anigif petir buat rofidhoh
Judul Asli:
At Tahdzir Minar Rofidhoh War Roddu ‘Ala Man Za’ama Annahum Laisu Kafaroh, (Roddun ‘Ala Mhammad Al Imam Wa Ba’dhil Mutashowwifah)
Judul terjemah Bebas:
Bukti Tentang Kafirnya Rofidhoh (Bantahan Buat Muhammad Al Imam Dan Sebagian Mutashowwifah)
Dengan Pengantar Fadhilatusy Syaikh:
Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy
حفظه الله
Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al-Qudsiy Al-Jawiy Al Indonesiy
عفا الله عنه
Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariyحفظه الله
الحمد لله رب العالمين القائل: ﴿وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ﴾ [الأنعام: 55]، والصلاة والسلام على رسوله الأمين المبلغ الكريم القائل في الخوارج: كلاب النار. أما بعد
Maka sungguh aku telah membaca risalah saudara kita Abu Fairuz Al Indonesiy yang berjudul: “At Tahdzir Minar Rofidhoh War Roddu ‘Ala Man Za’ama Annahum Laisu Kafaroh,” maka aku melihat dirinya di dalam risalah tersebut telah mendatangkan penjelasan yang agung yang patut disyukuri tentang sebab-sebab kafirnya rofidhoh, murtadnya mereka dan zindiqnya mereka, sebagai pengajaran untuk orang yang bodoh, dan mengingatkan orang yang berilmu, serta argumentasi terhadap orang yang sombong dan jahat.
Maka semoga Alloh membalas penulis risalah ini dengan kebaikan, memberikan manfaat dengannya dan dengan ilmunya. Dan segala pujian adalah untuk Alloh Robbul ‘alamin.
Ditulis oleh:
Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al-Hajuriy Az Za’kariy
28 Dzul Qa’dah 1433 H.
بسم الله الرحمن الرحيم
Pengantar Penulis
الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وآله وسلم أجمعين، أما بعد
Telah menelpon saya seseorang dari kaum shufiy dan menyatakan bahwasanya rofidhoh adalah saudara kita, dan bahwasanya peperangan yang terjadi adalah perang antara dua kelompok dari muslimin, maka kita tidak boleh masuk ke dalamnya, bahkan wajib untuk menjauhkan diri darinya. Saya telah menjelaskan padanya dan pada yang lainnya bahwasanya rofidhoh itulah sebenarnya yang menyalakan api fitnah ini, dan bahwasanya mereka memberontak terhadap Negara dan ingin menggulingkan kekuasaan, dan mereka itulah yang menzholimi Ahlussunnah sampai sekarang. Dan saya juga telah menjelaskan padanya bahwasanya rofidhoh itu kafir murtad, tidak ada di antara kami dan mereka persaudaraan keislaman. Kemudian saya dapati bahwasanya sebagian orang (di antaranya adalah Muhammad Al Imam Ar Roimiy yang di Ma’bar) melontarkan beberapapengkaburan dan masalah pengkafiran, maka saya ingin menyebutkan tambahan penjelasan kafirnya rofidhoh dan ucapan para imam dan ulama umat ini terhadap mereka. Dan di sela-sela penyebutan tadi saya akan menyebutkan ucapan sebagian ulama shufiyyah agar hal itu menjadi argumentasi yang membantah orang-orang shufiy itu sendiri yang tidak mengkafirkan rofidhoh. Metode ini sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam kitab beliau “Al Hamawiyyah”. Kemudian saya akan menyebutkan ucapan-ucapan para imam رحمهم الله yang bermanfaat dan berfaidah untuk meruntuhkan pengkaburan-pengkaburan tadi. Dan saya bersyukur pada syaikh kami yang mulia yang sangat cemburu untuk agama ini Abu Muhammad Abdul Hamid bin Yahya Al Hajuriy Az Za’kariy حفظه الله yang telah mencurahkan kerja keras beliau untuk menasihati dan memeriksa risalah ini. Sekarang kita masuk ke pembahasan –semoga Alloh memberikan taufiq-Nya-:
Bab Satu:
Wajibnya Berpegang Teguh Dengan Tali Alloh Dan Menempuh Jalan Yang Lurus, Dan penjelasan Bahwasanya Rofidhoh Telah Membangkang Dari Itu
 Sesungguhnya Alloh ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untukmasuk Islam secara keseluruhan, dan Dia telah menetapkan bahwasanya itulah Ash Shirotul Mustaqim (jalan yang lurus). Maka barangsiapa menyeleweng darinya secara keseluruhan, maka dia telah keluar dari Islam secara total, sehingga jadilah dia termasuk orang yang kafir. Alloh ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾ [البقرة/208]
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.”
Dan Alloh subhanah berfirman:
﴿وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون﴾
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (QS. Al An’am: 153).
Dan Alloh jalla dzikruh berfirman:
﴿أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ * وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ * وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ * هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ  تُوعَدُونَ * اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ﴾ [يس/60-64]
“Bukankah Aku telah memerintahkan pada kalian wahai anak-anak Adam agar kalian itu jangan menyembah setan, karena sesungguhnya dia itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Dan sembahlah Aku, inilah jalan yang lurus. Dan sungguh setan telah menyesatkan dari kalian kelompok-kelompok yang banyak, maka apakah kalian tidak memikirkan? Ini adalah Jahannam yang dulu kalian dijanjikan dengannya. Masuklah kalian ke dalamnya pada hari ini disebabkan oleh apa yang dulu kalian ingkari.”
Tapi rofidhoh enggan untuk menaati Alloh dan tidak mau mengikuti Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم . Maka mereka menyekutukan dengan Alloh dalam peribadatan kepada-Nya, dan menjauh dari sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan jauh sekali, sehingga mereka mengganti untuk diri mereka sendiri dengan kebid’ahan dan kekufuran. Maka ini adalah sunnah (jalan atau kebiasaan) Alloh terhadap para hamba-Nya, dan engkau tidak akan mendapati penggantian untuk sunnah Alloh, bahwasanya: barangsiapa berpaling dari keimanan, maka dia akan mendapatkan ganti dengan kekufuran. Dan barangsiapa membenci tauhid, maka dia akan mendapatkan ganti dengan kecintaan pada syirik. Dan barangsiapa menjauhkan diri dari sunnah, maka dia akan mendapatkan ganti dengan kebid’ahan. Dan barangsiapa menyeleweng dari jalan ke Jannah, maka dia akan mendapatkan ganti dengan menempuh jalan-jalan ke Neraka Jahim.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali berpegangnya umat-umat dengan ajaran para Nabi mereka itu melemah, dan keimanan mereka berkurang, mereka akan mendapatkan ganti dari yang demikian itu dengan perkara yang mereka bikin-bikin yang berupa kebid’ahan dan kekufuran.” (“Iqtidhoush shirothil Mustaqim”/1/hal. 367). 
Beliau رحمه الله juga berkata: “Sesungguhnya orang yang menyombongkan diri terhadap kebenaran itu akan tertimpa penyakit menaati kebatilan, sehingga jadilah dia itu orang yang sombong dan musyrik.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 629).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan demikianlah setiap orang yang berpaling dari kebenaran, dia akan mendapatkan ganti dengan kebatilan.” (“Hidayatul Hayaro”/hal. 65).
Dan termasuk syi’ar mereka yang terbesar yang menunjukkan jauhnya penyelewengan mereka adalah: cercaan mereka terhadap para pemimpin umat ini, para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم , sebagaimana akan datang penjelasan tentang itu. Dan ini adalah termasuk dari hukuman hati yang Alloh timpakan kepada mereka: bahwasanya manakala mereka itu berpaling dari apa yang Alloh wajibkan yang berupa: menghormati para Shohabat, mencintai mereka, memuliakan mereka, mendoakan mereka dengan rohmat dan ampunan serta mengikuti jalan mereka, para rofidhoh mendapatkan ganti dengan rasa benci pada para Shohabat, mencerca mereka dan menempuh jalan-jalan setan. Dan ini adalah karakter orang yang tidak mengetahui agungnya kedudukan para Shohabat di sisi Alloh dan di sisi kaum mukminin. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “… Maka kami melihat para Shohabat Rosululloh telah membuka negri-negri kafir dan membaliknya menjadi negri-negri Islam, dan membuka hati-hati dengan Al Qur’an, ilmu dan petunjuk. Maka jejak-jejak mereka itu menunjukkan bahwasanya mereka itulah orang-orang yang menempuh jalan yang lurus. Dan kami melihat bahwasanya rofidhoh itu berkebalikan dengan itu di setiap zaman dan tempat, karena tidak pernah ada satu musuhpun dari selain muslimin yang memerangi muslimin kecuali rofidhoh itu menjadi pembantu mereka untuk memerangi Islam.
Alangkah seringnya mereka mereka mendatangkan bencana terhadap Islam dan muslimin. Bukankah pedang-pedang musyrikin penyembah patung dari tentara Hulaku dan yang semisalnya dari kalangan Tartar bertebaran membunuhi muslimin itu adalah karena siasat rofidhoh? Dan bukankah masjid-masjid ditinggalkan, mushhaf-mushhaf dibakar, para pemimpin muslimin, ulama mereka, ahli ibadah mereka dan kholifah mereka dibunuh adalah disebabkan oleh rofidhoh dan akibat dari ulah rofidhoh?
Baku tolong mereka dengan musyrikin dan Nashoro itu telah diketahui oleh ulama dan orang awam. Dan jejak mereka terhadap agama telah diketahui. Maka kelompok manakah yang lebih berhak untuk ada di atas jalan yang lurus? Dan siapakah dari mereka yang lebih berhak untuk dimurkai dan tersesat jika kalian mengetahui?
Oleh karena itulah maka para Salaf menafsirkan jalan yang lurus dan penempuhnya adalah dengan: Abu bakr, Umar dan para Shohabat Rosululloh –semoga Alloh meridhoi mereka-. Dan itu memang seperti yang mereka tafsirkan, karena jalan mereka yang mereka ada di atasnya itu memang benar-benar jalan Nabi mereka itu sendiri. Dan mereka itulah yang Alloh beri nikmat kepada mereka, dan Alloh murka pada para musuh mereka, dan Alloh menghukum para musuh mereka sebagai orang-orang yang sesat.
Abul ‘aliyah Rufai’ Ar Riyahiy dan Al Hasan Al bashriy –dan keduanya adalah termasuk Tabi’in yang paling mulia- berkata: “Jalan yang lurus adalah Rosululloh dan kedua Shohabatnya. Abul ‘Aliyah juga berkata tentang firman Alloh ta’ala:
﴿صراط الذين أنعمت عليهم﴾
“Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”
(beliau berkata:) “Mereka adalah keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.  Dan inilah yang benar, karena keluarga Rosululloh, Abu Bakr dan Umar berjalan di atas jalan yang sama, tiada perselisihan di antara mereka, dan mereka satu sama lain saling loyal dan saling memuji. Dan bahwasanya mereka memerangi orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakr dan Umar, dan berdamai dengan orang yang diajak damai oleh keduanya itu telah diketahui oleh umat ini, ulamanya dan orang awamnya. Zaid bin Aslam berkata: “Orang-orang yang Alloh beri nikmat pada mereka adalah Rosululloh, Abu Bakr dan Umar.”
Dan tiada keraguan bahwasanya orang-orang yang mendapatkan nikmat adalah para pengikut beliau, dan yang mendapatkan kemurkaan adalah orang-orang yang keluar dari pengikutan pada beliau. Dan umat yang paling mengikuti beliau dan paling taat pada beliau adalah para Shohabat beliau dan keluarga beliau. Dan Shohabat yang paling mengikuti beliau secara pasti adalah Abu Bakr dan Umar.
Dan yang paling menyelisihi beliau dari umat ini adalah rofidhoh. Maka penyelisihan mereka terhadap beliau telah diketahui oleh seluruh pecahan umat ini. Oleh karena itulah mereka membenci sunnah dan Ahlussunnah, memusuhi sunnah dan memusuhi Ahlussunnah. Maka mereka adalah musuh dari sunnah beliau. Sementara keluarga beliau dan para pengikut beliau di kalangan mereka itu paling banyak mewarisi beliau, bahkan mereka itulah pewaris beliau secara hakiki.
Dan telah jelas bahwasanya jalan yang lurus adalah jalan para Shohabat beliau dan para pengikut beliau, sementara jalan orang yang dimurkai dan orang yang sesat adalah jalan rofidhoh. Dengan jalan yang lurus ini tertolaklah khowarij karena permusuhan mereka terhadap para Shohabat itu telah dikenal.” (selesai penukilan dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 64-65/cet. Darul hadits).
Adapun atsar Abul ‘Aliyah dan Al Hasan, maka atsar itu Diriwayatkan oleh Al Marwaziy dalam “As Sunnah” (no. 28/Darul ‘Ashimah), Ibnu Jarir dalam “Jami’ul Bayan” (1/hal. 75/Markizul Buhuts Wad Dirosat), Ibnu Abi Hatim dalam “Tafsir” (1/hal. 30) dan Ibnu Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (18/hal. 170) dengan sanad shohih.
Adapun atsar Abul Aliyah yang kedua, maka dia Atsar ini diriwayatkan oleh Al Baghowiy dalam “Ma’alimut Tanzil” (10/Dar Ibni Hazm) dan Ibnu Adil dalam “Tafsir “Al Lubab” (1/hal. 26) tanpa sanad.
Adapun atsar Zaid bin Aslam, Saya  tidak mendapati sumber atsar ini. Tapi telah shohih dari anaknya –yaitu Abdurrohman bin Zaid bin Aslam rohimahulloh- tentang tafsir “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka”: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan yang bersama beliau.” (“Jami’ul Bayan”/Ath Thobariy/1/hal. 176/Darut Tarbiyah).
Bab Dua:
Mengenal Definisi Rofidhoh
Ibnu Abdid Daim رحمه الله dalam kitab beliau “Al Firoqul Islamiyyah” berkata tentang Ibnu Saba: “Dia dulunya adalah seorang Yahudi dan masuk Islam. Dan dulu dia sering menyatakan bahwasanya Yusya’ bin Nun adalah “Washiyy” (yang diwasiatkan oleh) Musa عليه السلام sebagaimana perkataan dia tentang Ali. Dan dia adalah orang yang pertama menampilkan pendapat Rofdh (menolak Abu Bakr dan Umar) dan Imamah (asal agama adalah kepemimpinan) Ali, dan darinya bercabang-cabang sekte-sekte sesat. Dan sekelompok orang berkumpul di sekeliling Abdulloh bin Saba. Dan mereka adalah sekte yang pertama berpendapat Tawaqquf (berhentinya kepemimpinan Negara pada Ja’far bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib) dan Roj’ah (kembali ke dunia) setelah menghilang. Dan mereka menyatakan bahwasanya Ja’far dulu mengetahui seluruh ilmu-ilmu agama yang bersifat akal dan syariat. Dan mereka membebek pada Ja’far dalam segala sesuatu, sampai bahkan jika mereka ditanya tentang sifat-sifat Alloh ta’ala atau tentang sesuatu dari dasar-dasar agama, mereka berkata: “Kami berkata tentangnya dengan apa yang dulu dikatakan oleh Ja’far. Dan kami tidak tahu apa yang dikatakan Ja’far!” Dan ini seharusnya mewajibkan mereka untuk berdiam diri dari pengkafiran Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهما sampai mereka mengetahui apa yang dikatakan oleh Ja’far tentang keduanya.
Bahkan ini seharusnya mewajibkan mereka untuk berdiam diri sampai mereka tahu apakah Ja’far membolehkan mereka berdiam diri tentang itu ataukah tidak. Dan seluruh pendapat mereka adalah batil.” (“Al Wafi Fil Wafiyyat”/hal. 2393). 
Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Telah sampai kepadaku dari Al Ashmu’iy bahwasanya beliau berkata: “Hanyalah mereka dinamakan sebagai rofidhoh karena mereka memisahkan diri dan meninggalkan Zaid bin Ali. Kemudian nama ini menempel pada setiap orang yang berlebihan dari mereka di dalam madzhabnya dan meremehkan Salaf.” (“Ghoribul Hadits”/Ibnu Qutaibah/hal. 252). 
Abul Hasan Al Asy’ariyberkata: “Dan mereka itu hanyalah dinamakan sebagai rofidhoh karena mereka meninggalkan kepemimpinan Abu Bakr dan Umar, dan mereka bersepakat bahwasanya Nabi telah menetapkan Ali dengan menyebut namanya, sebagai kholifah beliau, dan beliau menampilkan penetapan itu dan mengumumkannya, dan bahwasanya kebanyakan Shohabat tersesat karena tidak mau meneladani Ali setelah wafatnya Nabi, dan bahwasanya kepemimpinan tidak berlaku kecuali dengan penetapan dan persetujuan dan bahwasanya itu adalah untuk kerabat Nabi, dan boleh bagi sang imam dalam kondisi tuqiyyah (menyamarkan diri) untuk menyatakan bahwasanya dirinya itu bukan imam. Dan mereka membatalkan seluruh ijtihad dalam hukum-hukum, dan mereka menyatakan bahwasanya tidak ada yang berhak kecuali orang yang paling utama, dan mereka menyatakan bahwasanya Ali رضوان الله عليه benar di seluruh kondisinya, dan bahwasanya beliau tidak keliru sedikitpun dalam perkara-perkara agama, …” (“Maqolatul islamiyyin”/hal. 16-17). 
Abul Abbas Ahmad bin Ja’far bin Ya’qub Al Isthokhriy رحمه الله berkata: Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal رحمه الله berkata: “… Maka barangsiapa mencaci para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم atau satu orang dari mereka, atau meremehkannya, atau mencerca mereka, atau menyindir dengan aib mereka atau menjelekkan satu orang dari mereka, maka dia adalah mubtadi’ rofidhiy yang busuk yang menyelisihi kebenaran, Alloh tidak menerima darinya amalan wajib ataupun amalan mustahab.” (“Thobaqotul Hanabilah”/1/hal. 29).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Ditanyakan pada Al Imam Ahmad: “Siapakah rofidhiy itu?” Beliau menjawab: “Yang orang yang mencaci Abu Bakr dan Umar.” Dan dengan inilah mereka dinamakan sebagai rofidhoh karena mereka memisahkan diri dari Abu Bakr dan Umar.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 435).
Abdulloh bin Saba dan Sabaiyyah
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka yang pertama kali membikin bid’ah rofdh adalah seorang munafiq zindiq yang dipanggil sebagai Abdulloh bin Saba. Dia ingin dengan bid’ah tadi untuk merusak agama muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus pemilik kitab “Rosail” yang ada di tangan nashoro, yang mana dia membikin bid’ah-bid’ah untuk mereka yang dengan itu dia merusak agama mereka, dan Paulus itu adalah seorang yahudiy, lalu menampakkan diri sebagai seorang nashroniy sebagai bentuk kemunafiqan dan bermaksud merusak agama nashoro. Demikian pula Ibnu Saba, dulunya adalah yahudiy lalu dia bermaksud merusak Islam, dan berupaya membikin fitnah untuk merusak agama ini. Dia tidak sanggup melakukan itu, akan tetapi terjadi adu domba di antara mukminin, dan fitnah yang di dalamnya Utsman رضي الله عنه terbunuh, dan terjadilah fitnah. Dan pujian adalah untuk Alloh semata, Alloh tidak menyatukan umat ini di atas kesesatan, bahkan terus-menerus ada sekelompok dari umat ini yang menegakkan kebenaran, tidak membahayakannya orang yang menyelisihinya ataupun menelantarkannya sampai datangnya Hari Kiamat, sebagaimana nash-nash yang terkenal bersaksi atas yang demikian itu di dalam hadits-hadits shohih dari Nabi صلى الله عليه وسلم .
 Manakala terjadi bid’ah syi’iyyah ada masa kekhilafahan  Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه , beliau menolaknya. Saat itu ada tiga kelompok: Gholiyyah, Sabbabah, dan Mufadhdhilah. Kelompok Gholiyyah dibakar Ali dengan api, karena pada suatu hari beliau keluar dari pintu Kindah, lalu ada sekelompok orang sujud kepadanya. Maka beliau berkata: “Apa ini?” mereka menjawab: “Anda adalah Dia, Alloh.” Maka Ali menuntut mereka bertobat dalam tempo tiga hari, ternyata mereka tida mau kembali, maka pada hari ketiga beliau memerintahkan untuk digali parit-parit, lalu digalilah parit-parit, lalu dinyalakanlah di dalamnya api, lalu beliau melemparkan mereka ke dalamnya dan berkata:
لما رأيت الأمر أمرا منكرا * أججت ناري ودعوت قنبرا
“Manakala aku melihat perkara ini adalah perkara yang mungkar aku menyalakan apiku dan aku memanggil si Qombur.” Dan di dalam “Shohih Al Bukhoriy” dijelaskan bahwasanya dibawa ke hadapan Ali para zanadiqoh syi’ah, lalu beliau membakar mereka. Manakala berita itu sampai ke Ibnu Abbas, beliau berkata: “Adapun aku, andaikata aku yang memutuskan, maka aku tak akan membakar mereka karena Nabi صلى الله عليه وسلم melarang untuk seseorang disiksa dengan siksaan Alloh. Dan pasti aku akan memenggal kepala mereka karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من بدل دينه فاقتلوه».
“Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.”
Adapun Sabbabah maka manakala ada berita sampai pada Ali bahwa ada orang yang mencacai Abu Bakr dan Umar, beliau mengejarnya untuk membunuhnya, maka orang itu lari dari beliau sampai ke Qorqisiya. Lalu ada yang mengajak beliau bermusyawarah tentang orang tadi, dan Ali saat itu berusaha mensiasati para komandan beliau, karena beliau saat itu tidaklah dalam posisi kuat dan mereka tidak terlalu menaati beliau di setiap perkara yang beliau perintahkan.
Adapun tentang Mufadhdhilah, beliau berkata:
لا أوتي بأحد يفضلني على أبي بكر وعمر إلا جلدته حد المفترين
“Tidaklah didatangkan kepadaku orang yang mengutamakan aku di atas Abu Bakr dan Umar kecuali aku akan memukulnya dengan hukuman sebagai pelaku kedustaan.”
Dan diriwayatkan dari beliau lebih dari delapan puluh sanad bahwasanya beliau berkata:
خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر، ثم عمر.
“Sebaik-baik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakr lalu Umar.” 
Dan di dalam “Shohihul Bukhoriy dari Muhammad Ibnul Hanafiyyah bahwasanya dia berkata pada ayahnya –Ali-: “Wahai Ayahku, siapakah orang yang terbaik setelah Rosululloh صلى  الله عليه وسلم? Maka beliau menjawab: “Wahai anakku sayang, apakah engkau tidak tahu?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Abu Bakr.” Dia berkata: “Lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar.” Dan di dalam “Sunanut Tirmidziy” dan yang lainnya disebutkan bahwasanya Ali meriwayatkan pengutamaan ini dari Nabi صلى الله عليه وسلم
Maksudku di sini adalah: bahwasanya telah dibikin-bikin berita dusta atas nama Ali dengan macam-macam kedustaan yang tidak boleh dinisbatkan kepada mukmin yang paling lemah imannya sedikitpun. Sampai-sampai Al Qoromithoh, Al Bathiniyyah, Al Khuromiyyah, Al Mazdakiyyah, Al Isma’iliyyah, An Nushoiriyyah menisbatkan madzhab-madzhab mereka –yang mana itu adalah madzhab yang paling rusak di alam semesta- kepada Ali رضي الله عنه, dan mereka mendakwakan bahwasanya yang demikian itu adalah termasuk dari ilmu-ilmu yang diwariskan dari beliau. Ini ini semua hanyalah dibikin-bikin para munafiqun zanadiqoh yang ingin menampakkan agama seperti agama mukminun, tapi sambil menyembunyikan kebalikannya, dan mereka mengikuti kelompok-kelompok yang keluar dari syariat. Dulu mereka punya Negara dan berlangsunglah fitnah dari mereka terhadap kaum mukminin.”  (selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 184-186). 
Adapun hadits: “Senantiasa ada sekelompok orang dari umat Nabi صلى الله عليه وسلم” yang dimaksudkan oleh Syaikhul Islam, maka ini diriwayatkan oleh  Muslim (1037) dari Mu’awiyah رضي الله عنه . Dan datang senada dengan itu dari Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه diriwayatkan Al Bukhoriy (7311), dari Tsauban رضي الله عنه diriwayatkan Muslim (1920) dan dari Jabir رضي الله عنه diriwayatkan Muslim (1923).
Adapun hadits Ibnu Abbas: “Barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia,” maka itu diriwayatkan Al Bukhoriy (6922) dari Ikrimah dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما
Adapun ucapan Ali رضي الله عنه : “Tidaklah didatangkan kepadaku orang yang mengutamakan aku di atas Abu Bakr dan Umar kecuali aku akan memukulnya dengan hukuman sebagai pelaku kedustaan.” Maka atsar ini lemah. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dalah “Fadhoilush Shohabah” no. (48), Ibnu Abi ‘Ashim dalam “As Sunnah” (1219) dan Ibnu Abdir Barr dalam “Al Isti’ab” (1/hal. 297), semuanya dari jalan Muhammad bin Tholhah dari Abu Ubaidah ibnul Hakam dari Al Hakam bin Hijl dari Ali رضي الله عنه
Abu Ubaidah adalah syaikh yang majhul sebagaimana dalam “Tarikh Dimasyq” (47/hal. 519). Maka atsar tadi dengan jalur ini lemah. Adapun ucapan Ali رضي الله عنه : “Sebaik-baik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakr lalu Umar.” Maka Nu’man bin Mahmud Al Alusiy رحمه الله berkata: “Ahlussunnah Wal Jama’ah telah bersepakat bahwasanya telah mutawatir dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib كرم الله وجهه bahwasanya beliau berkata: “Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya صلى الله عليه وسلم adalah Abu Bakr dan Umar.” (“Jalaul ‘Ainain Fi Muhakamatil Ahmadain”/Al Alusiy/hal. 75). 
Peringatan: kita doakan untuk Ali bin Abi Tholib seperti doa kita untuk para Shohabat yang lain: “Semoga Alloh meridhoinya.” Adapun dialog Al Imam Muhammad ibnul Hanafiyyah dengan ayahnya, Ali رضي الله عنه maka itu ada di Shohih Al Bukhoriy (3671). Adapun yang disebutkan Syaikhul Islam bahwasanya di dalam “Sunanut Tirmidziy” dan yang lainnya bahwasanya Ali meriwayatkan pengutamaan ini dari Nabi صلى الله عليه وسلم, maka saya tidak menemukannya. Tapi saya menemukan yang senada dengan itu dari hadits Dawud dari Asy Sya’biy dari Al Harits dari Ali رضي الله عنه: Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«أبو بكر و عمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين ما خلا النبيين والمرسلين. لا تخبرهما يا علي».
“Abu Bakr dan Umar adalah sayyid (pemimpin, yang terdepan)bagi orang-orang tua penduduk Jannah, dari generasi terdahulu dan yang belakangan, selain para Nabi dan Rosul. Janganlah engkau mengabarkan ini kepada keduanya wahai Ali.” (HR. At Tirmidziy (3666)). 
Dawud adalah Ibnu Abi Hind, tsiqotun tsiqoh. Tapi Al Harits adalah Ibnu Abdillah Al Hamdaniy, dan dia yang benar adalah rofidhiy pendusta. Dan ini diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la (533) dari Yunus bin Abi Ishaq dari Asy Sya’biy dari Ali tanpa menyebutkan Al Harits. Yunus bin Abi Ishaq di dalam haditsnya ada kelemahan. Maka yang benar adalah masuknya Al Harits di antara Asy Sya’biy dan Ali رضي الله عنه. Maka sanad ini lemah sekali. Dan datang dari jalur Abdulloh bin Umar Al Yamamiy dari Al Hasan bin Zaid bin Hasan dari ayahnya dari kakeknya dari Ali رضي الله عنه. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad (602), dan di dalam sanadnya Abdulloh bin Umar Al Yamamiy dan dia itu majhul. Dan datang dari jalur Khoththob atau Abul Khoththob dari Aliseperti itu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (31941), dan di dalam sanadnya Musa bin ‘Ubaidah dan dia itu lemah. Maka hadits Ali رضي الله عنه hasan lighoirih. Alhamdulillah. Dan datang dari sisi lain dari jalur ‘athiyyah Al ‘Aufiy yang menyebutkan dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang menyebutkan:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه : « إن هذين سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين ، لا تخبرهما يا علي » يعني أبا بكر ، وعمر رضي الله عنهما.
“Bahwasanya Rosululloh bersabda pada Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه : “Sesungguhnya kedua orang ini adalah pemimpin orang-orang tua dari penduduk Jannah dari kalangan generasi terdahulu dan belakangan. Janganlah engkau mengabari keduanya wahai Ali.” Beliau memaksudkan dua orang itu adalah Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهماIni diriwayatkan oleh Ath Thohawiy dalam “Musykilul Atsar” (1680), dan di dalam sanadnya ‘Athiyyah Al ‘Aufiy, hapalannya lemah dan mudallis. Tapi memperkuat yang sebelumnya. Maka hadits Ali رضي الله عنه hasan lighoirih. Alhamdulillah. 
Dan datang dari Ath Thobroniy dalam “Al Ausath” (8808) dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما yang bersabda:
«أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين لا تخبرهما يا علي».
“Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar adalah pemimpin orang-orang tua dari penduduk Jannah dari kalangan generasi terdahulu dan belakangan. Janganlah engkau mengabari keduanya wahai Ali.” 
Di dalam sanadnya Miqdam bin Dawud bin Isa, lemah sekali. Dan datang dari hadits Qotadah dari Anas رضي الله عنه ke Rosululloh صلى الله عليه وسلم, diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam “Al Ausath” (6873), dan di dalam sanadnya Katsir bin Muhammad Al Mishishiy, dan dia lemah sekali. Dan datang dari hadits Abi Juhaifah, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (6904) dan Ath Thobroniy dalam “Al Kabir” (257) dari Malik bin Mighwal dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya ke Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Sanadnya shohih. Maka hadits bahwasanya Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهما adalah pemimpin orang-orang tua dari penduduk Jannah dari kalangan generasi terdahulu dan belakangan adalah shohih, alhamdulillah. Adapun ucapan Syaikhul Islam bahwasanya telah dibikin-bikin berita dusta atas nama Ali dengan macam-macam kedustaan yang tidak boleh dinisbatkan kepada mukmin yang paling lemah imannya sedikitpun. Maka itulah yang terjadi. Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam muqoddimah “Shohih” dengan sanad yang shohih dari Abu Ishaq bahwasanya beliau berkata: “Ketika mereka (kaum syi’ah) membikin-bikin perkara baru sepeninggal Ali رضي الله عنه berkatalah seorang sahabat Ali: “Semoga Alloh memerangi mereka, alangkah banyaknya ilmu yang mereka rusak.” Dan di dalam halaman yang sama beliau juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Al Mughiroh bahwasanya beliau berkata: “Tidak ada yang jujur atas nama Ali رضي الله عنه kecuali orang yang dari sahabat Abdulloh bin Mas’ud.” (“Shohih Muslim”/hal. 12).
Adapun tentang Al Qoromithoh, maka mereka adalah jenis kedelapan belas dari rofidhoh, yang menyatakan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم telah menetapkan dengan terang sekali bahwa Ali bin Abi Tholib sebagai pengganti beliau. Dan mereka menyatakan bahwasanya Muhammad bin Isma’il masih hidup sampai sekarang dan tidak mati, tidak mati sampai beliau menguasai bumi, dan bahwasanya beliau itulah Al Mahdiy. (lihat “Maqolatul Islamiyyin”/Abul Hasan Al Asy’ariy/hal. 26).
Adapun tentang Al Bathiniyyah, para penulis madzhab-madzhab aliran menyebutkan bahwasanya yang membangun dakwah bathiniyyah adalah sekelompok orang, di antaranya adalah: Maimun bin Dishon yang terkenal dengan Al Qoddah, dan dulu dia adalah bekas budak Ja’far bin Muhammad Ash Shodiq, dan dia berasalah dari daerah Ahwaz.
Termasuk dari mereka adalah Muhammad ibnul Husain yang berjuluk Dzidzan, dia dan Maimun bin Dishon ada di dalam penjara gubernur Irak. Mereka di dalam penjara itu membangun madzhab-madzhab bathiniyyah, kemudian nampaklah dakwah mereka setelah mereka bebas dari penjara, dari wilayah yang terkenal sebagai Dzidzan. (“Al Farqu Bainal Firoq”/hal. 266).
Dan julukan mereka yang paling terkenal adalah Bathiniyyah. Julukan ini menempel pada mereka karena mereka menghukumi bahwasanya setiap perkara yang lahiriyyah itu punya sisi batinnya, dan bahwasanya setiap ayat yang turun itu punya penakwilan. Dan mereka memiliki julukan-julukan yang banyak selain yang ini, sesuai dengan masing-masing kaum. Di Irak mereka bernama bathiniyyah, qoromithoh dan mazdakiyyah. Di Khurosan mereka bernama: ta’limiyyah dan malhadah. (“Al Milal Wan Nihal”/Muhammad bin Abdil Karim Asy Syahrostaniy/1/hal. 190).
Asy Syaikh Ihsan Ilahiy Zhohir رحمه الله  membongkar mereka dalam kitab tersendiri. Demikian pula Abu Hamid Al Ghozaliy رحمه الله dalam “Fadhoihul Bathiniyyah”. Dan Syaikh kami Abu Muhammad Abdul Hamid Al Hajuriy حفظه الله punya risalah dengan judul “Aqoidul Bathiniyyah.”
Adapun tentang Al Khuromiyyah, mereka adalah pengikut Babak Al Khuromiy, nisbat ke suatu daerah di Persia. Mereka berpendapat bahwasanya arwah-arwah mengalami reinkarnasi (menitis kembali), berpendapat masuknya dzat ke dzat yang lain, dan berpendapat ibahiyyah (serba boleh). (“Al Mu’jamul Wasith”/1/hal. 479).
Khuromiyyah adalah termasuk dari aliran-aliran majusi. Dan mereka adalah aliran majusi yang paling buruk, tidak mengakui adanya pencipta, hari berbangkit, kenabian, halal ataupun harom. Dan berjalan di atas madzhab merekalah aliran-aliran qoromithoh, isma’iliyyah, nushoiriyyah, kaisaniyyah, zuroriyyah, hukmiyyah dan seluruh sekte ubaidiyyah yang menamakan diri mereka sebagai “Fathimiyyah”. Mereka semua disatukan oleh madzhab ini, dan berbeda-beda dalam perincian. Agama majusi adalah tetua, pemimpin dan teladan bagi mereka semua, sekalipun orang-orang majus tetap berpegang dengan asal agama dan syariat mereka, sementara sekte-sekte tadi tidak berpegangan suatu agama dari agama-agama yang ada di dunia ini ataupun suatu syariat. (“Qothfuts Tsamar Fi Bayani ‘Aqidati Ahlil Atsar”/Shiddiq Hasan Khon/hal. 262).
Adapun tentang Al Mazdakiyyah, ini adalah aliran yang menghalalkan seluruh perkara yang diharomkan. Mereka berkata: “Sesungguhnya manusia itu bersekutu dalam harta dan mahrom.” Mereka telah dibunuhi oleh Anusyirwan pada masa pemerintahannya. (“At Tabshir Fid Din”/Thohir bin Muhammad Al Isfiroyiniy/hal. 135).
Mazdak inilah yang muncul pada masa pemerintahan Qibadz, ayah Anusyirwan, dan mengajak Qibadz untuk mengikuti madzhabnya, maka Qibadz menyambut seruannya. Anusyirwan berhasil melihat kebusukan madzhab Mazdak dan kedustaannya, lalu memburunya hingga mendapatinya dan kemudian membunuhnya. (“Al Milal Wan Nihal”/1/hal. 248).
Adapun tentang Al Isma’iliyyah, maka mereka berjuluk Bathiniyyah karena mereka berpendapat bahwasanya Al Qur’an itu punya makna bathin. Dan asal dakwah mereka dibangun di atas pembatalan syariat-syariat, karena suatu kaum dari majusiy berhasrat untuk merusak kekuatan Islam, tapi mereka tidak sanggup untuk terang-terangan berbuat itu, maka mereka mengambil ta’wil syariat dalam bentuk yang kembali kepada kaidah-kaidah para pendahulu mereka. Dan pemimpin mereka dalam masalah itu adalah Hamdan Qurmuth. (lihat “Jalaul ‘ainain”/hal. 145).
Isma’iliyyah dinisbatkan pada pemimpin mereka yang dipanggil sebagai Muhammad bin Ismail bin Ja’far dan menyatakan bahwasanya perputaran kepemimpinan itu berhenti padanya karena dia adalah yang ketujuh. Mereka beralasan bahwasanya langit itu tujuh, bumi itu tujuh, hari-hari dalam sepekan itu tujuh, maka ini menunjukkan bahwasanya alur kepemimpinan itu sempurna dengan bilangan tujuh. (“Talbis Iblis”/Ibnul Jauziy/hal. 125).
Adapun tentang An Nushoiriyyah, kelompok ini tidak menyembunyikan agama mereka, bahkan mereka dikenal olehseluruh Muslimin, tidak sholat lima waktu, tidak puasa bulan Romadhon, tidak haji ke Baitulloh, tidak membayar zakat, dan tidak mengakui kewajiban itu, menghalalkan khomr dan keharoman-keharoman yang lain, dan berkeyakinan bahwasanya sesembahan mereka adalah Ali bin Abi Tholib, dan mereka berkata: “Kami bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali si Haidaroh yang rambut depannya tersibak dan perutnya besar.” (“Majmu’ul Fatawa Syaikhul Islam”/28/hal. 554).
Pemimpin sabaiyyah adalah Abdulloh bin Saba yang berkata pada Ali bin abi Tholib رضي الله عنه : “Andalah sesembahan kami.” Maka Ali membuangnya ke Madain. Manakala Ali terbunuh, Abdulloh bin Saba menyatakan bahwasanya Ali tidak mati karena di dalam dirinya ada unsur ilahiy, karena yang dibunuh Ibnu Muljam hanyalah setan yang membentuk diri sebagai bentuk Ali, dan bahwasanya Ali itu di awan, dan bahwasanya petir adalah suaranya, dan kilat adalah cambuknya, dan bahwasanya dia akan turun ke bumi dan akan memenuhinya dengan keadilan. Dan kelompok ini jika mendengar suara petir mereka berkata: “Salam sejahtera untuk Anda wahai Amirul Mukminin!” (“Al Wafi Fil Wafiyyat”/hal. 2393).
Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Abdulloh bin Saba termasuk dari zanadiqoh yang berlebihan, sesat dan menyesatkan. Aku kira Ali membakarnya dengan api.” (“Mizanul I’tidal”/2/hal. 426).
Dan Al Jauzajaniy رحمه الله berkata: “Orang itu menyatakan bahwasanya Al Qur’an adalah satu bagian dari sembilan bagian, dan ilmunya ada di sisi Ali, maka Ali mengasingkannya setelah beliau ingin membakarnya.”(sebagaimana di “Mizanul I’tidal”/2/hal. 426).
Bab Tiga:
Sebab Kafir Dan Murtadnya Rofidhoh
Sesungguhnya Alloh ta’ala menjadikan keimanan sebagai gantungan persaudaraan, di mana Alloh ta’ala berfirman:
(إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا الله لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ( [الحجرات: 10].
Hanyalah kaum mukminin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara kalian dan bertaqwalah kalian kepada Alloh agar kalian mendapatkan rohmah.”
Maka jika keimanan hilang, maka hilanglah persaudaraan. Dan keimanan itu hilang dari seorang hamba disebabkan karena dia melakukan salah satu pembatal keislaman, sehingga jadilah dia itu kafir murtad. Alloh ta’ala berfirman:
﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾ [التوبة/11].
Maka jika mereka bertobat, menegakkan sholat dan membayar zakat, maka mereka adalah saudara kalian dalam agama ini. Dan Kami merinci ayat-ayat bagi orang-orang yang mengetahui.”
Maka syarat persaudaraan dalam Islam di sisi Alloh adalah: tobat dari kesyirikan dan kekufuran, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Maka orang yang meninggalkan sholat itu bukanlah saudara kita seagama.
Syaikhul Islam رحمه الله dalam tafsir ayat ini berkata: “Maka Alloh menggantungkan persaudaraan dalam agama kepada tobat dari kesyirikan, menegakkan sholat dan menunaikan zakat, sebagaimana Dia menggantungkan tidak diperanginya mereka kepada yang demikian itu dengan firman-Nya:
﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ﴾.
Maka jika mereka bertobat, menegakkan sholat dan membayar zakat, maka bebaskanlah jalan mereka.”
(“Jami’ul Masail Li Ibni Taimiyyah”/4/hal. 105).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka Alloh menggantungkan persaudaraan mereka dengan mukminin dengan pengerjaan sholat. Maka jika mereka tidak mengerjakan itu, maka mereka bukanlah saudara bagi mukminin, maka mereka bukanlah mukminin, berdasarkan firman Alloh ta’ala:
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ﴾.
Hanyalah mukminin itu saudara.”
(“Ash Sholah Wa Hukmu Tarikiha”/hal. 22).
Dan telah banyak karya tulis para ulama yang menjelaskan kekufuran rofidhoh. Maka di antara sebab kekufuran rofidhoh adalah sebagai berikut:
Pertama: Besarnya kesyirikan mereka kepada Alloh
Para imam telah menetapkan bahwasanya kesyirikan yang besar merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Sesungguhnya barangsiapa berdoa pada orang yang mati, sekalipun dia adalah termasuk dari Khulafaur Rosyidin, maka dia itu kafir. Dan barangsiapa ragu akan kekafiran orang itu maka dia juga kafir.” (kitab “Al Iqna’”/dinukilkan oleh Al Imam Asy Syaukaniy dalam “Ad Durrun Nadhid”/hal. 121/Maktabatul Falah). Abul Wafa Ibnu ‘Aqil Al Hanbaliy رحمه الله dalam kitab “Al Funun” berkata: “Manakala beban-beban syariat itu susah bagi orang-orang yang bodoh dan hina, merekapun beralih dari aturan-aturan syariat ke pengagungan aturan-aturan yang mereka bikin, maka menjadi mudahlah untuk mereka jika dengan itu mereka tidak masuk ke bawah perintah pihak yang lain. Mereka itu menurutku adalah orang-orang kafir dengan sebab peraturan-peraturan ini, semisal: pengagungan kuburan, meminta hajat kepada orang-orang mati, dan menulis di secarik kain: “Wahai pelindungku, berbuatlah untukku demikian dan demikian”, dan melemparkan robekan-robekan kain ke pohon, mencontoh orang yang menyembah Lat dan ‘Uzza.” (dinukilkan oleh Al Imam Asy Syaukaniy dalam “Ad Durrun Nadhid”/hal. 121/Maktabatul Falah).
Zainuddin Al Qosim bin Quthlubagho Al Hanafiy رحمه الله dalam syaroh beliau terhadap kitab “Durorul Bihar” berkata:“Sesungguhnya nadzar yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam dengan jalan mendatangi kuburan sebagian orang sholih seraya berkata: “Wahai tuanku Fulan, jika keluargaku yang hilang itu dikembalikan, atau keluargaku yang sakit itu disembuhkan, maka Anda akan mendapatkan emas atau perak atau lilin atau minyak sebanyak sekian” ini adalah bathil dengan kesepakatan ulama di karenakan beberapa sisi, di antaranya adalah: itu adalah nadzar untuk makhluk, dan nadzar untuk makhluk itu tidak boleh, karena dia itu adalah ibadah, dan ibadah itu tidak boleh diberikan kepada makhluk. Dan di antaranya juga: yang diserahi nadzar itu sudah mati, dan orang yang mati itu tidak berkuasa. Dan di antaranya adalah: jika dia mengira bahwasanya si mayit tadi bisa mengurusi perkara-perkara selain Alloh ta’ala, maka keyakinannya itu adalah kufur.” (dinukilkan oleh Ibnu Nujaim dalam kitab “Al bahrur Roiq Syarh Kanzid Daqoiq”/6/hal. 289).Al Khothib Asy Syarbiniy Asy Syafi’iy رحمه الله berkata: “Tidak halal sembelihan seorang muslim ataupun yang lainnya jika diperuntukkan selain Alloh, karena dia termasuk binatang yang disembelih untuk selain Alloh, bahkan jika si muslim menyembelih itu dalam rangka pengagungan dan ibadah maka dia kafir sebagaimana jika dia sujud pada makhluk yang diagungkan tadi.” (“Mughnil Muhtaj”/10/hal. 265).
Telah banyak nash-nash tentang kafirnya orang yang melakukan syirik besar. Dan rofidhoh punya bagian sangat besar dalam keburukan itu.
Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Jika ada suatu perkataan yang terang-terangan meniadakan rububiyyah atau penunggalan, atau mengajak ibadah pada satu dzat selain Alloh atau menyembahnya bersama Alloh, maka itu adalah kekufuran. Seperti perkataan Dahriyyah dan seluruh sekte pengikut dua tuhan dari kalangan Dishoniyyah, Manawiyyah dan yang seperti mereka dari para Shobiin, Nashoro, Majus dan yang menyekutukan dengan peribadatan pada berhala, atau pada malaikat atau setan atau matahari atau bintang atau api atau satu dzat selain Alloh dari kalangan musyrikin Arob, penduduk India, Cina, Sudan dan yang lainnya yang tidak kembali pada suatu kitab (satu kitab dari kitab suci dari Alloh). Demikian pula Qoromithoh, para pemeluk keyakinan hulul (masuknya Alloh ke badan makhluk, tanasukh (penitisan arwah), dari kalangan bathiniyyah dan Thoyyaroh dari rofidhoh, …” (“Asy Syifa Bi Ta’rif Huquqil Mushthofa”/hal. 476/cet. Darul hadits).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang rofidhoh: “Karena sesungguhnya mereka itu adalah musyrikun sebagaimana datang hadits tentang mereka, karena mereka itu orang yang paling keras pengagungannya terhadap kuburan yang dijadikan sebagai sesembahan selain Alloh. Dan ini adalah bab yang panjang penggambarannya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 485).
Dan Rofidhoh Sho’dah itu menjadikan kuburan Al Hadi ada di dalam masjid, dan mereka sholat di dalamnya, mengagungkan kuburannya, membikin untuknya kubah besar, memohon padanya untuk memenuhi hajat-hajat mereka. Perbuatan-perbuatan ini adalah kekufuran yang nyata, mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Dan juga: orang yang menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid. Dan sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم telah melaknat orang yang berbuat itu, sebagaimana akan datang penyebutannya. Dan alangkah banyaknya menjalar kerusakan-kerusakan yang menyebabkan Islam menangis, disebabkan oleh pemegahan dan pembagusan bangunan kuburan, di antaranya adalah: keyakinan orang-orang bodoh terhadap kuburan tadi, sebagaimana keyakinan orang-orang kafir kepada patung-patung dan keyakinan akan keagungannya. Maka mereka mengira bahwasanya kuburan-kuburan tadi sanggup untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, maka mereka menjadikannya tujuan untuk memohon ditunaikannya hajat-hajat mereka, dan sebagai tempat bernaung untuk kesuksesan tuntutan-tuntutan mereka.
Dan mereka memohon padanya dengan permohonan yang diajukan oleh para hamba kepada Robb mereka. Dan mereka serius mempersiapkan perjalanan menuju kepada kuburan tadi, mengusap-usapnya, mohon padanya dihilangkannya kesulitan.
Secara global: sungguh mereka itu tidak meninggalkan sedikitpun perkara yang dulu kaum jahiliyyah melakukannya pada patung-patung, kecuali mereka juga telah melakukannya pada kuburan-kuburan tadi. Maka kita hanyalah milik Alloh, dan hanya kepada-Nya sajalah kita akan kembali.
Dan bersamaan dengan kemungkaran yang busuk ini, dan kekufuran yang menjijikkan ini, kita tidak mendapati ada orang yang marah demi Alloh dan cemburu untuk agama yang hanif ini, baik dari orang alimnya, ataupun pelajarnya, ataupun gubernurnya, ataupun mentrinya, ataupun rajanya.
Telah berdatangan kepada kami berita-berita yang tidak diragukan bahwasanya kebanyakan dari orang-orang pengagung kuburan tadi, atau kebanyakan dari mereka, jika dia dituntut oleh lawannya untuk bersumpah, dia akan bersumpah palsu dengan nama Alloh. Tapi jika dikatakan padanya setelah itu: “Bersumpahlah dengan nama Syaikh kamu dan wali fulan yang kamu yakini,” langsung dia tergagap dan tidak mau bersumpah, dan barulah dia mengakui kejadian yang sebenarnya.
Dan ini merupakan dalil yang paling jelas bahwasanya kesyirikan mereka telah mencapai lebih dari kesyirikan orang yang berkata bahwasanya: “Alloh itu adalah Tuhan yang kedua dari dua tuhan,” atau “Tuhan yang ketiga dari tiga tuhan.”
Wahai para ulama agama, wahai para raja muslimin. Kehinaan pakah terhadap Islam yang lebih keras daripada kekufuran? Dan bencana apakah terhadap agama ini yang lebih berbahaya daripada beribadah pada selain Alloh? Dan musibah apa yang menimpa Muslimin yang setara dengan musibah ini? Dan kemungkaran apa yang wajib diingkari jika kesyirikan yang jelas ini tidak wajib diingkari?
لقد أسمعت لو ناديت حيا … ولكن لا حياة لمن تنادي
ولو نارا نفخت بها أضاءت … ولكن أنت تنفخ في الرماد
Sungguh engkau telah memperdengarkan seruan andaikata engkau itu menyeru orang yang masih hidup. Akan tetapi orang yang engkau seru tadi tak punya kehidupan.
Dan andaikata apilah yang engkau tiup niscaya akan bertambah terang. Akan tetapi engkau hanya meniup ke dalam abu.” (selesai penukilan dari “Nailul Author”/4/hal. 131).
Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Abdillathif Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Maka perhatikanlah, semoga Alloh merohmatimu, kepada ucapan As Salafush Sholih dan peringatan mereka dari duduk-duduk dengan ahli bida’, mencondongkan pendengaran kepada mereka, dan untuk bersikap keras kepada mereka, dan mereka melarang dari mengucapkan salam kepada ahli bida’. Maka bagaimana dengan rofidhoh yang mana Ahlussunnah telah mengeluarkan mereka dari tujuh puluh dua golongan? Disertai lagi dengan kesyirikan nyata yang mereka ada di atasnya, yang berupa doa pada selain Alloh di suasana sempit dan lapang. Sebagaimana itu diketahui dari keadaan mereka?” (“Ad Durorus Saniyyah Fil Kutubin Najdiyyah”/10/hal. 451). Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Maka rofidhoh itu adalah para penyembah selain Alloh, mereka orang-orang kafir.” (“Syarh kitab Fadhlil Islam”/Ibnu Baz/hal. 29).
Sebab yang kedua: Mereka Berlebihan dalam Mengagungkan Sebagian Makhluk
Syaikh rofidhoh yang berjuluk “Al Mumqoniy” berkata: “Dan termasuk dari kepastian dari madzhab kami adalah bahwasanya para imam عليهم السلام itu lebih utama daripada para Nabi Bani Isroil, sebagaimana telah disebutkan oleh nash-nash yang mutawatir, dan tiada kesamaran bagi orang yang biasa bergelut dengan kabar-kabar Ahli Bait عليهم السلام –yaitu para imam mereka yang dua belas-, bahwasanya muncul dari para imam عليهم السلام perkara luar biasa seperti yang muncul dari para Nabi, bahkan lebih dari itu, dan bahwasanya para Nabi dan salaf terbuka untuk mereka satu pintu atau dua pintu dari ilmu, sementara untuk para imam عليهم السلام terbuka seluruh pintu-pintu dengan sebab ibadah dan ketaatan mereka yang membiarkan sang hamba menjadi seperti Alloh jika berkata pada suatu perkara “Jadilah” maka terjadilah dia.” (lihat “Tanqihul Mitsal”/3/hal. 232/ Selesai penukilan dari “Ushul Madzhabisy Syi’ah Al Imamiyyah Al Itsnai ‘Asyariyyah ‘Ardh Wa Naqd”/3/hal. 1196/Nashir bin Abdillah Al Qifariy).
Ini adalah kekufuran dan kemurtadan yang jelas. Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Sabda Nabi: “Engkau dariku seperti posisi Harun dari Musa” yang beliau inginkan adalah: mendahulukan Ali di atas orang yang beliau tinggalkan. Beliau mengecualikan dari keadaan Harun sebagian sifatnya yaitu kenabian, karena Harun adalah Nabi, sementara Nabi عليه الصلاة والسلام telah memberitahu bahwasanya tidak ada nabi setelah beliau. Maknanya adalah: sejak beliau diutus. Yaitu: setelah beliau diutus, terputuslah kenabian, maka tiada nabi sampai hari Kiamat. Di dalam kandungan berita itu ada peringatan dari beliau عليه الصلاة والسلام terhadap kedustaan yang dibikin oleh Ghulatur Rofidhoh terhadap Ali yang berupa kenabian, sampai mereka naik dalam keyakinan terhadap beliau kepada dakwaan bahwa beliau adalah sesembahan sejak zaman beliau sampai hari kita ini. Beliau رضي الله عنه telah membakar sebagian dari mereka dikarenakan dakwaan tadi, tapi hal itu menambah kesesatan mereka. Mereka berkata: “Sekarang jelaslah bagi kami bahwasanya dia itu adalah Alloh, karena tidaklah menyiksa dengan api kecuali Alloh.” (“Ikmalul Mu’allim Syarh Shohih Muslim”/7/hal. 208).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan kelompok yang melampaui batas dari kalangan Rofidhoh yang mana mereka berlebihan terhadap seseorang hingga mensifatinya dengan sifat-sifat sesembahan.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/4/hal. 1544).
Al Imam Sulaiman bin Abdillah Alusy Syaikh رحمه الله berkata: “Maka hendaknya diketahui bahwasanya orang yang menisbatkan diri kepada Islam dan sunnah pada masa-masa ini terkadang keluar dari Islam juga, dan yang demikian itu dengan beberapa sebab, di antaranya adalah: sikap berlebihan yang dicela oleh Alloh dalam kitab-Nya, yang mana Dia berfirman:
﴿يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم﴾
“Wahai orang orang yang beriman, janganlah kalian berlebihan dalam agama kalian.”
Dan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه membakar kelompok yang berlebihan dari kalangan Rofidhoh, beliau memerintahkan digalinya parit-parit untuk mereka di pintu Kindah, lalu beliau melemparkan mereka ke dalamnya. Dan para Shohabat رضي الله عنهم bersepakat untuk memebunuh mereka, akan tetapi madzhab Ibnu Abbas adalah: hendaknya mereka tadi dibunuh dengan pedang, bukan dibakar. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama.” (“Taisirul ‘Azizil Hamid”/hal. 266).
Fadhilatusy syaikh Al Mufti Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang Syi’ah: “Dan termasuk dari itu adalah mereka menjadikan para imam mereka secara khusus dan Ahlul bait secara umum sebagai sesembahan. Yang demikian itu dengan menamai anak-anak mereka sebagai hamba bagi para imam mereka. Mereka menamai dengan Abduz Zahro, Abdul Husain, Abdul Kazhim dan selainnya. Dan mereka meyakini bahwasanya orang-orang yang mati dari mereka bisa menjawab doa dan menghilangkan kesedihan.” (“Al Mauridul ‘Adzbiz Zulal”/hal. 155/cet. Darul Atsar).
Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله berkata: “Dan Al Khomainiy, pemimpin Rofidhoh pada masa ini, yang mati beberapa tahun yang lalu, berkata dalam kitabnya “Al Hukumatul Islamiyyah”: “Dan sesungguhnya termasuk dari kepastian madzhab kami adalah bahwasanya para imam kita punya kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan ataupun nabi yang diutus.” (“Syarh Sunan Abi Dawud”/Abdul Muhsin Al ‘Abbad/2/hal. 378).
Sebab Yang Ketiga: Mereka Membantu Kesyirikan
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan asal kedustaan ini adalah kesesatan dan kebid’ahan serta kesyirikan, karena sesungguhnya orang-orang yang tersesat mengira bahwasanya menyengaja bepergian ke tempat-tempat perayaan ini, sholat di situ, doa dan bernadzar untuknya, menciumnya dan mengusapnya, dan amalan kebajikan dan agama yang lain, sampai-sampai aku melihat ada kitab besar yang ditulis oleh sebagian imam Rofidhoh: Muhammad ibnun Nu’man yang dijuluki sebagai Asy Syaikhul Mufid, syaikh yang dijuluki sebagai Al Murtadho, dan Abu Ja’far Ath Thusiy yang berjudul “Al Hajju Ila Ziyarotil Masyahid” menyebutkan di situ atsar-atsar dari Nabi صلى الله عليه وسلم  dan ahli bait beliau, ziaroh ke tempat-tempat perayaan ini, haji ke situ, perkara-perkara yang tidak disebutkan semisal itu dalam ibadah haji ke baitulloh yang suci. Dan kebanyakan yang disebutkannya itu merupakan kedustaan yang paling jelas dan kebohongan yang paling terang, sampai-sampai aku melihat dalam masalah itu kedustaan dan kebohongan yang lebih banyak daripada kedustaan yang aku lihat di kebanyakan buku-buku Yahudi dan Nashoro. Perkara ini pada asalnya hanyalah dibikin-bikin oleh suatu kaum dari munafiqin dan zanadiqoh untuk menghalangi manusia dari jalan Alloh. Dan mereka merusak agama Islam dan membikin-bikin prinsip kesyirikan yang bertentangan dengan keikhlasan agama untuk Alloh.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 517).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan urusan orang-orang yang sesat lagi musyrik itu sampai kepada bahwasanya mereka mensyariatkan haji kepada kuburan dan mereka meletakkan untuk itu manasik sampai bahkan sebagian dari orang yang berlebihan dari mereka menulis itu dalam suatu kitab dan diberi judul “Manasik Hajjil Masyahid” dalam rangka menyerupakan kuburan dengan Baitul Harom. Tidak tersamarkan bahwasanya yang demikian itu merupakan perpisahan dengan agama Islam, dan masuk kepada agama para penyembah patung. Lihatlah perbedaan yang besar ini, antara apa yang disyariatkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan yang beliau maksudkan: yaitu larangan dari pengagungan yang disebutkan tentang kuburan, dengan apa yang mereka syariatkan dan mereka maksudkan. Dan tiada keraguan tentang hal itu yang berupa kerusakan-kerusakan yang tidak bisa dibatasi oleh hamba.” (“Ighotsatul Lahfan”/hal. 197).
Yang Keempat: Keyakinan mereka bahwasanya sebagian makhluk adalah bagian dari dzat Sang Pencipta, atau bahwasanya Sang Pencipta masuk ke dalam makhluk
Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Diceritakan bahwasanya sekelompok dari Rofidhoh yang disebut dengan An Numairiyyah –pengikut An Numairiy- berkata: Sesungguhnya Sang Pencipta dulu masuk ke dalam badan An Numairiy.” (“Maqolatul Islamiyyin”/hal. 15). 
Syaikhul islam رحمه الله berkata: “Adapun keyakinan bahwasanya makhluk itu adalah bagian dari Sang Pencipta ta’ala, maka ini adalah kekufuran yang jelas yang diucapkan oleh para musuh Alloh yaitu Nashoro dan orang yang berlebihan dari kalangan rofidhoh, orang-orang bodoh dari kalangan shufiy. Dan orang yang meyakini itu maka dia itu kafir.” (“Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 74). 
Al Qodhiy ‘Iyadh رحمه الله setelah menyebutkan sekian banyak kekufuran, beliau berkata: “Semuanya adalah kekufuran dengan kesepakatan Muslimin, seperti perkataan Ilahiyyin dari kalangan falasifah, ahli nujum dan thoba’iiyyin. Dan demikian pula orang yang mengaku duduk-duduk dengan Alloh, naik kepada-Nya, berbincang-bincang dengan-Nya, atau Dia masuk ke seseorang, seperti ucapan sebagian shufiyyah, dan bathiniyyah nashoro dan qoromithoh.” (“Asy Syifa Bi Ta’rif Huquqil Mushthofa”/2/hal. 283). 
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka tiada perselisihan di antara umat ini bahwasanya barangsiapa berpendapat bahwa Alloh masuk ke manusia dan menyatu dengan-Nya, dan bahwasanya manusia itu bisa menjadi salah satu sesembahan, maka dia itu kafir, darahnya halal. Dan karena inilah Al Hallaj dibunuh.” (“Majmu’ul Fatawa”/2/hal. 481).

Sebab Kelima: Penolakan mereka terhadap Al Qur’an, yang mana Al Qur’an Memuji para Shohabat, memuliakan mereka dan menetapkan keimanan mereka, sementara Rofidhoh mengkafirkan Shohabat

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan Al Qodhi berkata: Dan tiada keraguan tentang kafirnya orang yang mengatakan ini, karena barangsiapa mengkafirkan umat ini semuanya dan generasi pertamanya, maka sungguh dia telah membatalkan penukilan syariat dan meruntuhkan Islam.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Muslim”/15/hal. 174).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Asal ucapan Rofidhoh adalah: bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم menetapkan Ali sebagai imam yang ma’shum, dengan penetapan yang memutuskan udzur, dan bahwasanya orang yang menyelisihinya itu kafir, dan bahwasanya para Muhajirin dan Anshor menyembunyikan nash tersebut dan mengingkari imam yang ma’shum, menggikuti hawa nafsu mereka, merubah agama dan mengganti syariat, berbuat zholim dan melampaui batas, bahkan mereka semua kafir kecuali sekelompok kecil, sekian belas orang atau lebih dari itu. Kemudian rofidhoh berkata: Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar dan yang semisalnya itu senantiasa munafiqin. Mereka juga berkata: mereka beriman lalu kafir.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 356).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan termasuk perkara yang telah diketahui secara pasti bagi orang yang mempelajari Al Qur’an, As Sunnah dan perkara yang disepakati Ahlussunnah Wal Jama’ah dari seluruh kelompok: bahwasanya generasi umat ini yang terbaik –dalam amalan, ucapan, keyakinan dan seluruh keutamaan yang lainnya- adalah: generasi pertama, lalu yang datang setelah mereka, lalu yang datang setelah mereka, sebagaimana telah tetap yang demikian itu dari Nabi صلى الله عليه وسلم lebih dari satu hadits, dan bahwasanya mereka itu lebih utama daripada kholaf (generasi belakangan) pada setiap keutamaan: ilmu, amalan, iman, akal, agama, penjelasan, ibadah, dan bahwasanya merekalah yang lebih pantas menjelaskan setiap kerumitan. Perkara ini tidak diingkari kecuali oleh orang yang menentang perkara yang telah diketahui secara pasti dari agama Islam dan Alloh sesat dirinya di atas ilmu.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 157-158). 
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan hadits-hadits ini tersebar bahkan telah mutawatir tentang keutamaan para Shohabat, pujian untuk mereka, dan pengutamaan generasi mereka di atas generasi-generasi yang datang setelah mereka. Maka cercaan terhadap mereka merupakan cercaan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah. Oleh karena itulah orang-orang berbicara tentang pengkafiran Rofidhoh dengan yang telah kami jabarkan di lebih dari satu tempat. Wallohu subhanahu wata’ala a’lam.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 430).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Penolakan Rofidhoh nash-nash shohihah yang jelas, terang dan diketahui ulama umat ini dan orang awamnya secara pasti tentang pujian dan sanjungan untuk para Shohabat, keridhoan Alloh untuk mereka, ampunan dan maaf Alloh untuk kejelekan mereka, kewajiban umat untuk mencintai, mengikuti, memohonkan ampunan, dan meneladani mereka dengan makna yang samar dari sabda Nabi: “Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, yang mana sebagian dari kalian memenggal leher sebagian yang lain,” [HR. Al Bukhoriy (121) dan Muslim (65) dari Jarir رضي الله عنه ] dan yang semisalnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 304). Iya, mereka menyakiti Nabi صلى الله عليه وسلم dengan metode yang samar. Al Imam Al barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya barangsiapa mencela satu orang dari Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم maka ketahuilah bahwasanya dia itu hanyalah menginginkan Muhammad صلى الله عليه وسلم dan telah menyakiti beliau di dalam kubur beliau.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 120/cet. Maktabah Daril Minhaj).
Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله berkata: “Maka kecintaan pada para Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan alamat kecintaan pada beliau, sedangkan kebencian pada mereka merupakan alamat kebencian pada beliau, sebagaimana datang dalam hadits shohih:
«حب الأنصار من الإيمان و بغضهم من النفاق».
Kecintaan pada Anshor adalah termasuk dari keimanan, dan kebencian kepada mereka adalah termasuk dari kemunafiqan.”  [ HR. Al Bukhoriy (17) dan Muslim (74) dari Anas رضي الله عنه].
Dan tidaklah yang demikian itu kecuali karena mereka terdahulu masuk Islam dan memerangi musuh-musuh Alloh di hadapan Rosululloh صلى الله عليه وسلم . dan demikian pula kecintaan pada Ali رضي الله عنه adalah termasuk keimanan, dan kebencian padanya adalah termasuk dari kemunafiqan. (HR. At Tirmidziy (3736) dan An Nasaiy (5033)/shohih). Dan hanyalah yang mengetahui keutamaan para Shohabat رضي الله عنهم orang yang mempelajari keadaan mereka, sejarah mereka dan jejak mereka dalam kehidupan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan sepeninggal beliau, yang berupa: lebih dahulunya mereka untuk beriman, memerangi orang-orang kafir, menyebarkan agama, menampakkan syiar-syiar Islam, meninggikan kalimat Alloh dan Rosul-Nya, mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah Nabi. Andaikata bukan karena mereka tidaklah sampai pada kita dasar agama ini ataupun cabangnya, dan kita tidak tahu satu kewajibanpun dan tidak tahu satu sunnahpun, dan kita tidak tahu sedikitpun dari hadits dan kabar.
Maka barangsiapa mencerca mereka ataupun mencela mereka maka sungguh dia telah keluar dari agama ini dan keluar dari jalan agama muslimin, karena sesungguhnya cercaan itu tidak terjadi kecuali berasal dari keyakinan akan keburukan Shohabat dan merahasiakan dendam terhadap Shohabat, dan mengingkari apa yang Alloh ta’ala sebutkan dalam kitab-Nya yang berupa pujian kepada mereka. Dan juga hakikat cercaan tadi mengingkari pujian Rosululloh صلى الله عليه وسلم , berita tentang keutamaan mereka, tingginya kedudukan mereka dan kecintaan pada mereka, karena mereka itu adalah sarana berita yang paling diridhoi, dan perantara nukilan yang paling diridhoi. Dan cercaan terhadap perantara itu merupakan cercaan terhadap sumbernya. Dan ejekan terhadap penukil itu hakikatnya adalah ejekan terhadap yang dinukil. Dan ini jelas sekali bagi orang yang mempelajarinya dan selamat dari kemunafiqan dan dari zandaqoh serta penyelewengan dalam aqidahnya. Dan cukuplah bagimu berita-berita dan atsar-atsar tentang itu.”(“Al Kabair”/Adz Dzahabiy/hal. 395-396/Syarhul Utsaimin/cet. Darul Ghoddil Jadid).
Maka perkara pujian Alloh dan Rosul-Nya untuk para Shohabat adalah sesuatu yang pasti dalam agama.
Dan barangsiapa menentang perkara yang telah diketahui dari agama ini dengan pasti, maka dia kafir.
Al Imam Abu Zakariya An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya madzhab ahlul haq adalah: … bahwasanya barangsiapa menentang perkara yang telah diketahui dari agama ini dengan pasti, dia dihukumi sebagai murtad dan kafir, kecuali jika dia itu baru saja masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang jauh dan semisalnya dari kalangan orang yang perkara ini tersamarkan atas dirinya, maka dia perlu diajari dulu. Jika dia terus-menerus demikian , dia dihukumi sebagai orang kafir.” (“Syarhun Nawawiy ‘Ala Muslim”/1/hal. 69).
Al Qurthubiy رحمه الله berkata tentang wajibnya menghormati Shohabat: “… karena tiada perselisihan tentang wajibnya menghormati mereka dan haromnya mencaci mereka. Dan tidak diperselisihkan tentang bahwasanya orang yang berkata: “sesungguhnya mereka ada di atas kekufuran atau kesesatan” itu kafir dan harus dibunuh, karena dirinya telah mengingkari perkara yang telah diketahui secara pasti dari syariat. Orang ini sungguh telah mendustakan Alloh dan Rosul-Nya tentang apa yang dikabarkannya tentang mereka. Demikian pula hukum orang yang mengkafirkan salah satu dari kholifah yang empat atau menghukumi mereka sebagai orang yang sesat (yaitu dia dikafirkan juga). Dan apakah hukum orang ini adalah hukum orang murtad sehingga dimintai tobat, ataukah hukum orang zindiq sehingga tidak dimintai tobat dan langsung dibunuh? Ini termasuk perkara yang diperselisihkan. Adapun orang yang mencaci Shohabat bukan dalam masalah di atas, maka jika itu adalah cacian yang mengharuskan hukum had seperti tuduhan zina, maka ditegakkanlah terhadapnya had, kemudian dirinya dihukum dengan hukuman yang keras yang berupa penjara dengan kekal, dan dihinakan. Kecuali jika dirinya menuduh zina terhadap ‘Aisyah رضي الله عنها , karena orang yang menuduh beliau dengan itu, dia harus dibunuh karena dirinya telah mendustakan apa yang datang di dalam Al Kitab dan As Sunnah tentang kesucian beliau dari perkara itu. Pendapat ini diucapkan oleh Malik dan yang lainnya, …dst.” (“Al Mufhim”/6/hal. 493/Dar Ibnu Katsir). 
Al ‘Allamah Mahmud Al Alusiy رحمه الله berkata: “Dan engkau telah mengetahui bahwasanya mencaci Shohabat –karena hal itu mengharuskan pengingkaran terhadap ijma’ yang telah tegak- itu kekufuran, berdasarkan penjelasan yang terdahulu.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 234). Dan dalam “Al Fatawal Hindiyyah” (2/hal. 264): “Dan wajib mengkafirkan mereka dengan sebab mereka mengkafirkan Utsman, Ali, Tholhah, Zubair dan ‘Aisyah رضي الله تعالى عنهم.” Dst.
Sebab Keenam: Loyalitas mereka pada orang-orang kafir

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan kebanyakan mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi ucapan mereka dan menamakan diri mereka sebagai mukminin, dan orang yang menyelisihi mereka itu adalah orang-orang kafir. Mereka menjadikan kota-kota Islam yang tidak nampak di situ ucapan-ucapan mereka sebagai negri kemurtadan yang lebih jelek daripada kota-kota musyrikin dan Nashoro. Oleh karena itulah mereka berloyalitas dengan Yahudi dan Nashoro serta musrikin untuk menghadapi sebagian dari kebanyakan muslimin, memusuhi dan memerangi muslimin, sebagaimana yang telah diketahui tentang loyalitas mereka kepada orang-orang kafir dan musyrikin untuk menghadapi mayoritas muslimin, juga loyalitas mereka kepada Perancis Kristen untuk menghadapi mayoritas muslimin, juga loyalitas mereka kepada Yahudi untuk menghadapi mayoritas muslimin.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 356).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya tidak pernah sama sekali ada musuh dari luar yang bangkit menghadapi muslimin kecuali rofidhoh menjadi menolong musuh tadi untuk menghadapi Islam. Berapa banyaknyakah mereka menimpakan bencana terhadap Islam dan Muslimin? Tidaklah pedang-pedang musyikin penyembah patung dari kalangan tentara Hulaku dan yang seperti dia dari kalangan Tartar menyebarkan kerusakan kecuali dari bawah kepala-kepala mereka. Tidaklah masjid-masjid ditinggalkan, mushaf-mushaf dibakar, para pemimpin muslimin, ulama mereka, ahli ibadah dan kholifah mereka dibunuh kecuali dengan sebab mereka. Sikap saling bantu antara mereka dengan musyrikin dan Nashoro itu telah diketahui oleh ulama dan orang awam, dan pengaruh-pengaruh mereka dalam agama ini telah diketahui.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 94).
Loyalitas pada orang kafir mengharuskan rusaknya iman. Alloh ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَآمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ الله لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين﴾ [المائدة/51].
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashoro sebagai wali-wali. Sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Dan barangsiapa berloyalitas pada mereka dari kalian maka sesungguhnya dia itu dari golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan Alloh memutuskan loyalitas antara Yahudi dan Nashoro dengan Mukminin, dan Dia mengabarkan bahwasanya barangsiapa berloyalitas pada mereka maka sesungguhnya dia itu dari golongan mereka dalam hukum Alloh yang jelas. –kemudian beliau menyebutkan ayat ini-, dan Dia mengabarkan tentang keadaan orang-orang yang berloyalitas dengan mereka, bahwasanya hatinya itu ada penyakit yang menyebabkan rusaknya akal dan agama. Dia berfirman:
﴿ فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى الله أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِين﴾ [المائدة/52].
“Maka engkau melihat orang-orang yang di hatinya ada penyakit mereka bersegera menuju ke Ahli Kitab itu dan berkata: “Kami takut tertimpa bencana” Maka semoga Alloh mendatangkan kemenangan atau urusan dari sisi-Nya, sehingga jadilah orang-orang itu menyesal dengan apa yang mereka sembunyikan di dalam jiwa mereka.”
Kemudian Alloh mengabarkan gugurnya amalan orang-orang yangberloyalitas pada Ahlul Kitab tadi agar orang mukmin berhati-hati dari yang demikian itu. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِالله جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ﴾. (“أحكام أهل الذمة”/1/ص 487-488).
“Dan orang-orang yang beriman berkata: “Apakah mereka itu orang-orang yang bersumpah dengan nama Alloh dengan sumpah yang keras bahwasanya mereka bersama kalian?” Amalan-amalan mereka gugur maka jadilah mereka itu menjadi orang-orang yang rugi.”(“Ahkam Ahlidz Dzimmah”/hal. 487-488).
Sebab yang Ketujuh: Keyakinan mereka bahwasanya Al Qur’an itu makhluk

Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Mu’tazilah, Khowarij, kebanyakan Zaidiyyah, Murjiah dan banyak sekali dari Rofidhoh berkata bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu Kalamulloh subhanah, dan bahwasanya dia itu ciptaan Alloh, semula tidak ada lalu ada.” (Maqolatul Islamiyyin”/hal. 582).
Dan barangsiapa mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk maka dia itu kafir. Al Imam ufyan Ats Tsauriy رحمه الله berkata: “Al Qur’an adalah Kalamulloh dan bukan makhluk, dari Alloh mulai, dan kepada-Nya kembali. Barangsiapa berkata yang selain itu maka dia itu kafir.” (“As Sunnah”/Ats Tsauriy/hal. 1).
Dan termasuk dari akibat pendapat bahwasanya Al Qur’an itu makhluk adalah: orang lancang untuk menghina Al Qur’an dan tidak menghormatinya.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang orang yang terpengaruh dengan filsafat: “… kemudian sekelompok kaum dari para pengikut mereka salah satu dari pengikut madzhab, dan bahwasanya Al Qur’an adalah suatu makna yang tegak dengan dzat Alloh saja, dan bahwasanya huruf-huruf bukanlah bagian dari Kalamulloh, bahkan Alloh yang menciptakannya di udara atau ditulis oleh Jibril atau Muhammad. Maka mereka menggabungkan kepada pendapat itu bahwasanya Mushhaf itu tidak ada di dalamnya kecuali tinta dan kertas, dan mereka berpaling dari apa yang diucapkan oleh pendahulu mereka bahwasanya: “Al Qur’an adalah dalil tentang adanya Kalamulloh maka wajib untuk menghormatinya” dikarena mereka berpandangan bahwasanya semata-mata dalil tidaklah mengharuskan untuk dihormati, seperti dalil yang menunjukkan pada adalah Sang Pencipta Yang Berbicara dengan ucapan, karena sesungguhnya seluruh makhluk yang ada semuanya adalah dalil yang menunjukkan adanya Alloh, dan tidak wajib untuk menghormatinya. Maka jadilah mereka itu menghinakan Mushhaf sampai mereka menginjaknya dengan kaki-kaki mereka. Dan di antara mereka ada yang menulis nama-nama Alloh dengan kotoran dalam rangkai menjatuhkan kehormatan apa yang ditulis dalam Mushhaf dan kertas-kertas dari nama-nama Alloh dan ayat-ayat-Nya.” (“Majmu’ul Fatawa”/8/hal. 425).
Dan ini adalah kekufuran yang nyata.
Dan Abu Bakr Ibnul Mu’alla Al Hishniy  رحمه الله menukilkan dari fuqoha di zaman beliau (wafat tahun 829 H): “Barangsiapa melemparkan Mushhaf ke kotoran maka dia itu kafir sekalipun dia mengaku beriman, karena yang demikian itu menunjukkan bahwa dia mengolok-olok agama.” (“Kifayatul Akhyar Fi Hill Ghoyatil Ikhtishor”/hal. 382).
Aku katakan: dan telah terjadi penghinaan terhadap Al Qur’an yang dilakukan oleh rofidhoh Yaman sampai-sampai salah seorang dari mereka menginjak Mushhaf tanpa pengingkaran dari mereka setelah mereka membunuh sebagian Ahlussunnah di jalan.
Sebab yang Kedelapan: Mereka Meyakini Bahwa Para Imam Mereka Ma’shum.
Syaikhul islam رحمه الله berkata: ”Yang yang pertama kali dinukilkan dari mereka dari kelompok-kelompok umat ini pendapat kema’shuman secara mutlak, dan yang paling besar mengucapkan ini adalah rofidhoh, karena mereka mengatakan ma’shum sampai bahkan dari perkara lupa, lalai dan penakwilan. Dan mereka menukilkan itu dari orang yang mereka yakini sebagai imam. Mereka berpendapat bahwa Ali dan dua belas tokoh mereka itu ma’shum. Kemudian Isma’iliyyah yang dulu menjadi raja-raja Kairo, dan mereka menyatakan bahwasanya mereka itu Khulafa keturunan Ali dan Fathimiyyah, padahal mereka itu menurut para ulama adalah dari keturunan Ubaidulloh Al Qoddah. Mereka dan para pengikut mereka menyatakan kema’shuman seperti tadi untuk para imam mereka dan yang semisal mereka, padahal mereka itu sebagaimana dikatakan oleh Abu Hamid Al Ghozaliy dalam kitabnya yang dia tulis untuk membantah mereka: “Lahiriyyah madzhab mereka adalah Rofdh, dan bathinnya adalah kekufuran murni.” Dan Al Qodhiy Abu Ya’la telah menulis kitab yang menggambarkan madzhab-mazhab mereka dalam kitab-kitab beliau. Demikian pula yang selain mereka dari kalangan ulama muslimin.
Mereka (rofidhoh) dan yang semisal mereka dari kalangan kemompok yang berlebihan yang berpendapat kema’shuman, dan terkadang mereka mengkafirkan orang yang mengingkari pendapat tadi. Dan orang-orang yang berlebihan tadi mereka itu kafir dengan kesepakatan muslimin.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 320).
Keyakinan akan ma’shumnya selain para Nabi عليهم السلام itu menyelisihi hadits Abu Dzarr رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم dalam kabar yang beliau riwayatkan dari Alloh تبارك وتعالى bahwasanya Alloh berfirman:
«يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم». الحديث.
Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mohonlah ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian.” Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (2577)).
Sebab Kesembilan: Mereka Mengakui Agama Ahlul Kitab dan Agama Para Penyembah Api.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Orang-orang yang mengenal Islam telah mengetahui bahwasanya rofidhoh itu condong kepada para musuh agama ini. Dan manakala mereka menguasai Kairo, saat itu mentri mereka terkadang adalah seorang yahudi, terkadang seorang nashroniy Armenia. Dan Nashoro menjadi kuat dengan sebab si nashroniy armeniy tadi, dan mereka membangun gereja-gereja yang banyak di tanah Mesir di masa pemerintahan rofidhoh munafiqin tersebut. Dan dulu mereka menyerukan di antara dua istana: “Barangsiapa yang melaknat atau mencaci (Abu Bakr atau Umar) maka dia akan mendapatkan satu dinar dan irdab.”
Dan pada masa pemerintahan mereka Nashoro merebut pesisir Syam dari tangan muslimin sampai direbut kembali Nuruddin dan Sholahuddin. Dan pada masa pemerintahan mereka (rofidhoh) datanglah perancis ke Bilbis dan mereka dikalahkan oleh perancis, karena mereka itu munafiqin, dan mereka dibantu oleh Nashoro. Dan Alloh tidak akan menolong munafiqin yang mereka itu loyal pada Nashoro. Maka mereka mengirimkan utusan ke Nuruddin meminta bantuan, maka Nuruddin mengirimkan bantuan pada mereka dengan Asaduddin dan keponakannya yaitu Sholahuddin. Manakala para pasukan mujahidun datang ke negri Mesir, bangkitlah rofidhoh bersama nashoro, maka mereka menuntut agar para pasukan mujahidin muslimin itu diperangi saja, dan berlangsunglah momen-momen yang dikenal oleh orang-orang samapai Sholahuddin membunuh komandan terdepan mereka: Syawar. Dan sejak saat itu muncullah kembali di negri itu kalimatul Islam, Sunnah dan Jama’ah, dan jadilah hadits-hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم dibaca kembali, seperti Al Bukhoriy, Muslim dan yang seperti itu, dan disebut-sebut di negri itu madzhab-madzhab para imam, dan para Khulafaur Rosyidin didoakan dengan keridhoan.
Jika tidak demikian, mereka sebelum ini adalah termasuk makhluk yang paling buruk. Di kalangan mereka ada kaum yang menyembah bintang dan menanti-nantinya, dan di kalangan mereka ada kaum zanadiqoh dahriyyah yang tidak beriman pada hari akhir, pada Jannah ataupun Neraka, dan tidak meyakini wajibnya sholat, zakat, puasa dan haji. Dan yang terbaik dari mereka di dalam hatinya ada aqidah rofidhiyyah, sementara rofidhoh itu kelompok paling buruk yang menisbatkan diri ke qiblat.
Dan dengan sebab ini dan yang semisalnya diadakanlah gereja-gereja di Kairo dan tempat yang lain.”(“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 637-638).
Dan barangsiapa melakukan ini maka dia itu kafir.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata dalam bantahan beliau terhadap rofidhoh: “Karena sesungguhnya orang yang menetapkan agama yahudi, nashoro dan majusi, dan mencerca agama Khulafaur Rosyidin Al Mahdiyyin dan As Sabiqunal Awwalum dari kalangan Muhajirin dan Anshor, maka tidaklah itu terjadi kecuali dari orang yang paling bodoh dan paling kafir.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 490).
Sebab yang Kesepuluh: Mereka meyakini bahwasanya di umat ini ada Nabi selain Muhammad صلى الله عليه وسلم
Al Qurthubiy رحمه الله : “Sabda beliau:
«غير أنه لا نبي بعدي»
Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” 
Hanyalah Nabi صلى الله عليه وسلم mengucapkan itu dalam rangka memperingatkan umat dari apa yang terjadi pada kelompok rofidhoh yang berlebihan karena sesungguhnya mereka berkata: “Sesungguhnya Ali adalah nabi yang mendapatkan wahyu.” Dan bahkan sikap berlebihan mereka mencapai puncak menjadikan Ali seperti keyakinan Nashoro terhadap Masih Isa, mereka berkata: “Sesungguhnya dia itu sesembahan.” Dan Ali رضي الله عنه telah membakar orang yang mengucapkan itu, maka sekelompok dari mereka terfitnah dengan itu sehingga bertambah sesat dan mereka berkata: “Sekarang kami yakin dengan pasti bahwasanya beliau itu adalah Alloh, karena tidaklah menyiksa dengan api kecuali Alloh.” Dan itu tadi semua adalah ucapan orang awwam yang bodoh yang lemah akal, salah seorang dari mereka tidak peduli apa yang diucapkan, maka tidaklah bermanfaat bagi mereka panah burhan (bukti penjelasan) tapi yang bermanfaat adalah pedan dan tombak.”
(“Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhish Kitabi Muslim”/20/hal. 27). Hadits yang beliau sebutkan tadi diriwayatkan oleh Al ImamMuslim (2404) dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sesungguhnya rofidhoh adalah kelompok dari umat ini yang paling pendusta secara mutlak. Dan mereka adalah kelompok yang mendakwakan Islam tapi paling besar ghuluwnya dan syiriknya. Dan di antara mereka ada yang pertama kali mendakwakan ilahiyyah pada para pembaca Qur’an, dan mendakwakan adanya nabi selain Nabi صلى الله عليه وسلم seperti orang yang mendakwakan kenabian pada Ali, dan seperti Al Mukhtar bin Abi Ubaid yang mengaku sebagai nabi.” (“Majmu’ul Fatawa”/27/hal. 175-176). 
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan dikisahkan dari mereka bahwasanya kebanyakan dari mereka menetapkan kenabian bagi Bayan bin Sam’an, kemudian kebanyakan dari mereka menyatakan bahwasanya Abu Hasyim Abdulloh bin Muhammad ibnul Hanafiyyah menetapkan kenabian Bayan bin Sam’an, dan menjadikannya sebagai imam. Dan mereka menukilkan dari Al Mughiriyyah –pengikut Al Mughiroh bin Sa’id- bahwasanya mereka menyatakan bahwasanya dia itu menyatakan bahwasanya dia itu nabi, dan bahwasanya dia itu mengetahui nama Alloh yang terbesar.” (“Minhajus Sunnah”/2/hal. 303).

Sebab yang Kesebelas: Mengingkari kewajiban-kewajiban dan membolehkan keharoman-keharoman.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan di kalangan mereka (rofidhoh) banyak orang yang yang tidak mengakui kewajiban sholat, ataupun puasa ataupun haji ataupun umroh, dan tidak juga mengharomkan bangkai, darah, daging babi, dan tidak beriman pada Jannah ataupun Neraka, dari kalangan isma’iliyyah, nushoiriyyah, hakimiyyah dan bathiniyyah. Dan mereka itu adalah orang-orang kafir, lebih kafir daripada yahudi dan nashoro dengan kesepakatan muslimin.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 408).
Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata tentang rofidhoh: “Maka sungguh kami telah menguji coba, dan telah dicoba pula oleh orang sebelum kami, maka kalian tidak mendapatkan satu orang rofidhiy yang mensucikan diri dari perkara yang diharomkan oleh agama ini sedikitpun, siapapun dia. Dan janganlah engkau tertipu dengan penampilan lahiriyyah, karena seseorang itu terkadang meninggalkan maksiat di tengah-tengah manusia, dan menjadi orang yang paling menjaga kehormatan secara lahiriyyah, padahal jika ada kesempatan yang memungkinkan maka dia akan memanfaatkan kesempatan itu bagaikan tingkah orang yang tidak takut pada Neraka dan tidak mengharapkan Jannah. Dan sungguh aku telah melihat seorang muadzdzin dari mereka yang setia dengan sholat-sholat jama’ah, lalu terbongkarlah bahwasanya dia itu adalah seorang pencuri. Dan yang lain sering menjadi imam sholat di sebagian masjid Shon’a, dan dia punya penampilan yang baik dan gaya yang mengagumkan serta setia dengan ketaatan. dan dulu aku sering merasa kagum dengannya, bagaimana dia bisa menjadi rofidhiy? Kemudian aku mendengar setelah itu berita yang membikin kulit merinding dan hati tergoncang tentang dia.” (“Adabuth Tholab”/hal. 63/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al ‘Allamah Mahmud Syukriy رحمه الله berkata: “Dan di kalangan rofidhoh ada  orang yang menyatakan bahwasanya imamnya itu tidak terkena suatu kewajibanapapun, dan dia boleh untuk berbuat apapun, dan dia juga boleh menggugurkan beban-beban syariat.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 333).
Dan keyakinan ini merupakan kekufuran dan kemurtadan. Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan pada mereka tauhid dalam ibadah, dan mewajibkan sholat, zakat, haji ke Baitulloh dan kewajiban-kewajiban agama yang lain. Tapi mereka justru menyatakan: “Itu tidak wajib!”
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾ [البينة: 5].
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Alloh dalam keadaan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan condong dari kesyirikan kepada tauhid”
Orang-orang yang menentang wajibnya haji ke Baitulloh juga kafir. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلله عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ﴾ [آل عمران: 97].
Dan Alloh punya hak yang menjadi kewajiban manusia untuk mereka berhaji ke Baitulloh bagi orang yang sanggup menempuh jalan ke situ. Dan barangsiapa mengingkarinya maka sesungguhnya Alloh tidak butuh pada alam semesta.”
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan Muslimin telah sepakat bahwasanya barangsiapa menentang kewajiban pondasi-pondasi Islam yang lima: du syahadat, sholat yang lima, zakat, puasa bulan romadhon, dan haji ke Baitulloh, maka sungguh dia itu kafir.” (“Al Jawabush Shohih”/2/hal. 126).
Dan demikian pula Alloh ta’ala telah menggharomkan pada kita perkara-perkara yang keji dan seluruh perkara yang mungkar. Maka barangsiapa membolehkan hal itu setelah dia mengetahui bahwasanya Alloh mengharomkannya, maka sungguh dia itu telah kafir.
Al Qodhiy ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan demikian pula kaum muslimin telah bersepakat tentang dikafirkannya setiap orang yang menghalalkan pembunuhan, atau meminum khomr, atau berzina, dari perkara yang Alloh haromkan, setelah orang tadi mengetahui pengharoman tadi, seperti kaum ibahiyyah dari kalangan qoromithoh dan sebagian ghulatush shufiyyah.
Dan begitu pula kita memastikan dikafirkannya setiap orang yang mendustakan dan mengingkari satu qoidah dari qoidah-qoidah syariat dan perkara yang telah diketahui secara yakin dengan penukilan yang mutawatir dari  perbuatan Rosul dan terbentuk ijma’ yang bersambung dengan itu, seperti orangyang mengingkari wajibnya sholat lima waktu, bilangan rekaatnya dan bilangan sujudnya.” (“Asy Syifa”/2/hal. 287).
Sebab Keduabelas: Mereka tidak beriman pada nama-nama yang paling indah untuk Alloh dan sifat-sifat-Nya yang paling tinggi
Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya hawa nafsu itu semuanya adalah hina dan mengajak kepada pedang (membunuh muslimin). Dan yang paling hina dan paling kafir adalah: rofidhoh, mu’tazilah dan jahmiyyah, karena sesungguhnya mereka ingin menjerumuskan manusia kepada ta’thil (pengosongan Alloh dari nama atau sifat) dan zandaqoh (nifaq I’tiqodiy).” (“Thobaqotul Hanabilah”/2/hal. 37).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang rofidhoh: “Termasuk dari kehinaan mereka dan terang-terangan dengan apa yang kami sebutkan dari mereka, dan lebih banyak dari itu. Dan mereka bersamaan dengan perkara ini mengkafirkan setiap orang yang beriman pada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang ada di dalam Kitab dan Sunnah, dan setiap orang yang beriman pada taqdir dan dan ketetapan Alloh, beriman dengan kemampuan-Nya yang sempurna dan kehendak-Nya yang menyeluruh, dan bahwasanya Dia itu pencipta segala sesuatu.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 481).
Dan beliau رحمه الله berkata tentang penyelisihan rofidhoh terhadap Kitabulloh: “Dan sungguh telah Alloh sebutkan dalam kitab-Nya sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mereka mengkufurinya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 485). 
Dan Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan generasi pendahulu rofidhoh bukanlah jahmiyyah mu’aththilah. Adapun generasi belakangan darimereka sejak dari masa akhir tahun ketigaratus maka mereka menggabungkan kepada bid’ah rofidhiyyah bid’ah jahmiyyah dan qodariyyah, lalu menjadi besarlah urusan mereka, dan nampak dari mereka ketika itu qoromithoh dan bathiniyyah, dan menjadi terkenal zandaqoh yang parah dan kemunafiqan yang paling besar pada para pemimpin mereka, ulama mereka dan masyarakat awam mereka.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/4/hal. 1406).
Barangsiapa tidak beriman pada nama Alloh yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling tinggi maka sungguh dia telah kafir terhadap firman Alloh ta’ala:
﴿وَلله الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [الأعراف: 180].
Dan milik Alloh sajalah nama-nama yang paling indah, maka serulah Dia dengan nama-nama tadi. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyeleweng dalam nama-nama-Nya, mereka akan dibalas atas apa yang mereka kerjakan.”
Syaikhul Islam رحمه الله dalam bantahannya terhadap orang yang mengingkari nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya berkata: “Dan mereka itu, yang dinamakan oleh kaum muslimin sebagai “Malahidah” (para penyeleweng yang sampai tingkat murtad) adalah dikarenakan mereka menyeleweng dalam nama-nama Alloh dan ayat-ayat-Nya, dan Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿وَلله الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [الأعراف: 180].
Dan milik Alloh sajalah nama-nama yang paling indah, maka serulah Dia dengan nama-nama tadi. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyeleweng dalam nama-nama-Nya, mereka akan dibalas atas apa yang mereka kerjakan.”
Dan Alloh ta’ala juga berfirman:
﴿إن الذين يلحدون في آياتنا لا يخفون علينا﴾ [ فصلت : 40 ] ،
Sesungguhnya orang-orang yang menyeleweng dalam ayat-ayat Kami, mereka itu tidak tersamarkan dari kami.”
Dan mereka itu lebih jelek daripada musyrikin yang yang Alloh mengabarkan tentang mereka dengan firman-Nya:
﴿وإذا قيل لهم اسجدوا للرحمن قالوا وما الرحمن أنسجد لما تأمرنا وزادهم نفورا﴾ [ الفرقان : 60 ] ،
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kepada Ar Rohman: mereka berkata: “Apa itu Ar Rohman? Apakah kami akan sujud pada sesuatu yang engkau perintahkan kami untuk sujud padanya?” Dan perintah tadi menjadikan mereka semakin lari.”
Dan Alloh ta’ala berfirman:
﴿كذلك أرسلناك في أمة قد خلت من قبلها أمم لتتلو عليهم الذي أوحينا إليك وهم يكفرون بالرحمن قل هو ربي لا إله إلا هو عليه توكلت وإليه متاب﴾ [ الرعد : 30 ] .
Dan demikianlah Kami mengutusmu di suatu umat yang mana telah berlalu sebelum mereka umat-umat, agar engkau membacakan pada mereka kitab yang telah telah diwahyukan padamu, dan mereka mengingkari Ar Rohman. Katakanlah pada mereka: “Dia adalah Robbku, tiada sesembahan yang benar selain Dia, hanya kepada-Nyalah aku bertawakkal, dan hanya kepada-Nyalah tempat kembali.”
Karena sesungguhnya kaum musyrikin dulu itu hanyalah mengingkari nama Ar Rohman saja, dan mereka tidak mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Alloh. Karena itulah makanya para Malahidah itu bagi kaum Muslimin lebih kafir daripada Yahudi dan Nashoro.” (“Majmu’ul Fatawa”/5/hal. 197).

Sebab Ketiga Belas dari kufurnya Rofidhoh: Ucapan yang buruk terhadap keagungan Nabi صلى الله عليه وسلم , atau mencari sarana untuk mencerca beliau
Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata tentang rofidhoh: “Tipe kedua belas dari tipe-tipe kelompok yang melampaui batas. Mereka menyangka bahwa Ali adalah Alloh, mendustakan Nabi, mencaci beliau dan berkata: “Sesungguhnya Ali itu mengutus Muhammad untuk agar Muhammad menjelaskan risalah Ali, tapi ternyata Muhammad mengaku bahwasanya risalah itu adalah untuk dirinya sendiri.” (“Maqolatul Islamiyyin”/hal. 14).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan di antara mereka ada yang berpandangan bahwasanya kemaluan Nabi صلى الله عليه وسلم yang beliau pakai untuk menggauli Aisyah dan Hafshoh itu wajib disentuh api neraka untuk disucikan karena dipakai untuk menggauli para perempuan kafir –menurut sangkaan mereka-, karena menggauli para perempuan kafir itu harom menurut mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 481).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Adapun Rofidhoh maka cercaan dan celaan mereka juga mereka arahkan pada prinsip yang kedua, yaitu persaksian bahwasanya Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusan Alloh, sekalipun mereka menampakkan diri loyal pada ahli bait Rosul dan kecintaan pada mereka. Sekelompok ulama, di antaranya adalah Malik bin Anas dan yang lainnya berkata: “Mereka itu adalah kaum yang ingin mencerca Rosululloh صلى الله عليه وسلم , tapi mereka tidak sanggup, maka mereka mencerca para Shohabat agar orang berkata: Muhammad adalah orang yang buruk, punya sahabat yang buruk. Andaikata dia adalah orang sholih, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang yang sholih.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/4/hal. 1405).
Dan cercaan terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan kekufuran, karena Alloh telah mewajibkan para hamba untuk memuliakan beliau. Alloh ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ﴾ [الحجرات: 2]
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi, dan janganlah kalian mengeraskan suara pada beliau seperti kerasnya suara sebagian dari kalian kepada sebagian yang lain, karena bisa jadi amal kalian akan gugur dalam keadaan kalian tidak mengetahuinya.”
Dan berfirman:
﴿لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا﴾ [النور: 63]،
“Janganlah kalian menjadikan seruan pada Rosul di antara kalian seperti seruan sebagian kalian pada sebagian yang lain.”
Syaikhul Islam رحمهالله berkata: ta’zir adalah pertolongan, pemuliaan dan dukungan. Dan Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِتُؤْمِنُوا بِالله وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾ [ الفتح : 8، 9 ]،
“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, agar kalian (wahai Mukminin) beriman pada Alloh dan Rosul-Nya, dan kalian menghormati beliau dan memuliakan beliau, dan kalian mensucikan-Nya pada waktu pagi dan petang.” Maka ini adalah hak Rosul, kemudian Alloh berfirman tentang hak Alloh ta’ala: “dan kalian mensucikan-Nya pada waktu pagi dan petang.” (“Majmu’ul Fatawa”/1/hal. 67).
Dan Alloh ta’ala berfirman:
﴿فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون﴾ [الأعراف: 157].
“Maka orang-orang yang beriman pada beliau, menghormati beliau, menolong beliau dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِالله وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ﴾ [التوبة/65، 66].
“Dan pasti jika engkau bertanya pada mereka pastilah mereka akan menjawab: “Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian itu berolok-olok? Janganlah kalian mengemukakan alasan, kalian telah kafir setelah keimanan kalian. Jika kami memaafkan sekelompok dari kalian, Kami akan menyiksa sekelompok yang lain karena mereka itu adalah kaum yang jahat.”
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan muslimin telah bersepakat bahwasanya satu kata cercaan dengan syair terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم itu mengharuskan kekufuran.” (“Syarh Shohih Muslim”/7/hal. 443).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Adapun para Rosul itu, sungguh telah jelas bahwasanya mereka adalah perantara antara kita dengan Alloh عز وجل dalam penyampaian perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya serta berita-Nya. Maka kita wajib membenarkan mereka dalam seluruh apa yang mereka beritakan, dan kita taati mereka dalam perkara yang mereka wajibkan dan mereka perintahkan, dan kita harus membenarkan seluruh para Nabi Alloh عز وجل , kita tidak memisahkan seorangpun dari mereka. Dan barangsiapa mencaci satu orang dari mereka, maka dia itu kafir murtad, darahnya halal untuk ditumpahkan.” (“Majmu’ul Fatawa”/1/hal. 308).  

Sebab Keempat Belas: Mereka mengingkari sunnah yang telah tetap
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang mereka: “Bersamaan dengan ini mereka menolak hadits-hadits Rosulillah صلى الله عليه وسلم yang telah tetap dan mutawatir di kalangan ulamasemisalhadits-hadits Al Bukhoriy dan Muslim, dan mereka menganggap bahwasanya para penyair rofidhoh semacam Al Himyariy, Kausyiyar Ad Dailamiy, Umaroh Al Yamaniy, itu lebih baik daripada hadits-hadits Al Bukhoriy dan Muslim.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 481-482).
Al Himyariy adalah penyair rofidhoh yang terkenal sebagai As Sayyid Al Himyariy, namanya Abu Hasyim Ismail bin Yazid bin Wida’ Al Kufiy, semula beraqidah Kaisaniy (sempalan Rofidhoh), lalu menjadi Syiah. Lahir tahun 105 H, mati tahun 173 H, punya syair-syair terkenal, berkeyakinan bahwa orang-orang yang mati akan kembali ke dunia sebelum hari Kiamat. (rujuk “Maqolatul Islamiyyin”/karya Abul Hasan Al Asy’ariy/1/hal. 15, dan “Hidayatul Arifin”/karya Ismail Basya Al Baghdadiy/1/hal. 234).
Barangkali Kausyiyar Ad Dailamiy adalah Abul Hasan Kausyiyar bin Luban Al Basyahriy Al Jiliy, peramal bintang, tinggal di Baghdad dan mati sekitar tahun 350 H. mengarang kitab “Az Zaijul Jima’”, “Al Kiya Fin Nujum”, “Al Lami’ Fi Amtsilatiz Zaijil Jima’”, dan “Mujmalul Ushul Fi Ahkamin Nujum”.  (Rujuk “Hidayatul Arifin”/karya Ismail Basya Al Baghdadiy/1/hal. 443).
Umaroh Al Yamaniy adalah Abu Muhammad Umaroh bin Ali bin Zidan Al Yamaniy yang dijuluki sebagai Najmuddin, penyair terkenal, dilahirkan di Tihamah Yaman dan pergi ke Zabid, lalu ke negri Mesir pada tahun 550 H, tinggal di sana dalam kehidupan mewah, lalu dia meninggalkan Mesir sampai kemudian kembali lagi dan tinggal di Mesir . Kemudian saat pemerintahan Fathimiyyah runtuh dan kerajaan Mesir dikuasai oleh Sultan Sholahuddin, si Umaroh tadi membikin syair yang memuji Sultan Sholahuddin dan memuji keluarga beliau. Hanya saja si Umaroh ini mulai membikin konspirasi bersama sejumlah pemimpin negri-negri yang fanatik pada bangsa Mesir dan berusaha membentuk kembali pemerintahan Fathimiyyah Rofidhiyyah. Kemudian Sultan Sholahuddin mengetahui persekongkolan mereka yang berjumlah delapan tokoh tadi, termasuk si Umaroh Al Yamaniy. Lalu Sultan menghukum mati mereka pada tahun 569 H di Kairo. Si Umaroh pernah membikin syair bela sungkawa atas runtuhnya kerajaan penguasa istana Fathimiyyah, dan syair ini termasuk akhir sebab dari matinya si Umaroh. Lalu dia disalib di Antara dua istana dari para pengikut kerajaan Fathimiyyah. (Rujuk “Mu’jamul Mathbu’atil Arobiyyah”/karya Alyan Sirkis/3/hal. 163).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan mereka mengambil dari agama majus, shobiah dan musyrikin perkara yang mereka campurkan ke dalam Islam an mereka adalah kelompok yang paling besar larinya dari sunnah Nabi, hadits beliau dan atsar-atsar Shohabat beliau yang menentang bid’ah mereka.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/4/hal. 1407).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Maka tiada seorangpun yang berhujjah terhadapnya dengan sunnah yang shohihah yang menyelisihi madzhab-madzhab dia dan alirannya kecuali mungkin saja bagi dirinya untuk bergantung pada keumuman suatu ayat atau kemutlakan suatu ayat dan berkata: “Sunnah ini menyelisihi ayat yang umum atau ayat yang mutlak ini, maka sunnah tadi tidak boleh   diterima. Sampai bahkan Rofidhoh –semoga Alloh memburukkan mereka-benar-benar menempuh jalan ini dalam menolak sunnah yang telah tetap dan mutawatir.” (“Ath Thuruqul Hukmiyyah”/hal. 65-66).
Barangsiapa menolak sunnah yang telah dia ketahui keshohihannya maka dia itu kafir. Al Imam Ibnu Baththoh Al ‘Akbariy رحمه الله berkata: “Dan seperti itu pula kewajiban untuk beriman dan membenarkan seluruh perkara yang dibawa oleh para Rosul dari sisi Alloh, dan seluruh apa yang Alloh عز وجل firmankan, maka itu adalah kebenaran yang harus diterima. Andaikata ada orang yang beriman dengan seluruh perkara yang dibawa oleh para Rosul kecuali satu perkara, niscaya dia kafir dengan sebab penolakan satu perkara tadi, menurut pendapat seluruh ulama.” (“Asy Syarh Wal Ibanah ‘Ala Ushulis Sunnah Wad Diyanah”/Ibnu Baththoh/hal. 133).
Ibnu Hazm رحمه الله berkata:  “Dan telah shohih ijma’ bahwasanya setiap orang yang menentang sedikit saja dari perkara yang shohih di sisi kami dengan ijma’ bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم mendatangkan perkara tadi, maka sungguh dia telah kafir.” (“Al Fashl Fil Milal Wal Ahwa Wan Nihal”/1/hal. 389).
Fadhilatusy Syaikh Muhammad Aman Al Jamiy رحمه الله berkata: “Kita mengetahui dengan jelas bahwasanya umat ini masih dan senantiasa bersepakat bahwasanya Sunnah Nabawiyyah itu wajib untuk memiliki posisi yang telah diketahui dalam menjelaskan hukum-hukum, dan bahwasanya Sunnah tadi adalah hujjah yang tegak dengan sendirinya, dan bahwasanya wajib untuk kita kembali kepadanya jika sunnah tadi tetap tetap, dan tidak boleh berhukum dengan ijtihad dan rasio jika sunnah telah tetap, dan bahwasanya hukum-hukum itu telah tetap dengan adanya sunnah tadi, sekalipun tidak Al Kitab tidak datang dengan hukum tadi. Ini dari satu sisi.
Dan dari sisi yang lain: bahwasanya sunnah itu menjelaskan Al Qur’an, menerangkannya, memperinci perkara yang masih global di dalam Al Qur’an. Poin-poin tadi semua sudah disepakati oleh para ulama yang ucapannya terpandang. Dan kita tidak tahu ada seorangpun yang menyelisihi kaidah ini kecuali zanadiqoh dan ghulatur rofidhoh yang ijma’ itu tak akan terpengaruh dengan penyelisihan mereka. Bahkan mereka itu tak perlu diajak musyawaroh jika mereka hadir, dan mereka tak perlu ditanyakan jika tidak hadir, karena mereka itu telah memisahkan diri dan memutuskan hubungan dari jamaah Muslimin, dan mengikuti selain jalan kaum Mukminin, dengan sebab mereka memusuhi para Shohabat Rosululloh صلى الله عليه وسلم. Sikap tadi itulah yang menyebabkan mereka menolak hadits-hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم , sumber hukum kedua dalam pembentukan syariat Islam, dengan alasan bahwasanya sunnah tadi diriwayatkan oleh kaum yang kafir. Itu semua dalah masuk dalam bab menaburkan abu ke pandangan mata –mata orang yang tolol tentunya-. Mereka berkata: “Kami mengamalkan Al Qur’an, dan merasa cukup dengannya.” (“Manzilatus Sunnah”/ Muhammad Aman Al Jamiy/hal. 15).
Ini adalah kekufuran, karena menolak sunnah merupakan penolakan terhadap Al Qur’an, karena Al Qur’an mewajibkan para hamba untuk taat pada Rosul صلى الله عليه وسلم secara mutlak. Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata: “Maka tiada keraguan bahwasanya menolak As Sunnah secara mutlak merupakan kemurtadan. Akan tetapi pengingkaran terhadap suatu hadits tertentu, aku tidak berkata dengan ucapan ini untuk suatu hadits tertentu. Aku membedakan antara pengingkaran terhadap sunnah secara global dan terperinci, dan antara pengingkaran terhadap suatu bagian dari sunnah. Jika pengingkaran terhadap suatu bagian dari sunnah dalam keadaan dia mengakui bahwasanya Rosul صلى الله عليه وسلم melakukannya atau mengucapkannya, maka ini merupakan kemurtadan juga. Adapun jika pengingkarannya adalah sebagaimana keadaan kebanyakan dari ahli bida’ wal ahwa, karena dia menyangka bahwasanya sunnah yang tadi tidak benar datang dari Rosul, sekalipun disebabkan oleh kebodohannya, maka aku meyakini bahwasanya orang tadi fasiq dan bukan kafir. (“Mausu’ah Aqwalil Albaniy Fil ‘Aqidah”/5/hal. 525).
Fadhilatusy Syaikh Abdurrozzaq ‘Afifiy رحمه الله ditanya: “Bagaimanakah pendapat Anda dalam bermuamalah dengan orang yang menolak sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم sama saja apakah penolakannya secara global ataukah terperinci, secara khususnya bahwasanya di antara mereka adalah penguasa di sebagian negara-negara Muslimin pada hari ini?”Maka beliau رحمه الله menjawab: “Hukum bagi orang yang menolak sunnah secara global–yaitu semuanya- maka dia itu kafir. Orang yang tidak menerima sunnah kecuali yang ada di dalam Al Qur’an, maka dia itu kafir karena dia itu telah menentang Al Qur’an, menentang ayat-ayat Al Qur’an, padahal Alloh ta’ala berfirman:
﴿قُلْ أَطِيعُوا الله وَالرَّسُولَ﴾،
Katakanlah: taatilah Alloh dan Rosul.”
Dan Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا﴾
Maka apa saja yang Rosul mendatangkannya kepada kalian maka ambillah dia, dan apa saja yang beliau larang maka berhentilah kalian.”
Dan Alloh berfirman:
﴿وَأَطِيعُوا الله وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
Dan taatilah Alloh dan taatilah Rosul, dan waspadalah. Maka jika kalian berpaling maka ketahuilah bahwasanya kewajiban Rosul kami adalah menyampaikan risalah dengan nyata.” Dan seterusnya. (“Fatawa Wa Rosail Samahatusy Syaikh Abdurrozzaq ‘Afifi”/hal. 303).
Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz Ar Rojihiy رحمه الله berkata: “Kewajiban mengambil sunnah, dan bahwasanya sunnah adalah wahyu yang harom diselisihi jika shohih dan pasti dari Nabi dan tidak mansukh, itu semua adalah ijma’. Maka barangsiapa menolaknya maka sungguh dia telah kafir.” (“Qom’ud Dajajilatith Tho’inin Fi Mu’taqod Aimmatil Islamil Hanabilah”/hal. 389).
Sebab Kelima Belas: Mereka menghalalkan darah Muslimin
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang penyelisihan rofidhoh terhadap Kitabullah: “Dan Alloh telah menyebutkan dalam Kitab-Nya تعالى tentang diharomkannya darah Muslimin, harta dan kehormatan mereka, dan diharomkannya ghibah, sindiran dan isyarat penghinaan, yang mana mereka –rofidhoh adalah orang yang paling menghalalkan itu.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 485).
Dan Al Imam Asy Syaukaniy rohimahulloh berkata: “Sungguh tiada amanah untuk satu orang rofidhiypun, terhadap orang yang menyelisihinya dalam madzhabnya dan beragama dengan selain agama rofdh. Bahkan dia itu menghalalkan hartanya dan darahnya ketika ada kesempatan sekecil apapun yang nampak. Karena orang lain itu bagi rofidhiy adalah halal darahnya dan hartanya. Dan rasa cinta yang ditampakkannya hanyalah tuqiyyah (topeng penyamaran) belaka. Bekas cinta tadi akan hilang dengan semata-mata adanya kesempatan yang memungkinkan. Dan kami telah seringkali mencoba fenomena ini. (“Adabuth Tholab”/hal. 61/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al ‘Allamah Mahmud Syukriy Al Alusiy رحمه الله berkata: “Alangkah banyaknya darah yang ditumpahkan oleh rofidhoh, mereka membunuh ribuan muslimin, membikin anak-anak jadi yatim, dan membikin para wanita jadi janda, dan menuangkan pada mereka racun kematian. Telah banyak kejadian yang mereka lakukan, kisah kebusukan mereka itu terkenal. Dan termasuk yang paling terkenal adalah: kasus Karbala di zaman Najib Basya –semoga Alloh merohmatinya-.
-sampai pada ucapan beliau-: dan kapan saja rofidhoh melihat kaum muslimin sibuk berperang melawan musuh-musuh Alloh, rofidhoh memanfaatkan kesempatan, lalu mereka mengobarkan kerasnya kerusakan yang membikin bumi berdebu tanpa ada kesabaran. Kita mohon pada Alloh ta’ala agar mensucikan bumi dari mereka.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 292-297).
Cukuplah mereka itu kafir karena mereka menganggap darah muslimin itu halal. Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan demikian pula Muslimin telah bersepakat akan dikafirkannya setiap orang yang menganggap halalnya pembunuhan, atau minum khomr, atau zina, yang Alloh telah mengharomkan, setelah dia tahu akan pengharomannya itu, seperti kalangan Ibahah (yang menghalalkan segala yang Alloh haromkan) dari kalangan qoromithoh dan sebagian ghulatul mutashowwifah (shufi yang berlebihan). Dan demikian pula kita memastikan dikafirkannya setiap orang yang mendustakan dan mengingkari satu qoidah dari qoidah-qoidah syariat dan perkara yang telah diketahui secara yakin dengan penukilan yang mutawatir dari perbuatan Rosul dan terbentuk ijma’ yang bersambung sampai ke Rosul, seperti orang yang mengingkari wajibnya sholat lima waktu, dan bilangan rekaatnya dan sujudnya.” (“Asy Syifa”/2/hal. 287)

Sebab Keenam Belas: Mengingkari taqdir Alloh.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang penyelisihan rofidhoh terhadap Kitabulloh: “Dan Alloh menyebutkan dalam Kitab-Nya bahwasanya diri-Nya mampu terhadap segala sesuatu, dan bahwasanya Dia Pencipta sebaga sesuatu, dan bahwasanya segalanya adalah sesuai kehendak Alloh, dan bahwasanya tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Alloh. Yang mana mereka –rofidhoh- mengingkari itu semua.” (“Majmu’ul Fatawa”/28/hal. 485).
Dari Abu Hazim dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya –Ibnu Abbas- رضي الله عنهما : Bahwasanya Rosululloh bersabda:
«لا يؤمن المرء حتى يؤمن بالقدر خيره وشره»
Tidaklah beriman seseorang sampai dia beriman pada taqdir, baiknya dan buruknya.”
Lalu Abu Hazim –rowi hadits- berkata: “Semoga Alloh melaknat agama yang aku lebih tua daripada dirinya. Yaitu: pendustaan terhadap taqdir.” (HR. Al Imam Ahmad (6703)/sanadnya hasan. Dan hadits ini dengan jalur-jalurnya dan pendukung-pendukungnya dishohihkan oleh Al Imam Al Albaniy رحمه الله dalam “Ash Shohihah”/3439/cet. Al Maktabul Islamiy). Maksud Abu Hazim رحمه الله adalah: bahwasanya beliau lebih dulu lahir daripada agama qodariyyah yang mengingkari taqdir. Maka ini menunjukkan bahwasanya agama qodariyyah itu bukan wahyu dari langit, tadi bikinan manusia yang lahirnya jauh setelah Nabi terakhir صلى الله عليه وسلم wafat. Dan dari Yahya bin Ya’mar رحمه الله yang berkata: “… Ibnu Umar berkata:
فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريء منهم وأنهم برآء مني والذي يحلف به عبدالله بن عمر لو أن لأحدهم مثل أحد ذهبا فأنفقه ما قبل الله منه حتى يؤمن بالقدر .
Maka jika kalian berjumpa dengan mereka, maka kabari mereka bahwasanya aku benar-benar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdulloh bin Umar bersumpah dengannya, andaikata salah seorang dari mereka punya emas semisal gunung Uhud lalu dia menginfaqkannya, Alloh tak akan menerimanya darinya sampai dia beriman pada taqdir.” Lalu beliau menyebutkan hadits Jibril عليه السلام. (HR. Muslim (8)).

Sebab Ketujuh Belas: Mereka Banyak Merubah Al Qur’an.
Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Umat Islam telah bersepakat bahwasanya Al Qur’an yang dibaca di segenap penjuru dunia, yang tertulis di mushhaf yang ada di tangan-tangan Muslimin, yang terkumpul di antara dua sampul kitab dari awal:
﴿الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الفاتحة/1]
Segala pujian adalah untuk Alloh Robb alam semesta.”
Sampai akhir:
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾ [الناس/1]
Katakanlah: Aku berlindung pada Robb manusia.”
Bahwasanya itu adalah Kalamulloh dan wahyu-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم , dan bahwasanya seluruh apa yang ada di dalamnya adalah benar, dan bahwasanya barangsiapa mengurangi darinya satu huruf dengan niat untuk mengurangi, atau merubahnya dengan huruf lain di posisinya, atau menambahinya dengan satu huruf yang tidak dicakup oleh Mushhaf tadi yang telah terbentuk ijma’ atasnya, atau ijma’ bahwasanya huruf tadi tidak termasuk dari Al Qur’an, dia sengaja untuk melakukan itu tadi semua, maka dia itu kafir. Oleh karena itulah maka Malik berpendapat wajib dibunuhnya orang yang mencaci Aisyah رضي الله عنها dengan tuduhan dusta, karena perbuatan tadi menyelisihi Al Qur’an. Barangsiapa menyelisihi Al Qur’an dia harus dibunuh karena dia telah mendustakan isi Al Qur’an.” (“Asy Syifa”/2/hal. 250).
Yang dimaksud menyelisihi Al Qur’an di sini adalah kesengajaan menentang isinya, bukan sekedar terjatuh dalam maksiat.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Orang-orang yang memasukkan ke dalam agama Islam perkara yang bukan dari Islam, dan mereka menyelewengkan hukum-hukum syariat, tidak ada kelompok yang di dalamnya ada tipe macam ini lebih banyak daripada  rofidhoh, karena sungguh mereka memasukkan ke dalam agama Alloh kedustaan terhadap Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang tidak sampai kelompok yang lain berbuat macam itu, dan rofidhoh menolak sekian berita jujur yang tidak sampai ditolak oleh kelompok yang lain, dan menyelewengkan Al Qur’an dengan penyelewengan yang tidak sampai dilakukan oleh kelompok yang lain.
Contohnya ucapan mereka: “Sesungguhnya firman Alloh ta’ala:
﴿إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون﴾ سورة ]المائدة: 55[
Hanyalah wali kalian adalah Alloh dan Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman yang menegakkan sholat dan menunaikan zakat dan mereka itu ruku’.”
Ini turun tentang Ali manakala beliau bershodaqoh dengan cincin beliau dalam keadaan sholat.
Dan firman Alloh ta’ala:
﴿مرج البحرين﴾ ]سورة الرحمن: 19[
Alloh mencampurkan dua lautan dalam keadaan keduanya bertemu.”
Yaitu: Ali dan Fathimah.
Dan firman-Nya:
﴿يخرج منهما اللؤلؤ والمرجان﴾ ]سورة الرحمن: 22[
Keluar dari kedua lautan tadi lu’lu’ dan marjan”
Yaitu: Hasan dan Husain.
Dan firman-Nya:
﴿وكل شيء أحصيناه في إمام مبين﴾ ]سورة يس: 12[
Dan segala sesuatu telah Kami hitung dengan sempurna di dalam imam yang terang (kitab induk yang terang, Lauh Mahfuzh).”
Yaitu: Ali bin Abi Tholib.
Dan firman-Nya:
﴿إن الله اصطفى آدم ونوحا وآل إبراهيم وآل عمران﴾ ]سورة آل عمران: 33[
Sesungguhnya Alloh telah memilih Adam dan Nuh dan keluarga Ibrohim dan keluarga Imron.”
Yaitu: mereka adalah keluarga Abu Tholib, dan nama Abu Tholib adalah Imron.
Dan firman-Nya:
﴿فقاتلوا أئمة الكفر﴾ ]سورة التوبة: 12[
Maka perangilah para pemimpin kekufuran.”
Yaitu: Tholhah dan Zubair.
Dan firman-Nya:
﴿والشجرة الملعونة في القرآن﴾ ]سورة الإسراء: 60[
Dan pohon yang terkutuk di dalam Al Qur’an.”
Yaitu: mereka adalah Banu Umayyah.
Dan firman-Nya:
﴿إن الله يأمركم أن تذبحوا بقرة﴾ ]سورة البقرة: 67[
Sesungguhnya Alloh memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi betina.”
Yaitu: Aisyah.
Dan firman-Nya:
﴿لئن أشركت ليحبطن عملك﴾ ]سورة الزمر: 65[
Sungguh jika engkau berbuat syirik niscaya akan gugurlah amalanmu.”
Yaitu: andaikata engkau –wahai Muhammad- menyekutukan antara Abu Bakar dengan Ali dalam kewalian.”
Dan itu semua dan yang semisalnya engkau dapatkan di dalam kitab-kitab mereka. Kemudian dari inilah isma’iliyyah dan nushoiriyyah masuk dalam penakwilan kewajiban-kewajiban dan keharoman-keharoman. Maka mereka adalah para pemimpin takwil yang mana itu sebenarnya adalah penyelewengan kalimat dari posisi-posisinya.
Dan barangsiapa mempelajari apa yang ada pada mereka, dia akan mendapati di dalamnya kedustaan dalam penukilan, pendustaan penukilan yang benar, penyelewengan makna-maknanya, yang tidak didapatkan di suatu jenis dari kaum muslimin. Mereka secara pasti adalah kelompok yang paling banyak memasukkan ke dalam agama Alloh perkara yang bukan dari agama-Nya, dan mereka menyelewengkan kitab-Nya dengan penyelewengan yang kelompok lain tidak sampai mendekati kadar tersebut.” (“Minhajus Sunnatin Nabawiyyah”/3/hal. 403-405).
Beliau juga berkata: “Jawabku adalah: bahwasanya ini dan yang semisalnya hanyalah diucapkan oleh orang yang tidak memikirkan apa yang dikatakannya sendiri. Ini lebih mirip dengan igauan daripada tafsir Al Qur’an. Itu sejenis dengan tafsir Malahidah (kelompok yang menyeleweng sampai keluar dari Islam), qoromithoh bathiniyyah terhadap Al Qur’an, bahkan itu jauh lebih buruk daripada tafsir mereka. Penafsiran dengan metode semacam ini merupakan metode malahidah terhadap Al Qur’an dan cercaan terhadap Al Qur’an. Bahkan penafsiran Al Qur’an dengan semacam ini merupakan termasuk celaan dan cercaan terbesar terhadap Al Qur’an.” (“Minhajus Sunnatin Nabawiyyah”/7/hal. 245).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka penyelewengan lafazh adalah: membawanya dari arah yang benar kepada arah yang lain. Bisa jadi dengan penambahan, atau pengurangan, atau merubah harokah I’robnya, atau dengan bukan harokah I’robnya. Ini semuanya ada empat macam. Jahmiyyah dan rofidhoh telah menempuh jalan itu, karena mereka menyelewengkan nash-nash hadits, dan tidak sanggup melakukan itu terhadap lafazh-lafazh Al Qur’an. Memang rofishoh telah menyelewengkan banyak dari lafazh Al Qur’an, dan menyeka menuduh bahwa Ahlussunnahlah yang merubah Al Qur’an dari arah yang benar.” (“Ash Showa’iqul Mursalah”/hal. 387).
Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: “Lebih-lebih lagi kaum yang ghulahnya (sekte yang berlebihan) sangat parah ketelantaran mereka hingga mengingkari sebagian kitab Alloh, dan menyelewengkan sebagian ayat yang lain, serta mengingkari sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم …” dst. (“Adabuth Tholab”/hal. 61-62/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Sebab Kedelapan Belas: Mereka menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu kurang atau telah dirubah.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan demikian pula orang dari kelompok tadi yang menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu kurang beberapa ayat dan ayat-ayat tadi disembunyikan, atau dia menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu punya takwil-takwil tersembunyi yang menggugurkan amalan-amalan yang disyariatkan dan sebagainya. Dan mereka itu bernama qoromithoh dan bathiniyyah. Di antara mereka ada tanasukhiyyah (yang menyatakan bahwasanya arwah-arwah mengalami penitisan kembali). Tiada perselisihan bahwasanya mereka adalah orang-orang kafir.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 586).
Al ‘Allamah Al Alusiy رحمه الله berkata: “… seperti kelompok itsna asyariyyah, maka sungguh mayoritas ulama di daerah belakang sungai Jaihun telah mengkafirkan mereka dan menghukumi bahwasanya darah mereka, harta mereka dan kemaluan istri-istri mereka adalah halal. Hal itu dikarenakan mereka mencaci para Shohabat رضي الله تعالى عنهم , terutama dua Syaikh (Abu Bakr dan Umar) رضي الله تعالى عنهما , padahal keduanya (dalam masalah kemuliaan) adalah bagaikan penglihatan dan pendengaran bagi Rosululloh عليه الصلاة والسلام . Kelompok tadi juga mengingkari kekhilafahan Abu Bakar Ash Shiddiq رضي الله تعالى عنه . Dan mereka semua lebih mengutamakan Ali كرما الله وجهه di atas seluruh malaikat عليهم السلام dan di atas seluruh Rosul yang bukan Ulul ‘Azmi. Dan di antara mereka ada juga yang melebihkan Ali di atas seluruh Rosul selain Nabi kita صلى الله عليه وسلم , dan mereka berdalilkan dengan argumentasi yang lebih lemah daripada rumah laba-laba. Kami telah menyebutkannya dalam “Mukhtashorut Tuhfah.” Dan mereka menentang selamatnya Al Qur’an dari tambahan dan kekurangan. Dan kebusukan-kebusukan yang lain.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 231-232).
Al ‘Allamah Mulla Ali Al Qoriy رحمه الله menyebutkan bahwasanya di antara perkara yang menyebabkan kafirnya rofidhoh adalah karena mereka menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu kurang dan telah berubah. Dan beliau memaparkan sebagian perkataan mereka tentang perkara tadi. (“Majmu’ Muallafat ‘Aqoidir Rofidhoh War Rodd ‘Alaiha”/70/hal. 201).
Para Ulama Lajnah Daimah berkata: “Dan barangsiapa berkata bahwasanya Al Qur’an itu tidak terjaga, atau kemasukan penyelewengan atau kekurangan, maka orang tadi sesat dan menyesatkan, dia harus diminta tobat. Jika dia tobat maka dilepaskan, tapi jika tidak bertobat maka wajib bagi pemerintah untuk membunuhnya sebagai orang yang murtad, karena ucapannya itu bertabrakan dengan firman Alloh عز وجل dalam surat Al Hijr (9):
﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz Dzikr, dan sungguh Kami sebagai penjaga-Nya.”
Dan dia bertabrakan dengan ijma’ umat tentang terjaga dan selamatnya Al Qur’an. Oleh karena itu para ulama Muslimin mengingkari syi’ah bathiniyyah yang menyatakan bahwasanya Al Qur’an yang ada di tangan-tangan Muslimin itu kurang, dan bahwasanya yang di tangan kelompok tadi itulah yang sempurna. Dan ini termasuk kebatilan yang paling batil.” (“Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah Wal Ifta”/4/hal. 205).
Fadhilatul Mufti Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang syi’ah: “Di antaranya adalah pernyataan mereka bahwasanya Al Qur’an itu telah diganti, diselewengkan dan dihapus lebih dari setengahnya. Dan pernyataan ini merupakan pendustaan terhadap firman Alloh عز وجل dalam surat Al Hijr (9):
﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz Dzikr, dan sungguh Kami sebagai penjaga-Nya.”
(“Al Mauridul ‘Adzb Waz Zulal”/hal. 155/cet. Darul Atsar).

Sebab Kesembilan Belas: Rofidhoh mencerca Jibril yang terpercaya.
Abul Abbas Ahmad bin Ja’far bin Ya’qub Al Isthokhriy berkata: Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata: “… Al Manshuriyyah mereka itu adalah salah satu kelompok rofidhoh. Dan mereka itulah yang menyatakan bahwasanya barangsiapa membunuh empat puluh jiwa dari orang yang menyelisihi hawa nafsu kelompok tadi maka dia akan masuk Jannah. Dan mereka itulah yang menakut-nakuti orang, menghalalkan harta mereka, dan mereka itulah yang menyatakan bahwasanya Jibril عليه السلام keliru dalam menyampaikan risalah. Dan pernyataan ini adalah kekufuran yang jelas yang tidak tercampuri oleh keimanan. Maka kita berlindung kepada Alloh dari mereka.” (“Thobaqotul Hanabilah”/1/hal. 31).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Adapun orang yang cercaannya itu diiringi dengan dakwaan bahwasanya Ali itu adalah sesembahan, atau bahwasanya beliau itulah Nabi, hanya saja Jibril keliru dalam menyampaikan risalah, maka ini tidak diragukan kekufurannya. Bahkan tidak diragukan akan kafirnya orang yang tawaqquf (berhenti, menahan diri dan tidak mau) dari mengkafirkan orang tadi.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 586).
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan di hari Senin pagi tanggal 21 pada bulan itu, di pasar “Al Khoil” terbunuhlah Hasan bin Asy Syaikh As Sakakini  dikarenakan muncul darinya aqidoh rofidhoh yang menunjukkan kekufuran murni. Banyak orang bersaksi di hadapan Al Qodhi Syarofuddin Al Malikiy akan kekufuran orang tadi, dan bahwasanya dia adalah rofidhiy yang gigih. Di antara buktinya adalah: dia mengkafirkan dua Syaikh (Abu Bakr dan Umar) رضي الله عنهما , dia menuduh Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshoh رضي الله عنهما berzina, dia menyatakan bahwasanya Jibril itu keliru sehingga menyampaikan wahyu kepada Muhammad, padahal dia itu diutus kepada Ali, dan ucapan-ucapan batil yang buruk yang lain. Semoga Alloh memperburuk dirinya. Dan Alloh telah melakukan itu. Ayahnya yaitu Asy Syaikh Muhammad As Sakakiniy kenal betul madzhab rofidhoh syiah, dan dia punya soal-soal tentang madzhab ahlul khoir, dan dia menyusun syair soal-soal tadi dalam bentuk syair, yang dijawab oleh syaikh kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله. Beberapa orang dari teman syaikh tadi menyebutkan bahwasanya syaikh tadi meninggal dalam keadaan telah rujuk dari madzhabnya, sehingga mengikuti pendapat Ahlussunnah. Alloh lebih tahu. Aku dikabari bahwasanya anaknya itu, Hasan yang busuk tadi ingin membunuh ayahnya sendiri ketika sang ayah menampakkan aqidah sunnah.” (“Al Bidayah Wan Nihayah”/14/hal. 244/kejadian di tahun 744 H).
Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Amanah Jibril عليه السلام adalah ke mana saja beliau menyampaikan wahyu sesuai dengan perintah Alloh عز وجل . Dan di sini ada bantahan terhadap rofidhoh yang kafir itu, yang mengatakan bahwasanya Jibril diperintahkan untuk menyampaikan wahyu kepada Ali, tapi dia menyampaikannya pada Muhammad صلى الله عليه وسلم.” Dan mereka berkata: “Al Amin telah berkhianat sehingga menghalangi wahyu untuk sampai pada si Haidaroh (harimau).”Haidaroh adalah julukan bagi Ali bin Abi Tholib, karena beliau dulu berkata saat perang Khoibar: “Akulah yang dinamakan oleh ibuku sebagai Haidaroh.” Di sini ada kontradiksi dari mereka, karena sifat amanah menuntut tidak adanya khianat.” (“Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid”/ hal. 321).
Fadhilatul Mufti Saudiy bagian selatan Asy syaikh Ahmad An Najmiy رحمه الله berkata tentang syi’ah: “Dan termasuk dari itu adalah –semoga Alloh melaknat mereka- mereka atau sebagian dari mereka menyatakan bahwasanya Jibril telah berkhianat sehingga memberikan risalah kepada Muhammad padahal harusnya adalah untuk Ali. Dan ini adalah termasuk kekafiran yang paling busuk.” (“Al Mauridul ‘Adzbuz Zulal”/hal. 154/cet. Darul Atsar).
Barangsiapa mencela amanah Jibril عليه السلام maka sungguh dia telah kafir. Alloh ta’ala berfirman:
﴿قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ * مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ الله عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ﴾ [البقرة/97-98].
Katakanlah: Barangsiapa menjadi musuh bagi Jibril maka sesungguhnya Jibril itu menurunkan Al Qur’an dengan seidzin Alloh dalam rangka membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi kaum Mukminin. Barangsiapa menjadi musuh bagi Alloh, Malaikat-Nya, para Rosul-Nya, dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Alloh adalah musuh bagi orang-orang kafir.” 
 
Sebab Kedua Puluh: Mereka menghalalkan kedustaan.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Adapun rofidhoh, maka asal bid’ah mereka adalah zandaqoh (nifaq I’tiqodiy), ilhad (penyimpangan yang sampai keluar dari Islam). Dan sengaja berdusta itu banyak di kalangan mereka, dan mereka mengakui itu yang mana mereka berkata: “Agama kami adalah tuqiyyah, yaitu salah seorang dari mereka berkata dengan lidahnya berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dan inilah dia kedustaan dan kemunafikan. Bersamaan dengan ini semua mereka mendakwakan bahwasanya mereka itulah mukminun yang sebenarnya, bukan pemeluk agama Islam dari kelompok yang lain. Dan mereka menggambarkan As Sabiqunal Awwalun sebagai orang-orang yang murtad dan munafiq. Maka rofidhoh dalam masalah ini sebagaimana ucapan pepatah:
رمتني بدائها، وانسلت
Dia menuduhku dengan penyakitnya, dan dia melepaskan diri,”
karena tidak ada di kalangan kelompok-kelompok yang menampakkan keislaman yang lebih dekat kepada kemunafiqan dan kemurtadan selain rofidhoh. Dan tidak ada orang-orang murtad dan munafiqun di suatu kelompok yang lebih banyak daripada yang didapati pada kelompok rofidhoh. Nilailah itu pada kelompok gholiyah dari nushoiriyyah dan yang selain mereka, dan malahidah isma’iliyyah dan yang semisal dengan mereka.” (selesai dari “Minhajus Sunnah”/1/hal. 68-69).
Al Qodhiy ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan demikian pula orang yang beragama dengan tunggalnya Alloh dan benarnya kenabian Nabi kita صلى الله عليه وسلم tetapi dia membolehkan untuk para Nabi itu berdusta dalam ajaran yang mereka datangkan dengan mendakwakan bahwasanya kemaslahatan menuntut untuk berbohong, atau dia tidak mendakwakan adanya kemaslahatan, maka orang tersebut telah kafir, dengan kesepakatan para ulama. Kelompok tadi adalah semisal ahli filsafat dan sebagian bathiniyyah dan rofidhoh dan ghulatush shufiyyah dan kelompok yang membolehkan segala yang harom.” (“Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqil Mushthofa”/2/hal. 283-284).
Haromnya dusta itu telah diketahui dengan dalil-dalil dan ijma’. Maka barangsiapa membolehkan dusta, maka dia telah kafir.
Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Dan setiap orang yang membolehkan perkara yang Alloh haromkan yang telah diketahui dengan pasti dalam agama ini, seperti zina, khomr, riba, hukum dengan selain syariat Alloh, maka dia itu kafir dengan kesepakatan muslimin.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqolat”/1/hal. 130).

Sebab Keduapuluh Satu: Menyerahkan hak membikin syariat pada para imam mereka.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan rofidhoh menyatakan bahwasanya agam ini diserahkan kepada para imam, maka yang halal adalah apa yang mereka halalkan, dan yang harom adalah apa yang mereka haromkan, dan agama adalah apa yang mereka syariatkan. Adapun orang yang masuk ke kelompok ghulatusy syi’ah seperti Isma’iliyyah yang berkata bahwasanya Al Hakim dan para imam mereka yang lain adalah sesembahan mereka, dan mereka berkata: “Sesungguhnya Muhammad bin Isma’il menghapus syariat Muhammad bin Abdillah,” dan ucapan-ucapan yang lain, yang mana itu termasuk ucapan para ahli ghuluw dari kalangan rofidhoh. Maka mereka itu lebih buruk daripada kebanyakan orang-orang kafir dari kalangan yahudi, nashoro dan musyrikin, dan mereka itu menisbatkan diri kepada syi’ah dan menampakkan diri dengan madzhab-madzhab syi’ah.” (“Minhajus Sunatin Nabawiyyah”/1/hal. 482).
Cocok dengan kondisi rofidhoh apa yang difirmankan Alloh ta’ala:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ [التوبة/31]،
Dan mereka menjadikan para ulama dan pendeta mereka serta Al Masih bin Maryam sebagai robb-robb selain Alloh. Padahal mereka itu tidak diperintahkan kecuali agar menyembah sesembahan yang satu. Tiada sesembahan yang benar selain Dia, Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾  [الشورى/21].
Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka dari agama ini yang tidak diidzinkan oleh Alloh? Andaikata bukan karena kalimat keputusan  niscaya telah diselesaikan keputusan di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang zholim itu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Andaikata bukan karena
kalimat keputusan” pada Hari Kiamat, yang mana Alloh telah berfirman:
﴿بل الساعة موعدهم﴾ [ القمر: 46 ].
Bahkan Hari Kiamat itulah saat yang dijanjikan untuk mereka.”
niscaya telah diselesaikan keputusan di antara mereka” di dunia, sehingga Alloh menyegerakan hukuman bagi orang yang zholim dan memberikan pahala bagi orang yang taat. “Dan sesungguhnya orang-orang yang zholim itu” yaitu kaum musyrikin “akan mendapatkan siksaan yang pedih” di dunia dengan terbunuh, tertawan dan terkalahkan, dan di Akhirat dengan siksaan Neraka.” (selesai dari “Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/16/hal. 19-20).
Perbuatan mereka adalah kesyirikan dalam ketaatan.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka kelompok yang berlebihan dari kalangan nashoro, rofidhoh, shufiyyah yang tersesat, orangorang miskin dan orang-orang awaam itu, mereka berbuat syirik dengan terkadang berdoa pada selain Alloh, dan terkadang dengan suatu jenis ibadah kepada makhluk tadi, dan terkadang gabungan dari dua perkara tadi. Dan barangsiapa berbuat syirik dengan kesyirikan macam ini, maka dia telah berbuat syirik dalam ketaatan. Banyak dari orang yang masuk ke fiqih, tentara para raja, pengikut para qodhi, dan orang awam yang mengekuti mereka berbuat syirik dalam bentuk syirik dalam ketaatan.” (“Majmu’ Fatawa”/1/hal. 97-98).
Sebab Keduapuluh Dua: Di Antara mereka ada yang berkeyakinan bahwasanya Alloh punya jisim seperti jisim manusia, dan di antara mereka ada yang mensifati-Nya dengan kekurangan.
Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Rofidhoh pengikut aqidah Imamiyyah berselisih pendapat tentang tajsim (keyakinan bahwasanya Alloh punya jisim). Mereka terpecah jadi enam sekte. Kelompok pertama: Hisyamiyyah, pengikut Hisyam ibnul Hakam Ar Rofidhiy, meyatakan bahwasanya sesembahan mereka itu jisim, punya puncak dan batas panjang, lebar serta kedalaman, panjangnya sama dengan lebarnya, lebarnya sama dengan kedalamannya” –sampai pada ucapan beliau:- “Punya warna, rasa dan aroma.” Dan seterusnya. (“Maqolatul Islamiyyin Wa Ikhtilaful Mushollin”/hal. 31-32).
Setelah menukilkan ucapan semacam ini, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah
رحمه الله berkata: “Orang-orang telah menukilkan dari rofidhoh perkataan semacam ini atau yang lebih busuk dari itu. Mereka menukilkan apa yang disebutkan oleh Al Asy’ariy dan yang lainnya dalam kitab “Maqolat” dari Bayan bin Sam’an At Tamimiy yang sekte Bayaniyyah menisbatkan diri kepadanya, dari kalangan syi’ah yang berlebihan, bahwasanya dia berkata: “Sesungguhnya Alloh itu dalam wujud manusia, dan seluruh jasadnya hancur kecuali wajahnya. Dan Bayan ini mengklaim bahwasanya dia memanggil Zahroh, maka Zahroh memenuhi panggilannya, dan bahwasanya dirinya melakukan itu dengan nama Alloh yang paling agung. Maka Kholid bin Abdulloh Al Qusriy membunuh si Bayan ini.” (“Minhajus Sunnah”/2/hal. 303).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan mereka menukilkan dari Mughiriyyah pengikut Mughiroh bin Sa’id bahwasanya mereka menyatakan bahwasanya Mughiroh mendakwakan dirinya sebagai nabi, dan bahwasanya dirinya mengetahui nama Alloh yang paling besar, dan bahwasanya sesembahan mereka adalah seorang pria yang terbuat dari cahaya, di atas kepalanya ada makota, dia punya anggota dan bentuk tubuh seperti tubuh manusia, punya rongga badan dan hati yang memancar darinya hikmah, dan bahwasanya huruf-huruf abjad itu tersusun berdasarkan bilangan anggota badannya. Mereka berkata: “Huruf Alif itu tempat telapak kakinya karena dia bengkok.” Saat menyebutkan huruf Ha, mereka berkata: “Andaikata kalian melihat tempatnya dari anggota badannya, niscaya kalian akan melihat perkara yang besar sekali.” Mengungkapkan kepada mereka aurot sesembahan mereka. Dan bahwasanya Mughiroh telah melihat sang sesembahan. Semoga Alloh melaknat dan menghinakan dirinya.” (“Minhajus Sunnah”/2/hal. 303-304).
Setelah menyebutkan kedustaan rofidhoh bahwasanya Abu Hanifah رحمه الله tidak mengkafirkan rofidhoh, Al ‘Allamah Mahmud Syukriy Al Alusiy رحمه الله berkata: “Perkara yang dinisbatkan kepada  Imam Abu Hanifah رحمه الله تعالى adalah kedustaan yang tiada asalnya. Bahkan yang pasti dari beliau dan dari seluruh imam Ahlussunnah adalah: tidak boleh mengkafirkan orang-orang yang berkiblat ke Ka’bah selama tidak pasti dari mereka pengingkaran terhadap perkara yang diketahui secara pasti bahwasanya perkara tadi adalah bagian dari agama ini. Jika jelas pengingkaran mereka, maka mereka dihukumi sebagai orang-orang kafir, seperti ghulatusy syi’ah dan mujassimah yang berkata bahwasanya Alloh itu jisim sebagaimana jisim-jisim yang lain, maka sungguh mereka itu kuffar berdasarkan ucapan yang terang dari Al Imam Ar Rofi’iy, dan itulah yang lebih shohih.” (“Shobbul ‘Adzab ‘Ala Man Sabbal Ashhab”/hal. 229).
Sebab Keduapuluh Tiga: Mereka menuduh Ummul Mukminin رضي الله عنها dengan tuduhan besar.
Al Imam An Nawawiy   berkata dalam faidah hadits ifk (kedustaan): “Yang keempat puluh satu: bersihnya Aisyah رضي الله عنها dari tuduhan dusta tersebut, dan ini adalah kebersihan yang pasti dengan nash Al Qur’an Al Aziz. Andaikata ada orang yang ragu tentang itu, kita berlindung pada Alloh, jadilah orang tadi kafir murtad dengan ijma’ Muslimin. Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: “Tiada seorang istri Nabipun yang berzina. Semoga sholawat dan salam Alloh tercurah pada mereka semua. Dan ini adalah pemuliaan dari Alloh ta’ala untuk mereka.” (“Al Minhaj”/17/hal. 116/cet. Darul Ma’rifah).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan para rofidhoh itu menuduh istri-istri Nabi: Aisyah dan istri Nuh dengan perzinaan. Maka mereka itu menyakiti Nabi kita صلى الله عليه وسلم dan Nabi-nabi yang lainnya dengan gangguan yang sejenis dengan gangguan munafiqin yang mendustakan para Rosul.” (“Minhajus Sunnah”/4/hal. 190).
Al Imam Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Firman Alloh ta’ala:
﴿يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا﴾
Alloh memberikan petuah pada kalian untuk kalian tidak kembali berbuat semisal itu selamanya.” 
Yaitu kejadian tuduhan terhadap Aisyah, karena semisalnya tidaklah terjadi kecuali yang serupa dengan ucapan tadi terhadap objek yang dibicarakan itu sendiri, atau objek lain yang semartabat dengannya dari kalangan istri Nabi صلى الله عليه وسلم, karena yang demikian itu menyakiti Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam kehormatan dan keluarga beliau. Dan yang demikian adalah kekufuran dari pelakunya –sampai pada ucapan beliau:- para pendusta menuduh Aisyah yang suci dengan kekejian, maka Alloh تعالى membersihkan beliau. Maka setiap orang yang mencaci beliau dengan tuduhan yang Alloh telah membersihkan beliau dari tuduhan tadi maka orang itu mendustakan Alloh. Dan barangsiapa mendustakan Alloh maka dia itu kafir.” (“Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an”/12/hal. 205).
Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ الله دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ الله هُوَ الْحَقُّالْمُبِينُ﴾.
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh para wanita yang terjaga, yang tidak berpikir untuk berbuat kekejian, yang mukminat, para penuduh tadi terkutuk di dunia dan akhirat, dan mereka akan mendapatkan siksaan yang besar. Pada hari di mana lidah-lidah mereka, tangan dan kaki mereka bersaksi terhadap mereka dengan apa yang dulu mereka kerjakan. Pada hari itu Alloh akan menunaikan bahalsan mereka dengan benar, dan mereka mengetahui bahwasanya Alloh itu adalah Al Haqq (Yang Mahabenar tanpa ada keraguan) Al Mubin (Yang Mahajelas dan menjelaskan).”
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ini adalah ancaman dari Alloh ta’ala untuk orang-orang yang menuduh wanita yang terjaga dan lalai (yang tidak berpikir untuk berbuat kekejian) –pada umumnya- yang beriman. Maka para Ummahatul Mukminin lebih berhak untuk masuk ke dalam ayat ini daripada setiap wanita yang terjaga, lebih-lebih lagi wanita yang menjadi sebab turunnya ayat ini, yaitu Aisyah binti Shiqqid رضي الله عنهما . Dan para ulama semuanya رحمهم الله telah bersepakat bahwasanya barangsiapa mencaci Aisyah setelah turunnya ayat ini dan menuduh beliau dengan tuduhan yang telah tersebut di dalam ayat ini, maka orang tadi kafir, karena dirinya telah menentang Al Qur’an. Untuk Ummahatul Mukminin yang lain ada dua pendapat, yang paling shohih adalah bahwasanya mereka semua kedudukannya adalah seperti Aisyah. Allohu a’lam.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/6/hal. 31-32).
Al Imam Ibnun Nahhas رحمه الله berkata: “Lebih dari satu orang imam telah menukilkan ijma’ akan dikafirkannya orang yang mencaci Ummul Mukmini Aisyah رضي الله عنها . Dan para ulama berselisih pendapat tentang dikafirkannya orang yang mencaci Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهما , dan demikian pula yang mencaci Shohabat selain keduanya رضي الله عنهم. Ucapan-ucapan tentang itu banyak sekali, dan kesimpulannya adalah: bahwasanya si pencaci tadi beredar di antara perbuatan kekufuran atau suatu dosa besar.” (“Tanbihul Ghofilin”/hal. 163/cet. Riasah Haiatul Amr Bil Ma’ruf Wan Nahyu ‘Anil Munkar).
Sebagian ulama Hindia berkata: “Jika orang tadi menuduh Aisyah رضي الله تعالى عنها dengan perzinaan, maka orang tadi telah kafir kepada Alloh. Andaikata dia menuduh seluruh istri Nabi صلى الله عليه وسلم yang lain dengan perzinaan, maka orang tadi tidak kafir tapi berhak untuk dilaknat.” (“Al Fatawal Hindiyyah”/2/hal. 264).
Telah lewat penyebutan bahwasanya yang benar adalah: bahwasanya barangsiapa menuduh Ummul Mukminin selain Aisyah رضي الله عنهن berzina, maka dia itu kafir juga. Akan tetapi sisi pembahasan kita di sini adalah: bahwasanya seluruh ulama secara total telah bersepakat akan kafirnya orang yang menuduh Aisyah رضي الله عنها berzina. Dan inilah yang dilakukan oleh Husain Badruddin Al Hutsiy dan diikuti oleh seluruh Hutsiyyun, rofidhoh Yaman.
Fadhilatusy syaikh Al Mufti Ahmad bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang Syi’ah: “Dan termasuk dari itu adalah mereka mencaci Abu Bakr, Umar, Utsman dan seluruh Shohabat, dan mereka menuduh Aisyah dengan tuduhan dusta setelah Alloh membebaskan beliau dari tuduhan tadi. Dan ini merupakan kekufuran dan pengingkaran serta penentangan terhadap berita yang datang di dalam Al Qur’an yang berisi pembebasan Aisyah.” (“Al Mauridul ‘Adzbuz Zulal”/hal. 154/cet. Darul Atsar).
Sebab Keduapuluh Empat: Mengaku tahu ilmu ghoib.
Fadhilatu Syaikhina Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab beliau “Jawabush Shiddiq” telah menukilkan sebagian
ucapan rofidhoh tentang hal itu.
Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad حفظه الله berkata: “Seperti yang datang dalam kitab “Al Kafi” karya Al Kailaniy pada bab “Bahwasanya para imam itu mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Dan mereka mengetahui kapan mereka akan mati, dan bahwasanya mereka tidak mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri.” Demikian pula dia berkata: “Bab: bahwasanya tiada sesuatupun dari kebenaran kecuali apa yang ada pada para imam, dan bahwasanya segala sesuatu itu jika tidak keluar dari sisi mereka, maka itu adalah batil.” (“Syarh Sunan Abi Dawud”/ Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad/2/hal. 378).
Mengaku tahu ilmu ghoib adalah kekufuran. Alloh ta’ala
berfirman:
﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا الله وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ﴾ [النمل/65]،
Katakanlah: Siapapun yang ada di langit ataupun di bumi itu tidak mengetahui perkara yang ghoib kecuali Alloh. Dan mereka tidak mengetahui kapankah mereka akan dibangkitkan.”
Dan Alloh Yang Mahasuci berfirman:
﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ الله وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾ [الأعراف/188].
Katakanlah: Aku tidak menguasai untuk diriku sendiri manfaat ataupun bahaya, kecuali apa yang dikehendaki Alloh. Andaikata aku mengetahui perkara yang ghoib niscaya aku akan memperbanyak amal kebaikan dan aku tak akan terkena kejelekan. Aku itu tidak lain kecuali pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi kaum yang beriman.”
Al Imam Ibnul ‘Arobiy رحمه الله berkata: “Maka orang yang mendakwakan bahwasanya dirinya tahu apa yang akan dilakukan di umur yang akan datang maka dia itu kafir. Atau dia mengabarkan kejadian-kejadian secara global atau terperinci sebelum terjadinya perkara tadi, maka tiada kebimbangan bahwasanya dia juga kafir.” (“Ahkamul Qur’an”/3/hal. 431).
Ibnu Nujaim رحمه الله berkata: “Dan seseorang itu menjadi kafir karena menyatakan tahu perkara yang ghoib.” (“Al Asybah Wan Nazhoir”/Ibnu Nujaim/hal. 191).
Sebab Keduapuluh Lima: Mereka meyakini kembalinya sebagian orang yang telah mati ke dunia sebelum hari Kiamat.
Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Jenis keempat belas dari jenis-jenis sekte yang berlebihan: mereka adalah Sabaiyyah pengikut Abdulloh bin Saba. Mereka menyatakan bahwasanya Ali tidak mati, dan bahwasanya beliau akan kembali ke dunia sebelum hari Kiamat, lalu beliau akan memenuhi dunia dengan keadila sebagaimana dunia telah penuh dengan kecurangan. Dan mereka menyebutkan dari Abdulloh bin Saba bahwasanya dia berkata pada Ali عليه السلام: “Andalah Dia, Andalah Dia (yaitu Alloh).” Dan Sabaiyyah meyakini roj’ah, dan bahwasanya orang-orang yang mati akan kembali ke dunia. Sayyid Al Himyariy berpendapat akan kembalinya orang-orang yang telah mati ke dunia.” (“Maqolatul Islamiyyin”/hal. 15).
Al Humaidiy meriwayatkan dari Sufyan –Ibnu ‘Uyainah-: Aku mendengar seseorang bertanya kepada Jabir –yaitu: Al Ju’fiy- tentang firman Alloh عز وجل:
﴿فلن أبرح الأرض حتى يأذن لي أبي أو يحكم الله لي وهو خير الحاكمين﴾
Maka aku tidak akan meninggalkan bumi ini –yaitu Mesir- sampai ayahku mengizinkan aku atau Alloh memenangkan aku, dan Dia adalah Pemutus perkara yang terbaik.”
Jabir menjawab: “Takwil dari ayat ini belum datang.” Sufyan berkata: “Dia bohong.” Maka orang tadi bertanya pada Sufyan: “Apa yang dia inginkan dari perkataan tadi?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya rofidhoh berkata: “Sesungguhnya Ali ada di awan, maka kami tak akan memberontak bersama orang yang memberontak dari anaknya sampai ada seorang penyeru menyeru dari langit –dia maksudkan adalah Ali- bahwasanya beliau berseru: “Berontaklah kalian bersama Fulan!” Jabir berkata: “Maka inilah takwil ayat tadi.” Dan dia bohong. Ayat tadi bercerita tentang saudara-saudara Yusuf صلى الله عليه وسلم.” (Muqoddimah “Shohih Muslim”/hal. 12/shohih).
Keyakinan tadi adalah kekufuran karena menolak Al Qur’an.
Alloh ta’ala berfirman:
﴿حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾ [المؤمنون: 99، 100].
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang sholih terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”
Dan Alloh عز وجل berfirman:
﴿وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ﴾ [الأنبياء: 95].
Dan wajiblah bagi desa yang telah Kami binasakan bahwasanya mereka tidak akan kembali.”
Al Imam Al Barbahariy  berkata: “Dan bid’ah telah nampak yaitu kekufuran pada Alloh Yang Mahaagung, dan barangsiapa berpendapat dengannya maka dia itu kafir pada Alloh tanpa ada keraguan: yaitu orang yang beriman pada roj’ah, dan berkata bahwa Ali bin Abi Tholib masih hidup dan akan kembali sebelum hari Kiamat, dan Muhammad bin Ali bin Ja’far dan Musa bin Ja’far, dan mereka berbicara tentang kepemimpinan, dan bahwasanya mereka mengetahui perkara ghoib. Maka hindarilah mereka karena sungguh mereka itu orang-orang kafir kepada Alloh Yang Mahaagung.” (“Syarhus Sunnah”/hal. 129-130/cet. Maktabah Darul Minhaj).
Sebab Keduapuluh Enam: Mereka meyakini perpindahan arwah dari satu individu ke individu yang lain.
Inilah yang dinamakan dengan aqidah tanasukhiyyah. Dan ini merupakan penentangan terhadap Al Qur’an dan Sunnah yang menetapkan bahwasanya arwah yang telah keluar dari jasad setelah kematian jasad tadi ditahan oleh Alloh di alam kuburnya, bukan kembali ke jasad yang lain di dunia. Alloh ta’ala berfirman:
﴿الله يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [الزمر: 42].
Alloh mewafatkan jiwa-jiwa ketika kematiannya dan yang belum mati ketika tidurnya. Maka Alloh menahan jiwa yang ditetapkan-Nya mati dan melepaskan yang lain sampai ke ajal yang telah ditetapkan. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada ayat-ayat bagi orang-orang yang berpikir.”
Dari Samuroh bin Jundab رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم dari dua malaikat yang bercerita tentang siksaan kubur:
«أما الذي رأيته يشق شدقه فكذاب يحدث بالكذبة فتحمل عنه حتى تبلغ الآفاق فيصنع به إلى يوم القيامة. والذي رأيته يشدخ رأسه فرجل علمه الله القرآن فنام عنه بالليل ولم يعمل فيه بالنهار يفعل به إلى يوم القيامة».
“Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari kiamat. Dan orang yang engkau lihat kepalanya dipecahkan, maka dia adalah orang Alloh ajari dia Al Qur’an, lalu dia tidur meninggalkan di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari kiamat.” (HR. Al Bukhoriy (1386)).
Al Qodhi ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan demikian pula kita memastikan akan kafirnya orang yang berpendapat bahwasanya alam semesta ini qodim (sudah ada sejak dulu tanpa ada batas awal, atau sudah ada sejak adanya Alloh), atau dia itu kekal, atau ragu tentang hal itu berdasarkan madzhab sebagian Falasifah Dahriyyah (para ahli filsafat yang meyakini alam semesta ini sudah ada sejak dulu tanpa ada pencipta), atau berpendapat bahwasanya arwah itu mengalami reinkarnasi dan selamanya berpindah-pindah dari individu ke individu yang lain, dan siksaan atau kenikmatan untuk arwah tadi dalam proses reinkarnasi tadi sesuai dengan kadar kesuciannya dan kebusukannya.” (“Asy Syifa”/2/hal. 283).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan demikian pula orang dari kelompok tadi yang menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu kurang beberapa ayat dan ayat-ayat tadi disembunyikan, atau dia menyatakan bahwasanya Al Qur’an itu punya takwil-takwil tersembunyi yang menggugurkan amalan-amalan yang disyariatkan dan sebagainya. Dan mereka itu bernama qoromithoh dan bathiniyyah. Di antara mereka ada tanasukhiyyah (yang menyatakan bahwasanya arwah-arwah mengalami penitisan kembali). Tiada perselisihan bahwasanya mereka adalah orang-orang kafir.” (“Ash Shorimul Maslul”/hal. 586).
Sebagian ulama Hindia berkata dalam kitab “Azh Zhohiriyyah”: “Wajib mengkafirkan rofidhoh dalam ucapan mereka bahwa orang-orang mati akan kembali ke dunia, dan keyakinan akan reinkarnasi, dan berpindahnya roh sesembahan kepada para imam, dan ucapan mereka akan keluarnya imam yang tersembunyi, dan karena mereka meninggalkan perintah dan larangan sampai keluarnya imam yang tersembunyi, dank arena ucapan mereka bahwasanya Jibril عليه السلام keliru karena menyampaikan wahyu kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم bukannya Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه . dan mereka itu adalah kaum yang keluar dari agama Islam, dan hukum mereka adalah hukum orang-orang yang murtad.” (“Al Fatawal Hindiyyah”/2/hal. 264).
Sebab Keduapuluh Tujuh: Meyakini bahwasanya Alloh mengalami “bada” (kejelasan suatu
perkara bagi Alloh setelah sebelumnya perkara tadi tidak jelas bagi-Nya).
Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata: “Dan di antara rofidhoh ada yang berkata: “Sesungguhnya Alloh itu nampak bagi-Nya perkara-perkara yang sebelumnya tidak jelas bagi-Nya, dan bahwasanya Alloh ingin melakukan suatu perkara, kemudian Dia tidak jadi melakukannya karena terjadi kejelasan hakikat perkara tadi bagi-Nya setelah sebelumnya Dia tidak tahu.” Dan sebagian rofidhoh berkata: “Perkara yang diketahui Alloh سبحانه untuk terjadi dan Dia tampakkan itu pada seseorang dari
makhluq-Nya, maka tidak boleh terjadi “Bada” dalam perkara tadi. Tapi perkara
yang diketahui Alloh
سبحانه dan tidak Dia tampakkan itu pada seseorang dari makhluq-Nya, maka boleh saja terjadi pada-Nya Bada.” Sebagian dari mereka berkata: “Boleh saja bagi Alloh Bada dalam perkara yang Dia ketahui akan terjadi dan Dia telah mengabarkan bahwasanya perkara tadi akan terjadi sampai tidak terjadi perkara yang Alloh kabarkan bahwasanya perkara tadi akan terjadi.” (“Maqolatul Islamiyyin”/hal. 221).
Syaikhul Islam رحمه
الله
berkata: “Maka banyak dari masyayikh rofidhoh mensifati Alloh ta’ala dengan sifat-sifat kekurangan sebagaimana telah terdahulu penyebutan sebagian kisahnya. Maka Zuroroh bin A’yun dan semisalnya berkata: “Boleh “bada” bagi Alloh, dan bahwsaanya Dia menghukumi sesuatu, lalu jelaslah bagi-Nya perkara yang belum Dia ketahui, lalu Dia membatalkan hukum-Nya manakala jelas bagi-Nya kekeliruan-Nya. Maka jika semisal mereka berkata bahwasanya para Nabi dan imam tidak boleh untuk tersembunyi dari mereka akibat dari perbuatan mereka, maka sungguh mereka telah mensucikan manusia dari kekeliruan sambil mereka membolehkan kekeliruan tadi terjadi pada Alloh.
Demikian pula Hisyam ibnul Hakam dan Zuroroh bin A’yun dan semisal mereka yang berkata: “Sesungguhnya Alloh akan tahu perkara yang sebelumnya tidak Dia ketahui.” Dan telah diketahui bahwasanya ini termasuk kekurangan yang paling besar untuk Pemelihara alam semesta.” (selesai dari “Minhajus Sunnah”/2/hal. 186).
Dalam “Al Fatawal Bazzaziyyah” (tercetak di sisi “Al Fatawal Hindiyyah”/6/hal. 318) karya Asy Syaikh Muhammad bin Syihab yang terkenalsebagai Ibnul Bazzaz yang meninggal pada tahun 827 H, beliau berkata: “Wajib untuk mengkafirkan Kaisaniyyah yang membolehkan “Bada” untuk Alloh ta’ala, dan wajib mengkafirkan rofidhoh yang meyatakan kembalinya orang-orang mati ke dunia, … dst.” (selesai penukilan dari “Ushul Madzhabisy Syi’atil Imamiyyah”/3/hal. 1207).
Sebab Keduapuluh Delapan: Berbuat sihir dan menghalalkannya.
Muhammad Ar Roimiy dalam kitabnya “Majmu’ Rosail ‘Ilmiyyah Wa Da’awiyyah” (hal. 140/cet. Darul Atsar) berkata: “Manakala rofidhoh Iraq dan Iran meyakini dan membolehkan sihir dan ramalan bintang dengan sebab berita dusta atas nama Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه dan keluarga Baitun Nubuwwah yang lain bahwasanya mereka berbuat sihir dan ramalan bintang, bertopang pada kitab “Al Jafr” yang terkadang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه dan terkadang kepada Ja’far Ash Shodiq dengan dusta dan kepalsuan. Perbuatan sihir dan ramalan bintang mereka diikuti oleh rofidhoh Yaman.” –sampai pada ucapannya:- “Ini mereka: rofidhoh hutyiyyah juga mempergunakan sihir.” Dst.
Saya katakan –dengan taufiq dari Alloh semata-: Bagaimana Muhammad Ar Roimiy tidak mengkafirkan mereka padahal dia tahu kondisi mereka? Dalam hadits Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه berkata:
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال اجتنبوا السبع الموبقات قالوا يا رسول الله وما هن قال الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق وأكل الربا وأكل مال اليتيم والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات المؤمنات الغافلات.
Dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.” Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, apa itu?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Alloh, sihir, membunuh jiwa yang Alloh haromkan kecuali dengan kebenaran, memakan riba, memakan harta yatim, lari dari medan perang pada hari peperangan, dan menuduh berzina wanita yang terjaga, yang beriman, yang tidak berpikir untuk itu.” (HR. Al Bukhoriy (2766) dan Muslim (89)).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sihir itu diharomkan dengan Kitab, Sunnah dan ijma’.” (“Majmu’ul Fatawa”/35/hal. 171).
Maka pengharoman sihir itu sudah terkenal. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam bahwasanya sihir itu termasuk keharoman yang terbesar.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 385).
Bahkan banyak ulama yang menghukumi bahwasanya sihir itu adalah kekufuran. Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Ucapan kedua malaikat tadi:
﴿إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ﴾  [البقرة: 102]
Kami ini hanyalah ujian, maka janganlah kalian berbuat kufur.”
Yaitu: janganlah kalian mempelajari sihir sehingga kalian menjadi kafir.” (“Al Mughni”/20/hal. 7).
Barangsiapa menghalalkan perkara yang telah diketahui keharomannya secara pasti dalam agama ini, maka sungguh dia itu kafir. Al Qodhiy ‘Iyadh رحمه الله berkata: “Dan demikian pula kaum muslimin telah bersepakat tentang dikafirkannya setiap orang yang menghalalkan pembunuhan, atau meminum khomr, atau berzina, dari perkara yang Alloh haromkan, setelah orang tadi mengetahui pengharoman tadi, seperti kaum ibahiyyah dari kalangan qoromithoh dan sebagian ghulatush shufiyyah.
Dan begitu pula kita memastikan dikafirkannya setiap orang yang mendustakan dan mengingkari satu qoidah dari qoidah-qoidah syariat dan perkara yang telah diketahui secara yakin dengan penukilan yang mutawatir dari perbuatan Rosul dan terbentuk ijma’ yang bersambung dengan itu, seperti orang yang mengingkari wajibnya sholat lima waktu, bilangan rekaatnya dan bilangan sujudnya.” (“Asy Syifa”/2/hal. 287).
Inilah duapuluh delapan sebab kafirnya rofidhoh. Dan bukannya para ulama itu bermudah-mudah mengkafirkan orang sebagaimana dugaan rofidhoh, tapi rofidhoh itu sendiri yang menjerumuskan diri mereka ke dalam lubang-lubang kebinasaan yang hina tersebut, yaitu: bid’ah-bid’ah yang menyebabkan pelakunya jadi kafir, dan mereka tidak peduli akan nasihat-nasihat ulama Muslimin, bahkan mereka mengkafirkan mayoritas Muslimin, dan mereka berpendapat disyariatkannya bekerja sama dengan Yahudi dan Nashoro untuk menumpahkan darah Muslimin, merampok harta mereka dan merusak kehormatan mereka, baik orang besar maupun anak kecil, pria atau wanita dari Muslimin.
Sesungguhnya satu sebab saja sudah cukup untuk menghukumi bahwasanya rofidhoh itu kafir. Maka bagaimana dengan sebab-sebab yang banyak sekali macam ini? Bersamaan dengan itu tetap saja Muhammad Ar Roimiy membela mereka dan mencela Ahlussunnah dan memperbanyak cercaan terhadap Salafiyyin. Dan ini adalah sifat orang yang terjungkal dari jalan yang lurus.
Kemudian ketahuilah bahwasanya tidaklah seseorang tidak bisa dikafirkan kecuali jika terkumpul padanya seluruh sebab tadi. Satu sebab saja sudah cukup. Bisa jadi pada seorang rofidhiy hanya ada satu, atau dua, atau tiga dari sebab-sebab kekufuran tadi, atau lebih dari itu, terutama manakala setan menghiasi untuknya amal buruknya itu menjadi tampak bagus, sehingga bertambahlah kekufurannya di atas kekufuran yang sebelumnya.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan barangsiapa tidak merasa cukup dengan sunnah hingga melampaui batasnya kepada bid’ah, keluarlah dia dari agama ini. Dan barangsiapa melontarkan pada manusia perkara yang tidak dilontarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وآله وسلم padahal ada faktor pada masa beliau yang menuntut dilontarkannya perkara tadi, maka sungguh orang ini telah datang dengan syariat kedua, dan bukanlah dia itu pengikut Rosul. Maka hendaknya dia melihat urusan dirinya, kemana dia akan meletakkan kakinya.” (“Al Fatawal Kubro”/3/hal. 167).
Beliau رحمه الله juga berkata dalam “Majmu’ul Fatawa” (8/hal. 425): “Maka bid’ah-bid’ah itu pada awalnya sejengkal, kemudian menjadi banyak di kalangan para pengikutnya sampai menjadi sekian hasta, sekian mil dan sekian farsakh.”
Peringatan penting:
Kita telah mencoba, dan juga dicoba orang orang lain bahwasanya rofidhoh ketika merasa lemah untuk menampilkan madzhab mereka yangbatil, mereka bersembunyi di balik gaya orang sholih. Jika disebutkankejelekan-kejelekan rofidhoh yang ada pada mereka, mereka mengingkari itu danmenentangnya. Akan tetapi penentangan dan pengingkaran tadi tidak bermanfaatkarena jelasnya perkara mereka, dan karena begitu hitamnya sejarah mereka, danjuga karena orang-orang sudah tahu bahwasanya rofidhoh itu sekte yang palingpendusta.
Sudah lewat ucapan Syaikhul Islam رحمه الله bahwasanya mereka
itu menghalalkan kedustaan. Dan mereka adalah tukang mengkhianati perjanjian.
Abdul Qohir Al Baghdadiy رحمه الله berkata: “Rofidhoh Kufah itu disifatidengan suka mengkhianati perjanjian dan pelit. Telah beredar pepatah denganmereka tentang dua sifat ini sampai-sampai dikatakan: “Orang ini lebih pelitdaripada orang Kufah” “Orang ini lebih mengkhianati janji daripada orangKufah.” Dan yang terkenal pada pengkhianatan mereka itu tiga perkara: yang pertama: setelah terbunuhnya Ali رضي الله عنه mereka membai’at anak beliau, Hasan.Manakala Hasan berangkat untuk memerangi Mu’awiyah, rofidhoh mengkhianati Hasandi wilayah Sabath Madain, yang mana Sinan Al Ju’fiy menusuk pinggang Hasanhingga menjatuhkan beliau dari kuda beliau, dan itu adalah salah satu sebabHasan berdamai dengan Mu’awiyah.
Yang kedua: rofidhoh menyurati Husain bin Ali رضي الله عنه dan mengundang beliau ke Kufah untuk mereka menolong beliau menghadapi Yazid bin Mu’awiyah. Maka Husain terpedaya oleh mereka dan keluar menuju kota mereka. Manakalabeliau sampai di Karbala, rofidhoh mengkhianati beliau, dan justru merekabersatu bersama Ubaidulloh bin Ziyad untuk memerangi beliau, hingga terbunuhlahHusain bersama mayoritas keluarga beliau di Karbala.
Yang ketiga: mereka mengkhianati Yazid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib setelah mereka keluar bersama beliau untuk menghadapi Yusuf binUmar, kemudian mereka membatalkan bai’at mereka pada Yazid bin Ali, dan merekamenyerahkan beliau ke Yusuf ketika peperangan berkecamuk dahsyat hingga beliauterbunuh. Dan terjadilah apa yang terjadi.” (selesai dari “Al Farqu BainalFiroq”/1/hal. 26).
Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata tentang mereka: “Adapun bersegeranya kelompok itu untuk berbusta, dan beraninya mereka berbohong, sertaperemehan mereka masalah kedustaan, maka generasi terdahulu dan yang belakangandari mereka telah mencapai batas berdusta atas nama Alloh, atas nama Rosul-Nya,atas nama Kitab-Nya, atas nama orang-orang sholih dari umat ini. Dan telahterjadi kebohongan dari mereka tentang itu yang membikin kulit merinding.”(“Adabuth Tholab”/hal. 61/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله berkata: “Maksudku di sini adalah: bahwasanya para ulama semuanya telah berepakat bahwasanya kedustaan pada rofidhoh itu lebih jelas daripada kedustaan pada seluruh kelompok dari orang-orang yang berkiblat ke Ka’bah.” (“Ilhadul Khumainiy Fi ArdhilHaromain”/hal. 11). BERSAMBUNG…….