Purnama Itu Telah  Pergi
(Biografi Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholi) 

Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy Al Indonesiy
Semoga Alloh membimbingnya


بسم الله الرحمن الرحيم

Judul Asli:
Al Badrul Jaliy Bi Tarjumah Mujizah Li Fadhilatisy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy

Judul Bebas Terjemahan:
“Purnama Itu Telah Pergi (Biografi Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholi)”

Ditulis dan Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilallah:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy Al Indonesiy
Semoga Alloh membimbingnya


بسم الله الرحمن الرحيم

Muqoddimah 

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Sesunggguhnya matahari hari Senin telah hampir terbenam di balik gunung-gunung Shon’a. cahaya siang mulai berkurang sedikit demi sedikit. Lampu-lampu telah mulai bermunculan di jalan-jalan dan lembah-lembah. Dan mendung kesedihan belumlah tertepis, air mata dunia Islam Salafiy belumlah mengering, dengan wafatnya seorang ulama Salafiy yang mereka cintai, salah seorang pengawal benteng sunnah: Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy. Semoga Alloh merohmati beliau.

Beliau termasuk orang yang memahami permisalan-permisalan dan menyingkapkannya untuk manusia, sebagaimana sifat orang-orang yang Alloh ta’ala sebutkan dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾ [العنكبوت: 43].

“Dan permisalan-permisalan itu Kami bikin untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang mengetahui.”

Al Imam Al Hafizh Muhammad bin Ali Al Qoshshob رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini: “… merupakan dalil tentang keutamaan para ulama, dan bolehnya membikin permisalan-permisalan.” (“Nukatul Qur’an”/3/hal. 584/cet. Dar Ibni ‘Affan).

Dan Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy  adalah termasuk orang yang memperingatkan manusia akan tipuan dunia dan tipuan para pengiringnya, sebagaimana firman Alloh Yang Mahasuci:

﴿وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ الله خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُون﴾ [القصص/80]

“Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata: Celakalah kalian, pahala Alloh itu lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal sholih, dan tidak ada yang mendapatkannya kecuali orang-orang yang sabar.”

Al Imam Al Ajurriy رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya Alloh Yang Maha Perkasa dan Mahaagung, yang suci nama-namanya, mengkhususkan dari para makhluk-Nya orang yang dicintai-Nya. Maka Alloh membimbing mereka untuk beriman. Lalu Alloh mengkhususkan dari seluruh kaum mukminin orang yang dicintia-Nya, maka Dia memberikan karunia pada mereka, mengajari mereka Al Kitab dan Al Hikmah, dan menjadikan mereka paham terhadap agama, mengajari mereka tafsir, dan mengutamakan mereka di atas seluruh kaum Mukminin. Dan yang demikian itu terjadi di seluruh masa dan zaman. Alloh mengangkat mereka dengan ilmu dan menghiasi mereka dengan kesabaran. Dengan merekalah perkara yang halal itu bisa diketahui dan dipisahkan dari yang harom, yang benar diketahui dan dipisahkan dari yang batil, diketahui mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat, mana yang baik dan mana yang buruk.
Keutamaan mereka itu besar sekali, nilai mereka itu agung. Mereka adalah pewaris para Nabi dan penggembira para wali. Ikan paus di lautan memohonkan ampunan untuk mereka, para malaikat merundukkan sayap-sayap mereka untuk menghormati mereka. Dan para ulama para hari Kiamat memberikan syafaat setelah para Nabi. Majelis-majelis mereka memberikan faidah hikmah, dan dengan malan-amalan mereka orang-orang yang lalaipun berhenti dari kelalaian.
Mereka lebih utama daripada para ahli ibadah, dan lebih tinggi derajatnya daripada para ahli zuhud. Hidupnya mereka adalah ghonimah. Kematian mereka adalah musibah.
Mereka itu mengingatkan orang yang lalai, mengajari orang yang bodoh. Tidak dikhawatirkan datangnya kebinasaan untuk mereka, dan tidak ditakutkan datangnya kecelakaan dari arah mereka. Dengan bagusnya pendidikan mereka orang-orang yang taat berebutan. An dengan indahnya petuah mereka orang-orang yang kurang menjadi rujuk. Dan seluruh makhluk butuh kepada ilmu mereka.”(selesai dari kitab “Akhlaqul Ulama”/Al Ajurriy/hal. 3/cet. Darul Atsar).

Dan beliau termasuk dari para saksi bersama para malaikat Alloh yang mulia dan berbakti, akan tunggalnya Alloh ta’ala, yang mana Alloh berfirman tentang mereka:

﴿شَهِدَ الله أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾ [آل عمران: 18].

“Alloh bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Dia. Para malaikat dan orang-orang yang punya ilmu juga bersaksi yang demikian itu, dalam keadaan Alloh menegakkan keadilan. Tiada sesembahan yang benar selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Penuh hikmah.”
Maka cukuplah ini  sebagai kedudukan yang tinggi untuk beliau.

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahasuci mengambil persaksian dari para pemilik ilmu terhadap objek yang paling agung bagi-Nya, yaitu tauhid-Nya seraya berfirman: “Alloh bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Dia. Para malaikat dan orang-orang yang punya ilmu juga bersaksi yang demikian itu, dalam keadaan Alloh menegakkan keadilan. ” Ini menunjukkan tentang keutamaan ilmu dan ulama, dari beberapa segi, yang pertama: Alloh mengambil persaksian dari mereka, bukan dari manusia yang lain. Yang kedua: digandengkannya persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya. Yang ketiga: digandengkannya persaksian mereka dengan persaksian para malaikat-Nya. Yang keempat: di dalamnya mengandung pujian dan hukum bahwasanya mereka itu orang-orang yang adil (lurus jalan hidupnya) karena sungguh Alloh tidak mengambil persaksian dari para makhluk-Nya kecuali orang-orang yang adil.” Selesai penukilan yang diinginkan. (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 48).

Jejak-jejak beliau itu indah, warisan beliau itu agung. Maka hidupnya beliau adalah keuntungan bagi mumkinin dan duri di tenggorokan ahli batil. Dan kematian beliau adalah kerugian bagi ahli Islam dan penyesalan bagi manusia(), serta kegembiraan bagi para musuh dan orang yang tak tahu syukur.


Maka keadaan beliau itu bagaikan orang-orang yang dikatakan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal  رحمه الله تعالى:

“Segala puji bagi Alloh yang menjadikan pada setiap zaman yang kosong dari para rosul sisa-sisa ulama yang mengajak orang yang tersesat untuk menuju kepada hidayah, dan bersabar menerima gangguan dari mereka, menghidupkan dengan kitabulloh orang-orang yang mati, dan memberi ilmu dengan cahaya Alloh orang-orang yang buta. Maka berapa banyaknya orang yang telah dibunuh oleh Iblis mereka hidupkan kembali, dan berapa banyaknya orang yang tersesat dan bingung mereka tunjuki lagi. Maka alangkah bagusnya pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah jeleknya bekas manusia kepada mereka. Mereka meniadakan dari Kitabulloh penyelewengan orang-orang yang ghuluw, dan pengaku-akuan para pelaku kebatilan, dan ta’wil orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, dan melepaskan belenggu fitnah…” dst . (“Ar Rodd ‘Alaz Zanadiqoh Wal Jahmiyyah”/hal. 52/Darul Minhaj).
Maka berikut ini adalah biografi singkat untuk Fadhilatul ‘allamah Asy Syaikh As Salafiy Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy رحمه الله dalam rangka mengingatkan umat akan kebaikan-kebaikan ilmiyyah dan amaliyyah beliau, dan memperingatkan mereka akan pentingnya menelusuri warisan beliau yang bagus, karena dia adalah bagaikan perahu di lautan syahawat, dan lentera di gelapnya syubuhat, dan jadilah pedang tajam terhadap pasukan syirik, bid’ah dan hizbiyyah.

Dan itu semua adalah dengan taufiq dari Alloh semata-mata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan Dialah Yang memberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Maka saya berkata dengan mohon pertolongan pada Alloh:

PASAL SATU:

Nasab, Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau

Beliau adalah Fadhilatusy Syaikh As Salafiy, seorang alim yang agung: Zaid bin Muhammad bin Hadi Al MadkholiyAbu Muhammad رحمه الله .

Beliau dari qobilah Madakhilah yang terkenal di daerah Jazan, di wilayah selatan Kerajaan Saudi Arabiyyah. Qobilah ini merupakan salah satu dari qobilah-qobilah Bani Syubail. Dan Syubail adalah ibnu Yasyjub bin Ya’rub bin Qohthon.

Beliau dilahirkan pada tahun seribu tigaratus lima puluh tujuh hijriyyah (1357 H), bertepatan dengan tahun 1938 masehi, di desa Rukubah yang ikut strata propinsi Shomithoh di wilayah Jazan. Desa tadi ada di sebelah timur kota Shomithoh dengan jarak sekitar tiga kilo meter. Desa itu sekarang merupakan salah satu dari desa-desa yang masuk ke area kota tersebut.

Pertumbuhan beliau, dan proses belajar beliau: beliau tumbuh di desanya bersama kedua orang tuanya dan beliau membantu keduanya. Beliau mencapai usia tujuh tahun ketika sang ibu meninggal, beliau belum baligh saat itu. Sang ibu terkenal sebagai wanita yang sholihah dan taat agama.

Ketika beliau mencapai usia tiga puluh tahun, sang ayah meninggal. Dulu beliau menyertai sang ayah dalam menuntut ilmu ketika masih kecil. Dan mendorongnya untuk itu kerabat beliau: Asy Syaikh Ahmad bin Ahmad Alausy Al Madkholiy رحمه الله.

Ini menunjukkan bahwasanya Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy bukanlah anak dari Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholiy yang masih hidup sampai sekarang. Sebagaimana dijelaskan oleh akhunal fadhil Abu Hamzah Ali Jihaf Al Hasyimiy حفظه الله bahwasanya tidak ada kekerabatan dekat di Antara keduanya.

Bahkan Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholiy itu seusia dengan beberapa anak dari Asy Syaikh Zaid رحمه الله. Beliau bergabung dengan halqoh ta’lim di desanya, mempelajari khoth (cara menulis huruf Arob yang benar), tulis-menulis, membaca, tauhid, tajwid, dan membaca Al Qur’an. Dan beliau mulai menghapalnya, dan berhasil menghapal surat Al Baqoroh, Ali Imron dan sebagian dari surat-surat mufashshol.

Kemudian beliau mulai belajar (di pendidikan resmi) di desa Rukubah pada usia tujuh tahunan, lalu tinggal di desa Daghoir, lalu pindah ke kota Shomithoh dan bergabung dengan Madrasah Salafiyyah yang berkembang di situ, yang didirikan oleh Al Imam Al Mujaddid Abdulloh bin Muhammad Al Qor’awiy رحمه الله dan madrasah yang ada di perumahan Asy Syaikh yang agung: Nashir bin Kholufah Mubarokiy رحمه الله , dan beliau memelihara madrasah tadi dengan ilmu beliau, keutamaan beliau, kelapangan dada beliau untuk para pelajar. Asy Syaikh Zaid di situ belajar “Kitabut Tauhid”, “Bulughul Marom”, warisan, tajwid, nahwu, dan shorf.
Pada tahun seribu tiga ratus enam puluh delapan Hijriyyah (1368 H) beliau bergabung dengan Asy Syaikh Hafizh Al Hakamiy رحمه الله di kota Baisy, membaca di hadapan beliau kitab-kitab bersama para pelajar pendatang, belajar pada beliau, dan tinggal di situ selama sekitar tiga bulan untuk meraih ilmu. Dan beliau kembali ke Madrosah Salafiyyah dan ditugasi untuk mengajari sebagian murid di situ, dan mengajar di halqoh di desa beliau. Lalu beliau ditunjuk untuk menjadi pengajar di desa Rukubah di sekolah-sekolah Qor’awiy pada tahun seribu tiga ratus tujuh puluh dua Hijriyyah (1372 H), dan usia beliau saat itu sekitar lima belas tahun (15 tahun). Lalu beliau ditunjuk untuk menjadi kepala sekolahnya. Saat itu yang membantu beliau adalah Asy Syaikh Jabir bin Muhammad Al Madkholiy, kepala pembekalan Islam di Hajj رحمه الله.
Lalu di saat sekolah-sekolah di Qor’awiy digabungkan dengan sekolah-sekolah kementrian Ma’arif (ilmu pengetahuan), dan dibukalah Al Ma’hadul ‘Ilmiy di kota Shomithoh pada tahun seribu tiga ratus tujuh puluh empat Hijriyyah (1374 H), beliau bergabung di situ saat mulai tahun ajaran baru di tahun seribu tiga ratus tujuh puluh lima Hijriyyah (1375 H) dengan musyawarah dari dua tokoh Asy Syaikh yang mulia: Abdulloh bin Muhammad Al Qor’awiy dan Hafizh bin Ahmad Al Hakamiy رحمهما الله , dan beliau lulus darinya pada akhir tahun seribu tiga ratus tujuh puluh sembilan Hijriyyah (1379 H) dan awal tahun seribu tiga ratus delapan puluh Hijriyyah (1380 H). di situ beliau belajar kepada sejumlah masyayikh yang agung, mempelajari sejumlah cabang ilmu.

Kemudian beliau bergabung dengan Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyyah di kuliah Asy Syari’ah selama dua tahun. Dan pada tahun kedua beliau menyempurnakan hapalan Al Qur’anul Karim. 

PASAL DUA:

Kesibukan Ilmiyyah Asy-Syaikh Zaid

Beliau ditugasi untuk mengajar di Al Ma’hadul ‘Ilmiy sebelum beliau lulus. Dan kepala Ma’had saat itu adalah Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Ahmad Al Hakamiy رحمه الله.  Beliau menyempurnakan belajarnya dengan mendapatkan ijazah pada tahun seribu tiga ratus delapan puluh dua Hijriyyah (1382 H) tanpa beliau minta. Dan yang demikian itu memang dalam rangka menyemangati para pelajar. Lalu beliau tinggal di situ sebagai pengajar hingga mencapai batas usia pengajaran resmi, lalu beliau dipensiunkan pada tahun seribu empat ratus tujuh belas Hijriyyah (1417 H). berarti selama tiga puluh lima tahun beliau memberikan pelayanan pengajaran resmi.

Dan beliau merintis Maktabah Salafiyyah Khoiriyyah pertama kali di kota Shomithoh pada tahun 1416 H, yang berisi lebih dari empat ribu judul kitab, yang beliau jadikan Maktabah tadi untuk melayani para pelajar yang bernaung di situ, yang datang dari berbagai tempat.
Majelis beliau tidak kosong dari penuntut ilmu yang belajar di hadapan beliau, atau orang yang meminta fatwa dan meminta jawaban atas fatwa beliau. Dan beliau memiliki saham berdakwah ke jalan Alloh di wilayah Jazan dan di musim haji. Jadwal pelajaran beliau terus berlangsung, segala puji bagi Alloh, yang mana dibacakan di hadapan beliau kitab-kitab ringkas dan kitab-kitab yang tebal. Dan beliau juga mengajar melalui telpon untuk berbagai wilayah dan negara yang berbeda-beda.

Beliau رحمه الله terhitung sebagai tokoh kedua di wilayah Jazan dalam masalah ilmu dan fatwa serta dakwah ke jalan Alloh setelah syaikh beliau yang alim dan mulia: Mufti Kerajaan Saudi bagian selatan Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله.

Diantara Jabatan Yang Beliau Pikul:

  • Pengajar di Ma’had ‘Ilmiy selama tiga puluh tahun, sampai beliau dialihkan untuk pensiun di awal bulan Rojab tahun 1417 H.
  • Imam dan khothib di masjid Jami’ beliau selama selang waktu yang panjang, dan sebelum dirintisnya masjid Jami’ beliau, beliau berkhothbah di masjid-masjid jami’ di propinsi tersebut, berpindah-pindah di situ.
  • Beliau merintis Maktabah Salafiyyah Khoiriyyah pertama kali di kota Shomithoh pada tahun 1416 H, yang berisi lebih dari empat ribu judul kitab, yang beliau jadikan Maktabah tadi untuk melayani para pelajar yang bernaung di situ, yang datang dari berbagai tempat.
  • Beliau bersama Fadhilatusy Syaikh Al Allamah Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله merintis dauroh ilmiyyah Al Imam Al Mujaddid Abdulloh Al Qor’awiy, dan beliau sebagai pengawasnya. Ini adalah dauroh-dauroh ilmiyyah syar’iyyah yang bermacam-macam yang diselenggarakan setiap tahun pada selang waktu ijazah musim panas yang diminati oleh banyak pelajar dari dalam dan luar kerajaan Arab Saudiy. Dauroh ini telah dirintis pada tahun 1416 H.
  • Kepemimpinan majelis kantor Ta’awunid Da’wah Wal Irsyad Wa Tau’iyyatil Jaliyat di propinsi Shomithoh, dirintis pada tahun 1432 H.
  • Beliau ikut andil dalam Tau’iyyah Islamiyyah di muslim haji sejak tahun 1398 H sampai tahun 1424 H, yaitu selang waktu 27 tahun.
  • Mengurusi pendidikan di masjid jami’ beliau dan fatwa di wilayah tersebut.

Bukanlah Syaikh yang meminta jabatan-jabatan tadi, hanya saja beliau adalah tokoh terpercaya dan ahli di kalangan ulama dan yang lainnnya sehingga mereka membutuhkan beliau untuk memikul beban dakwah dan lainnya, bersamaan dengan zuhudnya beliau terhadap dunia.
Orang yang mengenal Syaikh akan melihat zuhudnya beliau terhadap dunia. Karena itulah beliau tidak berupaya mengejarnya dan tidak mencarinya. Bahkan beliau mencurahkan diri untuk ilmu dan penyebarannya: pengajaran, fatwa dan karya tulis.

PASAL TIGA:

Para Masyayikh yang Beliau Belajar Ke Mereka

Di Antara para Masyayikh yang beliau belajar ke mereka adalah:

  1. Asy Syaikh Ali bin Muhammad Hajj Mahjariy Al Madkholiy رحمه الله.
  2. Asy Syaikh Hadi bin Hadi Al Madkholiy رحمه الله.
  3. Asy Syaikh Abdulloh bin Muhammad Al Qor’awiy رحمه الله.
  4. Asy Syaikh Hafizh bin Ahmad Al Hakamiy رحمه الله.
  5. Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al Hakamiy رحمه الله.
  6. Asy Syaikh Jabir bin Salman Al Madkholiy رحمه الله.
  7. Asy Syaikh Ali bin Yahya Al Bahkaliy حفظه الله.
  8. Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله.
  9. Asy Syaikh Hasan bin Muhammad Syubair An Najmiy رحمه الله.
  10. Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al Madkholiy رحمه الله.
  11. Asy Syaikh Nashir bin Kholufah Thoyyasy Mubarokiy رحمه الله.
  12. Asy Syaikh Muhammad Aman bin Ali Al Jamiy رحمه الله.
  13. Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz رحمه الله.
  14. Asy Syaikh Abdurrohman An Najdiy رحمه الله.
  15. Asy Syaikh Abdulloh bin Abdirrohman Al Ghudayyan رحمه الله, (Anggota Haiah Kibaril Ulama).
  16. Asy Syaikh Muhammad ‘Athiyyah Salim رحمه الله.

     

PASAL EMPAT:

Para Murid Beliau dan Yang Mengambil Ilmu Dari Beliau

Sungguh termasuk karunia Alloh pada Syaikh yang alim faqih salafiy ini: Zaid bin Muhammad Al Madkholiy رحمه الله , bahwasanya beliau mewaqofkan diri untuk mengajar dalam masa yang panjang, lebih dari lima puluh tahun. Beliau memiliki banyak murid dari berbagai negara dan kota, dan di Antara mereka ada pelajar-pelajar terkemuka, sehingga sebagiannya menjadi dai besar ke jalan Alloh.

Saking banyaknya mereka tidak bisa untuk kita hitung dengan sempurna karena memang tidak didaftar dari suatu kitab. Murid beliau banyak dari berbagai negara. Mayoritasnya dari Kerajaan Arab Saudiy, kemudian Yaman, Uni Emirat Arab, Bahroin, Kuwait, Qothr, Maghrib, Aljazair, Tunisia, Libia, Sudan, Mesir, Indonesia, dan negara-negara Eropa, Amerika. Belum lagi yang mengikuti dars-dars beliau melalui internet.

PASAL LIMA:

Karya Tulis Asy-Syaikh Zaid Al Madkholiy

Sesungguhnya Alloh mendukung agama ini dan menjaganya dengan keberadaan para ulama dan karya tulis mereka.

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… dan ini dikarenakan Alloh subhanah telah menjamin penjagaan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya, dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengabarkan bahwasanya akan senantiasa ada sekelompok dari umat beliau yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka, ataupun orang yang menyelisihi mereka, sampai hari Kiamat. Maka senantiasa Alloh menanam orang-orang yang ditanam-Nya di dalam agama-Nya, mereka menanamkan ilmu di dalam hati-hati orang-orang yang Alloh beri kemampuan untuk itu dan diridhoi-Nya untuk itu, maka jadilah mereka itu pewaris bagi para ulama sebelumnya, sebagaimana para ulama sebelumnya pewaris bagi para ulama sebelumnya lagi, maka hujjah-hujjah Alloh tidak terputus. Dan yang menegakkannya juga tidak terputus di bumi. Dan di dalam atsar yang terkenal:

«لا يزال الله يغرس في هذا الدين غرسا يستعملهم بطاعته»

“Senantiasa Alloh menanam di dalam agama ini tanaman yang mereka itu Alloh jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya.”

Dan dulu termasuk doa sebagian orang terdahulu adalah:

اللهم اجعلني من غرسك الذين تستعملهم بطاعتك

“Ya Alloh jadikanlah saya termasuk dari tanaman-Mu yang Engkau jadikan mereka beramal dengan ketaatan pada-Mu.”

Dan karena itulah tidaklah Alloh tegakkan untuk agama ini orang yang menjaganya kemudian Dia mengambilnya kepada-Nya (mewafatkannya) kecuali dalam keadaan Alloh telah menanamkan apa yang diketahuinya dari ilmu dan hikmah, bisa jadi dalam hati-hati orang yang semisal dengannya, dan bisa jadi di dalam kitab-kitab yang dimanfaatkan oleh manusia sepeninggalnya.” (selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 147-148).

Maka termasuk dari taufiq Alloh ta’ala untuk Asy Syaikh Zaid Al Madkholiy رحمه الله adalah bahwasanya beliau senang menulis, sebagai bagian dari semangat beliau untuk menyebarkan kebaikan, menolong kebenaran dan menghantam kebatilan-kebatilan.

Syaikh yang mulia ini mulai karya tulisnya sebelum beliau mencapai usia empat puluh tahun. Beliau menulis kitab yang pertama pada usia tiga puluh tujuh tahun. Karya tulis beliau mencapai lebih dari enam puluh kitab.

Di antara Karya Tulis beliau yang bisa saya temukan atau saya ketahui beritanya dalah:

  1. Al Hayah Fi Zhillil ‘Aqidatil Islamiyyah.
  2. Al Ajwibatus Sadidah ‘Alal Asilatir Rosyidah (1-8 juz).
  3. Syarhul Qoshidatil Haiyyah Lisy Syaikh Hafizh Al Hakamiy
  4. Al Afnanun Nadiyyah Syarhus Subulis Sawiyyah Li Fiqhis Sunanil Marwiyyah (1-9 juz).
  5. Al Manhajul Qowim Fit Taassi Bir Rosulil Karim صلى الله عليه وسلم.
  6. Majmu’atu Rosail.
  7. Quthuf Min Nu’utis Salaf.
  8. Al Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal Afrod Wal Mujtama’.
  9. Al Manzhumatul Hisan Fil ‘Aqoid Wal Manahij Wal Manahil Wa Quthuf Min ‘Ulumil Qur’an.
  10. Al Juhdul Mabdzul Fi Tanwiril ‘Uqul Bi Syarh Manzhumati Wasilatil Hushul Ila
  11. Muhimmatil Ushul (1-3 juz).
  12. Asbab Istiqomatisy syabab Wa Bawa’itsi Inhirofihim.
  13. Wujub Satril Wajh Wal Kaffain Wa Syuruthu Hijabil Mar’atil Muslimah.
  14. Qobasun Minasy Syuruq ‘Alal Furuq.
  15. Abrozul Fawaid Min Arba’il Qowa’id
  16. At Ta’liqotul Mubarokat ‘Ala Kasyfisy Syubuhat
  17. Syarhul Ushulis Sittah
  18. Al Ajwibatul Mukhtashoroh ‘Alal Asilatil ‘Asyaroh
  19. Al ‘Amalul Asna Bi Syarhi Ismaini Min Asmaillahil Husna.
  20. Qobasun Minal Afnanil Nadiyyah Li Idhohi Manasikil Hajjil Marwiyyah.
  21. Fiqhud Da’wah Ilalloh Wa Nu’utid Da’iyah.
  22. Al Bahtsul Wajiz Fi Nushrotil Haqqil ‘Aziz.
  23. Kalimatu Haqq Hiyala Hadatsin Tahadda Bihi Shoni’uhu Syari’atal Islam Wa Qayyimal Muslimin.
  24. Tadwinu Tsalatsati Asilatin Muhimmah Rojauna Bil Ijabah ‘Alaihal Matsubah Wa Naf’al Ummah.
  25. Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid Fil Ijabah ‘Ala Masaila Fil Fiqh Wal Manahij Wat Tauhid.
  26. ‘Awamilun Nashrisy Syar’iyyah Au Asbabun Nashrisy Syar’iyyah Wa Shifatul Mujahidinal Mardhiyyah.
  27. Ad Diwanul Malihul Musytamil ‘Alath Thorfatil Hakimah, Wan Nashihatil Qowimah, Wal Qoulis Sadidah, Bi Thoriqoit Tashrih Wat Talmih.
  28. An Nazhmul Mukhtar Li Ba’dhi Maudhu’at “Al Minzhor” Ma’a Idhofat Kana Marji’uha Shohihal Atsar.
  29. Al Fatawal Mudhiat Fi Hukmid Dukhon Wasy Syammah Wal Qot.
  30. Asy Syaikh Hafizh Al Hakamiy: Hayatuhu Wa Juhuduhul ‘Ilmiyyah Wal ‘Amaliyyah.
  31. Qothful Janal Mustathob Syarhu ‘Aqidatil Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab.
  32. La Hirota Ba’dal Ithla’ Bal Ibanah Wa Tanfidz Wa Ittiba’.
  33. Ar Risalatul Qoyyimah Ilal Mar’atil Muslimah.
  34. Thoriqul Wushul Ila Idhohits Tsalatsatil Ushul.
  35. Sullamul Wushul Ila Bayanis Sittatil Ushul.
  36. As Sirojul Waqqod Fi Bayan Tashhihil I’tiqod War Rodd ‘Ala Firoqiz Zaigh Wal Fasad.
  37. Ar Roddun Nafi’il Mufid ‘Ala Man Qola Innan Nasal Yauma Yahtajun Ila Wahyin Jadid.
  38. Natsrul Wurud “Ala Haiyyati Ibni Abi Dawud.
  39. Audhohul Ma’aniy Syarh Muqoddimati Risalati Ibni Abi Zaid Al Qoirowaniy.
  40. Nashihatun Gholiyah Wa Kanzuts Tsamin.
  41. Asy Syuruq ‘Alal Furuq Bainal Kufr Wasy Syirk Wan Nifaq Wal Fusuq.
  42. Syarhul Adabil Mufrod
  43. At Ta’liqul Matin ‘Ala Kitab Ashlis Sunnah Wa I’tiqodid Din Lil Imamain Ar Roziyyain Abi Hatim Wa Abi Zur’ah Bi Riwayath Ibni Abi Hatim Ar Roziy.
  44. Nuzhatul Qoriy Fi Syarh Kitabil ‘Ilmi Min Shohihil Bukhoriy.
  45. At Ta’liqotul Hisan ‘Ala Ushulil Iman Li Syaikhil Islam Muhammad bin Abdil Wahhab رحمه الله.
  46. At Ta’liqotul Lathifah ‘Ala Ushulis Sunnatil Munifah Lil Imamir Robbaniy Ahmad bin Hanbal Asy Syaibaniy رحمه الله.
  47. An Nushhu Wal Bayan Li Muallifi Kitab “Al Jaudah Wal Itqon Fi Halaqotil Qur’an.”
  48. Yaumul Jum’ah: Syarofuhu, Wa Fadhluhu, Wa Makanatuh.
  49. At Ta’liq ‘Ala Talbisi Iblis Ta’liqotun Fi Babil ‘Aqidah.
  50. Waqfatun Wa Ma’alim: Sualani Wa Jawabuhuma.
  51. Al Ajwibatul Atsariyyah ‘Anil Asilatil Manhajiyyah: Khomsuna Sualan Wa Jawaban.
  52. Al Irsyad Ila Taudhih Lum’atil I’tiqod.
  53. Al Idhohatut Saniyyah Li Ushulil ‘Aqoidid diniyyah.
  54. Al Majmu’ul Ashil Li Taudhihil ‘Aqoid Bit Tafshil.
  55. Al ‘Aqoidil Jaliyyah Min Syarh Masailil Jahiliyyah.
  56. Syarh Kitabit Tauhid Alladzi Huwa Haqqullohi ‘Alal ‘Abid.
  57. Majmu’ Khuthobil Jum’ah.
  58. Syarhul Wasithiyyah.
  59. Syarh Lamiyyah Ibni Taimiyyah.
  60. Waqfat Ukhowiyyah Ma’a Ba’dhi Abyat Min Qoshidah Roddit Tahiyyah.
  61. Syarhul Duroril Bahiyyah.
  62. Ath Thobibul Kamil Huwal ‘Arif Bi Amrodhil Qolb War Ruh Wal Badan Wa ‘Ilajiha.
  63. Tafsirul Qur’anil ‘Azhim.

Tema-tema asasi risalah beliau itu berkisar seputar: Penjelasan aqidah Salafiyyah dengan dalil-dalil aqli dan naqli atas dasar manhaj Salafush Sholih, disertai dengan penjelasan akan batilnya lawannya, yang berupa syirik, bid’ah, hawa nafsu dan kesesatan-kesesatan.

Juga Fiqih Islamiy dalam ibadah, muamalah, kehakiman, adab, akhlaq, metode ibadah, motinasi dan ancaman.

Juga bantahan-bantahan terhadap kitab, selebaran, kaset dan tokoh dengan nash-nash Al Kitab dan As-Sunnah serta fiqh Salaful Ummah, dalam rangka menjelaskan kebenaran dan melenyapkan kebid’ahan.

PASAL ENAM:

Pelajaran-Pelajaran Beliau

Asy Syaikh Zaid Al Madkholiy رحمه الله amat bersemangat untuk mengajari umat dan mendidik  mereka, karena beliau tahu bahwasanya kejelekan itu akan bertambah jika ilmu dan kebenaran itu tersamarkan.

Al Imam Az Zuhriy رحمه الله berkata: “Dulu para ulama kita yang telah berlalu berkata: berpegang teguh dengan As Sunnah itu merupakan keselamatan. Dan ilmu itu akan dicabut dengan cepat. Maka memuliakan ilmu untuk menyebabkan kekokohan agama dan dunia, sementara hilangnya ulama merupakan sebab hilang itu semua.” (“Az Zuhd”/Ibnul Mubarok/no. (817), dan “Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah Wal Jama’ah”/Al Lalikaiy/no. (119), dan “Al Faqih Wal Mutafaqqih”/Al Khothib Al Baghdadiy/no. (279), dan “Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/Ibnu Abdil Barr/no. (676)/shohih).

Dars-dars Fadhilatusy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi رحمه الله itu banyak dan terekam, demikian pula ceramah-ceramah dan wasiat-wasiat beliau.

Beliau juga punya ceramah-ceramah yang beraneka ragam dan bermanfaat, dan juga khuthbah-khuthbah Jum’at yang bermacam-macam dan berfaidah.

Masih banyak materi yang belum termudahkan bagi saya pencatatannya, dan dia ada di situs resmi Fadhilatusy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy رحمه الله.

Lihatlah betapa besar perhatian beliau dalam pemurnian tauhid, perbaikan aqidah, pendalaman fiqih dan ushulnya, disertai oleh luasnya ilmu beliau dalam syair dan sastra, dan banyaknya wawasan beliau dalam kitab-kitab sunnah, dan luasnya ilmu beliau dalam hadits.
Dan lihatlah banyaknya cabang ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Dan lihatlah juga rasa takut beliau dan pengagungan beliau pada urusan akhirat dan zuhud beliau terhadap dunia.

Di antaranya adalah:

  1. Ushulus Sunnah Lil Imam Ahmad.
  2. Ashlus Sunnah Wa I’tiqodid Din Lil Imamain Ar Roziyyain.
  3. Tathhirul I’tiqod Li Ibnil Amir Ash Shon’aniy.
  4. Al I’tiqodul Kholish Li Ibnil ‘Aththor.
  5. Riyadhush sholihin Lin Nawawiy.
  6. Ushulul ‘Aqoidid Diniyyah.
  7. Al ‘Aqidatuth Thohawiyyah.
  8. Ma’arijul Qobul.
  9. Al Muwaththo.
  10. As Sunan.
  11. Al Haiyyah Li Ibni Abi Dawud.
  12. Al Afnanun Nadiyyah.
  13. Al Juhdul Mabdzul Fi Tanwiril ‘Uqul.
  14. I’tiqodul Imam Muhammad bin Abdil Wahhab.
  15. Kitabul ‘Ilm Min Shohihil Bukhoriy.
  16. Lum’atul I’tiqod Li Ibni Qudamah.
  17. Al Qoirowaniyyah.
  18. Al ‘Aqidatul Wasithiyyah.
  19. Al Ushuluts Tsalatsah.
  20. Al Adabul Mufrod.
  21. Al Fatawal Hamawiyyah.
  22. Al Muntaqo Li Ibnil Jarud.
  23. Al ‘Amalul Asna Bi Syarhi Ismaini Min Asmaillahil Husna.
  24. Sunan Abi Dawud.
  25. Takhrij Ahaditsil Mashobih.
  26. At Tajridush Shorih.
  27. Sunan Ibni Majah.
  28. Sunan An Nasaiy.
  29. Mukhtashirul Bukhoriy Li Az Zabidiy.
  30. Asy Syuruq Fi Firqotisy Syi’ah War Rowafidh.
  31. Al Muharror.
  32. Ushulut Tafsir.
  33. Mukhtashorul Khouqir.
  34. Al Washiyyatush Shughro Li Ibni Taimiyyah.
  35. Kalimatun Fi Romadhon.
  36. Adhwaul Bayan.
  37. Daliluth Tholib.
  38. Zadul Mustaqni’.
  39. Al Baiquniyyah.
  40. Kitabul Kabair.
  41. Al Ibanah Li Ibni Baththoh.
  42. Kitabut Tauhid.
  43. Kitab Al Mauqifil Haqq Fima Ubtiliya Bihi Katsirun Minal Kholq.
  44. Sullamul Wushul.
  45. Al Kafi.
  46. Al Waroqot.
  47. Al Ihkam.
  48. At Tauhid Li Ibni Khuzaimah.
  49. Nawaqidhul Islam.
  50. Fitnatut Takfir: Ushuluha War Roddu ‘Alaiha.
  51. Al Hajju Wa Ahkamuh.
  52. Washuya Lil Junud.
  53. At Tauhid Wa Atsaruhu ‘Alal Hayah.
  54. Al Waqf Wa Ahammiyatuhu Fil Islam.
  55. Al Fiqh Fid Din.
  56. Tafsirus Sa’diy.
  57. Bulughul Marom.
  58. Syarh Hadits: “Ightanim Khomsan”.
  59. Al Ushulus Sittah.
  60. Washiyyatu ‘Ali Li Kumail.
  61. Tafsir Surati Ghofir.
  62. Kitabul Janaiz Min ‘Umdatil Ahkam.
  63. Tafsir Ibni Katsir.
  64. ‘Umdatul Fiqh.
  65. Al Manzhumatul Mimiyyah.

Beliau benar-benar seorang alim faqih, sekalipun popularitas beliau tidak mencapai popularitas Al Imam Ibnu Baz dan yang semisal beliau رحمهم الله.

Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, yang berharap besar terhadap akhirat, yang berpandangan tajam dalam urusan agamanya, yang terus-menerus untuk beribadah pada Alloh عز وجل.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Imam Al Ajurriy/no. (47)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله/cet. Darul Atsar).
Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab, akan tetapi orang alim adalah orang yang mengikuti Al Kitab dan As Sunnah, sekalipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan orang yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah maka dia itu pengekor hawa nafsu sekalipun dia banyak riwayat dan kitab.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 45).

Dan bukanlah syarat seorang mujtahid itu dia haruslah orang yang terkenal di kalangan manusia atau dia itu banyak bicara.

Al Imam Abu Ishaq Asy Syairoziy رحمه الله berkata: “Dan yang terpandang dalam kebenaran ijma’ adalah kesepakatan seluruh orang yang ahli dalam ijtihad, sama saja apakah dia itu terkenal dan popular ataukah dia itu tersembunyi dan tidak terkenal.” (“Al Luma’/hal. 188-189/Al Maktabatut Taufiqiyyah).

Al ‘Allamah Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Tidaklah disyaratkan pada seorang mujtahid yang ucapannya terpandang untuk dia itu terkenal dalam fatwa. Bahkan ucapan seorang mujtahid yang tidak terkenal itu ucapannya terpandang . Berbeda dengan pendapat sebagian orang yang syadzdz (menyeleneh).” (“Al Bahrul Muhith”/6/hal. 100).

Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka wajib untuk diyakini bahwasanya tidaklah setiap orang yang banyak berbicara dalam ilmu itu lebih berilmu daripada orang yang tidak demikian.” (“Fadhl ‘Ilmis Salaf ‘Alal Kholaf”/hal. 5).

Ini andaikata Asy Syaikh Zaid memang tidak banyak bicara dan tidak menulis banyak kitab. Maka beliau adalah alim sejati.

Maka bagaimana sementara beliau itu memang banyak ilmu, banyak penjelasan, banyak menyampaikan pelajaran dan banyak kitabnya? Maka tiada yang mengingkari ilmu beliau kecuali orang yang bodoh atau pengekor hawa nafsu.

Penjelasan-penjelasan beliau terhadap kerumitan yang ada, pengajaran beliau terhadap-ilmu-ilmu, kitab-kitab beliau dalam menjelaskan kebenaran, dan bantahan-bantahan beliau terhadap kebatilan itu amat bermanfaat bagi umat.

Al Ashmu’iy menukilkan dari ayahnya yang berkata: Aku melihat Iyas bin Mu’awiyyah di rumah Tsabit Al Bunaniy. Ternyata beliau adalah orang yang lengannya panjang dan bajunya dari bahan yang kasar. Sorban beliau berwarna. Beliau banyak bicara. Dan tidak ada orang yang berbicara bersama beliau kecuali beliau mengunggulinya. Maka sebagian dari mereka berkata pada beliau: “Anda tak punya aib kecuali banyaknya ucapan anda. Maka beliau bertanya: “Aku bicara dengan benar ataukah dengan batil?” dijawab: “Dengan benar.” Maka beliau berkata: “Setiap kali kebenaran itu banyak, maka itu bagus.” (“Al Bidayah Wan Nihayah”/13/hal. 121-122/cet. Dar Alamil Kutub).

PASAL TUJUH:

Kebencian beliau Terhadap Khowarij dan Para Pelaku Pemberontakan dan Peledakan 

Barangsiapa mendengar nasihat-nasihat dan ceramah-ceramah beliau dia akan tahu secara yakin akan kokohnya beliau di atas manhaj Salaf, dan bencinya beliau terhadap pemberontakan, penggulingan dan peledakan. Bahkan beliau memiliki tulisan-tulisan yang berisi peringatan manusia terhadap kebatilan-kebatilan dan penyelewengan tadi, di antaranya adalah kitab “Al Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal Afrod Wal Mujtama’.”

Dan beliau di dalam kitab tadi menceritakan kejadian-kejadian pemberontakan khowarij terhadap negara muslim, di antaranya adalah pemberontakan Juhaiman, yang mana Asy Syaikh Zaid berkata:

“Di antara berita tentang gerombolan ini adalah: bahwasanya mereka masuk ke Baitil Harom pada hari Selasa di awal hari dari bulan Alloh Muharrom tahun 1400 H. Mereka disertai oleh imam mahdi versi mereka yang dipanggil dengan Muhammad bin Abdillah Al Qohthoniy. Dia disertai dan disemangati oleh juru bicaranya yaitu Juhaiman bin Saif Al ‘Utaibiy. Mereka masuk dengan membawa persenjataan dan amunisi, lalu mereka menuntut dari Muslimin untuk membai’at Mahdi tersebut di bawah pijakan tekanan, pembunuhan dan teror terhadap muslimin secara umum, dan terhadap penduduk tanah suci secara khusus. Ya Alloh, berapa banyaknya darah yang mereka tumpahkan secara zholim dan permusuhan.Dan para ulama telah menyeru mereka untuk turun berdasarkan hukum syari’ah Alloh yang berlaku terhadap mereka, tapi mereka menolak dan memilih melanjutkan jalur kejahatan, kerusakan, kefasiqan, kedurhakaan dan pembangkangan.Maka para tentara Alloh yang pemberani, ahli tauhid dan keberanian dari tentara Saudi bangkit melawan mereka hingga memaksa mereka untuk menyerah.Seratus tujuh puluh dari pemberontak tadi ditangkap hidup-hidup karena mau memenuhi seruan untuk menyerah.Kemudian dilangsungkanlah syari’at Alloh terhadap mereka.Enam puluh tiga orang dihukum mati, dan sisanya berhak untuk diberi hukuman dengan penjara dan cambuk.Dan Alloh mensucikan Tanah Suci yang mulia dari gerombolan pemberontak dan teroris tadi.Tapi yang sangat disayangkan adalah bahwasanya mereka menamakan diri mereka sebagai Jama’atul Hadits. Aku katakan: Sekalipun mereka menghapalkan beberapa lafazh-lafazh hadits, hanya saja mereka diharomkan dari mengetahui makna-maknanya. Dan terhadap orang yang zholimlah beredarnya kecelakaan.” (“Al Irhab”/karya Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy/cet. Darus Salafiyyah).

Saya menyebutkan ini dalam rangka membantah orang yang menuduh Ahlussunnah Wal Jamaah adalah teroris, pemberontak, pelaku bom bunuh diri dan semisalnya.

Ahlussunnah Wal jamaah itu berada di atas jalan yang lurus,

﴿صِرَاطِ الله الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ﴾ [الشورى: 53]،

“Yaitu jalan Alloh Yang hanya milik-Nya sajalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”

    Adapun khowarij, maka mereka itu ada di atas jalan-jalan para setan, dan di atas setiap dari jalan tersebut ada setan yang mengajak mereka agar menjadi penghuni neraka Sa’ir, bahkan jadilah mereka itu anjing neraka.

    Dari Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه yang berkata:

خط لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما خطا فقال:«هذا سبيل الله» ثم خط خطوطا عن يمين الخط وعن شماله فقال:«هذه السبل وهذه سبل على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه»، ثم تلا هذه الآية:﴿وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه﴾ للخط الاول،﴿ولا تتبعوا السبل﴾ للخطوط،﴿فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون﴾.

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم pada suatu hari menggariskan untuk kami suatu garis seraya bersabda: “Ini adalah jalan Alloh.” Kemudian beliau menggariskan garis-garis di sebelah kanan dan kiri dari garis tadi, seraya bersabda: “Jalan-jalan ini, dan ini adalah jalan-jalan yang masing-masingnya ada setan di atasnya yang menyerukan ke jalan itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia,”untuk garis yang pertama. “Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain),” untuk garis-garis yang lain tadi, “Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (HR. Imam Ahmad di “Al Musnad” (4437), An Nasaiy di “As Sunanul Kubro” (11174), dan yang lainnya dengan sanad hasan).

Dan dari Abu Gholib yang berkata:

لَمَّا أُتِىَ بِرُءُوسِ الأَزَارِقَةِ فَنُصِبَتْ عَلَى دَرَجِ دِمَشْقَ جَاءَ أَبُو أُمَامَةَ فَلَمَّا رَآهُمْ دَمَعَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ: «كِلاَبُ النَّارِ – ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – هَؤُلاَءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ». قَالَ: فَقُلْتُ: فَمَا شَأْنُكَ دَمَعَتْ عَيْنَاكَ؟ قَالَ: رَحْمَةً لَهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ. قَالَ: قُلْنَا: أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ هَؤُلاَءِ كِلاَبُ النَّارِ، أَوْ شَىْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِنِّى لَجَرِىءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَعَدَّ مِرَاراً.

“Ketika didatangkan kepala-kepala orang-orang Azariqoh lalu ditancapkan di tangga-tangga Dimasyq, datanglah Abu Umamah. Maka beliau melihat mereka, mengalirlah air mata mereka, seraya berkata: “Anjing-anjing neraka.”Sebanyak tiga kali.“Mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit.Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang yang mereka bunuh.” Maka aku bertanya: “Lalu kenapa air mata Anda berlinang?” beliau menjawab: “Rasa kasihan kepada mereka. Sesungguhnya mereka dulunya adalah muslimin.” Kami katakan: “Apakah Anda mengucapkan bahwasanya mereka adalah anjing-anjing neraka ini dengan pendapat Anda sendiri, ataukah sesuatu yang Anda dengar dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم?” beliau menjawab: “Aku sungguh lancang jika demikian. Bahkan aku mendengarnya dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم bukan cuma sekali, atau dua kali atau tiga kali.”Beliau menghitungnya berkali-kali.”(HR. Ahmad (22314) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمهالله dalam “Ash Shohihul Musnad” no. (482)/Darul Atsar).

Sa’id bin Jumhan رحمه الله berkata:

كانت الخوارج تدعوني حتى كدت أن أدخل معهم، فرأت أخت أبي بلال في النوم أن أبا بلال كلب أهلب أسود عيناه تذرفان. قال: فقالت: بأبي أنت يا أبا بلال ما شأنك أراك هكذا؟ قال: جعلنا بعدكم كلاب النار. و كان أبو بلال من رؤوس الخوارج.

“Dulu para Khowarij mengajakku hingga hampir saja aku masuk bersama mereka.Maka saudari Abu Bilal melihat di dalam mimpinya bahwasanya Abu Bilal adalah anjing hitam yang berbulu lebat, dengan air mata yang berlinang.” Maka wanita tadi berkata: “Ayahku sebagai tebusanmu wahai Abu Bilal, ada apa dirimu menjadi seperti ini?” Abu Bilal menjawab: “Setelah kami meninggalkan kalian (mati sebagai khowarij), kami dijadikan sebagai anjing-anjing neraka.” Abu Bilal itu dulunya termasuk dari pemimpin khowarij.” (diriwayatkan oleh Abdulloh bin Imam Ahmad dalam “As Sunnah”/no. (1509) dengan sanad yang hasan).

    Maka kejelekan khowarij itu besar sekali, dan menolak kejahatan mereka itu penting sekali, dan pahala memerangi mereka itu agung bagi orang yang niatnya benar dan jalannya diluruskan.

    Dan dari Ali رضياللهعنه berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«يأتي في آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم فأينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن قتلهم أجر لمن قتلهم يوم القيامة».

“Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda, akalnya tolol, mereka berkata dengan perkataan yang terbaik dari ucapan makhluq.Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari binatang buruannya.Iman mereka tidak melampaui tenggorokan mereka.Maka di manapun kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka, karena sesungguhnya pembunuhan terhadap mereka itu pada hari Kiamat berpahala bagi orang yang membunuh mereka.”(HR. Al Bukhoriy (3611) dan Muslim (1066)).

    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه, di “Mushonnaf” Ibnu Abi Syaibah (no. (175) dengan sanad hasan).

PASAL DELAPAN:

Pujian Para Ulama untuk Fadhilatusy Syaikh Zaid Al Madkholiy

Sesungguhnya pujian para ulama untuk Fadhilatusy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy رحمه الله itu banyak, hanya saja saya tidak sempat untuk mengumpulkannya pada waktu yang terbatas ini. Berikut ini adalah sejumlah besar dari ulama dan umaro yang memuji Asy Syaikh Zaid dan karya tulis beliau:

  1. Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Ahmad Al Hakamiy رحمه الله.
  2. Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله.
  3. Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله.
  4. Asy Syaikh Al ‘Allamah Sholih bin Fauzan Al Fauzan حفظه الله.
  5. Ma’alisy Syaikh Muhammad bin Abdillah bin Subayyil رحمه الله , imam Al Haromul Makkiy dan anggota Lajnah Daimah Lil Ifta.
  6. Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله.
  7. Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Ustadz Ali bin Muhammad bin Nashir Al Faqihiy حفظه الله.
  8. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy وفقه الله.
  9. Fadhilatusy Syaikh Sholih bin Sa’d As Suhaimiy حفظه الله, pengajar di masjid An Nabawiy Asy Syarif.
  10. Ma’alisy Syaikh Sholih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh, mentri Asy Syuunil Islamiyyah Wal Auqof Wad Da’wah Wat Tarbiyyah Wal Irsyad.
  11. Fadhilatu Ma’alisy Syaikh Al Ustadz Sulaiman bin Abdillah Abul Khoil, Mudir Jami’atil Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islamiyyah حفظه الله.
  12. Asy Syaikh Washiyyulloh bin Muhammad Abbas, ustadz di Jami’ah Ummul Quro bagian Kitab dan Sunnah, dan pengajar di Masjidil Harom, وفقه الله.
  13. Fadhilatusy Syaikh Abdulloh bin Sa’d bin Muhammad As Sa’d, mantan wakil Al Ma’ahadil ‘Ilmiyyah di Jami’atil Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islamiyyah di Riyadh, حفظه الله.
  14. Sa’adatul Ustadz Hadan bin Ali Abu Tholib Al Qodhi.
  15. Fadhilatusy Syaikh Ali bin Abdulloh Al Ahdal رحمه الله.
  16. Shohibus Sumuwwil Malakiy Al Amir Muhammad bin Nashir bin Abdil Aziz Alu Su’ud, pemimpin wilayah Jazan.
  17. Shohibus Sumuwwil Malakiy Al Amir Faishol bin Muhammad bin Nashir bin Abdil Aziz Alu Su’ud.
  18. Shohibus Sumuwwil Malakiy Al Amir Abdul Aziz bin Bisthom bin Abdil Aziz Alu Su’ud.

    Dan ini adalah sebagian kata pengantar para ulama untuk sebagian kitab Asy Syaikh Zaid رحمه الله yang saya temukan.

    Fadhilatusy Syaikh Sholih Fauzan حفظه الله dalam kata pengantar beliau untuk kitab “Asbab Istiqomatisy Syabab Wa Bawa’itsi Inhirofihim” berkata:

    “Maka sesungguhnya perhatian pada pemuda umat ini adalah wajib, dituntut oleh kebutuhan umat kepada mereka untuk membangun masa depan mereka. Dan pembangunan umat tidak akan sempurna di atas pemuda yang manhajnya berbeda dengan manhaj umatnya. Oleh karena itulah maka para musuh Islam bersemangat untuk mendikte pemuda muslimin dengan manhaj yang lain dari manhaj muslimin, untuk meruntuhkan bangunan muslimin.

    Maka yang menjadi kewajiban bagi muslimin adalah waspada terhadap tipu daya para musuh mereka dan menjaga para pemuda mereka dari menyusupnya manhaj-manhaj perusak ke tengah-tengah mereka, dan mencurahkan perhatian untuk menumbuhkan aqidah yang benar ke dalam hati-hati mereka, agar mereka memiliki penjagaan sempurna dari penyakit0penyakit aqidah yang pemikiran yang menyeleweng tadi yang memakai pakaian Islam dan pura-pura menangisi Islam padahal dia ingin menghabisi Islam.

Dan umat Islam tidak punya manhaj selain manhaj Al Kitab dan As Sunnah dan jalan yang dulu pendahulu umat ini ada di atasnya. Alloh ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ الله جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]

“Dan berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Alloh dan janganlah kalian bercerai-berai.”(QS Ali ‘Imron 103).

Dan berfirman:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أطِيعُوا الله وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْر مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُم فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى الله وَالرَّسُولِ إِنْكُنْتُمْ تُؤْمِنُون بِالله وَالْيَوْم الْآخِر ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَن تَأْوِيلًا﴾ [النساء: 59].

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Alloh dan taatilah Rosul dan para pemegang urusan di antara kalian.Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara maka kembalikanlah pada Alloh dan Rosul jika kalian memang beriman pada Alloh dan hari Akhir.Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.”

    Inilah dia manhaj yang mengumpulkan umat ini dan menyatukan kalimat mereka.

    Adapun manhaj-manhaj hizbiyyah dan penisbatan-penisbatan pemikiran maka itu semua memecah-belah umat dan tidak menyatukan mereka, meruntuhkan dan tidak membangun agama mereka.

    Risalah yang ada di hadapan kita ini adalah karya saudara kita Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy yang memperingatkan dari manhaj-manhaj tadi, dan menjelaskan bahayanya kesudahannya, serta menyemangati untuk berpegang teguh dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah. Maka semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan dan memberikan manfaat dengan nasihat dan pengarahan beliau.”

    Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata dalam pengantar “Al Afnanun Nadiyyah Syarhus Subulis Sawiyyah”:

    “Maka sesungguhnya syarh syair yang bagus dari Syaikh kami Al ‘Allamah Al Fadzdz (satu-satunya), Asy Syaikh Hafizh bin Ahmad Al Hakamiy رحمه الله yang berjudul: “As Subulus Sawiyyah Li Fiqhis Sunanil Marwiyyah” masih saja menjadi utang di leher-leher para murid Syaikh tersebut, sampai Alloh memberikan taufiq untuk menegakkan tuntutan yang penting ini kepada salah seorang murid pilihan beliau, yang cerdas dan bertaqwa –dan saya tidak memuji seorangpun atas nama Alloh-, ketahuilah bahwasanya beliau adalah Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Hadi Al Madkholiy –semoga Alloh memberi beliau taufiq dan memberkahi umur beliau-, maka beliau mencurahkan kerja keras yang agung dalam mensyaroh syair yang diberkahi ini yang mengumpulkan sunnah-sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم lalu menampungnya, lalu menjelaskan kata-kata asingnya, dan mentakhrij hadits-haditsnya dari sumber-sumber sunnah yang beraneka ragam, dan sering menjelaskan derajat haditsnya, menerangkan sasaran dan tujuannya dengan metode yang jelas dan mengalir mudah, dalam rangka mengikuti penerapan kaidah-kaidah ushuliyyah dan mengobati kerumitan-kerumitan yang ada pada masa kini: baik dalam masalah akhlak ataupun politik ataupun sosial.

    Dan beliau menamakan syaroh yang diberkahi tadi dengan: “Al Afnanun Nadiyyah Syarhus Subulis Sawiyyah Li Fiqhis Sunanil Marwiyyah”, dan sungguh itu memang tepat, “Afnan Nadiyyah” (Tangkai-tangkai Berembun), namanya sesuai dengan objek yang dinamai, mengesankan adanya kebasahan embun dan kesegaran bagi orang yang berteduh di bawah naungan tangkai-tangkai tadi, yang tangkai-tangkai tadi menyerap hingga kenyang air dari sungai sunnah Nabawiyyah dan mata air ayat-ayat Qur’aniyyah di tangan seorang alim yang ahli, ikhlas, dan dermawan. Sungguh Alloh telah memberkahi waktu beliau sehingga beliau menunaikan amalan yang agung ini di waktu yang tidaklah beliau impikan, dan tidak pula orang lain mengira itu terjadi. Dan yang demikian itu adalah karunia Alloh yang Dia berikan pada siapa yang dikehendakinya.

    Semoga Alloh memberikan taufiq pada kita semua kepada perkara yang Dia cintai dan Dia ridhoi, dan semoga Alloh memberikan manfaat bagi muslimin dengan kerja keras ini, terutama para pemuda dari umat yang diberkahi ini.”

(Kata pengantar untuk kitab “Al Afnanun Nadiyyah Syarhus Subulis Sawiyyah Li Fiqhis Sunanil Marwiyyah”).

    Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله berkata dalam pengantar “Al Manzhumatul Hisan”:

    “Sungguh aku telah melihat kitab “Al Manzhumatul Hisan” yang bersifat menyeluruh yang diteteskan tintanya oleh Al ‘Allamah Sang pejuang untuk meninggikan Kalimatullah, Penolong Sunnah, Penghantam ilhad (penyelewengan) dan bid’ah, Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy –semoga Alloh menjaga beliau dan memberkahi umur beliau serta meluruskan langkah beliau-.

    Maka aku dibikin kagum oleh mutiara-mutiara yang beliau rangkai, kemuliaan-kemulian yang beliau simpan di situ, ilmu dan hikmah yang beliau gabungkan, memberi petunjuk pada orang yang sesat, membimbing orang yang tak mau mengamalkan ilmunya, menajamkan pandangan hati orang yang minta bimbingan, membangunkan orang yang lalai dan lupa, jika Alloh menghendaki mereka mendapatkan kebaikan dan mereka dikelilingi oleh perhatian dari Alloh.

    Yang demikian itu adalah dikarenakan beliau menjelaskan manhaj Salaf, menghasung orang untuk itu, mengajak mereka kepadanya, menyemangati mereka ke dalamnya, karena manhaj Salaf adalah manhaj yang benar, yang seluruh Rosul menyerukan kepadanya, terutama penutup mereka: Muhammad صلى الله عليه وسلم.

    Kemudian beliau memperingatkan dari kebid’ahan dan kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang ada di dalamnya, dan memperingatkan dari hizbiyyah jahiliy dan bahaya-bahaya yang ada di dalamnya, dan kezholiman dan kedustaan yang ada pada orang yang tertimpa penyakit hizbiyyah, yang mana kebatilan tadi justru mereka tuduhkan kepada orang yang mengajak mereka kepada petunjuk, dan memperingatkan mereka dari jalan-jalan kebinasaan dan kehinaan. Bersamaan dengan itu mereka lebih memilih mengutamakan kebatilan dan mengikuti hawa nafsu, tidak butuh pada ilmu dan ulama, bergantung pada ekor-ekor kebid’ahan dan kebodohan, dan mengikuti setiap penyeru.

    Kemudian beliau beralih menyerang ahli bida’ dari sekte-sekte yang sesat dan binasa, dari kalangan musyabbihah, mu’aththilah, qodariyyah, wa’idiyyah dari kalangan mu’tazilah dan khowarij, dan menyerang murjiah dan jabriyyah, menjelaskan kesesatan dan penyelewengan dari mereka semua dan jauhnya mereka dari mengikuti petunjuk dari nash-nash Al Kitab dan As Sunnah, dan dari ketaatan dan penyerahan diri padanya. Mereka itu didorong oleh hawa nafsu dan dipimpin oleh kezholiman terhadap kebenaran dan pembawa kebenaran.

    Kemudian beliau menyorotkan cahaya-cahaya kebenaran pada ahli ilhad dan madzhab-madzhab yang merusak, dari kalangan ‘ilmaniyyah, qoumiyyah, wujudiyyah, masuniyyah, babiyyah, qodiyaniyyah, ro’sumaliyyah, isytirokiyyah, hadatsiyyah, menjelaskan hakikat madzhab-madzhab ini dan tujuan mereka yang busuk, sarana mereka yang murahan dan penolong mereka para pengkhianat terhadap Islam, dasar Islam dan ummat Islam. Beliau menyeru ulama Islam dan penolong Islam untuk menghadapi madzhab-madzhab ini dengan kebenaran yang melumat dan bukti yang bersinar terang, hingga terusirnya kebatilan di hadapan serangan-serangan kebenaran dan tergoncanglah sarang-sarang mereka dengan pukulan-pukulan kebenaran dan peluru-pelurunya yang tepat dan terarah.

    Kemudian beliau memperdalam penjelasan dan nasihat dengan permedaan yang jelas Antara wali Alloh dengan wali setan, agar terpisahlah yang busuk dari yang baik, dan agar si Muslim yang mencari keselamatan berada di atas kejelasan dari urusannya.

    Maka beliau menyebutkan sebagian dari keistimewaan wali Alloh yang jujur adalah: berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah, akhlaq yang tinggi, aqidah yang benar, dan dakwah ke jalan Alloh dengan ikhlas, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar, cinta karena Alloh, benci karena Alloh, sampai akhir sifat-sifat mereka yang mulia yang beliau sampai ke tiga puluh sifat yang memisahkan wali Alloh dari musuh Alloh.

    Kemudian beliau menyebutkan sifat-sifat wali setan, di antaranya adalah: suka berkelit dan berpaling dari ilmu yang bermanfaat, menenggelamkan diri di kedalaman kebodohan, berupaya menyebarkan kerusakan dan perusakan di bumi Alloh, tidak mau menerima serua penyeru kepada kebenaran, tidak mau tunduk pada suara orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, menyia-nyiakan sholat, mengikuti syahwat, dan bencana-bencana dan penyakti-penyakit yang lain.

    Kemudian Asy Syaikh Zaid menghiasi syair tadi dengan mahkota anjuran untuk mengikuti para pembimbing dari kalangan As Salafush Sholih dan kedudukan tinggi yang mereka tempati.Beliau juga memanggil para peminat dan orang-orang yang melongok-longok untuk bergabung dengan rombongan mereka agar segera menyingsingkan lengan baju semangat untuk menuntut ilmu yang mulia yang mana itu adalah manhaj yang benar dan menyampaikan ke keridhoan Alloh Yang Mulia, dan menyampaikan ke posisi paa bintang penunjuk tersebut di dunia dan akhirat. Dan beliau mendorong orang-orang yang melongok-longok untuk mengambil ilmu dari sumber-sumbernya di hadapan para masyayikh ilmu robbaniy dan manhaj ilahiy yang diambil dari Kitabulloh yang tidak didatangi oleh kebatilan dari depannya maupun belakangnya, dan mengambil dari sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم –wahyu kedua- yang diambil dari orang yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya, tidaklah itu melainkan wahyu yang diwahyukan.

    Dan beliau mengokohkan itu dengan penjelasan akan keutamaan ilmu dan pemiliknya, beliau mengisyaratkan pada ayat-ayat Qur’aniyyah dan hadits-hadits Nabawiyyah tentang itu.

    Dan penjelasan kejelekan kebodohan dan orang-orang bodoh, bahayanya kebodohan, buruknya akibatnya, dan bahayanya kesudahannya.

    Yang terakhir: maka seakan-akan aku melihat sang pengarang syair yang mengandung nasihat-nasihat dan pengarahan-pengarahan yang mengandung pemisahan antara kebenaran dan pembawanya, dengan pelaku kebatilan yang bermacam-macam aliran dan madzhab mereka yang batil serta sasaran mereka yang rusak. Seakan-akan aku melihat beliau berkata tentang jenis-jenis tadi: “Sungguh aku adalah an nadzirul ‘uryan (pemberi peringatan tentang bahaya yang amat genting, yang melepaskan bajunya dan melambaikannya agar masyarakat segera memperhatikan)”. Dan seakan-akan beliau berkata pada orang yang tidak menyambut seruannya tadi, dengan firman Alloh tentang para pendahulu mereka:

﴿فَإِنْ لَم يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُم وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن اتَّبَعَ هَوَاه بِغَيْرِهُدًى مِنَ الله﴾ [القصص: 50]،

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu maka ketahuilah bahwasanya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Alloh?”(QS. Al Qoshshoh 50).

Dan berkata pada mereka:

﴿فستذكرون ما أقول لكم و أفوض أمري إلى الله إن الله بصير بالعباد﴾ [غافر:44].

“Maka kalian akan mengingat apa yang aku ucapkan kepada kalian, dan aku memasrahkan urusanku kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha melihat para hamba.”

    Dan aku mohon pada Alloh agar memberikan taufiq pada kita dan pada pengarang syair ini kepada perkara yang Dia ridhoi, dan memperbanyak orang-orang semisal beliau dari kalangan ulama penasihat dan dai yang ikhlas, sesungguhnya Robbku Maha mendengar doa.

(Kata pengantar “Al Manzhumatul Hisan Fil ‘Aqoid Wal Manahij Wal Manahil Wa Quthuf Min ‘Ulumil Qur’an”).

PASAL SEMBILAN:

Di Antara Ucapan Beliau yang Bercahaya

Saya telah mencatat sebagian dari ucapan-ucapan yang agung dan bermanfaat dari Asy Syaikh Zaid رحمه الله ketika saya di Darul Hadits di Dammaj, di sela-sela bacaan sebagian risalah beliau رحمه الله yang sampai kepada kami. Di antaranya adalah:

    Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy رحمه اللهberkata: “Setiap aliran pasti punya pewaris dan yang mewarisi. Maka buruk sekali sang pewaris, dan buruk sekali yang mewarisi dan yang diwariskan.” (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 39).

    Beliau رحمه الله juga berkata: “Aku akan menunjukkan padamu kepada sebagian alamat yang dengannya hizbiy bisa dikenal, sama saja apakah dia itu pemimpinnya ataukah pengikutnya dan pembebeknya, dengan alamat berikut ini: yang pertama: dia bergabung ke jamaah tertentu yang punya manhaj khusus yang menyelisihi manhaj Salaf Ahlil Hadits Wal Atsar, semacam jamaah Ikhwan dan sempalan-sempalannya, jamaah Tabligh dan yang bersatu dengannya, dan dia membela hizbnya atau jamaahnya dengan cara benar ataupun batil.

    Yang kedua: dia duduk-duduk dan jalan bersama salah satu jamaah tersebut tadi dan para penyeleweng yang lainnya dalam masalah aqidah dan amal, sama saja yang bersifat jamaah ataukah personelnya, pengikutnya ataukah panutannya.

    Yang ketiga: dia mengkritik Ahlussunnah, dan wajahnya berubah (tidak suka) saat mendengar bantahan orang yang membantah hizbiyyin masa kini, para pemilik organisasi rahasia dan pengelompokan yang tersamarkan.

    Yang keempat: dia mencemarkan kehormatan orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf, yang mengajak untuk berpegang teguh pada manhaj Ahli Atsar dalam masalah ketaatan pada Alloh, ketaatan pada Rosul-Nya, dan ketaatan pada pemerintah muslimin.

   Yang kelima: dia mencemarkan kehormatan pemerintah, dan dia cinta pada orang yang mempopulerkan kesalahan pemerintah di kitab-kitab mereka, kaset-kaset mereka dan majelis-majelis mereka.

    Yang keenam: dia menyerang para ulama yang tidak mau mengobarkan kemarahan kepada pemerintah saat pemerintah terjatuh pada kesalahan, dia mensifati para ulama tadi sebagai ulama yang berbasa-basi dan lain-lain dari kehinaan yang tidak ada orang yang melontarkan ejekan tadi kepada para ulama robbaniyyin tadi kecuali orang-orang yang hatinya sakit dan akalnya tolol.

(“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/hal. 31-32).

    Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy رحمه الله ditanya: “Apakah orang dari muslimin yang awwam tapi membawa syubuhat-syubuhat hizbiyyin itu dikatakan sebagai hizbiy juga?”

    Maka beliau رحمه الله setelah memuji Alloh dan bersholawat pada Nabi menjawab: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka. Akan tetapi dia harus dinasihati lebih dahulu, dan dijelaskan padanya kebenaran, karena orang bodoh itu terkadang ditipu oleh pengkaburan. Dia harus dijelaskan akan kebenaran dan dibimbing kepadanya. Ini adalah rohmat para ulama. Tapi jika dia bersikeras pada kebatilan tadi dan tidak mau mengikuti kebenaran dan justru membela ahli bida’ maka hukum untuknya adalah seperti hukum mereka karena mereka semua bersepakat untuk memilih kebid’ahan dan mendahulukannya di atas sunnah. Dan ini termasuk dari kesesatan yang nyata.Dan termasuk dari wasiat para Salaf adalah berhati-hati terhadap orang-orang yang melariskan bid’ah, karena sungguh mereka itu lebih berbahaya terhadap manusia daripada pemilik kebid’ahan itu sendiri.”

(“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/2/hal. 95/Darul Itqon).

    Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy رحمه الله berkata: “Dakwah-dakwah pendatang yang berdiri di atas selain manhaj syar’iy, sama saja dia itu ada di zaman ini ataukah yang sebelumnya, telah dipergunakan oleh pemiliknya, dia punya metode-metode yang bermacam-macam, bahkan manhaj-manhaj yang membikin buruk dakwah dan tidak berbuat baik pada dakwah serta tidak merealisir kebaikan. Dan yang demikian itu seperti metode membawa senjata untuk menyerang umat ini dalam rangka menjadikan syariah sebagai hakim, peledakan di tempat-tempat pertemuan, berbuat buruk pada berbagai orang, membunuh orang kafir yang minta keamanan, menculik aparat-aparat pemerintahan, membikin kekacauan dan keributan.Ini semua yang dinilai oleh sebagian orang sebagai sarana dakwah,maka sungguh mereka telah keliru besar sekali, kesalahan tadi diketahui oleh orang yang Alloh karuniai dia dengan keselamatan dari hizbiyyah, dan fanatisme kepada pengekor hawa nafsu.Maka kami memandang bahwasanya sarana-sarana yang ditempuh oleh apa yang dinamakan sebagai jamaah-jamaah atau hizb-hizb atau organisasi-organisasi telah merusak bangsa, dengan sebab sarana-sarana tadi terjadilah banyak pembunuhan, sedikit ilmu, manusia sibuk dengan pembelaan diri dan penjagaan diri mereka, …” (“Al ‘Aqdul Munadhdhodul Jadid”/hal. 99-100).

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkholiy رحمهالله berkata: “Aku menuntut dan meminta kepada para ulama dan tokoh-tokoh yang mementingkan urusan Islam dan umat Islam, dan dengan derajat yang tertinggi adalah para pemudanya, agar mereka memperingatkan umat dengan semangat, terhadap seluruh penyelewengan dan terhadap manhaj-manhaj hizbiyyin harokiyyin dengan seluruh kelompok-kelompok mereka dan berbilangnya sekte-sekte mereka, dan segenap organisasi-organisasi mereka, … dst.” (“Quthuf Min Nu’utis Salaf”/hal. 42/karya beliau).

Beliau رحمه الله berkata: “Menurut jmhurul ulama, tidaklah shohih dalil yang menyebutkan rangkai nama-nama Alloh (yang 99 itu) dalam ayat Qur’aniyyah ataupun hadits Nabawiy yang shohih. Orang yang menghitungnya dan menyebutkan rangkaiannya itu hanyalah kembali kepada penelusuran Al Qur’anul Karim dan Sunnah yang suci. Maka masing-masing dari mereka mengeluarkan nama-nama Alloh dari nash-nash tadi sesuai dengan apa yang bisa dicapai oleh ijtihadnya. Oleh karena itulah maka mereka bersepakat pada sebagiannya, dan mereka berselisih dalam sebagian nama yang lain.” (“Al ‘Amalul Asna Bi Syarhi Ismaini Min Asmaillahil Husna”/hal. 124/Darul Minhaj).

PASAL SEPULUH:

Wafatnya Fadhilatusy Syaikh Zaid Al Madkholiy رحمه الله

    Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy meninggal pada waktu fajar hari Kamis tanggal 12 Jumadal Ula 1435 H, di rumah sakit “Al Malik Fahd Al Murokkiziy” di Jazan, disebabkan oleh gangguan kesehatan pada Rabu sore.

    Ditetapkan waktu untuk menyolati beliau dan mengebumikan beliau adalah pada hari Jum’at sore bertepatan dengan tanggal 13 Jumadal Ula 1435 H di propinsi Shomithoh. Semoga Alloh merohmati beliau dengan rohmat yang luas.

PASAL SEBELAS:

Sesungguhnya Ulama Salafiyyin itu Warisan Mereka Tetap Lestari untuk Menjaga Agama Ini

    Siang telah berlalu, dan dunia menjadi gelap dengan bentangan jubah malam, mulailah bulan berkilauan dengan cahayanya.Saya tidak melihat bintang-bintang di malam ini karena banyaknya mendung.

    Saya memikirkan bulan purnama dua malam yang lalu, dan saya merenungkan purnama Salafiy yang wafat setelah menerangi dunia dengan ilmu, pengarahan dan nasihat beliau itu.

    Maka beliau itu sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم :

«من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة ،وإنالملائكة لتضعأجنحتهارضالطالبالعلم،وإنهليستغفرللعالممنفيالسماواتوالأرضحتىالح يتانفيالماء .وفضلالعالمعلىالعابدكفضلالقمرعلىسائرالكواكب.إنالعلماء همورثةالأنبياء لميرثوادينارا ولادرهم اوإنما ورثوا العل م،فمنأخذهأخذبحظوافر».

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Alloh akan memperjalankan dirinya di jalan menuju Jannah.Dan sesungguhnya para malaikat itu meletakkan sayap-sayap mereka karena ridho kepada penuntut ilmu.Dan sesungguhnya seluruh yang di langit dan di bumi sampai bahkan ikan paus di air benar-benar memohonkan ampunan untuk orang alim.Dan keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah itu bagaikan keutamaan bulan terhadap seluruh bintang.Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi.Mereka tidak mewarisi dinar ataupun dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu.Maka barangsiapa mengambilnya maka dia mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ahmad (21763), Abu Dawud (3641) dan yang lainnya dari Abud Darda رضي الله عنه .Dan ini hadits hasan lighoirih).

    Maka sang bulan purnama ini, sekalipun badannya telah berlalu, tapi ilmunya hidup di tengah-tengah muslimin, terutama Ahlul Hadits dan Sunnah di antara mereka, karena beliau termasuk dari pewaris Nabi عليه الصلاة والسلام .Dan Nabi عليه الصلاة والسلام ilmu beliau tidak hilang, petunjuk beliau di umat ini lestari sampai hari Kiamat. Maka barangsiapa menempuh jalan beliau, dia akan mendapatkan bagian dari kelestarian tadi.

    Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Alloh ta’ala berfirman:

﴿فصل لربك وانحر *إن شانئك هوالأبتر﴾ [ الكوثر : 2، 3 ]

“Maka sholatlah untuk Robbmu dan sembelihlah untuk Robbmu.Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang akan terputus.”

    Maka barangsiapa membenci sedikit saja dari apa yang dibawa oleh Rosul صلى الله عليه وسلم maka dia akan mendapatkan bagian tadi (dia akan terputus). Oleh karena itulah Abu Bakr bin ‘Ayyasy ketika dikatakan pada beliau: “Sesungguhnya di masjid ini ada orang-orang yang duduk, dan orang-orang duduk menghadap mereka.” Maka beliau berkata: “Barangsiapa duduk menghadap manusia, manusia akan duduk menghadap kepadanya. Akan tetapi Ahlussunnah tetap lestari, dan nama baik mereka tetap lestari juga. Sedangkan ahli bid’ah akan mati, dan nama baik mereka juga akan mati. Yang demikian itu karena ahli bid’ah itu membenci sebagian yang dibawa oleh Rosul صلى الله عليه وسلم , maka Alloh memutus mereka sesuai dengan kadar kebencian mereka tadi. Dan barangsiapa mengumandangkan apa yang dibawa oleh Nabi صلى الله عليه وسلم maka jadilah mereka mendapatkan bagian dari firman Alloh ta’ala:

﴿ورفعنا لك ذكرك﴾ [ الشرح : 4 ]

“Dan Kami meninggikan untukmu penyebutan bagusmu.”

    Karena sesungguhnya apa yang Alloh muliakan Nabi-Nya dengannya itu, berupa keberuntungan dunia dan akhirat, maka mukminin yang mengikuti beliau akan mendapatkan bagian seperti tadi sesuai dengan kadar iman mereka. Maka keutamaan yang menjadi kekhususan kenabian dan risalah, maka itu tidak bisa disekutui oleh seorangpun dari umat beliau.Adapun keutamaan yang berupa pahala iman dan amal sholih, maka setiap mukmin akan mendapatkan bagian sesuai dengan kadarnya.”

(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 38).

    Maka sungguh bagus ucapan orang:

أهل الحديث هموا أهل النبي وإن لميصحبوانفسه أنفاسه صحبوا

“Ahlul Hadits mereka itu adalah keluarga Nabi, sekalipun mereka tidak menyertai diri beliau, namun mereka menyertai nafas-nafas beliau.”

(dinukilkan oleh Al ‘Allamah Jamaluddin Al Qosimiy Ad Dimasyqiy/”Qowa’idut Tahdits Min Funun Mustholahil Hadits”/hal. 10).

Inilah sejarah indah Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkholiy. Semoga Alloh merohmati beliau. Sekalipun saya belum melihat mereka dengan mata kepala saya padahal saya sangat ingin berjumpa dengan beliau dan ulama Salafiyyin semacam beliau, akan tetapi ilmu mereka sampai kepada saya, dan berita-berita mereka sampai kepada saya. Maka saya mendulang manfaat dengan itu, saya mengambil penerangan dengan itu.

Maka saya mencintai mereka karena Alloh. Maka wahai Alloh, sampaikanlah salam saya kepada mereka, dan kokohkanlah saya di atas jalan mereka, dan kumpulkanlah saya di rombongan mereka, sampai kami berjumpa dengan-Mu bersama mereka di hari Mazid (tambahan nikmat di Jannah).

والحمد لله رب العالمين.

Shan’a, 18 Jumadal Ula 1435 H