taubat

Dari Fatwa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
rohimahulloh ta’ala tentang tobat yang murni.

Hadits: “Orang yang bertobat dari dosa itu seperti orang yang tidak punya dosa.”

Pertanyaan: Semoga Alloh memberkahi Anda. Ada orang punya pertanyaan wahai Fadhilatusy Syaikh: apakah hadits “Orang yang bertobat dari dosa itu seperti orang yang tidak punya dosa” itu shohih?

Asy Syaikh menjawab: aku tidak mengetahui keshohihan hadits tadi dengan lafazh tersebut. Akan tetapi tiada keraguan bahwasanya orang yang bertobat dari dosa, jika tobatnya itu nashuh (murni dan benar) maka kesungguhnya dosa tadi tidak berpengaruh padanya. Bahkan bisa jadi dia bertambah iman dan amal sholih setelah tobat tadi, dan jadilah dirinya setelah tobat tadi menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Apakah engkau tidak melihat firman Alloh ta’ala:

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ } [الفرقان: 68]

“Dan orang –orang yang tidak menyeru sesembahan yang lain bersamaan dengan menyeru Alloh, dan mereka tidak membunuh jiwa yang Alloh haromkan kecuali dengan alasan yang benar, dan juga mereka tidak berzina.” (QS. Al Furqon: 68).  

Dan tiga perkara ini semua adalah termasuk dari dosa-dosa besar yang amat besar: syirik, membunuh orang dengan sengaja tanpa alasan yang benar, dan berzina. Maka di dalamnya ada pelanggaran terhadap hak Alloh, dan terhadap hak makhluk dengan membunuh orang, dan terhadap terhadap hak makhluk dengan pencemaran kehormatan. Sekalipun demikian Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا } [الفرقان: 68 – 70]

“Dan barangsiapa melakukan itu maka dia akan mendapatkan hukuman dosanya. Akan dilipatkan untuknya siksaan pada hari Kiamat, dan dia kekal di dalamnya dengan terhinakan. Kecuali orang yang bertobat dan beriman serta beramal sholih, maka mereka itulah orang-orang yang Alloh akan mengganti kejelekan-kejelekan mereka dengan kebaikan-kebaikan, dan Alloh itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon: 68-70).

Dan apakah engkau tidak melihat pada Adam yang mana terjadi pada beliau kesalahan yang telah dikenal tersebut, yaitu beliau memakan buah dari pohon yang Alloh subhanahu wata’ala melarang memakan darinya. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

{وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ } [طه: 121، 122]

“Dan Adam mendurhakai Robbnya sehingga dia tersesat. Lalu Robbnya memilihnya” (QS. Thoha: 121-122).

Alloh ta’ala berfirman

{وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى } [طه: 121، 122]

“Dan Adam mendurhakai Robbnya sehingga dia tersesat. Lalu Robbnya memilihnya, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thoha: 121-122).

Maka dihasilkan untuk beliau: pemilihan, tobat dan hidayah.

Dan bertobat dari dosa-dosa itu wajib. Dan wajib untuk bersegera dengan tobat, agar jangan sampai ajal datang menjumpai orang tersebut maka tobatnya tidak lagi bermanfaat baginya.

Dan bagus sekali untuk kita menyebutkan syarat-syarat tobat yang murni. Kita katakan: tobat yang murni itu memiliki lima syarat.

Syarat yang pertama:

Ikhlas untuk Alloh ta’ala, yang mana yang mendorong dirinya untuk bertobat bukanlah rasa takut pada manusia, atau mencari pujian manusia, atau untuk mencapai suatu jabatan, atau yang seperti itu. Jadilah tobatnya itu untuk Alloh ‘azza wajalla, dalam rangka lari dari hukuman-Nya dan mengharapkan pahala-Nya.

Syarat yang kedua:

Menyesali dosa yang diperbuatnya, yang mana dia merasakan di dalam dirinya penyesalan dan kesedihan atas dosa yang dilakukan, sampai hatinya itu mau menaati Alloh ‘azza wajalla, dan jiwanya merunduk pada Alloh, dan merasa dirinya hina untuk Alloh ‘azza wajalla dengan penyesalannya atas apa yang dikerjakannya.

Syarat ketiga:

Berhenti dari dosa tadi. Tobat yang disertai dengan terus-menerus melakukan dosa tadi merupakan suatu jenis olok-olokan. Misalkan seseorang ingin bertobat dari riba, akan tetapi dia masih terus-menerus melakukan riba tadi, maka sesungguhnya dakwaannya bahwasanya dirinya sudah bertobat itu adalah dusta belaka. Dan dakwaannya tadi itu lebih dekat kepada ejekan kepada Alloh daripada pengagungan kepada Alloh. Andaikata seseorang ingin bertobat dari minum khomr, akan tetapi dia masih terus-menerus minum khomr, maka sesungguhnya tobatnya itu tidak sah. Bagaimana dia itu jujur dalam tobatnya dalam keadaan dia masih melakukan dosa itu? Dia ingin bertobat dari ghibah (menyebut aib orang lain), tapi dia masih terus mengghibahi orang-orang. Maka tobatnya itu tidak sah, karena dia itu harus mencabut diri dari dosa tadi. Dia ingin bertobat dari merampas harta orang-orang, sementara harta orang-orang itu masih terus di tangan dia, dan dia belum mengembalikannya kepada mereka. Maka bagaimana tobatnya itu sah?

Syarat yang keempat: 

Bertekad untuk tidak mengulangi lagi di masa yang akan datang. Yaitu: hatinya meniatkan untuk tidak kembali kepada dosa tadi selamanya.

Kalau dia bilang bertobat, tapi dia berniat untuk mengerjakan dosa tadi jika terbuka kesempatan untuknya, maka dia itu belumlah bertobat. Dia harus bertekad untuk tidak mengulang kembali di masa yang akan datang.

Jika di masa yang akan datang ternyata dia mengulang lagi setelah bertekad meninggalkan dosa tadi, maka sesungguhnya tobat dia yang pertama itu tidak rusak. Akan tetapi dia harus memperbarui tobat.

Syarat yang kelima:

Tobatnya itu sebelum datangnya ajal (batas waktu untuk hidup). Maka jika orang itu masih terus-menerus berbuat maksiat sampai datang kepadanya ajal, lalu dia bertobat, maka tobatnya itu tidak diterima, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

{ وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ } [النساء: 18]

Dan tobat itu tidak diterima dari orang-orang yang melakukan kejelekan-kejelekan sampai ketika datang kepada salah seorang dari mereka kematian dia berkata: “Saya bertobat sekarang.” (QS. An Nisa: 18).

Dan demikian pula tobat itu tidak sah setelah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

«لا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا».

“Hijroh itu tidak terputus sampai tobat itu terputus. Dan tobat itu tidak terputus sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya.”

Maka lima syarat ini merupakan syarat-syarat agar tobatnya itu menjadi nashuh (murni) dan diterima di sisi Alloh.”

(sumber: “Silsilatu Fatawan Nur ‘Alad Darb”/no. 264).

Ditulis oleh :

Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al-Qudsiy Al-Indonesiy