Mengobati Kedengkian

Dan Meraih Pahala Shodaqoh Dengan Keikhlasan

(bagian pertama)

 

Dengan Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh al Qodhi

Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Disusun Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

Semoga Alloh memaafkannya

di Yaman

judul Asli:

“Mu’alajatut Tahasud Bainal Ikhwah Wa Tabsyirul Mukhlishin Fish Shodaqoh”

 

Judul bebas:

“Mengobati KedengkianDan Meraih Pahala Shodaqoh Dengan Keikhlasan”

 

Dengan Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh al Qodhi

Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Disusun dan diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

Semoga Alloh memaafkannya

di Yaman

 

Kata Pengantar

Fadhilatusy Syaikh Al Qodhi Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy حفظه الله

 

         الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف خلق الله محمد بن عبد الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

            Sungguh aku telah melihat risalah saudara kita yang mulia Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Alu Thuri Al Jawiy Al Indonesiy yang berjudul: “Mu’alajatut Tahasud Bainal Ikhwah Wa Tabsyirul Mukhlishin Fish Shodaqoh Bi Dunil Mann Wal Adziyyah.” Maka aku mendapatinya risalah yang bagus mengobati penyakit paling berbahaya yang menimpa orang-orang yaitu: hasad (kedengkian), dan itu adalah termasuk penyakit hati yang paling berbahaya. Hasad itu merupakan sebab besar sekali di antara sebab-sebab yang menghalangi hidayah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim رحمه الله تعالى sebagaimana dalam kitab beliau “Hidayatul Hayaro”, yang mana beliau berkata: “Dan sebab yang menghalangi diterimanya kebenaran itu banyak sekali, di antaranya adalah: kebodohan terhadap kebenaran tadi. Dan sebab yang ini merupakan sebab yang paling mendominasi kebanyakan jiwa,” –sampai pada ucapan beliau رحمه الله:- “Dan termasuk sebab yang paling besar adalah: kedengkian, karena sesungguhnya itu adalah penyakit tersembunyi di dalam jiwa, yang mana si pendengki melihat orang  yang didengkinya telah diutamakan di atas dirinya dan diberi sesuatu yang tidak diberikan pada orang yang setara dengannya, sehingga penyakit dengki tadi tidak membiarkan pelakunya untuk mematuhi orang yang didengkinya ataupun menjadi pengikutnya. Dan bukankah tidak ada yang menghalangi Iblis dari sujud pada Adam kecuali kedengkian?Karena sesungguhnya Iblis manakala melihat Adam telah diutamakan di atas dirinya dan diangkat di atasnya, air ludahnyamenyekat di kerongkongannya dan dia memilih kekufuran daripada keimanan setelah sebelumnya ada di antara malaikat. Dan penyakit inilah yang menghalangi Yahudi untuk beriman pada Isa bin Maryam dalam keadaan mereka telah mengetahui dengan pengetahui yang tiada keraguan di dalamnya bahwasanya beliau adalah Rosululloh, datang dengan membawa bayyinah dan petunjuk. Maka kedengkian membawa mereka untuk memilih kekufuran daripada keimanan dan mereka bersepakat untuk itu, dalam keadaan mereka adalah satu umat yang di dalamnya ada para pendeta, ulama, ahli zuhud, para qodhi (hakim), para raja, para pemimpin.Ini dalam keadaan Isa Al Masih datang membawa hukum Tauroh dan tidak membawa syariat yang menyelisihinya dan tidak memerangi mereka.Hanya saja beliau membawa penghalalan untuk sebagian perkara yang diharomkan terhadap mereka sebagai bentuk rohmat dan kebaikan untuk mereka.Dan beliau datang sebagai penyempurna syariat Tauroh.Bersamaan dengan ini mereka memilih kekufuran daripada keimanan.

            Maka bagaimana keadaan mereka bersama seorang Nabi yang datang membawa syariat yang tersendiri, menghapus seluruh syariat, memukul mereka dengan keburukan-keburukan mereka sendiri, menyeru membongkar aib-aib mereka, mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka?Mereka terus memeranginya dalam keadaan dia dalam seluruh peperangan dengan mereka itu dia tertolong untuk mengalahkan mereka?” –sampai pada ucapan beliau رحمه الله:- “Dan itu adalah penyakit yang menghalangi Nashoro untuk beriman pada Muhammad صلى الله عليه وسلم .” selesai.

            Saudara kita Abu Fairuz حفظه الله تعالى telah menyebutkan obat untuk penyakit ini sebagaimana beliau nukilkan dari Ibnul Qoyyim رحمه الله تعالى .

            Dan beliau حفظه الله juga menyebutkan penyakit lain yang membinasakan dan menggugurkan pahala, yaitu: menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti orang yang diberi shodaqoh. Dan beliau حفظه الله menyebutkan obat untuk penyakit tadi dan juga menyebutkan keutamaan shodaqoh secara rahasia dan terang-terangan.

            Maka sungguh benar bahwasanya ini adalah risalah yang penting yang mengobati sebagian penyakit hati, dan meletakkan obat pada penyakit, maka semoga Alloh membalas beliau dengan pahala yang terbaik.Dan saya mohon pada Alloh agar menjadikan amalannya itu ikhlas untuk Alloh سبحانه, dan agar memberinya taufiq untuk melanjutkan pembahasan-pembahasan yang bagus seperti ini, dan agar memberinya taufiq untuk berbuat setiap kebaikan.Amin.

 

Ditulis oleh:

Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy

Pada hari Ahad 29 Rojab 1434 H

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar Penulis

 

الحمد لله الذي قال: ﴿وماأمرواإلاليعبدوااللهمخلصينلهالدينحنفاءويقيمواالصلاةويؤتواالزكاةوذلكدينالقيمة﴾، وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله الذي قال: «إنماالأعمالبالنيات،وإنمالكلامرئمانوى. فمَنْكانتهجرتهإِلىاللهورسولهفهجرتهإِلىاللهورسوله،ومنكانتهجرتهلدنيايصيبهاأوامرأةينكحهافهجرتهإِلىماهاجرإليه».

اللهم صل وسلم على محمد وآله أجمعين أما بعد:

            Telah berdatangan pertanyaan-pertanyaan dari sebagian saudara yang mulia, sebagiannya meminta saya untuk berbicara tentang perbandingan keutamaan antara shodaqoh secara rahasia dan secara terang-terangan. Sebagian yang lain menanyakan tentang hukum menyebut-nyebut pemberian sekalipun hanya di dalam hati, atau yang seperti itu.

            Maka saya di dalam kesempatan yang tidak luas ini ingin menuliskan kepada mereka –sebagian manfaat untuk diri saya sendiri sebelum orang lain- apa yang Alloh mudahkan dari ucapan-ucapan para ulama dalam bab ini.

            Dan juga manakala saya melihat banyaknya kedengkian di antara muslimin, bahkan di antara para dai di jalan Alloh عز وجل , saya akan menyebutkan bab penyakit kedengkian dan pengobatannya, dan metode menghadapi orang yang dengki dengan cara yang lebih baik, semoga Alloh ta’ala memperbaiki untuk kita semua amalan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, serta semakin mempererat persaudaraan di antara kita, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

            Dengan pertolongan Alloh semata kita mendapatkan taufiq, dan hanya dari sisi-Nya sajalah obat dari sebagai penyakit.

 

Bab Satu:

Peringatan Terhadap Kedengkian

 

Pasal satu: definisi hasad dan hukumnya

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Hasad (kedengkian) adalah: seseorang mengangan-angankan hilangnya  nikmat dari orang yang berhak mendapatkannya. Ini lebih umum daripada dia berupaya untuk menghilangkan nikmat tadi atau tidak.Jika dia berupaya untuk itu, maka dia telah menzholiminya. Jika dia tidak mengupayakan itu dan tidak menampakkannya, dan tidak melakukan sebab untuk terjadi perkara yang dibenci dalam hak muslim, maka diperiksa: jika penghalangnya adalah karena lemahnya dirinya yang mana dia tidak mampu untuk berbuat itu, maka dia berdosa. Jika penghalangnya adalah ketaqwaan, maka dia mendapatkan udzur karena dia tidak sanggup menolak desiran hati manusiawi, maka cukuplah baginya dengan memerangi desiran tadi dan tidak melakukan amalan jelek tadi dan tidak bertekad untuk melakukannya.”(“Fathul Bari”/10/hal. 482).

            Dan hasad itu harom. Telah shohih dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تحسسوا ولا تجسسوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانا». (أخرجه البخاري (6064) ومسلم (2563)).

“Hindarilah oleh kalian dugaan, karena sesungguhnya dugaan itu adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian tahassus (mencari berita rahasia untuk diri sendiri), jangan tajassus (mencari berita rahasia untuk orang lain), janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci. Dan jadilah kalian –wahai hamba Alloh- bersaudara.”(HR. Al Bukhoriy (6064) dan Muslim (2563)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Telah saling mendukung dalil-dalil syariat dan kesepakatan ulama tentang haromnya hasad, dan haromnya menghina muslimin, dan haromnya menginginkan kejelekan menimpa mereka, dan amalan-amalan hati yang jelek yang lain dan larangan bertekad untuk itu. Allohu a’lam.”(“Al Minhaj”/2/hal. 152).

Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«لا حسد إلا في اثنتين رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضي بها ويعلمها». (أخرجه البخاري (1409) ومسلم (816)).

“Tak boleh ada hasad kecuali terhadap dua orang: orang yang Alloh beri harta, maka dia menghabiskannya dalam kebenaran. Dan orang yang Alloh beri hikmah maka dia menghukumi dengan itu dan mengajarkannya.”(HR. Al Bukhoriy (1409) dan Muslim (816)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Para ulama berkata: hasad itu ada dua macam: sejati dan majaz. Hasad sejati adalah: angan-angan untuk hilangnya nikmat dari pemiliknya. Dan ini harom dengan kesepakatan umat beserta nash-nash yang shohih. Adapun hasad yang majaz adalah: ghibthoh, yaitu mengangankan seperti kenikmatan yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tadi dari pemiliknya. Jika Ghibthoh itu termasuk dalam perkara dunia, maka boleh saja, tapi jika dalam perkara ketaatan, maka mustahab. Dan yang dimaksudkan dalam hadits tadi adalah: tidak ada ghibthoh yang disukai kecuali pada dua karakter ini tadi, dan yang semakna dengan itu.”(“Al Minhaj”/6/hal. 97).

            Dan dari Abdulloh bin Amr ibnil ‘Ash رضي الله عنهما :

عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال:«إذا فتحت عليكم فارس والروم أي قوم أنتم ؟» قال عبدالرحمن بن عوف: نقول كما أمرنا الله. قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:«أو غير ذلك تتنافسون ثم تتحاسدون ثم تتدابرون ثم تتباغضون أو نحو ذلك ثم تنطلقون في مساكين المهاجرين فتجعلون بعضهم على رقاب بعض».(أخرجه مسلم (2962)).

“Dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda: “Jika dibukakan untuk kalian Persia dan Romawi, seperti kaum yang manakah kalian?” Abdurrohman bin Auf menjawab: “Kami berbuat seperti yang diperintahkan oleh Alloh.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ataukah selain itu: kalian saling berlomba lalu kalian saling mendengki, lalu kalian saling membelakangi, lalu kalian saling membenci, atau yang seperti itu, lalu kalian berangkat ke orang-orang miskin muhajirin, lalu kalian menjadikan sebagian kalian menjadi pemimpin terhadap sebagian yang lain?” (HR. Muslim (2962)).

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Para ulama berkata: tanafus adalah saling berlomba untuk mendapatkan sesuatu, dan tidak suka orang lain mengambilnya.Dan itu adalah derajat hasad yang pertama.Hasad adalah: angan-angan untuk hilangnya nikmat dari pemiliknya. Tadabur adalah saling memutus hubungan.Terkadang bersamaan dengan itu masih ada sedikit rasa cinta atau tidak terjadi saling cinta ataupun juga saling benci.Saling benci adalah setelah itu.Oleh karena itulah diurutkan dalam hadits ini.”(“Al Minhaj”/18/hal. 96-97).

            Maka sebagaimana hasad itu harom, demikian pula sarana yang menyampaikan ke situ juga harom.

            Kemudian sesungguhnya hasad adalah penyakit yang berbahaya terhadap pelakunya, dan terkadang menyebabkan dia menzholimi yang lain. Penyair berkata:

كلُّ العَداوة قد تُرْجَى إماتتُها … إلا عَدَاوَةَ مَن عاداكَ مِن حَسَدِ

“Setiap permusuhan itu bisa diharapkan untuk dipadamkan kecuali permusuhan dari orang yang memusuhimu disebabkan oleh kedengkian.”

(“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 193).

Dan syair Abul ‘Atahiyyah:

فيا رَبِّ إنّ الناس لا يُنْصفونني … وكيفَ ولَوْ أَنصفتُهم ظَلَمُوني

وإنْ كانَ لي شيءٌ تَصدّوْا لأخْذه … وإن جئت أبْغِي سَيْبهم مَنَعُوني

وإن نالَهُمِ بَذْلي فلا شُكْرَ عِنْدهم … وإن أنا لم أبذل لهم شَتَمُوني

وإن طَرَقتْني نِقْمَةٌ فَرِحُوا بها … وإن صَحِبَتنِي نِعْمَةٌ حَسَدُوني

سَأَمْنَع قلْبِي أن يَحنَّ إليهُم … وأحْجُب عنهم ناظِري وجُفُوني

“Maka wahai Robbku, sesungguhnya orang-orang tidak bersikap adil terhadap saya.Bagaimana sementara jika saya bersikap adil pada mereka mereka justru menzholimi saya.

Jika saya punya sesuatu, mereka tampil untuk mengambilnya.Dan jika saya datang untuk mencari pemberian mereka, mereka menghalangi saya.

Jika mereka mendapatkan limpahan kebaikan saya, mereka tak punya syukur.Tapi jika saya tidak mencurahkan untuk mereka, mereka mencaci saya.

Jika saya tertimpa bencana, mereka bergembira dengan itu.Tapi jika saya disertai oleh kenikmatan, mereka dengki kepada saya.

Saya akan melarang hati saya untuk sayang pada mereka, dan saya akan menghalangi pandangan dan kelopak mata saya dari mereka.”

(“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 193).

            Sebagian orang bijaksana ditanya: “Siapakah musuh Anda yang tidak Anda sukai untuk kembali menjadi sahabat dekat Anda?” beliau menjawab: “Orang pendengki yang tidak bisa mengembalikan dia kepada rasa cinta kepadaku kecuali dengan hilangnya kenikmatanku.”(“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 194).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari penyakit hati adalah hasad (kedengkian), sebagaimana sebagian dari mereka berkata tentang definisinya: “Dia itu adalah gangguan yang menyusuli disebabkan oleh pengetahuan tentang baiknya kondisi orang-orang kaya. Maka tidak boleh orang yang mulia itu menjadi pendengki, karena orang yang mulia itu berjalan di atas perkara yang bagus. Dan sekelompok orang berkata: Hasad adalah keinginan untuk hilangnya kenikmatan dari orang yang dihasadi, sekalipun si pendengki itu tidak mendapatkan kenikmatan yang semisal dengannya. Berbeda dengan ghibthoh (sekedar iri): dia itu adalah angan-angan untuk mendapatkan yang semisal dengannya tanpa perasaan suka untuk hilangnya kenikmatan tadi dari orang yang dia irikan.

            Sebenarnya hasad itu adalah kebencian kepada apa yang dilihatnya yang berupa baiknya keadaan orang yang didengki. Dia itu ada dua macam:

            Yang pertama: kebencian kepada kenikmatan tadi secara mutlak, maka inilah hasad yang tercela. Jika dia membenci kenikmatan tadi maka dia akan merasa kesakitan dan terganggu dengan adanya perkara yang dibencinya itu, sehingga jadilah itu sebagai penyakit di hatinya. Dan dia merasa senang dengan hilangnya kenikmatan tadi dari orang tadi, sekalipun dirinya sendiri tidak mendapatkan manfaat dengan hilangnya.Tapi manfaatnya adalah hilangnya rasa sakit yang ada di dalam dirinya.Akan tetapi rasa sakit tadi tidak hilang kecuali dengan langsung mengobati sumbernya, yaitu dengan ketentraman hati.

            Dan yang paling keras adalah seperti orang yang sakit yang diobati dengan penghilang rasa sakit sementara penyakitnya itu tetap ada, karena sesungguhnya kebencian dia terhadap nikmat Alloh itu adalah penyakit, karena sesungguhnya kenikmatan tadi bisa jadi akan kembali kepada orang yang dihasadi dan lebih besar dari yang sebelumnya. Dan bisa jadi akan dihasilkan semisal dengan kenikmatan tadi untuk orang yang semisal dengan orang yang dihasadi tadi, sementara si pendengki tak punya sasaran tertentu, akan tetapi jiwanya membenci jenis nikmat yang Alloh berikan. Oleh karena itu berkatalah orang yang berkata: “Sesungguhnya hasad itu adalah berangan-angan hilangnya kenikmatan. Karena orang yang membenci kenikmatan dimiliki orang lain, dia itu dengan hatinya mengangankan hilangnya nikmat tadi.

            Jenis kedua: membenci keutamaan orang tadi di atas dirinya, maka dia senang agar dirinya semisal dengan orang tadi atau lebih utama darinya. Maka ini adalah hasad.Dan inilah yang mereka namakan dengan ghibthoh. Nabi صلى الله عليه وسلم menamakannya dengan hasad dalam hadits muttafaqun ‘alaih dari hadits Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya beliau bersabda:

«لا حسد إلا في اثنتين : رجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها، ورجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق»

“Tak boleh ada hasad kecuali terhadap dua orang: orang yang Alloh beri hikmah maka dia menghukumi dengan itu dan mengajarkannya. Dan orang yang Alloh beri harta, maka dia menghabiskannya dalam kebenaran.”

Ini adalah lafazh Ibnu Mas’ud([1]).

            Lafazh Ibnu Umar:

«رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل والنهار، ورجل آتاه الله مالا فهو ينفق منه في الحق آناء الليل والنهار»

“Orang yang Alloh beri Al Qur’an, maka dia berdiri dengan membacanya di ujung malam dan siang, dan orang yang Alloh beri harta, maka dia menginfaqkannya dalam kebenaran di ujung malam dan siang.”([2])

            Diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dari hadits Abu Huroiroh dan lafazhnya:

«لا حسد إلا في اثنين : رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه الليل والنهار، فسمعه رجل فقال : ياليتني أوتيت مثل ما أوتي هذا،فعملت فيه مثل ما يعمل هذا، ورجل آتاه الله مالا فهو يهلكه في الحق . فقال رجل : ياليتني أوتيت مثل ما أوتي هذا فعملت فيه مثل ما يعمل هذا».

“Tak boleh ada hasad kecuali terhadap dua orang:”Orang yang Alloh beri Al Qur’an, maka dia membacanya di ujung malam dan siang, maka ada orang yang mendengarnya seraya berkata: “Aduh andaikata aku diberi seperti yang diberikan padanya lalu aku mengamalkannya seperti apa yang dia amalkan. Dan orang yang Alloh beri harta, maka dia menghabiskannya dalam kebenaran.maka ada orang yang berkata: “Aduh andaikata aku diberi seperti yang diberikan padanya lalu aku mengamalkannya seperti apa yang dia amalkan.”([3])

            Maka hasad ini, yang Nabi صلى الله عليه وسلم melarangnya kecuali di dua tempat, itulah yang mereka namakan sebagai ghibthoh, yaitu dia senang semisal dengan keadaan orang lain dan membenci orang lain melebihi dirinya.

            Jika dikatakan: jika demikian, kenapa dinamakan dengan hasad, sementara dia cuma senang Alloh memberikan nikmat pada dirinya?

            Jawabnya adalah: permulaan kesenangan ini adalah pandangan dia kepada pemberian nikmat Alloh kepada orang lain dan kebencian dirinya untuk orang tadi melebihi dirinya. Andaikata bukan karena adanya nikmat tadi pada orang lain, dia tak akan menyukai yang demikian itu. Manakala permulaan ini adalah kebencian dia untuk orang lain melebihi dirinya maka jadilah dia itu hasad, karena dia itu kebencian yang diikuti oleh kecintaan. Adapun orang yang senang untuk Alloh memberikan nikmat pada dirinya tanpa dia menoleh kepada keadaan manusia, maka orang ini tidak ada hasad di dalam dirinya sedikitpun.

            Oleh karena itulah mayoritas orang tertimpa bencana berupa jenis yang kedua ini.Terkadang dinamakan sebagai munafasah (persaingan/perlombaan).Dua orang bersaing dalam perkara yang disukai dan dicari, keduanya mencari untuk mengambilnya. Yang demikian itu karena salah satunya membenci untuk yang lainnya melebihi dirinya, sebagaimana dua orang yang berlomba, masing-masingnya ingin mengungguli yang lain. Persaingan itu tidak tercela secara mutlak, bahkan dia itu terpuji dalam kebaikan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إن الأبرار لفي نعيم . على الأرائك ينظرون . تعرف في وجوههم نضرة النعيم . يسقون من رحيق مختوم . ختامه مسك وفي ذلك فليتنافس المتنافسون﴾ [ المطففين : 22 -26 ].

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

            Alloh memerintahkan orang yang berlomba untuk berlomba dalam kenikmatan yang ini, bukan berlomba dalam kenikmatan dunia yang akan segera lenyap. Dan ini sesuai dengan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم karena beliau melarang dari hasad kecuali terhadap orang yang diberi ilmu lalu dia beramal dengannya dan mengajarkannya, dan orang yang diberi harta maka dia menginfaqkannya. Adapun orang yang diberi ilmu dan tidak mengamalkannya dan tidak mengajarkannya, atau diberi harta tapi dia tidak menginfaqkannya dalam ketaatan pada Alloh, maka dia tak perlu dihasadi dan tidak perlu kita mengangankan untuk semisal dengan kondisinya, karena orang itu tidak ada dalam kebaikan yang perlu diminati, bahkan dia itu disodorkan kepada siksaan. Dan barangsiapa mengurusi suatu kekuasaan lalu dia mendatanginya dengan ilmu dan keadilan, menunaikan amanah-amanah kepada yang berhak menerimanya, menghukumi di antara manusia dengan Kitab dan Sunnah, maka orang ini derajatnya agung.Akan tetapi orang ini dalam jihad yang agung, demikian pula mujahid di jalan Alloh.

            Jiwa itu tidak dengki kepada orang yang berada dalam kecapekan yang besar, oleh karena itu Nabi tidak menyebutkannya, sekalipun mujahid di jalan Alloh itu lebih utama daripada orang yang menginfaqkan harta, berbeda dengan orang yang berinfaq dan pengajar, karena kedua orang ini secara adat kebiasaan mereka itu tidak punya musuh dari luar. Jika ditaqdirkan bahwasanya keduanya itu punya musuh yang mereka perangi, maka yang demikian itu lebih utama untuk derajat keduanya.

            Demikian pula Nabi صلى الله عليه وسلم tidak menyebutkan orang yang sholat, puasa dan haji, karena amalan-amalan ini tidak dihasilkan darinya secara kebiasaan perkara yang bermanfaat orang lain yang dengan itu mereka mengagungkan orang tadi dan menjadikannya sebagai pemimpin, seperti yang dihasilkan dengan pengajaran dan infaq.

            Dan hasad itu pada asalnya hanyalah terjadi pada perkara yang dengannya dihasilkanlah kepemimpinan dan kedudukan untuk orang lain. Jika tidak demikian maka orang yang beramal itu secara kebiasaan tidak dihasadi, sekalipun bersenang-senangnya dia dengan makanan, minuman dan pernikahan itu lebih banyak daripada orang yang lain, berbeda dengan dua jenis ini, karena keduanya itu banyak dihasadi.Oleh karena itulah didapatkan kedengkian di antara ulama yang punya pengikut, yang tidak didapati pada orang yang tidak demikian.Demikian pula pada orang yang punya pengikut disebabkan karena dia banyak menginfaqkan hartanya.Maka orang yang tadi memberikan manfaat pada manusia dengan makan rohani, adapun yang ini memberikan manfaat pada manusia dengan makan badan.Manusia semuanya butuh kepada perkara yang memperbaiki mereka dari yang ini dan yang itu.

-sampai pada ucapan beliau:-

            Ini Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه bersaing dengan Abu Bakr رضي الله عنه dalam infaq sebagaimana telah tetap dalam “Shohih” dari Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه yang berkata:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق، فوافق ذلك مالا عندي، فقلت اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال: فجئت بنصف مالي، قال : فقال لي رسولالله صلى الله عليه وسلم : «ما أبقيت لأهلك ؟» قلت : مثله، وأتى أبو بكر رضي الله عنه بكل ما عنده، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما أبقيت لأهلك ؟» قال: أبقيت لهم الله ورسوله فقلت : لا أسابقك إلى شيء أبدا.

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami untuk bershodaqoh, maka kebetulan aku punya harta, maka aku berkata: “Hari ini aku akan mengungguli Abu Bakr jika ada satu hari yang aku bisa mengunggulinya. Maka aku datang dengan separo hartaku. Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bertanya padaku: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Aku menjawab: “Semisal dengan itu.” Dan Abu Bakr رضي الله عنه datang dengan membawa seluruh apa yang dimilikinya. Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bertanya padanya: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Dia menjawab: “Saya sisakan untuk mereka Alloh dan Rosul-Nya.” Maka aku berkata: “Aku tak akan menyaingimu pada suatu perkara sama sekali.”([4])

            Apa yang dilakukan oleh Umar merupakan persaingan dan keirian yang boleh, akan tetapi keadaan Ash Shiddiq رضي الله عنه itu lebih utama darinya yaitu dia kosong dari persaingan secara mutlak, tidak melihat kepada keadaan orang lain.

            Demikian pula Musa صلى الله عليه وسلم dalam hadits Al Mi’roj, beliau memiliki persaingan dan keirian kepada Nabi صلى الله عليه وسلم sampai beliau menangis ketika Nabi صلى الله عليه وسلم .

«فقيل له : ما يبكيك؟ فقال : أبكي، لأن غلاما بعث بعدي يدخل الجنة من أمته أكثر ممن يدخلها من أمتي»

“Maka ditanyakan kepadanya: “Apa yang membikin Anda menangis?” Beliau menjawab: “Saya menangis karena ada anak muda yang diutus setelahku, orang masuk Jannah dari umatnya lebih banyak daripada orang yang masuk Jannah dari umatku.”

Al Bukhoriy dan Muslim meriwayatkannya dalam “Shohihain”([5]).

–sampai pada ucapan beliau:-

            Dan dengan ini Alloh ta’ala memuji Anshor seraya berfirman:

﴿ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة﴾ [ الحشر : 9 ] ،

“Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

            Yaitu:  terhadap apa yang diberikan kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Para ahli tafsir berkata: “mereka tidak mendapati dalam dada-dada mereka kebutuhan, yaitu: kedengkian dan kemarahan terhadap apa yang diberikan kepada Muhajirin,” kemudian sebagian dari mereka berkata: “Berupa harta fai.” Ada yang berkata: “Berupa keutamaan dan lebih dulunya Muhajirin daripada Anshor.” Mereka tidak menaruh keinginan kepada apa yang diberikan pada Muhajirin yang berupa harta ataupun kemuliaan. Kedengkian itu bisa terjadi pada perkara ini.

            Dulu di antara Aus dan Khozroj ada persaingan dalam agama. Mereka jika mengerjakan sesuatu yang dengannya mereka jadi utama di sisi Alloh dan Rosul-Nya, yang lain ingin melakukan yang semisal dengan itu. Maka itu adalah persaingan dalam perkara yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh. Sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

﴿ختامه مسك وفي ذلك فليتنافس المتنافسون﴾ [ المطففين : 26 ] .

“Endapannya adalah misk (kesturi), dan untuk yang demikian itu hendaknya orang yang berlomba-lomba itu mengadakan perlombaan.”

            Adapun hasad yang tercela seluruhnya, maka sungguh Alloh ta’ala berfirman tentang Yahudi:

﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ﴾ [البقرة: 109].

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah keimanan kalian, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”

            Keinginan mereka adalah angan-angan mereka dalam keadaan hasad agar kalian itu murtad.Alloh menjadikan hasad tadi itulah yang menyebabkan angan-angan tadi setelah jelas bagi mereka kebenaran, karena mereka ketika melihat kalian telah mendapatkan kenikmatan yang kalian dapatkan itu, bahkan mereka tidak mendapatkan yang semisal itu, mereka dengki kepada kalian. Demikian pula di ayat yang lain:

﴿أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ الله مِنْ فَضْلِهِفقد آتينا آل إبراهيم الكتاب والحكمة وآتيناهم ملكا عظيما . فمنهم من آمن به ومنهم من صد عنه وكفى بجهنم سعيرا﴾ [ النساء : 54- 55]،

“Apakah mereka merasa dengki pada manusia atas sebagian karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka?Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya.dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿قل أعوذ برب الفلق . من شر ما خلق . ومن شر غاسق إذا وقب . ومن شر النفاثات في العقد . ومن شر حاسد إذا حسد﴾ [ سورة الفلق ] .

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kedengkian orang yang dengki ketika mendengki.”

            Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwasanya surat tadi turun dengan sebab kedengkian Yahudi kepada Nabi صلى الله عليه وسلم sampai mereka menyihirnya. Beliau disihir oleh Labid ibnul A’shom Al Yahudiy.Maka pendengki yang membenci nikmat terhadap orang yang Alloh beri nikmat itu adalah zholim dan melampaui batas. Dan orang yang membenci terhadap kelebihan yang Alloh berikan pada orang lain, yang senang untuk menjadi semisal dengannya itu dia dilarang dari yang demikian itu kecuali dalam perkara yang mendekatkan diri kepada Alloh. Jika dia senang untuk diberi yang semisal dengan itu yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh maka yang demikian itu tidak mengapa. Dan keberpalingan hatinya dari ini dalam bentuk dia tidak melihat kepada keadaan orang lain, maka itu lebih utama.

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 111-121).

Pasal dua: peringatan dari penyakit Ahli Kitab

            Sesungguhnya Alloh telah mensifati Ahli Kitab dengan sifat dengki dan zholim, yang mana kedua sifat ini adalah termasuk sebab mereka menolak kebenaran, menghina pemilik keutamaan, dan berupaya untuk menghilangkan nikmat yang Alloh karuniakan kepadanya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ الله بِأَمْرِهِ إِنَّ الله عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾ [البقرة: 109].

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah keimanan kalian, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan perintah-Nya.Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

            Dan Alloh Yang Agung penyebutan-Nya berfirman:

﴿أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ الله مِنْ فَضْلِهِ﴾ [النساء: 54].

“Apakah mereka merasa dengki pada manusia atas sebagian karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka?”

            Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah mengingatkan bahwasanya sebagian dari umat ini akan mengikuti jalan ahli kitab. Dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه:

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:«لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا شبرا وذراعا بذراع حتى لو دخلوا جحر ضب تبعتموهم». قلنا: يا رسول الله اليهود والنصارى؟ قال:«فمن». (أخرجه البخاري (7319)).

Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Pastilah kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke dalam lubang Dhobb kalian akan mengikutinya” mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah mereka itu Yahudi dan Nashoro?” Beliau menjawab: “Maka siapa lagi?” (HR. Al Bukhoriy (7320)).

            Dan tiada satu kedurhakaanpun di umat ini kecuali dia itu adalah bagian dari warisan sebagian umat yang terdahulu. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Bahwasanya setiap kedurhakaan yang ada, maka dia itu adalah bagian dari warisan suatu umat dari umat-umat yang Alloh عز وجل binasakan.” (“Al Jawabul Kafiy”/hal. 37).

Pasal tiga: mengambil pelajaran dari apa yang terjadi sepanjang sejarah

            Sesungguhnya Alloh ta’ala telah memberikan karunia kepada sebagian hamba-Nya dengan nikmat-nikmat yang dihasadi oleh sekelompok orang lain, sebagaimana terjadi pada sebagian salaf yang dihasadi oleh sekelompok orang.

            Al Imam Ahmad رحمه الله berkata pada orang di sekeliling beliau: “Ketahuilah, semoga Alloh ta’ala merohmati kalian, bahwasanya seseorang dari ulama itu jika dikaruniai Alloh suatu ilmu yang tidak diberikan pada teman seiringnya dan yang setingkat dengannya, mereka akan mendengkinya, lalu mereka menuduhnya dengan perkara yang tidak ada pada dirinya. Dan hasad adalah karakter yang paling jelek pada ulama.” (dinukilkan oleh Ali Muhammad Muhammad Al Shollabiy dalam kitab beliau “As Salajiqoh” (1/hal. 482) dari Al Baihaqiy dalam kitab beliau “Manaqibusy Syafi’iy”/2/hal. 259).

            Dan berikut ini sebagian dari peristiwa yang tercatat oleh sejarah, yang menimpa sebagian tokoh disebabkan oleh kedengkian teman sejawat mereka terhadap mereka, lalu menzholimi mereka:

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata tentang kisah Al Imam Al Bukhoriy رحمه الله: Al Hakim berkata: Thohir bin Muhammad Al Warroq menceritakan bahwasanya dia mendengar Muhammad bin Syadzil berkata: ketika terjadi kasus antara Muhammad bin Yahya dan Al Bukhoriy, aku masuk menemui Al Bukhoriy, lalu aku berkata pada beliau: “Wahai Abu Abdillah, apa yang bisa kami usahakan dalam kasus yang terjadi antara anda dan Muhammad bin Yahya? Setiap orang yang berbolak-balik menemui anda diusir.” Beliau menjawab: “Betapa seringkah Muhammad bin Yahya tertimpa hasad dalam ilmu.Ilmu adalah rizqi Alloh yang diberikan oleh-Nya pada orang yang Dia kehendaki.”(“Siyar A’lamin Nubala”/12/hal. 456-457).

            Abu Abdulloh Al Fadhl bin Musa As Sinaniy –Sinan adalah desa di Marw- dengan kedengkian sebagian orang. Beliau meriwayatkan dari Abu Hanifah رحمه الله , dan beliau tadi termasuk dari sejawat Ibnul Mubarok dalam masalah ilmu dan umur. Ishaq bin Rohawaih meriwayatkan darinya. Beliau senang bercanda juga.Beliau pindah dari Sinan karena manakala banyak orang yang mendatangi beliau untuk belajar, orang-orang mendengki beliau, dan mereka menyuruh seorang wanita untuk mengakui bahwasanya beliau merayunya.Maka beliau pindah dari mereka.Lalu pada tahun itu pertanian di Sinan kering.Maka mereka mendatangi beliau dan meminta beliau untuk kembali tinggal di tempat mereka. Maka beliau berkata: “Tidak, sampai kalian mengakui bahwasanya kalian telah berdusta.” Maka mereka melakukan itu. Lalu beliau berkata: “Aku tidak punya hajat untuk tinggal bersama orang yang berdusta.” Banyak ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau. Beliau disebutkan oleh Adz Dzahabiy dalam “Al Mizan” dan berkata: “Beliau adalah seorang ulama tsiqot. Aku tidak tahu beliau ada kelembekan, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Abdulloh bin Ali ibnul Madiniy yang berkata: Aku mendengar ayahku ditanya tentang Abu Tumailah dan As Sinaniy, maka beliau lebih mengutamakan Abu Tumailah dan berkata: “Al Fadhl bin Musa meriwayatkan hadits-hadits munkar.” (“Al Jawahirul Mudhiah Fi Thobaqotil Hanafiyyah”/1/hal. 391).

            Dan ini dia Al Imam An Nasaiy رحمه الله dibunuh oleh para pendengki. Ali bin Umar Syaikh Al Hakim An Naisaburiy رحمهما الله berkata tentang ketinggian ilmu An Nasaiy رحمه الله: “… manakala beliau mencapai puncak tadi merekapun mendengkinya.Maka beliau keluar ke Romlah.Lalu beliau ditanya tentang keutamaan Mu’awiyah, maka beliau menahan diri dari itu.Maka mereka memukuli beliau di dalam masjid Jami’. Lalu beliau berkata: “Keluarkanlah aku ke Mekkah. Mereka mengeluarkan beliau dalam keadaan beliau sakit, dan beliau meninggal terbunuh sebagai syahid.”(“Tahdzibut Tahdzib”/1/hal. 33).

            Dan ini dia Al Hafizh Abdul Ghoniy Al Maqdisiy رحمه الله disebutkan oleh Adz Dzahabiy رحمه الله: “Dulu Al Hafizh Abdul Ghoniy Al Maqdisiy رحمه الله biasa membacakan hadits di Dimasyq. Dan orang banyak berkumpul mendengarkan hadits beliau.Maka terjadilah hasad.Maka mulailah lawan beliau membikin waktu untuk diri mereka membacakan hadits dan mereka mengumpulkan orang-orang. Ternyata yang ini tidur, yang itu hadir tanpa konsentrasi, sehingga mereka tidak puas, …”(“Siyar A’lamin Nubala”/21/hal. 455 dst/Ar Risalah).

            Dan di hal. 462: Syuja’ bin Abi Zakariya Al Amir berkata: Sang Raja Al Kamil berkata padaku suatu hari: “Di sini ada seorang faqih yang orang-orang mengatakan bahwa dia kafir. Aku menjawab: “Saya tidak mengenalnya.” Beliau berkata: “Engkau mengenalnya, beliau seorang muhaddits.” Aku berkata: “Barangkali beliau adalah Al Hafizh Abdul Ghoniy?” beliau berkata: “Itulah beliau.” Aku berkata: “Wahai Tuan Raja. Para ulama itu salah seorang dari mereka mencari akhirat, sementara yang lain mencari dunia, dan Anda di sini adalah pintu dunia. Orang ini –Al Hafizh- apakah beliau mendatangi Anda atau memberikan syafaat meminta sesuatu?” Beliau menjawab: “Tidak.” Maka aku berkata: “Demi Alloh mereka dengki pada beliau. Maka apakah di negri-negri ini ada orang yang lebih tinggi daripada Anda?” Beliau menjawab: “Tidak.” Aku berkata: “Orang ini adalah ulama yang tertinggi, sebagaimana Anda adalah orang yang tertinggi.” Maka beliau berkata: “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan sebagaimana engkau mengenalmu.” Kemudian aku mengirimkan selembar kepada beliau, aku mewasiatkan beliau untuk menjaga Al Hafizh.Lalu beliau memintaku datang, maka akupun datang. Ternyata di sisi beliau ada syaikhusy syuyukh Ibnu Hamwaih dan Izzud Din Az Zinjariy. Sultan berkata padaku: “Kita sedang membicarakan urusan Al Hafizh.” Maka beliau berkata: “Wahai Tuan Raja, orang-orang itu dengki pada beliau.Ini Asy Syaikh ada di antara kita –yaitu: syaikhusy syuyukh- dan saya menyumpah dirinya: Apakah Anda mendengar dari AI Hafizh suatu perkataan yang keluar dari Islam?” Maka beliau menjawab: “Tidak, demi Alloh, saya tidak mendengar dari beliau kecuali setiap perkara yang indah. Dan tidaklah saya melihatnya kecuali demikian pula.Ibnuz Zinjariy berbicara pula, dan beliau banyak memuji Al Hafizh dan murid-muridnya. Dan beliau berkata: “Saya kenal mereka.” Maka aku berkata: “Aku berkata dengan sesuatu yang lain: tidak boleh menimpa beliau suatu perkara yang buruk sampai tiga ribu orang Kurdiy dibunuh.” Maka Raja berkata: “Al Hafizh tidak boleh diganggu.” Maka aku berkata: “Tulislah dengan tulisan tangan Anda tentang itu.” Maka beliau menulisnya.”Selesai.

            Di ini juga Ibnu Bukair Al Hafizh Al Imam Abu Abdillah Al Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Bukair Ash Shoirofiy. Abul Qosim Al Azhariy berkata tentang beliau: “Aku pernah hadir di sisi beliau, dan di depan beliau ada juz-juz kitab hadits. Lalu aku melihat ke juz-juz tadi. Beliau berkata: “Yang mana saja lebih engkau sukai, sebutkan saja matan yang engkau inginkan dari juz-juz tadi sampai aku kabari engkau dengan sanadnya, atau engkau sebutkan sanadnya sampai aku kabari engkau dengan matannya.” Dulu aku sering menyebutkan matan-matan pada beliau, maka beliau menyebutkan padaku hadits dengan sanadnya hapal sebagaimana aslinya.Aku sering melakukan itu bersama beliau berulang-ulang.Beliau itu tsiqoh, tapi mereka dengki pada beliau dan mengkritik beliau.”(“Thobaqotul Huffazh”/hal. 81).

            Dan ini dia Muhammad bin Abdillah bin Ali bin Utsman bin Ibrohim bin Musthofa Shodrud Din Ibnut Turkmaniy. Beliau memegang kehakiman Hanafiyyah secara terpisah, beliau dengan ayahnya.Beliau lahir tanggal empat bulan Rojab tahun 743 H, beliau menyibukkan diri dengan belajar, mencapai keahlian dan mewakili ayahnya dalam kehakiman. Beliau tumbuh baik dan memegang kehakiman sepeninggal As Sarroj Al Hindiy pada tanggal 14 bulan Rojab 773 H dalam keadaan beliau sempurna umur tiga puluh tahun. Tidak lama umur jabatannya itu.Wajah dan gayanya bagus, fasih, berwibawa, ditakuti. Ketika beliau memegang kehakiman maka orang-orang pun tahu bahwasanya para masyayikh ajam dengki kepada beliau ketika ayah beliau meninggal dan beliau diangkat sebagai hakim, karena para masyayikh tadi berkumpul dan berkata: “Kami tidak rela dengannya, karena dia masih muda dan sedikit ilmu dan pengetahuan akan syarat-syarat. Maka As Sarroj Al Hindiy. Ketika As Sarroj meninggal dan kehakiman menetap untuknya nampaklah cara kerjanya berbeda dengan yang mereka gambarkan, dan orang-orang senang dengan beliau, mencintai beliau dan menilai beliau termasuk dari kebagusan zaman itu.” (“Rof’ul Ishr ‘An Qudhoti  Mishr”/hal. 166).

            Dan ini Ustadz Kafur Al Ikhsyidiy Al Mishriy. Beliau dimuliakan oleh Asy Syarif Abu Muhammad Abdulloh bin Ahmad bin Ali ibnul Hasan bin Ibrohim Thobathoba bin Isma’il bin Ibrohim ibnul Hasan ibnil Hasan bin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه . Asal beliau adalah Hijaz, tinggalnya dan wafatnya di Mesir.Si Syarif itu bersih, dermawan, mulia, punya rumah dan pertanian serta kenikmatan yang jelas, budak-budak, para pengawal, banyak kesenangan. Di jembatan tempat beliau ada seseorang yang setiap pagi hari memotong-motong  Luz (sejenis buah di Arob) untuk membikin manisan dan diberikan kepada penduduk Mesir lewat jalur Al Ustadz Kafur Al Ikhsyidiy ke orang-orang di bawah beliau. Orang tersebut diberi dua dinar perbulan sebagai gaji pekerjaannya tadi.Ada orang yang dikirimi manisan setiap hari, ada yang dikirimi setiap Jum’at, ada yang dikirimi setiap bulan.Dia mengirimkan ke Kafur setiap hari manisan sebanyak dua wadah dan roti dalam sapu tangan yang tersegel.Maka sebagian tokoh merasa dengki dengan itu. Maka dia berkata pada Kafur: “Manisan itu bagus, tapi ada apa dengan rotinya? Tidak bagus dia memberimu roti itu.” Maka Kafur mengirimkan pesan kepada Syarif seraya berkata: “Silakan Syarif melanjutkan pengiriman manisan kepada saya, seperti biasa, dan memaafkan saya agar tidak mengirimi saya roti lagi.” Maka Syarif menaiki kendaraannya mengunjungi Kafur, dan dia tahu bahwasanya mereka dengki kepada Kafur karena roti tadi, dan mereka ingin roti itu dibatalkan. Manakala beliau bertemu dengan Kafur, beliau berkata padanya: “Semoga Alloh mendukung Anda. Sungguh kami tidak mengirimkan roti tadi karena lancang terhadap Anda ataupun meninggikan diri terhadap Anda.Hanya saja si bocah perempuan kecil dari keluarga Al Hasan mengadonnya dengan tangannya, dan membikinnya jadi roti, lalu kami mengirimkannya agar diberkahi.Maka jika Anda tidak menyukainya, maka kami akan memutuskan pengiriman roti tadi.” Maka Kafur berkata: “Jangan, demi Alloh, janganlah Anda memutusnya. Saya tak punya makan pokok selain itu.”Maka kembalilah seperti biasa beliau mengirimkan manisan dan roti kepada beliau.”(“Wafiyyatul A’yan”/3/hal. 81).

            Dan ini juga Amirul Mukminin Abul Maimun Abdul Majid bin Al Amir Abul Qosim ibnul Imam Al Mustanshir Billah Amiril Mukminin, diambil untuk beliau bai’at sesuai dengan bentuk resminya dan disifat dengan Al Hafizh Li Dinillah Amirul Mukminin. Maka urusannya berjalan dengan lancar.Dan pengaturan negri bagus dengan pandangan beliau.Dan beliau menyerahkan urusan kepada Abu Ali Ahmad ibnul Afdhol panglima tentara dan kementrian negri dan pengaturan kerajaan.Maka beliau mengelola seluruh urusan itu dengan pengaturan yang paling adil, dan mengatur pekerjaan dengan pengaturan yang paling indah. Dan beliau berjalan dengan metode ayahnya Al Afdhol رحمه الله dalam mencintai keadilan, dan lebih mengutamakan keadilan dan membatasi kezholiman dan memadamkan api kezholiman. Dan beliau mengembalikan peda orang-orang harta yang pernah dirampas dari tangan mereka, dan beliau memberikan keamanan pada orang-orang yang berbakti dan bertaqwa, dan beliau menakut-nakuti orang yang membikin kerusakan.Senantiasa beliau tekun di atas madzhab yang terpuji ini dan setia di atas jalan yang lurus ini sampai datanglah bencana dari beberapa pejabat tinggi kerajaan yang dengki kepada beliau atas ilham amal kebaikan dan pemeliharan yang sholih yang Alloh karuniakan pada beliau.Mereka berkumpul untuk merusak kondisi beliau dan mereka membikin cerita-cerita mustahil dan mereka berupaya untuk melakukan kedustaan yang bisa mereka kumpulkan, dan lafazh-lafazh kebatilan yang mereka perbagus.Dan itu ditetapkan bersama tentara tanpa melibatkan para tokoh terkemuka dari rakyat, lalu dilalaikan sampai didapatkan kesempatan yang mudah dan di saat beliau tidak menyadarinya.Dan kesempatan itu dihasilkan di saat beliau tidak disertai pasukan dan pembantu serta orang terkemuka beliau.Beliau tidak menyadari makar yang telah disusun dan direncanakan untuk mencelakai beliau, lalu kelompok tadi menyerang beliau dan membunuh beliau –semoga Alloh merohmatinya- saat mereka menyendiri dengan beliau.Para sahabat beliau mendapati beliau telah meninggal, lalu mereka membunuh para durjana tadi.Lalu mereka membawa beliau ke tempat pemakaman beliau dan memakamkannya di situ.”(“Tarikh Abi Ya’la”/hal. 140).

            Dan dalam biografi Abul Qosim Al Baghowiy رحمه الله Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: Al Baghowiy adalah hafizh (seorang penghapal banyak hadits), mengenal Alloh, menulis musnad pamannya. Orang-orang mendengki beliau di akhir hayat beliau dan mengkritik beliau dengan perkara yang tidak merusak nama beliau.”(“Tadzkirotul Huffazh”/2/hal. 739).

            Al Imam Az Zahid Al ‘Arif Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Musa ibnu ‘Athoillah yang terkenal sebagai Ibnul ‘Irrif Ash Shonhajiy Al Andalusiy Al Muriyyi Al Muqri juga diuji dengan para pendengki. Ibnu Musdiy berkata: “Ibnul ‘Irrif termasuk jajaran orang yang sempurna, di puncak keterkenalan, negri-negri bersinar dengan orang-orang semisal beliau. Dengan sebab itu sekelompok pendengki menjadi jengkel, sampai mereka menceritakan keadaan beliau kepada penguasa zaman itu, dan mereka menakut-nakuti penguasa akan akibat dari urusan beliau nantinya, karena hati masyarakat mengitari beliau, orang-orang asing juga condong kepada beliau. Maka beliaupun diasingkan ke Marokisy.Diberitakan bahwasanya beliau diracun dan meninggal sebagai syahid.” Ibnu Musdiy berkata: “Abul ‘Abbas Ibnul ‘Irrif meninggal di Marokisy pada malam Jum’at 23 Romadhon tahun 546.” Ibnu Bisykuwal berkata: “Orang-orang ramai mengirimi jenazah beliau, dan Sultan menyesal atas perbuatannya terhadap beliau. Dan nampak karomah-karomah pada beliau.”(“Siyar A’lamin Nubala”/20/hal. 111-114/Ar Risalah).

            Al Imam Umar bin Bazzar رحمه الله berkata dalam biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله : “Terus-menerus para ahli bid’ah ahli ahwa dan para pemakan dunia dengan nama agama saling bantu dan baku tolong dalam memusuhi beliau, mencurahkan kemampuan mereka untuk dalam upaya untuk menghantam beliau, mengucapkan kedustaan-kedustaan jelas terhadap beliau, membikin-bikin berita palsu terhadap beliau, dan menisbatkan pada beliau perkara yang tidak beliau ucapkan ataupun tidak beliau nukilkan, padahal tidak didapatkan dalam tulisan tangan beliau, ataupun dalam karya tulis beliau, atau dalam fatwa beliau, ataupun didengar dari beliau di majelis. Apakah engkau kira mereka tidak tahu bahwasanya Alloh akan menanyai mereka tentang perbuatan itu dan menghisab mereka mereka atas ulah mereka itu? Ataukah mereka tidak mendengar firman Alloh ta’ala:

﴿ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسه ونحن أقرب إليه من حبل الوريد إذ يتلقى المتلقيان عن اليمين وعن الشمال قعيد ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد﴾.

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.Dan Kami lebih dekat kepadanya daripara urat lehernya, ketika dua malaikat bertemu dari kanan dan kiri dalam keadaan duduk.Tidaklah diucapkan suatu perkataanpun kecuali di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.”

            Iya, bahkan mereka mendengar ayat itu.Akan tetapi mereka telah didominasi oleh kondisi mereka yang lebih mengutamakan dunia di atas akhirat, dan beramal untuk kesenangan dunia yang disegerakan bukannya pahala yang ditunda di akhirat.Oleh karena itulah maka mereka dengki kepada beliau dan membenci beliau, karena beliau berpisah dari mereka dan menyelisihi mereka karena beliau benci dan menolak terhadap perkara yang mereka sukai dan mereka cari, dan karena beliau menyukai perkara yang mereka memisahkan diri dari itu dan mereka tolak. Dan manakala Alloh tahu niat-niat beliau dan niat-niat mereka, Alloh tidak mau mensukseskan mereka untuk mendapatkan dari beliau apa yang mereka inginkan, sampai bahkan tidaklah salah seorang dari mereka hadir bersama beliau dalam suatu majelis kecuali Alloh meletakkan majelis itu untuk menolong beliau dalam mengalahkan mereka dengan apa yang beliau tampilkan dengan lisannya yang meruntuhkan hujjah-hujjah mereka yang lemah, dan membongkar tipu daya mereka yang dahsyat untuk ulama dan masyarakat.” (“Al A’lamul ‘Aliyyah Fi Manaqibi Ibni Taimiyyah”).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam biografi Ibni Taimiyyah: “…dan pada bulan ini sendiri berangkatlah Asy Syaikh Taqiyyud Din Ibni Taimiyyah ke masjid At Tarikh dan beliau memerintahkan sahabat beliau dan mereka diserta oleh para tukang batu untuk memotong-motong batu besar yang ada di sana di sungai Qoluth, yang mana batu besar tadi diziarohi dan diserahi nadzar oleh orang-orang. maka beliau memotongnya dan menenangkan hati kaum Muslimin darinya dan dari kesyirikan dengan batu tadi. Maka beliau menghilangkan dari Muslimin syubuhat yang kejelekannya sangat besar.Dan dengan amalan ini dan yang semisalnya orang-orang jadi dengki pada beliau dan menampilkan permusuhan pada beliau.Dan demikian pula dengan sebab ucapan beliau terhadap Ibnu Arobiy dan para pengikutnya maka beliau dihasadi dan dimusuhi dengan sebab itu.Sekalipun demikian beliau tidak terpengaruh dengan celaan orang yang mencela di jalab Alloh, dan beliau tidak peduli, dan mereka tidak bisa menimpakan keburukan pada beliau.Paling puncak yang bisa mereka timpakan pada beliau adalah penjara, bersamaan dengan itu beliau tidak putus dari penelusuran ilmu, baik di Mesir maupun di Syam, dan beliau tidak berbuat pada mereka perkara yang bisa membikin buruk diri beliau.mereka cuma bisa menangkap beliau dan memenjarakan beliau dengan tetap beliau penuh dengan kebesaran.” (“Al Bidayah Wan Nihayah”/14/hal. 34).

Pasal empat: nasihat bagi orang yang terkena penyakit hasad

            Sesungguhnya hasad adalah termasuk penyakit hati, dan tiada yang selamat darinya kecuali sedikit sekali.Maka dia harus mengobatinya dan memohon pertolongan kepada Alloh untuk memerangi dirinya sendiri dan memerangi setan yang mengiringinya, serta memperbanyak berbuat kebaikan, sesungguhnya Alloh bersama dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.Dari Fudholah bin Ubaid رضي الله عنه yang berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam haji Wada’:

«ألا أخبركم بالمؤمن من أمنه الناس على أموالهم وأنفسهم والمسلم من سلم الناس من لسانه ويده والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله والمهاجر من هجر الخطايا والذنوب».(أخرجهالإمام أحمد (24004)/صحيح).

“Maukah kukabarkan pada kalian tentang mukmin?Mukmin yang sebenarnya adalah orang yang manusia itu merasa aman dengan dirinya dalam masalah harta dan jiwa mereka.Muslim yang sebenarnya adalah orang yang manusia itu selamat dari lidahnya dan tangannya.Mujahid yang sebenarnya adalah orang yang memerangi dirinya sendiri di dalam ketaatan pada Alloh.Muhajir yang sebenarnya adalah orang yang meninggalkan kekeliruan dan dosa-dosa.”(HR. Ahmad (24004). Shohih).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Barangsiapa mendapati dalam dirinya ada hasad terhadap orang lain, maka dia harus menjalankan ketaqwaan dan sabar dalam mengobati hasad tadi. Hendaknya dia membenci hasad itu dari dirinya.Dan banyak orang yang punya agama tidak sampai melampaui batas terhadap orang yang dihasadi sehingga mereka tidak membantu orang yang menzholimi orang yang dihasadi tadi.Akan tetapi mereka juga tidak melaksanakan hak orang terzholimi tadi yang wajib untuk ditunaikan.Bahkan jika ada orang mencela dia (orang yang dihasadi) mereka tidak menyetujui si pencela dalam celaannya tadi tapi mereka juga tidak menyebutkan perkara-perkara terpuji dari orang yang dicela tadi.Demikian pula jika ada orang yang memuji dia (orang yang dihasadi) mereka diam saja.Dan mereka itu terkena celaan karena meninggalkan perkara yang diperintahkan dalam hak orang yang mereka hasadi tadi.Mereka kurang dalam menunaikan hak dia. Tapi mereka tidak sampai melampaui batas terhadapnya.Balasan untuk mereka adalah bahwasanya mereka rugi dalam hak-hak mereka, dan mereka juga tidak berbuat adil di beberapa posisi.Mereka tidak menolong menghadapi orang yang menzholimi mereka sebagaimana mereka juga tidak menolong orang yang mereka hasadi tadi. Adapun orang yang melampaui batas dengan ucapan atau perbuatan, maka orang itu akan mendapatkan hukuman.

            Dan barangsiapa bertaqwa pada Alloh dan bersabar, maka dia tidak masuk dalam jajaran orang-orang yang zholim. Alloh memberinya taufiq dengan ketaqwaannya, sebagaimana terjadi pada Zainab binti Jahsy رضي الله عنها karena beliau inilah yang dulu menyamai Aisyah dari kalangan para istri Nabi صلى الله عليه وسلم , sementara hasad para wanita satu sama lain itu banyak dan dominan, terutama para wanita yang menjadi istri dari seorang suami, karena sesungguhnya seorang wanita itu merasa cemburu terhadap suaminya karena dia punya bagian darinya, karena dengan sebab persekutuan tadi, luputlah sebagian dari bagiannya.

            Dan demikianlah kedengkian banyak terjadi di kalangan orang-orang yang berserikat dalam kepemimpinan atau harta. Jika sebagian dari mereka telah mengambil bagian dari itu dan luputlah yang lain. Dan juga terjadi di antara orang-orang yang sepadan dikarenakan salah seorang dari mereka benci untuk orang yang lain mengungguli dirinya, seperti hasadnya para saudara Yusuf, dan seperti hasadnya salah satu dari anak Adam terhadap saudaranya, karena dia mendengkinya karena Alloh menerima qurban dia dan tidak menerima qurban yang ini, maka dia mendengkinya karena keimanan dan ketaqwaan yang Alloh karuniakan pada saudaranya, seperti kedengkian Yahudi terhadap muslimin dan pembunuhan yang dilakukannya karena alasan tadi.

            Karena itulah dikatakan bahwasanya dosa yang pertama kali Alloh ta’ala didurhakai dengannya itu ada tiga: rakus, sombong, dan hasad. Kerakusan itu dari Adam, kesombongan itu dari Iblis, kedengkian itu dari Qobil yang dia itu membunuh Habil.”

(selesai penukilan dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 125-126).

            Ibnul Jauziy رحمه الله berkata: “Obat hasad itu terkadang dengan sikap ridho dengan taqdir, terkadang dengan zuhud terhadap dunia, dan terkadang dengan memandang perkara yang terkait dengan nikmat-nikmat itu yang berupa kesibukan dunia, perhitungan di akhirat, sehingga dengan itu dia menjadi terhibur dan tidak bertindak dengan tuntutan apa yang ada di dalam jiwa sama sekali, dan tidak membicarakannya. Jika dia mengerjakan itu, tak akan membahayakan dia perkara yang diletakkan di dalam tabiat dirinya.

            Adapun orang yang dengki pada Nabi karena kenabian dia, maka dia wajib untuk tidak menjadi nabi, atau dia mendengki orang alim karena ilmunya, maka dia ingin untuk diberi ilmu tadi atau ilmu tadi hilang dari si alim tadi.Maka ini tiada udzur baginya, dan tidaklah tercetak untuk punya hasad seperti tadi kecuali jiwa-jiwa yang kafir atau jahat.

            Adapun jika dia senang untuk mendahului para sejawatnya, dan mengetahui perkara yang tidak mereka ketahui, maka sesungguhnya dia tidak berdosa dengan itu karena dia tidak ingin hilangnya apa yang mereka miliki dari diri mereka, hanya saja dia ingin lebih tinggi daripada mereka agar bertambahlah bagian dirinya di sisi Robbnya, sebagaimana jika ada dua budak berlomba untuk melayani tuan mereka, maka salah satunya senang untuk mengungguli. Alloh ta’ala berfirman:

﴿ختامه مسك وفي ذلك فليتنافس المتنافسون﴾ [ المطففين : 26 ] .

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

            Dan dalam “Shohihain” dari hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله عز وجل القرآن، فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار، ورجل آتاه الله مالاً، فهو ينفقه في الحق آناء الليل وآناء النهار».

“Tak boleh ada hasad kecuali terhadap dua orang:”Orang yang Alloh beri Al Qur’an, maka dia membacanya di ujung malam dan siang. Dan orang yang Alloh beri harta, maka dia menginfaqkannya dalam kebenaran di ujung malam dan siang.”

(sebagaimana dalam “Mukhtashor Minhajil Qoshidin”/Al Maqdasiy/231-232/Dar Ibni Rojab).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya hasad itu adalah termasuk penyakit yang besar untuk hati. Dan penyakit hati itu tidak diobati kecuali dengan ilmu dan amal.Dan ilmu yang bermanfaat untuk penyakit hasad adalah bahwasanya engkau mengenal hakikat bahwasanya hasad itu berbahaya terhadapmu dalam agama dan dunia, dan bahwasanya kedengkianmu tadi tidak membahayakan agama ataupun dunia orang yang engkau hasadi. Bahkan dia akan mengambil manfaat dengan itu tadi. Dan kenikmatan itu tak akan hilang dari orang yang engkau hasadi dengan kedengkianmu itu.

            Seandainya engkau tidak beriman dengan hari berbangkit, niscaya tuntutan kecerdasan itu –jika engkau berakal- adalah engkau menghindar dari hasad, karena di dalamnya ada kepedihan hati di samping juga tidak bermanfaat.Maka bagaimana sementara engkau mengetahui di situ ada siksaan akhirat? Dan penjelasan ucapan kami: bahwasanya orang yang engkau hasadi tadi tidak tertimpa bahaya dalam agama ataupun dunianya, bahkan dia mengambil manfaat dengan kedengkianmu di dalam agama ataupun dunia, karena perkara yang Alloh tetapkan yang berupa kenikmatan itu pasti akan berlangsung sampai pada batas waktu yang ditetapkannya. Dan dia tak tertimpa bahaya di akhirat, karena dia tidak berdosa dengan keadaan tadi, bahkan dia akan mengambil manfaat dengan itu karena dia terzholimi dari arahmu. Terutama jika kedengkianmu itu mengeluarkanmu ke suatu ucapan atau perbuatan.

            Adapun manfaatnya di dunia, maka ini adalah termasuk hasrat makhluk yang paling penting: yaitu kegundahan para musuh, dan tiada siksaan yang lebih besar daripada engkau dalam keadaan hasad. Maka jika engkau merenungkan apa yang kami sebutkan, tahulah engkau bahwasanya engkau adalah musuh bagi dirimu sendiri. Dan dia itu adalah kawan bagi musuhmu.Tidak ada permisalan bagimu selain bagaikan orang yang melempari musuhnya dengan batu agar dia itu terbunuh, tapi ternyata meleset. Dan musuhnya melemparkan batu ke lobang mata kanannya sehingga matanya copot. Maka dirinya bertambah marah sehingga kembali lemparkan batu kepada musuhnya lebih keras daripada yang pertama, tapi batu tadi kembali menghantam matanya yang lain sehingga membutakannya. Maka dia bertambah murka lalu melemparinya pada kali yang ketiga, tapi batu tadi kembali kepada kepalanya sehingga memecahkannya.Sementara musuhnya selamat dan menertawakannya.

            Ini adalan obat-obatan ilmiyyah. Maka jika seseorang memikirkannya, padamlah api hasad dalam hatinya. Adapun amalan yang bermanfaat di situ, hendaknya dia membebani dirinya dengan kebalikan dari apa yang diperintahkan oleh hasad. Jika sifat hasad menyuruh dia untuk dendam dan mencela orang yang dihasadi, hendaknya dia membebani diri dengan memujinya dan menyanjungnya.Dan jika dia menyuruh kepada kesombongan, dia mengharuskan dirinya untuk tawadhu padanya.Jika hasad menyuruhnya untuk menahan pemberian dari orang tadi, dia mengharuskan dirinya untuk menambahkan pemberian.Dulu ada sekelompok salaf jika sampai pada mereka bahwasanya seseorang menggibahi mereka, mereka memberikan hadiah padanya.Maka ini adalah obat-obatan yang sangat bermanfaat untuk hasad.Hanya saja dia itu pahit. Dan bisa jadi memudahkan bagi orang yang meminumnya jika dia mengetahui bahwasanya: “Jika tidak semua yang engkau inginkan itu terjadi, maka inginkanlah sesuatu yang memang terjadi.” Dan ini dia obat yang bersifat menyeluruh.Wallohu a’lam.”

(sebagaimana dalam “Mukhtashor Minhajil Qoshidin”/Al Maqdasiy/235-236/Dar Ibni Rojab).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan jenis yang lain jika mendapati di dalam jiwanya kedengkian dia berupaya untuk menghilangkannya, berupaya untuk berbuat baik pada orang yang dihasadinya dengan memberikan kebaikan kepadanya, mendoakan kebaikan untuknya, menyebarkan keutamaan-keutamaannya, dan berupaya untuk menghilangkan kedengkian yang didapatinya di dalam dirinya kepada orang tadi sampai menggantinya dengan rasa senang untk saudaranya yang muslim itu lebih baik dan lebih utama daripada dirinya. Dan ini termasuk derajat keimanan yang tertinggi, dan pemilik derajat ini dia itulah mukmin yang sempurna yang cinta untuk saudaranya perkara yang dia cintai untuk dirinya sendiri.Dan telah lewat pembicaraan tentang ini di dalam tafsir hadits “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia cinta untuk saudaranya perkara yang dia cintai untuk dirinya sendiri.”(“Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam”/hal. 569/cet. Dar Ibni Rojab).

            Dan termasuk dari keburukan hasad adalah bahwasanya kebanyakan dari orang-orang yang hasad itu tidak menerima kebenaran yang datang dari orang yang didengki, maka ini adalah kerugian yang besar bagi mereka sendiri, sebagaimana yang terjadi pada iblis dan yahudi dan yang lainnya.

            Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “… sebagaimana yang terjadi pada ulama Bani Isroil, mereka mengetahui Rosululloh صلى الله عليه وسلم bagaikan mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sekalipun demikian mereka mengingkari kenabian Rosululloh صلى الله عليه وسلم karena hasad dan zholim terhadap beliau. Di antara pemimpin jamaah-jamaah itu ada orang yang mengetahui kebaikan, hidayah dan jalan yang lurus yang Ahlussunnah ada di atasnya, akan tetapi kedengkian (itulah yang menghalangi mereka menerimanya).

﴿أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ الله مِنْ فَضْلِهِ﴾ [ النساء : 54]،

“Apakah mereka merasa dengki pada manusia atas sebagian karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka?”

﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ الله بِأَمْرِهِ﴾ [البقرة: 109].

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah keimanan kalian, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”

(selesai dari  “Ghorotul Isyrithoh” /1/hal. 534/Maktabatu Shon’a Al Atsariyyah).

 

Pasal lima: nasihat bagi orang yang dihasadi

            Orang yang dihasadi itu harus bersabar terhadap gangguan orang yang hasad,  dan bergembira karena Alloh itulah penolongnya.  Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Kemudian kedengkian itu, jika orang tadi melakukan perkara yang diakibatkan oleh hasad tadi, maka dia itu zholim dan melampaui batas dan berhak dihukum, kecuali jika dia bertobat. Dan orang yang dihasadi itu mazhlum (terzholimi) dan diperintahkan untuk bersabar dan bertaqwa. Hendaknya dia bersabar terhadap gangguan orang yang dengki, dia memaafkannya, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ الله بِأَمْرِهِ﴾ [البقرة: 109].

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah keimanan kalian, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan urusan-Nya”

            Yusuf telah diuji dengan kedengkian saudara-saudaranya terhadap diri beliau, yang mana mereka berkata:

﴿ليوسف وأخوه أحب إلى أبينا منا ونحن عصبة إن أبانا لفي ضلال مبين﴾ [ يوسف : 8 ] ،

“Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat).Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.”

            Maka mereka mendengki keduanya karena sang ayah mengutamakan keduanya. Oleh karena itulah maka Ya’qub bilang kepada Yusuf:

﴿لا تقصص رؤياك على إخوتك فيكيدوا لك كيدا إن الشيطان للإنسان عدو مبين﴾ [ يوسف : 5 ].

“Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

            Kemudian sungguh mereka menzholimi beliau dengan berbincang-bincang untuk membunuh beliau dan melemparkannya ke dalam sumur, dan menjual beliau sebagai budak bagi orang yang membawanya pergi ke negri kafir, sehingga jadilah beliau budak bagi kaum kuffar.

            Kemudian sungguh Yusuf diuji setelah itu dengan dizholimi oleh orang yang mengajaknya kepada perbuatan keji dan beliau dirayu kepada perbuatan itu.Lalu orang itu minta bantuan untuk menghadapi beliau dengan orang yang membantunya kepada perbuatan keji tadi, tapi beliau bersikukuh menjaga diri, dan beliau memilih penjara daripada kekejian.Beliau lebih mendahulukan siksaan dunia daripada kemurkaan Alloh.Maka beliau terzholimi dari arah orang yang mencintai beliau untuk hawa nafsunya dan hasratnya yang rusak.Maka wanita yang cinta pada beliau tadi mencintainya karena hawa nafsu orang yang dicintainya.Obat wanita tadi adalah obat beliau jika beliau menyetujui wanita tadi.Sementara orang-orang yang membenci beliau, mereka membenci beliau dengan kebencian yang mengharuskan beliau terlempar di sumur yang dalam, kemudian menjadi tawanan dan budak tanpa pilihan dari beliau.Mereka itu mengeluarkan beliau dari kebebasan kemerdekaan kepada perbudakan yang batil tanpa pilihan beliau.

            Dan sementara perempuan ini memaksa beliau untuk memilih menjadi tahanan di penjara dengan pilihan beliau sendiri. Maka jadilah yang ini (ujian yang akhir) lebih besar ujiannya, dan kesabaran beliau di sini adalah kesabaran dengan pilihan sendiri, diiringi dengan taqwa, berbeda dengan kesabaran beliau terhadap kezholiman mereka (ujian yang pertama) karena sesungguhnya yang itu masuk dalam bab musibah yang barangsiapa tidak bersabar dengannya dengan kesabaran orang yang mulia, dia akan terhibur bagaikan terhiburnya binatang ternak. Dan kesabaran yang kedua (ujian yang akhir) itu lebih utama. Oleh karena itulah beliau berkata:

﴿إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين﴾ [ يوسف : 90 ] .

“Sesungguhnya barangsiapa bertaqwa dan bersabar, maka sungguh Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 121-122).

            Orang yang diberi oleh Alloh sebagian dari karunianya itu harus menjaga dirinya dari kezholiman orang yang dengki.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan kejahatan orang yang hasad terhadap orang yang dihasadi itu tertolak dengan sepuluh sebab:

            Yang pertama: berlindung kepada Alloh ta’ala dari kejelekannya, bernaung dan menjaga diri dengan-Nya, bernaung kepada-Nya. Dan inilah maksud dari surat ini (Al Falaq). Dan Alloh ta’ala Maha mendengar permohonan perlindungan dia, dan mengetahui perkara yang dirinya berlindung darinya. Dan pendengaran yang dimaukan di sini adalah pendengaran pengabulan doa bukan pendengaran yang bersifat umum. Maka dia itu seperti sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

«سمع الله لمن حمده»،

“Alloh mendengar bagi orang yang memuji-Nya.”

            Dan ucapan Al Kholil:

﴿إن ربي لسميع الدعاء

“Sesungguhnya Robbku benar-benar mendengar doa.”

            Dan sesekali mengiringinya dengan ilmu, dan sesekali dengan penglihatan karena keadaan orang yang meminta perlindungan menuntut yang demikian itu, karena dia meminta perlindungan kepada Alloh dari musuh yang dia tahu bahwa Alloh ta’ala melihatnya dan mengetahui tipu dayanya dan kejelekannya. Maka Alloh ta’ala mengabar orang yang meminta perlindungan pada-Nya bahwasanya Dia mendengar permintaan perlindungannya, yaitu: mengabulkan (doa) dan mengetahui tipu daya musuhnya, melihatnya agar harapan orang yang meminta perlindungan tadi membesar dan berkonsentrasi dengan hatinya kepada doa.

            Dan renungkanlah hikmah Al Qur’an yang mulia bagaimana datang dalam isti’adzah dari setan yang kita mengetahui adanya dia tapi kita tidak melihatnya dengan lafazh (السميع العليم) dalam surat Al A’rof dan As Sajdah, dan datang isti’adzah dari kejelekan manusia yang mereka akrabi dan mereka lihat dengan mata dengan (السميع البصير) dalam surat Haa Miim Al Mukmin maka Alloh berfirman:

﴿إن الذين يجادلون في آيات الله بغير سلطان أتاهم إن في صدورهم إلا كبر ما هم ببالغيه فاستعذ بالله إنه هو السميع البصير﴾]غافر: 56[

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Alloh tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tak akan mencapainya, Maka mintalah perlindungan kepada Alloh. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.”

            Karena perbuatan-perbuatan mereka itu bisa dilihat dengan mata kepala.

            Adapun gangguan setan, maka itu berupa waswas dan desiran-desiran yang dilemparkannya ke dalam hati, terkait dengannya ilmu.Maka Alloh memerintahkan untuk minta perlindungan kepada As Sami’ul ‘Alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) tentang masalah itu. Dan Alloh memerintahkan untuk minta perlindungan kepada As Sami’ul Bashir (Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat) dalam bab perkara yang bisa dilihat dan didapati dengan dengan pandangan mata. Wallohu a’lam.

            Sebab kedua: taqwa kepada Alloh dan menjaga perintah dan larangan-Nya. Maka barangsiapa bertaqwa pada Alloh, Alloh akan mengurusi penjagaannya dan tidak memasrahkannya kepada selain-Nya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم كيدهم شيئا﴾]آل عمران: 120[

“Dan jika kalian bersabar dan bertaqwa, tidaklah membahayakan kalian tipu daya mereka sedikitpun.”

            Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda pada Abdulloh bin Abbas:

«احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك»

“Jagalah Alloh, Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh, engkau akan mendapatinya di hadapanmu.”([6])

            Maka barangsiapa menjaga Alloh, Alloh akan menjaganya dan dia mendapati-Nya di hadapan-Nya di manapun dia menghadap. Dan barangsiapa Alloh menjadi penjaganya dan di hadapannya, maka kepada siapakah dia takut?Dan kepada siapakah dia khawatir?

            Sebab ketiga: sabar terhadap musuhnya, tidak memeranginya, tidak mengadukannya, dan sama sekali tidak mengajak bicara dirinya sendiri untuk menyakiti musuhnya sama sekali. Maka tidaklah dia ditolong terhadap orang yang mendengkinya dan musuhnya dengan semisal kesabarannya kepadanya dan tawakkal pada Alloh, dan tidak merasa kelamaan akan pengakhiran tempo orang tadi dan kezholimannya, karena sungguh setiap kali orang tadi menzholiminya jadilah kezholimannya itu tentara dan kekuatan untuk mendukung orang yang terzholimi yang dihasadi yang dengan tentara tadi si zholim memerangi dirinya sendiri tanpa dia sadari. Seandainya orang yang terzholimi itu melihat itu niscaya akan menyenangkan dirinya kezholiman si zholim tadi terhadap dirinya. Akan tetapi karena lemahnya mata hatinya, dia tidak melihat kecuali gambaran kezholiman tanpa melihat akhir dan kesudahannya. Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿ومن عاقب بمثل ما عوقب به ثم بغي عليه لينصرنه الله﴾]الحج: 60[،

“Dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Alloh akan menolongnya.”

            Maka jika Alloh telah menjamin pertolongan untuk dirinya padahal dia telah mengambil sempurna haknya sebelumnya, maka bagaimana dengan orang yang belum mengambil sempurna haknya sedikitpun dan bahkan dizholimi dan dia bersabar?

«وما من الذنوب ذنب أسرع عقوبة من البغي وقطيعة الرحم»

“Tiada satu dosapun yang lebih cepat hukumannya daripada al baghyu (kezholiman pada yang lain) dan pemutusan silaturrohim.”([7])

            Dan telah lewat sunnatulloh bahwasanya jika ada gunung berbuat baghyu (zholim) kepada gunung yang lain, maka Alloh akan menjadikan gunung yang zholim tadi hancur.

            Sebab keempat: tawakkal kepada Alloh:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

            Dan tawakkal itu termasuk sebab yang terkuat yang dengannya hamba bisa menolak perkara yang tidak disanggupinya yang berupa gangguan para makhluk, kezholimin dan permusuhan mereka.dan dia itu termasuk sebab yang terkuat dalam masalah itu karena sesungguhnya Alloh yang mencukupinya. Dan barangsiapa Alloh sebagai pencukupnya dan pelindungnya, maka musuhnya tak ada harapan terhadapnya dan tak bisa membahayakannya kecuali gangguan ucapan saja yang memang harus ada seperti cuaca panas, dingin, lapar, dan haus. Adapun untuk membahayakan dirinya dengan sesuatu yang mencapai darinya keinginannya, maka tak akan terjadi selamanya. Maka Alloh membedakan antara gangguan yang dia itu secara lahiriyyah adalah gangguan untuknya padahal dia itu pada hakikatnya adalah kebaikan untuknya dan bahaya untuk pelakunya sendiri, dengan bahaya yang musuhnya merasa puas dengannya. Sebagian salaf berkata: “Alloh ta’ala menjadikan untuk setiap amalan itu balasan sesuai dengan jenisnya, dan menjadikan balasan tawakkal kepada-Nya itu kecukupan-Nya untuk hamba-Nya. Alloh berfirman:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

Dan tidak berfirman: “Kami akan memberinya pahala begini dan begitu” sebagaimana berfirman terhadap amalan-amalan. Bahkan Dia menjadikan diri-Nya yang suci sebagai pencukup dan pelindung hamba-Nya yang bertawakkal pada-Nya. Andaikata sang hamba bertawakkal pada Alloh ta’ala dengan sebenar-benar tawakkal dan langit dan bumi beserta seluruh yang di dalamnya membikin tipu daya untuknya,pastilah Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar dari yang demikian itu, mencukupinya dan menolongnya.

            Dan kami telah menyebutkan hakikat tawakkal dan faidah-faidahnya dan agungnya manfaatnya serta besarnya kebutuhan hamba kepadanya dalam kitab “Al Fathul Qudsiy” dan di sana kami sebutkan rusaknya orang yang menjadikan tawwakkal itu termasuk dalam posisi-posisi yang berpenyakit, bahwasanya itu adalah termasuk dari posisi-posisi orang awwam. Dan kami batalkan ucapannya dari sisi-sisi yang banyak.Dan kami jelaskan bahwasanya tawakkal itu adalah termasuk posisi arifin (orang-orang yang kenal Alloh) yang paling agung, dan bahwasanya setiap kali posisi hamba meninggi, maka kebutuhannya kepada tawakkal itu makin besar dan keras. Dan bahwasanya sesuai dengan kadar keimanan hamba itulah tawakkal dia. Dan hanyalah maksud di sini penyebutan sebab-sebab yang dengannya kejelekan pendengki, pemilik mata hasad, tukang sihir dan orang zholim itu tertolak.

            Sebab kelima: kosongnya hati dari menyibukkan diri dengan hasad tadi dan dari memikirkannya, dan hendaknya dia itu berkeinginan untuk menghapusnya dari pikirannya setiap kali terbetik padanya hal itu, sehingga dia tidak menoleh kepadanya dan tidak merasa takut kepadanya serta tidak memenuhi hatinya dengan memikirkannya. Dan ini termasuk obat yang paling bermanfaat dan sebab yang paling kuat yang membantu untuk menolak kejelekan hasad, karena ini bagaikan orang yang dikejar oleh musuhnya untuk menangkapnya dan menyakitinya.Jika dirinya tidak mendekatinya dan tidak saling pegang dengannya tapi bahkan dia menyingkir darinya, musuh tak sanggup untuk menguasainya.Jika keduanya saling pegang dan saling berkaitan, terjadilah kejelekan.

            Dan demikianlah ruh-ruh itu, sama saja. Maka jika ruh dia dan ruh pendengki yang zholim itu saling terkait dan berpegangan saat terjaga dan tidur, tidak berhenti darinya dalam keadaan dia mengangankan kedua ruh tadi saling pegang, lalu masing-masing dari ruh tadi saling terkait, tidak adalah ketenangan, dan lestarilah kejelekan sampai salah satunya binasa.

            Jika dia menarik ruhnya darinya dan menjaganya dari memikirkannya dan dari terkait dengannya dan tidak terbetik lagi di benaknya, dan jika sempat terbetik di benaknya dia bersegera untuk menghapus desiran tadi dan menyibukkan diri dengan yang lebih penting dan lebih utama, tinggallah si zholim tadi sebagiannya memakan sebagian yang lain, karena hasad itu seperti api: jika tidak mendapatkan apa yang bisa dimakannya, sebagiannya akan memakan sebagian yang lain.

            Dan ini adalah bab yang agung manfaatnya yang tidak didapatkan kecuali oleh para pemilik jiwa yang mulia dan cita-cita yang tinggi. Dan antara orang yang pintar dan cerdas dan di antara dirinya sampai dia merasakan manisnya dia, bagusnya dia dan nikmatnya dia, seakan-akan dia melihat bahwasanya termasuk siksaan yang paling besar untuk hati dan ruh adalah sibuknya dirinya dengan musuhnya, dan terkaitnya ruhnya dengannya. Dan dia tidak melihat ada sesuatu yang lebih menyakitkan bagi ruhnya daripada itu tadi.Dan tidaklah membenarkan penjelasan ini kecuali jiwa-jiwa yang tenang yang waro’ yang lunak yang meridhoi pengurusan Alloh untuk dirinya, dan mengetahui bahwasanya pertolongan Alloh untuk dirinya itu lebih baik daripada pembalasan dirinya untuk dirinya sendiri. Maka dia percaya pada Alloh, merasa tenang kepada-Nya, merasa tentram dengan-Nya dan dia mengetahui bahwasanya jaminan-Nya itu benar, dan janji-Nya itu jujur, dan bahwasanya tiada yang lebih menunaikan janjinya daripada Alloh, dan tiada yang lebih jujur ucapannya daripada Dia. Maka dia mengetahui bahwasanya pertolongan-Nya untuk dirinya itu lebih kuat, lebih kokoh, lebih lestari dan lebih besar faidahnya daripada pertolongan dirinya untuk dirinya sendiri, atau pertolongan makhluk semisal dirinya untuk dirinya sendiri. Dan tidak ada yang kuat untuk menempuh ini kecuali:

            Dengan sebab keenam: yaitu konsentrasi diri kepada Alloh, ikhlas untuk-Nya, dan menjadikan kecintaan-Nya, ridho-Nya dan kembali kepada-Nya pada posisi desiran-desiran hatinya dan angan-angannya melata di dalam dirinya seperti melatanya desiran-desiran sedikit-demi sedikit sampai menguasai dirinya, menenggelamkan dirinya dan menghilangkannya secara total, sehingga tersisalah desiran-desirannya dan angan-angannya semuanya ada dalam upaya mencari kecintaan Robb, pendekatan diri kepada-Nya, pencarian ridho-Nya, pencarian kecondongan-Nya, penyebutan-Nya, sebagaimana pecinta yang sempurna kecintaannya menyebut yang dicintainya yang berbuat baik kepadanya yang sisi-sisinya telah penuh dengan kecintaannya. Maka dia tidak menjadikan pengingkarannya dan hatinya disibukkan dengan memikirkan orang yang dengki kepadanya dan zholim kepadanya, jalan untuk membalasnya, mengatur pembalasan.Perkara-perkara tadi tidak diurusi kecuali oleh hati yang runtuh yang tidak dihuni oleh rasa cinta pada Alloh, pengagungan pada-Nya dan pencarian ridho-Nya.

            Bahkan jika dia terkena suatu godaan dari yang itu tadi dan melewati pintunya dari luar, dia diteriaki oleh para penjaga hatinya: “Hindarilah tanah larangan Raja, pergilah ke rumah-rumah penginapan yang setiap orang yang datang akan turun di situ dan singgah di situ. Apa urusan kamu dengan rumah penguasa yang dijaga oleh para petugas ronda,dan dikitari oleh para pengawal dan dilingkupi oleh dinding-dinding? Alloh ta’ala berfirman mengisahkan tentang musuhnya, Iblis bahwasanya dia berkata:

﴿فبعزتك لأغوينهم أجمعين إلا عبادك منهم المخلصين﴾]ص آية: 81-82[

“Maka demi keperkasaan-Mu pastilah aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali para hamba-Mu dari mereka yang dibersihkan (karena keikhlasan mereka).”

            Alloh ta’ala berfirman:

﴿إن عبادي ليس لك عليهم سلطان﴾]الحجر: 42[

“Sesungguhnya para hamba-Ku, engkau tak punya kekuasaan terhadap mereka.”

Dan berfirman:

﴿إنه ليس له سلطان على الذين آمنوا وعلى ربهم يتوكلون إنما سلطانه على الذين يتولونه والذين هم به مشركون﴾]النحل:99-100[

“Sesungguhnya dia tak punya kekuasaan terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Robb mereka.hanyalah kekuasaannya (syaitan) berlaku terhadap orang-orang yang mengambilnya Jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Alloh.”

            Dan berfirman tentang Shiddiq (Yusuf عليه السلام):

﴿كذلك لنصرف عنه السوء والفحشاء إنه من عبادنا المخلصين﴾]يوسف: 24[.

“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian.Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang dibersihkan (karena keikhlasannya).”

            Maka alangkah besarnya keberuntungan orang yang masuk ke dalam benteng ini dan ada di dalam lingkungan petugas ronda, bernaung ke dalam benteng yang tiada ketakutan terhadap orang yang berlindung dengannya. Dan tiada yang hilang bagi orang yang bernaung kepadanya, dan tiada harapan bagi musuh untuk mendekat kepadanya. Dan:

﴿ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم﴾]الجمعة: 4[.

“Yang demikian itu adalah karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Alloh itu memiliki karunia yang agung.”

            Sebab ketujuh: pemurnian taubat kepada Alloh dari dosa-dosa yang menyebabkan musuh-musuhnya dikuasakan kepadanya, karena Alloh ta’ala berfirman:

﴿وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم﴾]الشورى: 30[

“Apapun musibah yang menimpa kalian maka itu adalah disebabkan oleh ulah tangan kalian.”

            Dan Alloh berfirman kepada makhluk yang terbaik, dan mereka adalah para sahabat Nabi-Nya selain beliau:

﴿أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثلها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم﴾]آل عمران: 165[

“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kalian berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri”.”

            Dan tidaklah dikuasakan kepada seorang hamba orang yang menyakitinya kecuali dengan dosa yang diketahuinya dan tidak diketahuinya. Dan dosa-dosa yang tidak diketahui oleh sang hamba itu berlipat-lipat daripada apa yang diketahuinya. Dan dosa yang dilupakannya dari apa yang diketahuinya dan dilakukannya itu berlipat-lipat dari apa yang diingatkannya. Dan dalam doa yang terkenal:

«اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم»

“Yang Alloh, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dalam keadaan saya mengetahui, dan saya memohon ampun kepada-Nya dari perkara yang tidak saya ketahui.”([8])

            Perkara yang menyebabkan sang hamba butuh untuk bertobat darinya dari perkara yang tidak diketahuinya itu berlipat-lipat dari apa yang diketahuinya. Maka tidaklah dikuasakan kepadanya orang yang menyakitinya kecuali karena suatu dosa.Dan sebagian salaf dijumpai oleh seseorang lalu orang itu bersikap bengis kepada beliau dan mencaci beliau. Maka beliau berkata kepadanya: “Berdirilah di sini sampai aku masuk ke rumah, lalu aku akan keluar untuk menemuimu lagi.” Maka beliau masuk rumah lalu sujud kepada Alloh dan merunduk kepada-Nya, bertobat dan kembali kepada Robbnya, lalu beliau keluar menemui orang tadi. Maka orang itu bertanya pada beliau: “Apa yang engkau lakukan?” Beliau menjawab: “Aku bertobat kepada Alloh dari dosa yang Alloh menguasakan engkau kepadaku dengan dosa tadi.”

            Kita akan menyebutkan insya Alloh ta’ala bahwasanya tiada di ala mini sesuatu yang lebih buruk daripada dosa-dosa dan akibat-akibatnya. Jika sang hamba telah diselamatkan dari dosa-dosa, maka dia akan diselamatkan dari akibat-akibatnya. Maka si hamba jika dizholimi dan disakiti serta lawannya menguasainya, si hamba tidak punya sesuatupun yang lebih bermanfaat untuknya daripada tobat yang murni. Dan alamat keberuntungannya adalah: dia membalik pemikirannya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri, dosa-dosanya dan aib-aibnya, lalu dia sibuk dengan itu dan dengan memperbaiki dirinya dan dengan tobat dari itu. Maka tidak tersisa padanya waktu kosong untuk memikirkan kejadian yang menimpa dirinya, bahkan dia mengurusi tobatnya dan perbaikan aib-aibnya. Dan Allohlah yang akan mengurusi pertolongan untuknya, penjagaannya, pembelaan untuknya, dan itu pasti. Maka alangkah beruntungnya hamba itu dan alangkah besarnya berkah dari kejadian yang menimpanya tadi, dan alangkah bagusnya pengaruhnya terhadapnya.Akan tetapi taufiq dan bimbingan itu di tangan Alloh. Tiada yang bisa mencegah apa yang Alloh berika, dan tiada yang bisa memberikan apa yang Alloh cegah. Tidak semua orang diberi taufiq untuk ini.Dia tak punya pengetahuan tentang itu, tak punya keinginan untuk itu, dan tiada kemampuan untuk itu.Tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.

            Sebab kedelapan: shodaqoh dan perbuatan baik sebisa mungkin, karena amalan tadi punya pengaruh yang ajaib dalam menolak bencana, menolak mata hasad dan kejelekan orang yang dengki. Seandainya tidak ada dalam masalah ini selain percobaan-percobaan umat-umat yang lampau dan yang sekarang, niscaya itu cukup.Maka hampir-hampir mata dengki, hasad, dan gangguan itu tidak menguasai orang yang gemar berbuat kebaikan dan bershodaqoh. Jika dia tertimpa sesuatu dari itu tadi, dia akan diperlakukan dengan lembut, ada bantuan dan dukungan untuknya. Dan dia akan mendapatkan kesudahan yang terpuji.

            Maka orang yang gemar berbuat kebaikan dan bershodaqoh itu ada di dalam jaminan kebaikan dan shodaqoh dia. Dia punya tameng pelindung dan benteng kokoh pemberian dari Alloh.

            Secara global: syukur itu adalah penjaga kenikmatan dari segala perkara yang bisa menyebabkan hilangnya kenikmatan tadi.

            Dan termasuk sebab yang terkuat adalah: kedengkian si pendengki dan si mata dengki, karena dirinya itu terus-menerus dan tidak berhenti dan hatinya itu tidak dingin sampai kenikmatan korban hasad tadi hilang, maka ketika itulah erangan si pendengki akan mendingin dan apinya akan padam. Semoga Alloh tidak memadamkannya.Maka tidaklah hamba itu menjaga nikmat yang Alloh ta’ala berikan padanya semisal dengan syukur nikmat tadi.Dan tidaklah dia menyodorkan nikmat tadi kepada kemusnahan semisal dengan dia mengamalkan nikmat tadi dalam kemaksiatan kepada Alloh, dan dia itu adalah kufur nikmat, dan itu adalah pintu untuk mengkufuri Sang Pemberi nikmat.Maka orang yang gemar berbuat kebaikan dan bershodaqoh, dia itu mempergunakan tentara dan pasukan untuk berperang membela dia sambil dirinya tidur di atas kasurnya. Barangsiapa tak punya tentara atau pasukan, sementara dia punya musuh, maka sungguh hampir-hampir musuhnya akan bisa menangkapnya, sekalipun tempo penangkapan tadi tertunda. Dan hanya Alloh saja yang dimintai pertolongan.

            Sebab kesembilan: ini termasuk sebab yang paling susah bagi jiwa dan paling berat baginya. Dan tiada yang mendapatkan tyaufiq untuk itu kecuali orang yang bagiannya besar dari sisi Alloh, yaitu: memadamkan api si pendengki, zholim, si pengganggu, dengan cara berbuat baik kepadanya. Setiap kali orang tadi bertambah gangguannya, kejahatannya, kezholimannya dan kedengkiannya padanya, dia justru menambah berbuat kebaikan kepada orang tadi, nasihat untuknya dan belas kasihan padanya.

            Dan aku tidak mengira bahwasanya engkau akan membenarkan bahwasanya ini akan terjadi, lebih-lebih untuk engkau melakukannya. Maka dengarlah sekarang firman Alloh عز وجل :

﴿ولا تستوي الحسنة ولا السيئة ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم وما يلقاها إلا الذين صبروا وما يلقاها إلا ذو حظ عظيم وأما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه هو السميع العليم﴾]فصلت: 34-36[

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Alloh.Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

            Dan berfirman:

﴿أولئك يؤتون أجرهم مرتين بما صبروا ويدرأون بالحسنة السيئة ومما رزقناهم ينفقون﴾]القصص: 54[.

“Mereka itu diberi pahala dua kali (kali pertama karena beriman kepada Taurat dan kali yang kedua karena beriman kepada Al Quran) disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”

            Dan renungkanlah keadaan Nabi صلى الله عليه وسلم yang mengisahkan tentang seorang Nabi yang dipukul kamunya sampai berdarah, lalu beliau mengusap darah dari dirinya seraya berkata:

«اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون»

“Ya Alloh ampunilah kaumku karena sungguh mereka itu tidak mengetahui.”([9])

            Bagaimana terkumpul di kalimat ini empat posisi dari ihsan (berbuat baik) dengannya beliau menghadapi besarnya keburukan mereka terhadap beliau? Yang pertama: beliau memaafkan mereka. kedua: permohonan ampun untuk mereka. ketiga: beliau menyampaikan udzur mereka bahwasanya mereka tidak mengetahui. Keempat: meminta kecondongan untuk mereka dengan menyandarkan mereka kepada beliau dengan berkata: “ampunilah kaumku” sebagaimana seseorang berkata pada orang yang diajukannya syafaat di sisinya untuk orang yang berhubungan dengan dirinya: “Ini adalah anakku, ini adalah pelayanku, ini adalah sahabatku, maka berikanlah dia padaku.”

            Maka dengarlah sekarang apa yang akan mempermudah perkara ini pada jiwa dan membikinnya menyenangkan untuk jiwa tadi dan membikinnya merasa enak dengannya:

            Ketahuilah bahwasanya engkau itu punya dosa-dosa antara dirimu dengan Alloh yang engkau takut akibat-akibatnya, dan engkau mengharapkan Dia memaafkannya dan mengampuninya untukmu dan memberikannya padamu. Dan bersamaan dengan ini Alloh tidak membatasi diri dengan sekedar maaf tapi bahkan Dia memberimu kenikmatan, memuliakanmu, mendatangkan manfaat-manfaat dan kebaikan padamu melebihi apa yang engkau angan-angankan. Maka jika engkau mengharapkan dari Robbmu untuk Dia itu membalas kejelekanmu dengan kebaikan sebanyak ini, maka bukankah lebih layak dan pantas untuk engkau juga menyikapi para makhluk-Nya dengan yang begini juga, dan engkau membalas kejelekan mereka dengan begini juga, agar Alloh menyikapimu dengan sikap seperti ini pula? Karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amalan. Maka bagaimana engkau memperlakukan manusia dalam kejelekan mereka terhadap hakmu, demikian pula Alloh akan berbuat padamu dalam dosa-dosamu dan kejelekanmu, sebagai balasan yang sesuai. Maka balaslah setelah itu, atau maafkanlah dan berbuat baiklah, atau tinggalkanlah. Dan seperti apa engkau berbuat, begitu pula engkau diperlakukan. Maka seperti apa engkau berbuat kepada para hamba-Nya, begitulah engkau akan diperlakukan.

            Maka barangsiapa tergambarkan makna ini padanya dan menyibukkan pikirannya dengan itu, mudahlah bagi dia untuk berbuat baik pada orang yang berbuat jelek padanya. Ini diiringi juga dengan pahala yang akan dia peroleh dengan amalan tadi itu yang berupa pertolongan Alloh dan kebersamaan-Nya yang khusus sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada orang yang mengeluhkan kerabatnya pada beliau bahwasanya dia berbuat baik pada mereka tapi mereka berbuat jelek padanya. Beliau bersabda:

«لا يزال معك من الله ظهير ما دمت على ذلك»

“Terus-menerus engkau akan disertai seorang penolong dari Alloh selama engkau berbuat demikian tadi.”([10])

            Ini disertai juga dengan pahala yang disegerakan berupa pujian manusia padanya, dan jadilah mereka semua bersamanya untuk menghadapi lawannya, karena sungguh setiap orang yang mendengar bahwasanya dirinya berbuat baik pada orang lain tadi dalam keadaan orang tadi berbuat jelek padanya, dia akan mendapati bahwasanya hatinya, doanya dan semangatnya itu menyertai orang yang berbuat baik untuk menghadapi orang yang berbuat jelek tadi. Dan itu adalah perkara fithroh yang Alloh menciptakan para hamba-Nya di atas fithroh itu.Maka orang ini dengan perbuatan baiknya tadi telah mempergunakan tentara-tentara yang tidak dikenalnya dan mereka juga tidak mengenal dia, mereka tidak menginginkan darinya gaji ataupun berita.

            Ini disertai juga dengan dua kondisi yang dialami oleh musuhnya dan orang yang mendengkinya itu, yaitu: bisa jadi dia akan bisa menguasai pendengki dn musuh tadi dengan kebaikannya tadi sehingga dia bisa “memperbudaknya” dan dia patuh padanya dan merunduk padanya, dan jadilah dia menjadi orang yang paling disukai oleh musuhnya tadi. Dan bisa jadi pula dia akan mencabik-cabik hatinya dan “memotong akarnya” jika dia tetap berbuat jelek padanya, karena si baik ini dengan kebaikannya itu akan menjadikan si jelek tadi merasakan siksaan yang berlipat-lipat dengan pembalasannya tadi. Barangsiapa mencoba langkah ini, dia akan mengetahuinya dengan sebenar-benar pengetahuan. Alloh itulah yang memberikan taufiq, yang menolong, di tangan-Nyalah segala kebaikan.Tiada sesembahan yang benar selain Dia. Dan Dialah Yang diminta agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita beramal dengan itu, dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya.

            Secara keseluruhan, maka pada posisi ini ada faidah-faidah yang mencapai lebih dari seratus manfaat untuk sang hamba di dunia dan akhirat, yang kami akan menyebutkannya di tempat lain insya Alloh ta’ala.

            Sebab kesepuluh: dia ini mencakup itu tadi semua, dan di sinilah peredaran sebab-sebab itu tadi, yaitu: menunggalkan tauhid dan berpindak dengan memikirkan sebab-sebab kepada sang penyebab Yang Maha Perkasa lagi Maha Penuh Hikmah, dan mengetahui bahwasanya ini semua adalah alat-alat bagaikan gerakan-gerakan angin. Dan angin itu ada di tangan sang penggeraknya, penciptanya, pembikinnya. Dan tidak berbahaya dan tidak bermanfaat kecuali dengan seidzin-Nya. Dia itulah yang berbuat baik pada hamba-Nya dengan alat tadi, dan Dia itulah yang memalingkannya darinya sendirian, tiada satupun selain dia. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله﴾]يونس:107[.

“Dan jika Alloh menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.Dan jika Dia menginginkan kebaikan kepadamu, maka tidak ada yang bisa menolak karunia-Nya.”

            Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda pada Abdulloh bin Abbas:

«واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء كتبه الله عليك»

“Dan ketahuilah bahwasanya umat itu jika berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka itu tak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu.Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu bahaya, mereka itu tak akan bisa memberimu bahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan menimpamu.”([11])

            Maka jika sang hamba memurnikan tauhidnya, maka sungguh rasa takut pada yang lain itu telah keluar dari hatinya, dan musuhnya itu terlalu remeh baginya untuk ditakuti bersama Alloh ta’ala. Bahkan dia menunggalkan Alloh dalam rasa takut, dan Alloh telah mengamankan dirinya dari musuhnya.Dan telah keluar dari hatinya perhatian pada musuhnya, kesibukan dengan musuhnya tadi dan pikirannya dengannya.Dan dia menunggalkan Alloh dengan rasa cinta, rasa takut, sikap kembali, tawakkal, kesibukan dengan-Nya dari yang selain-Nya.Maka dia melihat bahwasanya memakai pikirannya untuk mengurusi musuhnya itu, merasa takut padanya dan sibuk dengannya itu adalah termasuk kekurangan tauhidnya. Soalnya jika tidak demikian, andaikata dia memurnikan tauhidnya niscaya dia akan sangat sibuk untuk Tuhannya, dan Alloh itulah yang akan mengurusi penjagaannya dan pembelaan untuknya, karena Alloh itu membela orang-orang yang beriman. Jika dia adalah orang yang beriman pada Alloh, Alloh akan membelanya, dan itu pasti. Dan sesuai dengan imannya itulah kadar pembelaan Alloh untuknya. Jika imannya sempurna, pembelaan Alloh untuknya juga sempurna.Jika tercampuri, maka tercampuri juga untuknya. Jika imannya adalah sesekali, maka pembelaan Alloh untuknya juga sesekali, sebagaimana ucapan salaf: “Barangsiapa menghadapkan diri pada Alloh secara keseluruhan, Alloh juga akan menghadapkan diri-Nya padanya secara keseluruhan. Dan barangsiapa berpaling dari Alloh secara keseluruhan, maka Alloh juga berpaling darinya secara keseluruhan.Dan barangsiapa bersikap sesekali begini sesekali begitu pada Alloh, Alloh juga bersikap padanya sesekalibegini sesekali begitu.”

            Maka tauhid adalah benteng Alloh yang terbesar yang barangsiapa memasukinya dia akan termasuk dari orang-orang yang aman. Sebagian salaf berkata: “Barangsiapa takut pada Alloh, segala sesuatu akan takut pada Alloh. Dan barangsiapa tidak takut pada Alloh, segala sesuatu akan membikinnya takut.”

            Maka ini adalah sepuluh sebab yang tertolak dengannya kejelekan orang dengki dan pemilik mata hasad serta tukang sihir. Dan dia tak punya sebab yang paling bermanfaat daripada menghadapkan diri kepada Alloh, konsentrasi pada-Nya dan tawakkal pada-Nya serta percaya pada-Nya, dan tidak takut bersama-Nya pada selain Dia, bahkan rasa takutnya itu hanyalah kepada-Nya saja. Dan tidak berharap pada selain-Nya, bahkan mengharap kepada-Nya saja.Maka dia tidak menggantungkan hatinya kepada selain-Nya, dan tidak mohon bantuan kepada selain-Nya dan tidak mengharapkan kecuali hanya kepada-Nya. Dan kapan saja dia menggantungkan hatinya kepada selain-Nya, mengharapkannya dan takut kepadanya, akan diserahkan dirinya kepada sesuatu yang lain itu dan dia akan telantar dari arah sesuatu tadi. Maka barangsiapa takut pada sesuatu selain Alloh, sesuatu tadi akan dijadikan menguasainya. Dan barangsiapa mengharap pada sesuatu selain Alloh, dia akan ditelantarkan dari arah sesuatu itu dan diharomkan dari kebaikannya. Dan ini adalah sunnatulloh di makhluk-Nya.

﴿ولن تجد لسنة الله تبديلا﴾]الأحزاب: 62[

“Dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatulloh.”

(selesai dari “Badai’ul Fawaid”/2/hal. 238-246/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

 

Bab Dua:

Kabar Gembira Bagi Orang-orang Yang Ikhlas Dalam Shodaqoh

 

Jika kita telah mengetahui bahwasanya:

«لا حسد إلا في اثنتين رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضي بها ويعلمها». (أخرجه البخاري (1409) ومسلم (816)).

“Tak boleh ada hasad kecuali terhadap dua orang: orang yang Alloh beri harta, maka dia menghabiskannya dalam kebenaran. Dan orang yang Alloh beri hikmah maka dia menghukumi dengan itu dan mengajarkannya.”(HR. Al Bukhoriy (1409) dan Muslim (816)).

            Maka ini menunjukkan agungnya kedudukan orang-orang yang bershodaqoh dengan harta-harta mereka dalam menolong kebenaran.Dan telah lewat juga pentingnya shodaqoh dalam menolak bencana dan kezholiman orang-orang yang hasad.

Pasal satu: Definisi Shodaqoh

            Ar Roghib Al Ashfahaniy رحمه الله berkata: Dan shodaqoh itu adalah apa yang dikeluarkan seseorang dari hartanya dalam bentuk pendekatan diri (pada Alloh) seperti zakat, akan tetapi shodaqoh itu pada asalnya dipakai untuk yang mustahab, sedangkan zakat itu untuk yang wajib. Terkadang yang wajib juga dinamakan sebagai shodaqoh jika pelakunya berusaha untuk jujur dalam perbuatannya tadi. Alloh ta’ala berfirman:

﴿خذ من أموالهم صدقة﴾

“Ambillah dari harta-harta mereka shodaqoh.”

Dan berfirman:

﴿إنما الصدقات للفقراء﴾.

“Hanyalah shodaqoh-shodaqoh itu untuk orang-orang faqir,”

(“Mufarodatu Ghoribil Qur’an”/Al Ashfahaniy/hal. 278).

            Ibnu Manzhur رحمه الله : “Dan shodaqoh itu adalah: apa yang engkau berikan kepada orang-orang yang miskin. Dan orang yang bershodaqoh adalah orang memberikan shodaqoh. Shodaqoh: adalah harta yang engkau berikan pada orang miskin. Istilahnya: “Dia telah bershodaqoh kepadanya.” Dan di dalam Al Qur’an:

﴿وتَصَدَّقْ علينا

“Dan bershodaqohlah kepada kami.”

            Dan dikatakan: makna bershodaqoh di sini adalah: karuniakanlah pada kami dengan pemberian (pertengahan) antara yang bagus dan yang buruk. Seakan-akan mereka berkata: “Berlapanglah dada untuk kami dengan menerima barang ini sekalipun buruk atau sedikit.” Karena Tsa’lab menafsirkan firman Alloh ta’ala:

﴿وجِئْنا بِبضاعةٍ مُزْجاةٍ فأَوْفِ لنا الكيلَ وتَصَدَّقْ علينا

“Dan kami datang dengan membawa barang yang murah, maka tunaikanlah takaran dengan sempurna untuk kami, dan bershodaqohlah kepada kami.”

            Dia berkata: murah yaitu jelek, tidak sempurna kebaikannya, “Dan bershodaqohlah kepada kami.” Yaitu: berikanlah tambahan antara yang bagus dan yang buruk.”

(“Lisanul Arob”/10/hal. 193).

            Ada perbedaan antara shodaqoh dan hadiah.

            Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan hadiah itu termasuk amalan kaum muslimin yang dermawan, sholihin, mulia, dan disukai oleh para ulama selama tidak menempuh jalur risywah (suap) untuk menolak kebenaran atau merealisasi kebatilan, atau mengambil hadiah tadi karena telah melaksanakan suatu hak yang memang wajib ditegakkan.” (“Al Istidzkar”/1/hal. 531).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak memakan shodaqoh. Dan beliau memakan hadiah karena di dalam hadiah itu mengandung pelunakan hati, seruan kepada rasa cinta dan kedekatan, dan boleh membalas pemberian tadi sehingga hilanglah nilai jasa (budi baik) dari si pemberi.Dan yang demikian tadi tidak boleh di dalam shodaqoh.Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم menerima hadiah yang membalas balik hadiah tadi dengan yang lebih baik, sehingga hilanglah utang budi kepada orang tadi.”(“Al Istidzkar”/6/hal. 70).

            Ibnu Baththol رحمه الله berkata: “Hanyalah Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memakan shodaqoh karena shodaqoh itu adalah kotoran orang-orang, dan juga dikarenakan mengambil shodaqoh itu adalah posisi yang rendah yang mereka disucikan dari yang demikian itu dikarenakan beliau صلى الله عليه وسلم telah disifat Alloh ta’ala dengan:

﴿ووجدك عائلا فأغنى

“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan miskin lalu Dia menjadikanmu kaya.”

Dan shodaqoh itu tidak halal bagi orang-orang kaya.Dan ini berbeda dengan hadiah karena adat kebiasaan telah berlangsung bahwasanya orang membalas hadiah yang diberikan.Dan demikianlah yang beliau lakukan.”

(dari “Fathul Bari”/Ibnu Hajar/5/hal. 204).

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله tentang shodaqoh dan hadiah, manakah yang lebih utama?

            Maka beliau menjawab: Alhamdulillah. Shodaqoh adalah sesuatu yang diberikan untuk mendapatkan wajah Alloh semata, ibadah yang murni, tanpa ada maksud pada orang tertentu dan juga bukan untuk meminta suatu hasrat dari arah orang itu, akan tetapi diletakkan di beberapa tempat penerimaan shodaqoh, seperti orang-orang yang berhajat. Adapun hadiah, maka dimaksudkan dengannya pemuliaan orang tertentu, bisa jadi karena demi kecintaan, bisa jadi demi persahabatan, atau demi mencari kebutuhan.Oleh karena itulah Nabi صلى الله عليه وسلم menerima hadiah dan membalasnya, sehingga tiada seorangpun yang punya jasa terhadap beliau.Dan beliau tidak memakan kotoran orang-orang yang dengannya mereka membersihkan diri dari dosa-dosa, dan itulah shodaqoh-shodaqoh.Dan beliau tidak memakan shodaqoh karena alasan tadi dan yang lainnya.

            Jika ini telah jelas, maka shodaqoh itu lebih utama, kecuali jika di dalam hadiah ada makna yang dengan itu dia menjadi lebih utama daripada shodaqoh, seperti memberikan hadian kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam masa hidup beliau dalam rangka rasa cinta untuk beliau. Dan seperti hadiah kepada sanak kerabat yang dengan itu si pemberinya bisa menyambung kekerabatan, dan saudara seagamanya, maka ini bisa jadi lebih utama daripada shodaqoh.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/31/hal. 269).

            Al Munawiy رحمه الله berkata: “Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم memakan hadiah. Dan beliau tidak memakan shodaqoh.”Itu dikarenakan di dalam hadiah itu ada pemuliaan dan pengagungan, sementara di dalam shodaqoh itu ada makna kehinaan dan belas kasihan.Oleh karena itulah maka di antara kekhususan beliau adalah beliau diharomkan memakan shodaqoh yang wajib dan mustahab sekaligus.”(“Faidhul Qodir”/no. 6938).

Dan Ibnu Manzhur رحمهالله berkata: “Hibah adalah pemberian yang kosong dari pembalasan dan hasrat-hasrat.“(“Lisanul ‘Arob”/1/hal. 803).

            Al Imam Ibnu Qudamah رحمهالله berkata: “Dan barangsiapa menyerahkan sesuatu kepada seseorang untuk mendekatkan diri padanya, dan cinta padanya, maka pemberiannya itu adalah hadiah.“(“Al Mughni”/1/hal. 273).

            Al Imam Sulaiman bin Abdul Qowiy Ath Thufiy رحمهالله berkata: “Zakat secara bahasa adalah tambahan dan pertumbuhan” –sampai pada ucapan beliau: “Dan secara syari’ah, zakat adalah pengeluaran suatu bagian tertentu dari harta yang khusus, diberikan kepada jenis-jenis orang yang telah dikhususkan, untuk mendekatkan diri pada Alloh.“(“At Ta’yiin Fi Syarhil Arba’in”/Ath Thufiy Al Hanbaliy/hadits kedua/hal. 79/cet. Al Maktabatul Makkiyyah).

            Dan pembedaan di antara perkara-perkara ini di saat pemberian adalah kembali kepada niat sang pemberi. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Andaikata dia memberikan pada orang miskin sebagai hibah, atau hadiah, dan tidak meniatkan sebagai zakat, tidaklah terhitung sebagai zakat.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/3/hal. 85/cet. Darul Hadits).

Pasal dua: Di Antara Keutamaan Shodaqoh

Maka orang-orang yang bershodaqoh memiliki banyak pahala dan ganjaran. Di antaranya adalah naungan di padang Mahsyar. Dari Abu Huroiroh رضياللهعنه dari Nabi صلىاللهعليهوسلم yang bersabda:

«سبعةيظلهماللهفيظلهيوملاظلإلاظلهالإمامالعادل،وشابنشأفيعبادةربه،ورجلقلبهمعلقفيالمساجد،ورجلانتحابافياللهاجتمعاعليهوتفرقاعليه،ورجلطلبتهامرأةذاتمنصبوجمالفقال: إنيأخافالله . ورجلتصدقأخفىحتىلاتعلمشمالهماتنفقيمينه،ورجلذكراللهخالياففاضتعيناه».

“Ada tujuh golongan yang dinaungi Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: “Pemimpin yang adil, anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Robbnya, seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid, dua orang yang saling cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun karena-Nya, seseorang yang diminta oleh seorang perempuan yang punya kedudukan dan kecantikan tapi dia berkata: “Sesungguhnya aku takut pada Alloh.” Dan seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta orang yang mengingat Alloh sendirian lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al Bukhory (kitabul Adzan/Man Jalasa Fil Masjid/(660)) dan Muslim (Kitabuz Zakah/Fadhlu Ikhfaish Shodaqoh/(1031))).

            Dan Yazid bin Abi Habib meriwayatkan bahwasanya Abul Khoir beriwayatkan padanya bahwasanya dia mendengar Uqbah bin Amir berkata: Aku mendengar Rosulullohصلىاللهعليهوسلم yang bersabda:

«كل امرئ في ظل صدقته حتى يفصل بين الناس أو قال يحكم بين الناس».

“Setiap orang ada di bawah naungan shodaqohnya sampai diselesaikan keputusan di antara manusia.” Atau beliau bersabda: dihukumi di antara manusia.”

Yazid berkata: “Dan dulu Abul Khoir tidak pernah meleset pada beliau satu haripun kecuali dalam keadaan beliau bershodaqoh di hari itu dengan sesuatu, meskipun dengan ka’k (sejenis roti keras) atau bawang merah, atau yang lainnya.”

(HR. Al Imam Ahmad (17371)/shohih).

            Lihatlah kepada keutamaan yang agung ini. Di saat dahsyatnya panas hari Kiamat sebagaimana dalam hadits Al Miqdad ibnul Aswad رضي الله عنه yang berkata:Aku mendengar Rosulullohصلىاللهعليهوسلم yang bersabda:

«تدنى الشمس يوم القيامة من الخلق حتى تكون منهم كمقدار ميل». -قال سليم بن عامر، أحد الرواة: فوالله ما أدري ما يعني بالميل ؟ أمسافة الأرض أم الميل الذي تكتحل به العين-. قال:«فيكون الناس على قدر أعمالهم في العرق فمنهم من يكون إلى كعبيه ومنهم من يكون إلى ركبتيه ومنهم من يكون إلى حقويه ومنهم من يلجمه العرق إلجاما». قال: وأشار رسول الله صلى الله عليه و سلم بيده إلى فيه.

“Matahari pada hari Kiamat didekatkan pada para makhluk sampai sejarak satu mil dari mereka.” –Salim bin Amir –seorang rowi- berkata: Demi Alloh aku tidak tahu apakah yang dimaksudkan dengan mil adalah ukuran jarak di bumi, ataukah mil itu tongkat celak. –“Kemudian jadilah orang-orang berkeringat sesuai dengan kadar amalan mereka. Maka di antara mereka ada yang keringatnya sampai ke kedua mata kaki, di antara mereka ada yang keringatnya sampai ke lututnya, di antara mereka ada yang keringatnya sampai ke pinggang, di antara mereka ada yang mulutnya dikekang oleh keringatnya.” (HR. Muslim (2864)).

            Dan di dalam dahsyatnya panas itu Alloh menaungi orang-orang yang ikhlas dalam shodaqoh di dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.

Shodaqoh juga merupakah bukti kuatnya keimanan. Dari Abu Malik Al Asy’ariy رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«الطهور شطر الإيمان، والحمد لله تملأ الميزان، وسبحان الله والحمد لله تملآن – أو تملأ – ما بين السموات والأرض، والصلاة نور، والصدقة برهان، والصبر ضياء، والقرآن حجة لك أو عليك. كل الناس يغدو فبائع نفسه، فمعتقها أو موبقها». (أخرجه مسلم (556)).

“Bersuci adalah separuh keimanan, Alhamdulillah itu memenuhi timbangan, subhanalloh walhamdulillah itu memenuhi antara langit dan bumi.Sholat itu adalah cahaya, shodaqoh itu adalah bukti, kesabaran adalah cahaya panas, dan Al Qur’an adalah argumenntasi untuk mendukungmu atau membantahmu.Setiap orang berangkat lalu menjual dirinya sendiri, membebaskannya dari Neraka atau membinasakan dirinya sendiri.” (HR. Muslim (556)).

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka demikianlah shodaqoh itu merupakan bukti akan shohihnya keimanan, dan kerelaan jiwa dengan itu merupakan alamat adanya manisnya keimanan dan cita rasa iman.” (“Jami’ul Ulum Wal Hikam”/hadits keduapuluh tiga).

Dan shodaqoh itu menghapus kesalahan-kesalahan.Maka dari hadits Jabir رضي الله عنه yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا كعب بن عجرة الصوم جنة، والصدقة تطفئ الخطيئة، والصلاة قربان -أو قال: برهان».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda (pada Ka’b): “Wahai Ka’b bin ‘Ujroh, puasa itu perisai, shodaqoh itu memadamkan kesalahan, sholat adalah pendekatan diri –atau beliau bersabda: bukti.”(HR. Al Imam Ahmad (14481) dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (898)).

            Dan dari Hudzaifah رضي الله عنهyang berkata: Rosulullohصلى الله عليه وسلم bersabda:

«فتنة الرجل في أهله وماله وجاره تكفرها الصلاة والصدقة والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر».

“Fitnah seseorang di keluarganya, di hartanya, dan di tetangganya itu dihapus dengan sholat, shodaqoh, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar.”(HR. Al Bukhoriy (3586) dan Muslim (144)).

            Abu Zaid رحمه الله berkata: “Futinar rojul, yuftanu futuna, yaitu jika dia terjatuh ke dalam fitnah, dan berpindah dari keadaan yang baik kepada keadaan yang jelek. Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya, dan anaknya adalah bentuk-bentuk dari kecintaan yang berlebihan pada mereka, dan kekikirannya untuk mereka, dan tersibukannya dia dengan mereka dari kebanyakan amal kebaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿إنما أموالكم وأولادكم فتنة﴾

“Harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah fitnah.”

Atau karena dia kurang dalam menjalankan hak-hak mereka, pendidikan mereka dan pengajaran mereka, sementara dia adalah pengasuh mereka dan akan dimintai tanggungjawab tentang kepemimpinannya. Demikian pula fitnah seseorang di dalam tetangganya, bentuknya adalah seperti itu.Maka ini semua adalah fitnah yang menuntut pertanggungjawaban. Dan di antaranya adalah dosa-dosa yang diharapkan bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

﴿إن الحسنات يذهبن السيئات﴾.

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghilangkan kejelekan-kejelekan.”

(selesai dari “Al Minhaj Syarh Shohih Muslim bin Hajjaj”/An Nawawiy/2/hal. 171).

Dan termasuk dari keutamaan shodaqoh juga adalah: keselamatan dari siksaan. Dari Al Harits Al As’ariy رضي الله عنه: bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الله أمر يحيى بن زكريا بخمس كلمات أن يعمل بها ويأمر بني إسرائيل أن يعملوا بها إلى قوله:- وآمركم بالصدقة فإن مثل ذلك كمثل رجل أسره العدو فأوثقوا يده إلى عنقه وقدموه ليضربوا عنقه فقال أنا أفديه منكم بالقليل والكثير ففدى نفسه منهم». الحديث. (أخرجه الترمذي (2863)/صحيح).

“Sesungguhnya Alloh memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk mengamalkannya, dan memerintahkan Bani Isroil untuk mengamalkannya” –sampai pada sabda beliau:- “Dan aku (Yahya) perintahkan pada kalian untuk bershodaqoh, karena sesungguhnya permisalan yang demikian itu adalah seperti orang yang ditawan oleh musuh, lalu mereka mengikat tangannya dan memajukannya untuk dipenggal lehernya, lalu dia berkata: “Aku menebus diriku dari kalian dengan harta yang sedikit ataupun yang banyak.” Maka dia bisa menebus dirinya dari mereka.”(HR.At Tirmidziy (2863)/shohih).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya shodaqoh itu memiliki pengaruh yang mengagumkan dalam menolak berbagai bencana sekalipun shodaqoh itu berasal dari orang yang jahat atau zholim, bahkan dari orang kafir karena sesungguhnya Alloh ta’ala menolak darinya dengan shodaqohnya itu bermacam-macam bencana. Dan ini adalah perkara yang telah diketahui oleh manusia, ulamanya dan orang awamnya. Dan penduduk bumi semuanya mengakui karena mereka telah mencobanya” –sampai pada ucapan beliau:- “ dan di dalam permisalan yang dibuat oleh Nabi صلى الله عليه وسلم yang demikian itu dengan orang yang diajukan untuk dipenggal lehernya, maka dia menebus dirinya sendiri dari mereka dengan hartanya yang cukup. Maka sungguh shodaqoh itu menebus sang hamba dari siksaan Alloh ta’ala karena sesungguhnya dosa-dosanya dan kesalahan-kesalahannya menuntut kebinasaannya, maka datanglah shodaqoh menebusnya dari siksaan, dan membebaskannya darinya. Oleh karena itulah Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits shohih manakala beliau berkhothbah kepada para wanita pada hari ‘Id:

«يا معاشر النساء تصدقن ولو من حليكن فإني رأيتكن أكثر أهل النار»

“Wahai para wanita, bershodaqohlah kalian, sekalipun dari perhiasaan kalian, karena sesungguhnya kalian adalah penduduk neraka yang terbanyak.”

            Dan seakan-akan beliau mendorong mereka dan menyemangati mereka untuk menebus diri mereka sendiri dari neraka. Dan dalam “Ash Shohihain” dari Adi bin Hatim yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان فينظر أيمن منه فلا يرى إلا ما قدم وينظر أشأم منه فلا يرى إلا ما قدم وينظر بين يديه فلا يرى إلا النار تلقاء وجه فاتقوا النار ولو بشق تمرة».

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali Robbnya akan mengajaknya bicara, tiada di antara dirinya dan Robbnya penerjemah. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah dikerjakannya. Dan dia melihat ke sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah dikerjakannya. Dan dia melihat ke sebelah depannya, maka dia tidak melihat kecuali api di depan wajahnya. Maka lindungilah diri kalian walaupun dengan setengah biji korma.”

(“Al Wabilush Shoyyib”/hal. 69-72/Dar Alamil Fawaid).

            Dan apakah boleh seseorang untuk bershodaqoh dengan niat memohon kesembuhan pada Alloh dari sakitnya?

            Saya menanyakan hal itu pada Syaikh kami Abu Abdirrohman Yahya Al Hajuriy حفظه الله maka beliau menjawab: “Tidak apa-apa dia meniatkan itu.” Saya bertanya: “Apakah niatnya itu akan membikin pahala shodaqohnya habis?” beliau menjawab: “Tidak akan menghabisa pahalanya, akan tetapi sebaiknya dia memurnikan shodaqohnya tadi tanpa niat tadi. Dan hendaknya dia memohon pada Alloh kesembuhan.Jika Alloh menyembuhkannya dari sakitnya, segala pujian bagi Alloh.” Saya bertanya: “Tapi boleh dia bershodaqoh dengan niat tadi?” beliau menjawab: “Boleh.”

            Dan pahala shodaqoh itu berlipat-lipat. Alloh ta’ala berfirman:

﴿مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم﴾.

“Permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka di jalan Alloh adalah seperti sebuah biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya ada seratus biji.Dan Alloh melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki-Nya.Dan Alloh itu Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ayat ini seakan-akan menjadi tafsir dan penjelasan untuk kadar pelipatgandaan yang Alloh lipatkan untuk orang yang menghutangi (shodaqoh di jalan Alloh). Dan Alloh Yang Mahasuci memisalkan dengan permisalan ini untuk menghadirkan gambar pelipatan dalam benak-benak dengan biji tadi yang dihilangkan ke dalam bumi, lalu biji tadi menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya ada seratus biji, sampai seakan-akan hati menyaksikan pelipatan itu dengan mata hatinya, sebagaimana mata melihat kepada bulir-bulir yang berasal dari satu butir biji itu. Maka bergabunglah saksi mata dengan saksi iman dan Qur’an, sehingga menguatlah keimanan orang yang berinfaq dan tumbuhlah kedermawanan jiwanya untuk berinfaq.Dan renungkanlah bagaimana Alloh menjama’ sunbulah (satu bulir) dalam ayat ini dengan istilah sanabil, dan itu adalah jama’ kasroh (pola jama’ yang menunjukkan jumlah yang banyak), karena posisinya sekarang adalah posisi perbanyakan dan pelipatgandaan. Dan Alloh menjama’ sunbulah menjadi sunbulaat pada firman-Nya ta’ala:

﴿وسبع سنبلات خضر وأخر يابسات

“Dan tujuh bulir hijau, dan yang lain adalah kering.”

            Alloh dalam ayat ini mendatangkan jama’ qillah (pola jama’ yang menunjukkan jumlah yang sedikit), karena tujuh itu sedikit, dan tiada di situ tuntutan pembanyakan.

            Dan firman-Nya ta’ala:

﴿والله يضاعف لمن يشاء

“Dan Alloh melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki-Nya”

Dikatakan: maknanya adalah: dan Alloh melipatkan biji dengan pelipatan tadi itubagi orang yang dikehendaki-Nya, bukan untuk setiap orang yang berinfaq, tapi Alloh mengkhususkan rohmat-Nya bagi orang yang dikehendaki-Nya. Yang demikian itu karena perbedaan keadaan infaq dalam diri orang tadi, sifat orang yang berinfaq, dan kondisinya dalam kebutuhan uang mendesak dan besarnya manfaat serta bagusnya tempat infaqnya.

            Dan dikatakan:Dan Alloh melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki-Nya melebihi nilai tadi, maka tidak terbatas pada tujuhratus, bahkan pelipatannya melewati kadar tadi sampai pada lipatan-lipatan yang banyak.

            Dan diperselisihkan pada tafsir ayat itu. Dikatakan: permisalan nafkah orang-orang yang berinfaq di jalan Alloh itu seperti biji. Dan dikatakan: permisalan orang-orang yang berinfaq di jalan Alloh itu seperti orang yang menaburkan biji. Inii untuk mencocokkan antara yang dimisalkan dengan tolok permisalannya.

            Maka di sini ada empat perkara: orang yang infaq, nafkah, orang yang menaburkan biji, dan penaburan. Maka Alloh سبحانه menyebutkan dari setiap sisi: bagian yang paling penting. Alloh menyebutkan dari sisi orang yang dimisalkan yang mana dia itu adalah orang yang berinfaq, karena maksud dari ayat itu adalah menyebutkan keadaan dia dan sifat dirinya.Dan Alloh diam dari penyebutan nafkah karena lafazh telah menunjukkan itu. Dan Alloh menyebutkan segi tolok permisalan: penaburan benih, karena dia itulah tempat yang dihasilkan di situ pelipatan. Dan Alloh meninggalkan penyebutan orang yang menaburkan benih, karena utang itu tidak terkait dengan penyebutan si penaburnya.Maka renungkanlah balaghoh, kefasihan dan ucapan yang singkat padat ini, yang mengandung puncak bayan.Dan ini banyak dalam permisalan-permisalan Al Qur’an, bahkan hampir semuanya datang dengan pola ini.

            Kemudian Alloh menutup ayat ini dengan dua nama dari nama-nama-Nya yang paling indah itu, yang sesuai dengan alur ayat, yaitu: Al Wasi’ (Mahaluas) dan Al ‘Alim (Maha Mengetahui), maka janganlah sang hamba menganggap kecil kemungkinan terjadinya pelipatan tadi, dan pemberian-Nya tidaklah tersempitkan dari pelipatan tadi, karena sungguh Yang melipatkan pahala adalah Dzat Yang luas pemberian-Nya, luas kekayaan-Nya, luas karunia-Nya. Dan bersamaan dengan itu maka jangan disangka bahwasanya luasnya pemberian-Nya itu menuntut didapatkannya itu oleh setiap orang yang berinfaq, karena sesungguhnya Dia mengetahui siapakah yang pelipatan tadi sesuai untuk dia dan dia memang pantas untuk mendapatkannya, dan siapakah yang tidak berhak mendapatkannya dan tidak pantas untuk itu. Karena sesungguhnya kedermawanan-Nya dqan karunia-Nya ta’ala itu tidak menentang hikmah-Nya, bahkan Dia meletakkan karunianya di tempat-tempatnya karena keluasan-Nya dan rohmat-Nya, dan Dia menghalangi itu dari orang yang tidak pantas mendapatkannya, dengan hikmah dan ilmu-Nya.”

(“Thoriqul Hijrotain”/hal. 448-450/cet. Dar Ibni Rojab).

            Dan shodaqoh itu tidak mengurangi harta. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ الله يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ﴾ [الأنفال: 60]،

“Dan apapun yang kalian infaqkan di jalan Alloh, pahalanya akan dicukupi untuk kalian dan kalian tidak dizholimi.”

            Dan Alloh سبحانهberfirman:

﴿وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ﴾ [سبأ: 39].

“Dan apapun yang kalian infaqkan, maka Alloh akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizqi.”

Abu Huroiroh radhiyallohu ‘anhu berkata: Dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ الله عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لله إِلاَّ رَفَعَهُ الله

“Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun.Dan tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan kemaafan kecuali kemuliaan.Dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Alloh kecuali Dia akan mengangkatnya.”(HR. Muslim (2588)/cet. Dar Ibnil Jauziy).

            Al Imam An Nawawiy رحمهالله berkata: “Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta sedikitpun” mereka menyebutkan dua sisi: yang pertama: maknanya adalah: Alloh memberkahinya dan menolak darinya bahaya-bahaya, maka tertopanglah kekurangan zhohir dengan barokah yang tersemmbunyi, dan ini bisa diketahui dengan indra dan kebiasaan. Yang kedua: sekalipun harta tadi berkurang secara zhohir, tapi ada penopang dari pahala yang dihasilkannya, dan pertambahan yang berlipat banyak. “Dan tidaklah Alloh menambahi seorang hamba dengan kemaafan kecuali kemuliaan” di sini juga ada dua sisi, yang pertama: sesuai dengan zhohirnya. Maka barangsiapa dikenal suka memaafkan maka dia itu akan memimpin dan menjadi agung di hati-hati manusia, dan bertambahlah keagungannya dan kemuliaannya. Yang kedua: yang dimaksudkan adalah pahalanya di akhirat dan keagungannya di sana. “Dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri kepada Alloh kecuali Dia akan mengangkatnya” di sini juga ada dua sisi, yang pertama: Alloh akan mengangkatnya di dunia, dan mengokohkan untuknya dengan tawadhu’nya itu kedudukan di hati-hati manusia, dan Alloh mengangkatnya di sisi manusia dan memuliakan posisinya. Yang kedua: bahwasanya yang dimaksudkan adalah pahalanya di akhirat, dan terangkatnya dirinya di sana, dengan tawadhu’nya dia di dunia. Para ulama berkata: sisi-sisi ini tentang ketiga kalimat tadi ada di adat kebiasaan dan telah diketahui bersama. Dan bisa jadi yang dimaksudkan adalah dua sisi tadi bersamaan, semuanya, di dunia dan di akhirat.Wallohu a’lam.”(“Al Minhaj”/16/hal. 378/cet. Maktabatul Ma’arif).

            Dan shodaqoh punya keutamaan-keutamaan yang banyak, dan yang saya sebutkan itu cukup untuk sebagai pengingat.

Pasal tiga: banyaknya jalan untuk bershodaqoh

            Sesungguhnya shodaqoh itu tidak terbatas dengan harta saja. Dari Abu Dzarr رضي الله عنه yang berkata:

أن ناسا من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم قالوا للنبي صلى الله عليه و سلم: يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ويتصدقون بفضول أموالهم. قال : «أو ليس قد جعل الله لكم ما تصدقون ؟ إن بكل تسبيحة صدقة وكل تكبيرة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن منكر صدقة وفي بضع أحدكم صدقة». قالوا: يا رسول الله أياتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ قال:«أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه فيها وزر ؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجرا».(أخرجه مسلم (1006)).

“Bahwasanya sekelompok orang dari Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم berkata pada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Wahai Rosululloh, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala-pahala, mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka puasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta-harta mereka.” Beliau menjawab: “Bukankah Alloh telah menjadikan perkara-perkara yang bisa kalian shodaqoh dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih adalah shodaqoh, dan setiap takbir adalah shodaqoh, dan setiap tahmid adalah shodaqoh, dan setiap tahlil adalah shodaqoh, memerintahkan pada yang ma’ruf adalah shodaqoh, melarang dari yang munkar adalah shodaqoh, dan salah seorang dari kalian menggauli istrinya adalah shodaqoh,” mereka berkata: “Wahai Rosululloh, apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan dia mendapatkan pahala dengan sebab itu?” beliau menjawab: “Kabarkanlah andaikata dia meletakkannya di keharoman apakah dia mendapatkan dosa di situ? Maka seperti itu pula jika dia meletakkan di yang hala maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim (1006)).

Dari Abu Dzarr رضي الله عنه yang berkata:

قلت: يا رسول الله أي الأعمال أفضل ؟ قال:«الإيمان بالله والجهاد في سبيله». قال: قلت: أي الرقاب أفضل ؟ قال:«أنفسها عند أهلها وأكثرها ثمنا». قال: قلت: فإن لم أفعل؟ قال:«تعين صانعا أو تصنع لأخرق». قال: قلت: يا رسول الله أرأيت إن ضعفت عن بعض العمل؟ قال:«تكف شرك عن الناس فإنها صدقة منك على نفسك».(أخرجه مسلم (84)).

“Aku katakan: “Wahai Rosululloh, amalan apakah yang paling utama?” beliau menjawab: “Iman kepada Alloh dan jihad di jalan-Nya.” Aku bertanya: “Pemerdekaan budak apa yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yang paling berharga bagi pemiliknya dan paling banyak harganya.” Aku bertanya: “Jika saya tidak mengerjakan itu?” Beliau menjawab: “Engkau menolong seorang pembuat suatu barang, atau engkau membuat sesuatu untuk orang yang tidak mampu.” Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, kabarilah saya bagaimana jika saya lemah dari sebagian amal?” Beliau menjawab: “Engkau menahan kejelekanmu dari manusia, karena sesungguhnya itu adalah shodaqoh darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Muslim (84)).

            Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«كل سلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس». قال:«تعدل بين الاثنين صدقة وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أو ترفع له عليها متاعه صدقة قال والكلمة الطيبة صدقة وكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة وتميط الأذى عن الطريق صدقة».(أخرجه مسلم (1009)).

“Setiap sendi-sendi dari manusia itu wajib untuk bershodaqoh setiap hari yang matahari terbit di situ.” Beliau bersabda: “Engkau mendamaikan antara dua orang adalah shodaqoh, engkau menolong orang mengurusi kendaraannya, engkau menaikkannya ke atas kendaraannya, atau engkau mengangkat untuknya barangnya ke atas kendaraannya adalah shodaqoh.” Beliau bersabda: “kalimat yang baik adalah shodaqoh. Dan setiap langkah yang engkau lakukan untuk sholat adalah shodaqoh.Dan engkau menghilangkan gangguan dari jalan adalah shodaqoh.” (HR. Muslim (1009)).

            Dari Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya dari kakeknya:

عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: «على كل مسلم صدقة». قيل: أرأيت إن لم يجد؟ قال:«يعتمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق». قال: قيل: أرأيت إن لم يستطع؟ قال:«يعين ذا الحاجة الملهوف». قال: قيل: له أرأيت إن لم يستطع؟ قال:«يأمر بالمعروف أو الخير» قال: أرأيت إن لم يفعل؟ قال:«يمسك عن الشر فإنها صدقة». (أخرجه مسلم (1008)).

Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Setiap muslim wajib bershodaqoh.” Dikatakan: “Bagaimana pendapat Anda jika dia tidak mendapati?” Beliau menjawab: “Dia beramal dengan kedua tangannya lalu memberikan manfaat untuk dirinya sendiri dan bershodaqoh.” Dikatakan: “Bagaimana pendapat Anda jika dia tidak sanggup?” Beliau menjawab: “Dia menolong orang yang punya kebutuhan, yang sangat butuh pertolongan.” Dikatakan: “Bagaimana pendapat Anda jika dia tidak sanggup?” Beliau menjawab: “Dia memerintahkan kepada yang ma’ruf atau kebaikan.” Dikatakan: “Bagaimana pendapat Anda jika dia tidak sanggup?” Beliau menjawab: “Dia menahan dari kejelekan, karena sesungguhnya itu adalah shodaqoh.” (HR. Muslim (1008)).

 Dari Jabir رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ما من مسلم يغرس غرسا إلا كان ما أكل منه له صدقة، وما سرق له منه صدقة، وما أكل السبع منه فهو له صدقة، وما أكلت الطير فهو له صدقة، ولا يرزؤه أحد إلا كان له صدقة». (أخرجه مسلم (1552)).

“Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, kecuali apa dimakan dari tanamannya itu adalah shodaqoh untuknya. Dan apa dicuridari tanamannya itu adalah shodaqoh untuknya. Dan apa dimakan oleh binatang buas dari tanamannya itu adalah shodaqoh untuknya. yang lain, apa dimakan oleh burung dari tanamannya itu adalah shodaqoh untuknya. Dan apa diambil oleh seseorangdari tanamannya itu adalah shodaqoh untuknya.” (HR. Muslim (1552)).

            Hadits ini juga datang dari Anas bin Malik رضي الله عنه dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم. (HR. Al Bukhoriy (2320) dan Muslim (1553)).

Bahkan seluruh amalan sholih adalah shodaqoh secara umum.Dari Jabir رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«كل معروف صدقة». (أخرجه البخاري (6021))

“Setiap perkara yang ma’ruf adalah shodaqoh.” (HR. Al Bukhoriy (6021)).

Dan diriwayatkan Muslim (1005) dari Hudzaifah رضي الله عنه.

            Dan di dalam dalil-dalil yang shohih ini ada dorongan yang besar untuk memperbanyak shodaqoh.

            Adapun hadits dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«صدقة السر تطفئ غضب الرب، وصلة الرحم تزيد في العمر، وفعل المعروف يقي مصارع السوء».

“Shodaqoh yang rahasia itu memadamkan kemurkaan Robb, dan silaturrohim itu menambah panjang umur, dan berbuat yang ma’ruf itu melindungi dari tempat-tempat terbantingnya orang di dalam kejelekan.”

Diriwayatkan oleh Al Harits dalam “Musnad” beliau, sebagaimana dalam “Bughyatul Hatsits” (no. 300), dan Al Baihaqiy dalam “Syu’abul Imam” (no. 3168).Di dalam sanadnya ada Al Waqidiy dan dia itu pendusta.

Hadits ini didukung oleh hadits dari Anas رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh At Tirmidziy (no. 664) dan di dalam sanadnya ada Abdulloh bin Isa Al Khozzaz Al Bashriy, munkarul hadits.

Hadits ini didukung juga oleh hadits dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh At Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Ausath” (no. 3450) dan di dalam sanadnya ada Amr bin Abi Salamah, di dalamnya ada kelemahan. Dalam sanad ini juga ada Shodaqoh bin Abdillah, dan dia itu adalah Abu Mu’awiyah As Samin, munkarul hadits.

Hadits ini didukung juga oleh hadits dari Abu Umamah dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh At Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Kabir” (no. 8014) dan di dalam sanadnya ada Hafsh bin Sulaiman, kokoh dalam qiroah, tapi beliau munkarul hadits.

Maka dalam masalah ini tidak sah satu haditspun, sekalipun maknanya benar, berdasarkan yang saya tahu. Adapun hadits:

والصدقة تطفئ الخطيئة

“Dan shodaqoh itu memadamkan kesalahan”

Maka memang shohih sebagaimana telah lewat.

Dan Alloh sajalah yang paling tahu.

Pasal empat: tidak boleh meremehkan shodaqoh sekalipun kecil di mata manusia

            Kita tidak boleh meremehkan shodaqoh sekalipun kecil di mata kita, karena selama dia itu adalah dari hasil kerja yang baik, maka sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الله لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾[النساء: 40].

“Sesungguhnya Alloh tidak menzholimi sekecil dzarrohpun, dan jika itu berupa kebaikan Alloh akan melipatgandakannya dan mendatangkan dari sisi-Nya pahala yang agung.”

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب ولا يقبل الله إلا الطيب وإن الله يتقبلها بيمينه ثم يربيها لصاحبه كما يربي أحدكم فلوه حتى تكون مثل الجبل».(أخرجه البخاري (1410) ومسلم (1014)).

“Barangsiapa bersodaqoh senilai satu korma dari pekerjaan yang baik, dan Alloh tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Alloh menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan maharnya sampai menjadi seperti gunung.” (HR. Al Bukhori (1410) dan Muslim (1014)).

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«يا نساء المسلمات لا تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة». (أخرجه البخاري (2566) ومسلم (1030)).

“Wahai para wanita Muslimat janganlah seorang tetangga meremehkan hadiah untuk tetangganya sekalipun berupa kikil kambing.”(HR. Al Bukhori (2566) dan Muslim (1030)).

Dari Abu Dzarr رضي الله عنه yang berkata:

قال لي النبي صلى الله عليه و سلم:«لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق». (أخرجه مسلم (2626)).

“Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepadaku: “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan sedikitpun sekalipun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah cerah.”(HR. Muslim (2626)).

Pasal lima: Antara menyembunyikan shodaqoh dan menampakkannya

            Sesungguhnya terpandang dalam shodaqoh adalah keikhlasan pelakunya dan kesesuaiannya dengan syariat.Adapun perbedaan pahala antara menyembunyikan shodaqoh dan menampakkannya itu kembali kepada tuntutan kondisi.Dan asalnya adalah bahwasanya perahasiaannya itu lebih utama. Alloh ta’ala berfirman:

﴿إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَالله بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾ [البقرة: 271].

“Jika kalian menampakkan shodaqoh-shodaqoh itu maka itu paling bagus, tapi jika kalian merahasiakannya dan memberikannya pada orang-orang miskin, maka itu lebih baik bagi kalian.Dan Alloh akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.”

            Al Imam Abu Ja’far Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Dan Alloh tidak mengkhususkan dari firman-Nya: “Jika kalian menampakkan shodaqoh-shodaqoh itu maka itu bagus sekali,“ sesuatu apapun, maka firman tadi bersifat umum, kecuali zakat wajib, karena zakat wajib itu termasuk dari kewajiban-kewajiban (agama) yang mana para ulama telah bersepakat bahwasanya mengumumkannya dan menampakkannya itu lebih utama selain zakat yang telah kami sebutkan adanya perselisihan di situ di kalangan orang-orang yang berselisih tentangnya. Tapi mereka semua bersepakat bahwasanya zakat itu wajib, maka hukumnya adalah lebih utama untuk diumumkan, sebagaimana hukum seluruh kewajiban yang lain.” (“Jami’ul Bayan”/Ath Thobariy/5/hal. 584/Darut Tarbiyah Wat Turots).

            Al Imam Ibnul Arobiy –Abu Bakr Muhammad bin Abdillah- Al Malikiy رحمه الله berkata: “Adapun shodaqoh yang wajib, maka tiada perselisihan bahwasanya menampakkannya itu lebih utama, seperti sholat wajib dan seluruh kewajiban syari’ah, karena seseorang dengan itu akan bisa menjaga keislamannya, dan melindungi hartanya. Dan tidak ada hadits shohih yang bisa menjadi patokan untuk menunjukkan bahwasanya shodaqoh terang-terangan lebih utama daripada yang rahasia ataupun bahwasanya shodaqoh rahasia lebih utama daripada yang terang-terangan, akan tetapi itu tadi adalan kesepakatan yang telah tetap. Adapun shodaqoh nafilah (tidak wajib), maka Al Qur’an telah terang-terangan menyebutkan bahwasanya shodaqoh rahasia lebih utama daripada terang-terangan. Sementara para ulama kita berkata: “Ayat ini berbicara secara global, sementara jika diteliti: bahwasanya kondisi shodaqoh berbeda dengan kondisi sang pemberi, kondisi yang diberi, kondisi orang-orang yang menyaksikannya.

            Adapun si pemberi, maka dia mendapatkan faidah menampakkan sunnah dan pahala keteladanan. Penyakitnya adalah riya (ingin dilihat orang untuk dipuji), mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi).

Adapun orang yang diberi shodaqoh, maka sesungguhnya kerahasiaan itu lebih selamat untuknya dari penghinaan orang-orang, atau bisa jadi ada orang yang menuduhnya mengambil shodaqoh dalam keadaan dia itu sebenarnya kaya dan tidak membutuhkannya, dan menuduh dirinya tidak punya ‘iffah (menjaga kehormatan dari perkara rendah).

Adapun kondisi orang-orang yang menyaksikan, maka merahasiakan shodaqoh dari pandangan mata mereka itu lebih utama daripada terang-terangan di hadapan mereka, dari sisi bahwasanya bisa jadi mereka akan mencerca si pemberi bahwasanya dirinya itu riya, dan mencela si penerima shodaqoh bahwasanya dia itu sebenarnya kaya dan tidak membutuhkannya. Adapun faidah shodaqoh di hadapan mereka adalah untuk menggerakkan hati-hati mereka agar bershodaqoh.

(Selesai dari “Ahkamul Qur’an”/Ibnul ‘Arobiy/1/hal. 472).

            Adapun Al Kiya –Abul Hasan Ali bin Muhammad- Al Hirrosiy Asy Syafi’iy رحمه الله berkata: “Di dalam ayat tadi ada penunjukan bahwasanya merahasiakan shodaqqoh secara mutlak itu lebih utama, dan bahwasanya shodaqoh itu adalah hak orang miskin, dan bahwasanya boleh bagi pemilik harta untuk membagi-bagikannya sendiri, berdasarkan salah satu dari pendapat Asy Syafi’iy. Dan berdasarkan pendapat yang lain: mereka menyebutkan bahwasanya yang dimaukan dengan shodaqoh-shodaqoh di sini adalah shodaqoh sunnah setelah shodaqoh wajib yang penampakannya itu lebih utama, agar tidak mengalami tuduhan (jika tidak tampak membayar zakat misalkan). Dan karena itulah dikatakan: sholat sunnah sendiri-sendiri itu lebih utama. Dan sholat wajib berjama’ah itu lebih utama karena menampilkan kewajiban itu jauh dari tuduhan.”(“Ahkamul Qur’an”/Al Hirrosiy/1/hal. 173).

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Kebanyakan ulama berpendapat bahwasanya ayat ini bicara tentang shodaqoh tathowwu’ (mustahab, tidak wajib), karena penyembunyiannya itu lebih utama daripada penampakannya. Dan demikian pula seluruh ibadah, penyembunyian yang tathowwu’ itu lebih utama agar tidak terkena riya, berbeda dengan ibadah-ibadah yang wajib.”(“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/Al Qurthubiy/3/hal. 332-333).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini: “Kemudian Alloh Yang Mahasuci mengabarkan tentang kondisi-kondisi orang-orang yang bershodaqoh dalam rangka mencari wajah-Nya dalam shodaqoh mereka, dan bahwasanya Dia akan memberikan pahala untuk mereka atas shodaqoh mereka, jika mereka menampakkannya ataupun menyembunyikannya setelah shodaqoh mereka itu ikhlas untuk mendapatkan wajah-Nya. Dia berfirman: “Jika kalian menampakkan shodaqoh-shodaqoh itu maka itu paling bagus,“ yaitu: maka sesuatu yang paling bagus adalah itu. Dan ini adalah pujian untuk shodaqqoh yang disifati dengan “nampak” dan “jelas”, sehingga jangan sampai orang yang menampilkannya menyangka batalnya pengaruh dari shodaqoh tadi dan rusakya pahalanya yang menyebabkan dia terhalangi dari mengeluarkan shodaqohnya dan menanti waktu yang tepat untuk mengeluarkannya secara rahasia. Ini bisa mengakibatkan luputnya kesempatan untuk bershodaqoh, atau dia bisa terhadang oleh penghalang-penghalang dan dia terhalangi antara dirinya dan hatinya, atau antara dirinya dan pengeluaran shodaqohnya.Maka jangan sampai dia mengakhirkan shodaqoh terang-terangan setelah datang waktunya sampai ke waktu rahasia.Dan inilah dulu keadaan para Shohabat.

            Kemudian Alloh ta’ala berfirman: “tapi jika kalian merahasiakannya dan memberikannya pada orang-orang miskin, maka itu lebih baik bagi kalian.” Maka Alloh mengabarkan bahwasanya memberikan shodaqoh kepada orang faqir secara rahasia itu lebih baik bagi orang yang berinfaq daripada menampilkannya terang-terangan. Dan renungkanlah ikatan yang Alloh ta’ala sebutkan: mengikat perahasiaan tadi dengan pemberiannya kepada orang-orang faqir saja, dan Alloh tidak berfirman: (tapi jika kalian merahasiakannya maka itu lebih baik bagi kalian.) karena ada jenis shodaqoh yang tidak mungkin disembunyikan seperti penyiapan bekal tentara, pembangunan jembatan, pengaliran sungai dan sebagainya. Adapun jika memberikan pada orang-orang miskin, maka perahasiaannya itu mengandung faidah-faidah menutupi kekurangannya, tidak membikinnya malu di hadapan orang-orang, tidak menjadikannya bagaikan orang yang terbongkar kemiskinannya tampak di mata manusia bahwasanya tangannya itu di bawah (bagaikan pengemis) tidak punya harta sehingga orang-orang enggan untuk berhubungan dan transaksi dengan dirinya. Perahasian ini merupakan nilai tambah dalam berbuat baik pada orang miskin tadi daripada sekedar bershodaqoh padanya.Juga ini mengandung keikhlasan dan tidak mencari pandangan mata manusia dan pujian mereka.

Perahasiaannya pada orang miskin itu lebih baik daripada penampakannya di tengah-tengah manusia.Dan dari sinilah Nabi صلى الله عليه وسلم memuji shodaqoh rahasia dan menyanjung pelakunya, dan mengabarkan bahwa dirinya termasuk dari tujuh orang yang ada di bawah Arsy Ar Rohman pada hari Kiamat.Oleh karena itulah Alloh سبحانه menjadikannya lebih baik untuk orang yang berinfaq dan mengabarkan bahwasanya Alloh menghapus kesalahan-kesalahannya dengan infaq yang demikian itu. Alloh سبحانه tidaklah tersembunyi darinya amalan-amalan kalian dan niat-niat kalian, karena sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Kemudian Alloh mengabarkan bahwasanya infaq ini manfaatnya itu hanyalah untuk mereka, kembali kepada mereka di saat mereka paling butuh kepadanya, maka bagaimanakah salah seorang dari kalian bersikap pelit pada dirinya sendiri dengan perkara yang manfaatnya itu khusus untuknya dan kembali pada dirinya? Dan sesungguhnya nafkah mukminin itu hanyalah terjadi dalam rangka mencari wajah-Nya secara murni, karena shodaqoh tadi bersumber dari keimanan mereka.Dan mengabarkan bahwasanya nafkah mereka itu akan kembali pada mereka secara penuh dan sempurna, dan Alloh tidak menzholimi dari nafkah tadi seukuran dzarrohpun.”

(“Thoriqul Hijrotain”/hal. 462/cet. Dar Ibni Rojab).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan firman-Nya: “Jika kalian menampakkan shodaqoh-shodaqoh itu maka itu paling bagus“ yaitu: jika kalian menampakkannya maka itu adalah sesuatu yang paling bagus. Dan firman-Nya: “tapi jika kalian merahasiakannya dan memberikannya pada orang-orang miskin, maka itu lebih baik bagi kalian.” Di dalamnya ada penunjukan bahwasanya perahasiaan shodaqoh itu lebih utama daripada penampakannya, karena yang demikian itu lebih jauh dari riya, kecuali jika penampakannya itu mengakibatkan kemaslahatan yang lebih besar, berupa: orang-orang mencontohnya, sehingga dia lebih utama dari sisi ini. Dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمُسِر بالقرآن كالمُسِر بالصدقة».

“Orang yang terang-terangan membaca Al Qur’an adalah seperti orang yang terang-terangan bershodaqoh.Dan orang yang membaca Al Qur’an secara rahasia adalah seperti orang yang bershodaqoh secara rahasia.”

Dan pada asalnya perahasiaan itu lebih utama, berdasarkan ayat ini, dan berdasarkan hadits yang tetap dalam “Shohihain” dari Abu Huroiroh yang berkata –lalu menyebutkan tujuh orang yang dinaungi oleh Alloh.”

(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 701).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Perahasiaan shodaqoh sunnah itu lebih disukai, berdasarkan apa yang disebutkan oleh pengarang kitab ini –yaitu: Al Muhadzdzab- dan berdasarkan hadits Abu Huroiroh رضياللهعنه dari Nabi صلىاللهعليهوسلم yang bersabda: “Ada tujuh golongan yang dinaungi Alloh di dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya” dan menyebutkan di antaranya:- “Dan seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya” diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dan Muslim.

Adapun zakat, maka disukai untuk ditampakkan, dengan kesepakatan para sahabat kami dan para ulama yang lain, sebagaimana bahwasanya sholat wajib disukai untuk ditampakkan di masjid.Dan yang nafilah dianjurkan untuk dirahasiakan.Dan telah lewat baru saja masalah ini di akhir bagian pembagian shodaqoh-shodaqoh.Yang ketiga adalah dihalalkannya shodaqoh tathowwu’ untuk orang-orang kaya tanpa ada perselisihan.Maka boleh diserahkan kepada mereka, dan si pemberinya mendapatkan pahala.Akan tetapi orang yang membutuhkan lebih utama untuk diberi.

            Para sahabat kami berkata: dan disukai bagi orang kaya untuk membersihkan diri dari menerima shodaqoh, dan dibenci untuk dirinya menyodorkan diri untuk mengambinya. Penulis “Al Bayan” berkata: “Dan tidak halal bagi orang kaya untuk mengambil shodaqoh tathowwu’ dalam keadaan menampakkan kemiskinan. Dan yang beliau sebutkan itu benar. Dan ke sinilah dibawa makna hadits yang shohih:

أن رجلا من أهل الصفة مات فوجد له ديناران، فقال النبي صلي الله عليه وسلم:«كيتان من نار»

“Ada seseorang dari ahli shuffah meninggal, lalu didapatkan bahwasanya dia punya uang dua dinar. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dua kayy dari api.”

Wallohua’lam. Adapun jika orang kaya meminta shodaqoh tathowwu’, maka pengarang kitab “Al Hawi” dan As Sarkhosiy dan yang lainnya telah memastikan keharomannya terhadap si kaya itu. Beliau berkata: “Jika orang itu kaya dengan uang atau dengan perdagangan atau pertanian, maka harom bagi dia untuk meminta. Dan harta yang diambilnya itu harom.Ini adalah lafazh beliau. Al Ghozaliy dan sahabat kami yang lain berkata dalam kitab “An Nafaqot” bahwasanya tentang haromnya orang yang mampu bekerja untuk meminta-minta itu ada dua pendapat. Dan lahiriyyah dalil menunjukkan tentang haromnya meminta-minta.Dan kebenaran adalah sebagaimana yang mereka ucapkan.Di dalam hadits-hadits shohih ada hukum yang keras sekali dalam melarang minta-minta.Dan lahiriyyah dalil yang banyak sekali menunjukkan haromnya hal itu.Adapun orang yang tidak sanggup bekerja, maka tidaklah harom baginya untuk meminta, dan tidak makruh.Al Mardawiy telah terang-terangan menyebutkan itu, dan itulah yang jelas.Alloh ta’ala paling tahu.”

 (selesai dari “Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab”/6/hal. 239).

            Saya –Abu Fairuz عفا الله عنه- berkata: meminta pada makhluk itu harom pada asalnya, kecuali saat darurat. Dan saya telah menukilkan dalil-dalil yang banyak tentang haromnya hal itu dalam kitab “At Taudhihatul Jaliyyah Li Aushofil Hizzbiyyin Wal Hizbiyyah.” Di antaranya adalah:

Sahl Ibnul Handholiyyah rodhiyallohu ‘anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ ». وفي رواية- « مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا يُغْنِيهِ وفي رواية- وَمَا الْغِنَى الَّذِى لاَ تَنْبَغِى مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ « قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ ». وفي رواية- « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ ».

Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa meminta-minta, dan di sisinya ada sesuatu yang telah mencukupinya, maka dia itu hanyalah sedang memperbanyak api.” –dalam riwayat lain: “Dari api Jahannam” Maka mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu sesuatu yang telah mencukupinya?” dalam riwayat lain: “Apa itu kekayaan yang dengan tidak diperbolehkan meminta-minta?” Beliau menjawab,“Sekadar makan siang, atau makan malam.” dalam riwayat lain: “Yang bisa mengenyangkannya sehari semalam.”(HR. Abu Dawud (1631) dan dishohihkan Imam Al Wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Ash Shohihul Musnad” (461)/Darul Atsar).

Qobishoh bin Mukhoriq Al Hilaliy -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:

عَنْقَبِيصَةَبْنِمُخَارِقٍالْهِلاَلِىِّقَالَتَحَمَّلْتُحَمَالَةًفَأَتَيْتُرَسُولَالله -صلىاللهعليهوسلم- أَسْأَلُهُفِيهَافَقَالَ:«أَقِمْحَتَّىتَأْتِيَنَاالصَّدَقَةُفَنَأْمُرَلَكَبِهَا».قَالَثُمَّقَالَ:« يَاقَبِيصَةُإِنَّالْمَسْأَلَةَلاَتَحِلُّإِلاَّلأَحَدِثَلاَثَةٍرَجُلٍتَحَمَّلَحَمَالَةًفَحَلَّتْلَهُالْمَسْأَلَةُحَتَّىيُصِيبَهَاثُمَّيُمْسِكُوَرَجُلٍأَصَابَتْهُجَائِحَةٌاجْتَاحَتْمَالَهُفَحَلَّتْلَهُالْمَسْأَلَةُحَتَّىيُصِيبَقِوَامًامِنْعَيْشٍأَوْقَالَسِدَادًامِنْعَيْشٍوَرَجُلٍأَصَابَتْهُفَاقَةٌحَتَّىيَقُولثَلاَثَةٌمِنْذَوِىالْحِجَامِنْقَوْمِهِلَقَدْأَصَابَتْفُلاَنًافَاقَةٌفَحَلَّتْلَهُالْمَسْأَلَةُحَتَّىيُصِيبَقِوَامًامِنْعَيْشٍأَوْقَالَسِدَادًامِنْعَيْشٍفَمَاسِوَاهُنَّمِنَالْمَسْأَلَةِيَاقَبِيصَةُسُحْتًايَأْكُلُهَاصَاحِبُهَاسُحْتًا».

“Aku pernah memikul suatu tanggungan, maka kudatangi Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk meminta beliau membantu melunasinya. Maka beliau bersabda: “Tinggallah di sini sampai datang shodaqoh, maka kami akan memerintahkan mereka untuk memberikannya padamu.” Lalu beliau bersabda: “Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang saja: Orang yang memikul suatu tanggungan, halal baginya meminta sampai bisa membayarnya, lalu dia berhenti dari minta-minta. Dan (yang kedua) orang yang tertimpa malapetaka yang menghabiskan hartanya, halal baginya minta-minta sampai bisa tegak hidupnya. Dan (yang ketiga) orang yang tertimpa kemiskinan sampai ada tiga orang berakal dari kaumnya berkata: “kemiskinan telah menimpa si Fulan.” Maka halal baginya minta-minta  sampai bisa tegak hidupnya. Adapun minta-minta yang selain tiga jenis itu –wahai Qobishoh- dia itu adalah keharoman, pelakunya memakannya dengan harom.”(HR. Muslim (1044)/Darus Salam).

Al Imam Al Hafizh Ibnul Qoththon Al Fasiy –rohimahulloh- berkata: “Para ulama telah sepakat bahwasanya meminta-minta itu harom.” (“Al Iqna’ Fi Masailil Ijma’”/7/3/hal. 397).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh- berkata: “Maka jika dia meminta rizqinya dari Alloh, jadilah dia hamba bagi Alloh dan menjadi orang yang butuh pada Alloh. Tapi jika dia meminta rizqinya dari makhluq, jadilah dia hamba bagi makhluq itu dan menjadi orang yang butuh padanya. Oleh karena itulah maka  minta-minta pada makhluq itu diharomkan pada asalnya, dan hanyalah dia itu diperbolehkan di saat darurat.Dan tentang larangan minta-minta itu ada hadits-hadits yang banyak dalam kitab-kitab Shohih dan sunan-sunan dan musnad-musnad.”(“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 182).

Kesimpulan masalah: bahwasanya shodaqoh nafilah itu yang lebih utama adalah menunaikannya dengan rahasia. Yang demikian itu adalah dengan beberapa sebab, di antaranya adalah:

1-    Penetapan dari Alloh: “tapi jika kalian merahasiakannya dan memberikannya pada orang-orang miskin, maka itu lebih baik bagi kalian.

2-    Berdasarkan hadits tujuh orang yang dinaungi oleh Alloh.

3-    Karena dia itu lebih dekat kepada keikhlasan, dan lebih jauh dari riya

Adapun shodaqoh yang wajib, maka yang lebih utama adalah terang-terangan, dengan beberapa sebab, di antaranya adalah:

1-    Penukilan ijma’ tentang itu. Al Imam Abu Ja’far Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Karena zakat wajib itu termasuk dari kewajiban-kewajiban (agama) yang mana para ulama telah bersepakat bahwasanya mengumumkannya dan menampakkannya.” Al Imam Ibnul Arobiy رحمه الله berkata: “Adapun shodaqoh yang wajib, maka tiada perselisihan bahwasanya menampakkannya itu lebih utama.” Adapun zakat, maka disukai untuk ditampakkan, dengan kesepakatan para sahabat kami dan para ulama yang lain.

2-    Bahwasanya yang demikian lebih selamat dari tuduhan akan keislamannya, maka dengan menampakkan shodaqoh wajib tadi, dia bisa menjaga diri dan hartanya.

Sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya diutamakannya shodaqoh rahasia di atas shodaqoh terang-terangan yang tersebut dalam ayat tadi adalah secara globalnya, sementara jika diteliti: jika penampakannya membawa manfaat-manfaat seperti:

1-    Menampakkan sunnah di antara manusia

2-    Banyaknya pahala keteladan yang mana orang-orang ikut untuk bershodaqoh dengan shodaqoh dirinya

Ini jika selamat dari riya, menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti orang yang diberi, jadilah terang-terangan dalam shodaqoh tadi lebih utama daripada perahasiannya.

            Adapun jika di dalam perahasiaannya tadi ada manfaat-manfaat seperti:

1-                 Selamat dari riya, menyebut-nyebut pemberian dan selamat dari menyakiti orang yang diberi

2-                 Selamat dari menyodorkan orang yang diberi dari penghinaan manusia, bahwasanya dia itu hina, tidak punya harta sehingga orang-orang enggan untuk berhubungan dan transaksi dengan dirinya, atau menisbatkannya pada mengambil shodaqoh dalam keadaan dia itu sebenarnya kaya dan tidak membutuhkannya, dan menuduh dirinya tidak punya ‘iffah (menjaga kehormatan dari perkara rendah). Perahasian ini merupakan nilai tambah dalam berbuat baik pada orang miskin tadi daripada sekedar bershodaqoh padanya.

3-                 Selamat dari buruk sangka orang-orang padanya bahwasanya bisa jadi mereka menuduhnya riya.

Maka dengan ini semua jadilah menyembunyikan shodaqoh itu lebih utama, dan sesuai untuknya hadits tujuh orang yang dinaungi Alloh dalam naungan-Nya pada hari kiamat.

            Dan termasuk yang menguatkan keutamaan shodaqoh secara rahasia adalah: bahwasanya termasuk dari barokah shodaqoh itu adalah: shodaqoh rahasia menyebabkan hidayah orang-orang pendurhaka, dengan seidzin Alloh. Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«قالرجللأتصدقنالليلةبصدقةفخرجبصدقتهفوضعهافييدزانيةفأصبحوايتحدثونتصدقالليلةعلىزانيةقالاللهملكالحمدعلىزانيةلأتصدقنبصدقةفخرجبصدقتهفوضعهافييدغنيفأصبحوايتحدثونتصدقعلىغنيقالاللهملكالحمدعلىغنيلأتصدقنبصدقةفخرجبصدقتهفوضعهافييدسارقفأصبحوايتحدثونتصدقعلىسارقفقالاللهملكالحمدعلىزانيةوعلىغنيوعلىسارقفأتيفقيللهأماصدقتكفقدقبلتأماالزانيةفلعلهاتستعفبهاعنزناهاولعلالغنىيعتبرفينفقمماأعطاهاللهولعلالسارقيستعفبهاعنسرقته». (أخرجهمسلم(1022)).

“Ada seseorang yang berkata: Demi Alloh, malam ini aku benar-benar akan bershodaqoh.” Maka dia keluar dengan membawa shodaqohnya, lalu dia meletakkannya di tangan seorang perempuan pezina. Maka pada pagi harinya orang-orang membicarakan: “Tadi malam seorang perempuan pezina mendapatkan shodaqoh.” Maka orang tadi berkata: “Ya Alloh, bagi-Mu sajalah segala pujian. Ternyata saya bershodaqoh pada seorang perempuan pezina. Demi Alloh, malam ini aku benar-benar akan bershodaqoh.” Maka dia keluar dengan membawa shodaqohnya, lalu dia meletakkannya di tangan seorang kaya. Maka pada pagi harinya orang-orang membicarakan: “Tadi malam seorang kaya mendapatkan shodaqoh.” Maka orang tadi berkata: “Ya Alloh, bagi-Mu sajalah segala pujian. Ternyata saya bershodaqoh pada seorang pezina, dan seorang yang kaya. Demi Alloh, malam ini aku benar-benar akan bershodaqoh.” Maka dia keluar dengan membawa shodaqohnya, lalu dia meletakkannya di tangan seorang pencuri. Maka pada pagi harinya orang-orang membicarakan: “Tadi malam seorang pencuri mendapatkan shodaqoh.” Maka orang tadi berkata: “Ya Alloh, bagi-Mu sajalah segala pujian. Ternyata saya bershodaqoh pada seorang pezina, dan seorang yang kaya, dan seorang pencuri.” Maka dia didatang seraya dikatakan padanya: “Adapun shodaqohmu, maka telah diterima. Adapun si pezina, maka semoga dia menjaga kehormatannya dari zinanya dengan shodaqoh itu.Adapun si kaya maka semoga dia mengambil pelajaran dan mau berinfaq dari harta yang Alloh berikan padanya.Dan semoga si pencuri menjaga kehormatannya dari pencuriannya, dengan shodaqoh tadi.” (HR. Muslim (1022)).

            Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan di dalam hadits itu ada penunjukan bahwasanya shodaqoh itu dulu di kalangan mereka khusus untuk orang-orang yang membutuhkan, dari kalangan orang-orang yang baik. Oleh karena itulah mereka merasa heran atas terjadinya shodaqoh pada tiga jenis orang tadi.Dan dalam hadits ini ada faidah bahwasanya jika niat orang yang bershodaqoh itu sholihah, maka shodaqohnya diterima sekalipun pemberiannya itu tidak sampai di tangan orang yang semestinya.Para fuqoha berselisih pendapat tentang keshohihan shodaqohnya jika itu terjadi pada zakat wajib.Tidak ada dalam hadits ini dalil tentang keshohihan ataupun ketidaksahannya. Oleh karena itulah maka sang penulis –Al Bukhoriy- mendatangkan judulnya dengan pola pertanyaan, dan tidak memastikan hukumnya. Jika ditanyakan: sesungguhnya hadits tadi hanyalah mengandung kisah khusus yang diketahui diterimanya shodaqoh orang tadi itu dengan mimpi yang benar secara kebetulan. Maka darimana diambil faidah bahwasanya hukumnya itu umum? Jawabnya adalah: penetapan dalam berita tadibahwasanya dengan shodaqoh tadi diharapkan penerimanya tadi menjadi orang yang mau menjaga kehormatan itulah yang menunjukkan bahwasanya hukumnya itu berlaku untuk yang lain juga, maka hal itu menuntut keterkaitan diterimanya shodaqoh tadi dengan sebab-sebab ini.

            Dan dalam hadits tadi juga ada faidah tentang keutamaan shodaqoh secara rahasia, keutamaan ikhlas, disunnahkannya pengulangan shodaqoh jika pemberiannya itu tidak sampai di tangan orang yang semestinya, dan bahwasanya hukum itu sesuai lahiriyyahnya sampai ada kejelasan yang lain. Juga adanya keberkahan dari sikap menerima dan ridho pada taqdir, dan celaan merasa jengkel terhadap taqdir, sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Janganlah engkau memutuskan pelayanan sekalipun nampak di matamu bahwasanya dia tidak mereka.” (“Fathul Bari”/3/hal. 291).

            An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dalam hadits tadi juga ada faidah tentang tetapnya pahala dalam shodaqoh sekalipun yang mengambil itu adalah orang yang fasiq dan kaya. Maka dalam setiap hati yang hidup itu ada shodaqoh.Dan ini pada shodaqoh yang tathowwu’.Adapun shodaqoh yang wajib, maka tidak sah diberikan pada orang kaya.”(“Al Minhaj”/13/hal. 93).

            Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dan ucapan orang yang bershodaqoh itu: “Ya Alloh, bagi-Mu sajalah segala pujian. Ternyata saya bershodaqoh pada seorang perempuan pezina,“ menggambarkan kepedihan hatinya karena mengira bahwasanya shodaqohnya tidak mencocoki tempat yang semestinya, dan bahwasanya yang demikian itu tidak bermanfaat buatnya. Oleh karena itulah maka dia mengulang shodaqohnya. Manakala Alloh mengetahui keshohihan niatnya Alloh menerimanya darinya, dan memberitahunya akan faidah-faidah shodaqoh-shodaqohnya. Diambil faidah dari hadits ini: keshohihan shodaqoh sekalipun tidak mencocoki tempat yang yang diridhoi, jika niat orang yang bershodaqoh itu baik. Adapun jika orang yang bershodaqoh itu tahu bahwasanya orang yang dishodaqohi itu akan memakai shodaqoh tadi untuk maksiat pada Alloh niscaya diharomkan hal itu terhadapnya, karena hal itu masuk dalam bab saling menolong dalam dosa dan melampaui batas.” (“Al Mufhim”/9/hal. 36).

 

(insya Alloh dilanjutkan penerjemahan pada bagian kedua. Semoga Alloh melimpahkan barokah-Nya pada kita semua).


([1])HR. Al Bukhoriy (73) dan Muslim (816).

([2])HR. Al Bukhoriy (5025) dan Muslim (815).

([3])HR. Al Bukhoriy (5026).

([4])HR. Abu Dawud (881) dan At Tirmidziy (3675) dengan sanad yang hasan.

([5])HR. Al Bukhoriy (3207) dan Muslim (164) dari Malik bin Sho’sho’ah رضياللهعنه.

([6])HR.At Tirmidziy (2516) dengan sanad shohih.

([7])HR.At Tirmidziy (2511) dari Abu Bakroh رضياللهعنه dengan sanad shohih.

([8])HR. Al Bukhoriy dalam “Al Adabul Mufrod” (716) dari Ma’qil bin Yasar رضياللهعنه dengan sanad lemah. Tapi dia punya pendukung dari hadits Abu Bakr Ash Shiddiq رضياللهعنه yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di “Hilyah” (7/hal. 112) dengan sanad shohih.

([9])HR. Al Bukhoriy (3477) dan Muslim (1792) dari Ibnu Mas’ud رضياللهعنه.

([10])HR. Muslim (2558) dari Abu Huroiroh رضياللهعنه.

([11])HR.At Tirmidziy (2516) dengan sanad shohih.