KAPAN SEORANG TERHUKUMI TAKALLUF ?

Ditulis : Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsy Al-Jawy

Disebutkan oleh Al Imam Al Fasawiy dalam kitab “Al Ma’rifah Wat Tarikh” (167-168) dengan sanad shohih bahwa Laits bin Sa’ad menyebutkan bahwa para ulama mujahidun di tengah-tengah jihad mereka, mereka  juga aktif mengajari para prajurit ilmu Kitab Was Sunnah dan fiqih dan sebagainya. Maka kita berusaha mencontoh mereka dengan menyelingi berita-berita  jihad dan doa-doa dengan ilmu-ilmu  yang bermanfaat seperti biasa, InsyaAlloh.

Ada yang bertanya: Sebetulnya kapankah suatu perkara dihukumi takalluf?

Apakah semata mata masuk kedalamnya maksiat / pelanggaran syari’at lantas terhukumi takalluf, meski banyak pihak yang merasakan manfaatnya ?

Ana jawab dengan singkat dengan mohon taufiq pada Alloh : Ar Roghib Al Ashfahaniy rohimahulloh berkata: “Takalluf itu suatu nama bagi sesuatu yang dikerjakan dengan suatu kesulitan, atau membebani diri dengan suatu gaya, atau menampilkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Oleh karena itu maka takalluf itu terbagi menjadi dua macam:

Yang pertama : Yang terpuji, yaitu perkara yang diupayakan seseorang dengan bersungguh-sungguh, agar dengan itu dia menjadi sarana agar perbuatan yang dilakukannya itu menjadi mudah baginya, menjadi tanggungannya, dan disukainya. Dan dengan sudut pandang ini dipakailah istilah taklif (pembebanan) dalam membebani diri dengan ibadah-ibadah.

Yang kedua : adalah takalluf yang tercela, yaitu: perkara yang diupayakan manusia dengan sungguh-sungguh dalam rangka mencari pandangan manusia.   termasuk di dalamnya adalah tasyaddud (bersikap keras dalam menjalankan syariat, melebihi apa yang diajarkan Sang Pembuat syariat). Syaikhul Islam rohimahulloh berkata: “Dan tasyaddud itu terkadang dengan menjadikan sesuatu yang tidak wajib dan tidak juga mustahab, berada pada posisi wajib dan mustahab dalam ibadah-ibadah. Dan terkadang juga berupa menjadikan sesuatu yang tidak harom ataupun makruh berada pada posisi harom dan makruh, dalam perkara-perkara yang baik.” (“Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/1/hal. 322).   Dan inilah yang dimaksud dengan firman Alloh ta’ala:

قل ما أسألكم عليه من أجر وما أنا من المتكلفين

“Katakanlah: aku tidak minta pada kalian atas dakwah ini upah sedikitpun, dan aku bukan termasuk orang-orang yang memberati diri.” (QS. Shod: 86).

(selesai penukilan dari “Mufrodat Alfazhil Qur’an”/hal. 439).

Adapun sebagian maksiat, maka bisa jadi dia punya manfaat, tapi dilarang karena bahayanya lebih besar, seperti khomr, Alloh larang sekalipun ada juga manfaatnya. Alloh berfirman:

وإثمهما أكبر من نفعهما

“Dan dosa khomr dan judi itu lebih besar dari pada manfaatnya.” (QS. Al Baqoroh: 219).

Syaikhul Islam berkata: “Tidakkah engkau lihat sihir, jimat-jimat dan ‘ain dan perkara-perkara yang berpengaruh di alam dengan seidzin Alloh, bisa jadi kebanyakan hasrat-hasrat jiwa terpenuhi dengannya. Sekalipun demikian Alloh subhanah berfirman:

ولقد علموا لمن اشتراه ما له في الآخرة من خلاق ولبئس ما شروا به أنفسهم لو كانوا يعلمون. ولو أنهم آمنوا واتقوا لمثوبة من عند الله خيرا لو كانوا يعلمون.

“Dan sungguh mereka telah tahu bahwa barang siapa membeli sihir tadi (dengan mengorbankan aqidahnya), pastilah dia di akhirat tak punya bagian apa-apa. Dan sungguh buruk apa yang mereka beli dengan diri mereka andaikata mereka mengetahui. Dan andaikata mwreka beriman dan bertaqwa, pastilah pahala dari sisi Alloh itu lebih baik andaikata mereka mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 102-103).

Maka mereka itu mengakui bahwasanya sihir tadi tidak bermanfaat di akhirat, dan bahwasanya pemiliknya itu rugi, dan mereka itu hanyalah berpegang dengan manfaatnya di dunia.” (selesai dari “Iqtidhoush Shirothil Mustaqim”/2/hal. 179-180).

Ada penjabaran yang lebih panjang tapi InsyaAlloh inilah inti yang bisa ana sampaikan dalam waktu yang amat terbatas ini, wallohu ta’ala a’lam.

Dammaj, 24 Shafar 1435H