Hiburan dari shon'a yaman

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqoddimah Penulis

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن واله، أما بعد:

Alloh ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]

“Dan orang-orang mukminin dan mukminat itu sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, menegakkan sholat dan menunaikan zakat serta menaati Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah yang akan dirohmati Alloh, sesungguhnya Alloh itu ‘Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Penuh Hikmah)” (QS At Taubah 71).

Beratnya ujian dalam memikul kebenaran terkadang membikin langkah seseorang itu tersendat atau bahkan berhenti beberapa saat. Dan ujian itu bukan hanya datang dari pihak manusia, tapi bahkan juga dari jin-jin sesat utusan dari Iblis la’anahulloh.

Telah sampai kepada kami berita dari beberapa saudara yang menggambarkan betapa butuhnya mereka kepada penopangan dan nasihat. Ini adalah permasalahan jiwa yang dialami oleh kita semua. Maka dalam kesempatan yang amat berharga ini ana ingin menyampaikan sedikit hiburan untuk saya sendiri, kemudian untuk saudara-saudara yang di tanah air. 

Bab Satu : Memperbaiki Kelurusan Langkah jiwa danMengokohkan Keyakinan dan Tawakkal Pada Alloh

Yang pertama hendak saya sampaikan adalah hendaknya kita terus mengoreksi amalan-amalan jiwa, lidah, dan anggota badan kita, agar senantiasa berada di atas jalan lurus, karena barangsiapa menyimpang dari itu, maka dia akan keluar dari jaminan kebahagiaan dari Alloh, sehingga tertimpa kegalauan, kesedihan serta kesesatan jiwa.

Kemudian jika dirasa langkah telah benar, maka kita harus mengokohkan keyakinan bahwasanya Alloh akan memenuhi janji-Nya untuk menolong kita dan memberikan keberuntungan dan kebahagiaan pada kita, di dunia dan Akhirat.

Alloh ta’ala berfirman:

]مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[ [النحل/97].

“Barangsiapa beramal sholih baik dia itu lelaki ataupun perempuan dalam keadaan dia itu mukmin, pastilah Kami akan memberinya kehidupan yang bagus, dan pastilah Kami akan membalasi mereka pahala mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang dulu mereka lakukan.”

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا﴾ [النساء: 87]

“Dan siapakah yang lebih jujur ucapannya daripada Alloh?”

 

Lalu pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa mutiara kalimat Al Imam Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh saat mensyaroh kitab “Riyadhush Sholihin.” Kitab ini alhamdulillah telah tersebar di Indonesia, sehingga yang saya tulis hanyalah terjemah yang insya Alloh telah diketahui oleh banyak saudara di Indonesia dan lainnya. saya berharap Alloh ta’ala berkenan memberikan berkah-Nya buat langkah yang sederhana ini.

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata:

باب في اليقين والتوكل

(Bab Yaqin Dan Tawakkal)

Sang penulis (Imam An Nawawy rohimahulloh) menggabungkan antara yaqin dan tawakkal, karena tawakkal itu merupakan satu buah dari buah-buah keyakinan. Keyakinan itu adalah kekuatan iman dan kekokohan, hingga seakan-akan seseorang itu melihat dengan mata kepalanya perkara yang diberitakan oleh Alloh dan Rosul-Nya, dikarenakan kuatnya keyakinan dirinya. Maka keyakinan itu adalah kekokohan dan keimanan, yang tidak disertai keraguan dari satu sisipun. Maka dia bisa melihat perkara ghoib yang diberitakan oleh Alloh dan Rosul-Nya seakan-akan perkara tadi hadir di hadapannya. Dan ini merupakan derajat keimanan yang tertinggi!

                Keyakinan ini menghasilkan buah-buah yang agung, di antaranya adalah: Ketawakkalan kepada Alloh. Dan yang namanya Ketawakkalan kepada Alloh adalah bersandarnya seseorang kepada Robbnya ‘Azza wa Jalla di dalam lahiriyyahnya maupun batiniyyahnya, di dalam upayanya memperoleh manfaat-manfaat dan menolak bahaya[1].

Alloh ta’ala berfirman:

}ومَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ  {[الطلاق/2، 3]

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Alloh maka Dialah yang akan mencukupinya.” (QS. Ath Tholaq 2-3)

Maka pada kedua martabat ini: Keyakinan dan tawakkal, seseorang akan berhasil memperoleh keinginannya di dunia dan akhirat. Dan dia bisa tenteram, hidup di dunia dengan tenang dan berbahagia, karena dia meyakini seluruh apa yang diberitakan oleh Alloh dan Rosul-Nya, dan dia bertawakkal kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.

Kemudian sang penulis menyebutkan beberapa ayat dalam bab ini, di antaranya adalah: Firman Alloh ta’ala:

” وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا: هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ، وَصَدَقَ الله وَرَسُولُهُ، وَمَا زَادَهُمْ إلاَّ إيْماناً وَتَسْلِيماً “

“Manakala para mukminun melihat golongan-golongan yang bersekutu itu merekapun berkata,”Inilah sesuatu yang dijanjikan oleh Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.” Dan tidaklah hal itu menambahi mereka kecuali keimanan dan ketundukan.” (QS Al Ahzab 22)

Al Ahzab adalah kelompok-kelompok dari berbagai kabilah yang beraneka ragam. Mereka berhimpun dan bergabung untuk memerangi Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam-. Telah berkumpul sekitar sepuluh ribu prajurit tempur dari Quroisy dan yang lainnya lalu mengepung Madinah untuk menghabisi Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam-. Dan terjadilah dalam peperangan  ini krisis yang besar yang menimpa para Shohabat Rosul -shalallohu ‘alaihi wa sallam- . Alloh ta’ala berfirman:

وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا  [الأحزاب/10]

“Ketika pandangan mata sudah tidak lagi tetap, dan hati sudah mencapai tenggorokan, dan kalian menyangka Alloh dengan berbagai persangkaan.” (QS Al Ahzab: 10).

Dugaan-dugaan yang jauh.

Alloh ta’ala berfirman:

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا  [الأحزاب/11]

“Ketika itulah para mukminun diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang keras.” (QS. Al Ahzab: 11).

Maka dalam krisis yang berat dan dahsyat itu orang-orang terbagi menjadi dua kelompok, dijelaskan Alloh Azza wa Jalla dalam ayat-ayat ini.

Bagian pertama: Alloh ta’ala berfirman tentang mereka:

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا  [الأحزاب/12]

“Dan ingatlah ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit berkata,”Tidaklah Alloh dan Rosul-Nya menjanjikan pada kami kecuali tipuan belaka.” (QS. Al Ahzab: 12).

Orang-orang menafiq yang menampakkan keimanan tapi menyembunyikan kekufuran, orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit dari kalangan mukminin dan di dalam keyakinan mereka ada kekurangan berkata,”Tidaklah Alloh dan Rosul-Nya menjanjikan pada kami kecuali tipuan belaka.”

Mereka berkata,”Bagaimana Muhammad berkata bahwasanya dia akan menaklukkan Kisro dan Qoishor serta Shon’a sementara dia sekarang terkepung oleh orang-orang itu.

Bagian kedua: Orang-orang yang mukmin. Alloh berfirman tentang mereka:

” وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا: هَذَا مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ، وَصَدَقَ الله وَرَسُولُهُ”

“Manakala para mukminun melihat golongan-golongan yang bersekutu itu merekapun berkata,”Inilah sesuatu yang dijanjikan oleh Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.”.” (QS. Al Ahzab: 22).

Lihatlah perbedaan di antara kedua kelompok ini! Mereka ketika melihat pasukan sekutu tadi dan melihat kesusahan besar ini, mereka tahu bahwasanya pertolongan dan jalan keluar akan datang menyusulinya. Mereka berkata,”Inilah sesuatu yang dijanjikan oleh Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.” Akan terwujudlah pertolongan dan kerajaan-kerajaan Qoishor, Kisro dan Yaman akan ditaklukkan. Dan itulah yang terjadi, dan segala pujian yang sempurna bagi Alloh.

                Dan sisi pendalilannya adalah firman Alloh: “Inilah sesuatu yang dijanjikan oleh Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.”

Dan ini adalah puncak keyakinan, di mana seseorang itu di saat ada kesulitan dan kesukaran besar dia itu tetap teguh, beriman dan yakin.

Sebagaimana firman Alloh ta’ala:     

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ الله عَلَى حَرْفٍ [الحج/11]

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Alloh di tepi belaka.” (QS. Al Hajj: 11).

yaitu di pinggiran saja.

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ [الحج/11]

“Maka dia mendapatkan kebaikan hatinyapun tenang dengan keimanan. Tapi jika dia tertimpa fitnah dia berbalik arah. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al Hajj: 11).

                Kebanyakan manusia jika berada dalam keselamatan, maka dia tenang. Tapi jika dia diuji –wal’iyadzu billah- berbaliklah dia ke belakang, bahkan terkadang sampai kepada batasan murtad dan kekufuran, dan menentang Alloh dengan dalih qodho’ dan qodar. Dan berikutnya dia membenci Alloh –wal’iyadzu billah- karena dia pada awalnya tidak tertimpa gangguan dan fitnah. Tapi dia pada kali yang kedua tertimpa fitnah berbaliklah dia ke belakang.

                Di dalam ayat ini ada dalil tentang keharusan manusia itu untuk merasa takut dan khawatir terhadap penyimpangan hati, dan senantiasa mohon pada Alloh kekokohan. Karena tiada satu hatipun dari hati Bani Adam kecuali berada di antara kedua jemari Alloh, membolak-baliknya sekehendaknya. Jika Alloh kehendaki Dia akan menegakkannya. Tapi jika Dia menghendakinya bisa pula menyelewengkannya. Maka kita mohon pada Alloh Yang membolak-balik hati agar mengokohkan hati kita di atas ketaatan kepada-Nya. Dan agar memberi kita istiqomah di atas agama-Nya, dan kokoh di atasnya.

Ayat yang kedua:

Firman Alloh ta’ala:

” الَّذينَ قَالَ لَهُم النَّاسُ إنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إيْمَاناً وَقَالُوا: حَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيل. فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ، وَاللهُ ذو فَضْلٍ عَظِيمٍ ” آل عمران: 173، 174

“Yaitu orang-orang yang para manusia berkata kepada mereka,”Sesungguhnya orang-orang telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kalian kepada mereka,” maka justru hal itu menambahi mereka keimanan dan mereka berkata HASBUNALLOHU WA NI’MAL WAKIL (cukuplah bagi kami Alloh dan Dialah sebaik-baik yang mengurusi). Maka kembalilah mereka dengan kenikmatan dan karunia dari Alloh, mereka tidak tertimpa kejelekan, dan mereka mengikuti keridhoan Alloh. Dan Alloh itu memiliki karunia yang agung.” (QS. Ali ‘Imron: 174-175)

                Ayat ini turun tentang para Shohabat rodhiyallohu ‘anhum pada saat mereka mengalami luka-luka dan cedera di perang Uhud, dan sebagian mereka menjadi syuhada. Maka dikatakan pada mereka,”Sesungguhnya Abu Sufyan telah bertekad untuk menyerang kalian, sehingga orang-orang telah berkumpul untuk menggempur kalian. Maka Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- menyeru manusia untuk menjumpai dan menghadapi mereka. Maka merekapun memenuhi panggilan Alloh dan Rosul-Nya setelah mereka mengalami luka-luka dan cedera serta mala petaka yang besar yang mana tujuh puluh orang dari mereka terbunuh sebagai syuhada fi sabilillah dan Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- yang lainnya juga mengalami musibah. Walaupun demikian mereka tetap memenuhi panggilan Alloh dan Rosul-Nya.

Dan Alloh ta’ala berfirman:

” وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذي لا يَمُوت ” الفرقان: 58

“Dan bertawakkallah engkau kepada Al Hayy (Yang Mahahidup) yang tidak mati.” (QS. Al Furqon: 58).

Dan Alloh ta’ala berfirman:

” وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ” إبراهيم: 11

“Dan hanyalah kepada Alloh hendaknya kaum mukminin itu bertawakkal.” (QS. Ibrohim: 11).

Dan Alloh ta’ala berfirman:

” فَإذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله ” آل عمران: 159،

“Maka jika engkau telah membulatkan tekad maka berkawakkallah engkau kepada Alloh.” (QS Ali ‘Imron: 159).

                Masih panjang mutiara kalimat Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh, akan tetapi kondisi sebagai pengungsi yang disertai dengan tugas-tugas yang ada memaksa saya untuk menghemat waktu. Maka dengan mohon ampun pada Alloh dan maaf dari para ikhwah, aya cukupkan sampai di sini terjemahan ucapan beliau, wallohu ta’ala a’lam.

Dan sungguh bagus sekali jika kita mengingat sabda Nabi صلى الله عليه وسلم pada Abdulloh bin Abbas رضي الله عنهما:

«واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء كتبه الله عليك»

“Dan ketahuilah bahwasanya umat itu jika berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka itu tak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu bahaya, mereka itu tak akan bisa memberimu bahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan menimpamu.” ([2])

                Maka hadits ini dan kelengkapannya mengharuskan seorang mukmin untuk selalu bernaung pada Alloh, bertopang pada-Nya, serta menumbuhkan ketenangan jiwa di jalan-Nya, juga berani mengumandangkan kebenaran di alam semesta ini, karena ubun-ubun mereka di tangan Alloh, dan mereka tak sanggup memberikan kebaikan atau menimpakan kejelekan pada dirinya tanpa seidzin Alloh.          

Renungkanlah ucapan Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh tentang ketawakkalan kepada Alloh: Alloh ta’ala berfirman:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾ ]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

                Dan tawakkal itu termasuk sebab yang terkuat yang dengannya hamba bisa menolak perkara yang tidak disanggupinya yang berupa gangguan para makhluk, kezholimin dan permusuhan mereka. dan dia itu termasuk sebab yang terkuat dalam masalah itu karena sesungguhnya Alloh yang mencukupinya. Dan barangsiapa Alloh sebagai pencukupnya dan pelindungnya, maka musuhnya tak ada harapan terhadapnya dan tak bisa membahayakannya kecuali gangguan ucapan saja yang memang harus ada seperti cuaca panas, dingin, lapar, dan haus. Adapun untuk membahayakan dirinya dengan sesuatu yang mencapai darinya keinginannya, maka tak akan terjadi selamanya. Maka Alloh membedakan antara gangguan yang dia itu secara lahiriyyah adalah gangguan untuknya padahal dia itu pada hakikatnya adalah kebaikan untuknya dan bahaya untuk pelakunya sendiri, dengan bahaya yang musuhnya merasa puas dengannya. Sebagian salaf berkata: “Alloh ta’ala menjadikan untuk setiap amalan itu balasan sesuai dengan jenisnya, dan menjadikan balasan tawakkal kepada-Nya itu kecukupan-Nya untuk hamba-Nya. Alloh berfirman:

﴿من يتوكل على الله فهو حسبه﴾ ]الطلاق: 3[

“Dan barangsiapa bertawakkal pada Alloh maka Dia akan mencukupinya.”

Dan Alloh tidak berfirman: “Kami akan memberinya pahala begini dan begitu” sebagaimana berfirman terhadap amalan-amalan. Bahkan Dia menjadikan diri-Nya yang suci sebagai pencukup dan pelindung hamba-Nya yang bertawakkal pada-Nya. Andaikata sang hamba bertawakkal pada Alloh ta’ala dengan sebenar-benar tawakkal dan langit dan bumi beserta seluruh yang di dalamnya membikin tipu daya untuknya,pastilah Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar dari yang demikian itu, mencukupinya dan menolongnya.

(selesai dari “Badai’ul Fawaid”/2/hal. 245/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Bab Dua : Selalu Mencurahkan Pandangan Hati Ke Hari Kematian

Sesungguhnya yang seringkali membikin keruhnya hati dan kegundahan Jiwa adalah fitnah dunia. Dan telah banyak ayat-ayat Alloh yang mengingatkan tentang itu. Maka hendaknya seorang mukmin selalu yakin bahwasanya pengembaraannya yang meletihkan di dunia ini akan segera berakhir, dan akan masuk pada fase yang jauh lebih panjang, yaitu alam kubur. Hendaknya dia yakin dengan pasti tanpa keraguan bahwasanya alam kubur itu adalah terminal permulaan untuk menikmati hasil amalan kebaikan selama ini, atau sebagai hukuman atas kejelekan yang dikerjakan di hari-hari dunianya. Alloh ta’ala berfirman:

]كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ[ [آل عمران/185]

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan hanyalah pahala kalian itu akan dicukupi pada hari Kiamat. Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka sungguh dia itu beruntung. Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu.”

                Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ayat ini di dalamnya ada berita duka untuk seluruh manusia, karena tidaklah tersisa seorangpun di muka bumi sampai dia mati. Maka jika jangka waktu telah usai, dan nuthfah yang Alloh tetapkan keberadaannya telah kosong dari sulbi Adam, dan para makhluq telah habis, Alloh akan menegakkan Kiamat dan membalas para makhluq dengan amalan mereka, yang agungnya atupun amalan yang remehnya, yang banyak ataupun yang sedikit, yang besarnya ataupun amalan yang kecilnya. Maka Alloh tidak menzholimi seorangpun sekecil dzarrohpun. Karena itulah Alloh berfirman: “Dan hanyalah pahala kalian itu akan dicukupi pada hari Kiamat” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 595/cet. Darus Shiddiq).

Renungkanlah berapa lama Fir’aun bersenang-senang dengan kejahatannya di dunia, lalu berapa lamakah dia disiksa di alam kubur sejak tenggelamnya dia di laut Merah ribuan tahun yang lalu sampai sekarang, hingga di hari Kiamat kelak.

Dan renungkanlah pendeknya ujian yang di alami Masyithoh (wanita penyisir rambut anak Fir’aun) di dunia dibandingkan dengan saat istirahatnya yang tentram dan menyenangkan di alam kuburnya selama ribuan tahun sampai sekarang, hingga di hari Kiamat kelak.

Maka orang yang cerdas adalah oleh yang banyak persiapannya untuk hari kematian.

Ibnu Umar رحمه الله berkata:

كنت عاشر عشرة في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم، أبو بكر، وعمر، وعثمان، وعلي، وابن مسعود، وحذيفة، وابن عوف، وأبو سعيد الخدري رضي الله عنهم، فجاء فتى من الأنصار فسلم على رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم جلس فقال: يا رسول الله أي المؤمنين أفضل؟ قال: «أحسنهم خلقا» قال: فأي المؤمنين أكيس؟ قال: «أكثرهم للموت ذكراً، وأحسنهم له استعداداً قبل أن ينزل بهم، أولئك من الأكياس» ثم سكت الفتى، وأقبل عليه النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا معشر المهاجرين خمس إن ابتليتم بهن ونزل فيكم، أعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعملوا بها إلا ظهر فيهم الطاعون والأوجاع التي لم يكن مضت في أسلافهم، ولم ينقصوا المكيال و الميزان إلا أخذوا بالسنين وشدة المؤنة وجور السلطان عليهم، ولم يمنعوا الزكاة إلا منعوا القطر من السماء ولولا البهائم لم يمطروا، ولم ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلط عليهم عدوهم من غيرهم وأخذوا بعض ما كان في أيديهم، وما لم يحكم أئمتهم بكتاب الله إلا ألقى الله بأسهم بينهم» الحديث.

“Aku pernah menjadi orang kesepuluh di masjid Rosululloh صلى الله عليه وسلم , Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Ibnu ‘Auf, dan Abu Sa’id Al khudriy رضي الله عنهم . lalu datanglah anak muda dari Anshor, lalu dia mengucapkan salam pada Rosululloh صلى الله عليه وسلم , lalu duduk seraya berkata: “Wahai Rosululloh, siapakah mukmin yang paling utama?” beliau menjawab: “Yang paling bagus di antara mereka akhlaqnya.” Dia bertanya lagi: “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan paling bagus persiapan untuk itu sebelum kematian itu turun pada mereka. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

Lalu anak muda itu diam. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم menghadap ke arahnya seraya berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya dan turun di antara kalian, aku berlindung pada Alloh untuk kalian menjumpai lima perkara itu: tidaklah kekejian itu nampak di suatu kaum sama sekali hingga mereka mengerjakannya kecuali akan nampak pada mereka wabah Tho’un dan penyakit-penyakit yang belum datang pada para pendahulu mereka. Dan tidaklah takaran dan timbangan mereka kurangi kecuali mereka akan dihukum dengan tahun-tahun paceklik, kerasnya tanggungan, dan kezholiman penguasa. Dan tidaklah mereka menahan zakat kecuali mereka akan terhalangi dari hujan. Seandainya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tak akan diberi hujan. Dan tidaklah membatalkan perjanjian dengan Alloh dan perjanjian dengan Rosul-Nya kecuali akan dikuasakan pada mereka musuh mereka dari luar kalangan mereka, mereka akan mengambil sebagian kekuasaan yang dulu ada di tangan mereka. Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan Kitabulloh kecuali Alloh akan melemparkan kekerasan mereka di antara mereka.” Al hadits. (HR. Al Hakim dalam “Al Mustadrok “8688) dan yang lainnya. Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata dalam “Ash shohihah” (1384): “Maka hadits ini hasan dengan kumpulan jalan-jalannya.” Dan dihasankan juga oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Fil Qodar” (hal. 431/cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

Wahai saudaraku, kokohkanlah jiwa di jalan Alloh, dan kuatkanlah kaki di pengembaraanmu menuju Alloh, karena sesungguhnya hari perjumpaan itu akan segera tiba, maka persiapkanlah bekal sebaik-baiknya. Bekal yang terbaik adalah taqwa. Jagalah dia baik-baik, jangan sampai dirampas oleh para perampok di tengah jalan.

                Dan Alloh ta’ala berfirman:

]فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى * يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَى * وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى * فَأَمَّا مَنْ طَغَى * وَآَثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى * وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى[ [النازعات/34-41]

“Maka jika telah datang malapetaka besar (Kiamat), pada hari manusia mengingat apa yang telah dia usahakan. Dan Jahim ditampilkan bagi orang yang melihat. Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Jahim itulah tempat tinggalnya. Adapun orang yang takut pada kebesaran Robbnya dan menahan dirinya dari keinginannya maka Jannahlah tempat tinggalnya.”

والله تعالى أعلم، وحسبنا الله ونعم الوكيل.

والحمد لله رب العالمين.

Rumah Sakit Ahlussunnah – Habroh, Shon’a, Yaman,

Hari Senin pagi, 8 Jumadal Ula 1435 H

Ditulis oleh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy 

Semoga Alloh memaafkannya.divider (3)


[1] Catatan Abu Fairuz –semoga Alloh memberinya taufiq-: ini juga definisi tawakkal yang ditulis oleh Al Imam Ibnu Rojab di kitab beliau yang agung: “Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam”.

([2]) HR. At Tirmidziy (2516) dengan sanad shohih.