Syaikh Robi’:

(أهلاً وسهلاً بالإمام المحتمى بحمائه من صولة الأوغاد).

“Selamat datang bagi sang imam yang wilayah perlindungannya dijadikan sebagai tempat berlindung dari serangan orang-orang tolol.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: lihatlah sikap ghuluw yang besar sekali tentang Asy Syaikh Robi’ ini. Adapun kami ahli tauhid, kami bertawakkal pada Alloh, dan berlindung pada-Nya dari serangan ahli batil, maka kami tidak berlindung pada Asy Syaikh Robi’ ataupun makhluk Alloh yang lain. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا﴾ [مريم: 18]،

“Maryam berkata: sesungguhnya aku berlindung pada Ar Rohman dari dirimu, jika engkau adalah orang yang bertaqwa.”

            Alloh subhanah juga berfirman:

﴿وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ﴾ [المؤمنون: 97، 98]،

“Dan katakanlah: Wahai Robbku, saya berlindung kepada-Mu dari dorongan setan, dan saya berlindung kepada-Mu wahai Robbku dari kehadiran mereka.”

            Dan Alloh jalla dzikruhu berfirman:

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ﴾ [الفلق: 1، 2].

“Katakanlah: aku berlindung kepada Robb waktu subuh, dan kejelekan para makhluk (yang punya kejelekan).”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ﴾ [غافر: 27].

“Dan Musa berkata: sungguh aku berlindung pada Robbku dan Robb kalian dari setiap orang yang sombong dan tidak beriman dengan Hari Perhitungan.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: Alloh ta’ala berfirman:

﴿واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا﴾ ]آل عمران : 103[

“Dan berlindunglah kalian semua kepada tali Alloh dan janganlah kalian bercerai berai.”

            Dan berfirman:

﴿واعتصموا بالله هو مولاكم فنعم المولى ونعم النصير﴾ ]الحج : 78[

“Dan berlindunglah kalian kepada Alloh, Dialah pelindung kalian, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

            I’tishom adalah ifti’al dari ‘ishmah (perlindungan/penjagaan). Maknanya adalah: berpegang teguh dengan sesuatu yang melindungi dirimu dan menghalangi dirimu dari perkara yang dihindari dan ditakutkan. Al ‘ishmah adalah al himyah (penjagaan). Al I’tishom adalah al ihtima (mencari perlindungan atau penjagaan). Dan dari istilah itulah dinamakan qila’ (benteng-benteng) itu ‘awashim (penjagaan dan perlindungan), karena dia menjaga dan melindungi. Dan poros peredaran keberuntungan dunia dan akhirat adalah berlindung pada Alloh, dan berlindung pada tali-Nya. Dan tiada keselamatan kecuali untuk orang yang berpegang teguh dengan dua perlindungan ini. Adapun berlindung pada tali-Nya: maka hal itu melindunginya dari kesesatan. Dan berlindung pada-Nya: maka itu melindunginya dari kebinasaan.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 460).

            Maka cukuplah bagi kami Alloh, dan Dialah sebaik-baik pelindung. Kami tidak berlindung pada yang selain Dia, yang tidak ada ditangannya manfaat ataupun bahaya, dan tidak kuasa menjaga istiqomah dirinya, dan tidak aman dari berbolak-baliknya hati.

            Jika kalian berkata: “Maksud kami dengan ungkapan tadi adalah demikian, dan demikian.” Maka jawab kami: sebagaimana kalian tidak menerima ta’wilan para penyair kami dan tidak menerima udzur mereka, maka kami juga tidak menerima ta’wil dan udzur dari kalian. Penyair kami mendapatkan taufiq untuk tawadhu’ dan menerima nasihat dan bersegera bertobat dan kembali mengikat diri dengan lafazh-lafazh syar’iyyah, berbeda dengan para hizbiyyun yang sombong dan membangkang pada kebenaran setelah datang penjelasan. Dan segala pujian adalah bagi Alloh semata.

            Contoh keenam: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka yang membandingkan Asy Syaikh Robi’ dengan Kholid ibnul Walid رضي الله عنه dan Thoriq bin Ziyad, dia berkata –karena kagum-:

(أهذا خالدٌ في بأسه أم طارقُ بن زيادِ؟!).

“Apakah ini adalah Kholid dalam masalah keganasan beliau ataukah Thoriq bin Ziyad!?”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: sebagian dari kalian tertawa ketika mendengar bahwasanya dulu salah seorang penyair وفقهم الله membandingkan antara Asy Syaikh Yahya dengan sebagian Shohabat dan para imam, dan kalian menjadikan perbandingan itu sebagai bentuk ghuluw. Dan Asy Syaikh Yahya telah menasihati mereka untuk meninggalkan kalimat semacam ini. Maka apakah Asy Syaikh Robi’ menasihati para penyair yang berlebihan menyanjung beliau tersebut? Dan apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik mereka sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau tersebut?

Segala pujian bagi Alloh, para penyair Ahlussunnah diberi taufiq untuk tawadhu’ dan menerima nasihat sekalipun tanpa hardikan. Adapun pihak yang lain, saya khawatir pada diri mereka ada kesombongan terhadap kebenaran, sengaja berbuat dosa dan berlama-lama dalam kebatilan, dan tidak waro untuk berdusta dan curang (tidak adil). Cocoklah untuk sebagian orang yang seperti itu firman Alloh ta’ala:

﴿هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ * تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ * وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ * أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ * وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ﴾ [الشعراء: 221 – 226].

“Maukah kukabarkan pada kalian, kepada siapakah para setan itu turun? Mereka turun pada setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. Setan-setan tadi mencuri pendengaran, dan kebanyakan mereka itu pendusta. Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwasanya mereka itu menggunjing di setiap kesia-siaan, dan bahwasanya mereka itu mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?”

            Adapun para penyair Ahlussunnah, maka mereka itu berusaha keras untuk menetapi kebenaran, membela orang-orang yang benar, dan jika kaki mereka tergelincir –karena bukan ma’shum- lalu mereka diingatkan, merekapun bertobat dan tidak terus-menerus di atas kebatilan, maka sesuailah untuk mereka firman Alloh ta’ala:

﴿إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا الله كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ﴾ [الشعراء: 227].

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan banyak mengingat Alloh, dan membela diri setelah dizholimi. Dan orang-orang yang zholim akan mengetahui, ke tempat kembali yang manakah mereka itu akan kembali.”

            Contoh yang ketujuh: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka:

(تألَّقَ فالناسُ دون الربيع * كجيدٍ تَعَطَّلَ منه الحُلي).

“Dia menjadi linglung atau gila, karena manusia tanpa Robi’ itu bagaikan leher yang kosong darinya perhiasaan.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: ini juga termasuk dari ghuluw. Senantiasa Alloh mendatangkan untuk agama ini sekelompok ulama sunnah yang memperbaharui untuk umat ini agama mereka, dan menghilangkan darinya campuran-campuran ahli batil. Dan setiap kali ada alim yang meninggal akan digantikan oleh orang alim yang lain, sebagai pembenaran untuk firman Alloh ta’ala:

﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾ [الحجر: 9].

“Sesungguhnya Kami menurunkan Adz Dzikr ini, dan sungguh Kami benar-benar sebagai penjaganya.”

            Barangsiapa menyembah Muhammad صلى الله عليه وسلم maka sungguh beliau telah meninggal. Tapi barangsiapa menyembah Alloh, maka sungguh Alloh itu Mahahidup dan tidak mati, sebagaimana ucapan Abu Bakr Ash Shiddiq رضي الله عنه. Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah meninggal, dan agama beliau tetap lestari. Maka bagaimana jika Asy Syaikh Robi’ meninggal? Kita sedih, akan tetapi agama ini tetap lestari, dan manusia itu kokoh dengan pengokohan dari Alloh, kemudian dengan berpegang teguhnya mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah di atas manhaj Salaf, bukan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang ghuluw:

 (تألَّقَ فالناسُ دون الربيع * كجيدٍ تَعَطَّلَ منه الحُلي).

“Dia menjadi tolol/gila, karena manusia tanpa Robi’ bagaikan leher yang kosong darinya perhiasan.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Karena sesungguhnya umat ini adalah umat yang paling sempurna, dan umat yang paling baik yang dikeluarkan untuk manusia, dan Nabinya adalah penutup para Nabi, tiada nabi setelah beliau. Maka Alloh jadikan para ulama di dalam umat ini setiap kali seorang alim meninggal, dia digantikan oleh orang alim yang lain agar alamat-alamat agama ini tidak pupus dan tidak tersamarkan tanda-tandanya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 143).

            Tiada keraguan bahwasanya kematian seorang alim dari para ulama adalah suatu musibah, akan tetapi tidaklah seperti yang digambarkan oleh orang-orang yang berlebihan dan suka taqlid. Alloh penjaga agama-Nya. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… dan ini dikarenakan Alloh subhanah telah menjamin penjagaan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengabarkan bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka, ataupun orang yang menyelisihi mereka, sampai hari Kiamat. Maka senantiasa Alloh menanam orang-orang yang ditanam-Nya di dalam agama-Nya, mereka menanamkan ilmu di dalam hati-hati orang-orang yang Alloh beri kemampuan untuk itu dan diridhoi-Nya untuk itu, maka jadilah mereka itu pewaris bagi para ulama sebelumnya, sebagaimana para ulama sebelumnya pewaris bagi para ulama sebelumnya lagi, maka hujjah-hujjah Alloh tidak terputus. Dan yang menegakkannya juga tidak terputus di bumi. Dan di dalam atsar yang terkenal:

«لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم بطاعته»

“Senantiasa Alloh menanam di dalam agama ini tanaman yang mereka itu Alloh jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya.”

            Dan dulu termasuk doa sebagian orang terdahulu adalah:

(اللهم اجعلني من غرسك الذين تستعملهم بطاعتك).

“Ya Alloh jadikanlah saya termasuk dari tanaman-Mu yang Engkau jadikan mereka beramal dengan ketaatan pada-Mu.”

            Dan karena itulah tidaklah Alloh tegakkan untuk agama ini orang yang menjaganya kemudian Dia mengambilnya kepada-Nya (mewafatkannya) kecuali dalam keadaan Alloh telah menanamkan apa yang diketahuinya dari ilmu dan hikmah, bias jadi dalam hati-hati orang yang semisal dengannya, dan bisa jadi di dalam kitab-kitab yang dimanfaatkan oleh manusia sepeninggalnya.”

(selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 147-148).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Sesungguhnya umat ini –segala pujian bagi Alloh- senantiasa ada di kalangan mereka orang yang tanggap terhadap kebatilan yang ada di dalam perkataan ahli batil, lalu membantahnya. Dan mereka itu manakala Alloh memberi mereka hidayah bersepakat untuk menerima kebenaran dan menolak kebatilan baik secara ro’yu ataupun berdasarkan riwayat, tanpa saling memberi tahu ataupun kesengajaan untuk bersepakat.” (Majmu’ul Fatawa”/9/hal. 233/Maktabatu Ibni Taimiyyah).

            Penjelasan ini cukup untuk mengingatkan orang-orang yang ghuluw terhadap Asy Syaikh Robi’ حفظه الله.

            Contoh kedelapan: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka:

(مَرِضَ الشبابُ بحبِّ خِبٍّ ماكرٍ * كيفَ الشفاءُ ومن سواك مداوي)

“Para pemuda sakit dengan kecintaan pada perusak dan pembikin tipu daya. Bagaimana kesembuhannya? Dan siapakah selain dirimu yang menjadi pengobat?”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: Asy Syafi (Penyembuh) yang sebenarnya adalah Alloh. Ath Thobib (pengobat) yang sebenarnya adalah Alloh. Dan Dialah yang menurunkan penyakit dan obatnya. Alloh ta’ala berfirman menukilkan ucapan Ibrohim عليه الصلاة والسلام:

﴿وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ﴾ [الشعراء: 80].

“Dan jika aku sakit, maka Dialah (Alloh) yang menyembuhkan aku.”

            Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يعوذ بعضهم يمسحه بيمينه: «أذهب الباس رب الناس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما». (أخرجه البخاري (5750) ومسلم (2191)).

“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم mendoakan perlindungan untuk sebagian dari mereka, mengusap mereka dengan tangan kanannya: “Hilangkanlah penyakit wahai Robb manusia, dan sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan darimu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (HR. Al Bukhoriy (5750) dan Muslim (2191)).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam syaroh hadits ini: “Maka di dalam ruqyah ini ada tawassul (mencari perantara) kepada Alloh dengan kesempurnaan rububiyyah-Nya dan kesempurnaan rohmat-Nya dengan dengan sifat kesembuhan, dan bahwasanya Dia itulah satu-satunya penyembuh, dan bahwasanya tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya. Maka ruqyah ini mengandung tawassul (mencari perantara) kepada Alloh dengan tauhid-Nya, kebaikan-Nya dan rububiyyah-Nya.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 172).

            Kita tidak berbicara tentang nama-nama Alloh semata-mata, akan tetapi tentang makna-makna yang dikandung oleh kalimat ini. Maka katakanlah padaku –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat-: “Apakah Asy Syaikh Robi’ itulah sang pengobat sehingga sang penyair datang dengan pertanyaan yang bersifat pengingkaran akan adanya kesembuhan dari selain beliau? Ataukah Alloh subhanahu wata’ala itulah Sang Penyembuh? Maka bagaimana si penyair mendatangkan pembatasan pengobat hanya pada Asy Syaikh Robi’ saja?

Kemudian sungguh kami telah menjelaskan kerasnya makar Mar’iyyin dan buruknya tipu daya dan perusakan yang mereka lakukan. Maka mereka adalah termasuk orang-orang yang paling berhak mendapatkan ucapan kalian: “Para pemuda sakit dengan kecintaan pada perusak dan pembikin tipu daya.” Dan kami tidak dapati Asy Syaikh Robi’ sanggup mengobati mereka, dan bahkan beliau terpengaruh oleh mereka.

            Contoh kesembilan: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka tentang Asy Syaikh Robi’:

(أنت الطبيبُ ولا خبيرَ سواكُمُ *  يدري بأمراض الهوى ويداوي)

“Engkaulah Sang Thobib, tiada yang ahli selain Anda, yang mengetahui penyakit-penyakit hawa dan mengobati.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: jawaban kami sama dengan sebelumnya. Sesungguhnya Alloh itulah Ath Thobib (Sang Penyembuh). Dari Abu Rimtsah رضي الله عنه :

أن أباه قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أرني هذا الذي بظهرك فإني رجل طبيب قال: «الله الطبيب بل أنت رجل رفيق طبيبها الذي خلقها». (أخرجه أبو داود (4207)/صحيح).

Bahwasanya ayahnya berkata pada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Perlihatkanlah padaku apa yang di punggung Anda, karena sungguh saya ini adalah seorang thobib. Maka beliau menjawab: “Alloh itulah Thobib. Bahkan engkau adalah seorang yang bersikap lembut dan lunak pada si sakit. Thobibnya adalah yang menciptakannya.” (HR. Abu Dawud (4207)/shohih).

Dan bagaimana dia meniadakan keahlian akan penyakit-penyakit hawa dan pengobatan dari yang selain Asy Syaikh Robi’? Bahkan ini adalah ghuluw melampaui apa yang tergambarkan bagi kita pada orang-orang yang yang menisbatkan diri pada ilmu dan sunnah semisal kalian.

Kalian telah mencerca orang-orang yang bertobat dari suatu dosa, tapi kalian terjatuh pada yang lebih buruk yaitu syirik pada Alloh Yang Mahaagung.

            Contoh kesepuluh: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ghuluw yang lain dari mereka tentang Asy Syaikh Robi’:

(علا نجمُ الربيعِ على الثُّريَّا * فجاوزها وقد رَضِيَتْ سُفُولا).

“Bintang Robi’ tinggi di atas bintang Tsuroyya, lalu melampauinya dalam keadaan Tsuroyya rela dengan kerendahan.”

Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: “Asy Syaikh marah terhadap Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau حفظهم الله dikarenakan ucapan yang sampai pada beliau –sebagaimana anggapan beliau-: “Ubaid, Ubaid, Yahya, Yahya, Yahya di langit, Ubaid mubtadi’.”

Maka bagaimana sekarang: “Bintang Robi’ tinggi di atas bintang Tsuroyya, lalu melampauinya dalam keadaan Tsuroyya rela dengan kerendahan.”?

Apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ucapan ini dan berkeyakinan bahwasanya dirinya lebih tinggi daripada yang lain?

Dari ‘Iyadh bin Himar saudara Bani Mujasyi’, dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka di antara yang beliau sabdakan:

«وإن الله أوحى إلي أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغي أحد على أحد». (أخرجه مسلم (2865)).

“Dan sesungguhnya Alloh mewahyukan padaku agar kalian tawadhu’ sampai tiada seorangpun yang membanggakan diri terhadap yang lain, dan tiada seorangpun yang menzholimi orang lain.” (HR. Muslim (2865)).

Maka apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Atau apakah hawa nafsu itu membutakan dan menulikan kalian?

Kemudian ketahuilah bahwasanya keinginan untuk meninggi di bumi itu adalah perkara yang berbahaya. Dari Anas رضي الله عنه yang berkata:

كان للنبي صلى الله عليه وسلم ناقة تسمى العضباء لا تسبق. قال حميد: أو لا تكاد تسبق، فجاء أعرابي على قعود فسبقها، فشق ذلك على المسلمين حتى عرفه، فقال: «حق على الله أن لا يرتفع شيء من الدنيا إلا وضعه». (أخرجه البخاري (2872)).

“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم punya onta betina yang dinamai: Al ‘Adhba, tak pernah terkalahkan dalam balapan.” Humaid –rowi- berkata: “Atau hampir tak pernah terkalahkan dalam balapan.” Maka datanglah seorang baduwi di atas qo’ud (onta tunggangan yang memasuki usia enam tahun), bisa mengalahkan Al ‘Adhba. Maka hal itu membikin susah muslimin, sampai Nabi mengetahui hal itu. Maka beliau bersabda: “Menjadi keharusan bagi Alloh untuk tidaklah sesuatu itu meninggi di dunia kecuali Dia akan merendahkannya.” (HR. Al Bukhoriy (2872)).

            Al Munawiy رحمه الله berkata: “Sesungguhnya manusia tidaklah mereka itu mengangkat sesuatu” yaitu: tanpa kebenaran, atau melebihi kedudukannya yang dia berhak mendapatkannya.” (“Faidhul Qodir”/no. (2140)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya di dalamnya ada dorongan untuk tidak meninggikan diri, dan anjuran untuk tawadhu’, dan di dalamnya ada pemberitahuan bahwasanya urusan-urusan dunia itu kurang, tidak sempurna. Ibnu Baththol berkata: di dalam hadits ini ada ajaran tentang hinanya dunia di hadapan Alloh, dan peringatan untuk meninggalkan saling berbangga-bangga, dan bahwasanya segala sesuatu yang hina di hadapan Alloh, maka dia itu adalah tempat untuk direndahkan. Maka wajib bagi setiap orang yang berakal untuk zuhud di dalamnya, dan menyedikitkan perlombaan mencari perkara tadi.” (“Fathul Bari”/11/hal. 431).

            Maka barangsiapa meninggikan diri, Alloh akan merendahkannya –termasuk dalam bab: memperlakukan pelaku kebatilan dengan kebalikan dari maksud dia-, dan barangsiapa bertawadhu’ untuk Alloh, Alloh akan mengangkatnya. Dan barangsiapa menzholimi saudaranya, Alloh akan menelantarkannya dan menolong orang yang dizholimi. Dan kami takut pada orang yang terbentuk di dalam dirinya kekaguman pada diri sendiri dan kesombongan, lalu menzholimi hamba-hamba Alloh, dan memaksa mereka untuk tunduk di hadapan keagungan sandalnya, dan orang ini berupaya melalui metode makar –menampakkan pujian sambil menyembunyikan tipu daya- untk menjatuhkan orang yang disangkanya akan menyainginya dalam kedudukannya. Kami mengkhawatirkan dirinya akan terkena kekalahan demi kekalahan, dan kehinaan demi kehinaan, Alloh menjadikan itu sebagai hukuman bagi pelakunya, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

            Dan cukuplah kasus Hisyam ibnul Ghoz رحمه الله sebagai pelajaran bagi orang-orang yang punya mata hati. Orang yang zholim berupaya untuk melemahkan riwayat seorang Atba’ut Tabi’in besar yaitu Hisyam ibnul Ghoz رحمه الله tanpa alasan yang benar, dan mencurahkan kerja kerasnya untuk memelintir kaidah-kaidah haditsiyyah dalam rangka menundukkan ahlil haq dan baku tolong dengan hizb Adaniy, lalu dirinya menempuh jalan Jamzah Al Millibariy, ternyata keadaan berbalik, dan hujjah dirinya melemah, dan nampaklah kelemahannya di hadapan dominasi tentara kejujuran dan kebenaran, maka kembalilah dirinya dalam keadaan terkalahkan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. kita merasa iba akan kondisi orang yang dulu di atas kebenaran sehingga dimuliakan dan dicintai ahlil haq, lalu berbalik menyerang ahlil haq tanpa alasan yang haq, sehingga membikin mereka kaget, dan mau tidak mau mereka membela diri dengan jujur dan adil, akhirnya kalahlah orang tadi, dan lunturlah nilainya karena kezholimannya sendiri.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya Alloh tidak menolong kecuali kebenaran.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 178).

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan kebenaran itu tertolong, kebatilan itu telantar. Dan hanya milik Alloh saja segala pujian.” (“Adabuth Tholab”/hal. 142/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

            Contoh kesebelas: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy dan Abu Abdillah Hisyam bin Husain Al Bair حفظهما الله menukilkan bahwasanya termasuk dari ghuluw mereka adalah mereka memandang bahwasanya Asy Syaikh Robi’ itu satu-satunya yang berjalan di jalan jihad ini. Mereka berkata:

(يسيرُ لدحر العدا مفرَداً *  وإن رافقوه ففي الأوَّلِ)

“Beliau berjalan untuk menghancurkan musuh-musuh seorang diri. Sekalipun orang-orang menyertai beliau, maka beliau tetap yang pertama.”

            Saya -Abu Fairuz عفا الله عنه- berkata: Ini adalah kezholiman terhadap kerja keras para ulama yang lain. Di manakah belasan imam dan ulama di zaman ini sampai-sampai si penyair meniadakan mereka dan menjadikan Asy Syaikh Robi’ berjalan sendirian dalam jihad yang agung ini? Dan apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ucapan ini dan berkeyakinan bahwasanya beliau seorang diri dalam jalur ini? apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Atau apakah kalian menerapkan kaidah Hasan Al Banna: “Saling menolong di atas perkara yang kita sepakati dan saling memberikan udzur terhadap perkara yang kita perselisihkan.”?

            Contoh keduabelas: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan si penyair tentang Asy Syaikh Robi’:

(يحارب أرباب الضلالة واحداً …. ولكن له من ربه خير موئل).

“Beliau memerangi para pelaku kesesatan seorang diri, akan tetapi beliau punya kebaikan yang diharapkan dari Robbnya.”

            Saya -Abu Fairuz عفا الله عنه- jawab: komentar saya sama dengan sebelumnya. Di manakah para imam seperti Ibnu Baz, Al Albaniy, Ibnu Utsaimin, Ahmad An Najmiy, Muqbil Al Wadi’iy, Sholih Al Fauzan, dan yang lainnya? Kami menghormati Asy Syaikh Robi’, dan kami mengakui bagusnya jasa beliau dalam sunnah, akan tetapi tanpa ghuluw. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ucapan ini dan berkeyakinan bahwasanya beliau seorang diri dalam jalur ini? apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Ataukah hawa nafsu membikin kalian buta dan tuli?

            Contoh ketigabelas: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan si penyair tentang Asy Syaikh Robi’:

(حبرُ التُّقى زينُ الورى شمسُ الضُّحى * بدرُ الدُّجى نجمُ الهدى الوَقَّاد).

“alim ketaqwaan, perhiasan para makhluq, matahari dhuha, purnama dikelamnya malam, bintang petunjuk yang menyala terang.”

            Saya -Abu Fairuz عفا الله عنه- jawab: lihatlah ghuluw yang mendalam ini. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ucapan ini? Dan apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Adapun para penyair kami –dan hanya milik Alloh saja segala pujian- diberi taufiq untuk tawadhu’ dan menaati peringatan tanpa dihardik. Adapun para penyair kalian: maka berapa banyaknyakah kalian yang dengannya mereka berlebihan menyanjung Asy Syaikh Robi’? maka di manakah hardikan beliau pada mereka? Bukankah dengan kalimat-Kalimat ghuluw yang sedemikian banyak tadi mereka berhak untuk mendapatkan apa yang lebih besar daripada hardikan, yaitu: ditaburi pasir di wajah-wajah mereka, dalam rangka melaksanakan perintah Rosululloh صلى الله عليه وسلم? Ini jika benar bahwasanya beliau itu –menurut mereka- adalah imam Ahlussunnah yang manusia tidak sanggup untuk mencari yang semisal dengannya, dan bahwasanya manusia semuanya itu lebih hina daripada sandal beliau.

Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Ataukah hawa nafsu membikin kalian buta dan tuli?

            Contoh keempat belas: saudara kita yang mulia Kholid Ba Jammal حفظه الله menukilkan pensifatan sebagian penulis situs Al Wahlain untuk Asy Syaikh Robi’ bahwasanya beliau adalah: Nashihun Amin kita. Penyair mereka berkata:

(ربيـــــعٌ أنت للــــدنيا ربيـعٌ *** وأنت اليوم ناصحنــا الأمينــا

فـقد أهداكـم نصحـاً ســـديداً *** وتوجيهــــاً أســرَّ العالمينــــــا)

“Robi’, Anda bagi dunia adalah robi’ (musim semi), dan Anda pada hari ini adalah Nashih Amin kami. Maka sungguh beliau telah memberikan nasihat yang lurus pada kalian, dan pengarahan yang menyenangkan alam semesta.”

            Saya -Abu Fairuz عفا الله عنه jawab: apakah kalian ingat apa yang diucapkan oleh Asy Syaikh Robi’ pada malam Rabu tanggal pertama dari bulan Jumadal Ula 1434 H saat mengirimkan serangan terhadap Asy Syaikh Yahya: “… semua yang kami dengar: imamuts tsaqolain, an nashihul amin. Wahai saudaraku! an nashihul amin itu hanyalah para Nabi, bukankah mereka itu para Nabi?!”

            Sekarang apa ini wahai Syaikh? “dan Anda pada hari ini adalah Nashih Amin kami.” Saya katakan seperti yang Anda katakan: “An nashihul amin itu hanyalah para Nabi, bukankah mereka itu para Nabi?!” Apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan perkataan tadi? Dan apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik mereka sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau tersebut? Sekarang di manakah nasihat beliau dan amanah beliau di hadapan ghuluw yang besar ini semua jika beliau memang Nashih Amin seperti yang dikatakan oleh hizbiyyun situs Wahlain? Sesungguhnya pemilik hak punya hak berbicara, dan kalian telah menzholimi kami, maka dengarkanlah kerasnya ucapan kami sekarang, dan janganlah kalian mencela kecuali diri kalian sendiri.

Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Atau apakah hawa nafsu itu menjerumuskan kalian untuk berbuat curang?

            Contoh kelimabelas: saudara kita yang mulia Abu Abdillah Hisyam bin Husain Al Bair حفظه الله menukilkan ucapan mereka:

(تحـمَّلَ ما لا يطـيقُ الرِّجالُ = إلى ذِرْوَة المَـجدِ كــم يعتلي ).

“Anda memikul apa yang tak bisa dipikul oleh para pria, sampai ke puncak kemuliaan. Alangkah banyaknya beliau meninggi.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه– berkata: lihatlah kepada pujian yang berlebihan yang dusta ini. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ini? Dan apakah Asy Syaikh meyakini bahwasanya yang beliau pikul itu tak bisa dipikul oleh para pria (tokoh)? Dan beliau meninggi jauh sekali sampai kepada puncak kemuliaan? Apakah kemuliaan tadi tak bisa dicapai oleh Al Imam Al Albaniy, Al Imam Ibnu Baz dan yang lainnya? Mahasuci Alloh. Kami mencintai Asy Syaikh Robi’, memuliakannya dan menghormatinya, akan tetapu di dalam batasan-batasan syariat.

            Contoh keenambelas: saudara kita yang mulia Abu Abdillah Hisyam bin Husain Al Bair حفظه الله menukilkan ucapan mereka:

(فذاك طبيـبُ الدُّعـاةِ الغُـواةِ * وذاك ربيـعُ الهُدى المدخلي).

“Maka itulah thobib para duat yang tersesat. Dan itulah Robi’ul huda Al Madkholiy. Alangkah banyaknya beliau meninggi.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه– berkata: “Ath Thobib adalah Alloh, dan Dialah yang memberikan petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Alloh ta’ala berfirman menukilkan ucapan Ibrohim عليه الصلاة والسلام:

﴿وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ﴾ [الشعراء: 80].

“Dan jika aku sakit, maka Dialah (Alloh) yang menyembuhkan aku.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ibrohim berkata: “Dan jika aku sakit, maka Dialah (Alloh) yang menyembuhkan aku.” Yaitu: jika aku terjatuh dalam suatu sakit, maka sungguh tak ada satupun yang sanggup menyembuhkan diriku selain Dia, dengan apa yang disanggupi dari sebab-sebab yang menyampaikan pada kesembuhan tadi.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/6/hal. 147).

            Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يعوذ بعضهم يمسحه بيمينه: «أذهب الباس رب الناس واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما». (أخرجه البخاري (5750) ومسلم (2191)).

“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم mendoakan perlindungan untuk sebagian dari mereka, mengusap mereka dengan tangan kanannya: “Hilangkanlah penyakit wahai Robb manusia, dan sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh, tiada syifa (kesembuhan) kecuali kesembuhan darimu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (HR. Al Bukhoriy (5750) dan Muslim (2191)).

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Sabda beliau: “Tiada syafi (penyembuh) selain Engkau” isyarat kepada bahwasanya seluruh apa yang terjadi, yang berupa dawa (obat) dan tadawi (pengobatan) itu jika tidak bertepatan dengan taqdir Alloh ta’ala tidak akan manjur.” (“Fathul Bari”/10/hal. 207).

Dari Abu Rimtsah رضي الله عنه :

أن أباه قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أرني هذا الذي بظهرك فإني رجل طبيب قال: «الله الطبيب بل أنت رجل رفيق طبيبها الذي خلقها». (أخرجه أبو داود (4207)/صحيح).

Bahwasanya ayahnya berkata pada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Perlihatkanlah padaku apa yang di punggung Anda, karena sungguh saya ini adalah seorang thobib. Maka beliau menjawab: “Alloh itulah Thobib. Bahkan engkau adalah seorang yang bersikap lembut dan lunak pada si sakit. Thobibnya adalah yang menciptakannya.” (HR. Abu Dawud (4207)/shohih).

            An Munawiy رحمه الله berkata: Alloh itulah Thobib” yaitu: Dia itulah Al Mudawi (pengobat) yang hakiki dengan obat yang menyembuhkan dari penyakit –sampai pada ucapan beliau:- yaitu: bukanlah itu tadi obat, bahkan ucapanmu itu sangat butuh untuk diobati yang mana engkau menamakan dirimu sebagai thobib, padahal Alloh itulah Thobib. Dan hanyalah engkau itu rofiq, yang bersikap lembut dan lunak pada si sakit. Maka ini adalah termasuk al uslubul hakim([4]) dalam cabang ilmu badi’. Yang demikian itu adalah karena thobib adalah yang alim tentang hakikat obat dan penyakit, dan mampu membikin kesehatan dan sakit. Dan yang demikian itu tidak ada kecuali Alloh.” (“Faidhul Qodir”/no. (1445)).

            Dan hidayah orang-orang yang tersesat itu di tangan Alloh, bukan di tangan Asy Syaikh Robi’ ataupun yang lainnya, hidayah taufiq dan ilham. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ الله يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾ [القصص: 56]،

“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Alloh itulah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia itu lebih tahu tentang orang-orang yang mengikuti petunjuk.” (QS. Al Qoshshosh: 56).

            Alloh subhanah berfirman:

﴿إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ الله لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ﴾ [النحل: 37].

“Jika engkau ingin sekali agar mereka mendapatkan hidayah, maka sesungguhnya Alloh tidak memberikan petunjuk pada orang yang disesatkan-Nya. Dan mereka itu tidak mendapatkan penolong.”

            Adapun hidayah bimbingan dan penjelasan, maka bersekutu di dalamnya para Nabi, ulama dan yang lainnya, -tidak khusus di tangan Asy Syaikh Robi’-, sebagaimana inilah keyakinan Ahlussunnah.

            Lihatlah betapa ghuluwnya para penolong Asy Syaikh Robi’. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ ridho dengan ucapan ini? Apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Jika Asy Syaikh Robi’ itulah Thobib dan tidak ada yang tahu akan penyakit dan pengobatannya selain beliau, maka hendaknya beliau mengobati penyakit kaidah Hasan Al Banna di tengah-tengah kalian.

            Contoh yang ketujuh belas: saudara kita yang mulia Abu Muhammad bin Muhammad Adil Az Zahrowiy حفظه الله menukilkan ucapan penyair mereka yang memuji Asy Syaikh Robi’:

مـن عـالــم مـــلأ الــدنا بعلـــومـه * حتــى غــدت بحـراً بــلا شطــآن

أسفــــاره فـــي كــــل فـــن ألـفــت * منثــــورة كـلآلـــي المــــرجـــان

“Dari seorang alim yang memenuhi dunia dengan ilmu-ilmunya, sampai jadilah ilmunya tadi lautan yang tak bertepi. Kitab-kitab tebalnya di setiap bidang beliau karang tersebar seperti mutiara dan marjan.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: lihatlah sikap ghuluw yang mendalam ini. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ meyakini bahwasanya ilmu-ilmu beliau itu bagaikan lautan yang tak bertepi? Apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Ataukah hawa itu membikin buta dan tuli.

            Dari Abu Ma’mar رحمه الله yang berkata:

قام رجل يثني على أمير من الأمراء فجعل المقداد يحثي عليه التراب وقال: أمرنا رسول الله صلى الله عليه و سلم أن نحثي في وجوه المداحين التراب. (أخرجه مسلم (3002)).

“Ada seseorang yang memuji seorang amir, lalu Al Miqdad mulai menaburkan pasir kepada si pemuji tadi dan berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami untuk menaburkan pasir ke wajah-wajah para tukang puji.” (HR. Muslim (3002)).

            Contoh kedelapan belas: saudara yang mulia Abu Hassan Marwan Al ‘Usyairiy حفظه الله menukilkan syair mereka:

(رجـل غيـور مـا رأيـنا مـثـلـه * فــي نصـر أهـل الحـــق والإيمان)

“Seorang yang sangat cemburu, tidak pernah kami melihat semisal beliau dalam menolong ahlil haq wal iman.”

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه – menjawab: lihatlah sikap ghuluw yang mendalam ini. Dan apakah Asy Syaikh Robi’ meyakini bahwasanya tiada yang semisal dengannya? Apakah Asy Syaikh Robi’ telah menghardik si penyair sebagaimana beliau mengharuskan Asy Syaikh Yahya untuk menghardik para penyair yang berlebihan menyanjung beliau? Dan di manakah kecemburuan kalian bertiga dan keadilan kalian bertiga –wahai Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat- terhadap kasus-kasus ini? Kenapa kalian memperbanyak penerapan kaidah Hasan Al Banna?

            Maka ketahuilah bahwasanya contoh-contoh itu belum semuanya. Kami tidak ingin mencerca Asy Syaikh Robi’ حفظه الله , dan kami mencintai beliau karena Alloh. Akan tetapi beliau dan hizb Mar’iyyin telah memperbanyak serangan terhadap Ahlul haq tanpa haq, maka kami menjawab mereka dengan mohon pertolongan pada Alloh, dan kami kembalikan panah-panah mereka ke tempat asalnya. Dan kami haruskan mereka dengan konsekuensi yang mereka bikin sendiri, dan agar para saksi Alloh di bumi –dalam kasus-kasus ini- membedakan ahli batil, jaur (curang/tidak adil), kesombongan, dari ahlil haq wal inshof wat tawadhu’.

            Maka bukanlah celaan itu dipikulkan pada orang yang terzholimi yang membela dirinya sendiri, akan tetapi celaan itu ditimpakan pada orang yang memulai yang menzholimi. Dan tidak bermanfaat bagi orang-orang yang zholim banyaknya jumlah mereka dan besarnya karisma mereka, karena Sang Hakim telah mengharomkan pada diri-Nya sendiri kezholiman, dan menjadikan kezholiman tadi harom di antara para hamba-Nya.

 

لا يأمن الدهر ذو بغي ولو ملكا          جنوده ضاق عنها السهل والجبل

“Tak akan bisa aman selamanya pelaku kezholiman meskipun dia itu seorang raja yang tentaranya membikin sempit pesisir dan gunung.” (“Mughnil Labib”/261)

    Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim) kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi hancur.” (lihat kelengkapannya dari “Badai’ul Fawaid”/2/hal. 238-246/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).


([1]) Demikianlah judul kitab ini sebelumnya, kemudian agar lebih sesuai dengan cakupan isinya, saya menyempurnakan judul tadi sehingga menjadi: “Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh (Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”. Semoga Alloh melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua.

([2]) Dalam naskah lain:”Al Munfarid (yang menyendiri)”

([3])  Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh- maka beliau mengomentari tobat tadi dengan ucapan: “Ucapan yang bagus. Dan sungguh aku telah berkata pada hari itu –saat syair itu dibacakan- bahwasanya aku tidak suka sikap berlebihan dalam pujian. Wallohul musta’an.”

([4])  Al Uslubul Hakim adalah: menyambut orang yang diajak bicara bukan dengan jawaban yang diharapkan, dengan membawa ucapannya tadi kepada yang berlainan dengan keinginannya, sebagai peringatan bahwasanya yang itu adalah lebih utama untuk diinginkan, atau bertanya dengan bukan yang diinginkan, dengan memposisikan pertanyaannya pada posisi yang lain, sebagai peringatan bahwasanya itulah yang lebih utama dengan keadaannya, atau yang lebih penting untuknya. (seperti dalam “Al Idhoh Fi Ulumil Balaghoh”/hal. 76) 

DOWNLOAD Pdf  !

Baca disitus http//: ashhabulhadits.blogspot.com ?

pedang 2