BERHIASLAH DENGAN  AKHLAQ YANG MULIA, WAHAI DA’I ILALLAH !!

Assalamualaikum. Mohon taujihnya. Bagaimana ikhwah harus bersikap terhadap ustadznya yang memiliki manhaj yang baik, akan tetapi memiliki akhlak yang buruk. Sudah beberapa kali dinasehati oleh ustadz yang lain dan beberapa ikhwah tetapi tidak menerima. Bahkan ustadz dan ikhwah yang menasehatinya malah ditahzir oleh ustadz tersebut. Akibatnya menimbulkan furqah di antara para salafiyyin setempat. Bagaimana taujih syar’i dalam masalah ini? Afiduunaa ma’juriin.

Jawab : Bismillah..

Maka dalam waktu dengan kondisi yang amat sempit sambil mohon pertolongan pada Alloh dan mengakui kekurangan yang ada, ana menjawab: Wa’alaikumussalamwarohmatullohiwabarokatuh. Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia sebagaimana beliau bersabda dalam hadits Abi Huroiroh rodhiyallohu’anh:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق.

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia.”

Dan Alloh menjadikan Nabi shollallohu’alaihiwasallam ada di atas akhlaq yang agung sebagaimana dalam firman-Nya:

وإنك لعلى خلق عظيم.

“Dan sungguh engkau benar-benar ada di atas akhlaq yang agung.”

Dan Alloh menjadikan beliau sebagai teladan yang wajib diikuti oleh alam semesta. Alloh ta’ala berfirman:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر.

“Sungguh telah ada untuk kalian pada diri Rosululloh Shallallohu’alaihi wasalam suri teladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Alloh dan Hari Akhir.”

Dan Alloh menjadikan itu sebagai sunnah Nabi-Nya yang harus diikuti. Dan Nabi shollallohu’alaihiwasallam telah bersabda:

فمن رغب عن سنتي فليس مني.

“Maka barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan termasuk dari golonganku.”

Semuanya penting dalam Islam ini, tak boleh diremehkan sebagiannya. Alloh ta’ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”

Maka akhlak yang mulia itu amat penting untuk mengangkat diri sang hamba di hadapan Alloh, dan di hadapan para makhluq-Nya. Juga untuk menjaga nama baik Islam dan Sunnah. Nabi shollallohu’alaihiwasallam bersabda pada Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ariy rodhiyallohu’anhuma:

يسرا ولا تعسرا بشرا ولا تنفرا, وتطاوعا ولا تختلفا

“Permudahlah dan jangan kalian persulit, dan berikanlah kabar gembira dan jangan kalian bikin orang lari. Dan hendaknya kalian saling menaati dan jangan saling berselisih.”

Akan tetapi itu semua harus ada batasan-batasan syar’iy, bukan berdasarkan perasaan hizbiyyun dan hawa nafsu org-orang awwam.

Kelembutan itu harus dominan sebagaimana banyaknya dalil dan praktek dari Nabi shollallohu’alaihiwasallam, tapi  terkadang kekerasan digunakan sebagaimana terkadang beliau juga demikian. Semua diletakkan pada tempatnya.

Ada akhlaq yang bersifat wajib sehingga jika ditinggalkan maka pelakunya menjadi berdosa, seperti masalah kewajiban jujur, syukur, sabar, adil dan sebagaainya. Ada pula yang bersifat mustahab yang jika ditinggalkan berarti dia kehilangan keutamaan tapi tidak boleh dicela, seperti membalas kejelekan dengan kebaikan.

tentu saja aqidah yang benar dan manhaj yang lurus itu paling utama, karena dia adalah perkara ushul yang jika ditinggalkan maka pelakunya kafir atau mubtadi’. Apa gunanya akhlaq baik pada masyarakat jika aqidah atau manhajnya menyeleweng? Sungguh dia telah berakhlaq buruk pada Alloh dan Rosul shollallohu’alaihiwasallam.

Maka ana menasihati pada diri ana sendiri dan kita semua untuk menggigit dengan gigi geraham manhaj dan aqidah yang shohih, terutama di masa ghurbatul Islamish Shohih dan ghurbatus Sunnah ini, yang mana pemegangnya bagaikan memegang bara api, tapi pahalanya berlipat 50 kali sebagaimana dalam hadits hasan lighoirihi dari Abu Tsa’labah Al Khusyanniy rodhiyallohu’anh.

Para ulama Salaf menyatakan bhw kuburan pelaku maksiat dari kalangan Ahlissunnah adalah kebun Jannah, sementara kuburan ahli ibadah dari kalangan ahli bid’ah adalah lubang neraka. Ini menunjukkan pentingnya berpegang pada ushulus sunnah wasy syari’ah, dan bahwasannya itu jauh lebih penting daripada kemanisan akhlaq yang tidak bersifat prinsipil.

Akan tetapi itu dari sisi perbandingan, bukan menunjukkan bahwa pelaku maksiat dari kalangan Ahlussunnah tidak kena adzab sama sekali.

Berapa banyak Alloh menampakkan siksaan-Nya pada pelaku maksiat di kuburan? Banyak sekali. Itu sebagai pelajaran buat Ahlussunnah dan seluruh Muslimin dan segenap mukallafin agar jangan meremehkan maksiat. Dan sebagian akhlaq buruk adalah maksiat.

Maka sungguh disayangkan jika ada seorang sunniy yang sudah belajar justru meremehkan masalah akhlaq dan berkata: “Tidak  apa-apa berakhlaq buruk yang penting manhajnya baik.” ini perkataan keliru. Lihatlah dalil-dalil di atas.

Ingatlah hadits Anas dalam Shohihul Bukhoriy:

إنكم لتعملن أعمالا هي أدق في أعينكم من الشعر وكنا نعدها على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من الموبقات

“Sungguh kalian benar-benar mengamalkan amalan-amalan yang dia itu di mata kalian lebih kecil daripada rambut, padahal dulu kami pada masa Rosululloh shollallohu’alaihiwasallam menilainya termasuk dari perkara yang membinasakan.”

Juga dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu’anh bhw Nabi shollallohu’alaihiwasallam bersabda:

إن الرجل ليتكلم بكلمة لا يلقي لها بالا من رضوان الله يدخله الله بها في الجنة. وإن الرجل ليتكلم بكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالا يهوي بها إلى الله أبعد ما بين المشرق والمغرب.

“Sesungguhnya ada orang yang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan ridho Alloh tanpa dia pertimbangkan, dengan itu Alloh memasukkannya ke dalam Jannah. Dan sungguh ada orang yang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Alloh tanpa dia pertimbangkan, dengan itu dia terhempaskan ke dalam Neraka lebih jauh daripada jarak antara barat dan timur.”

Maka wajib bagi kita untuk mengetahui batasan-batasan akhlaq yang baik agar tidak berlebihan ataupun kurang karena sikap ghuluw ataupun taqshir itu sama-sama mendatangkan kerusakan, dan setan tidak peduli dengan jalan yang mana dia berhasil menjauhkan sang hamba dari jalan yang lurus dan pertengahan, sebagaimana kata Syaikhul Islam di “Majmu’ul Fatawa.”

Maka wajib bagi kita untuk terus memperdalam ilmu dan jangan seperti kebanyakan badui yang malas tafaqquh fiddin yang menyebabkan mereka tak tahu batasan-batasan syariat Alloh.

الأعراب أشد كفرا ونفاقا وأجدر ألا يعلموا حدود ما أنزل الله على رسوله.

“Orang-orang badui itu lebih keras kekufurannya dan kemunafiqannya dan lebih pantas untuk tidak tahu batasan-batasan apa yang Alloh turunkan pada Rosul-Nya.”

Maka bagus sekali kita memperdalam masalah ini sebagaimana dalam penjelasan Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab “Al Fawaid.”

Tidak ada dari kita yang sempurna, tapi wahai Ahlussunnah, saddidu (tekunilah kelurusan) wa qoribu (dan upayakan untuk terus mendekat di sekitar jalan yang lurus). Hendaknya kita saling bersabar dan memaklumi sambil terus saling menasihati. Kita ingat bahwa kebaikan ataupun kejelekan sekecil dzarroh itu ada balasannya. Tiada perkara remeh dalam Islam. Inilah yang bisa ana sampaikan untuk ana sendiri dan untuk kita semua pada situasi yang amat sempit ini. Semoga Alloh memberkahi kita semua. Walhamdulillahirobbil’alamin.

Ana ingin mencontoh Syaikh Yahya hafizhohulloh yang memakai jalan bertahap dalam memberikan pengarahan dan tidak langsung memvonis, sambil melihat perkembangan-perkembangan setelah itu seiring dengan waktu. Moga bisa dipahami.

Ada seorang yang bertanya lagi :

العلم دين فنظروا عن من تأخذون دينكم

Akhlaq mulia termasuk pokok penting dalam manhaj ahlussunnah. Perbedaan ruh yang membuat malas untuk mengambil ilmu dari guru yang memiliki akhlaq yang jelek.  Karena jiwa itu  membutuhkan kecocokan, pandangan dan akhlaq. Jika ana tinggalkan ilmu dari dai tersebut karena jeleknya akhlaq, apakah sikap ana tercela. padahal dia termasuk dari dai yang stabat.  Melihat dari prinsip yang telah ditulis oleh Ibnu Sirin yang ma’ruf tersebut diatas.

Akhlaq jelek adalah penyakit, maka ana harus menjauh dari penyakit itu. Dan ana harus mencari guru yang baik. Karena guru yang baik sangat pengaruh terhadap agama ana. Bagaimana tanggapan akhunal karim?

Temannya yang lain menanggapi :

Seorang penuntut ilmu syar’iy harus berakhlaq dengan akhlaqulkariymah sebelum dia mengajarkan akhlaq karena akhlaq adalah penting,berapa banyak orang mendustakan kebenaran dari seorang da’i karena kerusakan akhlaq?bahkan puncak dari memahami akhlaq yang di tuntut syar’iy adalah berakhlaq kepada Allah dengan mentauhiydkan Allah,membenarkan khabar dari Allah walau akal sulit menjangkaunya dan dia merupakan ta’abbud kpd Allah,begitu juga terhadap khabar Rasulullahu sallallahu ‘ alayhi wa sallam adalah ta’abbudiyyah juga akhlaq kepada sesama hamba semua itu adalah hasil dari memahami syar’iy dengan baik,ketika anta haus minumlah air bersih dari mata air yang bersih,jangan minum air kotor karena itu akan membuat jasad anta sakit,akhlaq yang jelek tersumber dari hati yang rusak maka jangan masukkan dalam hati anta karena dia akan merusak mu’amalh akhlaq dan yang lain,satu hal yang ana menasehati diri ana dan para ikhwan yang mau mengambil manfaat seorang berakhlaq jelek menyampaikan perkara addiyn kalau orang tidak mengingatkan jangan keburu senang dan juga jangan mentahdzir kalau tidak cocok dengannya namuna ada perkara yang lwbih besar bahwa kalau orang itu diam saja namun di dalam bathinnya terkrentek “kalau yg di ajarkan ustadz tentang akhlaq ini adalah baik lalu kenapa dia tidak mengamalkannya?”sehingga dia berkesimpulan bahwa akhlaq yang baik bukan perkara penting demi Allah da’i trrsebut mewariskan kerusakan dan keraguan dalam dada seseorang allahumma sallim sallim karena itulah kita harus saling nasehat menasehati alhamdulillahilladziy ‘afaanaa mimmabtalaab bihi wa faddalanaa ‘ala katsiyrin mimman khalaqo tafdhiyla.kerusakan akhlaq adalah bagian sumber kejelekan.

Ana (Abu Fairuz) mengatakan :

Tentang akhlaq pengajar, maka ini terbagi menjadi dua: jika akhlaq buruknya itu mencapai taraf kefasiqan, seperti mencuri, berdusta, dan lain-lain, maka jangan diambil ilmu darinya. Ibrohim An Nakho’iy rohimahulloh berkata:

كانوا إذا أتوا الرجل ليأخذوا عنه نظروا إلى سمته وإلى صلاته وإلى حاله ثم يأخذوا عنه.

“Dulu para Ulama jika mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya mereka melihat ke gayanya, sholatnya, dan keadaannya, kemudian mereka mengambil ilmu darinya.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/no. 134/shohih).

Al Khothib Al Baghdadiy rohimahulloh berkata:

اتفق أهل العلم على أن السماع ممن ثبت فسقه لا يجوز.

“Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh mendengar ilmu dari orang yang telah pasti kefasiqannya.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/1/hal. 138).

Pembahasan bab ini juga disebutkan oleh Al Imam Muslim dlm muqoddimah “Shohih” beliau.

Adapun jika buruknya akhlaq si alim adalah bukan kefasiqan, dan tidaklah dia menyengaja selalu berakhlaq buruk, maka hendaknya kita bersabar dengannya, demi maslahat yang lebih besar.

Al Imam Asy Syafi’i rohimahulloh berkata:

كان يختلف إلى الأعمش رجلان, أحدهما كان الحديث من شأنه, والآخر لم يكن الحديث من شأنه. فغضب الأعمش يوما على الذي من شأنه الحديث فقال الآخر: لو غضب علي كما غضب عليك لم أعد إليه. فقال الأعمش: إذن هو أحمق مثلك يترك ما ينفعه ليوء خلقي.

“Dulu ada dua orang yang berbolak-balik mendatangi Al A’masy. Yang satu memang mengurusi hadits, sementara yang lain itu hadits bukanlah bidangnya. Lalu pada suatu hari Al A’masy marah pada orang yang hadits itu memang bidangnya. Maka orang yang lain berkata: “Andaikata Al A’masy marah padaku sebagaimana dia marah padamu, niscaya aku tidak akan datang lagi padanya.” Maka Al A’masy berkata: “Jika demikian dia itu tolol sepertimu, meninggalkan perkara yg bermanfaat untuknya karena buruknya akhlaqku.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/no. 422). Sampai disini dulu.

Ditulis oleh  Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekajo Al-Qudsy Al-Jawy, di “Thaifah Al-Manshurah” Rabu, 28 Rabi’ul Awwal 1435 H 20:58 wib di Sa’wan Shan’a