Koruptor licik

DOWNLOAD RISALAH DISINI !

Mengingat Koruptor Licik Berkedok Salafiy

Abdulloh bin Umar Al Mar’iy

 

Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh:

Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy Al Indonesiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar

 

الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:

Ada beberapa surat yang masuk dari sebagian ikhwah yang mulia menyebutkan aktivitas Abdulloh bin Umar Al Mar’iy di Indonesia dan mengharapkan tanggapan dari kami, maka saya memandang untuk meluangkan waktu mengingatkan kembali umat tentang kejahatan si koruptor dakwah tersebut, apalagi telah terbentuk pengelompokan dari mereka, orang-orang yang sepemikiran dengan dirinya dalam memanfaatkan nama dakwah salafiyyah untuk mengeruk harta muslimin. Manakala mereka dinasihati dengan dalil-dalil dan manhaj salaf, justru mereka membangkang dan memusuhi sang penasihat, serta membentuk pasukan dan front dalam melancarkan perang sengit terhadap salafiyyun yang setia dengan jalan Salaf, maka peperangan terhadap mereka juga harus tegak.

Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata: “Dan kami terang-terangan memerangi hizbiyyah-hizbiyyah karena pengelompokan-pengelompokan ini sesuai untuknya firman Alloh ta’ala:

﴿ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾ [الروم : 32] .

“Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Ar Rum: 32).

            Tiada hizbiyyah dalam Islam, di sana hanya ada satu hizb dengan nash Al Qur’an:

﴿ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾  [المجادلة : 22].

“Ketahuilah sesungguhnya hizb Alloh itulah yang beruntung.”

Dan hizb Alloh adalah jama’ah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan agar seseorang itu berada di atas manhaj Shohabat. Oleh karena itulah maka dirinya mencari ilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah.” (“Al Masailil Ilmiyyah Wal Fatawasy Syar’iyyah Lisy Syaikh Al Albaniy”/disusun oleh Amr bin Abdil Mun’im/hal. 30/cet. Darudh Dhiya).

            Asy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Wajib untuk kita memperingatkan dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj Salaf. Ini termasuk dari bagian nasihat untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, dan untuk para pemimpin muslimin dan orang awamnya. Kita memperingatkan dari pelaku kejahatan, kita memperingatkan dari manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj Islam, dan kita menjelaskan bahaya-bahaya perkara-perkara ini pada manusia, dan kita mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Ini wajib.” (Al Ajwibatul Mufidah”/Jamal Al Haritsiy/hal. 145/cet. Maktabatul Hadyil Muhammadiy).

Sekalipun saya pernah menuliskan peringatan tentang orang ini, tapi memang amar ma’ruf nahi munkar itu memang harus berkesinambungan, sebagaimana ahli batil juga gigih untuk merusak umat, sementara banyak dari umat yang cenderung lalai dan lupa dan lemah kewaspadaannya.

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy حفظه الله berkata: “Aku menuntut dan meminta kepada para ulama dan tokoh-tokoh yang mementingkan urusan Islam dan umat Islam, dan dengan derajat yang tertinggi adalah para pemudanya, agar mereka memperingatkan umat dengan semangat, terhadap seluruh penyelewengan dan terhadap manhaj-manhaj hizbiyyin harokiyyin dengan seluruh kelompok-kelompok mereka dan berbilangnya sekte-sekte mereka, dan segenap organisasi-organisasi mereka, … dst.” (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 42/karya beliau).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan sungguh aku menasihati para ulama dan para dai ke jalan Alloh dari kalangan Ahlussunnah agar mereka itu bersemangat dan bekerja keras dalam memperingatkan umat dari hizbiyyah yang membikin sial itu, yang merobek kesatuan Msulimin, dan hendaknya peringatan tersebut berkesinambungan, karena amalan Nabi صلى الله عليه وعلى آله وسلم itu adalah berkesinambungan.” (“MAqtausy Syaikh Jamilur Rohman”/hal. 6/Darul Atsar).

Semoga Alloh memberikan pertolongan.

Bab Satu:

Bahaya Yang Terjadi Jika Ahlul Haq Melemah Dalam Memerangi Kebatilan

 

            Jika Ahlul haq diam terhadap keburukan pengekor hawa nafsu pastilah agama umat ini akan rusak. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ الله النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ الله ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ [البقرة/251].

“Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

            Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 140/Darul Imam Ahmad).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang tegak dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 104).

            Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu bisa bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: “Alloh berfirman” dan “Rosululloh bersabda”. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashiroh.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz”/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama’).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Dan kebid’ahan itu muncul jika Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم  –sampai pada ucapan beliau:- maka jika sunnah itu muncul, maka sungguh bid’ah itu akan pergi dari negri yang di situ ada sunnah Rosululloh  صلى الله عليه وسلم.” (“Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 155-156/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Basyir Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: “Wajib bagi seorang alim agama ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang melawannya serta untuk menyerang kebid’ahan, kejelekan serta kerusakan sebelum menjadi kuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya. Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh para pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut.” (“Al-Atsar”/karya beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad).

            Dikarenakan pentingnya hal ini maka para imam Salaf yang sangat cemburu terhadap agama mereka tegak melaksanakan tugas ini sekalipun sangatlah berat di dalam jiwa.

Al Imam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: “Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang diantaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid’ah dan banyaknya celaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid’ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Dimanakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!” (Al-Bida’ wan Nahi ‘Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7).

Al Imam Ibnu ‘Asakir رحمه الله berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far Al-Andalusi (tahun 378H): “Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunillah adalah seorang yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap keras terhadap ahlul bida’ dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau dan bersembunyi dari beliau.  Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya dan mencercanya dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh hingga berjumpa dengan Alloh عز جل beliau punya kisah-kisah terkenal dan kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang”. (“Tarikh Dimasyq”/5/hal. 118/biografi Ahmad bin ‘Aunillah Abu Ja’far)

 

Bab Dua:

Dukungan Abdulloh Al Mar’i terhadap Abul Hasan Al Mishriy

Berikut ini akan ana nukilkan pembahasan yang bagus, yang di sela-selanya ada pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang cerdas. Putra Hadhromaut Syaikhunal fadhil Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkata:

”Sesungguhnya orang-orang yang merenungkan sikap Abdulloh bin Mar’i pada masa fitnah Abul Hasan akan melihat perkara yang aneh dan mengherankan, yang mana orang ini berbangga-bangga dan bersumpah dengan nama Alloh ta’ala bahwasanya dia adalah termasuk orang yang paling tahu tentang Abul Hasan, dan bahwasanya dia pernah melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan pada tahun 1413 H. bahkan dia mengaku pernah menelpon Syaikh Robi’ bin Hadi –ro’ahulloh- dalam urusan tersebut, sampai bahkan pertemuan pertama yang panas terjadi di rumah putra Syaikh Robi’ –Muhammad Ash Shoghir- di Makkah pada bulan Dzul Hijjah 1416 H. hadir pada pertemuan itu sekelompok dari masyayikh dan penuntut ilmu. Perdebatan pada waktu itu berisi sekian banyak kasus, dan yang termasuk paling penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam Ahlussunnah.

            Demikianlah pengaku-akuan orang ini –Abdulloh Mar’i- bahwasanya dia punya catatan lima puluh kesalahan Abul Hasan, sebagaimana yang diceritakan Akhuna Muhammad Ba Roidy -hafizhohulloh- padaku –pada Syaikh Abu Hamzah Al ‘Amudy-. Maka kamu akan lihat bahwasanya selang waktu ini -tahun 1413 H- dia melakukan beberapa perdebatan dengan Abul Hasan. Akan tetapi sebagaimana yang tampak dari alur pembicaraannya, perdebatan itu cukup tenang, lalu menjadi keras dan panas pada tahun 1416 H. dan itu berlangsung di rumah putra Syaikh Robi’ –hafizhohulloh wa ro’ahu-, di dalam majelis itu dilontarkanlah berbagai kasus yang penting sebagai kritikan terhadap Abul Hasan, dan yang termasuk paling penting adalah sikap Abul Hasan yang memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam Ahlussunnah. Dan pertempuran di majelis saat itu cukup panas.

Berdasarkan penjelasan di atas, tampaklah bahwasanya Abdulloh Mar’i itu tahu tentang penyimpangan-penyimpangan dan penyelisihan Abul Hasan. Dia tahu hal itu sejak dulu.

Jika demikian, maka keadaan Abul Hasan itu tidaklah tersembunyi dan tidak asing bagi Abdulloh Mar’i. Namun yang aneh dan mengherankan adalah: Abul Hasan pada saat fitnahnya itu muncul dan punya kekuatan dan hantaman, dan dengan sebab itu banyak orang yang terfitnah, ternyata Abdulloh Mar’i tidak punya saham yang pantas disyukuri dalam fitnah ini.

Para ulama telah berbicara yang menjelaskan keadaan Abul Hasan, dan memperingatkan umat dari kesalahan-kesalahannya, pokok-pokoknya dan kaidah-kaidahnya yang rusak. Dan yang pertama kali berseru terhadap kebatilan tadi adalah Syaikh kita (Yahya Al Hajuriy) –ro’ahulloh- di Yaman, dan yang di luar Yaman adalah Asy Syaikh Ahmad An Najmiy dan Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy –hafizhohumallohu ta’ala-([1]) kemudian berbicaralah para ulama Yaman tentang Abul Hasan, sementara orang ini (Abdulloh Mar’iy) tidak mau “menggerakkan air yang tenang” (diam saja), dan tidak sikap saling membantu dan menolong buat Ahlussunnah khususnya di Yaman. Tapi orang ini hanyalah bergumul dengan beberapa urusan pribadinya saja. Dan itulah yang terjadi, khususnya setelah para ulama Madinah -yang dipimpin oleh Asy Syaikh ‘Ubaid hadahulloh- telah berbicara. 

Maka di manakah perkara yang dia banggakan tadi? Dan di manakah pengetahuannya tadi?!! Kenapa gaya panasnya tadi berubah jadi dingin? Dan di manakah berbagai kasus dan kesalahan (Abul Hasan) yang banyak tersebut? Kenapa sekarang ditutupi? Dan kenapa disembunyikan pada kondisi paling dibutuhkan untuk dibeberkan?!! Yang lebih mengherankan lagi, dan bahkan lebih berat dan pahit adalah bahwasanya orang ini secara lahiriyah senantiasa bersikap diam. Dan jadilah sikap diamnya itu mengundang keraguan dan kebimbangan. Penjelasannya ada beberapa sisi:

Yang pertama: Sikap diamnya yang meragukan ini menimbulkan pengaruh yang sangat mendalam terhadap dakwah, terutama di wilayah Syihr. Orang-orang khusus Abdulloh bin Mar’i yang dinamakan sebagai “orang kepercayaan” yang mengurusi masalah khotbah, pengajaran, adzan dan lain-lain justru menjadi orang-orang yang pertama terjatuh di dalam fitnah tersebut. Sementara si pemilik pengetahuan tentang Abul Hasan tidak memberikan nasihat pada mereka, dan tidak mengarahkan mereka dalam keadaan dia melihat mereka berjatuhan ke dalam fitnah Abul Hasan, dan dia diam saja “tidak menggerak air yang tenang”([2]). Bukankah wajib baginya untuk menasihati mereka, mengarahkan mereka dan membimbing mereka serta memperingatkan mereka dari kesalahan-kesalahan Abul Hasan agar mereka itu berada di atas kejelasan dari perkara mereka. Mereka itu adalah orang-orang khusus Abdulloh dan orang yang paling dekat dengannya. Mereka adalah tonggak bagi dirinya, dia bertopang kepada mereka di masjidnya. Bahkan kaset-kaset dan tulisan-tulisan Abul Hasan laris di kalangan sahabat mereka. Si Abdulloh ini meskipun mengatakan melarang penyebaran apa-apa yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak([3]) akan tetapi ucapannya itu tidak bisa menghilangkan keraguan dan kebimbangan darinya. Dia cuma ingin menghilangkan dan menolak celaan terhadap dirinya. Seakan-akan kondisi dirinya berkata: “Engkaulah yang aku maksudkan, dan dengarlah wahai tetanggaku.” Yang lebih memperkuat kenyataan tadi adalah sebagai berikut:

Tidak diketahui darinya pengingkaran terhadap apa yang diperbuat oleh teman-temannya yang terfitnah oleh Abul Hasan. Bahkan dia itu mengingkari para ikhwah yang dilindungi oleh Alloh dari fitnah Abul Hasan, dia menuduh mereka telah berbuat serampangan dan tergesa-gesa. Abdulloh mengingkari mereka dan melarang mereka menyebarkan malzamah-malzamah yang menjelaskan keadaan Abul Hasan, sambil mengemukakan alasan yang lemah. Saudara kita yang mulia Abu Muhammad Sa’d Al Ghurobiy –hafizhohullohu wa ro’ah- berkata: “Kami turun dari Dammaj setelah Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memvonis salahnya Abul Hasan di dalam beberapa poin kritikan terhadap dirinya. Lembaran-lembaran vonis tadi ada bersamaku, dan ketika aku bertemu dengan Abdulloh Mar’i kusodorkanlah padanya lembaran vonis tadi. Maka dia menjawab bahwasanya dirinya tidak menginginkannya. Dia bilang menanti vonis tadi setelah tiba di ‘Adn pada hari-hari itu.

(Asy Syaikh Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkomentar: “Apa beda antara dirinya mengambil vonis tadi dari tangan Akh Sa’d dengan datangnya vonis tadi kepadanya jika dia telah sampai di ‘Adn? Bukankah sama saja? Ini menunjukkan bahwasanya dirinya sebenarnya tidak ridho dengan kritikan terhadap Abul Hasan, yang mana dirinya tidak mau terbongkar isi hatinya, sehingga terpaksa untuk memberikan alasan yang lemah seperti ini.”)

Dia juga bilang: “Aku tidak butuh pada vonis ini, dan tidak senang vonis ini dikasihkan padaku ataupun disebar di masjidku, karena situasi di tempat akan makin ruwet setelah itu.” Dan dia tak mau mengambil vonis tadi dan melarang menyebarnya di masjidnya.

Kukatakan (Asy Syaikh Al ‘Amudiy): semoga Alloh memerangi kamu wahai orang yang jahat. Kamu takut perkaranya jadi ruwet wahai ushuli([4]), sementara kamu tahu tentang keadaan Abul Hasan dan penyelisihannya serta penyimpangannya. Bersamaan dengan itu kamu melihat orang-orang yang paling dekat di sekitarmu berjatuhan di dalam fitnah ini. Hikmah apa yang kamu ambil manfaatnya dari sikap diammu. Fiqih apa yang kamu aku-akui (elu-elukan) wahai pemilik ilmu maslahat dan mafsadah? Manakah pengingkaran terhadap kemungkaran? Apakah hal itu cuma berlaku untuk sebagian orang saja? Manakah nasihat? Apakah nasihat itu hanya khusus  untuk sebagian orang saja? Demi Alloh, sungguh perbuatanmu ini sangat meragukan. Sikap diammu ini sungguh aneh.

Tambah lagi sikap diamnya itu merupakan sebab menyelewengnya banyak sekali ikhwan dari wilayah Syihr. Masjidnya jatuh terkapar, dan tiada yang selamat darinya kecuali sangat sedikit sekali. Tidak lebih dari lima masjid yang tersisa. Ini jika aku telah berlebihan dalam bilangan tadi. Demikian pula masjid “Ibnu Baz” jatuh terkapar. Demikian pula mayoritas wilayah masjid “Abdurrohim” jatuh ke tangan mereka. Tinggallah masjid tadi berada dalam keruwetan dan sengketa sekian lama, dan bisa jadi kesudahannya akan kembali ke Hasaniyyun (pengikut Abul Hasan). Berapa banyak orang-orang yang lenyap dan menyeleweng disebabkan oleh sikap diam Abdulloh Mar’i yang meragukan ini, sampai-sampai satu orang awam yang cinta sunnah mendatanginya seraya berteriak di mukanya dan berkata kasar: “Kamulah penyebab ini semua! Kenapa kamu tidak berbicara dan memberikan penjelasan?!”([5])

Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: pada saat Asy Syaikh Ahmad Ba Sufail –saddadahulloh- menyampaikan ceramah di masjid Abdulloh Mar’i, dan saat itu  Abdulloh Mar’i tidak hadir sebagaimana adat kebiasaannya. Asy Syaikh Ahmad Ba Sufail –ro’ahulloh- menyebutkan bahwasanya Abul Hasan itu ditemani oleh sekitar delapan puluh orang, dan semuanya adalah anggota “Baroatudz Dzimmah”. Dan setelah itu, Abdulloh Mar’i menyampaikan ceramah di Qushoi’ar. Pada kesempatan itu dia mencaci  Asy Syaikh Ahmad –ro’ahulloh- dengan sangat keras. Memang dia hanya menyebut Asy Syaikh Ahmad –saddadahulloh- dengan global, akan tetapi orang-orang yang hadir tahu maksudnya. Demikianlah Akh Abu Muhammad Al Ghurobiy –ro’ahulloh- menceritakannya padaku.

Dan di antara keanehannya dalam fitnah Abul Hasan adalah: ketika  Abul Hasan keluar ke Seiun (padahal para ulama Yaman telah melarang Abul Hasan untuk pergi kesana-kemari, tapi memang orang itu keras kepala) datanglah kepada Abdulloh Mar’i teman-temannya dan orang-orang khususnya yang terfitnah oleh Abul Hasan. Mereka meminta padanya untuk ikut keluar juga. Maka dia mengemukakan udzur. Lalu mereka minta idzin untuk mengambil bis dakwah, maka diidzinkannya mereka untuk mengambilnya, sebagaimana Akh Muhammad Ba Roidiy Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- mengabariku.

Dan di antara keanehannya juga Akh fadhil Abu Mush’ab Al Hadhromiy –ro’ahulloh- yang tinggal di Hami berkata: aku mendatangi Abdulloh Mar’i bersama sekitar empat belas ikhwan. Abdulloh Mar’i dituntut untuk mengumpulkan teman-teman dan orang-orang khususnya lalu menjelaskan kepada mereka keadaan Abul Hasan. Dan kejadian itu berlangsung setelah Syaikhuna Yahya dan Asy Syaikh An Najmiy –ro’ahumalloh- berbicara. Abu Mush’ab berkata padanya: “Saya dan para ikhwan semuanya telah satu hati dan di atas bayyinah tentang orang ini –yaitu: Abul Hasan-“. Tapi Abdulloh Mar’i tidak mempedulikannya dan tidak mau mendengarkan orang yang menasihatinya, ataupun menerima kabar darinya untuk menasihati orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Dan setelah fitnah itu sirna, justru Abdulloh dan Salim Ba Muhriz mencaci orang-orang Hami tadi –Abu Mush’ab dan teman-temannya, dan juga Sa’d dan ‘Aqil-, menuduh mereka telah tergesa-gesa dan mendahului ulama, dan berbagai tuduhan kezholiman, kepalsuan dan kedustaan yang lain. Aku (Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy) katakan: kenapa kalian berbuat zholim seperti ini wahai Abdulloh kecil, wahai Salim kecil, padahal para ikhwan tadi tahu keadaan Abul Hasan berdasarkan penjelasan ulama. Cukuplah bagi mereka bahwasanya Alloh menyelamatkan mereka dan menjaga mereka dari fitnah ini, dan kalian –kalian berdua dan orang-orang yang bersama kalian berdua- justru terbalik.

Dan di antara keanehannya juga dalam fitnah ini adalah: salah seorang sahabat Abdulloh mar’i yang wajahnya terbakar api fitnah Abul Hasan yang bernama Nabil Al Qu’aithiy, mencabut lembaran bayan para ulama yang berisi pemboikotan terhadap Abul Hasan. Si Nabil ini merupakan salah satu orang dekat Abdulloh Mar’i, satu sama lain saling menyanjung. Si Abdulloh memperkenalkan Si Nabil dan mempercayainya, dan berkata: “Kita mempercayainya untuk dakwah, dan mempersilakannya untuk berbicara di masjid-masjid kita.” Orang ini terpercaya di sisi Abdulloh Mar’i. Dulunya si Nabil ini adalah salah satu tokoh besar pembela Abdulloh Al Ahdal (fitnahnya sebelum fitnah Abul Hasan Al Mishriy). Demikian pula salah seorang pengikut Abul Hasan mencabut lembaran Asy Syaikh Robi’ –ro’ahulloh- yang berisi fatwa pemboikotan terhadap Abul Hasan Al Mishriy. Tapi ketika orang-orang mengabari Abdulloh Mar’i tentang perbuatan orang kepercayaannya dan yang lainnya dia tidak memerah wajahnya, tapi dia justru dengan keras mengingkari ikhwan yang menempelkan lembaran-lembaran tadi.

Sisi kedua: bahwasanya Abdulloh Mar’i terlambat sekali dalam memulai untuk  berbicara tentang Abul Hasan Al Mishriy. Ketika dia mulai berbicara tentang orang itu –dengan penjelasan yang tidak begitu terang-, mulailah para fanatis yang berjatuhan di fitnah Abul Hasan Al Mishriy mengingkarinya sampai-sampai mereka berkata: “Seret dia di lantai.” Mereka menelponnya, ada yang bilang: “pendusta”, ada yang bilang: “Anjing”, ada yang bilang: “Pencuri”. Dulu dia tak bisa melewati sebagian jalan-jalan dikarenakan banyaknya pengingkaran orang-orang, sebagaimana berita dari Akhunal fadhil Abu Muhammad Ba Roidiy Al ‘Amudiy –ro’ahulloh-. Berarti para pengikut Abul Hasan itu dulunya percaya bahwasanya Abdulloh Mar’i  itu ada di barisan mereka, dengan dalil dia itu memberi mereka kesempatan dan tidak mengingkari mereka. Dan yang lebih menguatkan lagi adalah kerasnya pengingkaran mereka terhadapnya, dan hal itu tidaklah terjadi kecuali karena ada perkara yang besar sekali, dan hubungan yang erat di antara mereka. Jika tidak demikian, maka apa faidah dari pengingkaran mereka tadi dan cercaan mereka yang keras tadi padanya?

Sisi ketiga: dan ini lebih berat dan pahit. saudara kita yang mulia Abu ‘Ubaidah Muhammad As Sumahiy –hafizhohullohu wa ro’ah- menuliskan surat padaku sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده محمد صلى الله عليه وآله وسلم  أما بعد:

Ketika terjadi fitnah Abul Hasan Al Mishriy aku punya hubungan surat-menyurat dengan Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- di seputar kasus tersebut. Lalu datanglah faks dari  Asy Syaikh Robi’ yang berisi tahdzir terhadap Abul Hasan dan agar jangan menghadiri durus dan ceramahnya. Maka kamipun menyebarkan faks tersebut. Ternyata para pengikut Abul Hasan dan orang yang tertipu dengannya dalam fitnah tadi kemudian menyerang kami, mentahdzir orang dari kami dan melarang orang duduk-duduk dengan kami. Lalu kami pergi ke Syihr mengunjungi Abdulloh Mar’i agar dia mau menasihati para ikhwah untuk tegar di atas kebenaran yang telah mereka ketahui. Kami sampai ke tempatnya jam setengah delapan pagi. Aku disertai Fahd bin Syithob, ‘Adil Ba Laqih([6]), Hasan Ba Sholih, Majid Ba Rosyid dan para pemuda yang lain. Teman-teman Abdulloh Mar’i  mengabari bahwasanya Akh Muhammad As Sumahiy dan sekelompok pemuda ingin mengunjungi Anda. Lalu mereka membuka majelis. Kemudia Abdulloh Mar’i keluar menemui kami. Mulailah kami berbicara seputar fitnah ini, dan kukabari dirinya tentang faks dari Asy Syaikh Robi’. Maka Abdulloh Mar’i  berkata: “Dalam fitnah ini mereka ingin menjatuhkan Abul Hasan, padahal Abul Hasan itu gunung.”([7]) Maka aku menjawab: “Jika Alloh menghendakinya jatuh, Alloh akan menakdirkannya, maka dia ataupun yang lain akan jatuh.” Lalu kami berbicara seputar kesalahan-kesalahan Abul Hasan. Abdulloh Mar’i  mengabari kami bahwasanya pada malam sebelumnya Mitsaq Al ‘Adniy ada si sampingnya.

Kemudian kamipun keluar, dan kukatakan pada para teman bahwasanya ucapan Abdulloh Mar’i ini kita carikan kemungkinan-kemungkinan baiknya. Inilah yang berlangsung di majelis tadi.

Aku (Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-) berkomentar: perkara ini tidak membutuhkan penjabaran karena penunjukannya telah jelas, bahwasanya orang itu (Abdulloh Mar’i ) thoriqohnya adalah Hasaniy, tapi dia tersembunyi di tengah-tengah barisan Ahlussunnah. Dia telah memberikan pelayanan yang besar buat Abul Hasan Al Mishriy, menjadikan Syihr sebagai hidangan siap santap buatnya. Hanya saja dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan menang dalam fitnah ini. Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah berlindung dengan sikap diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al Mishriy maka diapun akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-cakarnya.

Jika engkau keheranan, maka yang lebih mengherankan lagi adalah pengingkaran si Abdulloh terhadap para ikhwah dari Hami, cercaannya pada mereka, dan pembeberannya nama-nama mereka di depan umum, dan tuduhannya terhadap mereka dengan kebatilan dan kemungkaran. Apa pendorongnya untuk membikin pengingkaran dan cercaan pada mereka? Bukankah cukup baginya untuk bersyukur pada mereka, memuji dan menyanjung mereka karena diselamatkan Alloh dari fitnah ini? Bukankah ini yang wajib bagi dirinya kepada mereka? Akan tetapi rahasianya adalah –wallohu a’lam- si Abdulloh ini marah dengan kekokohan mereka dan tidak terperosoknya mereka ke dalam fitnah ini sebagaimana terperosoknya mayoritas orang-orang Syihr, terutama para sahabat dan kepercayaan si Abdulloh. Jika tidak demikian, apa penafsiranmu –wahai saudaraku yang mulia- terhadap pengingkaran keras si Abdulloh ini? (selesai dari kitab “Zajrul ‘Awi”/3/hal. 28-34/ Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-).

            Kukatakan –waffaqoniyallohu-: dengan penjelasan ini jelaslah bahwasanya Abdulloh Mar’i  itu dulunya adalah Hasaniy yang menyamar, kemudian dirinya di akhir-akhir perseteruan fitnah ketika Abul Hasan Al Mishriy hampir tumbang mulailah dirinya menampakkan kritikan pada Abul Hasan. Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- berkata:

كان أخونا عبد الله بن مرعي مع أبي الحسن ثم تراجع

“Dulu saudara kita Abdulloh Mar’i itu bersama Abul Hasan, lalu dia rujuk kembali.” (kurang lebih demikian ucapan beliau).

Ternyata seiring dengan pergantian siang dan malam Alloh ta’ala menampakkan kekeruhan yang tersembunyi di dalam hatinya. Tampaklah pemikiran Hasaniyyah-hizbiyyah yang tetap ada di dalam hatinya. Maka tepat sekali ucapan  Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh-: “Hanya saja dia itu bergaya diam untuk melihat siapakah yang akan menang dalam fitnah ini. Jika kemenangan itu diraih Ahlussunnah, maka dia telah berlindung dengan sikap diamnya. Tapi jika kemenangan di tangan Abul Hasan Al Mishriy maka diapun akan menyeringaikan taring dan menampakkan cakar-cakarnya.”

Dari penuturan di atas kita bisa mengambil beberapa poin kebatilan Abdulloh Mar’i  dalam kasus Abul Hasan Al Mishriy sebagai berikut:

1- Abdulloh Mar’i  tidak menerangkan pada umat kebatilan Abul Hasan pada saat umat sangat membutuhkan penjelasannya. Tapi sekian tahun setelah fitnah selesai dan terdengar kabar bahwasanya dirinya itu dulunya adalah Hasaniy buru-buru dia mengaku-aku telah tahu kebatilan Abul Hasan Al Mishriy dan telah berbicara sebelum yang lain-lain bicara. Abdulloh Mar’i telah berkhianat dan menipu umat. Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata: “Karena jika seseorang itu diam dari orang yang berhak untuk di-jarh dan ditahdzir, maka sungguh dia itu adalah pengkhianat dan penipu terhadap agama Alloh dan Muslimin.” (“Al Mahajjatul baidho’”/hal. 28-29).

Penipuan dan pengkhianatan merupakan salah satu ciri hizbiyyah, di antaranya: Ikhwanul Muslimin. Asy Syaikh Abu Ibrohim bin Sulthon Al ‘Adnaniy –hafizhohulloh- berkata pada Al Ikhwanul Muslimin yang menyembunyikan kebatilan jama’ah-jama’ah: “Jika kalian mengetahui hal itu merupakan pengkhianatan besar dan penipuan besar. Tidak boleh bagi kalian menyembunyikannya dari para pemuda umat ini pada khususnya, dan dari manusia pada umumnya.” (“Al Quthbiyyah Hiyal Fitnah”/hal. 56).

Asy Syaikh Ahmad An Najmi rohimahulloh berkata: “Seluruh dakwah hizbiyyah dibangun di atas takattum (menyembunyikan suatu rahasia), pengkhianatan, makar, kecurangan, dan talbis.” (“Ar Roddul Muhabbir” hal. 124).

2- Abdulloh Mar’i melarang penyebaran fatwa ulama yang berisi tahdzir terhadap Abul Hasan Al Mishriy. Demikian pula para hizbiyyun berusaha agar al haq yang menyelisihi hawa nafsunya tidak tersebar. Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh- berkata tentang Ikhwanul Muslimin: ”Upaya mereka untuk membungkam setiap orang yang berbicara tentang hizbiyyah mereka dan menerangkan kejelekan dan kekurangan mereka, dan menjadikannya sebagai musuh bagi mereka.” (“Ar Roddusy Syar’i”/hal. 254).

Beliau rohimahulloh juga berkata pada Syaikh Ibnu Jibrin rohimahulloh yang melarang beliau mencetak kitab bantahan terhadap hizbiyyin: “Aku mendengar bahwasanya sebagian hizbiyyin membeli sejumlah besar dari kitab-kitab yang menyebutkan kejelekan mereka, lalu mereka membakarnya. Maka apa beda antara orang yang membakar kitab setelah dicetak dengan orang yang berkata,”Jangan dicetak!”” (“Roddul Jawab” hal. 62-63)

3- Abdulloh Mar’i  melakukan beberapa penyamaran (tasattur). Demikianlah hizbiyyun.

Imam Al Wadi’y rohimahulloh berkata: ”Sesungguhnya seseorang itu bersembunyi dan tidak menampakkan kehizbiyyahannya kecuali setelah menguat otot-ototnya dan menyangka bahwanya ucapan manusia sudah tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya.” (“Ghorotul Asyrithoh” 2 hal. 14).

4- Abdulloh Mar’i merasa sakit dan sedih jika para hizbiyyin tadi diserang Ahlussunnah, maka diapun bangkit membela mereka.

Syaikh Robi’ -hafidhahulloh- berkomentar terhadap seorang hizbiy: “Maka penulis kitab “Al Mi’yar” dan hizbnya berusaha untuk membunuh manhaj salafy dengan cara melumerkannya, dan meremehkan nilainya, dan mencoreng para pembawanya, dan dengan pembelaan mereka terhadap ahlil bida’, dan membalas dendam untuk mereka.” (“Bayan Fasadil Mi’yar” hal. 82).

Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata tentang majalah “Al Furqon” milik Sururiyyun: “Dia menangis karena aku berbicara tentang Abdurrohim Ath Thohhan, dan kenapa aku berbicara tentang Rosyid Al Ghonusiy, tentang Abdurrohman Abdul Kholiq, tantang Hasan At Turobiy. Dan sungguh aku memuji Alloh karena Dia memberikan taufiq pada Ahlussunnah untuk menjauhi hizbiyyah dan para hizbiyyin.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 155).

5- Abdulloh Mar’i mencaci dan mencerca Ahlussunnah yang mengkritik hizbiyyin dengan benar. Demikianlah seorang hizbiy. Asy Syaikh Sholih As Suhaimi -hafizhahulloh- berkata: “Dan mereka melancarkan serangan gencar kepada orang yang menerangkan kesalahan-kesalahan jama’ah-jama’ah itu, atau yang mengkritiknya, atau yang membantahnya, atau yang menyerunya untuk membersihkan manhajnya dari penyelisihan-penyelisihan yang tidak cocok dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.” (lihat “An Nashrul ‘Aziz” /Syaikh Robi’ -hafizhahulloh-/hal. 48)

6- Abdulloh Mar’i tak menerima nasihat yang sesuai dengan dalil syariat.

Demikianlah hizbiyyun. Al Imam Ibnu Baththoh rohimahulloh berkata: “Kekaguman pengagung ro’yu dengan ro’yunya untuk memisahkan diri dan memecah-belah tanpa mau menerima kebenaran, inilah sebab lahirnya kelompok-kelompok (hizb-hizb).” (“Al Ibanatul Kubro”/ 1/hal. 26-27)

Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata: “Dan sekarang para mubtadi’ itu wahai saudara, sama saja dia itu pemberontak ataupun dari jenis manapun, dia tak mau kembali kepada kebenaran. Engkau tegakkan padanya belasan dalil tentang suatu kasus, dia membawakan ucapan ulama dan tidak mau kembali pada kebenaran. Ini adalah sifat pengekor hawa nafsu.” (“Syarhu Ushulis Sunnah”/hal. 87-88).

7- Abdulloh Mar’i  diam terhadap kemungkaran hizbiyyin.

Ibnu ‘Aqil Al Hanbaliy -rahimahulloh- berkata: “Maka manakah aroma iman darimu sementara engkau tidak berubah wajahmu –lebih-lebih lagi untuk mau berbicara- dalam keadaan penyelisihan terhadap Alloh subhanahu wa ta’ala dilakukan oleh keluarga dan tetangga. Terus-menerus kedurhakaan pada Alloh azza wa jalla dan kekufuran bertambah, garis batas syariat dilanggar, tapi tiada pengingkaran dan tidak ada orang yang mengingkari, dan tiada pula perpisahan diri dari orang yang melanggar syariat. Dan ini adalah puncak dari kebekuan hati dan diamnya jiwa. Dan tiada lagi tersisa iman dari dalam hati, karena kecemburuan adalah alamat cinta dan keyakinan yang paling kecil.” (“Al Adabusy Syar’iyyah” 1/hal. 178)

Demikianlah hizbiyyun. Asy Syaikh Sholih As Suhaimiy –hafizhohulloh- berkata: “Jama’ah-jama’ah hizbiyyah ini memandang bahwasanya amar ma’ruf dan nahi mungkar akan memecah belah barisan umat, dan merobek tatanannya.” (“Manhajus Salaf fil ‘Aqidah”/hal. 54-55).

8- Abdulloh Mar’i melakukan takhdzil (tak mau membantu pada saat dibutuhkan) terhadap Ahlussunnah. Demikianlah gaya munafiq dan hizbiy.

Al Imam Ibnul Qoyyim –rohimahulloh- berkata: “Cukuplah bagi seorang hamba kebutaan dan ketertinggalan manakala dia melihat para tentara iman dan pasukan sunnah dan Qur’an telah memakai pakaian perang mereka, mempersiapkan perbekalan mereka, menempati barisan mereka, dan berdiri di posisi-posisi mereka, tungku pertempuran telah memanas, roda penggilingan telah berputar, peperangan semakin dahsyat, para sejawat saling berteriak: “Ayo turun, ayo turun!” tapi orang ini masih saja ada di tempat persembunyian, di lobang-lobang, dan bersembunyi di tempat masuk bersama para perempuan yang tertinggal. Jika takdir membantunya dan dia bertekad untuk keluar, duduklah dia di atas ketinggian bersama para penonton, sambil melihat siapakah yang menang, agar dia bisa bergabung dengan mereka. Lalu diapun mendatangi mereka sambil bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang paling berat dan berkata: Sungguh aku ini bersama kalian, dan aku berangan-angan bahwasanya kalian itulah yang menang.” (“Al Qoshidatun Nuniyyah”/Ibnul Qoyyim/1/hal. 8/syaroh Asy Syaikh Muhammad Kholil Harros).

Asy Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- membantah Abdurrohman Abdul Kholiq dan berkata: “Ahlussunnah tidak mengambil suatu manhaj tersendiri, hanya saja mereka mendapati suatu manhaj yang terang dari para pemimpin umat ini di dalam menghantam kebid’ahan dan ahlul bida’, maka mereka berjalan di atas manhaj tadi. Dan ternyata Abdurrohman menyendiri dari mereka, lalu memerangi orang-orang yang menempuh manhaj tadi dengan jenis perang takhdziliyyah (tak mau menolong) yang paling keras.” (“Jama’ah Wahidah” hal. 10)

9- Abdulloh Mar’i  memuji hizbiyyin. Demikianlah salah satu ciri hizbiyyin.

Samahatusy Syaikh Ibnu Baaz rohimahulloh telah ditanya di dalam syaroh beliau terhadap kitab “Fadhlul Islam” yang teksnya sebagai berikut: “Orang yang memuji ahlul bida’ dan menyanjung mereka, apakah orang itu mengambil hukum mereka juga? Maka beliau rohimahulloh menjawab: “Iya. Tidak ada di dalamnya keraguan. Orang yang memuji ahlul bida’ dan menyanjung mereka, dia itu adalah penyeru manusia kepada mereka. Dia itu menyeru manusia kepada mereka. Orang ini termasuk dari du’at mereka. Kita mohon pada Alloh keselamatan.” (“Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir Min Ahlil Ahwa” karya Kholid Azh Zhofairi hal. 137)

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi –rohimahulloh- berkata pada Ibrohim bin Hasan yang banyak membela hizbiyyin tapi marah saat digelari “hizbiy”: “Sesungguhnya pujianmu pada mereka, udzur yang kamu berikan pada mereka, pengingkaranmu pada orang yang menerangkan penyelisihan mereka terhadap syariat Islamiyah pada umumnya, dan manhaj salafiy pada khususnya, dan cercaanmu terhadapnya termasuk dalil terbesar bahwasanya kamu adalah hizbiy besar.” (“Dahrul Hajmah”/hal. 19)

Bab Tiga:

Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah

Semangat Abdulloh Mar’i  untuk mengumpulkan harta atas nama dakwah sudah terkenal, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- di berbagai durus beliau. Demikian pula Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di risalah beliau “Naqdhur Rodd” hal. 11-12.

Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata pada Abdulloh Mar’i  : Apa yang kalian sebutkan bahwasanya kalian berdiri bersama saudara-saudara kita orang orang asing ini, kami tidak melihat hasil yang semestinya, sementara sebagian dari saudara-saudara kita orang orang asing telah dikeluarkan dari Syihr, sebagian lagi dimasukkan penjara di Shon’a dikarenakan kalian tidak memberikan pada mereka surat idzin tinggal sebagaimana yang kalian janjikan. Bahkan salah satu dari saudara-saudara kita orang-orang asing mengeluhkan beberapa perkara yang mereka lihat. Dia berkata: “Mereka (anak buah Abdulloh Mar’i) mengambil dari setiap orang dari kami uang sebanyak tiga ratus dolar di muka untuk SPP enam bulan, tapi sebagian dari kami tidak belajar di ma’had (Ma’hadul Hasub Wal Lughot yang ada di bawah pengawasan Abdulloh Mar’i) kecuali sekitar dua bulan saja, sisanya (empat bulan) kami belajar di Darul Hadits (Darul Hadits Syihr yang dipimpin Abdulloh Mar’i) dan kami tidak pergi ke ma’had karena pemerintah melarang pelajaran bahasa Arab di situ karena tiada surat idzin. Walaupun demikian mereka (anak buah Abdulloh) tidak mengembalikan sisa uang kami.”

Dan sebagaimana diketahui bersama –dari penjabaran terdahulu- sebagaimana perkataan dewan Ma’had bahwasanya Ma’hadul Hasub Wal Lughot tidak punya kaitan dengan Darul Hadits di Syihr. Lalu apakah yang membolehkan mereka mengambil uang saudara-saudara kita orang-orang asing? Mana pelaksanaan dari ucapan mereka “berdiri bersama saudara-saudara kita orang-orang asing”? kami ingatkan dewan Ma’had dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim: “Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke dalam neraka.” (HR. Muslim). (selesai penukilan dari “Naqdhur Rodd”/hal. 15).

Di antara kegiatan Abdulloh Mar’i dan anak buahnya adalah mengemis atas nama dakwah, sebagimana penjabaran dari putra Syihr: Akhuna Abu Ibrohim Muhammad bin Faroj Ba Roidiy Al ‘Amudiy Asy Syihriy Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di buku beliau “At Tajawwul Fi Ba’dhi Ma ‘Inda Abdillah bin Mar’i Minat Tasawwul”, sebagai berikut:

Abdulloh Mar’i memang ahli dalam mengemis, dan setahuku dia menempuh beberapa metode yang tidak ditempuh oleh orang-orang Jam’iyyat di Syihr (hal. 2).

Di antaranya adalah: dia menyemangati para nelayan untuk berlayar pada hari Jum’at, dan uang yang nanti diperoleh dari hasil tadi digunakan untuk membayar utang yang diambil Abdulloh Mar’i untuk membiayai dauroh tersebut (sebanyak limaratus ribu real Yamaniy). Ini merupakan pemikiran yang belum dikenal di pesisir Hadhromaut kecuali setelah datangnya Abdulloh Mar’i ke Syihr. Dan kegiatan ini telah berlangsung dalam tahun-tahun yang panjang sampai-sampai orang-orangpun merasa bosan dan lari dari Abdulloh Mar’i  dan dakwahnya, kecuali orang-orang yang menyerukan slogan tadi atau orang yang tertipu dengannya. Mereka telah memperoleh uang yang banyak dengan slogan tadi sehingga membikin mereka terkagum-kagum dan menilainya manis. Lalu merekapun mengulang-ulang penyebutan: “Dakwah punya tanggungan Limaratus ribu”. Seakan-akan uang yang mereka hasilkan dari berlayar tadi tidak berpengaruh sama sekali terhadap utang tadi!

Catatan dari Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Mu’awiyah -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Aku mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ فَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ طِيبِ نَفْسٍ فَيُبَارَكُ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ وَشَرَهٍ كَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ».

“Aku ini hanyalah penjaga harta. Barangsiapa aku beri harta tadi dengan senang hati, maka dia akan diberkahi dalam harta tadi. Tapi barangsiapa aku beri karena dirinya meminta dan rakus, maka dia itu bagaikan orang yang makan tapi tidak kenyang.” (HR. Muslim (1047)).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan: Dan berlanjutlah pelayaran tadi, yang mana seluruh uang yang dihasilkannya menjadi milik dakwah, sampai datang dauroh yang kedua. Dan selalu saja “Limaratus ribu yang diambil dengan utang untuk dauroh pertama” itu ada, sementara pelayaran para nelayan selama setahun penuh tidak berpengaruh pada utang tadi! (hal. 4).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ الله عَلَى مَنْ تَابَ ».

“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah uang pastilah dia mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi rongga anak Adam selain tanah. Dan Alloh menerima tobat dari orang yang bertobat.” (HR. Muslim (1048)).

Hakim bin Hizam rodhiyallohu ‘anhu berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ الله  صلى الله عليه وسلم فَأَعْطَانِى، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِى ثُمَّ قَالَ لِى: « يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى». قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لاَ أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا.

“Aku meminta pada Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- maka beliau memberiku, lalu aku minta lagi padanya, maka beliau memberiku, lalu beliau bersabda padaku: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan kedermawanan jiwa, dia akan diberi keberkahan padanya. Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya. Seperti orang yang makan tapi tidak kenyang. Dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.” Maka aku berkata,”Wahai Rosululloh, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tak akan lagi mengurangi harta orang setelah Anda dengan permintaan sedikitpun, sampai saya meninggalkan dunia. (HSR Al Bukhory (2750))

Imam Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahulloh- berkata tentang sabda Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-: (Tapi barangsiapa mengambilnya dengan keinginan dan harapan jiwa, maka tak akan diberkahi untuknya.) “Maka bagaimana dengan orang yang mengambilnya dengan cara meminta? Tentunya lebih jauh dan lebih jauh lagi dari keberkahan.” (“Syarh Riyadhush Sholihin” di bawah no. 524).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan: Ketika para nelayan mengingkari mereka dengan perkataan: “Sampai kapan pelayaran ini sementara utang tidak terlunasi?!!” anak buah Abdulloh Mar’i  tidak mempedulikannya. Hanya saja setelah sekian lama merekapun tidak lagi menyebutkan pembatasan utang sebanyak limaratus ribu. Mereka cuma berkata: “Utang dakwah” tanpa ada pembatasan dengan jumlah tertentu sampai sekarang ini. (hal. 4-5).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ ».

“Barangsiapa meminta harta orang lain dalam rangka memperbanyak harta, maka dia itu sebenarnya hanyalah meminta bara api. Maka silakan menyedikitkan atau memperbanyak.” (HR. Al Bukhoriy (2047) dan Muslim (1041)).

Qobishoh bin Mukhoriq Al Hilaliy -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلاَلِىِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ: «أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا». قَالَ ثُمَّ قَالَ: « يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍأَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍوَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُول ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍأَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍفَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا».

“Aku pernah memikul suatu tanggungan, maka kudatangi Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk meminta beliau membantu melunasinya. Maka beliau bersabda: “Tinggallah di sini sampai datang shodaqoh, maka kami akan memerintahkan mereka untuk memberikannya padamu.” Lalu beliau bersabda: “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang saja: Orang yang memikul suatu tanggungan, halal baginya meminta sampai bisa membayarnya, lalu dia berhenti dari minta-minta. Dan (yang kedua) orang yang tertimpa malapetaka yang menghabiskan hartanya, halal baginya minta-minta sampai bisa tegak hidupnya. Dan (yang ketiga) orang yang tertimpa kemiskinan sampai ada tiga orang berakal dari kaumnya berkata: “kemiskinan telah menimpa si Fulan.” Maka halal baginya minta-minta  sampai bisa tegak hidupnya. Adapun minta-minta yang selain tiga jenis itu –wahai Qobishoh- dia itu adalah keharoman, pelakunya memakannya dengan harom.” (HR. Muslim (1044)).

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan: Dan Abdulloh Mar’i  mengumumkan akan adanya ceramah di desa Mi’yanul Masajidah- desa di Syihr wilayah atas-, ceramah tersebut direkam dalam kaset, tapi kemudian mereka menyembunyikannya sejak hari pertama. Ketika sebagian orang menanyakannya mereka menjawab: “Asy Syaikh Abdulloh memenuhi kaset tadi dengan tasawwul (meminta-minta)([8])”. Setelah selang waktu dari ceramah tadi pergilah Akh Abdulloh ke desa ini untuk membeli tanah yang akan menjadi markiz miliknya. Dia meminta para pemilik tanah untuk untuk membantu dakwah sehingga merekapun menjual tanah tadi dengan harga murah.

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ».

“Anak Adam menjadi renta tapi ada dua kondisi dirinya yang menjadi muda: semangat mencari harta, dan semangat mendapatkan umur panjang.” (HR. Muslim (1047)).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata: “Maka nilai seorang hamba yang paling agung dan paling terhormat di sisi para makhluk adalah jika dia tidak butuh sama sekali pada mereka. Jika engkau berbuat baik pada mereka bersamaan dengan ketidakbutuhan kepada mereka, engkau menjadi makhluk paling agung di sisi mereka. Dan kapan saja engkau butuh kepada mereka –meskipun seteguk air- berkuranglah nilaimu di sisi mereka sesuai dengan kadar kebutuhanmu pada mereka. Dan ini adalah bagian dari hikmah Alloh dan Rohmat-Nya agar ketundukan itu hanya diberikan untuk Alloh, dan tiada sesuatupun yang disekutukan dengan-Nya dst (“Majmu’ul Fatawa” 1/39).

Sungguh Abdulloh Mar’i telah menghinakan dirinya, lalu sekaligus menghinakan dakwah Salafiyyah dengan kegemarannya untuk mengemis. Dakwah ini milik Alloh ta’ala. Alloh telah memerintahkan kita untuk hanya meminta pada-Nya saja, memerintahkan kita menjaga kehormatan diri dan agama-Nya, melarang kita untuk mengemis. Tapi Abdulloh Mar’i dan para tokoh Jam’iyyat selalu saja di hadapan masyarakat menggambarkan dakwah Salafiyyah Islamiyyah berada dalam posisi lemah, hina, dan sangat butuh uluran tangan.

Shodaqoh itu mengandung kerendahan bagi orang yang menerimanya, menurut ucapan para ulama.

Al Imam Ibnu Baththol رحمه الله berkata: “Hanyalah Nabi صلى الله عليه وسلم itu tidak memakan shodaqoh karena shodaqoh itu adalah kotoran-kotoran manusia, dan karena mengambil shodaqoh itu adalah kedudukan yang rendah. Dan para Nabi tersucikan dari yang demikian itu karena beliau صلى الله عليه وسلم itu disifati Alloh ta’ala:

﴿ووجدك عائلا فأغنى

“Dan Alloh dapati engkau itu miskin lalu Alloh membikinmu berkecukupan.”

Dan shodaqoh itu tidak halal bagi orang-orang kaya. Dan ini berbeda dengan hadiah, karena kebiasaan itu berlangsung untuk orang yang diberi hadiah itu membalas pemberian tadi. Dan demikianlah praktek Nabi.”

(selesai penukilan dari “Fathul Bari”/Ibnu Hajar/5/hal. 204).

            Al Munawiy رحمه الله berkata: “Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم memakan hadiah dan tidak memakan shodaqoh” di karenakan di dalam hadiah itu ada pemuliaan dan pengagungan, sementara di dalam shodaqoh itu ada makna kehinaan dan belas kasihan. Oleh karena itulah maka termasuk dari kekhususan beliau adalah beliau diharomkan memakan shodaqoh wajib dan mustahab sekaligus.” (“Faidhul Qodir”/no. (6938)).

            Sekalipun shodaqoh itu halal untuk umat ini –selain Nabi dan ahli bait beliau-, akan tetapi tetap saja di dalamnya ada nilai kehinaan, sebagaimana telah lewat dalil-dalil dan ucapan para ulama tentang hal itu.

            Al Imam Ibnul Arobiy Al Malikiy رحمه الله berkata menukilkan pendapat sebagian ulama: “Berdasarkan penelitian dalam masalah shodaqoh, bahwasanya keadaan dalam shodaqoh itu berbeda-beda antara keadaan orang yang memberi, dan orang yang diberi, dan orang-orang yang menyaksikan shodaqoh tadi. Adapun si pemberi, maka dia mendapatkan faidah keutamaan menampakkan sunnah dan pahala keteladanan. Penyakit yang mengancam adalah: riya, suka menyebut-nyebut pemberian, dan menyakiti orang yang diberi. Adapun orang yang diberi shodaqoh, maka menerima shodaqoh tadi dengan rahasia adalah lebih selamat bagi dia dari penghinaan orang, atau orang-orang akan menuduhnya mengambil shodaqoh padahal dia itu berkecukupan, dan dia dituduh tidak ‘iffah (menjaga diri dari kerendahan). Adapun keadaan manusia, maka shodaqoh secara rahasia tanpa diketahui oleh mereka itu lebih utama daripada shodaqoh terang-terangan karena bisa jadi mereka akan menuduh si pemberi itu riya, dan menuduh si penerima sebenarnya tidak butuh. Dan keutamaan shodaqoh terang-terangan adalah bisa menggerakkan hati-hati orang untuk bershodaqoh.” (“Ahkamul Qur’an”/Ibnul Arobiy/1/hal. 472).

            Dan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun memberikan shodaqoh pada orang-orang miskin, maka di dalam perahasiaannya itu ada faidah menutupi aib dirinya dan tidak membikinnya malu di tengah-tengah manusia karena shodaqoh padanya secara terang-terangan itu bagaikan membongkar kekurangan dirinya karena orang akan melihat bahwasanya tangannya itu adalah tangan yang di bawah, dan bahwasanya dia itu tak punya apa-apa, sehingga nanti orang jadi tidak suka berhubungan dan transaksi dengan dirinya. Dan perahasiaannya adalah merupakan nilai tambah dalam berbuat baik pada dirinya dengan sekedar shodaqoh, disertai juga ada kandungan keikhlasan dan tidak riya serta tidak mencari pujian dari manusia. Dan perahasiaan shodaqoh pada orang miskin itu lebih baik daripada terang-terangan di tengah-tengah manusia.” (“Thoriqul Hijrotain”/hal. 555-556).

 

Dengan ini semakin jelaslah bahwasanya Abdulloh Mar’iy dan yang semisalnya telah membikin dakwah Islamiyyah Salafiyyah itu terhinakan dengan kegemaran mereka mengemis atas nama kefaqiran dakwah.

 

Lalu Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- melanjutkan:

Ketika wakil si Mar’i menyemangati mereka –para nelayan- untuk berlayar bersama pada hari itu, hanya dua orang saja yang menyetujui, sementara sisanya menolak. Maka berkatalah sang wakil tadi di hadapan orang-orang: “Di manakah kecintaan mereka pada dakwah?! Apakah mereka mencintai dakwah?! Salam sejahtera buat Shufiyyah, salam sejahtera buat hizbiyyah.” (hal. 5).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Sahl Ibnul Handholiyyah rodhiyallohu ‘anhu berkata:

َقَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- «مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ». –وفي رواية- «مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ». فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله وَمَا يُغْنِيهِ –وفي رواية- وَمَا الْغِنَى الَّذِى لاَ تَنْبَغِي مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ: «قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ». –وفي رواية- «أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa meminta-minta, dan di sisinya ada sesuatu yang telah mencukupinya, maka dia itu hanyalah sedang memperbanyak api.” –dalam riwayat lain: “Dari api Jahannam” Maka mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu sesuatu yang telah mencukupinya?” dalam riwayat lain: “Apa itu kekayaan yang dengan tidak diperbolehkan meminta-minta?” Beliau menjawab,“Sekadar makan siang, atau makan malam.” dalam riwayat lain: “Yang bisa mengenyangkannya sehari semalam.” (HR Abu Dawud (5/hal. 177) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh-).

عن رجل من بني أسد أنه سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ سَأَلَ مِنْكُمْ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ أَوْ عَدْلُهَا فَقَدْ سَأَلَ إِلْحَافًا ». قَالَ الأَسَدِىُّ فَقُلْتُ لَلَقِحَةٌ لَنَا خَيْرٌ مِنْ أُوقِيَّةٍ وَالأُوقِيَّةُ أَرْبَعُونَ دِرْهَمًا.

Salah seorang dari Bani Asad berkata bahwasanya dirinya mendengar  Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa dari kalian meminta-minta, padahal dirinya memiliki satu uqiyyah atau yang semisal dengannya, maka sungguh dia telah meminta dengan merengek-rengek.” Maka berkatalah orang Bani Asad ini: “Aku sungguh memiliki onta betina yang tentu saja lebih baik daripada satu uqiyyah”. Dan satu uqiyyah adalah empat puluh dirham.” (HR. Abu dawud (5/hal. 175) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh-).

Terus-menerus Abdulloh Mar’i dan anak buahnya mengemis dengan memakai dakwah. Apakah mereka pura-pura lupa dengan dalil-dalil di atas, yang menunjukkan bahwasanya dakwah seperti itu menyelisihi jalan Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam-? Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu- menyebutkan kisah pembangunan masjid Nabawy:

وأنه أمر ببناء المسجد فأرسل إلى ملأ من بني النجار فقال: «يا بني النجار ثامنوني بحائطكم هذا». قالوا: لا والله لا نطلب ثمنه إلا إلى الله.

“… dan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk membangun masjid. Maka beliau mengirimkan utusan kepada Bani Najjar seraya berkata: “Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini.” Tapi mereka berkata,”Tidak, demi Alloh kami tidak meminta harganya kecuali kepada Alloh.” (HR. Al Bukhory dan Muslim).

Bahkan Abdulloh Mar’i dan pengikutnya telah menyelisihi jalan dakwah para Nabi –shollallohu ‘alaihim wasallam-. Alloh ta’ala berfirman menukil dari nabi Nuh –‘alaihis salam-:

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الله [هود : 29]

“Dan wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini harta. Tidaklah upahku kecuali tanggungan Alloh.” (QS. Hud: 29).

Dan secara khusus mereka tidak minta upah atas dakwah mereka. Alloh ta’ala berfirman menukil dari Nabi Hud –‘alaihis salam-:

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلَا تَعْقِلُونَ [هود : 51]

“Wahai kaumku, aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah. Tidaklah upahku kecuali tanggungan Dzat yang menciptakan aku. Maka apakah kalian tidak berpikir?” (QS. Hud: 51).

Dan Alloh ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِين [الأنعام : 90]

“Katakanlah: Aku tidak meminta pada kalian dengan dakwah ini upah. Tidaklah dakwah ini kecuali peringatan untuk seluruh alam.” (QS. Al An’am: 90).

Seakan-akan ciri khas ini –tidak minta upah- telah melekat di dalam dakwah para Nabi dan Rosul, dan menjadi alasan yang mendorong orang-orang berakal untuk menerimanya. Alloh ta’ala berfirman:

َجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ * اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ [يس : 20 ، 21]

“Dan datanglah seorang pria dari ujung kota itu dengan bergegas seraya berkata: Wahai kaum, ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah, dan mereka itu mendapatkan petunjuk.” (QS. Yasin: 20-21).

Anak buah Abdulloh Mar’i juga memanfaatkan rasa malu para nelayan untuk menyumbangkan harta dengan jumlah yang sedikit. Demikian juga yang terjadi di sekolah anak-anak yang mereka selenggarakan. Lihat secara lengkap dan terperinci pada hal. 6 risalah “At Tajawwul”.

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Mereka telah menyiarkan di masyarakat pada awal penyelenggaraan sekolah tersebut (sekolah anak-anak) bahwasanya pendidikan yang dilaksanakan di sekolah tersebut akan BERSIFAT GRATIS. Ternyata di kemudian hari Abdulloh Mar’i  mengumpulkan orang tua anak-anak tadi, menasihati mereka, mengarahkan mereka, dan kemudian menjelaskan pada mereka tentang kondisi dakwah, kebutuhannya, dan hutang-hutang yang dipikulnya. Juga menjelaskan bahwasanya para pengajar butuh gaji. Lalu dia menyodorkan ide pada mereka agar orang yang mampu hendaknya membayar limaratus real Yamaniy tiap bulan per murid. Mereka (Abdulloh Mar’i dan pengikutnya) memanfaatkan rasa malu sebagian orang tua, karena sebagian dari mereka merasa malu untuk menyodorkan limaratus real per bulan, makanya mereka menyodorkan lima ribu per bulan! Sebagian dari mereka membayar empat ribu per bulan atas nama anaknya. (hal. 6).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Abdulloh bin Mar’i telah meminta kepala Jam’iyyah Shoyyadil Khour (jam’iyyah nelayan yang ada di Khour) di Syihr agar Jam’iyyah ini ikut ambil bagian menyumbang pembangunan atap yang tinggi dari masjid “At Taqwa”, maka sang kepala memberinya seratus ribu real.

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: telah lewat penyebutan dalil yang menunjukkan bahwasanya perbuatan ini –meskipun banyak yang melakukannya- termasuk penyelisihan terhadap jalan dakwah Rosululloh saw. Al Imam Al Wadi’iy rohimahulloh berkata: “Demikian pula dalam membangun masjid. Tidak boleh menghinakan diri, menghinakan ilmu dan dakwah demi membangun masjid. Rosul –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika ingin membangun masjid bersabda:

«يا بني النّجّار ثامنوني بحائطكم»،

“Wahai bani Najjar, kasih aku harga untuk kebun kalian ini.”

Yaitu: beliau mau membangun masjid di situ. Tapi mereka berkata,”Tidak, justru kebun ini untuk Alloh dan Rosul-Nya.” Seseorang itu mungkin saja untuk membangun masjid dari tanah liat dan bata dengan dana sekitar seratus ribu real Yamaniy. Dan waktu yang dipakainya untuk meminta-minta bisa digunakannya untuk memakmurkan masjid, beramal di situ, dan mengajak orang untuk bekerja dengan tangan-tangan mereka. Harta yang di situ ada penghinaan terhadap ilmu dan dakwah ilalloh, atau dakwah kepada hizbiyyah, atau menggunakan masjid-masjid untuk mengemis, maka kami tidak membutuhkannya.” (“Dzammul Mas’alah”/hal. 217).

            Para hizbiyyun Mar’iyyun Luqmaniyyun menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله menyelisihi jalan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله padahal mereka itu yang keluar jauh dari jalan Rosululloh dan para imam Salaf dan Al Imam Al Wadi’iy.

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Setelah mereka menerima uang tadi yang maunya dipakai untuk membangun atap bangunan tinggi  masjid, ternyata sampai saat ini (sekitar tahun 1428 H) mereka tidak juga melaksanakan pembangunannya sedikitpun padahal sudah lewat hampir tiga tahun. (hal. 6-7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semoga mereka tidak sampai terkena hadits Khoulah Al Anshoriyyah -rodhiyallohu ‘anha-: Aku mendengar Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

«إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ الله بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya ada orang-orang yang mempergunakan harta Alloh tanpa alasan yang haq, maka mereka berhak mendapatkan neraka pada hari kiamat.” (HR. Al Bukhoriy (3118)).

            Nanti di padang Mahsyar para hamba Alloh insya Alloh bisa menyaksikan siapakah yang datang sambil memikul uang-uang korupsian.

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Mereka memanfaatkan rasa malu sebagian anggota jam’iyyah Shoyyadil Khour di Syihr dalam kasus pencatatan nama orang-orang yang mau menyumbang Darul Hadits di Syihr dan memanfaatkan rasa takut mereka untuk dituduh sebagai orang pelit. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Mestinya dia dan semisalnya merasa malu memakai nama besar Al Imam Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- tapi menyelisihi ajarannya yang syar’iy-salafiy. Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata: “Bahkan telah sampai padaku beberapa hari yang lalu uang sebanyak lima belas real Su’udiy. Kutanyakan: “Ini dari mana?” mereka menjawab,”Dari sekelompok buruh yang bekerja, lalu mengharuskan setiap orang Dari mereka untuk mengumpulkan sumbangan seratus real per bulan.” Kukatakan:”Sampaikanlah salamku buat mereka, dan katakan pada mereka: perbuatan seperti ini tidak disyariatkan. Uang ini telah sampai kemari, tapi lain kali jangan lagi mereka melakukannya. Barangsiapa dimudahkan punya uang dan berhasrat untuk membantu dakwah silakan membantu. Adapun yang seperti ini tidaklah dulunya Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- melakukannya. Kami memuji Alloh subhanahu wata’ala atas apa yang dipersiapkannya dan dimudahkan-Nya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 483).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan perbuatan Abdulloh Mar’i:

Mendaftar nama para pedagang untuk mengambil dana dari mereka atas nama dakwah, bahkan para pedagang dari kawasan Teluk. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Abdulloh bin ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

«مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ».

“Senantiasa seseorang itu meminta pada orang lain sampai dia datang pada hari kiamat dalam keadaan di wajahnya tiada potongan daging.” (HR. Muslim (2445)).

Al Imam An Nawawy -rahimahulloh- berkata: “Maksud dari bab ini dan hadits-haditsnya adalah larangan dari meminta-minta. Dan para ulama telah bersepakat dalam larangan ini, jika bukan dalam keadaan darurat. Adapun masalah orang yang mampu untuk bekerja tapi dia meminta-minta, para sahabat kami –Asy Syafi’iyyah- berselisih menjadi dua pendapat. Yang paling shohih adalah dia itu harom, berdasarkan lahiriyah dari hadits-hadits tersebut. Dan pendapat yang kedua: halal tapi dibenci, dengan tiga syarat: tidak sampai dia merendahkan dirinya, tidak berbuat “ilhah” (merengek-rengek) dalam meminta, dan tidak menyakiti atau mengganggu orang yang dimintai. Apabila salah satu dari syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka dia itu harom secara kesepakatan. Wallohu a’lam. (“Syarh Shohih Muslim” 3/488).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Pada sebagian kesempatan pergilah Abdulloh Mar’i dan Abdulloh Ba Sa’d ke sebagian orang yang mengirimkan uang padanya dari para saudagar Teluk. Lalu keduanya setelah zhuhur berdiri di luar rumah pemilik uang tadi menunggunya, meskipun harus berdiri di terik matahari. (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh- meriwayatkan dari Wahb bin Munabbih –rohimahulloh- yang berkata pada ‘Atho Al Khurosaniy: “Dulu para ulama sebelum kita merasa cukup dengan ilmu mereka dari dunia orang lain. Dulu mereka tidak menoleh kepada dunia mereka. Makanya ahli dunia mencurahkan dunianya untuk ulama tadi karena berhasrat mendapatkan ilmu mereka. Sekarang jadilah ulama dari kalangan kita mencurahkan ilmu mereka kepada ahlu dunia karena berhasrat kepada dunia mereka. Maka jadilah ahlu dunia telah merasa tidak butuh kepada ilmu mereka karena melihat jeleknya posisinya di sisi mereka. Maka hindarilah olehmu pintu-pintu para penguasa, karena sungguh ada fitnah di pintu-pintu mereka, bagaikan tempat mendekamnya onta. Tidaklah kamu mengambil dunia mereka sedikitpun kecuali mereka akan mengambil semisalnya dari agamamu.” (“Asy Syari’ah”/oleh Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh-/no. 70).

Lalu Al Imam Al Ajurriy –rohimahulloh- berkata: “Jika dulunya ditakutkan pada para ulama pada zaman itu untuk terfitnah dengan dunia, maka bagaimana dugaanmu pada zaman kita ini? Wallohul musta’an, alangkah besarnya fitnah yang menimpa ulama dalam keadaan mereka melalaikannya.”

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: sesungguhnya fitnah dan kebatilan itu datang perlahan-lahan. Jika Abdulloh Mar’i sudah siap untuk berdiri di bawah terik matahari demi uang para saudagar –padahal dia masuk dalam jajaran ulama-, maka bukan mustahil suatu saat keadaannya bisa seperti yang diucapkan Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- tentang keadaan sebagian hizbiyyin:

 “… dan khususnya jika engkau adalah seorang pedagang, maka dia siap untuk mengambil sorbannya dan menghapus debu yang ada di kedua sandalmu. Atau jika kamu punya sedikit kekuasaan, atau kamu adalah seorang pemimpin yang diikuti, maka mereka siap untuk membuntutimu sampai bisa merekrutmu dan menjaringmu.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 151).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Terkadang Abdulloh Mar’i berutang kepada sebagian pedagang sampai ke batas tertentu. Manakala tiba saat pembayaran dia berkata pada mereka: “Jadikanlah utangku tadi bagian dari zakatmu.” (hal. 7).

Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: subhanalloh, licik sekali ulama kebanggaan Luqmaniyyun tadi dalam membikin tipu muslihat. Bisa jadi semakin lama nanti orang-orang akan takut untuk meminjamkan uang mereka karena khawatir bahwasanya si peminjam telah kursus “Kiat Jitu Dalam Berkelit Dari Penagih Utang” dari Asy Syaikhul Kabir Abdulloh Mar’iy.

Dan bacalah di risalah “At Tajawwul” hal. 8 tentang keunikan Abdulloh Mar’i dalam mengemis kaset dan tape recorder yang baru dan lama di masjid “At taqwa”, dan juga masjid “Abdurrohim” di Syihr.

Al Imam Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata: “Ya Alloh, alangkah banyaknya da’i besar yang menghapal ayat-ayat yang mengandung penyemangatan untuk bershodaqoh, dia pindah dari masjid ini ke masjid itu, membacakan:

﴿وما تقدّموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرًا وأعظم أجرًا

“Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh dengan yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.”

Dan berbaliklah si miskin ini dari posisi da’i kepada posisi pengemis. Sungguh benar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam- ketika bersabda:

((لكلّ أمّة فتنةً، وفتنة أمّتي المال)).

“Setiap umat itu punya fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”

(“Dzammul Mas’alah”/hal. 218).

Selanjutnya Abu Ibrohim Muhammad Ba Roidiy –hafizhohulloh- menyebutkan:

Penyewaan bis dakwah untuk menghadiri ceramah-ceramah. Jika ada sisa uang kembalian milik si penumpang seperti lima puluh, atau tiga puluh real dan sebagainya. Maka berkatalah si penarik uang: “Sisa uang bis dari penumpang adalah untuk dakwah.” Yaitu: tinggalkanlah uang kembalian tadi buat dakwah. Maka si penumpangpun malu, meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak mengambilnya. (hal. 9).

Juga menyebutkan:

 Mereka memanfaatkan sisa dari uang pembeli sayur dan sebagainya seraya berkata: “Tinggalkanlah uang kembaliannya untuk dakwah.” Maka sang pembelipun malu, meninggalkan uang sisa tadi, dan tidak mengambilnya. Demikianlah hal itu berlangsung sekian lama. Dan pada masa-masa terakhir dan setelah toko tadi dirubah jadi perserikatan saham merekapun meninggalkan cara tadi. (hal. 9).

Inilah contoh ringkas dari proyek mengemis si Abdulloh Mar’i yang dilakukannya dan anak buahnya di Syihr. Semuanya secara rinci berjumlah dua puluh poin. Sebagiannya dilakukan di Syihr bagian atas. Belum lagi proyek minta-minta yang dilakukannya di Saudi dan sebagian Negara Teluk sampai sekarang.

Para ulama Salaf -rohimahumulloh- sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ‘iffah (kehormatan diri) sebagaimana yang diajarkan oleh Alloh ta’ala, dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan tidak mau menghinakan diri dengan mengemis kecuali jika terpaksa.

Abul ‘Aliyah -rahimahulloh- berkata:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ وَكَانَ ثَوْبَانُ مَوْلَى رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَكَفَّلَ لِى أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلَ لَهُ بِالْجَنَّةِ ». فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا. فَكَانَ لاَ يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا. (أخرجه أبو داود ج 5 / ص 195)

“Dari Tsauban –dan beliau adalah maula dari Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam—yang berkata: Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Siapakah menjamin kepadaku untuk tidak meminta pada manusia sedikitpun, dan aku menjamin untuknya dengan Jannah?” Maka Tsauban berkata,”Saya”. Dan Tsauban tak pernah meminta kepada seorangpun sesuatu apapun.” (HSR Abu Dawud/5/hal. 195 dan dishohihkan oleh Imam Al Wadi’y -rahimahulloh-)

‘Auf bin Malik Al Asyja’iy rodhiyallohu ‘anhu berkata:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً فَقَالَ: « أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله » وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله. ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ الله ». قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ الله فَعَلاَمَ نُبَايِعُكَ قَالَ: « عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا الله وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَتُطِيعُواوَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةًوَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا ». فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ .

“Kami pernah ada di sisi Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam-, sembilan, atau delapan atau tujuh orang. Maka beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”, padahal kami baru saja membai’at beliau. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami berkata,”Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh.” Lalu beliau bersabda:“Berbai’atlah kalian kepada Rosululloh”. Maka kami mengulurkan tangan kami seraya berkata,” Kami telah membai’at Anda wahai Rosululloh. Maka kami membai’at Anda untuk berbuat apa?” Beliau bersabda:“Agar kalian beribadah pada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan untuk sholat lima waktu, dan agar kalian taat.” Dan beliau berbicara dengan lirih: “Dan agar kalian tidak meminta pada manusia sedikitpun.” Maka sungguh aku melihat sebagian dari rombongan tadi, cambuk dari salah seorang dari mereka terjatuh. Maka dia tidak meminta pada seorangpun untuk mengambilkannya untuknya.” (HSR Muslim /1043)

Dari Ummud Darda’ -rahimahalloh-, beliau berkata:

قال لي أبو الدرداء : لا تسألي الناس شيئا ، قالت : فقلت : فإن احتجت ؟ قال : فإن احتجت فتتبعي الحصادين فانظري ما سقط منهم فاخبطيه ثم اطحنيه ثم كليه، ولا تسألي الناس شيئا 

“Abud Darda’ –rodhiyallohu ‘anhu – berkata padaku,”Janganlah engkau meminta pada manusia sedikitpun.” Maka aku bertanya,”Kalau aku berhajat?” Beliau menjawab,”Jika engkau berhajat, maka ikutlah di belakang para tukang panen, lalu lihatlah apa yang berjatuhan dari bawaan mereka, lalu pungutlah ia, masaklah dan makanlah, dan jangan kau meminta pada manusia sedikitpun.” (“Az Zuhd”/2/291/ Imam Ahmad -rahimahulloh-, dan dishohihkan Syaikhuna Yahya Al Hajury – hafidzahulloh – di tahqiq “As Sunanul Kubro” Imam Al Bauhaqy -rahimahulloh-)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata: “Hadits-hadits telah mutawatir bahwasanya Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- mengharomkan minta-minta pada manusia kecuali di saat darurat.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 316).

Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy –rohimahulloh- berkata: “Para ulama telah sepakat bahwasanya meminta-minta itu harom.” (“Al Iqna’ Fi Masailil Ijma’”/7/3/hal. 397).

Dan mengemis atas nama dakwah sudah menjadi sifat kebanyakan hizbiyyun, bukan sifat Ahlussunnah Wal Jama’ah. Al Imam Al Wadi’iy –rohimahulloh- berkata: “Sebenarnya mereka itu sungguh telah memperburuk citra dakwah –sampai ucapan beliau:- niat-niat telah menjadi jelek karena dunia. Dulu orang-orang propinsi Ibb mendatangiku dan berkata: “Wahai Abu Abdirrohman, katakanlah pada Al Ustadz Muhammad Al Mahdi agar mau duduk untuk kami di masjid dan mengajari kami ilmu.” Dulu aku berbaik sangka padanya. Demikian pula mereka berbaik sangka padanya. Kukatakan padanya yang demikian itu tapi dia menolak. Kami tidak tahu bahwasany dirinya itu gemar bepergian demi mengumpulkan dinar-dinar dan harta. Tidaklah kamu dengar berita tentang dirinya kecuali dia itu sudah ada di Negara Qothor, terkadang di Saudi, dan suatu kali di Amerika. –sampai ucapan beliau:- lalu datanglah ‘Aqil (Al Maqthoriy) dan berkata: Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan kedua jari ini.” Dan datang Muhammad Al Mahdi dan berkata: “Dan kebaikan apapun yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri, kalian akan mendapatkannya di sisi Alloh.” Dan lihatlah majalah pengemis: Majalah “Al Furqon”. Apakah kalian mendapatkan edisi yang di situ tidak ada sikap mengemis?” (lihat lengkap di “Tuhfatul Mujib”/hal. 75-79).

Bab Empat:

Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis

Di antara metode dakwah yang batil adalah meminta-minta setelah ceramah. Ini merupakan gaya hizbiyyin dan beberapa kelompok ahlul bida’. Sudah banyak fatwa Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- tentang hal itu. Beliau pernah ditanya:

“Ada seseorang yang datang ke Amerika dan menisbatkan dirinya kepada Ahlussunnah. Di antara mereka adalah ‘Aqil Al Maqthory. Dia berkhothbah di beberapa masjid, dan setelah itu dia berdiri untuk mengumpulkan sumbangan buat jam’iyyah. Maka apa hukum perbuatan itu?

Maka beliau menjawab: “Dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah materiil keduniaan, untuk mengumpulkan harta. Pernah pada suatu hari kami keluar untuk berdakwah, dan keluarlah bersama kami Abdulloh An Nahmy -rahimahulloh- -beliau telah terbunuh di Afganistan- dan juga Abdul Wahhab besan Hizam Al Bahluly. Dan mereka berkata,”Kami akan meminta sumbangan. Maka kami berkata,”Ini bukanlah alamat Ahlussunnah.” dst (“Tuhfatul Mujib” hal. 75 dst)

Al Imam Al Wadi’i rohimahulloh berkata dalam masalah minta-minta: “Dan bukanlah kami mendakwahi manusia untuk mengambil harta mereka. Kalaupun engkau pergi ke negri manapun dari negri-negri Islam engkau tak akan melihat seorang sunni yang berdiri dan memberikan nasihat kepada manusia hingga membikin mereka menangis, lalu setelah itu dia menggelar sorbannya di pintu.” (“Tuhfatul Mujib” hal. 75-76).

Beliau rohimahulloh juga berkata: “Telah mengabariku seorang saudara  yang datang dari Amerika bahwasanya mereka itu (tokoh-tokoh hizbiyyun yang tersebut sebelumnya) berkeliling di Amerika, menyampaikan ceramah-ceramah dan berkata (Menyebut sabda Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam-): “Aku dan pengasuh anak yatim bagaikan kedua jari ini.” Maka seseorang berdiri menghadap mereka -dan dia menginginkan pengumpulan bantuan buat Bosnia dan Herzegovina- seraya berkata pada mereka, “Pengasuh yatim adalah orang yang benar-benar mengasuhnya, bukan orang yang mengemis.” Maka terjadilah pertengkaran di antara mereka karena dunia. Dakwah jika dimasuki hasrat-hasrat duniawi itu kecil barokahnya. (Alloh ta’ala berfirman yang artinya:) “Ketahuilah: Hanya milik Alloh sajalah agama yang murni.” Dan berfirman: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Alloh dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 147).

Masjid adalah rumah Alloh ta’ala yang di situ wajib para hamba mengagungkan Alloh ta’ala, dan memuliakan agama-Nya. Adapun mempergunakan masjid untuk sarana mengemis dan agar dakwah itu dikasihani, maka ini merupakan pelanggaran dari tujuan di atas.

            Al Imam Al Khollal meriwayatkan dari Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله bahwasanya beliau sholat di suatu masjid. Lalu bangkitlah seorang pengemis seraya meminta-minta. Maka Abu Abdillah berkata: “Keluarkanlah dia dari masjid, orang ini berdusta atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم .” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/2/hal. 159).

Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- di antara fatwanya adalah: “Ambil saja oleh kalian pengeras suara dan keluarlah ke jalan-jalan. Adapun rumah-rumah Alloh, maka dia itu dibangun untuk dzikrulloh, dan bukan dibangun untuk mengemis. Dan aku katakan: Orang ini, yang berdiri di masjid untuk mengemis dia harus dikeluarkan dari masjid” dst (“Ghorotul Asyrithoh” 1/536-537).

Bab Lima:

Abdulloh Mar’i Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah

Semula ana hendak merincikan sekian banyak proyek yang yang dikelola oleh Abdulloh Mar’i , baik secara langsung ataupun secara perwakilan, sebagaimana ditulis oleh Akhuna Muhammad Ba Roidiy Al Hadhromiy –hafizhohulloh- dalam kitab beliau “Nubdzatun Mukhtashoroh”. Akan tetapi himpitan kesibukan dan minimnya tenaga memaksa untuk tidak bisa melakukan itu. Barangsiapa ingin memperdalam itu, bisa membaca mayoritasnya di “Mukhtashorul Bayan”, telah diterjemahkan dan dicetak, jazahumullohu khoiro, maka ana tak perlu lagi mengulangnya. Apa yang disebutkan di situ telah sangat cukup sebagai bukti bahwasanya orang ini adalah pecinta dunia, tapi berlindung di balik jubah “Demi Dakwah”. Dan ini merupakan metode para hizbiyyin.

Syaikhuna Abu Bilal Kholid Al Hadhromiy –hafizhohulloh- telah menasihatinya: “Lihatlah kenyataan para hizbiyyin, darimana masuknya kejelekan kepada mereka? Dari mana mereka tertimpa musibah? Kepada musibah yang mana mereka beranjak? Asy Syaikh Abdulloh Mar’i telah memperluas proyek-proyek, dan memperbanyak alasan bahwasanya dakwah ini sedang butuh, tiada orang yang membantu kita, dan udzur-udzur dingin yang lain. seseorang itu jika telah berhasrat pada sesuatu dia akan menempuh jalan yang susah ataupun mudah. Untuk mencari udzur yang membolehkan perbuatannya.” (“Naqdhur Rodd” hal. 11).

Dikarenakan banyaknya kesibukan duniawi melemahlah perhatian Abdulloh Mar’i terhadap majelis ilmu para muridnya dari kadar yang semestinya dia berikan sebagai pemilik markiz dakwah, apalagi dia telah dimasukkan ke dalam jajaran ulama dakwah Salafiyyah. Kecilnya perhatian dirinya untuk mengajari muridnya secara rutin telah berkali-kali disebut oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh-, dan juga dibahas oleh Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy –hafizhohulloh- di risalah beliau “Al Manzhorul Kasyif” hal. 4. Demikian pula dikatakan oleh Akhuna Abu Sholih Dzakwan Al Maidaniy Al Indonesiy dan yang lainnya –hafizhohumulloh- yang sempat belajar di markiz Syihr.

            Di dalam risalah “Mulhaqun Manzhor” hal. 8 Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy –hafizhohulloh- mengisyaratkan juga bahwasanya Abdulloh Mar’i tersibukkan dari memperdalam ilmu, mencurahkan perhatian ke ilmu dan penyebarannya karena proyek-proyek bisnis tadi.

Di antara buktinya adalah ketika dia datang ke pedalaman Hadhromaut setelah ‘Idul Adha pada tahun 1427 H, setelah menyampaikan ceramah pada hari Kamis dan Hari Jum’at diumumkanlah dua ceramah yang lain untuk hari Sabtu dan Ahad, tapi ternyata dia tidak menghadirinya, dalam keadaam dia masih berada di situ juga -pedalaman Hadhromaut-, ternyata penyebabnya adalah kesibukannya untuk membeli sebuah mobil yang bersih. (“Mulhaqun Manzhor” hal. 4).

Kita tidak mengharomkan para hamba Alloh untuk berdagang. Hanya saja banyaknya proyek bisnis Abdulloh Mar’i dan beraneka ragamnya metode mengemis yang ditempuhnya, dan juga semangatnya jalan-jalan untuk merauh uang dari para saudagar menunjukkan kerakusan jiwanya terhadap harta. Padahal dia dimasukkan ke dalam jajaran ulama. Dia juga gemar membawa bendera Salafiyyah yang tidak mungkin akan tegak kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Sampai-sampai hampir gelar “Syahbandar Abdulloh” mengalahkan julukan “Asy Syaikh Abdulloh” dikarenakan banyaknya perdagangannya.

Makanya yang lebih pantas untuk dituduh merusak jalan dakwah Al Imam Al Mujaddid Muqbil Al Wadi’iy –rohimahulloh- adalah Abdulloh dan saudaranya. Adapun Syaikhuna Yahya Al Hajuriy –hafizhohulloh- justru tokoh yang paling setia dan tegar dengan Dakwah Salafiyyah yang dipancangkan oleh Imam –rohimahulloh- tersebut.

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين

Dammaj, 16 Rojab 1434 H

 

Daftar Isi

Kata Pengantar. 2

Bab Satu: Bahaya Yang Terjadi Jika Ahlul Haq Melemah Dalam Memerangi Kebatilan   5

Bab Dua: Dukungan Abdulloh Al Mar’i terhadap Abul Hasan Al Mishriy. 9

Bab Tiga: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah   24

Bab Empat: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis. 43

Bab Lima: Abdulloh Mar’i Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah. 45

Daftar Isi 48

 


([1]) Tulisan ini dikeluarkan sebelum wafatnya Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh-.

([2]) Abu Fairuz berkata waffaqohulloh: dia itu (sebagaimana pengakuannya sendiri) telah tahu kebatilan Abul Hasan. Jika memang dia itu membencinya (dan wajib baginya untuk membencinya) kenapa membiarkan teman-teman dekatnya mengikuti Abul Hasan?

([3]) Kata Abu Fairuz waffaqohulloh: harom baginya untuk melarang penyebaran tahdzir ulama terhadap kebatilan Abul Hasan. Adapun penampilan dirinya untuk melarang tulisan-tulisan pihak Abul Hasan, maka yang demikian itu hanyalah kamuflase belaka. Silakan ikuti terus pemaparan Syaikh Al ‘Amudiy agar makin jelas bagi kita bahwasanya Abdulloh itu termasuk Hasaniyyun.

([4]) Makna ushuliy: Ahli ushul fiqh. Ini diucapkan oleh Asy Syaikh Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- karena Abdulloh Mar’i dalam malzamahnya “Mi’yar” membangga-banggakan hikmah dan ilmu ushul fiqhnya.

([5])  Abu Fairuz  waffaqohulloh menjawab: karena Abdulloh demi syiar “maslahat dan mafsadah” lebih memilih mengurusi bisnis dan mengemis atas nama dakwah, sebagaimana akan datang penjabarannya dalam bab berikutnya.

([6])  Demikianlah lafazhnya di “Zajrul ‘Awi/3/hal. 33. Adapun Abu Umar Ahmad Al Hadhromiy –hafizhohulloh- berkata: yang benar adalah Adil Ba Faqih. Wallohu a’lam.

([7]) Asy Syaikh Muhammad Al ‘Amudiy –hafizhohulloh- berkomentar: saudara dia Abdurrohman Mar’i si ular belang juga berkata semacam ini.

([8]) Catatan Abu Fairuz –waffaqoniyallohu-: anak buah Abdulloh Mar’i telah mahir mengemis dan terbiasa dengan ajaran dari syaikhnya tersebut. Tapi entah seperti apa isi ceramah tadi sehingga mereka malu untuk menyebarkan kasetnya.