“Keajaiban Alloh Yang Besar, Dalam Perang Dammaj Lima Shofar.”

Diterjemahkan oleh Saudara Kami Yang Mulia : Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsy

Berikut ini secara pelan-pelan  ana akan terjemahkan surat persaksian Akh Abu Ya’qub Abdul Fattah Al ‘Adaniy hafizhohulloh tentang keajaiban pertempuran senin sore yang telah lalu.

بسم الله الرحمن الرحيم
Berikut ini adalah penyebutan sedikit dari apa yang aku ingat tentang kejadian perang malam Selasa di Alu Manna’, dan wilayah pertahanan ikhwah Hudaidah di Hadb pada pukul  04:40. WY
Saat itu juru tembak yng ada di tempat pertahanan kami menembaki hutsiyyun. Ketika dia menembak, Alloh mengarahkannya secara tepat dan mengenai mereka, merekapun menembaki matras ini dengan tembakan tank berkali-kali. Ketika tembakan-tembakan mereka tidak kena, merekapun menembakinya dengan beberapa mortir.
Lalu hutsiyyun mulai menembaki dengan senjata-senjata berat, menengah dan ringan secara dahsyat. Semoga Alloh memerangi mereka, kemanakah mereka dipalingkan? Mereka pada awalnya memusatkan serangan ke matras saudara-saudara kita pelajar Hajjah dan Roimah, karena kedua matras ini memang paling dekat dengan musuh. Musuh berupaya menekan dan mendekat ke matras tadi dengan tekanan dan tembakan bagaikan hujan deras.Mereka berupaya menghabiskan amunisi yang ada pada kami, akan tetapi Alloh menggagalkan usaha mereka. Para ikhwah berupaya sekuat tenaga untuk tidak menembak kecuali tepat kena daging lawan. Manakala hutsiyyun melihat langkah ikhwah tersebut, mereka semakin menderaskan tembakan. Para ikhwah di Hadb juga bangkit mendukung kami dan berupaya memperingan tekanan musuh terhadap kami. Saat itu saudara kita yang pemberani, pemuda yg mati syahid -sebatas yg kami sangka, dan Allohlah yg menilainya- Ibrohim bin Abdul Wasi’ Al ‘Ansiy menembak dan menyapu dengan senjata mu’addal dia ke arah hutsyiyyin. Sungguh dia telah memberikan jasa yang bagus sampai akhir nafasnya. Semoga Alloh merohmatinya dengn rohmat pada orang-orang yang berbakti.
Dan juga saat itu sebagian ikhwah tertembak dan terluka, dan dengan cepat dibawa pulang ke matras, seperti saudara kita Zaid Al Hajuriy, semoga Alloh menyembuhkannya, beliau terluka pada kali yang lain, yaitu beliau telah terluka dua kali dalam pertempuran ini.
Dan juga termasuk perkara yang membikin hutsiyyun terkejut adalah bahwasanya para ikhwah senantiasa berdzikir pada Alloh.
‎‏ ‏Mereka terus-terusanan bertakbir sampai-sampai  yng di Wathon atau Mazro’ah benar-benar mendengar takbir mereka.
Dan juga termasuk dari apa yang terjadi adalah bahwasanya mereka melempari kami dengan mortir-mortir, lalu mortir-mortir itu jatuh dan tidak meledak, hanya jatuh di dekat kami dalam keadaan kami empat ikhwah dalam matras yang berupa parit. Dan kami di posisi ini punya sejumlah parit bagaikan ikat pinggang untuk posisi di sini. Ada dua mortir jatuh tapi tidak meledak, dengan karunia dari Alloh.
Dan termasuk perkara yng terjadi adalah bahwasanya saudara-saudara kami yang ada di sebelah barat dari posisi kami, yang kami namakan posisi mereka sebagai pos Ma’anib (Kebun-kebun Anggur), setelah maghrib pertempuran beralih ke mereka, saat itu mereka butuh kepada granat-granat tangan untuk melempari hutsiyyin. Lalu datanglah al akh Kholid Al Abyaniy, pengurus gudang senjata untuk pos wilayah sini, dan dia membawa granat-granat. Maka para ikhwah terkejut dengan kedatangannya. Setelah bertanya: “Siapa ini?” Dia menjawab: “Kholid. Amir kita Abu Harun Al Yafi’iy -dan dia adalah pimpinan pos sini- memerintahkan aku.” karena Kholid itu tidak keluar dari gudang senjata karena pentingnya keberadaan dia di gudang itu.
Maka si Kholid yang membawa granat-granat tadi terus-menerus melempari hutsiyyun dengan granat-granat sampai meredalah tekanan terhadap para ikhwah, dan hutsiyyun menyingkir.
Lalu para ikhwah melihat-lihat,”Kemana si Kholid?” Mereka tidak mendapatinya. Maka sebagian dari mereka kembali ke bagian belakang, ternyata mereka mendapatinya ada di sana. Mereka berkata padanya: “Kenapa engkau meninggalkan kami?” Maka orang-orang (yang bersama Kholid) berkata: “Memangnya ada apa?” Maka mereka mengabarkan kisah tadi. Maka Kholid berkata:”Aku tak pernah keluar dari gudang senjata ini.”
Maka wahai Kaum, Mahasuci Alloh Yang mendukung orang dikehendaki-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya.

والحمد لله رب العالمين

Inilah yang bisa saya kumpulkan dari diri saya sendiri dan dari beberapa ikhwah.


Ditulis oleh Abu Ya’qub Abdul Fattah bin Ali bin Umar bin Sulaiman Al ‘Adniy –kelahirannya- Al Asy’ariy -nasabnya-. Darul Hadits di Dammaj yang tengah terkepung. Semoga Alloh membuka kepungan tersebut. Di Alu Manna’, matras Abdurrohman Al Amriky, di sisi utara depan masjid Alu Manna’. Alloh sebagai penolongnya.

 * * *

Tambahan : Ana perlu sampaikan kepara ikhwan pembawa berita dan pengurus situs-situs Ahlussunnah semua : Semoga Allah memuliakan antum semua. Saya tidak merasa tersaingi. Alhamdulillah. Saya Cuma bagaikan sebutir debu digurun pasir. Kita semua InsyaAllah dijalan Allah. Dan karena Allah serta untuk Allah, semuanya berjalan demi kebaikan umat, bukan perlombaan mencari ketenaran dan keunggulan dihati para makhluk. Silahkan melanjutkan apa yang menurut syare’at itu baik, dan cukup Allah yang menilai siapakah yang paling amalannya disisiNya. Ghufraanaka Rabbana wailaikal mashiir.

تلك الدار الآخرة نجعلها للذين لا يريد علوا في الأرض ولا فسادا والعاقبة للمتقين

Alloh Ta’ala berfirman: “Negri Akherat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di bumi ataupun kerusakan. Dan kesudahan yang baik itu adalah untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Qoshshoh: 83).
Rosululloh Shallallohu’alaihiwasallam bersabda:


وإن حقا على الله عز وجل أن لا يرفع شيئا من الدنيا إلا وضعه


“Dan sesungguhnya wajib atas Alloh ‘Azza Wajalla untuk tidaklah Dia mengangkat sesuatu dari dunia ini kecuali Dia akan merendahkannya.” (HR. Al Bukhoriy (6136) dari Anas Radhiyallohu’anhu).
Ibnu Hibban Rohimahulloh berkata: “Yang wajib bagi orang yang berakal adalah senantiasa Tawadhu’ (Rendah Diri) dan meninggalkan kesombongan. Andaikata tidak ada dalam Tawadhu’ itu karakter yang membawanya selain bahwasanya seseorang itu setiap kali Tawadhu’nya banyak maka bertambahlah ketinggiannya dengan itu, niscaya yang wajib baginya adalah untuk tidak berhias dengan selain ketawadhu’an.
Dan tawadhu’ itu ada dua macam: yang satu terpuji, dan yang lain tercela. Tawadhu’ yang terpuji adalah: tidak meninggikan diri terhadap para Hamba Allah, dan tidak mencela mereka. Dan tawadhu’ yg tercela adalah tawadhu’nya seseorg untuk pemilik keduniaan demi mendapatkan harta dunia orang tadi. Maka orang yg berakal senantiasa menghindari tawadhu’ yang tercela dalam segala kondisi, dan tidak berpisah dari tawadhu’ yang terpuji dalam segala sisinya semuanya.” (“Roudhotul ‘Uqola”/hal. 74/cet. Darul Fath).
Saya cukupkan nasihat sampai di sini untuk ana sendiri dan seluruh ikhwah yan membaca surat ini. Semoga Alloh membalas Antum semua dengan kebaikan dan Rahmat yang Banyak

Selesai diterjemahkan Jum’at, 10 Shofar 1435 H