Masjid Nabawi Wallpaper - ASH-HABUL HADITS
cooltext1525930486
Ditulis dan Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy   وفقه الله
Judul  Asli: “Ithaful Mustarsyid Bi Hukmi Idkholisy Shibyan Fil Masajid”
Judul bebas terjemahan: “Hukum Memasukkan Anak Ke Masjid”
بسم الله الرحمن الرحيم
Pengantar Penulis  وفقه الله 
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أما بعد:
Seorang ikhwah telah mengirimkan surat kepada saya –semoga Alloh memaafkan saya- sepucuk surat yang beliau menyebutkan di dalamnya bahwasanya beliau senang membiasakan anak-anaknya untuk hadir di masjid Alloh, akan tetapi terjadi sedikit perselisihan di Antara dirinya dan sebagian yang lain tentang hukum yang terkait dengan itu, maka beliau meminta saya untuk menjelaskan hal itu.

Maka saya ingin memenuhi permintaannya dengan upaya dan kekuatan dari Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya. Saya akan menyebutkan dalil dan penjelasan yang Alloh bukakan ilmunya untuk saya dengan metode ringkas dan jelas, tentang hukum memasukkan anak-anak ke masjid.
Maka dengan memohon pertolongan pada Alloh dan memohon petunjuk kepada-Nya, saya berkata:
Bab Satu: 
Beberapa Dalil Tentang Bolehnya Memasukkan Anak Kecil ke Masjid
Sesungguhnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah memberikan idzin untuk memasukkan anak kecil ke dalam masjid. Penjelasannya adalah dari beberapa sisi:
Dalil yang pertama: Dari Abu Qotadah رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«إني لأقوم في الصلاة أريد أن أطول فيها فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي كراهية أن أشق على أمه».
“Sungguh aku saat menegakkan sholat, aku ingin memanjangkan bacaan di dalamnya, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku memendekkan sholatku karena aku tidak suka menyusahkan ibunya.” (HR. Al Bukhoriy (707)).
Ini menunjukkan bolehnya memasukkan anak kecil ke dalam masjid.
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Yang diinginkan di sini dari sabda tadi adalah: bahwasanya para wanita itu dulu menghadiri sholat di belakang Rosululloh صلى الله عليه وسلم di dalam masjid, dan mereka disertai oleh anak-anak mereka, dan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم mengetahui hal itu, dan beliau dalam sholat beliau memperhatikan kondisi para wanita tadi dan lebih mengutamakan kondisi mereka, dan menjauhi perkara yang menyusahkan mereka. Dan ini menunjukkan bahwa hadirnya mereka dalam jamaah bersama beliau itu tidaklah dibenci andaikata dibenci, niscaya beliau melarang mereka menghadiri sholat bersama beliau.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/6/hal. 135).
Dalil kedua: Dari Anas bin Malik رضي الله عنه yang berkata:
ما صليت وراء إمام قط أخف صلاة ولا أتم من النبي صلى الله عليه وسلم، وإن كان ليسمع بكاء الصبي فيخفف مخافة أن تفتن أمه. (أخرجه البخاري (708) ومسلم (470)).
“Tidak pernah aku sholat di belakang seorang imam yang lebih ringan sholatnya daripada Nabi صلى الله عليه وسلم . Pernah beliau mendengar tangisan seorang bayi, maka beliau meringankan sholatnya karena beliau khawatir sang ibu terganggu dengan tangisan tadi.” (HR. Al Bukhoriy (708) dan Muslim (470)).
Ini mendukung dalil yang pertama bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengidzinkan dimasukkannya anak-anak ke dalam masjid.
Al Qodhi Al ‘Ainiy رحمه الله berkata: “Sebagian ulama berdalilkan dengan ini tentang bolehnya memasukkan bayi ke dalam masjid. Sebagian yang lain berkata: “Ini perlu diteliti lagi karena bisa jadi sang anak tersebut ditinggal di suatu rumah yang dekat dengan masjid.” Aku katakan: Ini bukanlah tempat yang perlu diteliti lagi karena yang jelas adalah bahwasanya bayi itu secara umum tidaklah terpisah dari ibunya. Dan di sini ada dalil tentang bolehnya para wanita sholat bersama para pria. Dan dalil hadits ini juga ada dalil tentang kesempurnaan belas kasihan Nabi pada para Shohabat beliau, dan perhatian beliau akan kondisi orang-orang besar dan anak-anak kecil di kalangan mereka.” (“Umdatul Qori”/8/hal. 436).
Dan tiada keraguan bahwasanya bolehnya anak kecil masuk ke masjid tadi juga disertai dengan dijaganya ketenangan masjid dan jangan sampai mereka membikin gangguan pada orang-orang yang sholat, para pembaca Al Qur’an, orang-orang yang sedang I’tikaf, dan orang-orang yang sedang belajar serta para pelaksana ibadah yang lain.
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin  berkata dalam syaroh  hadit ini: “Yang ketiga: bolehnya memasukkan anak-anak ke dalam masjid. Ini jika bayi dalam hadits tadi bersama sang ibu. Tapi jika dia ada di luar masjid, di dekat masjid, maka tak ada dalil tentang itu dalam hadits tersebut. Tapi susah juga sang wanita mendengar tangis anaknya dalam rumah sementara dia di dalam masjid. Maka yang jelaslah bahwasanya anak-anak mereka itu bersama mereka, sehingga dalam hadits tadi ada dalil tentang bolehnya memasukkan anak-anak ke dalam masjid.
Akan tetapi dengan syarat tidak terjadinya gangguan dari mereka terhadap masjid ataupun orang-orang yang sholat. Jika dikhawatirkan akan terjadi gangguan terhadap masjid seperti terkotorinya masjid dengan kencing atau najis yang lain, maka anak-anak tadi harus dilarang masuk masjid.
Demikian pula jika dikhawatirkan mereka mengacaukan pikiran orang-orang karena berteriak-teriak, lari-lari, dan membikin gaduh maka anak-anak tadi harus dilarang masuk masjid juga.
Adapun jika tiada gangguan dari mereka, maka tidak apa-apa, karena memang tidak mengapa mereka dibawa datang ke masjid. Adapun hadits:
«جنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم»
“Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila dari kalian.”
Maka itu adalah hadits yang lemah.”
(“Syarh Riyadhush Sholihin”/Al ‘Utsaimin/hadits pertama dari bab Mengagungkan Kehormatan Muslimin).
Dalil Ketiga: Hadits Buroidah رضي الله عنه yang berkata:
خطبنا رسول الله صلى الله عليه و سلم، فأقبل الحسن والحسين رضي الله عنهما، عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل فأخذهما فصعد بهما المنبر ثم قال: «صدق الله ﴿إنما أموالكم وأولادكم فتنة﴾ رأيت هذين فلم أصبر» ثم أخذ في الخطبة.
“Pernah Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkhothbah kepada kami, lalu datanglah Hasan dan Husain رضي الله عنهما yang memakai gamis merah, lalu keduanya tergelincir jatuh, lalu keduanya bangun lagi. Maka beliau turun dari mimbar, seraya mengambil keduanya, kemudian beliau naik ke mimbar dengan menggendong keduanya, lalu beliau bersabda: “Benarlah Alloh yang berfirman: “Harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah fitnah bagi kalian.” Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar.” Kemudian beliau mulai melanjutkan khuthbah beliau.” (HR. Ahmad (23045), Abu Dawud (1109) dan At Tirmidziy (3774)/shohih).
Ini adalah dalil yang jelas tentang bolehnya anak-anak masuk ke dalam masjid. Nabi صلى الله عليه وسلم tidak melarang mereka, bahkan beliau berbicara tentang belas kasihan dan kasih sayang kepada anak-anak.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ini adalah bagian dari kesempurnaan kasih sayang, kelembutan dan belas kasihan beliau kepada anak-anak kecil, dan itu adalah pelajaran dari beliau untuk umat ini agar bersikap sayang, belas kasihan dan lebut pada anak-anak kecil.” (“Idatush Shobirin”/hal. 51).
Andaikata masuknya mereka ke dalam masjid itu terlarang, niscaya Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskannya dan tidak mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan. Muhammad bin Abdillah Az Zarkasyiy رحمه الله berkata: “Mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan itu tidak boleh.” (“Al Bahrul Muhith”/2/hal. 315).
Dalil Keempat: Dari Abu Qotadah Al Anshoriy رضي الله عنه yang berkata:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي وهو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ولأبي العاص بن ربيعة بن عبد شمس. فإذا سجد وضعها، وإذا قام حملها.
“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم dulu sering sholat dalam keadaan menggendong Umamah binti Zainab binti Rosulillah صلى الله عليه وسلم anak dari Abul ‘Ash bin Robi’ah bin Abdisy Syams. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya, dan jika beliau bangun, beliumenggendongnya lagi.” (HR. Al Bukhoriy (516) dan Muslim (543)).
Hadits ini merupakan dalil yang jelas akan bolehnya memasukkan anak-anak kecil ke dalam masjid. Nabi صلى الله عليه وسلم tidak sekedar mengidzinkan atau menyetujui hal itu, bahkan beliau berbuat itu di depan orang-orang. Dan perbuatan beliau yang bukan berupa pendekatan diri pada Alloh, dan tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan menunjukkan akan bolehnya amalan tadi bagi umat ini.
Al Majd Abul Barokat Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata dalam “Al Musawwidah”: “Perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم itu memberikan faidah pembolehan jika di dalamnya tidak ada makna pendekatan diri pada Alloh, menurut pendapat mayoritas ulama.” (dinukil dalam “Syarhul Kaukabil Munir”/1/hal. 370).
Maka dikarenakan jelasnya penunjukan hadits ini, Al Imam An Nasaiy meriwayatkan hadits ini dalam “As Sunanul Kubro” (790) di bawah judul: “Memasukkan Anak-anak Ke Dalam Masjid.”
Maka anak kecil jika tidak mengganggu orang-orang yang di masjid dan tidak mengotori masjid dengan kotoran dan sebagainya, boleh untuk dimasukkan ke dalam masjid.
Ahmad bin Umar Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Dalam hadits ini ada fiqih: bolehnya memasukkan anak-anak kecil ke dalam masjid, jika diketahui dari kebiasaan anak itu bahwasanya dia tidak sembarangan kencing, dan baju-baju mereka kemungkinan adalah cukup suci.” (“Al Mufhim”/5/hal. 85).
Dan tidak seyogyanya melarang anak dengan alasan takut menajisi masjid, sampai jelas adanya najis pada anak itu, atau pada bajunya, atau yang semacam itu, atau diketahui bahwasanya anak itu sembarangan mengeluarkan najis.
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata dalam syarh hadits Abu Qotadah رضي الله عنه: “Maka di dalamnya ada dalil tentang shohihnya sholat orang yang membawa manusia atau hewan yang suci semacam burung, kambing dan semacamnya, dan bahwasanya baju dan badan anak-anak itu suci sampai memang dipastikan adanya najis padanya, dan bahwasanya gerakan sedikit itu tidak membatalkan sholat, dan bahwasanya gerakan-gerakan jika terulang-ulang tapi tidak secara beruntun, bahkan terpisah-pisah, itu tidak membatalkan sholat.” (“Syarh Shohih Muslim”/An Nawawiy/15/hal. 45).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan itu adalah dalil tentang bolehnya sholat dalam baju anak perempuan yang masih dirawat dan masih menyusu, dan baju wanita haidh dan baju anak laki-laki kecil selama belum jelas kenajisannya.” (“Ighotsatul Lahfan”/1/hal. 152).
Ibnu Hajar رحمه الله berkata tentang faidah hadits ini: “Ini menunjukkan bolehnya memasukkan anak-anak ke dalam masjid, dan bahwasanya menyentuh anak kecil itu tidak mempengarhui kesucian. Bisa jadi dibedakan Antara mahrom dan yang bukan mahrom. Dan hadits tadi menunjukkan sahnya sholat orang yang memikul manusia, dan demikian pula orang yang memikul hewan yang suci.” (“Fathul Bari/1/hal. 592).
Perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم ini menunjukkan juga akan pentingnya bersikap lembut dan belas kasihan pada anak-anak. Oleh karena itulah maka An Nawawiy رحمه الله berkata dalam syarh hadits ini: “Di dalamnya ada dalil untuk tawadhu’ bersama anak-anak dan seluruh kaum yang lemah, sayang dan lembut pada mereka.” (“Syarh Shohih Muslim”/An Nawawiy/15/hal. 45).
Jika ada orang berkata: bisa jadi Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan itu dalam sholat sunnah atau bukan di masjid.
Kita jawab –dengan taufiq Alloh semata-: hadits tadi menunjukkan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melakukannya dalam sholat jama’ah di masjid. Dan kebiasaan Nabi صلى الله عليه وسلم adalah: beliau itu mengimami orang-orang dalam sholat wajib di masjid.
Dalilnya adalah lafazh lain dari hadits Abu Qotadah Al Anshoriy رضي الله عنه yang berkata:
رأيت النبي صلى الله عليه و سلم يؤم الناس وأمامة بنت أبي العاص وهي ابنة زينب بنت النبي صلى الله عليه و سلم على عاتقه فإذا ركع وضعها وإذا رفع من السجود أعادها.
“Aku melihat Nabi صلى الله عليه وسلم mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah binti Abul ‘Ash, yaitu anak Zainab binti Nabi صلى الله عليه وسلم ada di pundak beliau. Jika beliau ruku’, beliau meletakkannya, dan jika beliau bangun dari sujud, beliau menggendongnya lagi. (HR. Muslim (543)).
Dan dalam riwayat yang lain dari hadits Abu Qotadah Al Anshoriy رضي الله عنه yang berkata:
بينا نحن في المسجد جلوس خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم، بنحو حديثهم غير أنه لم يذكر أنه أم الناس في تلك الصلاة. (أخرجه مسلم (543)).
“Ketika kami duduk-duduk di dalam masjid, Rosululloh صلى الله عليه وسلم keluar kepada kami, … seperti hadits yang terdahulu. Hanya saja dia tidak menyebutkan bahwasanya beliau mengimami orang-orang dalam sholat tadi. (HR. Muslim (543)).
Dan hadits-hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu saling menjelaskan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sunnah itu sebagiannya menjelaskan sebagian yang lain, sebagiannya tidaklah membantah sebagian yang lain.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/2/hal. 423).
An Nawawiy رحمه الله berkata: “Ucapan beliau: “Aku melihat Nabi صلى الله عليه وسلم mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah ada di pundak
beliau” ini menunjukkan benarnya madzhab Asy Syafi’iy
رحمه الله تعالى dan ulama yang mencocoki beliau bahwasanya boleh menggendong anak lelaki dan perempuan dan yang lainnya semisal hewan yang suci dalam sholat wajib dan sholat sunnah. Dan itu boleh dilakukan oleh imam dan makmum dan orang yang sholat sendirian.
Para pengikut Malik رضي الله عنه membawa hadits ini kepada sholat sunnah, dan mereka melarang hal itu dalam sholat wajib. Dan ini adalah penakwilan yang rusak, karena ucapan Abu Qotadah: “Mengimami orang-orang” itu jelas sekali atau seperti perkataan yang terang bahwasanya amalan tadi terjadi saat sholat wajib. Sebagian Malikiyyah mendakwakan bahwasanya hadits tadi mansukh. Dan sebagiannya mendakwakan bahwasanya amalan tadi khusus untuk Nabi صلى الله عليه وسلم. Dan sebagiannya mendakwakan bahwasanya itu dilakukan karena darurat. Dan seluruh dakwaan tersebut batil dan tertolak, karena tidak ada dalil akan hal itu, dan tiada keperluan yang darurat untuk berbuat itu. Bahkan hadits tadi jelas sekali akan bolehnya amalan tadi, dan tidak ada di dalamnya perkara yang menyelisihi kaidah-kaidah syariat, karena manusia itu suci. Benda najis yang ada di dalam perutnya itu dimaafkan karena masih di dalam lambungnya. Dan baju serta badan anak-anak itu dihukumi suci.
Dan dalil-dalil syariat saling mendukung masalah ini. Dan gerakan-gerakan di dalam sholat itu tidak membatalkan sholat tadi jika hanya sedikit, atau terpisah-pisah. Dan perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم itu merupakan penjelasan akan bolehnya amalan tadi, dan sebagai peringatan tentang qoidah-qoidah yang aku sebutkan tadi.” (“Syarh Shohih Muslim”/15/hal. 45).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Maka gabungan dari riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم memulai sholat sebagai imam bagi orang-orang dalam sholat wajib dalam keadaan beliau menggendong Umamah, dan bahwasanya beliau jika ruku’ dan sujud, beliau meletakkannya di tanah. Lalu jika beliau bangkit ke rekaat kedua beliau menggendongnya lagi,  demikianlah sampai beliau menyelesaikan sholat beliau. Dan hadits ini merupakan nash yang terang sekali akan bolehnya amalan macam ini di dalam sholat wajib, dan bahwasanya yang demikian itu tidak dibenci, lebih-lebih untuk dihukumi batal.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 361).
Dan hadits ini tidak mansukh sebagaimana pernyataan sebagian ulama.
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “At Tinisiy berkata: Malik berkata: “Ada di Antara hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang nasikh dan mansukh, dan bukanlah amalan kita didasarkan pada hadits tadi.” Ibnu Abdil Barr berkata: “Barangkali hadits tadi dihapus dengan dalil diharomkannya gerakan dalam sholat.”
Ucapan ini terbantah dengan penjelasan bahwasanya nasakh itu tidak menjadi pasti dengan sekedar kemungkinan, dan terbantah dengan bahwasanya kisah ini terjadi setelah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
«إن في الصلاة لشغلاً» ]أخرجه البخاري (1216) عن ابن مسعود رضي الله عنه[
“Sesungguhnya di dalam sholat itu benar-benar ada kesibukan,” [HR. Al Bukhoriy (1216) dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه].
Karena hadits ini terjadi sebelum hijroh, sementara kisah Umamah ini terjadi jauh sekali setelah hijroh secara pasti.”
(“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/1/hal. 592).
Dan tidak benar untuk dikatakan bahwasanya itu hanyalah khusus untuk Nabi صلى الله عليه وسلم , karena dakwaan kekhususan itu memerlukan dalil, dan tiada dalil dalam masalah ini.
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Iyadh menyebutkan dari sebagian dari ulama bahwasanya amalan tadi khusus untuk Nabi صلى الله عليه وسلم , karena beliau itu ma’shum dari terkencingi dalam keadaan beliau menggendong Umamah. Dan pendapat ini tertolak karena pada asalnya adalah tidak ada kekhususan, dan bahwasanya jika memang suatu perkara itu adalah khusus untuk beliau, tidak lahmengharuskan dalam perkara lain juga merupakan kekhususan beliau tanpa ada dalil yang mendukung.” (“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/1/hal. 592).
Dan tiada keraguan bahwasanya amalan yang dikerjakan Nabi صلى الله عليه وسلم secara terang-terangan itu memiliki hikmah-hikmah yang agung, di antaranya adalah: untuk mengajarkan kebenaran, membantah kekeliruan, menolak dugaan yang salah, dan sebagainya.
Al Fakihaniy رحمه الله berkata: “Rahasia beliau menggendong Umamah dalam sholat adalah untuk menolak adat yang sudah sudah sangat diakrabi oleh Arob yang membenci anak perempuan ataupun menggendongnya. Maka beliau menyelisihi mereka dalam adat tadi sampai dalam suasana sholat dalam rangka menekankan bantahan terhadap mereka. Dan penjelasan dengan perbuatan itu terkadang lebih kuat daripada dengan ucapan.” (“Fathul Bari”/Ibnu Hajar/1/hal. 592).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Al Jauzajaniy berkata dalam kitabnya “At Tarjumah”: Ismail bin Sa’id mengabariku: aku bertanya pada Ahmad bin Hanbal tentang orang yang menggendong anak kecil dan meletakkannya dalam sholat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم. Maka beliau menjawab: “Sholatnya boleh.”
Dan Ibnul Mundzir menceritakan dari Asy Syafi’iy dan Abu Tsaur tentang bolehnya menggendong anak dalam sholat wajib.”
(“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 361).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Telah jelas bahwasanya kebanyakan ulama membolehkan itu tanpa ada kebencian. Dan pengkhususannya dengan sholat sunnah itu tertolak dengan nash-nash yang jelas menyatakan bahwasanya beliau melakukan itu dalam sholat wajib, dalam keadaan beliau mengimami orang-orang dalam sholat tadi. Al Isma’iliy meriwayatkan dalam “Shohih” beliau dari hadits Abdulloh bin Yusuf dari Malik bahwasanya beliau berkata setelah meriwayatkan hadits ini:
“Ada di Antara hadits Nabi
صلى الله عليه وسلم yang nasikh dan mansukh, dan bukanlah amalan kita didasarkan pada hadits tadi.”
Dan Malik hanyalah mengisyaratkan pada amalan orang yang beliau dapati dari kalangan fuqoha penduduk Madinah secara khusus seperti Robi’ah dan lainnya, sementara para fuqoha penduduk Iraq seperti Al Hasan dan An Nakho’iy telah mengamalkan hadits tadi, dan juga para fuqoha Ahlul Hadits, dan tidak mungkin pihak yang mendakwakan akan mensukhnya hadits tadi untuk mendatangkan nash yang menghapusnya.”
(“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 362). 
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dalam hadits tadi juga ada dalil akan sucinya baju anak-anak, karena andaikata telah ditetapkan kenajisannya niscaya beliau tak akan sholat dalam kondisi menggendong Umamah. Dan Asy Syafi’iy dan yang lainnya telah menetapkan akan kesucian baju anak-anak. Dan di Antara pengikut Asy Syafi’iy ada juga yang menyebutkan adanya dua pendapat di kalangan mereka.” (“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 363).
Qodhi Badruddin Al ‘Ainiy رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari faidah hadits ini adalah bolehnya memasukkan anak-anak kecil ke masjid. Di antaranya juga adalah: sahnya sholat orang yang menggendong manusia, begitu pula yang menggendong hewan yang suci. Dan di antaranya pula: di dalamnya ada ketawadhu’an Nabi عليه الصلاة والسلام dan belas kasihan beliau pada anak kecil, dan pemuliaan beliau pada mereka dan orang tua mereka.” (“Umdatul Qori”/7/hal. 287).
Syamsul Haq Azhim Abadiy رحمه الله berkata: “Dan hadits ini menunjukkan bahwasanya perbuatan semacam ini dimaafkan tanpa ada perbedaan Antara sholat wajib dan sholat sunnah, orang sendirian ataukan makmum ataukah imam, karena di dalam riwayat yang akan datang lafazhnya adalah: “Ketika kami tengah menunggu Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk sholat zhuhur dan ashr, … hingga akhir hadits. Dan karena dalam “Shohih Muslim” dengan lafazh: “beliau mengimami orang-orang di masjid.”Maka jika hal itu boleh dalam kondisi sebagai imam dalam sholat wajib, maka lebih-lebih lagi boleh pula dalam sholat yang lain.” Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan dalam hadits tadi juga ada dalil bahwasanya menyentuh mahrom itu tidak membatalkan kesucian. Dan yang demikian itu karena tidaklah beliau berbuat itu kecuali dalam keadaan beliau tentunya menyentuh sebagian anggota badan cucu beliau tadi. Dan dalam hadits ini ada dalil bahwasanya baju anak kecil dan badan mereka itu suci selama belum diketahui kenajisannya. Dan dalam hadits ini ada dalil bahwasanya amalan sedikit itu tidak membatalkan sholat. Dalam hadits ini ada dalil akan bolehnya memasukkan anak kecil ke dalam masjid.”
(selesai dari “Aunul Ma’bud”/3/hal. 131-133).
Dalil KelimaDari Abdulloh bin Syaddad dari ayahnya yang berkata:
خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاتي العشاء وهو حامل حسنا أو حسينا، فتقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى، فسجد بين ظهراني صلاته سجدة أطالها. قال أبي: فرفعت رأسي وإذا الصبي  على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ساجد، فرجعت إلى سجودي فلما قضى رسول الله صل  الله عليه وسلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت بين ظهراني صلاتك سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر أو أنه يوحى إليك. قال: «كل ذلك لم يكن ولكن ابني ارتحلني فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته».
“Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah keluar menemui kami di salah satu sholat isya sambil menggendong Hasan atau Husain. Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم maju seraya meletakkan anak itu, kemudian beliau bertakbir untuk sholat dan masuk ke ibadah sholat. Lalu beliau sujud di tengah-tengah sholat beliau itu dengan sujud yang lama.”
Ayahku berkata: “Maka aku mengangkat kepalaku, ternyata si anak itu ada di pungguh Rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam keadaan beliau sujud. Maka aku kembali ke posisi sujudku. Manakala Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyelesaik sholat beliau, orang-orang berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya Anda sujud di tengah-tengah sholat Anda dengan sujud yang panjang hingga kami mengira terjadi suatu perkara atau Anda mendapatkan wahyu.” Beliau menjawab: “Itu semua tidak terjadi, akan tetapi anakku naik ke badanku maka aku tidak suka untuk membikinnya segera turun hingga dia menyelesaikan keperluannya.”
(HR. An Nasaiy/no. (1140)/shohih).
Ini menunjukkan bolehnya memasukkan anak ke dalam masjid dan menggendong dia di dalam sholat, dan ini jelas sekali bahwasanya beliau melakukan itu di dalam sholat wajib dan berjamaah di masjid, selama baju dan badannya suci. Dan benda najis yang ada di rongga perut dia –dan rongga perut kita semua- bukan penghalang untuk melakukan ini semua.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Oleh karena itu boleh menggendong anak kecil di dalam sholat sekalipun di dalam perutnya ada najis. Wallohu a’lam.” (Majmu’ Fatawa”/21/hal. 104).
Al Imam Muhammad Al ‘Utsaimin رحمه الله ditanya: “Fadhilatusy Syaikh, apa hukum menghadirkan anak-anak yang di bawah usia tamyiz (belum bisa membedakan warna dsb), yang sudah dipasangkan padanya hafaizh (pampers dsb) yang bisa jadi secara keumuman ada najisnya di dalamnya? Jika anak-anak tadi hadir, apakan mereka perlu diusir ataukah tidak?”
Maka beliau رحمه الله menjawab: “Menghadirkan anak-anak ke dalam masjid itu tidak apa-apa sepanjang tidak ada gangguan dari mereka. Jika terjadi gangguan dari mereka, maka mereka dilarang masuk masjid. Akan tetapi tata cara melarang mereka adalah: dengan kita menelpon para pengurus mereka dan kita berkata: “Anak-anak kalian mengacaukan pikiran kami dan mengganggu kami,” dan sebagainya. Dulu Nabi عليه الصلاة والسلام masuk ke dalam sholat beliau dan ingin memanjangkan amalan di dalam sholat, lalu beliau mendengar tangisan anak kecil sehingga beliau memendekkan sholat beliau karena beliau mengkhawatirkan sang ibu terfitnah. Dan ini menunjukkan bahwasanya anak-anak itu dulu ada di masjid. Akan tetapi sebagaimana telah kita katakan: jika terjadi gangguan dari mereka, mereka dilarang hadir, melalui jalur pengurus mereka, agar tidak terjadi fitnah, karena engkau jika mengusir anak kecil yang berusia tujuh tahun yang mengganggu di dalam masjid, dan engkau memukulnya, ayahnya akan melawan kamu, karena manusia sekarang ini mayoritasnya tak punya keadilan dan objektivitas. Dia berbicara denganmu dan bisa jadi akan terjadi permusuhan dan kebencian. Maka obat masalah ini adalah: kita melarang mereka melalui jalur ayah-ayah mereka hingga tidak terjadi fitnah dalam perkara tadi. Adapun masalah menghadirkan  anak kecil, memang bukanlah yang lebih utama itu menghadirkannya, akan tetapi terkadang sang ibu terpaksa menghadirkannya karena di rumah tidak ada orang, sementara sang ibu ingin menghadiri dars, ingin menghadiri sholat Romadhon dan sebagainya.
Yang penting adalah: jika penghadiran anak tadi menyebabkan gangguan, atau ayahnnya misalkan terkacaukan dalam sholatnya karena dia sibuk menjaga anak itu, maka janganlah dia membawanya. Kemudian jika anak itu masih kecil dengan memakai pampers, dia tak akan mengambil faidah dari kehadirannya. Adapun yang usianya tujuh tahun atau lebih, yang kita diperintahkan untuk memerintahkan mereka untuk sholat, maka mereka itu bisa mengambil faidah dari kehadiran di masjid.
Akan tetapi engkau tak bisa memaksa setiap orang, bisa jadi sang ibu tidak ada, sudah wafat, atau pergi ke suatu kesibukan yang harus ditunaikan, sementara tidak ada orang lain di rumah. Maka sang ayah sekarang ada di antara dua pilihan: meninggalkan sholat jama’ah dan duduk bersama anaknya, atau datang ke jama’ah dengan membawa anaknya. Maka hendaknya ditimbang, diperhatikan mana yang harus dipilih.”
(“Liqo’il Babil Maftuh”/7/hal. 194-195). BERSAMBUNG…