Menggapai kebahagiaan 1

menggapai kebahagiaan bag pertama pdf

Menggapai Kebahagiaan Hakiki

Dengan Istighfar dan Tobat Sejati

(bagian pertama)

 

Dengan Kata Pengantar

Asy Syaikh Al Mifdhol Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy Al Umariy

حفظه الله

 

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

عفا الله عنه

di Yaman

 

Judul Asli:

“Nailul Falah Was Sa’adah Bi Dawamil Istighfar Wa Shidqit Taubah”

 

Terjemah bebas:

“Menggapai Kebahagiaan Hakiki Dengan Istighfar Dan Tobat Sejati”

 

 

Dengan Kata Pengantar:

Asy Syaikh Al Mifdhol Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy Al Umariy

حفظهالله

 

Disusun dan Diterjemahkan Oleh:

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo

عفا الله عنه


 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata Pengantar Asy Syaikh Al Mifdhol Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy Al Umariy حفظه الله

 

         الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

            Sungguh aku telah melihat-lihat apa yang ditulis oleh saudara kita yang mulia Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Aluth Thuriy Al Indonesiy حفظه الله dalam risalahnya yang dinamainya dengan: “Nailul Falah Was Sa’adah Bi Dawamil Istighfar Wa Shidqit Taubah” maka aku lihat risalah ini bagus dan bermanfaat, dia menyebutkan di dalamnya sejumlah dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan juga penukilan-penukilan yang bermanfaat dari para ulama tentang bidang ini.

            Maka saya mohon pada Alloh سبحانه وتعالى agar menjadikan manfaat dan keberkahan pada risalah ini, dan agar Alloh memberkahi penulisnya, dan menolak darinya segala kejelekan dan perkara yang tidak disukai.

 

Ditulis oleh:

Abu Abdillah Zayid bin Hasan Al Wushobiy Al Umariy

21 Jumadats Tsaniyyah 1434 H

 

Pengantar Penulis

 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسولهصلى الله عليه وآله وسلم، أما بعد:

            Seorang saudara yang mulia telah mengirimkan sepucuk surat kepada saya untuk menulis buat beliau beberapa keutamaan tobat kepada Alloh, untuk memberikan hiburan buat rekannya yang bertobat dari dosa-dosa. Demikian pula datang surat dari saudara yang lain bertanya tentang suatu perkara dari hukum-hukum tobat. Dan sebagian yang lain ingin bertobat pada Alloh ta’ala tapi belum jelas bagi mereka jalan ke situ, maka kita harus membantu mereka untuk kembali, dan mengulurkan bantuan pada mereka dari jaring-jaring setan.

            Sebagian ulama telah menulis kitab-kitab tentang hukum tobat, baik secara terpisah ataupun tergabung di dalam kitab yang lain. Maka rujuk kepada kitab-kitab tersebut adalah penting. Akan tetapi barangkali kitab-kitab tadi belum sampai kepada sebagian saudara-saudara kita, maka setelah merenungkan permintaan tadi saya memutuskan untuk memenuhi permintaan para ikhwah tadi, sekalipun dengan sempitnya waktu dan lemahnya kemampuan. Saya akan menuliskan apa yang Alloh mudahkan untuk disampaikan dalam bidang ini, yang berupa petikan hukum-hukum tobat, pentingnya nilai tobat dan keagungan kedudukannya. Barangkali yang demikian itu lebih tepat dengan maksud para ikhwah.

            Lagi pula tulisan ini sekaligus menjadi nasihat bagi sang penulis –sebelum yang lainnya- karena dirinya sendiri juga banyak dosa dan kesalahan dan wajib untuk banyak bertobat pada Alloh dan memperbaiki diri.

             Maka hanya dengan pertolongan Alloh saja saya mendapatkan taufiq, saya katakan:

 

Bab Satu:

Jangan Putus Asa Dari Rohmat Alloh

 

Alloh ta’ala berfirman:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الله إِنَّ الله يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ الله وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ الله هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ * بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آَيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى الله وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِين* وَيُنَجِّي الله الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾ [الزمر: 53 – 61].

“Katakanlah wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh, sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Robb kalian dan tunduklah kepada-Nya sebelum datang pada kalian siksaan kemudian kalian tidak tertolong. Dan ikutilah yang terbaik dari apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian sebelum datang pada kalian siksaan dengan tiba-tiba dalam keadaan kalian tidak menyadarinya. Jangan sampai ada jiwa yang berkata: alangkah besarnya penyesalanku terhadap hak Alloh yang aku sia-siakan, dan sungguh aku dulu termasuk orang-orang yang mengejek. Atau berkata: seandainya Alloh memberiku petunjuk pastilah aku termasuk orang-orang yang bertaqwa. Atau berkata ketika melihat adzab seandainya aku punya kesempatan lagi pasti aku akan menjadi termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan. Bahkan telah datang padaku ayat-ayat-Ku lalu engkau mendustakannya dan menyombongkan diri, dan engkau termasuk dari orang-orang kafir. Dan pada hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Alloh wajah-wajah mereka menghitam. Bukankah di dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Dan Alloh menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dengan keberuntungan mereka, mereka tidak tertimpa kejelekan dan tidak pula mereka bersedih hati.”

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ayat yang mulia ini adalah seruan kepada seluruh pelaku maksiat dari kalangan orang-orang kafir dan yang lainnya untuk bertobat dan segera kembali, dan ini adalah pengabaran bahwasanya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya bagi orang yang bertobat darinya dan kembali darinya, seperti apapun dosa itu, sekalipun dosanya banyak, dan sekalipun dia seperti buih di lautan. Dan tidaklah sah membawa ayat ini kepada makna orang yang tidak bertobat, karena syirik itu tidak diampuni bagi orang yang tidak bertobat darinya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 106).

            Dan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما : “Bahwasanya ada sekelompok orang dari musyrikin dulu banyak membunuh, dan banyak berzina. Lalu mereka mendatangi Muhammad صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Sesungguhnya perkara yang engkau katakan dan engkau serukan itu sungguh bagus. Maukah engkau kabarkan pada kami bahwasanya perkara yang kami amalkan itu ada penghapusnya?” maka turunlah ayat:

﴿والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولا يزنون﴾

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain beserta Alloh dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,”

Dan turunlah ayat:

﴿قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله﴾.

“Katakanlah wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh,

(HR. Al Bukhoriy (4810) dan Muslim (122)).

            Dalil-dalil ini menunjukkan tentang luasnya rohmat Alloh, dan agungnya kesabaran Alloh, dan bahwasanya rohmat-Nya itu mengalahkan kemurkaan-Nya. Dan kelanjutan dari ayat Al Furqon tadi adalah:

﴿ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا * يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا * إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ الله سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ الله غَفُورًا رَحِيمًا﴾ [الفرقان: 68 – 70]

“Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

            Sekalipun demikian, tidak boleh bagi seseorang untuk menyodorkan dirinya kepada kebinasaan akibat maksiat, hanya saja jika dia diuji dengan itu, kemudian Alloh memberinya taufiq untuk bertobat, maka hendaknya dia memuji Alloh, karena bisa jadi kondisinya lebih baik daripada orang yang tidak pernah diuji sama sekali.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Bahwasanya ada di antara manusia orang yang dengan perasaan dia bisa mengetahui adanya kejelekan dan dia lari darinya, dan dia cinta pada kebaikan jika dia merasakan itu, yang tidak didapatkan oleh sebagian orang, seperti orang yang dulunya musyrik atau yahudi atau nashroni, dan dia telah mengetahui perkara yang ada pada kekufuran, yang berupa syubuhat, ucapan-ucapan rusak, kegelapan dan kejelekan, kemudian Alloh melapangkan dadanya untuk memeluk Islam, dan memberinya pengetahuan tentang kebagusan-kebagusan islam, maka bisa jadi dia lebih cinta pada Islam dan lebih benci pada kekufuran daripada sebagian orang yang tidak mengenal hakikat kufur dan Islam bahkan dia berpaling dari sebagian hakikat perkara ini dan itu, atau sekedar membebek untuk memuji perkara ini dan mencela perkara itu.

            Misalkan adalah: orang yang merasakan rasa lapar lalu dia merasakan rasa kenyang setelah itu, atau merasakan sakit lalu merasakan sehat setelah itu, atau merasakan ketakutan lalu dia merasakan keamanan setelah itu, maka sungguh kecintaannya dan minatnya pada kesehatan, keamanan dan rasa kenyang dan larinya dia dari rasa lapar, takut dan sakit itu lebih besar daripada orang yang belum pernah diuji dengan itu dan belum mengetahui hakikatnya.

            Demikian pula orang yang masuk bersama mubtadi’ dan orang-orang jahat, kemudian Alloh menjelaskan pada dirinya kebenaran dan memberi dia taufiq untuk bertobat dengan tobat yang jujur, dan memberi dia rizqi jihad di jalan Alloh, maka bisa jadi penjelasan dia terhadap keadaan mereka, dan boikot dia terhadap kejelekan mereka, dan jihad dia terhadap mereka lebih besar daripada orang lain. Nu’aim bin Hammad Al Khuza’iy keras terhadap Jahmiyyah, beliau berkata: “Aku keras terhadap mereka karena aku dulu termasuk dari mereka.” Alloh ta’ala berfirman:

﴿للذين هاجروا من بعد ما فتنوا ثم جاهدوا وصبروا إن ربك من بعدها لغفور رحيم ﴾ [ النحل : 110 ]

“Dan Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

            Ayat ini turun tentang sekelompok Shohabat yang dulu kaum musyrikin memfitnah mereka dari agama mereka, lalu Alloh memberi mereka tobat, lalu mereka berhijroh kepada Alloh dan Rosul, dan berjihad dan bersabar.

            Dan dulu Umar ibnul Khoththob dan Kholid ibnul Walid رضي الله عنهماtermasuk orang yang paling keras terhadap Islam. Ketika keduanya masuk Islam, kedua maju melampaui orang yang mendahului keduanya masuk Islam, dan jadilah sebagian orang yang mendahului keduanya itu lebih rendah dari keduanya di dalam keimanan dan amal sholih dikarenakan keduanya punya kesempurnaan jihad terhadap orang-orang kafir dan menolong Alloh dan Rosul-Nya. Dan Umar karena kesempurnaan imannya, keikhlasannya, kejujurannya, pengetahuannya, firasatnya dan cahayanya, beliau paling jauh dari hawa nafsu dan paling tinggi cita-citanya dalam menegakkan agama Alloh, didahulukan di atas seluruh muslimin kecuali Abu Bakr رضي الله عنهم أجمعين . Perkara ini dan yang lainnya menjelaskan bahwasanya yang terpandang adalah kesempurnaan akhirnya, bukan kekurangan permulaannya.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 302-304).

 

Bab Dua:

Dosa dan Sebagian Bahayanya

 

Pasal Satu: Definisi Dosa

            Ibnu Manzhur رحمه الله berkata: “Dosa (الذنب) itu adalah dosa (إثم), kejahatan (جرم) dan kedurhakaan (معصية). Jamaknya adalah dzunub (ذنوب).” (“Lisanul Arob”/1/hal. 389).

            Ar Roghib  berkata tentang dosa-dosa: “Dan istilah ini dipakai pada setiap perbuatan yang akibatnya itu buruk, dinilai dari istilah (ذنب الشيء) “ekor suatu perkara”, oleh karena itu maka dosa dinamakan dengan akibat buruk (تبعة), dinilai dari akibat yang dihasilkan. Jamaknya adalah dzunub. Alloh ta’ala berfirman:

﴿فأخذهم الله بذنوبهم﴾ [آل عمران/ 11] ،

“Maka Alloh menghukum mereka dengan sebab dosa-dosa mereka.”

Dan berfirman:

﴿فكلا أخذنا بذنبه﴾ [العنكبوت/ 40] ،

“Maka masing-masing dari mereka Kami hukum dia dengan sebab dosanya.”

Dan berfirman:

﴿ومن يغفر الذنوب إلا الله﴾ [آل عمران/ 135] ،

“Dan siapakah yang mengampuni dosa selain Alloh?”

Dan ayat-ayat yang selain itu.”

(“Al Mufrodat Fi Ghoribil Qur’an”/hal. 331).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan demikian pula lafazh dzunub jika disebutkan, masuk ke dalamnya: menginggalkan setiap perkara yang wajib, dan mengerjakan setiap perkara yang diharomkan, dalam firman-Nya:

﴿يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الله إِنَّ الله يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا﴾ [الزمر/53]

“Katakanlah wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rohmat Alloh, sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya

            Kemudian terkadang dia digandeng dengan yang lainnya, seperti dalam firman-Nya:

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا﴾ [آل عمران/147].

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami.”

(“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 166-167).

 

Pasal Dua: Sesungguhnya Dosa Itu Membahayakan

            Sesungguhnya dosa-dosa itu punya bahaya terhadap hati, badan, agama dan akhirat, sebagaimana akan Anda lihat di sela-sela pembahasan. Alloh subhanah berfirman:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ﴾[الشورى: 30].

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).”

            Ayat ini dalil bahwasanya dosa-dosa merupakan sebab terjadinya musibah-musibah, bersamaan bahwasanya Alloh telah memaafkan banyak dari kesalahan kita. Andaikata bukan karena karunia dan rohmat Alloh kepada kita, pastilah kita termasuk dari orang-orang yang rugi.

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Firman-Nya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri,” yaitu: musibah-musibah apapun yang menimpa kalian wahai manusia, maka hanyalah itu berasal dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan untuk kalian. “Dan Alloh memaafkan sebagian besar” yaitu dari kesalahan-kesalahan, maka Alloh ridak membalas kalian berdasarkan kesalahan-kesalahan itu, tapi bahkan Alloh memaafkannya.”

﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ الله النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ﴾ [ فاطر : 45 ] .

“Dan kalau sekiranya Alloh menyiksa manusia disebabkan usaha mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun”

(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/7/hal. 207).

            Dan Alloh tabaroka wata’ala berfirman:

﴿مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ الله أَنْصَارًا﴾ [نوح/25]

“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Alloh”.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan itu membahayakan manusia lebih besar daripada apa yang dibahayakan oleh racun.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 348).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan barangsiapa mengira bahwasanya dosa-dosa itu tidak membahayakan bagi orang yang bersikeras di atasnya, maka dia itu sesat menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan ijma’ salaf dan para imam. Bahkan barangsiapa mengamalkan sebiji dzarroh kejelekan, dia akan melihat (balasan)nya.” (“Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 256).

            Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan barangsiapa mengerjakan dosa-dosa besar dan bersikeras di atasnya dan tidak bertobat darinya, maka sungguh Alloh membenci perbuatannya itu sebagaimana Dia mencintai perbuatan baik yang datang darinya, karena kecintaan-Nya untuk hamba-Nya itu sesuai kadar imannya dan taqwanya. Maka barangsiapa mengira bahwasanya dosa-dosa itu tidak membahayakannya, bahwasanya Alloh mencintainya dalam keadaan dia bersikeras di atasnya, maka dia itu seperti orang yang mengira bahwasanya meminum racun itu tidak membahayakannya dalam keadaan dia rutin meminumnya dan tidak mau mengobatinya dengan kesehatan metabolismenya.

            Andaikata si tolol itu mau merenungkan apa yang Alloh ceritakan dalam kitab-Nya, yang berupa kisah-kisah para Nabi dan tobat dan istighfar yang berlangsung dari mereka, dan berbagai ujian yang menimpa mereka, yang di dalamnya ada pensucian untuk mereka, dan pembersihan sesuai dengan kondisi mereka terhadap sebagian bahaya dosa-dosa terhadap pelakunya sekalipun dia adalah orang yang paling tinggi posisinya.”

(“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 208).

            Dan termasuk dari bahaya maksiat adalah: dicabutnya ilmu dan petunjuk, sehingga sang hamba bertambah menyimpang dan tersesat. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan Alloh subhanah menjadikan termasuk dari hukuman yang ditimpakan kepada manusia dengan sebab dosa-dosa adalah dicabutnya petunjuk dan ilmu nafi’ seperti firman-Nya:

﴿وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ الله بِكُفْرِهِم﴾ [البقرة/88]،

“Dan mereka berkata: “Hati-hati kami tertutup,” bahkan Alloh melaknat mereka dengan sebab kekafiran mereka.”

Dan berfirman:

﴿وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ * وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ﴾ [الأنعام/109، 110]،

“Apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya.”

Dan berfirman:

﴿فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ الله مَرَضًا﴾ [البقرة/10]،

“Di dalam hati mereka ada penyakit maka Alloh menambahi mereka dengan penyakit.”

Dan berfirman:

﴿فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ الله قُلُوبَهُمْ﴾ [الصف/5].

“Manakala mereka menyeleweng, Alloh menyelewengkan hati-hati mereka.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/14/hal. 152).

            Dan akan datang tambahan pembahasan tentang ini insya Alloh ta’ala.

            Kemudian sesungguhnya kemaksiatan itu membakar hati dan menjadikannya di dalam kegundahan dan kesedihan. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “sesungguhnya firman-Nya:

﴿ولهم عذاب مقيم﴾]سورة التوبة الآية: 68[

“Dan mereka akan mendapatkan siksaan yang tidak terputus.”

Isyarat kepada siksaan yang terus-menerus menyertai mereka di dunia yang berupa rasa sakitnya jiwa: kegundahan, kesedihan, kerasnya hati, gelapnya hati dan kebodohan, karena kekufuran dan kemaksiatan itu termasuk rasa sakit yang disegerakan yang lestari, yang Alloh ketahui. Oleh karena itulah engkau dapati bahwasanya kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan penghidupan yang baik kecuali dengan bahan yang bisa menghilangkan akal dan melalaikan hati, dengan mengkonsumsi bahan yang memabukkan, atau menonton permainan atau mendengar suara yang menghanyutkan, dan semisal itu.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/1/hal. 110/cet. Maktabatur Rusyd).

            Ini adalah sedikit petikan dari bahaya-bahaya maksiat. Maka sang hamba harus segera bertobat dari dosa-dosanya dan tidak berlambat-lambat sehingga luputlah kesempatan tobatnya sehingga dia menyesal dan bukanlah saat itu adalah waktu untuk menyesal. Alloh ta’ala berfirman:

﴿حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾ [المؤمنون: 99، 100].

“(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”

            Maka dikarenakan besarnya kebutuhan sang hamba kepada tobat dan memperbanyak istighfar, saya akan memaparkan kepada Anda sekalian petikan-petikan penting dari hukum-hukum tobat dan istighfar.

 

Bab Tiga:

Definisi Tobat, Maghfiroh dan Perkara Yang Terkait Dengan Hukumnya

 

Pasal Satu: Definisi Maghfiroh dan Istighfar

            Sebagian ahli bahasa berkata: “Sesungguhnya maghfiroh adalah ditutupnya dosa.” Definisi ini butuh penyempurnaan. Bahkan yang benar menurut para peneliti bahwasanya maghfiroh adalah ditutupnya dosa dan dihapuskannya.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan di antara manusia ada yang berkata: “Ghofr adalah satr (penutupan). Dan dia berkata: “Hanyalah dinamakan maghfiroh dan ghifar karena di dalamnya ada makna penutupan. Dan tafsir dari nama Alloh Al Ghoffar adalah: Sattar (Yang Maha Menutupi dosa).” Dan ini kurang dalam makna ghofr, karena maghfiroh (pengampunan) itu maknanya adalah perlindungan dari kejelekan dosa, yang mana orang ini tidak dihukum karena dosanya itu. Maka barangsiapa dosanya itu diampuni, dia tidak akan dihukum dengan sebab dosa tadi. Adapun sekedar penutupan dosa, maka bisa jadi dia masih akan dihukum secara rahasia. Dan barangsiapa dihukum secara rahasia atau terang-terangan dengan sebab dosanya tadi, maka dia itu belum diampuni.

            Dan hanyalah terjadi ghufronudz dzanb (pengampunan dosa) itu jika dia tidak dihukum dengan sebab dosa tadi dengan hukuman yang berhak diterimanya dengan dosa tadi.”

(“Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 317).

            Dan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka istighfar tersendiri itu adalah seperti tobat, bahkan dia itu adalah tobat itu sendiri, disertai dengan kandungan permohonan ampunan dari Alloh, dan dia itu adalah penghapusan dosa dan penghilangan bekasnya, serta perlindungan dari kejelekannya, bukan seperti yang diduga oleh sebagian orang: “Maghfiroh itu adalah ditutupnya dosa” karena sesungguhnya Alloh menutupi dosa bagi orang yang dia ampuni dan bagi orang yang tidak dia ampuni.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 307).

            Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ghofr adalah penutupan dan tidak menghukum dengan sebab dosa tadi.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/3/hal. 481).

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan istighfar adalah mohon ampunan. Dan ampunan itu adalah perlindungan dari kejelekan dosa-dosa disertai dengan ditutupinya dosa tadi.” (“Jami’ul Ulum Wal Hikam”/hal. 678/cet. Dar Ibni Rojab).

            Dengan penjelasan ini kita memahami bahwasanya pengampunan dosa itu lebih besar daripada sekedar ditutupinya kesalahan. Dan Alloh telah membedakan antara kedua perkara ini dalam firman-Nya:

﴿رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ﴾ [آل عمران: 193].

“Ya Robb kami, maka ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

            Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan firman-Nya: “Maka ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,” maka Alloh mengkhususkan dzunub (dosa-dosa) dengan maghfiroh (ampunan), dan sayyiat (kesalahan-kesalahan) dengan takfir (penghapusan). Terkadang dikatakan: Sayyiat itu khusus untuk dosa-dosa kecil, dan dzunub itu dikehendaki dengannya dosa-dosa besar. Maka sayyiat itu dihapus, karena Alloh menjadikan untuknya penghapusan-penghapusan di dunia secara syar’iyyah dan taqdir. Dan dzunub itu butuh pada maghfiroh yang melindungi pelakunya dari kejelekannya.

            Maghfiroh dan takfir itu berdekatan maknanya, karena maghfiroh itu terkadang dikatakan sebagai ditutupnya dosa-dosa, dan dikatakan sebagai perlindungan dari kejelekan dosa disertai dengan ditutupinya dosa itu. Oleh karena itulah maka alat yang menutupi kepala dan melindunginya di dalam peperangan itu dinamakan sebagai mighfar. Dan tidaklah setiap alat yang menutupi kepala itudinamakan sebagai mighfar.

            Dan Allooh telah mengabarkan tentang para malaikat-Nya bahwasanya mereka itu mendoakan kaum mukminin yang bertobat itu dengan maghfiroh dan perlindungan dari sayyiat dan takfir dari jenis ini, karena asal dari kufr (penutupan) adalah satr (penutupan) dan taghthiyah (penutupan) juga.

            Dan sebagian orang belakangan telah membedakan di antara keduanya: bahwasanya takfir adalah penghapusan bekas dosa sampai seolah-olah dia itu tidak pernah ada. Dan maghfiroh itu –bersamaan dengan itu- mengandung karunia dan pemuliaan Alloh pada sang hamba. Tapi ini perlu diperiksa lagi. Dan terkadang ditafsirkan bahwasanya maghfirotudz dzunub itu adalah dengan amal sholih yang membaliknya menjadi kebaikan-kebaikan, dan penghapusannya dengan sebab-sebab penghapus hanyalah menghilangkannya saja. Ini juga perlu diteliti lagi, karena telah shohih bahwasanya dosa-dosa yang pelakunya dihukum dengan sebab itu dengan masuk ke dalam neraka akan diganti menjadi kebaikan-kebaikan. Maka penghapus dengan amalan sholih yang menjadi kaffaroh (penghapus) untuknya itu lebih pantas untuk mengalami yang seperti itu.

            Dan ini mengandung dua kemungkinan makna yang lain:

            Yang pertama: bahwasanya maghfiroh itu tidak dihasilkan kecuali dengan tidak adanya hukuman dan sangsi, karena maghfiroh itu adalah perlindungan dari kejelekan dosa secara keseluruhan. Dan takfir itu terkadang terjadi setelah adanya hukuman, karena musibah-musibah duniawi itu semuanya adalah penghapus untuk kesalahan-kesalahan, dan itu adalah hukuman-hukuman. Dan demikian pula pemaafan itu terkadang terjadi bersama adanya hukuman dan tanpa hukuman. Demikian pula rohmat.

            Yang kedua: bahwasanya kaffaroh-kaffaroh (penghapus) yang berupa amalan-amalan yang Alloh jadikan untuk menghapus dosa-dosa yang bisa dihapus dengannya, dan jadilah itu sebagai pahala bagi amalan itu, amalan tadi tak punya pahala selain itu. Dan yang dominan dari amalan tadi adalah dia itu termasuk dari jenis penyelisihan terhadap hawa nafsu, dan memikul kesulitan dalam menentang nafsu, seperti menjauhi dosa-dosa besar yang Alloh jadikan sebagai penghapus bagi dosa-dosa kecil.

            Adapun amalan yang dengannya dosa-dosa besar itu diampuni, maka ituadalah amalan yang lain, dan berkumpul di dalamnya maghfiroh dan pahala untuk amalan tadi, seperti dzikir yang ditulis dengannya kebaikan-kebaikan, dan terhapus dengannya kesalahan-kesalahan. Dan berdasarkan segi ini, dibedakanlah antara kaffarot dari amalan-amalan dan yang lainnya. Adapun penghapusan dosa dan pengampunannya jika yang demikian itu dinisbatkan kepada Alloh, maka tiada beda di antara kedua perkara tadi. Dan berdasarkan segi yang pertama, jadilah di antara keduanya ada perbedaan juga.”

(selesai dari “Jami’ul Ulum Wal Hikam”/ha. 318-319/Dar Ibni Rojab).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka dzunub itu yang dimaksud dengannya adalah dosa-dosa besar. Dan dimaksud dengan sayyiat adalah dosa-dosa kecil, dan itu adalah kesalahan yang bisa dihapus dengan kaffaroh, dia itu berupa kekeliruan dan yang seperti itu. Oleh karena itulah Alloh menjadikan dia itu punya kaffaroh (penghapus), dan darinya diambil istilah kaffaroh. Oleh karena itulah dia tak punya kekuasaan dan tidak berfungsi terhadap doda-dosa besar, menurut pendapat yang paling shohih. Sehingga kaffaroh tadi tidak berfungsi pada pembunuhan yang disengaja, ataupun sumpah maksiat berdasarkan zhohir madzhab Ahmad dan Abu Hanifah.

            Dan dalil bahwasanya sayyiat (kejelekan-kejelekan) adalah dosa kecil dan bahwa dia itu bisa dihapus (dengan kaffaroh) adalah firman Alloh ta’ala:

﴿إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيماً﴾

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).”

            Dan dalam “Shohih Muslim” dari Abu Huroiroh رضي الله عنهbahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر ».

“Sholat yang lima, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa-dosa di antaranya, jika dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim (574)).

            Dan lafazh “maghfiroh” itu lebih sempurna daripada lafazh “takfir”. Oleh karena itulah maka lafazh “maghfiroh” itu menyertai kabair (dosa-dosa besar), dan lafazh “takfir” itu menyertai shoghoir (dosa-dosa kecil), karena lafazh “maghfiroh” itu mengandung perlindungan dan penjagaan, sementara lafazh “takfir” itu mengandung makna menutupan dan penghilangan.

            Ketika lafazh ini disendirikan dalam penyebutan, maka satu sama lain masuk kepada yang temannya, sebagaimana telah terdahalu dalam firman-Nya ta’ala:

﴿كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ﴾

“Alloh menghapus dari mereka kesalahan-kesalahan mereka.”

Ini mencakup dosa-dosa kecil dan besar, menghapusnya dan melindungi dari kejelekannya. Bahkan takfir itu sendiri mencakup amalan yang paling jelek seperti firman Alloh ta’ala:

﴿لِيُكَفِّرَ الله عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا﴾.

“Agar Alloh menghapus dari mereka amalan yang paling jelek yang dulu mereka kerjakan.”

            Maka jika ini dipahami, terpahamilah rahasia dari janji Alloh terhadap musibah-musibah, kegundahan, kecemasan, kecapekan, keletihan dengan adanya takfir (penghapusan) tanpa lafazh maghfiroh (ampunan), seperti sabda Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits shohih:

«ما يصيب المؤمن من هم ولا غم ولا أذى حتى الشوكه يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه»

“Tidaklah menimpa seorang mukmin, baik berupa kegundahan, kecemasan ataupun gangguan sampai duri yang menusuknya kecuali Alloh menghapus dengan itu sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” [HR. Al Bukhoriy (5641-5642) dari Abu Huroiroh dan Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنهما. Dan diriwayatkan Muslim (2572) dekat dengan itu dari Aisyah رضي الله عنها].

            Karena sesungguhnya musibah-musibah itu tidak menyendiri dengan pengampunan dosa-dosa dan tidak mengampuni dosa-dosa seluruhnya kecuali dengan tobat, atau dengan kebaikan-kebaikan yang dosa-dosa itu luluh dan luntur di dalamnya, maka dia itu seperti lautan yang tidak berubah dengan bangkai. Dan jika air itu mencapai dua qullah, dia tidak membawa kotoran.”

(selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 238-239).

 

Pasal Dua: Hakikat Tobat dan Syarat-syaratnya

            Tobat secara bahasa: kembali. Dan tobat dari dosa itu bermakna kembali kepada Alloh dengan meninggalkan dosa itu disertai dengan penyesalan terhadap dosa yang telah lewat, bertekad untuk tidak kembali kepadanya. Dan termasuk dari kesempurnaan tobat adalah berkonsentrasi pada Alloh dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

            Al Hulaimiy رحمه الله berkata: “Dan definisi tobat adalah: memotong maksiat seketika sekalipun telah berlangsung lama, menyesali dosa yang telah lewat, bertekad untuk tidak kembali kepadanya.” (“Syu’abul Iman”/9/hal. 277).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka tobat itu adalah kembali dari perkara yang Alloh benci kepada perkara yang Alloh cintai, dan bukanlah sekedar meninggalkan perkara jelek, karena sesungguhnya orang yang meninggalkan dosa dengan sekedar meninggalkan tapi dia tidak kembali darinya kepada perkara yang dicintai Robb ta’ala, maka orang ini bukanlah orang yang bertobat. Tobat itu adalah sikap kembali, menghadapkan diri, dan kembali dengan cepat, bukan sekedar meninggalkan dosa saja.” (“Al Fawaid”/hal. 127).

            Sesungguhnya tobat itu tidak sah kecuali dengan syarat-syaratnya. Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Para sahabat kami dan ulama yang lain berkata: tobat punya tiga syarat: berhenti dari maksiat, menyesali perbuatan tadi, dan bertekad pasti untuk tidak kembali ke dosa semisal itu selamanya. Maka jika kemaksiatan terkait dengan manusia, maka dia punya syarat keempat: yaitu mengembalikan kezholiman kepada pemiliknya, atau mendapatkan pembebasan darinya.” (“Syarh Shohih Muslim”/17/hal. 25).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka hakikat tobat adalah menyesali perbuatan yang muncul dari dia di masa lalu, berhenti dari itu seketika, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa mendatang. Dan tiga perkara ini berkumpul di waktu terjadinya tobat, karena dia itu di waktu tersebut menyesal, berhenti dan bertekad. Maka ketika itu dia kembali kepada ibadah yang dia memang diciptakan untuk itu. Dan sikap kembali inilah hakikat tobat. Manakala tobat tadi tergantung pada tiga perkara ini, dijadikanlah tiga perkara ini sebagai syarat bagi tobat.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 182).

            Al Imam Ibnu Muflih رحمه الله berkata: “Dan tobat adalah: menyesali kemaksiatan dan dosa-dosa yang telah lalu, bertekad untuk meninggalkannya selamanya demi Alloh عز وجل bukan demi manfaat dunia atau karena adanya gangguan, dan bukan karena dipaksa, bahkan karena pilihan dia sendiri ketika terbebani.” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/hal. 114).

            Dan ini menunjukkan bahwasanya termasuk dari syarat sahnya tobat –dan seluruh ibadah- adalah ikhlas pada Alloh semata.

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Tobat itu termasuk kebaikan terbesar. Dan kebaikan itu semuanya disyaratkan di dalamnya ada keikhlasan untuk Alloh, dan menyesuaikan dengan perintah-Nya dan mengikuti Rosul-Nya. Dan istighfar itu adalah termasuk kebaikan terbesar. Dan babnya itu luas. Maka barangsiapa merasakan kekurangan dalam ucapannya, amalannya, keadaannya atau rizqinya atau berbolak-baliknya hati, maka dia harus memegang tauhid dan istighfar, karena di dalamnya ada obat jika keduanya dikerjakan dengan jujur dan ikhlas.” (“Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 698).

 Maka tobat itu tidak sah jika sebabnya adalah malu pada para makhluk. Al Imam Ibnu Muflih رحمه الله berkata: “Dan jika dia menahan diri (dari kesalahan) karena malu dari manusia, maka tobatnya tidak sah, dan tidak dicatat untuknya kebaikan.” (“Al Adabusy Syar’iyyah”/hal. 116).

 

Pasal Tiga: Antara Tobat dan Istighfar

            Sesungguhnya tobat dan istighfar jika bergabung dalam satu pembicaraan, maknanya berbeda. Tapi jika keduanya terpisah, maka keduanya menunjukkan kepada makna yang sama.

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka istighfar itu mengandung tobat. Dan tobat itu mengandung istighfar. Masing-masingnya masuk kepada istilah dari temannya. Ketika disebutkan. Adapun ketika salah satu dari lafazh tadi bergandengan dengan yang lainnya, maka istighfar itu bermakna: meminta perlindungan dari kejelekan dosa di masa lalu. Dan tobat itu bermakna: kembali dan mencari perlindungan dari kejelekan perkara yang ditakuti di masa mendatang dari kejelekan amalannya.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 308).

 

Pasal Empat: Hukum Tobat

            Sesungguhnya tobat itu adalah wajib, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

﴿وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ﴾ [هود: 3]،

“Dan mohon ampunlah kalian pada Robb kalian kemudian bertobatlah kalian kepada-Nya.”

Dan firman-Nya subhanah:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى الله تَوْبَةً نَصُوحًا﴾ [التحريم: 8]،

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya.”

Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى الله جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [النور/31]

“Dan bertaubatlah kalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”

            Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dan tiada perselisihan di antara umat ini tentang wajibnya tobat, dan bahwasanya tobat itu fardhu ‘ain.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/12/hal. 238).

            Al Hulaimiyرحمه الله berkata: “Telah tetap dengan Al Kitab dan As Sunnah tentang wajibnya tobat pada Alloh bagi seluruh orang yang berdosa, dan bersegeranya hati untuk kembali, dan bahwasanya Alloh tabaroka wata’ala itu menerima tobat dari hamba-Nya dan tidak menolaknya.” (“Syu’abul Iman”/Al Baihaqiy/9/hal. 277).

            Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan hamba itu diperintahkan untuk terus-menerus bertobat pada Alloh ta’ala. Dan Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى الله جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [النور/31]

“Dan bertaubatlah kalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”

            Dan dalam Shohihul Bukhoriy dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

«أيها الناس توبوا إلى ربكم فوالذي نفسي بيده إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة»

“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Robb kalian. Maka demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku benar-benar memohon ampun pada Alloh dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”([1])

Dan dalam Shohih Muslim dari beliau صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«إنه ليغان على قلبي وإني لأستغفر الله في اليوم مائة مرة».

“Sesungguhnya terkadang hatiku terselimuti semacam kelupaan, dan sungguh aku mohon ampun pada Alloh dalam sehari seratus kali.”([2])

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 253).

            Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari kewajiban terbesar adalah bertobat setelah dosa.” (“Al Fawaid”/hal. 16).

Pasal kelima: tata cara bertobat dari dosa yang rahasia dan dosa yang terang-terangan

            Sesungguhnya setiap posisi punya pembicaraan yang sesuai dengan porsinya. Maka barangsiapa berbuat dosa secara rahasia, maka dia wajib untuk bertobat secara rahasia antara dirinya dengan Robbnya عز وجل,dan dia tidak wajib mengumumkan tobatnya tadi. Dan barangsiapa berbuat dosa secara terang-terangan, maka dia wajib untuk bertobat secara terang-terangan pula.

            Syaikhul Islam رضي الله عنه berkata: “Maka barangsiapa berbuat dosa secara rahasia, maka dia wajib untuk bertobat secara rahasia,dan dia tidak wajib mengumumkan dosanya tadi, sebagaimana dalam hadits:

«من ابتلي بشيء من هذه القاذورات فليستتر بستر الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله».

“Barangsiapa diuji dengan sesuatu dari kotoran ini, maka hendaknya dia menutupi diri dengan tabir dari Alloh, karena sesungguhnya barangsiapa menampakkan pada kami amalannya, maka kami akan menegakkan terhadapnya Kitabulloh.”([3])

            Dan di dalam “Ash Shohih”:

«كل أمتي معافى إلا المجاهرين، وإن من المجاهرة أن يبيت الرجل على الذنب قد ستره الله عليه فيكشف ستر الله عنه».

“Setiap umatku itu dimaafkan kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Dan sesungguhnya termasuk berbuat terang-terangan adalah: seseorang berbuat dosa di waktu malam, dan Alloh telah menutupinya, lalu dia sendiri yang menyingkap tabir Alloh darinya.”([4])

            Maka jika nampak dari hamba itu dosa maka wajib nampak pula tobatnya. Jika dia mengingkari telah berbuat dosa, maka berarti tobatnya itu tidak nampak, karena orang yang mengingkari itu mendakwakan bahwasanya dia tidak berbuat dosa. Oleh karena itulah maka Salaf dulu mempergunakan kaidah ini terhadap orang yang menampakkan kebid’ahan atau kejahatan, karena sesungguhnya ini adalah kondisi orang-orang sesat yang paling jelas, sementara yang itu adalah kondisi orang-orang termurkai yang paling jelas. (“Majmu’ul Fatawa”/15/hal. 302-303).

            Beliau  jugaرحمه الله berkata: “Maka mengemukakan udzur bagi jiwa (yang berdosa tadi) dengan cara batil, dan berdebat demi membela dirinya adalah tidak boleh. Bahkan jika dia berbuat dosa secara rahasia antara dirinya dengan Alloh, hendaknya dia mengakuinya pada Robbnya akan dosa dirinya, dan merunduk pada-Nya dengan hatinya, dan memohon-Nya ampunan-Nya dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya Alloh itu Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Menerima tobat. Dan jika kejelekannya itu nampak, maka tobatnya juga harus nampak. Jika dia menampakkan kebagusan tapi menyembunyikan kebusukan, hendaknya dia tobat secara rahasia dari kebusukan tadi. Maka barangsiapa berbuat jelek secara rahasia, hendaknya dia berbuat baik (bertobat) secara rahasia. Dan jika dia berbuat jelek secara terang-terangan, hendaknya dia berbuat baik (bertobat) secara terang-terangan, karena:

إن الحسنات يذهبن السيئات، ذلك ذكرى للذاكرين .

“Sesungguhnya kebaikan itu menghilangkan kejelekan. Yang demikian itu adalah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

 (selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/14/hal. 447).

Faidah:

            Maka barangsiapa terang-terangan berbuat fasiq dan tidak malu, maka bukanlah termasuk ghibah jika dia dibicarakan terang-terangan, bahkan boleh untuk dia itu dibicarakan secara terbuka. Adapun seorang mukmin yang terkenal sholih, jika kakinya tergelincir, maka hendaknya dia dinasihati dan tidak dibongkar aibnya. Dari Abdulloh bin Umar رضي الله عنهما berkata: Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يسلمه. ومن كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته، ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه كربة من كربات يوم القيامة، ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة».

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzholiminya, tidak menyerahkannya (pada musuh), barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Alloh akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa menghilangkan suatu kesulitan dari seorang muslim, maka Alloh akan menghilangkan darinya suatu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari Kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim, Alloh akan menutup aibnya pada Hari Kiamat.” (HR.Al Bukhoriy (2447) dan Muslim (2580)).

            Sisi pendalilan di sini adalah sabda beliau: Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim, Alloh akan menutup aibnya pada Hari Kiamat.”

            Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Adapun tabir penutup yang mustahab di sini adalah tabir untuk menutupi orang-orang yang mulia dan semisal mereka, dari kalangan orang yang tidak dikenal suka mengganggu atau merusak. Adapun orang yang terkenal dengan kejelekan itu tadi maka yang mustahab adalah kejelekannya itu tidak ditutupi, bahkan harus dinaikkan kasusnya itu ke pemerintah, jika ditakutkan ada kerusakan dengan sebab tadi, karena menutupi orang macam ini akan membikin dia makin suka mengganggu, merusak dan melanggar kehormatan-kehormatan, dan membikin orang lain lancang untuk berbuat semisal perbuatannya itu. Ini semua dalam masalah menutupi maksiat yang telah terjadi dan telah selesai. Adapun maksiat yang dia lihat orang itu sedang mengerjakannya, maka wajib untuk bersegera untuk mengingkarinya dan menghalanginya, bagi orang yang sanggup melakukan pencegahannya. Dan tidak halal menundanya. Jika dia tidak sanggup melakukan itu maka dia wajib untuk menaikkan kasusnya pada pemerintah, jika tidak mengakibatkan kerusakan. Adapun kritikan terhadap para rowi, saksi, orang kepercayaan terhadap shodaqoh dan waqof, dan anak yatim dan semisal mereka, maka wajib untuk di-jarh jika dibutuhkan, dan tidak halal menutupi mereka jika melihat dari mereka perkara yang mencoreng keahlian mereka. Dan ini bukanlah termasuk dari ghibah yang diharomkan bahkan ini adalah termasuk dari nasihat yang wajib. Dan ini ijma’.” (“Al Minhaj”/16/hal. 351/cet. Darul Ma’rifah).

 

 

(sampai di sini dulu terjemahan bagian pertama ini, semoga Alloh memberkahi).

 

والحمد لله رب العالمين


([1]) HR. Al Bukhoriy (6307) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه dari Nabi dengan lafazh:

«والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة».

“Demi Alloh, sungguh aku benar-benar memohon ampun pada Alloh dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Dan diriwayatkan oleh Muslim (2702) dari Al Aghorr رضي الله عنه dari Nabi dengan lafazh:

«يا أيها الناس توبوا إلى الله فإني أتوب في اليوم إليه مائة مرة».

“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Alloh. Karena sungguh aku benar-benar bertobat dalam sehari seratus kali.”

([2]) Diriwayatkan oleh Muslim (2702) dari Al Aghorr رضي الله عنه .

 

([3]) Hadits ini minimal hasan lighoirih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (6160), Abu Ya’la (5609), At Tirmidziy (3880) dan Al Hakim (7659) dari Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وسلم . di dalam sanadnya ada Makhul, beliau itu mudallis dan meriwayatkan secara ‘an’anah.

Hadits ini punya pendukung dari riwayat Abdurrohman ibnul Bailamaniy yang berkata: “Empat orang Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم .” lalu dia meriwayatkan hadits ini. Ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (15538) dan Al Baihaqiy dalam “Syu’abul Iman” (6667). Abdurrohman ibnul Bailamaniy lembek dalam hadits.

([4]) HR. Al Bukhoriy (6069) dan Muslim (2990) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه.