dengki cover 2

Download Pdf disini !

Mengobati Kedengkian

Dan Meraih Pahala Shodaqoh Dengan Keikhlasan

(bagian kedua)

  

Dengan Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh al Qodhi

Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy

Semoga Alloh menjaga beliau

  

Disusun Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

Semoga Alloh memaafkannya

di Yaman

judul Asli:

“Mu’alajatut Tahasud Bainal Ikhwah Wa Tabsyirul Mukhlishin Fish Shodaqoh”

  

Judul bebas:

“Mengobati KedengkianDan Meraih Pahala Shodaqoh Dengan Keikhlasan”

  

Dengan Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh al Qodhi

Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Sa’id Asy Syamiriy

Semoga Alloh menjaga beliau

 

Disusun dan diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

Semoga Alloh memaafkannya

di Yaman

 

Kata Pengantar Penerjemah Bagian Kedua

 

         الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف خلق الله محمد بن عبد الله وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:

            Sungguh dengan rohmat Alloh semata saya berhasil menyelesaikan terjemah bagian kedua (akhir) dari risalah ini, sesuai dengan permintaan sebagian saudara kita yang mulia.

            Inti bagian akhir ini adalah dorongan besar untuk bershodaqoh, dan kabar gembira bagi orang-orang yang ikhlas dalam bershodaqoh, kecil ataupun besar ukuran shodaqohnya itu. Isinya juga mengingatkan akan bahaya menyebut-nyebut pemberian di hadapan orang yang diberi, yang bisa jadi akan mempermalukan dirinya. Orang yang diberi itu wajib bersyukur pada Alloh atas nikmat-Nya pada dirinya, dan wajib bersyukur pada orang yang menjadi perantara datangnya nikmat tadi.

Akan tetapi si pemberi jangan mengungkit-ungkit pemberian itu karena hal itu adalah dosa besar. Cukuplah Alloh yang menjamin pelipatgandaan pahalanya, sekalipun orang yang diberi itu tidak tahu syukur. Si pemberi harus banyak bersyukur pada Alloh diberi taufiq untuk beramal yang tidak disanggupi oleh orang yang diberi.

Mengungkit-ungkit pemberian itu bisa berupa ucapan hati semata, dan ini sekalipun tidak membatalkan pahala shodaqoh, tapi mengurangi nilainya. Dan bisa juga berupa ucapan lidah, dan ini membatalkan pahala dan masuk dalam dosa besar.

Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya pada kita semua, dan mengampuni dosa-dosa kita yang lalu dan yang akan datang. Sungguh Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Risalah ini juga menjadi sedikit sumbangan bagi usulan sebagian ikhwah untuk memberikan nasihat bagi orang yang tertipu dengan gemerlapnya dunia dan lalai untuk memupuk bekal perjalanan ke Negri Kekekalan di Akhirat.

Risalah ini adalah nasihat untuk si penulis sendiri, sebelum disodorkan pada saudara-saudaranya yang lain. Dan semoga Alloh membalas dengan kebaikan yang berlimpah bagi para ikhwah yang mengusulkan dan menjadi sebab tersusunnya risalah ini, serta yang menyebarkannya kepada umat Islam.

والحمد لله رب العالمين

 

 

Bab Tiga: Tafsir Ayat Adab-adab Shodaqoh

 

Alloh ta’ala berfirman:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ الله كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَالله يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَالله وَاسِعٌ عَلِيمٌ*الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ الله ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَالله غَنِيٌّ حَلِيمٌ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَالله لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴾ [البقرة: 261 – 264].

“Permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka di jalan Alloh adalah seperti sebuah biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya ada seratus biji. Dan Alloh melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh itu Mahaluas lagi Maha Mengetahui.Orang-orang yang menginfaqkan harta mereka di jalan Alloh kemudian mereka tidak mengikutkan apa yang mereka infaqkan itu dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), mereka itu akan mendapatkan pahala mereka di sisi Robb mereka, mereka tidak tertimpa ketakutan, dan mereka tidak bersedih hati. Ucapan yang baik dan ampunan itu lebih baik daripada shodaqoh yang diikuti oleh penyakitan hati. Dan Alloh Itu Ghoniy (Mahakaya) dan Halim (Tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan). Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir. Maka permisalannya adalah seperti batu halus yang di atasnya tanah, lalu dia tertimpa hujan deras, maka dia meninggalkan batu itu dalam keadaan keras dan kosong dari tanaman, mereka tidak berkuasa terhadap sedikitpun yang mereka kerjakan. Dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir.”

 

Diambil faidah dari rangkaian ayat-ayat ini: melimpahnya pahala berinfaq di jalan Alloh dalam keadaan ikhlas.

            Di dalam ayat-ayat ini ada dorongan untuk berinfaq di jalan Alloh dalam keadaan ikhlas, dan bahwasanya barangsiapa mengerjakan itu maka Alloh telah menjamin untuknya pahalanya, yaitu sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat sampai lipatan yang banyak. Dan akan datang insya Alloh tafsirnya dari ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله.

Diambil faidah dari rangkaian ayat-ayat ini: bahwasanya Alloh telah menjamin keamanan dan kegembiraan untuknya, maka dia tidak tertimpa rasa takut dan tidak bersedih hati.

Alloh telah menjamin keamanan untuknya sehingga dia tidak tertimpa rasa takut, dan menjamin kegembiraan untuknya, sehingga dia tidak bersedih hati. Dan dalil-dalil tentang keutamaan infaq di jalan Alloh itu banyak dan telah dikenal. Akan tetapi syaratnya adalah: tidak boleh ada mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), sebagaimana akan datang penjelasannya.

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Kemudian Alloh ta’ala menjanjikan pada mereka pahala yang banyak atas shodaqoh mereka itu. Alloh berfirman: “mereka itu akan mendapatkan pahala mereka di sisi Robb mereka,” yaitu: pahala mereka menjadi tanggungan Alloh, bukan tanggungan pihak yang lain. “mereka tidak tertimpa ketakutan,” yaitu: tidak mengalami takut terhadap kengerian-kengerian hari Kiamat yang akan mereka temui “dan mereka tidak bersedih hati” yaitu: tidak sedih akan anak-anak yang mereka tinggalkan, dan mereka tidak menyesali atas kehidupan dunia dan keindahannya yang luput dari mereka, karena mereka telah sampai ke kehidupan yang lebih baik untuk mereka daripada kesenangan tadi.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 693).

            Diambil faidah dari rangkaian ayat-ayat ini: bahwasanyamann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi) itu termasuk pembatal pahala shodaqoh.

            Al Imam Al Baghowiy رحمه الله berkata dalam tafsir mann dan adza : “Yaitu dia menunjukkan jasanya pada orang yang diberi tadi denganmenyebut-nyebut pemberiannya, seraya berkata: “Aku telah memberimu demikian dan demikian.” Dan menghitung-hitung pemberiannya padanya sehingga membikin orang yang diberi menjadi sedih. “Ataupun juga adza (menyakiti orang yang diberi)” yaitu mencelanya dengan berkata: “Sampai berapa banyak engkau akan meminta, dan berapa banyak engkau menggangguku?” dan dikatakan: termasuk dari adza adalah menyebutkan infaq yang diberikan padanya itu di hadapan orang yang tidak disukai oleh orang yang diberi untuk mengetahuinya.” (“Ma’alimut Tanzil”/hal. 326).

            Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian”Alloh berfirman: janganlah kalian membatalkan pahala shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), sebagaimana kekufuran itu membatalkan orang yang menginfaqkan hartanya “karena ingin dilihat manusia”, dia ingin memperlihatkan pada orang-orang amalannya. Dan demikian itu dengan dia berinfaq yang secara lahiriyyah di pandangan manusia di menginginkan Alloh ta’ala, maka mereka memujinya dengan sebab itu, padahal dia tidak menginginkan dengan itu Alloh, dan tidak meminta dari-Nya pahala. Hanyalah dia itu secara lahiriyyah saja demikian agar orang memujinya dengan shodaqoh tadi, sehingga mereka berkata: “Dia itu dermawan, suka bersedekah, dia itu orang yang sholih”, maka mereka memperbagus sanjungan untuknya, dalam keadaan mereka tidak mengetahui bahwasanya dia menyembunyikan niat yang sebenarnya dalam infaqnya tadi. Maka mereka tidak mengetahui bahwasanya dia memiliki pendustaan terhadap Alloh تعالى ذكره dan hari Akhir.” (“Jami’ul Bayan”/5/hal. 521).

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Mayoritas ulama berkata tentang ayat ini: sesungguhnya shodaqoh yang Alloh tahu dari pelakunya bahwasanya dia melakukan mann (menyebut-nyebut pemberian) atau adza (menyakiti orang yang diberi), dengan pemberian tadi, maka dia itu tidak diterima.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/3/hal. 311).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala memuji orang-orang yang menginfaqkan harta mereka di jalan Alloh, yang mereka itu kemudian tidak mengikutkan kepada (shodaqoh dan kebaikan yang mereka infaqkan tadi mann (menyebut-nyebut) atas pemberian mereka. Maka mereka tidak menyebutkan jasa mereka pada seorangpun dengan infaq tadi, dengan ucapan ataupun perbuatan. Firman-Nya: “dan adza (menyakiti orang yang diberi)” yaitu: mereka tidak berbuat yang jelek pada orang yang telah mereka baiki, yang dengan itu membikin kebaikan mereka terdahulu itu gugur.” (“Tafsirul Qur’anil ‘azhim”/1/hal. 693).

            Beliau رحمه الله berkata: “Oleh karena itulah Alloh ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),” maka Alloh mengabarkan bahwasanya shodaqoh itu menjadi batal disebabkan oleh perkara yang mengikutinya yang berupa mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi). Maka pahala shodaqoh itu tidak bisa mencukupi kesalahan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi).” –sampai pada ucapan beliau:- “Kemudian Alloh ta’ala berfirman: “seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia” yaitu: janganlah kalian membatalkan shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi) seperti batalnya shodaqoh orang yang riya dengan amalannya itu kepada manusia, maka dia menampakkan pada mereka bahwasanya dia menginginkan wajah Alloh, padahal maksudnya hanyalah pujian manusia untuknya atau keterkenalan dengan sifat yang indah, agar dia disyukuri di tengah-tengah manusia, atau dikatakan: “Dia itu dermawan,” dan maksud-maksud duniyawi yang seperti itu, sambil dia memutuskan pandangan dari hubungan dengan Alloh ta’ala dan pencarian ridho-Nya dan banyaknya pahala-Nya. Oleh karena itulah Alloh berfirman: “dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir.” (“Tafsirul Qur’anil ‘azhim”/1/hal. 694).

            Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan mann adalah: menyebutkan pemberian dalam bentuk menghitung-hitungnya dan menghardik orang dengan pemberian tadi. Dikatakan: menyebut-nyebut apa yang diberikan hingga ucapan tadi sampai pada orang yang diberi sehingga menyakitinya. Mann adalah termasuk dari dosa besar, sebagaimana telah tetap dalam “Shohih Muslim” dan yang lainnya bahwasanya pelakunya adalah salah satu dari tiga orang yang tidak dilihat oleh Alloh, tidak disucikan, dan mereka mendapatkan siksaan yang besar. Adza adalah: cacian, sikap lancang dan keluhan.” (“Fathul Qodir”/1/hal. 385).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tadi: kedangkalan iman pada Alloh dan hari Akhir merupakan sebab ketidakikhlasan dalam shodaqoh.

            Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Adapun firman-Nya: “dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir” maka sesungguhnya maknanya adalah: dia tidak membenarkan ketunggalan Alloh dan rububiyyah-Nya, dan tidak membenarkan bahwa dia akan Alloh bangkitkan setelah matinya lalu dia dihukum berdasarkan amalannya, padahal keyakinan yang benar menjadikan amalannya itu untuk mencari wajah Alloh dan mencari pahala-Nya  dan apa yang ada di sisi-Nya di hari Akhir. Dan itu tadi adalah sifat munafiq.” (“Jami’ul Bayan”/5/hal. 522).

Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tadi: bahwasanya yang terpandang dari shodaqoh adalah ihsan (berbuat baik) yang sejati.

            Maka sekedar banyaknya menginfaqkan harta tidaklah terpandang jika disertai dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) atau adza (menyakiti orang yang diberi) atau riya. Bahkan ucapan yang baik yang ikhlas yang bersih dari menyakiti orang lain itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada yang jenis pertama.

            Al Imam Al Baghowiy رحمه الله: “Ucapan yang ma’ruf” yaitu: ucapan yang bagus dan menolak pengemis dengan cara yang bagus. Ada yang mengatakan: yaitu: janji yang baik.” –sampai pada ucapan beliau:- “Itu lebih baik daripada shodaqoh” yang diserahkan kepadanya tapi “diikuti dengan gangguan yang menyakiti hati” yaitu dengan hardikan pada si pengemis atau perkataan yang menyakitinya.” (“Ma’alimut Tanzil”/hal. 326).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Kemudian Alloh ta’ala berfirman: “Ucapan yang ma’ruf” yaitu: kalimat yang baik, dan doa untuk muslim “Dan ampunan” yaitu: mengampuni kezholiman yang berupa ucapan atau perbuatan “Itu lebih baik daripada shodaqohdiikuti dengan gangguan yang menyakiti hati” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 693).

            Al Imam Asy syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan maknanya adalah bahwasanya perkataan yang baik dari orang yang diminta kepada orang yang meminta, dan itu adalah ucapan yang mengandung keakraban, dan memberikan harapan yang baik padanya dengan apa yang ada di sisi Alloh, serta menolak dengan bagus, itu lebih baik daripada shodaqoh diikuti dengan gangguan yang menyakiti hati. Dan telah tetap dalam “Shohih Muslim” dari Nabi صلى الله عليه وسلم:

«الكلمة الطيبة صدقة»

“kalimat yang baik adalah shodaqoh.” [Muslim (1009)].

Dan:

« إن من المعروف أن تلقى أخاك بوجه طلق»]م/(2626)[

Sesungguhnya termasuk dari kebaikan adalah engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah cerah.”(HR. Muslim (2626)).

Dan alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Duroid:

لا تدخلنَّك ضَجرةٌ من سائل … فَلخيرُ دهِركَ أنْ ترى مَسْئولا

لاَ تَجْبَهنْ برّد وجه مؤملٍ … فَبَقَاءُ عِزَّك أن تُرى مَأمُولاَ

“Janganlah sekali-kali masuk kepadamu rasa gusar terhadap seorang peminta, karena sesungguhnya sebaik-baik zamanmu adalah engkau terlihat sebagai orang yang diminta. Dan janganlah sekali-kali engkau menghadapi wajah orang yang mengharapkan, karena kelestarian kemuliaanmu itu adalah engkau terlihat sebagai orang yang diharapkan.”

            Dan yang dimaksud dengan ampunan adalah: menutupi kekurangan dan kejelekan kondisi orang yang membutuhkan, serta memaafkan sang peminta jika muncul darinya sikap merengek-rengek yang membikin keruh hati orang yang diminta. Dikatakan: maksudnya adalah: bahwasanya maaf itu dari arah si peminta, karena jika dia ditolak dengan bagus, dia akan memberikan udzur. Dikatakan: yang dimaksudkan adalah: perbuatan yang menyebabkan datangnya ampunan itu lebih baik daripada shodaqoh. Yaitu: ampunan Alloh itu lebih baik daripada shodaqoh kalian. Ini adalah kalimat baru yang diperkirakan datangnya agar orang meninggalkan mann dan adza.” (“Fathul Qodir”/1/hal. 386).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tadi: bahwasanya anjuran Alloh kepada para hamba-Nya untuk bershodaqoh itu adalah demi kemaslahatan diri mereka sendiri, bukan karena kebutuhan Alloh pada mereka.

            Sesungguhnya anjuran Alloh kepada para hamba-Nya untuk bershodaqoh itu adalah demi kemaslahatan diri mereka sendiri, bukan karena kebutuhan Alloh pada mereka. Bagaimana tidak, sementara Dia berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ * مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ الله هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ﴾ [الذاريات: 56 – 58].

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan dari mereka suatu rizqipun, dan Aku tidak ingin mereka memberiku makan. Sesungguhnya Alloh itulah Dzat Yang Maha memberikan rizqi, Yang memiliki kekuatan lagi Mahakokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

          Alloh Yang Mahasuci berfirman:

﴿هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ الله فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَالله الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ﴾ [محمد: 38].

“Demikian kalian itu diseru untuk berinfaq di jalan Alloh, maka di antara kalian ada yang pelit. Dan barangsiapa pelit, maka sesungguhnya dia itu pelit terhadap dirinya sendiri. Dan Alloh itulah Yang Mahakaya sementara kalian itulah yang sangat butuh pada Alloh. Dan jika kalian berpaling maka Alloh akan mengganti dengan suatu kaum selain kalian, kemudian mereka tidak seperti kalian.”

            Oleh karena itulah maka Alloh berfirman di sini:

﴿قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَالله غَنِيٌّ حَلِيمٌ﴾ [البقرة: 263].

Ucapan yang baik dan ampunan itu lebih baik daripada shodaqoh yang diikuti oleh penyakitan hati. Dan Alloh Itu Ghoniy (Mahakaya) dan Halim (Tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan).”

            Al Imam Al Baghowiy رحمه الله berkata: “Dan Alloh Itu Ghoniy (Mahakaya)” yaitu: tidak butuh kepada shodaqoh para hamba. “Halim (Tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan)” tidak tergesa-gesa menghukum orang yang melakukan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi).” (“Ma’alimut Tanzil”/hal. 326).

            Akan datang insya Alloh tambahan penjelasan dengan perkataan dari Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله.

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tadi: kelembutan Alloh kepada para hamba-Nya dan Dia tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan.

            Nampak dari ayat-ayat ini kelembutan Alloh pada para hamba-Nya, dan tidak tergesa-gesanya Dia dalam menghukum padahal sebagian dari mereka –atau kebanyakan dari mereka- beramal tanpa keikhlasan, atau bershodaqoh disertai dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi). Maka sebesar apapun dosa-dosa para hamba, tobat itu tetap ditawarkan setelah itu, dan Alloh itulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Inilah manka nama Alloh Al Halim.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan di antaranya adalah: seorang hamba menyaksikan kesabaran Alloh سبحانه وتعالى dalam menunda hukuman terhadap pelaku kesalahan. Andaikata Alloh menghendaki niscaya Dia menyegerakan hukuman terhadapnya. Akan tetapi Alloh adalah Al Halim, Yang tidak tergesa-gesa melakukan itu. Maka dengan pandangan ini, terbentuklah pada diri hamba pengetahuan akan Robbnya Yang Mahasuci dengan nama-Nya Al Halim.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 206).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tadi:disyariatkannya membuat permisalan untuk mendekatkan pemahaman.

            Alloh ta’ala berfirman: “seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir. Maka permisalannya adalah seperti batu halus yang di atasnya tanah, lalu dia tertimpa hujan deras, maka dia meninggalkan batu itu dalam keadaan keras dan kosong dari tanaman, mereka tidak berkuasa terhadap sedikitpun yang mereka kerjakan.

            Al Imam Al Baghowiy  berkata: “Maka ini adalah permisalan yang Alloh تعالى berikan tentang nafkah orang munafiq dan riya, dan nafkah orang mukmin yang melakukan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi) dengan shodaqohnya. Alloh memperlihatkan pada manusia bahwasanya orang-orang tadi secara lahiriyyah punya amalan, sebagaimana tanah yang tampak di atas batu besar tersebut. Lalu jika telah datang hari Kiamat semuanya batal dan lenyap karena shodaqoh tadi tidak dilakukan karena Alloh عز وجل sebagaimana hujan yang deras menghilangkan tanah yang ada di atas batu besar tadi, lalu membiarkannya dalam keadaan keras dan kosong dari tanaman,“mereka tidak berkuasa terhadap sedikitpun yang mereka kerjakan.” Yaitu: mereka tidak menguasai pahala perbuatan dan amalan mereka di dunia sedikitpun. “Dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir.” (“Ma’alimut Tanzil”/hal. 326).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya membuat permisalan itu akan memperjelas gambaran dari maksud si pembicara dan hukumnya. Dan membuat permisalan dalam makna-makna ada dua macam, dan keduanya itu adalah jenis dari qiyas. Yaitu:

            Yang pertama: Al Amtsalul Mu’ayyanah(permisalan yang telah ditentukan), yang mana far’ (cabangnya, yang belum diketahui hukumnya) diqiyaskan pada suatu ashl (pokoknya, yang telah diketahui hukumnya) tertentu yang telah ada atau diperkirakan. Dan jenis ini di dalam Al Qur’an ada empat puluh sekian permisalan, seperti firman Alloh ta’ala:

﴿مثلهم كمثل الذي استوقد نارا ﴾ إلى آخره [ البقرة : 71 ] ،

“Permisalan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api” dan seterusnya.

Dan firman-Nya ta’ala:

﴿مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة ﴾ [ البقرة : 261 ] ،

“Permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka di jalan Alloh adalah seperti sebuah biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya ada seratus biji.”

Dan firman-Nya:

﴿يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الآخر فمثله كمثل صفوان عليه تراب فأصابه وابل فتركه صلدا لا يقدرون على شيء مما كسبوا والله لا يهدي القوم الكافرين ومثل الذين ينفقون أموالهم ابتغاء مرضات الله وتثبيتا من أنفسهم كمثل جنة بربوة أصابها وابل فآتت أكلها ضعفين ﴾ [ البقرة : 265 ] .

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir. Maka permisalannya adalah seperti batu halus yang di atasnya tanah, lalu dia tertimpa hujan deras, maka dia meninggalkan batu itu dalam keadaan keras dan kosong dari tanaman, mereka tidak berkuasa terhadap sedikitpun yang mereka kerjakan. Dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir. Dan permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka dalam rangka mencari ridho Alloh dan pengokohan dari hati mereka adalah seperti permisalan kebun yang ada di dataran tinggi yang terkena hujan deras, maka kebun tadi mendatangkan buahnya dua kali lipat.”

            Maka sesungguhnya permisalan di antara orang-orang yang disifati yang Alloh menyebut mereka dari kalangan munafiqin, orang yang berinfaq, dan orang yang ikhlas di antara orang yang berinfaq, dan orang yang riya, dan antara apa yang Alloh سبحانهsebutkan dari permisalan-permisalan itu adalah termasuk dari jenis qiyas tamtsil, yang dikatakan tentangnya: “Permisalan dari orang yang membunuh dengan dua kayu mengatur baju, adalah seperti orang yang membunuh dengan pedang.” “Dan permisalan dari kucing yang jatuh ke dalam minyak adalah seperti tikus yang jatuh ke dalam samin” dan sebagainya.

            Qiyas ini dibangun di atas sifat yang menyatukan kedua kasus tadi (pokok dan cabang), dan adanya perbedaan antara sifat-sifat terpandang dalam hukum yang dimaksudkan, penetapannya atau peniadaannya. Dan ucapan: “Permisalannya adalah seperti permisalan itu” adalah penyerupaan Al Matsalul ‘Ilmiy([1]) dengan Al matsalul ilmiy juga, karena dengan permisalan tadi dihasilkanlah qiyas, karena si penilai merenungkan salah satu dari keduanya, lalu dia menggambarkan di dalam ilmunya, dan dia merenungkan yang lain, lalu dia menggambarkan di dalam ilmunya, kemudian dia menimbang yang satunya ke yang lainnya ternyata dia mendapati keduanya itu sama, maka tahulah dia bahwasanya keduanya itu sama pada hakikatnya, karena keserupaan keduanya adalah ilmu. Dan tidak mungkin yang satunya dinilai dengan yang lainnya pada hakikatnya sampai dia menggambarkan masing-masingnya dalam ilmunya, karena hukum terhadap sesuatu itu adalah cabang dari penggambarannya.”

            -sampai pada ucapan beliau:-

            Jenis yang kedua adalah:Al Amtsalul Kulliyyah (permisalan yang bersifat menyeluruh). Dan inilah yang tampak rumit jika dinamakan sebagai permisalan, sebagaimana tampak rumit juga jika dia dinamakan sebagai qiyas, sampai sebagian dari mereka membantah firman Alloh ta’ala:

﴿ يا أيها الناس ضرب مثل فاستمعوا له ﴾ [ الحج : 73 ] ،

“Wahai manusia, telah dibuat permisalan untuk kalian, maka dengarkanlah permisalan itu.”

Maka orang itu bertanya: “Di manakah permisalah yang dibuat itu?”

            Demikian pula jika mereka mendengar firman Alloh ta’ala:

﴿ولقد ضربنا للناس في هذا القرآن من كل مثل ﴾ [ الروم : 58 ] ،

“Dan sungguh Kami telah membikin untuk manusia di dalam Al Qur’an ini dari setiap permisalan.”

Tinggallah mereka kebingungan tidak tahu permisalan-permisalan apa ini? Mereka telah melihat sejumlah ayat yang di dalamnya ada permisalan yang telah ditentukan (jenis pertama) empat puluh sekian permisalan. Permisalan-permisalan ini terkadang berupa sifat, terkadang berupa qiyas. Jika berupa qiyas, maka harus ada di dalamnya dua kabar yang mana keduanya itu adalah dua kasus dan dua hukum, dan salah satunya itu harus bersifat menyeluruh, karena kabar-kabar yang mana dia itu berupa kasus-kasus manakala dia terbagi menjadi mu’ayyanah (tertentu) dan mutlaqoh (bebas, tidak tertentu), kulliyyah (menyeluruh) dan juz’iyyah (parsial), dan masing-masingnya terbagi menjadi berita tentang suatu penetapan dan berita tentang suatu peniadaan), maka pembikinan permisalan yang mana itulah qiyas, harus mencakup berita yang umum dan kasus yang menyeluruh. Dan itulah permisalan yang tetap di dalam akal yang diqiyaskan dengannya benda-benda yang hendak dicari hukumnya. Andaikata bukan karena dia tadi bersifat umum, niscaya tidak mungkin untuk menjadi tolok ukur penilaian, karena bisa saja benda yang hendak dicari hukumnya itu keluar dari keumuman permisalan tadi. Oleh karena itulah dikatakan: “Tidak ada qiyas dari dua kasus yang bersifat parsial, bahkan salah satunya harus bersifat menyeluruh.” “Dan tiada qiyas juga dari dua perkara yang bersifat negatif (peniadaan), bahkan salah salah satunya harus bersifat positif (penetapan).” Jika tidak demikian, maka dua perkara yang bersifat negatif (peniadaan) itu salah satunya tidak masuk ke dalam yang lainnya. Di dalamnya harus ada kabar yang menyeluruh (mencakup yang lainnya).”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/14/hal. 56-59).

            Dan akan datang insya Alloh tambahan penjelasan dari ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله .

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: isyarat kepada disingkapnya keburukan niat orang yang riya pada Kiamat.

            Di dalam permisalan tersebut ada isyarat tentang disingkapnya keburukan niat orang yang riya pada Kiamat, yaitu hari disingkapkannya rahasia-rahasia, hari dibangkitkannya orang yang di dalam kuburan, dan ditampilkannya apa yang ada di dalam dada.

            Dan dari Sulaiman bin Yasar yang berkata: “Orang-orang telah berpencar meninggalkan Abu Huroiroh. Maka Natil, dari penduduk Syam, berkata: “Wahai Syaikh, berilah kami hadits yang Anda dengar dari Rosululloh صلىاللهعليهوسلم . beliau menjawab: Baiklah, aku mendengar Rosululloh صلىاللهعليهوسلم bersabda:

« إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ: جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ: قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِي فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ الله عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ».

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan urusannya pada hari kiamat adalah orang yang dianggap mati syahid. Maka dia didatangkan dan diperlihatkan padanya nikmat-nikmat yang diberikan, dan diapun mengenalnya. Maka dia ditanya,”Apa yang kau kerjakan dengan nikmat tadi?” Dia menjawab,”Saya berperang di jalan-Mu sampai saya terbunuh syahid.” Alloh berfirman: “Kamu bohong. Tapi kamu berperang agar dikatakan sebagai “Pemberani”, dan hal itu telah dikatakan.” Maka diperintahkan agar dia diseret, maka diseretlah dia di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka. Dan (yang kedua) adalah orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an. Maka dia didatangkan dan diperlihatkan padanya nikmat-nikmat yang diberikan, dan diapun mengenalnya. Maka dia ditanya,”Apa yang kau kerjakan dengan nikmat tadi?” Dia menjawab,”Saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan membaca Al Qur’an untuk-Mu.” Alloh berfirman: “Kamu bohong. Tapi kamu belajar agar dikatakan sebagai “Alim”, dan membaca Al Qur’an agar dikatakan “Dia adalah Qori'”, dan hal itu telah dikatakan.” Maka diperintahkan agar dia diseret, maka diseretlah dia di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka. Dan (yang ketiga) adalah orang yang dikaruniai Alloh keluasan rizqi dan diberi-Nya beraneka macam harta semuanya. Maka dia didatangkan dan diperlihatkan padanya nikmat-nikmat yang diberikan, dan diapun mengenalnya. Maka dia ditanya,”Apa yang kau kerjakan dengan nikmat tadi?” Dia menjawab,”Tidaklah saya tinggalkan satu jalanpun yang Engkau sukai untuk diinfaqi di situ untuk-Mu.” Alloh berfirman: “Kamu bohong. Tapi kamu lakukan itu agar dikatakan sebagai “Dermawan”, dan hal itu telah dikatakan.” Maka diperintahkan agar dia diseret, maka diseretlah dia di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim (1906)/Dar Ibnil Jauziy).

            Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala mempermisalkan oleh yang berbuat mann dan adza dengan shodaqohnya, dengan orang yang menginfaqkan hartanya dalam rangka mencari pandangan manusia, bukan mencari wajah Alloh ta’ala, dan mempermisalkan dengan orang yang kafir yang berinfaq agar dikatakan sebagai orang yang dermawan, dan agar dipuji orang dengan berbagai pujian. Kemudian Alloh juga mempermisalkan orang yang berinfaq ini juga dengan batu besar yang di atasnya ada tanah, maka orang mengira bahwasanya dia itu adalah bumi yang subur dan bisa menumbuhkan tanaman, tapi jika dia ditimpa hujan deras hujan tadi menghilangkan tanah dari atas batu tadi, dan tinggallah batu itu keras tanpa tanaman. Maka demikianlah keadaan orang yang riya ini. Mann, adza dan riya akan menyingkapkan niat orang itu di akhirat, maka batallah shodaqonya, sebagaimana hujan deras menyingkapkan batu besar tadi, dia itu adalah batu besar yang halus.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/3/hal. 312).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: bahwasanya orang-orang yang riya dan semisalnya tidak bisa mengambil manfaat dari amalan mereka di saat yang paling mereka butuhkan.

            Dari Abu Huroirohرضي الله عنه yang berkata: aku mendengar Rosululloh صلىاللهعليهوسلم bersabda:

«قال الله تبارك وتعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه». (أخرجه مسلم (الزهد والرقائق/من أشرك في عمله/(2985))).

“Alloh تبارك وتعالىberfirman: “Aku adalah sekutu Yang paling tidak butuh pada persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia menyekutukan yang lain bersama-Ku, Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya.” (HR. Muslim (2985)).

            Al Qurthubiy رحمه الله berkata tentang tafsir ayat Al Baqoroh: “Dan makna “Tidak berkuasa” yaitu orang yang riya dan kafir serta orang yang melakukan mann “terhadap sesuatu” yaitu: untuk mengambil manfaat dengan pahala sesuatu yang mereka infaqkan dan itu adalah usaha mereka ketika mereka butuh pada pahala amalan tadi, karena amalan tadi dilakukan untuk selain Alloh. Maka Alloh mengungkapkan nafkah dengan usaha, karena mereka memaksudkan dengan nafkah tadi sebagai usaha.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/3/hal. 313).

            Syaikhul Islam  berkata: “Oleh karena itulah maka apa yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah batal dan tidak mungkin mencakup suatu manfaat yang murni atau manfaat yang dominan. Oleh karena itulah maka jadilah amalan orang-orang kafir dan munafiq itu batil, berdasarkan firman-Nya:

﴿يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الآخر فمثله كمثل صفوان عليه تراب ﴾ [ الآية البقرة : 264 ] .

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir. Maka permisalannya adalah seperti batu halus yang di atasnya ada tanah”

Alloh mengabarkan bahwasanya shodaqoh orang yang riya dan mann itu batal, tidak tersisa di dalamnya manfaat untuknya.”

(“Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 348).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut:pentingnya keikhlasan.

            Kita wajib ikhlas untuk Alloh semata dalam beramal. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾ [البينة: 5].

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Alloh dalam keadaan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan condong dari kesyirikan kepada tauhid”

 Dan Alloh Yang Mahasuci berfiman:

﴿قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ الله مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ الله أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي * فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ﴾ [الزمر: 11 – 15].

“Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk beribadah pada Alloh dalam keadaan memurnikan agama kepada-Nya. Dan aku diperintahkan menjadi orang yang pertama masuk Islam (dari umat ini). Katakanlah: sesungguhnya aku takut siksaan pada hari yang besar jika aku mendurhakai Robbku. Katakanlah: Hanya Alloh saja yang aku sembah dalam keadaan aku memurnilah agamaku untuk-Nya. Maka sembahlah oleh kalian selain Dia semau kalian. Katakanlah: sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari Kiamat. Ketahuilahyang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

          Dari Ubaiyy bin Ka’b رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«بشر هذه الأمة بالسناء والنصر والتمكين فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة نصيب».

“Berikanlah kabar gembira pada umat ini dengan cahaya, pertolongan, dan kekokohan. Maka barangsiapa beramal dari mereka dengan amalan akhirat tapi untuk mendapatkan dunia, dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad (21261)/shohih).

            Syaikhul Islam رحمه الله : “Dan Alloh سبحانه وتعالى memerintahkan agar jangan ada yang disembah selain Dia, dan agar jangan ada agama kecuali untuk-Nya saja, dan agar loyalitas itu hanya karena Dia, dan permusuhan juga karena Dia. Dan agar jangan ada tawakkal selain kepada Dia, dan agar jangan ada yang dimintai pertolongan selain Dia. Maka seorang mukmin yang mengikuti para Rosul itu memerintahkan manusia dengan apa yang para Rosul memerintahkan mereka untuk itu, agar seluruh agama itu untuk Alloh, bukan untuk diri orang mukmin tadi. Dan jika ada seseorang selain dirinya memerintahkan yang semisal itu, dia mencintainya, menolongnya, dan senang dengan adanya perkara yang dicarinya. Dan jika dia berbuat baik pada manusia, maka hanyalah dia itu berbuat baik pada mereka dalam rangka mencari wajah Robb-Nya Yang Mahatinggi, dan dia mengetahui bahwasanya Alloh telah memberikan karunia padanya dengan menjadikannya sebagai orang yang berbuat baik, dan tidak menjadikannya sebagai orang yang berbuat jelek, maka dia memandang bahwasanya amalannya itu adalah untuk Alloh, dan bahwasanya dia itu adalah dengan pertolongan Alloh. Dan ini disebutkan di surat Al Fatihah, yang kami sebutkan bahwasanya seluruh makhluk butuh kepada surat Al Fatihah lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada sesuatu apapun.

            Oleh karena itu diwajibkan pada mereka untuk membacanya di setiap sholat sholat, bukan surat-surat yang lain, dan tidak diturunkan dalam Tauroh ataupun dalam Injil, ataupun dalam Zabur, ataupun dalam Al Qur’an yang semisal dengan Al Fatihah, karena sesungguhnya di dalamnya:

﴿إياك نعبد وإياك نستعين

“Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu sajalah kami mohon pertolongan”

Maka seorang mukmin itu melihat bahwasanya amalannya itu untuk Alloh, karena dia hanya kepada-Nya beribadah, maka dia tidak meminta balasan ataupun syukur kepada orang yang dia berbuat baik padanya karena dia hanyalah beramal untuk Alloh, sebagaimana orang-orang yang berbakti berkata:

﴿إنما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاء ولا شكورا﴾ [ الإنسان : 9 ] ،

“Hanyalah kami memberi kalian makanan untuk mendapatkan wajah Alloh, kami tidak ingin dari kalian balasan ataupun syukur.”

Dan tidak mann (menyebut-nyebut pemberian) kepadanya atau adza (menyakiti orang yang diberi), karena sesungguhnya dia telah mengetahui bahwasanya Alloh itulah Yang memberikan karunia kepadanya, karena Dialah yang membikinnya beramal dalam kebaikan, dan bahwasanya karunia adalah milik Alloh kepadanya, dan kepada orang tadi. Maka dia wajib bersyukur pada Alloh karena memudahkannya untuk jalan yang mudah (ke setiap kebaikan). Dan orang yang diberi harus bersyukur pada Alloh karena Alloh memudahkan untuknya orang yang memberikan padanya sesuatu yang bermanfaat untuknya yang berupa rizqi atau ilmu atau pertolongan, atau yang lain.

            Dan di antara manusia ada orang yang berbuat baik pada orang lain untuk menyebut-nyebut pemberian padanya, atau menginginkan perbuatan baik tadi agar orang taat kepadanya atau mengagungkannya, atau demi manfaat yang lain, dan terkadang dia menyebutkan jasa kepadanya seraya berkata: “Aku telah berbuat ini dan itu untukmu,” maka orang ini tidak menyembah Alloh dan tidak minta tolong pada-Nya, tidak beramal untuk Alloh, dan tidak beramal dengan minta tolong pada Alloh. Maka orang ini adalah pelaku riya. Dan Alloh telah membatalkan shodaqoh pelaku mann dan shodaqoh pelaku riya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الآخر فمثله كمثل صفوان عليه تراب فأصابه وابل فتركه صلدا لا يقدرون على شيء مما كسبوا والله لا يهدي القوم الكافرين ومثل الذين ينفقون أموالهم ابتغاء مرضات الله وتثبيتا من أنفسهم كمثل جنة بربوة أصابها وابل فآتت أكلها ضعفين فإن لم يصبها وابل فطل والله بما تعملون بصير﴾ [ البقرة : 264، 265 ] .

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena ingin dilihat manusia dan dia tidak beriman pada Alloh dan Hari Akhir. Maka permisalannya adalah seperti batu halus yang di atasnya tanah, lalu dia tertimpa hujan deras, maka dia meninggalkan batu itu dalam keadaan keras dan kosong dari tanaman, mereka tidak berkuasa terhadap sedikitpun yang mereka kerjakan. Dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir. Dan permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka dalam rangka mencari ridho Alloh dan pengokohan dari hati mereka adalah seperti permisalan kebun yang ada di dataran tinggi yang terkena hujan deras, maka kebun tadi mendatangkan buahnya dua kali lipat. Maka jika kebun tadi tidak terkena hujan deras, maka cukuplah gerimis, dan Alloh Maha Melihat apa yang kalian lakukan.”

            Qotadah berkata: ““Dan pengokohan dari hati mereka” yaitu mengharapkan pahala dari amalan diri mereka.” Asy Sya’biy berkata: “Keyakinan dan pembenaran dari diri mereka.” Demikian pula ucapan Al Kalbiy. Dikatakan: “Mereka mengeluarkan shodaqoh dengan suka rela dari diri mereka sendiri, berdasarkan keyakinan akan pahalanya, dan membenarkan janji Alloh, mereka mengetahui bahwasanya apa yang mereka keluarkan itu lebih baik daripada apa yang mereka tinggalkan.”

            Aku katakan: “Jika si pemberi itu mengharapkan pahala dari sisi Alloh dan membenarkan janji Alloh kepadanya, mencari dari sisi Alloh, tidak dari orang yang diberinya, maka dia tidak mengungkit-ungkit pemberiannya kepadanya. Sebagaimana jika seseorang berkata pada yang lain: “Berikanlah makanan ini pada para budak, dan aku akan memberimu biayanya.” Dia tidak mengungkit-ungkit pemberiannya kepada para budak, terutama jika dia mengetahui bahwasanya Alloh telah memberikan nikmat padanya dengan pemberian.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/14/hal. 329-331).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: di antara sebab kesesatan adalah tidak berimannya orang itu kepada Alloh dan Hari Akhir.

            Di antara penghalang hidayah kekufuran. Semakin kafir seseorang, semakin jauhlah dia dari hidayah dan dari jalan yang benar. Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Kemudian Alloh تعالى ذكره mengabarkan bahwasanya diri-Nya: “tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir.” Dia berfirman bahwasanya diri-Nya tidak meluruskan mereka dengan ketepatan pada kebenaran dalam masalah nafkah mereka dan yang lainnya, Dia tidak memberikan taufiq pada mereka sementara mereka memang lebih mengutamakan kebatilan daripada kebenaran, Dia membiarkan mereka kebingungan di dalam kesesatan mereka. Maka Alloh Yang tinggi penyebutan-Nya berfirman pada kaum mukminin: “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang munafiqin yang mana sifat amalan mereka adalah seperti dalam permisalan ini, sehingga kalian membatalkan pahala-pahala shodaqoh kalian dengan kalian mengungkit-ungkit pemberian kalian pada orang yang kalian berikan shodaqoh padanya dan kalian menyakitinya, sebagaimana Alloh telah membatalkan pahala pemberian orang munafiq yang menginfaqkan hartanya dalam rangka mencari penglihatan manusia, dalam keadaan dia tidak beriman pada Alloh dan hari Akhir, di sisi Alloh.” (“Jami’ul Bayan”/5/hal. 525-526).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: bahwasanya mengungkit-ungkit pemberian itu adalah termasuk dosa besar.

            Sesungguhnya besarnya kerugian di dunia dan akhirat bagi orang yang mengungkit-ungkit pemberian di dalam ayat ini menunjukkan bahwasanya mann adalah termasuk dosa besar. Lebih memperjelas lagi adalah hadits Abu Dzarr رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة المنان الذي لا يعطي شيئا إلا منّه والمنفق سلعته بالحلف الفاجر والمسبل إزاره». (أخرجه مسلم (106)).

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Alloh pada Hari Kiamat: Al Mannan, yang dia itu tidak memberikan sesuatu kecuali dia akan mengungkit-ungkitnya, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah jahat, dan orang yang menjulurkan sarungnya (sampai di bawah mata kaki).” (HR. Muslim (106)).

            Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Al Mannan itu polanya adalah fa’’al dari mann, dan telah beliau tafsirkan dalam hadits. Beliau bersabda: “yang dia itu tidak memberikan sesuatu kecuali dia akan mengungkit-ungkitnya,” yaitu dia menunjukkan jasanya pada orang yang diberi. Dan tiada kerugian bahwasanya mengungkit-ungkit jasa dengan pemberian adalah membatalkan pahala shodaqoh dan pemberian dan menyakiti orang yang diberi. Oleh karena itulah maka Alloh ta’ala berfirman: “janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),” dan hanyalah mann itu demikian karena seringkali tidak terjadi kecuali dari sifat kikir, ‘ujub, sombong, dan lupa pada jasa Alloh ta’ala atas apa yang dikaruniakan oleh-Nya padanya. Maka orang yang pelit akan menganggap pemberiannya itu besar sekalipun sebenarnya nilainya remeh. Dan ujub (mengagumi diri sendiri) membawa dirinya untuk memandang agung dirinya sendiri, dan bahwasanya dirinya itulah yang memberikan nikmat dengan hartanya pada orang yang diberi, dan dia itulah yang memberikan karunia padanya, dan bahwasanya dia punya hak yang wajib diperhatikan oleh si penerima. Kesombongan membawanya untuk meremehkan orang yang diberi sekalipun orang itu adalah orang yang mulia. Dan penyebab itu semua adalah: kebodohan, dan lupanya dia akan jasa Alloh ta’ala kepadanya atas kenikmatan-Nya kepadanya, akrena sesungguhnya Alloh telah memberikan nikmat padanya dengan apa yang dia berikan tadi, dan tidak menghalanginya dari nikmat tadi, dan tidak menjadikannya sebagai orang yang meminta-minta. Andaikata dia melihat niscaya dia tahu bahwasanya jasa itu adalah milik si penerima, karena dia menghilangkan dari si pemberi dosa menghalangi pemberian dan celaan terhadap orang yang tidak mau memberi, dan dari dosa-dosa, dank arena si penerima tadi menyebabkan si pemberi mendapatkan pahala yang banyak dan pujian yang bagus. Penjabaran masalah ini ada di tempat lain.” (selesai dari “Al Mufhim”/2/hal. 66-67).

            Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Dosa besar yang keempat puluh adalah: orang yang sering mengungkit-ungkit pemberian.” (“Al Kabair”/Adz Dzahabiy/syarh Al Utsaimin/hal. 238/cet. Darul Ghoddil Jadid).

          Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: bahwasanya kita wajib barsabar dalam beramal sholih.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun ketaatan maka hamba itu butuh kepada kesabaran di dalamnya, karena jiwa itu secara tabiatnya lari dari banyaknya ibadah. Adapun di dalam sholat, manakala tabiat jiwa itu adalah bermalas-malasan dan lebih mengutamakan sikap santai, terutama jika bertepatan dengan kekakuan hati dan tebalnya selubung jiwa serta kecondongan pada syahwat dan berkumpul dengan orang-orang yang lalai, maka hampir-hampir sang hamba jika disertai dengan perkara-perkara ini dan yang lainnya tidak mengerjakan sholat. Kalaupun dia mengerjakan sholat dengan perkara-perkara tadi, itu dengan memaksakan diri dan hatinya lalai dan tidak hadir, dan ingin segera berpisah dengan sholat tadi, seperti orang yang duduk di samping bangkai.

            Adapun zakat, manakala tabiat jiwa itu pelit dan kikir, dan demikian pula dalam haji dan jihad untuk dua perkara sekaligus, dan sang hamba di sini butuh pada kesabaran dalam tiga kondisi, yang pertama: sebelum mulai amalan, dengan perbaikan niat dan keikhlasan, dan menjauhi seruan-seruan riya dan sum’ah, dan bertekad untuk menunaikan hak dari apa yang diperintahkan.

            Kondisi kedua: kesabaran ketika sedang beramal, maka sang hamba senantiasa bersabar menghadapi panggilan-panggilan untuk bersikap kurang dalam beramal, dan juga menekuni kesabaran untuk selalu mengingat niat dan hadirnya hati di hadapan Yang disembah, dan tidak melupakan-Nya dalam perintah-Nya. Maka bukanlah yang penting itu sekedar pelaksanaan perintah, akan tetapi yang terpenting adalah bahwasanya Dzat Yang memerintah tadi tidak dilupakan ketika di tengah pelaksanaannya, bahkan Dia selalu diingat di dalam perintah-Nya. Maka ini adalah ibadah para hamba yang ikhlas untuk Alloh. Maka dia butuh pada kesabaran untuk memenuhi hak ibadah dengan melaksanakannya dan memenuhi rukun-rukunnya, kewajibannya dan sunnahnya, dan butuh pada kesabaran untuk selalu mengingat Dzat Yang disembah di dalam amalan tadi, dan tidak disibukkan dari-Nya dengan ibadah kepada-Nya, maka dia tidak meninggalkan tegaknya ibadah dengan anggota badannya dengan kehadiran hatinya bersama Alloh, dan dia tidak meninggalkan kehadiran hatinya bersama Alloh di hadapan Alloh dengan tegaknya ibadah dengan anggota badannya.

            Kondisi ketiga: kesabaran setelah selesai beramal. Dan yang demikian itu adalah dari beberapa sisi:

            Yang pertama: dia menyabarkan jiwanya dari mendatangkan perkara yang membatalkan amalannya. Alloh ta’ala berfirman:

﴿يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),”

Maka bukanlah yang penting itu dia mendatangkan ketaatan, tapi yang penting itu adalah dia menjaga ketaatannya tadi dari perkara yang bisa membatalkannya.

            Yang kedua: sabar dari riya, ujub, sombong dan merasa agung dengan amalan tadi, karena yang demikian itu lebih berbahaya terhadapnya daripada kebanyakan maksiat yang nampak.

            Yang ketiga: bersabar jangan sampai memindahkan ketaatannya tadi dari dewan amalan rahasia ke dewan amalan terang-terangan, karena ada seorang hamba yang beramal dengan amalan rahasia antara dirinya dengan Alloh سبحانه maka amalannya dicatat dalam dewan amalan rahasia. Jika dia membicarakannya, maka akan dipindah ke dewan amalan terang-terangan. Maka janganlah dikira bahwasanya hamparan kesabaran itu telah digulung dengan selesainya amalan.

(selesai dari “Idatush Shobirin”/104-105/Daru Ibnil Jauziy).

            Diambil faidah juga dari rangkaian ayat-ayat tersebut: pentingnya menjaga amalan dari pembatal-pembatal.

            Maka ketahuilah bahwasanya hari Kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan di dalamnya, dan bahwasanya Alloh akan membalas setiap jiwa dengan apa yang dikerjakannya dan mereka tidak dizholimi. Dinamakan hai Kiamat itu sebagai Yaumut Taghobun (Hari Jelasnya Ketertipuan). Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِالله وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾ [التغابن: 9].

“Hari di mana Alloh mengumpulkan kalian pada hari Pengumpulan, yang demikian itu adalah Hari Jelasnya Ketertipuan. Dan barangsiapa beriman pada Alloh dan beramal sholih Alloh akan menghapus darinya kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam Jannah-jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selamanya. Yang demikian itulah kemenangan yang agung.”

            Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dan hari Kiamat dinamakan sebagai Yaumut Taghobun karena di dalamnya Ahlul Jannah mengalahkan penduduk neraka. Yaitu: penduduk Jannah mengambil Jannah, dan penduduk Neraka mengambil Neraka dalam pola baku tukar, maka terjadilah ketertipuan dikarenakan penduduk Neraka mengganti kebaikan dengan kejelekan, yang baik dengan yang buruk, kenikmatan dengan siksaan” –sampai pada ucapan beliau:- “Para ahli tafsir berkata: orang yang tertipu adalah orang yang tertipu dari keluarganya dan tempat tinggalnya di Jannah. Dan nampaklah pada hari itu ketertipuan setiap orang kafir dikarenakan mereka meninggalkan keimanan, dan orang mukmin juga tertipu karena kurang dalam berbuat kebaikan dan menyia-nyiakan hari-hari (tidak banyak beramal).”

(“Al jami’ Li Ahkamil Qur’an”/18/hal. 136-137).

            Maka kerugian yang paling besar adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan semisal gunung-gunung, lalu Alloh menjadikannya bagai debu yang beterbangan. Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا﴾ [الفرقان/23].

“Dan Kami hadapi amalan yang mereka kerjakan, maka Kami menjadikannya bagaikan debu halus yang bertebaran.”

            Dari Tsauban رضي الله عنه yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:«لا ألفين أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها الله هباء منثورا». قالوا: يا رسول الله صفهم لنا لكي لا نكون منهم ونحن لا نعلم. قال:«أما إنهم من إخوانكم ولكنهم أقوام إذا خلوا بمحارم الله انتهكوها».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jangan sampai aku mendapat ada orang-orang dari umatku yang datang pada hari Kiamat dengan kebaikan semisal gunung-gunung Tihamah yang putih, lalu Alloh menjadikannya debu halus yang beterbangan.” Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, gambarkanlah mereka untuk kami agar kami tidak termasuk dari mereka dalam keadaan kami tidak mengetahui.” Beliau menjawab: “Sungguh mereka itu adalah termasuk dari saudara-saudara kalian, akan tetapi mereka dalah kaum-kaum yang jika menyendiri dengan larangan-larangan Alloh mereka melanggarnya.” (HR. Ath Thobroniy dalam “Al Mu’jamul Ausath”/ no. (4632)/shohih).

            Dan bagaimana dengan orang yang datang pada hari Kiamat dalam keadaan amalannya tidak selamat dari kerusakan kecuali sedikit, sementara di hadapannya ada tuntutan-tuntutan banyak dari para hamba Alloh yang terzholimi?

Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ». قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ».

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka berkata,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya dirham ataupun harta benda.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, zakat. Dia datang tapi dalam keadaan telah mencaci ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, memukul orang ini. Maka orang ini diberi kebaikannya, orang itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum tanggung jawabnya selesai, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu diletakkan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim (6744)).

            Maka barangsiapa mengasihani dirinya sendiri hendaknya dia memperbenar jalan hidupnya dan memperbanyak bekal untuk hari Kembali, serta menjaga amalan-amalannya dari pembatal-pembatal, disertai dengan banyak berdoa pada Alloh agar meluruskan dirinya dan memberinya taufiq pada perkara yang dicintai oleh-Nya dan diridhoi oleh-Nya, dan menolongnya untuk bisa taat kepada-Nya, sesungguhnya Alloh Itu Mahabaik lagi Maha Penyayang.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Pembatal-pembatal dan perusak-perusak amalan itu terlalu banyak untuk dibatasi. Dan bukanlah yang penting itu beramalnya, akan tetapi yang terpenting itu adalah menjaga malanan dari perkara yang merusaknya dan membatalkannya. Riya sekalipun halus, dia itu menggugurkan amalan. Dan riya itu pintu-pintunya banyak tidak terbatas. Demikian pula amalan yang tidak diikat dengan mengikuti sunnah menyebabkan amalan tadi batal. Mengungkit-ungkit kebaikannya pada Alloh ta’ala dengan hatinya juga merusak amalan. Demikian pula mengungkit-ungkit kebaikannya dengan shodaqoh, amaln yang baik dan kebajikan serta berbagai pemberian juga merusak amalan, sebagaimana firman Alloh سبحانه وتعالى:

﴿يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan shodaqoh-shodaqoh kalian dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),”

Dan kebanyakan manusia tidak tahu kejelekan-kejelekan yang bisa menggugurkan amalan kebaikan.”

(“Al Wabilush Shoyyib”/hal. 15).

            Maka seorang hamba harus melanjutkan memerangi diri sendiri dalam menuntut ilmu, mempelajari Al Qur’an, memperbaiki amalan serta menjauhi sebab-sebab kerugian.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan di antaranya adalah firman Alloh ta’ala:

﴿مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم﴾.

“Permisalan orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka di jalan Alloh adalah seperti sebuah biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulirnya ada seratus biji. Dan Alloh melipatgandakan bagi orang yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh itu Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

Alloh Yang Mahasuci menyerupakan nafkah orang yang berinfaq di jalan-Nya itu, sama saja apakah yang dimaukan adalah jihad ataukah seluruh jalan-jalan kebaikan dan kebajikan, dengan orang yang menaburkan benih. Lalu setiap biji dari benih tadi menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir mengandung seratus biji. Dan Alloh itu melipatkan sesuai dengan keadaan orang yang berinfaq, keimanannya, keikhlasannya, dan kebaikannya serta manfaat nafkahnya, nilainya, jatuhnya ke siapa, karena sesungguhnya pahala infaq itu berbeda-beda sesuai dengan keimanan, keikhlasan dan pengokohan yang tegak di dalam hati ketika berinfaq, yaitu di harus mengeluarkan infaqnya tadi dengan hati yang kokoh, dadanya lapang dengan pengeluaran infaq tadi, dan jiwanya dermawan, keluar dari hatinya sebelum keluar dari tangannya. Dia harus kokoh hati bukannya resah, pelit, tidaklah jiwanya mengejar harta yang dikeluarkannya tadi, tangan dan hatinya jangan bergetar. Perbedaan juga terjadi sesuai dengan manfaat infaq tadi, dan pengarahannya ke objek-objeknya, dan juga sesuai dengan kadar kerelaan hati dan kecerdasan si pemberi.

            Di bawah permisalan tadi ada fiqh bahwasanya Alloh Yang Mahasuci memisalkan infaq dengan penaburan benih. Orang yang memberikan hartanya yang baik karena Alloh, bukan karena yang lain, adalah orang yang menaburkan hartanya di tanah yang bersih. Maka hasil panen itu sesuai dengan kadar benihnya, bagusnya tanahnya, dan kerajinan si petani untuk mengairi benihnya tadi dan menghilangkan benalu dan tanaman asing darinya. Jika perkara-perkara ini terkumpul, dan tanamannya tidak terbakar oleh api dan tidak tertimpa bencana, dia akan datang bagaikan gunung-gunung. Dan permisalannya bagaikan biji yang ditanam di dataran tinggi. Penafkahan di jalan Alloh itu bagaikan matahari dan angina yang mengelola pepohonan di dataran tinggi tadi dengan pengelolaan yang sempurna, lalu turun padanya hujan lebat dari langit susul-menyusul, membikinnya segar dan tumbuh, lalu kebun tadi mendatangnya makanan dua kali lipat daripada apa yang didatangkan oleh kebun yang lain, disebabkan oleh hujan deras tadi. Jika kebun tadi tidak ditimpa hujan deras, maka hujan gerimispun cukup karena kedermawanan Dzat Yang menumbuhkannya. Kebun tadi tumbuh berkembang dengan hujan gerimis. Dua macam hujan tadi, deras dan gerimis, adalah isyarat pada dua macam infaq: banyak dan sedikit. Ada di antara manusia yang infaqnya itu deras, ada juga yang infaqnya itu sedikit. Dan Alloh tidak menyia-nyiakan seukuran dzarrohpun.

            Jika orang yang beramal ini dihadang oleh sesuatu yang memecah amalannya dan membatalkan kebaikannya, maka dia bagaikan orang yang punya kebun dari korma dan anggur, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan dia di dalam kebun tadi punya segala macam buah. Lalu dia masuk masa tua dan punya anak-anak yang lemah, lalu kebinnya tertimpa angin kencang yang di dalamnya ada api, maka terbakarlah kebunnya. Maka jika telah datang hari penunaian balasan amal, si orang yang beramal mendapati amalannya tertimpa bencana yang menimpa si pemilik kebun maka penyesalannya ketika itu lebih besar daripada penyesalan di pemilik kebun terhadap kebunnya.

            Maka ini adalah permisalan yang dibuat oleh Alloh Yang Mahasuci tentang penyesalan dikarenakan dicabutnya nikmat ketika kebutuhan pada kenikmatan tadi sangat mendesak padahal nilai dan manfaatnya sangat besar. Dan orang yang kebunnya hilang darinya telah mengalami usia tua dan lemah, maka dia paling butuh pada kenikmatannya tadi. Bersamaan dengan itu dia punya anak-anak yang lemah yang tidak sanggup untuk bermanfaat buat dirinya dan menegakkan kemaslahatan dirinya, bahkan mereka ada dalam tanggungannya. Maka kebutuhannya pada nikmatnya tadi lebih besar lagi karena kelemahan dirinya dan kelemahan anak-anaknya. Maka bagaimana kondisi orang ini jika dia dulu punya kebun besar yang di dalamnya ada seluruh buah-buahan, dan punya jenis buah yang terbaik dan paling bermanfaat yaitu korma dan anggur. Kormanya untuk menopang kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya, lalu pada suatu hari didapatinya telah terbakar semuanya bagaikan kebun yang telah ditanam. Maka penyesalan yang manakah yang lebih besar seperti infaq yang disertai dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), daripada penyesalannya ini? Ibnu Abbas berkata: “Ini permisalan bagi orang yang ditutup akhir hayatnya dengan kerusakan.” Mujahid berkata: “Ini permisalan bagi orang yang meremehkan ketaatan pada Alloh sampai mati.” As Sariy berkata: “Ini permisalan bagi orang yang riya dalam nafkahnya, dia berinfaq untuk selain Alloh, lalu manfaatnya terputus darinya di saat dia paling butuh padanya.”

            Pada suatu hari Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه bertanya tentang ayat ini, maka mereka berkata: “Alloh Yang paling tahu.” Maka Umar marah dan berkata: “Ucapkanlah: kami tahu, atau kami tidak tahu.” Ibnu Abbas berkata: “Dalam diri saya ada suatu gambaran tentang itu, wahai Amirul Mukminin.” Beliau berkata: “Bicaralah wahai anak saudaraku, dan janganlah engkau meremehkan dirimu sendiri.” Ibnu Abbas berkata: “Dibikin permisalan untuk amalan.” Beliau berkata: “Amalan apa?” Ibnu Abbas menjawab: “Untuk seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan lalu Alloh mengirimkan padanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan hingga membakar amalannya semuanya.” Al Hasan berkata: “Ini adalah permisalan yang jarang sekali, Allohu a’lam, orang yang memikirkannya. Seorang tua yang badannya telah lemah, banyak anak-anaknya yang masih kecil, dia paling butuh pada kebunnya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian paling butuh pada amalannya jika dunia telah terputus darinya.”

            Pasal: jika amalan-amalan shodaqoh ini dihadang oleh perkara yang membatalkannya, yang berupa mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi) serta riya, maka riya menghalangi shodaqoh tadi untuk menjadi sebab datangnya pahala. mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi) membatalkan pahala yang menjadi sebab untuknya. Maka permisalan pelakuknya dan batalnya amalannya itu seperti batu besar yang halus yang di atasnya ada tanah, lalu dia tertimpa hujan deras, lalu hujan tadi membiarkan batu tadi kosong tiada sesuatupun di atasnya. Maka renungkanlah bagian-bagian dari permisalan yang mendalam ini, dan kecocokannya dengan bagian-bagian yang dijadikan sebagai patokan permisalan, dengan itu engkau akan mengetahui keagungan da kebesaran Al Qur’an, karena batu besar tadi bagaikan hati pelaku riya, mann dan adza ini, hatinya dalam permisalan orang-orang yang berinfaq adalah seperti angin, kekakuannya terhadap keimanan, keikhlasan dan ihsan adalah bagaikan batu. Dan amalan yang dilakukan bukan untuk Alloh itu bagaikan tanah yang ada di atas batu. Kekuatan dan kekerasan batu yang ada di bawah tanah tadi menghalangi kekokohan dan tumbuhnya tanaman ketika turun hujan deras. Maka dia tidak punya bahan yang bersambung dengan tanah yang menerima air dan menumbuhkan tetumbuhan. Dan seperti itulah hati orang yang riya, dia tak punya kekokohan ketika hujan deras dari perintah dan larangan dan taqdir itu datang. Jika turun padanya hujan wahyu, tersingkaplah darinya tanah yang tipis yang ada di atasnya, lalu nampaklah batu keras yang ada di bawahnya, tanpa ada tanaman di situ. Dan ini adalah permisalan yang dibuat oleh Alloh سبحانه bagi amalan orang yang riya dan nafkahnya, dia tidak berkuasa terhadap pahalanya sedikitpun pada hari Kiamat di saat yang paling dia butuhkan. Dan taufiq hanyalah dengan pertolongan Alloh.”

(“Amtsalul Qur’an”/hal. 32-34/cet. Maktabatul Iman).

            Beliau رحمه الله berkata: “Kemudian Alloh ta’ala berfirman:

﴿الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله ثم لا يتبعون ما أنفقوا منا ولا أذى لهم أجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون

“Orang-orang yang menginfaqkan harta mereka di jalan Alloh kemudian mereka tidak mengikutkan apa yang mereka infaqkan itu dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi), mereka itu akan mendapatkan pahala mereka di sisi Robb mereka, mereka tidak tertimpa ketakutan, dan mereka tidak bersedih hati.”

            Ini adalah penjelasan untuk pinjaman yang baik apa itu, dan dia itu harus di jalan Alloh, yaitu di jalan keridhoan-Nya, dan jalan yang menyampaikan kepada-Nya, dan yang paling bermanfaat adalah yang di jalan Alloh. Dan jalan Alloh itu khusus dan umum. Jalan yang khusus itu adalah bagian dari jalan yang umum, dan hendaknya dia jangan mengikutkan shodaqohnya tadi denganmann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi).

            Mann itu ada dua macam, yang pertama: mann dengan hatinya tanpa mengucapkannya terang-terangan dengan lidahnya. Ini sekalipun tidak membatalkan shodaqoh, maka dia itu mengurangi persaksian adanya karunia Alloh untuk dirinya manakala dia memberikan harta tadi, dan Alloh menghalangi orang lain. Alloh juga memberikan karunia padanya dengan memberikan kemungkinan untuknya untuk mencurahkan harta, sementara Alloh menghalangi orang lain untuk mengamalkan itu. Maka Alloh memiliki karunia padanya dari segala sisi, maka bagaimana hatinya bersaksi bahwa karunia itu dari yang selain-Nya?

            Jenis yang kedua: dia mengungkit-ungkit pemberian dengan lisannya, maka dia menzholimi orang yang berbuat baik padanya dengan kebaikannya tadi, dan memperlihatkan padanya bahwasanya dia yang membuatnya dan bahwasanya dia mewajibkannya pada si penerima untuk memenuhi hak si pemberi, dan si pemberi mengalungkan pemberiannya tadi di lehernya seraya berkata: “Bukankah aku telah memberimu demikian dan demikian?” Dan dia menghitung-hitung jasanya pada orang tadi. Sufyan berkata: “Dia berkata: (Aku telah memberimu tapi engkau tidak bersyukur).” Abdurrohman bin Ziyad berkata: “Dulu ayahku berkata: (Jika engkau memberikan sesuatu pada seseorang dan engkau melihat bahwasanya salammu itu memberatkan dirinya, maka tahanlah salammu darinya). Dan dulu mereka berkata: (Jika kalian membikin sesuatu maka lupakanlah, dan jika kalian diberi sesuatu, maka janganlah kalian lupakan itu. Dan tentang yang demikian itu dikatakan:

وإن امرأ أهدى إلي صنيعة … وذكرنيها مرة لبخيل

“Dan jika ada seseorang menghadiahkan padaku suatu kebaikan, lalu dia mengingatkanku tentangnya satu kali, maka sungguh dia pelit.”

            Dikatakan: sama saja antara orang yang memberikan pada orang yang meminta padanya sambil mengungkit-ungkitnya, dengan orang yang menghalangi orang yang hendak mendapatkannya sambil menjaminnya. Dan Alloh melarang para hambanya untuk mengungkit-ungkit kebaikan mereka. Dan Alloh mengkhususkan sifat itu hanya boleh untuk diri-Nya dikarenakan jika perbuatan itu dari para hamba, maka itu bisa menyedihkan dan memperkeruh hati. Adapun jika hal itu dari Alloh سبحانه وتعالى maka itu adalah karunia dan mengingatkan akan nikmat-Nya. Dan juga sesungguhnya Alloh itulah Yang memberikan nikmat pada hakikatnya, sementara para hamba itu hanyalah perantara. Maka Dia itulah Yang memberikan nikmat pada para hamba-Nya pada hakikatnya. Dan juga mengungkit-ungkit pemberian itu sebenarnya adalah perbudakan, pematahan hati dan perendahan bagi orang yang diungkit-ungkit, padahal penyembahan dan penghinaan diri itu tidak pantas kecuali kepada Alloh.

            Dan juga mengungkit-ungkit pemberian itu adalah bahwasanya si pemberi itu bersaksi bahwasanya dirinya itu adalah pemilik karunia dan nikmat dan bahwasanya dia itulah pengatur nikmat dan pemberinya dan bahwasanya hakikatnya nikmat tadi bukan milik Alloh. Dan juga orang yang mengungkit-ungkit pemberian itu bersaksi bahwasanya dirinya meninggikan diri di atas orang yang mengambil pemberian tadi, mengangkat dirinya di atasnya, tidak butuh padanya, memuliakan diri di atasnya, dan bersaksi akan kehinaan orang yang mengambil pemberian tadi, dan dia itu butuh pada si pemberinya, dan itu tidak boleh bagi seorang hamba.

            Dan juga sesungguhnya si pemberi itu, Alloh telah mengurusi pahalanya dan mengembalikan padanya berlipat-lipat dari apa yang dia berikan. Dan tersisalah penggantian dari apa yang dia berikan itu ada di sisi Alloh. Maka hak apakah yang tersisa untuknya dari arah orang yang mengambil pemberian? Maka jika si pemberi mengungkit-ungkit pemberian itu maka sungguh dia telah menzholimi orang yang mengambil pemberian tadi dengan kezholiman yang jelas, dan mendakwakan bahwasanya haknya itu ada di hatinya. Dan dari sini –wallohu a’lam- batalnya shodaqohnya dengan diungkit-ungkitnya pemberian, karena manakala penggantian dan hubungannya itu bersama Alloh, dan gantinya shodaqoh itu adalah di sisi Alloh, lalu dia tidak ridho dengan itu, tapi dia memperhatikan penggantian itu dari orang yang mengambil pemberian dan muamalah dengannya, lalu dia mengungkit-ungkit pemberian itu padanya, dia membatalkan penggantiannya dan muamalahnya bersama Alloh.

            Maka renungkanlah nasihat-nasihat dari Alloh kepada para hamba-Nya ini, dan penunjukan-Nya pada rububiyyah-Nya dan ilahiyyah-Nya satu-satunya, dan bahwasanya Dia membatalkan amalan orang yang mengajak berebut dengan-Nya dalam sedikit saja dari rububiyyah-Nya dan ilahiyyah-Nya. Tiada sesembahan yang benar selain-Nya, dan tiada Robb yang benar selain-Nya.

            Dan Alloh mengingatkan dengan firman-Nya: “kemudian mereka tidak mengikutkan apa yang mereka infaqkan itu dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),” menunjukkan bahwasanya mann dan adza itu sekalipun datangnya setelah suatu selang waktu dari shodaqohnya tadi, dan masanya panjang, dia akan membahayakan pelakunya, dan tidak akan dihasilkan untuknya maksud dari infaq.

            Andaikata Alloh mendatangkan huruf wawu dan berfirman: “dan mereka tidak mengikutkan apa yang mereka infaqkan itu dengan mann (menyebut-nyebut pemberian) dan adza (menyakiti orang yang diberi),” niscaya menimbulkan kesalahan dugaan bahwasanya wawu tadi untuk menunjukkan keadaan. Dan jika mann dan adza yang datangnya setelah selang waktu itu bisa membatalkan pengaruh infaq dan menghalangi pahala, maka perbuatan tadi yang menyertai shodaqoh lebih pantas lagi untuk membatalkan pahalanya.

            Dan renungkanlah bagaimana Alloh mengosongkan khobarnya di sini dari huruf fa maka Alloh berfirman:

﴿أجرهم عند ربهم

“(Orang-orang yang menginfaqkan harta mereka di jalan Alloh kemudian mereka tidak mengikutkan apa yang mereka infaqkan itu dengan mann dan adza), mereka itu akan mendapatkan pahala mereka di sisi Robb mereka.”

Dan Alloh menggandengkannya dengan Fa pada firman-Nya:

﴿الذين ينفقون أموالهم بالليل والنهار سرا وعلانية فلهم أجرهم عند ربهم

“Orang-orang yang menginfaqkan harta-harta mereka siang dan malam secara rahasia dan terang-terangan maka mereka itu akan mendapatkan pahala mereka di sisi Robb mereka.”

Karena sesungguhnya Fa yang masuk ke dalam kabar dari mubtada’ yang bersambung atau disifati itu memberikan pemahaman makna syarat dan balasan, dan bahwasanya dia itu berhak untuk mendapatkan apa yang dikandung oleh mubtada yang berupa shilah atau sifat. Manakala di sini menuntut penjelasan tentang dibatasinya orang yang berhak mendapatkan balasan tadi bukan orang yang lainnya, Alloh mengosongkan khobar dari huruf fa, karena sesungguhnya maknanya adalah: bahwasanya orang yang menginfaqkan hartanya karena Alloh, dan tidak melakukan mann atau menyakiti, dia itulah yang berhak mendapatkan pahala tersebut, bukannya orang yang berinfaq untuk selain Alloh dan melakukan mann dan menyakiti dengan nafqohnya. Maka bukanlah posisinya sekarang itu syarat dan balasannya, tapi posisinya adalah penjelasan tentang orang yang berhak dengan pahala tadi, bukan orang lain.

            Dan di ayat yang lain Alloh menyebutkan infaq di waktu siang dan malam, rahasia dan terang-terangan. Maka Alloh menyebutkan keumuman waktu dan keumuman kondisi, maka Alloh mendatangkan huruf fa dalam khobar untuk menunjukkan bahwasanya infaq di waktu manapun didapatkan, di malam dan siang, dan pada kondisi apapun didapatkan, di waktu rahasia dan terang-terangan, maka sesungguhnya itu adalah sebab untuk mendapatkan pahala dalam segala kondisi, maka hendaknya sang hamba bersegera untuk bershodaqoh dan tidak menanti-nanti di waktu lain dan kondisi lain, dan tidak menunda nafkah malam jika telah hadir, sampai datangnya siang, dan tidak menunda nafkah siang jika telah hadir, sampai datangnya malam. Dan jangan menunggu waktu rahasia dengan nafkah di waktu terang-terangan, dan jangan menunggu waktu terang-terangan dengan nafkah di waktu rahasia, karena sesungguhnya nafkah di waktu manapun dan kondisi apapun didapatkan sebagai sebab datangnya pahala dan ganjaran.

            Maka renungkanlah rahasia-rahasia ini di dalam Al Qur’an, karena bisa jadi engkau tidak akan mendapatkannya di tafsir-tafsir yang engkau lewati. Jasa dan karunia hanyalah milik Alloh satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya.

            Kemudian Alloh ta’ala berfirman:

﴿قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها أذى والله غني حليم

Ucapan yang baik dan ampunan itu lebih baik daripada shodaqoh yang diikuti oleh penyakitan hati. Dan Alloh Itu Ghoniy (Mahakaya) dan Halim (Tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan).”

            Maka Alloh mengabarkan bahwasanya ucapan yang yang baik, yaitu yang dikenal baik oleh hati dan tidak diingkarinya, dan ampunan, yaitu pemaafan terhadap orang yang berbuat baik padamu, itu lebih baik daripada shodaqoh dengan penyakitan hati. Ucapan yang baik itu termasuk dari ihsan. Dan shodaqoh dengan ucapan dan ampunan itu juga ihsan dengan tidak menghukum dan membalas. Dua jenis ini merupakan bagian dari jenis-jenis ihsan. Dan shodaqoh yang disertai dengan penyakit hati itu adalah kebaikan yang diiringi dengan perkara yang membatalkannya. Dan tiada keraguan bahwasanya dua kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan yang batal.

            Masuk dalam ampunan adalah ampunan dia kepada si peminta jika dia mendapati darinya sebagian sikap jelek dan penyakitan hati jika permintaannya ditolak. Maka jadilah pemaafannya itu lebih baik daripada dia bershodaqoh pada si peminta tadi sampai menyakit hatinya. Ini berdasarkan salah satu dari dua pendapat yang terkenal tentang ayat ini.

            Pendapat yang kedua: bahwasanya ampunan dari Alloh, yaitu ampunan untuk kalian dari Alloh, dengan sebab ucapan yang baik dan penolakan yang bagus terhadap permintaan si peminta itu lebih baik daripada shodaqoh yang diikuti oleh penyakit hati.

            Tentang ayat ini ada pendapat yang ketiga, yaitu: bahwasanya pemberian ampunan dan maaf dari si peminta jika permintaannya ditolak dan udzur orang yang dimintai itu lebih baik daripada didapatkannya shodaqoh dari orang yang dimintai yang diikuti dengan gangguan.

            Pendapat yang paling jelas adalah pendapat yang pertama, lalu yang berikutnya adalah pendapat yang kedua. Dan pendapat yang ketiga itu lemah sekali, karena yang diajak bicara dalam ayat ini hanyalah orang yang berinfaq, orang yang dimintai, bukan orang yang meminta, yang mengambil shodaqoh. Dan maknanya adalah: bahwasanya ucapan yang baik dan pemaafan itu lebih baik bagimu daripada engkau bershodaqoh sambil engkau menyakitinya.

            Lalu Alloh menutup ayat ini dengan dua sifat yang sesuai dengan makna yang dikandungnya, seraya berfirman: “Dan Alloh Itu Ghoniy (Mahakaya) dan Halim (Tidak tergesa-gesa menghukum suatu kesalahan).” Di dalamnya ada dua makna, yang pertama adalah: bahwasanya Alloh itu tidak butuh pada kalian, sedikitpun dari shodaqoh kalian itu tidak akan sampai pada-Nya. Hanya saja bagian yang paling banyak dalam shodaqoh itu adalah untuk kalian, maka manfaatnya itu kembali pada kalian, bukan pada-Nya سبحانه وتعالى , maka bagaimana orang ini mengungkit-ungkit pemberiannya dan menyakiti, sementara Alloh itu tidak butuh secara mutlak pada shodaqoh tadi, ataupun pada seluruh yang selain Dia. Bersamaan dengan itu, Alloh itu Halim, Dia tidak tergesa-gesa menghukum orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya itu. Di dalamnya mengandung ancaman dan peringatan.

            Makna yang kedua: bahwasanya Diaوتعالى سبحانه bersamaan dengan kekayaan-Nya yang sempurna dari segala sisi, maka dia itu disifati dengan kesabaran, pemaafan, bersamaan dengan pemberian-Nya yang luas dan shodaqoh-shodaqoh-Nya yang menyeluruh. Maka bagaimana salah seorang dari kalian menyakiti dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan menyakiti, bersamaan dengan sedikitnya dan jarangnya apa yang diberikannya dan kemiskinannya?

[-sampai pada ucapan beliau:-]

            Kemudian Alloh berfirman:

﴿يا أيها الذين ءامنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الأرض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebagian dari yang baik-baik dari apa yang kalian usahakan, dan dari apa yang Kami keluarkan dari bumi, dan janganlah kalian menyengaja untuk menginfaqkan yang buruk dari rizki tadi.”

            Alloh Yang Mahasuci menisbatkan usaha itu pada mereka, sekalipun Dialah pencipta perbuatan-perbuatan mereka, karena usaha adalah perbuatan mereka tegak pada diri mereka. Dan Alloh menisbatkan pengeluaran tanaman dari dalam bumi itu itu pada diri-Nya, karena hal itu bukanlah perbuatan mereka dan diluar kemampuan mereka. Maka Alloh menisbatkan amalan yang mereka mampui tadi pada diri mereka, dan menisbatkan perbuatan diri-Nya yang tidak mereka mampui tadi pada diri-Nya. Maka dalam kandungan ayat ini ada bantahan pada orang yang menyamakan dua jenis amalan tadi dan menghilangkan kemampuan, perbuatan dan pengaruhnya dari hamba secara total.

            Dan Alloh Yang Mahasuci mengkhususkan penyebutan dua jenis rizqi tadi, yaitu yang keluar dari dalam bumi dan yang dihasilkan dari usaha perdagangan, bukan yang lainnya seperti peternakan. Bisa jadi hal itu disesuaikan dengan kenyataan karena dua jenis rizqi tadi adalah harta yang dominan dari kaum tadi saat itu, karena Muhajirin dulu adalah para pedagang dan pengusaha, sementara Anshor dulu adalah pemilik pertanian dan perkebunan. Maka Alloh menyebutkan dua macam rizqi tadi secara khusus karena mereka membutuhkan penjelasan tentang hukum dua rizqi tadi dan keumuman keberadaannya.

Dan bisa jadi karena keduanya adalah asas dari harta sementara yang lain adalah berasal dari keduanya dan tumbuh dari keduanya, karena masuk di dalam usaha itu adalah seluruh perdagangan dengan berbagai macam dan jenisnya, baik berupa pakaian, makanan, budak, hewan, alat-alat, perkakas dan seluruh perdagangan yang terkait dengannya. Dan yang keluar dari bumi itu mencakup biji, buah, barang temuan, dan tambang.

Dua perkara tadi adalah dasar dari harta dan yang dominan dari harta bagi penduduk bumi. Maka penyebutan keduanya itu lebih penting.

Kemudian Alloh berfirman: “dan janganlah kalian menyengaja untuk menginfaqkan yang buruk dari rizki tadi.” Maka Alloh سبحانه melarang menyengaja mengeluarkan harta yang buruk untuk orang miskin. Dan larangan-Nya untuk menyengaja tadi mirip dengan udzur bagi orang yang tidak sengaja berbuat itu tapi sekedar terjadi karena kebetulan saja, jika jenis yang buruk ada di di antara harta dia, atau memang harta dia adalah dari jenis yang buruk, karena berarti orang ini tidak menyengaja berinfaq dengan yang buruk, tapi dia bermaksud menginfaqkan sebagian harta yang Alloh karuniakan pada dirinya. Posisi firman Alloh “menginfaqkan yang buruk dari rizki tadi” adalah posisi keadaan, yaitu: janganlah kalian menyengaja mencari yang buruk-burukketika kalianberinfaq.

Kemudian Alloh berfirman:

﴿ولستم بآخذيه إلا أن تغمضوا فيه

“Dan kalian tidak mengambilnya kecuali dalam keadaan kalian memberikan keringanan padanya.”

Yaitu: andaikata kalian adalah orang yang berhak mendapatkan pemberian tadi dan kalian diberi itu, kalian tidak akan mengambilnya kecuali dengan kalian memberikan pemaafan dan keringanan dalam menerima benda tadi. Istilah ini diambil dari ucapan mereka: (أغمض فلان عن بعض حقه) “Si Fulan memberikan keringanan terhadap sebagian haknya.”

Dan dikatakan pada penjual: (أغمض) yaitu: “Janganlah terlalu engkau periksa,” seakan-akan engkau tidak melihatnya.

Hakikatnya adalah dari (إغماض الجفن) maka seakan-akan orang yang melihat itu dikarena dia tidak suka pada benda tadi dia tidak mau memenuhi matanya dengan benda tadi, bahkan dia memicingkan matanya dan hanya meliriknya. Termasuk dari ini adalah ucapan penyair:

لم يفتنا بالوتر قوم وللضي … م رجال يرضون بالإغماض

“Suatu kaum yang tidak meloloskan kami dengan witir. Dan ada orang-orang yang rela dizholimi dan dikurangi hak mereka.”

 Dalam ayat tadi ada dua makna. Yang pertama: bagaimana kalian mencurahkan untuk Alloh dan menghadiahkan pada-Nya sesuatu yang kalian sendiri tidak rela benda tadi diberikan pada kalian, dan salah seorang dari kalian juga tidak rela untuk beri hadiah dengan benda macam tadi? Dan Alloh itu lebih berhak untuk dipilihkan untuk-Nya benda yang terbaik dan paling berharga.

Yang kedua: bagaimana kalian menjadikan untuk-Nya benda yang kalian tidak sukai jika diberikan pada kalian, padahal Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik?

Kemudian Alloh menutup kedua ayat ini dengan dua sifat yang alur krdua ayat tadi memang menuntut penyebutan dua sifat itu, Alloh berfirman:

﴿واعلموا أن الله غني حميد

“Dan ketahuilah bahwasanya Alloh itu Ghoniy (Mahakaya) dan Hamid (Maha Terpuji).”

            Kekayaan dan Keterpujian Alloh itu menolak untuk menerima sesuatu yang buruk, karena sesungguhnya sikap menerima sesuatu yang buruk dan busuk itu bisa jadi karena butuh padanya, dan bisa jadi jiwanya itu tidak sempurna dan tidak mulia. Adapun Dzat Yang Mahakaya Yang Mulia nilai-Nya Yang Sempurna sifat-Nya tidak mau menerimanya.

            Kemudian Alloh berfirman:

﴿الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشاء والله يعدكم مغفرة منه وفضلا والله واسع عليم

“Setan itu menjanjikan pada kalian kemiskinan dan memerintahkan kalian untuk berbuat kekejian. Dan Alloh menjanjikan pada kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Alloh itu Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

            Ayat ini mengandung dorongan untuk berinfaq dan anjuran melakukan itu dengan lafazh-lafzah yang tandas dan makna-makna yang terbaik, karena ayat ini mencakup penjelasan tentang faktor yang menyeru manusia untuk bersikap pelit dan faktor yang menyeru manusia untuk memberi dan berinfaq, serta penjelasan tentang apa yang diserukan oleh penyeru kekikiran dan penyeru infaq, serta apa yang diserukan oleh kedua penyeru tadi.

            Maka Alloh Yang Mahasuci mengabarkan bahwasanya yang mengajak mereka untuk bersikap pelit dan kikir adalah setan. Dan mengabarkan bahwasanya ajakannya adalah kemiskinan yang dijanjikannya pada mereka jika mereka menginfaqkan hartanya. Dan inilah penyeru yang dominan pada para makhluk, karena seseorang itu ingin bershodaqoh dan memberi, lalu dia mendapati di dalam hatinya penyeru yang berkata padanya: “Kapan saja engkau mengeluarkan hartamu ini, engkau akan membutuhkannya setelah itu. Dan menahan harta itu lebih baik untukmu sehingga engkau tidak menjadi seperti si miskin itu. Maka kekayaanmu itu lebih baik untukmu daripada kekayaannya. Maka jika penyeru tadi membikin gambaran seperti ini untuknya dia akan memerintahkan untuk berbuat keji, yaitu kekikiran yang mana itu termasuk kekejian yang paling buruk. Dan ini adalah kesepakatan para ahli tafsir bahwasanya kekejian di sini adalah kekikiran.

Inilah janji si setan, dan inilah perintah dia. Dan dia itu dusta dalam janjinya, dan dia itu penipu yang jahat dalam perintahnya. Maka orang yang memenuhi seruan dia itu tertipu dan terpedaya, karena setan itu menyodori orang yang diserunya itu dengan penipuannya, lalu dia menjerumuskannya ke tempat yang paling buruk. Sebagaimana dikatakan:

دلاهم بغرور ثم أوردهم … إن الخبيث لمن والاه غرار

“Dia menyodori mereka dengan penipuan, lalu dia menjerumuskan mereka. Sesungguhnya si busuk itu sangat penipu terhadap orang yang loyal padanya.”

Ini, sekalipun setan menjanjikan padanya kemiskinan, maka itu bukanlah karena kasihan padanya atau nasihat untuknya sebagaimana seseorang menasihati saudaranya, dan bukan pula karena suka agar saudaranya itu tetap kaya. Bahkan tiada sesuatupun yang lebih disukai setan daripada kemiskinan dan kebutuhan orang tadi, akan tetapi setan itu hanyalah menjanjikan kemiskinan padanya dan memerintahkannya untuk pelit karena dia berburuk sangka pada Robbnya, dan meninggalkan perkara yang Alloh cintai yaitu infaq untuk wajah Alloh. Maka seruan tadi mengakibatkan orang tadi terhadap dari amal sholih tadi.

Adapun Alloh Yang Mahasuci, maka sesungguhnya Dia menjanjikan ampunan dari-Nya untuk hamba-Nya atas dosa-dosa-Nya, dan menjanjikan karunia dengan menggantikan untuknya lebih banyak dan berlipat-lipat daripada yang diinfaqkannya, bisa jadi di dunia, dan bisa jadi di dunia dan akhirat. Maka ini adalah janji Alloh. Dan yang tadi adalah janji setan. Maka hendaknya si kikir dan si pemberi memperhatikan: janji manakah yang lebih terpercaya, dan dan janji yang manakah yang lebih membawa ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Dan Alloh itu memberikan taufiq pada orang yang dikehendaki-Nya dan menelantarkan orang yang dikehendakinya. Dan dia itu Mahaluas karunia dan Maha Mengetahui.

Dan renungkanlah bagaimana Alloh menutup ayat ini dengan dua nama tadi, karena sesungguhnya Alloh itu Mahaluas pemberian dan Maha Mengetahui siapakah yang berhak untuk mendapatkan karunia-Nya dan siapakah yang berhak untuk mendapatkan keadilan-Nya. Maka Alloh memberi orang itu dengan karunia-Nya, dan menghalangi orang yang itu dengan keadilan-Nya. Dan Dia itu Maha Mengetahui segala sesuatu.

Maka renungkanlah ayat-ayat ini, dan janganlah engkau merasa bahwasanya pembahasannya itu terlalu panjang, karena sesungguhnya ayat-ayat tadi punya nilai yang tidak bisa dipahami kecuali oleh orang yang memahami ucapannya dan mengetahui maksudnya dengan taufiq dari Alloh.

﴿وتلك الأمثال نضربها للناس وما يعقلها إلا العالمون

“Dan permisalan-permisalan itu kami bikin untuk manusia, dan tidak ada yang bisa memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

            Dan renungkanlah penutup dari surat ini yang mana dia itu adalah puncak Al Qur’an dengan hukum-hukum harta dan pembagian orang-orang kaya dengan kondisi-kondisi mereka, dan bagaimana Alloh membagi mereka menjadi tiga jenis.

            Jenis yang pertama: orang yang berbuat ihsan, dan mereka itulah orang-orang yang bershodaqoh. Maka Alloh menyebutkan pahala mereka dan pelipatannya, dan bahwasanya mereka itu meminjamkan harta mereka pada Dzat Yang ahli untuk mengembalikannya. Kemudian Alloh memperingatkan mereka dari perkara yang membatalkan pahala shodaqoh mereka dan membakarnya setelah kesempurnaannya dan kelengkapannya, dengan mann dan adza. Dan Alloh memperingatkan mereka dari perkara yang bisa menghalangi datangnya pahala sejak awalnya, yaitu riya. Lalu Alloh memerintahkan mereka untuk mendekatkan diri pada-Nya dengan harta yang paling baik, dan jangan menyengaja memilih yang buruk dan hina untuk dishodaqohkan. Lalu Alloh memperingatkan mereka dari memenuhi seruan dai kekikiran dan kekejian, dan Alloh mengabarkan bahwasanya memenuhi panggilan-Nya dan mempercayai janji-Nya itu lebih utama bagi mereka. Dan Alloh mengabarkan bahwasanya ini adalah bagian dari hikmah-Nya yang dibaerikannya pada yang dikahandaki-Nya dari kalangan para hamba-Nya, dan bahwasnya barangsiapa diberi hikmah itu maka sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dia telah diberi dengan yang lebih baik dan lebih utama daripada dunia seluruhnya, karena Alloh Yang Mahasuci telah menggambarkan dunia dengan nilai yang sedikit. Alloh ta’ala berfirman:

﴿قل متاع الدنيا قليل

“Katakanlah: kesenangan dunia itu sedikit.”

            Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا

“Dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak.”

Maka ini menyunjukkan bahwasanya hikmah yang Alloh berikan pada hamba-Nya itu lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di atasnya. Dan tidak setiap orang memahami ini, bahkan tiada yang memahami ini kecuali orang yang punya mata hati dan akal yang cerdas. Maka Alloh ta’ala berfirman:

﴿وما يذكر إلا أولو الألباب

“Dan tiada yang menyadari kecuali orang yang memiliki mata hati.”

            Kemudian Alloh mengabarkan bahwasanya seluruh apa yang mereka infaqkan dan mereka gunakan untuk mendekatkan diri pada-Nya yang berupa nadzar, maka sungguh Alloh itu mengetahuinya dan tidak akan tersia-sia di sisi-Nya, bahkan Alloh mengetahui amalan yang dikerjakan untuk mendapatkan wajah-Nya. Dan Alloh menyerahkan balasan orang yang beramal untuk selain-Nya itu kepada makhluk yang orang tadi beramal untuknya, karena sesungguhnya dia itu telah menzholimin diri-Nya sendiri, dan dia tak akan mendapatkan penolong.

            Kemudian Alloh سبحانه mengabarkan tentang kondisi-kondisi orang-orang yang bershodaqoh untuk wajah-Nya, dan bahwasanya Dia akan membalas mereka atas shodaqoh itu, sekalipun mereka menampakkannya ataupun merahasiakannya setelah shodaqoh itu ikhlas untuk wajah-Nya.”

(selesai dari “Thoriqul Hijrotain”/hal. 450-462/cet. Dar Ibni Rojab).

            Dan terus-menerus mengawasi jiwa dan memerangi nafsu merupakan sebab keberuntungan dengan laba yang besar dan selamat dari ketertipuan.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan yang bisa membantu sang hamba untuk mengawasi dan memeriksa diri sendiri adalah: pengetahuan dirinya bahwasanya setiap kali dia bekerja keras dalam muhasabah pada hari ini, dia akan beristirahat dari itu besok manakala pemeriksaan itu di tangan yang lainnya (yaitu Alloh). Dan setiap kali dia meremehkan muhasabah pada hari ini, maka besok pemeriksaannya akan keras.

            Dan membantunya untuk muhasabah juga adalah: hendaknya dia mengetahui bahwasanya laba dari perdagangan ini adalah Jannah Firdaus dan melihat kepada wajah Robb سبحانه. Dan kerugiannya adalah: masuk ke dalam neraka dan terhalangi dari Robb ta’ala. Maka jika dia telah meyakini ini, ringanlah bagi dirinya hisab pada hari ini. Maka wajiblah bagi orang mukmin pada Alloh dan hari Akhir dan bertekad kuat untuk tidak lalai dari memeriksa diri sendiri dan menyempitkannya dalam gerakan-gerakan jiwanya, sikap diamnya, desiran hatinya dan langkah jiwanya. Maka setiap nafasnya dari nafas-nafas umurnya adalah permata yang berharga yang tidak punya bagian untuk dengannya pundi-pundi yang kenikmatannya tiada batasnya selama-lamanya bisa dibeli. Maka penyia-nyiaan nafas-nafas ini atau pembelian faktor-faktor yang mendatangkan kebinasaan dengan nafas-nafas tadi merupakan kerugian yang amat besar yang tidak mungkin rela dengan semacam itu kecuali orang yang paling bodoh dan tolol, serta paling sedikit akalnya. Dan hanyalah nampak baginya hakikat kerugian ini pada hari ketertipuan:

﴿يوم تجد كل نفس ما عملت من خير محضرا وما عملت من سوء تود لو أن بينها وبينه أمدا بعيدا﴾ [ آل عمران : 30 ]

“Pada hari setiap jiwa mendapati kebaikan dan kejelekan yang diamalkannya itu hadir, dia ingin sekali andaikata di antara dirinya dengan hari itu ada tenggang waktu yang jauh.”

(selesai dari “Ighotsatul Lahfan”/hal. 71/cet. Dar Ibnil Haitsam).

 

والله تعالى أعلم، والحمد لله رب العالمين.

Dammaj, 17 Rojab 1434 H.

 

Table of Contents

 


([1])Al Imam Ibnul Qoyyim رحمهالله berkata: “Bahwasanya Al Mitsalul ‘Ilmiy itu bukanlah hakikat yang ada di luar benak, sekalipun dia itu cocok dengannya. Akan tetapi Al Mitsalul ‘Ilmiy itu tempatnya adalah di dalam hati.” (“Thoriqul Hijrotain”/hal. 46).