Pedang Tajam Membabat

Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)

(bagian keempat)

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Judul Asli:

“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh

(Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

 

Terjemah Bebas:

“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)”

 

 

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

 

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

 

 

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya


 

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Bagian Keempat

          الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan penerjemahan bagian keempat.

            Dan para pembaca yang diberi taufiq dan lebih mengutamakan dalil, hujjah dan akal sehat akan bisa melihat insya Alloh bahwasanya Alloh meruntuhkan satu-persatu syubuhat dan tuduhan Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat.Alloh ta’ala berfirman:

{وَقُلْجَاءَالْحَقُّوَزَهَقَالْبَاطِلُإِنَّالْبَاطِلَكَانَزَهُوقًا } [الإسراء: 81]

“Dan katakanlah: telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu lenyap.”

            Adapun orang yang dibutakan oleh fanatisme dan kebesaran nama tokoh, maka dia akan berusaha membohongi dirinya sendiri dan menutupi kebenaran dan berusaha melarang orang dari membacanya.

Selamat menyimak, semoga Alloh memberkahi kita semua.


Bab Duapuluh:

Tuduhan Luqman Bahwa Asy Syaikh Yahya Tergesa-gesa Dan Masalah Nasihat

            Luqman Ba Abduh menukilkan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله: “Abdulloh Mar’iy aku melihat darinya sebelum ini bahwasanya dia berjalan di atas jalan hizbiyyah. Iya demi Alloh , dalam perkara-perkara dari perkara-perkara tersebut, bahwasanya aku mencari nomornya di dalam catatanku tidak aku dapatkan. Dan aku dapatkan nomor Asy Syaikh Salim وفقه الله Salim Ba Muhriz maka aku menelponnya dan aku menyampaikan padanya apa yang sampai kepadaku. Aku katakan: “Wahai Syaikh Salim, -setelah aku menanyainya tentang keadaannya, dan tentang keadaan mereka semua- telah sampai padaku sesuatu yang tidak baik untuk dakwah kita, dan aku mencari nomor saudara kita Abdulloh tapi aku tidak mendapatinya. Maka sampaikanlah , …”

            Kemudian Luqman menyebutkan bahwasanya di dars Ashr Asy Syaikh Yahya langsung mentahdzir Abdulloh. Lalu setelah cerita itu Luqman berkata: “… Ya subhanalloh, Ya subhanalloh, isti’jal, sikap terburu-buru, tidak ada kasih sayang terhadap pihak yang mau dinasihati, tidak ada kasih sayang terhadap murid-muridnya, …”

Jawaban kami –dengan taufiq Alloh- adalah sebagai berikut:

            Peringatan umat terhadap kesalahan-kesalahan seseorang yang dikhawatirkan umat terkena bahaya dengannya adalah wajib.Dan barangsiapa mensyaratkan harus memberikan nasihat pada pelakunya sebelum memberikan peringatan pada umat adalah pensyaratan yang tidak disyariatkan. Syaikh kami Muhammad Al Amudiy حفظه الله dalam bantahannya kepada penulis tak dikenal yang menamakan dirinya sebagai: Abdulloh bin Robi’ As Salafiy berkata: “Maka seorang alim jika sampai kepadanya kesalahan seseorang, dan dia khawatir tersebarnya kesalahan tadi pada manusia dan bahayanya, maka dia boleh untuk mengingkari dengan segera dan tanpa pergi kepadanya dan menanyainya.

            Buktinya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dalam “Shohih” beliau dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata:

بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ: صَبَأْنَا، صَبَأْنَا فَجَعَلَ خَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ وَيَأْسِرُ، وَدَفَعَ إِلَى كُلِّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمٌ أَمَرَ خَالِدٌ أَنْ يَقْتُلَ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ، فَقُلْتُ: وَالله لَا أَقْتُلُ أَسِيرِي، وَلَا يَقْتُلُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِي أَسِيرَهُ حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ فَقَالَ: «اللهمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ » مَرَّتَيْنِ.

“Nabi صلى الله عليه وسلم mengutus Kholid ibnul Walid kepada Bani Judzaimah, lalu dia menyeru mereka kepada Islam, tapi mereka tidak pintar mengucapkan: “Aslamna (Kami masuk Islam),” mereka mengatakan: “Shoba’na shoba’na (kami keluar dari kekufuran)”, maka mulailah Kholid membunuhi mereka dan menawan, dan dia menyerahkan kepada setiap orang dari mereka tawanannya sampai ketika tiba suatu hari Kholid memerintahkan untuk setiap orang dari kami membunuh tawanannya. Maka aku katakan: “Demi Alloh, aku tidak akan membunuh tawananku, dan setiap orang dari temanku tidak akan membunuh tawanannya. Sampai kami tiba dan bertemu dengan Nabi صلى الله عليه وسلم. Lalu kami menyebutkan itu pada Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau mengangkat tangannya seraya berkata: “Ya Alloh, sungguh saya berlepas diri dari apa yang diperbuat oleh Kholid.”Dua kali.”

            Lihatlah, apakah Nabi صلى الله عليه وسلم pergi ke Kholid ibnul Walid رضي الله عنه?Ataukah beliau mencukupkan diri dengan kabar dari orang yang mengabari beliau, dan dari situlah beliau mengingkarinya.

            Dan demikianlah kisah Bariroh رضي الله عنها ketika Aisyah رضي الله عنها ingin memerdekakannya dan jadilah wala’nya untuk Aisyah, tapi tuan Bariroh رضي الله عنهم tidak mau, dan mereka ingin agar wala’nya untuk mereka. Maka manakala Aisyah رضي الله عنها mengabarkan itu pada Nabi صلى الله عليه وسلم bangkitlah Rosululloh صلى الله عليه وسلم di tengah manusia, lalu beliau memuji Alloh dan menyanjung-Nya kemudian beliau bersabda:

«مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ الله، مَا كَانَ مِنْ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ الله فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ، قَضَاءُ الله أَحَقُّ، وَشَرْطُ الله أَوْثَقُ، وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ».الحديث متفق عليه.

“Ada apa orang-orang membikin syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabulloh?Syarat apapun yang tidak ada di dalam Kitabulloh maka dia itu batil, sekalipun seratus syarat.Keputusan Alloh itu lebih berhak, dan syarat Alloh itu lebih kuat, dan hanyalah wala itu bagi orang yang memerdekakan.”Hadits ini muttafaqun ‘alaih.

            Penunjukan hadits ini jelas, dan hadits-hadits dalam bab ini banyak.

            Maka keadaan Syaikh kami رعاه الله yang menelpon Salim Ba Muhriz itu tidak menghalangi untuk beliau mengingkari perkara yang dibikin oleh Abdulloh bin Mar’iy dalam dakwah Salafiyyah, yang berupa mengemis dan korupsi dengan nama dakwah, dan yang lainnya juga, karena sesungguhnya ini adalah mungkar, tidak halal mendiamkannya. Bagaimana sementara perbuatan itu adalah termasuk dari dalil-dalil dan alamat serta sarana hizbiyyah?

            Ditambah lagi bahwasanya orang itu masih saja bersikeras dalam kesesatannya, dan tidak diketahui darinya tobat yang murni, dan dia tidak meniadakan apa yang ditetapkan oleh orang-orang adil dan tsiqoh tentang penjelasan keadaannya dan kondisi dakwahnya?

            Kemudian sesungguhnya Syaikh kami رعاه الله memerintahkan Ba Muhriz untuk menyampaikan pada Abdulloh bin Mar’iy tentang perkara-perkara ini.

            Bukankah yang paling pantas bagi si anak Mar’iy adalah untuk bersegera menelpon dan bertanya, dan membela kehormatannya jika memang selamat dari bencana dan campuran tadi. Dia masih bisa bersegera menelpon yang mana waktu masih baik untuk dia. Tapi sikap diamnya dan ketidakpeduliannya itu menunjukkan pada apa?!

(selesai dari risalah “Zajrul ‘Awi”/1/hal. 13-14/Asy Syaikh Muhammad Al Amudiy حفظه الله).

            Dan beliau حفظه الله berkata: “Dan berdasarkan ucapanmu ini, bisa jadi kejelekan orang yang dikritik ini tersebar, dan memberikan pengaruh pada orang-orang, dan kami masih terus mencarinya sampai kami menanyainya tentang kebenaran berita tadi.” (selesai dari risalah “Zajrul ‘Awi”/1/hal. 13/Asy Syaikh Muhammad Al Amudiy حفظه الله).

            Dan dari sisi lain, engkau harus tahu bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah menasihati Abdulloh Mar’iy setahun lebih, maka bagaimana engkau menggambarkan bahwasanya beliau tidak menasihatinya tapi bahkan langsung mentahdzir dia? Asy Syaikh Yahya حفظه الله berkata: “Aku tidak menasihati dia? Aku itu lebih dari satu tahun berusaha menasihati dia, terkadang melalui Asy Syaikh Salim, dan terkadang melalui beberapa ikhwan di sini yang punya hubungan dengannya.Dan dia telah datang ke Dammaj beberapa bulan yang lalu, tapi dia tidak datang kepadaku agar aku bisa duduk dengannya dalam membahas perkara-perkara ini.Bagaimana sampai berkata bahwa aku tidak menasihatinya?!!”(“Zajrul ‘Awi”/1/hal. 14-15/ Asy Syaikh Muhammad Al Amudiy حفظهالله).

            Kemudian Luqman Ba Abduh menempuh jalan ahli ahwa sebelum dia dalam menuduh Ahlussunnah bersikap tergesa-gesa dalam rangka meruntuhkan kritikan ahlul haq. Dan itu adalah jalan Al Ikhwanul Muslimin (lihat penukilan Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله dalam “Ar Roddul Muhabbir”/hal. 188).

            Syaikh Jami’ah Diyobandiyyah Sayyid Anwar Syah menuduh Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdiy bahwasanya beliau adalah pria yang tolol dan sedikit ilmu, tergesa-gesa menghukumi dengan kekufuran, … dst. (dinukilkan oleh Fadhlatusy Syaikh Hamud At Tuwaijiriy /lihat “Al Qoulul Baligh”/hal. 106).

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dituduh para anggota Jam’iyyatul Hikmah dan yang lainnya tergesa-gesa. (lihat “Qom’ul Mu’anid”/1/hal. 63-64).

            Demikian pula Muhammad Al Baidhoniy al hizbiy menuduh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله tergesa-gesa.(lihatpenukilan Abu Hammam وفقه الله dalam “Nubdzatun Yasiroh”/hal. 76-78/ Darul Atsar).

Abul Hasan Al Mishriy menuduh Asy Syaikh Robi’ حفظه الله tergesa-gesa.(Lihat “Majmu’ur Rudud”/hal. 459).

Abul Hasan Al Mishriy menuduh Asy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله tergesa-gesa, ketika beliau memvonis Abul Hasan sebagai mubtadi’. (rujuk “Al Fatawal Jaliyyah”/2/Asy Syaikh Ahmad An Najmiy).

Sholih bin Abdullathif An Najdiy –hizbiy tak dikenal- dalam kitabnya “Unshur Akhoka” hal. 13 menuduh Asy Syaikh Robi’ حفظه الله berbicara dengan cepat, tampak tergesa-gesa, dan menggabungkan kontradiksi, … dst. (lihat bantahan untuknya di kitab “Daf’u Baghyish Shoilil Jair/hal. 150/karya Kholid bin Muhammad Al Mishriy سدده الله).

 

Bab Duapuluh Satu:

Kasus Tahdzir Asy Syaikh Sholih Al Fauzan 

            Luqman Ba Abduh menyebutkan bahwasanya Asy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله ditanya tentang Asy Syaikh Yahya –tanpa menyebutkan nama beliau- bahwasanya beliau keliru dalam beberapa perkara, dan setiap kali beliau diingatkan tentang itu beliau rujuk. Lalu Asy Syaikh Sholih Al Fauzan mentahdzir umat dari beliau dengan alasan beliau itu sesat, membikin orang ragu, membikin pengkaburan.

            Jawaban tentang itu –dengan taufiq dari Alloh-:

            Bahwasanya barangsiapa rujuk dan bertobat dari kekeliruan, maka dia disyukuri dan dihormati, tidak boleh dicerca dengan kesalahan tadi, sebagaimana telah lewat penyebutan sebagian dalil dan perkataan ulama tentang itu.

            Jika dikatakan: telah banyak kesalahannya. Kita katakan: kesalahan kita sendiri tidaklah lebih sedikit daripada ketergelinciran orang lain. Dari Abu Dzar رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang apa yang beliau riwayatkan dari Alloh تبارك وتعالى bahwasanya Dia berfirman:

«يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم». الحديث.

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mohonlah ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian.”Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (2577)).

            Terutama jika kekeliruan itu berasal dari seorang mujtahid salafiy yang menginginkan kebaikan dan kelurusan, tidak boleh dihukumi berdosa dan dicerca dengan kesalahan itu.Maka bagaimana jika si mujtahid tadi telah bertobat dari kekeliruannya?Ini menunjukkan kesungguhannya mencari kebenaran, dan ketundukannya pada kebenaran jika telah nampak baginya, dan berjalan bersama kebenaran tadi ke manapun kebenaran tadi beredar.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.”(“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).

Al Imam Ibnu Mahdi رحمه الله berkata: Dulu kami pernah menghadiri jenazah, di situ ada Ubaidulloh bin Hasan dan beliau adalah seorang hakim. Ketika dipan telah diletakkan, duduklah beliau dan duduklah orang-orang di sekeliling beliau.Maka aku menanyainya dengan satu permasalahan.Ternyata dia menjawab dengan salah. Maka kukatakan padanya: “Semoga Alloh memperbaikimu. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah demikian dan demikian.Hanya saja aku tidak ingin membantahnya.Aku hanya ingin mengangkat nilai Anda kepada yang lebih besar dari itu.” Maka beliau menundukkan kepalanya sesaat kemudian mengangkatnya seraya berkata: “Jika demikian, maka aku rujuk dan aku itu kecil.Akan tetapi menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada aku menjadi kepala dalam kebatilan.”(“Tarikh Baghdad”/10/hal. 308)([1]).

            Semoga Alloh merohmati beliau dan membalas beliau dengan kebaikan yang banyak.Bahkan rujuknya beliau kepada kebenaran itu menambah ketinggian beliau di sisi Alloh dan di sisi kaum mukminin.

            Ar Robi’ bin Sulaiman  berkata:  Al Imam Asy Syafi’y رحمه الله berkata:”Tidaklah seseorang itu menyombongkan diri terhadap al haq di hadapanku dan menolaknya, kecuali martabatnya akan jatuh dari mataku,Dan tidaklah dia menerima kebenaran itu kecuali aku akan merasa segan padanya dan menjadi cinta padanya.”(“Tarikh Ibnu Asakir”/51/hal. 383).

            Dan karakter seorang mukin itu adalah berusaha menetapi kebenaran sebisa mungkin, dan setiap kali jelas baginya kebenaran dia mengikutinya tanpa menyombongkan diri. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka senantiasa seorang hamba yang mukmin itu selalu menjadi jelaslah baginya kebenaran yang sebelumnya tidak diketahuinya, dan rujuk dari amalan yang dulu dia zholim di dalamnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 348).

            Dari Idris Al Audiy yang berkata: Sa’id bin Abi Burdah mengeluarkan sebuah surat pada kami seraya berkata: “Ini adalah surat Umar ibnul Khoththob kepada Abu Musa Al Asy’ariy رضي الله عنهما : “Kemudian setelah itu: janganlah sampai menghalangi dirimu suatu ketetapan yang telah engkau tetapkan kemarin untuk engkau kembali kepada kebenaran, karena kebenaran itu sudah lebih lama ada, dan tiada sesuatupun yang bisa membatalkan kebenaran. Dan merujuk pada kebenaran itu lebih baik daripada berlama-lama dalam kebatilan.”(diriwayatkan oleh Al Baihaqiy/”As Sunanul Kubro”/no. (20871)).

            Ini adalah nasihat yang agung dari Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه , maka seorang mukmin itu tidak ma’shum setinggi apapun ilmu yang telah dicapainya. Akan tetapi yang terpenting adalah mengikuti kebenaran kapan saja kebenaran itu didapatkan, tanpa ada keangkuhan untuk rujuk dari kekeliruan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ini adalah kitab yang agung, yang disambut oleh para ulama dengan penerimaan, dan mereka membangun di atasnya dasar-dasar hukum dan persaksian, hakim dan mufti paling butuh kepadanya dan untuk merenungkan dan mempelajarinya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 86).

            Adapun ahli ahwa seperti Mar’iyyin dan Luqmaniyyin maka mereka itu menyombongkan diri dari kembali kepada kebenaran sekalipun Ahlussunnah mendatangkan hujjah-hujjah yang bersinar. Dan kami khawatir keadaan mereka itu dekat dengan apa yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan dikhawatirnya Alloh akan mencabut keimanannya, karena kebenaran itu datang dari Rosululloh kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkarinya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh.Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.”(“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

            Adapun bergantungnya Luqman dan seluruh Mar’iyyun dengan fatwa Asy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله , maka fatwa itu telah dibantah oleh syaikh mereka sendiri: Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy وفقه الله pada malam Jum’at tanggal 30 Syawwal 1426 H, dalam jawabannya terhadap soal-soal penduduk Yafi’ saat mereka menanyakan itu pada soal yang pertama. Maka Al Wushobiy menjawab:

هذا الرجل الذي قدم السؤال للشيخ فوزان الذي يظهر أنه من الحاقدين على الشيخ الحجوري حفظه الله، وقدم سؤالا مجملا وفي هذه المسائل ما يحتاج أن يقدم لها في الدروس العامة وإنما يسأل الشيخ في مجلس هادئ ومكان هادئ ويسمى له المسئول عنه هذا الذي كان هذا الذي ينبغي أن يسأله. هذا من جهة، ومن جهة أخرى أن الشيخ الفوزان فيما يظهر لي أنه تسرع في الإجابة، لأنه قيل له: (ما تقول في الرجل فعل كذا ثم تراجع، ثم فعل كذا فلما نصح تراجع، فلما نصح تراجع) فالسائل قد علم أنه قد تراجع، والمجيب أيضا قد علم أنه قد تراجع فما كان ينبغي للمجيب أن يقول: (هذا من أهل زيغ، من أهل ضلال، لا يُدْرس عنده)، قد تراجع فمن هو الذي لا يخطئ من البشر. والرسول صلى الله عليه وسلم يقول: «كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون. والبشر بشر. ليسوا بالملائكة المعصومين. فأولئك الملائكة الذين قال الله فيهم: ﴿لَايَعْصُونَاللهمَاأَمَرَهُمْوَيَفْعَلُونَمَايُؤْمَرُونَ﴾ [التحريم: 6]. أما البشر فهو معرض للخطأ. ولهذا قال الله:﴿وَلَيْسَعَلَيْكُمْجُنَاحٌفِيمَاأَخْطَأْتُمْبِهِوَلَكِنْمَاتَعَمَّدَتْقُلُوبُكُمْ﴾ [الأحزاب: 5]. فكون الإنسان يخطئ، معرض للخطأ وإنما العيب الإصرار على الخطأ. هو العيب. فالسائل هداه الله قد عرف أن الشيخ تراجع، وهذه رفعة له إذا تراجع. والمجيب أيضا عرف من قول السائل أنه قد تراجع فما كان ينبغي البحث عن الضمائر. وعن القلوب، فالقلوب تطرح على علام الغيوب.  وكان يسأل الشيخ فوزان كان ينبغي له أن يقول جزاك الله خيرا وهذا الذي يجب على المسلم إذا أخطأ ثم تبين له الخطأ أن يبادر إلى الرجوع إلى الصواب. وهذا الأخ يشكر على تراجعه ويحمله على محمل حسن … –إلى قوله:- المشايخ يقولون: (يحمل الناس على محمل حسن) فلماذا هنا لا يحمله إلى محمل حسن؟ لماذا خرج من القاعدة؟  ثم أيضا الإمام أحمد بن حنبل رحمة الله عليه، كم نجد له من روايات في المسألة؟ كم؟ إمام من أئمة أهل السنة والجماعة قال كذا ثم قال كذا ثم قال كذا. روايتان، ثلاث روايات، أربع روايات عن أحمد. مليئة في كتب الفقه بهذا. ليس فقط في مسائل الفقه، بل في العقائد. وهناك رواية عن أحمد أن من ترك الصلاة كفر. ورواية عن أحمد أن من ترك الصلاة وترك الزكاة، دخل الزكاة معها، كفر. ورواية عن أحمد أن من ترك الصلاة وترك الزكاة وترك الصيام، دخل الصوم، كفر. والرواية الرابعة : زاد الحج. أربع روايات. ذكرها شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله كما في “مجموع الفتاوى” لابن القاسم. مسائل في العقيدة ومسائل في غيرها. يجتهد أهل العلم في المسائل ثم تغير إلى شيء آخر. هل يقال عن الإمام أحمد كما قال الفوزان عن الحجوري أن هذا متلاعب؟ ما يجوز. الشيخ الحجوري نفع الله به ونفع الله بدروسه وبدعوته. وعن الشافعي مذهبان مذهب بكامله، ما هو رواية، مشهور. المذهب القديم والمذهب الجديد، قال في المذهب القديم كذا وكذا، مذهب بكامله مسائل شتى، وقال في المذهب الجديد كذا وكذا. يسمونه مذهبا، ما يقولونه رواية. عن أحمد روايتان وثلاث روايات، وعن أبي حنيفة وعن الإمام مالك يقول قولان ثلاثة أقوال، وعن الشافعي مذهبان. ينبغي احترام أهل العلم، ينبغي احترام أهل العلم من أهل السنة والجماعة، وكون العالم إذا أخطأ في مسألة عن اجتهاد ثم تراجع، هذا لا يزيده إلا رفعة أن يتراجع ما يزيده إلا رفعة، أنه يبحث. فالمطلوب من الشيخ فوزان أن يعيد النظر في المسألة وأن يعلم أن أصحاب البدع والأهواء طاروا بكلامه هذا فرحوا به وصاروا يصورونه في الأوراق من أجل أن يردوا به على الشيخ الحجوري الذي قد تراجع. والإنسان إذا تراجع عن الخطأ ما يجوز أن يلام. ولهذا لما قال الرسول عليه الصلاة والسلام في قصة موسى وآدم عليهما السلام قال موسى لآدم: أنت أبو البشر الذي خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه، وأسجد لك ملائكته، أكلت من شجر فأخرجتنا من الجنة؟ وآدم قد تاب، آدم عليه السلام قد تاب من هذه المعصية، وتاب الله عليه. لما رد عليه آدم قال الرسول صلى الله عليه وسلم: فحج آدم موسى فحج آدم موسى. يعني: أيد الرسول صلى الله عليه وسلم قول آدم، أيد قول آدم. قال الرسول صلى الله عليه وسلم: فحج آدم موسى. لأنه ما يلام إلا إذا كان مصرا على الذنب . الإنسان رجع عن الخطأ لا يلام. فعلى الشيخ الفوزان وفقه الله أن يعيد النظر، وعلينا أن نعلم أن العالم مهما بلغ من علمه فإنه غير معصوم. العالم قد يخطئ. –ثم ذكر الشيخ محمد الوصابي مثالا من قصة أبي بكر الصديق رضي الله عنه وهو أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم ذكر أن العالم إذا اجتهد فأخطأ له أجر واحد، وخطأه معفو عنه إذا كان خطأه عن اجتهاد لا عن هوى-.

“Orang yang mengajukan soal pada Asy Syaikh Al Fauzan, tampaknya dia itu dendam pada Asy Syaikh Al Hajuriy حفظه الله .dia mengajukan soal yang global, dan di dalam masalah-masalah tadi tidak perlu untuk diajukan dalam dars-dars umum. Cukuplah dia bertanya pada Asy Syaikh di majelis yang tenang dan tempat yang tenang, dan disebutkan pada beliau siapakah nama tokoh yang ditanyakan tadi. Inilah yang seharusnya dilakukan.Ini dari satu sisi. Dan dari sisi lain bahwasanya Asy Syaikh Al Fauzan yang nampak bagiku beliau itu tergesa-gesa menjawab, karena dikatakan pada beliau: “Apa pendapat Anda tentang orang yang berbuat demikian, lalu dia rujuk, lalu berbuat demikian-demikian , manakala dia dinasihat dia rujuk, manakala dia dinasihati dia rujuk?” maka sang penanya telah tahu bahwasanya beliau telah rujuk. Dan si penjawab juga telah tahu bahwasanya dia telah rujuk. Tidak sepantasnya si penjawab berkata: “Ini termasuk orang-orang yang menyeleweng, ini termasuk dari orang-orang yang sesat, jangan belajar padanya.” Beliau telah rujuk, maka siapakah orang yang tidak keliru? Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda: “Semua anak Adam itu banyak salah, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah orang yang banyak bertobat.” Manusia itu tetap manusia.Mereka itu bukan malaikat yang ma’shum. Para malaikat itulah yang Alloh berfirman tentang mereka: “Mereka tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan pada mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan pada mereka.”Adapun manusia, maka dia itu tersodorkan pada kekeliruan. Oleh karena itulah Alloh berfirman: “Kalian tidak berdosa terhadap perkara yang kalian keliru padanya, akan tetapi kalian berdosa terhadap perkara yang disengaja oleh hati-hati kalian.”Maka manusia itu memang berbuat keliru, selalu tersodorkan pada kekeliruan.Hanyalah saja aib itu pada orang yang terus-menerus di atas kekeliruan itu.Itulah yang aib.Maka si penanya semoga Alloh memberinya hidayah.Dia telah tahu bahwasanya Asy Syaikh telah rujuk.Dan ini adalah ketinggian untuk beliau jika telah rujuk.Si penjawab juga mengetahui dari ucapan si penjawab bahwasanya beliau telah rujuk.Maka tidak pantas ditelusuri tentang batinnya, tentang isi hatinya.Maka hati itu diserahkan pada Dzat Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Seharusnya Asy Syaikh Al Fauzan berkata pada beliau: “Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.” Inilah yang wajib atas seorang muslim jika keliru lalu jelas baginya kekeliruannya untuk bersegera rujuk pada kebenaran. Dan saudara kita ini disyukuri atas rujuknya dia, dan dibawa kepada kemungkinan yang baik, … -sampai pada ucapannya:- para masyayikh berkata: “Manusia itu dibawa kepada kemungkinan yang baik,” maka kenapa di sini beliau tidak dibawa kepada kemungkinan yang baik? Kenapa keluar dari kaidah? Kemudian juga Al Imam Ahmad bin Hanbal رحمة الله عليه berapa banyak kita dapati beliau punya riwayat-riwayat dalam suatu masalah? Berapa banyak?Beliau adalah imam dari imam Ahlussunnah, beliau berkata demikian dan demikian, lalu berkata demikian dan demikian, lalu berkata demikian dan demikian.Dua riwayat, tiga riwayat, empat riwayat dari Ahmad.Di kitab-kitab fiqih penuh dengan ini.Bukan hanya dalam kitab masalah-masalah fiqih, bahkan dalam aqidah-aqidah. Dan di sana ada riwayat dari Ahmad bahwasanya orang yang meninggalkan sholat itu kafir. Dan dalam riwayat yang lain dari Ahmad bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dan meninggalkan zakat, masuk zakat bersama sholat, itu kafir. Dan dalam riwayat yang lain dari Ahmad bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dan meninggalkan zakat dan meninggalkan puasa, puasa masuk, itu kafir. Dan riwayat yang keempat: menambahkan haji. Empat riwayat.Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله sebagaimana dalam “Majmu’ul Fatawa” yang disusun oleh Ibnul Qosim. Masalah-masalah dalam aqidah, dan masalah-masalah dalam perkara yang lain. Seorang ahli ilmu berijtihad dalam maslah-masalah, kemudian berubah pada perkara yang lain. Apakah dikatakan bahwasanya Al Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan oleh Al Fauzan tentang Al Hajuriy bahwasanya orang ini bermain-main?Tidak boleh.Asy Syaikh Al Hajuriy telah Alloh berikan manfaat pada manusia dengan diri beliau, dengan dars-dars beliau, dan denga dakwah beliau.Dan dari Asy Syafi’iy ada dua madzhab, madzhab secara total, bukan cuma riwayat, ini telah terkenal.Madzhab lama, dan madzhab baru. Berkata: madzhab lama demikian, dan madzhab baru demikian, madzhab secara total, masalah-masalah yang beraneka ragam. Dan berkata dalam madzhab baru demikian dan demikian. Mereka menamakannya madzhab, mereka tidak berkata: riwayat. Dari Ahmad dua riwayat, atau tiga riwayat.Dan dari Abu Hanifah, dan dari Al Imam Malik mengatakan dua ucapan, tiga ucapan, dan dari Asy Syafi’iy dua madzhab.Kita harus menghormati ulama, harusmenghormati ulama dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah.Dan bahwasanya si alim itu jika keliru dalam suatu masalah berdasarkan ijtihadnya, lalu dia rujuk, ini tidak menambahinya kecuali ketinggian, dia rujuk, ini tidak menambahinya kecuali ketinggian, bahwasanya dia itu selalu mencari (kebenaran).Maka yang dituntut dari Asy Syaikh Al Fauzan adalah agar beliau memeriksa kembali masalah ini, dan hendaknya beliau mengetahui bahwasanya para ahli bida’ dan ahwa terbang dengan membawa ucapan beliau ini, gembira dengannya dan memfotokopinya dalam lembaran-lembaran dalam rangka dengan itu membantah Asy Syaikh Al Hajuriy yang telah rujuk.Manusia itu jika telah rujuk dari kekeliruannya tidak boleh dicela. Oleh karena itulah manakala Rosul عليه الصلاة والسلام bersabda tentang kisah Musa dan Adam عليهما السلام Musa berkata pada Adam: “Engkau adalah bapak manusia yang Alloh menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ke dalam dirimu sebagian dari ruh-Nya, dan menjadikan para malaikat-Nya sujud padamu. Engkau memakan dari pohon sehingga engkau mengeluarkan kami dari Jannah?”Sementara Adam telah bertobat, Adam عليه السلام telah bertobat dari maksiat ini, dan Alloh telah menerima tobatnya. Manakala Adam membantah Musa, Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka Adam mengalahkan hujjah Musa, maka Adam mengalahkan hujjah Musa.” Yaitu: Rosul صلى الله عليه وسلم mendukung ucapan Adam, mendukung ucapan Adam. Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka Adam mengalahkan hujjah Musa.”Karena tidak boleh dicela kecuali jika terus-terusan di atas dosa.Manusia yang telah rujuk dari kesalahannya itu tak boleh dicela.Maka Asy Syaikh Al Fauzan وفقه الله harus memeriksa kembali.Dan kita harus tahu bahwasanya seorang alim itu setinggi apapun ilmu yang telah dicapainya maka sungguh dia itu tidak ma’shum.Seorang alim itu terkadang bisa keliru.” –lalu Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy menyebutkan contoh dari kisah Abu Bakr Ash Shiddiq رضي الله عنه padahal beliau adalah orang yang paling utama setelah Rosululloh صلى الله عليه وسلم , lalu beliau menyebutkan bahwasanya seorang alim itu jika ijtihad lalu keliru maka dia mendapatkan satu pahala, dan kekeliruannya itu dimaafkan jika kekeliruannya tadi berasal dari ijtihadnya bukan dari hawa nafsunya.-

(selesai penukilan yang diinginkan dari kaset “Asilah Wa Fatawa Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy حفظه الله “ (12)/sisi pertama).

            Ucapan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy حفظه الله ini adalah benar dan didukung oleh dalil-dalil. Dan wajib bagi Luqman Ba Abduh dan seluruh orang yang bertabir dengan Asy Syaikh Muhammad dan berbangga dengannya untuk menerima ucapan yang benar ini.

Bab Duapuluh Dua:

Apakah Asy Syaikh Yahya حفظه الله Menganggap Bahwasanya Utsman bin Affan رضي الله عنه Itu Mubtadi’?

            Para hizbiyyun telah menyebarkan, sama saja yang di zaman ataukah yang di banyak negri-negri yang lain di dunia bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله menganggap bahwasanya Utsman bin Affan رضي الله عنه itu adalah mubtadi’. Dan ini adalah kedustaan yang sangat jelas, asalnya dari Arofat Al Barmakiy Al Bashiriy –semoga Alloh memperlakukan dia dengan apa yang dia berhak mendapatkannya-.

Jawab kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah:

Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله hanyalah menyebutkan bahwasanya adzan pertama pada hari Jum’at itu dibikin oleh Utsman رضي الله عنه sebagai ijtihad dari beliau.Dan seorang mujtahid itu jika berijtihad lalu keliru, sehingga terjadilah dengan sebab beliau tadi hadats (perkara baru) dalam agama, tidaklah dikatakan bahwasanya beliau itu mubtadi’.Dan ini telah diketahui di kalangan Ahlussunnah.Hanya saja orang yang tertimpa penyakit haddadiyyah semisal Arofat Al Bashiriy mengharuskan orang-orang untuk berpendapat tadi (bahwasanya pelaku bid’ah adalah mubtadi’).

            Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Terkadang sebagian penentang berkata: apakah Utsman رضي الله عنه manakala berbuat itu beliau itu menjadi mubtadi’ yang sesat?

            Kami menjawab: Kami berlindung pada Alloh (dari berkata demikian). Beliau adalah kholifah yang terbimbing, dan Nabi صلى الله عليه وسلم berkata:

«ما لي لا أستحيي مما تستحيي منه الملائكة؟».

“Bagaimana aku tidak malu kepada orang yang para malaikat malu kepadanya?”

Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda tentang beliau:

«منيشتريبئرروماولهالجنة؟»

“Siapakah yang mau membeli sumur Rumah dan dia mendapatkan Jannah”

Maka Utsman membelinya dan menjadikannya untuk muslimin. Dan Nabi berkata pada Abu Musa:

«ائذنلهوبشرهبالجنةمعبلوىتصيبه».

“Idzinkanlah untuknya dan berilah dia kabar gembira dengan Jannah, disebabkan oleh musibah yang menimpanya.”

Dan hadits-hadits ini semua telah pasti dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم di antaranya ada yang di Shohihain dan di antaranya ada yang shohih di luar kitab tadi.Dan Utsman punya kedudukan-kedudukan agung yang banyak selain itu. Dan cukup bahwasanya beliau itu diberi kabar gembira dengan jannah, sebagaimana telah lewat dari haditsAbu Musa:

«ائذنلهوبشرهبالجنةمعبلوىتصيبه».

“Idzinkanlah untuknya dan berilah dia kabar gembira dengan Jannah, disebabkan oleh musibah yang menimpanya.”

Dan hadits Sa’id bin Zaid dan yang lain.

Akan tetapi beliau رضوان الله عليه berijtihad, yang mana beliau seorang muadzdzin mengumandangkan adzan di pasar, untuk memberitahu orang-orang akan dekatnya waktu sholat.Dan bukanlah adzan tadi di masjid seperti yang dilakukan oleh sebagian muslimin sekarang.Disertai dengan berbedanya keadaan tersebut dengan sebagian orang sekarang ini, kita meyakini bahwa adzan tadi tidak disyariatkan sejak dari asalnya, dan Amirul Mukminin Utsman رضي الله عنه telah keliru dalam ijtihad beliau ini.Dan beliau رضي الله عنه dengan ijtihad beliau dan bagusnya maksud beliau, beliau mendapatkan pahala.Dan beliau itu meninggal sebagai syahid dan termasuk dari sepuluh orang yang mendapatkan kabar gembira dengan jannah.Dan dosa beliau terampuni.Adapun orang yang mengikuti beliau di atas kesalahan tadi setelah dijelaskannya hujjah maka dia itu dalam masalah tadi adalah mubtadi’ dia tak dapat udzur dalam menyelisihi sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan kedua shohabatnya.

Selesai dari kitab “Ahkamul Jum’ah Wa Bida’uha” (karya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله/hal. 450-451/cet. Darul Imam Ahmad).

            Utsman رضي الله عنه mendapatkan udzur dan dimaafkan dalam ijtihad beliau.Adapun orang yang mengetahui perkara yang benar dan tepat dengan dalil-dalilnya lalu dia bersikeras untuk mengikuti kesalahan tadi, maka dia adalah mubtadi’.Inilah yang dikatakan oleh Asy Syaikh حفظه الله.

            Dan ini juga ucapan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله: “Maka Utsman رضي الله عنه memerintahkan untuk adzan pertama, dari Zauro. Dan Abdulloh bin Umar jika masuk masjid yang diadzankan di dalamnya adzan pertama tadi beliau meninggalkannya dan berkata: “Sungguh ini adalah masjid bid’ah.” Bersamaan dengan itu beliau tidak berkata bahwasanya Utsman itu mubtadi’, bahkan Utsman itu mujtahid.Adapun orang yang setelah Ustaman, jika jelas baginya dalil-dalil dan dia taqlid pada Utsman di atas perkara ini maka dia termasuk mubtadi’, karena taqlid itu sendiri adalah bid’ah.”(Ghorotul Asyrithoh”/2/hal. 99/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

            Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه اللهmendatangkan kaidah agung, beliau berkata: “Jika engkau melihat perkataan salah telah muncul dari seorang imam yang terdahulu, lalu kesalahannya itu terampuni karena belum sampai hujjah kepadanya, maka tidaklah terampuni bagi orang yang telah sampai hujjah kepadanya kesalahan yang terampuni bagi orang pertama. Oleh karena itulah makanya orang yang sampai kepadanya hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika mengingkarinya, maka dia itu dihukumi sebagai mubtadi’.Akan tetapi ‘Aisyah dan yang semisalnya yang tidak mengetahui bahwasanya orang-orang yang mati itu bisa mendengar di kuburannya, tidak dihukumi sebagai mubtadi’.Ini merupakan prinsip yang agung, maka pelajarilah dia karena dia itu bermanfaat.”(“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 61).

            Maka aqidah syaikh kami Yahya حفظه الله adalah aqidah para imam salafiyyin: bahwasanya seorang mujtahid itu mendapatkan udzur dengan ijtihadnya, akan tetapi kekeliruannya tidak boleh diikuti. Maka tidak seperti yang dianggap oleh para haddadiyyun semisal Arofat Al Bashiriy bahwasanya vonis terhadap suatu amalan bahwasanya itu adalah muhdats mengharuskan kita berkata bahwasanya pelakunya adalah mubtadi’.

          Syaikhul Islam رحمه الله berkata:“Dan telah kami tetapkan pada perkataan yang telah lalu bahwasanya celaan itu tidak menimpa si mujtahid sampai-sampai kita berkata: (Sesungguhnya yang menghalalkan perkara yang harom itu lebih besar dosanya daripada pelakunya). Dan bersamaan dengan itu, maka orang yang mendapatkan udzur memang harus diberi udzur. Tapi jika ditanyakan: (Maka siapakah yang dihukum? Karena yang berbuat keharoman itu tadi bisa jadi adalah mujtahid, atau membebek pada mujtahid, dan keduanya keluar dari hukuman?)

Kita –Syaikhul Islam-: jawabannya dari beberapa sisi. Yang pertama: bahwasanya yang dimaksudkan adalah menjelaskan bahwasanya perbuatan ini menuntut datangnya hukuman, sama saja apakah didapatkan orang yang melakukannya ataukah tidak didapatkan. Maka jika tidak ada pelakunya kecuali dalam keadaan telah tiada di padanya syarat hukuman, atau ada perkara yang menghalangi datangnya hukuman, ini tidak mencoreng vonis bahwasanya perbuatan tadi adalah harom.Bahkan kita mengetahui bahwasanya dia itu harom agar dijauhi oleh orang yang tahu dengan jelas bahwasanya perbuatan tadi adalah harom.Dan termasuk dari rohmat Alloh bagi pelakunya adalah tegaknya udzur untuknya.Dan ini sebagaimana bahwasanya dosa kecil adalah harom sekalipun dia itu dihapus dengan adanya usaha pelakunya untuk menjauhi dosa-dosa besar.Dan ini adalah sifat seluruh perkara yang harom yang masih diperselisihkan.Jika telah jelas bahwasanya dia itu harom –sekalipun terkadang pelakunya mendapatkan udzur karena berijtihad atau taqlid- maka sungguh yang demikian itu tidak menghalangi kita untuk berkeyakinan haromnya perkara tadi.”

(selesai dari Majmu’ul Fatawa”/20/hal. 279).

            Dan apakah muqollid (pembebek) itu mendapatkan udzur?Harus ada perincian.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Iya, dalam posisi ini harus ada perincian yang dengannya menjadi hilanglah kerancuan, yaitu perbedaan antara muqollid yang punya kemampuan untuk mencari ilmu dan mengetahui kebenaran, tapi dia berpaling dari itu, dengan muqollid yang tidak mampumencari ilmu dan mengetahui kebenaran dari satu sisipun. Dan kedua jenis ini memang ada di alam ini.

            Orang yang sanggup untuk mencari ilmu dan mengetahui kebenaran tapi berpaling, maka dia itu telah bersikap kurang dan meninggalkan kewajiban.Dia tidak mendapatkan udzur di sisi Alloh. Adapun orang yang tidak sanggup untuk bertanya dan untuk mendapatkan ilmu dari satu sisipun, maka mereka itu ada dua macam juga:

            Yang pertama: orang yang menginginkan hidayah, lebih mengutamakan hidayah, mencintai hidayah, tapi tidak sanggup mendapatkannya dan tidak bisa mencarinya karena tiada orang yang membimbingnya. Maka orang ini hukumnya adalah hukum orang-orang yang hidup di masa kekosongan Nabi dan orang yang belum sampai pada mereka dakwah.

            Yang kedua adalah: orang yang berpaling, tak punya keinginan untuk mendapatkan kebenaran, dan tidak mengajak bicara dirinya yang perkara yang dia tidak ada di atasnya.

            Orang yang pertama tadi berkata: “Wahai Robbku, andaikata saya tahu bahwasanya Engkau punya agama yang lebih baik daripada agama yang saya ada di atasnya niscaya saya akan beragama dengan agama ini, dan saya akan meninggalkan agama yang saya ada di atasnya, akan tetapi saya tidak mengetahui selain agama yang saya ada di atasnya, dan saya tidak mampu selain itu, dan itu adalah puncak dari kerja keras saya, dan akhir dari pengetahuan saya.”

            Orang yang kedua telah ridho dengan agama yang dia ada di atasnya dan tidak mengutamakan yang lain di atasnya, dan jiwanya tidak mencari yang lain, dan tidak ada perbedaan bagi dirinya antara kondisi lemah dengan kondisi mampu untuk mencari kebenaran.

            Kedua-duanya lemah, tapi yang ini tidak wajib untuk disusulkan dengan hukum orang yang pertama karena ada perbedaan antara keduanya.Orang yang pertama seperti orang yang mencari agama pada masa kekosongan Nabi dan dia tidak mendapatkannya, lalu dia menyisihkan diri darinya setelah mencurahkan kemampuan dalam mencarinya karena tidak mampu dan bodoh.Orang yang kedua seperti orang yang tidak mencari kebenaran, bahkan dia mati di atas kesyirikannya, meskipun andaikata dia mencarinya dia juga tak sanggup mendapatkannya.Maka ada perbedaan antara ketidaksanggupanorang yang mencari, dengan ketidaksanggupanorang yang sengaja berpaling dari kebenaran.Maka renungkanlah posisi ini. Dan Alloh itu akan memutuskan di antara para hamba-Nya pada hari Kiamat dengan hukumnya dan keadilannya, dan tidak menyiksa kecuali orang yang tegak terhadapnya hujjah Alloh dengan datangnya para Rosul.” (“Thoriqul Hijrotain”/hal. 508-509/Dar Ibni Rojab).

            Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata: “Adapun tentang para pengikut para pemimpin tadi, maka mereka terbagi menjadi dua jenis: jenis pertama: orang-orang yang tidak tahu kebenaran, sehingga tidaka tentang itu sedikitpun, tapi mereka tidak kurang dalam mencarinya, yang mana mereka menduga bahwasanya agama yang mereka ada di atasnya itulah yang benar. Maka mereka itu mendapatkan udzur. Jenis kedua: orang-orang yang tahu kebenaran, tapi mereka menolaknya karena fanatik pada para pemimpin mereka Mereka tidaklah mendapatkan udzur, dan mereka sebagaimana firman Alloh tentang mereka:

﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾(الزخرف: 22)

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak.”

(“Majmu’ Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin”/9/hal. 51).

            Kita kembali pada pembahasan adzan pertama hari Jum’at.Jika memang Utsman mendapatkan udzur atas ijtihad beliau itu, kenapa kita mengatakan perbuatan beliau tadi adalah muhdats? Karena adzan tadi adalah ibadah yang tidak ada pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلم .

            Bahkan al Imam Ibnu Abi Syaibah رحمه الله berkata: haddatsana Waki’: haddatsana Hisyam ibnul Ghoz:

سالتنافعامولىبنعمر:الأذانالأوليومالجمعةبدعة؟فقال:قالابنعمر:بدعة.

“Aku bertanya pada Nafi’ maula Ibnu Umar: apakah adzan pertama hari Jum’at itu bid’ah? Beliau menjawab: Ibnu Umar berkata: bid’ah.”

(“Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah”/no. (5441)).

Sanadnya shohih, dan para perowinya tsiqoh semua.

            Dan Hisyam ibnul Ghoz adalah Ibnu Robi’ah Al Jurosyiy, Abu Abdillah atau Abul Abbas Ad Dimasyqiy. Al Imam Ahmad berkata tentang beliau: “Sholihul hadits. Ad Duriy menukilkan dari Ibnu Ma’in tentang beliau: “Laisa bihi ba’s.” Ishaq bin Manshur menukilkan dari Ibnu Ma’in tentang beliau: “Tsiqoh.” Demikian pula Utsman Ad Darimiy menukilkan dari Duhaim tentang beliau (yaitu: “Tsiqoh.”). Ya’qub bin Sufyan berkata: Aku bertanya pada Abdurrohman bin Ibrohim –yaitu: Duhaim- tentang Hisyam ibnul Ghoz, maka beliau menjawab: “Alangkah bagusnya istiqomah beliau dalam hadits.” Ya’qub juga berkata: “Al Walid memujinya.” Ya’qub juga berkata: “haddatsana Hisyam bin Ammar: haddatsana Shodaqoh bin Kholid: haddatsana Abul Abbas Hisyam ibnul Ghoz, wahuwa tsiqoh.” Ibnu Khiros berkata: “Beliau termasuk orang terbaik.” Muhammad bin Abdillah bin Ammar berkata: “Beliau tsiqoh.” Disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam “Ats Tsiqot” dan berkata: “Beliau ahli ibadah dan mulia.” (rujuk “Tahdzibut Tahdzib”/11/hal. 49).

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Beliau termasuk muhadditsin dan ulama Syam yang tsiqoh.” (“Al ‘Ibar”/hal. 41).

Beliau رحمه الله berkata: “Beliau ahli ibadah dan sangat baik.” (“Mizanul I’tidal”/no. 9236).

Beliau رحمه الله berkata: “Beliau adalah imam, muqri, muhaddits.” (“Siyar A’lamin Nubala”/7/hal. 60).

Beliau رحمه الله berkata: “Beliau shoduq, ahli ibadah.” (“Al Kasyif”/no. 5975).

Al Hafizh Ibnu Nashiruddin رحمه الله berkata: “Beliau dulu mengurusi baitul mal Abu Ja’far Al Manshur, tsiqoh, ahli ibadah, termasuk orang-orang terbaik.” (“Taidhihul Musytabah”/6/hal. 220).

Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Tsiqoh, termasuk dari pembesar thobaqot ketujuh.” (“Taqribut Tahdzib”/no. 7305).

Maka Hisyam ibnul Ghoz itu tsiqoh.Barangsiapa melemahkan beliau maka dia keliru.Dan barangsiapa berupaya untuk melemahkan atsar tadi dalam rangka menolong Mar’iyyun dan memukul Salafiyyun secara rahasia, maka sungguh dia telah berbuat zholim.

Adapun perkataan Al Imam Ahmad رحمه الله: “Sholihul hadits,” tidak menunjukkan bahwa rowi tadi majruh (tercela).

Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Dan aku tidak mengurusi orang yang disebutkan tentang dirinya: (mahilluhush shidq) ataupun: (la ba’sa bih), ataupun: (sholihul hadits) atau (yuktabu haditsuh), atau (dia syaikh), karena ini dan yang seperti itu menunjukkan pada tidak adanya kelemahan mutlak. Ungkapan tertinggi pada rowi yang maqbul adalah: (tsiqotun hujjah), (tsabtun hafizh), (tsiqotun mutqin), (tsiqotun tsiqoh), kemudian (tsiqotun shoduq), (la ba’sa bih), kemudian (mahilluhush shidq) dan (jayyidul hadits) dan (sholihul hadits) dan (syaikhun wasath) dan (syaikhun hasanul hadits) dan (shoduqun insya Alloh), dan (shuwailih), dan seperti itu.”(“Mizanul I’tidal”/1/hal. 3-4).

Al Laknawiy رحمه الله berkata: “As Sakhowiy dalam “Syarhul Alfiyyah” dan As Sindiy dalam “Syarhun Nukhbah” berkata dalam posisi ini dengan memberikan perincian yang baik, dan menjadikan masing-masing lafazh jarh dan tazkiyah itu menjadi enam tingkatan, dan menjelaskannya dengan penjelasan yang bagus.

Ringkasannya adalah: “Bahwasanya lafazh-lafazh ta’dil itu ada enam tingkatan, yang tertingginya menurut para muhadditsin adalah sifat yang menunjukkan sifat sangat, atau mengungkapkannya dengan “af’al” seperti (autsaqun nas) dan (adhbathun nas) –lalu menyebutkan sekian lafazh ta’dil, sampai pada ucapannya:- kemudian lafazh yang menunjukkan kedekatan dengan tajrih, dan itu adalah tingkatan ta’dil yang paling rendah, seperti ucapan mereka: (laisa bi ba’idin minash showab), atau (syaikh), atau (yurwa haditsuh) atau (yu’tabaru bih), atau (sholihul hadits), atau (yuktabu haditsuh) atau (muqoribul hadits) atau (shuwailih) atau (shoduqun insya Alloh) atau (arju an la ba’sa bih) dan seperti itu. Ini adalah tingkatan-tingkatan ta’dil. Adapun tingkatan-tingkatan jarh ada enam, … dst.” (“Ar Rof’u Wat Takmil Fil Jarh Wat Ta’dil”/hal. 22).

Sesungguhnya sejumlah besar huffazh men-tsiqohkan Hisyam ibnul Ghoz, dan tiada seorangpun yang melemahkan beliau, maka pendapat yang benar adalah pendapat mereka.Adapun ucapan Al Imam Ahmad “sholihul hadits” tidak menunjukkan pada jarh, dan tidak menentang hukum “tsiqoh” mereka.Lebih-lebih bahwasanya Al Imam Ahmad terkadang menggabungkan ungkapan “sholihul hadits” dan “Tsiqoh” pada seorang rowi.

Beliau berkata dalam biografi Mubasysyir bin Ismail Al Halabiy: Mubasysyir itu seorang syaikh, sholihul hadits, tsiqoh. (“Bahrud Dam”/no. 1059).

Beliau berkata dalam biografi Musa bin Uqbah bin Abi Ayyasy Al Asadiy: tiqoh. Beliau berkata tentangnya juga dalam riwayat Ibnu Ibrohim: Sholihul hadits.(“Bahrud Dam”/no. 1049).

Beliau berkata dalam biografi Muhammad bin Ziyad Al Qurosyiy Al Jumahiy: sholihul hadits dan dia itu tsiqoh.(“Bahrud Dam”/no. 893).

Beliau berkata dalam biografi Abdulloh bin Aqil Ats Tsaqofiy Al Kufiy: tsiqoh sholihul hadits.(“Bahrud Dam”/no. 547).

Beliau berkata dalam biografi Dhomroh bin Robi’ah Ar Romliy: orang yang sholih, sholihul hadits, termasuk dari para tsiqot yang terpercaya, tiada di Syam orang yang menyerupainya, …dst.(“Bahrud Dam”/no. 470).

Beliau berkata dalam biografi Shokhr bin Juwairiyyah bin Nafi’ Al Bashriy: tsiqotun tsiqoh. Dan beliau berkata juga tentangnya dalam riwayat Ibnu Ibrohim: Sholihul hadits.(“Bahrud Dam”/no. 458).

Dalam biografi Asy’ats bin Abisy Sya’tsa, Sulaim bin Aswad Al Muharibiy: ditsiqohkan oleh Ahmad. Dan beliau berkata tentangnya dalam riwayat al Maimuniy: sholihul hadits.(“Bahrud Dam”/no. 91).

Adapun perkataan Yahya bin Ma’in tentang Hisyam ibnul Ghoz: (laisa bihi ba’s), beliau juga berkata tentang beliau: (tsiqoh). Dan memang istilah yang pertama tadi menunjukkan hukum tsiqoh dari Ibnu Ma’in. Dari Ibnu Abi Khoitsamah yang berkata: “Aku bertanya pada Yahya bin Ma’in: sesungguhnya Anda berkata: (fulan la ba’sya bih) dan (fulan dho’if)?” Beliau menjawab: Jika aku berkata padamu: (laisa bihi ba’s) maka dia itu tsiqoh. Dan jika aku berkata padamu: (huwa dho’if) maka dia itu tidak tsiqoh, jangan ditulis haditsnya.” (“Muqoddimah Ibnush Sholah”/hal. 61).

Adapun ucapan-ucapan Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله yang bermacam-macam tadi, maka yang mencocoki jama’ah itulah yang benar: tsiqoh.

Kesimpulan: adzan pertama pada hari Jum’ah adalah muhdats bid’ah, di situ Utsman bin Affan رضي الله عنه berijtihad, dan beliau dimaafkan dalam kekeliruannya, dan mendapatkan pahala dengan ijtihad beliau, dan tidak boleh kesalahan beliau diikuti. Dan tidak boleh dikatakan tentang beliau: mubtadi’, karena tidak setiap orang yang terjadi pada dirinya perkara muhdats dikatakan sebagai mubtadi’.

Abu Musa Al Madiniy رحمه الله berkata: “Dan aku mendengar beliau –yaitu Abul Qosim Isma’il bin Muhammad yang dijuluki sebagai Qowwamus Sunnah- berkata: “Ibnu Khuzaimah keliru dalam hadits shuroh, dan beliau tidak boleh dicerca dengan sebab tadi, tapi cukuplah bahwasanya tak boleh pendapat beliau tentang itu diambil.” Abu Musa berkata: beliau mengisyaratkan dengan itu bahwasanya sedikit sekali dari seorang imam kecuali dia pasti punya ketergelinciran. Jika imam tadi ditinggalkan karena ketergelincirannya niscaya banyak dari imam akan ditinggalkan, dan ini tak boleh dilakukan.” (dinukilkan oleh Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله dalam “Tarikhul Islam”/36/hal. 371).

Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Seandainya setiap orang yang keliru dalam ijtihadnya bersamaan dengan keshohihan keimanannya dan kesungguhannya mengikuti kebenaran kita batalkan dan kita bid’ahkan, niscaya sedikit sekali  para imam yang selamat bersama kita. Semoga Alloh merohmati semuanya dengan karunia-Nya dan kemuliaan-Nya.”(“Siyar A’lamin Nubala”/14/hal. 374-376).

Adapun pertanyaan Al Barmakiy al hizbiy: “Apa faidah penyebutan Khulafaur Rosyidin dalam hadits itu –hadits Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه– jika yang diinginkan hanyalah mereka itu akan mengikuti sunnah Nabi?! Dan apakah hanya para Khulafa saja yang akan mengikuti sunnah Nabi?! Dan di manakah para Shohabat yang lain?! Dan di manakah sepuluh Shohabat yang tersisa, dan para peserta perang Badr dan Hudaibiyah?Dan di manakah para Abdulloh yang empat dan para shohabat yang banyak meriwayatkan atsar?!!Bukankah mereka semua ada di atas jalan Nabi صلى الله عليه وسلم dan mereka semua mengikuti sunnah beliau?” selesai.

Jawabnya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut-:

Sunnah Khulafaur Rosyidin tidak disebutkan secara terpisah, bahkan bergandengan dengan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam dorongan untuk mengikutinya. Mereka berempat telah Alloh beri taufiq yang besar, dan mereka adalah para pemimpin umat ini, dan secara global mereka lebih dekat kepada kebenaran daripada yang lain. Akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang ma’shum, berbeda dengan para Nabi dan Rosul.Maka hujjah adalah Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ umat, bukan ijtihad sebagian umat.

Najmuddin Sulaiman Ath Thufiy رحمه الله berkata: “Masalah kesembilan: kesepakatan Kholifah yang empat sepeninggal Rosululloh صلى الله عليه وسلم disertai dengan penyelisihan shohabat yang lain itu bukanlah ijma’.Demikian pula kesepakatan dua syaikh Abu Bakr dan Umar, lebih-lebih lagi, yaitu: jika kesepakatan khulafa yang empat bukan ijma’, maka ucapan dua orang dari mereka lebih-lebih lagi untuk tidak menjadi ijma’.Dan dalil tentang itu adalah apa yang telah lalu bahwasanya ‘ishmah itu tetap untuk ijma’ umat, sementara mereka berempat adalah baru sebagian saja dari umat.” -Sampai pada ucapan beliau:-

“Bahwasanya sunnah Khulafaur Rosyidin jika dia itu adalah sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka tidak ada kekhususan untuk mereka berempat dengan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم, sementara sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan agama beliau menunjukkan teranggapnya ucapan seluruh umat, bukan sebagian umat saja. Jika sunnah Khulafa tadi itu bukan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak teranggap sebagai ijma’, maka ijma’ yang ditunjukkan oleh dalil sam’iy lebih utama untuk diikuti.

Jika kita menerima bahwasanya teranggapnya sunnah Khulafa sebagai ijma’, maka ada pilihan: sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika berhadapan dengan sunnah mereka tidak teranggap, atau teranggap bersama bersama sunnah Khulafa. Jika tidak teranggap, mengharuskan sunnah mereka menyendiri dengan kebenaran, bersamaan dengan penyelisihannya dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم, dan itu adalah batil secara ijma’. Tapi jika Rosululloh صلى الله عليه وسلم teranggap bersama dengan sunnah Khulafa, berarti sunnah mereka tidak menyendiri dengan kebenaran, karena suatu perkara yang teranggap dengan dua sebab, atau tergantung pada dua sebab, maka berarti dia tidak dihasilkan dengan salah satunya.

Adapun sabda beliau صلى الله عليه وسلم : “Dan sunnah Khulafaur Rosyidin”, maka itu adalah perkenalan tentang sifat khilafah bersamaan dengan rosyad (kelurusan), maka hal itu tidak khusus untuk empat orang saja ataupun dua syaikh saja, bahkan mencakup setiap kholifah yang rosyid, maka wajib untuk digabungkan dalam perhitungan pada ucapan mereka ucapan setiap orang yang punya sifat demikian seperti Umar bin AbdilAziz dan semisal beliau.

Kita menerima bahwasanya yang dimaksud dengan Khulafaur Rosyidin adalah yang empat tersebut, akan tetapi perintah untuk mengikuti sunnah mereka tidak meniadakan teranggapnya sisa umat yang lain bersama mereka, karena sisa umat didiamkan dalam hadits tadi. Dan dalil ijma’ menunjukkan teranggapnya ucapan orang yang tersisa dari umat, maka jadilah taqdir untuk hadits tadi adalah: “Hendaknya kalian berpegang dengan sunnah Khulafaur Rosyidin” yang mencocoki pendapat sisa umatku. Beliau mengkhususkan penyebutan Khulafaur Rosyidin karena mereka adalah para pemimpin umat, yang terbaik dari umat, dan paling utama.”

(selesai penukilan dari “Syarh Mukhtashorir Roudhoh”/3/hal. 99-101).

            Dan Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله : “Dan para jumhur juga berpendapat bahwasanya ijma’ Khulafa yang empat bukanlah hujjah karena mereka itu adalah sebagian dari umat. Dan diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya ijma’ empat Khulafa adalah hujjah. Dan sebagian ulama berpendapat bahwasanya itu adalah hujjah karena riwayat yang datang yang memberikan faidah demikian, seperti ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم :“Dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin”, dan sabda beliau: “Teladanilah dua orang yang datang setelahku: Abu BAkr dan Umar.”Dan keduanya adalah hadits shohih.Dan hadits yang semisal itu.

            Dijawab bahwasanya dua hadits tadi adalah dalil bahwasanya mereka itu adalah orang-orang yang diteladani, bukan menunjukkan bahwasanya ucapan mereka itu hujjah terhadap yang lain, Karena seorang mujtahid itu disuruh ibadah dengan mencari dalil sampai nampak baginya apa yang diduganya sebagai kebenaran. Andaikata hadits yang seperti tadi adalah memberikan faidah hujjah Khulafa atau sebagian Khulafa, maka niscaya hadits: “Aku telah ridho untuk umatku dengan apa yang diridhoi oleh Ibnu Ummi Abd untuk mereka” juga memberikan faidah hujjahnya ucapan Ibnu Mas’ud. Dan hadits bahwasanya: “Abu Ubaidah ibnul Jarroh adalah kepercayaan umat ini” juga memberikan faidah hujjahnya ucapan Abu Ubaidah dan kedua hadits tadi juga shohih.” (“Irsyadul Fuhul”/1/hal. 177-178).

            Saya katakan: sama saja apakah ijma’ Khulafa yang empat itu adalah hujjah ataukah tidak, maka pendapat satu orang yang menyendiri dari mereka bukanlah hujjah. Hujjah adalah Al Kitab dan As Sunnah dan Ijma’.

 

Bab Duapuluh Tiga:

Luqman Menuduh Asy Syaikh Yahya حفظه الله Meneror Ulama dan Mencerca Mereka

Dan termasuk perkara yang dianggap Luqman sebagai bentuk celaan Asy Syaikh Yahya kepada para ulama dan teror terhadap mereka adalah ucapan beliau: “Demi Alloh jika ada yang berani –tambahan dari Luqman- menghentikan kasetku atau malzamahku, aku akan menghinakan kehormatannya siapapun dia.”

Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya amar ma’ruf, nahi munkar, menjelaskan kebenaran, dan memperingatkan umat dari kebatilan-kebatilan adalah wajib, dan inilah yang ditegakkan oleh Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau حفظهم الله .dan para masyayikh tersebut tidak sanggup meruntuhkan hujjah dengan hujjah pula dalam kasus ini. Maka bagaimana mereka berupaya untuk menghentikan kaset-kaset dan risalah-risalah tersebut tanpa kebenaran?Ini adalah kebiasan pengekor hawa nafsu, tidak sepantasnya ditempuh jalan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkomentar tentang tentara setan: “Dan mereka berupaya agar tidak muncul dari pihak hizbulloh (golongan Alloh) dan Rosul-Nya perkataan, ataupun kitab. Dan mereka mengeluh dan resah dengan munculnya kitab “Al Akhna’iyyah”([2]). Maka Alloh ta’ala justru mempekerjakan mereka hingga mereka menampakkan perkara yang berlipat-lipat dan lebih besar dari yang demikian tadi,  dan mengharuskan mereka untuk memeriksa dan meneliti kitab tadi, dan tujuan mereka adalah untuk menampakkan kekurangan dari kitab tadi” dst (“Majmu’ul Fatawa” 28/hal. 58).

            Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh- berkata pada Syaikh Ibnu Jibrin rohimahulloh –dia adalah seorang hizbiy- yang melarang beliau mencetak kitab bantahan terhadap hizbiyyin: “Aku mendengar bahwasanya sebagian hizbiyyin membeli sejumlah besar dari kitab-kitab yang menyebutkan kejelekan mereka, lalu mereka membakarnya. Maka apa beda antara orang yang membakar kitab setelah dicetak dengan orang yang berkata,”Jangan dicetak!”” (“Roddul Jawab” /hal. 62-63).

Asy Syaikh Ahmad An Najmiy –rohimahulloh- berkata tentang Ikhwanul Muslimin: ”Upaya mereka untuk membungkam setiap orang yang berbicara tentang hizbiyyah mereka dan menerangkan kejelekan dan kekurangan mereka, dan menjadikannya sebagai musuh bagi mereka.” (“Ar Roddusy Syar’i”/hal. 254).

Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمهالله berkata tentang sikap “Syababush Shofwah” terhadap orang yang dengan cara yang benar mengkritik kebatilan-kebatilan para pemimpin mereka: “Mereka memusuhi orang itu sekalipun kritikan orang itu ditujukan kepada kebid’ahan dan kesyirikan, dan mereka membikin orang-orang tidak butuh pada kitab si pengkritik, sekalipun dia telah menunjukkan pada mereka tempat yang dikritik itu di dalam kitab-kitab yang mengandungnya, lengkap dengan nomor halamannya. Mereka memusuhi si pengkritik sampai bahkan memusuhi orang yang membagi-bagikan dan menyebarkan kritikan tadi, sekalipun yang mereka musuhi itu termasuk dari orang yang punya jasa dan karunia pada mereka.Mereka menuduhnya sebagai orang yang tolol, bodoh, sekalipun si pengkritik itu cerdas dan pintar bagaikan Iyas (bin Mu’awiyah).” (muqoddimah “Al Mauidul ‘Adzb”/hal. 47-48).

Pengekor hawa nafsu itu hina di sisi Alloh dan kaum mukminin.Alloh ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ [يونس/27]

“Dan orang-orang yang berbuat kejahatan, balasan dari kejahatan adalah yang semisalnya, dan mereka akan terliputi kehinaan.”(QS Yunus 27)

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِى

“Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan terhadap orang yang menyelisihi perintahku. “(HR Ahmad (5232) dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu dan dihasankan oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya -hafizhahulloh-)

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّين﴾ [المجادلة/20].

“Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya mereka itulah yang berada dalam golongan orang-orang yang hina.” (QS. Al Mujadilah: 20).

Alloh jalla dzikruh berfirman:

﴿إِنَّالَّذِينَاتَّخَذُواالْعِجْلَسَيَنَالُهُمْغَضَبٌمِنْرَبِّهِمْوَذِلَّةٌفِيالْحَيَاةِالدُّنْيَاوَكَذَلِكَنَجْزِيالْمُفْتَرِينَ﴾ [الأعراف: 152].

“Sesungguhnya orang-orang yang membikin patung anak sapi itu, mereka akan tertimpa kemurkaan dari Robb mereka dan kehinaan dalam kehidupan dunia.Dan seperti itulah Kami membalas orang-orang yang membikin kedustaan.”

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan firman-Nya: “Dan seperti itulah Kami membalas orang-orang yang membikin kedustaan” menimpa setiap orang yang membikin kebid’ahan, karena hinanya kebid’ahan dan penyelisihan terhadap kerosulan itu bersambung dari hatinya sampai kepada kedua pundaknya, sebagaimana ucapan Al Hasan Al Bashriy: “Sesungguhnya hinanya kebid’ahan ada di atas pundak-pundak mereka, sekalipun bighol-bighol melangkah dengan bagus memikul mereka, dan birdzaun-birdzaun berderap memikul mereka. Dan seperti itu pula Ayyub As Sakhtiyaniy meriwayatkan dari Abu Qilabah Al Jarmiy, bahwasanya beliau membaca ayat ini: “Dan seperti itulah Kami membalas orang-orang yang membikin kedustaan” beliau berkata: “Ayat ini, demi Alloh berlaku untuk setiap pembikin kedustaan sampai hari Kiamat.” Dan Sufyan bin Uyainah berkata: “Setiap pelaku bid’ah itu hina.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 477-478).

Dan penghinaan terhadap ahli ahwa merupakan peletakan sesuatu pada tempatnya, maka hal itu bukanlah teror seperti yang didakwakan oleh Luqman al hizbiy.

 

Luqman berkata: “Asy Syaikh Al Imam menasihatkan murid-muridnya: “Belajar, belajar, belajar, jangan ada yang menyibukkan diri membaca artikel-artikel tentang fitnah. Ana nggak suka di pondok saya ini beredar artikel-artikel seputar fitnah.Nggak ada, semua Ahlussunnah, semua Ahlussunnah. Begitu juga Asy Syaikh Al Buro’iy, begitu juga Asy Syaikh Adz Dzammariy, sampai pada tingkatan Asy Syaikh Robi’pun ternukilkan dari beliau: “Jangan disebarkan malzamah-malzamah itu, jangan dibaca, sibuklah kalian dengan ilmu.”

Jawabannya –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sesungguhnya kenyataan menunjukkan bahwasanya para masyayikh tersebut menakar dengan dua alat takaran, dan menimbang dengan dua timbangan.Mereka melarang membaca risalah-risalah Salafiyyin penasihat yang menyingkapkan kebatilan-kebatilan hizbiyyin, tapi bersamaan dengan itu mereka membolehkan membaca malzamah-malzamah hizbiyyin pendusta yang tak dikenal.

            Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Malzamah-malzamah orang-orang tak dikenal yang jahat itu, dari orang dinamakan dengan Barmakiy. Tahukah engkau apa itu Barmakiy!!? Dan semisal mereka, malzamahnya dibagi-bagikan di majelis Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan di masjidnya, dianjurkan untuk membacanya dan menyebarkannya, dan dia berkata: “Tambah lagi, tambah lagi wahai Syaikh Ubaid,” Yaitu yang semisal dengan itu, sama saja dari Baromikah ataukah dari yang lainnya.”

(selesai dari risalah “Al Wala Wal Baroudh Dhoyyiq”/Asy Syaikh Yahya/hal. 3).

            Asy Syaikh Abdul Hakim Ar Roimiy حفظه الله berkata padaku bahwasanya Asy Syaikh Robi’ berkata padanya: “Apakah engkau telah membaca malzamah Al Barmakiy?” Beliau menjawab: “Tidak.” Asy Syaikh Robi’ berkata: “Bacalah dia, karena di dalamnya ada faidah bagus dan besar.”Atau kalimat semacam itu.

            Demikian pula Ubaid Al Jabiriy mendukung pembacaan malzamah-malzamah Abdurrohman bin Ahmad Al Barmakiy, dan memberikan kata pengantar bagi risalah Arofat Al Bashiri.

            Kemudian telah lewat penjelasan bahwasanya pembacaan risalah-risalah yang menyingkap kebatilan-kebatilan ahli ahwa itu disyariatkan, dan pelarangan membaca itu adalah suatu kebatilan dan menjadi suatu bentuk pertolongan untuk ahli batil.Dan kita tidak menaati ucapan yang batil, karena ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf.

 

            Luqman Al Hizbiy berkata menukilkan ucapan Asy Syaikh Yahya: “Ubaid itu buta mata dan hatinya, Ubaid adalah musuh sunnah.” Dan Luqman berkata: “Dan kita tidak mengetahui apa alasan Yahya Al Hajuriy terhadap Asy Syaikh Ubaid. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَاتَقْفُمَالَيْسَلَكَبِهِعِلْمٌإِنَّالسَّمْعَوَالْبَصَرَوَالْفُؤَادَكُلُّأُولَئِكَكَانَعَنْهُمَسْئُولًا﴾ [الإسراء: 36].

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tak punya ilmu tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ubaid mubtadi’ apa dalilnya? Kita ini salafiyyin jangan dianggap bodoh.Mana dalilnya. Terlebih murid-murid di Dammaj, ditelan mentah-mentahfatwa ini.

            Jawabannya -dengan taufiq dari Alloh- sebagai berikut:

Telah jelas dari ‘Ubaid Al Jabiriy هداه الله fanatisme dirinya kepada Abdurrohman Al ‘Adniy.Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy رعاه الله dengan sangat tenang dan beradab telah menyebutkan padanya bahwasanya Abdurrohman Al ‘Adniy sendiri telah mentahdzir ikhwah dari belajar di Jami’ah Islamiyyah di Madinah dikarenakan di sana banyak hizbiyyun. Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata: “Saya tidak lupa untuk menyebutkan ucapan saudara kita yang terfitnah akhir-akhir ini –dengan sangat menyesal- Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله yang telah tetap darinya dengan suaranya pada tanggal 23 Rojab 1426 H tentang Jami’ah Islamiyyah bahwasanya Jami’ah ini telah berubah dan jadilah yang berkuasa di situ adalah para hizbiyyun. Dia هداه الله berkata: “Secara hakiki, Jami’ah Islamiyyah dulunya adalah termasuk menara Ilmiyyah yang megah di dunia dan di alam, menghasilkan dan mengeluarkan para ulama. Akan tetapi pada masa-masa terakhir banyak hizbiyyin yang menguasainya, jadi pengelola, pengajar, doktor-doktor. Seorang manusia itu tidaklah merasa aman dirinya untuk menghadiri ceramah seorang hizbiy, atau menghadiri dauroh musim panas yang di situ sekelompok pengajar hizbiyyun ikut andil, maka bagaimana dengan sistem belajar yang berkesinambungan minimal empat tahun, doktor ini hizbiy, yang ini sururiy, yang ini quthbiy, yang ini punya kecondongan kepada tashowwuf. Maka secara hakikat, seorang insan tidaklah merasa aman dirinya. Engkau wahai saudaraku, andaikata diumumkan di kotamu akan diselenggarakannya dauroh musim panas, di dalamnya akan hadir ulama sunnah, dan hadir juga di situ ahlul bida’. Bisa jadi di antara mereka ada yang alim. Maka apa yang hendak engkau pilih? Sementara engkau tahu bahwasanya para ulama yang hadir itu punya dars-dars khusus di masjid-masjid mereka.Aku tidak mengira engkau perlu menimbang untuk meninggalkan kehadiran di dauroh itu tadi, demi menjaga agamamu dan melindungi manhajmu, dan engkau pergi ke para ulama tadi di masjid-masjid dan tempat mereka.Dan demikianlah Jami’ah Islamiyyah, di dalamnya ada orang yang selamat, dan ada pula orang yang jatuh, disebabkan oleh adanya para pengajar tadi. Wahai saudaraku, empat tahun, orang ini adalah pengajar, doktor, sementara engkau adalah murid, dia memberimu apa yang diberikannya kepadamu. Maka yang kami nasihatkan kepada para ikhwah adalah: mereka jangan pergi ke sana. Barangsiapa ingin ilmu maka dia harus pergi ke para ulama di kerajaan Saudi, di Yaman, dan tempat lain. Adapun dia berjalan ke Jami’ah demi mendapatkan ijazah, apa faidah yang hendak didapatkannya? Para ikhwah yang bergabung ke Jami’ah-jami’ah, khususnya pada tahun-tahun terakhir ini, tidaklah kami lihat di kalangan mereka ada orang yang mendapatkan taufiq, karena dirinya tinggal bertahun-tahun di Jami’ah dan mendapatkan ijazah, apakah kalian mengira setelah dirinya lulus dia mau pergi ke Dammaj –misalnya-, atau siap untuk menjadi imam di masjid salah satu blok perumahan, di salah satu kota, atau suatu desa, ataukah berusaha untuk mencari pekerjaan dengan ijazah yang dikeluarkannya? Jawabnya adalah: inilah yang kami dapati dan kami saksikan, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan…” dst.

            Maka Anda –’Ubaid Al Jabiriy- harus menakar untuk dirinya dan untuk orang lain yang mengatakan yang demikian itu dengan cercaan seperti cercaan yang Anda takarkan untuk saya. Dan kami mengharapkan dari Anda wahai fadhilatusy Syaikh وفقك الله agar Anda tidak berkelit dari yang demikian itu sebagaimana berkelitnya musuh kita Bisyr Al Marisiy.Ini jika tujuan yang diinginkan dalam pengobaran pembelaan terhadap Jami’ah sekarang ini bukanlah mencari sarana untuk melindungi Abdurrohman Al ‘Adniy dan pengikutnya, sebagaimana berita itu tersebar di tempat kami, yang mana Abdurrohman Al ‘Adniy هداه الله telah terang-terangan sebagaimana yang lainnya tentang telah berubahnya Jami’ah dari keadaannya yang dulu. Dan ini menyelisihi apa yang telah Anda tetapkan dalam risalah yang Anda namakan dengan “An Naqdush Shohih” bahwasanya Jami’ah Islamiyyah itu Salafiyyah sampai pada hari ini, dan dia menetapkan perubahannya, bahwasanya dirinya telah dikuasai hizbiyyun akhir-akhir ini.” (“At Taudhih”/hal. 4-5).

            Dan setelah penjelasan dari syaikh kami An Nashihul Amin رعاه الله ini, dan tuntutan beliau terhadap ‘Ubaid Al Jabiriy agar menempuh jalan keadilan dan sportivitas, ternyata ‘Ubaid Al Jabiriy menakar dengan dua takaran, dan tidak rela untuk menyikapi Abdurrohman Al ‘Adniy seperti sikapnya kepada syaikh kami An Nashihul Amin yang sangat penyabar itu, padahal ‘illahnya (sifat yang mengumpulkan antara pihak ini dan pihak itu) adalah sama bagi orang yang punya dua mata. Bahkan ‘Ubaid Al Jabiriy menambahi berbagai cercaan dan caci-makian terhadap syaikh kami yang mulia رفعه الله .Maka fanatisme Ubaid itu jelas.

            Sesuai dengan keadaan Ubaid Al Jabiriy adalah ucapan Syaikhul Islam رحمهالله :Dan barangsiapa condong bersama temannya, sama saja apakah kebenaran bersamanya ataupun melawan dirinya, maka sungguh dia itu telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar dari hukum Alloh dan Rosul-Nya. Dan wajib bagi mereka semua untuk menjadi tangan yang satu bersama orang yang benar untuk menghadapi orang yang batil, sehingga jadilah orang yang diagungkan di sisi mereka adalah orang yang diagungkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, dan orang yang didahulukan di sisi mereka adalah orang yang didahulukan oleh Alloh dan Rosul-Nya, dan orang yang dicintai di sisi mereka adalah orang yang dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya, dan orang yang dihinakan di sisi mereka adalah orang yang dihinakan oleh Alloh, sesuai dengan kadar apa yang diridhoi Alloh dan Rosul-Nya, bukan sesuai kadar hawa nafsu, karena sesungguhnya barangsiapa taat pada Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah lurus, dan barangsiapa durhaka pada Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia tidak membahayakan kecuali dirinya sendiri.Dan inilah prinsip yang mereka wajib bertopang padanya.”(“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 17/Darul Wafa/ihalah).

            Kemudian sesungguhnya Ubaid mentahdzir umat dari Asy Syaikh Yahya dengan syubuhat yang sangat lemah, sebagaimana yang dijelaskan oleh banyak ulama dan para pelajar senior, dan mereka mendatangkan bukti-bukti yang amat banyak yang bias dipahami oleh orang yang bersemangat mendambakan keselamatan bagi dirinya sendiri lalu membaca bukti-bukti tadi dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran dan keadilan, membebaskan diri dari hawa nafsu dan faatisme, sehingga hidup di atas bayyinah, berbeda dengan orang yang bersifat buta terhadap bayyinah tadi lalu menjauh darinya dan melarang orang dari membacanya sehingga dirinya binasa. Maka seluruh orang yang adil mengetahui batilnya tahdzir Ubaid terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله.

            Telah banyak bantahan-bantahan Ahlussunnah terhadap Ubaid bin Sulaiman Al Jabiriy, jumlah yang sangat banyak.

            Ubaid Al Jabiriy telah menyombongkan diri terhadap kebenaran setelah dijelaskan padanya bahkan dia melanjutkan serangan yang zholim terhadap ahlul haq, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri jika terkena panah-panah pembelaan diri dari Ahlussunnah.

            Kemudian sesungguhnya istilah “musuh sunnah” itu tidak mengharuskan dia itu menjadi musuh sunnah di seluruh perkara, sebagaimana istilah “musuh Alloh” yang dipakai oleh Salafush Sholih tidaklah diinginkan dengannya orang tadi menjadi musuh bagi Alloh di seluruh keadaan. Lihatlah atsar dari:

سَعِيدُبْنُجُبَيْرٍقَالَقُلْتُلاِبْنِعَبَّاسٍإِنَّنَوْفًاالْبِكَالِىَّيَزْعُمُأَنَّمُوسَىلَيْسَبِمُوسَىبَنِىإِسْرَائِيلَ،إِنَّمَاهُوَمُوسَىآخَرُ . فَقَالَكَذَبَعَدُوُّالله

Sa’id bin Jubair -rahimahulloh- berkata,”Aku berkata kepada Ibnu Abbas t: “Sungguhnya Nauf Al Bikali menyangka bahwasanya Musa – yang bersama Khidhr- bukanlah Musa Bani Isroil, akan tetapi hanya dia itu Musa yang lain.” Maka beliau berkata,”Musuh Alloh itu bohong.”(HR. Al Bukhori (112) dan Muslim (6313)).

            Dan tiada seorangpun dari Salaf yang berkata tentang Ibnu Abbas رضي الله عنهما: “Sesungguhnya ini adalah ghuluw, haddadiyyah, barangsiapa mengatakan ini akan dia telah mencerca ulama,” dan kengawuran yang lain.

barangsiapa memperdalam pandangannya terhadap kebatilan Ubaid Al Jabiriy –sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para ulama dan penasihat tersebut- dia akan tahu jauhnya Ubaid dari sunnah, terutama peringatan dirinya terhadap orang-orang agar menjauh dari benteng ilmu dan sunnah yang terbesar di Yaman: Darul Hadits Dammaj.

Manakala dikatakan pada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Banna رحمهالله tentang Ahlu Dammaj: “Tidak seperti yang diklaim oleh sebagian dari mereka bahwasanya mereka telah melakukan perubahan dan penggantian sepeninggal Asy Syaikh Muqbil.”

Maka beliau رحمهالله menjawab: “Demi Alloh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, demi Alloh, demi Alloh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yaitu sekarang tempat yang paling utama jika kamu ingin belajar Salafiyyah pada hakikatnya, dengan ilmu dan amal adalah Dammaj.Mekkah sekarang dimasuki Khowwanul Muslimin.Mereka merusaknya, demi Alloh.Yang menginginkan belajar Salafiyyah yang benar beserta amalannya adalah di Dammaj.” Kemudian beliau berkata: “Demi Alloh mereka adalah orang-orang terbaik sekarang ini.”(Selesai penukilan dari program “Fitnatul ‘Adniy”/karya Husain bin Sholih At Tarimiy dan Faroj bin Mubarok Al Hadriy حفظهماالله).

Maka orang yang menghalangi manusia dari belajar di Darul Hadits Dammaj, maka sungguh ini merupakan sikap melampaui batas terhadap sunnah, bahkan cocok untuknya perkataan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمهالله :“Dan tidaklah menghalangi manusia dari ilmu kecuali para perampok dari kalangan mereka, dan para wakil iblis dan polisi-polisinya.”(“Madarijus Salikin”/2/hal. 464).

Dan perkataan beliau رحمه الله: “Dan jenis yang keempat: para wakil Iblis di bumi, dan mereka itu adalah orang-orang yang melemahkan manusia dari mencari ilmu dan memperdalam pemahaman terhadap agama. Maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia daripada setan-setan jin, karena mereka itu menghalangi hati dari petunjuk Alloh dan jalan-Nya.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 160).

            Maka dengan ini tampak jelaslah kebenaran Ahlussunnah dalam bantahan mereka terahdap Ubaid Al Jabiriy, dan teranglah fanatisme Ubaid kepada kebatilan.Dan ucapan muta’ashshib (orang yang fanatik) itu tidak ada harganya. Al Imam Abu Bakr Ibnul Arobiy Al Malikiy رحمه الله berkata: “Dan ucapan muta’ashshib (orang yang fanatik) itu tidak perlu didengar.” (“Al ‘Awashim Minal Qowashim”/hal. 127).

            Dan Luqman berkata: “Ketika Al Hajuriy mendapati merasakan bahwa para masyayikh di Yaman tidak sepakat tidak setuju dengan cara-cara dia terhadap Asy Syaikh Abdurrohman, mulai dia menggunakan cara-cara teror kepada para masyayikh.” Luqman juga berkata: “Satu persatu dari para ulama dijatuhkan oleh Al Hajuriy.” Dan Luqman berkata: “Al Hajuriy telah menjatuhkan para masyayikh, akhirnya tidak tersisapara masyayikh di Yaman.”

          Jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh adalah sebagai berikut-:

Kritikan terhadap kesalahan-kesalahan tapi dengan hujjah, maka pintunya terbuka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “… dikarenakan para Nabi عليهم السلام itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.”(“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

Ucapan yang bercahaya ini tidaklah tersembunyi dari Luqman, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Arofat Al Bashiriy, dan mereka sendiri jika melihat adanya suatu ucapan dari seorang imam Muslimin atau ulama Muslimin dalam masalah fiqh yang menyelisihi kebenaran, maka mereka membantahnya dan menjelaskan sisi yang benar dalam masalah tadi, dan mereka tidak menganggap yang demikian itu sebagai cercaan pada si imam atau alim tadi.

Maka mengapa mereka diam dari kebatilan-kebatilan Ubaid Al Jabiriy yang mana kebatilan tadi lebih besar daripada kesalahan tadi? Manakala Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan ulama serta tholabatul ilmi yang bersama beliau membantah Ubaid Al Jabiriy dengan hujjah-hujjah dan burhan-burhan, dan membicarakannya dikarenakan dirinya menentang kebenaran setelah datangnya penjelasan, dan bersikerasnya dia di atas penyelewengannya, dan kezholimannya terhadap Darul hadits di Dammaj, justru Luqman dan yang semisal dengannya dari para hizbiyyinهداهم الله  bangkit untuk membela Ubaid tanpa kebenaran. Aroma fanatisme dan kedengkian tercium dengan jelas.

Al Imam ibnu Rojab رحمه اللهberkata: “Dan para imam yang waro’ (meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan akhiratnya) mengingkari dengan sangat perkataan-perkataan yang lemah dari sebagian ulama, dan membantahnya dengan paling keras, sebagaimana dulu Al Imam Ahmad mengingkari Abu Tsaur dan yang lainnya atas perkataan mereka yang lemah dan menyendiri, dan beliau mengingkari mereka dengan atas perkataan mereka itu. Ini semua adalah hukum zhohir. Adapun secara batin: jika maksud orang yang mengkritik tadi hanyalah sekedar untuk menjelaskan kebenaran, dan agar manusia tidak tertipu dengan perkataan orang yang salah berbicara tadi, maka tiada keraguan bahwasanya dia akan dapat pahala dengan niatnya tadi, dan dia dengan perbuatan tadi dengan niat ini masuk ke dalam nasihat untuk Alloh, Rosul-Nya, pemimpin Muslimin dan masyarakat awamnya. Sama saja, apakah yang menjelaskan kesalahan tadi itu anak kecil ataukah orang besar,

Dan tiada seorangpun dari mereka menganggap orang-orang yang menyelisihinya dalam masalah-masalah ini dan yang semisalnya sebagai bentuk tho’n (cercaan) kepada para imam tadi ataupun penghinaan terhadap mereka.Kitab-kitab para imam Muslimin dari kalangan Salaf dan Kholaf penuh dengan dengan penjelasan tentang ucapan-ucapan tadi dan yang semisalnya, seperti kitab-kitab Asy Syafi’iy, Ishaq, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para imam fiqh dan hadits dan yang lainnya setelah mereka dari kalangan orang-orang yang menyebutkan ucapan-ucapan tadi sesuatu yang banyak. Andaikata kami menyebutkannya secara rinci niscaya akan sangat panjang.

Adapun jika keinginan orang yang membantah tadi adalah untuk menampakkan kekurangan orang yang dibantahnya, menghinanya, dan menjelaskan kebodohannya dan keterbatasan ilmunya dan yang seperti itu, maka perbuatan itu adalah harom, sama saja apakah bantahannya tadi dilontarkan di hadapan orang yang dibantahnya ataukah di belakang punggungnya. Dan sama saja, apakah ketika dia masih hidup ataukah setelah matinya. Dan ini masuk dalam perkara yang dicela oleh Alloh ta’ala dalam kitab-Nya dan mengancam orang yang menyindir dengan lidah ataupun dengan anggota badan. Orang tadi juga masuk dalam sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

« يا معشر من آمن بلسانه ولم يؤمن بقلبه لا تؤذوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من يتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف بيته».

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”([3])

Ini semua adalah yang terkait dengan hak ulama yang menjadi teladan dalam agama ini.Adapun ahlul bida’ wadh dholalah dan orang yang menyerupakan diri dengan ulama padahal bukan ulama, maka bolehlah menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan kekurangan mereka, sebagai bentuk peringatan pada umat agar jangan meneladani mereka.Dan bukanlah pembicaraan kita sekarang ini kita arahkan pada jenis ini, wallohu a’lam.”(“Al Farqu Bainan Nashihah Wat Ta’yiir”/1/hal. 7).

Kemudian Syaikh kami Yahya Al Hajuriy dan ulama serta thullab yang bersama beliau حفظهم الله tidaklah berbicara tentang seorang alim yang menisbatkan diri kepada sunnah, sampai si alim itu yang berbuat zholim kepada mereka. Maka tidaklah setiap orang yang diam terhadap fitnah kedua anak Mar’i itu Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy dan yang bersama beliau berbicara tentangnya. Bahkan mereka bersabar terhadapnya dengan tetap memberikan nasihat-nasihat. Ketika orang tadi mulai berbicara tentang Ahlu Dammaj dan berbuat zholim kepada mereka, maka merekapun membela diri.  Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَجَزَاءُسَيِّئَةٍسَيِّئَةٌمِثْلُهَافَمَنْعَفَاوَأَصْلَحَفَأَجْرُهُعَلَىاللهإِنَّهُلَايُحِبُّالظَّالِمِينَ*وَلَمَنِانْتَصَرَبَعْدَظُلْمِهِفَأُولَئِكَمَاعَلَيْهِمْمِنْسَبِيلٍ*إِنَّمَاالسَّبِيلُعَلَىالَّذِينَيَظْلِمُونَالنَّاسَوَيَبْغُونَفِيالْأَرْضِبِغَيْرِالْحَقِّأُولَئِكَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌ﴾

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zholim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy Syuro: 40-42).

Alloh subhanahu juga berfirman:

﴿لَايُحِبُّاللهالْجَهْرَبِالسُّوءِمِنَالْقَوْلِإِلَّامَنْظُلِمَوَكَانَاللهسَمِيعًاعَلِيمًا﴾ [النساء/148].

“Alloh tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Alloh adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

«المستبان ما قالا فعلى البادئ ما لم يعتد المظلوم». (أخرجه مسلم (2587)).

“Dua orang yang saling memaki itu, apa yang mereka ucapkan maka atas orang yang mulailah tanggungan dosanya, selama orang yang dizholimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim (2587)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Maknanya adalah bahwasanya seluruh dosa cacian yang terjadi di antara kedua orang itu dikhususkan bagi orang yang memulainya, kecuali jika orang yang kedua melampaui kadar pembelaan diri dan berkata pada orang yang memulai lebih banyak daripada apa yang diucapkannya padanya. Dalam hadits ini ada dalil tentang bolehnya membela diri, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang bolehnya hal itu. Dan telah bermunculan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah tentang hal itu. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل﴾

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.”

﴿والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون﴾

“Dan orang-orang yang jika tertimpa kezholiman mereka membela diri.”

Dan bersamaan dengan ini maka bersabar dan memaafkan itu lebih utama. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ولمن صبر وغفر إن ذلك لمن عزم الأمور﴾

“Dan barangsiapa yang bersabar dan mengampuni maka sungguh yang demikian itu merupakan perkara yang ditekankan.”

Dan berdasarkan hadits yang disebutkan setelah ini:

«ما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا»

“Tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan.”

Dan ketahuilah bahwasanya mencaci seorang muslim tanpa hak adalah harom, sebagaimana sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم :

«سباب المسلم فسوق».

 “Mencaci seorang muslim merupakan kefasiqan.”

Dan tidak boleh bagi orang yang dicerca untuk membalas kecuali dengan yang semisal dengan cacian tadi, selama bukan merupakan suatu kedustaan atau tuduhan palsu, atau cercaan pada pendahulunya.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Shohih Muslim”/8/hal. 398).

Mereka itu manakala menampakkan kezholiman terhadap Darul Hadits di Dammaj, Syaikh kami dan sebagian pelajar membantah mereka. Maka jika mereka jatuh, maka jatuhnya mereka bukanlah di tangan salah seorang dari manusia, dan bukan karena bidikan ahli Dammaj, akan tetapi jawabannya adalah sebagaimana telah lewat. Maka kejadian ini adalah kejadian amar ma’ruf dan nahi munkar, serta jarh terhadap mu’anidin (para pembangkang) terhadap kebenaran setelah jelasnya dalil-dalil, bukan kasus upaya penjatuhkan fulan dan fulan.

Seseorang itu sekalipun kedudukannya tinggi di masyarakat, jika dia berpegang dengan hizbiyyah setelah ditegakkannya hujjah kepadanya maka dia itu adalah mubtadi’. Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang Ikhwanul Muslimin: “Di kalangan mereka ada yang menjadi koruptor dakwah. Kami tidak mengatakan bahwa mereka semua seperti itu. Di kalangan mereka ada orang-orang utama.Akan tetapi orang yang utama dari mereka adalah mubtadi’ karena dia berpegang dengan hizbiyyah.”(“Ghorotul Asyrithoh”/1/hal. 491).

Maka bukanlah kasus ini kasus pengincaran terhadap ulama.Akan tetapi barangsiapa menghinakan diri dengan kemaksiatan maka sungguh dia telah menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan, maka jangan sampai dia mencela kecuali dirinya sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴾ [الشمس/9، 10]

“Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh telah merugi orang yang mengotorinya.”(QS. Asy Syams: 9-10).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan maknanya adalah: Sungguh telah beruntung orang yang membesarkan jiwanya, meninggikannya dan memunculkannya dengan ketaatan pada Alloh. Dan sungguh telah rugi orang yang menyembunyikannya, menghinakannya, dan mengecilkannya dengan kedurhakaan pada Alloh.Asal dari تدسية adalah penyembunyian. Di antaranya adalah firman Alloh ta’ala: (يدسه في التراب) “Menyembunyikannya ke dalam tanah”. Maka pelaku maksiat itu menyembunyikan –atau menguburkan- dirinya ke dalam maksiat dan menyembunyikan tempatnya, dan bersembunyi dari para makhluk dikarenakan jeleknya apa yang dikerjakannya. Dia telah terhina di sisi dirinya sendiri, terhina di sisi Alloh, dan terhina di sisi para makhluk. Adapun ketaatan dan kebajikan itu membesarkan jiwa, memuliakannya dan meninggikannya hingga menjadi paling mulia, paling besar, paling suci dan paling tinggi,…” dst. (“Al Jawabul Kafi”/1/hal. 52).

            Adapun ucapan Luqman: “Al Hajuriy telah menjatuhkan para masyayikh, akhirnya tidak tersisapara masyayikh di Yaman.”

            Maka jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:

            Sebagaimana telah lewat bahwasanya Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau tidak menjatuhkan para ulama, dan tidak meniatkan kejahatan tadi.Hanyalah orang yang berjatuhan itu adalah jatuh dengan sebab dosa-dosanya.Dan Alloh itu di tangan-Nya keadilan, mengangkat dan merendahkan orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian sesungguhnya para ulama yang kokoh di Yaman dan yang lain itu banyak.

Syaikh Muhammad bin Hizam Al Ibbiy, Syaikh Abu ‘Amr Abdul Karim Al Hajuriy, Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy, Syaikh Abu Bilal Kholid bin Abud Al Hadhromiy, Syaikh Thoriq bin Muhammad Al Ba’daniy, Asy Syaikh Abud Dahdah Al Hajuriy, Asy Syaikh Kamal bin Tsabit Al ‘Adniy, Asy Syaikh Sa’id bin Da’as Al Yafi’iy, Asy Syaikh Abul Yaman ‘Adnan Al Mishqoriy, Asy Syaikh Abu Mu’adz Husain Al Hathibiy, Asy Syaikh Abu Hamzah Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy, Asy Syaikh Abdul Wahhab Asy Syamiriy, Asy Syaikh Zakariya Al Yafi’iy, Asy Syaikh Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy Al Umariy, Asy Syaikh Abu Abdirrohman Jamil bin Abdah Ash Shilwiy.

Dan demikian pula Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mani’ (Salah satu penegak dakwah Salafiyyah di Shon’a), Asy Syaikh Abdurroqib Al Kaukabaniy (diusir oleh hizb baru dari masjid yang dulu beliau menegakkan dakwah di situ, lalu beliau bergabung dengan Asy Syaikh Muhammad Mani’). Seperti itu pula Syaikh Ahmad bin ‘Utsman Al ‘Adny (di propinsi ‘Adn). Dan juga Syaikh Abu ‘Ammar Yasir Ad Duba’y (di Mukalla) dan mereka berupaya keras untuk menyakiti beliau, Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryany (dulu di Baidho, lalu mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid tempat beliau berdakwah), demikian pula Syaikh Abu Bakr Abdurrozzaq bin Sholih An Nahmi (beliau menegakkan dakwah dan pendidikan umat di propinsi Dzammar) mereka berupaya untuk mengusir beliau dari masjid beliau. Demikian pula Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad Ba Jammal Al Hadhromiy (di Hadhromaut), Asy Syaikh Yahya Ad Dailamiy (di wilayah Ma’bar), Asy Syaikh Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Ar Roimiy (di propinsi Ta’iz), dan yang lainnya yang belum saya ingat sekarang ini.Semoga Alloh menjaga mereka semua.

Saya telah menjelaskan kemampuan mereka dalam berijtihad dalam risalah yang lain. Adapun orang yang dengki semisal Luqman Ba Abduh, maka dia tak bias melampaui kadarnya karena kezholimannya, kekurangannya dalam belajar, dan kesombongannya. Dan telah nampak kesombongannya dalam ceramahnya lima tahun yang lalu (kurang lebih), dan aku telah menjelaskan itu dalam risalah “Inbi’atsut Tanabbuh Bi Inkisyafi Hizbiyyati Luqman Ba Abduh” (kalau tak salah dengan judul terjemah: “Bangkitnya Kesadaran Penuh Atas Terbongkarnya Hizbiyyah Luqman Ba Abduh”) dengan tanggal 11 Dzul Hijjah 1429 H.

Dan manakala telah banyak penghinaan sebagian orang yang menisbatkan dirinya pada ilmu terhadap para masyayikh sunnah yang bersama Asy Syaikh Yahya حفظه الله , aku harus menampilkan kebenaran dan kenyataan, dalam rangka menolong dan membela orang-orang baik. Saya akan memberikan padaku beberapa contoh:

 

(insya Alloh akan dilanjutkan pada edisi kelima).


([1])Sanadnya hasan, karena Ahmad bin Muhammad Al ‘Utaiqiy shoduq. Demikian juga Al Husain ibnul Hasan Al Marwaziy. Para rowi yang lain tsiqot. Silakan rujuk kembali catatan kaki dari kitab yang asli (“Shifatul Haddadiyyah Fi Munaqosyatin ‘Ilmiyyah”).

([2])Kitab Syaikhul Islam -rahimahulloh-

([3])Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal (4/420) dari Abu Barzah رضياللهعنه , dalam sanadnya ada Sa’id bin Abdillah bin Juroij, majhulul hal. Dan diriwayatkan oleh At Tirmidziy (Al Birr Wash Shilah/Ma Jaa Fi Ta’zhimil Mu’min) dan yang lainnya dari hadits Ibnu Umar رضياللهعنهما dengan lafazh “Orang yang masuk Islam dengan lidahnya”, dan menghasankannya, dan disetujui Al Imam Al Wadi’iy dalam “Al Jami’ush Shohih” ((3601)/Darul Atsar). Hadits ini Jayyid.