pedang tajam membabat 6 pdf

Download pdf disini !

PedangTajamMembabat

RantaiSerangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al BashiriyArofat)

(bagiankeenam)

DiizinkanPenyebarannyaOlehAsySyaikh Al ‘Allamah:

Abu AbdurrohmanYahya bin Ali Al Hajuriy

SemogaAllohmenjagabeliau

Dengan Kata PengantarShohibulFadhilah:

AsySyaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

SemogaAllohmenjagabeliau

DitulisOleh:

Abu FairuzAbdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:

“Dhorobatus Suyufil Batiroh ‘Ala Salasil Hamlatil Jairoh

(Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh Warotsatil Haddadiyyatil Fajiroh)”

Terjemah Bebas:

“Pedang Tajam Membabat Rantai Serangan Yang Jahat

(Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy dan Al Bashiriy Arofat)”

Diizinkan Penyebarannya Oleh Asy Syaikh Al ‘Allamah:

Abu Abdurrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy

Semoga Alloh menjaga beliau

Dengan Kata Pengantar Shohibul Fadhilah:

Asy Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam Al Fadhli

Semoga Alloh menjaga beliau

Ditulis Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy

Semoga Alloh memaafkannya


بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Bagian Keenam

 

          الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله أجمعين أما بعد:

            Maka sesungguhnya dengan pertolongan Alloh semata saya bisa menyelesaikan penerjemahan bagian keenam, sebagai akhir dari rangkaian terjemahan risalah ini.

            Insya Alloh semua ini cukup sebagai bantahan atas tuduhan batil Luqman dan para pendahulunya. Jika masih ada syubuhat yang hendak dia tampilkan maka kami mohon pertolongan pada Alloh untuk menghancurkannya.

Selamat menyimak, semoga Alloh memberkahi dan memberikan taufiq-Nya pada kita semua.

Bab Duapuluh Enam:

Tuduhan Mereka Bahwasanya Asy Syaikh Yahya Terkena Aqidah Qodariyyah

            Luqman Ba Abduh berkata tentang Asy Syaikh Yahya: “Dan beberapa aqidah Al Hajuriyyang mencocoki aqidah Qodariyyah, Asy’ariyyah dan yang lainnya.” Barangkali itu bagian dari isyarat Abdulloh Al Bukhoriy tentang Asy Syaikh Yahya: “… Ini adalah bagian dari sejumlah apa yang ada pada orang itu yang berupa penyelewengan-penyelewenganaqidah dan ilmiyyah yang buruk yang tidak dibicarakan oleh anak-anak dan bocah tauhid serta bayi-bayi tauhid.” “… tahu tentang bencana-bencana, kehinaan-kehinaan, kesesatan-kesesatan dan penyelewengan-penyelewengan yang ada pada Yahya.”“Maka aku tidak tahu perkara-perkara yang orang ini terjatuh ke dalamnya, yang mana andaikata kumpulan perkara tersebut dibagi-bagikan kepada masing-masing individu niscaya setiap orang dari mereka akan dihukumi sebagai mubtadi.’ Bagaimana sementara perkara-perkara tadi telah terkumpul pada Al Hajuriy?”

Dan itu semua diambil dari apa yang ditulis oleh Arofat Al Bashiriy: “Prinsip yang keenam: terjatuhnya Al Hajuriy ke dalam suatu pendapat dari pendapat-pendapat Qodariyyah dan Mu’tazilah, yang mana termasuk dari prinsip mereka adalah bahwasanya orang yang mencari kebenaran sambil mencurahkan kemampuannya itu pastilah (لا بد) dia akan mendapatkannya. Maka Al Hajuriy menetapkan ini. Al Hajuriy berkata dalam Syarh dia terhadap Al Wasithiyyah (142): “Apa yang terjadi pada ahli ahwa, yang berupa sikap menabrak-nabrak, itu adalah disebabkan oleh terjadinya kekurangan pada mereka untuk mencari kebenaran dan mencapai kebenaran. Soalnya jika tidak demikian, barangsiapa mencari kebenaran dia akan mendapatkannya.”

            Jawab kami –dengan taufiq dari Alloh-:

            Tuduhan-tuduhan yang amat keji itu tidak boleh dibiarkan. Tuduhan Arofat ini telah dibantah oleh saudara kita Rosyid Al Jazairiy dan yang lainnya حفظهم الله, dan mereka membongkar kebatilannya dan membeberkan buruknya jalan Arofat, maka semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan. Dan saya mengambil faidah dari jawaban mereka, merapikannya dan menambahkan kepadanya jawaban-jawaban yang Alloh bukakan untuk saya. Dan karunia adalah di tangan Alloh semata.

            Ketahuilah bahwasanya Arofat Al Bashiriy itu telah memotong-motong ucapan Asy Syaikh Yahya, seperti kebiasaan para hizbiyyin yang fasiq. Sekarang marilah kita membaca ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dalam “Syarhul Wasithiyyah,” (hal. 143): “Di dalam tafsir firman Alloh عز وجل : (الحي القيم) dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : (قيوم السموات والأرض) mereka berkata: “Maknanya adalah bahwasanya Alloh tegak dengan diri-Nya sendiri, lalu dia menegakkan yang lain, mengurusi yang lain, menciptakan yang lain, tidak butuh pada sesuatu apapun. Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Sami’ (Maha Mendengar) dan Bashir (Maha Melihat). Dan sebagaimana ucapan Syaikhul Islam رحمه الله : “Sesungguhnya dugaan-dugaan yang batil itulah yang menyebabkan sebagian orang untuk berbuat ta’wil (menyelewengkan lafazh atau makna dari lahiriyyahnya kepada lafazh atau makna yang lemah tanpa dalil yang menuntut itu) atau ta’thil (mengosongkan dari Alloh nama atau shifat atau kedua-duanya, atau sebagiannya). Seandainya mereka diberi petunjuk untuk menggabungkan antara dua perkara itu (penetapan sifat sempurna untuk Alloh, dan mensucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk), dengan firman Alloh عز وجل:

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

“Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Sami’ (Maha Mendengar) dan Bashir (Maha Melihat).”

Peniadaan dan penetapan. Andaikata mereka mendapatkan taufiq niscaya mereka selamat dari sikap menabrak-nabrak. Akan tetapi orang yang mengikuti petunjuk kepada kebenaran, dia itu adalah orang yang mencari kebenaran dan menelusurinya.

﴿وَالَّذِينَاهْتَدَوْازَادَهُمْهُدًىوَآتَاهُمْتَقْوَاهُمْ﴾ [محمد: 17]،

“Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk, Alloh akan menambahinya petunjuk dan memberikan pada mereka balasan ketaqwaan mereka.”

﴿وَيَزِيدُاللهالَّذِينَاهْتَدَوْاهُدًى﴾ [مريم: 76]،

“Dan Alloh akan menambahi orang-orang yang mengikuti petunjuk dengan petunjuk berikutnya.”

«من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله طريقا إلى الجنة»،

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu di dalamnya, Alloh akan memudahkan untuknya jalan ke Jannah.”

Menempuh jalan tadi lahir dan batin, itu semua dengan maksud menempuh jalan kebenaran, jalan ilmu yang bermanfaat, Alloh akan memudahkan bagi dirinya jalan ke Jannah, dengan hidayah dan taufiq kepada ilmu dan amal tadi.

﴿إِنَّالَّذِينَآمَنُواوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِيَهْدِيهِمْرَبُّهُمْ﴾ [يونس: 9]،

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih Robb mereka akan memberikan petunjuk pada mereka.”

﴿وَإِنِّيلَغَفَّارٌلِمَنْتَابَوَآمَنَوَعَمِلَصَالِحًاثُمَّاهْتَدَى﴾ [طه: 82]

“Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun untuk orang yang bertobat, beriman dan beramal sholih kemudian mengikuti petunjuk.”

﴿إِيَّاكَنَعْبُدُوَإِيَّاكَنَسْتَعِينُ*اهْدِنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَ*صِرَاطَالَّذِينَأَنْعَمْتَعَلَيْهِمْغَيْرِالْمَغْضُوبِعَلَيْهِمْوَلَاالضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 5 – 7]،

“Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu sajalah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”

            Dan di dalam hadits Qudsiy:

«من تقرب إلي شبرا تقربت إليه ذراعا ومن تقرب ذراعا تقربت إليه باعا، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة».

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, aku akan mendekatkan diri kepadanya sehasta. Dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, aku akan mendekatkan diri kepadanya sedepa. Dan barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan lari-lari kecil.”

            Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَنِّيلَاأُضِيعُعَمَلَعَامِلٍمِنْكُمْمِنْذَكَرٍأَوْأُنْثَىبَعْضُكُمْمِنْبَعْضٍفَالَّذِينَهَاجَرُواوَأُخْرِجُوامِنْدِيَارِهِمْوَأُوذُوافِيسَبِيلِيوَقَاتَلُواوَقُتِلُوالَأُكَفِّرَنَّعَنْهُمْسَيِّئَاتِهِمْوَلَأُدْخِلَنَّهُمْجَنَّاتٍتَجْرِيمِنْتَحْتِهَاالْأَنْهَارُ﴾ [آلعمران: 195]،

“Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal dari kalian, dari lelaki ataupun perempuan. Sebagian dari kalian adalah bagian dari yang lain. Maka orang-orang yang berhijroh dan dikeluarkan dari rumah-rumah mereka dan disakiti di jalan-Ku, dan berperang dan membunuh atau dibunuh, pastilah Aku akan menghapus dari mereka kejelekan-kejelekan mereka, dan pastilah aku akan memasukkan mereka ke dalam Jannah-jannah yang sungai-sungai mengalir di bawahnya.”

Alloh ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ الله لَمَعَ الْمُحْسِنِين [العنكبوت/69]

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami, pastilah kami akan menunjuki mereka jalan-jalan keridhoan Kami. Dan sungguh Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 69).

Apa yang terjadi pada ahli ahwa, yang berupa sikap menabrak-nabrak, itu adalah disebabkan oleh terjadinya kekurangan pada mereka untuk mencari kebenaran dan mencapai kebenaran. Soalnya jika tidak demikian, barangsiapa mencari kebenaran dia akan mendapatkannya.

﴿وَقَالَرَبُّكُمُادْعُونِيأَسْتَجِبْلَكُمْإِنَّالَّذِينَيَسْتَكْبِرُونَعَنْعِبَادَتِيسَيَدْخُلُونَجَهَنَّمَدَاخِرِينَ﴾ [غافر: 60].

“Dan Robb kalian berfirman: berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi doa kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku mereka akan masuk ke Jahannam dalam keadaan hina.”

            Salman رضي الله عنه dulu adalah Majusi, termasuk dari penyembah api, dan beliau mencari kebenaran, dan terus-menerus berpindah dari satu agama ke agama yang lain sampai Alloh memberinya petunjuk kepada Islam dan mati sebagai seorang Shohabiy.”

            Selesai dari ucapan Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله .

            Orang yang merenungkan ucapan Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله dengan jujur, ilmu dan keadilan, akan nampak sangat jelas baginya dengan seidzin Alloh bahwasanya Syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله menyandarkan hidayah kepada Alloh, dan bahwasanya semuanya itu kembali kepada kehendak Alloh. Maka oleh karena itulah beliau menukilkan ayat ini: “Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk, Alloh akan menambahinya petunjuk dan memberikan pada mereka balasan ketaqwaan mereka.”

            Maka Asy Syaikh menetapkan hidayah taufiq itu di tangan Alloh, dan bahwasanya Dia memberi pahala untuk orang-orang yang bertaqwa yang mengikuti petunjuk dengan tambahan petunjuk dan pahala yang lainnya.

            Demikian pula beliau menukilkan firman Alloh ta’ala: “Dan Alloh akan menambahi orang-orang yang mengikuti petunjuk dengan petunjuk berikutnya.”

            Dan bertambah jelas dengan penukilan beliau terhadap sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu di dalamnya, Alloh akan memudahkan untuknya jalan ke Jannah.” Beliau menisbatkan pemudahan kepada Alloh ta’ala. Dan Asy Syaikh terang-terangan bahwasanya pemudahan dan taufiq itu di tangan Alloh, dengan ucapan beliau: “Menempuh jalan tadi lahir dan batin, itu semua dengan maksud menempuh jalan kebenaran, jalan ilmu yang bermanfaat, Alloh akan memudahkan bagi dirinya jalan ke Jannah, dengan hidayah dan taufiq kepada ilmu dan amal tadi.” Selesai.

            Maka taufiq itu di tangan Alloh, Dia memberikannya pada orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan para hamba-Nya. Maka barangsiapa memenuhi syarat-syarat Alloh, maka sesungguhnya Alloh tidak menyelisihi janji, bahkan Dia memberikannya sebagaimana yang dijanjikannya sebagai karunia dari-Nya dan pemuliaan dari-Nya, bukan karena para hamba mewajibkan itu pada Alloh.

            Dan demikian pula penukilan Asy Syaikh Yahya حفظه الله terhadap firman Alloh ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih Robb mereka akan memberikan petunjuk pada mereka.” Dan firman-Nya: “Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun untuk orang yang bertobat, beriman dan beramal sholih kemudian mengikuti petunjuk.”

            Maka hidayah itu di tangan Alloh, maka barangsiapa memenuhi syarat-syaratnya, maka sesungguhnya Alloh menunaikan janji-Nya dengan memberinya taufiq padanya sebagai pemuliaan untuknya dan karunia dari-Nya untuknya.

            Dan penukilan beliau terhadap pengakuan dan doa: “Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu sajalah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” Jelas sekali bahwasanya Asy Syaikh jauh sekali dari aqidah Mu’tazilah, karena pengakuan dan doa ini menunjukkan penunggalan Alloh dalam tawakkal dan isti’anah. Adapun Mu’tazilah manakala mereka mengeluarkan hidayah manusia dan jin dan kehendak mereka dari taqdirnya Alloh, mereka tidak berdoa pada Alloh untuk mendapatkan hidayah, dan mereka tidak memohon pertolongan pada Alloh.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang keadaan orang yang merealisir kandungan “Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah” maka dia menyembah Alloh tapi tanpa beriman tada taqdir sehingga dia tidak mohon pertolongan pada-Nya dan tidak merealisir “Dan hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” : “Maka orang ini terkadang bermaksud untuk menyembah-Nya tapi tidak memaksudkan hakikat isti’anah (mohon pertolongan) pada-Nya, dan itu adalah keadaan Qodariyyah dari kalangan Mu’tazilah dan yang semisal mereka yang menetapkan bahwasanya Alloh bukanlah pencipta bagi perbuatan-perbuatan para hamba, dan bahwasanya Alloh tidak menginginkan terjadinya kejadian-kejadian –sampai pada ucapan beliau:- adapun orang yang Alloh beri petunjuk, maka sesungguhnya dia merealisir firman-Nya: “Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah,dan hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan” dan mengetahui bahwasanya setiap amalan yang tidak dikehendaki dengannya wajah Alloh dan tidak mencocoki perintah-Nya itu tertolak. Dan setiap orang yang punya maksud tapi tidak ditolong oleh Alloh, maka dia itu terhalangi dari tujuan-tujuannya. Karena dirinya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar selain Alloh, maka dia menyembah Alloh dengan memurnikan agama untuk-Nya sambil mohon pertolongan pada Alloh untuk ibadah, dalam keadaan beriman pada penciptaan-Nya dan perintah-Nya, pada taqdir-Nya dan syariat-Nya, maka dia mohon pertolongan pada Alloh untuk menjalankan ketaatan pada-Nya, dan bersyukur pada Alloh atas pertolongan tadi, dan dia mengetahui bahwasanya ibadah tadi adalah karunia dari Alloh kepadanya, dan memohon pertolongan pada Alloh dari kejelekan dirinya sendirinya, dan dari kejelekan-kejelekan amalannya, dan dia mengetahui bahwasanya kejelekan yang menimpanya adalah dari dirinya sendiri, disertai dengan ilmunya bahwasanya segala sesuatu adalah dengan taqdir dan ketetapan Alloh, dan bahwasanya Alloh memiliki hujjah yang tandas terhadap para makhluq-Nya, dan bahwasanya Alloh dalam penciptaan-Nya dan perintah-Nya itu memiliki hikmah yang tandas dan rohmat yang sempurna.” (“Majmu’ul Fatawa”/16/hal. 64-65).

Kemudian Asy Syaikh Yahya حفظه الله menyebutkan beberapa dalil yang menunjukkan pada janji Alloh bagi orang yang mengikuti jalan-Nya dalam mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan bahwasanya Alloh itu tidak menyia-nyiakan pahala orang yang memperbagus amalan. Tidak ada di dalamnya serpihan aqidah Mu’tazilah, dan hanya saja beliau menyebutkan dalil-dalil harapan sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dan para imam رحمهم الله. Awal ucapan menunjukkan kepada apa yang beliau maksudkan. Dan akhir ucapan juga menunjukkan kepada yang demikian itu. Asy Syaikh حفظه الله berkata: Apa yang terjadi pada ahli ahwa, yang berupa sikap menabrak-nabrak, itu adalah disebabkan oleh terjadinya kekurangan pada mereka untuk mencari kebenaran dan mencapai kebenaran. Soalnya jika tidak demikian, barangsiapa mencari kebenaran dia akan mendapatkannya.

 “Dan Robb kalian berfirman: berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi doa kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku mereka akan masuk ke Jahannam dalam keadaan hina.” Selesai.

            Dan ucapan Asy Syaikh حفظه الله: “Salman رضي الله عنه dulu adalah Majusi, termasuk dari penyembah api, dan beliau mencari kebenaran, dan terus-menerus berpindah dari satu agama ke agama yang lain sampai Alloh memberinya petunjuk kepada Islam dan mati sebagai seorang Shohabiy” itu menunjukkan tidak cukupnya sekedar mencari kebenaran, akan tetapi Alloh itulah yang memberinya petunjuk, dan Alloh menjaga keislaman beliau sepanjang hidup beliau sampai meninggal di atas Islam dan sebagai shohabat semoga Alloh meridhoi beliau dan seluruh Shohabat semuanya.

            Asy Syaikh حفظه اللهtelah mengumpulkan antara dorongan untuk melakukan sebab-sebab mendapatkan hidayah sambil berpegang pada sebab yang terbesar yaitu Alloh, dengan berdoa kepada-Nya dan beriman bahwasanya beliau mengabulkan doanya. Dan telah lewat penukilan beliau untuk firman Alloh ta’ala: “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Dan ini semua benar-benar menyelisihi jalan Mu’tazilah. Akan tetapi hizbiyyun semisal Arofat Al Bashiriy, Abdulloh Al Bukhoriy, dan Luqman Ba Abduh tidak tahu.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan hakikat ucapan Qodariyyah Majusiyyah bahwasanya Alloh ta’ala bukanlah Robb bagi perbuatan-perbuatan para makhluk hidup, dan perbuatan mereka tidak masuk ke dalam Rububiyyah Alloh. Bagaimana Rububiyyah-Nya mencakup perkara yang tidak masuk ke dalam kodrat dan kehendak-Nya dan penciptaan-Nya sementara keumuman pujian untuk-Nya itu menuntut pujian untuk-Nya dikarenakan ketaatan para makhluk-Nya, karena Dia itulah Yang menolong mereka untuk melaksanakan ketaatan tadi dan memberikan taufiq pada mereka untuk melaksanakan ketaatan tadi? Dan Alloh itulah yang menghendaki (menaqdirkan) ketaatan itu dari mereka, sebagaimana Dia berfirman di beberapa tempat dari kitab-Nya:

﴿وماتشاءونإلاأنيشاءالله

“Dan tidaklah kalian menghendaki kecuali dengan kehendak Alloh.”

Maka Dia itu terpuji karena Dia menginginkan (keinginan yang sifatnya adalah taqdir) ketaatan tadi kepada mereka tadi, dan menjadikan mereka mengerjakannya, dengan taqdir-Nya dan kehendak-Nya. Maka pada hakikatnya Dia itulah Yang terpuji karena ketaatan mereka tadi. Sementara menurut para Qodariyyah Mu’tazilah mereka itulah yang terpuji karena ketaatan tadi, dan hanya milik merekalah pujian karena mengerjakan ketaatan tadi, dan bukan milik Alloh pujian atas perbuatan ketaatan tadi menurut mereka. Dan menurut mereka bukanlah milik Alloh pujian atas pahala dan ganjaran yang diberikan-Nya karena ketaatan tadi. Adapun yang pertama: adalah karena ketaatan tadi adalah murni mereka sebagai pelakunya, bukan dengan pertolongan Alloh. Adapun yang kedua: karena pahala tadi memang wajib Alloh berikan pada mereka sebagaimana wajibnya seorang penyewa untuk membayar gaji pegawai yang disewanya. Maka pahala tadi adalah hak murni mereka yang wajib Alloh bayarkan pada mereka.

            Dan di dalam firman Alloh: “Dan hanya kepada-Mu sajalah kami mohon pertolongan” ada bantahan yang jelas terhadap para Qodariyyah Mu’tazilah tadi, karena minta tolongnya mereka kepada-Nya itu hanyalah terjadi dari sesuatu yang ada di tangan-Nya, dan di bawah qodrat dan kehendak-Nya. Maka bagaimana orang yang di tangannya sendirilah perbuatan itu minta tolong, sementara dia sendirilah yang mengadakannya, jika dia menghendaki dia akan mengadakannya, dan jika dia tidak menghendaki maka dia tidak akan mengadakannya, bagaimana dia minta tolong pada Dzat Yang perbuatan tadi tidak ada di tangan-Nya, dan tidak masuk di dalam qodrat dan kehendak-Nya? Dan di dalam firman-Nya: “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus” juga ada bantahan terhadap mereka, karena hidayah yang mutlak dan sempurna itu mengharuskan dihasilkannya ihtida (upaya untuk menjalankan petunjuk tadi). Andaikata hidayah tadi tidak di tangan Alloh ta’ala semata, bukannya di tangan mereka, niscaya mereka tidak memohonnya dari-Nya. Dan hidayah itu mengandung bimbingan, penjelasan, taufiq dan pemberian kemampuan untuk menjalankannya, dan Alloh menjadikan mereka menjalankan petunjuk tadi. Dan bukanlah yang mereka minta itu sekedar penjelasan dan petunjuk semata sebagaimana yang diduga oleh Qodariyyah, karena hidayah sebatas ini semata tidak mengharuskan orang tadi mendapatkan taufiq dan tidak menyelamatkannya dari kehinaan. Hidayah sebatas tadi (penjelasan dan petunjuk) juga didapatkan oleh selain mereka dari kalangan orang-orang kafir, yang lebih menyukai kebutaan daripada taufiq, dan membeli kesesatan dengan petunjuk.”

(selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 62-63/Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

            Apa kaitan antara Qodariyyah, Majusiyyah dan Mu’tazilah?

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan barangsiapa mengakui syariat, perintah dan larangan, kebaikan dan keburukan, tapi tidak mengakui taqdir, dan penciptaan amalan-amalan sebagaimana itu adalah aqidah Mu’tazilah, maka dia adalah termasuk Qodariyyah Majusiyyah yang menyerupai orang-orang Majusiy. Dan Mu’tazilah punya banyak sekali penyerupaan dengan orang-orang Majusiy dan Yahudiy.” (“Majmu’ul Fatawa”/16/hal. 238).

            Maka jika engkau telah mengetahui ini, maka engkau harus mengetahui bahwasanya ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Apa yang terjadi pada ahli ahwa, yang berupa sikap menabrak-nabrak, itu adalah disebabkan oleh terjadinya kekurangan pada mereka untuk mencari kebenaran dan mencapai kebenaran. Soalnya jika tidak demikian, barangsiapa mencari kebenaran dia akan mendapatkannya” itu tidak menyendiri (memisahkan diri) dari kehendak Alloh, karena awal ucapan dan akhir perkataan menunjukkan sikap bernaung dan memohon pada Alloh, disertai dengan pemenuhan syarat-syarat yang dijadikan Alloh sebagai sebab untuk dihasilkannya akibat, yaitu taufiq dan menepati kebenaran.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka urusan ini semuanya adalah milik Alloh. Dan pujian itu semuanya adalah milik-Nya, dan kebaikan itu semuanya adalah di kedua tangan-Nya. Dan tidak ada sedikitpun bersama hamba dari dirinya sama sekali. Bahkan Alloh itulah yangmemberikan sebab-sebabnya dan hasil-hasilnya, dan Dia yang menjadikan sebab tadi sebagai sebab, dan Dia memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya dan menghalanginya dari orang yang dikehendaki-Nya. Jika Dia menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya, Dia akan memberinya taufiq untuk menghabiskan kemampuannya dan mencurahkan kerja kerasnya untuk berharap dan takut kepada-Nya, karena kedua perkara ini adalah bahan dasar taufiq. Maka sesuai kadar tegaknya rasa harap dan takut kepada-Nya di dalam hati itulah dihasilkannya taufiq.” (“Syifaul ‘Alil”/hal. 107).

            Maka ucapan syaikh kami Yahya حفظه الله adalah masuk dalam bab kecerdasan (الكيس), yaitu upaya menjalankan sebab yang bermanfaat yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah, bukan dalam bab pemastian untuk menepati kebenaran tanpa taufiq dari Alloh. Lebih-lebih lagi Syaikh telah menghiasai ucapan beliau tadi dengan sikap bernaung dan memohon pada Alloh.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan kecerdasan itu adalah melaksanakan sebab-sebab yang Alloh ikat dengannya akibat-akibat yang bermanfaat bagi hamba dalam kehidupan dunianya dan akhiratnya. Maka ini membuka amalan kebaikan.” (“Zadul Ma’ad”/2/hal. 325).

            Maka barangsiapa menyalahkan langkah Asy Syaikh ini, maka sesungguhnya dirinya itulah yang bodoh terhadap syariat. Jika dia bersikeras dengan kesesatannya maka hendaknya dia menyalahkan para imam yang menempuh jalan yang benar ini.

            Dari Hudzaifah رضي الله عنه yang berkata:

يامعشرالقراءاستقيموافقدسبقتمسبقابعيدا،فإنأخذتميميناوشمالالقدضللتمضلالابعيدا.

“Wahai para pembaca Al Qur’an, istiqomahlah kalian, karena dengan itu sungguh kalian telah jauh mendahului. Tapi jika kalian mulai menyimpang ke kanan dan ke kiri sungguh kalian tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (riwayat Al Bukhoriy (7282)).

            Maka apakah kalian berkata bahwasanya Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه terpengaruh oleh Mu’tazilah Qodariyyah karena beliau memakai kalimat pasti tanpa mengucapkan “insya Alloh” atau “dengan seidzin Alloh” atau yang semisal itu?

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله di dalam kitab “Al Wasithiyyah” yang disyaroh oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله berkata: “Barangsiapa mempelajari Al Qur’an dalam rangka mencari petunjuk darinya, akan jelaslah baginya jalan kebenaran.” (hal. 35/cet.“Darul Atsar”).

            Maka apakah kalian berkata bahwasanya Syaikhul Islam رحمه الله terpengaruh oleh Mu’tazilah Qodariyyah karena beliau memakai kalimat pasti tanpa mengucapkan “insya Alloh” atau “dengan seidzin Alloh” atau yang semisal itu?

            Syaikhul Islam رحمه الله tidak bermaksud memastikan bahwasanya Barangsiapa mempelajari Al Qur’an dalam rangka mencari petunjuk darinya, akan jelaslah baginya jalan kebenaran, sama saja dengan kehendak Alloh atau tanpa kehendak-Nya. Hanya saja beliau memusatkan pembicaraan bahwasanya termasuk dari sebab-sebab taufiq adalah mempelajari Al Qur’an dalam rangka mencari petunjuk darinya, akan tetapi para mubtadi’ah menjauh dari sebab ini sehingga mereka tersesat.

            Asy Syaikh Sholih Alusy Syaikh حفظه الله berkata: “Oleh karena itulah maka Asy Syaikh mengingatkan dirimu kepada prinsip ini dengan perkataan beliau: “Barangsiapa mempelajari Al Qur’an dalam rangka mencari petunjuk darinya, akan jelaslah baginya jalan kebenaran.” Sementara jalan ahli kalam dalam menetapkan adanya Alloh itu mereka ambil dari ahli manthiq, dan bukan dari Al Qur’an, jalan yang beraneka ragam.” (“Syarhul ‘Aqidatil Wasithiyyah”/1/hal. 385).

            Asy Syaikh Sholih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Dan barangsiapa mempelajari Al Qur’an” yaitu: memikirkannya dan merenungkan hidayah yang ditunjukkan olehnya, “akan jelaslah baginya jalan kebenaran.” Yaitu: jelaslah untuknya jalan kebenaran. Dan mempelajari Al Qur’an itulah yang menyenangkan dari pembacaannya.  Alloh ta’ala berfirman:

﴿كِتَابٌأَنزَلْنَاهُإِلَيْكَمُبَارَكٌلِّيَدَّبَّرُواآيَاتِهِوَلِيَتَذَكَّرَأُوْلُواالأَلْبَابِ﴾

 “Ini Adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, kitab yang diberkahi, agar mereka mempelajari ayat-ayat, dan agar orang-orang yang berpandangan tajam menjadi sadar dan ingat.”

            Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَفَلايَتَدَبَّرُونَالْقُرْآنَأَمْعَلَىقُلُوبٍأَقْفَالُهَا﴾

“Maka apakah mereka tidak mempelajari Al Qur’an? Ataukah di atas hati-hati mereka ada penutup?”

﴿أَفَلَمْيَدَّبَّرُواالْقَوْلَ﴾

“Apakah mereka tidak mempelajari perkataan tersebut?”

(selesai dari “Syarhul Aqidatil Wasithiyyah”/Asy Syaikh Al Fauzan/hal. 74).

            Maka tidaklah dikatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Fauzan حفظه الله mengikuti aqidah Mu’tazilah –sesuai batas pandangan dusta Al Bashiriy, Luqman Ba Abduh dan yang lainnya- akan tetapi yang beliau maksudkan adalah seperti yang kami sebutkan tadi.

            Seperti itu pula ucapan syaikh kami Yahya حفظه الله bahwasanya kejujuran dalam mencari dan mencurahkan perhatian dalam menelusuri kebenaran itu adalah termasuk dari sebab datangnya taufiq, tapi para ahli ahwa kurang dalam melakukan itu sehingga mereka tidak tertolong, sebagai hikmah dari Alloh dan keadilan dari-Nya. Dan bukanlah ucapan beliau itu mengandung keinginan untuk memisahkan diri dari kehendak Alloh.

            Adapun kedustaan Arofat –dan diikuti oleh orang-orang fasiq semisal Abdulloh Al Bukhoriy dan Luqman Ba Abduh- terhadap Asy Syaikh Yahya: “… pastilah (لا بد) dia akan mendapatkannya.” Maka Al Hajuriy menetapkan ini.

            Ketahuilah bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظهالله tidak mengucapkan (pastilah (لابد) dia akan mendapatkannya.) Hanyalah orang-orang fajir dan fasiq tadi dan yang lainnya yang membikin kedustaan atas nama beliau. Dalam hadits Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:

« … وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».

“… dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).

            Aku tambahkan lagi: Jika kalian melewati contoh yang tersebut dalam “Syarh Ibni Aqil” (4/hal. 295):

(وإنتستقمتنجح)،

“Dan jika engkau istiqomah, engkau akan beruntung.”

Aku hampir yakin bahwasanya kalian tidak akan menuduh bahwa Ibnu Aqil رحمه الله terkena aqidah Mu’tazilah Qodariyyah, karena ucapan itu adalah ucapan yang telah dikenal dan dipahami maksudnya, bahwasanya mayoritas orang yang istiqomah di atas kebenaran akan beruntung di dunia dan akhirat, tanpa bermaksud memastikan atau melepaskan diri dari kehendak Alloh. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه اللهberkata: “Hukum-hukum itu hanyalah untuk perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 378/cet. Ar Risalah).

Demikian pula ucapan Syamsud Din Al Jaujariy Asy Syafi’iy رحمه الله:

(إنتستذكرْوتجتهدْتنجحْ).

“Jika engkau berusaha menghapal dan bekerja keras, engkau akan beruntung.” (“Syarh Syudzuridz Dzahab”/2/hal. 625).

            Maka bagaimana kalian menghujat Asy syaikh Yahya حفظه الله?

            Adapun jika berkata: (وإن تستقم لا بد أن تنجح) “Jika engkau istiqomah maka tidak bisa tidak, pastilah engkau akan beruntung.” Tiada keraguan bahwasanya itu salah dan mencocoki Mu’tazilah. Akan tetapi Asy Syaikh Yahya حفظه الله tidak mengucapkan itu. Beliau itu hanyalah menempuh jalan yang telah terkenal di kalangan manusia dan ulama mereka.

            Abbas bin Hasan رحمه الله berkata: “Terus-menerus orang-orang berkata sebagiannya pada yang lainnya –dengan fi’il mudhori’-:

(تهتمبعملكوتجيده،وتحرصعليه،تفلح،ويكثررزقك).

“Konsentrasilah dengan amalanmu dan perbaguslah, serta bersemangatlah padanya, niscaya engkau beruntung dan rizqimu banyak.”

Dan seorang ayah berkata dan menasihati anaknya:

(تذاكروتلتفتإلىدروسكتنجح).

“Ulang-ulanglah pelajaranmu, dan palingkan dirimu pada pelajaran-pelajaranmu niscaya engkau sukses.”

Maksudnya adalah –dengan fi’il amr-: Konsentrasilah dengan amalanmu dan perbaguslah, serta bersemangatlah padanya, niscaya engkau beruntung. Ulang-ulanglah pelajaranmu, dan palingkan dirimu pada pelajaran-pelajaranmu niscaya engkau sukses.”

(“An Nahwul Wafi”/4/hal. 367).

            Adapun para pengekor hawa nafsu semisal Arofat, Luqman Ba Abduh dan yang lainnya, dikarenakan kerasnya fitnah di dalam hati mereka, mereka tidak kenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar kecuali hawa nafsu yang diserap. Bahkan mereka menjadikan yang ma’ruf menjadi munkar, dan yang mungkar menjadi ma’ruf. Dari Hudzaifah رضي الله عنه berkata:

سمعترسولاللهصلىاللهعليهوسلميقول:«تعرضالفتنعلىالقلوبكالحصيرعوداعودا،فأيّقلبأشربهانكتفيهنكتةسوداء،وأيقلبأنكرهانكتفيهنكتةبيضاء،حتىتصيرعلىقلبين:علىأبيضمثلالصفافلاتضرهفتنةمادامتالسماواتوالأرض،والآخرأسودمرباداكالكوزمجخيا،لايعرفمعروفاولاينكرمنكراإلاماأشربمنهواه».(أخرجهمسلم(144)).

Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Fitnah-fitnah dipaparkan kepada hati-hati bagaikan tikar sehelai demi sehelai. Hati manapun yang menyerapnya, akan dititikkan padanya titik hitam. Dan hati manapun yang mengingkarinya, akan dititikkan padanya titik putih. Sampai menjadi dua macam hati: hati yang putih seperti batu yang halus, tidak membahayakannya fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan yang lain adalah hati yang hitam kelabu seperti belanga dalam kondisi terbalik, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali apa yang diserap dari hawa nafsunya.” (HR. Muslim (144)).

            Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyebutkan dua jenis hati, dan cocok untuk ahli ahwa adalah pemilik hati yang sakit yang Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentangnya: “Hati yang jika disodorkan padanya fitnah, dia akan menyerapnya sebagaimana spon menyerap air. Maka dititikkanlah di dalam hatinya titik hitam. Dan terus-menerus dia menyerap setiap fitnah yang disodorkan padanya sehingga dia menghitam dan terbalik. Dan itulah makna sabda beliau: “seperti belanga dalam kondisi terbalik” yaitu tertelungkup dan terbalik. Maka jika hati itu telah menghitam dan terbalik, disodorkanlah padanya dua penyakit itu, dua penyakit yang berbahaya yang saling melemparkan penderitanya kepada kebinasaan. Yang pertama adalah: keserupaan di benaknya antara perkara yang makruf dengan perkara yang mungkar, sehingga dia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar. Dan bisa jadi dia dikuasai oleh penyakit ini sampai dia meyakini bahwasanya yang ma’ruf itu adalah munkar, dan yang munkar itu adalah ma’ruf, yang sunnah itu adalah bid’ah dan bid’ah itu adalah sunnah, yang benar adalah batil, dan yang batil adalah benar. Yang kedua adalah: dia menguasakan hawa nafsunya terhadap apa yang dibawa oleh Rosul صلى الله عليه وآله وسلم  dan dia menaati hawa nafsunya dan mengikutinya.” (“Ighotsatul Lahfan”/hal. 12).

            Maka langkah Asy Syaikh Yahya حفظه الله itu ma’ruf di kalangan para imam رحمهم الله. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka banyak sekali kesalahan bani Adam adalah disebabkan oleh kurangnya mereka dalam mencari kebenaran, bukan karena ketidaksanggupan yang mutlak.” (“Jami’ur Rosail”/1/hal. 241).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan barangsiapa merenungkan sejarah Nabi صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat beliau dalam membikin manusia condong mendekat pada Islam dengan berbagai jalan, jelaslah baginya hakikat perkara ini.” (“Ahkam Ahlidz Dzimmah”/hal. 248).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “… dan kedua kelompok itu keliru dalam syariat dengan kekeliruan yang buruk dan parah. Hanyalah mereka itu terkena bencana tadi karena kurangnya mereka dalam mengenal syariat yang Alloh turunkan kepada Rosul-Nya dan Alloh syariatkan di antara para hamba-Nya.” (“Ath Thuruqul Hukmiyyah”/hal. 151).

            Tiada seorang imampun yang menghukumi para imam tadi bahwasanya mereka terkena paham Mu’tazilah Qodariyyah.

Bab Duapuluh Tujuh:

Tuduhan Mereka Bahwasanya Asy Syaikh Yahya Terkena Aqidah Asy’ariyyah

            Luqman Ba Abduh berkata tentang Asy Syaikh Yahya: “Dan beberapa aqidah Al Hajuriyyang mencocoki aqidah Qodariyyah, Asy’ariyyah dan yang lainnya.” Barangkali itu bagian dari ucapan Abdulloh Al Bukhoriy tentang Asy Syaikh Yahya: “… Ini adalah bagian dari sejumlah apa yang ada pada orang itu yang berupa penyelewengan-penyelewenganaqidah dan ilmiyyah yang buruk yang tidak dibicarakan oleh anak-anak dan bocah tauhid serta bayi-bayi tauhid.”  “… tahu tentang bencana-bencana, kehinaan-kehinaan, kesesatan-kesesatan dan penyelewengan-penyelewengan yang ada pada Yahya.”“Maka aku tidak tahu perkara-perkara yang orang ini terjatuh ke dalamnya, yang mana andaikata kumpulan perkara tersebut dibagi-bagikan kepada masing-masing individu niscaya setiap orang dari mereka akan dihukumi sebagai mubtadi.’ Bagaimana sementara perkara-perkara tadi telah terkumpul pada Al Hajuriy?”

            Itu semua diambil dari apa yang ditulis oleh Arofat Al Bashiriy: “Prinsip keenam: Al Hajuriy menganggap bagus bait syair di dalam “As Safariniyyah” yang berjalan di atas madzhab Asya’iroh yang mana si penyair  di situ membolehkan Alloh untuk menyiksa para hamba tanpa dosa. Al Hajuriy berkata dalam “As Safariniyyah” (hal. 152): si penyair berkata:

(وجاز للمولى أن يعذب الورى # من غير ما ذنب ولا جرم جرى)

“Dan boleh bagi Al Maula untuk menyiksa para makhluk tanpa ada dosa ataupun kejahatan yang berlangsung.”

Lebih bagus dari bait ini adalah ucapan Ath Thohawiy رحمه الله dalam matan “Ath Thohawiyyah”: “Alloh memberikan petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya, menjaga, dan memberikan keselamatan, sebagai karunia, … dan jika Dia merohmati mereka maka itu dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya.”

            Maka jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh- adalah sebagai berikut, dengan metode yang sama dengan metode yang terdahulu dalam menjawab:

            Sesungguhnya Arofat memotong-motong ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله sesuai dengan hawa nafsunya.

Syaikh kami Yahya حفظه الله berkata dalam syarh beliau terhadap kalimat syair tadi: “Lebih bagus dari bait ini adalah ucapan Ath Thohawiy رحمه الله dalam matan “Ath Thohawiyyah”: “Alloh memberikan petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya, menjaga, dan memberikan keselamatan, sebagai karunia, dan menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya, dan menelantar, dan menguji sebagai bentuk keadilan. Dan mereka semua berbolak-balik di dalam kehendak-Nya, di antara karunia-Nya dan keadilan-Nya.”Selesai (dari ucapan Ath Thohawiy).

Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَايُسْأَلُعَمَّايَفْعَلُوَهُمْيُسْأَلُونَ﴾ [الأنبياء: 23]،

“Dia tidak ditanya terhadap apa yang dikerjakan-Nya, dan mereka itu yang ditanya.”

Dan Alloh subhanahu wa ta’ala Maha Pemaaf dan Maha Dermawan. Alloh subhanah berfirman:

﴿وَلَوْلَافَضْلُاللهعَلَيْكُمْوَرَحْمَتُهُمَازَكَىمِنْكُمْمِنْأَحَدٍأَبَدًاوَلَكِنَّاللهيُزَكِّيمَنْيَشَاءُ﴾ [النور: 21].

“Dan andaikata bukan karena karunia Alloh dan rohmat-Nya kepada kalian niscaya tiada yang suci dari kalian seorangpun selamanya. Akan tetapi Alloh mensucikan orang yang Dia kehendaki.”

Maka karunia adalah milik Alloh ta’ala –sebelum dan sesudahnya-, maka andaikata Alloh menyiksa para hamba semuanya, tidaklah Dia zholim terhadap mereka. Dan jika Dia merohmati mereka, maka itu dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya.”

Selesai dari “Al Minnatul Ilahiyyah Bi Syarhil ‘Aqidatis Safariniyyah”/hal. 152-153/cet. Darul Kitab Was Sunnah).

            Arofat dan para pewarisnya menduga bahwasanya Asy Syaikh Yahya dengan ucapan beliau: “(أحسن) Lebih bagus dari bait ini adalah ucapan Ath Thohawiy رحمه الله…” bahwasanya beliau berkeyakinan bahwasanya ucapan As Safariniy itu bagus.

            Maka ketahuilah bahwasanya fi’l tafdhil (dengan wazan أفعل) terkadang memang menunjukkan persekutuan dalam asal makna disertai dengan adanya nilai tambah untuk salah satu pihak, sebagaimana diketahui bersama. Tapi terkadang juga menunjukkan pada asal makna pada salah satu pihak tanpa yang lainnya. Dan ini juga dikenal Al Qur’an dan As Sunnah. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَصْحَابُالْجَنَّةِيَوْمَئِذٍخَيْرٌمُسْتَقَرًّاوَأَحْسَنُمَقِيلً﴾ [الفرقان: 24].

“Para penduduk Jannah pada hari itu lebih baik tempat menetapnya, dan lebih bagus tempat istirahatnya.”

            Al Imam As Sa’diy رحمه الله berkata: “Yaitu: tempat menetap mereka di Jannah dan istirahat mereka yaitu qoilulah (istirahat siang), itulah tempat menetap yang bermanfaat, dan istirahat yang sempurna, karena mencakup kesempurnaan yang tidak dicampuri oleh kekeruhan, berbeda dengan penduduk Neraka, karena sesungguhnya Jahannam itu adalah tempat menetap dan istirahat yang paling buruk. Dan ini masuk dari bab penggunaan af’al tafdhil dalam perkara yang pihak yang lain tidak punya sifat dari itu sedikitpun, karena tiada kebaikan pada tempat istirahat dan menetap bagi penduduk Neraka. Seperti firman Alloh ta’ala:

﴿آللهخَيْرٌأَمَّايُشْرِكُونَ﴾.

“Apakah Alloh yang lebih baik ataukah sesuatu yang mereka persekutukan?”

Selesai dari “Taisirul Karimir Rohman” (hal. 580).

            Adapun berdasarkan cara pandang ahli ahwa semisal Arofat Al Bashiriy dan Luqman Ba Abduh: tempat tinggal penduduk Neraka ada kebaikannya, tempat istirahat mereka bagus, dan bahwasanya berhala-berhala musyrikun itu ada kebaikan pada mereka.

            Dan semisal itu pula firman Alloh ta’ala:

﴿قُلْهَلْأُنَبِّئُكُمْبِشَرٍّمِنْذَلِكَمَثُوبَةًعِنْدَاللهمَنْلَعَنَهُاللهوَغَضِبَعَلَيْهِوَجَعَلَمِنْهُمُالْقِرَدَةَوَالْخَنَازِيرَوَعَبَدَالطَّاغُوتَأُولَئِكَشَرٌّمَكَانًاوَأَضَلُّعَنْسَوَاءِالسَّبِيلِ﴾ [المائدة: 60].

“Katakanlah: maukah kuberitahukan pada kalian perkara yang lebih jelek balasannya dari itu di sisi Alloh? Yaitu orang yang dilaknat oleh Alloh, dimurkai oleh-Nya, dan Dia menjadikan sebagian dari mereka sebagai monyet-monyet dan babi-babi serta penyembah thoghut. Mereka itulah yang lebih jelek kedudukannya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

            Ayat ini berdasarkan cara pandang ahli ahwa semisal Arofat Al Bashiriy dan Luqman Ba Abduh menunjukkan bahwasanya: keadaan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat رضي الله عنهم itu buruk, hanya saja kondisi Yahudi lebih buruk lagi daripada kondiri mereka. Dan makna ini buruk sekali, akan tetapi kebanyakan ahli ahwa itu berbicara tanpa memikirkan sejauh mana bahaya ucapan mereka, dengan sebab kezholiman mereka terhadap Ahlussunnah. Makna yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam رحمهم الله.

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam ayat ini: “Dan ini masuk dalam bab mempergunakan af’al tafdhil dalam perkara yang pihak lainnya tidak bersekutu dalam perkara tadi, seperti firman-Nya: “Para penduduk Jannah pada hari itu lebih baik tempat menetapnya, dan lebih bagus tempat istirahatnya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 144).

            Contohnya lagi juga adalah: firman Alloh ta’ala:

﴿اعْدِلُواهُوَأَقْرَبُلِلتَّقْوَى﴾ [المائدة: 8].

“Dan berbuat adillah sesungguhnya dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Karena itulah Alloh berfirman: “Dan berbuat adillah sesungguhnya dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.” Yaitu: keadilan kalian itu lebih dekat kepada ketaqwaan daripada jika meninggalkan keadlilan. Fi’ilnya menunjukkan pada mashdar yang mana dhomir kembali kepadanya, sebagaimana yang semisal dengan itu dari Al Qur’an dan yang lainnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿وَإِنْقِيلَلَكُمُارْجِعُوافَارْجِعُواهُوَأَزْكَىلَكُمْ﴾ [ النور : 28 ].

“Dan jika dikatakan pada kalian kembalilah, maka kembalilah kalian, yang demikian itu lebih suci untuk kalian.”

Dan firman-Nya: “dia itu lebih dekat kepada ketaqwaan.” Masuk dalam bab penggunaan af’al tafdhil dalam posisi yang tidak ada pada sisi yang lain sedikitpun dari sifat tadi, seperti firman-Nya: “Para penduduk Jannah pada hari itu lebih baik tempat menetapnya, dan lebih bagus tempat istirahatnya.” Dan seperti ucapan sebagian Shohabiyyat pada Umar: :Engkau lebih bengis dan lebih keras daripada Rosululloh صلى الله عليه وسلم . (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 62).

            Ayat ini berdasarkan cara pandang ahli ahwa semisal Arofat Al Bashiriy dan Luqman Ba Abduh menunjukkan bahwasanya: kezholiman itu dekat pada ketaqwaan, hanya saja keadilan itu lebih dekat pada ketaqwaan daripada kezholiman. Dan makna ini buruk sekali dan batil.

            Dan semisal dengan itu firman Alloh ta’ala:

﴿الْمَالُوَالْبَنُونَزِينَةُالْحَيَاةِالدُّنْيَاوَالْبَاقِيَاتُالصَّالِحَاتُخَيْرٌعِنْدَرَبِّكَثَوَابًاوَخَيْرٌأَمَلًا﴾ [الكهف: 46].

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Dan amalan yang lestari yang sholih itu lebih baik pahalanya di sisi Robbmu dan lebih baik harapannya.”

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Yaitu: bahwasanya amalan-amalan sholihah ini untuk pelakunya harapannya lebih utama daripada apa yang diharapkan oleh pemilik harta dan anak-anak, karena mereka dengan amal sholih tadi mendapatkan di akhirat lebih utama daripada apa yang diharapkan oleh orang-orang kaya di dunia. Dan tidak ada di dalam perhiasan dunia kebaikan sehingga akhirat diutamakan di atasnya, akan tetapi pengutamaan ini berjalan di atas pola firman Alloh ta’ala: “Para penduduk Jannah pada hari itu lebih baik tempat menetapnya.” (“Fathul Qodir”/4/hal. 396).

            Dan semisal dengannya adalah firman Alloh ta’ala:

﴿لَاتَقُمْفِيهِأَبَدًالَمَسْجِدٌأُسِّسَعَلَىالتَّقْوَىمِنْأَوَّلِيَوْمٍأَحَقُّأَنْتَقُومَفِيهِ﴾ [التوبة: 108].

“Janganlah engkau sholat di dalamnya (masjid dhiror) selamanya. Masjid yang dibangun di atas asas ketaqwaan sejak awal harinya itu lebih berhak untuk engkau sholat di dalamnya.”

            Masjid dhiror itu tidak punya hak untuk ditegakkan sholat di situ. Akan ayat ini memakai pola bahasa yang ma’ruf (telah dikenal). Atau dia itu memang berjalan di atas bab af’al tafdhil, akan tetapi dinilai dari sudut pandang orang yang membangun masjid itu, karena dia berkeyakinan bahwa masjidnya berhak juga untuk ditegakkan sholat di situ, walaupun sebenarnya dia itu batil.

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dan kata “ahaqq” (lebih benar atau lebih berhak) itu adalah af’al dari “haq” (benar/berhak). Dan af’al itu tidak masuk kecuali di antara dua perkara yang berserikat, salah satunya punya kelebihan daripada yang lainnya di dalam makna yang mereka berdua berserikat di dalamnya. Maka masjid Dhiror sekalipun batil, tak punya kebenaran di dalamnya, tapi keduanya berserikat di dalam kebenaran dari sisi keyakinan orang yang membangunnya, atau dari sisi keyakinan orang yang mengira bahwasanya sholat di dalamnya itu boleh karena dia itu tetap masjid juga. Akan tetapi salah satu keyakinan tadi itu batil secara hakikatnya di sisi Alloh, dan yang lainnya benar lahiriyyah dan bathiniyyah. Dan semisal ini adalah firman Alloh ta’ala: “Para penduduk Jannah pada hari itu lebih baik tempat menetapnya, dan lebih bagus tempat istirahatnya.” Dan telah diketahui bahwasanya kebaikan itu dijauhkan dari neraka, akan tetapi berjalan di atas keyakinan setiap kelompok bahwasanya kelompoknya itu di atas kebaikan, dan bahwasanya tempat kembalinya itu juga baik, karena setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/8/hal. 261).

            Dan contoh lain yang masuk dalam pembahasan kita adalah: hadits Anas رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ثلاثمنكنفيهوجدطعمالإيمانمنكانيحبالمرءلايحبإلاللهومنكاناللهورسولهأحبإليهمماسواهماومنكانأنيلقىفيالنارأحبإليهمنأنيرجعفيالكفربعدأنأنقذهاللهمنه».

“Ada tiga perkara yang barangsiapa perkara tadi ada padanya, dia akan mendapatkan citarasa keimanan: orang yang mencintai seseorang, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Alloh. Dan barangsiapa Alloh dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada keduanya. Dan barangsiapa lebih senang untuk dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkannya darinya.” (HR. Muslim (43) dengan lafazh ini. Asalnya dari riwayat Al Bukhoriy (16)).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Adapun apa yang dituntut oleh lafazh hadits bahwasanya perkara tadi (dilemparkan ke dalam api) dia sukai karena perkara yang lain (agar tidak kembali kepada kekufuran). Maka yang pertama: ini tidak harus terjadi –berdasarkan pendapat ahli Kufah yang tidak memandang bahwasanya af’al tafdhil itu selalu mengharuskan adanya perserikatan-. Maka bisa saja menurut mereka dikatakan: “Es itu lebih dingin daripada api.” Adapun menurut pendapat ahli Bashroh, telah berdatangan nash-nash yang banyak dari Al Kitab dan As Sunnah yang tidak mungkin adanya perserikatan di dalam kalimat tadi. Dan mereka menta’wilkan af’al dengan fa’il. Maka demikian pula kalimat tadi dita’wilkan di sini.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/1/hal. 29).

            Dan termasuk darinya adalah hadits:

«مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ الله، مَا كَانَ مِنْ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ الله فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ، قَضَاءُ الله أَحَقُّ، وَشَرْطُ الله أَوْثَقُ، وَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ». (أخرجه البخاري (2168) ومسلم (1504) عن عائشة رضي الله عنها).

“Ada apa orang-orang membikin syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabulloh? Syarat apapun yang tidak ada di dalam Kitabulloh maka dia itu batil, sekalipun seratus syarat. Keputusan Alloh itu lebih benar, dan syarat Alloh itu lebih kuat, dan hanyalah wala itu bagi orang yang memerdekakan.” (HR. Al Bukhoriy (2168) dan Muslim (1504) dari Aisyah رضي الله عنها).

            Al Qodhiy Badruddin Al ‘Ainiy رحمه الله berkata: “Sabda beliau: “Keputusan Alloh itu lebih benar” yaitu: hukum Alloh lebih berhak untuk diikuti daripada syarat-syarat yang menyelisihinya. Sabda beliau: “dan syarat Alloh itu lebih kuat” yaitu: dengan mengikuti batasan-batasannya yang Alloh tetapkan. Dan di sini af’al tafdhil bukan pada babnya, karena tiada perserikatan antara kebenaran dan kebatilan. Dan sering af’al datang bukan untuk sebagai perbandingan.” (“Umdatul Qori”/20/hal. 59).

            Dan ini telah ma’ruf di ucapan orang-orang Arob sebagaimana kalian lihat. Dan termasuk di antaranya adalah hadits Abu Usaid As Sa’idiy رضي الله عنه:

… فقالوالها:أتدرينمنهذا؟قالت:لا.قالوا:هذارسولاللهصلىاللهعليهوسلمجاءليخطبك.قالت:كنتأناأشقىمنذلك.(أخرجهالبخاري(5637) ومسلم (2007)).

 “… maka mereka berkata pada wanita itu: “Tahukah engkau siapa ini?” Dia menjawab: “Tidak.” Mereka berkata: “Ini adalah Rosululloh صلى الله عليه وسلم, datang untuk melamarmu.” Dia berkata: “Saya lebih celaka daripada untuk mendapatkan itu.” (HR. Al Bukhoriy (5637) dan Muslim (2007) dari Aisyah رضي الله عنها).

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Ucapannya: Dia berkata: “Saya lebih celaka daripada untuk mendapatkan itu.” Bukanlah af’al tafdhil di sini sesuai lahiriyyahnya, tapi maksudnya adalah penetapan kecelakaan untuk wanita itu karena luput darinya pernikahan dengan Rosululloh صلى الله عليه وسلم.” (“Fathul Bari”/10/hal. 99).

            Dalil-dalil tentang pola ini banyak sekali, dan orang yang pintar cukup dengan sedikit isyarat.

            Kesimpulan: bahwasanya pola ini banyak dipakai dan telah terkenal dari ucapan orang Arob, dikenal oleh orang-orang Arob dan yang lainnya juga yang mempelajari bahasa Arob. Hanya saja ahlul ahwa terhalangi dari taufiq dengan sebab hawa nafsu mereka.

            Kemudian sesungguhnya Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah membantah As Safariniy, dan menyebutkan sebagian dalil-dalil yang menunjukkan batilnya ucapan Asya’iroh dalam bab ini –yaitu bolehnya Alloh untuk menyiksa para hamba tanpa karena suatu dosa-.

            Syaikh kami Yahya رحمه الله berkata: “Dan telah berlalu penyebutan hadits qudsiy:

«ياعباديإنيحرمتالظلمعلىنفسيفجعلتهبينكم محرما فلا تظالموا».

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman, lalu Aku menjadikannya harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.”

            Maka Alloh memerintahkan untuk berbuat keadilan dan menolong kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَيَعْلَمُونَأَنَّاللههُوَالْحَقُّالْمُبِينُ﴾ [النور: 25]،

“Dan mereka mengetahui bahwasanya Alloh itulah Yang Mahabenar dan Maha Menjelaskan.”

            Dan Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

﴿إِنَّاللهيَأْمُرُبِالْعَدْلِوَالْإِحْسَانِ﴾ [النحل: 90]،

“Sesungguhnya Alloh memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”

            Dan Alloh تبارك وتعالى berfirman:

﴿وَإِذَاقُلْتُمْفَاعْدِلُواوَلَوْكَانَذَاقُرْبَى﴾ [الأنعام: 152]،

“Dan jika kalian berkata maka adillah, sekalipun dari sanak kerabat.”

            Dan Alloh جل في علاه berfirman:

﴿يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواكُونُواقَوَّامِينَللهشُهَدَاءَبِالْقِسْطِ﴾ [المائدة: 8].

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penegak persaksian dengan keadilan karena Alloh.”

Maka Alloh سبحانه وتعالى mensucikan diri-Nya dari menyiksa orang yang tidak berhak disiksa. Dan dalil-dalil tentang itu banyak, di antaranya adalah: dalil yang datang dalam “Shohihain” dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشركوا به شيئا».

“Hak Alloh terhadap para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya. Dan hak para hamba terhadap Alloh adalah Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” [HR. Al Bukhoriy (2856) dan Muslim (30)].

            Dan ini adalah hak yang Alloh jadikan terhadap diri-Nya sendiri sebagai karunia untuk mereka. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِلَّابَلَاغًامِنَاللهوَرِسَالَاتِهِوَمَنْيَعْصِاللهوَرَسُولَهُفَإِنَّلَهُنَارَجَهَنَّمَخَالِدِينَفِيهَاأَبَدًا﴾ [الجن: 23].

“Hanya saja itu adalah penyampaian dari Alloh dan risalah-Nya. Dan barangsiapa durhaka pada Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh dia akan mendapatkan api Jahannam, mereka kekal di dalamnya selamanya.”

            Dan Alloh سبحانه berfirman:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾.

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa: 115).

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿فَإِنْلَمْيَسْتَجِيبُوالَكَفَاعْلَمْأَنَّمَايَتَّبِعُونَأَهْوَاءَهُمْوَمَنْأَضَلُّمِمَّنِاتَّبَعَهَوَاهُبِغَيْرِهُدًىمِنَالله﴾ [القصص: 50]،

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu maka ketahuilah bahwasanya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Alloh?” (QS. Al Qoshshoh 50).

Alloh subhanah wata’ala berfirman:

﴿فلما زَاغُواأَزَاغَاللهقُلُوبَهُمْوَاللهلَايَهْدِيالْقَوْمَالْفَاسِقِينَ﴾ [الصف: 5].

 “Maka manakala mereka menyimpang, Alloh simpangkan hati-hati mereka. Dan Alloh tidak memberikan petunjuk pada kaum yang fasiq.”

            Maka ini menunjukkan bahwasanya Alloh عز وجل tidak menyiksa kecuali orang yang berhak mendapatkan siksaan.”

Selesai ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dalam “Al Minnatul Ilahiyyah Bi Syarhil ‘Aqidatis Safariniyyah” (hal. 152-154/cet. Darul Kitab Was Sunnah).

            Ini adalah dalil yang jelas bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله membantah ucapan As Safariniy رحمه الله yang mengandung ucapan Asy’ariyyah. Akan tetapi beliau membantah As Safarini dengan adab yang indah karena Al ‘Allamah As Safariniy رحمه الله adalah sunniy salafiy, hanya saja jarang sekali orang yang selamat dari pengaruh Asy’ariyyah di berbagai zaman.

            Dan dalil-dalil yang dipaparkan oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله adalah janji bagi pelaku kebaikan, ancaman terhadap pelaku kejelekan, dan penjelasan bahwasanya Alloh telah mewajibkan terhadap diri-Nya sendiri rohmat, dan mengharomkan diri-Nya sendiri untuk berbuat zholim, maka Dia tidak membolehkan diri-Nya untuk menyiksa seorang hamba tanpa suatu dosa. Ini semua adalah bantahan terhadap Asya’iroh, bukan seperti yang disangka oleh Arofat Al Bashiriy dan para pewarisnya bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله berdalilkan dengan dalil-dalil Asya’iroh. Arofat Al Bashiriy memotong-motong kalimat-kalimat Asy Syaikh Yahya حفظه الله , jauh sekali dari kejujuran dan keadilan.

            Adapun ucapan dia terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Kemudian dia menambah basah tanah liat ketika mencocoki si penyair dalam ucapannya:

فكلمامنهتعالىيجمل# لأنهعنفِعْلِهِلايُسْأَلُ،

“Maka segala apapun yang datang dari-Nya ta’ala adalah bagus, karena Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.”

Lalu dia – Asy Syaikh Yahya حفظه الله – berkata: maknanya adalah: bahwasanya segala apapun yang datang dari Alloh ta’ala adalah bagus, karena Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.”

Berbeda dengan Ibnu Utsaimin yang mengetahui tempat terselisihan Sunniy dengan Asy’ariy. Beliau telah mengingkari bait ini semuanya. Dan sebelum beliau adalah para imam dakwah sebagaimana dalam komentar-komentar mereka terhadap As Safariniyyah.”

            Maka jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh semata- adalah:

            Ucapan Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله tentang itu secara keseluruhan tertulis di kitab “Syarhul ‘Aqidatis Safariniyyah” (hal. 266-268/cet. Dar Ibnil Jauziy). Beliau berbicara dengan bagus dan memberikan faidah.

            Akan tetapi apakah orang yang tidak menempuh metode beliau itu berhak untuk dihinakan dan dicerca sebagaimana yang dikerjakan oleh Arofat Al Hizbiy terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله?

            Adapun ucapan Arofat: “Dan sebelum beliau adalah para imam dakwah sebagaimana dalam komentar-komentar mereka terhadap As Safariniyyah.”

            Kami katakan –dengan taufiq dari Alloh-:

            Bahkan syarh Asy Syaikh Yahya dan bantahan beliau terhadap As Safariniy رحمه الله itu lebih bagus dan lebih jelas daripada syarh dan bantahan Asy Syaikh Al Allamah Muhammad bin Abdil Aziz bin Mani’ حفظه الله. Apakah engkau mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Allamah Muhammad bin Abdil Aziz bin Mani’ حفظه الله tidak mengetahui tempat perselisihan sunniy-asy’ariy? Rujuklah dengan jujur dan adil dalam kitab “Jami’ Syuruhil ‘Aqidatis Safariniyyah” (hal. 383-384/cet. Daru Ibnil Haitsam).

            Adapun Asy Syaikh Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim رحمه الله beliau mendatangkan bantahan yang kuat terhadap ucapan As Safariniy رحمه الله : “Dan boleh bagi Al Maula untuk menyiksa para makhluk tanpa ada dosa ataupun kejahatan yang berlangsung.”Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan. Adapun syarh beliau terhadap ucapan As Safariniy رحمه الله : “Maka segala apapun yang datang dari-Nya ta’ala adalah bagus, karena Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.” Alur beliau dekat sekali dengan alur Asy Syaikh Yahya حفظه الله. Apakah engkau mengatakan bahwasanya Asy Syaikh Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad bin Qosim رحمه الله tidak mengetahui tempat perselisihan sunniy-asy’ariy? Rujuklah dengan jujur dan adil dalam kitab “Jami’ Syuruhil ‘Aqidatis Safariniyyah” (hal. 388-389/cet. Daru Ibnil Haitsam).

            Adapun Asy Syaikh Al Allamah Sholih Al Fauzan حفظه الله beliau terang-terangan menyatakan bahwasanya ucapan As Safariniy رحمه الله : “Dan boleh bagi Al Maula untuk menyiksa para makhluk tanpa ada dosa ataupun kejahatan yang berlangsung”adalah berjalan di atas madzhab Asya’iroh. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan. Dan barangsiapa merenungkan syarh Asy Syaikh Yahya حفظه الله terhadap ucapan As Safariniy رحمه اللهtersebut, dia akan mendapati dengan taufiq dari Alloh bahwasanya Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah mendatangkan dalil-dalil yang banyak untuk membantah As Safariniy itu, lebih banyak daripada pendalilan yang didatangkan oleh Asy Syaikh Al Fauzan. Maka kenapa Arofat bergaya buta terhadap kebaikan itu?

Adapun syarh Asy Syaikh Al Fauzan حفظه الله terhadap ucapan As Safariniy رحمه الله : “Maka segala apapun yang datang dari-Nya ta’ala adalah bagus, karena Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya” maka di dalamnya ada bantahan yang bagus terhadap ucapan As Safariniy رحمه اللهitu. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

Rujuklah semuanya dengan jujur dan adil dalam kitab “Jami’ Syuruhil ‘Aqidatis Safariniyyah” (hal. 428-430/cet. Daru Ibnil Haitsam).

Inilah jawabanku, jawaban orang yang berusaha tetap pada objektivitas, keadilan dan kejujuran, jauh dari fanatisme insya Alloh, dan hanya dengan pertolongan Alloh saja kita mendapatkan taufiq.

Dan ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Maknanya adalah: bahwasanya segala apapun yang datang dari Alloh ta’ala adalah bagus, karena Dia tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya.” Itu adalah ucapan yang benar, karena semua perbuatan Alloh adalah bagus.

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Robb kita سبحانه وتعالى telah meliputi segala sesuatu dengan ilmu, qodrat-Nya, hukum-Nya, dan mencakup segala sesuatu dengan rohmat-Nya dan ilmu-Nya, maka tiada satu dzarrohpun di langit dan bumi, dan tiada satu maknapun kecuali dia itu sebagai saksi bagi Alloh ta’ala akan kesempurnaan ilmu-Nya dan rohmat-Nya, dan kesempurnaan qodrat dan hikmah-Nya. Dan tidaklah Dia menciptakan makhluk dengan sia-sia, dan tidak pula melakukan sesuatu sekedar untuk bermain-main. Bahkan Dialah Al Hakim (Yang meletakkan segalanya tepat pada tempatnya) dalam perbuatan dan perkataan-Nya سبحانه وتعالى , kemudian sebagian dari hikmah-Nya ada yang diperlihatkan-Nya pada sebagian makhluk-Nya, dan sebagiannya dikhususkan untuk diri-Nya sendiri سبحانه ilmunya.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 197).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Dia سبحانه sebagaimana tersifati dengan seluruh kesempurnaan, maka Dia tersucikan dari setiap kekurangan dan cacat. Maka sebagaimana Dia tersifati pada setiap perbuatan-Nya dengan setiap pujian, hikmah dan tujuan yang terpuji, maka Dia juga tersucikan dalam perbuatan-Nya itu dari setiap aib, kezholiman dan keburukan. Dan dengan ini Dia berhak untuk dipuji pada setiap keadaan, dan terpuji pada perkara yang tidak disukai sebagaimana Dia terpuji pada perkara yang disukai.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/2/hal. 316).

Maka ucapan Asy Syaikh Yahya itu benar, bahwasanya perbuatan Alloh itu bagus semuanya, hanya saja Asy Syaikh حفظه الله –demikian pula sebagian ulama جزاهم الله خيرا – tidak membahas didatangkannya huruf Fa (فـ) yang dilakukan oleh As Safariniy رحمه الله untuk menunjukkan benarnya aqidah Asy’ariyyah bahwasanya Alloh boleh saja menyiksa para hamba-Nya tanpa dosa apapun. Akan tetapi Asy Syaikh Yahya حفظه الله secara umum telah membantah ucapan Asya’iroh tadi dalam bab tersebut, maka beliau mencukupkan diri dengan itu.

Kesimpulan: jalan para ulama Sunnah dalam mensyaroh dan membantah bait syair tadi bermacam-macam, sebagiannya lebih baik daripada yang lain, dan masing-masing mendatangkan faidah-faidah dalam mengajari umat, menolong kebenaran, dan menghantam kebatilan-kebatilan semampunya. Dan ini adalah sifat manusia. Dan semangat para ahli ahwa untuk memvonis bahwa Asy Syaikh Yahya حفظه الله terkena Asy’ariyyah gagal.

﴿وَأَنَّاللهلَايَهْدِيكَيْدَالْخَائِنِينَ﴾ [يوسف: 52].

“Dan bahwasanya Alloh tidak memberi petunjuk pada tipu daya para pengkhianat.”

Adapun ucapan Arofat al fasiq: “Dan perkataan Al Hajuriy dalam As Safariniyyah hal. 153: “Maka Alloh سبحانه وتعالى mensucikan diri-Nya dari menyiksa orang yang tidak berhak disiksa…” Lalu dia mendatangkan sekumpulan dalil-dalil. Aku –Arofat- katakana: barangsiapa mengira bahwasanya ucapan tadi bisa memberikan syafaat untuk Al Hajuriy, maka dia itu bodoh, tidak mengetahui tempat perselisihan antara kita dengan Asya’iroh. Maka ini adalah ucapan yang dikatakan oleh para Asya’iroh. Sesungguhnya perselisihan antara kita dengan mereka adalah pada bolehnya penyiksaan tadi, bukan pada terjadinya penyiksaan tadi. Oleh karena itulah maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam Minhajus Sunnah (3/90) berkata: “Sesungguhnya perselisihan mereka adalah pada masalah bolehnya penyiksaan tadi, bukan pada terjadinya penyiksaan tadi.”.”

Kami –dengan taufiq dari Alloh semata- menjawab:“Bahwasanya Asya’iroh dan seluruh Qodariyyah Jabriyyah meyakini bahwasanya Alloh ta’ala mustahil secara dzat-Nya untuk berbuat zholim. Adapun Ahlussunnah mereka meyakini bahwasanya Alloh mampu untuk berbuat itu, akan tetapi Dia mengharomkan diri-Nya berbuat zholim, dan mensucikan diri-Nya. Hadits yang disebutkan oleh Syaikh kami Yahya حفظه الله : hadits qudsiy:

«ياعباديإنيحرمتالظلمعلىنفسيفجعلتهبينكم محرما فلا تظالموا».

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman, lalu Aku menjadikannya harom di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi.” Adalah dalil Ahlussunnah untuk membantah Asya’iroh. Dan Alloh ta’ala itu terpuji dari segala sisi, di antaranya adalah Dia itu terpuji karena dia meninggalkan kezholiman padahal Dia mampu untuk berbuat itu. Adapun Asya’iroh maka mereka itu merampas pujian dari Alloh dalam sisi ini tanpa mereka sadari, karena sesuatu yang mustahil berbuat zholim secara dzatnya, dia tidak terpuji dengan sebab itu. Maka tidaklah dia terpuji atas sesuatu yang dia secara dzatnya mustahil untuk berbuat itu.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan perkara yang tidak mungkin ada qodrat (kemampuan) di situ, tidak pantas dia dipuji karena dia tidak menginginkannya. Tapi hanyalah yang terpuji itu jika dia meninggalkan perbuatan-perbuatan dalam keadaan dia sanggup mengerjakannya. Maka dengan ini diketahuilah bahwasanya Alloh itu punya kesanggupan untuk mengerjakan perbuatan yang Dia mensucikan diri dari perbuatan tadi seperti kezholiman dan yang lainnya, bahwasanya Dia tidak melakukan kezholiman. Dan dengan itu menjadi sahlah firman-Nya: “sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman,” dan bahwasanya tahrim (pengharoman) adalah pelarangan, dan itu tidak boleh untuk perkara yang mustahil secara dzatnya. Maka tidak pantas untuk dikatakan: (Aku mengharomkan atas diri-Ku atau Aku melarang diri-Ku untuk menciptakan sesuatu yang semisal dengan diri-Ku), atau menjadikan para makhluk sebagai pencipta, yang perkara-perkara mustahil yang lain.” (“Majmu’ul Fatawa”/18/hal. 144).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun Qodariyyah Jabriyyah maka definisi kezholiman menurut mereka adalah sesuatu yang tidak punya hakikat. Bahkan itu adalah sesuatu yang mustahil secara dzatnya, yang tidak masuk ke dalam kemampuan Alloh. Maka Ar Robb ta’ala tidak mampu menurut mereka untuk melakukan sesuatu yang mereka namakan sebagai kezholiman sampai dikatakan: “Meninggalkan kezholiman, dan mengerjakan keadilan.” –sampai pada ucapan beliau:- dan berdasarkan ucapan mereka, maka Alloh itu tidak terpuji karena meninggalkan kezholiman, karena sesuatu itu tidak dipuji karena meninggalkan sesuatu yang memang mustahil secara dzatnya. Dan tiada faidahnya firman-Nya: “sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman,” atau mereka mengira maknanya adalah: “Sesungguhnya aku mengharomkan terhadap diriku melakukan perkara yang tidak masuk ke dalam kesanggupan-Ku.” Yaitu perkara-perkara yang mustahil. Dan tiada faidahnya firman-Nya:

﴿فلايخافظلماولاهضما

“Maka dia tidak takut terzholimi ataupun dikurangi haknya.”

Karena setiap orang itu tidak takut terhadap perkara yang memang mustahil secara dzatnya untuk terjadi. Dan tiada faidahnya pada firman-Nya:

﴿ومااللهيريدظلماللعباد﴾،

“Dan Alloh tidak menginginkan kezholiman kepada para hamba-Nya.”

Dan juga pada firman-Nya:

﴿وماأنابظلامللعبيد﴾،

Dan Aku tidak menzholimi para hamba.

Maka berlakunya hukum-Nya pada para hamba-Nya adalah dengan kekuasaan-Nya, dan keadilan-Nya pada mereka adalah dengan pujian-Nya. Dan Dia سبحانه hanya milik-Nya sajalah kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha mampu atas segala sesuatu.”

(selesai dari “Syifaul ‘Alil”/hal. 511-512/cet. Darul Hadits).

            Dan demikian pula ucapan syaikh kami Yahyaحفظه الله  : Alloh subhanah wata’ala berfirman:

﴿فلما زَاغُواأَزَاغَاللهقُلُوبَهُمْوَاللهلَايَهْدِيالْقَوْمَالْفَاسِقِينَ﴾ [الصف: 5].

 “Maka manakala mereka menyimpang, Alloh simpangkan hati-hati mereka. Dan Alloh tidak memberikan petunjuk pada kaum yang fasiq.”

            Maka ini menunjukkan bahwasanya Alloh عز وجل tidak menyiksa kecuali orang yang berhak mendapatkan siksaan.” Selesai.

            Ini adalah keyakinan Ahlussunnah, berbeda dengan Asya’iroh, karena hukuman terhadap orang yang zholim dengan menjadikan dia itu sesat dan menyimpang adalah bagian dari keadilan Alloh, sebagaimana pahala orang sholih dengan memberikan taufiq kepadanya dan meluruskanya adalah karunia dari Alloh, dan bahwasanya Dia itu Al Hakim, meletakkan segalanya tepat pada tempatnya yang sesuai untuknya. Dan ini berbeda dengan Asya’iroh, pengingkar hikmah, yang mengatakan bolehnya Alloh menyiksa orang sholih tanpa dosa apapun, dan memberikan pahala pada penjahat tanpa dia berbuat kebaikan apapun.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Seluruh ketetepan-Nya adalah adil untuk para hamba-Nya karena Dia meletakkan untuknya pada tempatnya yang tidak bagus pada tempat yang lain, karena Dia meletakkan hukuman dan meletakkan ketetapan dengan sebabnya dan dengan perkara yang memang mengharuskan itu di tempat itu, karena sesungguhnya Alloh سبحانه sebagaimana Dia membalas dengan hukuman, maka sungguh Dia juga menghukum dengan taqdir dosa itu sendiri, sehingga jadilah hukuman yang berupa terjadinya dosa itu adalah hukuman terhadap dosa yang sebelumnya karena sesungguhnya dosa itu sebagiannya menyeret sebagian yang lain. Dan dosa yang sebelumnya adalah hukuman bagi lalainya hati terhadap Robbnya, dan berpalingnya dia dari Robbnya. Sementara kelalaian dan keberpalingan tadi ada pada asal cetakan dan pertumbuhan. Barangsiapa Alloh menginginkan untuk menyempurnakan dia Alloh memusatkan konsentrasi hati orang itu pada-Nya, menariknya kepada-Nya, Dia memberinya ilham untuk lurus, dan memberikan padanya sebab-sebab kebaikan. Tapi barangsiapa tidak diinginkan oleh-Nya untuk menyempurnakan, Dia meninggalkannya bergelimang dengan tabiatnya dan membiarkan antara dirinya dengan nafsunya karena dia tidak pantas untuk mendapatkan penyempurnaan, dan bukanlah tempat dia itu pantas dan menerima kebaikan untuk diletakkan di situ. Dan di sini puncak dari ilmu para hamba tentang taqdir.

            Adapun bahwasanya Alloh ta’ala menjadikan orang yang ini bagus dan diberinya dengan apa yang pantas untuknya, sementara orang yang itu tidak bagus, dan mengghalanginya dari perkara yang tidak pantas untuknya, maka yang demikian itu merupakan keharusan dari Rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya, ilmu-Nya dan hikmah-Nya, karena sesungguhnya Dia سبحانه adalah pencipta perkara-perkara dan lawan-lawannya. Dan ini adalah tuntutan dari kesempurnaan-Nya dan kejelasan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya sebagaimana telah lewat penetapannya.

            Maksudnya adalah: bahwasanya Alloh itu adalah Dzat Yang paling adil dalam ketetapan-Nya dengan sebab, dan ketetapan-Nya dengan akibat-Nya. Maka tidaklah Dia menetapkan pada hamba-Nya dengan suatu taqdir kecuali dia itu terjadi pada tempatnya yang memang tidak pantas untuknya perkara yang lain, karena Alloh itulah Hakim Yang Adil Yang Mahakaya Yang Mahaterpuji.”

(“Syifaul ‘Alil”/hal. 512-513/cet. Darul Hadits).

            Maka perbedaan antara keyakinan Asya’iroh dan keyakinan Ahlussunnah dalam masalah keadilan Alloh adalah jelas: Asya’iroh berkeyakinan bahwasanya penyiksaan tanpa dosa itu adalah keadilan, demikian pula mengerjakan seluruh perkara yang mungkin adalah keadilan juga bagi Alloh. Dan melakukan perkara yang mustahil adalah kezholiman.

            Adapun Ahlussunnah, maka mereka meyakini bahwasanya Alloh mampu berbuat apapun, akan tetapi Dia telah mewajibkan terhadap diri-Nya sendiri keadilan, hikmah, dan mengharomkan atas diri-Nya kecurangan dan kezholiman serta kesia-siaan. Maka tidak muncul dari diri-Nya kecuali keadilan, keutamaan, dan hikmah, Dia memberikan pahala pada yang berhak mendapatkannya karena telah memenuhi syarat-syarat-Nya, sebagai karunia dari-Nya, dan menghukum orang yang berhak mendapatkannya karena melanggar larangan-larangan-Nya, sebagai keadilan dari-Nya. Dia telah mewajibkan diri-Nya untuk meletakkan semuanya pada tempatnya. Dengan itu dan sebab-sebab yang lainlah seluruh yang di langit dan di bumi memuji-Nya.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata tentang Asya’iroh: “Dan mereka memegang pendapat ini dengan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti ucapan mereka: “Sesungguhnya Alloh ta’ala boleh bagi-Nya untuk menyiksa para Nabi-Nya, para Rosul-Nya, para malaikat-Nya, para wali-Nya, dan orang-orang yang taat pada-Nya, dan mengekalkan mereka di dalam siksaan yang pedih, dan memuliakan para musuh-Nya dari kalangan orang-orang kafir, musyrikin, setan, dan mengkhususkan mereka dengan jannah-Nya dan kemuliaan-Nya. Dan kedua perkara ini adalah keadilan dan boleh untuk-Nya” –sampai pada ucapan beliau:- “Dan mereka juga komitmen bahwasanya boleh bagi Alloh untuk menyiksa para bayi yang tidak punya dosa sama sekali itu, dan mengekalkan mereka ke dalam Jahim. Dan terkadang mereka berpendapat bahwasanya itu terjadi.” (“Miftah daris Sa’adah”/2/hal. 107).

            Adapun Ahlussunnah berkata bahwasanya keadilan itu adalah: meletakkan sesuatu pada tempatnya, memuliakan orang yang mulia, dan menghinakan orang yang jahat.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata menukilkan ucapan Ahlussunnah: “Yang benar, yang ditunjukkan oleh nash-nash adalah: bahwasanya kezholiman yang Alloh haromkan terhadap diri-Nya sendiri dan Dia mensucikan diri-Nya dari kezholiman tadi secara perbuatan dan keinginan, adalah apa yang ditafsirkan oleh Salaful Ummah dan para imamnya, yaitu: Alloh tidak memikulkan pada seseorang kejelekan orang lain, dan tidak menyiksanya dengan dosa yang tidak dikerjakannya dan tidak diupayakannya. Dan juga tidak mengurangi kebaikannya. Maka dia tidak diberi pahala dengan kebaikannya tadi atau sebagiannya, jika kebaikannya itu diiringi atau dikenai perkara yang menuntut pembatalan kebaikan tadi atau yang menuntut qishosh bagi orang yang terzholimi. Inilah kezholiman yang Alloh tiadakan rasa takut dari para hamba-Nya dengan firman-Nya:

﴿ومنيعملمنالصالحات،وهومؤمنفلايخافظلماولاهضما

Dan barangsiapa mengamalkan amalan sholih dalam keadaan dia mukmin, maka dia tidak takut terzholimi ataupun dikurangi haknya.”

            Para salaf dan ahli tafsir berkata: “Dia tidak takut akan dipikulkan kepadanya kejelekan orang lain, dan juga dikuranginya kebaikannya yang dipikulnya. Maka inilah makna kezholiman yang bisa dipahami oleh akal dan makna tidak takutnya dia.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 107).

            Maka kebenaran itu bersama Ahlussunnah. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui bahwasanya Alloh سبحانه itu adalah Hakim Yang Adil, tidak meletakkan perkara-perkara kecuali pada tempat-tempatnya. Meletakkannya bukan pada tempatnya itu tidak mustahil secara dzatnya, bahkan dia itu mungkin, akan tetapi Alloh tidak melakukannya, karena Dia tidak menginginkannya, bahkan Dia membencinya dan tidak menyukainya, karena Dia telah mengharomkan itu atas diri-Nya.” (“Majmu’ul Fatawa”/18/hal. 145).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka meninggalkan kezholiman itulah yang namanya keadilan, bukannya keadilan itu adalah mengerjakan setiap perbuatan yang mungkin dilakukan. Dan berdasarkan inilah tegaknya hisab, dan diletakkannya timbangan-timbangan keadilan, dan ditimbangnya kebaikan dan kejelekan, dan derajat-derajat yang tinggi bertingkat-tingkat bagi pemiliknya, juga lapisan-lapisan yang rendah itu bertingkat-tingkat bagi pemiliknya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إناللهلايظلممثقالذرة

“Sesungguhnya Alloh tidak menzholimi keukuran dzarrohpun.”

Yaitu: tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan, sekalipun seukuran dzarroh. Maka ini menunjukkan bahwasanya penyia-nyiaannya dan tidak dibalasnya kebaikan itu padahal tidak ada faktor yang membatalkannya merupakan suatu kezholiman yang Alloh meninggikan diri dari perbuatan itu. Dan telah diketahui bahwasanya Alloh mampu untuk tidak membalas kebaikan, tapi Alloh mensucikan diri itu karena kesempurnaan keadilannya dan hikmah-Nya. Dan ayat ini sama sekali tidak mengandung makna yang bisa dipahami selain itu.

            Dan Alloh ta’ala:

﴿منعملصالحافلنفسهومنأساءفعليهاوماربكبظلامللعبيد

“Barangsiapa beramal sholih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jelek, maka akan menimpa dirinya sendiri, dan Aku tidak menzholimi para hamba.”

Yaitu: tidak menghukum hamba tanpa dirinya berbuat jelek, dan Dia tidak menghalanginya mendapatkan pahala dari kebaikannya. Dan telah diketahui bahwasanya itu semua mampu dikerjakan oleh Alloh ta’ala.”

(“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 108).

            Kesimpulannya: Alloh itu mampu untuk berbuat zholim sebagaimana Dia mampu untuk berbuat adil, bahkan Dia mampu terhadap segala sesuatu. Akan tetapi Dia meninggikan Diri dan mensucikan Diri dari menzholimi seorangpun. Dan meninggalkan kezholiman yang dimampui itulah yang namanya keadilan yang Alloh mensifati diri-Nya dengan itu. Dan inilah makna ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Maka Alloh سبحانه وتعالى mensucikan diri-Nya dari menyiksa orang yang tidak berhak disiksa.”Alloh mensucikan diri-Nya dari melakukan sesuatu yang buruk yang mungkin yang dimampui, bukan dari sesuatu yang mustahil terjadi. Maka ucapan Asy Syaikh Yahya حفظه الله adalah ucapan sunniiy salafiy, dan dalil-dalil yang beliau datangkan adalah dalil-dalil Ahlussunnah, akan tetapi Arofat memang sesuai dengan ucapan dirinya sendiri: “bodoh, tidak mengetahui tempat perselisihan antara kita dengan Asya’iroh.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan bahwasanya dia tidak berhak kecuali apa yang diusahakannya, dan bahwasanya inilah keadilan yang Alloh mensucikan diri-Nya dari menyelisihinya.

﴿وقالالذيآمنياقومأنيأخافعليكممثليومالأحزابمثلدأبقومنوحوعادوثمودوالذينمنبعدهمومااللهيريدظلماللعباد

“Dan orang yang beriman itu berkata: Wahai kaumku, sungguh aku takut kalian akan tertimpa seperti hari Ahzab, seperti adzab yang menimpa kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang setelah mereka. Dan Alloh tidak menginginkan kezholiman kepada para hamba-Nya.”

Dia menjelaskan bahwasanya hukuman ini bukanlah kezholiman dari Alloh kepada para hamba, akan tetapi itu adalah karena dosa-dosa mereka dan mereka berhak mendapatkannya. Dan telah diketahui bahwasanya perkara yang mustahil, yang tidak mungkin terjadi, dan tidak ada di bawah qodrat sama sekali itu tidak pantas dzat tadi tipuji dengannya, karena dia tidak menginginkannya dan tidak melakukannya. Dan tidak dipuji berdasarkan yang demikian itu. Dan hanyalah ada pujian dengan sebab meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dirinya memang mampu mengerjakannya tapi sengaja membersihkan diri dari perbuatan macam itu, karena kesempurnaannya, ketidakbutuhannya dan keterpujian dirinya. Dan berdasarkan ini sempurnalah ucapan Alloh:

«ياعباديإنيحرمتالظلمعلىنفسي».

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharomkan terhadap diri-Ku kezholiman,”

Dan nash-nash yang senada dengan itu.”

(selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 108).

Adapun perkataan Asy Syaikh Yahya حفظه الله :Alloh ta’ala berfirman:

﴿لَايُسْأَلُعَمَّايَفْعَلُوَهُمْيُسْأَلُونَ﴾ [الأنبياء: 23]،

Dia tidak ditanya terhadap apa yang dikerjakan-Nya, dan mereka itu yang ditanya.”

Itu bukan untuk memperkuat Asya’iroh, karena itu adalah Kalamulloh, dan Kalamulloh itu tidak menolong kecuali kebenaran, bukan untuk memperkuat kebatilan, akan tetapi maknanya adalah: bahwasanya Alloh itu dikarenakan kesempurnaan keadilan-Nya, hikmah-Nya, dan keutamaan kedermawanan-Nya, tidaklah Dia melakukan kecuali perbuatan yang sesuatu pada tempatnya dan indah dan terpuji, tanpa ada kecacatan di dalamnya dari sisi manapun, memberikan pahala pada orang yang berbuat kebaikan, menghukum orang yang berbuat kejelekan. Maka Dia tidak ditanya terhadap apa yang dikerjakan-Nya, berbeda dengan keadaan para hamba.

            Maka barangsiapa merenungkan perkataan Asy Syaikh Yahya حفظه الله dalam syaroh tersebut, tahulah dia bahwasanya beliau telah mendatangkan makna yang benar untuk ayat tersebut, dan jadilah itu bantahan terhadap Asya’iroh pengingkar hikmah.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan Dia Yang Mahasuci adalah Pencipta segala sesuatu, Robb dan Penguasa bagi segalanya, dan Dia dalam apa yang diciptakan-Nya punya hikmah yang mendalam, nikmat yang tercurah, dan rohmat yang umum dan khusus. Dan Dia tidak ditanya terhadap apa yang dikerjakan-Nya, dan mereka itu yang ditanya. Bukan karena sekedar kemampuan dan pemaksaan-Nya, tapi karena kesempurnaan ilmu-Nya, kemampuan-Nya, rohmat-Nya, dan hikmah-Nya. Maka sungguh Dia سبحانه وتعالى Hakim Yang Paling sempurna hikmah-Nya, Penyayang Yang paling sempurna kasih sayang-Nya, dan Dia lebih sayang pada para hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya, dan Dia telah memperbagus penciptaan segala sesuatu.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 79).

            Adapun perkataan Asy Syaikh Yahya حفظه الله: “Maka andaikata Alloh menyiksa para hamba semuanya, tidaklah Dia zholim terhadap mereka. Dan jika Dia merohmati mereka, maka itu dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya.”Ini bukanlah dalil untuk Asya’iroh jika diteliti. Dan tidaklah penyebutan ucapan itu menunjukkan bahwasanya orang yang menyebutkan itu adalah terpengaruh Asy’ariyyah, karena asal dari ucapan itu adalah dari hadits Nabi صلى الله عليه وسلم , maknanya diselewengkan oleh Asya’iroh.

Dan makna yang shohih adalah apa yang disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Andaikan Alloh menyiksa para penduduk langit-Nya dan bumi-Nya niscaya Dia berhak berbuat itu terhadap mereka, dan mereka memang pentas mendapatkan siksaan ketika disiksa, kareba amalan mereka tidak cukup untuk keselamatan mereka. Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

«لنينجىأحدامنكمعمله»

“Tidak akan salah seorang dari kalian bisa diselamatkan oleh amalannya.”

Mereka bertanya: “Apakah Anda juga demikian wahai Rosululloh?”

Beliau menjawab:

«ولاأناإلاأنيتغمدنياللهبرحمةمنهوفضل».

“Akupun demikian, kecuali bahwasanya Alloh meliputiku dengan rohmat dan karunia dari-Nya.”

Maka rohmat-Nya untuk mereka itu bukanlah bayaran dari amalan mereka ataupun juga sebagai harga untuk amalan mereka, karena rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka, sebagaimana dalam hadits itu sendiri:

«ولورحمهملكانترحمتهلهمخيرالهممنأعمالهم»

“Dan seandainya Dia merohmati mereka niscaya rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka,”

Yaitu: menggabungkan antara dua perkara dalam hadits ini bahwasanya Alloh andaikata Dia menyiksa mereka niscaya Dia menyiksa mereka karena mereka memang berhak disiksa, dan tidaklah Alloh menzholimi mereka, dan bahwasanya Dia andaikata merohmati mereka niscaya yang demikian itu adalah semata-mata karunia-Nya dan kedermawanan-Nya, karena rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka. Maka semoga sholawat dan salam Alloh tercurah pada orang yang ucapan tadi keluar dari bibirnya pertama kali, karena sungguh beliau adalah makhluk yang paling mengenal Alloh dan hak-Nya, dan paling mengetahui tentang-Nya, keadilan-Nya, karunia-Nya dan hikmah-Nya, dan apa saja yang menjadi hak Dia terhadap para hamba-Nya.

            Dan ketaatan para hamba semua itu tidaklah menjadi pembayaran untuk kenikmatan Alloh pada mereka, dan tidak setara dengan kenikmatan-Nya pada mereka. Bahkan tidak setara dengan sedikit dari kenikmatan-Nya itu. Maka bagaimana mereka dengan amalan mereka berhak menuntut agar Alloh menyelamatkan mereka sementara ketaatan orang yang taat itu tidak sebanding dengan satu kenikmatan dari kenikmatan-kenikmatan Alloh pada-Nya? Maka tersisalah seluruh kenikmatan itu menuntut dirinya untuk bersyukur, sementara sang hamba dengan kemampuannya tidak melaksanakan kewajiban dirinya yang menjadi hak Alloh terhadapnya? Maka seluruh hamba-Nya itu adalah di bawah pemaafan-Nya, rohmat-Nya dan karunia-Nya. Maka tiada seorangpun yang selamat dari mereka kecuali dengan maaf-Nya dan ampunan-Nya, dan tiada yang berhasil mendapatkan Jannah kecuali dengan karunia-Nya dan rohmat-Nya. Dan jika keadaan para hamba adalah demikian, maka andaikata Dia menyiksa mereka, niscaya Dia menyiksa mereka tanpa Dia zholim terhadap mereka. Bukan karena Dia berkuasa terhadap mereka karena mereka adalah milik Dia, tapi karena mereka memang berhak untuk disiksa. Dan andaikata Dia merohmati mereka pastilah yang demikian itu adalah dengan karunia-Nya, bukan karena amalan-alaman mereka.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 109).

            Ini adalah bantahan yang jelas terhadap Asya’iroh, dan peletakan hadits pada tempatnya.

Bab Duapuluh Delapan: Antara Istilah “Akhrojahu” Dan “Khorrojahu”

            Arofat Al Bashiriy telah mengejek Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam penggunaan ungkapan “Akhrojahu” (أخرجه) dan “Khorrojahu” (خرّجه), di sebagian tempat dalam kitab “Tahqiq Ishlahil Mujtama’”. Arofat berkata: “Al Muhaddits Al ‘Allamah, kemudian datang dalam hadits berkata: “Akhrojahu Abdurrohman bin Hasan dalam “Fathul Majid”.” Lihat pada si muhaddits ini, muhaddits yang pintar. Dia bilang “Akhrojahu Ibnu Katsir,” “Akhrojahu Al ‘Ijluniy” Di manakah engkau belajar, wahai Muhaddits? Asy Syaikh Muqbil? Beliau tidak di atas metode ini. Ini dia muhaddits yang benar-benar muhaddits asli. Bacalah kitab-kitab Asy Syaikh Muqbil dalam bidang hadits, dan bacalah kitab-kitab si bodoh ini, beda besar sekali antara orang yang Alloh عز وجل jadikan kitab-kitab beliau diterima umat, dengan orang tolol yang sok tahu.”

            Dan Abdulloh Al Bukhoriy mengikuti Arofat dalam serangan yang buruk itu dengan berkata: “Apakah kitab itu tadi adalah kitab rujukan dasa sehingga engkau merujuk kepadanya dan engkau berkata: “Abdurrohman bin Hasan dalam Fathul Majid”? Dia tak tahu makna takhrij.”

            Mereka berdua menjadikan perkara itu sebagai tangga untuk menghina Asy Syaikh Yahya حفظه الله.

            Jawaban kami –dengan upaya dan kekuatan pemberian dari Alloh- adalah:

            Dan Arofat telah dibantah oleh saudara kita yang mulia Abu Isa Ali bin Rosyid Al ‘Afriy حفظه الله dalam risalahnya “Muhaddits Khothir”, semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan. Dan saya mengambil faidah dari beliau dan saya tambahkan dalam jawaban ini beberapa tambahan jawaban yang lain yang Alloh bukakan untuk saya.

            Maka hendaknya orang-orang yang adil mengetahui bahwasanya perkara ini tidaklah harom ataupun makruh, lebih-lebih lagi bahwasanya sebagian ulama telah mendahului Asy Syaikh Yahya dengan ungkapan tadi, dan ulama yang lain tidak menjadikan hal itu sebagai sebab untuk menghina. Akan tetapi orang-orang tadi manakala terbongkar akan banyaknya penyelewengan manhajiyyah mereka, mereka berupaya untuk memalingkan perhatian manusia kepada perkara lain yang mereka namakan sebagai “Kesalahan-kesalahan Al Hajuriy” dengan harapan agar orang-orang lupa akan kebatilan-kebatilan para hizbiyyun tadi.

﴿وَقُلِالْحَمْدُللهسَيُرِيكُمْآيَاتِهِفَتَعْرِفُونَهَاوَمَارَبُّكَبِغَافِلٍعَمَّاتَعْمَلُونَ﴾ [النمل: 93].

“Dan ucapkanlah: segala pujian bagi Alloh dan Dia akan memperlihatkan pada kalian ayat-ayat-Nya sehingga kalian akan mengenalinya, dan Robbmu tidak lalai terhadap apa yang kalian amalkan.”

﴿إِنَّرَبَّكَلَبِالْمِرْصَادِ﴾ [الفجر: 14].

“Sesungguhnya Robbmu benar-benar mengawasi.”

            Maka dari sisi bahasa, perbedaan antara ikhroj (الإخراج) dan takhrij (التخريج) adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ar Roghib Al Ashfahaniy رحمه الله: “Ikhroj paling banyak untuk benda seperti:

(أنكممخرجون)

“Bahwasanya kalian akan dikeluarkan.”

Dan Alloh عز وجل berfirman:

(كماأخرجكربكمنبيتكبالحق)

“Sebagaimana Robbmu mengeluarkan engkau dari rumahmu dengan benar.”

(ونخرجلهيومالقيامةكتابا)

“Dan Kami akan mengeluarkan untuknya pada hari Kiamat sebuah kitab”

(أخرجواأنفسكم)

“Keluarkanlah nyawa-nyawa kalian.”

(أخرجواآللوطمنقريتكم)

“Keluarkanlah keluarga Luth dari kampung kalian.”

Dan dikatakan dalam penciptaan yang mana itu adalah bagian dari perbuatan Alloh ta’ala:

(واللهأخرجكممنبطونأمهاتكم)

“Dan Alloh mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu-ibu kalian.”

(فأخرجنابهأزواجامننباتشتى)

“Maka Kami mengeluarkan dengannya pasangan-pasangan dari berbagai macam tumbuhan.”

(نخرجبهزرعامختلفاألوانه)

“Kami mengeluarkan dengannya tanaman dengan warna-warna yang berbeda.”

Sedangkan takhrij paling banyak diucapkan dalam ilmu-ilmu dan produksi.”

(“Mufrodat Ghoribil Qur’an”/hal. 145).

            Dan dari segi istilah, Al Imam As Sakhowiy رحمه الله berkata: “Takhrij adalah: sang muhaddits mengeluarkan (ikhroj) hadits-hadits dari dalam juz-juz kitab, kitab-kitab daftar riwayat para masyayikh dan kitab-kitab yang lainnya dan memaparkan sanadnya dari riwayat-riwayat dirinya atau sebagian syaikhnya atau teman sejawatnya atau semisal itu, membicarakannya, dan menyebutkan rujukannya dari ulama yang meriwayatkannya dari kalangan pengarang kitab-kitab, dewan-dewan sambil menjelaskan badal, muwafaqoh, dan semisalnya dari istilah-istilah yang akan datang definisinya. Terkadang istilah ini dipakai secara meluas sampai pada sekedar pengeluaran, penyusunan dan penyebutan rujukan, serta menjadikan setiap jenis dikelompokkan sendiri-sendiri.” (“Fathul Mughits”/As Sakhowiy/3/hal. 318/cet. Maktabah As Sunnah).

            Al Imam Zakariyya Al Anshoriy رحمه الله berkata dalam definisi takhrij: “Yaitu sang muhaddits mengeluarkan (ikhroj) hadits-hadits dari dalam kitab-kitab, dan memaparkan sanadnya dari riwayat-riwayat dirinya atau syaikhnya atau teman-teman sejawatnya.” (“Fathul Mughits”/Al Anshoriy/hal. 263/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

            Al Imam Muslim رحمه الله berkata dalam muqoddimah Shohih beliau: “Kemudian kami insya Alloh akan mulai mentakhrij apa yang engkau minta, dan memulai menyusunnya berdasarkan syaratnya.” (“Shohih Muslim”/hal. 4).

            Asy Syaikh Al ‘Allamah Jamaluddin Al Qosimiy رحمه الله berkata: “Takhrij dalam lidah para ahli hadits punya dua makna: makna yang pertama: periwayatan hadits dengan sanadnya. Maka dikatakan misalkan: “Khorrojahul Bukhoriy dalam Shohih beliau.” Dan dikatakan: “Hadits ini termasuk dari takhrij Al Bukhoriy dalam Shohih beliau.” Dan yang dimaukan adalah bahwasanya beliau meriwayatkannya di dalam Shohih beliau secara bersanad. Maka kalimat “Khorrojahu” di sini sama dengan kalimat “Akhrojahu.” Dan dia dipakai dengan makna ini sejak dulu dan sekarang. Dan makna ini menurut generasi pertengahan dan generasi akhir bercabang darinya makna yang lebih khusus darinya, maka jadilah termasuk dari makna takhrij menurut mereka adalah: proses seorang muhaddits mengeluarkan (ikhroj) hadits-hadits dari juz-juz kitab, kitab-kitab daftar riwayat para masyayikh dan kitab-kitab yang lainnya dan memaparkan sanadnya dari riwayat-riwayat dirinya atau sebagian syaikhnya atau teman sejawatnya atau semisal itu, membicarakannya, dan menyebutkan rujukannya dari ulama yang meriwayatkannya dari kalangan pengarang kitab-kitab, dewan-dewan sambil menjelaskan badal, muwafaqoh, dan semisalnya dari jenis-jenis ketinggian yang nisbi. Dan terkadang pemakaian istilah ini diperluas pada sekedar proses ikhroj (pengeluaran). Dan jadilah makna ini tersebar dan terkenal di kalangan generasi pertengahan dan generasi akhir.” (“Lisanul Muhadditsin”/3/hal. 227).

            Asy Syaikh Bakr Abu Zaid رحمه الله berkata: “Di sana ada perbedaan antara ikhroj (mengatakan akhrojahu) dan takhrij (mengatakan khorrojahu). Jika engkau merujukkan hadits ke salah seorang ulama yang menyebutkan sanad dirinya, semisal para pengarang Al Kutubus Sittah, dan Ahmad, Asy Syafi’iy dan Malik di dalam karya tulis hadits mereka, kita berkata: “Akhrojahul Bukhoriy” dan kita tidak mengatakan: “Khorrojahu”. Adapun orang-orang yang merujukkan hadits kepada orang yang sebelum mereka seperti Az Zaila’iy dalam “Nashbur Royah”, Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Bulughul Marom” dan “At Talkhishul Habir” dikatakan: “Khorrojahu –huruf ro dobel- Az Zaila’iy” dan semisal itu. Yaitu: menisbatkannya kepada orang yang mengeluarkannya dengan sanadnya. Dan terkadang salah satu dari kedua istilah ini dipakai pada posisi istilah yang satunya, dan ini didapatkan dari Al Murtadho dalam “Syarhul Ihya”, Ibnul Atsir dalam “Usdul Ghobah” dan Al Hafizh Ibnu Rojab. Dan ini menyelisihi ahli istilah. Dan sekelompok ulama mentanshih yang demikian itu, di antaranya adalah Al Hafizh Abul Abbas Ad Dawudiy, Abun Nur Al Manshuriy, Abul Fadhl Al Idrisiy, Syihabud Din Al Manshuriy dalam kitabnya “Ath Tafrij Bi Ushulil Bahts Wat Takhrij”. Selesai catatan kaki ini secara ringkas dari jawaban-jawaban tulisan tangan yang ada pada Asy Syaikh Ahmad ibnush Shiddiq Al Ghumariy, dan darinya aku mengambilnya secara munawalah.

            Dan barangsiapa melihat kitab-kitab generasi akhir, dia akan melihat mereka tidak tidak mementingkan pembedaan antara kedua lafazh tadi. Dan barangkali hal itu dikarenakan perkara tadi adalah termasuk perkara yang diketahui secara praktek, sehingga tidak diketahui dan tidak ditetapkan secara tertulis dari kalangan generasi pendahulu untuk bisa diketahui, sehingga jadilah pembedaan kedua istilah ini hampir-hampir ditinggalkan, seperti pembedaan antara lafazh “khilaf” dan “ikhtilaf” di kalangan ahli fiqih. “Khilaf” itu terlarang, sementara “ikhtilaf” itu boleh. Akan tetapi jadilah pembedaan antara kedua istilah ini tidak lagi dipentingkan di kalangan para penukil fiqh. Dan lihatlah “Al Muwafaqot” karya Asy Syathibiy. Wallohu a’lam.”

(selesai dari kitab “Al Hiwalat”/hal. 15/Bakr Abu Zaid/cet. Darul ‘Ashimah).

            Penjelasan ini cukup untuk membantah gaya sok tahu dari Arofat Al Bashiriy dan Abdulloh Al Bukhoriy, dan bahwasanya mereka berdua itulah yang kurang belajar dalam ilmu hadits.

            Adapun penghinaan Arofat dengan ucapannya terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله : “Tolol, sok tahu, lihatlah pada si muhaddits ini, dari manakah engkau belajar wahai muhaddits?”

            Maka jawabannya kembali pada persaksian Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله.

Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab “Ahkamul Jum’ah Wa Bida’uha”: “Aku telah melihat kitab “Al Jum’ah” karya Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy maka aku mendapatinya sebagai kitab yang agung, di dalamnya ada faidah-faidah yang didapatkan dengan perjalanan serius. Disertai dengan hukum terhadap setiap hadits dengan apa yang pantas didapatkannya,  dan pembahasan yang menyeluruh terhadap perkara-perkara yang terkait dengan bab itu. Bagaimana tidak demikian sementara Syaikh Yahya -hafidhahulloh- berada pada puncak kehati-hatian dalam menentukan pilihan, taqwa, zuhud, wara’, dan takut pada Alloh. Dan beliau adalah orang yang sangat berani dalam mengemukakan kebenaran, tidak takut -karena Alloh- akan celaan orang yang mencela. Dan beliau –semoga Alloh menjaga beliau- mewakili diriku dalam dars-dars di Darul hadits di Dammaj, dan menyampaikannya dengan bentuk yang terbaik yang diinginkan, …” (muqoddimah kitab “Al Jum’ah wa Bida’uha”/ karya Syaikhuna Yahya hafidhahulloh-).

Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab “Ash Shubhusy Syariq”: “Saya telah melihat risalah saudara kita yang mulia Yahya bin Ali Al Hajuiry حفظه الله تعالىmaka saya dapati beliau telah berbuat bagus dan memberikan faidah dalam bantahannya terhadap Abdul Majid Az Zindaniy. Maka alangkah pintarnya beliau, seorang penelusur yang melingkupi risalahnya dengan catatan-catatan kaki faidah-faidah yang berupa aqidah, fiqih, hadits dan tafsir. ”Benarlah Robb kita manakala berfirman:

﴿يأيها الذين آمنوا إن تتّقوا الله يجعل لكم فرقانا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa pada Alloh Dia akan menjadikan untuk kalian pembeda.”

Dan berfirman:

﴿واتقوا الله ويعلمكم الله﴾،

“Dan bertaqwalah kalian, dan Alloh akan memberikan ilmu pada kalian.”

Dan berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ﴾ [الحديد: 28].

Wahaiorang-orang yang beriman, kalian bertaqwalah pada Alloh dan berimanlah pada Rosul-Nya, niscaya Dia akan memberikan pada kalian dua kali lipat dari rohmat-Nya dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengannya kalian berjalan.”

“Maka Asy Syaikh Yahya حفظه اللهdibukakan oleh Alloh ilmu dengan sebab beliau berpegang dengan Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan beliau telah selesai mentahqiq “Ishlahul Mujtama’” dan risalah-risalah yang lain di dalamnya ada faidah-faidah yang didapatkan dengan perjalanan serius.

﴿ذَلِكَ فَضلُ اللهِ يُؤتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الفَضلِ العَظِيمِ﴾

“Yang demikian itu adalah karunia Alloh yang diberikan-Nya pada orang yang dikehendaki oleh-Nya. Dan Alloh adalah Pemilik karunia yang besar.”

Kita mohon pada Alloh agar memberikan taufiq pada kami dan dirinya untuk melayani sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan membelanya, dan agar melindungi kita dari fitnah kehidupan dan kematian, sesungguhnya Dia Mampu atas segala sesuatu.” (masuk dalam kandungan kata pengantar terhadap kitab “Ash Shubhusy Syariq”).

Al Imam Al Wadi’iy -rahimahulloh- berkata di muqoddimah kitab “Al Arba’unul Hisan” “Saya telah membaca beberapa tempat dari apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Fadhil Al Muhaddits Al Faqih Yahya bin Ali Al HAjuriy dalam “Al Arba’unul Hadits yang terkait dengan berkumpul untuk makan, maka saya dapati beliau حفظهالله telah berbuat bagus dan memberikan faidah, bahkan mendatangkan faidah yang didapatkan dengan perjalanan serius. Maka semoga Alloh memberikan beliau balasan kebaikan. Maka semoga Alloh memudahkan dicetaknya kitab ini agar faidahnya menyeluruh, dan agar merealisir apa yang mendorong Asy Syaikh yang mulia ini untuk menulis kitab tersebut. Semoga ALloh memberikan taufiq pada semuanya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya. (Taqdim kitab “Al Arba’unal Hisan Fi Fadhlil Ijtima’ ‘Alath Tho’am”).

Maka ilmu Asy Syaikh Yahya diakui di sisi syaikh beliau, bahkan di sisi Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy رحمهالله berkata: “Asy Syaikh yang agung, saudara kita di jalan Alloh Yahya bin Ali Al Hajuriy telah mengirimkan kepadaku kitabnya yang bersemangat tinggi untuk membantah Abdul Majid Az Zindaniy, yang dengannya beliau bermaksud untuk membantah igauan-igauannya yang ditulisnya –sampai pada ucapan beliau:- Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan telah membantahnya di baris-baris ini dan yang lainnya dengan bantahan yang membungkam, dengan dalil-dalil yang bercahaya dari Al Kitab dan sunnah yang shohih. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan dan memberkahinya, dan semoga Alloh memperbanyak orang-orang semisalnya para pembela kebenaran, para penolong tauhid, para penjaga wilayahnya,… dan Allohlah yang memberikan taufiq.”  (Muqoddimah “Ash Shubhusy Syariq” karya Syaikh Yahya -hafizhohulloh-/hal. 7-10/Darul Atsar).

Bab Duapuluh Sembilan: Kasus Bantahan Terhadap Kaidah Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله

Dan di antara perkara yang dipakai sebagai dalil oleh Luqman bahwasanya Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله terhadap para ulama adalah: bahwasanya di antara kaidah fiqh yang disebutkan oleh Al Imam Asy Syafi’iy dalam kitab tersebut adalah:

ترك الاستفصال فيما ورد فيه الاحتمال ينزل منزلة العموم في المقال.

 Lalu Luqman menyebutkan contoh dari sumber pendalilan kaidah tadi, lalu dia berkata: bahwa kalau ada dalil yang tidak meminta rincian, tidak menyebutkan rincian berarti dalil itu bersifat umum, mengenai pria, wanita, tua, muda dan yang lainnya, sesuai dengan permasalahannya masing-masing. Bersifat umum. Rupanya Al Hajuriy tidak setuju dengan kaidah ini, kaidah Al Imam Asy Syafi’iy – hikayatan ‘anhu. Dia berkata: “Wa’iyadzu billah, hadzihil qo’idah bulu ‘alaiha. Kencingi saja.” Dan Luqman menuduh Asy Syaikh Yahya tidak membantah Al Imam Asy Syafi’iy secara ilmiyyah.

            Jawaban kami –dengan taufiq dari Alloh semata-:

            Saya telah menulis dalam risalah saya “Inbi’atsut Tanabbuh Bi Inkisyafi Hizbiyyati Luqman Ba Abduh” tanggal 11 Dzil Hijjah 1429 H:     “Dan Syaikhuna Syaikh Abdulloh Al Iryany -حفظهالله- telah mengunjungi kami, lalu beliau menuliskan buat Akhuna Abu Saif -Al Indonesy- حفظهالله, bahwasanya Luqman telah menempuh jalan para hizbiyyin dalam mengambil bantuan dari senjata-senjata para hizbiyyin pendahulu, dalam upayanya untuk “memukul” Ahlussunnah. Atau kurang lebih demikian.

            Maka wahai Luqman, seakan-akan aku teringat sebuah kisah bahwasanya penduduk Dammaj telah selesai memakamkan jenazah di pekuburan mereka. Ketika mereka pulang datanglah seekor binatang menggalinya lagi lalu mengambil mayat tadi dan memakannya.” Selesai.

            Nah sekarang si Luqman mengulang lagi ucapan ini sekitar tanggal 2 Jumadats Tsaniyyah 1434 H , yang menunjukkan pada kebiasaan Luqman yang busuk: menggali kasus-kasus lama yang para Salafiyyun telah berhenti membicarakannya, dan telah sempurna penghancurannya sehingga musnah di bawah tanah. Ini adalah kebiasaan orang yang sangat pendendam.

            Sesungguhnya Sholih Al Bakriy yang fasiq –yang Luqman dengan kelembekannya mengatakan: dia orang yang bermasalah juga- telah memperbesar masalah tadi.

Asy Syaikh Yahya حفظه اللهtelah membantah kaidah Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله tadi dengan bantahan yang ilmiyyah sekali dalam kandungan kitab beliau yang agung “Syarhul Muntaqo Li Ibnil Jarud”. Dan beberapa imam telah mendahului beliau dalam membantah kaidah tadi.

Asy Syaikh Yahya حفظه الله terkadang –bahkan jarang sekali- jika melihat kuatnya pengaruh suatu kalimat yang keliru di tengah masyarakat, beliau melaksanakan ucapan Al Imam Asy Sya’biy رحمه الله yang berbicara tentang ro’yu para tabi’in dan yang setelah mereka:

ماحدثوكعنأصحابرسولاللهفخذبه،وماقالوافيهبرأيهمفبل عليه.

“Apa yang mereka ceritakan dari para Shohabat Rosululloh, maka ambillah dia. Dan apa yang mereka ucapkan dalam masalah itu dengan pendapat mereka, maka kencingilah pendapat mereka itu.” (“Jami’ Bayanil Ilmi”/Ibnu Abdil Barr/no. (912)/shohih).

 Yang demikian itu dikarenakan kebaikan itu adalah dengan atsar bukan dengan ro’yu. Al Imam Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata:

كانوا يرون أنهم على الطريق ما داموا على الأثر.

“Dulu mereka berpandangan bahwasanya mereka itu tetap ada di atas jalan yang lurus selama mereka ada di atas atsar.”(“Jami’ Bayanil Ilmi”/Ibnu Abdil Barr/1/hal. 783/shohih).

Al Imam Al Auza’iy -rohimahulloh- berkata:

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه لك بالقول

“Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para pendahulu (Salaf) walaupun orang-orang menolakmu. Dan hindarkan dirimu dari pendapat-pendapat para tokoh walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan untuk menipumu.” (“Asy Syari’ah”/Al Ajurriy/hal. 67/Darul Kitabil ‘Arobiy/atsar shohih).

            Ungkapan Asy Syaikh Yahya tersebut bukanlah di dalam kitab “Syarhul Muntaqo Li Ibnil Jarud”, akan tetapi ketika mengulang membahas kaidah tadi dalam dars beliau.

            Asy Syaikh Yahya حفظه الله telah rujuk dari ungkapan yang diarahkan pada kaidah Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله tadi, akan tetapi si fasiq Sholih Al Bakriy tetap memperbesar masalah tadi dan pergi ke para ulama untuk merusak hubungan persaudaraan antar ulama. Asy Syaikh Robi’ وفقه الله telah meminta agar Asy Syaikh Yahya diam terhadap Sholih Al Bakriy, maka Asy Syaikh Yahya lama mendiamkan perbuatan Sholih. Manakala Sholih justru bertambah kurang ajar, terpaksa Asy Syaikh Yahya حفظه الله mengeluarkan bantahan terhadap Sholih Al Bakriy.

            Termasuk dari apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Yahya حفظه الله dalam bantahan tersebut adalah sebagai berikut:

            “Yang kesebelas: termasuk dari keributan yang dibikin oleh orang-orang yang diteladani oleh Al Bakriy adalah: perbincangan kami dan saudara-saudara kami seputar kaffaroh untuk orang yang mendatangi istrinya dalam keadaan lupa, di siang hari Romadhon, tentang hadits Abu Huroiroh riwayat Al Bukhoriy dan Muslim. Ini adalah nash dari syarh kami terhadap hadits tersebut, dalam kandungan kitab “Syarhul Muntaqo Li Ibnil Jarud رحمه الله”, dan ini adalah nash pembahasan tersebut:

Pembahasan yang ketiga: jika kondisi jima’nya itu disengaja, bukan lupa. Jika dia lupa maka dia tidak diwajibkan kaffaroh. Maka di dalam hadits itu sendiri bahwasanya orang tadi mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Wahai Rosululloh, saya binasa,” dalam riwayat yang lain: “Saya terbakar. Saya menggauli istri saya dalam keadaan saya berpuasa.”

            Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Didalilkan dengan itu bahwasanya dia waktu itu sengaja, karena kebinasaan dan terbakar itu adalah gaya bahasa dari kedurhakaan yang menyebabkan kebinasaan dan terbakar. Dan jika itu telah tetap, maka tidak ada di dalam hadits tadi hujjah terhadap wajibnya kaffaroh terhadap orang yang lupa. Dan itu terkenal dari ucapan Malik dan mayoritas ulama. Dan dari Ahmad dan sebagian Malikiyyah: kaffaroh itu wajib bagi orang yang lupa. Dan mereka berpegang dengan sikap Rosululloh yang tidak meminta penerangan pada orang tadi, sementara tidak meminta perincian dalam posisi yang masih mengandung kemungkinan perbuatan ini dan itu diletakkan pada posisi umum dalam pembicaraan, sebagaimana telah terkenal.   Dan jawaban untuk itu adalah: telah jelas kondisi orang tadi dengan perkataannya “saya binasa” dan “saya terbakar” maka itu menunjukkan bahwasanya dirinya dulu sengaja dan tahu tentang haromnya perkara tadi.” (selesai yang diinginkan dari “Fathul Bari” (4/hal. 164) pada hadits no. (1936)).

            Saya –yaitu Asy syaikh Yahya- berkata: Yang saya yakini adalah bahwasanya kaidah “tidak meminta perincian dalam posisi yang masih mengandung kemungkinan perbuatan ini dan itu diletakkan pada posisi pembicaraan” adalah batil karena syariat itu telah sempurna. Alloh ta’ala berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾[المائدة:3]،

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan untuk kalian kenikmatan-Ku dan Aku telah meridhoi Islam sebagai agama bagi kalian.”

            Maka kita tidak butuh menambahi ke dalam agama ini perkara yang tidak Alloh dan Rosul-Nya idzinkan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله﴾[الشورى:21].

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka dari agama ini yang tidak diidzinkan oleh Alloh?”

            Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«وما سكت عنه فهو عفو».

“Dan perkara yang Alloh diamkan darinya maka itu adalah pemaafan.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ﴾[الأحزاب:5].

“Kalian tidak berdosa di dalam perkara yang kalian tidak sengaja keliru di situ, akan tetapi kalian berdosa dalam perkara yang disengaja oleh hati-hati kalian.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا﴾[الأنعام:164]،

“Dan setiap jiwa tidak berbuat kecuali balasannya akan menimpa dirinya sendiri.”

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم».

“Sesungguhnya Alloh memaafkan untukku dari umatku perkara yang dibicarakan oleh jiwa-jiwa mereka selama belum mengerjakannya atau mengucapkannya.”

Diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dan Muslim dari hadits Abu Huroiroh.

Dan Nabi عليه الصلاة والسلام bersabda:

«إنما الأعمال بالنيات».

“Hanyalah amalan-amalan itu berdasarkan niat-niat.”

Dan Nabi عليه الصلاة والسلام bersabda:

«إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك، فمن همّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله له حسنة كاملة، وإن همّ بها فعملها كتبها الله له عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، وإن همّ بسيئة فلم يعملها كتبها الله له حسنة، وإن همّ بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة». الحديث متفق عليه.

“Sesungguhnya Alloh mencatat kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka barangsiapa berkeinginan untuk berbuat suatu kebaikan tapi dia tidak mengerjakannya, Alloh mencatatnya untuknya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berkeinginan untuk berbuat suatu kebaikan lalu dia mengerjakannya, Alloh mencatatnya untuknya sepuluh kebaikan sampa tujuh ratus kebaikan sampai lipatan-lipatan yang banyak. Tapi jika dia berkeinginan untuk berbuat suatu kejelekan tapi dia tidak mengerjakannya, Alloh mencatatnya untuknya satu kebaikan. Dan jika dia berkeinginan untuk berbuat kejelekan dan dia mengerjakannya, Alloh mencatatnya satu kebaikan.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ﴾[الإسراء:36]،

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tak punya ilmu tentangnya.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى الله مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾[الأعراف:33].

“Katakanlah: Hanyalah Robbku mengharomkan kekejian-kekejian yang nampak dan yang tidak nampak, dan dosa, dan kezholiman pada orang lain tanpa kebenaran, dan kalian menyekutakan dengan Alloh sesuatu yang Alloh tidak menurunkan dengan itu hujjah, dan kalian mengatakan atas nama Alloh perkara yang kalian tidak tahu.”

            Dan kaidah ini dinukilkan dari Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله, dan juga telah dinukilkan dari beliau ucapan yang menentang kaidah tadi yaitu ucapan beliau:

«حكاية الحال إذا تطرق إليها الاحتمال كساها ثوب الإجمال وسقط منها الاستدلال».

“Cerita tentang suatu keadaan jika masih terkena kemungkinan-kemungkinan, dia terliputi baju globalitas yang dengan sebab itu gugurlah pendalilan.”

            Kesimpulannya adalah: bahwasanya itu tadi adalah ucapan manusia dan bukan wahyu dari Dzat Yang Penuh hikmah dan Maha Terpuji. Dan kaidah tadi tidak punya dalil yang jelas. Al Imam Ash Shon’aniy رحمه الله telah berkata dalam “Al ‘Uddah” (1/hal. 374): “Aku tidak melihat kaidah tadi punya dalil. Dan telah dinukilkan dari Hanafiyyah bahwasanya mereka tidak berpendapat dengan kaidah tadi.”

            Aku –Asy Syaikh Yahya- katakan: dan puncak yang aku lihat mereka berdalilkan untuk kaidah tadi adalah kisah Ibnu Ghoilan … bahwasanya beliau ketika masuk Islam beliau dalam keadaan punya sepuluh istri, Rosululloh صلى الله عليه وسلم memerintahkan beliau untuk memegang empat orang dari sepuluh istrinya tadi, dan menceraikan yang lainnya. Dan Rosul tidak menanyainya gambaran akad nikahnya dengan mereka: apakah dia membentuk ikatan nikah dengan mereka semua bersamaan ataukah secara berurutan satu persatu. Maka sikap Rosululloh yang tidak meminta penerangan padanya itu menunjukkan bahwasanya tidak ada bedanya antara apakah akad tadi bersamaan ataukah tidak bersamaan, dan bahwasanya dia boleh untuk mencerikan siapapun yang diinginkannya dari mereka.

            Al ‘Allamah Asy Syaukaniy رحمه الله berkata dalam “Irsyadul Fuhul” (229): “Dan ini di dalamnya perlu diperiksa lagi karena ada kemungkinan bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم mengetahui keadaan nikah Ibnu Ghoilan secara khusus, maka beliau menjawab berdasarkan pengetahuan beliau.” Selesai yang dikehendaki.

            Saya –Asy Syaikh Yahya- katakan: berdalilkan dengan hadits ini hanyalah sekedar perkiraan, tidak boleh dalil-dalil yang jelas tadi (tentang dimaafkannya oleh yang lupa, dan bahwasanya agama telah sempurna) ditentang dengan itu. Tidak boleh mewajibkan seseorang tanpa dalil syar’iy dan tidak boleh membebaninya dengannya, maka renungkanlah.

Bacalah jika engkau menginginkan, pembahasan tentang kaidah ini, sumber-sumber rujukan berikut ini:

1-    “Al Bahrul Muhith” (3/hal. 148-154) karya Az Zarkasyiy

2-    “Irsyadul Fuhul” (hal. 227) karya Asy Syaukaniy

3-    “Al Kaukabul Munir Syarh Mukhtashorit Tahrir” (3/172-174) beliau telah menyebutkan suatu kaidah yang menentangnya yaitu yang telah kami sebutkan sebelum itu dari Asy Syafi’iy رحمه الله.

4-    “Mausu’atul Qowa’idil Fiqhiyyah” (3/hal. 228) karya Abul Harits Al Ghuzaiy

5-    “Adhwaul Bayan” karya Asy Syinqithiy (5/100 dan 581) dan (6/516 dan 574).

6-    “Ma’alim Ushulil Fiqh” (hal. 425) karya Al Jaizaniy

Maka jika telah diketahui batilnya kaidah ini , kita kembali kepada pembahasan inti kita tentang penetapan ulama bahwasanya orang yang lupa tidak wajib kaffaroh.

            An Nawawiy رحمه الله berkata : “Adapun orang yang mendatangi istrinya dalam keadaan lupa maka dia tidak batal puasanya dan tidak wajib kafarroh. Inilah yang benar dari madzhab kami, dan dengan itu mayorita ulama berkata. Dan dalil kami adalah bahwasanya hadits itu shohih bahwasanya orang yang makan tapi lupa maka dia tidak batal puasanya. Dan jima’ adalah semakna dengan lupa.

            Adapun hadits-hadits yang datang tentang kaffaroh jima’ maka itu hanyalah bagi orang yang sengaja. Oleh karena itulah berkata dalam sebagian riwayat : “Saya binasa” dan dalam riwayat lain “Saya terbakar”. Dan ini tidak terjadi kecuali pada orang yang sengaja karena orang yang lupa itu tidak berdosa, dengan kesepakatan ulama.”

(selesai dari “Syarh Shohih Muslim”/7/hal. 233).

            Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Tentang orang yang menggauli istrinya dalam keadaan lupa puasanya ada tiga pendapat dalam madzhab Ahmad dan yang lainnya: yang pertama: dia tidak wajib membayar puasa dan tidak wajib kaffaroh. Dan ini adalah pendapat Asy Syafi’iy, Abu Hanifah dan mayoritas ulama.

Yang kedua: dia wajib membayar puasa tanpa kaffaroh, dan ini pendapat Malik.

Yang ketiga: dia wajib dua perkara tadi. Dan ini terkenal dari Ahmad.

            Pendapat yang pertama kebih kuat sebagaimana dijelaskan pada tempat pembahasannya, karena telah tetap dengan dalil Al Kitab dan As Sunnah bahwasanya barangsiapa melakukan perbuatan yang terlarang karena tidak sengaja berbuat keliru atau lupa, Alloh tidak menghukumnya dengan itu. Dan ketika itu dia seperti orang yang tidak mengerjakan perbuatan itu, sehingga dia tidak terkena dosa. Dan barangsiapa tidak berdosa, dia tidak durhaka. Dan orang semisal ini tidaklah batal ibadahnya.”

Selesai dengan peringkasan dari ”Majmu’ul Fatawa” (25/hal. 226).

Dan dengan ini Ibnu Daqiq Al ‘Id dan Ash Shon’aniy berpendapat. Bacalah “Al ‘Uddah Hasyiyatu Ihkamil Ahkam” (3/hal. 348).

            Dan telah datang nash dalam masalah ini yang mendukung ucapan jumhur: diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (8/no. 3521/Ihsan), dan Ibnu Khuzaimah dalam “Shohih” beliau (no. 1990), dan Ad Daroquthniy dalam “Sunan” (2/hal. 178) dari jalur Muhammad Marzuq Al Bahiliy dari Muhammad bin Abdillah Al Anshoriy, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Huroiroh, dan diriwayatkan oleh Al Hakim (1/hal. 430) dan Al Baihaqiy dalam “Al Kubro” (4/hal. 229), dari jalur Muhammad bin Idris Abu Hatim Al Imam, dari Muhammad bin Abdillah Al Anshoriy, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Huroiroh bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم:

«من أفطر في نهار رمضان ناسيا فلا قضاء عليه ولا كفارة». اهـ

“Barangsiapa berbuka puasa di siang hari Romadhon dalam keadaan lupa, maka dia tidak wajib membayar puasa dan tidak wajib kaffaroh.”

Sanadnya hasan, poros edar sanadnya ada pada Muhammad bin Abdillah Al Anshoriy sebagaimana yang engkau lihat.

            Al Imam Al Baihaqiy telah menetapkan itu dengan berkata: “Menyendiri dengan hadits ini Muhammad bin Abdillah Al Anshoriy, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah,mereka semua tsiqot.” Selesai dari “Al Kubro” (4/hal. 229).

            Dan Az Zaila’iy menukilkan itu dari beliau dalam “Nashbur Royah” (2/hal. 445-446) dan dishohihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Bulughul Marom” dan Al Majd Ibnu Taimiyyah dalam “Al Muntaqo” (4/206), dan mereka menyebutkan untuk hadits ini satu pendukung dari riwayat Abu Sa’id Al Khudriy diriwayatkan oleh Ad Daroquthniy (2/178), beliau berkata: haddatsani Muhammad bin Abi Bakr: haddatsana Hasyim ibnul Qosim Al Harroniy: haddatsana Muhammad bin Salamah: ‘anil Fazariy: ‘an ‘Athiyyah: ‘an Abi Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من أكل في شهر رمضان ناسياً فلا قضاء عليه، إن الله أطعمه وسقاه»

“Barangsiapa makan di bulan Romadhon dalam keadaan lupa maka dia tidak wajib qodho, karena sesungguhnya Alloh memberinya makan dan minum.”

Al Fazariy adalah Muhammad bin Ubaidillah Al ‘Arzamiy, matruk. Dan ‘Athiyyah lemah.”

Aku –asy Syaikh Yahya- berkata: Al ‘Arzamiy tidak pantas dalam jajaran pendukung. Maka perkataan Al Hafizh di “Fath” dan diikuti oleh Asy Syaukaniy bahwasanya: “Sanadnya lemah tapi dia bisa untuk mutaba’ah,” ini menurutku tidak benar, karena rowi yang matruk tidak boleh untuk pendukung.

Kemudian Asy Syaukaniy berkata: “Maka derajat paling rendah dari hadits ini dengan tambahan ini menjadi hasan sehingga pantas untuk sebagai hujjah. Dan telah dipakai sebagai hujjah di banyak masalah rowi yang lebih rendah kekuatannya daripada dia. Dan didukung juga bahwasanya sekelompok Shohabat telah berfatwa dengan kandungan hadits tadi tanpa ada yang menyelisihi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan yang lainnya, di antara para Shohabat tadi adalah: Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Huroiroh, dan Ibnu Umar رضي الله عنهم. Kemudian dia itu sesuai dengan firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ﴾[البقرة:225].

“Akan tetapi Alloh menghukum kalian disebabkan apa yang dikerjakan oleh hati-hati kalian”

            Lupa itu bukan termasuk dari apa yang dikerjakan oleh hati, dan mayoritas ulama telah berpendapat ini dan berkata: “Barangsiapa makan dalam keadaan lupa, puasanya tidak rusak, dia tidak wajib membayar puasa dan tidak wajib kaffaroh.” Selesai dari “Nailul Author” (4/hal. 206).

            Abu Abdirrohman –Asy Syaikh Yahya- berkata: Adapun hadits Abu Huroiroh dari jalur Al Anshoriy maka dia adalah hadits hasan sebagaimana telah lewat. Andaikata bukan karena Al Bukhoriy dan Muslim meninggalkan tambahan ini sehingga ada suatu pengaruh di dalam hati.

Al Anshoriy ini adalah Muhammad bin Abdillah ibnul Mutsanna bin Abdillah bin Anas bin Malik. Ibnu Ma’in berkata tentang dia: “Tsiqoh”, Abu Hatim berkata: “Shoduq”, dan di tempat lain berkata: “Aku tidak melihat dari para imam kecuali Ahmad bin Hanbal, Sulaiman bin Dawud Al Hasyimiy, dan Muhammad bin abdillah Al Anshoriy.” Maka diketahui dari biografinya bahwasanya dia itu tsiqoh imam.

            Muhammad bin Amr bin Alqomah bin Waqqosh adalah shoduq.

            Abu Salamah bin Abdirrohman bin ‘Auf adalah imam.

            Dan lafazh hadits ini umum mencakup setiap orang yang berbuka puasa dalam keadaan lupa, dengan sebab jima’ atau yang lainnya. Dan bahwasanya dia tidak wajib membayar puasa dan tidak wajib kaffaroh. Dan itu sesuai dengan firman Alloh ta’ala:

﴿وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ﴾[الأحزاب:5]،

“Kalian tidak berdosa di dalam perkara yang kalian tidak sengaja melakukannya, akan tetapi dosa itu adalah apa yang disengaja oleh hati-hati kalian, dan Alloh itu senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

            Dan firman-Nya ta’ala:

﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾[البقرة:286].

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau tidak sengaja keliru.”

            Dan datang dalam Shohih Muslim no. (127) dari hadits Abu Huroiroh  bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa pada Robbnya seraya berkata:

«ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau tidak sengaja keliru.”

Maka Alloh ‘Azza Wajalla menjawab:

قد فعلت».

“Aku telah mengerjakannya.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad beliau (2/308/540) dan Ibnu Hibban (8/no. 3222) dari beberapa jalur dari Ja’far bin Burqon: dari Yazid ibnul Ashomm: dari Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ما أخشى عليكم الفقر ولكن أخشى عليكم التكاثر وما أخشى عليكم الخطأ ولكن أخشى عليكم العمد»

“Aku tidak mengkhawatirkan terhadap kalian kemiskinan, akan tetapi aku mengkhawatirkan terhadap kalian berlomba-lomba memperbanyak duniawi. Dan aku tidak mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang tidak disengaja, akan tetapi aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesengajaan.”

Dan sanad hadits ini shohih.

            Ja’far bin Burqon adalah Abu Abdillah Al Kilabiy itu tsiqoh dalam riwayatnya terhadap selain Az Zuhriy. Adapun riwayatnya terhadap Az Zuhriy itu goncang. Dinashkan tentang itu oleh Ibnu Numair. Dan riwayat beliau terhadap Az Zuhriy dilemahkan oleh sekelompok ulama, sebagaimana dalam biografi beliau di “Tahdzib” dan yang lainnya.

            Yazid ibnul Ashomm adalah Ibnu Ukhti Maimunah bintil Harits Ummil Mukminin. Dikatakan bahwasanya beliau melihat Rosululloh, tapi berita itu tidak tetap. Beliau itu tsiqoh. Demikianlah dikatakan di “Taqrib”, dan memang seperti yang dikatakan.

            Dan telah tetap dari hadits Ibnu Abbas bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ النسيان وما استكرهوا عليه».

“Sesungguhnya Alloh memaafkan untukku dari umatku kekeliruan yang tidak disengaja, lupa dan perkara yang mereka dipaksa atasnya.”

            Al Imam Ibnu Rojab memaparkan jalur-jalur hadits ini dalam kitab beliau “Jami’ul Ulum Wal Hikam” hadits (39), dan bahwasanya setiap jalur tidak kosong dari penyakit. Dan dengan gabungan jalur-jalur tadi pantas untuk berhujjah, terutama karena dia itu punya pendukung yang sebagiannya telah kami sebutkan:

Di antaranya adalah hadits Abu Huroiroh sebelumnya.

Dan di antaranya adalah hadits Abu Huroiroh diriwayatkan Muslim (127) bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم ketika berdoa pada Robbnya seraya berkata:

«ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau tidak sengaja keliru.”

Maka Alloh ‘Azza Wajalla menjawab:

قد فعلت».

“Aku telah mengerjakannya.”

Dan itu mencocoki firman Alloh عز وجل:

﴿إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ﴾[النحل:106].

“Kecuali orang yang dipaksa dalam keadaan hatinya tenang dengan keimanan.”

Dan Al Imam Al Bukhoriy meriwayatkan dalam “Shohih” beliau no. (1933) dan Muslim (1155) dari hadits Abu Huroiroh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه».

“Barangsiapa lupa dalam keadaan dia puasa lalu dia makan atau minummaka hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Alloh memberinya makan dan minum.”

            An Nawawiy رحمه الله berkata dalam “Syarh Muslim” (8/184): “Di dalamnya ada dalil untuk madzhab mayoritas ulama bahwasanya orang puasa jika makan atau menggauli istrinya dalam keadaan lupa maka dia tidak perlu berbuka (membatalkan puasa).”

            Al Khoththobiy رحمه الله berkata: “Hampir semua ulama berpendapat tentang gugurnya pembayaran puasa dan kaffaroh dari orang yang lupa, kecuali Malik dan Robi’ah.” Selesai yang diinginkan dari “Ma’alimus Sunan” (2/104).

            At Tirmidziy dalam “Jami’” beliau setelah hadits no. (721) berkata: “Dan amalan muslimin adalah berdasarkan hadits ini menurut kebanyakan ulama.”

            Ibnul Arobiy berkata: “Seluruh ulama negri-negri berpegang dengan hadits ini, yaitu: bahwasanya orang yang lupa itu tidak diwajibkan apa-apa terhadapnya.” Selesai dari “Al ‘Uddah Hasyiyatu Ash Shon’aniy ‘Ala Ihkamil Ahkam Li Ibnu Daqiq Al ‘Id” (2/339).

            Barangkali sebagian orang yang berpendapat tentang wajibnya kaffaroh bergaya pintar sehingga berkata: “Yang dimaksudkan adalah puasa sunnah.” Dan ini batil dari beberapa segi:

Yang pertama: ibadah sunnah itu tidak harus dibayar.

Yang kedua: bahwasanyaibadah sunnah itu tidak harus kaffaroh di dalamnya tanpa ada keraguan pada seorangpun. Maka penyebutan yang demikian itu tiada faidahnya.

Yang ketiga: telah terdahulu nash-nash bahwasanya barangsiapa berbuka di siang hari Romadhon dalam keadaan lupa maka dia tidak wajib membayar puasa dan tidak wajib kaffaroh.”

            Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Sebagian dari mereka mengemukakan udzur bahwasanya itu dibawa kepada puasa sunnah, dan itu adalah udzur yang rusak, dan pemaknaan yang tidak benar, ditolak oleh isi hadits bab ini yang terang-terangan menyebutkan pembayaran puasa.” Selesai dari “Nailul Author” (4/207).

            Kesimpulannya: bahwasanya orang yang berbuka dalam keadaan lupa, dengan jima’ atau yang lainnya dari pembatal puasa, di siang hari Romadhon, dia tidak wajib kaffaroh, berdasarkan dalil-dalil dan ucapan ulama yang telah kami jelaskan terdahulu. Dan telah kami jabarkan ucapan dalam masalah itu karena ada perselisihan di dalamnya, dan karena perkara itu penting.”

Selesai (selesai dari ucapan beliau di kitab “Syarhul Muntaqo Li Ibnil Jarud”).

            Al Bakriy pergi berpindah-pindah dari satu ulama ke ulama yang lain dengan makar dan tipu daya serta dendam terpendam yang dia rencanakan, dalam keadaan aku tidak menyadarinya. Dan jika orang-orang bertanya padaku tentangnya, aku bangkit membelanya. Dan dulu keadaan diriku bersamanya adalah seperti dikatakan:

ألا رب من تدعوا صديقا ولو ترى*مقالته بالغيب ساءك ما يفري

“Ketahuilah, bisa jadi orang yang engkau panggil sebagai sahabat, andaikata engkau melihat ucapannya ketika tidak bersamamu niscaya apa yang dia kerjakan akan membikinmu sedih.”

            Dan Al Bakriy berkata:

(دعونا ننتهي من أبي الحسن وبعده الحجوري)،

“Biarkan kami menyelesaikan Abul Hasan dulu, dan setelahnya adalah Al Hajuriy.”

            Yang bersaksi tentang ucapan itu adalah para dai Ahlussunnah yang mulia: Abdul Hadi Al Mathoriy, Ahmad bin Mushlih Al Mathoriy, Hamud Al Wailiy pemilik studio Al Yaqzhoh, dan Mushthofa Mabrom.

            Dan aku demi Alloh tidak peduli dengan igauan itu, akan tetapi kami menyebutkannya agar orang-orang mengetahui pengkhianatan orang ini saja.

            Bapak kita Al Allamah An Nashihul Amin Robi’ bin Hadi حفظه الله telah mengirimkan surat pada kami yang maknanya: beliau ingin agar aku rujuk dari tidak berpendapat dengan kaidah tadi. Maka aku rujuk dari ucapanku tentang batilnya kaidah tadi, dalam rangka mendahulukan pemahaman beliau di atas pemahamanku, dan percaya pada nasihat beliau, ilmu dan kecintaan beliau untuk dakwah Salafiyyah, dan semangat beliau dalam menjaga dakwah ini. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

            Dan telah tetap dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنهsecara mauquf:

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحا فهو قبيح

“Apa yang dipandang muslimun baik, maka dia itu di sisi Alloh juga baik. Dan apa yang dipandang muslimun buruk, maka dia itu di sisi Alloh juga buruk.”

Dan maknanya adalah muslimun yang sempurna yang tidak memandang kebid’ahan itu baik. Ini diucapkan oleh Syaikh kami رحمه الله.

            Dan para ulama sunnah حفظهم الله yang dahulu dan yang sekarang adalah penduduk bumi yang terbaik, paling berbakti, paling taqwa, paling pintar, paling bersih. Ini kitab-kitabku dan kaset-kasetku. Perkara yang di situ aku menyelisihi Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم atas dasar pemahaman Salafush Sholih رضوان الله عليهم maka aku rujuk dari penyelisihan itu di waktu hidupku dan setelah matiku.

            Berikut ini adalah surat yang aku tulis kepada kedua bapak penasihat: Asy Syaikh Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi dan Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad An Najmiy. Aku menyebutkannya dalam bab ini:

Kepada bapak yang agung yang diberkahi Asy Syaikh Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi, semoga Alloh menjaga Anda.

السلام عليكم ورحمة وبكاته.

أما بعد:

Maka wahai Syaikh, semoga Alloh menjaga Anda. Sungguh Al Bakriy semakin bertambah lancang terhadap Ahlussunnah, terhadap dakwah mereka dan markiz-markiz mereka dengan kedustaan, kengawuran, cercaan yang jahat kepada para masyayikh yang Ahlussunnah yang lain, dengan perkara-perkara yang saya kira tidak dilakukan oleh Ba Syumail dan semisalnya terhadap Madinah, sampai bahkan Bakriy menggambarkan para dai sunnah yang keluar dakwah ilalloh dan mengajari manusia dia gambarkan sebagai Jama’ah Tabligh, sampai bahkan dirinya memancangkan untuk dirinya sendiri dakwah terpisah yang dia berjalan di atasnya, dan bahwasanya seluruh Ahlussunnah di Yaman berjatuhan di jalan karena mereka tidak di atas ilmu ataupun pemahaman terhadap manhaj kecuali dirinya. Dulu si Bakriy setelah wafatnya Asy Syaikh رحمه الله mendorong para pelajar asing untuk pergi dari Dammaj sebelum mereka dituduh sebagai hizbiyyun, karena ma’had Dammaj dikuasai oleh hizbiyyun. Sejumlah saksi dari pelajar asing bersaksi atas ucapan si Bakriy ini.

Dan setelah itu si Bakriy menasihati orang-orang Yafi’ yang ada di markiz ini agar mereka keluar semua walaupun harus pergi menjual bawang atau membuka warung-warung makan. Maka orang-orang Yafi’ membenci si Bakriy karena nasihat khianat tadi, dan karena kejahatannya yang lain.

Maka wahai Syaikh, demi Alloh, si Bakriy tidak peduli dengan nasihat Anda ataupun juga nasihat para ulama yang lain. Dia telah dinasihati oleh Asy Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab حفظه الله tapi dia malah berkata: “Asy Syaikh Muhammad punya kesalahan-kesalahan manhajiy, tashowwuf, dan mensucikan tempat-tempat tertentu.”

Demikianlah kebiasaan si Bakriy. Dia dulu berkata tentang Syaikh kami رحمه الله : “Beliau bersembunyi dari hizbiyyin tapi beliau memelihara hizbiyyun di ma’had beliau.”

Dan seluruh Ahlussunnah tahu bahwasanya Alloh tidaklah menyelamatkan Sholih Al Bakriy ataupun Salafiyyun dari Yaman yang lain kecuali dengan kerja keras Syaikh kami رحمه الله , dan setelah itu dia justru menentang manhaj Syaikh kami رحمه الله sehingga jadilah kondisi dia seperti dikatakan:

وقال السهى للشمس أنت خفيةٌ * وقال الدجى للصبح لونك حائل

“Si bintang kecil reduh itu berkata pada matahari: “Engkau tersamarkan,” dan malam berkata pada subuh: “Warnamu terhalangi.”

Maka wahai Syaikh, demi Alloh andaikata bukan karena memuliakan Anda dan mengambil perintah Anda, kami tidak akan diam terhadap si fajir ini. Dan saya berpandangan tidak bolehnya mendiamkan dirinya karena dia telah mempermainkan akal-akal orang awam dan sebagian pelajar baru, sehingga dia menghalangi mereka dengan seluruh Ahlussunnah dan markiz-markiz mereka dan dari mengambil faidah dari ceramah-ceramah mereka. Sungguh dia telah mendorong sebagian orang yang terpedaya dengannya untuk menghalangi para pelajar di markiz Dammaj dari ceramah di suatu desa di Yafi’ dan untuk mengusir orang yang keluar berdakwah ke tempat mereka. Orang-orang tidak peduli pada gapaian tangan-tangan dan pemberontakan tadi.

Jika Anda berpandangan bahwasanya si Bakriy berhenti dari fitnahnya dan beradab kepada para masyayikh, dan berjalan bersama saudara-saudaranya serta bertobat pada Alloh dari kengawurannya dan bencananya terhadap Ahlussunnah di Yaman (maka itu yang kami inginkan), jika tidak, maka sungguh kami menilai bahwasanya penjelasan tentang kejahatan dan fitnah dirinya dalah wajib. Dulu Abul Hasan bisa mengambil sekelompok penuntut ilmu disebabkan karena dia didiamkan beberapa waktu sehingga perusak akal-akal mereka. Dan Bakriy sekarang sekalipun dibenci di kalangan seluruh Ahlussunnah, hanya saja dia berupaya seperti upaya tadi.

Inilah yang saya ingin jelaskan kepada paduka yang mulia, karena kami menganggap Anda adalah bapak bagi kami dan bagi dakwah ini. Dan kami, kaset-kaset kami, dan kitab-kitab kami menaati pengarahan Anda yang diberkahi dalam bentuk nasihat, penghapusan, pemajuan dan pengakhiran. Adapun Bakriy maka saya menjadikan Alloh sebagai saksi dan juga saya menjadikan Anda sebagai saksi bahwasanya Bakriy itu pengkhianat penipu terhadap para tokoh dakwah ini dan para dainya di Yaman, di bawah tabir kecemburuan dan dakwaan-dakwaan dusta.

Ditulis oleh anak Anda:

Yahya bin Ali Al Hajuriy

18 Romadhon 1423 H

Di Darul Hadits Dammaj semoga Alloh menjaganya dan merohmati pendirinya.

Saya telah mengirimkan satu salinan juga kepada sang bapak Asy Syaikh Ahmad An Najmiy حفظه الله dengan nama beliau.

(selesai penukilan dari risalah “Ar Rodd ‘Alal Bakriy”/hal. 13-26/karya Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله/ditulis di hari-hari di bulan Syawwal 1423 H).

            Dengan segala pujian bagi Alloh fitnah Sholih Al Bakriy setelah dihantami oleh para Salafiyyun menjadi padam, mereka memboikotnya, dan mereka menguburkan kasus yang telah paripurna itu. Tiada yang tersisa bagi Luqman dan semisalnya kecuali mencurahkan kerja keras untuk menghidupkan kasus yang telah menjadi bangkai lapuk itu. Dan para ahli batil itu tidak punya hujjah untuk memukul Ahlussunnah, sehingga mereka mengantung pada segala sesuatu yang mereka pandang pantas untuk memukul padahal gantungan itu tadi sudah rusak. Seakan-akan mereka dalam mengikuti langkah-langkah setan tadi terpaksa menempuh segala macam cara –sekalipun harom- untuk mencapai tujuan rusak mereka- memukul dakwah salafiyyah.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya orang yang terpaksa itu akan bergantung dengan segala sarana sekalipun di dalamnya ada perkara yang dibenci.” (“Ighotsatul Lahfan”/hal. 204).

            Bagaimana dia mengejek orang yang sudah bertobat dengan perkara dia telah tobat darinya? Al Imam Abul Walid Al Bajiy رحمه الله berkata: “Orang yang sudah tobat dari maksiat, jika dia telah tobat dan baik tobatnya, maka tidak pantas untuk dirinya dicela dari perkara tadi.” (“Al Muntaqo Syarhul Muwaththo”/4/hal. 277).

            Ibnu Baththol رحمه الله berkata: Al Muhallab dan yang lainnya berkata: “sabda: “Maka Adam mengalahkan hujjah Musa.” Yaitu: Adam mengalahkan Musa dengan argumentasi. Al Laits bin Sa’d berkata: “Hanyalah berhujjah dengan kisah ini adalah benar untuk Adam terhadap Musa dikarenakan Alloh telah mengampuni kesalahan Adam dan menerima tobatnya. Maka Musa tidak berhak untuk mengejek beliau dengan kesalahan yang telah Alloh ampuni untuk beliau. Oleh karena itulah Adam berkata padanya: “Engkau Musa yang diberi Alloh Tauroh, dan di dalamnya ada ilmu segala sesuatu. Maka apakah engkau dapatkan di dalamnya bahwasanya Alloh telah menakdirkan terhadapku maksiat tadi dan menakdirkan terhadapku tobat darinya. Dan gugurlah dengan itu celaan dariku. Apakah engkau mencelaku sementara Alloh tidak mencelaku?” (“Syarh Ibni Baththol ‘Ala Shohihil Bukhoriy”/5/hal. 488).

            Dan Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Al Qurthubiy berkata: “Hanyalah beliau mengalahkan Musa dengan hujjah karena Musa telah mengetahui dari Tauroh bahwasanya Alloh telah menerima tobat beliau. Maka jadilah celaan Musa terhadap Adam atas dosa tadi menjadi suatu jenis kekasaran, sebagaimana dikatakan: “Penyebutan kekasaran setelah terjadinya kejernihan adalah kekasaran juga, karena bekas penyelisihan itu hilang setelah adanya pemaafan sampai seakan-akan tidak pernah terjadi. Maka celaan dari orang yang mencela itu tidak mendapatkan tempat.” Selesai. Dan itu adalah kesimpulan dari jawaban Al Maziriy dan yang lainnya dari kalangan ahli tahqiq, dan itulah yang menjadi patokan.” (“Fathul Bari”/11/hal. 510).

            Maka kami mohon kepada Alloh agar memperlakukan Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy, Arofat Al Bushiriy, dan yang semisal dengan mereka dengan perlakuan yang mereka berhak mendapatkannya.

            Dan risalah ini tersebar dengan bahasa Arob dan Indonesia, dan doa ini –doa orang-orang yang terzholimi- insya Alloh diaminkan oleh banyak pembaca. Dan tidak ada tabir antara doa orang-orang yang terzholimi dengan Robbul alamin.

Dari Nafi’:

عنابنعمررضي الله عنهما قال: صعدرسولاللهصلىاللهعليهوسلمالمنبرفنادىبصوترفيعفقال:«يامعشرمنقدأسلمبلسانهولميفضالإيمانإلىقلبهلاتؤذواالمسلمينولاتعيروهمولاتتبعواعوراتهمفإنهمنتتبععورةأخيهالمسلمتتبعاللهعورتهومنتتبعاللهعورتهيفضحهولوفيجوفرحله».قال:ونظرابنعمريوماإلىالبيتأوإلىالكعبةفقال:ماأعظمكوأعظمحرمتكوالمؤمنأعظمحرمةعنداللهمنك.(أخرجهالترمذي(2032)/حسن).

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata: Rosululloh  صلى الله عليه وسلم pernah naik mimbar, lalu beliau berseru dengan suara keras seraya bersabda: “Wahai orang-orang yang telah masuk Islam dengan lidahnya yang imannya itu belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang Islam,janganlah kalian mencerca aib mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudaranya muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Sesungguhnya barangsiapa yang Alloh cari aibnya, maka Dia akan membuka aib-aibnya meskipun ia berada di bagian dalam rumahnya…”Nafi’ berkata: “Ibnu Umar pada suatu hari pernah memandang ke Baitulloh atau Ka’bah lalu beliau berkata: “Alangkah agungnya engkau, dan alangkah agungnya kehormatanmu. Tapi seorang mukmin itu lebih agung kehormatannya daripada dirimu.” (HR. At Tirmidziy (2032)/shohih).

            Al ‘Allamah Al Mubarokfuriy رحمه الله berkata: “janganlah kalian mencerca aib mereka” yaitu mencerca dan membongkar aib mereka terhadap dosa yang telah lalu, sama saja telah diketahui tobatnya ataukah belum. Adapun mencerca aib ketika sedang berlangsung atau sudah lama tapi belum nampak tobat dari itu, maka wajib dilakukan bagi orang yang mampu melakukannya.” (“Tuhfatul Ahwadzi”/11/hal. 206).

            Asy Syaikh Yahya telah tobat dari ungkapan yang buruk tersebut terhadap kaidah ilmiyyah Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله tersebut. Bahkan beliau rujuk dari menyalahkan kaidah ilmiyyah Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله tersebut, padahal mayoritas ulama juga menyelisihi kaidah tadi dalam kasus tadi.

            Dan Al Imam Ibnu Muflih رحمه الله berkata: “Dan di antara hak muslim terhadap muslim yang lain adalah: menutupi kekurangannya, mengampuni ketergelincirannya, menyayangi anak kecil, membebaskan keterpelesetannya, menerima udzurnya, membantah orang yang mengghibahinya, melestarikan nasihat untuknya, menjaga kecintaannya, memelihara tanggungannya, memenuhi undangannya, menerima hadiahnya, membalaskan hadiahnya, mensyukuri pemberiannya, memperbagus pertolongan untuknya, menunaikan keperluannya, mensyafaati permintaannya, mendoakan bersinnya, mengembalikan barangnya yang hilang, loyal padanya, tidak memusuhinya, menolongnya terhadap orang yang menzholiminya, menahannya dari berbuat zholim, terhadap yang lain, tidak menyerahkannya pada musuhnya, tidak menelantarkannya saat butuh pertolongan, menyukai untuknya perkara yang dicintai untuk dirinya sendiri, membenci untuknya perkara yang dibenci untuk dirinya sendiri. Ini disebutkan dalam kitab “Ar Ri’ayah.” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/hal. 188/cet. Ar Risalah).

            Ini semua cukup dengan seidzin Alloh untuk mematahkan rantau para penjahat pewaris Haddadiyyah:Luqman Ba Abduh, Abdulloh Al Bukhoriy, Arofat Al Bushiriy, dan yang semisal dengan mereka, dan penjelasan atas kebodohan mereka dan rusaknya manhaj mereka. Dan terus-menerusnya mereka dalam menggunakan syubuhat para pendahulu mereka dari kalangan Haddadiyyah menambah kejelasan pada kita bahwasanya Mar’iyyun memang pewaris Haddadiyyah.

            Risalah ini sudah cukup panjang. Sisa-sisa syubuhat insya Alloh akan dibahas pada risalah yang lain sesuai dengan keadaan, insya Alloh.

            Dan ketahuilah bahwasanya syubuhat ahli batil tidak habis-habis, karena para setan saling bantu dalam memberikan ide. Alloh ta’ala berfirman:

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام/121]

“Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka untuk mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu benar-benar orang yang musyrik.” (QS Al An’am 121)

            Maka jika Anda semua telah tahu bahwasanya mereka adalah para pembawa syubuhat, dan Alloh telah membongkar untuk Anda semua sebagian dari kebatilan sybuhat tadi, maka cukuplah itu sebagai dalil tentang wajibnya untuk menjauhi mereka, dan jangan mencondongkan pendengaran untuk menyimak ucapan-ucapan mereka.

Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka demi Alloh wahai kaum Muslimin, jangan sampai baik sangka salah seorang dari kalian terhadap dirinya sendiri dan terhadap keshohihan madzhabnya yang diketahuinya membawa dirinya untuk melakukan taruhan dengan agamanya, dengan duduk-duduk dengan para pengekor hawa nafsu, lalu berkata: “Aku akan masuk kepadanya untuk melakukan diskusi dengannya, atau akan kukeluarkan darinya madzhabnya.” Karena sesungguhnya ahli hawa itu lebih besar fitnahnya daripada dajjal. Ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar hati daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang dulunya melaknati ahli hawa, mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka untuk mengingkari mereka dan membantah mereka. Terus-menerus berlangsung ramah-tamah di antara mereka, makar tersembunyi, dan halusnya kekufuran tersamarkan hingga akhirnya orang-orang tadi masuk ke madzhab ahli hawa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/di bawah no. (480)/cet. Darul Kutub wal Watsaiqil Qoumiyyah).

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Dammaj, 17 Jumadats Tsaniyyah 1434 H.