Sholat Anak saat MaghribPertanyaan: Ya Abaa Fairuz, Bagaimana dengan mengajak anak-anak untuk sholat maghrib dan isya’ dimasjid ? Karena ada hadits yang memerintahkan untuk menahan  anak-anak keluar pada waktu maghrib datang ?

Jawab : Nabi صلى الله عليه وسلم telah memerintahkan kita untuk menahan anak-anak kita saat datangnya malam, karena para setan ketika itu bertebaran. Maka bagaimana dengan orang yang ingin hadir dars setelah maghrib bersama anaknya misalkan?

Kita jawab dengan taufiq Alloh semata: Nabi shollallohu’alaihiwasallam mengabarkan:

أن الشمس إذا غربت انتشرت الشياطين.

“Bahwasanya matahari jika telah terbenam, para setanpun bertebaran.”

Karena itulah beliau bersabda:

فاكتفوا صبيانكم واحسبوا مواشيكم حتى تذهب فحمة العشاء.

“Maka tahanlah anak-anak kalian, dan tahan juga ternak-ternak kalian sampai hilangnya awal kegelapan isya. “Hadits riwayat Al Bukhoriy (3280) dan Muslim (2012) [dari Jabir rodhiyallohu’anhu]. Hadits ini menunjukkan bahwasanya saat datangnya malam adalah waktu diduganya gangguan setan terhadap anak-anak. Tapi telah datang dalil-dalil yang banyak tentang perlindungan dengan dzikir kepada Alloh. Di antaranya adalah: perlindungan khusus bagi anak-anak, seperti hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يعوذ الحسن والحسين ويقول إن أباكما كان يعوذ بها إسماعيل وإسحاق أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة.

“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم melindungi Al Hasan dan Al Husain dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (yaitu Ibrohim صلى الله عليه وسلم) dulu melindungi Isma’il dan Ishaq dengan doa ini: (yang artinya) “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata pencela.” (HR. Al Bukhoriy (3371)).

Dan anak-anak diajari dzikrulloh ketika keluar rumah.

Dari Ummu Salamah رضي الله عنها yang berkata:

ما خرج النبي صلى الله عليه و سلم من بيتي قط إلا رفع طرفه إلى السماء فقال: «اللهم إني أعوذ بك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ أو أُزَلَّ أو أَظلِمَ أو أُظلَمَ أو أَجهَلَ أو يُجهَلَ عَلَيَّ».

“Tidak pernah Nabi صلى الله عليه وسلم keluar dari rumahku sama sekali kecuali beliau mengangkat pandangan mata beliau ke langit seraya berdoa (yang artinya): “Ya Alloh sungguh saya berlindung kepadamu dari tersesat atau disesatkan orang, tergelincir atau digelincirkan orang, atau menzholimi atau dizholimi orang, atau berbuat bodoh, atau ada orang berbuat badah terhadap saya.” (HR. Abu Dawud (5094) dan At Tirmidziy (3427)/shohih).

Dan dari Anas bin Malik رضي الله عنه yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «من قال يعني إذا خرج من بيته: بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله. يقال له: كفيت ووقيت. وتنحى عنه الشيطان».

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa ketika keluar rumah dia berkata: “Dengan nama Alloh, aku bertawakkal pada Alloh. Dan tiada upaya dan tiada daya kecuali dengan pertolongan Alloh.” Dikatakan padanya: “Engkau telah dicukupi, dan engkau telah dilindungi.” Dan setan menyingkir darinya.” (HR. At Tirmidziy (3426)).

Di dalam sanadnya ada ‘an’anah Ibnu Juroij, dan dia itu mudallis.

Hadits ini punya pendukung dari hadits Ka’b bin Malik رضي الله عنه secara mauquf (ucapan Shohabat saja), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al Mushonnaf” (29203). Dalam sanadnya ada ‘an’anah Al A’masy dari Mujahid.

Tapi Al A’masy didukung oleh Manshur yang meriwayatkan juga dari Mujahid dari Ka’b secara mauquf, diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam “Al Mushonnaf” (19827). Dan sanadnya shohih.

Maka hadits ini hasan lighoirih.

Ada juga dzikir perlindungan ketika singgah di suatu tempat:

Khoulah binti Hakim As Sulamiyyah رضي الله عنها berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: «من نزل منزلا ثم قال أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق لم يضره شئ حتى يرتحل من منزله ذلك».

“Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu persinggahan lalu dia berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan.” (HR. Muslim (2708)).

Dan termasuk dzikir sore yang mudah dihapalkan oleh anak-anak adalah: hadits Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال: يا رسول الله ما لقيت من عقرب لدغتني البارحة. قال: «أما لو قلت حين أمسيت: أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق لم تضرك».

“Ada orang datang pada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Wahai Rosululloh, alangkah menyakitkannya apa yang saya dapati dari kalajengking yang menyengat saya tadi malam.” Maka beliau bersabda: “Adapun andaikata engkau ketika masuk di waktu sore berkata: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejelekan makhluk yang punya kejelekan.”  Niscaya dia tak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim (2709)).

Dan masih banyak dzikir yang lain.

Kemudian sesungguhnya hadits Jabir tadi punya dua hikmah, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ulama:

Ibnul Jauziy رحمه الله berkata: “Dan hanyalah dikhawatirkan anak-anak secara khusus akan diganggu setan karena dua perkara, yang pertama: karena najis yang ada pada anak-anak, yang mana itulah yang menjadikan setan senang bernaung di situ. Yang kedua: bahwasanya dzikir yang menjadi perlindungan itu tidak ada pada anak-anak, dan para setan ketika bertebaran, akan bergantung pada tempat-tempat yang memungkinkan untuk mereka bergantung (tempat yang tiada dzikir di situ).” (“Kasyful Musykil Min Haditsish Shohihain”/hal. 691).

Jika sebabnya adalah anak-anak tidak berlindung dengan dzikir-dzikir, maka kita perintahkan mereka untuk berdzikir, sebagaimana telah lewat. Jika sebab yang kedua adalah najisnya badan dan pakaian anak-anak, kita jaga kesucian mereka, sebagaimana itu memang sunnah ketika keluar menuju masjid.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«صَلاَةُ
الرَّجُلِ فِى الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَفِى سُوقِهِ
خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ
…».

“Sholat seorang pria di jamaah itu dilipatkan daripada sholatnya di rumahnya dan di pasarnya sbanyak dua puluh lima lipatan. Yang demikian itu dikarenakan dirinya berwudhu lalu memperbagus wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali sholat…” (HR. Al Bukhoriy (647) dan Muslim (649)).

Maka tidak apa-apa anak-anak keluar bersama para wali mereka ke masjid ketika matahari terbenam.

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar ke masjid adalah untuk amalan sholih, dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan mereka insya Alloh, bahkan Alloh gembira dengan mereka dan menjaga mereka.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لا يتوضأ أحد فيحسن وضوءه ويسبغه، ثم يأتي المسجد، لا يريد إلا الصلاة فيه، إلا تبشبش الله به كما يتبشبش أهل الغائب بطلعته».

“Tidaklah ada satu orang yang berwudhu dan memperbagus wudhunya dan menyempurnakannya, lalu dia mendatangi masjid, tidak menginginkan kecuali sholat di situ, kecuali Alloh menyambutnya dengan gembira sebagaimana orang yang ditinggal pergi menyambut gembira kedatangan orang itu.” (HR. Al Imam Ahmad (8051) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (838)).

Ini adalah dalil untuk jawaban ini dan sekaligus jawaban yang sebelumnya.

Keluarnya mereka adalah untuk ibadah, maka Alloh akan mencukupi mereka dan menjaga mereka. Dan pencukupan dan penjagaan Alloh itu sesuai kadar ibadah sang hamba. Alloh عز وجل berfirman:

﴿أَلَيْسَ الله بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ الله فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ * وَمَنْ يَهْدِ الله فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ الله بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ﴾ [الزمر: 36، 37]

“Bukankah Alloh itu cukup untuk melindungi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan yang selain Alloh. Dan barangsiapa disesatkan oleh Alloh, maka dia tak akan punya pemberi petunjuk. Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Alloh, maka tak akan ada yang bisa menyesatkannya. Bukankah Alloh itu Maha Perkasa lagi Maha memiliki pembalasan?”

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka kecukupan yang sempurna itu bersama ibadah yang sempurna. Dan kecukupan yang kurang itu bersama ibadah yang kurang. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia memuji Alloh. Dan barangsiapa mendapatkan yang selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (“Al Wabilush Shoyyib”/hal. 11).

(kita lanjutkan besok insya Alloh, barokallohu fikum)

Kemudian sesungguhnya mereka itu keluar untuk beramal sholih, maka para malaikat adalah wali dan pelindung mereka dengan seidzin Alloh.

Dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

« ما من خارج يخرج يعنى من بيته إلا بيده رايتان راية بيد ملك وراية بيد شيطان فإن خرج لما يحب الله عز و جل اتبعه الملك برايته فلم يزل تحت راية الملك حتى يرجع إلى بيته. وإن خرج لما يسخط الله اتبعه الشيطان برايته فلم يزل تحت راية الشيطان حتى يرجع إلى بيته».

“Tidak ada orang yang keluar dari rumahnya kecuali di tangannya ada dua bendera: bendera yang ada di tangan malaikat dan bendera yang ada di tangan setan. Jika dia keluar kepada perkara yang dicintai Alloh عز وجل, malaikat akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera malaikat sampai pulang ke rumahnya. Tapi jika dia keluar kepada perkara yang dimurkai Alloh عز وجل, setan akan mengikutinya dengan benderanya. Maka dia senantiasa di bawah bendera setan sampai pulang ke rumahnya.” (HR. Ahmad (8269)).

Di dalam sanadnya ada Abdulloh bin Ja’far, yaitu Bin  Abdurrohman ibnul Miswar bin Makhromah Al Madaniy, shoduq. (“Tahdzibut Tahdzib” (5/hal. 150)).

Dan di dalam sanadnya juga ada Utsman bin Muhammad, yaitu Ibnul Mughiroh ibnul Akhnas bin Syariq Ats Tsaqofiy, shoduq. (“Tahdzibut Tahdzib” (7/hal. 138)).

Sisa rowinya tsiqot terkenal.

Maka hadits ini hasan.

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk ketaatan pada Alloh, maka para malaikat adalah wali-walinya dan mereka akan memerangi para setan untuk membelanya

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka tiada seorangpun yang lebih bermanfaat bagi sang hamba daripada persahabatan malaikat untuknya. Dan malaikat adalah walinya di saat terjaga dan tidur, saat hidupnya dan ketika kematiannya, dan di dalam kuburnya, teman akrabnya ketika kesepian, sahabatnya ketika sendirian, membisikinya dalam suasana rahasia, dan memerangi para setan untuk membela dirinya, menolongnya untuk menghadapi setan, menjanjikan kebaikan untuknya, memberinya kabar gembira, mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.” (“Al Jawabul Kafi”/hal. 74).

Maka hadits Jabir رضي الله عنه tersebut berlaku untuk anak-anak yang sedang bermain-main –dan semisalnya- di luar rumah saat itu. Adapun yang keluar ke masjid bersama walinya untuk beribadah pada Alloh, maka Alloh dan para malaikat adalah wali dia.

Oleh karena itulah maka Fadhilatu syaikhina Abu Amr Abdul Karim bin Ahmad Al Hajuriy حفظه الله saat ana tanya tentang masalah ini beliau berkata: “Hadits ini mengenai anak-anak yang sedang bermain-main di jalanan dan sebagainya. Adapun orang yang keluar rumah bersama anaknya untuk menunaikan sholat maghrib dan mendengarkan dars di masjid, maka itu tidak apa-apa.” Selesai jawaban beliau.

Jika ada yang berkata: “Hadits Jabir رضي الله عنه itu umum!”

Maka kita jawab –dengan taufiq Alloh semata-: Alangkah banyaknya dalil yang umum itu dimasuki oleh pengkhususan. Yang demikian itu dikarenakan hadits-hadits Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu satu sama lain saling menjelaskan.

Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Tiada satu lafazh umumpun kecuali dia telah dimasuki oleh pengkhususan, kecuali beberapa lafazh saja, seperti firman Alloh ta’ala:

(وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى الله رِزْقُهَا ( [هود: 6]

“Dan tiada satu binatang melatapun di bumi kecuali menjadi tanggungan Allohlah rizqinya.”

Dan:

(إِنَّ الله بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم ( [الأنفال: 75]

“Sesungguhnya Alloh itu Mahatahu terhadap segala sesuatu.”

(“Roudhotun Nazhir Wa Jannatul Munazhir”/hal. 238-239).

Maka keumuman hadits Jabir itu dikhususkan dengan dalil-dalil penjagaan Alloh untuk orang berdzikir, yang keluar rumah untuk melakukan suatu ketaatan pada-Nya. Telah lewat penyebutan sebagian dari dalil-dalil tersebut. Di antaranya juga hadits Al Harits Al Asy’ariy رضي الله عنه: Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

« إن الله أمر يحيى بن زكريا بخمس كلمات أن يعمل بها ويأمر بني إسرائيل أن يعملوا بها: … وآمركم أن تذكروا الله فإن مثل ذلك كمثل رجل خرج والعدو في أثره سراعا حتى إذا أتى على حصن حصي فأحرز نفسه منهم كذلك العبد لا يحرز نفسه من الشيطان إلا بذكر الله». الحديث.

“Sesungguhnya Alloh memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk beliau menjalankannya dan memerintahkan Bani Isroil untuk mengerjakannya: “… Dan aku memerintahkan kalian untuk berdzikir pada Alloh, karena permisalannyaadalah bagaikan orang yang keluar, sementara musuhnya itu mengikuti jejaknya dengan cepat, hingga ketika dia mendatangi benteng yang kokoh, dia melindungi dirinya dari mereka. Demikianlah sang hamba, dia itu tidak bisa melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir pada Alloh.” Al hadits. (HR. At Tirmidziy (2863)/shohih).

Maka barangsiapa keluar dari rumahnya untuk suatu ketaatan kepada Alloh di waktu kapanpun, dan dia berdzikir kepada Alloh, maka Alloh adalah Walinya dan Penjaganya, maka setan tak bisa mengganggunya. Bahkan setan sendiri mengakui hal itu.

Dari Abdulloh bin Amr ibnul ‘Ash:

عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه كان إذا دخل المسجد قال: «أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وسلطانه القديم من الشيطان الرجيم». قال: «فإذا قال ذلك قال الشيطان حفظ مني سائر اليوم».

“Dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau biasa jika masuk masjid berdoa (yang artinya): “Aku berlindung kepada Alloh Yang Mahaagung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, dan kekuasaan-Nya yang telah berlangsung sejak dulu, dari setan yang terkutuk.” Dan beliau bersabda: “Jika berdoa demikian, setan berkata: “Dia telah dilindungi dariku di sepanjang hari.”.” (HR. Abu Dawud (466)/shohih)).

Dan banyak ulama menyebutkan bahwasanya hadits Jabir tersebut bentuknya adalah bimbingan, bukan wajib.

Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah Wal Ifta (27/69/ no. 21349): “Perintah-perintah yang datang di dalam hadits ini menurut kebanyakan ulama dibawa ke anjuran dan bimbingan, sebagaimana telah ditetapkan oleh sejumlah ulama, di Antara mereka adalah: Ibnu Muflih dalam “Al Furu’” (1/hal. 132) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (11/87). Wallohu a’lam.” Selesai.

Dan penunaian sholat maghrib dan mendengarkan dars di masjid memiliki maslahat-maslahat yang agung, maka tidak mengapa anak dibawa ke masjid saat itu dan saat yang lain.

Di Jawab Oleh: Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al-Qudsy (Afallahu Anhu)

pada Senin 21 Jumadits Tsani 1435 H di Shan’a Yaman

Selesai ditulis : Hukum Memasukkan Anak Ke Masjid  lihat !