cover 5b

pdf download !

 

Pedang Tajam Membabat

Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)
(bagian kelima)

Diizinkan Penyebarannya Oleh

Asy Syaikh Al ‘Allamah:
Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy
Semoga Alloh menjaga beliau

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:
Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli
Semoga Alloh menjaga beliau

Ditulis Oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy
Semoga Alloh memaafkannya


بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:
“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh
(Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

Terjemah Bebas:
“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat
(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)”

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:
Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy
Semoga Alloh menjaga beliau

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:
Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli
Semoga Alloh menjaga beliau

Ditulis Oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy
Semoga Alloh memaafkannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Bagian Kelima

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:
Maka sesungguhnya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan penerjemahan bagian kelima.
Terus menerus Alloh ta’ala memperlihatkan ayat-ayat-Nya di alam semesta ini, yang bisa dipahami oleh para hamba yang mendapatkan taufiq.
Alloh ta’ala berfirman:
{ سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ } [فصلت: 53]
“Kami akan memperlihatkan pada mereka ayat-ayat Kami di ufuk-ufuk dan di dalam diri mereka sendiri sampai jelas bagia mereka bahwasanya Al Qur’an itu benar.”
Tapi banyak hamba yang tidak memperhatikannya. Alloh ta’ala berfirman:
{ وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ } [يوسف: 105]
“Dan alangkah banyaknya ayat di langit dan bumi mereka melewatinya dalam keadaan mereka berpaling darinya.”
Dan di antara ayat-ayat Alloh yang diperlihatkan oleh-Nya adalah terus kokohnya hujjah ahlul haq ketika diadu dengan ucapan batil para hizbiyyin. Serangan syubuhat dan tuduhan para ahli ahwa terus berdatangan tapi saat dihadang oleh ahlul haq dengan hujjah yang kokoh, maka serangan tadi rontok, sekalipun ahli ahwa telah dibantu oleh Syaikh Muhammad Al Wushobiy, Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy, dan bahkan Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy. Kebenaran itu lebih kuat daripada para tokoh. Para tokoh siapapun dia jika menyelisihi kebenaran dan bahkan berlaku zholim, maka kadar ucapannya merosot dan melemah.
Dokter Faishol Az Zinamiy حفظه الله mengabari kami bahwasanya ketika para masyayikh pendukung Adaniyyun Mar’iyyun berkumpul di Ma’bar, dan para pendukungnya mengajak orang-orang untuk mensukseskan pertemuan tersebut, dan menyebarkan isu besar-besaran dan berkata: “Kita akan menyembelih Al Hajuriy”, “Kita akan mengubur Al Hajuriy”. Mereka berusaha menarik perhatian masyarakat Yaman ke ijtima’ di Ma’bar. Di waktu yang hampir bersamaan Asy Syaikh Abdul Kholiq Al Wushobiy حفظه الله di Dammaj istisqo (minta hujan) dan diaminkan muslimin, Alloh mengabulkan doa para hamba-Nya, dan turunlah hujan setiap hari sampai sebagian rumah dan kamar mengalami kerusakan.
Air juga menggenangi kuburan “Asy Syuhada” (demikianlah dinamakan, semoga Alloh menerima pengorbanan mereka dan menyampaikan mereka ke derajat syuhada) dan membahayakan kondisi makam. Asy Syaikh Yahya حفظه الله memerintahkan sebagian thullab untuk memperbaiki kondisi makam dan memuliakan saudara-saudara yang sudah meninggal demi kehormatan Islam dan Muslimin tersebut. Ternyata Alloh sudah menyiapkan hikmah yang agung di balik kejadian itu. Para ikhwah yang menggali kuburan mendapati beberapa jenazah masih utuh seperti kondisinya saat dimakamkan satu setengah tahun yang lalu. Di saat yang sama, seorang anggota masyarakat mewaqofkan sebidang tanah dan dipakai untuk menjadi tempat pemakaman yang baru bagi para syuhada, maka Asy Syaikh Yahya memerintahkan agar seluruh jenazah dipindahkan. Ternyata semuanya masih utuh sampai bahkan bayi anak akh Hasan Al Bughisiy حفظه الله yang meninggal karena minimnya gizi akibat pengepungan tersebut juga masih utuh. Kain-kain yang ada di badan mereka juga masih utuh.
Langsung ayat Alloh yang amat langka itu tersebar di seluruh Yaman, dan orang-orang berduyun-duyun datang -sampai bahkan yang di luar Sho’dah- untuk menyaksikan langsung ayat tersebut. Beberapa pejabat dan wartawan juga datang melihat. Telpon dari wilayah Ma’bar juga datang silih berganti menanyakan berita tersebut. Bukannya salafiyyin Dammaj yang disembelih dan terkubur, tapi justru Alloh mengeluarkan sebagian hamba-Nya yang terkubur di Dammaj untuk memberikan sebagian bukti akan benarnya perjuangan Salafiyyin Dammaj yang dipimpin oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله.
Dokter Faishol حفظه الله melanjutkan cerita beliau bahwasanya seorang tuan tanah di ujung Sho’dah yang sebagian tanahnya dipakai oleh Hutsiyyun untuk menguburkan mayat teman mereka minta pada mereka untuk menggali kuburan itu dan dia berkata: “Jika mayat teman kalian masih utuh seperti jenazah orang-orang Dammaj, maka silakan dilanjutkan dia dikubur di sini. Tapi jika dia sudah tidak utuh, maka pindahkan dia dan jangan kalian injak tanahku.” Maka terpaksa mereka menggalinya. Ternyata mayatnya sudah hancur tinggal tulang-belulang saja, maka si tuan tanah mengusir para Hutsiyyun tadi.
Masih banyak cerita dari Dokter Faishol pada kami tentang kenyataan-kenyataan masa-masa ini, sampai bahkan beliau cerita tentang apa yang beliau lihat langung dari makar Abdurrohman Al Adaniy dan teman-temannya saat mereka masih di Dammaj dan dimuliakan oleh Asy Syaikh Yahya. Tapi cukuplah sampai di sini saya nukilkan cerita beliau tersebut. Dan dokter Faishol Az Zinamiy حفظه الله terkenal sebagai salafiy yang jujur, baik dan berwawasan luas. Beliau adalah pemimpin rumah sakit pemerintah yang ada di Dammaj ini, rumah sakit salafiy yang amat langka, dokter dan para pekerjanya adalah para penuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj, gambar-gambar program kesehatan yang terpampang di dindingnya sudah hilang kepalanya.
Ketika sebagian tokoh berlomba-lomba untuk mentahdzir Dammaj, justru muslimin semakin berduyun-duyun berdatangan ke Dammaj menyatakan dukungan pada Asy Syaikh Yahya dan seluruh ulama yang bersama beliau, dan menyatakan bahwasanya hujjah Asy Syaikh Yahya dan seluruh ulama yang bersama beliau jauh lebih kuat daripada hujjah Asy Syaikh Robi’ dan para hizbiyyin yang beliau bela.
Di saat kata pengantar ini saya susun, kami benar-benar amat sibuk melayani ratusan pengunjung yang datang silih berganti dan menginap. Pekan-pekan lalu seribuan tamu dari Shon’a dan sekitarnya. Hari-hari ini dari Hadhromaut, Hajjah dan sebagainya, sekitar tujuh ratusan. Bahkan insya Alloh besok hari Sabtu akan datang sekitar dua ribu lima ratus dari Ibb, Dholi’, Dzammar dan lain-lain. Tanpa diundang dan tanpa diminta datang. Kami merasa cukup bersama Alloh sebagai pembela kami, akan tetapi kunjungan orang-orang yang sehati adalah menyenangkan. Semakin Dammaj ditahdzir dengan zholim, justru semakin padat penghuninya dan pengunjungnya, padahal cuaca Dammaj amat panas di musim panas ini, dan banyak tamu yang kegerahan, tapi tidak menghalangi mereka untuk terus datang ke Dammaj.
Akhirnya Hutsiyyun Rofidhiyyun yang dengki dan kelabakan dan menyebarkan berita palsu. Ketika rombongan Shon’a dan lain-lain berangkat, Hutsiyyun menyebarkan kabar bahwasanya di propinsi Sho’dah ada suatu pertandingan sehingga sekitar seribu suporter berdatangan untuk meramaikan acara.
Ketika Hutsiyyun tak bisa menutup-nutupi kenyataan bahwasanya rombongan besar tadi datang ke Darul Hadits di Dammaj, demikian pula rombongan masyarakat Yaman yang berikutnya datang secara bergelombang ke Dammaj, dan di Dammaj tempat menimba ilmu agama, bukan tempat pertandingan olah raga, maka Hutsiyyun merubah berita dan menyebarkan isu bahwasanya Ahlussunnah berkumpul di Dammaj untuk menguasai propinsi Sho’dah.
Rombongan datang dengan damai ke Dammaj, menginap tiga hari, menyampaikan soal-soal ke Syaikh Yahya حفظه الله , mendengar dars-dars dan nasihat-nasihat beliau, para dai mereka dipersilakan oleh beliau untuk berceramah di hadapan kami semua, dan mereka juga berkeliling melihat-lihat tempat-tempat bersejarah dan mengunjungi para sahabat dan kerabat, lalu mereka pulang dan digantikan oleh rombongan berikutnya.
Pada kesempatan ini saya masih melanjutkan memenuhi permintaan para ikhwah untuk membantah sebagian syubuhat bathilah yang ditembakkan oleh Luqman Ba Abduh dan para pendahulunya.
Selamat menyimak, semoga Alloh mengampuni kesalahan kita semua dan memberikan taufiq-Nya pada kita.
والحمد لله رب العالمين

 Sebagian keutamaan Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhliy Al Ba’daniy حفظه الله ورعاه

Al Imam Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang beliau dalam kitab “Tarjumah” no. (326)/hal. 57/cet. Darul Atsar: “Beliau menghapal Al Qur’an, “Bulughul Marom,” “Umdatul Ahkam,” “Riyadhush Sholihin,” dan “Shohih Muslim.” Selesai. Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله berkata tentang beliau dalam kitab “Thobaqot” no. (99)/hal. 62/cet. Darul Atsar: “Beliau kokoh, menuntut ilmu dengan adab dan ketenangan, menghapal Al Qur’an, “Shohih Muslim,” “Ash Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain”, penelusur, punya tahqiq juz kesembilan dari “Fathul Bari,” punya risalah “Fathul Mannan Fima Shohha Min Manshukhil Qur’an,” dan risalah tentang puasa.” Selesai.
Syaikh kami Thoriq Al Ba’daniy حفظه الله berkata tentang beliau: “Beliau termasuk dari masyayikh Darul Hadits dan termasuk murid Darul Hadits yang paling menonjol, sampai bahkan syaikh kami Yahya حفظه الله تعالى berkata: “Insya Alloh jika kami keluar untuk berdakwah Muhammad bin Hizam menggantikan aku.” Selesai dari ucapan syaikh. Dan beliau memang pantas untuk itu. Beliau termasuk orang yang Alloh bukakan pada mereka hapalan, Al Qur’an, fiqih, mushtholah, aqidah, hadits, dan cabang-cabang ilmu yang lain. Dan beliau kokoh di atas manhaj Salafiy. Dan yang demikian itu adalah keutamaan dari Alloh yang diberikan-Nya kepada yang dikehendaki-Nya. Dan beliau punya syarh-syarh di antaranya adalah: “Syarh Bulughul Marom (Fathul Allam Dirosah Haditsiyyah Wa Fiqhiyyah Li Bulughul Marom)”. Dan syarh beliau untuk kitab ini melampau kebanyakan dari syarh-syarh yang ada di lapangan. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengannya. Dan beliau punya syarh terhadap “Lamiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” telah dicetak. Dan beliau punya “Ithaful Anam Fi Ahkamish Shiyam” telah dicetak. Dan beliau punya “Fathul Mannan Fima Shohha Min Manshukhil Qur’an,” telah dicetak. Dan beliau termasuk yang bergabung dalam tahqiq “Fathul Bari”. Dan beliau punya tahqiq terhadap “Al Mughni” karya Ibnu Qudamah, sedang proses pencetakan. Dan beliau punya kitab “Al Muntaqo Minal Kafiyyatisy Syafiyyah” karya Ibnul Qoyyim, sedang proses pencetakan. Dan “Syarh Fathil Majid” sedang proses pencetakan. Dan “Munkarotun Syai’ah Yajibul Hadzr Minha”, dan beliau punya karya yang lain. Kita mohon pada Alloh untuk kami dan beliau taufiq dan kelurusan.” (selesai penukilan dari kitab “Ar Roddusy Syar’iy ‘Alal Kadzub Al Muftari Muhammad Asy Syarbiniy’”/hal. 83,sedang proses pencetakan).
Ini kurang lebih lima tahun yang lalu. Adapun sekarang, telah bertambah kebagusan beliau dengan seidzin Alloh dan karunianya hapalan beliau, tulisan beliau, khuthbah beliau, ilmu beliau dan yang lainnya yang tidak membiarkan seorang pengamat yang adil masih merasa ragu bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Hizam Al Fadhliy adalah termasuk dari fuqoha mujtahidin.
Saudara kita Rosyid Al Jazai’iy حفظه الله berkata tentang Asy Syaikh Muhammad bin Hizam حفظه الله: “Adapun sekarang maka sungguh telah bertambah hapalan beliau dengan hadits-hadits “Mafaridul Bukhoriy”, sehingga berkumpullah untuk beliau hapalan Ash Shohihain, hapalan “Bulughul Marom,” “Riyadhush Sholihin,” “Ash Shohihul Musnad Min Asbabin Nuzul,” “Alfiyyatul ‘Iroqiy Fil Mushtholah,” “Alfiyyah Ibni Malik Fin Nahwi,” kitabut “Tauhid,” “Matan Ath Thohawiyyah,” Syair “Imrithiy.” Ini ditinjau dari sisi hapalan.
Adapun ditinjau dari sisi karya tulis yang telah dicetak, yaitu:
“Fathul Allam Dirosah Haditsiyyah Wa Fiqhiyyah Li Bulughul Marom” (lima jilid besar, dan itu adalah kitab yang bagus).
“Fathul Mannan Fima Shohha Min Manshukhil Qur’an,”
(saya –Abu Fairuz عفا الله عنه- berkata: Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantar beliau terhadap risalah ini : “… bangkitlah saudara kita yang mulia Muhammad bin Ali bin Hizam حفظه الله dengan mensyarh sepuluh bait syair tadi, dan menelusuri dalil-dalilnya, dengan mengambil faidah dalam amalan tadi dari kitab-kitab tafsir dan yang lainnya, kemudian beliau menyodorkan risalah tadi padaku, maka aku membacanya secara sempurna, maka aku lihat itu adalah pembahasan yang memberikan faidah, datang dengan kerja keras yang bagus dan amalan yang mantap, hampir meliputi seluruh apa yang tetap dalam nasikh Al Qur’an dan mansukhnya pada risalah yang ringkas ini, jika tidak seluruhnya. Dan pengetahuan tentang itu merupakan faidah yang agung untuk penuntut ilmu, untuk menghapal bait syair tadi dan memahami syarhnya. Maka kami menasihati para pelajar untuk itu. Maka semoga Alloh membalas saudara kita yang mulia tadi dengan balasan yang terbaik atas amalan beliau ini, dan atas bagusnya akhlaq beliau dan kerja keras beliau dalam menuntut ilmu dan adab beliau yang bagus.”).
“Ithaful Anam Bi Ahkam Wa Masailish Shiyam”
(saya –Abu Fairuz عفا الله عنه- berkata: Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantar beliau terhadap risalah ini : “… sungguh aku telah membaca risalah “Ithaful Anam Bi Ahkam Wa Masailish Shiyam” karya saudara kita yang mulia Asy Syaikh Muhammad bin Hizam Al Fadhliy حفظه الله maka aku melihatnya risalah yang menyempurnakan dan memberikan faidah dalam bab ini. Harapan kami pada Alloh عز وجل agar memberikan manfaat bagi muslimin dengan risalah itu dan dengan pemiliknya. Dan dengan pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.”).
“Munkarot Sya’iah Fil Mujtama’at Yajibul Hadzr Minha.”
“Al Fawaidul Bahiyyah Fi Syarh Lamiyyah Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah”
“Al Muntaqo Minal Kafiyyatisy Syafiyyah”
“Al Mukhtar Min Ahadits Sayyidil Abror Fil Mu’taqodish Shohih”
“At Taudhihul Mufid ‘Ala Kitab Fathil Majid: Tahqiq Wa Ta’liq Wa Takhrij”
“Tahqiq Wa Takhrij Ahadits Bulughil Marom”
(saya –Abu Fairuz عفا الله عنه- berkata: Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantar beliau terhadap risalah ini : “…sungguh saya telah membaca tahqiq saudara kita penelusur yang mulia, dai ke jalan Alloh Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhliy حفظه الله terhadap Bulughul Marom, yang mana Alloh memberikan taufiq untuk memberikan perhatian dan pelayanan dengan tahqiq dan syarh serta mengajarkannya pada saudara-saudaranya penuntut ilmu, maka aku melihatnya sebagai tahqiq yang bagus, mengambil jalan ulama dan kerja keras mereka. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Muhammad bin Hizam dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengannya.”).
“Miatu Hadits Mukhtaroh Lil Hifzh”
Saudara kita Rosyid Al Jazai’iy حفظه الله berkata: “Ini yang sudah dicetak, adapun yang sedang proses dicetak:
“Al Mukhtar Min Ahadits Sayyidil Abror Fil Fiqhisy Syar’iy”
“Tahqiq Wa Takhrij Atsaril Mughniy Li Ibni Qudamah”
“Dinul Islam Huwa Dinus Sa’adah”
“Ta’liqot ‘Alal Mudzakkiroh Lisy Syinqithiy”
“Syarh Manzhumatil Imrithiy”
Saudara kita Rosyid Al Jazai’iy حفظه الله berkata: “Ini yang sedang proses dicetak, adapun yang sudah siap tapi belum dikirimkan ke percetakan:
“At Ta’liqot ‘Ala Syarhith Thohawiyyah Li Ibni Abil ‘Izz”
“At Ta’liqot ‘Ala Syarhil Washithiyyah Lil Harros”
“At Ta’liqot ‘Alat Taqyiid Wal Idhoh”
“At Ta’liqot ‘Ala Nuzhatun Nazhor”
“At Ta’liqot ‘Ala Dhowabithil Jarh Wat Ta’dil”
“At Ta’liqot ‘Ala Ikhtishor Ulumil Hadits”
“Syarhud Duroril Bahiyyah”
Beliau punya beberapa selebaran:
“Tahdzirul Muslimin Min Khothorir Rofidhotil Hutsiyyin”
“Shifatul Hajj”
“Shifatul Umroh”
Saudara kita Rosyid Al Jazai’iy حفظه الله berkata: “Ini semua yang sudah jadi. Adapun yang masih proses digarap:
“Al Jami’ush Shohih Fil Fiqhisy Syar’iy”
“Syarhul Mukhtar Fil ‘Aqidah”
“Afrodul Imam Muslim ‘Anil Bukhoriy”
“Tahdzirul Muslimin Min Khothoril Bathiniyyah”
(selesai penukilan dari risalah “Ad Dalailul Bayyinat”/Rosyid Al Jazai’iy حفظه الله/hal. 70-71).
Dan tidak memungkinkan bagiku untuk menyebutkan seluruh kata pengantar ulama untuk kitab-kitab beliau, semoga Alloh menjaga beliau dan seluruh ulama sunnah.
Dan kita mohon pada Alloh عز وجل agar menjaga syaikh kita Muhammad bin Hizam dari seluruh makar para setan manusia dan jin sampai akhir hayat, memberkahi beliau dalam apa saja yang dirizqikan pada beliau, memberikan dengan beliau manfaat pada Islam dan Muslimin, dan menjadikan beliau duri di tenggorokan para ahli batil, karena sesungguhnya setan itu tidak membiarkan pelaku kebaikan kecuali bersemangat untuk merusaknya. Maka cukuplah Alloh sebagai pelindung dan cukup Dia sebagai penolong. Alloh ta’ala berfirman :
﴿قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ * قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ * إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ﴾ [الحجر: 39 – 43].
“Iblis berkata: “Wahai Robbku disebabkan karena Engkau menyesatkan diriku pastilah aku akan menghiasi untuk mereka di bumi, dan pastilah aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali para hamba-Mu dari mereka yang dibersihkan.” Alloh berfirman: “Ini adalah jalan lurus yang menjadi tanggunganku untuk menjaganya. Sesungguhnya para hamba-Ku engkau tidak punya kekuasaan terhadap mereka kecuali orang yang mengikuti engkau dari kalangan orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang dijanjikan pada mereka semua.” (QS. Al Hijr: 39-43).

Sebagian keutamaan Syaikh kami Abu Abdurrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله ورعاه

Sungguh Luqman Ba Abduh telah terpanggang dengan kehadiran Syaikh kami Syaikh kami Abu Abdurrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله ورعاه di tengah-tengah Salafiyyin di negri kami Indonesia, sehingga dia mencerca dan menghina beliau. Di antara perkataannya: “Karena Hajuriy sudah mentahdzir para masyayikh akhirnya tidak tersisa masyayikh di Yaman dimunculkanlah diciptakanlah masyayikh-masyayikh baru yang diistilahkan dengan masyayikhud dar, masyayikh ma’had Dammaj. Teman-teman ustadz-ustadz kita” “Masyayikh jadi-jadian” “Abdulloh Iryani ini kadzdzab (pendusta besar) ini, masyayikh jadi-jadian. Bukan masyayikh. Al Hajuriy saja tidak setara dengan Syaikh Al Imam, Syaikh Al Wushobiy, Syaikh Al Buro’iy, apalagi murid-muridnya” “Abdulloh Al Iryani ini pendusta, hizbiy hajuriy. Bukan syaikh.”
Jawab kami –dengan taufiq Alloh-:
Bahkan syaikh kami Abdulloh Al Iryani حفظه الله adalah seorang syaikh alim salafiy faqih. Dan tidak ada yang tahu keutamaan orang yang utama kecuali pemilik keutamaan. Dan aku akan menukilkan sebagian dari apa yang aku tulis tentang kebaikan Asy Syaikh Al Iryani حفظه الله:
Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله termasuk murid senior Al Imam Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله تعالى . Kemudian beliau mengambil faidah dari dars-dars Asy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله تعالى .
Beliau mengajari anak-anak muslimin berbagai pelajaran di Darul Hadits di Dammaj dan di berbagai markiz-markiz ilmiyyah di Yaman. Dan beliau termasuk dai terkenal di negri Yaman. Dan beliau juga termasuk dari kalangan tokoh yang kokoh di atas sunnah dan penasihat yang punya kecemburuan terhadap agama, di atas manhaj salaf. Alloh sajalah yang bisa menilai beliau.
Kemudian sesungguhnya karya tulis seseorang itu menunjukkan kadar ilmu dan akal dia. Yahya bin Kholid -رحمه اللهu- berkata: “Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170).
Dan Alloh telah memberikan taufiq pada syaikh kami Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله untuk menyebarluaskan berbagai ilmu sunnah dan membelanya dengan tulisan dan khothbah, yang menunjukkan kuatnya ilmu beliau dan bagusnya pemahaman beliau. Di antara karya tulis beliau adalah:

1- “Irsyadul bashir Li Mafasid Wa Adhror Bid’atil Ihtifal Bi Yaumil Ghodir” (cet. Darul Atsar)

Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab tadi berkata: “… akan tetapi Alloh itu mengawasi para pengkhianat tadi. Dia Yang Mahasuci itulah Yang menggandengkan di setiap zaman para tokoh yang jujur dan menasihati, dan menghibahkan jiwa-jiwa mereka untuk menolong kebenaran dan melenyapkan kebatilan, berdasarkan ilmu yang kuat dan cahaya dari Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسم . Dan termasuk nasihat yang paling agung yang saya lihat pada hari-hari ini adalah: apa yang dilaksanakan oleh saudara kita yang mulia dai ke jalan Alloh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله, yang berupa penjelasan tentang kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya Ghodir, dan penjelasan tentang bahaya-bahayanya terhadap muslimin dalam agama dan dunia mereka. Di dalam risalah ini beliau mengumpulkan mayoritasnya dan menjelaskan keburukannya. Ketika beliau membacakannya kepadaku dengan perintah dari syaikh kami Al Wadi’iy() –semoga Alloh menyembuhkan beliau- aku melihat saudara kita Abdulloh Al Iryaniy komitmen pada kebenaran dan ketepatan, dan mendatangkan faidah-faidah yang menyenangkan orang-orang yang punya mata hati. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan.” Selesai.
Asy Syaikh Muhammad Al Imam وفقه الله berkata: “… saya telah melihat risalah saudara yang diberkahi Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy yang berjudul: “Irsyadul bashir Li Mafasid Wa Adhror Bid’atil Ihtifal Bi Yaumil Ghodir” maka saya dapati dia itu adalah risalah yang bermanfaat, dan kebutuhan kepada risalah tadi adalah mendesak. Sang penulis telah menjelaskan pada baris-baris risalahnya tersebut perkara yang dikandung oleh bid’ah Ghodir, yang berupa aqidah yang rusak, keadaan yang mungkar, keburukan yang menjijikkan, perbuatan-perbuatan yang menjijikkan. Dan memang demikianlah nasihat untuk muslimin, pembelaan terhadap kebenaran, saling menolong di atas kebajikan, melarikan orang dari kebatilan dan pembawa kebatilan.” Selesai yang dimaksudkan.
Saya katakan عفا الله عني: “Dan kitab ini merupakan bantahan terhadap bid’ah Rofidhoh dalam perayaan mereka di suatu hari, mereka pada hari itu membikin kemungkaran-kemungkaran yang besar, di antaranya adalah caci-makian yang keras terhadap para Shohabat. Dan terkadang mereka mendatangkan seekor anjing betina, lalu mereka menguburnya setengah badan dan merajamnya sampai mati dengan keyakinan bahwasanya dia tadi adalah Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها dan bahwasanya beliau itu berzina –kita berlindung pada Alloh dari keburukan ucapan ini- dan belum ditegakkan pada beliau hadd. Maka bangkitlah Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله dengan menulis kitab yang bagus untuk membantah bid’ah yang busuk itu.

2- “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم” (cet. Darul Atsar)
Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab ini berkata: “… saya telah membaca risalah “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم” karya saudara kita yang mulia Asy Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله maka saya lihat beliau telah mendatangkan di dalamnya pembahasan-pembahasan yang berfaidah yang mencakup insya Alloh hukum-hukum umroh dan adab-adab terpentingnya. Kita mohon pada Alloh untuk memberikan manfaat bagi muslimin dengan kitab tadi dan dengan pemiliknya. Dan dengan pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.”
Asy Syaikh Muhammad Al Imam وفقه الله berkata: “… saya telah diminta untuk memberikan kata pengantar bagi risalah “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم Wa Ahammi Mabadiiha” karya saudara kita Asy Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله . Dan Asy Syaikh Abdulloh telah diketahui dalam tulisan-tulisan beliau bahwasanya beliau itu berusaha mencari kebenaran, dan menghiasinya dengan ucapan para ulama. Dan penulisan berdasarkan metode Ahlil Hadits Wal Ittiba’ itu bermanfaat dan berfaidah, segala puji bagi Alloh. Dan kita mohon pada Alloh untuk memberikan taufiq pada kita semua untuk menyebarkan kebaikan, dan mengajak kepadanya dan menegakkannya.” Selesai.

3- “Al Qoulul Jali Fi Nasfi Abathilil Wataril Muftari”
Dalam kandungan risalah tadi beliau membongkar kedustaan-kedustaan sebagian pengikut Abul Hasan (Nu’man Al Watar) terhadap syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله , yang mana kejahatan para ahli ahwa itu terus berdatangan terhadap beliau, setiap kali satu jenis dari mereka gagal dengan rencana mereka, digantikanlah oleh yang lain. Maka beliau meruntuhkan kedustaan tadi dan membinasakannya. Telah berdatangan syukur, pujian dan ucapan selamat untuk beliau setelah keluarnya risalah yang bagus ini, dari kalangan para salafiyyin yang cemburu.

4- “Ta’zizil Qoulil Jali”
Di dalamnya ada bantahan yang sangat bagus terhadap risalah “Al Muhannadul Yamaniy” karya Nu’man Al Watar al hizbiy, dan lembaran-lembaran Fahd Al Ba’daniy.

5- “Wafatun Nabi صلى الله عليه وسلم , Waqfatun Wa ‘Ibar” (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting dan bagus dari kisah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم.

6- “Al Faidh Fi Hukmi Massil Mushhaf Wa Qiroatil Qur’an Wa Dukhulil Masjid Lil Junub Wal Haidh” (cet. Darul Atsar)
Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab ini berkata: “… saudara kita yang mulia, dai ke jalan Alloh di atas bashiroh dan dalil, Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy وفقه الله telah mengirimkan kepadaku tiga risalah-risalah:
Yang pertama: yang terbagus bidangnya dan paling luas curahan kerja kerasnya, adalah apa yang beliau sandarkan kepadanya, yaitu pembahasan hukum memegang mushhaf dan membaca Al Qur’an serta masuk masjid bagi orang yang junub dan wanita haidh. Ini adalah masalah-masalah yang di dalamnya banyak perselisihan. Semoga Alloh mensyukuri saudara kita Abdulloh Al Iryaniy, sungguh beliau telah mendiskusikan masalah-masalah ini dengan diskusi ilmiyyah yang mendetail, berpatokan pada dalil-dalil Al Qur’an dan sunnah dan atsar yang shohih, jauh dari taqlid dan serampangan yang memalingkan banyak tokoh dari ucapan dan perbuatan yang benar.
Risalah kedua: pembahasan beliau tentang sifat wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau mendatangkannya dalam keadaan yang paling baik.
Maka jadilah kedua pembahasan tadi rujukan yang penting yang belum pernah saya lihat semisal itu dalam kedua bab itu, dalam masalah perhatian dan penyimpulan pendapat di atas pemahaman yang tembus dan pengetahuan.
Risalah ketiga: pembahasan beliau tentang sifat Rosul yang mulia عليه الصلاة والسلام , saudara kita yang mulia itu mengurusinya dengan menyebutkan sifat Rosul صلى الله عليه وسلم dalam hadits-hadits yang shohih, dan beliau menghiasinya dengan faidah-faidah yang menguntungkan dari syarh-syarh hadits-hadits tadi, dan komentar-komentar yang lurus. Hanya saja judul yang ada di lembaran-lembaran itu lebih luas daripada apa yang dikandungnya dalam lipatan-lipatan risalah tadi. Seandainya saudara kita Abdulloh menambahkan kata Mukhtashor (ringkasan) Shifati Rosulillah صلى الله عليه وسلم niscaya yang demikian itu lebih layak.
Dan kita mohon pada Alloh untuk kita dan untuk saudara kita Abdulloh Al Iryaniy tambahan dari karunia-Nya. Dan dengan Alloh sajalah taufiq.”

7- “Shifatu Wudhuin Nabi صلى الله عليه وسلم” (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting tentang tata cara wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم dari sunnah-sunnah beliau yang shohih dan ucapan-ucapan para imam رحمهم الله.

8- “Mukhtashor Shifatin Nabi صلى الله عليه وسلم” (cet. Darul Atsar)

Di dalamnya ada gambaran karakteristik Nabi صلى الله عليه وسلم , bagaikan cahaya yang agung yang dengannya orang yang bersemangat untuk meneladani beliau صلى الله عليه وسلم mengambil penerangan.
9- “Mulakhoshu Ahkamil Janaiz” (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting tentang hukum penyelenggaraan jenazah dari sunnah-sunnah beliau yang shohih dan ucapan-ucapan para imam رحمهم الله.
10- “Hishnul Mukmin: Adzkar Wa Ad’iyatin Nabi صلى الله عليه وسلم ” (cet. Maktabatul Imam Al Wadi’iy, kemudian cet. Maktabah Daril Hadits)
Di dalamnya ada dzikir-dzikir dan doa-doa yang penting bersumber dari dalil-dalil yang shohih, yang setiap mukmin butuh kepadanya sepanjang hidupnya.
11- “Qom’ul Bajajah Alladzina Ja’alun Nushha Bi Manzilati Harohaj Rowajah”
Di dalamnya ada dalil-dalil yang sangat banyak dan penjelasan yang sangat bagus tentang pentingnya membantah ahli batil.
12- “Manaqibul Khulafair Rosyidin” (cet. Maktabatul Imam Al Wadi’iy).
13- “Zadul Mujahidin Li Daf’i Baghyil Mu’tadin” (cet. Maktabah Ibni Taimiyyah)
14- “300 Hadits Muttafaqun ‘Alaih, Muntaqoh Min Riyadhish Sholihin” (cet. Darul Atsar)
15- “Ad Durroh Fit Ta’liq ‘Ala Shifatil Hajj Wal ‘Umroh Lisy Syaikh Al ‘Utsaimin”
16- “Riyadhudz Dzakirin Fi Syarh Hishnil Mukmin Min Adzkar Wa Ad’iyatin Nabiyyil Amin”
17- “Durrus Sahabah Fi Adabil Istithobah”
18- “Al Kusuf: Ahkam Wa Fawaid”
19- “Mansakul Hajj Wal ‘Umroh”
20- “Nailul Wathor Fi Ahkamil Mathor”
21- “Ayatullohil Kubro Allati Roahan Nabiy Fi Lailatil Isro”
22- “Fathush Shomad Fi Syarhish Shohihil Musnad Min Dalail Nubuwwah Muhammad Lil Imamil Wadi’iy”
Dan risalah-risalah berfaidah yang bermanfaat yang lain.
Dan Syaikh kami Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab beliau “Ath Thobaqot” berkata: “Abdulloh bin Ahmad bin Hasan Al Iryaniy, Abu Abdirrohman, penyeru ke jalan Alloh, punya pandangan yang tajam terhadap sunnah, … (rujuk “Ath Thobaqot”/strata pertama/no. 63).
Syaikh kami Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله tinggal di Darul Hadits dalam tempo yang lama, memberikan faidah dan mengambil faidah, menulis risalah-risalah yang bermanfaat, keluar untuk dakwah di berbagai tempat di Yaman, Alloh mengokohkan beliau di fitnah-fitnah ahli ahwa, bangkit untuk menolong kebenaran dan para pembela kebenaran, dan menghantam kebatilan dan para ahli batil sesuai dengan kemampuan beliau.
Kemudian beliau حفظه الله berpindah dan tinggal di masjid Baidho sambil melanjutkan amalan-amalan beliau yang diberkahi, kemudian di Baitul Faqih, dan sebelum itu di wilayah Yafi’ dan yang lainnya dengan karunia Alloh, di mana saja beliau singgah, beliau bermanfaat.
Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah mengutus beliau (di selang waktu bulan Sya’ban dan Romadhon 1432 H) ke negri kami Indonesia untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu dan amal syar’iy, dan memahamkan manusia tentang dakwah Ahlussunnah, bahwasanya dakwah ini adalah dakwah perdamaian dan perbaikan, bukan dakwah pemberontakan ataupun penggulingan kekuasaan. Maka dihasilkanlah keberkahan dakwah yang agung dengan karunia dan kedermawanan dari Alloh.
Dan para hizbiyyin di sana sini berusaha menimpakan makar pada beliau. Tapi tidaklah tipu daya ahli batil itu membahayakan ahli haq sedikitpun, karena sesungguhnya Alloh itu bersama dengan orang-orang yang bertaqwa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Apa yang bisa dilakukan oleh para musuhku terhadapku? Aku adalah jannahku. Kebunku ada di dadaku. Jika aku pergi, kebunku bersamaku dan tidak berpisah denganku. Sesungguhnya penjaraku adalah khulwah (menyendiri), pembunuhan terhadapku adalah syahadah, pengusiranku dari negriku adalah siyahah (jalan-jalan).” (“Al Wabilush Shoyyib”/hal. 67).

Sebagian dari keutamaan syaikh kami yang mulia Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله ورعاه

Doktor Abdulloh Al Bukhoriy telah mengejek syaikh kami yang mulia Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله ورعاه dan berkata bahwasanya beliau adalah termasuk dari ekor-ekor Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله , membebek tanpa meneliti masalah. Justru Syaikh Abdul Hamid adalah Syaikh yang alim, berjalan bersama As Syaikh Yahya dengan ilmu, pengetahuan dan bashiroh (ilmu, bayyinah dan keyakinan), dan beliau mengetahui bahwasanya Asy Syaikh Yahya ada di atas kebenaran dalam kasus ini –seperti kasus-kasus sebelumnya-, berhak ditolong dan dibantu, dengan dalil-dalil syar’iyyah.
Al Imam Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله berkata tentang beliau dalam kitab “Tarjumah”: “Menghapal Al Qur’an.” (“Tarjumatu Abi Abdirrohman Muqbil”/ no. (178)/cet. Darul Atsar).
Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata dalam “At Thobaqot” (no. 52/hal. 48/cet. Darul Atsar): “Kokoh, menghapal Al Qur’an dan Shohih Muslim, penelusur, punya kitab “Fathul Mannan Fish Shohihil Musnad Min Ahaditsil Iman”, “Al Bayanul Hasan Lima Ahyahusy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy Minas Sunan.” Dan bergabung dalam tahqiq satu jilid dari “Al Muhalla” Ibnu Hazm.”
Syaikh kami Thoriq Al Ba’daniy حفظه الله berkata tentang beliau: “Beliau termasuk dari masyayikh Darul Hadits, dan termasuk pengajar, punya tulisan-tulisan yang bermanfaat, pembelaan untuk sunnah dan Ahlussunnah, punya kerja keras yang disyukuri. Syaikh kami Yahya حفظه الله mengirim beliau ke Tanzania bersama saudaranya Asy Syaikh Al Fadhil Abu Mu’adz Husain Al Hathibiy Al Yafi’iy, dan beliau adalah sebaik-baik sahabat dalam perjalanan dan ketika bermukim. Dan termasuk dari kitab-kitab Abu Muhammad adalah “Al Khiyanatud Da’awiyyah…”, dan punya kitab “At Tabyyin Li Khothoi Man Hashoro Asma Alloh Fi Tis’ah Wa Tis’in,” “Tahdzirul ‘Uqqol Min Fitnatil Masihid Dajjal,” “Tahqiqul Iman Li Ibni Abi Syaibah,” “Tahqiqul Iman Li Abi Ubaid,” “Fathul Hamidil Majid Fir Rojih Fi Khuthbatil ‘Id,” “An Nashihah Wal Bayan Lima ‘Alaihi Hizbul Ikhwan Fi Aknaf Duril Qur’an,” “Ad Dimuqrothiyyah Wal Iakhwanul Muslimun.” Beliau juga punya amalan lain mendekati sembilan belas karya tulis, di antaranya sedang proses dicetak, sebagiannya masih tengah dikerjakan, maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan atas nama Islam dan Muslimin.” (selesai penukilan dari kitab “Ar Roddusy Syar’iy ‘Alal Kadzub Al Muftari Muhammad Asy Syarbiniy’”/hal. 83,sedang proses pencetakan).
Barangsiapa melihat pelajaran-pelajaran Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله , nasihat-nasihat beliau dan karya tulis beliau, dia tahu bahwasanya Alloh ta’ala telah memberikan karunia pada beliau kemampuan dalam ilmu-ilmu syar’iyyah dan keahlian untuk berijtihad.
Syaikh seperti ahli ilmu yang lainnya, tidak ma’shum, terkadang keliru, terkadang benar, akan tetapi yang buruk adalah penghinaan para hizbiyyin terhadap ilmu beliau, dan ejekan mereka terhadap kekeliruan yang beliau telah rujuk dari itu. Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Dan bukanlah syarat seorang alim itu bahwasanya dia tidak bisa keliru.” (“Siyar A’lamin Nubala”/19/hal. 339).
Dan termasuk dari karya tulis beliau حفظه الله adalah:
“At Tabyyin Li Khothoi Man Hashoro Asma Alloh Fi Tis’ah Wa Tis’in,” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatul Mufti Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata: “… sungguh Abu Muhammad Abdul Hamid Az Za’kariy Al Hajuriy telah mengirimkan pembahasan beliau yang bernama : “At Tabyyin Li Khothoi Man Hashoro Asma Alloh Fi Tis’ah Wa Tis’in,” lalu aku membaca sebagiannya, dan aku bolak-balik sebagian yang lain karena risalah tadi datang dalam keadaan aku sedang sibuk dengan amalan yang bertumpuk, maka aku dapati risalah tadi adalah pembahasan yang bagus sekali di bidangnya, yang mana bahwasanya nama-nama Alloh جل شأنه tidak dihitung oleh para hamba, dan tidak bisa dibatasi. –kemudian beliau menyebutkan sebagian dalil dan pendalilan, sampai pada ucapan beliau:- yang penting, sang penulis telah aku pandang telah mendapatkan taufiq dalam pembahasan ini yang di dalamnya beliau mengingkari orang yang menjadikan nama-nama Alloh terbatas dengan sembilan puluh sembilan saja. Maka semoga alloh membalasnya dengan kebaikan, dan memberkahi pada dirinya, dan memperbanyak orang-orang semisalnya. Semoga sholawat dan salam tercurah pada nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan shahabatnya.”
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…Sungguh para pendahulu kita رحمهم الله telah mencurahkan kerja keras dalam memperbaiki aqidah mereka dan aqidah muslimin yang lain dari seluruh kesalahan yang menyelisihi dalil-dalil dan asal manhaj umat ini, karena pekerjaan yang terpenting bagi muslim adalah: perbaikan aqidahnya di atas cahaya Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan pemahaman generasi pertama رحمهم الله –sampai pada ucapan beliau:- dan di atas pengarahan yang agung ini insya Alloh bangkit saudara kita yang mulia, penelusur yang memberikan faidah, Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله bangkit memberikan nasihat yang diberkahi ini di dalam risalah yang bermanfaat di dalam bidangnya ini. Beliau bermaksud dengan itu membantah Al Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm رحمه الله dan orang yang terpedaya dengan ketergelincirannya yang jelas dalam pembatasan nama-nama Alloh عز وجل dalam sembilan puluh sembilan nama, yang menyeret untuk meninggalkan sebagian nama Alloh عز وجل yang lain yang tidak kita ketahui. Dan tidaklah tersamarkan bagi orang yang punya sunnah yang shohih bahayanya perbuatan tadi. Maka semoga Alloh membalas saudara kita yang mulia Abdul Hamid Al Hajuriy dengan kebaikan atas peringatannya yang penting itu, dan memberikan manfaat dengannya.”
“Fathul Bari ‘Ala Syarhissunnah Lil Barbahariy” (cet. Darul Atsar)
“Al Bayan Fi Hukmil Intikhobat” (cet. Darul I’tishom Al Atsariyyah)
“Al Bayanul Hasan Lima Ahyahusy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy Minas Sunan.” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…sungguh aku telah melihat pembahasan yang bernama “Al Bayanul Hasan Lima Ahyahusy Syaikh Muqbil Al Wadi’iy Minas Sunan” karya saudara kita Abdul Hamid Az Za’kariy Al Hajuriy حفظه الله maka aku melihatnya telah mengumpulkan dalam amalan tadi kumpulan yang bagus dan berfaidah insya Alloh, mencakup pembahasan pembahasan hadits dan fiqih bersamaan dengan biografi lengkap untuk syaikh kami Al ‘Allamah Al Wadi’iy رحمه الله dengan menukilkan fatwa-fatwa beliau dan jejak-jejak beliau yang ilmiyyah agar diketahui oleh orang-orang, dan itu adalah dalil tentang ilmu beliau, keutamaan beliau, pembaharuan beliau untuk dakwah salafiyyah yang benar ini, dengan menyebarkan banyak dari ilmu-ilmu salafiyyah di antara umat Islam setelah hampir-hampir menjadi sesuatu yang terlupakan” -sampai pada ucapan beliau :- “Maka kita mohon pada Alloh agar menerima amalan kita, dan dari syaikh kita apa yang telah beliau lakukan, dan memberikan manfaat dengan pembahasan ini dari ilmu beliau, dan membalas saudara kita yang mulia Abdul Hamid Al Hajuriy atas perhatiannya dalam juz ini dan penelitiannya ini.”
“Ta’liq Wa Tahqiq ‘Ala Kitabil Iman Li Abi Ubaid Al Qosim bin Sallam” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…sungguh aku telah melihat sebagian risalah “Al Iman Lil Qosim bin Sallam رحمه الله” dengan tahqiq saudara kita Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy حفظه الله, maka aku melihat tahqiq terhadap tersebut adalah tahqiq yang bagus yang mencakup takhrij hadits dan atsar dari sumber-sumbernya, dan hukumnya dengan apa yang berhak dengannya, berupa shohih atau dho’if, disertai dengan penjelasan tentang orang yang menyelisihi aqidah Ahlussunnah dalam iman dan bantahan pada mereka secara ringkas tapi tidak kurang. Maka aku mohon pada Alloh agar memberkahi saudara kita Abu Muhammad dan menolak dari kami dan dirinya fitnah kehidupan dan kematian. Dan dengan pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.
“Ta’liq Wa Tahqiq ‘Ala Kitabil Iman Li Ibni Abi Syaibah” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya:
الحمد لله الذي زين الإيمان في قلوب عباده وكره إليهم الكفر والفسوق والعصيان، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الديان، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث من ربه عز وجل لإقامة الحجة والبرهان قال تعالى: ﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى الله حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ الله عَزِيزًا حَكِيمًا﴾ [النساء: 165]، أما بعد:
“Sungguh aku telah membaca tahqiq risalah “Al Iman Li Ibni Abi Syaibah” karya saudara kita fillah Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy, semoga Alloh memberinya manfaat dan memberikan manfaat dengannya, dan menambahinya taufiq dari kedermawanan-Nya عز وجل dan karunia-Nya, maka aku melihatnya telah mentahqiq risalah tadi dengan tahqiq yang bagus dan bermanfaat. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.”
“Al Ikhwanul Muslimun Wad Dimuqrothiyyah” (cet. Darul Kitab Was Sunnah)
“Fathul Hamidil Majid Fi Bayanir Rojih Fi Khuthbatil ‘Id” (cet. Darul Kitab Was Sunnah)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله setelah berbicara tentang pembaharuan yang dilakukan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله di Yaman, beliau berkata: “Dan manusia dengan segala pujian bagi Alloh mengambil manfaat dengan sunnah-sunnah ini, yang telah menjadi tidak terdengar penyebutannya di banyak negri. Kemudian bangkitlah sebagian ahli taqlid dan orang yang mayoritas bekal mereka dalam fiqih adalah melihat pendapat-pendapat tanpa memurnikan penelitian pada dalil yang ucapan tadi dibangun di atasnya, lalu jadilah dia menyebarkan di kalangan manusia yang awam bahwasanya sunnah dalam Id adalah dua khuthbah, sehingga terjadilah keributan di antara mereka, bahkan hampir membikin ribut di antara pelajar, dari jenis kelompok tersebut. Dan dulu kami sering ditanya tentang masalah ini, maka kami jawab dengan apa yang sebagiannya telah dinukilkan oleh saudara kita yang mulia, pemilik risalah ini, Abdul Hamid Al Hajuriy وفقه الله , dan dari situlah bangkit saudara kita yang mulia tersebut حفظه الله untuk meneliti masalah itu dalam pembahasan khusus, dan inilah yang ada di hadapan anda dengan judul “Fathul Hamidil Majid Fi Bayanir Rojih Fi Khuthbatil ‘Id” disodorkannya padaku dan aku baca, dan aku lihat dia berjalan di atas kebenaran, dan berdalilkan dengan dalil-dalil yang sesuai dengan bab-babnya, dan di dalamnya beliau meruntuhkan pendapat-pendapat yang tersebar di sebagian risalah tadi yang menyebabkan terjadinya kekeliruan dari sebagian penulis. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abdul Hamid dengan kebaikan, dan memberikan manfaat dengannya.”
“An Nashihah Wal Bayan Lima Alaihi Hizbul Ikhwan, Wa Yalihi Nashihah Wa Tahdzir Li Ashabil Jahl Wat Taghrir” (cet. Darul Kitab Was Sunnah)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam kata pengantarnya: “… sungguh aku telah melihat risalah yang berjudul “An Nashihah Wal Bayan Li Du’at Hizbil Ikhwan Fi Aknaf Duril Qur’an,” karya saudara kita Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy, semoga Alloh memberinya manfaat, dan memberikan manfaat dengannya, maka aku melihat risalah tadi sesuai dengan namanya, dan penjelasan yang membawakan maknanya, beliau mencurahkan di situ nasihat yang disyukuri dan pengarahan yang ditopang dengan penukilan dan bukti-bukti, dengan menekuni kelembutan, dengan faidah yang kami harapkan Alloh memberikan manfaat dengannya kepada para pelajar Durul Qur’an dan yang lainnya. Dan dengan pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.”
“Ad Durrul Maknun Fi Ahkamid Duyun” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…sungguh aku telah melihat pembahasan yang bernama “Ad Durrul Maknun Fi Ahkamid Duyun” karya saudara kita yang mulia Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy وفقه الله maka aku lihat beliau telah mengumpulkan di dalamnya pembahasan tentang utang-piutang dengan kumpulan yang diberkahi, dengan faidah yang kami berharap kitab ini menjadi asal dalam bidangnya insya Alloh, bagi orang yang ingin melihat hukum-hukum bab utang-piutang. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abdul Hamid dengan kebaikan, dan memberikan manfaat dengannya, dan menjauhkan kami dan dia dari fitnah-fitnah yang nampak dan tidak nampak.”
“Fathul Alim Bi Syarh Risalatil Imam Muhammad bin Abdil Wahhab رحمه الله Ila Ahli Qoshim” (cet. Darul Atsar).
“Al Khiyanatud Da’awiyyah Hajar ‘Atsarotun Fid Da’watis Salafiyyah” (cet. Darul Kitab Was Sunnah)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam kata pengantarnya: “… sungguh aku telah risalah “Al Khiyanatud Da’awiyyah Hajar ‘Atsarotun Fid Da’watis Salafiyyah” karya Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله maka aku melihatnya telah mendatangkan di dalamnya dalil-dalil dan atsar-atsar dan perkara yang sesuai dengan babnya, dan faidah yang diharapkan Alloh memberikan manfaat dengannya bagi orang yang membacanya. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan memberkahi kerja kerasnya da waktunya.”
“Aunul Bari Bi Bayan Hizbiyyati Ibnai Mar’iy Waman Jaro Majrohum, War Roddu ‘Ala Takhorrushot Abdillah bin Abdirrohim Al Bukhoriy” (cet. Maktabatul Falah).
“Al Qobr ‘Adzabuhu Wa Na’imuh” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…sungguh aku telah melihat risalah “Tanbihu Ulil Abshor Lima Fil Qobr Minan Na’im Wal ‘Adzab War Rodd ‘Alar Rofidhotil Asyror” karya saudara kita dai ilalloh, yang cemburu untuk agamanya: Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله , maka aku melihatnya telah membantah di dalamnya terhadap orang yang mengingkari adzab kubur dari kalangan Zanadiqoh Rofidhoh dan yang seperti mereka, dengan bantahan yang kokoh yang didukung dengan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dan perkataan Salaf رضوان الله عليهم , dan dengan penjelsan yang tidak menyisakan tempat untuk ragu. Dan sesungguhnya penulisan tentang siksaan kubur semisal pembahasan yang diberkahi ini adalah termasuk pembelaan untuk agama ini, dan penyebaran aqidah muslimin, dan penjelasan tentang kesesatan ahli ahwa ahli batil. Maka semoga Alloh membalas saudara kita Abdul Hamid dengan balasan yang terbaik, dan memberikan manfaat dengannya, dan dengan penulisnya ini, dan seluruh pembahasannya untuk Islam dan muslimin.”
“At Taudhihatul Jaliyyah Li Bayan Haqiqotud Dimuqrothiyyah” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله berkata dalam pengantarnya: “…ketahuilah, sesungguhnya termasuk jalan kesesatan yang paling keras, dan penentang kebenaran dan hidayah yang paling besar adalah peraturan demokrasi yang menyeleweng itu, yang menumbuhkan anak-anaknya di atas syirik besar dengan lancang menentang hak murni Alloh سبحانه maka dia menjadikan hukum itu menjadi hak masyarakat, bukan hak penciptanya, dan hak pengaturan itu untuk masyarakat, bukan penguasa alam. Dan berapa banyaknyakah di bawah peraturan yang rusak ini yang menyelisihi Islam dari prinsipnya dan cabang-cabangnya, dan menentang Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya. Maka wajib atas setiap muslim yang ridho Alloh sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rosulnya untuk membenci peraturan yang berbahaya ini, dan menghindarinya serta memperingatkan manusia darinya sesanggupnya dengan peringatan yang keras. Dan semoga Alloh membalas Asy Syaikh Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al Hajuriy dengan kebaikan atas apa yang beliau kumpulkan dalam risalah berfaidah yang berjudul “At Taudhihatul Jaliyyah Li Bayan Haqiqotud Dimuqrothiyyah” ini, dalam rangka menegakkan sebagian kewajiban tadi. Dan hanya dengan pertolongan Alloh saja kita mendapatkan taufiq.
“Az Zajr Wal Bayan Li Du’atil Hiwar Wat Taqorubi Bainal Adyan” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله setelah mendatangkan penjelasan yang agung tentang bahayanya dakwah kepada pendekatan antara agama, beliau berkata: “…dan di akhir kata aku bersyukur pada saudara kita yang mulia yang cemburu pada agama Asy Syaikh Abdul Hamid bin Yahya bin Zaid Al Hajuriy حفظه الله atas apa yang beliau jelaskan di dalam pembahasan yang berfaidah ini, tentang kelapangan Islam dan wajibnya merasa cukup dengannya, dan apa yang dikandungnya yang berupa nasihat yang diberkahi untuk muslimin untuk berhati-hati dari apa saja yang menjauhkan dari keridhoan Alloh عز وجل dan mendekatkan mereka pada kemurkaan-Nya dan pada orang yang dimurkai-Nya. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengannya.”
“Tahdzirul ‘Uqqol Min Fitnatil Masihid Dajjal” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله setelah pembukaannya berkata: “Aku telah melihat risalah “Tahdzirul ‘Uqqol Min Fitnatil Masihid Dajjal” karya saudara kita yang mulia, dai ilalloh, penelusur yang berfaidah, Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy حفظه الله maka aku melihatnya risalah yang mengumpulkan dalil yang shohih dalam bidang ini, berfaidah dalam babnya. Aku mohon pada Alloh agar memberikan manfaat dengannya dan dengan penulisnya bagi muslimin.”
“Dhowabith Tahditsil Awwam Bi Ayati Wa Ahaditsis Asma Wash Shifat” (cet. Darul Imam Ahmad)
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله setelah pembukaannya berkata: “Aku telah melihat pembahasan ringkas dalam risalah “Tahditsil Awwam Bi Ayati Wa Ahaditsis Asma Wash Shifat” karya Asy Syaikh Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله maka beliau telah mengumpulkan di dalamnya dalil-dalil dan ucapan-ucapan dengan pengumpulan yang bagus. Beliau telah mendapatkan taufiq dalam amalan tadi… dst.”
“Al Ibtihaj Bi Akhbar Dammaj”
“As Saifush Shoqil Wan Nushhul Jamil Fi Bayan Halil Majahil”
“Tahdzirul Atsbat Mimma ‘Inda Ubaid Al Jabiriy Minat Taqowwulat”
“Al Burhan ‘Ala Hizbiyyatil ‘Adaniy Abdirrohman”

Dan beliau memiliki karya tulis yang lain yang bermanfaat yang tidak saya ingat sekarang, dalam bidang fiqih, aqidah, bantahan terhadap ahli batil dan yang lainnya.
Ini semua menunjukkan kepada kemampuan dan keahlian beliau. Dan tidak diragukan bahwasanya tingkatan-tingkatan ilmu dan ijtihad itu beragam, akan tetapi orang yang tidak mencapai tingkatan para imam tidaklah dikatakan bahwasanya beliau itu bukan alim atau yang seperti itu lalu diremehkan.
Dan bukanlah syarat seorang mujtahid itu dia itu terkenal di tengah masyarakat dan banyak ucapannya. Al ‘Allamah Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Tidaklah disyaratkan pada seorang mujtahid yang ucapannya terpandang itu dia itu harus terkenal dalam berfatwa. Bahkan ucapan seorang mujtahid yang tersembunyi itu terpandang, berbeda dengan pendapat sebagian orang yang menyeleweng.” (“Al Bahrul Muhith”/6/hal. 100).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka wajib untuk diyakini bahwasanya tidak setiap orang yang banyak kemampuannya berbicara dan banyak membicarakan ilmu berarti dia itu lebih berlimpu daripada orang yang tidak demikian.” (“Fadhlu Ilmis Salaf ‘Alal Kholaf”/hal. 5).
Perlu diingat: hakikat ilmu dan fiqih
Sesungguhnya ilmu itu adalah: mengetahui sesuatu sesuai dengan sifatnya, dengan pengetahuan yang pasti. Al Munawiy رحمه الله berkata: “Ilmu adalah keyakinan yang pasti dan kokoh, yang mencocoki kenyataan.” (“At Ta’arif”/hal. 523-524).
Dan ilmu itu tidak terjadi kecuali dibangun di atas dalil. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sesungguhnya ilmu itu adalah sesuatu yang dalil itu tegak di atasnya. Dan ilmu yang bermanfaat adalah yang dibawa oleh Rosul. Maka yang penting adalah kita berkata dengan ilmu, yaitu penukilan yang dibenarkan dan penelusuran yang dipastikan.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Ahli fiqh dan atsar dari seluruh kota telah bersepakat bahwasanya ahli kalam adalah ahli bida’ dan para penyeleweng, dan mereka menurut semuanya tidak teranggap di dalam lapisan-lapisan fuqoha. Ulama itu hanyalah ahli atsar dan orang-orang yang memperdalam pemahaman atsar. Dan mereka itu bertingkat-tingkat di dalamnya dengan kemantapan, pembedaan dan pemahaman.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm Wa Fadhlih”/3/hal. 176).
Kemudian ketahuilah bahwasanya hakikat ilmu itu itu bukanlah sekedar hapalan ilmu, mengetahui dalil-dalil, dan memahami nash-nash semata. Bahkan seorang yang alim dan faqih itu harus menggabungkan perkara-perkara itu tadi dengan pengamalan tuntutannya. Inilah dia orang alim dan faqih yang sejati. Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء﴾ [فاطر/28]
“Yang takut kepada Alloh dari kalangan hamba-Nya hanyalah para ulama.”
Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman: Hanyalah yang takut kepada Alloh sehingga berusaha melindungi diri dari hukuman-Nya dengan taat kepada-Nya adalah orang-orang yang tahu akan kemampuan Alloh terhadap apapun yang dikehendakinya, dan bahwasanya Alloh itu mengerjakan apapun yang diinginkannya, karena orang yang tahu perkara yang demikian itu dia akan merasa yakin akan hukuman-Nya atas kedurhakaannya, maka dirinya merasa takut dan gentar kepada-Nya bahwasanya Dia akan menghukumnya.” (“Jami’ul Bayan”/20/hal. 462).
Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, yang berharap besar terhadap akhirat, yang berpandangan tajam dalam urusan agamanya, yang terus-menerus untuk beribadah pada Alloh عز وجل.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Imam Al Ajurriy/no. (47)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله/cet. Darul Atsar).
Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata: “Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu’ pada Alloh.” (Diriwayatkan oleh Ad Darimiy/no. (343)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam “Al ‘Urful Wardiy”/hal. 159/cet. Darul Atsar).
Dan telah nampak dari ketiga Asy Syaikh tadi حفظهم الله semangat mereka untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya setelah jelas kebenaran itu bagi mereka, berbeda dengan dengan ahli hawa yang tidak bersemangat mengetahui kebenaran, dan jika nampak kebenaran yang menyelisihi hawa nafsu mereka, mereka membangkang terhadapnya dan memusuhi para pembawanya dalam keadaan dengki dan zholim. Maka mereka itu bukanlah ulama ataupun fuqoha sekalipun umur mereka tua dan kitab mereka itu banyak.
Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab. Akan tetapi orang alim itu adalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah sekalipun ilmunya dan kitabnya sedikit. Dan orang yang menyelisihi Kitab dan Sunnah itu adalah ahli bid’ah sekalipun dia itu banyak riwayatnya dan kitabnya.” (“Thobaqotul Hanabilah”/2/hal. 30).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).
Beliau رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu yang hakiki yang merasuk ke dalam hati itu menghalangi untuk muncul darinya perkara yang menyelisihinya, baik berupa ucapan ataupun perbuatan. Maka kapan saja muncul darinya perkara yang menyelisihi ilmu itu tadi, pastilah dia itu dikarenakan kelalaian hati tadi darinya, atau karena kelemahan ilmu itu di dalam hati untuk menghadapi perkara yang menentangnya. Dan itu merupakan kondisi-kondisi yang bertentangan dengan hakkikat ilmu, maka jadilah itu sebagai kebodohan dengan sudut pandang ini.” (“Iqtdhoush Shirotil Mustaqim”/1/hal. 257).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Tidaklah salaf dulunya memberikan nama fiqh kecuali terhadap ilmu yang disertai oleh amalan.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 115/Al Maktabatul Mishriyyah).
Maka penjelasan ini cukup untuk menunjukkan bahwasanya para masyayikh yang tiga tadi dan yang semisal mereka حفظهم الله berhasil mengambil manfaat dengan ilmu dan fiqh yang Alloh berikan pada mereka sehingga mereka berhak untuk menjadi ahli ilmi wal fiqh, dan bahwasanya orang yang mendengki terhadap mereka, meremehkan mereka dan menyombongkan diri terhadap mereka, dan dia sendiri memperbanyak dakwaan bahwasanya dirinya itu alim dan agung, dan dia mengharuskan orang-orang untuk taqlid padanya dengan ucapannya: “Kalian itu harus bersama ulama,” “Janganlah kalian mendahului ulama,” “Kalian harus mengikuti ulama,” maka dia itu bukan seorang yang alim secara hakiki.
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari alamat ilmu yang bermanfaat adalah bahwasanya pemiliknya itu tidak mendakwakan dirinya berilmu, dan tidak membanggakan ilmunya terhadap satu orangpun, dan tidak menisbatkan orang lain kepada kebodohan, kecuali orang yang menyelisihi sunnah dan Ahlissunnah, karena orang tadi (yang menisbatkan penyelisih sunnah kepada kebodohan) itu mengkritik orang tadi dalam rangka marah demi Alloh, bukan marah demi dirinya sendiri dan tidak bermaksud meninggikan dirinya sendiri di atas satu orangpun. Adapun orang yang ilmunya itu tidak bermanfaat, maka dia tak punya kesibukan selain menyombongkan diri dengan ilmunya terhadap orang-orang, dan menampilkan keutamaan ilmunya terhadap mereka, dan menisbatkan mereka kepada kebodohan, dan merendahkan mereka agar dengan itu dirinya meninggi di atas mereka. Dan ini termasuk karakter yang paling buruk dan paling hina.” (“Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Kholaf”/hal. 8).
Ilmu dan kebenaran itu tidak digantungkan pada tua atau mudanya usia. Berapa banyak orang muda usia manakala mereka bersemangat untuk mencari kebenaran dan tawadhu’ pada Robb mereka عز وجل maka Alloh memberikan taufiq pada mereka kepada perkara yang diridhoi-Nya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى * وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾ [الكهف/13، 14].
“Kami akan menceritakan padamu berita mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman pada Robb mereka dan Kami tambahkan pada mereka hidayah dan Kami kokohkan tekad dan kesabaran hati mereka ketika mereka bangkit lalu mereka berkata: Robb Kami adalah Robb langit dan bumi, kami tak akan berdoa pada sesembahan selain-Nya. Sungguh jika demikian tadi kami telah mengatakan suatu kecurangan dan kemustahilan.”
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Maka Alloh ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah para pemuda –yaitu syabab (anak-anak muda)- dan mereka itu lebih menghadapkan diri kepada kebenaran, dan lebih mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus daripada orang-orang tua yang telah berlarut-larut hidup dalam agama yang batil. Oleh karena itulah maka kebanyakan orang-orang yang menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quroisy maka kebanyakan dari mereka telah lama tinggal di atas agama mereka, dan tidak masuk Islam dari mereka kecuali sedikit. Dan demikianlah Alloh ta’ala mengabarkan tentang ashhabul Kahf bahwasanya mereka itu adalah anak-anak muda.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/5/hal. 140).
Kemudian sesungguhnya ketiga masyayikh tadi حفظهم الله telah mencapai lebih dari empat puluh tahun, dan ini tidaklah dikatakan muda usia. Alloh ta’ala berfirman:
﴿حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ﴾ الآية. [الأحقاف/15].
“Sampai apabila dia telah mencapai puncak kekuatan dan pengetahuan dan mencapai empat puluh tahun, dia berkata: Wahai Robbku, karuniailah aku taufiq untuk mensyukuri nikmat-Ku yang Engkau berikan padaku, dan kepada kedua orang tuaku, dan agar saya beramal sholih yang Engkau ridhoi…”
Al Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsir: “dan mencapai empat puluh tahun”: yaitu: mencapai puncak akalnya dan sempurnalah pemahamannya dan kesabarannya. Dikatakan: Sesungguhnya orang berusia empat puluh tahun itu biasanya tidak berubah dari apa yang dia ada di atasnya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 280).
Apakah para hizbiyyun –Mar’iyyun, Luqmaniyyun dan yang semisal mereka- tidak tahu bahwasanya kebanyakan dari para masyayikh mereka telah menjadi muqollidun (para pembebek) muta’ashshibun (para fanatik) di banyak kasus, dan jadilah mereka dengan perbuatan tadi –jika diteliti- bukan termasuk ulama. Dan barangsiapa fanatik dan mengikuti hawa nafsu, maka jatuhnya mereka adalah disebabkan oleh dosa mereka sendiri, bukan karena apa yang mereka anggap bahwasanya ahli Dammaj berupaya menjatuhkan para ulama.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “[pasal:] Mengeluarkan muta’ashshib (orang yang fanatik) dari rombongan ulama. Kemudian datanglah generasi pengganti sepeninggal mereka yang memecahbelah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada diri mereka. Dan mereka memotong-motong urusan mereka, dan seteiap orang akan kembali kepada Robb mereka. Mereka menjadikan ta’ashshub kepada madzhab sebagai keagamaan mereka dengan dengannya mereka beragama, dan modal mereka yang dengannya mereka berdagang. Dan yang lain dari mereka merassa cukup dengan taqlid murni, dan mereka berkata:
﴿إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون﴾
“Sesungguhnya Kami dapati bapak-bapak kami ada di atas suatu agama, dan sungguh kami meneladani jejak-jejak mereka.”
Kedua kelompok itu menyendiri dari apa yang menjadi kewajiban mereka untuk mengikutinya yaitu: kebenaran. Lisan kebenaran membacakan kepada mereka:
﴿ليس بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب﴾
“Bukanlah dengan angan-angan kalian dan bukan pula dengan angan-angan ahli kitab.”
Asy Syafi’iy –semoga Alloh ta’ala mensucikan ruhnya- berkata: “Kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya barangsiapa telah jelas bagi dirinya sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dia tidak berhak untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun dari manusia.”
Abu Umar dan ulama yang lain berkata: “Orang-orang telah bersepakat bahwasanya muqollid tidak teranggap sebagai bagian dari ahli ilmu, dan bahwasanya ilmu adalah: mengetahui kebenaran dengan dalilnya.” Dan ini sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Umar رحمه الله تعالى , karena sesungguhnya orang-orang tidak berselisih bahwasanya ilmu itu adalah pengetahuan yang dihasilkan dari dalil. Adapun tanpa dalil maka itu hanyalah taqlid.
Kedua ijma’ ini mengandung dikeluarkannya orang-orang yang fanatik dengan hawa nafsu dan pembebek buta dari rombongan ulama, dan mengandung gugurnya kedua jenis orang tadi rombongan pewaris para Nabi, karena yang di atas mereka telah menghabiskan bagian dari warisan para Nabi. Sesungguhnya para ulama mereka itulah pewaris para Nabi, dan sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.
Dan bagaimana menjadi termasuk dari pewaris Rosul صلى الله عليه وسلم orang yang bekerja keras dan bercapek-capek dalam upayanya membantah apa yang dibawa oleh beliau, kepada apa yang ucapkan oleh tokoh yang ditaqlidinya dan tokoh yang diikutinya, dan dia membuang sekian jam dari umurnya dalam ta’ashshub dan hawa nafsu, dan dia tidak menyadari bahwa dirinya telah membuang waktunya?
Demi Alloh, sungguh itu adalah suatu fitnah yang bersifat menyeluruh, lalu fitnah tadi membikin buta dan melempar hati-hati sehingga menjadi tuli, anak kecil terdidik di atasnya, dan orang tua menjadi pikun di dalamnya. Dengan sebab itu Al Qur’an menjadi ditinggalkan. Dan itu semua adalah dengan taqdir dan ketetapan dari Alloh, sudah tertulis di dalam Kitab Lauhul Mahfuzh. Dan manakala dengan itu bencana telah menyeluruh, dan dengan sebab itu kehinaan membesar, yang mana kebanyakan manusia tidak mengetahui selain fitnah tadi, dan mereka tidak menganggap ilmu kecuali fitnah tadi, maka orang yang mencari kebenaran di tempat yang amat diduga di situ ada kebenaran dianggap mereka sebagai orang yang terfitnah. Dan orang yang lebih mengutamakan kebenaran daripada yang lainnya menurut mereka adalah orang yang tertipu.
Mereka memancangkan tali-tali untuk menghalangi orang yang menyelisihi jalan mereka. Dan mereka mencari bahaya-bahaya untuk ditimpakan kepadanya, dan mereka menembaknya dari busur kebodohan, kezholiman dan penentangan. Dan mereka berkata pada saudara-saudara mereka:
﴿إنا نخاف أن يبدل دينكم أو أن يظهر في الأرض الفساد﴾.
“Sungguh kami takut dia akan mengganti agama kalian atau menampakkan kerusakan di bumi.”
Maka wajib bagi orang yang menghargai dirinya sendiri untuk tidak menoleh kepada mereka dan tidak ridho cara beragama mereka tadi ada pada dirinya. Dan jika diangkat untuk dirinya bendera sunnah Nabawiyyah, dia bergegas menuju kepadanya dan tidak menahan dirinya tetap bersama orang-orang tadi. Ini cuma sesaat saja sampai orang yang dikubur dibangkitkan, dan apa yang di dalam dada dikeluarkan, dan kaki-kaki para makhluk berdiri setara untuk Alloh, dan setiap hamba menanti apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya, dan terjadilah perbedaan antara pembawa kebenaran dengan pembawa kebatilan, dan orang yang berpaling dari kitab Robb mereka dan sunnah Nabi mereka mengetahui bahwasanya diri mereka itu dulu adalah pendusta.”
(selesai dari “I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 15-16/cet. Darul Kitabil Arobiy).
Bab Duapuluh Empat: Masalah Takut Pada Ulama dan Kritikan Pada Asy Syaikh Al Wushobiy

Dan Luqman menganggap bahwasanya ucapan Asy Syaikh Yahya: (saya nggak pernah gentar kepada seorangpun, siapapun dia), (Demi Alloh ana nggak ingin membantu setan kepada dirinya –yaitu Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy,- dan sama sekali saya nggak pernah takut kepada Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobiy dan juga pada para masyayikh di timur ataupun yang di barat) adalah suatu teror.
Jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh semata- adalah sebagai berikut:
Ini bukanlah suatu teror. Ini hanyalah bantahan kepada orang yang menakut-nakuti orang yang menampilkan kebenaran dengan keagungan pamor si fulan dan si fulan. Berapa banyaknya muta’ashshib (orang yang fanatik) menghalangi para penasihat untuk berbicara dengan kebenaran, menghalanginya dengan alasan bahwasanya Asy Syaikh Fulan dan Fulan menyelisihi mereka? Ini dia teror yang sejati. Maka Asy Syaikh Yahya حفظه الله itu seperti guru beliau, Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله yang mana beliau berkata: “Dengarkanlah, dengarkanlah! Fatwa orang yang paling besar di sisiku tapi menyelisihi dalil tak ada harganya. Dan fatwa orang yang paling kecil dari kalian dan ada dalil bersamanya maka dia itu terhormat dan ditaati, sampai kalian tidak menakuti-takuti aku dengan fatwa fulan ataupun fulan. Bahkan aku adalah lawan debat si fulan. Selama yang keluar adalah fatwa-fatwa yang menyimpang, maka aku adalah lawan debatnya.” (“Ghorotul Asyrithoh”/Imam Al Wadi’i /hal. 46/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).
Maka engkau wahai Luqman, -dan pendahulumu Abdulloh bin Robi’ As Salafiy ataupun yang lainnya dari kalangan penulis majhul- kalian mengkritik Asy Syaikh Yahya karena ucapan beliau: “Aku tidak takut kepada masyayikh”, maka apakah kalian menyuruh kami takut pada selain Alloh? Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾ [آل عمران: 175]،
“Hanyalah yang demikian itu adalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para walinya. Maka janganlah engkau takut pada mereka, dan takutlah kalian hanya kepadaku jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”
Alloh subhanah berfirman:
﴿فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾ [المائدة: 44]،
“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, dan takutlah kalian kepada-Ku, dan janganlah kalian menjual dengan ayat-ayatku harga yang murah.”
Maka wahai umat Islam, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah para hizbiyyun, karena kebanyakan dari mereka tauhid mereka goncang, tidak memurnikan amalan, rasa takut, tawakkal dan harapan untuk Alloh.
Sebagian dari mereka beramal demi kelompoknya atau keridhoan pemimpin kelompoknya.
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Hindari oleh kalian, hindari oleh kalian dekat-dekat dengan hizbiyyin, karena amalan mereka tiada di dalamnya keberkahan, karena mereka tidak ikhlas, perhatian besar mereka adalah bagaimana mengumpulkan orang-orang di sekeliling mereka, … dst.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 255-256/cet. Darul Atsar).
Dan Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata tentang kejelekan hizbiyyah: “Yang ketujuh: dan termasuk dari bahaya hizbiyyan adalah: penunaian syiar-syiar ibadah yang diperintahkan secara syariah justru berubah penunaiannya dari kewajiban ibadah menjadi kewajiban kelompok, sehingga mencoreng keikhlasan jika tidak sampai meruntuhkannya, dan yang terpandang bagi mereka adalah membikin ridhonya kelompok, bukan membuat ridhonya Alloh.” (“Al Mauridul ‘Adzb”/hal. 87).
Dan sebagian mereka jika diperintahkan untuk mengikuti jalan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan jalan Salaf dan meninggalkan jam’iyyat dan muassasat dalam dakwah, mereka menjawab: “jam’iyyat dan muassasat adalah payung dakwah dan pelindung dakwah!” “Jika kita meninggalkan jam’iyyat dan muassasat, dari mana kita makan dan minum?”
Dan sebagian dari mereka jika diperintahkan untuk memurnikan ittiba’ untuk Rosul صلى الله عليه وسلم dan meninggalkan taqlid pada masyayikh mereka menjawab: “Ulama akan mengkritik kamu dan kamu akan jatuh!” “Asy Syaikh Robi’ akan mengkritik Dammaj, dan Dammaj akan habis dan tidak tersisa di situ seorang muridpun!”
Demikianlah tauhid sebagian hizbiyyin. Adapun Ahlussunnah Wal Jama’ah maka mereka itu berpegang teguh dengan Alloh saja tiada sekutu bagi-Nya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَلَيْسَ الله بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ الله فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ * وَمَنْ يَهْدِ الله فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ الله بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ﴾ [الزمر: 36، 37]
“Bukankah cukup Alloh sebagai pelindung hamba-Nya? Dan mereka itu menakut-nakuti dirimu dengan yang selain-Nya. Dan barangsiapa Alloh sesatkan, maka dia tak punya pemberi petunjuk satupun. Dan barangsiapa Alloh beri petunjuk, maka tiada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan bukankah Alloh Maha perkasa lagi memiliki pembalasan?”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka tauhid itu termasuk sebab terkuat untuk mendapatkan keamanan dari rasa takut. Dan syirik itu adalah termasuk sebab terkuat dihasilkannya ketakutan-ketakutan. Oleh karena itulah maka barangsiapa takut pada sesuatu selain Alloh, sesuatu itu akan dijadikan menguasainya. Dan rasa takutnya pada sesuatu tadi itulah yang menjadi sebab dikuasainya orang itu olehnya. Andaikata dia takut pada Alloh, bukan pada yang lain, dan tidak takut pada sesuatu tadi, niscaya ketidaktakutan dirinya pada sesuatu tadi dan tawakkalnya dia pada Alloh menjadi termasuk sebab keselamatan dia yang paling agung. Dan jika dia mengharapkan pada Alloh semata, niscaya tauhid dia dalam harapannya tadi menjadi sebab terkuat untuk sukses mendapatkan apa yang diharapkannya, atau yang setara dengannya, atau yang lebih bermanfaat darinya untuknya. Dan Alloh sajalah yang memberikan taufiq kepada kebenaran.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 273).
Dan Alloh جل ذكره berfirman:
﴿الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ الله وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا الله وَكَفَى بِالله حَسِيبًا﴾ [الأحزاب: 39].
“Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah dari Alloh dan takut kepada-Nya dan tidak takut kepada seorangpun kecuali Alloh. Dan cukuplah Alloh sebagai Yang memberikan kecukupan.”
Maka jika sang hamba itu ada di atas kebenaran, dan berdiri karena Alloh dan dengan pertolongan Alloh, untuk apa dia takut pada selain Alloh?
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Karena Asy Syaikh Yahya berkata pada Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy: “Wahai Syaikh Muhammad, saya telah tahu kelemahan ilmumu,” Luqman mengkritik kenapa Asy Syaikh Yahya tidak menyampaikan itu lewat surat atau telpon. Bukan itu yang dilakukan Asy Syaikh Yahya tapi justru mengucapkan itu di hadapan orang banyak.
Jawaban kami terhadap Luqman –dengan taufiq Alloh- sebagai berikut:
Sesungguhnya Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy dia itulah yang mulai mencerca Asy Syaikh Yahya, bahkan dia berbuat itu di hadapan manusia, dan itu direkam dan disebarkan. Maka tiada celaan terhadap Asy Syaikh Yahya untuk membantahnya dengan semisal itu. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الله إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ * إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zholim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Asy Syuro: 40-42).
Alloh subhanah berfirman:
﴿لَا يُحِبُّ الله الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ الله سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء/148].
“Alloh tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Dan Alloh adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Maka sebagaimana engkau berbuat maka begitulah engkau diperlakukan. Barangsiapa senang untuk dihormati, maka hendaknya dia menghormati orang lain. Asy Syaikh Yahya telah banyak bersabar kepada Wushobiy, dalam keadaan Wushobiy itulah yang bermulut kotor: “Walad Yahya, walad Yahya, (bocah Yahya)” “Jika dikatakan pada orang yang terlalaikan ini: “Wahai sapi (بقرة)” atau: “Wahai sapi (ثور)” maka sapi itu lebih baik daripada dia. Dan sapi tidak ikut memperbincangkan perkara-perkara ini. Sapi itu tahu kadar dirinya sendiri, sementara orang ini tidak tahu kadar dirinya sendiri.”
Juga ucapan-ucapan setelah pulang haji tahun lalu: “Apakah kalian takut pada Al Hajuriy?! Tukang berak dan tukang kencing,” “Al Hajuriy itu manusia yang berak dan kencing, dia tak punya wewenang dalam perkara ini sedikitpun. Dia anak muda yang liar.”
Dari Abdulloh bin Amr رضي الله عنهما yang berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه، …» الحديث. (أخرجه مسلم (1844)).
“Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka hendaknya kematian itu mendatanginya dalam keadaan dia beriman pada Alloh dan hari Akhir, dan hendaknya dia mendatangi manusia dengan perkara yang dia senang untuk dia didatangi dengan perkara itu.” (HR. Muslim (1844)).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amalan, dan sebagaimana engkau berbuat, begitulah engkau akan diperlakukan.” (“Majmu’ul Fatawa”/15/hal. 319).
Dan hanyalah karakter ahli ahwa adalah: melakukan kebatilan dan mengelabui manusia, lalu jika mereka dibantah oleh Ahlussunnah, merekapun marah pada si pengkritik, dan menyerangnya, dan menuduhnya mengkritik para ulama. Demikianlah karakter ahli ahwa ketika dibantah oleh Ibnul Jauziy رحمه الله dan dibongkar kebatilan mereka, mereka marah kepada beliau.
Ibnul Jauziy رحمه الله berkata: “Dan aku telah menyebutkan dalam kitab “Al Qushshosh” sebagian perkara dari mereka, dan alangkah banyaknya hadits-hadits yang disodorkan kepadaku di dalam majelis petuah, telah disebutkan oleh para tukang cerita zaman ini, maka aku membantah mereka dan menjelaskan bahwasanya kisah-kisah tadi mustahil, maka mereka dendam terhadapku ketika aku menjelaskan buruknya kesibukan mereka itu.” (“Al Maudhu’at”/hal. 45).
Adapun kejengkelan para hizbiyyun terhadap vonis Asy Syaikh Yahya tentang kelemahan ilmiyyah Asy Syaikh Al Wushobiy, bukan hanya Asy Syaikh Yahya yang menghukumi demikian itu.
Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Telah dikenal dari dirinya bahwasanya dia banyak membuang waktu tanpa banyak manfaat, dan ini amat jelas sekali dalam dars-darsnya, risalah-risalahnya dan majelis-majelisnya. Dia tak punya banyak manfaat di dalam karya tulisnya atau takhrij riwayatnya. Jika didapatkan sedikit manfaat dari itu, tidak mencapai satu persen dari karya tulis Al Imam Al Wadi’i رحمه الله. Itupun sejenis risalah kecil yang pelajar yang baru bisa untuk membuatnya. Dan risalah yang paling baikpun dari risalah-risalahnya tersebut masih tergolong lemah, berkaitan dengan pembahasan jumlah tangga di mimbar dan masalah telaga dan yang semisalnya.
Adapun kitab dia “Al Qoul Mufid”, di dalamnya banyak bencana dan intiqod (faktor yang pantas dicela). Lebih-lebih lagi dari muqodimah-muqodimah yang dalamnya ada bagian dari sebagian orang ahlul bid’ah shufiyyah sebagaimana hal ini sudah diketahui bersama.
Dan pada tahun terakhir ini dia tersibukkan dengan apa yang dinmakan sebagai “dauroh”. Maka diapun melakukannya melontarkan masalah yang akan dibahas, kemudian disepakatilah dauroh selama dua pekan kadang kurang dari itu kadang lebih. Dan diapun tidak ada jerih payah yang besar padanya, sebatas membaca apa yang telah dikumpulkan oleh ikhwan dari ayat dan hadits atau yang semisalnya, bersama sedikit perapian yang dia lakukan. Kemudian dikeluarkanlah di akhir dauroh dengan bentuk risalah dengan nama Wushoby. Pura-pura bodoh akan jerih payah para murid yang patut dikasihani, yang sebagian dari mereka menanti-nanti untuk minimalnya nama mereka disebut walaupun sekedar dengan isyarat dari jauh. Akan tetapi dia orang suka pamor dan kekuasaan, wallohumusta’an.
(“Wajhul Muqoronah”/hal. 3/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Beliau حفظه الله berkata tentangnya: “Orang ini jarang punya faidah ilmiah, bahkan lebih dari sekali aku memintanya agar membuka pelajaran ilmiah yang khusus untuk penuntut ilmu yang butuh untuk itu. Dan orang ini sudah mengetahui kadar dirinya yang lemah dalam sisi ilmiah. Seandainya dia buka ma’hadnya dan membuka pelajaran-pelajaran ilmiah, dia tidak akan mampu untuk merangkum masalah-masalah dan menjawab beberapa kerumitan. Bahkan dia tidak mampu untuk menyelesaikan pelajaran karena kurang menguasainya. Oleh karena itu dia menyibukkan dirinya bersama dengan orang yang menghadiri pelajaran umumnya dengan tidak ada faidahnya dalamnya dari dauroh-dauroh yang telah dia sepakati.
Dan orang ini dikenal dengan kelemahan ilmiyyahnya sebagaimana yang telah dikatakan oleh ‘Alimnya Yaman an Nashihil amin. Oleh karena itu dia menabrak-nabrak dengan sangat parah kitabnya “Al Qoulul Mufid” ketika menetapkan tauhid yang tidak ada pendahulunya (dalam masalah ini) dari kalangan ahlus sunnah yang sudah dikenal, bahkan mereka mengingkari hal itu yakni yang berhubungan dengan tauhid al haakimiyah. Yang hal itu masuk pada tauhid rububiyah. Dan yang selain itu dari masalah aqidah yang dia menabrak-nabrak di dalam kandungan karya tulisnya yang telah berlalu penyebutannya.”
(“Wajhul Muqoronah”/hal. 12-13/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Inilah dia hakikat karya tulis dan dars-dars Muhammad Al Wushobiy bagi orang yang mengenalnya.
Adapun tentang zuhudnya dia, Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Sudah dikenal darinya rakus terhadap dunia walaupun lisannya fasih dalam berbicara tentang zuhud, akan tetapi kenyataannya sangatlah bertentangan. Jika kamu melihat tempat tinggalnya terutama di bagian dalamnya, dan pada masa akhir-akhir ini, bagian yang tampak dari luar, pastilah kamu tak bisa membedakan antara rumahnya dengan rumah pejabat tinggi dari sisi perabotan rumah tangga yang serba mewah, dan..dan..dan sebagaimana istilah orang : model terkini, Allohumusta’an.
Dan dia sangat mengetahui tentang hal ini. Lebih-lebih lagi tentang perkara-perkara yang lain. Aku diberi kabar oleh akh Mahmud an Nahariy (semoga Alloh memperlihatkan kepadanya tentang keadaan Wushoby yang sebenarnya). Baru-baru ini dikirimkan untuknya dengan membawa dua mobil Dyna tiap tahun berupa pakaian-pakaian serta sabun-sabun dan lain sebagainya: barang-barang satu mobil khusus untuk tullab –jika mereka nanti mendapatkannya- dan satu mobil khusus untuk dia dan keluarganya. Dan orang ini sangat senang dengan kesempurnaan (perhiasan dunia) walaupun secara nampak dia sering berbicara (masalah) zuhud.
Akh Abdulloh bin Salim al Baidhoniy memberi kabar kepadaku bahwa suatu hari Wushoby bertanya padanya tentang sepotong (bagian) dari siifoon. Dan akh Abdulloh adalah seorang pedagang seputar bangunan, dan beliau berkata : “Aku merasa aneh dengan pertanyaannya tersebut. Karena potongan (bagian) ini tidaklah dipakai dan dimiliki kecuali oleh pedagang besar (kaya raya). Dan sungguh mengherankan, karena orang ini (Wushoby) membuatnya sangat heran. Bahkan ini merupakan hal yang telah diketahui bagi orang duduk dengannya dari kalangan pedagang yang masih awam.”
(“Wajhul Muqoronah”/hal. 5/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Adapun kesombongan terhadap al haq dan para makhluq, Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Barangsiapa bergaul dengan Wushoby akan mengetahui sisi kesombongan orang ini dan kurang tawadhu’nya dia, dan dari hal itu: sesungguhnya kamu tidak bisa (menemuinya) secara pribadi kecuali setelah banyak bermuamalah dan terus-menerus. Sebagai contoh: ketika aku datang di Hudaidah, aku meminta agar dia bisa duduk denganku secara pribadi agar aku bisa melontarkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan dakwah terlebih lagi aku orang yang baru di Hudaidah. Dan ketika aku meminta darinya tentang hal itu, dia malah memintaku untuk menulis di kertas mengenai perkara yang ingin aku lontarkan dan bicarakan dengannya. Maka akupun menulisnya di kertas dan kuserahkan padanya. Kemudian dia baca dan tidaklah terucap kecuali; “insyaAlloh, nanti saja sepulang dari sholat”, yakni dari shof pertama sampai dia masuk rumahnya.
Dan (juga) suatu ketika dia menyampaikan hadits:

( لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وليخرجن وهن تفلات )
“Janganlah kalian menghalangi para wanita hamba Alloh dari pergi ke masjid-masjid Alloh. Dan hendaknya mereka keluar dalam keadaan mereka itu tidak memakai wewangian.”

Dia berkata di dars umum, bahwa makna تفلات adalah seorang perempuan memakai abaya (jenis pakaian wanita) dan diguling-gulingkan ke tanah, kemudian ditiup atau dikibaskan (agar debunya hilang) kemudian dia memakainya jika keluar. Dan kukatakan padanya: “sesungguhnya yang dimaksud dengan تفلات di sini adalah yang tidak memakai minyak wangi, sebagaimana perkataan al Khoththobiy”. Lalu diapun memintaku untuk memperlihatkan sumbernya, maka kutunjukkan padanya maroji’ dari kitab “’Aunul Ma’bud” dan diapun membacanya. Aku berkata : “Semoga dia minimalnya meralat perkataannya dalam masalah itu”, tetapi malah tidak berbicara sedikitpun (tentang kesalahannya dalam tafsiran hadits). Dan masih banyak contoh selainnya, bahkan terkadang ada seorang yang menanyainya kemudian Wushobiy berpaling darinya (penanya). Bahkan kesombongannya itu mencegahnya untuk menunjukkan siapakah orang yang mendatangkan faidah kepadanya. Apalagi untuk rujuk dari kebatilan, seandai rujukpun dengan cara yang kurang baik. Dan ini sudah diketahui oleh orang yang duduk (dengannya) dari kalangan penuntut ilmu. Dan di sini kita tidak akan berpanjang lebar membahas masalah ini. Akan tetapi hal ini dapat diraba oleh setiap orang pernah berhubungan dekat dengannya.
(“Wajhul Muqoronah”/hal. 6-7/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Adapun sikap pelitnya terhadap Ahlussunnah, Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Sungguh dia menjadi permisalan dalam sifat pelit dan kikir kepada tamu-tamunya dan murid-muridnya tapi tidak untuk dirinya sendiri. Ketika datang tamu yang mengunjunginya, mereka tidak mendapatinya pelayanan dan pemuliaan lebih-lebih lagi makanan. Sampai terjadi kegelisahan yang sangat, bahkan sebagiannya berkeinginan untuk tidak kembali lagi di lain waktu, disebabkan oleh kejadian yang telah dia alami berupa jeleknya penyambutan Wushobiy. Bahkan sampai tidak bisa duduk lama dengannya. Dan juga dari bakhil dan kikirnya terhadap murid-muridnya yang ada di masjidnya, mereka cuma diberi kurma dan roti, dan jangan tanyakan tentang keadaan kurma itu!!!” (“Wajhul Muqoronah”/hal. 12/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Adapun sikap dia dalam pergaulan dengan Ahlussunnah, Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Kamu dapati makar dan tipu daya serta hal yang terselubung dan berputar-putar (dalam masalah) dan tuduhan-tuduhan batil dan menggembosi serta mematahkan semangat dan yang semisalnya. Ini merupakan bagian yang tidak mungkin didapati dari sosok yang dituakan.
Jika dia ingin menghancurkan seseorang dari kalangan penuntut ilmu, maka diapun berusaha untuk memusuhinya secara diam-diam dan kadang dengan kekerasan. Sampai meminta mata-matanya untuk menyebarkan kejelekannya. Dan kadang dengan mencela si murid itu di tengah-tengah pelajaran umum sampai dia mensifati orang yang dimaksud tanpa menyebut namanya dengan kehancuran. Sampai akhirnya orang tersebut lari dan meninggalkan pelajaran. Dan kadang ada majelis persidangan. Apa yang kamu ketahui tentang majelis persidangan ini? Yang seseorang keluar darinya (majelis itu) dengan batin yang sangat tertekan. Setelah dikagetkan bahwasanya orang yang bersamanya adalah mata-mata Wushobiy yang seakan-akan tampak sebagai sosok seorang bapak yang penyayang dan adil. Namun dia (Wushobiy) malah sebaliknya. Dan telah menyidang Muhammad Ba Musa dan dia keluar dalam keadaan menangis sebagaimana Fadhil Wushobiy telah memberitahuku tentang hal itu. Yang demikian ini merupakan bentuk pelecehan Wushobiy terhadap dakwah dan kita tidak akan lupa. Menuduh mereka dengan Jaasus (mata-mata), para buruh, juga pendusta, orang yang menyendiri, cocok seperti Rofidhoh. Yang di waktu ini sama sekali kita tidak mendengarnya (Wushobiy) berbicara dengan kalimat yang keras tersebut sebagai bantahan kepada Mar’i Hudaidah (tokoh sufi mulhid) dan yang semisalnya dari orang-orang yang sesat dan menyimpang. (“Wajhul Muqoronah”/hal. 12-13/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Adapun kejujuran Al Wushobiy, Syaikh kami Abu Abdissalam Hasan bin Qosim Roimiy حفظه الله berkata tentang dia: “Dan termasuk perkara yang sangat disesalkan adalah cara dakwah Wushoby yang penuh kedustaan ketika dia mengatakan atau mengerjakan sesuatu kemudian dia berkata : “Aku tidak menyebutnya” atau “hal itu adalah omong kosong”. Dan ketika mereka menyebutkan tentang tuduhannya terhadap masyayikh dengan jaasus (mata-mata), diapun berkata: “Aku telah memuji mereka”. Demikianlah kondisi perkataannya: “Janganlah heran jika datang ad Duwaisy ke masjidku,” diingkarinya. Dan yang menjadi saksi atasnya adalah Syaikh Jamil as Shilwiy dan Syaikh Yahya.
Dan kadang kamu lihat di satu sisi dia menerimamu tapi di sisi lain dia bersiasat. Dan suatu ketika aku telah mendengar perkataannya di pelajaran umum: “Aku bercanda dengan seseorang dalam keadaan hatiku melaknatnya”. Dan ini sering dilakukan juga kepada penuntut ilmu yakni siapa yang ingin dia jatuhkan, wallohu musta’an.
Dan dari tidak adanya kejujuran dalam dakwahnya adalah tahriisy (adu domba) yang telah dia lakukan antara Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya sebagaimana yang telah diketahui bersama. Ketika dia berkata kepada Syaikh Yahya (pada waktu hubungan Wushoby dan Syaikh Robi’ dikenal erat), Wushoby berkata kepada Syaikh Yahya : Asy Syaikh Robi’ berkata: “Tarik Yahya dari kursi dan penggantinya sudah siap”, dan Syaikh Robi’ telah mengingkarinya perkataan ini dengan keras dan merupakan kedustaan atasnya, wallohu musta’an.
Dan termasuk tidak adanya kejujuran dalam dakwahnya apa yang dia lakukan dengan bentuk adu domba antara Syaikh Yahya dan Qobilah di Dammaj sampai-sampai hampir terjadi akibat yang jelek, wallohu musta’an.
(“Wajhul Muqoronah”/hal. 15/Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله).
Dan ketahuilah bahwasanya Asy Syaikh Hasan bin Qosim حفظه الله tidak menyebutkan berita-berita ini untuk memuaskan hati dengan aib-aib seseorang, akan tetapi beliau berbuat itu dikarenakan Muhammad Al Wushobiy pada hari Ahad tanggal 18 Muharrom 1434 H (setelah serangan Rofidhoh terhadap Dammaj) membikin kejutan yang amat dahsyat terhadap Ahlussunnah dengan menyerang Asy Syaikh Yahya dan yang bersama beliau, dengan berbagai caci-makian, pembid’ahan, dan bahkan sindiran pengkafiran, bersamaan dengan dia menggambarkan diri di hadapan orang-orang bahwasanya dirinya selevel dengan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله, maka terpaksalah Asy Syaikh Hasan حفظه الله menyebutkan perbedaan-perbedaan antara Muhammad Al Wushobiy dengan Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Bab Duapuluh Lima:

Tuduhan Luqman Bahwasanya Asy Syaikh Yahya Membahayakan Dakwah

Luqman berkata: “Masya Alloh, hancur dakwah kalau cara yang dipakai adalah caranya Al Hajuriy.”

Jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut:
Sungguh Luqman telah membebek sebagian orang yang menuduh Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله bahwasanya beliau dengan amalan tersebut membahayakan dakwah. Ucapan ini telah beredar di kalangan hizbiyyun, maka wajib untuk dibantah, sekalipun asalnya datang dari sebagian tokoh mulia yang mereka panas-panasi dengan kedustaan.
Sesungguhnya Alloh memerintahkan kita untuk melakukan ishlah (perbaikan), naf’ (memberikan manfaat), dan melarang kita dari perusakan dan bahaya. Dan tempat rujukan dalam mengetahui perusakan dan perbaikan, pemberian bahaya dan manfaat adalah Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم berdasarkan pemahaman Salaful ummah. Jika tidak demikian, maka mungkin saja ada orang yang mengaku-aku berbuat perbaikan padahal dia itu adalah perusak, atau menuduh orang lain berbuat bahaya sementara hakikatnya tidak demikian. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ * أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ﴾ [البقرة: 11، 12].
“Dan jika dikatakan pada mereka: “Janganlah kalian merusak di bumi” mereka berkata: “Sesungguhnya kami ini hanyalah berbuat perbaikan” Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah yang merusak akan tetapi mereka tidak menyadari.”

Al Imam Ibnu Jarir رحمه الله berkata: “Perusakan di bumi adalah: melakukan perkara yang dilarang oleh Alloh جل ثناؤه di bumi, dan menyia-nyiakan apa yang diperintahkan Alloh untuk dijaga. Maka itulah perusakan secara global, sebagaimana Alloh جل ثناؤه berfirman dalam kitab-Nya, mengabarkan tentang ucapan para malaikat-Nya:

﴿قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ﴾ [سورة البقرة: 30
“Mereka berkata: Apakah Engkau menjadikan di dalamnya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah?”

Mereka maksudkan dengan itu: Apakah Engkau menjadikan di bumi orang yang mendurhakai-Mu dan menyelisihi perintah-Mu? Maka seperti itulah sifat orang-orang munafiqin: merusak di bumi dengan kedurhakaan mereka di dalamnya terhadap Robb mereka, dan mereka di dalamnya melakukan perkara yang dilarang, dan menyia-nyiakan kewajiban dari Alloh, dan mereka ragu tentang agama Alloh, yang mana Alloh tidak menerima amalan dari seorangpun kecuali dengan pembenaran agama ini dan meyakini hakikatnya. Dan juga karena mereka membohongi mukminin dengan dakwaan palsu mereka, mereka masih terus di atas keraguan dan kebimbangan, dan mereka baku bantu dengan orang-orang yang mendustakan Alloh, kitab-kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya untuk memerangi para wali Alloh, jika mereka mendapatkan jalan ke situ. Maka yang demikian adalah perusakan yang dilakukan oleh para munafiqin di bumi Alloh, dalam keadaan mereka mengira mereka dengan perbuatan itu berbuat perbaikan.” (“Jami’ul Bayan”/1/hal. 289-290).
Dan ini dalil bahwasanya kemungkaran-kemungkaran adalah sebab kerusakan, dan bahwasanya orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mnkar itulah para pembuat perbaikan dan pemberi manfaat. Maka kebaikan dan keselamatan itu ada para jenis ini. Alloh ta’ala berfirman:

﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر﴾ [آل عمران: 110
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS Ali Imron 110).
Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [آل عمران: 104]
“Dan hendaknya ada sekelompok umat dari kalian yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imron)

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka Alloh Yang Mahasuci menjelaskan bahwasanya umat ini adalah umat yang terbaik untuk manusia. Maka mereka itu paling bermanfaat untuk mereka, paling agung kebaikannya kepada mereka, karena mereka itu menyempurnakan urusan manusia dengan kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran dari sisi sifat dan kadarnya, yang mana mereka memerintahkan setiap kebaikan dan melarang dari setiap kemungkaran untuk setiap orang. Dan mereka menegakkan yang demikian itu dengan jihad di jalan Alloh dengan jiwa dan harta mereka. Dan ini adalah kesempurnaan manfaat untuk para makhluk.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 123).
Dan setelah menyebutkan dalil-dalil dan tafsir para imam رحمهم الله ini tahulah kita bahwasanya kerusakan itu istilah yang diberikan pada seluruh kemaksiatan. Maka pelaku kerusakan adalah pelaku kedurhakaan, penyebab turunnya hukuman-hukuman dan tersebarnya kerusakan di bumi. Dan pembuat perbaikan adalah orang yang mengamalkan ketaatan pada Alloh dan amar ma’ruf nahi munkar.
Dan jika telah jelas bagi kita makna perbaikan dan perusakan, tahulah kita bahwasanya pelaku perbaikan adalah orang yang mendatangkan kebaikan-kebaikan dan manfaat-manfaat, dan bahwasanya perusak adalah sebaliknya. Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Bahwasanya makna perusakan adalah perkara yang harus ditinggalkan yang berupa bahaya, dan bahwasanya perbaikan adalah perkara yang harus dilakukan, yang berupa perbuatan yang bermanfaat.” (“Jami’ul Bayan”/1/hal. 75).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya orang yang bermanfaat itulah orang yang diberkahi, dan perkara yang paling bermanfaat dan paling besar berkahnya adalah orang yang diberkahi di kalangan manusia di manapun dia berada. Dia itulah yang diambil manfaatnya di manapun dia turun.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 141).
Setiap kali sang hamba lebih baik untuk dirinya sendir dan untuk yang lain, dia lebih bermanfaat untuk semuanya. Dan setiap kali dia lebih bermanfaat, dia lebih dicintai oleh Robbnya.
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan para makhluk itu semuanya adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang paling dicintai oleh Alloh adalah orang yang paling bermanfaat bagi para makhluk-Nya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 12).
Dan telah banyak karya tulis Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله untuk mengobati kasus-kasus masyarakat. Telah saya sebutkan itu di risalah “Tadzkirul ‘Ibad ‘Ala Ahliyyatil ‘Alamain Al Wadi’iy Wal Hajuriy Lil Ijtihad Wa Baroatuhuma Min Juhaiman Wa Jama’atil Fasad” (dengan Terjemah Bebas: “Dua Mujtahid Yaman Al Wadi’iy Dan Al Hajuriy Berlepas Diri Dari Khowarij Dan Juhaiman”).
Dan saya sebutkan lagi lebih banyak dan lebih terperinci dalam risalah: “Tanbihun Nuqqodir Abror ‘Ala Gholathi Ittihamisy Syaikh Robi’ Mushlihan Bil Ghuluw Wal Idhror.”
Dan Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah mengorbankan badan beliau, ruh beliau, waktu beliau dan selurh diri beliau untuk melayani muslimin di jalan Alloh. Dan beliau biasa menyambut tamu sekalipun beliau dalam keadaan sakit, dan mendamaikan di antara manusia dalam beraneka ragam kasus siang dan malam, dan memenuhi permintaan untuk menyampaikan ceramah lewat telpon di tengah-tengah kesibukan mereka, dan menunda pembahasan dan penelitian beliau untuk memenuhi permintaan para masyayikh dan murid untuk memeriksa karya tulis mereka.
Beliaulah yang berkata: Dan beliau itulah yang berkata: “Penjagaan agama kami lebih kami cintai daripada penjagaan jiwa-jiwa kami.” (dicatat tanggal 11 Muharrom 1432 H).
Dan beliau juga yang berkata: “Kami telah menghibahkan jiwa kami untuk dakwah salafiyyah dan kami tidak mencari dengannya pengganti.

﴿فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ﴾ [يونس:32].
“Maka tidak ada setelah kebenaran selain kesesatan. Maka ke manakah kalian dipalingkan?”” (kitab “Adhrorul Hizbiyyah”/Syaikh Yahya -hafidhahulloh-/hal. 37-38).

Kami menilai demikian dan Alloh sajalah yang menilai beliau. Dan kami tidak mentazkiyah seorangpun atas nama Alloh.
Kemudian sesungguhnya orang yang memperhatikan kerja keras Syaikh Yahya حفظه الله dalam amar ma’ruf nahi munkar, nasihat untuk umat dengan ilmu dan kesabaran, hikmah dan semangat, dengan ucapan dan tulisan dan yang lainnya, disertai dengan kuatnya ketawakkalan kepada Alloh, dan mohon pertolongan pada-Nya عز وجل dia akan mengetahui dengan seidzin Alloh bahwasanya Asy Syaikh adalah ahli ilmu pengetahuan, karena setiap kali bertambah pengetahuan seorang hamba pada Robbnya, bertambahlah rasa takutnya pada-Nya, dan menguatlah kecemburuannya untuk-Nya, dan bertambah besarlah pengagungannya pada kehormatan-Nya, maka dia bangkit dengan amar ma’ruf nahi munkar, dan nasihat untuk umat, dan tidak takut celaan orang yang mencela. Dan ini adalah sifat ahli ilmu pengetahuan.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan makhluq Alloh yang paling mengetahui-Nya adalah para Rosul-Nya dan para Nabi-Nya, dan mereka adalah orang yang paling besar pengingkarannya terhadap kemungkaran, dan hanyalah mereka itu diutus untuk mengingkari kemungkaran. Maka orang yang paling berilmu itu paling besar pengingkarannya terhadap kemungkaran karena dia itu mengetahui syariat Alloh dan taqdir-Nya. Karena syariat Alloh mewajibkannya untuk mengingkari kemungkaran, dan taqdir menolongnya untuk melakukan itu dan melaksanakannya. Maka dia berdiri di posisi:

﴿إياك نعبد وإياك نستعين﴾
“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu sajalah kami mohon pertolongan”
Dan dalam posisi:

﴿فاعبده وتوكل عليه﴾،
“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.”

Maka kami menyembahnya dengan syariat-Nya dan taqdir-Nya, dan kami bertawakkal pada-Nya dalam menjalankan syariat-Nya dengan taqdir-Nya. Maka ini adalah hakikat ma’rifat. Dan orang yang menduduki posisi ini dia itulah orang yang mengenal Alloh. Dan di atas ini para Rosul bersepakat, dari yang pertama sampai yang menjadi penutup mereka.” (“Syifaul ‘Alil”/hal. 15).
Maka lihatlah –semoga Alloh memberimu taufiq-: apakah pada pelaku perbaikan yang besar semisal ini dikatakan bahwasanya beliau itu perusak, atau lebih besar dari itu: tiada yang lebih berbahaya terhadap dakwah daripada beliau? Mahasuci Engkau ya Alloh, ini adalah kedustaan yang besar sekali.

حسدوا الفتى إذ لم ينالوا سعيه … فالقوم أعداءٌ له وخصوم
كضرائر الحسناء قلن لوجهها … حسداً وبغياً إنه لدميم
“Mereka dengki kepada pemuda itu karena mereka tak bisa mencapai usahanya, maka kaum itu menjadi musuh dan lawan bagi dirinya
Bagaikan para madu bagi si cantik, mereka dengan dengki dan zholim berkata bahwasanya wajah dia tadi benar-benar buruk.”
(“Nihayatul Arib”/1/hal. 346).
Sebagaimana dikatakan:

نظروا بعين عداوة لو أنها عين الرضا لاستحسنوا ما استقبحوا
“Mereka memandang dengan mata permusuhan. Seandainya dia itu adalah mata keridhaan pastilah mereka akan menganggapnya bagus dan tidak menganggap buruk.” (“Miftah Daris Sa’adah”/hal. 176).
Tambah lagi:

وعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا
“Dan mata keridhoan lemah untuk melihat setiap kekurangan. Tapi mata kebencian menampakkan berbagai kejelekan.” (“Al Aghoniy”/3/hal. 369).
Maka aku katakan seperti ucapan sebagai para pendahulu;

يا ابنَ الكراِم ألا تدنْو فتبْصرَ ما … قد حدَّثوك فما راءٍ كمن سمِعاَ
“Wahai anak orang yang mulia, tidakkah Anda bersedia mendekat sehingga Anda bisa melihat apa yang mereka ceritakan padamu? Karena tidaklah orang yang melihat itu sama dengan orang yang sekedar mendengar.” (“Nafhatur Roihanah”/1/hal. 197).

Dan sebagaimana yang dinukilkan oleh Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله dari sebagian komandan Yazid bin Mu’awiyah:
الشاهد يرى ما لا يرى الغائب. (“البداية والنهاية”/8 / ص 235).

“Orang yang menyaksikan itu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir.” (“Al Bidayah”/8/hal. 235).
Maka barangsiapa bersikeras untuk tetap buta dan menuduh dengan kedustaan, maka cukuplah Alloh sebagai saksi. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالله يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ﴾ [البقرة: 220]
“Dan Alloh mengetahui pelaku perusakan dari pelaku perbaikan.”

Dan aku tidak menulis kitab ini dan yang lainnya dalam rangka mendekatkan diri pada makhluk, dan aku tidak menyebutkan penjelasan ini dalam rangka berbangga diri, dan aku tidak ingin menghinakan yang lain. Hanya saja saudaramu ini terpaksa, bukan karena jagoan, tapi dikarenakan sebagian orang meremehkan para pemilik ilmu dan sunnah, dan dalam rangka melaksanakan kewajiban menolong ahlil haq dengan kebenaran pula.

(wallohu ta’ala a’lam, insya Alloh akan dilanjutkan pada bagian keenam, bagian akhir dari rangkaian risalah ini).