Pt

DOWNLOAD Pdf !

Pedang Tajam Membabat

Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)

(bagian ketiga)

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:

“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh

(Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

 

Terjemah Bebas:

“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)”

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

 

 

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya


 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Bagian Ketiga

          الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan penerjemahan bagian ketiga.

            Dan para pembaca yang diberi taufiq dan lebih mengutamakan dalil, hujjah dan akal sehat akan bisa melihat insya Alloh bahwasanya Alloh meruntuhkan satu-persatu syubuhat dan tuduhan Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat. Alloh ta’ala berfirman:

{ بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ } [الأنبياء: 18]

“Bahkan Kami melemparkan kebenaran pada kebatilan, maka dia menghancurkan, maka tiba-tiba saja kebatilan tadi lenyap. Dan kalian mendapatkan kecelakaan dikarenakan apa yang kalian sifatkan.”

            Adapun orang yang dibutakan oleh fanatisme dan kebesaran nama tokoh, maka dia akan berusaha membohongi dirinya sendiri dan menutupi kebenaran dan berusaha melarang orang dari membacanya.

Bab Enam Belas:

Kedustaan Luqman Bahwasanya Asy Syaikh Yahya Mencerca Sebagian Shohabat رضي الله عنهم

Luqman berkata: “Dan belum lagi pernyataan Al Hajuriy dan tuduhannya bahwa sebagian Shohabat itu berandil dalam pembunuhan Kholifah Utsman. Masya Alloh.” Abdulloh Al Bukhoriy berkata menukilkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله : (Dan bahwasanya di antara Shohabat ada yang bersekutu dalam membunuh Utsman” lalu si Bukhoriy ini mencaci Asy Syaikh Yahya dengan berkata: “Dia dusta dan fujur dan mulutnya dimasuki batu.”

            Jawab kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut: tuduhan ini sebagaimana yang lainnya, diwarisi Luqman Ba Abduh dan Abdulloh Al Bukhoriy dari para ahli ahwa yang fasiq seperti Arofat Al Bashiriy. Dan sejumlah harimau salafiyyin telah bangkit membantah syubuhat dan tuduhan-tuduhan tersebut -baik secara total, ataupun sebagiannya-, seperti:

1-    Asy Syaikh Abu Hatim Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy رحمه الله , (Ar Rodd ‘Ala ‘Arofat),

2-    Abu Abdillah Rosyid ibnul Hadhr Al Jazairiy (Ad Dalailul Bayyinat Fi Anna Ma Nasabahul Muftari Arofat Wa Ghoiruhu Li Syaikhina Yahya Kadzib Waftiyat),

3-    Abu Yusuf Najib bin Abdah Asy Syir’abiy

4-    Abu Umaimah Abdush Shomad Al Maghribiy (“Al Burkan Li Nasfi Iftiroat Arofat Wama Fil Bayanil Fauriy Minal Jahl Wal Batr Wal Buhtan”),

5-    Yasir bin Mas’ud Al Jaijaliy (“Shoddu ‘Udwanil Barmakiy” dan “Ar Roddul Mukhtashor”),

6-    Abu Isa Ali bin Rosyid Al ‘Afariy (“Muhadditsun Khothir”),

7-    Abu Mush’ab Ali bin Nashir Al ‘Adaniy (“Rodd Zhulmi ‘Arofat Al Barmakiy Al Murjif Fisy Syaikhil Allamah Yahya Al Hajuriy Wa Bayan Buhtanih ‘Ala Thullab Daril Hadits Bi Dammaj”),

Dan yang selain mereka, semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan dan menjaga mereka semua.

      Dan kami mewarisi senjata-senjata para harimau tadi untuk menyembelih syubuhat-syubuhat serigala ahlil ahwa, disertai dengan petunjuk ilmu yang Alloh anugerahkan pada kami, sebagai karunia dan rohmat dari-Nya. Maka setiap kaum itu punya pewaris. Akan tetapi bukanlah pewaris yang ini sama seperti pewaris yang itu. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan tidaklah sama antara orang yang mewarisi Rosul dengan orang yang mewarisi para munafiqin.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 289/cet. Darul hadits).

 

Adapun ucapan Luqman Ba Abduh: “Dan belum lagi pernyataan Al Hajuriy dan tuduhannya bahwa sebagian Shohabat itu berandil dalam pembunuhan Kholifah Utsman. Masya Alloh.” Dan senada dengan itu ucapan syaikh dia Abdulloh Al Bukhoriy. Maka hendaknya dia tahu bahwasanya tiada seorang alimpun kecuali pasti telah pernah melewati beberapa riwayat yang tidak shohih dan tidak hasan. Dan tidaklah setiap riwayat yang lewat itu si alim punya kesempatan untuk memeriksa tentang keshohihannya.

Dan engkau sendiri, berapa banyak dirimu melewati atsar-atsar yang engkau kira shohihah atau hasanah padahal dia itu lemah? Sepanjang seseorang itu jika diingatkan tentang tidak shohihnya atsar, lalu dia meninggalkannya setelah itu dan memperbaiki pendapatnya, maka dia itu tidak tercela. Hanyalah celaan itu menimpa orang yang jahat dalam perdebatan semisal dirimu dengan berlama-lama di atas kesalahan setelah datangnya peringatan kepadanya dan masih saja engkau mencerca orang yang telah bertobat, dengan kesalahannya yang dulu.

Maka Asy Syaikh Yahya حفظه الله dulu memang bertopang pada sebagian riwayat yang tersebut di dalam kitab “Ath Thobaqot” karya Ibnu Sa’d (3/hal. 72), dan kitab “Tarikhul Madinah” karya Ibnu Syabah (4/hal. 1227). Manakala jelas bagi syaikh kami حفظه الله tentang lemahnya riwayat-riwayat, beliaupun menghapusnya dari kitab beliau “Al Jum’ah” pada cetakan kedua.

Maka untuk apa teror dan pembesaran kasus macam ini wahai Luqman? Dan juga Arofat?

Dan tidaklah setiap riwayat itu nampak penyakitnya seketika. Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berkata: “Maka ada di antara hadits-hadits yang penyakitnya itu tersamarkan sehingga tidak diketahui kecuali setelah penelitian yang mendalam dan berlalunya masa yang panjang.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/5/hal. 48).

Kesalahan semacam ini terjadi pada ulama lebih-lebih yang selain ulama. Maka seorang mujtahid itu kekeliruannya diampuni dalam keadaan dia tidak menyengaja berbuat keliru. Lebih-lebih lagi jika telah nampak baginya kebenaran setelah itu lalu dia bertobat dan memperbaiki diri. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Bahkan terkadang orang yang menginginkan kebenaran itu tersesat dari kebenaran dalam keadaan dia telah bersungguh-sungguh mencarinya tapi tidak berhasil. Maka dia tidak dihukum. Dia telah mengerjakan sebagian perkara yang diperintahkan, maka dia mendapatkan pahala atas ijtihad dia, sedangkan kekeliruannya yang dia tersesat di dalamnya dari hakikat perkara tadi akan diampuni. Dan banyak dari mujtahidin salaf dan kholaf telah mengatakan sesuai atau melakukan sesuatu yang ternyata hal itu adalah bid’ah dalam keadaan mereka tidak mengetahui bahwasanya itu adalah bid’ah, bisa jadi karena hadits-hadits yang lemah dan mereka mengiranya shohih, atau bisa jadi karena adanya ayat-ayat yang mereka memahaminya dengan pemahaman yang tidak Alloh inginkan, dan bisa jadi karena suatu pendapat yang dipandangnya, sementara dalam masalah tadi ada nash-nash yang tidak sampai pada mereka.

Jika seseorang itu bertaqwa pada Robbnya sesanggupnya, dia masuk di dalam firman Alloh ta’ala:

﴿ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا﴾ [ البقرة : 286 ]

“Wahai Robb kami janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau keliru.”

Dan dalam hadits shohih Alloh ta’ala menjawab:

“قد فعلت

“Aku telah mengerjakannya.”

Dan penjabaran ini ada di tempat yang lain.”

(“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 192).

            Perhatikanlah adab-adab para imam bersama ulama yang lain yang keliru dengan sebab riwayat yang lemah. Ibnu Hajar dan sebagian ulama رحمهم الله meski luas ilmu mereka, mereka berpendapat dengan kandungan kisah Ghoroniq yang palsu itu. Dan kami tidak mendengar ada seorangpun dari ulama yang mencerca mereka padahal di dalam kisah tadi ada kebatilan-kebatilan yang sangat besar.

            Al Imam Al Albaniy رحمه الله setelah menyebutkan lemahnya sanad-sanad kisah tadi beliau berkata: “Penjelasan tentang batilnya kisah tadi secara matan (isinya). Itu adalah riwayat-riwayat kisah, dan semuanya sebagaimana yang engkau lihat mu’allah (berpenyakit) dengan irsal (putus yang di atas tabi’iy), lemah, dan jahalah (ada rowi yang tak dikenal). Maka tidak ada di dalamnya riwayat yang pantas untuk menjadi pendukung, terutama dalam perkara yang berbahaya ini.

            Kemudian termasuk perkara yang menguatkan lemahnya riwayat tadi dan bahkan batilnya dia adalah terjadinya perselisihan dan kemungkaran dalam kandungannya, yang tidak sesuai dengan posisi kenabian dan kerosulan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

            Yang pertama: dalam riwayat-riwayat tadi semua atau kebanyakannya, disebutkan bahwasanya setan itu berbicara melalui lisan Nabi صلى الله عليه وسلم dengan kalimat yang batil tadi, yang memuji patung-patung musyrikin: “Itu adalah ghoroniq yang tinggi, dan syafaatnya diharapkan.”

            Yang kedua: di dalam sebagiannya, seperti riwayat yang keempat: “Dan kaum mukminun membenarkan Nabi mereka terhadap apa yang beliau datangkan dari Robb mereka, dan mereka tidak menuduh beliau terhadap kekeliruan dan kesalahan.” Maka di dalam riwayat ini, kaum mukminun mendengar tersebut dari beliau صلى الله عليه وسلم dan mereka tidak menyadari bahwasanya hal itu adalah dari lemparan setan, bahkan mereka meyakini bahwasanya itu adalah wahyu dari Ar Rohman. Sementara riwayat yang keenam berkata: “Dan kaum muslimin tidak mendengar apa yang dilemparkan oleh setan.” Ini menyelisihi riwayat yang tadi.

            Yang ketiga: di sebagiannya, seperti riwayat (1, 4, 7, 9): “Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم tinggal sementara waktu dalam keadaan beliau tidak tahu bahwasanya yang demikian itu dari setan, sampai Jibril berkata pada beliau: “Aku berlindung pada Alloh, aku tidak mendatangkan padamu perkataan ini. Ini adalah dari setan.”

            Yang keempat: dalam riwayat kedua: bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم lupa sampai mengucapkan yang demikian itu. Seandainya memang terjadi demikian kenapa beliau tidak sadar dari lupanya?

            Yang kelima: dalam riwayat kesepuluh: jalan yang keempat: “Bahwasanya yang demikian itu dilemparkan pada beliau dalam keadaan beliau sholat.”

            Yang keenam: dalam riwayat (4, 5, 9) bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم berharap tidak diturunkan pada beliau sesuatu dari wahyu yang menjelek-jelekkan sesembahan-sesembahan musyrikin agar mereka tidak lari dari beliau. Dan lihatlah pembahasan keempat dari ucapan Ibnul Arobiy yang akan datang (pada hal. 50).

            Yang ketujuh: di dalam riwayat (4, 6, 9) bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم bersabda ketika Jibril mengingkari beliau tentang kalimat tadi: “Aku telah membuat kedustaan atas nama Alloh, dan aku berkata atas nama Alloh apa yang tidak difirmankan-Nya, dan setan menyekutuiku dalam urusan Alloh.”

            Ini semua adalah bencana-bencana yang kita wajib mensucikan Rosul dari hal tadi, lebih-lebih riwayat yang terakhir ini, karena jika hal itu benar, niscaya benarlah apa yang ada pada Nabi عليه السلام –dan itu jauh sekali- firman Alloh ta’ala:

﴿ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا من الوتين﴾ [ الحاقة[.

“Dan andaikata dia berkata atas nama Kami dengan sebagian perkataan, pastilah kami akan mengambilnya dengan tangan kanan, kemudian Kami akan memotong urat nadi jantungnya.”

            Maka pastilah dengan penjelasan tadi semua tentang batilnya kisah ini secara sanad dan matan. Dan segala puji hanya bagi Alloh atas taufiq-Nya dan hidayah-Nya.”

(selesai dari “Nashbul Majaniq”/Al Imam Al Albaniy/hal. 35-36).

            Bersamaan dengan besarnya keburukan kisah ini, kami tidak mendengar ada seorangpun dari para imam yang berkata bahwasanya Ibnu Hajar رحمه الله mencerca sisi kenabian atau yang seperti itu. Paling-paling mereka hanya menyebutkan bahwasanya riwayat yang dipakai bertopang oleh Al Hafizh Ibnu Hajar itu lemah.

            Ibnu Hajar رحمه الله telah mengetahui sisi pelemahan para ulama terhadap riwayat-riwayat ini, tapi beliau membantah mereka dan merojihkan bahwasanya kisah ini punya asal yang pasti. (“Fathul Bari”/8/hal. 439).

            Dan tiada seorangpun dari mereka berkata bahwasanya Ibnu Hajar mencerca Rosululloh صلى الله عليه وسلم sementara perkara besar tadi lebih buruk daripada riwayat tentang andil Muhammad bin Abi Bakr dalam pembunuhan terhadap Utsman رضي الله عنهم.

            Memang ada perbedan besar antara ulama yang mumpuni yang adil dalam menimbang kadar suatu kasus, dengan para ahli ahwa yang curang dan zholim semacam Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Arofat Al Bashiriy.

            Contoh kedua: bertopangnya sebagian mujaddidin kepada kisah penamaan Adam dan Hawa anak mereka dengan: “Abdul Harits”. Lihatlah bagaimana Al Imam Muhammad Ibnul Amir Ash Shon’aniy رحمه الله bertopang dengan kisah ini dan berkata: “Bahkan Alloh menamakan penamaan Abdul Harits itu adalah kesyirikan.” Kemudian beliau menyebutkan hadits Samuroh dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Tirmidziy. (“Tathhirul I’tiqod”/hal. 17).

            Itu adalah kisah yang lemah, menyentuh sisi kehormatan Nabi Adam عليه السلام . Bersamaan dengan itu para Imam tidak tidak mengatakan bahwasanya Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله men-tho’n Adam dan Hawwa.

            Dan kalian sendiri wahai Luqman, Bukhori dan Arofat, bisa jadi kalian mengajari orang-orang kitab “At Tauhid” karya Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdiy رحمه الله , padahal beliau berdalilkan dengan kisah ini. Maka kenapa kalian tidak men-tho’n beliau sebagaimana kalian berbuat pada Asy syaikh Yahya? Yang demikian itu adalah dikarenakan yang benar adalah: memberikan udzur pada perkara semacam itu. Hanya saja para ahli ahwa menakar dengan dua takaran (curang dalam menghukumi).

            Dan dalam tafsir firman Alloh ta’ala:

﴿ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين﴾ الآية،

“Dan di antara mereka ada orang yang berjanji pada Alloh: benar-benar jika Alloh memberikan pada kami sebagian dari karunia-Nya, pastilah kami akan bershodaqoh dan pastilah kami akan menjadi orang-orang yang sholih.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله menyebutkan bahwasanya banyak ahli tafsir, di antaranya adalah Ibnu Abbas, Al Hasan Al Bashriy, berkata: “Sesungguhnya sebab turunnya ayat yang mulia ini adalah tentang Tsa’labah bin Hathib Al Anshoriy.”  Lalu beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di sini, tanpa mengingkarinya. (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 183).

            Kisah itu lemah, menyentuh sisi agung seorang shohabiy. Bersamaan dengan itu, para ulama tidak berkata bahwasanya mereka tadi men-tho’n shohabat رضي الله عنهم.

 

            Luqman berkata dalam menuduh Asy Syaikh Yahya men-tho’n Shohabat: “Tuduhan Al Hajuriy yang mengatakan bahwasanya aqidah murjiah telah muncul pada masa Shohabat, dan yang pertama kali yang mengucapkan atau beraqidah dengan aqidah murji’ah adalah Qudamah bin Madz’un.” Juga Ucapan Abdulloh Al Bukhoriy tentang Asy Syaikh Yahya: “Dan bahwasanya yang pertama kali mengucapkan pendapat Irja adalah Utsman bin Mazh’un رضي الله عنه.”

            Jawab kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sampah berita ini juga diwarisi Luqman dan Abdulloh Al Bukhoriy dari ahli Ahwa semacam Arofat Al Bashiriy, dan kami mewarisi senjata para harimau salafiyyin untuk melenyapkan sampah tadi dengan seidzin Alloh. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang keadaan para Rosul dan musuh-musuh mereka:

لا بد أن يرث الرسول وضدّه

 

في الناس طائفتان مختلفتان

فالوارثون له على منهاجه

 

والوارثون لضدّه فئتان

أحداهما حرب له ولحزبه

 

ما عندهم في في ذاك من كتمان

فرموه من ألقابهم بعظائم

 

هم أهلها لا خيرة الرحمن

فأتى الألى ورثوهم فرموا بها

 

وراثه بالبغي والعدوان

هذا يحقق إرث كل منهما

 

فاسمع وعه يا من له أذنان

والآخرون أولوا النفاق فأضمروا

 

شيئا وقالوا غيره بلسان

“Pastilah ada dua kelompok di tengah manusia yang saling berlawanan, yang mereka itu mewarisi Rosul dan lawannya. Maka para pewaris Rosul itu ada di atas manhaj beliau, sementara pewaris lawan beliau itu ada dua golongan. Yang pertama: memerangi beliau dan memerangi kelompok beliau. Mereka tidak menyembunyikan permusuhan tadi. Maka mereka menuduh para pengikut Rosul tadi dengan gelar-gelar mereka dengan keburukan yang mereka sendirilah yang sebenarnya pantas mendapatkannya, bukannya kelompok pilihan Ar Rohman. Maka kelompok pertama datang dan mewarisi mereka, maka mereka menuduhkan gelar-gelar buruk tadi terhadap para pewaris Rosul, dengan kezholiman dan permusuhan. Ini merealisasikan bahwasanya masing-masing dari kelompok tadi mewarisi pendahunya. Maka dengarkanlah dan hapalkanlah wahai orang yang punya dua telinga. Dan yang lain adalah: para munafiqin yang menyembunyikan sesuatu, tapi mengucapkan yang lain lagi dengan lidahnya.”

(“Qoshidah Nuniyyah”/1/hal. 401/syarh Al Harros/cet. Darul Kutubil Ilmiyyah).

            Sampah ini dipungut oleh Arofat Al Bashiriy selepas fitnah Abul Hasan ketika Syaikh kami Yahya حفظه الله termasuk orang yang terdahulu membongkar kebatilan-kebatilan Abul Hasan dan menjelaskan kebusukannya. Maka mereka memperbanyak tuduhan dusta terhadap Asy Syaikh Yahya. Maka beliau menjelaskan kebatilan dari apa yang dinisbatkan pada beliau. Di dalam kaset yang berjudul: “Tabyyinul Kadzib Wal Miin” yang direkam hari Senin tanggal 11 Romadhon 1422 H beliau menjelaskan kepalsuan tuduhan tadi. Kemudian Arofat mewarisi mereka dan mengambil lafazh-lafazh yang terpotong-potong, lalu dia menghiasinya dengan baju baru barangkali bisa laku di tengah-tengah manusia. Dan memang dia laku dibeli oleh Luqman Ba Abduh yang dulu sibuk dengan sampah di hari-hari belajarnya di Darul hadits di Dammaj. Dan kami tidak tahu ternyata Abdulloh Al Bukhoriy yang rajin fitness itu juga punya kesempatan untuk memungut sampah tadi dan bangga dengannya. Barangkali mereka melaksanakan petuah Al Jahizh:

ولكل ساقط لاقط، ولكل ثوب لابس

 “Dan setiap benda jatuh itu ada yang memungutnya. Dan setiap baju itu ada yang memakainya.” (sebagaimana dalam “Hayatul Hayawanil Kubro”/Ad Damiriy/2/hal. 164).

            Maka orang yang adil dan jujur ketika kembali kepada kaset tadi, dia akan mendapati dengan taufiq Alloh bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله tidak men-tho’n Shohabiy tersebut. Beliau hanya membaca ucapan Ibnu Abil ‘Izz رحمه الله yang mengambil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله.

Ketika sampai pada beliau tuduhan hizbiyyun terhadap beliau tadi, beliau menyebutkan ayat ifk, mengambil cahaya darinya bahwasanya tuduhan tadi adalah batil. Dan beliau حفظه الله membaca firman Alloh ta’ala:

﴿كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا﴾ [الكهف: 5]،

“Alangkah besarnya kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah mereka berkata kecuali kedustaan.”

Ini dalam rangka menjelaskan bahwasanya perkara yang dinisbatkan pada beliau tadi adalah dusta dan bohong. Dan beliau حفظه الله berkata: “Alloh membersihkan Syaikhul Islam untuk mengucapkan igauan tadi,” sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Yahya menisbatkan ucapan tadi (tuduhan bahwasanya yang pertama kali yang mengucapkan atau beraqidah dengan aqidah murji’ah adalah Qudamah bin Madz’un) pada Syaikhul Islam.

            Kemudian ketahuilah bahwasanya pembacaan beliau terhadap ucapan Ibnu Abil Izz itu hanyalah penukil belaka dari Ibnu Abil Izz dan dari Syaikhul Islam. Beliau حفظه الله berkata: Ibnu Abil ‘Izz رحمه الله berkata dalam “Syarhuth Thohawiyyah” hal. 324 cet. Al Maktabul Islamiy, dan yang beliau nukilkan dari Syaikhul Islam (11/hal. 403):

(وأراد الشيخ رحمه الله بقوله: (ولا نقول لا يضر مع الإيمان ذنب لمن عمله) مخالفة المرجئة. وشبهتهم كانت قد وقعت لبعض الأولين، فاتفق الصحابة على قتلهم إن لم يتوبوا من ذلك، فإن قدامة بن عبد الله (والصواب: ابن مظعون) شرب الخمر بعد تحريمها هو وطائفة، وتأولوا قوله تعالى: ﴿لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ﴾ الآية. فلما ذكروا ذلك لعمر بن الخطاب رضي الله عنه، اتفق هو وعلي بن أبي طالب وسائر الصحابة على أنهم إن اعترفوا بالتحريم جلدوا، وإن أصروا على استحلالها قتلوا. وقال عمر لقدامة: أخطأت إستك الحفرة، أما إنك لو اتقيت وآمنت وعملت الصالحات لم تشرب الخمر). هذا الذي ذكره الشيخ يحيى حفظه الله، فليس هو يطعن في قدامة ولا يقول ما اتهمه لقمان وقدماؤه: (إن أول من قال بالإرجاء قدامة بن مذعون).

“Dan Asy Syaikh (Ath Thohawiy) رحمه الله menginginkan dengan ucapan beliau: “Dan kami tidak mengatakan bahwasanya tidaklah dosa itu berbahaya jika disertai dengan keimanan, bagi orang yang melakukannya” dalam rangka menyelisihi murjiah. Dan syubhat mereka itu telah terjadi di sebagian para pendahulu. Maka para Shohabat bersepakat untuk membunuh mereka jika mereka tidak bertobat dari itu, karena sesungguhnya Qudamah bin Abdillah (yang benar adalah: Ibnu Mazh’un) dan sekelompok orang meminum khomr setelah diharomkannya khomr tadi. Dan mereka mentakwilkan firman Alloh ta’ala:

﴿لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ﴾

“Tiada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih terhadap apa yang mereka makan jika mereka bertaqwa dan beriman dan beramal sholih.”

Sampai akhir ayat. Manakala dia menyebutkan itu kepada Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه beliau dan Ali bin Abi Tholib dan seluruh Shohabat bersepakat bahwasanya kelompok Qudamah tadi jika mengakui haromnya khomr, mereka akan dicambuk, dan jika mereka bersikeras untuk menghalalkannya, maka mereka akan dibunuh. Dan Umar berkata pada Qudamah:

أخطأت إستك الحفرة، أما إنك لو اتقيت وآمنت وعملت الصالحات لم تشرب الخمر

 “Pantatmu salah memasuki lubang. Andaikata engkau bertaqwa, beriman dan beramal sholih niscaya engkau tidak akan minum khomr.”

Selesai penukilan Asy Syaikh Yahya dai Ibnu Abil ‘Izz.

            Inilah penukilan yang disebutkan oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله, bukan beliau itu men-tho’n Qudamah atau mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Luqman dan para pendahulunya: yang pertama kali yang mengucapkan atau beraqidah dengan aqidah murji’ah adalah Qudamah bin Mazh’un.

            Dan Asy Syaikh Yahya حفظه الله berkata: “Andaikata dia mau merujuk kepada sumber penukilan yang kami nukilkan darinya, jika dia setelah itu mau membantah (membantah syaikhul Islam) silakan dia membantahnya.” Maka ini untuk menjelaskan bahwa beliau itu sekedar menukilkan, dan hakikat perkara ini menjadi jelas dengan merujuk pada sumber yang diisyaratkan tadi.

            Dan aku akan menukilkan apa yang diucapkan oleh Syaikhul Islam رحمه الله:

وهذه [ الشبهة ] كانت قد وقعت لبعض الأولين، فاتفق الصحابة على قتلهم إن لم يتوبوا من ذلك، فإن قدامة بن عبد الله شربها هو وطائفة وتأولوا قوله تعالى : ﴿ليس على الذين آمنوا وعملوا الصالحات جناح فيما طعموا إذا ما اتقوا وآمنوا وعملوا الصالحات﴾ [المائدة : 93 ] ، فلما ذكر ذلك لعمر بن الخطاب اتفق هو وعلي بن أبي طالب وسائر الصحابة على أنهم إن اعترفوا بالتحريم جلدوا، وإن أصروا على استحلالها قتلوا .

          وقال عمر لقدامة : أخطأت إستك الحفرة . أما أنك لو اتقيت وآمنت وعملت الصالحات لم تشرب الخمر، وذلك أن هذه الآية نزلت بسبب : أن الله سبحانه لما حرم الخمر وكان تحريمها بعد وقعة أحد قال بعض الصحابة : فكيف بأصحابنا الذين ماتوا وهم يشربون الخمر ؟ فأنزل الله هذه الآية يبين فيها أن من طعم الشيء في الحال التي لم تحرم فيها فلا جناح عليه إذا كان من المؤمنين المتقين المصلحين .

(انتهى من “مجموع الفتاوى”/11/ص403-404).

“Dan (syubhat) ini dulu telah terjadi pada sebagian generasi terdahulu, Maka para Shohabat bersepakat untuk membunuh mereka jika mereka tidak bertobat dari itu, karena sesungguhnya Qudamah bin Abdillah dan sekelompok orang meminum khomr setelah diharomkannya khomr tadi. Dan mereka mentakwilkan firman Alloh ta’ala:

﴿لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ﴾

“Tiada dosa bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih terhadap apa yang mereka makan jika mereka bertaqwa dan beriman dan beramal sholih.”

Manakala dia menyebutkan itu kepada Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه beliau dan Ali bin Abi Tholib dan seluruh Shohabat bersepakat bahwasanya kelompok Qudamah tadi jika mengakui haromnya khomr, mereka akan dicambuk, dan jika mereka bersikeras untuk menghalalkannya, maka mereka akan dibunuh. Dan Umar berkata pada Qudamah

أخطأت إستك الحفرة، أما إنك لو اتقيت وآمنت وعملت الصالحات لم تشرب الخمر

 “Pantatmu salah memasuki lubang. Andaikata engkau bertaqwa, beriman dan beramal sholih niscaya engkau tidak akan minum khomr.”

            Yang demikian itu adalah karena ayat ini turun dengan sebab: bahwasanya Alloh subhanah ketika mengharomkan khomr, dan pengharomannya itu terjadi setelah perang Uhud, sebagian Shohabat berkata: “Maka bagaimana dengan sahabat-sahabat kita yang meninggal dalam keadaam mereka minum khomr?” maka Alloh menurunkan ayat ini yang di dalamnya menjelaskan bahwasanya barangsiapa memakan sesuatu dalam kondisi yang tidak diharomkan, maka tiada dosa baginya jika dia termasuk dari mukminin muttaqin mushlihin.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 403-404).

            Kemudian ketahuilah bahwasanya syarh Ibnu Abil ‘Izz رحمه الله terhadap “Al Aqidatuth Thohawiyyah” itu adalah sumber rujukan yang telah dikenal di kalangan salafiyyin ji zaman kita ini, dan telah diajarkan dan disyarh oleh sejumlah imam besar, dan mereka tidak menjadikan ungkapan tadi sebagai bentuk tho’n terhadap para shohabat رضي الله عنهم.

            Dan jika kalian bersikeras untuk mengkritik, maka kritiklah Ibnu Abil ‘Izz dan yang sebelumnya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمهما الله , dan jangan yang kalian kritik adalah Asy Syaikh Yahya حفظه الله karena beliau itu hanyalah menukilkan dari keduanya. Dan yang menukilkan adanya kemaksiatan itu bukanlah pelaku maksiat, dan yang menceritakan adanya kekufuran itu tidak kafir. Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata: “Dan para ulama berkata: “Sesungguhnya orang yang menukilkan kekufuran itu tidak kafir.” (“Al Qoulul Mufid”/2/hal. 207).

Dan gugatlah juga Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه yang mana beliau telah berkata keras terhadap Qudamah bin Mazh’un رضي الله عنه . Dan gugatlah juga seluruh Shohabat ketika mereka hendak membunuh Qudamah dan teman-temannya jika mereka tidak mengakui haromnya khomr.

Dan mirip dengan perbuatan Syaikhul Islam adalah apa yang ditulis oleh Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Aman Al Jami رحمه الله dengan judul: “At Tashowwuf Min Showaril Jahiliyyah”:

“Demikianlah nampak kejahilan tashowwuf, dan dari kota ini dia itu tersebar. Seandainya kita kembali ke belakang pada sejarah kita yang panjang, niscaya kita dapatkan bahwasanya bid’ah ini, yang dinamakan dengan tashowwuf pada hari ini, telah memanjang dengan kepalanya pada zaman Rosul عليه الصلاة والسلام , hanya saja dia itu terhantam sejak awal kemunculannya atau pemikirannya. Dan yang demikian itu ketika sebagian orang condong kepada sejenis rohbaniyyah (hidup membujang untuk konsentrasi ibadah), maka ada tiga orang dari Shohabat yang pergi ke salah satu rumah Rosul صلى الله عليه وسلم lalu mereka menanyakan tentang ibadah beliau عليه الصلاة والسلام . Manakala mereka dikabari, seakan-akan mereka menganggapnya sedikit, yaitu mereka memandang bahwasanya ibadah yang dikerjakan Rosul itu sedikit. Mereka ingin lebih banyak dari itu. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Adapun aku, aku akan berpuasa sepanjang masa dan tidak berbuka.” Yang kedua berkata: “Adapun aku maka aku akan sholat malam dan tidak tidur.” Yang ketiga berkata: “Adapun aku, aku tidak akan menikahi wanita.” Manakala hal itu sampai pada Rosululloh عليه الصلاة والسلام beliapun mencari mereka, maka merekapun didatangkan. Maka beliau bertanya: “Kaliankah yang berkata demikian dan demikian?” maka mereka tidak bisa kecuali berkata: “Iya.” Maka Rosul عليه الصلاة والسلام bersabda: “Adapun aku, maka demi Alloh, sungguh aku adalah orang yang paling beribadah dan paling takut pada Alloh akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan aku tidur, dan aku menikahi para wanita. Maka barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku.”

 Kejadian ini kami riwayatkan dengan makna dengan pendekatan, dan dia ada di Al Bukhoriy dan Muslim dan sebagian penulis Sunan. Dan termasuk yang perlu dicermati adalah: bahwasanya Rosul عليه الصلاة والسلام dalam mengingkari kebid’ahan ini mempergunakan metode yang tidak kita ketahui bahwasanya beliau memakainya ketika sampai berita pada beliau bahwasanya ada orang melakukan suatu penyelisihan atau berbuat durhaka. Bahkan kebiasaan beliau yang mulia yang terkenal adalah beliau itu dalam kondisi seperti ini mengumpulkan orang, lalu mengarahkan pada mereka kalimat yang umum, pengingkaran dan cercaan tanpa berhadapan langsung di situ (dengan pelakunya), seperti ucapan beliau:

«ما بال أقوام يفعلون كذا وكذا ؟»

“Ada apa dengan beberapa kaum berbuat demikian dan demikian?”

Dulu metode tersebut cukup untuk menghardik dan mengingkari, disertai dengan apa yang dikandungnya yang berupa perahasiaan identitas orang yang berbuat maksiat tadi.

            Akan tetapi kami melihat Rosul عليه الصلاة والسلام pada kali ini menuntut kehadiran tiga orang tadi yang condong kepada apa yang dinamakan sebagai tashowwuf pada hari ini. Kemudian beliau bertanya pada mereka: “Kaliankah yang mengatakan demikian dan demikian?” kemudian beliau mengumumkan pada mereka bahwasanya beliau itu paling beribadah dan paling takut pada Alloh di antara mereka, menguatkannya dengan sumpah, seakan-akan mereka tidak tahu yang demikian itu, dalam rangka menghardik dan mencerca mereka. Maka beliau mengajari mereka bahwasanya asas di dalam ibadah adalah ittiba’ (ikut syariat Nabi), bukan ibtida’ (membikin perkara baru dalam agama), dan bahwasanya tata cara itu lebih diutamakan daripada jumlah yang menyelisihi sunnah. Kemudian beliau menutup cercaan tadi dengan baroah (pemutusan), yaitu: mengabarkan bahwasanya barangsiapa membenci sunnah beliau dan jalan beliau, maka dia bukan termasuk dari golongan beliau, dan tidak di atas agama beliau yang beliau bawa dari sisi Alloh.

            Dan termasuk perkara yang harus tampilkan adalah bahwasanya niat yang baik dan maksud yang bersih serta minat untuk memperbanyak ibadah, semua makna tadi tidak bisa mensyafaati pelaku bid’ah untuk bid’ahnya itu diterima, atau bid’ahnya menjadi kebaikan dan amal sholih. Ini dikarenakan mereka bertiga itu, tidaklah membawa mereka kepada tekad mereka tadi kecuali minat mereka pada kebaikan dan memperbanyak ibadah pada Alloh dalam rangka bersemangat untuk mendapatkan karunia di sisi Alloh. Maka niat mereka itu sholihah, dan maksud mereka itu baik, hanya saja perkara yang luput dari mereka, yaitu mengikatkan diri dengan sunnah yang mana mencocokinya adalah asas diterimanya amalan disertai dengan keikhlasan untuk Alloh ta’ala semata.

             Kemudian setelah itu: barangkali sang pembaca mencermati bahwasanya bid’ah tashowwuf itu muncul pertama kalinya dibungkus dengan bungkus ibadah dan zuhud, dan dua perkara itu diterima di dalam Islam, bahkan disukai. Kemudian muncullah tashowwuf tadi di atas hakikatnya yang sebenarnya sekarang ini. Dan ini adalah sifat setiap kebid’ahan, karena hampir-hampir tidaklah bid’ah itu muncul dan diterima kecuali dalam keadaan dibungkus dengan bungkus yang menampilkan wajah Islamiy yang diterima di hadapan orang-orang, bahkan dicintai.”

(selesai dari “Majalatul Buhutsil Islamiyyah”/12/hal. 271-272/Panitia pemeriksa: Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alusy Syaikh, dan Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Audah, dan Fadhilatusy Syaikh Abdulloh bin Sulaiman bin Mani’, dan Fadhilatusy Syaikh Utsman Ash Sholih).

            Dan kenapa kalian tidak menghujat para imam tadi رحمهم الله, dan kalian justru mengkonsentrasikan serangan terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله? Kami mengetahui faktor pembangkit kalian untuk berbuat itu, yaitu: hawa nafsu, dendam, dan dengki, bukannya kecemburuan untuk agama ini.

            Dan termasuk perkara yang memperkuat kenyataan tadi adalah: bahwasanya kalian diam terhadap kesesatan-kesesatan Ubaid Al Jabiriy, di antaranya adalah dia berkata: “Jika Ka’b bin Malik mati dalam keadaan seperti itu, niscaya dia mata dalam keadaan sesat dan menyesatkan.” Adab macam apa ini terhadap Shohabat? Dan juga penyelewengan-penyelewengan Muhammad Al Wushobiy, dan kriminalitas-kriminalitas Muhammad Al Imam terhadap manhaj Salafiy, bersamaan dengan jelasnya dalil-dalil, bayyinah-bayyinah dan bukti-bukti tentang itu, dan kalian justru mengambil kaidah Hasan Al Banna dalam menyikapi mereka. Demikianlah ahlul hawa.

Bab Tujuh Belas:

Pembicaraan Tentang Jarh Mufassar

            Luqman berkata pada yang dianggap sebagai Hajuriyyun: “Asy Syaikh Robi’ mentahdzir dengan rinci tentang kalian. Dan Asy Syaikh menyetujui berbagai tulisan dan fatawa ulama tentang Hajuriy. Tulisan-tulisan sampai kepada Asy Syaikh Robi’. Tahdzir Asy Syaikh Robi’ rinci sebagaimana telah disampaikan. Mufassar, tapi mereka nggak paham apa itu jarh mufassar.”

            Jawab kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sesungguhnya jarh mufassar itu diterima jika datang dari seorang alim dengan sebab-sebabnya dan berhiaskan dengan hujjah-hujjah dan bukti dalam keadaan kosong dari hasrat-hasrat yang batil, dan perkara-perkara yang lain yang disebutkan oleh para imam رحمهم الله. Maka tidak setiap jarh itu diterima sekalipun dia itu mufassar (terperinci). Dia itu harus direnungkan, terutama jika yang dijarh adalah termasuk dari orang yang telah tetap ‘adalah (kelurusan agama) nya. Maka bayyinah itu dituntut untuk ada.

            Dari Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من حلف على يمين وهو فيها فاجر ليقتطع بها مال امرئ مسلم لقي الله وهو عليه غضبان»

“Barangsiapa bersumpah dalam keadaan berbuat fujur([1]) untuk merampas harta seorang muslim dengan sumpah tadi, maka dia akan berjumpa Alloh dalam keadaan Dia sangat murka padanya.”

Maka Al Asy’ats berkata: “Demi Alloh hadits itu berbicara tentang diriku. Dulu pernah terjadi perselisihan tentang sebidang tanah antara diriku dan seorang Yahudi. Si yahudi ini tidak mengakui bahwasanya tanah itu milikku. Maka aku memajukannya pada Nabi صلى الله عليه وسلم maka beliau bertanya padaku:

«ألك بينة؟»

“Apakah engkau punya bayyinah?”

Aku menjawab: “Tidak”. Maka beliau bersabda pada si yahudi:

«احلف»

“Bersumpahlah engkau”

Maka aku berkata: “Wahai Rosululloh, jika begitu dia akan bersumpah dan membawa pergi hartaku.” Maka Alloh ta’ala menurunkan:

]إن الذين يشترون بعهد الله وأيمانهم ثمنا قليلا[ إلى آخر الآية.

“Sesungguhnya orang-orang yang membeli dengan perjanjian Alloh dan sumpah-sumpah mereka harga murah …

(HR. Al Bukhoriy (2416) dan Muslim (373)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata tentang kaidah: “Bahwasanya mendatangkan bayyinah adalah kewajiban si penuduh, sementara bersumpah adalah kewajiban orang yang dituduh: “Hadits ini adalah kaidah yang besar dari kaidah-kaidah hukum-hukum syariat. Maka di dalamnya mengandung makna: bahwasanya ucapan seseorang terhadap apa yang didakwaannya itu tidak diterima, dengan sekedar dakwaan belaka, bahkan butuh pada bayyinah atau pembenaran dari si tertuduh. Jika dia menuntut agar si penuduh bersumpah, maka boleh dia meminta yang seperti itu. Nabi صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan hikmah bahwa dia tidak diberi dengan semata-mata dakwaannya karena sungguh jika dia memberikan dengan sekedar dakwaan tadi, pastilah suatu kaum akan mendakwakan hak darah dan harta terhadap suatu kaum, dan dianggap halal.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/12/hal. 3).

Tiada keraguan bahwasanya ulama jarh wat ta’dil itu lebih banyak benarnya daripada kekeliruannya dalam menghukumi. Maka kami menghormati mereka, mengikuti mereka, bersamaan dengan itu kami tidak menyatakan bahwanya mereka itu ma’shum dari kekeliruan. Al Imam Al Mu’allimiy رحمه الله berkata: “Maka kebenaran dalam  Al Jarh Wat Ta’dil itulah yang dominan.” (“At Tankil”/1/hal. 149).

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Kami tidak menyatakan bahwasanya para imam  Al Jarh Wat Ta’dil itu ma’shum (terjaga dari kesalahan), akan tetapi mereka itu adalah orang yang paling banyak benarnya, dan paling jarang kesalahannya, paling adil, dan paling jauh dari kecondongan.” (“Siyar A’lamin Nubala’/11/hal. 82/tarjumah Yahya bin Ma’in).

            Maka jarh sekalipun mufassar, jika keliru, tidak diterima.

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan termasuk perkara yang dikritikkan terhadap Ibnu Ma’in dan menjadi aib bagi dirinya juga adalah kritikannya pada Asy Syafi’iy: “Dia tidak tsiqoh.” Dikatakan pada Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya Yahya bin Ma’in mengkritik Asy Syafi’iy.” Maka Ahmad berkata: “Dari mana Yahya mengenal Asy Syafi’iy? Dia tidak kenal Asy Syafi’iy dan tidak tahu apa yang dikatakan oleh Asy Syafi’iy.” Atau ucapan semisal ini. Dan barangsiapa tidak tahu terhadap suatu perkara, dia akan memusuhinya. Abu Umar رحمه الله (Ibnu Abdil Barr sendiri) berkata: Ahmad bin Hanbal رحمه الله benar. Sesungguhnya Ibnu Ma’in tidak tahu apa yang dikatakan oleh Asy Syafi’iy رحمه الله . dikisahkan dari Ibnu Ma’in bahwasanya dia pernah ditanya tentang masalah tayammum, ternyata dia tidak tahu.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/3/hal. 415).

            Lihatlah wahi orang-orang, para imam tidak menerima jarh Ibnu Ma’in –sekalipun telah terperinci- terhadap orang yang telah tetap sifat ‘adl dia, manakala jarh beliau tadi tidak disertai hujjah. Bahkan para imam membela orang yang dijarh dan mengkritik si penjarh. Dan tidaklah dikatakan bahwasanya mereka telah mentho’n ulama manakala mereka mengkritik di penjarh tadi, dalam posisi tersebut.

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله juga menyalahkan Ibnu Hibban dan tidak menerima jarh beliau terhadap Aflah bin Sa’id Al Madaniy. Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Dia telah ditsiqohkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim berkata: sholihul hadits. Ibnu Hibban berkata: dia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari tsiqot. Tidak halal berhujjah dengannya ataupun meriwayatkan darinya sama sekali. Aku (Adz Dzahabiy) katakan: Ibnu Hibban terkadang mencerca orang tsiqoh sampai-sampai sepertinya dirinya tidak tahu apa yang keluar dari kepalanya.” (“Mizanul I’tidal”/1/hal. 274).

            Perhatikanlah wahai hizbiyyun, Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله tidak menerima jarh Ibnu Hibban sekalipun telah diperinci, manakala diketahui kekeliruan jarhnya tadi, bahkan Adz Dzahabiy mengkritik si penjarh. Dan tidaklah dikatakan bahwasanya Adz Dzahabiy men-tho’n ulama, tapi dikatakan: beliau membela orang yang di-jarh tanpa kebenaran.

          Ini juga Ibnu Hajar رحمه الله tidak menerima jarh Ibnul Jauziy terhadap Aflah, dan beliau menghukumi Ibnul Jauziy telah taqlid pada Ibnu Hibban. Beliau رحمه الله berkata: “Aflah tersebut dikenal sebagai Al Quba’iy, dari Madinah, dari penduduk Quba, tsiqoh, terkenal. Ditsiqohkan oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Sa’d. juga Ibnu Ma’in dan Nasa’iy berkata: la ba’sa bih. Abu Hatim berkata: Syaikh sholihul hadits. Muslim meriwayatkan untuknya di “Shohih” beliau. Ibnul Mubarok dan yang sethobaqot dengan beliau meriwayatkan darinya. Dan aku tidak melihat para mutaqoddimin mengkritiknya. Hanya saja Al Uqoiliy berkata: Ibnu Mahdi tidak meriwayatkan darinya. Aku katakan: ini bukan jarh. Dan Ibnu Hibban telah lalai sehingga menyebutkannya di thobaqoh yang keempat dari para tsiqot. Ibnul Jauziy telah keliru dalam taqlidnya kepada Ibnu Hibban dalam peletakan ini dengan kekeliruan yang parah.” (“Al Qoulul Musaddad Fid Difa’ ‘An Musnad Ahmad/karya Ibnu Hajar/hal. 31).

            Ini juga Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله tidak menerima pelemahan Al Hafizh Al ‘Uqoiliy رحمه الله terhadap Ali Ibnul Madiniy. Beliau berkata dalam biografi Ibnul Madiniy: “Dan telah nampak darinya ketergelinciran lalu dia bertobat dari itu. Ini dia Abu Abdillah Al Bukhoriy –cukuplah engkau dengan beliau- telah memenuhi “Shohih” beliau dengan hadits Ali Ibnul Madiniy. Dan Al Bukhoriy berkata: Tidaklah aku menganggap kecil diriku di hadapan seorangpun kecuali di hadapan Ali Ibnul Madini. Dan jika hadits Ali ditinggalkan, dan juga sahabatnya yaitu Muhammad, dan syaikhnya yaitu Abdurrozzaq, Utsman bin Abi Syaibah, Ibrohim bin Sa’d, Affan, Aban Al ‘Aththor, Isroil, Azhar As Samman, Bahz bin Asad, Tsabit Al Bunaniy, Jarir bin Abdil Hamid, niscaya kita menutup pintu, terputuslah pembicaraan, matilah atsar-atsar, dan berkuasalah zanadiqoh dan keluarlah dajjal.

            Maka apakah engkau tak punya akal wahai Uqoiliy? Tahukah engkau siapa yang engkau kritik itu? Kami hanyalah mengikutimu dalam menyebutkan golongan ini untuk kami bela mereka, dan untuk kami lemahkan apa yang dikatakan tentang mereka. Sepertinya engkau tidak tahu bahwsanya masing-masing dari mereka itu lebih tsiqoh daripada dirimu beberapa tingkat, bahkan lebih tsiqoh daripada banyak sekali para tsiqoh yang tidak engkau sebutkan dalam kitabmu. Maka ini adalah termasuk perkara yang seorang muhaddits tidak ragu.

            Dan aku jadi ingin agar engkau memberitahu diriku tentang siapakah tsiqoh tsabat yang tidak pernah keliru dan tidak menyendiri dengan suatu riwayat yang tidak ada pendukungnya? Bahkan tsiqoh hafizh itu jika menyendiri dengan hadits-hadits maka itu lebih tinggi lagi untuknya, dan lebih sempurna derajatnya, dan lebih menunjukkan perhatiannya pada ilmu atsar, dan pemantapan dirinya terhadap perkara-perkara yang tidak mereka ketahui. Allohumma, kecuali jika jelas kekeliruannya dan kesalahannya pada suatu riwayat, maka yang demikian itu diketahui.”

(selesai dari “Mizanul I’tidal”/3/hal. 140).

            Ini dia Al Hafizh Ibnul Qoththon menghukumi Hisyam bin Urwah itu layyin (lembek)  dikarenakan adanya sedikit perubahan pada hapalan beliau. Maka Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله membela Hisyam bin Urwah, beliau berkata: “Hisyam bin Urwah adalah seorang tokoh ulama, hujjah, imam, akan tetapi ketika tua, hapalannya berkurang, dan tidak mengalami pencampuran sedikitpun. Dan tidak perlu dianggap apa yang dikatakan oleh Abul Hasan Ibnul Qoththon bahwasanya beliau dan Suhail bin Abi Sholih mengalami ikhtilath (pencampuran) dan perubahan. Iya, beliau sedikit mengalami perubahan, dan hapalannya tidak seperti ketika masih muda, maka beliau lupa beberapa yang dihapalnya atau keliru. Lalu apa? Apakah dia ma’shum dari lupa?

            Ketika beliau tiba di Irak di akhir umurnya, beliau menyampaikan sejumlah besar ilmu, di lipatan-lipatannya ada beberapa hadits yang tidak dihapalnya dengan baik. Dan seperti ini terjadi juga pada Malik, Syu’bah, Waki’ dan para tokoh besar tsiqot. Maka tinggalkanlah sembarangan menabrak, dan janganlah engkau campur para imam atsbat dengan orang-orang lemah dan para pencampur. Maka Hisyam adalah Syaikhul Islam. Akan tetapi semoga Alloh memperbagus hiburan kami tentang dirimu wahai Ibnul Qoththon.”

(“Mizanul I’tidal”/4/hal. 302).

            Manakala Al Jauzajaniy رحمه الله melemahkan Aban bin Taghlab Ar Rib’iy dengan sebab tasyayu’, Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله membela Aban dengan berkata: “Adapun Al Jauzajaniy maka tidaklah teranggap penjatuhannya terhadap orang-orang Kufah, karena Tasyayu’ menurut kebiasaan mutaqoddimun adalah keyakinan bahwasanya Ali itu labih utama daripada Utsman, dan bahwasanya Ali itu benar dalam peperangannya, dan bahwasanya yang menyelisihinya adalah salah, dan mereka tetap mendahulukan dan mengutamakan dua syaikh (Abu Bakr dan Umar). Dan terkadang sebagian dari mereka berkeyakinan bahwasanya Ali itu makhluk yang paling utama setelah Rosululloh صلى لله عليه وسلم. Dan jika orang  yang berkeyakinan tadi adalah orang yang waro’, jujur, mujtahid, maka riwayatnya tidak tertolak dengan sebab keyakinan tadi, terutama jika dia itu bukan dai. Adapun tasyayu’ dengan kebiasaan orang-orang terakhir maka dia itu adalah Rofidhiyyah yang murni, maka tidaklah diterima riwayat Rofidhiy yang ghuluw, dan tiada kemuliaan untuknya.” (“Tahdzibut Tahdzib”/1/hal. 81).

            Kesimpulannya: yang terpandang adalah hujjah dan burhan dalam menjarh, bukan sekedar dia itu terperinci ataukah teman sejawat dari si penjarh (selevel).

Al Imam Muhammad Ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Maka yang lebih pantas adalah menggantungkan perkara tadi (yaitu ditolaknya jarh teman sejawat) pada orang yang diketahui bahwasanya di antara mereka berdua ada persaingan atau saling dengki atau perkara yang menjadi sebab tidak dipercayanya perkataan satu sama lain, bukan karena dia itu adalah teman sejawatnya, karena tidaklah mengetahui kelurusan agama seseorang ataupun kekurangannya kecuali teman sejawatnya.” (“Tsamrotun Nazhor”/hal. 130/Darul ‘Ashimah).

Maka yang perlu diperhitungkan adalah perkataan yang disertai oleh bayyinah dan burhan. Al Imam Ibnu Abdil Bar رحمه الله berkata: “Yang benar dalam bab ini adalah bahwasanya barangsiapa telah sah ‘adalahnya (kelurusan agamanya) dan telah tetap ilmu tentang keimamannya, serta telah jelas tsiqohnya, dan perhatiannya pada ilmu, maka ucapan seseorang tentang dirinya tidak perlu diperhatikan kecuali jika dalam jarhnya tadi dia mendatangkan bayyinah yang lurus, yang dengannya suatu jarh itu menjadi sah, dengan jalan adanya persaksian-persaksian, dan pengamalan terhadap penglihatan yang mengharuskan adanya pembenaran terhadap apa yang diucapkannya karena yang mengucapkannya bersih dari dendam, dengki, permusuhan dan persaingan, dan selamatnya dirinya dari itu semua. Maka hal itu semua mengharuskan diterimanya ucapannya dari sisi fiqh dan penelitian.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm”/2/hal. 152/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Al ‘Allamah Muhammad Al Laknawiy رحمه الله : “Mereka terang-terangan bahwasanya ucapan seseorang terhadap orang yang sezaman itu tidak diterima. Hal itu sebagaimana telah kami isyaratkan harus dikaitkan dengan apabila perkataan tadi tidak disertai dengan burhan dan hujjah, dan dibangun di atas fanatisme dan kebencian. Jika tidak ada faktor ini ataupun itu maka perkataannya diterima tanpa ada kekaburan. Hapalkanlah ini karena penjelasan ini termasuk perkara yang bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.” (“Ar Rof’u Wat Takmil”/hal. 431/Fi bayani hukmil Jarh Ghoirol Bari/Maktabatul Mathbu’atil islamiyyah).

Bahkan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله telah berkata: “… para ulama tidak berpaling kepada yang seperti ini kecuali jika disertai penjelasan dan hujjah, dan ‘adalah mereka tidak jatuh kecuali dengan burhan yang kokoh dan hujjah,…” dst. (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 40/tarjumah Ibnu Ishaq/muassasatur Risalah).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang mana mereka sering menisbatkan diri kepada beliau, dan berulangkali bersembunyi di balik punggung beliau. Beliau رحمه الله berkata: “Wahai kamu, apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima? Aku bertanya kepada kalian wahai ikhwan: apakah ucapan teman sejawat itu tak bisa diterima?” (Kemudian Syaikh -rahimahulloh- bertanya kepada sebagian thalib:) ” apakah ucapan teman sejawat itu sebatas yang telah kalian baca, dan di dalam kitab tarjumah (biografi) dan tarikh (sejarah) diterima ataukah tak diterima?” dia menjawab,”Ucapan teman sejawat jika nampak didasari oleh permusuhan dan hasad itu tak bisa diterima.” Beliau berkata,”Shohih” Dia melanjutkan,”Adapun jika dia itu sebagai nasihat dan menjelaskan hakikat urusannya dia dan penyimpangannya, maka orang yang paling tahu tentang seseorang adalah teman sejawatnya.” Beliau berkata,”Shohih” Dia berkata lagi,”Kaidah ini –jarhul aqron- tidaklah dilipat dan tidak diriwayatkan secara mutlak.”

Syaikh Al Wadi`i berkata lagi,”Iya –wahai ikhwan-, teman sejawat adalah orang yang paling tahu tentang dirimu daripada yang lain, maka harus didahulukan. Apa arti ucapan mereka –ahlul hadits-:”Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk negerinya.”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Mesir”? “Fulan adalah orang yang paling tahu tentang penduduk Syam”? Iya. Jika diketahui bahwasanya di antara keduanya ada persaingan dan permusuhan keduniaan, maka tidak diterima. Adapun jika dia mencela sejawatnya dan berkata,”Pendusta” padahal tiada permusuhan di antara mereka, maka ucapan teman sejawat terhadap sejawatnya itu paling mantap dan besar, karena dia yang paling tahu tentang keadaannya.” (As’ilah Holandiyyah/ 23/Robi’ul Awwal/1420 H).

            Dan termasuk yang aneh adalah bahwasanya Mar’iyyin Luqmaniyyin dulu –dan sampai sekarang- tidak menerima jarh mufassar dari para ulama sunnah terhadap dua anak Mar’iy, tapi manakala sebagian masyayikh mengkritik Asy Syaikh Yahya حفظه الله –dengan batil- merekapun menerimanya dengan alasan bahwasanya itu adalah jarh mufassar!

Faidah:

            Al Imam Abu Zur’ah Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata: “Dan diperkecualikan dari itu –dari didahulukannya jarh di atas ta’dil- dua gambaran: yang pertama: jika si pen-jarh menentukan sebab jarh tadi, tapi si penta’dil meniadakannya dengan cara yang terpandang. Misalnya: si pen-jarh berkata: “Dia membunuh si fulan secara zholim pada hari demikian.” Tapi si pen-ta’dil berkata: “Aku lihat orang tadi masih hidup setelah itu.” Atau berkata: “Si pembunuh pada saat itu ada di sampingku.” Maka kedua bertentangan. Yang kedua: jika si pen-jarh menentukan sebab jarh, tapi si pen-ta’dil menjawab: “Dia sudah bertobat dari itu, dan bagus tobatnya.” Maka ta’dilnya didahulukan karena di sini si penta’dil punya tambahan ilmu, sebagaimana disebutkan oleh Ar Rofi’iy dari sekelompok ulama, di antara mereka adalah Ibnush Shobbagh. Dan Ar Rofi’iy dalam kitab “Al Muharror” memastikan itu. Begitu pula An Nawawiy dalam “Al Minhaj.” (selesai dari “Al Ghoitsul Hami’”/2/hal. 542/cet. Al Faruq).

Bab Delapan Belas:

Apakah ‘Ishmah Nabi صلى الله عليه وسلم Mengharuskan Tidak Terjadinya Kesalahan Sama Sekali? Dan Apakah Seluruh Sunnah Beliau Adalah Wahyu?

            Termasuk dari perusakan citra yang dilakukan oleh orang-orang fajir tadi terhadap syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله adalah: bahwasanya Asy Syaikh Yahya mengatakan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم keliru dalam sebagian sarana dakwah, dan bahwasanya sebagian sunnah itu wahyu, sementara sebagian yang lainnya bukan wahyu. Doktor Abdulloh bin Abdurrohim Al Bukhoriy berkata tentang Asy Syaikh Yahya حفظه الله: “Dan termasuk dari kesesatan dia adalah dakwaannya dan kejahatannya terhadap kedudukan kenabian, dan bahwasanya Nabi عليه الصلاة والسلام itu keliru dalam sarana dakwah.”

            Maka jawaban terhadap tuduhan tadi adalah sebagai berikut:

            Telah datang dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم boleh bagi beliau untuk berijtihad dalam perkara yang tidak turun tentangnya wahyu. Al Imam Abu Ishaq Asy Syairoziy رحمه الله berkata: “Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم itu boleh untuk berijtihad dalam kejadia-kejadian, dan menetapkan hukum di situ dengan ijtihad. Dan begitu pula seluruh Nabi عليهم السلام.

            Di antara teman kami ada yang berkata: “Nabi tidak boleh berijtihad.” Dan begitulah pendapat sebagian mu’tazilah.

            Dan kami punya dalil –tentang bolehnya Nabi berijtihad- dengan firman Alloh عز وجل:

﴿لتحكم بين الناس بما أراك الله

“Agar engkau menghukumi di antara manusia dengan apa yang Alloh perlihatkan padamu.”

            Dan Alloh tidak membedakan antara apa yang Alloh perlihatkan pada beliau dengan nash ataukah dengan ijtihad.

            Dan juga dikarenakan Dawud dan Sulaiman عليهما السلام menghukumi dengan ijtihad mereka, dan Alloh عز وجل tidak mengingkari mereka. Maka ini menunjukkan bolehnya Nabi untuk berijtihad.

            Dan karena qiyas itu adalah dalil dari Alloh عز وجل dalam hukum-hukum, maka boleh bagi Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم untuk mengambil faidah hukum dari arah qiyas, seperti Al Kitab. Dan dikarenakan qiyas itu adalah istinbath (mengambil faidah) makna asal (kasus yang sudah ada hukumnya), dan mengembalikan cabangnya (kasus yang belum punya hukum) kepada asal tadi. Dan Nabi عليه السلام lebih mengetahui dengan perkara yang demikian itu daripada yang lain, maka beliau lebih pantas untuk menjalankan qiyas tadi.

            Dan juga karena Nabi صلى الله عليه وسلم jika membaca ayat, dan beliau mengetahui dari ayat tadi hukum dan illah (motif) dari hukum tadi, maka tidak kosong dari: apakah beliau meyakini apa yang dituntut oleh illahnya, atau beliau tidak meyakini itu. Jika beliau meyakini tadi, berarti beliau beramal dengan ijtihad dan jadilah kepada apa yang kami katakan tadi (Nabi boleh berijtihad). Tapi jika beliau tidak meyakini tadi, jadilah beliau keliru, dan yang demikian itu ditiadakan dari beliau.

            Dan karena ijtihad itu adalah posisi untuk menaikkan kedudukan-kedudukan dan tambahan derajat-derajat. Dan orang yang paling berhak untuk itu adalah Rosululloh صلى الله عليه وسلم , maka beliau harus punya hak andil di situ.

            Dan mereka berhujjah dengan firman Alloh ta’ala:

﴿وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى

“Dan tidaklah beliau berkata dari hawa nafsunya, tidaklah itu kecuali wahyu yang diwahyukan.”

Maka ini menunjukkan bahwasanya tidaklah beliau menghukumi kecuali berdasarkan wahyu.

            Jawab kami adalah: bahwasanya hukum dengan menggunakan ijtihad itu adalah hukum berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan hawa nafsu, karena hawa nafsu itu adalah apa yang diinginkan oleh nafsu dan disukai nafsu tanpa memakai dalil. Maka kami telah berbicara dengan tuntutan ayat tadi.”

(selesai dari “At Tabshiroh”/hal. 521-522).

            Maka apabila boleh bagi Nabi صلى الله عليه وسلم untuk berijtihad dalam perkara yang tidak turun pada beliau wahyu tentang itu, maka bisa saja beliau mengalami suatu kekeliruan. Dan ‘ishmah (keterjagaan) itu tidak mengharuskan tidak terjadinya sesalahan sama sekali, hanya saja maknanya adalah: bahwasanya beliau terjaga dari dosa-dosa besar. Dan jika terjatuh dalam dosa kecil atau keliru dalam ijtihad, Alloh tidak mengikrarkannya (tidak menyetujuinya dan tidak mendiamkannya), bahkan Alloh menurunkan pada beliau wahyu untuk memperbaiki kekeliruan tadi, dan sebagainya, sebagaimana akan datang penjelasan para imam tentang hal itu.

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى * وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى * أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى * أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى * فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى * وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى * وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى * وَهُوَ يَخْشَى * فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى * كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ﴾ [عبس: 1 – 11].

“Dia bermuka masam dan berpaling karena datang kepadanya. Tahukah engkau barangkali dia hendak membersihkan diri (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran sehingga peringatan itu bermanfaat baginya? Adapun orang yang tidak merasa butuh, maka engkau menghadapkan diri padanya, padahal tidak ada celaan terhadapmu jika dia tidak mau membersihkan diri. Adapun orang yang datang padamu dengan bergegas dalam keadaan dia takut (pada Alloh) maka engkau mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian, sesungguhnya pengajaran dari Robbmu adalah peringatan.”

            Dan Alloh جل ذكره berfirman:

﴿عَفَا الله عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ﴾ [التوبة: 43].

“Semoga Alloh memaafkanmu, kenapa engkau memberi idzin pada mereka (para munafiqin) sampai jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sampai engkau tahu orang-orang yang dusta.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Alloh telah mengkritik Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم karena beliau bersabda pada sebagian orang ahli kitab yang menanyai beliau tentang beberapa perkara: “Besok aku akan mengabari kalian.” Dan beliau tidak bersabda: “Insya Alloh” maka tertahanlah wahyu dari beliau selama sebulan, lalu turunlah pada beliau:

﴿ولا تقولن لشيء إني فاعل ذلك غدا إلا أن يشاء الله واذكر ربك إذا نسيت﴾.

“Dan janganlah engkau sekali-kali berkata tentang sesuatu: “Sungguh aku akan melakukan hal itu besok” kecuali engkau mengatakan: “Kecuali jika dikehendaki Alloh.” Dan ingatlah Robbmu jika engkau lupa.”

(“I’lamul Muwaqqi’in”/4/hal. 75).

            Syaikhul Islam رحمه الله ditanya tentang seseorang yang berkata: “Sesungguhnya para Nabi عليهم الصلاة والسلام itu ma’shum dari dosa-dosa besar, bukan dosa-dosa kecil.” Maka ada orang yang mengkafirkannya dengan sebab ucapan ini. Maka apakah orang yang mengucapkan tadi itu keliru ataukah benar? Dan apakah satu orang dari mereka ada yang berpendapat tentang kema’shuman para Nabi secara mutlak?”

            Maka beliau رحمه الله menjawab: “Alhamdulillah robbil ‘alamin. Dengan kesepakatan ahli agama, orang tadi tidak kafir. Dan bukan pula ini termasuk dari masalah-masalah cercaan yang diperselisihkan bahwasanya orang yang mengucapkannya itu dituntut untuk tobat dari ucapan tadi. Tanpa ada perselisihan, sebagaimana terang-terangan menjelaskan itu Al Qodhi ‘Iyadh dan yang semisal dengan beliau, padahal mereka itu keras sekali berpendapat tentang kema’shuman para Nabi dan hukuman bagi orang yang mencerca Nabi. Bersamaan dengan itu mereka bersepakat bahwasanya ucapan macam tadi bukan termasuk dari masalah-masalah cercaan dan hukuman, lebih-lebih untuk si pengucapnya menjadi kafir atau fasiq. Ini dikarenakan bahwasanya pendapat bahwasanya para Nabi terjaga dari dosa-dosa besar dan bukan dosa-dosa kecilnya adalah ucapan mayoritas ulama Islam dan seluruh kelompok, sampai bahkan itu adalah ucapan kebanyakan ahli kalam, sebagaimana disebutkan oleh Abul Hasan Al Amidiy: bahwasanya itu adalah pendapat mayoritas Asy’ariyyah. Dan itu juga pendapat mayoritas ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Bahkan tidak dinukilkan dari Salaf, para imam, Shohabat dan Tabi’in dan para pengikut mereka kecuali ucapan yang mencocoki pendapat ini.” –sampai pada ucapan beliau:- “Hanyalah ucapan ini (kema’shuman yang mutlak) pada zaman terdahulu dari Rofidhoh, kemudian dari sebagian Mu’tazilah, kemudian sekelompok dari generasi belakangan mencocoki mereka. Hampir semua yang dinukilkan dari mayoritas ulama adalah bahwasanya mereka itu tidak terjaga dari menyetujui dosa-dosa kecil, dan tidak pula mereka didiamkan oleh Alloh terdosa kecil mereka. Dan para ulama tadi tidak berkata: “Bahwasanya dosa kecil itu tidak terjadi sama sekali.”

            Dan yang pertama kali kelompok dari umat ini yang dinukilkan dari mereka pendapat ishmah secara mutlak, dan yang paling besar mengucapkan itu adalah Rofidhoh, karena mereka itu berpendapat ishmah (keterjagaan) sampai terhadap perkara yang terjadi karena lupa dan ta’wil.” –sampai pada ucapan beliau:-

            “Maka barangsiapa mengkafirkan orang-orang yang berpendapat tentang mungkinnya dosa kecil terhadap para Nabi itu, maka berarti dia menyerupai orang-orang Isma’iliyyah, Nushoiriyyah, Rofidhoh dan Itsna ‘Asyariyyah tadi. Pegkafiran tadi bukanlah pendapat seorangpun dari para pengikut Abu Hanifah, ataupun Malik, ataupun Asy Syafi’iy , … dst.”

(“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 319-320/cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah).

            Ibnu Hazm رحمه الله berkata: “Jika ada seorang pembantah membantah dengan menyebutkan perbuatan Nabi عليه السلام dalam mengambil tebusan, lalu turunlah kritikan pada beliau atas perbuatan beliau tadi ayat yang turun tersebut, maka jawab kami adalah: bahwasanya kami tidak mengingkari bahwasanya Nabi عليه السلام itu bisa saja melakukan suatu perkara yang tidak didahului oleh larangan dari Robbnya ta’ala, hanya saja beliau tidak dibiarkan dengan perbuatan tadi, bahkan pastilah Alloh akan mengingatkan beliau atas perbuatan tadi.

            Adapun adanya kekeliruan dari Nabi صلى الله عليه وسلم dalam keadaan beliau bermaksud berbuat baik dengan perbuatan tadi, maka kami tidak mengingkari terjadinya itu, hanya saja beliau tidak akan dibiarkan dengan kekeliruan tadi sama sekali, dan ini tidak boleh terjadi pada pensyariatan syariat ataupun dalam pewajiban atau pengharoman. Hanya saja kesalahan tadi terjadi pada perkara yang nilainya adalah boleh untuknya karena sebelum itu memang tidak dilarang, akan tetapi seperti perlakuan beliau terhadap Ibnu Ummi Maktum ketika turun “Dia bermuka masam dan berpaling.” (“Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam”/2/hal. 407).

            As Sarkhosiy رحمه الله berkata:  “Dan dalil tentang kaidah ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Khoulah رضي الله عنها ketika datang pada beliau menanyai beliau tentang zhihar yang diucapkan oleh suaminya, maka beliau menjawab: “Aku tidak berpendapat tentangmu kecuali bahwasanya engkau telah harom untuk suamimu.” Maka dia berkata: “Saya mengeluh pada Alloh.” Maka Alloh ta’ala menurunkan:

﴿قد سمع الله قول التي تجادلك﴾ الآية

“Sungguh Alloh telah mendengar ucapan wanita yang mendebatmu” al ayah.

Maka tahulah kami bahwasanya beliau terkadang berfatwa dengan ro’yu dalam hukum-hukum syariat, dan beliau tidak dibiarkan di atas kesalahan. Dan ini dikarenakan kami diperintahkan untuk mengikuti beliau. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وما آتاكم الرسول فخذوه

“Dan apapun yang dibawa kepada kalian oleh Rosul maka ambillah dia.”

Dan ketika beliau menjelaskan dengan ro’yu dan diiqrorkan (dibiarkan/disetujui), jadilah mengikuti hal itu adalah kewajiban bagi kita, tiada tempat menghindar, maka tahulah kita bahwasanya yang demikian itu adalah kebenaran yang teryakini (pasti). Dan yang semisal itu tidak didapatkan pada umat ini (pengikut beliau). Maka seorang mujtahid itu terkadang keliru dan dibiarkan di atas kekeliruannya. Oleh karena itulah makan ro’yu orang selain Nabi itu tidak mewajibkan adanya ilmu yakin, dan tidak pula pantas untuk hukum itu dipancangkan dengan ro’yu selain Nabi pada permulaannya, bahkan hukum tadi harus merupakan kepanjangan dari hukum nash yang sampai kepada perkara yang belum dinashkan.

            Dan dalil tentang itu adalah bahwasanya telah pasti berita dengan nash bahwasanya beliau pernah beramal dengan ro’yu di dalam perkara yang beliau belum disetujui di situ, dan terkadang beliau dikritik karenanya, dan terkadang beliau tidak dikritik. Maka termasuk dari perkara yang beliau dikritik di situ adalah apa yang diisyaratkan pada firman Alloh ta’ala:

﴿عفا الله عنك لم أذنت لهم

“Semoga Alloh memaafkanmu, kenapa engkau memberi idzin pada mereka”

Dan dalam firman-Nya ta’ala:

﴿عبس وتولى أن جاءه الأعمى

“Dia bermuka masam dan berpaling”

            Dan termasuk dari perkara yang beliau tidak dikritik tentangnya adalah apa yang diriwayatkan bahwasanya manakala beliau masuk ke rumah beliau dan meletakkan senjata ketika usai dari perang Ahzab, Jibril عليه السلام mendatangi beliau dan berkata: “Engkau telah meletakkan senjata sementara para malaikat belum meletakkan senjata.” Lalu Jibril memerintahkan beliau untuk pergi ke Bani Quroizhoh.

            Dan termasuk dari itu adalah bahwasanya beliau memerintahkan Abu Bakr رضي الله عنه untuk menyampaikan surat Baroah kepada musyrikin pada tahun yang di situ beliau memerintahkan Abu Bakr untuk memimpin orang-orang berhaji. Lalu beliau didatangi oleh Jibril عليه السلام seraya berkata: “Jangan menyampaikan Baroah tadi kepada mereka kecuali orang dari nasabmu.” Maka beliau mengutus Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه menyusul Abu Bakr agar dialah yang menjadi penyampai surat tadi kepada mereka. Dan kisah tentang itu telah dikenal.

Maka dengan ini menjadi jelaslah bahwasanya dulu Nabi juga beramal dengan ro’yu. Dan beliau itu tidak diiqrorkan kecuali pada perkara yang benar. Oleh karena itu maka tidak boleh menyelisihi beliau dalam perkara yang beliau tetapkan, karena beliau itu ketika diiqrorkan akan apa yang beliau tetapkan, maka terbentuklah keyakinan (atau kepastian) bahwasanya kebenaran itu ada di situ, sehingga tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihi beliau dalam perkara itu.

Adapun firman Alloh ta’ala:

﴿وما ينطق عن الهوى

“Dan tidaklah beliau berkata dari hawa nafsunya”

Telah dijawab bahwasanya ini dalam perkara yang dibacakan pada beliau dari Al Qur’an dengan dalil awal surat firman-Nya ta’ala:

﴿والنجم إذا هوى

“Demi bintang apabila jatuh.”

Yaitu: demi Al Qur’an jika diturunkan.

Dikatakan juga: yang dimaksudkan dengan hawa adalah hawa nafsu, yang memerintahkan pada kejelekan. Dan tidak boleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengikuti hawa nafsu atau berbicara dengan itu. Akan tetapi metode istimbath dan ro’yu bukanlah hawa nafsu. Dan ini juga ta’wil dari firman Alloh ta’ala:

﴿قل ما يكون لي أن أبدله من تلقاء نفسي

“Katakanlah: aku tidak punya hak untuk menggantinya dari diriku sendiri.”

Kemudian dalam firman-Nya:

﴿إن أتبع إلا ما يوحى إلي

“Tidaklah aku mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”

Itu semua menerangkan seluruh apa yang kami katakan, dikarenakan mengikuti wahyu itu hanyalah sempurna dalam mengamalkan perkara yang di situ ada wahyu tentangnya, dan istinbath makna yang ada di dalamnya untuk menetapkan hukum pada kasus yang semisal dengannya, dan itu adalah terjadi dengan ro’yu.

            Kemudian telah kami jelaskan bahwasanya beliau tidak diiqrorkan kecuali pada perkara yang benar. Jika beliau diiqrorkan dalam perkara tadi maka dia adalah dalam makna wahyu, dan dia menyerupai wahyu dalam permulaan hukum, berdasarkan apa yang kami jelaskan. Hanya saja kami syaratkan dalam masalah itu bahwasanya ro’yu itu dipakai ketika keinginan untuk mendapatkan jawaban dari wahyu itu sudah habis, dan itu seperti apa yang disyaratkan pada umat ini dalam beramal dengan ro’yu, hendaknya dia memaparkannya pada Al Kitab dan As Sunnah. Jika tidak didapatkan penjelasannya dari situ, maka ketika itulah mereka boleh berijtihad dengan ro’yu.”

(selesai dari “Ushulus Sarkhosiy”/2/hal. 95-96).

            Maka yang benar adalah bahwasanya sunnah itu sebagiannya adalah wahyu, dan sebagiannya adalah ijtihad Nabi yang mana jika ijtihad tadi benar, maka Alloh menyetujuinya, tapi jika keliru, maka Alloh menurunkan perbaikannya agar menjadi benar.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Ibnu Baththoh berkata dalam risalah yang beliau tuliskan kepada Ibnu Syaqila dalam jawaban-jawaban beliau terhadap masalah-masalah, beliau berkata: “Dan dalil yang menunjukkan bahwasanya sunnah beliau dan perintah-perintah beliau di dalamnya ada yang tanpa wahyu dan bahwasanya itu adalah dengan ro’yu beliau dan pilihan beliau, adalah bahwasanya beliau itu dikritik terhadap sebagian sunnah beliau. Andaikata sunnah yang tadi adalah perintah dari Alloh, niscaya Alloh tidak mengkritik beliau dalam sunnah tersebut.

            Dan termasuk dari kejadian tersebut adalah masalah tawanan Badr dan pengambilan tebusan, dan izin beliau pada perang Tabuk untuk orang-orang yang tidak ikut perang dengan udzur, sampai bahkan orang yang tak punya udzur pun ikut tertinggal.

Dan di antara dalilnya adalah firman Alloh:

﴿وشاورهم في الأمر﴾

“Dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam perkara.”

Andaikata sunnah itu adalah wahyu, niscaya beliau tidak mengajak musyawarah dalam perkara itu.”

Al Qodhi berkata: “Dan Ahmad telah mengisyaratkan pada benarnya apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ibnu Baththoh dalam riwayat Al Maimuniy ketika dikatakan pada beliau: di sini ada suatu kaum yang berkata: apa yang ada di dalam Al Qur’an kami berpendapat dengannya. Beliau menjawab: apakah di dalam Al Qur’an ada pengharoman keledai jinak? Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ألا أني أوتيت الكتاب ومثله معه»

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al Kitab dan yang semisal dengannya bersamanya.”

Apa yang mereka ketahui tentang apa yang diberikan pada beliau?

Adapun Abu Hafsh Al Ukbariy maka beliau menyebutkan pada bab tas’ir (pengendalian harga) sabda Nabi:

«لا يسألني الله عن سنة أحدثتها فيكم لم يأمرني الله بها»

“Jangan sampai Alloh menanyaiku tentang sunnah yang aku adakan pada kalian yang Alloh tidak memerintahkan aku dengannya.”

Beliau berkata: “Ini menunjukkan bahwasanya setiap sunnah yang disunnah oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk umatnya, maka itu adalah dengan perintah Alloh. Dan dengan inilah Al Qur’an berbicara.”

            Aku (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) katakan: ucapan Ahmad jika menunjukkan pada sesuatu, maka tidaklah dia menunjukkan kecuali pada pendapat yang kedua, karena beliau berdalilkan dengan sabda Nabi: “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al Kitab dan yang semisal dengannya bersamanya.” Dan yang diberikan pada beliau adalah sunnah. Maka tidak ada di sisi Ahmad sedikitpun yang dari hasil ijtihad di situ. Hanyalah ijtihad beliau itu pada perkara-perkara parsial dari ucapan atau perbuatan dari bab realisasi illah (motif suatu hukum), dan ini tidak ada perselisihan di dalamnya. Dan kisah Dawud adalah masuk dalam bab ini. Dan wajib untuk membedakan antara hukum-hukum yang bersifat menyeluruh dan umum dengan hukum-hukum pribadi yang khusus.”

(selesai dari “Al Musawwadah”/hal. 452-453).

            Asy Syathibiy رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya hadits itu bisa jadi berupa wahyu murni dari Alloh, dan bisa jadi adalah ijtihad dari Rosul عليه السلام والسلام yang terpandang dengan wahyu yang shohih dari Kitab atau Sunnah. Dan berdasarkan kedua kemungkinan, tidak mungkin di dalamnya terjadi kontradiksi dengan Kitabulloh, karena beliau عليه الصلاة والسلام tidak berbicara dari hawa nafsu beliau, itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.” (“Al Muwafaqot”/4/hal. 21).

            Ibnun Najjar Al Hanbaliy رحمه الله berkata tentang bolehnya ijtihad untuk Nabi صلى الله عليه وسلم : “Dan didalilkan untuk pendapat  yang benar, yaitu bolehnya beliau berijtihad dan itu memang terjadi, bahwasanya tidak mengharuskan perkara yang mustahil, dan bahwasanya pada asalnya adalah beliau itu bersekutu dengan umat beliau. Dan didalilkan juga dengan lahiriyyah dari firman Alloh ta’ala:

﴿فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ﴾ [الحشر: 2].

“Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang punya mata.”

Dan firman Alloh ta’ala:

﴿وشاورهم في الأمر﴾

“Dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam perkara.”

Dan jalan musyawaroh adalah ijtihad. Dan di dalam Shohih Muslim: bahwasanya beliau bermusyaawaroh tentang tawanan Badar, maka Abu Bakr mengisyaratkan untuk mengambil tebusan, sementara Umar mengisyaratkan agar tawanan dibunuh saja. Lalu pada keesokan harinya Umar datang dalam keadaan Nabi dan Abu Bakr menangis. Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«أبكي للذي عرض علي أصحابك من أخذهم الفداء»

“Aku menangis karena perkara yang disodorkan padaku oleh para sahabatmu untuk mengambil tebusan.”

Dan Alloh سبحانه وتعالى menurunkan:

﴿ما كان لنبي أن يكون له أسرى حتى يثخن في الأرض﴾

“Dan tidaklah pantas untuk Nabi itu memiliki tawanan sampai dirinya menaklukkan di bumi.”

            Dan juga:

﴿عفا الله عنك لم أذنت لهم﴾

“Semoga Alloh memaafkanmu, kenapa engkau memberi idzin pada mereka”

            Ibnu Aqil berkata dalam “Al Funun”: “Itu adalah termasuk dalil kerosulan yang terbesar, karena andaikata ayat-ayat tadi dari sisi beliau, niscaya beliau menutupi diri beliau, atau membenarkannya untuk kemaslahatan yang beliau dakwakan. Dan di dalam “Shohihain”:

«لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدي»

“Seandainya aku masih dipanjangkan umurku (bisa berhaji tahun depan), niscaya aku tidak akan menggiring hadyu (ternak sembelihan untuk haji atau umroh).”

Hanyalah itu terjadi dalam perkara yang tidak diwahyukan pada beliau didalamnya. Dan didalilkan dengan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم ketika ingin turun di Badr sebelum mata air, Al Hubab ibnul Mundzir berkata pada beliau: “Jika ini adalah dengan wahyu, maka iya. Tapi jika itu adalah berupa ro’yu dan untuk tipu muslihat, maka turunlah Anda dengan orang-orang di mata air agar Anda bisa menghalangi musuh dari mata air.” Maka beliau bersabda:

«ليس بوحي ، إنما هو رأي واجتهاد رأيته»

 “Ini bukan dengan wahyu, ini tadi adalah ro’yu dan ijtihad yang aku pandang.”

Dan beliau kembali pada ucapan Al Hubab. Dan begitu pula beliau rujuk pada pendapat Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubadah ketika beliau ingin perdamaian di perang Ahzab dengan memberikan setengah panen kurma Madinah, padahal beliau telah menulis beberapa surat dengan itu. Dan keduanya berkata pada beliau: “Jika itu adalah dengan wahyu maka kami mendengar dan taat. Tapi jika itu adalah dengan ijtihad, maka ini bukanlah ro’yu yang bagus.”

            Dan didalilkan juga dengan dalil-dalil yang lain, maka itu semua menunjukkan bahwasanya beliau beribadah dengan ijtihad. Dan berdasarkan pendapat yang membolehkan bagi beliau صلى الله عليه وسلم untuk berijtihad dan memang telah terjadi dari beliau, beliau tidak dibiarkan di atas kekeliruan, secara ijma’. Dan ini menunjukkan tentang bisa terjadinya kesalahan, akan tetapi beliau tidak dibiarkan di atas kekeliruan. Dan ini dipilih oleh Ibnul Hajib, Al Amidiy, dan dinukilkan dari mayoritas pengikut Asy Syafi’iy, Hanabilah dan ahli hadits.”

(selesai dari “Syarhul Kaukabil Munir”/ha. 568-569/Darul Kutubil Ilmiyyah).

            Ibnul Hajib رحمه الله berkata: “Mayoritas ulama berpendapat bahwasanya secara akal, para Nabi صلى الله عليه وسلم itu tidak mustahil mengalami perbuatan maksiat. Rofidhoh menyelisihi pendapat ini. Mu’tazilah juga menyelisihi ini kecuali dosa-dosa kecil. Patokan mereka adalah: bahwasanya mereka menganggap hal itu adalah buruk, dengan semata-mata akal. Telah terbentuk ijma’ bahwasanya mereka setelah menjadi Rosul terjaga dari kesengajaan berkata dusta dalam hukum-hukum, karena mu’jizat menunjukkan pada kejujuran mereka. Dan Al Qodhiy menyatakan bisa saja terjadi kekeliruan. Dan beliau berkata: mu’jizat menunjukkan keyakinan akan kejujuran mereka. Adapun maksiat-maksiat yang lain, maka ijma’ terbentuk bahwasanya mereka terjaga dari dosa besar dan dosa kecil yang hina. Dan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya bisa saja terjadi kesalahan yang selain dua jenis perkara tadi.” (“Rof’ul Hajib ‘An Mukhtashor Ibnil Hajib”/2/hal. 100-102).

            Kesimpulan: bahwasanya sunnah itu mayoritasnya adalah wahyu, tauqifiyy (ikut dalil wahyu). Dan sebagian sunnah itu ijtihad dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم , jika benar, maka ijtihad beliau itu adalah taufiq dan disetujui oleh Alloh. Tapi jika salah, maka Alloh tidak membiarkan beliau di atas kesalahan. Dan dalil-dalil menunjukkan bahwasanya ijtihad beliau itu terkadang salah, lalu Alloh ta’ala menurunkan pembenarannya sehingga beliau tidak berlama-lama di dalam kesalahan.

            Lihatlah pada hujjah-hujjah yang bercahaya ini, yang menunjukkan benarnya pendapat Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله , dan bahwasanya beliau itulah yang mengikuti Al Kitab, As Sunnah dan As Salafiyyah. Adapun para pengekor hawa nafsu semisal Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Luqman Ba Abduh, yang menjadi panutan mereka dalam bab ini adalah Rofidhoh dan semisalnya.

            Dan yang mengherankan adalah: bahwasanya mereka itu baku bantu dengan Asy Syaikh Robi’ di dalam dosa dan permusuhan untuk menzholimi Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau dari kalangan ulama dan Salafiyyin, sementara aqidah yang mereka hujat terhadapa Asy Syaikh Yahya itu adalah aqidah Asy Syaikh Robi sendiri! Dan itu adalah aqidah sunniyyah, yang benar.

            Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy وفقه الله berkata: “Dan banyak ayat-ayat yang memberikan hujatan macam ini,  hujatan terhadap orang-orang kafir, hujatan terhadap Yahudi, hujatan terhadap Nashoro, hujatan terhadap musyrikin, hujatan terhadap munafiqin, ayat-ayat yang banyak semuanya dalam menjelaskan hujatan dan penerangan. Dan di dalam sunnah banyak juga yang seperti itu.

            Maka misalkan dalam Al Qur’an: Alloh جل ذكره berfirman:

﴿عَفَا الله عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ﴾ [التوبة: 43].

“Semoga Alloh memaafkanmu, kenapa engkau memberi idzin pada mereka (para munafiqin) sampai jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sampai engkau tahu orang-orang yang dusta.”

Ijtihad dari Nabi عليه الصلاة والسلام. Datang orang-orang munafiqun mengemukakan udzur seraya berkata: “Wahai Rosululloh, saya ada ini dan itu,” “saya mengalami ini dan itu.” Yang ini berkata: “Saya sakit.” Dan Rosul memberikan udzur pada mereka. Dan udzur-udzur itu semua adalah kedustaan. Maka Alloh menurunkan ayat ini: “Semoga Alloh memaafkanmu,” dan seterusnya. Yaitu ini adalah pelajaran untuk Rosululloh dan untuk umat ini selamanya. –lalu beliau حفظه الله menyebutkan beberapa hujjah, lalu beliau berkata:- ini semua di dalamnya ada pengarahan walaupun untuk Rosul صلى الله عليه وسلم , yaitu: perbuatan-perbuatan Rosul itu tidak disetujui jika tidak sesuai dengan apa yang ada di sisi Alloh, seperti ijtihad di dalamnya ada kekeliruan. Datang –demi Alloh- pengarahan, kritikan dan perbaikan. Tidak dikatakan bahwasanya di dalam ucapan ini ada gangguan terhadap pribadi Muhammad عليه الصلاة والسلام , atau berkata: “Aku adalah utusan Alloh, aku tidak boleh dibantah.”

Andaikata Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyembunyikan sesuatu pastilah beliau menyembunyikan perkara-perkara ini (ayat-ayat yang mengkritik beliau), sebagaimana yang dikatakan Aisyah رضي الله عنها : Andaikata Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyembunyikan sesuatu pastilah beliau menyembunyikan ayat ini:

﴿وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ الله عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ الله وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا الله مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَالله أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ﴾ (الأحزاب: من الآية37)

“Dan ingatlah ketika engkau berkata pada orang yang Alloh berikan nikmat padanya dan Engkau berikan nikmat padanya: “Tahanlah istrimu untuk dirimu, dan bertaqwalah pada Alloh,” dan engkau menyembunyikan pada dirimu perkara yang Alloh akan menampakkannya, dan engkau takut pada manusia dan Alloh lebih berhak untuk engkau takuti.”

Tentang kisah Zainab. Lihatlah hujatan ini untuk Rosululloh yang mulia عليه الصلاة والسلام.”

(selesai dari risalah “An Naqd Manhajun Syar’iy”/Mausu’ah Kutub Wa Rosailisy Syaikh Robi’/2/hal. 499-500/cet. Darul Imam Ahmad).

            Arofat dan Bukhoriy dan yang semisalnya menghujat Asy Syaikh Yahya dengan ucapan yang buruk disebabkan oleh aqidah tadi, padahal itu adalah aqidah salafiyyah yang diyakini Asy Syaikh Robi’ juga. Akan tetapi mereka menyerang Asy Syaikh Yahya dengan itu dan membiarkan Asy Syaikh Robi’. Kami berlindung pada Alloh dari hawa nafsu dan keburukannya.

Alloh -‘azza wajalla- berfirman di kitab-Nya yang mulia:

ياأيّها الّذين آمنوا كونوا قوّامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيًّا أو فقيرًا فالله أولى بهما فلا تتّبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإنّ الله كان بما تعملون خبيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

            Dan tidaklah keadaan tadi –bahwasanya Nabi pernah salah dalam ijtihad- itu sebagai kekurangan bagi beliau.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan jenis ini paling bisa menunjukkan kejujuran Rosul صلى الله عليه وسلم dan jauhnya beliau dari hawa nafsu dari jenis tadi, karena beliau itu jika memerintahkan dengan suatu perkara, lalu beliau memerintahkan yang menyelisihi perintah yang tadi, dan kedua perintah tadi adalah dari sisi Alloh, dan beliau dibenarkan dalam yang demikian itu. Maka jika beliau bersabda dari diri beliau sendiri, maka sesungguhnya perintah yang kedua itulah yang datang dari sisi Alloh, dan menjadi penghapus bagi yang pertama. Dan sesungguhnya perintah yang dihilangkan tadi, yang Alloh hapus tadi, tidaklah demikian (tidak datang dari sisi Alloh, tapi dari ijtihad beliau), maka yang demikian itu paling bisa menunjukkan bahwasanya beliau itu bertopang pada kejujuran, dan perkataan beliau itu benar. Dan ini seperti yang dikatakan oleh Aisyah رضي الله عنها : “Andaikata Muhammad صلى الله عليه وسلم menyembunyikan sesuatu dari wahyu pastilah beliau menyembunyikan ayat ini:

﴿وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا الله مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَالله أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ﴾ (الأحزاب: من الآية37)

“Dan engkau menyembunyikan pada dirimu perkara yang Alloh akan menampakkannya, dan engkau takut pada manusia dan Alloh lebih berhak untuk engkau takuti.”

            Tidakkah engkau melihat bahwasanya orang yang mengagungkan dirinya sendiri dengan kebatilan, dia ingin menolong seluruh apa yang diucapkannya sekalipun keliru. Maka penjelasan Rosul صلى الله عليه وسلم bahwasanya Alloh memantapkan ayat-ayat-Nya dan menghapus apa yang dilemparkan oleh setan, penjelasan itulah yang paling menunjukkan kepada kesungguhan beliau untuk setia pada kejujuran dan berlepasdirinya dari kedustaan. Dan inilah yang dimaksudkan dengan risalah, karena sesungguhnya beliau itu jujur dan dibenarkan صلى الله عليه وسلم تسليما . Oleh karena itulah maka pendustaan terhadap beliau itu adalah kekufuran yang murni, tanpa ada keraguan.”

(“Al Fatawal Kubro”/5/hal. 249).

            Dan kami katakan pada Arofat, Abdulloh Al Bukhoriy, Luqman Ba Abduh dan yang lainnya dengan perkataan Asy Syaikh Robi’ sendiri: “Tidak dikatakan bahwasanya di dalam ucapan ini ada gangguan terhadap pribadi Muhammad عليه الصلاة والسلام.”

            Dan telah lewat dari perkataan Syaikhul Islam رحمه الله bahwasanya keyakinan adanya ‘ishmah yang mutlak untuk Nabi dan mustahilnya beliau mengalami kesalahan sama sekali, sesungguhnya itu ada keterkaitan dengan aqidah Isma’iliyyah, Nushoiriyyah, Rofidhoh dan Itsna Asyariyyah.

            Dan perkataan tadi pada masa ini telah menjadi perkataan sebagian hizbiyyin.

            Aku mendengar Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata dalam rekaman suara beliau: “… telah tersebar di tengah-tengah mereka sebagian dasar-dasar yang menyelisihi Islam, di antaranya adalah: hizb-hizb. Didapatkan di sana ada Hizb Islamiy di negri ini, dan negri yang lain, hizb itu berkata: “Tidak boleh bagi Rosul صلى الله عليه وسلم untuk berijtihad. Rosul itu tidak berijtihad.” Demikianlah anggapan mereka. Akan tetapi anggapan ini tertolak dengan banyaknya nash-nash. Dan orang-orang yang mendakwakan dakwaan ini niat mereka –wallohu a’lam- baik. Akan tetapi dari sisi buahnya adalah buah yang jelek, karena niat tadi menyerupai niat baik dari firqoh-firqoh terdahulu yang mengingkari nash-nash dari Al Kitab dan As Sunnah yang jelas karena mereka mengira bahwasanya berpegang dengan nash-nash berdasarkan zhohirnya sebagaimana yang mereka sangka adalah menyebabkan terbengkalainya syariat … -lafazhnya tidak jelas-… di dalam salah satu sisinya. Orang-orang yang menyangka bahwasanya Rosul عليه الصلاة والسلام tidak berijtihad akan berkata: “Jika begitu maka kami tidak tahu jika kami mengambil salah satu ro’yu Rosul yang beliau ijtihad di situ bisa jadi beliau keliru.” Di sinilah datang jawaban kami: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم jika bersabda:

«إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد».

“Jika seorang hakim menetapkan hukum maka dia berijtihad lalu dia mencocoki kebenaran maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia keliru maka dia mendapatkan satu pahala.” [HR. Muslim (1716) dari Amr ibnul ‘Ash dan Abu Huroiroh رضي الله عنهما].

            Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم lebih pantas untuk berijtihad dan lebih dekat kepada mencocoki kebenaran, dan mendapatkan pahala yang berlipat tersebut. Maka kenapa kita berkata bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak berijtihad sementara pada kenyataannya beliau memang telah berjtihad? Akan tetapi kami katakan: jika beliau berijtihad lalu keliru, maka dengan cepat wahyu membenarkannya. Inilah yang aku katakan baru saja: “Diwahyukan kepadaku” yaitu: diwahyukan kepadaku dengan hukum syar’iy atau dengan pembenaran (kesalahannya diperbaiki sehingga jadi benar) ijtihad nabawiy. Maka ketika itu kita berkata: kita dalam jaminan keamanan dari mengikuti Rosul dalam perkara yang beliau berijtihad dan keliru. Jauh sekali jika kita anggap beliau dibiarkan keliru.”

Selesai penukilan yang diinginkan.

Bab Sembilan Belas:

Apakah Asy Syaikh Yahya Meyakini Atau Menyetujui Bahwasanya Ucapan Rosul صلى الله عليه وسلم Tidak Diterima Kecuali Dengan Dalil?

          Abdulloh bin Abdirrohim Al Bukhoriy: “Dan dia –Asy Syaikh Yahya- menuduh Nabi عليه الصلاة والسلام dengan perkara penghancur ini yaitu ucapannya dengan perkara yang besar ketika dia mengidzinkan disebarnya risalah yang di dalamnya penetapan bahwasanya Nabi عليه الصلاة والسلام tidak diterima perkataannya kecuali dengan dalil. Dalil apa yang engkau inginkan wahai orang busuk, ketika engkau menuntut dalil dari Rosululloh عليه الصلاة والسلام? … dst”

            Jawaban kami –dengan taufiq Alloh-:

            Ini juga bagian dari membebeknya Abdulloh Al Bukhoriy terhadap si tukang fitnah Arofat Al Bashiriy yang berkata: “Dasar ketiga: dia (Asy Syaikh Yahya) membaca dan mengidzinkan disebarkannya risalah sebagaimana tertulis di lembaran judulnya, penulisnya berkata: “Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم ucapannya tidak diterima kecuali dengan dalil atau hujjah yang membolehkan.” Selesai.

            Jawaban kami terhadap kedustaan Arofat adalah dari lima sisi: sisi pertama: sesungguhnya yang diinginkan oleh Arofat dan para pembebeknya adalah kasus risalah “Mulhaqul Minzhor” karya Asy Syaikh Al Fadhil Muhammad Ba Jammal حفظه الله. Akan tetapi ungkapan beliau tidak seperti yang dikatakan oleh para hizbiyyun tersebut. Itu memang termasuk dari kebiasaan Arofat Al Bashiriy: banyak berkhianat dalam penukilan. Sesungguhnya Kalimat Asy Syaikh Al Fadhil Muhammad Ba Jammal حفظه الله adalah sebagai berikut:

وفي مسلم عن رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ t قَالَ: قَدِمَ نَبِيُّ اللهِ r الْمَدِينَةَ وَهُمْ يَأْبُرُونَ النَّخْلَ، يَقُولُونَ: يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ، فَقَالَ: «مَا تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: كُنَّا نَصْنَعُهُ، قَالَ: «لَعَلَّكُمْ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ خَيْرًا» فَتَرَكُوهُ فَنَفَضَتْ أَوْ فَنَقَصَتْ، قَالَ: فَذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: «إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ، فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ».

فهذا رسول الله r؛ فمن دونه من البشر لا يقبل قوله إلا بدليل، أو بحجة مسوغة، مع إجلالنا له، هذا ما تربينا عليه عند والدنا وشيخنا الإمام الوادعي –رحمه الله-، وهو المأثور عن سلفنا الصالح، لكن ليس كدندنة أبي الحسن والمتعصبين له. وإن من المقطوع به أن الحق لا يعرف بالرجال، وبكبر سنهم، وبأنه شيخ فلان وهذا تلميذه، وإنما يعرف الرجال بالحق وإن كان تلميذه، ودونه في السن، وكتب التراجم مشحونة بكلام التلاميذ في مشايخهم جرحًا و تعديلا.

“Dan di dalam Shohih Muslim dari Rofi’ bin Khodij رضي الله عنه yang berkata: Nabi Alloh صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah dalam keadaan mereka melakukan penyerbukan terhadap pohon korma. Mereka menyebutnya dengan: talqihun nakhl. Maka beliau bertanya: “Apa yang kalian lakukan?” mereka menjawab: “Kami sejak dulu melakukannya.” Beliau bersabda: “Barangkali jika kalian tidak melakukannya maka dia itu lebih baik.” Maka merekapun meninggalkan itu. Maka berkuranglah hasilnya. Maka merekapun menyebutkan hal itu pada beliau. Maka beliau bersabda: “Aku itu hanyalah manusia biasa. Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara dari agama kalian, maka ambillah dia. Dan jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara dari ro’yu, maka aku itu hanyalah manusia biasa.”

Maka ini adalah Rosululloh صلى الله عليه وسلم; maka yang selain beliau dari kalangan manusia biasa tidaklah diterima perkataannya kecuali dengan dalil, atau hujjah yang membolehkan, bersamaan dengan pengagungan kami padanya. Inilah yang kita dididik di atasnya di sisi bapak kami dan syaikh kami Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله , dan itu ada atsar tentangnya dari para pendahulu kita yang sholih, akan tetapi tidaklah seperti dendangan Abul Hasan dan orang-orang yang fanatik padanya. Dan sesungguhnya termasuk perkara yang bisa dipastikan adalah bahwasanya kebenaran itu tidak dikenal dengan tokoh-tokoh, ataupun dengan besarnya umur mereka, ataupun bahwasanya dia adalah syaikh fulan, dan ini adalah muridnya. Justru para tokoh itu dikenal dengan kebenaran, dan sekalipun dia dulu adalah muridnya, lebih muda usianya. Dan kitab-kitab biografi penuh dengan ucapan para murid terhadap masyayikh mereka, dan jarh dan ta’dil.”

(selesai dari “Mulhaqul Minzhor”/hal. 9).

            Perhatikanlah wahai orang yang menginginkan kebenaran dan keadilan, bahwasanya Asy Syaikh Muhammad Ba Jammal tidak memaksudkan bahwasanya Rosul صلى الله عليه وسلم tidak diterima ucapannya kecuali dengan dalil dan hujjah, bahkan beliau menginginkan bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu diterima ucapannya tanpa dituntut dalil ataupun hujjah, sama saja apakah diketahui hikmahnya ataukah tidak, seperti dalam hadits di atas, karena beliau itu sendiri adalah hujjah, maka kewajiban kita adalah bersegera menjalankannya tanpa menunggu-nunggu perbaikan atau nasakh dari Alloh, atau datangnya penetapan dan persetujuan dari Alloh. Adapun orang yang selain beliau maka dia itulah yang tidak diterima ucapannya kecuali dengan dalil dan hujjah, karena kebenaran itu tergantung pada dua perkara tadi (dalil dan hujjah), bukan sekedar tuanya umur dan yang semisal itu. Inilah yang diinginkan oleh Asy Syaikh حفظه الله.

Ini jelas sekali bagi orang-orang yang membebaskan diri dari mengikuti hawa nafsu. Akan tetapi taufiq itu memang di tangan Alloh semata.

            Kemudian sisi yang kedua: ketahuilah bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله terkadang tidak menelusuri seluruh lafazh risalah karena kesibukan-kesibukan beliau. Dan terkadang sebagian penulis itu memperbaiki lagi kalimat-kalimat dalam risalahnya tadi setelah Asy Syaikh Yahya حفظه الله mengembalikan risalah tadi kepada mereka. Dan ini biasa terjadi pada banyak penulis.

            Maka Syaikh kami punya udzur dalam perkara tadi. Yang memikul kesalahan –jika terjadi- adalah sang penulisnya, karena Asy Syaikh Yahya tidak berkeyakinan bahwasanya sabda Rosul صلى الله عليه وسلم itu tidak diterima kecuali dengan dalil. Dan Asy Syaikh Yahya tidak tahu adanya kalimat yang keliru tadi –andaikata yang tertulis adalah kalimat versi Arofat al kadzdzab tadi-.

            Dulu kitab “As Sirojul Wahhaj” milik si mubtadi’ Abul Hasan Al Mishriy di dalamnya ada bencana- bencana besar, dan disebutkan bahwasanya sejumlah ulama besar memberikan kata pengantar untuknya. Dan tidaklah celaan itu dipikulkan kepada para ulama yang mulia tadi, selama tidak diketahui bahwasanya mereka memang mendapati kesalahan-kesalahan tadi. Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله telah memberikan udzur pada mereka dan beliau berkata tentang Asy Syaikh Ibnu Baz رحمه الله: “Dan orang yang mengamati kitab ini akan mengetahui bahwasanya ini bukanlah kata pengantar untuk kitab tersebut, dan dia mengetahui bahwasanya di dalamnya kritikan terhadap kitab tadi, di antaranya adalah: si penulisnya memasukkan masalah-masalah parsial dalam kitab aqidah. Dan dalam pembicaraan beliau –Asy Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, wakil Asy Syaikh Ibnu Baz dalam memeriksa kitab tadi-: “Dan kitab ini secara keseluruhan bagus, mencocoki madzhab Ahlissunnah Wal Jama’ah di kebanyakan dari apa yang disebutkannya.” Kemudian beliau menyebutkan ungkapan yang halus dengan berkata: “Hanya saja didapatkan ada perkara yang harus sedikit diperiksa. Dia bisa diambil faidahnya setelah perbaikan perkara yang perlu diperiksa tadi.” Dan di dalam ucapan tadi ada pensifatan bagi kitab tadi bahwasanya dia itu bagus, diambil manfaat darinya setelah perbaikan perkara yang perlu diperiksa tadi. Dan kita tidak mengetahui apa saja yang beliau nilai butuh diperiksa tersebut, dan bagaimana kesudahan perbaikannya. Dan aku takut perkara tersebut adalah apa yang aku dapati dapati juga untuk diperiksa. Yang penting adalah bahwasanya Ibnu Baz رحمه الله kepala Haiah Kibarul Ulama tidak membaca kitab tersebut, dan beliau telah menjelaskan udzur beliau yang menghalangi untuk membaca kitab itu. Sementara sang wakil tidak memberikan pengantara pada kitab tadi, hanya saja beliau mengarahkan pembicaraan pada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz dan mengabari beliau akan hasil dari bacaannya. Dan ini bukan kata pengantara sebagaimana yang didakwakan oleh Abul Hasan.”

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ حفظه الله memberikan udzur juga untuk Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin رحمه الله seraya menukilkan kalimat Abul Hasan yang menceritakan kalimat Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin رحمه الله : “Beliau berkata di dalam kalimat beliau: “Aku telah membolak-balik halaman kitab itu, maka kitab itu mengagumkan aku.” Kemudian Fadhilatusy Syaikh menyebutkan beberapa pengarahan yang Alloh عز وجل memberiku manfaat dengannya, maka aku mohon pada Alloh عز وجل agar memberi beliau pahala yang terbaik, dan agar memberi beliau barokah pada waktu beliau.”

            Lalu Asy Syaikh Robi’ berkata: “Maka di manakah kata pengantar Al ‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله anggota Haiah Kibarul Ulama yang ungkapannya itu mendalam: “Aku telah membolak-balik halaman kitab itu, maka kitab itu mengagumkan aku.” Beda besar antara membaca dan membolak-balik halaman kitab.”

            Kemudian Asy Syaikh Robi’ حفظه الله memberikan udzur juga untuk Asy Syaikh Muqbil رحمه الله seraya berkata: “Beliau memberi faidah bahwasanya beliau melihat sebagian risalah “As Sirojul Wahhaj” dan rujuklah apa yang beliau رحمه الله tulis.”

(selesai dari “Mausu’ah Kutub Wa Rosailisy Syaikh Robi’”/13/hal. 251-252/cet. Darul Imam Ahmad).

            Maka tidak semua orang yang memuroja’ahi risalah atau memberikan kata pengantar padanya itu mengharuskan bahwasanya dia mengetahui seluruh lafazh risalah atau menyetujui seluruh lafazhnya. Dan pujian itu bisa jadi berlaku pada kitab secara global, bukan pada perinciannya. Maka bagaimana jika dia tidak memujinya, tapi hanya membolak-balik halamannya dan mengizinkan penyebarannya secara global, tanpa memberikan kata pengantar, atau komentar atau pujian?

            Kemudian sisi yang ketiga: kalian berpenampilan memerangi Abul hasan Al Mishriy, maka kenapa kalian tidak mencerca para ulama besar tadi yang memuroja’ahi kitab “As Sirojul Wahhaj” dan memberikan komentar-komentar yang baik untuk kitab tadi?

            Kemudian sisi yang keempat: sesungguhnya sebagian kalimat Asy Syaikh Yahya yang dihujat oleh Arofat, lalu diwarisi oleh Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh itu asalnya adalah di kitab “Tahqiq Ishlahul Mujtama’” karya Asy Syaikh Yahya yang dikasih pengantar oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan dipujinya dengan pujian yang harum. Maka apakah mereka hendak mencerca Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dengan sebab itu? Ataukah orang-orang tadi menakar dengan dua takaran?

            Kemudian sisi yang kelima: sesungguhnya sebagian kalimat Asy Syaikh Yahya yang dipungut oleh Arofat, lalu diwarisi oleh Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh itu asalnya adalah di kitab “Ahkamul Jum’ah Wa Bida’uha” karya Asy Syaikh Yahya yang dikasih pengantar oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dan dipujinya dengan pujian yang harum. Maka apakah mereka hendak mencerca Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dengan sebab itu? Tidak, mereka itu mengincar Asy Syaikh Yahya sekalipun mereka dengan cara menempuh kecurangan dalam menghukumi, disertai dengan pemahaman yang jelek dan maksud yang buruk.

Kalimat penentu:

            Para hizbiyyun tadi menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau menyetujui ucapan: “Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak diterima perkataannya kecuali dengan dalil.” Maka dengarkanlah sekarang ucapan beliau yang menunjukkan aqidah beliau.

            Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله ditanya: “Apakah Anda menyetujui ucapan orang yang berkata: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم tidak diterima perkataannya kecuali dengan dalil dan hujjah?”

            Maka beliau حفظه الله menjawab –dengan suara yang direkam-: “Ucapan ini tidak disetujui oleh orang yang memuliakan dan mengagungkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Tidak disetujui olehnya. Alloh عز وجل berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ [الأحزاب: 21].

“Sungguh telah ada untuk kalian pada diri Rosululloh suri teladan yang bagus.”

 Alloh عز وجل berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى الله وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾ [الأحزاب: 36]،

“Dan tidak sepantasnya bagi seorang mukmin dan mukminah jika Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu perkara mereka itu punya pilihan dari urusan mereka. Dan barangsiapa durhaka pada Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

            Alloh عز وجل berfirman:

﴿لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى الله حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ﴾ [النساء: 165].

“Agar manusia tidak punya lagi alasan untuk membantah Alloh setelah diutusnya para Rosul.”

Rosul adalah hujjah. Dan Alloh عز وجل berfirman:

﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ﴾

“Para Rosul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Yaitu: dari Alloh عز وجل .

﴿لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى الله حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ﴾ [النساء: 165].

“Agar manusia tidak punya lagi alasan untuk membantah Alloh setelah diutusnya para Rosul.”

            Dan Alloh berfirman:

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ [النور: 63].

“Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi urusan beliau berhati-hati agar jangan tertimpa fitnah atau tertimpa siksaan yang pedih.”

            Seluruh dalil-dalil ini menunjukkan wajibnya menerima apa yang dibawa oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم , dan bahwasanya apa yang beliau jelaskan dan beliau ucapkan adalah hujjah.

﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ﴾

“Para Rosul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Mereka para penyampai dari Alloh سبحانه وتعالى .

﴿يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَالله يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ﴾ [المائدة: 67].

“Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. Jika engkau tidak mengerjakan itu maka engkau belum menyampaikan risalah-Nya. Dan Alloh menjagamu dari manusia.”

Selesai penukilan.

 


([1]) Al Imam Ibnu Rojab Al Hanbaliy رحمه الله berkata: “Yang beliau kehendaki dengan fujur adalah keluar dari kebenaran dengan sengaja sampai kebenaran itu menjadi kebatilan, dan kebatilan itu menjadi kebenaran.” (“Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam”/hal. 725/cet. Maktabah Auladisy Syaikh).