Kepada Setiap Pelaku Penyelewengan

Ditulis Oleh Al Faqir Ilallah: Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Indonesiy (Semoga Allah Membimbingnya)

Darul Hadits Al Fath Di Shan’a Yaman

بسم الله الرحمن الرحيم .الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وصحبه  أجمعين، أما بعد:

Barangsiapa berpaling dari kebenaran setelah datangnya petunjuk, maka tiada yang rugi kecuali dia sendiri. Alloh ta’ala berfirman:

{وَالله الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ } [محمد: 38[

“Dan Allah itu Mahakaya, sementara kalian itulah yang amat butuh kepada-Nya. Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti kalian dengan suatu kaum yang selain kalian, lalu mereka tidak menjadi seperti kalian.”

Alloh subhanahu berfirman:

}وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ الله هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ } [الممتحنة: 6[

“Dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Alloh itulah Yang Mahakaya lagi Maha terpuji.”
Orang yang kokoh di atas kemurnian warisan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang meninggalkan umat ini di atas sunnah yang putih bersih, maka dia itulah yang beruntung. Dan barangsiapa menyimpang dari itu maka dia akan celaka.

Dari Al ‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallohu ‘anhu yang berkata: Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam berkata:

«قد تركتكم على البيضاء. ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هلك».

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang putih, malamnya jelas seperti siangnya, tidaklah ada orang yang menyimpang darinya sepeninggalku kecuali dia binasa.” (HR. Ibnu Majah (42)/shohih).  

Dari Abdulloh bin Amr رضي الله عنهما bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:  

«إن لكل عمل شرة، ولكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد أفلح. ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك».

“Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, dan setiap masa semangat itu punya masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada sunnah, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada yang selain itu maka sungguh dia telah binasa.” (HR. Ahmad (6764), dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (3250)).

Dan dari seorang Anshar dari sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«فمن اقتدى بي فهو مني. ومن رغب عن سنتي فليس مني. إن لكل عمل شرة، ثم فترة فمن كانت فترته إلى بدعة فقد ضل، ومن كانت فترته إلى سنة فقد اهتدى».

“Maka barangsiapa meneladani diriku, maka dia termasuk dari golongan ku. Dan barangsiapa membenci sunnah ku, maka  bukanlah dia itu dari golongan ku. Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, kemudian masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan)  kepada bid’ah, maka sungguh dia telah tersesat. Dan barangsiapa masa malasnya yaitu (diarahkan) kepada yang sunnah, maka sungguh dia telah mengikuti petunjuk.” (HR. Ahmad (23521), dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih” (3251)).

Syaikhul Islam rahimahulloh berkata: “Dan jalan yang lurus ini adalah agama Islam yang murni, dan dia itu adalah apa yang ada di dalam Kitabulloh ta’ala, dan dia itu adalah sunnah dan jama’ah, karena sesungguhnya sunnah yang murni itulah agama Islam yang murni. (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 370).

Kholid bin Sa’ad rohimahulloh berkata:

دخل أبو مسعود على حذيفة -رضي الله عنهما- فقال: اعهد إلي، قال : أولم يأتك اليقين؟ قال: بلى. قال: فإن الضلالة حق الضلالة أن تعرف ما كنت تنكر، وتنكر ما كنت تعرف، وإياك والتلون في دين الله؛ فإن دين الله واحد

“Abu Mas’ud masuk menemui Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhuma seraya berkata: “Berikanlah wasiat padaku.” Beliau berkata: “Apakah belum datang kepadamu keyakinan?” Abu Mas’ud menjawab: “Tentu telah datang.” Hudzaifah berkata: “Sesungguhnya kesesatan yang sebenar-benar kesesatan adalah: engkau mengenal apa yang dulu engkau ingkari, dan engkau mengingkari apa yang dulu engkau kenal. Hindarilah olehmu berubah-ubah warna di dalam agama Alloh, karena sesungguhnya agama Alloh itu satu.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilm” (1775/cet. Dar Ibnil Jauzi) dan lain-lain, dengan sanad shohih).

Sesungguhnya di Antara penyebab timbulnya kesesatan setelah datangnya petunjuk adalah seseorang itu membuka telinga dan hatinya pada pembawa syubuhat.

Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka demi Alloh wahai kaum Muslimin, jangan sampai baik sangka salah seorang dari kalian terhadap dirinya sendiri dan terhadap keshohihan madzhabnya yang diketahuinya membawa dirinya untuk melakukan taruhan dengan agamanya, dengan duduk-duduk dengan para pengekor hawa nafsu, lalu berkata: “Aku akan masuk kepadanya untuk melakukan diskusi dengannya, atau akan kukeluarkan darinya madzhabnya.” Karena sesungguhnya ahli hawa itu lebih besar fitnahnya daripada dajjal. Ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar hati daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang dulunya melaknati ahli hawa, mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka untuk mengingkari mereka dan membantah mereka. Terus-menerus berlangsung ramah-tamah di antara mereka, makar tersembunyi, dan halusnya kekufuran tersamarkan hingga akhirnya orang-orang tadi masuk ke madzhab ahli hawa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/di bawah no. (480)/cet. Darul Kutub wal Watsaiqil Qoumiyyah).

Maka sungguh merugi orang yang meninggalkan kebenaran dan tentara Alloh, menuju pada kebatilan dan bergabung dengan tentara setan.

Dan barangsiapa tidak menerima kebenaran setelah ditegakkannya hujjah (peringatan), maka dia itu di atas bahaya. Al Imam Ibnu Baththoh رحمه الله berkata: “Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya barangsiapa membenci kebenaran yang datang dari orang lain, dan justru menolong kesalahan yang datang dari dirinya sendiri, tidak bisa diamankan bahwasanya Alloh akan mengambil darinya apa yang sebelumnya telah dia ketahui, dan menjadikan dia lupa terhadap apa yang diingatnya, bahkan di khawatir nya Alloh  akan mencabut keimanan nya, karena kebenaran itu datang dari Rasulullah kepadamu, beliau mewajibkan untuk kamu taat padanya. Maka barangsiapa mendengar kebenaran lalu mengingkari nya setelah mengetahuinya, maka dia termasuk orang yang sombong kepada Alloh. Dan barangsiapa menolong kesalahan, maka dia termasuk tentara setan.” (“Al Ibanatul Kubro”/2/hal. 206).

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Shan’a, 23 Syawwal 1435 H